A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

landasan psikologis. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.Pd. (1996). Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. (3) landasan sosial-budaya. Bandung : PT. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. landasan filosofis. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Woolfolk. M. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Vol 24 No. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. . landasan sosial-budaya. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. 1995. (1987). khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. London : Prentice-Hall International Inc. religius dan yuridis-formal. (2005). Remaja Rosda Karya. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Landasan Bimbingan dan Konseling. 4 . Boston : Allyn & Bacon. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. A. Sebagai sebuah layanan profesional. (2) landasan psikologis. Stoner. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Educational Psychology. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. James A.dan Juntika N. Kata kunci : bimbingan dan konseling.——–. Management. Anita E. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.Pd. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. M. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3 July’96. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. Uman Suherman.

landasan psikologis. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. para penulis Barat .. Oleh karena itu. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.. Selanjutnya. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. Secara teoritik. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. Dari berbagai aliran filsafat yang ada.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. dalam Prayitno. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling.tentang landasan bimbingan dan konseling. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. Demikian pula. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. 5 . Patterson. Alblaster & Lukes. khususnya bagi para konselor. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. dengan layanan bimbingan dan konseling. Thompson & Rudolph. landasan sosial-budaya. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. B. yaitu landasan filosofis. Ibarat sebuah bangunan.(Victor Frankl.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. etis maupun estetis. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. Dengan kata lain.

Misalnya dalam kecerdasan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. normal atau bahkan sangat kurang (debil. (d) belajar. seperti struktur otot. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). embisil atau ideot). Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. b. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. bakat. seperti : rasa lapar. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. a. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. kecerdasan. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . yang mencakup aspek psiko-fisik. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Demikian pula dengan lingkungan. Manusia pada hakikatnya positif. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. golongan darah. (b) pembawaan dan lingkungan. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. (c) perkembangan individu. ada yang sangat tinggi (jenius). Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. warna kulit. seperti rekreasi. dan (e) kepribadian. Manusia memiliki dimensi fisik. 2. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan.

frustrasi dan konflik. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. dan (3) Teori Belajar Gestalt. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi.memadai. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Manusia belajar untuk hidup. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Berangkat dari studi yang dilakukannya. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. moral dan sosial. afektif maupun psikomotor/keterampilan. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. bahasa dan kognitif/kecerdasan. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. e. Hall dan Gardner Lindzey. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan.. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. c. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. ketegangan emosional. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri.dan menjadi tersia-siakan. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tanpa belajar. Allport (Calvin S. d. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. 7 . Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. baik dalam aspek kognitif. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.

Sikap. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. hormon. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Teori Sosial Psikologis dari Adler. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. yaitu bidang psikologi umum. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Horney dan Sullivan. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. negatif atau ambivalen. Seperti mudah tidaknya tersinggung. cuci tangan. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. sedih. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. 3. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Stabilitas emosi. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. teori Personologi dari Murray. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. yang mencakup : • • • • • • Karakter. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Teori Medan dari Kurt Lewin. maka 8 . Watson. Sementara itu. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Oleh karena itu. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Responsibilitas (tanggung jawab). Fromm. Temperamen. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Hull. Begitu pula. atau putus asa. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. psikologi perkembangan. Sejak lahirnya. tampang. yaitu disposisi reaktif seorang. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Sosiabilitas. Seperti mau menerima resiko secara wajar. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Teori Psikologi Individual dari Allport. Selain itu.

Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. dan (e) kecemasan. ilmu pendidikan. Menurut Gausel (Prayitno. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. filsafat. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. wawancara. ilmu hukum dan agama. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. seperti: pengamatan. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. pemikiran. 4. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. (b) komunikasi non-verbal. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. statistik. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. (c) stereotipe. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. prosedur tes. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. analisis dokumen. manajemen. biologi. seperti : psikologi. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. yaitu kesamaan di atas keragaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. ilmu ekonomi. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. (d) kecenderungan menilai. evaluasi. 2003). sosiologi.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. antroplogi. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Sejalan dengan perkembangan teknologi. Moh. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda.

C. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. dalam bentuk “cyber counseling”. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Moh. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Sebagai ilmuwan. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. 10 . Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Peraturan Pemerintah. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Ditegaskan pula oleh Moh. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Undang – Undang. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Dikemukakan pula. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar.pendidikan.

Bandung : PT ErescoH. Gerlald Corey. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia.. (b) landasan psikologis.———-2006. 2003. New York : McMillan Publishing.T. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Theory Into Practice. 2004. Supratiknya). Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. 2003. Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Psikologi Belajar. 11 . yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. (d) belajar. 1997. Elizabeth B. (c) perkembangan individu. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Bandung : P. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Jakarta. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Arifin. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Surya. 1980. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Remaja Rosdakarya. Calvin S.IKIP Bandung . Learning & Instruction. dan (d) kepribadian. Developmental Phsychology. Psikologi Pendidikan. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Koswara). kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Hurlock. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Bandung PPB . (c) landasan sosial-budaya. 2003. 2005. 2005. Margaret E.1992. Majalengka : Sanggar BK SMP. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Jakarta : PT Raja Grafindo. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.M. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. (b) pembawaan dan lingkungan. E. meliputi : (a) motif dan motivasi. PT Golden Terayon Press. Bandung : Refika Gerungan 1964. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Psikologi Sosial.

Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. Jakarta : Rineka Cipta .———-. dkk. dkk.. tempat kerja. keluarga.——–2003. 2003.2005.Prayitno. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Psikologi Kepribadian. Syamsu Yusuf LN. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. maupun lingkungan kerja. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. maupun masyarakat pada umumnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Teori dan Praktek. 1984. kekuatan.Konseling Individual. Teori-Teori Psikologi Sosial. masyarakat. 2004. 2004. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. belajar (akademik). Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Willis. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. dan karir. serta 12 . (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. dan tugas-tugas perkem-bangannya. pergaulan dengan teman sebaya. 1. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas . Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : Rajawali. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. Sekolah/Madrasah. baik dalam kehidupan pribadi. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.

dan kesejahteraan kerja. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. baik fisik maupun psikis. seperti keterampilan membaca buku. persaudaraan. asal bermakna bagi dirinya. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. 3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. mengggunakan kamus. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. prospek kerja. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. 2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. 13 . dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. kemampuan. seperti kebiasaan membaca buku. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Oleh karena itu. Mengenal keterampilan. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. kemampuan dan minat. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. tanpa merasa rendah diri. menghormati atau menghargai orang lain. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. mengerjakan tugas-tugas. atau silaturahim dengan sesama manusia. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. disiplin dalam belajar. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). mencatat pelajaran. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. seperti membuat jadwal belajar. dan sesuai dengan norma agama.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Dapat membentuk pola-pola karir. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. yaitu kecenderungan arah karir. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Memiliki rasa tanggung jawab.

Adolescence.J. (1979). Comm. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). New York: David Mckay. (2003). Draft.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. CA: Brooks/Cole. Child Development. 2006). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1953). Guidance and Counseling in the Schools. ASCA (American School Counselor Association). Handbook of School Counseling. Depdiknas. (Eds). Menteri Pendidikan Nasional. Self-Efficacy in Changing Soceties. T. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Patricia A. Debra C. Depsiknas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Donna A. Belomont. (2002). Bandung: ABKIN Bandura. R. (1986). The Art of Integrative Counseling. & Henderson. Columbia: The Educational Resources Information Center. (2005). Cambridge. http://aace. Balitbang Diknas. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Introduction to Counseling and Guidance. Cobia.W dan J. Ellis. (2005). Development Taks and Education. Alexandria. UK: Cambridge University Press. Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Browers. 2006. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (1990). Merrill Prentice Hall Corey. Depdiknas. Standar Kompetensi Konselor Indonesia.Nancy. J. DAFTAR RUJUKAN AACE.H. D. (1992). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Dameron. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. A.D. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. G. Houston : Shell Com.L. (2003). Jakarta: Puskur Balitbang. Judy L. Gibson R. (2006). VA: AACD. Depdiknas.).ncat. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (Ed. California : Myfield Publishing Company. The National Model for School Counseling Programs. New Jersey. (2006). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. & Hatch. Depdiknas. (1995). & Mitchel M. Engels. (2007). (2005). (1956). Alizabeth B. Herr Edwin L. (2001). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Hurlock. The Missouri Comprehensive Guidance Model. New York : McGraw Hill Book Company Inc.I. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).

Michigan School Counselor Association. Stoner. Pikunas. supaya tidak dialami oleh konseli. Fungsi Preventif. James J.N. Boston : Allyn & Bacon. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. James A. (1996). Bandung : CV Bani Qureys. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Sunaryo Kartadinata. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (1995). Lustin. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Human Development. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Uman Suherman. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Madison : Brown & Benchmark. Management. M. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2. Syamsu Yusuf L. 3 July’96. Adapun teknik yang 15 . Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Balitbang Depdiknas. Educational Psychology. dan norma agama). (2005).dan Juntika N. LIPI. dkk. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. ——–. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Bandung : PT. 1995. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Vol 24 No. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (2005). 2004. (2003). yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. (1976). (1987).Pd. Fungsi Pemahaman. Landasan Bimbingan dan Konseling. Woolfolk. (2005). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Anita E. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Remaja Rosda Karya. & Kottman. Terry. pekerjaan. ——–. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII).Ltd.Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Melalui fungsi ini. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. London : Prentice-Hall International Inc. Pusat Kurikulum. Berdasarkan pemahaman ini. Muro.

serasi. Fungsi Penyesuaian. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. bakat. Fungsi Adaptasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. 4. merokok. dan kebutuhan konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. diantaranya : bahayanya minuman keras. drop out. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi Fasilitasi. informasi. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. berperasaan dan bertindak (berkehendak). 9. 10. Fungsi Pemeliharaan. baik pria maupun wanita. belajar. dan bimbingan kelompok. Fungsi Pengembangan. kemampuan. Fungsi Penyembuhan. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. 6. baik menyangkut aspek pribadi. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. home room. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. 5. maupun karir. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Dalam melaksanakan fungsi ini. Fungsi Perbaikan. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. 3. 7. minat. yang memfasilitasi perkembangan konseli. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. sosial. dan remedial teaching. tutorial. konselor. baik anak- 16 . Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. Fungsi Penyaluran. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. 8. penyalahgunaan obatobatan. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. dan pergaulan bebas (free sex). dan karyawisata. memilih metode dan proses pembelajaran. jurusan atau program studi. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). 5. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. memberikan dorongan. 17 . Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). 1. 6. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.2. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Asas kesukarelaan. dan peluang untuk berkembang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. dan pekerjaan. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. 3. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Mereka bekerja sebagai teamwork. menyesuaikan diri. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. anak. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. yaitu meliputi aspek pribadi. pendidikan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 3. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. maupun dewasa. Asas keterbukaan. Bimbingan menekankan hal yang positif. Asas Kerahasiaan. remaja. sosial. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. 4. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Agar konseli dapat terbuka. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. tetapi juga di lingkungan keluarga. 2. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. dan masyarakat pada umumnya. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. perusahaan/industri.

Asas Keahlian. Asas Keterpaduan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. 7. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.edu 18 . mampu mengambil keputusan.4. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Asas Kedinamisan. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. 9. DAFTAR RUJUKAN AACE. Asas Keharmonisan. saling menunjang. dan terpadu. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Asas Kekinian. Lebih jauh. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas kemandirian. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. ilmu pengetahuan. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. dan kebiasaan yang berlaku. 11. Dalam hal ini. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. guruguru lain. yaitu nilai dan norma agama.ncat. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. tidak monoton. 10. 8. Asas kegiatan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. (2003). Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Asas Alih Tangan Kasus. adat istiadat. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. atau ahli lain . 5. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. harmonis. hukum dan peraturan. menghayati. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. http://aace.

New York : McGraw Hill Book Company Inc. J. Comm. Draft. (2003).Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Browers. Donna A.). (1990). (1995). D. Cobia. Merrill Prentice Hall Corey. (1979). Depsiknas. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2005). Columbia: The Educational Resources Information Center. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Michigan School Counselor Association.I.D. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Development Taks and Education.Nancy. Introduction to Counseling and Guidance. Houston : Shell Com. New York : MacMillan Publishing Company. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.L. The Art of Integrative Counseling. Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. (1953). UK: Cambridge University Press. Guidance and Counseling in the Schools. R. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. & Mitchel M. Depdiknas.W dan J. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). ASCA (American School Counselor Association). California : Myfield Publishing Company. (1986). (2003). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.J. CA: Brooks/Cole. (1956). (2002). Havighurts. Depdiknas. Child Development. Depdiknas. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2007). G. Engels. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. 2006. (2003). Herr Edwin L. Balitbang Diknas. Gibson R. (1992). Adolescence. The National Model for School Counseling Programs. Bandung: ABKIN Bandura. Debra C. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Belomont. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2006). Jakarta: Puskur Balitbang. (2005). Judy L. New York: David Mckay. (2005). Handbook of School Counseling. New Jersey. (Eds). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. 2006). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. (2001). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. 2006. Alizabeth B. Cambridge. & Hatch. Alexandria. A. 19 . Patricia A. VA: AACD.H. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Self-Efficacy in Changing Soceties. & Henderson. Menteri Pendidikan Nasional. (Ed. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Hurlock. Ellis. (2006). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Dameron. T.

Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). James A. Bandung : PT. (1995). Bandung : CV Bani Qureys.Ltd. Educational Psychology. (1996). Management. Balitbang Depdiknas. 1995. Vol 24 No. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pusat Kurikulum. LIPI.Muro. (2003). Pengembangan karir. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. dkk. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. (2005). Remaja Rosda Karya. Human Development. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. M. Landasan Bimbingan dan Konseling. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. & Kottman. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha.N. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (1987). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Sunaryo Kartadinata. Lustin. ——–. Woolfolk. menilai. James J. Pengembangan kemampuan belajar. Pikunas. (2005). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. London : Prentice-Hall International Inc. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Madison : Brown & Benchmark. Syamsu Yusuf L. Uman Suherman. Terry.dan Juntika N. 3 July’96. bakat dan minat. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. serta memilih dan mengambil keputusan karir. ——–. (2003). Pengembangan kehidupan sosial. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.Pd. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Stoner. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2004. (1976). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Anita E. 20 . anggota keluarga. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Boston : Allyn & Bacon.

dalam bidang pribadi. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. kelompok belajar. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. pergaulan. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. minat dan segenap potensi lainnya. serta untuk 21 . sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Informasi. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. karier.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Layanan Penempatan dan Penyaluran. pendidikan lanjutan). terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. program latihan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. • • • • Layanan Konten. magang. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. diantaranya: Layanan Orientasi. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. jurusan/program studi. Layanan Konseling Perorangan. sosial. Layanan Bimbingan Kelompok. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 1987. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Ke Arah Pengertian Developmental. 3. Bandung : LPMP Jawa Barat. M.. Hattari. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. 1983. sosial. (Muslihudin. Namun. Jakarta : BP3K. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. dkk. Diantaranya. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. berbangsa dan bernegara. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan.Pd. 4. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. 5. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. perusahaan. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Bimbingan dan Konseling (Makalah). 2. belajar ataupun kariernya. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 2004. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. sosial. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. 6.1. bermasyarakat. 2004) Sumber : Bahrul Falah. belajar maupun kariernya. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. mereka mempertanyakan. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. dkk.

Materi Informasi. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. baik melalui media cetak atau eleltronik. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. ciri-ciri 26 . yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. cita-cita. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. minat. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. Dalam hal ini. dan sebagainya. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. Namun. Untuk itulah. baik tentang bakat. ciri-ciri pekerjaan. bakat. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Di samping itu. seperti kecerdasan. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. jenis dan prospek pekerjaan. materi informasi yang bersifat personal. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. Karena. persyaratan. Untuk itulah. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. seperti kondisi sosio-kultural. karier. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. pasar kerja. seperti bakat. jenis pekerjaan. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi.

kepribadian. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. keterangan. berdasarkan hasil pengalamannya. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Untuk itu. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. atau minat pekerjaannya. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. (1995). Dalam hal ini. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Selain itu. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). dalam rangka menambah wawasan. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Misalkan. Dari hasil kunjungan. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. artikel. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”.Jakarta : IPBI 27 . Sebagaimana telah disinggung di atas. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Selain itu. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber.

Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. (1997). Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. (1991).S. 2. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. yaitu sama-sama menginginkan 28 . Dalam hal ini. pelayanan responsif. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen).Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Begitu pula. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. perencanaan individual. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). W.

tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. modifikasi perilaku. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Kendati demikian. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. baik untuk kepentingan pencegahan. 29 . Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. Masalahnya. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. 3. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. serta teknis medis lainnya. 7. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. 6. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. 5. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. mendiagnosis. pengubahan lingkungan. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. penguatan mental/psikis.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Misalkan. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas.

sosial. Begitu pula sebaliknya. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Pekerjaan yang 30 . melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa.dan piha-pihak lain. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. seringkali masalah seseorang dianggap sepele.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. seperti “praktik pribadi”. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. pemberi informasi. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. 9. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Konselor adalah kawan pengiring. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. penunjuk jalan. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. 10. pembangun kekuatan. Namun demikian. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja .guru. Di sekolah misalnya. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. orang tua.siswa. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. disiplin dan keamanan di sekolah. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan.dan lingkungan. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8.

maka hasilnya akan kurang mantap. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. 14. Jawaban ”benar”. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja.Lebih jauh. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. terutama klien. Dengan kata lain. tujuan.Oleh sebab itu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Pada dasarnya. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. 13.Sementara itu.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Bahkan sering kali terjadi. jenis dan sifat masalah. metode. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. guru pembimbing memang harus aktif. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. tujuan yang ingin dicapai. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Di sekolah. Konselor harus aktif. 12. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. bersikap “jemput bola”. tersendat-sendat. Sedangkan jawaban ”tidak”. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. dan sarana yang tersedia. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. 11. pihak lain pun. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. atau bahkan tidak berjalan sama sekali.inventori. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. menghambat. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. ada dan digunakannya instrumen (tes. dalam hal ini konselor. dan asas-asas tertentu).harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 .

2003. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.15. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN.. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Misalkan. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno.

dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Dalam tulisan sebelumnya di situs ini.(lihat 1. Layanan Dasar. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dr. memiliki mental yang sehat. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah.Pd.ABKIN. M. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. standar kompetensi konselor. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. 33 . Hal yang cukup mengagetkan penulis. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Sunaryo.Selama mengikuti pelatihan. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. bertempat di Cikole Lembang Bandung. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. selaku ketua PB. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. memperoleh keterampilan hidup. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. yaitu : 1. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. Prof. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Ketika membuka kegiatan pelatihan. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini.

hubungan masyarakat dan staf. 3.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. M.2. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. staf ahli. Layanan dukungan sistem. dan penelitian dan pengembangan. maupun karier. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. konsultasi dengan guru lain. konseling individual. Kurikulum 1984. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. Dr. mau pun Kurikulum 1994. M. manajemen program. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. sosial. Layanan Responsif. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. atau mengelola pengembangan dirinya.Pd. Syamsu Yusuf L.N. Perbedaannya. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. dan masyarakat yang lebih luas. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Layanan Perencanaan Individual. A. merencanakan. 4. belajar.Pd. baik dalam Kurikulum 1975. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Selain itu.Pd. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. Agus Taufiq. referal dan bimbingan teman sebaya. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Uman Suherman.. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. penasihatan individual atau kelompok. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. Uman Suherman. memelihara. M. M. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . dan Dr. Untuk lebih jelasnya.Pd. konseling kelompok. baik menyangkut aspek pribadi. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”.

dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. bimbingan klasikal. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. (d) strategi pelayanan. Dalam hal ini. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. 2. (c) pemilihan instrumen/media. audio visual. konsultasi. audio. kunjungan rumah. media cetak : liflet. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. konseling kelompok. proses.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Kendati demikian. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Laporan bulanan 5. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. buku saku) 7. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Daftar konseli 3. catatan anekdot. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. berbentuk : 1. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . kotak masalah. Laporan hasil evaluasi program. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. bibliokonseling. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. bimbingan kelompok. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Laporan semesteran/tahunan 6.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. (2) tahap inti (tahap kerja). terutama asas kerahasiaan. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. berisi : (1) Kontrak waktu. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. 39 . Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. (2) Kontrak tugas. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. B. Membuat penaksiran dan perjajagan. kesukarelaan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. dan kegiatan. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). keterbukaan. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. A. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Oleh karena itu.Pd. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Menegosiasikan kontrak. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Secara umum. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. M. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Memperjelas dan mendefinisikan masalah.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan.

psikoanaliss. rational emotive therapy (RET). Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). DYP Sugiharto. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. sehat dan dinamis. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. gestalt. baik oleh pihak konselor maupun klien.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Dalam bentuk tayangan slide. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. (1) menurunnya kecemasan klien. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Dr. M. C. yaitu .tugas profesionalnya.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. dan trait and factor. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan.

4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. B. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. (c) peniruan. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. 3. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. 41 . Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. (b) pembiasaan operan. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. 2008 A. 2. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling.

(b) apakah tujuan itu realistik. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. 2. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. Evaluation termination. 3. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. pola hubungan interpersonal. Assesment. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Goal setting. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. 42 . Konselor aktif : 1. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. atau melakukan referal. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. tingkah laku penyesuaian. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. 4. Technique implementation. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.D. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. 5. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. Feedback. (c) kemungkinan manfaatnya. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. kekuatan dan kelemahannya. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien.

Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. model fisik. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. kesulitan menyatakan tidak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Sumber : Dr. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. DYP Sugiharto. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.Pd. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. dapat menggunakan model audio. atau contoh nyata langsung). mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. (Makalah) 43 . tape recorder. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. M. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk.

Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. dan pemikirannya. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. kecemasan. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. ingin dimaklumi. otak. jantung. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. maka mereka mengalami kecemasan. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. rasa berdosa. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. tidak berdaya. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. dan sebagainya.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. sakit hati. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. B. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). dan tingkah lakunya 44 . persepsi. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. pasif. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. Dalam pendekatan ini. kemarahan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. kebencian. 2008 A. emosi. kedudukan. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Meskipun tidak bisa diungkapkan. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). menuntut. perasaan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. (3) aktor bukan reaktor. Under dog adalah keadaan defensif. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. membela diri. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. rasa diabaikan. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. pera-saan. mengancam. lemah.

serta mendapatkan insight secara penuh. C. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. interpretasi maupun memberi nasihat. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. memahami kenyataan atau realitas. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” .Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. 45 . D. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri.

atau gila. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Fase kedua. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. dalam situasi di sini dan saat ini. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. perasaan-perasaannya. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Fase keempat. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Teknik Konseling 46 . konselor mengembangkan pertemuan konseling. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. bodoh. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Melalui fase ini. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. dan tingkah lakunya. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Fase ketiga. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. perasaan. dirinya tidak berdaya. Dalam hal ini.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. Orientasi Sekarang dan Di Sini. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Dalam kaitan itu. Orientasi Eksperiensial. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar.

Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Sumber : Dr. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. (Makalah) 48 . Meskipun tampaknya mekanis. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. “Saya malas. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. M. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. DYP Sugiharto.Pd.

atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. kejadian.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. atau sikap orang lain. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. antara kenyatan dan imajinasi.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. dan keran itu tidak produktif. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. dan irasional. bahagia. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. interpretasi. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. tidak masuk akal. 2008 A. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). yaitu Antecedent event (A). Belief (B). dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. dan Emotional consequence (C). (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Belief (B) yaitu keyakinan. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. B. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. bijaksana. masuk akal. yang dapat diterima menurut akal sehat. sangat personal. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. tingkah laku. dan kompeten. kekhawatiran. emosional. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. kelulusan bagi siswa. Keyakinan seseorang ada dua macam. Perceraian suatu keluarga. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). dan kerana itu menjadi prosuktif. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. pandangan. nilai. (c) orang tua atau masyarakat 49 .

(6) menerima ketidakpastian. bencana yang dahsyat. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. cara berpikir. (2) minat sosial. Kedua. ( penerimaan diri. (3) pengarahan diri. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. dan (10) menerima kenyataan. jahat. persepsi. mengerikan. rasa cemas. rasa bersalah.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. Ketiga. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. disalahkan. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. dan dihukum. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. (4) toleransi terhadap pihak lain. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. rasa berdosa. (5) fleksibel. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. merasa was-was. rasa marah. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. (9) berani mengambil risiko. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. C. D. merusak.

artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. Emotif-ekspreriensial. Kognitif-eksperiensial. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. E. mendorong. afektif. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. 3. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Aktif-direktif. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. 2. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 4. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. Behavioristik. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. latihan. atau meniru model-model sosial. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Dengan memberikan reward ataupun punishment. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. DYP Sugiharto. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. M. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). membiasakan diri. Dengan tugas rumah yang diberikan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. mengobservasi. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. (Makalah) 52 .Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Sumber : Dr. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

Menutup wawancara konseling E. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Manusia secara esensial bersifat biologis. Deskripsi Proses Konseling 1. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. terutama usia 2-5 tahun. D. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. yaitu id. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Hakikat manusia. 2. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. 2008 A. ego. untuk ditata. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. dan super ego C. disikusikan. Konsep Dasar 1. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. konflik dan simbolisme. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Klien diminta 53 .

2. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Konselor menetapkan. resistensi berati penolakan. Interpretasi. Menurut Freud. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Transferensi adalah mengalihkan. baik dalam asosiasi bebas. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. mimpi. 2008 A. 3. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. anonim. pengalamannya tertekan. resitensi dan transferensi. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. 54 . klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. asosiasi bebas. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Analisis resistensi. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Konsep Dasar: 1. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. objektif. B. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. kebencian. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Manusia tidak pernah statis. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Memandang manusia sebagai individu yang unik. dan transferensi klien. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. seksualitas. Hal ini disebut juga katarsis. Dengan perkataan lain. Manusia merupakan seseorang yang ada.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Dalam hal ini. resistensi. Analisis mimpi. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif.

Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. 3. (4) reassurance (menentramkan hati).C. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. D. 2007. Rogers. Konseling Individual. (4) mewujudkan dirinya. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. (2) mengambil keputusan yang tepat. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. Teori dan Praktek. (3) understanding (pemahaman). (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Sumber: Sayekti. 3. 4. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). 5. persepsi cara berfikir. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. (3) mengarahkan diri. Bandung: Alfabeta 55 . yang unik. Tujuan Konseling 1. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. (2) respect (rasa hormat). Saya adalah saya 2. 1997. 4. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. E. Deskripsi Proses Konseling 1. Memperbaiki dan mengubah sikap. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. 2. Willis. (5) encouragement (memberi dorongan). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Berbagai Pendekatan dalam Konseling.

Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. yang hadir di seluruh kehidupannya. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. sebagai pengalaman yang berharga. Tanggung jawab 56 .Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. 5. 2008 A. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. 3. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. 2. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. dianalisis dan ditafsirkan. 3. 2. Menurutnya. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. diperbaiki. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. 4.

3. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. 3. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Tujuan Terapi 1. Motivator. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. 7. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. D. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Penyalur tanggung jawab. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. 2. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. C.. 2. 4. 6. 5. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. 5. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Menggunakan role playing dengan konseli 2. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 4. 6.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Pengikat janji (contractor). Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. 5. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. Guru. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 4. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . baik berupa limit waktu. Moralist.

Sumber: Sayekti. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. duduk kurang akrab dan berpaling. tidak melihat saat klien sedang bicara. diantaranya : A. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. 2007. B. miring. Untuk lebih jelasnya. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. Empati dilakukan sejalan 58 . ceria. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. mudah buyar oleh gangguan luar. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Menciptakan suasana yang aman 3. mengalihkan pandangan. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. ekspresi melamun. Perhatian : terpecah. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Posisi tubuh : tegak kaku. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). menggunakan tangan sebagai isyarat. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. Konseling Individual. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. Memutuskan pembicaraan. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. bersandar. Meningkatkan harga diri klien. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. menunggu ucapan klien hingga selesai. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. 8. Willis. jarak duduk dengan klien menjauh. 1997. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. bahasa tubuh. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. mata melotot. Bandung: Alfabeta. perhatian terarah pada lawan bicara. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.7. dan bahasa lisan. 2. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. Teori dan Praktek.

yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. pikiran dan keinginan klien. dan pengalaman klien. Eksplorasi pikiran. C. berupa perasaan. pikiran. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.dengan perilaku attending. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. menutup diri. Refleksi pengalaman. Refleksi pikiran. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Eksplorasi pengalaman. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. yaitu teknik untuk menggali ide. pikiran. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. yaitu teknik untuk memantulkan ide. yaitu : 1. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Empati tingkat tinggi. pikiran. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. 3. yaitu : 1. yaitu : 1. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. pikiran. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Seperti halnya pada teknik refleksi. 59 . pikiran. Eksplorasi perasaan. pengalaman termasuk penderitaannya. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. dan mengamati respons klien terhadap konselor. tertekan dan terancam.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Refleksi perasaan. 2.” 2. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.” 2. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Terdapat tiga jenis refleksi. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”.” Saya mengerti keinginan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. Empati primer. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. dan pendapat klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Terdapat dua macam empati.

Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. dapatkah. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 .dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). lalu…. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien.” F. ya…. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. terus…. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (3) memberi arah wawancara konseling. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Oleh karenanya. bagaimana. lebih baik gunakan kata tanya apakah. akan tetapi saya tidak mengambilnya.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien.. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. adakah. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.

I. PT Golden Terayon Press. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Membantu orang tua memang harus. kedua. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” K. Jakarta : PPPG 61 . 2004. Jakarta. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.M. bukan pandangan subyektif konselor. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.Konseling Individual. Sugiharto.” Sumber : Sofyan S. Saya tak dapat lagi menahan diri. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.(2005. Bandung : Alfabeta H. 2003. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Arifin. J. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Teori dan Praktek. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Willis. Karena tantangan masa depan makin banyak. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.

Pada umumnya dalam wawancara konseling. senyum dengan kepedihan. atau kontradiksi dalam dirinya. Fokus pada topik. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. 2. (2) meningkatkan potensi klien. Contoh : ” Tanti. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . ide awal dengan ide berikutnya. diantaranya : 1. Contoh dialog : 62 . dan sebagainya. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus pada orang lain. Oleh karena itu. 4. konflik. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Fokus mengenai budaya. 2008 A. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Fokus pada diri klien. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Contoh : ” Roni. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.” C. telah membuat kamu menderita. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar.

Konselor :”…………. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.” E. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.” (diam) G. 63 . ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar... posisi tubuh gelisah). dan kurang parisipatif. Saya.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. ungkapan kata-kata yang tegas. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Coba Anda renungkan kembali”. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. wajah murung.. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. (2) agar klien menjelaskan. G.(suara rendah. atau saudara-saudara Anda.. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. sering diam. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. paling lama 5 – 10 detik.Klien : ” Saya baik-baik saja”.” (diam) Klien :” Saya. kurang jelas dan agak meragukan. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. dan dengan alasan-alasan yang logis.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. pikiran. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh: ” Baiklah.. tidak tahu. dan pengalamannya secara bebas. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan..” F. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Walaupun demikian. D. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.harus bagaimana. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. ibu.

dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya.upi. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. 2008 Dalam konseling. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta.Konseling Individual. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Arifin. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. 2003. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. di samping menggunakan teknik-teknik umum. (3) pemahaman baru klien. terutama mengenai kecemasan. Rational Emotive Theraphy. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. (2) memantapkan rencana klien. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Sugiharto.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. PT Golden Terayon Press. I. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Willis. Bandung : Alfabeta H. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini.(2005. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Teori dan Praktek. Kalau pun konselor mengetahuinya. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. yaitu : 64 .” H. Contoh : ” Nah. 2004. seperti pendekatan Behaviorisme. Sofyan S.com di internet”.M. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling.

Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 65 . misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. 4. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 5. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. 3. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung.1. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. dapat menggunakan model audio. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. model fisik. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. kesulitan menyatakan tidak.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.Melalui dialog yang kontradiktif ini. 7. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Sering terjadi. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. 6. “Saya malas. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. 9. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. 8. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang.

membiasakan diri. Jakarta.Konseling Individual. 12. Bandung : Alfabeta Sugiharto.(2005. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. 10. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Dengan tugas rumah yang diberikan. 2004. Jakarta : PPPG 67 . Sofyan S. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Arifin. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).M. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 13. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. 2003. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Home work assigments. Willis. mendorong. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. 11. PT Golden Terayon Press. Sumber : H. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teori dan Praktek.

Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. terisolik. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. mengontrol dunia. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Dasar saya anak desa. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. Makin lama perasaan ditolak. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. orang lain. terus bertahan. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. dan sombong. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. kurang bersahabat. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. susah tak ada/punya teman yang peduli. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota.

PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Sehubungan dengan kasus. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. Tekniknya jelas. Cara konselor ialah 69 . konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. peduli. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. karena saya berharga dihadiratNya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. bermain peran. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. bahkan adakalanya saya benci. Saya pantas menderita karena semuanya itu. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. dan seterusnya. Allah mengasihi saya. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. memaki-maki diri saya sendiri. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. Itu berarti salah saya. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen.dibiarkan terus berlangsung. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. 50% netral. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. hanya 10% saja yang membeci saya. puas dan bangga. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. pemalu. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. pemberian nasehat secara tepat. karena saya tak berharga. mengobservasi dan evaluasi diri. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. semua teman memperhatikan / mendukung. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. teliti. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Ide-ide ini diajarkan. Ia menjadi minder. tak seperti orang/teman-teman lainnya. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. sugestif. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang.

