ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA HARRY A.

ASROEL Fakultas Kedokteran Bagian Tenggorokan Hidung danTelinga Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja 1,2,3. Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun 4 dan jarang pada usia diatas 25 tahun 2. Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak5 dan 0,05% dari seluruh tumor kepala dan leher 1,2. Dilaporkan insidennya antara 1 : 5.000 ± 1 : 60.000 pada pasien THT 2. Di RSUP. H. Adam Malik dari Januari 2001 ± Nopember 2002 dijumpai 11 kasus angiofibroma nasofaring. Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan 1. Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal 1,2. Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang1,6. Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna7. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid 6. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak 5,6. Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80 -90%); merupakan gejala yang paling sering, diikuti epistaksis (45 -60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi 2-6. Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif6. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos, CT scan, angiografi atau MRI 2-6. Dijumpai tanda Holman-Miller pada pemeriksaan x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila4. Biopsi tidak dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik pemeriksaan radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat ketepatan yang tinggi 3. Tumor ini dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan lain -lain 6. Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren, stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus yang rekuren2,4. Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan transformasi maligna 2. Kami laporkan satu kasus angiofibroma nasofaring belia pada anak usia 12 tahun yang dilakukan pembedahan dengan pendekatan midfacial degloving. Laporan Kasus ( MR : 22-50-04 ) Seorang anak laki-laki, TA, berusia 12 tahun, kiriman seorang dokter spesialis THT di Lubuk Pakam, datang ke Poli klinik THT RSUP.H. Adam Malik pada tanggal 19 Oktober 2002 dengan keluhan utama : sering keluar darah dari hidung. Dari allo ›2002 Digitized by USU digital library 2 anamnesis diketahui bahwa keadaan ini dialami penderita sejak + 1 tahun yang lalu, hilang timbul disertai hidung tumpat. Sakit kepala (-), pendengaran berkurang (-). SP : Normal SL : Telinga : normal Hidung : RA : mukosa merah muda disertai sekret dan krusta darah (+) RP : massa kemerahan menutupi nasofaring Tenggorokan : normal

.Inj.Inj. . ditarik ke arah superior sampai glabela.Septum dijahit dengan metode angka 8 dan jahitan matras selang-seling. . .Dimasukkan 2 buah kateter pada nares kiri-kanan dan dikeluarkan pada sub labial. Sinus maksilaris kanan dan kiri jernih dengan dindingnya yang intact. Diagnosis : Angiofibroma nasofaring Rencana : pembedahan dengan pendekatan midfacial degloving.Hasil CT scan nasofaring / paranasal sinus tanggal 7 Oktober 2002 : Dilakukan regular scan 5 mm melalui daerah sinus / nasofaring. Dalam kavum nasi kanan tampak soft tissue mass yang besar dan meluas sampai daerah atas nasofaring menekan septum nasi ke kiri. Persiapan darah WB 1000 cc Dilakukan operasi midfacial degloving pada tanggal 29 Oktober 2002. Antalgin 250 mg / 8 jam (k/p) Hb post op : 12.Kontrol perdarahan. dilakukan pemotongan septum mulai dari spina nasalis anterior sampai sutura nasofrontal. .8 gr % Follow up : .Daerah operasi dicuci dengan H 2O2 3% dan NaCl fisiologis.IVFD cairan 2:1 64 tts / menit mikro . Pada daerah nasofaring tidak tampak soft tissue mass. .Periosteum di luksir sampai fossa kanina kiri-kanan. Persiapan : 1. massa tumor ditarik keluar dan didapatkan massa lunak dengan ukuran + 6 x 5 x 2 cm dikirim ke bagian PA RSUP. Ditemukan tumor mengisi nasofaring. .Inj.Daerah operasi disucihamakan dengan povidone iodine dan al kohol 70%.Perdarahan + 1000 cc. . Pemeriksaan darah lengkap 2.Setelah diidentifikasi. . . Konsul Anestesi 5.Inj. Gentamycin 60 mg / 12 jam . .Penderita ditidurkan di meja operasi dengan infus dan ETT terpasang. Laporan operasi : .Dilakukan insisi pada mukosa sub labial mulai dari tuberositas maksila satu sisi sampai periosteum. Adam Malik. ›2002 Digitized by USU digital library 3 . .Insisi sub labial dijahit dengan vicryl 3/0. .Inj. .Dipastikan lokasi dari massa tumor melalui apertura piriformis dan rongga mulut.Setelah lepas. transfusi darah WB durante operasi sebanyak 2 pack. dilakukan infiltrasi pehacain 2% + NaCl 0. Asam traneksamat 150 mg / 8 jam . .Dipasang tampon bellocq dan tampon anterior. kemungkinan suatu Angiofibroma. fossa rosenmuller dan retrofaringeal plane tampak normal.Mukosa hidung diinsisi sekeliling pinggir bawah nares anterior dan lateral apertura piriformis.Dilakukan palpasi dinding sinus maksila kanan dengan jari tangan dinding intak. Ampicillin 500 mg / 6 jam . .9% 2:3 pada sub labial kiri -kanan sampai tuberositas maksila kiri-kanan. dimasukkan elevatorium melalui apertura piriformis dan massa tumor dilepaskan dari tempat lengketnya dibantu dengan jari tangan yang dimasukkan melalui mulut. Deksametason 1/2 ampul / 12 jam (1hari saja) .H.Dibuat landmark pada daerah frenulum dengan membuat tegel. Foto toraks 3. Konsul ke bagian Ilmu Kesehatan Anak 4.KU post op : baik Terapi : (advis dari bagian Ilmu Kesehatan Anak) : . Kesimpulan : kesan tumor kavum nasi kanan yang luas. Paranasal sinus kanan / kiri yang lain tampak jernih.

Th/ : diteruskan Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor : Kesimpulan : Angiofibroma Tanggal 31-10-2002 ( hari III post op ) KU : nyeri pada daerah operasi (+).Stage IA : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring .5.Adam Malik KU : Baik SL : RA : krusta sudah berkurang Th/ : Cuci hidung Roborantia Dianjurkan kontrol 3 hari kemudian. seperti : menghindari timbulnya jaringan parut pada wajah. tetapi sewaktu dilakukan palpasi pada dinding sinus maksila kanan durante operasi ternyata dinding sinus maksila kanan intak. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel reabsorpsi seperti Gelfoam. Tanggal 7-11-2002 ( hari X post op ) Os kontrol ke Poliklinik THT RSUP. berdasarkan gambar CT scan diduga telah terjadi invasi ke sinus maksila kanan. badan terasa lemah. Ada beberapa pendekatan teknik operasi yang dikemukakan oleh para ahli seperti lateral rhinotomy. badan masih terasa lemah. transpalatal. Pada penderita ini digunakan pendek atan midfacial degloving yang mempunyai beberapa keuntungan. Tampon dibuka perdarahan (-) Th/ : diteruskan Tanggal 1-11-2002 ( hari IV post op ) KU : nyeri pada daerah operasi sudah berkurang.3. Pada penderita ini. Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch 2. Diskusi Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya pada laki-laki.Stage IB : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring . Klasifikasi menurut Sessions sebagai berikut : .6. biasanya selama masa prepubertas dan remaja2.3. badan terasa lemah. SL : RA krusta (+) Th/ : obat injeksi stop Co-Amoxiclav syrup Forte 3 x cth I Asam mefenamat syrup 3 x cth I Roborantia Tanggal 5-11-2002 ( hari VIII post op ) KU : Baik SL : RA : krusta (+) Th/ : Co-Amoxiclav syrup Forte 3 x cth I Roborantia Os PBJ dan dianjurkan cuci hidung di rumah dengan NaCl fisiologis dan kontrol 2 hari kemudian. memberikan penglihatan yang baik pada daerah operasi dan memberikan pembukaan bilateral secara bersamaan8. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing.4. Etiologinya diduga ada hubungannya dengan hormonal 2. Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon dan Terbal 2. transmaxillary dan midfacial degloving 2. Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan selama operasi2. Perempuan ›2002 Digitized by USU digital library 4 yang didiagnosis dengan angiofibroma nasofaring belia harus mengikuti tes genetik 2. dibuat sistem staging.5. Untuk menentukan perluasan tumor.Tanggal 30-10-2002 ( hari II post op ) KU : nyeri pada daerah operasi (+).H.

pipi.Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus. . Terdapat jaringan limfoid pada dinding faring lateral dan pada resessus faringeus. ›2002 Digitized by USU digital library 5 ENDAHULUAN Angiofibroma nasofaring (angiofibroma nasopharynx/ nasopharyngeal angiofibroma) adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak namun secara klinis bersifat ganas karena mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya. Tetapi istilah juvenile ini kurang tepat karena neoplasma ini terdapat juga pada pasien yang lebih tua. sinus paranasal dengan destruksi tulang. sebabnya disebut angiofibroma nasofaring (³Juvenile nasopharyngealangiofibroma´).Stage II :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila.Stage IIA : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.Stage IIIA : Mengerosi dasar tengkorak. chiasma optikum dan/atau fossa pituitary. Pada yang dinding secara posterior meluas klinis ke arah mempunyai kubah adalah arti jaringan penting. . orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus. . yang dikenal sebagai fossa Rosenmuller. ANATOMI Ruang nasofaring yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur 1. .Stage IIB : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita. Kesimpulan Telah dilaporkan satu kasus angiofibroma nasofaring belia stage I / I A pada seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang telah dilakukan pembedahan dengan pendekatan midfacial degloving dan berhasil baik. Jinak tetapi merupakan tumor pembuluh darah lokal yang agresif dari anak Itulah atau remaja laki-laki. adenoid. . 2. Koana pada posterior rongga mole. tumor pernah ini juga dilaporkan juga pada perempuan tetapi sangat belia jarang. serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan. . Klasifikasi menurut Fisch : .Stage IIIB : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus. . seperti ke sinus paranasalis. . refleksi mukosa faring di atas bagian kartilago saluran tuba eustachii yang berbentuk bulat dan menjulang tampak sebagai tonjolan seperti ibu jari ke dinding lateral nasofaring tepat diatas perlekatan palatum 4. hidung.Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi. 3. . perluasan intrakranial yang minimal. mata dan tengkorak. Torus tubarius.dengan perluasan ke satu sinus paranasal. nasofaring tanpa destruksi tulang.Stage III :Tumor menginvasi fossa infra temporal. Pada penderita ini berdasarkan klasifikasi di atas maka dapat ditentukan staging penyakitnya yaitu stage I / I A.

05% dari tumor kepala dan leher. Stromal positif dan nukleus endotelial immunostaining. Jaraknya. Bukti ini secara langsung memperlihatkan bahwa reseptor seks-hormon muncul pada angiofibroma dengan menggunakan teknik sensitive immunocytochemical dan mencatat populasi sel yang mana memperlihatkan reseptor tersebut.3% positif andibodi RP dan negatif dengan antibodi dengan RE. Harrison (1976) mencatat status dari satu per 15000 pasien pada Royal National Throat. termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glossofaringeus. 1948). vena jugularis interna. Angiofibroma Nasofaring jarang pada pasien lebih dari 25 tahun. Struktur pembuluh darah yang penting yang letaknya berdekatan termasuk sinus petrosus inferior. Di London. Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat bagian lateral atap nasofaring. 24 angiofibroma nasofaring diperoleh dari jaringan penyimpanan. dan kemudian tidak diaktifkan dalam jaringan. Faktor hormonaldikemukakan sebagai penyebabnya. 8. dan reseptor progesteron (RP). Banyak bukti memperlihatkan secara langsung adanya reseptor seks-hormon. cabang-cabang meningeal dari oksiput dan arteri faringea asendens. 6. 1976). bagaimanapun bervariasi antara umur 7 dan 19 tahun (Martin. 8. seperti pada Timur Tengah dan Amerika. Walapun angiofibroma merupakan tumor jinak yang paling sering pada nasofaring. Salah satu diantaranya adalah teori jaringan asal. RP. dan spinal assesori. TGF-1 mengaktifkan proliferasi fibroblas dan dikenal sebagai induksi angiogenesis. dipecah untuk menghasilkan bentuk aktif. Hasil menetapkan bukti langsung pertama adanya antibodi dari reseptor androgen pada angiofibroma. Penelitian lain menunjukkan adanya faktor pertumbuhan yang memediasi proliferasi agresif sel stromal dan angiogenesis. menunjukkan adanya RA pada 75% dari 24 kasus. Foramina kranial. New York. dan foramen hipoglossus yang dilalui saraf hipoglossus. TGF-1 aktif diidentifikasi pada sel nukleus stromal dan sitoplasma dan pada endotelium kapiler pada semua spesimen angiofibroma nasofaring juvenile. reseptor estrogen (RE). . Martin. tetapi jumlahnya kurang dari 0. Ehrlich dan Abela. Nose and Ear Hospital dimana satu kesimpulan bahwa lebih sedikit angiofibroma di London dibanding di New York. berbagai macam teori banyak dikemukakan.5. yang terletak berdekatan dan dapat terkena akibat perluasan dari penyakit nasofaring. seperti reseptor androgen (RA). dan studi imunositokimia menu njukkan dengan antibodi pada RA. pada tumor ini. Sekarang ada kesepakatan bersama bahwa ini semata-mata penyakit dari laki-laki dan umur rata-rata yang terkena sekitar 14 tahun (Harrison. ETIOLOGI Etiologi tumor ini masih belum jelas. Ehrlich dan Abels (1948) melaporkan rata-rata setiap tahunnya dari satu atau dua pasien untuk 2000 pasien yang diobati pada Head and Neck Service of The Memorial Hospital. 7. Ostium dari sinus-sinus sfenoid. dan RE. vagus. INSIDENS Insiden dari angiofibroma tinggi dibeberapa bagian dari belahan dunia. yaitu pendapat bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap rongga hidung. Transforming Growth Factor-1 (TGF-1) atau faktor pertumbuhan pengubah-1 adalah polipeptida yang disekresikan dalam bentuk inaktif.

jadi batas endotelial sel terdorong saling berlawanan arah seperti kabel. : i. Bagian yang terlihat di nasofaring dan karena itu dibungkus oleh membran mukous tetap berwarna merah muda. PATOLOGI Secara makroskopik. sfenoidales dan ethmoidales semua dapat diserang. Komponen fibrosa biasanya padat dan seluler. nekleolus prominent. e. Dari sini tumor bertumbuh masuk kedalam kavum nasi. Dapat juga masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior. Mitosis tidak ada. Ada Cavum kranial. kedalam sella. GEJALA Gejala 1. Awalnya dikira muncul dari akar nasofaring atau dinding anterior dari tulang sfenoid tetapi sekarang dipercaya muncul dari bagian posterior dari kavum nasi dekat dengan tepi dari foramen sphenopalatina. sedangkan bagian yang keluar ke daerah yang berdekatan ekstrafaringeal sering berwarna putih atau abuabu. menyebabkan perdarahan yang berlimpah. fossa infratemporalis dan pipi. ii. angiofibroma nampak sebagai keras. Cavum nasi menyebabkan obstruksi kedalam nasi.LOKASI Lokasi dari tumor masih menjadi perdebatan. Mikroskop elektron memperlihatkan karakteristik dari granula kromatin padat terdistribusi dalam nukleus dari fibroblas. Paling sering mengenai anak dan remaja KLINIK : laki-laki. Sel stromal. Karena dindingnya hanya dari lapisan elastik dan lapisan otot halus. nasofaring dan kedalam fossa pterygopalatina. c. Orbita memberikan gejala prodtosis dan deformitas ´face-frog´. Secara histologik. Tumor yang berlangsung lama. Dapat meluas a. yang melambangkan fibroblas dan atau miofibroblas. Pembuluh darah biasanya mudah pecah dan dilapisi oleh lapisan tunggal dari endotelium. angiofibroma kebanyakan terdiri dari jaringan fibrosa padat menyisipkan dengan pembuluh darah dari ukuran bervariasi dan konfigurasi. berlobulasi membengkak agak lembut. 2 Fossa kranialis jalan media yang masuknya paling sering. pembuluh darah ini tidak dapat mengalami vasokonstriksi ketika terjadi trauma. Masuk melalui fissura orbitalis inferior dan juga merusak apeks dari orbita. d. berjalan dibelakang dinding posterior dari sinus maksillaris dimana menekan kedepan dari pertumbuhan tumor. mengelilingi pada nukleus stellata dan kadang-kadang. Warnanya bervariasi dari merah muda sampai putih. menyesuaikan dengan peningkatan umur. Tumor berada dilateral dari arteri karotis dan sinus kavernosus. Fossa pterygomaksillaris. Sinus maksillaris. Sinus-sinus paranasalis. epistaksis dan pengeluaran cairan : hidung. PENYEBARAN Angiofibroma nasofaring adalah tumor jinak tetapi invasif lokal dan merusak struktur sekitarnya. . b. sementara lainnya terjadi trombosis intravaskular. cenderung kearah penekanan perlahan dari sinusoid. Tumor berada dimedial dari arteri karotikus. Dengan pengrusakan lantai fossa kranialis media anterior ke foramen lacerum. Melalui sinus sfenoid.

Walaupun didapatkan gambaran radiologis yang klasik. IMAGING) . 4. biopsi dari kasus yang dicurigai angiofibroma dapat dilakukan di ruang operasi. 2. Tanda lainnya mungkin termasuk otitis serosa pada blokade tuba eustakhius. Massa Massa di di cavum : nasi. 4. Gejala yang paling sering. dan deformitas pipi. rinolalia. bagaimanapun. Bila diperlukan. SCAN Memperlihatkan perluasan ke sinus sfenoid. Sakit dari kepala. 6. hiposmia. Pembengkakan zigomatikus dan trismus menandakan penyebaran dari tumor ke fossa infratemporal. Orbita. 3. Ini dikenal sebagai ³tanda antral´ dan terdiri dari tulang anterior dari dinding posterior dari CT antrum maksillaris. Gejala lainnya termasuk rinore unilateral. terutama pada tadium awal. angiofibroma Terutama pada jika Muka laki-laki sinus-sinus remaja paranasalis dipertimbangkan. erosi dari sayap sfenoid yang besar. Umumnya pada dekade ke-2. otalgia. Tanda-tanda 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Anemia yang kronis merupakan keadaan yang sering ditemukan pada keadaan ini. bengkak. Holman dan Mille r menggambarkan karakteristik dari tumor ini pada foto lateral. 3. seharusnya dipertimbangkan untuk biopsi sebelum tumor direseksi. antara 7-19 tahun. Jarang pada pasien dengan umur lebih dari dua puluh lima tahun. atau invasif dari pterygomaksillaris MRI dan (MAGNETIC fossa infratemporal RESONANCE biasanya terlihat.2. tersumbat. Kebanyakan unilateral dan rekuren. Tanda ini sering sulit untuk dikenali. yang tergantung pada lokasi tipikal dalam alur pterygomaksillaris. Epistaksis. anosmia. Obstruksi nasal. Biopsi Kebanyakan kasus dari angiofibroma nasofaring juvenile tidak dianjurkan untuk biopsi sebelum reseksi defenitif. diagnosis 5. 7. Penuruan penglihatan mengenai nervus optik jarang dilaporkan. Jika tumor atipikal atau jika gambaran klinik tidak biasa. tidak ada tanda absolut dari angiofibroma. Proptosis. Pemeriksaan FOTO Radiologis SINAR-X Pada foto sinar-X tumor nampak sebagai massa jaringan lunak dalam nasofaring. biasanya epistaksis berat memerlukan perhatian medis. pembengkakan dari palatum.

perluasan minimal intrakranial. . Sistem stadium lain yang diusulkan oleh Fisch :    Stadium I : Tumor terbatas pada rongga hidung. Klasifikasi Stadium . . Stadium III : Tumor meluas kedalam antrum. sinus ethmoid. fossa pterygomaksillaris. menurut IA : Tumor terbatas pada nares Sessions posterior dan atau : nasofaring. terutama pada kasus-kasus dari keterlibatan ANGIOGRAFI Dengan angiografi terlihat gambaran vaskuler yang banyak (ramai).Stadium IIB : Tumor meluas penuh pada fossa pterygomaksillaris dengan atau tanpa erosi superior dari tulang orbita. stadium tumor berdasarkan pada daerah yang terlibat adalah penting untuk evaluasi individu dan pengobatannya.Stadium IB : Tumor terbatas pada nares posterior dan atau nasofaring dengan melibatkan sedikitnya satu sinus Stadium IIA : Tumor meluas minimal lateral ke fossa paranasalis. Different Staging System mengeluarkan untuk angiofibroma nasofaring. Chandler dan kawan-kawan merekomendasikan berdasarkan sistem stadium pada usulan sistem untuk kanker nasofaring oleh AJC :    intrakranial.  Stadium IV : Tumor meluas ke sinus kavernosus. STADIUM Sebagai neoplasma dari nasofaring. Angiografi terutama dilakukan pada kasus dengan kecurigaan adanya penyebaran intrakranial atau pada pasien dimana pada penanganan sebelumnya gagal. nasofaring tanpa destruksi tulang. regio khiasma optik dan atau fossa pituitary.Stadium IIIA : Erosi dari dasar tengkorak (fossa cranii media/dasar pterygoid). orbita dan atau regio parasellar menyisakan lateral ke sinus kavernosus. Stadium II : Tumor meluas ke fossa pterygomaksillaris.Diindikasikan untuk menggambarkan dan menjelaskan batas dari tumor. PENGOBATAN EMBOLISASI Embolisasi pada pembuluh darah tumor mengakibatkan tumor menjadi jaringan parut dan menghentikan . Pada Angiografi ini terlihat lesi vaskuler yang terutama disuplai oleh cabang dari arteri maxillaris interna. Stadium II : Tumor meluas ke rongga hidung dan atau sinus sfenoid. Orbita dan atau pipi.Stadium IIIB : Tumor meluas kedalam intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke sinus kavernosus. sinus-sinus paranasalis dengan destruksi tulang. pterygomaksillaris. Stadium I : Tumor di nasofaring. fossa infratemporalis. Stadium III : Tumor meluas ke fossa infratemporalis.  Stadium IV : Tumor meluas ke rongga intrakranial. .

2. HORMONAL Penghambat reseptor testosteron flutamide dilaporkan mengurangi tumor stadium I dan II sampai 44%. Tumor besar berbentuk ³dumbell´ diangkat. OPERASI Digunakan -Pendekatan untuk fossa tumor yang kecil digunakan (Fisch bila stadium tumor I atau ke II). infratemporal meluas -Pendekatan midfacial degloving. 3. Sphenoethmoidectomy dan dinding posterior sinus maksillaris dibuka untuk penglihatan yang luas agar aman mengangkat tumor dari dasar tengkorak dan fossa pterygomaksillaris atau infra temporal. Operasi berjalan tanpa komplikasi atau membutuhkan transfusi darah perioperatif. dengan atau tanpa LeFort osteotomy. Operasi pengangkatan dilakukan setelah pre -operatif angiografi dengan embolisasi dari tumor. Maksillotomy anterior diperluas kelateral untuk jalan masuk ke bagian lateral dari tumor. lateral. RADIOTERAPI Beberapa pusat melaporkan rata-rata menyembuhkan 80% dengan terapi radiasi. atau dapat diikuti dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. menganggap hubungan efek potensial dari radiasi membuat terapi radiasi modalitas yang tidak berguna dalam banyak kasus. Pemeriksaan memperlihatkan massa pada hidung kiri. . Tujuh tahun setelah pengangkatan tumor dengan tidak bukti rekuren. Segmen maksillaris anterior dan lekukan hidung dibuka untuk melihat tumor yang terletak dibawah. Lateral rhinotomy sinistra dan membelah bibir. jalan ini tidak digunakan secara rutin. Embolisasi dilakukan dengan memasukkan suatu zat dalam pembuluh darah untuk membendung aliran darah. memanfaatkan jalan masuk posterior ke tumor. Contoh Suatu Kasus dan Tahapan Operasi Rhinotomy Lateral: Anak laki-laki dengan riwayat sumbatan hidung sebelah kiri yang telah lama dan riwayat tiga bulan epistaksis bilateral berulang. Bagaimanapun. Membuat osteotomies maksillaris medial. 4. kebanyakan penulis menyiapkan radioterapi untuk penyakit intrakranial atau kasus rekuren. -Pendekatan facial translocation dikombinasikan dengan Weber-Ferguson incision dan perluasan koronal untuk frontotemporal craniotomy dengan midface osteotomies untuk jalan masuk.perdarahan. Radioterapi stereotaktik (seperti sinar Gamma) mengirim sedikit dosis dari radiasi ke jaringan sekitarnya. 1. Walaupun mereduksi tumor dengan hormon. Bagaimanapun. -Operasi intranasal endoscopic disiapkan untuk tumor yang terbatas pada cavum nasi dan sinus -sinus paranasali. Dengan embolisasi saja cukup untuk menghentikan perdarahan hidung. Suatu angiofibroma nasofaring juvenile setelah pemeriksaan CT Scan.

6. Penyebab lain dari proptosis atau pembengkakan orbita. rhabdomyosarcoma. Penyebab lain dari epistaksis. encephalocele. PROGNOSIS Meskipun tidak bersifat seperti kanker. Penyebab lain dari obstruksi nasal. polip antrokoanal. DIFFERENSIAL DIAGNOSIS 1. Segmen maksillaris media dikembalikan dan difiksasi dengan kawat interosseous. teratoma. inverting papilloma. karsinoma sel skumous). Terdapat angka rekurensi yang cukup tinggi setelah operasi. (seperti polip nasal.5. 3. sekitar 6-24 %. 2. Dapat hilang sendiri. Insisi eksternal dan intraoral ditutup lapis demi lapis. Cavum diisi dengan pasta bismuth-iodoformparaffin kawat impregnated. dermoids. Membuat dacrocystorhinostomy dan medial canthopexy. Kartilago nasal bagian atas samping disambungkan ke tulang untuk mencegah kolaps dari valvula nasal. sistemik atau lokal. angiofibroma dapat terus menyebar. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful