Krisis Global
dan Penyelamatan sistem PerbanKan i n d o n e s i a

Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia |

i

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup hak Cipta Pasal 2 (I) Hak cipta merupakan hak eksekutif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku Ketentuan Pidana Pasal 72 (I) Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (I) atau pasal 29 ayat (1) dan (2) dipidanan dengan pidana penjara masing-masing paling singkat I (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (I) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

ii

| Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia

Krisis Global
dan Penyelamatan sistem PerbanKan i n d o n e s i a

Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia |

iii

H. iv | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia .Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia Hak Cipta Humas Bank Indonesia Pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Bank Indonesia pada 2010 Bank Indonesia Jalan M. Thamrin Nomor 2 Jakarta 10350 Publikasi ini masih akan mengalami perbaikan jika terjadi kesalahan atau kekeliruan.

Kolektibilitas Kredit dan Stress Test Kenaikan Nominal NPL Mekanisme Pengambilan Keputusan untuk Pencegahan dan Penanganan Krisis Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | v ..” Indikator Ekonomi pun Meradang Gempuran Krisis itu Menghajar Perbankan Penerbitan Tiga PERPPU Krisis Semakin Mendalam Di Kala Pengawas Mengawasi Bank Apa Yang Dilakukan Pengawas Bank Kok Masih Ada Bank Bermasalah Menangani Bank Bermasalah Bank Dalam Pengawasan Intensif Bank Dalam Pengawasan Khusus Penanganan Bank Gagal Menyibak Kegagalan Bank Century Merger Yang Menjadi Sorotan Itu Legalitas Akuisisi Belum Lengkap? Indikasi Perbuatan Melawan Hukum? Kinerjer Bank Pasca Merger Sempat Membaik Menimbang Sistemik Sebuah Bank FPJP: Mengapa Direlaksasi? Untung-Rugi Menyelamatkan Bank Century vi viii 1 3 7 11 13 16 20 25 28 31 32 34 37 38 40 41 44 51 56 59 62 4 6 8 9 11 12 13 28 35 Bab 2: Bab 3: Bab 4: Box 1: Box 2: Box 3: Daftar Istilah Grafik 1 Grafik 2 Grafik 3 Grafik 4 Grafik 5 Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Pelemahan dan Volatilitas Nilai Tukar IHSG dan Imbal Hasil SUN Turun Tajam Capital Outflow dan Kepemilikan Asing terhadap SBI dan SUN Turun Signifikan Perkembangan Kredit & DPK Perbankan Rasio Alat Likuid Relaksasi Ketentuan Ketahanan Likuiditas Bank Rasio NPL...Daftar Isi Kata Pengantar Ringkasan Bab 1: “Ketika Krisis Itu Datang Kembali .

berawal di Thailand pada bulan Juli. waktu itu fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan tingkat inflasi yang rendah. terutama bank yang punya pinjaman dalam mata uang asing dan tidak melakukan lindung nilai atas pinjamannya. Bayangkan saja. Gejolak diawali dengan kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap USD. Akibatnya. upaya penyelamatan adalah pilihan yang diambil ketika itu. Oleh karena itu. Masalah likuiditas ini mengakibatkan bank kehilangan kepercayaan sehingga masyarakat ramai-ramai menarik uangnya secara besar-besaran dari bank.Kata Pengantar Belum lepas dari ingatan kita ketika krisis 1997 memporakporandakan hampir seluruh sendi perekonomian Indonesia. dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia. dan sektor perbankan dengan kinerja yang sangat baik. cadangan devisa yang sangat besar. Gejolak kurs yang ditambah dengan pemburukan arus kas bank-bank menyebabkan bank menghadapi kesulitan likuiditas. Tapi siapa sangka sebulan setelah itu ekonomi kita terkena imbasnya juga. Krisis keuangan Asia atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Krisis Moneter (krismon) itu. surplus perdagangan mencapai lebih dari USD900 juta. Hingga Juli 1997 itu. Krisis ini membawa dampak yang sangat besar terhadap nilai tukar. bursa saham. banyak bank mulai ditimpa kerugian. hampir semua pihak mengamini bahwa Indonesia sangat kecil kemungkinannya untuk terimbas krisis. Tindakan ini dilakukan agar dana nasabah di bank aman sehingga masyarakat tidak vi | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Berangkat dari pengalaman krisis 1997 itulah. Beberapa ketentuan perbankan direlaksasi untuk menghindari runtuhnya sistem keuangan dan perbankan. Pemerintah dan BI proaktif melakukan tindakan pencegahan. lebih dari USD20 milyar. manakala krisis global melanda Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Puluhan bank harus ditutup dengan konsekuensi perekonomian bisa lumpuh total. Namun ongkos yang harus dibayar juga tidak sedikit karena jumlah bank yang harus diselamatkan juga banyak.

buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai upaya penyelamatan sistem perbankan ketika itu. Jakarta. Dilandasi komitmen untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Penerbitan buku “Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan” ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai duduk soal diambilnya kebijakan penyelamatan perbankan ketika terjadi krisis global 2008 lalu. namun pastinya tidak akan sebesar bila krisis global sampai menghantam ekonomi Indonesia. Memang ada ongkos dari tindakan itu. Latar belakang. kronologi kebijakan hingga upaya penyelamatan sistem perbankan diangkat dalam buku ini. Hasilnya. Januari 2010 Humas Bank Indonesia Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | vii .perlu benbondong-bongdong ke bank menarik dananya. rush tidak terjadi. sistem perbankan tetap aman dan perekonomian bisa terbebas dari ancaman krisis.

buku yang saat ini Anda baca pun mencoba mengajak pembaca melihat persoalan yang menimpa Bank Century dengan coba lebih terbuka dan jujur. penulisan buku ini hanya mengusung satu kepentingan yakni bagaimana agar fakta dan informasi dari apa yang terjadi ketika itu dapat sampai ke publik sebagai bahan masukkan. Apalagi setelah Rapat Pleno Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui pembentukkan Panitia Khusus (Pansus) atas masalah ini. Di luar pemberitaan media massa yang boleh dibilang hampir setiap hari dan saat menyiarkan perkembangan dari masalah ini. sudah barang tentu menambah khasanah pengetahuan publik akan duduk masalah ini dari sudut pandang masingmasing penulis dan penerbit buku tersebut. Artinya. Pada bagian pertama buku ini coba melukiskan bagaimana kegagalan industri properti (sub-prime mortage) di Amerika Serikat menjadi pemicu kejatuhan institusi keuangan di negeri itu hingga menyeret dunia viii| Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . apakah buku ini pantas untuk dijadikan referensi atau tidak. Setiap pihak yang terkait masalah Bank Century sepertinya menyuguhkan alibi masing-masing yang cukup menyakinkan. Hal ini sesuatu yang wajar saja di era reformasi sekarang ini. Dan bukan tak mungkin pasca Pansus akan terbit lagi buku-buku lain terkait persoalan BC ini. di ranah publik juga sudah beredar berbagai buku dengan beragam tajuk (seperti Buku Putih atau Membongkar Kotak Hitam BC dan lainnya). Beragam isu bertebaran di ruang-ruang publik termasuk di layar kaca (baca: teve) ketika stasiun teve seperti berlomba menyuguhkan siaran langsung (live) dari sidangsidang Pansus dengan beragam saksi dan nara sumber. Beragam informasi tercetak itu. Publik pun akhirnya menjadi bingung. Laporan pandangan mata itu semakin membukakan mata publik akan apa sedang terjadi. Selanjutnya tinggal sidang pembaca yang menimbang dan memutuskan.Ringkasan Kasus Bank Century sungguh telah menyita perhatian dan tenaga bangsa ini. Dan.

Bukan hanya kepercayaan publik yang merosot. Berbagai indikator yang diperiksa memperlihatkan gejala memang kondisi kita sedang mengalami “peradangan” akibat krisis. Hal ini untuk menghindari kejatuhan indeks bursa lebih parah dan merontokkan modal sekitar 300 ribu investor lokal yang seketika menjadi “miskin” karena harga saham yang mereka pegang merosot hingga di atas 50%. Situasi perbankan ketika itu betulbetul mencekam.000. Bursa Efek Indonesia sempat menyetop (suspen) perdagangan saham selama dua hari. Hal ini dapat terlihat dari macetnya Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Salah satu indikasi yang kasat mata adalah nilai tukar rupiah yang sempat mengoyak angka nilai tukar psikologis yakni Rp10. Dalam situasi krisis kepercayaan masyarakat menipis dan rumor-rumor tak sedap terkait kondisi bankbank semakin memperkeruh situasi ketika itu. Indonesia pun tak lepas dari imbas krisis keuangan di AS. Ini terlihat dari keringnya likuiditas di pasar yang membuat bank-bank pun mengalami kesulitan mencari pasok dana segar. Dalam kondisi yang sedang krisis. Betapa gentingnya situasi itu juga dapat dilihat tatkala Dewa Gubernur Bank Indonesia menyalakan mekanisme Crisis Management Protocol (CMP) pada 29 Oktober 2009. Ketiga bank itu masing-masing bank mendapat guyuran Rp5 triliun. Indikasi lain yang diteliti juga memperlihatkan gejala yang sama. Cadangan devisi kita sempat menguap hampir Rp9 triliun hanya dalam waktu sekejab. Kondisi perbankan di dalam negeri pun sempat kocar-kacir dibuat. tapi juga antar sesama bank pun kehilangan kepercayaan itu. tambahan likuiditas. Bisa dibayangkan bila tiga bank besar BUMN sampai meminta “tolong” Pemerintah selaku bohir ketiga bank pelat merah itu. Di era dunia yang serba telah menglobal dan menyatu. Melalui mekanisme CMP laporan situasi terkini kondisi perbankan pun dilaporkan setiap saat dan detik. Bank-bank yang kelebihan likuiditas tidak berani meminjamkan dana mereka ke bank lain karena khawatir tak bisa dikembalikan. BI selaku otoritas moneter pun berjaga-jaga mengantisipasi bila ada bank Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | ix .masuk dalam krisis skala global.

Bahwa bila ada bank mengalami masalah dalam perjalanan roda bisnsinya sejatinya adalah kenyataan yang wajar. pembaca diajak melihat lebih jauh tentang sepak terjang pengawasan bank yang dilakukan BI. Dari pengawasan merujuk dua cara ini akan diperoleh gambaran akan profil bank. Sebab. Ada dua hal yang dilakukan Pengawas Bank BI yakni pengawasan berdasarkan kepatuhan (compliance based supervision/CBS) dan pengawasan berdasarkan risiko (risk based supervision/RBS). baik likuiditas maupun di luar itu. BI menyempurnakan sejumlah Peraturan Bank Indonesia (PBI). meneropong kinerja bank dari berbagai macam sudut pandang potensi risiko yang melekat dalam bisnis bank. Pemerintah pun menerbitkan 3 (tiga) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU).mengalami masalah. Bila tidak. CBS adalah model pengawasan berdasarkan kepatuhan bank untuk melaksanakan rambu-rambu yang ditetapkan BI dan prinsip kehati-hatian terkait dengan operasi dan pengelolaan bank. bisnis bank harus dilakukan pengawasan. bandit-bandit kerah putih akan mendirikan bank yang lalu dirampok sendiri dan dibiarkan sekarat. ternyata masih ada saja bank yang bermasalah x | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Dalam melakukan praktik pengawasan bank. Bahwa ketika ada bank bermasalah. Untuk memberi ruang bagi perbankan agar lebih rileks dalam menghadapi krisis. Selain itu. Sedangkan RBS. Setelah melihat sodoran fakta bahwa sebenarnya ekonomi Indonesia sedang mengalami “demam” akibat krisis moneter global. bisnis bank penuh dengan risiko. Dan kalau pun dari kerja keras sekitar 700 Pengawas Bank di BI yang memelototi 125 bank yang diawasi. Disinilah letak krusialnya sebuah bank mestilah diawasi. Makanya. BI merujuk pada best practise yang berlaku di berbagai negara maju. pada Bab 2. Kelonggaran dalam hal Giro Wajib Minimum dari 7% menjadi 5%. tudingan pertama telunjuk tangan masyarakat akan langsung mengarah kepada praktik pengawasan bank oleh BI. BI juga mengendurkan syarat bagi bank yang ingin mendapatkan Fasilitas Pembiayaan Darurat tatkala likuiditas mereka kering.

akan sangat mungkin menghadapi masalah. Robert diindikasikan kerap mengintervensi kerja profesional pengurus bank. Ketika pengawasan dan kontrol internal bank lemah dan manajemen bank menjalankan roda bisnis dengan menabrak banyak rambu-rambu kehati-hatian. mestilah diteliti: apa akar masalahnya. maka BI akan menempatkan bank itu dalam status pengawasan khusus. Bila ada bank kecil yang gagal dan tidak sedang dalam kondisi krisis. Siapa yang bisa mengantisipasi atau mengendalikan sebuah krisis moneter yang telah memporakporandakan kinerja korporasi di dalam negeri yang nota bene adalah debitor perbankan.hingga berstatus bank gagal. atau persoalan yang lebih serius lagi yakni persoalan tata kelola (good corporate governance) yang tak berjalan baik hingga merugikan bank. Atau. sangat mungkin bank itu akan ditutup. Bila pokok substansi masalah adalah NPL yang melangit hingga melebihi angka 5%. Pengawas Bank hanya mengenakan status: bank dalam pengawasan intensif. Contoh terkait hal ini yang sedang aktual adalah apa yang dilakukan Robert Tantular terhadap Bank Century. Faktor ini tidaklah sepenuhnya dapat dikelola oleh pengurus bank. sumber masalah di bank juga karena fakto eksternal. pertama dari sisi internal bank sendiri. Bank yang sedang bermasalah bisa bersumber dari dua hal. Menangani sebuah bank bermasalah pun mesti dilihat akar pokok masalah di bank itu. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | xi . Bila persoalan yang dihadapi bank masih dalam kategori ringan seperti NPL. Tapi. Selain faktor internal. Selaku PSP. Bisa juga bank terperosok jurang kehancuran karena digerecoki Pemeggang Saham Pengendali (PSP). bila persoalannya sudah lebih serius lagi. Situasi krisis ini telah membuat tumpukkan kredit macet perbankan meroket tajam. bisa juga ketika pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan atau aturan yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup debitor yang terkait langsung dengan likuiditas perbankan.

silahkan diteliti pada tulisan box pelengkap naskah utama. Situasi krisis seperti menjadi “save by the bell” bagi BC yang akhirnya diputus KSSK untuk diselamatkan dan berganti baju menjadi Bank Mutiara. Lengkaplah penderitaan BC. Selain keempat topik tersebut. Bank Dagang Bali. Apakah tindakan relaksasi ini ada bau-bau untuk memuluskan kepenintangan kelompok tertentu atau tidak. Bila permasalahan bank ini dalam kondisi normal. Perdebatan panjang lebar terkait hal ini di publik. Bank Asiatic dan Uni Bank. kemungkinan besar bank ini ditutup seperti almarhum Bank IFI. pembaca juga dapat melihat yang seperti apa sih sebuah bank sampai masuk kategori sistemik.Pada Bab 4 membahas kejatuhan Bank Century. PIKKO dan Danpac) sampai ambruk? Pada bagian ini akan dipaparkan secara rinci dan kronologis mulai dari tahapan akuisisi ketiga bank tersebut oleh Chinkara Capital Ltd (CCL) hingga proses merger. Apa sesungguhnya membuat bank hasil leburan tiga bank (CIC. (*) xii | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Pokok soal lainnya yang dibahas adalah tentang untung rugi menyelamatkan BC dan alasan dibalik bank sentral merelaksasi kebijakan. bisa akan diredam dengan suguhan kajian sistemik bank tersebut. Inti yang bisa dikatakan bahwa BC berstatus bank gagal karena lemahnya sistem pengendalian internal bank yang kebetulan diperparah oleh adanya krisis.

begitulah dia menjalani keseharian hidupnya. yaa . kenapa ia sekonyongkonyong tidak boleh bekerja lagi. Jono juga tak paham betul alasan perusahaan merumahkan karyawan—yang katanya—terimbas dampak krisis ekonomi dan keuangan global. Dunia yang ia tahu hanya dari rumah kontrakan ke tempat kerja. yang mesti terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) itu. bagi satu juta jiwa yang kehilangan pekerjaan.” Jono nggak habis pikir.. Alasan pihak perusahaan yang ia dengar dari sesama teman kerjanya yang juga terkena putusan itu.. sehari sebelum dirumahkan— begitu bunyi pengumuman pihak manajemen pabrik pada Oktober 2008—Jono masih bekerja seperti biasa. Orang kecil seperti dia jauh dari hingar-bingar pemberitaan krisis ekonomi dan keuangan global yang terjadi karena kegagalan bisnis properti dan hipotek di Amerika Serikat. Padahal.. Ia juga terus merenung mengapa dirinya yang sedang menanti kelahiran anak keduanya. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 1 . Bagi para buruh kecil yang hidup paspasan dengan gaji terkadang di bawah upah minimum regional. bahkan masih lembur kerja.Bab 1 “Ketika Krisis Itu Datang Kembali . Bak petir di siang bolong nan terik di Surabaya yang panas. kabar berhenti bekerja itu diterima Jono. dapat menjalani hidup sampai bulan berikut tanpa harus ngutang sana-sini sudahlah bagus.. awal tahun 2008. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan selama krisis setidaknya sekitar satu juta pekerja di Indonesia kehilangan pekerjaan terimbas dampak krisis global. sulit menerima dan mencerna tali-temali antara kondisi yang menimpa mereka dengan ambruknya bisnis properti di AS. Seperti halnya Jono. karena perusahaan terkena dampak krisis ekonomi dan keuangan global. Jono tidaklah sendirian meratapi nasib. kok ya tega-teganya harus mereka yang kena getahnya..

yang dengan mudahnya syarat mendapat kredit kepemilikan rumah (KPR). Ketiga hal itu dikhawatirkan akan menjadi pemicu kebangkrutan ekonomi negara itu. Kebangkrutan bisnis properti pun menjadi kenyataan. Ia melihat akan ada masalah dengan suku bunga rendah yang diberlakukan di sana. penduduk dengan penghasilan pas-pasan. Waktu pun berlalu. Apa yang dikhawatirkan Stiglitz mulai memperlihatkan indikasi yang mencemaskan. Pasalnya.Dan bagi para buruh yang ter-PHK. Ketika debitor KPR di AS satu per satu mulai tak sanggup bayar bunga dan cicilan pokok. terlalu bergantungnya pertumbuhan ekonomi AS pada bisnis properti dan pengaturan industri keuangan yang longgar. keresahan pun mengeruyak. Maklumlah. dan mungkin juga merembet ke manca negara. kucuran kredit kepada warga AS untuk membeli properti melalui kreditor nonbank (sub-prime mortage) menjadi sumber pemicunya. Mengapa? Sebab. Lehman Brothers bertindak selaku agen atau perantara antara mereka yang memiliki kelebihan modal (investor) dengan calon debitor 2 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . seorang ekonom terkemuka dunia yang juga pemenang hadiah Nobel. Stiglitz pernah mengingatkan ada indikasi tidak sehat terhadap perkembangan ekonomi di negeri Paman Sam. Padahal tingkat bunga KPR sub-prime mortage lebih tinggi dari bunga bank. mereka tak mau ambil pusing dengan hiruk-pikuk pemberitaan media massa (cetak dan elektronik) yang rajin mewartakan akan kedalaman ekses kegagalan bisnis properti di AS yang merembet hingga ke Indonesia bahkan sampai juga ke dapur mereka. Salah satu yang meradang dan kelimpungan adalah raksasa institusi keuangan seperti Lehman Brothers yang membenamkan dana sekitar US$60 miliar di bisnis sub-prime mortage ini. akhirnya ramai-ramai memborong properti. Segudang ketidak-tahuan rakyat kecil seperti Jono dan jutaan lainnya akan adanya keterkaitan erat satu negara dengan negara lain di era dunia yang menyatu. Para buruh pun seperti tak mau tahu apa akar masalah krisis ini yang telah membuat hidup mereka sengsara. Lima tahun sebelum dunia dihebohkan oleh kehancuran bisnis properti di AS. Joseph E.

gerak-gerik rupiah mulai berfluktuasi. rupiah sempoyongan menembus angka Rp12. begitu terlansir berita Lehman Brother bangkrut.650 per dolar AS pada 24 Nopember 2008. 15 September 2008. Satu demi satu industri keuangan yang ada kaitannya dengan bisnis properti di AS pun ikut meradang.000/dolar) sudah barang tentu membuat panik perusahaan-perusahaan nasional yang masih mengandalkan bahan baku impor dan para pemilik modal yang tergerus nilai nominal dana mereka. Sebelum Lehman Brothers mengumumkan kebangkrutannya. Dunia memasuki era resesi yang lebih parah pasca Perang Dunia II. Puncaknya. Meroketnya nilai tukar rupiah menembus angka psikologis (Rp10. negara seperti Indonesia pun tak lepas dari ekses resesi global tadi. Ekonomi AS pun memasuki era resesi yang memicu krisis ekonomi dan keuangan global. Dan.sub-prime mortage di sektor properti. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 3 . Puncaknya. Dari sinilah pelintiran krisis seperti tiupan angin puting beliung Tornado yang imbasnya kemana-mana hingga ke Indonesia bahkan sampai pula ke satu juta pekerja yang kehilangan pekerjaan. Lehman Brothers—sebuah institusi yang didirikan tiga bersaudara imigran asal Jerman: Henry. Emanuel dan Mayer Lehman sekitar tahun 1847—menyatakan diri bangkrut setelah gagal mendapatkan opsi Chapter 11 Protection. Indonesia memasuki era krisis.000 per dolar AS. Indikator Ekonomi Pun Meradang Berita kebangkrutan Lehman Brothers seperti sebuah virus yang cepat sekali menyebar dan merembet ke pelosok bumi ini tanpa kecuali. Senin. Memasuki pertengahan September. nilai tukar rupiah masih anteng-anteng saja di level Rp9. Protokol ini adalah mekanisme emergensi terhadap lembaga keuangan di AS yang mengalami masalah likuiditas meminta pertolongan otoritas moneter di sana. Tindakan banyak perusahaan mem-PHK karyawan yang mencapai satu juta pekerja adalah bukti.

Kenaikkan harga barang-barang ini pun memicu angka inflasi hingga sempat menyentuh 12. masih tercatat US$60. Tapi. Jadi menguap US$9 miliar atau mencapai sekitar 15 persen. Berita yang dilansir sebagian besar media massa nasional dan lokal ini. Padahal.6 miliar. hantu inflasi yang membuat penduduk Indonesia semakin diambang kemiskinan ini dianggap seperti angin lalu saja. Apalagi ketika Bank Indonesia mengumumkan bahwa cadangan devisa tinggal US$51.56% pada tahun 2008. ternyata kurang sepenuhnya mendapat perhatian sebagian besar masyarakat kita. merosotnya nilai tukar rupiah tadi terkadang hanyalah dimaknai oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia sebatas mereka terpaksa menunda pembelian alat-alat elektronika yang melonjak harganya. adalah kenyataan yang sering tak disadari. Padahal lima bulan sebelumnya (Juli 2008). Bahwa daya beli mereka telah lenyap digerus hantu inflasi.6 miliar per Desember 2008.Grafik 1: Pelemahan dan Volatilitas Nilai Tukar Namun demikian. Atau. apa makna angka inflasi yang begitu tinggi itu pun terkadang tidaklah dimengerti tali-temalinya dengan kehidupan langsung masyarakat. menguapnya cadangan devisa yang begitu besar adalah harga mahal yang harus dibayar—oleh seluruh 4 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Mengapa? Karena publik tidaklah melihat keterkaitan langsung antara raibnya cadangan devisa dengan menipisnya asap dapur mereka.

biasanya menuntut imbal hasil (premi) yang cukup tinggi. banyak investor dalam negeri yang menaruh dana mereka pada saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tiba-tiba mereka menjadi sering bengong dan muka masam hingga tutup tahun 2008 lalu? Maklumlah. Syamsul Komar hanyalah salah satu dari sekitar 300. Surat Utang Negara/SUN dan lainnya) yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia atau dunia usaha swasta. masih banyak lagi indikator-indikator lain yang memperlihatkan gejala meradang yang menjadi indikasi bahwa negara kita sedang terhisap pusaran krisis finansial global. seorang pekerja swasta yang tinggal di Bogor. Ketika harga saham pada terjun bebas terimbas krisis sub-prime mortage di AS. nilai saham yang ia pegang pun ambruk hingga kalau dihitunghitung. boleh dibilang hampir merata bahwa sebagian besar investor lokal tadi tiba-tiba saja kehilangan aset mereka hingga 80%. karena tingginya tingkat resiko membeli surat-surat berharga (obligasi. Bagi mereka yang hiruk-pikuk di pasar uang.000 investor lokal yang menempatkan sebagian dana mereka di pasar modal. Lho. Pusaran krisis global itu paling dekat menghajar bursa saham dan pasar keuangan. Kalau mau dibeberkan. kenapa? Ya. Bukankah masih segar dalam ingatan kita. Nasib dari ketiga ratus ribu investor tadi boleh dibilang setali tiga uang dengan Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 5 . yang rajin bermain saham dua tahun lalu. Misalnya. Dana sebesar Rp100 juta ia belanjakan sejumlah lot berbagai saham perusahaan Indonesia yang terdaftar di BEI. Syamsul Komar. nominalnya tinggal Rp20 juta.rakyat Indonesia— untuk menstabilkan keperkasaan uang mereka (rupiah) agar tak terus meloyo menghadapi dolar AS.” ujar dia seraya mengangkat bahu tak tahu sampai kapan harga-harga saham akan pulih kembali. “Saya bangkrut. mahfum benar manakala resiko (credit default) negara Indonesia melemah hingga 1200 basis poin (bps). Penurunan ini sama saja dengan semakin sempitnya pintu masuk bagi Indonesia ke pasar uang dunia. Kalau pun ada investor global yang masih nekad mau membeli surat-surat berharga dalam negeri itu.

7 yang membuat otoritas bursa mensuspen perdagangan efek dan derivatif hingga 10 Oktober 2008. Pada 8 Oktober 2008. Bila melongok jumlah dana asing atau lazim disapa dengan hot money yang nangkring di SUN per 5 September 2008 tercatat Rp108.31 triliun. selama guncangan krisis banyak investor asing yang meminta hingga ke level di atas 13%. Betapa tidak. Harap maklum saja. nilainya melorot hingga Rp105. Kalau tadinya rata-rata yield SUN itu 11%. Itu artinya hanya dalam kurun waktu singkat terjadi pelarian hot money tadi hingga Rp3. Pasar SUN terus menipis yang membawa konsekuensi mesti menaikkan imbal hasil guna memancing daya tarik hot money tadi kembali. IHSG terkoreksi hingga 10. Masih ada lagi indikator lain yang mempertontonkan betapa Indonesia memang sedang terhisap dalam pusaran krisis keuangan global. Selang waktu dua minggu kemudian (19 September 2008). Grafik 2: IHSG dan Imbal Hasil SUN Turun Tajam 6 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia .06 triliun.37 triliun.38% atau menyentuh 1. Banyak investor lokal yang sontak menjadi “miskin” gara-gara main saham.451. krisis keuangan global ini menyeret kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI ke lembah kekelaman hingga penutupan akhir tahun 2008.apa yang menimpa Syamsul. Langkah suspen 2 (dua) hari kerja ini dimaksudkan untuk melindungi investor lokal seperti Syamsul Komar dan lainnya agar tak merugi lebih dalam lagi.

518 triliun atau turun Rp 64. angka itu merosot menjadi Rp 166. Gempuran Krisis Itu Menghajar Perbankan Putaran krisis ekonomi dan keuangan global pasca kehancurah Lehman Brothers menimbulkan kekacauan dan kepanikan di pasar keuangan global.466 triliun.Bukan hanya dari SUN bila ingin melihat Indonesia mulai dijauhi pemilik modal asing. menderita capital outflow lebih parah dibanding negara-negara tetangga yang menerapkan penjaminan dana nasabah secara penuh (blankeet guarantee). aliran dana dan kredit terhenti. Bank-bank asing pun memangkas pasokan dana yang ditempatkan di SBI dari Rp13. Hal ini bermakna betapa kondisi likuiditas di bank-bank nasional memang sedang ketat dan mengkeret. maka pada Desember tahun yang sama. transaksi dan kegiatan ekonomi sehari-hari terganggu. Aliran dana keluar (capital outflow) terjadi besar-besaran. simpanan bank pada SBI dan SBI Syariah masih tercatat Rp 231.386 triliun. Di berbagai negara. Bila Januari 2008.868 triliun.885 triliun susut jadi Rp9. Aliran dana keluar itu membuat likuiditas di dalam negeri semakin kering dan bank-bank mengalami kesulitan mengelola arus dananya. termasuk melibas industri perbankan di Indonesia. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 7 . Indonesia yang saat krisis tidak memberlakukan penjaminan dana nasabah secara menyeluruh. Pada instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pun memperlihatkan gejala serupa dengan SUN.

PT Bank BNI Tbk. berhenti mengalir alias macet. Pada Oktober 2008. Pasalnya. nilainya merosot tajam. dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk meminta bantuan likuiditas dari Pemerintah masing-masing Rp5 triliun. yakni dana antarbank atau Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Tapi yang paling menderita adalah bank-bank menengah dan kecil yang mengalami penurunan dana simpanan masyarakat. Kenyataan pahit ini masih diperburuk lagi dengan penurunan kualitas aset-aset yang dipegang bank. Dana itu lari ke luar negeri atau bank-bank besar.Grafik 3: Capital Outflow dan Kepemilikan Asing terhadap SBI dan SUN Turun Signifikan Situasi krisis ketika itu sampai memukul bankbank berskala besar.. ada tiga bank besar BUMN yakni PT Bank Mandiri Tbk. Total dana untuk menginjeksi ketiga bank tersebut sebesar Rp15 triliun. Kesulitan bank-bank menengah-kecil itu semakin diperparah ketika salah satu sumber pendanaan yang biasanya sangat diandalkan. Bantuan likuiditas itu dipakai untuk memperkuat cadangan modal bank atau memenuhi komitmen kredit infrastruktur tanpa harus terganggu likuiditasnya. surat-surat berharga yang dikuasai bank seperti SUN. Maksud bantuan likuiditas Pemerintah ini agar ketiga bank pelat merah tadi tidak perlu mencari pinjaman dari luar negeri. Dana tersebut bersumber dari uang pemerintah yang berada di BI. 8 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Hal ini pada akhirnya akan memukul modal bank. bahkan yang menarik sampai ada yang menyimpan di safe deposit box karena takut banknya ditutup.

Di tengah situasi krisis. Dalam kondisi biaya dana (cost of funds) yang semakin mahal. situasi ini menyeret kenaikkan tingkat bunga kredit yang memberatkan dunia usaha. Seretnya pasokan dana di masyarakat. Dalam suasana seperti itu. Perang bunga antarbank pun tak terhindarkan. ada seorang analis pasar dari sebuah perusahaan sekuritas yang ditahan kepolisian hanya karena dituduh menyebarkan rumor lewat email yang dikhawatirkan dapat memicu aksi panik masyarakat. tiada pilihan bagi bank-bank untuk kudu riddho memangkas laba usaha mereka guna mempertahankan eksistensi diri di jagad belantara Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 9 . Bahkan. Bank pun mulai berebut dana masyarakat melalui iming-iming tingkat suku bunga tinggi khususnya deposito (dari 6% menjadi 12% per tahun).Kondisi ketika itu semakin mencekam karena beredar rumor-rumor yang berseliweran via email. blog dan SMS perihal daftar bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. sebuah isu kecil dapat menjadi pemicu dan pemacu sebuah krisis besar seperti yang terlihat pada aksi rush nasabah pasca penutupan 16 bank di tahun 1997/1998. Walhasil. membuat industri perbankan berusaha mempertahankan dana-dana (rupiah dan valas) yang mereka miliki guna mengantisipasi munculnya kewajiban seperti penarikan dana tunai deposan secara mendadak. tingkat kepercayaan nasabah bank pun goyah yang diperlihatkan dengan aksi rush.

termasuk Bank Century. terutama dolar AS. Siapa pun yang dipercaya mengurus bank itu akan dibuat muntah-muntah bila mesti membayar beban utang valas tadi dengan kurs Rp12. laba bank-bank umum setelah pajak diperkirakan Rp30.36 juta pada Desember 2008. sudah barang tentu sangat memukul kocek kas bank... Jumlah ini merosot Rp3. Bila merujuk data statistik BI per Desember 2008. Ketika rupiah jeblok sebagai imbas dari krisis global. Walhasil. maka ada selisih 3% yang adalah pendapatan bank. Pelemahan rupiah periode September ke Desember 2008 berakibat pada transaksi valas perbankan. bank mesti gigit jari dan melakukan write-off serta menyisihkan pencadangan yang mengerus modal.650 per dolar AS.47 triliun. bank mengandalkan pemasukan guna membiayai operasional. Selain itu. Mari ambil contoh sederhana saja. bunga deposito 12%. sejak 16 September 10 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Pada November 2008.61 triliun. bila suku bunga kredit dipatok 15%. sumber pemicu kerugian bank lainnya adalah transaksi valuta asing. ada SSB Bank Century yang jatuh tempo sebesar US$45 juta dan US$40. Sebab dari bunga kredit setelah dipangkas kewajiban membayar bunga simpanan dan deposito itulah.perbankan nasional. Untuk memberi kelonggaran bank dalam menghadapi situasi krisis. Penurunan laba ini terutama disebabkan beban biaya (cost of funds) yang semakin tinggi. Catatan kaki laporan keuangan bank pun diimbuhi tinta merah: rugi lagi . Dalam kondisi krisis. Dengan potensi kerugian finansial yang terus mengancam tak pelak ikut menyeret bank-bank masuk ke dalam lembah keambrukan.86 triliun bila merujuk angka perolehan laba sebulan sebelumnya (Nopember) yang membukukan sebesar Rp34. rugi lagi. adalah wajar bila bank mengamati dan memelototi betul kinerja kredit yang disalurkan kepada debitor. Banyak kinerja perusahaan-perusahaan yang menjadi debitor perbankan nyungsep sampai ke landasan alias mengalami pemburukan kinerja sehingga tak kuat lagi bayar bunga kredit plus pokoknya. Itu teori di atas kertas bila situasi dalam keadaan normal.

Beberapa kebijakan utama yang dikeluarkan.2008—sehari setelah Lehman Brothers mengajukan Chapter 11 Protection atau proteksi dari kebangkrutan— BI merilis serangkaian kebijakan krusial. misalnya. Pertama. Kehadiran PERPPU ini memberi payung hukum bila ada bank yang mengalami kesulitan likuiditas untuk mendapatkan suntikan dana segar.2 Tahun 2008 tentang Perubahan UU Bank Indonesia yang memungkinkan kredit berkolektibilitas lancar dijadikan agunan guna mendapatkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). perubahan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9. Ada tiga beleid yang dirilis. Pemerintah juga merespon situasi krisis dengan segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU).5%. Perubahan ini dimaksudkan untuk memberi kelonggaran likuiditas kepada perbankan guna bisa memainkan peran intermediasi. Penerbitan Tiga PERPPU Selain itu.1% menjadi 7.5% yang terbagi atas GWM utama dalam rupiah sebesar 5% dan GWM sekunder 2. PERPPU No. PERPPU No.3 Tahun 2008 perihal perubahan atas UU Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang digunakan sebagai dasar menaikan nilai simpanan nasabah yang dijamin oleh LPS dari Rp100 juta menjadi Rp2 miliar. Kedua. Kehadiran beleid ini pun semakin Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 11 .

Misalnya.10/26/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) bagi Bank Umum yang lalu direvisi melalui menjadi PBI No. BI menyempurnakan kembali sejumlah aturan.10/30/2008 dan PBI No. PERPPU ini juga mengatur pembentukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan dan Gubernur BI serta Sektretaris KSSK. Ketiga. Amerika Serikat dan sejumlah negara Uni Eropa). PERPPU No. Selain itu. Penerbitan aturan ini untuk memberi jaminan ada penyelesaian bila ada bank atau lembaga keuangan bukan bank (LKBB) yang mengalami kesulitan likuiditas atau dinyatakan sebagai bank atau LKBB gagal yang dinilai berdampak sistemik.4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).memberi rasa aman bagi deposan untuk tidak segera memindahkan dana mereka ke tempat lain.10/31/2008 tentang Fasilitas Pinjaman Darurat (FPD) . Perubahan atas kedua beleid ini dilandasi upaya menangani dan meminimalisir dampak negatif krisis terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia. 12 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan adanya bank yang mengalami masalah likuiditas. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. Inggris. Cina. Meski banyak kalangan menyayangkan kenapa Pemerintah tidak memberi perlindungan total (blankeet quarantee) seperti yang dilakukan banyak negara (Singapura. Korea Selatan.

Angka simulasi penurunan DPK pun didongkrak lagi ke level 50%. RDG bulan Nopember sudah mulai melakukan simulasi terhadap ketahanan industri perbankan dalam menghadapi gejolak ekonomi moneter dan indeks kestabilan keuangan (financial stability index). apa yang terjadi? Wahh . Berbagai isu-isu sensitif terhadap perbankan pun terus dipantau. 18 bank menengah dan 5 bank kecil. cukup mengkhawatirkan. Laporan data dan informasi ekonomi. simulasi ketahanan likuiditas perbankan pun dilakukan terhadap sampel 15 bank besar. tidak hanya mencakup ketahanan likuiditasnya saja. Dihidupkannya mekanisme CMP memberi sinyal kepada publik bahwa situasi memang sedang genting.. Total 34 bank berpotensi kesulitan likuiditas. Simulasi akan penurunan DPK pun dinaikkan menjadi 25%. Tapi juga terhadap fluktuasi suku bunga. Simulasi yang dilakukan terhadap perbankan tadi.Krisis Semakin Mendalam Tingkat keseriusan dan kegentingan kondisi perbankan terlihat ketika Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 29 Oktober 2008 memutuskan untuk mengaktifkan Protokol Manajemen Krisis (Crisis Management Protocol/ CMP). fluktuasi nilai tukar Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 13 ... Melalui protokol ini. diketahui ada 5 bank yang ekses likuiditas habis untuk menutupi penarikan DPK. Simulasi yang dilakukan adalah dengan memainkan skenario bila penurunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 5%. 14 bank kelas tengah yang sama nasibnya plus 5 bank papan bawah. Untuk mengetahui kondisi perbankan nasional dalam menghadapi tekanan krisis. terlihat ada 25 bank yang likuiditasnya ludes. Ada 15 bank besar bakal rontok likuiditasnya. moneter dan perbankan dimonitor secara intensif.

” papar dia. Dengan adanya payung hukum yang telah disetujui DPR memperlihatkan betapa Indonesia sudah jauh lebih siap dalam menghadapi situasi krisis. Dalam situasi krisis yang mendalam dan eksplosif. bank sekecil apa pun apabila ditutup pada saat krisis berpotensi menjadi pemicu runtuhnya kepercayaan nasabah pada bank-bank lainnya. “Hal ini memperlihatkan bahwa DPR pun menyepakati bahwa kondisi saat itu adalah krisis dan menyetujui langkah-langkah pemerintah dan BI mengatasi situasi yang tidak normal. BI pun mulai memantau bank-bank yang berpotensi mengalami masalah dan juga berdampak sistemik terhadap perbankan secara umum serta kondisi perekonomian. apabila ada yang mengatakan bahwa pada bulan-bulan di tahun 2008 itu tidak ada krisis di Indonesia atau hanya krisis ringan saja. kebijakan yang diambil Bank Indonesia pun menitik-beratkan pada upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan pasar serta menghindari penutupan bank. diputuskan harus diselamatkan. Bahkan. tapi lebih 14 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Makanya ketika Bank Century yang sempat masuk pasien pengawasan khusus BI yang lalu ditetapkan sebagai bank gagal (20 Nopember 2008) dan berpotensi sistemik. khususnya BI dan Departemen Keuangan. Dengan lengkapnya gambaran situasi dan kondisi perbankan dalam menghadapi situasi krisis.dan kenaikan jumlah kredit bermasalah (NPL). Koordinasi antarinstansi. menurut pengambaran Boediono. Mengapa begitu? Sebab. DPR juga meminta pemerintah segera mengajukan RUU JPSK. ia katakan bahwa yang bersangkutan tidak mengetahui keadaan atau tidak jujur. juga jauh lebih baik dibanding 12 (dua belas) tahun silam ketika krisis serupa. Tindakan penyelamatan bank kecil seperti Bank Century bukanlah an sich untuk menolong bank itu. Dari sinilah berbagai langkahlangkah antisipasi coba dipersiapkan bila memang secara faktual ada bank yang benar-benar mengalami masalah. Ia pun mengingatkan kembali bahwa DPR ketika itu menerima dua PERPPU (PERPPU Amandemen UU BI dan UU LPS) menjadi UU. Menurut mantan Gubernur BI Boediono.

Ketua Umum Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Boediono pun menandaskan bahwa kita tidak ingin mengulang kesalahan yang kita buat pada tahun 1997. Bank-bank tidak mau lagi meminjamkan uangnya ke bank lain karena khawatir tidak dapat dikembalikan” ujar Sigit Pramono.karena untuk mempertahankan kepercayaan nasabah pada perbankan nasional. Indonesia dinilai oleh sejumlah lembaga internasional sebagai negara yang sukses mengelola perekonomiannya melewati badai krisis keuangan global. Bahkan. kata guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini. Dari mana hal itu dilihat? Ketika banyak negara mengalami pertumbuhan ekonomi minus atau nol persen. hal itu tidak terjadi. Dan putusan mengucurkan dana talangan dan menyelamatkan Bank Century dinilai praktisi perbankan sebagai tindakan yang benar. bank sudah terjangkit penyakit yang namanya ketidakpercayaan. (*) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 15 . “Tidak ada seorang bankir pun yang menyatakan keputusan itu keliru. sebab ketika itu. Indonesia mampu membukukan angka pertumbuhan 4 (empat) persen. Alhamdulillah.

Maklumlah. Rasa kantuk dan lelah berusaha ditahannya.Bab 2 Di Kala Pengawas Mengawasi Bank Hari Jumat. ada sebuah bank swasta nasional yang diputuskan Rapat Dewan Gubernur BI masuk dalam pengawasan khusus (special surveillance unit/SSU).. Seorang pengawas sedang serius membaca dan membuat catatan terhadap laporan keuangan dan dokumen lainnya dari bank SSU tadi. melanjutkan lagi pemeriksaan dokumen. Beberapa pegawai masih sibuk membolak-balik dokumen. terimbas dampak krisis... 20:00. Apalagi bila hari itu menjelang akhir pekan. Biasanya lampu di lantai itu sudah padam paling telat pkl. Bank-bank pun kecipratan imbasnya. Tapi. kesibukan di Lantai 6 memang sedang intens tinggi. Lalu. BI pun memprioritaskan 16 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . pensil yang dipakai untuk membuat coretan atas dokumen bank sekarat tadi terjatuh di ubin. pkl. 125 bank yang diawasi BI hampir merata melorot likuiditasnya. apalagi situasi saat itu memang sedang puncaknya krisis keuangan. Sesaat ia terhentak dan tersadar. 7 Nopember 2008. Dalam kondisi seperti ini.. Ia adalah salah satu dari sekitar 700 pengawas bank di BI. Gassruuttt . Situasi perbankan sedang Siaga-1 alias genting.. sejak beberapa hari ini. 23. Lampu ruang kerja di Gedung “A” Bank Indonesia Lantai 6 masih terang benderang. Teori domino efek akan berlaku.. Beberapa kali ia menguap dan menyeruput secangkir kopi yang sudah dingin. sehari sebelumnya. Pengawasan bank pun semakin diperketat.. Dewan Gubernur BI pun memberlakukan Crisis Management Protocol...00 WIB. bila ada satu bank kecil sekali pun yang rontok dikhawatirkan akan mengoyak psikologi pasar dan menimbulkan kepanikan. Apa yang dilakukan si pengawas hingga larut malam barulah sebagian kecil gambaran tugas keseharian seorang pengawas bank.

” tandas Deputi Gubernur Senior (DGS) BI Darmin Nasution. menjaga kepercayaan dan menjaga keamanan dana masyarakat adalah prioritas BI. Contoh pengawasan CBS. laporan posisi devisa netto (PDN). pengawas bank akan memanfaatkan laporan yang dikirimkan oleh pihak bank. yakni pengawasan berdasarkan kepatuhan (compliance based supervision/CBS) dan pengawasan berdasarkan risiko (risk based supervision/RBS). bank hasil leburan tiga bank (Bank CIC. “Tugas pengawas bank adalah memastikan bahwa semua aturan main perbankan sudah dijalankan sebagaimana mestinya. Berbekal dua payung hukum inilah. UU memberi amanat dan mandat agar BI segera mengambil tindakan-tindakan.10 Tahun 1992 tentang Perbankan yang direvisi menjadi UU No.3 tahun 2004. dan laporan lainnya. Jadi. sedangkan mengupayakan dan menjaga agar bank yang dikelola menjadi sehat adalah tugas direksi bank. “tugas pembinaan dan pengawasan bank dilakukan BI.menjaga kesehatan bank sebagai lembaga kepercayaan. bahwa tugas bank sentral adalah mengatur dan mengawasi bank. Adalah amanat dua undang-undang (UU) ketika BI melakukan tugas pengawasan bank. UU No. Ini mengingat bank beroperasi dengan modal kepercayaan masyarakat yang menempatkan dana mereka di bank.” Hal senada juga disebutkan dalam UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana direvisi UU No. Seandainya ditemukan adanya keganjilan atau pelanggaran rambu-rambu. Sebagai contoh. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 17 . laporan batas maksimum pemberian kredit (BMPK). Bank Danpac dan Pikko). CBS adalah model pengawasan berdasarkan kepatuhan bank untuk melaksanakan ramburambu yang ditetapkan BI dan prinsip kehati-hatian terkait dengan operasi dan pengelolaan bank.7 Tahun 1998 Pasal 29 mengatakan. laporan komisaris. Secara teknis ada dua pendekatan pengawasan yang lazim dilakukan. pengawas BI menemukan persoalan yang membelit Bank Century. Misalnya. BI melakukan tugas pengawasan bank-bank. berisi pelaksanaan rambu-rambu yang telah ditetapkan BI.

semua potensi risiko akan diteropong mulai dari risiko kredit (kemungkinan gagal bayar).performing loan) di atas 5%. risiko hukum dan lainnya.yakni tingkat kredit macet atau NPL (non. Surat berharga tersebut bisa dikategorikan macet apabila sampai batas waktu yang ditentukan ternyata tidak dapat dijual. Pihak manajemen bank dapat mengajukan proposal penyelesaian SSB melalui penjaminan tunai (cash collateral) dari pemegang saham pengendali. BI memiliki langkah-langkah penyehatan bank sebagai kerangka acuan untuk mengedepankan upaya menyelamatkan dana masyarakat luas dan mempertahankan peran bank 18 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Sedangkan prinsip kerja pengawasan berdasarkan RBS adalah pendekatan fungsi pengawasan yang melihat ke depan (forward looking). setiap SSB jatuh tempo akan langsung dibayarkan. risiko pasar (fluktuasi suku bunga dan nilai tukar). Bank diminta untuk membuat rencana tindak penyelesaian NPL tersebut dan segera membentuk pencadangan kerugian. Melalui skema ini. SSB itu lalu diminta untuk segera dijual. Dengan model pengawasan RBS ini memberi ruang bagi pengawas bank BI untuk bertindak lebih proaktif dalam mencegah potensi masalah yang akan timbul. Dalam menindaklanjuti setiap temuan dari hasil pemeriksaan dan pengawasan bank di lapangan. Penurunan kolektibilitas ini dapat membuat kondisi CAR bank menjadi negatif. risiko operasional (kesalahan manusia. Skema penyelesaian seperti ini merupakan salah satu alternatif penanganan masalah bank yang dapat dilakukan. Pendekatan pengawasan ini difokuskan pada risiko-risiko yang melekat (inherent risk) pada aktivitas fungsional bank serta sistem pengendalian risiko (risk control system). risiko likuiditas (kemampuan memenuhi kewajiban jatuh tempo). kegagalan sistem). Tambahan pencadangan tersebut memberikan konsekuensi pemegang saham pengendali (PSP) dan pemegang saham (PS) untuk menyetorkan tambahan modal. Ambil contoh manakala pengawas BI menemukan adanya surat-surat berharga (SSB) valas di Bank Century yang tidak memiliki rating dan berpotensi bermasalah ke depan menurut konsep RBS. Intinya.

Hal ini agar perbankan lebih memiliki daya tahan menghadapi gempuran krisis. Ketika itu krisis ekonomi dan keuangan sedang membelit Indonesia hingga menjadi pasien International Monetary Fund (IMF). hal itu adalah pilihan terakhir yang mesti diambil. Dengan relaksasi kebijakan GWM diharapkan memberi ruang bagi perbankan memiliki dana tunai untuk tetap memainkan peran intermediasi. Misalnya. Kalau pun sampai harus dilakukan pencabutan ijin usaha bank. Bila bank-bank tersebut ditutup diperkirakan tidaklah terlalu membawa goncangan berarti. Tapi. siapa yang menyangka bahwa tindakan melikuidasi tadi justru memukul keseluruhan sistem perbankan dan keuangan. Dalam kalkulasi Pemerintah. Bila menengok kebelakang sesaat. merger atau akuisisi bank sudah tidak berjalan. Rupanya. sangat mungkin akan membawa efek domino (contagion effect) ke sistem perbankan. memang terbilang kecil. bila memang alternatif lain seperti tambah modal. BI pun merespon cepat dengan merelaksasi 16 aturan hanya dalam rentang waktu 3 bulan.sebagai lembaga kepercayaan. Juga BI menyempurnakan ketentuan untuk memfasilitasi bank yang butuh pembiayaan darurat atau pembiayaan jangka pendek. penguasaan aset ke-16 bank yang hanya 3% dari total aset perbankan. Indonesia tidak memiliki skim penjaminan dana nasabah. Depresiasi rupiah berlangsung fluktuatif dan ekstrem dan tidak ada kepastian pasar keuangan. Bila kepercayaan publik sudah runtuh terhadap satu bank saja. sejarah perbankan pernah tergores tinta hitam ketika terjadi aksi rush masyarakat pasca penutupan 16 bank pada November 1997. Semua kebijakan ini dimaksudkan untuk mengamankan sektor perbankan dan melindungi dana masyarakat serta mengurangi dampak krisis. Giro Wajib Minimum (GWM) dilonggarkan dari awalnya 7% menjadi hanya 5%. ketika itu. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 19 . Nah. manakala gejala krisis yang mirip tahun 1997/1998 muncul juga pada krisis global 2008. yang alpa diperhitungkan ketika itu.

pengurus dan pimpinan bank. pengangkatan serta pemberhantian pejabat dan pimpinan bank. apakah ada yang masuk daftar orang tercela (DOT) dan daftar kredit macet (DKM) atau tidak. Laporan inilah yang dipakai untuk mendiagnosis kondisi bank. dihasilkan profil risiko yang akan menjadi acuan tindakan pengawasan selanjutnya.Apa Yang Dilakukan Pengawas Bank Ketika ada sebuah bank masuk unit gawat darurat pengawasan BI. Pengawas akan melakukan fit and proper test terhadap calon pemilik. Sejalan dengan pengawasan berbasis risiko. Publik seperti ingin mengetahui apa sih persisnya yang dilakukan pemeriksa dan pengawas bank dalam tugas kesehariannya. Melalui hasil analisis ketahanan ini. Pengawasan tidak langsung dimulai dengan menganalisa sejumlah laporan berkala yang disampaikan bank ke BI. Apa pengawas tak melihat gelagat atau indikasi bakal ada bank yang mulai akan limbung sehingga dapat diambil tindakan cepat untuk mengantisipasinya. Dari semua proses di atas. pengawas melakukan simulasi ketahanan bank (stresstesting) terhadap perubahan faktor-faktor ekonomi. Selain memelototi laporan berkala bank. dikatakan dalam tugas pengawasan BI melakukan supervisi secara tidak langsung (off-site supervision) dan langsung melalui pemeriksaan bank (on-site supervision). publik pun mulai bertanya-tanya. kualitas aset. Apa saja yang dilakukan pengawas bank sampai ada bank yang sempoyongan. likuiditas. laba rugi. pengawas BI memperoleh gambaran mengenai kewajaran dan ketahanan kinerja bank dalam berbagai skenario makro ekonomi yang ada. manajemen. Unsur-unsur apa yang didiagnosis? Data dan informasi terkait modal. Bila melihat amanat UU Perbankan dan UU BI. ijin produk baru perbankan. Hasil stress test tersebut akan digunakan dalam diskusi 20 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . dan risiko pasar. Latar belakang (track record) setiap kandidat akan dipelototi betul. para pengawas bank juga masih disibukkan dengan tugas-tugas lain seperti pembukaan dan penutupan jaringan kantor bank.

Bila mekanisme pengawasan internal ini berjalan baik. Sebagai contoh. Meminjam analogi dari si pasien tadi. Jadi. tapi dibutuhkan keterbukaan pasien terkait informasi mengapa sampai terkena penyakit itu. diketahui bahwa terdapat lonjakkan NPL yang cukup drastis. maka bank akan diminta untuk meninjau ulang rencana ekspansi tersebut. bank pun akan berjalan sesuai koridor rambu-rambu kehatihatian. Pelanggaran terhadap program penyehatan pasien tentu akan semakin memperburuk penyakitnya. Pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan identifikasi risiko yang dihasilkan dari proses diagnosis data dan informasi bank. Tujuan dari pemeriksaan tersebut tidak lain adalah mengkonfirmasi kebenaran dan akurasi laporan yang disampaikan bank. Sebagai contoh. Pengawas Bank BI akan melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank yang diawasi (on-site supervision) setidaknya setahun sekali. Misalnya. hubungan antara Pengawas Bank BI dengan pihak bank yang diawasi itu ibarat seorang dokter yang sedang mendiagnosis pasien. dan tentu saja pemilik secara umum. Namun kesembuhan pasien tersebut tentu tidak hanya tergantung dari tindakan penyembukan yang diberikan dokter melainkan perilaku pasien itu sendiri. komisaris independen. Barulah dokter dapat menuliskan resep obat untuk menyehatkan si pasien. Meski dokter mengetahui gejala umum terhadap suatu penyakit. apabila dari hasil stress test diketahui bahwa bank terlalu ekspansif tanpa didukung oleh permodalan yang cukup. dari laporan yang disampaikan bank. Dalam menjalankan tugas pengawasan bank sebagaimana diamanatkan UU. Bila masih saja ada bank yang menabrak seruan bank sentral itu. . ada beberapa perangkat dalam rangka memelihara disiplin program penyehatan bank.antara pengawas dengan banknya. Pemeriksaan faktor tersebut akan difokuskan pada apakah terdapat perbaikan yang signifikan terhadap kebijakan dan prosedur Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 21 . Pengawas Bank BI akan meminta penjelasan dari manajemen bank tersebut. direktur kepatuhan. tindakan pengawasan bank oleh internal audit.

misalnya dalam pembelian surat berharga yang tidak memiliki rating. langsung ke titik permasalahan. Pada tahun 2154 manusia harus melanglang menuju planet Pandora yang dihuni oleh para Na’vi. melalui pemeriksaan pengawas dapat mengungkap adanya surat berharga berkualitas buruk yang dimiliki Bank Century. Hal tersebut tidak dapat secara langsung diketahui dari data pengawasan. Barangkali cukup menarik juga bila mengutip cuplikan dari film Avatar yang disutradarai James Cameron.pemberian kredit. dan efisien dalam pemanfaatan tenaga dan waktu. penuh binantang buas dan ganas. Tokoh antagonis Kolonel Quatrich sebagai kepala keamanan planet Pandora selalu menyambut manusia yang bergabung dalam planet Avatar 22 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Apabila diketahui bahwa bank menyalahi kebijakan dan prosedurnya. Metode pemeriksaan berdasarkan risiko sebagaimana dijelaskan di atas memungkinkan pengawas untuk bekerja lebih efektif. Namun di dalamnya terdapat sumber mineral unobtanium yang menjadi incaran manusia bumi. Pandora memiliki hutan liar. Hasil pemeriksaan tersebut pada akhirnya akan digunakan kembali sebagai bahan untuk memutakhirkan profil risiko dan strategi pengawasan bank. Apabila ditemukan bahwa Bank melakukan praktik yang tak wajar dalam menurunkan NPL-nya. pengawas tetap akan menilai bahwa bank tersebut memiliki risiko yang tinggi. pemeriksaan juga berguna untuk mendapatkan informasi lain yang susah atau tidak mungkin diperoleh dari laporan off-site. Untuk menilai kontrol dalam proses perdagangan surat berharga. pengawas perlu melakukan observasi dan pengamatan langsung terhadap proses yang terjadi di bank yang meliputi kebijakan dan prosedur pembelian surat berharga. pengawas selanjutnya akan melakukan penilaian terhadap jenis risiko yang terkait dengan aktivitas tersebut. Misalnya saja. penyelesaian kredit bermasalah yang dilakukan dan penilaian kewajaran penetapan kualitas kredit yang dilakukan oleh bank. Selain mengkonfirmasikan laporan yang diterima. proses pencatatan dalam pembukuan bank serta penetapan kualitas surat berharga tersebut secara periodik.

Karena yang lebih penting dari itu adalah kemampuan bank-bank itu sendiri dalam menjaga keselamatannya dengan cara selalu mematuhi rambu-rambu yang sudah ditetapkan dan prinsip kehatihatian yang berlaku. jelas sebuah pengharapan yang terlalu tinggi dan mustahil dilakukan. Memang diperlukan waktu untuk mengendus adanya sebuah tindakan fraud di bank. apa iya polisi yang disalahkan? Kan tidak. Sang tokoh antagonis kerap berujar bahwa “Pandora adalah dunia yang sangat ganas. Luas dan lebarnya aspek pengawasan bank yang mesti dijelajahi oleh Pengawas Bank BI menyebabkan Bank Indonesia tidak dapat bekerja sendirian untuk menjamin ketahanan seluruh bank yang diawasi. You are on Pandora”. Seorang pengawas bank yang menyaksikan film itu terhenyak.dengan kata-kata “you are not in Kansas anymore. Pengawas Bank BI tetap berusaha bekerja secara profesional dalam menjalankan tugas. Untuk itu. Beberapa dari kalian akan mati. Dalam hal tindakan sederhana seperti membuat air minum teh manis saja diperlukan waktu untuk membuatnya. Sejak saya mendapat tugas ini saya tahu bahwa saya tidak akan berhasil karena saya tidak bisa menyelamatkan SEMUA orang. Seperti itulah tugas yang selama ini diembannya. kalianlah yang harus mampu menjaga diri kalian sendiri dengan cara mematuhi aturan yang ada”. saya bertanggung jawab atas keselamatan kalian semua. Jadi. Ibarat ada sebuah pencurian di sebuah rumah. Harapan publik bahwa seorang Pengawas Bank BI bertindak bak “malaikat” yang memiliki kemampuan memelototi setiap jengkal langkah manajemen bank. Sebagai kepala keamanan planet ini. untuk segala Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 23 . Dia diberi tanggung jawab untuk menjaga agar kegiatan bank dapat berlangsung dengan baik. tapi dia sadar bahwa ada kemungkinan dia tidak bisa menjaga “keselamatan” SEMUA bank. Namun demikian. menunggu sampai teh mulai mengeluarkan aromanya hingga proses penyuguhan. seperti memasak air dulu. Kenapa yang punya rumah tidak melakukan tingkat pengawasan dan pengamanan rumah secara ketat.

Tidak kalah pentingnya adalah peranan dari bank itu sendiri dan berada di dalam koridor yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Suatu ketika diketahui adanya figur seseorang yang bukan pengurus sah sebuah bank yang menjadi tokoh sentral dibalik layar yang mengendalikan operasional sebuah bank swasta nasional. Meski baru indikasi. secara faktual figur misterius tadi diindikasikan aktif dan terlibat langsung dalam mengambil keputusan-keputusan penting di bank tersebut. Tapi. Pengawas Bank BI sadar betul bahwa mandat tugas mereka hanyalah pada item mengawasi dan memeriksa bukan melakukan penyidikan yang adalah domain penyidik (polisi dan jaksa). pengawas BI berusaha mencari tahu kebenaran informasi yang dilakukan dengan mengecek langsung ke lapangan sampai diperoleh bukti otentik. Pengawas BI pun memburu bukti-bukti otentik hingga akhirnya ditemukan sebuah dokumen berupa shareholders agreement yang memperlihatkan bahwa antara figur misterius tadi dan salah seorang pemegang saham adalah pemilik sah mayoritas saham di bank 24 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . ada indikasi bahwa pemegang saham pengendali (PSP) sebuah bank swasta nasional melakukan perbuatan melanggar hukum. Mari kita ambil contoh. apakah ada pelanggaran itu atau tidak. penjaminan dana yang diberikan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) seharusnya tidak menjadi pembenaran bagi bank untuk melakukan aktivitas usahanya tanpa perhitungan yang matang berdasarkan prinsip kehati-hatian dan ketentuan yang berlaku. Diperlukan waktu untuk melakukan cross-check informasi tersebut termasuk tindakan on-site supervision ke manajemen bank tersebut. maka pengawas tidak dapat langsung melakukan penyidikan. contoh lain. Suatu ketika. Mengingat pengawas bergerak hanya dalam ranah prinsip kehati-hatian dengan kewenangan menjatuhkan sanksi mengevaluasi fit & proper. Padahal si PSP itu sedang mengajukan permohonan merger dua bank lain yang ia miliki.sesuatu ada waktunya. Atau. tidak ada nama yang dimaksud di dokumen resmi bank dan BI. Secara yuridis formal. Selain itu.

untuk mengetahui adanya kejahatan kerah putih yang multi-kompleks dalam bisnis bank— seperti yang dipertontonkan pada kasus Bank Century— yang sudah tertintegrasi dengan pasar modal.tersebut. setelah ditenggarai adanya tindak pidana yang dilakukan Robert Tantular. Dalam hal melakukan pendalaman terhadap suatu aspek tertentu. jenis produk maupun variasi transaksi telah menimbulkan kompleksitas antara transaksi pasar uang dan pasar modal. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 25 . maka pengawas memasukkannya sebagai PSP dan diberikan sanksi. Kedua. BI selanjutnya melakukan pemeriksaan investigatif dan hasilnya telah diserahkan kepada kepolisian. Setidaknya. Robert Tantular pun akhirnya divonis 5 (lima) tahun penjara oleh pengadilan banding. PSP bank tersebut. pengawas tidak cukup hanya melakukan pemeriksaan umum. BI akan melakukan pemeriksaan investigatif yang hasilnya akan ditindaklanjuti kepada kepolisian. Pertama. asuransi dan pasar keuangan. perkembangan transaksi keuangan yang relatif cepat dengan terintegrasinya bank dengan lembaga keuangan lain. Dengan ditemukannya bukti tersebut. dalam kasus Bank Century. pesatnya pertumbuhan industri perbankan. telunjuk tangan masyarakat langsung mengarah ke muka pengawasan bank BI. Suatu pemeriksaan yang lebih mendalam dan khusus akan digelar. Padahal. Sebagai contoh. Jika dalam pemeriksaan khusus tersebut ditemukan adanya unsur pidana. ada dua tantangan besar yang dihadapi pengawasan bank. baik dari sisi volume. Kok Masih Ada Bank Bermasalah Ketika ada sebuah bank yang dinyatakan sebagai bank gagal dan masuk dalam skema bank berdampak sistemik yang perlu diselamatkan. misalnya transaksi valas suatu bank. sungguh bukanlah pekerjaan ringan dan dapat dilakukan cepat seperti membalik telapak tangan.

ada sebuah bank yang dalam portofolio investasinya menempatkan dana cukup besar pada saham-saham perusahaan yang masih ada keterkaitan dengan bank tersebut. Kenyataan inilah yang kini dihadapi pemeriksa dan pengawas bank BI. tapi itu kemungkinan terkait erat dengan sektor pasar modal. sulit bagi pemeriksa dapat mengetahui hanya dari audit umum saja. Misalnya. Untuk membongkar indikasi adanya praktik busuk eksekutif atau PSP bank. Bila tidak ada setoran dana tunai. Bukankah terbuka sekali kemungkinan. Dalam kondisi bank menjadi bagian integral dengan pasar modal. pasar uang dan asuransi global. pengawas BI sudah mengetahui adanya indikasi praktik reksa dana “gelap” (baca: tidak terdaftar di Bapepam). kemudian pengawas melaporkan temuan itu ke Bapepam untuk ditindaklanjuti. kerugian saham akan memukul kinerja modal bank. urusan pengawasan pun jadi lebih rumit. Misalnya. dalam situasi di mana seorang pengawas bank tidak bisa lagi melihat sebuah transaksi bank an sich dari sudut perbankan saja. Sedikit saja ada kegagalan di sektor keuangan. Tapi untuk mengelar audit investigasi memerlukan waktu. kerja keras dan SDM handal. Ketika harga saham-saham itu nyungsep hingga 60% dari nilai buku seiring dengan krisis ekonomi dan keuangan global. Hanya melalui audit investigasi kebusukan itu bisa terbongkar. bank pun kelimpungan mencari dana untuk menutup kerugian main saham tadi.Nah. telunjuk tangan 26 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . kegagalan di pasar saham atau pasar uang yang berdampak hebat pada kinerja bank. Belakangan ketika para investor reksa dana “gelap” tadi tak terbayarkan. Disinilah BI menyadari untuk meningkatkan kualitas SDM pengawas agar memiliki kemampuan cepat menangkap sinyal-sinyal sebuah bank akan mengalami masalah. Yang mungkin masih menimbulkan kegamangan pengawas bank di BI adalah bila terjadi “kebakaran” di wilayah pasar modal. dalam kasus Bank Century. asuransi atau pasar keuangan adalah kenyataan yang kompleks yang dihadapi seorang pengawas. memang bukan perkara mudah lagi melakukan pengawasan bank. Kalau sudah begini. kondisi bank akan meradang.

” ujar Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution merespon berbagai kritikan publik terhadap sistem pengawasan bank sentral yang dianggap sebagai biang keladi setiap ada kegagalan tanpa melihat apa sumber masalah bank. “Kami akui masih adanya kelemahan dalam pengawasan bank. Publik lupa. Apa pun nama peran yang dimainkan BI. saat ini BI telah membuat kesepahaman dengan Bapepam selaku otoritas bursa. disanalah para pengawas bank BI akan selalu berada. Sebagai bank sentral yang diberi mandat UU BI dan UU Perbankan untuk membina. Meski model pengawasan bank yang dilakukan BI sudah merujuk kelaziman (best practise) yang berlaku di bank-bank sentral sejagad. Setiap kelemahan dalam hal pengawasan bank akan kami perbaiki. sepanjang akhirnya sektor perbankan dapat diselamatkan dan kepercayaan publik terhadap perbankan nasional tetap terpelihara. amanah itu dilakukan dengan satu niatan. Oleh karena itu. yang jelas. menjadi sebuah momentum untuk memeriksa diri: apa yang sudah dan alpa dilakukan. (*) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 27 . Tapi. BI tidak bisa mengambil peran sebagai “malaikat” yang serba tahu akan sepak terjang manajemen bank. pemeriksaan bersama dan pembinaan dan pengembangan SDM. tukar menukar informasi.para investor tadi langsung menuding muka pengawas bank BI. sumber apinya ada di mana. setiap ada bank bermasalah. yakni menjaga dan mempertahankan bank sebagai lembaga kepercayaan publik sekaligus menjaga keamanan dana nasabah yang terhimpun dan tersimpan di bank. mengatur dan mengawasi bank. Terkadang BI mesti mengambil peran sebagai “pemadam kebakaran” yang sumber apinya berada di luar pagar sektor perbankan. Inti kesepahaman.

hingga Februari 2009. Misalnya. setidaknya dapat diteropong dalam beberapa aspek. Meski tidak ada satu pun bank yang masuk dalam pengawasan khusus (SSU). Dari hasil simulasi ketahanan bank ini diketahui gambaran umum kondisi perbankan nasional. Informasi ini bisa menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi faktual lapangan terhadap 125 bank yang diawasi oleh BI. 28 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Dengan adanya laporan ini akan memberi informasi memadai mengenai kondisi dan kerentanan sistem keuangan dan perbankan guna mengambil keputusan yang bertujuan untuk mencegah krisis dan memelihara stabilitas sistem keuangan. Pengawas Bank pun akan mencermati profil bankbank yang memperlihatkan indikasi penurunan kinerja likuiditasnya. setidaknya ada 19 bank berpotensi masuk pengawasan intensif BI karena angka kredit macet (NPL) di atas 5%.Bab 3 Menangani Bank Bermasalah Tatkala krisis moneter global semakin memperlihatkan dampak yang mendalam di Indonesia di tahun 2008 lalu. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) Bank Indonesia melakukan analisa peringatan dini (early warning analysis) melalui simulasi ketahanan industri perbankan (stress testing) dan melaporkan hasilnya kepada Rapat Dewan Gubernur BI. Apa penyebab bank-bank tadi mengalami pemburukan aset kredit atau masalah lainnya.

campur tangan pemilik dalam operasional bank atau adanya kesalahan penetapan strategi yang bermuara bank mengalami kerugian. ada dua aspek sumber masalah yang dihadapi bank sebagai unit usaha bisnis yang tak lepas dari berbagai risiko. Ambil contoh kebijakan Pemerintah mengurangi pagu ekspor minyak kelapa sawit untuk setiap industri pengolahan minyak sawit di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri. lemahnya pengendalian internal. Sedangkan faktor eksternal bank seperti perubahan lingkungan bisnis. Gagal bayar debitor bank ini memukul tingkat pendapatan bank dari bunga kredit (fee based income) dan memaksa bank untuk menyisihkan pencadangan yang menguras likuiditas hingga struktur permodalan pun terancam melorot. Faktor internal bank bisa menjadi sumber bank mengalami masalah bila bank itu dikelola dengan tidak hati-hati khususnya dalam manajemen risiko. perubahan kebijakan pemerintah. Perubahan kebijakan yang tak terduga berpeluang besar memukul pemburukan kualitas kredit debitur bank sehingga mempengaruhi likuiditas bank. Masih panjang daftar risiko-risiko yang Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 29 . Masih banyak faktor eksternal lainnya sangat berpotensi mempengaruhi kinerja bank. Contoh senyatanya adalah krisis moneter yang mendera medio tahun 2008 hingga memasuki tahun 2009 yang banyak memukul kinerja usaha debitor bank yang mengalami kesulitan untuk membayar bunga dan pokok kredit mereka. Kenyataan ini sudah barang tentu berpotensi memukul industri sawit dan mengancam kelancaran pembayaran angsuran kredit ke perbankan.Setidaknya. Sebut misalnya. Kedua aspek itu bisa karena persoalan di internal bank atau eksternal. Sebab lain bisa juga karena faktor perubahan situasi politik dan tingkat persaingan antar bank itu sendiri.

Sekali bank gagal memenuhi kewajiban kepada deposan.mesti dipikul perbankan. deposito dan giro yang umumnya berjangka waktu pendek (kurang dari setahun). putusan terang benderang: likuidasi. Disinilah bank secara alamiah menghadapi apa yang disebut maturity gap pada struktur keuangannya. Bukan tak mungkin akan mengalami rush oleh nasabah. Mengapa? Ya. Bank yang tergolong kecil yang bermasalah dalam hal likuiditasnya ini dalam kondisi normal akan 30 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . penyelamatan Bank Century. jatuh temponya tidaklah sama. karena ada krisis yang berpotensi mengoyak psikologi pasar yang berdampak ikut (baca: sistemik) merontokkan bank-bank lainnya. Dalam menangani bank bermasalah mestilah dilihat situasi dan kondisi ketika itu. Dalam menjalankan roda bisnis. jelaslah pendekatan dan penanganan menjadi berbeda. Selanjutnya tugas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk membayar dana masyarakat yang masuk dalam skim penjaminan. Kalau sudah begini. penutupan bank-bank tersebut berjalan secara alamiah tanpa menimbulkan goncangan psikologi massa nasabah bank. Lihat saja ketika BI menutup Bank IFI atau Uni Bank. Maksudnya. antara kewajiban membayar dana nasabah dan hasil penempatan. Ambil contoh kasat mata. bank menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan. ketika ada bank bermasalah dalam situasi krisis (entah itu moneter atau ekonomi). Namun sebaliknya. bank sebesar dan sesehat apapun akan kolaps. Dana yang terkumpul tadi akan dimanfaatkan bank untuk membiayai kredit korporasi atau penempatan pada instrumen-instrumen investasi lain yang umumnya berjangka waktu lebih dari setahun. Dalam kondisi sedang tidak ada krisis. reputasi bank itu sedang dipertaruhkan. Sebuah bank dikatakan bermasalah atau mengalami kegagalan bila sudah tidak mampu lagi memenuhi kewajiban deposan dan kreditur. Bila ada bank bermasalah hingga ditetapkan sebagai bank gagal dan setelah dikaji tidak berdampak sistemik dalam situasi tidak sedang ada krisis. Gagal bayar ini bersumber pada persoalan likuiditas bank.

Tapi unsur kualitatif atau judgement yang mempertimbangkan dengan cermat dampak psikologi pasar. seketika itu juga bank itu biasanya akan mengalami “pendarahan” akibat penarikan besar-besaran deposan. Pengawas Bank BI akan memasukkan bank itu dalam Pengawasan Intensif. Ya. Tapi. Terhadap sebuah bank sedang bermasalah. karena kecil saja peran bank ini terhadap totalitas sistem perbankan. Memang haruslah diakui. Dalam kondisi yang sedang tak normal didera krisis. Langkah-langkah koreksi yang direkomendasikan BI antara lain meminta bank melaporkan hal-hal tertentu. Disinilah bank sentral akan berperan menjaga kepercayaan publik agar tak luntur terhadap perbankan. bukan lagi faktor-faktor kuantitatif yang dominan akan menjadi bahan pertimbangan mengambil keputusan (judgement). kalau belajar dari krisis moneter tahun 1997/1998. wilayah ini adalah debatable. Pengetatan pengawasan dilakukan dengan serangkaian arahan tindakan koreksi yang akan direkomendasi oleh Pengawas Bank. Sedikitnya saja isu atau rumor yang menerpa sebuah bank.divonis mati alias likuidasi. isu kondisi sebuah bank sangatlah sensitif apalagi ditengah situasi sedang krisis. katakanlah bank mengalami lonjakkan kredit macet (NPL) hingga menembus batas aman yakni 5% seperti yang mendera 19 bank. bukankah faktor psikologi pasar yang merontokkan perbankan nasional hingga harus direkapitalisasi dana triliunan rupiah. misalnya. Pasalnya. Langkah koreksi ini dimaksudkan agar kondisi bank mengalami pemulihan dalam waktu tidak terlalu lama sehingga status bank dalam status pengawasan intensif pun dapat dicabut. Bank Dalam Pengawasan Intensif Bank Indonesia sebagai otoritas moneter sangatlah hati-hati dalam mengkomunikasikan kondisi sebuah bank kepada publik. Apa yang akan dilakukan BI? Bila memang masalah di sebuah bank hanya sebatas peningkatan NPL. informasi profil kredit bermasalah yang membuat bank dalam kondisi Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 31 .

bila informasi ini beredar di publik plus ditambah rumor dan bumbu-bumbu cerita serem yang membuat bulu kuduk deposan merinding. Selain itu. biasanya BI akan memerintahkan manajemen atau Pemeggang Saham Pengendali (PSP) untuk membuat rencana (action plan) secara tertulis terhadap perbaikan modal. akan dimintakan kepada PSP bank untuk mengambil langkah-langkah seperti menganti dewan komisaris atau dewan direksi bank. BI juga akan secara ketat mengawasi manajemen bank dan PSP untuk memenuhi kewajiban tindakan perbaikan (mandatory surverpisory actions). Menghapus buku kredit yang tergolong macet dan memperhitungkan kerugian dengan 32 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Menurut Wimboh Santoso. Apabila pengawas bank menyetujui proposal untuk memulihkan bank tadi dari ancaman kredit bermasalah. Pengawas BI akan meminta manajemen bank membuat tindakan (action plan) perbaikan terhadap NPL agar bisa kembali di bawah 5%. Bank Dalam Pengawasan Khusus Namun apabila kinerja bank dalam pengawasan intensif tidak juga bergerak memperlihatkan perbaikan. maka status pengawasan intensif pun dicabut. bank dalam pengawasan khusus biasanya tingkat persoalannya lebih berat lagi. Terhadap pasien unit gawat darurat pengawasan bank ini. Bila semua rencana tindakan koreksi bank tadi dijalankan dengan seksama oleh manajemen bank serta mengembalikan kondisi bank tersebut pada rambu-rambu kehati-hatian. aksi rush tidak terelakan lagi. Predikat bank SSU biasanya tidaklah membuat nyaman manajemen bank. Selain itu. Seperti sudah digambarkan. Misalnya.terancam kelangsungan usahanya. status pengawasan pun ditingkatkan lagi menjadi bank dalam pengawasan khusus (special surveilance unit/ SSU). sudah bermasalah dengan kinerja modal (CAR) bank yang melorot di bawah 8% plus ditambah NPL yang juga di atas 5% dan sangat mungkin ada tambahan masalah lain seperti tingkat profitabilitas yang ikut menurun.

Bila upaya merger belum juga ketemu jodoh. BI akan meminta bank menjual harta yang dimiliki untuk menutup kerugian. ketika ada bank masuk SSU. BI memberi waktu kepada manajemen bank untuk melaksanakan semua action plan dan pantangan tersebut selama tiga bulan bagi bank sudah terdaftar di bursa saham (listed bank) dan enam bulan bagi bank belum go public. PSP bank diminta untuk menjual bank kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh atau sebagian kewajiban bank. Begitu juga larangan bank untuk membayar pinjaminan subordinasi. Semua alat dan tindakan medis akan diambil. Bisa juga menyerahkan semua atau sebagian kerugian bank kepada pihak lain. Bank juga dilarang untuk melakukan transaksi atau memberikan kompensasi terhadap pihak terkait atau pihak lain yang ditetapkan oleh BI. Ya. Saran tindakan lain adalah melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain. Pengawas juga akan meminta PSP atau manajemen bank untuk membekukakan usaha tertentu bank yang berpotensi merugikan bank. Jangka waktu itu bisa diperpanjang satu kali atau paling lama tiga bulan. Kalau itu juga belum memadai. persis unit gawat darurat sebuah rumah sakit ketika menangani pasien gawat darurat yang perlu mendapat pertolongan segera.modal bank. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 33 . Begitu pula dengan BI. Pertumbuhan aset untuk sementara mesti dihindari dulu. ya itu tadi semua arahan dan action plan ini dan itu guna menyehatkan bank dimintakan kepada PSP dan manajemen bank. Sungguh tak nyaman memang bila bank masuk dalam unit gawat darurat pengawasan bank ini. Itu belum termasuk adanya pantangan dan larangan untuk “berpuasa” melakukan pembayaran distribusi modal seperti pembagian bonus atau dividen.

Penanganan Bank Gagal Jika sampai di sini upaya-upaya tadi tidak juga membuahkan hasil, maka bank tersebut akan ditetapkan sebagai bank gagal oleh Dewan Gubernur BI. Tinggal dilihat, apakah bank gagal tadi berdampak sistemik atau tidak. Ketika Bank IFI ditetapkan sebagai bank gagal dengan predikat non-sistemik, maka urusan penggarapan selanjutnya diserahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Antara BI dan LPS sudah ada Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang “Koordinasi Pertukaran Data dan Informasi Dalam Rangka Mendukung Efektifitas Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan”. SKB yang ditandatangani Ketua Dewan Komisioner LPS dan Pejabat Sementara Gubernur BI pada 22 Oktober 2009 ini, intinya mengatur perihal tata cara sebuah bank gagal (sistemik atau nonsistemik) yang untuk selanjutnya akan diserahkan ke LPS. Dalam menangani bank gagal tidak sistemik pihak LPS akan melakukan kajian dan memutuskan apakah akan diselamatkan atau tidak. Jika biaya penyelamatan lebih mahal dari pada melikuidasi, maka penyelesaian singkat saja, bank diusulkan dicabut izin usahanya lalu dilikuidasi dan LPS membayar klaim atas simpanan masyarakat. Apabila LPS memutuskan bank gagal untuk diselamatkan, maka berlaku dua perlakuan berbeda. Terhadap bank gagal nonsistemik, tindakan penyelamatan tidak akan melibatkan pemegang saham lama. Artinya, semua biaya yang timbul dari tindakan penyelamatan itu akan ditanggung oleh LPS. Sedangkan penanganan bank gagal sistemik dapat dilakukan baik dengan melibatkan pemegang saham lama atau tanpa melibatkan mereka didalamnnya. Bila pemeggang saham lama terlibat didalamnya, maka LPS mewajibkan menyetor dana setidaknya 20% dari total biaya penyelamatan yang telah dikeluarkan LPS. Dalam hal menangani bank gagal dalam skim apa pun, pihak LPS mendasari tidakan tersebut berdasarkan mandat Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang
34 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia

LPS. Penanganan bank gagal yang dipertimbangkan untuk diselamatkan akan diambil langkah-langkah bahwa kewenangan mengadakan RUPS dan pengelolaan bank sepenuhnya diambilalih LPS. Terhadap bank gagal yang diselamatkan, LPS akan melakukan penyertaan modal sementara (PMS). Selain itu, LPS juga dapat melakukan merger dan konsolidasi dengan bank lain. Hal yang masih sering rancu dipahami publik bahwa ketika LPS melakukan penyelamatan sebuah bank gagal entah itu sistemik atau nonsistemik seperti pada kasus Bank Century, publik akan cepat menyimpulkan telah terjadi kerugian uang negara. Bahwa tindakan penyelamatan bank yang melalui mekanisme PMS oleh LPS tidaklah semua dana hilang. Misalnya, PMS Bank Century senilai Rp6,76 triliun. Semua biaya yang timbul akibat melakukan penyelamatan suatu bank akan diperhitungkan sebagai penyertaan sementara. Kurun waktu 2-3 tahun LPS akan melogo saham bank tersebut untuk mengembalikan biaya penyelamatan tadi.

Lantas, bagaimana bila skim yang diambil LPS adalah melikuidasi bank gagal? Aset yang dimiliki oleh bank akan dijual. Prioritas pertama pembayaran adalah untuk bayar gaji dan pesangon pegawai, biaya operasional dan biaya-biaya yang dikeluarkan LPS. Apabila hasil penjualan aset masih belum mencukupi, maka sisanya akan tetap menjadi kewajiban pihak pemegang saham
Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia |

35

lama apabila terbukti pemeggang saham lama melakukan kelalaian atau perbuatan melawan hukum sehingga bank menjadi gagal. Yang lalu menjadi pertanyaan, apakah bila ada bank yang akhirnya ditetapkan sebagai bank gagal, hal ini bersumber dari kesalahan Pengawasan Bank BI. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya keliru. Yang sering dilupakan publik bahwa tugas pengawas bank adalah memastikan bahwa pengelolaan sebuah bank mengikuti prosedur atau koridor yang ditentukan agar bank dikelola secara hati-hati. “Jadi tugas pengawas bank itu hanya sebatas mengingatkan manajemen bank bahwa ada rambu yang dilanggar. Sedangkan urusan bank itu menjadi sehat atau tidak ya sepenuhnya tugas direksi bank, karena untuk itulah mereka dibayar mahal,” tandas Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution. (*)

36 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia

Bab 4

Menyibak Kegagalan Bank Century
Tumpukan kertas-kertas berserakan di atas meja kerja seluas 80 cm x 110 cm. Di antara kertas-kertas itu, sebuah monitor LCD ukuran 17 inchi masih menyala. Di depan layar monitor tadi sepasang mata seorang staf peneliti di Direktorat Pengaturan dan Penelitian (DPNP) Bank Indonesia seperti tak pernah berkedip memandang layar monitor komputer. Ia tidak sedang menonton film atau main game. Ia bersama beberapa staf lainnya sedang menggarap laporan yang berisi kajian bilamana Bank Century yang pada 6 November 2008 kemarin ditetapkan masuk pengawasan khusus (special surveillance), apakah menimbulkan efek domino (dampak sistemik) atau tidak terhadap stabilitas sistem perbankan Kajian sistemik memang harus dilakukan ketika trigger potensi kegagalan bank mulai terpantau dan perlu dikaji seberapa jauh dampaknya (efek domino) terhadap sistem perbankan secara keseluruhan. Para peneliti DPNP tadi sadar betul atas apa yang sedang digarapnya amatlah penting untuk disajikan dalam Rapat Dewan Gubernur BI 18 Nopember 2008. Mereka pun berusaha membuat laporan sekomprehensif mungkin terkait kajian dampak sistemik bagi bank sekarat tadi. Pengetahuan termutakhir seperti kerangka acuan kajian sistemik Uni Eropa coba diterapkan. Kajian sistemik meliputi aspek psikologi pasar, infrastruktur keuangan (sistem pembayaran) dan pasar keuangan. Bahwa bank dengan penguasaan aset besar saja yang sistemik tak valid lagi. Bisa saja bank berskala kecil tapi menimbulkan goncangan. Kajian sistemik itu pun rampung dan siap dilaporkan ke RDG. Persis seperti yang diagendakan bahwa pada 18 Nopember akan digelar RDG. Pimpinan DPNP pun mempresentasikan materi yang telah dipersiapkannya. Seperti biasa, dinamika tinggi sebuah rapat yang sedang
Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia |

37

Awal kisah merger ketiga bank tersebut tatkala Chinkara Capital Ltd (CCL) menjadi dewa penyelamat Bank Pikko yang masuk pengawasan khusus (SSU) BI. Perjalanan kelahiran BC seperti tak lepas dirundung masalah hingga diputus sebagai bank gagal. 20 Juni 2000. kondisi bank yang sedang menjadi pasien unit gawat darurat pengawasan BI itu kian mengalami penurunan kinerja. Sementara itu. waktu terus berjalan. Berbagai catatan kaki perbaikan serta masukan terhadap kajian itu disampaikan peserta RDG. Berbagai upaya untuk menyehatkan kembali bank ini sudah coba ditempuh.6%. Merger Yang Menjadi Sorotan Itu Bank Century adalah hasil merger tiga bank. CCL selaku calon investor bersedia menyetorkan dana sebesar US$ 12 juta. ketika itu situasi sedang dalam keadaan krisis yang sangat potensial ikut membawa goncangan terhadap sistem perbankan. Sebab. RDG menetapkan bank sebagai bank gagal. Revisi atas kajian sistemik itu pun dilakukan untuk mempertajam validitas atas kajian tersebut yang akan banyak mendapat sorotan publik nantinya. tapi tidak membuahkan hasil. Putusan pun harus diambil oleh RDG. Meski sebelum ini telah mengajukan dua kali fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) dari BI (cair dua tahap. keuangan dan keamanan dana masyarakat pun berlangsung.membahas persoalan serius terkait bukan hanya nasib sebuah bank tapi juga sistem perbankan. Posisi CAR bank minus 9. meski penguasaan aset bank ini kecil saja terhadap total dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Pada 8 Juni 2001. Dana itu berada di escrow account Bank CIC yang akhirnya dipindahkan ke rekening CCL di Bank Pikko. Pada 20 Nopember 2008. tanggal 18 Nopember 2008 tahap dua). manajemen Bank Pikko mengajukan izin melakukan 38 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . tanggal 14 Nopember 2008 untuk tahap satu. namun ditenggarai akan berdampak sistemik. Mereka adalah Bank CIC. Bank Pikko dan Bank Danpac. Dari hasil kajian BI.

konsolidasi dan akuisisi bank umum (Surat Keputusan Direksi BI No. RDG memutuskan untuk menyetujui proses akuisisi yang dilakukan CCL dengan beberapa catatan kaki. Walhasil.2% dari modal disetor bank. CCL pun membelanjakan dana dengan membeli saham Bank Danpac di lantai bursa. proses akuisisi tersebut belumlah sesuai dengan aturan main yang berlaku tentang tata cara merger. Bank Danpac tergolong bank dengan volume usaha kecil. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 39 . Lagi pula ada rencana CCL untuk melakukan proses merger ketiga bank.32/51/KEP/Dir tentang “Persyaratan dan Tata Cara Merger. Pihak CCL lalu menambah modal disetor Bank CIC sebesar US$10 juta dan menjadikan dirinya adalah pemegang saham mayoritas.5% saham di Bank CIC. Di bank ini tidak ada masalah serius menyangkut permodalan maupun lainnya. Ia dan bersama Morgan Stanley International Nominees Ltd secara de facto menguasai 70. sepak terjang CCL dengan tetap mengandeng Morgan Stanley diam-diam membeli 16.6%) Bank Pikko. tidak langsung menyetujui proses akuisisi CCL terhadap ketiga bank tadi. CCL di atas kertas adalah pengendali ketiga bank tersebut. 10 Oktober 2001. Sementara itu. Setelah melahap saham di Bank Pikko. Konsolidasi dan Akuisisi Bank Umum). Hal ini baik untuk memperkokoh dan memperbaiki kinerja bank tersebut. Walhasil. BI selaku bank sentral yang memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak setiap calon pemeggang saham pengendali (PSP) sebuah bank. CCL dalam waktu yang tidak terlalu lama melakukan rencana merger. Atas dasar pertimbangan itulah. maka pada 27 Nopember 2001. Sebab. Pertama. untuk memastikan apakah proses akuisisi Bank Pikko merupakan upaya penyelamatan bank tersebut serta bagaimana kejelasan status PSP yang nantinya harus bertanggungjawab atas ketiga bank tadi. Selanjutnya dicermati dan dipertimbangkan dari berbagai sudut. Namun begitu.penawaran umum (right issue) senilai Rp128 miliar yang diborong oleh CCL. di atas kertas perusahaan yang berbasis di Kepulauan Bahama ini menjadi pemilik mayoritas saham (66.

Legalitas Akuisisi Belum Lengkap? Dewan Gubernur BI sadar betul bahwa persetujuan atas proses akuisisi CCL diambil melalui sebuah tindakan (discretion) dengan pertimbangan menyelamatkan sebuah bank sebagai lembaga kepercayaan dan sistem perbankan yang kala itu masih dalam pemulihan setelah krisis 1997/1998. Sedangkan terkait surat rekomendasi dari otoritas moneter tempat asal CCL. pihak CCL berjanji tidak akan melakukan tindakan melawan hukum dan berusaha untuk mencukupi modal bank hingga mencapai syarat minimal modal (CAR) sebuah bank yakni 8%. BI mendapat salinan surat pernyataan “certificate of good standing” dari Commonwealth of Bahamas the International Business Companies. keharusan pihak CCL melampirkan laporan keuangan setidaknya 3 (tiga) tahun terakhir. CCL memperlihatkan kinerja yang memadai. ada dua syarat yang belumlah sepenuhnya bisa dipenuhi oleh CCL untuk menjadi PSP atas ketiga bank yang dikuasainya. Hal ini penting untuk mengetahui kemampuan finansial calon PSP bila nantinya dimintakan untuk menambah modal disetor guna memperbaiki kinerja bank. BI juga mengantongi surat pernyataan dari kantor hukum Rodyk & Davidson yang menyatakan bahwa CCL dalam kondisi sebagai entitas bisnis yang “good legal standing” 40 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Ketika putusan diambil. BI mencoba meneropong kekuatan keuangan CCL dari laporan keuangan dua tahun terakhir yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik JPL Wong & Co Singapore.Kedua. Ketiga. BI meminta pernyataan hitam di atas putih bahwa selaku PSP. Dari laporan keuangan itu diketahui bahwa secara finansial. Selain itu. Hal itu diperlihatkan dengan kesiapan dana yang telah disetor ke escrow account. Terhadap syarat pertama yakni melampirkan laporan keuangan tiga tahun terakhir. Serta belum adanya surat rekomendasi dari otoritas moneter dari tempat asal CCL. CCL akan melakukan upaya-upaya memperbaiki kinerja bank. Misalnya.

Hal itu ditambah lagi adanya dana fiktif sebesar US$25 juta yang nyantol di kas Bank CIC. Agenda pertemuan membahas belum dapat dilaksanakannya keputusan RDG 27 Nopember 2001 yang memberi Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 41 .Dengan adanya alternatif pemenuhan kedua syarat tersebut. Dewan Gubernur BI menilai adanya keseriusan pihak CCL yang sudah menempatkan dana sebesar US$12 juta untuk Bank Pikko pada 27 Nopember 2000. Dewan Gubernur BI pun mengelar pertemuan pada 19 Juni 2002. Namun ketika permohonan merger disampaikan. Pengawas Bank BI menemukan adanya indikasi perbuatan melawan hukum baik yang melibatkan secara langsung maupun tidak langsung pihak CCL di Bank CIC. ada permintaan pihak CCL untuk melakukan merger ketiga bank yang dikuasainya (CIC. RDG mengambil keputusan untuk memberikan persetujuan proses akuisisi Bank Pikko dan Danpac oleh CCL. Untuk membahas permohonan CCL. Indikasi perbuatan melawan hukum itu berupa penerbitan suratsurat berharga (SSB) oleh Bank CIC senilai US$200 juta yang ditempatkan sebagai modal disetor ke bank itu. pihak CCL berencana melakukan strategic merger terhadap tiga bank yang dikuasainya. Keputusan itu diambil dalam kerangka upaya menyelamatkan dan menyehatkan bank serta tetap terjaganya stabilitas di sektor perbankan dan moneter sebagaimana diamanatkan UU Perbankan (Pasal 29 jo 37). tapi ini barulah sebuah indikasi yang masih diselidiki pihak BI. Pikko dan Danpac). Pihak BI pun menerjunkan Tim UKIP (Unit Khusus Investigasi Perbankan) untuk melakukan penyelidikan. Indikasi Perbuatan Melawan Hukum? Setelah keluar persetujuan BI atas proses akuisisi Bank Pikko dan Bank Danpac. Untuk itu. Adanya temuan yang mengindikasikan praktik perbuatan melawan hukum ini memang harus dibuktikan keabsahannya. Sementara proses penyelidikan berjalan. Ada praktik penyimpangan? Ya.

bahwa BI pada prinsipnya tidak keberatan atas rencana CCL mengakuisi 66. Dan BI melarang pihak CCL mengalihkan saham yang dimiliki ke pihak lain tanpa persetujuan bank sentral. putusan pun harus diambil.65% saham (senilai Rp127. Persetujuan BI itu dengan satu catatan kaki. Selanjutnya dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 42 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . CCL juga diwajibkan untuk memenuhi dan menjaga kecukupan modal di kedua bank tersebut. maka BI akan membatalkan proses akuisisi dan meminta dalam kurun waktu 12 bulan agar CCL melepaskan semua saham di bank-bank yang dikuasainya. Surat persetujuan BI tadi masih pula diimbuhi kewajiban CCL sebagai calon PSP di Bank Pikko dan Bank Danpac. maka BI akan membatalkan persetujuan akuisisi pada bank saudara. Bila hasil merger bank yang dikelola CCL tidak memperlihatkan perbaikan kinerja.persetujuan proses akuisisi Bank Pikko dan Bank Danpac oleh CCL karena adanya indikasi perbuatan melawan hukum. kelebihan dan kekurangannya. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek. “Dan apabila berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap PT Bank CIC terbukti bahwa CCL selaku pemegang saham PT Bank CIC melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang atau dinyatakan Tidak Lulus dalam penilaian fit and proper test.94% (senilai Rp53.9 miliar) atas Bank Pikko dan 54. Inti bunyi surat itu. Keluarlah surat Dewan Gubernur BI kepada pihak manajemen Bank Pikko dan Bank Danpac pada 5 Juli 2002. Bila dikemudian hari dari hasil pemeriksaan diketahui adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan CCL. bahwa dalam kerangka menyelamatkan dan menyehatkan perbankan.9 miliar) atas Bank Danpac. prosedur dan kontrol atas pengelolaan risk management di kedua bank tersebut. BI meminta jaminan bahwa pihak CCL akan melakukan perbaikan sistem. BI juga meminta agar pihak CCL tetap menghargai independensi direksi bank dalam mengambil keputusan dan tidak melakukan intervensi. maka CCL akan dilarang untuk memiliki atau membeli saham bank-bank di Indonesia.

CCL wajib melepaskan kepemilikan sahamnya baik secara langsung maupun tidak langsung pada bank-bank di Indonesia. diperoleh gambaran yang positif. pihak CCL mengajukan permohonan melakukan merger Bank Pikko dan Bank Danpac ke dalam PT Bank CIC sebagai bank hasil merger melalui surat tertanggal 5 Nopember 2004. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 43 . Hasil financial due dilligence kantor akuntan publik (KAP) Dedy Muliadi & Rekan. yang isinya rekomendasi merger Bank Pikko dan Bank Danpac ke dalam Bank CIC. Isi surat ini jelas memperlihatkan sikap hati-hati bank sentral ketika memberikan persetujuan akuisisi Bank Pikko dan Bank Danpac oleh CCL. Dana pihak ketiga melonjak 54. “Meski gambaran posisi CAR sudah baik.bulan sejak pemberitahuan BI. Merespon permintaan BI untuk setor dana tambahan.25%. Misalnya.GBI/2004 tertanggal 6 Desember 2004. 6 Desember 2004.” tandas surat BI bernomor 4/54/DpG/DPIP tertanggal 5 Juli 2001. Dengan tambahan setoran dana sebesar US$9 juta. Merespon permohonan itu. CCL menginformasikan ada calon investor yang bersedia menyetorkan dana sebesar US$9 juta pada 28 Oktober 2004. Setelah keluar izin prinsip persetujuan BI itu. total aktiva meningkat 38. 30 April 2004 dan proyeksi bank pasca merger dua tahun ke muka. posisi CAR bank (per neraca Agustus 2004) setidaknya mencapai 8.69% dengan TKS masuk kategori sehat. tapi BI tetap meminta tambahan modal setidaknya Rp60 miliar paling telat disetor Nopember 2004 agar posisi CAR menjadi 11. Posisi CAR pun di atas 8.05%. Selain itu. ada calon mitra investor lokal CCL yang menempatkan dana dalam wujud deposito sebesar Rp20 miliar.53%.” pinta BI kepada CCL. Dua hari kemudian setelah surat permohonan merger itu.66%. keluar surat Gubernur BI bernomor 6/7/KEP. BI melakukan berbagai kajian terhadap kinerja ketiga bank bila dimerger kelak.

bila suatu ketika ternyata MTN yang jatuh tempo tak terbayarkan alias macet. Adalah wajar bila akhirnya keluar izin merger dari BI. perkembangan kinerja bank hasil merger kondisi bank ternyata tidaklah seindah yang diharapkan. Ketika merumuskan soal status SSB yang tidak memiliki rating ini. BI meminta kepada PSP Bank Century—bank hasil merger—tambahan modal sedikitnya Rp400 miliar plus US$15 juta yang disetor pihak CCL. Dengan tambahan dana segar ini akan memungkinkan pihak bank memenuhi kewajiban terhadap MTN yang jatuh tempo tanpa harus menguras modal dan memukul kinerja CAR bank hingga di bawah yang disyaratkan yakni 8%. Kebutuhan modal untuk mencapai CAR 8% bank pasca merger menjadi tidak terlalu besar. Seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu pokok persoalan krusial adalah penerbitan surat-surat berharga (SSB)—medium terms note/MTN Dresdner Bank— senilai US$127 juta oleh Bank CIC yang diperkirakan mengalami masalah di kemudian hari. maka berpotensi akan membebani permodalan bank pasca merger.Kinerjer Bank Pasca Merger Sempat Membaik Berbekal proyeksi hasil merger yang positif membuat lega Dewan Gubernur BI. Sedianya. Untuk mengantisipasi hal ini. Sisa persoalan di masa lalu masih terus membayangi bank tersebut. 44 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . 3-4 Juli 2003. bila MTN tadi jatuh tempo dan tidak terbayarkan maka langsung dinyatakan macet. Namun. Rekomendasi KEP ini memberi kejelasan atas status MTN tadi. BI merujuk rekomendasi Komite Evaluasi Perbankan (KEP) di Bali. BI akan meminta CCL tambahan dana antara Rp300 miliar hingga Rp400 miliar karena memperhitungkan potensi macet SSB tersebut. yakni hanya Rp71 miliar. Pada sisi lain. tempat masyarakat menitipkan uangnya. Betapa tidak karena setiap upaya yang dilakukan BI adalah tetap dalam rangka ingin menyehatkan dan menyelamatkan perbankan nasional sebagai institusi kepercayaan. yang menyatakan bahwa surat utang berharga MTN tidak digolongkan macet sepanjang belum jatuh tempo.

persisnya rentang waktu 2005 hingga Oktober 2007. LoI ini memberi harapan akan adanya calon investor baru yang akan menyuntikkan dana segar. Hal itu dapat dibuktikan ketika ada SSB jatuh tempo periode Desember 2006 hingga September 2008 senilai US$33 juta dapat dibayar pihak BC. Rekomendasi BI ini dalam kerangka menyehatkan dan menyelamatkan bank. permintaan tambahan modal tidaklah sepenuhnya ditaati CCL. HSBC dan Noor Islamic Bank. Mereka adalah Kuwait Finance House. Carlyle. Ada beberapa calon investor yang telah menyatakan minat. Rupanya pihak BC mengalami kesulitan melego SSB tadi. pihak PSP BC mengajukan proposal ke BI berupa cash collateral (asset management agreement/AMA) selama kurun waktu tiga tahun (Februari 2006 hingga Februari 2009). BI menyarankan kepada PSP dan manajemen BC agar menjajaki calon investor untuk menyuntikkan dana segar guna memperbaiki kinerja permodalan bank. Ditambah lagi kondisi kredit macet (non performing loan) yang berada di atas 5%. krisis gagal bayar properti (sub-prime mortage) di Amerika Serikat mulai memukul tidak hanya pasar keuangan dan perekonomian di negeri Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 45 . Skim penyelesaian SSB melalui AMA boleh dibilang berjalan lancar. Memasuki triwulan keempat tahun 2007. Pihak BI meminta agar seluruh SSB tersebut sudah terjual selama pemberlakuan AMA. Untuk menyelesaikan SSB valas senilai US$203 juta. AMA tersebut mendapat jaminan dana tunai salah satu PSP BC (Hesham Al Warraq) senilai US$220 juta yang berada di Dresdner Bank di Swiss. Tak lama setelah merger.Rupanya. Memasuki Juli 2008. Yang menjadi kabar gembira adalah ketika Hana Financial Group menandatangani Letter of Intent dan Point of Understanding dengan PSP BC. BI meminta kepada manajemen Bank Century agar SSB tersebut cepat-cepat dijual agar tidak menganggu permodalan bank (aktiva bank). Korean’s Shinhan Bank. April 2008. Pengawas Bank BI menempatkan status pengawasan intensif. Hal ini karena adanya gangguan SSB valas yang berkategori non investment rating bakal mengalami kemacetan. Hana Financial Group.

Lalu. tapi juga ikut memporak-porandakan pasar uang seantero jagad. Hal itu masih ditambah lagi accrue bunga senilai Rp300 miliar yang ternyata di-reverse sehingga mengurangi pendapatan bank. Pengawas Bank BI mendapati bahwa ia dan Ali Rizvi melakukan kesepakatan tertuang dalam shareholder agreement bahwa mereka berdua adalah pemegang saham mayoritas (70%) di BC. Dasar pengenaan status SSU karena CAR bank dibawah 8%. Alasannya karena otoritas moneter di Korea melarang perbankan mereka melakukan ekspansi di luar negeri.itu. kondisi likuiditas BC semakin parah. Salah satu pokok soal yang harus diselesaikan adalah SSB valas. Inti LoC meminta pihak PSP BC untuk menyelesaikan permasalah likuiditas bank. hasil pemeriksa BI diketahui bahwa kinerja keuangan khususnya CAR bank per 30 September mengalami penurunan menjadi 2. pemeriksa dan pengawas BI mengusulkan kepada DG BI agar BC masuk pengawasan khusus (SSU) pada 5 November 2008. pada 7 Januari 2008. ada kewajiban bank untuk melakukan PPA senilai Rp59 miliar yang ikut mengerus modal. Pada akhir Oktober 2008. muncul SSB valas senilai US$65 juta di luar skim AMA yang jatuh tempo diindikasikan tak terbayarkan alias macet. Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq. Pertemuan itu membahas upaya-upaya memperbaiki kinerja BC yang tertuang dalam Letter of Commitment. pihak PSP mengalami kesulitan untuk memenuhi ketiga komitment yang telah disepakati. Tapi. PSP BC pun mulai kelimpungan untuk mendongkrak kesehatan bank tersebut. Sementara itu. BI mengundang PSP BC yang diwakili Robert Tantular. Robert Tantular tadinya bukanlah pemeggang saham pengendali BC. menambah modal dan mempercepat masuknya investor baru. Pada 15 Oktober 2008.35%. Melihat gelagat tak beres pada BC. Meski sudah ada LoC. Beberapa kali terjadi pelanggaran 46 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Pada sisi lain. Pihak Hana Financial Group asal Korea Selatan yang sudah meneken LoI dengan PSP BC pun dengan berat hati membatalkan rencana akuisisi BC.

Banyak aspek memasukkan sebuah bank dalam pengawasan khusus. karena terlambat menyetor prefund. BC kembali mengajukan FPJP kedua dan diberikan sebesar Rp187 miliar sesuai penilaian atas jaminan yang diserahkan BC kepada BI. Bila bank ini tak diselamatkan akan membawa efek menular kepada sejumlah bank sekelas BC dan sistem perbankan serta keuangan. BC mengajukan FPJP dan disetujui sebesar Rp502 miliar. (*) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 47 . RDG BI memutuskan BC tidak bisa lagi diselamatkan dan disehatkan oleh PSP bank sehingga ditetapkan sebagai bank gagal yang berstatus sistemik dan merekomendasi untuk diselamatkan oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pokok serius bahasan adalah laporan kinerja terkini BC dan kajian sistemik bank tersebut bila terpaksa harus dicabut izin usahanya. Sesuai ketentuan yang berlaku. Dua hari kemudian (20 Nopember2008). Mencermati kondisi likuiditas BC yang terus mengalami penurunan.. BI pun membuka pemberian fasilitas pembiayaan jangka pendek (FPJP) bagi BC.GWM serta likuiditas bank yang terus memburuk. Kedua FPJP itu ternyata tak menolong BC. Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) yang dipimpin Menkeu Sri Mulyani pun memutuskan BC sebagai bank sistemik yang harus diselamatkan. Dalam kondisi yang sedang terpuruk ditambah lagi penarikan dana pihak ketiga secara terus menerus dan hembusan rumor miring membuat kondisi BC pun mulai semponyongan dan limbung. Peristiwa ini semakin memukul BC ketika deposan melakukan aksi rush dana mereka di bank itu. Pada tanggal 14 Nopember 2008. Pada tanggal 17 Nopember 2008. Biasanya modal bank rendah dan tingkat kredit bermasalah tinggi serta profitabilitas yang rendah pula. Dewan Gubernur BI mengelar pertemuan (18 Nopember 2008). Bank ini juga sempat mengalami gagal kliring (13 Nopember 2008).

48 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia .

LAMPIRAN Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 49 .

50 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia .

Misalnya. ketika BI mencabut izin usaha Bank IFI pada 17 April 2009. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 51 . Selama ini untuk mengukur sistemik atau tidaknya sebuah bank hanya didasarkan pada penguasaan aset.Box 1 Menimbang Sistemik Sebuah Bank Tatkala Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan Bank Century sebagai bank gagal dan berdampak sistemik pada 20 Nopember 2008 dan disetujui oleh Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sehari kemudian (21 Nopember 2008). Begitu pula sebaliknya. Sebab. Perihal sistemik atau tidak sebuah bank yang dinyatakan gagal oleh bank sentral memang masih menjadi bahan yang bisa diperdebatkan panjang lebar. Ketenangan publik ini bisa terjaga karena situasi ketika itu memang kondusif di mana tidak ada goncangan seperti krisis ekonomi dan moneter.76 triliun untuk menyelematkannya (bail-out). bahwa semakin kecil aset bank akan minim pula potensi sistemik yang dapat ditimbulkan adalah valid. boleh dibilang semua pihak sepakat dan bisa menerimanya. bagaimana mungkin bank kecil seperti Century kok bisa ditetapkan sebagai bank sistemik yang mengharuskan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyisihkan dana Rp6. Semakin besar aset sebuah bank akan semakin tinggi pula potensi sistemik bank itu bila harus ditutup. Memang bila merujuk asumsi di atas. Pada poin ini. Tidak terlihat adanya goncangan publik terhadap penutupan bank tersebut. memang tidak ada aturan baku yang mengatur soal ini. bank dengan aset kecil maka potensi sistemiknya rendah. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pun segera memainkan peran sebagai penjamin dana nasabah. publik pun sontak meradang dan mempertanyakan.

Penilaian (judgement) dilakukan beradasarkan pertimbangan kualitatif.. malah terjadi rush luar biasa terhadap hampir semua bank (besar dan kecil). Disinilah perdebetan itu berlangsung.Faktor krisis patutlah diperhitungkan karena situasi makro yang sedang labil berpotensi akan ikut menjadi pemicu dan pemacu sebuah krisis baru. Tapi.. 1 Juni 2008. Manakala Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal yang berdampak sistemik. bangsa ini pun hancur. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Bank (DPNP) BI memakai kerangka analisis sistem Memorandum of Understanding (MoU) Uni Eropa. Sebab memang tidak ada parameter yang dipakai. Bagi sementara pihak. Bila pemerintah tak menenangkan kepanikan massa dengan menjamin semua dana nasabah. Bila Bank Century ditutup dalam situasi tidak krisis. Untuk lebih memperjelas kriteria yang dipakai. soal ini pun masih hal yang bisa diperdebatkan. sewaktu menutup 16 bank yang hanya menguasai 3% dari total aset perbankan nasional pada November 1997. dipastikan tidak berdampak sistemik. Peristiwa ini memberi pembelajaran berat bagi Pemerintah dan Bank Indonesia bila akan terpaksa (sekali) mesti mencabut izin sebuah bank.in a such situation.” Inti pernyataan itu. bahwa penilaian kualitatif menjadi unsur lebih penting ketimbang informasi kuantitatif terkini. Periode 1997/1998 adalah masa krisis ekonomi dan keuangan serius di republik ini. Mencabut izin usaha sebuah bank beraset kecil sekali pun dikala krisis mestilah memperhitungkan efek psikologis massa (publik). bila melihat fakta di masa lalu. sistem perbankan akan rontok dan perekonomian nasional ambruk. one may also need to place more reliance on qualitative judgements rather than on upto-date quantitative information. Salah satu bunyi petikan MoU UE itu mengatakan: “. salah satu latar pertimbangan karena negara kita sedang menghadapi krisis yang sedang mendalam periode Oktober hingga Desember 2008. yakni dalam hal kriteria sistemik yang dipakai. Bila saat krisis ada bank ditutup meski tergolong kecil berpotensi besar berdampak sistemik. Pandangan MoU 52 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia .

terutama dalam kondisi pasar yang sangat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak kepercayaan pasar keuangan. Terhadap aspek ini. BI mengimbuhi satu aspek yakni faktor psikologis pasar. jumlah cabang. Hasil pemantauan memperlihatkan ada 18 bank yang berpotensi mengalami kesulitan likuiditas dan 5 bank mirip seperti Bank Century pun alami kesulitan likuiditas. BC memiliki kantor cabang sekitar 30 buah dan kurang lebih 65. peran lembaga keuangan dalam pasar. (2) Pasar keuangan.000 nasabah tapi bank ini tidak memiliki keterkaitan dengan bank lainnya sehingga tidak signifikan karena penguasaan asetnya kecil. Terhadap aspek institusi keuangan. dana pihak ketiga. Sehingga total aspek yang dikaji menjadi lima. Sedangkan pada aspek sistem pembayaran. Terhadap keempat aspek itu. Penambahan aspek psikologi pasar tak lepas pengalaman krisis perbankan periode 1997/1998 yang sangat kental unsur psikologi pasar. Nah.UE itu sudah barang tentu didasarkan pada pengalaman panjang mereka dalam menangani dan mencegah krisis keuangan. Ada 4 (empat) aspek yang dipakai MoU UE dalam menganalisis bank gagal yang ditenggarai sistemik: (1) Institusi Keuangan. Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 53 . apabila bank ini ditutup dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya rush (flight to quality atau capital outflow) pada peer bank dan bank-bank yang lebih kecil sehingga akan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. ukuran yang dipakai adalah rasio surat berharga yang dimiliki dibandingkan keseluruhan pasar. kredit. parameter yang dipakai adalah porsi pinjaman antarbank. Analisis pada bagian ini dikhawatirkan akan menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan. tingkat kapitalisasi saham di bursa. Kelima aspek inilah yang dipakai BI untuk membuat kajian sistemik—baik kualitatif maupun kuantitatif— terhadap Bank Century. konsentrasi deposito atau kredit berdasarkan sektor dan wilayah. dan (4) Sektor riil. ukuran yang dipakai adalah porsi volume dan nilai dalam sistem pembayaran. Pada aspek pasar keuangan. (3) Sistem pembayaran.

Untuk itulah. kriteria penilaian dampak sistemik mengikuti prinsip constructive ambiquity. penurunan nilai investasi akibat mark to market. Padahal. Kelima aspek kajian sistemik sebuah bank gagal juga sudah terhisap dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) No. Memperhitungkan berbagai aspek jauh ke depan yang 54 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . kemacetan sistem pembayaran. Sedangkan pada aspek kepercayaan publik. Kriteria tak tertulis lain yang patut juga mendapat perhatian adalah pada aspek potensi semua dampak yang mungkin dapat diprediksi (all foreseeable effect). Maksudnya. terjadinya pemindahan dana ke bank atau aset keuangan yang berisiko lebih rendah. Kegagalan bank ini memiliki dampak yang relatif terbatas terhadap sektor riil.Aspek sektor riil ukuran yang dipakai adalah penurunan deposit. wilayah ini tetaplah menjadi isu kontroversial. 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). penilaian dampak sistemik hanya dilakukan secara situasional dengan mengambil pertimbangan kondisi pasar keuangan dan perekonomian pada saat terjadi institusi keuangan mengalami permasalahan. dikhawatirkan akan menimbulkan moral hazard karena dapat dijadikan acuan oleh eksekutif atau pemegang saham bank untuk mengiring bank yang dikelola menjadi bank gagal yang masuk kriteria sistemik dan diselamatkan LPS. pada sisi lain. Meski sudah dipaparkan kelima aspek tersebut yang menjadi landasan pengambilan putusan bahwa BC adalah bank sistemik. kegagalan BC dapat menambah ketidakpastian pada pasar domestik yang dapat merusak kepercayaan terhadap pasar keuangan. Hasil pemantaun dan analisis: peran mengucurkan kredit ke sektor riil tidak signifikan.42% terhadap total kredit bank. penurunan akses kredit. salah satu ukuran yang dipakai adalah kemungkinan terjadinya bank runs. kesulitan penarikan simpanan oleh nasabah bank. Analisa yang disampaikan BI. Kredit BC ke sektor industri hanya 0. bila kriteria sistemik dibuat sedemikian jelas merujuk data dan informasi yang bersifat kuantitatif. munculnya rumor negatif di pasar.

Jika dalam hal menentukan sebuah bank gagal berdampak sistemik.mungkin terkena dampak dari penutupan bank tetaplah ikut menjadi wacana dalam memperhitungkan sebuah bank gagal sistemik atau tidak. Namun dalam praktiknya tidak semua kondisi tren yang dianalisis kecenderungannya dapat dibuat kuantifikasi merujuk informasi terkini (up-date information) sehingga analisa perlu dilengkapi dengan analisis yang bersifat judgment. analisa yang dilakukan adalah membaca tren kondisi makro ekonomi dan kondisi sistem perbankan dengan bingkai analisa merujuk MoU UE. Semakin jauh ke depan analisisnya akan sampai pada kesimpulan sementara berupa ketidakpastian besarnya dampak. (*) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 55 .

Padahal rata-rata NCD dalam kondisi normal adalah 200%. FPJP dimaksudkan untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek yang dialami bank. Indonesia pun terkena imbas. bahkan bursa sempat suspen dua hari (8-10 Oktober 2008). Pemerintah pun merespon cepat situasi darurat ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (PERPPU) No. 2 Tahun 2008 tentang Perubahan UU BI .Box 2 FPJP: Mengapa Direlaksasi? Pasca pengumuman kebangkrutan institusi keuangan nomor satu di Amerika Serikat. Inti beleid itu. Yang paling mengerikan lagi ketika indeks ratio alat likuid dibandingkan dengan non core deposit (NCD) melorot luar biasa dari 129. Bahkan tiga bank BUMN mesti ditolong melalui penempatan dana pemerintah sebesar Rp15 triliun. Lehman Brothers (LB) yang gagal meminta perlindungan kebangkrutan dari otoritas moneter di sana. Bank terbesar di AS Citigroup pun sampai meminta diselamatkan (bail-out) bank sentral AS The Fed. Apa makna semua ini? Indonesia memasuki situasi krisis.4. Keambrukan industri perbankan dan keuangan dunia seperti sudah diambang mata.9%. Perbankan mengalami kekeringan likuiditas.2% (Januari 2008) menjadi 84. 15 September 2008.11. Indikator makro ekonomi memperlihatkan indikasi meradang. Setidaknya 23 bank merosot tajam likuiditas dana pihak ketiga. memungkinkan kredit berkolektibilitas lancar jadi agunan untuk mendapatkan Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP). IHSG di Bursa Efek Indonesia nyungsep tajam dari 2.650 per dolar AS. industri keuangan dan perbankan di AS dan dunia seperti terseret atas kejatuhan LB. Kurs rupiah melemah tajam hingga Rp12.111. Penyebab kesulitan itu salah satunya karena terjadi arus dana masuk yang lebih kecil dibandingkan dengan arus dana keluar (mismatch) dalam rupiah sehingga bank tidak 56 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Indeks SUN pun anjlok ke titik 67.830 menjadi 1.

SBI. BI mengeluarkan kebijakan perubahan atas PBI FPJP sebelumnya. Inti PERPPU & PBI adalah sama. BI menyadari bahwa perlu ada relaksasi atas prasyarat PBI FPJP. Bank Century mengalami gagal kliring. Maksud perubahan ini agar semakin luas bank yang bisa memanfaatkan FPJP. Salah satu syarat memperoleh FPJP adalah CAR bank di atas 8%. Persyaratan bahwa kredit tidak boleh pernah direstrukturisasi. yakni memberi fasilitas pinjaman berjangka 14 hari kerja yang bisa diperpanjang hingga 90 hari kepada perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas. BC mengajukan FPJP. BC kembali mengajukan FPJP kedua Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 57 .10/26/PBI/2008 tentang FPJP pada 29 Oktober 2008. Berdasarkan poisisi CAR terakhir tanggal 30 September 2008.4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) keluar. Setelah PERPPU No. CAR BC ada pada angka 2. Lalu. Agunan FPJP selain SUN. Pada tanggal 17 Nopember 2008.35%. Tatkala pusaran krisis semakin mendalam dan kinerja perbankan terus melemah. Pada tanggal 14 Nopember 2008. dalam konteks menjaga stabilitas sistem perbankan. Pada 14 Nopember 2008. Inti perubahan dalam syarat permodalan (CAR) bank asal positif. Aturan sebelumnya mengharuskan CAR di atas 8%. BI menyetujui FPJP sebesar Rp502 miliar. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). aset kredit yang dapat dijaminkan tidak lagi harus 12 bulan berstatus lancar tapi 3 bulan saja.dapat memenuhi kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah. BI akan menempatkan bank penerima FPJP berstatus dalam pengawasan khusus. Dalam kerangka besar menjaga stabilitas sistem perbankan. BI pun membuka pemberian fasilitas pembiayaan jangka pendek (FPJP) bagi BC. Setelah melihat semua kelengkapan administratif yang diajukan BC untuk mendapatkan FPJP. obligasi korporasi juga kredit bank yang berstatus lancar 12 bulan terakhir. kondisi Bank Century ini dapat mengancam stabilitas perbankan secara keseluruhan sehingga perlu diselamatkan. Selain itu. Pada tanggal 13 Nopember 2008. dihapus. Bank Indonesia pun merilis Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. Sesuai ketentuan yang berlaku.

Keadaan ini membuat kondisi keuangan BC mengalami mistmatch yang begitu dalam. Rapat KSSK yang dipimpin Menkeu dan Gubernur BI selaku anggota dan Sekretaris KSSK pun memutuskan BC sebagai bank gagal berdampak sistemik dan menyerahkan tindakan selanjutnya kepada Lembaga Penjamin Pinjaman (LPS). Keputusan menetapkan sebagai bank gagal yang berpotensi sistemik ini pun dilaporkan kepada Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Tak ada pilihan bagi BI selaku otoritas moneter yang membina dan mengawasi perbankan untuk segera mengambil tindakan. kucuran dana segar tadi tak kuasa menutupi kewajiban BC yang jatuh tempo dan ditambah derasnya aksi penarikan dana oleh masyarakat. Rupanya. BC pun ditetapkan sebagai bank gagal yang berpotensial sistemik (20 Nopember 2008). (*) 58 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . Total likuiditas yang diterima BC selama pengucuran itu sebesar Rp689 miliar.dan disetujui sebesar Rp187 miliar sesuai penilaian atas jaminan yang diserahkan BC kepada BI.

Ben Bernanke sebagai “Man of The Year 2009”.792 triliun Dana penyelamatan BC dikeluarkan dari kocek Lembaga Penjamin Pinjaman (LPS) yang bersumber dari pungutan premi perbankan.76triliun. Pilihan pun jatuh pada putusan menyelematkan yang adalah jamak seperti halnya ketika The Fed menyelamatkan perbankan di negaranya. Pilihan TIME atas Ben Bernanke menimbulkan banyak kecaman. Rincian angka bailout sebesar itu adalah untuk keperluan menambah modal bank (CAR) hingga 8% sebesar Rp1. lembaga keuangan hingga ke banyak korporasi. Pasalnya. Untuk menyelamatkan BC diperlukan dana setidaknya Rp6. Buah keberanian Bernanke ini sudah terlihat ketika perekonomian AS menunjukan gejala membaik dari pemulihan. finansial dan manufaktur. Biaya penyelamatan dana talangan Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 59 .Box 3 Untung-Rugi Menyelamatkan Bank Century Majalah TIME edisi akhir tahun 2009 memilih Gubernur Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Bernanke terbilang terlalu nekad mempertaruhkan dana miliaran dolar AS untuk menalangi kebangkrutan industri keuangan. KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) harus mengambil keputusan: menutup atau menyelamatkan BC. TIME memilih Bernanke atas keberaniannya mengelontorkan dana miliaran dolar AS sebagai dana talangan ke industri perbankan. Terpilihnya profesor ahli Depresi Besar Ekonomi pada Universitas Priceton ini menyisihkan banyak tokoh besar dunia. Pro dan kontra atas sebuah kebijakan yang diambil dalam situasi krisis adalah hal lumrah. Tindakan ini diambil untuk mencegah resesi lebih mengila dan mendalam. Dalam situasi yang serba kritis akibat krisis yang mendalam di Indonesia. Hal yang tak jauh berbeda ketika Bank Indonesia menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berpotensial sistemik (20 Nopember 2008).7 triliun an kebutuhan likuiditas 3 (tiga) bulan ke depan sebesar Rp4.

bank sekecil apa pun potensial sekali menjadi sistemik. Jadi. Langkah ini hanya merupakan bagian dari upaya besar yang ingin disasar. Aksi rush dana sangat mungkin terjadi. Angka itu diperoleh dari perhitungan total dana pihak ketiga di BC sebesar Rp9 triliun. PMS tersebut akan kembali. Langkah KSSK menyelamatkan BC pun sepenuhnya bukanlah karena ingin menyelamatkan satu bank itu. di atas kertas dana talangan PMS sebesar Rp6. yakni menjaga stabilitas sektor keuangan dan perbankan serta menyelamatkan perekonomian. Dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan ke depan LPS akan melego saham Bank Mutiara ke calon investor. Lebih murah Rp600 miliar dibanding bail-out BC. maka LPS mesti mengganti dana nasabah. “Tapi dalam situasi krisis. Yang dimaksud biaya tak langsung adalah ongkos kepanikan deposan yang memiliki dana di atas Rp2 miliar yang tak dijamin LPS di 23 bank-bank (peers) setara BC. Dalam kondisi normal. Total dana nasabah yang dijamin LPS (Rp2 miliar per rekening) diperkirakan mencapai Rp6 triliun.76 triliun tidaklah semuanya menguap bak angin lalu. kata dia. Tapi. itu baru memperhitungkan biaya langsung. Padahal ada biaya tak langsung. Tony Prasetiantono. Sementara kesan yang muncul di publik adalah mengapa Pemerintah mesti mengorbankan dana triliunan untuk sebuah bank yang dianggap tidak pantas diselamatkan. Bila hal itu terjadi diperkirakan akan ada 23 bank yang akan ikut kolaps. 14 Desember 2009.” ujar Raden Pardede. kegagalan Bank Century tidaklah termasuk bank sistemik dan tidak harus diselamatkan. ongkos jika BC tak diselamatkan diperkirakan hanya Rp6 triliun. Sisanya (Rp3 triliun) tidak masuk skim penjaminan LPS. mantan Sekretaris KSSK. Sulit memastikan berapa besar biaya yang 60 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . tergantung besarnya hasil penjualan saham bank itu oleh LPS. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) seperti dilansir harian Kompas. Bila bank-bank itu ambruk. Menurut kalkulasi A.oleh LPS tadi diperhitungkan sebagai Penyertaan Modal Sementara (PMS) LPS ke BC yang berubah nama menjadi Bank Mutiara.

76 triliun. Dengan hanya Rp6. Misalnya. Hal lain. kata Tony.mesti dikeluarkan kalau skenario menutup BC terjadi. yang menjadi pembanding adalah aset dan dana masyarakat di sektor perbankan yang berhasil diamankan stabilitasnya. Menurut dia. Tapi yang jelas. ongkos tak langsung bila BC tak diselamatkan akan lebih besar dari Rp6.76 triliun. biaya pemulihan gempa di Padang atau lainnya tidak ada metodologinya.” tandas Tony Prasetyantono. Jadi? “Menyelamatkan BC dengan harga Rp6. Dana sebesar itu dipakai untuk merekapitalisasi perbankan nasional agar terhindar dari kebangkrutan. kata Raden Pardede. membandingkan biaya penyelamatan dengan nasi bungkus. yang mesti diperhitungan adalah biaya menyehatkan bank-bank bila BC tidak diselamatkan. Tidak juga ilmiah dan sistematis. Pepatah bijak mengatakan pengalaman (sejarah) adalah guru yang terbaik.800 triliun dicegah kepanikan dan kebangkrutan. Itu pula yang menjadi pegangan Ben Bernanke ketika menyelamatkan (bail out) perbankan di AS dengan dana talangan miliaran dolar AS. (*) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 61 .76 triliun masih jauh lebih murah daripada skim lainnya. Ia tak mau mengulang kesalahan The Fed di masa lalu—ketika menghadapi resesi tahun 1930-an— yang hanya berdiam diri melihat perbankan pada tumbang dan perekonomian mengalami kebangkrutan. dana masyarakat di seluruh bank di Indonesia yang mencapai Rp1. Hal itu belum lagi memperhitungkan ekses lain. meningkatnya angka pengangguran dan merosotnya angka pertumbuhan ekonomi nasional. Pada waktu melikuidasi 16 bank pada Nopember 1997. ada ongkos yang menjadi beban APBN mencapai Rp600 triliun. Semestinya.

berupa gedung dan mesin (illiquid asset) awas . (liquidity analysis) arus kas aliran dana yang mencerminkan perpindahan dana melalui suatu bank.DAFTAR ISTILAH agunan jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah (collateral) akuisisi pengambilalihan sebagian besar (lebih dan 50%) atau sel uruh kepemilikan suatu bank (acquisition) analisis likuiditas analisis atas laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. aliran dana pada bank.pengawasan tak-Iangsung kegiatan pemantauan operasional bank yang dilakukan dengan melakukan analisis terhadap seluruh laporan yang disampaikan oleh bank kepada Bank Indonesia (off-site supervision) bank badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (bank) 62 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . aset seperti antara lain. biasanya merupakan simpulan aliran dana yang menunjukkan sumber dana dan penggunaan dana. tetapi mencakup pula kegiatan usaha anak perusahaan dan holding companynya yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan kinerja bank (consolidated bankü~g supervision) awas . aliran dana (cash flow) arus modal masuk perpindahan modal investasi dari luar negeri ke dalam negeri (net capital inflow) aset tak-liquid aset yang tidak mudah diuangkan. aliran kas.pengawasan menyeluruh terhadap bank pemantauan terhadap kegiatan operasional bank yang cakupannya telah diperluas tidak terbatas pada kegiatan usaha bank saja. sin.

bank bermasalah akan lebih sering diperiksa daripada bank yang berkondisi sehat (problem bank troubled bank) bantuan penyelamatan bantuan keuangan kepada bank tertanggung atau lembaga tabungan yang mengalami kerugian karena kredit macet. upaya yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat berupa bantuan kepada bank bermasalah. seperti kas. penilaian tersebut tidak disebarluaskan ke masyarakat. 2) bank yang dari hasil pemeriksaan nilai CAMEL-nya berada pada posisi empat (kurang sehat) atau lima (tidak sehat) pada daftar urutan kondisi bank. dan simpanan lainnya untuk menghadapi kemungkinan penarikan rekening nasabah (bank reserves) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 63 . dalam hal tertentu. dana asuransi simpanan (deposit insurance fund) memberikan bantuan dalam bentuk surat utang (promissory notes) untuk menutup perbedaan perkiraan nilai pasar dari aset dan kewajiban bank (kekayaan bersih bank telah menunjukkan posisi yang negatif) sehingga akan menyehatkan perusahaan tersebut (bailout) batas maksimum pemberian kredit (BMPK) batas maksimum penyediaan dana yang diperkenankan untuk dilakukan oleh bank kepada peminjam atau kelompok peminjam tertentu (legal leading limit) biaya . piutang.pembiayaan jangka pendek fasilitas kredit dengan jangka waktu sampai dengan satu tahun (short term financing) bunga imbalan yang dibayarkan oleh peminjam atas dana yang diterima. pengupayaan akuisisi oleh lembaga keuangan yang sehat.bank bermasalah 1) bank yang mempunyai rasio atau nisbah kredit taklancar yang tinggi apabila dibandingkan dengan modalnya. deposito. seperti giro. bunga dinyatakan dalam persen (interest) bunga bank sejumlah imbalan yang diberikan oleh bank kepada nasabah atas dana yang disimpan di bank yang dihitung sebesar persentase tertentu dari pokok simpanan dan jangka waktu simpanan ataupun tingkat bunga yang dikenakan terhadap pinjaman yang diberikan bank kepada debiturnya (bank interest) cadangan bank sebagian dari aktiva bank berupa alat likuid. atau penarikan dana dalam jumlah besar secara tiba-tiba oleh para deposan. dan aktiva lain yang segera dapat dicairkan. kondisi pasar yang lesu.

seperti rasio kredit taklancar terhadap total aktiva yang meningkat. CAMEL terdiri atas lima kriteria. rekening negatif yang disebabkan oleh nasabah y ang menulis cek yang melebihi jumlah dana yang ada di rekeningnya.cadangan devisa cadangan dalam satuan mata uang asing yang dipelihara oleh bank sentral untuk memenuhi kewajiban keuangan karena adanya transaksi internasional (reserve currenry) cadangan likuiditas persentase tententu dari dana pihak ketiga yang wajib disimpan dalam bentuk giro pada Bank Indonesia (reservable deposits) CAMEL aspek yang paling banyak benpengaruh terhadap kondisi keuangan bank. apabila hal tersebut tidak diatasi. mereka sering membuat pengecualian bagi para nasabah yang mempunyai hubungan baik. dan likuiditas (Iiquidily) peringkat CAMEL di bawah 81 memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukkan oleh neraca bank. yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank. nasabah bank yang memperoleh fasilitas cerukan dapat menarik dana atau cek sejumlah yang diperlukan setiap waktu tanpa khawatir ceknya ditolak atau mereka harus membayar denda cerukan (overdraft) Capital Adequacy Ratio (CAR) Rasio kecukupan modal bank yang diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) 64 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . aktiva (asset). peringkat CAMEL tidak pernah dinformasikan secara luas celah hukum celah yang terdapat dalam ketentuan atau peraturan yang isinya masih belum sepenuhnya dapat mengantisipasi segala kemungkinan terjadinya tindakan untuk menghindari maksud dari ketentuan tersebut tanpa melanggar materi ketentuannya (loopholes) cerukan jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada akun giro. sesuai dengan ketentuan. walaupun demikian. bank tidak diwajibkan untuk memberikan cerukan. manajemen. bank yang terdaftar pada daftar pengawasan dianggap sebagai bank bermasalah dan diperiksa lebih sering oleh pengawas bank jika dibandingkan dengan bank yang tidak bermasalah. pendapatan (earnings). penarikan yang melebihi dana merupakan suatu utang sehingga dapat dilaporkan sebagai suatu ekspansi kredit. masalah itu dapat mengganggu kelangsungan usaha bank. yaitu modal (capital). CAMEL merupakan tolok ukur yang menjadi objek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. bank dengan peringkat CAMEL di atas 81 adalah bank dengan pendapatan yang kuat dan aktiva taklancar yang sedikit.

kompetensi. pasar dana Bank Sentral Amerika yang lembaga keuangannya menjual dana lebihnya yang berasal dari rekening cadangan yang disimpan pada Bank Sentral Amerika merupakan sumber dana tersebar untuk dana semalam. istilah ini diartikan sebagai audit keuangan terhadap bank dalam rangka pelaksanaan program rekapitalisasi bank fit and proper evaluasi terhadap integritas pemegang saham pengendali serta evaluasi terhadap integritas. dana tersebut wajib disetorkan kembali kepada bank penjual pada keesokan harinya saat awal jam kerja (overnight money) dana talangan dana yang disediakan oleh Bank Indonesia yang digunakan untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada kreditur bank dan akan menjadi hutang bank tersebut kepada Bank Indonesia due dililgence Pemeriksaan langsung terhadap bank yang memberikan hak kepada pemeriksa untuk meminta konfirmasi kepada manajemen bank mengenai kebenaran laporang keuangan. Dalam kaitan dengan pemeriksaan bank di Indonesia. dan independensi pengurus dalam mengendalikan kegiatan operasional bank Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 65 . peringkat CAMEL digunakan oleh pengawas bank untuk mengetahui bank yang memerlukan pengawasan ketat. 4 semua daftar mengenai pinjaman dan ekspansi kredit yang dikompilasi oleh sebuah bank untuk pengawasan internal (watch list) dana semalam dana yang dijual di pasar antarbank oleh bank yang memiliki dana menganggur kepada bank yang memerlukan dana sementara (dalam jangka pendek). misalnya seseorang atau perusahaan yang melakukan penarikan cek kosong (black list) daftar orang tercela (DOT) daftar orang yang memenuhi kriteria pembuatan tercela di bidang perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan dilarang menjadi pemegang saham dan atau pengurus bank (daftar orang tercela) daftar pengawasan 1 daftar bank yang oleh pengawas bank dipandang mempunyai masalah pendapatan atau permodalan yang lemah. 3 daftar negara yang kemampuan membayar utangnya diamati oleh pengawas dalam hal adanya perubahan kondisi keuangan. 2 daftar bank yang menerbitkan sertifikat deposito ke pasar sekunder yang secara potensial neracanya lemah menurut lembaga pemeringkat kredit.daftar hitam daftar nama nasabah perseorangan atau perusahaan yang terkena sanksi karena telah melakukan tindakan tertentu yang merugikan bank dan masyarakat. seperti Standard & Poor’s.. yaitu bank dengan peringkat CAMEL di bawah 81.

dalam satu kelompok. dan macet (collectibility) 66 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . sistem pelaporan yang seragam mengenai kondisi bank mengelompokkan bank menjadi beberapa kelompok yang berbeda. analisis kelompok sejenis digunakan oleh bank untuk mengukur kondisi keuangannya terhadap bank saingannya di pasar. dalam proses globalisasi terjadi saling ketergantungan antara pembeli dan penjual peranti keuangan di pusat keuangan seluruh dunia (globalization) grup bank bentuk bank induk yang memiliki kelompok manajemen berada dalam pengawasan beberapa bank anggota kelompok. lokasi dan bidang usaha dari setiap kelompok dapat terdiri dari atas 5-6 bank dalam hal bank tersebut merupakan pusat keuangan atau ratusan bank rakyat yang kecil-kecil. setiap bank dalam kelompok tersebut memiliki manajemen tersendiri. tetapi koordinasi aktivitas bank anggota kelompok itu dilakukan oleh manajemen bank induk dan pemegang saham mayoritas dari setiap anggota (group banking) grup bank sejenis pengelompokan bank komersial berdasarkan besarnya aktiva dan kriteria lain. kelompok sejenis (peer group) Good Governance Tata kelola organisasi yang baik dan sehat hati-hati . dalam perhatian khusus (special mention). 2 integrasi dari pasar keuangan dunia ke dalam satu kesatuan. berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. kurang lancar. sin. diragukan.kehati-hatian bank pelaksanaan prinsip kehati-hatian bank untuk meminimalkan risiko usaha operasional bank dengan berpedoman kepada ketentuan bank sentral dan ketentuan intern bank (prudential banking) kliring perhitungan utang piutang antara para peserta kliring secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-surat berharga dan suat-surat dagang yang telah ditetapkan untuk dapat diperhitungkan (clearing) kolektibilitas keadaan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh nasabah serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkaa dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya. kelompok sejenis ditentukan dan volume usaha bank. yaitu lancar. bank diperbandingkan dengan bank lain yang mempunyai kondisi yang setara dengan memperhatikan kemampuan memperoleh laba dan lain-lain.globalisasi 1 proses dari transaksi keuangan dalam pasar keuangan yang pelaku pasarnya berkembang ke arah hilangnya batas geografis suatu negara. kolektibilitas dari suatu pinjaman dapat dikelompokan dalam lima kelompok.

dan penyelesaian sisa harta atau utang di antara para pemilik (liquidation) merger bank penggabungan dua bank atau lebih.laporan neraca laporan keuangan bank pada tanggal tertentu yang diminta oleh bank sentral (bank call) laporan audit laporan auditor yang menyatakan bahwa pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan norma pemeriksaan akuntan. atau skim lainnya likuidasi pembubaran perusahaan sekaligus pemberesan dengan cara melakukan penjualan harta perusahaan. dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu bank dan membubarkan bank-bank lainnya dengan atau tanpa melikuidasi (bank merger) Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 67 . penagihan piutang. yang kegiatan usahanya langsung ataupun tidak langsung menghimpun dana dari masyarakat dengan jalan mengeluarkan surat berharga dan menyalurkannya untuk pembiayaan investasi perusahaan. yang termasuk dalam lembaga keuangan adalah bank dan lembaga keuangan nonbank (financial institution) lembaga keuangan bukan bank badan usaha bukan bank ataupun bukan perusahaan asuransi. dan menolak tanpa memberiikan pendapat sama sekali (disclaimer) (audit report) laporan audit khusus laponan audit terbatas. wajar dengan syarat (qualified). dana penyangga. baik ruang lingkup maupun tujuan pemeriksaannya termasuk laporan audit atas lembaga yang tidak bertujuan mencari laba (special report) lembaga keuangan lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dan menanamkannya dalam bentuk aset keuangan lain. baik berupa pinjaman maupun berupa penyertaan modal (financial institution nonbank) lembaga penjamin simpanan badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan penjaminan atas simpanan nasabah penyimpan melalui skim asuransi. menolak dengan memberikan pendapat (adverse). surat-surat berharga. pelunasan utang. dan aktiva produktif lainnya. misalnya kredit. giro. jenis pendapat yang dikenal ialah wajar tanpa syarat (unqualified clean). disertai dengan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan perusahaan yang diperiksa.

nilai tukar dipengaruhi oleh beberapa faktor. rasio.modal sejumlah dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha. Diragukan dan Macet. (exchange rate.kerahasiaan bank kewajiban bank untuk merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya (bank secrecy) rasio perbandingan antara dua hal yang saling berhubungan. Termin NPL diperuntukkan bagi bank umum. sedangkan bank pemberi pinjaman kelebihan likuiditas (interbonk borrowing) posisi devisa neto selisih bersih antara aktiva dan pasiva dalam valuta asing setelah memperhitungkan rekening administratif (net open position) Profitabilitas Ukuran mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan selama periode tertentu Protokol Manajemen Krisis (Crisis Management Protokol) Kerangka kerja yang menetapkan tindakan. peran. tingkat inflasi. seperti tingkat suku bunga dalam negerii. digunakan untuk mengukur peringkat atau posisi keuangan suatu perusahaan dan analisis untuk pemberian kredit. biasanya dalam bentuk angka. nisbah (ratio) 68 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . sedangkan NPF untuk bank syariah pinjaman antarbank pinjaman yang diberikan suatu bank kepada bank lain yang terjadi karena bank peminjam kekurangan likuiditas. dan tanggung jawab otoritas dalam menangani krisis sehingga kerugian ekonomi bisa diminimalkan Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Kegiatan pinjam meminjam dana jangka pendek antar bank yang dilakukan melalui jaringan komunikasi elektronis rahasia . sin. dan intervensi bank sentral terhadap pasar uang jika diperlukan sehingga senantiasa berubah. umumnya. rate of exchange) Nonperforming loan (NPL) atau nonperforming financing (NPF) Kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi Kurang Lancar. pada perusahaan umumnya diperoleh dengan cara menerbitkan saham (capital) nilai tukar nilai tukar satuan uang suatu negara terhadap negara lain.

misalnya penyusup (hacker) yang berhasil menyusup ke dalam pusat data bank dan mengacaukan data. yang dapat disertai dengan penjadwalan kembali dan/atau persyaratan kembali (restructuring) risiko kredit risiko yang timbul dalam hat debitur gagal memenuhi kewajiban untuk membayar angsuran pokok ataupun bunga sebagaimana telah disepakati dalam perjanjian kredit. risiko ini terjadi sebagai akibat kegagalan pengelolaan antara sumber dana dan penanaman dana (mismatch) atau kekurangan likuiditas/dana (shortage) yang mengakibatkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada waktu yang telah ditetapkan (liquidity risk) risiko operasional risiko bank tidak dapat melakukan kegiatan operasionalnya secara normal karena adanya bencana alam. kebakaran atau sebab-sebab lainnya. dan sistem pembayaran bank (operational risk) Risiko pasar (market risk) risiko atas posisi perdagangan akibat perubahan harga saldo debit saldo suatu perkiraan yang jumlah sisi sebelah debitnya lebih besar daripada jumlah yang terdapat pada sisi sebelah kredit. komunikasi. jumlah penarikan nasabah lebih besar daripada fasilitas kredit yang disediakan terhadap Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia | 69 . konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru dan/atau konvesi seluruh atau sebagian kredit menjadi penyertaan dalam perusahaan. ukuran lain untuk resesi adalah peningkatan pengangguran secara tajam (recesion) restrukturisasi perubahan syarat-syarat kredit yang menyangkut tindakan untuk penambahan dana bank dan/atau. dan prosedur yang tidak memadai. risiko ini juga mungkin terjadi karena adanya kesalahan dan penyalahgunaan wewenang (penyelewengan). umumnya resesi terjadi pada saat pendapatan nasional kotor turun dalam dua kuartal berturutturut.resesi penurunan perekonomian suatu negara yang tercermin dalam kegiatan ekonomi secara agregat sekalipun ukuran yang digunakan untuk menentukan keadaan resesi masih bersifat subjektif. ketidakpastian terhadap ketentuan atau kelemahan struktur pengendalian intern. di samping risiko suku bunga. ataupun kare na adanya gangguan pada sistem infoimasi manajemen. risiko kredit merupakan satah satu risiko utama dalam pelaksanaan pemberian kredit bank (credit risk) risiko likuiditas risiko bank tidak memitiki uang tunai atau aktiva jangka pendek yang dapat diuangkan segera dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan deposan atau debitur.

dan infrastruktur pasa mampu memfasilitasi aliran dana antara penabung dan debitur sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi Stress testing Estimasi potensi kerugian terhadap eksposur kredit dan likuiditas yang dihasilkan dari beberapa skenario perubahan harga dan volatilitas Subprime mortgage Surat utang kepemilikan rumah atau KPR kepada masyarakat yang memiliki kualitas kredit yang rendah tetapi memberikan imbal hasil tinggi Surat Utang Negara (SUN) Surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia. Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh utang yang ada dengan menggunakan seluruh aset yang dimilikinya Stabilitas sistem keuangan (Financial System Stability) Suatu sistem keuangan dengan intermediasi keuangan yang efektif dimana lembaga. pasar.nasabah tersebut. 24 Tahun 2002 valuta asing mata uang asing yang digunakan dalam perdagangan International (foreign exchange) Volatilitas Standar deviasi dari perubahan nilai suatu instrumen keuangan dengan jangka waktu spesifik. blase disebut dengan istilah cerukan (debit balance) sistem informasi manajemen (SIM) sistem pemrosesan data yang dirancang bagi manajemen dan pengawas sumber daya manusia yang dilengkapi dengan informasi terkini. digunakan untuk menghitung risiko dari instrumen keuangan pada suatu periode waktu umumnya secara tahunan 70 | Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia . dalam proses komunikasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. data dicatat dan diproses untuk tujuan operasional (management information system/MIS) Solvabilitas Kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful