You are on page 1of 8

PEMETAAN NILAI SUSEPTIBILITAS MAGNETIK TANAH LAPISAN ATAS DI KODYA SURAKARTA MENGGUNAKAN BARTINGTON MS2 SEBAGAI INDIKATOR PENDEKATAN

SEBARAN LOGAM
Yuli Triyanto M 0203053 Jurusan Fisika FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta Abstrak Pertambahan jumlah kendaraan bermotor merupakan salah satu kontributor utama pencemaran tanah karena sangat mungkin gas buang kendaraan bermotor mengandung polutan berupa logam hasil pembakaran. Metode yang digunakan selama ini untuk mengidentifikasi adanya polutan adalah metode kimia, biokimia. dan geokimia. Namun metode-metode ini mahal dan membutuhkan waktu yang lama. Sementara itu metode geofisika yang dikembangkan belum efektif untuk mengidentifikasi adanya suatu sebaran logam. Untuk itu, dikembangkan metode magnetik batuan sebagai metode alternatif. Metode magnetik batuan sering digunakan dalam kajian lingkungan dengan menggunakan perubahan dan variasi sifat mineral magnetik dalam tanah, debu atau sedimen sebagai indikator dari proses yang terjadi di lingkungan. Dalam penelitian ini dikaji sifat-sifat magnetik dari tanah lapisan atas di Kodya Surakarta. Metode magnetik berupa pemetaan nilai suseptibiltas berdasarkan pengukuran secara in- situ dengan menggunakan Bartington MS2 sensor D dan dikombinasikan dengan analisis laboratorium cuplikan tanah daerah survei dengan menggunakan Bartington MS2 sensor W dengan menggunakan variasi temperatur. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara suseptibilitas magnetik dengan pola penggunaan lahan yang salah satunya dilihat dari intensitas kepadatan lalu lintas. Pengukuran di dekat jalan raya menunjukkan nilai suseptibilitas magnetik yang lebih tinggi dibanding pengukuran yang jauh dari jalan raya (pemukiman). Korelasi ini memungkinkan digunakannya suseptibilitas magnetik sebagai indikator pendekatan sebaran logam di tanah akibat gas buang kendaraan bermotor. Kata Kunci: magnetik batuan, suseptibilitas, tanah lapisan atas, logam I. Pendahuluan Kesadaran masyarakat akan hadirnya efek gas buang kendaraan bermotor di kota-kota besar saat ini makin tinggi. Dari berbagai sumber bergerak seperti mobil penumpang, truk, bus, lokomotif kereta api, kapal terbang, dan kapal laut, kendaraan bermotor saat ini maupun di kemudian hari akan terus menjadi sumber yang dominan dari paparan logam di perkotaan. Dibandingkan dengan sumber stasioner seperti industri dan pusat tenaga listrik, jenis proses pembakaran yang terjadi pada mesin kendaraan bermotor tidak sesempurna di dalam industri dan menghasilkan bahan pencemar pada kadar yang lebih tinggi, terutama berbagai senyawa organik dan oksida nitrogen, sulfur dan karbon. Selain itu gas buang kendaraan bermotor juga langsung masuk ke dalam lingkungan jalan raya yang lebih dekat dengan masyarakat, dibandingkan dengan gas buang dari cerobong industri yang tinggi. Emisi gas buang kendaraan bermotor juga cenderung membuat kondisi tanah dan air menjadi asam. Pengalaman di negara maju membuktikan bahwa kondisi seperti ini dapat menyebabkan terlepasnya ikatan tanah atau sedimen dengan beberapa mineral/ logam, sehingga logam tersebut dapat mencemari lingkungan. Melonjaknya jumlah pemakai kendaraan bermotor di Solo diidentifikasikan menjadi sumber polutan berupa paparan logam di tanah. Jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2004 di Kotamadya Surakarta mencapai 202.036 kendaraan yang terdiri dari sepeda motor, bus, mobil penumpang, dan mobil barang. Kondisi lalu lintas Kota Surakarta juga bisa digambarkan dengan melihat total arus yang keluar masuk kota pada 18 jam efektif (jam 06.00- 22.00 WIB) pada tiga belas koridor adalah

579.625 kendaraan atau rata- rata 32.201 kendaraan per jam (Anonim, 2006). Logam dalam batuan dan tanah bisa berupa mineral magnetik yang apabila ditinjau dari sifat magnetiknya, pada umumnya dikelompokkan menjadi diamagnetik, paramagnetik dan ferromagnetik (termasuk ferimagnetik dan antiferomagnetik). Namun demikian istilah mineral magnetik biasanya digunakan bagi mineral yang tergolong ferromagnetik. Dalam batuan dan tanah (soils), mineral ferromagnetik umumnya berasal dari keluarga besi-titanium oksida, sulfide-besi dan hidrooksida besi (Satria Bijaksana, 2002). Metode yang digunakan selama ini untuk mengidentifikasi logam adalah metode kimia, biokimia. dan geokimia. Namun metode-metode ini mahal dan membutuhkan waktu yang lama. Sementara itu metode geofisika yang dikembangkan belum efektif untuk mengidentifikasi adanya logam dalam batuan/ tanah. Untuk itu, dikembangkan metode magnetik batuan sebagai metode alternatif. Metode magnetik batuan sering digunakan dalam kajian lingkungan. Dengan menggunakan perubahan dan variasi sifat mineral magnetik dalam tanah, debu atau sedimen sebagai indikator dari proses yang terjadi di lingkungan. Mineral magnetik dapat didentifikasi dengan serangkaian metode yang dikenal dengan metode kemagnetan batuan (rock magnetic methods) dan yang lazim digunakan adalah pengukuran suseptibilitas magnetik dengan cara pemetaan suseptibilitas magnetik pada tanah berdasarkan parameter- parameter magnetik tanah. Pengukuran susuptibilitas magnetik dari suatu sampel di alam terbuka akan memberikan informasi tentang mineral yang terkandung di dalam sampel tersebut. Pemetaan suseptibilitas magnetik tanah dapat dikaitkan dengan pemetaan sebaran logam dengan asumsi tanah yang diteliti mengandung logam yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Penelitian ini akan memetakan nilai suseptibilitas magnetik dan mengidentifikasikan sebaran logam di Kodya Surakarta dengan cara melakukan survei dan pengukuran secara in-situ (pengukuran lansung) di lapangan dengan Bartington MS2 sensor D sehingga diperoleh data yang dapat mewakili beberapa tempat untuk dianalisis dan dibandingkan dengan hasil pengukuran cuplikan tanah di laboratorium dengan Bartington MS2 sensor W dengan menggunakan variasi temperatur. Hasil dari penelitian ini dapat dikaitkan dengan beberapa kajian masalah lingkungan terutama masalah sebaran logam di tanah dengan hipotesis apabila paparan logam disinyalir ada dalam tanah maka dapat diidentifikasikan juga

masyarakat yang tinggal atau melakukan kegiatan lainnya di sekitar jalan yang padat lalu lintas kendaraan bermotor dan mereka yang berada di jalan raya akan terpapar oleh bahan pencemar berupa logam yang kadarnya cukup tinggi pula. II. Metodologi Penelitian Penelitian mengenai nilai suseptibilitas magnetik untuk analisis sebaran logam di Kodya Surakarta ini meliputi beberapa tahapan dan metode penelitian, yaitu: II.1. Pemetaan Nilai suseptibilitas Magnetik Pengambilan data adalah pengukuran nilai suseptibilitas magnetik tanah lapisan atas secara insitu (pengukuran langsung di lapangan) dengan menggunakan Bartington MS2 sensor D. Pada setiap titik dilakukan pengukuran tiga kali dan hasil yang digunakan adalah nilai rata- rata dari ketiga nilai tersebut. Data- data hasil pengukuran kemudian diolah dengan menggunakan program Surfer v8 untuk mengetahui gambaran peta kontur nilai suseptiblitas magnetik di Kodya Surakarta.

Gambar 2.1.Pengambilan data secara in- situ di lapangan II.2. Pengujian cuplikan tanah di Laboratorium Pengujian di laboratorium untuk mengetahui nilai temperatur Curie dapat digunakan sebagai pembanding dengan hasil pengukuran secara in- situ dilakukan dengan menggunakan seperangkat Bartington MS2 meter dengan sensor W yang diolah dengan software Geolabsoft v2.2.

Gambar 2.2. Bartington Susceptibility Temperature System Prosedur penelitiannya secara sistematis terlihat pada diagram alir di bawah ini

Pengukuran

Permukaan tanah

Sampel tanah pada kedalaman 0,1 m

Nilai Suseptibilitas Magnetik

Peta kontur Suseptibilitas Magnetik

Nilai suseptibilitas magnetik

Analisis

Kesimpulan

Gambar 2.3. Prosedur penelitian III. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk memetakan nilai suseptibilitas magnetik tanah lapisan atas sebagai bahan analisis sebaran logam di Kodya Surakarta. Daerah survei dalam penelitian ini meliputi area Kodya Surakarta dengan total luas 44,04 Km2. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui sebaran suseptibilitas pada kedalaman tertentu. Data mapping diolah dengan sofware Surfer ver8 untuk mendapatkan peta kontur isosuseptibilitas. Kontur isosuseptibilitas menampilkan adanya anomali pada titik-titik tertentu. Satria Bijaksana (2002) menyatakan bahwa dalam batuan dan tanah, mineral feromagnetik umumnya berasal dari keluarga besi titanium oksida (magnetite, hematite, maghemite), sulfidabesi (pyrite, pyrrhotite), dan hidro oksida besi (goethite). Nilai suseptibilitas mineral magnetik ini ditunjukkan dalam tabel di bawah ini. Tabel 3.1. Nilai Suseptibilitas Magnetik Mineral Feromagnetik (Hunt dkk, 1995) Mineral Suseptibilitas Magnetik Magnetik (10-5 SI) Magnetite 100.000-570.000 Hematite 50-4000 Maghemite 200.000-250.000 Ilmenite 200-380.000 Pyrite 35-500 Pyrrhotite 320.000 Goethite 110-1200 Pengukuran secara in-situ menunjukkan nilai suseptibilitas magnetik tanah lapisan atas di Kodya Surakarta berada pada rentang (9,6 - 974,7) x

10-5, yang berarti termasuk dalam rentang nilai mineral feromagnetik. Pada temperatur ruangan, hanya besi (Fe), nikel (Ni), kobalt (Co), dan gadolinum (Gd) sajalah yang merupakan elemen feromagnetik, tetapi beberapa elemen pada temperatur rendah dan logam-logam campuran (alloy) yang komponennya tidak feromagnetik juga memperlihatkan efek- efek feromagnetik (Allonso,1992). Berdasarkan hal ini maka pada peta isosuseptibilitas dapat diinterprestasikan bahwa titik yang mempunyai nilai suseptibilitas magnetik tinggi berarti tanah permukaan di sekitar titik-titik tersebut mempunyai kandungan logam yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Klasifikasi tinggi dalam penelitian ini adalah daerah yang mempunyai nilai suseptibilitas magnetik 900 x 10-5 - 950 x 10-5. Daerah yang mempunyai nilai suseptibilitas magnetik rendah rentangnya adalah 0-50 x 10-5. Sedangkan daerah dengan nilai suseptibilitas 450 x 10-5- 500 x 10-5 masuk kategori sedang. Kombinasi dari pengukuran suseptibilitas magnetik dapat membantu dalam mengidentifikasi kondisi tanah di suatu daerah yang mempunyai kandungan logam di dalamnya. Emisi kendaraan bermotor diperkirakan sebagai sumber yang signifikan dari polutan bahan magnetik/ logam (Hoffman dkk, 1999). Berikut hasil pemetaan nilai suseptibilitas magnetik tanah lapisan atas di Kodya Surakarta yang diolah dengan perangkat lunak Surfer v.8

Posisi y (Satuan Panjang)

12
950

10

850 750

8
650

550 450

350 250

2
150

0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

50

Posisi x ( Satuan Panjang )

Ket: 1 satuan panjang = 500 m Gambar 3.1. Peta Kontur nilai suseptibilitas magnetik dari area survei di Kodya Surakarta Indikasi bahwa sumber utama paparan logam adalah kepadatan lalu lintas terlihat pada pengukuran di daerah sekitar jalan utama dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi mempunyai nilai suseptibilitas magnetik lebih besar daripada yang jauh dari jalan utama atau di sekitar daerah pemukiman. Hal ini terlihat pada peta kontur

dimana terlihat adanya anomali dengan nilai suseptibiltas magnetik tinggi ( warna merah) di antaranya pada koordinat (3,3), (12,3), dan (13,7). Ini berarti di sekitar titik tersebut banyak terdapat kandungan logam, hal ini ditunjukkan dengan nilai suseptibilitas magnetik sebesar 947x 10-5, 958 x 105 , 928,1 x 10-5. Berdasarkan ploting titik pemetaan pada Peta Wilayah Kodya Surakarta, koordinat (3,3) dan (12,3) adalah daerah di sekitar Jalan Slamet Riyadi yang merupakan ruas jalan terbesar di Kota Surakarta dan termasuk kategori jalan utama, sehingga bisa dipastikan intensitas kendaraannya memang sangat tinggi. Begitu pula dengan koordinat (13,7) yang merupakan daerah pertigaan ramai kendaraan bermotor pertemuan dua jalan utama yaitu Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan Tentara Pelajar. Secara keseluruhan ada 12 titik pengukuran di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dengan nilai suseptibilitas magnetik ditunjukkan pada tabel di bawah ini: Tabel 3.2. Pemetaan Nilai Suseptibilitas Magnetik di Jalan Slamet Riyadi Koordinat (2,3) (3,3) (4,3) (5,3) (6,3) (7,3) (8,3) (9,3) (10,3) (11,3) (12,3) (13,3)

(10 )
-5

808,6 947,2 872,3 737,3 333,8 246,3 712,9 744,8 595,0 904,1 958,1 901,1

Terlihat bahwa sebaran nilai suseptibilitas magnetik di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dari 12 titik koordinat pengambilan data secara in-situ mempunyai rentang nilai yang relatif tinggi pada 9 titik koordinat yaitu (712,9-958,1) x 10-5. Nilai yang relatif lebih rendah di temukan di tiga koordinat lain sebesar 246,3 x 10-5; 333,8 x 10-5; dan 595,0 x 10-5. Ketika dicocokkan dengan kondisi saat pengambilan data, ternyata lokasi pengukuran di tiga titik ini dilakukan di taman kota yang terletak di sisi jalan, sehingga ada pengaruh vegetasi (rerumputan taman) terhadap nilai suseptibilitas magnetik yang terukur. Pengukuran di tiga titik di Jalan Slamet Riyadi ini terpaksa dilakukan di areal taman karena secara kondisi fisik tidak ada permukaan tanah yang terbuka akibat betonisasi di sebelah kiri dan kanan Jalan Slamet Riyadi. Pengukuran 9 titik lain

dilakukan langsung di tanah permukaan di pinggir jalan. Anomali dengan nilai suseptibilitas yang rendah (warna hijau) di koordinat (1,4) dan (14,10) yaitu di daerah Jalan Blewah Raya I dan Jalan Madukoro yang merupakan daerah pemukiman penduduk ataupun daerah dengan intensitas kendaraan bermotor yang relatif lebih sedikit semakin menguatkan bahwa gas buang kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber polutan logam. Dari pengukuran di Jalan Slamet Riyadi di atas terlihat faktor vegetasi juga memberikan kontribusi pada terukurnya nilai suseptibilitas pada tanah permukaan. Sehingga pengukuran di tiga titik koordinat di areal yang banyak vegetasinya ternyata berbeda dibandingkan dengan 9 titik pengambilan data yang lain dalam satu jalan yang sama intensitas kendaraannya. Hal ini juga terlihat pada peta kontur isosuseptibilitas pada koordionat (7,2) yang merupakan daerah Jalan Samanhudi ( pertigaan dekat Tugu Lilin) yang termasuk kategori jalan raya yang secara intensitas kendaraan bermotor daerah ini bisa dikategorikan ramai. Namun kondisi di sekitar jalan yang ditumbuhi pepohonan ternyata berpengaruh pada sebaran logam yang ada, hal ini ditunjukkan dengan nilai suseptibilitas yang hanya berkisar pada nilai 37,95 x10-5 yang termasuk kategori rendah. Tumbuhan dapat bertindak sebagai pengeliminasi logam. Peran pada tumbuhan ini dikenal sebagai fitoremidiasi. Tumbuhan dapat mengeliminasi logam berat melalui beberapa cara, seperti (i) fitostabilisasi: tumbuhan menstabilkan limbah di dalam tanah; (ii) fitostimulasi: akar tanaman menstimulasi penghancuran limbah dengan bantuan bakteri rhizosfer; (iii) fitodegradasi: tanaman mendegradasi limbah; (iv) fito ekstrasi: jeringan tanaman, terutama dauan mangakumulasi limbah; (v) fitovolatilisasi: limbah diubah menjadi senyawa yang mudah menguap; serta (vi) rhizofiltrasi: akar menyerap limbah dari air (Kompas, 2004). Namun berbeda dengan bakteri yang dapat mengubah tingkat oksidasi dan ordinasi logam menjadi kurang berbahaya, pada fitoremidiasi sebagian logam yang diserap tetap dalam kondisi membahayakan manusia, sehingga kayu atau panenan lain dari tumbuhan tersebut harus diperlakukan secara khusus karena tetap mengandung zat beracun, meskipun tingkat peracunan ini umumnya terbatas karena logam yang tertahan di lapisan akar umumnya tidak berada dalam kondisi dapat diserap makhluk hidup. Namun yang terpenting dengan adanya tumbuhan ini dapat mencegah paparan langsung logam ke tubuh manusia.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Endang Purwanti (2002) terkait pemetaan nilai suseptibilitas magnetik dan identifikasi bahan magnetik di daerah Ngoresan, Jebres, Surakarta menyarankan adanya penelitian tambahan dengan metode pencuplikan tanah untuk dilakukan penelitian suseptibilitas magnetik tanah di laboratorium dengan menggunakan variasi temperatur. Berpijak dari pemikiran ini, sampel yang diperoleh dari titik-titik yang mempunyai nilai suseptibilitas ekstrim (tinggi, sedang, dan rendah) berdasarkan pengukuran in-situ di lapangan kemudian diuji dengan Bartington Susceptibility Temperatur System yang diolah dengan software Geolabsoft v2.2. sehingga diperoleh grafik hubungan antara suseptibilitas magnetik ( ) dan temperatur (T) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.2 sampai dengan 3.4. Dengan masingmasing kategori diambil tiga titik sampel. Sampel-sampel tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan lokasinya, yaitu kategori jalan utama, jalan raya, dan pemukiman untuk mengetahui korelasi antara kepadatan lalu lintas dengan sebaran logam yang ada berdasarkan identifikasi nilai suseptibilitas magnetiknya. 1.Kategori Jalan Utama a. Sampel 1 (Pertigaan Taman Ganesha, Jln. Tentara Pelajar)
Suseptibilitas

b. Sampel V (Jln. Slamet Riyadi; pertigaan depan Pabrik Jamu Air Mancur)

Suseptibilitas

Temperatur (0C)

Gambar 3.2 (b). Grafik vs T untuk sampel V c. Sampel VI ( Jln. Sutan Syahrir)
Suseptibilitas

Temperatur (0C)

Gambar 3.2 (c). Grafik vs T untuk sampel VI d. Sampel IX (Jln. Slamet Riyadi; sebelah timur pertigaan Nonongan)
Suseptibilitas

Temperatur (0C)

Gambar 3.2 (a). Grafik untuk sampel I

vs T
Temperatur (0C)

Gambar 3.2 (d). Grafik untuk sampel IX

vs T

Gambar 3.2. Grafik vs T untuk sampel kategori jalan utama

2.Kategori Jalan Raya a.Sampel II (Depan Martawalanda Maramis)


Suseptibilitas

AUB,

Jln.

3. Kategori Pemukiman a. Sampel III (Jln. Madukoro)


Suseptibilitas

Temperatur (0C) Temperatur (0C)

Gambar 3.3 (a). Grafik untuk sampel II b. Sampel VII (Jln. Samanhudi)
Suseptibilitas

vs T

Gambar 3.4 (a). Grafik vs T untuk sampel III b. Sampel IV (Jln. Blewah Raya I)
Suseptibilitas

Temperatur (0C) Temperatur (0C)

Gambar 3.3 (b). Grafik untuk sampel VII

vs T

Gambar 3.4 (b). Grafik vs T untuk sampel IV Gambar 3.4. Grafik vs T untuk sampel kategori pemukiman Sampel yang termasuk kategori mempunyai nilai suseptibilitas magnetik tinggi berdasarkan pemetaan dengan proram Surfer ver8 adalah sampel I, V, dan IX. Sampel dengan suseptibilitas rendah adalah sampel III, IV, danVII. Sedangkan sampel yang dimasukkan dalam kategori nilai suseptibilitas magnetik medium (sedang) adalah sampel II, VI, dan VIII. Grafik pada gambar 3.2-3.4 di atas menunjukkan sifat hubungan antara kenaikan suhu sampel ( sumbu x ) terhadap nilai suseptibilitas magnetik sampel (sumbu Y). Setelah mengalami proses pemanasan sehingga suhu perlahan- lahan mulai naik, suseptibilitas magnetik sampel juga mengalami kenaikan. Hubungan antara pengaruh suhu yang diberikan dengan nilai suseptibilitas yang diperoleh adalah linier. Artinya, seiring dengan naiknya variasi suhu yang diberikan maka nilai suseptibilitas magnetik yang didapat juga mengalami kenaikan. Akan tetapi hubungan linier ini tidak bertahan seterusnya, dapat dilihat pada gambar 3.23.4 bahwa sampel tanah mengalami perubahan yang

c. Sampel VIII ( Jln. Kebangkitan Nasional)


Suseptibilitas

Temperatur (0C)

Gambar 3.3 (c). Grafik untuk sampel VIII

vs T

Gambar 3.3. Grafik vs T untuk sampel kategori jalan raya

sangat mencolok setelah suhu sampel mencapai suhu tertentu. Pada suhu tersebut nilai suseptibilitas magnetik mencapai nilai maksimum, kemudian setelah suhu melewati suhu tersebut nilai suseptibilitas magnetik turun. Suhu transisi ini disebut suhu Curie. Pemanasan yang terus dilakukan pada sampel di atas suhu Curie menyebabkan grafik yang diperoleh adalah penurunan nilai suseptibilitas magnetik pada variasi kenaikan suhu yang diberikan. Hal ini sesuai dengan karakteristik bahan paramagnetik, bahwa suseptibilitas magnetik bahan paramanetik akan mengalami penurunan jika suhu dinaikkan. Pada suhu di bawah suhu Curie perilaku magnetik dari bahan ferromagnetik adalah kompleks. Dari penelitian ini diperoleh suseptibilitas magnetik sampel tanah sebelum mencapai suhu Curie berkisar antara 35 sampai 600. Pada penelitian ini sampel tanah menunjukkan kenaikan suseptibilitas magnetik secara perlahan seiring dengan naiknya suhu. Setelah mencapai suhu Curie suseptibilitas magnetik bahan ferromagnetik akan mengalami penurunan seiring dengan naiknya suhu. Hal ini juga terlihat pada gambar 3.2 sampai 3.4, grafik yang diperoleh dalam penelitian ini. Penurunan ini disebabkan karena pada suhu di atas suhu Curie bahan ferromagnetik berubah menjadi paramagnetik. Penelitian Agus Sugianto (2005) terkait penentuan suhu Curie logam berupa sampel nikel juga menghasilkan grafik yang serupa, dengan suhu Curie nikel hasil penelitian antara 300o C sampai 406oC.
Suseptibilitas

Tabel 3.3. Suhu Curie Bahan Feromagnetik (Blake More, 1985) Bahan Suhu Curie (oC) Fe 770 Co 1122 Ni 358 Gd 16 Dy -188 Sedangkan suhu Curie masing-masing sampel tanah hasil penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 3.4. Suhu Curie Sampel Tanah Hasil Penelitian Sampel Suhu Curie (oC) I 300 II 270 III 200 IV 260 V 275 VI 270 VII 250 VIII 265 IX 250 Dari tabel 3.4 dapat dilihat bahwa suhu Curie sampel tanah yang diperoleh dari penelitian antara 200oC sampai 300oC. Diperolehnya grafik dari sampel tanah (Gambar 3.2-3.4) yang mempunyai karakteristik yang sama dengan grafik pengujian sampel Ni yang dilakukan oleh Agus Sugianto (2005) pada gambar 3.5 menunjukan bahwa dalam sampel tanah lapisan atas yang diambil di area survey Kodya Surakarta mengandung paparan logam di dalamnya. Di samping itu terlihatnya korelasi antara kepadatan lalu lintas dengan nilai suseptibilitas magnetik hasil penelitian pada peta isosuseptibilitas serta terukurnya nilai suhu Curie sampel tanah menjadi indikator bahwa pengukuran suseptibilitas magnetik dengan menggunakan Bartington MS2 meter dapat digunakan sebagai pendekatan dalam mendeteksi adanya paparan logam dalam tanah lapisan atas di Kodya Surakarta. IV. Kesimpulan dan Saran IV.1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan data hasil penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengukuran suseptibilitas magnetik dapat digunakan sebagai metode dalam mendeteksi sebaran logam; 2. Pengukuran di dekat jalan utama mempunyai nilai suseptibilitas magnetik lebih tinggi dari pada yang jauh dari jalan utama (pemukiman) menunjukkan kandungan logam yang tinggi sebagai

Temperatur (0C)

Gambar 3.5. Grafik vs T untuk sampel nikel (Agus Sugianto, 2005) Secara teori, suhu Curie untuk beberapa logam yang bersifat feromagnetik ditunjukkan tabel di bawah ini

indikasi bahwa sumber utama polusi tanah adalah efek gas buang kendaraan bermotor; 3. Temperatur Curie logam yang diperoleh dalam penelitian antara 200oC sampai 300oC. IV.2. Saran Dari hasil penelitian yang telah dilakukan saran yang dapat diberikan adalah memperbanyak pengambilan sampel tanah dari beberapa area yang berbeda dalam satu titik sampel untuk memperoleh data yang lebih mewakili karakteristik titik yang diteliti tersebut. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan intensitas logam berat yang berbedabeda dalam satu titik yang mencakup satu luasan daerah tertentu. V. Daftar Pustaka Alonso, M., Finn, E.J.,1992: Physics, AddisonWesley Anonim, 2006 : Proposal Peningkatan Pelayanan Angkutan Umum di Kodya Surakarta, Pemkot Surakarta Endang Purwanti, 2002: Analisis Suseptibilitas Magnetik pada Tanah Menggunakan Bartington MS2 Meter di Ngoresan Jebres Surakarta, Skripsi, Fisika, FMIPA UNS, Surakarta Hoffman, V., Knab, M., Appel, E.,1999: Magnetic Susceptibility Mapping of Roadside Pollution, Journal of Geochemical Exploration, vol 66, Hal 313-326 Satria Bijaksana, 2002: Analisa Mineral Magnetik dalam Masalah Lingkungan, Jurnal Geofsika, Edisi 2002, No 1, Hal 19- 27