FIP. Prayitno. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. 1991/1995.. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Pengantar Teori-teori Konseling. Satya Wacana Semarang. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. 1998. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Konseling Pancawashita. Jakarta Surya. progdi BK PPB.dengan pendekatan yang tegas. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . 70 . Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. M. mendebat. 2. 1991. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). Yogyakarta. 3. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. menantang. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. IKIP Padang Rosjidan. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. IKIP Semarang Pres. (5) menerima kenyataan bahwa.. SUMBER Aryatmi. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Corey G. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. Kota Kembang.. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. S. 1998. 4. Kesegaran hasil yang dicapai. 1988. jika kita mengharap untuk berubah. Kesimpulannya. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan.

dan untuk bahan analgesik (Kisker. terutama remaja. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. malaria.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). dan Amerika Selatan. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Cina. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. dan segitiga emas (Kamboja. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. obat lemah badan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. dan analgesik (Martin. Australia. 22-5-2001). Turki. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. *) Sofyan S. tidak menyalahkan pihak luar. Pendidikan dan Pelatihan. dan Asia. Pasca RSKO. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. pecandu narkoba. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. 1977). Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Martin. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Bagaimana di Eropa. 1977). Opium banyak pula ditemukan di Cina. Konseling Kelompok. Thailand).Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Konseling Agama. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. dan Partisipasi Sosial. Mesir. Kunjungan. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Vietnam. Konseling Keluarga. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Pendahuluan 1. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. keluarga. Pemulihan. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. 1977). terutama di Amerika Serikat dan Afrika. 1977. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. rematik. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 .

Minnesota. khususnya generasi muda. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. 1993). yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. 1989).Willis. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. Willis. Artinya. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK).bulan. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. (c) mencintai keluarga. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Sedangkan. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). dan film-film. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. 1978).200. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi.800 miliar. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. 1979). (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. melalui metode Konseling Terpadu. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika.200. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. kolusi. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. Masalahnya. VCD. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV.000. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. sehingga narkoba mudah beredar. 1995). 2001). Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. suatu angka yang fantastis. 72 .3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. Ulwan. Minneapolis. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. 1979). 1. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. namun terbentur pada lemahnya hukum. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. 1. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. maka AMK pun menirunya. Sebagai perbandingan. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann.000 = Rp. konsumtif. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). 25-52001). Hal ini berarti. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock.

1977). 2. kehilangan pekerjaan. dijauhi orang-orang yang dicintai. institute nutrition and vitamin therapy.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. hangat. spiritual. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. dsb). 1980). (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. dan sebagainya. terbuka. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. intelektual. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. dan asli (genuine) dari konselor. bermoral. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. Selanjutnya. sosial. para siswa. 2. prescribe mood-controlling medications. dan berbuat baik terhadap sesama. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. back home. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. taat ibadah. Melalui interpersonal relation. dan fisik. or back on the job. and back to destructive drinking”. sarjana. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. menerima cobaan hidup dengan tawakal. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. klien siap untuk melaksanakan program tersebut.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. tokoh-tokoh masyarakat.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. Sebagai seorang dokter medis. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. ibu-ibu pengajian. Willis 1995).2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. (3) menerima realita hidup dengan jujur. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. 2. and than put the patient back on the street. terapi nutrisi/vitamin. memahami. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. akan tumbuh 73 . Mann memuji pendekatan Panti St. guru-guru BK di sekolah. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. anggota DPR. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. Jika konselor tidak menguasai soal agama. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor.

sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. 3. merusak diri. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Kemudian. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. dan sebagainya. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. Demikian juga. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. saudara. 1982). sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. dan masyarakat. pesan. ibu. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. 2. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. suami..3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Di samping itu. 1985). Selanjutnya. suami/istri. 2. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. 5. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. keluarga. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. saudara. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. marah. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. percaya diri. mencemarkan nama keluarga. serta penyesalan terhadap masa lalu. keluarga. sedangkan pesertanya adalah klien. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien.kepercayaan diri klien (Yalom. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. istri. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. Di samping itu. pacar. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. Selanjutnya. orang tua. kritikan-kritikan. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. dan keluarga dekat lainnya. 4. dan masyarakat. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. Selanjutnya. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. 74 .

go. Willis. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 .Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. 2008 Dalam proses konseling. Barbara F. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Sumber : http://depdiknas. Okun (Sofyan S. bimbingan kelompok. dan konseling keluarga. baik perilaku verbal maupun non verbal. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1.id. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36.

Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. Willis. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Kendati demikian. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Oleh karena itu. Sebagai lembaga pendidikan. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. 2004. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Secara visual. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling.

Dalam hal ini. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini. seperti: membolos. Sebagai ilustrasi. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. 77 . bertengkar. mencuri kelas ringan. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. minum minuman keras tahap awal. kesulitan belajar pada bidang tertentu. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Perlu digarisbawahi. keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sofyan S. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. serta hal-hal positif lainnya.Dengan melihat gambar di atas. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. Lebih jauh. Masalah (kasus) ringan. malas. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). berkelahi dengan teman sekolah. berpacaran. Oleh karena itu. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya.

polisi. percobaan bunuh diri. Masalah (kasus) berat.2. berkelahi antar sekolah. dengan perbuatan menyimpang. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. guru dan sebagainya. ahli/profesional. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. melakukan gangguan sosial dan asusila. seperti: gangguan emosional. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Secara visual. C. siswa hamil. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. pelaku kriminalitas. Masalah (kasus) sedang. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. karena gangguan di keluarga. dokter. kesulitan belajar. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . polisi. 3. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). seperti: gangguan emosional berat. mencuri kelas sedang. minum minuman keras tahap pertengahan. kecanduan alkohol dan narkotika. berpacaran.

Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. dan khusus. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. dan informal. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. non formal. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. 3. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. keagamaan. 4. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. karier. 1. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. akademik. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. C. proses dan program bimbingan dan konseling. individual. sosial. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. (b) melakukan 79 . individualitas. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. 2008 A. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. dasar dan menengah. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. kejuruan. dan berpotensi. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. kebebasan memilih. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. 2. jenjang. (c) memfasilitasi perkembangan. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. 3. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. personal. dan (f) ersikap demokratis B. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. bermoral.

komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. 2007. tujuan. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. tenaga administrasi) 5. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. wali kelas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (b) mengkomunikasikan dasar. Sumber : ABKIN. yang di dalamnya 80 . dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. 4. 2008 Dalam Permendiknas No. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. 6. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. orang tua. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. tujuan. Namun. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. pimpinan sekolah/madrasah. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dalam bentuk naskah akademik.dan profesi. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. Oleh karena itu.dan profesi. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. tujuan. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.

(2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (4) Kematangan intelektual. (2) Landasan perilaku etis. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. hemat. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (7) Pengembangan diri. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (3) Kematangan emosi. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (6) Kesadaran gender. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT).

(3) Kematangan emosi. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (9) Wawasan dan kesiapan karier. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK).Jakarta. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (6) Kesadaran gender. (2) Landasan perilaku etis.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Namun.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. 2008 Dalam Permendiknas No. dalam bentuk naskah akademik. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (4) Kematangan intelektual. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Oleh karena itu. (7) Pengembangan diri.2007. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT).

Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. ulet kewirausahaan hemat. hari. 2008 Dalam Permendiknas No. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. ulet hidup hemat. sehari-hari.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. 83 . Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. dan persyaratan pekerjaan.2007.Jakarta. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari.

(10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (2) Landasan perilaku etis. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.Namun. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. dalam bentuk naskah akademik. Oleh karena itu. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (9) Wawasan dan kesiapan karier. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (4) Kematangan intelektual. (6) Kesadaran gender. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (7) Pengembangan diri. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (3) Kematangan emosi.

peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. sengguhulet. pendidikan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.Jakarta.ulet sungguhhemat.ulet.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.2007. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. hemat.

peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Jakarta. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 86 .2007.ulet. sengguhulet. pendidikan. hemat.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.ulet sungguhhemat.

yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. 2. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. Program Bulanan. dan (5) volume/beban tugas konselor.D. Program Semesteran. 3. (3) format kegiatan. Dilihat dari jenisnya. Program Mingguan. 87 . yaitu: 1. 2008 A. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. 4. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. Program Tahunan. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. sasaran pelayanan (4) .

kegiatan instrumentasi. penguasaan konten. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. bulanan serta mingguan. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. dan (e) waktu dan tempat. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. (2) pelaksanaan. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . yaitu : (1) perencanaan. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. tempat. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Program Harian. B. dan pihak-pihak yang terkait. dan (2) kegiatan non tatap muka.5. waktu. serta alat bantu yang digunakan. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. insidental dan keteladanan. penempatan dan penyaluran. substansi. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. B. dan (3)penilaian 1. jenis kegiatan.

perorangan. kegiatan konferensi kasus. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. dan alih tangan kasus. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. pemanfaatan kepustakaan. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. 89 .dalam kelas. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. Penilaian segera (LAISEG). konseling kelompok. C. bimbingan kelompok. dan mediasi. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. dan (2) penilaian proses. kunjungan rumah. 2. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. 3. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. himpunan data.. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). menyelenggarakan layanan orientasi. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik.

sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. mengandung arti bahwa bentuk. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. 1. bakat. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. responsif.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. rancangan. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). 2. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. guru. belajar. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). 3. 90 . Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Namun. dan pengembangan karir konseli. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor.

D. Self-Efficacy in Changing Soceties. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dameron. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. (2007). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). New Jersey. Engels. Donna A. CA: Brooks/Cole. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. A. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Handbook of School Counseling.ncat. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.). (2005). http://aace. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. 91 . DAFTAR RUJUKAN AACE. UK: Cambridge University Press. Cobia. (2001).W dan J. (2003). (2005). (2006). Cambridge. Draft. (Ed. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1995). Depsiknas. Debra C. VA: AACD. Alexandria. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. G. Merrill Prentice Hall Corey. (Eds). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Belomont. Balitbang Diknas. & Henderson. Bandung: ABKIN Bandura. D.Gambar 1. (2003). The Art of Integrative Counseling.

The National Model for School Counseling Programs. T. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya. Pusat Kurikulum. & Mitchel M. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (2003). ASCA (American School Counselor Association). Pikunas. (1987). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. New York : MacMillan Publishing Company. Depdiknas. Depdiknas. Havighurts. dkk. 2006. & Hatch. Depdiknas. (1990). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). (2006). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Muro. Patricia A. (2005). (2005).J. Depdiknas.Browers. California : Myfield Publishing Company. Judy L. Menteri Pendidikan Nasional. (1995). Madison : Brown & Benchmark. Development Taks and Education. 2006). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Remaja Rosda Karya.dan Juntika N. R.N. James A. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Balitbang Depdiknas. Guidance and Counseling in the Schools. Terry. James J. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (1953). (1956). & Kottman. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Lustin. Herr Edwin L. Ellis.Nancy. LIPI. Landasan Bimbingan dan Konseling. Alizabeth B. Houston : Shell Com. ——–. Hurlock. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. (1986). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Comm. (2003). London : Prentice-Hall International Inc. Bandung : CV Bani Qureys. Child Development. (1979). Stoner. Syamsu Yusuf L. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. The Missouri Comprehensive Guidance Model. New York: David Mckay. Jakarta: Puskur Balitbang. (2005). Sunaryo Kartadinata. Adolescence. (2005).L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1976). 2004. Michigan School Counselor Association. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Jakarta : Balitbang Depdiknas. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha.H. Bandung : PT. Management. Introduction to Counseling and Guidance. Gibson R. (2003). (1992). ——–. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2006. (2002). J. Human Development.Ltd. Columbia: The Educational Resources Information Center.I.

(2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Boston : Allyn & Bacon. M. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 1995. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Dalam hal ini. Uman Suherman. M.Pd. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. 3 July’96. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Woolfolk. Vol 24 No. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . Sesungguhnya. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. (1996). BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 2008 Oleh : Drs. Oleh karena itu. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Educational Psychology. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Anita E. Oleh karena itu. Akhmad Sudrajat. tulisan ini.Pd. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya.

konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka. petunjuk pelaksanaan. Akibatnya. Dengan kata lain. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Dari sini. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. ketentuan. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Bagaimanapun. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. petunjuk teknis dan sebagainya. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara.1. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. seperti : malas. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. konselor dituntut bekerja secara profesional. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. melalui berbagai bentuk aturan. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. Secara tidak langsung. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata.

2. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. untuk menguasai teknikteknik konseling. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. Sedangkan secara langsung. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor.dalam internet. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. Sementara. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. Walaupun demikian perlu dicatat. Misalkan. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Bahkan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. seperti : seminar. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. penataran dan pelatihan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. dengan bercermin dari kekurangan. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. Berbekal kesabaran dan ketekunan. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Kemudian. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Sehingga pada gilirannya. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. Sekalipun ada. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal.

mewakili pihak pemerintah. konselor 96 . kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Dan pada gilirannya. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Tentu saja. terutama masyarakat dan orang tua siswa. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Dalam hal ini. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. Namun pada kenyataannya. Jadi wajar sekali. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. Bagaimanapun masyarakat. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Dengan adanya akuntabilitas ini. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Oleh karena itu. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Artinya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor.

keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Dengan kata lain. seperti kepala sekolah. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. Atau secara kreatif. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. Tentu saja. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. khususnya dalam forum Komite Sekolah. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. yang berhubungan dengan data siswa. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Karena. Oleh sebab itu. Untuk itulah. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. Hal yang perlu dicermati. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Prayitno. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Demikianlah. kapan saja diperlukan. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Bahkan bila perlu. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). 97 . karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. dewan sekolah atau siapa pun. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Dr. Dengan sendirinya. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan.

Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. (1995). Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.S.(1994). Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Dr. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil.(1995). (2) evaluasi program. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. (1991). (2001). Makalah .. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Prof. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. (1997). Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . W. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Sementara itu. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Counselors Role in a Changing 98 . dan (3) evaluasi hasil. Departemen Pendidikan Nasional. 1.

wisconsin. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. 2004.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).html Sofyan S. Willis. 2008 99 . Konseling Individual. Teori dan Praktek. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Bandung : Alfabeta. guru. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L.gov/sspw/counsl1.dpi.

catatan anekdot. Kendati demikian. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. audio visual. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. berbentuk : 1.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. bimbingan klasikal. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. (d) strategi pelayanan. bibliokonseling. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . konseling kelompok. Laporan semesteran/tahunan 6. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Daftar konseli 3. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. buku saku) 7. kunjungan rumah. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. bimbingan kelompok. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Laporan hasil evaluasi program. media cetak : liflet. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. proses. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. (c) pemilihan instrumen/media. audio. Laporan bulanan 5. kotak masalah. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. konsultasi. 2. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Dalam hal ini.

masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu. konselor. karier. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Wilayah Gerak 2. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. sosial. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Selengkapnya. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. dan masalah-masalahnya belajar. Tujuan Umum 3. Sebaliknya. Demikian pula. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 .Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya.

Prof. 2007. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. H. 102 .OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17.” ujarnya. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Dr. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. “Alternatif bisa diusulkan guru. Selain terlalu sering memberikan nasihat. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. katanya. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. Menurut dia. M. Padahal. belajar dan karier. sosial. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Jl.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Terutama. Belitung. bukan yang memiliki masalah saja. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing.. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. alternatif juga dari dia (siswa-red). Jakarta F. Karenanya. Menurut dia.” ungkapnya. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. Yang baik. Willis. Sofyan S.Pd.

pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. hal. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. dan bukan layanan bebas nilai.melalui pendidikan. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. nilai. Berkaitan dengan peran sekolah. layanan etis normatif. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. Supaya konseling cukup efektif. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). Karenanya. menggunakan penyikapan yang empatik. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). 103 . siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Menurut Sofyan. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Sumber : http://www.pikiran-rakyat. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan.com/cetak/2006/042006/07/0702. Sunaryo Kartadinata. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. (5) yang dilandasi sikap. ia mengungkapkan. Saat melakukan konseling. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. 6 September 2006. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Dr. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional.

Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. pribadi-sosial. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik.. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. Pada jenjang SMP dan SMA. seni dan sebagainya 104 . Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. melalui direct behavioral consultation. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Menurutnya.. dan karier. terutama guru pendidikan khusus. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. Misalnya.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. seperti dalam olah raga. serta berguna untuk manusia lain. misalnya melalui asesmen psikologis. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. akademik. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. sejahtera. Selain itu. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Dalam hal ini.

Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. hal. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. Empat tahun kemudian. M. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung.Pd. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. BSNP.singkatnya pertanyaan itu. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Ditjen PMPTK. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Setelah keluar dari ruangan BP.Pikiran Rakyat. 6 September 2006. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Sumber : Sunayo Kartadinata. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Jawaban singkatnya. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian.Atas semua itu. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP.. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. sekitar 32 tahun yang lalu. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor.

jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. jika penulis kelak menjadi guru BP. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. menggantikan sebutan Guru BP. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Sebaliknya. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Selanjutnya. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Akhirnya. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya).. Hanya selang satu tahun setelah lulus. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Pada awal menjadi Guru BP. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. tempat kelahiran penulis. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan.Begitu juga. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan.

semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Dalam tataran teoritis. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. dibandingkan dengan masa-masa 107 . Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. meski secara formal istilah ini belum digunakan. Hanya sangat disesalkan.SMA pada saat itu. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut.Pd.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. Pada tahun 2003. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. sampai dengan sekarang.harus gigit jari.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. M.

setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. yaitu : 1. Contoh kasus. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Sehingga. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Menurut pandangan penulis. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Sayangnya. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Meminjam bahasa ekonomi. Kesan lama. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. khususnya di kalangan siswa. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. baik secara personal maupun lembaga. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. dengan memperhitungkan segi kuantitas.mata pelajaran di sekolah. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Contoh kasus terbaru. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. kualitas dan distribusinya. Oleh karena itu. Di sisi lain. 2.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran .

termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. Dalam dokumen KTSP. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU.dilaksanakan. Jika ke depannya. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. Jika tidak. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. dengan menghadirkan pembicara Dr. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling.Pd. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. M. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.Pd. *)) Akhmad Sudrajat. Begitu juga. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Jadi. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. dalam kebijakan sertifikasi guru. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. M. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. Uman Suherman.

Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. 4. 1. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. guru mata pelajaran. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. tidak jelas kerjanya. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. 3. atau tahunan. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. kepala sekolah. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. baik dalam bidang akademik. bulanan. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. oleh siswa. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. 2. maupun bidang karier. baik laporan harian. sosio-personal. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. 6. 110 . Pada saat sedang mengikuti rapat. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Misalnya. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor.

dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. Rachmat Setiawan. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi.Pd. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. M. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab.M. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Tentunya saya berharap. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Dalam jadwal resmi. maka atas seijin panitia setempat. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. Bapak Drs. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. Untuk itu.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. H. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi.

Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). dan (10) Waktu Senggang (WSG). pengembangan maupun kuratif. Kendati demikian. (2) Diri Pribadi (DPI). ( Hubungan Muda Mudi (HMM). 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). dkk. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. (7) Agama.G. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Nilai dan Moral (ANM). (3) Hubungan Sosial (HSO). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Untuk kepentingan analisis data. baik yang bersifat preventif. Melalui analisis data berbasis komputer ini. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Sayangnya. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Tentunya. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. mudah dan akurat. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP).

dan perspektif diri. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. (d) peduli akan hubungan 113 . dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. 2. (b) berfikir sterotip dan klise. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. Seksama.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. Sadar Diri. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. motif. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. 4. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (f) kurang introspeksi. (d) bertindak dengan motif dangkal. (c) beorientasi hari ini. (c) peduli akan aturan eksternal. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Konformistik. dkk. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (e) memikirkan cara hidup. Dengan alat ITP. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. (g) takut tidak diterima kelompok. (d orientasi pemecahan masalah. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. (b) bergantung pada lingkungan. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. Perlindungan Diri. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Anda dapat men-download materi tersebut. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. 3. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Impulsif. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Berdasarkan hasil pengukuran ini. (c) mampu melihat keragaman emosi.

dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (2) landasaan perilaku etis. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. seperti keadilan sosial. Individualistik. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Yang diskor 66 soal. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Otonomi.. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (9) wawasan dan persiapan karir. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (e) peduli akan self fulfillment. ( kemandirian perilaku ekonomi. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (5) kesadaran tanggung jawab.mutualistik. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa.Yang diskor 40 soal. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (c) peduli akan paham abstrak. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. 6. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. (4) kematangan intelektual. (3) kematangan emosional. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. Yang diskor 40 soal. 7. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. (g) mengenal kompleksitas diri. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. Yang diskor 66 soal.

grafik distribusi frekuensi konsistensi. untuk jumlah siswa yang besar. yang terdiri atas: profil individual.bagian akhir angket. Multi window. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan.5 115 . Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. yang terdiri atas: profil kelompok. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek.Analisis per individu. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Manajemen data. penghitungan skor konsistensi. dan penggabungan kelompok. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Dengan ATP. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Namun. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. delapan butir tertinggi dan terendah.Analisis kelompok. Proses penyekoran. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Sumber : Sunaryo. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Manual Guide ATP Versi 3. Semakin tinggi skor konsistensi. cara ini akan memakan waktu. dkk . cepat dan menyenangkan. Impor data dari file Microsoft Excel. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. distribusi frekuensi nilai.