1993

82. Infeksi Nosonomial (I) Januari 1993

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

Daftar Isi :
2. Editorial 4. English Summary 5. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr Cipto Mangunkusumo dengan Sumber Daya Minimal – Robert Utji 8. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan, Jakarta – H Thamrin Hasbullah 13. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Dr Soetomo, Surabaya – Djoko Roeshadi, Alit Winarti 16. Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Mitra Keluarga, Jakarta – Hartati Kurniadi 18. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSU Bekasi –Dean Wahyudi Satyaputra 21. Sterilitas Udara Ruang Operasi dan Peralatan Bedah serta Higiene Petugas Beberapa Rumah Sakit di Jakarta – Pudjarwoto Triatmodjo 25. Peranan Laboratorium dalam Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial – Dalima Ari Wahono Astrawinata 28. Kebiasaan Cuci Tangan Petugas Rumah Sakit dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial–DAnwar Musadad, Agustirta Lubis, Kasnodihardjo 32. Air sebagai Sumber Kontaminasi – Usman Suwandi 36. Infeksi pada Transplantasi Ginjal dan Pencegahannya – R.P. Sidabutar, Suhardjono 39. Dampak Proses Chlorinasi Air pada Kesehatan – Inswiasri, Agustina Lubis 42. Manifestasi Mata Penyakit Sistemik – Hilman Taim 45. Bank Mata – Sidarta Ilyas 49. Evaluasi Pemakaian Kelabu Dipoles Permethrin untuk Penanggulangan Malaria dengan Vektor An. sundaicus di Lampung – Santiyo Kirnowardoyo, Panut, Hasan Basri, Adi Waluyo 53. Sensitivitas Plasmodium fal,ciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di Desa Pekandangan, Jawa Tengah – Emiliana.T., Sekar Tuti, M Renny, PR Arbani, Harijani AM 57. Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran Tahun 1992 61. Humor Kedokteran 62. Abstrak 64 RPPIK

Karya Sriwidodo

Mungkinkah seseorang yang dirawat di rumahsakit menjadi bertambah penyakitnya? Suatu pertanyaan yang kedengarannya aneh; tetapi bila direnungkan lebih dalam, hal tersebut tidaklah mustahil – bukankah rumahsakit merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis penyakit, baik yang menular maupun yang tidak? Tentu saja kemungkinan di atas merupakan hal yang sedapat mungkin dihindari, karena bukan saja akan menambah biaya perawatan, tetapi lebih-lebih akan memperberat penderitaan pasien yang bersangkutan. Jadi usaha yang dilakukan tidak cukup dengan usaha pengobatan saja, tetapi meliputi juga tindakan pencegahan terjadinya infeksi yang terjadi di rumahsakit yaitu infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial merupakan masalah, terutama di rumahsakitrumahsakit besar yang merawat pasien dengan berbagai jenis penyakit, baik yang menular maupun yang tidak. Masalah ini harus selalu dipantau dan dicegah sedapat mungkin, antara lain dengan menerapkan tindakan asepsis, mengurangi tindakan invasif dan – yang tidak kurang pentingnya – membiasakan para petugas berperilaku higienis. Masalah ini merupakan pokok bahasan edisi ini, meliputi pengalaman di berbagai rumahsakit, pemeriksaan laboratorium yang relevan dan kemungkinan sumber infeksi; semoga bahasan ini berguna bagi para sejawat agar tidak menjadikan pasiennya bertambah sakit. Redaksi
Untuk memperluas jangkauan, maka sejak tahun 1993 ini, Cermin Dunia Kedokteran tidak lagi hanya dibagikan oleh PT Kalbe Farma, tetapi juga oleh PT Dankos Laboratories, PT Bintang Toedjoe, PT Hexpharm Jaya dan PT Pfrimmer Infusol Indonesia. Hal ini terlaksana berkat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi tersebut di aks; untuk itu Redaksi mengucapkan terima kasih, semoga dengan cara ini Cermin Dunia Kedokteran dapat semakin luas dibaca dan dimanfaatkan.

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993

dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya.H KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran P. Baltimore. Dr. – Drg. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS – Drs. – Prof. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Sadrach Lembaga Penelitian Universitas Trisakti. l990 64 : 7-10. sebutkan semua. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Contoh: Basmajian JV. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. 1984.J. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Kirby RL. 457-72. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. 90 : 95-9). hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. London: William and Wilkins. akan diberitahu secara tertulis. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Surabaya. Box 3105 Jakarta 10002 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan.O. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Sudarto Pringgoutomo Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. I. – Dr. Bila terpisah dalam lembar lain. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . 4893549. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. B. Jakarta – DR. 1st ed. satu muka. R. 4891502 NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbe Farma PENCETAK PT Midas Surya Grafindo – Prof. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Oka Wangsaputra – DR. – Prof. Pathogenetic properties of invading microorganisms. MSc. P. eds. Bila tidak ada. Box 3105 Jakarta 10002 Telp. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. Departemen Kesehatan RI. bila tujuh atau lebih. – Prof.1992 International Standard Serial Number: 0125 – 913X REDAKSI KEHORMATAN KETUA PENGARAH Dr Oen L. Semarang. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. DR. kedokteran dan farmasi. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. 4892808 Fax. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. DR. Dr. Jakarta – Prof. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Sri Oemijati. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Jakarta. Jakarta. 1993 3 . Jakarta. Hal 174–9. SE.P. Weinstein L. bila menggunakan bahasa Indonesia. Sodeman WA. bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Victor S Ringoringo. Setiawan – Drs. Gunadi Budipranoto – DR. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. Jakarta. Sumarmo Poorwo Soedarmo Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Cermin Dunia Kedokteran No. – Prof. Medical Rehabilitation. Susy Tejayadi Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Swartz MN. 82. REDAKSI KEHORMATAN – DR.10 halaman kuarto. Dr. R. Pathologic physiology: Mechanisms of diseases. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. B. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Bila pengarang enam orang atau kurang. Dalam: Sodeman WA Jr. DR. Chandra Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Philadelphia: WB Saunders.O. 1974. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran P. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuseripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979.

82. The hand swab test showed that 34. Jakarta PRACTICE OF HAND-WASHING AMONG HOSPITAL PERSONNEL D. In addition.8% of medical doctors said that they always wash their hands before and after handling the patients. There were 415 respondents which consist of 293 paramedics and 122 medical doctors. Indonesia.82: 21-4 st/olh A study on hand washing practice among hospital personnel has been done at 7 hospitals in Jakarta. Anwar Musadad. Staphylococcus. Health Research and Development Board. 1993. including the surgical instruments.English Summary SURGICAL ROOMS AND SURGICAL INSTRUMENTS STERILITY AND PERSONNELS HYGIENE IN SEVERAL HOSPITALS IN JAKARTA Pudjarwoto Triatmodjo Health Research and Development Center. several surgical instruments were found to be contaminated by bacteria. Pseduomonas. Cermin Dunia Kedokt. Proteus.1993 .which was higher than the required limit. Department of Health. Kasnodihardjo Research Centre on Health Ecology. Staphylococcus was the most frequent contaminant. Agustina Lubis. Indonesia. the bacterial count in several nursing rooms varies between 10-300 CPU/15'. a hand-swab test of nursing personnel was conducted. coil. 1993 . isolation of microorganisms were carried out in various nursing rooms and surgical rooms. Jakarta In order to determine the spread of infections in hospitals. 82: 28-31 Dam 4 Cermin Dunia Kedokteran No.the bacterial count was more than 15CPLI/15'.2% of paramedics and 41. It means that the handwashing practice among hospital personnel has not been adequate. This study found that 95.4% of the nursing personnel contaminated by nosocomialcausing microorganisms.Department of Health. such as E. But according to our observation. Cemin Dunia Kedokt.. In addition. Furthermore. Streptococcus and molds such as Aspergillus sp. most of them do not wash their hands.1% of paramedic hand-swab contains microorganisms ranging from 19 x 102 to 15 x 106. It was found that in the surgical operating rooms in several hospitals. The result of laboratory examination showed that 97.

Perawat Pengendali Infeksi (Infection Control Nurse). Apalagi di Rumah Sakit yang jumlah penderita yang dirawatnya banyak dengan tenaga perawatnya masih terbatas. Rumah sakit dan profesi kesehatan mempunyai tanggung jawab moral untuk to do the patient no harm. dengan angka mortalitas 1%0). Farmasi Rumah Sakit. Idealnya semua program yang disusun dijalankan secara utuh. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan prinsipprinsip higiene kurang mendapatkan perhatian. Surveilans Surveilans adalah pengamatan yang seksama pada waktu tenentu terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit. 82. kateter.Artikel Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr. bagaimana di RS Dr. Ketua PPIN adalah seorang Klinikus ahli penyakit infeksi yang juga memperdalam pengetahuan epidemiologi dan mikrobiologi. 1993 5 . Cipto Mangunkusumo dengan Sumber Daya Minimal Robert Utji Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. ORGAMSASI PPIN Organisasi PPIN adalah bersifat lintas sektoral dan terintegrasi di antara banyak disiplin pelayanan seperti dokter ahli penyakit infeksi. Tujuan PPIN yang paling utama adalah mencegah terjadinya infeksi pada penderita di Rumah Sakit dan juga tenaga kesehatan(3). Cermin Dunia Kedokteran No. Di dalam organisasi diperlukan juga seorang yang secara khusus menangani soal dana untuk program serta kelancaran pelaksanaannya. ruang rawat TST. Surveilans mikrobiologi penting untuk mengetahui sumber penyebab INOK sehingga langkah-langkah pengendalian dan pencegahan. ahli mikrobiologi. dan lingkungan seperti di IGD. Standar profesi ini adalah dalam program yang disusun dan dilaksanakan oleh PPIN seperti surveilans. bagaimana dengan sumber daya minimal? Dalam uraian berikut ini kita akan perhatikan masingmasing komponen program PPIN. tenaga kesehatan atau lingkungan rumah sakit untuk memperoleh data untuk ditabulasi dan dianalisa. Jabatan Ketua tidak boleh terlampau singkat mengingat program-program PPIN tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. ahli bedah. Tugas PPIN adalah melaksanakan surveilans. Bagian Rumah Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian Infeksi Nasokomial di Rumah Saki: dengan Sumber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. Ini dapat terlaksana dengan memberikan pelayanan kepada setiap penderita dengan standar profesi tertinggi. infus. menentukan kebijakan-kebijakan dan cara-cara pencegahan infeksi. administrasi Rumah Sakit. Ketua PPIN harus diberi wewenang untuk mengambil keputusan penting yang berhubungan dengan INOK.4% dan angka yang tertinggi INOKnya di Bagian Parasitologi dengan Sepsis(2). Surveilans akan memberikan gambaran tentang INOK atau suatu KLB. dan ICU. Unit Sterilisasi Sentral. pendidikan nosokomial kepada tenaga kesehatan. Di Amerika Serikat dilaporkan INOK mencapai 5% per tahun bahkan mungkin lebih lagi. Cipto Mangunkusumo? Sebagai ilustra'si di RSCM telah dilakukan surveilans terbatas selama 6 bulan (1990) dengan hasil sebagai berikut : insiden berkisar antara 0 – 14. pelacakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sebagainya. Di RSCM surveilans terhadap penderita yang dirawat sudah berjalan rutin secara Minis untuk memantau risiko infeksi penderita operasi. Tangga Rumah Sakit dan sebagainya. Jakarta PENDAHULUAN Infeksi Nosokomial (INOK) merupakan masalah yang besar di setiap Rumah Sakit. Surveilans mikrobiologi belum rutin dilakukan terhadap penderita kecuali penderita luka bakar. tetapi menuntut dana yang besar.

After a program has been well established. partly because personnel do not know of the availability of the ICP. More time is then allocated to teaching. so that administrative time can be decreased.Buku Panduan Segala keputusan PPIN sebaiknya dituangkan di dalam sebuah buku panduan untuk setiap unit di Rumah Sakit.an. cuci tangan dengan air mengalir. Little time is spent in teaching and consulting. kita harus dapat tentukan faktor yang paling utama. Prioritas PPIN harus melaksanakan banyak program. sabun dan desinfekt. Example of time spent in infection control activities in programs 1–2 years old. Sumber Sumber infeksi dapat berupa kuman. Gambar 2. virus. by size and type of institution. all three parts of the infection chain must be present. Kita akan melihat 3 faktor yang bersama-sama menentukan terjadinya INOK (Gambar 3). Additionally. consulting. and all criteria must be met. Di dalam menentukan skala prioritas untuk melakukan pengendalian. cuci tangan biasa untuk merawat penderita tanpa tindakan invasif hanya perlu air mengalir dan sabun. Examples of time spent in setting up infection control programs. sabun air mengalir. Berikut ini sebuah contoh prioritas untuk langkah awal. lanjut sebuah rumah sakit dan prioritas untuk macam-macam rumah sakit (Gambar 1 dan 2)(1). For an infection to occur. only annual review is necessary. protozoa dan parasit yang terdapat di alam. Gambar 1. Buku ini harus menjadi pedoman untuk diketahui dan dilaksanakan oleh para tenaga kesehatan. Isi buku ini memberikan petunjuk-petunjuk praktis seperti petunjuk tentang cara cuci tangan yang baik. by size and type of institution. In setting up a program. in both hospitalwide manual and the infection control sections of departmental manuals. desinfektan alkohol dan waktu cuci tangan yang lebih lama. kateter dan sebagainya. Smaller institutions will generally require less time to do total hospital data collection than will larger facilities because of the increased complexity of care. or special studies. supaya efisien dan efektif harus ditentukan prioritas. untuk tindakan invasif seperti pemasangan infus. much time is needed for surveillance and reporting infections to establish baseline infection rates. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. Gambar 3. once infection control manuals (hospitalwide and departmental sections) have been completed. Apakah cuci tangan untuk tindakan operatif harus pakai sikat. less time is needed for surveillance and reporting activities. 82. 1993 . Administrative activities consume a great amount of time because of the need to develop infection control manuals. Bahkan manusia sehat juga penuh EPIDEMIOLOGI Untuk pelaksanaan pengendalian dan pencegahan perlu diketahui epidemiologi INOK.

Hospital Infection Control. Hand washing practices for the prevention of nosocomial infections. 1993 7 . Faculty of Medicine. Castle M. 83: 683. Dengan tindakan mencuci tangan secara benar saja. hal 1-4. PO Box 4200/JATJG Jakarta 13041 INDONESIA Cermin Dunia Kedokteran No. Secr. Hosp. cairan desinfektan yang mengandung kuman. A personal view. Untuk penderita yang imunokompromi. Penularan melalui tangan perawat dapat secara langsung karena tangan yang kurang bersih atau secara tidak langsung melalui peralatan yang invasif. Intern. KEPUSTAKAAN 1. sering meningkatkan risiko INOK. 1977. Cara Penularan Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan sebagai penyebab yang paling utama INOK. RSCM. Pract. University of Indonesia. Made Nursari. Untuk memutuskan mata rantai infeksi. New York: Wiley Medical. 1971. Laporan Surveilans Nosokomial. penderita harus menjadi obyek yang paling utama : to do the patient no harm. Surveilan penderita harus dibarengi dengan surveilan bakteriologik supaya dapat ditemukan sumber infeksinya. Penderita Penderita selalu menjadi sasaran benih penyakit karena biasanya keadaan tubuh yang lemah. Langkah pertolongan yang diberikan rumah sakit dalam perawatan penderita serba sulit karena perawatan yang berlebihan akan meninggikan risiko infeksi dan perawatan yang kurang akan melemahkan daya tahan penderita. Lingkungan kita terkenal dengan sumber kuman patogen yang paling besar. 1987. 1990. Principle and Practice. Tujuan pengendalian harus diprioritaskan kepada penderita terlebih dahulu dan tidak pada tenaga kesehatan. 2. INDONESIA. 82. 12(1): 135. INOK dapat dikurangi 50%t`l. prioritas utama adalah pada tenaga perawat dengan jalan mengubah perilaku menjadi lebih aseptik dan menjalankan peraturan-peraturan dalam buku panduan secara konsekuen.dengan kuman yang dianggap normal. Dalam pengendalian INOK. 2. Kita harus cepat dapat menanggulangi atau mencegah infeksi dari luar maupun dari dalam. 1993 – DERMATO-THERAPEUTIC UPDATE '93 – INTERNATIONAL SYMPOSIUM Nusa Indah Convention Centre Bali. Ajemian E. Med. Mallison GF. 2nd ed. KALENDER PERISTIWA May 3 – 6. biayanya akan sangat besar dan tidak praktis. Ann. Steere AC. Keadaan yang paling optimal adalah kalau penderita dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus oleh perawat tertentu. air yang terkontaminasi kuman. Bila PPIN akan mengawasi semua sumber kuman dengan jalan memantau secara rutin. La Force FM. KESIMPULAN Sekarang pertanyaan yang penting yang perlu dijawab : Bagaimanakah Rumah Sakit dapat melakukan pengendalian INOK dengan sumber daya yang minimal ? 1. The Hospital Infection Control Committee. kuman normal pun dapat menjadi patogen karena daya tahan tubuh yang berkurang.: Dept. 4. Peralatan yang kurang steril. 3. 3. of Dermatovenereology.

dengan tambahan biaya $ 1. serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial. Juli 1988. dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu. Rumah Sakit Persahabatan. pengalaman di RSUD Dr.– PERMASALAHAN – Rumah sakit merupakan tempat mondok segala macam jenis penyakit. Jakarta PENDAHULUAN Masalah Infeksi Nosokomial pada tahun terakhir ini telah menjadi topik pembicaraan di banyak negara.– 1987 : Han Rawat = 416 hari.000. dan penyakit penyerta. kateterisasi saluran kemih. – Rumah sakit merupakan gudang kuman-kuman patogen. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Ada dua faktor yang memegang peranan penting : * Faktor Endogen : Faktor yang ada di dalam penderita sendiri seperti umur. Justru dalam situasi lingkungan seperti inilah orang sakit yang rata-rata daya tahan tubuhnya menurun harus dirawat agar ia sembuh dari penyakitnya. INFEKSI NOSOKOMIAL Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat penderita selama/oleh karena dia dirawat di rumah sakit. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa dengan mengendalikan infeksi nosokomial pada Infeksi Luka Operasi (ILO) dapat dihemat biaya : 1986 : Hari Rawat = 552 hari.000 pertahun dengan pengeluaran biaya pelayanan tambahan $ 4 Miliard pertahun (Medical Care Journal. Izin operasi suatu rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. sex. pihak asuransipun tidak mau membayar biaya lebih yang ditimbulkan akibat infeksi nosokomial sehingga pihak penderita sangat dirugikan. biaya Rp. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut. seperti : operasi. 5. tindakan invasif. Suatu infeksi pada penderita barn bisa dinyatakan sebagai infeksi nosokomial bila memenuhi beberapa kriteria/batasan tertentu : 1. 3.000. 82. 1993 . Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut. 4. atau endoskopi. rata-rata tambahan hari rawat adalah 4 hari. Di Indonesia. Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Saki[ dengan Somber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. bahkan di Amerika. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi. 8 Cermin Dunia Kedokteran No.000. 136. 2.800 per kejadian infeksi. bahkan terhadap banyak antibiotika. Di negara maju. Di rumah sakit banyak dilakukan tindakan yang mengandung risiko terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya. Dari literatur dapat dilihat betapa seriusnya masalah ini di Amerika : Angka kejadian infeksi nosokomial rata-rata 6%. 2. angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolok ukur mutu pelayanan rumah sakit. Jakarta H. – Kuman yang biasa mondok di rumah sakit umumnya kebal terhadap antibiotika. Telah diketahui bahwa pengelolaan infeksi nosokomial menimbulkan biaya tinggi. biaya Rp. Tanda-tanda klinik infeksi tersebut baru timbul sekurangkurangnya setelah 3 x 24 jam sejak mulai perawatan. Thamrin Hasbullah UPF Ilmu Bedah. infeksi nosokomial termasuk dalam 10 besar penyebab kematian. dan pemeriksaan bahan-bahan infeksius. berupa kateterisasi IV. Angka kematian infeksi nosokomial mencapai 60. baik yang ditanggung pihak penderita maupun pihak Rumah Sakit. 26: 7).Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan.000.

lebih mudah. obesitas atau penyakit khronis lainnya. dan keadaan kulit penderita. Bagan 1. – Melakukan semua standar prosedur kerja dengan benar dan sempurna (SOP : perawatan. lebih murah dan tidak berbahaya baik bagi penderita maupun lingkungannya. Sedangkan kuman pendatang yang berasal dari lingkungan terletak di permukaan kulit. 82. Caranya adalah dengan memutus mata rantai terjadinya infeksi nosokomial : – Meningkatkan pengetahuan personil rumah sakit tentang infeksi nosokomial. apakah normal atau ada luka. peralatan. kelompok yang merawat penderita. penyakit penyerta seperti DM. dan teknik medis yang dilakukan. BREAKING THE CHAIN OF INFECTION Penderita Penting diketahui antara lain : keadaan umum. Dalam pengendaliannya perlu diingat bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. tempat-tempat sampah yang tertutup. cara membersihkan dan mensterilkan. dan kadang-kadang perlu fumigasi atau pemusnahan bahan. Peralatan Sangat perlu diketahui mengenai cara penggunaan. misalnya dengan memakai kantong plastik yang dapat segera ditutup.* Faktor Eksogen : Faktor di luar penderita. dan udara supaya tetap bersih. ada kuman komensal. pengetahuan tentang sep- Cermin Dunia Kedokteran No. perlu diperhatikan kesehatan dan kebersihannya. Jumlahnya dapat dikurangi dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan. yakni kuman yang "normal" berada dalam pori kulit. dan ketrampilan dalam menerapkan teknik perawatan. 1993 9 . tindakan dan penggunaan/pemilihan alat-alat dan lain-lain). dan cara menyimpan dan mempertahankan kesterilannya. Staf rumah sakit Dokter dan personil paramedis merupakan sumber infeksi yang penting dalam terjadinya infeksi nosokomial. Dalam hal tertentu udara perlu disaring (filtrasi). lingkungan. ini dapat dihilangkan dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan. Sumber Infeksi d Rumah Sakit tik dan aseptik. Bagan 3. seperti lama penderita dirawat di rumah sakit. Kulit normal sudah mengandung banyak kuman yang bisa menjadi penyebab infeksi. Lingkungan Perlu diperhatikan: Kebersihan lingkungan. mengalir dan dengan kelembaban tertentu. – Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang risiko infeksi nosokomial bagi pasien yang dirawatnya. air yang dipakai. Bahan yang harus dibuang (disposal) diusahakan tidak menjadi sumber infeksi.

pendidikan. – Pneumonia. 2) Menetapkan struktur organisasi (Bagan 4). – Sepsis. hal ini memerlukan motivasi dan pengetahuan yang bisa diperbailci melalui pendidikan. – Analisis data. Peranan pendidikan personil sangat penting. 82. Kebijaksanaan bahwa pengendalian infeksi nosokomial masuk dalam program prioritas di rumah sakit.– Identifikasi penyebab infeksi nosokomial. – Cara pemantauan infeksi nosokomial (surveilans). Bagan 4. kertas petunjuk di pintu. karena pencegahan infeksi nosokomial hanya dapat berhasil bila ada perubahan perilaku personil. dan petugas informasi di ruangan. Langkah-langkah pokok yang perlu dilaksanakan oleh rumah sakit : 1) Menetapkan kebijaksanaan. – Dengan biaya pengendalian yang murah dapat dihemat hari 10 Cermin Dunia Kedokteran No. − Penetapan penyebab. KESIMPULAN – Infeksi nosokomial dapat dikendalikan dan angka kejadiannya dapat diturunkan dengan sepertiganya. dengan demikian dapat dipastikan adanya dukungan sumber daya. Pelaporan/umpan balik. 4) Pencatatan. misalnya : – Infeksi Luka Operasi. − Dipantau hasilnya. − Baru dilakukan intervensi. tepat. sedang UPF bertugas melaksanakan prosedur. – Pemberian pengobatan yang tepat dan rasional. 5) Pendidikan personil. – Infeksi Saluran Kemih. Mekanisme dam pencegahan dan surveilans. – Pengumpulan data. prosedur kerja. – Mengikutsertakan penderita dan keluarga dengan memberikan pengetahuan praktis tentang infeksi nosokomial serta penyakit yang sedang diderita penderita. Prosedur kerja yang perlu ditetapkan adalah : – Cara pencegahan infeksi nosokomial. − Ditambah analisis penderita. Pada kejadian Luar Biasa perlu ditetapkan : − Tata cara untuk melakukan identifikasi masalah. tertib dan berkesinambungan. 3) Penyusunan rencana kerja. – Memberi petunjuk praktis pada pengunjung tentang hal-hal yang perlu dijaga/dilakukan/dihindarkan pada waktu berkunjung melalui papan pengumuman. pelaporan dan tindakan koreksi. Bagian Dasar Struktur Organisasi Penyimpulan data. Mekanlsme dasar yang dlperlukan 1. melalui PKMRS. Panitia Medik Pengendalian Infeksi (Dalin) mempunyai tugas pokok menyusun kebijaksanaan dasar. – – Bagan 5. − Baru ditetapkan hipotesis penyebab. pemantauan. Contoh : pada KLB : − Digunakan analisis sebab akibat. – dan lain-lain. Perlu ditetapkan prioritas masalah infeksi nosokomial yang akan ditanggulangi dari masalah yang ada. – Penyusunan data. tim Dalin mempunyai tugas pokok menyusun prosedur. − Cara pemecahan masalah. 1993 . Dilaksanakan dengan terarah.

∗ Tindakan perasat invasif intra vena. yang terinfeksi 1 = 1. 2) Tidak ada dana sama sekali. dan para PRR seluruh UPF beserta wakilnya. – Mengadakan surveilans (terbatas). yakni menyebarluaskan pengetahuan tentang infeksi nosokomial melalui : – Membagi dan menyebarkan pengetahuan tentang infeksi nosokomial kepada seluruh anggota Komite. terkoordinir serta terkendali. – Mencari angka dasar infeksi nosokomial. – Pengendalian infeksi nosokomial tidak terlalu sukar.rawat dan biaya pelayanannya. Cara kerja 1) Membuat program jangka pendek. Invasif Intra Vena : I. – Membuat peta mikroba kuman-kuman rumah sakit. 82. Di sini banyak dilakukan tindakan dengan risiko infeksi bagi penderita seperti operasi. Tabel 1. – Menyusun Buku Panduan. baik untuk rawat jalan maiupun untuk rawat nginap. dan juga merupakan pusat pendidikan dokter ahli terutama Ahli Penyakit Paru serta tempat pendidikan paramedis. – Standar prosedur kerja perasat/tindakan seperti : ∗ Persiapan operasi. Materi Penataran meliputi : – Pengenalan tentang infeksiNosokomial secara menyeluruh. ∗ Pengambilan dan penyajian makanan. yang telah mengikuti penataran tentang infeksi nosokomial hanya 4 (empat) orang.10 Juni 1991) Operasi Bersih Operasi Bersih Terkontaminasi Ruang Bedah Kelas Kebidanan Kelas Cempaka A Cempaka B Jumlah Jumlah 28 8 14 40 90 Jumlah Terinfeksi Jumlah Terinfeksi 26 8 13 39 86 – – – – – 2 – 1 1 4 – – – 1 1 Dari 90 kasus. untuk itu diadakan kerja sama dengan FKUI/RSCM. Pelaksanaan Penataran diadakan bekerja sama dengan Bidang Diklat Rumah Sakit Persahabatan dan Bidang Perawatan Rumah Sakit Persahabatan. 4) Pada bulan September 1989 telah dibentuk Komite Pengendalian dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Persahabatan.1%. Penataran dilaksanakan secara bertahap dengan pesertanya ialah para PRU seluruh UPF beserta wakilnya. Unit-unit/Ruang Rawat Biasa (Penilaian kasus yang masuk dalam 2 minggu). tindakan invasif. asal setiap petugas rumah sakit dapat memahami dan menyadari peranannya masing-masing dan pengendaliannya dilakukan dengan terencana. 3) Telah dibentuk beberapa Komite Pendamping Pimpinan untuk urusan khusus yakni : – Dewan Medik. dan lain-lain. – Mengirim tenaga PRU UPF ke Seminar dan Penataran Nosokomial. ∗ Perawatan luka operasi. 2) Rumah Sakit Persahabatan telah melaksanakan program menjaga mute yang meliputi bidang administrasi dan bidang pelayanan. RUMAH SAKIT PERSAHABATAN Rumah Sakit Persahabatan merupakan rumah sakit tipe/ klas B. 3 kasus (terkena infeksi (25%). yang berfungsi sebagai top referral hospital untuk penyakit thorax non kardial. – Mengisi acara Siang Klinik Dokter. Cermin Dunia Kedokteran No. – Komite Farmasi. 2) Membuat program jangka panjang yakni : – Mengadakan penataran untuk paramedis semua UPF secara bertahap. Sarana yang menunjang 1) Struktur Organisasi Rumah Sakit Persahabatan sudah lengkap (Struktural dan Fungsional). – Mengisi acara Siang Klinik Paramedis. Kendala yang dihadapi 1) Komite Nosokomial beranggotakan 16 orang. Penyakit dalam Jumlah Kasus Terinfeksi % 26 – – Anak 68 – – Paru 61 7 11% Kardiologi 2 – – II. Hasil Evaluasi Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Persahabatan (Mel 1991) A. ∗ Sanitasi. kateterisasi saluran kemih. ILO (Infeksi Luka Operasi) pada operasi bersih/bersih terkontaminasi (12 Mel 1991 sd. – Uji coba surveilans tindakan invasif intra vena dan infeksi luka operasi. – Komite Medical Record. ∗ Pengambilan sampel infeksius dan cara pengirimannya. – Dengan pengendalian infeksi nosokomial dapat dijaga dan ditingkatkan mutu pelayanan rumah sakit. karena instansi ini sudah mempunyai anggaran. B. ∗ Tindakan perasat invasif kateterisasi kandung kemih. endoskopi. 1993 11 . kateterisasi intra vena. Ruang Rawat ICCU : dari 12 kasus (total). beserta resistensi testnya.

1 2 3 4 5 Ruangan Anak Atas Melati Atas Melati Bawah Mawar Atas Penyakit Dalam Mawar Kardiologi Infus 35 21 46 9 9 Plebitis n 1 6 5 5 7 % 2. Keterangan : Pengamatan selama tiga minggu. (eds.7 70 7. hal.4 35. Infection Control : a policy and procedure manual. ha155. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 – – – – 1 – 6 5 5 7 Keterangan : TD TAK ISK Fl ILO = tidak diamati = tidak ada kasus operasi = infeksi saluran kemih = Flebitis = infekri luka operasi Life is half spent before we know what it is 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Tabel 1. Buku Simposium Keperawatan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Ruangan Kebidanan Klas II Kebidanan Umum Bedah G. Ayliffe GAJ. 2. Lowbury EIL.8 % 28. Rumah Saki' Persahabatan.5 % 10.Dibacakan pada Sidang Klinik Dokter Rumah Sakit Persahabatan. 1989.5 % 77. 55. 4. 3. Tabel 2. hal ini merangsang minat UPF lainnya. Anggota-anggota Komite Nosokomial sudah punya pengetahuan dasar yang lumayan. Oktober 1988) No. Prevalensi Infeksl Nosokomial menurut Ruang Rawat dengan tindakan Invaslf tertentu (September/Oktober 1988) No.B Saunders Co. Soetomo.32 Keterangan Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Tanpa antibiotik Sumber : Buku Simposiwn Keperawatan Oktober 1988. 1975.Kes RI dan RSUD Dr. Tiap-tiap UPF sudah mempunyai tenaga inti sebagai pelaksana pemantauan infeksi nosokomial. Palma MB.C. A practical Handbook.8 % 55. 3. Pengendalian dan penanggulangan infeksi nosokomial sudah masuk dalam program menjaga mutu Rumah Sakit Persahabatan. 4.85 – 25 10. Materi Penataran dan Latihan Pengendalian Infeksi Nosokomial Tingkat Nasional 5 Desember s/d 17 Desember 1988 di Surabaya oleh Dep. Proporsi Infeksi Nosokomial menurut Lokasi Infeksi dan Ruang Rawat dēngan tindakan Invasif tertentu (September/Oktober 1988) Ruangan Kebidanan Klas Kebidanan Umum Bedah GT Bedah Cempaka A Bedah Cempaka B Anak Atas~ Anak Bawah Melati Atas Melati Bawah Mawar APD Mawar Kardiologi Keluar RS 10 27 18 42 25 35 75 24 48 14 10 Kateterisasi n 3 7 TD TD TD – – 3 2 5 1 ISK – – n 7 18 TD TD TD 35 75 21 46 9 9 Infus Fl – – Operasi n – 2 18 42 25 TAK TAK TAK TAK TAK TAK ILO 1 – – – No.7 % Lampiran 1. PengenaanPengendalianInfeksiNosokomial. 2. 1993 . Thamrin Hasbullah. 1989. Angka kejadian lnfeksi menurut lokasl ruang rawat dengan tindakan Invasif intra vena (September 1988 ad.T Bedah Cempaka A Bedah Cempaka B Anak Atas Anak Bawah Melati Atas Melati Bawah Mawar APD Mawar Kardiologi Jumlah Jumlah Prevalenai LN KRSP (%) 10 27 18 42 25 35 75 24 48 14 10 328 – – – – – 1 – 6 5 5 7 24 – – – – – 2. 5. HASIL 1. Oktober 1988.) Control of hospital infection. Ala rasa kebanggaan pada UPF yang angka infeksi nosokomialnya cukup rendah. W. 82. KEPUSTAKAAN 1.

82. maupun oleh perawat untuk semua jenis infeksi nosokomial. standar surveilan maupun standar organisasi. Soetomo. Soetomo. Secara definisi. not killing germs more completely or buying better equipment and supplies. Untuk pelaksanaan program. Program pengendalian infeksi nosokomial di RSUD Dr. Surabaya. angka kematiannya cukup tinggi : 1 juta/ tahun. selama ± 1 tahun oleh anggota panitia hanya dilakukan penelaahan kepustakaan dengan tujuan untuk memperoleh kesatuan pendapat tentang infeksi nosokomial. MATERI DAN CARA Surveilan infeksi lukā operasi dilakukan UPF Bedah yang dilaksanakan tileh semua peserta PPDS I. Standar ini dapat terlaksana pembuatannya setelah melalui miniseminar yang dihadiri oleh semua wakil-wakil UPF sehingga dicapai kesepakatan. Pada tahun-tahun berikutnya telah dilakukan continuous surveillance yang dilaksanakan baik oleh peserta PPDS I maupun perawat khusus dari 5 UPF besar ditambah dengan UPF Saraf yang telah dilatih secara khusus. Alit Wlnarti Panitia Medik Pengendalian Infeksi RSUD Dr. dan juga merupakan pemborosan yang besar. (Haley) PENDAHULUAN Infeksi nosokomial sangat merugikan baik penderita maupun rumah sakit. Pada periode ini telah berhasil disusun standar. Gambar 1. surveilan dilakukan baik oleh dokter untuk luka operasi bersih. Surabaya Djoko Roeshadi. Dari data yang didapat dari surveilan WHO nyatalah bahwa angka kejadiannya cukup tinggi : 5% tahun atau 9 juta orang dari 190 juta yang dirawat. Soetomo. dibentuk juga organisasi Dalin (Gambar 1). Indonesia Prevention of nosocomial infection is primarily a matter of monitoring and improving human practice. standar diagnosis.Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Dr. 1993 13 . jenis surveilan adalah continuous observation terhadap semua kasus bedah. Soetomo dimulai Januari 1986. Surveilan untuk keseluruhan jenis infeksi nosokomial dilakukan oleh pe- Cermin Dunia Kedokteran No. Bentuk Organisasi Panitla Pengendalian Infeksi Nosokomial RSUD Dr. baik standar pelaksanaan perasat perawatan. KRONOLOGI Program ini dimulai tahun 1985. Pada tahun itu juga telah dilakukan surveilan untuk memperoleh angka dasar kejadian infeksi luka operasi bersih di lingkup UPF Bedah dan UPF Kebidanan dan Penyakit Kandungan. infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat karena penderita dirawat atau pernah dirawat di rumah sakit.

pemberinfection rate 5. dibuat lembar pengumpul data yang berbeda antara LDP surveilan dokter (yang bersifat lapangan sempit tapi mendalam) dengan LDP perawat (yang bersifat luas tapi dangkal).3.4): Tabel 1. Dari hasil yang kita peroleh. hipotesa ini terbukti kebenarannya. Untuk pengumpulan data. Survelian Infeksi Luka Operasi oleh Perawat Januari 1989–Juni 1991 (6 UPF – 21 Ruangan) Tabel 3. Semua hasil surveilan ini diserahkan kepada dan diolah oleh Panitia Pengendalian Infeksi RSUD Dr. Survetlan Infeksi Saluran Kenih oleb Perawat Janwri 1989 – Juni 1991(6 UPF–21 Ruangan) PEMBICARAAN Dari motto yang ditulis oleh Haley tampak jelas bahwa kesadaran petugas untuk melaksanakan standar perasat perawat adalah merupakan kunci pokok keberhasilan dari program pengendalian infeksi nosokomial.V (6 UPF – 21 Ruangan) Tabel 4. kerja CSSD dan persiapan kulit penderita. Survelian Perawat Januari 1989 – Juni 1991/I. Dalam surveilan infeksi luka operasi bersih yang dilaksanakan oleh dokter dengan angka dasar infection rate 3. 1993 . Soetomo sebelum dilaporkan ke pimpinan rumah sakit. 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Hasil-hasil surveilan ini dikembalikan sebagai feed back bagi UPF/Seksi-seksi dalam UPF dengan tujuan agar mereka dapat menyadari penampilan (performance) mereka dalam pelayanan sehingga mereka dapat memperbaiki did. Dalam keadaan ini dilakukan analisis tu- lang ikan seperti yang tercantum dalam gambar 2. pada tahun 1986 didapatkan outbreak dengan dugaan penyebabnya (risk factor) adalah penjadwalan. pembersihan alat dan ruangan.2. didapatkan dugaan penyebab (risk factor) adalah penjadwalan.85%.75% pada tahun 1985. Maksud dilakukannya dua surveilan sekaligus adalah untuk mengembangkan sistim kontrol dalam program ini. Perawat yang melakukan surveilan adalah perawat khusus setiap ruangan yang dilcoordinir oleh perawat dari bidang perawatan yang menjadi anggota panitiapengendalian infeksi rumah sakit. Hasil surveilan Infeksi Luka Operasi bersih di UPF Bedah tahun 1985 s/d Desember 1989 oleh peserta PPDS I Tabel 2. 82. dengan demikian diharapkan bahwa semua pihak alum berpartisipasi Waif dengan motivasi yang benar untuk mendukung pelaksanaan program. HASIL Mulai dan 1985 s/d Desember 1991 telah diperoleh hasil seperti tercantum di bawah ini (Tabel 1.rawat di lima UPF tersebut di atas dan UPF Saraf.

Lipman Hasil Pengamatan Angka Kejadian Infeksi Luke Operasi untuk Kasus-kauu Bedah Terencana di Laboratorium-UPF.1986. AHA. Di dalam program ini juga dicoba untuk menganalisa manfaat program ini bagi penghematan dana. Australia. Moh. Perbedaan yang ada. (Ed.5%. 2: 7.74% dapat dihemat dana sekitar 90 juta rupiah (tahun 1986). 9 -11 Juni 1988. 82. 4. Malin Abdullah dick. 6. Jaminan mum di Rumah Sakit. Cermin Dunia Kedokteran No. Djoko Roeshadi. 5. disebabkan oleh karena : 1) Pengamatan perawat hanya dilakukan selama penderita dirawat di rumah sakit. RINGKASAN Telah dilaporkan perjalanan program pengendalian infeksi nosokomial di RSUD Dr. USA: Aspen Pub1. maka didapatkan angka infection rate yang menurun dengan tajam seperti tampak pada Gambar 1. Soetomo Surabaya. 2. maka dengan gads kendali infection rate 3. Seminar. Haley RW. Surabaya. Pengendalian Infeksi NosokomiaL Simposium-Lokakarya National. penurunan ini pada hakekatnya dapat terjadi karena setiap pentgas pelaksana pelayanan melaksanakan standar perasat pemasangan i. waktu perawatan bagi penderita infeksi nosokomial bertambah (8 hari). maka penghematan yang didapat adalah 180 juta rupiah total.05% menjadi 7. Wilson L Quality Assurance and Review. KEPUSTAKAAN 1. kateter sebailc-baiknya.v. 2. Wirawan S. Untuk memantau kesempurnaan pelaksana program maka dipakai sistim kendali seperti bagan di bawah ini.1991 dimana didapatkan kenyataan bahwa : 1. 1981. Bul PERSI 1984. Dari hasil pengamatan perawat terlihat penurunan angka kejadian phlebitis dari 68. bahkan mulai tahun 1987 . Simposium Nasimal Infeksi Nosokomial. Mekanlsine pemecahan masalah Setelah dilakukan perlakuan terhadap faktor tersebut. Apabila garis kendali diambil 1. Soetomo mulai tahun 1986 . Surabaya. Faktor dominan keberhasilan program adalah motivasi petugas untuk melaksanakan standar perasat keperawatan. Snook ID. sehingga pada tahun 1989 didapatkan infection rate untuk infeksi luka operasi hasil) adalah 0.1991 ada policy penyempumaan penggunaan antibiotika dengan menekankan profilaksis primer sehingga dengan demikiatl justru mulai tahun 1987 pemakaian antibiotika cenderung menurun dengan drastis. Hal yang sama dapat dilihat pada hasil-hasil surveilan yang dilakukan oleh perawat. Dmu Bedah FK. Hospitals: what they are and how they work. sehingga proses ini jelas akan berhasil apabila organisasi yang sudah dibentuk secara konsisten melaksanakan intervensi agar proses perubahan perilaku petugas dapat terjadi tents menerus menuju standar yang berlaku. 1993 15 . Dari kenyataan-kenyataan di atas jelaslah bahwa pelaksanaan program pengendalian infeksi nosokomial merupakan program untuk mengendalikan mutu pelayanan rumah sakit yang perlu dilaksanakan oleh setiap rumah sakit dalam ruang lingkup masing-masing. Juni 1988.23% di UPF Saraf.83% tanpa pembelian antibiotika berlebihan. Program ini mampu mengendalikan pemborosan keuangan. akibat infeksi nosokomial. Managing Hospital Infection Control for Cost Effectiveness. 3. Dari hasil surveilan perawat mengenai infeksi luka operasi nyata tidak ada perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan hasil yang dilakukan oleh dokter.Gambar 2. 2) Populasi yang diamati oleh perawat tidak hanya di bagian Bedah saja. sedangkan populasi pengamatan yang dilakukan oleh dokter terbatas pada UPF Bedah. August 1982. ongkos harian bat7c untuk pembelian antibiotdca maupun pemeriksaan laboratorium dan perawatan jugs menittgkat. Dari risk factor tersebut di atas jelas bahwa faktor kesadaran petugas claim melaksanakan standard operating procedure adalah sangat penting.). UNAIR/RSUD Dr. sedangkan pengamatan dokter dilakukan sampai penderita pulang.

Keharusan untuk mentaati prosedur pelayanan yang telah ditetapkan. maka sejak tahun 1990. Pada saat diresmikan. Upaya pencegahan infeksi nosokomial di RSMK secara umum meliputi : 1. Oleh sebab itu sejak bulan Desember 1991. tim ini sudah mulai berjalan meskipun dengan sepia keterbatasannya. Ketua Pelaksana Harian : Dr. Mengingat kembali tentangkemungkinan terjadinya infeksi nosokomial akibat tingkah laku personil rumah sakit (medik dan paramedik). Meskipun organisasi ini baru diresmilcan pada bulan Januari 1992. Pemantauan terjadinya infeksi nosokomial. salah satu cara pencegahan infeksi nosokomial yang dilakukan adalah. Dilakukan pengamatan tentang kemungkinan terjadinya 16 Cermin Dunia Kedokteran No. UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL Untuk memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik terhadap pasien. Jan Tambajong. Jakarta Hartati Kurniadi RS Mitra Keluarga. Makalah ini tidak akan membahas infeksi nosokomial dari segi ilmiahnya. nosokomial. mulai dipikirkan bentuk organisasi yang kira-kira cocok untuk RSMK. tidak ada ruangan khusus penyakit dalam. Karena keterbatasan ruangan. diresmikanlah organisasi tersebut dengan susunan sebagai berikut : Ketua Tim : Dr. 4. Pelaksana Ruangan : Perawat-perawat di Ruangan. kemudian pada bulan April 1991 menjadi 6 lantai dengan kapasitas 152 tempat tidur. Melihat perkembangan jumlah pasien serta kapasitas tempat tidur di RSMK. meskipun pada waktu itu dari pengamatan jarang sekali terdapat kasus infeksi nosokomial. mengikutsertakan perawat-perawatdan beberapadokterdalam Simposium Pengendalian Infeksi Nosokomial. Bapak Wiyogo Atmodarminto pada tangga125 Maret 1989. Pencegahan infeksi nosokomial di RSMK terutama ditujukan untuk kepentingan operasional yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan (quality assurance) yang kini masih terbatas pada aspek surveilans. Pemantauan pelaksanaan prosedur pelayanan. Maka pada bulan Januari 1992. 1993 .Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Mitra Keluarga. Tujuan surveilans tersebut adalah untuk memantau sejauh mana keadaan aseptik/steril di bagian-bagian tertentu dari RSMK telah tercapai agar dapat diambil langkahlangkah perbaikan manajemennya. Perawat dan dokter yang telah mengikuti Simposium Pengendalian Infeksi Nosokomial secara bergantian memberikan ilmu yang mereka peroleh lalu dilanjutkan dengan diskusi. 2. dan untuk tetap menjaga mutu pelayanan rumah sakit maka pada bulan November 1991 dipikirkan perlunya membentuk suatu organisasi khusus untuk pencegahan infeksi Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian lnfeksi Nosokomial di Rwnah Saki. 3. Jakarta PENDAHULUAN Rumah Sakit Mitra Keluarga adalah rumah sakit swasta yang dibangun dan diasuh oleh Yayasan Mitra Keluarga. tetapi lebih merupakan suatu laporan tentang pengalaman kegiatan awal Tim Pencegahan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Mitra Keluarga. 82. Pelaksana Harlan : Para Koordinator Lantai. Hartati Kurniadi. rumah sakit ini terdiri dari 5 lantai dengan kapasitas 100 tempat tidur. penyakit syaraf. Ketnudian para peserta simposium tersebut mencoba mempraktekkannya di RSMK. Peningkatan kemampuan opersonil. Rumah Sakit ini diresmikan oleh Gubemur DKI. Pendidikan dan pelatihan dalam bidang infeksi nosokomial. maka Rumah Sakit Mitra Keluarga hanya membedakan ruangan-ruangan atas ruangan anak dan dewasa serta ruangan infeksi dan non infeksi. dengan Sumber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. lalu bulan November 1991 menjadi 7 lantai dengan kapasitas 212 tempat tidur dan sejak bulan Februari 1992 menjadi 8 lantai dengan kapasitas 254 tempat tidur. penyakit bedah dan sebagainya. tetapi sejak bulan Desember 1991.

2. 3. Bertanggung jawab kepada Koordinator Lantai.infeksi nosokomial di Iantai-lantai perawatan dan ICU. 6. 2. PELAKSANA. Meskipun kultur tidak mendukung ke arah infeksi nosokomial. Mengumpulkan data dari ruangan. Memberi koreksi bila petugas di ruangan tindakannya tidak sesuai dengan prosedur kerja. Menentukan kebijaksanaan. maka dilakukan pemeriksaan laboratorium yang dianggap perlu. Hartati Kurniadi PELAKSANA HARIAN Koordinator Lantai Perawatan dan ICU PELAKSANA RUANGAN Para Perawat di Lantai Perawatan dan ICU TUGAS : DIREKTUR : 1. 4. Mengawasi pelaksanaan prosedur kerja di ruangan masingmasing. 3. Penelitian terhadap infeksi nosokomial. PELAKSANA HARIAN (Koordinator Lantai/OK/ICU) : 1. tim pencegahan infeksi nosokomial RSMK masih harus belajar banyak agar dapat menyqjikan laporan dan data yang setepat mungkin. 2. Memberikan saran kepada Direktur untuk pengembangan prosedur kerja dan perbaikan yang dianggap perlu. Dari hasil uji sterilitas. 5. Ella terdapat kecurigaan adanya infeksi nosokomial. Melaksanakan prosedur kerja dengan sebaik-baiknya. untuk iw tindakan desinfeksi perlu lebih diperhatikan.45%). Setiap minggu memberikan laporan kepada Ketua Pelaksana Harian. 82. Organisasi ini masih sangat muda sehingga masih harus belajar banyak pada ahlinya. apakah dokter-dokter RSMK sudah berani untuk percaya sepenuhnya akan tindakan asepsis dan antisepsis yang dilakukan di RSMK? Selain mungkin ada baiknya untuk mulai dipikirkan juga pemberian obat standar. tetap dicatat sebagai infeksi nosokomial. 3. maka nama pasien tersebut dicatat di kolom yang tersedia sesuai dengan perlakuannya (kateterisasi/infus dan sebagainya). Koordinator lantai akan tetap memantau secara random dan sekaligus mengingatkan kembali prosedur yang seharusnya dilaksanakan. Cermin Dunia Kedokteran No. Melaksanakan kebijaksanaan berdasarkan prosedur kerja. Dari formulir pencatatan kasus infeksi nosokomial. Mengadakan evaluasi kebijaksanaan. Yang dicatat sebagai infeksi nosokomial adalah semua kasus infeksi yang terjadi sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam dirawat di rumah sakit atau pada waktu masuk tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut. MASALAH DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DAN UPAYA UNTUK MENGATASINYA 1. Dipikirkan kemungkinan untuk belajar dan langsung melihat cara pemantauan di RS Dr. Cipto Mangunkusumo. ORGAMSASI PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL STRUKTUR ORGANISASI DIREKTUR Dr. Pengetahuan petugas rumah sakit mengenai infeksi nosokomial masih belum mantap. Memberikan laporan bulanan kepada Direktur mengenai hasil pencegahan infeksi nosokomial. Menganalisa data. kemudian bila ada yang menunjukkan infeksi nosokomial. 4. PEMBICARAAN Sampai saat ini. 3. Jan Tambajong KETUA PELAKSANA HARIAN Dr. 1993 17 . Masih ada petugas yang belum mengikuti semua prosedur pelayanan yang telah ditetapkan. dari 223 operasi (seluruh operasi) terdapat satu kasus infeksi nosokomial (0. RUANGAN : 1. Mengadakan pertemuan rutin minimal sebulan sekali. Selain itu secara teratur diadakan uji sterilitas ruangan dan peralatan di RSMK. yang akan dicatat setiap hari adalah pasien barunya saja. 2. Bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan upaya pencegahan infeksi nosokomial. Koordinasi dengan para koordinator lantai perawatan dan ICU. Akan diusahakan lagi pendekatan secara berkelompok atau secara individu. Untuk itu sebagai langkah berikutnya adalah membetulkan laporan yang saat ini dibuat. 2. 5. KETUA PELAKSANA HARIAN : 1. Selama bulan Desember 1991. Melihat hasil infeksi nosokomial yang cukup rendah. selalu ada perbaikan tetapi belum 100% memuaskan.

Pada tahun 1979. – Pelayanan penunjang berupa Radiologi. Selain itu Infeksi Nosokomial juga dapat menyebabkan kematian. kamar suntik dan 1 kamar balut. Nosokomial berasal dari kata Nosos = penyakit dan Komeo = merawat. Rumah Sakit Pembantu diubah menjadi Rumah Sakit Umum. Dalam usia yang relatif muda (2 tahun). di Indonesia angkanya masih beragam dan masih sulit untuk mendapatkan angka yang pasti. 151/ Men. 4 dokter gigi dan lain 18 Cermin Dunia Kedokteran No. poliklinik Bekasi mengalami perubahan menjadi RS Pembantu dengan adanya penambahan ruapg perawatan pasien. Mengingat tujuan di atas. Men. tetapi usaha pengendalian tetap berjalan secara bertahap dengan menyesuaikan langkahnya sesuai situasi dan kondisi yang ada. Nosokomion berarti tempat untuk merawat/ rumah sakit. Walaupun begitu ketenagaan dokter masih bersifat part timer yang datang 2 x dalam seminggu. Ketenagaan yang ada sampai akhir tahun 1991 seluruhnya 308 orang. sejalan dengan perubahan status Bekasi dari Kewedanaan menjadi Kabupaten. 1993 . Kondisi saat ini Saat ini RS Bekasi yang terletak di jantung kota Kabupaten Bekasi dan berjarak ± 15 menit perjalanan ke arah timur dū Ibukota Jakarta. Diharapkan apa yang telah dilakukan panitia bisa menjadi basis dalam usaha pengendalian infeksi nosokomial di RSU Bekasi di masa-masa mendatang. Jawa Barat PENDAHULUAN Tujuan umum Rumah Sakit Tipe C adalah peningkatan dan pemantapan pelaksanaan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan serta pemulihan pasien. mempunyai luas bangunan keseluruhan ± 6270 m2 dari 10.Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSU Bekasi Dean Wahjudy Satyaputra Panitia Pemantauan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Umum Kabupaten DT. "Panitia Pengendalian IN" di RSU Bekasi dibentuk pada tahun 1990. Pelayanan yang dilakukan meliputi : – Pelayanan gawat darurat 24 jam. sehingga harus mulai dilakukan "pengendalian" dengan seksama. – Poliklinik spesialis (9 bidang spesialis).Kes. yang melaksanakan 4 bidang spesialis dasar. dengan SK. Pada saat itu masih berupa poliklinik saja dengan sarana yang sangat minim yaitu berupa kamar periksa. belum banyak yang dilakukan mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dijumpai. Jadi Infeksi Nosokomial dapat diartikan infeksi yang berasal atau terjadi di Rumah Sakit. RI No. 17 dokter umum. Infeksi Nosokomial dapat membebani kita semua. 82. Di RSU Bekasi sendiri. – Pelayanan rawat nginap berkapasitas 171 tempat tidur. termama pasien dapat menyebabkan bertambah tingginya biaya perawatan karena waktu rawat nginap dan pengobatannya yang memanjang. Khususnya bagi pasien yang memerrukan rujukan di daerah. MENGENAI RUMAH SAKIT UMUM (TIPE C) KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BEKASI Sejarah Awal dari RS Bekasi bermula pada tahun 1939. Setelah kemerdekaan RI. Bila menyimak gambaran kejadian Infeksi Nosokomial. Pada tahun 1956.Kes/SK/II/79 RSU Bekasi ditetapkan sebagai RS tipe C. Laboratorium dan lainlain.000 m2 lahan yang ada. bila dikelompokkan berdacarkan jenis keahlian terdiri dari 17 dokter ahli. sangat disayangkan bila justru pasien atau pengunjung yang datang ke Rumah Sakit menjadi sakit karena mendapatkan infeksi yaitu Infeksi Nosokomial. Tugasnya mengendalikan masalah-masalah yang berkaitan dengan infeksi nosokomial. II Bekasi. berdasarkan surveilans IN Luka Operasi (ILO) selama 3 bulan tahun 1991 didapatkan angka yang cukup tinggi.

Trauma kepala. – Rata-rata BOR sebesar 70. panitia telah melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Instalasi dan pejabat struktural lainnya. EVALUASI Selama pelaksanaan kegiatan Pengendalian IN. Luka Operasi (lampiran). 2. Common cold. Kenyataan bahwa penyakit infeksi masih tinggi kejadiannya di Rumah Sakit Bekasi.67%. 848/ 2378/Kepeg dibentuklah Panitia Pengendali Infeksi Nosokomial di RSU Kabupaten DT. Struktur kepanitiaan PIN seperti di atas dibuat dengan mengadaptasi bentuk yang ada di RSHS. Di antara 50 jam materi yang diberikan 10% adalah tentang STRUKTUR PIN DI RSU BEKASI Keterangan : PPIN : Panitia Pemantau IN. sebab mereka yang lebik erat kaitannya dengan perawatan. 5. Instalasi maupun unsur-unsur lainnya. • Setiap bulan Direktur RS mengadakan rapat dengan semua kepala UPF. Pala bulan Oktober 1990. sudah sejak lama disadari oleh pewgas-petugas di lingkungan RS kami. 5. yang maksudnya untuk meningkatkan keterampilan tenaga perawat RS. hal ini memudahkan dalam pelaksanaan Surveilans. • Melakukan Surveilans IN. panitia masih menjumpai kendala-kendala. – anggota lain adalah dari unsur keperawatan. baik UPF. Penyuluhan sekali seminggu dengan mated yang bervariasi. melalui SK Direktur No. Panitia yang dibentuk perlu terdiri dad semua unsur-unsur yang ada di lingkungan Rumah sakit. 1993 19 . Pada kesempatan ini. Jumlah tenaga yang telah mendapat Pelatihan Pengendalian Infeksi Nosokomial berjumlah 2 orang dokter dan 2 orang paramedis. Penyakit saluran cema lainnya. • PHIN sendiri secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas masalah-masalah IN. Demam tifoid/sebab lain. Tonsilitis. 2. misalnya saja : • Informasi IN. di kalangan panitia sendiri masih belum Cermin Dunia Kedokteran No. saat ini sedang dipersiapkan : − kebijaksanaan penggunaan antiseptik dan desinfektan. PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RUMAH SAKIT UMUM BEKASI Infeksi Nosokomial sebetulnya bukan hal baru. – diketuai oleh tenaga medis yang telah mendapatkan pelatihan PIN.549 orang. II Bekasi. − kebijaksanaan kamar operasi. ketua PPIN mengemukakan informasi mengenai PIN. Berdasarkan data yang diambil dari laporan RSU Bekasi tahun 1991 kami mencatat : – Jumlah kunjungan pasien rawat jalan sebanyak 96. 82. Bagi pengunjung RS juga penyuluhan dilakukan melalui papan informasi yang disediakan di ruangan tunggu poliklinik. Mengingat ruang lingkup kerja yang sangat luas. Panitia itu selanjutnya bertanggung jawab atas segala aspek yang mempengaruhi terjadinya Infeksi Nosokomial termasuk usaha memperkecil angka kejadian dan mencegah Infeksi Nosokomial di Rumah sakit. – dipimpin oleh kepala perawatan dibantu kepala-kepala ruangan. dengan mempertimbangkan kondisi yang ada. Perlu diketahui di RSU Bekasi sampai saat ini telah dilakukan 5 gelombang pelatihan proses keperawatan. Yang ditemukan di rawat nginap : 1. 4. Diare dan gastroenteritis. Diare dan gastroenteritis. • Melengkapi kebijaksanaan-kebijaksanaan umum Rumah sakit. Kami juga melibatkan kepala ruangan sebagai anggota panitia karena disadari akan pentingnya peranan perawat dalam usaha Pengendalian Infeksi Nosokomial. TBC. sebagai tindak lanjut pelatihan PIN yang diselenggarakan di Bandung. • Memberikan usulan/kebijaksanaan atas hasil pemeriksaan sampling lingkungan RS yang dilakukan setiap tahun. Sejak ditetapkan. PHIN : Panitia Harian IN. – Lima penyakit utama yang ditemukan di rawat jalan adalah : 1. – anggotanya adalah waki! dari Unit-unit/unsur yang terkait.96 hari. – diharapkan sebagai motor dari kegiatan PIN. 3. Penyakit saluran nafas. • Bekerjasama dengan PKMRS dalam acara penyuluhan kepada pengunjung/penunggu pasien tentang masalah-masalah yang bersangkutan dengan terjadinya Infeksi Nosokomial. kegiatan tersebut adalah : • Mempublikasikan Infeksi Nosokomial pada rapat koordinasi di lingkungan RSU Bekasi. • Mempersiapkan pedoman prosedur-prosedur tetap. Penyakit mata dan adnexanya. • Mempublikasikan IN pada kesempatan pelatihan proses keperawatan bagi kalangan paramedis. tetapi usaha yang dilakukan kurang terarah sehingga hasilnya kurang memadai. 3. – tugasnya membuat kebijaksanaan upaya PIN.sebagainya. TPIN : Tim Pengendali IN. Infeksi Nosokomial yang diberikan oleh dokter ataupun perawat dari PHIN. − kebijaksanaan isolasi ruang perawatan. rata-rata LOS = 3. 4.

Kendala yang ada dicoba tanggulangi dengan memperhatikan segi-segi lainnya. PENUTUP Dari kenyataan yang ada. agak sulit mengharapkan input/ide dari Unit/Instalasi yang bersangkutan guna melaksanakan kegiatan PIN. padahal untuk memperbaiki/penyediaannya cukup mahal. dengan demikian petugas tersebut bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya pada masalah IN. perhatian pada Infeksi Nosokomial semakin besar. Dipandang dari garis operasional juga bisa lebih terkendali. sebagaimana diketahui permasalahan PIN begitu lugs dan kompleks.seragam. harus disadari bahwa Pengendalian IN harus mulai dilaksanakan secara profesional. • Selama ini Pengendalian IN di RS Bekasi dititik beratkan pada kegiatan yang tidak memerlukan banyak dana. . Di RSU Bekasi dengan segala kondisi yang ada. Dengan dukungan pimpinan dan staf RS diharapkan pertimbangan PIN dapat dimasukkan ke dalam perencanaan RS secara keseluruhan. karena penyelenggaraan Pengendalian IN harus dilaksanakan secara integratif dan lintas program. Untuk membuat suatu kebijaksanaan dalam Pengendalian IN perlu dukungan data yang akurat dari berbagai unsur di RS. Keterlibatan semua unsur sangat diperlukan. • Sistim informasi RS yang berjalan perlu ditingkatkan. Ada beberapa kondisi prasarana dan sarana yang kurang memadai. • Panitia adalah tenaga-tenaga fungsional yang mempunyai kesibukan sehingga kendala waktu sulit ditanggulangi. ada pemikiran untuk mempersiapkan tenaga yang khusus berkonsentrasi pada pengendalian IN (ICN) yang dikaitkan dengan kedudukan struktural di keperawatan. • Masih diperlukan usaha memotivasi tenaga kesehatan dalam pengendalian IN.

tinjauan epidemiologi terhadap masalah pencemaran dan infeksi nosokomial perlu dilakukan karena pada dasarnya kejadian infeksi nosokomial melibatkan unsur manusia. Public Health Laboratory Service (1960) menulis. Staphylococcus.Sterilitas Udara Ruang Operasi dan Peralatan Bedah serta Higiene Petugas Beberapa Rumah Sakit di Jakarta Pudjarwoto Trlatmodjo Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Dalam hubungan ini kegiatan survai epidemiologi yang diarahkan untuk survai . Streptococcus dan spesies jamur Aspergillus sp. pengumpulan data rutin untuk memperoleh gambaran tentang berbagai aspek epidemiologi infeksi nosokomial.3%(1). Beberapa negara melaporkan bahwa rata-rata 5-10% penderita yang dirawat di rumah sakit akan mendapat infeksi yang ditularkan oleh seseorang atau dari suatu alat selama ia dirawat. penelitian KLB (Kejadian Luar Biasa) infeksi Cermin Dunia Kedokteran No. Dari hasil pemeriksaan tampak bahwa angka kuman pada beberapa ruang bedah mencapai lebih dari 5 CPU/15' sehingga melebihi ambang batas yang ditetapkan. Pseudomonas. coli. Jakarta ABSTRAK Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber penularan kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit. pengembangan teknologi pengamatan infeksi nosokomial. Staphylococcus merupakan bakteri penyebab infeksi nosokomial yang paling banyak mencemari udara ruang operasi. Beberapa jenis perlengkapan bedah d>7cetahui tidak steril dan ditemukan mengandung bakteri. PENDAHULUAN Walaupun pemeliharaan kesehatan saat ini telah menjadi lebih baik antara lain karena telah digunakannya cara-cara baru dan modem untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengobatan penyakit. Di swiping im diperiksa pula hygiene petugas melalui pemeriksaan terhadap tangan (hand swab) perawat. lingkungan dan mikroba yang satu sama lain sating terkait. 5-19% pen- derita yang dioperasi mengalami luka postoperasi dengan frekuensi infeksi luka yang berbeda tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Pasien bedah merupakan pasien yang mempunyai risiko tinggi untuk mendapatkan infeksi nosokomial. Proteus. telah dilakukan pemeriksaan mikrobiologis terhadap udara ruang operasi dan bebērapa jenis ruang perawatan. serta peralatan bedah. 82.4% tangan petugas rumah sakit (perawat) diketahui terkontaminasi oleh beberapa jenis mikroba penyebab infeksi nosokomial seperti E.3-18. Dalam upaya menanggulangi kejadian infeksi nosokomial. Angka infeksi nosokomial untuk luka bedah di Indonesia dilaporkan sebesar 2.infeksi nosokomial dapat meliputi: pengenalan konsep survai epidemiologi di rumah sakit untuk pencegahan dan penanggulangan infeksi nosokomial. 1993 21 . Sebesar 34. Departemen Kesehatan RI. namun insiden infeksi nosokomial masih harus mendapat perhatian lebih banyak. Angka kuman pada beberapa ruang perawatan berkisar antara 10-300 CPU/15'. lebih-lebih apabila dirawat di rumah sakit dengan tingkat hygiene lingkungan rumah sakit yang masih belum sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Pemeriksaan milcrobiologis dilakukan terhadap beberapa jenis sampel berikut ini : – Alat-alat untuk keperluan operasi pasien seperti gunting. 82. IV. Di samping itu transmisi kuman dapat berlangsung dengan cara contact spread yaitu mclalui tangan petugas.nosokomial yang terjadi di beberapa rumah sakit serta melaksanakan berbagai survai dan studi dalam rangka pengumpulan data dasar infeksi nosokomial(2). III RS. serta dapat pula terjadi dengan cara wound precaution yaitu melalui perawatan postoperasi. Ke empat ruang bedah tersebut adalah ruang bedah RS. 2. Mikroba lain yang ditemukan adalah jenis jamur Aspergillus sp. tetapi nilai pencemarannya di atas ambang batas yang dipersyaratkan (tabel 1). handuk dan lain-lain yang berada dalam keadaan siap pakai. ruang bayi. IV dengan angka kuman 7 CPU/15'. Besarnya pencemaran mikroba pada ruang bedah dan bebe rapa ruang perawatan dari 6 rumah sakit di Jakarta berda sarkan jumiah mikroba yang tertangkap dengan media Agar Darah selama 15 menit (N = 30) Angka kuman (dalam CPU/15 menit) RS. ruang penyakit dalam. Cara pengambilan sampel Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis. udara ruang operasi dan usap tangan petugas (hand swab) yang berasal dari 6 rumah sakit di Jakarta yaitu RS. I 3 18 53 30 34 138 = = = RS. ruang bedah RS. – Usap tangan (hand swab) personil rumah sakit yang sedang dinas di bangsal-bangsal perawatan. VI CPU Jumlah ruang diperiksa Kode rumah sakit yang diteliti Colony Plate Unit 22 Cermin Dunia Kedokteran No. Cara yang sama juga dilakukan untuk pengambilan sampel dari hand swab. II 3 25 19 10 28 85 RS. Pengambilan sampel udara dilakukan dengan media Agar Darah dalam petridisk yang dibuka selama 15 menit dalam ruang yang diperiksa. VI 7 3-8 32 12-35 48 19-300 96 74 257 10-96 28-89 3-300 Ruang Bedah Kebidanan Penyakit dalam Perawatan bayi Perawatan anak Total Keterangan : N RS. alat-alat dan perlengkapan bedah dan personil rumah sakit (perawat) yang sering mengadakan kontak langsung dengan pasien. Beberapa cara transmisi penyebab infeksi nosokomial adalah dengan cara air-borne yaitu melalui udara. – Udara ruang bedah/ruang operasi. baju operasi. serta beberapa ruang perawatan seperti ruang kebidanan. VI. Dua ruang bedah yang tidak tercemar Staphylococcus adalah ruang bedah dari RS.I s/d RS. RS. inhalasi. II mempunyai angka kuman sama yaitu 3 CPU/15'. yaitu dengan lidi kapas steril yang terlebih dahulu dibasahi dengan PBS (Phosphate Buffer Saline) kemudian diusapkan pada alatalat yang diperiksa. ruang bedah RS. alatalat. alat-alat untuk tindakan invasif. I dan RS. III dan RS. Sampel alatalat dan perlengkapan bedah diambil dengan cara swab. III dengan angka kuman sebesar 5 CPU/15'. Angka pencemaran ruang bedah dari 6 ruang bedah yang berasal dari 6 numah sakit adalah berkisar antara 3–8 CPU/15'. kain kasa. V dengan angka kuman 8 CPU/15' dan ruang bedah RS. Dari tahap kultur kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis melalui pewarnaan gram dan uji biokimia serta uji serologi untuk identifikasi jenis-jenis mikroba tertentu. ruang anak-anak. Di sini Staphylococcus ditemukan pada sebagian besar ruang bedah (4 ruang bedah). Ambang batas pencemaran mikroba yang diperkenankan untuk ruang bedah adalah 5 CPU/15'. dalam makalah ini disajikan data hasil studi mengenai pencemaran mikroba pada beberapa peralatan bedah. Transportasi sampel ke laboratorium dengan menempatkan sampel dalam boks berisi es. III. II. Kriteria bahan penelitian Obyek penelitian adalah udara ruang operasi. dan lain-lain(3). HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini telah dapat diperiksa sejumlah 105 spesimen yang terdiri dari sampel ruang bedah dan ruang perawatan 30 spesimen. I. RS. Identifikasi mikrobiologi Dilakukan dengan menggunakan metode yang telah dibakukan oleh WHO (1987)(4) dan Manual for Clinical Microbiology(5). Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber-sumber penularan dan kemungkinan rute penyebaran kuman penyebab infeksi nosokomial sebagai salah satu upaya pengumpulan data dalam pemecahan masalah infeksi nosokomial. V dan RS. VI untuk mendeteksi sampai seberapa besar pencemaran yang terjadi oleh mikroba penyebab infeksi nosokomial. RS. Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mencemari ruang bedah adalah Staphylococcus sp dan kuman gram negatip yang dalam pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya. hand swab dari perawat 64 spesimen dan usap alat dan perlengkapan bedah 11 spesimen. Dalam identifikasi ini pertama dilakukan kultur terhadap masing-masing sampel dengan media spesifik. IV 5 7 33 12 24 37 36 89 187 21 34 111 RS. Nilai pencemaran dari dua kamar bedah tersebut belum tentu memenuhi standar karena waktu penangkapan kuman hanya berlangsung 15 menit sedangkan persyaratan yang ditetapkan 30 menit. 1993 . RS. sarung tangan. Kemudian lidi kapas segera dimasukkan ke dalam media PBS yang telah disiapkan dalam tabung reaksi (tube). Tabel 1. dan lain-lain. Berdasarkan pada persyaratan tersebut di atas maka dapatlah dikemukakan bahwa 4 ruang bedah dari 4 rumah sakit masih belum memenuhi standar mikrobiologi yang ditetapkan. VI dengan angka kuman 7 CPU/15' (tabel 1). V 8 35 300 32 80 455 Range RS. Ruang bedah RS. BAHAN DAN CARA 1. 3.

Dari 5 jenis ruang perawatan yang diperiksa yaitu ruang kebidanan, ruang penyakit dalam, ruang perawatan bayi dan ruang perawatan anak tampak adanya variasi nilai pencemaran mikroba. Angka pencemaran terendah diketahui terdapat pada ruang kebidanan dengan nilai pencemaran sebesar 12–35 CPU/ 15', sedangkan angka pencemaran tertinggi terdapat pada ruang penyakit dalam dengan nilai pencemaran sebesar 19–300 CPU/15'. Dilihat dari jenisnya Staphylococcus merupakan mikroba yang paling dominan mencemari berbagai ruang perawatan tersebut. Beberapa jenis mikroba lain yang ditemukan antara lain adalah Streptococcus dan bakteri gram negatip yang dalam pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya, serta beberapa jenis jamur yaitu Aspergillus sp dan Mucor sp. Dilihat dari jumlah mikroba pencemar per rumah sakit tampak pula bahwa angka pencemaran terkecil terdapat pada RS. II, sedangkan angka pencemaran terbesar dijumpai pada RS. V. Petugas rumah sakit seperti dokter, bidan, perawat dan lainlain dapat merupakan sumber atau media transmisi/penularan kuman-kuman patogen, karena di samping dapat berperan sebagai carrier dari bakteri tertentu, dapat pula membawa kuman karena kontak dengan para pasien yang telah terinfeksi sebelumnya; atau tangan petugas terkontaminasi oleh kuman yang mengandung CFA (Colonizing Factor Antigen) dan bila kuman ini menginfeksi seseorang dapat menjadi patogen di dalam tubuh. Dari hasil pemeriksaan mikrobiologis terhadap tangan petugas rumah sakit tampak bahwa sebesar 34,4% tangan petugas (perawat) membawa bakteri penyebab infeksi nosokomial (tabel 2). Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mengkontaminasi tangan petugas antara lain adalah E. coli, Staphylococcus, Pseudomonas, Proteus, Streptococcus dan Jamur. Di sini ditemukan pula adanya kontaminasi ganda pada 3 orang petugas, yaitu satu petugas terkontaminasi oleh Staphylococcus + Proteus dan dua orang petugas oleh Staphylococcus + Jamur Aspergillus sp. Staphylococcus merupakan bakteri yang paling banyak mencemari tangan petugas yakni sebesar 18,7% (12 dari 64). Kemudian berturut-turut Pseudomonas 6,2%, Proteus 4,6%; E. coli dan Streptococcus serta Jamur Aspergillus masing-masing sebesar 3,1% (gambar 1). Pola infeksi nosokomial dapat berubah dari waktu ke waktu dan perubahan tersebut terjadinya bersamaan dengan pemakaian serta makin meluasnya penggunaan antibiotik(6). Sebelum tahun 1950-an yakni pada waktu antibiotik Penicillin barn dipakai, infeksi nosokomial terutama disebabkan oleh Pneumococcus dan Streptococcus. Kemudian sejak tahun 1950-an yakni setelah meluasnya pemakaian antibiotik Penicillin, dilaporkan penyebab utama infeksi nosokomial adalah bakteri gram positip Staphylococcus yang kebal (resisten) terhadap Penicillin dan sampai kini diperkirakan masih merupakan penyebab infeksi nosokomial walaupun telah banyak bermunculan jenis antibiotik baru. Hal ini terbukti dengan tingginya angka pencemar-

Tabel 2.

Distribusi kuman penyebab infeksi nosokomial yang terdeteksi pada usap tangan (hand swab) petugas rumah sakit (perawat) yang bertugas di beberapa rumah sakit di Jakarta (N = 64) Jumlah petugas diperiksa 11 Jumlah petugas tercemar 3 Mikro organisms Staphylococcus (2) Pseudomonas (1) Staphylococcus + Proteus (1) Proteus (2) Staphylococcus (1) Staphylococcus (2) Staphylococcus + Jamur (2) Pseudomonas (1) Staphylococcus (1) Pseudomonas (1) E. coli (1) Streptpcoccus (2) Proteus (1) Staphylococcus (1) Staphylococcus (2) Pseudomonas (1) E. coil (1)

Kode Rumah Sakit RS. I

RS. II RS. III

10 14

3 5

RS. IV RS. V RS. VI

10 9 10

3 4 4

Jumlah % Keterangan : N RS. I s/d RS. VI = =

64 100

22 34,4

Total petugas diperiksa Kode umiak sakit yang diteliti

Gambar 1. Jenis bakterl penyebab infeksi nosokomial dan besarnya pen cemaran (dalam %) pada usap tangan (hand swab) petugas rumah sakit (perawat) dl beberapa rumah sakit di Jakarta (N = 64)

Keterangan : A = Streptococcus B = Proteus C = Pseudomonas D = Staphylococcus E = E. coli

= 3,1% = 4,6% = 6,2% = 18,7% = 3,1%

N = Jumlah sampel diperiksa = 64

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 23

an oleh Staphylococcus di lingkungan rumah sakit. Angka kejadian infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Staphylococcus memerlukan penelitian yang lebih mendalam di lingkungan perawatan. Alat-alat dan perlengkapan operasi bedah dapat menjadi alat transmisi kuman-kuman penyebab infeksi nosokomial; dan angka infeksi nosokomial untuk luka bedah di Indonesia dilaporkan cukup tinggi (2,3–18,3%). Tabel 3 memberikan informasi tentang kondisi sterilitas alat-alat dan perlengkapan operasi bedah yang ada di beberapa rumah sakit di Jakarta. Di sini terlihat bahwa masih terdapat alat-alat dan perlengkapan bedah yang slap pakai tetapi dalam keadaan tidak steril; dari 11 jenis perlengkapan bedah yang diperiksa terdapat 4 jenis yang terdeteksi tidak steril: Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah proses sterilisasi yang tidak sempurna atau penanganan yang kurang hygienis. Apabila keadaan tidak steril ini akibat dari cara sterilisasi yang tidak sempllma, kiranya beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan sterilitas yang optimal adalah tercapainya holding time (waktu sterilisasi) dan meratanya temperatur ke setiap bagian yang disterilisasi.
Tabel 3. Kondisi aterilitas beberapa Jenis peralatan operasi bedah dari beberapa rumah sakit dl Jakarta Jumlah Kuman/swnb 0 0 0 2x104 0 3x104 0 35x104 2x104 0 0 Mikro organisme – – – Bakteri gram (+) kokus – Bakteri gram (–) batang – Bakteri gram (+) kokus Bakteri gram (+) kokus – – Pertimbangan Stern Steril Steril Tidak steril Steril Tidak steril Stern Tidak steril Tidak steril Steril Steril

operasional yang rendah. Temperatur dan holding time yang perlu dipērhatikan dalam sterilisasi dengan autoclave adalah 132°C selama 2 menit, 121°C – 12 menit dan 116°C – 30 menit. Dengan memperhatikan temperatur dan holding time secara tepat seperti tersebut di atas maka diharapkan diperoleh kondisi sterilitas yang optimal pada alat-alat yang disterilkan. Apakah tingginya angka infeksi nosokomial pada pasien luka bedah ini adalah akibat'dari perlengkapan dan alat operasi bedah yang kondisi sterilitasnya kurang memadai? Hal ini perlu diteliti dari berbagai aspek secara lebih mendalam. KESIMPULAN DAN SARAN – Bakteri gram positip Staphylococcus merupakan salah satu mikroba penyebab infeksi nosokomial yang dominan sebagai pencemar pada anggota tubuh/tangan petugas rumah sakit/perawat, udara di berbagai ruang perawatan seperti ruang perawatan bayi, kebidanan, anak, penyakit dalam dan lain-lain. Bahkan udara pada beberapa ruang operasi/ruang bedah dan beberapa peralatan bedah menunjukkan indikasi tidak steril dan tercemar Staphylococcus. – Beberapa jenis mikroba lain yang terdeteksi mencemari udara dan peralatan medis serta petugas antara lain adalah E. coli, Pseudomonas, Streptococcus, Proteus dan Jamur. – Proteksi terhadap para pasien yang mempunyai risiko tinggi terhadap kejadian infeksi nosokomial perlu dilakukan secara lebih saksama. Di samping itu peningkatan hygiene di rumah sakit dengan cara meningkatkan tindakan sterilisasi, desinfeksi dan antisepsis perlu dilakukan secara lebih saksama, tidak terkecuali peningkatan cara cuci tangan para petugas/ perawat.

Nama/Asal bahan Instrumen/Ruang OK darurat V Kain kasa/Ruang OK Pam Kain kasa/Ruang instalasi bedah Handuk/Instalasi bedah Sarung tangan/ Instalasi bedah Baju operasi/ Instalasi bedah !Cain kasa/ Kebidanan Alat operasi/ OK mata Instmnen/ Instalasi bedah Kain kasa/ Bedah umum Mat operast/ OK Bedah sesar

KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Effendy A, Ibrahim R, Mubarak Z Insiden infeksi nosokomial di RSU DR. Z. Abidin Banda Aceh (Penelitian Pendahuluan). MKT 1988; 3(1): 13–5. Surachmad S, Sutoto, Josodipuro K. Kumpulan Makalah Penataran Isolasi Penderita Penyakit Menular (Infeksi Nosokomial dan Pencegahannya). Dep Kes RI, Jakarta 1984. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan Pemukiman. Pentaloka Survailans Epidemiologi bagi Para Kepala Dinas Kesehatan Dati II. Dep Kes RI, Jakarta 1990. WHO, CDD Program for Central Diarrhoeal Diseases. Manual for Laborstot), Investigation of Acute Enteric Infection, 1987. Lennette EH, Ballows A, Flimsier JW, Shadomy HJ (eds). Manual for Clinical Microbiology. American Society for Microbiology Association PubL Washington, 1985. Usman Chatib Warsa. Aspek Mtkrobiologi Infeksi Nosokomial. Maj Informasi Kesehatan No. 19, Januari 1987. Dibawakan Pada Seminar Penyakit Menular di Jakarta, 4 Febtuart 1986. Janes, Sototo, Punjabi NH. Infeksi Nosokomial Saluran Cema (INSC) pada Penderita Anak di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular, Jakarta. Medika (Sept.) 1985; 11(a): 851–8.

Salah satu cara sterilisasi yang digunakan di rumah sakit adalah dengan autoclave (panas uap). Cara ini paling umum digunakan karena dapat diandalkart, mudah pelaksanaannya dan dapat diterapkan pada hampir 80% kebutuhan bahan yang ada serta biaya

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993

Peranan Laboratorium dalam Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial
Dalima ArI Wahono Astrawlnata Panitia Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo/ UPF Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta

PENDAHULUAN Pengendalian infeksi nosokomial (IN) merupakan tanggung jawab suatu panitia/tim pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi di Rumah Sakit (RS). Salah satu aspek penting dalam penanggulangan IN adalah surveillans, di mana laboratorium turut berperan serta(1,2). PERAN UNIT LABORATORIUM Laboratorium Rumah Sakit, khususnya laboratorium mikrobiologi mempunyai peranan yang cukup penting dalam membantu program surveillans, dan pencegahan serta penanggulangan infeksi nosokomial. Peran tersebut mencakup beberapa hal, antara lain(2,3) : • Kerja sama dalam suatu tim/panitia penanggulangan infeksi RS • Identifikasi secara tepat mikroorganisme penyebab IN • Pelaporan berkala data pola kuman RS dan pola antibiogram • Pelacakan secara tepat penyebab infeksi tertentu RS • Melakukan pemeriksaan mikrobiologik bilamana diperlukan terhadap petugas atau lingkungan Rumah Sakit Dalam hal penanggulangan infeksi nosokomial, peran laboratorium yang cukup penting dapat berjalan dengan baik bilamana beberapa anggota tim penanggulangan infeksi nosokomial berasal dari unit laboratorium. Anggota tim tersebut harus yang betul-betul mengetahui kemampuan pemeriksaan mikrobiologik di laboratorium rumah sakitnya sehingga dapat menjalankan tugas sesuai kemampuan dan sarana yang tersedia. Komunikasi yang lancar dan hubungan yang baik antara bidang perawatan (Dokter/Perawat), Tim Pelaksana Harian Penanggulangan IN dan petugas laboratorium merupakan modal utama berjalannya suatu program penanggulangan infeksi nosokomial; terlebih lagi bilamana program tersebut didukung sepenuhnya oleh kebijakan rumah sakit(1,3,4).

PERANAN ANGGOTA PANITIA Anggota panitia yang berasal dari unit laboratorium (Dokter Spesialis Patologi Klinik, Ahli Mikrobiologi/Biologi, Analis Laboratorium Kesehatan) harus dapat menyumbangkan pikiran dan pendapatnya dalam menyusun program penanggulangan IN, terutama yang menyangkut pemeriksaan laboratorium. Mereka harus dapat menekankan bilamana pemeriksaan perlu dilakukan dan apakepentingannya serta bilamana pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini panting, terutama bila menyangkut soal pembiayaan yang harus dipikul oleh rumah sakit. Selain itu anggota tim dari unit laboratorium bersama-sama anggota tim yang lain secara berkelanjutan perlu memberi penataran dan penjelasan khususnya mengenai cara-cara pengambilan dan pengiriman bahan yang tepat, dan cara-cara pencegahan infeksi nosokomial kepada petugas RS yang lain. Sehingga secara seluruh program penanggulangan infeksi nosokomial melalui pengumpulan data maupun tindakan pencegahan dapat berjalan dengan baik(1,3,5). TUGAS LABORATORIUM RS Khususnya dari segi pemeriksaan, laboratorium RS dituntut untuk dapat mengidentifikasi mikroorganisme penyebab secara benar dalam waktu sesingkat mungkin. Hasil biakan yang dikeluarkan harus dapar dijamin telah melalui tahap prainstrumentasi, instrumentasi dan pasca instrumentasi yang benar. Pada tahap prainstrumentasi yang perlu diperhatikan adalah : – tindakan a/antisepsis yang benar – cara pengambilan bahan yang baik pemilihan bahan pemeriksaan yang sesuai – cara pengiriman yang tepat Dalam hal ini termasuk menyiapkan wadah penampung steril dan mengetahui cara penyimpanan yang benar sebelum dikirim.

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 25

26 Cermin Dunia Kedokteran No. PELAPORAN DATA Pelaporan data yang periodik atau berkalapun harus segera dapat disebar luaskan. Pemeriksaan lingkungan atau petugas rumah sakit akan bermanfaat bila memang dibutuhkan. Selain itu alat-alat yang tidak dapat disterilkan dengan autoklaf tetapi menggunakan larutan desinfektan. nilai informasi yang didapat juga tidak banyak manfaatnya. maka diperlukan identifikasi dan pelaporan yang cepat dan tepat. sehingga pada akhimya akan menyederhanakan jenis antimikroba yang dipakai. laboratorium dituntut untuk segera melaporkan bilamana ditemukan kuman-kuman patogen seperti : – N. Hal ini diperlukan untuk melihat efektivitas antimikroba yang dipakai dan menghentikan penggunaan antimikroba yang sudah tidak efektif lagi.Pada tahap instrumentasi laboratorium RS dituntut memiliki kemampuan : – cara-cara pemeriksaan yang benar – sesuai dengan prosedur yang seharusnya – dijamin dengan pemantapan mutu secara berkala Sedangkan tahap pasca instrumentasi menuntut : – ketelitian pencatatan – kemampuan pengolahan dan penyimpanan data – kecepatan penyebaran informasi ke pihak-pihak yang memerlukan Anggota tim dari laboratorium harus mampu menilai hasil yang dikeluarkan oleh laboratoriumnya dari sudut pandang epidemiologi dan infeksi nosokomial. Beberapa hal yang perlu diperiksa bila terjadi KLB di ruang operasi antara lain : – permukaan meja operasi – peralatan-peralatan lain dalam ruang operasi – lantai – udara – air Sebaliknya.6). Dalam hal ini terutama dituntut kecepatan dalam diagnosis penyebab kejadian dan pola penyebarannya. SURVEILANS LABORATORIUM Surveilans laboratorium adalah pengumpulan data dari hasil laboratorium.2. tbc pada petugas RS – S. Tindakan pencegahan harus dapat dilakukan secepatnya berdasarkan penyebab yang ada dan permasalahan yang ditimbulkan.2. besar kemungkinan penderita yang bersangkutan masih dalam perawatan di rumah sakit(3.3). hal ini penting karena bila masih diperlukan data tambahan. beberapa hal yang perlu dilakukan secara terus menerus adalah memeriksa sterilitas alat-alat perlengkapan operasi yang disterilkan di pusat sterilisasi rumah sakit atau pemeriksaan berkala formula makanan bayi. data itu tidak akan ada manfaatnya lagi. Surveilans dapat dilakukan secara aktif yaitu dengan memeriksa bahan yang telah ditetapkan oleh panitia pengendalian IN atau secara pasif dengan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari pemeriksaan seharihari(1. 82.6). Pada keadaan tertentu.3).3. Di sini letak pentingnya sarana komunikasi antara laboratorium dengan ruang perawatan(2. mencegah pemborosan dana dan menekan tingkat resistensi kuman(1. tetapi mungkin juga diperlukan pemeriksaan terhadap petugas dan lingkungan RS. dapat ditentukan tindakan pencegahan selanjutnya. pemborosan tenaga dan waktu. misalnya pada saat terjadi kejadian luar biasa di ruang operasi. Gabungan antara data yang diperoleh dari laboratorium dengan hasil surveilans klinik mutlak dilakukan untuk mendapatkan gambaran angka kejadian IN yang tepat. alat-alat endoskopi atau tuba endotrakeal(2. Dalam hal mikroorganisme penyebab infeksi. sama sekali tidak dibenarkan. Pemeriksaan tidak saja perlu dilakukan terhadap pasien yang dicurigai terkena infeksi nosokomial. Berdasarkan gambaran angka kejadian tersebut. EVALUASI DATA Anggota tim unit laboratorium juga dituntut untuk dapat mengevaluasi dan menganalisa kumpulan data laboratorium mikrobiologi sehingga pola mikroorganisme penyebab infeksi di RS tersebut dari waktu ke waktu dapat diketahui dan dipelajari. dari waktu ke waktu perlu diperiksa sterilitasnya. meningitidis dalam cairan otak – M. Berdasarkan data laboratorium dari tim IN maka komisi antibiotika akan dapat menentukan pemilihan jenis antimikroba yang masih boleh digunakan dan yang perlu ditarik. DATA LABORATORIUM Data laboratorium merupakan salah satu data penting dalam surveilans infeksi nosokomial. Dalam hal ini tim penanggulangan IN akan terlibat kerjasama dengan panitia atau komisi antibiotika dan terapi RS. KEJADIAN LUAR BIASA Pada kejadian luar biasa (KLB) di mana terjadi peningkatan tiba-tiba angka kejadian infeksi nosokomial. karena bila tidak. Selain itu pola resistensi terhadap antimikroba yang digunakan RS tersebut untuk masing-masing mikroorganisme perlu dilaporkan dari waktu ke waktu. sehingga pada akhirnya ketajaman data surveilans dapat diperoleh dan dipakai sebagai dasar untuk penyusunan program selanjutnya(1. atau peningkatan infeksi nosokomial di suatu ruang perawatan.3).6). pyogenes pada apusan tenggorok Hasil tersebut dilaporkan sebelum hasil lengkapnya selesai. selain membuang dana yang besar. khususnya laboratorium mikrobiologi terhadap biakan kuman dari bahan yang diperiksa. 1993 . aureus dari neonatus – S. Hal ini berlaku untuk peralatan anestesi.3). Hal ini tentu harus diperlakukan secara khusus dan di luar kegiatan rutin yang memang sudah ada(2. maka pihak laboratorium RS harus siap dengan petugas dan tatacara penanggulangan KLB tersebut. PEMERIKSAAN LINGKUNGAN RS Pemeriksaan rutin atau periodik terhadap petugas atau lingkungan RS tanpa indikasi. Hasil yang keluar harus mampu dipastikan betul-betul sebagai penyebab infeksi dan bukan suatu kontaminan atau suatu kolonisasi belaka.

1987: 344-84. 1993 27 . – Bahan darah pasien sepsis. Hospital Acquired Urinary Tract Infections : Epidemiology and Prevention. Dalam hal ini peran laboratorium RS. 8. Surgical Infections Including Bums. 82. 7. Prevention and Control of Nosocomial Infections. Prevention and Control of Nosocomial Infections. In: Wenzel RP (ed). 1987: 70-82. JC. de Leon SP. Washington DC: ASM Pub1. Organizing for Infection Control. Garibaldi RA. Nos000mial Infections and Infection Control. Hammy BH. Prevention and Control of Nosocomial Infections. 4. Surveillance and Reporting of Nosocomial Infections. In: Wenzel RP (ed). – Ujung kateter urin atau win yang diaspirasi langsung dari ujung proksimal kateter urin pada infeksi saluran kemih (ISK)(8). Baltimore: Williams & Wilkins. Wenzel RP. 6. Prevention and Control of Nosocomial Infections. Jarvis WR.1985:110-22. – Pus dari bagian dalam infeksi luka operasi (ILO)(9). 3. 1987: 56-60. 1987: 109-15.Di bawah ini beberapa pemeriksaan yang mungkin diperlukan untuk suatu surveilans mikrobiologik infeksi nosokomial : – Ujung kateter intravena pada phlebitis (infeksi luka infus/ ILI)(7). Penataran/Pelatihan Pengendalian Infeksi Nosokomial RSCM. Nosocomial Gastrointestinal Infections. 1987: 283-319. In: Wenzel RP (ed). 2. Ryan KJ.. Nosocomial Bloodstream and Intravascular Device-Related Infections. Jakarta. Baltimore: Williams & Wilkins. In: Wenzel RP (ed). 1984: 655-63. Baltimore: Williams & Wilkins. 1989. Prevention and Control of Nosocomial Infections. Peranan Laboratorium dalam Penanggulangan Infeksi Nosokomial. Baltimore: Williams & Wilkins. (ed. In: Sherris. Manual of Clinical Microbiology. adanya kerjasama antar masing-masing unsur serta kesadaran untuk berperan aktif. Role of the Microbiology Laboratory in Prevention and Control of Nosocomial Infections. 1987: 405-39. In: Lennette EH et al (ads). khususnya neonatus(7). khususnya laboratorium mikrobiologi merupakan salah Satu mata rantai yang penting. KESIMPULAN Dan bahasan di atas jelas suatu program penanggulangan infeksi nosokomial RS merupakan suatu program terpadu yang melibatkan semua unsur di rumah sakit tersebut. 5. Hughes JM. In: Wenzel RP (ed). 9. The Infection Control Committee. Baltimore: Williams & Wilkins. Mayhall CG. Thompson RL. 1987: 335-43. – Apusan rektal pasien enteritis. 4th ed. JE Jr.) Medical Microbiology : an introduction to infectious diseases. dan yang tidak kurang pentingnya adalah dukungan penuh dari pimpinan RS. McGowan. Prevention and Control of Nosocomial Infections. New York: Elsevier. Baltimore: Williams & Wilkins. Prevention and Control of Nosocomial Infections. Program dapat berjalan dengan baik apabila koordinasi antar semua unsur yang terlibat baik. 1. In: WenzelRP(ed). In: Wenzel RP (ed). KEPUSTAKAAN Astrawinata DAW. Cermin Dunia Kedokteran No. Baltimore: Williams & Wilkins. 10. terutama neonatus(10).

1993 . Mengingat pentingnya cuci tangan dalam pencegahan infeksi nosokomial.5). tetapi dapat juga merupakan reservoar organisme nosokomial(4). 28. Data perilaku cuci tangan yang dikumpulkan meliputi praktek cuci tangan. mengingat RS sebagai tempat berkumpulnya segala macam penyakit. 17. Di Rumah Sakit (RS) kebiasaan cuci tangan petugas merupakan perilaku yang mendasar sekali dalam upaya mencegah cross infection (infeksi silang). Bahkan tangan petugas RS tidak saja merupakan alat pasif dalam penyebaran bakteri gram negatif. terdiri dari 293 orang PP dan 122 orang dokter yang diambil secara systematic random sampling dari daftar petugas yang ada di masing-masing RS. Pengambilan dilakukan dengan menggunakan kapas steril yang sudah dicelupkan ke dalam akuades steril. Sebagian besar (93. 15.6% mengatakan tidak praktis. Agustin Lubls. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.6% mengaku mencuci tangan hingga ke lengan dan sisanya mencuci hanya jari dan telapak tangan saja. baik menular maupun tidak menular. sebagian besar (81. pengamatan perilaku dan pemeriksaan laboratorium dari spesimen usap tangan petugas. Kasnodlhardjo Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan.8%) mengaku menggunakan desinfektan. Dengan demikian kebiasaan cuci tangan sebelum melakukan sesuatu pekerjaan menjadi penting artinya dalam upaya pencegahan infeksi.Kebiasaan Cuci Tangan Petugas Rumah Sakit dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial D.2%) petugas paramedis perawatan (PP) mengaku selalu melakukan cuci tangan sebelum makan atau memegang makanan.6% merasa tangannya tidak kotor dan 42. Dalam mencuci tangan.0%) mengaku selalu mencuci tangan sebelum menangani pasien dan 96.5%) juga mengaku selalu mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar.8% tergantung pada penyakit pasien. BAHAN DAN CARA Penelitian dilakukan di seluruh Rumah Sakit Umum (RSU) Pemerintah yang ada di DKI Jakarta.4% mencuci jari dan telapak tangan dan 84. Cara mencuci yang dilakukan. HASIL Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar (95.3. Dari berbagai tulisan diketahui bahwa kejadian infeksi silang di RS kebanyakan terjadi melalui tangan petugas RS yang tercemar kuman karena kontak dengan pasien/penderita. Jumlah responden keseluruhan 415 orang. cara cuci tangan. atau tinggal secara menetap pada tangan(1). Anwar Musadad. Kuman-kuman tersebut bisa berasal dari benda atau alat yang terkontaminasi. Di antara mereka yang kadang-kadang atau sama sekali tidak mencuci tangan. Sebagai responden penelitian adalah tenaga paramedik perawatan (PP) dan tenaga medik (dokter). Sebagian besar (87. Sampel usap tangan diambil dari 5 orang PP di setiap RS. karier.0% hanya dengan air saja. bahan/alat atau dengan lingkungan yang tercemar(2. dikunjungi dan digunakan oleh berbagai macam pejamu yang rentan sehingga mudah terjadi infeksi nosokomial.9% mencuci tangan sesudah menangani pasien. Departemen Kesehatan RI. maka dilakukan studi tentang kebiasaan cuci tangan petugas RS. sebagian besar PP (85. Demikian pula RS selalu dihuni. waktu cuci tangan dan penggunaan desinfektan dalam melakukan cud tangan.4. 28. 82.4% menggunakan sabun dan 1.6% mencuci tangan sampai ke lengan. Kapas tersebut diusapkan secara silang di telapak tangan kemudian dimasukkan ke media phosphate buffer saline dalam botol untuk selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa jumlah kumannya. Jakarta PENDAHULUAN Tangan tidak pernah bebas dari berbagai macam kuman. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan.0%) sewaktu mencuci tangan selalu menggunakan sabun. Dari sejumlah itu 84. Sementara itu di kalangan dokter temyata hanya 41.8% 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Dalam penanganan pasien.

6% memberi alasan airnya tidak mengalir.9 293 100.0 Pemeriksaan populasi kuman pada usap tangan petugas para medis perawatan di 7 RS dl DKI Jakarta No. Setelah buang air besar – PP – Dater 3. Biasanya mereka mencuci tangan hanya pada saat setelah penanganan pasien secara keseluruhan selesai. 62. Tabel 1.7 29.0 27.0 10. baik saat pertama kali atau pergantian dari pasien satu ke pasien lainnya.yang mengakui selalu mencuci tangan pada saat sebelum menangani pasien dan 69. Kebiasaan Mencuci Tangan Petugas RS Selalu n % Kadang– kadang n 14 – 17 – 33 58 5 33 % 4. Baik PP maupun dokter ternyata sebagian besar tidak melakukan cuci tangan sebelum menangani pasien.3 47. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan mereka hanya berdacarkan pengetahuan mereka saja.1 Tak Tentu n 89 23 % 30.9% mencuci tangan pada saat sesudah menangani pasien.3% memberikan alasan fasilitasnya tidak tersedia.2% mengaku mencuci jari dan telapak tangan saja. Para dokter tersebut dalam mencuci tangan 28.1 1 kali/mg n 110 66 % 37.4 0.5 293 100. namun dalam kenyataannya tidak demikian. Sebelum menangani pasien – PP – Dokter 4.1 % tergantung pada keadaan. Di antara mereka yang kadang-kadang atau sama sekali tidak mencuci tangan 31. Dokter 45 71 Dalam perawatan kuku jari tangan sebagian besar petugas mengaku selalu melakukan pemotongan kuku secara rutin sekali dalam satu minggu (Tabel 3). Sebelum makan – PP – Dokter 2.5 1.5 – – 249 85. Tindakan mereka dalam menangani pasien tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. 1993 29 .8 n 293 122 Jumlah % 100.0 – – 05 3.4 58.7 122 100.0 1.0 07 Jenis Tenaga 1.2 – – 274 93. PP 2. 82. 2-3 kali/mg n 94 33 % 32. 25.8 – 5.ya daripada kepentingan pasien. Sedangkan bila melihat waktu melakukan cuci tangan menunjukkan tujuan mencuci tangan petugas lebih diperuntukkan bagi dirin.9 293 100.0 113 100. Sepintas lalu tindakan demikian kelihatan asal- Cermin Dunia Kedokteran No. 03 279 95. Sebagian petugas dalam melakukan cuci tangan tampak hanya jari-jari tangan yang dicelupkan ke dalam waskom berisi desinfektan. Hasil pengamatan perilaku menunjukkan bahwa sebagian besarpetugas tersebut tidak melaksanakan cuci tangan. Ini terlihat pada waktu petugas akan memeriksa pasien.0 06 Cara Mencuci Tangan Petugas RS Jari dan Telapak Tangan n % 15.4 18. Kebiasaan Memotong Kuku Petugas RS Jenis Tenaga 1.0 – – 04 293 100. PP 2.7 – Jumlah n % Tabel 3.9 79 69.0 100.1% sampel kandungan kumannya antara 19 x l02 dan 15 x 106 kuman (Tabel 4).2 n 248 51 Sampal Lengan % 84. Setelah menangani pasien – PP – Ddcter Tabel 2.6 41. Hasil pengamatan menunjukkan 85% PP keadaan kuku dan tangannya relatif bersih. Hasil pemeriksaan sampel usap tangan terhadap 35 orang PP menunjukkan 97.3% menggunakan desinfektan dan sisanya hanya dengan air.0 51 41.5 54.7% menggunakan sabun.2 Tak Pernah n 0 – 2 – 11 13 4 1 % 0.0 100. PEMBAHASAN Sebagian besar petugas RS yang diteliti baik PP maupun dokter mengaku selalu melakukan cuci tangan baik sebelum maupun sesudah menangani pasien.0% karena lupa dan 28. Dokter Tabel 4.8 284 96. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Angka kuman 65 x 102 29x 103 17 x 103 355 x 102 182x 103 31 x 103 61x103 11 x 104 1155 x 103 54x103 425 x 102 48 x 103 46x 103 209 x 103 355 x 102 18 x 103 22x104 285x 103 135 x 102 15 x 106 137 x 104 105 x 102 53x104 41 x 103 0 142 x 103 19 x 102 115 x 102 28 x 103 6x 103 81 x 103 3x103 66 x 103 178 x 103 62x103 Kode RS 01 02 Saat Mencuci Tangan 1.9 Jumlah n 293 122 % 100. 15.8 – 11. Mereka pada umumnya mencuci tangan setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien keseluruhan.0 – 0. Dan mereka yang mengaku selalu mencuci tangan baik sebelum maupun sesudah menangani pasien 58.

4. di samping karena jumlah sarana cuci tangan yang terbatas.10). Malahan sebagian dari mereka tidak melakukan cuci tangan sama sekali karena beberapa alasan antara lain fasilitas cuci tangan tidak tersedia. intensitas dan lamanya kontak dengan pasien.8%0).11. Albert and Condie F. Dan berbagai penelitian diketahui bahwa keadaan sanitasi RS masih belum memadai dan ditemukan berbagai kuman penyebab infeksi nosokomial pada ruanganruangan dan berbagai peralatan di RS(1.1%) yang jumlah sarana cuci tangannya memadai dan hanya 42. sedangkan dengan menggunakan sabun dapat menghilangkan lebih dari 98% Klebsiella.12). Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. menganggap tidak praktis dan merasa tangannya tidak kotor.3).7. airnya tidak mengalir. Amerika menunjukkan bahwa hanya 41% kontak dengan pasien yang diikuti dengan mencuci tangan. Kalangan dokter lebih sedikit (28%) dibandingkan dengan perawat (41%). Penggunaan waskom pada prakteknya dipakai seharian penuh tanpa diganti larutan desinfektannya sehingga memungkinkan waskom tersebut menjadi sumber kontaminasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di atas maka diperoleh kesimpulan bahwa tindakan cuci tangan petugas RS masih rendah. (1981) pada petugas medik suatu intensive care unit di Seattle. Peningkatan jumlah dan kualitas fasilitas cuci tangan.L. Umumnya kontak yang sangat singkat seperti berjabat tangan dengan pasienpasien tidak memerlukan cuci tangan. setelah dari kamar mandi/WC. Hal ini menunjukkan masih rendahnya disiplin dan kesadaran petugas akan pentingnya cuci Langan dalamm pencegahan infeksi atau penularan penyakit. 3. khususnya wastafel yang putaran krannya dioperasikan dengan kaki atau siku. Sedangkan sering ditemukannya kuman pada putaran kran air disebabkan adanya reinfeksi karena tangan yang sudah bersih digunakan untuk menutup kran air yang sudah terkontaminasi tangan kotor pada saat membuka kran(1). khususnya tindakan-tindakan invasif atau pembedahan serta di ruanganruangan tertentu.5. Penggunaan air dan sabun serta antiseptik dapat menghilangkan kuman-kuman dan kotoran. khususnya pada waktu sebelum menangani pasien. 2. Tampaknya kebiasaan cuci tangan di kalangan petugas RS belum dilakukan sepenuhnya.2.8. Pada dasamya tindakan mencuci tangan tergantung pada tipe. Diadakan peraturan dan tanda-tanda peringatan yang jelas di setiap ruangan tentang keharusan mencuci tangan. Hasil pengamatan di 7 RS temyata hanya 4 RS (57. Sardjito dkk yang melakukan penelitian mengenai populasi kuman pada berbagai peralatan. Sebaliknya wastafel yang ada menggunakan putaran kran air biasa dan sebagian tidak dilengkapi sabun. jika tangan tampak kotor dan sebelum pulang ke rumah diharuskan melakukan cuci tangan(1. sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan perlengkapannya.. Begitu juga hasil penelitian L.9. Sedangkan hasil penelitian K. coliform dan kuman aerob berspora pada putaran kran air(8). Hasil pengamatan terhadap jenis fasilitas cuci tangan: seluruh RS menggunakan waskom (wash-basin) dan hanya 3 RS (42. Sprunt et al (1973). Lowbury et al menunjukkan bahwa mencuci tangan menggunakan sabun dapat mengurangi jumlah Staphylococcus aureus rata-rata 99. bahan makanan dan petugas di beberapa RS di Jakarta menemukan Klebsiella pneumoniae dan kuman aerob berspora pada larutan desinfektan dan Proteus vulgaris. Sebaliknya kontak yang lama dan intens memerlukan cuci tangan(3). walaupun secara fisik tampak bersih. Keadaan demikian memungkinkan terjadinya kontaminasi dan hasil pencucian kurang bersih. Sedangkan untuk tindakan-tindakan lain khususnya tindakan insersi diperlukan antiseptik(3). Untuk itu disarankan : 1. 82.7% dan Pseudomonas aeruginosa 99.asalan. lupa.4.J. 2) kurang adanya kesadaran petugas akan pentingnya cuci tangan dalam pencegahan infeksi nosokomial dan 3) kurang adanya pengawasan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya reinfeksi. pencucian tangan dengan menggunakan sabun dapat menghilangkan 67 – 100% coliform (median 96%)(1.K. Penelitian EJ. Taylor (1978) tentang teknik mencuci tangan tenaga perawat di Inggris menunjukkan 89% cara mencuci tangannya belum baik(6). udara. Pencucian tangan rutin selama kegiatan perawatan pasien dianjurkan menggunakan air bersih yang mengalir dengan menggunakan sabun(1. Peningkatan kesadaran petugas tentang pentingnya cuci tangan melalui penyelenggaraan penyegaran tentang pencegah- 30 Cermin Dunia Kedokteran No. Hal tersebut disebabkan oleh 1) kurang memadainya fasilitas cuci tangan. Hasil penelitian R.9% yang keadaannya baik. Boleh jadi hal ini disebabkan budaya maupun alasan-alasan tertentu sehingga para petugas RS tidak melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.3. Perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kebiasaan cuci tangan petugas khususnya yang berhubungan langsung dengan pasien. 1993 .9%) yang menggunakan wastafel. maka seluruh petugas RS pada waktu tiba di RS. Ditemukannya kuman-kuman pada waskom larutan desinfektan mungkin karena jarangnya larutan desinfektan atau air tersebut diganti sehingga petugas yang mencuci tangan bukannya menjadi bersih tetapi justru terkontaminasi kuman dari petugas yang mencuci tangan terlebih dahulu. Begitu juga adanya kandungan kuman yang relatif tinggi pada sebagian besar hasil usap tangan petugas menunjukkan rendahnya frekuensi cuci tangan dan cara cuci tangan yang belum benar. Tetapi buruknya kondisi lingkungan di RS menjadikan cuci tangan tetap diperlukan setiap akan melakukan suatu tindakan. sebelum dan sesudah makan. Penggunaan waskom sebagai sarana cuci tangan dapat diterima asalkan frekuensi penggantian air dan desinfektan dalam waskom dilakukan sesering mungkin.3). Penelitian Casewell & Philips (1977) menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan air (tanpa sabun) dapat menghilangkan kurang dari 98% Klebsiella. Untuk itu dalam melakukan cuci tangan dianjurkan menggunakan air yang mengalir dengan putaran kran yang dioperasikan dengan kaki(1) atau siku.

1981. Pediatr 1973. Pelaksanaan Sanitasi Rumah Sakit di Jawa Tengah. 1975. udara. Jakarta. Gunawan N. Aspek sosiologis sanitasi Rumah Sakit di DKI Jakarta. Guidelines for the prevention and control of Nosocomial Infections. Jakarta. Eitzman DV. 12. Dixon RE. 1989. 1984. Sardjito R. Georgia: Atlanta. Jilid II. Hospital Hygiene. Pemantauan mikrobiologik lingkungan di dalam Rumah Sakit. 9. Role of hand contamination of personnel in the epidemiology of gram-negative nosocomial infections. 1980. KEPUSTAKAAN 1. Sunanti Zalbawi. Baer H. Bull WHO. Suharto. Jakarta. Begitu pula kepada seluruh Direktur dan staf RS yang telah membantu terselenggaranya penelitian ini. Maurer IM. Elizabeth H. 433. Jakarta. Sprunt K. Eleventh Ed. 52. Knittle MA. 2. Feachem RG. Intervention for the control of Diarrhoeal Diseases among Young Children: Promotion of personal and domestic hygiene. 4th Ed. Freedman B. 1985. Petunjuk Teknis Pengendalian Infeksi Nosokomial Di RS DR Cipto Mangunkusumo. Panitia Penyusunan Buku Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial. 29 Pebruari – 1 Maret 1988. US Department of Health And Human Services. 4. 11. 1985. Sardjito R. et al. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian Ekologi Kēsehatan yang telah memberikan kesempawn kepada penulis untuk melakukan penelitian. Rahim A. Departemen Kesehatan RI. Rahim A. bahan makanan/minuman dan petugas) di beberapa Rumah Sakit dan Laboratorium di Jakarta. 3. Sanitarian's Handbook. Kasnodihardjo. 1984. New Orleans-Lousiana: Peerless Publ Co. Penelitian mengenai populasi kuman (mangan. Penelitian Terbaik FKUI 1984. Djarismawati. Dalam: Maxcy-Rosenau 10. Public Health and Preventive Medicine. J Pediatr. 7. 6. New York: Appleton-Century-Crofts. 1977. Mallison GF. Laporan Penelitian. 5. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kumpulan Makalah Penataran Isolasi Penderita Penyakit Menular (Infeksi Nosokomial Dan Pencegahannya). 13. Kumpulan Materi Seminar Sanitasi Rumah Sakit. Third Ed. Jakarta. 62(3). 8. London: Edward Arnold Ltd. Nosocomial Infections. Jakarta.an infeksi nosokomial. Lubis A. Antibacterial Effectiveness of Routine Hand Washing. . peralatan. Laporan Penelitian. Musadad DA. 1989.

Jakarta PENDAHULUAN Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup.Air sebagai Sumber Kontaminasi Usman Suwandi Pusat Penelitian dan Pengembangan P. Standar kedua jenis air tersebut dapat dilihat pada tabel I. sehingga dapat mengganggu peruntukan air tersebut. Bila air diuapkan. 1993 .0 – 7. dan non volatile. Tabel 1.3 1. air yang digunakan sebagai vehicle sediaan injeksi harus memenuhi syarat waterier injection. bahkan sering digunakan sebagai pembawa.0 0. Anorganik terlarut Garam anorganik di dalam air dapat terdisosiasi membentuk ion positip dan negatip. baik dalam proses pembuatan air tersebut maupun air yang dihasilkan. Air tersebut tidak hanya memenuhi syarat kemurniaan secara kimiawi saja. mikroorganisme. Air yang baik untuk diminum biasanya mengandung berbagai kontaminan seperti elektrolit.4 3. Bahan ini merupakan air yang telah dimurnikan dengan distilasi atau reserve osmosis dan memenuhi syarat standar kemumian purified water.0 0. oksigen. Zat ini dianggap berasal dari bakteri dan mempunyai sifat dapat lam t air.0 – 4. Components Purified Water mg/1 5. Beberapa tipe mikroorganisme tertentu. Untuk mendapatkan air tersebut diperlukan bahan baku air yang mempunyai kualitas baik.0 10.4 3. Di USP. or below predetermined concentration.0 0.0 10. tidak hanya bagi manusia.5 5.T.0 ** *** pH Choride Sulfate Ammonia Calcium Heavy Metals Oxidizable Substance Total Solids Bacteriological Purity Pyrogens Note : * Complies with federal EPA regulations for drinking water. as measured by LAL test. Air minum sering mengandung klorin. ion-ion ini bersama dengan ion-ion seperti karbonat. filtrable. USP XX Standards for Water Purity Numerical Interpretations of Standard. tentu lebih disukai air yang murni dan tidak mahal.0 * – Water for Injection mg/1 5.5 5. Zat ini dapat dihilangkan dengan distilasi atau dengan berbagai proses purifikasi lainnya. Jumlah relatip kecil substansi ini sudah cukup menyebabkan efek samping yang serius dan reaksinya akan lebih serius pada injeksi intravena volume besar.0 0. Perusahaan farmasi memerlukan banyak air bersih. peralatan. dapat dien- 32 Cermin Dunia Kedokteran No. hewan dan tumbuhan tetapi juga mikroorganisme. karena kualitas yang jelek dapat menimbulkan gangguan.0 – 4.0 0. tetapi juga harus bebas dari substansi pirogenik yaitu penyebab terjadinya reaksi febril setelah injeksi sediaan steril. Kalbe Farma. termostabil.0 – 7. Pada dasarnya ada 4 macam kontaminan yang ada dalam air. 82. Air ini digunakan untuk mencuci kontainer.3 1. karena dosisnya akan lebih besar dan langsung masuk ke pembuluh darah. KONTAMINAN AIR Industri farmasi banyak membutuhkan air distilasi dan demineral. misalnya kalsium dan magnesium sebagai pembentuk kesadahan (hardness) air. ** Depends on use. Untuk sediaan farmasi terutama sediaan parenteral. substansi organik. air merupakan bagian yang sangat penting. partikel gas terlarut misalnya karbon dioksida.0 0. *** Absent by rabbit test. 1. dapat tumbuh dengan baik di dalam air.

Klorid. Proses ini banyak digunakan untuk mereduksi hardness air sebelum dipakai distilasi atau reverse osmosis. Ini dapat terjadi pada konsentrasi relatip rendah. Magnesium. Untuk menghilangkan kerak ini diperlukan zat-zat kimia pembersih.rtambahnya produk-produk yang dihasilkan manusia seperti herbisida.akan menggantikan anion dalam air. Ion H* akan menggantikan kation dalam air dan ion OH. Mikroorganisme tertentu dapat berkembang dengan baik di dalam air. 2. pre-treatment air baku sangat diperlukan. namun substansi non-ionogenik seperti bakteri atau virus dapat menimbulkan masalah. kloramin.dapkan membentuk kerak (hard scale). Reverse osmose (RO) Pemurnian air menggunakan membran reverse osmosis sering digunakan karena membran ini mampu memisahkan berbagai 3. 2. Partikel-partikel ini dapat dihilangkan dengan filtrasi dan dapat menyebabkan gangguan pada proses distilasi maupun demineralisasi. Softener digunakan untuk menghilangkan ion kalsium dan magnesium.klorin bebas dan silika Klorid dan klorin bebas pada stainless steel dapat menyebabkan stress corrosion cracking. Untuk mengurangi residu atau kontaminan dan gangguan lain. PURIFIKASI AIR Di USP dinyatakan bahwa water for injection dapat dibuat dengan distilasi atau reverse osmosis dan harus memenuhi syarat kemumian pada purled water. Zat-zat organik terlarut ini dapat mengganggu evaporasi dan sangat berpengaruh pada resin penukar ion. sehingga mengurangi keefektifan deionizer. Mikroorganisme Kontaminan mikroorganisme dalam air untuk keperluan farmasi mungkin dapat merupakan problem utama. Organik terlarut Substansi organik terlarut mencakup hasil samping berbagai pembusukan dan semakin meningkat dengan bt. 82. Perbedaan keduanya terutama untuk water for injection harus memenuhi batas kandungan endotoksin bakteri. Untuk menjamin berfungsinya proses pemurnian air dengan baik. Distilasi Distilasi merupakan salah satu cara untuk memproduksi water for injection. serabut. Pada prinsipnya merupakan pemanasan air sampai mendidih dan uap aimya kemudian dilewatkan kondensor dengan temperatur rendah sehingga uap terkondensasi.untuk penukar anion. Fig. Kelemahannya beberapa kontaminan atau residu dapat terbawa kondensat. 1 Microorganisms occurring in water (mainly after Wailhausser 1978) Cermin Dunia Kedokteran No. Demi neralisasi dapat dilakukan dengan menggunakan penukar kation dan anion. Untuk mengetahui macam mikroorganisme yang terdapat dalam air dapat dilihat pada gambar 1. dan menggantinya dengan ion sodium. Penukar ion pada umumnya menggunakan bentuk H* untuk penukar kation dan bentuk bentuk OH. 3. lalu dikumpulkan dan disimpan.kalsium dan karbonat Pada saat evaporasi ion ini dapat mengendap bersama anion karbonat membentuk kerak hard scale. Setiap penukar ion dapat disusun pada kolom yang berlainan maupun pada kolom yang sama. terutama untuk mengilangkan padatan tersuspensi dan untuk mengurangi kandungan substansi organik. terutama pada daerah sambungan. Penukar ion biasanya digunakan untuk pemurnian air yaitu untuk memperoleh air demineral dan softened water. 4. diperlukan batas kandungan berbagai zat dalam air yang digunakan antara lain : 1. "Ion-exchange"/penukar ion. Pembentukan kerak pada tabung evaporator dapat mengurangi transfer panas dan akhirnya akan mengurangi kapasitas. Pembentukan kerak pada tabung evaporator tentu dapat mengurangi transfer panas dan kapasitas. 1993 33 . karena dapat menyumbat atau melapisi tempat pertukaran. 1. mineral dan organik tak larut. Umumnya problem mengenai substansi ionogenik dapat ditangani dengan baik. 2. trihalomethane dan detergen serta berbagai hasil bio-dekomposisi lainnya. Partikel tersuspensi Partikel terusupensi meliputi debu kerak. pestisida.

Problem utama pada air distilasi ganda dalam kaitannya dengan kontaminasi mikroba adalah pirogenitas. Pengelolaan Air yang sudah diperoleh hendaknya ditangani dengan baik sesuai dengan peruntukannya.99% 99. Formalin efektif digunakan pada konsentrasi 1-2% selama 1– 2 jam. c. selain itu juga digunakan untuk menghasilkan airuntuk aplikasi medis seperti hemodialisis. Perbedaan keduanya antara lain bahwa spiral wound dapat beroperasi pada tekanan lebih tinggi dan lebih mudah dibersihkan. Cellulose Acetate 4-7 35°C Low-Medium Good Good Low-Medium Polyamide 4-9 39°C Medium Poor Very Good Low Amide Composite 3-10 50°C High Poor Exeellent High Sulfane Composite 2-12 70C High Very Good Excellent Medium pembilasan zat-zat kimia pembersih: b. Substansi pirogenik ini berhubungan sangat erat dengan kontaminasi mikroba. untuk mencegah kontaminan terutama mikroba. Reverse Osmosis Rejection . – Peracetic acid. Ro Membrane Environmental Characteristics. coli dan Pseudomonas aeruginosa populasinya menurun mendekati nol setelah 72 jam inokulasi. dapat menggunakan berbagai macam cara purifikasi. Proses pembersihan dapat dilakukan sebagai preventif atau pencucian aktif. seperti pernah diamati oleh Kruger (1980). Pengontrolan Mikroprosesor dapat digunakan untuk mengontrol sistem RO secara terus menerus dan konsisten serta dapat mencatat semua kondisi sistem operasi. Pada saat air merembes melalui membran. Sebagai gambaran kemampuan mengeliminasi berbagai kontaminan oleh berbagai proses purifikasi dapat dilihat pada tabel 4. konfigurasi membran RO yang paling lazim digunakan untuk pemumian air yaitu spiral wound dan hollow fibre. polyamide (PA). (tabel 2).99% Dissolved Solids Organics (pytogens) Bacteria 95% 99% 99% 34 Cermin Dunia Kedokteran No. kotoran harus dibuang secara terus menerus untuk mencegah pengotoran membran. sehingga diperoleh air berkualitas tingi. di mans air akan bergerak melalui membran dari larutan konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi dalam usaha menyamakan konsentrasi di kedua sisi membran. biasanya digunakan untuk membran RO yang peka terhadap oksidasi kimia yaitu PA dan TFCRO. Walter S. (1984) memberikan saran untuk memperhatikan hal-hal berikut: a. Air hasil proses purifikasi harus ditangani dengan baik. 1993 . PENUTUP Kontaminan air dapat berupa partikel tersuspensi. bahkan Achromobacter sp dan Flavobacter sp dapat meningkatkan populasinya setelah 72 jam inokulasi. kimiawi air yang digunakan dan kondisi operasi seperti temperatur dan tekanan. Karena sedikit daja terjadi kontaminasi dapat menyebabkan risiko pirogenitas. Sistem RO mempunyai 2 macam bentuk yaitu : – One pass RO – Two pass RO (TPRO) Kemampuan sistem tersebut mengeliminasi berbagai substansi dapat dilihat pada tabel 3. air melalui membran akan bergerak meninggalkan larutan pekat. Dengan menggunakan tekanan. Dalam usaha meningkatkan produktivitas sistem RO. Kelemahan zat ini yaitu sering sukar dihilangkan dari sistem. Zat-zat kimia yang biasa digunakan untuk sanitasi membran RO antara lain : – Klorin. pH Temperature Rejection Oxidation Bacteria Fluxrate Tabel 3. Pretreatment air baku sangat diperlukan untuk mengoptimasi sistem RO. 4). Kontaminasi perlu dicegah karena beberapa mikroba dapat hidup dengan baik dalam air tersebut. 82. Kruger (1980) telah melakukan percobaan untuk mengetahui perilaku berbagai mikroba pada air distilasi ganda dan demineral. – Formalin. Polimer yang paling lazim digunakan yaitu Cellulose Acetate Triacetate (CA). substansi organik. Konsentrasi 10 mg/1 selama 30 menit. Mengeliminasi low flow areas Area tergenang dan aliran yang lambat dapat merupakan sumber kontaminasi bakteri dan dapat menyebabkan kesukaran Tabel 2. Perilaku berbagai mikroba pada air demineral juga diamati oleh Kruger (1980). 4. Untuk memperoleh air yang murni. Osmosis merupakan proses dua larutan yang dipisahkan membran semi permeabel. setelah 1– 2 hari ternyata dapat menimbulkan pirogenitas pada saat diuji dengan LAL. proses osmosis akan berbalik. garam terlarut. subtansi koloid dan bakteri dari molekul air.ion. One-Pass RO Two-Pass RO 99% 99. sedangkan keuntungan hollow fibre yaitu jumlah area membran per unit volume lebih besar. Thin film composite (TEC) dan Sulfon composite. partikel. efektif untuk membran RO oxidizablestable dengan konsentrasi 100 mg/I selama 30 menit. Membran yang digunakan untuk reverse osmosis biasanya merupakan polimer komplek. Keuntungan zat ini yaitu mudah dibilas. ternyata semua dapat tumbuh dengan baik sampai 72 jam pengamatan (gb. sudah merupakan cara sanitasi yang baik. digunakan untuk membran yang stabil dalam lingkungan oksigen seperti CA dan polisulfon. Pada saat air distilasi ganda diinokulasi 100 organisme per ml dan disimpan pada temperatur kamar. substansi terlarut atau mikroorganisme. tergantung pada kegunaan air tersebuL Karena setiap cara mempunyai kemampuan mengeliminasi kontaminan berbeda-beda. Kedua sistem ini telah banyak digunakan untuk memperoleh purified water dan WFI. Sanitasi Sanitasi rutin dan pemeliharaan yang tepat akan menyebabkan kerja sistem dapat diandalkan dan kualitas air yang dihasilkan akan konsisten. Pada gambar 2 dan 3 dapat dilihat bahwa fungi dan yeast dapat hidup pada air distilasi ganda. Laju air yang dihasilkan tergantung pada sifat membran. Dan mikroba yang digunakan. Sedangkan E.

Water. 2. Marquadi K.20. little or no removal Men's natures are all -alike. 1984. Water as Source of Microbial Contamination-a New Possible Method of Influence.Pure Water Technology . may have bactericidal or bacteriostatic capabilities limited by intensity. Ultrafiltration or reverse osmosis for low bacteria count water for purified water.32. State of the An in Ultra .April : 26 . contact time and flowrate KEPUSTAKAAN 1. it is their habit that carry them apart (Confucius) . These are not tobeconfused with UV sterilizers (5) UV systems. London: William Heinemann Medical Books Ltd. 1984 : March . 7. 6. 8.Table 4. 1976 . Rossler R.6. Parenteral Products. two important Media in the Manufacture of Sterile Pharmaceuticals. Pharmaceutical Engineering. Part I. Note : E – G – P – Excellent . 1984. March . Groves MJ. 23 (1) : 16 . Technology and Systems for Water Purification. Inc. Rockville USP Convention.New Trends. Pharmaceutical Engineering. 19 (4) t 130 .166. purification process comparison (1) Actived carbon will remove chlorine by absorption (2) Special grades of carbon are available which exhibit excellent trace organic removal capabilities (3) Will remove organics based on molecular weight cutoff of ultrafilter membrane (4) Certain UV oxidation systems have been specifically designed to exhibit excellent trace organic removal capabilities. with regard to the GMP. The United States Pharmacopea 21st.capable of complete or total removal Good .April : 34 . 3. Water and Air.capable of removing large percentages Poor. Drug Made in German. Reverse Osmosis. 1973 : 48 .94. Drug Made in German 1980. 5. 4. Hartech. rev. 1985. 28 (2) : 82 .6. while not physically removing bacteria. Mahoney RF. Distillation Pretreatment Equipment Considerations. Drug Made in German. Kruger D. Standnisky W.

82. 1993 . Semakin lama mortalitas akibat infeksi dengan jelas menunjukkan penurunan(2). Transpiantasi ginjal hanya dapat berhasil baik apabila kita dapat memberikan dosis obat yang cukup mensupresi mekanisme rejeksi. Infeksi jamur mencapai puncak tertinggi pada 2 . dirawat kembali oleh karena infeksi yang dialaminya yang membahayakan jiwa dan ginjalnya. yang lain adalah akibat infeksi nosokomial. Sering resipien pada suatu saat. Jakarta 8 Februari 1992. fungsi ginjal yang kurang. yaitu tahun 1960-an infeksi masih merupakan penyebab kematian yang utama pada transplantasi ginjal(1). PREDISPOSISI INFEKSI Penderita transplantasi ginjal lebih mudah mendapat infeksi oleh karena beberapa faktor(3) : 1. Jakarta PENDAHULUAN Pada masa lalu. mikobakteria. Pemberian dosis tinggi imunosupresi memungkinkan eksaserbasi dan diseminasi infeksi-infeksi ini. Infeksi bakteri pada 1 bulan pertama biasanya terdapat pada saluran kencing. pencegahan dan pengobatan infeksi serta imunosupresi. Dalam masa kurang dari 1 bulan pasca operasi. Infeksi bakteri yang tidak konvensional seperti listeria. hiperglikemia. Virus herpes simplex cukup sering terjadi dan awal. Faktor obat-obat imunosupresi. Sidabutar.3 bulan pasca transplantasi ketika dosis prednison masih sekitar 60 mg/hari . biasanya terdapat sesudah 1 bulan.Infeksi pada Transplantasi Ginjal dan Pencegahannya R. luka operasi. hepatitis. dan akses vaskuler. lebih dari 50% penderita transplantasi meninggal karena infeksi. Selain dosis steroid yang tinggi. kemungkinan memang penderita sudah mengidap penyakit tersebut sebelumnya. 3. legionella dapat terjadi kemudian. jamur. protozoa atau tuberkulosis. akan tetapi umumnya self limiting. 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Kemungkinan Dipresentasikan pada : Simposium Infekri Nosokomiat pada Pasien Imunokompromi. selain itu Alga prednison memperlambat penyembuhan luka. lebih jarang didapatkan. 2. Infeksi pada luka dipengaruhi oleh adanya hematom. angka kematian akibat infeksi mencapai 25% dari seluruh kematian(1). Walaupun sudah banyak kemajuan yang didapat pada masa ini. fistula urin. Herpes zoster dapat terjadi setelah bulan-bulan awal transplantasi. CMV cukup sering didapat. kemungkinan kontaminasi. hal ini disebabkan oleh semakin majunya teknik pembedahan. Bagian Ilmu Penyakit Dalam-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo. sistim pernapasan. splenoktomi. Penderita sudah lama dalam keadaan uremia. infeksi dimudahkan dengan adanya netropenia. baik bakteri konvensional ataupun infeksi opurtunistik dan jamur. anemia yang membuat sistim kekebalan rendah. Jadi pengalaman dan kemahiran ahli bedah amat berperan terhadap timbulnya infeksi pada luka operasi. protozoa. akan tetapi tidak menurunkan kemampuan imunitas tubuh untuk mengatasi infeksi. Infeksi pada 4 minggu pertama transplantasi umumnya adalah konvensional oleh karena tindakan operasi. Suhardjono Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi.(Gambar 1).P. Infeksi nocardia. dan menimbulkan banyak masalah. Infeksi ini dapat berlanjut menjadi septikemia yang berakibat fatal. Operasi yang meliputi vaskuler dan saluran kemih. Apabila terjadi infeksi tidak konvensional seperti infeksi virus yang jarang. INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL Pada dasarnya ada 2 jenis infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi bakteri konvensional dan infeksi yang tidak konvensional. infeksi pada transplantasi ginjal masih menjadi masalah. ada tidaknya diabetes dan asal ginjalnya(4). jamur.

kultur dan pemeriksaan Antibidy Coated Bacteria Darah: Virus. HSV. mencuci tangan dengan antiseptik. Untuk menghindari pengumpulan darah. PENCEGAHAN INFEKSI SESUDAH TRANSPLANTASI Penderita transplantasi sebaiknya dirawat di ruang yang semi steril. Setelah minggu ke-2 apabila tidak ada indikasi lain kultur dilakukan 1 kali seminggu sampai penderita pulang. Hal ini meliputi anamnesis.5 hari Kultur darah. VDRL. Pemeriksaan serologik HIV akhir-akhir ini mulai dilakukan. luka setiap hari selama 2 minggu. walaupun banyak yang menganjurkan hal Mi. dipakai suction drain. bronkiektasis. UV 24 jam Penderita mandi dengan antiseptik Daerah operasi dikompres betadin Dekontaminasi usus. WR.Pasca Operasi Luka operasi tiap hari dibersihkan CVP line: hari ke-2 dicabut Kateter hari ke 3 . CMV. sesuai dengan hasil kultur terakhir dan organ yang terkena. luka operasi. selalu dilakukan pemeriksaan kultur pada ujung atau puntung alat-alat tersebut. Antibiotika diberi apabila ada demam. Pemeriksaan Awal Calon Donor Foto thorax Pielografi Intra Vena Urin. VDRL. walaupun dikatakan bahwa pemasangan drain menambah kemungkinan terjadinya infeksi. fogging dengan Resiguard. urin. Di Indonesia semua transplantasi dilakukan dengan donor hidup. drain.5 dicabut Suction drain secepatya dicabut Antibiotika 3 . HIV) Pra operasi Sterilisasi kamar perawatan resipien. Operasi ulangan oleh karena sesuatu hal seperti perdarahan. pemeriksaan fisik dan laboratorium baik dari calon donor maupun resipiennya. C (WR. Waktu terjadlnya Infeksi pada penderita transplantasi ginjal. PENCEGAHAN INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL Untuk mencegah infeksi. dilakukan setiap hari.v. PENGALAMAN DI JAKARTA Dalam 12 tahun terakhir. kultur. Antibody Coated Bacteria Darah: CMV. Dengan prosedur yang kami lakukan sampai saat ini. kebocoran urin dan pengumpulan limfe. 27% kematian pada transplantasi ginjal di RSCM dan RS Cikini. Evaluasi calon donor amat penting karena penularan penyakit melalui ginjal yang ditransplantasikan mungkin terjadi. Selama minggu pertama dan kedua dilakukan pemeriksaan laboratorium setiap hari. infeksi pada saat perawatan jarang terjadi. lekosit dan lain-lain kultur. disebabkan oleh infeksi (Gambar 2). limfe atau pembentukan ruang yang menyebabkan infeksi bakteri. Hb. Hepatitis B. Pemeriksaan gigi. fokus infeksi. PENCEGAHAN INFEKSI PADA SAAT OPERASI Angka infeksi amat menurun dengan membaiknya teknik pembedahan. Tak semua senter memberikan antibiotika profilaksis. Hepatitis B. darah. line. Kami di sini memberikan cephalosporin generasi ke-3 atau ampisilin selama 5 hari. dengan prosedur yang biasa dilakukan di ruang steril. 1993 37 . Pada umumnya penderita dipulangkan pada minggu ke-3 atau ke-4 pasca operasi. dalam pemeriksaan awal telah dibuat suatu prosedur untuk mencari kemungkinan adanya infeksi. sehingga lebih menguntungkan oleh karena kita mempunyai cukup waktu untuk memerilcsa donor dan memilih yang sehat. Pemeriksaan ginekologik Urin. Setiap dilakukan pengangkatan kateter atau drain atau i. Pada perawatan pasca transplantasi kemungkinan tersering adalah terjadinya infeksi pada luka operasi. THT. * Acydovir apabila ada indikasi (2 minggu atau lebih lama). tenggorokan * Infeksi yang aktif harus diobati terlebih dulu. antara lain dengan menghindari terjadinya hematom. 82. Tabel 1. drain. kebocoran urin. Neomisin/Polymixin Oral Tobramycin/Colistin Mycostatin/Amphotericine B Antibiotika profilaksis Cermin Dunia Kedokteran No. Protokol pencegahan Infeksl transplantasi ginjal Pemerlksaan awal Calon Resipien Foto thorax: tbc. biasanya disebabkan oleh Stafilokokus aureus/ Gambar 1. Setiap yang masuk memakai baju khusus. (TPHA. hidung. HSV. min. Kemudian dilakukan usaha-usaha untuk menekan kemungkinan terjadinya infeksi dari luar maupun dari dalam tubuh penderita sendiri (Tabel 1). memakai masker. C. HIV) Kultur kulit. akan menambah kemungkinan infeksi.

17: 512-S. Am J Med. Padaogenetic and prognostic factor. Hal ini juga membuktikan bahwa tidak selalu hal-hal yang dilakukan di luar negeri harus selalu diterapkan di sini. Simposium Beberapa Aspek Penatalaksanaan Penyakit Ginjal. Lane DJ.Gambar 2. Kidney Transplantation. Dengan insisi dan pemberian ampisilin penderita ini dapat sembuh. albus yang masih sensitif terhadap ampisilin. Young LS (eds). Akan tetapi angka infeksi yang terjadi ternyata masih lebih besar apabila dibandingkan dengan yang terjadi di sini. Migliori RJ. Clinical Aproach to Infection in Compromised Host. Feldman HI. New York: Plenum. Principles and Practice. kami selalu ekstra hati-hati terhadap kemungkinan infeksi jamur. 2. 6. setelah hampir 2 bulan pasca bedah. 1981. 1993 . Sumardjono. Penderita yang mengalami infeksi Legionella paru dapat tertolong dengan pemberian Siprofloksasin. 7. Penyebab kematian pada Transplantasi Ginjal dalam kurun waktu 12 tahun d Jakarta dalam jangka lama sering meningkatkan terjadinya infeksi virus atau jamur. Kurtz J. p 553-605. Hurwitz SH. Dengan dimulainya pemakaian cyclosporin. Francis DMA. 42: 327-33. Pada satu kasus terdapat sisa benang nilon dan pada kasus yang kedua tidak diketemukan. Suhardjono dan Sumardjono 1990). Kami mendapatkan seorang penderita dengan abses yang cukup besar di bekas luka operasi dengan febris yang tinggi. 2nd ed. pengalaman dan beberapa aspek khusus di Indonesia. tetapi kemudian meninggal karena residif dengan infeksi yang amat luas dan distres pernapasan. Saat ini untuk profilaksis kami hanya memakai ampisilin selama 5 hari. Pada tiga orang yang mengalami infeksi jumur sistemik kami berikan Ampoterisin B. 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Ann. London. Simmons RL. Jakarta 1990: 111-125. Banyak pusat transplantasi di Amerika memakai Trimetoksasol-SMZ sebelum dan sesudah operasi untuk jangka yang amat lama(6). Wound infections presenting several years after successful renal transplantation. Am J Kidney Dis. Keseringan Inreksi dari 100 Transplantasl Ginjal dl Jakarta (Sidabutar. Rifkind D. Obat ini menyebabkan toksisitas dan akhirnya penderita talc tertolong. Starzl TE. Grune & Stratton. kami mencurigai adanya peningkatan nefrotoksitas akibat kombinasi obat-obat ini. 20: 128-30. kami memberi Acyclovir parenteral atau oral. Death after transplantation. Hill RB. Dahrling BE. of death after renal transplantation. sehingga antimikroba ini kami hindari. Winearls CG. Infection prophylaxis after organ transplantation. Kyrriakides GK. 1967. Obat anti virus tidak diberikan secara rutin sebagai profilaksis. Sidabutar RP. d'Apice AJ. Untuk pencegahan infeksi. Proc. Transplantasi ginjal. An analysis of sixty cases. Hill MN. Clunie GJA. Wound infections in renal transplant wounds. 4. Dalam Morris PJ (Ed. Transplantation Proc 1988. 1988. 5. 182: 770. Infection in the renal transplan patient. pemakaian antimikroba yang mempunyai spektrum lebar 1. Rubin RH. KEPUSTAKAAN Gambar 3. 82. Dalam kepustakaan pernah dilaporkan tetjadinya infeksi pada daerah bekas luka operasi pada 2 penderita setelah transplantasi ginjal 4½ dan 17 tahun(5). calon donor yang menunjukkan infeksi CMV. Apabila terdapat tanda yang jelas dari infeksi virus. Sampai saat ini angka kejadian infeksi yang didapat di Indonesia tak berbeda dengan di negara maju. Oleh karena itu tindak pencegahan dan pengobatannya perlu terus diperbaiki. 8. Grossman RA. Untuk profilaksis di awal program transplantasi ginjal kami memakai cephalosporin generasi ke-3 selama 7 hari. Dari kesan yang kami alami selama ini. Najarian JS. 1984. 1991. semua kasus Herpes Zoster menunjukkan perbaikan dalam waktu singkat dengan obat ini. HSV. Dafoe DC. Suhardjono. Surg. Changes in casse. Transpl. 20: 396-399. PENUTUP Infeksi pada transplantasi ginjal amat menentukan survival penderita dan ginjal cangkoknya. 3. Proc. tidak dianjurkan mendonorkan ginjal kepada resipien dengan hasil tes serologi yang negatif. Banyak biaya yang dapat dihemat oleh karenanya.). 1966 to 1987. 1975. Dalam: Rubin RH. Walaupun saat ini sudah ada obat anti jamur yang lebih aman. Simmons RL. Infectious complications after renal transplantation.

Dampak Proses Chlorinasi Air pada Kesehatan Inswlasri . PENDAHULUAN Air selalu berada dalam sildus hidrologik sehingga relatif jumlahnya tetap. sirkulasi udara harus dibuat sebaik mungkin. dan bebas dari sejumlah mineral dan zat organik yang berlebihan(1). Agustina Lubis Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan. Air hujan turun ke bumi. air tanah. Oleh karena itu diperlukan pengolahan air yang ada agar sesuai dengan kualitas yang diinginkan seperti untuk air minum. Dalam suatu unit pengolahan air biasanya digunakan kombinasi antara proses-proses tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari sangat sulit ditemukan air dengan kualitas yang memenuhi syarat. bebas dari unsur-unsur yang beracun. sebagian meresap ke tanah menjadi air tanah dan sebagian lagi tinggal/mengalir di pennukaan tanah seperti danau dan sungai yang disebut dengan air permukaan. sehingga THM yang terdapat dalam udara di was permukaan air kolam tidak akan mengambang di tempat tetapi dapat pindah/mengalir mengikuti sirkulasi udara. Khusus untuk proses kimiawi di antaranya adalah proses netralisasi dengan asam atau basa. Tetapi dalam keadaan darurat THM dapat dihilangkan dengan merebus air selama 3–5 menit. Senyawa-senyawa chlor Cermin Dunia Kedokteran No. 1993 39 . chlorinasi/ozonisasi. Proses chlorinasi adalah pembubuhan chlor atau senyawa chlor ke dalam air dengan tujuan untuk membunuh kuman atau menghilangkan bau (untuk industri). mekanik dan kimiawi. Proses pengolahan air sēcara garis besar terdiri dari proses biologik. harus dihilangkan zat-zat organik terlebih dahulu sebelum proses' chlorinasi atau mengganti jenis disinfektan dengan jenis lain yang tidak menyebabkan terbentuknya THM. pertukaran ion dan sebagainya. Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Pencemaran di kota-kota besar yang berasal dari limbah rumah tangga dan industri dapat menurunkan kualitas air. air kolam renang dan sebagainya. Pertumbuhan penduduk yang pesat. Kualitas dan kuantitas air sangat bervariasi tergantung dari peruntukannya. Kadar paling tinggi terdapat dalam kolam renang. Standar kualitas air untuk kebutuhan hidup manusia (disebut air bersih) lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kualitas air untuk keperluan yang lain. Untuk menghindari atau mereduksi terbentuknya THM. Air permukaan ini divapkan oleh panas matahari naik ke atas menjadi awan yang akhirnya terkondensasi menjadi embun atau hujan. Untuk kolam renang dengan sistem tertutup. urbanisasi dan industrialisasi menyebabkan masalah lingkungan makin besar dan membahayakan kesehatan manusia. Air yang sehat bagi kehidupan manusia adalah air yang tidak terkontaminasi dan tidak dapat menimbulkan penyakit yang disebarkan melalui air. Jakarta ABSTRAK Senyawa-senyawa trihalomethane (THM) tclah ditemukan dalam air bersih untuk rumah tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. PENGOLAHAN AIR Proses pengolahan air ini sangat tergantung dari karakteristik aii baku dan kualitas air yang diinginkan. 82. air permukaan dan dalam air kolam renang atau pemandian.

air minum di negara-negara yang sedang berkembang karena biayanya relatif murah. 1993 . sebab sifat ini telah terbukti pada percobaan terhadap tikus. Hal ini disebabkan karena dalam kolam renang kandungan bahan organiknya lebih besar (karena mendapat tambahan bahan organik dari orangorang yang memakai kolam renang tersebut misalnya dari keringat dan urine). sedangkan dalam penelitian Lahl dkk tahun 1981 ditemukan kadar chloroform dalam kolam renang berkisar antara 50 – 980 ug/P. Bahaya pada ginjal dicatat 24 – 48 jam setelah terpapar dan bahaya pada hati setelah 2 – 5 hari. urat dan ginjal(3). Dengan dosis 500 mg yang dihirup oleh seseorang. lemak tubuh adalah tempat penyimpanan chloroform yang sangat penting. Kadar THM maksimum yang terdeteksi adalah 41. Akibat yang paling cepat adalah kehilangan kesadaran yang mungkin diikuti dengan koma dan kematian. Chloroform adalah suatu depresan sistim saraf pusat yang juga berpengaruh pada hati dan ginjal. Terbentuknya THM dalam air minum Suatu penelitian yang dilakukan oleh Aggazzotti G. BAHAYA THM Senyawa THM diduga potensial karsinogenik terhadap manusia.4 ug/1(4). Sedangkan kadar chloroform dan bromoform dalam udara di atas air tersebut berkisar antara 4 – 750 ug/m3 dan 0 – 910 ug/m3(6). 18 – 67% dikeluarkan lagi dalam bentuk yang tidak berubah dalam waktu 8 jam. Dibromochloromethane (CHClBr2). Air yang sama tidak mengandung THM ketika dianalisa sebelum proses chlorinasi dan bahan organiknya telah dihilangkan. khususnya dalam kolam renang yang tertutup (indoor pool). renang. dan jumlah yang lebih kecil didapatkan dalam hati. Perlu diketahui pula bahwa THM dalam kolam renang ini dapat dibebaskan ke udara di atas permukaan air tersebut (THM mudah menguap). air kolam. tetapi ini tergantung pada kepekaan individu masing-masing.8 ug/1(4). Proses chlorinasi ini banyak digunakan dalam mengolah limbah industri. Kadang-kadang THM ini bisa mencapai konsentrasi yang tinggi. Kadar THM maksimum dalam kolam renang mencapai 177. Dalam penelitian ini kadar THM dalam udara di atas permukaan kolam renang maksimum mencapai 787 ug/m3(4). mudah dan efektif sebagai disinfektan. THM dalam air permukaan dan air tanah Penelitian yang mendeteksi adanya THM dalam air permukaan maupun air sumur dalam menunjukkan bahwa air permukaan mengandung THM maksimum 25. Dosis yang mematikan kira-kira 44 g atau 630 mg/kg berat badan untuk orang yang berat badannya kira-kira 70 kg. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat tumor ginjal pada tikus jantan dan tumor tiroid pada tikus betina yang diberi ransum makanan yang mengandung chloroform. Dosis mematikan yang paling rendah yang pemah dicatat adalah 210 mg/kg berat badan. Kadar THM maksimum yang terdeteksi dalam air tanah adalah 20 ug/1(4). TERBENTUKNYA SENYAWA TRIHALOMETHANE Senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile halogenated organics) yang biasa disingkat dengan VHO terjadi pada proses chlorinasi dalam air yang mengandung bahan-bahan organik dengan konsentrasi tinggi.Senyawa THM ini antara lain adalah Chloroform (CHC13). lebih dari 50. Benoit tahun 1986 di tempat-tempat pemandian air panas untuk umum menyatakan bahwa kadar chloroform dan bromoform dalam air adalah 35 – 674 ug/1 dan 37 – 3600 ug/1. Senyawa THM inilah yang akan terhirup oleh orang-orang yang secara teratur berkunjung ke kolam renang tersebut. THM ini muncul karena air limbah yang pada umumnya terchlorinasi dan yang secara luas digunakan dalam aktivitas industri. dan Bromoform (CHBr3)(3). menemukan adanya senyawa THM dalam air minum setelah proses chlorinasi baik dengan gas Chlorine. paru. Senyawa-senyawa VHO tersebut sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane (THM). urine.yang banyak digunakan dalam proses chlorinasi pada umumnya adalah gas chlorin. THM dalam kolam renang dan pemandian air panas Penelitian yang sama jugamenunjukkanbahwadalam kolam renang yang telah didesinfeksi dengan NaC1O atau dengan dichloroisocyanurate juga terbentuk senyawa THM.6% THM yang masuk melalui mulut (7 mg/kg berat badan) diubah menjadi CO2. sehingga gejala keracunan muncul beberapa hari setelah terpapar. Penelitian pada tahun 1983 yang dilakukan oleh Chambon dkk menemukan kadar chloroform dalam kolam renang berkisar antara 83 – 665 ug/1o). Pembentukan THM akan meningkat pada proses thlorinasi air yang mengandung zat-zat organik (berasal dari asam humus. Reaksi kimia yang terjadi pada saat chlorinasi dengan gas chlor atau dengan kaporit adalah sebagai berikut : C12 + 2H2O –––––––––> HOCl + H+ + Cl– Ca (OC1)2 + 2 H2O –––––––––> 2 HOCI + Ca++ + (OH)– HOCI inilah yang membunuh kuman (sebagai disinfektan)(2). Jika dalam proses chlorinasi di dalam air mengandung Br maka terjadilah reaksi sebagai berikut : Br– + HOC1 ––––––––––> HOBr + Cl– Dengan demildan di dalam air tersebut terdapat senyawa HOBr dan HOCI yang akan bereaksi dengan zat-zat organik membentuk THM(2). chlorine dioksida. keringat) suhu dan pHnya agak tinggi(7). Pada tikus. Penelitian lain yang menggunakan analisa statistik (analisa regresi) hasilnya hampir sama dengan studi-studi sebelum- 40 Cermin Dunia Kedokteran No. dihydroisocyanurate dan chloramine. sodium hypochlorite (NaC1O) maupun dengan chlorine dioksida (C1O). Penelitian yang dilakukan oleh Frank M. bromine chlorida. Sebagian besar metabolisme dari chloroform dikeluarkan melalui paru-paru sebagai CO2 atau melalui ginjal sebagai chlorine anorganik. Dalam tubuh manusia.3 ug/l(8) dicapai pada musim pans (di sungai Tone Jepang) dan maksimum 263 ug/1 di Itali(4). dan kadarnya lebih tinggi daripada dalam air minum. Bromodichloromethane (CHC12Br). 82. Selain itu hasil penelitian ini menyatakan bahwa beberapa air tanah mengandung bahan-bahan organik yang tinggi walaupun berasal dari lapisan-lapisan yang dalam. senyawa hipochlorit.

Water Res 1986. 20 (8): 959-634. WJ. Akibat lain bila dalam air buangan timbul senyawa-senyawa THM yaitu akan memberi akibat yang besar terhadap lingkungan sumber air penerima dan mengganggu kehidupan ikan. Health Criteria and Other Supporting Information. Untuk menghilangkan penyebabnya ada beberapa alternatif yaitu : 1) Memindahkan proses chlorinasi pada bagian yang paling akhir dengan tujuan bahan-bahan organiknya sudah dihilangkan sebelum proses chlorinasi. 11. Webber Jr. Lahl U et al. Senyawa ini sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane(THM). 2. Any GL et aL The effects of ozanation and activated carbon adsorption on trihalomethane speciatian. et aL Trihalomethane Precursor Removal by the Magnesium Carbonate Process. 6. 2) Jika proses chlorinasi dipakai setelah proses koagulasi dan pengendapan atau setelah proses softening dan pengendapan. Watanabe H. p. Untuk mengganti jenis disinfektan ada beberapa disinfektan alternatif yang menghasilkan THM kecil sekali atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali antara lain yaitu : − chlorine yang bebas chlorine dioksida − chloramine − ozone Dalam keadaan danurat. Chambon P et aL Survey of trihalomethane levels on Rhone-Alps water supplies. Water Res 1987. 25(2): 191-202.nya yang menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara angka kematian kanker kandung kemih dan kadar chloroform dalam air minum. 20 (8): 999-1003. Uchiyama M. the sixth US Japan Conference an Sewage Treatment Technology. 9. Water Item 1986. Environmental Engineering Series. CARA MENGHILANGKAN THM Untuk mereduksi THM harus dihilangkan penyebabnya yaitu zat-zat organik sebelum proses chlorinasi atau mengganti jenis disinfektan yang tidak menyebabkan terbentuknya THM(9. p. Distribution and balance of volatile halogenated hydrocarbons in the water and air of covered swimming pools using chlorine for water disinfection. John Wiley and Sans 1967.dan dalam udara di atas kolam renang. 4. Oleh karena itu United States Environmental Protection Agency (USEPA) telah menetapkan kadar maksimum kontaminasi total THM yang diperbolehkan dalam air minum adalah 0. Dan lebih dari itu. 25 (2): 219-25. et aL Changes of trihalomethane formation potentials in the Tone River.13).12. suhu dan pH tinggi. Trihalomethane yang terdeteksi dalam air tanah. 21(5): 573-83.10 mg/1. Trihalomethane formation in whirlpool Spas. 2. Survey of Volatile Halogenated Organics (VHO) in 1ta1y. 6) Menggunakan kombinasi cara-cara tersebut di atas. Dalam keadaan darurat THM dalam air minum dapat dihilangkan dengan cara merebus air sampai mendidih selama 3 – 5 menit. KESIMPULAN Senyawa organik yang mudah menguap terjadi pada proses chlorinasi dalam air yang banyak mengandung zat organik. 7. Water Res 1987. Kadar total THM 30 ug/1 dalam air minum telah direkomendasi dengan konsumsi rata-rata 2 liter/hari. 21 (3): 353-7.Pembentukan THM akan meningkat pada proses chlorinasi air yang mengandung zat-zat arganik (berasal dari asam humus. Karena THM tenmasuk senyawa yang bersifat karsinogenik makahanlsdihilangkan. Correlation of humic substance trihalomethane formation potential and adsorption behavior to molecular weight distribution in raw and chemically treated waters. proses-proses tersebut perlu diperbaiki untuk mengoptimasi penghilangan bahan-bahan organik. kadar tertinggi terdapat dalam air kolam renang. Sakoda A. Geneva 1984. The prevention of formation and removal of chlorinated organics in wastewater. 5) Memperbaiki kualitas air baku atau memilih sumber-sumberalternatif yang tidak mengandung bahan-bahan organik tinggi. Jackson R. 9. 3. USA 1978. Water Res 1981. 1979. Untuk menghindari terbentuknya THM perlu dihilangkan zat-zat organik sebelum proses chlorinasi atau dipilih disinfektan lain yang tidak menyebabkan terbentuknya THM. THM akan hilang bila air tersebut direbus sampai mendidih selama 3 – 5 menit. p. Fair GM. 240-245. World Health Organization. keringat). 15: 803-14. mungkin standar yang lebih khusus untuk masing-masing jenis THM perlu ditentukan. 8. Water Res 1983. Geyer OC. El-Rehaili AM. Reinhhold GW. . 3) Mengoptimasi proses-proses pendahuluan sebelum proses chlorinasi untuk menghilangkan bahan-bahan organik. ada indikasi kuat bahwa standar total THM tersebut akan ditetapkan lebih rendah lagi. 355-55. Water Res 1991.air kolam renang dan pemandian umum. 10. 5.11. Japan. untuk mengatasi masalah sumber air minum yang telah tercemar oleh THM maka air tersebut harus direbus dahulu sebelum dipakai sebagai air minum.10. urine. 13. Benoit FM. KEPUSTAKAAN 1. Pada saat ini. 1984. Predieri G. Water Supply and Waste Disposal. et aL Trihalomethane adsorption on activated carbon fibers. 4) Penggunaan adsorben (karbon aktif) untuk menghilangkan bahan-bahan organik sebelum proses chiorinasi. Aggazzotti G. Taylor IS. 17: 65-9. Water Res 1991. air permukaan. Guidelines for Drinking-water Quality. 12. vol.air minum. Research and Development of United States Environmental Protection Agency.

antara lain adalah hipertensi. 82. Penurunan daya tahan tubuh penderita AIDS mengundang penyakit oportunis pada mata dan menyebabkan penyakit infeksi sukar disembuhkan. Kelainan retina yang menyolok adalah reaksi terhadap kelainan koroid di bawahnya. Kebutaan di hari tua yang mengancam penderita diabetes dapat dihindarkan dengan pemantauan retinopati secara ketat dan penanganan yang tepat waktunya. sangat akut dan berat. Pada eklamsi di mana hipertensi terjadi pada ibu hamil tiga bulan terakhir. HIPERTENSI Retina dan pembuluh darahnya mudah dipengaruhi hi- pertensi. arteriosklerosis dan eklamsi sangat membantu menentukan keparahan penyakit. Ada pengaruh yang langsung mengakibatkan kebutaan dan ada juga pengaruh yang tidak mengakibatkan kebutaan. Penyakit sistemik dapat pula berakibat kebutaan. terutāmma dalam diagnosis awal dan pengamatan hasil pengobatan. Pada hipertensi maligna kecuali retinopati juga terdapat papil edema (sembab papil) dan kadang-kadang disertai sembab koroid. Diabetes melitus tergolong penyakit yang membutakan. Jaringan koroid mengalami sembab berat dan mengalami gangguan permeabilitas sehingga terjadi pelepasan cairan yang mendesak retina. perubahan retina sedikit berbeda dengan retinopati hipertensi biasa. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). 1993 . ketrampilan memeriksa setiap organ tubuh. PENDAHULUAN Mata sebagai salah satu organ tubuh tidak luput dari pengaruh penyakit sitemik yang dapat berupa kelainan patologianatomik ringan sampai ke tingkat lebih parah. Hipertensi berat dan hipertensi maligna akan menimbulkan kelainan retina yang disebut retinopati. Retinopati ditandai dengan terlihatnya sembab retina. Salah satu target organ hipertensi adalah mata(2). dan diabetes melitus. retina mengalami ablasi(3). tennasuk bagian luar mata dan bagian dalam mata dapat membantu penentuan tingkat keparahan penyakit dan menetapkan prognosis. perdarahan retina berbentuk nyala api dan eksudat berbentuk kapas (cotton wool exudate). Ketrampilan funduskopi dapat melihat perubahan patologik pembuluh darah halus yang mewakili seluruh tubuho>. dapat meningkatkan ketelitian diagnosis. anemia. Pemeriksaan fundus penderita hipertensi. sindrom hiperviskositas. arteriosklerosis. Pengenalan manifestasi suatu penyakit mata sistemik pada maw. Demikian juga kualitas aliran darah di daerah mikrosirkulasi. Jakarta ABSTRAK Mata tidak luput dari pengaruh penyakit sistemik.Penyakit yang jelas manifestasinya pada mata.Manifestasi Mata Penyakit Sistemik Human Taint Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Cipto Mangunkusumo .dapat mempercepat timbulnya sklerosis pembuluh darah halus. Perubahan dinding pembuluh darah halus retina dapat menjadi contoh perubahan yang terjadi pada organ tubuh lainnya. Hipertensi ringan dan moderat yang berlangsung lama pada penderita umur muda. Keadaan ini dapat dipakai sebagai indikasi kuat untuk mengakhiri kehamilan (ter- 42 Cermin Dunia Kedokteran No.

sehingga tindakan dapat ditentukan pada waktu yang terbaik. ARTERIOSKLEROSIS Setiap orang yang mencapai umur 45 tahun akan mengalami penebalan dinding arteri berupa penumpukan zat kolagen pada lapisan otot(4). Kebutaan oleh diabetes tidak terjadi mendadak. alurnya lebih kaku. Penulis mendapatkan 1. yang dapat diikuti dengan teliti sehingga tersedia cukup waktu untuk upaya pencegahan kebutaan. eksudat bebagai bentuk yang tersebar terutama di polus posterior. SINDROM HIPERVISKOSITAS Sindrom hiperviskositas terjadi karena aliran darah terhambat. tidak lagi banyak menimbulkan perubahan retina. menjadi sukar disembuhkan(7. Harapan hidup penderita diabetes lebih panjang. Mata terlihat merah dengan pembuluh darah konjungtiva bertambah. Anemia kronik bermanifestasi pada mata berupa pucat pada konjungtiva dan fundus yang disertai perdarahan retina dan preretina. Tingkat keparahan terakhir dari retinopati diabetika ialah TK IIIb yang ditandai invasi pembuluh darah bersama jaringan ikat Cermin Dunia Kedokteran No. dismal peningkatan perkelokan. Keadaan ini terlihat pada polisitemia. menderita buta totalo). di samping pucat juga dapat terjadi kerusakan akut pada koroid dan retina yang tidak reversibel(6). Banyak penderita diselamatkan dari komplikasi fatal. Dalam satu tahun membutuhkan pembaharuan kaca mata 3 sampai 4 kali. Untuk itu penulis telah mengajukan klasifikasi tingkat keparahan (TK) retinopati sebagai berikutoo: • Retinopati diabetika tingkat keparahan (TK) I. Fundus memperlihatkan pelebaran vena dan perdarahan retina. Tidak sedildt penderita diabetes.minasi). yang berbentuk tonjolan kecil pada kelopak mata dan konjungtiva bulbi. Ulkus kornea mengalami perforasi. yang merupakan akibat retinopati yang bertambah parah. 1921 memperkenalkan insulin untuk menurunkan gula darah. atau degenerasi makula. Keparahan retinopati dapat dibagi dalam beberapa tingkat untuk menentukan apakah kebutaan sudah mengancam atau belurn. ablasi retina.pada funduskopi ditemukan mikroaneurisma disertai perdarahan retina lima atau lebih bercak. Apabila TK II disertai penebalan dan sembab daerah makula. yang selama ini penyembuhannya ditunjang daya tahan tubuh. Fundus refleks berwarna merah tua dan fundus memperlihatkan pengisian pembuluh darah yang berlebihan sehingga lumen arteri dan vena melebar. tetap mengalami kebutaan. Perubahan retina terjadi karena gangguan sirkulasi dan nutrisi. Kelopak mata membengkak. Jika TK II disertai tanda-tanda bendungan vena. mata menonjol dan sukar digerakkan. tetapi melalui masa peningkatan keparahan retinopati dalam waktu yang cukup panjang. juga terdapat manifestasi noninfeksi. 1993 43 . Setelah viskositas darah dipulihkan. Anemia akut akibat kehilangan darah yang berat. lekemia dan disproteinemia(5).1% penderita diabetes yang diperiksa di Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI/ RSCM. Penyakit sel sikel (sickle cell disease) sering disertai pembentukan jaringan proliferasi di retina yang suatu waktu dapat menimbulkan ablasi retina. setelah bayi dikeluarkan. Sebelum terlihat perubahan patologik di atas. Jaringan telah terlindung oleh sklerosis (defence by sclerosis)(4). Penderita sudah membutuhkan kaca mata baca biarpun umur masih muda.8). maka penyakit yang mengenai mata. justru terjadi lebih banyak. Kebutaan terjadi karena kerusakan makula lutea. ditandai oleh telah terdapatnya mikroaneurismadan beberapaperdarahan retina (kurang dari 5 bercak). Kekentalan dapat terjadi karena volume dan jumlah sel bertambah atau plasma lebih kental. Sebaliknya. DIABETES MELITUS Sejak Banting. akibat darah yang lebih kental. Penglihatan mundur. Pembuluh darah akan berangsur menyempit. maka pengobatan diabetes melitus lebih berhasil. komplikasi pada mata yang berhubungan erat dengan lama mengidap diabetes. Ablasi pada eklamsi akan sembuh sendiri mengiringi meredanya eklamsi. 82. dan perdarahan badan kaca. berupa pelebaran lumen dan pertambahan perkelokan disertai perdarahan retina yang terkonsentrasi di sepanjang vena tersebut. Kelainan retina berupa bercak-bercak putih berbentuk kapas terlihat didaerah posterior fundus dan dapat dijumpai pada hāmpir 50% kasus AIDS. warna dan bentuk pembuluh darah kembali normal. berupa sumbatan arteri atau vena. Pertumbuhan tumor di samping dan di belakang bola mata menyebabkan bola mata menonjol dan tidak dapat digerakkan. sukar membaca dan takut silau. maka TK menjadi Ilb. kadang-kadang sudah timbul gejala kelemahan mata. PENYAKIT DARAH Lekemia yang berat tidak hanya menyebabkan hiperviskositas. tingkat keparahan tenmasuk IIa. tetapi dapat menimbulkan sumbatan vena. Penglihatan mundur tiba-tiba pada seorang berumur lanjut banyak yang disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah uteri atau vena dan perdarahan makula akibat arteriosklerosis. • Tingkat keparahan II. Hipertensi pada penderita yang telah mengalami arteriosklerosis karena proses penuaan. AIDS (ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME) Dengan menurunnya daya tahan tubuh penderita AIDS. biarpun kondisi tubuhnya terpelihara. Infeksi toksoplasma pada retina dan koroid meningkat dan herpes zoster ophthhalmicus lebih parah. dan warna dinding berubah dari transparan menjadi lebih jingga sampai putih (copper wire dan silver wire). Di samping manifestasi mata infeksi. • Lanjutan dari TK ini ialah IIIa yang ditandai oleh terlihatnya pembentukan pembuluh darah baru (neovascular) dilapisan retina (IRMA : Infra Retina Microvascular Anomaly). dan infiltrasi sel lekosit pada jaringan lunak sekitar bola mata serta pada jaringan di dalam bola mata. Jaringan di sekitar mata dan konjungtiva bulbi dapat mengalami pertumbuhan sarkoma Kaposi dan limfoma Burkitt.

Secara sederhana retinopati diabetika dibagi dalam dua kelompok yaitu nonproliferasi (background retinopaty) yang mencakup TK I. 29 : 2. Tingkat selanjutnya dari kelainan mata penderita diabetes ialah ablasi retina dan perdarahan badan kaca. Br J Ophthahnol 1980. 1971. AIDS and Ophthalmology. Proc XXV. Ablasi retina terjadi karena renggutan jaringan ikat (TK IIIb) sehingga retina terlepas dari dinding bola mata. SidabutarRP. Hilman Taim. 1989. 47. Henkind. The Eye in General Vascular Disease. Hilmar Taim. dan terhadap retinopati TK II fun- duskipi 3 bulan sekali. Measure thrice before you cut once . Tindakan koagulasi yang terbaik ialah pada TK II a.3. Leishman R. Jose Ra usma.(fibrosis) ke rongga badan kaca. Visual loss from choroidal ischetnia. Pada klasifikasi ini eksudat lemak tidak dimasukkan dalam tanda retinopati. Ocular manifestations associated with AIDS. Ce min Dunia Kedokt 1989. Retinopati Diabetika. 3. 41 : 641. 292. 9. The Retinal Circulator Medical Department New York : Harper dt Row Publishers. 7. Preface. TK II. 'Congers Nasiosul PERDAMI ke-V. Penyulit Jangka Pan jang Hipertensi. 639. 10. Solo : 1982. Smolin G. Peningkatan keparahan retinopati dapat dihambat dengan fotokoagulasi jaringan retina yang patologik memakāi cahaya Laser atau Xenon. 6. 2. karena ternyata penderita diabetes bangsa Indonesia tidak banyak yang gemuk. HilmanTaim. a. 1.Kmnpulanmakalah Seminar Hasil Penelitian Perguruan Tinggi bagi pars Peneliti Muds. 11. Mid 4 : 759.b. Henkind. 911-923. Jogja : 1984. KEPUSTAKAAN Wise. Dollery. 5. Medical Department. Fluorescein Angiography in Toxemia of Pregnancy. FiedlanderM. Untuk menilai fundus secara cermat. Ober RR. Hypertension and Arteriosclerosis. Direktorat Pembina an Penelitian don Pelayanan Masyarakat DEPDIKBUD. P Le Hoang et al. Mabie WC. Terhadap retinopati TK I funduskopi dilakukan 6 bulan sekali. Kalima RE. Pada keadaan badan kaca yang sudah keruh dilakukan kriokoagulasi atau diatermi. Am I Ophthalmol 1986. Kedua keadaan ini adalah akibat dari retinopati diabetika TK IIIb. operasi katarak penderita diabetes kadang-kadang perlu dipercepat. Untuk mendapatkan waktu tindakan terbaik dalam mencegah kebutaan. Retinopati diabetika TK IIlb yang badan kacanya masih jernih masih dapat difotokoagulasi biarpun sudah agak terlambat. maka funduskopi secara teratur perlu dilakukan pada setiap penderita diabetes. 57. sehingga eksudat lemak tidak selalu terdapat dalam gambaran retinopatitttl. Trans VI th. 101 : 650-656.FauyExudates padaRetinopatiDiabetika. Perdarahan badan kaca terjadi akibat pembuluh darah baru yang menjulur ke rongga badan kaca pecah. 64 : 606. 8. Wise. Klasifikasi Retinopatia Diabetika.Intemational Ophthalmology Clinic. International Congress of Ophthalmology. The Retinal Circulation. Asia Pacific Acad of OphthalmoL Bali : 1976. Dollery. dan IiIa. Br J Ophthalmol 1957. New York : Harper & Row Publishers 1971. Konyo m IL. atau secara langsung dengan kriokoagulasi (pendinginan) dan diatermi (listrik).b dan TK IIIa. Roma : 1986. retinopati proliferasi (proliferative retinopaday) sama dengan IIIb. 4.

Bank Mata didirikan untuk perlunya mendapatkan donor mata. Pada permulaan sejarah keratoplasti di dunia donor didapatkan dari narapidana yang dihukum mati. Calon donor diminta mengisi formulir pernyataan yang disaksikan oleh 2 orang keluarga terdekat. Bank Mata tidak akan berdiri bila masyarakat dan hukum sekitar belum memungkinkan untuk memberikan mata. Bank Mata sebaiknya tanggap terhadap beberapa hal berikut. Bank Mata adalah jembatan yang dapat menyelesaikan kebutuhan resipien terhadap donor mata. TUJUAN Bank Mata bertujuan untuk mendapatkan donor mata. Dengan penelitian akan didapatkan kemungkinan perubahan teknik pembedahan serta pelayanan yang sama dan berbobot pada setiap Bank Mata. Perlu diadakan pertemuan pengurus untuk mendapatkan/membicarakan asupan ini. Keluarga adalah orang yang nantinya dapat menentukan bila tiba saatnya pengangkatan mata untuk dapat terlaksana sesuai dengan wasiat yang telah dibuat. resipien. Maka diperlukan suatu badan yang dapat mengatur hubungan antara donor. 1993 45 . kecelakaan lalu lintas ataupun perang dan dari penderita terlantar yang meninggal di rumah sakit. Beberapa etik Bank Mata 1. Termasuk hal yang merupakan hambatan dengan belum adanya peraturan mengenai jenazah terlantar untuk kepentingan donor mata. dokter mata tidak ada hubungan langsung dengan donor. apakah sudah ada informed consent. Jakarta PENDAHULUAN Keratoplasti tolah dilakukan sejak 2 abad yang lalu dan di Indonesia mulai 30 tahun yang lalu. dan meneruskannya kepada ahli bedah maw. 2. Bank Mata sebaiknya melakukan penelitian untuk mendapatkan hal-hal yang dapat dipertanggung jawabkan mengenai segala sesuatu yang dilakukannya. Adalah sukar mendapatkan donor pada setiap permulaan usaha cangkok kornea. Bank Mata merupakan badan yang tidak mencari keuntungan dan berperan terutama untuk mendapatkan donor mata yang memberikannya kepada dokter-dokter yang memerlukannya untuk transplantasi. Pada tahun 1987 mulai terdapat kerja sama Indonesia dengan Bank Mata Sri Lanka dengan datangnya 4 mata pada tahun tersebut. Bank Mata bertanggung jawab untuk membagikan mata secara cepat dan efisien. Sangat sukar bagi seseorang dokter mata mendapatkan donor mata. Pada masyarakat belum ada kejelasan mengenai peraturan ataupun hukum yang berlaku di dalam masyarakat. dan dokter pembedah. Pada saat itu donor lokal belum sangat diharapkan karena calon donor banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak jelas dari lingkungannya. Jenazah terlantar yang meninggal di rumah sakit ataupun di luar rumah sakit hanya setelah 48 jam dapat dipergunakan untuk rumah sakit.Bank Mata Sidarta Ilyas Bagian Ilmu Penyakit Mata. Bank Mata sebaiknya membahas asupan yang datang dari masyarakat terhadap kegiatannya. Diperlukan kerja sama dengan orang awam untuk mendapatkan lebih banyak donor. Asupan diperlukan untuk menambah kemungkinan donor memberikan matanya setelah meninggal. sehingga kekurangan donor tidak disertai dengan kegagalan menahan bahan yang tersedia. Bank Mata bergabung dengan rumah sakit atau universitas Cermin Dunia Kedokteran No. Hal yang sering dihadapi adalah masalah siapa yang dianggap sebagai ahli waris bila telah akan diambil mata donor. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Cipto Mangunkusumo. Di Indonesia telah terdapat bentuk organisasi klub donor yang terdiri atas calon donor mata yang dapat membantu kegiatan Bank Mata. bila perlu mengawetkan. 82.

6. Uang tidak dikaitkan dengan hal-hal berikut : – resipien. mendapatkan mata donor. dan membagikannya kepada dokter yang memerlukannya. resipien. Menjaga sterilitas kotak dan alat pengawet dan enukleasi. dan pengambilan mata donor. Seseorang donor mata adalah seseorang yang secara ikhlas tanpa imbalan bersedia memberikan bantuan pada orang lain. Ketua medis adalah seorang dokter mata yang mempunyai minat pada penyakit mata luar. 6. Teknisi Bank Mata mempunyai tugas : 1. Menjaga sterilitas laboratorium. Diperhatikan aturan atau hukum yang berlaku untuk pengambilan jaringan di dalam negara. 8. Bank Mata akan berfungsi sebagai pengatur terhadap pelaksanaan kebutuhan donor mata. – Jenazah di mana peraturan mengizinkan untuk pengambilan- 46 Cermin Dunia Kedokteran No. menangani mata donor. Tujuan Bank Mata untuk sarana jaringan pada kebutuhan. – Membuat catatan medis donor. seperti : – diberikan terutama pada yang darurat – urutan permintaan – pertimbangan lainnya. dan tindakan medis yang dilakukan. Mata diberikan menurut beberapa sistem. 4. seperti : • Keraguan apakah benar agama atau kepercayaan yang dianut mengizinkan mata diambil setclah meninggal. Membuat riwayat penyakit donor yang akan menjamin dapat dipergunakannya mata donor. donor tidak meminta penggantian – pembedah tidak mendapatkan penggantian dengan halhal terkait donor – donor tidak dibayar – donor tidak membayar pada resipien – resipien tidak mendapat imbalan dari donor. 5. 82. dan staf pengajar. kedudukan sosial. 8. Selama ini dirasakan beberapa hambatan yang menonjol. Penerangan pada masyarakat tidak boleh berhenti dan diperlukan berkesinambungan dengan memakai seluruh sarana yang tersedia seperti radio. Pada masyarakat perlu diberikan penerangan yang bcrkesinambungan. resipien dengan sempurna PENERANGAN Penerangan sangat memegang peranan untuk memperbaiki pandangan yang negatif terhadap usaha mendapatkan donor mata. 3. Teknisi Teknisi yang mencatat hal berikut dari donor : – Sebab kematian donor. Bertanggung jawab terhadap terlaksananya pembiakan mata donor dan sterilitas cairan pengawet. dan hal-hal nonmedis lainnya untuk kesempatan mendapatkan jaringan donor. Dokter mata akan melakukan penyelidikan mengenai cara pengawetan.uang. seminar dan lokakarya. badan sosial. Masih dirasakan adanya pengaruh keluarga. ASAL DONOR Donor didapat dari : – Donor terdaftar. tanpa pertimbangan kesukaran-kesukaran untuk mengambil mata tersebut. Demikian pula transportasi dan aturan pengawetan. Donor mata adalah seseorang yang memberikan jaringan matanya setelah meninggal untuk menolong seseorang buta akibat kelainan korneanya. 5. – Riwayat kesehatan donor. 11. TENAGA Dokter mata Dokter spesialis mata bertanggung jawab atas dapat dilakukannya pembedahan keratoplasti. – hanya Bank Mata mengetahui apa yang terjadi dengan mata donor dan resipien. Mengetahui teknik pengambilan mata. transportasi. 3. Mata yang telah didonorkan oleh calon donor diambil. 10.Hal ini sangat dikaitkan dengan : – kegiatan pelayanan kesehatan dan – pendidikan khususnya. dan yayasan. Donor yang didapatkan dari perorangan. – 4. lingkungan atas ketidak tahuannya di dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Masyarakat memerlukan penerangan mengenai donor. Mempersiapkan alat enukleasi. penelitian. agama. • Pengaruh perubahan kosmetik (paras muka) akibat pengambilan jaringan mata sangat memberikan efck yang belum dapat dimengerti seluruhnya. Bank mata memerlukan seorang dokter mata yang akan bertanggung jawab untuk menilai mata donor. penyuluhan pada kelompok. Walaupun seluruh pemuka agama mengizinkan pengambilan mata donor setelah meninggal untuk kepentingan orang buta. Menjaga data donor. 9. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Tidak terdapat perbedaan suku. dan berjalannya pekerjaan teknisi. Di dalam Bank Mata tidak hanya diperlukan donor mata saja akan tetapi juga waktu. resipien tidak membayar penggantian – donor. Nama resipien dan donor tidak disiarkan Bank Mata atau pembedah kecuali pada keadaan khusus. Ketua medis teknis bertanggung jawab pada kelangsungan pekerjaan laboratorium mata. waktu pengawetan. Mempunyai kemampuan menilai mata donor. Keluarga sadar dan tabu apa yang dilakukan : – rahasia donor dipertahankan. 7. 7.pikiran. televisi. 2. Tidak ada persaingan antara 2 Bank Mata. Semua dilakukan agar resipien mendapatkan donor yang baik dan hasil yang baik pada keratoplasti. 1993 . bedah kornea.dan alat yang dipergunakan untuk : – mendapatkan donor mata (penerangan) – terlaksananya pembedahan donor. • Tahayul yang masih kuat di dalam masyarakat.

Biakan diambil dari limbus dengan kapas. Dibuat insisi sklera yang hanya mencapai suprakoroid 2. Sebelum melakukan pengambilan mata donor diperlukan beberapa penilaian. Dikenal 2 cara pengambilan jaringan mata donor yaitu enukleasi dan komeoskleral. Spekulum kelopak dipasang dan konjungtiva dipisahkan dari limbus. defek epitel. Bola mata yang keluar kemudian dicuci dengan garam fisiologik dan larutan antibiotika. waktu kematian dan umur donor. Sebab kematian. Mengancam kesehatan resipien dan kontra indikasi dipergunakan karena terdapat kelainan endotel : − Rabies − Creutzfeld − Septikemia − Retinoblastoma − penyakit Hodgkin − leukemia − hepatitis 2. Pemeriksaan lampu celah. Seluruh tepi limbus dilepas dari konjungtiva yang menempel padanya. Kerusakan kecil endotel akan dapat terlihat segera setelah meninggal. Mata yang akan diambil diperlakukan seperti tindakan melakukan pembedahan di kamar bedah. Pemeriksaan bakteriologik. 82. − lebih cembung. dan warna sklera. Banyak penyakit yang dapat ditularkan pada keratoplasti. Di dalam pengawetan dengan ruang lembab ini mata dikirim ke Bank Mata. Seseorang yang tidak diketahui sebab meninggalnya tidak dapat dipergunakan sebagai mata donor. Penilaian mata di Bank Mata Pemeriksaan umum. Bagian sisa korneo skleral juga dapat dipergunakan. Pembedah akan memakai sarung tangan steril dengan memakai masker. 1993 47 .nya. Spekulum kelopak di lepas dan bola mata diprolapskan keluar. Dengan melakukan pemeriksaan mata didapatkan kesan umum mata yang akan dipergunakan. CARA PENGAMBILAN MATA Mata akan diambil oleh tenaga medik yang bertugas untuk pengambilan mata. Tepi sklera dipegang dan kemudian seluruh bagian iris dan badan siliar yang masih menempel pada sklera dilepas dengan spatula. kerusakan akan bertambah dengan berjalannya waktu. Mata donor yang terbaik adalah mata yang segar dan muda yang tersedia. Dibedakan dalam 2 kategori : 1. Pada tindakannya diperlukan tingkat sterilitas yang tinggi karena mudah sekali terjadi kontaminasi. Mata dimasukkan ke dalam botol. seperti : Penyebab kematian. Pengangkatan dengan tepi korneoskleral. Membran Descemet adalah bagian yang panting karena kerusakannya diakibatkan adanya kerusakan endotel. Botol ini dimasukkan ke dalam kotak pengantar yang dapat ditutup sehingga suhu dapat bertahan 4 derajat Celsius. Potongan sklera dilanjutkan dengan gunting. Umur donor. Daerah pembedahan dibersihkan dengan betadin dan kain penutup berlubang. Tidak semua mata donor dapat digunakan. Mata dengan tumor tertentu tidak dapat dipergunakan sebagai mata donor. Setelah itu glukosa dalam mata sangat berkurang dan mulai terjadi kematian endotel. Mata yang tidak dapat dipergunakan akan dipakai untuk penelitian atau keratoplasti lamelar. Biasanya cara ini dilakukan di dalam laboratorium. Cermin Dunia Kedokteran No. Donor dengan usia 3 tahun : − sangat lentur dan sukar dimanipulasi saat pembedahan. Bank Mata akan mengambil mata donor tanpa memperhatikan sebab. Mata dapat diperiksa dengan lampu celah kecuali dengan pakimeter. Waktu enukleasi Segera setelah meninggal endotel hanya dapat hidup 6 jam pada suhu 37° Celcius. Saraf optik digaet dengan sendok saraf optik dan kemudian dimasukkan gunting di bawahnya yang akan menggunting saraf tersebut. Sebaiknya diperhatikan usia mata yang diperiksa. dan tindakan bedah gabung. Diketahui bahwa pada setiap penurunan suhu 10 derajat kebutuhan metabolisme faktor turun setengahnya. Donor yang meninggal akibat penyakit virus tidak boleh dipergunakan. kontaminasi. Dicari seluruh otot penggerak mata dengan pengkait otot dan digunting.5 mm darilimbus. – Jenazah dengan seizin keluarga untuk diambil matanya. Kornea dengan tepi sklera ini disimpan di dalam pengawet yang khusus untuk ini. Kelopak mata dibuka dengan spekulum kelopak kawat. Bagian yang terpenting adalah endotel yang akan berkurang dengan bertambahnya umur. Pemeriksaan ini mengenai kejernihan. Prosedur Enukleasi. benda asing. Untuk melakukan ini perlu didapatkan latihan pengangkatan yang benar. Cara ini lebih sukar dibanding dengan enukleasi karena dengan mudah dapat merusak endotel kornea yang sangat penting. Bila suhu diturunkan maka daya hidup endotel bertambah. Belum ada peraturan yang lebih memudahkan didapatkannya mata donor dari jenazah terlantar setelah 6 jam di rumah sakit atau kecelakaan lalu lintas. Makin tua donor makin mudah terbentuknya lipatan Descemet. Donor yang tidak ideal (memerlukan perhatian khusus): − penderita dengan kelainan endotel − mutipel sklerosis − parkinson − leukemia − jaundice − diabetus melitus − sifilis − mata pasca bedah dengan kelainan mata. Donor muda dipergunakan untuk keratoplasti mata anak dan dewasa.

Kornea disimpan dalam gliserin 95%. Donor disimpan di dalam kultur jaringan dengan suhu 4 derajat Celcius. Gliserin anhidrat Pengawetan ini dilakukan untuk donor pada keratoplasti lameler. Corneal Grafting–principle and practice. Major DJ. King JH Jr. Mudah terjadi kontaminasi jamur dan bakteri bila dikerjakan tidak baik. McCarey BE dick. Schuchard. Cod disposes 48 Cermin Dunia Kedokteran No. Semua mata yang diterima Bank Mata dicatat dan diteruskan untuk pengawetan atau dipergunakan langsung.pada suhu 4 derajat Celcius. 82. mudah dan banyak dipergunakan. 1984. Pada pengiriman mata ditulis semua data donor. Man proposes. Documents Ophthalmologica 1933. seperti biasanya menyimpan darah donor. Eye Bank Progress. North Florida Lions Eye Bank for Restoring Sight. Kornea pada kultur media dapat disimpan untuk selama 30 hari. Dengan cara ini mata dapat disimpan untuk selama 24 – 48 jam. maka mata akan dapat dipergunakan lebih lama. Cara ini adalah cara yang murah. Am J Ophthalmol. Botol yang berisi bola mata ditutup tidak terlalu rapat. WB Saunders CO. Bila waktu antara meninggal dengan saat pengangkatan bola mata diperpendek. 4. 54: 5. 1962. KEPUSTAKAAN 1. Mata donor dikirim Bank Mata hanya pada dokter mata yang mampu mengerjakan pencangkokan selaput bening. 1993 . Ruang lembab Pengawetan di dalam ruang lembab merupakan prosedur pengawetan standar.PENGAWETAN Berbagai cara preservasi yang dilakukan untuk mata atau kornea donor seperti : – gliserin anhidrat – ruang lembab – media kultur – McKaufmann medium – pengawetan krio. McCarey Kaufman Medium. 56: 147-153. Kerugian dengan cara ini ialah bertambahnya ketebalan kornea. 2. Mata dikirim dengan potongan kornea skleral dan tidak bola mata lengkap. Keadaan ini akan mengakibatkan : – Bekerja sukar dengan jadwal sehingga keadaan seperti darurat. Dengan cara ini pengawetan dapat selama 18 bulan.. McCarey–Kaufman Corneal Eye Bank Te4bnique. Pels E. Media kultur 37°C. Dengan pengawetan ruang lembab biasanya pembedahan dilakukan secepat mungkin. Inc. Cassey TA. Disimpan . – Tidak dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologik sebelum pencangkokan. Botol dimasukkan ke dalam kotak busa yang berisi es di dalam plastik. Organ-Culture preservation of Human Cornea. Cara pengawetan ini baik pada waktu pendek atau 5 hari. 73–86. Pengiriman mata donor. 3. Booklets.

I. seperti tertera pada peta di bawah ini : . PENDAHULUAN Dalam progam pemberantasan malaria. sedang kelambu nilon 51.Evaluasi Pemakaian Kelambu Dipoles Permethrin untuk Penanggulangan Malaria dengan Vektor An. kepadatan nyamuk dapat ditekan dengan bermakna paling tidak selama 217 hari2. Hasan Basri** dan Adi Waluyo** *Medical Entomologist. Di Cina pemakaian kelambu yang dipoles dengan permethrin efektif untuk pengendalian C. quinquefasciatus. Panut**. maka pemerintah. sundaicus) dan jumlah penderita malaria antara sebelum dan sesudah penduduk menggunakan kelambu yang dipoles permethrin tidak berbeda nyata. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. dilakukan pula upaya pemberantasan vektor untuk memutus penularan dengan kegiatan pokok berupa penyemprotan rumah dengan insektisida. selain penemuan dan pengobatan penderita.5%. C. dalam hal ini program pemberantasan malaria. Di Indonesia. tetapi secara keseluruhan. Tarahan terletak di daerah pantai pada ujung selatan Propinsi Lampung. misalnya kurangnya biaya. khususnya DDT. Peneliti Bidang Entomologi Kesehatan pada Pusat Penelitian Ekologi.7%. Kabupaten Lampung Selatan. uji coba dapat dikatakan berjalan dengan lancar. Hambatan yang dihadapi bukan hanya hambatan teknis seperti kekebalan vektor terhadap DDT. DAERAH UJI COBA Uji coba pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dilakukan di Desa Tarahan. sundaicus di Lampung Santiyo Kirnowardoyo*. Kecamatan Katibung. Hasil evaluasi menerangkan bahwa kepadatan vektor (An. Karena keterbatasan dana. Enam bulan setelah pemolesan. sehingga cakupan penyemprotan sangat terbatas. yang dapat menurunkan manfaat penyemprotan. Kabupaten Lampung Selatan. Penyemprotan rumah untuk penanggulangan malaria yang telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. uji coba pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dilakukan di Lampung dengan sponsor WHO. mulai mengembangkan metoda pemberantasan vektor yang lebih efisien. Sesuai dengan anjuran WHO maka di Indonesia mulai dilakukan uji coba pemakaian kelambu yang dipoles dengan insektisida piretroid sintetis (permethrin). sinensis. Di Sabah (Malaysia Timur). Di daerah yang penduduknya menggunakan kelambu yang dipoles dengan permethrin terjadi penurunan densitas dan kontak antara ketiga jenis nyamuk tersebut dengan orang secara bermaknal. selanjutnya tahun ke dua untuk pengumpulan data setelah penduduk memakai kelambu. dengan vektor Anopheles sundaicus. dengan umur efektif paling tidak selama enam bulan. kelambu katun memberikan kematian 75. telah menghadapi hambatan yang cukup berarti. Jakarta **Asisten Entomologist Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Lampung ABSTRAK Telah dilakukan uji pemakaian kelambu yang dipoles dengan permethrin untuk penanggulangan malaria di Desa Tarahan. dengan penangkapan nyamuk di daerah yang penduduknya memakai kelambu yang dipoles permethrin.. Tetapi dari uji hayati langsung ternyata bahwa kelambu yang dipoles permethrin mempunyai daya bunuh cukup baik terhadap nyamuk. Kecamatan Ketibung. Vektor yang menjadi sasaran adalah Anopheles sundaicus Rodenwaldt. tritaeniorhynchus dan A. tahun pertama digunakan untuk mengumpulkan data dasar atau data sebelum masyarakat memakai kelambu. Meskipun kadang-kadang ada hambatan dalam kegiatan pengumpulan data. Uji coba dilakukan mulai September 1986 hingga Nopember 1988. tetapi juga hambatan non teknis. Uji coba dilakukan selama dua tahun.

panjang = 2 m dan tinggi = 2 m). sehingga sebagian besar rumah penduduk tidak memenuhi syarat kesehatan. di antaranya Kp. sundaicus ditemukan sepanjang tahun. Sebalang. 3ehingga An. Penangkapan nyamuk di dalam rumah pada malam hari dilakukan oleh empat orang yang sama. Setelah semua cairan teresap. bahkan tidak sedikit yang terpaksa tidur di luar. Kemudian cairan mengandung bahan permethrin seperti tercantum di atas dituangkan ke dalam kantong yang ada kēlambunya. maka efikasinya dapat dilihat dari densitas atau kepadatan nyamuk yang menjadi sasaran. 1993 . Keadaan sosial ekonomi penduduk rendah. Kepadatan nyamuk yang diukur adalah. Agar nyamuk tidak tersedot. Dosis pemolesan yang dikehendaki 0. Uji hayati langaung untuk menilai daya bunuh residu permethrin yang ada di kelambu dilakukan menurut instruksi WHO4 . Penangkapan nyamuk di dalam rumah pagi tiari juga dilakukan oleh empat orang. kelambu dimasukkan lagi ke dalam kantong dan selanjutnya dibagikan kepada penduduk. di antara tabung galas dengan pipa karat diberi sekat dari kasa plastik atau kasa kawat halus4 . bahan permethrin yang tersedia diencerkan Selanjutnya disiapkan kantong plastik. Kemudian setelah kering. digunakan alat yang disebut aspirator. sedangkan di tiap rumah. Karena rumah mereka sempit. kelambu dikeluarkan dan dibiarkan hingga kering tanpa dijemur di sinar matahari.dengan air. tiap jam mereka menangkap selama 10 menit. dengan slide positivity rate sebesar kira-kira 25%. Kantong diremas-remas. karena Kp. Pada ujung pipa karat diberi kepingan plastik untuk menyedot. Pemilihan Desa Tarahan sebagai lokasi uji coba berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : 1) Hasil survai malariometrik menerangkan bahwa kasus malaria di lokasi tersebut cukup tinggi.5 = 34m1 Air 17 x 45 ml = 765 ml 17 x 15 ml = 255 ml Desa Tarahan terdiri dari beberapa kampūng. Jumlah kelambu untuk tiap rumah disesuaikan dengan jumlah penduduk. mm. ke dalam kantong tersebut kita masukkan satu kelambu.5 gr/m2. Sukamaju. Karena nyamuk yang kontak kelambu diharapkan mati terbunuh oleh residu permethrin di kelambu. Pembagian kelambu kepada penduduk dilakukan dalam awal bulan Oktober 1987. BAHAN DAN CARA KERJA Seluruhnya ada 200 kelambu yang dipoles permethrin 25EC. hingga cairan teresap oleh kelambu dengan merata.75 m. mereka menangkap selama 15 menit. Sebalang dan Kp. masuk ke dalam mulut. mulai pukul 18. maka penduduk mempunyai kebiasaan tinggal di luar rumah hingga larut malam.00 hingga 24. Sukamaju digunakan sebagai pembanding.00 dengan tiap jam aktif menangkap selama 40 menit. mereka menggulung kaki cēlananya. mereka juga sebagai umpan untuk digigit nyamuk. hingga di atas lutut.Tiap penangkap bekerja di enam rumah. 3) Sejak tahun 1984 tidak dilakukan penyemprotan dan upaya pengendalian cara lainnya. Perbandingan banyaknya permethrin dan air yang diperlukan adalah sebagai berikut3 : Kelambu Bahan katun Bahannilon Permethrin 1000/250 x 17 x 0. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang (human bait) dilakukan oleh empat orang. tempat uji coba dilakukan. karena di samping sebagai penangkap. Jadi hanya nyamuk yang menggigit dirinyalah yang boleh ditangkap. yaitu alat untuk menyedot nyamuk yang terdiri atas : Tabung galas dengan diameter 15. : 1) Kepadatan nyamuk menggigit orang (human bitar) 2) Kepadatan nyamuk di dalam rumah pada malam hari 3) Kepadatan nyamuk di dalam rumah pada pagi hari. Untuk pemolesan. Sukamaju tidak mendapat pembagian kelambu. sedang sisanya (80 buah) dari nilon berwarna biru. 82. dan selama 50 Cermin Dunia Kedokteran No. Sebagian besar (120 buah) kelambu dari bahan katun. ujungnya disambung dengan pipa karet/plastik sepanjang 80 – 100 cm.. Untuk menangkap nyamuk. Uji hayati dilakukan tiap tiga bulan sekali. 2) Terdapat tempat perindukar Anopheles sundaicus dengan tipe permanen yang memadai. Sejumlah 200 kelambu yang telah dipoles permethrin dibagikan kepada 492 penduduk Kp. Penduduk Kp.5 = 34 ml 1000/250 x 17 x 0. Luas kelambu rata-rata 17 m2 (lebar = 1. setelah mereka menangkap dengan umpan orang.

8 Bulan Jumlah Apri11988 Jumlah Evaluasi berdasarkan banyaknya penderita malaria.3 96 93. dilakukan oleh empat orang penangkap. Positif darah didarah poaitif periksa Sebalang 152 67 44.9 Sebalang 248 41 1~6. 88.4 69. masing-masing rumah dilakukan penangkapan selama 15 menit.4 Pembagian kelambu awal Oktober 1987 Sebalang 212 49 23. karena kematian pembanding lebih besar dari 5%. sediaan Ratio aediaan Jml.8%. yaitu 8.3 5 4.8 75. Pembacaan hasil dilakuakn setelah nyamuk dipelihara selama 24 jam.6 86.00. 62. Pemeriksaan darah dilakukan oleh tenaga Puskesmas. kegiatan penangkapan tidak dilakukan.5 Sukamaju 283 58 20.uji coba dilakukan uji hayati sebanyak dua kali. Hasil Penangkapan Anopheles sundaicus untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu yang Dipoles Permethrin di Propinsi Lampung. dilakukan oleh empat orang penangkap dari pukul 18.7 74. Hasil survai entomologi yang menerangkan jumlah nyamuk ditangkap dengan umpan orang di War rumah (OUTM). Tabel 1. tiap jam aktif menangkap selama 40 menit. Kelambu dipoles permethrin Bulan Jml Januari 1988 114 150 150 414 200 200 400 Katun Mad 101 143 144 388 166 145 311 % Jml Kern. Perbandingan jumlah kasus antara sebelum dan sesudah penduduk menggunakan kelambu.00. Hasil Survai Malariometrik setelah Dilakukan Crosscheck untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu yang Dipoles dengan Permethrin. Bahan atau nyamuk yang digunakan untuk uji adalah Aedes aegypti yang dibiakkan di insektarium Badan Litbang Kesehatan. Evaluasi daya bunuh residu permethrin pada kelambu. Sebalang (menggunakan kelambu) OUTM September 1986 Oktober 1986 Nopember 1986 Desember 1986 Januari 1987 Pebruari 1987 Juni 1987 Iuli 1987 Aaustus 1987 Oktober.4 8.00 – 24. 1993 51 . (Tabel 3).00 – 24. tiap orang menangkap pada 6 rumah.1987 Nopember 1987 Dēsember 1987 Januari 1988 Pebruari 1988 Maret 1988 Apri11988 Mei1988 Juni 1988 Juli 1988 44 10 29 8 6 6 14 11 7 20 26 6 5 0 1 20 2 9 1 4 0 6 43 53 75 37 43 23 15 34 0 22 2 10 12 6 2 0 0 INN 49 13 36 7 1 0 6 0 6 13 25 2 2 0 2 29 3 2 0 0 1 0 1S 27 54 26 35 19 12 19 0 7 3 17 5 4 1 0 0 INM 27 6 21 2 0 0 0 0 0 4 3 0 0 – – – – 2 0 5 5 3 14 16 17 0 1 0 8 11 0 0 0 0 0 0 0 1 0 Sukamaju (tak menggunakan kelambu) OUTM 5 2 3 7 9 20 7 7 5 10 2 2 2 1 4 10 32 66 11 62 2 62 120 33 84 37 28 3 10 0 0 7 0 2 4 0 2 2 0 INN 6 0 6 0 1 1 2 3 0 11 4 0 0 0 1 0 5 1 0 1 0 1 3 0 4 2 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 0 0 0 INM 2 2 1 0 0 11 1 0 0 2 0 2 1 – – – – 0 0 8 0 3 11 9 9 11 0 0 0 2 1 2 0 0 2 0 1 0 0 Keterangan: OUTM INN INM – – – – – dilakukan oleh empat orang penangkap dari pukul 18.3 50 55.8 8.7 75.7 51. tetapi di crosscheck oleh tenaga laboratorium Subdit P2 Malaria.5 115 150 150 415 200 200 400 Nilon Mad 72 130 •112 314 112 112 224 % Kern.7 81. Hasil uji hayati langsung dapat dilihat pada Tabel 2.1 Sukamaju 137 30 21. Survai malariometrik dilakukan tiap enam bulan sekali. Kematian sebenarnya pada uji bulan April 1988 dikoreksi dengan rumus Abbott.1 Sukamaju 169 64 37.3 83.7 51.5 Dukuh Pf % 43. Bulan Nopember 1986 lull 1987 Jml.7 Pembanding Jml 60 60 60 180 80 80 160 Mati 3 2 3 8 7 7 14 % Kern.7 50 April 1988 Nopember 1988 Cermin Dunia Kedokteran No. 82.9 Sebalang 100 14 14 Sukamaju 237 27 11.8 8.5 gr/m2. Tabel 2.9 48. tiap jam aktif menangkap selama 10 menit. Tabel 3. penangkapan di dalam rumah malam (INN) dan penangkapan di dalam rumah pagi (INM) dapat dilihat pada Tabel 1. 5 3. Metoda yang digunakan adlaah metoda standar WHO. Hasil Uji Hayati Langsung Kelambu yang Dipoles Permethrin Dosis 0. dilihat perbedaannya dari hasil survai malariometrik. Kebenaran Slide Positivity Rate ditentukan setelah dilakukan crosscheck.6 51 60. Nyamuk dikontakkan ke kēlambu selama 60 menit. oleh tenaga Puskesmas dan Sub Puskesmas.7 51.6 95. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran kepadatan nyamuk. Evaluasi dilakukan dengan uji hayati langsung (bioassay test). yang dibantu oleh tenaga tim entomologi.

sundaicus tetap tinggi meskipun penduduk sudah mendapat pembagian kelambu (Nopember 1987 – Mei 1988). Pada Tabel 2 terlihat bahwa residu permethrin pada kelambu sangat efektif membunuh nyamuk. meskipun kelambu yang dipoles permethrin mempunyai daya bunuh cukup baik terhadap nyamuk dengan umur efektif paling tidak enam bulan setelah pemolesan.6 35 23. Kelambu yang dipoles permethrin dapat disarankan untuk perlindungan dari penularan malaria bagi tentara yang sedang tugas operasional. Tabel 4. sundaicus antara sebelum penggunaan kelambu (September 1986 – Agustus 1987) dengan setelah pembagian kelambu (Oktober 1987 – Juli 1988) tidak berbeda nyata. daya bunuh kelambu katun masih 75.7%. kelambu katun memberikan kematian 75.5 gr/m2 untuk penanggulangan malaria dengan vektor An. karena di luar rumah telah tersedia sumber darah yang diperlukan. menyebabkan banyak anggauta keluarga yang tidur di luar. karena lebih mendapat perhatian dari orang tua mereka.4 34. Data ini ditunjang oleh data pada Tabe1 4. penularan malaria masih berlangsung. maka apabila kelambu tersebut dipakai dengan sempurna dan penularan tidak berlangsung di luar atau di daerah dengan vektor endofagik. Enam bulan setelah dipoles. daya bunuhnya masih cukup baik.4 tidak terlihat bila dibandingkan dengan populasi keseluruhan. Densitas An. sundaicus sebelum dan sesudah pembagian kelambu tidak ada perbedaan bermakna karena nyamuk yang masuk ke dalam rumah untuk mencari darah relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan populasi keseluruhan. sehingga jumlah nyamuk yang mat akan lebih kecil lagi dan 52 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada label 1 terlihat bahwa pada musimnya.3 2–4 th SPR 34. hasil uji hayati memberikan keterangan yang berbeda.6 16. Kelambu dari bahan katun yang dipoles permethrin mempunyai umur efektif lebih lama daripada kelambu nilon.5 2–4 th SPR 61. KESIMPULAN Pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dengan dosis 0. sehingga tiap hari masih timbul nyamuk baru dari tempat perindukan. Kesimpulan lain yang dapat diambil dari hasil uji coba ialah.1 Sukamaju (pembanding) 0–11 bl SPR 14. sundaicus di Lampung. Tetapi. Dari jumlah yang kecil itu tidak seluruhnya kontak dengan kelambu.6 0 16.7%.5 25 48. Sebalang (memakai kelambu) 0–11 bl SPR Nopember 1986 16.6% – 61. REKOMENDASI Kelambu yang dipoles permethrin akan memberikan efek positif untuk penanggulangan malaria. karena kejadian penularan malaria di daerah penelitian berlangsung di luar rumah (outdoor transmission). bila digunakan di daerah dengan vektor endofagik atau di daerah di mana penduduknya mulai masuk tidur tidak terlalu malam. Jadi jelas bahwa kejadian penularan di luar rumah itulah yang merupakan kendala utama yang menyebabkan ketidak berhasilan pemakaian kelambu untuk penanggulangan malaria. Ketidak cocokan antara Tabel 2 dengan Tabel 1 & 3 dapat dijelaskan sebagai berikut 1. bahwa kelambu yang dibuat dari bahan katun lebih baik dari pada yang dibuat dari nilon. Kelambu katun lebih mudah menyerap larutan permethrin dari pada kelambu nilon.7% sedang bahan nilon 75. dilihat dari densitas nyamuk dan SPR semua umur ternyata tidak efektif.5% sedang yang dari nilon tinggal 51. Hal ini menerangkan bahwa meskipun penduduk telah memakai kelambu. Dapat pula disarankan digunakan oleh para penebang kayu di hutan dan siapa saja yang berkaitan dengan tugasnya mempunyai risiko besar untuk digigit nyamuk. Tiga bulan setelah kelambu dipoles. Pembagian kelambu Awal Oktober 1987 April 1988 Nopember 1988 16. Kecuali umur efektifnya lebih panjang. sedang setelah pembagian kelambu hanya antara 0% – 35%. Hal ini ditunjang oleh data pada label 3. Tidak adanya perbedaan nyata antara SPR sebelum dan sesudah pembagian kelambu (tabel 3). proses pemolesan kelambu katun lebih mudah. Hal ini terjadi karena penduduk mempunyai kebiasaan berada di luar rumah hingga larut malam.1 80 9.5% sedang yang dari nilon 51. 2. 82.3 Keterangan: – SPR = Slide Positivity Rate. An. sundaicus tergolong nyamuk eksofilik dan eksofagik. Hasil Survai Malariometrik Khusus Anak-anak di bawah Umur Lima Tabun untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu Dipoles Permethrin. ditambah dengan udara yang panas. Hal ini menerangkan bahwa bagi anakanak. yaitu kelambu dari bahan katun memberikan kematian 93. Tetapi untuk anak-anak di bawah lima tahun pembagian kelambu dapat melindungi mereka dari penularan malaria..Pada Tabel 1 terlihat bahwa kepadatan An. apabila kita perhatikan Tabel 2. Enam bulan setelah pemolesan. maka nyamuk tersebut tidak perlu masuk ke dalam rumah. maka pemakaian kelambu akan efektif untuk penanggulangan malaria seperti yang terjadi di Sabah (Malaysia Timur) dan Cina. 1993 . maka pembagian kelambu bermanfaat untuk perlindungan terhadap penularan malaria. Mengingat daya bunuh kelambu yang dipoles dengan permethrin nyatanya cukup baik. Pada Tabel 4 terlihat bahwa SPR khusus anak-anak di bawah lima tahun setelah pembagian kelambu menurun dengan nyata. Sebelum pembagian kelambu SPR nya antara 16.3 12–23 bI SPR 33.1 37. kepadatan An.1%. Dari hasil survai malariometrik pada Tabel 3 terlihat bahwa rasio sediaan darah positif (slide positivity rate) antara sebelum dan sesudah pembagian kelambu tidak berbeda nyata.7%.6 12–23 bl SPR 56. Apalagi bila diingat bahwa kita tidak melakukan upaya tindakan anti jentik. kecuali itu karena rumah mereka pada umumnya sempit.

Malaysia. atas kerja samanya. atas izin dan partisipasi serta bantuan yang diberikan.914. Cermin Dunia Kedokteran No.KEPUSTAKAAN 1. Akhirnya tidak lupa. Puskesmas Panjang dan staf yang terkait. Juga kepada Ka. Manual on Practical Entomology in Malaria. Puskesmas Ketibung. sehingga uji coba ini dapat berjalan dengan lancar. atas segala bantuannya sehingga uji coba dapat berlangsung dengan baik. sehingga uji coba dapat berhasil dengan baik. 4. 2.892. Kanwil Departemen Kesehatan dan Ka. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada para pamong Desa Tarahan. Terima kasih juga diucapkan kepada Ka. 1 : 397–407.WHO/VBC/88. 3. 1993 53 . Pan Shina(ang. WHO Geneva. I. The influence of permethrin-impregnated bed-nets and mass drug administration on the incidence of Plasmudium falciparum malaria in children in Sabah. Evaluation of Permethrin impregnated mosquito-nets against mosquito inChina.ampung serta para staf. Dinas Kesehatan Dati I Prop. Part II. 1988. terima kasih juga diucapkan kepada WHO yang telah membiayai uji coba ini sehingga selesai. 1975. WHO/VBC/85. 82. Xu Jinjiang. 1985. Anonymous. Self LS. Medical and Veterinary Entomology 1987. Jeffrey LK Hii et al. Schreck CE. Liu Skuyou. Zao Meiluan. Ka. Geng Rongen. Luo Xinfu. Treating mosquito-nets for better protection from bites and mosquito-borne disease.

Sekar Tuti*. falciparum terhadap obat antimalaria mempengaruhi keberhasilan program pemberantasan malaria. Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 45% dengan splenomegali. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Sensitivitas ini sangat bervariasi dari suatu daerah ke daerah yang lain. pada bulan November 1989. telah disederhanakan tehnik pelaksanaannya1. Departemen Kesehatan R. 23–25 Juni 1990. sedangkan terhadap kina dan meflokuin masih sensitif. 90% positif malaria. 40% dengan demam. Penilaian sensitivitas ini dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro yang Dibacakan di Seminar Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V. hanya 53. falciparum terhadap klorokuin secara in vivo. sedangkan secara in vitro masih sensitif. sensitivitas in vitro dengan tes mikro. Sensitivitas in vivo dilakukan dengan tes 7 hari yang disederhanakan. P. Surabaya. II dan R. falciparum yang dilaporkan tidak sensitif atau telah resisten dengan beberapa obat antimalaria.7%' dan sampai saat ini masih tetap 54 Cermin Dunia Kedokteran No. dengan splenomegali. sensitivitas P. Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan malaria. di desa Pekandangan. Oleh sebab itu perlu diketahui status sensitivitas obat-obat antimalaria saat ini di Jateng. Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jateng dengan Slide Positivity Rate 20. dan Harijani AM* * *Pusat Penelitian Penyakit Menular. falciparum di Pekandangan ternyata telah resisten secara in vivo terhad`ap klorokuin dengan derajat R. Jawa Tengah mula-mula dilaporkan resisten terhadap klorokuin pada tahun 1981 secara in vivo dan in vitro2–4 . 82. Bahkan terhadap obat antimalaria lain yaitu meflokuin yang belum beredar dan belum dipakai secara resmi di Indonesia. splenomegali dapat merupakan petunjuk penderita dengan kemungkinan besar sedang menderita malaria. PENDAHULUAN Plasmodium falciparum merupakan salah satu dari 4 jenis Plasmodium manusia yang telah banyak menimbulkan kematian. falciparum Dari penderita tersangka malaria secara klinis dengan demam. terhadap klorokuin. falciparum dominan. karena sampai saat ini kasus malaria di Pekandangan masih cukup banyak.Sensitivitas Plasmodium falciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di desa Pekandangan. Jawa Tengah Emiliana T*. dan 20% dengan demam dan splenomegali. Sampai saat ini hanya P. resisten multidrugs yaitu terhadap klorokuin secara in vivo dan sulfadoxinpirimetamin secara in vitro. dan seluruhnya adalah P. falciparum terhadap obat-obat antimalaria sangat penting untuk diketahui. Jakarta ABSTRAK Sensitivitas P. III. 1993 .. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.I. PR Arbani**. Resistensi secara in vitro juga ditemukan terhadap sulfadoxin-pirimetamin. kina. ternyata juga telah resisten secara in vitro di Jateng6.5% positif malaria. Dengan demikian desa Pekandangan merupakan daerah malaria P. Resistensi terhadap sulfadoxin-pirimetamin secara in vivo juga telah ditemukan5. Ternyata Parasite Rate : 5. hanya 57. Jakarta **Sub Direktorat Malaria. Untuk itu dilakukan tes sensitivitas P. sulfadoxin-pirimetamin.4%. dan menurut standar teknik dari WHO.1% positif malaria. dan meflokuin secara in vitro. dengan panas dan splenomegali. M Renny*.

Jawa Tengah. Jawa Tengah. III. Tabel 1.000 per mm3 darah. Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 40% dengan demam. Pv : P.4% (tabel 2). 82. Pada pemeriksaan parasitologis darah terhadap 368 penduduk. I kasep tak dapat dibedakan. falciparum. kina.tinggi kasus malarianya. vivax Pm : P. Average Enlarged Spleen = 1..5 pmol. 12 orang membesar antara H1–113. 20% dengan demam dan splenomegali (tabe1 3) Hasil tes sensitivitas in vivo P. 1989. BAHAN DAN CARA Penelitian dilakukan pada bulan November 1989 di desa Pekandangan. 1989. falciparum terhadap klorokuin secara in vivo. R. falciparum terhadap klorokuin. Sampel Untuk mendapatkan kasus yang memenuhi persyaratan tes sensitivitas yang sesuai dengan kriteria WHO8 dilakukan pemeriksaan klinis dan parasitologis darah tetes tebal dengan pewarnaan Giemsa dari penduduk yang menderita demam maupun tidak. Untuk itu penelitian ini dilakukan di Pekandangan. 4. Tes sensitivitas in vitro Penderita-penderita yang diambil darahnya untuk tes sensitivitas in vitro diobati radikal dengan klorokuin dan primakuin dengan dosis sesuai petunjuk Depkes9. kina dan meflokuin secara in vitra. malariae Pmix : Pf + Pv atau Pf + pm atau Pv + Pm Pada pemeriksaan klinis dan parasitologis darah. dan hari ke VIII : D71.3%) yang positif malaria. Jumlah diperiksa 6 1 15 94 48 204 368 Jumlah positif 0 1 2 4 1 12 20 PR (%) 0 100 13. Hasil tes sensitivitas in vitro P. Jumlah diperisa 6 1 12 15 4 101 Pembesaran limpa ( Hackett ) 0 4 0 9 13 4 97 1 2 0 1 1 0 1 2 0 0 1 1 0 3 3 0 1 1 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 2 1 3 2 0 4 12 SR (% ) 33. III.5% . 2) kepadatan parasit aseksual antara 1. Terhadap sulfadoxin-pirimetamin.1%) yang positif malaria (tabel 3). 4 kasus R.dan Average Enlarged Spleen 1. I. dosis tunggal. ditemukan 20 kasus malaria. 2. Tes sensitivitas in vitro dilakukan dengan tes mikro sesuai petunjuk WHO10. meflokuin : ≥ 64 pmol. hari ke III : D2. serta merupakan salah satu daerah yang masih sensitif klorokuin3. Slide Falciparum Rate 5. kina dan tetrasiklin. HASIL Dari 1. Desa yang dilaporkan cukup banyak kasus melarianya antara lain Pekandangan. falciparum. klorokuin : ≥ 8 pmol. Parasite Rate 5. 3) tidak minum obat antimalaria selama 14 hari yang lalu terhadap golongan 4-aminokuinolin. falciparum terhadap klorokuin menunjukkan bahwa tak ada kasus yang sensitif (S) dan R. dari 12 penderita dengan splenomegali (termasuk 2 bayi) hanya 9 (90%) yang positif malaria. I dini. dan hari ke III 5 mg/kgbb/hari. dan terhadap klorokuin. Pf : P. dan 6 minggu untuk meflokuin. Penelitian sensitivitas berdasarkan kriteria WHO hanya dapat menilai R. kecamatan Banjarmangu. 45% dengan splenomegali. sedangkan S dan R. Setiap kasus diikuti selama 7 hari dan diperiksa ulang parasitologis darah tetes tebal dengan pewarnaan Giemsa. pada saat pengobatan akan dimulai: DO.000 penduduk yang tercatat. Tabel 2. dari 7 penderita dengan demam dan splenomegali hanya 4 (57. II. semuanya menunjukkan hasil sensitif.000–10. secara oral.4%. R.3 4.1 5. Adapun batas konsentrasi obat antimalaria dinyatakan resisten adalah : 1. Adapun persyaratan untuk tes sensitivitas in vivo adalah : 1) hanya terinfeksi oleh P.3 0 4 8. diobati dengan klorokuin dosis total 25 mg/kgbb. 139 diperiksa limpanya.9 5. Tes sensitivitas in vivo Kasus-kasus yang akan di tes sensitivitas in vivo. 4) tes urin Dill Glazko untuk obat golongan 4-aminokuinolin dan Lignin untuk sulfonamid. 1 kasus R. dan semuanya adalah P. dari 15 penderita demam hanya 8 (53. Jateng. dan memakai kit WHO.6 Gol umur 0–11 bl 12–23 b1 2–4 th 5–9 th 10–14 th > 15 th Total 139 127 5 5 Keterangan: SR (Spleen Rate) 2 – 9 tahun : 18. dan 2 kasus gagal karena muntah-muntah (tabel 4). kina : ≥ 256 pmol. kabupaten Banjarnegara. selama 3 hari: hari I dan II 10 mg/kgbb/hari.3 100 25 13.5%. sulfadoxin-pirimetamin : ≥ 1. harus negatif.4 Species Pf 0 1 2 4 1 12 20 Pv 0 0 0 0 0 0 0 Pm 0 0 0 0 0 0 0 Pmix 0 0 0 0 0 0 0 Gol umur 0–11 bl 12–23 bl 2– 4 th 5– 9 th 10–14 th > 15 th Total Keterangan: PR : Parasite Rate. falciparum. 2 dad 6 spesimen Cermin Dunia Kedokteran No. dan meflokuin.75 (tabel 1). 1993 55 . sulfadoxin-pirimetamin. Hasil pemeriksaan parasitologis darah menurut golongan umur dari penduduk desa Pekandangan. sehingga Spleen Rate (2-9 tahun) adalah 18. Persyaratan untuk tes in vitro adalah sama dengan tes sensitivitas in vivo kecuali kepadatan parasit aseksual yaitu antara 1. desa yang dikelilingi oleh hutan salak dan sawah.75.3 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status sensitivitas P. 4 minggu untuk sulfadoxin-pirimetamin. Hasil pemeriksaan limps menurut golongan umur dari pen duduk desa Pekandangan.000 per min' darah. II. 3.000 pmol –> 12.000–80.

sedangkan pada tahun 1983. KESIMPULAN DAN SARAN Pekandangan merupakan daerah malaria P. pencegahan dan pemberantasan. Hasil Sensitif (S) atau RI kasep Resisten I (R I) dini Resisten II (R II) Resisten III (R III) Gage Total Jumlah 0 0 4 1 2 7 Keterangan Banjarnegara sebenarnya masih merupakan daerah sensitif terhadap klorokuin secara in vivo3. Untuk segala surat-menyurat. JAKARTA 10002 56 Cermin Dunia Kedokteran No. seharusnya jumlah anak 0–9 tahun yang diperiksa minimal adalah 168 orang11. 82. falciparum Pekandangan. 1989. karena 2 bayi yang splenomegali dengan HI dianggap normalll . Resistensi terhadap obat antimalaria ini mungkin juga disebabkan karena seringnya pemakaian preparat sulfa sebagai obat antibiotika di daerah tersebut. Innis obat Klorokuin Sulfadoxin-pirimetamin Kina Meflokuin Jumlah yang diperikaa 5 6 3 2 Sensitif 5 4 3 2 Resisten 0 2 0 0 PEMBAHASAN Walaupun Spleen Rate (2–9 tahun) adalah 18. menunjukkan indikasi bahwa di daerah itu sedang terjadi transmisil' .3% penderita demam yang menderita malaria.7%7. II dan R. Ternyata hanya 53. falciparum dominan.menunjukkan hasil resisten (tabel 5). Hal ini sesuai dengan yang ditemukan Harijani AMS.1%) % kuakteristik dari 20 penderita 40 % 45 % 20 % Karakteristik ldinis Demam Splenomegali Demam+splenomegali Keterangan: * termasuk bayi 2 orang dan tidak menderita malaria. splenomegali dapat sebagai petunjuk bahwa penderita kemungkinan besar sedang menderita malaria. Hasil tea sensitivitas P. falciparum yang dominan (100%) di Pekandangan. Hasil tes sensitivitas P. yang lain ternyata menderita penyakit infeksi lain. Di samping itu perlu disiapkan obat alternatif untuk malaria P. antara lain ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang banyak ditemui pada pemeriksaan klinis. Tabel 3. karena jumlah anak 0–9 tahun yang diperiksa terlalu sedikit yaitu hanya 34 orang. Ditemukannya P. suatu saat dapat terjadi ledakan• sehingga perlu segera diambil tindakan pengobatan sedini mungkin. serta pengamatan penyakit malaria yang lebih ketat. Tabe1 4. falciparum resisten meflokuin di Jateng. Ini bararti Pekandangan telah menjadi daerah P. III terhadap klorokuin secara in vivo.4%g. pencegahan dan pemberantasan. muntah-muntah Tabe1 5. Hoffman dkk telah menemukan P. falciparum resisten multidrugs. Ternyata dari hasil penelitian ini telah resisten R. falciparum seam in vivo terhadap klorokuin di Pekandangan. Jawa Tengah. Karakteristik klinis penderita tersangka dan penderita malaria P. Dengan demikian splenomegali di Pekandangan dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa penderita sedang menderita penyakit malaria. 1989.3%) 9 (90 %) 4 (57. Jawa Tengah. Oleh sebab itu perlu segera diambil tindakan-tindakan pengobatan sedini mungkin. Sebenarnya hanya 1 dari 12 penderita splenomegali yang tidak menderita malaria. Berdasarkan perkiraan PR Banjarnegara adalah 20. Penelitian ini perlu diulang dengan jumlah sampel yang lebih besar sehingga keadaan malaria di Pekandangan dapat diketahui secara jelas. pergunakan Alamat lengkap Anda dengan mencantumkan Kode Pos ke alamat kami : CERMIN DUNIA KEDOKTERAN P. sedangkan secara in vitro masih sensitif. Secara in vitro ternyata P. resisten multidrugs yaitu terhadap kjorokuin secara in vivo dan sulfadoxin-pirimetamin secara in vitro. Box 3105. 1993 . falciparum juga tersisten terhadap sulfadoxin-pirimetamin. Hal ini juga diperkuat dengan adanya kasus malaria pada anak-anak balita. falciparum masih sensitif terhadap kina dan meflokuin.5%. Perbedaan ini mungkin disebabkan adanya pengaruh faktor penyerapan dan metabolisme obat dalam tubuh penderita tersebut. Jawa Tengah. fakiparum secara in vitro terhadap beberapa obat antimalaria di Pekandangan. 1989. Dalam penelitian ini secara in vitro P.O. Pekandangan tak dapat disebut sebagai daerah mesoendemis. Jumlah tersangka malaria 15 12 * 7 Jumlah positif malaria (%) 8 (53. fakzparum resisten klorokuin. walaupun secara in vitro masih sensitif. Jadi walaupun PR yang didapat hanya 5. serta pengamatan penyakit malaria yang lebih ketat.

Arbani PR. WHO/MAL/82. Report of an Intercountry meeting. SEA/MAL/165. PPM & PLP. Kumara Rai N. SEARO. Payne D. Hoffman SL dkk. 988. Arbani PR. Malaria : Pengobatan 3. 11. falciparum yang resisten terhadap klorokuin di Indonesia. Penyebaran dan penanggulangan P. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. WHO Drug resistant malaria.KEPUSTAKAAN 1. In vitro studies of the sensitivity of Plasmodium falciparum to mefloquine in Indonesia. New Delhi. 10. Dr. 1987. Simanjuntak C. MPH. yang telah memberi kesempatan mengikuti "Latihan tes sensitivitas obat-obat antimalaria". Penelitian resistensi P. Kumara Rai N. 22 February 1989. 5. 3. 9. Laporan akhir penelitian tahun 1983–1985. Pemberantasan Penyakit Malaria Propinsi Jawa Tengah. P. 29 September – 3 October 1988. Malaria : Survai malariometrik 6. 1984. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada : 1. falciparum resisten terhadap klorokuin di Kabupaten Jepara. serta mengijinkan makalah ini diterbitkan. 2. DPH. 4. Arbani. Laporan tes resistensi P. 1982. Bull Health Stud Indon 1981. Jakarta 12 April 1982. 3. Panel diskusi Seminar Parasitologi Nasional dan Kongres ke 2 P4I. Direktorat Daerah Pencegahan Pemberantasan Penyakit Malaria. Practical aspects of the in vivo testing for sensitivity of human Plasmodium spp to antimalarials. Laporan tahunan 1977. 1993 57 . Dinas Kesehatan Propinsi Dati I Jawa Tengah. Kasubdit P2 Malaria. Jawa Tengah. dan meneliti di Pekandangan. Sub Direktorat P2 Malaria.R. 2. Suriadi Gunawan. Kepala Puslit Penyakit Menular yang telah memberi saran-saran dan petunjuk. 29 September – 3 Ocotber 1988. Harijani AM. Bandung. falciparum terhadap Fansidar di Indonesia. P. Kadinkes Kabupaten Banjarnegara dan stafnya. serta seluruh temanteman yang banyak membantu dalam penelitian ini Cermin Dunia Kedokteran No. 7. IX (2) : 1–6. 1983. falciparum terhadap klorokuin. 6. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Departemen Kesehatan RI. Review of the systems for determining drug sensitivity in Plasmodium falciparum. Agustus 1983. Rooney W. Departemen Kesehatan RI. serta mengijinkan hasilnya untuk diterbitkan. 82. Pertemuan Tehnis Malaria. Inter-country meeting on drug resistant malaria. 8. Dr.

PharnacertAbstracts 1991. Fasihah R. Kosasih: Bromhidrosis Sri Linuwih SMR. 324: 1018-25 Obat esensial Lancet 1991.: Daya Antimikroba Obat Tradisional Diare terhadap Beberapa Jenis Bakteri 4 5–9 10 – 15 16 – 18 19 – 21 22 – 25 26 – 29 30 – 33 34 – 37 38 – 40 41 – 44 17 – 19 20 – 22 23 – 25 26 – 31 32 – 36 37 – 39 40 – 42 43 – 45 46 – 48 49 – 51 52 – 58 19 – 21 22 – 24 25 – 27 28 – 31 32 – 36 37 – 39 40 – 43 44 – 47 48 – 51 52 – 54 55 – 57 58 – 61 62 59 – 61 62 62 62 62 62–63 63 63 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 4 5–9 10–12 13 –16 58 Cermin Dunia Kedokteran No. Retno Widowati S.Med. Indonesia Shannaz Nadia Idris. Engl.03. Brunai Darussalam. 72/Menkea/Insl17/1988 tentang Kewajiban Melapor Penderita dengan Gejila AIDS Keputusan Direktur Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan Pemukiman no. IGAK Rats.: Malaria Tropika dengan Beberapa Komplikasi Tjandra Yoga Aditama: Tuberculosis Situation .Indeks Karangan dalam Cermin Dunia Kedokteran Tahun 1992 CDK 74. 28(1): 112 Nyeri postpartum BMJ 1990. KULIT I English Summary Arini Rinaldi. Oedayati DB. 1991. A. Hari Sukanto. 37 tahun 1991 tentang Pengangkatan Dokter Pegawai Tidak Tetap Selama Masa Bakti Abstrak H. 76. Anwar Musadad: Obit yang Disalahgunakan oleh Pasien Ketergantungan Obat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Inabah Instruksi Mental Kesehatan RI no. J.Mochtar Hamzah: Urtikaria Kontak S.04 tentang Petunjuk Pelaksanaam Melaporkan Penderita dengan Gejala AIDS Abstrak Pentamidin untuk infeksi PCP N. 301: 9-12 CDK 75. Sarjaini Jamal. Med. 82.Delay in Case Finding Harijani AM.D vs. 1993 .J. Mob. Dr. Soetano General Hospital. Halim Mubin. 321: 829-35 Meramalkan risiko kardiovaskular N. 338: 7435 Diagnosis sindrom septik Lancet 1991. AIDS English Summary Suriadi Gunawan: Perkembangan Masalah AIDS Imran Lubin: Epidemiologi AIDS Imran Lubin: Petneriksaan Laboratorium untuk HIV Muljati Prijanto: Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Diag4 5–9 10 –15 16 –18 nosis Human Immunodeficiency Virws (HIV) Harry Isbagio: Artritis yang Berhubungan dengan Penyakit Defisiensi Imun Jusuf Barakbab. LP Lahat dan LP Muara Enim Subakir: Pengaruh Suhu Pengeraman pada Biakan Malassezia furfur Emillana Tjitra. Rita Marfeta Dewi: Pengobatan Fluor Albus di Puskesmas Cempaka Putih Barat Evita HF Effendi: Dermatitis Herpetiformis S Fasihah R. Affandi.. 1991 Diabetes pada kehamilan N. Engl.Malaria pada Anak SD Keputusan Presiden RI No. KULIT II English Summary Adiana Murniati.Engl. Marvel Reny. Flores . J. I. Nur Indah P. 32: 115-9 Kontraseptif bans Scrip 1991. 1625: 23 Mengatasi asites pada sirosis hepatis N. Rita Marleta Dewi: Karakteristik Penderita Fluor Albus di Puskesmas Cempaka Putih Barat I. 1991. 286-I/PD. A. Erdina HDP. Kelainan Dasar dan Lipat Kuku RS Siregar. Sugastiasri S. J. Tantawi Djauhari: Deruatofitosis di LP Palembang.: Terfenadin untuk Pengobatan Urtikaria Krorik Imtikhananik: Dermatitis Exfoliativa M Goedadi H. bid pada hipertensi esensial Br. Erdina HDP. IGAK Rata.. Philippines and Japan Rozaimah Zain Harold: Pemantauan Efek Samping Obat Pudjarwoto T. Buditjahjono. Med.1991.: Hiperhidrosis S. July 8. 328: 732 Terapi antimiktobial pada tahun 2000 Market Letter.Hubungannya dengan Penyakit Menular Seksual Lainnya Moh. Sri Adi Sularsito: Hirsutisme dan Hipertrikosis Emiliana Tjitra. Simanjuntak. Engl. J. Med. Randy Bandy: Masalah Penyimpangan Perilaku Seksual Pemuda Remaja di Kota-kola Besar di Jawa.325:911-6 CDK.Unandar Budimulja: Mastositosis Lydia Pratanu: Geretika Medik-Diagnosis Prenatal serta Aplikasi Klinik Yovita Lisawati: Pembuatan Antibodi HCG dari Kelinci dan Evaluasi untuk Uji Kehamilan A. G. Pharmacol. Med. 1991. Erdina HDP. M. Titi Lestari S. 1991.. J. Untung SP.. Surabaya. 325:1593-8 Zidovudin untuk anak N. J. 325: 849-53 Penggunaan tranboprofilaksis BMJ 1991.suatu studi komparatif Rachmat Juwono: Tanya Jawab mengenai AIDS Sudibyo Supardi. Marvel Reny. Singapore.1991. pylori Scrip 1991. Pain S. 303: 549-50 Akibat tenggelam BMJ 1991. Saut Sahat Pollan: A Retrospective Study of Drug Eruption at the Department of Dennato-venereology. 1626: 23 Penggunaan kombinasi tetap captopril + HCT O. Arna Apkara. Sarlito Wirawan Sarwono: Aspek Psiklogik AIDS Imran Lubis: Reaksi Psikologik akibat HIV Positif pada Homaseks Asimptomatih di Australia Rachmat Juwono: Petunjuk Pencegahan Penularan HIV untuk Petugas Kesehatan Imran Lubis: Program AIDS di Australia . Engl. Mochtar Hamzah: Displasia Ektodermal Evita HF Effendi: Terapi Plasmaferesis dalam Dennatologi Tjandra Yoga Aditama: Health Situation in Indonesia.. 302: 932-3 Hipertensi sistolik dan stroke JAMA 1991.H. Clin. Was: AIDS . Cyrus H.1991. Kosasfh:. 324: 1079-83 Transmisi HIV-1 N. Purnosno: Penelitian Pemberantasan Malaria di Kabupaten Sikka. Mochtar Hamzah: Kelainan Lempeng Kuku Grace Widodo. Med. 265: 3255-64 Cedera dalam Perawatan Internat. Engl. Jakarta Djunaedi Hidajat.. Hartadi.

Engl. MASALAH SALURAN CERNA English Summary Amirmuslim Malik: Mekanisme Proteksi Saluran Cerna Julius: Patogenesis Tukak Peptik Dwi Djuwantoro: Diagnosis dan Pengobatan Tukak Peptik Sujono Hadi: Hasil Pengobatan Gastritis dengan Traksat empat kali sehari Dibandingkan dengan Traksat dua kali dua sehari Sayan Wongso. Med. 77. Harry Isbagio: Kriteria Diagnostik Penyakit Reumatik Harry Isbagio: Prinsip Dasar Penatalaksanaan Gangguan Reumatik HM Adnan: Peranan Analisis Cairan Sendi dalam Diagnosis Penyakit Sendi Harry Isbagio: Strategi Pengobatan Medikamentosa Penyakit Reumatik 4 5–9 10 – 14 15 – 17 18 – 24 25 – 31 Cermin Dunia Kedokteran No. 267: 94-9 Silent ischemia pada pria diabetik dengan neuropati otonom Br. AR Nasution. Suwarni. Engl. Suyitno. Engl. 326:1102–7 Terazosin untuk hipertrofi Prostat Scrip 1992. 151: 1350–6 NSAID topikal Scrip 1991. 1993 59 . Child. 266: 3004–7 Risiko diuretik pada diabetes mellitus Arch. Med. Widya: Penggunaan Laser dalam Akupunktur Abstrak Kanker payudara rekuren N. 1990. Mursiatno: Penelitian Pemberantasan Malaria di Kabupaten Sikka. Iwan N. 1685:5 Prevalensi migren di AS JAMA 1992. Med. 339: 317–21 Pirimetamin untuk ensefalitis toksoplasma Lancet 1992. 324: 1532-8 Deksametason untuk Meningitis N. Engl. J. 1991. Med. Boestan: Manula dan Olahraga ditinjau dari Sistim Kardiovaskular Abraham Simatupang: Proses Kepuasan Terapi dan Masalah dalam Pemakaian Obat Abstrak Antimalaria Lancet 1992. 325: 981-5 Kortikosteroid untuk nyeri pinggang bawah N. Engl. 82. 324: 1525-31 Kaptopril untuk nefropati diabetik Scrip 1991. Tobing: The Role of Occupational Therapy in Patient with Brain Tumor PT Simatupang: Rehabilitasi Pasien dengan Tumor Otak MN Janie: Pengelolaan Nyeri pada Kanker Stadium Lanjut Budi Riyanto W. Penelitian Entomologi 1 Emiliana Tjitra. 1991. 150:1389-96 45 – 48 49 – 52 53 – 55 56 – 59 62 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 63 4 5–7 8 –11 12 –18 19 – 20 21– 25 26 – 29 30 – 32 33 – 36 37 – 38 39 – 43 44 – 51 52 – 55 56–60 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 63 Harry Isbagio: Peranan Obat Antiinflamasi Non Steroid terhadap Nyeri dan Inflamasi pada Penyakit Reumatik AR Nasution: Efek Samping Obat Antiinflamasi Non Steroid Djunaedi Hidajat. 1991. 1991. benzodiazepin Scrip 1991. 338: 752 Infeksi saluran kemih JAMA 1990. 1677:25 4 5–8 9 – 13 14 – 17 18 – 21 22 – 25 26 – 28 29 – 35 36 – 40 41 – 46 47 – 49 50 – 52 53 – 56 57 – 59 62 62 62 62 62 63 CDK 78.Rini Sasanti Handayani. Asman Manaf. Med. Med. 1644: 24 CDK. Farida Zubier. Sahat Ompusunggu. Engl. J. 324: 781-8 Obat penyekat beta untuk varises esofagus N. J. Julius: Gambaran Endoskopi Saluran Cema Bagian Atas di Bagian Penyakit Dalam RSU dr. 339: 530–3 Efek samping pimozide Scrip 1991. Med. Dewi. 1992. Padang Arini Setiawati: Farmakologi dan Penggunaan Terapi Obat-obat Sitoproteksi Misbah Jalins: Pemberian Dini Makanan Lewat Pipe pada Pasien Postoperasi Bedah Digestif Djoko Juwono: Menuju Bebas Polio tahun 2000 di Indonesia Harijani AM. J. Intern. 339: 385–9 Manfaat ASI Lancet 1992. Syahrial Harun. 1679/80:24 32 – 35 36 – 39 40 – 42 43 – 46 47 – 51 52 – 56 57 – 60 62 62 62 62 62 62 – 63 63 63 63 63 63 CDK 79. 326: 781–5 Manfaat tambahan tamoxifen N. Med. 1992. Chalim Muntasir: Pengenalan Gejala Minis Tumor Otak Suwondo: Gejala Psikiatrik Tumor Otak Tri Astuti Wonoyudo: Peranan CT Scan pada Diagnosis Tumor Otak Arman Adel Abdullah: Diagnosis Tumor Otak dengan MRI FX Eddy Gunawan Yusup: Histopatologi Tumor Otak R. JMCh Pelupessy: Perkembangan Penyakit Jantung Koroner pada Anak Ratna Dewi S. Heart J. 1679/80: 25 Faktor risiko gout JAMA 1991. 1991. 1637: 25 Mikwrin Lancet 1991. Flores . Med. Adhi Djuanda: Sindrom Dermatitis-Artritis Gonoreal Diseminata Effendy Salim.: Penatalaksanaan Fase Akut Cedera Kepala Sudibyo Supardi. J. 303: 276-82 Ibuprofen sebagai anti piretik Arch. 325: 1001-7 Aritmi ventrikel N. Max Joseph Herman: Lingkungan Sosial Pasien Ketergantungan Obat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Inabah Abstrak Pengaruh antagonis H2 terhadap kadar alcohol senun JAMA 1991. Jamil. Julius: Proteksi Mukosa Lambung terhadap Obat-obat Antiinflamasi Nonsteroid Nasrul Zubir.1991. Intern. 1637: 11 Rx. 1991. Harijani A. 326: 852–6 Efek teratogenik zidovudin N. Engl. Engl. J. 264: 703-6 Melatonin Scrip 1991. Engl. 1689:23 Aspirin untuk karsinoma kolon Scrip 1991. Marvel Reny. 1992. Padang. 1992. 339: 268–71 Efek teratogenik litium karbonat Lancet 1992.2. 1991. 1671: 24 Dosis aspirin Scrip 1991. Dis.. Susworo: Peranan Radioterapi pada Neoplasma Susunan Saraf Pusat Djoko Riadi: Terapi Pernbedahan Tumor Otak Ali Shahab: Biopsi Stereotaksi Tumor Otak Martina V. 66: 313-5 Korelasi kadar kolesterol serum dengan prevalensi penyakit jantung koroner BMJ 1991. Boestan: Aspek Psikologi Pasca Serangan Jantung Hadi Hartono.Patogen Sekar Tuti: Resistensi Plasmodium falciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di Indonesia Misnadiarly: Basil Tahan Asam dan Limfadenitis Tuberkulosis Usman Suwandi: Mekanisme Kerja Antibiotik Abstrak Alkohol dalam ASI N. PENYAKIT SENDI English Summary Harry Isbagio: Pendekatan Diagnostik Penyakit Reumatik Caedlia R. 1644: 26 Sistim pelepasan obat baru Scrip 1991. 339: 333–4 Risiko ultrasonografi pada wanita hamil Lancet 1992. 66: 1037-42 Biaya advertensi obat di Indonesia Scrip 1992. TUMOR OTAK English Summary A. Med. 267: 83-6 Risiko perokok pasif JAMA 1991. J. 267: 64-9 Asiklovir untuk chickenpox Scrip 1991. J. 1671: 27 Bakteruria asimtomatik Arch. 326: 857–62 Terapi bedah kanker payudara N. J. 339: 261–4 Indometasin untuk batu empedu Lancet 1992. Marwoto: Test IFA pada Penelitian Malaria di Kepulauan Seribu Rochestri Sofyan: Produksi Antibodi K1on Tunggal dan Aplikasinya dalam Bidang Kedokteran Nuklir Dharma K. Rita M. Iwan N. 1679/80: 26 Antihemofili Scrip 1991. Med. M.

Kamallah Muis.FK. RS Parhusip: Benda Asing di Saluran Nafas 98–100 Update II (Diagnostik) Endang Haryanti Gani: Penatalaksanaan Malaria Herat Masa Kini 101–104 Sahat Sianipar: Perkembangan TeknologiRadiologi dalam Diagnosis Berbagai Penyakit 105–108 Rusli Pelly: Asma Noktumal 109–111 Pangaribuan Siregar: Metabolit Oksigen Radikal Bebas dan Ke- rusakan Jaringan Update III (Penyakit Kulit dan Kelamin) Mansur A Nasution.LIMA WINDU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Deteksi Dini Kanker dan Penatalaksanaannya Masa Kini Humala Hutagalung: Beberapa Aspek Bedah Onkologi 5–6 Gani W Tanabunan: Penerapan Biopsi Aspirasi Janun Halus dalam Deteksi Dini Kanker 7–9 Gani W Tambunan. 54: 264–7 Ceftriaxone untuk Endokarditis JAMA 1992. Gani W Tambunan: Berbagai Aspek Deteksi Dini Karsinoma Paru Makmur Husaini: Laboratorium Diagnostik Malaria Masa Kini Simposlum Satelit : Coronary Heart Disease Update T Bahry Anwar. EDISI KHUSUS ULANG TAHUN KE-25 UPF/LAB. Psyckiatr. H Sugito. dan Luka Avulsi 31 – 34 Harry Soedjatmiko: Trauma Toraks 35 – 38 Update I (Pediatri) Syahril Pasaribu: Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue 39 – 43 Atan Baas Sinuhaji. T Kemala Intan: Pengiriman dan Pengelolaan Jaringan untuk Diagnostik Histopatologik Maria Irene Toting: Toxoplasmosis dan Infertilitas Luhur Soeroso.1991) Sumengen Sutomo: Pemberantasan penyakit Demam Berdarah melalui pengawasan kualitas lingkungan Duane J.Stroke pada usia muda J Neurol. ILMU KESEHATAN ANAK RS. Jakarta 7–8 9 10 11–13 14–18 19–25 26–33 34 35–39 40–43 44–49 50–52 53–56 57–61 60 Cermin Dunia Kedokteran No. SUMBER WARAS . Tapi S Niari: Diagnosis dan Penatalaksanaan Dematofitosis Namyo O Hutapea. Perdarahan dan Hipertensi pada Obstetri Ginekologi Rusli P Barus: Infeksi dalam Kehamilan dan Persalinan 57 – 59 John Slamet Khoman: Perdarahan Hamil Tua dan Perdarahan Postpartum 60 – 63 Daulat Sibuea: Penanganan Kasus Perdarahan Hamil Muda 64 – 66 Hasdiana Hann: Hipeitensi dalam Kehamilan/Preeklamsi dan Eklamsi (Gestosis) 67 – 71 Penyakit Kardiovaskular dan Penanganannya HA Adin St Bagindo: Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Jantung Koroner di Indonesia 72 – 75 T Renardi Haroen. Obstet. RS Parhusip. RS Parhusip. 1991. 1991. Sumarl.A Global Public Health problem Thomas Suroso: Kebijakan Nasional pada Demam Berdarah Dengue Tatang Kustiman Samsi : Pengamatan klinis Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Sumber Waras (1968 . Gynecol. Gubler : Dengue Hemorrhagic Fever . 267: 264–7 Merokok dan plasenta Previa Am. Sutomo Kalman: Patofisiologi dan Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner Sutomo Kasiman. Pam dan Otak Makalah Lain Joko S Lukito. Soekimin: Strategi Deteksi Kanker Payudara Stadium Awal 10 – 13 M Fauzie Sahli: Karsinoma Serviks Uteri . Mansur A Nasution. H Soekimin. Gubler : Recent developments in Research on Dengue Hemorrhagic Fever Sutaryo : Patogenesis dan patofisiologi Demam Berdarah Dengue Sugianto Djoharman : Demam Berdarah Dengue berat dengan konfirmasi virologik Tatang Kustiman Samsi : Problematik diagnosis Demam Berdarah Dengue Sugianto Djoharman : Manifestasi klinis langka Demam Berdarah Dengue Melani Witarsa Setiawan : Peranan ultrasonografi dalam penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue Sri Rezeki Harun : Demam Berdarah Dengue: Pengalaman di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo. HMM Tarigan. LS Santoso. I Sukiman: Vaksinasi terhadap Hepatitis B 53 – 56 Infeksi. Joko S Lukito. LS Soeroso. UNIVERSITAS TARUMANAGARA DAN LUSTRUM VI UNIVERSIHal TAS TARUMANAGARA Pengantar Sambutan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia Sambutan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Universita Tarumanagara Sambutan Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Sumber Waras FK Universitas Tarumanagara Demam Berdarah Dengue Duane J. EDISI KHUSUS . 82. 165: 28–32 Penggunaan fenobarbital Pediatr. 1993 . T Renardi Haroen: Penggunaan Ca Antagonists dalam Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner Simposium Satelit : Pola Makan untuk Mencegah Kegemukan Pangaribuan Siregar: Interkonversi Zat-zat Kimia dalam Tubuh Semiloka : Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih Hesty RPO Sitompul: Program Menjaga Mutu Pelayanan Kontrasepsi Mantap Raja Malem Kaban: Pemantauan Aspek Non Medik Pelayanan Kontrasepsi Mantap Maciste Lumbanraja: Pencegahan lnfeksi pada Metode Kontrtsepsi Efektif Terpilih (MKET) 112–115 116–118 119–123 124–125 126–127 128–137 138–140 141–146 147–149 150–151 152–156 157–160 161–164 165–170 171–173 174–180 CDK 81. Zainuddin Amir.Deteksi Dini dan Penanggulangannya 14 – 16 Visum dan Hukum dalam Kedokteran Kehakiman Amar Singh : Permasalahan Visum et Repertum 17 – 21 Amri Amir: Hukum Kesehatan : The New Frontier 22 – 24 P Emma Sitompul: Pengambilan clan Pengawetan Barang Bukti Pemeriksaan secara Laboratoris Kriminalistis 25 – 27 Gawat Darurat Bedah S Soewandi: Akut Abdomen pada alat Pencernaan Orang Dewasa 28 – 30 Buchari Kasim: Trauma Wajah. Adril A Hakim: Penatalaksanaan Memar Otak (Contusio Cerebri) 82 – 83 A Sjukri Batubara: Koma 84 – 87 Darulkutni Nasution: Stroke Hemoragik : Perdarahan Intraserebral 88 – 89 Gawat Darurat Penyakit Paru H Luhur Soeroso. Juwono. Gontar A Siregar: Pola Payah Jantung di 76 – 78 Rumah Sakit Dr Pimgadi Medan Gawat Darurat Penyakit Syaraf LBM Sitorus: Status Epileptikus 79 – 81 Syawalludin Nasution. Rusyda N: Efusi Pleurasif 95 – 97 Sugito. AH Sutanto: Mekanisme Diare Infeksius Akut 44 – 46 H Ridwan Muchtar Daulay: Kendala Penanganan Infeksi Saluran Pemafasan Akut (ISPA) 47 – 52 Penyakit Hati dan Tukak Lambung EN Kosasih. Rosiana R Ramsi: Manifestasi Klinis Infeksi HIV Mansur A Nasution. 7(4): 243–8 63 63 63 63 CDK 80.1991. T Bahry Anwar. Zulilham: Penatalaksanaan Gejala Duh Tubuh Uretra Diana Nasutlon: Alergi dan Iritasi Kulit pada Keadaan Sehari-hari Kursus dan Demonstrasi RJP Oloan SM Siahaan: Resusitasi Jantung. Neurol. Luka Bakar. Neurosurg. Usman: Hemoptisis Masif 90 – 94 Sugito. J. Delyuzar.

69 .Kulit (II) CDK No.Masalah Anestesi CDK No. H.Penyakit Saraf (Sambungan) CDK No. JJ Setiawan. 70 .Masalah Saluran Cams 70 eks 40 eks 40 eks 50 eks 25 eks 20 eks 25 eks 120 eks 140 eks 180 eks 90 eks 120 eks 400 eks 50 eks 70 eks 320 eks 520 eks 580 eks 380 eks Sekiranya sejawat masih memerlukan edisi tersebut dapat memberitahukan kepada kami melalui surat. Sachro : Danam Berdarah Dengue: Pengalaman di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS DR. 67 . 77 . Jennings : Study of human peripheral blood leukocytes from Dengue immune persons. 55 . Setajo Noegroho : Histoplasmosis di Rumah Sakit Sumber Waras Emiliana Tjitra : Pengobatan Malaria yang Resister terhadap Klorokuin Ultrasonografi Melani W.Bedah Mikro CDK No.Puhnonologi CDK No.Tumor Kepala dan Leher CDK No. 52 . Gunarsa : Pendekatan psikologis terhadap anak yang dirawat dan sikap orang tua Simposium Satelit: Batuk Kronik pada Anak Herman Sidharta : Batuk kronik pada anak Oeml Alifa Tadjoeddin : Batuk kronik pada anak ditinjau dari bidang THT E. 78 . kami akan mengirimkannya secara cuma-cuma selama persediaan masih ada.Kardiovaskular CDK No.Imunisasi I CDK No. sebagai berikut : CDK No. Setiawan. Susanto. 82. 71 . Semarang Ratna Tan : Dengue virus surveillance at Sumbar Waras Hospital September 1987 through August 1992 Peter Donald O'Hanley : Potential pathogenic roles of acute inflammatory cytokines and HLA status in DHF Gerald B.Malaria II CDK No. 65 . 53 . Digdowirogo: Endoskopi pada pendarahan gastrointestinal Simposium Satelit: Hematuri pada Anak Setiadharma Selopranoto: Hematuri pada anak:Pendekatan diagnosa Linda Supardi : Hematuri pada anak: Aspek radiologi Melani Witarsa Setiawan : Hematuri pada anak: Aspek sonografi Zainal Abidin : Hematuri pada anak: Aspek urologi Simposium Satelit: Psikologi Anak Singgih D. Katyadi.Kulit (I) CDK No. Redaksi Cermin Dunia Kedokteran No.Simposium Upaya Peningkatan Pelayanan Rumah Sakit CDK No. 33 .: Demam Berdarah Dengue: Pengalrnan di Bagian IlmuKesehatan Anak RS Hasan Sadikin. relationship between FC receptor expression and virus growth Penyakit Tropis Mei-Hwei Chang : Hepatitis in children in Asia Adnan S. 43 . Wiharta : Hepatitis pada bayi Mei-Hwei Chang : The protective efficacy of Recombinant Hepatitis B vaccine in infants of HBeAg positive HbsAg carrier mothers in Taiwan Komalarini : Diare di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Sumber Waras Anni C.Khusus .Gizi CDK No. Purnadi K. 17 . 76 . 74 . 49 . Wulur : Pengalaman Ultrasonografi Abdomen di RS Sumber Waras Willem Baerts : Echo Encephalography of newborn infants 62–65 66–69 70 71 72 73–74 75–78 79 80–82 83 84–85 86–89 90–95 96–98 99–103 Mei-Hwei Chang : USG examination of the hepatohiliaty Indra Wiradharma : Indikasi USG ginekologi pada anak Haryanto Sidharta : Ultrasonografi intervensi tumor perut Endoskopi Mei-Hwei Chang : Helicobacter pylori & duodenal ulcer in children Laurentius A.B. Sie: Rotavirus in pediatric patients at Sumber Waras Hospital Mei-Hwei Chang : Hepatocellular Carcinoma in children S.Insomnia CDK No.Tumor Otak CDK No. 73 .M. I.Azhall MS. Gunarsa : Faktor psikogenik pada gangguan organik 155–156 nyeri perot berulang dan menahun pada anak ANDA MEMBUTUHKAN CERMIN DUNIA KEDOKTERAN EDISI LAMA ? Di dalam persediaan kami masih terdapat Cermin Dunia Kedokteran Edisi lama. 66 .Kesehatan dan lingkungan CDK No.Seminar Penyakit Tak Menular I CDK No. 1993 61 .Imunisasi II CDK No.Penyakit Sandi CDK No. Bandung Aaggoro D. Dadi Suyoko : Konsep baru penatalaksanaan Asma Bronkial pada anak 104–106 106–109 110–111 112 113–114 115–120 121–125 126–128 129–131 132–134 135–136 137–140 141–143 144–148 Simposium Satelit: Nyeri Perut Berulang dan Menahun pada anak Hansa Wulur : Nyeri perut berulang dan menahun pada anak 149–154 Singgih D. Lesman : Endoscopic Retrograde Chlolangio Pencreatography (ERCP) diagnostik dan terapeutik pada Obstruksi Biller Hadjat S. 79 .

Sarjana dari Rusia merasakan bahwa kedua rekannya dariBarat tadi hendak mengejek keadaan di negerinya. di toko-toko penjual daging di Rusia yang tinggal hanya tulang-tulang sapi saja!" OLH Jakarta 62 Cermin Dunia Kedokteran No. Soalnya. Ali : "Aidi (seorang petugas kesehatan di puskesmas). Dokter : Yang dituruti toh yang masuk akal lho bu! Emiliana Tjitra Jakarta PAKAI KALENDER Dalam program KB banyak metode kontrasepsi yang diperkenalkan kepada masyarakat. Denpasar PENCEGAH ABORTUS Seorang ibu hamil muda dengan pendarahan datang berobat. Sambil meningkatkan nada suaranya ia berkata: "Di Rusia caracara yang kalian pakai sudah lama ditinggalkan.." Kedua sarjana dan negara makmur tadi balas menanya. Dokter : (Pada waktu akan dilakukan pemeriksaan fisik) Lho. Penderita : (Dengan malu mengambil paku tersebut) Katanya untuk mencegah keguguran. kalau kemauan orangtua tidak dituruti." ungkapnya dengan polos. tetapi karena perut ibu tertusuk paku ini. Untuk yang sederhana dapat dilakukan oleh akseptor sendiri. seminggu yang lalu si ibu mengobatkan anak balitanya pada dokter tersebut. "Apa kabar mengenai putranya.HUMOR ILMU KEDOKTERAN TIADA KABAR Seorang dokter menyapa seorang ibu yang sedang berbelanja di pasar swalayan. Penderita : Susah dokter. Berau SIAPA YANG LEBIH MODERN???? Tiga usahawan. 82. Refinaldi Sambaliung." Aidi : "Tahu nggak. Di Rusia sapi-sapi dibunuh dengan meledakkannya dengan bom!" "Dengan bom?????. Amerika Serikat dan Rusia berkumpul sewaktu rehat kopi (coffee break) sebuah konperensi internasional tentang peternakan. cara pakainya ?" Ali : "Tahu !" Aidi : "Caranya bagaimana ?" Ali : "Setiap kami kumpul. Dok! Yang ada sekarang cuma kuburnya!" Dr. Seperti yang diungkapkan pada dialog di bawah ini." Sarjana dari Amerika Serikat langsung berreaksi: "Wah. Parasitologi FK Unud. Dan yang paling sederhana hingga yang paling rumit. "Ya. 1993 . dengan bom. masing-masing dari Inggris. Sedangkan yang rumit. yang temyata di lapangan juga tak jarang mengalami distorsi informasi. cara itu sudah ketinggalan jaman. yang tentu berkonsultasi dulu dengan dokter atau bidan. Lihat saja. istri kamu pakai KB apa ?" Ali : "Pakai kalender. Salah satu cara sederhana adalah penggunaan kalender. apa ini bu? (sebuah paku dengan panjang 12 cm terletak vertikal di umbilicus). tapi sapi-sapi dibunuh dengan tembakan laser!" Kedua sarjana dari Inggris dan Amerika Serikat lantas berpaling kepada rekannya dari Rusia dan dengan nada agak mengejek menanyakan bagaimana caranya membunuh sapi di Rusia." Aidi : "Au………. Sambil menikmati kopinya sarjana Inggris bercerita: "Di Inggris pembunuhan sapi di tempat pemotongan hewan berlangsung sangat modern. Bu? Apa dia sudah sembuh sekarang?" "Tidak ada kabarnya lagi tentang anak saya. Dokter : Ibu ini bagaimana? Bukan kegugurannya nanti yang menjadi masalah. akan tetapi binatang tadi dibunuh dengan kejutan listrik. Ketut Ngurah Lab. pada hal sudah ikut KB. Di negeri saya tidak dipakai kejutan listrik lagi. lebih banyak peranan tenaga kesehatan. istri saya kok masih hamil. yaitu tidak dipotong lagi dengan pisau. kalendemya saya alaskan di tempat tidur.

uremia hemolitik./kgbb. 82. Rasa mual dinilai menurut skala 1 – 10 dan ada tidaknya muntah dicatat. tidak ada hilang kesadaran. Ternyata vitamin B6 dapat mengurangi beratnya rasa mual dan juga kejadian muntah secara bermakna di kalangan wanita hamil. J. 31 wanita hamil mendapat 3 dd 25 mg. biayanya akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan antagonis H2. Efek samping yang muncul berupa hipoglikemia berat pada pasien manula dengan penurunan fungsi ginjal.1) dibandingkan dengan yang menerima plasebo (rata-rata 1. suatu percobaan telah dilakukan untuk membandingkanefektivitasplasma-exchange dengan pemberian imunoglobulin pada 150 pasien yang menderita sindrom Guillain-Barre kurang dari dua minggu PEMILIHAN OBAT Departemen Kesehatan Belgia telah mengeluarkan informasi yang bertujuan agar para dokter memperoleh pedoman pemilihan obat yang sejenis. 78: 33–6 Hk CEDERA KEPALA DI KALANGAN OLAHRAGAWAN Colorado Medical Society telah mengeluarkan pedoman untuk menangani kasus-kasus cedera kepala di saat olahraga: Grade 1 : confusion (bingung) tanpa amnesia. Gyneco1. termasuk 3 meninggal dunia dilaporkan berkaitan erat dengan penggunaan temafloxacin. Scrip 1992. dan turun menjadi hanya 8 wanita setelah terapi. • Berhenti bertanding.1991. Pada sindrom Guillain-Barre akut. Perbaikan tersebut dirasakan setelah 41 hari pada kelompok plasma-exchange dan setelah 27 hari pada kelompok imunoglobulin (p = 0. Efek samping yang berat ini muncul setelah. Di antara 31 wanita di kelompok terapi.024. tetapi efek ini tidak muncul pada periode uji coba pemasaran yang dilakukan Abbott.ditulisnya sekitar 300.01). Inpharma. sedangkan omeprazol untuk ulkus duodeni bila pengobatan dilakukan selama 4 minggu. terdapat pengurangan derajat mual yang bermakna pada wanita yang mendapat vitamin B6 (ratarata 4. Irlandia.2) (p < 0. dan saat ini telah beredar banyak preparat yang memenuhi syarat dengan harga yang berbeda-beda. Lima puluh reaksi berat. dari segi biaya antagonis H2 merupakan pengobatan yang dianjurkan untuk ulkus gaster. Temafloxacin baru saja dipasarkan di AS selama 3 bulan dan juga sudah beredar di UK.3 ± 2. gangguan ginjal yang memerlukan dialisis dan reaksi alergi yang menyebabkan gangguan pemapasan. 1992. 95% CI: 3–34%). vitamin B6 selama 3 hari dan 28 wanita hamil lainnya mendapat plasebo dengan cara yang sama. 1993 63 . tidak ada perbedaan bermakna dalam hal rasa mual.000 resep temafloxacin. 1693: 5 Brw VITAMIN B6 UNTUK EMESIS GRAVIDARUM Vitamin B6 telah diteliti efektivitasnya terhadap mual dan muntah selama kehamilan. Swedia dan Argentina. Sedangkan untuk pengobatan ulkus. dan kelompok imunoglobulin menderita lebih sedikit komplikasi dan lebih sedikit memerlukan pernapasan buatan./ kgbb. sedangkan bila lebih dari 4 minggu. • Boleh kembali bertanding bila tidak ada gejala timbul sclama sedikitnya 20 Cermin Dunia Kedokteran No. Med. sedangkan setelah terapi. Obslet. Ternyata perbaikan kekuatan ditemukan pada 34% pasien yang menerima plasma-exchange dan pada 53% pasien yang menerima imunoglobulin iv (p = 0. Jerman.ABSTRAK ABBOTT MENARIK OMMFLOX (TEMAFLOXACIN) DARI PASAR Abbott Laboratories secara sukarela menarik dari pasaran produk baru anti bakteri berspektrum luas Omniflox® (Temafloxacin) menyusul dilaporkannya efek samping yang serius yang ditimbulkan oleh obat ini. Sedangkan di kelompok plasebo.4 g. Pengobatan hipertensi dengan penyekat beta yang dapat diberikan sekali sehari merupakan pengobatan yang dianjurkan.05). muntah didcrita oleh 15 wanita sebelum terapi. N. muntah diderita oleh 10 wanita sebelum terapi dan menjadi 15 wanita setelah terapi.) atau lima dosis imunoglobulin (0. Secara acak mereka menerima lima kali plasmaexchange (masing-masing 200–250 ml./hari). Sebelum terapi. Penarikan temafloxacin ini merupakan langkah lanjutan setelah penyelidikan yang dilakukan oleh FDA yang menyimpulkan bahwa resiko efek samping yang serius terbukti disebabkan oleh temafloxacin dan lebih berat dibandingkan antibakteri kuinolon lainnya. p 27 VSO dan tidak bisa berjalan sendiri. Italia. 326: 1123–9 Hk TERAPI SINDROM GUILLAINBARRE Sindrom Guillain-Barre merupakan polineuropati yang diduga berkaitan dengan reaksi imunologik.8 ± 2. • Periksa segera dan setiap 5 menit kemudian untuk mengetahui gejala amnesia dan gejala pascatrauma lain. Engl. 13 Juni 1992. penggunaan imunoglobulin intravena sedikitnya sama efektifnya dengan plasma-exchange.

1 g/ mmHg pada penggunaan diuretik. Pola penulisan resep polifarmasi serta perubahan-perubahan farmakokinetik dart farmakodinamik menyebabkan tingginya frekuensi efek samping (6–14%) yang dilaporkan pada kelompok manula ini. • Periksa gejala/tanda kelainan intrakranial. tetapi jumlah obat yang diabsorpsi dari terfenadine 120 mg relatif tidak dipengaruhi dengan adanya makanan kaya lemak dibandingkan keadaan puasa. Di Indonesia terfenadine tersedia dengan merek dagang Nadane®.ABSTRAK menit. 1993 .4 g/mmHg pada penggunaan antagonis kalsium dan sebesar 1. 1721: 4 vso Diuretik Penyekat beta Penyekat kalsium Penyekat ACE ++ ++ + ++ + – – + – ++ – – + – + – ++ + ++ + + + ++ + + – + ++ Tidak ada Penyakit jantung Angina Asthma/COPD Gangguan vaskular perifer Gout Diabetes melitus Keterangan : ++ : pilihan pertama + : alternatif – : umumnya kontraindikasi Scrip 1992. • Dapat kembali bertanding setelah 2 minggu tanpa gejala. lakukan pemeriksaan neurologik lengkap. • Rawat bila terdapat kelainan neurologik. Grade 2 : confusion dengan amnesia.6%) dan obatobat bronkopulmoner (4. 1729: 27 Brw bahwa walaupun kadar puncak rata-rata (C max) meningkat (tidak bermakna) dan waktu mencapai kadar puncak rata-rata (t max) diperlambat secara bermakna.9 g/mmHg pada penggunaan betablockers. • Berhenti bertanding. 1694:25 Brw 64 Cermin Dunia Kedokteran No. Grade 3 : hilang kesadaran • Bawa segera ke rumahsakit.3 g/mmHg.8%). Scrip 1992. sebagai berikut : Penyekat Penyerta BIOAVAILABILITAS TERFENADIN TIDAK DIPENGARUHI OLEH MAKANAN Suatu studi cross-over pada 24 sukarelawan pria sehat menunjukkan KONSUMSI OBAT MANULA DI ITALIA Empat puluh persen penduduk Italia yang berumur di atas 70 tahun mengkonsumsi 4–6 macam obat sehari dan 12% mengkonsumsi lebih dari 9 obat. diuretik (8. pemeriksaan diulang keesokan harinya. Bjorn Dahlof dari Swedia melaporkan meta-analisis dari 109 penelitian mengenai antihipertensi yang melibatkan 2357 pasien. yaitu sebesar 2. perubahan status mental. • Dapat kembali bertanding setelah 1 minggu tanpa gejala. dipulangkan dengan pengawasan keluarga. Spanyol beberapa waktu yang lalu. Dr.5%). 1. Obat-obat yang paling banyak diresepkan adalah antiangina dan kardiotonik (15. perburukan gejala pascatrauma atau adanya kelainan pada pemeriksaan neurologik memerlukan penilaian/konsultasi dengan ahli saraf atau perawatan. Hilang kesadaran yang berlanjut. Dari analisis tersebut. p 24 vso PEMILIHAN ANTIHIPERTENSI Para peneliti di UKMedicalResearch Council telah mengeluarkan rekomendasi penggunaan antihipertensi di kalangan usia Ian jut. Scrip 1992. 266(20): 2869 Hk MANFAAT TAMBAHAN ACE-INHIBITOR Dalam pertemuan International Society of Hypertension yang diadakan di Madrid. Inpharma. tidak ada hilang kesadaran. Pengurangan hipertrofi ventrikel kiri merupakan manfaat tambahan karena mengurangi risiko kardiovaskular. 82. temyata ACEinhibitor mempunyai efek mengurangi hipertrofi ventrikel kiri yang terbaik dibandingkan dengan golongan antihipertensi lain. 13 Juni 1992. dibandingkan dengan penurunan sebesar 0. JAMA 1991. bila tidak ada. Perbedaan farmakokinetik di atas secara klinik tidak bermakna.

Cara pencegahan infeksi nosokomial yang terpenting : a) Penggunaan alat steril b) Perilaku petugas medik/paramedik c) Penggunaan antibiotik pencegahan d) Sterilitas ruangan e) Isolasi pasien 6. Kuman utama pada infeksi nosokomial : a) E. Bahan yang biasanya tidak diperlukan pada surveilans mikrobiologik infeksi nosokomial : a) Pus luka operasi b) Usapan ujung kateter intravena c) Usapan ujung kateter urin d) Urin e) Feses 9. kecuali : a) Pasien sendiri b) Pasien lain c) Makanan/minuman pasien d) Dokter/paramedik e) Tanpa kecuali 5. Yang tidak termasuk dalam kegiatan Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial : a) Surveilans b) Pengobatan c) Pelaporan d) Pemantauan e) Semua termasuk 2. Ambang batas pencemaran ruang bedah : a) 0 CPU/l5' b) 5 CPU/10' c) 10 CPU/10' d) 5 CPU/15' e) 10 CPU/15' 7. tuberkulosis d) Proteus e) Pseudomonas 10. coli b) Stafilokokus c) Streptokokus d) Proteus e) Pseudomonas 8. kecuali : a) Belum ada tanda infeksi pada saat awal perawatan b) Tanda infeksi muncul setelah 3 x 24 jam setelah dirawat c) Infeksi tersebut bukan bagian dari penyakit awal d) Dapat berupa infeksi saluran kemih e) Tanpa kecuali 4. Sumber infeksi nosokomial adalah berikut ini.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. kecuali : a) Penyakit dasar b) Status gizi pasien c) Pendidikan pasien d) Tindakan medik e) Pengobatan pasien 3. 1993 65 . Kebiasaan cuci tangan yang kurang baik ialah : a) Mencuci tangan sebelum tindakan b) Mencuci tangan setelah tindakan c) Menggunakan air waskom d) Menggunakan antiseptik e) Menggunakan sabun biasa Cermin Dunia Kedokteran No. Faktor-faktor betikut ini dapat mempermudah terjadinya infeksi nosokomial. Diagnosis infeksi nosokomial ditegakkan bila terdapat tanda di bawah ini. Kuman patogen yang penting di kalangan petugas kesehatan dalam kaitannya dengan kemungkinan infeksi nosokomial : a) Stafilokokus aureus b) Streptokokus hemolitikus c) M. 82.