KISAH KELUARGA TELADAN Pada suatu masa, diantara para istri terjadilah pembicaraan tentang kemenangan dan banyaknya

harta rampasan yang diperoleh umat islam. Hingga terbetiklah keinginan dalam diri mereka untuk sedikit mereguk kenikmatan duniawi dengan kenaikan anggaran belanja. Namun apa yang dilakukan oleh Rasul saw dengan tuntutan para istri ? Setelah berdiam diri sekian lama, datanglah keputusan dari Allah untuk para istri itu agar memilih antara Allah dan Rasul, atau harta benda dunia. Allah Ta'ala memberikan teguran kepada keluarga beliau melalui firmanNya dalam Al Qur'an : "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja yang berbuat baik di antara kamu" (Al Ahzab : 28 – 29). Apakah Rasul tidak mencintai para istrinya termasuk 'Aisyah ? Tentu Rasul saw sangat mencintai mereka. Lalu apakah Rasul tidak senang menggembirakan para istrinya dengan kecukupan harta ? Tentu pula Rasulpun berharap demikian. Namun yang terjadi adalah situasi dimana ada pertimbangan yang lebih penting untuk membagikan harta rampasan di kalangan umat dan bukan untuk internal keluarga Rasul. Beliau lebih mendahulukan hak-hak umat daripada keluarganya atau sekedar membuktikan cinta pada para istri dalam bentuk kecukupan harta.

Nabi Ibrahim as tatkala mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, ia mengungkapkan hal itu dalam bentuk kalimat istisyarah, meminta pendapat atau pertimbangan. Beliau bertanya kepada Ismail, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu?” Ibrahim tidak mengatakan, “Sesungguhnya aku diperintah Allah untuk menyembelihmu, maka

.bersiaplah segera”. Luar biasa pembiasaan Nabi Ibrahim dalam bermusyawarah dengan keluarganya.