KAJIAN POLA REPRODUKSI PADA KANCIL (Tragulus javanicus) DALAM MENDUKUNG PELESTARIANNYA

NAJAMUDIN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Kajian Pola Reproduksi pada Kancil (Tragulus javanicus) Dalam Mendukung

Pelestariannya adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun pada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2010

Najamudin NRP B361060011

ABSTRACT NAJAMUDIN. Study of Mouse Deer Reproduction Pattern (Tragulus javanicus) in Supporting Sustainability. Under the supervision of TUTY L. YUSUF as chairman, SRIHADI AGUNGPRIYONO and AMROZI as members of the supervisory Committee. This research aimed to study the reproductive pattern of mouse deer in order to support their conservation. In general, the male and female mouse deer reproductive organs are similar with those of other domestic animals. The duration of standing time of female mouse deer during estrous was significantly longer than the standing time during non-estrous. The vulva of an estrous female was reddened, swollen and loose; in contrast, the vulva of a non-estrous female appeared pale and tight. Another way to detect estrous was by holding the back of the mouse deer; estrous animals elevated their hindquarters, displaying a lordosis reflex. Male mouse deer also displayed flehmen reaction and appeared more active during the female estrous phase. Behaviours of male when they approached a female in heat included increased activities, flirtation, licking the mammae as well as the back, marking, and mating. Male mouse deer mounted the female by raising both front feet off the ground to be placed on the top of the female hips in order to have a safe mating position. When mounted, nonestrous female mouse deer displayed a slightly lower position to avoid copulation, and ran. Average of first mounting time was 3 minutes (in the range of 1-5 minutes); second mounting attempt had a similar duration. In this study, the average frequency of the male mouse deer mounted the female was 23 times/day (in the range of 11-34 times/day). In this study, it was observed that mouse deer were not monogamous. The duration of estrous was determined 2-3 days (48-72 hours), based on the vaginal cytology. The estimated length of the estrous cycle was 11.6 days (9-14 days range); this was determined by calculating the duration of time to have a repeated highest percentage of superficial cells on the vaginal cytology. The interluteal phase progesterone concentration was 804.46±165.09-948.76±116.37 ng/g, while the luteal phase concentration was 1887.61±44833-2093.56±513.68 ng/g in female mouse deer. Based on the progesterone profile, the average length of estrous cycle was 12 days (9-15 days range), the length of luteal phase was 7-8 days, the length of interluteal phase was 4-5 days, and the duration of estorus was 2-3 days. Macroscopic evaluation on semen in this study demonstrated the average volume was 35±12.91 µl, pH 7.5, and yellow-creamy white in color. Microscopically, the average percentage of sperm motility was 40.0±8.165 %, the average sperm concentration was 366.66±148.08x106 ml-1, the average percentage of alive sperm was 65.00±5.77% and the percentage of sperm with abnormal morphology was 29.18%.
Key words: mouse deer, behaviour, vaginal cytology, estrous cycle, progesterone

untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu. terlihat nyaman di dalam kandang (terkondisi). bila dipegang tidak memberontak. E dan C (anti oksidan) dan sebulan sekali diberi Biosalamin® secara intramuskuler serta setiap enam bulan diberikan obat cacing (Calbazen®). maka sebagai langkah awal seperti tingkah laku reproduksi betina dan perubahan sitologis vagina serta pola hormonalnya selama siklus estrus perlu diteliti.RINGKASAN NAJAMUDIN. Kancil dapat memakan rata-rata 552. Untuk mendukung usaha pelestarian kancil diperlukan kemampuan dan keberhasilan dalam perkembangbiakan. terutama disebabkan oleh faktor lingkungan. Mengingat status reproduksi betina merupakan faktor penting dalam keberhasilan penerapan teknologi reproduksi. yaitu. Di bawah bimbingan TUTY L. termasuk di pulau pulau Jawa. kacang panjang. Air minum diberi ad-libitum dan di sudut kandang juga disediakan garam. setiap minggu diberikan vitamin A. (3) mengamati pola dan tingkah laku seksual kancil jantan dan betina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pola reproduksi kancil (Tragulus javanicus) dalam rangka mendukung pelestariannya. Kancil mempunyai potensi untuk dijadikan ternak budidaya atau merupakan satwa harapan. Satwa ini hanya ditemukan di hutan tropis bagian selatan Asia. Kancil adalah hewan yang memiliki stres tinggi. Demikian juga pada jantan sangat diperlukan informasi lebih lanjut tentang karakteristik kualitas semen. sehat dan siklus estrus teratur. Dalam penelitian ini pakan yang diberikan berupa campuran wortel. ketimun). Berdasarkan pengamatan terlihat kancil yang digunakan dalam penelitian ini bertahan hidup sampai sekarang (2 tahun). kangkung dan diberi tambahan konsentrat (pellet kelinci). Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan. dengan kata lain kancil telah beradaptasi dengan lingkungan. Kajian Pola Reproduksi pada Kancil (Tragulus javanicus) dalam Mendukung Pelestariannya. Akan tetapi hingga saat ini pengetahuan tentang pola fisiologi reproduksi kancil belum banyak diketahui. (2) anatomi dan morfometri organ reproduksi jantan dan betina.50 gr/hari. Sumatera dan Kalimantan. SRIHADI AGUNGPRIYONO dan AMROZI masing-masing sebagai anggota komisi pembimbing. YUSUF sebagai ketua. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya didalam memanfaatkan jenis bahan yang tersedia pada lingkungan ex situ seperti umbiumbian (wortel. . (1) mengamati pola adaptasi kancil pada kondisi penangkaran. (4) mengamati panjang siklus estrus dan lama periode estrus kancil melalui pengamatan perubahan sitologis sel-sel epitel vagina dan profil metabolit hormon steroid (estrogen dan progesteron) dan (5) mengamati karakteristik dan kualitas semen kancil yang dikoleksi dengan metode elektroejakulator. Kancil (Tragulus javanicus) merupakan salah satu satwa langka. Populasi hewan ini diduga cenderung menurun karena perusakan dan konversi habitatnya menjadi lahan olahan manusia serta aktivitasaktivitas perburuan. akan tetapi stres hanya bersifat akut artinya terjadi saat pertama kali ditempatkan dalam kandang. kacang panjang. ubi jalar) dan sayuran (kangkung.

91 kali/menit dibanding non estrus 3.55) dan non estrus (2. serta organ kelamin bagian luar atau organ kopulatoris yang disebut dengan penis.47±0. oviduct.87 mm dengan diameter mm.00±1. Ovarium kanan kancil berukuran lebih panjang 4.4 kali/menit.50±43.41 mm).46 mm dan tebal 5. kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap (ampula. Pada kancil terlihat cervix relatif lebih panjang dari vagina. Kancil jantan bersifat dominan terhadap jantan yang baru datang.Secara umum bagian-bagian dari organ reproduksi kancil jantan hampir sama dengan organ reproduksi ternak domestik lainnya.67 mm.9±1.1 kali/menit).03±1.89 kali/hari) dibanding non estrus (3.17 gr.33±10.89 mm. Cornua uteri kanan juga lebih panjang (32. Gelisah (gerakan berpindah tempat) saat estrus 18.84 jam/hari).52 mm dengan diameter 5.86±0. Karakteristik tingkah laku pada penelitian ini diukur berdasarkan pengamatan terhadap: lama berdiri.7±1. Penis kancil mempunyai fleksura sigmoidea dan termasuk fibroelastis.33±0. Corpus uteri memiliki panjang 32.81±0.04 gr).85 mm dengan berat (0.3 ±0.4 ±3.02 mm dan tebal 5.8±2. Cervix kancil mempunyai panjang 24. kelenjar vesikularis. panjang kelenjar prostat 17.45 kali/hari).2±0. panjang vas deferens adalah 113±3. Konsumsi pakan menurun pada saat estrus (436. Hasil pengamatan pada jantan dimana bila ada betina estrus.00±3. Panjang testis kancil adalah 12.26±1.55 kali/hari). gelisah. cervix dan vagina.2±0.3±53. Dari pengamatan terhadap perubahan vulva terlihat kancil menunjukan pembukaan dan pembengkakan vulva yang jelas (+++) pada saat estrus.61 mm dan lebar 3.06 mm. uterus.5 kali/hari).1 kali/hari) dibanding dengan saat betina non estrus (2.33±2.58 mm. Parameter lain yang diamati dengan cara memegang punggung.13 jam/hari) dibanding non estrus (3.4±0.83±0.70 gr/hari) dibanding non estrus (552.5 kali/menit) dibanding bila betina non estrus (6.33±2.33±5. vas deferens dan urethra. sepasang kelenjar bulbourethralis dengan panjang 8.67±3.20±1. prostat dan bulbourethralis) dan saluran-saluran yang terdiri dari epididimis. Betina kadang melakukan sentakan kaki yang diduga untuk mengalihkan perhatian pejantan.67±3.05 mm) dibanding Cornua kiri dengan panjang 21.08 mm) dan yang kiri 29. panjang kelenjar vesikularis pada kancil 18. diameter 8. Organ reproduksi kancil betina terdiri dari sepasang ovarium. sehingga pejantan yang baru tidak menunjukkan agresivitas. Lama berdiri pada pada saat estrus kancil memperlihatkan perubahan yang jelas (7.4±0.61 mm dan lebar 2.4±0.67±2.6±1. ampula kancil 17.5 kali/hari).33±2.92 mm dengan berat 0. dimana berbeda dengan pada ternak mamalia lainnya. Sebaliknya pada saat non estrus.6±1. vulva agak tertutup dan pucat. Frekuensi defekasi (5.33±2.70 mm di bandidngkan dengan ovarium kiri panjang 4. Panjang penis bebas preputium pada kancil (58.60 mm.52 mm dengan tebal 6. terdapat peningkatan gerak sebanyak (17.0±1.53±0.8 kali/hari) dibanding dengan saatbetina non estrus (2.6±0. Vagina memiliki panjang 20. Terjadi peningkatan frekuensi urinasi (6.4±0.73 mm.10 mm. .21 mm.62 gr/hari).67±2. Defekasi terjadi saat estrus (4. Kancil betina yang dipegang punggunngnya posisi pinggul dinaikkan atau pelegokan punggung (lordosis) dan tidak bergerak. Tuba Fallopii kanan memiliki panjang (30.6 ±0. yaitu terdiri dari organ kelamin primer (gonad jantan atau testis). nafsu makan dan perubahan vulva.08 mm. urinasi.57 mm. Urinasi saat estrus lebih sering (7.

coiled under the head (1.00±12.66±148. antara lain adalah pear shape (0. menggosok-gosokkan intermandibular scent glandnya ke betina dan kopulasi.5.12%) dan double tail (0.6 hari dengan kisaran (9-14 hari).37%).00±5. Lama mounting rata-rata 3 menit (berkisar antara 1-5 menit). panjang siklus berdasarkan antara dua titik dimulainya peningkatan konsentrasi progesteron sampai peningkatan konsentrasi progesteron berikutnya (di atas garis threshold ) pada kancil no 1 adalah 12 hari (9-15 hari) dan pada kancil no 2 adalah 12 hari (12-13 hari).12%).12%).12%). microcephalus (1. pH 7. double heads (1. persentase hidup 65.37%). simple bent (3.81%).69%) dan distal cytoplasmic droplet (2. narrow at the base (kepala mengecil ke bawah) (1. Siklus estrus kancil dapat ditentukan dengan melihat perubahan sel-sel epitel vagina.68%). round head ((1. Berdasarkan sitologis vagina. Demikian juga waktu yang dibutuhkan dari mounting pertama kali dan waktu mounting yang kedua rata-rata 3 menit (berkisar antara 1-5 menit).12%). midpiece defect (1. Abnormalitas pada kepala yang ditemukan pada kancil. Kancil yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai libido yang tinggi dari pengamatan diketahui juga bahwa kancil tidak bersifat monogamus. Sedangkan abnormalitas pada ekor antara lain adalah ekor tanpa kepala (1. Dari profil progesteron. Secara mikroskopis tidak menunjukkan gerakan massa.56%). Pada saat mounting kancil jantan akan menaikkan kaki depannya ke atas pinggul dengan sejajar atau menyilangkan kaki diatas pinggul betina hingga posisinya aman untuk terjadinya kopulasi.165). abaxial (1. berwarna kuning dan konsistensi kental.18.12%). proximal cytoplasmic droplet (1. konsentrasi spermatozoa (366. undeveloped (3.12%) dan macrocephalus (1. Karakteristik semen yang didapatkan pada penelitian ini secara makroskopis yakni sebesar 35. Lama fase luteal pada kancil no 1 adalah adalah 8 hari dan kancil no 2 adalah 7 hari serta lama fese interluteal baik pada kancil no 1 dan no 2 adalah 4-5 hari dengan lama estrus 2-3 hari. menjilati dada dan punggung. yaitu 11.0±8.Pola tingkah laku kawin ditandai dengan perubahan sifat pejantan yaitu menjadi lebih aktif. percumbuan (courtship).80%).08x106 ml-1). narrow (tappered head) (1. Ereksi terjadi saat kaki sudah terfiksir di atas pinggul dan saat tersebut terjadi intromisi.56%).77 dan persentase abnormalitas 29.91 μl.12%). lama estrus adalah 2-3 hari (48-72 jam) dan lama siklus estrus berdasarkan jarak antara titik tertinggi sel-sel superfisial.13%). detached head (2. persentase motilitas (40. .

tahun 2010 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor. penelitian. penulisan kritik. atau tinjauan suatu masalah. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB . penulisan karya ilmiah. penyusunan laporan.

KAJIAN POLA REPRODUKSI PADA KANCIL (Tragulus javanicus) DALAM MENDUKUNG PELESTARIANNYA NAJAMUDIN Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Biologi Reproduksi SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 .

M.Penguji pada Ujian Tertutup : 1 Dr.Sc. Agus Setiadi (Dosen pada Departemen Klinik. Drh. Iis Arifiantini.Sc. M. Reproduksi dan Patologi. Fakultas Kedokteran Hewan. M. Reproduksi dan Patologi.S. IPB. Soehartono. Tonny R. Ir. (Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. M. Departemen Kehutanan RI) 2 Dr. IPB. IPB. R. (Dosen pada Departemen Klinik. Bogor) Penguji pada Ujian Terbuka : 1 Dr. (Dosen pada Departemen Klinik. M. Fakultas Kedokteran Hewan. Reproduksi dan Patologi. Fakultas Kedokteran Hewan. Bogor) . Drh. Agil. Bogor) 2 Dr.

Notodiputro. M.Judul Disertasi : Kajian Pola Reproduksi pada Kancil (Tragulus javanicus) dalam Mendukung Pelestariannya. Tanggal Ujian : 20 Januari 2010 Tanggal Lulus : . Srihadi Agungpriyono. drh. Amrozi Anggota Mengetahui Ketua Program Studi/ Mayor Biologi Reproduksi Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Iman Supriatna Prof.S. drh. Tuty L. Ketua Dr. PAVet(K) Anggota Dr. drh. Khairil A. Dr. Dr. Yusuf. Dr. M. Ir.S. drh. : Najamudin : B361060011 Nama NRP Disetujui Komisi Pembimbing Prof.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada: Ibu Prof. . drh. sehingga Karya Ilmiah “DISERTASI” ini berhasil diselesaikan. atas kesediaanya menjadi penguji luar komisi pada ujian terbuka dan Bapak Dr. Soehartono M.PRAKATA Alhamdu Lillahi Rabbil Alamin atas segala rahmat dan karunianya yang engkau berikan ya Allah. penentuan siklus estrus melalui gambaran sitologis vagina dan profil hormon metabolit dari feses serta karakteristik spermatozoa kancil. Disertasi ini memuat hasil penelitian tentang pola adaptasi kancil pada kondisi penagkaran. drh. Bapak Dr.Sc dan Ibu Dr. Agil. Program Studi Biologi Reproduksi SPs-IPB. M. Tonny R. drh. drh. sebagai pimpinan sidang pada ujian tertutup. M. H. sebagai ketua komisi pembimbing. yang telah bersedia menjadi penguji luar komisi pada ujian tertutup dan Ibu Dr. masing-masing sebagai anggota pembimbing.Sc. sebagai pimpinan sidang pada ujian terbuka. atas kesempatan dan segala fasilitas yang diberikan selama penulis menenpuh pendidikan sehingga penelitian ini dapat berlangsung dengan baik. Sekolah Pascasarjana IPB. Agus Setiadi dan Bapak Dr. serta Departemen Klinik. tingkah laku reproduksi jantan dan betina. Srihadi Agungpriyono. Tuty L. Ir. DEA (Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. R.S. PAVet(K) dan Bapak Dr. Institut Pertanian Bogor. MS. M. Iis Arifiantini. drh. Reproduksi dan Patologi. Dr. Amrozi. IPB). Nastiti Kusumorini. Laboratorium Rehabilitasi Reproduksi. M. Laboratorium Riset Anatomi AFF FKHIPB beserta seluruh staf. Hasim. atas arahan dan bimbingannya dimulai dari pembuatan proposal dan pelaksanaan peneltian sampai pada penulisan disertasi sehingga dapat menambah wawasan penulis dalam berbagai hal yang tertuang dalam disertasi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula pada pimpinan Universitas Tadulako. Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Terima kasih juga kepada Bapak Dr. Yusuf. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW atas suri tauladan-Nya. drh.

drh. dan Ibu Endang. Akhir kata penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan bernilai ibadah kepada Allah SWT. Rosyid. Bapak Prof. drh. DEA. AMd atas bantuaan dan kerjasamanya selama penulis menenpuh studi S-3.Si. S. Ir.Si.Si dan Ir. Khalisah Rahmah Dinitya dan Syafina Aulia Rahmah (anakanak) atas doa tulus. Dr. yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat. MS. M. Ir. 20 Januari 2010 Penulis . Ketut Karuni N. Enny T. Dr. M.Si (BPMSOH) dan Dr. MS. M. Bogor. amin. Yudi. drh. Drs. Muh.Si (UDAYANA). Golib dan teman-teman seangkatan SVT (2006/2007) Dr. Dr. Terima kasih dan perhargaan kepada Ulfah. drh. ketabahan dan dorongan semangat yang tiada pernah putus.Si. MP. MP. Hary. drh. Bondan Ahmadi. Ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada Ayahanda Atong Hi. Natih. Alimudin Laapo.Penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan pada Bapak Prof. Ir. Ir. MES. Nova Rugayah. Kadir Paloloang. Ir. MP. SE. MP (Karantina-Jakarta). M. Semoga apa yang Bapak lakukan ini menjadi teladan bagi kalian. Iman Supriatna. Bapak Dr. M. Tomas Mattahine. Dr. Ir.Si. drh. MSc. Nasir Nanne. Hurip M. Abd. Saing (Alm) dan Ibunda Jubaere dan kakak dan adik-adikku yang senantiasa memberikan doa dan dukungan moril. Abd. drh. Adi Winarto. Bayu Rosadi. Ir. M. Ir. Ibu Dr. Nur Sangaji. Hera Maheswari.Si. Setiadi. pengorbanan.Si. M. Muh. Kurnia Achyadi. M. M.Si. Mustafa Sabri (UNSYIAH). drh. Riadi. Bapak Dr.Si. Muharram Saifuloh. pengertian. Sutiastuti W. Mohon maaf selama tiga tahun terakhir tidak dapat memberikan kasih sayang yang utuh kepada kalian semua. Syakur. drh. drh. Penulis juga menyampaikan terima kasih dan perhargaan pada rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Pascasarjana Biologi Reproduksi. drh. Dr. SP. Nurdin. Abd.Si (BALIVET). Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman Wacana Sulawesi Tengah: Ir. I Nyoman Suarsana. R. Drh Dedy R. M. Ivon Iskandar. S. Sophia Setiawati.Si. Bapak drh. M. Muhammad Salim Saleh. SP.Pd (istri) dan Maghfirah Pratiwi Ramadina. Dr.

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Baturube. 19 Oktober 1969. Khalishah Rahmah Dinitya. lahir 02 Januari 2000 (10 tahun). Pada tahun 1987. penulis melanjutkan pendidikan di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. S. dan dikaruniai tiga putri yaitu Maghfirah Pratiwi Ramadinah. Tahun 1996 penulis menempuh pendidikan pascasarjana pada Program Studi Biologi Reproduksi IPB dan lulus tahun 1998. Penulis menempuh pendidikan di SD Negeri Tirongan Bawah tamat tahun 1981. lulus tahun 1992. lahir 14 Juli 2001 (8 tahun) dan Syafina Aulia Rahmah. Sejak tahun 2006. penulis terdaftar sebagai mahasiswa program doktor (S3) pada Program Studi Biologi Reproduksi SPs-IPB dengan beasiswa pendidikan dari BPPS DIKTI. SMP Negeri Baturube tamat 1984. Fakultas Kedokteran Hewan Udayana (Diterima untuk diterbitkan). Selama mengikuti program S3. Sejak tahu 1994 sampai sekarang. penulis bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. penulis menghasilkan karya ilmiah berjudul: Penentuan Siklus Estrus pada Kancil (Tragulus javanicus) Berdasarkan Perubahan Sitologis Vagina pada Jurnal Veteriner. . lahir 02 Juli 2003 (6 tahun). Penulis merupakan anak kedua dari 8 bersaudara dari pasangan Atong Hi Saing (Alm) dan Jubaere. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonensia.Pd pada tanggal 12 April 1999. SMA Muhammadiyah Luwuk pada tamat tahun 1987. Penulis menikah dengan Ulfah.

............................................................ Metode Penentuan Siklus Estrus ………………………………………… Sitologi Epitel Vagina ........................ Tujuan Penelitian .............................................................. Periode Siklus Estrus ..... Pakan Kancil .................................... DAFTAR TABEL …………………………………………………………………….. Karakteristik Umum Kancil ...................…………………………………………………………….................................. .................................................................... Mekanisme Kerja Hormonal dalam Siklus Estrus ...................... Masa Adaptasi Kandang dan Pemeliharaan …………………………… Anatomi dan Morfometri Organ Reproduksi Kancil Jantan dan Betina Pengukuran dan Penimbangan Organ Reproduksi ……………… Organ Reproduksi Jantan …………………………………… ........ Alat dan Bahan Penelitian ........................ Habitat ................................................................................ Manfaat Penelitian ......................................................………………………………......................................................................................................................... Karakteristik Semen Kancil ……………………………………………… BAHAN DAN METODE .............................................. Metabolisme dan Ekskresi Steroid Reproduksi ..... Tempat dan Waktu Penelitian ...... Profil Metabolit Hormon di dalam Feses dan Urin .................. Karakteristik Reproduksi Kancil …………………………………………............................... Kerangka Pemikiran .................................................................................................................. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... xiii xv xvi 1 1 4 4 5 8 8 9 12 13 14 17 17 18 18 20 22 22 24 26 26 27 29 33 35 35 35 35 36 36 38 39 39 DAFTAR GAMBAR .................. Metode Penelitian ……………………….................................................................................................................................................................. Klasifikasi dan Sebaran Kancil ............... Latar Belakang ................................. Faktor-faktor Lingkungan yang Berpengaruh pada Ternak ........................................................................ PENDAHULUAN ..................................................... Hormon Reproduksi ......................................................................... Anatomi Organ Reproduksi Jantan …………………………………… Anatomi Organ Reproduksi Betina …………………………………… Pola Reproduksi Kancil ………………………………………………....................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ............................................ Hewan Penelitian ...................................................... Tingkah Laku Seksual ……………………………………………………...................................………………………………………………………………….........................................................................................................

.............................. PEMBAHASAN UMUM ................... Tingkah Laku Kawin ................................ Evaluasi Semen ................................. Organ Reproduksi Betina .... Koleksi Semen ................... LAMPIRAN ....…..... Gambaran Sitologis Epitel Vagina ………………………………………...................................... Profil Metabolit Hormon Progesteron ................................................................................................................................................ Betina ................................................................ Analisis Data ............................................................................. Analisis Hormon Metabolit ............................................................... Evaluasi semen ……………………………………………..... Simpulan ............................................ DAFTAR PUSTAKA ...................................... HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………………............................. Profil Metabolit Hormon Pergesteron ………….................................................................... Adaptasi Kandang dan Pemeliharaan ...................... Morfologi Spermatozoa ................................Halaman Organ Reproduksi Betina ……………………………………… Tingkah Laku Seksual pada Kancil ……………………………………… Kancil Jantan ................................................................................................................................................................................ Saran ................................................. Ekstraksi Steroid Feses ........................................................................................... Tingkah Laku Kawin …………………………………………...................... Penentuan Siklus Estrus pada Kancil Gambaran Sitologik Vagina ............................................................... SIMPULAN DAN SARAN . 40 40 40 41 42 42 42 43 43 43 44 44 45 45 45 47 47 53 52 58 61 61 64 65 70 70 76 84 84 85 88 94 99 99 100 101 112 xiv ..... Koleksi dan Evaluasi Semen ……………………………………………… Koleksi Semen ………………………………………………………......................................... Anatomi dan Morfometri Organ Reproduksi Kancil Jantan dan Betina ............................................................... Penentuan Siklus Estrus pada Kancil ……………………………………................................. Organ Reproduksi Jantan .... Koleksi Sampel Feses ............................................. Karakteristik Tingkah Laku Seksual pada Kancil Jantan dan Betina .................................................................................................. Kancil Betina ................................ ................................................................................................ Koleksi dan Evaluasi Semen ..................................................................................................................................................................................................................................... Jantan .........................................................................................................................................

.......................................................................................... 5 Karakteristik tingkah laku estrus kancil betina ..... 3 Morfometri organ reproduksi pada kancil jantan .................................................. 6 Karakteristik tingkah laku seksual jantan ................... 10 Karakteristik semen kancil …………………………………………………............................................................................ 7 Karakteristik sel epitel vagina kancil pada siklus estrus …………………… 8 Panjang siklus estrus berdasarkan titik puncak sel-sel superfisial dan parabasal pada kancil ................................................................................ 11 Abnormalitas spermatozoa pada kancil ......................................... 2 Kriteria penentuan siklus estrus berdasarkan gambaran perubahan sitologis epitel vagina ....... 41 43 54 59 61 65 70 75 77 86 90 xv ................................. 4 Morfometri organ reproduksi pada kancil betina ..DAFTAR TABEL Halaman 1 Parameter pengamatan estrus ………………………………………………......... 9 Rataan konsentrasi metabolit progesteron di feses selama 2 siklus estrus .....

............................................ 16 Perbandingan morfologi kelenjar asesoris pada ternak …………………….. 6 Metabolisme progesteron ........................................ 27 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase estrus ………………………… 28 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase diestrus ……………………… 29 Uji paralisme contoh feses untuk hormon progesteron …………………......................... kacang panjang dan kangkung dalam potongan kecil 15 Anatomi organ reproduksi jantan …………………………………………...... 14 Pakan kancil: wortel..…………………................ 22 Jantan mencium menjilat urin kancil betina ………………………………....... 19 Keadaan vulva pada kancil ………………………………………....... 9 Model kandang penelitian ................................... dada dan lutut ………………….....………………………………............... 25 Sikap kancil betina saat tidak estrus ……………………………………..............DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Alur kerangka pemikiran .......…………….................. 18 Organ reproduksi kancil betina ……………………………………………............................ 13 Kancil yang sudah jinak ……………………………………………………............................ 7 Skema jalur ekskresi hormon steroid ........................ 11 Luka yang sudah mengering ………………………………………………..... 7 9 10 10 30 31 32 38 49 49 49 50 51 52 53 56 57 58 62 64 66 66 67 68 69 71 71 73 77 79 xvi .................................. 4 Kancil dewasa mempunyai gigi taring ........ 24 Posisi kancil saat kawin ……………………………………………………............................... 3 Perbandingan ukuran antara Tragulus napu dan Tragulus javanicus ................................................ 5 Metabolisme estrogen .... 23 Tngkah laku menandai pada kancil betina oleh kancil jantan ........ 20 Respon kancil pada saat dipegang daerah belakang ………………………… 21 Tingkah laku kancil menjelang perkawinana ..................... 10 Kancil yang mengalami luka pada muka........ 2 Peta penyebaran kancil (Tragulus javanicus) di beberapa pulau dan negara …............ 30 Profil metabolit hormon progesteron di feses ……………………………........................................ 12 Kancil yang sudah beradaptasi (keadaan relaks dalam kandang) …………........ 26 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase proestrus ……………………........................................... .. 17 Perbandingan morfologi glans penis ………………………………………........ 8 Bagan alur penelitian anatomi dan morfometri kancil jantan dan betina .....

......... 34 Semen hasil ejakulat ..... 35 Spermatozoa kancil dengan pewarnaan eosin 2% ......................................................... 81 82 84 85 88 91 92 xvii ...................................................................................................Halaman 31 Perubahan sel-sel epitel vagina pada betina no 1 …………………………… 32 Perubahan sel-sel epitel vagina pada betina no 2 …………………………… 33 Proses elektroejakulasi diawali dengan pemasukkan probe ke dalam rektum ................ 36 Morfologi spematozoa abnormal pada kepala ................................................................................. 37 Morfologi spematozoa abnormal pada ekor .........................................................

Penyebarannya di Indonesia terbatas pada daerah-daerah tertentu. Kancil merupakan satwa liar yang statusnya termasuk dilindungi (Dephut 1978).51%) dan kolesterol rendah (50%) (Rosyidi 2005). 2000). Populasi satwa ini diduga cenderung menurun akibat perburuan dan konversi habitatnya menjadi lahan olahan manusia. Telah diketahui bahwa kancil memiliki komposisi protein tinggi (21. hewan model atau hewan kesayangan. maka perlu dilakukan usaha konservasi spesies ini. 1995 dalam Haron et al. Dengan demikian kancil dapat dijadikan satwa harapan. Ancaman lain adalah predator yang bisa memangsanya. Namun demikian. satwa liar memberikan keseimbangan dalam menjaga rantai makanan. pembiakan kancil secara alami di penangkaran belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. kucing hutan dan garangan. lemak (0. 1 . Secara ekologis.PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber kekayaan alam hayati beraneka ragam flora maupun fauna. Salah satu satwa liar tersebut adalah kancil (Tragulus javanicus). seperti harimau. burung besar dan reptil besar. Faktor tersebut menyebabkan upaya perkembangbiakan kancil mengalami kesulitan.42%). Strawder (2004) melaporkan di habitatnya kancil hidup secara soliter dan monogami. keberadaan mereka terancam karena menjadi sasaran perburuan baik untuk kepentingan hobi. Namun demikian. sebagian besar dari fauna yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan hidup liar di hutan. yaitu: Jawa. Saat ditangkarkan kancil tidak stabil dan agresif. baik dari sisi perlindungan habitat maupun dari sisi satwa itu sendiri. Mengingat kancil bukan hanya merupakan kekayaan keanekaragaman fauna Indonesia tetapi juga dunia. Sumatera dan Kalimantan dengan jumlah populasi yang belum diketahui secara tepat. Ada kemungkinan faktor penyebab kurang berhasilnya pembiakan kancil di penangkaran disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan tentang biologi reproduksinya. libidonya rendah dan tidak mampu untuk mounting (Kudo et al.

penentuan siklus estrus dapat dilakukan melalui pengamatan tingkah laku seksual. Pada akhir fase luteal jika tidak terjadi kebuntingan. Pada saat progesteron rendah. Dengan menurunnya progesteron maka terjadi umpan balik negatif terhadap hipotalamus dan hipofisa sehingga terjadilah pembentukan folikel baru untuk memasuki siklus estrus yang baru. CL akan mengalami regresi atas pengaruh prostaglandin F2α (PGF2α). Pada fase luteal dimana hewan tidak estrus sebagian besar sel epitel vagina merupakan sel parabasal. keberadaan sel superfisial dan sel tanduk dapat 2 . superfisial dan sel tanduk (kornifikasi) yang menandakan hewan dalam keadaan puncak estrus. tingkah laku seksual dan siklus estrus. Metode lain dalam pengamatan siklus estrus diantaranya dengan mempelajari gambaran perubahan sel epitel vagina dan melihat profil hormon. sedangkan ketika memasuki fase estrus sel epitel berubah menjadi sel intermediet. Perubahan fisiologis yang menyertai siklus estrus tersebut juga berpengaruh terhadap gambaran sitologi sel epitel vagina.Sistem reproduksi jantan dan betina merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan teknologi reproduksi pembiakan satwa. Hormon estrogen disekresikan oleh sel-sel granulosa dari folikel ovarium karena pengaruh Follicle Stimulating Hormone (FSH). Pengaturan siklus estrus dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron melalui aktifitas ovarium. peningkatan konsentrasi estrogen akan menyebabkan umpan balik positif dengan meningkatnya sekresi Luteinizing Hormone (LH) dari hipofisa anterior ke dalam peredaran darah dan menyebabkan ovulasi folikel. Pengetahuan siklus estrus pada kancil betina. Dengan demikian. Setelah ovulasi terbentuk corpus luteum (CL) yang mensekresikan progesteron. Pada hewan betina. maka sebagai langkah awal dalam penelitian ini akan melihat anatomi organ reproduksi. Namun belum memberikan informasi yang tepat dalam menentukan waktu perkawinan. terutama lama periode estrus dan waktu ovulasi merupakan informasi yang sangat penting dalam menentukan tingkat keberhasilan perkawinan. baik yang diperoleh secara invasif dalam plasma darah maupun non invasif dalam urin dan feses.

(2007a) melaporkan bahwa siklus estrus pada okapi dapat diamati berdasarkan pada perubahan konsentrasi pregnanediol glukoronide (PdG) dalam urin dan feses. Di dalam proses metabolismenya. Metabolit hormon yang telah terkonjugasi tersebut selanjutnya akan kembali ke sirkulasi sistemik dan diekskresikan melalui urin atau melewati membran kanakuli hati ke empedu. seperti kerbau. 1996). Analisis profil metabolit hormon dari urin dan feses telah digunakan beberapa peneliti terdahulu dan hasilnya dapat merefleksikan kondisi reproduksi satwa (Brown & Wildt 1997. 3 . tersebut dapat digunakan dalam menentukan kesuburan atau kemungkinan pembuatan semen cair atau beku. Kusuda et al. Adanya hormon yang diekskresikan tersebut dapat digunakan untuk melakukan pengukuran konsentrasi hormon reproduksi satwa liar termasuk kancil. zebra dan bison (Schwarzenberger et al. panjang masa estrus dan perkiraan waktu ovulasi yang menentukan ketepatan waktu kawin. Dengan demikian biologi reproduksi kacil perlu dikaji untuk meningkatkan populasinya. hormon steroid akan dikonjugasikan dengan glukuronida atau sulfat. penelitian serupa pada kancil betina belum pernah dilaporkan. Kusuda et al. Metode pengamatan hormon yang non invasive ini sangat bermanfaat karena dapat meniadakan pengaruh cekaman.digunakan untuk menentukan waktu optimum melakukan inseminasi buatan (IB) atau kawin alam. selanjutnya akan memasuki sirkulasi enterohepatik dan diekskresikan melalui feses (O‟Maley & Strott 1999). Namun sampai saat ini. Kajian tersebut harus juga melibatkan pemeriksaan Pengetahuan tentang karakteristik semen karakteristik dan kualitas semen. gambaran sitologi epitel vagina dan pola hormon pada betina. Hal tersebut dapat didekati dengan pengkajian tingkah laku berahi. 2007a). Sehingga diketahui siklus estrus. Deteksi kebuntingan dengan menganalisa konsentrasi estrogen dari feses sudah dilakukan pada berbagai ungulata.

Tujuan Penelitian Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pola reproduksi kancil dalam rangka peningkatan populasi untuk mendukung pelestariaannya. hasil penelitian dapat menentukan waktu optimal kawin pada betina dan pada jantan sebagai dasar pengembangan pengolahan semen. Manfaat Penelitian 1. 2. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai data dasar dalam upaya pelestarian dan konservasi satwa kancil baik secara in-situ maupun ex-situ. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1 Mempelajari pola adaptasi kancil pada kondisi penangkaran 2 Mempelajari anatomi dan morfometri organ reproduksi kancil jantan dan betina 3 Mengamati pola dan tingkah laku seksual kancil jantan dan betina 4 Mengetahui panjang siklus estrus dan lama periode estrus kancil melalui pengamatan perubahan sitologi sel-sel epitel vagina dan profil metabolit hormon steroid (progesteron) 5 Mengetahui karakteristik dan kualitas semen kancil yang dikoleksi dengan metode elekroejakulator. 4 . Dalam aplikasi reproduksi.

(3) ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula. dimana hal tersebut menandakan bahwa hewan berada dalam fase luteal. sehingga menyebabkan ovulasi.Kerangka Pemikiran Pengaturan estrus dipengaruhi oleh hormon gonadotropin. Folikel yang matang akan mensekresikan estrogen yang bertangungjawab untuk proliferasi endometrium. Proses perubahan di atas merupakan salah satu proses pada siklus estrus. kesemuanya itu dimaksudkan spermatozoa. Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel superfisial dan sel-sel anucleate sebagai berikut: (1) bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk poligonal atau bentuk tidak beraturan. dimana hal tersebut menandakan bahwa hewan berada dalam fase luteal. Dengan menurunnya progesteron maka terjadi pelepasan gonadotropin oleh adenohipofisa. meningkatkan volume dan ukuran pembuluh darah ke uterus sehingga darah mengalir ke dan dari uterus dengan bebas serta berpengaruh pada otak yang ada hubungannya dengan tingkah laku estrus atau berahi. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron tersebut. Hormon progesteron yang dihasilkan CL mulai meningkat setelah ovulasi. (2) ukuran inti yang besar secara perlahanlahan akan mengecil. akan berpengaruh terhadap gambaran sel epitel vagina. Pada akhir fase luteal jika tidak terjadi kebuntingan. produksi mucus. Estrogen juga mengontrol perubahan pada alat kelamin betina. pada uterus merubah aktivitas metabolismenya. Hormon progesteron akan bertahan beberapa waktu. Gejala estrus yang diperlihatkan karena efek estrogen pada poros hipotalamus-hipofisa meningkatkan sekresi LH ke dalam peredaran darah. CL akan mengalami regresi atas pengaruh PGF2α. Pada fase luteal guna mempersiapkan uterus untuk menerima ovum dan 5 . pada beberapa kasus inti mengalami kematian atau rusak secara bersamaan. sehingga terjadilah pembentukan folikel baru untuk memasuki siklus estrus yang baru. yaitu FSH dan LH dimana akan menyebabkan perkembangan folikel dan pembentukan CL. meningkatkan ukuran dan cairan dinding uterus melalui hiperplasia dan hipertrofi sel-sel mukosa.

Informasi tentang karakteristik semen sebagai penentu fertilitas jantan dilakukan koleksi semen dengan teknik elektroejakulator. sehingga pendekatan non invasif yaitu melalui urin dan feses merupakan suatu alternatif. hormon akan dikonjugasikan dengan glukuronida atau sulfat. Hormon yang disekresikan ke dalam empedu akan diserap kembali ke dalam sirkulasi enterohepatik dan selanjutnya diekskresikan melalui feses. 6 . motilitas dan abnormalitas merupakan faktor penting yang dapat menentukan fertilitas jantan. Kancil merupakan salah satu satwa yang sangat rentan terhadap stres. sedangkan memasuki fase estrus sel epitel berubah menjadi sel superfisial dan sel tanduk yang menandakan hewan dalam keadaan puncak estrus.dimana hewan tidak estrus terdapat sel parabasal. sulit diterapkan bagi satwa liar terutama yang mudah tercekam. Pemeriksaan konsentrasi. Mengingat profil hormon reproduksi yang diperoleh dari analisa darah. Metabolit hormon yang telah terkonjugasi tersebut selanjutnya akan kembali ke sirkulasi sistemik dan diekskresikan via urin atau akan melewati membran kanakuli hati ke empedu. sebagian besar hormon akan berada di dalam aliran darah dalam keadaan terikat dengan protein dan sisanya merupakan hormon yang bebas. sehingga pengambilan sampel non invasif tidak mengalami stres akibat penanganan sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Setelah disekresikan dari organ endokrin. Di dalam proses metabolismenya.

Pakan Anatomi dan morfometri organ reproduksi jantan dan betina -Tingkah laku seksual Gambaran sitologis vagina Siklus estrus Analisis progesteron feses Waktu optimum kawin Keberhasilan perkawinan S e m e n Koleksi dan evaluasi semen makroskopis & mikroskopis Tingkat kesuburan pejantan Gambar 1 Alur kerangka pemikiran 7 .Kancil jantan Kancil betina Masa adaptasi .Kandang .

Myanmar. meminna (Erxleben 1777) T. Tragulus kanchil (ada 16 subspesies) dan Tragulus williamsoni. karena contoh yang dipakai sebagai dasar penamaan ditemukan di kampung Jungkulan yang terletak di muara Cikuja. Jawa dan Kalimantan. Di Pulau Melayu tersebar luas di dataran rendah dan kaki gunung dengan hutan primer dan 8 .TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Sebaran Kancil Klasifikasi kancil adalah sebagai berikut: kelas ordo subbordo infra ordo famili genus spesies : : : : : : : : : Mamalia Artiodactyla Ruminantia Tragulina (chevrotain) Tragulidae (mouse deer) Tragulus T. Dari nama tersebut diketahui bahwa hewan kancil pada mulanya ditemukan di Pulau Jawa. Osbec adalah orang yang pertama kali memproklamirkan nama ilmiah Tragulus javanicus untuk kancil pada abad ke 18 (Hoogerwerf 1970). Tragulus nigican. Hal ini bukan berarti kancil hanya terdapat di Pulau Jawa karena pada kenyataannya kancil menyebar di beberapa tempat baik di dalam maupun di luar negeri. Enam spesies ini. beberapa pulau di wilayah Indonesia seperti: Pulau Sumatera. Kancil dapat dijumpai di Thailand. Smit-van Dort (1969) diacu dalam Meijaard dan Goves (2004) membedakan dua spesies Tragulus dengan menggunakan karakter dari skeleton. Kamboja. Tragulus versicolor. napu (Cuvier 1822) Meijaard dan Goves (2004) membagi Tragulus menjadi enam spesies dan 24 subspesies berdasarkan morfometri dan daerah sebaran dimana kancil ditemukan. yakni : Tragulus napu (ada 8 subspesies). javanicus (osbeck 1965) T. yaitu Tragulus napu (selain lebih besar juga memiliki kaki yang lebar dan kuat) dan Tragulus javanicus. Tragulus javanicus. Jawa Barat (Suyanto 1983).

sedangkan Tragulus javanicus mempunyai bobot badan 1.8 kg (Gambar 3). yaitu Tragulus napu dan Tragulus javanicus. beberapa peneliti menyarankan bahwa kancil memiliki potensi untuk digunakan sebagai ternak model untuk mempelajari ruminansia (Fukuta et al. Kancil secara eksterior mempunyai kemiripan dengan rusa. Penang. juga Pulau Langkawi. Karena bobot badannya yang rendah.31. 1991). Gambar 2 Peta penyebaran kancil (Tragulus javanicus) di beberapa pulau dan negara (warna hijau) (Robin 1990.sekunder. diacu dalam Huffman 2004) Lekagul dan McNeely (1977) menyatakan bahwa Tragulus javanicus populasinya banyak terdapat di Pulau Jawa dan berasal dari Pulau Jawa. karena itu hewan ini dikenal dengan nama mouse deer. sedangkan Tragulus napu banyak terdapat di Pulau Sumatera dan Tragulus meminna hanya terdapat di India (Walker 1968). 9 . Karakteristik Umum Kancil Kancil bentuknya menyerupai kijang tetapi badannya kecil dan tidak bertanduk. Singapura dan Redang (Medway 1978) (Gambar 2). Menurut Dubost (1986) ada dua jenis mouse deer. Perbedaan yang menyolok dari kedua jenis ini adalah bahwa Tragulus napu mempunyai bobot badan antara 4-6 kg.

1977). yaitu tidak mempunyai tanduk tetapi yang jantan mempunyai gigi taring atas yang subur sampai mencuat keluar sepanjang 3 cm. sedangkan gigi taring bawah kurang berkembang (Gambar 4). Nowak 1991).Kancil tergolong dalam ruminansia terkecil di dunia (Medway 1978. Kancil dapat bertahan hidup di penangkaran lebih dari 16 tahun (Jones 1993). Beberapa ciri menunjukkan kemiripan dengan babi. dan merupakan hewan ungulata yang paling primitif yang masih ada (Whittow et al. Kancil jantan mempunyai badan yang lebih besar dibandingkan betina. Gigi taring Gambar 4 Kancil jantan dewasa mempunyai gigi taring 10 . Kancil memiliki kaki depan lebih pendek dari kaki belakang dan langsing (Hoogerweff 1970). Tragulus napu lebih besar dibandingkan Tragulus javanicus (Lekagul & McNeely 1977). Gambar 3 Perbandingan besar tumbuh kancil jantan dewasa.

tetapi apabila terlampau gelap hewan ini akan menjadi gugup. Jantan bersifat teritorial yang akan menandai daerah teritorialnya dengan sekresi dari kelenjar intermandibular dan disertai dengan urinasi dan defekasi (Strawder 2004). Mempunyai 34 buah gigi. daun telinga yang relatif kecil dan lidah yang relatif panjang serta kaki yang ramping dan kuku yang tajam (Gzimek 1975. mudah gugup dengan lingkungan baru (Kudo et al. larinya cepat tapi mudah capek. Kancil merupakan hewan malam yang memiliki sifat hidup soliter dan berpasangan pada musim kawin (Young 1981). Bulunya berwarna coklat kemerah-merahan dengan warna putih pada bagian dagu sampai bagian ventral tubuh (Anderson & Jones 1967. penakut. Kancil tidak mempunyai tanduk namun pada jantan dewasa terdapat gigi taring yang memanjang keluar (Anderson & Jones 1967). senang bersembunyi dari pada melarikan diri. Susunan gigi seri dan geraham pada kancil sama dengan sapi (Slijper 1954). Kancil jantan akan melindungi dirinya serta pasangannya dengan mengejar/menghalau serta 11 . Anonim 1978). Kancil hidup dalam kelompok. Apabila tahapan proses penangkaran dilakukan dengan baik hewan kancil bisa menjadi jinak seperti halnya hewan peliharaan lainnya. Pada Tragulus javanicus rambut putih tersebut membentuk tiga garis yang jelas (Smit-van Dort 1989. Baker 2004). diacu dalam Meijaard & Goves 2004). Dalam kedaan ketakutan dan tidak nyaman. Oleh karena itu sebaiknya dalam tahapan penangkaran perlu terlebih dahulu ditutupi dengan kain yang gelap dan membiarkannya dalam keadaan gelap. dimana gigi taring bagian atas akan tumbuh terutama pada jantan. Kancil bersifat ”pemalu” dan selalu berusaha untuk tidak terlihat. Kancil mempunyai mata yang besar. beberapa soliter dan bersifat monogami. 1997). kancil akan ”menangis” dengan mengeluarkan suara melengking (Medway 1969.Kancil mempunyai kepala segitiga dan badannya mengalami peninggian pada bagian belakang serta mempunyai kaki yang kecil dan langsing dengan diameter kira-kira sebesar pensil (Strawder 2004). tetapi kancil betina cenderung lebih cepat jinak dibandingkan kancil jantan. kancil berpasangan ditemui pada saat musim kawin. Strawder 2004).

2) bahan makanan sebagai sumber protein. Pakan Kancil Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam pemeliharaan kancil. pasangan kancil berkembang biak dengan pakan berupa potongan apel. 3) sedikit rumput (Suyanto. 1992). . retikulum dan abomasum tidak memiliki omasum). namun tidak memiliki omasum (Richardson Agungpriyono et al. Sabah (Malaysia). Kancil di tempat pemeliharaan sangat menyukai:1) bahan makanan yang banyak mengandung karbohidrat tinggi sebagai sumber energi misalnya ubi rambat (Ipomea batatas). Medway (1978) melaporkan bahwa di kebun binatang New York. misalnya kangkung (Ipomea aquatica).menyayat/melukai musuhnya dengan menggunakan gigi taringnya ini (Strawder 2004). Hal ini berhubungan dengan tingkat metabolisme yang tinggi (Snyder & Weathers 1977). 1979). namun penelitian yang dilakukan oleh Matsubayashi et al. Kancil diketahui bersifat nokturnal. (2002) yang dipasang radiotracking pada habitatnya di hutan Kabili-Sepilok. Oleh karena itu suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa walaupun secara alamiah kancil tergolong hewan ruminansia. menunjukkan bahwa individu akan aktif makan dan bergerak sepanjang hari dan inaktif/istirahat pada malam hari. tetapi perlu diingat bahwa kancil termasuk hewan yang memiliki alat pencernaan sederhana (hanya memiliki rumen. maka perlu diberikan makanan yang serat kasarnya rendah dan kandungan energi cukup tinggi. 1983). wortel dan ubi 12 et al. pisang. dimana hemoglobin yang tinggi diperlukan karena kancil merupakan hewan yang gesit degan aktifitas otot yang banyak (Vidyadaran et al. kancil menyukai makan buah-buahan hutan yang sudah jatuh ke tanah seperti kayu besi (Eusideroxylojn zwarger) dan buah-buahan ceplukan (Physalis maxima). rumen dan abomasum. Kancil tidak mempunyai lambung yang kompleks seperti pada artiodactyla pada umumnya dimana kancil hanya memiliki retikulum. 1988. Ukuran tubuh kancil kecil dan eritrosit dengan ukuran yang kecil dan dalam jumlah yang tinggi. tidak mampu mencerna bahan makanan yang serat kasarnya tinggi. Hoogerwerf (1970) menyatakan bahwa di alam.

00 WIB.00-19. wortel (carrot) sebagai sumber karbohidrat dan pellet kelinci komersial sebagai pakan komplit. air dan naugan (shelter).00 WIB dan malam pukul 18. Darlis et al. ubi (sweet potato). Cara pemberian pakan sebaiknnya diberikan dalam wadah dan dalam kondisi segar. Waktu pemberian pakan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari semalam dengan waktu pagi sekitar pukul 06. karena bila pakan sudah dalam keadaan layu dan kotor. Menurut Moen (1972) habitat satwa sangat dipengaruhi oleh lingkungan biotik maupun non-biotik. Kancil menyukai pakan yang segar dan kandungan air tinggi dan memiliki daya cerna tinggi serta kandungan serat kasarnya rendah (Rosyidi 2005). Vegetasi diartikan sebagai kumpulan tumbuhan. kacang panjang. Habitat satwa sering secara sederhana ditafsirkan sebagai tipe vegetasi karena umumnya syarat hidup suatu jenis satwa selalu melibatkan aspek vegetasi (Dashman 1981).mentah serta ditambahkan pakan pellet berupa mixed gain. rollet oats dan alfalfa hay. Alikodra (1979) manyatakan bahwa habitat adalah kompleksitas berbagai komponen antara lain iklim. Habitat yang memenuhi 13 . Sedangkan Djuwantoko (1986) menyatakan bahwa habitat merupakan suatu daerah yang sangat penting bagi populasi satwa agar dapat berkembang secara optimal untuk mendapatkan makanan. Krebs dan Davies (1981) menyatakan habitat mencerminkan tipe vegetasi yang tidak terbatas luasnya. crushed monkey pellet. biasanya terdiri atas beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat dan didalamnya terdapat interaksi yang erat baik antara individu itu sendiri maupun dengan binatang yang hidup bersamanya sehingga merupakan suatu ekosistem yang hidup dan dinamis (Marsono 1977). kacang perancis (bean french) sebagai roughages dan sumber protein.00-07. maka kancil enggan memakannya. vegetasi dengan kualitasnya dan merupakan tempat hidup organisme. siang pada pukul 13.00 WIB. (1999) melaporkan bahwa kancil di Malaysia menyukai kangkung. Habitat Habitat adalah tempat dimana suatu mahluk hidup melangsungkan kehidupannya.00-14. fisiogafi.

Tempat persembunyiannya di rongga-rongga pohon. perubahan temperatur. baik didataran rendah maupun tinggi (1. seperti tingkat harapan hidup dan kemampuan berkembang biak atau prestasi reproduksi (Krimbas 1984). Kendala dalam memelihara kancil adalah karena hewan ini termasuk satwa liar dan memilki sifat berbeda dengan hewan domestikasi. dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sajuthi dan Lelana (2000) menyatakan penyebab cekaman (stressor) pada satwa liar setidaknya ada empat faktor. bau. 3 Behavior stressor. kehilangan teritorial. seperti suara. Kancil menyukai tinggal di hutan primer dan sekunder. sentuhan-sentuhan yang tidak diduga maupun peregangan otot dan tendon yang tidak normal. karena antara duanya telah terbentuk suatu sistem yang saling berinteraksi antara satu sama lain. gua-gua maupun di semak-semak. pelindung. Secara garis besar faktor tersebut dapat ditinjau dari aspek pakan. Salah satu fenomena yang unik pada satwa liar termasuk kancil adalah cekaman (stres) yang mudah muncul.200 m dpl). air dan ruang.syarat bagi kelangsungan hidup satwa harus memiliki empat komponen dasar yaitu: pakan. di tanah kering yang tidak jauh dengan sungai-sungai dengan vegetasi rapat. di mana saja. Kemampuan hewan untuk beradaptasi dalam lingkungan dapat dilihat dari beberapa parameter. seperti beberapa aspek yang berkaitan dengan pola adaptasi dan praktek restrain. Usia yang dapat dicapai pada habitat aslinya adalah 12-14 tahun (Strawder 2004). terlalu padat. menilai dan memanfaatkan ternak tersebut. Faktor-Faktor Lingkungan yang Berpengaruh pada Ternak Peningkatan produksi dan produktifitas ternak. zat kimia dan obat-obatan. celah-celah batu. seperti lingkungan yang asing. Hewan tidak dapat memisahkan diri dengan lingkungannya. kaki-kaki bukit. 2 Psychological stressor. aspek ternak sendri dan aspek manusia dalam menempatkan. kontak sosial maupun makanan yang biasa dikonsumsi 14 . perubahan ritme biologis. hirarki sosial. ruangan terlalu sempit. yaitu: 1 Somatic stressor.

Banyak unsur-unsur lingkungan yang dapat membuat stres bagi ternak di bawah kondisi tertentu. stres yang berlangsung secara terus-menerus dan berlangsung lama berimplikasi pada penurunan imun. kelembaban. Selanjutnya. Kelenjar endokrin segera melepasakan katekolamin (epineprin/adrenalin dan noradrenalin) ke dalam aliran darah. Hal ini terjadi selama lingkungan menjadi tidak nyaman atau berbahaya bagi ternak. sering dinyatakan bahwa ternak tersebut mengalami cekaman (stres). sistem syaraf dan sistem endokrin dalam tubuh.4 Miscellaneus stressor. seperti malnutrisi. Menurut Fowler (1999). Unsur-unsur ini efektif dalam menghasilkan perubahanperubahan kondisi pada ternak. reproduksi. murung atau justru emosi yang meledak-ledak. laju pernafasan. gangguan pencernaan dan kulit serta penurunan libido. Gejala stres terlihat sebagai gangguan psikologis. agen penyakit. kebakaran. ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. serta perlakuan medis yang kurang legeartis. lelah kepanasan atau kedinginan. zat-zat toksik. emosional maupun kegelisahan (Smith & French 1997). suara dan ruang. ketegangan otot dan laju pernapasan yang dangkal. Semua kondisi tersebut akibat dari respon dalam tubuh ternak yang disebabkan oleh berbagai faktor dalam lingkungan baru. parasit. 2) stres jangka panjang dengan gejala kurangnya nafsu makan. Respon endokrin terhadap stres muncul ketika impuls syaraf simpatik menstimulir kelenjar medula adrenal. Bila ternak dalam kondisi seperti itu. 1996). dan 3) stres internal dengan gejala ketakutan. Guytom & Hall. Istilah stres itu sendiri adalah suatu gambaran umum yang merujuk pada penyesuaian fisiologis. Berdasarkan waktunya. seperti perubahan detak jantung. seperti perbedaan besar dalam temperatur. stres terbagi menjadi:1) stres jangka pendek yang ditandai dengan peningkatan denyut jantung. temperatur tubuh dan tekanan darah yang terjadi selama ternak dibiarkan terhadap kondisi yang merugikan. cahaya. hipotalamus menstimulir hipofisa anterior untuk melepaskan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) sampai terjadi peningkatan glukocortikoid untuk membantu peningkatan suplai energi terutama ketika dalam keadaan bahaya (Ackerman 1996. Apabila ternak dipindahkan ke lingkungan yang tidak dikenal. ternak tersebut dapat menjadi gelisah. Akan tetapi unsur-unsur tersebut berbeda dalam 15 .

ternak cenderung bergerak menuju sumber cahaya. Kancil menyenangi lingkungan yang kurang cahaya karena ternak ini merupakan 16 . Cahaya. Umumnya kelembaban tinggi meningkatkan ketidak nyamanan ternak yang dibiarkan terhadap temperatur dingin atau panas dalam periode pendek. Dilain pihak. jenis kelamin. maka ternak tersebut mulai memanfaatkan proses-proses tambahan untuk menghasilkan dan mempertahankan panas tubuh. Pada lingkungan dingin. Temperatur tinggi seperti ini dapat mempercepat reaksi metabolisme seperti pemutusan adenosin triphosphat (ATP) dan glikolisis. Perilaku ternak seringkali dipengaruhi oleh unsur-unsur lingkungan seperti cahaya. Jumlah air dalam udara (kelembaban) dapat mempengaruhi kedahsyatan pengaruh temperatur yang baru saja dijelaskan. Kenyataannya. Kelembaban. uap air dan udara lebih menyulitkan dalam menghilangkan panas melalui pernapasan. Temperatur. daya tahan stres bawaan dan status emosional dari ternak. Apabila faktor lingkungan menjadi lebih dingin dari pada temperatur tempat asal ternak. suara dan ruang. terdapat interaksi dari kedua unsur lingkungan ini sebagian besar menentukan pada kenyamanan ternak. Keadaan menggigil dapat menyebabkan suatu pengurangan dalam tingkat glikogen otot. kadar air udara meningkatkan kecepatan menghilangkan panas lingkungan dari tubuh. Lingkungan merupakan faktor utama penyebab stres. bobot. umur. karena respons yang akan dihasilkan dari kondisi lingkungan bergantung pada spesies. temperatur tinggi yang tidak wajar meningkatkan permintaan terhadap mekanisme pendinginan terhadap ternak. Suara dan Ruang. yang berlangsung ketika stres dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian ternak. karena tipe kontraksi ini diiringi dengan suatu peningkatan aliran darah dalam otot dan tidak menghasilkan asam laktat. Apabila dikandangkan dalam lingkungan gelap. Apabila ternak memerlukan pendinginan. Sering kali temperatur otot akan meningkat karena tubuh ternak tidak mampu membuang panasnya dengan cukup cepat.pengaruhnya. Ternak yang berkemampuan jelek dalam menghilangkan panas dari tubuhnya dapat mengembangkan temperatur otot sampai 42-43oC.

(2) organ kelamin pelengkap meliputi saluran-saluran kelamin yang terdiri dari epididimis. Perbedaan ukuran organ reproduksi terutama pada testisnya.ternak yang nokturnal. Karakteristik Reproduksi Kancil Anatomi Organ Reproduksi Jantan Sebagaimana hewan mamalia pada umumnya. sementara ternak lainnya menjadi bermusuhan. ampula vas deferens dan urethra. 17 . 1975). biasanya berhubungan erat dengan produksi spermatozoa. Sebagian ternak merasa tak nyaman apabila diikat atau dibatasi dalam ruang yang tidak memungkinkan pergerakan bebas. Haron et al. penis dan kelenjar asesori. yaitu: (1) organ reproduksi primer berupa gonad jantan yang disebut testis. kelenjar kelamin pelengkap (asesoris) meliputi. Anatomi organ reproduksi jantan terbagi menjadi tiga bagian utama. Oleh karena itu muncul respon-respon emosional yang tidak dapat diduga (Forrest et al. kelenjar prostat. Suara-suara yang tak dikenal juga menimbulkan penuh cekaman bagi banyak ternak. organ reproduksi jantan mempunyai fungsi utama dalam menghasilkan sel-sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin jantan (testoteron). seperti: keseimbangan hormon. Sebagian ternak menjadi ketakutan pada lingkungan tidak Perbedaan dalam dikenalnya. kelembaban atau pengalaman sebelumnya. yaitu penis dan skrotum sebagai pelindung testes (Toelihere 1993). bersikap ini mungkin berkaitan dengan banyak faktor dalam ternak. Semakin besar ukuran testes diharapkan produksi spermatozoa lebih tinggi. vas deferens. Sekresi kelenjar-kelenjar ini sebagian besar menjadi plasma semen. (2000) menyatakan bahwa kelenjar asesori kancil jantan relatif kecil dibandingkan dengan hewan lain. kelenjar vesikularis dan kelenjar bulbouretralis (cowper) dan (3) organ kelamin luar sebagai alat kopulasi. Organ reproduksi kancil jantan terdiri atas sepasang gonad (testis). orchyd atau didymous. Dilaporkan oleh Boever (1986) organ reproduksi kancil hampir sama dengan babi.

terdiri atas satu pasang gonad (ovarium). kopulasi bisa terjadi beberapa kali (Kudo et al. Anatomi Organ Reproduksi Betina Secara umum anatomi organ reproduksi kancil betina memiliki susunan yang sama dengan hewan ruminansia lainnya. Pola Reproduksi Kancil Data tentang pola reproduksi kancil masih sangat terbatas. cervix (tempat seleksi spermatozoa dan pelindung uterus dari pengaruh luar). 18 . Belum diperoleh informasi yang jelas terhadap pola reproduksi atau perkembangbiakan kancil di kawasan in-situ maupun ex-situ. (1995) melaporkan bahwa baik umur dewasa kelamin maupun lama kebuntingan sangat bervariasi bergantung pada lokasi dan pemeliharaan kancil. Strawder (2004) melaporkan bahwa kancil mengalami kematangan seksual (sexual maturity) pada umur 5-6 bulan (spesies yang ada di Asia) dan 10 bulan (spesies yang ada di Afrika). satu pasang cornua uteri dan satu buah corpus uteri. Pada corpus penis ruminansia umumnya ditemukan lengkungan berbentuk huruf S sebagai ciri khas dari tipe penis fibroelastis (Hafez 2000). Ovarium mempunyai fungsi utama sebagai penghasil sel-sel kelamin betina. Saluran reproduksi betina dimulai dari vulva. Kebuntingan berlangsung selama 4-5 bulan dengan menghasilkan satu anak yang diasuhnya selama 8-12 minggu. uterus (tempat berkembangnya fetus) dan tuba Fallopii (tempat terjadinya fertilisasi). satu pasang tuba Fallopii. cervix. yaitu ovum dan sebagai penghasil hormon-hormon kelamin betina adalah estrogen yang berfungsi menampakkan gejala estrus dan progesteron dengan fungsi utama memelihara kebuntingan. 1995). Kudo et al. terutama manajemen pemberian pakannya.Penis terdiri atas radix. Siklus berahi pada kancil betina diperkirakan berlangsung 16 hari dengan lama berahi selama 2 hari. vagina dan vulva (Hamny 2006). vagina (alat kopulasi). corpus dan glans penis.

akhir April (2 ekor). Induk betina mengasuh anaknya selama 2-3 minggu dengan masa sapih 8-12 minggu (OIA 1991). dan akhir Juli (1 ekor). Bila mengacu kepada pernyataan tersebut dapat diperkirakan bahwa anak yang dilahirkan kemungkinan besar akan terjadi pada Nopember atau Desember. 1975). Hal itu berarti kancil mampu beradaptasi dengan baik meskipun berada pada lingkungan terbatas. ternyata kancil mampu berkembang biak dan bahkan mampu beranak lebih dari satu kali dalam setahun. meskipun di lingkungan terbatas. Pada betina kelenjar mamae mempunyai empat puting. Kancil dapat bunting kembali setelah 14 hari melahirkan (Ralls et 19 . Davis (1965) diacu dalam Ralls et al. Kancil diketahui mengalami estrus pertama postpartus yang cepat. seperti halnya plasenta unta (Young 1981).05). sedangkan lama kebuntingan berkisar antara 152172 hari (Medway 1969). pada Tragulus napu mampu beranak sepanjang tahun yang ditandai dengan jumlah induk beranak pada bulan-bulan basah tidak berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan kering (P 0. Berdasarkan data tersebut di atas terlihat bahwa. (1975) melaporkan bahwa terjadi kopulasi 85 menit setelah partus. sama dengan yang dilaporkan oleh Nowak (1991). awal Mei (1 ekor). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Rosyidi (2005) dalam penelitiannya diperoleh 5 ekor bunting dari 8 ekor pasang kancil yang diamati. Data tersebut menunjukkan bahwa pola perkembangbiakan kancil terjadi sepanjang tahun. Hoogerwerf (1970) melaporkan bahwa kancil beranak 2 kali setahun atau setiap 5 bulan sekali dan kadang-kadang 2 ekor setiap kelahiran. Hasil ini juga sama dengan hasil penelitian Arifin (2004). (1997) melaporkan berat lahir anak mencapai 120-190 g atau 10% dari berat badan induknya dan bentuk plasenta kancil adalah difusa dan villous (Anderson & Jones 1967). Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara musim kawin dengan kejadian betina bunting dan waktu beranak. didapatkan 5 ekor anak yang dilahirkan pada akhir Januari (1 ekor). bentuk difusa.Anderson dan Jones (1967) menyatakan bahwa secara alami musim kawin berlangsung pada Juni dan Juli. Kadang induk mengeluarkan suara mencicit (squaking) seperti jantan dan anaknya akan menjawabnya dengan suara yang sama (Ralls et al. Kudo et al.

Sedangkan Austine dan Short (1985) menyatakan bahwa pengertian tingkah laku reproduksi sudah semakin meluas tidak hanya fisiologik dan mekanisme endokrin. yang mengamati bahwa kancil betina dapat melakukan perkawinan 30 menit setelah beranak. dan penglihatan (visual). telinga berdiri. daya tarik dan aktivitas motorik yang bertujuan untuk mendekatkan jantan dan betina sehingga terjadi perkawinan dan akhirnya menghasilkan keturunan. Tingkah Laku Seksual Tingkah laku seksual menurut Hafez (1993) adalah beberapa variasi pola tingkah laku dari percumbuan. tetapi juga strategi dari ternak untuk melakukan perkawinan pada kondisi alamnya. 20 yang optimal (Austine . vulva membengkak dan mengeluarkan cairan jernih dari vagina yang berbau khas. pendengaran (auditory). Tingkah laku seksual tidak hanya menyangkut pada saat kopulasi dimana gamet jantan dideposisikan ke saluran reproduksi betina tetapi juga bagaimana membawa hewan jantan dan betina tersebut untuk bertemu. Selanjutnya Medway (1978) melaporkan kancil betina melakukan perkawinan 48 jam setelah melahirkan dan anak sudah berkembang dengan dapat berdiri dalam waktu 30 menit setelah dilahirkan. induk menyusui anaknya sambil berdiri dengan tiga kakinya. 1992). kepala diangkat. (1997). Betina estrus juga menunjukkan tanda punggung tegak.al. kaki digerak-gerakkan ke depan dan ke belakang. Hal ini didukung oleh Kudo et al. sedangkan rangsangan dari luar dapat berupa rangsangan penciuman (olfactory). akan menyebabkan hewan jantan untuk mendekati hewan betina (Becker et al. Fenomena tingkah laku (behaviour) muncul akibat adanya rangsangan (stimulus) yang dapat berasal dari dalam atau dari luar tubuh (Austine & Short 1985). Rangsangan dari dalam tubuh. melakukan percumbuan serta menentukan perkawinan pada waktu &Short 1985). selalu diikuti oleh pejantan sambil menjilat ekor dan mencium urin betina tersebut. Rangsangan olfactory pada jantan sebagai contoh adanya pheromon yang dilepaskan oleh betina yang estrus. mulut terbuka. berupa hormon yang dapat mempengaruhi tingkah laku seksual. 1975).

Tingkah laku seksual pada jantan dipisahkan menjadi motivasi seksual (libido) dan kemampuan koitus (Beaker et al. yaitu: (1) tidak menolak saat didekati oleh keeper. (3) gelisah. 1992). Sering terjadi perkelahian antar pejantan memperebutkan betina estrus (Nalley 2006). Jika ada dua ekor betina yang estrus bersamaan. (1992) membagi tingkah laku seksual pada betina menjadi tiga bagian. Hormon dapat menyebabkan tingkah laku seksual melalui aktifitas struktur periferal. Postur lordosis akan mucul akibat adanya kontak dengan pejantan. Sedangkan menurut Bearden dan Fuquay (1997) tingkah laku seksual pada jantan lebih mengarah pada tingkah 21 . lebih nyata terlihat. kemudian badan membentuk lengkungan. kadangkadang mereka saling menaiki. Penelitian mekanisme fisiologik yang berperan dalam tingkah laku seksual pada betina lebih sering difokuskan pada refleks kopulasi. Lordosis ditandai dengan tidak bergeraknya tubuh betina.Betina estrus juga sering memperlihatkan perilaku berdiri di belakang betina lainnya sambil mencium ekornya. pada spesies yang mempunyai ekor yang panjang. posisi membungkuk dengan kaki depan direndahkan. yaitu aktraktif. (6) nafsu makan berkurang dan (7) tidak menolak pada saat vulva dipegang. agak bengkak dan basah. (4) vulva terlihat merah. Selama masa estrus seekor rusa betina biasa dinaiki tiga sampai empat kali selama kurang lebih dua jam oleh seekor pejantan sebelum terjadi ejakulasi. Nalley (2006) melaporkan pada rusa timor betina terdapat tujuh gejala estrus setelah pencabutan implan CIDR-G. (2) sering mengeluarkan suara. Pada jantan perubahan periferal (contoh: penis). Kelakuan ini biasa berlangsung selama 12 jam sebelum betina mencapai puncak estrus. kopulasi biasanya ditandai dengan diangkatnya ekor ke salah satu sisinya. tingkah laku proreceptive (menerima dicumbu) dan receptivity (menerima untuk koitus). penerimaan seksual yang disebut lordosis. pada spesies tertentu lordosis dapat juga terjadi akibat stimulasi manual pada punggung betina. Tingkah laku seksual pada jantan (libido) dapat dilihat dari keinginan kawin. Becker et al. (5) tidak menolak jika punggung dipegang. bahkan kadang-kadang seekor rusa betina estrus bersedia menerima lebih dari satu pejantan.

ereksi. umumnya kancil betina menaikkan pantatnya hingga posisi ”lordosis” dan tidak bergerak sehingga memudahkan kancil jantan untuk menaiki betina. dan hormon gonad. kancil jantan mengeluarkan suara mencicit. 1975). menaiki (mounting). Hormon hipotalamus mengeluarkan faktor-faktor pelepas yaitu Gonadotropin Releasing Factor (GnRF) atau GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) untuk menstimulasi keluarnya hormon FSH dan LH dari hipofisa (Reeves 1987). Aktivitas ovarium dan testis diperlukan kerjasama yang baik antara hipotalamus. percumbuan (courtship). ejakulasi. hipofisa. 1975). Jantan akan menaikkan kaki depan ke punggung betina sehingga posisinya aman untuk terjadinya kopulasi. hormon hipofisa. dan testis. Ketika menandai dan mendekati betina. Kancil jantan sering menjilat sampai minum urin dari kancil betina. Pada jantan tahapan proses tingkah laku kawin terdiri atas daya tarik seksual (sexual arousal). Ekor kancil jantan terlihat lurus ”tail-flashes” ketika mengikuti betina (Ralls et al. dan turun (dismounting) kembali. 22 . Pada saat kancil jantan menaiki betina. kancil jantan akan mendekati betina dari belakang dan menggosokkan kelenjarnya di bagian tengah atau belakang kancil betina dari beberapa sisi dan menandai betina dimana saja seperti bagian dorsal. intromisi. Kancil jantan sering menggosokgosokkan kelenjar intermandibularisnya pada betina untuk menandai kancil betina (Ralls et al. belakang atau leher. Mekanisme Kerja Hormonal dalam Siklus Estrus Hormon Reproduksi Hormon yang bekerja pada proses reproduksi pada jantan dan betina pada dasarnya terdiri dari: hormon hipotalamus.laku kawin yang terdiri atas (1) keinginan (libido) untuk mencari pasangan dan (2) kemampuan untuk kawin atau kopulasi. Hormon gonadotropin (FSH dan LH) merupakan hormon yang disekresikan oleh hipofisa untuk mengontrol kelenjar gonad (Ovarium dan testis). kadang kancil betina juga menjilat urin kancil jantan.

pubertas. Kehadiran progesteron pada fase luteal siklus estrus. diantaranya: (1) merubah sifat sekresi yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior. Progesteron mempunyai peranan mempersiapkan lingkungan uterus untuk implantasi dan memelihara kebuntingan melalui peningkatan sekresi kelenjar endometrium dan menghambat motilitas miometrium (Toelihere 1993). Lebih lanjut Hansen (1997) melaporkan bahwa progesteron memainkan peranan utama dalam pengaturan respons kekebalan uterus dimana induksi progesteron menghasilkan uterine milk protein (UTMP) atau protein susu uterus yang menghambat aktifitas limfosit di dalam uterus. (2) mempengaruhi pada otak yang ada hubungannya dengan tingkah laku estrus atau berahi. menginisiasi luteolisis. Efek estrogen pada poros hipotalamus dan hipofisadapat bersifat positif dan negatif.Pada ternak betina estrogen mempunyai banyak fungsi. plasenta dan kelenjar adrenal. Selanjutnya di bawah pengaruh serta peran LH yang disekresikan dari hipofisa anterior terjadilah ovulasi. Progesteron merupakan hormon yang dihasilkan oleh CL. menyusui dan nutrisi. Efek negatif dapat bervariasi bergantung pada musim. kesemuanya itu dimaksudkan guna mempersiapkan uterus untuk menerima ovum dan spermatozoa (Reeves 1987). (3) mengontrol perubahan pada alat kelamin betina. Hal ini dimediasi dari pembentukan reseptor oksitosin di dalam endometrium ternak yang sudah dikondisikan dahulu oleh progesteron. Dilaporkan juga oleh McDonald (1989) bahwa progesteron juga bekerja secara sinergis dengan estrogen untuk merangsang sekresi alveoli dan pertumbuhan kelenjar mammae. Selain itu progesteron menghambat sel-sel limfosit yang dapat menolak jaringan dan merupakan immuno supresif alami yang mencegah penolakan maternal terhadap fetus (Hansen & Liu 1996). Umpan balik positif dengan peningkatan produksi estrogen dalam ketidak hadiran progesteron meningkatkan sekresi LH ke dalam peredaran darah. Estrogen yang diproduksi dari aktifitas gelombang folikel selama fase siklus luteal. 23 . produksi mucus dan (4) merubah aktivitas metabolisme pada uterus. meningkatkan efek negatif pada estrogen dalam pelepasan LH dan FSH sehingga pematangan folikel dan ovulasi terhambat (InterAg 1996).

Kontrol reproduksi secara umum dan aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam satu siklus estrus khususnya pada ternak betina melibatkan sistem hormonal. metestrus. Tingginya konsentrasi progesteron plasma pada fase luteal siklus. folikel dominan tetap bertahan tanpa ovulasi dan mencegah inisiasi gelombang folikuler baru (InterAg.Menurut InterAg (1996) pada sapi level basal progesteron dalam peredaran darah lebih <1 ng/ml. LH meningkat dan cukup untuk memelihara pertumbuhan folikel dominan. menekan pelepasan LH yang berhubungan dengan pematangan folikel dominan. Setelah perkembangan CL pada awal fase luteal siklus. Jika konsentrasi progesteron plasma di antara dua dan empat ng/ml. Jika folikel dominan matang mencapai ukuran lebih besar dari sembilan mm. maka folikel dominan berangsur-angsur hilang (atresia) dan terbentuk folikel baru. lalu ditransfer ke arteri ovari melalui mekanisme arus berlawanan. sementara konsentrasi progesteron plasma >4 ng/ml. proses perkembangan folikel. Selain itu PGF2 CL akan mengalami perubahan kimiawi dan fisik yang akan berakibat langsung dalam pengurangan sintesis steroid yang berakhir dengan terjadinya luteolisis dan akan mulai siklus estrus baru. ovulasi dan pembetukan CL akan terjadi secara teratur. Bila ovum tidak dibuahi dan hewan tidak bunting. Periode Siklus Estrus Periode siklus estrus. Umur CL dibatasi oleh uterus yang pada hari-hari terakhir siklus pada hewan tidak bunting memproduksi PGF2 secara pulsasi ke dalam vena uterus. yaitu estrus. Di bawah pengaruh PGF2 mengalami regesi dan produksi progesteron terhenti. Toelihere (1993) menyatakan periode ini pada ternak betina menghasilkan sel telur yang hidup. Ketika konsentrasi progesteron plasma turun ke level sub-luteal (<2 ng/ml). Periode estrus ditetapkan sebagai periode waktu ternak betina mau menerima pejantan dan akan berdiri diam dinaiki. diestrus dan proestrus yang berlangsung secara siklik dan berurutan. Proses terjadinya estrus sangat erat kaitannya dengan sistem 24 . 1996). konsentrasi progesteron plasma meningkat sampai 7 ng/ml dan selama kebuntingan konsentrasi progesteron plasma dapat mencapai 20 ng/ml atau lebih.

Metestrus ditandai dengan terhentinya estrus dan rongga folikel segera berangsur mengecil dan pengeluaran lendir terhenti. courtship dan terjadinya kopulasi. epitel vagina melepaskan sebagian sel-sel barunya yang terbentuk. Ovulasi terjadi pada fase ini. Metestrus adalah periode awal sejak berakhirnya estrus atau fase setelah ovulasi. Estrus pada betina merupakan fase yang sangat penting yang ditandai dengan terjadinya kopulasi. bahwa estrus ternak ditandai sebagai periode dimana akan menerima dan diam untuk dikawini. Utamanya pada periode ini pembentukan CL (corpora lutea pada ternak multiovulator) (McDonald 1989). Estrus dan siklus estrus merupakan suatu kejadian fisiologik pada hewan betina yang dimanifestasikan dengan memperlihatkan keinginan kawin. Hormon pada hewan betina selalu dihubungkan dengan ovulasi. fenomena ini akan diperpanjang selama kebuntingan dipertahankan oleh LTH yang disekresikan oleh plasenta. Lamanya periode ini bergantung pada lamanya waktu hipofisis anterior mengsekresikan LTH. maka penolakan tersebut memberi pertanda bahwa hewan betina masih dalam fase proestrus atau fase estrus telah lewat. 25 . Corpus luteum dipertahankan oleh LTH (Luteotropic Hormone) atau prolaktin dari hipofise anterior. Apabila hewan betina menolak untuk kopulasi walaupun gejala-gejala estrus terlihat dengan jelas. Partodihardjo (1992) menyatakan. Selama metestrus. CL mulai terbentuk pada saat LH dari hipofisis anterior meningkat dan FSH menurun. Kejadian estrus dapat dijadikan dasar yang lebih baik dalam menerangkan fisiologi kelamin dan dapat digunakan sebagai titik permulaan dari satu siklus estrus. Jika CL berkembang secara sempurna dan pengaruh progesteron tampak pada dinding uterus (Salisbury & VanDemark 1985). Jika terjadi kebuntingan.hormonal. Kelenjar uterus mensekresikan cairan yang kental untuk ketersediaan makanan bagi zigot (McDonald 1989). Diestrus merupakan periode dari siklus estrus yang ditandai terbentuknya CL yang berfungsi secara penuh atau periode terakhir dari siklus estrus. pendekatan jantan. Perkembangan otot uterus dan ukuran kelenjar terus meningkat.

bentuknya bulat atau membulat dan mempunyai inti yang relatif besar dibandingkan dengan sitoplasma. Oleh karena itu banyak para ahli sel (sitolog) yang mensubklasifikasikan sel ini menjadi 26 . Anonim 2002). 1978. Sel epitel vagina dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu sel parabasal. dapat dilihat pengaruh hormon estrogen pada sistim saluran reproduksi dan tingkah laku gejala-gejala akan terjadinya estrus. Metode Penentuan Siklus Estrus Sitologi Epitel Vagina Pengamatan aktivitas siklus estrus dalam sistem reproduksi melalui perubahan sitologik epitel vagina telah banyak dilakukan pada berbagai jenis hewan. Proses pertumbuhan sel dari epitel vagina fase siklus estrus dapat diurutkan sebagai berikut: sel-sel parabasal dijumpai pada fase proestrus dan pada fase akhir diestrus.Periode proestrus berawal ketika terjadi regesi CL dan konsentrasi hormon progesteron turun dan berakhir sampai muncul estrus. Akhir periode ini. intermediate dan superfisial (Bourne 1990. Sel-sel intermediet mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi dan mempunyai diameter dua atau tiga kali lebih besar dari pada sel parabasal. Cara tersebut adalah dengan membuat preparat ulas vagina dan melihat bentuk sel dari selaput lendir (mucosa) cervix (Dugweker et al. Pengamatan ini juga telah dilakukan pada satwa lain seperti pada Macaca fasicularis. Sel-sel parabasal umumnya ditemukan pada saat diestrus dan anestrus dan tidak umum ditemukan awal proestrus serta tidak terdapat selama masa estrus. Hal pokok yang terjadi dalam proestrus adalah berlangsungnya pertumbuhan folikel yang cepat. rodensia dan beruang matahari (sun bear). Bishnoi et al. anjing. atau untuk mengetahui perkembangan folikel dan CL. sel-sel intermediet dijumpai pada fase proestrus akhir dan metestrus awal. 1982) yang bertujuan untuk mengetahui relaksasi saluran cervix dan tonus uterus. dan sel-sel superfisial dan sel-sel squamous tanpa inti dijumpai pada fase estrus. Sel parabasal adalah sel epitel kecil yang khas ditemukan pada ulasan vagina.

yaitu sel intermediate yang kecil dan sel intermediate yang besar. Mengingat hampir semua satwa eksotik sangat mudah stres. menandakan ternak berada dalam kondisi estrus (McDonald 1989. Sel superfisial yang tidak berinti sering disebut dengan sel tanduk. Sel intermediate ditemukan pada semua stadia siklus. Jika superfisial ini ditemukan dalam jumlah banyak. Pada fase proestrus epitel vagina mempunyai inti yang besar dan terletak berkelompok. 2001). Secara umum keuntungan dari penggunaan sampel feses dan urin adalah hewan tidak perlu dianestesi (Heistermann et al. Epitel vagina terdiri atas sel-sel yang pipih. Sel superfisial adalah sel besar yang terdapat pada usapan vagina. tetapi pada pertengahan siklus beberapa sel epitel berbentuk kubus yang rendah. saliva) maupun non-invasif (feses dan urin) (Brook & Marshall. maka analisa hormon dalam feses dan urin merupakan satu-satunya metoda yang memungkinkan untuk memonitor status reproduksi dalam jangka waktu yang panjang baik dipenangkaran maupun di habitat alaminya (Hodges 1985). bentuknya poligonal dan pipih. pengambilan sampel dikelompokkan menjadi invasif (plasma/serum. Pada ulasan vagina sapi yang diambil tiga sampai lima hari sesudah estrus memperlihatkan jumlah sel-sel yang mengalami kornifikasi bertambah (Salisbury et al. Pada fase estrus selsel epitel vagina menjadi lebar dan tak berinti serta mengalami kornifikasi.dua golongan. Hansel et al. tetapi ditemukan secara bertahap pada saat proestrus. hal tersebut akan mempengaruhi pada proses reproduksi. (1949) menyatakan kornifikasi juga terjadi oleh pengaruh progesteron pada lapisan mukosa antara hari ke-9 dan ke-16 dari siklus estrus. Profil Metabolit Hormon di dalam Feses dan Urin Berdasarkan manipulasi pada hewan. 1978). kadang-kadang tidak memiliki inti piknotik (sangat kecil dan gelap). terutama pada waktu estrus. 1996). Anonim 2002). namun pakan hewan kadang-kadang 27 . Sel superfisial tidak umum ditemukan pada saat anestrus. kecuali pada saat estrus. McDonald (1980) menyatakan bahwa lapisan epitel vagina pada anjing mengalami perubahan di bawah pengaruh hormon estrogen.

2002). 28 . sable antelope dan bison (Schwarzenberger et al. Semua proses reproduksi bergantung pada kerja hormon. estrogen dan progesteron dalam urin dan feses sekarang sangat luas digunakan untuk memonitor status reproduksi satwa liar (Agil 2006).dapat mempengaruhi hasil. Meskipun demikian. penggunaan feses dipandang lebih menguntungkan karena sampel masih memungkinkan dikoleksi meskipun satwa diletakkan di dalam kandang kelompok. 2007). Analisis steroid dari urine dan feses telah memberikan informasi dasar yang sangat bermanfaat tentang karakteristik hormon selama siklus ovarium dan kebuntingan pada satwa primata dan satwa lainnya (Heisterman et al. seperti kerbau. Disamping waktu penyimpanan. pada prinsipnya level steroid akan berubah dalam waktu beberapa jam setelah defekasi apabila tidak segera dilakukan preservasi (Möhle et al. sampel feses harus diambil secara keseluruhan karena kandungan metabolit hormon pada bagian luar maupun dalam berbeda konsentrasinya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa siklus estrus. untuk itu analisa hormon adalah metoda yang sangat tepat digunakan untuk menentukan status reproduksi pada suatu spesies secara tidak langsung (Hodges & Heisterman 2002). Dengan demikian dianjurkan bahwa sebelum disimpan di dalam almari pendingin seluruh feses (dalam sekali defekasi) diambil secara keseluruhan. kebuntingan dan partus pada okapi dapat diketahui melalui metode ekstraksi metanol pada feses dan enzyme immunoassay (Kusuda et al. Lama penyimpanan setelah sampel dapat mempengaruhi konsentrasi metabolit hormon. Lynch et al. (2003) menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas tentang lama penyimpanan sampel feses karena setiap hormon mempunyai ciri tersendiri. 2004). 1997). zebra. 1996). dicampur kemudian diambil dalam jumlah tertentu (Hau et al. Selanjutnya dikatakan bahwa dibandingkan urine. Pemeriksaan hormon yang berperan mengatur proses reproduksi pada hewan betina. Deteksi kebuntingan dengan menggunakan analisa estrogen dari feses sudah dilakukan pada berbagai ungulata. kandungan steroid pada feses bagian luar dan dalam berbeda.

29 . jenis hormon dan spesiesnya. Tipe metabolit estrogen maupun progesteron yang dihasilkan tergantung pada keberadaan enzim yang diperlukan untuk pembentukan metabolit tersebut dan juga ekskresinya (Heistermann & Hodges 1995. Ekskresi hormon lebih cepat mencapai puncak ekskresinya apabila diekskresikan dalam urin dibandingkan dalam feses (Agil 1995). Kesalahan dalam penggunaan analisa hormon yang tidak sesuai dengan jenis metabolit yang dianalisa akan mengakibatkan kekeliruan dalam interpretasi hasil dan validitas data yang diperoleh. Jurke et al. yang disebut time lag of excretion. sedangkan untuk progesteron pada Gambar 6. walaupun ada beberapa spesies memiliki kesamaan jenis metabolismenya. Demikian juga dalam proses ekskresi hormon steroid juga terdapat perbedaan waktu ekskresi metabolit dari sejak hormon tersebut diekskresikan dari kelenjar endokrin ke dalam pembuluh darah. 2000). Hormon setelah disekresikan akan mengalami proses metabolisme dan proses ekskresi yang berbeda-beda. Proses metabolisme estrogen dan metabolit yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 5. Hal tersebut menandakan bahwa untuk aplikasi metoda analisa hormon dalam feses dan urin untuk setiap spesies baru harus dilakukan validasi terhadap analisa hormon yang digunakan apakah sesuai atau tidak (hormone assay sesuai jenis metabolit hormon yang terdapat dalam sampel feses atau urin yang akan dianalisa). Pengetahuan jenis metabolit pada setiap spesies sangat penting untuk mendapatkan informasi yang tepat dan dapat dipercaya. Perbedaan waktu ekskresi sangat bergantung pada rute ekskresi.Metabolisme dan Ekskresi Steroid Reproduksi Menurut Agil (2006) jenis metabolit steroid yang dapat dianalisa dalam feses dan urin berbeda untuk satu spesies dengan spesies yang lain.

40 dione. di dalam metabolismenya mengalami beberapa proses reduksi seperti reduksi pada C-20 oleh enzim 20α. serta reduksi pada C-3. Selain itu proses reduksi juga terjadi pada struktur cincin A oleh enzim 4-ene-5α/β-reduktase menghasilkan 5α/β-Pregnane-3. akan menghasilkan pregnanediol.2-Metoksiestradiol 2-Hidroksiestradiol Estradiol 4-Hidroksiestron 17βCHSD 2-Metoksiestradiol 2-hidroksilase 2-Hidroksiestradiol Estron 16α-hidroksilase 16α-Hidroksiestron 16β-hidroksilase 16β-Hidroksiestron 17-Epiestriol Estriol 16-Ketoestridiol 16 Epiestriol Gambar 5 Metabolisme estrogen Di dalam metabolisme estrogen.dan 20βCHSD menghasilkan 20α. Lain halnya dengan progesteron (Gambar 7). Proses reduksi ketiga terjadi pada C-3 oleh enzim 3α/β-OHSD menghasilkan 5α/β-Pregnane-3α/β-ol-20-one. C-20 dan di struktur cincin A. sehingga produk yang dihasilkan tetap berupa steroid yang mengandung C-18. tidak terjadi proses reduksi lanjut. 30 .dan 20β-dihidroprogesteron.

walaupun aktifitas katabolisme dapat pula terjadi di ginjal dan juga instestin (Gambar 7). Dalam proses metabolismenya. Pembentukan konjugasi lainnya. juga mengubah sifat steroid menjadi larut dalam air (hidrofilik) dengan melakukan proses konjugasi dengan glukoronida atau sulfat sehingga bersifat larut dalam air. testikular.20-reduktase 4-ene5α/β-reduktase 5β-Pregnane-3α.Progesteron 17α-hidroksilase P450 20α/β-OHSD 17α-Hidroksiprogesteron 20α/β-Dihidroprogesteron 4-ene-5α/β-reduktase 3. 31 . selain mengubah steroid menjadi inaktif. Proes ini juga mengikat gugus -OH dan steroid. Asam glukoronida ini akan berikatan dengan gugus –OH dari molekul steroid. 17. Proses konjugasi dengan glukoronida memerlukan enzim glukoronil transferase dan uridine diphosphoglucuronic acid (UDPGA). adrenal dan jaringan fetus. 20α-triol 16α-hidroksilase 16α-Hidroksiprogesteron 5α/β-Pregnane-3.20-reduktase 5α/β-Pregnane-3α/β-diol Gambar 6 Metabolisme progesteron Proses katabolisme steroid terutama terjadi di hati.20 dione 3α/β-OHSD 5α/β-Pregnane-3α/β-ol-20-one 3. yaitu dengan sulfat memerlukan enzim sulfokinase dan berlangsung di sitosol hati.

Sebagian besar estrogen diekskresikan melalui urine sebagai estradiol. estron dan estriol yang terkonjugasi dengan glukoronat dan sulfat. reduktase. Saliva Gambar 7 Skema jalur ekskresi hormon steroid (Steiner 2003) Steroid yang telah terkonjugasi tersebut selanjutnya akan bersirkulasi sistemik dan dieksresikan via urine atau akan melewati membran hati ke empedu. epimerase dan βglukoronidase dari bakteri di usus (Honour 1984). steroid tersebut sebagian besar merupakan steroid yang terkonjugasi. Adanya steroid bebas di dalam feses disebabkan telah terjadi proses hidrolisis dari steroid yang terkonjugasi asal empedu oleh enzim hidrolase. dehidroksilase. jalur ekskersi steroid adalah saliva dan air susu. Di dalam empedu. Selain urin dan feses. akan tetapi dalam feses dapat pula ditemukan steroid bebas (tidak terkonjugasi).Ovarium Plasenta Testis Adrenal Ginjal Urine Hati Empedu Sirkulasi Darah Sirkulasi Enterohepatik Air Susu. sedangkan progesteron diekskresikan dalam bentuk pregnanediol dan sebagian kecil 5α-pregnanedion dan pregnanelon yang terkonjugasi dengan glukoronat dan sulfat (O‟Maley & Strott 1999). Usus Feses 32 . Steroid yang terkonjugasi yang memasuki empedu selanjutnya akan memasuki sirkulasi enterophepatik untuk kembali ke hati atau ke usus untuk kemudian dieskresikan melalui feses.

07-24.71 mg/100 ml). spermatozoa hidup 53. (2006) melaporkan bahwa kandungan seminal plasma pada kancil.05%. warna. magnesium (0. konsistensi (kekentalan).1%. konsentrasi spermatozoa 47.Karakteristik Semen Kancil Penampungan semen pada hewan atau satwa yang masih liar (belum didomestikasi) perlu dilakukan secara khusus.2-11.5 mg/100 ml).9x106 ml-1. dan pH. Semen yang berkualitas baik umumnya berwarna krem hingga putih susu dengan konsistensi sedang sampai kental dengan pH 6. gerakan indvidu (motilitas). yaitu: fruktosa (10.6% 2. Metode ini sudah digunakan pada penampungan semen pada kancil oleh Haron et al.2 mg/100 ml). Sebelum dilakukan penampungan semen.0% dan abnormalitas 21.72-11.1 mg/100 ml). sorbitol (22. konsentrasi dan abnormalitas spermatozoa.8 µl. Abnormalitas spermatozoa merupakan hal yang penting karena menentukan fertilitasnya.43±1.2 (rataan 7. Prasetyaningtyas et al.44±6.44±4. Penilaian terhadap karakteristik semen dapat dilakukan secara makroskopis maupun mikroskopis. (2000) melaporkan karakteristik semen kancil yaitu: warna yang didapat adalah krem. Pengamatan secara makroskopis meliputi volume.5 mg/100 ml).5 μl. (2000) dan Prasetyaningtyas (2006).8-7.9 12. Aspek morfologi merupakan faktor yang jarang dilaporkan. Lebih lanjut Prasetyaningtyas et al. motilitas 36. karena tidak mungkin menggunakan vagina buatan.03±1.1% dan pH semen 7-8.0 3.37 2. konsentrasi spermatozoa 366. padahal berhubungan dengan proses pengenceran pada pembuatan 33 . persentase spermatozoa normal 71.8 mg/100 ml).1-94. protein (65 mg/100 ml). putih dan kuning dan encer.8x106 ml-1.4% 1.1).11±3. volume semen adalah 23. (2006) melaporkan bahwa volume semen kancil adalah 19. potassium (0. asam sitrat (22. motilitas spermatozoa 40. Haron et al. Metode panampungan semen pada kancil dilakukan dengan menggunakan elektroejakulator. hewan dianastesi untuk mengurangi stres pada hewan sehingga kesehatannya tidak terganggu.8 mg/100 ml) dan chlorida (10. sodium (91. calsium (12.07-24.1%. Sedangkan pengamatan semen secara mikroskopis yang harus diperhatikan adalah gerakan massa.6 % dan viabilitas 59.5 mg/100 ml).

Abnormalitas spermatozoa diketahui disebabkan oleh beberapa faktor. putus atau terbelah. 34 . selama perjalanan melalui epididimis. adanya butiranbutiran sitoplasmik proksimal atau distal dan selubung akrosom yang lepas (Hafez & Hafez 2000). Selain itu juga biasa disebabkan oleh teknik penampungan dan pewarnaan semen. sedangkan abnormalitas sekunder terjadi setelah spermatozoa meninggalkan tubuli seminiferi. Abnormalitas primer adalah segala bentuk perubahan yang terjadi pada saat proses spermatogenesis di tubuli seminiferi. pendinginan yang cepat.semen cair dan semen beku. ekor melingkar (coiled). kepala pendek dan melebar. antara lain: penyakit. Abnormalitas primer meliputi kepala yang terlampau besar (macrocephalus) atau kecil (microcephalus). bagian tengah yang melipat. kontaminasi dengan air. Secara umum abnormalitas spermatozoa terdiri abnormalitas primer dan sekunder (Barth & Oko 1989). ejakulasi atau penampungan ejakulat termasuk pemanasan yang berlebihan. stres panas dan musim (Barth & Oko 1989). Sedangkan abnormalitas sekunder meliputi kepala tanpa ekor. ekor ganda. urin dan antiseptik.

elenmeyer 200 ml. E dan C (anti oksidan). freezer (menyimpan feses).0 Kg. wortel (sumber vitamin) (ukuran irisan ± 1 cm) dan pellet kelinci komersial sebagai pakan komplit. Selain pakan diatas untuk meningkatkan kekebalan diberikan vitamin A. Freeze Dry Machine® (CHRIST GAMMA 1-16 LSC) (mesin kering beku). Waktu pemberian pakan. Laboratorium Riset Anatomi Departemen Anatomi. Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan adalah: meteran. Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR). saringan. ubi (sumber karbohidrat). Syringe. Washer machine (BioTek Elx 50).MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2007 sampai Oktober 2009 di Laboratorium Lapangan dan Assay Hormon. electroejaculator (koleksi semen). Institut Pertanian Bogor. serta pemberian air minum ad-libitum. Depertemen Klinik. shaker digunakan untuk ekstraksi.11-571. mikropipet.8-2. Tabung ukur 100 ml. Reproduksi dan Patologi. kacang panjang (sumber protein). Pakan berupa irisan kangkung. electric micropipet. microplate reader (BioTek EL 808) dan seperangkat komputer (program Gen-5) untuk asai hormon. 35 . Semua kancil yang digunakan sudah dewasa (mempunyai gigi taring) dan sehat dengan bobot badan berkisar 1. tabung ukur 25 ml.000 dan sore pukul 17. Materi Penelitian Kancil yang digunakan untuk penelitian sebanyak 5 ekor (3 jantan dan 2 betina). Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan. plastik (koleksi feses). Mortar. mikroskop. timbangan analitik.56 g/hari (Jumaliah 1999). pagi pukul 06. mikrokaliper. sentrifus.00 WIB dengan berat basah makanan antara 564. tabung skala 15 ml (penumbukan dan penimbangan feses). analitical balance.

buatan Jerman) yang mengandung anti-progesterone antibody (policlonal) yang terlapis dalam sumuran. (3) Eosin. Kancil sebanyak 15 ekor (8 jantan dan 7 betina) diamati dalam penelitian ini. Sedangkan kancil yang mati karena tidak dapat beradaptasi dimanfaatkan (6 ekor) untuk mempelajari anatomi dan morfometri organ reproduksi.. NaCl (untuk evaluasi semen) dan pewarna Giemsa dan Papanicolaou (untuk analisa sel epitel vagina). negrosin. alkohol 70%. Selanjutnya kancil tersebut digunakan untuk pengamatan pola reproduksinya. Kancil yang dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik hanya 5 ekor (3 jantan dan 2 betina). IPB. Masa Adaptasi Kandang dan Pemeliharaan Tahap ini merupakan penelitian pendahuluan yang dilaksanakan di kandang percobaan Unit Rehabilitasi Reproduksi FKH. (2) untuk analisa metabolit hormon menggunaan kit progesteron (produk DRG. methanol dan milli-Q serta feses dan urin 0. yaitu: (1) Plastik (untuk koleksi feses). aquabidestilata.).Untuk pembiusan digunakan xylazine dan ketamin(merek dan pabrikan.050 g digunakan untuk ekstraksi. Selama masa adaptasi tidak semua kancil dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan perkandangan yang ada. Metode Penelitian Kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: I Masa adaptasi kandang dan pemeliharaan II Mempelajari anatomi dan morfometri organ reproduksi jantan dan betina III Mengamati tingkah laku seksual jantan dan betina VI Penentuan siklus estrus pada kancil melalui: Gambaran sitologi epitel vagina Profil metabolit hormon progesteron V Koleksi dan evaluasi semen secara makroskopis dan mikroskopis.. natrium sitrat. 36 . sedangkan bahan untuk persiapan sebelum analisa metabolit hormon progesteron.

Demikian juga terhadap pengamatan pola reproduksinya. Disamping itu pada tahap ini dapat digunakan untuk pengecekan kondisi fisik (cacat. dimana bila siklus estrus kancil sudah menunjukkan normal. Pada tahap pendahuluan ini dilakukan pula adaptasi kandang dan pakan selama dua bulan. tempat pakan terbuat dari kawat empat persegi panjang dengan ukuran panjang. Kancil dinyatakan telah berdaptasi terhadap lingkungan (kandang) bila keadaan kancil diam di tempat tersebut dan tidak berontak lagi untuk keluar dari kandang. lebar dan tinggi masing-masing 40 cm.Masa adaptasi ini dilakukan karena materi yang digunakan adalah kancil yang baru ditangkap dari hutan dan masih memiliki sifat liar (masih berontak seperti melompat dan menabrak kandang) dan cukup sensitif (mudah stres). Tiap petak diisi satu ekor (jantan dan betina terpisah). Untuk melakukan pengamatan biologis yang berhubungan dengan perilaku. Dalam kandang besar ini kancil ditempatkan pada kandang kecil yang berukuran 170 x 50 x 60 cm3 yang disekat menjadi dua petak. Disamping itu untuk melatih kancil terbiasa dengan pakan yang disajikan. Kandang ini diupayakan dapat memberikan kenyamanan fisik dan kesehatan sesuai dengan syarat penelitian dan pemeliharaan. stres) dan kesehatan. luka. Kandang ini dilengkapi dengan tempat air minum dari plastik. 10 cm dan 30 cm. adaptasi kandang dan adaptasi pakan serta air minum ad-libitum. Adaptasi pakan dimaksudkan untuk mengetahui kesukaan pakan (food preference) dan perkiraan kebutuhan pakan yang disajikan untuk pagi dan sore. sehingga perlu adanya penjinakan. 37 . kesukaan pakan serta pola reproduksi kancil digunakan sebuah bangunan kandang besar dengan ukuran 10 x 10 m2. Sedangkan kancil dinyatakan telah beradaptasi dengan pakan bila dapat memakan pakan dan menghabiskannya.

Panjang 2. Cervix (1. Ampula (1.4. Penis (1.4) 6. Morfometri: 1. Morfometri: 1. Lebar 3.4) 2.3. Testes (1. Kancil yang mati kemudian dipreparir untuk pengambilan organ reproduksi yang lengkap. diukur..4) 4.3. Kelenjar Cowper (1.3.Anatomi dan Morfometri Organ Reproduksi Kancil Jantan dan Betina Tahap penelitian ini menggunakan kancil jantan dan betina yang tidak beradaptasi (mati) pada tahap pendahuluan. Tebal 4.4) 2. Ovarium (1. Organ yang diperoleh dibersihkan dari lemak serta disusun sesuai bentuk asal.2.2.2) Parameter: 1.Tuba Fallopii (1) 3. Kancil Jantan (3 ekor) Betina (3 ekor) II. Panjang 2. Prostat (1. Berat 4. Jumlah cincin Analisis Data Secara Deskriptif Gambar 8 Bagan alur penelitian anatomi dan morfometri kancil jantan dan betina 38 . Diameter 5.2.2.4) 5. Diameter 3.4) 3. ditimbang beratnya dan data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif (Gambar 8). Vas deferens (1. Uterus (1) 4.5) 5. Berat I. Organ reproduksi jantan maupun betina yang diperoleh diamati.4) 7. Kelenjar vesikularis (1. didokumentasikan. Vagina (1) Parameter: 1.

Vas deferens. Bulbourethralis (Cowper). Kelenjar vesikularis. diameter vas deferens diukur dengan menggunakan mikrokaliper. Pengukuran terhadap bulbourethralis sama seperti pengukuran yang dilakukan pada kelenjar vesikularis meliputi panjang. Ampula vas deferens. Diameter testes diukur mengunakan mikrokapiler pada bagian terbesar dari testes. tebal dan selanjutnya ditimbang beratnya Penis. sedangkan bagian yang terpendek dianggap sebagai lebarnya. Panjang ampula vas deferens diukur dari awal pembesaran vas deferens hingga bagian yang berbatasan dengan kelenjar vesikularis. Pengukuran terhadap badan prostat sama seperti pengukuran yang dilakukan pada kelenjar vesikularis meliputi panjang. diameter ampula diukur pada bagian terbesar selanjutnya ditimbang. Diameter penis diukur pada bagian yang terbesar dari penis. Pengukuran tebal kelenjar vesikularis menggunakan mikrokaliper selanjutnya kedua kelenjar vesikularis dipisahkan dari organ utama kemudian ditimbang beratnya. Pengukuran terhadap panjang total penis dimulai dari pangkal penis atau radix penis hingga ke ujung bebas penis. 39 . Panjang testes diukur dengan cara menempatkan pita meteran pada ujung testes dari salah satu sisi yang lain dengan atau tanpa caput dan cauda epididimis. Pengukuran kelenjar vesikularis adalah bagian yang terpanjang. Panjang vas deferens diukur dengan dengan cara menempatkan pita meteran pada akhir cauda epididimis kemudian ditarik hingga mencapai ujung sebelum pembesaran vas deferens menjadi ampula. tebal dan selanjutnya ditimbang beratnya. kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitik.Organ Reproduksi jantan Testes. Prostat. kemudian pengukuran panjang juga dilakukan terhadap bagian-bagian penis seperti glans penis dan preputium. kemudian dilakukan penimbangan.

Pengukuran setiap parameter dilakukan dengan cara menghitung frekwensi 40 . Parameter tingkah laku seksual pejantan yang diamati adalah gelisah (gerakan berpindah tempat). selanjutnya panjang dari benang hasil pengukuran diukur pada pita meteran kain. Pengukuran ovarium dilakukan terhadap panjang dan lebar serta berat kedua ovarium kiri dan kanan. dihitung rataan dan dianalisis secara deskriptif kemudian didokumentasi. cervix pengukuran yang dilakukan meliputi panjang. cervix dan vagina. Data yang diperoleh dari setiap pengukuran ditabulasi. Sebelum pengambilan data. Sedangkan pengukuran panjang kedua cornua uteri dilakukan mulai dari bifurcatio hingga ujung akhir apex cornua uteri. urinasi. Panjang vagina diukur pada bagian vestibulum dan vagina bagian anteriornya (portio vaginalis cervisis). defekasi dan flehmen. uterus. saluran reproduksi tuba Falopii. dilakukan penelitian pendahuluan untuk memperoleh gambaran tingkah laku yang muncul sebagai dasar pengambilan data selanjutnya. Tuba Falopii diukur mengunakan benang dimulai dari corong saluran telur (infundibulum) sampai bagian ujung isthmus berbatasan dengan apex cornua uteri. Uterus diukur pada bagian corpus (badan) dan kedua cornuanya (tanduk). Tingkah Laku Seksual Jantan dan Betina Kancil Jantan Pejantan di tempatkan dalam kandang individual bersebelahan dengan kandang betina. Pengukuran dilakukan pada kedua tuba Fallopii.Organ Reproduksi Betina Pengukuran organ reproduksi betina meliputi pengukuran gonad (ovarium). diameter bagian luar dan jumlah cincin cervix. Panjang bagian vestibulum vagina diukur mulai dari vulva sampai muara urethra dan vesica urinaria sampai pada mulut cervix. pengukuran bagian dari vagina ini dilakukan dengan cara membuka lumen vagina. Pengukuran panjang corpus uteri dimulai dari batas akhir cervix internal sampai ke bifurcatio yang memisahkan cornua uteri kiri dan kanan.

Pengamatan dilakukan setiap hari selama 12 jam mulai pukul 06. ++. dan + Tidak bergerak (diam) 41 . gerakan berpindah (bolak balik/menit).00 WIB selama dua bulan.00-18. Kancil ditempatkan di dalam kandang khusus untuk jantan dan kandang untuk betina. Parameter yang diamati adalah frekwensi gelisah (gerakan berpindah tempat). 4. sedang (++) dan kurang (+) (Yusuf.gejala Nafsu makan menurun Gerakan berpindah Lama berdiri (gerak dan diam) Urinasi dan Defekasi Vulva merah. 2. 3. Selama pengambilan data. 1990). urinasi dan defekasi (kali/hari). 6.pemunculan tingkah laku seksual. Kancil Betina Penelitian tingkah laku seksual betina dilakukan secara individu. lama berdiri (gerak dan diam) (jam/hari). yaitu konsumsi makan (kg/hari). 5. lama berdiri (jam per hari). urinasi dan defekasi. Gejala . kemerahan dan basah dengan kriteria jelas (+++). Penilaian intensitas estrus berdasarkan kebengkakan. pengamat berada di dekat kandang dengan jarak tiga meter (terlindung) agar tidak mengganggu gerakan alamiah hewan. Tabel 1 Parameter Pengamatan Estrus No 1. Pengukuran intensitas estrus dilakukan pada saat pengamatan estrus (Tabel 1). bengkak dan basah Dipegang punggung Parameter Kg/hari Bolak-balik/menit Jam/hari Kali/hari +++. Gejala-gejala estrus yang diamati berdasarkan gejala yang sudah ditentukan sebagai parameter.

Tingkah laku kancil jantan dan betina yang estrus dan non estrus dan tingkah laku kawin diamati. Fase diestrus ditetapkan bila sel-sel superfisial tidak ditemukan pada usapan vagina. Tingkah laku yang diamati adalah meliputi tingkah laku seksual pada kancil jantan dan betina dari pengamatan pendahuluan.Tingkah Laku Kawin Kancil jantan dan betina ditempatkan dalam satu kandang. Kriteria fase siklus estrus ditentukan berdasarkan persentase gambaran morfologi sel epitel yang teramati. dimana persentase sel-sel superfisial/kornifikasi mencapai maksimum pada ulasan epitel vagina.00 pagi selama dua bulan. ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Kancil jantan yang digunakan adalah kancil jantan yang paling dominan hasil seleksi diantara kelompok. Sampel usapan vagina diambil pada lokasi kira-kira satu cm dari vulva menggunakan kapas (cotton swab) yang dibasahi dengan NaCl fisiologis. Penentuan Siklus Estrus pada Kancil Penentuan siklus estrus dilakukan melalui dua metode. Fase proestrus bila secara progresif persentase sel-sel intermediet/superfisial meningkat. Dalam penelitian ini juga dilakukan pewarnaan Papaniculaou sebagai patokan perbandingan terhadap Giemsa. 1979). Preparat diwarnai dengan Giemsa (Rao et al. Fase estrus. Kriteria siklus estrus berdasarkan gambaran perubahan bentuk sel epitel (Tabel 2). 42 . Hasil usapan dioleskan pada gelas obyek dan dibiarkan kering di udara terbuka. sedangkan kancil betina digunakan adalah yang memperlihatkan siklus estrus yang teratur dari kelompoknya. Gambaran Sitologik Epitel Vagina Ulasan vagina diambil setiap hari pada jam 07. yakni gambaran sitologi epitel vagina melalui preparat ulas vagina dan profil hormon estrogen dan progesteron melalui pengambilan sample feses dan urin.

Gambar didokumentasikan menggunakan mikroskop kamera (Nikon FDX-35). bulat dengan inti besar Sel lebih besar dari pada sel parabasal dengan inti lebih kecil 3 Sel Superfisial Sel besar.00-08. Ekstraksi Steroid Feses Analisis progesteron dan estrogen steroid dalam sampel feses diestrak menggunakan metode ekstraksi metanol (Kusuda et al. Feses yang telah dikering bekukan selama 2-3 hari dan digerus sampai terbentuk tepung. 1 2 Sel epitel Sel Parabasal Sel Intermediet Bentuk sel Sel kecil. 2007a). Data hasil analisis tipe sel yang teramati dikelompokkan berdasarkan fase siklus estrus dan ditabulasi dalam persentase kemudian dianalisis secara deskriptif.1 g feses selanjutnya diekstraksi dengan methanol 80% sebanyak 3 ml.00. bentuk poligonal inti yang sangat kecil atau tanpa inti Fase Diestrus Diestrus proestrus Proestrus estrus Evaluasi sel epitel dengan melihat gambaran perubahan sel epitel di bawah mikroskop cahaya listrik dengan pembesaran 450x dihitung sebanyak minimum 200 sel diamati. Sebanyak 0. Kemudian langsung disentrifus selama 10 menit dengan 4000 g. Pengambilan dilakukan dengan mengambil beberapa butiran antara 5-10 g feses per hari untuk masing-masing hewan percobaan. selanjutnya supernatan ditempatkan dalam wadah bersih disimpan di dalam freezer 43 . antara pukul 07.Tabel 2 Kriteria penentuan siklus estrus berdasarkan gambaran perubahan sitologis epitel vagina No. Pofil Metabolit Hormon Progesteron dan estrogen Koleksi Sampel Feses Koleksi feses dan dilakukan setiap hari selama lebih kurang 2 bulan. Feses segar yang dikumpulkan dalam suatu kantong plastik dan langsung dibekukan pada suhu -30oC tanpa penambahan pengawet sampai saatnya dianalisis. divortex selama 30 menit.

2005). Berikutnya dilakukan penambahan 200 μl larutan subtrat ke dalam sumuran. Urutan kerjanyan sebagai berikut: sebanyak 225 μl mili Q water dimasukkan ke dalam sumuran blanko. larutan standar dan sampel ke dalam sumuran. Fase interluteal ditetapkan berdasarkan nilai konsentrasi progesteron (di bawah garis threshold) sebelum mengalami kenaikan secara signifikan. lalu diinkubasi selama 15 menit dalam temperatur ruang. Selanjutnya penambahan 100 μl larutan penyetop (stop solution). Peningkatan konsentrasi progesteron dapat diketahui dengan melihat nilai konsentrasi progesteron lebih besar dari nilai rerata ± 2 SD yang diproleh dari 3-5 nilai sebelumnya. Selanjutnya dihomogenkan dengan shaker selama 10 menit dan inkubasi selama 60 menit dalam temperatur ruang. 44 . kemudian diinkubasi selama 5 menit dalam suhu ruang kemudian menambah 200 μl enzim conjugate ke dalam masing-masing sumuran. fase inter-luteal dan perkiraan ovulasi. Selanjutnya dilakukan pencucian sebanyak 3-4 kali (350400 μl/sumur). Analisis Data Profil hormon yang diperoleh dari feses digunakan untuk mengetahui fase lutal. Panjang siklus estrus dapat ditentukan yaitu dengan menghitung jarak antara peningkatan progesteron ke peningkatan progesteron berikutnya (di atas garis threshold). Analisis Hormon Metabolit Analisis metabolit dalam feses dilakukan dengan metode ELISA sesuia buku panduan yang terdapat dalam kit (produk DRG progesterone).-30oC sampai dilakukan asai menggunakan ELISA (Enzime Link Imonosorbent Assay). Selanjutnya sumuran dimasukkan ke dalam ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm. kemudian inkubasi selama 15 menit. Fase perkiraan ovulasi ditetapkan 2-3 hari sebelum peningkatan konsentrasi progesteron (Engelhardt et al. kemudian dikeringkan dengan membalikkan sumuran. 25 μl ke dalam sumuran zero. Fase luteal ditetapkan berdasarkan saat mulainya kenaikan konsentrasi progesteron (di atas garis threshold) sampai saat menurunnya konsentrasi progesteron.

Persentase motil spermatozoa: spermatozoa yang bergerak progresif ditentukan secara subyektif pada seluruh lapang pandang yang berbeda. Anestesi dilakukan dengan menggunakan kombinasi xylazin dengan dosis 0. sedang dan kental. Evaluasi Semen Semen yang baru ditampung dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Persentase spermatozoa hidup: ditentukan dengan menggunakan pewarnaan eosin B 2%.5 cm dengan elektrode yang melingkar. Japan). Derajat keasaman (pH): penentuan pH semen segar menggunakan pH paper. Penilaian mikroskopik meliputi: Konsentrasi spermatozoa: Jumlah sel spermatozoa dalam satu milliliter semen. Konsistensi (kekentalan) semen: pengamatan kekentalan semen segar setelah ditampung. Dihitung menggunakan hemositometer atau kamar hitung Neubauer. 45 . Nilai yang diberikan berkisar antara 0% dan 100% dengan skala 5%. Pada kancil dilakukan stimulasi listrik dengan voltase antara 5-15 volt selama 5 detik on/of dan dilakukan secara berulang.1 mg/kg/BB dan ketamin dengan dosis 11 mg/kg/BB yang diinjeksikan secara intarmuskular (im). Warna semen: pengamatan warna semen segar segera setelah semen ditampung. Semen yang keluar ditampung pada tube ependorf. Penilaian makroskopik meliputi: Volume semen: diukur menggunakan mikropipet setelah penampungan. metode Probe electroejaculator stimulator. sampai didapatkan semen.Koleksi dan Evaluasi Semen Koleksi Semen Pada penelitian (electric ini semen ditampung Fujihiro menggunakan Ltd. Kekentalan digolongkan ke dalam: encer. dimana spermatozoa hidup ditandai dengan kepala putih. electroejakulator yang digunakan memiliki ukuran panjang 29 cm dengan diameter 0. sedangkan yang mati ditandai dengan kepala berwarna merah (eosinofilik). Co. Penampungan dilakukan pada kancil dalam keadaan teranestesi.

Persentase abnormalitas spermatozoa dilakukan berdasarkan kelainan mofologi pada bagian kepala dan ekor.Persentase abnormalitas spermatozoa: Pengamatan terhadap persentase abnormalitas spermatozoa dilakukan menggunakan pewarna Williams. 46 .

Dari pengamatan selama penelitian kancil dapat bertahan hidup bila sudah seminggu di tempat yang baru (kandang penelitian). sering mengalami hambatan karena kancil hewan yang memiliki stres tinggi.HASIL DAN PEMBAHASAN Adaptasi Kandang dan Pemeliharaan Penanganan kancil secara budidaya (ex situ) belum dilakukan. kecuali sebagai satwa kesayangan atau pajangan. terutama disebabkan oleh faktor lingkungan. Namun juga kancil mempunyai sifat cepat beradaptasi.7%. Faktor-faktor seperti masalah pakan dan reproduksi merupakan kajian yang cukup penting untuk diperhatikan dalam pemeliharaan satwa tersebut. Pada penelitian ini tingkat kematian kancil terutama di awal penelitian adalah 66. serta cepat beradaptasi terhadap pakan dan lingkungan baru. 47 . Dalam pelestarian kancil perlu mengupayakan metode pengembangan melalui penangkaran di luar habitatnya merupakan suatu yang perlu diteliti kemungkinan-kemungkinannya. lama estrus dan gejala-gejala saat estrus serta aspek penampilan reproduksi lainnya yang perlu diketahui. Hasil penelitian ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan yang laporan Kudo et al. kancil dapat beradaptasi dalam dua minggu. Hasil pengamatan. Kancil yang baru diperoleh dari hutan dan baru sampai di lokasi penelitian masih tetap memperlihatkan sifat liar seperti keadaan waspada. mereka akan diam dan tidak berontak lagi untuk keluar dari kandang. Demikian pula terhadap penampilan reproduksi seperti estrus. (1997) bahwa angka mortalitas kancil dalam kondisi di penangkaran kebun binatang Malaysia bisa mencapai 75%. jenis bahan pakan yang dimakan (palatable). Sistem pemeliharaan kancil. Adaptasi terhadap konsumsi pakan. sebagai upaya mencari solusi penanganan di dalam tata laksana pemeliharaan kancil. Sifat ini membuat kancil tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi pada sistem prabudidaya. menabrak kandang. rasa takut dan curiga. sehingga kancil dapat beradaptasi lebih baik pada kondisi ex situ.

(1988). Pengobatan diberikan terhadap luka tersebut sehingga sembuh (Gambar 11). lemak. kancil dapat mengalami kematian. Jika kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi dalam pakan. rasa takut dan curiga sehingga menabrak kandang yang dapat mengakibatkan luka dan apabila luka ini sangat parah akan mengakibatkan kematian. Kandang ini memiliki beberapa kelemahan yang ditemui. maka konsentrasi kortisol dapat kembali normal. protein serta glukoneogenesis dalam menaggulangi stres (Guyton & Hall 1995). walupun kancil tidak luka. Peningkatan konsentrasi kortisol dalam hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme karbohidrat. dada terutama bagian kaki (Gambar 10). Hal ini sesuai laporan Sibly dan Calow (1986) bahwa stres lingkungan memicu peningkatan laju metabolisme tubuh sehingga meningkatkan kebutuhan energi. mengamati kematian kancil dalam kandang disebabkan oleh beberapa hal. Selain untuk meningkatkan 48 . Creel (2001) melaporkan bahwa adanya perubahan lingkungan pasti akan menimbulkan stres pada hewan maupun manusia yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi kortisol tubuh. yaitu kancil yang baru dtempatkan dalam kandang mengalami luka pada bagian tubuh seperti muka. antara lain: (1) apabila pemeliharaanya dicampur satu sama lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Israil et al. maka energi yang terdeposit dalam bentuk lemak tubuh akan dimanfaatkan. Bila dihubungkan dengan kandang yang digunakan dalam penelitian ini (Gambar 9) menggunakan alas dari kayu (ring ukuran 3 cm) dan dinding menggunakan kawat kasa. kemudian luka dan berakhir dengan kematian. (2) kancil mengalami stres. kemudian berlari-lari sampai menerjang dinding kandang hingga terjepit. Bila luka ini tidak diobati. apabila hal ini terjadi. akhirnya juga mati karena memar pada hidung atau kakinya. Bila stresor dapat ditangulangi dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Penyebab lainnya adalah sifat liar seperti keadaan waspada.Penyebab kematian kancil dalam penelitian ini adalah kemungkinan mengalami stres yang ditunjukan dengan kegelisahan yang disertai nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan yang biasanya diikuti diare. Hal tersebut terjadi karena kancil masih asing terhadap kandang baru. maka selalu terjadi perkelahian.

artinya bangunan kandang yang dibangun sesuai dengan fungsi dan lingkungan kehidupan kancil yang akan dipelihara. Dari pengalaman penelitian. disamping itu kaki kancil dengan kuku yang lancip dan tajam sehingga sering terjepit ke kawat 49 .kekebalan tubuh. Gambar 9 Model kandang penelitian Gambar 10 Kancil yang mengalami luka pada. setiap minggu kancil diberikan vitamin A. muka. diperlukan kandang kancil yang memiliki syarat: 1) hindari penggunaan kandang beralaskan kawat kasa karena kaki kancil tidak tahan terlalu lama di atas kawat. dada dan lutut Gambar 11 Luka yang sudah mengering Keberhasilan dalam memelihara kancil diperlukan kandang yang baik. E dan C (anti oksidan) dan sebulan sekali diberi Biosalamin® secara intramuskuler serta setiap enam bulan diberikan obat cacing (Calbazen®).

sehingga diharapkan pertumbuhan serta reproduksi dapat berjalan dengan lancar.kasa mengakibatkan kematian. Sinar matahari ini dapat membantu proses pembentukan vitamin D. Alasan lainnya karena dalam tahapan penelitian tertentu dalam pengambilan datanya secara invasif. Berdasarkan pengamatan terlihat kancil yang digunakan dalam penelitian ini bertahan hidup sampai sekarang (2 tahun). selain itu dapat mempercepat pengeringan kandang sehabis dibersihkan dengan air. sehingga keaadaan udara segar dalam kandang bisa dipertahankan dan kelembaban berkurang. 3) membuat ventilasi kandang. Dari hasil pengamatan stres hanya bersifat akut artinya terjadi saat pertama kali ditempatkan dalam kandang. karena ventilasi berguna untuk mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang dan menggantikan udara segar dari luar. terlihat nyaman di dalam kandang (terkondisi) (Gambar 12). sehingga dalam pengambilan data tidak memberikan bias yang terlalu besar. Pada penelitian ini kandang tidak dilengkapi tempat persembunyian dengan alasan agar kancil cepat bersahabat dengan manusia. bila dipegang tidak memberontak (Gambar 13). Bila bentuk dan ukuran kandang yang sesuai. dengan kata lain kancil telah beradaptasi dengan lingkungan. 2) dekat dengan pemilik. sehat dan siklus estrus teratur. baik terhadap kesehatan maupun keamanan. satwa dapat hidup dan nyaman. sebagai desinfektan. karena kancil memerlukan banyak pengawasan langsung. 4) sebelum membangun kandang perlu memperhatikan arah sinar matahari agar bisa masuk ke dalam kandang. Gambar 12 Kancil yang sudah beradaptasi (keadaan relaks dalam kandang) 50 . Hal ini merupakan salah satu cara untuk menurunkan stres lingkungan serta memudahkan sosialisasi.

Air minum diberi adlibitum dan di sudut kandang juga disediakan garam. Dilaporkan oleh Rosyidi (2005) bahwa kemampuan menahan haus pada kancil diduga karena kemampuan dinding 51 . Adaptasi terhadap bahan pakan merupakan kemampuan hewan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang baru antara lain dapat dilihat dari kemudahannya dalam memanfatkan jenis bahan pakan yang tersedia di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Kualitas pakan berperan dalam siklus reproduksi betina mulai dari pencapaian pubertas induk sampai dengan muncul estrus kembali bagi induk yang baru melahirkan. Hal ini kemungkinan disebabkan kebutuhan air sudah terpenuhi dari pakan yang disediakan. kangkung dan diberi tambahan konsentrat (pellet kelinci). Namun kancil aktivitas minum jarang dilakukan. kemampuan kancil beradaptasi terhadap jenis bahan pakan yang tersedia pada kondisi ex situ cukup tinggi. Kancil yang telah beradaptasi dan jinak dapat dipegang dengan baik dan bersifat tenang. Pencapaian pubertas berkaitan erat dengan berat atau skor kondisi tubuh induk dan hal ini merupakan refleksi kondisi pakan yang diberikan sebelumnya.50 g/hari (Gambar 14). kacang panjang. Semakin banyak dan beragam jenis pakan yang disukai berarti hewan bersangkutan mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Kancil dapat memakan rata-rata 552.Gambar 13 Kancil yang sudah jinak. Dalam penelitian ini pakan yang diberikan berupa campuran wortel. sehingga air minum yang disediakan menjadi kotor karena terkena pakan dan feses. bila dilihat dari keragaman pakan yang dapat dikonsumsi dan disukai.

Cara pemberian pakan diberikan dalam wadah dan dalam kondisi segar. maka kancil enggan memakannya. karena bila pakan sudah dalam keadaan layu dan kotor.00-18. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rosyidi (2005) bahwa kancil menyukai pakan yang segar dan kandungan air tinggi dan memiliki daya cerna tinggi serta kandungan serat kasarnya rendah. Dari uraian diatas.sel darah merah kuat sehingga mampu menahan terjadinya hemolisis. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan kancil memanfaatkan jenis bahan yang tersedia pada lingkungan ex situ seperti umbi-umbian (wortel. Namun perlu usaha pengembangbiakan baik melalui kawin alam atau dengan cara penerapan teknologi reproduksi berbantuan. Hal ini dibuktikan hasil analisis laboratorium darah kancil tahan terhadap penambahan NaCL 25%.00-07.00 WIB. ubi jalar) dan sayuran (kangkung. kancil mempunyai potensi untuk dijadikan ternak budidaya atau merupakan satwa harapan. Gambar 14 Pakan kancil.00 WIB dan malam pukul 17. Pakan yang diberikan berupa wortel. kacang panjang. kacang panjang dan kangkung dalam potongan kecil. ketimun). Waktu pemberian pakan dilakukan dua kali sehari semalam dengan waktu pagi sekitar pukul 06. 52 .

retractor penis. (4) caput epididimis. Keterangan: (1) Testis cauda. (3) corpus epididimis. yaitu organ kelamin primer (gonad jantan atau testis). kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap (ampula. (9) kelenjar bulbourethralis. Organ-organ tersebut secara anatomis berhubungan dengan traktus urinarius yang terdiri dari ginjal dan vesica urinaria (Gambar 15). (13) glans penis dan (14) vesica urinaria. (10) m. serta organ kelamin bagian luar atau organ kopulatoris yang disebut dengan penis. (12) penis bebas preputium. 53 . (6) ampula. (11) flexura sigmoid. Sehingga kesemuanya disebut apparatus urogenitalis hewan jantan (Salisbury & Van Demark 1985). (7) kelenjar vesikularis. vas deferens dan urethra. 9 8 7 6 10 11 12 14 13 5 1 3 2 1 1 cm 4 12 Gambar 15 Anatomi organ reproduksi jantan.Anatomi dam Morfometri Organ Reproduksi Kancil Jantan dan Betina Organ Reprododuksi Jantan Secara umum bagian-bagian dari organ reproduksi kancil jantan hampir sama dengan organ reproduksi ternak domestik lainnya. (8) kelenjar prosta. (5) vas deferens. kelenjar vesikularis. (2) epididmis. prostat dan bulbourethralis) dan saluran-saluran yang terdiri dari epididimis.

87 2.33±2.00±3.10 0.17 g (Tabel 3).06 0.04±3. Panjang testis kancil adalah 12.89 mm.48±0. Tabel 3 Morfometri organ reproduksi pada kancil jantan Organ Testes tanpa scrotum Keterangan Panjang (mm) Diameter (mm) Berat (g) Panjang (mm) Diameter Berat (g) Panjang (mm) Diameter (mm) Berat (g) Panjang (mm) Tebal (mm) Berat (g) Panjang (mm) Tebal (mm) Berat (g) Panjang (mm) Tebal (mm) Berat (g) Panjang total (mm) Panjang bebas preputium (mm) Glans penis (mm) Diameter (mm) Kancil 12.33±14.33±2.86±0.20±1.55±413 mm) (Nalley 2006) dan domba (100 mm dan 60 mm) (Ashdown 1987).89 8.04 142.20±1.46 5.73±1.Testis.74 58.04 17.0 0.08 4.02 5.0 Vas deferens Ampula Kelenjar vesikularis Prostat (badan) Kelenjar bulbourethralis Penis 54 .09 17.33±10.52 6.81±0.17 113±3.07 8. Ukuran-ukuran ini berbeda dengan rusa timor dan domba.81±0.53 mm dan 36.53±0. Testis berfungsi untuk menghasilkan spermatozoa dalam suatu proses yang disebut spermatogenesis dan menghasilkan hormon testosteron pada bagian sel interstitial (Leydig) (Hafez & Hafez 2000.41 44.47±0. diameter 8.92 0.33±2. Kancil memiliki sepasang testis yang terbungkus oleh tunica albugenia dan dilindungi oleh scrotum pada bagian luarnya.60 2.0 0.33±2. Toelihere 1993).26±1. dimana panjang dan diameter testis rusa timur (82.43±0.01 18.85 0.92 mm dengan berat 0.33±2.07±0.29±0.

berlobulasi dan berukuran panjang 17.42 mm) dan domba (40 mm). Vas deferens menghubungkan epididimis dengan kelenjar assesorius.53±2. asam sitrat. Kelenjar vesikularis. fruktosa dan beberapa enzim dalam konsentrasi tinggi.10 mm.53±0. Pada sapi pH-nya berkisar 5. kalium. lebih kecil dibanding kelenjar vesikularis rusa timor (45. Epididimis merupakan suatu struktur yang memanjang dan melekat rapat dengan testis. walaupun kelenjar vesikularis adalah sumber kedua zat tersebut.00±3. Epididimis kancil terdiri dari caput di anterior. Kelenjar prostat dapat teramati dengan jelas.39 mm) (Nalley 2006) dan domba (70 mm) (Hafez 1987).36±1. maturasi dan tempat penyimpanan sperma (Morel 1999).60 mm.46 mm dan tebal 5.06 mm. Panjang kelenjar vesikularis pada kancil 18. lebih kecil dibanding ampula rusa Timor (72. berfungsi sebagai saluran transportasi spermatozoa dari epididimis ke ampula. kiri dan kanan pada leher vesica urinaria. lebih pendek dari rusa timor (452.Epididimis. Menurut Hafez (1987). yaitu corpus prostatae dan pars disseminata prostatae. corpus di dorsal dan cauda epididimis terletak di posterior.2 dan sekresinya merupakan 50% dari volume ejakulat. konsentrasi.33±2. Panjang ampula kancil (17. Vas deferens. Salisbury dan vanDemark (1985) melaporkan bahwa pada sapi ampula mengeluarkan sekresinya yang mengandung fruktosa dan asam sitrat. kadang berwarna kuning karena mengandung flavin. Ampula vas deferens merupakan perbesaran dari bagian ujung vas deferens sebelum kelenjar vesikularis. Fungsi epididimis adalah sebagai tempat transportasi spermatozoa. Kelenjar prostat.44 mm) (Nalley 2006) dan domba (24 cm) (Hafez 1987). babi dan anjing terdiri dari dua bagian.73±1.33±2.0±0. Ampula vas deferens. Kelenjar vesikularis terdapat sepasang yang menempel pada pinggir dorsolateral leher vesica urinaria. Pada kuda merupakan kelenjar berlobulasi terdiri dari dua lobi lateral.52 mm dengan tebal 6. 55 .7 sampai 6. Menurut Hafez (1987) pada sapi.87 mm). Panjang vas deferens kancil hasil penelitian adalah 113±3. sekresi kelenjar vesikularis mengandung protein.

85 mm) dengan berat (0. (C) vesikularis dan (D) ampula. Dilaporkan Nalley (2006) pada rusa timor.A D B C 1 C A D B A B D 2 B 3 C 4 D C Gambar 16 Perbandingan morfologi kelenjar asesoris pada ternak.02 mm) dan tebal (5. Pada kancil memiliki sepasang kelenjar bulbourethralis.86±0. (3) babi (Senger 1999) dan (4) rusa timor (Nalley 2006). Kelenjar bulbourethralis ini juga sangat jelas terlihat pada kuda dan babi (Gambar 16). Penis. Penis adalah alat kopulasi hewan jantan yang dibentuk oleh Penis kancil termasuk fibroelastik sama dengan penis sapi. sehingga corpus dan glans penis hanya sedikit mengalami pembesaran dalam keadaan ereksi.04 g). diperlukan untuk menetralisir dan membersihkan urethra dari bekas urin dan kotoran-kotoran lainnya sebelum dilewati semen (Hafez 1987). Kelenjar ini menghasilkan sekresi alkalis. jaringan erektil. Kelenjar bulbourethralis (Cowper).26±1. (1) kancil. dengan panjang (8. 56 . (2) kuda (Senger 1999). kelenjar ini tidak ditemukan.47±0. (B) prostat. Keterangan: (A) bulbourethralis.

Kancil Sapi Domba Babi Kuda Gambar 17 Perbandingan morfologi glans penis. Panjang penis bebas preputium pada kancil (58. Keterangan: Kancil (penelitian ini) Sapi.41 mm) lebih panjang dibanding penis pada rusa timor (35. seperti ujung penis membentuk putaran (spiral) searah jarum jam dengan jumlah putaran dua setengah dan bercabang. 57 . Penis kancil terdiri dari radix. babi dan kuda (Senger 1999). dimana fungsinya belum diketahui secara pasti (Gambar 17).38±0. corpus mempunyai flexura sigmoid sama dengan pada ternak ruminansia pada umumnya. Karakteristik penis memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan ternak lain.88 mm) (Nalley 2006) dan domba (40 mm) (Hafez 1987). Hal yang sama dijumpai pada penis babi tetapi putaran berlawanan dengan arah jarum jam dengan jumlah putaran satu setengah.33±10. domba.

tuba Fallopii. Ovarium berbentuk oval yang sama juga terlihat pada ruminansia lainnya seperti domba dan sapi. penggantung tuba Fallopii (mesosalphynx) dan penggantung uterus (ligamentum uteri). (2) corpus uteri. Keterangan: (1) cornua uteri. (3) cervix. Ukuran ovarium kancil baik panjang.03±1. rusa dan sapi. Ovarium kancil dibungkus oleh suatu selaput bursa ovary (Hamny 2006). Organ reproduksi kancil betina terletak retroperitoneal dalam rongga pelvis.70 mm) di bandingkan dengan ovarium 58 . Salisbury dan vanDemark (1985) menyatakan bahwa organ reproduksi primer betina (ovarium) berperan melaksanakan fungsi eksokrin (menghasilkan telur) dan fungsi endokrin (mensekresikan hormon betina. lebar dan berat ditampilkan pada Tabel 4. Organ reproduksi kancil dapat dilihat pada Gambar 18.Organ Reproduksi Betina Organ reproduksi kancil betina terdiri atas alat kelamin dalam (internal genital) yaitu sepasang ovarium.8±2. uterus. Ovarium. 2 1 3 5 4 1 cm Gambar 18 Organ reproduksi kancil betina. cervix dan vagina. Jika dibandingkan dengan ukuran ovarium domba. ovarium kancil memiliki ukuran yang lebih kecil. Organ ini digantung oleh fascia yang luas yang terdiri dari penggantung ovarium (mesovarium).61 mm) dan lebar (3. yaitu estrogen dan progesteron). Ovarium kanan kancil berukuran lebih panjang (4. (4) vagina dan (5) vesica urinaria.

67 mm).17 4.kiri panjang (4.45±0.67±2.67±2. 59 . Tabel 4 Morfometri organ reproduksi pada kancil betina Organ Ovarium Berat (g) Panjang (mm) Lebar (mm) Keterangan Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kancil* 0. Selain itu umur juga mempengaruhi ukuran ovarium. Data ini menunjukkan bahwa ovarium kanan lebih aktif dibandingkan ovarium kiri.61 3.30±1. maka ovarium semakin besar yang berada di bawah kontrol hormon-hormon reproduksi yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis.57 31.36 - 20.20±1.57±1.08 29.85 39.35±0.19 18.21 43. Perbedaan ukuran ovarium kanan dan kiri bergantung pada aktifitasnya.05 21.67±3.50±0.11 Keterangan : *= Hasil penelitian ini dan **= Hamny (2006).83±0.67 Kancil** 0.005 4.01 7.52 5.036±0.70±1.33±0.53±0.032±0.61 Cervix Panjang (mm) Diameter (mm) Jumlah cincin Vagina Panjang (mm) 24. Menurut Toelihere (1993).00±1.73 32.83±0.33±2.08 26.90 5.4±0.67±3.019±0.60±0. bentuk dan morfometri ovarium akan menunjukkan perbedaan sesuai dengan spesies dan fase siklus berahi (fase folikuler atau fase luteal).58 3 38.50 Tuba Fallopii Panjang (mm) Kanan Kiri 30. semakin dewasa umur hewan tersebut.50 3.031 0.70 2.61 4.90±0.057±0.03±1.4±0.61 mm) dan lebar (2.01 0.30±1.94 Uterus Panjang (mm) Cornua kanan Cornua kiri Corpus 32.33±5.28 25.8±2.

00±1.57 mm. ampula dan isthmus (Hafez dan Hafez 2000).58 mm. dimana ukuran penis bebas preputium pada kancil relatif panjang di banding panjang penis bebas preputium pada rusa dan domba. karena volume semen kancil ini sangat rendah dibanding dengan ternak mamalia lain sehingga semen diejakulasikan melewati cervix atau di cervix.73 mm. spesies.Perbedaan berat ovarium ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur. Cornua uteri kanan juga lebih panjang 32. Cervix. Berat ovarium akan meningkat ketika folikel ovarium tumbuh menjadi matang (Toelihere 1993). Saluran ini mempunyai peranan penting dalam reproduksi yaitu sebagai tempat kapasitasi spermatozoa.67±2. fertilisasi dan pembelahan embrio.21 mm.08 mm dan yang kiri 29.33±0.33±5. 60 . Pada kancil terlihat cervix relatif lebih panjang dari vagina.52 mm dengan diameter 5. Berdasarkan data di atas. Vagina memiliki panjang 20. Cervix kancil mempunyai panjang 24. dimana berbeda dengan pada ternak mamalia lainnya.67±2.67±3. Tuba Fallopii. paritas (banyaknya kelahiran). pada saat kopulasi penis mencapai cervix untuk mengejakulasikan semen. Hal ini diduga berkaitan dengan fisiologi kopulasi. infundibulum. tempat masuknya penis pada perkawinan alami dan saluran keluarnya fetus pada saat partus. Corpus uteri memiliki panjang 32. Cornua terbagi atas kornua kanan dan kiri yang berbentuk melengkung seperti tanduk. Data morfometri organ reproduksi kancil secara anatomi makroskopis akan sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang fisiologi reproduksi kancil betina antara lain untuk kemungkinan penerapan teknologi reproduksi dalam mendukung pelestarian dan peningkatan populasi kancil.05 mm dibanding kornua kiri dengan panjang 21. Cervix merupakan bagian leher uterus yang mengandung otot kunci dan terdiri atas cincin anuler. Vagina. Dugaan lain. Tuba Fallopii kanan memiliki panjang 30. Cornua dan Corpus Uteri. Uterus merupakan saluran reproduksi utama yang terbagi atas cornua. Vagina adalah saluran reproduksi yang berfungsi sebagai alat (lubang) bersenggama.33±2.67±3.08 mm. corpus dan cervix. tingkat gizi pakan dan siklus reproduksi (Hafez & Hafez 2000). Tuba Fallopii adalah saluran telur yang terdiri atas fimbriae.

nafsu makan.4± 1.55 2.45 552. Lama berdiri pada pada saat estrus kancil memperlihatkan perubahan yang jelas (7.84 jam/hari).89 4. 7.91 7.55) dibandingan non estrus (2.91 dibanding non estrus 3. basah Bila dipegang bagian pinggul 7.3±53.3 ±0. 6.89 dibanding non estrus 3. sentaksentak kaki dan perubahan vulva. 3.3±53. Lama berdiri (gerak dan diam) (jam/hari) Gerakan berpindah tempat (kali/menit) Urinasi (hari) Defekasi Konsumsi pakan (g/hari) Sentakkan kaki Kondisi vulva: Bengkak.4±3. lama berdiri.55 kali/hari dan defekasi (4. 2.45 kali/hari).9±1. 4.4±3.70 Ya +++ Posisi lordosis Fase Non estrus 3.3±0.4±0.13 jam/hari) dibanding non estrus (3. defekasi.84 3. merah.9±1.6±0.Karakteristik Tingkah Laku Seksual pada Kancil Jantan dan Betina Betina Karakteristik tingkah laku pada penelitian ini diukur berdasarkan pengamatan terhadap. 5. Urinasi saat estrus 7. Gelisah (gerakan berpidah tempat) saat estrus 18.14 kali/menit.14 3. gelisah urinasi. Konsumsi pakan menurun pada saat estrus 436. 4.62 g/hari (Tabel 5). terbuka.70 g/hari dibanding non estrus 552.67 Tidak 0 Menghindar 61 .2±0.55 436.4±0.50±43.4±0.6 ±0. Tabel 5 Karakteristik tingkah laku estrus kancil betina Parameter tingkah laku Estrus 1.13 18.4±0.5±43.4±1.2±0.

Dari observasi terlihat perbedaan mencolok pada kancil yang estrus yaitu tidak tenang (gerakan berpindah tempat), urinasi dan nafsu makan menurun. Kancil sering berlari dan ingin keluar sambil mengangkat kepala melihat ke tempat pejantan dan kaki sering disentak-sentakkan. Hal ini terjadi karena adanya

perbedaan kondisi fisiologik antara kancil yang sedang estrus dengan tidak estrus. Tingginya konsentrasi hormon estrogen diekspresikan oleh betina dengan

berbagai tingkah laku untuk menarik perhatian kancil jantan. Hal ini terjadi juga pada sapi estrus sangat tidak tenang, kurang nafsu makan dan sering mengangkat ekornya. Parameter gelisah ini masih sangat bias pada kancil, mengingat kancil masih sulit didekati oleh orang yang tidak dikenalnya atau mendengar suara lain di lingkungan sekitar kandang. Pengamatan terhadap kondisi vulva, merupakan hal yang lazim pada ternak ruminansia. Dari pengamatan terhadap perubahan vulva, terlihat kancil

menunjukkan pembukaan, pembengkakan dan kemerahan vulva yang jelas (+++) pada saat estrus (Gambar 19 A). Sebaliknya pada saat non estrus, vulva agak tertutup dan pucat (Gambar 19 B). Perubahan pada vulva ini muncul seiring dengan perubahan tingkah laku. Pengamatan yang sama dilaporkan oleh Kusuda et al. (2007b) pada Malayan tapirs (Tapirus indicus) bahwa pengeluaran mukosa dan pembengkakan vulva terjadi ketika konsentrasi progesteron mulai menurun.

A

B

Gambar 19 Keadaan vulva pada kancil.
Keterangan: (A) saat estrus: vulva bengkak, terbuka dan basah dan (B) saat tidak estrus: vulva tertutup, pucat dan kering

62

Wiliams et al. (1992) menyatakan bahwa pembengkakan vulva selama proestrus dan estrus terjadi pada semua spesies ternak. Peningkatan pembengkakan vulva dimulai fase proestrus dan mencapai maksimal pada saat estrus. Estrogen bertangungjawab untuk proliferasi endometrium, berfungsi dalam peningkatan ukuran dan cairan dinding uterus melalui hiperplasia dan hipertrofi sel-sel mukosa, meningkatkan retensi air dan sodium dalam ginjal sehingga meningkatkan volume darah serta bertanggungjawab dalam peningkatan jumlah dan ukuran pembuluh darah ke uterus sehingga darah mengalir ke dan dari uterus dengan bebas. Estrogen juga meningkatkan jumlah sel darah putih dalam darah (leukosit) untuk mencegah infeksi dan peradangan. Sedangkan perubahan warna merah terjadi karena peningkatan sirkulasi darah pada vulva. Mukosa berwarna merah jambu

terjadi kongesti karena vaskularisasi bertambah (Toelihere 1993). Hal ini sesuai dengan pernyataan Senger (1999), bahwa selama estrus, estrogen akan mempengaruhi organ reproduksi betina terutama uterus dan vulva. Pengamatan dengan cara memegang punggung kancil memperlihatkan bagian belakang dinaikkan dan pelegokan punggung (lordosis) serta tidak bergerak (Gambar 20A). Penyesuaian posisi ini meliputi perentangan kaki, sikap berdiri dan peninggian bagian belakang yang mempermudah untuk menampung

intromisi atau pemasukan penis oleh pejantan. Sebaliknya pada kancil non estrus punggungnya dinaikkan (kiposis), kaki belakang akan ditekuk dan berusaha untuk menghindar (Gambar 20 B). Posisi lordosis sebagai salah satu ciri penerimaan jantan secara seksual oleh betina saat memasuki periode estrus (Toelihere 1993; Hafez dan Hafez 2000). Selama periode ini betina akan mencari dan menerima kancil jantan untuk aktifitas kopulasi. Penerimaan terhadap pejantan disebabkan pengaruh hormon estrogen terhadap system syaraf pusat yang menghasilkan tingkah laku yang khas yaitu reseptivitas kancil. Lordosis ditandai dengan tidak bergeraknya tubuh betina, posisi membungkuk dengan kaki depan direndahkan, kemudian badan membentuk lengkungan, pada spesies yang mempunyai ekor yang panjang; kopulasi biasanya ditandai dengan diangkatnya ekor ke salah satu sisinya. Postur lordosis akan mucul akibat adanya kontak dengan pejantan, pada spesies tertentu lordosis dapat juga

63

terjadi akibat stimulasi manual pada punggung betina. Toelihere (1993) melaporkan bahwa babi betina, apabila diberi tekanan pada punggungnya (oleh babi jantan atau manusia) akan memberi respon diam, menegakkan telinga dan mengkakukan bagian belakang. Respon ini disebut ”sikap kawin” sering dipergunakan dalam mendeteksi estrus pada babi untuk perkawinan alam atau IB.

A

B

Gambar 20 Respon kancil pada saat dipegang daerah belakang.
Keterangan: (A) saat estrus: lordosis dengan bagian belakang dinaikkan dan (B) saat tidak estrus: merendahkan bagian belakang

Jantan Hasil pengamatan pada kancil jantan dimana jika terdapat betina estrus frekuensi defekasi meningkat (5.2±0.8 kali/hari) dibanding betina non estrus (2.6±0.5 kali/hari). Urinasi dimana bila terdapat betina estrus terjadi peningkatan frekuensi (6.0±1.1 kali/hari) dibanding betina non estrus (2.4±0.5 kali/hari). Demikian juga pada parameter gelisah (bolak-balik dalam kandang sambil melihat ke kandang betina) bila ada betina estrus (17.6±1.5) dibanding bila betina non estrus (6.6±1.1) (Tabel 6). Selain parameter diatas, juga terlihat tingkah laku flehmen dan lebih aktif. Hal ini terjadi karena terkait dengan kondisi fisiologik kancil jantan, dimana tahap ini sintesis dan sekresi hormon testosteron berada dalam keadaan maksimal. Secara fisiologik, meningkatnya konsentrasi testosteron di dalam darah akan diekspresikan hewan jantan berupa menonjolnya sifat kejantanan (libido) (Hafez 1987) dan kemampuan koitus (Becker et al. 1992). Sedangkan menurut Bearden

64

5 Ya Betina non estrus 2.2±0. Fenomena ini juga diamati oleh Nalley (2006) pada rusa timor. 65 . Hal ini juga penting diketahui karena sifat libido ini umumnya menurun secara genetik.5 2.6±1.8 6. tingkah laku seksual pada jantan lebih mengarah pada tingkah laku kawin yang terdiri atas (1) keinginan kawin (libido) untuk mencari pasangan dan (2) kemampuan untuk kawin atau kopulasi. setiap hewan akan memperlihatkan pola tingkah laku yang khas sebelum proses perkawinan tersebut berlangsung.6±1.5 6. Tingkah Laku Kawin Perilaku kawin merupakan suatu peristiwa untuk mendukung kelangsungan reproduksi.0±1. Respon pejantan berupa tingkah laku sebelum melakukan kawin dapat dijadikan sebagai indikator kapasitas keinginan kawin (libido) seekor pejantan.1 17. Data ini diperlukan sebagai salah satu syarat untuk menentukan unggul tidaknya seekor pejantan.4±0.1 Tidak Pada penelitian ini juga dilaporkan bahwa jantan bersifat dominan terhadap pejantan yang baru datang. Tabel 6 Karakteristik tingkah laku seksual jantan Parameter Defekasi/hari Urinasi/hari Gerakan berpindah tempat (kali/menit) Flehmen Betina estrus 5.6±0. Lekagul dan McNeeli (1977) melaporkan bahwa pada masa-masa kawin umumnya sering terjadi perkelahian sesama jantan untuk memperebutkan pasangannya yaitu betina yang sedang berahi. sehingga pejantan yang baru tidak menunjukkan agesif. Bila disatukan (jantan dengan jantan) dalam kandang menghalau jantan yang lebih kecil dan kadang menyerangnya.dan Fuquay (1997). Sehubungan dengan itu setiap hewan akan memperlihatkan pola tingkah laku yang khas sebelum proses itu berlangsung.

66 . Gambar 22 Jantan mencium dan menjilat urin kancil betina. Jantan selalu mendekati betina kemudian menjilati dada (Gambar 21 B) dan punggung (22 C). (B) jantan menjilat dada dan (C) menjilat punggung sampai pangkal ekor betina Kancil jantan juga sering menjilat pangkal ekor sampai vulva dan menjilat sampai menjilat urin kancil betina (Gambar 22).Tingkah laku kawin diamati bila terdapat betina estrus dan disatukan dalam satu kandang. A B C Gambar 21 Tingkah laku seksual menjelang perkawinanan. Pola tingkah laku kawin ditandai dengan perubahan sifat pejantan yaitu menjadi lebih aktif dan berusaha untuk mendekati betina. Kancil jantan juga memperlihatkan tingkah laku flehmen ketika menjilat urin. Percumbuan (courtship) merupakan awal tingkah laku seksual maupun kontak fisik dengan kancil betina (21 A). Tingkah laku flehmen ini berbeda dengan ternak mamalia lainnya. Sambil mendekati betina. moncong diarahkan ke atas seolaholah mencium sesuatu. kancil ketika flehmen terlihat membuka mulut (menyeringai) sambil menggoyang seolah-olah mengunyah makanan. Keterangan: (A) sedang bercumbu.

kancil jantan mengeluarkan suara yang mengendus.Tingkah laku seksual yang khas juga dapat dilihat. Pada kancil. Pada saat kancil jantan mounting. 67 . ereksi terjadi saat kaki sudah terfiksir di atas pinggul dan saat tersebut terjadi intromisi. Pada saat mounting pejantan menggoyang bagian pinggul diikuti ekor yang melipat ke atas (Gambar 24 A) dan setelah penis terfiksir di dalam vagina ekor dilipat di antara kedua kaki belakang (Gambar 24 B). Berbeda dengan ternak mamalia lainnya. (C) Menggosokkan kelenjar intermandibular scent gland pada leher sampai punggung. kancil akan menaikkan kaki depannya ke atas pinggul dengan sejajar (Gambar 24 A) atau menyilangkan kaki diatas pinggul betina (Gambar 24 B) hingga posisinya aman untuk terjadinya kopulasi. Ekor kancil jantan terlihat lurus „tail-flashes” ketika mengikuti betina. pada jantan. Kancil jantan akan mendekati betina dari belakang dan menggosokkan intermandibular scent gland dari leher (Gambar 23 B). Ketika mendekati dan menggosok scent gland pada betina. kambing dan domba). Intermandibular scent gland A B C Gambar 23 Tngkah laku menandai pada kancil betina oleh kancil jantan. selanjutnya di bagian tengah atau belakang kancil betina dari beberapa sisi untuk menandai (marking) (Gambar 23 C). tidak seperti ternak mamalia lainnya (sapi. yaitu intermandibular scent gland menonjol keluar (membesar) ketika mendekati betina (Gambar 23 A). Keterangan: (A) kelenjar intermandibular scent gland tanpak menonjol saat mendekati betina (B). kancil betina menaikkan pantatnya hingga posisi “lordosis” dan tidak bergerak sehingga memudahkan kancil jantan untuk mounting.

Lama pejantan menaiki betina (mounting) rata-rata 3 menit (berkisar antara 1-5 menit). Indikator libido ini ditunjukkan dengan kemampuan menaiki betina ratarata 23 kali/hari (berkisar antara 11-34 kali/hari). Hal ini tidak berbeda dengan yang dilaporkan Toelihere (1985) bahwa domba jantan berkopulasi rata-rata 20 kali sehari selama periode 7 hari. Sebaliknya bila tidak estrus. betina merendahkan badannya (melipat lutut). B Ekor dilipat diantara 2 kaki Keterangan: (A) posisi kaki sejajar dan ekor melipat ke atas dan (B) posisi kaki disilangkan dan saat penis terfiksir dalam vagina ekor dilipat di antara 2 kaki belakang. menghindar dan berlari (Gambar 25). 68 .50 dan 3. serta 4. 6 dan 3.50 kali pada domba Suffolk.Ekor melipat ke atas Kaki sejajar Kaki disilangkan A Gambar 24 Posisi kancil saat kawin.90 kali pada domba Texel. Kancil yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai libido yang tinggi. (1985) melaporkan bahwa dalam waktu 20 menit domba jantan mampu menaiki betina (mounting) dan ejakulasi terhadap domba betina estrus masing-masing sebanyak rata-rata 10.30 dan 3. sedangkan domba jantan dengan libido rendah berkopulasi rata-rata 4 kali sehari pada kelompok betina dengan hanya satu pejantan. Boland et al.60 kali pada domba Dorset hom. Demikian juga waktu yang dibutuhkan dari menaiki betina pertama kali dan waktu menaiki yang kedua rata-rata 3 menit (berkisar antara 1-5 menit).

Gambar 25 Sikap kancil betina saat tidak estrus. dimana pejantan lain tidak dapat mengganggu pejantan yang mengawini betina. (1991) pada pada kambing dominan dan tertua dalam kelompok akan melakukan hampir seluruh perkawinan. Pada penelitian ini kancil jantan dapat mengawini betina lain yang sedang estrus demikian juga betina dapat kawin dengan pejantan lain. maka pejantan yang dominan tidak memberi kesempatan pejantan yang lain untuk mengawini betina. pejantan yang dominan tidak bisa mempertahankan kelompoknya dan pejantan yang subordinat bisa mengawini betina dalam jumlah yang sama. 69 . Lebih lanjut dinyatakan bahwa dalam keadaan tertutup. Tetapi apabila betina yang estrus disatukan dengan dua pejantan dalam kandang. pejantan dominan menghalang-halangi pejantan subordinat untuk kawin walaupun pejantan dikandangkan terpisah. sedangkan dalam keadaan dilepas. Keterangan: (Panah hitam) kancil betina merendahkan bagian belakang dengan kaki ditekuk bila didekati pejantan. Tingkat dominansi mempunyai peranan sangat penting dalam keadaan kawin di kandang. Hasil penelitian ini juga dilaporkan bahwa kancil tidak bersifat monogami hal ini berbeda dengan yang dilaporkan Strawder (2004). Hal ini juga dilaporkan oleh Tomaszewska et al. Kejadian ini dikenal dengan istilah pengaruh pemirsa (audience effect). Hal ini mungkin disebabkan karena penelitian ini dilakukan dalam kandang individu.

Hal ini dikategorikan dalam fase diestrus/anestrus.7% dan sisanya 86.Penentuan Siklus Estrus pada Kancil Gambaran Sitologik Epitel Vagina Berdasarkan patokan dan karakteristik estrus yang berasal dari epitel vagina kancil didapatkan jumlah sel parabasal sebayak 81. Sel-sel intermediet adalah sel yang terletak diantara sel parabasal dan superfisisal. Sel epitel adalah sel yang menyusun jaringan epitelium. 70 .3% ditemukan sel keratinisasi (Tabel 7).7 Sel Superfisial terkornifikasi (%) 0 0 86. Sel intermediet adalah tipe sel epitel vagina yang lebih tua dari parabasal.4 43. se-sel vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel intermediet dan superfisial.8 13. Sel-sel parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat pada siklus estrus. (3) Sitoplasmanya biasanya tampak tebal dan (4) secara umum dengan pewarnaan berwarna gelap (Anonim.4%.3 Pada fase proestrus. Fase proestrus didapatkan kelompok sel parabasal sebanyak 43.2% dan sel intermediet 56.2 0 Sel intermediet dan superfisial (%) 18. Pada fase estrus hanya didapatkan sel (kornifikasi) superficial 13.8%. sel intermediet dan superfisial sebanyak 18. (2) mempunyai bagian nukleus yang lebih besar daripada sitoplasma. biasanya terletak pada bagian tubuh yang mempunyai lumen dan kantong misalnya vagina. 2002). Tabel 7 Karakteristik sel epitel vagina kancil pada siklus estrus Fase Estrus Sel parabasal (%) Diestrus/anestrus Proestrus Estrus 81. selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati.6 56.6% dan sel kornifikasi 0%. Karakteristik dari sel-sel parabasal adalah sebagai berikut: (1) bentuknya bundar atau oval. Fase siklus estrus tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan yang terjadi pada sel-sel epitel vagina.

Pada fase proestrus. a b a A 30 µm B 50 µm Gambar 26 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase proestrus. sel superfisial. Keterangan: (A) pewarnaan Giemsa dan (B) pewarnaan Papanicolaou 71 . dan mempunyai ciri nukleus yang tidak lengkap (Gambar 27). Sel kornifikasi adalah tipe sel vagina yang paling tua dari sel parabasal. sel intermediat. A 30 µm B 30 µm Gambar 27 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase estrus. pengamatan yang berulang menampakkan sel-sel superfisialnya ada yang bersifat anucleate. Keterangan: (a) sel-sel intermediet dan (b) sel-sel superfisial (A) Pewarnaan Giemsa dan (B) Pewarnaan Papanicolaou Karakteristik sel pada saat estrus yaitu penampakan sitologi dari ulas vagina didominasi oleh sel-sel superfisial. tetapi terdapat kornifikasi pada hasil preparat. sel-sel epitel vagina yang teramati adalah sel-sel intermedier dan sel-sel superfisial (Gambar 26).

Sel superfisial yang tidak berinti sering mengalami kornifikasi atau keratinisasi yang berfungsi untuk melindungi mukosa vagina dari iritasi saat kopulasi. Pada fase ini. Pada fase ini sel-sel parabasal mendominasi. sedangkan pada saat estrus. sedangkan sel-sel superfisial tidak ditemukan. (2008) menyatakan bahwa sel-sel parabasal sangat dominan selama fase sebelum estrus pada domba. Pada kancil. menandakan hewan sedang berada dalam kondisi estrus (McDonald 1989. sel-sel superfisial mendominasi. Sel-sel tersebut kemudian berdegenerasi karena terhalangnya difusi nutrisi dari kapiler-kapiler di dalam jaringan ikat oleh lapisan keratin. Menjelang akhir diestrus terjadi degenerasi menyebabkan terbentuknya vakuola pada sitoplasma dan inti sel terdesak di bagian pinggir (Gambar 28).Jika sel-sel superfisial ini ditemukan dalam jumlah banyak. Jika sel-sel superfisial/kornifikasi ini ditemukan dalam jumlah banyak. fase ini ditandai dengan sekresi lendir sedikit dan kental atau tidak ada. Hilangnya inti sel epitel pada fase estrus kemungkinan juga karena proses keratinisasi. 72 . cervix menutup dan mukosa vagina terlihat pucat. Solis et al. Fase estrus pada kancil betina ditandai dengan adanya sekresi lendir yang cukup banyak pada vagina. Sel-sel yang mengalami keratinisasi tampak sebagai individu-individu terpisah. sel-sel epitel yang teramati adalah sel-sel superfisial/kornifikasi. diikuti dengan sel-sel intermediet dan sel-sel superfisial. Pada fase estrus ini. menandakan hewan sedang berada dalam kondisi estrus. Sel-sel yang mengalami keratinisasi tampak sebagai individu-individu terpisah. Anestrus adalah periode yang panjang dari siklus reproduksi. Anonim 2002). Sel superfisial yang tidak berinti sering mengalami kornifikasi atau keratinisasi yang berfungsi untuk melindungi mukosa vagina dari iritasi saat kopulasi. Memasuki fase diestrus populasi sel superfisial menurun dan sebaliknya terjadi peningkatan jumlah sel intermediet dan parabasal. desquamasi dari sel-sel superfisial bisa juga terdeteksi.

ukuran inti yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil. Pada fase luteal. Proses perubahan di atas dapat ditengarai sebagai salah satu proses pada siklus estrus. Keterangan: (A) pewarnaan Giemsa dan (B) pewarnaan Papanicolaou. ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula. 73 . pada beberapa kasus inti mengalami kematian atau rusak secara bersamaan. Anonim 2002). Fluktuasi konsentrasi hormon selama siklus estrus akan berpengaruh terhadap gambaran sel epitel vagina. Secara umum. pemeriksaan sitologis ulasan vagina ini sering digunakan untuk menentukan siklus estrus dan waktu inseminasi yang terbaik (McDonald 1989). hormon progesteron memelihara keadaan uterus sehingga pada keadaan ini (tidak estrus) sel-sel epitel yang ditemukan adalah selsel parabasal. fase siklus estrus dapat dikelompokkan menjadi fase folikuler (proestrus dan estrus) dan fase luteal (diestrus dan anestrus). Pada fase estrus. Dalam prakteknya. hormon estrogen akan meningkatkan keaktifan dinding uterus.A 30 µm B 30 µm Gambar 28 Morfologi sel epitel vagina kancil pada fase diestrus. Boume 1990. menyebabkan hipersekresi dan keratinisasi sel-sel epitel uterus dan vagina sehingga sel yang terikut dalam ulasan adalah sel-sel superfisial atau sel tanduk (McDonald 1989. Warna sel berubah menjadi lebih terang/cerah. Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel superfisial dan sel-sel yang tidak berinti dapat dijelaskan sebagai berikut: bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk poligonal atau bentuk tidak beraturan.

6 hari (9-14 hari). hari ke-59 (91%). Nalley (2006) melaporkan bahwa siklus reproduksi dengan melihat perubahan sitologi vagina pada rusa timor (Cervus timorensis) dimana fase folikuler ditemukan sel superfisial dominan (92%) dan pada fase luteal sel parabasal dominan (86%) dari siklus estrus. Pada kancil betina no 2 ditemukan enam titik puncak jumlah sel-sel superfisial/ kornifikasi. 13. hari ke-50 (93%). 9. ditemukan lima titik sel-sel parabasal. 13. yang kemudian bertindak sebagai pusat-pusat proses desintegasi filamen intraseluler. hari ke-25 (89%). Dari hasil pengamatan harian selama dua bulan pada kancil betina no 1 terdapat enam titik puncak jumlah sel-sel superfisial/kornifikasi. dengan jarak 11. 14. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lama siklus estrus yang ditentukan berdasarkan persentase sel basal dan parabasal 74 . yaitu hari ke-1 (89%). hari ke-28 (81%). yaitu hari ke-5 (79%). 12. dan 9 hari dengan rataan 11. hari ke-59 (86%). hari ke-36 (96%). hari ke-30 (80%). 12. hari ke-28 (85%). hari ke-37 (87%). dengan jarak 12. ditemukan lima titik sel-sel parabasal. 13. hari ke-41 (84%). (1978) melaporkan bahwa pada ulasan vagina sapi yang diambil tiga sampai lima hari sesudah estrus memperlihatkan pertambahan jumlah sel-sel yang mengalami kornifikasi. hari ke-39 (80%) dan hari ke-49 (76%). yaitu hari ke-1 (85%). Salisbury et al.6 hari. hari ke-49 (83%).Suraatmaja (1982) yang melakukan penelitian terhadap proses kornifikasi epitel vagina tikus menyatakan bahwa kemungkinan hormon estradiol berperan dalam proses keratinisasi melalui pembentukan butir-butir keratohialin. dengan jarak 11.60 hari dengan kisaran 9-14 hari.5 hari. dengan jarak 14. hari ke-17 (81%). Hal ini menunjukkan bahwa lama siklus estrus yang ditentukan berdasarkan persentase sel superfisial/kornifikasi adalah 11. Sedangkan dari hasil pengamatan sel basal dan parabasal yang merupakan tanda hewan dalam keadaan fase luteal. hari ke-52 (83%). hari ke-12 (87%). Sedangkan dari hasil pengamatan sel basal dan parabasal yang merupakan tanda hewan dalam keadaan fase luteal. 10 dan 14 dengan rataan 11. 11. hari ke-15 (88%).7 hari (kisaran 11-14 hari). dan 10 hari dengan rataan 11. yaitu hari ke-3 (86%). 11 dan 10 dengan rataan 11. hari ke-15 (86%).

75 . (1997) yang memperkirakan siklus estrus pada kancil berlangsung 16 hari.7 12 13 11 10 11. sapi 18-24 hari dan domba 14-20 hari (Toelihere 1989). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa siklus estrus pada kancil sama dengan rusa Rein 9-12 hari (Pramono 1988 dalam Nalley 2006).6 11 13 11 14 9 11.6 Superfisial (%) 89 88 85 87 83 86 85 87 89 96 93 91 5 16 28 38 52 3 15 28 39 49 Hari keJarak (hari) 11 12 10 14 11.5 86 86 81 80 76 Parabasal (%) 79 81 80 84 83 - Dari hasil penelitian ini ditemukan lama berahi pada kancil adalah 2-3 hari (48-72 jam) hal ini didasarkan pada persentasi sel superfisial mulai meningkat hari -1 dan mencapai puncak pada hari ke-0 dan mulai menurun pada hari kesatu. No.adalah 11. Hari ke1 15 Kancil 1 28 37 49 59 Rataan 1 12 Kancil 2 25 36 50 59 Rataan Jarak (hari) 14 13 9 12 10 11. Tabel 8 Panjang siklus estrus berdasarkan titik puncak sel-sel superfisial dan parabasal pada kancil.60 hari dengan kisaran 10-13 hari (Tabel 8). Hasil penelitian ini berbeda dengan pernyataan Kudo et al.

Uji validasi terhadap respon-dosis dilakukan dengan membuat uji paralisme dalam pengenceran berseri menggunakan larutan penyangga (Todd et al. Dalam aplikasi metode analisa hormon dalam feses dan urin untuk setiap spesies baru. harus dilakukan validasi terhadap analisa hormon yang digunakan apakah sesuai atau tidak. menghasilkan gambaran yang paralel terhadap standar progesteron (Gambar 29). Pada penelitian ini untuk mengetahui profil hormon estrogen digunakan kit progesterone DRG yang mempunyai krosreaktifitas terhadap progesteron 100. yaitu 1:10. 1:16.35%. 76 .00%. Berdasarkan hasil paralelisme ini juga didapatkan konsentrasi pengenceran. dan pregnenolone 0. 1:32. maka konsentrasi metabolit hormon yang terukur akan semakin kecil.30%.Profil Metabolit Hormon Progesteron dan estrogen Uji Validasi. 1:8. Dalam gambar terlihat bahwa untuk contoh feses. walaupun ada beberapa spesies yang memiliki kesamaan jenis metabolismenya. semakin tinggi pengenceran antibodi yang digunakan. Uji paralelisme dilakukan terhadap contoh feses untuk mengkonfirmasi bahwa analisis yang dilakukan sesuai dengan hormon yang diukur. 1:4. Hasil uji paralisme ini menunjukkan bahwa antibodi yang digunakan dalam kit progesteron bersifat imunoreaktif terhadap target metabolit hormon progesteron yang diukur. 1:64 dan 1:128. 1999). Uji validasi terhadap respon konsentrasi yang dilakukan terhadap contoh feses menggunakan progesteron dengan pengenceran 1:2. Hal ini menunjukkan bahwa ada reaksi silang antara target hormon yang diukur dengan antibodi standar yang digunakan. Menurut Agil (2006) bahwa jenis metabolit steroid yang dapat dianalisa dalam feses dan urin dapat berbeda antara satu spesies dengan spesies lainnya. 17α OH progesterone 0.

56±513.33 2093. Adapun lama fase luteal dapat pula ditetapkan dari profil progesteron.76±116.61±448.46±165.61±448.09 Fase luteal 1887. panjang siklus berdasarkan antara dua titik dimulainya peningkatan konsentrasi progesteron sampai peningkatan konsentrasi progesteron berikutnya (di atas garis threshold ) pada kancil betina no 1 adalah 12 hari (9-15 hari) dan pada kancil betina no 2 adalah 12.68 Penentuan satu siklus estrus didasarkan pada interval antara dua titik dimulainya kenaikan konsentrasi hormon progesteron (Gambar 30).56±513. Tabel 9 Rataan konsentrasi metabolit progesteron di feses selama 2 siklus estrus Rataan konsentrasi metabolit progesteron (ng/g feses) No Betina 1 Betina 2 Fase interluteal 948.68 ng/g (Tabel 9).37 804.09 ng/g dan pada fese luteal yaitu dan 2093. yaitu berdasarkan nilai konsentrasi progesteron setelah garis threshold dan nilai di bawah garis threshold adalah fase 77 . Pada kancil no 1 rataan konsentrasi hormon progesteron di feses pada fase interluteal yaitu 948.5 hari (12-13 hari).37 ng/g dan fase lueal adalah 1887.128 64 32 16 8 4 2 Gambar 29 Uji paralisme contoh feses untuk hormon progesteron Profil metabolit steroid progesteron di feses dari dua ekor kancil betina yang diteliti disajikan secara individu.33 ng/g dan pada kancil no 2 rataan konsentrasi hormon progesteron di feses pada fase interluteal yaitu 804.76±116.46 165. Dari profil progesteron.

Lebih lanjut Thompson et al. (2002) melaporkan bahwa nilai level progesteron diatas threshold diindikasikan fase postovulatory. terutama metabolit progesteron karena profilnya relatif konstan dibandingkan profil metabolit estrogen. (2006) bahwa nilai konsentrasi di bawah garis threshold diindikasikan sebagai fase interluteal dan nilai diatas garis threshold adalah fase luteal. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan sel epitel vagina terjadi peningkatan dua hari sebelum terjadi kenaikan konsentrasi progesteron. Lebih lanjut Engelhardt et al. Periode ini terdiri dari hari ke -2 dan -3 dari peningkatan iPdG feses (hari ke-0). (1998) melaporkan bahwa dua metode dasar untuk memonitor siklus ovarium yaitu pengukuran konsentrasi estrogen yang mengindikasikan fase follikulogenesis dan pengukuran siklik fluktuasi konsentrasi progesteron untuk menentukan berfungsinya CL. (2001) juga melaporkan bahwa profil progesteron feses dapat digunakan untuk menentukan perkiraan waktu ovulasi dan fase fertil dari masing-masing siklus ovarium. (1996) bahwa waktu ovulasi dapat diperkirakan dari fluktuasi metabolit steroid. Lama fase luteal pada kancil betina no 1 adalah adalah 8 hari dan kancil betina no 2 adalah 7 hari serta lama fese interluteal baik pada kancil betina no 1 dan no 2 adalah 4-5 hari. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini diperkirakan 2-3 hari sebelum kenaikan progesteron adalah waktu ovulasi (hari ke-0). 78 . Heistermann et al. terdapat peningkatan level iPdG di atas nilai threshold yang digunakan untuk memperkirakan waktu ovulasi dan fase fertil yaitu terjadi dalam periode 2 hari. Hal ini didukung oleh pernyataan Thierry et al.interluteal. Pada kondisi hormon estrogen tinggi dan progesteron rendah menunjukkan bahwa hewan betina berada dalam periode estrus. (2005) menyatakan bahwa masing-masing siklus. Lebih lanjut Heistermann et al. Hal ini berdasarkan pernyataan Pereira et al.

7.3.3.08 31.08 04.6.08 7.2.08 29.3.7.3.08 17.08 12.08 Keterangan: (A) kancil betina no 1 dan (B) kancil betina no 2 27.08 23.7.08 10.08 13.08 16.08 27.08 2.08 08.08 17.7.08 25.08 22.3.3.7.08 21.3.08 1.6.08 16.08 6.08 79 .3.3.08 30.3.7.7.08 01.08 15.08 26.7.2.3.08 24.08 20.7.3.08 28.08 18.7.08 28.7.3.7.3.08 02. Threshold * d 27.7.08 29.08 21.08 29.3.3.7.7.7.08 27.6.08 05.08 25.08 14.08 3.08 12.3.3.08 28.A Konsentrasi progesteron (ng/g feses) 1000 1500 2000 2500 3000 3500 500 0 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 B Konsentrasi progesteron (ng/g feses) 500 0 Threshold d Threshold d * Threshold Threshold d Daerah ovulasi Kenaikan progesteron Daerah ovulasi Waktu pengambilan feses Waktu pengambilan feses Kenaikan progesteron Threshold d Gambar 30 Profil metabolit hormon progesteron di feses.7.08 4.7.7.08 14.7.08 26.3.7.3.3.08 28.3.7.08 5.3.7.08 29.08 19.3.08 06.7.08 22.08 15.3.3.7.08 09.08 13.08 18.08 30.08 20.08 23.3.08 9.08 30.3.7.7.08 8.08 11.08 07.08 10.08 19.3.7.3.6.7.2.08 11.7.08 03.

Panjang siklus estrus pada pengamatan sitologis epitel vagina adalah 11.6 hari (9-14 hari) sedangkan pada hasil profil hormon adalah 12 hari (9-15 hari) (Gambar 31 dan 32). Perbedaan ini diduga adanya time lag ekskresi metabolit feses. Champbell et al. (2001) melaporkan time lag antara ekskresi metabolit di urin dan feses dibandingkan dengan konsentrasinya di serum adalah 1-3 hari. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan panjang siklus estrus pada rusa berkisar antara 9 hari (siklus pendek) dan 26 hari (siklus panjang) (Semiadi 1995). Dilaporkan oleh Loskutoff et al. (1987) dalam Kusuda et al. (2007) bahwa siklus estrus pada okapi 15 hari berdasarkan perubahan konsentrasi pregnanediol glukoronide (PdG) dalam urine dan feses. Dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bahwa pengukuran metabolit hormon progesteron dapat dilakukan melalui pendekatan non-ivasif menggunakan contoh feses. Dari data profil hormon progesteron ini dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan status reproduksi seperti siklus estrus, panjang masa estrus dan perkiraan waktu ovulasi. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Pereira et al. (2006) enzymeimmunoassay progesteron non-invasive dapat digunakan

untuk memonitor fungsi endokrin selama periode siklus estrus, kebuntingan dan periode post-partum pada brown broket deer (Mazama gouazoubira). Hasil penelitian ini berbeda dengan laporan Pereira et al. (2006) pada brown brocket deer dimana rataan konsentrasi metabolit progeteron di feses fase luteal adalah 357.3±22.0 ng/g dan fase inter-luteal 91.3±9.6 ng/g. Demikian juga ada perbedaan konsentrasi progesteron di serum pada rusa timor, dimana konsentrasi progesteron tertinggi 7.76 ng/ml dan terendah 0.02 ng/ml (Nalley 2006). Konsentrasi progesteron pada rusa ekor putih sebesar 7.7±0.8 ng/ml atau kisaran 3.5-4.5 ng/ml (Plotka et al. 1977), lebih rendah dibanding dengan pada rusa merah, yakni 8-32 ng/ml (Kelly et al. 1982). Pada kondisi konsentrasi hormon progesteron redah menunjukkan bahwa hewan betina berada dalam periode estrus. Seperti pada hewan ungulata lainnya konsentrasi progesteron plasma darah rendah pada saat ovulasi dan estrus. Kondisi ini berbeda dengan betina pada fase metestrus, dimana konsentrasi progesteron meningkat dan mencapai puncak pada fase luteal dan penurunan akan

80

terjadi ke level basal pada fase estrus berikutnya (Adam et al. 1985). Perbedaan tingginya konsentrasi ini dapat disebabkan oleh perbedaan jenis hewan, metode dan jenis antibodi yang digunakan pada saat analisis. Pada penelitian ini dapat dijelaskan bahwa profil metabolit hormon progesteron saling mempunyai hubungan dengan perubahan ganbaran sitologis vagina dan parameter tingkah laku estrus pada kancil penelitian (Gambar 31 dan 32). Rentang waktu antara titik terendah dari progesteron seiring dengan peningkatan sel-sel superfisial memperkuat perkiraan waktu ovulasi pada kancil. Demikian juga parameter konsumsi pakan, lama berdiri, gelisah, urinasi dan defekasi terjadi perubahan seiring dengan fase siklus estrus.

81

Frekuensi urinasi dan defekasi/hari
100 10 15 20 25 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 5 0 4 5 6 7 8 9

C
Frekuensi gelisah (gerakan berpinda (kali/menit) dan lama berdiri (diam dan bergerak)(kali / jam)

B

Sel-sel superfisial dan parabasal (%)

A

0

1

2

3

Sel-sel superfisial

Gelisah

Urinasi Waktu pengamatan Waktu pengamatan Berdiri Pakan Sel-sel parabasal
100

Waktu pengamatan

Defekasi Konsumsi pakan (g/hari)
200 300 400 500 600 700 800 0

Gambar 31 Perubahan sel-sel epitel vagina pada betina no1.
27.2.08 28.2.08 29.2.08 01.3.08 02.3.08 03.3.08 04.3.08 05.3.08 06.3.08 07.3.08 08.3.08 09.3.08 10.3.08 11.3.08 12.3.08 13.3.08 14.3.08 15.3.08 16.3.08 17.3.08 18.3.08 19.3.08 20.3.08 21.3.08 22.3.08 23.3.08 25.3.08 26.3.08 27.3.08 28.3.08 29.3.08 30.3.08 31.3.08 27.2.08 28.2.08 29.2.08 01.3.08 02.3.08 03.3.08 04.3.08 05.3.08 06.3.08 07.3.08 08.3.08 09.3.08 10.3.08 11.3.08 12.3.08 13.3.08 14.3.08 15.3.08 16.3.08 17.3.08 18.3.08 19.3.08 20.3.08 21.3.08 22.3.08 23.3.08 25.3.08 26.3.08 27.3.08 28.3.08 29.3.08 30.3.08 31.3.08 900

Keterangan: (A) sel-sel superfisial dan parabasal, (B) konsumsi pakan, frekuensi gelisah dan lama berdiri dan (C) urinasi dan defekasi.

27.2.08 28.2.08 29.2.08 01.3.08 02.3.08 03.3.08 04.3.08 05.3.08 06.3.08 07.3.08 08.3.08 09.3.08 10.3.08 11.3.08 12.3.08 13.3.08 14.3.08 15.3.08 16.3.08 17.3.08 18.3.08 19.3.08 20.3.08 21.3.08 22.3.08 23.3.08 25.3.08 26.3.08 27.3.08 28.3.08 29.3.08 30.3.08 31.3.08

82

7.08 24.08 30.08 15.7.7.08 13.7.7.7.08 1.7.6.08 19.08 28.7.08 12.7.7.08 28.7.08 27.7.7.7.7.08 21.7.08 14.7.08 22.7.7.08 25.08 7.08 2.6.7.08 18.08 6.7.08 29.08 16.08 10.7.08 2.6.7.7.08 8.08 27.6.08 28. (B) konsumsi pakan.08 20.08 4.08 Keterangan: (A) sel-sel superfisial dan parabasal.08 29.08 18.08 24.7.7.7.08 20.08 83 .7.7.08 21.08 10.7.08 4.7.08 11.7.08 15.7.08 8.08 8.08 9.08 25.08 16.08 23.6.7.7.7.7.08 30.08 7.08 13.7.08 29.6.08 30.7.6.08 29.7.7.08 13.7.7.08 27.08 30.08 26.7.7.08 5.7.7.08 20.7.08 26.7.08 12.7.08 11.7.08 22.08 1.7.08 10.7.7.08 7.6.08 16.08 9.08 19.7.08 15.08 6.A 100 Frekuensi urinasi dan defekasi/hari 10 20 30 40 50 60 0 10 15 20 25 0 5 10 4 5 6 7 8 9 C Frekuensi gelisah (gerakan berpinda (kali/menit) dan lama berdiri (diam dan bergerak)(kali / jam) 70 B Sel-sel superfisial dan parabasal (%) 80 90 0 1 2 3 Sel-sel superfisial Gelisah Urinasi Waktu pengamatan Waktu pengamatan Berdiri Sel-sel parabasal Pakan 0 100 200 300 400 500 600 700 Waktu pengamatan Defekasi Gambar 32 Perubahan sel-sel epitel vagina kancil no 2 27.6.7.08 14.7.08 29.7.7.08 26.7.7.7.08 25.7.08 29.7.08 17.08 28.7.6.7.08 3.08 17.7.7.08 1.08 21.08 5.7. frekuensi gelisah dan lama berdiri dan (C) urinasi dan defekasi.7.08 23.6.7.08 30.7.7.08 5.7.08 30. Konsumsi pakan (g/hari) 27.7.08 18.08 19.08 27.08 28.08 24.08 28.7.08 3.7.7.7.7.7.7.7.6.08 9.08 17.08 11.08 6.08 4.08 22.7.08 14.08 2.08 12.7.7.7.7.7.7.08 23.08 3.

Semen ditampung secara reguler dengan interval waktu dua sampai tiga minggu. semen ditampung menggunakan elekrtoejakulator (Electric Stimulator. Anastesi dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara xylazin dengan dosis 0.5 cm dengan 3 elektroda yang melingkar.1 mg/kgbb dan ketamin dengan dosis 11 mg/kgbb secara intramuskuler (im). probe yang telah dioles pelicin dimasukkan ke dalam rektum dan diupayakan elektroda probe mengarah ke bagian ventral pelvis (Gambar 33). Penampungan dilakukan pada kancil dalam keadaan non(Watson teranestesi. Prosedur penampungan semen meliputi handling kancil sebelum penampungan semen. Gambar 33 Proses elektroejakulasi diawali dengan pemasukkan probe ke dalam rektum 84 .Koleksi dan Evaluasi Semen Koleksi Semen Pada penelitian ini. Elekroejakulator adalah metode yang aman dan efektif untuk penampungan semen pada hewan liar (Gould et al 1978 diacu dalam Valle et al. Probe elektroejakulator yang digunakan memiliki ukuran panjang 29 cm dengan diameter 0. Prinsip pada metode ini adalah melakukan stimulasi listrik dengan voltase rendah dan berulang untuk menstimulasi syaraf yang menginervasi organ reproduksi (Watson 1978. 2004). Setelah kancil dianestesi. Fujihiro Industri Co. Metode elektroejakulator umumnya digunakan pada hewan domestik (liar) dan dilakukan pada hewan dalam keadaan teranestesi 1978). Axner & Linde-Forsbeg 2002). Japan). LTD.

(2004) bahwa karakteristik semen satwa liar dipengaruhi teknik koleksi dan prosedur anestesi yang dipakai.00±5. persentase motilitas 40.Pada penelitian ini stimulasi listrik yang digunakan adalah voltase antara 10-15 volt selama 5 detik dan istrahat 5 detik (on-off) sampai diperoleh ejakulat.66±148.77. Hasil penelitian ini hampir sama dengan yang dilaporkan oleh Haron et al. dimana sangat rendah. putih dan kuning. Pada penelitian ini penampungan menggunakan elektroejakulator telah berhasil dilakukan pada satwa liar (kancil) (Gambar 34). faktor genetik.9 12.1%. Menurut Silva et al. persentase spermatozoa normal 71. 85 .6% dan persentase viabilitas 59.1%. Secara mikroskopis tidak menunjukkan gerakan massa.5 μl.0±8.6 2.18 (Tabel 10). pH 7.5. (2000) bahwa karakteristik semen kancil yaitu: berwarna krem.0 3.4 1. konsentrasi 366. konsentrasi spermatozoa 366.8x106 ml-1. persentase motilitas spermatozoa 40.00±12. berwarna kuning dan konsistensi kental. volume semen 23. lingkungan dan nutrisi.165.37 2. Gambar 34 Semen hasil ejakulat Evaluasi Semen Karakteristik semen: Karakteristik semen yang didapatkan pada penelitian ini secara makroskopis yakni sebesar 35. persentase hidup 65. pH semen 7-8. Namun penampungan mengunakan metode ini kemungkinan tidak mencerminkan karakteristik semen yang sebenarnya seperti volume dan konsentrasi.08x106 spermatozoa/ml dan persentase abnormalitas 29.91 μl. konsistensi encer.

. persentase motil 75.14x106 ml-1. Tabel 10 Karakteristik semen kancil.08 65. persentase hidup 53.00 ± 12. konsentrasi 47.99%.43 1.Kepala .39 11. jumlah total spermatozoa dan spermatozoa hidup.83±3. (2009) dan domba (32±1.76%. dilaporkan Naley (2006) volume semen 2.06±0. persentase abnormalitas 7.37%. persentase hidup 87.00 ± 5.44 6.8. Brito et al (2000) menyatakan adanya hubungan positif antara volume testis dengan volume ejakulat.11 3. ml ) Spermatozoa hidup (%) Abnormal (%).91 µl 7. Peubah Makroskopis Volume pH Warna Konsistensi Mikroskopis Gerakan massa Spermatozoa motil (%) Konsentrasi (10.29 cm) lebih kecil dibanding anoa (14±3.Ekor 6 -1 Rataan 35.Hasil penelitian ini memperlihatkan beberapa parameter yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil yang telah dilaporkan oleh Prasetyaningtyas et al. persentase motilitas 36.0. gerakan massa ++ s/d +++.31±2.44 4.77 29.18 17.165 366. Hasil penelitian ini dilaporkan bahwa lingkar scrotum pada kancil (5.67±4. Semakin besar ukuran testes diharapkan produksi spermatozoa tinggi. konsentrasi spermatozoa 842.92 cm) Yudi et al.83±0.75 Dimensi testikuler berkaitan erat dengan daya produksi dan kualitas semen.1.35±285.9x106 ml-1.5 Kuning Kental 40.66 ± 148. karakteristik semen kancil baik makroskopis maupun mikroskopis jauh lebih rendah dibanding pada rusa timor (Cervus timorensis).0 ± 8. Dibandingkan dengan satwa liar lain.66 cm) 86 .63. (2005) dimana volume 19.

(2000) menyatakan berhubungan dengan aktivitas seksual (misal. Persentase hidup 65.33 mm dan lebar 5. nilai ini masih tergolong rendah dibanding dengan mamalia lainnya. pengalaman teknik koleksi frekwensi dan interval koleksi dan perlakuan hasil koleksi.Rizal (2005).77%. stres.73 mm).53 mm) dan ampula (panjang 17. musim/iklim. integitas membran dan fungsi metabolisme. sedangkan yang mati ditandai oleh kepala berarna merah setelah pewarnaan 87 .6±2. misalnya penurunan suhu yang cepat atau pemanasan hingga 50oC. juga disebabkan penanganan semen yang salah. antara lain jenis hewan.33mm dan lebar 2.33 mm dan lebar 6. Rendahnya nilai motilitas selain dipicu oleh faktor internal hewan dan tingkat kematangan seksual.1%). atau kemampuan dalam beradaptasi dengan metode yang digunakan dalam hal ini elektroejakulator. Motilitas spermatozoa biasanya digunakan sebagai indikator viabilitas sel. Kelenjar asesoris yang terdiri dari atas kelenjar vesicularis (panjang 17.0±8. Berdasarkan hal tersebut diduga menjadi salah satu penyebab produksi dan kualitas semen pada kancil rendah. Pengamatan terhadap motilitas individual spermatozoa didapatkan hasil yang rendah (40. Lebih lanjut Haron et al. (2000) (59. umur kondisi kesehatan.00 mm). lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Haron et al. Dilaporkan bahwa sapi dapat menjadi steril untuk beberapa minggu karena penanganan yang salah pada waktu penampungan (Salisbury & vanDemark 1985). Hal ini sesuai dengan laporan Paris et al. Lebih lanjut Toelihere (1993) serta Hafez dan Hafez (2000) melaporkan bahwa karakteristik ejakulat hasil koleksi dapat dipengaruhi beberapa faktor.165%). mating sebelum penampungan menurunkan konsentrasi).00±5. (2005) bahwa terdapat kaitan yang erat antara volume semen dengan ukuran kelenjar prostat. Penanganan kancil pada waktu penampungan yang menyebabkan stres juga bisa mempengaruhi konsentrasi spermatozoa. Demikian juga ukuran kelenjar asesoris pada kancil lebih kecil dibanding pada rusa timor dan sapi. Spermatozoa yang hidup ditandai oleh kepala yang putih. kelenjar prostat (panjang 17. Kelenjar asesoris ini berfungsi mensintesis dan mensekresikan plasma semen yang merupakan bagian tak terpisahkan dari semen itu sendiri.

5 µm.77±0.5 µm dan lebarnya 3 µm (Curry & Watson 1995). kuda dengan panjang 7 µm dan lebar 2.dengan eosin (Gambar 35).8 µm dan lebar 4. karena membran plasmanya sudah rusak yang berarti pompa sodium pun sudah tidak lagi berfungsi. Dengan demikian enzim Na+K+ ATP-ase yang terdapat pada membran plasma akan memompa kembali ion Na yang berikatan dengan pewarna eosin ke luar dari sel. Sedangkan pada sapi panjang kepala spermatozoa 8-10 µm dan lebar kepala spermatozoa 4-4.55±0. Rizal (2005) melaporkan bahwa warna merah terjadi karena pada spermatozoa yang hidup memiliki membran plasma sel meningkat sehingga senyawa-senyawa kimia dapat bebas melewati membran plasma masuk ke sel.5 µm (Salisbury & vanDemark 1985). Dilaporkan oleh Prasetyaningtyas (2005) bahwa panjang kepala spermatozoa kancil adalah 5. a b 10 µm Gambar 35 Spermatozoa kancil dengan pewarnaan eosin 2%. Morfologi Spermatozoa Morfologi spermatozoa kancil secara umum sama dengan spermatozoa ruminansia lainnya. Spermatozoa yang hidup memiliki membran plasma yang masih utuh sehingga pompa sodium dapat berfungsi dengan baik. Hal ini tidak terjadi pada spermatozoa yang mati. Keterangan: (a) spermatozoa hidup dengan bagian kepala putih dan (b) spermatozoa mati dengan bagian kepala merah.7-4 µm (Toelihere 1993) dan manusia mempunyai panjang kepala 4. Panjang keseluruhan spermatozoa 88 . Ini terjadi karena secara alami konsentrasi ion Na+ di dalam sel jauh lebih rendah dibandingkan dengan di luar sel.

narrow at the base (kepala mengecil ke bawah) (1.81%).1%).0%) coiled tail (ekor menggulung) (2.7±1.2±0. double heads (kepala ganda) (1. double midpiece (2. round head (membulat) (1.7±0.1±0. looped tail (ekor lepas) (5. no tail (2.12%).9±0. Spermatozoa yang abnormal dalam konsentrasi tinggi akan mempengaruhi fertilitas (Roca et al 1992). Nilai abnormalitas ditentukan berdasarkan jumlah spermatozoa dengan bentuk yang tidak normal. knobbed acrosome defect (kerusakan akrosom) (2.12%). bent tail (2. bent midpiece (1.pada kancil yaitu 36.0%). double head (6.4%) dengan distribusi abnormal macrocephalus (1.12%).5±1. abaxial (tidak simetris) (1. macrocephalus (1.5%). Semakin lama spermatozoa di dalam epididimis menyebabkan peningkatan abnormalitas.7%).2%). Jumlah spermatozoa abnormal pada kancil adalah 29. Berbagai bentuk abnormal yang ditemukan pada semen kancil ditampilkan pada Tabel 11.6±8.12%) dan microcephalus (1. undeveloped (tidak berkembang) (3.3±0.4%).2%).25). distal cytoplasmic droplet (1. 89 .12%) (Gambar 36).12%).68%).9±0.18%.37%).6%).6±1. tappered head (mengecil dan panjang) (1. Hal yang hampir sama dilaporkan Haron et al (2000) bahwa spermatozoa abnormal pada kancil (28.6 µm dan ini lebih pendek dari pada ruminansia lainnya. detached head (kepala patah) (2.56%). Panjang keseluruhan spermatozoa sapi adalah 68±3 µm (Salisbury & vanDemark 1985) domba 60 µm (Evans & Maxwell 1987) dan manusia 53 µm (Parastie 2003).1%) dan proximal cytoplasmic droplet (1. antara lain adalah pear shape (seperti buah pir) (0. Abnormalitas pada kepala yang ditemukan pada kacil.52±5. Haron et al (2000) melaporkan bahwa morfologi semen menggambarkan keadaan fungsi dari testes dan sistem ductus efferent.9±1. Hal ini bila dihubungkan dengan sistem perkandangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang individu dimana aktivitas seksual kancil tidak aktif diduga memberikan efek negatif terhadap morfologis spermatozoa dalam epididimis.

79 Secara umum abnormalitas pada spermatozoa dapat disebabkan oleh beberapa faktor.12 2. suhu lingkungan. trauma dingin dan peradangan pada scrotum dan testis. 90 .12 1. stres. Dalam banyak kasus telah dibuktikan bahwa abnormalitas primer spermatozoa disebabkan oleh gangguan regulasi panas dan hormonal pada testis.12 3.81 1.56 1.12 17.12 1. lemak pada daerah inguinal dan scrotum. Dalam hal ini mencakup lingkungan yang tidak cocok.56 1.25 2.12 0. penyakit dan perlakuan kriopreservasi semen. dermatitis.Tabel 11 Abnormalitas spermatozoa pada kancil Abnormalitas kepala Pear shape Narrow at the base Narrow (tappered head) Undeveloped Round head Double head Knobbed acrosom defect Detached head Abaxial Macrocephalus Microcephalus Jumlah Persentase 0.68 1. hernia inguinalis (Peter & Ball 1986). suhu lingkungan yang ekstrim.80 11.13 3. seperti genetik.37 1.39 Abnormalitas ekor Ekor tanpa kepala Coiled under the head Simple bent Kerusakan midpiece Ekor ganda Butiran sitoplasma proksimal Butiran sitoplasma distal Jumlah Persentase 1.12 1.12 1.69 2.37 1.

(h) microcephalus.80%) (Gambar 37). (j) knobbed acrosome defect. (b) pear shape. Keterangan: (a) normal. midpiece defect (kerusakan midpiece) (1. simple bend (ekor melengkung) (3.69%) dan distal cytoplasmic droplet (2. coiled under the head (1. Selain itu ada beberapa bentuk abnormalitas yang terjadi akibat kegagalan maturasi spermatozoa di epididimis seperti proximal cytoplasmic droplet (1. (c) round head (d) undevelop.13%).56%). 91 . Abnormalitas pada ekor yang ditemukan pada kancil. (k) double head dan (l) narrow at the base. (i) detached head. dan ekor ganda (0. antara lain adalah ekor tanpa kepala (1. Pada hewan jantan umur berpengaruh pada jumlah butiran sisa sitoplasmik (Barth & Oko 1989).12%).37%). (f) abaxia (g) macrocephalus. (e) narrow/tapered.a b c d e h f g i k j l 10 µm Gambar 36 Morfologi spermatozoa abnormal pada kepala.12%). Pewarnaan Williams.

(f) distal cytoplasmic droplet. (b) coiled under the head. Lingkungan sosial dan kontak dengan lawan jenis atau feromon akan merangsang fungsi-fungsi syaraf dan hormonal sehingga meningkatkan fungsi reproduksi. Sementara stres diduga menjadi masalah pada pemeliharaan kesehatan terkait dengan harmonisasi metabolisme tubuh. sehingga akan dapat menyebabkan terjadinya penurunan fertilitas (Peter & Ball 1986) Beberapa parameter kualitas semen yang rendah dan abnormalitas tinggi pada beberapa satwa liar diduga karena kurangnya frekwensi kontak dengan lawan jenis. Pewarnaan Williams. hubungan sosial dan perkawinan dan faktor hormonal (Toelihere 1993). (g) proximal cytoplasmic droplet. Keterangan: (a) ekor tanpa kepala. (e) ekor ganda. Hormon-hormon gonadotropin FSH dalam kaitannya dengan spermatogenesis akan merangsang tubuli seminiferi dan meningkatkan reseptor LH di sel Leydig.a b c d e f g 10 µm Gambar 37 Morfologi spermatozoa abnormal pada ekor. sehinggga mengurangi degenerasi pada spermatogenesis dan meningkatkan pengeluaran spermatozoa (Hafez & 92 . (c) midpiece rusak (d) simple bent. Persentase abnormalitas dianggap serius apabila abnormalitas primer mencapai 18-20% dari populasi spermatozoa pada hewan domestik. dengan demikian meningkatkan sensivitas terhadap LH dan sekresi testosteron.

metabolisme spermatozoa atau bahkan sel sertoli secara abnormal. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi hormon secara lokal maupun sistemik. volume ejakulat. Beberapa efek negatif akibat inbreeding adalah penurunan kemampuan adaptasi. 93 . kelainan bawaan genetik dan penurunan reproduksi (termasuk penurunan volume testis.Hafez 2000). motilitas spermatoozoa pada harimau florida (Felis concolor coryi) (Holt & Pickard 1999). ejakulat. Defisiensi vitamin A dan E dilaporkan berkaitan dengan penurunan spermatogenesis dan kejadian degenerasi testikuler. motilitas. resiko penurunan genetik. Inbreeding diduga menjadi penyebab menurunnya kualitas genetik pada harimau india (Jayaprakasa et al 2001). Hal ini terjadi karena jumlah hewan terbatas. kematian janin tinggi dan kemandulan). sehingga perkawinan mungkin terjadi diantara anggota keluarga (Holt & Pickard 1999). Inbreeding juga diduga menjadi penyebab menurunnya volume testikuler. normalitas dan konsentrasi spermatozoa) (Holt & Pickard 1999). Kejadian inbreeding pada satwa liar cukup tinggi. sehingga dapat menurunkan kualitas reproduksi (kualitas semen rendah.

terutama disebabkan oleh faktor lingkungan. Metode penyelamatan populasi kancil seperti bentuk suaka margasatwa dan sejenisnya. Data yang diperoleh diharapkan menjadi landasan pemeliharaan kancil khususnya secara ex-situ agar populasi kancil di penagkaran dapat ditingkatkan baik secara alami maupun melalui penerapan teknologi. sehingga sifat keseharian. pembuatan pengencer dan pengolahan semen cair dan semen beku. Hasil pengamatan ini menjadi bahan rujukan dalam penaganan diluar habitatnya (ex situ) atau dengan sistem budidaya. perlu dilakukan penelitian beberapa aspek biologi khususnya dalam bidang reproduksi. Selain hambatan tersebut juga terjadi hambatan biologi dimana habitat tidak lagi serasi dan tidak cocok untuk kancil berada ditempat tersebut. namun diduga populasinya terjadi penurunan. keberadaan populasinya belum diketahui. serta waktu dan teknik yang tepat dalam prosedur inseminasi buatan (IB). akan tetapi stres hanya bersifat akut artinya terjadi saat pertama kali ditempatkan dalam kandang. juga dianggap belum memadai dan perlu diupayakan sistem penangkaran khusus. Berdasarkan uraian tersebut di atas. kucing hutan. Hal ini disebabkan karena perburuan dan konversi habitatnya menjadi lahan olahan manusia (kerusakan habitat). Dengan adanya hasil-hasil penelitian yang diperoleh diharapkan populasi kancil di penagkaran dapat ditingkatkan baik secara alami maupun melalui IB. buaya dan serta penyakit dan sebagainya. Diharapkan dengan diketahuinya data dasar biologi reproduksi yang telah diketahui dapat dijadikan tolok ukur dalam aplikasi progam teknologi IB. Kancil adalah hewan yang memiliki stres tinggi. tingkah laku dan biologi reproduksi dapat dipelajari (diketahui). karena persediaan makanan tidak mencukupi lagi atau karena adanya musuh-musuh misalnya: harimau. Berdasarkan pengamatan terlihat kancil yang 94 . Sejalan dengan itu dapat diupayakan dengan melakukan pengembangan teknik koleksi semen. Sejauh ini penelitian kancil dalam bidang reproduksi memang belum banyak terungkap.PEMBAHASAN UMUM Kancil (Tragulus javanicus) saat ini statusnya termasuk hewan langka.

17 g. Penis kancil mempunyai fleksura sigmoid dan fibroelastis. terlihat nyaman di dalam kandang (terkondisi). serta organ kelamin bagian luar atau organ kopulatoris yang disebut dengan penis. Kancil dapat memakan rata-rata 552. prostat dan bulbourethralis) dan saluran-saluran yang terdiri dari epididimis. dimana panjang testis adalah 12. seperti ujung penis membentuk putaran (spiral) searah jarum jam dengan jumlah putaran dua setengah dan bercabang. yaitu organ kelamin primer (gonad jantan atau testis). oviduct.89 mm. Hal ini diduga berkaitan dengan fisiologi kopulasi. dimana berbeda dengan pada ternak mamalia lainnya.20±1. kacang panjang. diameter 8. ampula dan urethra.81±0.92 mm dengan berat 0. sehat dan siklus estrus teratur. uterus. setiap minggu diberikan vitamin A. Karakteristik penis memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan ternak lain. untuk meningkatkan kekebalan tubuh. dan memiliki ketiga kelenjar pelengkap (kelenjar vesikularis. Dalam penelitian ini pakan yang diberikan berupa campuran wortel. ubi jalar) dan sayuran (kangkung. dimana fungsinya belum diketahui secara pasti. bila dipegang tidak memberontak.digunakan dalam penelitian ini bertahan hidup sampai sekarang (2 tahun). ketimun). dimana ukuran penis bebas preputium pada kancil relatif panjang di banding panjang penis bebas preputium pada rusa dan 95 . Organ reproduksi kancil betina terdiri dari sepasang ovarium.33±2. kacang panjang. vas deferens. Selain itu. kangkung dan diberi tambahan konsentrat (pellet kelinci).50 g/hari. cervix dan vagina. Secara umum bagian-bagian dari organ reproduksi kancil jantan hampir sama dengan organ reproduksi ternak domestik lainnya. Pada kancil terlihat cervix relatif lebih panjang dari vagina. Bila dilihat dari keragaman pakan yang dapat dikonsumsi. kancil mempunyai kemampuannya didalam memanfaatkan jenis bahan yang tersedia pada lingkungan ex situ seperti umbi-umbian (wortel. E dan C (anti oksidan) dan sebulan sekali diberi Biosalamin® secara intramuskuler serta setiap enam bulan diberikan obat cacing (Calbazen®). dengan kata lain kancil telah beradaptasi dengan lingkungan. Kancil mempunyai testis yang relatif kecil. Air minum diberi ad-libitum dan di sudut kandang juga disediakan garam.

Kancil sering mengangkat kepala melihat ke tempat pejantan dan kaki sering disentak-sentakkan. Sambil mendekati betina moncong diarahkan ke atas seolah-olah mencium sesuatu. Perubahan pada vulva ini muncul seiring dengan perubahan tingkah laku. Penyesuaian posisi ini meliputi perentangan kaki. Kancil jantan sering menjilat sampai minum urin dari kancil betina dan menjilat pangkal ekor sampai vulva. Dari pengamatan terhadap perubahan vulva terlihat kancil menunjukan pembukaan dan pembengkakan vulva yang jelas (+++) pada saat estrus. Sebaliknya pada saat non estrus. pada saat kopulasi penis mencapai cervix untuk mengejakulasikan semen. karena volume semen kancil ini sangat rendah dibanding dengan ternak mamalia lain sehingga semen di ejakulasikan melewati cervix atau di cervix. Percumbuan (courtship) merupakan awal tingkah laku seksual maupun kontak fisik dengan kancil betina. Dugaan lain.domba. Pola tingkah laku kawin ditandai dengan perubahan sifat pejantan yaitu menjadi lebih aktif dan berusaha untuk mendekati betina. vulva relatif tertutup dan pucat. sikap berdiri dan peninggian bagian belakang yang mempermudah untuk menampung intromisi atau pemasukan penis oleh pejantan. Pengamatan terhadap kondisi vulva. kaki belakang akan ditekuk dan berusaha untuk menghindar. Pengamatan dengan memegang punggung kancil memperlihatkan bagian belakang dinaikkan dan pelegokan punggung (lordosis) serta tidak bergerak. Berdasarkan data di atas. Dari observasi terlihat perbedaan mencolok pada kancil yang estrus tidak tenang/gelisah (gerakan berpindah tempat). Kancil jantan juga memperlihatkan tingkah 96 . Parameter gelisah ini masih sangat bias pada kancil. merupakan hal yang lazim pada ternak ruminansia. mengingat kancil masih sulit didekati oleh orang yang tidak dikenal atau mendengar suara lain di lingkungan sekitar kandang. Sebaliknya pada kancil non estrus punggungnya dinaikkan (kiposis). Data morfometri organ reproduksi kancil secara anatomi makroskopis akan sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang fisiologi reproduksi kancil betina antara lain untuk kemungkinan penerapan teknologi reproduksi dalam mendukung pelestarian dan peningkatan populasi kancil. urinasi dan konsumsi pakan menurun.

09-948.0±8. Dari pengamatan diketahui juga bahwa kancil jantan dapat kawin lebih dari satu betina yang sedang estrus demikian juga betina dapat kawin dengan pejantan lain. Panjang siklus estrus pada kancil baik berdasarkan sitologis vagina mupun profil metabolit progesteron di feses adalah 12 hari (9-15 hari).5. Bila terdapat dua pejantan dalam satu kandang. Secara mikroskopis. persentase motilitas 40. konsentrasi spermatozoa 366. Beberapa parameter kualitas semen yang rendah dan abnormalitas tinggi pada beberapa satwa liar diduga karena beberapa faktor seperti: stres. Adapun lama fase luteal dapat pula ditetapkan dari profil progesteron.66±148.68 ng/g dan pada fase interluteal adalah 804. tidak menunjukkan gerakan massa.33-2093. Pengetahuan mengenai dasar reproduksi dapat digunakan dalam program perkawinan berbantuan ( IB dan IVF). Karakteristik semen yang didapatkan dalam penelitian ini secara makroskopis yaitu: volume sebesar 35.77. berwarna krem/kuning dan konsistensi kental.56±513.086 ml-1 dan persentase hidup 65. Abnormalitas spermatozoa kancil pada penelitian ini tinggi yaitu 29. Selanjutnya kancil jantan menggosokkan intermandibular scent glandnya dari leher. Lama fase luteal pada kancil adalah adalah 7-8 hari serta lama fase interluteal adalah 45 hari. pakan. kurangnya frekwensi kontak dengan betina.18%.61±448. 97 . bagian tengah dan belakang betina.laku flehmen ketika menjilat urin. Dari hasil pengamatan bahwa lama siklus estrus berdasarkan profil metabolit hormon progesteron pada kancil dapat dilakukan melalui pendekatan non-ivasif menggunakan contoh feses. yaitu berdasarkan nilai konsentrasi progesteron setelah garis threshold dan nilai di bawah garis threshold adalah fase interluteal.00±5. maka pejantan yang dominan tidak memberi kesempatan pejantan yang lain untuk mengawini betina. suhu lingkungan.37 ng/g.76±116.91 μl. Konsentrasi progesteron dalam feses pada fase luteal adalah 1887. Tingginya abnormalitas spermatozoa yang ditemukan pada kancil kemungkinan menjadi salah satu faktor perkembangbiakan kancil di penangkaran belum memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. pH 7.00±12.46±165.165. Metode penentuan siklus reproduksi yang digunakan dalam penelitian yakni pengamatan gambaran perubahan sel epitel (sitologik) dan melihat profil hormonal yang diperoleh secara non invasif (urin dan feses).

preservasi dan kriopreservasi semen serta teknik inseminasi sehingga upaya pengembangbiakan kancil dapat berhasil.Namun tahap aplikasi IB dapat dilakukan melalui pengembangan teknik penampungan. 98 .

konsentrasi spermatozoa 366.00±12. lama fase luteal adalah 7-8 hari.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. mounting dan intromisi.37 dan pada kancil no 2 adalah 2093. 2. vulva (merah basah dan terbuka). lama fese interlutealnya adalah 4-5 hari serta lama estrus 2-3 hari.77% dan abnormalitas spermatozoa adalah 29. baik ditinjau dari segi adaptasinya terhadap kondisi kandang maupun terhadap pakan yang ada pada kondisi ex-situ sehingga memungkinkan untuk dijadikan satwa budidaya. 99 .00±5. Sedangkan gejala pada pejantan adalah urinasi dan defekasi.18%. 6.61±448. bertipe fibroelastis dan di ujung penis sangat khas. 7.165%. hidup 65.91 μl.46±165.08 juta/ml.0±8. defekasi. motilitas 40. Karakteristik semen kancil hasil elektroejakulator memperlihatkan volume semen 35. dimana membentuk spiral dengan jumlah putaran dua setengah. Konsentrasi progesteron pada fese luteal kancil no 1 adalah 1887. diam bila dipegang punggungnya dan kadang-kadang menyentak-nyentakkan kaki. menggosokkan intermandibular scent glandnya. 4. Kancil (Tragulus javanicus) telah mampu beradaptasi. Pola tingkah laku kancil betina pada waktu estrus didominasi tingkah laku gelisah. pejantan menjilat urin (licking). 5. Sedangkan pada kancil betina memiliki cervix yang lebih panjang dibandingkan panjang vagina.76±116. Karakteristik penis kancil mempunyai flexura sigmoidea. urinasi.56±513. Kancil jantan mempunyai libido yang tinggi dan bersifat dominan terhadap pejantan yang lain serta tidak bersifat monogamus. 3.33 dan fase interluteal adalah 948.66±148. Panjang siklus estrus berdasarkan sitologis vagina maupun profil metabolit progesteron pada kancil adalah 12 hari (9-15 hari). gelisah (bolakbalik dalam kandang sambil melihat ke kandang betina) dan lebih aktif.68 dan fase interluteal adalah 804. Pola kawin kancil dalam kandang dimulai dengan percumbuan (courtship).09.

Saran Perlu penelitian lanjut mengenai: 1. 100 . Analisis metabolit hormon estrogen mengguanakan kit yang lain (estron atau estriol). 2. Analisis profil metabolit hormon pada saat kebuntingan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdo MS. 1973. A simple preliminary diagnostic method of the tecting the reproductive disturbances in cows. J Anim. Morph. Physiol. 20: 38-44. Ackerman U. 1996. Human Physiology. Mosby, St. Louis. Adam CL, Moir CE, Atkinson T. 1985. Plasma concentration of progesterone in female red deer (Cervus elaphus) during the breeding season, pregnancy and anosestrus. J. Reprod. Fert. 74: 631-636. Agil M. 1995. The Sumatran rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis (fiscer 1814): Reproductive biology and methods of assessing reproductive status. [thesis]. Germany: Faculty of Agriculture, Georg-August University of Gottingen. Agil M. 2006. Metode penelitian status reproduksi pada satwa liar: metode noninvasif melalui analisis metabolit hormon pada feses dan urin. Peranan Bioteknologi Reproduksi dalam Pembangunan Peternakan dan Perikanan Di Indonesia. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Agungpriyono S, Sinowatz F, Adnyane IKM, Setijanto H, Sigit K. 2001. Immonohitochemical survey on the localization of growth hormone receptor in the male genital organs of the lesser mouse deer. Presented at Persada 20 Januari 2001. Agungpriyono S, Kurohmaru M, Adnyane IKM, Setijanto H, Sigit K. 2002. Distribusi glikoprotein pada testis kancil (Tragulus javanicus). Seminar Nasional Bioteknologi Reproduksi. Malang, 30-31 Maret 2002. Alikodra, HS. 1979. Dasar-Dasar Pengelolaan Margasatwa. Kehutanan, Institut Pertanian, Bogor. Fakultas

Amin MR, Toelihere MR, Yusuf TL, Situmorang P, Purwantara B. 2000. Effect of bovine seminal plasma substitution and various extender on the quality of swamp buffalo frozen semen. Proceeding of 14th International congress on Animal Reproduction (ICAR), Stockholm. 17:16, P.144. Abstract Vol. 2. Anderson S, Jones. 1967. Recent Mammals of The Word. Families. New York: Ronald Press Company. A Synopsis of

Anonim. 1978. Mamalia di Indonesia. Pedoman Inventarisasi Satwa. Anonim.1978. Pedoman Pengelolaan Satwa Langka. Jilid I. Departemen Kehutanan. Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam, Bogor. Anonim. 1995. Artificial Insemination in Red Deer. AgFACT. No: 48. Anonim. 2002. Classification of Vaginal Epithelial Cells. Reproduction Index. http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/re.../cell.htm 29.10.2002.

101

Arifin. 2004. Kajian Produktivitas dan Produk Napu (Tragulus napu) Di Propinsi Jambi). [disertasi] Bogor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ashdown RR. 1987. Anatomy of male reproduction. Di dalam Hafez, ESE editor. Reproduction in Farm Animals. Ed. 5th Ed. Lea and Febiger. philadelphia. Attia MA. 1998. Abstract. Cyclic changes in genital organs and vaginal cytology in cynomolgus monkeys (Macaca fascicularis). Dutsch Tierarzti wochenschr. 105(11): 399-404. Austine CR, Short RS. 1985. Reproduction in Mammals. Book 4. Reproductive Fitness. Cambridge University Press. Cambridge.133-175. Axner E, Linde-Forsbeg C. 2002. Semen collection and assessment, and artificial insemination in the cat. Recent Advances in Small Animal Reproduction. www.ivis.org. [15 Juli 2004] Baker N. 2004. Lesser Mouse Deer. http://www.focus.on. [29 April 2004] Barth AD, Oko RJ. 1989. Abnormal Morphology of Bovine Spermatozoa. Iowa: Iowa States University Press. Bearden HJ, Fuquay JW. 1997. The male reproduction system. In: Applied Animal Reproduction. 4th Ed. New Yersey: prentice Hall. P 27. Becker JB, Breadlove M, Crews D. 1992. Behavioral Endocrinology. The Mit Press Cambridge, Massachusetts. Biocheck. 2004. Testosterone Enzyme Immunoassay Test Kit, Biocheck, inc. 323 Vintage Park Dr. Foster city, CA 94404. Bishnoi BL, Vyas KK, Dwaranath PK. 1982. Note on spinnbarkeit and crystallization pattern of bovine cervical mucus during oestrus, Indian. J. Anim. Behav. Sci. 52: 438-440. Bo, GA, Adams GP, Caccia M, Martinez M, Pierson RA, Mapletoft RJ. 1995. Ovarian folicular wave emergence after treatment with progestogen and estradiol in cattle. Anim. Reprod. Sci. 39 : 193 – 204. Boever, WJ. 1986. Tragulidae. In: Zoo & Wild Animal Medicine. 2nd Ed. (Ed by Fowler ME). WB Saunders Company Philadelphia , London, Toronto, Mexico city. Boland MP, Al-Kamali AA, Crosby TF, Haynes NB, Howles CM, Kelleher DL, Gordon I. 1985. The influence of breed, season and photoperiod on semen characteristics, testicular size, libido and plasma hormone concentration in farm. Anim. Reprod. Sci. 9: 241-252. Bourne LD. 1990. Theory and Practice of Histological Techniques. Edited by Bancroft JD, Steven A and Turner DR. Ed. III Churchill Livingstone. Edinburgh. Pp. 465-492. Brito LFC, Silva AEDE, Rodrigues LH, Vieira FV, Deragon LAG, Kastelic JP. 2002. Effect of age and genetic group on characteristics of the scrotum,

102

testis and testicular vascular cones and on sperm production and semen quality in AI bulls in Brazil. Theriogenology 58: 1175-1186. Brook CGD, Marshal NJ. 1996. Essential Endocrinology, 3rd Edition. Blackwell Science. Pp. Brown JL, Wildt DE. 1997. Assessing reproductive status in wild felids by noninvasive faecal steroid monitoring. Int. Zoo Yearb. 35:173-212. Champbell CJ, Shideler SE, Todd HE, I Asley BL 2001. Fecal analysis of ovarian cycle in female black-handed spider monkeys (Ateles geoffroyi). Am J. Primatol. 54:79-89. Collins DC, Dahl JF, Nadler RD. 1994. Metabolism of progesteron by the adult female gibbon (Hylobates (H.) lar). Am. J. Primatol. 33:193-255. Creel S. 2001. Social Dominance and Stress Hormone. Trends in Ecology & Evolution. 16:9:491-497. Curry MR, Watson PF. 1995. Sperm Structure and Function. In: Grudzinskas JG dan Yovich JL, Editor. Gametes - The Spermatozoon. Cambridge: Cambridge University Pr. Hlm 45-69. Darlis, N. Abdullah, JB. Liang, Jalaludin S, Ho YW. 1999. Preference test requirement for maintenance of mature male mouse deer (Tragulus javanicus) in captivity. Asian-Aus. J. Anim. Sci 12 (8): 1292-1297. Dashman, RF. 1981. Wildlife Biology. New York: John Wiley & Sons. Inc. [Dephut] Departemen Kehutanan. 1978. Pedoman Pengelolaan Satwa Langka. Jilid I. Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam. Bogor Djuwantoko. 1986. Pemanfaatan Satwa Liar di Hutan Tanaman Industri. [makalah seminar]. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Dubost G. 1986. Tragulidae. In The Encyclopedia of Animals (Ed by DW. McDonald) Vol.4. Helbosha Ltd. Publ, Tokyo, 72-72. Dugweker YG, Takkar OP, Roy KS, Sharma RD. 1978. Exfoliative vaginal cytology of murrah buffaloes during various stages cycle Indian. J. Anim. Res. 12: 102-104. Engelhardt A, Hodges JK, Niemitz C, Heistermann M (2005) Female sexual behavior, but not sex skin swelling is a reliable indicator for the timing of the fertile phase in wild long-tailed macaques (Macaca fascicularis). Horm Behav. 47:195–204 Evans G, Maxwell WMC. 1997. Salamon’s Artificial Insemination of Sheep and Goat. Sydney : Butterworths Forrest JC, Aberle ED, Hendrick HB, Judge MD, Merkel RA. 1975. Priciple of Meat Science. W.H. Freeman and Company. San Franscisco. Fowler ME. 1999. Zoo and Wild Animal Medicine 4th ed. Philadelphia : W.B. Saunders Company. Hlm. 34-35. 103

Texbook of Medicine Physiology. 10:221-228. 1987. Biotechnology In Agriculture Series. 2004. Robert SJ. Selangor. Reprod. The vaginal smear of the cow and causes of its variation. Gordon I. 42 : 483 . Evaluation of Semen Collected by Electro ejaculation from Captive Lesser Mouse Deer Malay Chevrotain (Tragulus javanicus). Philadelphia.B. Primatol 35:117-127. Pennsilvania. Spermatozoa and seminal plasma in: Reproduction in Farm Animals. Sci. Haron AW.493. 2000. Hansel W. Ed. Hamny 2006. 1995. HK Vyong. Tajuddin. 2000. Abdullah.. Proceding of 3rd International Symphosium on the Nutrition of Herbivores Malaysian Sociaty of Animal Production (Ho. Lea and Febiger. Royo F. Goto N. of Vet. Anatomy of female reproduction in: Reproduction in Farm Animals. Hodges JK. Tragulus javanicus. YW. Grzime’s Animal Life Encyclopedia. Endocrine monitoring of the ovarium cycle and pregnancy in the saddle-black tamarin (Sanguinus fuscicolis) by measurement of steroid conjugates in urine.). Ed. N. Theriogenology. 1949. p. Fukuta KN. Murayama N. Zainudin ZZ.of Zoo and Wildlife Medicine. New York: Van Nostrand Ranhold Company. Hafez ESE. Research. Hall JE. 1987. Gadjah Mada University Press. 7th Ed. J. Laboratory Production of Cattle Embryos. Asdell SA. In. 9th Ed. Anim. J. 1975. and AZ. Malaysia: Kula Lumpia Press. Hau J. 1991. Guyton AC. Philadelphia. Hansen PJ. 31:164-167. Fuzina H. Heistermann M. Dublin-Ireland. Studi Morfologi Reproduksi Kancil (Tragulus javanicus) Dengan Tinjauan Khusus pada Ovarium. Hafez ESE. [Thesis] Bogor. eds. Anatomi dan Fisiologi Ternak. 104 . 7th Ed. (terjemahan) Edisi ke-4.130.Frandson RD. University of Copenhagen & State Hospital and Uppsala University. Morphology of stomach in the newborn mouse deer.Yogyakarta. Stress-Assassed by Quantification of Non-invasive Stress Marker. Yong M. Lippincott Williams & Williams. Hansen PJ. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Carisson HE. Immunological aspects of pregnancy: concepts and speculations using the sheep as a model. 7th Ed. Hafez ESE and Hafez B. 1996.47. J. Anim. Liu WJ. W. Lippincott Williams & Williams. Koizumi Y. Grzimek B. Ed. Lea and Febiger.. 1992. Saunders Company. Hafez ESE and Hafez B. Anatomy of male reproduction in: Reproduction in Farm Animals. 1996. Philadelphia. Interactions between the immune system and the bovine conceptus. 1994. Reproductive cycle in: Reproduction in Farm Animals. Abelson KS. Perkembangan Folikel dan Pematangan Oosit In Vitro. 1997. 2000. 7th Ed. Ed. Am. 47 : 121 .

Aplication of urinary and fecal steroid measurements for monitoring ovarian function and pregnancy in the Bonobo (Pan paniscus) and evaluation of perineal swelling patterns in relation to endocrine events. 1970.ultimateungulate. Biochemistry of Steroid Hormone. Erlangen: Filander verlag GmBH. Heistermann M.Heistermann M. editor. Research And Captive Propagation. Husung A. Evalutionary Antrophology Suppl 1: 180-182. Kaumanns W. Role of reproductive technologies and genetic resource banks in animal concervation. Hodges JK. 1996. in: Makin HIJ. Malang: Universitas Brawijaya. J. Mosti E. Hamilton New Zeland. 55:844-853. 1998. Möstli E. Vervaecke H. Upaya penangkaran kancil (Tragulus javanicus) dengan cara pendayagunaan sebagai hewan ternak penghasil daging dan kemungkinan pelestariannya dengan metode nucleus flock dan multiplier flock. Reprod Fert. Reprod. Heistermann M. Huffman HB. Israil I. Hindle JE. [29 April 2004]. Heistermann M. Netherlands: Leiden EJ. 2002. Van Elsacker L. InterAG. Honour JW. Measurement of urinary oestrogen and 20 alpha-dihydroprogesterone during ovarian cycle of Black (Diceros bicornis) and white (Cheratotherium simun) rhinoceros. 1970.. Hlm 36-48. 1995. 1985. Lesser www. Controlled Breeding and Reproductive Management. and Kammans W. editor. Primate Rep. Non-invasive endocrine monitoring of female reproductive status: Methods and applications to captive breeding and conversation of exotic species. 105 . 59:27-42. Holt WV. Rosyidi D. Folio Primat. 1996. 4:143-150. Hodges JK. 2004. Picard AR. Hlm 382-393. Kusmartono. Udjung Kulon the Land of Last Javan Rhinoceros. Möhle U. Non-invasive assessment of reproductive function in primata. Hodges JK. The endocrine control of reproduction. Vaginal cytology and reproduction in the squirrel monkey (Samiri sciureus). 12: 12-223. Hoogerwerf A. Oxford: Blackwell Scientific Publication. Billiary ecretion and enterohepatic circulation. Rev. In: Gansloвer U. Eazi-Breed CIDR. Hodges JK. Hutchinson TC. 1984. 1992. Biol Reprod. Uhrigshardt J. Hodges JK.com. Measurement of faecal steroid metabolites in the lion-tailed macaque (Macaca silenus): A non-invasive tool for assessing female ovarian function. 2nd ed. 94:237-249. Symp Zool Soc Lond 54: 149-168. malay mouse deer. Hodges JK. Hodges JK. 1999. Brill. Tragulus javanicus.

J. Jumaliah N. Massachussetts: Blackwell Scientific Publication.A. Costa LLM. Behavior and reproduction of captive Lesser Mouse Deer. Kobayashi K. Anim. Hagey LR. Plasma concentration of LH. 2008. 1-6. Semen characteristics of the captive Indian leophard (Panthera pardus). Lynch JW. Majumdar KC. Ikoma M. Anim Scie 1:24-28. Kusuda S. Ho YW. And Dev. Njahira MN. 64:475-483.Jayaprakasa D. 1990. Estrous cycle based on blood progesterone profile and changes in vulvar appearance of Malayan Tapir (Tapirus indicus). Androl. Kelly RW. Khan MZ. 2000. Histological and Histochemical Methods. Moore GH. 1984. Nakamura A. Shivaji S. Zoo Yearbook. McNeely. Hashikawa H. Monitoring Hormones in Urine and Feces of Captive Bonobos (Pan paniscus). Kumar MN. Abdullah N. estimasi kuantitatif konsumsi dan daya cerna kancil (Tragulus javanicus) terhadap pakan di Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Ueda M. 1997. On adaptation. 1999. Kobayashi K. Concentration of four fecal steroids in wild baboons: Shor-term storage 106 . Pergamon Press. Krebs JR. Doi O. Dev. Longevity of ungulates in captivity. Czekale NM. 32:159-169. Sci. Kaneko M. Ishiwada K. 35 (1): 143-150. ML. Barros FFPC. An Introduction to Behavioural Ecology. Kudo H. J. Jones. Jalaludin S. Bangkok: Sahakarnbat Co. Rubenstain N. Lima GI. 2003. Reprod. 1993. Krimbas CB. Mc Netty KP. Kiernan JA. 2001. 2007b. Castelo TS. J. Gibb M. Kawada K. 1977. Shibagaki S. Fertil. Altmann J. Pola perilaku. Jurke S. 22:25-33. Lekagul B. Malay J. Reprod. Kusuda S. Reprod. Evol. Mammals of Thailand. Kawaguchi Y. 17:1-57. Fujita H. Morikaku K. Primates 41 (3):311319. 53 (6):1283-1289. Excretion patterns of fecal progestagens. Hawa S. Jurke MH. prolactin. J. Morikaku K. Biol. 1982. Intern. Neo Darwin tautology and population and fitness. Determination of semen characteristics and sperm cell ultrastructure of captive coatis (Nasua nasua) collected by electroejaculation. Akikawa T. oestradiol and progesterone in female red deer (Cervus elaphus) during pregnancy. Silva AR. Davies. Doi O. (Tragulus javanicus). 2007a. Matsui K. 2nd Ed. 1981. Ross D. J. androgen dan estrogens during pregnancy. parturition and postpartum in okapi (Okapia johnstoni). [Tesis] Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Fontenele-Neto JD. Patil SB. Reprod. Koizumi J.

[disertasi] Bogor. Yusuf TL. 1998. 2. Morel DMCG. A taxonomic revision of the Tragulus mouse deer (Artiodactyla). Zool. Ciawi. 1991. 5th eds. AN. Handarini R.4-5 Agustus 2004. 545 . Nalley WMM. 2004. Toelihere MR. Maheswari H. D. Philadelphia. Lea and Febiger. 1969. Vol. Pahme R. Kajian Biologi Reproduksi dan Penerapan Teknologi Inseminasi Buatan pada Rusa Timor (Cervus timorensis). J. Nowak M. Characterization of urinary and fecal metabolite of testosterone and their messurement for assessing gonadal endocrine function in male nonhuman primates. 1977. Cambridge Univ. Semiadi G. Marsono. P. 140: 63-102. Mammal 84:234-242. 107 .condition and concequences for data interperetation. Möhle U. London: Oxford University Press. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. J. McDonald LD. Monfort SL. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. of the Linnean: Society. 2002. 1989. 2004. Meijaard E. General and Comparative Endocrinology. Moen. 2007. 4th Ed. Walingford. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. J. Medway L. Reproductive patterns of dogs. Hodges JK. Batesan P. 1993. An Analytical Aproach. Profil Metabolit Steroid Sebagai Indikator Dalam Penentuan Siklus ovarian Owa Jawa (Hylobates moloch AUDEBERT. Veterinary Endocrinology and Reproduction. Disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. The Wild Mamalls of Malaya and Osffshore Island Including Singapore. Brewer BA. 1972. 1999. Measuring Behavior. UK Nalley WMM. Mashburn BS. Bosi E. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.547. San Fransisco: Cornell University. [disertasi] Bogor. In: Mc. Yogyakarta. Press.. WH. Zoo and Wildl Med. 2004. 132:264-271. Kohshima S. Donald LE Ed. In Walkers Mammals of the world. Medway L. 129:135-145. Kriopreservasi Semen Rusa Timor (Cervus timorensis) dalam berbagai konsentrasi gliserol. Martin P. 2006. Activity and Habitat Use of Lesser Mouse Deer (Tragulus javanicus). Groves CP. Equine Artificial Insemination. Chevrotain or Mouse Deer. 2002. CABI. Oxon. Wildlife Ecology. Gen and Comp. Evaluation adrenal activity in African Wild Dogs (Licaon pictus) by fecal costicosteroid analysis. Freeman and Company. Heistermann M. 1797). Creel R. Purwantara B. The Wild Mammalls of Malaya (Peninsula Malaysia) and Singapure. 292: 129-133. Endocr. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-Tipe Vegetasi Tropis. Matsubayashi H. Second Ed London: Oxford University Press. 1978. London.

In: Hafez. 1980. Reeves JJ. In: Yen SSC. deSousa S. editor. Verme. Peters AR. Steroid Hormones: Metabolism and Mechanism of Action. 2006. Shaw G. A note on the motility of vaginal cytology in detection oestrous cycle and certain reproductive disorder in bovines. Strott CA. 108 . 22:576-581. Mincowski K. Birth of pouch young after AI in the tammar walabi (Macropus eugenii). Parastie S. 1975. 2003. estradiol and progesterone around estrus. Seal Us. Ohtaishi N. 2002. Suzuki M. Lutenizing hormone. Steroid Hormones: Metabolism and Mechanism of Action. O‟Maley BW and Strott CA. 13 Agustus 2003. Setiadi MA. Philadelphia: WB Saunders Company. Plotka ED. Louis J. Rao AR. Pereira RJG. Ed. Monitoring ovarian cycles and pregnancy in brown brocket deer (Mazama gouazoubaira) by measurement of fecal progesterone metabolites. Onuma M. PP: 291-298. 50: 156-161. Rao PR. Reprod. Reproduction in Farm Animals. Biol reprod. Philadelphia. Theriogenology. Biol. Annual changes in fecal estradiol-17β concentration of the sun Bear (Helarctos malayanus) in Sarawak Malaysia. and Barbieri RL. J. Z Tierpsycol 37:356-378. Editor. Haron AW. Renfree MB. London: Butterworths London. Indian J. editor. Jaffer RB. Tragulus napu. Sci. 1999. Ball JH. 1979. Karakteristik dan komposisi semen kancil (Tragulus javanicus) yang dikoleksi dengan elektoejakulator. 1986. 1999. Ozoga JJ. Tmple-Smith PD. Reproductive steroids in deer III. Reproductive endocrinology: Physioloy. 5th. 8th Postgraduates Course for Training in Reproductive Medicine and Reproductive Biology. Micro Livestock: Little-Known Small Animals With a Promisisng Economic Future. 65:387-399. editor Reproductive Endocrinology: Physiology and Clinical Management. Di dalam: Yen SSC. Behavior of captive Mouse Deer. Vet. Taggart DA. 72: 451-459. Ed ke-4. Patophysiology and Clinical Management. Anatomi Indonesia. 01: 30-37.Med Sci. Endocrinology of Reproduction Anatomy of male reproduction. Ralls K.[OIA] Office of International Affairs. Mouse Deer. 4th Ed. 1987. Uchida E. Hlm 110-132. Paris DBBP. Polegato BF. Fahrudin M. Duarte JMB. The Importance of Sperm Morphology in the Evaluation of Male Infertility. J. 110-132. Lea and Febiger. Jaffe RB and Barbieri RL. Barasch C. Agungpriyono S. Anim. hlm. Compana A. 64(4): 309-313. Prasetyaningtyas WE. ESE. Negrao JA. Philadelphia: WB Saunders Company. Reproduction in Cattle. Sreeraman PK. 2006. 1991. O‟Malley BW.

Senger PL. Reprod. wild and zoo animal. Terjemahan dari: Physiology Of Reproduction and Artificial Insemination of Cattle. Bogor. Lodge JR. 2nd ed. 19:9-18. Universitas Indonesia. 1967. 2005. 42: 515-226. 2000. Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam Bekerja Sama Dengan Yayasan Gibbon Indonesia. 81: 159-128. Sajuthi D. Dalam Prosiding Lokakarya Penangkaran Satwa Liar yang Dilindungi. Fakultas Kedokteran Hewan (Ed) Muslihun. Martinez E. 1995. Beberapa aspek biologi dan karakteristik karkas Kancil (Tragulus javanicus). Ruiz S. Reprod.sci. Sanches-Valverde MA. Freeman and Co. 1978. EJ. R. 1985. Theriogenology 38:115-125. Vasques JM. Anim. Semiadi G. Dalam: Physiology of Reproduction and Artificial Insemination of Cattle. Washington. Azmi TI. Penerjemah. VanDemark NL. Rosyidi D. Bogor: Fakultas Pascasarjana. Fertilitas Spermatozoa Ejakulat dan Epididimis Domba Garut Hasil Kriopreservasi Menggunakan Modifikasi Pengencer Tris Dengan Berbagai Krioprotektan dan Antioksidan. Fisiologi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Zoonosis pada Satwa Peliharaan yang Dilindungi. Sibly RM. Review. 2004. Djanuar. 1988. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Manusia dan Hewan Piara. Vaginal cornification cycles in the Squirrel monkey (Saimiri sciurea). Bul. 35-51. WH. USA: Current Conception. Oxford: Blackwell Scientific Publications. 1992. The potential for gamet recovery from non-domestics canida and felids. VanDemark NL. 1999. Silva LDM. [disertasi] Bogor. Inc. Pathways to Pregnancy and Parturition. 2005. The reproduktive system of the cow. Kaufman ICH. Schwarzenberger F. Pertanika 11: 419-426. Slijper. Salisbury GW. Anim. Silva AR. Palme R. Calow P. 1954. Bamberg E. Fazina NH. Pp. 1996. 1986. Physiological Ecology of Animal and Evolutionary Approach. Seasonal variation of semen quality in male goat: studi abnormalities. Vidyadran MK. [disertasi]. Morato RG. Direktorat Perlindungan Hutan dan Kebun. Nelson J. 109 . Peternakan. Rizal M. Biology of deer reproduction: a comparation between temperate and tropical species.Richardson KC. Rosenblum LA. Salisbury GW. Lelana A. Möstl E. Roca J. Institut Pertanian Bogor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nathan T. Topographic Anatomy of the abdomen of the Lesser Mouse Deer (Tragulus javanicus). Folio Primat 6: 83-91. San Francisco. Sci. Faecal steroid analysis for non-invasive monitoring of reproductive status in farm.

Aguilera JI. Masyarakat Zologi Indonesia. Kupang. Tingkah Laku dan Produksi Ternak di Indonesia. 1996. Fauna Indonesia. 62 (2): 225-232. Am. Suppl. Prospek Budidaya Rusa Timor (Cervus timorensis) Sebagai Ternak. Long-term data on basic reproductive parameters and evaluation of endocrine. 1982. BL. Introduction to Function Histology. Shideler SE. [thesis] Bogor: Fakultas Pascasarjana. Tomaszewska MW. Toelihere MR. Telford IR. Characterization of estrous cyclicity in the Sable Antelope (Hippotragus niger) through fecal progestagen monitoring. Banuelos R. The University of Michigan of Zology. Tragulus javanicus (lesser mouse deer). Rincon RM. Byrd W. J Applied Physiology 42:673-678. Gen Comp Endokrinol. J. 2003. Monfort SL. Ed ke-2 New York: Harper Collins College Publisher. Strawder N. Thierry B. Sutrisno E. 1997. http://www. 1977. Steroid Hormone Metabolism. Takandjandji M. Institut Pertanian Bogor. Bridgman CF. Hodges JK. Snyder GK. Vol 1 No. 1993. French JA. viscosity and respiratory function of whole blood of the lesser mouse deer. 2. Am. Garnadi D. Psychosocial stress and urinary cortisol excretion in Marmoset Monkeys (Callthrix kuhli).ch/books/reproductivehealth/steroid hormone metabolism. Primatol 48:135-151. Primatol 39:47-62. Chaniago TD. Jakarta: PT. J. Cornification process in the vaginal epithelium of the laboratory rat (Rattus norvegicus) under the influence of oestradiol valerate: an electron microscope study. Anim Sci. Solis G. Putu IG. 1998. 1997. Heistermann M. Lesley. Todd HE. Vol 82. Hematology. 2008. Application of an Enzyme immunoassay for urinary follicle different stage of the menstrual cycle in female laboratory macaques. 1991. Physiol Behav. Pohl CR. Sutama IK. Suyanto A. 112:129-137. morphological and behavioral measures for monitoring reproductive status in a group of semifree-ranging tonkean macaques (Macaca tongkeana). Mashbura KL. Steiner T.Smith TE. 1999. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. 2004. 1995. 110 . Angkasa Bandung. Thompson KV. Overstreet JW. Characterizing cytology (ECV) in ewes from 60 d of age through parturition. 1. Reproduksi. Laughlin LS. 1983. Aujard F. Tragulus javanicus. Suraatmadja TO. Prosiding Diskusi Hasil-hasil Penelitian BPK. J. Weathers WW. Arechiga CF. Gramedia Pustaka Utama.gfmer.

Mammals of The Word. Institut Pertanian Bogor. Hilmi M. Comparative vaginal cytology of the estrous cycle of black-footed ferrets (Mustela nigripes). 62:131-138 Vidyadaran MK. 111 . Revision by John L. Vale WG. Pengaruh prostaglandin F2 dan gonadotropin terhadap aktifitas estrus dan superovulasi dalam rangka transfer embrio pada sapi Fries Holland. Physiol. The Life of Vertebrates. the lesser mouse deer (Tragulus javanicus). Purwantara B. Media Peternakan. J.Vale RR. Wiliams ES. eversmani). 56A. Biometri organ reproduksi bagian luar dan karakteristik ejakulat anoa (Bubalus sp) yang dikoleksi menggunakan elektroejakulator setelah diinjeksi hCG. 1968. Bamabe RC. Lutz K. Walker EP. Hematological studies on the Malaysian lasser mouse deer (Tragulus javanicus). Rand D. Guimaräes MABV. Manansang J. Young JZ. Anderson SL. Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan. Pengamatan Perubahan Sitologik Hapusan Vagina Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) pada Siklus Berahi [tesis]. Siberian polecats (M. Mulyono S. [disertasi]. 43:97-126. Bogor: Fakultas Pascasarjana. Leong M. and domestic ferrets (M. 32:1-11. Zen Z. Institut Pertanian Bogor. New York: Clarendon Oxford Pr. Watson PF. A review of tehniques of semen collection in mammals. Theriogenology. II. Vol. Bali dan Peranakan Ongole. 3-26. Collection and evaluation of semen from captive howler monkey (Alloutta caraya). 1990. 1983. Scammel CA. Muniz JAPC. Sirimane RA. Thorne ET. Bogor: Fakultas Pascasarjana. Temperature regulation in the smallest ungulate. Yusuf TL. 2008. 2nd Ed. Sajuthi D. 2004. Yusuf TL. Paradisso. 1981. Vet Diagn Invest 4: 38-44. Baltimore: The John Hopkins Press. 1979. Yudi. Kwiatkowski DR. Pertanika 2:101-104. Symp Zool Soc Lond. Whittow GC. 1992. 1978. 1977. Com Biochem. putorius furo).

Prosedur Kerja 1. aquadest masing-masing 15 celupan. keringkan 2. Pencucian dengan aquabides dan dikeringkan. Perendaman dalam larutan Shorr selama 2 menit.LAMPIRAN 1. Perendaman ke dalam silol beberapa menit. 2. Periksa di bawa mikroskop 112 . 6. difiksasi dengan methanol. Sampel yang telah kering dicelup dalam alkohol absolut. 70%. Preparat ulas kering udara difiksasi dengan ether-alkohol 30 menit. didiamkan selama satu menit. 5. 4. 7. Tambahkan dengan aquabides sebanyak zat pewarna yang diberikan. keringkan.Hematoxylin. 3. Pewarnaan Papanicolaou Bahan : . 6. Giemsa dan aquabides yang terdapat pada obyek gelas tersebut dibuang. Preparat ulas kering udara. Sampel yang telah kering diteteskan dengan Giemsa selama 2-4 menit. Pewarnaan Giemsa Bahan : Larutan Giemsa 50% Metanol 90% Prosedur Kerja 1. 3.Alkohol 50%. Perendaman ke dalam alkohol bertingkat 70%. 4.Larutan Shorr‟ . alkohol 80% dan 50%. 5.Amoniak .Silol . Perendaman dalam hematoksilin selama 6 menit.Alkohor (ether 50% dan 50% alkohol).Ether . 2. 80% dan alcohol absolute . Preparat selanjutnya direndam dalam Giemsa selama 8-12 menit. Perendaman dalam larutan amoniak-alkohol 1 menit. 80% dan absolut masingmasing 15 kali celupan.Alkohol (97 bagian alkohol 70% dan 3 bagian amoniak 25%) . .

Selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop. Pencucian preparat dalam alkohol absolute selama 4 menit. Prosedur Kerja 1. 2.5% Cara pembuatan stok pewarna Williams yaitu dengan cara mencampurkan dua bagian larutan (3) dengan satu bagian larutan (2). 113 . Pencucian dengan laurtan Williams selama 8-10 menit. 10 ml basic fuchsin (hasil larutan pertama) dalam 170 ml Larutan fenol 5%.3. Saturated bluish eosin dalam alkohol 95%.5% chloramin selama 1-2 menit sampai mucus hilang dan ulasan terlihat jernih. Fiksasi sampel preparat ulas dari semen segar di atas api Bunsen. 4. Chloramin 0. 5. 10 gr basic fuchsin dalam 100 ml alkohol 95%. 2. 3. Pencucian dengan air mengalir dan keringkan. 4. Pewarnaan Williams Bahan : 1. lalu dikering udarakan. Preparat dimasukkan dalam larutan 0. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful