A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

M. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Stoner. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. 1995. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. (3) landasan sosial-budaya.Pd. Remaja Rosda Karya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. Sebagai sebuah layanan profesional. (1987). Landasan Bimbingan dan Konseling. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Boston : Allyn & Bacon. (2005). Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Management. A. 4 .dan Juntika N. (1996).Pd. M. Woolfolk. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Anita E. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3 July’96. Uman Suherman. (2) landasan psikologis. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.——–. . Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Bandung : PT. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. landasan sosial-budaya. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. London : Prentice-Hall International Inc. Educational Psychology. landasan psikologis. religius dan yuridis-formal. Kata kunci : bimbingan dan konseling. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. landasan filosofis. James A.

Ibarat sebuah bangunan. landasan psikologis. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Selanjutnya. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. para penulis Barat . tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. etis maupun estetis. Dengan kata lain. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Thompson & Rudolph. 5 . di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1.. Secara teoritik. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis.tentang landasan bimbingan dan konseling. dalam Prayitno. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. landasan sosial-budaya. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. B..sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling.(Victor Frankl. dengan layanan bimbingan dan konseling. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Oleh karena itu. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. yaitu landasan filosofis. Patterson. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Demikian pula. Alblaster & Lukes. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. khususnya bagi para konselor. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum.

Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Manusia memiliki dimensi fisik. (b) pembawaan dan lingkungan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. seperti struktur otot. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. kecerdasan. Misalnya dalam kecerdasan. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. a. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. seperti rekreasi. seperti : rasa lapar. 2. dan (e) kepribadian. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). normal atau bahkan sangat kurang (debil. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. warna kulit. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. golongan darah. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. bakat. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Manusia pada hakikatnya positif. b. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. embisil atau ideot). ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . yang mencakup aspek psiko-fisik. (c) perkembangan individu. (d) belajar. Demikian pula dengan lingkungan. ada yang sangat tinggi (jenius).

Berangkat dari studi yang dilakukannya. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. ketegangan emosional. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. c. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. d.dan menjadi tersia-siakan. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Hall dan Gardner Lindzey. moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan.. Manusia belajar untuk hidup. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. e. afektif maupun psikomotor/keterampilan. Tanpa belajar. bahasa dan kognitif/kecerdasan. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Allport (Calvin S. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. frustrasi dan konflik. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.memadai. dan (3) Teori Belajar Gestalt. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. baik dalam aspek kognitif. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. 7 . (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri.

psikologi perkembangan. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. 3. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Sementara itu. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. yaitu disposisi reaktif seorang. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. atau putus asa. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. teori Personologi dari Murray. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Temperamen. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Horney dan Sullivan. Begitu pula. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. yaitu bidang psikologi umum. Oleh karena itu.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Teori Sosial Psikologis dari Adler. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Hull. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. tampang. Sikap. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. sedih. negatif atau ambivalen. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. maka 8 . Responsibilitas (tanggung jawab). Stabilitas emosi. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. hormon. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Selain itu. yang mencakup : • • • • • • Karakter. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Watson. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Sejak lahirnya. Teori Medan dari Kurt Lewin. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Sosiabilitas. Fromm. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Teori Psikologi Individual dari Allport. cuci tangan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Seperti mau menerima resiko secara wajar. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.

Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. ilmu ekonomi. evaluasi. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. ilmu pendidikan. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Menurut Gausel (Prayitno. 2003). yaitu : (a) perbedaan bahasa. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. (b) komunikasi non-verbal. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. manajemen. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. (d) kecenderungan menilai. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. 4. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. biologi. yaitu kesamaan di atas keragaman. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. Moh. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . seperti: pengamatan. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. prosedur tes. statistik. Sejalan dengan perkembangan teknologi. antroplogi.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. sosiologi. ilmu hukum dan agama. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. dan (e) kecemasan. dan bahkan mungkin bertolak belakang. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. pemikiran. seperti : psikologi. (c) stereotipe. analisis dokumen. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. filsafat. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. wawancara.

Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. C. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. dalam bentuk “cyber counseling”. Undang – Undang. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Moh. 10 . Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Peraturan Pemerintah. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Dikemukakan pula. Ditegaskan pula oleh Moh. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.pendidikan. Sebagai ilmuwan. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual.

Surya. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Majalengka : Sanggar BK SMP. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT Golden Terayon Press. Remaja Rosdakarya. meliputi : (a) motif dan motivasi. (c) perkembangan individu. Gerlald Corey. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Psikologi Pendidikan. Bandung : P. Koswara). Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Developmental Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Jakarta. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. (d) belajar. (b) landasan psikologis. 2003. Supratiknya). kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Margaret E. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. 2003. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Hurlock.1992. Bandung PPB . Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. dan (d) kepribadian. Jakarta : PT Raja Grafindo. Bandung : PT ErescoH. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. (c) landasan sosial-budaya.———-2006. 2003. Theory Into Practice. 2004. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Bandung : Refika Gerungan 1964.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. 2005.T. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. 2003.M. Calvin S. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Learning & Instruction. Psikologi Belajar. SMA dan SMK Muhibbin Syah.. E.IKIP Bandung . Hall & Gardner Lidzey (editor A. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. landasan religius dan landasan yuridis-formal. 1980. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. (b) pembawaan dan lingkungan. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Elizabeth B. Psikologi Sosial. Arifin. 11 . Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). 1997. New York : McMillan Publishing.

maupun masyarakat pada umumnya. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. dan karir. Sekolah/Madrasah. Jakarta : Rineka Cipta . Teori-Teori Psikologi Sosial. 2004. 1. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. dkk. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. 2004. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. Teori dan Praktek. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. kekuatan. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. Willis. Psikologi Kepribadian. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). dkk. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. belajar (akademik).——–2003.. masyarakat. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. tempat kerja. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. keluarga. baik dalam kehidupan pribadi. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. 1984. dan tugas-tugas perkem-bangannya. pergaulan dengan teman sebaya. serta 12 .Konseling Individual. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. 2003. Syamsu Yusuf LN. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 2004. Jakarta : Rajawali. maupun lingkungan kerja. Jakarta : Depdiknas .———-. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.Prayitno. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain.2005. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang.

kemampuan (persyaratan) yang dituntut. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. kemampuan dan minat. seperti kebiasaan membaca buku. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. 3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. mengggunakan kamus. asal bermakna bagi dirinya. disiplin dalam belajar. dan sesuai dengan norma agama. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. seperti keterampilan membaca buku. prospek kerja. Memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Dapat membentuk pola-pola karir. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. baik fisik maupun psikis. mencatat pelajaran. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. mengerjakan tugas-tugas. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. 13 . 2.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Mengenal keterampilan. kemampuan. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. tanpa merasa rendah diri. dan kesejahteraan kerja. yaitu kecenderungan arah karir. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. menghormati atau menghargai orang lain. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. seperti membuat jadwal belajar. atau silaturahim dengan sesama manusia. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). Oleh karena itu. persaudaraan. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

