Laporan Kerja Praktek

PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Menghadapi persaingan global yang semakin terbuka diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Dalam memenuhi tuntutan ini, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat terjung ke lingkungan masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh. Untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas tersebut maka diperlukan perpaduan antara aspek materi dalam perkuliahan dengan praktek dalam dunia kerja. Salah satu bentuk kerja sama antara industri dengan perguruan tinggi untuk mencapai hasil yang optimal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah industri yang dapat dijadikan sebagai tempat belajar sesungguhnya bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja. Pengalaman kerja merupakan suatu kebutuhan pokok seorang mahasiswa yang akan terjun ke dunia kerja hal ini dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama praktek kerja di lapangan sehingga dapat diterapkan dalam dunia kerja yang sesungguhnya serta untuk melihat secara langsung kenyataan yang ada di lapangan. Industri otomotif di Indonesia semakin mengalami perkembangan. Penjualan kendaraan Indonesia khususnya mobil melebihi 450.000 unit pertahun sedangkan motor mencapai 5.000.000 unit pertahun. Hal ini membuka celah dunia industri otomotif, salah satu diantaranya adalah minyak pelumas. Produsen selalu perupaya mengunakan teknologi terkini dalam proses pembuatan minyak pelumas agar diperoleh produk berkualitas tinggi. Pemakaian teknologi baru, masa pakai yang panjang dari minyak pelumas, bertambahnya efesiensi mesin, mencapai efesiensi tertinggi badan pelumas cunia hingga ramah lingkungan menjadi propaganda para produsen. Namun, hal ini kurang didukung

Teknik Kimia - ITATS

-1-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

oleh informasi tentang standar kualitas pelumas yang memberikan dampak kepada para pemilik kendaraan dalam memakai pelumas berkualitas. Dampak yang paling di rasa terutama oleh masyarakat adalah informasi tentang produk pelumas berkualitas, sehingga selama ini masyarakat hanya mengunakan pelumas dilihat dari merek tanpa melihat kualitas dari pelumas tersebut. Dalam memilih pelumas yang tepat perlu memperhatikan jenis kegunaan, kekentalan (fiskositas) dan kualitas dari produk pelumas tersebut. Kekentalan merupakan salah satu unsur kandungan pelumas yang berkaitan dengan ketebalan pelumas atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Pelumas harus mengalir ketika temperatur mesin atau temperatur ambient mengalir secara cukup agar terjaminnya pasokan pelumas ke komponen-komponen yang bergerak. Semakin kental pelumas maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada pelumas kental memberi kemampuan ekstra dalam membersihkan permintaan logam yang terlumasi. Sebaliknya pelumas yang terlalu tebal akan memberi resistensi berlebih mengalirkan pelumas pada temperatur rendah sehingga menggangu jalannya pelumas ke komponen yang akan dibutuhkan. Oleh karena itu, pelumas harus memiliki kekentalan yang lebih tepat pada temperatur tinggi atau terendah ketika mesing di operasikan. Umumnya kendaraan saat ini memiliki kekentalan lebih rendah karena mesinnya lebih sophisticated sehingga kerapatan antara komponen makin tipis dan banyak juga celah-celah kecil yang hanya bisa dilalui oleh pelumas dengan kekentalan lebih encer. Sedangkan untuk kendaraan lebih tua pada bagian clearance bearing lebih besar, sehingga lebih tepat bila digunakan pelumas kental untuk menjaga tekanan pelumas normal dan menyediakan lapisan film cukup untuk Bearing. Pada pelumas yang memiliki kualitas yang tinggi diperlukan standarisasi dari badan yang independent dan diakui secara internasional. Badan tersebut antara lain SAE, API, ASTM, JACO dan badan internasional lainnya. Sedangkan salah satu upaya yang ditempuh di Indonesia adalah dengan mendaftarkan produk pelumas tersebut di Depperindag sehingga konsumen merasa tidak dirugikan oleh pihak produsen.

Teknik Kimia - ITATS

-2-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

I.2

Perumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah

sebagai berikut: 1) Bagaimana kualitas dan kuantitas pelumas produksi PERTAMINA ? 2) Bagaimana proses pengujian pelumas agar memenuhi standart yang telah ditentukan ?

I.3

Tujuan Penulisan Dengan adanya rumusan masalah diatas maka tujuan dari kerja

praktek ini yaitu untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pelumas produksi PERTAMINA dan untuk mengetahui bagaimana proses pengujian pelumas agar memenuhi standart yang telah ditentukan.

I.4 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan dari laporan kerja praktek ini adalah sebagai berikut: a. Bagi UPPS PT Pertamina (PERSERO) Sebagai sumber tambahan referensi bagi pihak perusahaan yaitu PT Pertamina (PERSERO) dalam produksi pelumas. b. Bagi Mahasiswa Untuk memperoleh pengalaman kerja dan dapat lebih memahami serta mengembangkan ilmu kimia yang berkaitan dengan Industri. Meningkatkan dan mengembangkan semangat kerja Meningkatkan wawasan keilmuan mahasiswa dalam dunia kerja. Menciptakan pola pikir dan perilaku ilmiah bagi mahasiswa.

Teknik Kimia - ITATS

-3-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

c. Bagi para peneliti Dengan laporan Kerja Praktek ini diharapkan sebagai referensi atau sumber informasi dalam meningkatkan kualitas pelumas yang dihasilkan. d. Bagi Masyarakat Sebagai bahan masukan dalam melakukan seleksi kualitas pelumas yang digunakan dalam mendukung kinerja mesin.

Teknik Kimia - ITATS

-4-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Sejarah Pelumas Sejarah penggunaan minyak pelumas pada awalnya masih belum diketahui

dengan pasti. Namun, bermacam bentuk bearing telah ditemukan di Timur Tengah beberapa ribu tahun yang lalu sebelum masehi (SM). Konsep pelumas sudah dimulai sejak ribuan tahun sebelum masehi meskipun pada waktu itu hanya menggunakan air. Pelumas yang ada pada waktu itu dilakukan oleh orang Mesopotania dengan ditemukannya sebuah roda bagian dari alat pembuatan tembikar peninggalan 4000 tahun sebelum masehi. Pada waktu itu, ditemukan bentuk bearing primitive dengan bahan bituminus menempel pada bearing tersebut. Hal ini sudah diduga adanya penggunaan pelumas yang berasal dari deposit minyak yang ada di permukaan tanah. Pada tahun 3000 SM di Timur Tengah sudah cukup banyak digunakan kereta tempur dengan roda meski dalam jumlah yang sedikit yang sudah bisa diketahui jenis pelumasnya, yaitu campuran kapur dan lemak binatang. Selanjutnya pada lukisan dinding dari mesir kuno sekitar tahun 2000 SM, memperlihatkan patung-patung ditarik diatas tanah dengan menuangkan cairan yang diduga sebagai bahan pelumas. Menurut Dowson dalam bukunya yang berjudul “The Histori of Tribology”, menduga patung-patung tersebut ditarik diatas silinder kayu yang diberi pelumas air, dimana dapat menguraikan hubungan gesekan pada sistem tersebut dengan besarnya tenaga para budak yang tergambar dalam hiroglif. Pada peradaban Romawi dan Yunani kuno telah diproduksi berbagai peralatan yang menggunakan roda seperti mesin bubut, gear, alat katrol mekanis, yang ditemukan sekitar tahun 1930 dengan menggunakan prisip ball dan roller bearing. Pliny pada abad pertama tahun masehi telah membuat daftar pelumas yang dapat digunakan pada jaman tersebut, dimana secara umum adalah pengunaan lemak binatang dan minyak tumbuhan. Hal ini tetap berlanjut hingga

Teknik Kimia - ITATS

-5-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

terjadinya revolusi industri dimana minyak zaitun banyak dipakai sebagai pelumas di Eropa Selatan dan minyak dari biji-bijian digunakan di Eropa Utara dan Barat. Minyak bumi baru digunakan di daerah tersebut setelah ditemukannya minyak yang merupakan rembesan dari Rusia dan Timur Tengah. (Saputra, 2000) Pada awal penggunaannya, minyak mineral dihasilkan dari destilasi batubara. Pada tahun 1850, minyak bumi dalam skala kecil sudah mulai diproduksi di Amerika, Kanada, Rusia dan Romania dan terus berkembang pada industri perminyakkan modern. Minyak bumi cair harus didestilasi dan difraksionasi hingga menjadi produk-produk yang dapat dieksplotasi lebih jauh. Fraksi yang berat dari minyak bumi dapat digunakan sebagai minyak pelumas. Tahap selanjutnya ditemukan bahwa dengan destilasi bertekanan (Vacum Destillation), fraksi berat dapat dipisahkan tanpa terjadinya oksidasi pada produk. Hal ini disebabkan oleh titik didih fraksi tersebut lebih rendah karena tekanan vacum dan dengan temperatur lebih rendah campuran dipisahkan (Saputra, 2000). Dengan adanya pengolahan minyak bumi yang menghasilkan produk beberapa sifat minyak pelumas. (Wartawan, 1985) Pada perkembangan teknologi disemua bidang maka dituntut pula perkembangan dalam bidang perminyakan pelumas. Hal ini disebabkan oleh adanya perkembangan dibidang mesin, dimana menghasilkan mesin-mesin modern yang mempunyai nilai kerja lebih unggul (Wartawan 1985). Mulai tahun 1920 dihasilkan produk pelumas yang baik dengan menggunakan vacum destillation dan beberapa fraksinya dikombinasikan dengan sabun untuk mendapat gemuk. Beberapa aditif untuk meningkatkan performa base oil (minyak lumas dasar) dari minyak bumi telah dikembangkan dan penggunaannya meningkat di tahun 1930. Pada awalnya hanya sekedar untuk meningkatkan sifat-sifat fisik pelumas, kemampuan mengontol kerusakan minyak itu sendiri menjadi semakin penting, karena pemakaian pada pembakaran Mineral Engine meningkat. Hal ini mendorong pengembangan aditif pelumas deterjen, baik yang dapat mengurangi fraksi minyak lumas yang lebih murni dapat memberikan peningkatan ketahanan tersebut lebih mudah

Teknik Kimia - ITATS

-6-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

oksida minyak maupun mengurangi penumpukan deposit didalam mesin (Engine). Pemakaian aditif jenis ini meningkat pada mesin diesel pada tahun 1940. Pelumas modern pada saat ini sudah sangat khusus dan kompleks yang telah memenuhi standar yang sesuai dengan kombinasi antara minyak dasar dengan aditif. Aditif dari berbagai jenis dapat digunakan sebagai campuran untuk mendapatkan pelumas yang lebih berkualitas. (saputra 2000)

II. 2

Sejarah Berdirinya PT Pertamina (Persero) Pemerintah Indonesia membentuk PT PERMINA (PT Perusahaan Minyak

Nasional) yang sebelumnya bernama PT ETMSU (PT Tambang Minyak Sumatra Utara) untuk menegaskan bahwa minyak bumi di Indonesia adalah milik nasional. Setelah berjalan ± 3,5 tahun PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA kemudian dibentuk kembali menjadi PN PERTAMINA (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Nasional) yang bergerak dalam lapangan Minyak dan Gas Bumi. Sebagai pelaksana usaha pertambangan, usahanya ditentukan meliputi eksplorasi, eksploitasi, pemurnian, pengolahan, pengangkutan dan penjualan. Pada tahun 1945 Jepang dengan disaksikan pihak Sekutu menyerahkan Tambang Minyak Sumatra Utara kepada Indonesia, daerah perminyakan ini adalah bekas daerah konsesi BPM sebelum perang dunia kedua. Pada masa revolusi fisik, tambang minyak ini lancar total. Lapangan-lapangan minyak di daerah lain di Indonesia dapat dikuasai kembali oleh Belanda dan pihak asing berdasarkan hak konsesi, namun lapangan minyak oleh Sumatra Utara dan Aceh dapat dipertahangkan oleh Bangsa Indonesia. Semenjak kedaulatan Republik Indonesia diakui sendiri penunjukan “Koordinator” untuk pertambangan minyak oleh Menteri Perekonomian pada tahun 1945 belum ada perbaikan. Pada bulan Oktober 1957, kepala Staf TNI Angkatan Darat pada waktu itu Jenderal A.H. Nasution menunjuk Kolonel Dr. Ibnu Sutowo untuk membentuk perusahaan Minyak yang berstatus hukum perseroan terbatas. Pada tanggal 10

Teknik Kimia - ITATS

-7-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Desember 1957 didirikan PT Pertambangan Minyak Nasional Indonesia (PT PERTAMINA) dengan Kolonel Dr. Ibnu Sutowo sebagai Presiden Direktur. Berdasarkan UU No 19 tahun 1960 tentang perusahaan Negara dengan anggota-anggota sebagai berikut : 1. Kol. Dr. Ibnu Sutowo, sebagai Presiden Direktur 2. Let. Kol. J. M. Pattiassina sebagai Direktur 3. Let. Kol. S. M. Geudong sebagai Direktur Pada tanggal 20 agustus 1968 telah dibentuk PN PERTAMINA (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional) berdasarkan PP Republik Indonesia No 27 tahun 1968 dalam rangka mempertegas struktur dan prosedur kerja demi memperlancar usaha peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi serta untuk meningkatkan efesiensi. PN PERTAMINA menampung segala kegiatan pengurusan dan pengusahaan Minyak dan Gas Bumi dari PN PERTAMINA serta merupakan satu-satunya Perusahaan Minyak Nasional Indonesia yang diberi wewenang mengelolah semua bentuk kegiatan di bidang Industri Minyak dan Gas Bumi. Maksud dan tujuan penyatuan ini agar dapat meningkatkan baik produktivitas maupun efektivitas serta efesiensi di bidang Perminyakan Nasional dalam wadah suatu integrate oil company dengan satu manajemen yang sempurna. Menggingat bahwa bahan Minyak dan Gas Bumi memegang peranan penting dalam usaha mensukseskan rencana pembangunan 5 tahun. Sejak tanggal 15 September 1971 berdasarkan UU No 8 tahun 1971 PN PERTAMINA berubah menjadi PERTAMINA yang mempunyai tugas berat meliputi tri tugas utama untuk menunjang laju pembangunan yaitu : 1. Sebagai sumber Devisa untuk pembangunan Nasional 2. Membekali BBM dan produk-produk minyak bumi lain yang diperlukan untuk kebutuhan dalam negri. 3. Mengadakan kesempatan lapangan kerja dengan ahli pengetahuan dan ahli teknologi.

Teknik Kimia - ITATS

-8-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Guna kelancaran kegiatan pemasaran dan distribusi BBM dan produkproduk minyak lainnya pertamina mempunyai sistem distribusi melalui terminal samudra, depot-depot rumah, SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk umum) dan fasilitas Refueling di lapangan udara yang tersebar diberbagai kota. Sesuai akta pendiriannya, maksud dari perusahaan Perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun diluar negri serta kegiatan usaha lain yang berkait atau menunjang kegiatan usaha dibidang minyak dan gas bumi tersebut. Adapun tujuan dari perusahaan Perseroan yaitu antara lain 1. Mengusahakan Keuntungan berdasarkan prionsi pengelolaan Perseroan secara efektif dan efesien. 2. Memberikan Kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut Perseroan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut : 1. Menyelenggarakan usaha Minyak dan Gas Bumi beserta hasil olahan dan turunannya. 2. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya, termasuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik Perseroan. 3. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran liquefied natural gas (LNG) yang produk lainnya yang dihasilkan dari kilang LNG. 4. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagai mana dimaksud dalam no 1, 2 dan 3. Unit Produksi Pelumas Surabaya (UPPS) berdiri pada tanggal 06 juli 1974 dan diresmikanoleh direktur utama pertamina yang pertama bapak Letjen Dr. H. Ibnu Sutowo. LOBP (Lube Oil Blending Plant) UPP Surabaya merupakan salah satu dari plant pertamina yang memproduksi minyak pelumas, selain di Jakarta dan Cilacap.

Teknik Kimia - ITATS

-9-

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Sesuai surat keputusan direktur Hilir Nomor Kpts-003/E00000/2002-SO tanggal 13 Februari 2002, UPP Surabaya secara organisasi terpisah dari Unit Pemasaran-V Surabaya. Minyak Pelumas yang diproduksi pertamina UPP Surabaya meliputi Pelumas untuk Industri, marine (Perkapalan), dan Otomotif (Kendaraan Bermotor).

II.3

Visi dan Misi

II.3.1 Unit Pelumas PT PERTAMINA (PERSERO) Visi: Menjadi perusahaan unggul, maju dan terpandang serta menjadi partner solusi pelumas yang baik. Misi : 1. Melakukan usaha dalam bidang energi dan Petrokimia 2. Merupakan entitas bisnis yang dikelolah secara profesional, kompetitif dan berdasarkan tata nilai unggulan 3. Memberikan nilai tambah yang lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja dan masyarakyat, dengan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

II.3.2 Unit Pemasaran PT PERTAMINA (PERSERO) Visi : Menjadi unit Pemasaran yang dipercaya oleh Stakeholder PT

PERTAMINA (PERSERO) Unit Pemasaran V bagi semua pelaku yang terlibat dalam proses produksi sampai dengan pemasaran. Dalam hal ini, terjadi hubungan antara bidang produksi dan bidang pemasaran yaitu ketika bidang produksi memproduksi produk-produknya, mereka harus laku di pasaran. Dalam produksi, produk-produknya bidang produksi haruslah menghasilkan produk-produk yang berkualitas sehingga dapat dipercaya di bidang pemasaran ketika akan dijual di pasaran serta memberikan kepercayaan kepada konsumen ketika mengkonsumsi

Teknik Kimia - ITATS

- 10 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

produk-produknya. Jadi intinya

adalah saling menjaga kepercayaan antara

produksi, pemasaran dan juga konsumen. Misi : Melakukan usaha dalam bidang energi dan Petrokimia secara profisional, kompratif, dan kompetitif, berdasarkan tata nilai keunggulan, memegang nilai tambah bagi pemegang saham, pekerja dan masyarakat serta memberikan kepuasaan pelanggan di wilayah pemasaran Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, dan wilayah Pemasaran Negara Timor Leste, serta wilayah sekitarnya.

II.4

Wilayah Kerja PT PERTAMINA (PERSERO)

Dalam kegiatan pemasaran produknya, Pertamina memiliki Unit Pemasaran yang terbesar di beberapa bagian Indonesia dan wilayah kerjanya, antara lain: 1. Unit Pemasaran I berkedudukan di Medan meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau. 2. Unit Pemasaran II berkedudukan di Palembang meliputi Sumatra Selatan, Jambi, Lampung, dan Bengkulu. 3. Unit Pemasaran III berkedudukan di Jakarta meliputi Jakarta dan Jawa Barat. 4. Unit Pemasaran IV berkedudukan di Semarang meliputi Jawa Tengah (Solo, Jogjakarta, Cilacap). 5. Unit Pemasaran V berkedudukan di Surabaya meliputi Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Bangsa Timor Leste. 6. Unit Pemasaran VI berkedudukan di Balikpapan meliputi seluruh Kalimantan 7. Unit Pemasaran VII berkedudukan di Makasar meliputi seluruh Sulawesi 8. Unit Pemasaran VIII berkedudukan di Jayapura meliputi Irian Jaya dan Maluku.

