P. 1
4108141 Bimbingan Dan Konseling

4108141 Bimbingan Dan Konseling

|Views: 1,255|Likes:
Published by Fario Teje Tok Til

More info:

Published by: Fario Teje Tok Til on Jul 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2012

pdf

text

original

Sections

  • Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
  • Landasan Bimbingan dan Konseling
  • Tujuan Bimbingan dan Konseling
  • Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling
  • Bidang Bimbingan dan Konseling
  • Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Konsep Bimbingan Karier
  • Informasi Karier
  • 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling
  • Rubrik Sertifikasi Guru BK
  • Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Proses Layanan Konseling Individual
  • Pendekatan dan Teknik Konseling
  • Pendekatan Konseling Behavioral
  • Pendekatan Konseling Gestalt
  • Pendekatan Konseling Rasional Emotif
  • Pendekatan Konseling Psikoanalisis
  • Konseling Humanistik
  • Terapi Realitas
  • Teknik Umum Konseling (1)
  • Teknik Umum Konseling (2)
  • Teknik Khusus Konseling
  • Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
  • Konseling Pecandu Narkoba
  • Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif
  • Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah
  • Kompetensi Konselor/Guru BK
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA
  • Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi
  • Program Bimbingan dan Konseling
  • Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
  • BK dan MPMBS
  • Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif
  • Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling
  • Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor
  • Guru BK tak Perlu Beri Solusi
  • Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai
  • Penulis dan Bimbingan & Konseling
  • Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi
  • Seminar BK di Universitas Kuningan
  • Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling
  • In House Trainning di SMA N 1 Garawangi
  • Alat Ungkap Masalah
  • Inventori Tugas Perkembangan

A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

(1996). baik dalam tataran teoritik maupun praktek.Pd. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.dan Juntika N. Uman Suherman. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Remaja Rosda Karya. religius dan yuridis-formal. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Woolfolk. . dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. (3) landasan sosial-budaya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Educational Psychology. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Management. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. landasan sosial-budaya. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional.——–. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. M. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bandung : PT. A. London : Prentice-Hall International Inc. Anita E. Landasan Bimbingan dan Konseling. Stoner. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien).Pd. (1987). 1995. landasan filosofis. landasan psikologis. Boston : Allyn & Bacon. Kata kunci : bimbingan dan konseling. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Vol 24 No. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 4 . dengan mencakup: (1) landasan filosofis. (2005). James A. 3 July’96. (2) landasan psikologis. M. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.

– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. Demikian pula. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Patterson. Oleh karena itu. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber.tentang landasan bimbingan dan konseling. landasan psikologis. B. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. landasan sosial-budaya. yaitu landasan filosofis. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama.(Victor Frankl. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. para penulis Barat . etis maupun estetis. Selanjutnya. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Thompson & Rudolph.. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. khususnya bagi para konselor. Alblaster & Lukes. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. 5 . khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. dalam Prayitno. Secara teoritik. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. dengan layanan bimbingan dan konseling.. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. Ibarat sebuah bangunan. Dengan kata lain. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.

(b) pembawaan dan lingkungan. Manusia pada hakikatnya positif. (d) belajar. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. normal atau bahkan sangat kurang (debil. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. embisil atau ideot). Manusia memiliki dimensi fisik. yang mencakup aspek psiko-fisik. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. 2. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. (c) perkembangan individu. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 .• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. warna kulit. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. golongan darah. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. seperti rekreasi. Demikian pula dengan lingkungan. dan (e) kepribadian. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. b. bakat. kecerdasan. seperti : rasa lapar. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Misalnya dalam kecerdasan. a.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. ada yang sangat tinggi (jenius). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. seperti struktur otot. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.

akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. frustrasi dan konflik. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. ketegangan emosional. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. e. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. moral dan sosial. baik dalam aspek kognitif. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Hall dan Gardner Lindzey. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Tanpa belajar. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial.memadai. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. bahasa dan kognitif/kecerdasan. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Berangkat dari studi yang dilakukannya. dan (3) Teori Belajar Gestalt. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Allport (Calvin S. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan.dan menjadi tersia-siakan. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Manusia belajar untuk hidup. afektif maupun psikomotor/keterampilan. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. d. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. 7 . c. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu.

psikologi perkembangan. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Hull. Fromm. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Temperamen. Teori Medan dari Kurt Lewin. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sosiabilitas. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. 3. Horney dan Sullivan. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Sementara itu. atau putus asa. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Stabilitas emosi. sedih. negatif atau ambivalen. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. hormon. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. yaitu disposisi reaktif seorang. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. teori Personologi dari Murray. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Selain itu. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Teori Psikologi Individual dari Allport. tampang. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Oleh karena itu. Watson. cuci tangan. maka 8 . konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Responsibilitas (tanggung jawab). Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Teori Sosial Psikologis dari Adler. yaitu bidang psikologi umum. Sikap. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. yang mencakup : • • • • • • Karakter. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Begitu pula. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.

pemikiran. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. 2003). seperti: pengamatan. Moh. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. (d) kecenderungan menilai. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Menurut Gausel (Prayitno. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. wawancara. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. statistik. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. (c) stereotipe. ilmu pendidikan. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. seperti : psikologi. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. analisis dokumen. ilmu ekonomi. evaluasi. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. (b) komunikasi non-verbal. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. antroplogi. biologi. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. sosiologi. Sejalan dengan perkembangan teknologi. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. filsafat. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. dan (e) kecemasan. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. prosedur tes. 4. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. manajemen. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. yaitu kesamaan di atas keragaman. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. ilmu hukum dan agama. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno.

Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Peraturan Pemerintah. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Ditegaskan pula oleh Moh. Sebagai ilmuwan. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Undang – Undang. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. C. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Moh. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. dalam bentuk “cyber counseling”. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Dikemukakan pula. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. 10 . Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini.pendidikan. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno.

2003. Margaret E. Bandung : Refika Gerungan 1964. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Developmental Phsychology. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat.IKIP Bandung . SMA dan SMK Muhibbin Syah. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Gerlald Corey. Psikologi Pendidikan. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.———-2006. Arifin. E. 2004. 2005. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Learning & Instruction. dan (d) kepribadian. 2003. Calvin S. Psikologi Belajar. Supratiknya). Theory Into Practice. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 1997. 2005. 1980. Surya. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Majalengka : Sanggar BK SMP. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). 11 . Elizabeth B. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Bandung : PT ErescoH. 2003.. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.M. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah.T. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. PT Golden Terayon Press. meliputi : (a) motif dan motivasi. Remaja Rosdakarya. Bandung PPB . 2003. Jakarta : PT Raja Grafindo. (c) perkembangan individu. Jakarta.1992. Psikologi Sosial.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. New York : McMillan Publishing. Koswara). Hall & Gardner Lidzey (editor A. Hurlock. (d) belajar. (c) landasan sosial-budaya. (b) pembawaan dan lingkungan. (b) landasan psikologis. Nana Syaodih Sukmadinata.

kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Sekolah/Madrasah. 2004. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Willis.———-. maupun lingkungan kerja. 2004.Prayitno. pergaulan dengan teman sebaya. baik dalam kehidupan pribadi. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan.. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah).2005. serta 12 . Jakarta : Rineka Cipta . (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Syamsu Yusuf LN. maupun masyarakat pada umumnya. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. 1984. Jakarta : Rajawali. Psikologi Kepribadian. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. Teori-Teori Psikologi Sosial. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dan karir. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. 2003. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 2004. tempat kerja. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas . dkk. dan tugas-tugas perkem-bangannya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi.Konseling Individual. keluarga. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. masyarakat. dkk. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. kekuatan. belajar (akademik). 1. Teori dan Praktek.——–2003. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.

Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. seperti membuat jadwal belajar. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. Mengenal keterampilan. baik fisik maupun psikis. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Oleh karena itu. kemampuan. tanpa merasa rendah diri. atau silaturahim dengan sesama manusia. dan kesejahteraan kerja. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. asal bermakna bagi dirinya. seperti keterampilan membaca buku. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. kemampuan dan minat. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. dan sesuai dengan norma agama. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. disiplin dalam belajar. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Dapat membentuk pola-pola karir. prospek kerja. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. yaitu kecenderungan arah karir. persaudaraan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. 13 . Memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. menghormati atau menghargai orang lain. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. mengerjakan tugas-tugas. mencatat pelajaran. 2. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. mengggunakan kamus. seperti kebiasaan membaca buku.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. 3. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. CA: Brooks/Cole. & Henderson. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Introduction to Counseling and Guidance. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 .L. Dameron.ncat. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. California : Myfield Publishing Company. The National Model for School Counseling Programs. Departemen Pendidikan Nasional. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (1986). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. http://aace. Gibson R. G. Engels. Jakarta: Puskur Balitbang.). Houston : Shell Com. Patricia A. Depsiknas. T. Menteri Pendidikan Nasional. Draft. Alexandria. Depdiknas.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Depdiknas. Browers. DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003).I. J. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (1990). The Art of Integrative Counseling. Adolescence.D. D. Ellis. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Handbook of School Counseling. (2003). Bandung: ABKIN Bandura. (1995). R. (2001).edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. New York : MacMillan Publishing Company. (1956). New York: David Mckay. New Jersey. (2005). Havighurts. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Herr Edwin L. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2006). (1979). Depdiknas. & Mitchel M. Depdiknas. Cambridge. (2005). UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 2006). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).J. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Comm. Columbia: The Educational Resources Information Center. (Ed. Judy L. Development Taks and Education. Cobia. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. ASCA (American School Counselor Association). A. (2002). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Hurlock.W dan J. Merrill Prentice Hall Corey. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Self-Efficacy in Changing Soceties. Guidance and Counseling in the Schools. VA: AACD. & Hatch. Child Development. (2003). (Eds). 2006. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2006). Alizabeth B. Balitbang Diknas. (2003).Nancy. (1992). (1953). (2005). Donna A. Debra C. Belomont. (2007).H.

Michigan School Counselor Association. (1987). supaya tidak dialami oleh konseli. Pikunas. Madison : Brown & Benchmark. Jakarta : Balitbang Depdiknas. ——–. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Woolfolk. Management. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Adapun teknik yang 15 . 3 July’96. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. ——–. London : Prentice-Hall International Inc. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2003). 2. Muro. Syamsu Yusuf L. dan norma agama). Melalui fungsi ini. Human Development.N. Sunaryo Kartadinata. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Balitbang Depdiknas. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Terry. (2003). Berdasarkan pemahaman ini. Educational Psychology.Ltd. Remaja Rosda Karya. Vol 24 No. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Bandung : CV Bani Qureys. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Bandung : PT. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Stoner. (1995).dan Juntika N. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. James J. pekerjaan. (1996). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. (2005). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Uman Suherman. Lustin. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Landasan Bimbingan dan Konseling. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Fungsi Preventif. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 2004. Fungsi Pemahaman. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. M. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Pusat Kurikulum. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Boston : Allyn & Bacon. (2005). (2005). LIPI. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. 1995. James A. Bandung : Remaja Rosda Karya. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. dkk. Anita E. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. (1976).Menteri Pendidikan Nasional.Pd. & Kottman. 2006. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya.

dan kebutuhan konseli. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. 6. dan karyawisata. memilih metode dan proses pembelajaran. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. tutorial. dan pergaulan bebas (free sex). diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). 7. Fungsi Perbaikan. Fungsi Fasilitasi. dan remedial teaching. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Dalam melaksanakan fungsi ini. baik anak- 16 . konselor. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. baik menyangkut aspek pribadi. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. 4. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. 9. maupun karir. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. drop out. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi Penyaluran. 10. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. sosial. Fungsi Penyesuaian. dan bimbingan kelompok. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. penyalahgunaan obatobatan. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. 8. 3. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. home room. minat. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. merokok. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. diantaranya : bahayanya minuman keras. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Fungsi Pemeliharaan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. belajar. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. Fungsi Adaptasi. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. Fungsi Pengembangan. bakat. Fungsi Penyembuhan. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. berperasaan dan bertindak (berkehendak). yang memfasilitasi perkembangan konseli. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. 5. baik pria maupun wanita. jurusan atau program studi. informasi. kemampuan. serasi.

Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. tetapi juga di lingkungan keluarga. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. remaja. dan peluang untuk berkembang. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. 5. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Mereka bekerja sebagai teamwork. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Asas kesukarelaan. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. memberikan dorongan. Agar konseli dapat terbuka. sosial. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. 17 . Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. 1. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. pendidikan. Bimbingan menekankan hal yang positif. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). 6. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Asas Kerahasiaan. perusahaan/industri. yaitu meliputi aspek pribadi. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. dan pekerjaan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). 4. 3. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. dan masyarakat pada umumnya. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. maupun dewasa. anak.2. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. 2. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan. menyesuaikan diri. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. 3. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).

dan kebiasaan yang berlaku. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. Asas Keharmonisan. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. guruguru lain. menghayati. 10. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Asas Kedinamisan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 5. http://aace. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. hukum dan peraturan. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. harmonis. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. Asas Keahlian. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. 6. mampu mengambil keputusan. Lebih jauh. atau ahli lain . Dalam hal ini. dan terpadu. Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. tidak monoton. 7. ilmu pengetahuan. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Asas Keterpaduan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. 8. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas kemandirian. DAFTAR RUJUKAN AACE.edu 18 . adat istiadat. Asas Kekinian. 11. Asas kegiatan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. 9. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.4. (2003). baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain.ncat. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. saling menunjang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. yaitu nilai dan norma agama. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

Gibson R. (2003). New York: David Mckay. 2006. Comm. Browers. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. A. Merrill Prentice Hall Corey. Handbook of School Counseling.J. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. T. Havighurts. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003). 19 . Belomont.W dan J. (2005). Debra C. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Introduction to Counseling and Guidance. (1986). (2002). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (2005). (2001). Donna A. 2006). The National Model for School Counseling Programs.D. Houston : Shell Com. Ellis. Depdiknas. (Ed. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. R. The Missouri Comprehensive Guidance Model. VA: AACD. (2007). Depdiknas.I. (Eds). & Henderson. Jakarta: Puskur Balitbang. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Depdiknas. ASCA (American School Counselor Association). (2003). Self-Efficacy in Changing Soceties. Menteri Pendidikan Nasional. G. Draft. Michigan School Counselor Association.L. (1956). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Balitbang Diknas. New Jersey. Alexandria. Dameron. Cambridge. Engels. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Guidance and Counseling in the Schools. J. Judy L. New York : MacMillan Publishing Company. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (1990). Depsiknas. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. UK: Cambridge University Press. (1979). Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.H. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Departemen Pendidikan Nasional. & Mitchel M. & Hatch. Hurlock. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Herr Edwin L. Cobia. (2005). 2006. Adolescence. (1953). D. Child Development. Alizabeth B. (1992). Columbia: The Educational Resources Information Center. (1995). Patricia A. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2006). (2005). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Development Taks and Education. The Art of Integrative Counseling. Bandung: ABKIN Bandura. (2006). CA: Brooks/Cole. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).Nancy.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. LIPI. Madison : Brown & Benchmark. M. James J. Educational Psychology. dkk. 2004. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Stoner. 1995. Vol 24 No. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Pusat Kurikulum. James A. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (2005). & Kottman. 3 July’96. (2003). (2005). Human Development. Landasan Bimbingan dan Konseling. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Bandung : Remaja Rosda Karya. Balitbang Depdiknas. menilai. ——–. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. (1976). Remaja Rosda Karya. anggota keluarga. Terry. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Anita E. (1996). Syamsu Yusuf L. London : Prentice-Hall International Inc.Pd. Boston : Allyn & Bacon. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. (2003). (1995). Pengembangan karir. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Sunaryo Kartadinata. Bandung : PT.Muro. ——–. (1987). bakat dan minat.N.dan Juntika N. Pengembangan kemampuan belajar.Ltd. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. 20 . Bandung : CV Bani Qureys. Management. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Lustin. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Uman Suherman. Pengembangan kehidupan sosial. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Woolfolk. Pikunas.

minat dan segenap potensi lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. • • • • Layanan Konten.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. diantaranya: Layanan Orientasi. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. jurusan/program studi. sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. pendidikan lanjutan). Layanan Informasi. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. karier. pergaulan. magang. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. serta untuk 21 . layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. kegiatan ko/ekstra kurikuler. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. kelompok belajar. Layanan Bimbingan Kelompok. program latihan. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Konseling Perorangan. dalam bidang pribadi.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. dkk. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. 1983. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. mereka mempertanyakan. belajar maupun kariernya. 4. 6. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. M. Ke Arah Pengertian Developmental. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Bandung : LPMP Jawa Barat. 3. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Namun.1. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. bermasyarakat.Pd. 2004) Sumber : Bahrul Falah. (Muslihudin. 1987. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. 5. belajar ataupun kariernya. dkk. 2004. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . sosial. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. Diantaranya. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). berbangsa dan bernegara. Hattari. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih.. 2. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Jakarta : BP3K. perusahaan. sosial. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi.

karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Karena. ciri-ciri 26 . berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. baik melalui media cetak atau eleltronik. cita-cita. dan sebagainya. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. persyaratan. baik tentang bakat. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. jenis dan prospek pekerjaan. Di samping itu. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Materi Informasi. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. jenis pekerjaan. ciri-ciri pekerjaan. seperti bakat. Namun. seperti kecerdasan. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. karier. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. seperti kondisi sosio-kultural. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Untuk itulah. minat. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. pasar kerja. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Dalam hal ini. Untuk itulah. bakat. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. materi informasi yang bersifat personal. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor.

juga dapat menunjukkannya kepada siswa. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Dari hasil kunjungan. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Untuk itu.Jakarta : IPBI 27 . sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Selain itu. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. atau klipping yang berhubungan dengan karier. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Selain itu. Misalkan. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. berdasarkan hasil pengalamannya. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Sebagaimana telah disinggung di atas. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan.kepribadian. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. keterangan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). artikel. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. Dalam hal ini. atau minat pekerjaannya. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. (1995). dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. dalam rangka menambah wawasan.

Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Dalam hal ini. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Begitu pula. 2. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. perencanaan individual. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).S. (1997). (1991). yaitu sama-sama menginginkan 28 . namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. pelayanan responsif. W. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling.

Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Masalahnya. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Kendati demikian. 6. 7. modifikasi perilaku. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. penguatan mental/psikis. pengubahan lingkungan. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Misalkan. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). mendiagnosis. 5. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). 3. baik untuk kepentingan pencegahan. serta teknis medis lainnya. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. 29 . baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu.

Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.dan lingkungan. Namun demikian. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Di sekolah misalnya. pembangun kekuatan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. orang tua. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Pekerjaan yang 30 . Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. seperti “praktik pribadi”. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.dan piha-pihak lain.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri.siswa. Konselor adalah kawan pengiring. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. 10. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib.guru. pemberi informasi. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. 9. Begitu pula sebaliknya.sosial. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. disiplin dan keamanan di sekolah. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. penunjuk jalan. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar.

Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. ada dan digunakannya instrumen (tes. Bahkan sering kali terjadi. Konselor harus aktif. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. jenis dan sifat masalah. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 .pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. terutama klien. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. 14. tujuan. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi.Sementara itu. guru pembimbing memang harus aktif. tujuan yang ingin dicapai. Jawaban ”benar”. 13. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. 11. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. dalam hal ini konselor. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu.Oleh sebab itu. Dengan kata lain. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Sedangkan jawaban ”tidak”. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.Lebih jauh. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. 12. pihak lain pun. Pada dasarnya. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. menghambat. Di sekolah. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. tersendat-sendat. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. bersikap “jemput bola”. dan sarana yang tersedia. maka hasilnya akan kurang mantap. metode.inventori. dan asas-asas tertentu).Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah.

atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN.2003. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.15. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Misalkan. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Wawasan dan Landasan BK (Buku II).. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut.

yaitu : 1. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah.(lihat 1. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. yang disajikan secara sistematis. selaku ketua PB. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas.Selama mengikuti pelatihan.ABKIN. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketika membuka kegiatan pelatihan. standar kompetensi konselor. Dr. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Prof. 33 . bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. memiliki mental yang sehat.Pd. memperoleh keterampilan hidup. Hal yang cukup mengagetkan penulis. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. Layanan Dasar.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. M. Sunaryo. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling.

yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. Layanan Perencanaan Individual. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. merencanakan. konseling individual.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. M. 4. Layanan dukungan sistem. manajemen program. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. dan masyarakat yang lebih luas. dan Dr. Uman Suherman. A.Pd. M. belajar.Pd. Uman Suherman. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.Pd. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. dan penelitian dan pengembangan. staf ahli. Kurikulum 1984. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. penasihatan individual atau kelompok. baik menyangkut aspek pribadi. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 .) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. 3. Untuk lebih jelasnya. Dr. mau pun Kurikulum 1994. Selain itu. atau mengelola pengembangan dirinya. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. sosial. Perbedaannya. hubungan masyarakat dan staf.Pd. Syamsu Yusuf L. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. Agus Taufiq. M. referal dan bimbingan teman sebaya. konsultasi dengan guru lain.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.. Layanan Responsif. konseling kelompok. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan.N. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. M. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. baik dalam Kurikulum 1975. maupun karier. memelihara.2.

Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. audio visual. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . kotak masalah. Dalam hal ini. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. bimbingan klasikal. konseling kelompok. Daftar konseli 3. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. (c) pemilihan instrumen/media. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. konsultasi. (d) strategi pelayanan. media cetak : liflet. audio. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Laporan semesteran/tahunan 6. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. proses. bimbingan kelompok. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. berbentuk : 1. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Laporan hasil evaluasi program. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. catatan anekdot.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. Kendati demikian. bibliokonseling. 2. buku saku) 7. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. kunjungan rumah. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Laporan bulanan 5. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. berisi : (1) Kontrak waktu. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. keterbukaan. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Menegosiasikan kontrak. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. 39 . B. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. terutama asas kerahasiaan. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. dan kegiatan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. kesukarelaan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.Pd. M. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Oleh karena itu. Membuat penaksiran dan perjajagan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. (2) tahap inti (tahap kerja). dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. A. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. (2) Kontrak tugas. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Secara umum. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.

Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Dr. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. (1) menurunnya kecemasan klien. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan.tugas profesionalnya. dan trait and factor.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. DYP Sugiharto. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. sehat dan dinamis.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. yaitu . psikoanaliss. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. gestalt. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. M. rational emotive therapy (RET). Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Dalam bentuk tayangan slide. baik oleh pihak konselor maupun klien. C. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

3. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. 4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. (c) peniruan. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. B. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. 41 . (b) pembiasaan operan. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. 2. 2008 A. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.

Feedback. kekuatan dan kelemahannya. 5. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. (b) apakah tujuan itu realistik. Goal setting. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Konselor aktif : 1. (c) kemungkinan manfaatnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. 3. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. pola hubungan interpersonal. Evaluation termination. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. Technique implementation. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. atau melakukan referal. Assesment. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. 2. 42 . dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. 4. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan.D. tingkah laku penyesuaian.

Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Sumber : Dr. (Makalah) 43 .• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. model fisik. kesulitan menyatakan tidak. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. DYP Sugiharto. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. dapat menggunakan model audio. atau contoh nyata langsung). Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. M. tape recorder.

(2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. Meskipun tidak bisa diungkapkan. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Under dog adalah keadaan defensif. emosi. (3) aktor bukan reaktor. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. lemah. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. kemarahan. ingin dimaklumi. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). maka mereka mengalami kecemasan. rasa diabaikan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. dan sebagainya. sakit hati. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. B. otak. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. kedudukan. kebencian. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. pera-saan. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. kecemasan. mengancam. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. pasif. persepsi. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. dan tingkah lakunya 44 .Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. dan pemikirannya. rasa berdosa. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. perasaan. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. jantung. Dalam pendekatan ini. menuntut. 2008 A. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. tidak berdaya. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. membela diri.

melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . 45 . Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. C.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. D. memahami kenyataan atau realitas. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. serta mendapatkan insight secara penuh. interpretasi maupun memberi nasihat. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif.

Fase ketiga. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. Fase keempat. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Dalam hal ini. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. bodoh. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. atau gila. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. perasaan. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. dirinya tidak berdaya. Teknik Konseling 46 . klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. dalam situasi di sini dan saat ini. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. Fase kedua. konselor mengembangkan pertemuan konseling. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. dan tingkah lakunya. Melalui fase ini. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. perasaan-perasaannya.

menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Dalam kaitan itu. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Orientasi Sekarang dan Di Sini. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Orientasi Eksperiensial.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling.

Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”.Sering terjadi. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. M. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. DYP Sugiharto. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Meskipun tampaknya mekanis.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. “Saya malas. Sumber : Dr. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.Pd. (Makalah) 48 .

yang dapat diterima menurut akal sehat. bijaksana. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. 2008 A. B. atau sikap orang lain. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. dan irasional. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. dan keran itu tidak produktif. nilai. sangat personal. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. tingkah laku. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. kekhawatiran. kelulusan bagi siswa. Belief (B) yaitu keyakinan. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. kejadian. Belief (B).Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Perceraian suatu keluarga. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. dan Emotional consequence (C). masuk akal. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. antara kenyatan dan imajinasi. interpretasi. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. pandangan. dan kerana itu menjadi prosuktif. yaitu Antecedent event (A). yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). dan kompeten. emosional. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Keyakinan seseorang ada dua macam. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. bahagia. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. tidak masuk akal. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. (c) orang tua atau masyarakat 49 .

bencana yang dahsyat. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (6) menerima ketidakpastian. merusak. cara berpikir. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. dan (10) menerima kenyataan. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. jahat. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (4) toleransi terhadap pihak lain. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. merasa was-was. mengerikan. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. disalahkan. (2) minat sosial. ( penerimaan diri. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. rasa cemas. D. (9) berani mengambil risiko. Kedua. persepsi. rasa berdosa. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (5) fleksibel. C. dan dihukum. rasa marah. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. rasa bersalah. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (3) pengarahan diri. Ketiga.

Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. afektif. Behavioristik. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. 3. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. mendorong. Aktif-direktif. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Emotif-ekspreriensial. 4. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. 2. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . E. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. Kognitif-eksperiensial. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.

Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). M. Sumber : Dr. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. latihan. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. DYP Sugiharto.Pd. Dengan memberikan reward ataupun punishment. mengobservasi. (Makalah) 52 . pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. atau meniru model-model sosial. membiasakan diri. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Dengan tugas rumah yang diberikan.

Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. terutama usia 2-5 tahun. untuk ditata. D. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Deskripsi Proses Konseling 1. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. disikusikan. 2. Hakikat manusia. Manusia secara esensial bersifat biologis. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Menutup wawancara konseling E. konflik dan simbolisme. Klien diminta 53 . yaitu id. ego. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Konsep Dasar 1. dan super ego C. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. 2008 A. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif.

Transferensi adalah mengalihkan. seksualitas. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. dan transferensi klien. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Memandang manusia sebagai individu yang unik. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Menurut Freud. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. 2. 3. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Analisis mimpi. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. 54 . objektif. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Interpretasi. Manusia tidak pernah statis. 2008 A. Hal ini disebut juga katarsis. Konselor menetapkan. resistensi berati penolakan. Manusia merupakan seseorang yang ada. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Dalam hal ini. baik dalam asosiasi bebas. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. mimpi. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. anonim. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Analisis resistensi. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Konsep Dasar: 1. pengalamannya tertekan. kebencian. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). resistensi. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. resitensi dan transferensi. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. B. asosiasi bebas. Dengan perkataan lain. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya.

(2) respect (rasa hormat). yang unik. 3. Willis. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Konseling Individual. (4) mewujudkan dirinya. E. 2. (5) encouragement (memberi dorongan). Saya adalah saya 2. 5. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling.C. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. 4. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Tujuan Konseling 1. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. 2007. Sumber: Sayekti. (3) mengarahkan diri. Deskripsi Proses Konseling 1. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. D. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Teori dan Praktek. (3) understanding (pemahaman). keyakinan serta pandangan-pandangan individu. (4) reassurance (menentramkan hati). 1997. (2) mengambil keputusan yang tepat. 3. Memperbaiki dan mengubah sikap. Rogers. Bandung: Alfabeta 55 . Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. 4. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. persepsi cara berfikir. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.

Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 5. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Menurutnya. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. 2. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. yang hadir di seluruh kehidupannya. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. 3. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2008 A. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. 3. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. 2. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. diperbaiki. 4. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. dianalisis dan ditafsirkan. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. sebagai pengalaman yang berharga. Tanggung jawab 56 . Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B.

baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 5. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Penyalur tanggung jawab. Motivator. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 2. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1.. Tujuan Terapi 1. 6. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. baik berupa limit waktu. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. 4. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. C. 3. Menggunakan role playing dengan konseli 2. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Moralist. D. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Guru. 2. 5. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. 5. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Pengikat janji (contractor). artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. 4.

Bandung: Alfabeta. Perilaku attending yang baik dapat : 1. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. bahasa tubuh. Perhatian : terpecah. 1997. menggunakan tangan sebagai isyarat. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas.7. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. miring. 2007. duduk kurang akrab dan berpaling. menunggu ucapan klien hingga selesai. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. jarak duduk dengan klien menjauh. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. diantaranya : A. Menciptakan suasana yang aman 3. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. B. dan bahasa lisan. perhatian terarah pada lawan bicara. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Meningkatkan harga diri klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Empati dilakukan sejalan 58 . Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. tidak melihat saat klien sedang bicara. Memutuskan pembicaraan. mudah buyar oleh gangguan luar. Untuk lebih jelasnya. 8. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. ceria. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. mata melotot. Teori dan Praktek. 2. ekspresi melamun. mengalihkan pandangan. Konseling Individual. Sumber: Sayekti. Posisi tubuh : tegak kaku. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. bersandar. Willis. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S.

Eksplorasi pengalaman. C. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.” 2. 2. pikiran. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. Terdapat tiga jenis refleksi. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. Empati primer. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. yaitu : 1. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. pikiran dan keinginan klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Seperti halnya pada teknik refleksi. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Eksplorasi perasaan. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Refleksi perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. Eksplorasi pikiran. dan pendapat klien.dengan perilaku attending. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. tertekan dan terancam. pikiran. dan pengalaman klien. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu teknik untuk menggali ide. pikiran. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. 59 . yaitu : 1. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. pikiran. menutup diri. Empati tingkat tinggi. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. pikiran.” Saya mengerti keinginan Anda”. Terdapat dua macam empati. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. yaitu teknik untuk memantulkan ide. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. 3. pengalaman termasuk penderitaannya. yaitu : 1. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. dan mengamati respons klien terhadap konselor. berupa perasaan.” 2. Refleksi pikiran. Refleksi pengalaman.

dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. lebih baik gunakan kata tanya apakah. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. bagaimana.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. Oleh karenanya. ya….dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. lalu…. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . (3) memberi arah wawancara konseling. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup.” F. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. dapatkah. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). adakah. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. terus…. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.

Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. kedua. Saya tak dapat lagi menahan diri. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Willis.I. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.” Sumber : Sofyan S. Jakarta : PPPG 61 .M. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Sugiharto. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. PT Golden Terayon Press. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. Bandung : Alfabeta H. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. 2003.Konseling Individual. J. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Membantu orang tua memang harus. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap.(2005.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.” K. 2004. Teori dan Praktek. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). bukan pandangan subyektif konselor. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Karena tantangan masa depan makin banyak. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Arifin.

atau kontradiksi dalam dirinya. (2) meningkatkan potensi klien. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. 2. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Fokus mengenai budaya. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. telah membuat kamu menderita. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Fokus pada topik. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. dan sebagainya. Fokus pada diri klien. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya.” C. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Contoh : ” Tanti. konflik. ide awal dengan ide berikutnya. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Fokus pada orang lain. senyum dengan kepedihan. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . 4. Contoh dialog : 62 . Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. diantaranya : 1. Contoh : ” Roni. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. 2008 A. Oleh karena itu. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Pada umumnya dalam wawancara konseling.

” F. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”………….” (diam) Klien :” Saya.. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. ungkapan kata-kata yang tegas. G. pikiran. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh: ” Baiklah. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Konselor :”…………. sering diam. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Walaupun demikian. posisi tubuh gelisah). dan kurang parisipatif.harus bagaimana. paling lama 5 – 10 detik.. tidak tahu. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Saya. kurang jelas dan agak meragukan. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. dan pengalamannya secara bebas. ibu. Coba Anda renungkan kembali”..” (diam) G. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. wajah murung.(suara rendah. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak.. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan.. 63 . Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai..Klien : ” Saya baik-baik saja”. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. (2) agar klien menjelaskan. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. D.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. dan dengan alasan-alasan yang logis.. atau saudara-saudara Anda. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.” E. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara.

Kalau pun konselor mengetahuinya. 2008 Dalam konseling. 2003.M.com di internet”. Teori dan Praktek.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Jakarta. Bandung : Alfabeta H. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Rational Emotive Theraphy. Sugiharto. Contoh : ” Nah. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. (3) pemahaman baru klien. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling.Konseling Individual. yaitu : 64 . Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. PT Golden Terayon Press. seperti pendekatan Behaviorisme. 2004. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. di samping menggunakan teknik-teknik umum.(2005. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Sofyan S. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Arifin. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. (2) memantapkan rencana klien. terutama mengenai kecemasan. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. I.upi. Willis. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.” H. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15.

1. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. model fisik. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. 4. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 2. 3. 65 . Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. kesulitan menyatakan tidak. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. 5. dapat menggunakan model audio. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog.

“Saya malas. 6. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . 9.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 7. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. 8. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Sering terjadi. Misalnya : “Saya merasa jenuh.

PT Golden Terayon Press. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Dengan tugas rumah yang diberikan. Jakarta : PPPG 67 . Willis. Bandung : Alfabeta Sugiharto. 11. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Teori dan Praktek. 12.Konseling Individual. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih.M. membiasakan diri. 10. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.(2005. Sofyan S. Arifin. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. 2004. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. 2003. 13. Jakarta. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. mendorong. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Sumber : H. Home work assigments.

pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. terus bertahan. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. mengontrol dunia. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. dan sombong. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. kurang bersahabat. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. terisolik. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Makin lama perasaan ditolak. orang lain. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Dasar saya anak desa. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. susah tak ada/punya teman yang peduli. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling.

Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. pemalu. karena saya tak berharga. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. hanya 10% saja yang membeci saya. mengobservasi dan evaluasi diri. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. semua teman memperhatikan / mendukung. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. bermain peran. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. teliti. Allah mengasihi saya. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Sehubungan dengan kasus. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. peduli. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Saya pantas menderita karena semuanya itu. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. pemberian nasehat secara tepat. Ide-ide ini diajarkan. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Itu berarti salah saya. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. Tekniknya jelas. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. dan seterusnya. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. tak seperti orang/teman-teman lainnya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. 50% netral. Cara konselor ialah 69 . karena saya berharga dihadiratNya. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. puas dan bangga. bahkan adakalanya saya benci. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh.dibiarkan terus berlangsung. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. Ia menjadi minder. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. memaki-maki diri saya sendiri. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. sugestif.

Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. 70 ... M.. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. FIP. jika kita mengharap untuk berubah. 1988. S. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Kesegaran hasil yang dicapai. mendebat. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. 1991/1995. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. 4. (5) menerima kenyataan bahwa. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. Yogyakarta. IKIP Semarang Pres. Satya Wacana Semarang. Konseling Pancawashita. 1998. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Corey G. menantang. Kota Kembang.dengan pendekatan yang tegas. Prayitno. 2. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. SUMBER Aryatmi. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. 1998. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. 1991. Kesimpulannya. 3. IKIP Padang Rosjidan. Jakarta Surya. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Pengantar Teori-teori Konseling. progdi BK PPB.

Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. 22-5-2001). Turki. Thailand). Kata Kunci: Konseling Terpadu. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Pasca RSKO. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. terutama remaja. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. 1977. malaria. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. dan segitiga emas (Kamboja. Pemulihan. Cina. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. dan Partisipasi Sosial. dan untuk bahan analgesik (Kisker. dan analgesik (Martin. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Konseling Kelompok. tidak menyalahkan pihak luar. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Konseling Agama. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. pecandu narkoba.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. 1977). Bagaimana di Eropa. Vietnam. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. dan Amerika Selatan. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. 1977). Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Mesir. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. keluarga. rematik. Kunjungan. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Pendahuluan 1. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. *) Sofyan S. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Martin. dan Asia. obat lemah badan. Australia. Opium banyak pula ditemukan di Cina. Pendidikan dan Pelatihan. Konseling Keluarga. 1977).

dan film-film. Willis. sehingga narkoba mudah beredar. 1979). ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Sebagai perbandingan.Willis. Minnesota. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. Ulwan. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. 1995).bulan. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. 1993). bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. namun terbentur pada lemahnya hukum. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan.000. Minneapolis. suatu angka yang fantastis. melalui metode Konseling Terpadu. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. khususnya generasi muda. Masalahnya. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. (c) mencintai keluarga. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). 1. maka AMK pun menirunya. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun.200. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. VCD. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Hal ini berarti. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. 1. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut.000 = Rp. Sedangkan. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp.200. 72 . Artinya. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. 1989). pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya.800 miliar. 25-52001). kolusi. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. 1979). 2001). (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. konsumtif. 1978).

dan berbuat baik terhadap sesama. dan fisik. ibu-ibu pengajian. institute nutrition and vitamin therapy. tokoh-tokoh masyarakat. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. anggota DPR. intelektual. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. Selanjutnya. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. menerima cobaan hidup dengan tawakal. Jika konselor tidak menguasai soal agama. akan tumbuh 73 . 1980). Melalui interpersonal relation. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. 2. back home. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. memahami. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. hangat. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. kehilangan pekerjaan. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. (3) menerima realita hidup dengan jujur. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. dan sebagainya. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. spiritual. Willis 1995). and back to destructive drinking”. or back on the job. guru-guru BK di sekolah. 2. and than put the patient back on the street. 1977). terapi nutrisi/vitamin. dijauhi orang-orang yang dicintai. bermoral. para siswa. 2. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. sosial. Mann memuji pendekatan Panti St. dan asli (genuine) dari konselor. dsb). prescribe mood-controlling medications. Sebagai seorang dokter medis. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. terbuka. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. taat ibadah.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. sarjana.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification.

dan keluarga dekat lainnya. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. 5. Di samping itu. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. merusak diri. Kemudian. Selanjutnya. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. sedangkan pesertanya adalah klien. keluarga. saudara. 2. pesan. pacar.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Selanjutnya. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. serta penyesalan terhadap masa lalu. percaya diri. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. dan masyarakat. orang tua. dan sebagainya. saudara. 1982). dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. 74 . kritikan-kritikan.. 1985). keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. 4. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. 3. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. mencemarkan nama keluarga. dan masyarakat. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Demikian juga. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. istri. suami/istri. keluarga. 2. Selanjutnya. ibu. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Di samping itu.kepercayaan diri klien (Yalom. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. marah. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. suami.

go. bimbingan kelompok.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Willis. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . 2008 Dalam proses konseling. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Barbara F. baik perilaku verbal maupun non verbal. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. dan konseling keluarga. Okun (Sofyan S. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Sumber : http://depdiknas.id.

Willis. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Secara visual. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 .Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Kendati demikian. Oleh karena itu. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Sebagai lembaga pendidikan. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. 2004. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah.

maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Lebih jauh. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. minum minuman keras tahap awal. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Oleh karena itu. berkelahi dengan teman sekolah. Dalam hal ini. 77 . seperti: membolos. keinginan untuk melanjutkan sekolah. berpacaran. Sebagai ilustrasi. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Perlu digarisbawahi. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. malas. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. Dalam hal ini. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. mencuri kelas ringan. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Sofyan S. kesulitan belajar pada bidang tertentu. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Masalah (kasus) ringan. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya.Dengan melihat gambar di atas. serta hal-hal positif lainnya. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. bertengkar. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya.

dengan perbuatan menyimpang. melakukan gangguan sosial dan asusila. siswa hamil. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. minum minuman keras tahap pertengahan.2. polisi. kesulitan belajar. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. karena gangguan di keluarga. mencuri kelas sedang. pelaku kriminalitas. dokter. Masalah (kasus) berat. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. 3. guru dan sebagainya. kecanduan alkohol dan narkotika. berpacaran. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . berkelahi antar sekolah. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). seperti: gangguan emosional. ahli/profesional. Masalah (kasus) sedang. C. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. percobaan bunuh diri. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. polisi. seperti: gangguan emosional berat. Secara visual. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah.

Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. individualitas. dan informal. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. kebebasan memilih. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. non formal. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. personal. C. (c) memfasilitasi perkembangan. 3. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. jenjang. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. kejuruan. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. karier. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. dan sosial konseli. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. dan berpotensi. 3. dasar dan menengah. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. individual. dan (f) ersikap demokratis B. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. bermoral. (b) melakukan 79 . (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. keagamaan. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. 4. 2008 A. 1. 2. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. sosial. akademik. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. dan khusus.

(d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. pimpinan sekolah/madrasah. (b) mengkomunikasikan dasar. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi. 2008 Dalam Permendiknas No. tujuan. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. 4. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Sumber : ABKIN. yang di dalamnya 80 . 2007. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Oleh karena itu. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. dalam bentuk naskah akademik. wali kelas. tujuan. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Namun.dan profesi. tenaga administrasi) 5. 6. orang tua. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. tujuan. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru.

(5) Kesadaran tanggung jawab sosial. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (7) Pengembangan diri. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (3) Kematangan emosi. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (2) Landasan perilaku etis. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (6) Kesadaran gender. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (6) Kesadaran gender.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (7) Pengembangan diri. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (3) Kematangan emosi. Oleh karena itu. (4) Kematangan intelektual. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. 2008 Dalam Permendiknas No. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Namun.2007. (2) Landasan perilaku etis. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . (9) Wawasan dan kesiapan karier. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. dalam bentuk naskah akademik. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial.Jakarta. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. dan persyaratan pekerjaan. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.2007. ulet hidup hemat. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. ulet kewirausahaan hemat.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. 83 .Jakarta.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. sehari-hari. 2008 Dalam Permendiknas No. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. hari.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat.

( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (9) Wawasan dan kesiapan karier. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (2) Landasan perilaku etis. (6) Kesadaran gender. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Namun. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (7) Pengembangan diri. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (4) Kematangan intelektual. dalam bentuk naskah akademik. (3) Kematangan emosi. Oleh karena itu. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. sengguhulet. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 .3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).2007.ulet sungguhhemat. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. pendidikan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. hemat. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.Jakarta.ulet.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.

ulet sungguhhemat. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas. pendidikan. sengguhulet. hemat.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.Jakarta.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.2007. 86 . peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.

yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Program Bulanan. 2008 A. 3. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. dan (5) volume/beban tugas konselor. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. Program Mingguan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. Dilihat dari jenisnya. Program Semesteran. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. yaitu: 1. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. (3) format kegiatan. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung.D. 87 . sasaran pelayanan (4) . Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. 4. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. Program Tahunan. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 2.

Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. (2) pelaksanaan. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. jenis kegiatan. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya.5. dan (3)penilaian 1. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. B. dan (e) waktu dan tempat. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Program Harian. penempatan dan penyaluran. substansi. serta alat bantu yang digunakan. insidental dan keteladanan. dan pihak-pihak yang terkait. yaitu : (1) perencanaan.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. bulanan serta mingguan.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. tempat. waktu. B. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. kegiatan instrumentasi. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. dan (2) kegiatan non tatap muka. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . penguasaan konten.

yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. dan mediasi. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. 3. konseling kelompok. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. himpunan data. pemanfaatan kepustakaan. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif.dalam kelas. 89 . Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. perorangan. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG).. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. kunjungan rumah. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. kegiatan konferensi kasus. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. dan (2) penilaian proses. dan alih tangan kasus. Penilaian segera (LAISEG). untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. 2. menyelenggarakan layanan orientasi. bimbingan kelompok. C. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG.

Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. 2. mengandung arti bahwa bentuk. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. bakat. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. 1. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. 3. guru. rancangan. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Namun. 90 . Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. belajar. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. dan pengembangan karir konseli. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. responsif.

Departemen Pendidikan Nasional. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Belomont. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Depsiknas. A. Balitbang Diknas. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2007). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Draft. DAFTAR RUJUKAN AACE. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.W dan J. 91 . VA: AACD. (Eds).Gambar 1. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. New Jersey. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Dameron. (2005). (2005). CA: Brooks/Cole. (2003). http://aace. (Ed. The Art of Integrative Counseling. Debra C.D. Cobia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (2001). Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Handbook of School Counseling. UK: Cambridge University Press. (1995). Engels.). Donna A.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003). & Henderson. G.ncat. Cambridge. D. (2003). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2006). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Merrill Prentice Hall Corey. Alexandria. Bandung: ABKIN Bandura. Self-Efficacy in Changing Soceties.

L. (2003). (2005). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Guidance and Counseling in the Schools. Management. (2002). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. James A. Bandung : Remaja Rosda Karya. Bandung : CV Bani Qureys. Michigan School Counselor Association. Jakarta: Puskur Balitbang.Browers. New York : MacMillan Publishing Company. 2006. Alizabeth B. Columbia: The Educational Resources Information Center. Child Development. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Havighurts. (1953). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. dkk. Depdiknas. Depdiknas. Depdiknas. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. J. Madison : Brown & Benchmark. Introduction to Counseling and Guidance. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Balitbang Depdiknas. (2005).H. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Muro. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan.dan Juntika N. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2006). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Stoner.Ltd. ASCA (American School Counselor Association). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Depdiknas. Ellis. Syamsu Yusuf L.I. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. New York: David Mckay.N. Comm. Houston : Shell Com. Herr Edwin L. (1990). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . (1992). (2003). Lustin. (2003). 2006. James J. (1976). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (1979). California : Myfield Publishing Company. Sunaryo Kartadinata. 2004. Bandung : PT. (2005). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. The National Model for School Counseling Programs. Landasan Bimbingan dan Konseling. & Kottman. Development Taks and Education. 2006). T. (1986). London : Prentice-Hall International Inc. Human Development. Adolescence. Menteri Pendidikan Nasional. LIPI. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). (1995). Jakarta : Balitbang Depdiknas. Patricia A. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (1987). (1956). & Mitchel M. & Hatch. Terry. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2005). Hurlock. Remaja Rosda Karya.J. Pusat Kurikulum. Gibson R. ——–. Pikunas. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. ——–. Judy L. R.Nancy.

dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. Akhmad Sudrajat. 3 July’96. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Vol 24 No. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sesungguhnya. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Educational Psychology.Pd. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. Anita E. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Oleh karena itu. Dalam hal ini. M. 2008 Oleh : Drs. 1995.Pd. Uman Suherman. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. (1996). Boston : Allyn & Bacon. M. Oleh karena itu. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. tulisan ini. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Woolfolk.

timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. petunjuk teknis dan sebagainya. Dengan kata lain. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. ketentuan. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. baik secara langsung maupun tidak langsung. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Maka. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. petunjuk pelaksanaan. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. konselor dituntut bekerja secara profesional. Bagaimanapun. melalui berbagai bentuk aturan. Dari sini. Akibatnya. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. seperti : malas. Secara tidak langsung. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat.1. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif.

tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. Sehingga pada gilirannya. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . untuk menguasai teknikteknik konseling. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. Sementara. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. Berbekal kesabaran dan ketekunan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara.dalam internet. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. Kemudian. penataran dan pelatihan. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Walaupun demikian perlu dicatat. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. 2. Bahkan. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Sekalipun ada. Sedangkan secara langsung. seperti : seminar. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. Misalkan. dengan bercermin dari kekurangan.

maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. terutama masyarakat dan orang tua siswa. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Jadi wajar sekali. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Namun pada kenyataannya. Tentu saja. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Dalam hal ini.mewakili pihak pemerintah. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Bagaimanapun masyarakat. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. Dengan adanya akuntabilitas ini. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. Dan pada gilirannya. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Oleh karena itu. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. konselor 96 . berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Artinya. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah.

upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. khususnya dalam forum Komite Sekolah. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Oleh sebab itu. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Karena. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. Demikianlah. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. seperti kepala sekolah. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. 97 . Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dr. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Bahkan bila perlu. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu dicermati. dewan sekolah atau siapa pun. yang berhubungan dengan data siswa. Prayitno. Untuk itulah. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. Dengan kata lain. Tentu saja. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. kapan saja diperlukan. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan sendirinya. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Atau secara kreatif. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof.

Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. (1997). Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C.(1995). Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Departemen Pendidikan Nasional. Makalah . dan (3) evaluasi hasil. Prof. 1. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Dr. (2) evaluasi program. Sementara itu. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. (2001). W. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Counselors Role in a Changing 98 . (1991). Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet.(1994).

2008 99 . klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. Bandung : Alfabeta.gov/sspw/counsl1. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).dpi.html Sofyan S. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Willis. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. 2004.wisconsin. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Teori dan Praktek. guru. Konseling Individual.

dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Kendati demikian. bimbingan klasikal. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. Laporan hasil evaluasi program. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Dalam hal ini. bimbingan kelompok. proses. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. audio visual. audio. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. berbentuk : 1. kotak masalah. catatan anekdot. buku saku) 7. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. konseling kelompok. Laporan semesteran/tahunan 6. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. konsultasi. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. (d) strategi pelayanan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Laporan bulanan 5. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. media cetak : liflet. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. kunjungan rumah. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. 2. bibliokonseling. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. (c) pemilihan instrumen/media. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Daftar konseli 3.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling.

Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. sosial.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. karier. Tujuan Umum 3. Selengkapnya. Sebaliknya. Demikian pula. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . Sementara itu. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Wilayah Gerak 2. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. konselor. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. dan masalah-masalahnya belajar.

H.Pd. Dr. Prof. Terutama. katanya.. Willis.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. Sofyan S. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. alternatif juga dari dia (siswa-red). peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Yang baik. bukan yang memiliki masalah saja.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Padahal. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Menurut dia. M. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Selain terlalu sering memberikan nasihat. Jakarta F. Jl.” ungkapnya. “Alternatif bisa diusulkan guru. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. Menurut dia. belajar dan karier. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. sosial.” ujarnya. 102 . Karenanya. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. 2007. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Belitung.

htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. hal. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. Sumber : http://www. layanan etis normatif. Sunaryo Kartadinata. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. ia mengungkapkan. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. 103 . Karenanya. Berkaitan dengan peran sekolah.pikiran-rakyat. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Supaya konseling cukup efektif.com/cetak/2006/042006/07/0702. nilai. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya.melalui pendidikan. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. (5) yang dilandasi sikap. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. menggunakan penyikapan yang empatik. Saat melakukan konseling. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. dan bukan layanan bebas nilai. Menurut Sofyan. Dr. 6 September 2006. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai.

Menurutnya. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. serta berguna untuk manusia lain. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. Misalnya. Selain itu. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. melalui direct behavioral consultation. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). pribadi-sosial. misalnya melalui asesmen psikologis. sejahtera. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. terutama guru pendidikan khusus. Dalam hal ini. akademik.. seperti dalam olah raga. Pada jenjang SMP dan SMA. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. dan karier. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya.. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. seni dan sebagainya 104 . baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat.

walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”.Atas semua itu. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. sekitar 32 tahun yang lalu. Sumber : Sunayo Kartadinata. M. BSNP. hal. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. Jawaban singkatnya.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh.Pd. 6 September 2006. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi.singkatnya pertanyaan itu. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan.. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. Ditjen PMPTK. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Empat tahun kemudian. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Setelah keluar dari ruangan BP. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal.Pikiran Rakyat. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia).

Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik.. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Beliau memberikan analisis panjang lebar. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Hanya selang satu tahun setelah lulus. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. tempat kelahiran penulis. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. menggantikan sebutan Guru BP. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling).Begitu juga. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. Sebaliknya. Selanjutnya. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. jika penulis kelak menjadi guru BP. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Akhirnya. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Pada awal menjadi Guru BP. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani.

yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hanya sangat disesalkan. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. dibandingkan dengan masa-masa 107 . Pada tahun 2003. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. sampai dengan sekarang. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang.harus gigit jari. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling.SMA pada saat itu. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan.Pd. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. meski secara formal istilah ini belum digunakan. Dalam tataran teoritis.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. M. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap.

sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Oleh karena itu. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Di sisi lain. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. dengan memperhitungkan segi kuantitas. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Kesan lama. Contoh kasus terbaru. yaitu : 1. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. baik secara personal maupun lembaga. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. kualitas dan distribusinya. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Sehingga. Contoh kasus. khususnya di kalangan siswa. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan.mata pelajaran di sekolah. Menurut pandangan penulis. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. 2. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Meminjam bahasa ekonomi. Sayangnya.

maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. dengan menghadirkan pembicara Dr. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah.Pd. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Jika ke depannya. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. M.dilaksanakan. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Jadi. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . Begitu juga. Jika tidak. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. dalam kebijakan sertifikasi guru. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. *)) Akhmad Sudrajat. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling.Pd. M. Uman Suherman. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Dalam dokumen KTSP.

Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. 4. guru mata pelajaran. 6. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. oleh siswa. 1. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. 110 . 3. Pada saat sedang mengikuti rapat. sosio-personal. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. baik dalam bidang akademik. baik laporan harian. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. tidak jelas kerjanya. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. atau tahunan. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. maupun bidang karier. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. 2. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Misalnya. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. bulanan. kepala sekolah. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta.

H. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. Dalam jadwal resmi.M. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. Untuk itu. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). maka atas seijin panitia setempat. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. Bapak Drs. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21.Pd. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Tentunya saya berharap. Rachmat Setiawan. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. M. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat.

Melalui analisis data berbasis komputer ini. (2) Diri Pribadi (DPI). baik yang bersifat preventif. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. pengembangan maupun kuratif. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . Sayangnya. Tentunya. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (7) Agama. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Untuk kepentingan analisis data. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Nilai dan Moral (ANM). (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. Kendati demikian. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah.G. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. mudah dan akurat. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). dan (10) Waktu Senggang (WSG). karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. (3) Hubungan Sosial (HSO). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. dkk.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. (d orientasi pemecahan masalah. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. 4. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (b) bergantung pada lingkungan. (g) takut tidak diterima kelompok. dan perspektif diri.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. 3. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. Sadar Diri. (d) peduli akan hubungan 113 . 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. Konformistik. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Dengan alat ITP. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Berdasarkan hasil pengukuran ini. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. Anda dapat men-download materi tersebut. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. 2. (b) berfikir sterotip dan klise. Perlindungan Diri. (d) bertindak dengan motif dangkal. Impulsif. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. motif. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (c) beorientasi hari ini. Seksama. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (c) peduli akan aturan eksternal. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. (c) mampu melihat keragaman emosi. dkk. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (e) memikirkan cara hidup. (f) kurang introspeksi. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (c) peduli akan paham abstrak. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi.mutualistik. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. (g) mengenal kompleksitas diri. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (e) memiliki tujuan jangka panjang. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Yang diskor 66 soal. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. Yang diskor 40 soal. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Individualistik. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (5) kesadaran tanggung jawab. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. (2) landasaan perilaku etis.. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. ( kemandirian perilaku ekonomi. (9) wawasan dan persiapan karir. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. seperti keadilan sosial. (3) kematangan emosional. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. 6. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (4) kematangan intelektual.Yang diskor 40 soal. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Yang diskor 66 soal. (e) peduli akan self fulfillment. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. 7. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Otonomi. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek.

Dengan ATP. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. untuk jumlah siswa yang besar.Analisis kelompok. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. dan penggabungan kelompok. Namun. Impor data dari file Microsoft Excel. yang terdiri atas: profil individual.Analisis per individu. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. delapan butir tertinggi dan terendah. cepat dan menyenangkan. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. distribusi frekuensi nilai. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Sumber : Sunaryo. Manual Guide ATP Versi 3. Proses penyekoran.bagian akhir angket. cara ini akan memakan waktu. yang terdiri atas: profil kelompok. dkk . grafik distribusi frekuensi konsistensi. penghitungan skor konsistensi. Semakin tinggi skor konsistensi. Multi window. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. Manajemen data. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek.5 115 . beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->