Engels. New York : MacMillan Publishing Company. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Belomont. http://aace. Depdiknas. Comm. Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. Adolescence. (2003). Patricia A. ASCA (American School Counselor Association). Dameron. Judy L. (2003). D.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). The Art of Integrative Counseling. Debra C. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.Nancy. (2003). (Eds).W dan J.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.D.J. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Alizabeth B. (1990). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Draft. (2006). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Guidance and Counseling in the Schools. Development Taks and Education. R. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1995). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. 2006. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. & Mitchel M.). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. CA: Brooks/Cole. Bandung: ABKIN Bandura. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Columbia: The Educational Resources Information Center. Donna A. VA: AACD.I. (1953). New York : McGraw Hill Book Company Inc. T. Introduction to Counseling and Guidance. Balitbang Diknas. (2006). (1992). (2005). (Ed. UK: Cambridge University Press. Herr Edwin L. Depdiknas. Browers.L. Cambridge. Self-Efficacy in Changing Soceties. (2001). G. Havighurts. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (2007). (2005). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Child Development. & Hatch. New York: David Mckay. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. The National Model for School Counseling Programs. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. J. & Henderson. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2006). (1986). Jakarta: Puskur Balitbang. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Merrill Prentice Hall Corey. Hurlock. Cobia. (2003). Depdiknas. A. (1979).ncat. California : Myfield Publishing Company. (2002).H. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. DAFTAR RUJUKAN AACE. Depsiknas. Menteri Pendidikan Nasional. Gibson R. Handbook of School Counseling. New Jersey. Ellis. Alexandria. Houston : Shell Com. (1956).

2004. Bandung : Remaja Rosda Karya. supaya tidak dialami oleh konseli. dkk. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Fungsi Preventif. 1995. Berdasarkan pemahaman ini. 3 July’96. Anita E.Pd. (1976). Bandung : PT. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Melalui fungsi ini. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Michigan School Counselor Association. Human Development. Terry. James J. 2006. (2005). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Adapun teknik yang 15 . Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. ——–. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan.Menteri Pendidikan Nasional. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. (2005). Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Educational Psychology. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (1995). dan norma agama). (2003). LIPI. London : Prentice-Hall International Inc. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (2005). M. Lustin. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Management.dan Juntika N. (1987). dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Woolfolk. Madison : Brown & Benchmark. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Fungsi Pemahaman. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Pusat Kurikulum. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Muro. Bandung : CV Bani Qureys. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Boston : Allyn & Bacon. ——–.Ltd. Stoner. Balitbang Depdiknas. & Kottman. Landasan Bimbingan dan Konseling. (2003). James A. Vol 24 No. Uman Suherman. (1996). Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.N. pekerjaan. Remaja Rosda Karya. Pikunas. Sunaryo Kartadinata. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Syamsu Yusuf L.

memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 3. diantaranya : bahayanya minuman keras. drop out. Fungsi Penyaluran. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. baik pria maupun wanita. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. memilih metode dan proses pembelajaran. baik anak- 16 . dan karyawisata. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. bakat. home room. maupun karir. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. 8. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. dan bimbingan kelompok. dan pergaulan bebas (free sex). 5. Fungsi Perbaikan. tutorial. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. Fungsi Fasilitasi. serasi. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. kemampuan. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. berperasaan dan bertindak (berkehendak). diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Dalam melaksanakan fungsi ini. konselor. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. informasi. Fungsi Pemeliharaan. penyalahgunaan obatobatan. dan kebutuhan konseli. 7. Fungsi Adaptasi. 6. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. merokok. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. 9. belajar. yang memfasilitasi perkembangan konseli. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Fungsi Pengembangan. sosial. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Fungsi Penyembuhan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. jurusan atau program studi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. minat. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. 10. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. dan remedial teaching.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. 4. Fungsi Penyesuaian. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. baik menyangkut aspek pribadi. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat.

6. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. memberikan dorongan. dan pekerjaan. perusahaan/industri. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. 2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. 5. 4. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. sosial. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 3. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Agar konseli dapat terbuka. 3. menyesuaikan diri. 1. Asas kesukarelaan. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. yaitu meliputi aspek pribadi. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli.2. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. dan masyarakat pada umumnya. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). anak. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Mereka bekerja sebagai teamwork. Bimbingan menekankan hal yang positif. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. remaja. dan peluang untuk berkembang. maupun dewasa. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. pendidikan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Asas keterbukaan. 17 . karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Asas Kerahasiaan. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. tetapi juga di lingkungan keluarga. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling.

Lebih jauh. harmonis. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. (2003). 6. Asas kemandirian. Asas Keterpaduan. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Asas Kekinian.edu 18 . menghayati. hukum dan peraturan. tidak monoton. yaitu nilai dan norma agama. 8. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Asas Keharmonisan. DAFTAR RUJUKAN AACE. Dalam hal ini. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. dan terpadu. http://aace. 5. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. guruguru lain. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. ilmu pengetahuan. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. mampu mengambil keputusan. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Asas kegiatan. adat istiadat. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. saling menunjang. 9. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. Asas Alih Tangan Kasus. dan kebiasaan yang berlaku. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.ncat. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Asas Keahlian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. 10. atau ahli lain . yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.4. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. 7. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Asas Kedinamisan. 11. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.

UK: Cambridge University Press. The Art of Integrative Counseling. Bandung: ABKIN Bandura. (Ed. Belomont. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. California : Myfield Publishing Company. (1953). (2003). Merrill Prentice Hall Corey. (2002). VA: AACD. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2006). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Michigan School Counselor Association. Depdiknas. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Engels. Donna A. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2001). Cambridge. Development Taks and Education. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Introduction to Counseling and Guidance.H. & Henderson. New York: David Mckay. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. J. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.I. (1979). (2003). Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (2007). Menteri Pendidikan Nasional. Gibson R. R. A. & Hatch.). New Jersey. D.D. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003).W dan J. (1995). Judy L. & Mitchel M. Browers. Adolescence. Houston : Shell Com. (2005). (1956). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2006). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Comm. Havighurts. T. (Eds). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.Nancy. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Balitbang Diknas.L. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (2005).Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Patricia A. Departemen Pendidikan Nasional. Debra C. Draft. Depdiknas. G. (2005). Herr Edwin L. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Self-Efficacy in Changing Soceties. 2006. Depsiknas. Dameron. 2006). New York : MacMillan Publishing Company. Handbook of School Counseling. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. ASCA (American School Counselor Association). 19 . Depdiknas. (2005). Cobia. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Depdiknas. Guidance and Counseling in the Schools. Jakarta: Puskur Balitbang. Hurlock. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. The National Model for School Counseling Programs. (1986). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Columbia: The Educational Resources Information Center. Ellis. Alexandria.J. CA: Brooks/Cole. (1992). Child Development. Alizabeth B. (1990). 2006.

(1996). anggota keluarga. dkk. Bandung : PT. (2005). dan mengembangkan potensi dan kecakapan. (1976).Muro. 3 July’96. LIPI. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. menilai. James J. 1995. Sunaryo Kartadinata. Boston : Allyn & Bacon. Jakarta : Balitbang Depdiknas. 2004. bakat dan minat. Bandung : Remaja Rosda Karya. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Vol 24 No. Lustin.Pd. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Management. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 20 . yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.N. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. James A. Uman Suherman. (2005). Educational Psychology. Terry. Human Development. London : Prentice-Hall International Inc. ——–. (1995). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Anita E. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Pikunas. Woolfolk. (2003). Stoner. M. (1987).dan Juntika N. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Pengembangan karir. ——–. Remaja Rosda Karya. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.Ltd. Landasan Bimbingan dan Konseling. serta memilih dan mengambil keputusan karir. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. Pengembangan kehidupan sosial. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung : CV Bani Qureys. Pusat Kurikulum. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. (2003). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Madison : Brown & Benchmark. & Kottman. Syamsu Yusuf L. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Pengembangan kemampuan belajar. Balitbang Depdiknas.

Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Informasi.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. • • • • Layanan Konten. magang. dalam bidang pribadi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. kegiatan ko/ekstra kurikuler. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. serta untuk 21 . Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. jurusan/program studi. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. pendidikan lanjutan). untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Konseling Perorangan. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan Penempatan dan Penyaluran. sosial. minat dan segenap potensi lainnya. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. karier. diantaranya: Layanan Orientasi. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. kelompok belajar. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. program latihan. pergaulan. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. dkk.1. 3. (Muslihudin. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Hattari. Ke Arah Pengertian Developmental. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. belajar maupun kariernya. 2004. sosial. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. 1983. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. berbangsa dan bernegara. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. Bandung : LPMP Jawa Barat. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. belajar ataupun kariernya. sosial. perusahaan.. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Jakarta : BP3K. dkk. 2. 1987. mereka mempertanyakan. 5. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 6. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Namun. Diantaranya.Pd. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. M. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Bimbingan dan Konseling (Makalah). bermasyarakat. 4. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya.

Dalam hal ini. Di samping itu. Untuk itulah. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Untuk itulah. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. cita-cita. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. dan sebagainya. baik melalui media cetak atau eleltronik. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. baik tentang bakat. pasar kerja. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Materi Informasi. bakat. seperti bakat. Namun. jenis pekerjaan. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. ciri-ciri 26 . sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. seperti kondisi sosio-kultural. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. minat. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. jenis dan prospek pekerjaan. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Karena. karier. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. seperti kecerdasan. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. materi informasi yang bersifat personal. persyaratan. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. ciri-ciri pekerjaan.

layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. dalam rangka menambah wawasan. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. artikel. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Untuk itu. atau klipping yang berhubungan dengan karier. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Sebagaimana telah disinggung di atas.kepribadian. berdasarkan hasil pengalamannya. Selain itu. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. Misalkan. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Dalam hal ini. keterangan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. (1995). Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya.Jakarta : IPBI 27 . atau minat pekerjaannya. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Selain itu. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Dari hasil kunjungan. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan.

baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Dalam hal ini. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. W. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . pelayanan responsif. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Begitu pula. perencanaan individual. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. yaitu sama-sama menginginkan 28 . Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. 2.S. (1991). Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. (1997). dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).

Misalkan. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. modifikasi perilaku. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. Masalahnya.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. serta teknis medis lainnya. pengubahan lingkungan. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. 7. 6.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. baik untuk kepentingan pencegahan. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. 3. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. mendiagnosis. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. 5. penguatan mental/psikis. Kendati demikian. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. 29 . Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya.

Namun demikian. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. orang tua. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan.guru. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Di sekolah misalnya.dan piha-pihak lain. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. 9. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri.siswa. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.dan lingkungan. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Pekerjaan yang 30 . melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. seperti “praktik pribadi”. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Konselor adalah kawan pengiring. Begitu pula sebaliknya.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. penunjuk jalan. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. 10.sosial.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. pembangun kekuatan. pemberi informasi. disiplin dan keamanan di sekolah. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain.

pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. bersikap “jemput bola”.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. terutama klien. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. jenis dan sifat masalah. pihak lain pun. dan asas-asas tertentu). tujuan. menghambat.Oleh sebab itu. dan sarana yang tersedia. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. 12. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda.Lebih jauh. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. ada dan digunakannya instrumen (tes. maka hasilnya akan kurang mantap.Sementara itu. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. dalam hal ini konselor. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain. Jawaban ”benar”. metode.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . Konselor harus aktif. Bahkan sering kali terjadi. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. guru pembimbing memang harus aktif. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. 14. 11. tersendat-sendat. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. Di sekolah. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Pada dasarnya. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. Sedangkan jawaban ”tidak”.inventori. 13. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi.

. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal.15. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Misalkan.2003. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . Wawasan dan Landasan BK (Buku II). mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya.

Layanan Dasar. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). M. yaitu : 1. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. memiliki mental yang sehat. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. Ketika membuka kegiatan pelatihan.ABKIN. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. yang disajikan secara sistematis. standar kompetensi konselor. Prof. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini.(lihat 1. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. selaku ketua PB. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Sunaryo. bertempat di Cikole Lembang Bandung.Selama mengikuti pelatihan. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal.Pd. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hal yang cukup mengagetkan penulis. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Dr. 33 . bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. memperoleh keterampilan hidup.

dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. Agus Taufiq. Selain itu. Perbedaannya. 4. baik menyangkut aspek pribadi. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan.Pd. penasihatan individual atau kelompok. konsultasi dengan guru lain. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. A. merencanakan.Pd.2. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. Layanan dukungan sistem.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.Pd. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. belajar. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. konseling kelompok. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. mau pun Kurikulum 1994. Layanan Responsif. maupun karier.. staf ahli. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. Syamsu Yusuf L. atau mengelola pengembangan dirinya. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. hubungan masyarakat dan staf. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. M. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya.Pd. memelihara. manajemen program. dan penelitian dan pengembangan. Uman Suherman. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Layanan Perencanaan Individual. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Untuk lebih jelasnya. Uman Suherman.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. M. konseling individual. Dr. dan Dr. dan masyarakat yang lebih luas. 3. M. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . M. Kurikulum 1984.N.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. referal dan bimbingan teman sebaya. sosial. baik dalam Kurikulum 1975.

referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. bimbingan kelompok.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. konseling kelompok. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Daftar konseli 3. catatan anekdot. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Laporan semesteran/tahunan 6. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. proses. Laporan hasil evaluasi program.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. audio visual. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. berbentuk : 1. (d) strategi pelayanan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. bibliokonseling. buku saku) 7. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. (c) pemilihan instrumen/media. kunjungan rumah. audio. Dalam hal ini. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . kotak masalah. bimbingan klasikal. Kendati demikian. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. media cetak : liflet. 2. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. konsultasi. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Laporan bulanan 5.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien.Pd. Oleh karena itu. Membuat penaksiran dan perjajagan. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. terutama asas kerahasiaan. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. berisi : (1) Kontrak waktu. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. 39 . Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. A. keterbukaan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. B. (2) Kontrak tugas. (2) tahap inti (tahap kerja). kesukarelaan. M. Secara umum. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah).Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Menegosiasikan kontrak. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. dan kegiatan.

(1) menurunnya kecemasan klien. rational emotive therapy (RET).Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. DYP Sugiharto. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. gestalt. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Dalam bentuk tayangan slide. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif.tugas profesionalnya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Dr. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas .Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. C. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. M. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. baik oleh pihak konselor maupun klien. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. dan trait and factor. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. psikoanaliss. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). yaitu . Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. sehat dan dinamis. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. 2. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. 3. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. (c) peniruan. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. 4. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. 41 . Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. (b) pembiasaan operan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. B. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. 2008 A. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1.

khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Konselor aktif : 1. Goal setting. Assesment. tingkah laku penyesuaian. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1.D. Feedback. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. 5. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Evaluation termination. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. 3. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. 42 . (c) kemungkinan manfaatnya. 2. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. kekuatan dan kelemahannya. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. (b) apakah tujuan itu realistik. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Technique implementation. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. atau melakukan referal. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. 4. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. pola hubungan interpersonal. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.

Sumber : Dr. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. tape recorder. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. atau contoh nyata langsung). Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. DYP Sugiharto. M.Pd. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. kesulitan menyatakan tidak. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. dapat menggunakan model audio. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. (Makalah) 43 . model fisik.

kemarahan. menuntut. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. (3) aktor bukan reaktor. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. rasa berdosa. kebencian. 2008 A. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. emosi. kedudukan. Meskipun tidak bisa diungkapkan. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. maka mereka mengalami kecemasan. Under dog adalah keadaan defensif. pera-saan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. ingin dimaklumi. pasif. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. sakit hati. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. B. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. persepsi. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. dan tingkah lakunya 44 . (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. membela diri. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. jantung. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. perasaan. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). lemah. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. kecemasan. rasa diabaikan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. otak. dan sebagainya. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. tidak berdaya. Dalam pendekatan ini. mengancam. dan pemikirannya.

memahami kenyataan atau realitas. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. C.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. interpretasi maupun memberi nasihat. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. serta mendapatkan insight secara penuh. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. D. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. 45 .

konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. dirinya tidak berdaya. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Fase ketiga. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. konselor mengembangkan pertemuan konseling. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Teknik Konseling 46 . Dalam hal ini. atau gila. bodoh. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. dan tingkah lakunya. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Fase kedua. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Melalui fase ini. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. perasaan. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. Fase keempat. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. perasaan-perasaannya. dalam situasi di sini dan saat ini.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor.

Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu. Orientasi Eksperiensial. Orientasi Sekarang dan Di Sini. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. tetapi memfokuskan keadaan sekarang.

Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. M. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.Sering terjadi. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.Pd. Meskipun tampaknya mekanis. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. DYP Sugiharto. (Makalah) 48 . “Saya malas. Sumber : Dr.

yang dapat diterima menurut akal sehat. dan keran itu tidak produktif. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. tidak masuk akal. dan irasional. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. dan Emotional consequence (C). pandangan.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. bijaksana. (c) orang tua atau masyarakat 49 . B. sangat personal. dan kerana itu menjadi prosuktif.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. nilai. bahagia. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Keyakinan seseorang ada dua macam. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Perceraian suatu keluarga.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. kekhawatiran. yaitu Antecedent event (A). Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. 2008 A. kejadian. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. interpretasi. antara kenyatan dan imajinasi. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. kelulusan bagi siswa. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. emosional. Belief (B). masuk akal.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Belief (B) yaitu keyakinan. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. atau sikap orang lain. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). tingkah laku. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. dan kompeten.

( penerimaan diri. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. mengerikan. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. persepsi. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. cara berpikir. Kedua. (4) toleransi terhadap pihak lain. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. rasa cemas. bencana yang dahsyat. C. rasa marah. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. (9) berani mengambil risiko. rasa berdosa. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. disalahkan. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. (3) pengarahan diri. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. merasa was-was. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. D. jahat. Ketiga. dan dihukum. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. (6) menerima ketidakpastian. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. (5) fleksibel. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. (2) minat sosial. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. rasa bersalah. dan (10) menerima kenyataan. merusak.

• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. mendorong. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. 2. 3. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 4. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. E. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Kognitif-eksperiensial. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. Aktif-direktif. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Behavioristik. afektif. Emotif-ekspreriensial. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. latihan. Dengan memberikan reward ataupun punishment. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.Pd. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. mengobservasi. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah) 52 . kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Sumber : Dr. Dengan tugas rumah yang diberikan. DYP Sugiharto. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. atau meniru model-model sosial. membiasakan diri. M. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

2. D.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. 2008 A. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. Manusia secara esensial bersifat biologis. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. terutama usia 2-5 tahun. yaitu id. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Menutup wawancara konseling E. Deskripsi Proses Konseling 1. ego. Hakikat manusia. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. dan super ego C. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. untuk ditata. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta 53 . Konsep Dasar 1. konflik dan simbolisme. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. disikusikan.

dan transferensi klien. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. anonim. Analisis mimpi. resistensi berati penolakan. Manusia tidak pernah statis. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. seksualitas. Konsep Dasar: 1. Dengan perkataan lain.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. resistensi. objektif. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. 54 . Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Menurut Freud. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Konselor menetapkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. 2. 3. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Transferensi adalah mengalihkan. Memandang manusia sebagai individu yang unik. asosiasi bebas. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. kebencian. B. Manusia merupakan seseorang yang ada. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. resitensi dan transferensi. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. Dalam hal ini. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. mimpi. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Hal ini disebut juga katarsis. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. 2008 A. Interpretasi. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. pengalamannya tertekan. baik dalam asosiasi bebas. Analisis resistensi.

keyakinan serta pandangan-pandangan individu. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. (4) reassurance (menentramkan hati). Deskripsi Proses Konseling 1. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).C. 3. 3. yang unik. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Saya adalah saya 2. (4) mewujudkan dirinya. Willis. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Memperbaiki dan mengubah sikap. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. 1997. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. (2) respect (rasa hormat). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. (2) mengambil keputusan yang tepat. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Teori dan Praktek. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Bandung: Alfabeta 55 . Tujuan Konseling 1. 2007. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. 5. (5) encouragement (memberi dorongan). 2. persepsi cara berfikir. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. 4. (3) understanding (pemahaman). 4. D. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. Rogers. E. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Konseling Individual. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. Sumber: Sayekti. (3) mengarahkan diri.

Menurutnya. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. 3. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 2. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. 3. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. dianalisis dan ditafsirkan. diperbaiki. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. 2. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. yang hadir di seluruh kehidupannya. Tanggung jawab 56 . Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. 5. 4. 2008 A. sebagai pengalaman yang berharga. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli.

(b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Motivator. Guru. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. 5. 4. 5. Tujuan Terapi 1. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . Menggunakan role playing dengan konseli 2. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. 2. 4. D. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. C. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan.. 4. 3. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 7. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. 6. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Moralist. baik berupa limit waktu. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. 5. 3. Penyalur tanggung jawab. Pengikat janji (contractor). 2. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 6.

7. jarak duduk dengan klien menjauh. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). diantaranya : A. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. ekspresi melamun. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Posisi tubuh : tegak kaku. menggunakan tangan sebagai isyarat. ceria. B. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. Menciptakan suasana yang aman 3. bersandar. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Teori dan Praktek. Untuk lebih jelasnya. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Bandung: Alfabeta. 2007. Empati dilakukan sejalan 58 . jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Willis. menunggu ucapan klien hingga selesai. miring. duduk kurang akrab dan berpaling. Perilaku attending yang baik dapat : 1. dan bahasa lisan. Perhatian : terpecah. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 8. Meningkatkan harga diri klien. mata melotot. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. perhatian terarah pada lawan bicara. Sumber: Sayekti. bahasa tubuh. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. mengalihkan pandangan. mudah buyar oleh gangguan luar. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. 2. Konseling Individual. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Memutuskan pembicaraan. 1997. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. tidak melihat saat klien sedang bicara. Mendengarkan : aktif penuh perhatian.

yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Refleksi perasaan. Eksplorasi perasaan. Refleksi pengalaman. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. pikiran. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” 2. pikiran dan keinginan klien. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. pikiran. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu : 1. dan mengamati respons klien terhadap konselor. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. menutup diri. yaitu : 1.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu : 1. 2.” Saya mengerti keinginan Anda”. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Eksplorasi pikiran. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. yaitu teknik untuk menggali ide. pikiran. pikiran. dan pengalaman klien.dengan perilaku attending. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. yaitu teknik untuk memantulkan ide.” 2. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. pikiran. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. dan pendapat klien. pengalaman termasuk penderitaannya. Terdapat dua macam empati. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. Refleksi pikiran. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Empati primer. Eksplorasi pengalaman. Terdapat tiga jenis refleksi. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. C. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. berupa perasaan. 59 . yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. tertekan dan terancam. 3. Empati tingkat tinggi.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.

(2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. akan tetapi saya tidak mengambilnya.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. lalu…. (3) memberi arah wawancara konseling. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya.” F. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. lebih baik gunakan kata tanya apakah. adakah. dapatkah. terus…. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Oleh karenanya. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. ya…. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. bagaimana.

perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Bandung : Alfabeta H. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.” K. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Saya tak dapat lagi menahan diri. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.I. Sugiharto. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Willis. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. Jakarta. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. PT Golden Terayon Press. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Teori dan Praktek.M. J. kedua. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. bukan pandangan subyektif konselor.” Sumber : Sofyan S. Membantu orang tua memang harus. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.Konseling Individual. Karena tantangan masa depan makin banyak.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. 2004. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Arifin. 2003. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Jakarta : PPPG 61 .

(3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. 2. Ada beberapa yang dapat dilakukan. telah membuat kamu menderita. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Fokus pada topik.” C. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Pada umumnya dalam wawancara konseling. diantaranya : 1. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Fokus mengenai budaya. 4. (2) meningkatkan potensi klien. 2008 A. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. dan sebagainya. atau kontradiksi dalam dirinya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. Contoh : ” Roni. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Fokus pada diri klien. Fokus pada orang lain. Contoh dialog : 62 . Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. senyum dengan kepedihan. Oleh karena itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Contoh : ” Tanti. konflik. ide awal dengan ide berikutnya. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”.

Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. atau saudara-saudara Anda. ibu.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. dan dengan alasan-alasan yang logis. Contoh: ” Baiklah.” F. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. 63 . konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. pikiran.. dan kurang parisipatif. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.Klien : ” Saya baik-baik saja”. ungkapan kata-kata yang tegas.. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Coba Anda renungkan kembali”. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. paling lama 5 – 10 detik. (2) agar klien menjelaskan. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. wajah murung. dan pengalamannya secara bebas.. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”………….” E. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Konselor :”………….. sering diam. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Walaupun demikian. D..” (diam) G. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. G. kurang jelas dan agak meragukan. tidak tahu.(suara rendah. Saya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.. posisi tubuh gelisah).” (diam) Klien :” Saya.harus bagaimana.

(2005.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. I. di samping menggunakan teknik-teknik umum. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Willis. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. (2) memantapkan rencana klien. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. (3) pemahaman baru klien. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Teori dan Praktek.Konseling Individual. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. terutama mengenai kecemasan. Kalau pun konselor mengetahuinya. Contoh : ” Nah.M. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). seperti pendekatan Behaviorisme.” H. Bandung : Alfabeta H. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. 2003. PT Golden Terayon Press.com di internet”. 2004. Jakarta. Sugiharto. Sofyan S. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling.upi. 2008 Dalam konseling. Rational Emotive Theraphy. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Arifin. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. yaitu : 64 .

Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. 4. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. model fisik. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 3. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. 5. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk.1. dapat menggunakan model audio. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. 65 . kesulitan menyatakan tidak. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. 7. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 8. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 9. Sering terjadi. 6.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. “Saya malas. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.

Willis. membiasakan diri. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Teori dan Praktek.(2005. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Sumber : H.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Arifin. Dengan tugas rumah yang diberikan. 11. mendorong. Jakarta. Bandung : Alfabeta Sugiharto. PT Golden Terayon Press. 12. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Jakarta : PPPG 67 . Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor.Konseling Individual. Sofyan S. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. 13. 2004. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).M. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. 10. Home work assigments. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. 2003.

terisolik. Makin lama perasaan ditolak. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. terus bertahan. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. dan sombong. orang lain. Dasar saya anak desa. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. kurang bersahabat. susah tak ada/punya teman yang peduli. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. mengontrol dunia.

makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. peduli. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. karena saya berharga dihadiratNya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. mengobservasi dan evaluasi diri. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. karena saya tak berharga. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. bermain peran. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. 50% netral. Itu berarti salah saya. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. Ide-ide ini diajarkan. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Sehubungan dengan kasus. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. puas dan bangga. dan seterusnya. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. pemalu. sugestif. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Ia menjadi minder. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. tak seperti orang/teman-teman lainnya. Allah mengasihi saya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. memaki-maki diri saya sendiri. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Cara konselor ialah 69 . bahkan adakalanya saya benci. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya.dibiarkan terus berlangsung. teliti. semua teman memperhatikan / mendukung. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. Tekniknya jelas. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. hanya 10% saja yang membeci saya. Saya pantas menderita karena semuanya itu. pemberian nasehat secara tepat. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya.

Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). 2. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. FIP. Yogyakarta.dengan pendekatan yang tegas. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. Corey G. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . IKIP Semarang Pres. menantang. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. M. (5) menerima kenyataan bahwa. SUMBER Aryatmi. Kesimpulannya. Kesegaran hasil yang dicapai. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. 1998. 70 . S. Satya Wacana Semarang. Pengantar Teori-teori Konseling. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. 3. 1998. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. progdi BK PPB.. 1991. Jakarta Surya. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Konseling Pancawashita. 1991/1995.. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. mendebat.. 4. 1988. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. IKIP Padang Rosjidan. Kota Kembang. Prayitno. jika kita mengharap untuk berubah. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti.

merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Pendahuluan 1. Konseling Keluarga. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. 1977. pecandu narkoba. Australia. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. 22-5-2001). Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. dan Partisipasi Sosial. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Bagaimana di Eropa. Thailand). Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Pasca RSKO. *) Sofyan S. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. 1977). Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Konseling Agama. 1977). Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Konseling Kelompok. dan analgesik (Martin. Kunjungan. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. tidak menyalahkan pihak luar. dan Amerika Selatan. dan Asia. Vietnam. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Turki. Pemulihan. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. malaria. Martin.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. dan untuk bahan analgesik (Kisker. dan segitiga emas (Kamboja. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Opium banyak pula ditemukan di Cina. keluarga. Cina. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Mesir. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. obat lemah badan. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. rematik. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Pendidikan dan Pelatihan. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Kata Kunci: Konseling Terpadu. 1977). terutama remaja.

Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. khususnya generasi muda. suatu angka yang fantastis. sehingga narkoba mudah beredar. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda.200. Masalahnya. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). 1978).2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. konsumtif. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Sebagai perbandingan. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). melalui metode Konseling Terpadu. Sedangkan. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Artinya. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. (c) mencintai keluarga. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu.Willis. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. 1993).3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat.200. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. namun terbentur pada lemahnya hukum. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. 1. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. Hal ini berarti. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. Willis. 1. 1995). 1989). yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. 2001). Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. Minnesota.bulan. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. kolusi. dan bahkan mengkonsumsi narkoba.000. Minneapolis. VCD. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah.800 miliar. dan film-film. 1979). maka AMK pun menirunya.000 = Rp. 25-52001). 72 . Ulwan. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. 1979).

memahami. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. (3) menerima realita hidup dengan jujur. 1977). and back to destructive drinking”. Mann memuji pendekatan Panti St.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. bermoral. 2. Melalui interpersonal relation. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. spiritual. or back on the job. 2. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. sarjana. taat ibadah. para siswa. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. dijauhi orang-orang yang dicintai. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Willis 1995). menerima cobaan hidup dengan tawakal. hangat. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. prescribe mood-controlling medications. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. dan berbuat baik terhadap sesama. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. 1980). dan asli (genuine) dari konselor. dan sebagainya. kehilangan pekerjaan.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. intelektual. terapi nutrisi/vitamin. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. Jika konselor tidak menguasai soal agama. back home. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. guru-guru BK di sekolah. terbuka. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. dsb). 2. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. akan tumbuh 73 . dan dapat menghidupi diri dan keluarga. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. ibu-ibu pengajian. and than put the patient back on the street. Selanjutnya. dan fisik. Sebagai seorang dokter medis. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. institute nutrition and vitamin therapy. tokoh-tokoh masyarakat. sosial. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. anggota DPR. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu.

konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Di samping itu. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. pesan. 74 . 1982). diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. Selanjutnya. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. marah. 2. suami/istri. ibu. Kemudian. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Selanjutnya. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. kritikan-kritikan. 4. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. saudara. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. istri. Di samping itu. 5. dan sebagainya. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. saudara. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. sedangkan pesertanya adalah klien.kepercayaan diri klien (Yalom. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. dan masyarakat. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. mencemarkan nama keluarga. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. percaya diri.. orang tua. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. dan masyarakat. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. 3. pacar. merusak diri. 1985). sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. keluarga. serta penyesalan terhadap masa lalu. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. Demikian juga. suami. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. keluarga. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. 2. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. dan keluarga dekat lainnya. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. Selanjutnya.

id. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . Sumber : http://depdiknas. Barbara F.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. baik perilaku verbal maupun non verbal. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. dan konseling keluarga. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat.go. Willis. 2008 Dalam proses konseling. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. bimbingan kelompok. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. Okun (Sofyan S. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10.

justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Kendati demikian. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Sebagai lembaga pendidikan. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Willis. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Oleh karena itu. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . 2004. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Secara visual.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah.

Lebih jauh. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Dalam hal ini. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. seperti: membolos. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Perlu digarisbawahi. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. bertengkar. mencuri kelas ringan. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. Masalah (kasus) ringan. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. serta hal-hal positif lainnya. minum minuman keras tahap awal.Dengan melihat gambar di atas. berpacaran. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Oleh karena itu. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Sebagai ilustrasi. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. malas. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. berkelahi dengan teman sekolah. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. 77 . kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Dalam hal ini. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. kesulitan belajar pada bidang tertentu. keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sofyan S.

STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . guru dan sebagainya. dokter. mencuri kelas sedang. siswa hamil. kecanduan alkohol dan narkotika. C. Masalah (kasus) sedang. Masalah (kasus) berat. berkelahi antar sekolah. polisi. pelaku kriminalitas. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. kesulitan belajar. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. 3. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. minum minuman keras tahap pertengahan. dengan perbuatan menyimpang. seperti: gangguan emosional. berpacaran. Secara visual. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. karena gangguan di keluarga.2. melakukan gangguan sosial dan asusila. percobaan bunuh diri. seperti: gangguan emosional berat. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. polisi. ahli/profesional.

(b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 2. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 2008 A. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dan berpotensi. personal. 3. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. (c) memfasilitasi perkembangan. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. dan (f) ersikap demokratis B. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. dan sosial konseli. akademik. 1. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. dasar dan menengah. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. non formal. (b) melakukan 79 . bermoral. keagamaan. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. individualitas. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. sosial. 4. dan informal. kejuruan. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. C. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. karier. kebebasan memilih. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. dan khusus. jenjang. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. 3. individual.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian.

4. 2007. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. tenaga administrasi) 5. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. 2008 Dalam Permendiknas No. Namun. yang di dalamnya 80 . (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. (b) mengkomunikasikan dasar.dan profesi. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. wali kelas. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. pimpinan sekolah/madrasah. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.dan profesi. tujuan. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. orang tua. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Oleh karena itu. tujuan. tujuan. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. dalam bentuk naskah akademik. Sumber : ABKIN. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. 6.

(3) Kematangan emosi. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (2) Landasan perilaku etis.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (6) Kesadaran gender. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (7) Pengembangan diri. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (9) Wawasan dan kesiapan karier. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. (4) Kematangan intelektual. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.

(3) Kematangan emosi. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (6) Kesadaran gender. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). 2008 Dalam Permendiknas No. (2) Landasan perilaku etis.Jakarta.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Oleh karena itu. (4) Kematangan intelektual. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dalam bentuk naskah akademik. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (7) Pengembangan diri. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).2007. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Namun. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 .

Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 2008 Dalam Permendiknas No. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. dan persyaratan pekerjaan.Jakarta. sehari-hari.2007. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. 83 .Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. ulet hidup hemat. hari. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. ulet kewirausahaan hemat.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat.

Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (6) Kesadaran gender. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (7) Pengembangan diri. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) Landasan perilaku etis. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Namun. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. dalam bentuk naskah akademik. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (9) Wawasan dan kesiapan karier. (3) Kematangan emosi. (4) Kematangan intelektual. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Oleh karena itu. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT).

dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Jakarta. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet. pendidikan.2007.ulet sungguhhemat. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sengguhulet.

ulet sungguhhemat. pendidikan.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sengguhulet.Jakarta. hemat. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.2007.ulet.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 86 . peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.

yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. 2008 A. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. (3) format kegiatan. yaitu: 1. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. 3. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. sasaran pelayanan (4) . 4.D. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. Program Semesteran. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. 2. Program Mingguan. Program Bulanan. dan (5) volume/beban tugas konselor. Program Tahunan. 87 . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. Dilihat dari jenisnya. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program.

(c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. dan (3)penilaian 1. bulanan serta mingguan. yaitu : (1) perencanaan. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi.5. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. B. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. jenis kegiatan. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. kegiatan instrumentasi. dan (e) waktu dan tempat.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. tempat. (2) pelaksanaan. insidental dan keteladanan. penempatan dan penyaluran. waktu. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. dan pihak-pihak yang terkait. substansi. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. serta alat bantu yang digunakan. Program Harian. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. B. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. dan (2) kegiatan non tatap muka. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. penguasaan konten.

kunjungan rumah. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.. dan mediasi. menyelenggarakan layanan orientasi. C. 3. himpunan data. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. dan (2) penilaian proses. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. 2. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. 89 . pemanfaatan kepustakaan. perorangan. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). konseling kelompok. dan alih tangan kasus. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. bimbingan kelompok. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Penilaian segera (LAISEG). kegiatan konferensi kasus. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik.dalam kelas. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif.

guru. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. 1. dan pengembangan karir konseli. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. 2. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. bakat. rancangan. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. belajar. 90 . 3. responsif. Namun. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. mengandung arti bahwa bentuk.

(2001). Belomont. Cambridge.). Bandung: ABKIN Bandura. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Depsiknas. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 91 . Alexandria. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. http://aace. (Ed. D. (2005). Self-Efficacy in Changing Soceties. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Donna A. A. New Jersey. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1995). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. DAFTAR RUJUKAN AACE. & Henderson. (Eds). Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi.D. (2005). (2003). Merrill Prentice Hall Corey. Engels. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Cobia. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. The Art of Integrative Counseling. VA: AACD. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (2006). Draft. Dameron. (2003). Handbook of School Counseling. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.Gambar 1. Debra C.ncat. (2003). CA: Brooks/Cole. (2007). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Balitbang Diknas. G. UK: Cambridge University Press.W dan J.

Syamsu Yusuf L. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . ——–. J. California : Myfield Publishing Company. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Bandung : CV Bani Qureys. New York : MacMillan Publishing Company. Depdiknas. Bandung : Remaja Rosda Karya.H. (1992). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. ASCA (American School Counselor Association). 2006. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). James A. (1956). The National Model for School Counseling Programs.Nancy. Gibson R. Havighurts. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. James J. (2005). London : Prentice-Hall International Inc. (2005). Jakarta : Balitbang Depdiknas.Ltd. Development Taks and Education. Depdiknas. Sunaryo Kartadinata. New York: David Mckay. (2006).Browers. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Child Development. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (2005). Comm. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Remaja Rosda Karya. Depdiknas. (1995). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. LIPI. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Hurlock. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (1986). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. R. Lustin. T. & Hatch. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (2003). Human Development. (1979). dkk. (2002). Balitbang Depdiknas. Introduction to Counseling and Guidance. Bandung : PT. Judy L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Adolescence. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Pikunas. Menteri Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Guidance and Counseling in the Schools. 2006). Management. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Terry. Ellis. (2003).J. & Kottman. Patricia A. Alizabeth B. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas. (2003). Muro. (1990). & Mitchel M.L. Stoner. Houston : Shell Com.dan Juntika N. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. (1987). Landasan Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Pusat Kurikulum. Herr Edwin L. 2006. Madison : Brown & Benchmark. (2005). ——–. Michigan School Counselor Association. (1976).N. (1953). Columbia: The Educational Resources Information Center.I.

M.Pd. Educational Psychology. Sesungguhnya. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. 3 July’96. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Oleh karena itu. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. M. 2008 Oleh : Drs. Anita E. Dalam hal ini. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Uman Suherman. Akhmad Sudrajat.Pd. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. (1996). Boston : Allyn & Bacon. 1995. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Vol 24 No. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Woolfolk. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. tulisan ini.

Akibatnya. Secara tidak langsung. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. petunjuk pelaksanaan. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. melalui berbagai bentuk aturan. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Dari sini. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . konselor dituntut bekerja secara profesional. ketentuan. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. baik secara langsung maupun tidak langsung. seperti : malas. Dengan kata lain. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. petunjuk teknis dan sebagainya. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional.1. Maka. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Bagaimanapun.

dalam internet. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). dengan bercermin dari kekurangan. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. Bahkan. Walaupun demikian perlu dicatat. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Sementara. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. seperti : seminar. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Sedangkan secara langsung. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. Sekalipun ada. Berbekal kesabaran dan ketekunan. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. penataran dan pelatihan. Sehingga pada gilirannya. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. untuk menguasai teknikteknik konseling. 2. Misalkan. Kemudian. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor.

tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Jadi wajar sekali. konselor 96 . terutama masyarakat dan orang tua siswa. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. Bagaimanapun masyarakat. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas.mewakili pihak pemerintah. Dan pada gilirannya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Tentu saja. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Artinya. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Dengan adanya akuntabilitas ini. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Oleh karena itu. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Namun pada kenyataannya. Dalam hal ini. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya.

Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Dr. Untuk itulah. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). 97 . Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. khususnya dalam forum Komite Sekolah. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. seperti kepala sekolah. dewan sekolah atau siapa pun. Dengan sendirinya. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Demikianlah. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Hal yang perlu dicermati. Dengan kata lain. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. Prayitno. Atau secara kreatif. Bahkan bila perlu. yang berhubungan dengan data siswa. Oleh sebab itu. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Karena. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). Tentu saja. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. kapan saja diperlukan.

1. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.S.(1995). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. (1995). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. (2001). Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Makalah . Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. (1997). W. dan (3) evaluasi hasil. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Sementara itu. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Prof. Counselors Role in a Changing 98 . Dr. (1991). Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. (2) evaluasi program. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan.(1994). Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Departemen Pendidikan Nasional.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi.

Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor.html Sofyan S.dpi.gov/sspw/counsl1.wisconsin. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. 2008 99 . orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Konseling Individual. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). 2004. guru. Teori dan Praktek.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Bandung : Alfabeta. Willis. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.

Daftar konseli 3. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . konsultasi. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. (d) strategi pelayanan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. bimbingan kelompok.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Laporan hasil evaluasi program. konseling kelompok. buku saku) 7. audio visual. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. 2. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. kunjungan rumah. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Kendati demikian. media cetak : liflet. audio.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. berbentuk : 1. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Laporan bulanan 5. Dalam hal ini. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. kotak masalah. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Laporan semesteran/tahunan 6. bibliokonseling. catatan anekdot. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. (c) pemilihan instrumen/media. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. bimbingan klasikal. proses. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut.

Tujuan Umum 3. Demikian pula. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Sementara itu. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Selengkapnya. dan masalah-masalahnya belajar. sosial. Wilayah Gerak 2. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. karier. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sebaliknya. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. konselor.

Belitung. Sofyan S. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.Pd. Yang baik. Terutama.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Prof. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. belajar dan karier. alternatif juga dari dia (siswa-red). Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Selain terlalu sering memberikan nasihat. Karenanya. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. Willis. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. 102 . Dr. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. bukan yang memiliki masalah saja. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. H. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat.” ujarnya.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. katanya. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. M.. sosial. Jakarta F. 2007. “Alternatif bisa diusulkan guru.” ungkapnya. Jl. Menurut dia. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Padahal. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. Menurut dia.

Menurut Sofyan. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. Supaya konseling cukup efektif.pikiran-rakyat. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Karenanya. layanan etis normatif. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai.com/cetak/2006/042006/07/0702. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. 103 . Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan.melalui pendidikan. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. dan bukan layanan bebas nilai. Sunaryo Kartadinata. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. 6 September 2006. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Dr.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. (5) yang dilandasi sikap. Saat melakukan konseling. nilai. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. hal. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. menggunakan penyikapan yang empatik. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. ia mengungkapkan. Sumber : http://www. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). Berkaitan dengan peran sekolah. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”.

baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. serta berguna untuk manusia lain. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Pada jenjang SMP dan SMA. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. Selain itu. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Menurutnya. misalnya melalui asesmen psikologis. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. sejahtera. terutama guru pendidikan khusus. dan karier. pribadi-sosial. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Dalam hal ini. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. akademik. Misalnya. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat..Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. seni dan sebagainya 104 . dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. seperti dalam olah raga. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya.. melalui direct behavioral consultation. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya.

pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan.Pikiran Rakyat. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . Sumber : Sunayo Kartadinata. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi..“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. sekitar 32 tahun yang lalu. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). Empat tahun kemudian. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal.Atas semua itu. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). hal. BSNP. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Jawaban singkatnya.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Ditjen PMPTK. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. Setelah keluar dari ruangan BP. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. 6 September 2006.singkatnya pertanyaan itu. M. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir.Pd. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP.

(kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. penulis hanya memilih satu jurusan saja. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu.Begitu juga. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Selanjutnya. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis.. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Akhirnya. Sebaliknya. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. jika penulis kelak menjadi guru BP. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. menggantikan sebutan Guru BP. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Pada awal menjadi Guru BP. tempat kelahiran penulis. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Hanya selang satu tahun setelah lulus. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP.

Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Pada tahun 2003. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. M. Hanya sangat disesalkan. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini.Pd. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. sampai dengan sekarang. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Dalam tataran teoritis. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling.SMA pada saat itu. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling.harus gigit jari. meski secara formal istilah ini belum digunakan. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. dibandingkan dengan masa-masa 107 . sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling.

dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya.mata pelajaran di sekolah. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Menurut pandangan penulis. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . Sehingga. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. 2. Sayangnya. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Contoh kasus. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. yaitu : 1. Meminjam bahasa ekonomi. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Di sisi lain.. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. baik secara personal maupun lembaga. kualitas dan distribusinya. Kesan lama. Contoh kasus terbaru. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. khususnya di kalangan siswa. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. Oleh karena itu.

sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. Jika ke depannya. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. *)) Akhmad Sudrajat. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Jika tidak. Dalam dokumen KTSP. M. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan.dilaksanakan. dengan menghadirkan pembicara Dr. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri.Pd. Jadi. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. M. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. dalam kebijakan sertifikasi guru. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. Begitu juga. Uman Suherman. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 .Pd.

baik laporan harian. atau tahunan. baik dalam bidang akademik. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. bulanan. maupun bidang karier. oleh siswa. 1. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. kepala sekolah. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. 4. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. guru mata pelajaran. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. tidak jelas kerjanya. 110 . 3. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. sosio-personal. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. 6. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Misalnya. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Pada saat sedang mengikuti rapat. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. 2. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita.

(2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. H.M. Bapak Drs. M. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Dalam jadwal resmi. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Untuk itu. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Rachmat Setiawan.Pd. Tentunya saya berharap. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. maka atas seijin panitia setempat. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi.

INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12.G. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. (2) Diri Pribadi (DPI). Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. (7) Agama. dan (10) Waktu Senggang (WSG). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Nilai dan Moral (ANM). selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. dkk. (3) Hubungan Sosial (HSO). Melalui analisis data berbasis komputer ini. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. pengembangan maupun kuratif. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. Kendati demikian. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). Untuk kepentingan analisis data. mudah dan akurat. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. baik yang bersifat preventif. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. Tentunya. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Sayangnya. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”.

dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. (b) berfikir sterotip dan klise. dkk. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. Perlindungan Diri. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. dan perspektif diri. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (g) takut tidak diterima kelompok. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. (c) mampu melihat keragaman emosi. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (b) bergantung pada lingkungan. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. (d orientasi pemecahan masalah. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. (d) bertindak dengan motif dangkal. 4. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (c) beorientasi hari ini. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. 2. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Seksama. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. Sadar Diri. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. Konformistik. Impulsif. 3. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. (d) peduli akan hubungan 113 . dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. (c) peduli akan aturan eksternal. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Dengan alat ITP. (e) memikirkan cara hidup. motif. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. (f) kurang introspeksi. Anda dapat men-download materi tersebut. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi.

dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (9) wawasan dan persiapan karir. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (e) peduli akan self fulfillment. Otonomi. (4) kematangan intelektual. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (5) kesadaran tanggung jawab. Yang diskor 66 soal. 7. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. 6. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (c) peduli akan paham abstrak. (2) landasaan perilaku etis. Individualistik. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (g) mengenal kompleksitas diri. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain.mutualistik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Yang diskor 66 soal. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.Yang diskor 40 soal.. seperti keadilan sosial. Yang diskor 40 soal. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). ( kemandirian perilaku ekonomi. (3) kematangan emosional. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek.

grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. cepat dan menyenangkan. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Semakin tinggi skor konsistensi. dkk . untuk jumlah siswa yang besar.5 115 . delapan butir tertinggi dan terendah. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Namun. Manual Guide ATP Versi 3. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket.Analisis per individu.Analisis kelompok. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. Manajemen data. Proses penyekoran. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Multi window. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. yang terdiri atas: profil individual. cara ini akan memakan waktu. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. penghitungan skor konsistensi. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah.bagian akhir angket. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Sumber : Sunaryo. dan penggabungan kelompok. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. grafik distribusi frekuensi konsistensi. distribusi frekuensi nilai. Impor data dari file Microsoft Excel. yang terdiri atas: profil kelompok. Dengan ATP.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful