2.

1 Anatomi Payudara Mammae terdiri dari berbagai struktur yaitu parenkim epitelial, lemak, pembuluh darah, saraf, saluran getah bening, otot dan fascia. Parenkim epitelial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus yang masing-masing mempunyai saluran tersendiri untuk mengalirkan produknya dan bermuara pada puting susu. Tiap lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10-100 asini grup. Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari mammae (Schwartz’s, 2006).

Gambar 1. Milky line (Schwartz’s, 2006)

Jaringan ikat subcutis yang membungkus kelenjar mammae membentuk septa diantara kelenjar dan berfungsi sebagai struktur penunjang dari kelenjar mammae. Mammae dibungkus oleh fascia pectoralis superficialis dimana permukaan anterior dan posterior dihubungkan oleh ligamentum Cooper yang berfungsi sebagai penyangga (Schwartz’s, 2006). Setengah bagian atas mammae, terutama quadran lateral atas mengandung lebih banyak komponen kelenjar dibandingkan dengan bagian lainnya. Mammae terletak diantara fascia superficialis dinding thorax anterior dan fascia profunda (pectoralis), antara mammae dan dinding thorax terdapat bursa retromammaria yang merupakan ruang antara fascia superficialis dengan fascia profunda (pectoralis), dengan adanya bursa ini menjamin mobilitas mammae terhadap dinding thorax (Schwartz’s, 2006).

Gambar 2. Potongan sagital mammae (Skandalakis)

Pada pria, mammae tetap rudimenter dengan komponen kelenjar mammae berkembang tidak sempurna, dimana acini berkembang tidak sempurna dengan ductus yang pendek, serta terjadi defisiensi perkembangan papilla mammae, areola dan parenkhimnya (Schwartz’s, 2006). Pada wanita, mammae berkembang menjadi susunan yang kompleks. Pada wanita dewasa, mammae terletak di anterior dinding thorax setinggi costa 2 atau 3 sampai dengan costa ke 6 atau ke 7, dan terbentang antara linea parasternalis sampai dengan linea axillaris anterior atau media. Mammae pada wanita dewasa berbentuk hemisphere yang khas dengan ukuran, kontur, konsistensi dan densitas yang sangat bervariasi, dipengaruhi oleh faktor-faktor hormonal, genetic dan diet (Schwartz’s, 2006). Diameter rata-rata mammae sekitar 10-12 cm dan tebalnya antara 5-7 cm. Berat mammae bervariasi yaitu antara 150-225 gram pada mammae nonlaktasi, namun dapat mecapai 500 gram pada mammae laktasi (Schwartz’s, 2006).

2. thoracica interna) b. M. Vaskularisasi mammae terdiri dari arteri dan vena yaitu: 1. c. Arteri a. 2005). cabang-cabang kelenjar bening dan pembuluh darah melewati ruang retromammary diantara permukaan posterior jaringan payudara dan fascia M. thoracica lateralis dan V thoraco dorsalis . axillaris A. Intercostalis Cabang lateral dari A. Dari dermis sampai fascia yang terdalam terdapat ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk payudara. acromialis. Wim de Jong. thoracica interna Cabang-cabang V. thoracoVena-vena kecil yang bermuara pada V. pectoralis mayor terdapat M. oleh karena itu. intercostalis posterior Cabang-cabang dari A. Oleh karena itu. d. Lebih dalam lagi dari M. Vena a.pectoralis mayor. mammaria interna (A. axillaris yang terdiri dari V. pectoralis minor dilapisi oleh fascia clavipectoral yang menyatu dengan fascia axilla. Mammae tampak anterior (Sobotta) Jaringan payudara terletak diantara jaringan lemak subcutaneous dan fascia pectoralis mayor dan otot-otot seratus anterior. subscapularis Cabang-cabang perforantes A. pectoralis. thoracodorsalis yang merupakan cabang A. c. pectoralis minor. tindakan mastectomy total yang benar adalah dilakukan di bawah fascia M. V. Cabang-cabang perforantes V. jika terdapat tumor pada payudara yang melibatkan ligamentum Cooper dapat menyebabkan penyusutan (penarikan) pada kulit dan retraksi kulit (Sjamsyhidajat.Gambar 3. b.

1 Fibrokistik Fibrokistik digambarkan sebagai variasi dari morfologi payudara yang berespon terhadap perubahan fisiologis pada jaringan payudara. VI dan cabang dari plexus cervicalis (Sjamsyhidajat. Ellis I. hyalinisasi atau mengkalsifikasi dan pada mamografi kalsifikasinya tebal atau gambaran seperti popcorn (Evans A. V. latissimusdorsi.Persarafan kulit mammae bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2 sampai T6.2. walaupun dapat berkembang lebih besar. thoracodorsal mempersarafi M. lobulasi. dimana cedera pada saraf ini dapat mengakibatkan mati rasa atau dysesthesia di sepanjang permukaan medial dan posterior lengan.2 Fibroadenoma Fibroadenoma merupakan tumor yang biasa terjadi pada populasi wanita. Nervus ini mempersarafi M. Saraf N. Pinder S. Pada prinsipnya inervasi mammae berasal dari N. Cedera pada N. walaupun fibroadenoma yang lebih besar (hingga 3 cm) dianggap kelainan (disorder) dan giant fibroadenoma (lebih dari 3 cm) dianggap penyakit (disease). Pada wanita postmenopausal. Wilson R. 2002). sangat mobil. juga mati rasa pada kulit axilla di sepanjang dinding dada yang dipersarafinya. Wim de Jong. Fibrodenoma biasanya tumbuh dengan diamater 1-2 cm dan stabil. Pinder S. 2. 2002). Ellis I.2 Tumor Jinak Payudara 2. Pada diseksi axilla saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering terjadi mati rasa pasca bedah (Sjamsyhidajat. Pengetahuan mengenai lokasi struktur saraf utama pada axilla sangatlah penting guna mengenal komplikasi dari diseksi pada daerah axilla. Biasanya gejala timbul sebelum menopause. Teraba sebagai massa kenyal. . Di daerah ruang axilla terdapat Nervus sensoris intercostobrachialis (N. fibroadenoma dapat berinvolusi. 2005). Fibroadenoma kecil (1 cm atau kurang) dianggap normal. Wim de Jong. N. Cutaneous brachialis). serratus anterior dan fiksasi scapula pada dinding dada saat melakukan ekstensi lengan. Cedera pada saraf ini dapat menyebabkan ketidakmampuan lengan untuk melakukan abduksi dan rotasi eksterna. berbatas tegas. thoracalis ini dapat menyebabkan deformitas pada scapula. Biasa terjadi pada wanita berumur 20-30 tahun. Jaringan kelenjar mammae sendiri diurus oleh sistem saraf otonom.2. 2. thoracalis berada di sepanjang dinding thorax pada sisi medial dari axilla. Gejala dapat menetap jika wanita diberikan terapi hormon pada periode postmenopause (Evans A. Wilson R. 2005). intercostalis IV.

2000). Nekrosis lemak muncul sebagai massa atau densitas mamografi dengan distorsi jaringan sekeliling sekunder disebabkan oleh inflamasi kronis.2. Biasanya terjadi pada wanita usia 35-55 tahun.3 Adenoma Adenoma tubular dan lactatinal adalah lesi yang secara histologis jinak berhubungan dengan FAM. mirip dengan FAM.E. Ellis I. Lippman M.4 Sklerosing Adenosis Sklerosing adenosis adalah proliferasi jinak baik jaringan stromal (scerosis) berhubungan dengan peningkatan ductules terminalis yang kecil (adenosis). 2. intervensi bedah atau pendulous breast. Dapat diikuti episode trauma. 2000. membesar saat dipengaruhi hormon gestational. Stereotactic core atau wire localization biopsy adalah diagnosis pastinya.2. Morrow M. Lippman M. dan diferensiasi sekresi saat analisis PA. Papiloma intraductal pada ductus perifer muncul sebagai massa yang teraba atau dalam mamografi (Harris J. Morrow M.R.5 Nekrosis Lemak Nekrosis lemak adalah inflamasi jinak non supuratif yang sering terjadi akibat trauma atau iatrogenik payudara. Osborne K. 2002). Lactation adenoma terjadi selama kehamilan dan laktasi. Biasanya merupakan komponen fibrocystic disease dan bermanifestasi sebagai mikrokalsifikasi yang ditemukan saat screening mammogram. sehingga menstimulasi Ca. maka tidak mempunyai potensiasi menjadi ganas. 2000).R.E.7 Kista Jika gambaran kista dapat diduga melalui pemeriksaan klinis ataupun gambaran .2. Terapi lebih jauh dilakukan bila lesi ini ditemukan sebagai etiologi mikrokalsifikasi saat biopsy (Evans A. Karena bukan kelainan epithelial. 2002). 2. Cirinya adalah struktur glandular dengan sedikit atau tanpa struktur stroma. Pinder S. dan bermanifestasi sebagai bloody nipple discharge. Evans A.. Secara klinis dan Radiologi.6 Intraductal Papilloma Solitary intraductal papilloma adalah lesi papillary breast.2. Wilson R. 2. pada ductus subareolar. Osborne K. 2.2. Pinder S. Ellis I. sebagai lesi tunggal.2. Biasanya dibiopsi untuk membedakan dengan Ca (Harris. Wilson R. Sekali lagi biopsi adalah diagnostik dan terapi (Harris J.

2. Kista dapat diklasifikasikan sebagai simplex dan komplex berdasarkan gamabran sonografinya. of Bloody discharge. nipple fistula. Kista komplex memiliki septasi sentral. atau reakumulasi kista pada tempat yang sama setelah 2-3 kali aspirasi.Lobular involution. Epithelial hyperplasia pregnancy. Adolescent hypertrophy.M et all). Nipple retraction.sonografi. duct Disorder  Fibroadenoma. atau internal echo. berdinding halus yang hipoechoic. Kista simplex yang besar. Epithelial hyperplasia Epithelial hyperplasia atypia. ANDI Classification of Benign Breast Disorder Normal  Early reproductive Lobular years (15-25 tahun development. years (25-40 tahun) menstruation. 55 tahun) Duct involution . batas yang tidak tegas. namun jika penampakan cairan tidak biasa. nyeri dan gambaran radologis yang tidak jelas harus diaspirasi. Kista simplex berupa struktur bulat. Nipple eversion. Analisis sitologi pada cairan jernih berwarna kemerahan tidak diperlukan. tanpa internal echo. berbatas tegas. Area abnormal harus diidentifikasi dengan jelas jika sewaktu-waktu biopsi eksisional diperlukan setelah aspirasi kista.3 Tumor Ganas Payudara with Periductal mastitis. Disease Giant fibroadenoma. Stromal development. Kista asimptomatik. maka FNA merupakan tindakan diagnostik dan terapi. Sehingga. Indikasi untuk biopsi eksisi setelah aspirasi kista bila ditemukan cairan kemerahan yang banyak.Dilation . Nipple eversion. . Sclerosing lesions. Incapacitating mastalgia. Subareolar abscess.Sclerosis Epithelial turnover Nodularity. simpleks ditemukan secara insidentil saat evaluasi. Gigantomastia. Kista komplex harus diaspirasi untuk mengkonfirmasi diagnosis. Involution age (35. Mammary Later reproductive Cyclical changes of Cyclical mastalgia. Tabel. residual massa post ispirasi. pemeriksaan lanjuttan harus dilakukan 4-6 minggu post aspirasi. Macrocytes. Duct ectasis. hars dilakukan analisis sitologi (Doherty G.

Kurva insidensi Ca mammae menurut usia terus meningkat sejak usia 30 tahun. Setelah payudara yang terkena diangkat. maka risiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat . Usia Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun.3. yaitu sekitar 18% dari seluruh kelompok kanker. Thompson J. Pernah menderita kanker payudara. Prevalensi Carcinoma mammae (Henry M. 2007).3. Harvey dan Brinton mengemukakan wanita dengan riwayat Ca mammae primer mempunyai resiko 3 sampai 4 kali lebih besar untuk timbulnya Ca mammae kontralateral.N. Thompson J. Ca mammae jarang sekali ditemukan pada usia kurang dari 20 tahun.1 Epidemiologi Kanker payudara merupakan kanker yang sering terjadi pada negara berkembang. Gambar 4. Insidensi di negara Inggris yaitu 2 : 1000 wanita tiap tahun. Risiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun. dengan prevalensi yaitu 2% wanita pada umur 50 tahun. antara lain: 1.N. (Henry M.2. namun penyebabnya sangat mungkin multi faktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain.M.M.2 Etiologi Etiologi Ca mammae masih belum diketahui secara pasti. 2007). 2. Resiko timbulnya Ca mammae primer kedua pada mammae kontralateral meninggi pada wanita yang mempunyai riwayat penyakit yang sama dalam keluarga Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasif memiliki risiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. 2.

Resiko meningkat jika pada wanita yang menerima Estrogen Hormon Replacement Therapy tersebut sebelumnya pernah menderita kelainan benigna pada mammae-nya 5. semakin besar risiko menderita kanker payudara. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara. Hormonal WHO menyatakan bahwa tidak terdapat peningkatan maupun penurunan insidens Ca mammae yang berhubungan dengan penggunaan kotrasepsi injeksi seperti depot-medroxyprogesterone acetate (DMPA).5-1%/tahun. saudara perempuan atau anaknya menderita kanker. 6. Risiko menderita kanker payudara 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarche sebelum usia 12 tahun. Semakin dini menarche. Wanita yang ibu. Makanan yang berlemak tinggi dapat meningkatkan resiko Ca mammae dua kali lipat. Menarche (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun. Nutrition. 7. 4. Faktor diet The Committee on Diet. didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan esterogen sebagai terapi penganti hormon (Hormone Replacement Therapy = HRT) pada wanita perimenopause dan post menopause sedikit meningkatkan resiko Ca mammae. and Cancer of The National Academy of Sciences menyimpulkan adanya hubungan sebab akibat antara makanan berlemak dan insiden dari Ca mammae. Berdasarkan beberapa penelitian. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker Risiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluran air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik). .sebesar 0. 3.

9. . Penelitian membuktikan bahwa resiko Ca mammae mempunyai hubungan langsung dengan berat badan. Obesitas Obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara masih diperdebatkan. Namun saat ini pendapat itu tidak lagi disetujui. mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita Ca mammae. akan tetapi wanita yang hamil dan melahirkan untuk pertama kalinya pada usia diatas 30 tahun mempunyai resiko menderita Ca mammae lebih tinggi dibandingkan nullipara. dan yang pernah menjalani pemeriksaan fluoroscopy thorax untuk pengobatan TBC paru. Resiko untuk Ca mammae pada wanita obese 1. misalnya pada wanita-wanita yang mengalami oophorectomy (pengangkatan ovarium) pada usia kurang dari 35 tahun.8. Exposure multiple dengan dosis yang relative kecil beresiko sama dengan exposure tunggal dosis besar. Wanita yang pernah hamil dan melahirkan pada usia 18 tahun mempunyai resiko Ca mammae sekitar 1/3 kali dibandingkan dengan wanita yang hamil untuk pertama kalinya pada usia diatas 35 tahun. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obesitas. 11. 10. resiko timbulnya Ca mammae 2 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mulai menopause sebelum usia 45 tahun. Hal ini berhubungan dengan adanya rangsangan secara terus menerus oleh esterogen dan kurangnya konsentrasi progesterone dalam darah. Untuk wanita yang mengalami menopause pada usia diatas 55 tahun. Induksi menopause buatan dapat menurunkan resiko Ca mammae.5 sampai 2 kali lebih tinggi daripada wanita tidak obese. Menyusui dan Menopause Dahulu dikatakan bahwa wanita yang menyusui untuk waktu lama (lebih dari 6 bulan selama hidupnya) mempunyai resiko yang lebih rendah untuk menderita Ca mammae dibandingkan wanita yang tidak menyusui. Radiasi Wanita yang tetap hidup setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki dan pernah menjalani pengobatan dengan radiasi dosis tinggi untuk akut postpartum mastitis. Paritas dan Fertilitas Wanita yang infertil dan nullipara mempunyai kemungkinan 30-70 % lebih tinggi untuk menderita Ca mammae dibandingkan dengan multipara.

5 cm T1b Ukuran terbesar tumor ≥ 0.3.Gambar 5. Kuadran mammae (Skandalakis) 2.5 cm tetapi tidak melebihi 1 cm T1c Ukuran terbesar tumor ≥ 1 cm tetapi tidak melebihi 2 cm T2 Ukuran terbesar tumor ≥ 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm .3 Staging Ca Mammae  TNM Staging Tx T0 Tumor primer tidak dapat ditentukan Tidak terbukti adanya tumor Tis Carcinoma in situ : Ca intraductal. atau Paget’s disease pada nipple tanpa tumor T1 Ukuran terbesar tumor ≤ 2 cm T1a Ukuran terbesar tumor ≤ 0. Ca lobular in situ.

ipsilateral Metastasis jauh (M) Mx Adanya metastasis jauh tidak dapat diperkirakan M0 Tidak ada metastasis jauh M1 Ada metastasis jauh (metastasis ke KGB supraclavicular ipsilateral)  Stage Grouping Stage 0 Stage I Stage IIA Tis T1 T0 T1 N0 N0 N1 N1* M0 M0 M0 M0 . melekat terhadap KGB atau struktur lain Metastasis ke KGB mammae internal.T3 T4 Ukuran terbesar tumor ≥ 5 cm Tumor dengan ukuran berapapun dengan ekstensi langsung terhadap dinding dada atau kulit T4a Ekstensi ke dinding dada T4b Edema (termasuk Peau d’orange) atau ulserasi kulit mammae atau satelit KGB kulit teraba pada mammae yang sama T4c T4a dan T4b T4d Inflamatory carcinoma KGB Regional (N) Nx N0 N1 N2 N3 KGB regional tidak dapat dinilai Tidak ada metastasis ke KGB Metastasis ke KGB axillaris ipsilateral. dapat digerakan Metastasis ke KGB axillaris ipsilateral.

R. Lippman M.4 Histopatologis Ca Mammae 1. Morrow M.E. Morris J. 2.T2 Stage IIB T2 T3 Stage IIIA T0 T1 T2 T3 T3 Stage IIIB T4 T berapapun Stage IV T berapapun N0 N1 N0 N2 N2 N2 N1 N2 N berapapun N3 N berapapun M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M1  Histopatologic grade GX: Grade cannot be assessed G1: Well-differentiated G2: Moderately differentiated G3: Poorly differentiated G4: Undifferentiated (Harris J. dimana membesar namun dengan ratio nucleus dan sitoplasma yang normal.P. LCIS dikarakteristik dengan distensi dan distorsi ductus lobular terminal oleh sel kanker. 2000. 2000). variable prognosis dan . Gambaran mikroskopis dan makroskopis Ca lobularis invasif sering tidak dapat dibedakan dengan adenocarcinoma konvensional.C. Carcinoma In Situ • Lobular Carcinoma In Situ (LCIS) Lobular Carcinoma In Situ (LCIS) berasal dari ductus lobular terminal dan hanya berkembang pada payudara wanita. Wood W..3. Osborne K.

Insidensi Ca lobularis belum pasti. tetapi tidak menginvasi membrane basalis epitel duktus.survival rate-nya juga hampir sama. menghasilkan pertumbuhan papilla dari ductus lumina. Jika dibiarkan tanpa diterapi. dan hiperemis. Papillary carcinoma 2% E. berupa suatu lesi kronis pada areola dan nipple dengan erupsi eczematoid. Medullary carcinoma 4% C. apocrine) 1. Sel-sel mempunyai sifat mikroskopik keganasan. squamous cell. Foote dan Stewart membagi klasifikasi carcinoma mammae invasive. sedangkan jenis infiltratif-nya merupakan 10 % dari semua Ca mammae (Schwartz’s. NST) B. 2006). 2006). Tubular carcinoma (and ICC) 2% III. selalu timbul adenokarsinoma invasive. Invasive ductal carcinoma A. Penyakit Paget Paget disease of the nipple adalah invasi dermis papilla mammae oleh carcinoma ductal. krusta. atau atipia. Mucinous (colloid) carcinoma 2% D. Diduga Ca lobularis in situ merupakan 3 % dari seluruh tumor mammae. Invasive lobular carcinoma 10% IV. walaupun waktu untuk perkembangan neoplasma invasive itu bias diukur dalam tahun atau dasawarsa (Schwartz’s. DCIS dikarakteristik sebagai proliferasi epitel. Pada awal perkembangan. Carcinoma Mammae Invasive Secara umum kanker memiliki prognosis yang buruk. Tumor primernya dapat tidak teraba pada palpasi dan erosi atau krusta sering terkacaukan dengan dermatitis. simplex. yaitu: I. mitosis. sel kanker tidak menunjukkan pleomorphism. Paget's disease of the nipple II. Adenocarcinoma with productive fibrosis (scirrhous. Rare cancers (adenoid cystic. Angka . bersisik. yang memungkinkan sulitnya membedakan antara DCIS dengan hiperplasia jinak mammae. • Ductal Carcinoma In Situ (DCIS) Secara histologis. 2.

biasanya masih pada stadium 1. walaupun tumor dapat membesar dengan cepat. yang pada sepertiga pasien dapat metastase ke KGB axillaris. tidak nyeri. kulit sering tertarik diatas massa sferis besar yang berdiameter lebih dari 3 cm. gatal. 2. Penyakit paget harus diterapi sebagai carcinoma ductal invasive. Colloid / mucinous carcinoma . berbatas tidak tegas. survival rate 5 dan 10 tahunnya masing-masing 73 % dan 58 %. Hanya kurang dari 20 % kasus Ca medullare ini yang timbul bilateral dan kurang dari 10 % yang mengandung esterogen dan progesteron reseptor. Carcinoma Medullare Sekitar 3-5 % keganasan mammae. Penting sekali untuk dilakukan biopsi papilla mammae. panas dan kadang berdarah. Comedo carcinoma Salah satu bentuk Ca invasif yang berasal dari ductus. Tersering timbul pada wanita usia perimenopause atau postmenopause (decade VI) sebagai suatu massa soliter. Pertumbuhannya lambat. Carcinoma ductus menginfiltrasi dengan fibrosis produktif (Infiltrating adenocarcinoma with productive fibrosis) Neoplasma ini mewakili 75-78 % carcinoma mammae invasive dan disertai dengan desmoplasia dan fibrosis. Riwayat progresifitas lambat. Biasanya mobile dan terletak profunda di dalam mammae. setelah mastectomy yang adekuat. tumor ini berbatas tegas. dan berwarna keabu-abuan. sekunder terhadap perdarahan atau nekrosis. Saat diagnosis. Carcinoma ini menginfiltrasi kulit secara diffuse dengan keterlibatan ligamentum Cooper yang menghasilkan peau d’orange atau edema kulit yang luas. ia mempunyai sumbat materi seperti pasta yang dapat dikeluarkan dari permukaan neoplasma. konsistensi keras. Prognosis terpenting pada Ca medullare adalah keterlibatan metastase ke KGB axillaris. Carcinoma ini mempunyai 5 year survival rate lebih baik dibandingkan Ca ductus atau lobolus invasif. 4. kenyal. 3. sekitar 5-10 % dari semua Ca mammae. neoplasma ini dianggap berasal dari ductus yang besar dan ditandai oleh penampilan makroskopik hemorrhagic yang lunak. Lesinya berukutan sekitar 5 cm. dapat meluas dalam waktu beberapa tahun. 5. Secara makroskopis.kejadiannya adalah sekitar 2 % dari seluruh Ca mammae dan hampir selalu timbul bersama-sama dengan Ca ductal atau invasive. Pada terapi dini. Gejalanya berupa nyeri. Seperti varian in situ nya.

2. adanya edema (peau d’orange).1 Inspeksi Ahli bedah akan melakukan inspeksi pada payudara wanita. Survival ratenya mendekati 100 %. 2006). Papillary carcinoma Angka kejadiannya kurang dari 2 % dari seluruh Ca mammae. Lesi biasanya kecil. 7. Simetri. retraksi papilla mammae. .3. jarang melebihi 2-3 cm dan berbatas tegas. sering ditemukan pada usia 70-an. ukuran dan bentuk payudara dinilai. Neoplasma jenis ini mempunyai potensi pertumbuhan yang lambat dengan metastasis lanjut. 6.3. Bila dipotong. Secara makroskopik tumor ini berbatas tegas tetapi tidak berkapsul. Angka kejadiannya sekitar 2 % dari seluruh Ca mammae. Survival rate 5 dan 10 tahunnya masing-masing 73 % dan 59 %. dan menghasilkan sekret yang keluar dari papilla. berdiferensiasi baik. benang materi mukoid melekat pada scalpel.5 Diagnosis 2. Dapat timbul nekrosis. perdarahan sentral. Tubular carcinoma Merupakan suatu lesi yang berasal dari ductus. dan mempunyai 5 year survival rate terbaik. yang digambarkan membentuk tubulus.Merupakan suatu adenocarcinoma yang secara tipikal membentuk materi gelatin yang menjadi bagian utama carcinoma ini.5. Ca ini merupakan 2 % dari semua Ca mammae. eritema (Schwartz’s. Neoplasma jenis ini sering menyerupai Scleroticans adenosis maupun penyakit fibrokistik mammae dan harus dibedakan dari hyperplasia atipik fokal.

Pemeriksaan laboratorium lain meliputi: • • • • Kadar CEA (Carcino Embryonic Antigen) MCA (Mucinoid-like Carcino Antigen) CA 15-3 (Carbohydrat Antigen). Pemeriksaan pasien dalam posisi berbaring merupakan posisi yang terbaik. Kenaikan kadar alkali fosfatase serum dapat menujukkan adanya metastasis pada hepar.3. payudara dipalpasi secara hati-hati. Secara sistematis mencari pembesaran KGB (Schwart’z. Pemeriksaan Laboratorium Pada penyakit yang terlokalisasi tidak didapatkan kelainan hasil pemeriksaan laboratorium. 2006). 2006) 2.6 Pemeriksaan Penunjang A. memeriksa seluruh kuadran payudara dari sternum bagian lateral sampai m.didukung ole The Breast Cancer Linkage Consortium) dari BRCA2 dari kromosom 13 .3. dan dari clavicula inferior sampai rectus bagian atas. Latissimus dorsi.Gambar 6. Pada keganasan yang lanjut dapat terjadi hiperkalemia. 2.5. Inspeksi dan Palpasi mammae (Schwart’z.2 Palpasi Sebagai bagian dari pemeriksaan fisik. Antigen dari globulus lemak susu BRCA1 pada kromosom 17q (tahun 1990 oleh Mary Claire King. Ahli bedah akan melakukan palpasi secara lembut dari sisi ipsilateral.

Tanda sekunder berupa retraksi. tekstur tidak homogen. penebalan kulit. antara lain ke KGB regional atau ke organ lainnya (misalnya hepar). • USG (Ultrasonografi) Dengan USG selain dapat membedakan tumor padat atau kistik. Adanya proses keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. bertambahnya vascularisasi. comet sign. Selain itu USG juga dapat membantu staging tumor ganas mammae dengan mencari dan mendeteksi penyebaran lokal (infiltrasi) atau metastasis ke tempat lain. adanya bridge of tumor. batas ireguler. dipetakan secara lengkap tahun 1996) • Gen AM (ataxia-telangiectasia) : ditemukan gen ini pada pasien bias sebagai predisposisi timbulnya Ca mammae B. • Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) FNAB dilanjutkan dengan FNAC (Fine Needle Aspiration Cytology) merupakan teknik pmeriksaan sitologi dimana bahan pemeriksaan diperoleh dari hasil punksi jarum terhadap lesi dengan maupun tanpa guiding USG. perubahan posisi papilla dan areola. infiltrasi jaringan lunak belakang mammae dan adanya metastasis ke kelenjar. juga dapat membantu untuk membedakan suatu tumor jinak atau ganas. Ca mammae yang klasik pada USG akan tampak gambaran suatu lesi padat. FNAB sekarang lebih banyak digunakan dibandingkan dengan cutting needle . adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologis dan adanya mikrokalsifikasi. jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Posterior dari tumor ganas mammae terdapat suatu Shadowing.(tahun 1994 oleh Michael Stratton dan college-Sutton. keadaan daerah tunika dan jaringan fibroglanduler tidak teratur. Radiologi • • X-foto thorax dapat membantu mengetahui adanya keganasan dan mendeteksi adanya metastase ke paru-paru Mammografi Dapat membantu menegakkan diagnosis apakah lesi tersebut ganas atau tidak. Dengan mammografi dapat melihat massa yang kecil sekalipun yang secara palpasi tidak teraba. Tanda primer berupa fibrosis reaktif.

yaitu (1) massa harus hilang secara komplit setelah aspirasi.Y. namun tidak dapat memastikan tidak adanya keganasan. pasien dijelaskan mengenai hasil biopsi. kurang traumatic. lalu dilakukan pemeriksaan sitologi. lalu jarum ditarik. Volume dari kista tipikal adalah 5-10 mL. dilakukan USG untuk menyingkirkan adanya kista persisten. Walaupun begitu. tapi dapat mencapai 75 mL atau lebih.biopsy karena cara ini lebih tidak nyeri. dan eksisi fibroadenoma dapat dihindari. makan diambil 2 mL untuk dilakukan pemeriksaan sitologi. Dua aturan kardinal dari aspirasi kista yang aman. Adanya darah biasanya dapat terlihat jelas. Cara pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. yang difiksasi dengan tangan yang tidak dominant. Pemeriksaan USG dan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosis yang akurat. sehingga pendekatan konservatif lebih digunakan. Bila masa solid. kebanyakan fibroadenoma bersifat self-limitting dan banyak yang tidak terdiagnosis. Hasil negatif pada pemeriksaan ini dapat berarti bahwa jarum biopsi tidak mengenai daerah keganasan sehingga biopsy eksisi tetap diperlukan untuk konfirmasi hasil negative tersebut (Jatoi I. Jika salah satu dari ketentuan tersebut tidak ditemukan. Jika ada. 2006). Jika cairan yang teraspirasi tidak mengandung darah. tetapi kista dengan cairan yang gelap perlu dilakukan occult blood test atau pemeriksaan mikroskopis untuk memastikan. dilakukan pengambilang spesimen jaringan.7 Terapi Terapi untuk Kelainan dan Penyakit Mammae Jinak Kista: investigasi awal dari massa yang terpalpasi adalah biopsi jarum. . Fibroadenoma: pengangkatan seluruh fibroadenoma telah dianjurkan terlepas dari usia pasien atau pertimbangan lainnya. Kemudian. Petit J. dan mungkin biopsi eksisi direkomendasikan.3. tidak menimbulkan hematoma dan lebih cepat menghasilkan diagnosis. yang dapat mendiagnosis kista sejak awal. Setelah aspirasi. Bila pada aspirasi ditemukan darah. Kaufmann M.. biopsi jarum. 2. dan dapat dilakukan reaspirasi. Massa kemudian dilihat dengan USG dan adanya area solid pada dinding kista dilakukan biopsi jarum. makan dilakukan aspirasi hingga kering. makan USG. mammae dipalpasi lagi untuk menentukan adanya massa residual. Sebuah 21-gauge needle dengan syringe 10 mL ditusukkan secara langsung ke massa. (2) cairan harusnya tidak mengandung darah. fibroadenoma soliter pada wanita muda biasanya diangkat untuk menghilangkan kecemasan pasien.

Pasien diberi antibiotik mulai dari Metronidazol dan Dicloxacillin sambil menunggu hasil kultur.Sclerosing disorder: klinis dari sclerosing adenosis mirip dengan carcinoma. . Oleh karena itu kelainan ini dapat disalahartikan sebagai carcinoma pada pemeriksaan fisik. makan total duct excision lebih dipilih. Nipple inversion: lebih banyak wanita yang meminta koreksi dari congenital nipple inversion daripada nipple inversion sekunder dari duct ectasia. dan pemeriksaan patologi makroskopis. tetapi bila ada infeksi anaerob. Kebanyakan kasus berrespon dengan baik. maka tindakan operatif harus dilakukan. wanita yang melakukannya untuk alasan kosmetik harus selalu diberitahukan mengenai komplikasi operasi yaitu perubahan sensasi puting. Terapi antibiotik bermanfaat untuk infeksi berulang setalh eksisi fistulasi. Bila abses periareolar yang terlokalisasi berulang pada daerah yang sama dan terbentuk fistula. USG preoperative dapat membantu menentukan daerah perluasannya. Walaupun biasanya hasilnya memuaskan. simple drainage lebih dipilih. pemisahan komplit dari duktus-duktus ini cukup untuk memberikan koreksi permanen dari kelainan ini. Adanya cairan yang terambil dilakukan pemeriksaan sitologi dan untuk kultur digunaka medium transport yang sesuai untuk deteksi bakteri anaerob. dan dikonsumsi 2-4 minggu direkomendasikan sebelum total duct excision. Abses berulang dengan fistula merupakan masalah yang sulit dan diterapi dengan fistulectomy atau major duct excision (tergantung keadaan). Ahli bedah dapat mengambil tindakan simple drainage (ada risiko problem berulang lagi) atau pembedahan definitive. mammography. Biopsi eksisi dan pemeriksaan histology seringkali diperlukan untuk menyingkirikan diagnosis carcinoma. Pada wanita child-bearing age. Oleh karena nipple inversion disebabkan oleh pemendekan duktus subareolar. nekrosis puting. tindakan yang lebih dipilih adalah fistulectomy. Periductal mastitis: massa yang nyeri dibelakang areola mammae diaspirasi dengan 21-gauge needle yang melekat ke syringe 10 mL. dan fibrosis postoperative dengan retraksi puting. Abses subareolar biasanya unilocular dan sering mengenai satu sistem duktus. Di lain pihak. tetapi bila ditemukan pus. lebih dari 1 segmen atau lebih dari 1 fistula. infeksi berulang sering terjadi. bila subareolar sepsis difus.

II dan IIIa adalah operasi primer. Untuk stadium I dan II pengobatannya adalah radikal mastectomy atau modified radikal mastectomy dengan atau tanpa radiasi dan sitostatika adjuvant. pectoralis minor dan kelenjar limfe level I. Stadium IV pengobatan primer adalah yang bersifat sistemik yaitu hormonal dan khemoterapi. II dan III pada axilla diangkat. Modified radical mastectomy Kanker yang besar dan residual setelah adjuvant terapi (khususnya pada payudara yang kecil). • Prosedur yang dibuat oleh Auchincloss .Terapi untuk carcinoma mammae Stadium I. Scanlon memodifikasi prosedur Patey dengan memisahkan tetapi tidak mengangkat M. pectoralis minor. • Prosedur Patey dan modifikasi dari Scanlon M. yaitu terutama untuk mengurangi penderitaan dan memperbaiki kualitas hidup. Stadium IIIb dan IV sifat pengobatannya adalah paliatif. Untuk stadium IIIb atau yang dinamakan locally advanced pengobatan utama adalah radiasi dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu hormonal terapi dan sitostatika. Pengobatan pada stadium I. A. sehingga kelenjar limfe apical (level III) dapat diangkat dan saraf pectoral lateral dari otot mayor dipertahankan. dan pasien dengan komplikasi terapi radiasi merupakan indikasi dilakukannya operasi ini (Zollinger Atlas of Surgical Operation) Prosedur ini paling banyak digunakan. pectoralis mayor tetap dipertahankan sedangkan M. Macam-macam operasi carcinoma mammae Stadium IIIa terapinya adalah simple mastectomy dengan radiasi dan sitostatika adjuvant. terdapat 2 bentuk prosedur yang biasa digunakan oleh para ahli bedah. III awal (stadium operable) sifat pengobatan adalah kuratif. kanker multisentris. Gambar 7. terapi lainnya bersifat adjuvant. II.

Mastectomy segmental harus dilanjutkan dengan terapi radiasi karena tanpa radiasi resiko kekambuhannya tinggi (Jatoi I. Segmental Mastectomy Berdasarkan cara operasinya. Auchincloss menerangkan bahwa hanya 2 % dari pasien yang memperoleh manfaat dengan adanya pengangkatan kelenjar limfe sampai level tertinggi.Berbeda dari prosedur Patey. Petit J. Total mastectomy tidak mencakup diseksi axilla dan sering dikombinasi dengan terapi radiasi post operasi. Total Mastectomy Total mastectomy kadang disebut juga dengan simple mastectomy yang mencakup operasi pengangkatan seluruh mammae. Untuk post menopause . prosedur ini dibagi dalam 3 cara: • • • mammae yang (quadranectomy). juga ada alasan bahwa terapi radiasi akan dapat menahan penyebaran sel-sel ganas sebagai akibat trauma operasi (Jatoi I. Hormonal terapi 30-40 % Ca mammae adalah hormon dependen. Prosedur ini didasarkan pada teori bahwa KGB merupakan sumber suatu barrier terhadap sel-sel Ca mammae dan seharusnya tidak diangkat. Ini yang membuat prosedur Auchincloss menjadi prosedur yang paling populer untuk Ca mammae di Amerika Serikat. Untuk wanita premenopause terapi hormonal berupa terapi ablasi yaitu bilateral oophorectomy.Y. Eksisi terbatas hanya mengangkat seluruh Eksisi seluruh tumor beserta jaringan mammae Eksisi seluruh tumor beserta seluruh quadrant mengandung tumor dan kulit yang menutupinya tumornya saja. Pectoralis minor. 2006) C. Kaufmann M. Cara ini tidak dianjurkan untuk Ca mammae yang melekat pada tumor untuk meyakinkan batas jaringan bebas tumor. B.Y. axillary tail dan fascia pectoralis. 2006). Hormonal terapi adalah terapi utama pada stadium IV disamping khemoterapi. D. yaitu dengan tidak mengangkat atau memisahkan M. Kaufmann M. Sebagian besar ahli bedah membatasi segmental mastectomy pada pasienpasien dengan tumor yang kecil (<4cm atau dalam beberapa kasus <2 cm). Petit J. Modifikasi ini membatasi pengangkatan komplit dari kelenjar limfe paling atas.

Fluorouracil). Pemberian beberapa jenis kemoterapi lebih efektif dibandingkan dengan kemoterapi tunggal. Tamoxifen adalah obat penghambat hormon yang bisa diberikan sebagai terapi lanjutan setelah pembedahan. 2006). Pengobatan ini menunda kembalinya kanker dan memperpanjang angka harapan hidup penderita. Kemoterapi dan obat penghambat hormon seringkali diberikan segera setelah pembedahan dan dilanjutkan selama beberapa bulan atau tahun. tapi dapat pula diberikan pada Ca mammae yang sudah dilakukan mastectomy bersifat terapi adjuvant. obat-obat tersebut tidak dapat menyembuhkan kanker payudara. Terutama diberikan pada Ca mammae yang sudah lanjut. Selama beberapa bulan. Tamoxifen secara kimia berhubungan dengan estrogen dan memiliki beberapa efek yang sama dengan terapisulih hormon (misalnya mengurangi risiko terjadinya osteoporosis dan penyakit jantung serta meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim). Efek esterogen positif dilakukan terapi ablasi. tergantung kepada jenis kemoterapi yang digunakan dan penderita. efek esterogen negative dilakukan pemberian obat-obatan anti esterogen (Schwartz’s. E. Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat ondansetron. penderita juga menjadi lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan.terapinya berupa pemberian obat anti esterogen. Tanpa ondansetron. penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali selama 1-3 hari setelah kemoterapi. Obat penghambat hormon lebih sering diberikan kepada: • • • • Kanker yang didukung oleh estrogen Penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kanker selama lebih dari 2 tahun setelah terdiagnosis Kanker yang tidak terlalu mengancam jiwa penderita. bersifat paliatif. muntah. Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual. dan untuk 1-5 tahun menopause jenis terapi tergantung dari aktivitas efek esterogen. lelah. Chemoterapy Terapi ini bersifat sistemik dan bekerja pada tingkat sel. Biasanya diberikan kombinasi CMF (Cyclophosphamide. Tetapi tamoxifen tidak mengurangi hot flashes ataupun merubah kekeringan vagina akibat menopause. Obat tersebut sangat efektif jika diberikan kepada penderita yang berusia 40 tahun dan masih mengalami menstruasi serta menghasilkan estrogen dalam . Berat dan lamanya muntah bervariasi. Methotrexate. Tetapi pada akhirnya efek samping tersebut akan menghilang. luka terbuka di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan rambut yang sifatnya sementara. Tetapi tanpa pembedahan maupun penyinaran.

Jika kanker mulai menyebar kembali berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pemberian obat penghambat hormon.Y. Sentinel lymph nodes biopsy Sentinel lymph nodes adalah nodi limfe yang pertama kali dicapai oleh sel kanker yang bermetastasis pada Ca mammae. sel tumor. Radiation therapy Diberikan secara teratur selama beberapa minggu setelah dilakukan lumpectomy atau partial mastectomy dengan tujuan untuk membunuh sel tumor yang tersisa yang terdapat di dekat area tumor. Tamoxifen memiliki sedikit efek samping sehngga merupakan obat pilihan pertama. F. H. Tujuan dari terapi ini adalah untuk menyusutkan tumor yang besar sehingga dapat dilakukan bedah konservatif untuk mengangkat tumor Tindakan bedah konservatif adalah yang dikenal dengan nama Breast Conserving Treatment yaitu tindakan bedah dengan hanya mengangkat tumor yang diikuti diseksi axilla dan radiasi kuratif. karena aminoglutetimid menekan pembentukan hydrocortisone alami oleh tubuh. Petit J. maka digunakan obat penghambat hormon yang lain.jumlah besar atau kepada penderita yang 5 tahun lalu mengalami menopause. Kadang terapi radiasi diberikan sebelum tindakan bedah . Selain itu. Sentinel lymph nodes biopsy adalah prosedur diagnosis terbaru yang digunakan untuk mengetahui apakah sudah terdapat metastasis Ca mamme ke kelenjar limfe axilla. Kaufmann M. Neoadjuvant chemoterapy Kemoterapi yang diberikan sebelum tindakan bedah ataupun terapi radiasi. Dengan adanya terapi ini. Aminoglutetimid adalah obat penghambat hormon yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa nyeri akibat kanker di dalam tulang. jumlah KGB axilla yang terkena. maka ahli bedah dapat melakukan terapi bedah konservatif pada Ca mammae stadium lanjut. Hydrocortisone (suatu hormon steroid) biasanya diberikan pada saat yang bersamaan. untuk menghentikan pembentukan estrogen bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkat ovarium (indung telur) atau terapi penyinaran untuk menghancurkan ovarium. Radiasi dilakukan tergantung dari besar tumor. 2006). G. maka selanjutnya tidak perlu lagi mengangkat kelenjar limfe lainnya yang terdapat pada daerah axilla (Jatoi I.

untuk menyusutkan ukuran tumor yang besar sehingga mudah untuk diangkat. 2006). 2006). untuk stadium IIa yaitu 85%. Tipe terapi radiasi yang paling banyak digunakan untuk Ca mammae adalah terapi radiasi yang diberikan dari sumber yang berada diluar tubuh yang dikenal dengan nama external-beam radiation therapy.3. 2. untuk stadium IIb yaitu 70%. Terapi radiasi sangat efektif mengurangi terjadinya rekurensi Ca mammae pada kedua mammae dan dinding thorax. Terapi radiasi juga dapat diberikan dengan cara menanamkan pil ke dalam area tumor (internal radiation therapy) (Schwartz’s. stadium IIIb yaitu 48% dan untuk stadium IV yaitu 18% (Schwartz’s.8 Prognosis 5-year survival rate untuk stadium I yaitu 94%. sedangkan untuk stadium IIIa yaitu 52%. .

Surgery for Breast Carcinoma. p 4. In: Morris J. Oxford Textbook of Surgery.B. 20 Greenall M.Y. Wood W.DAFTAR PUSTAKA Cohen S. p 453 Jatoi I. Additional Procedures. Cancer of the Breast. Wood W. Petit J. Diagnostic Procedures. 2000.N. London: Greenwich Medical Media. p 34 Skandalakis et all.R. Breast Calcification a Diagnostic Manual. Pinder S. 2002. In: Schroder G.E. In: Evans A. ed. 2000. Evans A. Disease of the Breast. Connolly J. Osborne K. ed. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Staging of Breast Cancer. Schwartz’s Principles of Surgery. Second edition. New York: McGraw-Hill Books Company . 67. 2000.M. ed. Petit J. The Breast. Disease of the Breast. 5-6. Second edition. 81-82 Kirby I. In: Doherty G. Zollinger R. The Washington Manual of Surgery. Aft R. ed.M et all. Breast Benign Calcification. Zollinger Atlas of Surgical Operation. p 40.J. Elsevier.C et all. In: Zollinger Sr. Clinical Surgery. 2007. Eight edition. Thompson J. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. Second edition. Morrow M. Lippman M.P. New York: McGraw-Hill Books Company. Third edition. In: Harris J. and Eberlein T. 12. New York: Springer Science and Business Media Inc. 2002.Y. Morrow M. Eight edition. ed. Connolly J. ed. 2006.C. Atlas of Breast Surgery.L. In: Schroder G. Skandalakis Surgical Anatomy. Second edition. Wilson R. p 107 Henry M. Oxford University Press.E. Ellis I. Breast. 2000. p 19-21 Jatoi I. ed. 2002.J. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.J. 2006.L. 2003.R.M. Kaufmann M. 2006. Pathology of Benign Breast Disorders. Osborne K. Lippman M.J. Second edition. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. In: Brunicardi F. Schnitt S. ed. Atlas of Breast Surgery. p 15 Schnitt S. ed. Ellis I.M. Breast Surgery. Kaufmann M. In: Harris J. Breast Disease.C.L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful