P. 1
Hari Jadi Kota Pekalongan_Pemkot

Hari Jadi Kota Pekalongan_Pemkot

|Views: 1,216|Likes:
Published by Kang Riboet

More info:

Published by: Kang Riboet on Jul 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2013

pdf

text

original

Sections

  • B. Tujuan
  • C. Manfaat
  • D. Tinjauan Pustaka
  • E. Metode Penelitian
  • A. Pekalongan Dalam Legenda
  • A. Posisi Strategis Kota Pekalongan
  • B. Pemerintah Daerah Sebelum Tahun 1900
  • C. Struktur Pemerintah Daerah
  • Rekomendasi
  • DAFTAR PUSTAKA

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

i







HA1tAN ÐALAM HANGHA
P£N£LtStHAN HAHt 1AÐt
HOTA P£HALONGAN


*
***
***
***
***
***
*
HAPP£ÐA HOTA P£HALONGAN
TAHtN ANGGAHAN 2ooB





Referensi hari jadi Kota Pekalongan
ii
KATA PENGANTAR


Dengan memanjatkan piji syukur kepada Allah Yang Maha Esa
penyusunan buku referensi “PENELUSURAN HARI JADI KOTA
PEKALONGAN“ dapat diselesaikan dengan baik, kegiatan ini bertujuan untuk
menentukan titi mangsa hari jadi Kota Pekalongan.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu dan menyediakan data dan sarana atas selesainya
kegiatan ini, yaitu :
1. Kantor Arsip Nasional di Jakarta dan Badan Arsip Derah Provinsi
Jawa Tengah yang telah membantu menyediakan berbagai sumber
dokumen penting yang berkaitan dengan pekerjaan ini.
2. Perpustakaan Nasional di Jakarta, Perpustakan Daerah Jawa Tengah
dan Perpustakaan wilayah Daerah Istimewa Yogyakata yang telah
menyediakan sumber-sumber penulisan.
3. Badan Arsip dan Data Elektronik dan Perpustakaan Kota Pekalongan
yang telah menyediakan data.
4. Bapak Oethomo MS Almarhum dan Bapak Bambang Adiwahyu
Danusaputro yang telah menyusun buku menelusuri berdirinya Kota
Pekalongan dengan sesanti Rasa Swargo Gapuraningbumi yang
merupakan tambahan referensi.
5. Prof. Djoko Suryo (ahli sejarah UGM), Dr. Kusnin Asa (ahli
antropologi), Sudardi, SH (ahli Hukum Tata Negara) yang telah
memberikan data awal dalam penggalian hari jadi Kota Pekalongan.
6. Sdr. Maryati, SH, Msi (Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan
Bappeda Kota Pekalongan dan sdr. Bambang Adiwahyu Danusaputro
(seniman Pekalongan) yang telah menyusun buku referensi hari jadi
Kota Pekalongan.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
iii
7. Bapak Basuki Sunaryo, selaku sesepuh trah Pangeran/Kyai Adipati
Mandurorejo yang telah membantu memberikan data tentang
Kabupaten Batang maupun Kabupaten Pekalongan.
8. Tim Pengarah yang telah memberikan arahan kepada tim penyusun
maupun tim editor.
9. Tim editor yang telah memberikan perbaikan-perbaikan dan
penyempurnaan yang telah disusun oleh tim penyusun.
10. Berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang
telah membantu selesainya penyusunan buku ini.

Dengan segala upaya kami telah berusaha untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan baik. Namun demikian, kami menyadari bahwa laporan ini
tidak lepas`dari adanya kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami
harapkan untuk perbaikan laporan ini.

Pekalongan : 5 September 2006

KEPALA BAPPEDA KOTA PEKALONGAN



Ir. CHAIRUDDIEN MUSTHAHAL
NIP 500 089 545











Referensi hari jadi Kota Pekalongan
iv
DAFTAR ISI


PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Tujuan.................................................................................. 4
C. Manfaat................................................................................ 4
D. Tinjauan Pustaka................................................................. 4
E. Metode Penelitian................................................................ 7

BAB II PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA PRA KOLONIAL
A. Pekalongan Dalam Legenda ............................................... 9
B. Masa Kerajaan Hindu Budha............................................... 16
C. Masa Kerajaan Islam........................................................... 20

BAB III PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA KOLONIAL
BELANDA
A. Posisi Strategis Kota Pekalongan....................................... 37
B. Pemerintah Daerah Sebelum tahun 1900............................ 38
C. Pemerintah Daerah Sesudah tahun 1900............................ 42

BAB IV PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA PENDUDUKAN
JEPANG
A. Invasi Jepang di Indonesia .................................................. 51
B. Pemerintah Militer di Indonesia............................................ 52
C. Struktur Pemerintah Daerah................................................ 57

BAB V PEMDA KOTA PEKALONGAN PADA MASA REPUBLIK INDONESIA
A. Pemerintah Kota Pekalongan pada Revolusi Kemerdekaan Tahun
1945-1950 ........................................................................... 63
B. Pemerintah Kota Pekalongan pada masa Pasca Revolusi
Kemerdekaan ...................................................................... 66

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................... 72
B. Rekomendasi....................................................................... 74


DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 77
LAMPIRAN LAMPIRAN ........................................................................... 82
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Permasalahan

Eksistensi sebuah negara mensyaratkan adanya tiga unsur
penting yaitu adanya sekelompok manusia yang menamakan dirinya
sebagai suatu bangsa, menempati suatu wilayah geografis dengan batas-
batas fisik yang jelas, sebuah sistem politik yang mengatur kehidupan
bangsa tersebut, yakni sebuah pemerintahan yang berdaulat. Persyaratan
ini juga berlaku bagi pembentukan kabupaten/kota maupun propinsi.

Namun demikian, itu semua belum cukup Iengkap untuk
menunjukkan keberadaannya. la memerlukan sejarah, kapan ia "lahir",
bagaimana ia "dilahirkan", mengapa ia "dilahirkan", apa saja kekayaan dan
keunikan yang dimilikinya (baik budaya maupun wujud fisik), bagaimana
perjalanan sejarah yang dilaluinya hingga menjadi wujud yang dicapainya
sampai saat ini. Semua itu merupakan ciri-ciri khas suatu pemerintah
daerah yang sekaligus menjadi identitas warga daerah tersebut yang
membedakannya dengan daerah lain.

Salah satu wujud identitas daerah adalah hari jadi daerah, hari
jadi adalah sebuah tonggak, sebuah tetenger simbolik dimulainya sebuah
pemerintahan di suatu daerah yang akan diperingati disertai harapan-
harapan untuk terwujudnya keselamatan, kesuksesan, kesejahteraan bagi
seluruh warganya. Peringatan hari jadi suatu daerah tidak berbeda dengan
perayaan hari kelahiran seorang anak, dengan iringan segala doa, harapan-
harapan demi kebahagiaan sang anak di masa depan.

Berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat untuk memberikan
otonomi kepada pemerintah daerah untuk mengelola dan mengembangkan
daerahnya, kemandirian daerah adalah sebuah keniscayaan. Setiap daerah
akan saling berpacu untuk memajukan daerahnya, meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya melalui penggalian dan pengembangan
sumber daya daerah secara maksimal atas inisiatif dan kekuatan daerah itu
sendiri.

Guna mencapai tujuan tersebut diperlukan partisipasi aklif warga
masyarakat daerah, dengan kata lain diperlukan penggalangan solidaritas
warga daerah agar merasa ikut memiliki, berkewajiban untuk membangun,
ikut merasakan hasilnya, dan akhirnya memiliki kebanggaan dan kesetiaan
kepada daerahnya. Salah satu bentuk penggalangan solidaritas adalah
adanya identitas daerah, antara lain hari jadi daerah.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
2
Dalam rangka melengkapi identitas keberadaannya juga demi
pemantapan pelaksanaan otonomi daerah, serta penggalangan solidaritas
warga daerah Kota Pekalongan sebagai salah satu Kabupaten/Kota di
dalam satu provinsi Jawa Tengah perlu menemukan hari jadi atau hari
"kelahiran"-nya. Hal itu berarti menemukan sebuah tonggak waktu sebagai
titik awal dimulainya sebuah pemerintahan Kota Pekalongan yang meliputi
wilayah seperti sekarang ini.

Sesungguhnya Kota Pekalongan sebagai sebuah wilayah
menyimpan sejarah yang sangat panjang, meskipun sebagai sebuah Kota
belum terlalu tua. Berdasarkan pada sumber-sumber sejarah. Sejak ratusan
tahun silam beberapa tempat di wilayah Jawa Tengah telah menjadi pusat-
pusat kekuasaan administrasi baik sistem pemerintahan tradisional
(berbentuk kerajaan) maupun moderen (gemeente /kota besar/kota praja).
Pada abad VII Jawa Tengah, khususnya Jepara, telah menjadi pusat
Kerajaan Kalingga. Setelah itu, dalam abad Vlll - IX di Jawa Tengah juga
muncul Kerajaan Mataram Kuna (Dinasti Sanjaya dan Syailendra). yang
pusat pemerintahannya terletak di sekitar Yogyakarta dan Magelang. Sejak
akhir abad XV, sejalan dengan islamisasi di Jawa, Jawa Tengah melahirkan
penguasa-penguasa yang memeluk agama Islam dan mendirikan pusat-
pusat pemerintahannya di wilayah itu. Kerajaan Demak, Pajang, dan
Mataram merupakan pusat-pusat pemerintahan yang tidak hanya
mencakup wilayah Jawa Tengah, tetapi juga daerah-daerah lainnya.

Munculnya kerajaan-kerajaan itu menunjukkan bahwa wilayah
Kota Pekalongan memiliki potensi-potensi strategis untuk membangun
kekuasaan administratif. Dalam perkembanganya potensi-potensi strategis
itu tidak hanya menarik perhatian para penguasa pribumi, tetapi juga
menarik keinginan orang asing (Belanda) untuk menanamkan
kekuasaannya di wilayah ini. Penguasaan bangsa Belanda atas wilayah
Jawa Tengah, khususnya wilayah pantai utara, bermula ketika Mataram
(Amangkurat II) minta bantuan kepada Vereenigde Oost Indische
Compagne (VOC) untuk menumpas perlawanan Trunojoyo. Untuk
kepentingan itu, diselenggarakan perjanjian pada bulan Oktober 1677 yang
disusul dengan perjanjian pada bulan Januari 1678. Dalam perjanjian
tersebut kedua pihak menyetujui bahwa VOC menguasai pendapatan dari
pelabuhan-pelabuhan, memegang monopoli pembelian beras dan gula,
memegang monopoli atas impor tekstil dan opium, memperoleh
pembebasan pajak, menguasai wilayah Priangan, dan juga wilayah
Semarang (Ricklefs: 1981, hal 72-73).


Sejak tahun 1743 hingga masa pemerintahan Daendels,
Semarang menjadi pusat pemerintahan Belanda di pantai utara-timur Jawa
(Java’s Northeast Coasts), yang dipimpin oleh seorang gubernur (Djoko
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
3
Suryo: 1989, hal 2-7). Tempat kediaman gubemur terletak di ujung barat
Jalar Bojong (sekarang Jalan Pemuda). dan dikenal dengan sebutan De
Vreedesteen (istana perdamaian). Pada masa penjajahan Inggris (1812-
1816), jabatan gubernur diganti dengan residen. sehingga De Vreesdesteen
pun menjadi tempat tinggal residen Inggris. Setelah penjajahan Inggris
berakhir pada tahun 1816, wilayah Semarang (Semarang
Gewest/Karesidenan) tetap dipimpin oleh seorang residen yang juga
bertempat tinggal di De Vreesdesteen, begitu juga wilayah Pekalongan
(Pekalongan Gewest/Karesidenan) dipimpin oleh seorang residen.

Pada akhir abad XIX di kalangan kaum liberal Belanda muncul
pemikiran-pemikiran etis yang menyerukan kepada pemerintah kolonial
Belanda untuk memberikan tanggung jawab moral kepada bangsa
Indonesia dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka Pemikiran-
pemikiran itu diwujudkan dalam suatu kebijakan politik yang terkenal
dengan sebutan politik etis. Salah satu program penting politik etis adalah
desentralisasi kekuasaan administratif. Menurut Furnivall, desentralisasi itu
mengandung tiga arti yaitu : (1) penyerahan kekuasaan dari pemerintah di
Nederland kepada departemen dan pegawai setempat dan dari pegawai
Eropa kepada pegawai bumiputera; (2) pembentukan badan pemerintahan
yang mempunyai kekuasaan otonom yang bekerja sama dengan
pemerintah, sehingga dapat mengelola urusannya sendiri; (3) pemisahan
keuangan pusat dan daerah ( Furnivall : 1967,264).

Program desentralisasi disahkan dalam Decentralisatie Wet
(Undang-undang desentralisasi) tahun 1903. Undang-undang ini
dimaksudkan untuk memberikan hak otonomi kepada setiap karesidenan
(gewest) dan kota besar (gumeente) serta memberikan landasan hukum
bagi pembentukan dewan-dewan daerah di wilayah-wilayah administratif
tersebut. Tiga tahun kemudian gumeente Pekalongan dibentuk dengan
Staadblaad Nomor 392 Tahun 1906. Setelah undang-undang ini
berlangsung selama kira-kira 23 tahun muncul ketidakpuasan di kalangan
administrator Belanda yang memandang perlu untuk menyelenggarakan
reorganisasi pemerintahan kemudian Staatblad 1906 diganti dengan
Staatblaad Tahun 1929 Nomor 124 yang mengatur keberadan Kota Besar
Pekalongan.

Pada masa pendudukan Jepang, provinsi-provinsi yang telah
dibentuk pada masa kolonial Belanda dihapuskan dan dibentuk sistem
pemerintahan daerah baru sesuai dengan Undang-undang No. 27 dan 28
tanggal 5 Agustus 1942, tetapi karesidenan dan kabapaten/Kota masih ada.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dengan
diberlakukannya UUD 1945 dibentuk daerah-daerah provinsi, Kabupaten
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
4
dan Kota Besar. Sejalan dengan terjadinya perubahan sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia, peraturan-peraturan atau perundang-
undangan juga mengalami perubahan-perubahan.

Dari uraian di atas, penelitian sejarah perlu dilakukan untuk
menemukan waktu yang tepat mengenai berdirinya Kota Pekalongan
secara resmi. Namun demikian, untuk menentukan hari jadi Kota
Pekalongan bukan persoalan yang mudah, karena hal itu berkaitan erat
dengan pengungkapan latar belakang sosial, budaya, geografi, politik, dan
dasar-dasar hukum. Sehubungan dengan hal itu, dalam penelusuran hari
jadi Kota Pekalongan difokuskan pada pokok permasalahan, yaitu kapan
Kota Pekalongan dibentuk dan apa dasar-dasar hukum pembentukannya.

B. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dan menemukan tanggal,
bulan dan tahun diresmikannya Kota Pekalongan sebagai sebuah wilayah
administratif secara juridis formal, kemudian tanggal, bulan dan tahun
tersebut akan diusulkan sebagai hari Kota Pekalongan.

C. Manfaat

Penemuan hari jadi Kota Pekalongan akan bermanfaat sebagai
berikut. Pertama, hari jadi Kota Pekalongan merupakan pelengkap yang
memperkuat identitas daerah dan masyarakat kota Pekalongan, di samping
identitas yang sudah ada, antara lain lambang Kota Pekalongan. Kedua hari
jadi Kota Pekalongan dapat dijadikan sebagai hari besar khusus yang
dirayakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan; Ke tiga hari jadi Kota
Pekalongan menjadi solidarity maker bagi masyarakal Kota Pekalongan; Ke
empat, hari jadi Kota Pekalongan dapat menambah calendar of events
dengan penyelenggaraan berbagai festival seni budaya, produk lokal dari
berbagai daerah ilayah kecamatan se Kota Pekalongan dalam perayaan
hari jadi, yang mendukung kegiatan pariwisata.

D. Tinjauan Pustaka

Pada tahun 1983 Pemerintah Kota Pekalongan telah menerbitkan
naskah Rasa Swarga Gapuraning Bumi “ menunjukkan tahun 1906 Masehi.
Sedang sesanti tersebut berarti RASA KEBANGGAAN MEMBANGUN
NAGARI/KOTA. Sedang menurut perhitungan tahun Saka (Anojawa)
menunjuukkan tahun 1828 dengan sesanti, HANGESTINING DWI NAGA
MANUNGGAL yang berarti PEMERINTAHAN DAN RAKYAT BERSATU
UNTUK MEMBANGUN yang isinya tentang penelusuran hari jadi
Pekalongan “yang ditulis oleh Bapak Oetomo MS (Karyawan Departemen
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
5
Penerangan Kota Pekalongan) dan Bapak Bambang Wahyu Danusaputra
(wartawan/seniman). Buku setebal 440 halaman itu berisi penelusuran hari
lahir Kota Pekalongan mulai asal muasal nama Pekalongan, jaman
penjajahan Belanda sampai tahun 1983. Buku yang ditulis dengan tidak
berpretensi untuk menulis sejarah kritis ini dibagi dalam sembilan bab,
secara tematis yang masing-masing bab membahas aspek tertentu dalam
kehidupan masyarakat, yaitu: Bab I Asal Usul Nama Pekalongan, Bab II
Pekalongan Dulu dan Sekarang, Bab III tentang Beberapa Hal di
Pekalongan, Bab IV Peninggalan Sejarah Bab V Perkembangan
Kebudayaan di Pekalongan, Bab VI Perkembangan Kesenian Tradisional
Pekalongan, Bab VII Aneka Ragam Pekalongan, Bab VIII Pendidikan dan
Bab IX Obyek Wisata, Seni dan Budaya.

Sebagai sebuah buku "penelusuran hari Jadi", buku ini cukup
lengkap menyajikan catatan-catatan peristiwa di Pekalongan,
perkembangan Kota Pekalongan, potensi-potensi yang dimiliki. serta
"kemajuan-kemajuan" yang telah dicapainya sejak jaman Hindia,
proklamasi kemerdekaan sampai dengan tahun 1983.

Buku “ Hukum Tata Negara tentang sistem Pemerintah di Daerah “
Pada Bab I dibahas Undang undang Pokok Pemerintah Daerah di
Indonesia Bab II wilayah adminstratif, Bab III Kota Adminstratif, Bab IV
Daerah Otonom, Bab V Pengawasan penylenggaraan urusan Pemerinah di
daerah, bab VI Keuangan Pemerintah Daerah, Bab VII Pembagian Urusan
Rumah Tangga sendiri dan Urusan Pemerintah Pusat, Bab VIII Sejarah UU
Pokok Pemerintah di Daerah Kurun Waktu 1945 hingga sekarang, Bab IX
Pemerintah Lokal pada Jaman Hindia Belanda, Bab X Hal Peraturan
Pemerintah di Daerah sejak 17 Agustus 1945 dalam bab ini menjelaskan
perkembangan politik dan Pemerintahan Daerah Tingkat II yang tidak
terpisahkan dari kondisi dan perkembangan politik nasional untuk
menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Perjuangan diplomatik
(Perundingan Linggajati, Renville, Rum-Royen, -an Komisi Meja Bundar)
dan militer (Agresi Militer Belanda I dan II) bangsa Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan juga berpengaruh terhadap kondisi politik
dan pemerintahan di Kota Pekalongan.

Sehubungan dengan penyusunan penelusuran hari jadi Kota
Pekalongan, buku ini memberikan informasi yang cukup detail tentang
otonomi daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut buku
itu dengan terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia
pada tanggal 17 Agustus 1950 di Jawa Tengah Khususnya Kota
Pekalongan telah terdapat sendi-sendi yang mengatur otonomi daerah,
yaitu Undang-undang nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
6
Daerah. Dalam undang-undang itu telah tercantum sendi-sendi yang luas
dalam mengatur pemerintahan daerah. Pada tanggal 8 Agustus 1950 terbit
Undang-undang No. 13, 1950, tentang pembentukan daerah-daerah
kabupaten di Jawa Tengah. Dalam undang-undang itu termuat urusan-
urusan rumah tangga daerah-daerah kabupaten, yang kemudian juga
disusul dengan terbitnya Undang-undang No 16 dan 17 Tahun 1950
tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kota Besar dan Kota Kecil. Dengan
adanya tiga undang-undang itu, di Jawa Tengah telah dapat dibentuk
daerah-daerah otonom di kabupaten-kabupaten, kota-kota besar dan kota-
kota kecil. Daerah-daerah otonom itu meliputi: 28 kabupaten, 3 kota besar
dan tiga kota kecil. Dalam undang-undang itu juga dijelaskan tentang
urusan-urusan rumah tangga dan kewajiban-kewajiban yang harus
dilakukan oleh pemerimah daerah .

Masalah desentralisasi juga diuraikan dalam buku Hukum Tata
negara tentang Sistem Pemerintahan di Daerah. Di dalam bab IX dijelaskan
cukup lengkap diawali dengan tuntutan desentralisasi dan otonomi demi
efisiensi birokrasi pemerintahan, yang hingga tahun 1900 demikian super
sentralistik, semua urusan dari pusat hingga ke daerah ditangani gubernur
jenderal di Batavia. Desentralisasi merupakan salah satu aspek
pelaksanaan Etische Politiek, suatu kebijakan kolonial untuk memajukan
rakyat bumiputera yang telah dieksploitasi sekian lama. Secara runtut
dipaparkan desentralisasi, sejak munculnya Decentralisatie Besluit
(Staatsblad 1905 No. 137 berdasarkan Undang-undang Desentralisasi
1903, Staatsblad 1903 No. 329). Prinsip otonomi adalah pelimpahan
sebagian kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
melalui pembentukan dewan-dewan daerah. Dimulai dengan otonomi kota
(gemeente) dengan pembentukan dewan kota (gumeente raad) di Jawa
Tengah sejak 1906, disusul dengan otonomi karesidenan (gewetst) dengan
pembentukan dewan karesidenan di Jawa Tengah sejak 1907. Pada intinya
dewan adalah penasihat kepala daerah (residen, walikota) untuk
membicarakan masalah anggaran belanja daerah dan masalah prasarana
umum. Setelah Perang Dunia I desentralisasi ini diperluas melalui
bestuurhervormingswet 1922 (Staatsblad 1922 No. 816) dengan
membentuk daerah otonom yang lebih luas dari gewest, yaitu sebuah
provincie melalui provincie ordonantie (Staatsblad 1924 No. 78), juga
regentschaps ordontiantie untuk tingkat kabupaten. dan staatsgemeente
ordonnantie untuk tingkat kota praja (Staatsblad 1926 No. 365).

Demikian pula pada masa pendudukan Jepang (1942), status Kota
Pekalongan tidak dijelaskan. Bentuk admintstrasi pemerintahan waktu itu
serta batas-batas wilayahnya juga tidak diterangkan. Pada masa
kemerdekaan (1945), status Kota Pekalongan sebagai sebuah Kota Praja
di Provinsi Jateng secara juridis formal tidak tertulis. Daerah Jawa Tengah
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
7
pernah terpecah menjadi dua daerah kekuasaan, yaitu daerah kekuasaan
Republik Indonesia dan daerah kekuasaan Belanda (daerah "federal") di
bawah RECOMBA sejak tahun 1948-1950. Baru menjelang bergabungnya
kembali semua daerah-daerah "federal" (yang dikuasai Belanda) dan
terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus
1950, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali memiliki wilayah yang
utuh, yang meliputi seluruh wilayah Jawa Tengah seperti saat ini.

Oleh karena membahas tentang penelusuran hari jadi dan terkait
dengan perubahan pemerintah daerah, sudah barang tentu buku ini tidak
akan terhindar dari pembahasan tentang. produk-produk perundangan yang
dikeluarkan sejak pemerintah kolonial Belanda sampai dengan pemerintah
Republik Indonesia. Dalam hal ini pemerintah kolonial Belanda telah
meletakkan dasar-dasar pembentukan pemerintah daerah dengan
diterbitkannya undang-undang desentralisasi di Hindia Belanda. Buku ini
memberikan uraian yang cukup detail tentang pertumbuhan pemerintahan
daerah di negara Republik Indonesia dan sangat bermanfaat untuk
penelusuri hari jadi Kota Pekalongan.

E. Metode Penelitian

Penelitian berjudul Penelusuran hari Jadi Kota Pekalongan ini
dilakukan dengan menggunakan metode sejarah.Menurut Louis Gonsehalk
hal 46 yang telah diterjemahkan oleh Nugroho Notosutanto adalah
seperangkat prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah sistematis yang digunakan
untuk mengumpulkan sumber (heuristik), melakukan penilaian (kritik).
menginterpretasi fakla-takta (sintesis), dan merekonstruksinya menjadi
cerita sejarah (historiografi).

Pada tahap pengumpulan sumber dilakukan penelitian terhadap
dokumen-dokumen sejarah yang relevan untuk penyusunan hari jadi Kota
Pekalongan. Penelitian dilakukan di instansi-instansi yang berkompeten
melakukan kegiatan penyimpanan dan pendokumentasian sumber-sumber
sejarah, yaitu Kantor Perpustakaan Daerah Jawa Tengah dan Badan Arsip
Daerah Jawa Tengah di Semarang, Kantor Perpustakaan Wilayah Daerah
lstimewa Yogyakarta, serta Kantor Perpustakaan Nasional dan Arsip
Nasional di Jakarta, Badan Arsip, Data Elektronik dan Perpustakaan Kota
Pekalongan. Studi dokumen ini difokuskan pada arsip-arsip tentang Kota
Pekalongan pada masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang dan
masa kemerdekaan yang meliputi: Staatsblaad, Kan Po
,
arsip-arsip tentang
sistem administrasi dan birokrasi pemerintah militer Jepang, lembaran
negara, surat-surat resmi pemerintah dan Iain-lain. Selain itu juga
dikumpulkan sumber-sumber sekunder yang berupa buku dan artikel yang
relevan untuk penelusuran hari jadi Kota Pekalongan.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
8
Untuk mendapatkan fakta yang kredibel dilakukan kritik sumber
yang terdiri atas kritik interen dan kritik eksteren, kemudian dilanjutkan
dengan penyusunan fakta-fakta yang masih fragmentaris menjadi suatu
uraian yang sistematis, utuh dan komunikatif dalam suatu proses yang
disebut sintesis. Untuk mencapai hasil penulisan sejarah yang demikian
diperlukan suatu penelitian yang tidak saja berangkat dan pertanyaan pokok
tentang "apa", "siapa", "di mana" dan "kapan", tetapi juga berdasarkan
pertanyaan "bagaimana", "mengapa", dan "apa jadinya". Jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan pokok adalah fakta sejarah serta unsur-unsur yang
turut membentuk peristiwa di tempat dan waktu tertentu. Jawaban terhadap
pertanyaan "bagaimana” merupakan rekonstruksi yang menjadikan semua
unsur itu terkait dalam suatu deskripsi yang disebut sejarah. Jawaban
terhadap pertanyaan "mengapa" dan "apa jadinya" akan menerangkan
hubungan kausalitas.

Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo:
1985, 14),. selanjutnya hasil seluruh kegiatan di atas dituangkan dalam
bentuk tulisan sejarah.

Dalam tulisan itu juga disampaikan beberapa altematif tentang hari
jadi Kota Pekalongan dengan berbagai pertimbangannya. Sebelum
menentukan hari jadi Kota Pekalongan secara definitif dilakukan seminar
dengan melibatkan berbagai pihak, yang meliputi unsur pemerintah Kota
Pekalongan, para akademisi, tokoh masyarakat dan Iain-lain untuk
mendapatkan masukan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam pemilihannya. Dari seminar itu diharapkan akan diperoleh kesatuan
pendapat tentang hari jadi Kota Pekalongan yang kemudian akan
ditetapkan dengan Peraturan Daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kota Pekalongan.

















Referensi hari jadi Kota Pekalongan
9
BAB II
PEMERINTAH PEKALONGAN PADA MASA PRA KOLONIAL


A. Pekalongan Dalam Legenda

Asal usul “NAMA PEKALONGAN” sampai kini belum jelas prasasti
ataupun data-data yang bisa dipertanggung-jawabkan, namun demikian
cerita rakyat/legenda tentang ini sudah meluas dan satu sama lainnya
berbeda, hal tersebut disebabkan karena macam-macam aliran, latar
belakang kebudayaan dan agama.
Apabila kita teliti dan pelajari lebih dalam apa yang terdapat dalam
legenda nama Pekalongan yang sekarang masih hidup dikalangan
masyarakat, semuanya saling berbeda dan tanpa didukung fakta serta
dibuat-buat menurut versi penceritanya, apabila kita teliti secara mendalam
jalannya ceritannya sebenarnya berisikan suatu sandi yang didalamnya
terkandung mutiara-mutiara.

Adapun nama Pekalongan adalah sebagai berikut :

1. Topo Ngalong.
Nama Pekalongan berasal dari nama TOPO NGALONG-nya
Joko Bau (Bau Rekso) putra Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai
pahlawan daerah Pekalongan yang kemudian menjadi pahlawan
kerajaan Mataram, yang konon ceritanya berasal dari Kesesi Kabupaten
Pekalongan. Di dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan bahwa Joko Bau
bertapa di Alas Gambiran (kemudian menjadi gambaran terletak didepan
PLN Pekalongan). Di dalam tapanya Joko Bau tersebut tak ada satupun
yang bisa menggugahnya termasuk Raden Nganten Dewi Lanjar (Ratu
Segoro Lor) dan prajurit silumannya, karena kekuatan goibnya luar biasa
kemudian Dewi Lanjar bertekuk lutut dan akhirnya Dewi Lanjar
dipersunting Joko Bau.
Satu-satunya yang bisa menggugah topo ngalongnya Joko Bau
adalah TAN KWIE DJAN yang mendapat tugas dari Mataram, kemudian
Tan Kwie Djan dan Joko Bau sowan ke Mataram untuk menerima tugas
lebih lanjut. Dari asal topo ngalong inilah kemudian timbul nama
Pekalongan dan pada waktu topo ngalong ini jamannya Sultan Agung,
maka timbulnya nama Pekalongan menurut versi ini seputar abad XVII
dan dalam sejarah Bau Rekso dinyatakan gugur pada tanggal 21
September 1628 di Batavia dalam peperangan melawan VOC.
Topo ngalongnya Joko Bau ada yang mempercayai tempatnya
berbeda-beda antara lain di Kesesi, Wiradesa, Ulujami, Comal, Alon-alon
Pekalongan dan Slamaran.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
10
2. LEGOK KALONG.
Dalam lakon Ketoprak yang pernah dipagelarkan di Pekalongan oleh
Siswo Budoyo, lakonnya diambilkan dari hasil karya R.Soedibyo
Soerjohadilogo, diantaranya mengisahkan “tatkala Joko Bau putra Kyai
Cempaluk berhasil memenggal kepala JP Coon (VOC) kepala tersebut
dibawanya pulang untuk disowankan kepada Sultan Agung dan dalam
perjalanan direbut oleh Mandurarejo, akhirnya tidak punya bukti maka
Joko Bau bertapa kembali di daerah selatan Pekalongan. Dari kata
Legok Kalong inilah kemudian timbul nama Pekalongan di desa “Legok
Kalong” dari nama desa itu kemudian menjadi Pekalongan.

3. KALINGGA.
Sebagian masyarakat Pekalongan beranggapan bahwa letak Kerajaan
Kalingga konon adalah di desa Linggoasri Kecamatan Kajen Kabupaten
Pekalongan. Dari Kalingga inilah kemudian dihubungkan dengan kata
Kaling, Keling, Kalang dan akhirnya menjadi Kalong. Akhirnya dari kata
Kalong tersebut kemudian timbulnya nama Pekalongan, karena Kerajaan
Kalingga itu dikenal pada abad VI-VII, maka timbulnya nama Pekalongan
menurut versi ini seputar abad VI s/d VII.

4. Kalong ( Kelelawar)
Pekalongan berasal dari kata Kalong (Kelelawar), karena di Pekalongan
dulunya banyak binatang kelelawar/kalong, terutama di Kesesi tempat
kelahiran Joko Bau putra Kyai Cempaluk.
Dalam versi yang sama, tempatnya lain, yakni dikisahkan di sepanjang
kali Pekalongan (Kergon), di tempat tersebut dulunya ada pohon
slumpring dan banyak kelelawarnya begitu juga di Kelurahan Kandang
Panjang Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan terdapat banyak
pohon randu gembyang dan banyak dihuni kelelawarnya dan dijadikan
pedoman bahwa daerah yang banyak dihuni kelelawar adalah daerah
pantai. Dari banyaknya kelelawar (kalong) tersebut kemudian menjadi
nama Pekalongan. Nama pekalongan tersebut dikenal seputar abad ke
XVII (jamannya Bau Rekso).

5. Kalang
Kata Pekalongan berasal dari kata kalang dan kata kalang tersebut ada
beberapa pengertian yaitu:
Asal kata dari kalingga dan berubah jadi kata keling kemudian kalang.
Kata kalang yang berarti hilir mudik.
Kata kalang berarti nama sejenis ijan laut (Cakalang).
Kata kalang bisa berarti gelanggang, sekelompok.
Kalang berarti juga diasingkan ke…(di selong).
Didalam salah satu cerita rakyat daerah Pekalongan ada hutan/semak-
semak yang banyak setan/siluman dan tempat tersebut sangat ditakuti
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
11
oleh siapapun, kemudian tempat tersebut dipergunakan untuk
pembuangan sebagai hukuman bagi orang–orang yang membangkang
atau membahayakan pada kerajaan Mataram. Dari kata kalang tersebut
kemudian menjadi Pekalongan.

6. Asal Daerah Semula
Nama Pekalongan semula dari daerah Wonocolo Kota Surabaya Jawa
Timur, yang sejak jaman Majapahit nama Pekalongan sudah ada di
daerah itu dan orang-orang di tempat tersebut banyak yang pindah ke
lain tempat (transmigrasi) dan kemudian nama Pekalongan digunakan
unutk nama sebuah kecamatan di kota Netro Lampung.

7. Kata Pekalongan, asal kata pek dan along. Kata pek artinya teratas, pak
de (si wo), luru (mencari, apek) sedang kata along yang artinya halong
dalam bahasa sehari-hari nelayan yang berarti dapat banyak. Kemudian
kata Pek-Along artinya mencari ikan di laut dapat hasil. Dari Pek Halong
kemudian menjadi A-PEK-HALONG-AN=Pekalongan. Masyarakat
Pekalongan sendiri kata Pekalongan dikromokan menjadi
PENGANGSALAN (angsal = dapat). Kemudian dijadikan lambang Kota
Pekalongan yang telah ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kota Besar Pekalongan tertanggal 29 Januari 1957 dan diperkuat
dengan Tambahan Lembaran Daerah Swatantra Tingkat 1 Jawa Tengah
tanggal 15 Desember 1958 seri B Nomer 11 kemudian disahkan oleh
Mentri Dalam Negeri dengan Keputusanya Nomer: Des./9/52/20 tanggal
4 Desember 1958 serta mendapatkan persetujuan Pengusaha Perang
Daerah Tertorium 4 dengan surat Keputusannya, Nomer : KPTS-
PPD/00351/11/1958 tanggal 18 November 1958.

8. Kata Pekalongan, asal kata pek dan kalong. Kata kalong dalam bahasa
Jawa dianggap berasal dari kata dasar elong artinya mengurangi, dan
dalam bentuk pasif kalong yang berarti berkurang. Sementara kata pek
atau amek, seperti yang tercermin dalam ungkapan kata amek iwak
(menangkap ikan), diduga berkaitan dengan bahasa nelayan lokal.
Adapun kata kalong bisa berarti pula sejenis satwa kelelawar besar yang
secara simbolis diartikan sebagai kelompok rakyat kecil atau golongan
orang tertentu yang suka keluar (untuk bekerja) dari rumah pada malam
hari (nelayan).

9. Menurut sumber lokal, yaitu babat Pekalongan, kelahiran desa yang
kemudian menjadi Kota Pekalongan berkait erat dengan kisah tokoh Joko
Bau yang berasal dari desa Kesesi yang disuruh oleh pamannya Ki
Cempaluk untuk mengabdi kepada sultan agung raja Mataram. Joko Bau
Mendapat tugas untuk memboyong putri Ratansari dari kalisalak Batang
ke istana, akan tetapi Jaka Bau jatuh cinta pada puri tesebut. Sebagai
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
12
hukumannya Jaka Bau diperintah untuk mengamankan daerah pesisir
yang terus diserang oleh bajak laut cina. Ia kemudian bersemedi di hutan
gambiran, setelah itu Joko bau bergant nama menjadi bau Rekso dan
mendapat perintah dari Sultan agung untuk mempersiapkan pasukan dan
membuat parahu untuk membentuk armada yang kemudian
melaksanakan serangan terhadap kompeni yang ada di Batavia ( 1628
dan 1629). Setelah mengalami kegagalan Bau Rekso memutuskan untuk
kembali dan bertopo ngalong (bergelantung seperti kelelawar) di hutan
gambiran. Dari tempat dan cara bertapa di hutan Gambian itulah kata
Pekalongan kemudian lahir.

10. Lambang Kota Praja Pekalongan tempo doeloe yang disahkan
pemerintah Hindia Belanda dengan “Keputusan Pemerintah“
(Gouvernements Besluit) Tahun 1931 Nomer 40 dan menurut keterangan
Dirk Ruhl Jr dalam bukunya “Nederland Indische Ceschiedenis Legende
En Besluitan tahun 1934). Di dalam buku tersebut ditulis nama
”Pekalongan” berasal dari perkataan “along”, artinya banyak atau
berlimpah-limpah, lancar, beruntung, berkaitan dengan penangkapan
ikan (hasil laut) dengan menggunakan pukat tarik. Dengan demikian
sesuai dengan motto yang tertulis dibawah perisai lambang Kota Praja
Pekalongan (jaman doeloe) berarti : “pek” (pa)-along–an” yakni tempat
ditepi pantai untuk menangkap ikan dengan lancar dengan menggunakan
pukat tarik (jala). (Bandingkan Lambang Kota Praja Pekalongan. Tempo
doeloe dengan Lambang Kota Pekalongan Produk 1957 yang dipakai
sampai sekarang ).

11. Santri Kalong
Menurut Kyai Raden Masrur Hasan, keturunan Sunan Sendang yaitu R.
Nur Rochmad di Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten
Lamongan kepada basuki Sunaryo. Pekalongan berasal dari istilah para
santri kalong karena tidak bermukim di pesantren di bawah asuhan R.
Joko Cilik yang kemudian disebut mbah Mesjid an pangeran Cilik/Alit
serta pangeran cilik adalah buyut Sunan Sendang. dari istilah santri
kalong kemmudian menjadi kata Pekalongan.

12. Dari asal kerajaan bernama “Pou-Kia-Loung” kemudian menjadi kata
Pekalongan dan menurut naskah kuno Sunda dari akhir abad ke 16,
koleksi perpustakaan “Bodlain” di Inggris. Di dalam naskah tersebut
menceritakakan perjalanan “Bujangga Manik” orang pertama terpelajar
dari Sunda, mengunjungi beberapa daerah di Pulau Jawa, diantaranya
beberapa tempat di kawasan Brebes, Pemalang, Batang, dan
Pekalongan. Kendati tidak singgah di Pekalongan namun dalam
penuturan perjalanannya di empat daerah ini Sang Bujangga tidak lupa
menyebut nama Pekalongan. Penyebutan nama Pekalongan dalam
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
13
naskah Bujangga Manik tersebut dapat dipandang penyebutan nama
Pekalongan paling tua dalam naskah pribumi.

13. Nama Kota Pekalongan ternyata juga disebut dalam sumber sejarah
kuno asal Tiongkok pada dinasti Ming. Sumber ini menuturkan
bahwa`pada tahun ke tujuh masa pemerintahan “Kaisar- Siouenteh”
(tahun masehi 1433) orang Jawa telah datang mempersembahkan upeti
dan memberikan sebuah keterangan pertama jaman “Youen-Khang dari
masa pemerintahan Kaisar Siouen-ti” dari dinasti Han, sedangkan negeri
mereka ini ada tiga jenis penduduk. Pertama, orang-orang Tionghoa,
bertempat tinggal untuk sementara waktu, pakaian dan makanan mereka
bersih dan sehat. Kedua para pedagang dari negeri-negeri lain yang
telah lama menetap, mereka ini juga sopan santun dan bersih. Akhirnya
yang ketiga adalah penduduk pribumi, yang yang dituturkan sangat kotor
dan makan ular, semut dan serangga. Perwujutannya gelap kehitam-
hitaman. Suatu yang aneh adalah, mereka berpandangan sebagai kera
dan berjalan dengan kaki telanjang. Jika ayah atau ibu mereka meninggal
dibawa kehutan belantara dan kemudian dibakar. Salah satu kerajaan
mereka dinamakan “Pou-Kia-Loung”.
Disamping itu ada orang yang menyebutnya Hie Kiang atau
Choun-Ta. Menurut “Prof. D.G. Schlerel” dalam bukunya berjudul “Iets
Omt ent De Betrikkinoen Der Chinezen Met Java, voornDe Komst Der
Europennen Aldo “ termuat dalam majalah “Tijdsct-ift voor Indische Taal
Land-En Volkenkumdell, jilid XX Tahun 1873, yang dimaksud kerajaan
“Pou-Kia-Loung“ dalam sumber sejarah dinasti “Ming” tersebut adalah
Pekalongan. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh”WP
Grosnevldt” dalam uraiannya kesarjanaanya yang terkenal “Histerical
Notes On Indonesia And Malaya Compilet from Chinese Souroes”
termuat dalam “Verhandeking Van Het Bataviaasch Genootschop Van
Kunsten on Wetenschappen” jilid 39 Tahun 1880.
Pendapat Prof. Scheleoul dan Groaneveldt sangat layak diterima,
bukan saja karena Pou-Kia-loung sangat mirip bunyinya dengan
Pekalongan, namun karena keterangan lokasi Pou-Kia-Loung benar-
benar dapat mendorong kita sampai kesimpulan bahwa`negeri ini
memang identik dengan Pekalongan.

13. Menurut Naskah Tiongkok Yi Tiung Achi
Menurut naskah kuno Tiongkok “Yitoung techi” (Geografi Akbar)
yang juga dari masa dinasti ”Ming” keterangan lokasi Pou-Kia-Loung”
dalam naskah disebutkan ihwal perbatasan negri Jawa. Disebelah Timur
berbatasan dengan “Negri Raja Wanita” pada jaman dulu, disebelah
Barat dengan kerajaan “San-Foutsi” (Sriwijaya), disebelah Selatan
dengan kerajaan Ta-Chi (letak kerajaan atau persamaan kerajaan ini
belum ada datanya), dan disebelah Utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
14
(CAMPA). Selanjutnya negri Jawa ini pada awalnya adalah kerajaan
“Cepo” yang orang kemudian menyebutnya Pou-Kia-Loung”, dengan
penemuan ataupun naskah tsb. Berarti nama Pekalongan dan Jawa
LAHIR bersamaan, nama Pekalongan diucapkan dengan aksen Cina
Pou-Kia Loung. Dengan demikian nama Pekalongan sudah dulu ada
bukan nama Pekalongan dari Pou-Kia-Loung namun sebaliknya.
Siapa yang disebut raja wanita dalam naskah dimaksud, tiada lain
adalah ”RATU SIMA” yang sangat bijaksana kemashuranya terurai dalam
sumber sejarah Tiongkok “sejarah baru dinasti tahun (618-906)” jilid 222
bagian ke 2 adapun lokasinya daerah “Keling” Jepara Jawa Tengah,
merupakan kerajaan “Kalingga” dengan demikian benar apa bila
dikatakan Pou-Kia-Loung disebelah Timur berbatasan dengan negri raja
wanita pada jaman dulu, oleh karena daerah Jepara memang terletak
disebelah Timur Pekalongan.
Demikian juga halnya dikatakan di sebelah Barat Negri Pou-Kia-
Loung berbatasan dengan kerajaan San-Fou-Tsi (Sriwijaya) di
Palembang dan lokasi kerajaan Sriwijaya terletak disebelah Barat
Pekalongan sedangkan lokasi kerajaan Tsiam Po(Campa) sudah jelas di
sebelah Utara Pekalongan, yakni dikawasan Vietnam dan Kamboja,
dengan demikian nama Pekalongan telah lama keberadaanya telah lama
dikenal.

14. Perjalanan Hayam Wuruk
Nama Pekalongan pada jaman Majapahit sebenarnya sudah ada, hal ini
dibuktikan dalam buku Negarakertagana Karya Empu Prapanca yang
telah diterjemahkan oleh Prof. Dr. Slamet Mulyana Tahun 1953, di dalam
halaman 48-49 menyebutkan bahwa :
Konon kabarnya tepat ketika Artja Hyang aksabya hilang. Ada pada
Maharaja guru besar mashur pada paduka, putus tapa, suci, sopan,
penganut Budha, pendeta sungguh muritnya banjak tak ternilai, telah
terbukti mahapendeta.
Senang berjiarah ke sendang sutji, bermalam dalam tjandi. Hormat
mendekati hyang artja sudji, chidmat berbakti sembah. Timbul ini
dalam hati pengawat tjandi jang bertanya. Sopan : bagaimanakah
mungkin berbakti kepada artja Syiwa.
Pendeta pilihan menerangkan sejarah makam tjandi tentang adanya
artja Aksabya.Indah, dahulu diatas sepulangja dan kembali ditjadi
akan berbakti. Ketjewa, tertjenggang melihat hyang artja sutji hilang
musna.
Tahun Saka : Api memanah hari (tahun 1253) itu hilangnya arca
waktu hilangnya halilintar Menjamar tjandi kedalam benarlah
pendapat besar bebas dari wasangka bagaimana membangun
kembali tjandi, lama terbengkelai?
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
15
Tiada ternilai indahnya sungguh seperti surga turun Gapura luar,
mekala beserta rumahnya serta permai didalamnya bagai hiasan
naga puspa sedang berbunga sisinya berlukis putri istana yang
tersinarkan hidup.
Sementara Baginda girang tjengram mentjari pemandangan bagai
bulu dada pakis, berserak-serakan ditengah tebat ke timur arahnya di
bawah terik matahari beliau dari tjandi ke PEKALONGAN.
Dalam bait-bait ini jelas nama Pekalongan pada jaman Majapahit sudah
ada.

15. Menurut Sumber Kesusasteraan
Menurut dalam buku “Kesoesasteraan Jawi jilid 1” penerbit
Kementrian Pengajaran dan Kebudayaan di Jakarta Tahun 1946 dijumpai
ceritera menarik mengenai asal muasal nama Pekalongan. Menurut
ceritera ini daerah pesisir Utara tanah Jawa di sebelah Barat kota Batang
terdapat sebuah tempat untuk mencari ikan yang sangat ramai dan ikan
yang berhasil ditangkap selalu banyak jumlahnya dalam lama kelamaan
tempat mencari ikan tersebut diberi nama “Pekalongan’ hinga sekarang
ini.
Dalam artikelnya “Javaansche Jeoorapche namen aisapeoel De
omoaving On denkkwijze van het voik” dalam majalah “De Indische Gids”
(1931) C.Lekkerkerker juga menuturkan sebuah dongeng yang hampir
sama. Menurut ceritanya ini “Pekalongan” berasal dari perkataan Jawa
“pak”yang berarti amek iwak dan perkataan long atau along yang
berarti”berkurang”. Konon kabarnya waktu para nelayan yang bertempat
tinggal di daerah Pekalongan melihat ikan-ikan banyak berkurang
(Kalong).
Penyusutan ikan ini ternyata kaitanya dengan penyebutan
perkataan “ikan” yang sebenarnya sangat pantang mereka ucapkan.
Setelah mereka tidak lagi mengucapkan perkataan ini, ikan-ikanpun
berdatangan kembali. Hasil menangkap ikan mereka berlimpah seperti
semula, mereka kemudian menamai tempat kediaman “Pekalongan“
berasal dari perkataan “Kalong”yang dulu sering mereka ucapkan.
Namun kemudian dalam artikel Lekkerkerker, telah menyanggah
semua keterangan etimologis mengenai asal-muasal nama Pekalongan
dan menurut pendapatnya “Pekalongan” justru dari perkataan “Kalong”
(kelelawar). Pendapat yang sama juga dikemukakan penulis Belanda
terkenal yaitu J.Haaoeman Jes, dalam bukunya “HondleidingTot De
Kanis Der Geschiedenis Aerdrijkskunda, Fabellear En Tijrekankunda Van
Java jilid 11 yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1852. Kendati
demikian Hakeman juga tidak lupa memberikan sebuah catatan adanya
pendapat lain, yang menganggap nama ”Pekalongan“ berasal dari
perkataan “PEPEK KALONG” artinya ”pengurangan pajak”, yang menurut
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
16
keterangan ada sebelum tahun 1600. Namun sementara orang Belanda
pendapat ini sangat tidak berdasar.
Je Van Der Wijk seorang pensiunan Kepala Sekolah di Negeri
Belanda, dalam bukunya “Java Beschrijving Van De Aar drijkskundioe
Geeteldheit, Het Bestuur, De Gebruiland “, penerbitan tahun1876, juga
mengemukakan pendapat yang sama, bahkan sekaligus memberikan
penjelasan kepada para pembaca bagaimana perwujudan “sang kalong”


B. Pekalongan Masa Kerajaan Hindu Budha
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Ir. Sutoto, SU dan Bernellen
dari sudut pandang Geologi. Kedua Geolog tersebut telah memberikan
gambaran dengan jelas tentang posisi garis pantai Jawa Kuno sebelah utara
sejak dari Semarang – Tegal. Kedua Geolog tersebut telah menunjukkan
bahwa Jawa Utara garis pantai purba merupakan kelurusan dari Sesar atau
Patahan. Pantai Purba/Kuno Pekalongan Masa Abad 7 terdiri dari :
1. Tempat berlabuh kapal yang letaknya di lembah (cekungan bukit)
2. Pelabuhan yang memiliki fungsi sebagai tempat transit dan pelabuhan
niaga adalah:
a. Pelabuhan Celong yang terletak di sebelah timur Batang
b. Celong berasal dari kata “Cela atai Syaila” (gunung) dimana tempat
tersebut disamping berada di Pegunungan juga tempat Syailendra
mendarat pertama kali untuk menduduki Jawa.
c. Pelabuhan Bandar Batang
d. Pelabuhan Doro di Pekalongan yang merupakan pelabuhan niaga

Menurut sumber Cina yaitu Wai-Tai-ta yang menuliskan bahwa Che
Po pulaunya makmur, kaya akan padi dan emas serta aman. Orang
membawa barang dari Pu’-Choa-Lung yang jaraknya jauh di sebelah barat
daya kerajaan. Dari catatan Cina tentang Jawa. Kita mengambil
perbandingan dengan sumber prasasti, yaitu Prasasti Canggal.
Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 732 M.
Canggal terletak si sebelah utara Pegunungan Merbabu. Prasasti itu
menjelaskan tentang Ratu Sanjaya – Puti Raja Sanna yang bijak dan
memakmurkan Mandala Pulau Jawa. Raja Sanjaya membangun candi di
Gunung. Yang menggantikan Prabu Sanna, setelah sementara singgasana
diduduki kakak perempuan Sanjaya, keamanan terjaga dengan tidak akan
kehilangan meskipun pintu rumahnya dibuka baik siang maupun malam.
Keterangan yang ditulis kedua sumber tersebut, bahwa antara
kerajaan dan pelabuhan yang ada di pesisir barat daya Laut Jawa jauh dari
pusat kerajaan. Dapat dikatakan Pu’-Choa-Lung terletak di pesisir utara
Jawa sebelah barat. Dalam sejarah perdagangan Asia (Groundveld), Daro
(Doro) disebut pelabuhan di lembah, yang pada masa abad 7 dijadikan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
17
bandar pelabuhan niaga yang disinggahi oleh kapal-kapal bermuatan 200-
300 ton.
Di Pekalongan ada nama “Doro” (daro) menurut Geomorfologi, Doro
pada masa klasik Hindu Jawa 700 tahun yang lalu terletak di pantai purba –
di sebelah barat daya, utara Jawa, jika demikian Pu’-Choa-Lung atau
Pekalongan tersetak disekitar Doro (DR. Kusnin Asa, uraian seminar hari
jadi Kota Pekalongan 27 Juni 2006).
Mengikuti hasil penelitian geologi, pengembangan geografi
Pekalongan telah menempati dua masa sebagai suatu daerah ibu kota,
yakni masa Pekalongan pada abad Neolitik hingga masa klasik abad
ketujuh, yang disebut sebagai Pekalongan Purba dan Pekalongan pada
masa abad ke XIV yang disebut Pekalongan baru (atau Pekalongan Panti).
Pada masa abad ke VII, kehidupan Budaya Nusantara Hindu Jawa
Tengah berlangsung, di Pekalongan telah tumbuh memasuki masa klasik.
Kehidupan permukiman telah mengikuti perkembangan sesuai dengan letak
geografis yang terus menerus berubah. Sebelum terjadi sedimentasi pantai
membentuk alluvial Kota Pantai Pekalongan, Pekalongan yang sekarang
masih merupakan laut yang dalamnya sekitar 100 – 150 m dimana paad
1300 tahun yang lalu pantai Pekalongan purba berada didaerah yang
bernama Da-ra (Doro) dan Kedungwuni.
Sementara Wonopringgo masih berupa Wanua sebagai pusat permukiman
dan pemerintahan. Dengan kedalaman pantai yang cukup buat bersandar
bagi kapal-kapal untuk berlabuh, Kedungwuni dan Gringsing (di Batang),
telah menjadi pelabuhan. Kapal-Kapal Jung dan perahu Cadik, seperti yang
digambarkan pada relief di Candi Borobudur, telah meramaikan laut jawa,
sehingga pada ekspedisi dari penguasa Cina dan India serta Melayu dengan
bebas dapat melakukan hubungan dagang maupun kebudayaan (Setyawati
Sulaiman Studi Ekonografi masa Syalendra di Jawa dan Sumatra).
Melihat sejarah pertumbuhan geografi yang mengikuti perkembangan
niaga Pekalongan yang tumbuh sejak dekade abad ke VII sebenarnya sudah
memiliki suatu pola/sistem pranata sosial yang teratur dibawah struktur
pemerintahan kerajaan.
Pada masa itu, masyarakat Pekalongan tinggal di sepanjang pantai
kuno di gunung-gunung. Sebagian dari mereka adalah para migran yang
kedatangannya diperkirakan bersamaan dengan masa Wangsa Syailendra
mulai menduduki Jawa, sebagian lagi adalah waris dari masa Syailendra.
Prasasti Sojomerto yang berada di Limpung, Batang adalah satu-
satunya prasasti Syailendra yang menyatakan identitas tentang diri dan
keluarganya. Dia adalah keturunan Pu’ Manuku, gelar “Pu’ adalah gelar
jabatan pada Kerajaan Melayu Sriwijaya. Dan prasasti Sojomerto ditulis
dengan huruf Palawa berbahasa Melayu Kuno. Oleh karena itu tidak heran
kalau pada masa Syailendra nama-nama desa dan nama-nama pangkat
jabatan menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Melayu Kuno, Jawa kuno
dan Sansekerta. Tiga bahasa tersebut sering dipakai menurut fungsinya,
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
18
misalnya Daro yang berubah menjadi Doro adalah bahasa Sansekerta
berarti lembah atau juga pelabuhan, Petungkriyono dari bahasa melayu
yang berarti “bambu”, kriyono berasal dari kata Karayan yang berubah
menjadi Rak’yan. Rakyan Betung (petung) memberikan indikasi bahwa
Kepala Desa Sima Petungkriyono adalah Rakyan Betung.
Demikian juga pada nama-nama desa seperti Wonopringgo,
Wonotunggal atau Wonoyoso, Wono disini bukan berarti “hutan (alas)”, akan
tetapi Wono berasal kata “Wanua (desa)”. Mengingat bahasa Jawa Kuno
sampai sekarang nama-nama Desa atau Wanua tidak mengalami
perubahan. Pola desa (Wanua) Sima dan kota mengikuti pola Mandala.
Desa-desa berdiri di dalam kesatuan-kesatuan kelompoknya. Kesatuan-
kesatuan desa yang ada Candinya merupakan Sima. Meskipun ditempat itu
dilengkapi dengan sarana-sarana ekonomi seperti pusat-pusat pelabuhan
dan struktur sosial yang lengkap namun tidak dapat wilayah itu berkembang
menjadi kota.
Petungkriyono adalah sebuah wilayah Swatantra karena daerah itu
memiliki sarana lengkap dipimpin oleh seorang Rakyan dan ada Candinya,
ada kesatuan desa (sima) bahkan ada pelabuhannya di Doro. Nama
Petungkriyono tidak berkembang menjadi kota atau bisa dikatakan kota.
Kota hanya dimiliki oleh Raja – yang disebut Raja Negeri (Ibukota Raja). Dan
pada masa Pekalongan kuno, kota hanya berada di Wantilan (Prambanan
Sekarang) yang kedudukannya sebagai ibu-kota kerajaan.
Tipologi sebuah kota pada masa klasik di Jawa, ini hanya berada di
pusat Kerajaan, yang mana dalam hierarki jenjang wilayah ditentukan oleh
tingkatan Mandala. Sebaliknya pada kota-kota yang dibangun dan tumbuh
pada masa abad 14 - 16-an bisa ditandai dengan konsep-konsep
Merchantilisme (Merkantilisme / pasar).
Seperti daerah lain di Jawa Tengah,khususnya di Pekalongan juga
banyak dijumpai peninggalan-peninggalan dari masa Hindu-Budha.perician
peningagalan kuno ini telah dibicarakan oleh Prof.Dr.NJ Krom dan RWM
Verbeek dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst pada tahun
1914 dan terakhir, sejak 25 Oktober 1975 sampai dengan 20 November
1957,telah di survei oleh sebuah “Tim Proyek Pembinaan Kepurbakalaan
dan Peninggalan Nasional. Hasilnya, termuat dalam majalah “Berita
Penelitian Arkeologi Nomer 9 tahun 1977.
Keterangan tertua mengenai peninggalan kepurbakalaan di daerah
Pekalongan sebenarnya berasal dari bekas Gubernur Jendral Inggris di
Jawa, ”Thomas Stafo Raffles , dalam bukunya “The History Of Java “, jilid II
yang di terbitkan oleh London pada tahun 1817,dalam hal ini Raffles
menyebutkan adanya penemuan sebuah “Jaladwara” (saluran air).
Lima puluh satu tahun berikutnya “JFC Brumund” menyajikan
sebuah uraian yang lebih luas dalam bukunya:”Bijd age tot de kennis van
Java (1868)”, mengenai koleksi temuan di halaman karesidenan
Pekalongan. Peningalan kuno ini terdiri dari 12 buah perwujudan kecil dari
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
19
batu.Tiga buah diantaranya berupa arca Ganesa dan sebuah lagi arca
Durga.
Menurut Prof.Dr NJ Krom dan RWM Ve Beek, disamping semua
arca ini, semula masih terjumpai sejumlah arca kecil lainya. Delapan buah
diantaranya telah terkirim ke negri Belanda dan 14 arca kecil lainnya telah
dikirim ke Musium Nasional di Jakarta. Dari keseluruhan arca ini dua buah
diantaranya berupa arca Trimurtti,dan arca Brahma, Durja dan Mahadewa
dan dua buah arca Ganesa. Sebagian besar barang temuan ini berasal dari
Dieng.

Barang peninggalan lainya semasa jaman Hindu-Budha di daerah
Pekalongan tsb. Dijumpai pula berbagai tempat dan terdiri dari berbagai
bentuk. Seperti di daerah kecamatan Doro (dara) terdapar sebuah arca
Durga, berasal dari daerah Dieng dan sebuah relief yang menggambarkan
seorang laki-laki bertangan empat, mengenakan kain panjang, berdiri di atas
sepanjang naga bertanduk. Tangan kanan belakangnya memegang
mangkok. Masyarakat menyebutnya “Panji”. Disamping masih banyak
terjumpai “Jaladwara” (saluran air) yang sudah sngat aus (rusak) dengan
sebuah arca menggambarkan seorang perempuan memegang guci dan
mulut saluran. Penduduk setempat menyebutnya “Prawan Sunthi”.

Masih di kecamatan Doro, adalah di dukuh Bandaraga,desa
sawangan, terdapat sebuah arca yang disebut “Baran Sekeber”, sedangkan
di kawasan “Suralaya”, menurut Prof DNJ Krom dan RWM verbeek, terdapat
sebuah bukit kecil dengan batu-batu kali, yang menurut cerita tutur
penduduk setempat konon merupakan “Kraton Miriloyo”. Masih ada lagi
peninggalan sebuah peninggalan kuno yang tidak kurang menarik dari
daerah kecamatan Doro dan telah disebutkan oleh Krom dan Verbeek dalam
laporan kepurbakalaanya. Yakni yang terletak di jalan dari Raga Selo ke
Rokom, disebut tempat yang disebut Alas Kaum”, dua buah arca raksaksa
yang disebut “Raja Buta”. Kecuali penianggalan araca ini dikawasan yang
sama masih terdapat enam buah batu kali yang disebut “Batu Umpak”
,sedang disebelah atasnya terdapat sebuah batu berhias berbentuk persegi
empat dengan sebuah alat penumpuk, batu ini disebut masyarakat “Batu
Linjing”.
Di kawasan gunung Raga Selo ini juga pernah dijumpai sebuah
frakmen batu bertulis yang kemudian dibawa kePekalongan, sedang sebuah
serupa juga pernah terjumpai di Masjid Kunop Raga Selo. Prakmen yang
terakhir ini kemudian di bawa ke MUSEUM Nasional Jakarta, menurut
dugaan frakmen batu bertulis ini ada berasal dari tahun 1571.
Kemudian di wilayah kecamatan Petungkriyono (yang menurut
Kusnin Asa, Petungkriyono, dari bahasa melayu yang berarti ”Bambu”,
Kriyono dari asal kata “Karayan” yang berubah menjadi Rakyan”. Rakyan
Betung (petung) memberikan indikasi bahwa kepala desa Sima Petung
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
20
Kriyono adalah Rakyan Betung). Kematan ini terdapat peninggalan lama di
Dukuh Kembangan, Desa Tlagapakis, dimana terdapat “Candi Gedong”
bangunan berupa setinggil terdiri dai lempengan-lempengan batu hitam
tersusun bagaikan kotakdengan tutup diatasnya. Masyarakat setempat
menyebutnya “Pesalatan Sunan Bagus” dari Cirebon. sebutan ini cukup
menarik perhatian sejarahwan karena menurut keterangan Team Survei
Proyek Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan ,juga terdapat susunan
batu semacam dan disebut “Setinggil” di Cirebon.

Lebih kurang dari 30 M dari “Candi Gedong” terdapat sebuah arca
Ganesa. Penduduk menamakan “Batara Guru” dan memandangnya sebagai
pengawal Sunan Bagus, sekaligus pengajar para canriknya. Disebelah arca
ini masih terdapat sebuah arca lain, perwujudan nenek moyang
penduduksetempat, yang disebutnya “Mbok Ayu Mas” dan menganggapnya
sebagai istri Bathara Guru.

Dalam laporan kepurbakalaan Krom dan Verbeek selanjutnya, juga
menyebutkan adanya penemuan “Naskah Lonta” di kawasan Lolong
Karanganyar yang pada jaman penjajahan Belanda termasuk kawasan
Distrik Doro, dan disebuah tempat keramat di pekuburan “Prendengan”
(sekarang Sinongohprendeng Kajen) naskah-naskah ini telah dibawa
Museum Nasional Jakarta. Di samping itu peninggalan nama desa,
peradaban, adad istiadad, seni budaya yang ada kaitanya di jaman Hindu-
Budha di Pekalongan.


C. Pekalongan Masa Kerajaan Islam

Ketika kerajaan Sriwijaya sedang mengembangkan kekuasaannya
yakni seputar abad 7 dan 8, Selat Malaka sudah mulai dilalui pedagang-
pedagang muslim, dimana mereka itu berlayar menuju ke daerah pesisir
lewat beberapa pelabuhan utara pulau Jawa. Berdasarkan “Berita Cina“ dari
jaman Dinasti T’ang pada abad tersebut, sudah ada orang muslim yang
berada di Kanton maupun Sumatera dan sebagian kecil pantai utara pulau
Jawa.

Perkembangan Pelayaran dan Perdagangan yang bersifat
internasional antara Negeri Barat dan timur Asia, diantaranya disebabkan
oleh kegiatan Kerajan Islam di bawah Banu Umayah di bagian Barat dan
Kerajaan Cina Dinasti T’ang di Asia Timur, serta Kerajan Sriwijaya di Asia
Tenggara.

Waktu kerajaan Sriwijaya sudah mundur di bidang ekonomi dan
perdagangan, hal inilah menjadaikan lama kelamaan pengaruh Sriwijaya
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
21
pada sekelilingnya mulai pudar. Kemunduran tersebut juga karena usaha
Singosari dari Jawa Tengah yang mengadakan ekspedisi Pamalayu pada
tahun 1275. Menurut “Berita Cina“ Chou Fei jelaskan bahwa hal itu
dimaksudkan untuk menguasai kunci pelayaran dan perdagangan yang
sebelumnya dikuasai oleh Sriwijawa.

Kesempatan itupun oleh pedagang Muslim digunakan untuk
memperoleh keuntungan dagang dan politik lewat mubaligh-mubalighnya.
Kemudian mereka inipun mendukung bagi daerah yang muncul corak
Islamnya, seperti di daerah Samodera Pasai (daerah Aceh), dimana
merupakan munculnya Kerajaan corak Islam pertama di Indonesia.

Menurut “Berita Marco Polo“ yang singgah di daerah Perlak
(Kerajaan Islam seperiode dengan Samodera Pasai) tahun 1292, sejak itulah
kerajaan corak Islam di Indonesia sudah mulai awal perkembangganya.

Kemunduran Sriwijaya kecuai politik Singosari dan Majapahit serta
perkembangan Islam, juga karena ekspansi Cina pada masa Khu Bie Lai
Khan (abad 13) dan masa dinasti Ming (abad 14 – 15) ke daerah Asia
Tenggara dan seputarnya.

Pengaruh Islam di Jawa sendiri menurut peninggalan lama di Leran
Gresik Jawa Timur menunjukkan tahun 475 H atau 1082 M, hal ini dibuktikan
dengan diketemukannya batu nisan makam FATIMAH binti MAIMUN, namun
ini bukan berarti telah adanya Islamisasi di Pulau Jawa. Berita Cina lainnya
yakni Ma Huan (beragama Islam) pada tahun 1416 mengunjungi Gresik dan
sudah banyak di daerah ini pengaruh dan pengikut Muslim dan sudah ada
masjid yang lebih dari satu.

Pertumbuhan masyarakat Muslim di sekitar Majapahit terutama
daerah pesisiran erat sekali hubungannya dengan perkembangan pelayaran
dan perdagangan yang dilakukan orang-orang muslim di pesisir utara Pulau
Jawa termasuk PEKALONGAN, sebermula memang tidak dirasakan
akibatnya terutama dalam bidang politik. Soalnya kedua belah pihak waktu
itu khusus mementingkan usaha untuk memperoleh keuntungan dagang
saja. Sejak kelemahan-kelemahan yang dialami pusat Kerajaan Majapahit,
mempercepat bentuk kekuasaan politik seperti munculnya Kerajaan DEMAK
BINTORO di Jawa.

Sampai abad ke 16 wilayah pantai Pekalongan dan sekitarnya
merupakan daerah tang jarang dihuni penduduk dan masih tertutup hutan
belantara. Sementara di daerah lain seperti Demak, Jepara, Kudus dan pati
telah berkembang menjadi daerah penting. Wlayah pantai Pekalongan
berkembang setelah daerah pedalaman Pekalongan yang terletak di
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
22
daerah perbukitan tumbuh menjadi pedesaan yang makmur. Time Pires`
menyebutkan bahwa wilayah pedesan Pekalongan tersebut dikuasai oleh
pangeran muslim dari kerajaan Demak.

Pekembangan wilayah Pekalongan dan wilayah pesisir lainnya
mengalami peningkatan pada awal abad ke 17, bersamaan dengan
perluasan wilayah kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung (1613-1645).
Schrike secara rinci menggambarkan adanya hubungan antara pusat
kerajaan dengan wilayah pesisir yang dikuasai leh Mataram ini melalui jalan
darat yang menjulur dari kota istana ke Kota Tegal, Pemalang, Kendal dan
Jepara ( Joko Suryo: 2006,2).

Menurut De Haen, seorang Belanda yang pada 1622 melakukan
perjalanan ke Mataram lewat pesisir Utara Jawa, menyebutkan bahwa
daerah Pekalongan pada masa itu telah di perintah oleh “Pangeran
Mandurajo dan pada 1623 di gantikan oleh Upasanta‘ (De Jonghe,
Opkomst,1V,292). Keduanya merupakan pejabat teras kerajaan Mataram
pada masa pemeritahan Sultan Agung. Seperti halnya Bau Rekso,
Mandurejo dan Upasanta juga ditunjuk menjadi laksamana perang untuk
menyerang Kompeni di Batavia. Sementara itu ‘Serat Raja Purwa “juga
menyebutkan bahwa Pekalongan kemudian di perintah oleh Adipati
Jayaningrat. Menurut Nagtegal dalam buku Riding the Dutch Tiger
menyebutkan bahwa secara berturut-turut Bupati Pekalongan di jabat oleh
keluarga besar Jayaningrat, yaitu Jayaningrat 1(1707-1726), Jayaningrat II
(1726-1743), Jayaningrat III (1743-1759) Jayaningrat IV (1759-tidak
diketahui).

Dengan menterjemahkan keterangan Henrick De Hean ke dalam
gambar dapat dikatakan ruang “formal” kota Pekalongan pada abad 16,
memiliki tipologi kota tradisional Jawa yang dibangun semasa Demak
sampai Mataram Islam. Tipologi kota yang tumbuh di pesisir utara semuanya
dipengaruhi oleh pola-pola Islam di Timur Tengah yang berkembang pada
zamannya. Ruang-ruang formal memiliki fungsi sebagai sarana aktivitas
berkumpul, beribadah, kegiatan ekonomi dan hukum.

Pengaruh Islam di pesisiran Utara Pulau Jawa nampak nyata, dan
di Pekalongan sendiri telah bermunculan masjid-masjid di berbagai pelosok
di waktu itu, dan yang di Kota adalah Masjid Koeno SAPURO, dimana
menurut prasastinya dirampungkan pada Tahun 1134 H atau 1714 M dan
masjid Jami’ Kauman Pekalongan yang dibangun Arsitek Jawa Asli R.
Tumenggung Wirjo Adinegoro Tahun 1852 M, makam Habib Ahmad, dsb. Ini
menandakan bahwa jauh sebelumnya pengaruh Islam sudah meluas di
daerah Pekalongan sendiri dan ada kemungkinan seperiode dengan
munculnya Demak Bintoro. Disamping itu salah satu makam koenodi Sapuro
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
23
Kecamatan Pekalongan Barat yang bernama Raden Tumenggung Amaong
Negoro Bupati Pasuruan, batu nisannya tertera wafat pada tahun 1666,
dimana menurut dugaan bahwa wafat di Pekalongan dalam mengemban
tugas Mataram menyerang Batavia dan meninggal dalam perjalanan pulang
di Pekalongan.

Sejak Demak berdiri dengan Raden Patah sebagai rajanya,
daerah pesisir Utara Jawa hampir keseluruhannya berada di bawah
pengaruhnya. Untuk daerah Cirebon yang tadinya dari sebutan Caruban,
tahun 1470 – 1475 pelabuhannya sudah ramai dan mempunyai potensi
besar dalam mengeksport hasil bumi. Sedang Blambangan (Jawa Timur)
jaman itu telah berhubungan dengan Potugis. Juga kerajaan di daerah
Sunda, seperti halnya dalam perjanjian tanggal 21 Agustus 1522, dimana
kemudian kerajaan Sunda Kelapa yang membendung kekuatan Islam dapat
dipatahkan oleh Fatahilah (Falatehan), seorang yang berasal dari Samudera
Pasai atas perintah dari raja Demak serta Sunan Gunung Jati. Dalam kaitan
ini Kerajaan Sunda Kelapa berhasil direbut pada tahun 1527. Dan ramai-
ramainya pelabuhan Cirebon, nama Pekalongan sudah banyak disebut
karena banyak nakhoda yang berasal dari Pekalongan dan juga para santri-
santri yang datang khusus memperdalam Islam di Cirebon. Juga nama
Wiradesa yang disebutnya Wiradisi (dalam babad Caruban). Bahkan bukan
hanya perdagangan saja yang ramai namun jenis-jenis kebudayaan dan
kesenian nampak berkembang yang bernapaskan Islam. Seni pewayangan
sudah mulai nampak berkembang, dimana lakon yang dibeberkan sedikit
banyaknya menyinggung keislaman.

Bahkan menurut Dr. Kusnin Asa lain lagi, yakni situasi Pekalongan
pada waktu itu lebih baik ketika Hendrick De Haen, pejabat Gubernur
wilayah Timur VOC, bersama Tumenggung Ronggo, Bupati Tegal yang
dalam laporannya tanggal 12 Oktober 1623 antara lain menyinggung situasi
tata kota Pekalongan semasa itu yang dilihatnya dan kemudian dikatakan :
“Saya tinggal di rumah Bupati Pekalongan. Di depannya terdapat halaman
luas (alun-alun) sekelilingnya ditanami pohon Beringin, di kiri terdapat
bangunan masjid tempat sembahyang Muslim dan bagian kanannya ada
bangunan besar rumah kayu untuk menghukum orang-orang bersalah. Di
seberang lapangan terdapat pasar yang letaknya tidak jauh dari tambatan
perahu yang kami tumpangi”. Namun menurut Dr. Kusnin Asa pula, belum
diketemukan fakta dan datanya.

Baik menurut Prof. Dr. Djoko Soerjo maupun Dr. Kusnin Asa
agaknya berbeda dengan ahli sejarah yang lain diantaranya Aman Budiman
(Seorang Pakar Sejarah keturunan Cina yang tidak mau disebut pakar) yang
juga pernah aktif menelusuri dan menyingkap sejarah Pekalongan di tahun
1983 menjelaskan sebagai berikut : “Pangeran Pekalongan sebelum
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
24
menyerang Betawi, Kyai Adipati Mandurarejo (bukan Pangeran Mandurejo,
menurut Djoko Soerjo dan Kusnin Asa) dan Upasanta merupakan pejabat
tinggi di istana Sultan Agung. Dr. Hendrick de Haen, seorang Belanda yang
pada tahun 1622 dan 1623 telah diutus Gubernur Jenderal JP Coen sebagai
duta ke Mataram, dalam laporan perjalanannya telah menyebut mereka
sebagai dua diantara empat orang “penasehat istana”
(Mandurorejo/Upasanta), yang semuanya membawahi 500 orang terkemuka
dan oleh Dr. de Haen disebut orang quisis (orang kaya). Menurutnya, dua
orang diantara mereka membawahi bagian kanan sedang yang lain
membawahi sebelah kiri. Keempat orang “penasehat istana” atau disebut
juga penasehat raja adalah “Wedana Lebet”. Mereka memang merupakan
anggota “Majelis Tertinggi Kerajaan”. Mereka Trdiri dari : “Wedono Gedung
Kiwo” dan “Wedono Gedung Tengen”, “Wedono Keparak Kiwo” dan
“Wedono Keparak Tengen”. Para Wedono Gedong mengurusi keuangan dan
perbendaharaan istana, sedang para wedono keparak mengurusi masalah
“Keprajuritan dan peradilan”. Kyai Adipati Mandurarejo dan Upasanta
merupakan para wedono gedong, sedang yang menjadi wedono keparak
pada waktu itu “Pangeran Nanguneg dan Sujanapura”. Walaupun menurut
tugasnya para wedono Lebet hanya mengurusi masalah pemerintahan di
istana, dalam prakteknya mereka juga mendapatkan kekuasaan mengawasi
daerah-daerah di luar istana. Dalam praktek pemerintahan inilah kita melihat
dimana pada tahun 1622 daerah Pekalongan telah ditempatkan dibawah
jurisdiksi Kyai Adipati Mandurareja dan di kawasan ini sangat luas. Menurut
Dr. De Haen selanjutnya kekuasaan Adipati Mandurareja diserahkan kepada
adiknya Kyai Adipati Upasanta (sebab musabab kurang diketahui).

Menurut naskah “Serat Salsilah para Leluhur ing Kadanurjan
Yogya” koleksi “Perpustakaan Museum Sana Budaya di Yogyakarta”, Kyai
Adipati Manduroreja dan Upasanta masih keturunan “Kyai Ageng Juru
Martani” yang disebut juga Adipati Mandaraka. Dan dari perkawinannya
dengan “Putri Kyai Ageng Jakaria Ngalimdahu” yang dimakamkan di
Pakisdanu. Adipati Mandaraka ini mempunyai empat putra diantaranya yang
sulung bernama “Pangeran Manduranagara”. Setelah ayahnya meninggal,
Pangeran Manduranagara menggantikan kedudukannya sebagai Patih
Kanjeng Susuhunan Adiprabu Hanyokrowati Dinan yang dalam lembaran
sejarah Kerajaan Mataram lebih dikenal dengan nama “Panembahan seda
Krapyak” (1602 – 1613) dengan gelar Adipati Pangeran Manduranagara.
Dari perkawinannya dengan “Raden Rara Subrah”, putri sulung Kyai Ageng
Pamanahan dari istri padminya, Adipati Pangeran Manduranagara
memperoleh empat orang putra dan dua orang diantaranya “Pangeran
Mandurorejo dan Pangeran Upasanta”, yang masing-masing merupakan
“putra yang ketiga dan keempat”. Dengan demikian keduanya merupakan
cucu “Kyai Ageng Juru Martani” (atau disebut juga Adipati Mandaraka) dan
cucu Kyai Ageng Pamanahan. Kalau kita ingat Sultan Agung adalah
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
25
merupakan cicit dari Kyai Ageng Pamanahan, Kyai Adipati Mandurareja dan
Upasanta dengan demikian jelas merupakan “Paman” Sultan Agung.

Menurut R. Basuki/R. Ngabehi Projowaluyo (yang masih trah
Bupati Batang keturunan ke VI/Udeg-udeg Pangeran Arya Soeroadiningrat
II) dalam keterangan/penjelasannya bahwa setelah Batang tumbuh dan
berkembang dengan pesatnya, akhirnya daerah itu diberi status sebagai
tempat kedudukan Kabupaten, dan Pangeran Hadinegoro oleh Sultan
Mataram yang kebetulan masih mertua dari sang sultan itu sendiri dijadikan
Adipati/Bupati Batang yang pertama dan diberi nama “Pangeran
Mandurorejo”. Penetapan tersebut terjadi pada pasewakan agung kerajaan
Mataram pada bulan Mulud di Tahun II saat Pemerintahan Sultan Agung
(1613 s/d 1645). Menurut sumber lain terjadi pada tanggal “12 Rabiul Awal
(1614 s/d 1635 M atau 1024 H), Hari Senin Pon 8 September 1614”.

Pangeran Mandurorejo adalah cucu Ki Juru Martani/Pangeran
Mandaraka yang juga anak menantu Pangeran Benowo. Sedang Pangeran
Benowo adalah putra Sultan Pajang Hadiwijaya. Pangeran Mandurorejo ini
mempunyai seorang putri yang kemudian di pesisir Sultan Agung. Namun
putri tersebut dikenal dengan nama Kanjeng Ratu Wetan atau Kanjeng Ratu
Batang dan dikaruniai dua orang anak yakni Sunan Amangkurat I yang
terkenal dengan sebutan Sunan Tegal Arum dan satunya lagi adalah
Pangeran Danupoyo.

Perlu diketahui bahwa Kerajaan Mataram timbul setelah wafatnya
Sultan Pajang Adiwijaya (1582). Menurut Encyclopedie Van Nederlandsch
Indie 1917, Mataram ini adalah daerah dalam wilayah Yogyakarta yang
meliputi Kota Yogyakarta, Kalasan, Kota Gede, Bantul, Imogiri dan Sleman.
Mataram dulu itu termasuk wilayah Pajang dibawah kekuasaan Sultan
Adiwijaya (1550 – 1582). Pemerintahan daerah tersebut diserahkan Ki Gede
Pemanahan yang telah berjasa. Setelah ia wafat (1575) digantikan putranya
yang bernama Sutowijoyo, kemudian memberontak terhadap Pajang dan
berhasil, dan mengangkat dirinya menjadi raja Mataram yang bertahta di
Kota Gede (Kini Kutagede). Setelah berhasil menjadi raja pertama Mataram
itu, kemudian bergelar Panembahan Senopati. Pajang dijadikan daerah
bagian dari Mataram. Senopati bertahta sampai tahun 1601, dimana selama
pemerintahannya telah menundukkan Madiun (1590), Demak (1588) dan
merupakan pemerintahan yang banyak mendatangkan kemajuan dan
dicintai rakyatnya. Dan Senopati tercatat sebagai Pembangun Kerajaan
Mataram yang berhasil. Usaha dari senopati tersebut terutama dalam
perluasan pada jamannya Sultan Agung diteruskan, yakni menundukkan
Lasem (1616), Pasuruan (1617), Wirasaba (1615) dan Surabaya (1625).

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
26
Untuk wilayah Pekalongan sendiri di jaman itu sudah berkembang
pesantren-pesantren, masjid-masjid yang kesemuanya bernuansakan
“Kadilangon” ataupun “Kewalian” termasuk musholla-musholla (yang istilah
Pekalongan disebut Langgar) bertebaran dimana-mana.

Pada jamannya Sultan Agunglah merupakan suatu pemerintahan
Mataram yang mengalami jaman keemasannya. Dan walaupun penyerangan
ke Batavia kurang berhasil sebagaimana yang diharapkan, namun kemudian
Sultan Agung beralih ke daerah Jawa Timur, yakni Blambangan.
Blambangan yang dikuasai oleh VOC itu bisa dikalahkan oleh prajurit
Mataram pada tahun 1639.

Sebagaimana tertulis di atas bahwa Sultan Agung bukan hanya
ahli dalam bidang pemerintahan ataupun oleh yudha saja, namun juga
merupakan pujangga, sastrawan. Pada masanya juga telah diadakan
perpindahan penduduk ke daerah lain seperti ke Kerawang (kalau istilah
sekarang transmigrasi). Jadi kalau bisa dikatakan, bahwa Sultan Agung
pada jamannya masalah transmigrasi sesudah dijalankan dan berhasil.

Masalah kebudayaan yang menonjol adalah bisa mengawinkan
kebudayaan lama dengan baru (Hinda, Budha, Islam dan Kristen). Unsur
kebudayaan lama dipadukan dengan kebudayaan baru, serta unsur-unsur
agama apapun dicari persamaannya yang kemudian melahirkan suatu
bentuk budaya baru, seperti halnya garebeg dan sebagainya. Kemudian
tahun Saka (Caka) yang berdasarkan perjalanan matahari, diganti dengan
dan disesuaikan dengan hitungan tahun hijriyah (Islam) yang berdasarkan
perjalanan bulan, yang kemudian terkenal dengan sebutan Ano Jawa.
Bidang kesusasteraan Sultan Agung menyusun buku filsafat yang disebut
sastra gending. Juga tentang arsitektur nampak perpaduan antara unsur
agama, yang kemudian lahir arsitektur tersendiri, kemudian terkenal dengan
sebutan arsitektur tradisional Jawa, dan masih banyak lagi karya-karya dari
beliau ini.

Pasa masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram
dibagi dalam beberapa satuan wilayah besar, yakni : Istana atau Kraton,
merupakan pusat kerajaan yang disebut ”Kuntonegoro” (Kutanegara).
Dan wilayah yang mengitari ibukota kerajaan disebut “Negara Agung”,
dimana pada masa awal kerajaan Mataram, Negara Agung terdiri dari empat
wilayah, masing-masing : Kedu, Siti Ageng atau Bumi Gede, Bagelen dan
Pajang. Namun pada masa Sultan Agung masing-masing diantara keempat
wilayah itu dipecah menjadi dua bagian. Daerah Kedu menjadi Siti Bumi atau
Bumijo. Siti Ageng menjadi Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen.
Bagelen, menjadi : Sewu dan Nampak Anyar. Panjang menjadi : Penumping
dan Paneker. Selain itu di luar Negara Agung masih terdapat dua kelompok
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
27
wilayah lagi yakni : yang berada di PESISIRAN (Pantai) dan yang tidak
termasuk kelompok Negara Agung yang letaknya di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Wilayah ini disebut “MANCA NEGARA” yang terbagi juga menjadi
dua bagian yakni : Manca Negara Kilen dan Manca Negara Wetan. Untuk
wilayah pesisiran (pantai) kilen, masing-masing dibatasi oleh Sungai
Teduhan atau Sungai Serang yang mengalir di antara Demak – Jepara.

Dalam pemerintahan Mataram, raja adalah memegang kekuasaan
tertinggi dan kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan yang diserahi
tugas menurut bidangnya masing-masing. Jabatan tersebut ada
hubungannya dengan pembagian wilayah seperti tersebut diatas. Dan masih
terbagi menjadi dua bagian pokok, yakni : jabatan pemerintahan dalam
istana (Lebet) dan luar istana (Pemerintahan Njawi). Pemerintahan Lebet
ada empat bagian yang disebut “Wedono Gedong” (Tengen dan Kiwo),
Wedana Keparak (Tengen dan Kiwo). Diatas wedana keempat itu ada lagi
jabatan yang lebih tinggi yang bertugas mengkoordinir keempatnya yang
dipegang oleh seorang pejabat tinggi yang dinamakan Patih Lebet (Patih
Dalem). Semasa Sultan Agung, Patihnya adalah adipati Mandaraka, sedang
semasa Amangkurat I patihnya Tumenggung Singaranu.

Untuk mengurusi Pemerintahan Kutagara, raja Mataram
mengangkat dua orang pejabat yang disebut Tumenggung dan bertanggung
jawab langsung kepada Raja. Keempat Wedana dan dua Tumenggung
merupakan pejabat penting kerajaan dan merupakan anggota Dewan
Tertinggi Kerajaan. Wilayah Negara Agung masih termasuk pusat kerajaan
yang wilayahnya dibagi menjadi delapan, yang masing-masing dikepalai oleh
Wedana Njawi. Dan sesuai dengan nama-nama daerah Negara Agung maka
mereka adalah Wedana Bumi, Wedana Bumijo, Wedana Sewu, Wedana
Nampak Anyar, Wedana Siti Ageng Kiwo, Wedana Siti Ageng Tengen,
Wedana Penumping dan wedana Paneker. Seluruhnya bertempat tinggal di
Kutagara.

Manca Negara Wetan maupun Kilen, masing-masing dikepalai
oleh seorang Bupati atau lebih. Bupati ini memakai gelar Tumenggung atau
Raden Arya. Sedang jumlah Bupati yang mengepalai tiap daerah tidak
sama, tergantung dari luas daerah yang diurusnya.

Untuk wilayah Manca Negara Wetan dan Kilen diangkat seorang
Wedana Bupati yang mengkoordinasi para Bupati di wilayahnya. Kedua
Wedana Bupati ini bertanggung jawab langsung kepada raja. Daerah
Pesisiran (Pantai) baik Wetan atau Kilen, masing-masing dikepalai oleh
seorang Wedana Bupati (setingkat Residen). Untuk pesisir wetan
berkedudukan di Jepara sedang untuk yang kilen di Tegal Pekalongan.
Keduanya bertanggung jawab mengkoordinasi bupati-bupati di daerah
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
28
wewenangnya. Disini jelas bahwa daerah Pekalongan pada waktu itu
dibawah Wedana Bupati yang berkedudukan di Tegal Pekalongan.

Penyerangan pertama yakni pada tahun 1628 dipimpin oleh
seorang nakhoda kenamaan Ki Bahu Rekso, seorang Adipati dari Kendal
(menurut legenda Pekalongan Bahu Rekso adalah dari Pekalongan) disertai
kedua putra Ki Bahu Rekso serta pula Dipati Ukur, yang memimpin pasukan
dari daerah Pasundan, bersama perwira tinggi lagi yang bernama Suro Agul-
agul. Serangan ini dilakukan lewat darat dan laut. Pada bulan Agustus 1628
di Bandar Batavia berlabuh 50 perahu Mataram penuh muatan bahan
makanan dengan anak buah perahu ± 900 orang. Sebenarnya perahu-
perahu tersebut penumpangnya bukan pedagang namun prajurit-prajurit
Mataram. Disamping yang lewat darat disamping juga membawa bahan
makanan serta perbekalan perang, juga dibawa peralatan seni budaya. Hal
ini untuk biasanya menambah masa pengikut serta pula team yang dengan
dalih seni budaya inilah yang bisa langsung menelusup ke perkotaan Batavia
dengan dalih seperti halnya pengamen.

Pasukan yang dipimpin Ki Bahu Rekso ini dinamakan pasukan
Koloduto I. Orang Belanda sendiri sudah mulai curiga pada armada dagang
yang mendarat tersebut sebab sudah lama kapal Mataram tidak
menyinggahi Bandar Batavia. Dari sebab itu, mereka tidak mengizinkan
berlabuh terlalu mendekat di pantai. Dua hari kemudian malam hari prajurit
andalan Mataram menyamar sebagai pedagang itu tiba-tiba melakukan
penyerbuan ke kota. Terjadilah pertempuran seru dan gencar sepanjang
malam. Prajurit Sultan Agung menerobos penjagaan kompeni dan langsung
menyerbu loji mereka. Namun karena persenjataan kompeni lebih besar dan
memadai, malam itu penyerbuan gagal. Keadaan tenag, Belanda
menyangka bahwa keadaan ketenangan akan berlangsung terus, namun
pada hari itu juga serangan dari darat, laut yang lewat Selatan dan Barat
dimulai. Induk pasukan Mataram mulai melancarkan penyerbuan. Diiringi
sorak-sorai dan lagu peperangan “Banyu Banjir” atau Air Bah. Ki bahu Rekso
serta kedua putranya menyerang langsung pada Kubu Belanda. Sayang
serangan dari Laut tidak bersamaan dengan yang di darat. Meskipun
demikian Belanda banyak menderita kerugian. Kemudian barisan Mataram
mencoba lagi mendekati benteng musuh dengan menggali parit. Sedang
Belanda mengerahkan budak-budak tawanan perang yang diberi
kebebasan.

Berkali-kali pasukan Mataram menerobos benteng pertahanan
Belanda, sedang kemudian pada tanggal 21 September 1628 Ki bahu Rekso
gugur bersama dua orang putranya sebagai pahlawan (Data Museum
Sejarah Jakarta). Dengan gugurnya Ki Bahu Rekso para prajurit Mataram
kehilangan pegangan. Mereka terpaksa mundur kembali dan mengadakan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
29
siasat pengepungan di kota. Kemudian penyerangan dan pengepungan di
kota kolonial itupun terpaksa dihentikan. Karena banyak prajurit yang
meninggal karena kejangkitan wabah penyakit. Disamping itu pengangkutan
bahan makanan dari medan perang tidak lagi berjalan lancar sehingga
timbul bahaya kelaparan. Sedang perhubungan waktu itu amatlah susah.
Pada masa itu daerah sekitar Batavia (Lapangan Banteng, Senen
Sekarang), masih berupa hutan rawa yang dihuni oleh binatang buas seperti
Harimau, Badak, Ular, Buaya dan lain sebagainya.

Mendengar pasukan Koloduto I belum berhasil, Sultan Agung tidak
pernah semangat, kemudian mengirim Koloduto II pada bulan September
1629 pasukan Mataram sudah memulai penyerangan kembali dengan
gigihnya dan sebelumnya lumbung-lumbung padi dipersiapkan di sepanjang
jalur perjalanan antara Mataram sampai Batavia, termasuk di Kota
Pekalongan. Pasukan Koloduto II mengepung Batavia, sungai sebagai
sumber air minum dibendung oleh pasukan Mataram. Bangkai dan kotoran
dicampakkan kedalamnya. Air sungai menjadi kotor dan timbullah wabah
Kolera yang merajalela di daerah seluruh Batavia. JP Coen sendiri
meninggal akibat wabah kolera itu pada tahun 1629.

Dalam penyerangan ini pihak Mataram belum berhasil
dikarenakan beberapa faktor yakni kurangnya peralatan perang, makanan
armada lautnya kurang sekali, sehingga penyerbuan kedua inipun gagal,
namun bukan berarti gagal total. Soalnya penyerangan Mataram baik
Koloduto I atau II membuat banyak kerugian dipihak Belanda. Dan
pulabanyak prajurit Belanda yang meninggal dunia. Beberapa kenangan
yang kini masih ada di Jakarta masih bisa kita lihat, peninggalan tombak dari
Ki Bahu Rekso (pada Museum Sejarah Jakarta), nama jalan Mataram yang
berasal dari Mataraman, dll.

Semasa Djoko Bau (Bahu rekso) menjadi Bupati Kendal, waktu itu
Bupati Pekalongan adalah seorang keturunan Cina yang bernama Tan Kwie
Djan. Tentang Bupati inipun versinya lain-lain yaitu :
• Bahwa sebenarnya Tan Kwie Djan adalah seorang pimpinan nakhoda
dari Ujung Pandang (nama Ujungpandang jaman Mataram sudah ada),
dan ia kemudian mengadakan pelayaran dan menelusuri Pantai Utara
Jawa. Tatkala singgah di daerah Ulujami, tiba-tiba perahu itu pecah. Dan
disinilah Tan Kwie Djan mendarat dan tempat pecahnya perahu itu kini
dinamakan desa Kaliprahu Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang.
Sementara orang lain lagi menjelaskan bahwa mendaratnya di
Kecamatan Keling Jepara.
• Tan Kwie Djan sebenarnya Cina Pribumi, seorang pedagang kelontong
yang rumahnya di sebelah Timur Alun-alun Pekalongan.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
30
• Adalah seorang pedagang besar Semarang yang setelah jadi Bupati
bernama Pusporogo dan ada yang mengatakan Pusponegoro.
• Tentang makamnya pun kini masih simpang siur. Ada yang mengatakan
di seputar Kantor Departemen Pendidikan & Kebudayaan Kota
Pekalongan yang sekarang, ada juga yang mengatakan di seputar
belakang Pasar Banjarsari. Ada yang mengatakan di sebelah Timur Alun-
alun Pekalongan tersebut di Pesantren Ulujami, di Wonobodro, dll.

Salah satu legenda masalah Tan Kwie Jan menceriterakan bahwa
pada waktu itu Pekalongan sudah banyak orang pendatang, diantaranya
orang-orang Cina. Sedang nama Pekalongan sudah lama ada. Orang-orang
Cina ini dalam menghadapi penjajahan terbagi menjadi dua blok yang ikut
Belanda dan blok yang ikut pasukan Bahu Rekso (Bahu Rekso disini bukan
nama orang namun nama pasukan) yang dipimpin oleh Raden Tumenggung
Makar. Dan dari salah satu pimpinan Cina yang ikut bloknya RT Makar
tersebut adalah Tan Kwie Djan yang tadinya seorang pedagang kelontong di
daerah Pekalongan (dugaan : kediamannya belakang pabrik Obat Nyamuk
Nhan Thung). Tan Kwie Djan dalam perjuangannya sangat gigih sekali dan
juga ahli dalam pencak silat. Pada tahun 1628 Janingrat diutus oleh
Mataram menyerang VOC di Batavia bersama pasukannya Bau Rekso yang
dari Kendal. Pasukan yang dari Pekalongan ini disertai pasukan khusus seni
budaya untuk sebagai pasukan sandi (pasukan terdepan). Soalnya pasukan
seni budaya sekaligus merupakan pasukan intel dan mudah menelusup ke
Benteng musuh dngan dalih seniman.

Dalam hal ini pimpinan pasukan yang dari Pekalongan, yakni
Janingrat gugur, sebelum pimpinan dari seluruh pasukan yakni Ki bau Rekso
gugur. Jadi, Bupati Pekalongan (Janingrat) gugur lebih dahulu. Dalam kisah
selanjutnya pasukan yang dari Pekalongan itu mundur setelah pimpinannya
gugur lebih-lebih setelah mengetahui Ki Bau Rekso pimpinan pasukan
utama yang dari Kendal itu juga gugur. Mundurnya pasukan yang dari
Pekalongan ini membawa pimpinannya yang sudah gugur tersebut.
Sebermula akan dimakamkan di seputar dekat stasiun Kereta Api
Pekalongan, namun mendadak diketahui oleh Belanda. Maka kemudian
dibawa ke Selatan lagi. Sementara itu RT Mas Makar yang tadinya sudah
diwisuda menjadi Bupati Pekalongan dengan gelar RPAA Jayaningrat I
karena kepangkatannya naik. Oleh Mataram namanya diganti menjadi
Raden Mas Adipati Arya Joyowinoto.

Sebagaimana tersebut di atas, bahwa sebelumnya antara Tan
Kwie Djan dengan RT. Mas Makar bersama bahu membahu melawan
penyamun di sekitar Pekalongan dan berhasil gemilang. Atas keberhasilan
tersebut kemudian RT Mas Makar oleh Mataram diangkat menjadi Bupati I
Pekalongan dengan gelar Pangeran Adipati Jayaningrat. Kemudian belum
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
31
satu tahun dipanggil ke Mataram untuk memangku jabatan yang lebih tinggi.
Dan untuk gantinya adalah Tan Kwie Djan dengan gelar Tumenggung
Adipati Arya Janingrat. Tan Kwie Djan kemudian bergelar RTAA Janingrat ini
walaupun pada garis besarnya adalah Bupati ke II namun tetap masih
dikatakan Bupati I, soalnya pada mula pertamanya mendapatkan tantangan
dari berbagai pihak, mengapa Cina menjadi Bupati. Namun setelah diadakan
musyawarah dan ternyata pengabdiannya memang perlu mendapatkan
kedudukan Bupati. Hal itu seluruhnya menerima. Dan untuk mengelabuhi
VOC, namanya dikaburkan mirip Bupati yang pertama dalam artian
sebenarnya. Dari beberapa pentas ceritera Ketoprak, menerangkan bahwa :
pada garis besarnya dari keseluruhan ceritera rakyat ada segi
persamaannya, yakni Bau Rekso ataupun Joko Bau adalah merupakan
tokoh legendaris yang dikatakan belum wafat. Versinya memang lain. Begitu
pula batu loncatan untuk awal ceriteranya diantaranya adalah bahwa : Ki
Bau Rekso, atau nama kecilnya Joko bau, asal mulanya adalah berkaitan
dengan suatu persidangan raja Mataram, dimana waktu salah satu selir dari
raja Mataram berbadan dua. Sang raja dalam persidangan itu
memerintahkan kepada sekalian pujangga (Pujangganya ada 7 orang,
diantaranya Ki Gede Cempaluk, Ki Gede Bandar Sedayu) untuk bisa
menerka isi kandungan selirnya itu lelaki atau perempuan. Salah satu
diantara pujangga tersebut adalah Ki Gede Cempaluk menerka bahwa akan
lahir seorang lelaki dan merupakan lelaki yang benar-benar pandai dalam
segala olah yudha dan budaya. Benar apa yang dikatakan Ki Gede
Cempaluk bahwa lahir seorang lelaki. Karena ditakutkan akan menjadi mala
petaka bagi Mataram (karena anak selir), maka bayi tersebut dititipkan pada
Ki Gede Cempaluk dan raja menghadiahkan tanah buat padepokan yang
terletak di daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan (di desa Ujung Negoro,
Kesesi sekarang yang terkenal dengan daerah Ngatas Angin). Bayi yang
lahir itu oleh raja tidak diberi nama, dan setelah kelahirannya ibunya wafat.
Maka setelah diasuh oleh Ki Gede Cempaluk di Kesesi tersebut diberi nama
Joko Bau. Riwayat kelahirannya dan asal usulnya dirahasiakan. Setelah
dewasa Joko Bau menanyakan bab ihwalnya, dan Ki Gede tetap tidak bisa
menerangkan secara jelas, hanya disuruh untuk mengabdi ke Mataram.
Dikisahkan Joko Bau menuju Mataram dengan disertai surat keterangan
menganai dirinya. Dan raja merasa terkejut. Kemudian Joko Bau
diperintahkan untuk menanm dua batang pohon Beringin yang harus
ditanam di daerah Pekalongan Kulon kali dan Wetan Kali, (yakni di tengah
Alun-alun Pekalongan dan Batang), disuruh menyerang raja Uling di daerah
Kedung Sigowok yang keseluruhannya itu dijalankan dengan berhasil baik.
Namun oleh raja rahasia dirinya belum terungkapkan. Sehingga kemudian
Joko Bau kembali ke Kesesi. Dalam perjalanan menuju ke Kesesi inilah Joko
bau berjumpa dengan Tan Kwie Djan seorang nakhoda putra dari Tan Yok
Ing seorang nakhoda dari Ujung pandang. Perjumpaan itu di sekitar alas
Gambiran (antara Kesesi dan Comal). Kemudian sampai pada utusan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
32
Mataram untuk bisanya Joko Bau menghadap Raja Mataram kembali. Dalam
menghadap ini Tan Kwie Djan ikut serta. Dan keduanya oleh Mataram
diperintahkan untuk memimpin pasukan penyerangan ke Batavia.

Keduanya kemudian kembali ke Kesesi untuk minta do’a restu.
Setelah mendapatkan do’a restu tersebut berangkatlah kemudian menuju ke
Batavia dengan disertai Yosopuro, Yosogati, Yoso Tengah serta Kyai Suto
Jiwo serta pula panembahan Sonto. Dibuatlah perahu besar yang digunakan
kayu yang tadinya dihuni oleh raja jin yang bernama Banaspati. Da;lam
membuat perahu tersebut disertai nanggap wayang topeng, maka kini
tempat dibuatnya perahu tersebut dinamakan Alas Stopeng. Sedang
Yosopuro, Yoso Tengah dan Yoso Gati kini menjadi nama desa yakni
Sapuro, Sawah Tengah dan Sogaten di Kecamatan Pekalongan Barat.
Untuk Alas Stopeng yeng terletak diantara Kesesi – Comal – U;lujami
Kabupaten Pekalongan memang sampai kini keadaannya angker.

Segenap lapisan masyarakat Pekalongan saat perang
Diponegoro, ikut serta berjuang secara nyata di wilayahnya dalam segala
bidang demi nusa, bangsa, agama.
Peperangan Diponegoro yang berlangsung dengan dahsyatnya
antara tahun 1825 – 1830, daerah hampir di seluruh Pulau Jawa.
Kesemuanya atas kepemimpinan Pangeran Diponegoro dalam menegakkan
keadilan dan kebenaran, dimana sebelumnya bahwa keadaan di Jawa
Tengah dan Yogyakarta dibuat kacau oleh Belanda. Kedua daerah ini
genting dengan kegentingan yang memuncak itulah menimbulkan suatu
perlawanan menentang kelaliman. Mereka bersemboyan : Hanya suatu
perlawanan sengitlah satu-satunya jalan untuk mengusir dan melenyapkan
penjajahan. Masa itu rakyat dimelaratkan oleh penjajah. Kaum bangsawan
banyak yang mengeluh, adat istiadat banyak yang dilanggar dan pengaruh
serta kekuasaan asing yang sewenang-wenang makin lama makin
merajalela. Sungguhpun rakyat di daerah ini terkenal sebagai rakyat yang
paling lemah lembut di dunia, namun karena keadaan sudah sangat
melalpaui batas, maka api dalam sekam yang sudah lama hangat membara
hanya tinggal menanti datangnya seorang pemimpin dan pahlawan yang
meniup nyala kedalam sekam yang telah hangat membara. Dan pemimpin
yang sudah lama dirindukan dan diidamkannya adalah Pangeran
Diponegoro, seorang bangsawan agung dan pahlawan berjiwa ksatria yang
mengabdikan dirinya lahir bathin, untuk memperjuangkan dan membela cita-
cita luhur bangsanya. Melenyapkan penjajahan asing untuk menegakkan
keadilan dan kemerdekaan, merupakan suatu ikrar bathin setiap pejuang
pengikut Pangeran Diponegoro.
Melihat pengaruh Pangeran Diponegoro begitu besarnya pada
rakyat, Belanda kemudian menggunakan suatu taktik lamanya gerakan
pengadu domba dilancarkan, dan pamer kekuatan tentaranya dan untuk
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
33
memberikan kesan yang menguntungkan Belanda kepada penduduk di
daerah-daerah mungkin bisa dipengaruhinya. Disamping pamer kekuatan
militer, Belanda mempergunakan pula bermacam-macam tindakan politik
untuk mempertahankan dan menyelamatkan kedudukannya.
Residen Banyumas Van Der Poel dengan sengaja datang ke
Tegal dan menyatakan bela sungkawa atas tewasnya putra Bupati Tegal di
dalam pertempuran melawan pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh
Sentot Prawirosudirjo dan dihiburnya Bupati itu. Kemudian Bupati yang setia
pada Belanda itu diusulkan oleh Jenderal De Kock menjadi Pangeran.
Sedang para bawahannya yang setia pada Belanda diperlakukan sebaik
mungkin atau dimanja.
Sementara itu pasukan-pasukan Belanda ditambah untuk daerah
banyumas, Pekalongan, Tegal dengan mendatangkan dari Semarang.
Pasukan diponegoro sendiripun di belakang garis pengurungan mulai giat
lagi mengadakan perlawanan. Benteng Belanda di Ungaran diserang oleh
pasukan Diponegoro dan pada malam hari tanggal 1 Nopember 1628
pertahanan Belanda di Linggis diserang pula dengan kepemimpinan
Jayasundargo. Pertahanan Belanda di wawar juga terancam yang kemudian
dibakar oleh pasukan kita. Untuk daerah Ledok (di daerah hulu sungai
Serayu) perlawanan rakyat bergelora dibawah kepemimpinan Imam Musbah
dan Mas Lurah. Karena perlawanan rakyat di daerah Ledok ini, Belanda
tambah klabakan dan kocar – kacir terutama untuk daerah Banyumas.
Dengan dipimpin oleh Mas Lurah dan Imam Musbah serta seorang
seniman dari Lembah Tidar yang bernama Gunowaseso, pasukan rakyat ini
mengambil daerah pertempurannya di daerah Pekalongan. Rakyat
Pekalongan itu sendiri menyambutnya dengan gembira atas kepemimpinan
ketiga orang tersebut. Markas-markas di setiap penjuru daerah Pekalongan
didirikan termasuk dapur umum. Terkadang markas tersebut disulap menjadi
suatu sanggar budaya untuk mengelabuhi Belanda. Pada tanggal 17
Agustus 1825 Plelen dan Weleri dikuasai rakyat, jembatan-jembatan yang
kiranya dilalui Belanda, dihancurleburkan.

Letkol Cleerens yang memimpin pasukan Belanda di Pekalongan
berusaha dengan sekuat tenaga untuk memadamkan api peperangan. Dan
kelanjutannya rakyat disuruh membantu kemauan Belanda. Namun apapun
iming-iming serta orang-orang dari Belanda dilawannya. Sementara itu
Jenderal de Kokck telah merencanakan untuk mengadakan serangan di
Selarong yang menjadi tempat markas besarnya perlawanan rakyat yang
dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Akan tetapi untuk melaksanakan
rencana itu dengan baik harus bisa memadamkan api peperangan lebih dulu
di daerah Pekalongan, Kedu, banyumas dan sekitarnya termasuk yang
paling ditakuti Belanda yakni di daerah Ledok dan daerah Pekalongan
Selatan.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
34
Pasukan Diponegoro yang di Pekalongan dengan kepemimpinan
tiga serangkai itu membagi tugasnya menjadi tiga bagian. Imam Musbah
untuk daerah di perkotaan, Mas Lurah di sebelah Selatan dengan
markasnya (diduga di daerah Lingga Asri Kajen) sedang yang ditengah
dipimpin oleh Ki Gunowaseso dengan markasnya di Pesantren Kletak
Kedungwuni. Mereka berjuang dengan gigihnya tanpa pamrih, mengadakan
perlawanan seru terhadap setiap penghalang. Dari pimpinan inilah
meninggalkan beberapa bekas kesemangatan juang yang tinggi dan
diantara peninggalannya yang berbentuk seni adalah “Wayang Keling,
Topeng Keling, Dablongan serta aliran kepercayaan (yang dipimpin Ki
Gunowaseso) dan Imam Masbah meninggalkan penanaman agama Islam
yang kokoh dan Mas Lurah yang menurunkan lurah-lurah di desa Linggo
Asri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya. Dan satu
Dukuh yang ikut kelurahan Kauman yang tersebut Ledok adalah salah satu
bukti bahwa mereka dikenal di daerah Pekalongan terutama Keputran
bertempat di Dukuh Ledok yang sekarang ikut Kelurahan Keputran Kota
Pekalongan. Kemungkinan nama besar itu didapat karena Mas Lurah dan
Imam Misbah tadinya terkenal dengan sebutan Kyai Ledok (Kyai dari daerah
Ledok).
Di setiap desa yang biasa memberi bantuan pada pasukan Tri
Tunggal Mas Lurah, Imam Misbah dan Gunowaseso ini oleh Belanda
kemudian berusaha menekan dan melumpuhkan kesemangatannya dengan
segala cara. Karena setelah Belanda menyebarkan mata-matanya sudah
bisa diketahui letak markas gerilya serta pula kelemahan ketiga pimpinan
rakyat itu. Dengan akal licik bahwa Belanda akan menghancurleburkan
rakyat di daerah Pekalongan serta akan memusnahkan markas dan sanggar
dan juga akan memusnahkan makam-makam leluhur Mas Lurah, apabila
mereka tidak menghentikan perlawanannya. Tri tunggal yang memang tidak
mau mengorbankan rakyatnya itu kemudian terpaksa pada 15 Nopember
1828, Mas Lurah menyerah dan bersama beliau juga dua orang putranya
serta beberapa orang pengikutnya. Sungguh licik Belanda itu. Dan akal
liciknya memuncak lagi dimana kemudian Mas Lurah disuruh menangkap
hidup atau mati teman seperjuangnnya yakni Kyai Imam Misbah dan ki
Gunowaseso.
Mas Lurah sebagai pejuang yang sudah dikondang musuh,
kemudian ambil siasat taktik stratgi. Tugas dijalankan, namun sebenarnya
bertindak lain. Dikatakan pada Belanda, bahwa Kyai Misbah dan Ki
Gunowaseso telah meninggal dunia, padahal sebenarnya mereka-mereka
tetap menjalankan gerilya meneruskan perjuangannya demi rakyat dan
agama.
Walaupun nyatanya demikian rakyat menjadi lemah, yang
akhirnya kekuasaan Belanda tambah meluas, sedang kepemimpinan Tri
Tunggal menjadi buyar. Bagi rakyat Pekalongan ataupun Indonesia pada
umumnya yang mencintai perjuangan, Mas Lurah ini dapat dijadikan bahan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
35
renungan dan pelajaran. Belanda dengan tipu dan licik dan bersiasat keji
dan tidak mengenal perikemanusiaan, merupakan catatan tersendiri bagi
pejuang. Bagiamanapun tri Tunggal Mas Lurah – Kyai Misbah dan Ki
gunowaseso adalah merupakan suri tauladan bagi generasi penerusnya.
Tentu saja perlu kita contoh kebaikan dan kejuangan beliau-beliau ini yang
telah banyak menanamkan jiwa juang yang sangat berarti. Konon Mas Lurah
wafat dan dimakamkan di Linggo asri yang kemudian menurunkan lurah-
lurah di sekitar desa tersebut, khususnya di Linggo asri (dulu Linggosari),
tapi ada yang menerangkan bahwa Mas Lurah dan Kyai Misbah
dimakamkan di belakang Masjid Jami’ Pekalongan, sedang Ki Gunowaseso
dimakamkan di seda JAJAR WAYANG, Bojong Kabupaten Pekalongan.
Menurut ceritera tradisional dari sumber babad, yang dianggap
sebagai pembawa dan penyebar agama Islam di Jawa adalah para Wali.
Wali-wali ini tidak kesemuanya datang dari luar Indonesia, sebagaimana
sementara orang menerangkan. Namun mereka banyak yang dari keturunan
Jawa, diantaranya, Sunan Bonang, Sunan drajad putra Sunan Ampeldento
(Surabaya), Sunan Kalijogo yang sebelumnya bergelar Joko Sayid yang
putra seorang Tumenggung dari Majapahit. Sunan Giri adalah seorang
muslim ternama putra Muslim Maulana Iskak yang kawin dengan salah satu
putri dari Blambangan Jawa Timur. Sedang Sunan Gunung Jati putra
Syarief Abdullah yang menikah dengan Dewi Rara Santang atau Syarifah
Modarin (Modhayin) putri Prabu Siliwangi (menurut babad Caruban, karya
Pangeran Sulendradiningrat).
Disamping yang tertera di atas masih banyak beberapa tokoh yang lain dan
tersohor, sepertinya Wali Bayat (Kalten), Sunan Lawu, Syeh Bentong, dsb.
Dan di luar Jawa pun pimpinan semacam Wali di Jawa juga banyak tersebar
di tiap daerah, diantaranya, Dato’ri bandang, Dato’ Sulaiman (Sulawesi),
tuan Tunggang Ri Parangan (di Kutai Kalimantan Timur).
Wali yang sebagai penerima agama Islam yang kemudian sebagai
pendakwah Islamiah, di kalangan masyarakat dan juga berperan sebagai
penasehat raja-raja corak Islam yang memerintah. Bahkan Sunan Gunung
Jati atau Syarief Hidayatullah tidak hanya pelopor dan penyebar agama saja,
tetapi juga bertindak sebagai raja, sehingga mendapatkan sebutan Pandito
Ratu.
Di Jawa pada umumnya para Wali ini dianggapnya sebagaii
pandito/pujangga sebagaimana raja-raja sebelumnya, sehingga segala
sesuatu putusan raja sebelumnya dirundingkan dulu atau minta nasehat
pada para Wali lebih dulu. Dari kesekian Wali itu di daerah Jawa
menggunakan nama Songo yang disamping yang terkenal ada sembilan,
juga berarti sagha (tertinggi) dan angka sembilan sendiri bagi masyarakat
merupakan angka keramat.
Perkembangan kewalian ini konon ceriteranya nama Pekalongan
sudah ada sejak lama dan legenda di daerah Pekalongan menceriterakan
bahwa salah satu wali yang bernama Syeh Siti Jenar (Syeh Lemah Abang),
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
36
yang menyebar luaskan paham “Kawula Gusti”, makamnya berada di desa
Lemah Abang, Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan (mungkin hanya
petilasan).
Menurut beberapa naskah, di Jawa sebelum perkembangan Islam
terlebih dahulu diadakan suatu musyawarah di kalangan para Wali, dan
membahas soal Iman, Tauhid dan Ma’rifat. Dalam musyawarah ini terdapat
juga kritik-kritik terhadap mistik tentang siapa wujud Allah itu sebenarnya.
Pernyataan seorang wali yakni Syeh Lemah Abang tentang “Kawula Gusti”
yang menganggap dirinya penjelmaan Tuhan, mendapatkan tantangan
hebat, dimana pada akhirnya Syeh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati di
daerah Cirebon.
Menurut babad Caruban karya Pangeran Sulondraningrat, (salah
satu turunan langsung dari Sunan Gunung Jati), makam Sunan Lemah
Abang ini di Kemlaten (Pemlaten) di pinggiran kota Cirebon, yang dalam
ceriteranya disebutkan bahwa setelah Syeh Lemah Abang wafat dan
dimakamkan, ketika makamnya akan dibuka kembali, jasadnya telah
berubah menjadi bunga melati dan sekitar makam tersebut berbau wangi.
Maka tempat dimana makam tersebut pada akhirnya dinamakan Kampung
Kemlaten atau Pemlaten.
Agaknya soal paham Syeh Lemah Abang ini dengan kawula
gustinya itu perkembangannya pernah meluas di Pekalongan, yang pada
masa selanjutnya terkenal dengan istilah Islam Abangan (Islam menurut
paham Syeh Lemah Abang).
Di Indonesia, tarikat-tarikat yang berpengaruh adalah Qadiriyah,
Naqsyawatiah, Sammaniah, Qusyaiyah, Syatariah, Syariliah, Khalwatiah dan
Tianiah (ajaran Tasawwuf berhubungan dengan Tarikat, yakni yang disebut
Sufi dalam mendekatkan dirinya pada Tuhan).
Pada mulanya Tarikat Qadiriyah tidak banyak berpengaruh di
kalangan masyarakat, namun kemudian pengaruhnya lebih besar dari yang
lain terutama di daerah Pekalongan dan Aceh, malahan mendapatkan
pengikut tertinggi. Pendiri Tarikat ini adalah Syeh Abdulqodir Jelani (dari
Arab) dimana untuk daerah Pekalongan sendiri banyak makam yang
katanya makam beliau ini.











Referensi hari jadi Kota Pekalongan
37
BAB III
TERBENTUKNYA KOTA PEKALONGAN PADA MASA KOLONIAL
BELANDA


A. Posisi Strategis Kota Pekalongan

Secara harfiah wilayah kota berarti bagian dari wilayah administratif
suatu negara atau kerajaan yang dipimpin oleh seorang walikota, terbentuknya
Kota Pekalongan tidak dapat terlepas dari potensi strategis wilayah ini baik
secara geografis dan ekonomis, maupun politis. Potensi strategis wilayah Kota
Pekalongan itu dapat dijelaskan dengan mengungkap sumber-sumber sejarah
yang dibahas di bawah ini.

Secara geografis dan ekonomis wilayah Kota Pekalongan menjadi
pusat jaringan jalan darat yang menghubungkan bagian barat dengan bagian
timur Pulau Jawa, serta daerah pantai utara dengan daerah pedalaman. Di
sepanjang pesisir utara Jawa terdapat groote postweg (jalan raya) yang
membentang dari Anyer di bagian barat sampai Panarukan di bagian timur
Pulau Jawa. Pembangunan jalan raya ini diprakarsai oleh Daendels, yang
menjabat gubernur jenderal Hindia Belanda dalam periode 1808-1811, dari jalan
raya ini terdapat beberapa jalan kecil atau jalan yang menuju daerah
pedalaman.

Selain dilalui oleh jalan raya yang menghubungkan antara bagian
barat dan timur Pulau Jawa, NV Nederlansdch Indieshe spoorweg maatschappij
(NIS) mengajukan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalan
kerta api dan rute pertama kali yang dibangun adalah rute semarang –
yogyakata. Pemerintah Hindia Belanda mengabulkan dengan syarat jalan
kereta api itu dibangun melalui ungaran dan Salatiga. Peletakan pertama kali
dilakukan oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Den Beek dengan membuka rute
dari Semarang ke Yogyakarta Hadiningrat pada pada tanggal 17 Juni 1864 dan
selesai 10 Agustus 1867, kemudian NIS terus mengembangkan usahanya
tanggal 19 Juli 1868 jalur kereta api sampai di Kedungjati. Dua tahun kemudian
yaitu 18 Pebuari 1870 jalur kerta api sudah sampai Solo lewat Gundih,
kemudian dua tahun kemudian sudah sampai Lempuyangan (Yogyakarta).
Perkembangan selanjutnya NIS pengelolaannya diserahkan kepada Staatspoor.
Perkembangkan perkereta-apian di Pulau jawa mengalami pekembangan yang
sangat pesat, adapun untuk jalur kereta api dari Semarang ke Cirebon lewat
Kota Pekalongan juga menjadi prioritas dan dibangun pada tanggal 25 Agustus
1885 oleh NV. Semarang Cirebon Spoor Trans Matschappy karena daerah-
daerah itu dipandang sebagai tempat-tempat yang berpenduduk padat dan
menghasilkan produk-produk pertanian yang penting seperti gula, nila, dan kopi.
Sarana transportasi yang tersedia pada saat itu hanyalah angkutan gerobag
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
38
dengan ongkos pengangkutan yang mahal dan waktu tempuh sangat lama.
Selain untuk mempermudah pengangkutan produk-produk dari daerah
pedalaman ke pantai utara, kereta api juga diperlukan untuk memperlancar
pengangkutan barang-barang impor dari pelabuhan Semarang.

Pada jaman dahulu jalan kereta api menuju Timur dari stasiun lama
yang terletak di Foto Yen (sekarang jalan Gajahmada) lewat jalan Hayam
Wuruk - dr. Cipto – Batang dengan halte mini di apotek Sumber Waras.
Kemudian pada tahun 1923 pindah 100 m ke Selatan dan halte ini dinamakan
halte Mipitan (muka SD Keputran). Jalur Kreta Api menuju laut (Boom) juga
dibangun begitu juga menuju ke pedalaman Wonopringgo .

Selain tersedia jalan darat, Kota Pekalongan juga memiliki prasarana
jalan laut yaitu tersedianya pelabuhan Pekalongan, yang sejak abad XVII telah
menarik keinginan kompeni dagang Belanda (Vereenigde Oost Indische
Compagtiief VOC) untuk menguasainya. Keinginan kompeni itu untuk
menguasai pelabuhan Pekalongan tidak terlepas dari potensi positif wilayah
pedalaman yang menghasilkan produk-produk pertanian yang laku untuk dijual
baik dalam perdagangan lokal, antar pulau. Pelabuhan Pekalongan sangat
berperan sebagai pintu gerbang bagi kegiatan pengangkutan produk-produk
dari daerah pedalaman seperti gula, kopi, nila, kapok, dan sebagainya.
Kesemuanya itu telah menjadi faktor pendorong dan penggerak Kota
Pekalongan menjadi kota pelabuhan dan kota perdagangan yang cukup
berkembang pada abad ke-19.

Potensi geografis dan ekonomis yang dimiliki oleh wilayah
Pekalongan merupakan faktor pendorong utama bagi terberbentuknya
kekuasaan-kekuasaan politis di tempat ini, meskipun gambaran tentang
potensi-potensi positif itu sulit ditemukan dari sumber-sumber sejarah Indonesia
kuna (sebelum tahun 1500), keberadaan kerajaan-kerajaan yang berpusat di
wilayah Jawa Tengah cukup menunjukkan hal itu, karena pada umumnya pusat
kekuasaan politis selalu dibangun pada tempat-tempat yang berpotensi
strategis, baik secara geografis maupun ekonomi.

B. Pemerintah Daerah Sebelum Tahun 1900

Yang dimaksud Pemerintah Daerah menurut Mr. J. Oppenheim
dalam buku “Het Nederlandsch Gemeenterecht adalah (Prabowo Utomo, 1991:
2) sebagai berikut :
1. Adanya lingkungan atau daerah dengan batas yang lebih kecil daripada
negara.
2. Adanya penduduk dalam jumlah yang mencukupi.
3. Adanya kepentingan-kepentingan yang pada coraknya sukar dibedakan dari
yang diurus negara, akan tetapi bergerak untuk bersama berusaha atas
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
39
dasar swadaya.
4. Adanya suatu organisasi yang memadai untuk menyelenggarakan
kepentingan-kepentingan itu.
5. Adanya kemapuan untuk menyediakan biaya yang diperlukan.
Dengan demikian maka pemerintah lokal atau pemerintah daerah tidak boleh
memiliki UU sendiri, segala sesuatunya yang menyangkut penyelenggaraan
pemerintah diatur oleh atau atas kuasa Pemerintahan negara, karena
statusnya merupakan bagian dari negara.

Pada masa VOC dan pemerintah kolonial Belanda tetap
mempertahankan struktur pemerintahan pribumi, sehingga Belanda dapat
memerintah rakyat melalui para pemimpin mereka sendiri. Tujuan akhirnya
adalah untuk mempermudah perekrutan produk-produk pertanian rakyat
pribumi yang laku untuk diekspor. Dalam hubungan ini Belanda menentukan
kebijakan dan prioritas, sedangkan penguasa pribumi bekerja sama dengan
rakyat untuk menghasilkan produk-produk dan para penguasa daerah itu diberi
gelar regent (bupati) oleh VOC.

Pengaruh VOC sampai akhir abad XVIII meluas di seluruh Jawa,
melaksanankan pengawasan terhadap daerah-daerah khususnya terhadap
daerah Priangan dipegang oleh gubernur jenderal di Batavia, sedangkan
pengawasan terhadap daerah pesisir dikendalikan oleh gubernur pantai utara-
timur Jawa, yang berpusat di Semarang. Penguasa-penguasa di Banten,
Cirebon, dan Jawa Timur menjadi vassel/ (taklukan) VOC. Di setiap daerah
yang telah dikuasainya, VOC menempatkan residen, komandan (kepala urusan
militer), dan pengawas pertanian untuk wilayah keresidenan dan kabupaten.
Menurut Clive Day di dalam buku “The Policy and Administration of the Dutch in
Java” hal 93- 94 menceritakan pada masa VOC, wilayah Jawa Tengah dan
Jawa Timur terbagi dalam 36 kabupaten. Para bupati harus mengakui
kekuasaan VOC, mereka tidak memiliki hak untuk menjalin hubungan politik
dan perdagangan dengan kekuasaan asing namun harus menjaga perdamaian
dan harus mengumpulkan dan menyerahkan produk-produk yang dibutuhkan
oleh VOC. Untuk perekrutan kepatuhan penduduk pribumi kepada para bupati,
upacara-upacara tradisional tetap dipertahankan, dan mereka tetap meneruskan
kehidupan sesuai dengan tradisi mereka. Intensifikasi eksploitasi VOC
memungkinkan para bupati menerima pendapatan ekstra sehingga mereka
menjadi kaya raya (Heather Sutherland,1979 : 6-7).


Pada akhir abad XVII VOC mengalami kebangkrutan dan
kemunduran yang disebabkan oleh berbagai faktor yaitu terutama kecurangan
dalam pembukuan. hutang dan korupsi. Pada tahun 1795 ijin usaha (octrooi)
VOC dicabut dan pada tahun 1798 kompeni dagang ini dibubarkan setelah
berkuasa di sini selama hampir dua abad, selanjutnya pemerintahan
diserahkan kepada pemerintah Belanda.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
40

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem
Daendels (1808 -1811), sistem pemerintahan daerah yang telah dibangun oleh
VOC ditiadakan. Ia menjalankan sentralisasi kekuasaan di Batavia dan
memperkuat kontrol administratif serta keuangan bagi para penguasa pribumi.
Kekuasaan gubernur pantai utara-timur Jawa dihapuskan dan wilayah itu dibagi
dalam lima prefectuurs (wilayah yang dipimpin oleh seorang prefectIkepala
wilayah). Setiap prefect menjalankan kekuasaannya di bawah pengawasan
gubernur jenderal. Dijelaskan juga pada masa pemerintahan Daendels di Jawa
dibentuk 30 kabupaten hak turun-temurun bupati dihapuskan, sedangkan hak
atas tanah, hak mendapat pelayanan tenaga kerja dan hak pemungutan hasil
pertanian dikurangi. Sebagai kompensasi semua itu, para bupati diberi
kedudukan sebagai pegawai pemerintah yang digaji. (Heather Sutherland ,
1979:l 7).

Setelah masa pemerintahan Daendels, Jawa jatuh ke tangan Inggris
dan menjadi bagian daerah kekuasaan Inggris di India. Thomas Stamford
Raffes diangkat sebagai letnan gubernur jenderal untuk mewakili raja muda
Lord Minto penguasa Inggris di India. Daendels dan Raffles meyakini kebaikan
sistem pemerintahan ala Barat, kemudian Jawa dibagi dalam 17 wilayah
keresidenan, setiap wilayah dipimpin oleh residen Eropa dan setiap residen
dibantu oleh seorang asisten residen, kemudian tiap karesidenan dibagi dalam
beberapa kabupaten.

Di dalam bukunya Heather Sutherland hal 9 dijelaskan bahwa, di
samping membangun sistem pemerintahan Eropa, Raffles juga tetap
mempertahan sistem pemerintahan pribumi. Raffles menempatkan pegawai-
pegawai pribumi di bawah kedudukan bupati dan di bawah pengawasan
pemerintah pusat. Bupati dibantu oleh patih dalam melaksanakan pemerintahan
sehari-hari. Patih juga bertugas menguasai kepala-kepala teritorial yang lebih
rendah yaitu wedana dan asisten wedana. Dalam sistem kepegawaian
pemerintahan pribumi terdapat mantri (orang yang melaksanakan tugas khusus
seperti pengairan), penghulu (orang yang bertugas dalam urusan keagamaan),
dan jaksa (orang yang bertugas dalam urusan hukum dan pajak).

Setelah penjajahan Inggris berakhir pada tahun I816 yaitu dalam
bulan Agustus 1814 Inggris mengadakan perjanjian dengan Belanda untuk
mengembalikan Jawa dan milik-miliknya yang lain yang telah dikuasai oleh
Inggris, akan tetapi pelaksanaan penyerahan kekuasaan itu baru terjadi dalam
bulan Agustus 1816, karena pemerintah Inggris di Jawa masih menunggu
perintah langsung dari gubemur jenderal Inggris di India (Clive Day : 1972:167).
Pemerintah kolonial Belanda tetap melanjutkan sistem pemerintahan yang
sudah dibentuk oleh Daendels dan Raffless. Pada masa pemerintahan
Gubernur Jenderal G.A. Baron Van Der Capellen (1818-1826), tepatnya pada
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
41
tahun 1819, para asisten residen mendapat kekuasaan atas daerah yang
setingkat dengan kabupaten, sehingga dalam setiap residensi terdapat tiga atau
lima asisten residen. Tingkatan ke tiga dalam sistem pemerintahan Eropa di
daerah adalah controlcur (pengawas), dan sebenarnya kedudukan ini berasal
dari pengawas (opziener) pada masa VOC. Pada tahun 1820, gelar dan posisi
bupati di Jawa diratifikasi (dikukuhkan). Ratifikasi itu memperkuat kedudukan
bupati sebagai orang pertama dalam suatu kabupaten, dan di bawah perintah
residen. Dalam urusan dengan penduduk pribumi, bupati adalah penasihat
asisten residen. Tugas-tugas utama bupati adalah mengawasi pertanian,
keamanan, kesehatan, pengairan, perawatan jalan, dan pemungutan pajak
dalam wilayah kabupaten. Demikianlah pemerintahan kolonial Belanda telah
memerintah dengan cara indirect rule. Pemerintahan pribumi (Inlandsch
Bestuur) atau pangreh praja melaksanakan perintah-perintah dari pemerintahan
Eropa (Binnenland Bestuur) untuk pengaturan urusan-urusan yang
berhubungan dengan penduduk pribumi.

Pada pertengahan abad XIX, dilakukan pembaharuan pemerintahan
kolonial dengan dikeluarkan regerings reglement (undang-undang) tahun 1854.
Di dalam pasal 67 undang-undang ini menyatakan bahwa: "Jika keadaan
memungkinkan, penduduk pribumi harus ditempatkan di bawah pengawasan
kepala-kepala daerah mereka sendiri yang ditunjuk dan diakui oleh pemerintah".
Dengan demikian para bupati harus menunjukkan kuallitas mereka sebagai
pemimpin rakyat. Prestice dan karisma turun-temurun mereka merupakan
jaminan untuk merekrut loyalitas rakyat., sedangkan di dalam pasal 69
menyatakan bahwa lebih memperkuat kedudukan bupati secara turun-temurun :
"Bupati dipilih oleh gubernur jenderal dari kalangan pribumi, dan anak bupati
atau keluarganya dapat dipilih jika memenuhi syarat calon bupati yaitu memiliki
kemampuan, kepandaian, kejujuran dan kesetiaan". Peraturan ini telah memberi
status spesial kepada keluarga bupati, dan menciptakan clan bupati sebagai
kelas atas yang biasa disebut dengan ningrat prinyayi. (Heather Sutherland :
1975, 7).
Kekuasaan sentralistis Belanda diperkuat lagi dengan pemberlakuan
Reglement op het Beleid der Regering van Nederlandsch lndie yang dimuat
dalam Staatsblad 1855 No. 2. Menurut peraturan tersebut Hindia Belanda
adalah suatu decentraliseerd geregeerd land (suatu wilayah yang diperintah
secara sentralistis). Akan tetapi, dalam sistem pemerintahan yang sentralistis
ini, dilaksanakan pula dekonsentrasi, yaitu pelimpahan tugas pemerintahan dari
aparatur pemerintah pusat kepada para pejabat pusat yang berkedudukan lebih
rendah secara hirarkis. Para pejabat pusat itu disebar di seluruh wilayah negara,
dan masing-masing mendapat tugas untuk mengelola pemerintahan di
lingkungan wilayah tertentu. Lingkungan wilayah jabatan ini disebut daerah
administrate. Berdasarkan pada peraturan tadi. Jawa dibagi dalam daerah-
daerah adminsratif yang disebut gewest (residensi dipimpin oleh seorang
residen). Setiap gewest mencakup beberapa afdeeling (setingkat dengan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
42
kabupaten - dipimpin oleh seorang Asisten residen), district (setingkat dengan
kawedanaan - dipimpin oleh seorang controleur), dan onderdistrict (setingkat
dengan kecamatan - dipimpin oleh seorang aspirant controleurr).

Sebelum tahun 1900 di wilayah Jawa Tengah terdapat lima gewesten
(keresidenan) yaitu : (1) Semarang gewet meliputi Kabupaten Semarang,
Kendal, Demak. Kudus, Pati, Jepara, dan Grobogan, (2) Rembang gewet
meliputi Rembang, Blora, Tuban, dan Bojonegoro; (3) Kedu gewest meliputi
Kabupaten Magelang. Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kutoarjo,
Kebumen, dan Karanganyar; (4) Banyumas gewest meliputi Kabupaten
Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga; (5)
Pekalongan gewest meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan,
dan Batang.

C. Pemerintah Daerah Setelah Tahun 1900

Pada sekitar tahun 1893 di kalangan kaum liberal Belanda muncul
pemikiran-pemikiran ethisch (moral) yang menyerukan kepada pemerintah
kolonial Belanda untuk memberikan tanggung jawab moral kepada bangsa
Indonesia dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Tokoh-tokoh
politik kolonial liberal adalah Van Kol, Van Deventer dan Pieter Brooshoofl. Van
Kol menjadi juru bicara golongan sosialis dan melancarkan kritik terhadap
kemorosotan kehidupan rakyat di Indonesia, sedangkan Brooshooft mengecam
pemerintah Belanda yang hanya mengambil keuntungan dari rakyat dan tidak
mengembalikan sedikitpun kepada mereka. Van Deventer sangat terkenal
dengan tulisannya tentang "Een Eereschuld’ (Hutang Kehormatan) pada tahun
1899, ia mengecam pemerintah Belanda yang tidak memisahkan keuangan
negeri induk dari keuangan negeri jajahan. Menurutnya, pemerintah Belanda
telah menjalankan politik Batig Slot (hasil yang menguntungkan), yang berani
mengeksploitasi hasil rakyat Indonesia, tanpa kepedulian untuk mengembalikan
hasil itu sedikit pun. Van Deventer berpendapat bahwa uang rakyat tersebut
harus dikembalikan sebab itu merupakan hutang kehormatan.

Di dalam bukunya Robert Van Niel dalam hal 51 disebutkan bahwa
kritik-kritik tersebut di atas mendorong ratu Belanda untuk menyampaikan
pidato pada bulan September 1901 yang menekankan spirit etis yaitu:
"kewajiban yang luhur dan tanggung jawab moral untuk rakyat di Hindia
Belanda. Dengan pidato ratu Belanda itu, Ethische politiek (politik etis)
dinyatakan dimulai. Belanda sebagai "wali" harus mengutamakan kepentingan
rakyat pribumi. Pertama kali pelaksanaan politik etis ditekankan pada perbaikan
ekonomi, tetapi kemudian juga pendidikan, pembaharuan pemerintahan dan
politik. Politik ini memperjuangkan tiga hal, yaitu peningkatan kesejahteraan
rakyat, desentralisasi, dan efisiensi.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
43
Pada dasarnya tuntutan desentralisasi sangat terkaitan dengan
pelaksanaan sistem liberal di Indonesia yang menyebabkan urusan
pemerintahan di daerah-daerah meningkat secara pesat pada akhir abad XIX.
Meningkatnya kepentingan-kepentingan Belanda di kota-kota, penumbuhan dan
perkembangan pabrik-pabrik, kebutuhan akan fasilitas-fasilitas daerah seperti
kereta api dan pelabuhan, semua dana untuk pengelolaan daerah merupakan
urusan-urusan yang memerlukan keputusan dan penanganan yang sesegera
mungkin. Jika residen harus melaporkan setiap urusan kepada gubernur
jenderal di Buitenzord (Bogor), hal itu akan menjadi hambatan bagi
pembangunan daerah. Oleh karena itu masyarakat di daerah-daerah
menginginkan untuk dapat mempunyai suara dalam urusan-urusan pemerintah.
Untuk itu diperlukan reorganisasi pemerintahan guna mempertinggi efisiensi
dan memperbesar otonomi dengan contoh lembaga-lembaga pemerintah di
negeri Belanda yang telah didesentralisasi.

Desentralisasi dicanangkan pertama kali oleh pemerintahan Kerajaan
Belanda pada tahun 1903 dengan undang-undang yang disebut decentralisatie
Wet yaitu undang-undang tentang desentralisasi pemerintahan di Hindia
Belanda yaitu dengan dikeluarkannya Staatsblad 1903 No. 329. Undang-
undang tentang desentralisasi ini menambah peraturan dasar ketanegaraan
Hindia Belanda dengan 3 pasal baru yaitu pasal 68a, 68b, dan 68c yang
kemudian menjadi pasal-pasal 123,124,125 Indische Staatregeling yang
merupakan dasar pemberian hak otonomi kepada setiap residensi (gewest) dan
bagian dari gewest untuk memiliki serta menyusun keuangan sendiri dalam
membiayai kebutuhan-kebutuhan daerah tersebut. Selain itu undang-undang
tersebut juga memberikan landasan hukum bagi pembentukan dewan-dewan
daerah di wilayah-wilayah administratif tersebut. Dewan daerah ini mempunyai
wewenang untuk membuat peraturan-peraturan tentang pajak, urusan sarana
dan prasarana umum seperti: jalan, taman, jembatan, makam, dan sebagainya.

Undang-undang Desentralisasi Tahun 1903 tersebut mencakup
beberapa hal pokok yaitu:
1 Kemungkinan untuk pembentukan suatu daerah dengan
keuangan sendiri untuk membiayai kebutuhan-kebutuhannya yang
pengurusannya dilakukan oleh suatu dewan (Raad).
2 Bagi daerah yang dinilai telah memenuhi syarat, setiap tahun
diberikan sejumlah uang dari kas Negara.
3 Ketua gewestelijke raad (dewan residensi) adalah pejabat pusat
yang menjadi residen daerah yang bersangkutan, dan ketua
dewan daerah selain residensi ditunjuk dengan ordonansi
pembentukan. Pada umumnya juga ditunjuk pejabat pusat yang
menjadi kepala daerah administratif.
4 Sebagian anggota dewan daerah diangkat oleh gubernur jenderal,
sebagian diangkat karena jabatannya dalam pemerintahan dan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
44
sebagian lagi dipilih, kecuali semua anggota dewan kota besar/
kotapraja, mulai tahun 1917 dipilih.
5 Dewan daerah berwenang menetapkan peraturan daerah tentang
hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan daerahnya, jika belum
diatur dalam peraturan perundangan pusat.
6 Pengawasan terhadap daerah, baik berupa kewajiban daerah
untuk meminta pengesahan atas keputusan daerah maupun hak
menunda atau membatalkan keputusan daerah, berada di tangan
gubernur jenderal Hindia Belanda.

Undang-undang desentralisasi tahun 1903 dilaksanakan lebih lanjut
dengan Decentralisatie Besluit (Staatsblad 1905 No. 137) dan Locale Raaden
Ordonnantie (Staatsblad 1905 No. 181), ke dua peraturan ini, daerah yang
diberi keuangan sendiri disebut Locaal Ressort, dan dewannya disebut Locale
Raad yang dapat dibedakan dalam Gewestelijke Raad (dewan keresidenan)
dan Plaattelijke Raad (dewan yang dibentuk untuk bagian dari
gewestIkaresidenan). Dewan untuk bagian dari gewest yang berbentuk kota
dinamakan Gemeenteraad. Demikianlah sesuai dengan peraturan-peraturan
tersebut dibentuk daerah dengan keuangan dan aparatur pemerintahan daerah
sendiri.

Untuk wilayah Jawa Tengah hak otonomi diberikan kepada
Karesidenan Banyumas (diatur dalam Staatsblad 1907 No. 136), Karesidenan
Pekalongan (diatur dalam Staatsblad 1908 No. 174). karesidenan Kedu (diatur
dalam Staatsblad 1908 No. 177), Keresidenan Semarang (diatur dalam
Staatsblad 1908 No. 175), dan Karesidenan Rembang (diatur dalam Staatsblad
1908 No. 134). Selain kepada karesidenan, di wilayah Jawa Tengah otonomi
juga diberikan kepada beberapa kota besar yaitu kota Semarang (diatur dalam
Staatsblad 1906 No. 120), Tegal (diatur dalam Staatsblad 1906 No. 123),
Pekalongan (diatur dalam Staatsblad 1906 No. 124), dan Magelang (diatur
dalam Staatsblad 1906 No. 125). Suatu kota dapat diberi otonomi jika ia
merupakan kota besar yang memiliki cukup banyak penduduk Eropa dan
berdekatan dengan daerah perkebunan tebu, kopi dan sebagainya.

Dengan dikeluarkannya staatblad Nomor 124 Tahun 1906 mengatur
tentang desentralisasi dengan pemisahan keuangan untuk ibu kota Pekalongan
dari keuangan umum pemerintah Hindia Belanda. Staatblad tersebut memuat 9
pasal yang merupakan dasarhukum pembentukan Kota Pekalongan . Di dalam
pasal 1 menyebutkan bahwa melaksanakan ketentuan dari ayat pertama pasal
68a dari peraturan Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dijalankan di atas
sebagian dari Karesidenan Pekalongan dengan Pekalongan sebagai ibu kota
dan bagian daerah ini disebut gemeente Pekalongan, kemudian dalam Pasal 2
menyebutkan bahwa untuk Gumeente (Kota Pekalongan) disediakan dari
keuangan kolonial sebesar F. 12.100 (dua delas ribu seratus gulden) setiap
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
45
tahun. Pasal 3 menyebutkan di dalam Kota Pekalongan tidak disediakan lagi
keuangan dari pemerintah Hindia Belanda untuk keperluan : a. pemeliharaan,
perbaikan, pembaharuan dan pembangunan dari jalan-jalan umum dengan
pekerjaan-pekerjaan yang termasuk di dalamnya jalan kampung tanaman
pohon-pohon, pembuatan jalan tebing, jalan dan selokan-selokan, sumur-
sumur, batu kilometer, papan nama, jembatan-jembatan kaimur-kaimur, dinding
beton di pinggir sungai, parit-parit pembuangan air, saluran-saluran parit untuk
menyiram riool, pekerjaan-pekerjaan untuk memperoleh atau membagi air
minum, air pencuci rumah pembantaian dan los pasar; b. Pemadam kebakaran;
c. pembuatan tanah-tanah kuburan. Pasal 4 menyebutkan bahwa Kepada
Gemeente Pekalongan diberikan hak penguasaan atas unsur-unsur yang
berada di dalam gumeente yang dimaksud pasal 3, selanjutnya rumah
pemadam kebakaran yang semula milik Hindia Belanda yang tercatat gumeente
Pekalongan, demikianlah yang berada di luar gumeente yang dimaksud adalah
kuburan Tionghoa di Kuripan dengan kewajiban supaya urusan-urusan itu tetap
dipergunakan sebagaimana hukumnya sekarang. Pasal 4 menyebutkan kepada
gumeente Pekalongan diberi hak untuk menguasai unsur-unsur dalam pasal 3
tersebut di atas dan rumah pemadam kebakaran serta kuburan di Kuripan.
Pasal 5 menyebutkan bahwa semprotan dan alat pemadam kebakaran yang
semula milik pemerintah Hindia Belanda diserahkan pada Gumeente
Pekalongan dan Gubernur Jenderal menentukan nama-nama alat-alat
inventaris tersebut dari milik Irigasi Karesidenan Pekalongan diserahan tanpa
ganti rugi. Pasal 6 menyebutkan untuk gumeente Pekalongan ditetapkan
sebuah Dewan Kota Pekalongan dengan jumlah anggota 13 orang terdiri dari 8
orang Eropa atau yang dipersamakan denga mereka (gelijkgestelden), 3 orang
Bumi Putra dan 2 Orang Timur Asing dan Kepala pemerintahannya adalah dari
Ketua dewan Kota Pekalongan tesebut. Pasal 7 menyebutkan membuat
Peraturan Daerah dalam wilayah Gumeente Pekalongan. Pasal 8 Gumeente
Pekalongan mengawasi penggunaan kuburan umum yang baru. Pasal 9
menyebutkan bahwa ordonansi (peraturan) Gubernur Jenderal ini mulai berlaku
pada tanggal 1 April 1906. Staatblad tersebut ditetapkan di Buitenzorg (Bogor)
pada tanggal 21 Pebruari 1906 oleh J.B. Van Heutsz dan diundangkan pada
tanggal 1 Maret 1906 oleh De Groot. Staatblad tersebut di atas merupakan
yuridis formal pembentukan Kota Pekalongan dengan walikota (Burgermeester)
H.J Kuneman. Pembentukan Dewan Kota Pekalongan menurut pasal 6
Staadblad Nomor 124 Tahun 1906 semua diangkat oleh pemerintah Hindia
Belanda.

Demikian juga dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah
Jawa Tengah pada hal 6 dijelaskan bahwa aspek Iain dari politik etis yang
harus dilaksanakan adalah ontvoogding (pembebasan perwalian
/pendewasaan) bagi pejabat daerah pribumi. Pada tahun 1918 dikeluarkan
Ontvoogding Ordonnantie 1918 (undang-undang tentang pembebasan
perwalian). Sesuai dengan undang-undang ini pimpinan daerah kabupaten telah
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
46
diserahkan kepada orang-orang Indonesia, yakni bupati dengan ketentuan
bahwa ia telah mendapat pendidikan yang cukup. Bidang-bidang yang
diserahkan untuk diurus adalah agraria, izin mengadakan keramaian,
pengangkatan pegawai rendah (juru tulis, lurah, agen polisi), dan penetapan
pajak. Urusan yang dianggap lebih penting tetap dipegang oleh orang Eropa.
Beberapa kabupaten di wilayah Jawa Tengah yang mendapat perlakuan
menurut Ontvoogding Ordonnantie 1918, yaitu: Kabupaten Banyumas
(Staatsblad 1919 No. 668), Kabupaten Blora (Staatsblad 1919 No. 804),
Kabupaten Batang (Staatsblad 1920 No. 45), Kabupaten Jepara (Staatsblad
1920 No. 480). Kabupaten Kebumen (Staatsblad 1920 No. 608).

Setelah Perang Dunia I muncul wacana baru tentang pembentukan
wilayah administratif yang lebih luas daripada gewest. Pemerintah Belanda
mengeluarkan peraturan tentang reorganisasi pemerintahan yang dimuat dalam
Staatsblad 1922 No. 216. Undang-undang ini menjadi landasan hukum bagi
pembentukan wilayah administratif yang Iebih luas daripada gewest dengan
nama provinsi.

Di dalam pasal 67a undang-undang tersebut menjadi dasar hukum
pembentukan provinsi, pembentukan provinciale raad (dewan provinsi),
pengangkatan gubemur (kepala daerah provinsi), dan pembentukan college van
gedeputeerden (dewan pelaksana pemerintahan harian). Gubernur jenderal
mengangkat seorang gubemur dalam setiap provinsi, seorang gubernur juga
berkedudukan sebagai ketua provinciale raad dan college van gedeputeerdeni
dan Pasal 67b menetapkan bahwa gubernur, atas nama gubernur jenderal,
melaksanakan segala urusan rumah tangga provinsi, mengatur pekerjaan
pegawai pemerintah, mengatur urusan militer, dan mempunyai kewenangan
untuk menyatakan perang. Gubernur adalah juga pemegang kekuasaan
tertinggi untuk urusan sipil dalam wilayahnya.

Pada masa itu pemerintah pangreh Projo di Jawa dan Madura dibagi
menjadi :
1. Gewest, tingkat pemerintah yang tertinggi adalah dapat disamakan
dengan propinsi atau Gubernuran yang dipinpi oleh seorang kepala
pemerintahan yang bergelar Gouvernoer atau gubernur, gewest meliputi :
2. Resident, atau karesidenan dipinpin oleh seorang resident, residensi
dibagi menjadi:
3. Afdeling, dipimpin oleh seorang assistens resident, kecuali itu juga
terdapat pemerintah dengan wilayah yang sama disebut dengan :
4. District, atau kawedanan yang masing-masing dipinpin oleh asisten
edono atau camat, distrik ini meliputi :
5. Desa , yang masing-masing dipinpin oleh serang kepala desa.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
47
Untuk jabatan Gubernur, Residen, Asisten residen dijabat oleh orang Belanda,
sedangkan jabatan di bawahnya dipegang oleh bangsa Bumi Putra (Prabowo
Utomo : 1991, 90).

Sebagai tindak lanjut untuk pengaturan wilayah provinsi beserta
seluruh aparatnya dikeluarkan provincie-ordonantie pada tahun 1924 (dimuat
dalam Staatsblad 1924 No. 78). Secara garis besar undang-undang ini
mengatur: (I) unsur-unsur pemerintah provinsi, yaitu: dewan provinsi. badan
pelaksana pemerintahan harian, dan gubernur; (2) pemilihan, keanggotaan.
tugas-tugas. dan kewenangan masing-masing unsur pemerintahan tersebut, (3)
pegawai provinsi, rapat-rapat dewan provinsi dan dewan pelaksana
pemerintahan harian, pertanggungjawaban keuangan provinsi. anggaran biaya
provinsi, penerimaan dan pengeluaran provinsi, pengawasan tertinggi terhadap
provinsi, dan Iain-Iain.

Staatsblad Tahun 1924 No.78 kemudian dirubah dengan Staatsblad
van Nederlandsch Indie 1926 N0, 525 yang isinya Provincic-ordonantie
(Staatsblad 1924 No. 78) ini mendapat sedikit tambahan dan perubahan yang
diatur dalam ordonansi 14 Agustus 1925 (Staatsblad 1925 No 397). ordonansi 4
Desember 1925 (Staatsblad 1925 No. 619), ordonansi 22 Desember 1925
(Staatsblad 1925 No. 654), ordonansi 25 Juni 1926 (Staatsblad 1926 No 254),
dan ordonansi 27 Agustus 1926 (Staafsblad 1926 No. 373).

Berdasarkan pada semua landasan hukum yang telah dijelaskan di
atas, Provinsi Jawa Tengah dibentuk dan dasar hukum pembentukannya
diundangkan dalam Instelling van de Povincie Midden-Java (Staatsblad 1929
No. 227). Undang-undang ini terdiri atas 26 pasal. Dalam pasal 1 ordonansi ini
dinyatakan bahwa wilayah Jawa Tengah adalah sebuah provinsi, dan dalam
pasal 2 dinyatakan bahwa kedudukan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah
berada di Semarang secara ringkas undang-undang ini dapat diuraikan sebagai
berikut :

Pasal-pasal I sampai 5 (Bab I) undang-undang ini merupakan dasar
hukum pembentukan Provinsi Jawa Tengah, susunan keanggotaan provinciate
raad (dewan provinsi)\ dan pemilihan anggoia dewan provinsi. Pasal 6 sampai
17 (Bab II subbab I) mengatur hal-hal sebagai berikut. Pasal 6 mcngatur unsur-
unsur pemerintahan gumeente (kota besar/kota praja) dan regentschap
(kabupaten) dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pasal 7 memuat perubahan
terhadap peraturan tentang pemilihan, skors, dan pemecatan kepala-kepala
pemerintahan pribumi di wilayah Jawa dan Madura. Pasal 8 dan pasal 9
mengatur kewenangan dewan provinsi. Pasal 10 mengatur batas-batas wilayah
kota besar/kota praja dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pasal 11 mengatur
kewenangan dewan provinsi dalam membuat rancangan peraturan (tentang
pemakaman orang Eropa dan orang bumiputera yang setingkat dengan orang
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
48
Eropa. Pasal 12 merupakan dasar hukum kepemilikan dan pengawasan
provinsi Jawa Tengah atas saluran-saluran, sungai-sungai, sumber-sumber
alam. danau-danau. kanal-kanal, dan air bersih. Pasal 13 mengatur
kewenangan dewan provinsi untuk membuat rancangan peraturan tentang
aset-aset Provinsi Jawa Tengah. Pasal 14 merupakan dasar hukum
kepemilikan Provinsi Jawa Tengah atas pelabuhan Semarang, Tegal,
Pekalongan. Cilacap beserta segala aset di dalamnya. dan penguasaan atas
pelabuhan-pelabuhan. tersebut di bawah pengawasan gubernur jenderal Pasal
15 memuat ketentuan tentang perlindungan hutan. Pasal 16 mengatur
kewenangan dcwan provinsi untuk membuat rancangan peraturan tentang
pengeboran sumur artetis. Pasal 17 merupakan dasar hukum kepemilikan
Provinsi Jawa Tengah atas pengangkutan dan penjualan garam dalam
wilayahnya. Pasal 18 sampai 25 (Bab II subbab II) mengatur berbagai hal yang
berkaitan dengan kepemilikan provinsi, anggaran biaya Provinsi Jawa Tengah
dan kabupaten-kabupaten dalam wilayahnya. Pasal 26 menyatakan bahwa
undang-undang ini mulai berlaku sejak 1 Januari 1930.

Menurut undang-undang tersebut ( Stbl 1929 no. 227 Pasal 3).
dewan-dewan keresidenan dan dewan kota di wilayah Jawa Tengah, yang
dimaksud dalam pasal 3 dan 4 ordonnantie van 19 December 1927 (ordonansi
19 Desember 1927 - dimuat dalam Staatsblad 1927 No. 559) dihapuskan.
Dewan-dewan yang dihapus itu adalah dari daerah: (1). Tegal dan Pekalongan.
(2). Semarang, Kudus, Rembang, dan Blora, (3). Banyumas Utara dan Selatan,
(4). Kedu, Bagelen, dan Wonosobo.


Gubemur Provinsi Jawa Tengah yang pertama, P.J. van Gulik,
diangkat oleh gubemur jenderal atas dasar gouvernemetbesluit (keputusan
pemerintah) tanggal 18 Desember 1929 No. 3x. Petunjuk pelaksanaan tugas-
tugas dan kewenangan gubernur, dewan provinsi, dan dewan pelaksana
pemerintahan harian dimuat dalam Provincie Midden-Java Jaarverslag 1930.
Selain itu dalam laporan ini juga dimuat tentang anggota, pemilihan,
pengelompokan anggota dewan provinsi dalam afdeeling-ofdeeling yang
didasarkan pada tempat tinggalnya, dan peraturan-peraturan tentang
pembentukan dewan provinsi.

Desentralisasi tidak hanya dilaksanakan di tingkat provinsi, tetapi juga
di tingkat kabupaten-kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu:
Pekalongan (Staatsblad 1929 No. 228). Batang (Staatsblad 1929 No. 229),
Pemalang {Staatsblad 1929 No. 230), Tegal (Staatsblad 1929 No. 231), Brebes
(Staatsblad 1929 No. 232), Semarang (Staatsblad I029-No 233). Kendal
(Staatsblad 1929 No. 234). Kudus (Staatsblad 1929 No 235). Demak
(Staatsblad 1929 No. 236), Jcpara (Staatsblad 1929 No. 237). Rembang
(Staatsblad 1929 No. 238), Pati (Staatsblad 1929 No. 239). Blora (Staatsblad
1029 No. 240), Grobogan (Staatsblad 1929 No. 241). Banyumas (Staatsblad
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
49
1929 No. 242), Purwokerto (Staatsblad 1929 No 243). Purbalingga (taatsblad
1929 No. 244), Cilacap (Staatsblad 1929 No 245). Karanganyar (Staatsblad
1929 No 246), Wonosobo (Staatsblad 1929 No. 247), Banjarnegara (Staatsblad
1929 No. 248), Magelang (Staatsblad 1929 No. 249), Temanggung (Staatsblad
1929 No. 250), Purworejo (Staatsblad 1929 No 251), Kutoarjo (Staatsblad 1929
No. 252), Kebumen (Staatsblad 1929 No. 253). Pecabutan staadblad tahun
1929 tersebut tidak berarti pencabutan pejabat Walikota/bupati yang ditugaskan
sebelumnya.
Untuk Wilayah Kota Besar yang diberi otonomi untuk wilayah Pulau
Jawa adalah Kota Surabaya (Staatblad 1928 No. 504), Kota Malang (Staatblad
1928 No. 501), Kota Madiun (Staatblad 1928 No 499), Kota Kediri (Staatblad
1928 No. 498), Kota Semarang (Staatblad 1929 No. 390), Kota Pekalongan
(Staatblad 1929 No. 192), Kota Bandung (Staatblad 1926 No. 369), Kota Bogor
(Staatblad 1926 No. 368), Kota Cirebon (Staatblad 1926 No. 370).

Inti desentralisasi bagi daerah kabupaten/Kota Besar itu adalah
bahwa pada setiap kabupaten dibentuk regentschapsraad (dewan kabupaten)
dan Gumeenteraad (Dewan Kota) yang bertugas membuat rancangan
peraturan-peraturan dan mengawasi keuangan daerah. Secara garis besar
setiap kabupaten/Kota Besar mempunyai otonomi untuk mengelola aset-aset
daerahnya sendiri yang meliputi: jalan-jalan umum. lapangan dan taman,
jaringan pipa air minum, saluran-saluran, penerangan jalan, pemakaman
umum, pemotongan hewan, pasar dan los-los pasar, sumur artetis, tempat-
tempat rekreasi, dan penyeberangan dengan perahu tambang.

Adapun desentralisasi Kota Pekalongan dikeluarkan Staatblad 1926
Nomor 392 undang undang tentang Pekalongan sebagai daerah yang berdiri
sendiri dengan pemisahan keuangan Kotapraja Pekalongan dari keuangan
pemerintah Hindia Belanda. Di dalam pasal 1 disebutkan bahwa Kotapraja
Pekalongan ditunjuk sebagai daerah yang berdiri sendiri berdasarkan pasal 121
Indische Staatsregeling. Pasal 2 menyebutkan bahwa Kotapraja Pekalongan
dibentuk Dewan untuk mengatur dan menjalankan rumah tangga sendiri
dengan jumlah anggota Dewan 13 orang terdiri dari 8 orang Belanda atau yang
dipersamakan, 4 orang pribumi dan 1 orang timur asing. Pasal 3 menyebutkan
pemberhentian berkala dari anggota dewan yang pertama jatuh pada hari
selasa yang ke tiga bulan agustus 1930. Pasal 4 menyebutkan mereka yang
pada saat ordonansi ini mulai berlaku duduk sebagai anggota Dewan Kotapraja,
akan tetap sebagai anggota Dewan sampai pada pemberhentian berkala yang
akan datang. Pasal 5 menyebutkan bahwa Kotapraja Pekalongan setiap tahun
disediakan keuangan dari pemerintah Hindi Belanda sebesar F. 36.745 ( tiga
puluh enam ribu tujuh ratus empat puluh lima gulden) Pasal 6 menyebutkan
bahwa ordonansi ini mulai berlaku pada 1 Janurari 1930. Staatblad tersebut
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
50
ditetapkan di Buitenzorg (Bogor) pada tanggal 22 Oktober 1929 oleh De Graeff
dan diundangkan pada tanggal 1 Nopember 1929 oleh G.R. Erdbrink.

Di samping sebagai kepala pemerintahan, gubernur, bupati, walikota
juga berkedudukan sebagai ketua dewan daerah serta sebagai ketua dewan
pelaksana pemerintahan harian di wilayah administrasitif yang bersangkutan.
Dewan-dewan daerah itu bukan merupakan Iembaga Iegislatif dalam pengertian
sistem demokrasi. Hal ini dapat diketahui antara lain melalui susunan
keanggotaan dewan Kotapraja sebagai berikut, jumlah angota dewan Kotapraja
adalah 13 orang yang terdiri atas 8 orang Belanda, 4 orang pribumi dan 1 orang
timur asing bukan Belanda. Semua anggota ini dipilih . Akan tetapi. pemilihan
dilakukan oleh panitia pemilihan, bukan oleh rakyat. Anggota pribumi pun
berasal dari kalangan pegawai negeri, yang berada di bawah pengawasan
langsung ketua dewan yang juga berkedudukan sebagai kepala daerah mereka.
Dewan daerah ini tidak berfungsi sebagai penyalur aspirasi rakyat dan
memutuskannya dalam peraturan daerah atau undang-undang, sebaliknya,
dewan ini hanya berfungsi sebagai perangkat untuk menampung kepentingan
kolonialis Belanda serta memperlancar segala urusan daerah yang tidak
mungkin diatur dan diawasi secara sentralistis.

Di dalam referensi penetapan Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah halaman 67 – 68 ditulis keberadaan dewan yang “semu” itu telah
mengundang kritik dari orang pribumi yang telah sadar politik. Sebagai ilustrasi
berikut ini ditampilkan kritik Marko Kartodikromo, seorang jurnalis terkenal pada
dekade ke-2 abad XX, terhadap keberadaan volksraad (dewan rakyat) yang
dimuat dalam Sinar Hindia tgl 24 Juli 1918 No, 151 yang isinya adalah sebagai
berikut:
"Di Hindia sini masih terdapat banjak perbedaan. Di antara
perbedaan itoe jang haroes kita kedjar doeloe adalah kiesreeht (hak
memilih). Kalau hak ini sudah kita pegang, maka perbedaan jang
tidak menjenangkan bagi kita dengan mudah bisa ditjapai. Liliatlah
saudara-saudara, di dalam volksraad 38 leden (anggota) dari itoe
sidang rakjat - boekan sidang rajap jang separo diangkat oleh
gubernur djenderal, dan jang lainnja dipilih oleh gewestelijke dan
gemeente radon. Tetapi hoe raad-raad, boekan: rat-rat (tikus) jang
memilih boekan kita orang rakjat semoea. Djadi saudara-saudara
boleh pikir sendiri keadaannja berdozijn-dozijn raad itoe! Boetoekah
pemerintah Belanda hendak membikin Hindia merdeka? Hindia
merdeka, Nederland tjilaka.

Marco Kartodikromo juga melontarkan kritik tajam terhadap
gemeenteraad Semarang (dewan kota Semarang) yang ditulis dalam syair yang
dimuat dalam Sinar Hindia 12 Agustus 1018 No, 172 sebagai berikut.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
51
Tiada seorang wakil rakjat bisa menjadi lid gemeenteraad Bila raad-
raad itoe main soelap Soepaja kita selaloe gelap.Kita sekarang tak
poenja wakil di dalam raad jang banjak begedjil setan ini selalu
mengoesil memerasi kita orang ketjil.

Kritik Marco terhadap dewan Kota Semarang itu bukanlah tanpa
alasan yang mendasar. Berdasarkan Staatsblad 1917 No 587, dewan kota
Semarang memiliki 27 orang anggota yang terdiri atas 15 orang Eropa dan
yang sejajar dengannya, 8 orang pribumi. dan 4 orang timur asing. Semua
anggota ini dipilih, tetapi berdasarkan Staatsblad 1917 No. 580. hak pemilih
pribumi dikenakan peraturan bahwa hak pilih hanya diberikan kepada orang
yang berpenghasilan minimum f. 600,-, dapat berbahasa Belanda, serta dapat
memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan. Dengan demikian
kesempatan orang pribumi untuk memilih wakilnya untuk dewan kota sangatlah
kecil. Ilustrasi ini merupakan bukti bahwa meskipun pada jaman Belanda sudah
ada sistem desentralisasi, aspirasi dan kepentingan rakyat Indonesia
belumlah terwakili dalam lembaga perwakilan provinciale Raad / dewan
propinsi, gewestelijke dewan keresidenan, regentschaps Raad I dewan
kabupaten, dan gumeente Raad I dewan kota).

























Referensi hari jadi Kota Pekalongan
52
BAB IV
PEMDA KOTA PEKALONGAN PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG
(1942-1945)

A. Invasi Jepang ke Indonesia

Pada tanggal 8 Desember 1941 secara tiba-tiba Jepang menyerang
dan membom Pearl Harbor yaitu pangkalan angkatan laut Amerika Serikat yang
terbesar di Pasifik, lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbor itu,
Gubemur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer
menyatakan perang terhadap Jepang.

Di dalam buku sejarah Nasional Indonesia karangan Sartono
Kartodimedjo hal 1 menyebutkan bahwa Jepang bergerak ke selatan dan
menyerang Indonesia. Pada tanggal 10 Januari 1942 tentaranya telah sampai di
Tarakan, Kalimantan Timur dan Komandan Belanda di pulau itu menyerahkan
diri pada tanggal 13 Januari 1942. kemudian pada tanggal 20 Januari 1942
Balikpapan yang merupakan ladang minyak diduduki pula oleh Jepang. Setelah
itu, pada tanggal 2 Pebruari 1942 Pontianak jatuh dan pada tanggal 10 Pebruari
1942 Martapura juga dikuasai oleh Jepang. Dengan direbutnya lapangan
terbang, maka dengan mudah pula Banjarmasin diduduki pada malam hari itu
juga.


Dalam gerakannya ke Indonesia, pada tanggal 14 Pebruari 1942
diturunkan pasukan payung di Palembang. Dua hari kemudian, yaitu pada
tanggal 16 Februari 1942 Palembang dan sekitarnya dapat diduduki. Dengan
jatuhnya Palembang terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang. Dalam
menghadapi serbuan ofensif Jepang, dibentuklah suatu komando oleh fihak
Amerika Serikat yang disebut American British Dutch Australian Command
(ABDACOM) yang markas besarnya di Lembang Bandung. Pada akhir Pebruari
1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Staachouwer
telah pindah dari Batavia (Jakarta) ke Bandung disertai oleh pejabat-pejabat
tinggi pemerintah kolonial Belanda.

Kekuatan Jepang yang khusus dipergunakan untuk merebut Pulau
Jawa berada di bawah komando Tentara Keenambelas yang dipimpin oleh
Letnan Jenderal Hitosyi Imamura. Pada tanggal 1 Maret 1942 tentaranya
berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus yaitu Teluk Banten, Eretan Wetan
(Jawa Barat), dan Kragan Rembang (Jawa Tengah), kemudian pada tanggal 5
Maret 1942 Batavia dan Buitenzorg (Bogor) jatuh ke tangan tentara pendudukan
Jepang.

Di bukunya Sartono Kartoredjo halaman 5 ditulis bahwa setelah
berhasil menduduki Eretan Wetan yaitu pada tanggal 1 Maret 1942 KoloneI
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
53
Syoji berhasil pula menduduki Subang dan pada hari itu juga mereka berhasil
menduduki lapangan terbang Kalijati. Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara
Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung, mula-mula
digempurnya pertahanan di Ciater, sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke
Lembang dan menjadikan kota tersebut sebagai pertahanan yang terakhir.
Tempat ini pun tidak berhasil dipertahankan, sehingga pada tanggal 7 Maret
1942 petang hari dapat kuasai oleh tentara Jepang. Pada tanggal 8 Maret 1942
Letnan Jenderal H. Ter Poorten Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda
atas nama Angkatan Perang Amerika Serikat di Indonesia menyerah tanpa
syarat kepada Angkatan Perang Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal H.
Imamura. Sejak itu berakhirlah Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia dan
dengan resmi ditegakkan kekuasaan Kemaharajaan Jepang .

Di dalam buku Sejarah Indonesia Modern karangan M.C. Ricklefs.
him. 297-301 disebutkan bahwa masa pendudukan Jepang selama tiga
setengah tahun merupakan salah satu periode yang paling menentukan dalam
sejarah Indonesia. Sebelum serbuan Jepang tidak ada satu pun tantangan yang
serius terhadap kekuasaan Belanda di Indonesia. Di tengah-tengah perang
besar yang memerlukan pemanfaatan secara maksimum atas sumber-sumber
daya, pemerintah militer Jepang memutuskan untuk berkuasa melalui
mobilisasi, khususnya di Jawa dan Sumatera, daripada dengan memaksakan
suatu ketentraman dan ketertiban (rust en orde). Dengan berkembangnya
peperangan, maka usaha-usaha Jepang yang semakin menggelora untuk
memobilisasi rakyat Indonesia meletakan dasar bagi revolusi. Pada waktu
Jepang menyerah telah berlangsung banyak perubahan luar biasa yang
memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia dan Jepang memberi sumbangan
langsung pada perkembangan-perkembangan tersebut.

B. Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia

Penyerahan tanpa syarat Panglima Angkatan Perang Hindia
Belanda, Letnan Jendral H. Ter Poorten kepada Angkatan Perang Jepang
Letnan Jenderal H. Imamura pada tanggal 8 Maret 1942 mengakhiri kekuasaan
Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Secara resmi sejak itu Indonesia di
bawah kekuasaan Kemaharajaan Jepang. Dengan berakhirnya Pemerintahan
Hindia Belanda itu, Indonesia memasuki suatu periode baru yaitu periode
pemerintahan militer Jepang. Berbeda dari jaman Hindia Belanda yang hanya
terdapat satu pemerintahan sipil, pada jaman Jepang terdapat tiga
pemerintahan militer.

Pemerintah militer Jepang di Indonesia membagi wilayah bekas
Hindia Belanda menjadi tiga daerah wilayah kekuasaan. Ketiga wilayah
tersebut yaitu :

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
54
1. Pemerintah Militer Angkatan Darat (Tentara Keduapuluh Lima)
untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi.
2. Pemerintah Militer Angkatan Darat (Tentara Ke enam belas)
untuk Jawa dan Madura yang berkedudukan di Jakarta
3. Pemerintah Militer Angkatan Laut (Armada Selatan ke dua)
untuk daerah yang meliputi Sulawesi, Kalimantan dan Maluku
yang berkedudukan di Makasar.

Panglima Tentara Ke enam belas di Pulau Jawa yang pertama
adalah Letnan Jenderal Hitosyi Imamura, sedangkan kepala stafnya adalah
Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. la diserahi untuk membentuk pemerintahan
militer di Jawa, yang kemudian diangkat menjadi gunseikan. Kebijakan yang
diambil diantara wilayah-wilayah tersebut di atas sangat berbeda, pada
umumnya Jawa dianggap sebagai daerah yang secara politik paling maju,
namun secara ekonomi dianggap kurang penting dengan sumber dayanya yang
utama adalah manusia.

Usaha tentara Jepang pertama kali adalah mengadakan
pemerintahan militer di Pulau Jawa secara sementara dengan memberlakukan
Undang-undang No. 1 Tahun 1942. Undang-undang itu dikeluarkan pada
tanggal 7 Maret 1942 oleh Panglima Tentara Ke enam belas, yang antara lain
berbunyi sebagai berikut: Bala Tentara Nippon melangsungkan pemerintahan
militer untuk sementara waktu di daerah yang ditempatinya agar mendatangkan
keamanan yang sentousa dengan segera. Undang-undang itu juga menyatakan
bahwa Pembesar Bala Tentara Nippon memegang kekuasaan pemerintah
militer yang tertinggi dari seluruh kekuasaan yang dahulu di tangan gubernur
jenderal Hindia Belanda.

Berdasarkan undang-undang itu dibentuk pula pemerintahan militer
tingkat pusat atau gunseikanbu yang dipimpin oleh seorang gunseikan atau
kepala staf tentara dan membawahi sejumlah bu atau departemen, yaitu:
1. Departemen Urusan Umum atau Somubu
2. Departemen Dalam Negeri atau Naimubu
3. Departemen Perekonomian Sangyobu
4. Departemen Keuangan atau Zuimubu
5 Departemen Kehakiman atau Shidobu
6. Departemen Kepolisian atau Keimubu
7. Departemen Lalu-Lintas atau Kotsubu
8.
Departemen Propaganda atau Sedenbu (Arsip Nasional,1988:16)


Tugas memulihan ketertiban, kemanan serta kekuasaan yang
sementara lowong diserahkan kepada suatu pemerintahan militer yang disebut
gunseibu. Gunseibu dibentuk di Jawa Barat dengan pusatnya di Bandung, di
Jawa Tengah di Semarang dan di Jawa Timur di Surabaya, disamping itu
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
55
dibentuk dua daerah istimewa (koci) Surakarta dan Yogyakana. Di setiap
gunseibu ditempatkan beberapa komandan militer setempat. Di samping
bertugas untuk memulihkan ketertiban dan keamanan, mereka diberi wewenang
untuk memecat para pegawai berkebangsaan Belanda serta membentuk
pemerintahan setempat.

Usaha untuk membentuk pemerintahan lokal/setempat ternyata tidak
dapat berjalan lancar. Jepang mengalami kekurangan staf pegawainya yang
sebenarnya telah dikirim tetapi kapalnya kena torpedo Amerika Serikat dengan
demikian terpaksa diangkat pegawai-pegawai bangsa Indonesia. Pegawai-
pegawai bangsa Indonesia yang diangkat oleh Jepang semula merupakan
pegawai pemerintah kolonial Belanda. Di satu pihak kesempatan itu mengubah
kesetiaan dari mantan pegawai pemerintah Belanda dan di lain pihak
merupakan pcngalaman baru, mengingat pada jaman Belanda pimpinan
tertinggi dari sebuah departemen selalu dipegang oleh orang Belanda dengan
demikian kesempatan yang diberikan oleh Jepang merupakan hal baru bagi
masyarakat Indonesia.

Sama halnya dengan daerah lain, di Jawa Tengah jabatan gubernur
berada di tangan orang Jepang yaitu Letnan Kolonel Taga yang berkedudukan
di Semarang. Pegawai tinggi bangsa Indonesia yang mendampingi Letnan
Kolonel Taga adalah Rd Muhammad Chalil sebagai Wakil Gubernur Jawa
Tengah dan Salaman sebagai residen, mereka bekerja dibawah pengawasan
ketat pembesar-pembesar militer Jepang. Untuk Kota Pekalongan TAKANOMI
(Sityo = Walikota) wakil R. Soempomo Donowilogo.

Pada bulan Agustus 1942 usaha pemerintah militer Jepang meningkat
dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 27 tentang aturan pemerintah
daerah dan Undang-undang No. 28 tentang aturan pemerintahan shu dan
takubetsu shi yang menunjukkan berakhirnya masa pemerintahan sementara.
Kedua undang-undang tersebut merupakan pelaksanaan dari struktur
pemerintahan setelah datangnya tenaga pemerintahan sipil Jepang di Pulau
Jawa. Mereka mulai dipekerjakan pada badan-badan pemerintahan guna
melaksanakan tujuan reorganisasi Jepang yang hendak menjadikan Pulau Jawa
sebagai sumber kekayaan perangnya di Asia Tenggara.

Dalam usahanya untuk mempersatukan semua orang Asia yang pro-
Jepang telah dibentuk Gerakan Tiga A oleh Kantor Propaganda tidak lama
setelah pendaratan tentara Jepang di Jawa. Dengan semboyan dan semangat
"Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia”
pemerintah militer Jepang berusaha untuk menanamkan tekad penduduk agar
berdiri sepenuhnya di belakang pemerintah tentara Jepang.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
56
Pemerintah militer Jepang memerlukan dukungan penduduk dan
untuk itu dilakukan kerja sama dengan tokoh-tokoh nasionalis. Empat orang
nasionalis Indonesia yang dianggap paling terkemuka dikenal dengan nama
Empat Serangkai, yaitu: Ir. Soekamo, Drs. Moh. Hatta, K.H. Mas Mansyur dan
Ki Hadjar Dewantara dipercaya untuk memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
yang dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943.

Oleh karena semakin melemahnya tentara Jepang dan untuk
mcmpertahankan pemerintahan Jepang, pemerintah militer Jepang
memobilisasi , pemuda Indonesia guna membantu usaha perang mereka. Sejak
kekalahan armada-armadanya di dekat Midway dan di sekitar Kepulauan
Solomon, Jepang mulai beralih kepada strategi defensif karena wilayah
Indonesia menjadi front depan (Nugroho Notosusanto:1968:7). Untuk
kepentingan itu, pemuda-pemuda diberi latihan-latihan militer yang disebut
seinen dojo. Pada tanggal 29 April 1943 dibentuk beberapa organisasi para
militer, di antaranya yang terpenting adalah Keibondan (barisan bantu polisi)
dan Seinendan (barisan pemuda). Dalam kedua organisasi itu, pemuda-pemuda
Indonesia mendapat latihan militer elementer dengan senjata-senjata tiruan
yang dibuat dari kayu.

Untuk menghadapi kekuatan Amerika Serikat, Jepang berusaha
menjadikan seluruh daerah yang didudukinya sebagai rangkaian pertahanan
yang kompak. Pada tanggal 8 Januari 1944 Jepang memperkenalkan sistem
baru yang disebut tonarigumi atau rukun tetangga, suatu sistem yang
dimaksudkan untuk memperketat pengendalian penduduk. Pembentukan
tonarigumi dilakukan dengan jalan membagi sejumlah kepala keluarga yang ada
dalam suatu desa atau kalurahan. Setiap tonarigumi terdiri dari 10-20 kepata
keluarga yang dipimpin oleh seorang ketua tonarigumi atau kumincho. (Kan Po
No 35: 2604, hal 19) dengan demikian dalam sebuah desa terdapat beberapa
tonarigumi, tcrgantung pada jumlah kepala keluarga.

Melalui tonarigumi diharapkan rakyat akan saling tolong-menolong
dalam menghadapi perang. Dengan sistem gotong-royong dan tolong-menolong
Jepang berusaha menarik simpati penduduk melalui tonarigumi yang
merupakan usaha untuk menghimpun kekuatan rakyat untuk bersama-sama
melawan tentara Sekutu. Dengan dibentuk tonarigumi merupakan usaha
Jepang yang paling ambisius untuk menembus desa-desa di Indonesia.

Pemerintah militer Jepang kemudian membentuk suatu organisasi
yang meliputi semua usaha untuk memobilisasi seluruh penduduk yang
bemama Jawa Hokakaii pada tanggal 1 Maret 1944. Pemimpin tertinggi adalah
Gunseikan, Organisasi itu berrsifat kebaktian kepada Jepang, yang ditonjolkan
adalah sifat berbakti dengan dibentuknya Jawa Hokokai , Putera dinyatakan
bubar.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
57


C. Struktur Pemerintah Daerah

Segera setelah tentara Jepang berhasil dan menguasai wilayah
Hindia Belanda, maka sejak itu pula berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di
Indonesia. Jepang segera menyusun pemerintahan di daerah-daerah demi
membantu tercapainya kemenangan perang bagi Jepang. Oleh karena itu
pemerintahan yang dibentuk adalah pemerintahan militer yang bersifat
sementara. Pemerintahan militer itu bertujuan untuk menciptakan keamanan
dan kemakmuran rakyat, namun sesungguhnya adalah untuk melangsungkan
penjajahan seperti pada masa kolonialisme Belanda. Dengan demikian
merupakan suatu hal yang mustahil apabila tentara Jepang datang ke Indonesia
hanya untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda.

Sudah disebutkan bahwa, pembentukan pemerintahan militer yang
bersifat sementara dilaksanakan sesuai dengan Undang-undang No. 1 pasal 1
yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara Keenambelas pada tanggal 7 Maret
1942. Wilayah kepulauan Indonesia yang diduduki Jepang dibagi dalam dua
bagian besar. Pulau Sumatera dan Jawa berada di bawah kekuasaan
pemerintahan militer Angkatan Darat atau Rikugun. Pulau Kalimantan serta
wilayah yang dahulu dikenal sebagai daerah Timur Besar atau Grote Oost
dikuasai oleh pemerintahan militer Angkatan Laut atau Kaigun (Pusat Sejarah
Militer Angkatan Darat, 1964: hal 370 )


Masa pemerintahan sementara berakhir pada bulan Agustus 1942
tatkala dikeluarkan Undang-undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan
Daerah dan Undang-undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan Shu dan
Tokubetsu Shi. Ke dua undang-undang tersebut merupakan pelaksanaan dari
pada reorganisasii struktur pemerintahan yang sifatnya sementara, setelah
datangnya tenaga-tenaga ahli pemerintahan sipil Jepang di Pulau Jawa.
Mereka mulai dikerahkan pada badan-badan pemerintahan guna melaksanakan
reorganisasi, karena Jepang hendak menjadikan Pulau Jawa sebagai sumber
perbekalan perangnya di daerah selatan. Oleh karena itu aparat-aparat
pcemerintahan harus berada di bawah kekuasaan bangsa Jepang terbukti
dengan jumlah pegawainya yang ada di Pulau Jawa.

Banyak orang Indonesia diangkat untuk mengisi tempat pejabat-
pejabat Belanda yang ditawan. tetapi banyak pula pejabat-pejabat
berkebangsaan Jepang yang diangkat. Kebanyakan pejabat-pejabat baru yang
berkebangsaan Indonesia itu adalah mantan guru, sehingga kepindahan
mereka mengakibatkan mundurnya standar-standar pendidikan secara tajam.
Jepang memang mengurangi secara tajam kedudukan dan hak-hak istimewa
para pejabat karena mereka dicap sebagai pihak yang paling dekat dengan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
58
Belanda. Mereka dicurigai karena dianggap terlambat menyatakan kesetiaan
kepada rezim baru dan pikirannya terlalu kebarat-baratan. (Heather
Sutherland, 1975: 256-257).

Pemerintah Militer Jepang melakukan penghapusan dualisme
pemerintahan daerah yang berlaku pada masa penjajahan Belanda, yaitu
hubungan antara kepegawaian Eropa yang terdiri dari Europees Bestuur atau
pemerintahan Eropa dan Inlandsch bestuur atau pemerintahan Bumiputera.
Pejabat Eropa terdiri dari gubernur jenderal, residen, dan Asisten residen.
sedang pejabat pangreh projo terdiri dari Bupati, Wedana, dan Asisten wedana.
Penghapusan dualisme pemerintahan daerah itu dilakukan melalui
pemberlakuan Undang-undang No. 27 dan 28 tanggal 5 Agustus tahun 2606
(1942), yaitu menyangkut perubahan-perubahan keorgansasian dalam
pemerintahan daerah. Dengan ordonansi ini hirarki dari Europees bestuur atau
pemerintah Eropa dihapuskan. (Aiko Kurasawa dalam terjemahan Hermawan
Sulistyo,1993:391). Jepang didesak oleh kebutuhannya untuk mempertahankan
struktur hirarki pemerintah pribumi.

Pemerintah Militer Jepang tetap meneruskan pemerintahan sipil yang
lama (pemerintahan pribumi) beserta para pegawainya. Hal ini dimaksudkan
agar pemerintah dapat berjalan terus dan kekacauan dapat dicegah. Hanya
saja pimpinan dipegang oleh tentara Jepang, baik di pusat maupun di daerah.
Susunan pemerintahan militer Jepang terdiri atas gunsyireikan (panglima
tentara) dengan pucuk pimpinan saiko syikikan. Di bawah saiko syikikan
adalah gunseikan yaitu kepala pemerintah militer. Gunsyireikan menetapkan
peraturan yang dikeluarkan oleh gunseikan disebut l Osamu Kanrei. Peraturan
–peraturan ini diumumkan dalam Kan Po atau berita pemerintahan, sebuah
penerbitan resmi yang dikeluarkan oleh gunseikanbu.

Meskipun provinsi-provinsi dan gubernur-gubernur dihapuskan
tetapi keresidenan (shu), kawedanan (gun), dan kecamatan (son) tetap berada
di bawah Departemen Urusan Dalam Negeri (Naimubu) di Jakarta, yang pada
gilirannya bertanggung jawab kepada Komando Tentara Keenambelas yang
berkuasa. Kebijaksanaan Jepang untuk bersandar secara politik kepada
pangreh praja mirip dengan negara kolonial Belanda memang etosnya berbeda
tetapi kerangka kerjanya sama saja. (

Heather Sutherland, 1979:258)

Di atas telah disebutkan bahwa Undang-undang No. 27 dan 28
tanggal 5 Agustus 1942, menyangkut prubahan-perubahan keorganisasian
dalam pemerintahan daerah. Nama-nama Jepang bagi unit-unit pemerintahan
daerah serta kepala-kepalanya adalah sebagai berikut:



Referensi hari jadi Kota Pekalongan
59

Unit Administrasi Kepala
Shu (dulu residentie) Shuchokan (dulu resident)
Ken (dulu regentschap) Kencho (dulu bupati /regent)
Gun (dulu district) Guncho (dulu wedana)
Son (dulu onderdistrict)

Soncho (dulu Asisten wedana)


Menurut Undang-undang No. 27 seluruh Pulau Jawa dan Madura,
kecuali Koci Surakarta dan Yogyakarta, dibagi atas shu, shi, gun, son, dan ku.
Daearah shu sama dengan keresidenan dahulu dibagi atas shi dan ken. Daerah
shi sama dengan daerah staadsgemeente dahulu, daerah ken sama dengan
daerah rcgentschap dahulu. Daerah ken dibagi atas gun, dan daerah gun dibagi
atas son dan son atas kit. Daerah gun. son. dan kit masing-masing sama
dengan daerah distrik, onderdistrik, dan desa, kecuali daerah yang dijadikan shi.
Di dalam shi. ken. son, dan kit masing-masing diangkat seorang shico. kenco.
gunco. sonco, dan kuco. Jabatan yang dipegang oleh orang Indonesia cukup
dengan sebutan co yang berarti kepala. Setiap pemerintah daerah harus
berlandaskan hubungan secara hirarkis dengan kantor pusat shu, meskipun
mempunyai otoritas penuh pada administrasi pemerintah daerah yang
bergantung pada administrasi pemerintah pusat.(Martinus Nijhoff dalam
terjemahan aziz, 1955 : 154)

Berdasarkan Osamu Seirei No. 28 tahun 1942 tentang aturan
pemerintah shu dan tokubetshushi, dalam shu dibentuk suatu dewan yang
dinamakan Cokanto atau Majelis Pembesar Shu. Dewan ini bukan DPRD,
melainkan dewan biasa yang bertugas memberi pertimbangan kepada
shucokan apabila diminta. Dewan ini mempunyai tiga bu atau bagian, yaitu:
1. Aiseibu (Bagian Pemerintahan Shu)
2. Keizabu (Bagian Ekonomi)
3. Keisatsubu (Bagian Kepolisian)
Pada tiap shu dan tokubetshi dibentuk pula Shun Sangi Kai atau Dewan
Keresidenan dan Shi Sangi Kai atau Dewan Kotamadia.

Perubahan tata pemerintahan diatur dalam Undang-undang No. 27
yang menyatakan bahwa Pulau Jawa dan Madura kecuali koci (Vortenlanden)
dibagi atas shu, si
,
ken, gun, son, dan ku (Kan Po No. 1, Tahoen ke I Boelan 8-
2602). Daerah shu sama dengan daerah keresidenan dahulu. Berdasarkan
Undang-undang No. 27 itu di tiap shu diangkat seorang shucokan (pembesar
shu) yang mengurus pemerintahan di bawah perintah dan pengawasan
Gunseikan. Shucokan memerintah dan mengawasi kenco, sico dan
keisatsusyoco (Kepala Kantor Besar Polisi) di dalam shu. Di tiap- iap shu
diadakan Tyookan-Kanbo (Majelis Pembesar Shu).

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
60
Sejak tanggal 8 Agustus 1942 pemerintah daerah yang tertinggi
adalah shu, oleh sebab itu jumlahnya sama dengan jumlah residensi dahulu.
Secara geografis daerah shu itu sama dengan daerah residensi dahulu, tetapi
secara hirarkis berbeda dari residensi sebelumnya. Residensi dahulu hanyalah
daerah pemerintahan residensi yang menjadi pembantu gubernur, tetapi shu
adalah bagian pemerintahan yang paling tinggi di daerah. Provinsi Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dibentuk pada masa Hindia
Belanda dihapus.( Undang-Undang No. 28, Kan PO No.1 Tahoen ke I Boelan 8
– 2602: pasal tambahan).

Di pulau Jawa ada 17 shu, meskipun tidak ada perubahan struktural
namun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan pemerintahannya. Luas daerah
shu sama dengan keresidenan dalulu, tetapi fungsi dan kekuasaannya
berbeda.. Residensi dahulu merupakan daerah pembentu gubernur (residen),
sedang shu merupakan pemerintahan daerah yang tertinggi di bawah shucokan
yang kedudukannya sama dengan seorang gubernur, jadi seorang shucokan
kekuasaannya sama dengan gubernur, meskipun daerah kekuasaannya seluas
daerah residen. ( Sartono dkk, 1977: hal 157).


Shu diperintah oleh shucokan (Pembesar Shu). Shucokan itu
menjalankan pemerintahan umum, mengurus tata kepolisian, memerintah dan
mengawasi kenco, shico, dan keisatsushoco (Kepala Kantor Desar Polisi)
dalam wilayah shu. Semua itu di bawah perintah dan pengawasan Gunseikan
(Pembesar Pemerintah Balatentara Dai Nippon). Nama-nama shu, daerahnya
serta tempat shuco (kantor besar shu), ditetapkan sebagai berikut :

Nama Shu Daerah Tempat Shuco
(Dahulu Residesi) (Kantor Besar Shu)
Banten Shu Banten Seram
Batavia Shu Batavia : Batavia
. Bogor Shu Buitenzorg Bogor
Priangan Shu Priangan Bandung
Cirebon Shu Cirebon Cirebon
Pekalongan Shu Pekalongan Pekalongan
Semarang 67 Shu Semarang Semarang
Jepara-Rembang Shu Jepara-Rembang Pati
Banyumas Shu Banyumas Purwokerto
Kedu Shu Kedu Mageiang
Surabaya Shu Surabaya Surabaya
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
61
Bojonegoro Shu Bojonegoro Bojonegoro
Madiun Shu Madiun Madiun
Kediri Shu Kediri Kediri
Malang Shu Malang Malang

Besuki Shu Besuki Bondowoso
Madura Shu

Madura Pamekasan
Sumber Undang-undang No. 27 dan no. 28, 1942, Kan Po No.2 tahoen ke I Boelan 9-2606.

Para shucokan dilantik secara resmi oleh gunseikan pada bulan
September 1942. Pelantikan tersebut merupakan awal dari pelaksanaan
reorganisasi pemerintanan daerah, dan menyingkirkan pegawai-pegawai
Indonesia yang pernah digunakan untuk sementara waktu dari kedudukan yang
tinggi.

Menurut Undang Undang No. 27 Tahun 1942 perubahan tata
pemerintahan di Pulau Jawa dan Madura berlaku sejak tanggal 8 Agustus 1942,
maksud perubahan tata pemerintahan itu adalah:
1. Mengindahkan dan melanjutkan kebaikan tata pemerintahan
dahulu
menurut adat istiadat rakyat bumiputera.
2. Hendak menyatukan susunan tata pemerintahan daerah
supaya rancangan-rancangan yang diadakan oleh pucuk
pimpinan balatentara dapat dijalankan dengan rapi dan langsung
sampai ke sudut-sudut Pulau Jawa dan Madura. (Kan Po. No. 2
Tahoen ke- 1 Boelan 9-2602).

Kemudian dalam asas desentralisasi dewan-dewan pada
pemerintahan yang mengurus rumah tangganya sendiri bentukan pemerintah
Hindia Belanda dihapuskan walaupun kabupaten dan Kotamadya tetap
diteruskan, tetapi dewan-dewan dibubarkan dan kekuasaanya itu dijalankan
oleh Kentyoo (bupati) dan sityoo (walikota). Sehingga kotapraja yang semua
adalah pemerintah lokal yang mengurus rumah tangga sendiri mulai saat itu
berubah menjadi pemerintah lokal administratif dan Sityoo (walikota) pada
hakekatnya adalah merupakan pegawai pusat yang ditempatkan di daerah,
dengan demikian dapat disimpulkan pemerintah pada pendudukan Jepang
hanya menyelenggarakan asas dekonsentrasi saja.

Menjelang kekalahan pemerintah Jepang sekedar politis untuk
menyenangkan hati rakyat Indonesia mengadakan pembentukan dewan-dewan
yang diatur dalam Osanu Seirei Nomor 36 Tahun 2603, untuk pulau jawa
dinamakan Tyoo-Sangiin ang terdiri dari : Karesidenan (Syuu – Sangikai) dan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
62
Kotapraja (Tokubetsu – Sisangikai) keduanya diatur dalam Osamu seirei Nomor
37 Tahun 2603 dan Osamu Seirei Nomor 8 Tahun 2603.

Akan tetapi dewan-dewan tersebut pada hakekatnya adalah dewan
yang tidak demokratis, sebab anggota dewan tersebut ditunjuk atas dasar
pengangkatan/pemilihan secara bertingkat oleh pemilih-pemilih yang ditunjuk,
tugasnya hanya mendengarkan ceramah, nasehat serta menjalankan perintah-
perintah dan kamauan dari pemerintah pendudukan jepang.

Mula-mula seluruh posisi shuchokan dipegang oleh orang Jepang,
tetapi kemudian pada bulan November 1943 dan Desember 1944 tiga di
antaranya diberikan kepada orang Indonesia yaitu di Jakarta, Bojonegoro dan
Kedu. Pada bulan November 1943 kedudukan fuku shucokan (wakil residen)
dibentuk dan diberikan kepada orang-orang Indonesia dan Kepala seluruh unit
pemerintahan lainnya yang lebih rendah, yaitu: kengo, gunco dan sonco
adalah orang-orang Indonesia.

Pada akhir pemerintahan Jepang di Pekalongan tejadi perjuangan
rakyat yang terkenal dengan peristiwa Juang 3 Oktober 1945, dimana pada
waktu itu banyak pejuang yang gugur dalam perjuangan sebagai pahlawan.
Peristiwa ini merupakan perjuangan rakyat dan sejak 7 Oktober 1945
Pekalongan bebas dari tentara Jepang.






















Referensi hari jadi Kota Pekalongan
63
BAB V
PEMERINTAH DAERAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA REPUBLIK
INDONESIA (1945-1950)


A. Masa Revolusi Kemerdekaan Tahun 1945- 1949
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta
atas nama bangsa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada
tanggal 17 Agustus 1945, secara juridis formal menandai kelahiran Indonesia
sebagai negara yang merdeka. Sebagai tindak lanjut proklamasi kemerdekaan
itu, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai badan nasional
yang mewakili rakyat Indonesia, pada tanggal 18 Agustus 1945
menyelenggarakan sidang yang pertama untuk menyusun tatanan kehidupan
kenegaraan. Dalam sidang tersebut, PPKI berhasil menetapkan dan
mengesahkan undang-undang dasar (UUD) yang kemudian dikenal dengan
UUD 1945, serta secara aklamasi memilih Soekamo dan Hatta sebagai
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. (Mawati Djoened
Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1984: 93-94).

Kelahiran Kota Pekalongan sebagai bagian dari dari wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sangat terkait dengan proses sejarah tersebut.
Hal ini dapat diketahui antara lain dari pasal 18 Bab IV UUD 1945. Pasal ini
mengatur pembagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi
daerah besar dan daerah kecil dengan Pemerintah Daerah yang mengurus
rumah tangga sendiri.

Pada bagian penjelasan pasal 18 ditegaskan, bahwa oleh
karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat, maka Indonesia tidak akan
mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. Daerah
Indonesia akan dibagi dalam daerah provinsi dan daerah provinsi akan dibagi
pula dalam daerah yang lebih kecil.


Dalam rangka pembentukan daerah-daerah ini, sebagaimana
diamanatkan oleh pasal 18 UUD 1945 dalam rapat tanggal 19 Agustus 1945,
PPKI telah menetapkan pembagian daerah administratif di Indonesia sebagai
berikut:
1. Untuk sementara daerah negara Indonesia dibagi dalam delapan
Propinsi dikepalai oleh seorang gubernur. Ke delapan provinsi tersebut
adalah: Jawa Darat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Borneo.
Sulawesi, Maluku dan sunda kecil.
2. Daerah provinsi dibagi dalam keresidenan yang dikepalai oleh seorang
residen. Gubernur dan residen dibantu oleh Komite Nasional Daerah.
3. Untuk sementara waktu kedudukan kooti dan sebagainya diteruskan
sampai sekarang.
4. Untuk sementara waktu kedudukan kota (gemeente) diteruskan seperti
sekarang.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
64
Sementara itu pergolakan politik yang disebabkan oleh usaha-usaha
Belanda untuk dapat kembali berkuasa di Indonesia, termasuk agresi militer
Belanda I dan II, memunculkan usaha-usaha penyelesaian dalam bentuk
perundingan-perundingan antara pemerintah Republik Indonesia dengan
Belanda. Agresi militer Belanda I dan II di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah
berhasil menceraiberaikan daerah-daerah Provinsi Jawa Tengah dalam dua
wilayah kekuasaan, yaitu daerah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dan
daerah kekuasaan kolonial Belanda.

Hasil perundingan-perundingan yang kemudian bermuara pada
Perjanjian Renville, juga menunjukkan kekalahan perjuangan politik diplomasi
pemerintah Republik Indonesia dalam menghadapi Belanda. Hal ini antara lain
tampak dari isi perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari
1948 oleh wakil pemerintah Republik Indonesia dan Belanda. Salah satunya
mengandung pengertian, bahwa Belanda tetap berdaulat atas daerah-daerah
yang telah diduduki dalam agresi militernya. Sebagai konsekuensi dari adanya
perjanjian ini adalah daerah-daerah dalam Provinsi Jawa Tengah terbagi dalam
dua kekuasaan, yaitu sebagian masuk dalam wilayah Republik Indonesia dan
sebagian lagi berada di luar kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Daerah
yang berada di luar kekuasaan Republik Indonesia (dalam kekuasaan Belanda)
ini dikepalai oleh seorang pembesar Belanda dengan pangkat Regering
Commisaris voor Bestuursaangelegenheden ( RECOMBA) yaitu Komisaris
Pemerintah untuk Urusan Pemerintahan.

Di tengah-Tengah suasana revolusi perjuangan bangsa Indonesia
untuk menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara, dilakukan juga usaha
penyempurnaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah, hal tersebut terbukti
dengan dikeluarkannya Undang-undang 1948 No. 22 tentang Undang Undang
Pokok Pemerintah di daerah yaitu daerah diberi kewenangan untuk mengatur
rumah tangga sendiri. Di dalam Pasal 1 undang-rndang ini menyebutkan
bahwa Daerah Negara Republik Indonesia tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu
provinsi, kabupanten dan Kota Besar. Dengan demikian dapat diketahui, bahwa
adanya Undang-undang 1948 No. 22 keberadaan Kota Besar Pekalongan
dipertegas kembali. Selain itu undang-undang ini juga tampak dijiwai oleh
semangat desentralisasi yang kuat, karena dengan undang-undang ini setiap
daerah mempunyai dua macam kekuasaan yaitu otonomi dan medebewind.
Dalam menjalankan kekuasaannya ini sesuatu daerah berada di bawah
pengawasan instansi di atasnya. Untuk Kota Besar Pekalongan pengawasan
dilakukan oleh Provinsi Jawa Tengah dan Kota Besar Pekalongan mengawasi
daerah yang berada di bawahnya.



Referensi hari jadi Kota Pekalongan
65
Semantara itu sesuai dengan Bab II Pasal 2 Undang-undang 1948
No. 22, Pemerintah Daerah Kota Besar Pekalongan terdiri dari dari Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Pemerintah Daerah (DPD) .
Dalam hal ini Ketua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipilih
oleh dan dari anggota DPRD, sedangkan Kepala Daerah menjabat Ketua dan
anggota Dewan Pemerintah Daerah. Pada dasarnya sebagaimana diatur pada
Bagian V Pasal 18 undang-undang ini, bahwa kepala daerah Kota Besar
diangkat oleh Gubernur dari sedikitnya dua atau sebanyak-banyaknya empat
orang calon yang diajukan oleh DPRD Kota Besar. Akan tetapi dalam suasana
revolusi mekanisme tersebut tidak sepenuhnya dapat dijalankan. Demikian juga
yang terjadi di Kota Besar Pekalongan, Kepala Daerah lebih ditentukan oleh
Gubernur.

Demikian juga pemerintah kolonial Belanda di Jawa Tengah. Di
daerah RECOMBA berusaha dibangun kembali daerah-daerah otonom. Hal ini
antara lain tercermin dalam Staatsblad van Nederlandsch-lndie 1948 No.179
dan Staatsblad van Nederlansch-lndie 1949 No.62. Staatsblad I948 No.I79
merupakan dasar hukum bagi pembentukan DPRD-DPRD Kabupaten dan
Staatsblad 1949 No.62 merupakan dasar hukum bagi dibangunnya kembali 10
wilayah kabupaten di Jawa Tengah yang masuk dalam daerah RECOMBA. Ke-
10 wilayah kabupaten ini, yaitu :
1. Banyumas.
2. Brebes.
3. Demak
4. Kendal.
5. Pekalongan.
6. Pemalang.
7. Purbalingga.
8. Semarang.
9. Tegal.
10. Cilacap.

Dalam hal ini susunan pemerintah derahnya juga terdiri atas
Vertegenwoordigent College, College van Dagelijks Bcstuur, dan Regent.

Semasa tahun 1945-1949 di Kota Pekalongan terjadi peristiwa
penting yakni :
1. Pada HUT RI yaitu tanggal 17 Agustus 1946 diperingati secara
khidmat dan serentak se Kota Pekalongan dan sebagai tanda ditanam
Pohon Beringin di tengah lapangan Jetayu (Muka rumah dinas
Residen), yang kemudian di tempat itu dinamai taman merdeka
dengan pohon beringin kemerdekaan. Pohon kemerdekaan itu
sempat dibrondong oleh pasukan NICA, namun tetap kokoh dan tetap
tumbuh dan sejak ahun 1996 pohon itu ditebang.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
66
2. Rakyat Kota Pekalongan dengan komando pengungsian
Petungkriyono menjalankan perang gerilya dan diantaranya
membakar gedung Gumeente/Walikota yang pada waktu itu (1947-
1949) digunakan kantor NICA/RECOMBA. Gedung yang di Jalan
Jetayu tersebut karena kokohnya hanya barang-barang administrasi,
arsip dan sebagian jendela terbakar, adapun arsip yang terbakar
adalah arsip pemerintah RI yang pada waktu itu Walikotanya adalah
R. Soempeno Danoewitogo dan kantor walikota dipindah di
Petungkriyono, kemudian dipugar kembali pada tahun 1953.
3. Pada tangal 13 Agustus 1947 terjadi perlawanan kembali para
pejuang dengan membumi-hanguskan gedung HIS (sekarang
kompleks SDN Keputran jalan Maninjau) serta membakar pos-pos
NICA di Jalan Hayam Wuruk .
Pada tanggal 14 Agustus 1947 Belanda dengan NICA mengadakan
pembalasan dengan serangan lewat udara dan darat tepatnya di desa Bendan
mulai gang I s/d XI dibumu-hanguskan, menurut data ada 250 rumah
terbakar/hancur, sehingga peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa juang
“Bendan Lautan Api”.

B. Kota Pekalongan Masa Pasca Revolusi Kemerdekaan Republik
Indonesia

Perundingan-perundingan diplomasi untuk menyelesaikan konflik
politik antara Republik Indonesia dengan Belanda berkenaan dengan
kedaulatan atas negara Republik Indonesia, terus berlangsung sepanjang masa
revolusi dan puncaknya adalah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar
(KMB). KMB diselenggarakan di '”S-Gravenhage Belanda pada tanggal 23
Agustus – 2 November 1949 dan dihadiri oleh tiga pihak. yaitu pihak Republik
Indonesia, Byeenkotnst voor Federal Overleg (BFO/Negara-negara di wilayah
Republik Indonesia yang dibentuk Belanda), dan Komisi PBB untuk Indonesia.
Di dalam pelaksanaan KMB telah menghasilkan tiga buah persetujuan pokok
tentang :
1. Didirikannya Negara Republik Indonesia Serikat.
2. Penyerahan kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda di Indonesia
kepada Republik Indonesia Serikat.
3. Didirikannya Uni antara Republik Indonesia Serikat dan Kerajaan
Belanda.

Sementara itu, sebelum hasil persetujuan KMB direalisasikan, di
kalangan masyarakat Jawa Tengah yang masuk ke dalam daerah RECOMBA
telah berkembang tuntutan-tuntutan politik untuk menggabungkan daerah-
daerah RECOMBA ke dalam wilayah Republik Indonesia, hal ini antara lain
tampak dari isi Resolusi Pemuda Indonesia Semarang, pada tanggal 10
November 1949.dan Pengumuman Padan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
67
(DPR) Jawa Tengah Sementara (Badan Iegislatifnya daerah RECOMBA Jawa
Tengah) serta hasil sidang pleno DPR Jawa Tengah Sementara tanggal 28
Nopember 1949.

Hasil sidang pleno DPR Jawa Tengah Sementara tersebut antara lain
berisi mosi, bahwa DPR Jawa Tengah Sementara menginsyafi hasrat rakyat
daerah RECOMBA Jawa Tengah seluruhnya yang tampak dalam mosi-mosi
dan resolusi-resolusi dari berbagai DPR kabupaten dan badan-badan Iainnya
untuk selekas mungkin kembali ke dalam Iingkungan Republik Indonesia. Selain
itu diputuskan juga oleh DPR Jawa Tengah Sementara, bahwa pengembalian
daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam Iingkungan Republik Indonesia
selekas mungkin dilaksanakan menurut UUD Republik Indonesia Serikat.

Mosi
DPR Jawa Tengah Sementara ini secara formal antara lain disampaikan juga
kepada Pemerintah Republik Indonesia, Negara-negara dan Daerah-daerah
Bagian di seluruh Indonesia, U.N.C.I, BFO, RECOMBA Jawa Tengah, Dewan-
Dewan Kabupaten Jawa Tengah. Pers dan Iain-lain.

Persetujuan pokok KMB pada akhirnya direalisasikan, yaitu ditandai
dengan pembentukan Negara Rcpublik Indonesia Serikat dan penyerahan
kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27
Desember 1949. Dalam hal ini untuk Jawa Tengah baru dlakukan penyerahan
Komando Jawa Tengah dari Jendral Mayor V. Mollinger kepada Panglima Militer
Divisi Diponegoro Kolonel Gatot Soebroto yang dilangsungkan di Staf Kwartier
B. Divisi Semarang. Untuk daerah RECOMBA Jawa Tengah pada saat
penyerahan ini belum kembali ke dalam Iingkungan pemerintah Republik
Indonesia, namun demikian pimpinan pamong praja dan Iain-Iain jawatan sudah
diserahkan kepada pemimpin-pemimpin Republik Indonesia.

Pada dasarnya setelah penyerahan kedaulatan tersebut suara-suara
rakyat dari daerah RECOMBA Jawa Tengah semakin keras menuntut untuk
segera menggabungkan daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam lingkungan
Republik Indonesia. Hal ini antara lain tampak dari adanya sejumlah 17 Serikat
Buruh di Cilacap dan Gabungan Serikat Sekerja Daerah Banyumas mengajukan
resolusi yang pada intinya menghendaki untuk segera menggabungkan daerah
RECOMBA Jawa Tengah masuk ke dalam lingkungan Republik Indonesia.
(
l
Resolusi dari organisasi-organisasi pekerja itu dimuat dalam BERITA ANTARA
tanggal 11 Januari 1950). Tuntutan yang sama, yaitu untuk segera
menggabungkan daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam lingkungan
Republik Indonesia juga dilakukan oleh dewan-dewan Kabupaten daerah
RECOMBA kepada DPR Jawa Tengah Sementara. (Adanya mos-mosi dari
Dewan-Dewan Kabupaten daerah RECOMBA ini dimuat Harian Nasional
tanggal 23 Januari 1950).

Meskipun kondisi riil menunjukkan adanya tuntutan yang semakin
keras dari rakyat di daerah RECOMBA Jawa Tengah untuk segera bergabung
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
68
ke dalam lingkungan Republik Indonesia, namun proses penggabungan daerah
RECOMBA ke dalam lingkungan Republik Indonesia sebagai salah satu negara
bagian dalam negara Republik Indonesia Serikat tidaklah "sederhana karena
harus melalui berbagai prosedur yang secara yuridis formal telah diatur dalam
pasal-pasal dari UUD atau lebih dikenai dengan istilah Konstitusi Negara
Republik Indonesia Serikat. Dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia
Serikat dinyatakan bahwa penggabungan hanya dapat dilaksanakan dengan
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (Syarat-syarat penggabungan di
antara Negara atau Daerah Bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat
secara tegas telah diatur dalam pasal 43 dan pasal 44 Konstitusi Republik
Indonesia Serikat. Hal ini dapat dilihat pada Wantjik Saleh, 1977. Tiga Undang-
Undang Dasar (Ghalia Indonesia, 1977:4l)
1. Prosedur penggabungan diatur sesuai dengan Konstitusi
Republik Indonesia Serikat.
2. Berdasarkan kemauan rakyat.
3. Adanya persetujuan dari Pemerintah Daerah Bagian
yang bersangkutan.

Untuk memenuhi ketiga syarat tersebut peranan masyarakat, para
pemimpin pemerintahan dan politik di daerah Provinsi Jawa Tengah Republik
Indonesia maupun di tingkat pusat negara Republik Indonesia sangat
menentukan. Setelah terjalin komunikasi dan pendekatan yang intensif antara
para pemimpin Daerah Jawa Tengah Republik Indonesia dan pemimpin Daerah
Jawa Tengah RECOMBA serta konsultasi-konsultasi dengan Pemerintah Pusat
Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat. akhirnya pada tanggal 24
Maret 1950 penggabungan daerah Jawa Tengah RECOMBA ke dalam Provinsi
Jawa Tengah Republik Indonesia dapat direalisasikan. Pelaksanaan
penggabungan ini ditandai oleh penandatanganan serah terima kekuasaan dari
RECOMBA Stattius Muller kepada Gubernu Jawa Tengah Republik Indonesia
R. Boediono. Selanjutnya di ruangan Gedung Papak Semarang
diselengaarakan upacara peresmian penggabungan oleh Gubemur Jawa
Tengah yang dihadiri segenap kepala jawatan. Peristiwa penggabungan ini
disambut dengan gembira oleh seluruh rakyat Provinsi Jawa Tengah. Di masjid-
masjid dan gereja-gereja diselenggarakan doa untuk memohon kepada Tuhan
Yang Maha Esa agar negara Republik Indonesia tetap kokoh, abadi, sejahtera
dan makmur. Kemudian pada hari berikutnya di berbagai kantor di seluruh
daerah Provinsi Jawa Tengah (bekas RECOMBA) dilakukan peresmian
penyerahan kepada pegawai-pegawai Republik Indonesia.
(
"Peristiwa dan
situasi saat terjadinya upacara penggabungan antara daerah RECOMBA Jawa
Tengah dan Jawa Tengah Rl dilukiskan dengan sangat jelas dalam penerbitan
(Anonim, Djawatan Penerangan Djawa Tengah, 1950:18 -19).
Secara juridis formal Kota Pekalongan dibentuk berdasarkan pada
Undang-undang 1950 Nomor 16 ( Lembaran Negara 1950, hal 135 – 143) yang
ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
69
Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Jawa Tengah/Jawa Timur dan
Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam undang-undang ini diputuskan dua hal,
yaitu:
a. Menghapuskan staatblad yang mengatur Kota Surabaya, Kota
Malang, Kota Madiun, Kota kediri, Kota semarang, Kota
Pekalongan, kota bandung, Kota bogor, Kota Cirebon, Kota
Yogyakarta, Kota Surakarta.
b. Menetapkan pembentukan daerah daerah Kota Besar dalam
lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa barat dan
dalam Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada Bab I tentang Ketentuan Umum pasal 1 dinyatakan bahwa
daerah yang meliputi Surabaya, Kota Malang, Kota Madiun, Kota kediri, Kota
semarang, Kota Pekalongan, kota bandung, Kota bogor, Kota Cirebon, Kota
Yogyakarta, Kota Surakarta menjadi Kota Besar dan pada pasal 2 dinyatakan
bahwa Pemerintah Daerah Kota Besar tersebut berkedudukan di kota
Surabaya, Kota Malang, Kota Madiun, Kota kediri, Kota semarang, Kota
Pekalongan, kota bandung, Kota bogor, Kota Cirebon, Kota Yogyakarta, Kota
Surakarta. Kemudian pada Bab II tentang Urusan Rumah Tangga Daerah
Daerah Kota Besar dalam pasal 4 dinyatakan bahwa urusan rumah tangga dan
kewajiban-kewajiban lain sebagai termaksud dalam pasal 23 dan 24 Undang-
undang No. 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah, bagi Kota Kota
besar sebagai berikut:
Urusan Umum.
Urusan Pemerintahan Umum.
Urusan Agraria.
Uusan Pengairan, Jalan-jalan dan Gedung-gedung.
Urusan Pertanian, Perikanan dan Koperasi,
Urusan Kehewanan,
Urusan Kerajinan, Perdagangan Dalam Negeri dan Perindustrian,
Urusan Perburuhan,
Urusan Sosial;
Urusan Pembagian (Distribusi);
Urusan Penerangan;
Urusan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan;
Urusan Kesehatan;
Urusan Perusahaan.

Selanjutnya dalam pasal 5 dinyatakan bahwa: segala milik berupa
barang tetap maupun berupa tidak tetap dan perusahaan-perusahaan Kota
Besar dihapuskan, yang selanjutnya dapat menyerahkan sesuatunya kepada
daerah-daerah di bawahnya dan segala hutang piutang Kota Besar menjadi
tanggungan Kota kota besar tersebut. Pasal 3 menyebutkan jumlah anggota
DPRD Kota Besar Pekalongan berjumlah 15 orang. Dengan diundangkan UU
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
70
Nomor 16 tahun 1950 telah mencabut Staatblad Nomor 392 Tahun 1929
tentang penunjukan Gumeente Pekalongan sebagai daerah yang berdiri sendiri
dan sebutannya berubah menjadi Kota Besar Pekalongan dengan luas wilayah
17,16 Km2 dengan 2 kecamatan dengan 22 desa/kelurahan.

Dengan adanya pembaharuan tata hukum di Indonesia yaitu dengan
dikeluarkannya UUD Sementara (UUDS) Tahun 1950 maka berdasarkan pasal
89, 131 Yo 132 yang mengatur pemerintahan di daerah maka diundangkannya
UU Nomor 1 Tahun 1957 tentang pokok Pokok Pemerintahan di Daerah dan UU
Nomor 22 tahun 1948 dinyatakan dicabut. Di dalam pasal 1 UU tersebut
menyatakan bahwa yang dimaksud daerah dalam uu ini adalah daerah yang
mengatur rumah tangganya sendiri yang disebut daerah Swatantra dan dan
Daerah Istimewa. Pasal 2 meyebutkan bahwa wilayah RI dibagi dalam daerah
besar dan daerah kecil yang berhak mengurus rumah tangga sendiri,
pembagian daerah tersebut adalah Daerah Tingkat I, Daerah Tingkat II
(termasuk Kotapraja) dan Daerah Tingkat III. Pasal 3 menyebutkan
pembentukan daerah swatantra demikian pula daerah istimewa termakud
dalam pasal 2 ayat 2, termasuk perubahan wilayahnya kemudian diatur dalam
undang undang. Pasal 4 yang menyebutkan yang dapat sebagai Kotapraja
adalah daerah yang merupakan kelompokan kediaman penduduk dengan
berpedoman kepada syarat penduduk sejumlah sekurang-kurangnya 50.000
jiwa. Untuk Kota Pekalongan sebutannya menjadi Daerah Tingkat II Pekalongan
dengan luas wilayah 17,16 km2 dengan 2 kecamatan dan 22 desa/kelurahan.

Sejak adanya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 antara lain tuntutan
kembali kembali ke Undang undang dasar 1945, maka ada perubahan
ketatanegaraan maka UU Nomor 1 tahun 1957 tentang Undang Undang Pokok
Pemerintahan di Daerah diganti dengan UU Nomor 18 Tahun 1965 Undang
Undang Pokok Pemerintahan di Daerah yang menganut prinsip otonomi yang
seluas-luasnya Di dalam pasal 2 menyebutkan bahwa wilayah Negara Republik
Indonesia terbagi dalam 3 tingkatan daerah yaitu Propinsi Daerah Tingkat I,
Kabupaten/kotamadya daerah Tingkat II dan Kecamatan Daerah Tingkat III.
Untuk Kota Pekalongan sebutannya menjadi kotamadya Dati II Pekalongan
dengan 2 kecamatan dan 22 desa/kelurahan.

Kemudian UU Nomor 18 Tahun 1965 diganti dengan UU Nomor 5
Tahun 1974 Undang Undang Pokok Pemerintahan di Daerah di dalam pasal 2
dan 3 menyebutkan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan wilayah
Negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah otomon, meliputi Daerah
Tingkat I dan Daerah Tingkat II dan wilayah Administrasi, meliputi Propinsi,
Kabupaten/Kotamadya, Kecamatan, berkaitan dengan hal tersebut maka
sebutannya menjadi Kotamadya Dati II Pekalongan.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
71
Kotamadya Dati II Pekalongan di dalam proses perkembangannya
mengalami perkembangan yang cukup pesat di dalam kegiatan pembangunan,
sehingga peningkatan fungsi dan peranan Kota Pekalongan sebagai kota
industri, kota pelabuhan perikanan, kota perdagangan, pusat pelayanan jasa,
distribusi, sehingga lahan yang tersedia tidak dapat menampung lagi untuk
kegiatan pembangunan. Untuk mengatasi hal tersebut maka batas wilayah
Kotamadya Dati II Pekalongan perlu dirubah dengan memasukkan sebagian
dari wilayah dari Kabupaten Dati II Pekalongan dan Kabupaten Dati II Batang.
Maka diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang
Perubahan batas`wilayah Kodya Dati II Pekalongan Kabupaten Dati II
Pekalongan dan Kabupaten Dati II Batang yang diundangkan pada tanggal 5
Desember 1988, kemudian ditindak lanjuti dengan Inmendagri Nomor 3 Tahun
1989 tentang Pelaksanaan PP Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubahan
batas`wilayah Kodya Dati II Pekalongan Kabupaten Dati II Pekalongan dan
Kabupaten Dati II Batang. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka wilayah
Kotamadya Dati II Pekalongan yang semula hanya 1.755 Ha menjadi 4.465,24
Ha dan terbagi menjadi 4 kecamatan terdiri dari 22 desa dan 24 kelurahan.

Sejalan dengan adanya tuntutan reformasi di segala bidang, maka
pemerintah mengakomodir keinginan daerah yang salah satunya diundangkan
dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang
kemudian diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, tidak ada perubahan luas wilayah, jumlah kecamatan dan
kelurahan/desa, hanya ada perubahan sebutan yang semula Kotamadya Dati II
Pekalongan menjadi Kota Pekalongan terdiri dari 4 Kecamatan dan 46
kelurahan.


















Referensi hari jadi Kota Pekalongan
72
BAB VI
PENUTUP


Simpulan

Potensi-potensi geografis, ekonomis, dan politis Kota Pekalongan
telah membentuk wilayah itu sebagai suatu pilihan, baik bagi penguasa pribumi
maupun asing (Belanda) untuk membangun kekuasaan administratif. Wilayah
kerajaan Mataram Kuna ini kira-kira meliputi bekas Keresidenan Kedu,
Semarang, Surakarta, Pekalongan dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada seputar abad ke 7 nama Pekalangan sudah disebut-sebut yang
oleh Cina nama Pekalongan disebut Pou- Kia – loung, sebagaimana sriwijaya
disebut San - Foa –Tsi dan campa disebut Tsiam-pa.

Kekuasaan politik di Jawa Tengah kembali hadir pada akhir abad XV
dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang dilanjutkan oleh Kerajaan
Pajang, hingga kerajaan Mataram Islam sejak 1575 hingga tahun 1755 ketika
terjadi pembagian kerajaan menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta. Wilayah kerajaan-kerajaan Islam ini tidak hanya mencakup daerah-
daerah di Jawa Tengah, tetapi juga meliputi Jawa Timur. Jawa Barat, dan
daerah-daerah di luar Jawa.

Belanda (VOC) dapat berhasil menanamkan kekuasaannya di wilayah
ini, karena kemahirannya dalam memanfaatkan momentum konflik internal di
wilayah kekuasaan pribumi (Mataram). dengan cara memberikan bantuan militer
dan keuangan sambil menyodorkan perjanjian yang menguntungkan .

Bagi VOC, Jawa Tengah merupakan tempat yang strategis sebagai
pusat pengawasan wilayah kekuasaannya, sehingga di wilayah ini pun kompeni
dagang itu membangun kekuasaan adminisiratif setingkat dengan provinsi, Java
Noord-Oost Kust Provincie (Provinsi Pantai Utara-Timur Jawa) yang ber ibukota
di Semarang. Masa kekuasaan VOC dilanjutkan dengan masa kolonial Hindia
Belanda, yang menjalankan pemerintahan secara sentralistis sampai dengan
awal abad XX.

Politik etis yang dicanangkan pada awal abad XX. dengan program
desentralisasinya, telah menjadi landasan terbentuknya wilayah
administratif yang lebih luas daripada residensi, yaitu provinsi. Setelah
Provinsi Jawa Tengah terbentuk, dewan-dewan residensi dan kota yang
mcnjadi bagian dan wilayah ini dihapuskan. Itu berarti bahwa otonomi
untuk wilayah administratif residensi dan kota telah dicabut. Akan tetapi,
berdasarkan pasal 12I Indische Staatsregeling (Peraturan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
73
Pemerintah Hindia Belanda), kabupaten/kota Besar di wilayah provinsi ini
justru dinyatakan sebagai daerah otonom dengan ketentuan bahwa di
setiap kabupaten/Kota Besar yang otonom dibentuk suatu dewan yang
berkewenangan dalam pengaturan urusan daerah. Adapun untuk Kota
Pekalongan berdasarka pada Staatblaad 1906 Nomor 124 tentang
Decentralisatie Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats
Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch Indie
Instelling van een gumeenteraad te dier plaatse), dimuat dalam Staatsblad
tersebut merupakan dasar hukum dan dasar historis terbentuknya
Gemeente Pekalongan.

Kemudian disempurnakan lagi dengan Staatblad 1929 Nomor 392
tentang Decentralisatie Midden Java Annwijzing als zelfstandige gemeenschap
van de gemeente Pekalongan. Afzondering van geldmiddelen voor de
hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch
stadss gemeente Pekalongan iut de algemeene geld middelen van Nedelandsch
Indie. Pemberian otonomi kepada Gumeente Pekalongan itu merupakan tindak
lanjut dari kebijakan ontvoogding yang telah mulai berlaku sejak tahun 1918.

Demikianlah, akar sejarah terhentuknya Kota Pekalongan ditemukan,
bagaimana pun Belanda telah ikut berperan dalam pembentukan pemerintahan
daerah, dari penelitian ini terungkap bahwa sistem desentralisasi atau otonomi
daerah bermula dari masa penjajahan Belanda. Namun demikian. kita harus
juga memahami bahwa sistem itu bukan ditujukan sepenuhnya untuk
kepentingan rakyat Indonesia, melainkan terutama urtuk memperkokoh
intensifkasi dan efisiensi sistem pemerintahan kolonial Belanda. Studi lebih
mendalam tentang masalah ini sangat diperlukan sebagai dasar-dasar
pengetahuan tentang otonomi daerah yang sekarang dilaksanakan kembali.
Aspek-aspek positif dapat dipakai sebagai contoh, serta aspek-aspek negatif
dapat dikurangi atau ditiadakan.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Hindia
Belanda diubah menjadi Indonesia. Pulau Jawa diperintah oleh
pemerintah militer Angkatan Darat (Tentara Keenambelas). Pemerintahan
provinsi dihapuskan, struktur pemerintahan menjadi sentralistik.
Pemerintah pusat Jawa dan Madura dipimpin oleh gunseikan (kepala
pemerintahan militer). Sejak 8 Agustus 1942 pemerintah daerah tertihggi
adalah keresidenan (syui) yang dikepalai oleh shuchokan. Pemerintah
daerah kabupaten (ken) dikepalai oleh kencho (bupati), kawedanan (gun)
diperintah oleh guncho (wedana), dan asistenan (son) diperintah oleh
soncho (asisten wedana). Sejak masa pendudukan Jepang dualisme
pemerintahan, yaitu pejabat pemerintah Belanda yang "mendampingi"
pendapat pemerintah pribumi, dihapuskan. Kepala daerah mulai ken

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
74
dipegang orang Indonesia, bahkan sejak tahun 1944 beberapa .shuchokan
(residen) sudah diberikan orang Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan 1945 dalam Undang-undang Dasar
pasal 18 ditetapkan pembentukan daerah-daerah provinsi sebanyak 8 buah, di
antaranva adalah Provinsi Jawa Tengah, yang luas wilayahnya sama dengan
Provincie Midden-Java pada masa kolonial, sesuai dengan hasil rapat 19
Agustus 1945. Ketika terjadi agresi Belanda I (1947) dan agresi Belanda II
(1948) wilayah Jawa Tengah dikuasai oleh dua buah kekuasaan yaitu daerah
kekuasaan Republik Indonesia dan daerah kekuasaan Belanda di bawah
RECOMBA. Sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda 27
Desember 1949, diikuti proses penggabungan kembali daerah-daerah “federal”
dan negara bagian ciptaan van Mook, daerah-daerah di Jawa Tengah dibawah
kekuasaan RECOMBA kembali menggabungkan diri ke dalam Provinsi Jawa
Tengah pada tangaal 24 Maret 1950.

Dalam perkembangannya secara yuridis formal pembentukan Kota
Pekalongan berdasarkan pada UU No. 16 Tahun 1950 yang ditetapkan pada
tanggal 14 Agustus 1950.

Rekomendasi

Atas dasar berbagai simpulan dari hasil penelusuran sejarah hari jadi
Kota Pekalongan, maka tim penyusun mengusulkan beberapa alternatif untuk
menentukan hari jadi Kota Pekalongan sebagai berikut :
1. Pemerintah Kota Pekalongan terbentuk secara juridis formal pada tanggal 1
April 1906 (Staatsblad 1906 No. 124). Pemilihan tanggal ini didasari oleh
beberapa alasan penting yaitu:
a. Undang-Undang tentang pembentukan Gumeente Pekalongan
(Decentralisatie Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats
Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch Indie
Instelling van een gumeenteraad te dier plaatse), dimuat dalam
Staatsblad 1906 Nomor 124 merupakan dasar hukum dan dasar historis
tcrbentuknya Kota Pekalongan.
b. Peringatan hari lahir Kota Pekalongan yang jatuh pada tanggal 1
April dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
• Secara ekonomis dan budaya perayaan hari Jadi Kota
Pekalongan diselenggarakan Pemerintah Kota Pekalongan dapat
menggalakkan/mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerah
dengan stimulan bahwa produk-produk daerah-daerah di Kota
Pekalongan dapat diintroduksikan dalam event pameran untuk
memperingati hari lahir Pemerintah Kota Pekalongan,
sedangkan secara budaya, Pemerintah Kota Pekalongan dapat

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
75
lebih memberdayakan produktivitas seni kerajinan, seni tari, seni
busana, seni musik, dan lain-lain, untuk mengisi event pameran tersebut.
• Secara politis, event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk
merekrut commitment penduduk di seluruh wilayah Kota Pekalongan
agar merasa sebagai bagian masyarakat Kota Pekalongani ini.
Dengan demikian perayaan hari lahir Kota Pekalongan, dapat
memperkokoh spirit persatuan dan kesatuan antara penduduk
masyarakat Kota Pekalongan.

2. Pemerintah Kota Pekalongan terbentuk secara juridis formal pada tanggal 1
Januari 1930 (Staatsblad 1929 No. 392). Pemilihan tanggal ini didasari oleh
beberapa alasan penting yaitu :
a. Undang-Undang tentang pembentukan Gumeente Pekalongan
(Decentralisatie Midden Java Annwijzing als zelfstandige gemeenschap
van de gemeente Pekalongan. Afzondering van geldmiddelen voor de
hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van
Nederlandsch stadss gemeente Pekalongan iut de algemeene geld
middelen van Nedelandsch Indie), dimuat dalam Staatsblad 1929 Nomor
392 merupakan dasar hukum dan dasar historis terbentuknya Kota
Pekalongan.
b. Peringatan hari lahir Kota Pekalongan yang jatuh pada tanggal 1
Januari dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
• Secara ekonomis dan budaya. perayaan hari lahir Kota
Pekalongan tersebut diselenggarakan bersamaan dengan
perayaan penyambutan tahun baru, yang pada umumnya
dilaksanakan di sebagian besar masyarakat Kota Pekalongan
bahkan penduduk Indonesia. Secara ekonomis, Pemerintah Kota
Pekalongan dapat menggalakkan/mengoptimalkan potensi-potensi
ekonomi daerah dengan stimulan bahwa produk-produk daerah-
daerah di Kota Pekalongan dapat diintroduksikan dalam event
pameran dalam rangka menyambut tahun baru dan hari lahir Kota
Pekalongan. Secara budaya, Pemerintah Kota Pekalongan dapat
lebih memberdayakan produktivitas seni kerajinan, seni tari, seni
busana, seni musik, seni batik dan lain-lain, untuk mengisi event
pameran tersebut.
• Secara politis, event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk
merekrut commitment penduduk di seluruh wilayah Kota
Pekalongan agar merasa sebagai bagian masyarakat Kota
Pekalongan ini. Dengan demikian perayaan hari Kota Pekalogan
yang bersamaan dengan perayaan tahun baru yang sudah
membudaya itu, dapat memperkokoh spirit integrasi antar
penduduk.


Referensi hari jadi Kota Pekalongan
76
3. Pemerintah Kota Pekalongan ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 dan
diberlakukan mulai tanggal 15 Agustus 1950 atas dasar Undang Undang
Nomor 16 Tahun 1950 beberapa alasan yang mendasari pemilihan ini, yaitu:
a. Tanggal ini spesifik karena secara jelas dan khusus menyebutkan
tentang pembentukan Pemerintah Kota Besar Pekalongan pasca perang
kemerdekaan.
b. Tanggal ini merupakan momentum kukuhnya Pemerintah
KotaPekalongan pasca perang kemerdekaan dengan wilayah geografis
dan administrasi .
c. Secara ekonomis, budaya, dan politis, perayaan/peringatan hari lahir
Kota Pekalongan memiliki manfaat-manfaat, bahwa:
• Pemerintah Kota Pekalongan dapat menggalakkan/
mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerah dengan stimulan
bahwa produk-produk daerah-daerah di Kota Pekalonganh dapat
diintroduksikan dalam event pameran dalam rangka peringatan
hari lahir Kota Pekalongan.
• Pemerintah Kota Pekalongan dapat lebih memberdayakan
produktivitas seni kerajinan. seni tari, seni busana, seni musik,
seni batik dan Iain-Iain, untuk mengisi event pameran tersebut.
• event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk merekrut
commitment penduduk di seluruh wilayah Kota Pekalongan agar
merasa sebagai bagian masyarakat Kota Pekalongan ini.






















Referensi hari jadi Kota Pekalongan
77
DAFTAR PUSTAKA


Anonim (Alih aksara dan Bahasa), 1985. Serat Babad Tembayat. Jakarta : Proyek
Penerbitan Sastra Indonesia dan Daerah depdikbud.

Anonim, 1977/1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Djawa Tengah. Proyek
Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan
Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Arsip Nasional Republik Indonesia, 1998. di Bawah Pendudukan Jepang. Jakarta: Arsip
Nasional Indonesia.

Atmodarminto (Alih Bahasa), 1955. Babad Demak. Djogjakarta: Pesat.

Atmodjo, M.M. Sukarto K., 1979. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram
dan Majapahit. Yogyakarta : Pusat penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan.

Aziz, M.A., 1955. Japan’s Colonialism and Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff.

Bemmelen, R.W. van, 1949. the Geology of Indonesia.

Bodine Loecher-Schotelf, Elizabeth, 1981. Ethiek in Fragmenten Vijf Studies over
Koloniaal Denken en Doen van Netherlanders in de Indonesische Archipel.
Utrecht: Hes Publishers.

Boechari, 1976. “Some Considerations on the Problem of the Shift of Mataram’s
Center”, dalam bulletin of Research Center of Archeology of Indonesia, no. 10.

Bosch, F.D.K., 1928. “De Inscriptie van Keloerak”, dalam TBG, LXVIII.

Brandes, J.L.A., “Oud-Javaavsche Oorkonden”, XXXI, Nagetelan transcripties van
wijlwn Dr. J.L.A. Brandes, uitgegeven door N.J. krom. VBG, LX.

Budiman, Amen. 1975. “Semarang Pada Masa Penjajahan Inggris”, dalam Suara
Merdeka, Jum’at 8 Agustus 1975.

Casparis, J.G. de, 1983. “The evolution of the Socio-economic Status of the cast
Javanese Village abd its Inhabitants”, dalam Papers of the Fourth Indonesian-
Dutch History Conference. Yogyakarta.

Casparis, J.G. de. 1950. Inscripties uit de Cailendra-tijd (Prasasti Indonesia I). Bandung:
Masa Baru.
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
78
Casparis, J.G. de. 1950. “Shorts Inscription from Candi Plaosan Lor”, dalam Berita
Dinas Purbakala No. 4.

Cortesao, Armando, ed. 1944. The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of
Fransisco rodrigues. The Hakluyt Society.

Dale, Van. 1977. The Policy and Administration of the Dutch in Java. Kuala lumpur,
New York, London, Melbourne : Oxforford University Press.

Djajadiningrat, Hoesien. 1983. Tinjauan Kritis sejarah Banten. Terjemahan. Jakarta :
Djambatan.

Goldern, R. van Heine. 1942. “Conception of States and Kingship in South-east Asia”.
Dalam FEO, No. 22.

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Graff, H.J. de, Th. G. Th. Pigeaud, 1985. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Peralihan
dari Majapahit ke Mataram. Jakarta : PT Grafitipers.

Graff, H.J. de dan Th. G. Th. Pigeaud, 1974. De Eerste Moslimse Vorstendomen op
Javal’s-Gravenhage: M. Nijhoff.

Haan, F. de, “Out Batavia”, dalam BKI, 1923.

Jawatan Penerangan Jawa Tengah, 1950. Kembali ke Pangkuan Republik Indonesia.
Semarang: Jawatan Penerangan.

Kahin, George Mc.Turnan, 1980. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia.

Kantor Statistik propinsi Jawa Tengah. 1987. Jawa Tengah Selayang Pandang.

Kartodirjo, Sartono, dkk., ed., 1977. Sejarah Nasional Indonesia VI. (Jakarta: balai
Pustaka).

Keijzer, S., ed., 1862. Francois Valentijn’s Ond en Nieuw Oost-Inden, derde deel
Amsterdam: Wed. J.C. Van Kesteren & Zoon.

Kurasawa, Aiko. 1993. Mobilisasi dan Kontrol. Terjemahan Hermawan Sulistyo.
Jakarta: P.T. Gramedia.

Kusen, 1988. “Prasasti Wanua Tengah III, 830 Caka: Studi tentang Latar Belakang
Perubahan Status Sawah di Wanua Tengah Sejak Rake Penangkaran sampai
Referensi hari jadi Kota Pekalongan
79
Rake Watukura Dyah Balitung”. Makalah Kegiatan Ilmiah Arkeologi.
Yogyakarta : IAAI Komisariat Yogyakarta- Jawa Tengah.

Liem Thian Joe. 1933. Riwajat Semarang (Dari Djamannjasam Poo Sampe
Terhapoesnja Kongkoan). Semarang.

Marsono (alih bahasa). 1968. Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Jakarta: Djambatan dan
KITLV.

Notosusanto, Nugroho, 1968. Pemberontakan Tentara Peta Biliar Melawan Jepang: 14
Februari 1945. Djakarta : Lembaga Sedjarah Hankam.


Oemar, Moh., 1978. Sejarah Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Proyek Penelitian dan
Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Olthof, W.L., 1941, “Poeniko Serat Babad Tanah Djawi Saking Nabi Adam Doemoegi
ing Tahoen 1647” dalam Meinsma, Babad Tanah Jawi (prosa), S’Gravenhage :
W Van Hoeve Martinus Hijhoff.

Padmo Puspito (Penerjemah), 1968. Pararaton. Yogyakarta : Penerbit Taman Siswa.

Pigeaud, Th. G., 1960. Java in the Fourteenth Century, Jilid I, The Hague : Martinus
Nijhoff.

Poerbatjaraka, R. Ng., 1952. Riwayat Indonesia I. Djakarta : Pembangunan.

Poesponegoro, Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto, ed., 1993. Sejarah Nasional
Indonesia II. Jakarta : Balai Pustaka.

Prawirayuda, Pandji, 1988. Babad majapahit dan Para Wali. Jilid 3. Jakarta: Proyek
Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Pusat Sedjarah Militer Angkatan Darat, 1964. Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersenjata
Bangsa Indonesia. Djakarta : Staf Angkatan Bersendjata.

Raffles, Thomas Stamford, 1817. History of Java. London : Oxford University Press.

Ricklefs, M.C., 1981. History of Modern Indonesia. London : Macmillan Edication
LTD.

Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan Dharmono Hardjowidjono.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
80
Riyadi, Slamet (alih aksara), 1981. Babad Demak. Jakarta : Proyek Penerbitan Buku
Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Rouffaer, G.P., 1899. “Wanneer in Madjapahit Gevallen, Het Tijdperk van goodsdients
overgang (1400-1600) in den Maleischen Archipel”, dalam BKI, VI.

Rouffaer, G.P., 1931, “Vorstenlanden”, Overdrukuit Adatrecht bundel XXXIV, Serie D,
No. 81, S”. Gravenhage: martinus Nijhoff.

Saleh, Wantjik, 1977. Tiga Undang-undang Dasar. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Sastronaryatmo, Mulyono (alih bahasa), 1981. Babad Jaka Tingkir (Babad Panjang).
Jakarta : Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Schrieke, B.J.O., 1957. Indonesia Sociological Studies, Part Two: Ruler and Realm in
Early Java. The Hague-Bandung: W van Hoeve.

Schrieke, B.J.O., 1975. Sedikit Uraian tentang Pranata Perdikan. Jakarta : Bhatara.

Slametmulyana, 1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnya Negara-negara
Islam di Nusantara, Jakarta : Bratara.

Soekmono, R. 1993. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, jilid II. Yogyakarta :
Yayasan Kanisius.

Stutterheim, 1927. “Een belangrijk oorkonde uit de Kedu”, dalam TBG, LXVII.

Subalidinata dan Supriyanto (ahli aksara dan bahasa), 1988. Serat Kandhaning Ringgit
Purwa, jilid 2. Jakarta : Jambatan dan KITLV.

Sudibjo, Z.H. dan T.D. Sudjana, 1980. Caruh Kanda Carang Seket. Jakarta : Proyek
Penerbitan Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Sudjana, I Made. 2001. Nagari Tawon Madu. Bali: Larasan Sejarah.

Suryo, Djoko, 1989. Sejarah Sosial Pedesaan Karisidenan Semarang 1830-1900.
Yogyakarta : Pusat Antar Universitas Studi Sosial UGM.

Sutherland, Heather, “The Priyayi” dalam Indonesia, 19 April 1975.

Sutherland, Heather. 1979. The Making of Bureaucratic Elite. Singapore, Kuala
Lumpur, Hongkong : Heinmann Educational Book (Asia) Ltd.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan
81
Sutjipto, F.A., 1971. “Someremarks on the Harbour City of Japara in the Seventeeth
Century”, Fifth Conference on Asian History. Manila: IAHA.

The Liang Gie, 1993. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia.
Jilid I. Yogyakarta : Liberty.

Tjandrasamita, Uka, ed., 1984. Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka.

Van Niel, Robert, 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia. Jakarta : PT Dunia Pustaka
Jaya.

Verslag van De Toestand Der Gemeente Semarang over 1917.

Wertheim, W. F., 1958. The Indonesian Town Studies in Urban Sociology. The Haque:
W. Van Hoeve Ltd.


KORAN dan MAJALAH

Asia Raya, 11 Mei 1942.
Asia Raya, 28 Mei 1942.
Kan Po, No. 1 Tahoen I Boelan 8-2602.
Kan Po, No. 2 Tahoen I Boelan 9-2602.
Kan Po, No. 35 Tahoen 2604.
Pandji Poestaka, No.2 11 April 1942.

















KATA PENGANTAR
Dengan penyusunan memanjatkan piji syukur kepada Allah Yang Maha Esa buku referensi “PENELUSURAN HARI JADI KOTA

PEKALONGAN“ dapat diselesaikan dengan baik, kegiatan ini bertujuan untuk menentukan titi mangsa hari jadi Kota Pekalongan. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan menyediakan data dan sarana atas selesainya kegiatan ini, yaitu : 1. Kantor Arsip Nasional di Jakarta dan Badan Arsip Derah Provinsi Jawa Tengah yang telah membantu menyediakan berbagai sumber dokumen penting yang berkaitan dengan pekerjaan ini. 2. Perpustakaan Nasional di Jakarta, Perpustakan Daerah Jawa Tengah dan Perpustakaan wilayah Daerah Istimewa Yogyakata yang telah menyediakan sumber-sumber penulisan. 3. Badan Arsip dan Data Elektronik dan Perpustakaan Kota Pekalongan yang telah menyediakan data. 4. Bapak Oethomo MS Almarhum dan Bapak Bambang Adiwahyu Danusaputro yang telah menyusun buku menelusuri berdirinya Kota Pekalongan dengan sesanti Rasa Swargo Gapuraningbumi yang merupakan tambahan referensi. 5. Prof. Djoko Suryo (ahli sejarah UGM), Dr. Kusnin Asa (ahli antropologi), Sudardi, SH (ahli Hukum Tata Negara) yang telah memberikan data awal dalam penggalian hari jadi Kota Pekalongan. 6. Sdr. Maryati, SH, Msi (Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kota Pekalongan dan sdr. Bambang Adiwahyu Danusaputro (seniman Pekalongan) yang telah menyusun buku referensi hari jadi Kota Pekalongan.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

ii

7. Bapak Basuki Sunaryo, selaku sesepuh trah Pangeran/Kyai Adipati Mandurorejo yang telah membantu memberikan data tentang Kabupaten Batang maupun Kabupaten Pekalongan. 8. Tim Pengarah yang telah memberikan arahan kepada tim penyusun maupun tim editor. 9. Tim editor yang telah memberikan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan yang telah disusun oleh tim penyusun. 10. Berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah membantu selesainya penyusunan buku ini. Dengan segala upaya kami telah berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Namun demikian, kami menyadari bahwa laporan ini tidak lepas`dari adanya kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan laporan ini. Pekalongan : 5 September 2006 KEPALA BAPPEDA KOTA PEKALONGAN

Ir. CHAIRUDDIEN MUSTHAHAL NIP 500 089 545

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

iii

DAFTAR ISI PENGANTAR........................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang..................................................................... B. Tujuan.................................................................................. C. Manfaat................................................................................ D. Tinjauan Pustaka ................................................................. E. Metode Penelitian ................................................................ i ii 1 4 4 4 7

BAB II

PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA PRA KOLONIAL A. Pekalongan Dalam Legenda ............................................... 9 B. Masa Kerajaan Hindu Budha ............................................... 16 C. Masa Kerajaan Islam ........................................................... 20

BAB III PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA KOLONIAL BELANDA A. Posisi Strategis Kota Pekalongan....................................... 37 B. Pemerintah Daerah Sebelum tahun 1900............................ 38 C. Pemerintah Daerah Sesudah tahun 1900............................ 42 BAB IV PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG A. Invasi Jepang di Indonesia .................................................. 51 B. Pemerintah Militer di Indonesia............................................ 52 C. Struktur Pemerintah Daerah ................................................ 57 PEMDA KOTA PEKALONGAN PADA MASA REPUBLIK INDONESIA A. Pemerintah Kota Pekalongan pada Revolusi Kemerdekaan Tahun 1945-1950 ........................................................................... 63 B. Pemerintah Kota Pekalongan pada masa Pasca Revolusi Kemerdekaan ...................................................................... 66 72 74 77 82

BAB V

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan .......................................................................... B. Rekomendasi....................................................................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. LAMPIRAN LAMPIRAN ...........................................................................

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

iv

kemandirian daerah adalah sebuah keniscayaan. ikut merasakan hasilnya. Guna mencapai tujuan tersebut diperlukan partisipasi aklif warga masyarakat daerah.BAB I PENDAHULUAN A. Salah satu bentuk penggalangan solidaritas adalah adanya identitas daerah. mengapa ia "dilahirkan". bagaimana ia "dilahirkan". kesuksesan. antara lain hari jadi daerah. Peringatan hari jadi suatu daerah tidak berbeda dengan perayaan hari kelahiran seorang anak. Persyaratan ini juga berlaku bagi pembentukan kabupaten/kota maupun propinsi. Latar Belakang dan Permasalahan Eksistensi sebuah negara mensyaratkan adanya tiga unsur penting yaitu adanya sekelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai suatu bangsa. bagaimana perjalanan sejarah yang dilaluinya hingga menjadi wujud yang dicapainya sampai saat ini. meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui penggalian dan pengembangan sumber daya daerah secara maksimal atas inisiatif dan kekuatan daerah itu sendiri. Namun demikian. Salah satu wujud identitas daerah adalah hari jadi daerah. yakni sebuah pemerintahan yang berdaulat. harapanharapan demi kebahagiaan sang anak di masa depan. sebuah tetenger simbolik dimulainya sebuah pemerintahan di suatu daerah yang akan diperingati disertai harapanharapan untuk terwujudnya keselamatan. menempati suatu wilayah geografis dengan batasbatas fisik yang jelas. Berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat untuk memberikan otonomi kepada pemerintah daerah untuk mengelola dan mengembangkan daerahnya. Setiap daerah akan saling berpacu untuk memajukan daerahnya. itu semua belum cukup Iengkap untuk menunjukkan keberadaannya. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 1 . hari jadi adalah sebuah tonggak. dengan iringan segala doa. kesejahteraan bagi seluruh warganya. dengan kata lain diperlukan penggalangan solidaritas warga daerah agar merasa ikut memiliki. dan akhirnya memiliki kebanggaan dan kesetiaan kepada daerahnya. Semua itu merupakan ciri-ciri khas suatu pemerintah daerah yang sekaligus menjadi identitas warga daerah tersebut yang membedakannya dengan daerah lain. sebuah sistem politik yang mengatur kehidupan bangsa tersebut. kapan ia "lahir". la memerlukan sejarah. apa saja kekayaan dan keunikan yang dimilikinya (baik budaya maupun wujud fisik). berkewajiban untuk membangun.

menguasai wilayah Priangan. Penguasaan bangsa Belanda atas wilayah Jawa Tengah. memegang monopoli pembelian beras dan gula. Kerajaan Demak. tetapi juga daerah-daerah lainnya. Pajang.Dalam rangka melengkapi identitas keberadaannya juga demi pemantapan pelaksanaan otonomi daerah. Munculnya kerajaan-kerajaan itu menunjukkan bahwa wilayah Kota Pekalongan memiliki potensi-potensi strategis untuk membangun kekuasaan administratif. sejalan dengan islamisasi di Jawa. meskipun sebagai sebuah Kota belum terlalu tua. Jawa Tengah melahirkan penguasa-penguasa yang memeluk agama Islam dan mendirikan pusatpusat pemerintahannya di wilayah itu. memperoleh pembebasan pajak. dan Mataram merupakan pusat-pusat pemerintahan yang tidak hanya mencakup wilayah Jawa Tengah. Sejak ratusan tahun silam beberapa tempat di wilayah Jawa Tengah telah menjadi pusatpusat kekuasaan administrasi baik sistem pemerintahan tradisional (berbentuk kerajaan) maupun moderen (gemeente /kota besar/kota praja). Berdasarkan pada sumber-sumber sejarah. tetapi juga menarik keinginan orang asing (Belanda) untuk menanamkan kekuasaannya di wilayah ini. yang pusat pemerintahannya terletak di sekitar Yogyakarta dan Magelang. yang dipimpin oleh seorang gubernur (Djoko Referensi hari jadi Kota Pekalongan 2 . Sesungguhnya Kota Pekalongan sebagai sebuah wilayah menyimpan sejarah yang sangat panjang. hal 72-73). diselenggarakan perjanjian pada bulan Oktober 1677 yang disusul dengan perjanjian pada bulan Januari 1678. memegang monopoli atas impor tekstil dan opium. Pada abad VII Jawa Tengah. Dalam perjanjian tersebut kedua pihak menyetujui bahwa VOC menguasai pendapatan dari pelabuhan-pelabuhan. Untuk kepentingan itu. Sejak akhir abad XV. Setelah itu. dalam abad Vlll . Semarang menjadi pusat pemerintahan Belanda di pantai utara-timur Jawa (Java’s Northeast Coasts). serta penggalangan solidaritas warga daerah Kota Pekalongan sebagai salah satu Kabupaten/Kota di dalam satu provinsi Jawa Tengah perlu menemukan hari jadi atau hari "kelahiran"-nya. Sejak tahun 1743 hingga masa pemerintahan Daendels. Dalam perkembanganya potensi-potensi strategis itu tidak hanya menarik perhatian para penguasa pribumi. telah menjadi pusat Kerajaan Kalingga. khususnya wilayah pantai utara.IX di Jawa Tengah juga muncul Kerajaan Mataram Kuna (Dinasti Sanjaya dan Syailendra). bermula ketika Mataram (Amangkurat II) minta bantuan kepada Vereenigde Oost Indische Compagne (VOC) untuk menumpas perlawanan Trunojoyo. dan juga wilayah Semarang (Ricklefs: 1981. khususnya Jepara. Hal itu berarti menemukan sebuah tonggak waktu sebagai titik awal dimulainya sebuah pemerintahan Kota Pekalongan yang meliputi wilayah seperti sekarang ini.

wilayah Semarang (Semarang Gewest/Karesidenan) tetap dipimpin oleh seorang residen yang juga bertempat tinggal di De Vreesdesteen. desentralisasi itu mengandung tiga arti yaitu : (1) penyerahan kekuasaan dari pemerintah di Nederland kepada departemen dan pegawai setempat dan dari pegawai Eropa kepada pegawai bumiputera. sehingga dapat mengelola urusannya sendiri. jabatan gubernur diganti dengan residen. dan dikenal dengan sebutan De Vreedesteen (istana perdamaian). Kabupaten Referensi hari jadi Kota Pekalongan 3 . Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Undang-undang ini dimaksudkan untuk memberikan hak otonomi kepada setiap karesidenan (gewest) dan kota besar (gumeente) serta memberikan landasan hukum bagi pembentukan dewan-dewan daerah di wilayah-wilayah administratif tersebut. sehingga De Vreesdesteen pun menjadi tempat tinggal residen Inggris. Salah satu program penting politik etis adalah desentralisasi kekuasaan administratif. Menurut Furnivall. begitu juga wilayah Pekalongan (Pekalongan Gewest/Karesidenan) dipimpin oleh seorang residen. Tempat kediaman gubemur terletak di ujung barat Jalar Bojong (sekarang Jalan Pemuda). 27 dan 28 tanggal 5 Agustus 1942. dengan diberlakukannya UUD 1945 dibentuk daerah-daerah provinsi. (2) pembentukan badan pemerintahan yang mempunyai kekuasaan otonom yang bekerja sama dengan pemerintah. Pada akhir abad XIX di kalangan kaum liberal Belanda muncul pemikiran-pemikiran etis yang menyerukan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk memberikan tanggung jawab moral kepada bangsa Indonesia dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka Pemikiranpemikiran itu diwujudkan dalam suatu kebijakan politik yang terkenal dengan sebutan politik etis. (3) pemisahan keuangan pusat dan daerah ( Furnivall : 1967. hal 2-7). Setelah undang-undang ini berlangsung selama kira-kira 23 tahun muncul ketidakpuasan di kalangan administrator Belanda yang memandang perlu untuk menyelenggarakan reorganisasi pemerintahan kemudian Staatblad 1906 diganti dengan Staatblaad Tahun 1929 Nomor 124 yang mengatur keberadan Kota Besar Pekalongan. Tiga tahun kemudian gumeente Pekalongan dibentuk dengan Staadblaad Nomor 392 Tahun 1906. Program desentralisasi disahkan dalam Decentralisatie Wet (Undang-undang desentralisasi) tahun 1903. Pada masa pendudukan Jepang. provinsi-provinsi yang telah dibentuk pada masa kolonial Belanda dihapuskan dan dibentuk sistem pemerintahan daerah baru sesuai dengan Undang-undang No. Pada masa penjajahan Inggris (18121816). tetapi karesidenan dan kabapaten/Kota masih ada.264).Suryo: 1989. Setelah penjajahan Inggris berakhir pada tahun 1816.

D. penelitian sejarah perlu dilakukan untuk menemukan waktu yang tepat mengenai berdirinya Kota Pekalongan secara resmi. HANGESTINING DWI NAGA MANUNGGAL yang berarti PEMERINTAHAN DAN RAKYAT BERSATU UNTUK MEMBANGUN yang isinya tentang penelusuran hari jadi Pekalongan “yang ditulis oleh Bapak Oetomo MS (Karyawan Departemen Referensi hari jadi Kota Pekalongan 4 . Sedang menurut perhitungan tahun Saka (Anojawa) menunjuukkan tahun 1828 dengan sesanti. Ke empat. Namun demikian. antara lain lambang Kota Pekalongan. dalam penelusuran hari jadi Kota Pekalongan difokuskan pada pokok permasalahan. Pertama. yaitu kapan Kota Pekalongan dibentuk dan apa dasar-dasar hukum pembentukannya. untuk menentukan hari jadi Kota Pekalongan bukan persoalan yang mudah. Sedang sesanti tersebut berarti RASA KEBANGGAAN MEMBANGUN NAGARI/KOTA. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dan menemukan tanggal. dan dasar-dasar hukum. hari jadi Kota Pekalongan merupakan pelengkap yang memperkuat identitas daerah dan masyarakat kota Pekalongan. peraturan-peraturan atau perundangundangan juga mengalami perubahan-perubahan. Kedua hari jadi Kota Pekalongan dapat dijadikan sebagai hari besar khusus yang dirayakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan. karena hal itu berkaitan erat dengan pengungkapan latar belakang sosial. produk lokal dari berbagai daerah ilayah kecamatan se Kota Pekalongan dalam perayaan hari jadi. bulan dan tahun diresmikannya Kota Pekalongan sebagai sebuah wilayah administratif secara juridis formal. hari jadi Kota Pekalongan dapat menambah calendar of events dengan penyelenggaraan berbagai festival seni budaya. Manfaat Penemuan hari jadi Kota Pekalongan akan bermanfaat sebagai berikut. politik. budaya. geografi. Tinjauan Pustaka Pada tahun 1983 Pemerintah Kota Pekalongan telah menerbitkan naskah Rasa Swarga Gapuraning Bumi “ menunjukkan tahun 1906 Masehi. Dari uraian di atas. C. bulan dan tahun tersebut akan diusulkan sebagai hari Kota Pekalongan. kemudian tanggal. yang mendukung kegiatan pariwisata. Sejalan dengan terjadinya perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. B. di samping identitas yang sudah ada.dan Kota Besar. Sehubungan dengan hal itu. Ke tiga hari jadi Kota Pekalongan menjadi solidarity maker bagi masyarakal Kota Pekalongan.

Bab IV Daerah Otonom. bab VI Keuangan Pemerintah Daerah. Perjuangan diplomatik (Perundingan Linggajati. Buku “ Hukum Tata Negara tentang sistem Pemerintah di Daerah “ Pada Bab I dibahas Undang undang Pokok Pemerintah Daerah di Indonesia Bab II wilayah adminstratif.Penerangan Kota Pekalongan) dan Bapak Bambang Wahyu Danusaputra (wartawan/seniman). secara tematis yang masing-masing bab membahas aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat. Buku setebal 440 halaman itu berisi penelusuran hari lahir Kota Pekalongan mulai asal muasal nama Pekalongan. Buku yang ditulis dengan tidak berpretensi untuk menulis sejarah kritis ini dibagi dalam sembilan bab. Menurut buku itu dengan terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950 di Jawa Tengah Khususnya Kota Pekalongan telah terdapat sendi-sendi yang mengatur otonomi daerah. serta "kemajuan-kemajuan" yang telah dicapainya sejak jaman Hindia. Bab VIII Sejarah UU Pokok Pemerintah di Daerah Kurun Waktu 1945 hingga sekarang. Seni dan Budaya. perkembangan Kota Pekalongan. Bab III Kota Adminstratif. Sehubungan dengan penyusunan penelusuran hari jadi Kota Pekalongan. proklamasi kemerdekaan sampai dengan tahun 1983. Bab VIII Pendidikan dan Bab IX Obyek Wisata. yaitu Undang-undang nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 5 . potensi-potensi yang dimiliki. -an Komisi Meja Bundar) dan militer (Agresi Militer Belanda I dan II) bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan juga berpengaruh terhadap kondisi politik dan pemerintahan di Kota Pekalongan. Bab II Pekalongan Dulu dan Sekarang. yaitu: Bab I Asal Usul Nama Pekalongan. Bab VII Aneka Ragam Pekalongan. Renville. buku ini memberikan informasi yang cukup detail tentang otonomi daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bab V Pengawasan penylenggaraan urusan Pemerinah di daerah. Bab IV Peninggalan Sejarah Bab V Perkembangan Kebudayaan di Pekalongan. Bab III tentang Beberapa Hal di Pekalongan. buku ini cukup lengkap menyajikan catatan-catatan peristiwa di Pekalongan. jaman penjajahan Belanda sampai tahun 1983. Rum-Royen. Sebagai sebuah buku "penelusuran hari Jadi". Bab IX Pemerintah Lokal pada Jaman Hindia Belanda. Bab X Hal Peraturan Pemerintah di Daerah sejak 17 Agustus 1945 dalam bab ini menjelaskan perkembangan politik dan Pemerintahan Daerah Tingkat II yang tidak terpisahkan dari kondisi dan perkembangan politik nasional untuk menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Bab VI Perkembangan Kesenian Tradisional Pekalongan. Bab VII Pembagian Urusan Rumah Tangga sendiri dan Urusan Pemerintah Pusat.

Daerah-daerah otonom itu meliputi: 28 kabupaten. Daerah Jawa Tengah Referensi hari jadi Kota Pekalongan 6 . juga regentschaps ordontiantie untuk tingkat kabupaten. walikota) untuk membicarakan masalah anggaran belanja daerah dan masalah prasarana umum. Di dalam bab IX dijelaskan cukup lengkap diawali dengan tuntutan desentralisasi dan otonomi demi efisiensi birokrasi pemerintahan. Prinsip otonomi adalah pelimpahan sebagian kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah melalui pembentukan dewan-dewan daerah. Dalam undang-undang itu termuat urusanurusan rumah tangga daerah-daerah kabupaten. Pada intinya dewan adalah penasihat kepala daerah (residen. 137 berdasarkan Undang-undang Desentralisasi 1903. yang kemudian juga disusul dengan terbitnya Undang-undang No 16 dan 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kota Besar dan Kota Kecil. Dalam undang-undang itu telah tercantum sendi-sendi yang luas dalam mengatur pemerintahan daerah. Dalam undang-undang itu juga dijelaskan tentang urusan-urusan rumah tangga dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh pemerimah daerah . Desentralisasi merupakan salah satu aspek pelaksanaan Etische Politiek. semua urusan dari pusat hingga ke daerah ditangani gubernur jenderal di Batavia. 365). Pada tanggal 8 Agustus 1950 terbit Undang-undang No. Dengan adanya tiga undang-undang itu. Masalah desentralisasi juga diuraikan dalam buku Hukum Tata negara tentang Sistem Pemerintahan di Daerah. 78). Demikian pula pada masa pendudukan Jepang (1942). Bentuk admintstrasi pemerintahan waktu itu serta batas-batas wilayahnya juga tidak diterangkan. 13. status Kota Pekalongan sebagai sebuah Kota Praja di Provinsi Jateng secara juridis formal tidak tertulis. status Kota Pekalongan tidak dijelaskan. 329). yang hingga tahun 1900 demikian super sentralistik. 1950. Setelah Perang Dunia I desentralisasi ini diperluas melalui bestuurhervormingswet 1922 (Staatsblad 1922 No. Secara runtut dipaparkan desentralisasi. Pada masa kemerdekaan (1945). yaitu sebuah provincie melalui provincie ordonantie (Staatsblad 1924 No.Daerah. suatu kebijakan kolonial untuk memajukan rakyat bumiputera yang telah dieksploitasi sekian lama. kota-kota besar dan kotakota kecil. tentang pembentukan daerah-daerah kabupaten di Jawa Tengah. dan staatsgemeente ordonnantie untuk tingkat kota praja (Staatsblad 1926 No. Staatsblad 1903 No. di Jawa Tengah telah dapat dibentuk daerah-daerah otonom di kabupaten-kabupaten. 816) dengan membentuk daerah otonom yang lebih luas dari gewest. disusul dengan otonomi karesidenan (gewetst) dengan pembentukan dewan karesidenan di Jawa Tengah sejak 1907. 3 kota besar dan tiga kota kecil. Dimulai dengan otonomi kota (gemeente) dengan pembentukan dewan kota (gumeente raad) di Jawa Tengah sejak 1906. sejak munculnya Decentralisatie Besluit (Staatsblad 1905 No.

arsip-arsip tentang sistem administrasi dan birokrasi pemerintah militer Jepang. E. serta Kantor Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Baru menjelang bergabungnya kembali semua daerah-daerah "federal" (yang dikuasai Belanda) dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950.pernah terpecah menjadi dua daerah kekuasaan.Menurut Louis Gonsehalk hal 46 yang telah diterjemahkan oleh Nugroho Notosutanto adalah seperangkat prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan sumber (heuristik). Referensi hari jadi Kota Pekalongan 7 . lembaran negara. dan merekonstruksinya menjadi cerita sejarah (historiografi). yang meliputi seluruh wilayah Jawa Tengah seperti saat ini. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali memiliki wilayah yang utuh. Kantor Perpustakaan Wilayah Daerah lstimewa Yogyakarta. Buku ini memberikan uraian yang cukup detail tentang pertumbuhan pemerintahan daerah di negara Republik Indonesia dan sangat bermanfaat untuk penelusuri hari jadi Kota Pekalongan. surat-surat resmi pemerintah dan Iain-lain. Selain itu juga dikumpulkan sumber-sumber sekunder yang berupa buku dan artikel yang relevan untuk penelusuran hari jadi Kota Pekalongan. menginterpretasi fakla-takta (sintesis). masa pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan yang meliputi: Staatsblaad. Badan Arsip. yaitu Kantor Perpustakaan Daerah Jawa Tengah dan Badan Arsip Daerah Jawa Tengah di Semarang. Oleh karena membahas tentang penelusuran hari jadi dan terkait dengan perubahan pemerintah daerah. Studi dokumen ini difokuskan pada arsip-arsip tentang Kota Pekalongan pada masa kolonial Belanda. yaitu daerah kekuasaan Republik Indonesia dan daerah kekuasaan Belanda (daerah "federal") di bawah RECOMBA sejak tahun 1948-1950. Kan Po. Penelitian dilakukan di instansi-instansi yang berkompeten melakukan kegiatan penyimpanan dan pendokumentasian sumber-sumber sejarah. melakukan penilaian (kritik). Data Elektronik dan Perpustakaan Kota Pekalongan. Pada tahap pengumpulan sumber dilakukan penelitian terhadap dokumen-dokumen sejarah yang relevan untuk penyusunan hari jadi Kota Pekalongan. sudah barang tentu buku ini tidak akan terhindar dari pembahasan tentang. produk-produk perundangan yang dikeluarkan sejak pemerintah kolonial Belanda sampai dengan pemerintah Republik Indonesia. Dalam hal ini pemerintah kolonial Belanda telah meletakkan dasar-dasar pembentukan pemerintah daerah dengan diterbitkannya undang-undang desentralisasi di Hindia Belanda. Metode Penelitian Penelitian berjudul Penelusuran hari Jadi Kota Pekalongan ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah.

utuh dan komunikatif dalam suatu proses yang disebut sintesis. tetapi juga berdasarkan pertanyaan "bagaimana". Jawaban terhadap pertanyaan "bagaimana” merupakan rekonstruksi yang menjadikan semua unsur itu terkait dalam suatu deskripsi yang disebut sejarah. "di mana" dan "kapan". Jawaban terhadap pertanyaan "mengapa" dan "apa jadinya" akan menerangkan hubungan kausalitas. yang meliputi unsur pemerintah Kota Pekalongan. para akademisi. Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo: 1985. tokoh masyarakat dan Iain-lain untuk mendapatkan masukan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihannya. Dari seminar itu diharapkan akan diperoleh kesatuan pendapat tentang hari jadi Kota Pekalongan yang kemudian akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekalongan. Untuk mencapai hasil penulisan sejarah yang demikian diperlukan suatu penelitian yang tidak saja berangkat dan pertanyaan pokok tentang "apa". selanjutnya hasil seluruh kegiatan di atas dituangkan dalam bentuk tulisan sejarah.. 14). "mengapa". Referensi hari jadi Kota Pekalongan 8 . dan "apa jadinya". Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok adalah fakta sejarah serta unsur-unsur yang turut membentuk peristiwa di tempat dan waktu tertentu.Untuk mendapatkan fakta yang kredibel dilakukan kritik sumber yang terdiri atas kritik interen dan kritik eksteren. Sebelum menentukan hari jadi Kota Pekalongan secara definitif dilakukan seminar dengan melibatkan berbagai pihak. Dalam tulisan itu juga disampaikan beberapa altematif tentang hari jadi Kota Pekalongan dengan berbagai pertimbangannya. kemudian dilanjutkan dengan penyusunan fakta-fakta yang masih fragmentaris menjadi suatu uraian yang sistematis. "siapa".

karena kekuatan goibnya luar biasa kemudian Dewi Lanjar bertekuk lutut dan akhirnya Dewi Lanjar dipersunting Joko Bau. Nama Pekalongan berasal dari nama TOPO NGALONG-nya Joko Bau (Bau Rekso) putra Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai pahlawan daerah Pekalongan yang kemudian menjadi pahlawan kerajaan Mataram. Di dalam tapanya Joko Bau tersebut tak ada satupun yang bisa menggugahnya termasuk Raden Nganten Dewi Lanjar (Ratu Segoro Lor) dan prajurit silumannya. Wiradesa. Di dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan bahwa Joko Bau bertapa di Alas Gambiran (kemudian menjadi gambaran terletak didepan PLN Pekalongan). apabila kita teliti secara mendalam jalannya ceritannya sebenarnya berisikan suatu sandi yang didalamnya terkandung mutiara-mutiara. Pekalongan Dalam Legenda Asal usul “NAMA PEKALONGAN” sampai kini belum jelas prasasti ataupun data-data yang bisa dipertanggung-jawabkan. Dari asal topo ngalong inilah kemudian timbul nama Pekalongan dan pada waktu topo ngalong ini jamannya Sultan Agung. namun demikian cerita rakyat/legenda tentang ini sudah meluas dan satu sama lainnya berbeda. Topo Ngalong. Adapun nama Pekalongan adalah sebagai berikut : 1. yang konon ceritanya berasal dari Kesesi Kabupaten Pekalongan. Ulujami. hal tersebut disebabkan karena macam-macam aliran. semuanya saling berbeda dan tanpa didukung fakta serta dibuat-buat menurut versi penceritanya. Apabila kita teliti dan pelajari lebih dalam apa yang terdapat dalam legenda nama Pekalongan yang sekarang masih hidup dikalangan masyarakat. kemudian Tan Kwie Djan dan Joko Bau sowan ke Mataram untuk menerima tugas lebih lanjut. Comal. latar belakang kebudayaan dan agama.PEMERINTAH PEKALONGAN PADA MASA PRA KOLONIAL A. maka timbulnya nama Pekalongan menurut versi ini seputar abad XVII dan dalam sejarah Bau Rekso dinyatakan gugur pada tanggal 21 September 1628 di Batavia dalam peperangan melawan VOC. Alon-alon Pekalongan dan Slamaran. Topo ngalongnya Joko Bau ada yang mempercayai tempatnya berbeda-beda antara lain di Kesesi. Satu-satunya yang bisa menggugah topo ngalongnya Joko Bau adalah TAN KWIE DJAN yang mendapat tugas dari Mataram. BAB II Referensi hari jadi Kota Pekalongan 9 .

diantaranya mengisahkan “tatkala Joko Bau putra Kyai Cempaluk berhasil memenggal kepala JP Coon (VOC) kepala tersebut dibawanya pulang untuk disowankan kepada Sultan Agung dan dalam perjalanan direbut oleh Mandurarejo. terutama di Kesesi tempat kelahiran Joko Bau putra Kyai Cempaluk. Dalam versi yang sama. maka timbulnya nama Pekalongan menurut versi ini seputar abad VI s/d VII. sekelompok. Kata kalang yang berarti hilir mudik. lakonnya diambilkan dari hasil karya R. Kata kalang bisa berarti gelanggang. karena Kerajaan Kalingga itu dikenal pada abad VI-VII. di tempat tersebut dulunya ada pohon slumpring dan banyak kelelawarnya begitu juga di Kelurahan Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan terdapat banyak pohon randu gembyang dan banyak dihuni kelelawarnya dan dijadikan pedoman bahwa daerah yang banyak dihuni kelelawar adalah daerah pantai.2. Didalam salah satu cerita rakyat daerah Pekalongan ada hutan/semaksemak yang banyak setan/siluman dan tempat tersebut sangat ditakuti Referensi hari jadi Kota Pekalongan 10 . Nama pekalongan tersebut dikenal seputar abad ke XVII (jamannya Bau Rekso). 3. karena di Pekalongan dulunya banyak binatang kelelawar/kalong. Dari Kalingga inilah kemudian dihubungkan dengan kata Kaling. yakni dikisahkan di sepanjang kali Pekalongan (Kergon). akhirnya tidak punya bukti maka Joko Bau bertapa kembali di daerah selatan Pekalongan. Keling. Kata kalang berarti nama sejenis ijan laut (Cakalang). tempatnya lain. 5. KALINGGA. Sebagian masyarakat Pekalongan beranggapan bahwa letak Kerajaan Kalingga konon adalah di desa Linggoasri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Dalam lakon Ketoprak yang pernah dipagelarkan di Pekalongan oleh Siswo Budoyo. Kalang Kata Pekalongan berasal dari kata kalang dan kata kalang tersebut ada beberapa pengertian yaitu: Asal kata dari kalingga dan berubah jadi kata keling kemudian kalang. Dari banyaknya kelelawar (kalong) tersebut kemudian menjadi nama Pekalongan. Kalang berarti juga diasingkan ke…(di selong). Kalong ( Kelelawar) Pekalongan berasal dari kata Kalong (Kelelawar). 4.Soedibyo Soerjohadilogo. Kalang dan akhirnya menjadi Kalong. Akhirnya dari kata Kalong tersebut kemudian timbulnya nama Pekalongan. Dari kata Legok Kalong inilah kemudian timbul nama Pekalongan di desa “Legok Kalong” dari nama desa itu kemudian menjadi Pekalongan. LEGOK KALONG.

Kemudian kata Pek-Along artinya mencari ikan di laut dapat hasil. asal kata pek dan along. asal kata pek dan kalong. kemudian tempat tersebut dipergunakan untuk pembuangan sebagai hukuman bagi orang–orang yang membangkang atau membahayakan pada kerajaan Mataram. akan tetapi Jaka Bau jatuh cinta pada puri tesebut. yang sejak jaman Majapahit nama Pekalongan sudah ada di daerah itu dan orang-orang di tempat tersebut banyak yang pindah ke lain tempat (transmigrasi) dan kemudian nama Pekalongan digunakan unutk nama sebuah kecamatan di kota Netro Lampung. 8. Kata Pekalongan. Adapun kata kalong bisa berarti pula sejenis satwa kelelawar besar yang secara simbolis diartikan sebagai kelompok rakyat kecil atau golongan orang tertentu yang suka keluar (untuk bekerja) dari rumah pada malam hari (nelayan). Masyarakat sendiri kata Pekalongan dikromokan menjadi Pekalongan PENGANGSALAN (angsal = dapat). Joko Bau Mendapat tugas untuk memboyong putri Ratansari dari kalisalak Batang ke istana. Dari Pek Halong kemudian menjadi A-PEK-HALONG-AN=Pekalongan. diduga berkaitan dengan bahasa nelayan lokal.oleh siapapun. Sementara kata pek atau amek. Kemudian dijadikan lambang Kota Pekalongan yang telah ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Besar Pekalongan tertanggal 29 Januari 1957 dan diperkuat dengan Tambahan Lembaran Daerah Swatantra Tingkat 1 Jawa Tengah tanggal 15 Desember 1958 seri B Nomer 11 kemudian disahkan oleh Mentri Dalam Negeri dengan Keputusanya Nomer: Des. Asal Daerah Semula Nama Pekalongan semula dari daerah Wonocolo Kota Surabaya Jawa Timur. kelahiran desa yang kemudian menjadi Kota Pekalongan berkait erat dengan kisah tokoh Joko Bau yang berasal dari desa Kesesi yang disuruh oleh pamannya Ki Cempaluk untuk mengabdi kepada sultan agung raja Mataram. Nomer : KPTSPPD/00351/11/1958 tanggal 18 November 1958. seperti yang tercermin dalam ungkapan kata amek iwak (menangkap ikan). yaitu babat Pekalongan. Dari kata kalang tersebut kemudian menjadi Pekalongan. 9. 7. Menurut sumber lokal. dan dalam bentuk pasif kalong yang berarti berkurang. apek) sedang kata along yang artinya halong dalam bahasa sehari-hari nelayan yang berarti dapat banyak. luru (mencari. Kata kalong dalam bahasa Jawa dianggap berasal dari kata dasar elong artinya mengurangi. 6./9/52/20 tanggal 4 Desember 1958 serta mendapatkan persetujuan Pengusaha Perang Daerah Tertorium 4 dengan surat Keputusannya. Kata pek artinya teratas. Sebagai Referensi hari jadi Kota Pekalongan 11 . pak de (si wo). Kata Pekalongan.

artinya banyak atau berlimpah-limpah. lancar. Kendati tidak singgah di Pekalongan namun dalam penuturan perjalanannya di empat daerah ini Sang Bujangga tidak lupa menyebut nama Pekalongan. Di dalam buku tersebut ditulis nama ”Pekalongan” berasal dari perkataan “along”. Dengan demikian sesuai dengan motto yang tertulis dibawah perisai lambang Kota Praja Pekalongan (jaman doeloe) berarti : “pek” (pa)-along–an” yakni tempat ditepi pantai untuk menangkap ikan dengan lancar dengan menggunakan pukat tarik (jala). Nur Rochmad di Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan kepada basuki Sunaryo. Penyebutan nama Pekalongan dalam Referensi hari jadi Kota Pekalongan 12 . setelah itu Joko bau bergant nama menjadi bau Rekso dan mendapat perintah dari Sultan agung untuk mempersiapkan pasukan dan membuat parahu untuk membentuk armada yang kemudian melaksanakan serangan terhadap kompeni yang ada di Batavia ( 1628 dan 1629). Dari asal kerajaan bernama “Pou-Kia-Loung” kemudian menjadi kata Pekalongan dan menurut naskah kuno Sunda dari akhir abad ke 16. Lambang Kota Praja Pekalongan tempo doeloe yang disahkan pemerintah Hindia Belanda dengan “Keputusan Pemerintah“ (Gouvernements Besluit) Tahun 1931 Nomer 40 dan menurut keterangan Dirk Ruhl Jr dalam bukunya “Nederland Indische Ceschiedenis Legende En Besluitan tahun 1934). Tempo doeloe dengan Lambang Kota Pekalongan Produk 1957 yang dipakai sampai sekarang ). Batang. Setelah mengalami kegagalan Bau Rekso memutuskan untuk kembali dan bertopo ngalong (bergelantung seperti kelelawar) di hutan gambiran. Pekalongan berasal dari istilah para santri kalong karena tidak bermukim di pesantren di bawah asuhan R.hukumannya Jaka Bau diperintah untuk mengamankan daerah pesisir yang terus diserang oleh bajak laut cina. Santri Kalong Menurut Kyai Raden Masrur Hasan. Dari tempat dan cara bertapa di hutan Gambian itulah kata Pekalongan kemudian lahir. keturunan Sunan Sendang yaitu R. 10. diantaranya beberapa tempat di kawasan Brebes. Ia kemudian bersemedi di hutan gambiran. Di dalam naskah tersebut menceritakakan perjalanan “Bujangga Manik” orang pertama terpelajar dari Sunda. dan Pekalongan. dari istilah santri kalong kemmudian menjadi kata Pekalongan. 11. Joko Cilik yang kemudian disebut mbah Mesjid an pangeran Cilik/Alit serta pangeran cilik adalah buyut Sunan Sendang. beruntung. Pemalang. berkaitan dengan penangkapan ikan (hasil laut) dengan menggunakan pukat tarik. (Bandingkan Lambang Kota Praja Pekalongan. mengunjungi beberapa daerah di Pulau Jawa. 12. koleksi perpustakaan “Bodlain” di Inggris.

Nama Kota Pekalongan ternyata juga disebut dalam sumber sejarah kuno asal Tiongkok pada dinasti Ming. dan disebelah Utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa Referensi hari jadi Kota Pekalongan 13 . semut dan serangga. mereka berpandangan sebagai kera dan berjalan dengan kaki telanjang. Salah satu kerajaan mereka dinamakan “Pou-Kia-Loung”. disebelah Barat dengan kerajaan “San-Foutsi” (Sriwijaya). Pendapat Prof. Schlerel” dalam bukunya berjudul “Iets Omt ent De Betrikkinoen Der Chinezen Met Java. mereka ini juga sopan santun dan bersih. namun karena keterangan lokasi Pou-Kia-Loung benarbenar dapat mendorong kita sampai kesimpulan bahwa`negeri ini memang identik dengan Pekalongan. Kedua para pedagang dari negeri-negeri lain yang telah lama menetap. bertempat tinggal untuk sementara waktu. pakaian dan makanan mereka bersih dan sehat. Akhirnya yang ketiga adalah penduduk pribumi. D.naskah Bujangga Manik tersebut dapat dipandang penyebutan nama Pekalongan paling tua dalam naskah pribumi. 13. disebelah Selatan dengan kerajaan Ta-Chi (letak kerajaan atau persamaan kerajaan ini belum ada datanya). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh”WP Grosnevldt” dalam uraiannya kesarjanaanya yang terkenal “Histerical Notes On Indonesia And Malaya Compilet from Chinese Souroes” termuat dalam “Verhandeking Van Het Bataviaasch Genootschop Van Kunsten on Wetenschappen” jilid 39 Tahun 1880.Siouenteh” (tahun masehi 1433) orang Jawa telah datang mempersembahkan upeti dan memberikan sebuah keterangan pertama jaman “Youen-Khang dari masa pemerintahan Kaisar Siouen-ti” dari dinasti Han. 13. bukan saja karena Pou-Kia-loung sangat mirip bunyinya dengan Pekalongan. Perwujutannya gelap kehitamhitaman. Jika ayah atau ibu mereka meninggal dibawa kehutan belantara dan kemudian dibakar. sedangkan negeri mereka ini ada tiga jenis penduduk. Scheleoul dan Groaneveldt sangat layak diterima. Disebelah Timur berbatasan dengan “Negri Raja Wanita” pada jaman dulu. orang-orang Tionghoa. Pertama. voornDe Komst Der Europennen Aldo “ termuat dalam majalah “Tijdsct-ift voor Indische Taal Land-En Volkenkumdell. Menurut Naskah Tiongkok Yi Tiung Achi Menurut naskah kuno Tiongkok “Yitoung techi” (Geografi Akbar) yang juga dari masa dinasti ”Ming” keterangan lokasi Pou-Kia-Loung” dalam naskah disebutkan ihwal perbatasan negri Jawa. Suatu yang aneh adalah. jilid XX Tahun 1873. yang yang dituturkan sangat kotor dan makan ular. Sumber ini menuturkan bahwa`pada tahun ke tujuh masa pemerintahan “Kaisar. Menurut “Prof. Disamping itu ada orang yang menyebutnya Hie Kiang atau Choun-Ta. yang dimaksud kerajaan “Pou-Kia-Loung“ dalam sumber sejarah dinasti “Ming” tersebut adalah Pekalongan.G.

suci. Perjalanan Hayam Wuruk Nama Pekalongan pada jaman Majapahit sebenarnya sudah ada. sopan. Tahun Saka : Api memanah hari (tahun 1253) itu hilangnya arca waktu hilangnya halilintar Menjamar tjandi kedalam benarlah pendapat besar bebas dari wasangka bagaimana membangun kembali tjandi. Siapa yang disebut raja wanita dalam naskah dimaksud. Dengan demikian nama Pekalongan sudah dulu ada bukan nama Pekalongan dari Pou-Kia-Loung namun sebaliknya. chidmat berbakti sembah. putus tapa. lama terbengkelai? Referensi hari jadi Kota Pekalongan 14 . penganut Budha. dahulu diatas sepulangja dan kembali ditjadi akan berbakti. Demikian juga halnya dikatakan di sebelah Barat Negri Pou-KiaLoung berbatasan dengan kerajaan San-Fou-Tsi (Sriwijaya) di Palembang dan lokasi kerajaan Sriwijaya terletak disebelah Barat Pekalongan sedangkan lokasi kerajaan Tsiam Po(Campa) sudah jelas di sebelah Utara Pekalongan. Pendeta pilihan menerangkan sejarah makam tjandi tentang adanya artja Aksabya.(CAMPA). dengan demikian nama Pekalongan telah lama keberadaanya telah lama dikenal. Dr. hal ini dibuktikan dalam buku Negarakertagana Karya Empu Prapanca yang telah diterjemahkan oleh Prof. di dalam halaman 48-49 menyebutkan bahwa : Konon kabarnya tepat ketika Artja Hyang aksabya hilang. pendeta sungguh muritnya banjak tak ternilai. Selanjutnya negri Jawa ini pada awalnya adalah kerajaan “Cepo” yang orang kemudian menyebutnya Pou-Kia-Loung”. 14. Senang berjiarah ke sendang sutji. Timbul ini dalam hati pengawat tjandi jang bertanya. telah terbukti mahapendeta.Indah. Sopan : bagaimanakah mungkin berbakti kepada artja Syiwa. Ada pada Maharaja guru besar mashur pada paduka. dengan penemuan ataupun naskah tsb. bermalam dalam tjandi. Ketjewa. yakni dikawasan Vietnam dan Kamboja. tertjenggang melihat hyang artja sutji hilang musna. Slamet Mulyana Tahun 1953. Berarti nama Pekalongan dan Jawa LAHIR bersamaan. nama Pekalongan diucapkan dengan aksen Cina Pou-Kia Loung. Hormat mendekati hyang artja sudji. merupakan kerajaan “Kalingga” dengan demikian benar apa bila dikatakan Pou-Kia-Loung disebelah Timur berbatasan dengan negri raja wanita pada jaman dulu. tiada lain adalah ”RATU SIMA” yang sangat bijaksana kemashuranya terurai dalam sumber sejarah Tiongkok “sejarah baru dinasti tahun (618-906)” jilid 222 bagian ke 2 adapun lokasinya daerah “Keling” Jepara Jawa Tengah. oleh karena daerah Jepara memang terletak disebelah Timur Pekalongan.

Kendati demikian Hakeman juga tidak lupa memberikan sebuah catatan adanya pendapat lain. Dalam artikelnya “Javaansche Jeoorapche namen aisapeoel De omoaving On denkkwijze van het voik” dalam majalah “De Indische Gids” (1931) C. Menurut ceritanya ini “Pekalongan” berasal dari perkataan Jawa “pak”yang berarti amek iwak dan perkataan long atau along yang berarti”berkurang”. Hasil menangkap ikan mereka berlimpah seperti semula. Konon kabarnya waktu para nelayan yang bertempat tinggal di daerah Pekalongan melihat ikan-ikan banyak berkurang (Kalong).Lekkerkerker juga menuturkan sebuah dongeng yang hampir sama. Sementara Baginda girang tjengram mentjari pemandangan bagai bulu dada pakis. Menurut Sumber Kesusasteraan Menurut dalam buku “Kesoesasteraan Jawi jilid 1” penerbit Kementrian Pengajaran dan Kebudayaan di Jakarta Tahun 1946 dijumpai ceritera menarik mengenai asal muasal nama Pekalongan. Pendapat yang sama juga dikemukakan penulis Belanda terkenal yaitu J. mekala beserta rumahnya serta permai didalamnya bagai hiasan naga puspa sedang berbunga sisinya berlukis putri istana yang tersinarkan hidup. Penyusutan ikan ini ternyata kaitanya dengan penyebutan perkataan “ikan” yang sebenarnya sangat pantang mereka ucapkan. dalam bukunya “HondleidingTot De Kanis Der Geschiedenis Aerdrijkskunda. mereka kemudian menamai tempat kediaman “Pekalongan“ berasal dari perkataan “Kalong”yang dulu sering mereka ucapkan. Dalam bait-bait ini jelas nama Pekalongan pada jaman Majapahit sudah ada. yang menganggap nama ”Pekalongan“ berasal dari perkataan “PEPEK KALONG” artinya ”pengurangan pajak”.Haaoeman Jes. Fabellear En Tijrekankunda Van Java jilid 11 yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1852. ikan-ikanpun berdatangan kembali. 15. Menurut ceritera ini daerah pesisir Utara tanah Jawa di sebelah Barat kota Batang terdapat sebuah tempat untuk mencari ikan yang sangat ramai dan ikan yang berhasil ditangkap selalu banyak jumlahnya dalam lama kelamaan tempat mencari ikan tersebut diberi nama “Pekalongan’ hinga sekarang ini. Namun kemudian dalam artikel Lekkerkerker. telah menyanggah semua keterangan etimologis mengenai asal-muasal nama Pekalongan dan menurut pendapatnya “Pekalongan” justru dari perkataan “Kalong” (kelelawar). yang menurut Referensi hari jadi Kota Pekalongan 15 . berserak-serakan ditengah tebat ke timur arahnya di bawah terik matahari beliau dari tjandi ke PEKALONGAN. Setelah mereka tidak lagi mengucapkan perkataan ini.Tiada ternilai indahnya sungguh seperti surga turun Gapura luar.

bahwa antara kerajaan dan pelabuhan yang ada di pesisir barat daya Laut Jawa jauh dari pusat kerajaan. Pantai Purba/Kuno Pekalongan Masa Abad 7 terdiri dari : 1. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 732 M. Celong berasal dari kata “Cela atai Syaila” (gunung) dimana tempat tersebut disamping berada di Pegunungan juga tempat Syailendra mendarat pertama kali untuk menduduki Jawa. Orang membawa barang dari Pu’-Choa-Lung yang jaraknya jauh di sebelah barat daya kerajaan. Keterangan yang ditulis kedua sumber tersebut. yang pada masa abad 7 dijadikan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 16 . Daro (Doro) disebut pelabuhan di lembah. kaya akan padi dan emas serta aman. De Gebruiland “. Pelabuhan yang memiliki fungsi sebagai tempat transit dan pelabuhan niaga adalah: a. Pelabuhan Bandar Batang d. Tempat berlabuh kapal yang letaknya di lembah (cekungan bukit) 2. Het Bestuur. c. Kedua Geolog tersebut telah menunjukkan bahwa Jawa Utara garis pantai purba merupakan kelurusan dari Sesar atau Patahan. Je Van Der Wijk seorang pensiunan Kepala Sekolah di Negeri Belanda. Pelabuhan Doro di Pekalongan yang merupakan pelabuhan niaga Menurut sumber Cina yaitu Wai-Tai-ta yang menuliskan bahwa Che Po pulaunya makmur. Prasasti itu menjelaskan tentang Ratu Sanjaya – Puti Raja Sanna yang bijak dan memakmurkan Mandala Pulau Jawa. Dari catatan Cina tentang Jawa. penerbitan tahun1876. Sutoto. Dapat dikatakan Pu’-Choa-Lung terletak di pesisir utara Jawa sebelah barat. Pelabuhan Celong yang terletak di sebelah timur Batang b. keamanan terjaga dengan tidak akan kehilangan meskipun pintu rumahnya dibuka baik siang maupun malam. Yang menggantikan Prabu Sanna. dalam bukunya “Java Beschrijving Van De Aar drijkskundioe Geeteldheit. Kedua Geolog tersebut telah memberikan gambaran dengan jelas tentang posisi garis pantai Jawa Kuno sebelah utara sejak dari Semarang – Tegal.keterangan ada sebelum tahun 1600. Dalam sejarah perdagangan Asia (Groundveld). SU dan Bernellen dari sudut pandang Geologi. Kita mengambil perbandingan dengan sumber prasasti. bahkan sekaligus memberikan penjelasan kepada para pembaca bagaimana perwujudan “sang kalong” B. Raja Sanjaya membangun candi di Gunung. Canggal terletak si sebelah utara Pegunungan Merbabu. yaitu Prasasti Canggal. juga mengemukakan pendapat yang sama. Pekalongan Masa Kerajaan Hindu Budha Penelitian yang pernah dilakukan oleh Ir. setelah sementara singgasana diduduki kakak perempuan Sanjaya. Namun sementara orang Belanda pendapat ini sangat tidak berdasar.

Jawa kuno dan Sansekerta. Di Pekalongan ada nama “Doro” (daro) menurut Geomorfologi. Pada masa abad ke VII. Mengikuti hasil penelitian geologi. masyarakat Pekalongan tinggal di sepanjang pantai kuno di gunung-gunung. sehingga pada ekspedisi dari penguasa Cina dan India serta Melayu dengan bebas dapat melakukan hubungan dagang maupun kebudayaan (Setyawati Sulaiman Studi Ekonografi masa Syalendra di Jawa dan Sumatra). Melihat sejarah pertumbuhan geografi yang mengikuti perkembangan niaga Pekalongan yang tumbuh sejak dekade abad ke VII sebenarnya sudah memiliki suatu pola/sistem pranata sosial yang teratur dibawah struktur pemerintahan kerajaan. Doro pada masa klasik Hindu Jawa 700 tahun yang lalu terletak di pantai purba – di sebelah barat daya. telah meramaikan laut jawa. Sebagian dari mereka adalah para migran yang kedatangannya diperkirakan bersamaan dengan masa Wangsa Syailendra mulai menduduki Jawa. Batang adalah satusatunya prasasti Syailendra yang menyatakan identitas tentang diri dan keluarganya. seperti yang digambarkan pada relief di Candi Borobudur. uraian seminar hari jadi Kota Pekalongan 27 Juni 2006).bandar pelabuhan niaga yang disinggahi oleh kapal-kapal bermuatan 200300 ton. sebagian lagi adalah waris dari masa Syailendra. jika demikian Pu’-Choa-Lung atau Pekalongan tersetak disekitar Doro (DR. Sementara Wonopringgo masih berupa Wanua sebagai pusat permukiman dan pemerintahan. gelar “Pu’ adalah gelar jabatan pada Kerajaan Melayu Sriwijaya. Dia adalah keturunan Pu’ Manuku. Kehidupan permukiman telah mengikuti perkembangan sesuai dengan letak geografis yang terus menerus berubah. Oleh karena itu tidak heran kalau pada masa Syailendra nama-nama desa dan nama-nama pangkat jabatan menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Melayu Kuno. Prasasti Sojomerto yang berada di Limpung. Pada masa itu. Tiga bahasa tersebut sering dipakai menurut fungsinya. Dan prasasti Sojomerto ditulis dengan huruf Palawa berbahasa Melayu Kuno. yang disebut sebagai Pekalongan Purba dan Pekalongan pada masa abad ke XIV yang disebut Pekalongan baru (atau Pekalongan Panti). Dengan kedalaman pantai yang cukup buat bersandar bagi kapal-kapal untuk berlabuh. pengembangan geografi Pekalongan telah menempati dua masa sebagai suatu daerah ibu kota. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 17 . utara Jawa. telah menjadi pelabuhan. Kusnin Asa. Kedungwuni dan Gringsing (di Batang). yakni masa Pekalongan pada abad Neolitik hingga masa klasik abad ketujuh. Kapal-Kapal Jung dan perahu Cadik. Sebelum terjadi sedimentasi pantai membentuk alluvial Kota Pantai Pekalongan. Pekalongan yang sekarang masih merupakan laut yang dalamnya sekitar 100 – 150 m dimana paad 1300 tahun yang lalu pantai Pekalongan purba berada didaerah yang bernama Da-ra (Doro) dan Kedungwuni. kehidupan Budaya Nusantara Hindu Jawa Tengah berlangsung. di Pekalongan telah tumbuh memasuki masa klasik.

misalnya Daro yang berubah menjadi Doro adalah bahasa Sansekerta berarti lembah atau juga pelabuhan. yang mana dalam hierarki jenjang wilayah ditentukan oleh tingkatan Mandala. Nama Petungkriyono tidak berkembang menjadi kota atau bisa dikatakan kota. dalam bukunya “The History Of Java “.NJ Krom dan RWM Verbeek dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst pada tahun 1914 dan terakhir. Demikian juga pada nama-nama desa seperti Wonopringgo. Pola desa (Wanua) Sima dan kota mengikuti pola Mandala. Mengingat bahasa Jawa Kuno sampai sekarang nama-nama Desa atau Wanua tidak mengalami perubahan. Dan pada masa Pekalongan kuno. ”Thomas Stafo Raffles . Petungkriyono dari bahasa melayu yang berarti “bambu”. Hasilnya. kriyono berasal dari kata Karayan yang berubah menjadi Rak’yan. Meskipun ditempat itu dilengkapi dengan sarana-sarana ekonomi seperti pusat-pusat pelabuhan dan struktur sosial yang lengkap namun tidak dapat wilayah itu berkembang menjadi kota.telah di survei oleh sebuah “Tim Proyek Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan Nasional. Kota hanya dimiliki oleh Raja – yang disebut Raja Negeri (Ibukota Raja). Petungkriyono adalah sebuah wilayah Swatantra karena daerah itu memiliki sarana lengkap dipimpin oleh seorang Rakyan dan ada Candinya. akan tetapi Wono berasal kata “Wanua (desa)”. Seperti daerah lain di Jawa Tengah. Wonotunggal atau Wonoyoso. termuat dalam majalah “Berita Penelitian Arkeologi Nomer 9 tahun 1977. Kesatuankesatuan desa yang ada Candinya merupakan Sima. Wono disini bukan berarti “hutan (alas)”.16-an bisa ditandai dengan konsep-konsep Merchantilisme (Merkantilisme / pasar). Lima puluh satu tahun berikutnya “JFC Brumund” menyajikan sebuah uraian yang lebih luas dalam bukunya:”Bijd age tot de kennis van Java (1868)”. Desa-desa berdiri di dalam kesatuan-kesatuan kelompoknya. ini hanya berada di pusat Kerajaan. sejak 25 Oktober 1975 sampai dengan 20 November 1957. Keterangan tertua mengenai peninggalan kepurbakalaan di daerah Pekalongan sebenarnya berasal dari bekas Gubernur Jendral Inggris di Jawa. jilid II yang di terbitkan oleh London pada tahun 1817. Sebaliknya pada kota-kota yang dibangun dan tumbuh pada masa abad 14 .khususnya di Pekalongan juga banyak dijumpai peninggalan-peninggalan dari masa Hindu-Budha. ada kesatuan desa (sima) bahkan ada pelabuhannya di Doro.Dr.perician peningagalan kuno ini telah dibicarakan oleh Prof.dalam hal ini Raffles menyebutkan adanya penemuan sebuah “Jaladwara” (saluran air). Tipologi sebuah kota pada masa klasik di Jawa. Rakyan Betung (petung) memberikan indikasi bahwa Kepala Desa Sima Petungkriyono adalah Rakyan Betung. Peningalan kuno ini terdiri dari 12 buah perwujudan kecil dari Referensi hari jadi Kota Pekalongan 18 . kota hanya berada di Wantilan (Prambanan Sekarang) yang kedudukannya sebagai ibu-kota kerajaan. mengenai koleksi temuan di halaman karesidenan Pekalongan.

desa sawangan. Petungkriyono. mengenakan kain panjang. Penduduk setempat menyebutnya “Prawan Sunthi”.Tiga buah diantaranya berupa arca Ganesa dan sebuah lagi arca Durga. Masih di kecamatan Doro. yang menurut cerita tutur penduduk setempat konon merupakan “Kraton Miriloyo”. sedang sebuah serupa juga pernah terjumpai di Masjid Kunop Raga Selo. Disamping masih banyak terjumpai “Jaladwara” (saluran air) yang sudah sngat aus (rusak) dengan sebuah arca menggambarkan seorang perempuan memegang guci dan mulut saluran. Prakmen yang terakhir ini kemudian di bawa ke MUSEUM Nasional Jakarta. dari bahasa melayu yang berarti ”Bambu”. dua buah arca raksaksa yang disebut “Raja Buta”. Seperti di daerah kecamatan Doro (dara) terdapar sebuah arca Durga. adalah di dukuh Bandaraga. Kriyono dari asal kata “Karayan” yang berubah menjadi Rakyan”.batu. Yakni yang terletak di jalan dari Raga Selo ke Rokom. Dijumpai pula berbagai tempat dan terdiri dari berbagai bentuk. berdiri di atas sepanjang naga bertanduk. batu ini disebut masyarakat “Batu Linjing”. Dari keseluruhan arca ini dua buah diantaranya berupa arca Trimurtti. Menurut Prof. disebut tempat yang disebut Alas Kaum”. berasal dari daerah Dieng dan sebuah relief yang menggambarkan seorang laki-laki bertangan empat. Kecuali penianggalan araca ini dikawasan yang sama masih terdapat enam buah batu kali yang disebut “Batu Umpak” . semula masih terjumpai sejumlah arca kecil lainya. Kemudian di wilayah kecamatan Petungkriyono (yang menurut Kusnin Asa. Rakyan Betung (petung) memberikan indikasi bahwa kepala desa Sima Petung Referensi hari jadi Kota Pekalongan 19 . terdapat sebuah bukit kecil dengan batu-batu kali. Barang peninggalan lainya semasa jaman Hindu-Budha di daerah Pekalongan tsb. disamping semua arca ini. Masih ada lagi peninggalan sebuah peninggalan kuno yang tidak kurang menarik dari daerah kecamatan Doro dan telah disebutkan oleh Krom dan Verbeek dalam laporan kepurbakalaanya.sedang disebelah atasnya terdapat sebuah batu berhias berbentuk persegi empat dengan sebuah alat penumpuk.dan arca Brahma. Delapan buah diantaranya telah terkirim ke negri Belanda dan 14 arca kecil lainnya telah dikirim ke Musium Nasional di Jakarta.Dr NJ Krom dan RWM Ve Beek. Durja dan Mahadewa dan dua buah arca Ganesa. menurut Prof DNJ Krom dan RWM verbeek. sedangkan di kawasan “Suralaya”. terdapat sebuah arca yang disebut “Baran Sekeber”. Tangan kanan belakangnya memegang mangkok. Sebagian besar barang temuan ini berasal dari Dieng. Masyarakat menyebutnya “Panji”. Di kawasan gunung Raga Selo ini juga pernah dijumpai sebuah frakmen batu bertulis yang kemudian dibawa kePekalongan. menurut dugaan frakmen batu bertulis ini ada berasal dari tahun 1571.

Kriyono adalah Rakyan Betung). juga menyebutkan adanya penemuan “Naskah Lonta” di kawasan Lolong Karanganyar yang pada jaman penjajahan Belanda termasuk kawasan Distrik Doro. sekaligus pengajar para canriknya. Waktu kerajaan Sriwijaya sudah mundur di bidang ekonomi dan perdagangan. Penduduk menamakan “Batara Guru” dan memandangnya sebagai pengawal Sunan Bagus. Masyarakat setempat menyebutnya “Pesalatan Sunan Bagus” dari Cirebon. serta Kerajan Sriwijaya di Asia Tenggara. seni budaya yang ada kaitanya di jaman HinduBudha di Pekalongan. dan disebuah tempat keramat di pekuburan “Prendengan” (sekarang Sinongohprendeng Kajen) naskah-naskah ini telah dibawa Museum Nasional Jakarta. Dalam laporan kepurbakalaan Krom dan Verbeek selanjutnya. sebutan ini cukup menarik perhatian sejarahwan karena menurut keterangan Team Survei Proyek Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan . yang disebutnya “Mbok Ayu Mas” dan menganggapnya sebagai istri Bathara Guru. diantaranya disebabkan oleh kegiatan Kerajan Islam di bawah Banu Umayah di bagian Barat dan Kerajaan Cina Dinasti T’ang di Asia Timur. Perkembangan Pelayaran dan Perdagangan yang bersifat internasional antara Negeri Barat dan timur Asia. Disebelah arca ini masih terdapat sebuah arca lain. peradaban. dimana mereka itu berlayar menuju ke daerah pesisir lewat beberapa pelabuhan utara pulau Jawa. perwujudan nenek moyang penduduksetempat. Selat Malaka sudah mulai dilalui pedagangpedagang muslim. dimana terdapat “Candi Gedong” bangunan berupa setinggil terdiri dai lempengan-lempengan batu hitam tersusun bagaikan kotakdengan tutup diatasnya.juga terdapat susunan batu semacam dan disebut “Setinggil” di Cirebon. hal inilah menjadaikan lama kelamaan pengaruh Sriwijaya Referensi hari jadi Kota Pekalongan 20 . Di samping itu peninggalan nama desa. Kematan ini terdapat peninggalan lama di Dukuh Kembangan. C. adad istiadad. Lebih kurang dari 30 M dari “Candi Gedong” terdapat sebuah arca Ganesa. Desa Tlagapakis. Berdasarkan “Berita Cina“ dari jaman Dinasti T’ang pada abad tersebut. sudah ada orang muslim yang berada di Kanton maupun Sumatera dan sebagian kecil pantai utara pulau Jawa. Pekalongan Masa Kerajaan Islam Ketika kerajaan Sriwijaya sedang mengembangkan kekuasaannya yakni seputar abad 7 dan 8.

mempercepat bentuk kekuasaan politik seperti munculnya Kerajaan DEMAK BINTORO di Jawa. Pengaruh Islam di Jawa sendiri menurut peninggalan lama di Leran Gresik Jawa Timur menunjukkan tahun 475 H atau 1082 M. Kudus dan pati telah berkembang menjadi daerah penting. Berita Cina lainnya yakni Ma Huan (beragama Islam) pada tahun 1416 mengunjungi Gresik dan sudah banyak di daerah ini pengaruh dan pengikut Muslim dan sudah ada masjid yang lebih dari satu. Wlayah pantai Pekalongan berkembang setelah daerah pedalaman Pekalongan yang terletak di Referensi hari jadi Kota Pekalongan 21 . Kemunduran Sriwijaya kecuai politik Singosari dan Majapahit serta perkembangan Islam.pada sekelilingnya mulai pudar. Kemudian mereka inipun mendukung bagi daerah yang muncul corak Islamnya. Menurut “Berita Marco Polo“ yang singgah di daerah Perlak (Kerajaan Islam seperiode dengan Samodera Pasai) tahun 1292. juga karena ekspansi Cina pada masa Khu Bie Lai Khan (abad 13) dan masa dinasti Ming (abad 14 – 15) ke daerah Asia Tenggara dan seputarnya. Kesempatan itupun oleh pedagang Muslim digunakan untuk memperoleh keuntungan dagang dan politik lewat mubaligh-mubalighnya. Sementara di daerah lain seperti Demak. sebermula memang tidak dirasakan akibatnya terutama dalam bidang politik. Kemunduran tersebut juga karena usaha Singosari dari Jawa Tengah yang mengadakan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Pertumbuhan masyarakat Muslim di sekitar Majapahit terutama daerah pesisiran erat sekali hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang muslim di pesisir utara Pulau Jawa termasuk PEKALONGAN. namun ini bukan berarti telah adanya Islamisasi di Pulau Jawa. Soalnya kedua belah pihak waktu itu khusus mementingkan usaha untuk memperoleh keuntungan dagang saja. sejak itulah kerajaan corak Islam di Indonesia sudah mulai awal perkembangganya. Sampai abad ke 16 wilayah pantai Pekalongan dan sekitarnya merupakan daerah tang jarang dihuni penduduk dan masih tertutup hutan belantara. Menurut “Berita Cina“ Chou Fei jelaskan bahwa hal itu dimaksudkan untuk menguasai kunci pelayaran dan perdagangan yang sebelumnya dikuasai oleh Sriwijawa. hal ini dibuktikan dengan diketemukannya batu nisan makam FATIMAH binti MAIMUN. Jepara. seperti di daerah Samodera Pasai (daerah Aceh). dimana merupakan munculnya Kerajaan corak Islam pertama di Indonesia. Sejak kelemahan-kelemahan yang dialami pusat Kerajaan Majapahit.

dan yang di Kota adalah Masjid Koeno SAPURO.292).daerah perbukitan tumbuh menjadi pedesaan yang makmur. Tipologi kota yang tumbuh di pesisir utara semuanya dipengaruhi oleh pola-pola Islam di Timur Tengah yang berkembang pada zamannya. dan di Pekalongan sendiri telah bermunculan masjid-masjid di berbagai pelosok di waktu itu. Seperti halnya Bau Rekso. makam Habib Ahmad. Tumenggung Wirjo Adinegoro Tahun 1852 M.2). Pemalang. kegiatan ekonomi dan hukum. Ini menandakan bahwa jauh sebelumnya pengaruh Islam sudah meluas di daerah Pekalongan sendiri dan ada kemungkinan seperiode dengan munculnya Demak Bintoro. Jayaningrat II (1726-1743). Menurut Nagtegal dalam buku Riding the Dutch Tiger menyebutkan bahwa secara berturut-turut Bupati Pekalongan di jabat oleh keluarga besar Jayaningrat. menyebutkan bahwa daerah Pekalongan pada masa itu telah di perintah oleh “Pangeran Mandurajo dan pada 1623 di gantikan oleh Upasanta‘ (De Jonghe. dimana menurut prasastinya dirampungkan pada Tahun 1134 H atau 1714 M dan masjid Jami’ Kauman Pekalongan yang dibangun Arsitek Jawa Asli R. Opkomst. yaitu Jayaningrat 1(1707-1726). Sementara itu ‘Serat Raja Purwa “juga menyebutkan bahwa Pekalongan kemudian di perintah oleh Adipati Jayaningrat. Disamping itu salah satu makam koenodi Sapuro Referensi hari jadi Kota Pekalongan 22 . memiliki tipologi kota tradisional Jawa yang dibangun semasa Demak sampai Mataram Islam.1V. Mandurejo dan Upasanta juga ditunjuk menjadi laksamana perang untuk menyerang Kompeni di Batavia. Kendal dan Jepara ( Joko Suryo: 2006. Time Pires` menyebutkan bahwa wilayah pedesan Pekalongan tersebut dikuasai oleh pangeran muslim dari kerajaan Demak. seorang Belanda yang pada 1622 melakukan perjalanan ke Mataram lewat pesisir Utara Jawa. Ruang-ruang formal memiliki fungsi sebagai sarana aktivitas berkumpul. beribadah. Jayaningrat III (1743-1759) Jayaningrat IV (1759-tidak diketahui). bersamaan dengan perluasan wilayah kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung (1613-1645). Pengaruh Islam di pesisiran Utara Pulau Jawa nampak nyata. Keduanya merupakan pejabat teras kerajaan Mataram pada masa pemeritahan Sultan Agung. Dengan menterjemahkan keterangan Henrick De Hean ke dalam gambar dapat dikatakan ruang “formal” kota Pekalongan pada abad 16. Schrike secara rinci menggambarkan adanya hubungan antara pusat kerajaan dengan wilayah pesisir yang dikuasai leh Mataram ini melalui jalan darat yang menjulur dari kota istana ke Kota Tegal. Pekembangan wilayah Pekalongan dan wilayah pesisir lainnya mengalami peningkatan pada awal abad ke 17. dsb. Menurut De Haen.

Kusnin Asa pula. batu nisannya tertera wafat pada tahun 1666. Bupati Tegal yang dalam laporannya tanggal 12 Oktober 1623 antara lain menyinggung situasi tata kota Pekalongan semasa itu yang dilihatnya dan kemudian dikatakan : “Saya tinggal di rumah Bupati Pekalongan. di kiri terdapat bangunan masjid tempat sembahyang Muslim dan bagian kanannya ada bangunan besar rumah kayu untuk menghukum orang-orang bersalah. nama Pekalongan sudah banyak disebut karena banyak nakhoda yang berasal dari Pekalongan dan juga para santrisantri yang datang khusus memperdalam Islam di Cirebon. yakni situasi Pekalongan pada waktu itu lebih baik ketika Hendrick De Haen. dimana lakon yang dibeberkan sedikit banyaknya menyinggung keislaman.Kecamatan Pekalongan Barat yang bernama Raden Tumenggung Amaong Negoro Bupati Pasuruan. Bahkan bukan hanya perdagangan saja yang ramai namun jenis-jenis kebudayaan dan kesenian nampak berkembang yang bernapaskan Islam. Sedang Blambangan (Jawa Timur) jaman itu telah berhubungan dengan Potugis. Djoko Soerjo maupun Dr. Namun menurut Dr. Dalam kaitan ini Kerajaan Sunda Kelapa berhasil direbut pada tahun 1527. daerah pesisir Utara Jawa hampir keseluruhannya berada di bawah pengaruhnya. Juga kerajaan di daerah Sunda. belum diketemukan fakta dan datanya. Dan ramairamainya pelabuhan Cirebon. tahun 1470 – 1475 pelabuhannya sudah ramai dan mempunyai potensi besar dalam mengeksport hasil bumi. Kusnin Asa lain lagi. Kusnin Asa agaknya berbeda dengan ahli sejarah yang lain diantaranya Aman Budiman (Seorang Pakar Sejarah keturunan Cina yang tidak mau disebut pakar) yang juga pernah aktif menelusuri dan menyingkap sejarah Pekalongan di tahun 1983 menjelaskan sebagai berikut : “Pangeran Pekalongan sebelum Referensi hari jadi Kota Pekalongan 23 . Dr. Juga nama Wiradesa yang disebutnya Wiradisi (dalam babad Caruban). dimana kemudian kerajaan Sunda Kelapa yang membendung kekuatan Islam dapat dipatahkan oleh Fatahilah (Falatehan). dimana menurut dugaan bahwa wafat di Pekalongan dalam mengemban tugas Mataram menyerang Batavia dan meninggal dalam perjalanan pulang di Pekalongan. Sejak Demak berdiri dengan Raden Patah sebagai rajanya. Di seberang lapangan terdapat pasar yang letaknya tidak jauh dari tambatan perahu yang kami tumpangi”. Baik menurut Prof. Di depannya terdapat halaman luas (alun-alun) sekelilingnya ditanami pohon Beringin. Untuk daerah Cirebon yang tadinya dari sebutan Caruban. pejabat Gubernur wilayah Timur VOC. bersama Tumenggung Ronggo. Bahkan menurut Dr. Seni pewayangan sudah mulai nampak berkembang. seorang yang berasal dari Samudera Pasai atas perintah dari raja Demak serta Sunan Gunung Jati. seperti halnya dalam perjanjian tanggal 21 Agustus 1522.

Menurutnya. De Haen selanjutnya kekuasaan Adipati Mandurareja diserahkan kepada adiknya Kyai Adipati Upasanta (sebab musabab kurang diketahui). sedang para wedono keparak mengurusi masalah “Keprajuritan dan peradilan”. Para Wedono Gedong mengurusi keuangan dan perbendaharaan istana. yang masing-masing merupakan “putra yang ketiga dan keempat”. Dan dari perkawinannya dengan “Putri Kyai Ageng Jakaria Ngalimdahu” yang dimakamkan di Pakisdanu. “Wedono Keparak Kiwo” dan “Wedono Keparak Tengen”. menurut Djoko Soerjo dan Kusnin Asa) dan Upasanta merupakan pejabat tinggi di istana Sultan Agung. Adipati Mandaraka ini mempunyai empat putra diantaranya yang sulung bernama “Pangeran Manduranagara”. Hendrick de Haen. Setelah ayahnya meninggal. Adipati Pangeran Manduranagara memperoleh empat orang putra dan dua orang diantaranya “Pangeran Mandurorejo dan Pangeran Upasanta”. Walaupun menurut tugasnya para wedono Lebet hanya mengurusi masalah pemerintahan di istana. Menurut Dr. Kyai Adipati Mandurarejo dan Upasanta merupakan para wedono gedong. dua orang diantara mereka membawahi bagian kanan sedang yang lain membawahi sebelah kiri. Dari perkawinannya dengan “Raden Rara Subrah”. Pangeran Manduranagara menggantikan kedudukannya sebagai Patih Kanjeng Susuhunan Adiprabu Hanyokrowati Dinan yang dalam lembaran sejarah Kerajaan Mataram lebih dikenal dengan nama “Panembahan seda Krapyak” (1602 – 1613) dengan gelar Adipati Pangeran Manduranagara. dalam prakteknya mereka juga mendapatkan kekuasaan mengawasi daerah-daerah di luar istana. Dr. yang semuanya membawahi 500 orang terkemuka dan oleh Dr. dalam laporan perjalanannya telah menyebut mereka sebagai dua diantara empat orang “penasehat istana” (Mandurorejo/Upasanta).menyerang Betawi. Keempat orang “penasehat istana” atau disebut juga penasehat raja adalah “Wedana Lebet”. Kyai Adipati Manduroreja dan Upasanta masih keturunan “Kyai Ageng Juru Martani” yang disebut juga Adipati Mandaraka. Menurut naskah “Serat Salsilah para Leluhur ing Kadanurjan Yogya” koleksi “Perpustakaan Museum Sana Budaya di Yogyakarta”. Kalau kita ingat Sultan Agung adalah Referensi hari jadi Kota Pekalongan 24 . Kyai Adipati Mandurarejo (bukan Pangeran Mandurejo. seorang Belanda yang pada tahun 1622 dan 1623 telah diutus Gubernur Jenderal JP Coen sebagai duta ke Mataram. Dengan demikian keduanya merupakan cucu “Kyai Ageng Juru Martani” (atau disebut juga Adipati Mandaraka) dan cucu Kyai Ageng Pamanahan. putri sulung Kyai Ageng Pamanahan dari istri padminya. de Haen disebut orang quisis (orang kaya). Mereka memang merupakan anggota “Majelis Tertinggi Kerajaan”. Dalam praktek pemerintahan inilah kita melihat dimana pada tahun 1622 daerah Pekalongan telah ditempatkan dibawah jurisdiksi Kyai Adipati Mandurareja dan di kawasan ini sangat luas. Mereka Trdiri dari : “Wedono Gedung Kiwo” dan “Wedono Gedung Tengen”. sedang yang menjadi wedono keparak pada waktu itu “Pangeran Nanguneg dan Sujanapura”.

Setelah berhasil menjadi raja pertama Mataram itu. Menurut R. Namun putri tersebut dikenal dengan nama Kanjeng Ratu Wetan atau Kanjeng Ratu Batang dan dikaruniai dua orang anak yakni Sunan Amangkurat I yang terkenal dengan sebutan Sunan Tegal Arum dan satunya lagi adalah Pangeran Danupoyo. Perlu diketahui bahwa Kerajaan Mataram timbul setelah wafatnya Sultan Pajang Adiwijaya (1582). Ngabehi Projowaluyo (yang masih trah Bupati Batang keturunan ke VI/Udeg-udeg Pangeran Arya Soeroadiningrat II) dalam keterangan/penjelasannya bahwa setelah Batang tumbuh dan berkembang dengan pesatnya. dan mengangkat dirinya menjadi raja Mataram yang bertahta di Kota Gede (Kini Kutagede). Kalasan. Imogiri dan Sleman. Sedang Pangeran Benowo adalah putra Sultan Pajang Hadiwijaya. Mataram dulu itu termasuk wilayah Pajang dibawah kekuasaan Sultan Adiwijaya (1550 – 1582). Bantul. kemudian bergelar Panembahan Senopati. Senopati bertahta sampai tahun 1601. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 25 . Hari Senin Pon 8 September 1614”. Pemerintahan daerah tersebut diserahkan Ki Gede Pemanahan yang telah berjasa. kemudian memberontak terhadap Pajang dan berhasil. dan Pangeran Hadinegoro oleh Sultan Mataram yang kebetulan masih mertua dari sang sultan itu sendiri dijadikan Adipati/Bupati Batang yang pertama dan diberi nama “Pangeran Mandurorejo”. Kyai Adipati Mandurareja dan Upasanta dengan demikian jelas merupakan “Paman” Sultan Agung. Pajang dijadikan daerah bagian dari Mataram. Kota Gede. Setelah ia wafat (1575) digantikan putranya yang bernama Sutowijoyo. Pangeran Mandurorejo adalah cucu Ki Juru Martani/Pangeran Mandaraka yang juga anak menantu Pangeran Benowo. yakni menundukkan Lasem (1616). Usaha dari senopati tersebut terutama dalam perluasan pada jamannya Sultan Agung diteruskan. Basuki/R.merupakan cicit dari Kyai Ageng Pamanahan. Menurut Encyclopedie Van Nederlandsch Indie 1917. Wirasaba (1615) dan Surabaya (1625). Menurut sumber lain terjadi pada tanggal “12 Rabiul Awal (1614 s/d 1635 M atau 1024 H). Mataram ini adalah daerah dalam wilayah Yogyakarta yang meliputi Kota Yogyakarta. Pangeran Mandurorejo ini mempunyai seorang putri yang kemudian di pesisir Sultan Agung. Dan Senopati tercatat sebagai Pembangun Kerajaan Mataram yang berhasil. Penetapan tersebut terjadi pada pasewakan agung kerajaan Mataram pada bulan Mulud di Tahun II saat Pemerintahan Sultan Agung (1613 s/d 1645). Pasuruan (1617). dimana selama pemerintahannya telah menundukkan Madiun (1590). Demak (1588) dan merupakan pemerintahan yang banyak mendatangkan kemajuan dan dicintai rakyatnya. akhirnya daerah itu diberi status sebagai tempat kedudukan Kabupaten.

yakni Blambangan. yang kemudian terkenal dengan sebutan Ano Jawa.Untuk wilayah Pekalongan sendiri di jaman itu sudah berkembang pesantren-pesantren. Unsur kebudayaan lama dipadukan dengan kebudayaan baru. diganti dengan dan disesuaikan dengan hitungan tahun hijriyah (Islam) yang berdasarkan perjalanan bulan. Bidang kesusasteraan Sultan Agung menyusun buku filsafat yang disebut sastra gending. masjid-masjid yang kesemuanya bernuansakan “Kadilangon” ataupun “Kewalian” termasuk musholla-musholla (yang istilah Pekalongan disebut Langgar) bertebaran dimana-mana. Siti Ageng menjadi Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen. Bagelen. serta unsur-unsur agama apapun dicari persamaannya yang kemudian melahirkan suatu bentuk budaya baru. yakni : Istana atau Kraton. Blambangan yang dikuasai oleh VOC itu bisa dikalahkan oleh prajurit Mataram pada tahun 1639. Negara Agung terdiri dari empat wilayah. Dan walaupun penyerangan ke Batavia kurang berhasil sebagaimana yang diharapkan. Masalah kebudayaan yang menonjol adalah bisa mengawinkan kebudayaan lama dengan baru (Hinda. merupakan pusat kerajaan yang disebut ”Kuntonegoro” (Kutanegara). Jadi kalau bisa dikatakan. Bagelen dan Pajang. Panjang menjadi : Penumping dan Paneker. namun juga merupakan pujangga. Islam dan Kristen). Daerah Kedu menjadi Siti Bumi atau Bumijo. sastrawan. Selain itu di luar Negara Agung masih terdapat dua kelompok Referensi hari jadi Kota Pekalongan 26 . Pada jamannya Sultan Agunglah merupakan suatu pemerintahan Mataram yang mengalami jaman keemasannya. Sebagaimana tertulis di atas bahwa Sultan Agung bukan hanya ahli dalam bidang pemerintahan ataupun oleh yudha saja. seperti halnya garebeg dan sebagainya. dan masih banyak lagi karya-karya dari beliau ini. Pasa masa pemerintahan Sultan Agung. Siti Ageng atau Bumi Gede. kemudian terkenal dengan sebutan arsitektur tradisional Jawa. Kerajaan Mataram dibagi dalam beberapa satuan wilayah besar. menjadi : Sewu dan Nampak Anyar. Budha. Juga tentang arsitektur nampak perpaduan antara unsur agama. yang kemudian lahir arsitektur tersendiri. Dan wilayah yang mengitari ibukota kerajaan disebut “Negara Agung”. Pada masanya juga telah diadakan perpindahan penduduk ke daerah lain seperti ke Kerawang (kalau istilah sekarang transmigrasi). bahwa Sultan Agung pada jamannya masalah transmigrasi sesudah dijalankan dan berhasil. masing-masing : Kedu. Namun pada masa Sultan Agung masing-masing diantara keempat wilayah itu dipecah menjadi dua bagian. namun kemudian Sultan Agung beralih ke daerah Jawa Timur. dimana pada masa awal kerajaan Mataram. Kemudian tahun Saka (Caka) yang berdasarkan perjalanan matahari.

Daerah Pesisiran (Pantai) baik Wetan atau Kilen. Jabatan tersebut ada hubungannya dengan pembagian wilayah seperti tersebut diatas. Wedana Nampak Anyar. Wilayah ini disebut “MANCA NEGARA” yang terbagi juga menjadi dua bagian yakni : Manca Negara Kilen dan Manca Negara Wetan. Wedana Bumijo. masing-masing dikepalai oleh seorang Bupati atau lebih. Dan sesuai dengan nama-nama daerah Negara Agung maka mereka adalah Wedana Bumi. Untuk wilayah Manca Negara Wetan dan Kilen diangkat seorang Wedana Bupati yang mengkoordinasi para Bupati di wilayahnya. Untuk pesisir wetan berkedudukan di Jepara sedang untuk yang kilen di Tegal Pekalongan. Kedua Wedana Bupati ini bertanggung jawab langsung kepada raja. Wedana Siti Ageng Tengen. Wilayah Negara Agung masih termasuk pusat kerajaan yang wilayahnya dibagi menjadi delapan. raja adalah memegang kekuasaan tertinggi dan kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan yang diserahi tugas menurut bidangnya masing-masing. Untuk wilayah pesisiran (pantai) kilen. yang masing-masing dikepalai oleh Wedana Njawi. Dalam pemerintahan Mataram. masing-masing dikepalai oleh seorang Wedana Bupati (setingkat Residen). sedang semasa Amangkurat I patihnya Tumenggung Singaranu. yakni : jabatan pemerintahan dalam istana (Lebet) dan luar istana (Pemerintahan Njawi). Wedana Siti Ageng Kiwo. Pemerintahan Lebet ada empat bagian yang disebut “Wedono Gedong” (Tengen dan Kiwo). Dan masih terbagi menjadi dua bagian pokok. Wedana Sewu. Keempat Wedana dan dua Tumenggung merupakan pejabat penting kerajaan dan merupakan anggota Dewan Tertinggi Kerajaan. Manca Negara Wetan maupun Kilen. Seluruhnya bertempat tinggal di Kutagara. raja Mataram mengangkat dua orang pejabat yang disebut Tumenggung dan bertanggung jawab langsung kepada Raja. Sedang jumlah Bupati yang mengepalai tiap daerah tidak sama. masing-masing dibatasi oleh Sungai Teduhan atau Sungai Serang yang mengalir di antara Demak – Jepara. tergantung dari luas daerah yang diurusnya. Untuk mengurusi Pemerintahan Kutagara.wilayah lagi yakni : yang berada di PESISIRAN (Pantai) dan yang tidak termasuk kelompok Negara Agung yang letaknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keduanya bertanggung jawab mengkoordinasi bupati-bupati di daerah Referensi hari jadi Kota Pekalongan 27 . Wedana Penumping dan wedana Paneker. Wedana Keparak (Tengen dan Kiwo). Diatas wedana keempat itu ada lagi jabatan yang lebih tinggi yang bertugas mengkoordinir keempatnya yang dipegang oleh seorang pejabat tinggi yang dinamakan Patih Lebet (Patih Dalem). Patihnya adalah adipati Mandaraka. Semasa Sultan Agung. Bupati ini memakai gelar Tumenggung atau Raden Arya.

Mereka terpaksa mundur kembali dan mengadakan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 28 . namun pada hari itu juga serangan dari darat. Meskipun demikian Belanda banyak menderita kerugian. laut yang lewat Selatan dan Barat dimulai. bersama perwira tinggi lagi yang bernama Suro Agulagul. Orang Belanda sendiri sudah mulai curiga pada armada dagang yang mendarat tersebut sebab sudah lama kapal Mataram tidak menyinggahi Bandar Batavia. Penyerangan pertama yakni pada tahun 1628 dipimpin oleh seorang nakhoda kenamaan Ki Bahu Rekso. Pasukan yang dipimpin Ki Bahu Rekso ini dinamakan pasukan Koloduto I. Belanda menyangka bahwa keadaan ketenangan akan berlangsung terus. Disini jelas bahwa daerah Pekalongan pada waktu itu dibawah Wedana Bupati yang berkedudukan di Tegal Pekalongan. Pada bulan Agustus 1628 di Bandar Batavia berlabuh 50 perahu Mataram penuh muatan bahan makanan dengan anak buah perahu ± 900 orang. Induk pasukan Mataram mulai melancarkan penyerbuan. Kemudian barisan Mataram mencoba lagi mendekati benteng musuh dengan menggali parit. mereka tidak mengizinkan berlabuh terlalu mendekat di pantai. yang memimpin pasukan dari daerah Pasundan.wewenangnya. Keadaan tenag. Hal ini untuk biasanya menambah masa pengikut serta pula team yang dengan dalih seni budaya inilah yang bisa langsung menelusup ke perkotaan Batavia dengan dalih seperti halnya pengamen. sedang kemudian pada tanggal 21 September 1628 Ki bahu Rekso gugur bersama dua orang putranya sebagai pahlawan (Data Museum Sejarah Jakarta). Dua hari kemudian malam hari prajurit andalan Mataram menyamar sebagai pedagang itu tiba-tiba melakukan penyerbuan ke kota. juga dibawa peralatan seni budaya. Prajurit Sultan Agung menerobos penjagaan kompeni dan langsung menyerbu loji mereka. Ki bahu Rekso serta kedua putranya menyerang langsung pada Kubu Belanda. malam itu penyerbuan gagal. Terjadilah pertempuran seru dan gencar sepanjang malam. Serangan ini dilakukan lewat darat dan laut. Diiringi sorak-sorai dan lagu peperangan “Banyu Banjir” atau Air Bah. Sayang serangan dari Laut tidak bersamaan dengan yang di darat. Sedang Belanda mengerahkan budak-budak tawanan perang yang diberi kebebasan. Berkali-kali pasukan Mataram menerobos benteng pertahanan Belanda. Dari sebab itu. Disamping yang lewat darat disamping juga membawa bahan makanan serta perbekalan perang. Sebenarnya perahuperahu tersebut penumpangnya bukan pedagang namun prajurit-prajurit Mataram. Namun karena persenjataan kompeni lebih besar dan memadai. Dengan gugurnya Ki Bahu Rekso para prajurit Mataram kehilangan pegangan. seorang Adipati dari Kendal (menurut legenda Pekalongan Bahu Rekso adalah dari Pekalongan) disertai kedua putra Ki Bahu Rekso serta pula Dipati Ukur.

Beberapa kenangan yang kini masih ada di Jakarta masih bisa kita lihat. Sultan Agung tidak pernah semangat. • Tan Kwie Djan sebenarnya Cina Pribumi. dan ia kemudian mengadakan pelayaran dan menelusuri Pantai Utara Jawa. Soalnya penyerangan Mataram baik Koloduto I atau II membuat banyak kerugian dipihak Belanda. peninggalan tombak dari Ki Bahu Rekso (pada Museum Sejarah Jakarta). Kemudian penyerangan dan pengepungan di kota kolonial itupun terpaksa dihentikan. waktu itu Bupati Pekalongan adalah seorang keturunan Cina yang bernama Tan Kwie Djan. Tatkala singgah di daerah Ulujami. sehingga penyerbuan kedua inipun gagal.siasat pengepungan di kota. termasuk di Kota Pekalongan. Dan disinilah Tan Kwie Djan mendarat dan tempat pecahnya perahu itu kini dinamakan desa Kaliprahu Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang. kemudian mengirim Koloduto II pada bulan September 1629 pasukan Mataram sudah memulai penyerangan kembali dengan gigihnya dan sebelumnya lumbung-lumbung padi dipersiapkan di sepanjang jalur perjalanan antara Mataram sampai Batavia. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 29 . dll. nama jalan Mataram yang berasal dari Mataraman. Karena banyak prajurit yang meninggal karena kejangkitan wabah penyakit. Disamping itu pengangkutan bahan makanan dari medan perang tidak lagi berjalan lancar sehingga timbul bahaya kelaparan. Senen Sekarang). Badak. Ular. Sementara orang lain lagi menjelaskan bahwa mendaratnya di Kecamatan Keling Jepara. Buaya dan lain sebagainya. seorang pedagang kelontong yang rumahnya di sebelah Timur Alun-alun Pekalongan. Pada masa itu daerah sekitar Batavia (Lapangan Banteng. Dan pulabanyak prajurit Belanda yang meninggal dunia. Mendengar pasukan Koloduto I belum berhasil. Pasukan Koloduto II mengepung Batavia. Air sungai menjadi kotor dan timbullah wabah Kolera yang merajalela di daerah seluruh Batavia. Sedang perhubungan waktu itu amatlah susah. sungai sebagai sumber air minum dibendung oleh pasukan Mataram. Dalam penyerangan ini pihak Mataram belum berhasil dikarenakan beberapa faktor yakni kurangnya peralatan perang. JP Coen sendiri meninggal akibat wabah kolera itu pada tahun 1629. namun bukan berarti gagal total. Tentang Bupati inipun versinya lain-lain yaitu : • Bahwa sebenarnya Tan Kwie Djan adalah seorang pimpinan nakhoda dari Ujung Pandang (nama Ujungpandang jaman Mataram sudah ada). Semasa Djoko Bau (Bahu rekso) menjadi Bupati Kendal. tiba-tiba perahu itu pecah. makanan armada lautnya kurang sekali. Bangkai dan kotoran dicampakkan kedalamnya. masih berupa hutan rawa yang dihuni oleh binatang buas seperti Harimau.

Salah satu legenda masalah Tan Kwie Jan menceriterakan bahwa pada waktu itu Pekalongan sudah banyak orang pendatang. Bupati Pekalongan (Janingrat) gugur lebih dahulu. Mundurnya pasukan yang dari Pekalongan ini membawa pimpinannya yang sudah gugur tersebut. Dalam hal ini pimpinan pasukan yang dari Pekalongan. Kemudian belum Referensi hari jadi Kota Pekalongan 30 . Jadi. Soalnya pasukan seni budaya sekaligus merupakan pasukan intel dan mudah menelusup ke Benteng musuh dngan dalih seniman. Ada yang mengatakan di seputar Kantor Departemen Pendidikan & Kebudayaan Kota Pekalongan yang sekarang. Sementara itu RT Mas Makar yang tadinya sudah diwisuda menjadi Bupati Pekalongan dengan gelar RPAA Jayaningrat I karena kepangkatannya naik. yakni Janingrat gugur. Oleh Mataram namanya diganti menjadi Raden Mas Adipati Arya Joyowinoto. Ada yang mengatakan di sebelah Timur Alunalun Pekalongan tersebut di Pesantren Ulujami. Sebermula akan dimakamkan di seputar dekat stasiun Kereta Api Pekalongan. Pada tahun 1628 Janingrat diutus oleh Mataram menyerang VOC di Batavia bersama pasukannya Bau Rekso yang dari Kendal. Tan Kwie Djan dalam perjuangannya sangat gigih sekali dan juga ahli dalam pencak silat. Mas Makar bersama bahu membahu melawan penyamun di sekitar Pekalongan dan berhasil gemilang. diantaranya orang-orang Cina. Atas keberhasilan tersebut kemudian RT Mas Makar oleh Mataram diangkat menjadi Bupati I Pekalongan dengan gelar Pangeran Adipati Jayaningrat. Orang-orang Cina ini dalam menghadapi penjajahan terbagi menjadi dua blok yang ikut Belanda dan blok yang ikut pasukan Bahu Rekso (Bahu Rekso disini bukan nama orang namun nama pasukan) yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Makar. Dan dari salah satu pimpinan Cina yang ikut bloknya RT Makar tersebut adalah Tan Kwie Djan yang tadinya seorang pedagang kelontong di daerah Pekalongan (dugaan : kediamannya belakang pabrik Obat Nyamuk Nhan Thung). dll. Sedang nama Pekalongan sudah lama ada. namun mendadak diketahui oleh Belanda. Pasukan yang dari Pekalongan ini disertai pasukan khusus seni budaya untuk sebagai pasukan sandi (pasukan terdepan). Maka kemudian dibawa ke Selatan lagi. di Wonobodro. ada juga yang mengatakan di seputar belakang Pasar Banjarsari. Tentang makamnya pun kini masih simpang siur. sebelum pimpinan dari seluruh pasukan yakni Ki bau Rekso gugur. bahwa sebelumnya antara Tan Kwie Djan dengan RT.• • Adalah seorang pedagang besar Semarang yang setelah jadi Bupati bernama Pusporogo dan ada yang mengatakan Pusponegoro. Dalam kisah selanjutnya pasukan yang dari Pekalongan itu mundur setelah pimpinannya gugur lebih-lebih setelah mengetahui Ki Bau Rekso pimpinan pasukan utama yang dari Kendal itu juga gugur. Sebagaimana tersebut di atas.

Hal itu seluruhnya menerima. dimana waktu salah satu selir dari raja Mataram berbadan dua. Dan untuk gantinya adalah Tan Kwie Djan dengan gelar Tumenggung Adipati Arya Janingrat. menerangkan bahwa : pada garis besarnya dari keseluruhan ceritera rakyat ada segi persamaannya. atau nama kecilnya Joko bau. Dari beberapa pentas ceritera Ketoprak. Tan Kwie Djan kemudian bergelar RTAA Janingrat ini walaupun pada garis besarnya adalah Bupati ke II namun tetap masih dikatakan Bupati I. Benar apa yang dikatakan Ki Gede Cempaluk bahwa lahir seorang lelaki. namanya dikaburkan mirip Bupati yang pertama dalam artian sebenarnya. Kemudian Joko Bau diperintahkan untuk menanm dua batang pohon Beringin yang harus ditanam di daerah Pekalongan Kulon kali dan Wetan Kali. Salah satu diantara pujangga tersebut adalah Ki Gede Cempaluk menerka bahwa akan lahir seorang lelaki dan merupakan lelaki yang benar-benar pandai dalam segala olah yudha dan budaya. Maka setelah diasuh oleh Ki Gede Cempaluk di Kesesi tersebut diberi nama Joko Bau. yakni Bau Rekso ataupun Joko Bau adalah merupakan tokoh legendaris yang dikatakan belum wafat. Perjumpaan itu di sekitar alas Gambiran (antara Kesesi dan Comal). Sang raja dalam persidangan itu memerintahkan kepada sekalian pujangga (Pujangganya ada 7 orang. soalnya pada mula pertamanya mendapatkan tantangan dari berbagai pihak. asal mulanya adalah berkaitan dengan suatu persidangan raja Mataram. Dan raja merasa terkejut. Namun setelah diadakan musyawarah dan ternyata pengabdiannya memang perlu mendapatkan kedudukan Bupati. maka bayi tersebut dititipkan pada Ki Gede Cempaluk dan raja menghadiahkan tanah buat padepokan yang terletak di daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan (di desa Ujung Negoro. Dikisahkan Joko Bau menuju Mataram dengan disertai surat keterangan menganai dirinya. mengapa Cina menjadi Bupati. Begitu pula batu loncatan untuk awal ceriteranya diantaranya adalah bahwa : Ki Bau Rekso. Ki Gede Bandar Sedayu) untuk bisa menerka isi kandungan selirnya itu lelaki atau perempuan. (yakni di tengah Alun-alun Pekalongan dan Batang). Dalam perjalanan menuju ke Kesesi inilah Joko bau berjumpa dengan Tan Kwie Djan seorang nakhoda putra dari Tan Yok Ing seorang nakhoda dari Ujung pandang. Versinya memang lain. Kemudian sampai pada utusan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 31 . Riwayat kelahirannya dan asal usulnya dirahasiakan. Namun oleh raja rahasia dirinya belum terungkapkan. Karena ditakutkan akan menjadi mala petaka bagi Mataram (karena anak selir).satu tahun dipanggil ke Mataram untuk memangku jabatan yang lebih tinggi. Kesesi sekarang yang terkenal dengan daerah Ngatas Angin). Setelah dewasa Joko Bau menanyakan bab ihwalnya. dan Ki Gede tetap tidak bisa menerangkan secara jelas. hanya disuruh untuk mengabdi ke Mataram. Sehingga kemudian Joko Bau kembali ke Kesesi. diantaranya Ki Gede Cempaluk. dan setelah kelahirannya ibunya wafat. disuruh menyerang raja Uling di daerah Kedung Sigowok yang keseluruhannya itu dijalankan dengan berhasil baik. Bayi yang lahir itu oleh raja tidak diberi nama. Dan untuk mengelabuhi VOC.

daerah hampir di seluruh Pulau Jawa. Melenyapkan penjajahan asing untuk menegakkan keadilan dan kemerdekaan. maka api dalam sekam yang sudah lama hangat membara hanya tinggal menanti datangnya seorang pemimpin dan pahlawan yang meniup nyala kedalam sekam yang telah hangat membara. bangsa. Dan pemimpin yang sudah lama dirindukan dan diidamkannya adalah Pangeran Diponegoro. Mereka bersemboyan : Hanya suatu perlawanan sengitlah satu-satunya jalan untuk mengusir dan melenyapkan penjajahan.lam membuat perahu tersebut disertai nanggap wayang topeng. Peperangan Diponegoro yang berlangsung dengan dahsyatnya antara tahun 1825 – 1830. Yoso Tengah serta Kyai Suto Jiwo serta pula panembahan Sonto. Sedang Yosopuro. merupakan suatu ikrar bathin setiap pejuang pengikut Pangeran Diponegoro. Sungguhpun rakyat di daerah ini terkenal sebagai rakyat yang paling lemah lembut di dunia. Setelah mendapatkan do’a restu tersebut berangkatlah kemudian menuju ke Batavia dengan disertai Yosopuro. maka kini tempat dibuatnya perahu tersebut dinamakan Alas Stopeng. Kedua daerah ini genting dengan kegentingan yang memuncak itulah menimbulkan suatu perlawanan menentang kelaliman. Kaum bangsawan banyak yang mengeluh. Yosogati.lujami Kabupaten Pekalongan memang sampai kini keadaannya angker. Segenap lapisan masyarakat Pekalongan saat perang Diponegoro.Mataram untuk bisanya Joko Bau menghadap Raja Mataram kembali. Masa itu rakyat dimelaratkan oleh penjajah. Sawah Tengah dan Sogaten di Kecamatan Pekalongan Barat. dan pamer kekuatan tentaranya dan untuk Referensi hari jadi Kota Pekalongan 32 . Belanda kemudian menggunakan suatu taktik lamanya gerakan pengadu domba dilancarkan. namun karena keadaan sudah sangat melalpaui batas. untuk memperjuangkan dan membela citacita luhur bangsanya. Melihat pengaruh Pangeran Diponegoro begitu besarnya pada rakyat. Dan keduanya oleh Mataram diperintahkan untuk memimpin pasukan penyerangan ke Batavia. dimana sebelumnya bahwa keadaan di Jawa Tengah dan Yogyakarta dibuat kacau oleh Belanda. Untuk Alas Stopeng yeng terletak diantara Kesesi – Comal – U. Kesemuanya atas kepemimpinan Pangeran Diponegoro dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam menghadap ini Tan Kwie Djan ikut serta. Da. Dibuatlah perahu besar yang digunakan kayu yang tadinya dihuni oleh raja jin yang bernama Banaspati. adat istiadat banyak yang dilanggar dan pengaruh serta kekuasaan asing yang sewenang-wenang makin lama makin merajalela. Yoso Tengah dan Yoso Gati kini menjadi nama desa yakni Sapuro. seorang bangsawan agung dan pahlawan berjiwa ksatria yang mengabdikan dirinya lahir bathin. ikut serta berjuang secara nyata di wilayahnya dalam segala bidang demi nusa. Keduanya kemudian kembali ke Kesesi untuk minta do’a restu. agama.

memberikan kesan yang menguntungkan Belanda kepada penduduk di daerah-daerah mungkin bisa dipengaruhinya. Disamping pamer kekuatan militer, Belanda mempergunakan pula bermacam-macam tindakan politik untuk mempertahankan dan menyelamatkan kedudukannya. Residen Banyumas Van Der Poel dengan sengaja datang ke Tegal dan menyatakan bela sungkawa atas tewasnya putra Bupati Tegal di dalam pertempuran melawan pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot Prawirosudirjo dan dihiburnya Bupati itu. Kemudian Bupati yang setia pada Belanda itu diusulkan oleh Jenderal De Kock menjadi Pangeran. Sedang para bawahannya yang setia pada Belanda diperlakukan sebaik mungkin atau dimanja. Sementara itu pasukan-pasukan Belanda ditambah untuk daerah banyumas, Pekalongan, Tegal dengan mendatangkan dari Semarang. Pasukan diponegoro sendiripun di belakang garis pengurungan mulai giat lagi mengadakan perlawanan. Benteng Belanda di Ungaran diserang oleh pasukan Diponegoro dan pada malam hari tanggal 1 Nopember 1628 pertahanan Belanda di Linggis diserang pula dengan kepemimpinan Jayasundargo. Pertahanan Belanda di wawar juga terancam yang kemudian dibakar oleh pasukan kita. Untuk daerah Ledok (di daerah hulu sungai Serayu) perlawanan rakyat bergelora dibawah kepemimpinan Imam Musbah dan Mas Lurah. Karena perlawanan rakyat di daerah Ledok ini, Belanda tambah klabakan dan kocar – kacir terutama untuk daerah Banyumas. Dengan dipimpin oleh Mas Lurah dan Imam Musbah serta seorang seniman dari Lembah Tidar yang bernama Gunowaseso, pasukan rakyat ini mengambil daerah pertempurannya di daerah Pekalongan. Rakyat Pekalongan itu sendiri menyambutnya dengan gembira atas kepemimpinan ketiga orang tersebut. Markas-markas di setiap penjuru daerah Pekalongan didirikan termasuk dapur umum. Terkadang markas tersebut disulap menjadi suatu sanggar budaya untuk mengelabuhi Belanda. Pada tanggal 17 Agustus 1825 Plelen dan Weleri dikuasai rakyat, jembatan-jembatan yang kiranya dilalui Belanda, dihancurleburkan. Letkol Cleerens yang memimpin pasukan Belanda di Pekalongan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memadamkan api peperangan. Dan kelanjutannya rakyat disuruh membantu kemauan Belanda. Namun apapun iming-iming serta orang-orang dari Belanda dilawannya. Sementara itu Jenderal de Kokck telah merencanakan untuk mengadakan serangan di Selarong yang menjadi tempat markas besarnya perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Akan tetapi untuk melaksanakan rencana itu dengan baik harus bisa memadamkan api peperangan lebih dulu di daerah Pekalongan, Kedu, banyumas dan sekitarnya termasuk yang paling ditakuti Belanda yakni di daerah Ledok dan daerah Pekalongan Selatan.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

33

Pasukan Diponegoro yang di Pekalongan dengan kepemimpinan tiga serangkai itu membagi tugasnya menjadi tiga bagian. Imam Musbah untuk daerah di perkotaan, Mas Lurah di sebelah Selatan dengan markasnya (diduga di daerah Lingga Asri Kajen) sedang yang ditengah dipimpin oleh Ki Gunowaseso dengan markasnya di Pesantren Kletak Kedungwuni. Mereka berjuang dengan gigihnya tanpa pamrih, mengadakan perlawanan seru terhadap setiap penghalang. Dari pimpinan inilah meninggalkan beberapa bekas kesemangatan juang yang tinggi dan diantara peninggalannya yang berbentuk seni adalah “Wayang Keling, Topeng Keling, Dablongan serta aliran kepercayaan (yang dipimpin Ki Gunowaseso) dan Imam Masbah meninggalkan penanaman agama Islam yang kokoh dan Mas Lurah yang menurunkan lurah-lurah di desa Linggo Asri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya. Dan satu Dukuh yang ikut kelurahan Kauman yang tersebut Ledok adalah salah satu bukti bahwa mereka dikenal di daerah Pekalongan terutama Keputran bertempat di Dukuh Ledok yang sekarang ikut Kelurahan Keputran Kota Pekalongan. Kemungkinan nama besar itu didapat karena Mas Lurah dan Imam Misbah tadinya terkenal dengan sebutan Kyai Ledok (Kyai dari daerah Ledok). Di setiap desa yang biasa memberi bantuan pada pasukan Tri Tunggal Mas Lurah, Imam Misbah dan Gunowaseso ini oleh Belanda kemudian berusaha menekan dan melumpuhkan kesemangatannya dengan segala cara. Karena setelah Belanda menyebarkan mata-matanya sudah bisa diketahui letak markas gerilya serta pula kelemahan ketiga pimpinan rakyat itu. Dengan akal licik bahwa Belanda akan menghancurleburkan rakyat di daerah Pekalongan serta akan memusnahkan markas dan sanggar dan juga akan memusnahkan makam-makam leluhur Mas Lurah, apabila mereka tidak menghentikan perlawanannya. Tri tunggal yang memang tidak mau mengorbankan rakyatnya itu kemudian terpaksa pada 15 Nopember 1828, Mas Lurah menyerah dan bersama beliau juga dua orang putranya serta beberapa orang pengikutnya. Sungguh licik Belanda itu. Dan akal liciknya memuncak lagi dimana kemudian Mas Lurah disuruh menangkap hidup atau mati teman seperjuangnnya yakni Kyai Imam Misbah dan ki Gunowaseso. Mas Lurah sebagai pejuang yang sudah dikondang musuh, kemudian ambil siasat taktik stratgi. Tugas dijalankan, namun sebenarnya bertindak lain. Dikatakan pada Belanda, bahwa Kyai Misbah dan Ki Gunowaseso telah meninggal dunia, padahal sebenarnya mereka-mereka tetap menjalankan gerilya meneruskan perjuangannya demi rakyat dan agama. Walaupun nyatanya demikian rakyat menjadi lemah, yang akhirnya kekuasaan Belanda tambah meluas, sedang kepemimpinan Tri Tunggal menjadi buyar. Bagi rakyat Pekalongan ataupun Indonesia pada umumnya yang mencintai perjuangan, Mas Lurah ini dapat dijadikan bahan
Referensi hari jadi Kota Pekalongan

34

renungan dan pelajaran. Belanda dengan tipu dan licik dan bersiasat keji dan tidak mengenal perikemanusiaan, merupakan catatan tersendiri bagi pejuang. Bagiamanapun tri Tunggal Mas Lurah – Kyai Misbah dan Ki gunowaseso adalah merupakan suri tauladan bagi generasi penerusnya. Tentu saja perlu kita contoh kebaikan dan kejuangan beliau-beliau ini yang telah banyak menanamkan jiwa juang yang sangat berarti. Konon Mas Lurah wafat dan dimakamkan di Linggo asri yang kemudian menurunkan lurahlurah di sekitar desa tersebut, khususnya di Linggo asri (dulu Linggosari), tapi ada yang menerangkan bahwa Mas Lurah dan Kyai Misbah dimakamkan di belakang Masjid Jami’ Pekalongan, sedang Ki Gunowaseso dimakamkan di seda JAJAR WAYANG, Bojong Kabupaten Pekalongan. Menurut ceritera tradisional dari sumber babad, yang dianggap sebagai pembawa dan penyebar agama Islam di Jawa adalah para Wali. Wali-wali ini tidak kesemuanya datang dari luar Indonesia, sebagaimana sementara orang menerangkan. Namun mereka banyak yang dari keturunan Jawa, diantaranya, Sunan Bonang, Sunan drajad putra Sunan Ampeldento (Surabaya), Sunan Kalijogo yang sebelumnya bergelar Joko Sayid yang putra seorang Tumenggung dari Majapahit. Sunan Giri adalah seorang muslim ternama putra Muslim Maulana Iskak yang kawin dengan salah satu putri dari Blambangan Jawa Timur. Sedang Sunan Gunung Jati putra Syarief Abdullah yang menikah dengan Dewi Rara Santang atau Syarifah Modarin (Modhayin) putri Prabu Siliwangi (menurut babad Caruban, karya Pangeran Sulendradiningrat). Disamping yang tertera di atas masih banyak beberapa tokoh yang lain dan tersohor, sepertinya Wali Bayat (Kalten), Sunan Lawu, Syeh Bentong, dsb. Dan di luar Jawa pun pimpinan semacam Wali di Jawa juga banyak tersebar di tiap daerah, diantaranya, Dato’ri bandang, Dato’ Sulaiman (Sulawesi), tuan Tunggang Ri Parangan (di Kutai Kalimantan Timur). Wali yang sebagai penerima agama Islam yang kemudian sebagai pendakwah Islamiah, di kalangan masyarakat dan juga berperan sebagai penasehat raja-raja corak Islam yang memerintah. Bahkan Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah tidak hanya pelopor dan penyebar agama saja, tetapi juga bertindak sebagai raja, sehingga mendapatkan sebutan Pandito Ratu. Di Jawa pada umumnya para Wali ini dianggapnya sebagaii pandito/pujangga sebagaimana raja-raja sebelumnya, sehingga segala sesuatu putusan raja sebelumnya dirundingkan dulu atau minta nasehat pada para Wali lebih dulu. Dari kesekian Wali itu di daerah Jawa menggunakan nama Songo yang disamping yang terkenal ada sembilan, juga berarti sagha (tertinggi) dan angka sembilan sendiri bagi masyarakat merupakan angka keramat. Perkembangan kewalian ini konon ceriteranya nama Pekalongan sudah ada sejak lama dan legenda di daerah Pekalongan menceriterakan bahwa salah satu wali yang bernama Syeh Siti Jenar (Syeh Lemah Abang),
Referensi hari jadi Kota Pekalongan

35

yang menyebar luaskan paham “Kawula Gusti”, makamnya berada di desa Lemah Abang, Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan (mungkin hanya petilasan). Menurut beberapa naskah, di Jawa sebelum perkembangan Islam terlebih dahulu diadakan suatu musyawarah di kalangan para Wali, dan membahas soal Iman, Tauhid dan Ma’rifat. Dalam musyawarah ini terdapat juga kritik-kritik terhadap mistik tentang siapa wujud Allah itu sebenarnya. Pernyataan seorang wali yakni Syeh Lemah Abang tentang “Kawula Gusti” yang menganggap dirinya penjelmaan Tuhan, mendapatkan tantangan hebat, dimana pada akhirnya Syeh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati di daerah Cirebon. Menurut babad Caruban karya Pangeran Sulondraningrat, (salah satu turunan langsung dari Sunan Gunung Jati), makam Sunan Lemah Abang ini di Kemlaten (Pemlaten) di pinggiran kota Cirebon, yang dalam ceriteranya disebutkan bahwa setelah Syeh Lemah Abang wafat dan dimakamkan, ketika makamnya akan dibuka kembali, jasadnya telah berubah menjadi bunga melati dan sekitar makam tersebut berbau wangi. Maka tempat dimana makam tersebut pada akhirnya dinamakan Kampung Kemlaten atau Pemlaten. Agaknya soal paham Syeh Lemah Abang ini dengan kawula gustinya itu perkembangannya pernah meluas di Pekalongan, yang pada masa selanjutnya terkenal dengan istilah Islam Abangan (Islam menurut paham Syeh Lemah Abang). Di Indonesia, tarikat-tarikat yang berpengaruh adalah Qadiriyah, Naqsyawatiah, Sammaniah, Qusyaiyah, Syatariah, Syariliah, Khalwatiah dan Tianiah (ajaran Tasawwuf berhubungan dengan Tarikat, yakni yang disebut Sufi dalam mendekatkan dirinya pada Tuhan). Pada mulanya Tarikat Qadiriyah tidak banyak berpengaruh di kalangan masyarakat, namun kemudian pengaruhnya lebih besar dari yang lain terutama di daerah Pekalongan dan Aceh, malahan mendapatkan pengikut tertinggi. Pendiri Tarikat ini adalah Syeh Abdulqodir Jelani (dari Arab) dimana untuk daerah Pekalongan sendiri banyak makam yang katanya makam beliau ini.

Referensi hari jadi Kota Pekalongan

36

nila. Dua tahun kemudian yaitu 18 Pebuari 1870 jalur kerta api sudah sampai Solo lewat Gundih. kemudian dua tahun kemudian sudah sampai Lempuyangan (Yogyakarta). Perkembangkan perkereta-apian di Pulau jawa mengalami pekembangan yang sangat pesat. terbentuknya Kota Pekalongan tidak dapat terlepas dari potensi strategis wilayah ini baik secara geografis dan ekonomis. Potensi strategis wilayah Kota Pekalongan itu dapat dijelaskan dengan mengungkap sumber-sumber sejarah yang dibahas di bawah ini. Secara geografis dan ekonomis wilayah Kota Pekalongan menjadi pusat jaringan jalan darat yang menghubungkan bagian barat dengan bagian timur Pulau Jawa. dan kopi. Peletakan pertama kali dilakukan oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Den Beek dengan membuka rute dari Semarang ke Yogyakarta Hadiningrat pada pada tanggal 17 Juni 1864 dan selesai 10 Agustus 1867. Semarang Cirebon Spoor Trans Matschappy karena daerahdaerah itu dipandang sebagai tempat-tempat yang berpenduduk padat dan menghasilkan produk-produk pertanian yang penting seperti gula. Pembangunan jalan raya ini diprakarsai oleh Daendels. Di sepanjang pesisir utara Jawa terdapat groote postweg (jalan raya) yang membentang dari Anyer di bagian barat sampai Panarukan di bagian timur Pulau Jawa. Perkembangan selanjutnya NIS pengelolaannya diserahkan kepada Staatspoor. adapun untuk jalur kereta api dari Semarang ke Cirebon lewat Kota Pekalongan juga menjadi prioritas dan dibangun pada tanggal 25 Agustus 1885 oleh NV. dari jalan raya ini terdapat beberapa jalan kecil atau jalan yang menuju daerah pedalaman. maupun politis. serta daerah pantai utara dengan daerah pedalaman. Selain dilalui oleh jalan raya yang menghubungkan antara bagian barat dan timur Pulau Jawa. Sarana transportasi yang tersedia pada saat itu hanyalah angkutan gerobag Referensi hari jadi Kota Pekalongan 37 . kemudian NIS terus mengembangkan usahanya tanggal 19 Juli 1868 jalur kereta api sampai di Kedungjati.BAB III TERBENTUKNYA KOTA PEKALONGAN PADA MASA KOLONIAL BELANDA A. Pemerintah Hindia Belanda mengabulkan dengan syarat jalan kereta api itu dibangun melalui ungaran dan Salatiga. Posisi Strategis Kota Pekalongan Secara harfiah wilayah kota berarti bagian dari wilayah administratif suatu negara atau kerajaan yang dipimpin oleh seorang walikota. yang menjabat gubernur jenderal Hindia Belanda dalam periode 1808-1811. NV Nederlansdch Indieshe spoorweg maatschappij (NIS) mengajukan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalan kerta api dan rute pertama kali yang dibangun adalah rute semarang – yogyakata.

kopi.dengan ongkos pengangkutan yang mahal dan waktu tempuh sangat lama. 2. Cipto – Batang dengan halte mini di apotek Sumber Waras. kapok. Adanya penduduk dalam jumlah yang mencukupi. Kota Pekalongan juga memiliki prasarana jalan laut yaitu tersedianya pelabuhan Pekalongan. Jalur Kreta Api menuju laut (Boom) juga dibangun begitu juga menuju ke pedalaman Wonopringgo . Selain untuk mempermudah pengangkutan produk-produk dari daerah pedalaman ke pantai utara. antar pulau. kereta api juga diperlukan untuk memperlancar pengangkutan barang-barang impor dari pelabuhan Semarang. dan sebagainya.dr. keberadaan kerajaan-kerajaan yang berpusat di wilayah Jawa Tengah cukup menunjukkan hal itu. Potensi geografis dan ekonomis yang dimiliki oleh wilayah Pekalongan merupakan faktor pendorong utama bagi terberbentuknya kekuasaan-kekuasaan politis di tempat ini. baik secara geografis maupun ekonomi. B. Selain tersedia jalan darat. Pemerintah Daerah Sebelum Tahun 1900 Yang dimaksud Pemerintah Daerah menurut Mr. Adanya lingkungan atau daerah dengan batas yang lebih kecil daripada negara. karena pada umumnya pusat kekuasaan politis selalu dibangun pada tempat-tempat yang berpotensi strategis. 1991: 2) sebagai berikut : 1. J. Oppenheim dalam buku “Het Nederlandsch Gemeenterecht adalah (Prabowo Utomo. Kesemuanya itu telah menjadi faktor pendorong dan penggerak Kota Pekalongan menjadi kota pelabuhan dan kota perdagangan yang cukup berkembang pada abad ke-19. 3. Keinginan kompeni itu untuk menguasai pelabuhan Pekalongan tidak terlepas dari potensi positif wilayah pedalaman yang menghasilkan produk-produk pertanian yang laku untuk dijual baik dalam perdagangan lokal. meskipun gambaran tentang potensi-potensi positif itu sulit ditemukan dari sumber-sumber sejarah Indonesia kuna (sebelum tahun 1500). Pada jaman dahulu jalan kereta api menuju Timur dari stasiun lama yang terletak di Foto Yen (sekarang jalan Gajahmada) lewat jalan Hayam Wuruk . yang sejak abad XVII telah menarik keinginan kompeni dagang Belanda (Vereenigde Oost Indische Compagtiief VOC) untuk menguasainya. akan tetapi bergerak untuk bersama berusaha atas Referensi hari jadi Kota Pekalongan 38 . Adanya kepentingan-kepentingan yang pada coraknya sukar dibedakan dari yang diurus negara. nila. Pelabuhan Pekalongan sangat berperan sebagai pintu gerbang bagi kegiatan pengangkutan produk-produk dari daerah pedalaman seperti gula. Kemudian pada tahun 1923 pindah 100 m ke Selatan dan halte ini dinamakan halte Mipitan (muka SD Keputran).

94 menceritakan pada masa VOC. mereka tidak memiliki hak untuk menjalin hubungan politik dan perdagangan dengan kekuasaan asing namun harus menjaga perdamaian dan harus mengumpulkan dan menyerahkan produk-produk yang dibutuhkan oleh VOC. Pada akhir abad XVII VOC mengalami kebangkrutan dan kemunduran yang disebabkan oleh berbagai faktor yaitu terutama kecurangan dalam pembukuan.dasar swadaya. Di setiap daerah yang telah dikuasainya. Pada tahun 1795 ijin usaha (octrooi) VOC dicabut dan pada tahun 1798 kompeni dagang ini dibubarkan setelah berkuasa di sini selama hampir dua abad. komandan (kepala urusan militer). sedangkan pengawasan terhadap daerah pesisir dikendalikan oleh gubernur pantai utaratimur Jawa. selanjutnya pemerintahan diserahkan kepada pemerintah Belanda.1979 : 6-7). upacara-upacara tradisional tetap dipertahankan. Dengan demikian maka pemerintah lokal atau pemerintah daerah tidak boleh memiliki UU sendiri. yang berpusat di Semarang. segala sesuatunya yang menyangkut penyelenggaraan pemerintah diatur oleh atau atas kuasa Pemerintahan negara. VOC menempatkan residen. karena statusnya merupakan bagian dari negara. 4. dan Jawa Timur menjadi vassel/ (taklukan) VOC. 5. Adanya suatu organisasi yang memadai untuk menyelenggarakan kepentingan-kepentingan itu. Dalam hubungan ini Belanda menentukan kebijakan dan prioritas. melaksanankan pengawasan terhadap daerah-daerah khususnya terhadap daerah Priangan dipegang oleh gubernur jenderal di Batavia. sedangkan penguasa pribumi bekerja sama dengan rakyat untuk menghasilkan produk-produk dan para penguasa daerah itu diberi gelar regent (bupati) oleh VOC. Untuk perekrutan kepatuhan penduduk pribumi kepada para bupati. Pada masa VOC dan pemerintah kolonial Belanda tetap mempertahankan struktur pemerintahan pribumi. dan pengawas pertanian untuk wilayah keresidenan dan kabupaten. Intensifikasi eksploitasi VOC memungkinkan para bupati menerima pendapatan ekstra sehingga mereka menjadi kaya raya (Heather Sutherland. Tujuan akhirnya adalah untuk mempermudah perekrutan produk-produk pertanian rakyat pribumi yang laku untuk diekspor. Pengaruh VOC sampai akhir abad XVIII meluas di seluruh Jawa. Para bupati harus mengakui kekuasaan VOC. Cirebon. wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur terbagi dalam 36 kabupaten. hutang dan korupsi. sehingga Belanda dapat memerintah rakyat melalui para pemimpin mereka sendiri. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 39 . Penguasa-penguasa di Banten. dan mereka tetap meneruskan kehidupan sesuai dengan tradisi mereka. Adanya kemapuan untuk menyediakan biaya yang diperlukan. Menurut Clive Day di dalam buku “The Policy and Administration of the Dutch in Java” hal 93.

Pemerintah kolonial Belanda tetap melanjutkan sistem pemerintahan yang sudah dibentuk oleh Daendels dan Raffless. Raffles menempatkan pegawaipegawai pribumi di bawah kedudukan bupati dan di bawah pengawasan pemerintah pusat. (Heather Sutherland . setiap wilayah dipimpin oleh residen Eropa dan setiap residen dibantu oleh seorang asisten residen. Daendels dan Raffles meyakini kebaikan sistem pemerintahan ala Barat. kemudian tiap karesidenan dibagi dalam beberapa kabupaten. tepatnya pada Referensi hari jadi Kota Pekalongan 40 . Ia menjalankan sentralisasi kekuasaan di Batavia dan memperkuat kontrol administratif serta keuangan bagi para penguasa pribumi. Setelah penjajahan Inggris berakhir pada tahun I816 yaitu dalam bulan Agustus 1814 Inggris mengadakan perjanjian dengan Belanda untuk mengembalikan Jawa dan milik-miliknya yang lain yang telah dikuasai oleh Inggris. Sebagai kompensasi semua itu. Dijelaskan juga pada masa pemerintahan Daendels di Jawa dibentuk 30 kabupaten hak turun-temurun bupati dihapuskan. karena pemerintah Inggris di Jawa masih menunggu perintah langsung dari gubemur jenderal Inggris di India (Clive Day : 1972:167). Thomas Stamford Raffes diangkat sebagai letnan gubernur jenderal untuk mewakili raja muda Lord Minto penguasa Inggris di India. akan tetapi pelaksanaan penyerahan kekuasaan itu baru terjadi dalam bulan Agustus 1816. di samping membangun sistem pemerintahan Eropa. sistem pemerintahan daerah yang telah dibangun oleh VOC ditiadakan. Dalam sistem kepegawaian pemerintahan pribumi terdapat mantri (orang yang melaksanakan tugas khusus seperti pengairan). dan jaksa (orang yang bertugas dalam urusan hukum dan pajak). Baron Van Der Capellen (1818-1826). Jawa jatuh ke tangan Inggris dan menjadi bagian daerah kekuasaan Inggris di India. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G. Bupati dibantu oleh patih dalam melaksanakan pemerintahan sehari-hari. kemudian Jawa dibagi dalam 17 wilayah keresidenan. Patih juga bertugas menguasai kepala-kepala teritorial yang lebih rendah yaitu wedana dan asisten wedana. para bupati diberi kedudukan sebagai pegawai pemerintah yang digaji.Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808 -1811). Raffles juga tetap mempertahan sistem pemerintahan pribumi. penghulu (orang yang bertugas dalam urusan keagamaan). sedangkan hak atas tanah. 1979:l 7).A. Di dalam bukunya Heather Sutherland hal 9 dijelaskan bahwa. Setiap prefect menjalankan kekuasaannya di bawah pengawasan gubernur jenderal. Kekuasaan gubernur pantai utara-timur Jawa dihapuskan dan wilayah itu dibagi dalam lima prefectuurs (wilayah yang dipimpin oleh seorang prefectIkepala wilayah). Setelah masa pemerintahan Daendels. hak mendapat pelayanan tenaga kerja dan hak pemungutan hasil pertanian dikurangi.

kejujuran dan kesetiaan". dilakukan pembaharuan pemerintahan kolonial dengan dikeluarkan regerings reglement (undang-undang) tahun 1854. Pada pertengahan abad XIX. para asisten residen mendapat kekuasaan atas daerah yang setingkat dengan kabupaten. Setiap gewest mencakup beberapa afdeeling (setingkat dengan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 41 . Akan tetapi. kepandaian. Pada tahun 1820. Berdasarkan pada peraturan tadi. dan di bawah perintah residen. Tingkatan ke tiga dalam sistem pemerintahan Eropa di daerah adalah controlcur (pengawas). Menurut peraturan tersebut Hindia Belanda adalah suatu decentraliseerd geregeerd land (suatu wilayah yang diperintah secara sentralistis). sehingga dalam setiap residensi terdapat tiga atau lima asisten residen.. dan masing-masing mendapat tugas untuk mengelola pemerintahan di lingkungan wilayah tertentu. sedangkan di dalam pasal 69 menyatakan bahwa lebih memperkuat kedudukan bupati secara turun-temurun : "Bupati dipilih oleh gubernur jenderal dari kalangan pribumi. Lingkungan wilayah jabatan ini disebut daerah administrate. Tugas-tugas utama bupati adalah mengawasi pertanian. Jawa dibagi dalam daerahdaerah adminsratif yang disebut gewest (residensi dipimpin oleh seorang residen). dan menciptakan clan bupati sebagai kelas atas yang biasa disebut dengan ningrat prinyayi. (Heather Sutherland : 1975.tahun 1819. dalam sistem pemerintahan yang sentralistis ini. Kekuasaan sentralistis Belanda diperkuat lagi dengan pemberlakuan Reglement op het Beleid der Regering van Nederlandsch lndie yang dimuat dalam Staatsblad 1855 No. Dalam urusan dengan penduduk pribumi. Ratifikasi itu memperkuat kedudukan bupati sebagai orang pertama dalam suatu kabupaten. Di dalam pasal 67 undang-undang ini menyatakan bahwa: "Jika keadaan memungkinkan. kesehatan. bupati adalah penasihat asisten residen. 7). Pemerintahan pribumi (Inlandsch Bestuur) atau pangreh praja melaksanakan perintah-perintah dari pemerintahan Eropa (Binnenland Bestuur) untuk pengaturan urusan-urusan yang berhubungan dengan penduduk pribumi. gelar dan posisi bupati di Jawa diratifikasi (dikukuhkan). Prestice dan karisma turun-temurun mereka merupakan jaminan untuk merekrut loyalitas rakyat. dan anak bupati atau keluarganya dapat dipilih jika memenuhi syarat calon bupati yaitu memiliki kemampuan. dan pemungutan pajak dalam wilayah kabupaten. Para pejabat pusat itu disebar di seluruh wilayah negara. dan sebenarnya kedudukan ini berasal dari pengawas (opziener) pada masa VOC. yaitu pelimpahan tugas pemerintahan dari aparatur pemerintah pusat kepada para pejabat pusat yang berkedudukan lebih rendah secara hirarkis. keamanan. Demikianlah pemerintahan kolonial Belanda telah memerintah dengan cara indirect rule. Dengan demikian para bupati harus menunjukkan kuallitas mereka sebagai pemimpin rakyat. penduduk pribumi harus ditempatkan di bawah pengawasan kepala-kepala daerah mereka sendiri yang ditunjuk dan diakui oleh pemerintah". perawatan jalan. Peraturan ini telah memberi status spesial kepada keluarga bupati. dilaksanakan pula dekonsentrasi. 2. pengairan.

Menurutnya. district (setingkat dengan kawedanaan . Dengan pidato ratu Belanda itu. Pati. dan Purbalingga. yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat. Kudus. Kendal. pemerintah Belanda telah menjalankan politik Batig Slot (hasil yang menguntungkan). Wonosobo. Pemalang. Di dalam bukunya Robert Van Niel dalam hal 51 disebutkan bahwa kritik-kritik tersebut di atas mendorong ratu Belanda untuk menyampaikan pidato pada bulan September 1901 yang menekankan spirit etis yaitu: "kewajiban yang luhur dan tanggung jawab moral untuk rakyat di Hindia Belanda.dipimpin oleh seorang aspirant controleurr). tanpa kepedulian untuk mengembalikan hasil itu sedikit pun. sedangkan Brooshooft mengecam pemerintah Belanda yang hanya mengambil keuntungan dari rakyat dan tidak mengembalikan sedikitpun kepada mereka. (4) Banyumas gewest meliputi Kabupaten Banyumas. Purwokerto. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 42 . tetapi kemudian juga pendidikan. Purworejo. yang berani mengeksploitasi hasil rakyat Indonesia. Van Kol menjadi juru bicara golongan sosialis dan melancarkan kritik terhadap kemorosotan kehidupan rakyat di Indonesia. Banjarnegara. Temanggung. Tokoh-tokoh politik kolonial liberal adalah Van Kol. Van Deventer sangat terkenal dengan tulisannya tentang "Een Eereschuld’ (Hutang Kehormatan) pada tahun 1899. desentralisasi. Blora. dan Batang. Ethische politiek (politik etis) dinyatakan dimulai. Tuban.dipimpin oleh seorang controleur). pembaharuan pemerintahan dan politik. (5) Pekalongan gewest meliputi Kabupaten Brebes. dan Bojonegoro. (2) Rembang gewet meliputi Rembang. ia mengecam pemerintah Belanda yang tidak memisahkan keuangan negeri induk dari keuangan negeri jajahan. dan Grobogan. dan Karanganyar.dipimpin oleh seorang Asisten residen). Van Deventer berpendapat bahwa uang rakyat tersebut harus dikembalikan sebab itu merupakan hutang kehormatan. Pekalongan. Sebelum tahun 1900 di wilayah Jawa Tengah terdapat lima gewesten (keresidenan) yaitu : (1) Semarang gewet meliputi Kabupaten Semarang. dan efisiensi. Pemerintah Daerah Setelah Tahun 1900 Pada sekitar tahun 1893 di kalangan kaum liberal Belanda muncul pemikiran-pemikiran ethisch (moral) yang menyerukan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk memberikan tanggung jawab moral kepada bangsa Indonesia dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Van Deventer dan Pieter Brooshoofl. Cilacap. (3) Kedu gewest meliputi Kabupaten Magelang. Tegal. Belanda sebagai "wali" harus mengutamakan kepentingan rakyat pribumi. Politik ini memperjuangkan tiga hal. Pertama kali pelaksanaan politik etis ditekankan pada perbaikan ekonomi. Kebumen. dan onderdistrict (setingkat dengan kecamatan . Kutoarjo. Jepara. C. Demak.kabupaten .

Dewan daerah ini mempunyai wewenang untuk membuat peraturan-peraturan tentang pajak. taman. Meningkatnya kepentingan-kepentingan Belanda di kota-kota. Undang-undang Desentralisasi Tahun 1903 tersebut mencakup beberapa hal pokok yaitu: 1 Kemungkinan untuk pembentukan suatu daerah dengan keuangan sendiri untuk membiayai kebutuhan-kebutuhannya yang pengurusannya dilakukan oleh suatu dewan (Raad). Jika residen harus melaporkan setiap urusan kepada gubernur jenderal di Buitenzord (Bogor).125 Indische Staatregeling yang merupakan dasar pemberian hak otonomi kepada setiap residensi (gewest) dan bagian dari gewest untuk memiliki serta menyusun keuangan sendiri dalam membiayai kebutuhan-kebutuhan daerah tersebut. Untuk itu diperlukan reorganisasi pemerintahan guna mempertinggi efisiensi dan memperbesar otonomi dengan contoh lembaga-lembaga pemerintah di negeri Belanda yang telah didesentralisasi. Oleh karena itu masyarakat di daerah-daerah menginginkan untuk dapat mempunyai suara dalam urusan-urusan pemerintah. Selain itu undang-undang tersebut juga memberikan landasan hukum bagi pembentukan dewan-dewan daerah di wilayah-wilayah administratif tersebut. hal itu akan menjadi hambatan bagi pembangunan daerah. semua dana untuk pengelolaan daerah merupakan urusan-urusan yang memerlukan keputusan dan penanganan yang sesegera mungkin. dan ketua dewan daerah selain residensi ditunjuk dengan ordonansi pembentukan. Desentralisasi dicanangkan pertama kali oleh pemerintahan Kerajaan Belanda pada tahun 1903 dengan undang-undang yang disebut decentralisatie Wet yaitu undang-undang tentang desentralisasi pemerintahan di Hindia Belanda yaitu dengan dikeluarkannya Staatsblad 1903 No. Pada umumnya juga ditunjuk pejabat pusat yang menjadi kepala daerah administratif. makam.124.Pada dasarnya tuntutan desentralisasi sangat terkaitan dengan pelaksanaan sistem liberal di Indonesia yang menyebabkan urusan pemerintahan di daerah-daerah meningkat secara pesat pada akhir abad XIX. sebagian diangkat karena jabatannya dalam pemerintahan dan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 43 . dan 68c yang kemudian menjadi pasal-pasal 123. urusan sarana dan prasarana umum seperti: jalan. 329. 68b. Undangundang tentang desentralisasi ini menambah peraturan dasar ketanegaraan Hindia Belanda dengan 3 pasal baru yaitu pasal 68a. dan sebagainya. penumbuhan dan perkembangan pabrik-pabrik. jembatan. 3 Ketua gewestelijke raad (dewan residensi) adalah pejabat pusat yang menjadi residen daerah yang bersangkutan. 4 Sebagian anggota dewan daerah diangkat oleh gubernur jenderal. setiap tahun diberikan sejumlah uang dari kas Negara. kebutuhan akan fasilitas-fasilitas daerah seperti kereta api dan pelabuhan. 2 Bagi daerah yang dinilai telah memenuhi syarat.

dan dewannya disebut Locale Raad yang dapat dibedakan dalam Gewestelijke Raad (dewan keresidenan) dan Plaattelijke Raad (dewan yang dibentuk untuk bagian dari gewestIkaresidenan). 124). Keresidenan Semarang (diatur dalam Staatsblad 1908 No. jika belum diatur dalam peraturan perundangan pusat. Dewan untuk bagian dari gewest yang berbentuk kota dinamakan Gemeenteraad. 136). 6 Pengawasan terhadap daerah. di wilayah Jawa Tengah otonomi juga diberikan kepada beberapa kota besar yaitu kota Semarang (diatur dalam Staatsblad 1906 No. Undang-undang desentralisasi tahun 1903 dilaksanakan lebih lanjut dengan Decentralisatie Besluit (Staatsblad 1905 No. Pekalongan (diatur dalam Staatsblad 1906 No. 120). kecuali semua anggota dewan kota besar/ kotapraja. dan Karesidenan Rembang (diatur dalam Staatsblad 1908 No. berada di tangan gubernur jenderal Hindia Belanda. Demikianlah sesuai dengan peraturan-peraturan tersebut dibentuk daerah dengan keuangan dan aparatur pemerintahan daerah sendiri.sebagian lagi dipilih. Tegal (diatur dalam Staatsblad 1906 No. Karesidenan Pekalongan (diatur dalam Staatsblad 1908 No. baik berupa kewajiban daerah untuk meminta pengesahan atas keputusan daerah maupun hak menunda atau membatalkan keputusan daerah. Selain kepada karesidenan. 125). 123). kemudian dalam Pasal 2 menyebutkan bahwa untuk Gumeente (Kota Pekalongan) disediakan dari keuangan kolonial sebesar F. dan Magelang (diatur dalam Staatsblad 1906 No. Dengan dikeluarkannya staatblad Nomor 124 Tahun 1906 mengatur tentang desentralisasi dengan pemisahan keuangan untuk ibu kota Pekalongan dari keuangan umum pemerintah Hindia Belanda. 174). 177). Suatu kota dapat diberi otonomi jika ia merupakan kota besar yang memiliki cukup banyak penduduk Eropa dan berdekatan dengan daerah perkebunan tebu. 137) dan Locale Raaden Ordonnantie (Staatsblad 1905 No.100 (dua delas ribu seratus gulden) setiap Referensi hari jadi Kota Pekalongan 44 . Untuk wilayah Jawa Tengah hak otonomi diberikan kepada Karesidenan Banyumas (diatur dalam Staatsblad 1907 No. Di dalam pasal 1 menyebutkan bahwa melaksanakan ketentuan dari ayat pertama pasal 68a dari peraturan Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dijalankan di atas sebagian dari Karesidenan Pekalongan dengan Pekalongan sebagai ibu kota dan bagian daerah ini disebut gemeente Pekalongan. mulai tahun 1917 dipilih. 181). 5 Dewan daerah berwenang menetapkan peraturan daerah tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan daerahnya. Staatblad tersebut memuat 9 pasal yang merupakan dasarhukum pembentukan Kota Pekalongan . 134). karesidenan Kedu (diatur dalam Staatsblad 1908 No. ke dua peraturan ini. daerah yang diberi keuangan sendiri disebut Locaal Ressort. 12. kopi dan sebagainya. 175).

3 orang Bumi Putra dan 2 Orang Timur Asing dan Kepala pemerintahannya adalah dari Ketua dewan Kota Pekalongan tesebut. Pasal 5 menyebutkan bahwa semprotan dan alat pemadam kebakaran yang semula milik pemerintah Hindia Belanda diserahkan pada Gumeente Pekalongan dan Gubernur Jenderal menentukan nama-nama alat-alat inventaris tersebut dari milik Irigasi Karesidenan Pekalongan diserahan tanpa ganti rugi. c. saluran-saluran parit untuk menyiram riool. papan nama. pembaharuan dan pembangunan dari jalan-jalan umum dengan pekerjaan-pekerjaan yang termasuk di dalamnya jalan kampung tanaman pohon-pohon. selanjutnya rumah pemadam kebakaran yang semula milik Hindia Belanda yang tercatat gumeente Pekalongan. Pasal 3 menyebutkan di dalam Kota Pekalongan tidak disediakan lagi keuangan dari pemerintah Hindia Belanda untuk keperluan : a. Pemadam kebakaran. Pasal 7 menyebutkan membuat Peraturan Daerah dalam wilayah Gumeente Pekalongan. Pada tahun 1918 dikeluarkan Ontvoogding Ordonnantie 1918 (undang-undang tentang pembebasan perwalian). Pasal 4 menyebutkan kepada gumeente Pekalongan diberi hak untuk menguasai unsur-unsur dalam pasal 3 tersebut di atas dan rumah pemadam kebakaran serta kuburan di Kuripan.J Kuneman. Staatblad tersebut ditetapkan di Buitenzorg (Bogor) pada tanggal 21 Pebruari 1906 oleh J. Staatblad tersebut di atas merupakan yuridis formal pembentukan Kota Pekalongan dengan walikota (Burgermeester) H. batu kilometer. pekerjaan-pekerjaan untuk memperoleh atau membagi air minum. Pasal 9 menyebutkan bahwa ordonansi (peraturan) Gubernur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906. Pasal 8 Gumeente Pekalongan mengawasi penggunaan kuburan umum yang baru. pembuatan jalan tebing. dinding beton di pinggir sungai. jalan dan selokan-selokan. pembuatan tanah-tanah kuburan. Demikian juga dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah pada hal 6 dijelaskan bahwa aspek Iain dari politik etis yang harus dilaksanakan adalah ontvoogding (pembebasan perwalian /pendewasaan) bagi pejabat daerah pribumi. parit-parit pembuangan air.B. b. demikianlah yang berada di luar gumeente yang dimaksud adalah kuburan Tionghoa di Kuripan dengan kewajiban supaya urusan-urusan itu tetap dipergunakan sebagaimana hukumnya sekarang. Pembentukan Dewan Kota Pekalongan menurut pasal 6 Staadblad Nomor 124 Tahun 1906 semua diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda. Van Heutsz dan diundangkan pada tanggal 1 Maret 1906 oleh De Groot. jembatan-jembatan kaimur-kaimur. Sesuai dengan undang-undang ini pimpinan daerah kabupaten telah Referensi hari jadi Kota Pekalongan 45 . Pasal 6 menyebutkan untuk gumeente Pekalongan ditetapkan sebuah Dewan Kota Pekalongan dengan jumlah anggota 13 orang terdiri dari 8 orang Eropa atau yang dipersamakan denga mereka (gelijkgestelden).tahun. perbaikan. sumursumur. air pencuci rumah pembantaian dan los pasar. pemeliharaan. Pasal 4 menyebutkan bahwa Kepada Gemeente Pekalongan diberikan hak penguasaan atas unsur-unsur yang berada di dalam gumeente yang dimaksud pasal 3.

lurah. menjadi : 1. Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan tentang reorganisasi pemerintahan yang dimuat dalam Staatsblad 1922 No. atau kawedanan yang masing-masing dipinpin oleh asisten edono atau camat. 45). Beberapa kabupaten di wilayah Jawa Tengah yang mendapat perlakuan menurut Ontvoogding Ordonnantie 1918. Kabupaten Kebumen (Staatsblad 1920 No. 608). Kabupaten Batang (Staatsblad 1920 No. dan mempunyai kewenangan untuk menyatakan perang. Setelah Perang Dunia I muncul wacana baru tentang pembentukan wilayah administratif yang lebih luas daripada gewest. dan penetapan pajak. Kabupaten Jepara (Staatsblad 1920 No. Kabupaten Blora (Staatsblad 1919 No. dan pembentukan college van gedeputeerden (dewan pelaksana pemerintahan harian). agen polisi). mengatur pekerjaan pegawai pemerintah. yaitu: Kabupaten Banyumas (Staatsblad 1919 No. Afdeling. Pada masa itu pemerintah pangreh Projo di Jawa dan Madura dibagi Referensi hari jadi Kota Pekalongan 46 . melaksanakan segala urusan rumah tangga provinsi. residensi dibagi menjadi: 3.diserahkan kepada orang-orang Indonesia. pengangkatan pegawai rendah (juru tulis. 216. atau karesidenan dipinpin oleh seorang resident. yakni bupati dengan ketentuan bahwa ia telah mendapat pendidikan yang cukup. 804). District. atas nama gubernur jenderal. Undang-undang ini menjadi landasan hukum bagi pembentukan wilayah administratif yang Iebih luas daripada gewest dengan nama provinsi. Di dalam pasal 67a undang-undang tersebut menjadi dasar hukum pembentukan provinsi. Urusan yang dianggap lebih penting tetap dipegang oleh orang Eropa. Bidang-bidang yang diserahkan untuk diurus adalah agraria. kecuali itu juga terdapat pemerintah dengan wilayah yang sama disebut dengan : 4. Resident. Gubernur adalah juga pemegang kekuasaan tertinggi untuk urusan sipil dalam wilayahnya. tingkat pemerintah yang tertinggi adalah dapat disamakan dengan propinsi atau Gubernuran yang dipinpi oleh seorang kepala pemerintahan yang bergelar Gouvernoer atau gubernur. Gubernur jenderal mengangkat seorang gubemur dalam setiap provinsi. 480). distrik ini meliputi : 5. 668). seorang gubernur juga berkedudukan sebagai ketua provinciale raad dan college van gedeputeerdeni dan Pasal 67b menetapkan bahwa gubernur. yang masing-masing dipinpin oleh serang kepala desa. Desa . pembentukan provinciale raad (dewan provinsi). Gewest. pengangkatan gubemur (kepala daerah provinsi). gewest meliputi : 2. izin mengadakan keramaian. mengatur urusan militer. dipimpin oleh seorang assistens resident.

susunan keanggotaan provinciate raad (dewan provinsi)\ dan pemilihan anggoia dewan provinsi. Residen. 654). dan kewenangan masing-masing unsur pemerintahan tersebut. badan pelaksana pemerintahan harian. 78) ini mendapat sedikit tambahan dan perubahan yang diatur dalam ordonansi 14 Agustus 1925 (Staatsblad 1925 No 397). penerimaan dan pengeluaran provinsi. 525 yang isinya Provincic-ordonantie (Staatsblad 1924 No. Berdasarkan pada semua landasan hukum yang telah dijelaskan di atas. yaitu: dewan provinsi. dan pemecatan kepala-kepala pemerintahan pribumi di wilayah Jawa dan Madura. tugas-tugas.Untuk jabatan Gubernur. dan Iain-Iain. Asisten residen dijabat oleh orang Belanda. Pasal 7 memuat perubahan terhadap peraturan tentang pemilihan. ordonansi 25 Juni 1926 (Staatsblad 1926 No 254). Secara garis besar undang-undang ini mengatur: (I) unsur-unsur pemerintah provinsi. dan dalam pasal 2 dinyatakan bahwa kedudukan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah berada di Semarang secara ringkas undang-undang ini dapat diuraikan sebagai berikut : Pasal-pasal I sampai 5 (Bab I) undang-undang ini merupakan dasar hukum pembentukan Provinsi Jawa Tengah. 619). Provinsi Jawa Tengah dibentuk dan dasar hukum pembentukannya diundangkan dalam Instelling van de Povincie Midden-Java (Staatsblad 1929 No. ordonansi 22 Desember 1925 (Staatsblad 1925 No. pengawasan tertinggi terhadap provinsi. Pasal 8 dan pasal 9 mengatur kewenangan dewan provinsi. 90). Pasal 6 sampai 17 (Bab II subbab I) mengatur hal-hal sebagai berikut. (2) pemilihan. Pasal 11 mengatur kewenangan dewan provinsi dalam membuat rancangan peraturan (tentang pemakaman orang Eropa dan orang bumiputera yang setingkat dengan orang Referensi hari jadi Kota Pekalongan 47 . rapat-rapat dewan provinsi dan dewan pelaksana pemerintahan harian. ordonansi 4 Desember 1925 (Staatsblad 1925 No. Dalam pasal 1 ordonansi ini dinyatakan bahwa wilayah Jawa Tengah adalah sebuah provinsi. 78). dan ordonansi 27 Agustus 1926 (Staafsblad 1926 No. 373). 227). pertanggungjawaban keuangan provinsi. anggaran biaya provinsi. sedangkan jabatan di bawahnya dipegang oleh bangsa Bumi Putra (Prabowo Utomo : 1991. Undang-undang ini terdiri atas 26 pasal. keanggotaan. (3) pegawai provinsi. Pasal 10 mengatur batas-batas wilayah kota besar/kota praja dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah.78 kemudian dirubah dengan Staatsblad van Nederlandsch Indie 1926 N0. Staatsblad Tahun 1924 No. Sebagai tindak lanjut untuk pengaturan wilayah provinsi beserta seluruh aparatnya dikeluarkan provincie-ordonantie pada tahun 1924 (dimuat dalam Staatsblad 1924 No. skors. dan gubernur. Pasal 6 mcngatur unsurunsur pemerintahan gumeente (kota besar/kota praja) dan regentschap (kabupaten) dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah.

diangkat oleh gubemur jenderal atas dasar gouvernemetbesluit (keputusan pemerintah) tanggal 18 Desember 1929 No. Semarang. 237). 234). 559) dihapuskan. 232). (2). Kudus. 229). (3). Blora (Staatsblad 1029 No. Kudus (Staatsblad 1929 No 235). Pasal 17 merupakan dasar hukum kepemilikan Provinsi Jawa Tengah atas pengangkutan dan penjualan garam dalam wilayahnya. yang dimaksud dalam pasal 3 dan 4 ordonnantie van 19 December 1927 (ordonansi 19 Desember 1927 . Pasal 14 merupakan dasar hukum kepemilikan Provinsi Jawa Tengah atas pelabuhan Semarang. Brebes (Staatsblad 1929 No. Menurut undang-undang tersebut ( Stbl 1929 no. Pasal 13 mengatur kewenangan dewan provinsi untuk membuat rancangan peraturan tentang aset-aset Provinsi Jawa Tengah. P. 239). dan dewan pelaksana pemerintahan harian dimuat dalam Provincie Midden-Java Jaarverslag 1930. dan Blora.Eropa. (4). kanal-kanal. Pasal 26 menyatakan bahwa undang-undang ini mulai berlaku sejak 1 Januari 1930. Cilacap beserta segala aset di dalamnya. Batang (Staatsblad 1929 No. Pasal 18 sampai 25 (Bab II subbab II) mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan kepemilikan provinsi. sungai-sungai. dan air bersih. dan penguasaan atas pelabuhan-pelabuhan. dan peraturan-peraturan tentang pembentukan dewan provinsi. Pati (Staatsblad 1929 No. 3x. 238). Pasal 12 merupakan dasar hukum kepemilikan dan pengawasan provinsi Jawa Tengah atas saluran-saluran. dan Wonosobo. Petunjuk pelaksanaan tugastugas dan kewenangan gubernur. Semarang (Staatsblad I029-No 233). Grobogan (Staatsblad 1929 No. tetapi juga di tingkat kabupaten-kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu: Pekalongan (Staatsblad 1929 No. Pasal 16 mengatur kewenangan dcwan provinsi untuk membuat rancangan peraturan tentang pengeboran sumur artetis. 241). dewan-dewan keresidenan dan dewan kota di wilayah Jawa Tengah. Tegal. Kedu. Jcpara (Staatsblad 1929 No. 240). tersebut di bawah pengawasan gubernur jenderal Pasal 15 memuat ketentuan tentang perlindungan hutan. pengelompokan anggota dewan provinsi dalam afdeeling-ofdeeling yang didasarkan pada tempat tinggalnya. 236). Rembang. Rembang (Staatsblad 1929 No. Bagelen. Banyumas (Staatsblad Referensi hari jadi Kota Pekalongan 48 .dimuat dalam Staatsblad 1927 No. Pemalang {Staatsblad 1929 No. 231). Demak (Staatsblad 1929 No. Gubemur Provinsi Jawa Tengah yang pertama. sumber-sumber alam. pemilihan. 228). van Gulik. Tegal (Staatsblad 1929 No. 227 Pasal 3).J. Tegal dan Pekalongan. Dewan-dewan yang dihapus itu adalah dari daerah: (1). anggaran biaya Provinsi Jawa Tengah dan kabupaten-kabupaten dalam wilayahnya. Desentralisasi tidak hanya dilaksanakan di tingkat provinsi. Pekalongan. Banyumas Utara dan Selatan. danau-danau. Kendal (Staatsblad 1929 No. dewan provinsi. Selain itu dalam laporan ini juga dimuat tentang anggota. 230).

36. Staatblad tersebut Referensi hari jadi Kota Pekalongan 49 . 369). 248). Kota Semarang (Staatblad 1929 No. lapangan dan taman. 192). 498). Kota Pekalongan (Staatblad 1929 No. 4 orang pribumi dan 1 orang timur asing. tempattempat rekreasi. Kebumen (Staatsblad 1929 No. Purworejo (Staatsblad 1929 No 251). Temanggung (Staatsblad 1929 No. 390). 249). Kota Malang (Staatblad 1928 No.745 ( tiga puluh enam ribu tujuh ratus empat puluh lima gulden) Pasal 6 menyebutkan bahwa ordonansi ini mulai berlaku pada 1 Janurari 1930. dan penyeberangan dengan perahu tambang. 368). Kota Bogor (Staatblad 1926 No. pasar dan los-los pasar. Pasal 3 menyebutkan pemberhentian berkala dari anggota dewan yang pertama jatuh pada hari selasa yang ke tiga bulan agustus 1930. Adapun desentralisasi Kota Pekalongan dikeluarkan Staatblad 1926 Nomor 392 undang undang tentang Pekalongan sebagai daerah yang berdiri sendiri dengan pemisahan keuangan Kotapraja Pekalongan dari keuangan pemerintah Hindia Belanda. 504). Inti desentralisasi bagi daerah kabupaten/Kota Besar itu adalah bahwa pada setiap kabupaten dibentuk regentschapsraad (dewan kabupaten) dan Gumeenteraad (Dewan Kota) yang bertugas membuat rancangan peraturan-peraturan dan mengawasi keuangan daerah. jaringan pipa air minum. Kota Cirebon (Staatblad 1926 No. akan tetap sebagai anggota Dewan sampai pada pemberhentian berkala yang akan datang. Kota Madiun (Staatblad 1928 No 499). 244). Untuk Wilayah Kota Besar yang diberi otonomi untuk wilayah Pulau Jawa adalah Kota Surabaya (Staatblad 1928 No. 253). 247). Purbalingga (taatsblad 1929 No. Kota Bandung (Staatblad 1926 No. Karanganyar (Staatsblad 1929 No 246). 242). sumur artetis. Banjarnegara (Staatsblad 1929 No. Di dalam pasal 1 disebutkan bahwa Kotapraja Pekalongan ditunjuk sebagai daerah yang berdiri sendiri berdasarkan pasal 121 Indische Staatsregeling. saluran-saluran. 250). Pasal 2 menyebutkan bahwa Kotapraja Pekalongan dibentuk Dewan untuk mengatur dan menjalankan rumah tangga sendiri dengan jumlah anggota Dewan 13 orang terdiri dari 8 orang Belanda atau yang dipersamakan. penerangan jalan. pemotongan hewan. Pasal 5 menyebutkan bahwa Kotapraja Pekalongan setiap tahun disediakan keuangan dari pemerintah Hindi Belanda sebesar F. Pasal 4 menyebutkan mereka yang pada saat ordonansi ini mulai berlaku duduk sebagai anggota Dewan Kotapraja. Kota Kediri (Staatblad 1928 No. Pecabutan staadblad tahun 1929 tersebut tidak berarti pencabutan pejabat Walikota/bupati yang ditugaskan sebelumnya.1929 No. pemakaman umum. 370). 501). Magelang (Staatsblad 1929 No. Wonosobo (Staatsblad 1929 No. Purwokerto (Staatsblad 1929 No 243). Secara garis besar setiap kabupaten/Kota Besar mempunyai otonomi untuk mengelola aset-aset daerahnya sendiri yang meliputi: jalan-jalan umum. Cilacap (Staatsblad 1929 No 245). Kutoarjo (Staatsblad 1929 No. 252).

boekan: rat-rat (tikus) jang memilih boekan kita orang rakjat semoea. Dewan-dewan daerah itu bukan merupakan Iembaga Iegislatif dalam pengertian sistem demokrasi. terhadap keberadaan volksraad (dewan rakyat) yang dimuat dalam Sinar Hindia tgl 24 Juli 1918 No. Di dalam referensi penetapan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah halaman 67 – 68 ditulis keberadaan dewan yang “semu” itu telah mengundang kritik dari orang pribumi yang telah sadar politik. Erdbrink. yang berada di bawah pengawasan langsung ketua dewan yang juga berkedudukan sebagai kepala daerah mereka. Djadi saudara-saudara boleh pikir sendiri keadaannja berdozijn-dozijn raad itoe! Boetoekah pemerintah Belanda hendak membikin Hindia merdeka? Hindia merdeka. Tetapi hoe raad-raad.ditetapkan di Buitenzorg (Bogor) pada tanggal 22 Oktober 1929 oleh De Graeff dan diundangkan pada tanggal 1 Nopember 1929 oleh G. dewan ini hanya berfungsi sebagai perangkat untuk menampung kepentingan kolonialis Belanda serta memperlancar segala urusan daerah yang tidak mungkin diatur dan diawasi secara sentralistis. maka perbedaan jang tidak menjenangkan bagi kita dengan mudah bisa ditjapai. dan jang lainnja dipilih oleh gewestelijke dan gemeente radon. pemilihan dilakukan oleh panitia pemilihan.R. Dewan daerah ini tidak berfungsi sebagai penyalur aspirasi rakyat dan memutuskannya dalam peraturan daerah atau undang-undang. Semua anggota ini dipilih . Sebagai ilustrasi berikut ini ditampilkan kritik Marko Kartodikromo. Marco Kartodikromo juga melontarkan kritik tajam terhadap gemeenteraad Semarang (dewan kota Semarang) yang ditulis dalam syair yang dimuat dalam Sinar Hindia 12 Agustus 1018 No. bukan oleh rakyat. 172 sebagai berikut. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 50 . Akan tetapi. bupati. Nederland tjilaka. 4 orang pribumi dan 1 orang timur asing bukan Belanda. jumlah angota dewan Kotapraja adalah 13 orang yang terdiri atas 8 orang Belanda. Anggota pribumi pun berasal dari kalangan pegawai negeri. Di antara perbedaan itoe jang haroes kita kedjar doeloe adalah kiesreeht (hak memilih). sebaliknya. gubernur. Hal ini dapat diketahui antara lain melalui susunan keanggotaan dewan Kotapraja sebagai berikut. di dalam volksraad 38 leden (anggota) dari itoe sidang rakjat . seorang jurnalis terkenal pada dekade ke-2 abad XX. 151 yang isinya adalah sebagai berikut: "Di Hindia sini masih terdapat banjak perbedaan. Di samping sebagai kepala pemerintahan.boekan sidang rajap jang separo diangkat oleh gubernur djenderal. walikota juga berkedudukan sebagai ketua dewan daerah serta sebagai ketua dewan pelaksana pemerintahan harian di wilayah administrasitif yang bersangkutan. Kalau hak ini sudah kita pegang. Liliatlah saudara-saudara.

dewan kota Semarang memiliki 27 orang anggota yang terdiri atas 15 orang Eropa dan yang sejajar dengannya. dan 4 orang timur asing. tetapi berdasarkan Staatsblad 1917 No. Semua anggota ini dipilih. 600. dapat berbahasa Belanda. hak pemilih pribumi dikenakan peraturan bahwa hak pilih hanya diberikan kepada orang yang berpenghasilan minimum f. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 51 . gewestelijke dewan keresidenan. Berdasarkan Staatsblad 1917 No 587. regentschaps Raad I dewan kabupaten. 580. Kritik Marco terhadap dewan Kota Semarang itu bukanlah tanpa alasan yang mendasar. dan gumeente Raad I dewan kota). Dengan demikian kesempatan orang pribumi untuk memilih wakilnya untuk dewan kota sangatlah kecil. 8 orang pribumi.-.Kita sekarang tak poenja wakil di dalam raad jang banjak begedjil setan ini selalu mengoesil memerasi kita orang ketjil.Tiada seorang wakil rakjat bisa menjadi lid gemeenteraad Bila raadraad itoe main soelap Soepaja kita selaloe gelap. aspirasi dan kepentingan rakyat Indonesia belumlah terwakili dalam lembaga perwakilan provinciale Raad / dewan propinsi. serta dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan. Ilustrasi ini merupakan bukti bahwa meskipun pada jaman Belanda sudah ada sistem desentralisasi.

Kalimantan Timur dan Komandan Belanda di pulau itu menyerahkan diri pada tanggal 13 Januari 1942. Dengan jatuhnya Palembang terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang. Pada akhir Pebruari 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda. kemudian pada tanggal 5 Maret 1942 Batavia dan Buitenzorg (Bogor) jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. pada tanggal 14 Pebruari 1942 diturunkan pasukan payung di Palembang. maka dengan mudah pula Banjarmasin diduduki pada malam hari itu juga. Dalam menghadapi serbuan ofensif Jepang.BAB IV PEMDA KOTA PEKALONGAN PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945) A. Di dalam buku sejarah Nasional Indonesia karangan Sartono Kartodimedjo hal 1 menyebutkan bahwa Jepang bergerak ke selatan dan menyerang Indonesia. Invasi Jepang ke Indonesia Pada tanggal 8 Desember 1941 secara tiba-tiba Jepang menyerang dan membom Pearl Harbor yaitu pangkalan angkatan laut Amerika Serikat yang terbesar di Pasifik. Pada tanggal 10 Januari 1942 tentaranya telah sampai di Tarakan. Pada tanggal 1 Maret 1942 tentaranya berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus yaitu Teluk Banten. Gubemur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Setelah itu. dan Kragan Rembang (Jawa Tengah). Di bukunya Sartono Kartoredjo halaman 5 ditulis bahwa setelah berhasil menduduki Eretan Wetan yaitu pada tanggal 1 Maret 1942 KoloneI Referensi hari jadi Kota Pekalongan 52 . Kekuatan Jepang yang khusus dipergunakan untuk merebut Pulau Jawa berada di bawah komando Tentara Keenambelas yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitosyi Imamura. Dalam gerakannya ke Indonesia. Dengan direbutnya lapangan terbang. pada tanggal 2 Pebruari 1942 Pontianak jatuh dan pada tanggal 10 Pebruari 1942 Martapura juga dikuasai oleh Jepang. lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbor itu. yaitu pada tanggal 16 Februari 1942 Palembang dan sekitarnya dapat diduduki. Dua hari kemudian. dibentuklah suatu komando oleh fihak Amerika Serikat yang disebut American British Dutch Australian Command (ABDACOM) yang markas besarnya di Lembang Bandung. Tjarda van Starkenborgh Staachouwer telah pindah dari Batavia (Jakarta) ke Bandung disertai oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintah kolonial Belanda. kemudian pada tanggal 20 Januari 1942 Balikpapan yang merupakan ladang minyak diduduki pula oleh Jepang. Eretan Wetan (Jawa Barat).

Tempat ini pun tidak berhasil dipertahankan. B. pada jaman Jepang terdapat tiga pemerintahan militer. Pada waktu Jepang menyerah telah berlangsung banyak perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia dan Jepang memberi sumbangan langsung pada perkembangan-perkembangan tersebut. Pemerintah militer Jepang di Indonesia membagi wilayah bekas Hindia Belanda menjadi tiga daerah wilayah kekuasaan. Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung. Ricklefs. sehingga pada tanggal 7 Maret 1942 petang hari dapat kuasai oleh tentara Jepang. Indonesia memasuki suatu periode baru yaitu periode pemerintahan militer Jepang.Syoji berhasil pula menduduki Subang dan pada hari itu juga mereka berhasil menduduki lapangan terbang Kalijati. Pada tanggal 8 Maret 1942 Letnan Jenderal H. Sejak itu berakhirlah Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia dan dengan resmi ditegakkan kekuasaan Kemaharajaan Jepang . mula-mula digempurnya pertahanan di Ciater. Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia Penyerahan tanpa syarat Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda. maka usaha-usaha Jepang yang semakin menggelora untuk memobilisasi rakyat Indonesia meletakan dasar bagi revolusi. khususnya di Jawa dan Sumatera.C. daripada dengan memaksakan suatu ketentraman dan ketertiban (rust en orde). Sebelum serbuan Jepang tidak ada satu pun tantangan yang serius terhadap kekuasaan Belanda di Indonesia. sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikan kota tersebut sebagai pertahanan yang terakhir. Dengan berkembangnya peperangan. Ter Poorten Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda atas nama Angkatan Perang Amerika Serikat di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Angkatan Perang Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal H. Ketiga wilayah tersebut yaitu : Referensi hari jadi Kota Pekalongan 53 . him. Ter Poorten kepada Angkatan Perang Jepang Letnan Jenderal H. Berbeda dari jaman Hindia Belanda yang hanya terdapat satu pemerintahan sipil. 297-301 disebutkan bahwa masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan salah satu periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Imamura pada tanggal 8 Maret 1942 mengakhiri kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Di dalam buku Sejarah Indonesia Modern karangan M. Secara resmi sejak itu Indonesia di bawah kekuasaan Kemaharajaan Jepang. pemerintah militer Jepang memutuskan untuk berkuasa melalui mobilisasi. Dengan berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda itu. Di tengah-tengah perang besar yang memerlukan pemanfaatan secara maksimum atas sumber-sumber daya. Imamura. Letnan Jendral H.

Departemen Keuangan atau Zuimubu 5 Departemen Kehakiman atau Shidobu 6. la diserahi untuk membentuk pemerintahan militer di Jawa. Pemerintah Militer Angkatan Darat (Tentara Keduapuluh Lima) untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi. Kalimantan dan Maluku yang berkedudukan di Makasar. Usaha tentara Jepang pertama kali adalah mengadakan pemerintahan militer di Pulau Jawa secara sementara dengan memberlakukan Undang-undang No. kemanan serta kekuasaan yang sementara lowong diserahkan kepada suatu pemerintahan militer yang disebut gunseibu. Departemen Dalam Negeri atau Naimubu 3.1. yang antara lain berbunyi sebagai berikut: Bala Tentara Nippon melangsungkan pemerintahan militer untuk sementara waktu di daerah yang ditempatinya agar mendatangkan keamanan yang sentousa dengan segera. Berdasarkan undang-undang itu dibentuk pula pemerintahan militer tingkat pusat atau gunseikanbu yang dipimpin oleh seorang gunseikan atau kepala staf tentara dan membawahi sejumlah bu atau departemen. Panglima Tentara Ke enam belas di Pulau Jawa yang pertama adalah Letnan Jenderal Hitosyi Imamura. Undang-undang itu dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1942 oleh Panglima Tentara Ke enam belas. yang kemudian diangkat menjadi gunseikan. Departemen Perekonomian Sangyobu 4. Kebijakan yang diambil diantara wilayah-wilayah tersebut di atas sangat berbeda. Gunseibu dibentuk di Jawa Barat dengan pusatnya di Bandung. yaitu: 1. namun secara ekonomi dianggap kurang penting dengan sumber dayanya yang utama adalah manusia. sedangkan kepala stafnya adalah Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. di Jawa Tengah di Semarang dan di Jawa Timur di Surabaya.1988:16) Tugas memulihan ketertiban. Departemen Propaganda atau Sedenbu (Arsip Nasional. 1 Tahun 1942. Undang-undang itu juga menyatakan bahwa Pembesar Bala Tentara Nippon memegang kekuasaan pemerintah militer yang tertinggi dari seluruh kekuasaan yang dahulu di tangan gubernur jenderal Hindia Belanda. Departemen Lalu-Lintas atau Kotsubu 8. Pemerintah Militer Angkatan Darat (Tentara Ke enam belas) untuk Jawa dan Madura yang berkedudukan di Jakarta Pemerintah Militer Angkatan Laut (Armada Selatan ke dua) untuk daerah yang meliputi Sulawesi. disamping itu Referensi hari jadi Kota Pekalongan 54 . pada umumnya Jawa dianggap sebagai daerah yang secara politik paling maju. Departemen Kepolisian atau Keimubu 7. 3. 2. Departemen Urusan Umum atau Somubu 2.

mereka diberi wewenang untuk memecat para pegawai berkebangsaan Belanda serta membentuk pemerintahan setempat. Di setiap gunseibu ditempatkan beberapa komandan militer setempat. Dalam usahanya untuk mempersatukan semua orang Asia yang proJepang telah dibentuk Gerakan Tiga A oleh Kantor Propaganda tidak lama setelah pendaratan tentara Jepang di Jawa. Pada bulan Agustus 1942 usaha pemerintah militer Jepang meningkat dengan dikeluarkannya Undang-undang No. Pegawai tinggi bangsa Indonesia yang mendampingi Letnan Kolonel Taga adalah Rd Muhammad Chalil sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah dan Salaman sebagai residen. mereka bekerja dibawah pengawasan ketat pembesar-pembesar militer Jepang. Nippon Pelindung Asia. mengingat pada jaman Belanda pimpinan tertinggi dari sebuah departemen selalu dipegang oleh orang Belanda dengan demikian kesempatan yang diberikan oleh Jepang merupakan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Jepang mengalami kekurangan staf pegawainya yang sebenarnya telah dikirim tetapi kapalnya kena torpedo Amerika Serikat dengan demikian terpaksa diangkat pegawai-pegawai bangsa Indonesia. Pegawaipegawai bangsa Indonesia yang diangkat oleh Jepang semula merupakan pegawai pemerintah kolonial Belanda. Untuk Kota Pekalongan TAKANOMI (Sityo = Walikota) wakil R. Kedua undang-undang tersebut merupakan pelaksanaan dari struktur pemerintahan setelah datangnya tenaga pemerintahan sipil Jepang di Pulau Jawa. Dengan semboyan dan semangat "Nippon Cahaya Asia. Usaha untuk membentuk pemerintahan lokal/setempat ternyata tidak dapat berjalan lancar. Di samping bertugas untuk memulihkan ketertiban dan keamanan. 27 tentang aturan pemerintah daerah dan Undang-undang No. Soempomo Donowilogo. 28 tentang aturan pemerintahan shu dan takubetsu shi yang menunjukkan berakhirnya masa pemerintahan sementara. Di satu pihak kesempatan itu mengubah kesetiaan dari mantan pegawai pemerintah Belanda dan di lain pihak merupakan pcngalaman baru. Sama halnya dengan daerah lain. dan Nippon Pemimpin Asia” pemerintah militer Jepang berusaha untuk menanamkan tekad penduduk agar berdiri sepenuhnya di belakang pemerintah tentara Jepang. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 55 . Mereka mulai dipekerjakan pada badan-badan pemerintahan guna melaksanakan tujuan reorganisasi Jepang yang hendak menjadikan Pulau Jawa sebagai sumber kekayaan perangnya di Asia Tenggara. di Jawa Tengah jabatan gubernur berada di tangan orang Jepang yaitu Letnan Kolonel Taga yang berkedudukan di Semarang.dibentuk dua daerah istimewa (koci) Surakarta dan Yogyakana.

Untuk kepentingan itu. Pemimpin tertinggi adalah Gunseikan. Melalui tonarigumi diharapkan rakyat akan saling tolong-menolong dalam menghadapi perang. Hatta. hal 19) dengan demikian dalam sebuah desa terdapat beberapa tonarigumi. yang ditonjolkan adalah sifat berbakti dengan dibentuknya Jawa Hokokai . pemerintah militer Jepang memobilisasi . Putera dinyatakan bubar. Mas Mansyur dan Ki Hadjar Dewantara dipercaya untuk memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943. Sejak kekalahan armada-armadanya di dekat Midway dan di sekitar Kepulauan Solomon. Setiap tonarigumi terdiri dari 10-20 kepata keluarga yang dipimpin oleh seorang ketua tonarigumi atau kumincho. Jepang berusaha menjadikan seluruh daerah yang didudukinya sebagai rangkaian pertahanan yang kompak. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 56 .Pemerintah militer Jepang memerlukan dukungan penduduk dan untuk itu dilakukan kerja sama dengan tokoh-tokoh nasionalis. Untuk menghadapi kekuatan Amerika Serikat. K. yaitu: Ir. Soekamo. pemuda-pemuda diberi latihan-latihan militer yang disebut seinen dojo. Pada tanggal 8 Januari 1944 Jepang memperkenalkan sistem baru yang disebut tonarigumi atau rukun tetangga. pemuda Indonesia guna membantu usaha perang mereka. Pemerintah militer Jepang kemudian membentuk suatu organisasi yang meliputi semua usaha untuk memobilisasi seluruh penduduk yang bemama Jawa Hokakaii pada tanggal 1 Maret 1944. Pada tanggal 29 April 1943 dibentuk beberapa organisasi para militer. (Kan Po No 35: 2604. Moh. pemuda-pemuda Indonesia mendapat latihan militer elementer dengan senjata-senjata tiruan yang dibuat dari kayu.H. Organisasi itu berrsifat kebaktian kepada Jepang. Drs. Dengan dibentuk tonarigumi merupakan usaha Jepang yang paling ambisius untuk menembus desa-desa di Indonesia. Oleh karena semakin melemahnya tentara Jepang dan untuk mcmpertahankan pemerintahan Jepang. Empat orang nasionalis Indonesia yang dianggap paling terkemuka dikenal dengan nama Empat Serangkai. Dengan sistem gotong-royong dan tolong-menolong Jepang berusaha menarik simpati penduduk melalui tonarigumi yang merupakan usaha untuk menghimpun kekuatan rakyat untuk bersama-sama melawan tentara Sekutu. Jepang mulai beralih kepada strategi defensif karena wilayah Indonesia menjadi front depan (Nugroho Notosusanto:1968:7). Pembentukan tonarigumi dilakukan dengan jalan membagi sejumlah kepala keluarga yang ada dalam suatu desa atau kalurahan. suatu sistem yang dimaksudkan untuk memperketat pengendalian penduduk. tcrgantung pada jumlah kepala keluarga. Dalam kedua organisasi itu. di antaranya yang terpenting adalah Keibondan (barisan bantu polisi) dan Seinendan (barisan pemuda).

setelah datangnya tenaga-tenaga ahli pemerintahan sipil Jepang di Pulau Jawa. Kebanyakan pejabat-pejabat baru yang berkebangsaan Indonesia itu adalah mantan guru. Wilayah kepulauan Indonesia yang diduduki Jepang dibagi dalam dua bagian besar. 1 pasal 1 yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara Keenambelas pada tanggal 7 Maret 1942. Pulau Sumatera dan Jawa berada di bawah kekuasaan pemerintahan militer Angkatan Darat atau Rikugun. Sudah disebutkan bahwa. namun sesungguhnya adalah untuk melangsungkan penjajahan seperti pada masa kolonialisme Belanda.C. Oleh karena itu aparat-aparat pcemerintahan harus berada di bawah kekuasaan bangsa Jepang terbukti dengan jumlah pegawainya yang ada di Pulau Jawa. karena Jepang hendak menjadikan Pulau Jawa sebagai sumber perbekalan perangnya di daerah selatan. Mereka mulai dikerahkan pada badan-badan pemerintahan guna melaksanakan reorganisasi. Banyak orang Indonesia diangkat untuk mengisi tempat pejabatpejabat Belanda yang ditawan. Pemerintahan militer itu bertujuan untuk menciptakan keamanan dan kemakmuran rakyat. sehingga kepindahan mereka mengakibatkan mundurnya standar-standar pendidikan secara tajam. Jepang segera menyusun pemerintahan di daerah-daerah demi membantu tercapainya kemenangan perang bagi Jepang. pembentukan pemerintahan militer yang bersifat sementara dilaksanakan sesuai dengan Undang-undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan Shu dan Tokubetsu Shi. 1964: hal 370 ) Masa pemerintahan sementara berakhir pada bulan Agustus 1942 tatkala dikeluarkan Undang-undang No. Jepang memang mengurangi secara tajam kedudukan dan hak-hak istimewa para pejabat karena mereka dicap sebagai pihak yang paling dekat dengan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 57 . maka sejak itu pula berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-undang No. tetapi banyak pula pejabat-pejabat berkebangsaan Jepang yang diangkat. Pulau Kalimantan serta wilayah yang dahulu dikenal sebagai daerah Timur Besar atau Grote Oost dikuasai oleh pemerintahan militer Angkatan Laut atau Kaigun (Pusat Sejarah Militer Angkatan Darat. Oleh karena itu pemerintahan yang dibentuk adalah pemerintahan militer yang bersifat sementara. Dengan demikian merupakan suatu hal yang mustahil apabila tentara Jepang datang ke Indonesia hanya untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda. Struktur Pemerintah Daerah Segera setelah tentara Jepang berhasil dan menguasai wilayah Hindia Belanda. Ke dua undang-undang tersebut merupakan pelaksanaan dari pada reorganisasii struktur pemerintahan yang sifatnya sementara.

1979:258) Di atas telah disebutkan bahwa Undang-undang No. Gunsyireikan menetapkan peraturan yang dikeluarkan oleh gunseikan disebut l Osamu Kanrei. ( Heather Sutherland. dan kecamatan (son) tetap berada di bawah Departemen Urusan Dalam Negeri (Naimubu) di Jakarta. Dengan ordonansi ini hirarki dari Europees bestuur atau pemerintah Eropa dihapuskan. Jepang didesak oleh kebutuhannya untuk mempertahankan struktur hirarki pemerintah pribumi. 1975: 256-257). Pemerintah Militer Jepang melakukan penghapusan dualisme pemerintahan daerah yang berlaku pada masa penjajahan Belanda. menyangkut prubahan-perubahan keorganisasian dalam pemerintahan daerah.Belanda. yaitu hubungan antara kepegawaian Eropa yang terdiri dari Europees Bestuur atau pemerintahan Eropa dan Inlandsch bestuur atau pemerintahan Bumiputera. yang pada gilirannya bertanggung jawab kepada Komando Tentara Keenambelas yang berkuasa. Penghapusan dualisme pemerintahan daerah itu dilakukan melalui pemberlakuan Undang-undang No. 27 dan 28 tanggal 5 Agustus tahun 2606 (1942). Di bawah saiko syikikan adalah gunseikan yaitu kepala pemerintah militer. Meskipun provinsi-provinsi dan gubernur-gubernur dihapuskan tetapi keresidenan (shu). Mereka dicurigai karena dianggap terlambat menyatakan kesetiaan kepada rezim baru dan pikirannya terlalu kebarat-baratan. dan Asisten residen. kawedanan (gun). (Aiko Kurasawa dalam terjemahan Hermawan Sulistyo. sedang pejabat pangreh projo terdiri dari Bupati. Wedana. residen. Hanya saja pimpinan dipegang oleh tentara Jepang. baik di pusat maupun di daerah.1993:391). Hal ini dimaksudkan agar pemerintah dapat berjalan terus dan kekacauan dapat dicegah. Peraturan –peraturan ini diumumkan dalam Kan Po atau berita pemerintahan. (Heather Sutherland. Pejabat Eropa terdiri dari gubernur jenderal. Kebijaksanaan Jepang untuk bersandar secara politik kepada pangreh praja mirip dengan negara kolonial Belanda memang etosnya berbeda tetapi kerangka kerjanya sama saja. dan Asisten wedana. Susunan pemerintahan militer Jepang terdiri atas gunsyireikan (panglima tentara) dengan pucuk pimpinan saiko syikikan. Pemerintah Militer Jepang tetap meneruskan pemerintahan sipil yang lama (pemerintahan pribumi) beserta para pegawainya. yaitu menyangkut perubahan-perubahan keorgansasian dalam pemerintahan daerah. sebuah penerbitan resmi yang dikeluarkan oleh gunseikanbu. 27 dan 28 tanggal 5 Agustus 1942. Nama-nama Jepang bagi unit-unit pemerintahan daerah serta kepala-kepalanya adalah sebagai berikut: Referensi hari jadi Kota Pekalongan 58 .

dibagi atas shu. yaitu: 1. gun. sonco.Unit Administrasi Shu (dulu residentie) Ken (dulu regentschap) Gun (dulu district) Son (dulu onderdistrict) Kepala Shuchokan (dulu resident) Kencho (dulu bupati /regent) Guncho (dulu wedana) Soncho (dulu Asisten wedana) Menurut Undang-undang No. gun. Di dalam shi. dan ku. Aiseibu (Bagian Pemerintahan Shu) 2. dan desa.(Martinus Nijhoff dalam terjemahan aziz. kecuali daerah yang dijadikan shi.iap shu diadakan Tyookan-Kanbo (Majelis Pembesar Shu). Referensi hari jadi Kota Pekalongan 59 . ken. Setiap pemerintah daerah harus berlandaskan hubungan secara hirarkis dengan kantor pusat shu. son. kenco. Daerah gun. dan kit masing-masing sama dengan daerah distrik. 27 seluruh Pulau Jawa dan Madura. 27 itu di tiap shu diangkat seorang shucokan (pembesar shu) yang mengurus pemerintahan di bawah perintah dan pengawasan Gunseikan. Shucokan memerintah dan mengawasi kenco. si. Daerah ken dibagi atas gun. 28 tahun 1942 tentang aturan pemerintah shu dan tokubetshushi. Keisatsubu (Bagian Kepolisian) Pada tiap shu dan tokubetshi dibentuk pula Shun Sangi Kai atau Dewan Keresidenan dan Shi Sangi Kai atau Dewan Kotamadia. Berdasarkan Undang-undang No. dan ku (Kan Po No. Daearah shu sama dengan keresidenan dahulu dibagi atas shi dan ken. melainkan dewan biasa yang bertugas memberi pertimbangan kepada shucokan apabila diminta. kecuali Koci Surakarta dan Yogyakarta. son. Daerah shi sama dengan daerah staadsgemeente dahulu. 27 yang menyatakan bahwa Pulau Jawa dan Madura kecuali koci (Vortenlanden) dibagi atas shu. 1955 : 154) Berdasarkan Osamu Seirei No. Jabatan yang dipegang oleh orang Indonesia cukup dengan sebutan co yang berarti kepala. dalam shu dibentuk suatu dewan yang dinamakan Cokanto atau Majelis Pembesar Shu. Dewan ini mempunyai tiga bu atau bagian. 1. Perubahan tata pemerintahan diatur dalam Undang-undang No. daerah ken sama dengan daerah rcgentschap dahulu. Di tiap. Dewan ini bukan DPRD. shi. Keizabu (Bagian Ekonomi) 3. Tahoen ke I Boelan 82602). dan daerah gun dibagi atas son dan son atas kit. gunco. sico dan keisatsusyoco (Kepala Kantor Besar Polisi) di dalam shu. dan kit masing-masing diangkat seorang shico. onderdistrik. son. dan kuco. meskipun mempunyai otoritas penuh pada administrasi pemerintah daerah yang bergantung pada administrasi pemerintah pusat. ken. son. Daerah shu sama dengan daerah keresidenan dahulu.

1977: hal 157).. Residensi dahulu merupakan daerah pembentu gubernur (residen). Shu diperintah oleh shucokan (Pembesar Shu). dan keisatsushoco (Kepala Kantor Desar Polisi) dalam wilayah shu. daerahnya serta tempat shuco (kantor besar shu). mengurus tata kepolisian. oleh sebab itu jumlahnya sama dengan jumlah residensi dahulu. tetapi fungsi dan kekuasaannya berbeda.1 Tahoen ke I Boelan 8 – 2602: pasal tambahan). 28. ditetapkan sebagai berikut : Nama Shu Banten Shu Batavia Shu . shico. tetapi shu adalah bagian pemerintahan yang paling tinggi di daerah. tetapi secara hirarkis berbeda dari residensi sebelumnya. meskipun daerah kekuasaannya seluas daerah residen. Bogor Shu Priangan Shu Cirebon Shu Pekalongan Shu Semarang 67 Shu Jepara-Rembang Shu Banyumas Shu Kedu Shu Surabaya Shu Daerah (Dahulu Residesi) Banten Batavia Buitenzorg Priangan Cirebon Pekalongan Semarang Jepara-Rembang Banyumas Kedu Surabaya : Tempat Shuco (Kantor Besar Shu) Seram Batavia Bogor Bandung Cirebon Pekalongan Semarang Pati Purwokerto Mageiang Surabaya Referensi hari jadi Kota Pekalongan 60 . Provinsi Jawa Barat. Secara geografis daerah shu itu sama dengan daerah residensi dahulu.Sejak tanggal 8 Agustus 1942 pemerintah daerah yang tertinggi adalah shu. memerintah dan mengawasi kenco. Semua itu di bawah perintah dan pengawasan Gunseikan (Pembesar Pemerintah Balatentara Dai Nippon). Kan PO No. Residensi dahulu hanyalah daerah pemerintahan residensi yang menjadi pembantu gubernur. Jawa Tengah. dan Jawa Timur yang dibentuk pada masa Hindia Belanda dihapus. jadi seorang shucokan kekuasaannya sama dengan gubernur. Luas daerah shu sama dengan keresidenan dalulu. sedang shu merupakan pemerintahan daerah yang tertinggi di bawah shucokan yang kedudukannya sama dengan seorang gubernur.( Undang-Undang No. Nama-nama shu. Shucokan itu menjalankan pemerintahan umum. meskipun tidak ada perubahan struktural namun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan pemerintahannya. ( Sartono dkk. Di pulau Jawa ada 17 shu.

maksud perubahan tata pemerintahan itu adalah: 1. Menurut Undang Undang No. 27 Tahun 1942 perubahan tata pemerintahan di Pulau Jawa dan Madura berlaku sejak tanggal 8 Agustus 1942. Menjelang kekalahan pemerintah Jepang sekedar politis untuk menyenangkan hati rakyat Indonesia mengadakan pembentukan dewan-dewan yang diatur dalam Osanu Seirei Nomor 36 Tahun 2603.2 tahoen ke I Boelan 9-2606. tetapi dewan-dewan dibubarkan dan kekuasaanya itu dijalankan oleh Kentyoo (bupati) dan sityoo (walikota). untuk pulau jawa dinamakan Tyoo-Sangiin ang terdiri dari : Karesidenan (Syuu – Sangikai) dan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 61 . Kan Po No. 2 Tahoen ke. (Kan Po.1 Boelan 9-2602). Pelantikan tersebut merupakan awal dari pelaksanaan reorganisasi pemerintanan daerah. Kemudian dalam asas desentralisasi dewan-dewan pada pemerintahan yang mengurus rumah tangganya sendiri bentukan pemerintah Hindia Belanda dihapuskan walaupun kabupaten dan Kotamadya tetap diteruskan. No. Mengindahkan dan melanjutkan kebaikan tata pemerintahan dahulu menurut adat istiadat rakyat bumiputera. dengan demikian dapat disimpulkan pemerintah pada pendudukan Jepang hanya menyelenggarakan asas dekonsentrasi saja.Bojonegoro Shu Madiun Shu Kediri Shu Malang Shu Besuki Shu Madura Shu Bojonegoro Madiun Kediri Malang Besuki Madura Bojonegoro Madiun Kediri Malang Bondowoso Pamekasan Sumber Undang-undang No. Para shucokan dilantik secara resmi oleh gunseikan pada bulan September 1942. Hendak menyatukan susunan tata pemerintahan daerah supaya rancangan-rancangan yang diadakan oleh pucuk pimpinan balatentara dapat dijalankan dengan rapi dan langsung sampai ke sudut-sudut Pulau Jawa dan Madura. 27 dan no. dan menyingkirkan pegawai-pegawai Indonesia yang pernah digunakan untuk sementara waktu dari kedudukan yang tinggi. 1942. 2. 28. Sehingga kotapraja yang semua adalah pemerintah lokal yang mengurus rumah tangga sendiri mulai saat itu berubah menjadi pemerintah lokal administratif dan Sityoo (walikota) pada hakekatnya adalah merupakan pegawai pusat yang ditempatkan di daerah.

tetapi kemudian pada bulan November 1943 dan Desember 1944 tiga di antaranya diberikan kepada orang Indonesia yaitu di Jakarta. sebab anggota dewan tersebut ditunjuk atas dasar pengangkatan/pemilihan secara bertingkat oleh pemilih-pemilih yang ditunjuk. dimana pada waktu itu banyak pejuang yang gugur dalam perjuangan sebagai pahlawan. Bojonegoro dan Kedu. Peristiwa ini merupakan perjuangan rakyat dan sejak 7 Oktober 1945 Pekalongan bebas dari tentara Jepang. Pada bulan November 1943 kedudukan fuku shucokan (wakil residen) dibentuk dan diberikan kepada orang-orang Indonesia dan Kepala seluruh unit pemerintahan lainnya yang lebih rendah.Kotapraja (Tokubetsu – Sisangikai) keduanya diatur dalam Osamu seirei Nomor 37 Tahun 2603 dan Osamu Seirei Nomor 8 Tahun 2603. tugasnya hanya mendengarkan ceramah. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 62 . Akan tetapi dewan-dewan tersebut pada hakekatnya adalah dewan yang tidak demokratis. nasehat serta menjalankan perintahperintah dan kamauan dari pemerintah pendudukan jepang. Mula-mula seluruh posisi shuchokan dipegang oleh orang Jepang. Pada akhir pemerintahan Jepang di Pekalongan tejadi perjuangan rakyat yang terkenal dengan peristiwa Juang 3 Oktober 1945. yaitu: kengo. gunco dan sonco adalah orang-orang Indonesia.

Jawa Timur. Kelahiran Kota Pekalongan sebagai bagian dari dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat terkait dengan proses sejarah tersebut. Hal ini dapat diketahui antara lain dari pasal 18 Bab IV UUD 1945. Ke delapan provinsi tersebut adalah: Jawa Darat. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai badan nasional yang mewakili rakyat Indonesia. 1984: 93-94).1949 Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagai tindak lanjut proklamasi kemerdekaan itu. sebagaimana diamanatkan oleh pasal 18 UUD 1945 dalam rapat tanggal 19 Agustus 1945. Pada bagian penjelasan pasal 18 ditegaskan. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah provinsi dan daerah provinsi akan dibagi pula dalam daerah yang lebih kecil. Daerah provinsi dibagi dalam keresidenan yang dikepalai oleh seorang residen. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 63 . Maluku dan sunda kecil.BAB V PEMERINTAH DAERAH KOTA PEKALONGAN PADA MASA REPUBLIK INDONESIA (1945-1950) A. pada tanggal 18 Agustus 1945 menyelenggarakan sidang yang pertama untuk menyusun tatanan kehidupan kenegaraan. 3. PPKI berhasil menetapkan dan mengesahkan undang-undang dasar (UUD) yang kemudian dikenal dengan UUD 1945. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. 4. PPKI telah menetapkan pembagian daerah administratif di Indonesia sebagai berikut: 1. Untuk sementara waktu kedudukan kota (gemeente) diteruskan seperti sekarang. Sumatra. (Mawati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sulawesi. Dalam rangka pembentukan daerah-daerah ini. serta secara aklamasi memilih Soekamo dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dalam sidang tersebut. Pasal ini mengatur pembagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi daerah besar dan daerah kecil dengan Pemerintah Daerah yang mengurus rumah tangga sendiri. Gubernur dan residen dibantu oleh Komite Nasional Daerah. Untuk sementara waktu kedudukan kooti dan sebagainya diteruskan sampai sekarang. Masa Revolusi Kemerdekaan Tahun 1945. secara juridis formal menandai kelahiran Indonesia sebagai negara yang merdeka. Jawa Tengah. bahwa oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. 2. Borneo. Untuk sementara daerah negara Indonesia dibagi dalam delapan Propinsi dikepalai oleh seorang gubernur.

juga menunjukkan kekalahan perjuangan politik diplomasi pemerintah Republik Indonesia dalam menghadapi Belanda. yaitu sebagian masuk dalam wilayah Republik Indonesia dan sebagian lagi berada di luar kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. bahwa adanya Undang-undang 1948 No. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 64 . bahwa Belanda tetap berdaulat atas daerah-daerah yang telah diduduki dalam agresi militernya. dilakukan juga usaha penyempurnaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 22 tentang Undang Undang Pokok Pemerintah di daerah yaitu daerah diberi kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri. Agresi militer Belanda I dan II di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menceraiberaikan daerah-daerah Provinsi Jawa Tengah dalam dua wilayah kekuasaan. Daerah yang berada di luar kekuasaan Republik Indonesia (dalam kekuasaan Belanda) ini dikepalai oleh seorang pembesar Belanda dengan pangkat Regering Commisaris voor Bestuursaangelegenheden ( RECOMBA) yaitu Komisaris Pemerintah untuk Urusan Pemerintahan. Di dalam Pasal 1 undang-rndang ini menyebutkan bahwa Daerah Negara Republik Indonesia tersusun dalam tiga tingkatan. Selain itu undang-undang ini juga tampak dijiwai oleh semangat desentralisasi yang kuat. termasuk agresi militer Belanda I dan II. Sebagai konsekuensi dari adanya perjanjian ini adalah daerah-daerah dalam Provinsi Jawa Tengah terbagi dalam dua kekuasaan. Untuk Kota Besar Pekalongan pengawasan dilakukan oleh Provinsi Jawa Tengah dan Kota Besar Pekalongan mengawasi daerah yang berada di bawahnya. kabupanten dan Kota Besar. memunculkan usaha-usaha penyelesaian dalam bentuk perundingan-perundingan antara pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda. Hal ini antara lain tampak dari isi perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 oleh wakil pemerintah Republik Indonesia dan Belanda. Salah satunya mengandung pengertian. yaitu daerah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dan daerah kekuasaan kolonial Belanda. Dengan demikian dapat diketahui. Dalam menjalankan kekuasaannya ini sesuatu daerah berada di bawah pengawasan instansi di atasnya. Hasil perundingan-perundingan yang kemudian bermuara pada Perjanjian Renville.Sementara itu pergolakan politik yang disebabkan oleh usaha-usaha Belanda untuk dapat kembali berkuasa di Indonesia. karena dengan undang-undang ini setiap daerah mempunyai dua macam kekuasaan yaitu otonomi dan medebewind. Di tengah-Tengah suasana revolusi perjuangan bangsa Indonesia untuk menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara. yaitu provinsi. hal tersebut terbukti dengan dikeluarkannya Undang-undang 1948 No. 22 keberadaan Kota Besar Pekalongan dipertegas kembali.

yang kemudian di tempat itu dinamai taman merdeka dengan pohon beringin kemerdekaan. 5. Pemalang. 7. bahwa kepala daerah Kota Besar diangkat oleh Gubernur dari sedikitnya dua atau sebanyak-banyaknya empat orang calon yang diajukan oleh DPRD Kota Besar. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 65 . 9. Banyumas. Ke10 wilayah kabupaten ini. Cilacap. Tegal. dan Regent.62. sedangkan Kepala Daerah menjabat Ketua dan anggota Dewan Pemerintah Daerah. Staatsblad I948 No. Pada HUT RI yaitu tanggal 17 Agustus 1946 diperingati secara khidmat dan serentak se Kota Pekalongan dan sebagai tanda ditanam Pohon Beringin di tengah lapangan Jetayu (Muka rumah dinas Residen). Demikian juga pemerintah kolonial Belanda di Jawa Tengah. Kepala Daerah lebih ditentukan oleh Gubernur. Demak 4. 6.62 merupakan dasar hukum bagi dibangunnya kembali 10 wilayah kabupaten di Jawa Tengah yang masuk dalam daerah RECOMBA. Akan tetapi dalam suasana revolusi mekanisme tersebut tidak sepenuhnya dapat dijalankan. Hal ini antara lain tercermin dalam Staatsblad van Nederlandsch-lndie 1948 No. yaitu : 1. College van Dagelijks Bcstuur.Semantara itu sesuai dengan Bab II Pasal 2 Undang-undang 1948 No. Brebes. 10. Pada dasarnya sebagaimana diatur pada Bagian V Pasal 18 undang-undang ini. Dalam hal ini susunan pemerintah derahnya juga terdiri atas Vertegenwoordigent College. Demikian juga yang terjadi di Kota Besar Pekalongan.I79 merupakan dasar hukum bagi pembentukan DPRD-DPRD Kabupaten dan Staatsblad 1949 No. Pemerintah Daerah Kota Besar Pekalongan terdiri dari dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Pemerintah Daerah (DPD) .179 dan Staatsblad van Nederlansch-lndie 1949 No. Semarang. 2. namun tetap kokoh dan tetap tumbuh dan sejak ahun 1996 pohon itu ditebang. Dalam hal ini Ketua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipilih oleh dan dari anggota DPRD. 3. Semasa tahun 1945-1949 di Kota Pekalongan terjadi peristiwa penting yakni : 1. 8. Kendal. Pekalongan. 22. Purbalingga. Di daerah RECOMBA berusaha dibangun kembali daerah-daerah otonom. Pohon kemerdekaan itu sempat dibrondong oleh pasukan NICA.

Didirikannya Negara Republik Indonesia Serikat. Sementara itu. Byeenkotnst voor Federal Overleg (BFO/Negara-negara di wilayah Republik Indonesia yang dibentuk Belanda). arsip dan sebagian jendela terbakar. dan Komisi PBB untuk Indonesia. sebelum hasil persetujuan KMB direalisasikan. yaitu pihak Republik Indonesia.2. kemudian dipugar kembali pada tahun 1953. di kalangan masyarakat Jawa Tengah yang masuk ke dalam daerah RECOMBA telah berkembang tuntutan-tuntutan politik untuk menggabungkan daerahdaerah RECOMBA ke dalam wilayah Republik Indonesia. hal ini antara lain tampak dari isi Resolusi Pemuda Indonesia Semarang. Didirikannya Uni antara Republik Indonesia Serikat dan Kerajaan Belanda. 3. B. Pada tangal 13 Agustus 1947 terjadi perlawanan kembali para pejuang dengan membumi-hanguskan gedung HIS (sekarang kompleks SDN Keputran jalan Maninjau) serta membakar pos-pos NICA di Jalan Hayam Wuruk . Gedung yang di Jalan Jetayu tersebut karena kokohnya hanya barang-barang administrasi.dan Pengumuman Padan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat Referensi hari jadi Kota Pekalongan 66 . KMB diselenggarakan di ' ”S-Gravenhage Belanda pada tanggal 23 Agustus – 2 November 1949 dan dihadiri oleh tiga pihak. Soempeno Danoewitogo dan kantor walikota dipindah di Petungkriyono. adapun arsip yang terbakar adalah arsip pemerintah RI yang pada waktu itu Walikotanya adalah R. 3. Pada tanggal 14 Agustus 1947 Belanda dengan NICA mengadakan pembalasan dengan serangan lewat udara dan darat tepatnya di desa Bendan mulai gang I s/d XI dibumu-hanguskan. Penyerahan kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda di Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat. Kota Pekalongan Masa Pasca Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia Perundingan-perundingan diplomasi untuk menyelesaikan konflik politik antara Republik Indonesia dengan Belanda berkenaan dengan kedaulatan atas negara Republik Indonesia. sehingga peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa juang “Bendan Lautan Api”. terus berlangsung sepanjang masa revolusi dan puncaknya adalah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB). Rakyat Kota Pekalongan dengan komando pengungsian Petungkriyono menjalankan perang gerilya dan diantaranya membakar gedung Gumeente/Walikota yang pada waktu itu (19471949) digunakan kantor NICA/RECOMBA. Di dalam pelaksanaan KMB telah menghasilkan tiga buah persetujuan pokok tentang : 1. 2. pada tanggal 10 November 1949. menurut data ada 250 rumah terbakar/hancur.

Persetujuan pokok KMB pada akhirnya direalisasikan. DewanDewan Kabupaten Jawa Tengah. RECOMBA Jawa Tengah. Untuk daerah RECOMBA Jawa Tengah pada saat penyerahan ini belum kembali ke dalam Iingkungan pemerintah Republik Indonesia. Meskipun kondisi riil menunjukkan adanya tuntutan yang semakin keras dari rakyat di daerah RECOMBA Jawa Tengah untuk segera bergabung Referensi hari jadi Kota Pekalongan 67 . bahwa DPR Jawa Tengah Sementara menginsyafi hasrat rakyat daerah RECOMBA Jawa Tengah seluruhnya yang tampak dalam mosi-mosi dan resolusi-resolusi dari berbagai DPR kabupaten dan badan-badan Iainnya untuk selekas mungkin kembali ke dalam Iingkungan Republik Indonesia. Hasil sidang pleno DPR Jawa Tengah Sementara tersebut antara lain berisi mosi. (lResolusi dari organisasi-organisasi pekerja itu dimuat dalam BERITA ANTARA tanggal 11 Januari 1950). namun demikian pimpinan pamong praja dan Iain-Iain jawatan sudah diserahkan kepada pemimpin-pemimpin Republik Indonesia. Pada dasarnya setelah penyerahan kedaulatan tersebut suara-suara rakyat dari daerah RECOMBA Jawa Tengah semakin keras menuntut untuk segera menggabungkan daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam lingkungan Republik Indonesia. yaitu untuk segera menggabungkan daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam lingkungan Republik Indonesia juga dilakukan oleh dewan-dewan Kabupaten daerah RECOMBA kepada DPR Jawa Tengah Sementara. Mollinger kepada Panglima Militer Divisi Diponegoro Kolonel Gatot Soebroto yang dilangsungkan di Staf Kwartier B. Pers dan Iain-lain. BFO. bahwa pengembalian daerah RECOMBA Jawa Tengah ke dalam Iingkungan Republik Indonesia selekas mungkin dilaksanakan menurut UUD Republik Indonesia Serikat. Hal ini antara lain tampak dari adanya sejumlah 17 Serikat Buruh di Cilacap dan Gabungan Serikat Sekerja Daerah Banyumas mengajukan resolusi yang pada intinya menghendaki untuk segera menggabungkan daerah RECOMBA Jawa Tengah masuk ke dalam lingkungan Republik Indonesia. (Adanya mos-mosi dari Dewan-Dewan Kabupaten daerah RECOMBA ini dimuat Harian Nasional tanggal 23 Januari 1950). U. Selain itu diputuskan juga oleh DPR Jawa Tengah Sementara. Negara-negara dan Daerah-daerah Bagian di seluruh Indonesia. Divisi Semarang. Tuntutan yang sama.I. Dalam hal ini untuk Jawa Tengah baru dlakukan penyerahan Komando Jawa Tengah dari Jendral Mayor V. Mosi DPR Jawa Tengah Sementara ini secara formal antara lain disampaikan juga kepada Pemerintah Republik Indonesia. yaitu ditandai dengan pembentukan Negara Rcpublik Indonesia Serikat dan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949.C.(DPR) Jawa Tengah Sementara (Badan Iegislatifnya daerah RECOMBA Jawa Tengah) serta hasil sidang pleno DPR Jawa Tengah Sementara tanggal 28 Nopember 1949.N.

ke dalam lingkungan Republik Indonesia. Berdasarkan kemauan rakyat. hal 135 – 143) yang ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Referensi hari jadi Kota Pekalongan 68 . Adanya persetujuan dari Pemerintah Daerah Bagian yang bersangkutan. Setelah terjalin komunikasi dan pendekatan yang intensif antara para pemimpin Daerah Jawa Tengah Republik Indonesia dan pemimpin Daerah Jawa Tengah RECOMBA serta konsultasi-konsultasi dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat. Boediono. 2. abadi. 1977. Dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia Serikat dinyatakan bahwa penggabungan hanya dapat dilaksanakan dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (Syarat-syarat penggabungan di antara Negara atau Daerah Bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat secara tegas telah diatur dalam pasal 43 dan pasal 44 Konstitusi Republik Indonesia Serikat. akhirnya pada tanggal 24 Maret 1950 penggabungan daerah Jawa Tengah RECOMBA ke dalam Provinsi Jawa Tengah Republik Indonesia dapat direalisasikan. Hal ini dapat dilihat pada Wantjik Saleh. 1950:18 -19). 1977:4l) 1. ("Peristiwa dan situasi saat terjadinya upacara penggabungan antara daerah RECOMBA Jawa Tengah dan Jawa Tengah Rl dilukiskan dengan sangat jelas dalam penerbitan (Anonim. Kemudian pada hari berikutnya di berbagai kantor di seluruh daerah Provinsi Jawa Tengah (bekas RECOMBA) dilakukan peresmian penyerahan kepada pegawai-pegawai Republik Indonesia. Secara juridis formal Kota Pekalongan dibentuk berdasarkan pada Undang-undang 1950 Nomor 16 ( Lembaran Negara 1950. sejahtera dan makmur. 3. Untuk memenuhi ketiga syarat tersebut peranan masyarakat. namun proses penggabungan daerah RECOMBA ke dalam lingkungan Republik Indonesia sebagai salah satu negara bagian dalam negara Republik Indonesia Serikat tidaklah "sederhana karena harus melalui berbagai prosedur yang secara yuridis formal telah diatur dalam pasal-pasal dari UUD atau lebih dikenai dengan istilah Konstitusi Negara Republik Indonesia Serikat. Selanjutnya di ruangan Gedung Papak Semarang diselengaarakan upacara peresmian penggabungan oleh Gubemur Jawa Tengah yang dihadiri segenap kepala jawatan. Pelaksanaan penggabungan ini ditandai oleh penandatanganan serah terima kekuasaan dari RECOMBA Stattius Muller kepada Gubernu Jawa Tengah Republik Indonesia R. Djawatan Penerangan Djawa Tengah. Peristiwa penggabungan ini disambut dengan gembira oleh seluruh rakyat Provinsi Jawa Tengah. Tiga UndangUndang Dasar (Ghalia Indonesia. Prosedur penggabungan diatur sesuai dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat. para pemimpin pemerintahan dan politik di daerah Provinsi Jawa Tengah Republik Indonesia maupun di tingkat pusat negara Republik Indonesia sangat menentukan. Di masjidmasjid dan gereja-gereja diselenggarakan doa untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar negara Republik Indonesia tetap kokoh.

Urusan Kerajinan. Urusan Agraria. Urusan Pemerintahan Umum. Kota Yogyakarta. bagi Kota Kota besar sebagai berikut: Urusan Umum. Jawa barat dan dalam Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya dalam pasal 5 dinyatakan bahwa: segala milik berupa barang tetap maupun berupa tidak tetap dan perusahaan-perusahaan Kota Besar dihapuskan. Kota bogor. Kota Yogyakarta. Kota semarang. Urusan Pembagian (Distribusi). Kota Madiun. Kota Malang. Kota Pekalongan. Perikanan dan Koperasi. Kota Madiun. yang selanjutnya dapat menyerahkan sesuatunya kepada daerah-daerah di bawahnya dan segala hutang piutang Kota Besar menjadi tanggungan Kota kota besar tersebut. dalam undang-undang ini diputuskan dua hal. kota bandung. Kota Malang. Pada Bab I tentang Ketentuan Umum pasal 1 dinyatakan bahwa daerah yang meliputi Surabaya. kota bandung.Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Jawa Tengah/Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Perdagangan Dalam Negeri dan Perindustrian. Kota Madiun. Urusan Sosial. Urusan Kesehatan. Kota semarang. Kota kediri. Kota Malang. 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Urusan Perusahaan. Kota Surakarta. Pasal 3 menyebutkan jumlah anggota DPRD Kota Besar Pekalongan berjumlah 15 orang. Dengan diundangkan UU Referensi hari jadi Kota Pekalongan 69 . Kemudian pada Bab II tentang Urusan Rumah Tangga Daerah Daerah Kota Besar dalam pasal 4 dinyatakan bahwa urusan rumah tangga dan kewajiban-kewajiban lain sebagai termaksud dalam pasal 23 dan 24 Undangundang No. Uusan Pengairan. Kota semarang. Menetapkan pembentukan daerah daerah Kota Besar dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur. Menghapuskan staatblad yang mengatur Kota Surabaya. b. Kota Cirebon. Urusan Perburuhan. Kota bogor. Kota kediri. Urusan Kehewanan. Kota Cirebon. Kota Surakarta. Kota Surakarta menjadi Kota Besar dan pada pasal 2 dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah Kota Besar tersebut berkedudukan di kota Surabaya. kota bandung. Kota kediri. Jalan-jalan dan Gedung-gedung. Kota Cirebon. yaitu: a. Kota Yogyakarta. Kota Pekalongan. Jawa Tengah. Urusan Pertanian. Urusan Penerangan. Pengajaran dan Kebudayaan. Kota bogor. Kota Pekalongan. Urusan Pendidikan.

Pasal 2 meyebutkan bahwa wilayah RI dibagi dalam daerah besar dan daerah kecil yang berhak mengurus rumah tangga sendiri. maka ada perubahan ketatanegaraan maka UU Nomor 1 tahun 1957 tentang Undang Undang Pokok Pemerintahan di Daerah diganti dengan UU Nomor 18 Tahun 1965 Undang Undang Pokok Pemerintahan di Daerah yang menganut prinsip otonomi yang seluas-luasnya Di dalam pasal 2 menyebutkan bahwa wilayah Negara Republik Indonesia terbagi dalam 3 tingkatan daerah yaitu Propinsi Daerah Tingkat I. Daerah Tingkat II (termasuk Kotapraja) dan Daerah Tingkat III. meliputi Propinsi.16 km2 dengan 2 kecamatan dan 22 desa/kelurahan. Pasal 4 yang menyebutkan yang dapat sebagai Kotapraja adalah daerah yang merupakan kelompokan kediaman penduduk dengan berpedoman kepada syarat penduduk sejumlah sekurang-kurangnya 50. pembagian daerah tersebut adalah Daerah Tingkat I. Kemudian UU Nomor 18 Tahun 1965 diganti dengan UU Nomor 5 Tahun 1974 Undang Undang Pokok Pemerintahan di Daerah di dalam pasal 2 dan 3 menyebutkan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan wilayah Negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah otomon. Untuk Kota Pekalongan sebutannya menjadi kotamadya Dati II Pekalongan dengan 2 kecamatan dan 22 desa/kelurahan.000 jiwa. Pasal 3 menyebutkan pembentukan daerah swatantra demikian pula daerah istimewa termakud dalam pasal 2 ayat 2. Sejak adanya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 antara lain tuntutan kembali kembali ke Undang undang dasar 1945. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 70 . Kecamatan. Untuk Kota Pekalongan sebutannya menjadi Daerah Tingkat II Pekalongan dengan luas wilayah 17. Dengan adanya pembaharuan tata hukum di Indonesia yaitu dengan dikeluarkannya UUD Sementara (UUDS) Tahun 1950 maka berdasarkan pasal 89. Kabupaten/Kotamadya. meliputi Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II dan wilayah Administrasi.16 Km2 dengan 2 kecamatan dengan 22 desa/kelurahan. termasuk perubahan wilayahnya kemudian diatur dalam undang undang.Nomor 16 tahun 1950 telah mencabut Staatblad Nomor 392 Tahun 1929 tentang penunjukan Gumeente Pekalongan sebagai daerah yang berdiri sendiri dan sebutannya berubah menjadi Kota Besar Pekalongan dengan luas wilayah 17. Di dalam pasal 1 UU tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud daerah dalam uu ini adalah daerah yang mengatur rumah tangganya sendiri yang disebut daerah Swatantra dan dan Daerah Istimewa. berkaitan dengan hal tersebut maka sebutannya menjadi Kotamadya Dati II Pekalongan. Kabupaten/kotamadya daerah Tingkat II dan Kecamatan Daerah Tingkat III. 131 Yo 132 yang mengatur pemerintahan di daerah maka diundangkannya UU Nomor 1 Tahun 1957 tentang pokok Pokok Pemerintahan di Daerah dan UU Nomor 22 tahun 1948 dinyatakan dicabut.

kota pelabuhan perikanan.Kotamadya Dati II Pekalongan di dalam proses perkembangannya mengalami perkembangan yang cukup pesat di dalam kegiatan pembangunan. Sejalan dengan adanya tuntutan reformasi di segala bidang.24 Ha dan terbagi menjadi 4 kecamatan terdiri dari 22 desa dan 24 kelurahan. kota perdagangan. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 71 . kemudian ditindak lanjuti dengan Inmendagri Nomor 3 Tahun 1989 tentang Pelaksanaan PP Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubahan batas`wilayah Kodya Dati II Pekalongan Kabupaten Dati II Pekalongan dan Kabupaten Dati II Batang. pusat pelayanan jasa. hanya ada perubahan sebutan yang semula Kotamadya Dati II Pekalongan menjadi Kota Pekalongan terdiri dari 4 Kecamatan dan 46 kelurahan. Maka diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubahan batas`wilayah Kodya Dati II Pekalongan Kabupaten Dati II Pekalongan dan Kabupaten Dati II Batang yang diundangkan pada tanggal 5 Desember 1988.465. maka pemerintah mengakomodir keinginan daerah yang salah satunya diundangkan dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. tidak ada perubahan luas wilayah. distribusi. sehingga peningkatan fungsi dan peranan Kota Pekalongan sebagai kota industri. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka wilayah Kotamadya Dati II Pekalongan yang semula hanya 1. sehingga lahan yang tersedia tidak dapat menampung lagi untuk kegiatan pembangunan. jumlah kecamatan dan kelurahan/desa. Untuk mengatasi hal tersebut maka batas wilayah Kotamadya Dati II Pekalongan perlu dirubah dengan memasukkan sebagian dari wilayah dari Kabupaten Dati II Pekalongan dan Kabupaten Dati II Batang.755 Ha menjadi 4.

Akan tetapi. hingga kerajaan Mataram Islam sejak 1575 hingga tahun 1755 ketika terjadi pembagian kerajaan menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kekuasaan politik di Jawa Tengah kembali hadir pada akhir abad XV dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang. Jawa Tengah merupakan tempat yang strategis sebagai pusat pengawasan wilayah kekuasaannya. dengan cara memberikan bantuan militer dan keuangan sambil menyodorkan perjanjian yang menguntungkan . baik bagi penguasa pribumi maupun asing (Belanda) untuk membangun kekuasaan administratif. dewan-dewan residensi dan kota yang mcnjadi bagian dan wilayah ini dihapuskan. Surakarta. Pekalongan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah Provinsi Jawa Tengah terbentuk.Foa –Tsi dan campa disebut Tsiam-pa. Masa kekuasaan VOC dilanjutkan dengan masa kolonial Hindia Belanda. Pada seputar abad ke 7 nama Pekalangan sudah disebut-sebut yang oleh Cina nama Pekalongan disebut Pou. dan politis Kota Pekalongan telah membentuk wilayah itu sebagai suatu pilihan. sebagaimana sriwijaya disebut San . yaitu provinsi. Bagi VOC. Itu berarti bahwa otonomi untuk wilayah administratif residensi dan kota telah dicabut. Jawa Barat. Java Noord-Oost Kust Provincie (Provinsi Pantai Utara-Timur Jawa) yang ber ibukota di Semarang.Kia – loung. Wilayah kerajaan-kerajaan Islam ini tidak hanya mencakup daerahdaerah di Jawa Tengah. dengan program desentralisasinya. Wilayah kerajaan Mataram Kuna ini kira-kira meliputi bekas Keresidenan Kedu. berdasarkan pasal 12I Indische Staatsregeling (Peraturan Referensi hari jadi Kota Pekalongan 72 .BAB VI PENUTUP Simpulan Potensi-potensi geografis. yang menjalankan pemerintahan secara sentralistis sampai dengan awal abad XX. sehingga di wilayah ini pun kompeni dagang itu membangun kekuasaan adminisiratif setingkat dengan provinsi. tetapi juga meliputi Jawa Timur. Semarang. telah menjadi landasan terbentuknya wilayah administratif yang lebih luas daripada residensi. karena kemahirannya dalam memanfaatkan momentum konflik internal di wilayah kekuasaan pribumi (Mataram). dan daerah-daerah di luar Jawa. Belanda (VOC) dapat berhasil menanamkan kekuasaannya di wilayah ini. Politik etis yang dicanangkan pada awal abad XX. ekonomis.

Sejak 8 Agustus 1942 pemerintah daerah tertihggi adalah keresidenan (syui) yang dikepalai oleh shuchokan. Pemberian otonomi kepada Gumeente Pekalongan itu merupakan tindak lanjut dari kebijakan ontvoogding yang telah mulai berlaku sejak tahun 1918. Pemerintah pusat Jawa dan Madura dipimpin oleh gunseikan (kepala pemerintahan militer). kabupaten/kota Besar di wilayah provinsi ini justru dinyatakan sebagai daerah otonom dengan ketentuan bahwa di setiap kabupaten/Kota Besar yang otonom dibentuk suatu dewan yang berkewenangan dalam pengaturan urusan daerah. serta aspek-aspek negatif dapat dikurangi atau ditiadakan. Namun demikian. Pemerintahan provinsi dihapuskan. Kemudian disempurnakan lagi dengan Staatblad 1929 Nomor 392 tentang Decentralisatie Midden Java Annwijzing als zelfstandige gemeenschap van de gemeente Pekalongan. melainkan terutama urtuk memperkokoh intensifkasi dan efisiensi sistem pemerintahan kolonial Belanda. Pemerintah daerah kabupaten (ken) dikepalai oleh kencho (bupati). Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch stadss gemeente Pekalongan iut de algemeene geld middelen van Nedelandsch Indie. Aspek-aspek positif dapat dipakai sebagai contoh. Studi lebih mendalam tentang masalah ini sangat diperlukan sebagai dasar-dasar pengetahuan tentang otonomi daerah yang sekarang dilaksanakan kembali. dimuat dalam Staatsblad tersebut merupakan dasar hukum dan dasar historis terbentuknya Gemeente Pekalongan. dari penelitian ini terungkap bahwa sistem desentralisasi atau otonomi daerah bermula dari masa penjajahan Belanda. nama Hindia Belanda diubah menjadi Indonesia. Pulau Jawa diperintah oleh pemerintah militer Angkatan Darat (Tentara Keenambelas). Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Adapun untuk Kota Pekalongan berdasarka pada Staatblaad 1906 Nomor 124 tentang Decentralisatie Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch Indie Instelling van een gumeenteraad te dier plaatse). kawedanan (gun) diperintah oleh guncho (wedana). dihapuskan. struktur pemerintahan menjadi sentralistik. dan asistenan (son) diperintah oleh soncho (asisten wedana). Kepala daerah mulai ken Referensi hari jadi Kota Pekalongan 73 . Demikianlah. bagaimana pun Belanda telah ikut berperan dalam pembentukan pemerintahan daerah. akar sejarah terhentuknya Kota Pekalongan ditemukan.Pemerintah Hindia Belanda). Sejak masa pendudukan Jepang dualisme pemerintahan. kita harus juga memahami bahwa sistem itu bukan ditujukan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Indonesia. yaitu pejabat pemerintah Belanda yang "mendampingi" pendapat pemerintah pribumi.

Ketika terjadi agresi Belanda I (1947) dan agresi Belanda II (1948) wilayah Jawa Tengah dikuasai oleh dua buah kekuasaan yaitu daerah kekuasaan Republik Indonesia dan daerah kekuasaan Belanda di bawah RECOMBA. Pemerintah Kota Pekalongan dapat Referensi hari jadi Kota Pekalongan 74 . Sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda 27 Desember 1949. dimuat dalam Staatsblad 1906 Nomor 124 merupakan dasar hukum dan dasar historis tcrbentuknya Kota Pekalongan. Rekomendasi Atas dasar berbagai simpulan dari hasil penelusuran sejarah hari jadi Kota Pekalongan. sedangkan secara budaya. Dalam perkembangannya secara yuridis formal pembentukan Kota Pekalongan berdasarkan pada UU No. Pemilihan tanggal ini didasari oleh beberapa alasan penting yaitu: a. Undang-Undang tentang pembentukan Gumeente Pekalongan (Decentralisatie Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch Indie Instelling van een gumeenteraad te dier plaatse). di antaranva adalah Provinsi Jawa Tengah.dipegang orang Indonesia.shuchokan (residen) sudah diberikan orang Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945 dalam Undang-undang Dasar pasal 18 ditetapkan pembentukan daerah-daerah provinsi sebanyak 8 buah. Peringatan hari lahir Kota Pekalongan yang jatuh pada tanggal 1 April dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut: • Secara ekonomis dan budaya perayaan hari Jadi Kota Pekalongan diselenggarakan Pemerintah Kota Pekalongan dapat menggalakkan/mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerah dengan stimulan bahwa produk-produk daerah-daerah di Kota Pekalongan dapat diintroduksikan dalam event pameran untuk memperingati hari lahir Pemerintah Kota Pekalongan. daerah-daerah di Jawa Tengah dibawah kekuasaan RECOMBA kembali menggabungkan diri ke dalam Provinsi Jawa Tengah pada tangaal 24 Maret 1950. 124). Pemerintah Kota Pekalongan terbentuk secara juridis formal pada tanggal 1 April 1906 (Staatsblad 1906 No. sesuai dengan hasil rapat 19 Agustus 1945. 16 Tahun 1950 yang ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950. bahkan sejak tahun 1944 beberapa . b. yang luas wilayahnya sama dengan Provincie Midden-Java pada masa kolonial. diikuti proses penggabungan kembali daerah-daerah “federal” dan negara bagian ciptaan van Mook. maka tim penyusun mengusulkan beberapa alternatif untuk menentukan hari jadi Kota Pekalongan sebagai berikut : 1.

Pemerintah Kota Pekalongan terbentuk secara juridis formal pada tanggal 1 Januari 1930 (Staatsblad 1929 No. seni tari. event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk merekrut commitment penduduk di seluruh wilayah Kota Pekalongan agar merasa sebagai bagian masyarakat Kota Pekalongan ini. untuk mengisi event pameran tersebut.lebih memberdayakan produktivitas seni kerajinan. Afzondering van geldmiddelen voor de hoofdplaats Pekaloangan uit de algemeene geldmiddelen van Nederlandsch stadss gemeente Pekalongan iut de algemeene geld middelen van Nedelandsch Indie). seni busana. Pemilihan tanggal ini didasari oleh beberapa alasan penting yaitu : a. Pemerintah Kota Pekalongan dapat menggalakkan/mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerah dengan stimulan bahwa produk-produk daerahdaerah di Kota Pekalongan dapat diintroduksikan dalam event pameran dalam rangka menyambut tahun baru dan hari lahir Kota Pekalongan. Dengan demikian perayaan hari Kota Pekalogan yang bersamaan dengan perayaan tahun baru yang sudah membudaya itu. perayaan hari lahir Kota Pekalongan tersebut diselenggarakan bersamaan dengan perayaan penyambutan tahun baru. • Secara politis. seni batik dan lain-lain. Dengan demikian perayaan hari lahir Kota Pekalongan. Pemerintah Kota Pekalongan dapat lebih memberdayakan produktivitas seni kerajinan. Secara ekonomis. dapat memperkokoh spirit integrasi antar penduduk. seni musik. yang pada umumnya dilaksanakan di sebagian besar masyarakat Kota Pekalongan bahkan penduduk Indonesia. event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk merekrut commitment penduduk di seluruh wilayah Kota Pekalongan agar merasa sebagai bagian masyarakat Kota Pekalongani ini. seni busana. b. seni musik. 2. dimuat dalam Staatsblad 1929 Nomor 392 merupakan dasar hukum dan dasar historis terbentuknya Kota Pekalongan. • Secara politis. untuk mengisi event pameran tersebut. seni tari. Undang-Undang tentang pembentukan Gumeente Pekalongan (Decentralisatie Midden Java Annwijzing als zelfstandige gemeenschap van de gemeente Pekalongan. dapat memperkokoh spirit persatuan dan kesatuan antara penduduk masyarakat Kota Pekalongan. 392). Secara budaya. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 75 . dan lain-lain. Peringatan hari lahir Kota Pekalongan yang jatuh pada tanggal 1 Januari dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut: • Secara ekonomis dan budaya.

bahwa: • Pemerintah Kota Pekalongan dapat menggalakkan/ mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerah dengan stimulan bahwa produk-produk daerah-daerah di Kota Pekalonganh dapat diintroduksikan dalam event pameran dalam rangka peringatan hari lahir Kota Pekalongan. seni tari. • Pemerintah Kota Pekalongan dapat lebih memberdayakan produktivitas seni kerajinan.3. dan politis. Tanggal ini spesifik karena secara jelas dan khusus menyebutkan tentang pembentukan Pemerintah Kota Besar Pekalongan pasca perang kemerdekaan. • event perayaan tersebut akan bermanfaat untuk merekrut commitment penduduk di seluruh wilayah Kota Pekalongan agar merasa sebagai bagian masyarakat Kota Pekalongan ini. untuk mengisi event pameran tersebut. Pemerintah Kota Pekalongan ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 dan diberlakukan mulai tanggal 15 Agustus 1950 atas dasar Undang Undang Nomor 16 Tahun 1950 beberapa alasan yang mendasari pemilihan ini. seni musik. perayaan/peringatan hari lahir Kota Pekalongan memiliki manfaat-manfaat. budaya. yaitu: a. Tanggal ini merupakan momentum kukuhnya Pemerintah KotaPekalongan pasca perang kemerdekaan dengan wilayah geografis dan administrasi . seni busana. Secara ekonomis. seni batik dan Iain-Iain. b. c. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 76 .

1928. Jakarta: Arsip Nasional Indonesia. Bemmelen. Sukarto K.J.. 1998. Casparis.A. Brandes. LXVIII. Anonim. “Semarang Pada Masa Penjajahan Inggris”. 1950. dalam bulletin of Research Center of Archeology of Indonesia. Jum’at 8 Agustus 1975.. Aziz. Utrecht: Hes Publishers. Atmodarminto (Alih Bahasa). Bosch. Yogyakarta : Pusat penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan. Yogyakarta. 1976. dalam TBG. 1983. krom. 1981. Atmodjo. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Djawa Tengah. XXXI. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 77 . dalam Suara Merdeka. M. Casparis. uitgegeven door N.G. 1955.L. Djogjakarta: Pesat. de. de. “Oud-Javaavsche Oorkonden”.K. J. 1955. Bandung: Masa Baru. Budiman. 1979.D.G. “De Inscriptie van Keloerak”. M. Amen. 10. Arsip Nasional Republik Indonesia. dalam Papers of the Fourth IndonesianDutch History Conference. 1975. “Some Considerations on the Problem of the Shift of Mataram’s Center”. Elizabeth. Ethiek in Fragmenten Vijf Studies over Koloniaal Denken en Doen van Netherlanders in de Indonesische Archipel. Nagetelan transcripties van wijlwn Dr. J.M. Babad Demak.L. Bodine Loecher-Schotelf. 1949. VBG. Inscripties uit de Cailendra-tijd (Prasasti Indonesia I). LX. the Geology of Indonesia. di Bawah Pendudukan Jepang.W. F. “The evolution of the Socio-economic Status of the cast Javanese Village abd its Inhabitants”. J. 1985. The Hague: Martinus Nijhoff. 1977/1978. Japan’s Colonialism and Indonesia.. no.A. R.A. Boechari. Serat Babad Tembayat. Brandes.DAFTAR PUSTAKA Anonim (Alih aksara dan Bahasa). Jakarta : Proyek Penerbitan Sastra Indonesia dan Daerah depdikbud. van. J.. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram dan Majapahit.

dalam BKI. Pigeaud. Terjemahan Hermawan Sulistyo. Mengerti Sejarah. 1987. 1944. Jakarta : PT Grafitipers. “Out Batavia”. 4.T. Sartono. Jawa Tengah Selayang Pandang. G. Semarang: Jawatan Penerangan. Keijzer.. Mobilisasi dan Kontrol. Kurasawa. ed.Turnan. ed. Kuala lumpur. Jakarta : Djambatan. Francois Valentijn’s Ond en Nieuw Oost-Inden. H. Gottschalk. 1993. The Policy and Administration of the Dutch in Java. 1980. 1983. 1950. Jawatan Penerangan Jawa Tengah. Gramedia. Dalam FEO. Th... Graff. Jakarta : Universitas Indonesia Press. derde deel Amsterdam: Wed. Sejarah Nasional Indonesia VI. Th. The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Fransisco rodrigues.Casparis. Aiko. 22. Jakarta: P. Djajadiningrat. 1974. ed. Dale. George Mc.C. London. De Eerste Moslimse Vorstendomen op Javal’s-Gravenhage: M. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. “Prasasti Wanua Tengah III. Haan. Kahin. 1950. Kantor Statistik propinsi Jawa Tengah. de dan Th. 830 Caka: Studi tentang Latar Belakang Perubahan Status Sawah di Wanua Tengah Sejak Rake Penangkaran sampai Referensi hari jadi Kota Pekalongan 78 . Armando. Terjemahan. Melbourne : Oxforford University Press. 1862. Th. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia. Kartodirjo. de. 1977. Peralihan dari Majapahit ke Mataram. 1988. Louis. 1977. van Heine. de. “Shorts Inscription from Candi Plaosan Lor”. (Jakarta: balai Pustaka). 1923. dalam Berita Dinas Purbakala No. de. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Hoesien. Pigeaud. The Hakluyt Society. Van. R. F. Van Kesteren & Zoon. Kembali ke Pangkuan Republik Indonesia. G. 1942. Tinjauan Kritis sejarah Banten..G.J. S. J. Graff. J. “Conception of States and Kingship in South-east Asia”. No. 1975. Goldern. 1985. Kusen. dkk.J. H. New York. Nijhoff. Cortesao.

Prawirayuda. Jakarta: Djambatan dan KITLV. W. Raffles. M.Rake Watukura Dyah Balitung”. Makalah Kegiatan Ilmiah Arkeologi. 1981. Pusat Sedjarah Militer Angkatan Darat. G. Riwajat Semarang (Dari Djamannjasam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan). The Hague : Martinus Nijhoff. London : Macmillan Edication LTD. Java in the Fourteenth Century. 1993.C. Ricklefs. Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersenjata Bangsa Indonesia. “Poeniko Serat Babad Tanah Djawi Saking Nabi Adam Doemoegi ing Tahoen 1647” dalam Meinsma. 1968. Pararaton. Ng. 1960. Th.. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Thomas Stamford. 1978.Jawa Tengah. Sejarah Nasional Indonesia II.. Djakarta : Staf Angkatan Bersendjata. Yogyakarta : Penerbit Taman Siswa. Pemberontakan Tentara Peta Biliar Melawan Jepang: 14 Februari 1945. 1817. Riwayat Indonesia I. Babad majapahit dan Para Wali. Liem Thian Joe.. Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Sejarah Daerah Jawa Tengah. 1968. Sejarah Indonesia Modern. Pandji. London : Oxford University Press. Ricklefs. M. Moh. Babad Tanah Jawi (prosa). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Yogyakarta : IAAI Komisariat Yogyakarta. Jilid I.L. 1941. Jilid 3. 1991. Pigeaud. Semarang. R. 1968. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 79 . S’Gravenhage : W Van Hoeve Martinus Hijhoff. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.. History of Modern Indonesia. Padmo Puspito (Penerjemah). 1952. Poesponegoro. ed. History of Java. 1964. Olthof.C. Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto. 1988. Terjemahan Dharmono Hardjowidjono. Marsono (alih bahasa).. Jakarta : Balai Pustaka. Djakarta : Lembaga Sedjarah Hankam. Nugroho. 1933. Poerbatjaraka. Oemar.. Notosusanto. Djakarta : Pembangunan.

Singapore. I Made.H. Nagari Tawon Madu. 1980. Sutherland. Jakarta : Jambatan dan KITLV. Sedikit Uraian tentang Pranata Perdikan. Yogyakarta : Yayasan Kanisius. jilid 2. Jakarta : Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. VI. Heather. Sejarah Sosial Pedesaan Karisidenan Semarang 1830-1900. Soekmono.P.. Overdrukuit Adatrecht bundel XXXIV. Kuala Lumpur. The Hague-Bandung: W van Hoeve. 1981. Suryo. dalam BKI. jilid II.J. Caruh Kanda Carang Seket. G. S”. Heather. “Wanneer in Madjapahit Gevallen. Slametmulyana. Part Two: Ruler and Realm in Early Java. Saleh. 2001. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 80 . Mulyono (alih bahasa). 1979. Z. Rouffaer. 19 April 1975. Subalidinata dan Supriyanto (ahli aksara dan bahasa). Babad Demak. Schrieke. G. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. No. Sudjana. Sutherland. “Een belangrijk oorkonde uit de Kedu”. Serie D. Serat Kandhaning Ringgit Purwa.Riyadi. Babad Jaka Tingkir (Babad Panjang). 1968.O. Sastronaryatmo. B. Jakarta : Proyek Penerbitan Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. Jakarta : Bhatara. 1977. Stutterheim.D. Schrieke. Indonesia Sociological Studies. The Making of Bureaucratic Elite. Slamet (alih aksara). “Vorstenlanden”. 1899. 1993. Yogyakarta : Pusat Antar Universitas Studi Sosial UGM. R. Sudibjo. 1927... Het Tijdperk van goodsdients overgang (1400-1600) in den Maleischen Archipel”.O. 1931. Tiga Undang-undang Dasar.J. Wantjik. Jakarta : Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. Sudjana. dan T. Jakarta : Ghalia Indonesia. Runtuhnya Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Djoko. 1975. dalam TBG. 1989.. 1957. Jakarta : Bratara. Bali: Larasan Sejarah. 1981. LXVII. “The Priyayi” dalam Indonesia. Rouffaer. Gravenhage: martinus Nijhoff. B. 1988. 81. Hongkong : Heinmann Educational Book (Asia) Ltd.P.

Pandji Poestaka. Asia Raya.Sutjipto. Uka. 1971. 1958. 1993. Kan Po. Manila: IAHA. KORAN dan MAJALAH Asia Raya. Sejarah Nasional Indonesia III. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. No. W.2 11 April 1942. Jakarta: Balai Pustaka.. 2 Tahoen I Boelan 9-2602. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya. ed. No.. Referensi hari jadi Kota Pekalongan 81 . No. No. Kan Po. The Haque: W. Van Hoeve Ltd.A. F. 1984. Yogyakarta : Liberty. Van Niel. 1984. Fifth Conference on Asian History. Robert. “Someremarks on the Harbour City of Japara in the Seventeeth Century”. F. Munculnya Elit Modern Indonesia. 35 Tahoen 2604. Kan Po. Wertheim. The Indonesian Town Studies in Urban Sociology. Jilid I. The Liang Gie. Tjandrasamita. 11 Mei 1942. Verslag van De Toestand Der Gemeente Semarang over 1917. 1 Tahoen I Boelan 8-2602. 28 Mei 1942..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->