Teknik Kimia - ITATS

- 11 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

II.5

Struktur Organisasi Pabrik Pertamina Unit Produksi Pelumas Surabaya (UPPS) dipimpin oleh

II.5.1 Struktur Organisasi PT PERTAMINA (PERSERO) UPPS Production & Supply Chain Manager yang langsung membawahi production Unit Head Surabaya yang dibantu oleh seorang sekretaris. Production Unit Head Surabaya langsung membawahi beberapa bidang diantaranya: Ka. LOBP, Ka. Teknik, Ka. Logistik, Ka. Adm & Keuangan, Ka. Quality Inspector serta Ka. K2LL & security. (Anonim, 2007) Gambar 2.1 memperlihatkan Struktur Organisasi Production Unit Surabaya UPPS PT. Pertamina (Persero) dan dapat dilihat sebagai berikut: Production & Supply Chain Manager

Production Unit Head Surabaya

Sekretaris

Ka. LOBP

Ka. Teknik

Ka. Logistik

Ka. adm & Keuangan

Ka. Quality Inspector

Ka. K2LL & Security

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Unit Produksi Pelumas Surabaya

Teknik Kimia - ITATS

- 12 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Adapun masing-masing fungsi dari tugas dan tanggung jawab setiap personel dalam struktur organisasi UPPS, antara lain : 1. Production and Supply Chain Manager, bertanggung jawab atas jalannya produksi mulai dari pengawasan kualitas produk hingga pengandaan produk di pasaran. 2. Production Unit Head Surabaya, bertanggung jawab atas semua kegiatan produksi yang berada di UPPS. 3. Sekretaris, bertugas menyelenggarakan kegiatan perencanaan, pengawasan dan pengelolahan yang berhubungan dengan administrasi perusahaan. 4. Kepala LOBP (Lube Oil Blending Production), bertugas menyelenggarakan kegiatan mulai dari penerimaan material atau sampel dari kapal tanker, tanker penimbunan , proses blending, proses pengisian produk kedalam kemasan (filling process) hingga memeriksa dan menjaga kualitas produk serta mengkoordinir produk kemasan ke pasaran. 5. Kepala teknik, bertanggung jawab dalam melaksanakan pengadaan listrik, air, melakukan perawatan alat-alat pemesinan yang menunjang proses produksi. 6. Kepala Logistik, bertugas melakukan pengawasan terhadap label kemasan produk pertamina mulai dari kemasan dalam bentuk botol dan drum beserta penutupnya, stiker, dan lain-lain untuk menjaga kualitas produk Pertamina serta menanggani pendistribusian produk-produk ke wilaya V. 7. Kepala Administrasi dan Keuangan Mengatur pegawai-pegawai yang hendak pensium, cuti, dan mengirimkan delegasi untuk pelatihan Mengatur pemberian upah kerja kepada pegawai dan melakukan evaluasi penilaian kerja Menyelenggarakan kegiatan perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan anggaran, pengelolaan serta pelaporan keuangan accrountable dan auditable 8. Kepala Quality Inspector

Teknik Kimia - ITATS

- 13 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Melakukan pengawasan dan mengatur label pendukung produk pertamina mulai dari botol, drum, tutup, stiker. Mengawasi produk yang akan dibawa ke lapangan udara pengepakan barang agar produk yang dijual dalam kualitas yang baik 9. Kepala K2LL dan Security Menyelenggarakan kegiatan perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan kegiatan perlindungan dan keselamatan kerja. Melakukan pengamatan baik secara fisik semua aset perusahaan serta pengamanan informasi atau bahan keterangan yang berkualitas rahasia.

II.5.2 Struktur Organisasi Laboratorium UPPS dan Tugas Organisasi Termasuk Jam Kerja Laboratorium UPPS dibawah pengawasan Asisten Manager Quality Assurance yang langsung membawahi Lab Head UPPS. Lab Head UPPS memimpin beberapa sub bagian, antara lain: Pengawas Utama Lab BBM yang langsung membawahi Asisten Lab BBM, Pengawas Utama Lab pelumas yang langsung membawahi Asisten Lab pelumas dan asisten Lab JPK, serta asisten Lab Gas dan Petkim. (Anonim, 2007) Gambar struktur organisasi laboratorium UPPS bisa dilihat sebagai berikut:

Teknik Kimia - ITATS

- 14 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Ast. Manager Quality Assurance

Lab Head UPPS

Pengawasan Utama Lab. BBM

Pengawasan Utama Lab. Pelumas

Pengawasan Utama Lab. Gas & Petkim

Asisten Lab BBM Asisten Lab Pelumas Asisten Lab PJK Gambar 2.2 Struktur Organisasi Laboratorium UPPS Adapun Tugas dan tanggung jawab setiap personel laboratorium UPPS: 1. Asisten Manager Quality Assurance, bertugas melakukan pengawasan dan memberikan jaminan terhadap kualitas produk. 2. Lab Head UPPS, bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukan di laboratorium UPPS 3. Pengawasan utama Laboratorium BBM Mengatur terlaksananya pemeriksaan sampel dilaboratorium dengan hasil pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu denagn memperhatikan keselamatan kerja. Melaksanakan SOP (Standar Operasi Prosedur) keselamatan kerja.

Teknik Kimia - ITATS

- 15 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Mengawasi pelaksanaan ISO/IEC: 17025-2005 4. Pengawasan utama laboratorium pelumas Mengatur terlaksananya pemeriksaan sampel di laboratorium dengan hasil pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu dengan memperhatikan keselamatan kerja Mengatur SOP keselamatan kerja Mengawasi pelaksanaan ISO/IEC: 17025-2005 5. Pengawas utama laboratorium Gas dan PetroKimia Mengawasi kegiatan pemeriksaan aspal, elpiji di laboratorium UPPS Mengawasi dan mengatur pengambilan sampel Meneliti dan mengevaluasi hasil pemeriksaan test report Memantau pengiriman sampel dari lokasi Menyampaikan ke test aspal dan elpiji Merencanakan kebutuhan peralatan dan bahan kimia untuk pemeriksaan contoh aspal dan elpiji Mengawasi penyimpanan retain sampel Membuat laporan kegiatan pada laboratorium UPPS. 6. Asisten Laboratorium BBM Memeriksa BBM penerbangan dan BBM non penerbangan Membuat test report dan bahan kimia yang digunakan Memelihara peralatan test yang dipakai Menjaga keselamatan dan kesehatan kerja Mengawasi penyimpanan retain sampel Melakukan trial blend dan korelasi test. 7. Asisten Laboratorium Pelumas Mengatur dan melaksanakan laboratorium test produksi ex. Blending tank dan filing shed Membuat test report batch pertama, berkala, quality check dan certificate of quality pelumas bulk dan perincian biaya. Mengkalibrasi peralatan test dan bahan kimia yang dipakai

Teknik Kimia - ITATS

- 16 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Memelihara peralatan test yang dipakai Menjaga keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja Mengawasi penyimpanan retain sampel 8. Asisten Laboratorium Jasa Pelayanan dan Konsumen (JPK) Bertanggung jawab terhadap hasil pemeriksaan mutu yang dihasilkan sesuai metode yang berlaku Melaksanakan SOP keselamatan kerja Mengawasi pelaksanaan ISO/IEC: 17025-2005 Dalam kegiatan sehari-hari pertamina mempunyai karyawan-karyawan di lingkungannya. Secara garis besar jam kerja karyawan pertamina dibagi menjadi dua bagian antara lain: a. Pekerja Harian Pekerja harian bekerja selama 40 jam setiap 1 minggu sebagai berikut: Hari Senin s/d Kamis Istirihat Hari Jumat Istirihat Hari Sabtu s/d minggu b. Pekerja Shift Pekerja Operasi : Shift Sore Shift Sore Shift malam Shift Pagi : pkl. 07.30 – 15.30 : pkl. 06.00 – 14.00 : pkl. 15.30 – 23.30 : pkl. 14.00 – 22.00 : pkl. 22.00 – 06.00
produksi tetap masuk pada hari sabtu

: pkl. 07.00 – 11.30 ; 12.00 – 15.30 : pkl. 11.30 – 12.00 : pkl. 07.00 – 11.00 ; 13.00 – 15.30 : pkl. 11.00 – 13.00 : Libur.

Pekerja Keamanan: Shift Pagi

*) Catatan : Karyawan UPPS pada proses

begitu pula untuk pekerja harian laboratorium.

Teknik Kimia - ITATS

- 17 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

II. 6

Lokasi dan Tata Letak Pabrik (Lay Out) UPPS Lokasi pabrik Pertamina merupakan hal penting yang akan menentukan

kelancaran pabrik dam menjalankan operasinya. Pertamina UPPS terletak di Jl. Perak Barat No. 277 Surabaya, sedangkan Laboratorium UPPS memiliki sarana gedung seluas 850 m2 yang terletak di dalam lokasi instalasi Pertamina Tanjung Perak. Pendirian suatu pabrik haruslah memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan Lay Out pabrik sebab sangatlah berperan dalam pendirian suatu pabrik. Bila sudah punya spesifikasi, macam alat ukur, letak dan sebagainya maka akan dibuat Lay Out (denah pabrik). Letak peralatan, bangunan dalam pabrik baik yang plan view (proyek ke bawah) atau elevatie(bertingkat ke atas). Selain berguna untuk mengatur letak bangunan lay out juga berguna untuk mengetahui luas tanah yang digunakan dan melihat kedepan apakah perlu perluasan pabrik atau tidak. Apakah produk ditingkatkan terus atau perluasan pabrik untuk pengembangan produk sebagai bahan baku yang dirubah menjadi produk baru. Apabila lay outnya masih salah maka akan merugikan bila ditinjau dari segi ekonomi atau mengalami kerugian. Oleh karena itu lokasi pabrik harus dipilih pada letak yang paling menguntungkan yang optimun, sehingga tujuan akhir dari perancangan pabrik dapat terealita yaitu melakukan perhitungan sedemikian rupa sehingga dapat diketahui laba dan rugi dari pabrik tersebut. Jika dalam denah pabrik yang didirikan akan ada yang ditingkat, maka luas tanah yang diperlukan akan berkurang. Untuk bahan yang dikerjakan dengan alat vaccum, misalnya ejector yang tingginya bisa mencapai 10 m dengan cara bertingkat maka dapat digunakan sistim grafitasi. Pada daerah yang tinggi biasanya untuk meletakkan storage (tendong) dengan sistim grafitasi maka pendirian pabrik baru benar-benar dipertimbangkan. Pendirian suatu pabrik harus memperhatikan faktor-faktor dalam perencanaan pabrik , meliputi : faktor teknis, faktor ekonomis, faktor safety (keselamatan) dan lingkungan, faktor hukum, dan faktor sosial. Salah satu faktor yang berperan dalam perancangan pabrik adlah faktor teknis.

Teknik Kimia - ITATS

- 18 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Faktor teknis adalah segala sesuatu yang bersifat teknis, seperti pasaran, flow diagram, peralatan, lay aout (denah) pabrik, lokasi pabrik dan bangunan. Pasaran menyangkut pasaran produk, maupun bahan baku, jarak antar pasar, dengan lokasi pabrik, mutu produk, harga yaitu kemampuan pasar untuk membeli produk, kompetisi yang ada di pasaran. Peralatan harus dilakukan survey dari alat yang tersedia, baik mengenai harga, buatan dalam negri atau luar negri, dan diusahakan alat yang dipakai dalam pabrik adalah alat-alat standart yang sudah ada dipasaran. Lay out (denah) pabrik berguna untuk mengatur letak bangunan, mengetahui luas tanah yang akan digunakan dan melihat ke depan apakah perlu perluasan pabrik untuk mengembangkan produk sebagai bahan baku yang diubah menjadi produk baru. Bangunan pabrik, pabrik dibuat sesudah denah pabrik sehingga pembanguan pabrik dipandu oleh denah pabrik. Dalam perencanaan dipilih pabrik out door construction atau in door construction (bangunan menutupi seluruh peralatan pabrik). Lokasi pabrik didasarkan pada lay out serta terkait dengan masalah bahan baku, pasaran, buruh dan trasportasi. Lokasi dipilih berdasarkan pada letak yang paling menguntugkan atau yang optimun. Menuntungkan didasarkan pada finansial sedangkan optimun didasarkan pada kuantitatif, yang akhirnya juga didasarkan pada dana. Faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi pabrik, yaitu faktor utama dan faktor spesifik. Faktor utama meliputi bahan baku dan pasaran, merupakan dua faktor yang sangat penting. Bahan baku merupakan faktor penting dan faktor penentu lokasi pabrik. Jarak, meskipun pabrik tidak didirikan pada daerah bahan baku, tetapi bila biaya taransportasi murah maka pabrik boleh didirikan. Faktor utama meliputi : 1. Bahan baku, antara lain menyangkut jumlah persediaan yang ada atau yang akan ada dari suplayer, kemudian penggunaan bahan baku, jarak, dan harga. 2. pasaran, meliputi kebutuhan akan gudang dan saingan. 3. power, meliputi persedian listrik dan harganya. 4. Persedian air, meliputi mutu air (kandungan mineral, suhu), dan harga air.

Teknik Kimia - ITATS

- 19 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

5. Iklim, meliputi biaya investasi, kelembaban atau pun suhu, gempa dan angin 6. Kebijakan pemerintah, seperti pemerataan bangunan, industrial estate. Selain faktor utama, lokasi pendirian pabrik juga dipengaruhi oleh faktor spesifik yang terdiri atas : 1. Transportasi : instansi untuk angkutan bahan baku dan pabrik, peraturan pemerintah, tempat pembuangan waste, polusi udara, darat dan air. 2. Buruh : adanya skill labour, hubungan dengan buruh, stabilitas upah dan sistemnya. 3. peraturan / undang-undang : peraturan tentang bangunan, peraturan pembagian daerah, peraturan penggunaan jalan raya, peraturan bahan buangan dan polusi. 4. Karakteristik tempat pabrik, meliputi profil tanah terkait dengan pondasi, luas tanah, harga tanah, area untuk perluasan pabrik. 5. Masyarakyat : daerah kota / desa, biaya perumahan, aspek budaya, agama, adanya sekolahan disekitar pabrik, tempat rekreasi dan fasilitas kesehatan. 6. Faktor yang berhubungan keadaan perang : jarak pabrik sampai kefasilitas penting, pusat konsentrasi industri. 7. Faktor yang berhubungan dengan banjir / kebakaran : mengetahui sejarah tentang banjir disekitar lokasi pabrik, kebakaran, apakah sudah tersedia alat-alat untuk hal-hal tersebut. 8. faktor spesifik berdasarkan score, nilai dan kredit. Lokasi pabrik pertamina merupakan hal yang akan menetukan kelancaran pabrik dalam menjalankan operasinya. Pertamina UPPS terletak di Jl. Prapat Kurung Selatan – Tanjung Perak Surabaya / 60177 Indonesia. Sedangkan laboratorium UPPS memiliki sarana gedung seluas 850 m2 yang terletak didalam lokasi instalasi pertamina tanjung perak. Adapun lay out atau tata letak dari pabrik pertamina UPPS dilihatkan pada gambar berikut ini:

Teknik Kimia - ITATS

- 20 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

4

7 3 5 2

Gambar 2.3 Lay Out UPPS

7 6.a

Teknik Kimia - ITATS

10 6.b 12 11 15 13
- 21 -

14

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

1

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Keterangan lay Out UPPS: 1. Jalan raya 2. Pos Satpam 3. K3LL 4. Parkir mobil dan sepeda motor 5. Area drum pelumas. 6. a. LOBP b. Kantor SDM 7. Area storage tank aditif / base Oil 8. Kolom penampung air 9. Area parkir mobil tanki 10. Terminal pengisian minyak tanah / BBM 11. Laboratorium UPPS 12. Gudang 4 13. Gudang 3 14. Gudang 2 15. Gudang 1

Teknik Kimia - ITATS

- 22 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

BAB III KAJIAN PUSTAKA
III.1 Gambaran Umum Bahan atau produk yang dihasilkan oleh Pertamina berupa BBM dan non BBM. BBM atau Bahan Bakar Minyak adalah suatu senyawa organik yang dibutuhkan dalam suatu pembakaran dengan tujuan untuk mendapatkan energi atau tenaga. Bahan Bakar Minyak ini merupakan hasil proses destilasi minyak bumi (crude oil) menjadi fraksi-fraksi yang diinginkan. Pertamina sebagai Bahan Usaha Milik Negara mengembang tugas mencari sumber minyak dan gas bumi, mengolah dan menyediakan bahan bakar minyak di Indonesia. Ada beberapa jenis bahan Bakar minyak yang diproduksi Pertamina. diantaranya : 1. Pertamax dan Bio Pertamax 2. Minyak tanah (kerosene) 3. Minyak solar (gas oil) 4. Avtur dan Avgas Salah satu hasil pengolahan minyak bumi yang cukup menonjol selain berupa bahan bakar minyak ialah bahan dasar pelumas (mineral base oil) yang selanjutnya diproses menjadi pelumas. Pelumas mempunyai fungsi yang sangat menentukan dalam menunjang investasi nasional di sektor industri dan transportasi. Hal ini dapat dimaklumi karena baik buruknya kualitas pelumas secara langsung akan mempengaruhi kemampuan operasi dan efisiensi mesin. Selain digunakan untuk mengurangi gesekan antara bagian mesin yang bergerak, pelumas juga digunakan untuk mendinginkan dan memindahkan panas yang keluar dari mesin serta mengendalikan "contaminant" atau kotoran guna memastikan mesin berjalan dengan lancar.

Teknik Kimia - ITATS

- 23 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

III.2

Bahan Baku Dan Proses Pembuatan Pelumas

III.2.1 Jenis dan Bahan Pembuatan Pelumas Pelumas merupakan bahan yang berbentuk cair atau padatan lunak yang dipakai untuk melumasi komponen-komponen sistem mekanik. Pelumas cair disebut juga minyak lumas, sedangkan pelumas yang berbentuk padatan lunak disebut gemuk lumas. Adanya pelumas yang melingkupi komponen mekanik akan memperkecil gesekan antara komponen-komponen yang bergerak dan saling bersentuhan sehingga proses keausan akan diperkecil dan komponen akan lebih awet. Pembagian pelumas secara umum dapat digolongkan menjadi: 1. Berdasarkan Wujudnya, pelumas dibagi menjadi 2 macam: a. Pelumas Cair (minyak lumas) digunakan dalam bahan dasar pembentukan pelumas. (Tambung, 2007) b. Pelumas Padat (gemuk lumas) merupakan suatu produk pelumas yang agak cair hingga padat, umumnya tersusun dari minyak dan sabun. Kandungan minyaknya sekitar 75-95% dan memiliki sifat lebih tahan karat, tahan oksidasi dan tahan terhadap udara lembab. Penggunaan gemuk ini apabila pemakaian pelumas mengalami kesulitan karena tidak ada penutupnya. (Anonim, 2003) 2. Berdasarkan bahan bakunya, pelumas dibagi menjadi 3 macam: a. Pelumas Mineral Pada pelumas ini bahan baku yang digunakan berasal dari pengolahan minyak bumi, dimana fraksi minyak bumi yang lebih berat digunakan sebagai bahan pelumas (SNI, 2005). Pelumas mineral atau pelumas konvensional umumnya terdiri dari 90% minyak dasar (Crude Oil), hasil pengolahan dan penyulingan minyak bumi dengan ditambahkan 10% campuran bahan kimia aditif. Zat aditif yang biasanya digunakan berupa deterjen, antioksida, dan indeks viskositas improver (campuran peningkat kekentalan). (anonim, 2004) b. Pelumas Semi Sintesis

Teknik Kimia - ITATS

- 24 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Pelumas ini dibuat dengan menggunakan minyak dasar, bahan kimia dicampur dengan minyak mineral. Mineral ini berasal dari hasil olahan minyak bumi dengan penambahan bahan sintesis lain untuk mencapai standar mutu yang lebih baik. (Anonim, 2004) c. Pelumas Sintesis Salah satu bahan utama yang berasal dari hasil reaksi kimia untuk menghasilkan senyawa dengan karakter terencana dan terukur yang digunakan untuk pembuatan minyak lumas (SNI, 2005). Artinya pada pelumas sintesis, bahan baku yang digunakan hampir semuanya atau keseluruhannya berasal terdiri atas bahan-bahan aditif. Jumlahnya menentukan jenis pelumas sintesisnya. Pada pelumas sintesis penuh (full synthetic oil) mengandung 100% bahan aditif, yaitu minyak dasar bahan kimia yang bukan dihasilkan dari penyulingan minyak bumi. Pelumas atau oli sintesis biasanya disarankan untuk mesin-mesin berteknologi terbaru (turbo, supercharger, dohc) dan juga membutuhkan pelumas yang lebih baik (racing) dimana celah antar (Part) logam lebih kecil atau sempit dimana hanya oli sintesis yang bisa melapisi dan mengalir sempurna. Oli sintesis tidak disarankan untuk mesin-mesin yang berteknologi lama dimana celah part biasanya sangat besar atau renggang sehingga bila menggunakan oli sintesis biasanya menjadi lebih boros karena oli ikut masuk ke ruang pembakaran dan ikut terbakar sehingga oli cepat habis. Keuntungan oli sintesis ini dibandingkan dengan oli mineral adalah oli sintesis lebih stabil pada temperatur tinggi, mencegah dan mengontrol terjadinya endapan karbon pada mesin, sirkulasi lebih lancar pada waktu start di pagi hari atau cuaca dingin, dapat melumasi dan melapisi logam lebih baik dan mencegah terjadinya gesekan antara logam yang berakibat kerusakan mesin, tahan oksidasi sehingga lebih tahan lama, lebih ekonomis dan efisien serta dapat pula menguranggi terjadinya gesekan, meningkatkan tenaga dan mesin lebih ringan. (Saputra, 2000)

Teknik Kimia - ITATS

- 25 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Berdasarkan Viskositas Indeks (VI), pelumas dibagi menjadi 3 macam yaitu: a. HVI (High Viscosity Index) yaitu minyak lumas yang mempunyai harga VI berkisar 95-100 b. MVI (Medium Viscosity Index) yaitu minyak lumas yang memiliki harga VI berkisar 30-85 c. LVI (Low Viscosity Index) yaitu minyak lumas yang berkualitas rendah karena harga VI-nya hanya 0 – 10. (Mudjiraharjo, 2005) 4. Berdasarkan faktor kekentalan pelumas, pelumas dibagi menjadi 2 macam yaitu: a. Pelumas Single Grade (SG) merupakan pelumas yang tingkat kekentalannya diukur pada temperatur kerja mesin 0 – 98,9 ºC. Hal ini dapat dibaca pada kemasan yang dinyatakan dengan SAE 30, SAE 40 dan lain-lain. b. Pelumas Multi Grade (MG) merupakan pelumas dengan tingkat kekentalan yang tidak dipengaruhi oleh perubahan temperatur atau sering dikenal sebagai pelumas segala medan. 5. Berdasarkan Kegunaannya, Pelumas dapat disebutkan sebagai berikut: a. Minyak pelumas Hidrolik b. Minyak pelumas roda gigi industri ( roda gigi tertutup dan roda gigi terbuka) c. Minyak pelumas transformator d. Gemuk lumas (gemuk lumas kendaraan bermotor dan industri)

III.2.2 Bahan Baku Pelumas Secara umum, proses pembuatan pelumas berkualitas tinggi menggunakan dua jenis bahan baku, yaitu: 1. Base Oil (minyak dasar pelumas) 2. Aditif pelumas.

Teknik Kimia - ITATS

- 26 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Komposisi terbesar pada pelumas terletak pada kandungan base oil. Semakin tinggi kualitas base oil maka semakin tinggi pula kualitas pelumas tersebut. Sedangkan aditif diperlukan pelumas untuk melengkapi sifat-sifat atau karakteristik yang belum dimiliki base oil dan untuk meningkatkan kinerja pelumas yang dipengaruhi oleh jenis dan volume (secara kuantitatif) serta kualitas aditif yang digunakan. Secara umum komposisi pelumas adalah base oil sekitar 80% dan komposisi aditif sekitar 20% dari total peluams.

(http://www.petrocanada-imp.com)

III.2.2.1

Base Oil

Base oil adalah bahan dasar pelumas yang diperoleh dari crude oil (minyak mentah) dengan fraksi berat pengolahan dan penyulingan minyak bumi. Namun tidak semua crude oil dapat diolah menjadi base oil. Hanya minyak mentah dari jenis paraffinic, naftenic saja yang menghasilkan base oil berkualitas tinggi sebagai bahan dasar pelumas. Secara umum base oil mempunyai titik didih relatif tinggi diatas 400°C (700°F). Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan base oil berasal dari senyawa hidrokarbon yang mempunyai jumlah atom C berkisar 25 hingga 40 (C25 – C40) per molekulnya. Berdasarkan sifat bahan baku senyawaan hidrokarbonya, base oil dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan antara lain: (Mudjirahardjo, 2005) 1. Parafinik. Merupakan senyawa hidrokarbon jenuh (tidak mempunyai ikatan rangkap) dengan rantai atom karbon lurus (normal parafin) dan rantai atom C bercabang (iso parafin). Senyawa ini mempunyai viskositas paling rendah diantara naftenik dan aromatik tetapi memiliki viskositas indeks (VI) paling tinggi. Normal parafinid dan parafin mempunyai sedikit cabang mempunyai titik beku tinggi sehingga dapat meningkatkan titik tuang (Pour Point) dari minyak pelumas. Selain itu khas dari parafinik ialah memiliki keestabilan terhadap panas dan oksidasi yang tinggi.

Teknik Kimia - ITATS

- 27 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

2. Naftenik. Merupakan senyawa hidrokarbon jenuh dengan rantai atom karbon tertutup (siklik). Sifatnya secara umum memiliki indeks viskositas lebih rendah dari pada parafin serta mempunyai titik beku rendah dan tahan oksidasi. Naftenik ini juga disebut asphaltic, sifat lumas kondisi boundary baik, sifat alir temperatur rendah dan sifat pelarutnya baik. 3. Aromatik. Senyawa ini mirip dengan naftenik, hanya pada aromatik berupa senyawa hidrokarbon tak jenuh yang mempunmyai ikatan rangkap. Sifat pada senyawa aromatik adalah memiliki indeks viskositas rendah, mudah teroksidasi karena adanya ikatan rangkap tetapi tahan terhadap termal serta dapat membentuk asam dan lumpur (acid and sludge).

Parafinik Naftenik Aromatik

Gambar 3.1 Jenis bahan baku base Oil Pada proses pembuatan base oil terjadi melalui beberapa tahap yaitu sebagai berikut: 1. Proses pemisahan mineral-mineral seperti pelumas diesel maupun bensin 2. Proses penyulingan untuk menentukan tingkat viskositas. 3. Proses pencairan untuk meningkatkan fluiditas (sifat cair) pada temperatur rendah 4. Proses kestabilan untuk meningkatkan ketahanan oksidasi dan stabilitas panas 5. Proses pemurnian (solvent Refining Process) Secara sederhana proses pembuatan base oil dapat dijelaskan sebagai berikut: Pada awalnya, minyak ringan seperti diesel dan dipisahkan dari minyak mentah

Teknik Kimia - ITATS

- 28 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

pada penyulingan dengan tekanan atmosfer. Setelah dipisahkan, dimasukan kedalam tower penyulingan dengan hampa udara (Vacum) untuk menentukan tingkat viskositas tertentu. Kemudian dimasukan kedalam tower ekstraksi dimana dimasukan larutan seperti furfural dan dicampur untuk menyerap kurang lebih 7090% material aromatik yang ada. Selajutnya cairan tadi didinginkan pada temperatur rendah untuk membuang material atau cairan kuning yang kental dan dapat meningkatkan sifat cair pada temperatur rendah. Pada tahap akhir adalah proses finishing dengan menambahkan aditif dan zat pewarna yang disesuaikan dengan pemakaian. Proses ini dinamakan Mild Hydro Finishing dan dapat diilustrasikan pada gambar 2.1 (http://www.petrocanada-imp.com)

Atmospheric / Vacuum Distillation Solvent Crude Oil Gas Oil

Solvent extraction Solvent Dewaxing Lube Fractions

CONVENTIONAL BASE OIL

Gambar 3.2 Pembuatan Base Oil Berdasarkan API (American Petroleum Institut), diklasifikasikan menjadi 5 (lima) group antara lain: 1. Base Oil group I Merupakan base oil yang paling sederhana atau konvensional yang diproduksi dengan metode proses pemurnian biasa (solvent refining process). Base oil tipe ini banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pelumas yaitu sekitar 90%. Meskipun demikian, kualitas yang dimilikinya baik dan mampu bersaing harga dengan base oil group lainnya. Menurut API, hal ini didasarkan oleh perusahaan –perusahaan minyak dunia termasuk PT Pertamina yang selalu menunjang tinggi norma terbaik bisnis pelumas. Base pelumas dapat

Teknik Kimia - ITATS

- 29 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

oil ini harus mempunyai kandungan sulfur diatas 0,03% atau kandungan pengotor antara 20-30% termasuk kandungan logam seperti Fe, Zn, Ni, dan Cu. Selain itu, kandungan senyawa hidrokarbon jenuh kurang dari 90% dan stabilitas viskositas kurang dari 80-120 atau viskositas sebesar ± 4 centi stokes serta memiliki warna kuning lebih jernih. Produk PERTAMINA hingga generasi produk line sekelas prima XP sebagian besar difasilitasi oleh base oil jenis ini, dimana komposisi kandungan sulfur ini tidak mempengaruhi performa mesin. Pelumas yang dihasilkan merupakan pelumas jenis mineral. 2. Base Oil group II. Komposisi yang harus dimiliki oleh base oil group ini hampir pengotor sama dengan group I, yaitu kandungan sulfur kurang dari 0,03%, kandungan dibawah 10%, senyawa hidrokarbon jenuh >90% dan indeks viskositas 80-120 sehingga base oil group II ini lebih murni, lebih jenuh dan lebih stabil. Base oil jenis ini lebih baik dibandingkan dengan base oil group I. Namun, penggunaan pelumas base oil ini di dunia masih belum begitu besar. Pelumas yang dihasilkan dari group II diuga berupa pelumas sintetik. 3. Base Oil group III. Kualitas base oil group ini lebih unggul dimana kandungan sulfurnya kecil hanya dibawah 0,03% dengan warna coklat muda, kandungan senyawa hidrokarbon jenuh diatas 90% serta indeks viskositasnya didedikasikan khusus mobil kelas atas dan berteknologi baru. 4. Base Oil group IV Superioritas base oil ini diakui oleh banyak kalangan sebagai base oil yang paling canggih. Base oil ini digunakan untuk mobil-mobil formula I, racing, balap dan mobil ekstrim lain yang menuntut penggunaan pelumas berkualitas tinggi. Jenis pelumas yang dihasilkan yaitu pelumas sintetik pada senyawa minimal 120. Contoh produk PERTAMINA adalah Fastron Synthetic Oil 10W/40 yang

Teknik Kimia - ITATS

- 30 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

sintesis kimia Poli Alfa Olefin (PAO). Namun kelemahannya harga pelumasnya sangat mahal. Pihak PERTAMINA telah menyediakan pelumas dengan basic PAO ini yaitu Fastron Full Synthetic 0W/50 5. Base Oil group V API menyadari banyaknya base oil didunia ini sehingga base oil yang tidak termasuk dalam ke-4 group diatas dimasukan dalam kategori ini. Kualitasnya yang dimiliki beragam atau berfariasi. (Anonim, 2007) Jika dilihat dari ke-5 jenis base oil diatas produksi pelumas yang paling baik adalah base oil group IV dengan warna coklat pekat. Secara garis besar ke-5 base oil tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Base Oil group I II III IV V Kandungan Sulfur > 0,03 % < 0,03 % < 0,03 % Karakteristik Pelumas Dasar Kejenuhan Molekul < 90 > 90 > 90 PAO Viskositas Indeks < 80 - 120 80 - 120 > 120 >130

Pelumas dasar lainnya dengan kualitas bervariasi

Selain itu juga dikenal beberapa istilah yang biasa digunakan, antara lain sebagai berikut: 1. Composite yaitu base oil yang langsung diambil dari kapal tanker 2. Before yaitu base oil sebelum diterima oleh packcel baku. 3. After yaitu base oil yang diperoleh dari hasil pencampuran antara base oil composite dan before. Istilah-istilah ini juga biasa digunakan untuk aditif.

III.2.2.2

Additive Pelumas

Additive merupakan bahan kimia yang ditambahkan kedalam base oil yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pelumas. (Mudjirahardjo, 2005)

Teknik Kimia - ITATS

- 31 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Berbagai macam additive tersebut diberi nama menurut sifatnya dalam pelumas. Jenis bahan tambahan tersebut (aditif) antara lain bahan tambahan untuk menurunkan titik beku, meningkatkan indeks viskositas serta sebagai pemurni dan penyebar. Untuk dapat bercampur dengan base oil, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh additive sebagai pelumas yang berkualitas yaitu: (Wartawan, 1985) a. Dapat larut dalam minyak pelumas dasar (base oil) b. Harus memiliki kestabilan yang baik untuk jangka waktu yang lama c. Tidak memiliki bau yang merangsang d. Dapat bercampur dengan bahan-bahan additive lainnya. Additive dapat dibagi menjadi 2 bagian berdasarkan sifat atau karakteristiknya yaitu: 1. Additive yang mempunyai karakteristik Kimia. Meliputi anti oksidasi, anti korosi, anti keausan, deterjen dispersan, larutan alkali, oilness, tekanan ekstrim, dan lain sebagainya. 2. Additive yang mempunyai karakteristik Fisika. Meliputi penurunan titik tuang, index viskosity improver, anti busa dan lain sebagainya. Beberapa jenis additive penting yang diperlukan dalam proses pembuatan pelumas antara lain sebagai berikut: 1. Deterjent Dispersan Bahan additive deterjen yang digunakan untuk menjaga minyak lumas dalam kondisi tetap bersih. Additive ini aktif menghalangi terbentuknya endapan dan timbulnya lumpur pada operasi mesin kondisis normal. Adanya deterjen, lumpur dan endapan tetap larut dalam minyak lumas. Jika deterjen aktif untuk menghalangi terbentuknya endapan dan lumpur pada suhu normal mesin maka additive dispersan akan menghalangi terbetuknya endapan dan lumpur pada suhu tinggi. Pada kondisi kerja yang berat (heavy duty) dispersan akan aktif bekerja. Bahan yang terdapat didalam deterjen ini antara

Teknik Kimia - ITATS

- 32 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

lain Alkil Poliamide, Alkil P2SS Product, Suksinimida, Sulfonat logam netral, deterjen polimerik dan senyawa Amina.

2. Indeks Viskositas Improver Kondisi ideal dari suatu minyak pelumas adalah mempunyai viskositas atau kekentalan yang tetap walaupun temperatur berubah secara ekstrim. Namun, minyak pelumas tidak ada yang mampu untuk mempertahankan viskositas karena perubahan temperatur. Hasil pengolahan secara modern dari minyak bumi dapat menghasilkan fraksi minyak pelumas yang mempunyai perubahan viskositas relatif kecil terhadap perubahan temperatur. Akan tetapi hal tersebut belum dapat mengatasi kondisi ekstrim lingkungan seperti pada daerah beriklim sedang (memiliki 4 musim). Oleh karena itu diperlukan indeks viskositas improver untuk dapat meningkatkan kembali kemampuan minyak pelumas dalam mempertahankan viskositasnya terhadap perubahan temperatur, mengurangi, konsumsi bahan bakar, mengurangi penguapan pelumas dan menambah kemudahan penyialaan mesin pada suhu rendah pada start mesin awal. Senyawa yang berperan antara lain Poliisobutilena, metakrilat, polimer akrilat, dan kopolimer olefin. Dengan penambahan bahan additive ini diharapkan minyak pelumas dapat digunakan dengan baik didalam segala kondisi cuaca.

3. Penghindar Oksidasi Dan Korosi Oksidasi merupakan reaksi kimia antara minyak pelumas dengan oksigen. Oksigen yang bereaksi dengan minyak pelumas tidak hanya oksigen dari udara, akan tetapi juga dari kontaminasi seperti masuknya air kedalam minyak lumas. Senyawa yang berperan adalah sulfonat logam berbasa tinggi, ZDTP (Zinc Dithio Phosphates) dan amina aromatis. Reaksi oksidasi ini akan dipercepat jika suhunya semakin tinggi. Hasil dari reaksi oksidasi merupakan endapan, terbentuknya lumpur dan timbulnya asam-asam yang bersifat korosi. Fungsi dari bahan penghindar oksidasi (Oxidation Inhibitor) yaitu mencegah

Teknik Kimia - ITATS

- 33 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

terjadinya oksidasi, mencegah terbentuknya lumpur, mencegah terbentuknya asam dan membatasi kenaikan viskositas.

4. Pour Point Depressan Additive pour point depressan merupakan bahan yang menurunkan temperature titik tuang dari minyak pelumas. Senyawa yang berperan adalah Metha Crylate Polymers dengan berat molekul rendah, senyawa alkil naphtalene dan fenol.

5. Pembersih dan Anti Foam Additive sebagai pembersih mengandung larutan pembersih kotoran logam dan didalam pelumas itu sendiri. Kotoran-kotoran tersebut akan larut dan mengalir bersama pelumas sehingga akhirnya melewati saringan dan akan tertahan. Sedangkan additive anti busa dibutuhkan untuk mencegah munculnya buih pada pelumas akibat putaran mesin tinggi. Adanya gelembung udara akan mengganggu proses pelumasan jika gelembung tersebut menempel pada logam mesin. Logam yang berada tepat dibawah gelembung tidak terlapisi pelumasan. Sehingga pada saat gelembung pecah, logam dengan logam akan saling bergesekan sehingga mempercepat keausan. Senyawa yang berperan adalah polimer silikon.

6. Additive-additive Lainnya Bahan additive lainnya yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam proses pembuatan pelumas diantaranya sebagai berikut: a. Ekstrem Pressure anti wear, berperan dalam membentuk lapisan film pelindung pada mesin, mengurangi keausan dan menghindarkan goresan. Senyawa yang berperan antara lain ZDTP, tri-crecylphosphate, organic phosphat, senyawa klorin dan senyawa sulfur.

Teknik Kimia - ITATS

- 34 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

b. Friction Modifier, dapat mengurangi gesekan dan menaikan ekonomi konsumsi bahan bakar. Senyawa yang berperan adalah senyawa polar rantai panjang seperti amida. c. Rust Inhibitor, berperan dalam mencegah pembentukan logam melalui pembentukan rust pada permukaan logam melalui pembentukan lapisan film atau menetralkan asam yang terbentuk. Senyawa yang berperan adalah aditif basa tinggi, sulfonat, asam organik (ester) dan amina. d. Metal Deactivator, berperan dalam membentuk lapisan film sehingga permukaan logam tidak menjadi katalis terhadap oksidasi pelumas. Dalam hal ini dapat mengurangi efek katalis dari partikel-partikel keausan mesin dalam mencegah akselerasi proses oksidasi pelumas. Senyawa yang berperan adalah ZDTP, phenat logam, dan senyawa nitrogen organik.

III.2.3 Proses Pengujian Pelumas Pada pengujian pelumas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satu masalah yang dihadapi adalah masalah panas dan pengaliran pelumas cair (minyak lumas) dengan mudah kedalam mesin pada mesin start (dihidupkan). Pada masalah panas yang berkaitan dengan temperatur merupakan faktor utama terjadinya oksidasi. Oksidasi akan meningkat dua kali lipat untuk peningkatan temperatur operasi sebesar 10°C. Oksidasi ini merupakan faktor utama yang membatasi umur pemakaian pelumas. Pelumas berkualitas baik memiliki kemampuan mengendalikan kotoran yang masuk ke mesin. Tantangan lain dalam pelumas adalah mengalir dengan mudah pada waktu mesin dihidupkan awal terutama di pagi hari. Pelumas yang berkualitas akan memberikan perlindungan terhadap bagian-bagian yang bergerak terutama pada temperatur operasi yang relatif tinggi. Ada 4 macam kondisi yang perlu dicermati dengan seksama dalam suatu pelumas yaitu sebagai berikut: (Kedzierski, 2007) 1. Warna Pelumas

Teknik Kimia - ITATS

- 35 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Setiap pelumas mempunyai formula sendiri dalam hal pewarna. Merek yang satu berbeda dengan yang lain. Pada pelumas yang digunakan dimana dalam mengetahui kondisi pelumas tersebut dapat diketahui dengan cara tarik atau cabut pelumas (oil sick) dari blok mesin. Kemudian memperhatikan warna pelumas tersebut. Jika warnanya seperti coklat susu atau keputihputihan atau mirip emulsi berarti terdapat campuran air dalam pelumas. Kemungkinan air tersebut masuk melalui celah mesin atau dari kebocoran cairan pendingin. Warna pelumas tergantung dari merek yang didasarkan pada kekentalannya. 2. Jumlah Pelumas Saat pelumas diganti dengan yang baru, penunjukkan pada oil dipstick harus berada pada tanda F (full). Kemudian secara rutin dilakukan pemerikasaan. Perhatikan tanda ketinggian posisi pelumas setiap kali tongkat pengukir dicabut. Apabila dalam satu bulan diperlukan penambahan minyak pelumas yang agak banyak (topping Up) maka mesin kendaraan tersebut bisa dicurigai. Hal ini disebabkan oleh penambahan pelumas dalam jumlah yang cukup banyak menandakan ada yang tidak beres dalam mesin tersebut. 3. Keausan Mesin Penyebab keausan mesin dapat bermacam-macam, antara lain adanya celah diantara komponen mesin yang bergesekan terlalu besar. Akibat dari keausan ini maka pelumas mengalami penguapan. 4. Kekentalan Pelumas Kekentalan pelumas yang baik akan bertahan dalam jangka waktu pemakaian normal. Perlu memperhatikan adanya campuran dari luar yang berarti pelumas tersebut bercampur karena kepala silinder dan balok mesin mengalami kerusakan. Misalnya jika tercium bau bensin meski kerusakan ini jarang terjadi, hal tersebut menandakan adanya kebocoran pada silinder atau pada injektor bahan bakar.

Teknik Kimia - ITATS

- 36 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Dalam memperoleh pelumas yang berkualitas tinggi perlu memperhatikan 5 hal utama sebagai berikut: 1. Viskositas tinggi Semakin tinggi viskositas berarti pelumas tersebut tetap membentuk lapisan film pada bagian yang dilumasi terutama jika pelumas tersebut digunakan untuk mesin-mesin yang bekerja pada kondisi operasi yang berat. 2. Total Base Number (TBN) Pada pemeriksaan pelumas berkualitas tinggi, salah satu syarat mutlak yang harus dilakukan adalah mengetahui nilai dari TBN (jumlah angka basa). Secara umum, dengan mengetahui TBN ini dapat mengetahui pelumas yang diproduksi tersebut telah teroksidasi atau belum. Jika telah teroksidasi maka pelumas tersebut telah digunakan. Semakin besar nilai TBN maka makin besar kemampuan deterjensi dan dispersansi mampu menetralkan asam hasil oksidasi. 3. Indeks Viskositas Tinggi (high viscocity index) Adanya indeks viskositas tinggi berarti pelumas tersebut tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan perbedaan temperatur sehingga pelumasan tetap baik untuk daerah yang berbeda temperaturnya. 4. Pour Point Rendah Pada pelumasan yang mempunyai pour point rendah maka pelumas tersebut tetap berfungsi pada kondisi dingin khususnya pada saat start awal mesin. 5. Daya Tahan Terhadap Panas Dengan adanya daya tahan terhadap termal dan oksidasi maka pelumas yang digunakan tersebut tetap stabil, tidak mudah terurai pada kondisi panas dan teroksidasi selama pengunaan. Pada proses pembuatan pembuatan pelumas berkualitas tinggi maka perlu dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisika dan kimia sehingga kinerja serta

Teknik Kimia - ITATS

- 37 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

pelumas dalam mesin dapat berlangsung dengan baik. Pengujian karakteristik secara fisika dan kimia tersebut antara lain sebagi berikut: (Lemigas, 2004) a. Viskositas Kinetik pada 100°C Pengujian viskositas ada 2 macam yaitu viskositas dinamis dan kinetik. Pengujian ini terutama dilakukan pada viskositas kinetik dimana langsung berkaitan dengan pemakaian pelumas. Viskositas minyak lumas dipengaruhi oleh suhunya. Pada suhu tinggi viskositas minyak pelumas tidak boleh terlalu rendah karena lapisan pelumas yang berada diantara dua komponen mesin yang bergerak akan sobek dan terjadilah kontak antara komponen tersebut dan mengakibatkan terjadinya keausan. Sedangkan jika tekanan besar maka diperlukan minyak pelumas dengan viskositas yang tinggi. Disamping itu, viskositas tinggi berfunggi pula sebagai perapat. Namun, jika viskositas terlalu tinggi juga akan mempersulit penyusupan dan memperberat beban secara mekanis. Pengujian viskositas pada temperatur 100°C dilakukan dengan metode ASTM D-445 dan biasanya nilai viskositas berada diantara nilai minimun dan nilai maksimun. b. Viskositas Indeks (VI) Viskositas indeks merupakan bilangan empiris yang menunjukkn sifat perubahan viskositas minyak pelumas terhadap perubahan temperatur. Minyak pelumas denga VI lebih rendah adalah minyak pelumas dengan rentang perubahan viskositas yang lebih besar untuk perbedaan temperatur yang sama. Sedangkan pada minyak pelumas dengan indeks viskositas tinggi, pelumasannya akan berlangsung lebih baik dengan rentang perbedaan temperatur yang lebih lebar. Oleh karena itu, indeks viskositas minyak pelumas dibatasi oleh nilai minimunnya dan baik untuk pelumas monograde dan multigrade. Perhitungan dan pengujian VI dilakukn dengan metode ASTM D-2270 berdasarkan hasil uji metode ASTM D-445. c. Viskositas Pada Suhu Rendah (CCS) Viskositas minyak pelumas dipengaruhi oleh naik atau turunnya temperatur didalam minyak pelumas. Pada tempertur dibawa 0°C, minyak

Teknik Kimia - ITATS

- 38 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

pelumas tidak boleh terlalu cepat membeku supaya tetap dapat dipompa dan mesin dapat dengan mudah dihidupkan. Apabila beban / tekanan naik atau turun maka viskositas yang diperlukan adalah makin kental atau encer, apabila celah makin memperbesar maka diperlukan viskositas tinggi supaya fungsi perapatan tetap dipenuhi. Viskositas pada temperatur rendah khusus untuk minyak pelumas multigrade diklasifikasikan dan dibatasi minimun dan maksimunnya untuk tiap kelasnya. Pengujian viskositas pada temperature rendah dilakukan dengan metode ASTM D-5293 dimana minyak pelumas ini hanya digunakan untuk multigrade dan nilainya dibatasi dengan nilai maksimun. d. Viskositas pada Temperatur Tinggi (HTHS) Pengujian yang dilakukan sama dengan pengujian viskositas kinetik pada temperatur 100°C tetapi metode kerja pada viskositas suhu tinggi didasarkan pada ASTM D-4683 dimana nilainya dibatasi dengan nilai minimun. e. Titik Nyala (Flash Point) Titik nyala pada minyak pelumas adalah temperatur minimal dari minyak pelumas yang merupakan indikator mudah terbakar atau tidak mudah terbakarnya minyak pelumas tersebut pada temperatur operasi mesin. Selain itu, dapat pula mengidentifikasikan jenis base oil yang digunakan pada formulasi. Oleh karena itu, karakteristik titik nyala perlu dibatasi nilai minimunnya dan juga merupakan batasan nilai minimun. Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan alat COC didasarkan pada ASTM D-92 dan biasanya diukur dengan satuan derajat celsius.

f. Titik Tuang (Pour Point) Titik tuang merupakan indikator mudah atau tidaknya minyak pelumas tersebut membeku pada temperatur tertentu. Apabila minyak pelumas tersebut cepat membeku akan menyebabkan mesin tidak dapat dihidupkan karena minyak pelumas tidak dapat dipompakan dan pelumasan tidak terjadi. Selain

Teknik Kimia - ITATS

- 39 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

itu, dapat pula mengindentifikasikan jenis minyak pelumas dasar yang digunakan. Pengujian yang dilakukan didasarkan pada ASTM D-97. g. Total Base Number (TBN) Total base number merupakan karakteristik kimia yang menunjukkan kemampuan deterjensi dan dispersi serta kemampuan menetralkan asam hasil oksidasi dari minyak pelumas. Minyak lumas kendaraan harus mengandung deterjen didalamnya untuk melawan atau menetralkan asam-asam mineral yang terjadi akibat reaksi hasil pembakaran bahan bakar yaitu SO3, SO2 dengan H2O yang masuk ke ruang karter dan menjadi H2SO4 kemudian bercampur dengan minyak lumas. Asam ini bersifat korosit. Adanya deterjen yang bersifat basa maka asam sulfat yang terjadi dapat dinetralkan. Pengujiannya didasarkan dengan metode ASTM D-2896 dan nilainya dibatasi dengan nilai minimun tetapi dapat juga nilai minimun hingga maksimun. h. Kandungan Abu Sulfat Karakteristik abu sulfat ini berkaitan dengan TBN yang menunjukkan kuantitas aditif deterjen didalam minyak pelumas motor. Pengujian kandungan abu sulfat ini dilakukan dengan metode ASTM D-874 dimana logam-logam Ca, Mg, Zn yang terkandung didalam minyak lumas akan bereaksi dengan asam sulfat dan membentuk garam sulfat. Sehingga banyak abu sulfat yang terbentuk menunjukkan jumlah aditif yang tekandung didalam minyak pelumas. Persen berat dibatasi untuk nilai minimun. i. Sifat Pembusaan Sifat pembusaan ini merupakan kecenderungan atau stabilitas pembusaan minyak pelumas. Sifat pembusaan ini diuji dengan menggunakan metode ASTM D-892 yaitu untuk Seq I pada suhu 24°C. Apabila karakteristik pembusaan ini mempunyai nilai yang besar maka diperkirakan kandungan aditifnya kurang dan bila minyak pelumas tersebut digunakan pada waktu mesin beroperasi, busanya akan berlebihan sehingga yang dipompa oleh pompa minyak pelumas tidak hanya pelumasnya tetapi gelembung udara,

Teknik Kimia - ITATS

- 40 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

sehingga jumlah pelumas yang harus dipompa atau berada ditempat yang harus dilumasi kurang dan pelumasanya gagal dan terjadilah keausan logam. j. Sifat Penguapan, Noack Ninyak pelumas mesin mempunyai sifat dapat menguap pada temperatur tinggi yang berakibat meningkatnya konsumsi minyak pelumas. Hal ini dapat mengakibatkan kegagalan pelumasan tersebut karena jumlah minyak pelumas yang diperlukan tidak mencukupi. Pengujian sifat penguapan dilaksanakan melalui metode CFC-L-40-T-78 dan dibatasi pada nilai maksimum. k. Stabilitas Shear Minyak pelumas mesin mempunyai sifat yang dapat menurunkan viskositas bila terjadi shear / tegangan secara mekanis. Bilamana pelumas tidak mampu mempertahankan viskositasnya pada saat shear maka pelumasannya akan mengalami kegagalan. Pengujian karakteristik ini dilakukan dengan metode CEC-L-14-A-93 dengan nilai dibatasi hingga viskositas minimum sesuai SAE J300. l. Korosi Bilah Tembaga Korosi bilah tembaga adalah nilai standar tingkat korosi minyak pelumas pada suhu dan waktu tertentu. Minyak pelumas yang dimiliki tingkat korosi tinggi akibat fungsi perlindungan terhadap logam semakin rendah. Metode ini diuji dengan menggunakan metode ASTM D-130 dan nilainya dibatasi dengan nilai maksimum.

III.2.4 F a k t o r - F a k t o r y a n g M e m p e n g a r u h i M u t u P e l u m a s d a n M e t o d e Pengujiannya Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi mutu pelumas dan metode pengujiannya adalah : 1. Density (densitas) Kerapatan merupakan salah satu faktor penentu kualitas produk pelumas yang dipasarkan oleh Pertamina. Pengukuran kerapatan bertujuan untuk mengetahui besarnya mutu yang tampak dan kekentalan. Kerapatan

Teknik Kimia - ITATS

- 41 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

dapat dikatakan sebagai massa jenis pelumas sehingga kerapatan dapat juga, diartikan sebagai besarnya massa pelumas, per satuan volume. Pengukuran densitas menggunakan alat berupa hidrometer vang dicelupkan ke dalam larutan dengan melihat suhu yang tertera pada termometer, kemudian mengkonversikannya dengan tabel density 15 °C untuk menentukan kerapatan pelumas tersebut. Untuk pelumas dan BBM densitas yang biasa digunakan adalah densitas pada 15/4 T. Yaitu perbandingan antara suhu minyak dan suhu air. Suhu 15°C merupakan suhu minyak dan 4°C adalah suhu air. Metode pengujiannya adalah ASTM D- 1298 dengan menggunakan hidrometer yang dimasukkan dalam gelas ukur berisi sampel 1000 ml. Pembacaan dilakukan jika hidrometer mengapung dalam sampel diam dan tidak ada gelembung udara serta temperatur mencapai keseimbangan. Pembacaan pengamatan dirubah ke temperatur acuan dengan menggunakan Tabel density, 15°C 2. Viscosity ( viskositas) Viskositas merupakan suatu ukuran tahanan yang diberikan oleh suatu bahan cair untuk mengalir pada suhu tertentu. Viskositas akan berubah dengan adanya perubahan temperatur. Satuan viskositas yang banyak digunakan adalah centistokes (cSt = mm2/S). Selama mesin bekerja, suhu di dalam mesin semakin lama akan semakin meningkat. Kenaikan suhu menyebabkan viskositas pelumas semakin menurun. Hal ini sangat mempengaruhi gesekan antara bagian mesin yang bergerak. Untuk mengurangi gesekan antar metal yang dapat mengakibatkan keausan pada mesin diperlukan pelumas yang mempunyai viskositas index tinggi. Pengujian viskositas pelumas menggunakan metode ASTM D-445 dengan mengamati waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan pelumas dalam kapiler pada, suhu tertentu sehingga didapatkan harga viskositas kinematik dan pelumas. Sampel dengan volume tertentu ditempatkan dalam viskosimeter tube dan temperatur disesuaikan pada temperatur pemeriksaan kemudian dialirkan melalui kapiler dan dicatat waktu pengalirannya.

Teknik Kimia - ITATS

- 42 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Viscosity Index (viskositas index) Viskositas index adalah besarnya angka index atau skala kekentalan pelumas yang menunjukkan ketahanan viskositas pelumas terhadap perubahan temperatur. Standar temperatur yang digunakan untuk mengukur Viskositas Index (VI) adalah 40°C dan 100°C. Pelumas yang mempunyai VI tinggi tidak banyak mengalami perubahan viskositas dengan adanya perubahan temperatur. Metode perhitungan VI berdasarkan pengamatan viskositas pada suhu 40 °C dan 100 °C yang mengacu pada tabel viskositas index. 4. Warna Warna pelumas secara normal tidak ada hubungannya dengan sifat-sifat peluniasan kecuali untuk melihat adanya kontaminasi atau sebagai petunjuk untuk kesamaan dan produk yang bersangkutan. Warna juga sangat diperlukan untuk pelumas mesin tekstil agar produk tekstil tidak ternoda oleh tetesan pelumas. Metode pengujian warna pelumas adalah ASTM D-1500 dengan menggunakan suatu alat yang disebut colormeter. Warrna sarnpel dapat dilihat melalui penyinaran dengan sumber cahaya (dari colormeter) lalu membandingkannya dengan piringan gelas berwarna standar. Bila warna, yang tepat tidak ditemukan atau warna sampel berada diantara dua warna standar maka dilaporkan sebagai warna yang lebih tinggi. 5. Total Base Number (TBN) Total Base Number adalah sifat penting pelumas yang menunjukkan kemampuan menetralisir asam basil oksidasi, kemampuan detergensi dan dispersi guna membersihkan mesin dan kotoran atau deposit yang terbentuk dari hasil pembakaran bahan bakar maupun hasil oksidasi pelumas itu sendiri. Minyak pelumas baru dan bekas dapat mengandung konstituen basa yang berasal dari aditif yang ditambahkan. Konstituen yang mungkin menyebabkan sifat basa dapat berupa basa organik, basa anorganik. senyawa amino, garam asam lemah (garam sabun), garam dari basa poli asam dan garam dari logam-logam berat. Metode uji standar untuk angka basa produk

Teknik Kimia - ITATS

- 43 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

minyak

bumi

menggunakan

titrasi

potensiometri

asam

perklorat.

Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisikokimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya potensial elektroda indikator bergantung pada kepekatan ion-ion tertentu dalam larutan. Metode ini dapat diterapkan pada semua jenis reaksi yang sesuai untuk analisa titrimetri. Metode pengujian Total Base Number menggunakan ASTM D-2896. Sampel dilarutkan dalam campuran bebas air dan kloro benzena dan asam asetat glasial dan dititrasi dengan larutan asam perklorat dalam asam asetat glasial dengan menggunakan titrimetri potensiometrik. Digunakan juga elektroda indikator gelas dan elektroda acuan kalomel selajutny,a keduanya dihubungkan dengan larutan sampel melalui jembatan garam. Pembacaan meter diplot terhadap masing-masing volume larutan yang digunakan untuk titrasi dan titik akhir diperoleh pada garis belok kurva yang dihasilkan.

III.3

Kegunaan dan Pemakaian Pelumas Pelumas mempunyai peranan vital bagi kendaraan bermotor atau mesin-

mesin industri, sehingga pelumas yang digunakan harus tepat sesuai dengan kondisi mesin yang digunakan serta memenuhi syarat-syarat baik sifat-sifat secara fisika maupun secara kimiawi. Beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihan pelumas antara lain : 1. Tekanan bantalan 2. Kecepatan pergesekan 3. Bahan yang mengalami gesekan 4. Ruang antar bahan yang bergesekan 5. Aksesabilitas 6. suhu dan tekanan kerja. Pelumas bagi mesin tersebut erat kaitannya pula dengan pelumasan. Pada dasarnya pelumasan adalah pemisahan dari dua permukaan benda padat yang

Teknik Kimia - ITATS

- 44 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

bergerak secara tangensial terhadap satu sama lain dengan cara menempatkan suatu zat diantara kedua benda padat tersebut. Dalam pelumasan tersebut pelumas hendaknya memiliki beberapa hal antara lain: a. Jumlah yang cukup dan terus menerus dan tetap dapat memisahkan kedua benda sesuai dengan kondisi beban dan temperatur. b. Tetap membasahi permukaan kedua benda c. Sifat netral secara kimia terhadap kedua benda. d. Komposisi tetap stabil secara kimia pada kondisi operasional. (Anonin, 2003) Secara umum fungsi dasar pelumas adalah mengurangi gesekan dan mencegah keausan (wear). Berikut ini dapat diuraikan beberapa fungsi dari pelumas antara lain: 1. Mengurangi Gesekan. Dengan mengurangi gesekan berarti akan mengurangi energi dan mengurangi pemanasan lokal. Gesekan akan terjadi bila dua permukaan bahan yang bersinggungan digerakan satu sama lain. Gesekan inilah yang menyebabkan keausan. Adanya pelumasan berarti memasukan bahan pelumas antara dua bagian yang bergerak dengan tujuan mengurangi gesekan dan keausan. Ada 3 jenis gesekan yang sering terjadi adalah sebagai berikut : a. Gesekan Kering Terjadi bila tidak terdapat bahan pelumas dimana antara bagianbagian yang bergerak terjadi kontak langsung. Perlawanan gesekan adalah akibat dari kaitan berturut-turut dari puncak bagian-bagian yang tidak rata. Besarnya koefiesen gesek ditentukan oleh jenis permukaan yang saling bergeser, koefisien geser antara 0,3 hingga 0,5. Gesekan kering tidak diperbolehkan dalam peralatan teknik. b. Gesekan Zat Cair Dan Pelumas Penuh

Teknik Kimia - ITATS

- 45 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Gesekan zat cair terjadi bila antara permukaan terdapat suatu lapisan bahan pelumas yang demikian tebalnya, sehingga puncakpuncak yang tidak rata tersebut tidak saling bersinggungan. Dalam hal ini tidak terdapat gesekan kering antara bagian-bagian yang bergerak melainkan suatu gerakan zat cair antara lapisan-lapisan bahan pelumas. Besarnya koefisien gesek ditentukan oleh tebalnya bahan pelumas dan viskositas. c. Gesekan Setengah Kering Dan Pelumasan Terbatas Gesekan setengah kering terjadi jika antara permukaan terdapat lapisan bahan pelumas yang tebal sehingga puncak-puncak yang tidak rata masih dapat bersinggungan. Hal ini menyebabkan terjadinya gesekan kering sebagian dan gesekan zat cair sebagian. Besarnya koefisien gesek ini ditentukan oleh jenis bidang yang bergeser terhadap satu sama lain, tebalnya lapisan bahan pelumas dan viskositas serta daya lumas dari bahan pelumas. Koefisien daya lumas kira-kira 0,1. pelumasan yang terjadi pada gesekan setengah kering dinamakan pelumasan terbatas. 2. Mengurangi Keausan atau Wear. Hal ini dilakukan untuk menjaga peralatan pada mesin agar tetap bisa beroperasi untuk periode lama dan bekerja secara efisien. (Saputra, 2000) Penyebab terjadinya keausan pada mesin yaitu: a. Abrasif Pada keausan abrasif dilakukan oleh partikel padat yang masuk diantara permukaan yang dilumasi. Dengan minyak lumas yang mempunyai daya cuci dan daya semprot yang kuat partikel padat tersebut dapat diusir keluar dari permukaan yang dilumasi. (Wartawan, 1985) b. Korosi Pada keausan korosi disebabkan oleh bahan-bahan dari luar (kontaminasi) yang bersifat oksidatif yang telah masuk kedalam

Teknik Kimia - ITATS

- 46 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

minyak lumas. Biasanya hasil pembakaran pada motor bakar merupakan bahan oksidatif. Bahan oksidatif tersebut dapat berasal baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil pembakaran, pelumas biasa bersifat asam dan menjadikan korosi pada logam. Adanya uap air dapat pula menyebabkan karat pada besi. Biasanya minyak lumas ini dilengkapi dengan bahan aditif anti oksidasi ataupun anti korosi. (Saputra, 2000) c. Kontak Antara Logam Dengan Logam Pada keausan oleh kontak antar logam disebabkan oleh kehilangan kemampuan minyak lumas yang kemungkinan berasal dari berkurangnya jumlah minyak lumas yang disertai dengan kondisi kerja yang kelewat berat. (Wartawan, 1985) 3. Pendingin Pelumas khususnya pelumas yang berwujud cair (fluida) merupakan zat penukar panas antara bagian-bagian yang terpanasi akibat pembakaran (misalnya piston) dan sistem pelepas panas (misalnya jaket pendingin). Pada sistem lainnya yaitu pelumas sebagai pelepas panas dari hasil gesekan atau kerja mekanik lainnya. Sirkulasi pelumas seperti minyak lumas karter pada motor bakar memberikan kemungkinan untuk berfungsi sebagai pemindah panas. Minyak yang bersirkulasi melumasi daerah bersuhu tinggi (tuang bakar) kemungkinan kembali ke karter sambil melepaskan panas dan kembali seterusnya sehingga temperatur mesin tidak terus naik. (saputra, 2000) 4. Memindahkan Tenaga Pelumas sebagai pemindah tenaga dikenal dengan sembutan minyak hidrolik atau minyak rem. Oleh karena pelumas jenis ini mempunyai persyaratan tidak korosi atau bereaksi dengan peralatan sistem hidrolik baik terhadap pipa saluran maupun sekat-sekatnya. Selain itu, pelumas

Teknik Kimia - ITATS

- 47 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

hidrolik perlu pula tahan terhadap kondisi kerja dimana sistem hidrolik tersebut berlokasi. (Wartawan, 1985) 5. Pembersih Sebaiknya pelumas dapat pula mencegah terjadinya fouling serpihanserpihan yang dihasilkan dari proses mekanis, dari hasil degradasi pelumas itu sendiri maupun dari hasil proses pembakaran dan disebut dengan deposit karbon padat, varnish atau endapan. Hal ini dapat mengganggu pengoperasian alat. Kasus yang ekstrem adalah ring piston tidak dapat bergerak dan aliran minyak tersumbat. Hal ini dapat terjadi jika pelumas tidak mampu mencegahnya. (Wartawan, 1985) 6. Penyekat atau Seal Syarat utama pelumas ialah memiliki harga viskositas tertentu. Salah satu kegunaan sifat Viskositas ini adalah untuk memberikan kemampuan pelumas sebagai penyekat. Makin tinggi viskositas makin kental pelumas serta makin lebar sekat yang dapat dibentuk. Misalnya pelumas menjadi penyekat antara piston dengan silinder (piston ke ring dan ring ke dinding silinder) sehingga pelumasan mesin yang efektif mempunyai peranan penting untuk memperpanjang umur dan kinerja mesin. (Suyanto, 2001) Untuk mendapatkan fungsi-fungsi tersebut diatas berdasarkan tinjauan ekonomi, pelumas haruslah mempunyai sifat-sifat tertentu sesuai dengan alat dimana pelumas tersebut digunakan. Perlu adanya kesesuaian antara persyaratanpersyaratan yang saling bertentangan. Beberapa hal yang tidak diperkenankan dalam pelumas antara lain: 1. Mempunyai viskositas yang terlalu rendah. Hal ini akan memungkinkan kontak antara logam dengan logam yang dapat menyebabkan terjadinya wear serta dapat meningkatkan lepasnya atau hilangnya pelumas.

Teknik Kimia - ITATS

- 48 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

2. Mempunyai viskositas yang terlalu tinggi. Hal ini akan meningkatkan tenaga dan biasanya pada mesin dapat menyulitkan pada saat start. 3. Mempunyai Viskositas Indeks (VI) yang terlalu rendah. Hal ini berarti bahwa lapisan film pelumas tidak terlalu tipis pada saat temperatur tinggi atau tidak terlalu tebal pada saat temperatur rendah. 4. Terlalu mudah menguap. Tingkat penguapan tinggi (high volatility) akan menyebabkan tingkat konsumsi pelumas naik akibat teruapkannya kandungan ringan dari pelumas tersebut. 5. Berbusa saat digunakan. Jika berbusa, minyak akan kehilangan sifat pelumasnya. 6. Pelumas menjadi tidak stabil karena terhadap oksidasi ataupun reaksi kimia. Pelumas ditujukkan untuk temperatur tinggi dan mencegah kontaminasi asam atau zat kimia lainnya. 7. Merusak komponen sistem emisi, coating ataupun seal. Untuk kerja konventer katalis dapat didegradasi oleh pelumas yang tidak stabil atau menggunakan cat atau coating dan kebanyakan mempunyai sifat sebagai seal. Bahan-bahan ini dapat didegradasi oleh pelumas. 8. Menghasilkan deposit dari residu. Jika minyak pelumas mengalami dekomposisi karena adanya logam yang pedas (misalnya ring dalam suatu zona). Kondisi seperti ini dapat menghasilkan produk-produk oksidasi yang berpolimerisasi membentuk lapisan kuning atau coklat yang diketahui sebagai varnish atau lacquer. Jika hal ini terus berlanjut akan terjadi karbonisasi sehingga menjadi karbon padat. Deposit ini akan menganggu gerak pada bagian yang seharusnya bisa secara bebas gerakannya (misal ring piston). Selain tidak memproduksi deposit pada bagian yang tidak bergerak mesin, pelumas juga sebaiknya tidak menghasilkan deposit dirung pembakaran. Hal ini mendorong terjadinya penyulutan awal. 9. Beracun atau bau tidak sedap. Hal ini diperlukan untuk kenyamanan dan kesehatan pengguna.

Teknik Kimia - ITATS

- 49 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Berikut ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan pelumas antara lain: 1. Menggunakan pelumas berkualitas dari merek terpercaya, kualitas pelumas mesin menentukan keawetan mesin. 2. Memperhatikan angka viskositas indeks (VI), pelumas dengan harga VI tinggi (VI >150) umumnya baik untuk performa mesin. 3. Pelumas semi sintetik (blended) atau mineral hendaknya diganti setiap 4000-5000 km tetapi jangan dicampur dengan merek lain. 4. Pada pelumas oli sintetik hendaknya diganti setiap 7000-10000 km 5. Tidak dianjurkan menambah pelumas aditif kecil yang bersifat “slow sludge remover” yang dapat membersihkan oli pump, saluran pelumas, HLA (Hidraulic Lash Adjuster), batang klep (value stem) dan piston ring. (Wahyudi, 2004) Penggunaan pelumas pada mesin kemungkinan dapat terjadi kontaminasi dengan adanya benda-benda asing atau partikel pencemar didalam pelumas. Ada 8 macam pencemar (kontaminasi) yang biasa terdapat dalam pelumas, yaitu: (Ain, 2007) 1. Keausan elemen. Hal ini menunjukkan beberapa elemen biasanya terdiri dari tembaga, besi, kromium, alumenium, timah, molibdenum, silikon, nikel atau magnesium. 2. Kotoran atau jelaga. Kotoran dapat masuk kedalam pelumas melalui hembusan udara lewat celah-celah ring dan melalui celah lapisan pelumas tipis kemudian merambat menuruni dinding silinder. Jelaga timbul dari bahan bakar yang tidak habis. Kepulan asap hitam dan kotornya filter udara menunjukkan adanya jelaga. 3. Bahan bakar. Bahan bakar untuk kendaraan bermotor perlu pula kesesuaiannya dengan pelumas yang digunakan.

Teknik Kimia - ITATS

- 50 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

4. Air. Hal ini merupakan produk sampingan pembakaran dan biasanya terjadi melalui timbunan gas buang. Air dapat mamadat di crankcase ketika temperatur operasional mesin kurang memadai. 5. Etilen glikol digunakan sebagai anti beku. Namun, penggunaan zat ini kurang populer di Indonesia. 6. Produk-produk belerang atau asam. 7. Produk-produk oksidasi mengakibatkan pelumas bertambah kental. Daya oksidasi meningkat oleh tingginya temperatur udara masuk. 8. Produk-produk Nitrasi. Nitrasi tampak padda mesin berbahan bakar gas alam.

III.4

Badan / Lembaga Standarnisasi Pelumas Mutu dari suatu pelumas pada dasarnya tidak hanya dilihat dari

karakteristik secara fisika dan kimia tetapi juga dilihat pada kinerja didalam mesin atau peralatan yang ditunjukkan oleh produsen kepada konsumen harus memiliki serifikat kelayakan pemakaian. Sertifikat-serifikat ini haruslah berasal dari badan atau lembaga independent dan harus diakui secara international sebagai standar pelumas. Yaitu antara lain: 1. SAE (Sosiety of Automotive Engineers) Badan SAE membuat klasifikasi pelumas mesin berdasarkan tingkat kekentalan (Viskositas) pada temperatur 40°C, 100°C dan beberapa temperatur rendah (dibawah 0°C). Beberapa pabrik dapat digunakan. Contohnya SAE 40, SAE 15W/40. Angka yang terletak dibelakang huruf menunjukkan tingkat kekentalan. Sehingga pada SAE 40 menunjukkan pelumas tersebut mempunyai tingkat kekentalan 40 menurut standar SAE. Semakin tinggi angkanya maka semakin kental pelumasnya. Adapula kode angka multi grade seperti 10W/50 yang menandakan pelumas mempunyai kendaraan menentukan persyaratan minimal bagi kekentalan pelumas mesin yang

Teknik Kimia - ITATS

- 51 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

kekentalan yang dapat berubah-ubah sesuai temperatur disekitarnya. Huruf W dibelakang angka 10 merupakan singkatan Winter (musim dingin). Maksudnya pelumas yang mempunyai tingkat viskositas sama dengan SAE 10 pada suhu udara dingin dan SAE 50 ketika udara panas. Pelumas seperti ini sekarang banyak dipasaran karena kekentalannya fleksibel dan tidak cenderung mengental saat udara dingin sehingga mesin mudah dihidupkan dipagi hari. (Tambun, 2007) 2. API (American Petroleum Institute) Kualitas pelumas disimbolkan oleh API. Klasifikasi kualitas sebuah pelumas ditandai pada kemasannya dengan kode huruf, biasanya ada dua bagian yang dipisahkan dengan garis miring. Misalnya API service SG/CD, SH+/CE+. Ada dua type API yaitu S (Service) atau bisa juga (S) dan C (Commercial). Pada type S dapat diartikan sebagai spark-plug ignition (percikan api), yang digunakan pada spesifikasi pemakaian pelumas untuk mesin bensin. Sedangkan type C menunjukkan pada spesifikasi pemakaian pelumas mesin diesel. Kemudian untuk huruf kedua pada kode adalah tingkatan kualitas sesuai dengan urutan alfabet. Semakin mendekati huruf Z maka semakin tinggi atau baik kualitasnya. Istilah lainnya untuk penggunaan huruf kedua setelah kode tersebut, menunjukkan peruntukkan bagi kendaraan yang diproduksi pada tahun tertentu. Misal AP service SL berarti pelumas tersebut diperuntukkan bagi kendaraan bermesin bensin produksi tahun 2004 dan sebelumnya. Sedangkan pada API mesin diesel, misalnya adalah CI-4 yang digunakan untuk mesin berkecepatan tinggi, four stroke engines yang didesain untuk memenuhi standar emisi tahun 2004 dengan kandungan sulfur kurang dari 0.5%. Pelumas CI-4 diformulasikan untuk menjaga durabilitas mesin dimana gas buangnya sirkulasi ulang. Bila menggunakan mesin diesel berbeda dengan pelumas mesin bensin karena karakter diesel yang banyak menghasilkan

Teknik Kimia - ITATS

- 52 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

kontaminasi jelaga sisa pembakaran lebih tinggi. Klasifikasi sesuai dengan tingkat kemampuan pelumas dimulai dari terendah hingga tertinggi yaitu: Untuk mesin bensin: SA, SB, SD, SE, SF, SG, SH, SJ, SL,dan SM. Untuk mesin diesel: CA, CB, CC, CE, CF-4, CH-4 dan CI-4 3. ASTM (American Standar Testing and Material) ASTM merupakan organisasi international yang mengembangkan standarisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. Badang ASTM international berpusat di Amerika Serikat, yang dibentuk pertama kali pada tahun 1898. Standar ASTM banyak digunakan pada negara-negara maju maupun berkembang dalam penelitian akademis maupun industri. Contoh ASTM D-4927 digunakan untuk analisa kandungan logam (seperti Ba, Ca, P, S, Zn, dan Fe) dalam pelumas. (http://www.wikipedia.com/ASTM) 4. OEM (Original Engine Manufacturer) Badan ini mengklasifikasikan pelumas mesin berdasarkan kinerjanya pada Bench test dan engine test yang khusus disesuaikan dengan persyaratan pabrik mesin kendaraan di wilayah atau negara tertentu. 5. Badan International lainnya seperti JASO (Japan Automotive Standard Association), ACEA (Association Des Constructures Europeens d’Automobiles) DIN (Deutsche Industrie Norm) dan lain-lain, yaitu sebagai acuan untuk kinerja pelumas berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh lembaga independen industri pelumas international. Pada umumnya seluruh pelumas pertamina dibuat untuk memenuhi persyaratan-persyaratan international diatas antara lain pelumas mesin bensin, pelumas mesin diesel, pelumas roda gigi, dan pelumas industri. Pertamina juga dilengkapi dengan sertifikat khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia melalui Depperindag. Meskipun terdapat produk pelumas yang tertera API tetapi tidak terdaftar di Depperindag maka produk tersebut perlu dicurigai.

Teknik Kimia - ITATS

- 53 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK

VI.1

Pelaksanaan Praktek kerja lapangan dilaksanakan di Laboratorium UPPS selama 1

bulan yaitu tepatnya pada tanggal 22 Juli 2008 – 22 agustus 2008. VI.2 Agenda Kerja Praktek 4.2.1. Pengamatan dan pembahasan proses produksi 4.2.2.Pengamatan dan pemeriksaan pelumas 4.2.3. Analisa dan pembahasan pelumas

VI.3

Metode Pemeriksaan Pelumas Pada penentuan kualitas pelumas PERTAMINA menggunakan 4

VI.3.1 Penggunaan Sampel jenis pelumas sebagai sample untuk kerja produksi dengan asumsi bahwa sampel-sampel tersebut telah mewakili semua basil produksi pelumas PERTAMINA diantaranya : 1. Pelumas untuk mesin bensin 2. Pelumas untuk mesin diesel 3. Pelumas untuk mesin hidrolik 4. Pelumas untuk mesin roda gigi

VI.3.2 Cara Pemeriksaan Sampel Sampel yang telah disiapkan akan diperiksa untuk menentukan kualitas pelumas yang sesuai dengan standar dengan menggunakan metode ASTM. Metode ASTM merupakan metode standar yang digunakan untuk pengukuran kelayakan produk yang sesuai dengan standar.

Teknik Kimia - ITATS

- 54 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

VI.3.3 Tujuan Pemeriksaan Pada pengujian pelumas bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas pelumas dan proses pengukuran yang dilakukan pada pelumas untuk menentukan kualitasnya.

VI.4

Pembahasan Dalam memproduksi suatu pelumas yang berkualitas tinggi perlu

VI.4.1 Proses Produksi Pelumas memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu perlu pula memperhatikan alur produksi yang baik. Secara umum terdapat tiga unit utama yang terdapat di UPPS, yaitu Unit Pelumas, Unit Instalasi dan Unit Chemical. Ketiga Unit tersebut saling berkaitan. Pada unit pelumas berperan dalam memproduksi pelumas, Unit instalasi berperan dalam mengatur jalannya pelumas dalam jumlah yang besar, sedangkan Unit chemical berperan dalam mengecek kandungan kimia lain yang tidak diperlukan didalam produksi pelumas tersebut. VI.4.1.1 Ketentuan Alur Q1 hingga Q8 Salah satu proses pembuatan pelumas yang berkualitas tinggi perlu memperhatikan alur dari Q1 hingga Q8. Maksud dari Q yaitu perlu adanya pengaturan Quality Control (QC) yang dapat diilustrasikan pada gambar 4.1 Quality Control (QC) yang terdapat di UPPS Pertamina dapat dibagi menjadi 8 kelas, yaitu sebagai berikut: 1. Q1 : Quality control laboratorium dan material Pada Q1 berperan dalam mengontrol dan mengecek penerimaan bahan baku yang berasal dari tangki tanker. Selain itu jika pelumas tersebut telah dikemas dalam wadah plastik maka Q1 juga berperan dalam hal ini. Pembahasan lebih lanjut pada bagian alur produksi. 2. Q2 : Quality control laboratorium dan LOBP Pada Q-laboratorium bertangggung jawab atas kualitas produk. Sedangkan Q-LOBP bertanggung jawab atas jumlah (kuantitas) komponen yaitu mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi ke masyarakat.

Teknik Kimia - ITATS

- 55 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Q3 4. Q4 5. Q5 6. Q7 7. Q8 8. Q8 Q1

: QC Laboratorium : QC LOBP : QC Laboratorium : QC LOBP : QC Logistik : WPP Q1 Q1A

Additive Storage Q2

Base Oil Storage Q2

Gudang Material

Q2

Q3

Q3 Q4 Blending Tank Q6

Storage Tank

Filing Machine

Gudang Nusantara

Pasar

Q5 Q6 Drum Filing/Curah

Q7

Q8

Gambar 4.1 Alur Q1 hingga Q8

Teknik Kimia - ITATS

- 56 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Berdasarkan alur proses produksi pelumas terlihat bahwa yang paling berperan adalah Quality Control dari laboratorium. Laboratorium mempunyai peranan penting dalam menjaga kualitas pelumas yang dihasilkan. Peranan tersebut dimulai dari bahan baku berupa base oil dan aiditif yang didatangkan melalui tangki tanker hingga pendistribusian ke lapangan. Hal ini bertujuan untuk menguranggi adanya pemalsuan produk dan komitmen dari pertamina untuk melayani konsumen dengan sebaik-baiknya dalam menciptakan pelumas berkualitas tinggi.

VI.4.1.2

Alur Produksi Pelumas

Alur produksi pelumas secara umum dapat dibagi menjadi lima, yang di ilustrasikan pada gambar 4.2. Bagian yang berwewenang dalam mengatur jalannya proses produksi adalah LOBP (Lube Oil Blending Plant). Peranan LOBP ada lima, yaitu: 1. Penerimaan bahan baku Bahan baku utama dalam produksi pelumas adalah base oil dan additive. Base oil diproduksi oleh kilang Direktorat Hilir Bidang Pengolahan PT Pertamina (Persero) di Unit pengolahan atau kilang (UP) IV Cilacap. Sedangkan Additive sebagian besar diperoleh dari import dan kebanyakan dari negara Amerika Serikat, sisannya di datangkan dari UP IV Cilacap. Bahan bakar tersebut di datangkan melalui tangki tanker dari pelabuhan Tanjung Priok yang bersandar di dermaga umum milik Pelindo III Berlian Timur. Selanjutnya dari tangki tanker tersebut dipompa dan ditampung dalam tangki persediaan (Storage tank). Sehingga dalam hal ini sangat Selain menerima pembungkus kemasan pelumas. Pada penting saat ini dalam memperhatikan jarak dan lokasi bahan baku dengan proses pengolahan. pembungkusnya terbuat dari bahan plastik bukan kalen untuk menekan biaya produksi dan demi menjaga keamanan lingkungan. 2. Penimbunan bahan baku dan pembungkus

Teknik Kimia - ITATS

- 57 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Setelah menerima dari pemasok, LOBP berperan dalam melakukan penimbunan barang-barang tersebut. Pada bahan baku utama base oil ditimbun dalam tangki timbun. Pada Additive dapat ditimbun dalam tangki timbun maupun dalam dalam drum. Sedangkan pembungkus kemasan plastik disimpang dalam gudang material. Penimbunan Base Oil didalam tangki timbun ini untuk efisiensi waktu produksi karena Base Oil merupakan bahan baku utama (sekitar 80% dari produksi pelumas) sehingga proses produksi tersebut dapat diolah langsung kedalam drum galon melalui proses blending. 3. Proses Blending Proses blending adalah proses pencampuran Base oil dan Additive. Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Base Oil

+

Additive

Pelumas

* KP * Blending Prosedur KP adalah ketentuan pengolahan dalam hal ini formula atau komposisi yang digunakan. Sebelum dicampur dan dimasukan ke dalam gallon, base oil dialiri angin atau udara kering (menangkap angin dari udara kemudian dikeringkan dalam suatu alat) yang berguna supaya bahan baku tersebut terbebas dari uap air dan menggurangi terjadinya kontaminasi. Sedangkan pada aditif dipanaskan terlebih dahulu supaya aditif yang digunakan dapat bercampur sempurna dengan base oil. Proses pencampuran ini dilakukan dengan pemanasan pada suhu ± 60°C dalam suatu gallon yang berkapasitas 30000 liter dengan kode yang berbeda untuk mempermudah identifikasi pelumas yang dihasilkan. Di Indonesia, proses blending yang dilakukan oleh Pertamina dilaksanakan di Surabaya dengan kode 0805 dan di Jakarta dengan kode pengenalnya 0801

Teknik Kimia - ITATS

- 58 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

dan 0802. dalam hal 1 hari pelumas yang dihasilkan dapat mencapai 14000 liter. 4. Pengisian Pelumas Sebelum dan sesudah dilakukan pengisisan pelumas kedalam kemasan plasik dilakukan pengecekan dalam gudang material. Pengisisan pelumas ini berupa filing bulk, filing drum, dan filing lithos. Filing drum artinya pelumas dimasukan kedalam drum, biasanya berupa minyak curah. Sedangkan filing lithos yaitu pelumas dikemas dalam dalam suatu wadah plastik. Pengisian pelumas dalam lithos dibagi menjadi dua yaitu lithos 01 dan litos 02. Pengisian ini telah terjadwal artinya biasanya dalam 1 hari hanya diproduksi beberapa jenis merek tertentu dari Pertamina. Hal ini disebabkan oleh alat yang digunakan tebatas. Oleh sebab itu jika terjadi pergantian produksi pelumas dari merek yang satu dengan merek lainnya hanya dibersihkan melalui pelumas merek selanjutnya dengan cara penyemprotan. Sehingga tidak ada perilaku khusus ketika terjadi pergantianjadwal produksi pelumas.Filing lithos 01 dan 02 pada dasarnya sama, hanya jumlah pelumas yang dikemas berbeda. Pada filing lithos 01 hanya memproduksi pelumas dalam kemasan 0.8 dan 1 liter. Sedangkan pada pengisian lithos 02 pelumas yang dimasukan keadalam kemasan lebih besar dari 4, 5 dan 10 liter. Telah dikatakan di awal bahwa sebelum dan sesudah pengisian pelumas dilakukan pengujian didalam gudang material. Pengujian yang sering dilakukan adalah pengujian terhadap kardus, kemasan produk, tutup kemasan dan drum. Sampel yang digunakan sebagai pengecekan tersebut diambil secara acak. a. Pengujian Kardus Pengujian dan pengecekan yang dilakukan pada kardus antara lain tulisan (bentuk dan ukuran) Pertamina dan warna serta berat kosong yang dilakukan dengan alat timbangan manual Mullen Burst Tester. Dimana nilai tersebut harus masuk dalam batas interval minimun dan maksimun. Jika tidak termasuk dalam batas tersebut maka patut dicurigai. b. Pengujian kemasan

Teknik Kimia - ITATS

- 59 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Pengujian drum meliputi berat sampel dengan timbangan digital, garis marker atau tanda beth yaitu tanda pengaman yang terdapat mata ikan di botol, pengukuran tutup kemasandengan alat sigma digital. Jika kemasan tersebut telah terisi minyak pelumas maka diuji dengan cara dibanting suatu ketinggian tertentu untuk mengetahui daya tahan kemasan terhadap gesekan dan benturan. Pada kemasan yang berisi 0.8 L dibanting pada ketinggian 2.5 meter sedang kemasan 10 L dibanting pada jarak 2 m. c. Pengujian drum Pengijian drum ini dilakukan terutama jika drum tersebut telah terisi minyak pelumas. Caranya sama dengan kemasan yakni dibanting dengan posisi horisontal, vertikal ataupun posisi miring dengan alat House Screen. 5. Pengiriman Pada tahap terakhir, LOBP melakukan pendistribusian produk ke gudang Nusantara dan gudang Pasar Turi. Sedangkan produksi minyak curah langsung didistribusikan ke masyarakat melalui agen. Alur proses produksi ini dapat di perlihatkan pada Gambar 4.2 dibawah ini:

Teknik Kimia - ITATS

- 60 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Gambar 4.2 Alur Proses Produksi Pelumas

Teknik Kimia - ITATS

- 61 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

VI.4.2 Pengujian dan Analisa Pelumas Sebelum melakukan pengujian pelumas, dilakukan terlebih dahulu pembuatan pelumas yang dilakukan didalam laboratorium UPPS. Seperti dikemukakan pada Kajian Pustaka bahwa pelumas dibuat dengan mencampurkan Bse oil dan Additive dengan komposisi tertentu. Bahan-bahan Base oil dan additive memiliki wujud cairan baik berupa cairan kental maupun encer. Komposisi tersebut bergantung dari kualitas dan kegunaan produk pelumas yang dibuat. Pada pembuatan pelumas ini, sebaiknya terlebih dahulu memasukan bahan baku (Base Oil dan Additive) mulai dari komposisi yang paling ringan memiliki berat jenis lebih besar. Pada penimbangan bahan baku ini dianggap bahwa volumenya memiliki nilai yang sama dengan beratnya karena memiliki berat jenis mendekati angka 1. hal ini disebabkan oleh pelumas yang dibuat dalam kuantitas kecil. Namun, kenyataannya dalam pembuatan pelumas secara blending dilakukan berdasarkan volume bukan berat atau massanya. Jika dalam penimbangan ini terdapat kelebihan berat atau tidak secara kuantitatif maka bahan baku tersebut dapat diambil tetapi bahan baku tersebut tidak boleh dimasukan kembali kedalam wadahnya melainkan harus dibuang. Hal ini disebabkan oleh adanya densitas yang lebih besar secara umum pada bahan yang dimasukan dan ditimbang terlebih dahulu sehingga tidak mempengaruhi bahan yang akan ditimbang berikutnya. Pengukuran ini dilakukan di ruang Trial Blend. Pada ruang tersebut terdapat pula tempat penyimpanan bahan baku, retain produk, sampel penjualan pelumas dan master retain pelumas yang diletakkan berdasarkan kebutuhannya. Sedangkan bahan baku berupa base oil dan additive diletakkan secara terpisah. Sebaiknya base oil dan additive yang digunakan untuk pembuatan pelumas merupakan bahan baku Composite ataupun after. Setelah selesai melakukan penimbangan, maka dilakukan pengadukan atau mixer. Namun, dalam mempermudah pengerjaannya cukup dilakukan pemanasan pada suhu sekitar 60°C dan dibantu pengadukan untuk mempercepat proses pencampuran. Pemanasan dan pengadukan ini berguna memperbesar tumbukan sehingga proses pencampuran dapat berlangsung dengan

Teknik Kimia - ITATS

- 62 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

sempurna. Pada pembuat pelumas yang menggunakan pewarna, sebaiknya dibantu pula dengan pengadukan secara manual pada dinding atas gelas beker. Hal ini dilakukan supaya pewarna tersebut tidak menempel pada dinding atas karena dapat mempengaruhi intensitas warna pelumas. Proses ini dilakukan lebih kurang selama 15 min. Namun tidak terdapat batasan waktu berapa lama proses pemanasan dan pengadukan. Selanjutnya dilakukan pengukuran dan pengujian dari produk yang telah dibuat di Trial Blend. Di Trial blend ada 6 sampel yang telah dicoba dengan komponenkomponen dan asumsi yang berbeda untuk 6 jenis produk trial blend antara lain: 1. Sampel A : ( Pelumas Mesin Bensin ) Komponen AP 0710 0716 0712 13147 80149 % wt 51.80 20.00 24.50 3.70 10 ppm Total 2. Sampel B : ( Pelumas Mesin Diesel ) Komponen AP 0710 AP 0712 AP 1332 AP 6335 AP 9016 % wt 81.00 11.00 7.90 0.10 30 ppm Total % wt x 5 405.00 55.00 39.50 0.50 500 % wt x 5 259.0 100.0 122.5 18.5 500

Teknik Kimia - ITATS

- 63 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Sampel C : ( Pelumas Mesin Bensin ) Komponen AP 0710 0716 13147 93127 5516 60311 80149 % wt 71.00 16.10 4.00 1.40 7.00 0.50 10 ppm Total 4. Sampel D : ( Pelumas Mesin Diesel ) Komponen AP 0708 0710 1343 5316 6335 5. Sampel E : ( Pelumas 2Tak ) Komponen AP 0710 0716 0707 0712 1544 60311 9089 % wt 14.97 60.00 8.50 8.00 8.00 0.50 0.03 Total % wt x 5 74.85 300 42.5 40 40 2.5 0.15 500 % wt 40.70 41.40 12.20 5.50 0.20 Total % wt x 5 203.5 207 61 27.5 1 500 % wt x 5 355 80.5 20 7.0 35.0 2.5 500

Teknik Kimia - ITATS

- 64 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

6. Sampel F : ( Pelumas Roda Gigi ) Komponen AP 0716 0712 2337 6335 9089 % wt 35.00 57.695 6.5 0.8 0.005 Total % wt x 5 175 288.475 32.5 4 0.025 500

Pada produk pelumas yang dihasilkan untuk mengetahui kualitas dari produk pelumas yang dihasilkan maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melaksanakan beberapa pengujian. Proses pengujian ini antara lain sebagai berikut:

1. Viskositas Viskositas merupakan suatu ukuran tahanan yang diberikan oleh suatu bahan cair untuk mengalir pada suhu tertentu. Selama mesin bekerja, suhu didalam mesin semakin lama akan semakin meningkat. Kenaikan suhu menyebabkan viskositas pelumas semakin menurun. Hal ini sangat mempengaruhi gesekan antara bagian mesin vang bergerak. Untuk mengurangi gesekan antar metal yang dapat mengakibatkan keausan pada mesin diperlukan pelumas vang mempunyai viskositas index tinggi. Pengujian viskositas pelumas menggunakan metode D-445 dengan mengamati waktu vang dibutuhkan untuk mengalirkan pelumas dalarn kapiler pada suhu tertentu sehingga didapatkan harga viskositas kinematik dari pelumas. Adapun peralatan serta proses pengujian sebagai berikut :
A.

Alat-alat yang diperlukan : 1. Viskosimeter tube Ukuran kapiler viskosimeter tube terkalibrasi mempunyai harga tertentu yang merupakan faktor kalibrasi viskosimeter tube.

Teknik Kimia - ITATS

- 65 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

2. Bath Bath merupakan sebuah wadah yang diisi dengan cairan sebagai media pemanas dimana nantinya viskosimeter tube diletakkan. Bath diatur pada suhu yang konstan sesuai dengan suhu pengujian dengan ketelitian ± 0,020F untuk pengujian pada suhu 60°C keatas atau ± 0.05°F untuk pengujian 60°C kebawah. Pengujian viskositas pelumas menggunakan standar suhu 40°C dan 100°C. sehingga suhu 2 buah bath diatur pada suhu tersebut. 3. Stopwatch 4. Termometer 5. Penyangga Viskosimeter (viscosity holder) Berupa kayu berbentuk lingkaran dan mempunyai 2 lubang sebagai tempat masuknya ujung viskosimeter tube dalam bath. B. Cara Pengujian Viskosimeter pelumas yaitu: 1. Mengatur suhu kedua bath pada 40°C dan 100°C Memasukkan sampel pelumas kedalam viskosimeter tube yang telah dipilih dengan volume tertentu (sesuai dengan kapasitas kapiler). 2. Menempatkan viskosimeter tube yang telah diberi penyangga kedalam bath selama ½ jam agar suhu sesuai dengan suhu bath. 3. Mengalirkan sampel melalui kapiler dari batas atas ke bawah yang telah ditentukan pada kapiler. Pengujian dilakukan 3 kali baik pada suhu 40°C maupun suhu 100°C. Waktu diamati pada saat sampel mengalir melalui kapiler (apabila waktu pengaliran kurang dari 200 detik, percobaan diulang dengan memilih kapiler yang lebih kecil). 4. Menghitung viskositas kinematik dengan mengalirkan waktu aliran melalui kapiler dan faktor kalibrasi dari viskosimeter tube. Dengan menggunakan Label viskositas maka akan diperoleh viskositas index dari viskositas kinematik pada suhu 40°C dan 100°C. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Teknik Kimia - ITATS

- 66 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Produk

Viskositas Kinematik Viskositas Kinematik 40°C (cSt) 100°C (cSt) 13.66 14.15 17.40 14.92 7.391 16.87

Viskositas Index 102 105 122 148 125 95

Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F

128.8 132.1 155.4 105.2 45.79 187.1

Tabel 4.1. Hasil Pengujian Viskositas Pelumas
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Data  yang  diperoleh  dari  keenam  sampel  pelumas  menunjukkan  bahwa  sampel  tersebut  dapat  dikatakan  bermutu  baik  karena  baik  viskositas kinematik dan viskositas index yang diperoleh telah memenuhi  spesifikasi  mutu  yaitu  dapat  dilihat  dari  karakteristik  tipikal  masing‐ masing  pelumas.  Viskositas  index  menjadi  faktor  penentu  bagi  pelumas  untuk  mengurangi  gesekan  antara  bagian  dalam  mesin.  Selama  mesin  bekerja,  suhu  dalam  mesin  menjadi  semakin  lama  akan  semakin  meningkat dan mesin panas. Jika viskositas index suatu pelumas nilainva  kecil  maka  dengan  semakin  panasnya  mesin  (tinggi  suhu  dalam  mesin)  akan  menyebabkan  viskositas  pelumas  menurun  ditandai  dengan  semakin  encernya  pelumas.  Pelumas  yang  encer  akan  menyebabkan 

Teknik Kimia - ITATS

- 67 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

gesekan  antara  metal  dalam  mesin  lebih  sering  terjadi  sehingga  mesin  cepat  aus  dan  mungkin  tidak  dapat  bekerja  lagi.  Sebaliknya  jika  nilai  viskositas  index  suatu  pelumas  besar  dalam  mesin  yang  bekerja  dan  bersuhu  tinggi.  viskositas pelumas dipertahankan sehingga permukaan antar metal dalam mesin tetap licin dan gesekan hanya ter.jadi sekali-kali saja.

2. Warna (ASTM color / Visual) Penentuan warna produk minyak bumi digunakan terutama untuk keperluan kontrol pabrik dan suatu ciri mutu yang penting karena warna paling mudah teramati oleh pemakai produk. Warna bertindak sebagai indikasi dan tingkat kemumian bahan. dimana bila kisaran warna produk diketahui maka variasi diluar kisaran yang ditentukan dapat merupakan indikasi kemungkinan terkontaminasi dengan produk lain. Namun warna tidak selalu menunjukkan mutu produk. Pengujian warna sesuai dengan metode ASTM D-1500 yang telah dikalibrasi. Adapun peralatan dan prosedur pengujiannya vaitu : A. Peralatan dan bahan yang digunakan berupa : 1. Colorimeter, terdiri dari sumber cahava, gelas warna standar. rumah tabung contoh bertutup. 2. Tabung contoh. untuk pembanding yang diisi dengan air suling. 3. Tabung uji. ntuk tempat pelumas yang akan diuji warnanva. B. Proses atau cara pengujiannya vaitu : 1. Menempatkan tabung contoh pada rumah tabung- yang telah diisi dengan air suling paling sedikit sampai kedalaman 50 mm dalam kompartemen colorimeter. 2. 3. Memasukkan pelumas kedalam tabung uji sampai tanda batas. Memasukkan tabung uji yang sudah berisi pelumas kedalam kompartemen colorimeter lain.

Teknik Kimia - ITATS

- 68 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

4. Menutup kontainer (cutup colorimeter) untuk mencegah masuknva cahaya dari luar. 5. Menghidupkan sumber cahaya pada colorimete 6. Membandingkan warna contoh dengan warna sampel yang dilihat pada colorimetri. Warna sampel harus sama dengan warna contoh. 7. Jika warna telah sama maka dapat dicatat nilai dari warna yang tertera pada colorimeter. 8. Setelah itu tabung uji yang sudah dibandingkan warnanya dengan tabung contoh dikeluarkan dari dalam tabung kompartemen colorimeter. Dari pengujian mengenai warna terhadap 3 pelumas maka didapatkan datadata yang tidak jauh beda dengan standar yang diberikan perusahaan yaitu: Produk Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F Warna 2.5 4.5 2.5 3.5 Dark blue green

Tabel 4.2. Hasil Pengujian Warna Pelumas
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Pada proses pengujian warna terhadap pelumas hanya dilakukan pada pelumas yang berwarna kecoklatan selain warna tersebut tidak dilakukan pengujian hanya saja langsung disebutkan warna yang terlihat contohnya

Teknik Kimia - ITATS

- 69 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

pada sampel E dan F. Apabila dalam melakukan pengujian warna mengalami perbedaan maka kita ambil data yang condong kepada prosedur ASTM atau sesuai dengan nilai yang sering muncul. Dari situ kita dapat mengetahui standar warna, yang kita teliti pada sampel. Proses pengujian warna pada pelumas merupakan salah satu syarat yang harus dilakukan sebelum pelumas dipasarkan. Karena penentuan warna pada pelumas ini berfungsi untuk keperluan kontrol pabrik dan suatu ciri mutu yang sangat penting diantaranya pemeriksaan warna dipakai sebagai petunjuk tingkat oksidasi yang terjadi pada bahan bakar selama penyimpanan dan juga pemeriksaan warna diperlukan sebagai petunjuk adanya kontaminasi atau detereorasi selama penyimpanan, pengolahan dan transportasi. Dari hasil pengujian bahwa sampel warna pelumas yang ditunjukkan jauh dari karakterisasi tipikal maka perlu untuk pelumas tersebut diberi penambahan base oil tertentu agar mendapatkan warna yang sesuai dengan karakterisasi tipkal. Warna yang tertera pada tabel pengamatan menunjukkan ciri atau identitas bagi produk tersebut sehingga konsumen dapat lebih mudah mengidentifikasikan dan tidak tertipu dengan produk bajakan.

3. Densitas (Kerapatan) Kerapatan merupakan salah satu faktor penentu kualitas produk pelumas yang dipasarkan oleh PERTAMINA . Pengukuran kerapatan bertujuan untuk mengetahui besarya mutu yang tampak dari kekentalan. Kerapatan dapat dikatakan sebagai massa jenis dari pelumas sehingga kerapatan dapat juga diartikan sebagai besarnya massa dari suatu zat persatuan volume . Pengukuran densitas manggunakan alat yaitu hydro meter yang dicelupkan kedalam larutan dengan melihat suhu yang tertera pada termometer, kemudian menkonversikannya dengan tabel density reduction 15° C untuk menentukan kerapatan pelumas tersebut. Adapun beberapa alat dan proses kerja yang dilakukan yaitu : A. Peralatan yang digunakan :

Teknik Kimia - ITATS

- 70 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

1. Gelas ukur dengan kapasitas 500 ml 2. Hydrometer 3. Termometer B. Prosedur kerja: 1 2 Menuangkan bahan uji kedalam silinder yang bersih yang temperaturnya dibuat tetap. Sebelum hydrometer dimasukkan maka menghilangkan terlebih dahulu gelembung udara yang terbentuk yang terkumpul pada permukaan bahan uji dengan menyentuhnya dengan selembar kertas saring, yang bersih. 3 Menempatkan silinder yang berisi bahan uji pada posisi tegak ditempat yang bebas dari hembusan udara yang media temperatur sekitar tidak berubah lebih dari 2°C selama waktu yang diperlukan sampai pengujian selesai. 4 Memasukkan termometer yang sesuai atau alat pengukur temperatur dan bahan uji diaduk dengan batang pengaduk untuk mendapatkan temperatur dan kerapatan merata diseluruh silinder hydrometer. 5 Menenggelamkan hydrometer yang sesuai kedalam cairan dan melepaskan apabila telah berada dalam posisi keseimbangan, batang termometer yang berada diatas permukaan cairan dijaga agar tidak basah saat hidrometer mengapung bebas. 6 Membiarkan hydrometer dalam waktu vang cukup lama agar diam mengapung dan semua gelembung udara agar naik kepermukaan lalu menghilangkan semua gelembung udara sebelum melakukan pembacaan. 7 Untuk cairan transparan. mencatat pembacaan hydrometer yaitu titik pada skala hydrometer dimana permukaan cairan memotong skala dengan menempatkan mata sedikit dibawah level cairan.

Teknik Kimia - ITATS

- 71 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

8

Untuk cairan yang gelap pembacaan densitometer dicatat pada titik skala densitometer dimana cairan timbal dengan pengamatan oleh mata sedikit diatas permukaan garis permukaan cairan.

9

Setelah skala densitrometer dicatat maka dicatat pula suhu yang tertera pada termometer. Selanjutnya dengan hati – hati hydrometer dan termometer dikeluarkan dari silinder.

10 Mengkonversikan pembacaan skala hydrometer terkoreksi kerapatan relatif atau berat jenis API dengan menggunakan bagian yang sesuai dengan tabel pengukuran minvak (TPM) dalam ASTM D 1298. Dari pemeriksaan yang dilakukan maka didapatkan hasil yang telah dikonversikan kedalam tabel 150C yaitu:

Sampel Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F

Density OBS/Temp OBS Density at 15°C (kg/l) 0.8750 / 40°C 0.880 / 39°C 0.875 / 34°C 0.8740 / 34°C 0.866 / 35°C 0.890 / 34°C 0.8750 0.8934 0.8872 0.8862 0.8787 0.9021

Tabel 4.3. Hasil Pengujian densitas (kerapatan) pelumas
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Dari hasil pengamatan diatas dapat diketahui bahwa nilai yang tertera pada pembacaan densitometer bukan sebagai nilai kerapatan. Kerapatan relatif (berat jenis) diperoleh dari hasil konversi antara hasil pembacaan dengan suhu yang

Teknik Kimia - ITATS

- 72 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

tertera pada termometer. Faktor penentu kualitas pelumas bukan hanya berdasarkan pada hasil densitas. namum pengujian densitas dilakukan untuk menghitung volume menjadi satuan berat sebaliknya guna perhitungan biaya angkutan. Dari hasil pengujian keempat sampai pelumas produksi PERTAMINA telah memenuhi sttandar perusahaan sehingga layak untuk dipasarkan. 4. Total Base Number Minyak pelumas baru dan bekas dapat mengandung konstituen basa vang berasal additif yang ditambahkan. Konstituen yang mungkin menyebabkan sifat basa dapat berupa.basa organik, basa anorganik, senyawa, amino, garam asam lemah (garam sabun), garam dari basa poliasam, dan garam dari logam-logam berat. Metode uji standar untuk angka basa produk minyak bumi menggunakan titrasi potensiometri asam perklorat. Fisiokimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya potensial elektroda indikator bergantung pada kepekatan ion-ion tertentu dalam larutan. Metode ini dapat diterapkan pada semua jenis reaksi ternyata sesuai analisis titrimetri. Adapaun peralatan dalam bahan serta cara pengujianya vaitu : A. Peralatan dan bahan yang digunakan: 1. Titrasi potensiometri dengan pencatatan secara otomatis. 2. Elektroda gelas dengan pH 0 – 11. 3. Elektroda acuan, elektroda kalonel jenuh tipe selongsong dengan jembatan garam non akuatik. 4. Pengaduk listrik. 5. Buret ukuran 10 atau 20 ml dengan Skala 0.05 ml dan terkalibrasi dengan ketepatan 0.02 ml 6. Beaker titrasi, dari gelas borosilikat sekitar 150 ml. 7. Tiang titrasi untuk menjaga, beaker, elektroda, pengaduk dan buret. 8. Asam asetat glasial.

Teknik Kimia - ITATS

- 73 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

9. Anhidrida asam asetat. 10. Kloro benzena. 11. Larutan standar asam perklorat dalam asam asetat. B. Proses pengujian pelumas dengan metode titrasi potensiometri asam perklorat: 1. Standarisasi pereaksi Larutan asam perklorat distandarisasi dengan kalium hidrogen penthalat. Proses kerja yang dilakukan adalah: a. b. c. d. e. f. Memanaskan kalium hidrogen penthalat dalam selama 2 jam dan dibiarkan dingin. Menimbang 0.05 - 0.1 gr kalium hidrogen penthalat. Dilarutkan dalam 20 ml asam asetat glasial hangat. Menambahkan 40 ml kloro benzena. Menggunakan sistem elek-troda yang sama dengan titrasi sampel. Dititrasi dengan larutan HCl04 0.1 N. oven pada 1200C

2. Titrasi blanko terhadap 20ml asam asetat glasial dan 40 ml kloro benzena dengan HCl04 yang telah distandarisasi. 3. Titrasi Sampel a. b. Preparasi sampel Preparasi sistem elektroda Preparasi elektroda Pengujian elektroda Pencucian elektroda c. Preparasi kerja titrasi Menimbang , sampel ± 0.2 gr, besarnva sampel telah disesuaikan dengan standarisasi alat Menambah 60 ml pelarut titrasi yaitu (40 ml kloro benzen dan 20 ml asam asetat glasial) Menyiapkan elektroda yang telah dipreparasi Mengisi buret dengan larutan HCl04 0.1 N dan menempatkan buret dengan larutan pada posisi susunan peralatan titrasi

Teknik Kimia - ITATS

- 74 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Titrasi dimulai dengan mengatur kecepatan maksimal 1 ml/menit Pada peralatan dan cara Yang digunakan untuk menguji kualitas dari pelumas sangat berpengaruh terhadap hasil data yang diberikan. Karena ketepatan hasil akan sesuai dengan standar apabila proses dan fasilitas peralatan juga memenuhi standar. Untuk itu PERTAMINA menggunakan metode ASTM yang telah sesuai secara internasional. Hasil Yang diperoleh dari pengujian base number pelumas dapat terbaca langsung dari data base komputer yang terhubung langsung dengan elektroda dan penetrasi. Hasil yang diperoleh yaitu : Produk Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F Base number (mg KOH/g) 5.15 / 7.13 10.48 5.28 10.48 -

Tabel 4.4. Hasil pengujian Total Base Number
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Beberapa peralatan yang memiliki keunggulan sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil pengujian diantaranya elektroda gelas dimana elektroda ini tahan terhadap zat-zat lain dan juga tidak terganggu oleh zat dari pelarut yang kemungkinan mudah mengalami oksidasi ataupun reduksi sehingga zat yang akan dianalisa tidak terpengaruh. Selain itu pengaduk

Teknik Kimia - ITATS

- 75 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

magnet/listrik yang digunakan sangat relevan karena pengaduk ini dapat menjaga konsentrasi larutan sehingga konsentrasi menjadi seragam yaitu standarisasi penitrasi. Hal ini diperlukan terhadap hasil uji secara pasti besarnya konsentrasi dari penitrasi yang akan digunakan. Dari keenam sampel yang digunakan hanya 4 sampel saja yang digunakan yaitu sampel A, B, C, D, sedangkan untuk sampel E dan sampel F tidak menunjukkan adanya base number karena sampel ini tidak memiliki angka basa. Angka basa menunjukkan banyaknya asam perklorat yang dinyatakan dalam istilah dari sejumlah yang sama dari mg KOH yang diperlukan untuk titrasi 1 g sampel. Sehingga besarnya angka basa menunjukkan banyaknya kandungan berupa zat bersifat basa yang berasal dari additif dan base oil pelumas. Dengan adanya zat rang bersifat basa pada pelumas maka dengan sendirinya asam yang ditimbulkan dari mesin dapat ternetralisir. Dari data yang didapat menunjukkan bahwa sampel A memiliki base number yang lebih kecil dibandingkan sampel B ini membuktikan bahwa sampel A yang merupakan pelumas mesin bensin membutuhkan senyawa basa yang relatif lebih sedikit dibandingkan sampel B yang merupakan pelumas untuk mesin diesel, karena kondisi panas yang ditimbulkan dari mesin bensin yang akan mengakibatkan asam sedikit lebih rendah daripada mesin diesel. Kondisi asam yang ditimbulkan mesin berasal dari peristiwa oksidasi antara molekul pelumas dengan oksigen karena pelumas tidak hanya mengandung bahan yang bersifat basa melainkan juga terdapat bahan bersifat asam dari additif yang lain. Adapun proses oksidasi pelumas yang terjadi yaitu :

Teknik Kimia - ITATS

- 76 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Gambar 4.3 Proses Oksidasi Pelumas Sulfur yang terdapat pada pelumas berasal dari base oil dan juga additif Untuk itu pada pelumas mesin jumlah additif yang mengandung sulfur sengaja dikurangi untuk mencegah terbentuknya asam yang berlebihan dan juga pelumas mesin harus memiliki sifat yang mampu memisahkan diri dengan air sehingga mampu mengatasi timbulnya reaksi yang menyebabkan korosi. Asam yang terjadi akan menyebabkan korosi dan membuat kerusakan pada mesin. Untuk itu diperlukan suatu senyawa yang mengandung basa agar dapat menentralisasi asam. Pada pemeriksaan pelumas terdapat unsur basa yang mampu mengurangi terjadinya korosi yaitu unsur Ca, Mg, dan Zn. Unsur tersebut dapat dideteksi menggunakan spektrofotometri serapan atom. Reaksi yang, terjadi pada netralisasi yaitu Ca2+ Mg 2+ Zn2+ + 2H2SO4 + + 21H2SO4 2H2SO4 → → → CaSO4(↓) MgSO4 ZnSO4 + + + 2H2 2H2 2H2 (4) (5) (6)

Dari reaksi diatas menunjukkan bahwa ion Ca, Mg, dan Zn mampu mengikat sulfat dan membentuk endapan. Terbentuknya endapan menunjukkan bahwa kotoran yang disebabkan karena pembakaran dan oksidasi pelumas dapat terdispersi dengan baik sehingga kerusakan pada mesin akan terkendali. Untuk itu pelumas produksi PERTAMINA dapat

Teknik Kimia - ITATS

- 77 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

dinyatakan memilliki kualitas yang baik dan memenuhi spesifikasi mutu yang telah disesuaikan dari perusahaan.

5. Metal Content Metode uji ini meliputi penentuan Kalsium (Ca), Zenc (Zn), Magnesium (Mg), Sulfur (S) dalam pelumas tak terpakai pada rangge konsentrasi elemen 0.03 – 0.1 % massa (0.01 – 2.0 % massa untuk Sulfur). Selain itu pula metode ini juga meliputi perhitungan sulfur dalam hidrokarbon seperti diesel naphta, kerosine. residuals, base oil pelumas dari hidrolik, bahan bakar pesawat, dll. Fungsi dan kegunaan dari uji ini yaitu menentukan kualitas dari minyak karena kualitas dari minyak pelumas berhubungan dengan jumlah kandungan sulfurnya. Tetapi standar uji ini tidak ditujukan untuk semua pertimbangan keselamatan berkaitan dengan penggunaannya. Adalah tanggung jawab pengguna standar untuk menentukan pengamanan yang tepat. Pengujian metal content sesuai dengan metode ASTM D 3120 yang telah dikalibrasi. Adapun peralatan, material dan proses pengujiannya antara lain yaitu A. Peralatan dan bahan yang digunakan berupa : Energy dispersive X-ray Flourescence Analyzer terdiri dari : 1. Sumber X-ray dengan energi diatas 2.5 KeV 2. Sample Cell tebal 4 mm dengan X-ray transparan film yaitu film tipis transparan yang terbuat dari poliester, polypropilene. polikarbonat (semua bahan harus bebas dari sulfur} 3. X-ray detek-tor dengan sensifitas 2.3 KeV dan nilai resolusi tidak melebihi 800 eV. 4. Filters, memisahkan radiasi Kα dan X-ray dengan energi yang lebih tinggi lainnya. 5. Signal Conditioning and data electronics berfungsi sebagai menghitung intensitas X-ray dari 2 bagian energi dan mengkonversi intensitas menjadi prosentase. 6. Display/printer untuk menampilkan hasil dari % massa komponen.

Teknik Kimia - ITATS

- 78 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

B. Persiapan sampel. kalibrasi, dan standarisasi Persiapan sampel : 1. Sampel diletakkan dalam sampel cell dan diusahakan tidak ada gelembung udara didalamnya. 2. Jika menggunakan sampel cell yang bisa dipakai berulang kali maka harus dikeringkan dan dibersihkan terlebih dahulu. 3. Ketidakmurnian / variasi kekentalan sampel yang berakibat pada penghitungan sulfur pada level rendah ditemukan pada film yang terbuat dari poliester. Persiapan standarisasi dan kalibrasi : 1. Meskipun mungkin untuk melakukan sekali kalibrasi, tetapi sangat dianjurkan untuk sebisa mungkin melakukan kalibrasi diesel yang bertujuan untuk menganalisa komponen pada tingkat rendah. 2. Buat standar utama yang terpisah pada, skala 0.1 dan 5% massa unsur. Kandungan unsur pada setiap standar dihitung sampai 4 desimal (4 angka penting). 3. Menyiapkan kalibrasi standar dengan jumIah range konsentrasi yang teridentifikasi pada tabel 2 untuk 2 range. 4. Pengesetan alat sesuai dengan instruksi dari pabrik, sebisa, mungkin peralatan harus tetap terisi energi untuk menjaga kestabilan optimum. C. Proses atau cara pengujian yaitu 1. Setelah kalibrasi alat dilakukan, maka penuhi tiap, cup atau sampel cell setidaknya ½ penuh dengan solut standar kalibrasi. Pastikan tidak ada kerut atau terlihat gelembung dalam film. Film harus datar. 2. Tempatkan sampel cell dalam pancaran sinar-X untuk mengukur dan merekam intensitas bersih (intensitas puncak – intensitas latar). 3. Meskipun radiasi X-ray menembus hanya dengan jarak pendek kedalam sampel, hamburan dari sampel cell bervariasi. Karena itu peng analisa harus memastikan bahwa sampel cell harus terisi sampai diatas kedalaman minimum.

Teknik Kimia - ITATS

- 79 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

4. Periode hitung sampai 60 S dapat digunakan untuk tiap posisi panjang gelombang. Lakukan hal ini untuk tiap standar kalibrasi untuk tiap unsur. 5. Setelah didapat grafik unsur kandungan dari bahan maka dilakukan analisis untuk tiap kalibrasi unsur dengan data base yang telah disimpan dalam perangkat program komputer.

Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: Sampel Calsium (Ca) Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F 0.1590 0.293 0.1785 0.296 Tabel 4.5.
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F

Metal Content Zinc (Zn) 0.0785 0.125 0.1001 0.133 Magnesium (Mg) 0.046 0.055 Sulfur (S) 2.4658

Hasil Pengujian Metal Content
: Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Pada proses pengujian yang dilakukan sangat sederhana karena menggunakan perangkat komputer yang sudah menyimpan data unsur-unsur kandungan dari bahan-bahan pelumas tetapi menghasilkan informasi yang

Teknik Kimia - ITATS

- 80 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

akurat unsur-unsur yang terkandung dari pelumas yang diproduksi oleh PT. PERTAMINA. Dari empat pelumas yang diuji bahwa hanya pelumas mesin roda gigi yang mengandung sulfur sedangkan untuk pelumas yang lainnya mengandung Kalsium dan Zink. Unsur Sulfur pada pelumas roda gigi berfungsi sebagai penyekat roda gigi sehingga gesekan perputaran dapat berjalan dengan baik. Dan juga sulfur yang terdapat pada additif dapat melapisi permukaan metal yang akan mengatasi gesekan antara metal pada roda gigi sehingga timbulnya panas dan keausan dapat terkendali dengan baik.

6. Flash Point COC (Titik Nyala) Pengujian Flash Point ini dengan menggunakan Cleveland Open Cup (COC). Peralatan yang digunakan terdiri dari cawan, pelat pemanas, aplikator api penguji, pemanas dan penyangga tempat termometer. Metode pengujian sesuai dengan ASTM D-92, sebagai berikut : 1. Menempatkan peralatan COC diatas meja / tempat yang kuat 2. Pengujian dilakukan dalam ruangan yang bebas aliran udara dan dilakukan dalam lemari asam 3. Mencuci cawan dengan pelarut pembersih untuk menghilangkan sampel sebelum digunakan, bila perlu semprot cawan dengan air dingin dan keringkan selama beberapa menit diatas api atau hot plate untuk hilangkan sisa pelarut dan air 4. Memasukan sampel uji dalam cawan hingga tanda batas bagian atas 5. Pasang peralatan pengukur temperatur dalam posisi vertikal dengan dasar peralatan pada jarak ± 6.4 mm diatas dasar bagian dalam cawan uji dan alat terletak pada titik tengah antara pusat dan tepi cawan uji dalam satu diameter tegak lurus terhadap lingkaran lintasan api penguji dan pada sisi yang berlawanan dengan posisi aplikator api penguji. 6. Sampel dipanaskan perlahan, dimana pada selang waktu tertentu dilewatkan api penguji melintas diatas cawan.

Teknik Kimia - ITATS

- 81 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

7. Amati perubahan yang terjadi. Pada pengujian ini jangan sesekali meninggalkan tempat uji yang dapat berakibat kebakaran. Jika mulai timbul asap, amatilah dengan seksama 8. Pada saaat muncul api yang pertama, maka itulah yang disebut Titik Nyala (Flash Point) dan lihat temperature terjadinya api pertama tersebut dan mencatatnya. Untuk membuktikan percikan api tersebut tunggu percikan api kedua, jika terjadi dalam waktu berdekatan maka api pertamalah yang merupakan flash point. Secara sederhana flash point dapat diartikan sebagai temperature terendah dari sampel pada saat dilewatkan api menyebabkan terjadinya percikan api sekejap. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut: Sampel Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F Tabel 4.6.
* Sampel A * Sampel B * Sampel C * Sampel D * Sampel E * Sampel F : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas Mesin Bensin : Pelumas Mesin Diesel : Pelumas 2Tak : Pelumas Roda Gigi

Flash Point (°C) 258 265 250 232 140 Hasil Pengujian Flash Point

7. Pour Point (Titik Tuang) Pengujian dan pengukuran Pour Point dilakukan dengan menggunakan alat uji Pour Point. Metode uji yang berlaku adalah ASTM D 97-05a :

Teknik Kimia - ITATS

- 82 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

1. Menuangkan sampel kedalam tabung uji hingga tanda batas miniskus. Bila perlu, panaskan sampel dalam penangas sampai dapat cukup mengalir untuk dituangkan ke tabung uji. 2. Tutup tabung Uji dengan gabus yang dilengkapi dengan termometer 3. Periksa bahwa piringan, jaket dan bagian dalam jaket bersih dan kering. Masukan tabung uji yang berisi sampel dengan sumbat beserta termometer kedalam dasar jaket. Pasang jaket di sekeliling tabung uji supaya uap dingin yang berisi aseton tidak keluar 4. Penempatan tabung uji pada jaket ini dimulai dari 0, -17, -34 hingga 54°C. 5. Amati perubahan yang terjadi. Pemeriksaan Pour Point didapat pada suhu tertinggi dimana minyak sudah tidak dapat dituang. Artinya jika pada sampel, cairan tidak bergerak atau dituang dalam 5 detik maka pada kondisi tersebut merupakan titik tuang (Pour Point) pengamatan. Titik tuang ini sebenarnya ditentukan dengan menambahkan 3°C pada temperature pour point pengamatan. (T = T0 + 3°C). Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut: Sampel Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F Tabel 4.7. Pour Point (°C) -10 -15 -15 -19 -17 -25 Hasil Pengujian Pour Point

8. Foaming Characteristics (Pembusaan) Pengujian Foaming Characteristic sesuai dengan metode ASTM D 892-05 antara lain sebagai berikut: 1. Memasukan sampel kedalam gelas ukur uji sebanyak ± 200 ml.

Teknik Kimia - ITATS

- 83 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

2. Masukan gelas tersebut kedalam penangas foaming 3. Pasang separangkat alat test foaming 4. Diamkan sampel dalam penangas hingga temperature sampel sama dengan temperatur penangas yaitu menunjukkan angka 93.5°C, tekan tombol start pada layar alat test foaming maka peniupan dengan aliran udara 94 ml/min selama 10 min (600 detik) dimulai. 5. Catat tinggi busa pada peniupan 300 detik sebagai stability sequence II 6. Keluarkan gelas uji dan biarkan hingga dingin. Sambil menunggu dingin cuci alat peniup dengan menggunakan aseton dan keringkan. Hasil dari Foaming ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Sampel Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Sampel F Tabel 4.8. Foaming T/S Seq I/II/III (ml) 0/0/0 0/0/0 0/0/0 0/0/0 0/0/0 0/0/0 Hasil Pengujian Foaming Characteristic

Hasil Foamingnya ( 0 / 0 / 0 ) berarti pada sampel tersebut tidak terlihat busanya

Teknik Kimia - ITATS

- 84 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1

Kesimpulan Pada bahasan dan uraian mengenai langkah-langkah serta hasil dari kualitas pelumas dan uraian tentang faktor-faktor
lingkungan

penentuan

yang
yang

menentukan kualitas pelumas maka dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Pelumas produksi PERTAMINA memiliki standar terakriditasi sesuai dengan ISO 14001 dan ISO 9001.,.

2. Pelumas produksi PERTAMINA sesuai dengan formula kinerja mesin. 3. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas suatu pelumas meliputi : kekentalan pelumas, viskositas index, base number, warna densitas dan metal content.
4. Pelumas produksi PERTAMINA telah diuji di laboratorium yang telah terakriditasi sesuai dengan ISO 17025. 5. Pelumas produksi PERTAMINA diuji dengan menggunakan metode ASTM. 6. Suatu pelumas harus mampu mencegah dan mengurangi tingkat keausan mesin yang disebabkan adanya gesekan pada bagian mesin yang bergerak. 7. Pelumas harus mampu mencegah dan menguranggi keausan mesin yang disebabkan adanya gesekan pada bagian mesin yang bergerak. Untuk itu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pelumas tersebut adalah pour point dengan derajat yang rendah dan Viskositas Index (VI) yang tinggi (sesuai dengan standart). Semakin tinggi VI pelumas maka semakin bagus kualitasnya dan sebaliknya semakin rendah VI pelumas maka semakin rendah pula kualitasnya. 8. Setiap jenis pelumas memiliki standart atau spesifikasi formulasi yang telah ditetapkan dan sesuai dengan penggunaan metode. 9. Pelumas mempunyai kemampuan untuk menguranggi terjadinya kotoran atau kontaminan, sehingga kerusakan pada mesin dapat terkontrol dengan baik yang dapat dibuktikan dari warna pelumas yang bersih/jernih dan juga titik nyala yang relatif lebih besar sesuai dengan standart.

Teknik Kimia - ITATS

- 85 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

V.2

Saran

Dari kesimpulan diatas, maka penyusun dapat menyarankan bahwa: 1. Sebaiknya pihak pertamina selaku produsen pelumas ke masyarakat memberikan sosialisasi mengenai penggunaan pelumas yang tepat untuk keberlangsungan kinerja mesin. 2. Perlunya dilakukan inovasi serta peningkatan mutu dari produk pelumas pertamina, sesuai dengan tuntutan perkembangan mesin kendaraan maupun mesin-mesin industri serta kebutuhan dari masyarakat, sehingga dapat bersaing dengan produk pelumas lain dan yang terpenting produk yang dihasilkan harus ramah lingkungan. 3. Perlunya pengawasan yang lebih dari pihak pertamina, terhadap produk pelumas pertamina yang beredar di masyarakat untuk mencegah pemalsuan yang sangat merugikan kosumen.

Teknik Kimia - ITATS

- 86 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

DAFTAR PUSTAKA

Anonim ; (1991) ; “Metode Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar dengan COC” ; Standar Nasional Indonesia, SNI 06-2433-1991. Anonim ; (2000) ; “Klasifikasi Pelumas Dasar Menurut API” ; Lubricants Thecnical Services, http://www.petrocanada-imp.com/api-ind.htm Anonim ; (2003) ; “Bahan Pelumas” Kompetensi : Teknologi Bahan dan Teknik Pengukuran, TPL-Prod/H.03, Bagian Proyek Pengembangan Kurikulum Dikmenjur, DepartemenPendidiakna Nasional Anonim ; (2004) ; “Makna Karakteristik Fisika-Kimia” , Lampiran C, Lemigas Anonim ; (2004) ; “Memilih Pelumas Yang Tepat” ; http://www.republika.co.id.htm, Anonim ; (2005) ; “Klasifikasi dan Spesifikasi Pelumas” Bagian 8 : Gemuk Lumas Kendaraan Bermoto, Standar Nasional Indonesia, SNI 06-7069.8-2005 Ain, Man ; (2007) ; “Oli (Pelumas)” ; http://www.sheldiez.panglimaorganizer.com.htm ASTM D 92 ; (2007) ; “Standard Test Method for Flash and Fire Points by COC” ;1-5 ASTM D 445-97 ; (2007) ; “Standard Test Method for Kinematic Viscosity of Transparent and Opaque Liquid (The Calculation of Dinamic Viscosity)” ; 1-9 ASTM D 1298-99 ; (2007) ; “Standard Test Method for Density, Relative Density (Specific Gravity), or API Gravity of Crude Petroleum and Liquid Petroleum Product by Hidrometer Method” ; 1-11 Finch, Stephen ; (2007) ; “Evaluation of New Field Test Method for Base Number and Acid Number in Lubricating Fluid” ; Hamden, Dextil Coorporation Kedzierski ; (2007) ; “ Effect of Refrigenant Oil Additive on R134a and R123 Boiling Heat Transfer Performance” ; Journal of Refrigeration 30, Elsevier, 144154. Mudjirahardjo dan Haryono ; (2005) ; “Pengetahuan Produk Minyak Lumas” ; Lembaga Pengabdian Masyarakat, LPM-STEM

Teknik Kimia - ITATS

- 87 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Saputra, A. Handaya ; (2000) ; “Sekilas tentang Minyak Pelumas” ; Dimensi, Vol 3 No. 2 , 34 – 36 Suyanto ; (2001) ; “ Bahan Bakar dan Minyak Lumas” ; Sekolah Tinggi Perikanan – Jakarta Suyanto ; (2007) ; “Pengantar Proses Industri Kimia” ; FMIPA, UNAIR, 6-8 ; 14-15 Tambun, Rondang ; (2007) ; “Buku Ajar Teknologi Oleokimia” ; Bab IX: Pelumas / Grease, Teknik Kimia USU Wahyudi, Artanto dan Firmansyah Saftan ; (2004) ; “Rangkuman Tips Otomotif dengan Daftar Masalah dan Schedule Perawatan bertujuan agar Kendaraan Berjalan Selama dan Sejauh Mungkin” ; Beginner Fries-IDMOC Wartawan, Anton ; (1985) ; “Fungsi Minyak Lumas pada Mesin” ; LEMIGAS, No. 4 , 73-81

Teknik Kimia - ITATS

- 88 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

LAMPIRAN
A. Lampiran sampel 1. Sampel A : Pelumas Mesin Bensin

Sampel A ( Pelumas Mesin Bensin )

Teknik Kimia - ITATS

- 89 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

2. Sampel B : Pelumas Mesin Diesel

Sampel B ( Pelumas Mesin Diesel )

Teknik Kimia - ITATS

- 90 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Sampel C : Pelumas Mesin Bensin

Sampel C ( Pelumas Mesin Bensin )

Teknik Kimia - ITATS

- 91 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

4. Sampel D : Pelumas Mesin Diesel

Sampel D ( Pelumas Mesin Diesel )

Teknik Kimia - ITATS

- 92 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

5. Sampel E : Pelumas Mesin 2Tak

Sampel E ( Pelumas Mesin 2Tak )

Teknik Kimia - ITATS

- 93 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

6. Sampel F : Pelumas Roda Gigi

Sampel F ( Pelumas Roda Gigi )

Teknik Kimia - ITATS

- 94 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

B.

Lampiran Gambar Instrumen-Instrumennya

1. Viskositas

Alat untuk mengukur Viskositas Kinemati dengan suhu 40°C & 100°C (Otomatis) 2. Densitas (Kerapatan)

Alat untuk mengukur Viskositas (Manual)

Alat untuk mengukur Densitas dengan menggunakan Hidrometer

Teknik Kimia - ITATS

- 95 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

3. Warna ( A S T M c o l o r / V i s u a l )

Sepasang alat ukur colour untuk mengukur warna pada pelumas.

4. Metal Content

Sepasang alat X-Rays, digunakan untuk mengukur Metal Content ( Pb, Ca, Zn, Cr, P )

Teknik Kimia - ITATS

- 96 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

Alat X-Rays, untuk mengukur kandungan Sulfur dalam pelumas

5. Total Base Number

Sepasang alat penguji Total Base Number disertai dengan Timbangan analitik, dan Cairan Cholorobenzene dan Acetic Acid Glacial

Teknik Kimia - ITATS

- 97 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

6. Flash Point

Alat Flash point digunakan untuk mengukur dan menentukan titik nyala dari pelumas.

7. Pour Point

Alat Pour Point, digunakan untuk menentukan titik tuang dari pelumas

Teknik Kimia - ITATS

- 98 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

8. Rak Bahan Baku Pelumas

Rak Base Oil

Rak Additive

Ada 4 jenis sampel Base Oil yang telah diberi kode masing-masing dari PT. Pertamina (PERSERO)

Teknik Kimia - ITATS

- 99 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

9. Thermolyne

Alat untuk mengaduk dengan disertai pemanasan pada sampel pelumas yang telah ditrialkan sebelum dilakukan pengujian.

10. Trial Blend

Sedang mentrialkan dengan menimbang dan mencampurkan base oil dan aditif sesuai spek yang telah dihitung.

Teknik Kimia - ITATS

- 100 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

LAPORAN KERJA PRAKTEK
DI

PT. PERTAMINA (PERSERO) UNIT PRODUKSI PELUMAS SURABAYA

Disusun oleh: 1. Basilio Ribeiro 2. Kristiani Boi Tokan NPM : 08.2006.1.90061 NPM : 08.2005.1.01328

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA 2008 / 2009

Teknik Kimia - ITATS

- 101 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Laporan Kerja Praktek
PT. Pertamina ( PERSERO ) Unit Produksi Pelumas Surabaya ( UPPS )

LAPORAN KERJA PRAKTEK
DI

PT. PERTAMINA (PERSERO) UNIT PRODUKSI PELUMAS SURABAYA

Disusun oleh: 1. Basilio Ribeiro 2. Kristiani Boi Tokan NPM : 08.2006.1.90061 NPM : 08.2005.1.01328

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA 2008 / 2009

Teknik Kimia - ITATS

- 102 -

Basilio Ribeiro & Kristiani Boi Tokan 08.2006.1.90061 & 08.2005.1.01328

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful