BAGIAN I PASAL II Perasaan Terhadap Anak-Anak A.

Kasih Sayang Terhadap Anak-Anak Merupakan Anugerah Allah Terhadap Hamba
Kasih sayang adalah sifat yang mulia,yang oleh Allah dianugerahkan kepada tiaptiap jiwa manusia agar mereka saling menghargai dan bersimpati. Perasaan ini merupakan modal bagi orang tua dan pendidik untuk mencetak generasi yang unggul,berakhlak mulia dan berbudi luhur. Jika dari jiwa kita tidak ada rasa kasih sayang,maka janganlah berharap bahwa anak atau siswa kita akan memiliki rasa kasih sayang pula pada sesama. Oleh karena pentingnya rasa tersebut,di dalam Islam pun hal ini telah diatur. Agar di dalam diri anak juga akan tumbuh rasa tersebut. Seperti yang kita ketahui,bahwa Junjungan Nabi kita Muhammad Saw merupakan suri tauladan yang baik. Beliau telah mengajarkan pada kita bagi yang bergelut dalam dunia pendidikan perilaku yang dilandasi dengan kasih sayang itu adalah wajib dan akan berpengaruh pada bagaimana perkembangan perilaku anak di masa yang akan datang. Dalam hal ini kami sitir beberapa hadis Rasulullah Saw. Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dan dari kakeknya, bahwa Rasul Saw. Bersabda: “ Nabi Saw. Telah didatangi seorang laki-laki yang membawa seorang bayi. Kemudian beliau memeluknya dan bersabda,’ Apakah engkau menyayanginya?’ Lakilaki itu menjawab,’Tentu saja.’ Nabi bersabda,’ Sesungguhnya Allah menyayangimu lebih dari kamu menyayanginya. Sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Pengasih dibandingkan orang-orang yang mengasihi.” Sungguhpun beliau adalah seorang Rasul dan Nabi , tiada hal yang mengganggu pikirannya untuk menyayangi putra-putrinya. Dan jika seorang sahabat ketahuan bahwa

1

dirinya tidak menyayangi anaknya, Nabi pasti akan mencemoohnya dan mengarahkan mereka pada hal kebaikan dalam sebuah rumah tangga ,keluarga dan anak-anak. Seperti dalam hadis di bawah ni yang disandur dalam Adabul Mufrid, Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Aisyah r.a.: “ Seorang A’rabi telah mendatangi Nabi Saw. dan berkata,’Apakah kau menciumi anak-anakmu sedangkan kami belum pernah melakukan hal itu?’ Maka Nabi Saw,’ Apakah engkau ingin Allah mencopot kasih sayang dari hatimu?” Al-Bukhari telah meriwayatkan ,bahwa Abu Hurairah r.a.telah berkata: “ Rasulullah Saw telah menciumi Al-Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beiau AlAqra’ bin Habis At-Tamimi. Al-Aqra’ berkata,’ Sesungguhnya aku mempunyai 10 orang anak,tapi tidak pernah di antara mereka pernah aku cium.’Maka Rasulullah Saw memandangnya dan bersabda,’ Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.” Begitu besarnya kasih sayang Rasul terhadap anak-anak,bahkan disuatu riwayat Nabi berlinangan air matanya ketika seorang anak akan menemui ajalnya. Ini merupakan tanda kesedihan dan kasih sayang Nabi kepada anak kecil dan ini juga sebagai pelajaran bagi umat tentang keutamaan kasih sayang itu sendiri. Tidaklah mengherankan jika dalam setiap jiwa orang tua terisi oleh rasa kasih sayang,karena di setiap kasih sayang yang kita berikan,sudah barang tentu akan lahir kasih sayang yang lainya. Seperti sebuah pepatah “ Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai.”

B. Mendahulukan Kepentingan Islam Daripada Cinta Kepada Anak
Rasa cinta,kasih dan sayang kepada anak janganlah menjadi suatu penghalang bagi kita untuk berjihad fii sabililah. Sebab,pada haikatnya tujuan kita diciptakan di dunia merupakan sebagai hamba Allah dan khalifah,di mana kedua tugas tersebut berupa amanah untuk selalu menegakkan agama Allah dan mendirikan masyarakat Islami,serta mengarahkan kepada jalur kebenaran yang sesuai syari’at kepada mereka yang muslim namun tersesat pada kenistaan semata.

2

Demikian pula yang dilakukan para sahabat yang rela demi tertegaknya agama Allah. Bahkan bagi mereka tidak ada suatu gerakan selain untuk berjihad dan tidak ada tujuan yang benar selain tujuan Islam. Para sahabat pun merelakan semua hal yang sangat berharga bagi dirinya demi tercapinya tujuan tersebut. Anak,istri dan harta materi yang mereka miliki semua ditinggalkan tanpa memandang ke kanan dan ke kiri. Yang ada dalam pikiran dan hati mereka bahwa cinta,kasih dan sayangnya telah mereka berikan pada keluarga dengan baik. Dan mereka pun tak akan begitu saja meninggalkanya,karena tiada yang tahu apa yang akan terjadi apakah pulang membawa kemenangan atau hanya sebuah kenangan. Di antara pernyataan mulia yang dikumandangkan oleh Imam Hasan Al-Banna adalah bahwa ia biasa melakukan ispeksi kepada para pemuda yang berdakwah menuju ridha Allah di setiap lapangan pada setiap hari raya. Pada suatu saat,ketika ia akan keluar, anaknya,Saiful Islam, menderita sakit keras dan mendekati kematiaanya. Maka istrinya bilang.” Jika kau tinggal bersama kami dan duduk di dekat anakmu yang sakit.tentu kami akan merasa tenang.” Ia menjawab sambil menenteng tasnya,” Jika Allah menganugerahkan kesembuhan kepada anakku, maka bagi Allahlah segala puji dan karunia itu. Dan jika Allah menakdirkan ia untuk mati, maka sesungguhnya kakeknya lebih mengetahui jalan menuju kubur.” Kemudian ia keluar sambil membacakan sepenggal ayat dalam QS. At-Taubah: 24. Sungguh miris bila kita membaca secuplik kisah tersebut,namun ada hikmah yang sangat dalam di balik kisah tersebut. Seorang ayah yang sangat memegang teguh perjuangan atau jihad di jalan Allah demi mengharap ridhanya rela meninggalkan si buah hatinya yang dalam keadan sakit keras dan maut akan menjemputnya. Memang sebagai bapak yang beriman ,seharusnya cinta pada Islam,jihad dan dakwah kepada Allah itu menguasai hati dan seluruh anggota badan. Sebaiknya ,semua dari hal di atas harus diutamakan daripada cinta kepada keluarga,anak-anak dan kerabat.,sehingga kau dapat bertolak untuk menyampaikan dakwah dan mengibarkan panji jihad.semoga engkau termasuk orang-orang yang membangun kemegahan Islam, negara Al-Qur;an dan kejayaan umat dengan kemauan dan tekad yang kuat.semua itu tidak sulit bagi Allah untuk melakukannya.

3

Berikut beberapa sabda Rasulullah Saw tentang orang-orang yang ingin menyempurnakan iman di dalam lubuk hati,dan mengenyam kelezatan iman jauh dalam rongga dada mereka. Al-Bukhari meriwayatkan Hadis: “ Bahwa Umar Ibnul Khatthab berkata kepada Nabi Saw,’ Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah ,aku lebih sukai daripada segala sesuatu .’ Maka Nabi Saw bersabda,’Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu ,sebelum ia mencintai akau ebih daripada ia mencintai dirinya sendiri,’ Umar berkata,’ Demi yang telah menrunkan Al-Kitab kepadamu,sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku yang berada di kedua sisiku,’ Maka Nabi Saw bersabda,’ Sekarang wahai Umar,sekarang telah sempurna imanmu.” Di dalam As-Sahih Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw,bersabda: “ Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu, sebelum keinginannya (kecintaanya) mengikuti apa yang aku bawa (Islam).” Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Rasulullah Saw: “ Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu,sebelum aku dicintainya lebih daripada harta,anaknya dan manusia seluruhnya.” Inilah hal yang sangat mendasar mengapa ita harus mencintai Allah,Rasul, dan Islam di atas segala-galanya termasuk anak dan istrikita karena ada balasan yang pantas dan sesuai dengan apa yangtelah kita pilih sebagai suatu hadiahyang berguna bagi kita,kelurga dan kemaslahatan umat seluruhnya.

C. Menghukum

Dan

Meninggalkan

(Memboikot)

Anak

Untuk

Kepentingan Pendidikan
Anak-anak merupakan masa yang sangat menyenangkan di mana pekerjaan mereka adalah bermain, bermain dan bermain. Bermain adalah suatu hal yang lumrah karena dengan bermainseluruh fisik dan pikiran mereka gunakan dan tidak dipungkiri rasa juga turut andil. Ketika masih kecil ,seorang anak merupakan tanggungjawab orang
4

tua sepenuhnya. Mulai dari perilaku,pendidikan dan moral-etika dan agama adalah kewajiban yang harus dipenuhi seorang orang tua dalam menciptakan generasi yang sholeh dan bermanfaat. Namun,ketika anak telah tumbuh danberkembang secara otomatis orang tua butuh seorang ahli untuk mendidik anaknya,seperti pendidik atau guru. Bagi guru juga tidak bisa dilepas begitu saja,mereka juga butuh peran seorang ibu atau bapak,karena 80% kehidupan anak berada di rumah dan selalu dalam pengawasan orang tua. Inilah yang perlu diperhatiakan adanya kerjasama antara orang tua dan pendidik agar di dalam merealisasikan tujuan utama mereka yakni mencetak generasi Islami , berbudi Qur’ani dan berpengetahuan umum maupun agamawi dapat dengan tepat dan cepat. Nah,di dalam kita membuat tujuan tersebut agar bukan hanya angan-angan belaka,diperlukan pula sebuah cara atau metode yang benar dan tepat agar mengena namun tetap dalam batasan-batasan agar tidak terlalu membebani si anak dalam proses tersebut. Ada 3 hal yang bisa kita lakukan. Yaitu yang pertama adalah menasihatinya dengan perkataan yang lemah lembut. Seperti hadis berikut ini, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan: “ Dari Umar bin Abu Salamah r.a. berkata:’ Ketika masih kecil, aku pernah berada di bawah pengawasan Rasulullah Saw dan tanganku berherak mengulur ke arah makanan yang ada di dalam piring. Maka Rasulullah Saw berkata kepadaku’ Wahai anakku,sebutkanlah nama Alah,makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah (hanya) yang ada di sampingmu.” Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad r.a.: “ Rasulullah Saw membawa minuman,lalu meminumnya,sedang di sebelah kananya ada anak kecil dan di sebelah kirinya ada orang tua. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada anak kecil itu,’Apakah engkau memberikan izin aku untuk memberikan mereka?’ (Ini adalah cara halus). Anak kecil itu bilang.’Tidak ,demi Allah. Aku tidak akan mengutamakan seseorang dengan bagianku darimu.’ Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangannya.” Anak kecil itu adalah Abdullah bin Abbas (keponakan Nabi). Cara yang kedua,adalah dengan meninggalkan atau pemboikotan anak. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id r.a.bahwa ia berkata:
5

“Rasulullah Saw melarang untuk melempar (batu dengan telunjuk dan ibu jari). Beliau bersabda.’ Sesungguhnya lemparan itu tidak akan mematikan buruan dan tidak akan melukai musuh. Tetapi ia dapat mencungkil mata dan mematahkan gigi.” Dan dalam sebuah riwayat dikatakan: Kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu. Kemudian ia ( Sahal bin Sa’ad) melarangnya dan berkata,” Sesungguhnya Rasulullah Saw ia tidak akan dapat membunuh buruan....’ Kemudian ank itu kembali bermain. Maka ia berkata ,’ Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa Rasulullah Saw telah melarangnya,tapi kamu masih melakukannya. Sungguh aku tidak akan mengajakmu berbicara selamanya!” Jika kedua cara tersebut tidak dapat membuat pelajaran pada anak,maka gunakan cara yang ketiga yakni pemukulan tapi dengan niat bukan untuk menghukum atau membuat anak sakit melainkan untuk mendidik dan membuat pelajaran agar hal tersebut tidak ia lakukan lagi, seperti pada hadis berikut. Abu Dawud dan Hakim meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dan bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Perintahkan kepada anak-anakmu untuk melaksanakan salat pada usia tujuh tahun,dan apabila telah berusia 10 tahun. Maka pukullah mereka (apabila tetap tidak mau melaksanakan salat itu) dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” Tata cara atau tahapan yang telah disebutkan di atas adalah untuk mendidik anak pada uia anak-anak dan pubertas. Sedangkan untuk mereka yang telah beranjak remaja dan dewasa tata caranya akan berbeda. Seperti dengan hal pemboikotan. Artinya jika anak dalam masa remaja dan ia tetap dalam kefasikan dan kedurhakaan maka hal yang dilakukan adalah mendiamkannya selamanya. Di dalam bab yang membolehkan memboikot orang durhaka, Al Buhari meriwayatkan,’Ka’ab menceritakan tentang dirinya (bersama dua orang temannya yang lain) tertinggal dari Nabi Saw (memang sengaja tidak mau ikut) dalam perang Tabuk:” Nabi Saw telah melarang kaum Muslimin untuk berbicara dengan kami sampai lia uluh hari/malam.” Pemboikotan tersebut membuat diri dan bumi di sekeliling mereka menjadi sempit. Tidak seorang pun yang mau berbicara,menggubris ataupun bergaul dengan mereka sampai Allah menurunkan (wahyu) dalam Al-Qur’an tentang penerimaan taubat mereka.”

6

Dalam hal ini pula Nabi Saw pernah memboikot sebagian istrinya selama satu bulan sebagai hukuman dan pelajaran bagi mereka. As-Suyuti meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Umar r.a.memboikot seorang anaknya hingga mati,karena ia tidak mau menyatakan sebuah hadis yang disebutkan ayahnya Rasulullah Saw: “Nabi telah melarang kaum laki-laki menahan kaum wanita pergi ke mesjid.” Pemboikotan ini apabila anak bersikap menyimpang (nakal dan fasik), namun masih berada dalam Islam dan Iman,sedangkan bila ia murtad,dan kafir,makamemboikot atau mengasingkannya adalah termasuk salah satu tuntunan iman yang paing awal. Pembaca tentu mengetahui ,bahwa di antara perasaan ini ada yang bersifat kemaslahatan, seperti mengutamakan kecintaan terhadap jihad dan dakwah kepada Allah di atas kecintaan terhadap keluarga dan anak. Pembaca juga mengetahui bahwa kepeningan Islam berada di atas kepentingan pribadi. Oleh karena itu , tidak mungkin umat Islam akan mencapai kemenangan,kemuliaan dan kekuatan,kecualisetelah kecintaan terhadap Allah,Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya berada di atas kecintaan terhadap keluarga,harta,anak dan tempat tinggal. Dan pembaca tentu pula mengetahuinya, bahwa di antara persaaan ini ada yang bersifat paedagogik-edukatif, seperti menasihati anak, menghukum dan membiarkannya. Dan pembaca juga mengetahui bahwa Islam secara bertahap berupaya mendidik anak dengan peringatan dan boikot sampai kepada pemukulan yang tidak melukai. Para pendidik tidak boleh menggunakan cara paling keras, jika cara yang paling ringan berguna.inilah puncak upayaIslam dalam mendidik anak-anak. Para pendidik dan da’i sudah seharusnya mengetahui metode dan sistem Islam di dalam mendidik anak-anak. Dengan demikian mereka dapat berjalan di jalan yang lurus dan benar dalam mendidik generasi dan memperbaiki masyarakat. Metode dan sistem itu dapat memindahkan generasi dari lingkungan yang rusak dan menyimpang pada kehidupan suci. ,mulia dan berakhlak. Demikianlah yang seharusnya dilakukan oleh para pendidik.

7

8

PASAL III Hukum-Hukum Yang Secara Umum Berkaitan Dengan Kelahiran Anak A. Yang Harus Dilakukan Seorang Pendidik Saat Kelahiran
Di antara keutamaan syariat Islam terutama bagi umat Islamnya sendiri,ialah bahwa syariat Islam telah menjellaskan tentang seluk beluk hukum dan dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan anak. Dengan demikian sebagai seorang pendidik akan dapat melaksanakan kewajibannya kepada anak akan secara jelas. Sungguh merupakan keniscayaan bagi setiap orang yang bertanggungjawab terhadap masalah pendidikan untuk melaksanakan kewajibannya secara sempurna sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah diletakkan oleh Islamdan yang digambarkan oleh pendidik pertama Nabi Saw. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan seorang pendidik untuk seorang anak pada masa kelahiran:
 Memberikan ucapan selamat dan rasa turutgembira ketika seseorang

melahirkan. Mengenai hal ini Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah meriwayatkan di dalam bukunya ,Tuhfatul Maudud, dari Abu Bakar Al Mundziri: “ Telah diriwayatkan kepada kami dari Hasan Al-Bashri,bahwa seorang lakilaki telah datang kepadanya,dan di sampingnya ada laki-laki yang baru saja dianugerahi seorang anak kecil.” Laki-laki itu berkata kepada orang yang mempunyai anak itu,”Selamat bagimu atas kelahiran seorang penunggang kuda.” Al-Hasan berkata kepada laki-laki ,”Apa pedulimu,apakah dia seorang penunggang kuda ataukah seorang penunggang keledai!” Laki-laki itu bertanya, “Jadi bagaimana kita harus mengucapkan?” Al-Hasan menjelaskan,”Katakanlah,semoga engkau diberkahi dalam apa yang telah diberikan kepadamu. Semoga engkau bersyukur kepada yang memberi. Semoga engkau diberi rezeki dengan kebaikannya dan semoga ia mencapai masa balighnya.”

9

 Mengumandangkan adzan ke bayi dari telinga kanan dan iqamat pada telinga

kiri. Dalam sebuah hadis di sebutkan. Diriwayatkan dari Baihaqi dan Ibn Sunni meriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali dari Nabi Saw: “ Siapa yang baru mendapatkan bayi,kemudian ia mengumandangkan azan pada telinga kanannya dan iqamat pada telinga kirinya maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya Ummush Shibyan.”1
 Mentahnik anak. Mentahnik adalah suatu cara untuk melumatkan makanan

lalu meletakkannnya pada mulut bayi sambil menggosok-gosokkannya ke langit-langit mulut. Perbuatan ini pun pernah dicontohkan Nabi Saw, diceritakan dari Asma’ binti Abu Bakar r.a. yang menyatakan: “ Aku mengandung bayi Abdullah bin Zubair di Makkah. Kemudian berhijrah ke Madinah dan menetap di Quba. Di Quba itulah aku melahirkannya, maka aku menghadap Nabi Saw dan beliau menempatkan bayi itu di pangkuan beliau. Lalu beliau mengambil kurma dan dikunyah. Kemudian diusapkan ke mulut bayi. Maka sesuatu yang pertama kali masuk di dalam mulut bayiku adalah air ludah kunyahan kurma Rasulullah Saw dan dengan suapan daging kurma basah. Kemudian Nabi mendoakan dan memberkatinya.” (HR. BukhariMuslim)
 Mencukur rambut kepala anak. Di dalam al-Muwatha’, Imam Malik

meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad,dari Bapaknya,bahwa ia berkata: “ Fatimah r.a telah menimbang rambut kepala Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kultsum. Seberat timbangan rambut itulah ia menyedekahkan perak.”

B. Pemberian Nama Anak Dan Hukumnya
Muslim yang baik tentu tidak mau terjebak mengikuti pendapat Shakespeare yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama”. Karena menurut pandangan Islam, nama memiliki arti tersendiri yang sangat penting, baik itu di hadapan sesamamanusia maupun di hadapan Allah Sang Kholiq. Nama tidak hanya sebagai panggilan di dunia saja,melainkan hingga di akhirat. Ia merupakan identitas diri yang paling hakiki,
Ummush Shibyan adalah angin yang dihembuskan kepada anak, menjadikan ia takut kepadanya. Dikatakan, bahwa yang dimaksud ini juga adalah pengikutjin yang memiliki nama lain Qarinah.
1

10

mengandung unsur doa dan harapan serta dapat membentuk kepribadian tertentu bagi si empunya nama. Sehingga dalam tradisi Indonesia, pemberian nama membutuhkan upacara atau sedikit proses agar nama tersebut dapat menjadi doa,harapan, dan kepibadian anak dapat terwujud sesuai dengan namanya tersebut. Di dalam Islam pun hal ini telah diatur dengan sangat apik,berikut penjelasannya: a. Waktu memberikan nama Sebenarnya untuk memberi nama kepada anak tidak ada aturan waktunya ,semua adalah hak dan kewajiban orang tuanya kapan ia mau memberikan sebuah nama. Namun, Nabi Saw memberikan anjuran kepada kita untuk memberi nama kepada anak ketika ia lahir, seperti hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim bahwa Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi berkata, “ Al-Mundzir Ibn Abi Usaid dibawa ke RasulullahSaw ketika baru dilahirkan ,kemudian ia diletakkan di atas paha beliau, sedangkan Abi Usaid duduk. “ Lalu Rasulullah bersenda gurau dengan sesuatu yang ada pada kedua tanganya. Kemudian Abi Usaid menyuruh agar anaknya itu diambil dari paha Rasulullah, lalu beliau Saw bertanya,” Di mana anak itu?” Abi Usaid menjawab,” Sudah kupulangkan ,wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi,”Siapa namanya?” Abi Usaid .” Si Fulan” maka Rasulullah bersabda,” Jangan,tetapi namakanlah ia dengan Al-Mundzir.” Namun, ada hadis lain yang menganjurkan agar kita memberi nama pada pada saat akikah atau hari ketujuh, Ashabus Sunan telah meriwayatkan dari Samurah yang berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:” Setiap anak itu digadaikan dengan akikahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari kelahiran)nya, diberi nama dan dicukur rambut kepalanya pada hari itu juga.”
b. Nama-nama yang disukai dan dibenci

Menurut ajaran Islam,seseorang pendidik memiliki kewajiban atas nama anak karena ia yang tahu apa saja nama yang baik dan yang sebaliknya. Sebenarnya ada 5 kategori dalam memilih nama,dan inilah kategori tersebut:
11

1. Nama yang terbaik Kata “terbaik” di sini diartikan nama yang paling disukai oleh Allah Swt. Dan ketika kita mendengar sesuatu hal yang paling disukai Allah pastilah akan kita usahakan untuk melakukan atau mendapatkannya agar pahala yang kita peroleh. Ada hadis yang menguatkannya,yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibn Majah: “ Nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Nah, berdasarkan hadis tersebut Nabi menganjurkan untuk kita memberikan nama yang terbaik sebagaimana contohnya,yaitu Abdullah dan Abdurrahman. Namun, tidak harus semua itu bernama seperti di atas, karena sesungguhnya yang terpenting dalam penamaan yang paling disukai Allah adalah yang mengandung arti penghambaannya pada-Nya. Sesuai hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh At-Thabrani;” Nama-nama yang paling disukai Allah adalah nama yang menunjukkan penghambaan dirinya pada Tuhannya..” 2. Nama yang baik Kalau nama yang terbaik itu yang disukai Allah ,maka nama yang baik ini sangat disukai oleh Rasulullah Saw. Petunjuk ini adalah sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,”Namailah (diri dan anak kalian) dengan namaku..” dan “ Barangsiapa yang mempunyai 3 anak laki-laki tidak ada satupun yang dinamai Muhammad, maka sungguh ia telah bertindak bodoh.”. Dari hadis di atas kita sebagai calon pendidik dianjurkan untuk memberi nama yang ada unsur nama Nabi Saw atau Nabi sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nama yang baik adlah nama Nabi dan Rasul baik Muhammad, keluarganya atau Nabi sebelumnya. 3. Nama yang tidak baik (sebaiknya diganti)
12

Nama yang dimaksudkan di sini adalah nama yang diambil tanpa dasar sayri’at dan hanya berdasarkan trend atau budaya yang tanpa digali dulu artinya seperti apa. Seyogyanya nama yang tidak baik ini diganti dengan nama yang ada unsur penghambaan kepada Allah atau nama Nabi dan Rasul agar lebih baik dan baik. 4. Nama yang buruk (harus diganti) Kategori nama yang buruk adalah nama-nama yang katanya, maknanya atau konotasinya buruk, tidak sesuai dengan visi dan misi Islam. Sehubungan dengan itu, maka nama yang makna dan konotasinya melebih-lebihkan dari sifat kemanusiaanya,jelas tidak sesuai dengan visi dan misi Islam. Pada zaman Rasulullah Saw ada seseorang perempuan bernama ‘Aishiah (bukan Aisyah atau ‘Aisah),yang berarti perempuan penggemar maksiat. Maka oleh beliau segera diganti dengan nama Jamilah yang berarti perempuan yang cantik. (Bukhari-Muslim) 5. Nama yang diharamkan (wajib diganti) Dalam Islam ,nama bukanlah hanya sekedar nama saja. Karena selain ada nama yang disukai Allah juga ada nama yang sebaliknya yaitu dibenci oleh Allah, dan hukumnya adalah haram untuk diberikan pada anak. Sesungguhnya nama yang termasuk dalam kategori ini adalah nama malaikadan gelar Nabi. “ Namailah (diri dan anak kalian) dengan nama-nama para Nabi.tetapi janganlah kalian namai mereka dengan nama-nama malaikat” ( HR. Bukhari) dan “Namailah (diri dan anak kalian dengan namaku,tetapi janganlah dengan gelarku...”( HR. Muttafaqun Alaih)
c. Termasuk sunnah menggabungkan nama ayah dengan anak

Salah satu hal yang terpenting dalam pemberian nama adalah ikatan antara anak dengan orang tuanya,untuk membuktikannya kadangkala kita
13

menambahkan di belakang nama anak nama bapaknya. Penggabungan ini ternyata memiliki efek yang baik,yakni: 1. Akan timbul rasa hormat akan ayahnya. 2. Menumbuhkan kepribadian sosial. 3. Memberikan rasa percaya diri dan gembira ,karena nama tersebut sangat ia sukai. 4. Membiasakan etika berbicara terhadap orang yng dewasa maupun yang sebaya dengannya. Di dalam kita menggabungkan nama tersebut ada beberapa ketentuan yang harus ditempuh , sebagaimana berikut ini:
 Dalam keadaan tidak adanya kesepakatan pemberian nama kepada

anak,maka semua itu akan menjadi hak bapaknya, sesuai firman Allah :”Panggillah (anak-anak itu) dengan memakai nama bapaknya mereka itulebih adil di mata Allah”(QS. Al-Ahzab: 5)
 Tidak diperbolehka dalam memanggil atau menambahi nama anak

dengan julukan atau sebutan-sebutan yang dapat merendahkan diri anak bahkan seakan-akan menghinanya,seperti si tuli,si dungi,si penek dan lainnya. “ Dan janganlah kalian panggil dengan gelargelat yang buruk.” (QS. Al-Hujurat:11)
 Dalam menyematkan julukan atau nama Nabi, juga perlu

diperhatikan. Memang bila kita mengambil nama Nabi itu baik tapi tidak boleh dicampur dengan julukannya seperti contoh ‘Abu Qasim’. Tapi hal itu bisa saja berubah seiring zaman,2 karena Nabi telah wafat sehingga untuk mengenangnya kita bisa mempergunakan namanya untuk menghormatinya selain dengan selalu berbuat terpuji yang lainnya.
Memang pada masa Nabi ,orang tua dilarang keras untuk menyematkan nama dan julukan Nabi kepada anaknya dan anak sahabat lainnya , ini ditakutkan ada pelecehan atau penodaan nama. Tapi ketika Nabi telah wafat,itu diperbolehkan ,sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ,dari Mundzir dari Muhamad Ibn Al-Hanafiyah: Ali r.a. berkata: “Jika aku dikaruniai seorang anak setelah engkau wafat, maka ia akan aku namakan namamudan aku juluki dengan julukanmu,” Rasulullah Sw bersabda:”Ya”.
2

14

C. Akikah Dan Hukumnya
1. Makna Aqiqah Secara etimologis , aqiqah adalah memutus. Sedangkan menurut istilah adlah ,aqiqah berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari yang ketujuh dari kelahirannya. 2. Dalil Disyariatkannya

Di dalam Sahih Bukhari, meriwayatkan dari Salman bin Amar AdhDhabbi,Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aqiqah itu harus disertakan dengan anak. Maka tumpahkanlah baginya (dengan menyembelih domba) dan jauhkanlah penyakit darinya.”

Tirmidzi,Nasa’i, dan Ibn Majah meriwayatkan dari Al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah Saw bersabda tentang Aqiqah:” Setiap anak itu digadaikan dengan akikahnya. Disembelihkannya pada hari ketujuh,dicukur rambut kepalanya dan lalu diberikan nama.”

Imam Ahamad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aiayah r.a Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:” Bagi anak laki-laki disembelihkan 2 ekor kambing yang sepadan3 dan bagi anak perempuan disembelihkan 1 ekor kambing.”

3. Pendapat Fuqaha Tentang Aqiqah  Disunnahkan dan tidak wajib Pendapat ini diikuti sejumlah fuqaha seperti, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya,Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan sebagian besar ulama,fuqaha,ilmuwan dan mujtahid. Dasar dari pernyataan ini adalah sebagai berikut: Jika akikah itu wajib,maka selayaknya Nabi memberikan hujjah yang jelas pada tiap-tiap hadis yang menjelasakan sehubungan dengan hal tersebut, seperti ibadah makdhah.
3

Yang dimaksud dengan 2 ekor kambing yang sepadan adalah yang serupa bentuknya dan sama umurnya.

15

-

Rasulullah telah menyamakan persoalan akikah dengan rasa suka terhadap orang yang melakukannya. Nabi bersabda:”Siapa yang dikaruniani anak ,lalu ia menyukai untuk melakukan ibadah kepada Allah atas dirinya (mengakihkannya),maka hendaklah ia melakukannya.”

-

Tindakan Rasulullah Saw dalam persoalan ini tidak ada yang menjurus pada suatu kewajiban baik secara personal maupun general.

 Wajib Mereka yang mengikuti pendapat ini adalah Imam Hasan Al-Bashri. Al-Laits Ibn Sa’ad dan yang lainnya. Mereka mendasarkan pemikiran mereka pada salah satu hadis yakni,Nabi bersabda:”Sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan diminta pertanggungjawabannya atas akikah mereka sebagaimana mereka dimintai pertanggungjawabanya atas salat lima waktu.” Dari secuplik hadis ini yang diriwayatkan oleh Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiah, bahwa anak yang belum diakikahi tidak akan memberi syafaat pada orang tuanya pada hari kiamat kelak.

 Haram Seluruh pengikut Hanafiyah menolak adanya akikah. Argumentasi yang mereka berikan adalah hadis yang telah diriwayatkan oleh Baihaqi dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dan dari kakeknya bahwa Rasulullah Saw ditanya tentang akikah,beliau menjawab:” Aku tidak menyukai akikah-akikah tersebut”. Namun, para ulama dan mujtahid telah memberikan sebuah kesimpulan yang mendasar bahwa akikah itu hukumnya sunnah dan dianjurkan bukan wajib apalagi haram,karena memang Nabi Saw tidak pernah mewajibkan ataupun melarangnya. Oleh karena itu,sebagai orang tua yang bijak hendaklah ia melakukannya,jika memang memungkinkan demi menghidupkan sunah Nabi. Sehingga ia memperoleh keutamaan danpahala dari Allah Swt. Dan tidak hanya itu keuntungan lainnya adalah menambahkan rasa kasih sayang kepada
16

anak,keharmonisan keluarga, rasa toleransi. Dan mempererat tali persaudaraan kepada sosial. 4. Waktu Pelaksanaan Aqiqah Sesungguhnya waktu yang tepat adalah 7 hari sejak kelahirannya sesuai hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Samurah:” Anak itu digadaikan dengan akikahnya. Disembelihkannya binatangpada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama.” Dari hadis itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Nabi Saw telah menganjurkan kepada seluruh orang tua untuk mengakikahi anaknya,tapi hal ini bukan suatu kewajiban atau keharusan . karena akikah juga butuh biaya atau kesempatan juga. Oleh karena itu suatu ketika Al- Maimun berkata ,” Aku bertanya kepada Abdullah,’Bilamanakah anak itu diakikahi?’ Abdullah menjawab ,’Aisyah telah mengatakan bahwa akikah itu dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, keempat belas ataupun hari kedua puluh satu dari hari kelahirannya.” 5. Apakah Aqiqah Anak Laki-laki Sama Dengan Anak Perempuan ? Aqiqah antara anak laki-laki dan anak perempuan adalah di anjurkan dengan ketentuan bahwa laki-laki itu dengan 2 ekor kambing dan perempuan 1 ekor kambing. Sesuai hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ahamad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aiayah r.a Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:” Bagi anak laki-laki disembelihkan 2 ekor kambing yang sepadan4 dan bagi anak perempuan disembelihkan 1 ekor kambing.” Jadi pada dasarnya perbedaannya terletak pada jumlah kambing yang dikurbankan sedangan hukumnya sama-sama dianjurkan atau disunnahkan. Sedangkan apakah boleh berkurban dengan selain kambing,misalkan unta, menurut jumhur ulama itu boleh saja melihat dari kemampuan orang tuayang mungkin berkecukupan, maka unta akan lebih utama daripada kambing. Namun tetap, yang menjadi inti sebuah akikah adalah pelunasan akan gadai pada diri anak. 6. Makruhnya Menghancurkan Tulang Aqiqah kerabat,teman,sahabat,tetangga atau orang yang membutuhkan (fakir miskin), sehingga anak sejak dini telah diajari atau dididik tentang kepedulian

4

Yang dimaksud dengan 2 ekor kambing yang sepadan adalah yang serupa bentuknya dan sama umurnya.

17

Memang hal ini jarang kita dengar, bahwa ada ke-makruh-an untuk menghancurkan tulang hewan sembelihan. Perihal ini berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya bahwa Nabi Saw pernah bersabda mengenai masalah akikah yang dilakukan Fatimah untuk Al-Hasan dan Al-Husein:” Berikanlah (sepotong)kaki dari akikah kepada suku anu. Makanlah dan berilah makan, dan janganlah menghancurkan tulang darinya (akikah).” Adapun hikmah yang dapat kita ambil dalam perihal ini;  Memberikan penghormatan kepada orang yang diberi yakni kaum fakir miskin atau tetangganya. Karena dengan pemberian yang sempurna tanpa adanya kekurangan mengandung nilai kepuasan tersendiri dari sang penerima maupun yang memberikan.  Harapan kepada anak untuk menjadi anak yang sholeh/ah, memiliki kepedulian sosial, mendapatkan keselamatan, kesehatan dan kekuatan fisik-mental. Karena akikah mengandung nilai pengorbanan yang luar biasa yang telah dilakukan anak semenjak ia masih bayi. Dan Allah lebih tahu tentang hal ini. 7. Hukum Umum Yang Berkenaan Dengan Aqiqah Ada 5 hukum yang akan penulis jelaskan di sini, perinciannya adalah sebagai berikut: 1. Ulama sepakat bahwa semua hal yang berkenaan dengan akikah adalah hal yang diperbolehkan dalam kurban,yaitu: Hewan yang akan disembelih telah berumur 1 tahun lebih atau telah memasuki umur 2 tahun Tidak ada kecacatan atau kerusakan pada fisik maupun mental hewan Khusus sapi atau kerbau harus berumur 2 tahun dan memasui tahun ketiga. Sedangkan unta umur 5 tahun dan memasuki tahun keenam. 2. Tidak boleh kooperatif

18

3. Sebagai ganti kambing boleh sapi atau unta dan jangan hewan yang kurang dari itu (kambing,domba atau sejenisnya) 4. Apa yang sah di akikah,maka sah juga di kurban dapat dilihat dari cara penyembelihannya, memberikannya, membaginya dan pemberian pada suku tertentu sebagai penghormatan pada mereka. 5. Dianjurkan dalam proses penyembelihan disebutkan nama anak 8. Hikmah Disyariatkannya Aqiqah Hikmah yang dapat diambil dalam proses akikah ini adalah sebagai berikut: 1. Suatu pengorbanan yang akan mendekatkan jiwa anak pada Tuhannya 2. Sebagai suatu penebusan anak dari segala marabahaya dan bencana yang akan dialami oleh anak kelak 3. Merupakan pelunasan gadai anak yang berfungsi peberian syafaat anak kepada orang tuanya 4. Suatu media kegembiraan yang positif dan dianjurkan oleh Islam 5. Dapat memperkuat tali persaudaraan antar sesama manusia beragam, baik tetangga, kerabat, sahabat, dan kaum lemah 6. Dapat meminimalisir kesenjangan sosial yang Allah janjikan sebagai suatu penerapan keadilan sosial dan menghapus gejala kemiskinan di masyarakat

D. Khitan Dan Hukumnya
1. Pengertian Khitan Menurut bahasa,khitan berarti memotong kuluf (kulit) yang meutupi kepala penis. Sedangkan menurut istilah syara’,khitan adalh meotong bulatan kulit di ujung hafasah,yaitu temat pemotongan penis. 2. Hadis Tentang Khitan

19

Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Saw bersabda: “ Di antara fitrah5 adalah : berkumur, menghirup air dengan hidung, mencukur kumis, membersihkan gigi, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan dan khitan.”

Ash-Sahihain dari Abu Hurairah r.a Rasulullah Saw bersabda:”fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

3. Hukum Khitan Hukum khitan dapat digolongkan menjadi 2,yaitu sunah dan wajib. Dari kedua hukum tersebut kita dapat melihat bagaimana ulasan atau landasan yang dipakai sehingga dapat melahirkan 2 hukum di atas. Demikian penjelasannya:  Sunah Hukum sunah ini dilandakan pada beberapa hadis di bawah ini:
o

Imam Ahmad dari Syidad bin Aus dari Nabi Saw,bahwa beliau bersabda:” Khitan itu disunahkan bagi kaum lelaki dan dimuliakan bagi kaum wanita.”

o

Dari Hasan Al-Bashri bahwa:” orang-orang (dari berbagai bangsa) telah masuk Islam bersama Rasulullah Saw: ada orang hitam, ada yang putih, orang, orang Romawi, orang Persia, orang Habasyah. Namun beliau tidak memeriksa seorang pun di antara merekav( apakah mereka telah dikhitan).”

 Wajib Hukum wajib ini juga memiliki penguatan tersendiri yaitu:
o

Imam Ahmad dan Abi Daud meriwayatkan dari Usman bin Kalib dari bapaknya dan kakeknya bahwa ia telah datang kepada Nabi

Fitrah ada dua. Pertama , fitrah keimanan, yang berkenaan dengan hati. Yaitu mengetahui tentang Allah dan keimanan kepada-Nya.Kedua, fitrah amaliyah. Yaitu hal-hal yang telah disebutkanpada hadis-hadis di atas. Fitrah yang pertama berfungsi membersihkan roh dan hati. Sedangkan fitrah kedua menyucikan badan dan memperindah penampilan. Sedangkan pangkal fitrah badan adalah khitan.

5

20

Saw. Is berkata,” Aku telah masuk Islam.” Beliau bersabda:” Buanglah rambut kekufuranmu dan berkhitanlah.”
o

Harb meriwayatkan di dalam Masa’il-nya dari Az-Zuhri, bahwa Rasulullah Saw bersabda:” Barangsiapa yang akan masuk Islam ,maka diwajibkan untuk berkhitan, sekalipun ia sudah dewasa.”

o

At-Tirmidzi dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ayyub, Rasulullah Saw bersabda:” Ada 4 perkara yang termasuk dalam sunah-sunah Rasul,yaitu: berkhitan, memakai wangi-wangian, bersiwak dan menikah.”

o

Dari Waqi’ meriwayatkan dari Salim dari Amr bin Harim bin Jabir dari Yazid dari Ibn Abbas ra:” Orang yang tidak dikhitan tidak akan diterima amalan salatnya, dan sembelihannya tidak boleh dimakan.”

Kesimpulannya, bahwa khitan adalah syari’at Islam yang memang wajib dilakukan oleh pria baik yang belum baligh atupun yang dewasa. Khitan juga adalah sebuah identitas diri yang dapat dijadikan pembeda antara kaum muslimin dan kaum kafirin. Selai itu, khitan memiliki keuntungan bagi kaum adam agar dapat menimalisir terjangkitnya dari penyakit kelamin. Nah, berkenaan dengan hal ini akan diulas lebih lanjut pada hikamah khitan. 4. Khitan Bagi Wanita Khitan selalu identik dengan kaum adam, hal ini memang wajar karena bila kita tilik kembaki pengertian khitan sendiri , bahwa memotong kulup pada penis. Kita senua tahu penis adalah alat kelamin bagi lelaki. Nah, bagaimanakah hukum jika wanita ingin dikhitan? Sebenarnya Islam tidak pernah sekali-kali membedakan antara wanita dan pria kecuali dalam hal khusus,misalkan salat. Di mana pria dan wanita memiliki kedudukan yang sama. Namun, dalam hal ini seorang wanita ingin menjajarkan dirinya dengan melakukan khitan adalah bukan cara yang tepat. Karena pada dasarnya

21

Islam hanya mewajibkan khitan bagi lelaki muslim dan bukan diperuntukkan bagi wanita muslimah. Hal tersebut sesuai dengan hadisyang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, bahwa khitan itu wajib bagi kaul laki-laki ,tidak wajib pada wanita. Dan riwayat ini telah sesuai dengan jumhur ulama dan mujtahid,bahwa sunah mengkhitankan wanita, dan tidak wajib. Dan bila kita mengaca pada hadis yang menyatakan anjuran wanita untuk berkhitan demi menjaga kemuliaanya seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Syidad bin Aus itu merupakan hadis lemah. Namun, jikalau hal itu adalah kuat atau rajih, tetap hukumnya sebatas anjuran dan bukan kepastian untuk harus dilakukan. Wallahu ‘alam 5. Waktu Wajib Khitan Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa khitan itu wajib dilaksanakan ketika anak akan mendekati masa baligh. Dengan harapan bahwa anak itu akan siap menjadi seorang mukallaf yang akan memikul tanggungjawab dalam melaksanakan hukumhukum syari’at dan perintah-perintah Tuhan. Dan ketika memasuki masa baligh, ia telah dikhitan, sehingga ibadahnya sah, seperti yang digariskan dan diterangkan oleh Islam. Akan tetapi ada yang lebih utama bagi orang tua adalah mengkhitankan anaknya pada hari-hari pertama setelah kelahirannya. Sehinnga ketika anak telah mengerti sesuatu dan memasuki masa remaja ia mendapatkan bahwa dirinya telah dikhitan. Dengan demikian,anak akan merasa tenang. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi dari Jabir r,a:” Rasulullah Saw telah mengakikahi Hasan dan Husain dan mengkhitani mereka pada hari ketujuh (dari kelahiran mereka).” 6. Hikmah Khitan Hikmah yang dapat diambil dalam permasalahan ini adalah a. Khitan adalah pangkal fitrah, syiar Islam dan syariat b. Khitan merupakan salah satu media bagi kesempurnaan agama yang disyari’atkan Allah lewat lisan Ibrahim a.s. yaitu agama yang mencetak hati umat manusia untuk bertauhid dan beriman.
22

c. Khitan sebagai pembeda antara kaum muslimin dan kafirin d. Khitan merupakan pernyataan ubudiyah (ketetapan mutlak) terhadap Allah
e. Khitan dapat membersihkan kotoran, penyakit dan mencegah bakteri maupun

virus yang berbahaya f. Khitan membuat kebersihan,keindahan, dan menstabilkan syahwat

PASAL IV Sebab-Sebab Kenakalan Pada Anak Dan Penanggulangannya A. Kemiskinan Yang Menerpa Keluarga
Kemiskinan adalah permasalahan yang sangat kompleks. Begitu pula di dalam suatu keluarga ,kemiskinan sering kali menjadi pokok permasalahan yang selalu berujung pada sesuatu hal yang negatif. Sebagai contoh, seorang anak yang yang ingin sekali menikmati kelayakkan hidup seperti pada umunya di televisi. Di mana mereka menyaksikan kehidupan para artis yang begitu mewah,namun ketika mereka melihat sekitarnya sangat bertolak belakang. Karena itulah, sebagaimana kita ketahui , jika anak tidak dapat menikmati sandang dan pangan secara layak di dalam rumahnya, tidak mendapatkan orangyang akan memberikannya sesuatu yang menunjang kehidupannya, kemudian iamelihat bahwa di sekitarnya penuh dengan kemiskinan dan kesusahan ,maka anak akan meninggalkan rumah untuk mencari rezeki dan bekal penghidupan. Dengan demikian, ia akan mudah diperdaya oleh tangan-tangan jahat penuh dosa, kejam, dan tidak bermoral. Dari sinilah titikawal kenakalan itu terjadi. Metode yang praktis untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah seperti memberikan mata pencaharian bagi setiap warga; memberikan gaji bulanan dari Kas
23

negara kepada setiap kaum lemah;memberlakukan undang-undang untuk mengatur pemberian santunan kepada orang tua yang lemah ekonomi dan memiliki anak;memberikan perlindungan kepada janda,kompo dan anak-anak terlantar;dan masih banyak lagi cara tepat untuk menanggulanginya namun itu semua yang paling perlu diperhatikan adalah kerjasama antara semua pihak baik pemerintah (Ulil Amr) dan masyarakat.

B. Disharmoni Antara Bapak Dan Ibu
Keluarga adalah lingkungan pertama yang akan dikenali oleh anak. Begitu pula dengan orang tua merupakan subjek utama dalam keluarga yang turut andil di dalam mengupayakan anak yang baik dan bermoral. Tapi, pada kenyataannya kadangkala karena perselisihan antara orang tua selalu membuat korban yaitu siapa lagi kalau bukan anak. Disharmoni antara bapak dan ibu akan menimbulkan ketidaknyamanan anak untuk tinggal di rumah (broken home). Karena orang tua yang seharusnya menjadi orang terdekat bagijiwa si anak di rumah,malah menjadi musuh di dalam rumah. Maka tindakan yang akan dipilih seorang anak untuk melampiaskan kekecewaannya itu dengan bergaul dengan teman-teman yang menurutnya baik dan mengerti keadaanya. Nah,inilah yang ditakutkan,apakah teman yang ia pilih itu membawanya kepada yang baik atau malah sebaliknya. Dengan dasar-dasar yang bijaksana dan abadi,Islam mengupayakan untuk meminimalisasi permasalahan yang kelak dapat terjadi di keluarga. Oleh karena itu ,Islam membuat aturan-aturan untuk memilih pasangan yang akan menjadi suami atau istri yang akan mengarahkan pada kedamaian dan ketenangan keluarga,sehingga selalu timbul rasa cinta-kasih-sayang, pengertian,saling terima, komunikasi yang baik, mudah percaya, saling terbuka,jujur,dan sebagainya.

C. Perceraian Dan Kemiskinan Sebagai Akibatnya
Kalimat perceraian atau thalaq dalam Islam dapat diartikan perpisahan. Kata ini sangat jarang diminati oleh siapapun, bagi kita semua hanyalah kata perkenalan, perjumpaan dan hubungan adalah sesuatu yang membahagiakan daripada suatu kata perpisahan.
24

Perceraian antara seorang bapak dan ibu akan berdampang secara langsung dan tidak langsung kepada anak . Seperti yang biasa kita dengar bahwa , jika ada orang tua yang sedang bertengkar maka yang akan menjadi korban adalah anak. Padahal kita tahu juga anak tidak tahu apa-apa yang terjadi di antara bapak dan ibunya,tapi mengapa harus mereka yang harus menanggungnya? Ini adalah suatu pertanyaan yang masih sangat sulit dipecahkan, namun permasalahan ini akan berdampak pada timbulnya suasana disharmoni keluarga yang seperti telah dijelaskan di atas. Sebenarnya dalam suatu hubungan asalkan kedua belah pihak tahu apa kewajiban dan haknya sudah barang tentu tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi kadang mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang merupakan hak mereka. Demikian perinciannya,menurut Islam hak dan kewajiban suatu pasangan rumah tangga adalah:
1. Istri mentaaati suami dengan baik. Al Bazzardan Athbrani meriwayatkan:

Pernah suatu ketika pada masa Nabi Saw,kaum wanita berkumpul. Kemudian mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk menghadap Rasulullah Saw. untuk bertanya: “ Wahai Ya Rasulullah, aku adalah salah satu kaum wanita yang diutus untuk bertanya padamu. Jihad ini diwajibkan hanya untuk laki-laki.jika mereka menang maka mereka akan diberi pahala,sedang pabila mereka mati mereka akan hidup di sisi Tuhan dan diberi rezeki pula. Sedangkan kami kaum wanita hanya melayani mereka. Adakah pahala bagi kami dari (jihad) itu?” Maka Rasulullah Saw bersabda:” Sampaikan katakata ku ini pada kaum wanita yang engkau temui,bila menaati dan mengakui hak suami,sama dengan orang lelaki yang berjihad di jalan Allah,namun sayang sangat sedikt sekali yang melakukan hal sedemikian itu.”
2. Istri menjada harta suami dan memelihara kehormatannya sendiri. Ibn Majah

meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku akan memberitahukan kepada kamu sekalian tentang sebaik-baik simpanan lelaki,yaitu wanita yang salehah. Apabila ia (lelaki) memandangnya, maka ia (wanita) dapat memberikan kesenangan padanya, apaila ia (lelaki) memerintahnya, maka ia (wanita) menaatinya dan apabila ia pergi dari dirinya , maka is menjagakan harta dan dirinya sendiri.”

25

3. Apabila suaminya ingin menggaulinya,maka ia tidak menolaknya. Al Bukhari

dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Apabila seorang lelaki memanggil istrinya untuk digauli di kasurnya ,kemudian ia enggan untuk memenuhinya sehingga ia (laki-laki itu) semalaman dalam keadaan marah kepadanya ,maka para malaikat akan melaknat wanita itu sampai waktu Subuh.”
4. Suami berkewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya Allah

Swt berfirman: “Dan kewajiban suami memberikan sandang dan pangan kepada para istri dengan cara ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 233)
5. Suami mengadakan musyawarah dengan istrinya ketika akan memutuskan

atau merencanakan sesuatu,atau ada masalah yang tidak dapat dipecahkan sendiri. Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasullulah Saw bersabda: “Bermusyawaralah dengan istri-istri kamu tentang putri-putri mereka.” Yakni meminta izin kepada istri sebelum putri-putri mereka dilamar.
6. Hendaknya suami tidak melihat sebagian dari kekurangan-kekurangan

istrinya,apalagi jika istri tersebut memiliki kebaikan dan kemuliaan yang menutupi keburukannya. Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:” Janganlah seorang laki-laki yang beriman membenci seorang wanita yang beriman . (Sebab), apabila ia tidak menyukai sebagian tingkah lakunya ,maka ia akan menyukai sebagian lain daripadanya.”
7. Suami memperlakukan istrinya dengan baik,lemah lembut, dan bersenda gurau

padanya. Allah Swt berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka,(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19). Dan dalam hadis juga telah disebutkan dari Ibnu Majah dan Al-Hakim telah meriwayatkan sabda Rasulullah Saw: “Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku aku ini adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
8. Suami ikut berperan dengan istri dalam mengerjakan pekerjaan di rumah

sebagai suatu kerjasama dalam keluarga agar tercipta suasana keluarga yang
26

harmonis. Seperti perintah Nabi Saw yang diriwayatkan dari At-Thabrani dan lainnya meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ketika ia ditanya tentang pekerjaan Rasulullah Saw di dalam rumah,ia menjawab:”Sebagaimana yang dikerjakan oleh salah seorang di antara kamu. Yakni, beliau membuang dan meletakkan sesuatu , membantu pekerjaan keluarganya, memotong daging untuk istri-istrinya, menyapu rumah dan membantu pembantu di dalam pekerjaaanya.” Itulah hak dan kewajiban yang harus ditaati dan dilakukan oleh sebuah pasangan yang mengidamkan keluarga yang harmonis fii dzinni, wa dunya, wal akhirat. Jika seorang suami dan istri melakukannya maka akan tercipta suasana yang haromis,tenang, damai,penuh cinta, kasih sayang, di mana rasa benci beralih menjadi kasih, rasa dendam menjadi tentram, rasa kalut jadi patut. Keluarga benar-benar akan menjadi keluarga idaman dan ideal sesuai dengan keinginan kita yaitu sakinah, mawadah ,warahmah .

D. Waktu Senggang Yang Menyita Masa Anak Dan Remaja
Waktu adalah pedang. Umpama ini sering kita dengar sebagai pengingat bahwa waktu laksana sebuah pedang ,di mana jika seseorang tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik maka secara otomatis ia akan terbunuh olehnya. Hal ini juga telah menjangkiti para putera-puteri kita. Mereka telah menghabiskan separuh waktunya yang luang terbuang siasia. Para pendidik harus memanfaatkan kenyataan ini pada diri anak-anak yang berada pada masa pubertas. Sehingga mereka memenuhi waktu-waktu senggang dengan berbagai aktivitas yang menyehatkan badan,memperkuat otot dan organ-organ tubuh mereka. Islam telah memberikan pengarahan untuk mengatasi problema kesengsaraan waktu untuk anak-anak dan para remaja ini dengan metode-metode praktis yang dapat menyehatkan dan menguatkan badan,serta menjadikan mereka sebagai anak-anak yang antusias dan aktif. Dan di antara metode-metode praktis yang merupakan arahan Islam di dalam mengatasi problematika waktu senggang anak ini adalah sebagai berikut: • Membiasakan anak untuk beribadah,seperti salat
27

Menyuruh anak untuk mempelajari seni bela-diri, menunggang kuda, renang, mencari jejak dan gulat

Mengarahkan anak agar menyibukkan diri di dalam mengisi waktu senggang dengan menelaah buku-buku, bertamasya dan berolah raga. Semua itu tidak akan tercapai ,kecuali dengan menyediakan lapangan bermain, taman hiburan, perpustakaan, dan kolam-kolam renang. Dengan syarat ,semua itu sesuai dengan syari’at Islam dan aturan-aturannya yang mulia.

Dan juga hal yang tidak boleh dilupakan anak juga harus dikenalkan kepada Tuhannya melalui cara-cara yang benar namun tetap sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Dan arahkan pada kegiatan keagamaan dan sosial untuk mengembangkan rasa simpati dan ketaqwaanya pada sesama dan Tuhannya.

Semua hal yang telah dijelaskan di atas merupakan aplikasi dari tuntunan Rasulullah dan juga dilandaskan pada Firman Allah dan Sabda Nabi. Seperti sebagai berikut:
1. Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Daud, bahwa Rasulullah Saw bersabda:”

Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah salat jika mereka sudah berusia 7 tahun. Dan jika mereka telah berusia 10 tahun, pukullah ia (jika tidak mau melaksanakan),dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
2. Allah berfirman :” Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja

yang kamu sanggupi dari dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu.”(AlAnfal: 60)
3. Dari Umar ibn Khattab r.a ,Nabi bersabda:” Ajarkanlah memanah dan berenang

kepada anak-anak kamu, dan suruhlah mereka untuk melompat ke atas kuda dengan sekali lompatan.” Dan masih banyak lagi paduan Islam dalam mendidik anak dalam memanfaatkan waktu luangnya agar lebih bermanfaat dan mempunyai nilai yang lebih positif. Jika para pendidik menerapkan petunjuk-petunjuk Islam ini, maka mereka akan dapat memberikan kesehatan, ilmu dan kekuatan pada anak-anak. Sebagaian dampaknya, anakanak tidak akan terjerumus kepada kenakalan. Sebaliknya, mereka akan mengisi waktu senngang mereka dengan beragam aktivitas positif yang bermanfaat bagi agama ,duni dan
28

akhirat mereka. Mereka juga berarti mempersiapkan generasi muslim,pasukan, da’i dan para pemuda Islam yang berkarya.

E. Pergaulan Yang Negatif Dan Teman Yang Jahat
Salah satu penyebab dalam pembentukan anak adalah lingkungan sekitar. Salah satunya, adalah pergaulan dengan temannya. Pergaulan dengan seorang penjual ikan asin, maka ia akan ikut berbau ikan asin sebaliknya jika bergaul dengan seorang penjual wewangian,otomatis kita pun akan berbau wangi. Perumpamaan ini sangat memotivasi kita sebagai pendidik agar anak-anak tidak salah dalam memilih teman. Dengan ajaran-ajarannya yang bersifat mendidik,Islam telah mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna. Terutama sekali pada masa perkembangan pubertas,sehingga mereka benar-benar mengetahui siapa orang-orang yang menemani, dan ke mana mereka akan pergi. Kemudian Islam memberikan anjuran untuk memilihkan teman yang baik untuk anak-anak mereka, agar dapat menyerap akhlak, adab dan adat yang mulia. Di samping itu, Islam juga memberikan petunjuk agar orang tua juga memperingatkan kepada anak-anak mereka agar menghindari teman yang jahat, agar mereka terhindar dari pergaulan dan tindakan yang di luar kaidah Islamiyah sehingga mereka akan terjerumus pada kesesatan dan kerugian. Berikut ini adalah landasan naqli dalam Islam yang mewajibkan kita sebagai pendidik untuk memilihkan pada anak-anak untuk pergaulannya agar tidak terjerumus dalam lembah kejahatan.

Firman Allah Swt ,”Teman-teman akrab pada hari itu sebagaiannya menjadi musuh bagi sebagaian yang lain,kecuali orang-orang yang bertaqwa.”(QS. AzZuhruf: 67)

Diriwayatkan dari At-Tirmidzi,bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Seseorang itu akan terpengaruh agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya itu.”

29

Diriwayatkan dari Ibn Asakir, bahwa Raslullah Saw bersabda,” Jauhilah olehmu teman yang buruk. Karena sesungguhnya engkau akan dikenal dengan keburukan.”

F. Buruknya Perlakuan Orang Tua Terhadap Anak
Di antara masalah yang hampir menjadi kesepakatan ahli pendidikan adalah jika anak diperlakukan oleh kedua orang tuanya dengan perlakuan kejam, dididik dengan pukulan yang keras dan cemoohan yang pedas, serta diliputi oleh hinaan dan ejekan, maka yang akan timbuk adalah reaksi negatif yang tampak pada perilaku dan akhlak anak. Rasa takut serta cemas akan tampak menggejala pada tindakan-tindakan anak. Bahkan lebih tragis lagi, terkadang mengakibatkan anak akan berani membunuh kedua orang tuanya atau melarikan diri dari rumahnya demi menyelamatkan diri dari kekejaman, kezaliman dan perlakuan yang menyakitkan. Dengan ajaran-ajaran yang bijak, Islam telah memerintahkan kepada setiap orang yang mempunyai tanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan , terutama bapak dan ibunya, untuk memiliki rasa kasih sayang, akhlak yang baik.berbudi luhur. Sehingga anak akan berkembang untuk menyesuaikan diri dan timbullah tanggung jawab pada dirinya sendiri. Maka,secara otomatis timbulnya kehormatan,harga diri, dan kemuliaan. Demikian Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menuntun kita sebagai pendidik untuk mendidik anak dan juga sebagai orang tua dalam membimbing anak pada kebaikan juga dengan cara yang benar dalam Islam. Bagaimanakah ? Inilah jawabannya.  Allah Swt berfirman,dalam beberapa surat dan ayat, dan berikut perinciannya:
-

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat...”( QS. An-Nahl : 90)

-

“...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang . Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS. Ali-Imran: 134)

30

-

“... serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia...”(QS. Al-Baqarah: 83)

-

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,

tentulah

mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu,”(QS. Ali-Imran : 159)  Nabi Saw bersabda, dalam beberapa riwayat, sebagai berikut:
-

“ Sesungguhnya Allah menyukai kelemah-lemahan di dalam segala hal.”( HR. Bukhari)

-

Semoga Allah memberi kasih sayang kepada orang tua yang mendidik anaknya untuk berbakti kepada dirinya.”( HR. Abu Syaikh)

-

Orang-orang yang mengasihani itu akan dikasihi olah Yang Maha Pengasih. Maka, kasihanilah siapa saja yang ada di bumi., niscaya kamu akan dikaruniai oleh mereka yang bertempat di langit.” ( HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

G. Film-Film yang Sadis Dan Porno
Di antara faktor yang menyebabkan kenakalan anak-anak dan dorongan untuk melakukan perbuatan jahat dan dosa, adalah film-film cerita kriminal dan porno yang mereka lihat di gedung-fedung bioskop, televisi, majalah, dan buku-buku cerita cabul yang mereka baca. Semua itu dapat mendorong anak itu dapat mendorong anak untuk menyimpang dan melakukan tindak kejahatan, semua itu mampu merusak akhlak orang-orang dewasa. Karenanya, bagaimanakah dengan para remaja dan anak-anak kecil? Islam telah menggariskan kepada para orang tua, pendidik dan orang-orang yang bertanggung jawab, prinsip-prinsip yang konsisten untuk mengarahkan dan mendidik anakanak serta melaksanakan kewajiban-kewajiban dan hak-hak mereka. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

31

a) Betul-betul menjaga diri dan anak dari perbuatan yang dimurkai Allah dan masuk

neraka. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada surat At-Tahrim ayat 6. “Hai orangorang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”
b) Menanamkan jiwa dan rasa tanggung jwab kepada para pendidik dan orang tua,

supaya meeka dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan sempurna. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw,” Seorang laki-laki adalah pimpinan dalam keluarga dan dia bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
c) Menghindarkan dari segala hal yang dapat membuat penyimpangan pada akidah dan

akhlak. Dalam hal ini Raslullah Saw bersabda:”Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh pula membahayakan (orang lain).”(HR. Imam Malik dan Ibn Majah) Bertolak pada prinsip-prinsip di atas, maka wajib bagi setiap orang tua,pendidik dan orang-orang yang bertanggung jawab , untuk mencegah anaknya dari film-film porno dan berbau kriminal, melarang mereka untuk membeli majalah-majalah porno, cerita-cerita dan buku-buku cabul. Kesimpulannya, mereka harus mencegah anak-anak dan remaja dari segala hal yang dapat membahayakan akidah dan mendorong mereka untuk melkukan tindakan kejahatan dan kehinaan.

H. Tersebarnya Pengangguran Di Dalam Masyarakat
Di antara faktor yang sangat mendasar sebagai penyebab kenakalan anak-anak dan remaja adalah, banyaknya pengangguran di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, seseorang bapak yang mempunyai istri dan anak-anak, tetapi sulit dalam mendapatkan mata pencaharian dan harta yang dapat menutupi rasa lapar keluarga dan anak-anaknya, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan kehidpan mereka, maka seluruh anggotanya akan berantakan dan sia-sia. Anak-anak cenderung menjurus kepada kenakalan dan tindak kejahatan. Bahkan, barangkali kepala keluarga dan anggotanya akan berfikir untuk mendapatkan harta dengan jalan yang haram, semisal mencuri, merampas, dan mengoyak. Jika demikian, maka kekacauan dan kehancuran segera menimpa suatu masyarakat.

32

Dengan memberlakukan prinsip-prinsip keadilan sosial, memelihara hak individu dan masyarakat, Islam telah menanggulangi pengangguran dengan segala macam bentuknya, baik pengannguran maupun pengangguran karena malas. Untuk menanggulangi pengangguran yang terpaksa karena tidak ada lowongan untuk mendapatkan pekerjaan sedang ia ingin mendapatkannya, maka Islam telah mengajukan dua bentuk pencegahan: a. Negara berkewajiban menciptakan lowongan kerja b. Masyarakat berkewajiban membantu membuka lowongan pekerjaan Untuk menanggulangi pengangguran yang disebabkan rasa malas dan tidak mau bekerja, sedangkan pekerjaan dan kemampuan untuk bekerja tidak ada, maka orang malas itu perlu mendapat pelajaran dari pemerintah. Andaikan pemerintah mengetahui bahwa orang itu memang pemalas dan tidak mau bekerja, sebaiknya pemerintah memberikan nasihat dan menunjukkan hal-hal yang mendatangkan kebaikan dan manfaat baginya. Tetapi, jika orang itu enggan menerima nasihat dan petunjuk itu, maka pemerintah berhak menindak keras dan memaksanya. Namun jika para penganggur itu adalah orang-orang yang lemah, tua, sakit, maka wajib bagi pemerintah untuk memperhatikan hak-hak mereka dan menjamin jalan hidup mereka yang lebih mulia,tanpa memandang apakah orang yang lemah, orang tua, atau yang sakit itu seorang muslim atau non-muslim. Inilah cara Islam di dalam menanggulangi pengangguran. Cara yang telah tertulis di atas merupakan cara yang halus, bijak, dan adil. Hal ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang, menghargai nilai kemanusiaan dan memberikan keadilan. Allah telah menurunkan Islam untuk menjadi penerang bagi umat manusia dan mercusuar di dalam kegelapan hidup. Selayaknyalah bagi manusia yang belum mengetahui, untuk mengerti hakikat Islam dan sebab-sebab Allah mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai seorang pemberi petunjuk, pemberi kabar kegembiraan dan peringatan, serta seorang penyeru kepada Allah Swt.

I. Keteledoran Kedua Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
33

Di antara faktor yang banyak berpengaruh dalam timbulnya kenakalan anak ,rusaknya akhlak dan hilangnya kepribadian mereka adalah keteledoran kedua orang tua dalam memperbaiki diri anak, mengharahkan dan mendidiknya. Tanggung jawab seorang ibu sama besarnya dengan seorang bapak. Bahkan bagi seorang ibu tanggung jawabnya bertambah berat, lantaran itulah yang selalu berdampingan dengan anaknya semenjak ia dilahirkan hingga tumbuh besar dan mencapai usia yang layak untuk memikul kewajiban . Apa yang Anda harapkan dari anak-anak yang bapak dan ibunya berada dalam keadaan seperti ini, yakni meremehkan dan membiarkan mereka. Sudah barang tentu kita tidak bisa banyak berharap dari mereka selain dari lahirnya kenakalan dan kejahatan, karena ibu tidak memperhatikan pendidikan anaknya, dan bapak meremehkan kewajibannya dalam mendidik dan mengawasinya. Situasi seperti ini akan semakin buruk jika kedua orang tua anak mempergunakan seluruh waktunya untuk melakukan maksiat, bergelimang di dalam hawa nafsu dan kelezatannya, serta terjerumus di dalam perbuatan-perbuatan menghalalkan segala cara. Karenanya ,tidak diragukan lagi bahwa anak akan lebih nakal dan lebih berbahaya.

J. Bencana Keyatiman
Di antara faktor fundamental yang menyebabkan kenakalan anak adalah keyatiman yang menimpa anak-anak ketika masih dalam usia belia. Anak yatim yang ditinggalkan bapaknya ini, jika tidak ada orang yang akan mgasihi dan menyayanginya, tidak dapat menemukan orang yang akan mengangkat derajat dan menutupi kebutuhannya, maka secara perlahan-lahan , anak akan mengarah padab kenakalan dan kejahatan. Bahkan menjadi alat penghancur umat, pemecah kesatuan dan biang kekacauan di tengah-tengah mereka. Dengan syariat yang abadi dan petunjuk yang lurus, Islam telah memerintahkan kepada para wali yang mengurusi anak yatim, dan kepada setiap orang yang mempunyai ikatan kerabat dengan mereka untuk memperlakukan secara baik, bertanggung jawab atas
34

segala perbuatannya dan mengawasi pendidikannya. Sehingga anak akan terdidik dengan baik, berakhlak mulia dan berbudi pekerti, serta mendapatkan cinta kasih dan sayang di bawah orang yang melindungi atau memeliharanya dengan ikhlas. Berikut ini penulis sajikan beberapa bagian dari ajaran-ajaran Islam yang memerintahkan untuk memelihara anak yatim dan mengasihaninya.

Allah berfirman,” Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu.” (QS. Al-Baqarah: 220)

Allah berfirman,” Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang padanya.” (QS. Ad-Dhuha: 9)

Rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan satu kebaikan bagi setiap rambut yang dilalui oleh tangannya.” (HR. Ahmad dan Ibn Hibban)

Rasulullah bersabda,” Aku (Nabi) dan orang yang memelihara anak yatim di dalam surga (nanti) bagaikan kedua ini “Sambbil mengisyaratkan dengan kedua jarinya; telunjuk dan jari tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi)

BAGIAN II PASAL IV Tanggung Jawab Pendidikan Rasio (Akal)

35

Yang dimaksud dengan pendidikan rasio (akal) adalah ,membentuk (pola) pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat ,seperti; ilmu-ilmu agama, kebudayaan, dan peradaban. Dengan demikian ,pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan dan sebagainya. Tanggung jawab ini tidak kalah pentignya dibandingkan tanggung jawab lainnya. Jika harus menjelaskan tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh para pendidik dalam setiap tanggung jwab yang harus dilakukan terhadap diri anak, maka penulis berpendapat bahwa pendidikan mental harus terfokus pada 2 masalah berikut: •

Kewajiban mengajar Menumbuhkan kesadaran berfikir

A. Kewajiban Mengajar
Kita yakin bahwa Islam memandang tanggung jawab ini sebagai hal yang sangat penting. Sesungguhnya Islam telah membebani para pendidik dan orang tua dengan tanggung jawab yang besar di dalam mengajar anak-anak, menumbuhkan kesadaran mempelajari ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta memusatkan seluruh pikiran untuk mencapai pemahaman secara mendalam , pengetahuan yang murni dan pertimbangan yang matang dan benar. Dengan demikian, pikiran mereka akan terbuka dan kecerdasan mereka akan tampak. Secara historis dapat diketahui, bahwa ayat pertamaa yang diturunkan ke hati sanubari Rasulullah Saw, adalah:” Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaran Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. Al-Alaq: 1-5) Yang demikian itu tidak lain adalah untuk mengangkat peran besar dari baca-tulis dan ilmu pengetahuan, mengangkat alam pikiran dan akal serta membantu pintu budaya selebarlebarnya. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mendorong untuk menuntut ilmu dan mengangkat kedudukan para ulama dan cendekiawan. Di antara ayat-ayat itu adalah:
36

-

“Katakanlah,’Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar: 9)

-

“Dan katakanlah,”Ya Tuhanku , tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”(QS. Thaha: 114)

-

“... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...”(QS. AlMujadalah: 11)

-

“Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan untuk menuju surga.”( HR.Muslim)

-

“ Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka putuslah semua amalan perbuatannya, kecuali tiga hal yaitu: sedekah jariyah, ilmu manfaat, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim)

Tetapi ada rahasia yang dapat mendorong tumbuhnya peradaban dan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan ini ? Rahasia itu tersimpan pada prinsip dasar yang terkandung dalam syariat Islam yang abadi, yaitu: a. Karena Islam merupakan roh dan materi, agama dan dunia Demikian ini karena ibadah, muamalah, perundang-undangan sosial dan hukum-hukum duniawinya mempunyai pengaruh yang jelas terhadap kebangunan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dan isyarat di dalam hal ini adalah firman Allah Swt:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah (kepadamu) kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi,...”(QS. AlQashshas: 77)

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah...”(QS. Al-Jumu’ah: 10)

b. Karena Islam menyerukan persamaan dan kemanusiaan
37

Tujuan dari prinsip ini agar setiap orang yang berada di bawah naungannya dapat membangun peradaban dan kebudayaan umat manusia, tanpa melihat adanya perbedaan ras, agama, kulit, jenis kelamin dan bahasa. Isyarat Islam dalam hal ini adalah firman Allah Swt: “... sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa di antara kamu...” (QS. Al-Hujurat : 13) c. Karena Islam agama yang terbuka dan mendorong untuk saling mengenal, berbaur antar umat, dan bangsa-bangsa lain Dalam hal ini ,isyarat adalah firman Allah Swt,” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal...” (QS. Al-Hujurat: 13) Berdasarkan seruan-seruan ini, maka kaum muslimin menjadi terbuja dan berbaur dengan umat-umat lainnya, dan memanfaatkan kebudayaan mereka. Dengan demikian, mereka mempunyai pengalaman yang luas di berbagai bidang, baik perindustrian, perniagaan, pertanian maupun kesenian. Kemudian kaum muslimin mengasimilasikan kebudayan-kebudayaan itu dengan corak Islam. Akhirnya terbentuklah warna Islam. d. Karena Islam agama dinamis yang senantiasa berpijak pada sistem, hukum dan dasar-dasar tertinggi Dan Islam akan tetap mulia dan abadi, karena diturunkan oleh Tuhan semesta alam dengan perundang-undangan yang paling bijaksana. Selain itu, karena Islam memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia di setiap masa dan tempat, dan memberikan perundang-undangan yang sempurna , dinamis dan terperinci kepada umat manusia, sampai Allah mewariskan bumi dan segala yang ada di atasnya. Isyarat di dalam hal ini adalah firman Allah Swt, “... dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”(QS. Al-Maidah : 50) Kiranya cukuplah keagungan dan keabadian Islam dengan adanya pengakuan dari para sarjana Barat yang menyatakan bahwa perundangundangan Islam adalah agung dan dinamis.
38

e. Karena Islam adalah agama yang mewajibkan wajib belajar sejak masa kanak-

kanak dengan tidak membeda-bedakan ilmu-ilmu syarak dengan ilmu0ulmu alam (kauniyyah), kecuali pada kasus tertentu yang bersifat khusus. Bahwa Islam merupakan agama yang menetapkan wajib belajar, adalah sesuai dengan hadis-hadis berikut ini:
-

Ibn Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasullulah Saw bersabda,” Menuntutlah ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.” Kata ‘muslim’ dalam hadis di atas berlaku umum, mencakup laki-laki dan perempuan

-

Di dalam Al-Kabir, Thabrani meriwayatkan dari Alqamah dari bapaknya dari kakeknya, yang mengatakan: “Pada suatu hari ,Rasulullah Saw berkhotbah dan memuji golongangolongan kaum muslimin dengan baik, kemudian bersabda:’ Mengapa banyak orang tidak mau memberikan pemahaman kepada tetangga mereka, tidak mengajar mereka, tidak memberikan peringatan kepada mereka, tidak menyuruh dan melarang mereka. Dan mengapa tidak ada yang mau belajar pada tetangga mereka, tidak mengambil pemahaman dan peringatan dari mereka. Demi Allah sesungguhnya suatu kaum itu mengajari tetangga mereka, memberikan pemahaman dan peringatan mereka. Dan hendaklah suatu kaum mau belajar dari tetangganya, mengambil pemahaman dan peringatan dari mereka, ataukah aku harus mempercepat siksaan mereka.”

-

Dari Ibn Majah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda.” Barang siapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang dimanfaatkan Allah kepada manusia dalam urusan agama, maka Allah akan memborgolnya pada hari kiamat nanti dengan borgol yang terbuat dari apai neraka.” Jika menuntut ilmu dalam pandangan Islam merupakan suatu

kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah, maka orang yang tidak sengaja tidak menuntut ilmu dan mengajarkannya diancam oleh agama dengan
39

siksaan. Orang yang akan menyembunyikan ilmu yang bermanfaat akan diborgol pada hari kiamat dengan borgol yang terbuat dari api neraka. Maka, apakah semua ini tidak menunjukkan bahwa Islam adalalh agama yang menjadikan menuntut ilmu dan mengajarkannya sebagai suatu kewajibannya? f. Karena Islam adalah agama yang membagi kewajiban mengajar menjadi fardhu ‘ain dan fardhu kifayat Jika pengajaran itu termasuk berkaitan dengan pembentukkan individu muslim secara rohani, rasional, jasmani dan moral, maka hal itu termasuk dalam fardhu ‘ain sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Dan kewajiban ini dilaksanakan oleh wanita, laki-laki , anak kecil, orang besar, pegawai dan seluruh lapisan umat Islam. Atas dasar ini, maka belajar membaca Al-Quran, hukum-hukum ibadah ,dasar-dasar akhlak utama, masalah-masalah halal dan haram, kaidah-kaidah kesehatan umum dan segala yang dibutuhkan oleh seorang mulim dalam urusan agama dan dunianya adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah. Dan jika pengajaran itu berkaitan dengan masalah pertanian, perindustrian, perdagangan, kedokteran, arsitektur, elektro, atom, peralatan perang, dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat, maka hal itu termasuk fardhu kifayat. Jika sudah dikerjakan oleh sebagian orang ,maka bebaslah sebagian yang lain dari dosa dan tanggung jawab. Tapi jika tidak seorangpun di antara masyarakat muslim yang mengerjakannya, maka seluruh kaum muslimin harus memikul dosa dan tanggung jawabnya.

B. Menumbuhkan Kesadaran Berpikir
Di antara tanggung jawab besar yang dijadikan sebagai amanat oleh Islam, yang harus dipikul oleh orang tua dan pendidik, adalah menumbuhkan kesadaran berfikir anak sejak masih balita hingga ia mencapai masa dewasa (baligh). Yang dimaksud dengan menumbuhkan kesadaran berfikir di sini, adalah mengikat anak dengan:

40

-

Islam, baik sebagai agama maupun negara Al-Qur’an , baik sebagai sistem maupun perundang-undangan Sejarah Islam, baik sebagai kejayaan maupun kemuliaan Kebudayaan Islam secara umum, baik sebagai jiwa maupun pikiran Dan dakwah Islam sebagai motivasi bagi gerak laku anak. Dengan demikian ,para pendidik harus memperkenalkan kepada anak sejak ia mulai

mengerti dan berpikir tentang hakikat-hakikat berikut ini: 1. Kelestarian Islam dan relevansinya untuk setiap masa dan tempat, karena ia memiliki keistimewaan berupa universitas keabadian, inovasi dan kontiunitas ajaran-ajarannya 2. Bahwa nenek moyang kita terdahulu tidak akan mampu mencapai kejayaan , kekuatan dan kebudayaaan, kecuali dengan berpegang teguh kepada Islam dan peraturanperaturan Al-Quran 3. Membeberkan rencana-rencana yang digariskan oleh musuh-musuh Islam 4. Membeberkan budaya islami yang menjadi sumber kebudayaan seluruh dunia di depanjang lintasan sejarah Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengantarkan pada penumbuhan kesadaran ini antara lain bisa melalui: a. Pengajaran yang hidup Yang dimaksud dengan pengajaran yang hidup adalah ,hendaknya anak diajari oleh kedua orang tua dan pendidiknya tentang hakikat Islam dan seluruh permasalahan dan hukumnya. Dan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki nilai keabadian dan kesempurnaan hingga Allah mewariskan bumi dengan segala isinya. Bagi pendidik ,terutama ayah, diharapkan mampu secara benar memberikan pemahaman kepada anak bahwa, tidak ada kejayaan selain dengan Islam, tidak kemenangan selain dengan ajaran Al-Quran, tidak ada kekuatan, budaya, dan kebangkitan selain dengan syari’at Rasulullah Saw. para pendidik diharapkan pula untuk menumbuhkan kewaspadaan anak terhadap setiap rencana-rencana zionisme, kolonialisme, komunisme, dan salibisme yang bertujuan menghancurkan islam,
41

mengotori hakikat dan ajaran-ajaran yang bersih, bersinar, memadamkan roh pembelaan dan jihad yang ada di dalam dada kaum muslimin, serta mendidik generasi sekarang dengan kekufuran, kesesatan, dan penghalalan segala cara. Selain itu , hendaknya orang tua atau pendidik mengajarkan kepada anak tentang kebudayaan Islam yang tinggi, selama ratusan tahun tetap memancarkan sinar kebenaran, kemajuan ilmu pengetahuan kepada umat manusia, dan selama berabadabad Eropa senantiasa menyerap sumber-sumbernya dan memanfaatkan cahayanya. b. Teladan yang hidup Yang dimaksud dengan teladan yang hidup adalah, hendaknya anak merasa terikat untuk meneladani seorang pembimbing yang ikhlas, sadar, paham terhadap Islam, membela Islam, berjihad di jalan Allah, menerapkan hukum-hukumNya dan tidak menghiraukan selaan orang lain untuk berjuang di jalan Allah. Tapi celakanya, bahwa para pembimbing dewasa ini sering memberikan gambaran yang terbalik dan jauh menyimpang dari islam kepada para muridnya, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhannya, dan mereka itu sangat sedikit jumlahnya. Ada di antara mereka ada orang yang memfokuskan seluruh perhatiannya kepada simbol-simbol yang diperitahkan oleh Islam. Seperti memelihara jenggot dan mengenakan tutup kepala, namun sering meremehkan gerakan Islam yang dinamis dalm rangka menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Oleh karena itu, maka para pendidik harus menyerahkan anak-anak mereka kepda seorang yang alim dan ikhlas, yang mampu memberikan pelajaran Islam kepada mereka sebagai sistem yang umum dan menyeluruh, baik yang berkaita dengan akidah dan perundang-undangan agama dan negara, penyucian dan jihad, atau ibadah dan politik. Di damping itu ,juga memberikan pengajaran pendidikan dan perbaikan kejiwaan kepada mereka dengan suatu arahan yang sehat dan hidup yang mengikatkan mereka pada kebenaran, agama, dan arahan-arahan kaum saleh terdahulu dan bukan pada keberadaan pribadinya yang fana dan berdosa. c. Penelaahan yang hidup

42

Yang dimaksud dengan penelaahan yang dilakukan secara hidup adalah, diharapkan para pendidik menyediakan sebuah perpustakaan sekalipun kecil untuk anak-anak ketika mulai memasuki masa mengerti (sekolah) ,yang memuat koleksi kisah-kisah yang islami yang menceritakan tentang perjalanan dan sepak terjang para pahlawan, hikayat-hikayat orang yang arif dan yang saleh, serta koleksi buku-buku tentang pemikiran yang menguak berbagai permasalahan yang berhubungan dengan sistem Islam, baik dari segi akidah, akhlak, perekonomian maupun politik. Selain itu juga berhubungan dengan berbagai perencaan yang dicanangkan oleh zionisme, kolonialisme, komunisme, nasrani dan materialisme yang menentang Islam dan kaum muslimin. Juga memuat koleksi majalah-majalah islami yang memaparkan Islam, berita-berita, pemecahan problematika agama dan lain-lain. Tidak disangsikan lagi bahwa jika pendidik mengarahkan anak-anak untuk mengikuti cara di atas, maka mereka akan terdidik secara sempurna dan kesadaranya menjadi matang. d. Pergaulan yang hidup Adapun yang dimaksudkan dengan pergaulan yang hidup adalah , diharapkannya para pendidik memilihkan teman-teman yang saleh , dapat dipercaya dan memiliki pemahaman Islam yang matang, kesadaran berpikir, dan kebudayaan Islam yang sempurna. Sudah barang tentu ,jika sejak masa kecilnya anak berkumpul dengan temanteman bodoh, maka ia akan menyerap kebodohan mereka. Dan jika anak-anak bergaul dengan teman-teman yang menyeluruh terhadap alam, kehidupan dan manusia, maka ia pun akan menyerap kepicikan dan keterbatasan mereka pula. Seorang teman, tentunya tidak cukup hanya seorang yang saleh, taat dan selalu mengerjakan salat, tidak pula seorang terpelajar, pintar dan cerdas. Tapi mereka hendaknya seorang yang mampu menyatukan antara keutamaan kebaikan dan ketakwaan dengan keutamaan kematangan berpikir, kesadaran sosial dan pemahaman islami. Sehingga menjadi teman yang mantap , matang dan bertakwa. Oleh karena itu , bagi para pendidik dan orang tua , tidak ada pilihan lain lagi bagi kalian, kecuali harus melaksanakan kewajiban tanggung jawab terhadap anakanak kalian. Berusaha keras membenahi pemahaman dan pemikiran mereka jika telah
43

bercampur dengan pemikiran dan pendapat-pendapat yang sesat, dan menatar mereka pada setiap pagi dan petang dengan sanggahan terhadap isu-isu para misionaris, tipu daya kaum materialis dan orientalis. Tidak diragukan lagi , bahwa semua ini dapat menyadarkan pikiran dan menjaga akidah anak-anak dari pengaruh isu dan prinsip dasar yang merusak akidah. Jika kita mengikuti saran ini, maka anak-anak kita akan merasa bangga dengan agama , para pahlawan dan sejarah mereka, di samping tidak akan mengenal agama Islam, kecuali sebagai suatu akidah dan syariat, mushaf dan pedang, agama dan negara, serta ibadah dan politik.

PASAL VI Tanggung Jawab Pendidikan Sosial

Yang dimaksud dengan pendidikan sosial, adalah mendidik anak sejak kesil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama, dasar-dasar kejiwaan yang mulia yang bersumber pada akidah islamiyah yang kekal dan kesadaran iman yang mendalam, agar di
44

tengah-tengah masyarakat nanti ia mampu bergaul dan berperilaku sosial baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana. Tidak disangsikan lagi ,bahwa tanggung jawab ini merupakan tanggungjawab terpenting bagi para pendidik dan orang tua di dalam mempersiapkan anak, baik pendidikan keimanan, moral maupun kejiwaan. Sebab, pendidikan sosial ini merupakan manifestasi perilaku dan watak yang mendidik anak untuk menjalankan kewajiban, tata krama, kritik sosial, keseimbangan intelektual, politik, dan pergaulan yang baik bersama orang lain. Telah terbukti bahwa keselamatan dan kekuatan masyarakat tergantung individuindividunya dan kepada cara yang digunakan untuk mempersiapkan anak-anak mereka. Dalam hal ini, Islam sangat memperhatikan pendidikan anak, baik pendidikan sosial maupun perilakunya. Sehinnga apabila mereka telah terdidik, terbentuk, dan berkiprah di dalam kehidupan, mereka akan memberikan gambaran yang benar tentang manusia yang cakap, seimbang, berakal, dan bijaksana. Oleh karena itu, para pendidik harus berusaha keras pebuh dedikasi dan pengabdian untuk melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya di dalam pendidikan sosial. Sehingga mereka dapat memberikan andil di dalam membina suatu masyarakat islami yang utama dan berpusat pada keimanan, akhlak , dan norma-norma Islam yang tinggi: semua itu tidaklah sulit bagi Allah untuk mewujudkannya. Jika setiap pendidik memiliki metode yang memudahkan bagi para pendidik,maka bagaimanakah metode yang paling praktis yang dapat dipergunakan di dalam pendidikan sosial yang utama ini? Menurut penulis, hal yang harus diperhatikan di dalam jiwa anak adalah: • • Bagaimanakah memelihara hak orang lain Bagaimanakah is beretika sosial

Dan hal tersebut akan dibahas secara terperinci pada bagian berikutnya, agar kita sebagai pendidik dapat mencetak generasi islami yang selain beriman juga berakhlakul karimah dalam kehidupannya sehari-hari baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana ia tinggal.

A. Memelihara Hak Orang Lain
45

1. Hak Terhadap Kedua Orang Tua
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Hurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Hak anak yang harus dilaksanakan oleh orang tua ada tiga yaitu:
• •

Memilihkan nama yang baik ketika lahir Mengajari kitab Allah s.w.t. (Memberi didikan agama) Harus dikawinkan jika telah dewasa (jangan sampai tergoda sehingga berlacur) Seorang datang kepada Umar r.a. berkata: “Puteraku ini durhaka

kepadaku.” Maka datang Umar r.a. berkata kepada anak lelaki itu: “Apakah kau tidak takut kepada Allah s.w.t? Engkau telah berbuat durhaka terhadap ayahmu, engkau tahu kewajiban anak untuk orang tuanya ……(begini dan begitu). Lalu anak itu bertanya: “Ya Amirul mu’minin, apakah anak itu tidak berhak terhadap ayahnya?” Jawab Umar: “Ada hak yakni harus memilihkan ibu yang bangsawan, jangan sampai tercela karena ibunya, harus memberi nama yang baik, harus mengajari kitab Allah s.w.t.” Maka berkata anak itu: “Demi Allah, dia tidak memilihkan untukku ibuku, dia membeli budak wanita dengan harga 400 dirham dan itu ibuku, dia tidak memberi nama yang baik untukku, saya dinamai kelawar jantan dan saya tidak diajari kitab Allah s.w.t. walau satu ayat.” Maka Umar r.a. menoleh kepada ayahnya dan berkata: “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu. Pergilah engkau dari sini.” Abul Laits berkata: “Saya telah mendengar ayahku bercerita dari Abu Hafsh Alyaskandi seorang ulama di Samarqand ketika didatangi oleh seorang yang mengeluh karena dipukul oleh anaknya hingga sakit. Abu Hafsh berkata: Subhanallah, apakah ada anak yang memukul ayahnya?” Jawab lelaki itu: “Benar, saya dipukul hingga sakit.” lalu ditanya: “Aoakah kau tidak mendidik anakmu dengan adab dan sopan?” Jawab lelaki itu: “Tidak.” “Apakah sudah diajari alquran?” ditanya lagi. Jawab lelaki itu: “Tidak.” “Lalu apakah pekerjaan anak mu itu?” “Anak ku itu bertani.” Jawab lelaki itu. Abi Hafsh berkata: “Engkau tahu mengapakah dia memukul engkau?” Jawabnya: “Tidak.” Abu Hafsh berkata: “Mungkin ketika ia sedang diatas himar menuju ke sawah ladang menyanyi dan
46

bersiul sedang di kanan kirinya kerbau dan lembu dan dibelakangnya anjing, tibatiba engkau menegur padanya, kerana ia mengira engkau itu lembu sedang mengganggu maka ia memukul engkau, sungguh beruntung dan ucapkan Alhamdulillah kerana ia tidak memukul kepalamu.” Tsabit Albunani berkata: “Ada seorang memukul ayahnya di suatu tempat dan ketika anak itu ditegur orang-orang: Mengapakah sedemikian? Jawabnya: “Biarlah ia karena saya dahulu telah memukul ayahku di tempat ini, maka kini aku di balas anakku memukul aku di tempat ini, semoga ini menjadi tebusan itu dan ia tidak dapat disalahkan.” Ahli Hikmah berkata: “Siapa durhaka terhadap kedua ibu bapanya, maka tidak terasa kesenangan dari anaknya. Dan siapa tidak musyawarah dalam urusanurusannya tidak tercapai hajatnya dan siapa yang tidak mengalah kepada keluarganya (isterinya) maka akan hilang kesenangan hidupnya. Asysya’bi meriwayatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Allah akan merahmati kepada ayah yang membantu anaknya untuk berbakti taat kepadanya, yakni tidak menyuruh sesuatu yang dikhuatiri anak itu tidak dapat melaksanakannya.” Alfudhail bin Iyadh berkata: “Orang yang sempurna kemanusiaannya yaitu yang taat kepada kedua ayah ibunya, dan menghubungi kerabatnya dan hormat pada kawan-kawannya dan baik budinya kepada keluarga dan anak-anaknya serta pelayan-pelayannya dan menjaga agamanya dan memperbaiki harta kekayaannya dan menyedekahkan kelebihan hartanya dan memelihara lidahnya dan tetap tinggal dirumahnya (yakni tekun dalam ibadat kepada Tuhannya) dan amal pekerjaannya dan tidak berkumpul dengan orang-orang yang suka membicarakan hal orang lain.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Empat macam sebagai syarat kebahagiaan seseorang yaitu jika isterinya sholihah, anak-anaknya taat, kawan-kawannya orangorang yang soleh dan penghasilan rezekinya di dalam negerinya.” Yazid Arraqqasyi meriwayatkan dari Anas r.a. berkata: “Tujuh macam yang dapat diterima pahala sampai sesudah matinya yaitu:
47

• •

Siapa yang membangunkan masjid maka tetap mendapat pahalanya selama ada orang sembahyang didalamnya. Siapa yang mengalirkan air sungai, selama ada yang minum daripadanya. Siapa yang menulis mushaf, ia mendapat pahala selama ada orang yang membacanya.

• • •

Orang yang menggali sumur, selama masih ada orang mempergunakan airnya. Siapa yang menanam tanaman, selama dimakan oleh orang atau burung. Siapa yang mengajar ilmu yang berguna, selama dikerjakan oleh orang yang mempelajarinya. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mendoakan dan membaca istighfar baginya, yakni jika mendapat anak lalu diajari ilmu dan al-quran, maka ayahnya akan mendapat pahalanya selama anak itu melakukan ajaranajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri, sebaliknya jika dibiasakan berbuat maksiat, fasik maka ia mendapat dosanya tanpa mengurangi dosa orang yang berbuat sendiri. Sebagaimana riwayat Abu hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w.

bersabda: “Jika telah mati anak Adam maka terhenti amalnya kecuali tiga macam iaitu:
• •

Sedekah yang berjalan terus Ilmu yang berguna dan diamalkan Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

2. Hak Terhadap Sanak Saudara
Sanak saudara yang memiliki ikatan secara langsung kepada anda, seperti: saudara kandung, paman dari bapak dan ibu dan anak-anak mereka dan semua yang memiliki hubungan dengan anda mereka memiliki hak karena adanya hubungan kekerabatan, Allah ta’ala berfirman:

48

"Dan berilah kepada kaum kerabat hak-haknya." (Al Isra': 26).

"Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mensekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan kepada kedua orang tua berbuat baiklah dan (juga) kepada kaum kerabat." (An Nisa: 36). Wajib bagi seseorang untuk menyambung silaturrahim dengan sanak saudaranya dengan cara yang ma’ruf dengan memberikan manfaat kedudukan, jiwa dan hartanya sesuai dengan kuatnya hubungan kekerabatan dan tuntutan yang ada. Inilah yang dituntut oleh syariat, akal dan fitrah. Banyak dalil yang menganjurkan silaturrahim terhadap sanak saudara dan janji yang menggembirakan atas perbuatan tersebut. Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, setelah selesai berdiri tegaklah rahim seraya berkata: “Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu untuk tidak memutuskan silaturrahim”, Allah berfirman: “Ya, tidakkah engkau ridha Aku menyambungkan orang yang menyambungkanmu (silaturrahmi) dan memutuskan orang yang memutuskanmu”, dia berkata: “Ya”, Dia berfirman: “Itu adalah untukmu”. Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bacalah jika kalian suka: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka." (Muhammad: 22-23) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menyambung silaturrahim."
49

Banyak orang yang mengabaikan hak ini. Ada di antara mereka yang tidak mengenal sanak saudaranya. Sekian hari dan sekian bulan berlalu, mereka tidak melihatnya, tidak juga menziarahinya dan tidak menumbuhkan kecintaan dengan pemberian hadiah, tidak juga menolak bencana dengan membantu meringankan kesulitan mereka, bahkan justru ada yang berlaku buruk terhadap sanak saudaranya baik dengan perkataan maupun perbuatan atau dengan kedua-duanya, dia menyambung hubungan dengan yang jauh (bukan sanak saudara) dan memutuskan yang dekat (sanak saudaranya). Sebagian orang ada yang menyambangi sanak saudaranya jika dia disambangi dan memutuskannya jika diputuskan, hal ini pada hakikatnya bukanlah orang yang menyambung silaturrahim akan tetapi tak lebih orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, dan hal tersebut dapat terjadi terhadap sanak saudara ataupun bukan karena hal tersebut bukan merupakan kekhususan sanak saudara. Orang yang sebenarnya menyambung silaturrahim adalah mereka yang menyambung hubungan karena Allah ta’ala dan tidak peduli apakah mereka menerimanya atau memutuskannya, sebagaimana terdapat dalam hadits Bukhari dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Bukanlah dinamakan orang yang menyambung silaturrahim orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, akan tetapi orang yang apabila diputuskan hubungan silaturrahimnya dia menyambungnya." Dan seseorang ada yang bertanya kepadanya: "Ya Rasulullah sesungguhnya saya punya seorang kerabat yang saya selalu menyambanginya tetapi dia memutuskan hubungan dengan saya, saya berbuat baik terhadapnya tapi dia berbuat buruk terhadap saya, saya selalu sopan terhadap mereka tapi mereka berlaku kasar kepada saya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kamu seperti apa yang kamu katakan maka seakan-akan kamu sedang menyuapkan debu (ke mulutnya) dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah atas mereka selama hal tersebut terus terjadi.” (HR. Muslim).
50

Selain bahwa silaturrahim menjadikan seseorang dekat kepada Allah ta’ala sehingga Dia melimpahkan rahmat-Nya kepadanya di dunia dan akhirat, memudahkan segala urusannya dan dilepaskannya dari segala kesulitan, silaturrahim juga menjadikan keluarga dekat satu sama lain, saling mengasihi dan mencintai di antara mereka, tolong-menolong di antara mereka baik saat sulit maupun saat bahagia, semua itu dapat diraih berkat silaturrahim dan dapat diketahui berdasarkan pengalaman yang ada. Dan sebaliknya akan terjadi, jika hubungan silaturrahim diputuskan atau jauh.

3. Hak Terhadap Tetangga
Ketahuilah bahwa Allah telah mengikat pertalian antara kita dgn agama Islam sehingga seolah-olah kaum muslimin berada dalam satu keluarga yg satu sama lainnya saling menunjang dalam meraih kebaikan dan kemenangan serta persaudaraan yg sempurna yg diliputi kasih sayang. Di antaranya adl hak-hak tetangga yg sangat diperhatikan oleh agama kita agama yg penuh toleransi dan keberkahan yg memberi bimbingan dan menganjurkan agar hak-hak tersebut dijaga dgn penuh perhatian dan diaplikasikan secara benar. Dengan demikian pertalian sesama muslim akan bertambah kokoh dan kuat sehingga dari sini dapat terbentuk dinding kokoh yg mampu mengusir gangguan musuh. Allah SWT telah menjadikan hak-hak bagi tetangga yg apabila kaum muslimin mampu memperhatikan niscaya akan mengetahui bahwa di dalam agamanya terkandung tiap kebaikan. Allah SWT selalu memperhatikan masalah hak tetangga sehingga menjadikannya di atas segalanya. Allah SWT telah menjadikan hak-hak bagi tetangga yg apabila tiap individu melakukannya terhadap tetangganya niscaya persaudaraan Islam akan benar-benar kuat saling hormat-menghormati dan bersih hatinya. Alquran telah menjelaskan hak-hak bertetangga dan menganjurkan

terselenggaranya. Allah SWT berfirman “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dgn sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang-tuamu karib-kerabat anal-nak yatim orang-orang miskin tetangga yg dekat tetangga yg jauh teman sejawat ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yg sombong dan membangga-banggakan
51

diri.” Ayat tersebut menjelaskan tentang hak-hak tetangga yg wajib dipelihara dgn cermat dan ditunaikan dgn tulus ikhlas. Merupakan tanda kesempurnaan iman seorang hamba dan dalil yg menunjukkan kebahagiaannya adl tekadnya yg keras utk melangkah ke jalan yg selaras dgn ruh Alquran dan senantiasa mengamalkan hukumhukum yg di dalamnya terkandung kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah SWT telah memerintahkan kita agar berbuat baik kepada para tetangga. Di antara sikap baik terhadap mereka adl menutup pandangan mata dari kehormatan mereka menutup aurat mereka membantu mereka melakukan kebajikan dan membimbing mereka ke jalan yg benar . Mempererat hubungan dan mendamaikan mereka mendahului salam kepada mereka menampakkan rasa simpati kepada mereka dan memberi maaf kepada orang yg berbuat jahat dari kalangan mereka. Semua itu-dan masih banyak yg lainnyaadalah hak-hak tetngga yg harus diketahui oleh tiap muslim. Tidak boleh seorang pun melalaikan dan apriori terhadap mereka. Sabda Rasul saw menyatakan ” Sebaik-baik teman menurut Allah adl mereka yg paling baik terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga menurut Allah adl mereka yg paling baik terhadap tetangganya.” Disebutkan pula oleh Rasulullah saw dalam hadis yg lain seperti “Tetangga itu ada tiga macam tetangga dgn satu hak tetangga dgn dua hak dan tetangga dgn tiga hak. Tetangga dgn satu hak adl tetangga musyrik tetangga dgn dua hak adl tetangga muslim dan tetangga dgn tiga hak adl tetangga muslim .” Karenanya Islam sangat memperhatikan hak-hak tetangga dan hubungan perorangan dgn tetangga. Dalam hal ini syariat Islam benar-benar sangat memperhatikannya dan belum pernah ada agama lain yg menyamainya. Semua itu menunjukkan kebaikan dan keluhuran ruh ajaran Islam dan

merupakan jaminan atas terpeliharanya hubungan antar individu dan masyarakat sehingga umat menjadi kuat seakan berada dalam satu tubuh dan ruh. Setiap anggota bangkit semang atnya dan semua perkara menyatu seragam saling tunjang-menunjang selaras dgn ruh ajaran Islam. Sehingga Islam dan para pengikutnya seakan membentuk bendungan kuat yg mampu menahan perembesan kerusakan perpecahan dan kehinaan dan membentuk benteng kokoh yg mampu menahan serangan musuh. Wahai kaum Muslimin ketahuilah bahwa mengeraskan suara radio dan perangkat sejenisnya ketika tetangga sedang tidur lelap utk beristirahat adl satu sikap tidak terpuji dan merupakan pelanggaran atas hak-hak tetangga. Bukan merupakan suatu
52

keadilan bertetangga jika seorang muslim menyebabkan tetangganya terganggu tidurnya dan tidur anak-anak mereka. Kewajiban seorang muslim atas tetangganya adl mengutamakan mereka dalam semua hal menciptakan ketenangan dan ketentraman pada mereka. Dengan demikian akan bertambah kuatlah hubungan bertetangga di antara mereka. Hendaknya tiap individu menyerasikan dirinya dgn saudaranya utk melangkah bersama selaras dgn ajaran Islam yg menjamin kemaslahatan dan kebahagiaan individu dan masyarakat. Wahai hamba Allah tidak ada alasan lagi bagi kalian sesudah hari ini di hadapan Tuhanmu. Jalan telah terentang terang dan jelas. Jalan kebaikan dan kesempurnaan telah membentang di hadapan kita. Barangsiapa mengehendaki kebaikan baginya telah tersedia pranata yg lengkap di dalam Kitabullah dan Sunah rasul-Nya. Barang siapa menghendaki jalan selain itu maka alangkah buruk dan hinanya jalan yg dipilih utk dirinya. Kelak Allah SWT akan memberi balasan kepada tiap orang sesuai dgn amal perbuatannya. Wahai hamba Allah bertakwalah kepada Allah dan bersegerahlah mengambil sebab-sebab yg mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan niscaya kalian akan menjadi panutan yg baik bagi negara dan masyarakat. Ingatlah wahai kaum muslimin sesungguhnya Islam adl agama kebaikan dan keberkahan agama kemanusiaan yg paripurna agama persaudaraan dan keadilan kasih sayang dan kesadaran. Penuhilah hak-hak tetanggamu niscaya Allah akan mneyayangimu. Ya Allah kami mohon kepada-Mu kiranya Engkau memberi taufik kepada hamba-hamba-Mu ke jalan yg Engkau ridai dan kepada petunjuk rasul-Mu semoga Engkau memelihara mereka dari ketergelinciran dan memberi taufik kepada mereka menuju pekerjaan yg baik. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yg bertakwa dan orang-orang yg berbuat kebaikan.”

4. Hak Terhadap Teman
Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Sungguh persahabatan merupakan suatu karunia dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah yang artinya,“Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (Ali Imron : 103). Ini adalah nikmat Allah yang sangat agung. Maka seharusnya kita menjaganya dengan memperhatikan hak-hak di antara sahabat. Pembahasan berikut, berisi
53

sebagian hak-hak persahabatan yang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikat tali tersebut.  Bersahabatlah karena Allah Ingatlah wahai saudaraku -semoga Allah menunujuki kita untuk taat kepadaNya-, bahwa tujuan kita bersahabat adalah senantiasa untuk mengharap ridho Allah Ta'ala. Dan janganlah sekali-kali persahabatan tersebut dijadikan untuk mendapatkan kepentingan dunia semata. Persahabatan yang dilandaskan saling cinta karena Allah itulah yang akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinyaakan mendapatkan manisnya iman, yaitu Allah dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskan darinya sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api." (HR. Bukhari) Di samping itu, persahabatan seperti inilah yang akan kekal hingga hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman yang artinya,"Teman-teman akrab pada hari (kiamat) nanti sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."(QS. Az Zukhruf : 67). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir) Maka perhatikanlah wahai saudaraku, sudah benarkah niat kita dalam bersahabat?! Apakah persahabatan tersebut hanya untuk menyelesaikan urusan duniawi semata?!! Setelah urusan tersebut selesai, kita meninggalkan sahabat kita!! Ingatlah, persahabatan yang benar adalah persahabatan yang dilandasi cinta karena Allah, yaitu seseorang mencintai sahabatnya karena tauhid yang dia miliki, pengagungan dia kepada Allah, dan semangatnya dalam mengikuti sunnah Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam.
54

 Berbuat Itsar-lah pada Sahabatmu Di antara hak terhadap sesama yang dianjurkan adalah mendahulukan sahabatnya dalam segala keperluan (baca : itsar) dan perbuatan ini dianjurkan (mustahab). Perhatikanlah firman Allah Ta'ala yang artinya,"Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan" (QS. Al Hasyr : 9). Kaum Anshor yang terlebih dahulu menempati kota Madinah, mereka mendahulukan saudara mereka dari kaum Muhajirin dalam segala keperluan, padahal mereka sendiri membutuhkannya. Sungguh sangat menakjubkan, seorang sahabat Anshor yang memiliki dua istri ingin menceraikan salah satu istrinya. Kemudian setelah masa 'iddahnya berakhir dia ingin menikahkannya dengan sahabatnya dari kaum muhajirin. Adakah bentuk itsar yang lebih daripada ini?!! (Aysarut Tafaasir, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi) Perbuatan itsar ini hanya berlaku untuk urusan duniawi (seperti mendahulukan saudara kita dalam makan dan minum). Sedangkan dalam masalah ketaatan (perkara ibadah), perbuatan ini terlarang. Karena maksud dari ibadah adalah pengagungan kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang mendahulukan saudaranya dalam hal ini, berarti dia telah meninggalkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala yang dia sembah. Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan mendahulukan saudara kita (itsar) untuk menempati shaf pertama dalam sholat berjama’ah, sedangkan kita di shaf belakang. (Lihat Al Wajiz fii Iidhohi Qowa’id Al Fiqhi Al Kulliyati)  Bantulah Sahabatmu yang Berada dalam Kesulitan Misalnya ada saudara kita yang membutuhkan bantuan pinjaman uang. Maka berusahalah untuk menolongnya dengan memberi pinjaman hutang padanya. Karena pemberian hutang yang pertama kali merupakan kebaikan. Sedangkan pemberian hutang kedua kalinya adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"Barangsiapa yang
55

memberi hutang kepada saudaranya kedua kalinya, maka dia seperti bersedekah padanya.”  Jagalah Kehormatan Sahabatmu Wahai saudaraku, jagalah kehormatan sahabatmu, karena Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda pada khutbah ketika haji Wada' yang artinya,"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya). Di antara bentuk menjaga kehormatan saudara kita adalah menjaga rahasianya yang khusus diceritakan pada kita. Rahasia tersebut adalah amanah dan kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga amanah. Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"Apabila seseorang membicarakan sesuatu padamu, kemudian dia menoleh kanan kiri, maka itu adalah amanah."(HR. Abu Daud dalam sunannya). Perbuatan seperti ini saja dilarang, apalagi jika sahabatmu tersebut memintamu untuk tidak menceritakannya pada orang lain. Maka yang demikian jelas lebih terlarang

C. Melaksanakan Etika Sosial 1. Etika Makan Dan Minum
Orang Muslim melihat makanan dan minuman itu sebagai sarana, dan bukan tujuan. Ia makan dan minum untuk menjaga kesehatan badannya karena dengan badan yang sehat, ia bisa beribadah kepada Allah Ta'ala dengan maksimal. Itulah ibadah yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia tidak makan minum karena makanan dan minuman, serta syahwat keduanya saja. Oleh karena itu, jika ia tidak lapar ia tidak makan, dan jika ia tidak kehausan maka ia tidak minum. Rasulullah saw. bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali kami lapar, dan jika kami makan maka kami tidak sampai kekenyangan."  Etika Sebelum Makan
56

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut : 1. Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian." (Al-Baqarah:172). Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya. 2. Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya. 3. Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya. 4. Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu', dan karena ucapan Anas bin Malik ra, "Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring." (Diriwayatkan Al-Bukhari). 5. Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda, "Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak." (Diriwayatkan Al-Bukhari). 6. Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya." (Diriwayatkan Abu Daud). 7. Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda, "Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).
57

 Etika ketika sedang Makan Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut: a. Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda, "Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya). b. Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku', maka dosa-dosa masa lalunya diampuni." (Muttafaq Alaih). c. Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah, "Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir)." (Muttafaq Alaih). "Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya." (Muttafaq Alaih).

58

d. Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut: Rasulullah saw. bersabda, "Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya). Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada." (Diriwayatkan Muslim). e. Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda, "Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan." (Diriwayatkan Muslim). f. Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut: i. Hadits Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali." (Muttafaq Alaih). ii. Hadits Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahihkannya). iii. Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).
59

g. Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda, "Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya." (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan). h. Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah saw., "Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua." Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua. Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan. Sabda Rasulullah saw., "Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan." (Muttafaq Alaih). "Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum." i. Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan
60

kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata, 1. Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan, 2. Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka, 3. sebab orang yang paling rakus ialah 4. orang yang paling buru-buru terhadap makanan. j. Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan', namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya', padahal riya' itu diharamkan. k. Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain. l. Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuricuri pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut. m. Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya. n. Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.  Etika Setelah Makan
61

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut: 1. Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya. 2. Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik. 3. Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat. 4. Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi. 5. Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata, "Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)". Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, "Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian."

2. Etika Meminta Izin
Hendaknya orang yang akan meminta izin memilih waktu yang tepat untuk minta izin. Hendaknya orang yang akan minta izin mengetuk pintu rumah orang yang akan dikunjunginya secara pelan. Anas Radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya ia telah berkata: Sesung-guhnya pintu-pintu kediaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diketuk (oleh para tamunya) dengan ujung kuku”. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani). Hendaknya orang yang mengetuk pintu tidak menghadap ke pintu yang diketuk, tetapi sebaiknya menolehkan pandangannya ke kanan atau ke kiri agar pandangan tidak terjatuh kepada sesuatu di dalam rumah tersebut yang dimana penghuni rumah tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Karena minta izin itu sebenarnya dianjurkan untuk menjaga pandangan.
62

Sebelum minta izin hendaknya memberi salam terlebih dahulu. Rib`iy berkata: Telah bercerita kepada saya seorang lelaki dari Bani `Amir, bahwasanya ia pernah minta izin kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau ada di suatu rumah. Orang itu berkata: Bolehkah saya masuk? Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pembantunya: “Jumpailah orang itu dan ajari dia cara minta izin, dan katakan kepadanya: Ucapkan Assalamu `alaikum, bolehkah saya masuk?”. (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani). Minta izin itu sampai tiga kali, jika sesudah tiga kali tidak ada jawaban maka hendaknya pulang. Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu minta izin sudah tiga kali, lalu tidak diberi izin, maka hendaklah ia pulang”. (Muttafaq’alaih). Apabila orang yang minta izin itu ditanya tentang namanya, maka hendaklah ia menyebutkan nama dan panggilannya, dan jangan mengatakan: “Saya”. Jabir Radhiallaahu ‘anhu menuturkan: “Aku pernah datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan hutang yang ada pada ayah saya. Maka aku ketuk pintu (rumah Nabi). Lalu Nabi berkata: “Siapa itu?”. Maka aku jawab: Saya. Maka Nabi berkata: “Saya! Saya!” dengan nada tidak suka.” (Muttafaq’alaih). Hendaknya peminta izin pulang apabila permintaan izinnya ditolak, karena Alloh telah berfirman yang artinya: “Dan jika dikatakan kepada kamu “pulang”, maka pulanglah kamu, karena yang demikian itu lebih suci bagi kamu”. (An-Nur: 28). Hendaknya peminta izin tidak memasuki rumah apabila tidak ada orangnya, karena hal tersebut merupakan perbuatan melampaui hak orang lain.

3. Etika Di Dalam Majelis
a. Berilah Tempat Bagi Orang Lain dan Taatilah Aturan Dalam Majelis “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah
63

kamu’, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Mujaadilah [Wanita yang Mengajukan Gugatan] ,58:11) b. Materi pembicaraan adalah Hal Ketaqwaan dan Kebajikan Bukan Dosa dan Permusuhan “Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. “(Q.S. Al Mujaadilah [Wanita yang Mengajukan Gugatan] ,58:9) c. Minta Izin Bila Ingin Keluar Majelis dan Mohonkanlah Ampunan Bagi Mereka “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An Nuur [Cahaya],24:62) d. Pahala Bisa Sirna Ketika Ngobrol Saat Orang Berbicara Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak
64

menyadari. “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Q.S. Al Hujurât [Kamar-kamar],49:2-3) e. Bacaan Dalam Majelis “Wahai Tuhanku! Ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat lagi Maha Pengampun”. [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Ibnu Umar ra.] f. Pelebur Dosa Dalam Majelis “Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada- Mu.” [HR. Ashhaabus Sunan]

4. Etika Berbicara
Etika Berbicara hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia". (An-Nisa: 114). Etika Berbicara hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
-

Etika Berbicara jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan: "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
65

-

Etika Berbicara janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar".(HR. Muslim)

-

Etika Berbicara menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengahtengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

-

Etika Berbicara tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu 'anha. telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya". (Muttafaq'alaih).

-

Etika Berbicara menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang mu'min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya". (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

-

Etika Berbicara menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpurapura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
66

-

Etika Berbicara menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).

-

Etika Berbicara mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

-

Etika Berbicara jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

-

Etika Berbicara menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.

-

Etika Berbicara menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan)”. (Al-Hujurat: 11).

5. Etika Bergurau
Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia tidak lepas dari komunikasi. Dalam berkomunikasi, seseorang hendaknya dapat memberi kesan yang baik dan menyenangkan bagi lawan bicaranya, sehingga lawan bicara tidak merasa bosan. Lebih-lebih bagi seorang muslim. Komunikasi yang baik sangat diperlukan. Karena ia membawa panji dakwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu ia harus memiliki

67

kepribadian yang mulia, berbudi pekerti yang luhur serta luwes dan fleksibel dalam pergaulanya agar mudah diterima lingkunganya. Untuk menjadi suasana menjadi hangat dalam pergaulan, terkadang seseorang mewarnainya dengan candaan atau gurauan. Namun dalam bercanda juga ada aturan dan etikanya. Sebab canda yang berlebihan justru akan menjadikan efek yang buruk. Maka dari itu, dalam bersenda gurau kita harus memperhatikan etika dan batasannya. Adapun etika dalam bergurau antara lain: Tidak Berlebihan Dalam bercanda kita tidak boleh berlebihan, sehingga menimbulkan orang lain merasa terganggu dengan sikap kita. Selain itu, gurauan yang berlebihan dapat menjadikan hati mati. Bercanda secara berlebihan juga dapat menjadikan seseorang lupa waktu, sehingga dapat melupakan tugas-tugasnya. Dengan sikap demikian, seseorang sering menjadi teledor atau lalai. Dan kelalaian tersebut akan membuat dirinya menjadi celaka dan merugi. Khalifah Umar RA pernah berpesan semasa beliau hidup, ”Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan berkurang wibawanya. Barangsiapa berlebihan dalam bersenda gurau, maka ia akan dilecehkan.” Tidak Menyakiti atau Menyinggung Orang Lain Bercanda dengan keluarga, kaum kerabat, saudara, handai taulan dan teman, adalah di sunahkan, selama canda tersebut tidak menyakiti, menyinggung, meremehkan, dan menyusahkan orang lain. Sebab menyinggung atau menyakiti hati orang lain akan membuka pintu permusuhan. Bercanda yang menimbulkan sakit hati orang lain dilarang oleh Rasulullah SAW. Menghindari Kebohongan dan Kebatilan Dalam bercanda, janganlah membuat sebuah kebohongan atau cerita-cerita tentang sesuatu yang batil untuk di jadikan lelucon. Dalam sebuah majelis (pengajian), sering terjadi hal yang demikian sekedar bertujuan untuk membuat orang tertawa, atau untuk membuat sensasi. Dan biasanya, dalam cerita-cerita yang
68

disampaikan tersebut mengandung kebatilan dan kesia-siaan. Perilaku demikian sangat dikecam oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi,”Celakalah bagi orang-orang yang menyampaikan kata-kata untuk orang-orang tertawa. Lalu ia berdusta. Celakalah baginya, celakalah bagiunya.”
-

Mengetahui Situasi dan Kondisi Dalam bercanda, hendaklah kita mengetahui waktu yang tepat. Apabila dalam

keadaan serius, maka janganlah sekali-kali kita bercanda. Karena akibatnya suasana rileks dan santai yang kita harapkan malah akan berbalik menjadi suasana pertengkaran, sebab orang yang kita ajak untuk bercanda sedang serius mengerjakan sesuatu. Bercanda semacam ini dilarang oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dikisahkan pada waktu terjadinya perang Khandaq. Saat itu, Zaid bin Tsabit RA memindahkan pasir bersama kaum muslim lain. Karena kelelahan, ia pun ngantuk dan tertidur. Salah seorang sahabat, yaitu Umarah bin Hazm mengambil senjata dari tangan Zaid bin Tsabit dengan pelan-pelan sehingga tidak terasa oleh Zaid. Memang tujuan Umarah berbuat demikian hanya untuk bercanda. Namun Rasulullah SAW mengetahuinya dan melarang Umarah berbuat demikian. Karena situasinya dalam keadaan perang, beliau khawatir apabila ada serangan mendadak. Dari hal tersebut kita dapat mengambil hikmah. Bila dalam keadaan serius, maka janganlah kita bercanda.
-

Rasulullah Saw Bisa Menjadi Teladan Rasulullah SAW adalah panutan umat Islam dalam segala hal. Kehidupan

beliau tidak hanya diisi dengan gurauan-gurauan belaka. Tapi, beliau selalu menghadapi sesuatu dengan serius. Sebagaiman sabdanya, “Aku bukanlah orang yang suka bermain dan bersenda gurau, dan keduanya tidak berasal dari aku.” Tapi sebagaimana manusia pada umumnya, bukan berarti tidak pernah bercanda sama sekali. Dengan istri-istri beliau, dengan anak-anak, bahkan dengan orang tua pun kadang beliau juga bercanda sewajarnya. Pernah diceritakan bahwa suatu ketika seorang nenek-nenek datang menghadap Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah SAW, doakanlah agar aku masuk
69

surga.” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai nenek! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek.” Nenek tersebut bersedih. Tetapi Rasulullah SAW justru tersenyum. Buru-buru beliau menjelaskan bahwa di surga nanti semua orang akan kembali menjadi muda. Sehingga tentu saja penghuni serga semuanya muda. Nenek itupun lega hatinya.

6. Etika Mengucapkan Salam
1. Makruh memberi salam dengan ucapan: “Alaikumus salam” karena di dalam

hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan : Aku pernah menjumpai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka aku berkata: “Alaikas salam ya Rasulallah”. Nabi menjawab: “Jangan kamu mengatakan: Alaikas salam”. Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan “alaikas salam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati”. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dishahihkan oleh AlAlbani).
2. Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di

dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).
3. Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam

kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq‘alaih.
4. Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya,

kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak
70

membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun”.(HR. Muslim).
5. Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika

akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).
6. Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah

itu

kosong,

karena

Allah

telah

berfirman

yang

artinya:

“Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61). Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma : “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan : Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).
7. Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat),

karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma yang menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak menjawabnya”. (HR. Muslim)
8. Disunnatkan memberi salam kepada anak-anak, karena hadits yang bersumber

dari Anas Radhiallaahu 'anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).
9. Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab, sebab Rasulullah

Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.....” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam : “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: wa `alaikum”.(Muttafaq’alaih).
71

10. Disunnatkan memberi salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang

tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu 'anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam : “Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).
11. Disunnatkan menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang

lain dan kepada yang dititipinya. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab : “`alaika wa `ala abikas salam”
12. Dilarang memberi salam dengan isyarat kecuali ada uzur, seperti karena

sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam hadits Jabir bin Abdillah Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dengan tangan”. (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
13. Disunnatkan kepada seseorang berjabat tangan dengan saudaranya. Hadits

Rasulullah mengatakan: “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
14. Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat

berjabat tangan sebelum orang yang dibattangani itu melepasnya. Hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu 'anhu menyebutkan: “Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya....” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
15. Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi

penghormatan, karena hadits yang bersumber dari Anas menyebutkan: Ada seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami
72

berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya? Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Tidak”. Orang itu bertanya: Apakah ia merangkul dan menciumnya? Jawab nabi: Tidak. Orang itu bertanya: Apakah ia berjabat tangan dengannya? Jawab Nabi: Ya, jika ia mau. (HR. At-Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
16. Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah

Shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: “Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita”. (HR.Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).

7. Etika Mengunjungi Orang Yang Sakit
a. Untuk orang yang berkunjung (menjenguk): 1. Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat

untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.
2. Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit

yang dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .
3. Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan

disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: “Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam .
4. Mengusap

si

sakit

dengan

tangan

kanannya,

dan

berdo`a:

‫أذهسسسب البسسسأس رب النسسساس ، اشسسسف أنسسست الشسسسافي ، ل شسسسفاء إل سسسسفاؤك ، شسسسفاء ل بغسسسادر سسسسقما‬ ًَ َ ُ ِ َُ َ ً َ ِ َ ُ َ ِ ّ ِ َ َ ِ َ ِ ّ َ ْ َ ِ ْ ِ ِ ّ ّ َ َ ْ َْ ِ ِ ْ َ Adzhibilba'sa robban naasi, isyfi antasy-syafi la syifa'a illa syifa'uka, syifa'an la yughadiru saqamaa. “Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai
73

Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
5. Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhannahu wa Ta'ala

dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis. 6. Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba,

memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah”. (HR. Muslim). b. Untuk orang yang sakit:
1. Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih. 2. Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya

adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya
3. Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang

dilakukan olehnya, dan segera membayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemiliknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
4. Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar

(minta ampun).
5. Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena

dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya”. (Muttafaq’alaih).

74

6. Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhannya, seperti berobat dari penyakitnya.

8. Etika Ta’ziyah
1. Segera merawat jenazah dan mengebumikannya untuk meringankan beban keluarganya dan sebagai rasa belas kasih terhadap mereka. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda, “Segeralah (di dalam mengurus) jenazah, sebab jika amal-amalnya shalih, maka kebaikanlah yang kamu berikan kepadanya; dan jika sebaliknya, maka keburukanlah yang kamu lepaskan dari pundak kamu”. (Muttafaq alaih). 2. Tidak menangis dengan suara keras, tidak meratapinya dan tidak merobekrobek baju. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda, “Bukan golongan kami orang yang memukul-mukul pipinya dan merobekrobek bajunya, dan menyerukan kepada seruan jahiliyah”. (HR. Al Bukhari). 3. Disunahkan mengantar jenazah hingga dikubur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersada, “Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka baginya (pahala) sebesar qirath; dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dikuburkan maka baginya dua qirath”. Nabi ditanya: “Apa yang disebut dua qirath itu?”. Nabi menjawab: “Seperti dua gunung yang sangat besar”. (Muttafaq’alaih). 4. Memuji si mayit (jenazah) dengan mengingat dan menyebut kebaikankebaikannya dan tidak mencoba untuk menjelek-jelekkannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, ”Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat”. (HR. Al Bukhari). 5. Memohonkan ampun untuk jenazah setelah dikuburkan. Ibnu Umar Radhiyallaahu anhu pernah berkata, “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam apabila selesai mengubur jenazah, maka berdiri di atasnya dan bersabda:”Mohonkan ampunan untuk saudaramu ini, dan mintakan kepada
75

Allah agar ia diberi keteguhan, karena dia sekarang akan ditanya”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani). 6. Disunahkan menghibur keluarga yang berduka dan memberikan makanan untuk mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja`far, karena mereka sedang ditimpa sesuatu yang membuat mereka sibuk”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani). 7. Disunnahkan berta`ziah kepada keluarga korban dan menyarankan mereka untuk tetap sabar, dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya milik Allahlah apa yang telah Dia ambil dan milik-Nya jualah apa yang Dia berikan; dan segala sesuatu disisi-Nya sudah ditetapkan ajalnya. Maka hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala.”

9. Etika Bersin Dan Menguap
Bersin merupakan bagian dari sifat manusiawi seseorang yang tidak mungkin dihindari. Semua orang pasti mengalami sifat manusiawinya. Begitu uga dengan menguap. Akan teteapi dalam Islam semua sifat-sifat manusiawi itu memiliki nilai tambah yang signifikan dan tidak tebandingi. Tentu dengan mengikuti teladan yang sudah dicontohkan Nabi kita SAW. Sebagaiman yang teungkap dalam hadis Qauli Beliau sebagai berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta'alaa anhu, Rasulullah bersabda, "Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya". Shahih Bukhari, 6223. Imam Ibn Hajar berkata, "Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-poris kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap.
76

Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077) Nabi kita mengajakan kepada kita , bila seorang bersin agar senantiasa memuji serta membalas pujian denga pujian yang lainya. Sebagaiaman yang tertera dalam sebuah hadits : Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah AlHamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum (HR. Bukhari, 6224) Dan para dokter di zaman sekarang mengatakan, "Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan "menguap" ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri. Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba' (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap

77

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful