TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKA PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren pesantren di Kabupaten Kudus

) Pesantren-pesantren

SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam

Oleh: MIFTAHUDDIN NIM. 073111105

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011

TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKA PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren pesantren di Kabupaten Kudus) Pesantren-pesantren

SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam

Oleh: MIFTAHUDDIN NIM. 073111105

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011
i

ABSTRAK
Judul Penulis NIM : Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren– pesantren di Kabupaten Kudus) : Miftahuddin : 073111105

Dunia pesantren kini menampilkan wajah barunya. Pesantren sekarang lebih bersifat dinamis, terbuka, dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan. Setidaknya inilah kesimpulan Gus Dur (alm) melihat realitas akhir dekade ini. Bukan tanpa bukti, meskipun pola perubahan bersifat sporadis yang semestinya berbeda antara satu pesantren dengan lainnya, namun mereka nampak telah mengambil kesepakatan untuk tetap mempertahankan tradisi pesantren yang telah terbangun sejak dulu. Bentuk perubahannya pun bervariasi, ada yang menekankan aspek sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran dan lain sebagainya. Bahkan sebagian pesantren sudah ada yang mampu menyelenggarakan pendidikan formal dengan mengikuti kurikulum nasional. Jika pola semacam ini dipertahankan, bukan tidak mungkin institusi pesantren akan mengikuti jejak pondok pesantren Asy’ariyyah Wonosobo yang mampu mendirikan Universitas. Jadi, salah alamat jika masih ada pihak yang menyatakan bahwa pesantren sebagai sarang kejumudan dan konservatisme. Skripsi ini sebagai bentuk pembuktian mengenai perkembangan pesantren yang sepertinya sudah nyaman menempat dihati masyarakat luas. Ini merupakan sebuah peluang yang dapat diupayakan pesantren menjadi pendidikan alternatif masa depan. Namun, tidaklah mudah mencari format pesantren yang diharapkan tersebut mengingat kuatitasnya yang tidak sedikit. Bahkan menurut prediksi Zamachsjari Dhofier berpotensi mencapai 35.000 pesantren untuk 10 tahun kedepan. Masing-masing pesantren mempunyai tipe yang menjadi ciri khas sesuai dengan perubahan yang diinginkannya sebagaimana apa yang menjadi tujuan pendidikan Islam. Meskipun demikian, dari banyaknya pesantren tersebut penulis memberanikan diri melacak tipe-tipe pembaharuan yang dilakukannya dalam bingkai kajian tipologi pondok pesantren. Sehingga isi skripsi membahas tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Kajian yang menjadi latar belakangnya salah satunya adalah proses pembaharuan yang masih setengah hati sehingga nilai-nilai yang diharapkan dalam pembaharuan tersebut kurang efektif karena kurang optimal. Supaya kajian ini lebih mendalam, atas berbagai pertimbangan dengan pihak terkait, maka kajian tipologi ini fokus pada pesantren–pesantren yang ada di Kabupaten Kudus. Di mana data terbaru menunjukkan sekarang ini di Kudus terdapat 86 pesantren yang masih survive memenuhi kebutuhan masyarakat. Studi pada pesantren Kudus ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan : (1) Bagaimana kondisi objektif pesantren–pesantren di Kabupaten Kudus? (2) Bagaimana eksistensi Pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? (3) Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? Permasalahan tersebut akan dijawab melalui studi

v

lapangan yang dilaksanakan di 3 (tiga) pesantren sebagai sample, yakni Pondok Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) pusat Kajeksan Kota Kudus, Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banin Kwanaran Kota Kudus, dan Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus. Ketiga pesantren tersebut menjadi sumber data untuk mendapatkan potret tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, interview dan dokumentasi dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Sementara teknik analisis datanya menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis (analisis kritis hermeneutika sosial). Di mana cara kerja analisis ini bukan hanya sekedar mesdiskripsikan fenomena, melainkan juga menafsirkan proses dialektik yang menjadi realitas untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial. Kajian ini menunjukkan bahwa : (1) 86 pesantren yang ada dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) tipologi, yakni tipe A, B dan C. Tipe A, sistem pendidikan masih tradisional, kurikulum belum jelas dan baku, pola pembelajarannya klasik dan sudah menyelenggarakan madrasah diniyyah. Tipe B, sistem pendidikan integrasi antara sistem pesantren dan madrasah formal, kurikulum sudah terprogram jelas, pola pembelajarannya terpadu dan sudah menyelenggarakan pendidikan formal dengan mengikuti kurikulum nasional. Tipe C, sistem pendidikan tradisonal dan santri doperbolehkan mengikuti jenjang pendidikan formal di luar pesantren, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), pola pembelajarannya klasik dan sudah menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk madrasah lokal pesantren. (2) Munculnya pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern umat Islam. Faktor intern menuntut perbaikan pada tubuh pesantren, sementara faktor ekstern menunjukkan kelemahan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dengan adanya pembaharuan ini, sistem pendidikan yang awalnya sentralistik menjadi desentralistik, kurikulum yang awalnya fokus keagamaan dipadukan dengan kurikulum nasional, pola pembelajaran yang masih tradisional disempurnakan dengan metode-metode transformatif dan pesantren mampu menyelenggarakan pendidikan formal, sekolah umum, madrasah maupun pendidikan kejuruan. (3) Dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam, tipologi pondok pesantren dapat dipetakan pada rangkaian format berikut ini. Dari aspek sistem pendidikan berorientasi pada pendidikan sepanjang waktu (full day learning), aspek kurikulum berorientasi untuk berkomitmen tafaqquh fi al-din, aspek pola pembelajaran menekankan pada metode-metode pembelajaran yang tranformatif dan sistem penyelenggaraan pendidikannya berorientasi pada pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Pada rangkaian format ditemukan tipe pesantren yang mampu menyeimbangkan pendidikan agama dan umum, serta dilengkapi dengan pendidikan ketrampilan yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat modern sekarang ini. Bahkan bisa dijadikan sebagai pendidikan alternatif pilihan masyarakat untuk masa depan.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam”, dengan melakukan studi pada pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus. Awalnya, judul yang diajukan adalah “Tipologi Pembaharuan Pesantren”, namun sempat terjadi dialog argumentatif dengan pihak birokrasi jurusan, lalu akhirnya diambillah judul sebagaimana diatas. Tentu penelitian ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Hambatan dan rintangan pun tak bisa dihindari mengingat tema kajiannya yang cukup luas. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, dan sumbang saran dari segala pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Muhibbin, MA, Rektor IAIN Walisongo Semarang. 2. Dr. Suja’i, M.Ag, Dekan Fakultas Tarbiyah. 3. Nasirudin, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. 4. Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag dan Syamsul Ma’arif, M.Ag selaku dosen pembimbing yang tak henti-hentinya membimbing, mengarahkan dan memberi motivasi penulis sampai proses akhir penyusunan skripsi ini. 5. Drs. Darmu’in, M.Ag, dosen wali studi yang sampai saat ini rela meluangkan waktu disela-sela kesibukannya memberi pengarahan penulis. 6. KH. Mc. Ulin Nuha Arwani Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Kajeksan Kota Kudus atas izinnya kepada penulis untuk penelitian skripsi ini. 7. KH. M. Arifin Fanani Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banin juga atas izinnya kepada penulis untuk penelitian skripsi ini. 8. KH. Moch. Khafidz Asnawi Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus juga atas izinnya kepada penulis untuk penelitian pada pesantren yang Anda asuh.

vi

9. Segenap para nara sumber, pengurus pondok dan para santri-santri Kudus atas data dan dukungan yang kalian berikan semua. 10. Abah KH. Dimyathi Ro’is dan KH. Saksono Al-Habsyi yang telah membimbing lahir dan batin penulis selama penelitian berlangsung untuk dapat memberikan sedikit kontibrusi pemikiran pada dunia pesantren. 11. LPM Edukasi Fakultas Tarbiyah dan kawan-kawan, baik di intra maupun ekstra yang telah memberi penulis pengetahuan dan pengalaman khususnya mengenai tata cara menulis yang efektif dan mampu menjadi teman diskusi yang menyenangkan. 12. Dan kepada segenap pihak yang telah berjasa dalam penyusunan skripsi yang tidak tersebut, terima kasih yang sebenar-benarnya semoga ini merupakan langkah awal yang belum selesai karena harapan besar kalianlah yang akan meneruskan langkah-langkah selajutnya. Penelitian ini tidaklah pantas dikatakan sempurna dan tidak akan selesai tanpa nama-nama dan pihak-pihak yang telah tersebut di atas. Sebagai bahan perenungan kita bersama, ternyata masih banyak persoalan yang menyelimuti sekaligus mengancam eksistensi dunia pesantren, bahkan sampai sekarang ini belum ada solusi konkritnya. Terlalu sayang jika lembaga pendidikan Islam pertama kali ini hilang ditelan masa dan akhirnya menjadi puing-puing sejarah. Harapan besar semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi dunia pesantren. Semoga ia mampu bertahan serta mempertahankan nilai dan tradisinya, meskipun pada satu sisi ia menampilkan wajah kekiniannya dengan ikut andil di era pembaharuan ini. Akhirnya kepada Allah SWT, penulis berharap semoga tetap di beri hidayah, rahmah, ‘afiyah dan istiqomah pada penelitian-penelitian berikutnya. Amin.

Semarang, 09 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN ...................................................................... PENGESAHAN ........................................................................................... NOTA PEMBIMBING ............................................................................... ABSTRAK ................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB I : PENDAHULUAN ....................................................................... A. Latar Belakang Masalah....................................................... B. Rumusan Masalah.................................................................. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................... D. Penegasan Istilah.................................................................... E. Kajian Pustaka......................................................................... F. Metode Penelitian.................................................................... BAB II : PONDOK PESANTREN DAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM ............................................................... A. Pondok Pesantren...................................................................... 1. Pengertian dan Elemen – elemen Pokok Pesantren ............. 2. Pesantren dalam Lintasan Sejarah......................................... 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Pesantren....................... .. 4. Nilai dan Tradisi Pesatren..................................................... B. Tipologi Pondok Pesantren....................................................... 1. Hakikat Pembaharuan............................................................ a. Sistem Pendidikan Pesantren............................................ b. Kurikulum Pesantren........................................................ 28 28 28 34 38 42 44 49 53 55 i ii iii iv v vi vii 1 1 7 8 9 12 17

C. Pembaharuan Pesantren............................................................. 49 2. Prinsip dan Aspek Pembaharuan Pesantren........................... 50

c. Pola Pembelajaran di Pesantren........................................

56

d. Sistem Penyelenggaraan Pendidikan................................ 61 BAB III : PESANTREN DI KABUPATEN KUDUS.................................. A. Gambaran Umum Kabupaten Kudus....................................... B. Sekilas Tentang Pesantren Kudus............................................ C. Tipologi Pesantren Kudus........................................................ 1. Sejarah dan Perkembangan Pesantren............................... a) Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat...... b) Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin............ c) Pesantren Raudlatut Tholibin........................................ 2. Sistem Pendidikan Pesantren............................................. a) Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat...... b) Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin............ c) Pesantren Raudlatut Tholibin........................................ 3. Kurikulum........................................................................ a) Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat.... b) Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin.......... c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... 4. Pola Pembelajaran............................................................. a) Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat..... b) Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin.......... c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... 64 64 70 72 72 72 75 76 79 79 86 93 97 97 99 102 104 104 105 106

5. Sistem Penyelenggaraan pendidikan................................. 106 a) Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat..... 106 b) Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin........... 107 c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... D. Fenomena Kudus Sebagai Sebagai Pesantren Terbuka........... BAB IV : POTRET TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM.... 112 A. Dinamika Pembaharuan Pesantren di Kudus.......................... viii 112 108 109

1. Sistem Pendidikan Sepanjang Waktu (Full Day Learning)......................................................................... 2. Komitmen Tafaqquh fi al-Din......................................... 3. Metodologi Transformatif............................................... 4. Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education)....................................................................... B. Kontribusi dan Arah Pengembangan Pesantren Kudus.......... C. Tipologi Pesantren Kudus dalam Upaya Melacak Format Pesantren Ideal di Era Pembaharuan....................................... 1. Format Pesantren Ideal..................................................... 2. Tipologi Pesantren Masa Depan....................................... BAB V : PENUTUP.................................................................................... B. Saran........................................................................................ DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 133 136 139 143 145 126 129 115 119 124

A. Kesimpulan.............................................................................. 143

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Isu utama pesantren1 saat ini, sebagaimana pernyataan Abdul Djamil pada dasawarsa terakhir nampak sedang memasuki babak baru di tengah-tengah dinamika sosio-kultural masyarakat Indonesia. Fenomena menguatnya kembali peran pesantren dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia menurutnya semakin signifikan.2 Babak baru tersebut setidaknya dapat dilacak melalui visi pesantren yang di samping sebagai lembaga pengemban intelektual, juga sebagai pembinaan moral masyarakat. Tidak heran pesantren memiliki posisi nilai tawar tinggi karena berbagai macam pemikiran mencoba berdialektika tarik ulur antara idealitas dan realitas dalam memenuhi kebutuhan mereka. Di zaman yang multikompleks ini tentunya pendidikan ideal menjadi sebuah keniscayaan. Namun, tantangan globalisasi kini semakin tak terkendalikan. Ketegangan antara aspek teoritis dan praktis atau subjektifitas dan objektifitas pesantren pun muncul. Akibatnya pendidikan Islam dengan paksa termarginalkan secara tragis ditengah kemelut krisis globalisme. Oleh karenanya pembaharuan pesantren sebagai jendela pembaharuan pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidkan alternatif bagi masyarakat. Sejak awalnya, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Secara normatif, lembaga ini berusaha meletakkan visi dan kiprahnya dalam rangka transformasi sosial dalam bentuk pengabdian untuk membentuk moral keagamaan dan dikembangkan pada rintisan-rintisan
Selain istilah “pesantren” (Jawa, Sunda, dan Madura), ditemukan juga istilah lain dengan makna yang sama, yakni “dayah” atau “rangkang” (Aceh), dan “surau” (Minangkabau). Lihat Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009), cet. I, hlm. 14-15. Abdul Djamil, “Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan”, dalam Prolog Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. v.
2 1

1

pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu. substansial berikhtiar memenuhi kebutuhan riil

3

Rintisan ini secara masyarakat dalam

menyesuaikan era globalisasi, seperti pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif. Upaya yang dilakukan merupakan bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat oleh pesantren yang meyakini bahwa seluruh kehidupan ini adalah sebagai ibadah.4 Lembaga ini konon disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, bahkan sempat dikatakan sudah mapan di zaman para wali. Meskipun demikian, produk pesantren uniknya mampu berkompetitif dalam merespons tantangan zaman. Sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi pesantren tetap berkembang dinamis meskipun nilai-nilai pesantren secara bersamaan dipertaruhkan? Bisa jadi pesantren mulai menyadari bahwa penggiatan diri yang hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka sewajarnya pihak pesantren lebih proaktif dengan memberikan ruang untuk pembenahan. Sehingga pembaharuan pendidikan pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan yang ada. Berdasar pembaharuan di atas, Sahal Mahfudz, sebagaimana dikutip oleh M. Nadjib Hassan, sangat tegas menyatakan eksistensi 5 pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap tetap dipertahankan, meski perubahan atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan dunia muslim terus dilancarkan. Bahkan pesantren sempat mengalami kejayaan dan kokoh sejak era 1980-an dengan banyak menarik minat masyarakat dan mendapatkan perhatian yang signifikan, khususnya di Jawa. 6 Padahal tidak
3 4 5

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, (Yogjakarta : Pustaka Pesantren, 2006), cet. I. hlm.2-3 Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, hlm. 5.

Menurut MA. Sahal Mahfudz, yang dimaksud eksistensi adalah meliputi kelembagaan, kurikulum, dan tradisi-tradisi khas keilmuwannya. Oleh karena itu, meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam, pesantren terdeteksi selalu memiliki pemikiran future Oriented. M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. 2.
6

2

banyak lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum. Namun, bukan berarti pembaharuan ini tanpa masalah. Fenomena menunjukkan modernitas pesantren ternyata membawa berbagai persoalan yang cukup ruwet baik ditinjau secara nilai 7 maupun secara institutif. Institusi pesantren modern contohnya memberikan peluang sepenuhnya kepada negara untuk campur tangan sehingga dominasi negara dalam hal ini terasa cukup kuat. Dampaknya orientasi pesantren bukan tertuju pada nilai melainkan pada capaian yang bersifat Pesantren formalistik. dan Akhirnya jika sebagian pendidikan dengan pesantren dinamika menunjukkan mulai mengarah pada orientasi ijazah semata.8 pembaharuan, dihadapkan perkembangan pendidikan Islam merupakan dua term yang saat ini sangat menarik untuk dipelajari. Di samping pembaharuan merupakan kajian yang sangat relevan bila dikaitkan dengan konteks keindonesiaan yang sedang dihujani arus modernisasi, pendidikan pesantren saat ini tengah disinyalir merupakan propotipe model pendidikan yang ideal bagi bangsa indonesia. 9 Perlunya mengadakan pembaharuan karena pada akhir-akhir ini pesantren dinilai tidak responsif terhadap perkembangan zaman, artinya sulit atau bahkan tidak mau menerima perubahan. Pesantren tetap merasa kokoh dengan mempertahankan pola pendidikannya yang tradisional (salafiyah). Oleh karena itu, klaim di atas menjadikan pesantren sebagai institusi yang cenderung ekslusif dan isolatif dari kehidupan sosial umumnya. Bahkan lebih
Sumber tertinggi pesantren yang dari dulu hingga sekarang yang dikembangkan adalah nilainilai luhur, seperti nilai keikhlasan, kesederhaaan, dan kemandirian. Ketiga nilai tersebut dirasa semakin tereduksi dengan munculnya modernisme pesantren baru-baru ini.
8 9 7

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, hlm. 5

Ainurrofiq, “Pesantren dan Pembaruan : Arah dan Implikasi”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm.150-151.

3

sinis lagi ada yang beranggapan pendidikan pesantren tergantung selera kyai. Masih banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap pesantren. Namun, menurut Ismail SM, justru dengan tradisionalitas pesantren tersebut, tidak bisa dipungkiri, semakin survive di tengah masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad. Bahkan menurutnya pesantren dianggap sebagai alternatif dalam glamouritas dan hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mencatat tradisi sebagai masalah.10 Setelah melalui beberapa kurun waktu, pesantren tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap menyandang ciri-ciri tradisionalnya. Sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan. Jika diadakan pengamatan lebih lanjut, pembaharuan yang dilaksanakan di pesantren memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan pembaharuan lainnya. Bahkan tidak salah jika dikatakan punya keunikan tersendiri, yakni unik pada kealotan dan kuatnya proses tarik ulur antara sifat dasar pesantren yang tradisional dengan potensi dasar modernisasi yang progesif dan berubahubah. Sehingga ditinjau dari segi komponen pembentuknya, pesantren mempunyai ragam jenis, mulai dari jenis pesantren besar yang mempunyai program baik formal maupun non-formal, bahkan memiliki universitas, sampai jenis pesantren pengajian kitab yang banyak memiliki pondok dan masjid Pertumbuhan pesantren yang semula rural based institution, meminjam istilahnya Azyumardi, menjadi juga lembaga pendidikan urban yang bermunculan juga di Kabupaten-kabupaten besar. Bahkan tidak sedikit

Ismail SM, “Signifikansi Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat Madani”, dalam MA. Sahal Mahfudhz, et all, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, (Yojakarta : Pustaka Pelajar, 2000), cet. I, hlm. 171.

10

4

pesantren melakukan sumbangsih pembaharuan untuk masyarakat luas sehingga lulusan pesantren tetap marketable.11 Di antara Kabupaten besar yang terdapat banyak pesantren adalah di Kabupaten Kudus yang sampai sekarang dianggap sebagai “kota santri”. Culture religius yang sudah terbentuk sedemikian apik tidak lepas dari jasa para pendahulunya, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Kedua sunan tersebut mampu membentuk subkultur, Abdurrohman Wahid mengistilahkannya, sehingga sampai sekarang ini lahir puluhan pesantren di Kabupaten tersebut. Pada akhir tahun 2005 tercatat di Kudus terdapat 86 pesantren dari 9 kecamatan. Kesemuaan pesantren tersebut bisa dikatakan produktif dalam melakukan perubahan-perubahan pada tubuh pesantrennya. Dari banyaknya pesantren yang tercatat di atas, tentu memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari visi, misi, dan orientasi keilmuwan pesantren menjadi varian menarik untuk diteliti lebih mendalam. Fenomena semakin digandrunginya pesantren di tengah kemelut bangsa ini tentu tidak lepas dari spesifikasi pesantren. Oleh karena itu, spesifikasi pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terlebih jika penelitian ini dikaitkan dengan agenda pembaharuan pendidikan Islam yang sedang di gadang-gadang oleh para pembaharunya. Oleh karena itu, penelitian ini nantinya akan berikhtiar mengumpulkan semua pesantren yang ada di Kabupaten Kudus kemudian dikategorisasikan menurut karakternya masing-masing. Selanjutnya, ditipologikan menurut teori tipologi pembaharuan pesantren yang digunakan dalam penelitian ini. Meskipun demikian, dari banyaknya pondok pesantren tersebut dalam bebagai aspek setidaknya dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Jika ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan variabel-variabel struktural seperti

Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus IdeologiIdeologi Pendidikan, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2007), cet. I, hlm . 5.

11

5

bentuk kepemimpinan, orientasi pesantren, organisasi pengurus, susunan rencana pelajaran (kurikulum), karakteristik keilmuwan, dan variabel-variabel lain yang apabila dibandingkan dengan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya, maka akan ditemukan tipologi pondok pesantren. Di mana dalam penelitian ini diharapkan akan menemukan kontribusi format pendidikan pesantren ideal sehingga dengan ini dapat merumuskan bagaimana tipologi pesantren masa depan yang berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat. Fenomena pondok pesantren di Kudus menunjukkan muncul sejumlah pesantren yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak juga pesantren yang mempunyai pondokan (asrama), masjid yang besar dan disediakan berbagai ketrampilan di dalamnya, bahkan banyak juga yang mengembangkan sistem modern. Merekapun juga tetap eksis menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Namun uniknya di Kudus juga muncul pesantren yang tidak mempunyai pondokan, akan tetapi memiliki ratusan santri yang berjubel-jubel. Hal di atas menunjukkan bahwa realitas tersebut menjadi fenomena tersendiri bagi khasanah pesantren Kudus. Ini artinya, respon pesantren Kudus tunjukkkan dengan berada ditengah-tengah antara menolak dan mengikuti polapola terbaru. Demikian, jenis pesantren yang menerapkan pola semacam ini dinamakan jenis pesantren berjargon al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Pesantren tersebut pada pola pembaharuannya sangat selektif mengadaptasi pola-pola modern yang bisa mendukung kelanggengan pendidikan pesantren yang sudah terbina sejak dulu. Kudus mempunyai banyak khasanah intelektual keislaman. Banyak peneliti menyebut Kabupaten ini kental akan dimensi sosial dan kaya akan kebudayaan. Maka tidak heran, puluhan pondok pesantren yang berkembang dan survive sampai saat ini. Baik dari pesantren tradisional, pesantren yang sudah mampu menyelenggarakan pendidikan formal, maupun pesantren yang hanya membuka asrama bagi santri yang bersekolah umum. Pembaharuan

6

pesantren di Kudus nampak menunjukkan perkembangan yang sporadis. Namun, begitu juga tak mungkin dihindari perhelatan dan pertautan pembaharuan pesantren satu ke pesantren lainnya. Apalagi masing-masing pesantren pasti mempunyai lokalitas sendiri-sendiri. Oleh karena itu, sangat penting jika pola dan corak pembaharuannya, serta arah pendidikan tersebut dicermati lebih seksama dalam sebuah penelitian yang tujuannya membingkai pola pembaharuan pesantren tersebut. Fenomena kyai banyak santri tanpa pondok pesantren merupakan realitas variabel menarik yang layak untuk diteliti. Terlebih diklasifikasikan tipologi masing-masing dengan harapan agar dapat mempermudah cara pemahaman dalam mengkajinya. Dengan mempertimbangkan uraian di atas beserta berbagai permasalahan yang melatar belakanginya, maka penelitian yang studi pada pesantrenpesantren di Kabupaten Kudus ini secara tegas dengan judul, “TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI PADA PESANTREN-PESANTREN DI KABUPATEN KUDUS)”. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah di atas, secara eksplisit penelitian ini bertujuan untuk menjawab,” bagaimana tipologi pondok pesantren dan pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus?” dan secara implisit rumusan tersebut mengandung pertanyaan-pertanyaan : 1. Bagaimana kondisi objektif pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus? 2. Bagaimana eksistensi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? 3. Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus?

7

C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan tipologi dan karakter pondok pesantren di Kabupaten Kudus sebagai pemberdayaan potensi pesantren dengan menjadikannya sebagai model pendidikan Islam alternatif. 2. Menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren di Kudus serta dinamikanya di tengah arus pembaharuan pendidikan Islam. 3. Menggambarkan bahwa tidak semua lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren tertinggal, bahkan dianggap tidak responsip terhadap perkembangan zaman di tengah-tengah deru modernisasi. Tetapi justru menunjukkan eksistensinya yang dinamis, baik kelembagaan maupun sistem pendidikannya. 4. Melihat secara kritis kondisi objektif pondok pesantren di Kudus dalam menghadapi tantangan modernisasi sebagai kebutuhan dalam proses pencarian tipe pendidikan ideal yang mampu menciptakan generasi yang cerdas akal (otak), emosi, sosial dan spiritualnya sehingga menjadi generasi yang unggul, berintregitas tinggi dan penuh kemandirian. 5. Mencari format tipologi pendidikan ideal di kalangan pesantren yang memang sistem pendidikan dan tradisi keilmuwannya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk membangun jiwajiwa kemandirian yang mempunyai mentalitas ikhlas limardlotillah. 6. Mengkategorisasikan pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus dengan berbagai variannya sesuai dengan tipologi, maupun dengan visi yang dibawa dalam menegakkan tujuan pendidikan Islam sehingga dapat mempermudah kekurangannya. masyarakat untuk menilai keunggulan dan

8

Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut : 1. Memberikan kontribusi pada khasanah keilmuan Islam dalam studi pendidikan Islam, khususnya tentang sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren. 2. Memberikan kontribusi pemikiran kepada praktisi dan atau institusiinstitusi yang berkompeten terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. 3. Mempermudah masyarakat dalam usaha untuk memperoleh informasi tentang tipe-tipe pesantren yang ada di Kabupaten Kudus sehingga lahir amal kebaikan bagi peneliti sendiri terutama secara khusus, dan secara umumnya semua pihak yang telah membantu, baik dari kalangan pesantren sendiri maupun sumber-sumber dari luar pesantren. D. Penegasan Istilah 1. Tipologi Tipologi dapat diartikan sebagai ilmu watak golongan-golongan menurut tipe, corak watak masing-masing. Jasa ilmu ini bisa dimanfaatkan untuk melacak potensi-potensi pondok pesantren yang tengah bergelut dengan perkembangan zaman. Terlebih jika pondok pesantren tersebut dihadapkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memaksa dengan sadar pihak pesantren untuk merubah dirinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih dari geliat pesantren ini juga merupakan fenomena tersendiri untuk dilakukan penelitian. 2. Pondok Pesantren Menurut Sudjoko, sebagaimana di kutip oleh Ridlwan Nasir menyatakan bahwa pondok pesantren berasal dari gabungan kata pondok dan pesantren. Istilah pondok berasal dari kata funduk yang berarti rumah

9

penginapan atau asrama. Sedangkan pesantren secara etimologis asalnya pesantri-an yang mempunyai tempat santri. Santri atau murid yang belajar agama pada seorang kyai atau syeikh di pondok.12 Namun dalam konteks ke-Indonesia-an, pesantren di Indonesia khususnya di Jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu rumah sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupaka asrama atau pondok bagi santri. Sementara menurut Mastuhu, sebagaimana di kutip oleh Fatah Syukur, mengatakan secara definitif pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaranajaran agama Islam (tafaqquh fi al-din) dengan mementingkan moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari.13 Pada dasarnya, pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional tempat para santrinya tinggal bersama dan belajar di bawah pengajaran kyai. Asrama bagi santri inilah yang disebut pondok. Sehingga Zamachsjari Dhofier mengatakan bisa dikatakan pesantren jika telah memenuhi elemenelemen dasar, diantaranya pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kyai.14 3. Konstelasi Konstelasi dapat diartikan sebagai gambaran, tatanan, atau keadaan yang dibayangkan. 15 Keadaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan pembaharuan dalam pendidikan Islam. Artinya, dalam menghadapi
Ridlwan Nasir, Mencari Format Tipologi Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005), cet. I, hlm. 80. Fatah Syukur NC, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri”, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu KeIslaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004), cet. I, hlm. 26. Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982), hlm. 44.
15 14 13 12

http://www.artikata.com/arti-336079-konstelasi di akses pada tanggal 18 Juni 2011

10

tantangan zaman, pesantren mau tidak mau harus menerima secara inklusif berbagai perubahan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, kata konstelasi bisa diartikan sebagai seluk beluk beluk suatu persoalan atau kumpulan. 16 Meskipun demikian, penelitian ini condong pada arti kata sebelumnya dengan alasan yang sudah dijelaskan. 4. Pembaharuan Menurut Harun Nasution, sebagaimana dikutip oleh Yusran Asmuni, pembaharuan identik dengan kata modernisasi yang lahir dari dunia Barat. Di mana modern sendiri artinya terbaru, mutakhir, atau sikap dan cara berpikir serta bertindak dengan tuntutan zaman. Sehingga modernisasi merupakan sebuah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Harun menambahkan, modern bukan hanya membaharui paham-paham, sikap atau adat istiadat, melainkan lebih luas lagi mencakup pembaharuan institusiinstitusi yang dipandang lama untuk disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan yang baru.17 Sedangkan menurut Dawam Raharjo, pembaharuan lebih identik dengan kata reformation yang merupakan derivasi dari kata “reform” yang mempunyai arti (seseorang, lembaga, prosedur, sistem atau tradisi). Reformasi yang dikehendaki bisa terlaksana dengan adanya pembaharuan.18 Pengertian semacam ini senada dengan tawaran pembaharuan pesantren Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menegaskan bahwa pesantren bersifat dinamis, terbuka dengan perubahan, dan mampu menjadi penggerak yang diinginkan. Tawaran pembaharuan Gus Dur tersebut meliputi penyusunan

16 17

Farida Hamid, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya : Apollo, tth), hlm. 306

M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dunia Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001), cet. III, hlm. 1.
18

Ainurrofiq, Pesantren dan Pembaruan, hlm. 152.

11

kurikulum, peningkatan sarana, pembenahan manajemen kepemimpinan, pengembangan watak mandiri, dan lain sebagainya.19 5. Pendidikan Islam Menurut Ahmadi, pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam. 20 Pendidikan dewasa ini terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas. Konsep dan praktek pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani. Apalagi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang. Hal ini sesuai dengan pengertian pendidikan Islam menurut hasil konferensi pertama tahun 1977 di Mekkah, yang menyatakan bahwa istilah pendidikan Islam tidak lagi hanya berarti pengajaran teologik atau pengajaran al-Qur’an, hadits dan fiqih, tetapi memberi arti pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandang Islam.21

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, (Yogjakarta : LKiS, 2010), cet.III, hlm.vi. Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanisme Teosentris, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005), cet.I, hlm. 28-29.
21 20

19

Achmadi, Ideologi Pendidikan, hlm. 29.

12

E.

Kajian Pustaka Di antara alasan kenapa pesantren selalu menarik untuk diteliti yaitu : Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme. Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri dimana antara satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya. Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan pada pesantren kurang komprehensf sehigga menarik untuk terus diteliti. Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan multidimensi.22 Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren secara umum dan pesantren Kudus secara khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain : Zamachsjari Dhofier dalam disertasinya yang berjudul The Pesantren Tradition : A Study the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup Kyai. Dalam bukunya tersebut, Dhofier sengaja melakukan penelitian tentang dua pesantren, yakni pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dan pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur. Di mana kedua pesantren tersebut memang berbeda sistem dan kelembagaannya. Sehingga dalam proses

22

Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan, hlm. 5.

13

penelitiannya itu sedikit banyak ditemukan berbagai fenomena khususnya strategi kyai dalam memelihara tradisi keilmuwan pesantrennya. Indikasi adanya sebuah network, menurut Dhofier menyatakan penjagaan tradisi bisa melalui transmisi pengetahuan yang bisa membentuk genealogi intelektual maupun perkawinan yang endogamous. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (1994) yang diterbitkan oleh INIS di Jakarta. Dalam salah satu pemikirannya, Mastuhu berusaha ingin menjelaskan fenomena dari banyaknya pesantren yang ada di Indonesia di lihat dari tujuan pendidikannya. Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya terdapat perbedaan dalam tujuan, meskipun semangatnya sama, yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Dengan perbedaan ini, ia menilai terdapat keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik kemandirian dan independensinya. Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan pendekatan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional. Fatah Syukur NC & Nishino Setsuo, dalam Bulletin of Academic Frontier Project 2005 yang berjudul Tradisi Masyarakat dan Pendidikan Islam di Kudus Jawa Tengah (2006). Penelitian bersama yang dilakukan untuk Asia Reserch Center, Toyo University ini secara cerdas mampu memotret kondisi pesantren-pesantren di Kudus yang dilengkapi dengan balutan realitas yang sudah menjadi tradisi masyarakat pada waktu itu. Disebutkan pada penelitian tersebut, tiga pesantren terbesar di Kudus, yakni Pondok Tahfidz Yanbu’ulQur’an, Pondok Pesantren Darul Falah, dan Pondok Pesantren al-Muayyad Kudus. Sebagai kesimpulanya, Fatah Syukur menguatkan fenomena bahwa pesantren di Kudus beserta tradisinya merupakan bukti keunikan budaya dan pendidikan di Kabupaten tersebut.

14

Fatah Syukur NC, dalam tesisnya yang dibukukan dan berjudul Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri (2004). Meskipun orientasi buku ini tidak menyinggung banyak tentang pesantren, namun secara eksplisit dapat memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat Kudus karena peneliti menyadari bukan dari bagian masyarakat tersebut. Penelitian yang dilakukan mengambil studi kasus di Madrasah Mu’allimin NU Kudus dan Madrasah TBS Kudus. Kedua madrasah tersebut tidak jauh dari objek penelitian ini, oleh karena itu bisa diperkirakan kondisi sosial kemasyarakatannya adalah tidak jauh berbeda. Tim peneliti CeRMIN (Central Riset dan Manajemen Informasi) dalam hasil penelitiannya yang berjudul Profil Pesantren Kudus yang diterbitkan pada tahun 2005. Dalam hasil penelitiannya tersebut menemukan banyak informasi yang menyangkut tentang berbagai macam profil dari pesantren yang ada di Kabupaten Kudus, baik mengenai karakteristik dan tradisi keilmuwannya. Diantara karakteriknya adalah fenomena pesantren Kudus sebagai pesantren terbuka. Namun, dalam penjelasan buku tersebut peneliti belum menemukan bagaimana geliat pesantren-pesantren tersebut dalam menghadapi modernisasi atau pembaharuan dalam pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan pun mash menggunakan deskriptif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan diupayakan untuk mengkaji upaya pembaharuan yang dilakukan pesantren Kudus dengan menggunakan pendekatan hermeneutika sosial. Abdurrahman Mas’ud, et.all, dalam buku berjudul Dinamika Pesantren dan Madrasah (2002). Buku yang berisi kumpulan artikel dan makalah oleh para peneliti dan Dosen IAIN Walisongo ini bagi peneliti bisa dijadikan konstruksi dasar pemikiran pondok pesantren yang berkembang di kalangan IAIN. Meskipun pada buku tersebut metodologi penulisannya berbeda-beda antara satu penulis dengan penulis lain, namun setidaknya teori-teori yang digunakan dapat peneliti manfaatkan untuk memperkuat argumen penelitian yang akan dilakukan ini.

15

Ahmad Muthohar, A.R. dalam skripsinya yang berjudul “Ideologi Pendidikan Pesantren ; Studi Analisis Pemikiran Mastuhu Tentang Sistem Pendidikan Pesantren” (2002). Penemuan Muthohar ini berakhir pada kesimpulan bahwa pesantren tidak memiliki sifat general dalam bingkai ideologi karena setiap unsur yang ada kecenderungan yang heterogen. Muthohar mengatakan secara tegas tidak semuanya pesantren itu berideologi tradisionalkonservatif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muthohar cukup membuat geli para akademisi IAIN terutama tim peneliti puslit IAIN bahkan sampai penelitian tersebut mendapatkan award. Hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku dengan ada sedikit perubahan teks menjadi “Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus Ideologi-ideologi Pendidikan.” Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, yang diterbitkan oleh pustaka pesantren tahun 2006 seolah-olah memberikan jalan terang bagaimana seharusnya penelitian ini secara metodologis dilakukan. Meskipun Abd A’la hanya melakukan reflektif dalam penyajian datanya, namun hasil yang diperoleh cukup menakjubkan. Dengan metode pendekatan hermeneutika, Abd A’la berusaha menafsirkan teks-teks kehidupan pesantren dan perkembangannya sampai sekarang ini. Kajian hermeneutik pesantren Abd A’la ini berhasil menemukan titik temu bahwa sebuah pesantren bukanlah museum purba, temat benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan. Ia juga bukan penjara, di mana setiap tindakan dan pikiran dikontrol serta dikendalikan habis-habisan. Pesantren adalah sebentuk ruang “laboratorium”, di mana setiap pemikiran dikaji dan diuji ulang. Ahmad Zamharir (3100161), skripsi jurusan PAI (2005) Fakultas Tarbiyah dengan judul “Peranan Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Pabelan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah)”. Penelitian ini menemukan efektivitas pesantren dalam proses pemberdayaan masyarakat. Tranformasi nilai yang dilakukan pesantren menurut penelitian tersebut terbilang cukup efektif dalam upaya

16

mendukung terwujudnya masyarakat madani. Peran nilai efektivitas yang dimaksud adalah peranan instrumental dan fasilitator, peran mobilisasi, peran sumber daya manusia, peran sebagai agent of development, dan peran sebagai center of exelence. Amin Mu’allim (3102214), skripsi jurusan PAI (2006) dengan judul “Transformasi Sistem Pendidikan Pesantren (Tinjauan Historis Terhadap Pondok Pesantren Al-Hikmah Brebes)”. Dari penelitian yang dilakukan oleh Amin Mu’allim ini hanya menyoroti transformasi dari sudut pandang historis. Penemuannya pun masih sekitar upaya pesantren tersebut dalam mengembangkan sistem pendidikan yang sudah dilakukan sebelumnya. Dari hasil eksplorasi peneliti terhadap berbagai sumber dan bahan pustaka tidak atau belum menjumpai pembahasan yang spesifik sama sekali dengan permasalahan yang akan di sajikan dalam penelitian ini, yaitu dengan analisis hermeneutika sosial peneliti akan berusaha mengkaji tipologi pondok pesantren yang tidak kecil peranannya dalam ikut serta mencerdaskan masyarakat serta menjadikannya sebagai sebuah alternatif sistem pendidikan Islam yang dapat terwujudnya generasi unggul. F. Metode Pembahasan Dari banyaknya pondok pesantren yang ada di Kabupaten Kudus dengan sendirinya menuntut penelitian ini dilakukan secara intens (meskipun dalam analisis peneliti mengambil representasinya saja). Dalam konteks khusus, penelitian ini secara metodologis berupaya untuk membangun pandangan subyek yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Oleh karena itu, jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitaif yang dalam tatanan kerjanya bertugas untuk menyajikan dunia sosial dan perspektifnya, konsep, perilaku, dan persepsi subyek yang diteliti. 23 Sehingga
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi), (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet. XXIV. hlm. 6.
23

17

penelitian ini butuh kecermatan dan keakuratan untuk memahami fenomena dibalik teks-teks sosial yang dialami dan dilakukan oleh subyek penelitian. Menurut Lofland dan Lofland, sebagaimana di kutip oleh Moeloeng, sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
24

Oleh

karenanya, peneliti akan tertuntut untuk untuk mendiskripsikan fenomena atas subyek yang diteliti. Di antara deskripsi tersebut seperti dinamika pesantren, tantangan pembaharuan dengan respon yang ditunjukkan, orientasi pesantren, dan karakteristik pesantren. Selanjutnya, peneliti akan mengkategorisasi data tersebut dengan bersandar pada tipe-tipe pesantren yang dipolakan oleh Depag (sekarang Kemenag). Mengingat waktu yang disediakan dalam penelitian ini tidak lama, maka hanya diambil tiga pondok pesantren yang menjadi representasi dari masing-masing tipologi. Ketiga pondok pesantren tersebut adalah pesantren Yanbu’ul Qur’an Pusat di Kajeksan kecamatan Kota, pesantren Yanbu’ul Qur’an Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) di Kwanaran kecamatan Kota, dan pesantren Roudlatut Tholibin di Kerjasan kecamatan Kota. Paradigma manusia sebagai instrumen dalam penelitian kualitatif, nampaknya menuntut penelitian ini membutuhkan pendekatan fenomenologi untuk fokus melacak pengalaman-pengalaman subjektif. Fenomenologi berusaha menyelidiki pengalaman kesadaran, yang berkaitan dengan pertanyaan seperti : bagaimana pembagian antara subjek (ego) dengan objek (dunia) muncul dan bagaimana sesuatu hal di dunia ini diklasifikasikan.25 Di samping itu, pendekatan ini juga menekankan bahwa objek ilmu bukan hanya terletak pada pengalaman empiris, melainkan mencakup fenomena dibalik persepsi, pemikiran, kemauan maupun keyakinan subjek tentang suatu yang transenden.
24 25

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 157. Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitia, hlm. 15.

18

Salah satu yang digunakan dalam mendekati pengalaman kesadaran adalah dengan kesadaran sejarah. Batas-batas kesejarahan ini, menurut Amin Abdullah teori-teori, paradigma, ekspresi intelektual dan refleksi filosofis subjek secara konsisten berkaitan dengan kepentingan, asumsi, dan konteks.26 Oleh karena itu, harus ada kesadaran sejarah dalam menjelaskan makna teks sosial dan membuatnya rasional. Selanjutnya bukan hanya kesadaran sejarah, kesadaran praktis pun juga dibutuhkan dalam menafsirkan makna teks. Kesadaran praktis digunakan secara teoritis sebagai dasar pijakan untuk melakukan tindakan praktis.27 Tindakan praktis yang dimaksud dalam penelitian adalah untuk mengungkap pentingnya pembaharuan pendidikan Islam. Sedangkan untuk mencari kontribusi pesantren, maka dibutuhkan nilainilai tradisi yang menyejarah dan berkembang sampai sekarang ini. Kajian fenomenologi bisa membantu dalam menyikap nilai tradisi pesantren tersebut. Nilai-nilai tradisi tidak terletak pada subjek melainkan pada elaborasi terus menerus untuk menafsirkan realita dan mentransformasikan fakta-fakta menjadi nilai-nilai. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus (86 pesantren) kemudian memilih tiga pesantren sebagai representasi dari masing-masing tipologi, maka analisisnya mau tidak mau digunakan constant comparative method (metode perbandingan tetap).28 metode ini sesuai dengan cara kerjanya secara tetap membandingkan satu pesantren dengan pesantren lainnya dan membandingkan satu tipologi satu dengan tipologi lainnya.

Amin Abdullah, Islamice Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2006), cet. I, hlm. 60. Husain Heriyanto, “Tinjauan Hermeneutika : Cara Pandang Ilmuwan Barat dan Muslim”, Jurnal Universitas Paramadina, (vol. 2 No. 2, Januari / 2003), hlm. 2.
28 27

26

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 288.

19

Jadi, dengan berdasar pada teori-teori yang ada, maka untuk mendukung validitas data yang peneliti kumpulkan, maka di bawah ini akan dijelaskan metode penelitiannya. 1. Metode Pengumpulan Data Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tipologi pesantren yang ada di Kabupaten Kudus, peneliti dalam proses pengumpulan datanya merasa perlu merangkul semua pihak yang berkaitan dengan objek penelitian ini, pondok pesantren dengan berbagai variannya, kyai yang dalam hal ini sebagai pengasuh beserta perangkatnya, dan dokumendokumen penting yang berhubungan dengan pondok pesantren. Oleh karena itu, metode pengumpulan data yang peneliti terapkan antara lain : a. Metode observasi Maksud dari metode observasi ini adalah untuk mengetahui bentuk pembaharuan yang dilakukan pesantren melalui observasi secara langsung. Bentuk observasi yang dilakukan dengan cara partisipasi pasif karena peneliti menyadari bukan termasuk komunitas dari masyarakat Kudus. Oleh karena itu, peneliti termasuk jenis peneliti pemeranserta sebagai pengamat. Artinya, perananan peneliti tidak sepenuhnya sebagai pengamat tetapi melakukan fungsi pengamatan. Peneliti menjadi anggota pura-pura, jadi tidak melebur dalam arti sesungguhnya.29 Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai tujuan dari penelitian ini. Secara umum, observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang varian pondok pesantren di Kudus yang meliputi sejarah berdiri, visi dan misi pesantren, dan aspek pengembangan
29

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 177.

20

pendidikan pesantren. Bukan hanya itu, peneliti juga akan melakukan observasi mengenai pelaksanaan kurikulum, metode pembelajaran, dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing pesantren. Sehubungan dengan peristiwa yang diobservasi, peneliti menggunakan strategi mengarahkan perhatian dengan fokus pada kepekaan perasaan. Menurut Patton (1980), konsep demikian dinamakan dengan sentizising consepts (konsep yang dirasakan). sentizising consepts berjasa menjadi kerangka dasar untuk menarik yang penting dari suatu peristiwa, kegiatan, atau perilaku tertentu.30 b. Metode interview Interview (wawancara) adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviuwer (pewawancara) sebagai pengaju pertanyaan dan interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban. Tujuan dari metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain sebagainya.31 Dalam penelitian ini interview dilakukan agar mendapatkan data dari sumbernya secara langsung untuk kepentingan validitas data. Interview peneliti lakukan kepada para pengasuh pondok pesantren, terhadap para pengurus pondok pesantren yang peneliti rasa kapabel dan kompeten, maupun terhadap masyarakat sekitar sebagai penunjang data yang peneliti ketahui sebelumnya. Interview yang dilakukan dengan menggunakan teknik secara terstruktur maupun tak terstruktur. Secara terstruktur dimaksudkan
30 31

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian., hlm. 178-179. Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian., hlm. 186.

21

untuk

mengetahui

persamaan

antar

masing-masing

pondok

pesantren. Dengan begitu, peneliti dapat menemukan keunggulan satu pesantren dibanding pesantren yang lain, dan kelemahan satu pesantren dibanding pesantren yang lain. Sehingga jika data sudah terkumpul semua, peneliti dapat melakukan kategorisasi menurut tipologi masing-masing pesantren. Terstruktur artinya peneliti menegaskan berbagai pertanyaan dan berusaha memunculkan masalah sendiri yang akan diajukan. Bukan hanya demikian, interview tak terstruktur pun juga peneliti lakukan untuk mengetahui data-data tunggal yang sebelumnya peneliti belum mendapatkannya. c. Metode dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk mengetahui dokumen-dokumen penting tentang pondok pesantren yang bersangkutan, baik mengenai jumlah santri, profil pesantren, bentuk kegiatan, struktur kepengurusan pondok pesantren, staf pengajar, tradisi keilmuwan yang dipelajari, penting dan ini lain tidak sebagainya. semata-mata data bisa Pengumpulan tahap ini dokumen

mengumpulkan semua data yang peneliti peroleh, namun dalam dilakukan seleksi data agar akurasi dipertanggung jawabkan secara legal-formal. Maka, dokumen yang dimaksud mencakup dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi digunakan untuk melacak catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Tujuannya itu untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi soaial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek penelitian. Sedangkan dokumen resmi digunakan untuk melacak berbagai macam bentuk instruksi, aturan lembaga yang terkait, pengumuman, keputusan pemimpin (kyai, kepala

22

madrasah), majalah, buletin, dan berbagai macam dokumen lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan dan menelaah konteks sosial. 2. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian kualitatif ini merupakan rangkaian proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Secara umum, proses analisis ini dijalankan sesuai dengan prosedur sebagai berikut : 1) Mencatat hasil yang diperoleh dari lapangan kemudian diberi kode supaya sumber data tetap bisa ditelusuri, 2) Mengkategorisasikan : Mengumpulkan, memilah-milah, dan klasifikasi data, 3) Mensintesiskan : Membuat ikhtisar (ringkasan), dan membuat indeksnya, 4) Melakukan pemikiran dengan jalan membuat kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubunganhubungan, dan membuat temuan-temuan umum.32 Sehingga berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik dari observasi, interview, dan dokumentasi selanjutnya teknik analisis datanya dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis. Inti dari analisis jenis ini adalah terletak pada tiga proses yang berkaitan, yaitu : 1) Mendeskripsikan fenomena, 2) Mengklasifikasikannya, 3) Melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu satu dengan yang lainnya berkaitan.33
32

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 248.

23

Namun, penelitian ini bukan hanya mendeskripsikan data, melainkan dilengkapi dengan analisis kritis hermeneutis sosial. Analisis hermeneutis ini diterapkan sebagai alat untuk menafsirkan proses dialektika pemahaman dan reinterpretasi 34 terus menerus untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial.35 Setelah mendapatkan deskripsi utuh sesuai dengan cara kerja analisis di atas, maka analisis selanjutnya adalah analisis tipologi pesantren. Dalam analisis tipologi ini disertai dengan melakukan representasi karena mengingat waktu penelitian relatif singkat. Analisis ini bertugas melacak sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren, bagaimana kurikulum yang digunakan, bagaimana juga pola pembelajarannya dan penyelenggaraan pendidikannya. Tujuan dari analisis tipologi yang dimaksud adalah memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola atau tipologi, dan mencari hubungan di antara dimensidimensi uraian. Oleh karena itu, langkah-langkah yang akan ditempuh secara sistematis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tahap 1 : Mendeskripsikan hasil data Hal pertama yang dilakukan peneliti adalah menelaah secara deskriptif seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, baik dari interview, observasi, maupun dokumentasi. Tahap 2 : Mereduksi data Reduksi data merupakan salah satu bentuk upata untuk mengidentifikasi data meskipun data yang terkecil namun
33 34

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 289.

Upaya menafsirkan ulang dengan merancang kerangka berpikir baru dengan tujuan untuk memperjelas pengertian tersembunyi di balik teks-teks sosial menjadi sebuah makna yang jelas. Sindung Tjahyadi, “Teori Kritik Jurgen Habermas : Asumsi-asumsi Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial”, Jurnal Fisafat,( vol.XXXIV, No. 34 No.2, Agustus/ 2003), hlm. 2.
35

24

jika dikaitkan dengan fokus penelitian akan menjadi data yang berguna. Reduksi data di sini akan dilakukan dengan cara melakukan abstraksi, yakni usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dipertahankan. Tahap 3 : Mengklasifikasikan Klasifikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan pengelompokan data menurut pola pesantren masng-masing setelah melalui proses pereduksian data. Pengelompokan data ini mengenai berdasarkan visi dan orientasi keilmuwan pesantren. pengklasifikasian pesantren ini akan dilakukan tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Kudus. Tahap 4 : Mengkategorisasikan Kategorisasi merupakan upaya memilah-milah data setiap kelompok ke dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan. Setiap kategori pada nantinya akan diberi nama (label). Tahap 5 : Mensintesiskan Mensintesiskan berarti mencari kaitan antara satu kategori dengan kategori lainnya. Upaya ini berdasar pada teori-teori yang sudah ditetapkan pada penelitian ini kemudian disintesiskan dengan realitas yang ada di masyarakat. Hasil dari sintesa ini menjadi prasyarat untuk bisa menetapkan tipologi pesantren yang hendak diteliti lebih rinci. Tahap 6 : Memberikan tipologi Tipologi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemberian pola pesantren beserta arah pengembangan yang dilakukan menurut sistem pendidikan pesantren tersebut.

25

Akan dijelaskan dalam dalam tipologi ini sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran, dan sistem penyelenggaraan pendidikannya. Tahap 7 : Merepresentasikan Peneliti akan melakukan representasi tipologi pesantren mengingat banyaknya pesantren yang akan diteliti. Karena jumlah tipologi yang sudah ditetapkan berjumlah tiga tipologi berdasar kategorisasinya masing-masing, maka representasinya pun tiga pondok pesantren. Peneliti mengharapkan dipilihnya satu pesantren sebagai representasi satuannya dapat mewakili tipologi yang lainnya. Tahap 8 : Interpretasi data Peneliti dalam menganalisis tidak serta memakai cara pandang peneliti sendiri, melainkan meggunakan bantuan hermeneutik agar hasil dari penelitian ini sesuai dengan realitas masyarakat yang ada. Peneliti melakukan penafsiran sekaligus melakukan kritik yang terjadi. Namun secara sederhana langkah-langkah di atas dapat dirinci sesuai dengan analisisnya masing-masing sesuai dengan teknik kerjanya. Rincian tersebut sebagai berikut : 1. Analisis deskriptif Secara umum pada analisis ini yang termasuk adalah tahap deskripsi data. 2. Analisis proses Pada analisis ini, garapan peneliti mencakup tahap mereduksi data, mengklasifikasikan, dan mengkategorisasikan. 3. Analisis hermeneutik Pada analisis ini, peneliti membagi membagi empat tahapan, yakni tahap mensintesiskan data, memberikan tipologi,

26

merepresentasikan, dan menafsirkan data melalui prosedur gerak lingkar hermeneutis. Dengan langkah-langkah dan analisis di atas peneliti berharap dapat menggambarkan konstelasi pembaharuan pendidikan Islam menurut kategorisasi yang sudah ditetapkan. Kategorisasi yang pada akhirnya dengan hermeneutika sosial ini peneliti dapat merumuskan kontribusi tipologi pesantren di Kudus terhadap masyarakat. Di samping itu juga dalam analisis akan diurai bagaimana format pesantren ideal dan tipologi pesantren yang mampu dijadikan sebagai pendidikan alternatif pesantren.
___________________

27

BAB II PONDOK PESANTREN DAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM Kajian pesantren dan pembaharuan menarik untuk diteliti. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, kini pesantren memunculkan wajah baru. Fungsi pesantren bukan lagi hanya lembaga keagamaan, melainkan juga sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Kajian semacam ini jika dilanjutkan akan ditemukan tipetipe pesantren sesuai dengan pengembangan sebagai ciri khasnya. Oleh karena itu, pada pembahasan ini dimaksudkan untuk mendasari penelitian dengan memaparkan teori tipologi pesantren dan aspek-aspek pembaharuan pesantren, diantaranya meliputi sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran dan sistem penyelenggaraan pendidikan. A. Pondok Pesantren 1. Pengertian dan Elemen-elemen Pokok Pesantren a. Pengertian Pondok Pesantren Zamachsjari Dhofier mendefinisikan pondok berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama.1 Dengan maksud yang sama, Haidar Putra Daulay mengartikan sebagai hotel, tempat bermalam. 2 Baik Dhofier maupun Haidar menyengaja menggunakan kata hotel karena pondok bagi santri merupakan tempat tinggal sewaktu tholabul ‘ilmi. Sebuah pesantren idealnya memiliki tempat tinggal sebagai ajang komunikasi antara santri dan kyai.

Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982), hlm.18 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), cet. II, 62.
2

1

28

Sedangkan pesantren, Dhofier mengatakan berasal dari kata santri yang diawali dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para santri.3 Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang berarti tempat santri. 4 Begitu juga Abdurrahman Wahid, yang di kutip oleh Isma’il SM secara teknis pesantren dinyatakan sebagai, “a place where santri (student) live”.5 Hampir ada kesepakatan mengenai terminologi pesantren ini jika istilah pesantren digunakan setelah datangnya Islam. Namun, jika memandang kata tersebut sebelum datangnya Islam, maka Prof. Johns berpendapat santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji.6 Begitu juga C.C Berg menyatakan kata santri berasal dari istilah shastri yang merupakan bahasa India yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.7 Sehingga pondok pesantren berdasar pada pendapat-pendapat di atas bisa diartikan sebagai tempat tinggal sementara para santri yang jauh dari asalnya. Ahmad Syafi’i Noer menguatkan tempat tinggal tersebut merupakan tempat di mana kyai dan santri dapat melakukan pengajian sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh kyai.
8

pondok santri biasanya tidak jauh dengan ndalem

kyainya. Hal ini bertujuan untuk lebih mempermudah mengontrol kehidupan

3 4 5

Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 18. Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 61.

Isma’il SM, “Pengembangan Pesantren Tradisional (Sebuah Hipotesis Mengantisipasi Perubahan Sosial)”, dalam Abdurrahman Mas’ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002), cet.I, hlm. 50.
6 7 8

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 61. Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 19.

Ahmad Syafi’i Noer, “Pesantren : Asal-usul dan Pertumbuhan Kelembagaan”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm. 90.

29

sehari-hari para santri terutama mengenai pendidikan moral. Sehingga titik sentral kyai ini jika dianalisis lebih lanjut masih sepaham dengan pendapat Dawam Raharjo yang mengartikan secara institusi pesantren bukanlah sekolah atau madrasah, meskipun dalam lingkungan pesantren sekarang ini banyak didirikan unit-unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus.9 Ketradisionalan pesantren yang bukan sekolah ataupun madrasah ini menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Untuk mengenai pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya, ada beberapa pendapat yang mengatakan : Pertama, transformasi sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam di Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri yaitu tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu yang dipimpin oleh seorang kyai. Oleh sebab itu, tujuan umum terbentuknya pondok pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya mencetak ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang

M. Dawam Raharjo, “Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan”, dalam M. Dawam Raharjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta : LP3ES, 1988), cet. IV, hlm. 25.

9

30

diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat, dan mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama.10 b. Elemen-elemen Pokok Pesantren Menurut Zamachsjari Dhofier, elemen atau unsur-unsur sebuah pondok pesantren ada 5 (lima), yaitu : 1) Pondok Menurut bahasa pengertian pondok sudah dijelaskan di atas. Pada pembahasan ini akan dijelaskan alasan pentingnya didirikan sebuah pondok bagi sebuah pesantren. Di antara alasan tersebut adalah : Pertama, banyaknya santri-santri yang berdatangan dari daerah yang jauh untuk tholabul ‘ilmi pada seorang kyai yang sudah termashur keahliannya. Mereka membutuhkan tempat untuk menginap supaya memudahkan untuk menerimana pelajaran dari kyai kapan saja. Kedua, kebanyakan pesantren itu terletak di desa-desa sehingga para santri yang ingin nyantri di pondok pesantren tersebut belum ada tempat perumahan bagi mereka. Meskipun pada sebagian pesantren ada santri yang dititipkan pada rumah-rumah warga yang berdekatan dengan pesantren. Ketiga, diharapkan munculnya feedback antara kyai dan santri, di mana santri dianggap oleh kyai sebagai anak sendiri. Begitu juga sebaliknya para santri menganggap kyai sebagai orang tuanya sendiri. 2) Masjid Masjid menurut lughah dapat diartikan sebagai tempat bersujud. Di dalam masjid ini di samping berfungsi sebagai tempat untuk beribadah, masjid juga bisa dialihfungsikan sebagai tempat pelaksanaan pendidikan dan lain sebagainya. Di zaman Rasulullah pun

A. Rafiq Zainul Mun’in, “Peran Pesantren dalam Education For All di Era Globalisasi”, Jurnal Pendidikan Islam, (vol. I, No.01, Juni/ 2009), hlm. 10.

10

31

masjid dijadikan sebagai tempat untuk mendiskusikan masalahmasalah kemasyarakatan. Penempatan masjid sebagai pusat pendidikan ini mencerminkan tradisi pesantren yang selama ini dipegang teguh oleh para kyai-kyai pemimpin pesantren. Bahkan sekarang banyak juga masjid-masjid yang ada di masyarakat yang dijadikan sebagai tempat pembelajaran al-Qur’an atau lebih di kenal dengan Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) dan lain sebagainya. 3) Santri Menurut Haidar Daulay, santri dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu : a) Santri mukim, yakni para santri yang berdatangan dari luar daerah yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk pulang ke rumahnya, maka akhirnya dia mondok (menetap/menempat/mukim) di pesantren. Oleh karena menjadi santri mukim, maka ia harus mengikuti tata tertib yang berlaku di pesantren. b) Santri kalong, yakni para santri yang berasal dari daerah sekitar yang sangat memungkinkan mereka pulang ke daerah masingmasing. Santri kalong ini datang ke pondok hanya untuk mengikuti pelajarannya saja, habis itu ia pulang ke rumahnya sendiri dan tidak mengikuti aktifitas yang lainnya.11 4) Pengajaran Kitab-kitab Islam klasik Kitab klasik dalam pesantren yang dimaksud adalah kitab kuning. Bukan berarti warna kitab ini kuning, melainkan yang dimaksud adalah kitab yang ditulis oleh para ulala salaf abad pertengahan yang berisikan huruf arab” gundul” atau tanpa harokat yang harus diabsahi
11

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 64

32

menggunakan huruf arab “pegon”. Hanya santri-santri yang sudah mahir saja yang mampu melakukan ini ini dengan benar sesuai tuntunan. Oleh karena itu kemahiran santri tersebut harus mempelajari secara mendalam ilmu-ilmu alatnya, yakni ilmu nahwu, shorof, balaghoh, ma’ani, bayan, dan lain sebagainya. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memperdalam kitab-kitab yang dimaksud, sehingga kriteria tolol ukur lulus atau tidaknya santri adalah kemahiran dalam membaca dan menjelaskan isi kandungan kitab kuning tersebut. Bahkan sampai sekarang pun meskipun sebagian pesantren sudah memasukkan pelajaran umum, pengajian kitab kuning tetap dilaksanakan karena pengajian ini juga salah satu tradisi di pesantren yang harus dijaga. Jenis-jenis kitab kuning, menurut Dhofier dapa dikategorikan menjadi 8 (delapan) kelompok, yakni : kitab nahwu/shorof, kitab fiqih, kitab ushul fiqih, kitab hadits, kitab tafsir, kitab tauhid, kitab tasawwuf dan etika, serta cabang-cabang ilmu lainnya seperti kitab tarikh dan balaghoh.12 5) Kyai Kata kyai dalam bahasa Jawa di pakai untuk tiga gelar yang berbeda yang tersebut di bawah ini : a) Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat seperti “kyai garuda kencana” yang dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogjakarta. b) Sebagai gelar kehormatan kepada orang-orag tua pada umumnya. c) Sebagai gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang ahli dalam agama Islam yang memiliki
12

Zamachsjari Dhofier,Studi Padangan, hlm. 50.

33

pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya.13 Kyai yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah gelar kyai yang ketiga. Kyai merupakan tokoh sentral dalam sebuah pesantren. Wibawa dan kharisma kyai menentukan maju atau mundurnya sebuah pesantren. 2. Pesantren dalam Lintasan Sejarah Perspektif historis pesantren sebenarnya tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous) 14 karena beberapa penelitian menyebutkan lembaga serupa pesantren ini sudah ada di Nusantara sejak zaman kekuasaan Hindu-Budha.15 Meskipun belum diketahui secara jelas kapan pesantren pertama kali didirikan, namun ketika masa walisongo (abad 16 – 17 M) sudah terlacak sebuah pesantren yang didirikan Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

13 14

Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 55.

Menurut sebagian pakar pendidikan Islam menyatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan lanjutan dari lembaga pendidikan keagamaan pra-Islam, yang disebut dengan mandala. Konon mandala ini telah ada sejak zaman sebelum majapahit dan berfungsi sebagai pusat pendidikan (semacam sekolah) dan keagamaan. Mandala dianggap oleh orang Hindu-Budha sebagai tempat suci karena disitu tinggal para pendeta atau pertapa yang memberikan kehidupan yang patut dicontoh masyarakat sekitar karena kesalehannya. Mandala juga disebut sebagai wanasrama yang dipimpin oleh siddapandita yang bergelar muniwara, munindra, muniswara, maharsi, mahaguru atau dewaguru. Lihat Ismawati, “Melacak Cikal Bakal Pesantren Jawa”, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, (Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004), hlm. 95 - 96. Pendapat lain yang mengatakan pesantren adalah kelanjutan dari mandala adalah IP Simanjuntak (1973) yang mengatakan pesantren telah mengambil model dan tidak mengubah struktur organisasi dari lembaga pendidikan mandala masa Hindu. Pesantren hanya mengubah isi agama yang dipelajari, bahasa sebagai sarana pembelajaran, dan latar belakang santri. Namun, Abdurrahman Mas’ud (2000) lebih condong mengatakan pesantren memiliki kesinambungan dengan lembaga pendidikan Gurucula yang telah ada di masa pra-Islam di Jawa. Lihat Abdurrohman Mas’ud, “Pesantren dan Walisongo : Sebuah Interaksi dalam Dunia Pendidikan,” dalam Islam dan Kebudayaan Jawa (Yogjakarta : Penerbit Gama Media, 2000), hlm. 223.
15

34

Konon pesantren yang didirikan tersebut merupakan pesantren pertama dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.16 Bermula dari pesantren pertama ini, telah berkembang ribuan pesantren, besar dan kecil, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati. Begitupun dengan pesantren lainnya, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati juga. Kini, ribuan pesantren dipertanyakan eksistensinya. Boleh jadi pesantren-pesantren tersebut akan menyusul pendahulunya. Hal ini dikarenakan, daya tarik yang sangat mempengaruhi besar kecilnya pesantren, maju atau tidaknya pesantren tersebut bergantung kepada kapasitas kyai pendirinya, serta kesadaran tanggung jawab keturunannya.17 Tantangan pesantren saat ini bisa jadi akan masih tetap mempertahan ketradisionalannya, atau mampu bergerak menyesuaikan kondisi dan kebutuhan zaman. Sejarah mencatat, bahwa Minangkabau,18 merupakan salah satu daerah di Sumatra Barat yang oleh kebanyakan peneliti dianggap sebagai embrio masuknya ide-ide modernis ke Nusantara. Pesantren inilah yang memberikan inspirasi pesantren lainnya dalam menyikapi perubahan yang ada. Salah satu yang menjadi alasannya adalah hubungan masyarakat Minangkabau terjalin
Fatah Syukur NC, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004 ), cet. I, hlm. 26. Mokh. Akhyadi, “Pesantren, Kiai, dan Tarekat : Studi Tentang Peranan Kiai di Pesantren dan Tarekat,” dalam Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : PT Grasindo, 2001), hlm. 135. Dalam catatan sejarah, pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau terjadi dalam 2 (dua) fase. Pertama, gerakan padri (1803) yang dimobilisasi oleh Haji Sumanik, Haji Miskin, dan Haji Piobang setelah kepulangan mereka dari tanah suci Mekkah. Menurut Armai Arief (2001) di sebut sebagai gerakan fundamentalis Islam yang coraknya tidak jauh beda dengan Wahabiyah yang ada di Mekkah. Armai sendiri beranggapan apa yang mereka lihat tentang Wahabi nampak begitu berkesan dan terpengaruh dengan ideologinya hingga mereka ingin pula melaksanakan pemurnian yang sama di kampung halamannya. Kedua, gerakan pemikiran Syeikh Ahmad Khatib yang sudah menyebarkan pemikiran-pemikirannya dari tahun 1880-1915 M, baik melalui tulisan-tulisannya sendiri yang dipublikasikan oleh murid-muridnya di indonesai maupun secara kontak langsung ketika naik haji ke mekkah. Lihat, Deliar Noer, “The Modernist Muslim Movement In Indonesia 1900-1942” yang diterjemahkan menjadi, Gerakan Moderen Islam Di Indonesia 1900-1942, (Jakarta : PT Pustaka LP3ES, 1994), cet.VII, hlm. 38.
18 17 16

35

mesra dengan para pembaharu Arab melalui media haji sehingga berbagai ideide pembaharuan banyak dimanfaatkan. Di samping itu pula, masyarakat tersebut mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mampu unggul dalam berkompetisi jika mereka terus melanjutkan pembaharuan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam.19 Kesadaran akan kelemahan dan mau mengadakan pebaharuan inilah yang disebut oleh Abdul Djamil sebagai dinamika perkembangan pesantren. Bagaimana tidak, berkat pembaharuan nilai-nilai etika pesantren masih menjadi pilihan alternatif yang cukup menjanjikan. Pesantren tampil dalam format yang variatif mulai dari pesantren yang masih bertahan dengan tradisi kitab kuning saja, sampai dengan yang mau berinteraksi dengan aspek-aspek kemodernan.20 Menarik untuk sekedar dijadikan discourse, bahwa pesantren yang akulturatif antara kebudayaan dan tradisi Jawa inilah yang menjadikan pesantren diidentifikasi sebagai lembaga keagamaan kelanjutan dari mandala di zaman kekuasaan Hindu. Di mana Abdul Djamil mencontohkan pesantren Tegalsari Ponorogo sebagai model pesantren semacam ini. Namun, yang menjadi pertanyaannya apakah semua pesantren merupakan kelanjutan dari mandala tersebut? Menanggapi permasalahan di atas, Hanun Asrohah dalam Disertasinya menepis anggapan tersebut dengan menyatakan jika sebuah pesantren didirikan di atas sebuah tanah perdikan,21 maka boleh jadi pesantren tersebut
19 20

Deliar Noer, “The Modernist Muslim,” hlm. 39.

Abdul Djamil, “Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan”, dalam Prolog Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. vii Tanah perdikan atau tanah sima adalah tanah yang diberikan oleh raja karena dengan dasar ingin membalas jasa kepada seseorang yang berbuat jasa, atau karena desa ataupun daerah tersebut dikhawatirkan melakukan pemberontakan atau melepaskan diri dari kekuasaan raja. Tanah ini juga dianugerahkan oleh raja kepada bangsawan atau kaum kerabat raja sebagai tanah lungguh (kedudukan) yang bisa dimanfaatkan hasilnya sebagai biaya penyelenggaraa pendidikan keagamaan asrama atau mandala. Lebih lanjut lihat Ismawati, “Melacak Cikal, hlm. 105-106.
21

36

mempunyai tradisi dan struktur yang sama dengan mandala. Contoh pesantren pada abad ke-18 yaitu pesantren Tegalsari di Ponorogo, Banjarsari dan Sewulan di Madiun atau pada abad ke-19 seperti pesantren Maja Pajang dekat Surakarta dan Mlangi dekat Yogjakarta.22 Namun, jika model pesantren yang dimaksud tidak didasarkan pada akulturasi kebudayaan dan tradisi, maka pesantren tersebut bukan kelanjutan dari mandala, melainkan model para ‘ulama Jawa yang belajar di Makkah dan Madinah. Sebagaimana pendapat George Maksidi, menyampaikan bahwa lembaga pendidikan pesantren di Indonesia menyerupai madrasah di Baghdad pada awal abad ke-11 dan ke-12 M.23 Pendapat ini menguatkan pernyataan bahwa lahirnya pesantren di Jawa akibat dari tekanan kesultanan yang memarginalkan penyelenggarakan pendidikan Islam sehingga para ‘ulama banyak yang menimba ilmu di Mekkah dan Madinah. Kemudian pulang ke tanah kelahiran di Jawa dengan mengadakan pembaharuan pendidikan Islam terutama pesantren. Pembaharuan yang dimaksud bukan berarti harus mengadaptasikan diri sepenuhnya, namun pembaharuan yang mampu mengubah perubahan pada masyarakat dan tidak meninggalkan karakter khas 24 pesantren selama ini. Contoh historis, perubahan/modernisasi yang dibawa oleh kaum paderi dalam aspek pendidikan Islam adalah keberhasilan paderi membuat perubahan peran
22

Hanun Asrohah, “Pelembagaan Pesantren, Asal- usul dan Perkembangan di Jawa”, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, (Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004), hlm.112-113. Madrasah yang dimaksud adalah madrasah Klasik Timur Tengah yang memiliki karakteristik sebagai berikut. Pertama, lembaga administratif bidang pendidikan yang dibangun dengan tanah wakaf. Kedua, adanya pemondokan tempat bagi santri. Ketiga, terdapat makam disekitar pemondokan. Keempat, terdapat perpustakaan. Kekhasan karakter pesantren bisa ditandai dengan pesantren sebagai transmisi ilmu-ilmu tradisional yang termuat dalam kitab kuning, sebagai penjaga dan pemelihara keberlangsungan Islam tradisonal yang mengikuti paham ahlussunnah wal jama’ah, dan karakter sebagai sumber reproduksi ‘ulama. Lihat Zubaedi, Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren, ( Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2007), cet.I, hlm. 227.
24 23

37

surau.25 Meskipun tidak dipungkiri perubahan tersebut mendapat perlawanan yang signifikan oleh kaum adat yang anti terhadap modernitas. Bahkan Deliar Noer mensinyalir sebenarnya pihak paderi sudah mengadakan negosiasi dengan kaum adat, akan tetapi kaum adat merasa kekuasaannya akan teralihkan hingga para akhirnya kaum adat mencari bantuan pada pihak Belanda. Kerjasama antara kaum adat inilah yang menjadikan Minangkabau setelah itu dijajah oleh Belanda. Meskipun berbagai kebijakan Belanda telah ditentang oleh berbagai gerakan Islam di Indonesia, namun tetap membawa nuansa baru di bidang pendidikan. Ide-ide pembaharuan yang diterappkan kolonial Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam tradisional, dimana metode yang diterapkan lebih maju dari sistem pendidikan tradisional.26 Dengan hadirnya lembaga kolonial tersebut menjadikan posisi pesantren yang awalnya sudah mapan menjadi terancam. Kemapanan pesantren terlihat jelas dangan sistem pendidikannya yang nonklasikal, metode pembelajaran dengan sorogan, wetonan, dan hafalan, dan materi pebelajaran terpusat pada kitab-kitab klasik.27 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Pesantren Perkembangan awal pesantren ini bisa dilihat dari menguatnya identitas pesantren yang khas sebagai lembaga pendidikan agama, meminjam istilahnya Abdul Djamil, dikatakan amat kosmopolit. Pada tahap ini, eksistensi pesantren telah selaras dan sesuai dengan sebagaimana apa yang diperlihatkan oleh para wali dan santrinya yang mengambil peran-peran strategis di bidang

Surau merupakan lembaga pendidikan keagamaan di Minang Kabau dimana oleh generasi kaum muda padri dilanjutkan untuk mencorong transformasi peran suarau menjadi madrasah kemudian berkembang menjadi dan pelopor lahirnya pendidikan Islam modern yang sistemnya dipadukan antara tradisi surau dengan sistem modern ala Barat.
26 27

25

Hanun Asrohah, “Pelembagaan Pesantren,” hlm. 153. Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 50.

38

sosial, ekonomi dan politik. 28 Kemudian pada tahap selanjutnya lebih diakulturasikan dengan kebudayaan dan tradisi jawa yang berkembang. Maka, dari peran Syeikh Maulana Malik Ibrahim inilah kemudian lahir ribuan muballigh yang menyebar ke seluruh Tanah Jawa dan daerah-daerah sekitarnya. Faktor yang mempengaruhi mengapa pertumbuhan pesantren diantaranya kebiasaan santri yang setelah selesai atau tamat dari belajar pada seorang kyai, ia di beri izin untuk atau ijazah oleh kyai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru di daerah asalnya. Dengan begini, perkembangan pesantren semakin merata di berbagai daerah, terutama di perdesaan. Menurut Zamachsjari, jumlah lembaga pendidikan pesantren di seluruh Indonesia pada kurun waktu 2 dekade terakhir berkembang sangat cepat. Terhitung pada bulan desember 2008 telah mencapai kuantitas sebanyak 21.521 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 3.557.713 santri. Sebelumnya Zamachsjari telah menguraikan jumlah tersebut semenjak tahun 1977 berjumlah 4.176 pesantren, tahun 1987 berjumlah 6.579 pesantren. Namun untuk dekade berikutnya belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Baru tahun 1997 mulai bertambah menjadi 8.342 pesantren, tahun 2000 sebanyak 12.012 pesantren, tahun 2003 sebanyak 14.666 pesantren.29 Dan 5 tahun kemudian bertambah 6.855 pesantren sehingga total seluruh pesantren se-Indonesia tahun 2008 berjumlah 21.521 pesantren. Perkembangan di atas, menurut Zamachsjari dikarenakan pesantren kini ditunjang oleh UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 yang memberikan legalitas yang sama dengan sekolah-sekolah negeri tingkat dasar dan menengah terhadap madrasah-madrasah tingkat dasar dan menengah yang dikembangkan di pesantren. Oleh karenanya, diperkirakan tahun 2020 mendatang jumlah
28 29

Abdul Djamil, “Pesantren : Jati Diri.” hlm.vi

Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa, (Yogjakarta : Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm. 660-661.

39

lembaga pendidikan pesantren kemungkinan akan mencapai sekitar 35.000 pesantren.30 Keadaan demikian merupakan peluang bagi pihak pesantren untuk lebih membuka menerima perubahan. Berbagai pola pengembangan telah dilakukan oleh beberapa pesantren akhir-akhir ini. Demikian menurut Abdurrahman Wahid, pola pengembangan yang ada di tubuh pesantren dapat terbagi menjadi 3 (tiga) pola, yaitu : a. Pola pengembangan sporadis (berdasar pada aspirasi masing-masing pesantren) Pola ini ditempuh oleh beberapa pesantren utama secara sendirisendiri, tanpa tema tunggal yang mengikat kesemua upaya mereka itu. Meskipun demikian, mereka terbukti memiliki intensitas kerja cukup tinggi dan mempunyai pengaruh yang mendalam. Adapun bentuk kegiatan pokok dari jenis pengembangan sporadis ini antara lain : 1) Mengambil bentuk berdirinya beberapa sekolah non-agama (SMP dan SMA) selain sekolah-sekolah agama tradisional yang telah ada di pesantren, seperti yang terjadi di pesantren Tebu Ireng dan Rejoso (Jombang). 2) Menyempurnakan kurikulum campuran (agama dan umum) yang telah diramu oleh beberapa lembaga pendidikan tingkat tinggi. Seperti pematangan kurikulum yang dilakukan oleh pondok modern Gontor (Ponorogo) sehingga melahirkan Institut Pendidikan Darussalam (IPD). 3) Mengembangkan pola pesantren yang lain dari pada sebelumnya, seperti berdirinya beberapa belas PKP (pondok karya

30

Zamachsjari Dhofier, Memadu Modernitas, hlm. 167.

40

pembangunan) dengan mengambil pembinaan dari pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan yang ada. b. Pola pengembangan pendidikan ketrampilan (dikelola oleh Kementrian Agama) Pola semacam ini telah diikuti oleh lebih dari seratus buah pesantren di Indonesia. Pendidikan ketrampilan ini, menjadi bagian dari kurikulum yang diwajibkan oleh pemerintah bagi sekolah-sekolah agama yang ingin memperoleh persamaan dengan sekolah-sekolah non-agama. Adapun pengembangan pendidikan ketrampilan ini di pecah menjadi komponen-komponen yang berbeda-beda, diantaranya yaitu : 1) Pendidikan kepramukaan 2) Pendidikan kesehatan 3) Pendidikan kejuruan (pertanian, pertukangan, dan kejuruan dasar elektronika). c. Pola pengembangan latihan pengembangan masyarakat (dirintis oleh LP3ES) LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) dalam rangkanya ikut serta mengembangkan pesantren dengan mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga, baik dari pemerintah maupun swasta, dari dalam negeri maupun luar negeri. Ide dasar dari pola ini tidalk lain mendidik sebagian santri untuk menjadi tenaga pengembangan masyarakat (change agents) yang mampu mengetahui kebutuhan pokok masyarakat, menggali sumber daya alam dan manusiawi yang dapat dipakai untuk memenuhinya, dan menggerakkan pertisipasi masyarakat untuk berpikir membangun pedesaan dalam pola pengembangan yang terpadu. Bentuk kegiatan yang dilakukan LP3ES adalah berorientasi pada program Latihan

41

Pengembangan Masyarakat dari Pondok Pesantren yang berlangsung di pesantren pabelan (Magelang).31 4. Nilai dan Tradisi Pesantren Pengaruh pesantren terhadap setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat semakin kuat. Dinamika pemikiran dari luar pesantren tidak akan memiliki akses signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat. Apapun bentuknya, pengembangan masyarakat akan sulit terjadi tanpa melibatkan pesantren. 32 Nilai dan tradisi pesantren dalam hal ini perlu di jaga dan dikembangkan mengingat pesantren dari fungsinya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan melainkan juga berfungsi sebagai lembaga transformasi sosial keagamaan. Oleh karena itulah nilai-nilai dan tradisi ini harus dijadikan sebagai landasan dalam setiap pengembangan pendidikan, dimana dalam tahap berikutnya dikembangkan sebagai nilai dan tradisi yang perlu menjadi anutan bagi masyarakat. Bagi Abdurrahman Wahid, hal yang paling berpengaruh dalam pembentukan tata nilai di lingkungan pesantren adalah : Pertama, hukum fiqih. Artinya, nilai-nilai yang bertentangan dengan hukum fiqih, bagaimanapun tidak berartinya (seperti pembungaan uang), tentu tidak mendapatkan tempat di pesantren. Oleh karena itu, tidaklah tepat untuk mengukur cara penilaian di pesantren dengan apa yang terdapat di luarnya. Seperti tentang kebersihan. Menurut fiqih, kebersihan adalah bebasnya seseorang dari tempat atau pakaian yang mengandung najis (kotoran) yang menghalangi keabsahan ibadahnya. Tentu saja konotasi ini tidaklah sejalanbahkan dalam beberapa hal bertentangan-dengan pengertian sehari-hari di masyarakat akan kebersihan, yang lebih ditekankan pada kerapian dan hilangnya noda lahiriah.
Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, (Yogjakarta : LKiS, 2010), cet.III, hlm. 169-174.
32 31

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, (Yogjakarta : Pustaka Pesantren, 2006), cet. I, hlm. 2.

42

Kedua, berpegang teguh pada adat kebiasaan kaum sufi. Nilai yang kedua ini dilaksanakan jika aspek sudah terpenuhi, maka penyempurnaannya haruslah disesuaikan dengan amalan yang dianggap mulia oleh kaum sufi. Hal ini dikarenakan untuk mencapai tingkatan amalan “fadha’il al-amal” (amalan utama).33 Kedua alat diatas dengan sendirinya akan membentuk tata nilai yang berkembang di pesantren sehingga akan menjaga tradisi-tradisi pesantren dari generasi ke generasi selanjutnya. Kemudian dalam pelaksanaannya, kedua alat tersebut dibalut oleh nilai pokok yang selama ini dikembangkan oleh dunia pesantren : seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah.34 Karena memang dalam prinsipnya, dunia pesantren mengesampingkan aspek duniawiyah dan mengutamakan nilai-nilai ukhrowiyah. Kendatipun demikian, persoalan menjadi runyam ketika modernisasi lembaga pendidikan masuk ke dunia pesantren. Lambat laun nilai-nilai pesantren mulai memudar, orientasi pendidikan berubah mengejar capaian formalistik (ijazah semata). Cita-cita santri maupun pesantren yang seharusnya mengabdi kepada masyarakat, berangsur hilang. Kepercayaan dari masyarakat yang menjadikan masyarakat pesantren sebagai anutan kini disangsikan. Ada baiknya, untuk mengatasi hal ini perlu dibumikan kembali nilai dan tradisi pesantren yang selama ini sudah dikesampingkan. Modernisme merupakan sebuah tantangan yang tak mungkin dihindari, tapi bisa untuk disiasati. Abd A’la menyebutkan, nilai dan tradisi pesantren merupakan sebuah kemuliaan yang menjadi karakteristik bagi pesantren. Secara potensial, karakteristik tersebut memiliki peluang cukup besar untuk membendung arus

33 34

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi, hlm. 27-28. Abd A’la, Pembaharuan Pesantreen, hlm. 4.

43

modernisasi yang direncanakan maupun yang sudah dilaksanakan. 35 Secara umum, nilai yang dimaksudkan adalah nilai kemandirian, keikhlasan, dan kesederhanaan. Ketiga nilai ini melandasi seluruh aktifitas yang berlangsung di sebuah pesantren. Oleh karena itu, dengan ketiga nilai tersebut sangat perlu untuk mengembalikan pendidikan pesantren pada makna hakiki. B. Tipologi Pondok Pesantren Berbagai pola pesantren telah diklasifikasikan, baik dari sudut pandang kurikulum, sistem pendidikan, maupun dari pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh pesantren. Tujuannya tidak lain untuk mempermudah memahami dinamika perkembangan pesantren secara umum. Dengan pertimbangan efektivitas kondisi pesantren yang ada di obyek penelitian (Kudus), maka peneliti menggunakan tipologi dari Kemenag RI. Maka, untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dipaparkan pola-pola tersebut. 1. Tipologi Pesantren Menurut Kemenag RI Secara umum jenis pesantren dapat dideskripsikan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu sebagai berikut : a. Pesantren Tipe A 1. Para santri belajar dan menetap di pesantren 2. Kurikulum tidak tertulis secara eksplisit melainkan memakai hidden curriculum (benak kyai) 3. Pola pembelajaran menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan, dan lain sebagainya) 4. Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah b. Pesantren Tipe B 1. Para santri tinggal dalam pondok/asrama 2. Pembelajaran menggunakan perpaduan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah
35

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, hlm. 9.

44

3. Terdapatnya kurikulum yang jelas 4. Memiliki tempat khusus yang berfungsi sebagai sekolah (madrasah) c. Pesantren Tipe C 1. Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal (asrama) bagi para santri 2. Para santri belajar di madrasah/sekolah yang letaknya tidak jauh dengan pesantren 3. Waktu belajar di pesantren biasanya malam/siang hari jika para santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka di pesantren) 4. Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.36 2. Tipologi Pesantren Menurut Zamachsjari Dhofier Menurut Zamachsjari Dhofier, tipologi pesantren dipandang dari segi fisik terbagi menjadi lima pola, yaitu : a. Pesantren yang terdiri hanya masjid dan rumah kyai. Pesantren ini masih sangat sederhana dimana kyai menggunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Santri berasal dari daerah sekitar pesantren tersebut. b. Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama. Pola ini telah dilengkapi dengan pondok yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain. c. Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, dan madrasah. Berbeda dengan yang pertama dan kedua, pola ini telah memakai sistem klasikal, santri mendapat pengajaran di madrasah. Di samping itu, belajar mengaji, mengikuti pengajaran yang diberikan oleh kyai pondok.

Tim Depag RI, Pola Pembelajaran di Pesantren, (Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), hlm. 18.

36

45

d. Pesantren yang telah berubah kelembagaannya yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat ketrampilan. Pola ini dilengkapi dengan tempat-tempat ketrampilan agar santri trampil dengan pekerjaan yang sesuai dengan sosial kemasyarakatannya, seperti pertanian, peternakan, jahit menjahit, dan lain sebagainya. e. Pesantren modern yang tidak hanya terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat keterampilan, melainkan ditambah adanya universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum. Pesantren semacam inilah yang dinamakan oleh Zamachsjari Dhofier sebagai pesantren khalafi yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum, atau membuka tipe sekolah umum di lingkungan pesantren.37 3. Tipologi Pesantren Menurut A. Qodri A. Azizy Sementara A. Qodri A. Azizy mengklasifikasikan tipologi pesantren yang variatif ini dengan tipologi sebagai berikut : Tipe I: Pesantren yang hanya menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerakan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA, dan PT Agama Islam), maupun yang juga memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMA, dan PT Umum), seperti pesantren Tebu Ireng Jombang, pesantren Futuhiyyah Mranggen, dan pesantren Syafi’iyyah Jakarta. Tipe II : Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Gontor Ponorogo, pesantren Maslakul Huda Kajen Pati (Matholi’ul Falah) dan Darul Rohman Jakarta.
37

Zamachsjari Dhofier, Studi Pandangan, hlm. 41.

46

Tipe III : Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah (madin), pesantren salafiyyah Langitan Tuban, pesantren lirboyo Kediri dan pesantren Tegal Rejo Magelang. Tipe IV :Pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian (majlis ta’lim) Tipe V : Pesantren yang berkembang menjadi tempat asrama anak-anak pelajar sekolah umum dan mahasiswa.38 4. Tipologi Pesantren Menurut Haidar Putra Daulay Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat, yang meliputi: a. Pondok Pesantren Tradisional (PPT) Pola I : Materi pelajaran yang dikembangkan adalah mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik, non-klasikal, pengajaran memakai sistem “halaqoh”, santri diukur tinggi rendah ilmunya berdasar dari kitab yang dipelajarinya. Tidak mengharapkan ijazah sebagai alat untuk mencari pekerjaan. Pondok Pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ‘ulama salaf dengan menggunakan bahasa Arab. Kurikulum tergantung sepenuhnya kepada kyai pengasuh pesantren. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok. Pola II : Pola yang kedua ini hampir sama dengan pola yang di atas, hanya saja pada pola ini sistem belajar mengajarnya diadakan

Ahmad Qodri Abdillah Azizy, “Memberdayakan Pesantren dan Madrasah” dalam Abdurrohman Mas’ud, et.all, Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002), cet.I, hlm. viii.

38

47

secara

klasikal,

non-klasikal

dan

sedikit

memberikan

pengetahuan umum kepada para santri. b. Pondok Pesantren Modern (PPM) Pola I : Sistem Negara sudah diterapkan oleh pesantren jenis ini yang disertai dengan pembelajaran pelajaran umum. Sistem ujian pun juga sudah menggunakan ujian Negara. Pada pelajaran tertentu sudah kurikulum Kementrian Agama yang dimodifikasi oleh pesantren sendiri sebagai ciri khas kurikulum pesantren. Sistem belajarnya klasikal dan meninggalkan sistem tradisional. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Sementara santri sebagian besar menetap di asrama yang sudah disediakan dan sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Sedangkan peran kyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar dan pengajar langsung di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal Pola II :Sementara pola ini menitik beratkan pada materi pelajaran ketrampilan, disamping pelajaran agama. Pelajaran ketrampilan ditujukan untuk menjadi bekal kehidupan bagi seorang santri setelah dia tamat dari pesantren tersebut. c. Pondok Pesantren Komprehensif (PPK) Pondok Pesantren Ini disebut komprehensif atau pesantren serba guna karena merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab salaf dengan metode sorogan dan bandongan, namun secara reguler sistem persekolahan terus di kembangkan. Bahkan pendidikan ketrampilan pun secara konsep dilakukan perencanaan dan secara teknis akan diaplikasikan. Pada

48

umumnya, pesantren pola ini mengasuh berbagai jenis jenjang pendidikan seperti pengajian kitab-kitab klasik, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi.39 C. Pembaharuan Pesantren 1. Hakikat Pembaharuan Pembaharuan menurut Harun Nasution berafiliasi dengan kata modernisasi dengan arti terbaru, mutakhir, atau sikap dan cara berpikir serta bertindak dengan tuntutan zaman. Pembaharuan yang dimaksud lebih tepat dikatakan sebagai sebuah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Modern bukan hanya membaharui paham-paham, sikap atau adat istiadat, melainkan lebih luas lagi mencakup pembaharuan institusi-institusi yang dipandang lama untuk disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaankeadaan yang baru.40 Pembaharuan disini lebih tepatnya mengarah pada pembaharuan pesantren. Sehingga pemaknaan hakikat pembaharuan pesantren bagaimana seharusnya pesantren dalam mengahadapi perubahan. Tujuannya adalah untuk mencapai perubahan dan penyempurnaan sistem sosial dan lain sebagainya dengan proses yang dilakukan secara mendasar dan sistematis. Pada prinsipnya, hakikat pembaharuan antara lain : a. Adanya perubahan. Segala sesuatu yang dapat diamati oleh panca indera mengalami perubahan. Perubahan adalah proses yang tidak mungkin dihindari atau dicegah sama sekali (Herakleitos). b. Pelaksanaan proses perubahan dilakukan secara mendasar, meskipun ada yang tidak mendasar. Jadi ada perubahan mendasar dan tidak mendasar.
Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009), cet. I, hlm. 20. Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : Penerbit Bulan Bintang, 1975), hlm. 9.
40 39

49

Namun, perubahan mendasar itu inti dari yang tidak mendasar. Sebab, jika ada perubahan yang sudah sampai pada waktunya, maka perubahan itu tidak luar biasa karena memang telah datang waktunya untuk berubah. c. Mengarah pada perbaikan. Perubahan yang tidak menuju pada perbaikan hanya akan menimbulkan kerusakan dan anarkisme, sedangkan kerusakan anarkisme itu sendiri secara inheren bertentangan dengan ajaran dasar Islam. d. Objeknya jelas. Proses perubahan, di samping dilakukan dengan arah perbaikan yang jelas juga menuntut pada kejelasan aspek-aspek yang ingin dilakukan perubahan. Sebab, tanpa kejelasan objek sasaran, maka pembaharuan yang dilakukan hanya akan menjadi kekecewaan yang sulit untuk diobati. e. Terjadinya pada wilayah tertentu. Poin ini menjadi spesifikasi pembaharuan. Wilayah atau tempat berlakunya pembaharuan bisa berada di mana-mana. Pembaharuan pun bisa terjadi pada tempat yang dianggap sangat mustahil. Dalam hal ini bisa diambil contoh dunia pesantren.41 Hakikat pembaharuan di atas pada dasarnya mengajak untuk mengambil perubahan untuk menuju perbaikan yang sesuai dengan kapasitas dunia pesantren dan kondisi masyarakat sekitar. Jika ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya pembaharuan pesantren itu tidaklah mendasar karena memang seharusnya sudah waktunya untuk mengadakan perubahan. 2. Prinsip dan Aspek Pembaharuan Pesantren Berawal dari statement Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menegaskan bahwa pesantren pada hakikatnya adalah bersifat dinamis, inklusif (terbuka) pada perubahan, dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan, peneliti mencoba mengembangkan statement tersebut pada 4 (empat) pilar
Ainurrofiq, “Pesantren dan Pembaruan : Arah dan Implikasi”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm. 152-153.
41

50

pesantren, yakni pada sistem pendidikan pesantren, kurikulum pesantren, pola pembelajaran pesantren, dan sistem penyelenggaraan pendidikannya. Bagaimanapun kondisi pesantren saat ini merupakan realitas yang tak dapat dihindari atau pun dipungkiri. Di sadari atau tidak, ekspansi modernisasi berserta dengan semua agenda besarnya telah mengakibatkan berbagai dampak yang tak terkendali, membuat pesantren agak gelimpangan dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Abd ‘Ala menyatakan, pengadopsian sistem madrasi yang klasikal belum sepenuhnya dijalani oleh pesantren sesuai dengan tatanan nilai-nilai yang dianutnya. Akibatnya, di satu sisi pesantren tergiring pada budaya pragmatis. Sedangkan, disisi lain pesantren belum mampu mengintegrasikan antardisiplin ilmu secara untuh dan interdependensi.42 Proses integrasi yang agaknya tumpang tindih ini bersamaan dengan perkembangan sekolah-sekolah Barat yang mulai menjangkau sebagian bangsa Indonesia, pesantren pun mulai mengalami perkembangan yang bersifat kualitatif. Ide-ide pembaharuan pesantren mulai masuk ke Indonesia, serta dunia pendidikan Islam pada umumnya. Ide-ide pembaharuan dalam dunia Islam itu timbul sebagai akibat kemunduran umat Islam dan merajalelanya hegemoni Barat. Pada garis besarnya ide pembaharuan dalam bidang pendidikan yang berkembang di dunia Islam, bisa digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu: - Pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada sistem pendidikan yang berlaku di Barat, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan. - Pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada ajaran Islam yang murni. Mereka berpandangan bahwa sesungguhnya ajaran Islam sendiri merupakan sumber bagi perkembangan peradaban serta ilmu
42

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, hlm. 20-21

51

pengetahuan. Upaya ini diwujudkan dengan kembali kepada sumber ajaran Islam yang murni al-Qur’an dan al-Sunnah, yang tidak pernah membedakan antara agama dan ilmu pengetahuan. - Gerakan pembaharuan pendidikan yang berorientasi pada kekuatankekuatan dan latar dan belakang sejarah masing-masing. yang ada, Dengan dengan memperbaiki mengembangkan apa

menghilangkan kelemahan-kelemahannya, serta memasukkan unsurunsur baru (ilmu pengetahuan dan teknologi) diharapkan akan membawa kemajuan. Ketiga pandangan tersebut, nampaknya mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembaharuan pesantren dan sistem pendidikan Islam di Indonesia menjelang abad ke-20. Sistem penyelenggaraan sekolah-sekolah modern klasikal mulai masuk ke dunia pesantren. Sementara itu, di beberapa pesantren mulai memperkenalkan sistem madrasah, sebagaimana sistem yang berlaku di sekolah-sekolah umum, tetapi pelajarannya dititik beratkan pada pelajaran agama. Kemudian pada pcrkembangan berikutnya, madrasah-madrasah yang semata-mata bersifat diniyah berubah menjadi madrasah-madrasah yang mengajarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan umum. Kurikulum yang dianutnya pun menunjukkan wajah serupa. Meski persoalan ini tidak ditunjukkan oleh pesantren, namun orientasi dan visi pesantren tidak harus dibiarkan begitu saja yang berjalan apa adanya. Apalagi kondisi seperti ini lebih diperburuk lagi oleh pola pembelajaran yang cenderung memakai pendekatan searah dan monolog. Akibatya, ajaran Islam yang begitu holistik dan universal, diterima oleh para santri secara parsial dan terpotong-potong. Akibatnya, aspek kognitif, afektif, dan konatif pada masyarakat santri sulit akan tercapai. Ketiga aspek tersebut belum menjadi bagian integral dalam keseluruhan sistem, proses dan hasil pendidikan pesantren. Apresiasi kritis

52

dan kreatis merespons berbagai bentuk perubahan dirasa kurang dalam hal ini sehingga peran yang ditawarkan kurang bermakna terhadap kehidupan konkret masyarakat sekitarnya. realisasi. Oleh karena itu, di bawah ini akan dipaparkan pilar-pilar penentu yang mampu menciptakan kondisi pesantren tanggap atas perubahan, diantaranya sebagai berikut : a. Sistem Pendidikan Pesantren Pendidikan pesantren merupakan suatu sistem sosial yang kompleks.. Oleh karena itu, maksud dari pembahasan ini adalah mengenai subsistem pendidikan pesantren yang mencakup hubungan kyai dan santri, kemandirian, kedisiplinan dan lain sebagainya. Mengingat pembaharuan pesantren kini sedang dan masih dalam proses digalakkkan, maka dapat diidentifikasi ciri-ciri pendidikan pesantren adalah sebagai berikut : 1) Terjalinnya hubungan akrab antara santri dan kiainya. Kebanyakan kiai memperhatikan santrinya. Hal ini dimungkinkan karena samasama tinggal dalam satu kompleks dan sering bertemu baik di saat belajar maupun dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan sebagian santri dengan rela menjadi asisten kyai (khadam) tanpa diminta. 2) Kepatuhan santri kepada kiai. Santri beranggapan bahwa menentang kiai, selain tidak sopan juga dilarang agama. Bahkan tidak mmperoleh berkah (barokah) karena durhaka kepadanya sebagai guru. 3) Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan pesantren. Hidup mewah hampir tidak didapatkan di
43

Sehingga untuk menjadikan pesantren

sebagai pendidikan alternatif dan sebagai corong perubahan makin jauh dari

43

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, hlm. 22.

53

sana. Bahkan tidak sedikit santri yang hidupnya terlalu sederhana sehingga kurang memperhatikan pemenuhan gizi. 4) Kemandirian yang tinggi di pesantren. Para santri mencuci pakaiannya sendiri, membersihkan kamar tidurnya sendiri, dan memasak sendiri. 5) Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan (ukhuwwah islamiyah) sangat mewarnai pergaulan di pesantren. Ini disebabkan karena selain kehidupan yang merata dikalangan santri, juga karena mereka harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sama, seperti shalat berjama’ah, membersihkan masjid dan ruang belajar, belajar bersama. 6) Disiplin sangat dianjurkan di pesantren. Untuk menjaga kedisiplinan ini pesantren biasanya memberikan sanksi-sanksi edukatif. 7) Keprihatinan untuk mencapai tujuan mulia. Hal ini sebagai akibat dari kebiasaan puasa sunnah, zikir, dan i’tikaf, shalat tahajud, dan bentuk-bentuk riyadloh lainnya serta menauladani kyainya yang menonjolkan sikap zuhd. 8) Pemberian ijazah atau sering dikenal dengan istilah pemberian sanad, yaitu pencantuman nama dalam satu daftar rantai pengalihan pengetahuan yang diberikan kepada santri-santri yang berprestasi. Ini menandakan perkenan atau restu kiai kepada murid atau santrinya untuk mengajarkan sebuah teks kitab setelah dikuasai.44 Beberapa ciri-ciri pendidikan pesantren di atas masih terbilang cukup tradisional, sebagian pondok pesantren salafiyah saja yang benar-benar melaksanakan sistem pendidikan semacam itu. Sementara itu, sebagian yang lain terutama era sekarang ini perubahan demi perubahan seiring

M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global, (Yogjakarta : LaksBang PRESSindo, 2006), cet I, hlm. 12-13.

44

54

kemajuan zaman dan teknologi, pesantren pun terus menerus melakukan perbaikan demi mencapai sebuah pembaharuan pendidikan. Terlebih sistem pendidikan pesantren yang sudah berafiliasi dengan sistem pendidikan modern. Meskipun demikian tengah terjadi perpaduan sistem antara tradisonal dengan modern, setidaknya menurut Nur Cholis Madjid menjelaskan ada dua belas prinsip yang melekat pada pendidikan pesantren ini. Prinsipprinsip tersebut adalah sebagai berikut : 1) Teosentrik 2) Ikhlas dalam pengabdian 3) Kearifan 4) Kesederhanaan (bukan berarti miskin) 5) Kolektivitas (barokatul jama’ah) 6) Mengatur kegiatan bersama 7) Kebebasan terpimpin 8) Tempat menuntut ilmu dan mengabdi (tholabul ‘ilmi lil ibadah) 9) Mengamalkan ajaran agama 10) Belajar di pesantren bukan untuk mencari sertifikat/ijazah saja 11) Kepatuhan terhadap kiai.45 Kedua belas prinsip di atas sebagai panduan bagi dunia pesantren, meskipun masih dalam tahap pembaharuan, namun sebaiknya nilai-nilai lama dan sudah melekat pada tubuh pesantren tidaklah harus ditinggalkan dan menggantinya dengan nilai-nilai yang baru. b. Kurikulum Pesantren Kompleksitas modernisme masalah pesantren jika disandingkan reorganisasi dengan pendidikan, maka sebaiknya kurikulum

dilaksanakan dengan menggunakan strategi-strategi yang hendaknya tidak
45

M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok, hlm. 14.

55

merusak ciri khas pesantren dari dulu sebagai lembaga pendidikan Islam pertama kali di Indonesia. Oleh karena itu strateginya harus meuju kearah kebermaknaan kurikulum bagi sebuah institusi pesantren sendiri. Di antara prinsip yang harus dijalankan dalam menggapai kebermaknaan kurikulum tersebut adalah : 1) Aspek filosofis, mencakup falsafah bangsa, masyarakat, sekolah, dan guru-guru atau ustadz. 2) Aspek sosiologis, mencakup harapan dan kebutuhan masyarakat, termasuk orang tua, kebudayaan masyarakat, pemerintah, agama, ekonomi, dan sebagainya. 3) Aspek psikologis, mecakup hakikat anak (murid/santri) yang mempelajari tentang taraf perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial serta cara anak belajar. 4) Aspek bahan pelajaran, mencakup tentang hakikat pengetahuan atau disiplin ilmu.46 Namun kenyataannya, kurikulum pesantren masih beragam variasi. Banyak juga pesantren yang mempunyai kurikulum yang tidak jelas. Artinya, proses pembelajaran yang berjalan di pondok pesantren itu semua dalam kehendak kyai. Meskipun demikian, banyak juga pesantren yang sudah menerapkan kurikulum nasional sebagai bagian dari kurikulum yang diterapkan di pesantren. c. Pola Pembelajaran di Pesantren Menurut M. Sulthon, pondok pesantren telah terbukti memiliki pola pembelajaran yang khas dan unik, serta cukup efektif.47 Di katakan khas karena pola pesantren secara tradisional sampai sekarang pun belum ada yang menyamai sehingga mempunyai keunikan tersendiri. Bagaimana
46 47

M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok, hlm.146-147. M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok,hlm. 161

56

tidak, keunikan pola pembelajaran ini secara sengaja diarahkan untuk mengorientasikan santri pada pembelajaran individual afektif berlandaskan moral keagamaan. Metode dari pola semacam ini biasanya melakukan penekanan pada penangkapan harfiyah (letterlijk) atas suatu kitab (teks) tertentu.48 Untuk lebih memudahkan memahami pemetaan pola pembelajaran pesantren, klasifikasi pola pembelajaran tersebut dibutuhkan. Di antara klasifikasi pola yang dimaksud adalah : 1) Pembelajaran tradisional Menurut mastuhu, pembelajaran tradisional pesantren terbagi menjadi 4 (empat) metode, yaitu : a) Sorogan Affandi Mochtar mendefinisikan metode sorogan adalah santri membacakan kitab kuning dihadapan kyai yang langsung menyaksikan keabsahan bacaannya, baik konteks makna maupun bahasa (nahwu dan shorof). 49 Sedangkan Haidar Putra Daulay menyebut metode tersebut sebagai metode pengajian dengan cara santri menghadap guru (kyai) seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajari. 50 Pada kesempatan yang lain, ada juga yang menyebut metode semacam ini sebagai metode layanan individual (individual learning process) karena lebih mengedepankan kemampuan santri sedangkan kyai sendiri hanya menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaannya.51

48 49

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi, hlm. 71.

Affandi Mochtar, “Tradisi Kitab Kuning Sebuah Observasi Umum”, dalam Sa’id Aqiel Siradj, Pesantren Masa Depan : Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), cet.I, hlm. 223.
50 51

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 69. M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok, hlm. 6

57

b) Bandongan (weton) Bandongan atau biasa dikenal dengan wetonan adalah metode pengajian di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai. Kyai membacakan kitab yang saat itu dikaji dan santri menyimak kitab masing-masing sambil membuat catatan (ngabsahi/ ngesahi). 52 Di kalangan pesantren, terutama yang klasik,memilki cara membaca tersendiri, yang dikenal dengan cara utawi iki iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan grammar (nahwu dan shorof) yang ketat.53 Sedangkan menurut M. Sulthon, mengartikan metode bandongan ini sebagai metode layanan kolektif (collective learning process). Kegiatan pembelajaran yang dimaksud berlangsung tanpa perjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya hanya dengan memisahkan jenis kelamin para santri.54 c) Hafalan (Tahfidz) Maksud metode hafalan di pesantren adalah santri diharuskan membaca dan menghafal teks-teks berbahasa Arab secara individual, guru atau kyai menjelaskan arti kata demi kata. Teks bahasa Arab yang dimaksud adalah teks-teks Arab yang berupa nadhom (sajak), seperti Alfiyah ibnu Malik, Awamil al-Jurjani, Imrithi (nahwu), Hidayat al-Shibyan (tajwid), dan lain sebagainya. d) Halaqoh (kupengan) Halaqoh merupakan sebuah metode pembelajaran di mana kelompok santri duduk mengitari kyai dalam pengajian tersebut. Menurut Nur Cholis Madjid, sebagaimana dikutip oleh Djunaidatul
52 53 54

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 70. Affandi Mochtar, Tradisi Kitab, hlm. 223. M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok, hlm. 6.

58

Munawaroh menjelaskan secara teknisnya, kyai membacakan sebuah kitab dalam waktu tertentu, sementara santri membawa kitab yang sama sambil mendengarkan dan menyimak bacaan kyai, mencatat terjemahan dan keterangan kyai pada kitab itu yang disebut maknani, ngesahi, atau njenggoti. Pengajian seperti ini dilakukan secara bebas, tikat terikat pada absensi, lama belajar hingga tamatnya kitab yang dibaca.55 2) Pembaharuan pola pembelajaran a) Mudzakaroh/ Musyawaroh/ Hiwar Musyawaroh atau Mudzakaroh merupakan sebuah pertemuan ilmiah khusus membahas persoalan agama pada umumnya. Secara umum, metode jenis ini digunakan dalam dua tingkatan. Pertama, diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah agar terlatih untuk memecahkan masalah dengan menggunakan rujukan kitab-kitab yang tersedia. Kedua, dipimpin langsung oleh kyai, dimana hasil musyawarohnya diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam seminar. Sebagian pesantren untuk jenis yang kedua ini menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.56 Ciri khas dari musyawaroh atau hiwar ini, adalah bahwa santri dan guru biasanya terlibat dalam sebuah forum perdebatan untuk memecahkan masalah yang ada dalam kitab-kitab (berbahasa Arab) yang sedang di pelajari. Dalam Hiwar terjadi proses kritik

Djunaidatul Munawaroh, “Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren”, dalam Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : PT Grasindo, 2001), hlm. 177
56

55

Djunaidatul Munawaroh, “Pembelajaran Kitab,hlm. 178.

59

dan agumentasi (mujadalah) untuk memperkuat kesimpulankesimpulan yang diperoleh.57 b) Majelis Ta’lim Majelis ta’lim dapat diartikan sebagai suatu media penyampaian ajaran Islam secara umum dan terbuka.58 Diadakan secara berkala dan diikuti oleh lapisan masyarakat beserta para santri. Fungsi dari majelis ini diantaranya adalah sebagai bentuk komunikasi fungsional pesantren dalam mempengaruhi sistem nilai masyarakat. Dalam perkembangan terakhir, tidak semua pesantren menyelenggarakan majelis ta’lim ini. Oleh karenanya, metode ini lebih tepatnya dikategorikan sebagai pembaharuan metode dalam fungsinya pesantren sebagai social control dan social engineering terhadap masyarakat. c) Bahtsul Masa’il Metode bahtsul masa’il lebih ditekankan pada pemecahan masa’il (masalah-masalah) dalam persoalan fiqh (hukum Islam atau furu`iyah). Metode ini bisa digambarkan sebagai bentuk kegiatan belajar mengajar dalam sebuah forum (biasanya di kelas atau masjid) yang dipandu oleh seorang pembimbing/guru dan diikuti oleh santri-santri yang dianggap sudah menguasai kitabkitab tertentu untuk memecahkan permasalahan kontemporer di sekitar hukum-hukum fiqh (termasuk di dalamnya fiqh ibadah). Metode ini biasanya diterapkan untuk pengajaran santri-santri yang sudah senior, dimana para santri tersebut sudah dianggap

M Tata Taufiq, et all, Rekonstruksi Pesantren Masa Depan (dari Tradisional, Modern, hingga Post Modern), (Kuningan : IAIN Lathifah Mubarokiyan Suryalaya, tth), hlm. 78
58

57

M Tata Taufiq, et all, Rekonstruksi Pesantren, hlm. 79.

60

mampu atau mengua.si kitab-kitab yang menjadi rujukan masalah yang akan di bahas.59 d) Fathul Kutub Metode fathul kutub di kebanyakan pesantren dilaksanakan untuk santri-santri senior yang sudah akan menyelesaikan pendidikan tingkat tertentu. Pada dasarnya metode ini adalah metode penugasan mencari rujukan (reference) terhadap beberapa topik dalam bidang ilmu tertentu (fiqh, aqidah, tafsir, hadits, dll.). e) Muqoronah Metode muqoronah adalah sebuah metode yang terfokus pada kegiatan perbandingan, metode, baik perbandingan perbandingan materi, kitab. faham Metode (madzhab), maupun

muqoronah akhirnya berkembang pada perbandingan ajaran-ajaran agama. Untuk model metode muqoronah ajaran agama biasanya berkembang di bangku Perguruan Tinggi Pondok Pesantren (Ma`had `Ali).60 Bagi pesantren yang sudah menyelenggarakan pendidikan umum atau para santri yang bersekolah umum, namun menempat di pondok, sistem pembelajarannya di luar waktu sekolah, biasanya pada malam hari. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan jadwal sekolah dengan kegiatan harian di pesantren. d. Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Faktor yang berperan dalam penyelenggaraan Pondok Pesantren antara lain yaitu manajemen sebagai faktor upaya, organisasi sebagai faktor sarana, dan administrasi sebagai faktor karsa.61 Ketiga faktor ini memberi
59 60 61

M Tata Taufiq, et all, Rekonstruksi Pesantren, hlm.15 M Tata Taufiq, et all, Rekonstruksi Pesantren, hlm 16 Tim Depag RI, Pola Pembelajaran, hlm. 56.

61

arah dan perpaduan dalam merumuskan, mengendalikan penyelenggaraan, mengawasi serta menilai pelaksanaan tata tertib dalam usaha menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang sesuai dengan tujuan Pondok Pesantren. Dalam mengelola pondok sebagai suatu lembaga pendidikan, peran Kyai sangat besar dalam menentukan tujuan dan kegiatan yang harus dilakukan, namun hal itu dilakukan dengan pembagian tugas meskipun tidak tertulis yang biasanya diberikan pada keluarga kyai sendiri. Sementara itu dalam membantu mengkoordinasikan kegiatan pendidikan para santri, biasanya ada diantara santri senior yang diberi tanggungjawab untuk mengerjakannya. Penyelenggaraan pendidikan pesantren pada umumnya didukung oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pondok yang terdiri dari kyai, guru/ ustadz dalam berbagai funun (bidang-bidang ilmu) baik itu pelajaran maupun pengkajian kitab, pengurus pondok, pimpinan unit-unit kegiatan daan tenaga kesekretariatan. Dalam kesemuaan bidang, peran kyai sangat strategis dalam menjaga integritas pesantren. Dengan penyelenggaraan semacam ini, pesantren pun berkembang sampai sekarang ini. Namun, sejarah mencatat pada paruh abad ke-20, dunia pesantren dikejutkan oleh dorongan pemerintah Belanda yang mencoba memasukkan pendidikan ala barat dengan sistem sekolah. Respon positif mencoba ditunjukkan oleh para pemimpin Islam, namun bukan menganjurkan untuk mengikuti model ala Barat tersebut, melainkan memperkenalkan sistem pendidikan berkelas (klasikal) dengan nama “madrasah” (berbeda dengan sekolah dalam beberapa hal).62 Namun, tak dapat dipungkiri ada sebagian pondok pesantren kala itu justru memasukkan pendidikan umum ke dalam kurikulum pesantren. Di
62

M. Sulthon & Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok, hlm. 6.

62

antaranya pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, Pondok modern Darussalam Gontor, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, secara umum pesantren-pesantren tetap bertahan dengan karakteristiknya yang khas. Keadaan terus berkembang, situasi masyarakat pun menuntut perubahan. Memasuki era 1970-an, dunia pesantren mengalami perubahan dan perkembangan signifikan. Perubahan pertama mengenai jumlah kuantitas luar biasa, baik di rural (perdesaan) maupun urban (kota). Dan yang kedua adalah mengenai penyelenggaraan pendidikan. Sejak era tersebut sampai sekarang, bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren sudah sangat bervariasi. Meskipun mempunyai tipe yang berbeda-beda, namun perbedaan tersebut sama sekali tidak mencerabut pesantren dari akar kulturalnya dan tetap mempertahankan karakteristik pesantren sebagai lembaga yang tafaqquh fi al-din, islamice value, sosial control, sosial engineering. ________________

63

BAB III PESANTREN DI KABUPATEN KUDUS A. Gambaran Umum Kabupaten Kudus 1. Wilayah Geografis Kabupaten Kudus adalah salah satu Kabupaten di provinsi Jawa Tengah, terletak di antara 4 (empat) Kabupaten yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Pati serta sebelah barat Kabupaten Demak dan Jepara. Secara geografis Kabupaten Kudus terletak diantara 110˚ 36’ dan 110˚ 50’ bujur timur dan antara 6˚ 51’ dan 7˚ 16’ lintang selatan. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 16 km dan dari utara ke selatan 22 km. Kemudian jarak dengan ibu kota Provinsi Jawa Tengah (kota Semarang) ± 51 km di sebelah timur. Hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit dari Semarang jika ditempuh dengan perjalanan darat (kendaraan pribadi maupun umum).1 Untuk mengenai ketinggian tanah, Kabupaten Kudus berkisar tinggi rata-rata ± 55 m di atas permukaan air laut. Iklim di Kabupaten tersebut sama seperti di Semarang yaitu beriklim tropis dan bertemperatur sedang yang berkisar antara 18,3˚ (C) - 29, 6˚ (C). Oleh karena itu, Kabupaten Kudus bercurah hujan relatif rendah, rata-rata di bawah 2000 mm/tahun dan berhari hujan rata-rata 97 hari/tahun. Secara administratif, menurut data statistik Kabupaten Kudus terbagi menjadi 9 Kecamatan, 123 Desa dan 9 Kelurahan, serta 707 Rukun Warga berbatasan dengan

Badan Pusat Statistik Kab. Kudus, Kudus dalam Angka 2010, (Kudus :BPS Kudus dan BAPPEDA Kudus, 2010), hlm. 3.

1

64

(RW), 3.698 Rukun Tetangga (RT), dan 434 Dukuh. Kudus secara umum mempunyai luas wilayah sebesar 42. 516 hektar atau sekitar 1,31 persen dari luas Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Dawe yaitu 8.584 Ha (20,19 persen), sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Kota seluas 1.047 Ha (2,46) dari luas Kabupaten Kudus.2 2. Kependudukan dan Pendidikan Data penduduk dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kabupaten Kudus tercatat sebesar 759.249 jiwa (2009), yang terdiri dari 376.058 jiwa laki-laki (49,53 persen) dan 383.191 jiwa perempuan (50,47 persen). Data penduduk ini merupakan data yang penting bagi sebuah daerah karena sebagai acuan untuk melakukan pembangunan kedepan. Jumlah penduduk terpadat dari 9 Kecamatan adalah Kecamatan Jekulo yakni sebesar 12, 79 persen dari jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Kudus. Sementara di Kecamatan Dawe menempati jumlah penduduk terkecil yakni 8,10 persen.3 Dari sekian banyaknya jumlah penduduk di Kabupatem Kudus, penduduk yang bersekolah secara umum mengalami fluktuasi selama periode tahun ajaran 2004/2005 – 2008/2009. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya siswa di beberapa jenjang pendidikan yang mengalami kenaikan. Pada tingkat pendidikan dasar jumlah siswa mengalami peningkatan 0,12 persen dibanding tahun ajaran sebelumnya. Begitu juga pada pendidikan menengah yang sama mengalami peningkatan yang mencapai 1,82 persen. Sementara data penyediaan sarana fisik dan tenaga guru pada tahun 2008/2009 SD sebanyak 476 unit dan MI sebanyak 345 unit, SMP dan MTs masing-masing 51 dan 61 unit, SMA dan MA masing-masing
M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. 14.
3 2

BPS Kab. Kudus, Kudus dalam, hlm. 59.

65

sebanyak 43 dan 29 unit. Untuk Universitas atau Perguruan Tinggi pada tahun akademik 2008/2009 tercatat ada 8 buah, yaitu Universitas Muria Kudus (UMK), Skolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES), Akademi Kesehatan Muhammadiyah, Akbid Mardi Rahayu, Akbid Pemda, Akper Krida Husada dan Akademi Farmasi Kudus (Akfarku).4 Kemudian banyaknya mahasiswa pada 5 tahun terakhir terhitung dari tahun 2010 cenderung meningkat. Pada tahun akademik 2008/2009, secara keseluruhan jumlah mahasiswa tercatat 11.672 orang, dan di dukung oleh 389 dosen. Pada tahun tersebut tercatat telah meluluskan mahasiswa sebanyak 2.030 orang.5 3. Kondisi Masyarakat dan Jumlah Pesantren Di samping dinamai sebagai kota industri kretek, jenang dan lain sebagainya, Kudus yang terdapat dua makan anggota walisongo, yakni makam Sunan Kudus dan makam Sunan Muria, ternyata juga disebut-sebut sebagai kota santri. Menurut Fatah Syukur, Kudus terdapat banyak pesantren-pesantren kecil, meskipun tidak sebesar pesantren yang ada di Jawa Timur. Dengan adanya pesantren tersebut bisa terhadap kondisi masyarakat sekitarnya. Jiwa santri dalam hal ini telah menjadi kultur tersendiri bagi masyarakat Kudus.6 Masyarakat Kudus semasa awal sudah sedemikian rupa terbentuk kesehariaannya dengan tradisi pesantren yang dibentuk oleh Ja’far Shodiq

4 5 6

BPS Kab. Kudus, Kudus dalam, hlm. 60. M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 15.

Fatah Syukur NC, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu KeIslaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004), cet. I, hlm. 55-56.

66

(nama lain Sunan Kudus) dan Kyai Telingsing7. Oleh sebab itu, dengan latar belakang pesantren inilah akhirnya penamaan Kudus diambil dari bahasa Arab, meskipun masyarakat Kudus tidak ke-Arab-araban. Peresmian nama Kudus dilakukan sendiri oleh Sunan Kudus sepulangnya dari ibadah haji. Bukti sejarah dari peresmian tersebut adalah batu prasasti yang bertuliskan kaligrafi Arab yang terletak di atas mihrab masjid menara Kudus dengan bertuliskan tahun berdirinya masjid tersebut yakni 956 hijriyah.8 Kudus kulon menjadi fokus dalam penelitian ini, terutama di kelurahan Kajeksan, Kwanaran dan Kerjasan. Untuk mengetahui kondisi umum masyarakat tersebut, secara umum sudah diinformasikan oleh Abdul Munir Mulkhan yang dikutip oleh Fatah Syukur. Di mana Mulkhan menulis kondisi masyarakat Damaran. Karena letak antara Damaran dengan Kajeksan, Kwanaran dan Kerjasan tidaklah begitu jauh apalagi masih berada dalam satu Kecamatan, yakni Kecamatan Kota, maka cukuplah apa yang diinformasikan oleh Mulkhan mewakili kondisi masyarakat Kudus. Dalam tulisannya tersebut, Mulkhan menyatakan bahwa hampir setiap harinya masyarakat Damaran bekerja 8 jam pada siang hari di rumah mereka sendiri. Semboyan berupa rumahku adalah tempat kerjaku menjadi pedoman paten masyarakat saat itu. Dan ketika malam tiba, suasana menjadi berubah total. Hari-hari yang biasanya digunakan untuk sibuk bekerja, ketika malam semua warga damaran mengaji dalam sela-sela waktu antara maghrib dan ‘isya. Warga yang tidak mengaji pun tidak berbuat gaduh. Mereka mematikan radio, tape, dan televisi pada jam-jam tersebut. Mereka yang keluar rumah, apalagi duduk-duduk santai, maka
Seorang cina muslim yang pertama merintis berdirinya kota Kudus kemudian mempercayakan kelestariannya pada Sunan Kudus. Nama kyai Telingsing kemudian diabadikan menjadi nama jalan di sebelah selatan menara Kudus. Fatah Syukur NC, Tradisi Masyarakat dan Pendidikan Islam di Kudus Jawa Tengah, (Tokyo : Bulletin of Academic Frontier Project 2005, 2006), hlm. 595.
8 7

67

akan segera diperingatkan oleh orang tua mereka. Para orang tua menganggap keluar rumah tanpa tujuan yang jelas adalah tabu atau saru.9 Gambaran umum yang dilakukan oleh Mulkhan secara tidak langsung memberikan pengertian kuatnya religiusitas masyarakat Kudus waktu itu. Pengaruh sufisme begitu kental sehingga membentuk kultur tersendiri terutama masyarakat di sekitar menara. Secara institutif, kultur demikian dibangun oleh ‘ulama terkemuka pada waktu itu, yakni KHM Arwani Amin (alm), KHR. Asnawi (alm), KHM. Ma’mun (alm), KH. Turaechan Adjhuri (alm), KH. Ma’ruf Irsyad (alm), dan lain sebagainya. Dan kesemuannya adalah para pengasuh pondok pesantren. Jadi pesantren membawa pengaruh yang signifikan terhadap kondisi masyarakat Kudus. Tradisi pesantren yang dibawa oleh para pengasuh ini yang membentuk kultur kehidupan masyarakat Kudus nampak begitu kuat sampai sekarang. Hal ini dikarenakan pesantren amat dekat dengan thariqat. Thariqat dalam sebuah pengertian dapat dikatakan sebagai ajaran dan amalan-amalan kesempurnaan moral dengan landasan ajaran al-Qur’an dan Hadits serta menjalankan praktek-praktek kehidupan dengan mendekatkan diri kepada tuhan dan menjauhkan cara-cara hidup yang sifatnya mencintai dunia.10 Demikian atas paham thariqat ini, tidak heran masyarakat Damaran begitu kental nilai religiusitasnya karena masa itu sedang berkembang thariqat yang diajarkan oleh KHM. Arwani Amin (alm).

Fatah Syukur NC, Dinamika Madrasah, hlm. 56. Untuk lebih jelasnya lihat Radjasa Mu’tashim dan Abdul Munir Mulkhan, Bisnis Kaum Sufi, Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 57. Rosehan Anwar, Laporan Penelitian dan Penulisan Biografi K.H.M. Arwani Amin di Propinsi Jawa Tengah, (Proyek Penelitian Keagamaan Departemen Agama Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama, 1986/1987), hlm.122.
10

9

68

Organisasi thariqat yang dulunya bernama Jam’iyah Ahli Thariqat Mu’tabaroh
11

diubah nama menjadi Jam’iyah Thariqat Mu’tabaroh

Nahdliyin pernah dipimpin oleh KHM. Arwani Amin semasa hidupnya. Di antara ulama’ yang pernah menduduki jabatan pimpinan antara lain Kyai Baidlawi, Kyai Ma’shum, Kyai Hafidh, Kyai Muslih, dan Kyai Adlan Ali. Baru setelah periode Kyai Adlan Ali, Kyai Arwani menjadi pimpinan. Sedangkan KHM. Arwani sendiri mengembangkan Thariqat Naqsabandiyah Khalidiyah. Masa kepemimpinan KHM. Arwani, Jam’iyah Thariqat Mu’tabaroh Nahdliyin terpusat di Kudus. Sebagai tempat untuk berkhalwat, KHM. Arwani dulu memilih masjid Kwanaran sebagai pusat kegiatan thariqatnya. Di samping dulu sekeliling masjid itu cukup sepi dan sejuk dengan pohonpohon nyiur, bambu serta tumbuh-tumbuhan yang rindang. Rumah-rumah penduduk pun tidak begitu dari pondok sehingga lebih fokus untuk untuk mengadakan khalwatan. Namun, sekarang tempat-tempat yang sunyi tersebut tidak lagi ditemui karena rumah-rumah penduduk semakin padat. Dulu tempat yang terlihat tenang, jauh dari keramaian, dan air sungai gelis yang masih jernih, sekarang berubah menjadi ramai apalagi semenjak Kudus menarik para wisatawan dan peziarah di makan Sunan Kudus. Kondisi masyarakat yang terbentuk mendekati kultur masyarakat sufistik oleh Thariqat KHM. Arwani ini mendorong terciptanya pondok pesantren di sekitarnya (kec. Kota. red). Meskipun Kecamatan Kota menjadi Kecamatan paling kecil yang hanya 1.047 Ha (2,46 persen), namun kecamatan ini mempunyai pondok pesantren terbanyak dari 8 Kecamatan yang lainnya, yakni 31 pesantren (36 persen) dari 86 pondok pesantren se-Kudus.12
Jam’iyah Ahli Thariqat Mu’tabaroh didirikan pada tanggal 10 Oktober 1957 oleh para kyai nahdliyin sebagai tindak lanjut dari keputusan mu’tamar NU tahun 1957 di Magelang.
12 11

BPS Kab. Kudus, Kudus dalam, hlm. 59.

69

Pondok yang terbesar adalah pesantren Yanbu’ul Qur’an yang diasuh oleh KH. Mc. Ulinnuha Arwani dan KH. Mc. Ulil Albab Arwani, di mana dalam perkembangannya pondok ini mempunyai 6 (enam) cabang berdasarkan jenjang pendidikan santrinya dengan lokasi dan pengasuh yang berbeda. Kemudian ada pondok pesantren Darul Furqon yang diasuh oleh KH. Sayid Abdul Basith, pesantren Mazroa’atul Ulum yang diasuh oleh KH. Noor Muttaqin (alm), dan lain sebagainya. B. Sekilas Tentang Pesantren Kudus Kabupaten Kudus yang mempunyai luas wilayah 42.516 Ha yang terbagi menjadi 9 Kecamatan dan 9 Kelurahan pesantren.
13

terdapat 86 pondok

Secara umum pesantren-pesatren tersebut masih eksis sampai

sekarang, meskipun ada beberapa pesantren yang terpaksa vacum karena proses kaderisasinya yang tidak berjalan. Di antaranya adalah pondok pesantren Darussalam yang beralamat di Kwaraan Getassrabi Gebog. K.H. Abdul Hadi sebagai pengasuh pondok pesantren ini pada tahun 2008 meninggal karena sakit, sementara diantaranya putra dan putrinya belum ada yang cakap menggantikan posisi sebagai pengasuh karena masih kecil. Proses kaderisasi kepemimpinannya pun terhenti sampai sekarang dan belum ada yang menggantikannya. Namun, pesantren yang terletak tidak kurang dari 15 KM dari pusat pemerintahan kabupaten Kudus ke arah barat ini masih menaungi madrasah diniyah yang terletak di depan pesantren. Madrasah tersebut masih eksis sampai sekarang.14 Sedangkan pesantren-pesantren yang lain, menurut K.H. Mc. Ulin Nuha Arwani terbilang cukup meningkat jika ditinjau dari jumlah santrinya.
Jumlah pondok pesantren tersebut di terbitkan pada tahun 2005. Terdapat kemungkinan 6 tahun terakhir telah muncul pesantren-pesantren baru. Namun, meskipun ada tidak di kelompokkan dalam penelitian ini. Lihat, M. Nadjib Hassan, et.all, Profil Pesantren, hlm. 72-73.. Hasil wawancara dengan pengurus pondok pesantren Al-Hidayah Bp. Nur Azis warga Getassrabi Gebog pada tanggal 19 Januari 2011.
14 13

70

Ini dibuktikan dengan tidak sedikitnya pesantren yang baru-baru ini menambah gedung pondoknya. Seperti pondok pesantren Yanbu’ul Qur’an yang sampai membuka 6 (enam) cabang karena memenuhi permintaan dari masyarakat. Pesantren yang menjadi cabang pada dekade ini saja dua pesantren, yakni pesantren Tahfidh Yatama Ustman bin Affan (2002) dan Pesantren Tahfidh Anak-Anak Yanabi’ul Qur’an (PTAYQ) puteri (2004).15 Antusias masyarakat yang tinggi menjadikan perkembangan pesantren sangat pesat. Namun, ini bukan berarti pesantren mendapat dukungan penuh dari masyarakat karena bisa jadi hal ini disebabkan oleh figur kyainya yang kharismatik. Oleh karena itu, keseimbangan antara kepemimpinan kyai dengan sistem pendidikan pesantren perlu dilakukan. Tabel 3.1. Pesantren Kudus dalam Angka No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Bae Mejobo Kaliwungu Jati Dawe Gebog Undaan Jekulo Kota Jumlah :
Pesantren Kudus, 2005, hlm. 72-73.

Jumlah Pesantren 1 3 4 5 6 10 10 16 31 86

Luas Wilayah 2.332 Ha 3,677 Ha 3,271 Ha 2,630 Ha 8.584 Ha 5,506 Ha 7,177 Ha 8,292 Ha 1.047 Ha 42.516 Ha

Prosentase (%) 5,48 8,65 7,69 6,19 20,19 12,95 16,88 19,50 2,46 100,00

Sumber : Lembaga Penelitian Central Riset dan

Manajemen Informasi (CeRMIN) Kudus, Profil

Hasil wawancara dengan pengasuh PP. Yanbu’ul Qur’an K.H. Mc. Ulin Nuha Arwani pada tanggal 19 Januari 2011.

15

71

C. Tipologi Pesantren Kudus Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, pada bagian ini akan dideskripsikan kondisi objektif ketiga pesantren yang akan dianalisis lebih lanjut, yakni Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Pusat (tipe A), MUSYQ (tipe B), dan Roudlotuth Tholibin (tipe C). Penjelasannya tertentu yakni pada aspek sistem pendidikan pesantren, kurikulum, pola pembelajaran, dan sistem penyelenggaraan pendidikannya. Namun sebelumnya juga dilengkapi dengan penjelasan sejarah dan perkembangan pesantren pada bagian awalnya. 1. Sejarah dan Perkembangan Pesantren a. Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat PTYQ putera atau dewasa ini menjadi pusat bagi pesantrenpesantren yang dinaungi oleh lembaga pendidikan non formal Yayasan Arwaniyyah Kudus. Lembaga pendidikan yang berupa pesantren salaf ini menitiktekankan pada pengajaran al Qur'an, yaitu meliputi tahsin (pembenaran bacaan), tahfidh (hafalan) dan qiro'ah sab'ah. 16 PTYQ pusat ini terletak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota Kudus dan tidak jauh dari kompleks makam Sunan Kudus. Tepatnya berlokasi di Jl. KH. M. Arwani Kajeksan Kudus. Cikal bakal pesantren ini berawal dari pengajian yang diampu oleh KH. M. Arwani Amin yang telah dimulai sejak tahun 1942 di masjid Kenepan. Tepatnya pada tahun 1942 merupakan tahun pertama setelah KH. M. Arwani menunaikan ibadah haji. Di masjid Kenepan ini beliau menerima para santri yang ingin belajar al Qur'an baik bin nadhor maupun bil ghoib.17 Sebagian santri ada yang di rumah dan sebagian ada yang dititipkan di rumah-rumah tetangga. Sedangkan sebagai tempat belajat santri, di masa itu masjid Sunan Kudus dan
16 17

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 173.

Dokumen Profil PP. Yanbu’ul Qur’an Kudus, di peroleh peneliti pada tanggal 18 Januari 2011, hlm. 1.

72

masjid

Busyo
18

Latif

menjadi

tempat

yang

nyaman

untuk

menghafalkan.

Dalam sejarahnya, pengajian yang diasuh oleh KH. M. Arwani ini sempat terhenti pada rentang waktu antara tahun 1947 - 1957 disebabkan kesibukan beliau menuntut ilmu thariqoh di pesantren Popongan, Solo. Baru setelah tahun 1957 pengajian itu pun kembali berlanjut. Tahun demi tahun pun berganti, akhirnya pada tahun 1962, KH. M. Arwani menempati sebuah rumah baru di Kajeksan, maka tempat pengajian pun turut dipindahkan tak jauh dari rumah beliau yang baru yaitu di masjid Busyro latif.19 Masjid Busyo Latif ini menjadi pusat pengajian pada waktu itu. Di samping masjid tersebut tidak jauh dari rumah, letaknya pun cukup setrategis sehingga membuat masyarakat untuk mudah mendatanginya. Seiring berjalannya waktu, santri yang belajar pada beliau semakin bertambah. Beliau pun berniat untuk mendirikan sebuah pesantren untuk menampung para santri agar mereka bisa lebih mudah dalam belajar. Berjalan bertahun-tahun sampai tahun 1970 kamar pondok baru sejumlah 6 kamar putra yang dihuni sekitar 45 santri.20 Dua puluh delapan tahun bersabar, KH.M. Arwani tak henti-hentinya membekali para santri untuk terus bersabar dan bersyukur. Oleh karena itu, beliau selalu berpesan, “syukuri dulu apa yang sudah kalian terima saat ini untuk seterusnya urusan Allah”.

Hasil wawancara dengan Ahmad Chasan Sekretaris Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) pusat pada tanggal 19 Januari 2011. Di sadur dari berbagai sumber, diantaranya dokumen Selayang Pandang Pondok Huffadz Yanbu’ul Qur’an Kudus yang di tulis oleh Ah. Taman Hasyim pada bulan April 1995, hlm. 3.
20 19

18

Dokumen Profil PTYQ Kudus, di peroleh peneliti pada tanggal 18 Januari 2011.

73

Penantian panjang itu ternyata berbuah kesuksesan. Pada tahun 1973 akhirnya secara resmi didirikanlah pesantren al Qur'an yang diberi nama "Yanbu'ul Qur'an". Nama Yanbu'ul Qur'an yang berarti mata air (sumber) al Qur'an dipilih oleh KH. M. Arwani sendiri yang dipetik dari al Qur'an Surat al Isra' ayat 90. Dengan nama tersebut diharapkan PTYQ bisa benar-benar menjadi sumber ilmu al Qur'an. Pada tahun ini juga diresmikan pondok putri dengan santri awal sekitar 33 santriwati. Dengan demikian, pembukaan awal ini terhitung santri keseluruhannya berjumlah 78 orang, yakni 45 santri laki-laki dan 33 santri perempuan. Paling tidak ada empat tujuan pokok didirikannya PTYQ saat itu, Pertama, menyediakan pemukiman bagi para santri yang ingin belajar dan menghafal al Qur'an. Kedua, memudahkan kontrol kepada para santri dan memperlancar keberlangsungan proses belajar mengajar. Ketiga, menjaga kemurnian al Qur'an. Dan keempat, turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada tanggal 1 Oktober 1994 KH. M. Arwani berpulang ke rahmatullah. Sepeninggal beliau pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh putra-putra beliau, KH. M. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. Ulil Albab Arwani, serta seorang murid kesayangan beliau yaitu KH. Muhammad Mansur Maskan (alm). Mereka saat itu di kenal dengan sebutan tiga serangkai karena memang perkembangan pondok pesantren tersebut tidak lepas dari jasa mereka.21 Pada perkembangannya, saat ini terdapat kurang lebih 204 orang santri putra dan 220 santri putri yang belajar di pesantren ini. Mereka datang dari berbagai kota dan dengan latar pendidikan yang berbeda-

Dokumen Selayang Pandang Pondok Huffadz Yanbu’ul Qur’an Kudus yang di tulis oleh Ah. Taman Hasyim pada bulan April 1995, hlm. 3.

21

74

beda. Untuk menjadi santri di PTYQ dewasa, pendidikan minimal calon santri adalah lulusan SLTP/MTs atau yang sederajat. Mereka juga harus mengikuti tes masuk terlebih dahulu berupa tes lisan, tulisan dan praktek membaca al Qur'an. Pendaftaran setiap tahunnya dibuka pada bulan Syawal (tanggal 11-25) dan kegiatan belajar mengajar bagi santri baru dimulai pada awal bulan Dzulqo'dah. b. Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin Pondok pesantren MUSYQ dalam lintasan sejarahnya diawali dengan pembangunan pondok pesantren Kwanaran yang dibangun pada tahun 1986. Mulanya pesantren Kwanaran ini disiapkan untuk menampung anaka usia 6-7 tahun dengan kapasitas santri sejumlah 6 anak. Perkembangan tak bisa dihindari mengingat banyaknya anak-anak usia tersebut di kelurahan Kwanaran sendiri yang berminat nyantri di pon-pes Kwanaran ini. Santri pun semakin lama semakin bertambah sampai asrama yang disiapkan tidak bisa menampung. Melihat keadaan seperti ini, pihak keluarga Romo K.H. M. Arwani Amin bersama pengurus Yayasan Arwaniyyah mencari lokasi yang strategis untuk mendirikan Pondok Tahfidh Kanak-Kanak Yanbu’ul Qur’an.22 Awal pondok ini memang disiapkan hanya anak-anak berusia 6-7 tahun yang ingin menghafal al-Qur’an dengan kapasitas santri 6 anak, namun ternyata minat dari masyarakat begitu antusias sehingga mencapai santri 60 anak. Akhirnya pihak keluarga romo KH. M. Arwani Amin dibantu oleh pengurus Yayasan Arwaniyyah hunting lokasi. Singkat cerita, akhirnya beliau mendapat sebilah tanah di desa

Profil PP. Ma’hadul Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUS-YQ) lil Banin, Power Point Tanggal 3 Januari 2009.

22

75

Krandon. Kemudian semua santri yang ada di Kwanaran diboyong ke desa Krandon. Pondok Kwanaran pun mengalami empty education. Berangkat dari kevakuman itulah, pihak dari keluarga KH. M. Arwani ngersakno romo KH. M. Arifin Fanani untuk bermukim di Kwanaran. Pada hari Rabu Pon, 9 Jumadil Akhiroh 1411 H/25 Desember 1990 M, Romo KH. M. Arifin Fanani resmi bermukin di Kwanaran. Saat itulah babak baru pondok ini dimulai (pada waktu itu belum ada namanya). Genap 5 hari, kemudian ada 5 santri yang mengaji di pondok ini hingga akhirnya santri yang mondok bertambah menjadi sekitar 25 santri. Kemudian KH. M. Arifin Fanani beserta KH. Mc. Ulin Nuha Arwani, dan KH. Mc. Ulil Albab Arwani, dan KH. M. Mansur (Alm) bermusyawarah dalam memberi nama pesantren tersebut. Nama pondoknya telah diambil kesepakatan, MUS-YQ. Nama ini lahir setelah bermusyawaroh berjam-jam dan membutuhkan pemikiran yang filosofis. Di nukil dari kata “MUS”, yakni nama pesantren di Sarang, tempat KH. M. Arifin Fanani menimba ilmu dulu dan dari kata “YQ” (Yanbu’ul Qur’an). Sebagai qorinah, MUS-YQ juga termasuk furu’ atau cabang dari pesantren Yanbu’ul Qur’an.23 Hingga akhirnya pesantren ini populer dengan nama PP. MUS-YQ. Namun tetap saja istilah “pondok Kwanaran” masih tetap abadi hingga kini. Masyarakat pun ada yang menyebutnya pondok MUS-YQ dan sebagiannya menyebut pondok Kwanaran.24 c. Pesantren Raudlatuth Tholibin Sejarah berdirinya pondok pesantren Roudlatut Tholibin atau yang lebih akrab disebut dengan pesantren Bendan ini tidak lepas dari peran
Bulletin Dakwah dan Informasi al-Fannan edisi XI Sya’ban 1431 H, majalah yang diterbitkan PP. MUSYQ Kwanaran 139 Kajeksan Kota Kudus, hlm. 20.
24 23

Bulletin al-Fannan edisi XI, hlm. 21.

76

dari pendirinya, Kyai Haji Raden Asnawi. Sekitar tahun 1861 M (1281 H) pada hari Jum’at Pon lahirlah seorang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi di Damaran. R. Ahmad Syamsyi dilahirkan dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah. Pasangan pedagang konveksi yang tergolong besar kala itu. Menurut nasabnya, R. Ahmad Syamsi ini merupakan keturunan ke-14 dari Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati.25 R. Ahmad Syamsyi merupakan nama KHR Asnawi waktu kecil, kemudian setelah pulang dari haji yang pertama diganti dengan nama Raden Haji Ilyas. Waktu itu sekitar tahun 1886 dan beliau sudah berusia 25 tahun. Lima tahun kemudian, genap diusianya yang ke-30 tahun, Raden Haji Ilyas menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya dengan berniat untuk mukim di sana bersama ayahanda. Namun, ketika pelaksanaan H. Husnin pulang ke rahmatullah. Namun, hal ini tidak mengurungkan niatnya untuk bermukim di Mekkah. Kirakira selama 20 tahun Raden Haji Ilyas ini bermukim menimba ilmu di tanah suci tersebut dan setelah itu pulang ke Kudus untuk menjenguk ibu. Di Kudus tinggal bersama ibu dan adiknya H. Dimyati, dan tidak beliau menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya. Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga ini. Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ah di daerah Kudus dan sekitarnya. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kyai.

25

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 162.

77

Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kyai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi).26 Aktivitas dakwah KHR. Asnawi di Kudus ini cukup melanglang buana, mulai dari mengisi pengajian kitab Hadits Bukhori di masjid alAqso setiap jama’ah fajar dan ba’da jama’ah subuh sampai pada pengajian yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar. Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Bendan, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut. Jasa dari KHR Asnawi tidak hilang dimakan sejarah, beliau bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. KHR. Asnawi turut membidani lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai antipati untuk membentengi aqidah ahlussunnah wal jama’ah waktu. Bukan hanya itu, KHR. Asnawi telah berjasa besar bagi Islam dan bangsa Indonesia melalui keterlibatannya dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Semaun, H Agus Salim dan HOS. Cokroaminoto merupakan teman seperjuangan kala itu dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Menurut informasi dari pengasuh pesantren, KHR. Asnawi merupakan tokoh ulama’ internasional yang tidak hanya

Di sadurkan dari berbagai sumber, salah satunya profil PP. Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus yang diperoleh peneliti pada tanggal 20 Januari 2011.

26

78

disegani oleh bangsa, melainkan juga para ulama’-ulama’ Timur Tengah termasuk Sayid Husein Bek.27 2. Sistem Pendidikan Pesantren a. Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat Pesantren yang ditinggali 204 santriwan dan 220 santriwati ini secara keseluruhan belajar dan menetap di pesantren. Oleh karena itu, dikatakan santri mukim. Pesantren ini beralamatkan di Jl. K.H. Muhammad Arwani No.24, Dukuh Kelurahan, Desa Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Sampai saat ini pondok tersebut diasuh dan dipimpin bersama oleh K.H. Mc. Ulin Nuha Arwani (suami Ibu Hj. Noor Ismah), K.H. M. Ulil Albab Arwani (suami Ibu Hj. Zuhairoh). Keduanya aktif tercatat membantu Romo (Kyai Arwani) sejak Maret 1976 menjadi ketua I dan ketua II sampai. Di mana waktu itu pengasuh pondok masih di pegang oleh K.H. Arwani sendiri. PTYQ secara geografis berdiri di atas tanah seluas 1,2 hektar yang terdiri dari dari gedung pesantren putera dan puteri. Fasilitas gedung putera terdiri atas 9 ruang kamar santri, 1 kamar ustadz, 1 aula, 1 ruang kantor, 1 gudang, dan 7 sarana mandi, cuci dan kakus. Sementara gedung puteri terdapat 9 fasilitas 9 kamar santri, 1 kamar ustadzah, 1 aula, 1 dapur, 1 kantor, 1 gudang, dan 7 sarana mandi, cuci dan kakus. Pesantren ini juga dilengkapi dengan perpustakaan seluas 24 m², dengan koleksi kitab 150 eksemplar dan buku umum 125 eksemplar.28 1) Sistem Organisasi Pesantren Dalam visinya yang ingin menjadi pusat lahirnya para khafidz dan
27

khafidzoh,

pelaksanaan

kegiatan

pondok

dibingkai

Hasil wawancara dengan KH. Moch. Khafidz Asnawi Pengasuh PP. Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus pada tanggal 20 Januari 2011.
28

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm 174.

79

sedemikian rupa untuk senantiasa membimbing para santri supaya fokus dalam sistem pendidikan yang diterapkan. PTYQ masih mempertahankan sistem tradisional dalam mempertahankan tradisi pesantren. Oleh karenanya, berbagai program dan pembentukan departemen-departemen oleh para pengurus pesantren digalakkan untuk membingkai sistem tersebut. Meskipun pun sistem pendidikan yang masih dikatakan tradisional, para pengurus PTYQ pusat tidak mau ketinggalan soal manajemen organisasi. Di bawah pengasuh KH. Mc. Ulin Nuha sendiri, dan para kyai lain, di antaranya KH. Ulil Albab, Agus H. Ainun Na’im, dan Agus H. Ahmad Faiz sebagai dewan pimpinan. Sementara KH. Ma’shum AK sebagai pembinanya, para pengurus harian PTYQ mampu berjalan sesuai dengan harapan pesantren. Sebagai ketua, ustadz Umar Faruq bersama para pengurus harian yang lain menampilkan wajah pesantren yang dalam tata kelolanya termasuk bisa dikatakan modern. Terbukti dalam kepemimpinannya mampu merespon kebutuhan masyarakat secara umum dan secara khusus kebutuhan santri. Di antara departemen pengurus PTYQ adalah departemen pendidikan, jam’iyah, koperasi, pembangunan, jam’iyah, keamanan, dan lain sebagainya.29 Masing-masing departemen mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan kapasitas kinerjanya. Semua berorientasi pada sistem pendidikan supaya bisa berjalan dengan lancar. Di samping fungsinya untuk mempertahankan tradisi pesantren yang sudah terbangun, para pengurus ini juga mencoba untuk melakukan

Di sarikan dari Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus PP. Yanbu’ul Qur’an pusat pada kepengurusan 1431-1432 H.

29

80

pengembangan pada bidang koperasi. Di koperasi ini terletak di halaman pesantren sekitar 10 m dari ndalem romo kyai. Berbagai pelatihan pun dilakukan untuk mendukung standar SDM para pengelolanya. Di samping mengelola dan mengembangkan koperasi, pengelola koperasi ini juga bertugas menjaga wartel karena di pesantren ini tidak diperkenankan membawa telpon seluler. Mengurusi seragam santri juga termasuk tugas dari departemen ini. Kegiatan bahtsul masa’il dalam hal ini pun sudah ada yang mengurusnya sendiri, departemen jam’iyah. Departemen ini juga mengurusi pemilihan tenaga pengajar, baik dari lingkup pesantren sendiri maupun dari masyarakat sekitar. Namun, biasanya dari tokoh-tokoh masyarakat yang sudah kapabel di bidangnya. Mengurusi tes masuk pendaftaran baru, tes calon khotimin dan tabarrukan khotimin, shalat jama’ah, dan kegiatan keseharian lainnya. Departemen keamanan dalam hal ini bertugas menegakkan undang-undang pondok, memberikan sanksi bagi santri yang tidak mengindahkan tata tertib yang sudah ditetapkan. Pengontrolan jam wajib belajar pun dilakukannya selama 24 jam. Artinya, pesantren ini tidak dibolehkan keluar dari pesantren kecuali ketika ada kepentingan mendesak dan sakit. Itupun juga harus mendapat persetujuan dari pengurus pesantren. Departemen keamanan ini juga bertugas sebagai pengawas bagi para santri yang mencoba keluar dari pesantren tanpa ijin. Bagi santri yang keluar tanpa ijin, maka konsekuensinya mendapat sanksi yang sudah ditetapkan. Jika berulang kali melanggar, di pesantren ini diberikan sanksi potong rambut ”gundul”.

81

Di bidang pembangunan, para pengurus departemennya bertanggung jawab atas pembangunan pondok pesantren. Ia juga mengurusi masalah pengairan, penerangan, dan komunikasi pesantren. Oleh karenanya, di pesnatren ini setiap masa kepemimpinan diadakan pembekalan elektronika yang diikuti oleh semua santri sehingga sedikit banyaknya santri sudah mengetahui soal tersebut. Begitu juga soal peralatan, pesantren ini sudah menyediakan segala macam peralatan, seperti sound system dan lain sebagainya yang diurusi oleh departemen pembangunan.30 2) Kegiatan Pesantren Kegiatan pesantren PTYQ tahun ajaran 1431 – 1432 H berlangsung dari tanggal 11 Sya’ban 1431 – 10 Sya’ban 1432 H. di awali dengan sidang intern pengurus sebagai awal pelaksanaan kegiatan selama setahun dan diakhiri dengan haflatul hidzaq dan muwaddaah pesantren. Pada bulan sya’ban fokus kegiatan pada penerimaan santri baru puasanan dan persiapan untuk menyambut bulan Romadlon. Penerimaan santri baru di PTYQ termasuk murah karena biaya yang dibutuhkan relatif sedikit dan itupun juga untuk keperluan santri selama menempat di pesantren. Untuk santri baru, uang pendaftaran Rp. 75.000,- dan uang pangkalnya Rp. 150.000,-. Sementara santri puasanan, yang pendaftarannya Rp. 50.000,- dan uang pangkalnya Rp. 100.000,-. Khusus untuk bulan Romadlon, maka santri diwajibkan datang ke pondok kalau masih ada yang di rumah.31

Sumber dari dokumen pesantren mengenai tata kerja kepengurusan pengurus PTYQ yang dijadikan lampiran pada LPJ pengurus masa bhakti tahun 1431-1432 H. Brosur pendaftaran masuk PTYQ Kajeksan Kota Kudus yang diperoleh peneliti pada tanggal 20 Januari 2011.
31

30

82

Pada bulan Romadlon, kegiatan santri antara lain ta’aruf santri lama dengan para santri yang khusus puasanan di pesantren tersebut. awal-awal bulan ini juga sudah dimulai pengaktifan kegiatan madrasah sesuai dengan jenjang kelasnya masingmasing, pengajian kitab dan mudarosah Romadlon. Biasanya santri puasanan itu sampai pada tanggal 17 Romadlon dengan diakhiri ziarah bersama ke makam KH. M. Arwani dan disempurnakan dengan muwadda’ah bersama pada malam harinya. Setelah tanggal 17 Sya’ban, kegiatan pesantren diliburkan dan para santri ada yang pulang ke rumah masing-masing, dan bagi santri yang rumahnya jauh juga ada yang masih menetap di pesantren. Pada bulan Syawwal, setelah masa liburan kurang lebih selama 1 bulan, maka tanggal 11 Syawwal di mulai pembukaan santri baru (santri mukim) dan semua santri yang masih dirumah diwajibkan untuk datang ke pesantren karena kegiatan pesantren sudah akan diaktifkan lagi. Biasanya pada tanggal 20 Syawwal – 27 Syawwal ini adalah masa-masa tes masuk dan besuk paginya, yakni tanggal 28 Syawwal adalah pengumuman hasil tes yang dilaksanakan sebelumnya. Sedangkan bulan Dzulqo’dah ini pengaktifan madrasah dan mudarosah khotimin yang juga disertai dengan pengaktifan jam wajib kamar. Artinya pada bulan ini setiap kamar sudah diaktifkan segala bentuk macam kegiatan kamarnya, di antara tahlilan dan lain sebagainya. Pengaktifan mudarosah kelas, tahlil rutin kamis sore, mudarosah sughro, pengajian kitab, jaga malam, ro’an bersama dan lain sebagainya sudah diaktifkan sebelum tanggal 10 Dzulqo’dah karena hari setelah tanggal tersebut merupakan agenda pembuatan seragam bagi santri-santri baru yang belum

83

mempunyai seragam. Setelah itu pada tanggal 14 Dzulqo’dah dilaksanakan sidang triwulan I yang diiringi mudarosah selapanan I, dan ta’aruf pada santri baru. Pada bulan Dzulhijjah, para santri mendapat pembekalan dari pengasuh perihal persiapan mudarosah yang setiap hari dilakukan di pesantren. Pembekalan ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan. Khusus untuk bulan Dzulhijjah memang agenda di pesantren relatif sedikit dibanding dari bulan-bulan yang sebelum ataupun sesudahnya karena para pengurus pesantren juga ikut membantu pelaksanaan kegiatan pada Yayasan Arwaniyyah yang juga menaungi bimbingan ibadah haji. Sementara pada bulan Muharram sudah diadakan mudarosah selapanan II, sidang intern III, sidang pleno II, dan diakhiri dengan pembekalan Muqri’ Yanbu’a serta pembekalan anak. Kemudian pada bulan Shaffar dilanjutkan sidang triwulan II dan mudarosah selapanan III. Khusus tanggal 14 Shaffar merupakan kegiatan rutin untuk mengadakan khaul KH. M. Manshur Maskan VII yang diikuti dengan khataman mudarosah sughro I, tabarrukan khotimin dan mau’idlotul khasanah. Pada bulan Shaffar ini terbilang cukup padat karena pada bulan ini juga diadakan agenda rutin para asatidz berkaitan dengan pengaktifan sima’an kelas maqom dan sima’an massal kelas mudarosah 1. Setelah itu kegiatan seperti biasa selayaknya rutinitas sehari-hari di pesantren. Selanjutnya pada bulan Rabi’ul Awwal sudah dimulai mudarosah kubro I dan persiapan memperingati Maulid Nabi SAW. Khusus pada akhir bulan ini, santri dibolehkan untuk pulang dan sebelum tanggal 30 Rabi’ul Awwal semua santri harus sudah kembali ke pesantren.

84

Bulan Rabi’ul Akhir ini ibarat bulan baru setelah linnburan, maka semua kegiatan termasuk jam wajib kamar, mudarosah kelas, sughro dan khotimin sudah mulai diaktifkan kembali. Setelah itu baru mengadakan mudarosah selapanan IV dan diikuti dengan peringatan khaul KH. M. Arwani Amin pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir. Di penghujung bulan, di pesantren ini diadakan bahtsul masa’il Qur’aniyyah yang melibatkan semua santri pesantren. Seperti biasa pada bulan baru, yakni pada bulan Jumadil Ula, sidang triwulan III, sidang intern IV, sidang pleno dan mudarosah selapanan dilaksanakan untuk mempersiapkan para santri-santri yang hendak mengkhatamkan hafalan al-Qur’an. Sedangkan pada awal bulan berikutnya, yakni bulan Jumadil Akhir merupakan hari pendaftaran para calon khotimin sampai tanggal 18 Jumadil Akhir waktu pelaksanaan tes khotimin tersebut. Pada bulan Rojab, pesantren mengadakan mudarosah selapanan dan khataman mudarosah kamar, mudarosah sughro II serta dilaksanakan sidang intern V untuk melaksanakan rapat anggaran pendapatan belanja. Setelah itu pelaksanaan sidang intern VI, sidang tri wulan IV dan sidang asatidz pada akhir-akhir bulan Rojab ini. Kemudian pada tanggal 27 Rojab biasanya diadakan simakan massal bagi kelas mudarosah. Dan sampai pada penghujung tahun pelajaran, yakni bulan Sya’ban awal. Pada awal bulan ini dilaksanakan sidang dewan mufattisy II, sidang RAPB khusus ndalem dan diakhiri mudarosah kubro II. Selanjutnya pada tanggal 8 Sya’ban dilaksanakan laporan pertanggung jawaban pengurus selama masa

85

bhakti selama kepengurusan, kemudian pelantikan pengurus baru dan diakhiri dengan muwada’ah pada tanggal 10 Sya’ban.32 b. Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin 1) Sistem Organisasi Pesantren Visi yang ingin dicapai pesantren MUSYQ dalam masa yang akan datang adalah terwujudnya santri yang fashih dalam tilawah dan faqih dalam amaliyah.
33

Oleh karenanya pesantren ini

memadukan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum melalui madrasah formal. Kegiatannya pun dipadukan antara alQur’an, kitab-kitab salaf dan pendidikan umum. Tak heran jika kedisiplinan pada pesanren ini sangat tinggi karena di waktu pagi para santri sekolah dan setelah itu mengikuti kegiatan pesantren yang sudah ditetapkan sampai pada malam harinya. Untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang menyesuaikan dengan madrasah formal ini, dibentuklah susunan kepengurusan pesantren untuk mendukung dan menjalankan kegiatan santri secara keseluruhan. Maskipun para santri ini yang pada usianya saja masih duduk di bangku MTs dan MA, namun mengenai perilaku organisasi tidak kalah mahirnya di banding dengan para pengurus pesantren Yanbu’ul Qur’an pusat yang tergolong sudah dewasa. Meskipun begitu, untuk melatih jiwa kepemimpinan mereka para pengurus pesantren ini melibatkan tokoh masyarakat secara struktural maupun non-struktural. Pesantren MUSYQ dalam upayanya mewujudkan kepribadian santri yang mempunyai kompetensi di bidang tilawah yang

Sumber dari program kerja pengurus PTYQ pusat Kajeksan Kota Kudus yang diperoleh peneliti pada tanggal 20 Januari 2011.
33

32

Power Point profil PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus tanggal 3 Januari 2009.

86

dikombinasikan dengan amaliyah mempunyai beberapa misi yang ingin diwujudkan dalam aspek-aspek di bawah ini, antara lain : - Membimbing santri dalam meningkatkan kwalitas bacaan al-Qur’an yang fashih. - Mewujudkan pembelajaran potensi dan santri pembiasaan dalam santri mendalami kitab-kitab salaf. - Mengembangkan menganalisa problematika masyarakat. - Membentuk karakter santri yang mampu mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat.34 Melihat visi dan misi yang ingin dicapai pesantren ini, kepegurusan organisasi pesantren pun dibentuk dan disesuaikan dengan harapan kedepan pesantren. Meskipun pesantren ini adalah cabang dari pesantren Yanbu’ul Qur’an yang ada di Kajeksan, namun secara institutif pesantren ini berbeda. Peran masyarakat terhadap kegiatan pembelajaran di pesantren MUSYQ sagat tinggi karena secara historis pesantren ini lahir juga karena keinginan dari masyarakat sendiri. Sehingga maju dan mundurnya pesantren ini peran mereka juga tidak kalah pentingnya. Secara struktural, sebagai dewan penasehat dan yang menempati pucuk tertinggi kepemimpinan adalah KH. Ulin Nuha dan KH. Ulil Albab. Sedangkan dewan pengasuhnya diserahkan pada KH. Muhammad Arifin Fanani yang dibantu oleh KH. Hasan Fauzi. Sementara dewan pembimbingnya yang kesehariannya bersinggungan dengan aktifitas santri terdapat 10 ustadz yang menetap di sekitar pesantren.35 Kesepuluh ustadz ini sudah dibagi
34 35

Power Point profil PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus tanggal 3 Januari 2009. M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 176.

87

menurut bidang keilmuwan masing-masing sehingga memudahkan para santri untuk berkomunikasi kepada mereka. Untuk pengurus hariannya terdapat 6 santri dengan jabatan ketua 1 dan 2, sekretaris 1 dan 2, serta bendahara 1 dan 2. Mereka aktif mengurusi keseharian kegiatan pesantren. Muhammad Taqiyuddin, ketua pondok pesantren MUSYQ membawahi delapan seksi di bawahnya. Meskipun ia masih duduk di kelas 9 MA, namun itu tidak menjadi kendala untuk mengkordinir 203 santri yang ada di pesantren tersebut. Di antara seksi-seksi dalam kepengurusan pesantren adalah seksi pendidikan, keamanan dan ketertiban, pembangunan dan penerangan, kebersihan dan kesehatan, pengairan, konsumsi, humas dan pembantu umum. Semua seksi tersebut dijalankan oleh 38 santri yang menjadi kordinator dan anggotanya pada masing-masing bagian. Dalam upaya meningkatkan kwalitas bacaan al-Qur’an dan pendalaman kitab salaf, maka seksi pendidikan dalam hal ini mempunyai tanggung jawab yang tidak ringan. Seksi pendidikan bertugas melaksanakan kegiatan pesantren, baik program harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. Di antara program harian, seperti musyafahah al-Qur’an, madrasah diniyyah, pengajian kitab, lalaran Alfiyah dan musyawaroh kitab pada malam harinya. Sedangkan pada program mingguan, di pesantren ini dilaksanakan seni baca al-Qur’an, majlis malam jum’at, ziarah, sorogan kitab kuning, lajnah bahtsul masa’il dan latihan dasar jurnalistik. Dan program bulanan dilaksanakan pengajian dialogis dan penulisan papan ilmu. Sementara program tahunan ada kegiatan kema’arifan, bahtsul masa’il intern, dan pengajian puasanan.

88

Seksi keamanan dalam hal ini bertugas menjalankan undangundang kepada semua santri, mengadakan operasi pada waktuwaktu tertentu (keluar tanpa ijin, razia handphone), mengadakan sidang dan forum ta’ziran, dan membangunkan santri di waktu pagi untuk pembacaan nailul muna dan jama’ah sholat subuh. Seksi keamanan dalam konteks demikian turut membantu terwujudnya nilai dan tradisi pesantren, sepert keikhlasan dalam menjalankan semua hal sehingga para santri sudah terbiasa hidup dalam kedisiplinan dan tidak kaget ketika terjun di masyarakat. Seksi pembangunan dan penerangan ini bertugas terhadap inventaris yang dimiliki pesantren, menyiapkan peralatan sound system pada acara-acara tertentu, memperbaiki kotak-kotak santri, dan bertanggung jawab terhadap penerangan yang ada di pesantren. Sementara seksi kebersihan dan kesehatan bertugas terhadap tugas piket harian pondok, menyediakan alat-alat kebersihan dan mengontrolnya sewaktu-waktu, menyediakan persediakan obatobatan P3K. secara umum, seksi ini bertanggung jawab atas kebersihan pesantren. Sedangkan seksi humas berugas menangani perweselan, pembuatan kartu tanda anggota pondok, menangani tabungan santri, dan mengurusi kebutuhan tamu pondok. Pada seksi ini secara umum bertanggung jawab atas komunikasi internal pesantren dengan masyarakat. Selanjutnya seksi pengairan bertugas menangani permasalahan yang berhubungan dnegan pengairan, memperbaiki saluran-saluran air yang rusak dan sebagai kordinator pengisian bak kamar mandi secara keseluruhan pada tiap harinya. Upaya ini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian santri yang mandiri.

89

Seksi konsumsi bertugas sebagai kordinator makan santri, mengurusi dana belanja, mengurusi snack ketika acara-acara tertentu dan mengontrol invetaris pesantren. Dan seksi pembantu umum dalam hal ini menjadi sukarelawan pada masing-masing seksi yang dirasa membutuhkan bantuan. Oleh karenanya, kordinator pada seksi ini diambilkan dari warga masyarakat yang sudah berpengalaman dengan tujuan untuk membimbing para santri dalam menjalankan sesuai dengan tugasnya masing-masing.36 2) Kegiatan Pesantren Sesuai dengan misi yang sudah ditancapkan pada tubuh pesantren, yakni melakukan pengembangan terhadap potensi santri dalam menganalisa problematika masyarakat dan pengaktualan santri terhadap situasi dan kondisi masyarakat, maka programprogram yang dilakukan pun menuju kearah tersebut. berbeda dengan PTYQ pusat, jika pesantren tersebut awal tahun pelajaran di mulai bulan Sya’ban, sedangkan pesantren MUSYQ ini awal tahun pelajarannya di mulai pada bulan Shaffar. Hal ini dikarenakan pesantren MUSYQ menyesuaikan dengan jadwal yang ada di madrasah formal. Secara umum, kegiatan pesantren MUSYQ diawali pada tanggal 24 Shaffar 1431 – 13 Shaffar 1432 H. Kurang lebih dalam masa kepengurusan setahun ini berbagai program dilaksanakan demi terwujudya insan pesantren yang cakap tilawah dan amaliyah. Sebagai pembukaan tahun, di bulan Shaffar kegiatan yang berlangsung diantaranya pelantikan pengurus baru dan diikuti dengan rapat kerja pengurus baru tersebut dalam menyusun agenda

Sumber dari dokumen PP. MUSYQ berkaitan dengan tata kerja pengurus pesantren yan dijadikan sebagai lampiran pada LPJ pengurus MUSYQ tahun 1431-1432 H.

36

90

selama setahun kedepan. Di samping itu, pada bulan ini juga dipilih ketua musyawaroh (ro’is amm) yang bertanggung jawab atas berlangsungnya agenda musyawaroh pada malam hari.37 Pada bulan Rabi’ul Awwal, dalam rangka menyambut peringatan maulid Nabi SAW, seksi pendidikan berkordinasi dengan seksi keamanan menyiapkan agenda besar tersebut dengan dibantu oleh dewan pembimbing dan masyarakat sekitar. Peringatan Maulid Nabi SAW di pesantren ini dilaksanakan setiap tanggal 23 Rabi’ul Awwal. Memasuki awal bulan Rabi’ul Akhir, para pengurus melakukan rapat dwi wulan I. salah satu hal yang dirapatkan di samping mengenai pelaksanaan kegiatan selama di pesantren, juga menyiapkan agenda khaul KH. M. Arwani Amin pada tanggal 18 Rabi’ul Akhir. Khusus untuk mengenai khaul ini dilaksanakan secara serentak bersama-sama di pesantren Yanbu’ pusat beserta dengan cabang-cabang pesantren yang lain. Bulan Jumadil Ula, program pesantren hanya mengadakan bahtsul masa’il yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi santri-santri dalam hal menganalisa segala macam problematika yang ada di masyarakat. Bahtsul masa’il ini dilakukan secara internal pesantren sendiri dengan tujuan ruang lingkup pembahasan tidak terlalu melebar dan kapasitas santri yang belum melampaui. Demikian, pada bulan Jumadil Akhir pun selain aktifitas rutin keseharian, program yang dilaksanakan pengurus hanya melakukan rapat dwi wulan II.

Disarikan dari program kerja pengurus PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus masa bhakti 1431-1432 H.

37

91

Pada bulan Sya’ban di pesantren ini mengadakan persiapan peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Sya’ban. Setelah itu, di samping kegiatan sekolah yang tidak terlalu padat, maka pada akhir bulan ini para pengurus beserta santri lainnya mengadakan agenda ziarah dan wisata bersama-sama. Ini dimaksudkan sebagai hiburan ditengah kegiatan pesantren yang begitu padat. Sementara pada bulan Romadlon, disamping mengadakan persiapan mengenai jadwal puasanan di pesantren tersebut juga diselenggarakan rapat pleno I. setelah itu mengadakan peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 23 Romadlon. Dan pada bulan Dzulqo’dah mengadakan rapat pleno II untuk mempersiapkan agenda bahtsul masa’il pada bulan tersebut. bahtsaul masa’il ini untuk kedua kalinya dilaksanakan secara intern yang sebelumnya diadakan pada bulan Jumadil Ula.38 Sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri terhadap masyarakat, maka pada bulan Muharram mengadakan pengajian dialogis yang dilaksanakan oleh para santri dengan diikuti oleh masyarakat sekitar. Hal ini dimaksudkan untuk membuat komunikasi santri dan masyarakat tidak terputus. Dan pada bulan Shaffar yang merupakan masa akhir-akhir tahun pelajaran ini diadakan sidang pleno untuk yang kedua kalinya, rapat pra LPJ dan sampai pada waktunya pelaporan LPJ pada tanggal 13 Shaffar. Karena kepengurusan sudah berakhir,

Disarikan dari program kerja pengurus PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus masa bhakti 1431-1432 H.

38

92

maka dibentuklah kepengurusan baru setelah itu, yakni pemilihan ketua pondok dan beserta para pengurusnya.39 c. Pesantren Raudlatuth Tholibin 1) Sistem Organisasi Pesantren Pesantren yang didirikan oleh KHR. Asnawi ini sampai sekarang kurang lebih sudah berjalan selama 84 tahun. Secara historis, pesantren ini yang dikenal oleh masyarakat Kudus sebagai pesantren Bendan dulu pernah menemukan puncak kejayaannya semasa diasuh langsung oleh KHR. Asnawi sendiri. Figur kyai dalam konteks pesantren demikian sangat menentukan maju dan mundurnya sebuah pesantren. Para santri dulu berbondong-bondong mondok di pesantren salah satu pendiri jam’iyah NU ini karena melihat sepak terjang kyainya dalam melawan penjajah. Kyai yang semasa hidupnya sempat mangharamkan pemakaian dasi, sepatu dan lain sebagainya yang digunakan oleh penjajah Belanda ini fokus perhatiannya adalah pada ilmu tauhid dan fiqih. Di samping itu beliau juga aktif membaca kitab hadits di masjid Al-Aqso Kudus. Setelah KHR. Asnawi wafat pada tahun 1959, menurut penuturan dari sebagian santri pesantren Bendan mengalami kemerosotan kepemimpinan. Figur yang diidolakan telah tiada dan akhirnya reorganisasi pesantren semakin mengkhawatirkan. Peninggalan berharga KHR. Asnawi antara lain berdirinya madrasah Qudsiyyah yang sampai sekarang telah melahirkan banyak tokoh masyarakat, baik Kyai, Ustadz, Doktor maupun Profesor. Sementara yang peninggalan khusus bagi pesantren

Disarikan dari program kerja pengurus PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus masa bhakti 1431-1432 H.

39

93

adalah sholawat Asnawiyah yang sampai sekarang dilanggengkan pembacaannya oleh para santri. Meskipun demikian, ternyata sholawat ini telah merambah ke sebagian besar masyarakat Kudus.40 Kini, pucuk kepemimpinan pesantren KH. Moch Hafidz Asnawi yang masih tedapat keturunan dari KHR. Asnawi sendiri. Secara struktural, sistem organisasi yang ada di pesantren Bendan di bimbing oleh empat Ustadz, yakni Ustadz Abdi Wahab, Ustadz Abdi Ru’yat, Ustadz Abdi Wahib, dan Ustadz Mas’ud. Sementara pengurus hariannya terdapat lima santri yang dikomandoi oleh Moch. Ni’am Khumaedi. Di samping itu juga telah dibentu seksiseksi yang bertugas sesuai dengan tugasnya masing-masing. Diantaranya adalah seksi keamanan dan ketertiban, seksi pendidikan dan seksi kebersihan. Tidak seperti PTYQ maupun MUSYQ, pesantren Bendan dalam hal kinerja organisasi masih terbilang secara manajemen di bawah mereka. Di samping faktor kuantitas santri yang tidak begitu banyak, SDM mereka juga belum mencukupi. Berbeda halnya dengan pesantren MUSYQ, meskipun semua santri sekolah di madrasah formal, namun kegiatan pesantren pun tetap jalan dengan baik. Sementara di pesantren Bendan, menurut pengakuan Hadie Putro, salah satu santri pesantren Bendan yang selalu menggugah minat para pengurus sendiri untuk membenahi sistem organisasi yang telah terbentuk. Ia menyesalkan ketika sebuah kepengurusan selalu saja seperti dulu-dulunya tidak ada hasilnya sama sekali.41
Hasil wawancara dengan KH. Moch. Khafidz Asnawi pengasuh PP. Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus pada tanggal 20 Januari 2011.
41 40

Hasil wawancara dengan Hadie Putro santri PP. Roudlotuth Tholibin pada tanggal 22 Maret

2011

94

Sebenarnya secara prosedur sebuah kepengurusan secara teknis kinerja masing-masing sudah dijelaskan terlebih dahulu. Seperti seksi pendidikan yang bertugas mengkordinir semua kegiatan pesantren, mengkordinir pembacaan al-Barjanji, menggantikan ustadz bila berhalangan hadir. Begitu juga seksi keamanan yang secara tegas bertugas sebagai pengontrol kegiatan jam wajib pondok dan santri selama di pesantren yang tentunya selain jam sekolah. Selain itu juga seksi keamanan menegakkan undangundang yang berlaku di pesantren dan sebagai kordinator santri dalam berjama’ah, pembacaan wirid, dan rotib.42 Realitas yang nampak pada pesantren Bendan jika dipandang dari sistem organisasinya belum ditemukannya sistem yang sesuai dengan karakter dan watak santri-santri pesantren tersebut. hal ini berdasar pada pengakuan Hanif Asmar Nasution yang peneliti temui di aula pesantren yang menuturkan bahwa peraturan sudah sering dibuat, ditambah, dikurangi dan ditekan, namun hasilnya pun tak mampu merubah karakter santri-santri Bendan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan secara intens dalam mengawasi sikap dan perilaku para santri.43 2) Kegiatan Pesantren Di bandingkan dengan pesantren yang lain, pesantren Bendan tergolong sedikit dalam manajemen kegiatan santri setiap harinya. Dimulai dari pagi jama’ah shalat shubuh kemudian dilanjutkan dengan pembacaan wirdullathif bersama-sama di aula pesantren dan disambung dengan wiridan surat al-Kahfi sampai sekitar pukul
Sumber dari tata kerja pengurus PP. Roudlotuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus masa bhakti 1431-1432 H. Hasil wawancara dengan Mushoniful Hanif santri PP. Roudlotut Tholibin pada tanggal 22 Maret 2011
43 42

95

06.00 pagi. Setelah itu para santri menghabiskan waktunya di sekolah masing-masing sampai maksimal pukul 14.00. Itu pun jika tidak santri yang main ke tempat lain yang tidak langsung pulang ke pesantren. Sehabis pulang dari sekolah rutinitas yang dilakukan adalah jama’ah ashar dan setelah itu piket. Bagi yang tidak piket mengerjakan tugas yang lain yang bisa dikerjakan. Begini tiap harinya karena rutinitas pesantren, seperti pembacaan kitab dan lain sebagainya itu dimulai sehabis shalat maghrib sampai selesai. Untuk kegiatan habis maghribnya adalah pengajian kitab, yasin dan tahlil. Untuk kitab yang dibaca disini antara lain kitab Fathul Qorib, Ta’lim Muta’allim, Irsyadul Ibad, dan lain sebagainya. Untuk Fathul Qorib dan Ta’lim biasanya di baca oleh KH. Khafidz sendiri, sedangkan yang Irsyadul Ibad dibaca oleh Ustadz Abdi Wahab. Pengajian berlangsung singkat hanya sampai waktu isya’ tiba kemudian dilanjutkan dengan shalat jama’ah bersama-sama dan setelah itu istirahat sampai pukul 20.00 WIB. Pada pesantren Bendan ini untuk mengklasifikasikan jenis santri sesuai dengan kemampuan dan tingkatannya sudah di bagi menjadi kelas takhassus I, II, dan III. Pengajian kelas ini dilangsungkan dari pukul 20.00 – 20.45 WIB. Di mana setiap kelasnya sudah ditentukan kitab-kitabnya masing-masing. Bagi jenjang takhasus I kitab yang dipelajari memuat kitab Akhlak Lil Banin juz I bidang akhlak, Safinah an-Najah bidang fiqih, Targhib wa Tarhib bidang hadits, Aqidatul Awam bidang tauhid, Syifa’ul Jinan bidang tajwid, Khulasoh Nurul Yaqin bidang tarikh, Qowa’id al-I’lal pada bidang I’lal, Jurumiyah bidang nahwu, dan Amtsilah al-Tashrifiyyah pada bidang shorof.

96

Sedangkan jenjang takhasus II tidak berbeda jauh, hanya berbeda pada bidang fiqih, tauhid dan tajwidnya. Pada takhasus II ini bidang fiqihnya mempelajari Sulam Taufiq, bidang tauhidnya Durusul Falaqiyyah juz 1-2, dan bidang tajwidnya mempelajari Hidayatul Mustafid. Begitu juga pada jenjang Takhasus III jenis kitabnya sama dengan apa yang dipelajari pada Takhasus II.44 Meskipun demikian, sebenarnya dari tahun ke tahun pesantren Bendan sudah menunjukkan peningkatan dari sebelumnya. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Buya (panggilan KH. Khafidz) pada saat peneliti temui di ndalem yang mengatakan bahwa ciri khas dari pesantren Bendan kini giat dalam meningkatkan pembacaan rotib-rotib dan sholawat Asnawiyah. 45 3. Kurikulum a. Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat Peraturan yang sangat ketat dan kegiatan yang padat menjadi ciri khas dari pesantren. Kegiatan belajar mengajar secara formalitas dimulai sejak subuh hingga menjelang malam. Ketika rutinitas dimulai dengan setoran hafalan pada KH. Mc. Ulin Nuha Arwani yang dimulai dari ba'da Subuh bagi para khotimin yaitu santri yang telah mengikuti ujian akhir/masalan. Sementara bagi santri yang sudah menyetorkan hafalan minimal 20 juz kepada KH. Ulil Albab Arwani Selanjutnya jam wajib madrasah pagi. Kegiatan ini dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00 WIB. Di ampu oleh ustadz yang telah ditunjuk dan dilaksanakan di kelas sesuai dengan tingkatannya

Dokumen kegiatan PP. Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus yang peneliti peroleh pada tanggal 21 Januari 2011. Hasil wawancara dengan KH. Moch. Khafidz Asnawi pengasuh PP. Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kudus pada tanggal 20 Januari 2011.
45

44

97

masing-masing. Penentuan jenjang kelas didasarkan pada jumlah juz yang telah disetorkan kepada KH. Ulil Albab Arwani.46 Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel di bawah ini: Tabel 3.2. Daftar Mata Pelajaran PTYQ Kajeksan Kudus a. Al-Qur’an 30 Juz 1. Hafalan 2. Tajwid 3. Makhroj 4. Ilmu Tafsir b. Al-Qur’an dengan Qiro’ah Sab’ah 1. Hafalan 2. Tajwid 3. Makhroj c. Ilmu Syari’ah 1. Haqq al-Tilawah (ilmu tajwid) 2. Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an (ilmu al-Qur’an) 3. Faidl al-Barakat fi Sabil al-Qira’at (ilmu tajwid) 4. Al-Itqon fi Ulum al-Qur’an (ilmu al-Qur’an) 5. Tafsir al-Jalalain (ilmu tafsir) 6. Kasyifah al-Saja (ilmu fiqih) 7. Bidayah al-Hidayah (ilmu akhlak) 8. Nasha’ih al-Ibad.(ilmu akhlak).47 Dari sejumlah komponen pelajaran di atas, implementasinya tergantung dari tingkat keahlian dari santri. Bagi santri yang masih
Hasil Wawancara dengan Ahmad Chasan sekretaris PP. Tahfidz Yanbu’ul Qur’an pusat Kajeksan Kota Kudus pada tanggal 19 Januari 2011.
47 46

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 173.

98

pemula, maka diajurkan duduk di kelas persiapan A yang mempelajari makhroj, tahsin dan bin nadhor. Selanjutnya jika agak lebih mahir, maka bisa beranjak pada jenjang berikutnya, yaitu kelas persiapan B yang ditargetkan mampu menghafal al-Qur’an dari juz 1 – 8. Sementara santri yang sudah lebih menghafal dari 8 juz ke atas, maka naik tingkat ke kelas 1 yang harus menghafal al-Qur’an juz 9 – 14. Kemudian bagi santri yang sudah mengantongi juz 15 – 23 naik jenjang pada tingkatan kelas 2. Selanjutnya bagi santri yang sudah hafal juz 23 – 30, maka ia berhak lulus dari kelas 3. Dan tingkatan terakhir yakni kelas mudarosah yang diperuntukkan bagi santri yang sudah khatam dan sudah lulus tes kelas yang mampu membaca alQur’an 30 juz bil ghaib.48 Dengan adanya ketentuan ini yang disesuaikan dengan kelas dan kemampuan masing-masing santri, kurikulum pesantren PTYQ dapat dijalankan dengan baik. Meskipun jika diamati perilaku masingmasing santri sebagian ada yang masih merasa keberatan, bahkan sebagian juga mengalami kendala kesulitan untuk naik tingkat pada jenjang selanjutnya. Hal ini disebabkan karena metode menghafalnya yang masih terkesan manual. Oleh karena itu, perlu diadakan terobosan baru tentang metode menghafal yang secara teknis dapat mempermudah hafalan para santri. b. Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin Semua santri yang tercatat di pesantren MUSYQ Lil banin hampir semua merangkap sekolah di Madrasah TBS pada pagi harinya. Oleh sebab itu, rangkaian kurikulum di pesantren ini pun menyesuaikan dengan kegiatan yang ada di madrasah tersebut.

Profil pondok PTYQ pusat Kajeksan Kota Kudus yang peneliti peroleh pada tanggal 20 Januari 2011.

48

99

Pemaparan di bawah ini tidak bermaksud untuk menjelaskan kurikulum yang ada di madrasah TBS, melainkan tertentu pada kurikulum pesantren meskipun masih dalam satu manajemen yakni manajemen Yayasan Arwaniyah. Oleh karenanya, kegiatan pesantren dilaksanakan pada sore harinya dan malam hari. Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel di bawah ini: Tabel 3.3. Daftar Materi Pelajaran Pesantren MUSYQ Kwanaran Kudus a. Al-Qur’an 1. Seni baca Al-Qur’an 2. Musyafahah Al-Qur’an 3. Khataman Al-Qur’an 4. Ilmu Tafsir a. Ilmu Syari’ah 1. Ta’lim al-Muta’allim (ilmu akhlak) 2. Sullam al-Taufiq (ilmu fiqih) 3. Fath al-Qorib al-Mujib (ilmu fiqih) 4. Fath al-Mu’in (ilmu fiqih) 5. Tahrir (ilmu fiqih) 6. Minhaj al-Qowim (ilmu fiqih) 7. Mudzakiroh (ilmu tajwid) 8. Al-Jurumiyyah (ilmu alat) 9. Syarh ‘Ibn ‘Aqil ‘Ala Alfiyah Ibn Malik (ilmu alat) 10.Jauhar al-Maknun (ilmu balaghoh) b. Pengajian Ekstra 1. Simthut Duror 2. Adz-Dziba’ 3. Al-Barjanji

100

4. Taqror Alfiyah 5. Sorogan kitab kuning 6. Musyawaroh kitab 7. Mukhafadzoh Alfiyah 8. Pengajian dialogis fiqh ubudiyyah 9. Pengajian yasin dan tahlil 10.Bimbingan belajar (6 MTs dan 9 MA)49 Dari pelajaran yang dipaparkan di atas, pesantren MUSYQ memang dengan sengaja memadatkan jam pelajaran, khususnya pada pengajian kitab-kitab salaf karena di waktu pagi para santri sudah mendapat materi umu di madrasa. Sehingga di pesantren hanya sebagai suplemen pengetahuan atau sebagai penyeimbang bagi pengetahuan santri. Kebijakan diatas tidak mengurangi prioritas pihak pesantren untuk tetap fokus pada pengajaran agama dengan menekankan pada aspek faqih dalam amaliyah. Maka tidak heran komposisi kitab fiqih diperbanyak. Di samping itu juga diadakan pengajian dialogis mengenai masalah fiqih ubudiyyah menyangkut tentang pemahaman santri terhadap teks-teks fiqih yang telah mereka pelajari di pesantren. Dalam upaya menuju pada visi pesantren yang telah ditetapkan, yakni fashih dalam tilawah dan faqih dalam amaliyah, maka dengan sengaja kurikulum pesantren ini mengkombinasikan antara ilmu alQur’an dan ilmu-ilmu syari’at. Upaya ini juga diimbangi dengan materi pelajaran Alfiyah untuk memberi bekal terhadap para santri untuk memahami teks-teks kitab kuning yang tiap-tiap harinya dipelajari oleh santri.

49

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 176.

101

c. Pesantren Raudlatuth Tholibin Secara umum, pesantren ini termasuk lembaga pendidikan Islam yang memberikan pengajaran ilmu syari’ah yang pada implementasinya dilakukan dengan pelaksanaan pengajian kitab yang dilaksanakan setiap ba’da maghrib hingga Isya’ dan mengaji al-Qur’an setiap ba’da shubuh.50 Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel di bawah ini: Table 3.4. Daftar Mata Pelajaran Pesantren Roudlatuth Tholibin Kerjasan Kudus a. Al-Qur’an 1. Tajwid 2. Mudarosah b. Ilmu Syari’ah 1. Al-Jurumiyyah (ilmu alat) 2. Al-Amtsilah al-Tashrifiyyah (ilmu alat) 3. Fath al-Qorib al-Mujib (ilmu fiqih) 4. Majmu’ al-Ahkam al-Syar’iyyah (ilmu fiqih) 5. Sullam al-Taufiq (ilmu fiqih) 6. Syu’ab al-Iman (ilmu tauhid) 7. Tijan al-Durari (ilmu tauhid) 8. Ta’lim al-Muta’allim (ilmu akhlak) 9. Al-Ushfuriyyah (ilmu akhlak) 10.Bidayah al-Hidayah (ilmu akhlak) c. Pengajian Ekstra 1. Pembacaan surat al-Kahfi setiap malam jum’at
50

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 163.

102

2. Al-Barjanji 3. Pengajian yasin dan tahlil 4. Khitobah setiap malam jum’at 5. Mukhafadzoh surat-surat pendek d. Ilmu Hikmah 1. Sholawat Asnawiyah 2. Syi’ir nasihat KHR. Asnawi 3. Rotib lil-Imam Umar Abdurrohman al-Atthos 4. Rotib Al-Syahir lil-Imam al-Habib Abdillah bin Alwi AlHaddad 5. Wirid al-Lathif lil-Imam Abdillah bin Alwi al-Haddad 6. Wirid al-Imam Ali bin Abi Bakar Al-Syaqofi.51 Kurikulum pesantren Roudlatuth Tholibin ini pada mulanya menekankan pada pengajaran ilmu-ilmu syari’at, terutama ilmu tauhid. Hal ini merupakan peninggalan dari KHR. Asnawi yang memang dari segi keahlian kapabel mengenai ketauhidan. Namun, kurikulum pesantren ini semenjak diasuh oleh KH. Moch. Khafidz Asnawi terjadi penambahan pelajaran, yakni mengenai ilmu hikmah yang bertujuan untuk membina akhlak para santri. Terbilang cukup banyak ilmu-ilmu hikmah yang diajarkan pada pesantren ini. Bahkan sholawat, rotib dan wirid di atas menjadi kegiatan harian yang dilakukan oleh para santri. Meskipun begitu, sebenarnya yang menjadi penekanan pihak pesantren adalah terutama pembacaan syi’iran nasihat KHR. Asnawi. Syi’iran nasihat ini bagi pesantren Bendan secara khusus dan bagi masyarakat Kudus secara umum mempunyai nilai historis yang mendalam. Degradasi moral yang terjadi saata itu ditentang oleh KHR. Asnawi melalui syi’iran ini.
51

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 163.

103

nasihat-nasihat lunak mengenai kemuliaan manusia, sifat-sifat kotor manusia yang menjadi penghalang dirinya dengan Tuhan-Nya, dan lain sebagainya. Bahkan KHR. Asnawi dalam syi’iran ini tidak ridlo jika ada keluarga dan santri ada yang merokok bagi laki-laki, dan susuran bagi santri perempuan. Hal ini dimaksudkan karena takut jika mulutnya “penceng” dan perot” dan “susure ngelewer metu mecotot”. Untuk lebih jelasnya, pada lampiran akan dipaparkan teks asli dan arti dari syi’iran nasihat KHR. Asnawi tersebut. Di jadikannya syi’iran nasihat ini sebagai salah satu materi yang ditekan oleh pesantren Bendan menjadikan keunikan dan ciri khas tersendiri dari pada pesantren-pesantren lainnya di Kudus. Dalam pada itu, kandungan dalam syi’iran secara tersirat mencerminkan kepribadian harapan KHR. Asnawi kepada santri-santrinya sampai ke generasi sekarang dan selanjutnya. 4. Pola Pembelajaran a. Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat 1) Musyafahah (face to face) Dalam prakteknya metode ini dijalankan melalui tiga macam cara, yakni : - Ustadz membaca, santri mendengarkan dan sebaliknya, - Ustadz membaca, santri cuma mendengarkan, - Santri membaca, ustadz mendengarkan. 2) Resitasi Metode resitasi dilakukan dengan memberikan tugas kepada santri untuk menghafal beberapa ayat atau halaman mushaf sampai benar-benar hafal untuk kemudian dibacakan dihadapan guru pada pertemuan selanjutnya.

104

3) Taqrir Merupakan metode yang cara kerjanya menghafal dengan cara mengulang-ngulang, sebelum kemudian dibacakan di hadapan guru. 4) Mudarasah Adalah sebuah metode di mana semua santri menghafal secara bergantian dan berurutan (estafet), satu santri menghafal didengarkan santri lainnya, dan begitu seterusnya. Dalam prakteknya, metode ini dilaksanakan melalui beberapa cara, yakni mudarasah ayatan (per ayat), per halaman (mushaf yang digunakan adalah mushaf pojok, setiap pojok halaman adalah akhir ayat), dan perempatan (per seperempat juz).52 b. Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin 1) Mbalah Mbalah merupakan sebuah istilah di kalangan pesantren yang bermaksud untuk menamakan sebuah pengajian umum yang diikuti oleh semua santri tanpa membedakan tingkatan kelas pendidikan formal mereka. Metode ini dilaksanakan hanya bagi pondok di mana para santrinya juga merangkap sebagai siswa/I madrasah atau sekolah formal. 2) Musyafahah Metode musyafahah bagi pondok MUSYQ ini diperuntukkan bagi santri yang mempelajari al-Qur’an. Tidak semua santri di pondok ini tertuntut untuk mempelajari al-Qur’an mengingat jadwal harian mereka sudah terpenuhi oleh kegiatan di madrsah atau sekolah formal.

52

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 173.

105

3) Sorogan hafalan Alfiyah Berbeda dengan pondok lain yang memberlakukan al-Qur’an, pondok MUSYQ ini melaksanakan sorogan bagi santri yang menghafal nadhom Alfiyah Ibnu Malik (kitab nahwu dalam bentuk 1002 bait sya’ir). 4) Musyawaroh Metode ini digunakan dalam kegiatan kajian secara mendalam terhadap permasalahan agama (masa’il diniyyah) dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya.53 c. Pesantren Raudlatut Tholibin 1) Sorogan Metode sorogan diterapkan pesantren Raudlatut Tholibin dengan fokus pada kajian kitab-kitab tauhid dan fiqh sesuai dengan tingkatannya masing-masing yang dilakukan sehabis maghrib. 2) Wetonan Selain sorogan, metode wetonan pun juga diterapkan pada hari-hari tertentu. Melihat kitab yang dibaca oleh pengasuh, pesantren ini melalui wetonan menekankan pada kajian fiqh dengan dibacakannya kitab Fath al-Qorib. 5. Sistem Penyelenggaraan Pendidikan a. Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat Dalam proses penyelenggaraan pendidikan, PTYQ belum menyelenggarakan sistem madrasah secara formal, namun sudah menerapkan sistem kelas sebagai sarana untuk untuk mencapai tujuan yang dicapai. Sistem kelas yang dilaksanakan oleh PYTQ tergantung oleh kompetensi para santri di bidang al-Qur’an. Untuk pemula disiapkan kelas persiapan A dan B, selanjutnya masuk pada kelas 1, 2,
53

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 174.

106

dan 3 serta sebagai penyempurnaannya dibuka kelas mudarosah bagi para khotimin.54 Sistem kelas yang diterapkan oleh PTYQ semata-mata untuk mempermudah para santri untuk memahami dan menghafal al-Qur’an sehingga materi pelajaran diniyyah sebagaimana termuat di kitab-kitab klasik belum diajarkan pada kelas-kelas tersebut. Bahkan menjadi ekstra kurikuler dalam sistem pendidikannya. Pendidikan umum pun sebagaimana yang sudah diterapkan oleh pendidikan formal belum diterapkan. Penyelenggaran pendidikan PTYQ meskipun sudah dilengkapi dengan sistem klasikal, namun tidak memperbolehkan para santri untuk mengikuti pendidikan formal yang ada di luar pesantren. Jam keluar masuknya santri pun dibatasi dan oleh kalangan santri-santri tertentu saja. Bagi santri yang tidak berkepentingan tidak boleh untuk keluar dari dari pesantren tanpa ijin dari pengasuh.55 b. Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin Pesantren MUSYQ dalam penyelenggaraan pendidikannya cenderung ingin menyeimbangkan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Oleh karena itu, semua santri tidak terkecuali kalau pagi mengikuti madrasah formal sendiri, yakni TBS. Sedangkan sore harinya mengikuti kegiatan pesantren. Kegiatan pesantren pun menyesuaikan dengan kagiatan yang ada di madrasah.56 Dalam melaksanakan perannya, K.H. Arifin Fanani sebagai pengasuh di bantu K.H. Hasan Fauzi dan 9 ustadz pesantren, di
Profil pondok PTYQ pusat Kajeksan Kota Kudus yang peneliti peroleh pada tanggal 20 Januari 2011. Disarikan dari undang-undang tata tertib PTYQ pusat yang peneliti peroleh pada tanggal 20 Januari 2011. Hasil observasi peneliti di PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus pada tanggal 19 Januari 2011.
56 55 54

107

antaranya Ustadz Subhan, Ustadz H. Amin Yasin, dan lain sebagainya. Dengan jumlah santri pada tahun ini telah mencapai 204 santri dalam sistem penyelenggaraan pendidikannya dilakukan secara klasikal dengan cara membagi atau mengelompokkan santri berdasar tingkatan kelas di madrasah TBS, yang biasanya mencapai 5 kelompok, dan masing-masing kelompok di bimbing oleh seorang guru yang bisa mengampu 3 mata pelajaran. Materi yang diberikan pun disesuaikan dengan materi yang para santri peroleh dari madrasah.57 c. Pesantren Raudlatuth Tholibin Sementara di pesantren Raudlatut Tholibin dalam sistem penyelenggaraan pendidikan memperbolehkan semua santri untuk mengikuti pendidikan formal di luar pesantren. Sebagaian besar para santri yang ada di pesantren tersebut menjadi siswa di madrasah Qudsiyyah dan sebagiannya yang lain ada di TBS, SMA 1 Kudus, SMK Ma’arif, dan SMK al-Ma’ruf.58 Sebagai pengasuh, K.H. Moch Hafidz Asnawi bersikap terbuka kepada semua santri mau mengikuti pendidikan formal di mana saja, asalkan setiap sore dan malamnya tetap mengikuti kegiatan yang di laksanakan pesantren.59 Penyelenggaraan pendidikan di pondok ini, secara keilmuwan cenderung menekankan pada aspek tauhid, fiqh, nahwu, shorf, dan akhlak. Kitab-kitab salaf pun diajarkan di sana. Di antara berbagai fan disiplin ilmu tersebut, sebagaimana apa yang diwariskan oleh

57 58

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 176. Hasil wawancara dengan Mas’ud, pengurus PP. Raudlatuth Tholibin pada tanggal 20 Januari

2011. Hasil wawancara dengan K.H. Moch. Khafidz Asnawi, pengasuh PP. Raudlatuth Tholibin pada tanggal 20 Januari 2011.
59

108

pendahulunya, yakni KHR. Asnawi, lebih sangat menekankan pada aspek akhlak dalam membina kepribadian santri.60 Penyelenggaraan pendidikan seperti di atas pada umumnya di wujudkan dengan penekanan pada shalat berjama’ah. Wajib hukumnya di pesantren ini untuk aktif melaksanakan jama’ah lima waktu sehari semalam. Setelah jama’ah, wajib pula bagi santri untuk mengikuti membaca wirid dan rotib bersama pengasuh. Di antara jenis wirid yang sangat di tekankan dan dilanggengkan adalah wirid al Imam Ali bin Abi Bakar al-Shaqofy dan Wirid al-Lathif lil Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad. Sementara rotibnya memakai rotib Al-Syahir lil imam al-Habib Abdillah bin Alawy al-Haddad dan rotib al-Imam Umar bin Abdurrohman al-Attos. Keempat jenis wirid dan rotib tersebut secara bergiliran selalu di senandungkan oleh para santri bersama pengasuh selama habis shalat fardlu.61 D. Fenomena Kudus Sebagai Pesantren Terbuka Bisa dikatakan sebagai sebuah pondok pesantren, menurut Zamachsjari jika sudah memenuhi 5 unsur, yakni pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kyai. Berbagai tipologi pun disusun untuk melihat berbagai perkembangan yang muncul di dunia pesantren. Tujuannya tidak lain untuk mengkategorisasikan jenis-jenis model pesantren menurut tipenya sehingga mudah untuk diklasifikasikan. Masing-masing kategori yang sudah terklasifikasi dimaksudkan untuk melihat realitas secara objektif unsur-unsur apa dalam pesantren yang belum terpenuhi. Dari 86 pesantren di Kudus, jika merujuk pada 5 unsur yang diuraikan oleh Zamachsjari, maka tidak semuanya pesantren di Kudus dapat disebut
60 61

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 162-163.

Di sarikan dari kumpulan dokumen-dokumen penting PP. Raudlatuth Tholibin yang peneliti peroleh pada tanggal 21 Januari 2011.

109

pesantren. Meskipun begitu, banyak juga pesantren yang sudah memenuhi unsur-unsur yang telah disebutkan. Kategori pesantren menurut jumlah santri biasanya terlaku dalam hal ini. Zamachsjari sendiri membagi jika jumlah santri kurang dari 1.000 orang, maka tergolong pesantren kecil. Santri sekitar 1.000 – 2.000 orang termasuk jenis pesantren menengah. Dan santri lebih dari 2.000 orang tergolong pesantren besar.62 Demikian, jika ditinjau dari jumlah santrinya. Namun, bukan berarti banyaknya santri yang ada dalam sebuah pesantren, banyak juga memberikan pengaruh terhadap masyarakat sekitar. Begitu juga sebaliknya, sedikitnya santri tidak berarti pengaruhnya sedikit terhadap kondisi masyarakat. Berbagai usaha serius dilakukan untuk mengkategorisasikan pesantren secara maksimal, supaya semua jenis pesantren yang ada, baik dari yang kecil sampai besar tergolong di dalamnya. Bukan hanya tipologi ari Kemenag RI, Zamachsjari Dhofier, A. Qodri A.Azizy maupun dari Haidar Putra Daulay. Masih banyak tipologi-tipologi yang lain yang tidak sempat dijelaskan dalam skripsi ini. Usaha memberikan tipologi ini oleh para cendekiawan patut dihargai dan harapannya dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan pesantren ke depan. Dalam konteks pesantren Kudus, berdasar pada tipologi yang ada, meskipun banyak pesantren-pesantren besar dan diasuh oleh kyai besar pula, namun fenomena secara bersamaan mampu menunjukkan kebesaran kyai namun tidak mempunyai pondokan. Tentu saja realitas ini tidak memenuhi kriteria pesantren sebagaimana yang dikembangkan oleh Zamachsjari yang terdiri dari 5 unsur tersebut. Kebesaran sosok kyai (bahkan dikatakan kharismatik) ini banyak bermunculan di Kudus. Menurut data dari Central Riset dan Manajemen Informasi Kudus, setidaknya nama-nama seperti K.H. Sanusi (Alm), K.H. Abdul Djalil Hamid (Alm), K.H. Turaichan Adjhuri Es62

Zamachsjari Dhofier, Studi Pandangan, hlm. 45.

110

Syarofi (Alm), K.H. Ma’ruf Asnawi, K.H. Sya’roni Ahmadi adalah yang sering disebut-sebut sebagai para ulama’ kharismatik yang memunculkan fenomena pesantren terbuka.63 Para ulama di atas memilki basis santri yang tidak sedikit, baik dari daerah sendiri maupun dari luar daerah. Pengajian yang diberikan pun lebih berkesan sehingga semakin menambahkan kecintaannya pada Islam. Unsur masjid, sebagai tempat ibadah yang juga sekaligus berfungsi sebagai basis kegiatan dakwah menjadi nyata dan selalu lekat dengan kyai. Sebagaimana K.H. Sya’roni Ahmadi, dan para pendahulunya memberfungsikan masjid AlAqso Kudus sebagai tempat pengajian dan jenis dakwah yang lainnya. Sementara pondokan, meski dalam konteks keumuman itu penting adanya, apalagi jika melihat keadaan santri yang datang dari tempat yang jauh, namun jika melihat pada realitas pesantren terbuka ini, maka unsur pondokan ini yang dapat pula dipandang sebagai hanya tempat tinggal santri saja yang tidak mesti ada. ____________

63

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 29.

111

BAB IV POTRET TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM Dalam rangka menjadikan pendidikan pesantren sebagai pendidikan alternatif, tentu saja pesantren tidak boleh terbutakan oleh beragam persoalan yang saat ini sedang menantang, bahkan mengancamnya. Sistem pendidikan yang masih belum tertata rapi, penyempitan orientasi kurikulum, pola pembelajaran yang masih konservatif, dan tantangan yang datang dari pendidikan formal masih saja terus membayangi gerak lajunya pembaharuan pesantren. Sebagai lembaga pendidikan pendidikan Islam tertua, agaknya pesantren gelimpangan menghadapi berbagai persoalan tersebut. Demikian, menjadikan respons pesantren masih cenderung setengah hati dalam menyikapinya. Penerapan sistem madrasah dan perpaduan ilmu agama dan umum menjadi contoh dalam hal ini yang pada realitanya ternyata semakin mengaburkan nilai-nilai asasi yang selama ini dianutnya. Benarkah demikian pada pesantren di Kudus? Berdasarkan hasil penelitian pada pembahasan sebelumnya, maka di bawah ini secara objektif akan dianalisis kondisi pesantren yang dimaksud. A. Dinamika Pembaharuan Pesantren di Kudus Sikap dunia pesantren dalam menghadapi perubahan bisa dikatakan bervariasi. Kenyataan ini ditunjukkan dari beberapa pesantren yang ada di Kudus yang mengadakan pembaharuan, baik pada aspek sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran dan bahkan sebagian ada yang mampu meresponnya dengan menyelenggarakan pendidikan formal di bawah naungan pesantren. Masing-masing punya ukuran dan langkah tersendiri dalam menggapai tujuan pendidikan sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan oleh pesantren. Sebagaimana yang telah dituturkan oleh Mahfud Junaedi, bahwa tidak ada konsep

112

yang mutlak rasional yang dapat diterapkan di pesantren. 1 Di samping faktor sejarah pertumbuhan yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena terdapat keunikan tersendiri pada tubuh pesantren ini yang tidak didapati di lembaga pendidikan yang lain. Misalnya, sejarah pertumbuhan Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) pada awalnya diasuh oleh KH. M. Arwani Amin pada tahun 1942 hanya bermaksud mengadakan pengajian rutin di sebuah masjid, lalu akhirnya berkembang menjadi pesantren besar. Beda halnya dengan pesantren MUSYQ yang pada awal berdirinya hanya diperuntukkan pada anak-anak usia 6-7 tahun, namun antusias masyarakat yang kuat akhirnya dialih orientasikan bagi anak-anak yang masih menduduki jenjang pendidikan formal MTs – MA. Begitu juga pada pesantren Roudlotut Tholibin yang pada sejarahnya menolak atas apa yang ditawarkan oleh Barat (westernisasi), namun pada perkembangannya pesantren ini sedikit mau berbenah diri dengan memberikan kebebasan pada santri untuk melanjutkan pendidikan formalnya pada sekolah-sekolah di luar pesantren dengan syarat masih menetap di pondok. Memang pada awalnya peran kyai pesantren menjadi sentral bagi poros pembaharuan yang berlangsung, karena disamping kharisma yang begitu kuat, dalam hal ini pesantren juga mengajarkan ilmu thariqat dalam membimbing masyarakat menuju kebahagiaan akhirat. Di bukanya pendidikan formal pun turut mendukung pendidikan santri yang bukan hanya ahli dalam bidang agama saja, melainkan juga pengetahun umum pun para santri diharapkan mampu menguasainya. Kebesaran pondok Yanbu’ul Qur’an yang mampu membuka cabang-cabang itu juga peran dari kepemimpinan kyai. Dalam sejarahnya, KHM. Arwani merupakan ketua Thariqat Mu’tabaroh Nahdliyin yang Thariqat Khalidiyyah. Oleh

Mahfud Junaedi, Ilmu Pendidikan Islam : Filsafat dan Pengembangan, (Semarang : RaSAIL Media Group, 2010), cet. I, hlm. 169.

1

113

karena itu, perkembangan pesantren selama ini juga mendapat dukungan penuh dari jama’ah thariqat tersebut. begitu juga dari pesantren Roudlatuth Tholibin Bendan yang mendapat dukungan dari pesantren Sarang karena sebagian besar pengurus dan pengasuhnya sendiri berasal dari pondok Sarang tersebut. Keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum ini sejatinya bukan menunjukkan ada dikotomi keilmuwan santri pesantren, melainkan membuktikan pesantren tidak lagi lembaga tradisional, kolot, dan resisten terhadap perkembanga dan perubahan. Ia bukan lagi lembaga pendidikan yang terisolasi dari lembaga pendidikan nasional, melainkan turut mendukung apa yang menjadi tujuan pendidikan tersebut. Hal ini menujukkan sistem pendidikan yang asalnya sentralistik menjadi desentralistik melihat kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang. Sehingga pengembangan dan pembaharuan pengajaran dan pendidikan pesantren tidak lagi bergantung pada kerelaan sang kyai, akan tetapi melihat kebutuhan dan realitas yang ada di masyarakat. Demikian, perbedaan pada tubuh pesantren ini secara bersamaan ternyata menunjukkan sistem yang digunakan pada sebuah pesantren juga diterapkan di pesantren lain. Maka, untuk menggolongkan sikap kebanyakan pesantren tersebut sangatlah sulit. Dinamika pembaharuan pesantren pun tak dapat dihindari karena tidak adanya parameter yang jelas dan baik dalam menjawab pola pembaharuan masing-masing pesantren. Hal ini semakin menguatkan statement mengenai keunikan pesantren sebagai subkultur tanpa kehilangan watak adaptif dan dinamisnya dengan dunia luar. Di antara keunikan yang muncul pada pesantren di Kudus antara lain : - Kapasitas pesantren tradisional salafiyah, namun mampu menyelenggarakan pendidikan formal dimana-mana sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini terbukti oleh apa yang dilakukan PTYQ pusat. - Semangat egaliterian yang bernafaskan pendidikan Qur’anic, seperti PTYQ pusat yang sistem pendidikannya kurang lebih selama 38 tahun yang melandaskan pada al-Qur’an Surat Al-Isra’ : 90.

114

- Sistem komunikasi antar pesantren masih kuat, terbukti dengan penamaan pesantren MUSYQ dari nama pesantren MUS di Sarang. - Sebagian besar pesantren masih menghidupkan nilai-nilai lama pesantren, seperti kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan. - Hubungan kyai-santri yang terbilang cukup akrab sehingga kebanyakan kyai sudah menganggap santrinya adalah anak sendiri, begitu juga sebaliknya. Pesantren yang pada awalnya hanya memberikan pendidikan trio-ilmu agama (arab, tauhid dan fiqih) saja dan masih berupa halaqoh-halaqoh, kini tumbuh dan berkembang beriringan dengan kebutuhan masyarakat. Uniknya, perubahan yang terjadi tidak mengubah tujuan awal pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang tetap mengajarkan ilmu-ilmu salaf. Pada garis besarnya, beberapa pesantren di Kudus sudah menunjukkan pola pembaharuan dan menemukan hakikatnya sesuai yang dikehendaki. Dinamika pada tubuh pesantren Kudus jika diadakan penelusuran lebih lanjut, maka akan ditemukan orientasi pendidikan perspektif pembaharuan. Di antara orientasi tersebut menurut peneliti adalah : 1. Sistem Pendidikan Sepanjang Waktu (Full Day Learning) Paradigma pendidikan pesantren yang telah terbangun sejak abad pertengahan, dengan mengkaji dan mempelajari teks-teks keagamaan dengan metode hafalan, bersifat mekanis, mengutamakan pengkayaan materi, sudah harus ditinggalkan untuk menuju paradigma baru pendidikan. Perlu dimengerti bahwa pendidikan pesantren bukan hanya kegiatan untuk mewariskan harta kebudayaan dari generasi terdahulu kepada generasi penggantinya yang hanya memungkinkan bersifat reseptif, pasif, menerima begitu saja. Akan tetapi pendidikan pesantren harus berusaha mengembangkan dan melatih para santri

115

untuk lebih bersifat direktif, mendorong agar selalu berupaya maju, kreatif dan berjiwa membangun.2 Pendidikan pesantren di Kudus sudah berorientasi kepada pembangunan dan pembaruan, pengembangan kreativitas, intelektualitas, keterampilan, kecakapan penalaran yang dilandasai dengan “keluhuran moral” dan “kepribadian”, sehingga pendidikan tersebut akan mampu mempertahankan relevansinya di tengah-tengah laju pembangunan dan pembaharuan paradigma sekarang ini. Harapan yang akan diwujudkan, pesantren akan melahirkan manusia yang belajar terus (long life education), mandiri, disiplin, terbuka, inovatif, mampu memecahkan dan menyelesaikan berbagai problem kehidupan serta berdayaguna bagi kehidupan dirinya dan masyarakat karena pada prinsipnya belajar di pesantren adalah cerminan dari pola pendidikan sepanjang waktu. Sebagaimana peran PTYQ pusat yang dilengkapi geduang aula sebagai tempat belajar dengan koleksi kitab 150 eksemplar mencoba mengarahkan, membimbing, dan mendidik para santri untuk terus belajar kapan pun dan di manapun. Tak ubahnya untuk menuju pada tujuan tersebut dibentuklah sebuah organisasi yang bertugas menjaga kestabilan pendidikan pesantren. Organisasi PYYQ pusat ini di asuh langsung oleh KH. Mc. Ulin Nuha Arwani, beserta para kyai lainnya yang bertindak sebagai dewan pimpinan. Pengurus harian pun disusun untuk melengkapi kinerja pesantren. Selanjutnya departemendepartemen pun dibentuk sesuai dengan bidang dan ketegori kerjanya masingmasing. Di antara departemen yang dimaksud pada PTYQ pusat adalah bidang pendidikan, jam’iyah, keamanan, koperasi, pembangunan, kebersihan dan konsumsi. Masing-masing departemen bertugas sesuai dengan tata kerja yang
Dwi Priyanto, Inovasi Kurikulum Pesantren : Memproyeksikan Model Pendidikan Alternatif Masa Depan, Jurnal Studi Islam dan Budaya STAIN Purwokerto (vol. IV, No. 1, Januari/ 2006), hlm. 1
2

116

sudah disepakati. Departemen pendidikan misalnya, bertugas sebagai kordinator seluruh kegiatan pesantren yang seharusnya menjadi tanggung jawab kyai, seperti pengajian bandongan, sorogan, mudarosah, sima’an masal, dan lain sebagainya.3 Begitu juga pada pesantren MUSYQ dan Roudlatuth Tholibin, susunan organisasi sudah dirancang semaksimal mungkin dalam upaya mengcover semua kegiatan pondok agar berjalan optimal. Mencermati hal di atas, sebagaimana asumsi banyak pihak yang menuduhkan jika bentuk pendidikan pesantren yang hanya mendasarkan pada kurikulum “salafi” dan mempunyai ketergantungan yang berlebihan pada kyai tampaknya akan mengarah pada pemahaman Islam yang parsial karena Islam hanya dipahami dengan pendekatan normatif semata. Belum lagi output (santri) yang tidak dipersiapkan untuk menghadapi problematika modern, mereka cenderung bersikap pragmatis dari perkembangan yang ada. Namun, tidak begitu adanya ketika melihat orientasi pendidikan pesantren yang ada di Kudus. Sistem pendidikan yang ditanamkan, meski sebagian pesantren sudah menerapkan kurikulum nasional sebagai inti dari pembelajarannya, namun ia tidak meninggalkan nilai-nilai yang ada pada tubuh pesantren. Meskipun sudah menerapkan pelajaran umum, namun sistem pendidikan pesantren di Kudus nampaknya tetap menjaga prinsip-prinsip pendidikan pesantren yang selama ini dipegang teguh. Hubungan antara kyai-santri masih terbilang akrab sehingga memudahkan untuk menerapkan proses pembelajaran, kepatuhan santri pun tidak perlu diragukan lagi, kehidupan sederhana dan kebersamaan yang berorientasi pada kemandirian masih diterapkan, kedisiplinan yang tinggi dan keprihatinan para santri yang direalisasikan dengan tirakat di pesantren pun masih diakui sebagai upaya untuk memperoleh ilmu yang manfaat dan barokah.

Di sadur dari brosur struktur kepengurusan PP. Yanbu’ul Qur’an pusat. masa bhakti tahun 1430 – 1431 H

3

117

Jika kenyataannya demikian, pesantren pada tipe pertama (PTYQ pusat), hidup dan matinya sebuah pesantren bukan lagi hanya tergantung pada kebesaran kiainya yang sudah diakui oleh masyarakat, melainkan pada sistem pendidikan yang sudah diterapkan pada pesantren tersebut. Oleh karena itu, inovasi dalam penataan sistem pendidikannya perlu direalisasikan, yaitu merancang kurikulum yang mengacu pada tuntutan masyarakat sekarang dengan tidak meninggalkan karakteristik pesantren yang ada sebab kalau tidak, besar kemungkinan pesantren tersebut akan semakin ditinggalkan oleh para santrinya meskipun pengasuhnya tergolong sebagai kyai besar. Kemudian dalam bentuk pesantren yang tergolong tipe kedua (MUSYQ) dengan dilengkapi sistem pendidikan madrasah yang dipadukan antara pesantren dan sekolah perlu dikembangkan hubungan yang ideal antara keduanya. Kesadaran dalam mengembangkan bentuk kedua ini, tampaknya mulai tumbuh di kalangan umat Islam. Namun dalam kondisi riil, keberadaan pesantren yang telah mengadopsi kurikulum sekolah (madrasah), ternyata belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Perlu penekanan pada aspek rancang bangun keilmuwan santri yang masih banyak mengalami kendala sehingga hasilnya pun belum bisa dikatakan memuaskan. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah para santri terjebak pada aspek formalistik, yakni hanya berorientasi pada ijazah semata. Bagaimana tidak bangga mendapatkan dua ijazah sekaligus, baik di pesantren maupun di madrasah formal. Sebaiknya, upaya reorientasi sistem pendidikan dalam tipe kedua ini lebih menekankan pada upaya membentuk karakter santri yang benarbenar mempunyai kemampuan profesional serta berakhlak mulia. Sementara pada tipe ketiga (Roudlatuth Tholibin), para santri belajar di sekolah di luar pesantren yang tidak jauh dari pesantren, sehingga fungsi pesantren dalam hal ini hanya sebagai asrama bagi para santri. Kenyataan yang demikian, sangat mungkin sekali faktor kebesaran kyai sangat mempengaruhi maju dan mundurnya sebuah pesantren. Berbeda dengan tipe pertama, kultur

118

pesantren yang demikian menghendaki kyai sebagai pengasuh, pemilik dan pemimpin. Kedudukan sentral kyai pada pesantren jenis ini masih sangat penting karena sedikit banyaknya santri yang menetap itu masih dipengaruhi oleh figur bukan dari sistem pendidikan yang sudah diterapkan dari pesantren tersebut. Dalam pada itu, secara umum sistem yang telah diterapkan masih berorientasi pada pendidikan yang mementingkan aspek ilmu syar’i dan umum. Sebagian pesantren masih ada yang mempertahankan pola lama, sebagian sudah mampu mengintregasikan keduanya, dan sebagian lagi berpartisipasi pada pendidikan umum dengan mengikutsertakan para santrinya untuk menerima pendidikan dari luar pesantren. Hal ini menunjukkan perkembangan pesantren tumbuh secara dinamis, berangsur-angsur dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. 2. Komitmen Tafaqquh fi al-Din Sebuah perencanaan sistematis yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan lembaga pendidikan merupakan inti pengertian dari kurikulum. Sehingga kurikulum yang ada di pesantren pada dasarnya merupakan seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan sebuah pesantren tersebut untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang diidamkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tentunya sesuai dengan harapan para santri. Semangat mendidik santri dengan tauhid dan ilmu pengetahuan dengan dilengkapi dengan tilawah al-Qur’an, baik bil ghaib maupun bin nadlor masih menjadi tujuan kurikulum pesantren. Sehingga tak segan-segan, meskipun pada sebagian pesantren masih menerapkan kurikulum lokal, mereka memaksimalkan waktu sebaik mungkin dengan melakukan pengajaran dan pengajian, baik pengajian al-Qur’an maupun kitab-kitab salaf. Di samping itu, bagi pesantren yang mampu menyelenggarakan pendidikan formal, pada pagi harinya para santri bersekolah.

119

Pesantren besar, pesantren Yanbu’ul Qur’an, misalnya, di dalamnya telah berhasil menyelenggarakan madrasah formal, yakni pada jenjang MI, MTs dan MA. Terhitung ada 6 cabang yang menginduk pada pesantren tersebut. Di bawah ini ke enam cabang dari pesantren Yanbu’ul Qur’an, yakni sebagai berikut : Tabel 4.1. Data Pesantren Cabang Yanbu’ul Qur’an Kajeksan Kudus NO 1 Nama Pesantren Pesantren Tahfidz Anakanak Yanbu’ul Qur’an (PTAYQ) Putera 2 Ma’had Al-Ulumisy syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Putera 3 Ma’had Al-Ulumisy syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Puteri 4 Pesantren Tahfidz Remaja Yanbu’ul Qur’an (PTRYQ) 5 Pesantren Tahfidz Yatama Utsman bin Affan 6 Pesantren Tahfidz Anakanak Yanbu’ul Qur’an (PTAYQ) Puteri
Pesantren Kudus, 2005, hlm. 172.

Jenjang Pendidikan MI

Umur 6 – 12 th

Lokasi Krandon, Kota

MTs – MA

12 – 18 th Kwanaran, Kajeksan, Kota

MTs – MA

12 – 18 th Kerjasan, Kota

MTs – MA

12 – 18 th Bejen, Kajeksan, Kota

MI

6 – 12 th

Singopadon, Singocandi, Kota

MI

6 – 12 th

Sambeng Karangmalan g, Gebog

Sumber : Lembaga Penelitian Central Riset dan Manajemen Informasi (CeRMIN) Kudus, Profil

120

Deskripsi di atas sedikitnya menjelaskan bagaimana respon pesantren dalam menghadapi berbagai perubahan di sekelilingnya. Dalam menghadapi berbagai perubahan itu, para eksponen pesantren terlihat tidak tergesa-gesa mentransformasikan kelembagaan pesantren menjadi lembaga pendidikan modern Islam sepenuhnya, tetapi sebaliknya cenderung mempertahankan kebijaksanaan sehari-hari, mereka menerima pembaharuan (modernisasi) pendidikan Islam hanya dalam skala yang sangat terbatas, sebatas mampu menjamin pesantren bisa tetap survive. Pada kenyataannya dari cabang-cabang pesantrenYanbu’ul Qur’an tetap mempertahankan sistem tradisionalnya. Materi lokal pesantren tetap diajarkan meskipun di waktu sore dan malam. Demikian, waktu secara keseluruhan terbilang cukup padat. Dari mulai pagi, jama’ah shalat shalat shubuh sampai mudarosah di waktu malam. Khusus untuk Yanbu’ul Qur’an pusat, materi yang diajarkan mencakup penghafalan al-Qur’an 30 juz, qiro’ah sab’ah, dan pengajaran kitab salafi. 4 Di samping itu, banyak lagi rutinitas-rutinitas yang berkaitan dengan pembacaan nadzom dan lain sebagainya. Seperti pembacaan nailil muna, al-Barjanji, Bahtsul Masa’il Qur’aniyyah, dan lain-lain. Sedangkan di pesantren MUSYQ, secara kurikulum tidak jauh berbeda dengan Yanbu’ul Qur’an pusat karena memang dalam satu manajemen. Hanya saja yang di pesantren MUSYQ setiap paginya seluruh santri mengikuti pelajaran di madrasah formal TBS. Jika dilihat dari agenda mingguan, bulanan dan tahunan, pesantren MUSYQ agaknya lebih aktif dalam manajemen pemberdayaan santri. Sampai sekarang, terhitung santri di MUSYQ mencapai 204 orang yang kesemuaannya santri sekolah. Berbeda halnya dengan pesantren Raudlatuth Tholibin, caranya dalam menyikapi perubahan adalah dengan membuka diri dengan menerima santri

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005). 173.

4

121

yang sekaligus berkeinginan bersekolah di pendidikan formal luar pesantren. Sebagian ada yang di Qudsiyyah, SMA 1 dan lain sebagainya. Semua santri tersebar di beberapa sekolah formal di Kudus. Meskipun santri yang tidak terlalu banyak, pesantren ini sampai sekarang tetap gigih mengajarkan ilmuilmu salaf syar’iyyah, meliputi ilmu tauhid, fiqh, akhlak, nahwu dan shorof. Namun, optimalisasi dalam pesantren ini memang belum maksimal. Banyak kegiatan yang jarang diikuti oleh santri mukimnya sendiri. Hal ini dikarenakan manajemen kurikulumnya belum membingkai kebutuhan santri pada umumnya. Dengan demikian, berdasar pada kondisi objektif populasi pesantren di atas, cara yang dilakukan tiap pesantren dalam merespons pembaharuan ini bervariasi. Berkaitan dengan kurikulum, sikap mereka antara lain : 1. Kurikulum yang dirancang masih tetap bertujuan pada tafaqquh fi al-din, 2. Merevisi kurikulum dengan memasukkan sebagian mata pelajaran umum dan keterampilan umum sebagaimana yang diajarkan di madrasah formal, 3. Pesantren membuka kelembagaan dan fasilitas-fasilitas pendidikan bagi kepentingan pendidikan umum. 4. Memberikan kebebasan pada santri untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya asal tetap menempat di pesantren. Berbagai inovasi dilakukan oleh pesantren dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, baik pembenahan kurikulum maupun tambahan ketrampilan lainnya. Sebaiknya perlu diadakan pencermatan lebih lanjut akan munculnya pembaharuan pesantren ini karena bukan berarti tanpa dampak. Oleh karena itu, sebaiknya pesantren melakukan pembaharuan dengan mempertimbangkan konsekuensi logisnya. Artinya harus benar-benar selektif dalam menerima dan mengadopsi pola-pola dari luar, karena bisa jadi, pesantren yang tidak selektif dalam mengikuti perkembangan pembaharuan ini akan kehilangan ruh dan identitasnya sebagai lembaga pendidikan pesantren tradisional. Dalam hal ini, peneliti sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Zamachsjari Dhofier bahwa untuk memainkan peranan yang besar dalam ruang

122

lingkup nasional, pesantren-pesantren tidak perlu kehilangan kepribadiannya sendiri sebagai tempat pendidikan keagamaan. Terbukti aspek modernitas cepat terpadu dalam tradisi pesantren mencapai kuantitas 70% lembaga pesantren telah mengembangkan sekolah-sekolah dan sebagian mendirikan perguruan tinggi modern. Meskipun dalam konteks perguruan tinggi, belum ada pesantren Kudus yang merealisasikannya. Lebih lanjut Dhofier menyatakan masih banyak pesantren yang mengkhususkan pendidikan agama dan pengkajian kitab-kitab karangan ulama zaman klasik, yakni 30 % dari 21.521 pesantren.5 Meskipun demikian, pesantren Kudus tidak menutup diri, ia terbuka dalam mengikuti tuntutan perkembangan jaman. Fenomena pesantren sekarang yang mengadopsi pengetahuan umum untuk para santrinya, tetapi masih tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik merupakan upaya untuk meneruskan tujuan utama lembaga pendidikan tersebut, yaitu pendidikan calon ulama yang mengedepankan tafaqquh fi al-din. Kebanyakan pesantren yang ada, ia masih mempertahankan materi pendidikan pesantren yang sudah ada sejak dulu. Hanya saja ia mencoba memperbaharui metode yang dikembangkan, serta manajemen yang diterapkan dengan mengacu pada relevansi kemasyarakatan dan perubahan. Keberadaan pesantren yang demikian itu pantas dihargai karena pengkajian kitab-kitab klasik itu tetap penting agar terjadi perpaduan antara tradisi dan modernitas dengan paduan yang seimbang dalam membangun peradaban bangsa. Pesantren yang sudah menyelenggarakan pendidikan formal pun, dalam proses pencapaian tujuan institusional jangan terjebak hanya pada pencapaian ijazah semata. Oleh karena itu, tidak ada salahnya melakukan pentahapan sesuai dengan kompleksitas ilmu yang diajarkan pada jenjang kelas untuk

Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa, (Yogjakarta : Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm. 125.

5

123

mempermudah capaian formalistiknya. Jadi, ada tingkat awal, menengah dan tingkat lanjutan. Oleh karenanya, kurikulum pesantren dalam hal ini sebagai representasi dari pesantren Kudus dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) tipe, yakni a. Tipe I Pesantren yang dalam menjalankan realisasi programnya secara implisit menggunakan model kurikulum tidak tertulis, melainkan secara eksplisit memakai hidden currulum. Tipe demikian dapat ditemui pada pesantren Roudlatuth Tholibin dan pesantren lainnya yang termasuk pada tipologi C. b. Tipe II Pesantren yang sudah menerapkan kurikulum yang jelas dan sebagian besar sudah terencana secara sistematis. Tipe ini dapat ditemui pada pesantren MUSYQ dan pesantren lainnya yang termasuk pada tipologi B. c. Tipe III Pesantren yang pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku. Biasanya tipe ini sudah ada acuan yang dianggap sebagai kurikulum yang dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan di pesantren. Tipe ketiga ini modelnya seperti PTYQ pusat dan pesantren lainnya yang termasuk pada tipologi A. 3. Metodologi Transformatif Pada umumnya pembelajaran di pesantren mengikuti pola tradisional, yaitu model sorogan dan bandongan. Kedua model ini kyai aktif dan santri pasif. Secara teknis model sorogan bersifat individual, yaitu santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajari, sedangkan model bandongan (weton) lebih bersifat pengajaran klasikal, yaitu santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling Kyai menerangkan pelajaran secara kuliah dengan terjadwal.

124

Secara teknis, baik dengan model sorogan maupun bandongan dilakukan dengan pembacaan kitab yang dimulai dengan pembacaan tarjamah, syarah dengan analisis gramatikal, peninjauan morfologi dan uraian semantik. Kyai sebagai pembaca dan penerjemah, bukanlah sekadar membaca teks, melainkan juga memberikan pandangan-pandangan (interpretasi) pribadi, baik mengenai isi maupun bahasanya. Kedua model pengajaran ini oleh sementara pakar pendidikan dianggap statis dan tradisional. Meskipun sorogan dan bandongan ini dianggap statis, tetapi bukan berarti tidak menerima inovasi. Metode ini sebenarnya konsekuensi daripada layanan yang ingin diberikan kepada santri. Berbagai usaha dewasa ini dalam berinovasi dilakukan justru mengarah kepada layanan secara indivual kepada santri. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan seseorang. Oleh karenanya, pola pembelajaran demikian merupakan usaha transformasi pengetahuan kyai atau pun ustadz pada santri yang bersangkutan. Dalam pada itu, Mastuhu memandang bahwa sorogan adalah metode mengajar secara individual langsung dan intensif.6 Dari segi ilmu pendidikan sebenarnya metode ini adalah metode yang modern karena antara Kyai dan santri saling mengenal secara erat, dan guru menguasai benar materi yang seharusnya diajarkan. Santri juga belajar dan membuat persiapan sebelumnya. Demikian guru telah mengetahui materi apa yang cocok buat murid dan metode apa yang harus digunakan khusus untuk menghadapi santrinya. Di samping itu, metode sorogan juga dilakukan secara bebas (tidak ada paksaan), dan bebas dari hambatan formalitas. Dengan demikian, yang dipertimbangkan bukan upaya untuk mengganti metode sorogan menjadi model perkuliahan sebagaimana sistem pendidikan modern, melainkan merenovasi sorogan menjadi sorogan yang mutakhir (gaya
6

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), hlm. 49.

125

baru). Sejalan dengan itu, tampaknya perlu dikembangkan di pesantren model sorogan gaya mutakhir ini sebagai upaya pengembangan model pengajaran yang transformatif. Sudah barang tentu akan lebih lengkap apabila beberapa usulan metode sebagai alternatif perlu dipertimbangkan, seperti metode ceramah, kelompok kerja, tanya-jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, widya wisata, dan simulasi. Sehingga secara umum, pola pembelajaran yang ada di pesantren Kudus dapat dibagi menjadi 3 (tipe), yakni : a. Tipe I : Pesantren yang menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren, yaitu metode sorogan, wetonan (bandongan), halaqoh, dan Hafalan pada kajian kitab salaf. Sementara pada kajian al-Qur’an seperti metode musyafahah, taqrir, dan mudarosah. Tipe ini dapat diamati pada PTYQ pusat dan pesantren lainnya yang tergolong tipe A. b. Tipe II : Pesantren yang sudah menerapkan pola pembelajaran dengan memperpadukan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah. Tipe ini dapat diamati pada pesantren MUSYQ dan pesantren lainnya yang tergolong tipe B. c. Tipe III : Pesantren yang menerapkan pola pembelajaran dengan menyesuaikan jadwal sekolah karena sebagian besar pesantren jenis ini para santrinya adalah siswa sekolah. Pesantren tipe ini juga pada kenyatannya menerapkan sistem sorogan dan wetonan. Tipe ini dapat diamati pada pesantren Roudlatuth Tholibin Bendan dan pesantren lainnya yang tergolong tipe C.

126

4. Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education) Sejak awal muncul dan adanya pesantren dibangun dan dikelola untuk dan oleh masyarakat, bahkan ia merupakan agen perubahan bagi masyarakatnya, kiprah kemasyarakatan pesantren misalkan dari pembinaan akhlak, segi ekonomi, segi kepemimpinan dan segi pelayanan umum. Oleh karena itu, tak heran pesantren pernah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi yang sangat besar dalam membentuk masyarakat melek huruf (literacy) dan melek budaya (cultural literacy). 7 Oleh karena itu, konsep pendidikan berbasis masyarakat menempati peran penting dalam membentuk kepribadian mereka. Pesantren muncul sebagai pendidikan yang berbasis masyarakat seiring dengan reformasi pendidikan yang menghendaki adanya pergeseran paradigma pendidikan dari sentralistik ke desentralistik, bergeser dari praktik pendidikan yang otoriter ke praktik pendidikan demokratis yang membebaskan, serta dari konsep pendidikan yang berorientasi pemerintah (state oriented) ke konsep pendidikan yang berorientasi masyarakat (community oriented).8 Desentralisasi pendidikan yang dimaksudkan diatas, pada fenomenanya telah dimunculkan oleh sebagian pesantren di Kudus. Sebagaimana yang diterapkan di pondok PTYQ pusat dan MUSYQ yang sudah tidak lagi memusatkan penyelenggaraan pendidikan pada sosok kyai. Dengan demikian, hubungan antara kyai dengan santrinya masih terjaga dengan baik. Tradisi pesantren tidak mengajarkan pada santri untuk membantah kepada kyainya. Pola yang diajarkan adalah keteguhan untuk mengabdi dengan tujuan untuk memperoleh barokah. Terbukti sampai sekarang di pesantren tersebut masih banyak santri yang rela ketika di pesantren menjadi khodim (pelayan
Mujamil Qomar, Pesantren : dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Yogjakarta : Penerbit Erlangga, 2005), hlm. 11 Toto Suharto, Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Masyarakat, Jurnal Cakrawala IAIN Raden Patah Palembang, (vol. XXIV, No. 3, November / 2005), hlm. 326.
8 7

127

kyai). Khodim pun mengabdi pada bidangnya masing-masing. Ada yang mengabdi sebagai juru masak, pekerja di ladang kyai, juru tamu, dan lain sebagainya. Sementara dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, sikap hidup hemat dan sederhana pun masih di pertahankan demi memperoleh tujuannya yang mulia dalam mencari ilmu. Mengenai kedisiplinan pun tak kalah giatnya dilaksanakan di pesantren ini. Sanksi-sanksi edukatif diberlakukan untuk menjaga agar perilaku santri tetap pada jalur yang sesuai dengan norma-norma Islam. Nuansa demokrasi di pesantren begitu kental sehingga sangat mendukung proses pembelajara yang dilangsungkan. Suasana pendidikan yang demokratis senantiasa memperhatikan aspek egalitarian (kesetaraan atau sederajat dalam kebersamaan) antara pendidik dengan peserta didik. Pengajaran tidak harus top down, namun diimbangi dengan bottom up. Tidak ada lagi pemaksaan kehendak dari kyai maupun para pengurunya, tetapi akan terjadi tawar-menawar di antara kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, media, dan evaluasi hasil belajarnya. Tidak kalah pentingnya, komunikasi struktural dan kultural antara kyai dan santri, maka akan terjadi interaksi yang sehat, wajar, dan bertanggung jawab. Santri boleh saja berpendapat, berperasaan, dan bertindak sesuai dengan langkahnya sendiri, asalkan ada argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Santri bukan saja memahami demokrasi tetapi juga menjalani latihan seperti berdebat yang diterapkan dalam musyawaroh maupun bahtsul masa’il. Demikian, para satri mencoba dibimbing untuk menghargai pandangan dan harga diri santri lain, serta mematuhi aturan hukum yang diaplikasikan dalam setting musyawaroh. Meskipun demikian, dinamika seperti ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjalin komunikasi interaktif terhadap nilai-nilai yang berkembang di sekitarnya. Pesantren selalu tumbuh dan berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Terbukti dengan adanya hubungan timbal balik ini

128

mingiringi perubahan pada tubuh pesantren, namun tanpa mengurangi peran masyarakat bahwa lembaga ini bukan hanya milik kyai, melainkan masyarakat. Sehingga pesantren tetap eksis dapat hidup dan dapat menghidupi masyarakat sampai di era pembaharuan ini. sebagaimana pendapat Zubaedi yang mengutarakan bahwa bisa dikatakan sebuah lembaga pendidikan itu berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada ditangan masyarakat.9 Sehingga dalam hal ini, jika dipandang dari sistem penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan tipologi pesantren Kudus dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) tipe, yakni : a. Tipe I : Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA, dan PT Agama Islam) maupun yang juga memiliki sekolah umum (SD, SMP, maupun SMA), Seperti pesantren MUSYQ Kwanaran dan pesantren lain yang termasuk tipologi B. b. Tipe II : Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah lokal pesantren dan tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Roudhatuth Tholibin Kerjasan dan pesantren lain yang termasuk tipologi C. c. Tipe III : Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah, seperti PTYQ pusat Kajeksan dan pesantren lain yang termasuk tipologi A.

Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat : Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2007), cet. IV, hlm. 134.

9

129

B. Kontribusi dan Arah Pengembangan Pesantren di Kudus Kini pesantren telah memasuki gerbangnya yang baru. Pesantren telah mampu dan mau menanggapi dengan tanggapan positif terhadap era pembaharuan pembangunan nasional dalam bidang pendidikan. Dengan didirikannya sekolahsekolah umum maupun madrasah-madrasah di lingkungan pesantren membuat pesantren kaya diversifikasi lembaga pendidikan dan peningkatan institusional pesantren. Bahkan, pesantren juga telah memberikan pilihan yang lebih banyak lagi bagi masa depan santri. Pengembangan baru mencoba diterapkan, yakni santri tidak hanya dikhususkan untuk menjadi ahli agama, tetapi didorong untuk memasuki profesiprofesi lain dengan memberikan pendidikan keterampilan, seperti komputer, fotografi, pertanian, pertukangan, perbengkelan, elektronika, administrasi, dan bahasa Inggris. Dengan luasnya spektrum ilmu di pesantren akan membuka peluang bagi santri memasuki bidang-bidang lainnya sehingga santri tidak hanya menjadi ahli agama, tetapi juga ahli dalam bidang kehidupan lainnya. Hal di atas menunjukkan fungsi pesantren yang bukan hanya sebagai lembaga pendidikan saja, melainkan juga sebagai pembinaan moral masyarakat. Tentu ini merupakan perkembangan bagus bagi pesantren dalam menata posisi pesantren di tengah realitas sosial modern dan kompleks. Demikian perkembangan pesantren yang melalui tahapan secara berkala. Setahap demi setahap pesantren telah menyelaraskan diri dengan cita-cita dan sistem pendidikan nasional Indonesia. Sebelumnya pesantren telah mengalami disorientasi dalam kerangka pendidikan nasional. Artinya, pesantren telah kehilangan kemampuan untuk mendefinisikan dan memposisikan diri dalam realitas sosial yang sedang mengalami perubahan sosial yang cepat. Karenanya, kebijakan pemerintah adalah mendorong pesantren untuk mengadakan reorientasi baik di bidang pendidikan, keagamaan, maupun sosial.

130

Di antara kontribusi pesantren Kudus yang peneliti simpulkan antara lain : 1. Pesantren memposisikan diri sebagai subkultur tersendiri bagi masyarakat Kudus. 2. Pesantren dengan peran kyai dan santri didikannya sebagai control social yang secara potensial turut menggerakkan masyarakat Kudus. 3. Pesantren menjadi pilar utama penyangga keberhasilan pembangunan sosial karena bisa dipastikan jika sebagian masyarakatnya berpendidikan, maka tingkat kesuksesannya pun cukup tingi. 4. Para kyai pesantren Kudus turut andil dalam agenda transformasi sosial khususnya di bidang keagamaan melalui pengajian-pengajian yang diberikannya. 5. Pesantren yang tergolong sudah maju, seperti pesantren Yanbu’ul Qur’an menjadi inspirasi bagi pesantren lainnya untuk tanggap menghadapi tantangan zaman. 6. Pesantren Kudus mampu memberikan pengajaran yang seimbang pada para santrinya berkaitan dengan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum. Secara garis besar, pesantren Kudus mulai membuka diri menerima perubahan. Bahkan sebagian pesantren sudah ada yang meloncat jauh ke depan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Kondisi riil yang ada di lapangan menunjukkan, memang dari sudut pandang penyelenggaraan pendidikan banyak yang belum sesuai dengan harapan. Misalnya mengenai perangkat yang masih menggunakan perangkat manual belum tersedia. Apalagi untuk menjangkau standar penataan sistem pendidikan pesantren dalam lingkup nasional. Konsekuensi logis dari kenyataan ini antara lain adalah ketidakmampuan pendidikan pesantren untuk memenuhi logika persaingan dengan pendidikan lain. Oleh karena itu, di antara faktor-faktor penghambatnya antara lain : 1. Belum adanya kurikulum dan metodologi yang baku sebagai garis batas terhadap sistem pendidikan lainnya.

131

2. Belum adanya alat ukur yang dapat diandalkan dalam menilai dan mengevaluasi hasil pendidikan. 3. Bagi pesantren yang sudah dan mau menyelenggarakan pendidikan formal masih terlalu tergantung pada pola pendidikan yang digariskan pemerintah, yakni pendidikan untuk menopang pembangunan. 4. Sebagian besar masih kekurangan dana dan fasilitas, sehingga pendidikan pesantren diorientasikan kepada selera konsumen, dan menyantuni kaum marginal. 5. Perkembangan kebudayaan dan perubahan masyarakat yang cepat, sehingga pendidikan pesantren semakin tidak berdaya berkompetisi dengan laju perubahan masyarakat. 6. Apresiasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren yang belum menggembirakan. 7. Adanya pelampisan sosial yang didasarkan pada ukuran serba materialistik dan menyebabkan masyarakat berlomba-lomba menyerbu lembaga pendidikan favorit, dengan tanpa mengindahkan aspek ideologis yang tersembunyi dibaliknya. 8. Adanya kecenderungan mismanajemen, misalnya persaingan yang tidak sehat antar pimpinan dan kepemimpinan yang tertutup. Berbagai hambatan di atas perlu diperhatikan oleh pihak pesantren karena untuk mewujudkan pengembangan pesantren yang dikehendaki. Dalam pada itu, melihat realitas sosial yang ada, sebagian besar pengembangan pesantren Kudus lebih menuju kearah pengembangan pesantren secara sporadis, yakni berdasar pada aspirasi masing-masing pesantren. Pengembangan jenis ini berupa penyelenggaraan pendidikan formal dan mengintregasikan kurikulum agama dan umum. Jika demikian adanya, maka proses pengembangannya pada tubuh pesantren harus memperhatikan prinsip-prinsip di bawah ini, antara lain : 1. Pengembangan kurikulum pesantren sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan selaras dengan visi misi pesantren.

132

2. Peningkatan profesionalisme asatidz dan asatidzah melalui pendidikan akademik maupun berbagai pelatihan-pelatihan keguruan. 3. Pemenuhan sarana dan prasarana secara memadahi pada pendidikan pesantren itu sendiri maupun pada pendidikan yang diselenggarakannya. 4. Peningkatan mutu pelayanan yang disediakan pada para siswa (santri). 5. Pemaduan pola pembelajaran dengan metode yang sudah biasa diterapkan di pendidikan umum sehingga terkesan monoton. 6. Penunjukkan jati diri pesantren yang kompetitif yang siap bersaing pada lembaga pendidikan lainnya. 7. Peningkatan kepercayaan dari luar pesantren sehingga mendapatkan dukungan dalam melakukan proses pembaharuan. Di bidang pendidikan, kebijakan pemerintah memberikan pembinaan dan motivasi agar pesantren menyadari kondisi pesantren yang tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Pesantren kemudian menanggapi kebijakan pemerintah dengan mengadakan perubahan terhadap pola pendidikannya agar selaras dengan pendidikan nasional. Dalam hal ini, pemerintah tidak memaksakan pesantren mengadakan modernisasi secara radikal, tetapi dengan membangkitkan inisiatif pesantren sendiri untuk bersikap responsif terhadap perkembangan masyarakat di sekelilingnya. C. Tipologi Pesantren Kudus dalam Upaya Melacak Format Pesantren Ideal di Era Pembaharuan Pada pembahasan ini, berdasarkan pada prinsip dan aspek pembaharuan pesantren yang sudah dijelaskan sebelumnya, akan dilacak bagaimana format pembaharuan pesantren ideal dan tipologi pesantren masa depan. Oleh karena itu, merujuk pada tipologi yang diuraikan oleh Kementrian Agama RI, bahwa tipologi pesantren terbagi menjadi 3 tipe, yakni tipe A, B, C, maka tipologi pesantren Kudus akan dipaparkan pada table berikut ini.

133

Tabel 4.2. Tipologi Pondok Pesantren Kudus No Tipologi Kategorisasi Aspek Penjelasan Seluruh belajar Sistem Pendidika n Pesantren (pondok). untuk Nama Pesantren Kecamatan

santri Yanbu’ul dan Qur’an Putera,

menetap di asrama Yanbu’ul Qur’an Tidak Puteri, Yanbu’ul Qur’an Remaja, Utsman Affan, Hadi, diperbolehkan

mengikuti Yanbu’ul Qur’an kyai bin Noor

penddikan formal. Yatama Kebijakan dalam hal

ini Sadzaliyyah Kyai Kota Manba’ul Uluum,

menjadi penting.

1

A

Pada

umumnya tidak secara baku. begitu, bentuk

Mazro’atul Ulum, Al-Mubarokah, Nahdlotut Tholibin, Dar alFurqon, dan AlFadlilah. Al-Halim, Hanafiyyah, Husna, Pendidikan Pedoman (PPI), Qoumaniyyah Islam AlJekulo Al-

jenis pesantren ini kurikulunya tersusun jelas dan Kurikulum Meskipun sebagai pedoman kegiatanuntuk mencapai tujuan.

sudah ada acuan

134

(Huffadz), Al-Yasir. Menerapkan pembelajaran klasik yaitu Pola Pembelaja ran halaqoh pada Qur’an menerapkan musyafahah, taqrir, dan mudarosah. Hanya menyelenggarkan Sistem Penyeleng garaan Pendidika n ilmu-ilmu dan agama biasanya nama dan bentuk madras mempunyai sendiri-sendiri sesuai yang pesantren. 2 B Seluruh Sistem menetap tingkatan dikehendaki kajian pesantren, sorogan, dan alpola Ishlahusy Syubban, Khoirot, Manalaul Asy-Syafa’, Mu’awanatuth Thullab, Siroj,

dan

AlHuda

bandongan, hafalan. Sementara

Nurus

Undaan

Raudhatul

Huffadz, Rabtotul Huffadz, Subulussalam, dan Tibbil Qulub. Darun Najah, Darus Salam, dan Manarul Huda. Miftahul Huda Darul Izzah dan Ittihath Tholibin Al-Furqon dan Sabilul Rosyad Nurul Furqon dan Raudlatuth Tholibin Mejobo Dawe Jati Kaliwu ngu Gebog

santri Yanbu’ul di Qur’an MUSYQ

Kota

135

Pendidika n Pesantren

pesantren, dan pada Lil Banin, umumnya mengikuti kalau oleh Biasanya sambil Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil yang Qur’an Anakanak, MAK TBS, pesantren. Manba’ul Qur’an disebut (Huffadz), Muhammadiyah, TBS, dan Yanabi’ul Ulum Warrohmah. Bustanul Muhtadin, Darul Menerapkan sistem Falah, Darul kurikulum yang Mubarok, Darul sudah Muqomah, AlKurikulum Bareng, Rohmatul tersusun Salafiyyah Asysyafi’iyah, dan Sirajul Hannan. Menerapkan sistem Irsyaduth pola pembelajaran Tholibin. yang diintegrasikan Al-Furqon, antara pola Hidayah, AlNurus Jekulo sudah baku. sudah

pendidikan formal Banat, Yanbu’ul diselenggarakan

pesantren sekolah.

Kurikulum

tertulis, jelas dan Qoumaniyyah jenis pesantren ini Ummah Essalafy, secara sistematis.

Pola Pembelaja ran

Undaan Gebog

136

pembelajaran pesantren sistem formal.

asli Salam,

Aldan

dengan Qudsiyyah,

madrasah Yanabi’ul Qur’an Anak-anak Putri. MAK Miftahul Falah, Manba’ul Falah, dan Nurul Ulum Dawe

Menyelenggarakan Sistem Penyeleng garaan Pendidika n dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang memiliki agama, sekolah maupun

As-Salam Ma’ahid

Jati Kaliwu ngu

pendidikan formal Hidayatullah dan

Darul Ulum

Bae

sekolah umum. Santri menetap di Raudlatut pesantren Sistem 3 C Pendidika n Pesantren mengikuti pada sekolah berada pesantren. di namun Tholibin, AlFalah, Jam’iyyah Kota sekolah- Fatihah, yang Jam’iyyah luar Roudlotul Mubarok, pada pagi harinya Jalil, Ittihadul pendidikan formal Hidayah Ibu

137

Menggunakan model tidak

Mafatihul Ulum

kurikulum al-Mathar, tertulis Najahuth

Kurikulum (hidden kurikulum). Tholabah, AlPesantren jenis ini Qudsy, Raudlatul sangat tergantung Jannah, ArRaudlatul pada peran kyai. sorogan Pola Pembelaja ran bandongan,

Menerapkan sistem Mardliyah, dan Raudlatul Muta’allimin, dan

meskipun di pagi Raudlatul harinya para santri Muta’allimat. mengikuti sekolah Dzikrul Hikmah formal. Menyelenggarakan dan An-Nur. Rahmatillah. Al-Huda Aldalam Fatoniyyah dan Dawe Jekulo Gebog

Sistem Penyeleng garaan Pendidika n
Sumber :

pendidikan keagamaan bentuk tidak

madrasah Raudlatut menerapkan Darusy Syifa’ AlIslami

lokal pesantren dan Tholibin. kurikul nasional. Jati

Pengolahan data tipologi pesantren berdasarkan hasil observasi peneliti dan laporan penelitian Profil Pesantren Kudus oleh Central Riset dan Manajemen Informasi Kudus.

138

Maka, di bawah ini akan dianalisis bagaimanakah format pesantren ideal dan mampu menjadi pendidikan alternatif bagi masa depan yang diharapkan oleh masyarakat dan tentunya sesuai dengan kebutuhan di era pembaharuan ini. 1. Format Pesantren Ideal a. Dimensi Sistem Pendidikan Dalam perspektif sistem pendidikan, pesantren sempat dihakimi oleh masyarakat sebagai dimensi yang nanti akan perubahan, yang berafiliasi pada kejumudan dan stagnasi. Namun, penghakiman itu tidak benar kalau diarahkan pada pesantren kekinian yang pada realitas sosialnya mempunyai dinamika perkembangan yang dinamis dan turut menuju perubahan yang dikehendaki masyarakat. Di antara kriteria yang perlu ada pada dimensi ini adalah : 1) Santri tetap tinggal dan menetap di pondok (asrama) pesantren. 2) Terjalinnya hubungan kyai, pengurus, dan santri yang akrab dan demokratis tanpa mengurangi nilai kepatuhan dan keikhlasan dalam menunutut ilmu. 3) Mempertahankan nilai-nilai dan tradisi pesantren, seperti nilai kemandirian, kesederhanaan. 4) Berorientasi mengembangkan potensi santri dan melatih (riyadloh) serta mendorong skill untuk lebih maju dan mampu berkompetitif. 5) Berorientasi pada pengembangan kreatifitas, ketrampilan, dan kecakapan hidup. 6) Menanamkan nilai-nilai pendidikan pesantren sepanjang waktu. 7) Mencetak santri yang profesional dan berakhlak mulia. 8) Menghasilkan output yang mandiri, disiplin, inovatif, dan mampu memecahkan problem diri, masyarakat dan bangsa. keikhlasan, kedisiplinan, persaudaraan, dan

139

b. Dimensi Kurikulum Di antara kriteria yang perlu ada pada dimensi ini adalah 1) Upaya mengintregasikan ilmu agama dan umum yang dilengkapi dengan pendidikan ketrampilan dalam pengembangan potensi santri sesuai dengan prinsip-prinsip pencapaian pendidikan yang tafaqquh fi al-din. 2) Perbaikan manajemen kurikulum yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. 3) Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan untuk mewujudkan tujuan kurikulum yang telah ditetapkan. 4) Memenuhi kebutuhan agama, masyarakat dan bangsa. 5) Meningkatkan taraf perkembangan fisik, mental, dan psikologis santri. 6) Menyajikan kurikulum yang memenuhi hakikat pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang telah ditetapkan. 7) Pemadatan rutinitas santri melalui pengajian ekstra di pesantren dengan menambahkan pelajaran-pelajaran tambahan di luar jam wajib. 8) Menyiapkan kurikulum yang mampu membingkai bidang Al-Qur’an, ilmu syari’ah, dan ilmu hikmah sebagai benteng akhlak santri. 9) Pengembangan kurikulum dengan bekerjasama dengan instansiinstansi luar pesantren untuk pengembangan lifeskill dan lain sebagainya. c. Dimensi Pola Pembelajaran Di antara kriteria yang perlu ada pada dimensi ini adalah 1) Memperpadukan pola pembelajaran lokal pesantren dengan sistem madrasah maupun sekolah umum. 2) Memperbaharui pola pembelajaran dengan metode-metode transformatif tanpa merubah karakter dasar pesantren.

140

3) Pola pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran individu dan bersifat afektif yang berlandaskan pada pendidikan moral. 4) Pola pembelajaran yang berusaha memicu keaktifan santri. 5) Pola pembelajaran yang mampu mengarahkan santri supaya bisa mengenal diri, berpikir rasional, dan cakap sosial. 6) Mempertahankan pola pembelajaran tradisional namun mengembangkan dengan berbagai inovasi-inovasi supaya lebih mengena pada kebutuhan santri. d. Dimensi Penyelenggaraan Pendidikan Di antara kriteria yang perlu ada pada dimensi ini adalah 1) Penyeimbangan pendidikan agama dan umum dalam sistem penyelenggarannya. 2) Pengawasan terhadap perencanaan pendidikan, proses pelaksanaan dan evaluasi pembelajarannya. 3) Penyelenggaraan pendidikan formal, baik itu sekolah umum, madrasah, maupun pendidikan kejuruan. 4) Penyelenggaraan masyarakat. 5) Perbaikan sistem manajemen penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pesantren. 6) Pengupayaan SDM pengurus pesantren yang mumpuni dan profesional dibidangnya. 7) Pembaharuan yang tidak menghilangkan karakteristik pesantren. Meskipun sudah terancang format demikian, pastilah ditemukan sisi kelebihan dan sebaliknya, kekurangan. Oleh karena itu, pemilihan format pesantren yang dipandang ideal perlu dilakukan agar tumbuh adanya perbaikan dari sistem yang sudah diterapkan menuju sistem-sistem yang menuntut untuk diuji cobakan. Hal ini sesuai dengan kaidah pesantren yang sudah masyhur, al-Muhafadzatu ‘ala Qodimissalih wal-‘Akhdu bilpendidikan pesantren yang berbasis pada

141

Jadidil Ashlah. Merupakan otoritas masing-masing pesantren dalam membingkai sistem pendidikan pesantrennya sesuai dengan yang diharapkan, asalkan menuju ke ashlah (lebih baik). Konsep ashlah pada era pembaharuan pesantren merupakan pokok yang harus dikedepankan sebagai simbol akan pembaharuan yang dilaksanakan. Format sistem pendidikan yang modern belum tentu merubah seluruh sistem pendidikan yang sudah diterapkan selama ini karena sistem tersebut belum tentu bisa mengantarkan pada pembaharuan yang dikehendaki masyarakat. Oleh karena itu, peran kyai sebagai pengasuh dan pemilik pesantren seharusnya mampu menjalin komunikasi yang aktif terhadap masyarakat supaya kepercayaan mereka tidak luntur. Begitu juga format ini tidak harus merubah orientasi atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din, lembaga pendidikan sepanjang waktu (full day learning) dan lembaga pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Lebih parahnya lagi kalau sampai mengorbankan nilai-nilai, seperti kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan. 2. Tipologi Pesantren Masa Depan Pertanyaan yang patut diajukan adalah bagaimanakah tipologi pesantren yang patut dijadikan sebagai pendidikan alternatif bagi pendidikan masa depan? Apakah tipe A sebagai representasinya Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an, atau tipe B sebagai representasinya pesantren Ma’had AlUlumisysyar’iyah Lil Banin, atau tipe C sebagai representasinya pesantren Roudlotut Tholibin? Mencermati arah dinamika pembaharuan pesantren yang ada di Kudus yang cenderung melakukan pengembangan yang sporadis, realitas sosial yang nampak mengemuka di masyarakat adalah krisis kepercayaan terhadap peran dan fungsi pendidikan pesantren. Parameter yang jelas dalam hal ini belum ditemukan, sebenarnya pendidikan yang bagaimana yang mampu

142

menjadi pendidikan alternatif masa depan. Dalam pada itu, kebutuhan akan pendidikan agama yang dipadukan dengan pendidikan umum serta pendidikan ketrampilan merupakan keniscayaan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Artinya, pada era pembaharuan ini dibutuhkan sebuah rancangan kurikulum yang mampu merespons tantangan zaman namun tidak meninggalkan karakteristik dan nilai-nilai yang berkembang pada tubuh pesantren. Berdasar pada analisis di atas, peneliti dalam hal ini mengedepankan pembaharuan pesantren yang mampu menerapkan nilai-nilai pendidikan sepanjang waktu jika ditinjau dari sistem pendidikan pesantrennya, mampu berkomitmen tafaqquh fi al-din dari segi kurikulum yang diterapkan, mampu menggunakan kebijakan masyarakat. Pesantren yang peneliti kehendaki bukan hanya pesantren yang dipandang bagus dari segi kurikulumnya saja, atau segi kemampuan menyelenggarakan pendidikan formal, atau segi sistem pendidikan yang diterapkan pada pesantren tersebut, melainkan keterpaduan antara semua komponen yang terkandung di dalamnya. Sehingga pesantren tersebut mampu berkompetitif karena manajemen yang diterapkan berlandaskan atas needs assessment (kajian kebutuhan). Di samping pesantren tipe ini akan mencetak output-output yang mandiri, inovatif, disiplin dan mampu mengatasi problematika yang nampak di masyarakat, juga mampu menjalin komunikasi yang baik terhadap masyarakat sekitar. Jika dilakukan pengamatan yang lebih mendalam, diantara ketiga tipologi pondok pesantren yang peneliti paparkan sebelumnya, maka tipologi pesantren Yanbu’ul Qur’an Ma’had al-Ulumisysyar’iyyah atau dikenal dengan pondok MUSYQ lebih mendekati pada kriteria yang ditentukan. metode-metode sehingga yang menjadi transformatif pioner dalam proses berbasis pembelajarannya, dan mengedepankan peran masyarakat dalam mengambil pesantren pendidikan

143

Artinya tipe B, menurut peneliti lebih unggul dari pada tipe-tipe pesantren lainnya, yakni tipe A dan C. Sebanyak 29 pesantren termasuk pesantren MUSYQ ini masuk dalam tipologi B. sementara pesantren yang lainnya tersebar pada tipe A dan C. Meskipun demikian, pada tipologi yang lain bukan berarti tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Justru fenomena semacam ini menunjukkan bahwa pembaharuan yang ada di pesantren merupakan lokalitas yang unik. Dalam pada itu, pesantren yang mampu memperpadukan ilmu agama dan umum diharapkan bisa menatap masa depan lebih cerah. Memang pembaharuan pesantren membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, bukan berarti para kyai ceroboh dalam mengambil kebijakannya. Realitas yang nampak di Kudus, para kyai memilih tetap bersabar dan berlapang dada mengingat pembaharuan tak perlu meninggalkan nilai dan tradisi positif yang seirama dengan perubahan di masyarakat. Terbukti para sebagian kyai mengirim putra putrinya ke perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri yang diharapkan sepulangnya nanti mampu meneruskan perjuangan memajukan pesantrennya dengan sistem yang lebih maju. Pada pengembangannya, pesantren yang berpolakan integratif ini berpotensi besar untuk lebih mengembangkan kajian keilmuwannya dengan menyelenggarakan universitas. Pesantren Asy’ariyyah Wonosobo yang mampu mendirikan Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) menjadi model dalam konteks ini. jika dilihat dari sosok kyainya, K.H. Muntaha Al-Hafidz (alm) atau yang lebih akrab denga sapaan Mbah Mun, sama sekali tidak memperoleh pendidikan modern semasa pendidikannya. Namun, bukan berarti ini menjadi kendala dalam memodernisasi pesantrennya. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pesantren sebagai pendidikan alternatif masa depan harus diupayakan terus menerus, sebagaimana interaksi pembelajaran di pesantren yang tidak kenal putus selama 24 jam. Kemunduran pendidikan Islam bukanlah disebabkan oleh lemahnya teori-

144

teorinya tentang pembaharuan, melainkan karena kerancuan berpikirnya umat Islam sendiri yang enggan mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika demikian adanya, benarlah apa yang dikatakan oleh Syeikh Sakib Arselan 10 , sebagaimana di kutip oleh Zamachsjari Dhofier yang mengatakan, “Umat Islam tertinggal karena mereka melupakan ajaran Islam, sedangkan bangsa-bangsa Eropa maju karena mengamalkan ajaran Islam”. ______________

Seorang Alim yang mengajar di Makkah. Untuk lebih jelasnya, lihat Zamachsjari Dhofier Memadu Modernitas, hlm. 213.

10

145

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari 86 pesantren yang ada di Kabupaten Kudus dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) tipologi, yakni tipe A, B dan C. Tipe A, yakni sistem pendidikan yang diterapkan masih bersifat tradisional, kurikulumnya tidak terprogram secara jelas dan baku, pola pembelajarannya dengan menggunakan metode klasik, dan sudah menyelenggarakan model madrasah diniyyah. Misalnya, Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an pusat (Kota), pesantren Al-Halim (Jekulo), Nurus Siroj (Undaan), Darun Najah (Gebog), Miftahul Huda (Dawe), Al-Furqon (Kaliwungu), dan lain sebagainya. Tipe B, yakni sistem pendidikannya perpaduan antara sistem pesantren da madrasah formal, kurikulumnya sudah terprogram dengan jelas, pola pembelajarannya pun perpaduan pola asli pesantren dengan metode modern, dan sudah menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional. Misalnya, Pesantren MUSYQ (Kota), Pesantren Darul Falah (Jekulo), Irsyaduth Tholibin (Undaan), Al-Hidayah (Gebog), MAK Miftahul Falah (Dawe), As-Salam (Jati), Ma’ahid (Kaliwungu), Darul Ulum (Bae), dan lain sebagainya. Tipe C, yakni sistem pendidikan tradisional dan santri bersekolah di luar pesantren, kurikulumnya tidak tertulis, pola pembelajarannya klasik asli pesantren dengan penyesuaian terhadap pola yang ada di sekolah, dan fokus terhadap penyelenggaraan pendidikan dalam bentuk madrasah lokal pesantren. Misalnya, Pesantren Roudlotuth Tholibin (Kota), Dzikrul Hikmah (Jekulo), Rahmatillah (Gebog), Al-Huda AlFathoniyyah (Dawe), Darusy Syifa’ Al-Islami (Jati), dan lain sebagainya. Di samping ketiga tipe ini, fenomena pesantren Kudus

146

menunjukkan realitas pesantren terbuka yang dipelopori oleh K.H. Sya’roni Ahmadi, K.H. Ma’ruf Asnawi, dan ulama’-ulama’ pendahulu lainnya. 2. Banyak faktor yang mempengaruhi munculnya pembaharuan pendidikan Islam di Kudus, baik itu faktor intern umat Islam maupun ekstern. Dari uraian yang dikemukakan pada Bab-bab sebelumnya bahwa pembaharuan pendidikan Islam, dalam hal ini khususnya pembaharuan yang ada di pesantren itu terkonsentrasi pada 4 (aspek), yakni sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran, dan sistem penyelenggaraan. Sistem pendidikan ada pada mulanya yakni sebelum masuk ide-ide pembaharuan adalah sentralistik yang terpusat pada otoritas kyai, berubah menjadi desentralistik melalui pembentukan kepengurusan pesantren yang berfungsi sebagai pelaksana tugas kepesantrenan. Kurikulum pesantren yang awalnya terfokus pada kurikulum asli pesantren, sekarang dipadukan dengan kurikulum nasional dengan memasukkan materi pelajaran umum pada pendidikan pesantren. Sementara pola pembelajaran yang pada awalnya melulu pada metode tradisional, seperti sorogan dan bandongan saja, kini disempurnakan melalui metode-metode yang transformatif kekinian tanpa menghilangkan karakter pembelajaran khas pesantren. Dan pada sistem penyelenggaraan pendidikan pesantren yang sebelum masuknya ide-ide pembaharuan berkutat pada penyelenggaraan pendidikan agama saja. Namun, dengan berpedoman pada kondisi realitas umat Islam yang semakin jauh tertinggal dan terinspirasi oleh ide-ide pembaharuan telah mampu menyelenggarakan model pendidikan formal, seperti madrasah, sekolah, pendidikan kejuruan lainnya. 3. Berdasarkan pada kesimpulan pertama, secara teoritis dan sesuai dengan teori tipologi yang dijadikan landasan pada penelitian ini, yakni teori tipologi dari Kemenag RI (tiga tipe), maka tipologi pesantren

147

Kudus terbagi menjadi 3 (tiga) tipe, yakni tipe A, B dan C. Di mana pada penelitian ini, tipe A mempunyai kelebihan dalam bidang alQur’annya yang dikolaborasikan dengan pendidikan kitab kuning. Sedangkan Tipe B, kelebihanya pada perpaduan kurikulum agama dengan kurikulum nasional. Sedangkan tipe C, pada penekanan aspek mental dan ‘ubudiyahnya dengan menyelenggarakan pembacaan sholawat, wirid, maupun rotib. Masing-masing kelebihan tersebut berpotensi menjadi pendidikan alternatif masa depan tergantung dari perspektif yang dijadikan patokannya. Rangkaian format pesantren seperti di atas menurut peneliti diantaranya memenuhi kriteria sebagai berikut, yakni berorientasi pada pendidikan sepanjang waktu (full day learning), berkomitmen tafaqquh fi al-din, menerapkan metode-metode transformatif, dan pendidikan yang berbasis pada masyarakat (community based education). Demikian, format ini ditemukan pada pesantren yang menyeimbangkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum serta dilengkapi dengan berbagai pendidikan ketrampilan didalamnya. Format pesantren demikian yang menggunakan pendekatan integratif akan mampu memenuhi tuntutan dan permintaan masyarakat berkembang sekarang ini karena hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan dan keselarasan antara aspek dunia dan akhirat. B. Saran 1. Secara objektif, pembaharuan pesantren di Kabupaten Kudus merupakan pembaharuan yang sporadis. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah kurang melakukan pendekatan terhadap pesantren secara keseluruhan. Realitas yang nampak hanya pesantren-pesantren yang besar saja yang diperhatikan, sedangkan pesantren-pesantren kecil lainnya tidak. Sebaiknya pihak pemerintah mengambil inisiatif untuk tidak membeda-bedakan semua pesantren karena masing-masing pesantren mempunyai

148

lokalitas sendiri-sendiri. Oleh karena itu, perlu dibentuk sebuah forum khusus untuk mengurusi masalah ini. 2. Melihat berbagai faktor yang memotivasi lahirnya ide-ide pembaharuan sekarang ini, hendaknya pihak pesantren mampu menyerap secara positif dan mampu mengambil keputusan secara bijak hal-hal apa saja yang harus diperbaharui dan mesti di pertahankan. Semangat al-mukhafadzoh ‘ala al-qodimi al-sholih wal akhdzu bil jadid al-ashlah harus terus digelorakan supaya nilai-nilai dan tradisi pesantren yang sudah ada tidak tergerus oleh arus perubahan. 3. Manajemen kepemimpinan pesantren dalam hal ini juga tidak kalah pentingnya untuk terus diperhatikan mengingat maju atau mundurnya sebuah pesantren pada satu sisi dipengaruhi oleh kepemimpinan kyai. Oleh karena itu, perlu diselaraskan antara pola pendidikan yang digariskan pemerintah dengan pola lokal pesantren. Meskipun demikian, ketergantungan terhadap pola pendidikan yang digariskan oleh pemerintah juga perlu dihindari. 4. Realitas menunjukkan, buku atau kitab-kitab yang dijadikan pegangan bagi para asatidz sebagian sudah kumuh dan sudah tidak layak lagi. Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu proses pembelajaran yang akan berlangsung. Oleh karena itu, langkah yang harus ditempuh adalah mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan kependidikan dan pengawasan terhadap proses pembelajaran yang diberikan asatidz sewaktu mengajar. 5. Melihat parameter tujuan setiap santri berbeda-beda, meskipun mereka semua awal niatnya adalah tholabul ‘ilmi, maka sebenarnya faktor ini juga membawa pengaruh terhadap maju atau mundurnya sebuah pesantren. Para santri yang keukeuh dalam niatnya, berdisiplin tinggi, ikhlas, mandiri, dan aktif dalam kegiatan pesantren akan mudah untuk diajak kearah pembaharuan, namun sebaliknya jika para santri yang tidak jelas niat mondok-

149

nya, tidak disiplin, pamrih, tidak mandiri dan malas mengikuti kegiatan pesantren akan menjadi penghambat pesantren menuju pembaharuan. Oleh sebab itu langkah taktisnya adalah lebih menekankan pada aspek kedisiplinan, misalnya tata tertib yang efektif dan lain sebagainya. 6. Mengingat cara pandang masyarakat sekarang ini yang belum sepenuhnya percaya pada pendidikan pesantren, maka perlu diupayakan sebuah pola komunikasi interaktif yang mengatur hubungan pesantren dan masyarakat pada umumnya. Demikian, akan terjalin hubungan yang harmonis diantara keduanya yang diharapkan pendidikan pesantren akan mendapatkan dukungan penuh dari mereka. C. Penutup Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk menyelesaikan naskah penelitian skripsi ini. Peneliti menyadari, tema yang diangkat merupakan tema yang luas dan butuh waktu berbulan-bulan untuk merampungkannya. Meskipun dengan hasil penelitian yang peneliti rasa jauh dari kata ideal, namun tidak mengurangi semangat untuk terus memupuk keyakinan dalam hati bahwa pasti penelitian ini ada gunanya. Sehingga semangat pun tetap berkobar untuk terus berpikir supaya dapat memberikan sumbangsih berupa pemikiran tentang pesantren. Andai kata seluruh pohon yang ada di dunia ini dijadikan pena dan lautan sebagai tintanya, maka tak cukup untuk menulis luasnya ilmu pengetahuan Allah SWT. Oleh karena itu, karena penelitian ini banyak kekurangannya, maka peneliti mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif supaya hasil-hasil penelitian selanjutnya dapat bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan Negara, khususnya para akademisi pesantren. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

150

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, Islamice Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan IntegratifInterkonektif, Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2006. Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanisme Teosentris, Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005. Akhyadi, Mokh, “Pesantren, Kiai, dan Tarekat : Studi Tentang Peranan Kiai di Pesantren dan Tarekat,” dalam Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT Grasindo, 2001. A’la, Abd, Pembaharuan Pesantren, Yogjakarta : Pustaka Pesantren, 2006. Ainurrofiq, “Pesantren dan Pembaruan : Arah dan Implikasi”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT Grasindo dan IAIN Syahid Jakarta, 2001. Asrohah, Hanun, “Pelembagaan Pesantren, Asal- usul dan Perkembangan di Jawa”, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004. Asmuni, M. Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dunia Islam, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001 Azizy, A. Qodri “Memberdayakan Pesantren dan Madrasah” dalam Abdurrohman Mas’ud, et.all, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002. Daulay, Haidar Putra, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009. ______Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007. Dhofier, Zamachsjari, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982.

______Tradisi Pesantren : Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa, Yogjakarta : Pesantren Nawesea Press, 2009. Djamil, Abdul, “Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan”, dalam Prolog Profil Pesantren Kudus, Kudus : CeRMIN, 2005. Hassan, M. Nadjib, et. all, Profil Pesantren Kudus, Kudus : CeRMIN, 2005. Ismail SM, “Signifikansi Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat Madani”, dalam MA. Sahal Mahfudhz, et all, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, Yojakarta : Pustaka Pelajar, 2000. ______“Pengembangan Pesantren Tradisional (Sebuah Hipotesis Mengantisipasi Perubahan Sosial)”, dalam Abdurrahman Mas’ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002. Ismawati, “Melacak Cikal Bakal Pesantren Jawa”, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, Yogjakarta : Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004. Junaedi, Mahfud, Ilmu Pendidikan Islam : Filsafat dan Pengembangan, Semarang : RaSAIL Media Group, 2010. Mas’ud, Abdurrohman, “Pesantren dan Walisongo : Sebuah Interaksi dalam Dunia Pendidikan,” dalam Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogjakarta : Penerbit Gama Media, 2000. Moeloeng, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007. Mochtar, Affandi, “Tradisi Kitab Kuning Sebuah Observasi Umum”, dalam Sa’id Aqiel Siradj, Pesantren Masa Depan : Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999. Muthohar, Ahmad, Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus Ideologi-ideologi Pendidikan, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2007. Munawaroh, Djunaidatul, “Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren”, dalam Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT Grasindo, 2001. Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta : Penerbit Bulan Bintang, 1975.

Nasir, Ridlwan, Mencari Format Tipologi Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan, Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005. Noer, Ahmad Syafi’i, “Pesantren : Asal-usul dan Pertumbuhan Kelembagaan”, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001. Noer, Deliar, “The Modernist Muslim Movement In Indonesia 1900-1942” yang diterjemahkan menjadi, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta : LP3ES, 1994. Qomar, Mujamil, Pesantren : dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, Yogjakarta : Penerbit Erlangga, 2005. Raharjo, M. Dawam, “Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan”, dalam M. Dawam Raharjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta : LP3ES, 1988. Sulthon, M & Khusnuridlo, Moh, Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global, Yogjakarta : LaksBang PRESSindo, 2006. Syukur NC, Fatah, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004. ______Tradisi Masyarakat dan Pendidikan Islam di Kudus Jawa Tengah, Tokyo : Bulletin of Academic Frontier Project 2005, 2006. Taufiq, M Tata, et all, Rekonstruksi Pesantren Masa Depan (dari Tradisional, Modern, hingga Post Modern), Kuningan : IAIN Lathifah Mubarokiyan Suryalaya, tth. Tim Depag RI, Pola Pembelajaran di Pesantren, Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003. Wahid, Abdurrahman, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, Yogjakarta : LKiS, 2010. Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat : Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial, Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2007. Badan Pusat Statistik Kab. Kudus, Kudus dalam Angka 2010, Kudus : BPS Kudus dan BAPPEDA Kudus, 2010.

Jurnal/ Bulletin Bulletin Dakwah dan Informasi al-Fannan, PP. MUSYQ Kwanaran 139 Kajeksan Kota Kudus, edisi XI Sya’ban 1431 H. Heriyanto, Husain, “Tinjauan Hermeneutika : Cara Pandang Ilmuwan Barat dan Muslim”, Jurnal Universitas Paramadina, vol. 2 No. 2, Januari / 2003. Priyanto, Dwi, Inovasi Kurikulum Pesantren : Memproyeksikan Model Pendidikan Alternatif Masa Depan, Jurnal Studi Islam dan Budaya STAIN Purwokerto vol. IV, No. 1, Januari/ 2006. Suharto, Toto, Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Masyarakat, Jurnal Cakrawala IAIN Raden Patah Palembang, vol. XXIV, No. 3, November/ 2005. Tjahyadi, Sindung, “Teori Kritik Jurgen Habermas : Asumsi-asumsi Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial”, Jurnal Fisafat, vol.XXXIV, No. 34 No.2, Agustus/ 2003. Zainul Mun’in, Ahmad Rafiq, “Peran Pesantren dalam Education For All di Era Globalisasi”, Jurnal Pendidikan Islam, vol. I, No.01, Juni/ 2009.

Dokumen/ Ensiklopedi Anwar, Rosehan, Laporan Penelitian dan Penulisan Biografi K.H.M. Arwani Amin di Propinsi Jawa Tengah, Proyek Penelitian Keagamaan Departemen Agama Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama, 1986/1987. Dokumen Profil Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kajeksan Kota Kudus. Hasyim, Ah. Taman, Selayang Pandang Pondok Huffadz Yanbu’ul Qur’an Kudus, April, 1995. Hamid, Farida, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya : Apollo, tth) Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus PP. Yanbu’ul Qur’an pusat pada kepengurusan 1431-1432 H. Power Point profil PP. MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus tanggal 3 Januari 2009. http://www.artikata.com/arti-336079-konstelasi

DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Pesantren Kudus dalam Angka, 67 Daftar Mata Pelajaran PTYQ Kajeksan Kudus, 94 Daftar Mata Pelajaran Pesantren MUSYQ Kwanaran Kudus, 96 Daftar Mata Pelajaran Pesantren Roudlatuth Tholibin Kerjasan Kudus, 98 Data Pesantren Cabang Yanbu’ul Qur’an Kajeksan Kudus, 116 Tipologi Pondok Pesantren Kudus, 130

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Daftar Pondok Pesantren Se-Kudus Teks Asli Wasiat KH. Arwani Amin Kudus

Lampiran 3a Teks “Pegon” Syi’iran KHR. Asnawi Kudus Bagian 1 Lampiran 3b Teks “Pegon” Syi’iran KHR. Asnawi Kudus Bagian 2 Lampiran 3c Teks “Pegon” Syi’iran KHR. Asnawi Kudus Bagian 3 Lampiran 3d Teks “Pegon” Syi’iran KHR. Asnawi Kudus Bagian 4 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Teks Jawa Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Draft Wawancara Terstruktur Hasil Wawancara Terstruktur dan Tidak Terstruktur Dokumentasi Pesantren Penelitian Berdasarkan Tipe

Lampiran 1a Daftar Pondok Pesantren Se-Kudus Kecamatan Bae 1 No 1 Nama Pesantren Darul Ulum Alamat Th. Pengasuh Berdiri Ngambalrejo Rt 5/IV 1960-an K.H. Drs. Sa’ad Basyar Kitab Yang Diajarkan Alfiiyah Ibn Malik, Fath Al-Mu’in, Tafsir Jalalain, Kifayah al-Ahyar, Mizan al-Kubro, Riyadh al-Shalihin, Qami’ al-Tughyan, Majalis alSaniyyah, Is’ad al-Rafiq, Irsyad alIbad dan Tanbih al-Ghafilin Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an, Tafsir al-Jalalain, dan Bidayah alHidayah Al-Qur’an dan Fiqh Ubudiyyah Al-Qur’an, Yanbu’a, Durus alFiqhiyyah, dan Tanbih al-Ghafilin Al-Qur’an, Sulam al-Taufiq, Fath alMu’in, dan Tafsir al-Jalalain Al-Qur’an dan Tajwid Al-Mutammimah, Alfiyah Ibn Malik, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah Fiqh al-Sunah, Bulugh al-Marom, Minhaj al-Muslim, al-Tauhid li Muhammad Ibn Abd Wahhab, Tipe B

Mejobo

2 3 4

1 2 3

Nurul Furqon Raudlatuth Tholibin Assa’idiyyah (dan Pdepokan Telogo Kautsar) Al-Furqon Hidayatullah, Yayasan Al-Aqsa Ma’ahid

Mejobo Rt 7/II Golantepus Rt 2/III JL. Jogo Rekso No. 2 b, Kirig Rt 1/III Jerakah, Sidorekso Grogol Loji, Bakalan, Krapyak Rt 4/V Jl. K.H.M. Arwani Amin, Bakalan, Krapyak

2001 1949 -

K. M. Baha’uddin Ust. Kholis Warnaningsh, S.Ag K.H. Noor Asid Sa’id (dan K.H.M. Luqman alBanjary) K.H. Chusniddin Ust. Imam dan Ust. Hanifullah K.H. Kusnin Basri, BA

A A C

Kaliwungu

5 6 7

1 2 3

1992 2000 1937

A B B

112

8 Jati 9

4 1

Sabilul Rosyad Darul Izzah

Pring Sewu, Bakalan, Krapyak Jl. Masjid At-Taqwa, Loram Kulon

2000 1995

K.H. Makin (Alm) K.H. Hamzah Asnawi (Alm)

10

2

Darusy-Syifa’ AlIslami

Ploso, No. 165 Rt 1/II

2000

K.H. Abdullah Shonhaji

11 12

3 4

Al-Ghurobaa’ Ittihath Tholibin

Tumpangkrasak Rt 1/VII Jl. Masjid At-Taqwa No. 795, Loram Kulon

1995

K.H.M. Mustamir

1955-an K.H. Hamzah Asnawi (Alm)

13

5

As-Salam

Tanjung Karang

2002

K.H. Ma’ruf Shiddiq, Lc

Tafsir al-Jalalain, Ibn Katsir, alArba’in An-Nawawiyyah, dan Riyadh al-Sholihin Al-Qur’an, Tajwid, Nahwu, Sorof, Fath al-Qorib al-Mujib, dan Bulugh al-Maram Al-qur’an, Alfiyyah Ibn Malik, Amtsilah al-Tashrifiyyah, Unwan alDharf, Ta’lim al-Muta’allim, Safinah al-Najah, Fath al-Qorib alMujib, Fath al-Mu’in, Tafsir alJalalain, Aqidah al-Awwam, dan Jawahir al-Bukhori Al-Qur’an, Akhlak lil Banin, Jawahir al-Bukhori al-Kalamiyyah, Tafsir Surah Yasin, Safwah alTafasir, Hadits Arba’in anNawawiyyah, dan Nashaih al-Ibad Al-Qur’an, Durus al-Falaqiyyah, Tafsir al-Jalalain, dan Irsyad al-Ibad Al-Qur’an, Al-Amtsilah alTashrifiyyah, Unwan an-Dharf, Aqidah al-Awwan, Safinah anNajah, Fath al-Qorib al-Mujib, Tafsir al-Jalalain, dan Jawahir alBukhori ‘Arrabiyah Li al-Nasyi’in, Syarh alJazariiyyah, Ta’lim al-Muta’allim, Matn al-Rahabiyyah, Muntakhab atBad’ al-Amali, Tafsir Surah Yasin,

A A

C

C A

B

113

Dawe

14

1

Al-Huda AlFathoniyyah

Gringging, Samirejo No. 20 Rt 2/I

1967

K.H. Fathoni

15 16

2 3

MAK Miftahul Falah Manba’ul Falah

Cendono Jl. Sunan Muria Piji Rt 1/VI Gringging, Samirejo Rt 2/I

1996 1991

K.H. Hamdani, MA K.H. Ahmad Shiddiq K. Mahmud Junaidi

17

4

Miftahul Huda

1997

18 19 Gebog 20

5 6 1

Nurul Ulum (Anakanak) Raudlatut Tholibin Darun Najah

Piji Rt 4/III Lau Rt.5/III Talun, Kedungsari,

1999 1954 1986

K. Sofyan K.H. Abdul Mu’thi K. Rosyiban

dan Hadits Arbain an-Nawawiyyah Muhtashar Jiddan ‘ala alJurumiyyah, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Qorib al-Mujib, Kifayah alAkhyar, Tafsir al-Jalalain, Tafsir alMunir, Ayyuha al-Aulad, Durrah anNashihin, Minhaj al-Abidin, AlAdzkar al-Nawawiyyah, dan AlThib An-Nawawiyyah Kitab Nahwu-Sorof, Kifayah alAkhyar, Bidayah al-Hidayah, Tafsir al-Maroghi, dan Subul as-Salam Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Munir, Tanwir al-Qulub, Iqadh Himam dan Syarah Manaqib (karya K>H. Ahmad Shiddiq sendiri) Fath al-Qorib al-Mujib, Fath alMu’in, Tafsir al-Munir, Ihya’ ‘Ulumuddin, Kifayah al-Atqiya’, Durrah al-Nashihin, Manba’ Ushul al-Hikmah, Syams al-Ma’arif alKubro Qiro’ati, Al-Qur’an, Gharib AlQur’an, Tajwid, Fashalatan, dan alBarjanji Kasyifah al-Saja, al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, Tafsir alJalalain, dan Tafsir al-Showi Alfiyah Ibn Malik, Ta’lim al-

C

B B

A

B C A 114

Rt 2/VIII

21

2

Darus Salam

Kuwaraan Getasrabi

2001

K.H. Ahmad Hadi (Alm)

22

3

Al-Furqon

Tulis, Gondosari No. 31 Rt 4/I

1992

K.H. Abdul Basyir, MA

23

4

Al-Hidayah

Srabi Kidul, Getasrabi

2000

K.H. Ibrohim Kholili

24

5

Manarul Huda

Kauman, Besito Rt 3/IV Jurang Rt 3/VI

1983

K.H. Khafidz

25

6

Nurus Salam

1975

K.H. Hanafi

Muta’allim, Fath al-Qorib al-Mujib, Tafsir al-Jalalain, Bulugh al-Marom, Sullam al-Taufiq, Irsyad al-Ibad, dan Nashaih al-Ibad Al-Jurumiyyah, Alfiyah Ibn Malik, Fasholatan, Jauhar al-Tauhid, Qomi’ al-Thughyan, Ta’lim al-Muta’allim, Fath al-Qorib al-Mujib, Tafsir alJalalain, Sullam al-Taufiq, Irsyad alIbad, Hizb al-Imam al-Ghazali, Manaqib Jauhar al-Ma’ani, Asma’ Anti Peluru, Rajah Badan Onto Kusumo, dan Asma’ Sunan Kalijaga Al-Qur’an, Al-‘Iqd al-Nafs, Qawa’id al-Tajwid, Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, Al-Luma’ fi Ulum alQur’an, Nafa’is fi Ada’ al-Qur’an, Shirath al-Musthafa, Fiqh al-Sirah dan al-Ikhtilaf al- Fiqhiyyah Alfiyah Ibn Malik, Jauhar AlMakmun, Tashil al-Thuruqat, Fath al-Qorib al-Mujib, Bidayah alHidayah, Irsyad al-Ibad, dan Nashaih al-Ibad Al-Qur’an, Alfiyah Ibn Malik, Amtsilah al-Tashrifiyyah, Al-Iqna’, dan Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-A’immah Al-Qur’an, Safinah al-Najah, Kasyifah al-Saja, Qomi’ al-

A

B

B

A

B 115

26 27 28

7 8 9

PARIS (Pendidikan Anak-Anak Rakyat Islam) Al-Qudsiyyah Rahmatillah

Padurenan Rt 4/I Srabi Lor, Getasrabi Rt 3/V Besito Rt 5/VII

1930-an K.H. Ahmad Baqir 1992 1984 K.H. Ahmad Muzayyin K.H. Abdul Manan

29 10 Undaan 30 31 1 2

Yanabi’ul Qur’an Anak-anak Putri Irsyaduth Tholibin Ishlahusy Syubban Medini, gang II, Rt 6/III Undaan Kidul Gg. XI. Rt 7/III

2004 1977 1946

K.H. Ma’shum, AK K.H. Afifuddin Rifai K. Chumaidi Haris

Thughyan, Tafsir Surah Yasin, dan Tanbih al-Ghafilin Al-Jurumiyyah, Riyadh al-Badi’ah, Fath al-Majid, dan Kifayah alAtqiya’ Alfiyah Ibn Malik, Ihya’ ‘Ulumuddin, dan Durrah al-Nashihin Fath al-Qorib al-Mujib, Syu’ab alIman, Fath al-Majid, Tafsir alJalalain, Bulugh al-Marom, Riyadh al-Shalihin, Durrah al-Nashihin, Nashaih al-Ibad, dan Minhaj alAbidin Al-Qur’an, Fasholatan, Fiqh Jawan, Tauhid Jawan dan Pendidikan Dasar (WAJARDIKNAS) Al-Qur’an Al-Jurumiyyah, Alfiyah Ibn Malik, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam atTaufiq, Fath al-Qorib al-Mujib, Tuhfah al-Thullab, dan Tafsir alJalalain Al-Qur’an, Nadham al-Umrithi, Jawahir al-Kalamiyyah, Fath alMu’in, dan Minhaj al-Abidin Al-Qur’an Al-Qur’an, Sullam al-Munajah, Fath

A B C

B B A

32 33 34

3 4 5

Al-Khoirot Manalaul Huda AsSyafa’ Mu’awanatuth

Undaan Kidul Gg. VII. Rt 5/II Kalirejo, Rt 2/I Madini Gg. IV Rt 8/I

1967-an K. Hajar Abdul Rodli 1965 1962 K.H. Musyafa’ K.H. Achmad

A A A 116

Thullab 35 6 Nurus Siroj Undaan Kidul Gg. XII. Rt 02/IV Kalirejo Undaan Kidul 1890

Husein K.M. Sholih & K.H. Zaenal Arifin K. Masyasyih K.H. Ali Ajwad

36 37 38

7 8 9

Raudhatul Huffadh Rabtotul Huffadh Subulussalam Tibbil Qulub Bustanul Muhtadin Darul Falah

1987 -

Sambung Gg. XII, Rt 1940-an K.H. Hasan Mas 03/I Umar

39 10 Jekulo 40 41 1 2

42

3

Darul Mubarok

Jl. Prawoto, Kalirejo, 1999 K.H. Misbahul Rt 05/IV Munir Bulung Kulon 1950-an K. Syafi’i Al-Qur’an, Riyadh al-Badi’ah, dan Rt.03/V Nasha’ih al-Ibad Jl. Sewonegoro, No. 1970 K.H. Ahmad Basyir Al-Qur’an, Al-Jurumiyyah, Al29 Rt.1/X, Kauman, ‘Umrithi, Alfiyah Ibn Malik, AlJekulo Amtsilah al-Tashrifiyyah, Nadzam al-Maqsud, Qowa’id al-I’lal, Jauharul Maknun, Fath al-Qorib alMujib, Fath al-Mu’in, Fath alWahhab, Tafsir al-Jalalain, Nur adz-Dzolam, Bidayah al-Hidayah, Nashaih al-Ibad, dan Ihya’ Ulumuddin Jl. Sewonegoro, No. 1983 K.H.A. Romli Safinah an-Najah, fath al-Mu’in, 125 Rt.03/IX, Fath al-Majid, dan Nasha’ih al-Ibad

al-Qorib al-Mujib, dan Fath alMu’in Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Qorib alMujib, Fath al-Mu’in, Tanwir alQulub, Bidayah al-Hidayah, dan Ihya’ Ulumuddin Al-Qur’an, Tafsir al-Jalalain, dan Fath al-Qorib al-Mujib Al-Qur’an, Jazariyyah, Tafsir alJalalain, Ta’lim al-Muta’allim, dan Bidayah al-Hidayah Fath Al-Qorib Al-Mujib, Fath AlMu’in, Matn Al-Sanusiyyah, dan Fath Al-Majid Al-Qur’an

A

A A A A B B

B 117

43

4

Darul Muqomah

Kauman, Jekulo Bulung Kulon, Rt 04/III

1992

44

5

Dzikrul Hikmah

Tlogo, Gondo Harum

1975

45 46

6 7

Al-Halim Hanafiyyah

Rt.01/II Kerang Panas, Bulung Cangkring, Rt. 03/I

1999 1977

47

8

Al-Husna

Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo

1984

48

9

An-Nur

Jl. Sewonegoro No.1, Kauman, Jekulo

1993

Al-Jurumiyyah, al-Mutammimah, alAmtsilah al-Tashrifiyyah, Hidayah al-Mustafid, Syifa’ al-Jannah, Fath al-Qorib al-Mujib, dan Hadits alArba’in an-Nawawiyyah K.H. Khasnan Al-Jurumiyyah, Ta’lim alMuta’allim, Fath al-Qorib al-Mujib, Thuhfah al-Thullab, Nail al-Amani, Tafsir al-Jalalain, dan Jawahir alBukhori K.H. Ahmad Al-Qur’an, Al-Aqidah al-Awwam, Syaerozi Fath al-Qorib al-Mujib, Bidayah alMujathid, dan Nashaih al-Diniyyah K.H. Hanafi Ta’lim al-Muta’allim, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Qorib al-Mujib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab, Minhaj al-Qowwim, Riyadh al-Sholihin, Nashaih al-Ibad, dan Ihya’ ‘Ulumuddin K.H. Rahman Al-Qur’an, Nahwiyyah lil Athfal, alAhmad Jazariyyah, Fath al-Karim alMannan, Ta’lim al-Muta’allim, Tuhfah al-Thullab, Bidayah alHidayah, dan Hadits al-Arba’in anNawawiyyah K.H. Syafiq Nashan Al-Umrithi, Sullam al-Taufiq, Fath al-Qorib al-Mujib, Bidayah alHidayah, Tafsir al-Jalalain, dan Shohih al-Muslim

K. Muhammad Sholeh

B

C

A A

A

C

118

49 10 50 11

Pendidikan Pedoman Islam (PPI) Al-Qoumaniyyah Bareng

Bulung Kulon Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 03 Rt. 01/X

1965 1923

K.H. Damansari K.M. Mujib

51 12 52 13

Al-Qoumaniyah (Huffadh) Rohmatul Ummah Essalafy

Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 15 Rt. 01/X Jl. Pandean No. 230

1988 1989

K.H. Hambali K.H. Mahmudi Amam

Kutub al-Sittah, Fath al-Qorib alMujib, Fath al-Mu’in, Fath alWahhab, dan Ihya’ al-Ulumuddin Al-Qur’an, al-Jurumiyyah, alUmrithi, Alfiyah Ibn Malik, Qawaid al-I’rob, al-Amtsilah al-Tasrifiyyah, Nadzom al-Maqsud, al-Ma’qud, alMathlub, Fath al-Qorib al-Mujib, Kifayah al-Akhyar, Fath al-Mu’in, Sullam al-Taufiq, Kifayah alAwwam, Tijan al-Darori, Fath alMajid, dan Jauhar al-Tauhid Al-Qur’an Al-Qur’an, Fiqih Jawan, Nahw alWadih, Ta’lim al-Muta’allim, alJurumiyyah, al-Umrithi, Alfiyah Ibn Malik, Syarh Ibn ‘Aq il ‘ala Alfiyah Ibn Malik, al-Amtsilah alTasrifiyyah,Jauhar al-Maknun, Tauhid Jawan, ‘Aqidah al-Awwam, Fath Robb al-Bariyah, Safinah anNajah, Fath al-Qorib al-Mujib, Minhaj al-Qowwim, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab, Hasyiyah al-Bajuri, Syarh al-Mahalli, Fara’idl, Shahih al-Bukhori, ‘Ilm Musthalah alHadits, Ilm al-Mantiq, Ushul alFiqih, al-Fara’idl dan Ihya’

A B

A B

119

53 14

Salafiyyah Asysyafi’iyah Sirajul Hannan Al-Yasir

Jl. Gondoharum, No. 08, Rt. 03/I Jl. Sewonegoro II, No. 27, Kauman, Jekulo Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, Rt. 03/IX Kalugawen, Janggalan, No.267. Rt. 01/II Jl. Lambau. No. 05 Singocandi Kauman Menara Rt.02/I Bejen, Kajeksan No.60 Damaran No.92 Bejen, Kajeksan

1979

K.H. Moch. Halimi

54 15 55 16

1997 1987

K.H. Ma’shum Rosyidie K.H. Ahmad Saiq

‘Ulumuddin Al-Umrithi, al-Amtsilah alTashrifiyyah, Fath al-Qorib alMujib, Risalah al-Tauhid, Tafsir alJalalain, dan Durrah an-Nashihin Al-Qur’an, ‘Ilm al-fara’idl dan ‘Ilm Falak Al-Qur’an, al-Jurumiyyah, alUmrithi, Safinah an-Najah, Riyadh Al-Badi’ah, Fath al-Qorib al-Mujib, Fath al-Wahhab, dan Fara’idl alBahiyyah Ta’lim al-Muta’allim, Ayyuha alWalad, Matn al-Jazariyah, Tafsir alJalalain, Fath Al-Qorib al-Mujib, dan kitab al-Mawa’idh (Hadits Qudsi). Al-Qur’an, Ta’lim al-Muta’allim, Fath al-Qorib al-Mujib, Kifayah alAkhyar, Tafsir al-Jalalain, Qami’ alThughyan dan Durrah al-Nashihin. Al-Qur’an, Nahwu dan Shorf Ta’lim al-Muta’allim dan Fath alQorib al-Mujib. Al-Qur’an, al-Mutammimah, Fath al-Qorib al-Mujib. Al-Qur’an, Fiqih dan Bahasa Arab

B

B A

Kota

56

1

Dar al-Furqon

1984 1984

K.H. Abdul Qodir

A

57

2

Al-Fadlilah

2000

K. Nashihul Umam

A

58 59 60 61

3 4 5 6

Al-Jalil Ittihadul Falah Jam’iyyatul Hidayah Ibu Fathihah Jam’iyyah Roudlotul

1957 2000 1963 1990

K. Yasin Djalil K. Habibullah Hambali Ust. Mutahifah & K. Jamaluddin Ust. Nor Ulfah

C C C C 120

62 63

7 8

Mubarok Mafatihul Ulum alMathar MAK TBS

No.60. Rt.03/III Sunggingan No.442446 Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.23, Rt.02/II Rendeng Utara No.14 a

1992 1994

K.H. Abdullah Zaeni Nadhirun K.H. Ahmad Abd. Fatah, MA

64

9

Manba’ul Qur’an (Huffadz) Manba’ul Uluum Mazro’atul Ulum Al-Mubarokah Muhammadiyah

1999

K.H. Shofwan Duri

65 10 66 11 67 12 68 13

Kelurahan, Kajeksan 1940-an K. Zahir Ma’mun 22 Damaran No.78 Lemah Gunung, Krandon Tepasan, Demangan No.180 Bejen, Kajeksan 60 Rt.02/III Bejen, Kajeksan 60 Rt.02/III 1940-an K.H. Noor Muttaqin (Alm) 1989 1990 K.H. Sa’dullah Arrouyani Ust. Endang Karyati, S.Ag, Ust. Ladun Hakim dan Ust. Hasan Fauzi K.H. Ahmad Chamdun Ust. Hanifah

Amtsilati, Sullam al-Taufiq, Irsyad al-Ibad, dan Nashaih al-Ibad Al-Jurumiyyah, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Qorib al-Mujib, Fath alMu’in, Tuhfah al-Thullab, Mukhtar al-Hadits, Durrah al-Nashihin, dan Nashaih al-Ibad Al-Qur’an, Tajwid al-Jawan, alJurumiyyah, Fath al-Qorib al-Mujib, dan Fath al-Majid Syarh Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik, al-Tibyan, Fath al-Mu’in, dan al-Ushfuriyyah Al-Qur’an, Ta’lim al-Muta’allim, Riyadh al-Badi’ah, dan Fath alMannah Al-Qur’an, Fath al-Qorib al-Mujib, dan Tafsir al-Jalalain Al-Qiro’ah al-Rasyidah, alJurumiyyah, al-Iman, al-Ibanah alAhkam, dan Riyadh al-Shalihin Al-Mutammimah, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Qorib al-Mujib, dan Tafsir al-Jalalain Al-Qur’an, Tafsir al-Jalalain, Fath al-Qorib al-Mujib, Fath al-Majid, dan Bulugh al-Marom

C B

B A A A B

69 14 70 15

Nahdlotut Tholibin Najahuth Tholabah

1936

A C

121

71 16 72 17 73 18 74 19

Al-Qudsy Raudlatul Jannah Ar-Raudlotul Mardliyah Raudlatul Muta’allimin

Jl. Pangeran Puger No.54 Demaan Bejen, Kajeksan Rt.03/III Janggalan No.57 Jagalan, Langgardalem No.62

2000 1981 1880

Ust. Siki Hariroh K.H. Abdul Azis Mulyono & Nyai Hj. Aminah K.H. M. Munir Hisyam K.H. Ma’ruf Irsyad (Alm)

Gharib Al-Qur’an, Tafsir al-Ibriz, Jauhar al-Tauhid, dan Ta’lim alMuta’allim Al-Qur’an, Amtsilati, ta’lim alMuta’allim, Fath al-Qorib al-Mujib, Tafsir al-Jalalain, dan al-Ushfuriyah Al-Qur’an Al-Jurumiyyah, al-Umrithi, alMutammimah, Alfiyah Ibn Malik, Syarh Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah, Nadhom al-Maqsud, ‘Unwan alDharf, Qawa’id al-Sharfiyyah, Hill al-Ma’qud, Hidayah al-Mustafid, alJazariyah, Safinah an-Najah, Fath alQorib al-Mujib, Fath al-Mu’in, alIqna’, Tafsir al-Jalalain, al-Jami’ alShaghir, Al-Adzkar al-Nawawiyyah, al-Akhlak lil Banin, al-Ushfuriyyah, Irsyad al-Ibad, dan Nashaih al-Ibad Al-Jurumiyyah, al-Amtsilah alTashrifiyyah, Fath al-Qorib alMujib, Majmu’ al-Ahkam alSyar’iyyah, Sullam al-Taufiq, Syu’ab al-Iman, Tijan al-Durari, Ta’lim al-Muta’allim, alUshfuriyyah, Bidayah al-Hidayah Al-Jurumiyyah, Ta’lim alMuta’allim, Fath al-Mu’in, dan

C C C C

75 20

Raudlatut Tholibin

Jl.K.H.R. Asnawi No.44 Bendan, Kerjasan

1927

K.H. Moch. Hafidz Asnawi

C

76 21

Raudlatut Muta’allimat

Kaligunting, Kajeksan No.115

1969

K.H. Ahmad Yahdi

C 122

77 22 78 23

Sadzaliyyah Kyai Noor Hadi TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyyah)

Sunggingan Rt. 02/III Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.237, Balaitengahan, Langgardalem Jl.K.H.M. Arwani Kajan, Krandon

K.H. Abdullah Zaini Nadhirun 1920-an K.H. Taufiqur Rohman

1996

Irsyad al-Ibad Tafsir al-Ibriz, dan Irsyad al-Ibad Syarh Muhtasar Jiddan ‘ala alJurumiyyah, Khamsatu Mutun, Fiqh al-Wadih, Safinah al-Najah, Sullam al-Taufiq, al-Husnun al-Hamidiyah, Hujjah Ahl al-Sunnah wa alJama’ah, Tafsir al-Jalalain Syarh Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik, Ta’lim al-Muta’allim, Kifayah al-Akhyar, Fath al-Mu’in, Syarh Sullam al-Taufiq, al-Khusun al-Hamidiyyah, Hujjah ahl alSunnah wa al-Jama’ah, Tafsir alJalalain, dan Idhah al-Nasyi’in Al-Qur’an, Haqq al-Tilawah, alTibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an, Faidl al-Barakat fi Sab il al-Qira’at, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Tafsir alJalalain, Khasifah al-Saja, Bidayah al-Hidayah, dan Nashaih al-Ibad Al-Qur’an, Haqq al-Tilawah, alTibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an, Faidl al-Barakat fi Sab il al-Qira’at, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Tafsir alJalalain, Khasifah al-Saja, Bidayah al-Hidayah, dan Nashaih al-Ibad Al-Qur’an dan MI

A B

79 24

Yanabi’ul Ulum Warrohmah

1993

K.H. Maksum AK

B

80 25

Yanbu’ul Qur’an – Putera (Pesantren Tahfidz)

Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III

1970

K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

A

81 26

Yanbu’ul Qur’an – Puteri (Pesantren Tahfidz)

Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III

1973

K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

A

82 27

Yanbu’ul Qur’an – Anak-Anak

Kebon Agung, Krandon, No.12

1986

K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

B 123

83 28

(Pesantren Tahfidz) Yanbu’ul Qur’anMa’had AlUlumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banin

Kwanaran Kajeksan No. 139 a

1990

K.H. Arifin Fanani

84 29

85 30

Yanbu’ul Qur’anMa’had AlUlumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banat Yanbu’ul Qur’anRemaja (Pesantren Tahfidz) Yanbu’ul Qur’anYatama Utsman bin Affan

Kerjasan No. 82

1993

K.H. Munfa’at A.Jalil, Lc K.H. Mc. Ulinnuha Arwani K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

Al-Qur’an, Mudzakirah (Tajwid), alJurumiyyah, Syarh Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik, Jauhar alMaknun, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam al-Taufiq, Fath al-Qorib alMujib, Fath al-Mu’in, Tahrir dan Minhaj al-Qowim Al-Qur’an, Ta’lim al-Muta’allim, Risalah al-Mu’awanah, dan Irsyad al-Ibad Al-Qur’an, al-Akhlaq li al-Banin, Minah al-Saniyyah, alMutammimah, dan Amtsilah alTashrifiyyah Al-Qur’an dan MI

B

B

Bejen, Kajeksan 3/III

1997

A

86 31

Singopadan, Singocandi Rt.01/III

2002

A

Sumber : Di olah dari hasil penelitian Central Riset dan Manajemen Informasi (CeRMIN) Kudus dan Kementrian Agama Kabupaten Kudus

124

Lampiran 1b Perbandingan Tipologi Pondok Pesantren Se-Kudus Tipologi No 1 Aspek Sistem Pendidikan Pesantren A Menekankan pada yang tradisional Kyai sebagai Kyai hanya pesantren Segala kebijakan terpusat pada kyai pendidikan B Menekankan pada yang integratif C Menuju pada pola sistem pendidikan integratif Kelebihan Tipe B dan C terlihat lebih menyeimbangkan pendidikan agama umum. Namun, meskipun pada tipe A masih menerapkan pendidikan yang tradisional, aspek ketrampilan pada Santri menetap di pesantren Santri tinggal dan menetap di pesantren Pesantren hanya sebagai tempat menginap sebagian besar pesantren sudah diterapkan pada pesantren tersebut. Untuk tipe C, maju dan 125 pengasuh dan sebagai pengasuh pemilik pesantren Kekurangan Sebagian pesantren yang sudah menerapkan sistem pendidikan modern terkadang belum bisa menyesuaikan dengan nilai-nilai yang ada. Keterangan _

sistem sistem pendidikan

Sudah memiliki organisasi pengurus pesantren

Sudah memiliki organisasi

Sebagian besar sudah memiliki hanya beberapa pesantren yang mash berjalan Pada tipe A, hubungan antara akrab karena rutinitas ketemu lebih banyak dari

mundurnya sebuah pesantren sangat charisma kyai dalam menjalankan pesantren.

pengurus pesantren pengurus, namun

kyai dan santri lebih dipengaruhi oleh

Kegiatan pesantren terpusat pada kebijakan pengurus pondok Sangat menekankan kedisiplinan pada kehidupan sehari-hari

Kegiatan pesantren sebagai pelengkap

Kegiatan pesantren pada tipe B dan C. menyesuaikan dengan kegiatan sekolah

Menekankan kedisiplinan dalam melaksanakan kegiatan pesantren

Kedisiplinan kurang ditekankan

126

2

Kurikulum

Tidak terprogram secara jelas dan baku Membuka kelembagaan dan faslitasfasilitas pendidikan bagi kepentingan pendidikan umum

Sudah jelas dan terencana secara sistematis

Kurikulum tidak tertulis

Penataan kurikulum tipe B lebih sistematis dari pada tipe A dan C. namun, kurikulum

Kurikulum yang belum tersusun secara sistematis, mengakibatkan orientasi pesantren kadang tumpang tindih. Hal ini mengakibatkan maju dan mundurnya suatu pesantren dalam satu sisi sangat di pengaruhi oleh kharisma kyai.

Dimensi kurikulum masing-masing Nampak sudah melakukan pembaharuan sesuai dengan kekuatan yang dimiliki pesantren.

Merevisi kurikulum dengan memasukkan materi pelajaran dan ketrampilan umum sebagaimana yang diajarkan di madrasah formal

Memberikan kebebasan pada santri untuk mengembangkan bakat dan minatnya sesuai dengan potensi asalkan masih menempat di pesantren

pesantren itu pada dasarnya mengikuti pola-pola yang ada di kitab sehingga masih banyak pesantren, terutama dari tipe A dan C yang belum menggunakan kurikulum yang jelas

Kegiatan pesantren yang

Pagi sekolah di sekolah atau madrasah formal,

Pagi sekolah, kegiatan pesantren dimulai habis

Tipe A mempunyai kelebihan dalam bidang tahfidz al-

Tipe A belum sepenuhnya melakukan 127

dijalankan dari kegiatan pesantren mulai sejak subuh hingga malam hari Al-Qur’an yang mencakup hafalan, tajwid, makhroj, dan ilmu tafsir. Serta juga mempelajari al-Qur’an qiro’ah sab’ah. Ilmu syari’ah mencakup Imu syari’ah mencakup Ta’lim Al-Qur’an mencakup seni baca al-Qur’an, musyafahah alQur’an, khataman al-Qur’an dan ilmu tafsir mulai habis ashar sampai malam

magrib. Sementara waktu sore hari digunakan untuk piket Al-Qur’an meliputi tajwid dan mudarosah

Qur’an, Tipe B pada pembaharuan kombinasi antara kitab salaf, sedangkan tipe C mempunyai keunggulan dalam materi ilmu syar’iyyah.. secara mendasar. mendasar namun belum sepenuhnya meletakkan nilainilai madras dalam sistem madrasah yang dikehendaki. Tipe C, belum menyajikan kurikulum yang tertulis dan baku yang dijadikan para santri dalam menuju pada pelajaran umum dan Tipe B, sudah

Ilmu syari’ah mencakup al-

Di samping memepelajari kitab

tujuan pendidikan yang 128

Haqq alTilawah, alItqon fi Ulum al-Qur’an, Kasifah alSaja, Bidayah al-Hidayah dan Nasha’ih al-Ibad _

al-Muta’allim, Sullam al-Taufiq, Fath al-Qorib alMujib, Fath alQowim, alJurumiyyah, dan Jauhar al-Maknun

Jurumiyyah, Fath al-Qorib al-Mujib, Sullam al-Taufiq, Tijan al-Darori, alUshfuriyah, Bidayah alHidayah dan Majmu’ al-Ahkam al-Syar’iyyah

kuning, pesantren tipe B dan C mempunyai rutinitas di luar jam pembelajaran. Khususnya tipe C, pada umumnya mempunyai amlanamalan tersendiri untuk meningkatkan perilaku santri di

diinginkan.

Tafsir Jalalain, Mu’in, Minhaj al-

Pengajian ekstra meliputi Simthut Duror, adz-Dziba’, al-Barjanji, taqror Alfiyah, sorogan kitab kuning, musyawaroh kitab, mukhafadzoh Alfiyah, pengajian

Pengajian ekstra meliputi pembacaan surat al-Kahfi setiap malam jum’at, alBarjanji, pengajian yasin tahlil, khitobah malam jum’at dan

pesantren.

129

fiqih dialogis fiqh ubudiyyah, pengajian yasin tahlil, dan bimbingan belajar untuk jekas 6 MTs dan 9 MA. _ _

mukhafadzoh surat-surat pendek.

Tipe C, mempunyai kelebihan mempelajari bidang ilmu hikmah disbanding dengan tipe lainnya.

Ilmu hikmah meliputi pembacaan sholawat Asnawiyah, syi’ir nasihat KHR. Asnawi, Rotib alImam Abdurrohman alAtthos, Rotib alSyahir lil Imam alHabib Abdillah bin 130

Alwi al-Haddad dan wirid al-Imam Ali bin Abi Bakar al-Syaqofi. 3 Pola Pembelajaran Pola pembelajaran tradisional, seperti sorogan dan bandongan Metode pembelajaran yang diterapkan menggunakan musyafahah, resitasi, taqrir, dan mudarosah 131 Metode yang diterapkan metode mbalah, musyafahah, sorogan hafalan Alfiyah dan musyawaroh. Metode sorogan dan bandongan. Menerapkan metode mutakhir dalam pembelajaran Tetap menerapkan metode sorogan dan bandongan Tipe A unggul dalam hal hafalan, meskipun juga menerapkan sistem tradisional. Tipe B unggul dalam perpaduan agama dan umum. Sementara tipe C, unggul dalam pola pembelajaran kitabnya. Tipe A tetap kokoh mempertahankan pola tradisionalnya, namun masih kurang dalam menyerap metode-metode yang transformatif. Pola pembelajaran yang dimaksud meskipun bernafas pembaharuan, namun tidak berarti menghilangkan pola lama yang sudah mentradisi.

4

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan

Mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah Kelas yang dipersiapkan terdiri dari kelas persiapan A dan B, kemudian masuk ke kelas 1, 2 dan 3. Serta di tingkatan akhir dibuka kelas mudarosah

Menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan

Menyelenggarakan Pada umumnya, pendidikan model madrasah semua pesantren jenjang kelas dalam sistem pendidikannya. Ada yang bentuk madrasah lokal, kelas takhasus dan kelas berdasarkan kemampuan. Tipe A, lebih spesifik dalam santrinya. Tipe sudah terbiasakan dengan pola umum, sehingga untuk di pesantren tinggal keagamaan dengan sudah mempunyai

Tipe B yang sudah pendidikan pesantren dengan pendidikan formal kebanyakan belum mempu memadukan secara kolektif. Akibatnya tidak ada pada penekanan dilaksanakan.

Dimensi penyelenggaraan dalam hal ini menunjukkan pola yang sporadis.

mengintegrasikan pendidikan

kurikulum nasional lokal pesantren Kelas yang dipersipkan menyessuaikan pada kelas Kelas yang dipersipakan juga menyesuaikan pada jenjang yakni kelas takhasus 1 dan takhasus 2.

dimadrasah formal. pendidikan formal,

memperhatikan para keseimbangan penyelenggaraannya pendidikan yang

132

bagi para khotimin. Menekankan pada aspek pelajaran alkitab salaf. Menekankan pada kombinasi antara al-Qur’an, umum Menekankan pada aspek fiqih, nahwu, shorof dan akhlak.

menyesuaikan. Sementara tipe C, lebih menekankan pada pemenuhan minat santri dalam memilih pendidikan formal yang diinginkannya.

Qur’an dengan dan kitab salaf.

133

Lampiran 2 Teks Asli Wasiat KH. Arwani Amin Kudus

Lampiran 3a Teks “Pegon” Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Bagian 1

Lampiran 3b Teks “Pegon”Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Bagian 2

Lampiran 3c Teks “Pegon” Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Bagian 3

Lampiran 3d Teks “Pegon”Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Bagian 4

Lampiran 4 Teks Jawa Syi’iran Nasihat KHR. Asnawi Kudus Bismillahirrahmanirrohim Purwane tembang aran syi’iran Asmane Allah Gusti Pangeran Pengalembana mungguh hakekat Keduwe Allah kang paring ni’mat Rahmat lan salam katur utusan Mengkono ugo kawula wergo Iki tembangan kang teka mburi Aja mengucap sun anak ratu Sebab mulyane menungsa iku Akeh ilmune amal ta’ate Gusti Muhammad Nabi pungkasan Para Sahabat ahli suwargo Maring anakku kanggo nuturi Lan pada mulya anak lan putu Benturing tapa bagusing laku Langgeng sampurna tan ana pote

Wong tuwa akeh kang pada mulya Anake ina cilaka siya Sebab bodone tanpa sinahu Banjur mengucap mengkono mahu Mikira maring sebab mulyane Mandenga maring nabi lan rasul Lan para alim kang melaku bagus Contone kaya uwite mawar Wong tuwa kaya apa lakune Lan para wali para pinunjul Nganggo ilmune tindake alus Arum kembange ba’dane mekar

Sekehe irung kepengen ngambung Amondo – mondo akeh wong gandrung Maring asale pada nyingkiri Kuwater maring kecekrek eri Anak kang bagus bapake ala Alane bapak tan bisa nglungsur Kosok baline luhuring bapak Mulane pada mbudi pekerti Iki wasiat maring anakku Ngelinggi nasab lan salasilah Lamun supaya niru lakune Mengkono ikuk laku kang bener Yen nejo maring diri gunggungan Rinengga mulya akeh wong melala Ing derajate anak kang luhur Tan bisa ngangkat asoring anak Ilmu lan amal sangune mati Lan maring para muslim dulurku Terkadang bener terkadang salah Leluhur bagus budi kertine Dadine cocok nasabe nomer Luhuring tedak gawe omongan

Iku keliru ojo mbok tiru

Ngedukno nasab lakukne saru

Kena ketembung ngedukno balung Ingkang wus ajur ora demunung Wong mengkono bodo lan kumprung Bingung dak weruh maring delangkung Seperti kaya tisma’an bathok Elingo siro dongenge kintel Pak kebo iku gedhe nemeni Banjur ageden wetenge melembung Njur takon gede endi lan aku Banjur le ngeden ditemenani Bangete ngeden wetenge bedah Amerga aja sampiya kalah Wong kang gumede dadine asor Elingo iki dongeng jo lali Dongenge iblis bangkang perintah Diperintah sujud marang nabine Digawe isi ana neraka Sifat gumedhe iku ngelabeti Wongkang gumede iku persasat Nabi Muhammad ngasor tindake Sekehe makhluk sak pengisore Ewo semono dak ngaku luhur Pada ngiloha kaca brenggala Yen kuwe weroh wong salah Lamuna kuwe dewe nglakoni Isina kuwe yen ngaku jempol Ing medan njaluk ana ing duwur Tan weruh maring burine jithok Anake kanda dak gelem ngandel Dak gelem kalah gumede sombong Jawabe anak during sak kuku Supaya ora ana kang madani Le ngeden ora di arah – arah Karo gedene kebo delalah Dunyo akhirat tumibo ngisor Rino lan wengi den tuli – tuli Sangking pangeran tur wani bantah Adam tan nurut nampa bendune Sak turun - turun kabeh cilaka Tumeka anak putu mlarati Agawe ina ing anak mlarat Ora rumongso luhur awake Gemblang lan terang mungguh luhur Liyane nabi pada kemluhur Terang rupamu bagus tah ala Nacat tan ngerasa kuwe menyalah Dicacat kuwe terus bendoni Ngajimu pelo pating perenjol Ngedengkreng karo ngubengno susur

Anakku lanang ojo do ngrokok Mundak cangkeme penceng lan perot Sisih pipine mendokol mrongkol Cangkem pipine owah rupane Kewes lan denes anyenengake Amerga kaya pipine kethek Piker kang bening lan ngati – ati Pitutur kabeh kang wus kasebut Sapa kang nurut dadi wong mulya Ing kene rampung tutur wasiat

Aja susuran anakku wedok Susure nglewer metu mecotot Sing lanang nyawang pegel mendokol Tan sisih merongkol maring atine Bareng susuran anggethengake Sak sisih merongkol naliko nyekek Ing guru laki wajibeng bekti Anak putukku supaya nurut Dunya akhirat ora disiya Akhire mekas aja maksiyat

Lampiran 5 Draft Wawancara Terstruktur 1. Dunia pesantren pada dasawarsa terakhir ini nampaknya semakin

menempatkan dirinya di tengah masyarakat. Sebenarnya apa menurut Anda fungsi pesantren dalam hal ini? 2. Berdasar pada fungsi pesantren diatas, bagaimana realita sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren? Bagaimana seharusnya? 3. Bagaimana Anda menanggapi gagasan-gagasan dari mengenai pembaharuan/ modernisasi pesantren? 4. Bagaimana seharusnya sikap pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman? 5. Semakin merebaknya jumlah sekolah-sekolah umum saat ini yang menyerap peserta didik tidak sedikit, upaya apa yang dilakukan pesantren berkaitan dengan kurikulum? 6. Berkaitan dengan pola pembelajaran yang tradisional, bagaimana Anda menyikapi pola semacam sorogan, bandongan, dan lain sebagainya masih relevankah? 7. Strategi apa yang bisa digunakan untuk menempuh perbaikan yang relevan bagi kebutuhan pesantren? Semntara sekarang ini penyelenggaraan pendidikan formal oleh pesantren sedang merebak. 8. Apa harapan harapan Anda bagi dunia pesantren kedepan?

Lampiran 6 Hasil Wawancara Terstruktur dan Tidak Terstruktur Terstruktur Tema : Menata Kembali Sistem Pendidikan Pesantren Nara Sumber : K.H. Moch. Khafidz Asnawi Pengasuh PP. Roudlotuth Tholibin Interviewer : Menurut Anda apa fungsi pesantren sekarang ini? Interviewee : Pesantren menurut saya di samping sebagai lembaga keagamaan, juga menjadi basis control social kemasyarakatan. Selain pengajaran kitabkitab salaf yang diajarkan pada pesantren ini, pada bidang sosial kami juga menekankan pembacaan syi’iran nasihat KHR. Asnawi dan sholawat Asnawiyah, serta rotib-rotib lainnya. Khusus yang syi’iran dan sholawat itu sudah diamalkan oleh sebagian masyarakat Kudus pada sebuah acara pengajian-pengajian. Interviewer : Seberapa besar pengaruh syi’iran dan sholawat tersebut berkaitan dengan sistem pendidikan yang telah diterapkan? Interviewee : Pengaruhnya nampak pada nilai-nilai pengajaran, yakni pada aspek membentuk akhlak santri. Meskipun pada pesantren ini dibolehkan untuk bersekolah formal tiap pagi, dan malamnya mengikuti kegiatan pesantren. Tingkatan kelas menggunakan sistem takhassus. Di maksudkan sebagai penyeimbang keilmuwan santri dan sebagai benteng akhlak mereka. Interviewer : Bagaimana sikap pesantren dalam menghadapi perubahan? Interviewee : Pembacaan syi’iran nasihat dan sholawat Asnawiyah merupakan suatu wujud respons bagi pesantren ini dalam menyikapi perubahan. Untuk mengenai isinya dapat dipelajari menurut teks-teks pada syi’iran dan sholawat tersebut. artinya, pesantren tidak melarang bagi santri yang ingin bersekolah umum, namun dianjurkan untuk tetap di pesantren.

Interviewer : Apa nilai lebih dengan sistem pendidikan yang diterapkan pada pesantren ini? Interviewee : Di antaranya adalah penyesuaian materi pelajaran yang telah didapatkan oleh santri di sekolah. Para santri diajarkan apa yang tidak ia peroleh di sekolah. Nara Sumber : K.H. Mc. Ulin Nuha Arwani Pengasuh PP. Yanbu’ul Qur’an Interviewer : Bagimana pihak pesantren dalam meyikapi pembaharuan? Interviewee : Pesantren Kudus pada umumnya masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri dalam memaknai arti pembaharuan tersebut. Ada yang menyikap dengan memperbaharui sistem, pola pembelajaran dan lain sebagainya. Pesantren Yanbu’ul Qur’an dalam hal ini sikap yang ditunjukkan adalah lebih merangkul masyarakat untuk memajukan pesantren. Terbukti berkat mereka cabang-cabang dari pesantren ini dapat diselenggarakan, dari model pesantren khusus anak-anak, remaja dan bahkan ada pesantren khusus anak-anak yatim. Ini merupakan bentuk dukungan dari masyarakat karena pesantren milik masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Interviewer : Sistem pendidikan yang bagaimana supaya dapat mempertahankan tradisi pesantren? Interviewee : Meskipun dikatakan sebagai sistem pendidikan tradisional, namun saya kira masih relevan dengan perubahan yang ada dimasyarakat. Boleh mengambil nilai-nilai yang ada pada masa ini, namun nilai yang sudah ada di pesantren tetap harus dipertahankan. Tema : Menyoal Pola Pembelajaran di Pesantren

Nara Sumber : Ahmad Mahalli Ketua Pondok Demisioner Pesantren MUSYQ

Interviewer : Masih relevankah pola pembelajaran sorogan, bandongan dan lain sebagainya di pesantren? Interviewee : Sistem pembelajaran yang mengutamakan kecakapan individu dan atas dasar kebersamaan selama cukup meningkatkan kemampuan kami mengapa tidak relevan. Yang menjadi masalah itu bukan pola yang diterapkan, namun metode penyampaiannya yang perlu di benahi dan ditingkatkan. Interviewer : Pola pembelajaran apa saja yang ada di pesantren ini? Interviewee : Untuk mengenai sistem bandongan tidak diterapkan pada pesantren ini. namun sorogan masih digunakan. Di samping itu juga ada musyafahah, musyawaroh dan mbalah. Tidak Terstruktur Tema : Menyoal Realitas Kurikulum Pesantren Nara Sumber : Ust. Mushoniful Hanif PP. Roudlotuth Tholibin Interviewer : Menurut Anda, pondok pesantren ini menggunakan jenis kurikulum yang bagaimana? Interviewee : Sebagian besar kurikulum pesantren yang diberikan oleh pemerintah tidak dijalankan oleh banyak pesantren, termasuk pesantren ini yang masih menggunakan kurikulim lokal pesantren yang masih bersifat klasik dan sentralis. Interviuwer : Meskipun klasik, mungkin saja tetap menarik. Bisa saja ini yang menjadi ciri khas pesantren. Apa jenis kurikulum semacam ini dinamakan hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) atau hanya tersirat di benak kyai. Bagaimana menurut Anda? Interviuwee : Entah lah kang..kalo saya ini selalu mngaitkan dunia pesantren dengan peran pemerintah. Realitanya mengapa santri-santri yang lulusan

pesantren itu kurang dianggap ijazahnya dibanding pendidikan formal? Hal ini karena dunia pesantren sulit menerima perubahan. Interviuwer : Jika seperti itu, kira-kira aspek apa saja yang harus dibenahi? Interviuwee : Menurut saya sesuai realitas pondok saya sendiri terutama dari sisi manajemen SDM guru dan pengajarannya. Pengajaran di pondok pesantren yang monoton dengan pengajian kitab-kitab yang mereka bahkan tidak bisa membaca arab “pegon” pun masih cukup memprihatinkan. Saya sering sedih melihat krisis moral anak-anak pondok, terutama pondok kota seperti pondok Mbah Asnawi ini. Nara Sumber : Ust. Ahmad Chasan Sekretaris PP. Yanbu’ul Qur’an Pusat Interviewer : Menurut Anda bagaimana jenis kurikulum yang diterapkan di pesantren ini? Interviewee : Kurikulum yang ada di pesantren ini sebenarnya menggunakan perpaduan antara kurikulum pelajaran Al-Qur’an dengan pengajian kitab-kitab salaf. Mengingat sejarahnya dulu pesantren ini awalnya titik tekannya pada aspek Al-Qur’annya. Interviewer : Bagimana kondisi dulu waktu awal-awalnya pesantren ini menurut yang Anda ketahui? Interviewee : Pada periode awal dulu belum punya pondokan sebagai tempat belajar. Oleh karena itu, sebagian di samping tinggal di ndalem dan sebagiannya lagi ada yang dititipkan di rumah warga-warga sekitar. Oleh karena belum ada pondokan, para santri lebih senang menghafalkan dan belajar di Masjid Busyro Lhatif karena dekat dengan perairan. Interviewer : Bagimana menyiasati tingkat keilmuwan para santri mengingat tingkat hafalan mereka khususnya hafalan Al-Qur’an berbeda-beda? Interviewee : Model yang seperti yang diajarkan KH. Arwani adalah pembentukan kelas sesuai dengan tingkat hafalan masing-masing santri. Untuk mengenai berapa jumlah juz yang dikantongi santri ini biasanya

mereka menyetorkan hafalan kepada KH. Ulil Albab dan selanjutnya menjadi kebijakan pengurus untuk memasukkan satri tersebut pada jenjang sesuai dengan kemampuan.

Lampiran 7 Dokumentasi Pesantren Penelitian Berdasarkan Tipe Tipe A

Tipe B

Tipe C

Dokumentasi Pelengkap

Wirid Lathif Imam Abdillah bin Alwi Al-Haddad

Rotib Imam AL-Habib Abdillah bin Alwi Al-Haddad

Rotib Imam Umar Abdurrohman Al-Atthos

RIWAYAT HIDUP A. Identitas Diri 1. Nama Lengkap 2. Tempat & Tgl. Lahir 3. NIM 4. Alamat Rumah HP E-mail B. Riwayat Pendidikan 1. Pendidikan Formal a. MI Al-Islam Gunung Pati Semarang b. MTs Al-Islam Gunung Pati Semarang c. MA Al-Fadllu Kaliwungu Kendal 2. Pendidikan Non-Formal : a. Pondok Pesantren Al-Fadllu wal Fadllilah Kaliwungu Kendal b. – C. Prestasi Akademik 1. – 2. – D. Karya Ilmiah 1. “Kebijakan Janggal Pengganti BHP”, dalam Laporan Utama Majalah LPM EDUKASI Edisi XLI/Th.XIX/Juli/2010 2. “PP PK BLU ; Konsep Baru Penindasan Mahasiswa”, Laporan Utama Majalah LPM EDUKASI Edisi XLI/Th.XIX/Juli/2010 Semarang, 08 Juni 2011 : Miftahuddin : Semarang, 23 Desember 1986 : 073111105 : Jl. Abu Bakar RT 04 RW VII Ngrembel Gunung Pati Semarang : 085 740 925 789 : miftah_ksc@rocketmail.com

Miftahuddin NIM: 073111105

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful