GWR/17/5/2004

MASALAH AGRARIA: MASALAH PENGHIDUPAN DAN KEDAULATAN BANGSA1)
Oleh: Gunawan Wiradi
“Het vreugde ligt niet op de paddi, maar op de paddi die men zelf plant ….. op zijn eigen grond”

PENGANTAR

MULTATULI

(1) Sebenarnya adalah wajar, bahkan sudah seharusnya bahwa IPB sebagai lembaga pendidikan tinggi di bidang pertanian (dalam arti luas), perlu menaruh perhatian pada masalah agraria, baik agraria dalam arti sempit, yaitu tanah, maupun dalam artinya yang luas (bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya). Memang, pada umumnya, jika kita berbicara mengenai agraria, yang diacu adalah tanah, karena tanah (dan air) merupakan inti sumber-sumber agraria. Semua yang lain, langsung atau tak langsung, terwadahi oleh tanah dan air. (2) Sayangnya, selama 30 tahun hampir semua Universitas dan Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk IPB, seolah-olah menjadi terasing dari permasalahan agraria. Sebagai akibat kebijakan politik-ekonomi Orde Baru, sengaja atau tak sengaja, mata kuliah agraria terhapus dari kurikulum. Dalam masyarakat luas pun, selama masa Orde Baru itu, berbicara mengenai masalah tanah seolah-olah ditabukan. Tidak mengherankan bahwa setelah masa Orde Baru lewat, dan banyak orang ingin mengangkat kembali isyu agraria, ternyata tidak banyak orang yang memahami benar permasalahannya. Bahkan diantara elite nasional dan intelektual pun pemahamannya terkesan kurang memadai. (3) Selama lima tahun terakhir ini, sebenarnya sudah mulai bermunculan tulisan-tulisan mengenai masalah agraria, baik yang berupa buku, tulisan
1

Bahan Ceramah. Disampaikan dalam acara “Studium-Generale”, Jurusan Sosek, Fakultas Pertanian IPB, tanggal 17 Mei, 2004

1

(6) Celakanya. sepanjang jaman. a’politis dan a’historis.dalam jurnal. Begitu takutnya sehingga pernah terjadi pada suatu seminar. ataupun makalah-makalah dalam berbagai pertemuan (antara lain buku-buku terbitan KPA Bandung. terutama para analisis kita sendiri. seorang petinggi agraria terpaksa memerlukan tidak tidur semalaman semata-mata karena atas perintah “boss”nya dia harus menulis secara mendadak suatu makalah sepanjang 15 halaman untuk mencari berbagai alasan guna membantah pernyataan saya tersebut di atas pada siang hari sebelumnya 2 . karena walaupun memang tidak akan mengulangulang hal-hal yang sudah sering dibahas. cenderung hanya terpukau pada mengkotak-katik satu poros yaitu faktor (a) dan faktor (b). namun isinya hanyalah menegaskan kembali hal-hal yang dianggap penting. tidak sosiologis. legalistik. Siapa menguasai sarana kehidupan. yaitu: (a) dinamika internal. dll. terbitan Akatiga Bandung. dan (d) warisan sejarah. banyak diantara intelektual kita yang begitu takut mendengar istilah “politik” (terutama di masa Orde Baru). ia menguasai pangan. seringkali terjadi proses-proses yang hasilnya justru tidak diinginkannya sendiri. ia menguasai manusia ! Tanpa memahami hal ini. teknis-administratif. 1952). dan cenderung meninggalkan sejarah. uraian berikut ini bukanlah barang baru. termasuk berbagai tulisan saya sendiri). atau keterkaitan historis. Tauchid. orang akan terjebak ke dalam masalah-masalah parsial. (b) kebijakan-kebijakan pemerintah. (c) intervensi asing. atau. (5) Masalah agraria. pada hakekatnya adalah masalah politik (Lihat.Bagi mereka yang sudah membaca berbagai publikasi tersebut. Orang cenderung mengabaikan faktor intervensi asing. terbitan Insist Press Yogyakarta. Pada umumnya. Akibatnya. (4) Sudah sering saya kemukakan dalam berbagai kesempatan bahwa “potret” sebuah masyarakat pada hakekatnya merupakan produk dari bekerjanya empat faktor yang saling berinteraksi. ia menguasai sarana-sarana kehidupan!. 1990. Siapa menguasai tanah. juga Moch. Christodoulu.

Itulah cita-citanya ! mempunyai Jadi. melainkan bahwa hal-hal tersebut sekedar merupakan peringatan. dan di seberang jembatan itulah kita berusaha 2 Dengan sedikit diubah. adil dan sejahtera”. Demikian. walaupun punya pemerintahan pemerintahan oleh bangsa sendiri tapi jika ternyata justru menindas rakyatnya sendiri. dalam “Lokakarya Latihan Pendataan Obyek dan Suyek Land Reform”. dan dianggap sebagai “pintu-masuk” ke dalam pembahasan beberapa isyu agraria berikut ini. tanpa kemerdekaan politik lebih dulu. kita akan sulit untuk mengubah susunan masyarakat itu. yaitu dari struktur masyarakat warisan stelsel feodalisme dan kolonialisme. tidak bisa tidak orang perlu memahami sejarah. Jadi. Sebab. masalah agraria mencakup tiga aspek terpenting yaitu. Jika toh tidak ingin melacak jauh ke belakang ke ribuan tahun yang lalu. tapi barulah “sasaran-antara”. demokratis. baik sejarah Indonesia maupun dunia. adalah: “mengubah susunan masyarakat. Sebab. terutama dalam konteks Indonesia masa kini. menjadi suatu susunan masyarakat yang lebih merata. atau menurut kata-kata Bung Karno.(7) Masalah agraria memang sangat kompleks dan rumit. Sejarah Piagam Atlantik. paling tidak orang perlu memahami sejak Perang Dunia II. cita-cita Revolusi Indonesia. sejarah perjanjian Konperensi Meja Bundar (KMB). Untuk memahami secara lebih baik. dan ekonomi. sosial. dan lain-lain kejadian yang langsung ataupun tak langsung berkaitan dengan masalah tanah. 3 . bagian ini diambil dari makalah GWR “Land Reform di Indonesia”. sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. diselenggarakan oleh Bina Desa di Cipayung Bogor. cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia. bukan sekedar kemerdekaan politik dalam arti bangsa sendiri. politik. memperjuangkan kemerdekaan memang keharusan. GERAKAN PEMBARUAN AGRARIA SEBELUM ORDE BARU2) (1) Cita-cita para pendiri Republik kita ini. 6 Mei 2004. perlu dipahami. secara teori. apa gunanya? Memang. dengan pengantar tersebut di atas. uraian berikut ini bukanlah dimaksud untuk menjelaskan semuanya itu. kemerdekaan adalah sekedar “jembatan-emas”. I.

maka masalah agraria tidak ditangani secara gegabah. Proses panjang ini disebabkan oleh beberapa hal: (a) Periode 1945-1950 adalah masa revolusi fisik. (3) Sudah sejak awal. Perang dan damai silih berganti. demi kepentingan rakyat kecil pada umumnya. Reforma Agraria (RA). (c) Partai-partai besar dalam DPR berbeda-beda pandangannya mengenai agraria. Panitia Suwahyo 1956. Karena itu. agar lebih adil dan merata. yang masyarakatnya berciri agraris. sekalipun relatif adalah masa damai. disertai dengan program-program penunjangnya – seperti pendidikan. caranya adalah dengan melakukan perombakan (penataan kembali) susunan pemilikan. karena. sehingga titik temu atau kompromi sulit dicapai. Bung Karno mengatakan bahwa “revolusi belum selesai”!. (Inilah “landreform”). sehingga kerja panitia penyusun Undang-Undang menjadi tersendat-sendat. Itulah sebabnya. walaupun sudah merdeka. Namun upaya itu terpaksa mengalami proses panjang selama 12 tahun sebelum akhirnya lahir UU No. (b) Periode 1950-1960. Panitia Agraria Jakarta 1952. mengganti UU-Agraria Kolonial 1870. Bahkan selama Orde Baru ciri penindasan itu semakin nyata.membangun masyarakat baru yang bebas dari “penindasan manusia oleh manusia”. maka untuk mencapai cita-cita tersebut di atas. Panitia Sunaryo 1958. Panitia Agraria pun menjadi berganti-ganti (Panitia Agraria Yogya 1948. (4) Kondisi tersebut jauh hari sudah diantisipasi oleh para pemimpin RI. melebihi di jaman kolonial. (2) Bagi Indonesia. penguasaan dan penggunaan sumber-sumber agraria khususnya tanah. kita belum berhasil mengubah susunan masyarakat. yaitu segera setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. perkreditan. para pemimpin mulai mengupayakan untuk melakukan RA dengan cara merumuskan Undang-Undang Agraria baru.5/1960 (yang lebih dikenal sebagai UUPA-1960). Program perombakan ini. pemasaran. namun gejolak politik masih juga silih berganti. sehingga kabinet jatuh bangun. dan Rancangan Sadjarwo 1960). dan lain-lain – disebut dalam bahasa Spanyol. melainkan 4 .

melainkan melalui perdebatan panjang (Tidak seperti berbagai UU di masa Orde Baru yang disusun melalui sistem “proyek”. dalam skala kecil. yaitu: (Cf. hanya dua hal itulah yang penyusunan “Undang-Undang Pokok”nya tidak ditangani oleh Komisi ataupun Pansus DPR. namun pakar-pakar yang menjadi anggotanya tetap sama.13/1946. didistribusikan kepada para penggarap. skala kecil.sangat serius dan hati-hati. memperoleh persetujuan badan legislatif. yang menetapkan bahwa semua tanah yang sebelumnya dikuasai oleh kira5 . Singkatnya. karena mereka yang mempunyai vested interest dalam susunan yang lama tidak mendapatkan dukungan dari partai politik besar yang mana pun (Lihat. petani kecil. 1962). (6) Mengingat bahwa masalah agraria adalah masalah yang rumit tapi mendasar. Tindakan ini. dan buruh tani. dalam sejarah RI. lahirnya UUPA-1960 bukanlah sembarangan. khususnya di daerah Banyumas. 1962. yaitu menghapuskan hak-hak istimewa yang sampai saat itu dimiliki oleh penguasa desa perdikan beserta keluarganya secara turun-temurun. Ibid) (a) Tahun 1946 (jadi belum ada setahun Indonesia merdeka): menghapuskan lembaga “desa perdikan”. (5) Sekalipun pimpinan panitia tersebut berganti-ganti seiring dengan jatuhbangunnya kabinet. (b) Tahun 1948: ditetapkannya Undang-Undang Darurat no. Ada dua hal yang dianggap sebagai masalah mendasar. maka meskipun UUPA baru tersusun tahun 1960. namun sejak awal kemerdekaan. melainkan oleh “Panitia Negara”. setengah dari tanah mereka yang relatif luas-luas. yaitu soal keuangan dan soal agraria. Selo Soemardjan. Mereka inilah yang secara terus-menerus mengembangkan pemikiran. sekali jadi). pemerintah RI sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan.13/1948. tanpa mengalami banyak kesulitan. Ganti rugi diberikan dalam bentuk uang bulanan (Inilah landreform terbatas. Itulah sebabnya. Melalui UU no. (7) Ada empat langkah pendahuluan yang dapat disebut di sini. Selo Soemardjan. yaitu sekaligus sebagai langkah percobaan. Jawa Tengah).

yang kemudian 6 . yang tak seimbang antara perusahaan gula yang besar dan kuat dan petani yang tak terorganisir. Demikianlah beberapa langkah pendahuluan. UUPBH adalah “reform” dalam hal penyakapan (tenancy reform). Sebenarnya. Salah satu penjabaran itu adalah UU no.56/1960 (yang semula berupa PP pengganti UU). ayat 1). Ini tercermin dalam Pasal 4 dan 5. (d) Tahun 1960. sejak tahun 1945 pemerintah RI sudah berusaha untuk membeli kembali tanah-tanah partikelir yang sampai saat itu dikuasai oleh tuan-tuan tanah bangsa asing.  Akomodasi dan pengakuan terhadap ketentuan adat (Pasal 7. berbagai ketentuan di dalamnya sedianya akan dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai undang-undang khusus. Tercermin dalam Pasal 7. judul aslinya adalah UU no. disediakan untuk petani Indonesia. telah ditetapkan lebih dulu Undng-Undang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH). (c) Tahun 1958. Karena itu. karena sudah diberlakukan langsung secara nasional. Semua hak-hak istimewa yang sebelumnya dipegang oleh tuan-tuan tanah diambil alih oleh pemerintah. yaitu:  “Security of tenancy”. maka ditetapkanlah UU no. Jadi. Karena itu. (8) Apa yang dikenal sebagai UUPA/1960.1/1958.5/ 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Proses likwidasi ini selesai sekitar tahun 1962. Ada yang berpendapat bahwa UUPBH itu bukan lagi langkah pendahuluan. yang menghapuskan semua tanah-tanah partikelir.kira 40 perusahaan gula Belanda di Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta.2/1960.  Demokratisasi. Hal ini mengakhiri persaingan mengenai penguasaan tanah dan air. Namun proses negosiasinya jalannya sangat lamban. yaitu UU no. Isi UUPBH ini mengandung tiga esensi. isinya baru berupa prinsip-prinsip dasar. Sekitar setengah tahun sebelum ditetapkannya UUPA (24 September 1960).

karena data yang akurat sukar diperoleh. Bagaimana proses selanjutnya tidak begitu mudah untuk menggambarkannya. pada tahap pertama terdiri dari tiga macam. tanah perkebunan. terdapat sekitar 27. Jadi. yaitu (a) 7 . “obyek reform” ya semuanya (termasuk tanah hutan. Gerakan landreform lalu lenyap dari peredaran. Bali. tetapi di”redistribusi”. Atas dasar pertimbangan kondisi saat itu. bahkan ditabukan. masalah pertanian rakyat inilah yang diprioritaskan. dalam artinya yang benar. Semua itu ditata-ulang peruntukannya. serta tanah-tanah guntai (absentee). lalu didistribusikan kepada rakyat (penggarap. Prinsip-prinsip dasar yang lain belum sempat tergarap. yang kemudian akan didistribusikan kepada rakyat tani kecil yang membutuhkannya. agar rakyat memperoleh hak secara relatif merata dan adil. maka menurut kehendak semula (dan juga menurut hukum yang ada). Tanah-tanah yang melebihi batas maksimum diambil (dengan ganti rugi) oleh pemerintah. tanah siapa dan tanah apa yang dibagi-bagi. tidak harus didistribusikan. Langkah ini saat itu baru meliputi pulau Jawa. sehingga pendataannya terbengkalai dan data yang ada tentang gerakan landreform menjadi kurang bisa dipercaya. (9) Pelaksanaan landreform tersebut mulai dilancarkan oleh pemerintah sejak 24 September 1961. fungsi instansi agraria dijungkir balikkan.secara salah kaprah dikenal sebagai UU Landreform. Sebenarnya. Artinya. (11) Tetapi jika kita terima dulu pemahaman yang salah kaprah tersebut di atas. Dengan berkuasanya Orde Baru. Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara. tunakisma). diserasikan “sebarannya”.000 pemilik sawah yang miliknya melebihi batas maksimum. keburu pemerintahan lama digulingkan oleh Orde Baru. Jumlah luas kelebihan itu semuanya ada sekitar satu juta hektar. Secara keseluruhan di daerah tersebut. tanah “obyek landreform” itu. dengan pertama-tama membentuk panitia-panitia di ketiga tingkat daerah otonom untuk melakukan pendaftaran milik tanah yang melebihi maksimum. dan kemudian timbul pertanyaan. dll). (10) Karena persepsi (keliru) masyarakat adalah bahwa landreform adalah sekedar mendistribusikan tanah. maka lantas timbul istilah “tanah obyek landreform”.

no. Berdikari di bidang ekonomi. dan menebalkan semangat pembangunan watak. (b) tanah guntai dan bekas tanah partikelir. semua itu terbalik ! Indonesia mengambil kebijakan pintu terbuka. University of California). 2000). slogannya adalah: “Politik no. lihat antara lain. (c) Dengan arah kebijakan rumah terbuka tersebut. maka pada 1967 lahirlah UU Pokok Kehutanan 8 (UU no. (12) Untuk mendapat gambaran yang lebih mendalam mengenai dinamika masalah agraria sebelum Orde Baru. sangat hemat dalam pemanfaatan sumberdaya alam. di masa sebelumnya. Hal ini pada hakekatnya telah mengkhianati esensi dari gerakan pendidikan nasional tahun 1908 yang notabene dijadikan simbol “Kebangkitan Nasional” yang tiap tanggal 20 Mei diperingati. bahkan istilah saya “rumah terbuka”. 1970. amat selektif dalam hal penanaman modal asing (bahkan pada prinsipnya menolak).N. II.3. ekonomi yes !” Orang tidak sadar bahwa semboyan ini sendiri adalah politik ! Yaitu politik untuk membunuh kesadaran politik rakyat. tesis Margo Lyon: “Bases of Conflict in Rural Java” (Research Monograf Series. Berkepribadian dalam kebudayaan !”. Di masa pemerintahan Bung Karno slogannya adalah: “Berdaulat dalam politik. ISYU-ISYU AGRARIA SELAMA ORDE BARU (1) Kebijakan politik-ekonomi pemerintahan Orde Baru bertolak belakang 180 derajat dari pemerintahan sebelumnya. Indonesia sangat selektif di dalam mencari hutang L.tanah kelebihan. Ciri pokok apa saja yang menandai hal itu? (a) Dari slogannya saja sudah bertolak belakang. Di masa Orde Baru. dan (c) bekas tanah swapraja yang diambil oleh pemerintah.224/1961). yaitu membangkitan mental jiwa merdeka (Cf. PP no.5/1967). (b) Ciri yang lebih konkrit adalah. UU Pokok . Wiradi.. Pada masa Orde Baru. G. (Cf.

atau antara rakyat dan perusahaan swasta. (b) Ketika kemudian pada tahun 1978. sifatnya berubah menjadi konflik vertikal. dan UU Penanaman Modal Asing. UUPA1960 itu justru disalahgunakan secara manipulatif. Sementara itu. Konflik yang terjadi dapat dipandang sebagai konflik horizontal.Pertambangan. Artinya. ketiga UU 1967 tersebut sudah terlanjur berjalan selama lebih dari 10 tahun. isyu utamanya adalah masalah pelaksanaan UUPA-1960. tapi isinya tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. lahir tiga Undang-Undang yang sama sekali tidak merujuk kepada UUPA-1960. yang berakibat terjadi konflik bukan saja antara rakyat dan instansi pemerintah. yaitu antara yang pro dan yang kontra land reform. pada tahun 1967. Artinya. secara resmi belum dicabut. (2) Di masa sebelum Orde Baru. Ketumpang-tindihan hukum ini juga masih berlangsung sampai sekarang. seperti telah disebutkan. (3) Pada sisi hukum isyu agraria yang paling menyolok adalah terjadinya tumpang-tindih perundang-undangan. khususnya lagi pelaksanaan “land reform”. Sedangkan selama Orde Baru. yaitu antara rakyat versus pemerintah. secara keseluruhan. tetapi juga antara instansi-instansi pemerintah sendiri. asing maupun domestik. Sumber utama yang menyebabkan hal ini adalah: (a) Untuk selama + 13 tahun UUPA 1960 di “peti-es”kan. dan antara rakyat versus perusahaan swasta. berbagai konflik agraria di berbagai sektor dan di berbagai daerah itu. UUPA-1960 itu dikukuhkan kembali. Merebaknya konflik agraria yang berbungkus masalah adat ini sebenarnya merupakan akibat dari kebijakan 9 . Ketiga UU inilah sebenarnya yang menjadi sumber awal berbagai proses “pembangunan” yang di belakang hari kemudian merebak menjadi berbagai konflik agraria yang bentuknya dan manifestasinya sangat beragam. antar departemen sektoral. (4) Isyu lain yang juga sangat mengemuka adalah merebaknya berbagai klaim yang berkaitan dengan hukum adat. maka “nasi sudah menjadi bubur”. Akibatnya.

namun kondisi masyarakat di berbagai aspek masih carut-marut. belum siap dengan konsep-konsep alternatif yang mendasar. lalu menggusur rakyat secara sewenang-wenang dengan dalih demi “pembangunan”. para pengguling Suharto itu ternyata belum terorganisir. dan politik ekonominya. yang diharapkan akan menuju ke era pembaruan yang lebih baik (Benarkah?). itu tak berarti sama sekali tidak ada bibit-bibit perubahan. Pertama. Sekalipun sudah terjadi tiga kali pergantian Presiden sesudah Suharto. Ketika hampir semua gugatan rakyat yang diperjuangkan lewat jalur hukum formal gagal. melainkan sekedar masa transisi. dan dengan penuh harap rakyat menantinanti datangnya perubahan pemerintahan dan perubahan kebijakan dasar. III.pemerintah Orde Baru yang dilaksanakan dengan cara memanipulasi beberapa ketentuan dalam UUPA-1960. maka meledaklah euphoria kebebasan. Masa lima tahun terakhir ini pada hakekatnya bukanlah “era reformasi”. Kenyataannya. yang seolah-olah bisa dilakukan dalam sekejap. justru berkembang menjadi multidimensi. menjadi krisis total. watak. Agaknya. dan pihak rakyat hampir selalu dikalahkan dalam sidang pengadilan. di masa Presiden Habiebie. pandangan. Paling tidak. yang berkaitan dengan agraria. Krismon menjadi kristal. pada dasarnya masih sama. maka mulai merebaklah secara keras isyu adat.IX/2001 (1) Ketika Presiden Soeharto sebagai pimpinan Orde Baru lengser. Karena itu maka krisis yang mendahului (sekaligus menjadi penyebab) jatuhnya Suharto. (2) Walaupun dalam kondisi tersebut di atas. sekalipun di sana sini ada perubahan. Struktur seluruh jajaran birokrasi Orde baru dan mekanismenya sebagian besar masih sama. yang semula berupa krisis moneter. sangkaan orang itu meleset. Banyak orang semula menyangka bahwa lengsernya Suharto berarti tumbangnya Orde Baru. POSTA ORDE BARU A. Sebelum adanya TAP-MPR no. ada 10 . ada beberapa hal yang bisa dicatat. Termasuk krisis kepemimpinan.

XVI/1999 yang menegaskan lagi hal itu. (5) Dalam situasi seperti tersebut di atas. (3) Lahirnya UU no. berebut wewenang antar instansi justru merebak. Di sisi lain. sehingga dapat memfasilitasi modal asing. ayat-4). yaitu justru pada saat memuncaknya krisis.22/1999 memang akan direvisi. Salah satu isyu yang melahirkan ketegangan hubungan antara pusat dan daerah itu adalah menyangkut masalah sertifikasi tanah. Departemen sektoral. termasuk bermacam Sarikat Tani dan Serikat Nelayan (walaupun sebagian sebenarnya sudah ada sejak masa Orde Baru). lahirlah berbagai macam organisasi rakyat. Konon. SH. yang juga secara eksplisit disebut dalam UUPA-1960 (Pasal-2. Ketiga.22/1999 (Otoda). otoda itu sudah ada. yang satu. Bappenas. lahir UU no. malahan justru menambah rumit persoalan. Muladi. Saat itu ada istilah Daerah Swatantra. sekalipun tujuannya baik.22/1999 tentang Otonomi Daerah (Otoda). Program sertifikasi tanah merupakan warisan Orde Baru. Ketegangan hubungan antar instansi masih berlangsung sampai sekarang (Depdagri. khususnya wewenang mengenai pengelolaan masalah tanah. Otoda ditetapkan pada waktu yang tidak tepat. sehingga dapat mengundang bahaya disintegrasi bangsa. Atas desakan yang kuat 11 . Kemudian lahir pula TAP-MPR no. di masa Presiden Gus Dur. isyu yang paling mencuat adalah mengenai perlunya ada landasan hukum yang kuat. Pemda). yaitu suatu kebijakan yang didorong oleh kebijakan Bank Dunia yang latar belakangnya ingin memacu bekerjanya “pasar tanah”. UU no.kebijakan meninjau ulang agenda “land reform” dengan membentuk Panitia yang diketuai oleh Prof. Sebelum lahirnya Orde Baru. Inilah yang ditentang oleh banyak LSM. Kedua. seperti telah disinggung di depan (Lihat butir I-9 di depan). namun ternyata tidak menyelesaikan masalah. yang diharapkan dapat mengatasi ego-sektoral yang selama ini melahirkan kesemrawutan hukum dan menimbulkan konflik. LSM – LSM yang mengangkat isyu agraria pun bertambah jumlahnya. sesuai dengan suasana kebebasan. BPN. Namun otoda di jaman itu masih kental dilandasi oleh semangat negara kesatuan. (4) Gagasan Otoda itu sebenarnya bukan barang baru. Dr.

prinsip-prinsip. 12 . Isyu aktual setelah adanya TAP-MPR no. dan seluas apa BPN melakukan konsultasi publik mengenai draft RUU penyempurnaan tersebut. organisasi tani. maka lahirlah TAP-MPR no. perintah kepada Presiden agar melaksanakan isi TAP. dengan batas waktu sampai sebelum Agustus 2004. (2) Sekalipun TAP-MPR tersebut sudah ditetapkan tahun 2001. Maksudnya agar pada saat sidang umum MPR pada bulan Agustus 2004 itu nanti. sehingga landasan filosofi. dan akademisi. Memang jelas bahwa isi TAP ini pada hakekatnya masih bersifat ambigu. maka isyu pokok sekarang ini adalah: (a) Sejauh mana BPN merumuskan “penyempurnaan” UU no.5/1960. yaitu perintah kepada DPR agar mempersiapkan landasan hukum yang komprehensif sehingga dapat dijadikan rujukan bagi kebijakan sektoral. dan kedua.IX/2001 pada intinya berisi dua “perintah”. B. (b) Adanya pertarungan gagasan antara dua kelompok. atau dua mandat. tidak ada reaksi spontan baik dari DPR maupun dari Presiden. pemerintah sudah siap dengan RUU-Agraria yang akan diajukan ke DPR.IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Namun itulah hasil maksimal yang bisa dicapai sebagai produk kompromi dari suatu dinamika pertarungan politik saat itu. dalam melaksanakan agenda pembaruan agraria sesuai prinsip-prinsip yang tertera dalam isi TAP tersebut. Barulah pada akhir 2003.34/2003 yang isinya memberikan mandat kepada BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk melakukan “penyempurnaan” UU no. namun ternyata lebih dari dua tahun lamanya.5/1960 (UUPA). Presiden mengeluarkan Keppres no.IX/2001 (1) TAP-MPR no. dan semangat populisme yang terkandung dalam UUPA-1960 harus dipertahankan. dan kelompok yang berpandangan bahwa “penyempurnaan” itu hanyalah suatu selected correction.dari bawah yaitu dari sejumah LSM. yaitu kelompok yang dengan berlindung pada Keppres 34/2003 ingin merombak total UUPA-1960. (3) Dengan perkembangan tersebut.

maka hasilhasil positif yang pernah dicapai itu dijungkir-balikkan. Itu bisa terjadi karena organisasi rakyat yang ada belum kuat. REFORM – BY – LEVERAGE DAN OTODA (1) Istilah “Reform-By-Leverage” (RBL) ini diperkenalkan di Indonesia pertama kali tahun 1994. hasil positif sebelumnya itu tak mudah dibalikkan. Namun. Jika kemauan politik itu tak kunjung lahir maka “dongkrak” dari bawah diperlukan. kemauan politik dari atas tetap diperlukan. Jadi. melainkan sekedar mendesak agar pemerintah benar-benar berkehendak melaksanakan agenda pembaruan. Reforma Agraria. pengalaman sejarah berbagai negara menunjukkan bahwa jika suatu saat suatu pemerintahan berhasil melaksanakan “reform”. per-definisi. rakyat menjadi korban. maka organisasi rakyat itu perlu menjadi kuat dulu. Ketika suatu pemerintah yang populis. yang “dermawan”. yang kebijakannya bertolak belakang.(c) Pro dan kontra program sertifikasi tanah. yaitu pemerintah. diganti oleh pemerintah baru yang “dengki” dan serakah. Memang. yang didorong oleh kebijakan Bank Dunia yang ingin menciptakan “pasar tanah”. apa yang dimaksud dengan RBL adalah “pembaruan yang didongkrak dari bawah. Namun tetap. mengutip istilah yang dipakai oleh John Powelson dan Richard Stock (Powelson & Stock. Jika organisasi rakyat kuat. yang pro rakyat. oleh saya sendiri sewaktu MUNAS-KPA. sekaligus membentengi agar hasil-hasil yang dicapai itu tidak mudah dilenyapkan lagi. RBL itu bukanlah model “aksi sepihak” seperti tahun-tahun 1960-an. 1987). maka jika organisasi rakyat tak kuat. biar pun pemerintahnya berganti-ganti. Karena itu langkah pertama untuk mewujudkan RBL adalah memperkuat. Singkatnya. IV. adalah selalu merupakan program dari atas. Agar mampu menjadi dongkrak. dan kemudian pemerintah tersebut digantikan oleh pemerintah berikutnya. Sedangkan yang dimaksud dengan RBG adalah suatu pembaruan yang semata-mata tergantung dari “kedermawanan” (by-grace) pemerintah. oleh rakyat”. Istilah ini dipakai untuk dikontraskan dengan “Reform-by-Grace” (RBG). memberdayakan organisasi rakyat. 13 .

(b) kondisi alam yang secara alami sudah “given”. RBL sangat relevan. Luar Jawa” kurang relevan lagi. (Yang tak mungkin untuk diuraikan panjang lebar dalam tulisan ini). yaitu (a) kepadatan penduduk. kita perlu mempelajari sejarah seperti yang sudah saya peringatkan di depan. Sudah seharusnya. sosial politik. Kedua. semua uraian tersebut di atas itu barulah gambaran sepotong-sepotong. Barangkali tinggal dua aspek saja yang secara tegas membedakannya. bahkan menyangkut hak-hak asasi manusia. dan kondisi ekonomi dan lingkungannya masing-masing. (4) Dalam hubungannya dengan itu semua. tipologi klasik berupa dikotomi “Jawa vs. Artinya. tetapi dengan bermacam tafsiran pengertian yang berbeda-beda. sekarang sudah makin kabur. “payung” nasional tetap diperlukan. Otoda justru mengandung bahaya disintegrasi bangsa dan dapat mengancam kedaulatan negara. karena masalah agraria adalah masalah penghidupan rakyat. Namun tetap. V. dan masalah kedaulatan bangsa. adalah organisasi yang anggota-anggotanya sadar akan posisi ini. Untuk memahami mengapa sampai sekarang orang masih saja terpaku kepada “Jawa – Luar Jawa”. Organisasi rakyat (tani) yang kuat. menurut saya. masyarakat setempat sebenarnya berhak melakukan pembaruan. dan sudah saatnya. para intelektual IPB menaruh perhatian pada masalah agraria. yang disesuaikan dengan kondisi sosial-budaya. (3) Khususnya dalam konteks otoda. PENUTUP Demikianlah. maka kondisi-kondisi yang dahulu memang memberikan ciri yang menandai kontras antara Jawa dan Luar Jawa. dengan adanya kemajuan berbagai teknologi. namun dari potongan-potongan itu diharapkan para mahasiswa dapat memperdalam dan memperluas pemahaman melalui berbagai bacaan dan penelitian. 14 . Tanpa pemahaman ini. daerahdaerah “Luar Jawa” itu sendiri sangat beragam.(2) Uraian tersebut di atas diperlukan karena sekarang ini istilah RBL agaknya mulai diadopsi dimana-mana. Karena pertama.

1970. Sosial. BAHAN DAN ACUAN Anonim. Inc. maka pada tahun 1996 telah dikukuhkan suatu perjanjian internasional mengenai “Hak-Hak Ekonomi. California. Demikianlah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. J. 2001). Makalah dari FIAN dalam pertemuan Internasional diselenggarakan oleh La Via Campesina dan FIAN. Gunawan Wiradi (2001): “Reforma Agraria. Powelson. Djakarta. Christodoulou (1990). Research Monograph Series. mudah-mudahan tulisan ini ada juga gunanya.3. and Gunawan Wiradi (2002). di San Pedro Sula. Diterbitkan oleh Staf Penguasa Perang Tertinggi. Wiradi. no. Juli 2000. 2001. Honduras. Tuntutan Bagi Pemenuhan Hak-Hak Asasi Manusia”. Untuk Dinas. Gunawan Wiradi (2000): Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir. Tauchid. 17 – 20 April. (1961): Undang-Undang Pokok Agraria Dan Landreform. Lyon. Halaman 23-30. KITLY Press. Ltd. Oelgeshlager. Soetoyo. Insist Press. Moch. 1961. dan Budaya” (HESB). diselenggarakan oleh KOMNAS HAM. M. Makalah dalam Konperensi Nasional Pembaruan Agraria. Agrarian Reform and Conflict Worldwide. Jan C. dalam Asian Survey I. and Richard Stock (1987): The Peasants Betrayed. Margo L. Jakarta. Selo Soemardjan (1962): “Land Reform in Indonesia”. G. London and New Jersey. Zed Books. Gunn and Hain Publishers. Pasal-11 ayat-2 dari HESB ini mengisyaratkan bahwa suatu negara yang mengabaikan masalah Reforma Agraria. Leiden. 1962. University of California. Breman. Yogyakarta. (1952): Masalah Agraria. no. D:\data\data\GWR\MASALAH AGRARIA-11-05-04 15 . The Unpromised Land. Walaupun hanya potongan-potongan.12. (1970): Bases of Conflict in Rural Java. “Agrarian Reform: Human Rights Obligation”. Good Times and Bad Times in Rural Java. Penerbit Tjakrawala. dianggap telah melakukan pelanggaran HAM (Lihat juga.Sebagai salah satu turunan atau jabaran dari Deklarasi Universal HakHak Asasi Manusia (1948).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful