You are on page 1of 2

PROYEK REVITALISASI PASAR TRADISIONAL KASUS : PASAR BANDAR BUAT

Latar Belakang : Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang Tahun 2004-2013, arahan pengembangan pusatpusat pelayanan yaitu: Pusat Pelayanan Utama di kawasan pusat kota, Sub Pusat Pelayanan Utama di kawasan Lubuk Buaya, Air Pacah, Bandar Buat, Tabing, Teluk Bayur, dan Bungus serta Pusat Pelayanan Kegiatan di kawasan Anak Air, Limau Manis, Pasar Baru, Pasar Raya, Gunung Padang, dan Sungai Pisang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang Tahun 2004-2008 (berdasarkan Perda No. 19 Tahun 2004) ditetapkan 4 (empat) Sentra Perkembangan Kota dan 18 (delapan belas) Kawasan Prioritas Pengembangan. Untuk mengembangkan kawasan prioritas tersebut masih perlu dilengkapi dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota dan Rencana Teknis Tata Ruang Kota sebagai acuan untuk melaksanakan pembangunan. Sentra perkembangan dan kawasan prioritas Kota Padang yaitu: a. Sentra Perkembangan Pusat Kota: kawasan Pasar Raya, kawasan eks Terminal Lintas Andalas, kawasan eks Bandara Tabing, kawasan wisata terpadu Gunung Padang, dan kawasan sepanjang pantai. b. Sentra perkembangan Utara: kawasan Air Pacah, kawasan perbatasan sekitar Bandara Internasional Minangkabau, kawasan Pasar Induk Anak Air, kawasan Padang Industrial Park, kawasan Pasar Lubuk Buaya, kawasan perkantoran Pemko Padang. c. Sentra perkembangan Timur: kawasan Bandar Buat, kawasan Kampus Universitas Andalas Limau Manis, kawasan Pasar Baru, kawasan Padang By Pass.

d. Sentra perkembangan Selatan: kawasan Teluk Bayur, kawasan Industri Maritim Bungus, kawasan wisata Sungai Pisang.

Investor : PT Syafindo Mutiara Andalas

Masalah yang dihadapi : 1. Pedagang tidak mau menempati los-los yang ada di Lantai II, dan lebih memilih berjualan di lahan parkir yang berada di halaman Pasar Bandar Buat, bahkan beberapa pedagang memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat berjualan. 2. Ketiadaan tempat parkir mengakibatkan kendaraan umum, pribadi serta ojek menggunakan jalan sebagai tempat parkir. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas di jalan raya di depan Pasar Bandar Buat terjadi hampir setiap hari, terutama pada hari Selasa dan Sabtu yang merupakan hari pasar di Bandar Buat.

Penyebab : Pedagang tidak mau menempati lantai II karena tidak memadainya sarana dan prasarana di lantai II (spt WC, tangga). Atap bocor , saluran air yg tidak memadai dan dinding yang retak sehingga saat hujan air menggenang.

Tindakan dari Pemko Padang : Pemko Padang melaui dinas terkait telah berulang kali berupaya memindahkan pedagang ke Lantai II Pasar Bandar Buat. Namun tidak bertahan lama, pedagang kembali menempati lahan parkir. Tuntutan perbaikan sarana dan prasarana belum dirampungkan oleh investor. Jadi pemko berdalih bahwa keengganan pedagang untuk menempati los di lantai II merupakan tanggung jawab investor.