Jakarta, 07 january 2010

Kepada: Lelaki dulu Yang menghantuiku

Kemaren kau mengirimiku lagi pesan singkat. Seharian aku menata hatiku, bukan karena hatiku masih merinduimu tapi sikapmu benar-benar telah menjadi hantu dalam biduk nikahku yang pernah hampir pecah berkeping-keping karena kekhilafanku yang membiarkanmu kembali hadir ke dalam sudut kecil hatiku. Ada yang belum selesai antara kita dulu katamu, dan ku mohon ijinkan aku kembali benahi lagi kesalahanku dulu rayumu. Sejujurnya hatiku sempat gamang dengan pernyataanmu itu. Kita memang pernah satu suatu waktu di masalalu, ada hal yang tak pernah berhasil kita lampaui dulu karena keposesifanmu yang menghalau cita-cita besarku. Kau berniat membenahinya di saat yang sangat salah dalam hubungan yang berbau dosa. Komunikasi yang tak berjalan dalam hubungan ijab qabulku menjadi celah keberuntungan untuk kau obrak abrik kalimat sakral itu. Kau masuk perlahan mencoba merusak setiap saraf pikiranku, sampai akhirnya aku khilaf lebih mendengarkanmu daripada kenyataan hidupku. Wahai lelaki dulu Tak pernah genap 1 bulan hubungan haram itu terjalin antara kita. Hati dan pikiran sadarku berangkat dengan penuh gundah saat memulai kisah tak genap sebulan itu. Setelah kemudian seorang wanita lembut dan gadis kecil yang sangat mirip parasmu memohon di kakiku dengan buraian hati yang penuh luka dan terbasuh titik-titik air mata.

Aida s document on January 7, 2010

Page 1

Hati wanitaku tersentak. Wanita lembut dan gadis kecil yang mirip denganmu itu memohon di kakiku. Memohon memberikannya tempat agar kau sudi memulai cinta sesungguhnya dengannya. Wanita yang telah kau sebut namanya dalam sebuah ijab qabul itu terisak di depanku memohon padaku agar tidak menjadi pagar antara hatimu dan hatinya. Sungguh aku menangis, menangis karena khilafku sungguh terlalu. Sungguh aku terlalu ketika kusakiti mata wanita yang melayani suaminya dengan sepenuh hati, sungguh aku tertuduh ketika seorang gadis kecil menunggu kehadiran ayahnya hingga membeban rindu di dadanya.

Duhai lelaki dulu, Jika setia itu impossible dalam hatimu, bisakah setidaknya kau responsible pada wanita yang menjaga hatinya dan anakmu di rumah???? Jika katamu kau belum mampu mencintainya, bisakah kau lebih bertanggungjawab untuk memulai mencintainya??? Walaupun kemudian kalimat tanya ini sangat pantas dipertanyakan untukku sendiri. Saat ini aku tak akan memohon lagi. Tapi aku hanya meminta dengan segenap hati galauku yang masih dihantui setiap hari dengan pesan singkatmu. Aku meminta padaku berhentilah mencari celah dalam biduk kecil rumahtanggaku, berhentilah mencoba membuat celah hingga biduk cintaku kebocoran olehmu. Kali ini aku akan bertahan. Bertahan mempertahankan apa yang pantas untuk dipertahankan yaitu pernikahanku , berhentilah sekarang untuk kembali mengusik hatiku. Karena semakin kau mencoba membuat celah, maka bidukmupun akan semakin karam. Ingatlah suatu saat kau dan aku akan menyesali jika terus melangkah dalam nafsu ini. Pulanglah, .gadis kecil yang parasnya milikmu menanti dengan rindu yang menggebu. Ikhlaskan semuanya berakhir, tak ada kebaikan apapun yang bisa kita temui dari kisah cinta penuh nafsu ini. Pulanglah, begitu juga aku pulang dengan menanamkan keikhlasan dalam hatiku.

Regards Aku dengan kesadaranku

Aida s document on January 7, 2010

Page 2

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful