ASMA

‡ Penyakit inflamasi (radang) kronik dengan penyempitan saluran napas yang reversibel ‡ Mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik seperti timbul secara episodik, cenderung pada malam hari (nokturnal), musiman, setelah aktivitas fisik, serta adanya riwayat asma/atopi lain pada pasien dan/keluarga (PEDOMAN NASIONAL ASMA ANAK 2004)

EPIDEMIOLOGI
‡ Penyakit kronik yang sering di jumpai di negara maju ‡ Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics atau NCHS (2003), prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak 4,2 juta), dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta). Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada lelaki.

‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡

Jenis kelamin Usia Riwayat atopi Lingkungan Ras Asap rokok Outdoor air pollution Infeksi respiratorik

PATOFISIOLOGI .

Neutrophil Chemotactic Factor bronkokonstriksi. hipersekresi kelenjar dan infiltrasi sel radang di saluran napas . leukotrin . Eosinophil Chemotactic Factor of Anaphylaxis .‡ Alergen merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi Ig E Ig E ini menempel pada sel mastosit sepanjang saluran napas penglepasan mediator seperti histamin. prostaglandin. edema.

.

.

KLASIFIKASI ASMA ‡ Menurut GINA 2006 : ± ASMA TERBAGI MENJADI : ‡ ‡ ‡ ‡ Intermitten Persisten ringan Persisten sedang Persisten berat ‡ MENURUT PEDOMAN NASIONAL ASMA ANAK INDONESIA : ± Asma episodik jarang ± Asma episodik sering ± Asma persisten .

ASMA MENURUT GINA 2006 : INTERMITTEN : ‡ Gejala <1x/seminggu ‡ Serangan singkat ‡ Gejala nokturnal tidak lebih dari 2x/bulan ± FEV1 80% predicted atau PEF 80% nilai terbaik individu ± Variabilitas PEF atau FEV1 < 20% PERSISTEN RINGAN : ‡ Gejala >1x/seminggu tapi kurang dari 1x/hari ‡ Serangan mengganggu aktivitas & tidur ‡ Gejala nokturnal >2x/bulan ± FEV1 80% predicted atau PEF 80% nilai terbaik individu ± Variabilitas PEF atau FEV1 20%-30% .

PERSISTEN SEDANG : ‡ Gejala terjadi setiap hari ‡ Serangan dapat mengganggu aktivitas & tidur ‡ Gejala nokturnal >1x dalam seminggu ± FEV1 60-80% predicted atau PEF 60-80% nilai terbaik individu ± Variabilitas PEF atau FEV1 >30% PERSISTEN BERAT : ‡ Gejala terjadi setiap hari ‡ Serangan sering terjadi ‡ Gejala asma nokturnal sering terjadi ± FEV1 60% predicted atau PEF 60% nilai terbaik individu ± Variabilitas PEF atau FEV1 >30% .

.

batuk berdahak yang tak kunjung sembuh. mengi. atau batuk malam hari. ‡ Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain.Anamnesa ‡ Keluhan sesak nafas. ‡ Semua keluhan biasanya bersifat episodik dan reversible. dada terasa berat atau tertekan. .

FUNGSI PARU.PARAMETER KLINIS. LABORATORIUM SESAK RINGAN SEDANG BERAT TANPA ANCAMAN HENTI NAPAS DENGAN ANCAMAN HENTI NAPAS BERJALAN BAYI : MENGANGIS KERAS BERBICARA ISTIRAHAT BAYI : TANGIS BAYI : TIDAK MAU PENDEK & MINUM/MAKAN LEMAH. KESULITAN MENYUSU & MAKAN DUDUK BERTOPANG LENGAN KATA-KATA POSISI TUBUH BISA BERBARING LEBIH SUKA DUDUK KALIMAT PENGGAL KALIMAT BIASANYA IRRITABLE BICARA KESADARAN MUNGKIN IRRITABLE BIASANYA IRRITABLE KEBINGUNGAN .

HILANG DANGKAL. DITAMBAH DITAMBAH NAPAS RETRAKSI CUPING HIDUNG SUPRASTERN AL <45 mmHg >45 mmHg PaCO2 <45 mmHG . SERING HANYA PADA AKHIR EKSPIRASI TIDAK ADA NYARING. FUNGSI PARU. LABORATORIUM SIANOSIS MENGI RINGAN SEDANG BERAT TANPA ANCAMAN HENTI NAPAS DENGAN ANCAMAN HENTI NAPAS NYATA SULIT/TIDAK TERDENGAR TIDAK ADA SEDANG.PARAMETER KLINIS. SEPANJANG EKSPIRASI & INSPIRASI ADA SANGAT NYARING. RETRAKSI INTERKOSTAL SEDANG. DALAM. TERDENGAR TANPA STETOSKOP SEPANJANG EKSPIRASI & INSPIRASI YA PENGGUNAAN OTOT BANTU RESPIRATORIK RETRAKSI BIASANYA TIDAK BIASANYA YA GERAKAN PARADOKSTORAK OABDOMINAL DANGKAL.

FUNGSI PARU. TANDA KELELAHAN OTOT NAPAS FREKUENSI NAPAS FREKUENSI NADI PULSUS PARADOKSUS TAKIPNEA NORMAL TIDAK ADA < 10 mmHg TAKIPNEA TAKIKARDI ADA 10 20 mmHg TAKIPNEA TAKIKARDI ADA >20mmHg PEFR atau FEV1 ‡PRA BRONKODILATOR ‡PASCA BRONKODILATOR SaO2 >60% >80% 40-60% 60-80% <40% <60% RESPON < 2 JAM 90% >95% 91-95% . LABORATORIUM RINGAN SEDANG BERAT TANPA ANCAMAN HENTI NAPAS DENGAN ANCAMAN HENTI NAPAS BRADIPNEA BRADIKARDI TIDAK ADA.PARAMETER KLINIS.

Pemeriksaan Penunjang ‡ Pemeriksaan fungsi paru : ± PEFR ± Pulse oxymetry ± Spirometri ± Musle strength testing ± Volume paru absolut ± Kapasitas difusi  Pemeriksaan ini apabila ada manisfestasi gejala asma yang tidak khas .

histamin.napas non-invasif ± Memeriksa eosinofil sputum ± Pengukuran kadar NO ekshalasi . metakolin. udara dingin/kering. olahraga. olahraga untuk menegakkan diagnosis asma ± Pengukuran ini sensitif terhadap asma tetapi spesifitasnya rendah ‡ Pengukuran petanda inflamasi sal.‡ Pemeriksaan hiperaktivitas saluran napas : ± Uji provokasi bronkus dengan histamin.napas terhadap metakolin. salin hipertonik sangat menunjang diagnosis ± Pada pasien yang mempunyai gejala asma tetapi fungsi paru tampak normal penilaian respon sal.

‡ Penilaian status alergi : ± Uji kulit atau pemeriksaan IgE spesifik dalam serum ± Dapat membantu dalam menentukan faktor risiko atau pencetus asma .

PERIKSA DENGAN PEAK FLOW METER/SPIROMETER UNTUK MENILAI : ‡ reversibilitas ( 15%) ‡ variabilitas ( 15%) ‡ hiperreaktivitas ( 20%) BERIKAN BRONKODILATOR BERHASIL TIDAK JELAS ASMA : ‡ TIMBUL PADA MASA NEONATUS ‡GAGAL TUMBUH ‡MUNTAH/TERSEDAK ‡INFEKSI KRONIK ‡KELAINAN FOKAL PARU ‡KELAINAN SISTEM KV PERTIMBANGAN PEMERIKSAAN : ‡ FOTO RO TORAKS & SINUS ‡UJI FUNGSI PARU ‡UJI RESPON TERHADAP BRONKODILATOR ‡ UJI PROVIKASI BRONKUS ‡UJI KERINGAT ‡UJI IMUNOLOGIK ‡PEMERIKSAAN MOTILITAS SILIA ‡ PEMERIKSAAN RGE GAGAL .BATUK DAN/MENGI RIWAYAT PENYAKIT PEMERIKSAAN FIFIK UJI TUBERKULIN PATUT DIDUGA ASMA : ‡ EPISODIK ‡ NOKTURNAL/MORNING DIP ‡ MUSIMAN ‡ PASCA-AKTIVITAS FISIK BERAT ‡ RIWAYAT ATOPI PASIEN/KELUARGA JIKA ADA FASILITAS.

BERHASIL DIAGNOSIS KERJA : ASMA ‡ TENTUKAN DERAJAT & PENCETUSNYA ‡ BILA ASMA EPISODIK SERING/PERSISTEN : FOTO RONTGEN TIDAK MENDUKUNG DIAGNOSIS LAIN MENDUKUNG DIAGNOSIS LAIN DIAGNOSIS & PENGOBATANNYA SESUAI DIAGNOSIS KERJA ‡ BERIKAN OBAT ANTI ASMA : BILA TIDAK BERHASIL NILAI ULANG DIAGNOSIS & KETAATAN BEROBAT PERTIMBANGKAN ASMA SEBAGAI PENYAKIT PENYERTA BUKAN ASMA .

DIAGNOSIS BANDING ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Rinosinobronkhitis OSAS (Obstructive sleep apnea syndrom) Fibrosis kistik Primary ciliary dyskinesis Benda asing di saluran napas Vocal cord dysfunction .

beri epinefrin subkutan ± Periksa anak kembali setelah 20 menit untuk menetukkan terapi selanjutnya : .TATALAKSANA ‡ Anak dengan episode pertama wheezing tanpa distress pernapasan bisa dirawat di rumah hanya dengan terapi penunjang & tidak perlu diberi bronkodilator ‡ Anak dengan distress pernapasan atau wheezing berulang : ± Beri salbutamol dengan nebulisasi atau MDI ± Jika salbutamol tidak tersedia.

bronkodilator kerja cepat.± Jika distress pernapasan sudah membaik. salbutamol sirup per oral/tablet ± Jika distress pernapasan masih menetap pasien di rawat di RS. beri terapi oksigen. beri terapi oksigen . beri aminofilin IV . bronkodilator kerja cepat ‡ Jika anak dirawat di RS : ± Beri oksigen . bronkodilator kerja cepat ‡ Jika anak mengalami sianosis sentral/tidak bisa minum : ± Rawat. tidak ada napas cepat nasihati ibu untuk merawat di rumah dengan salbutamol hirup atau jika tidak tersedia. dan dosis pertama steroid dengan segera ± Respon positive harus terlihat dalam 20 menit ± Bila tidak terlihat respon positif beri bronkodilator kerja cepat interval 20 menit ‡ Jika tidak ada respon setelah 3 dosis bronkodilator kerja cepat.

kesulitan bernapas (serangan sedang-berat) BRONKODILATOR KERJA CEPAT : ‡ Salbutamol nebulisasi ± Dosis salbutamol 2.OKSIGEN : ‡ Berikan oksigen pada semua anak dengan asma yang terlihat sianosis.5 mg/kali nebulisasi tiap 4 jam kemudian dikurangi sampai setiap 6-8 jam bila kondisi membaik ± Pada kasus berat . bisa diberikan setiap jam untuk waktu singkat ‡ Salbutamol MDI ‡ Epinefrin subkutan ± Jika salbutamol tidak tersedia. berikan steroid & aminofilin . beri epinefrin dengan dosis 0.01 ml/kg dalam larutan 1:1000 ± Jika tidak ada perbaikan setelah 20 menit ulangi dosis yang sama ± Bila gagal dirawat sebagai serangan berat.

beri dosis setengahnya diikuti dosis rumatan 0. bila tidak tersedia salbutamol hirup berikan salbutamol oral ‡ Dosis 0.BRONKODILATOR ORAL : ‡ Ketika anak membaik untuk bisa dipulangkan. kejang ‡ Jika aminofilin IV tidak tersedia aminofilin supositoria . sakit kepala. denyut nadi >180 x/menit.5-1 mg/kgBB/jam ‡ Hentikan aminofilin IV segera apabila anak mulai muntah. hipotensi.1 mg/kgBB/kali setiap 6-8 jam STEROID : ‡ Jika anak mengalami serangan wheezing atau berat berikan KS sistemik metilprednisolon 0.3 mg/kgBB/kali IV/oral 3x sehari selama 3-5 hari AMINOFILIN : ‡ Dosis awal (bolus) 6-8mg/kgBB dalam 20 menit ‡ Bila 8 jam sebelumnya sudah mendapat aminofilin.05-0.

rencana terapi jangka panjang harus dibuat berdasarkan frekuensi & derajat beratnya gejala asma .ANTIBIOTIK : ‡ Tidak diberikan secara rutin untuk asma ‡ Diindikasikan bila terdapat tanda infeksi bakteri PEMANTAUAN : ‡ Anak yang dirawat di RS seharusnya diperiksa oleh perawat sedikitnya 3 jam atau setiap 6 jam setelah anak memperlihatkan perbaikkan & oleh dokter dikontrol minimal 1x/hr ‡ Catat tanda vital ‡ Jika respon terapi buruk rujuk ke RS yang lebih lengkap fasilitasnya TINDAK LANJUT : ‡ Asma kondisi kronis & berulang.

ASMA DENGAN MASALAH KHUSUS ‡ Exercise induced asthma ‡ Asma nokturnal .

Exercise induced asthma ‡ Fenomena penyempitan sal.respiratorik menimbulkan gejala : ± Napas pendek ± Batuk ± Rasa dada tertekan ± Wheezing .respiratorik yang bersifat sementara setelah melakukan aktivitas fisik berat ‡ Banyak ditemukan pada anak & dewasa muda karena aktivitasnya cukup tinggi ‡ Mekanisme penyempitan sal.respiratorik akibat hiperventilasi atau perubahan osmolaritas cairan pada mukosa sal.

‡ Bronkospasme umumnya terjadi 10-15 menit pertama dan menghilang 60 menit kemudian ‡ Dipicu karena akitivitas fisik berat menimbulkan konsumsi oksigen maksimal ‡ Pada anak dengan asma berat. aktivitas fisik minimal dapat menimbulkan EIA .

‡ Temuan subyektif EIA ± ± ± ± Wheezing Batuk Napas pendek Merasa kondisi fisik kurang sehat ± Kurang berminat terhadap aktivitas fisik ‡ Temuan obyektif EIA ± Penurunan FEV1 10-15% ± Proteksi terhadap penurunan FEV1 sebesar 15% ± Respon positive terhadap bronkodilator .

‡ TERAPI : ± Farmakologi : ‡ Short acting beta agonis ‡ Long acting beta agonis ‡ KS inhalasi ‡ Leukotrien antagonis ± Non-farmakologi : ‡ Diet rendah garam ‡ Lakukan pemanasan sebelum ber-OR dan pendinginan sesudah ber-OR .

respon terhadap bronkodilator inhalasi. spirometri harian.ASMA NOKTURNAL ‡ Mortalitas akibat gagal napas & morbiditas asma lebih lebih banyak terjadi malam hari dan menjelang pagi ‡ Pemeriksaan fungsi paru penting dalam melihat keparahan dari asma nokturnal ‡ Pada sebagian kecil pasien asma. uji provokasi bronkus dapat memberikan hasil normal dapat membuat keraguan mendiagnosis asma ‡ Penggunaan peak flow meter klinisi dapat mengerti keadaan asma seorang pasien secara menyeluruh & dijadikan panduan pengobatan & potensi terjadinya gawat darurat dapat diketahui lebih dini .

RESPIRATORI -ATAS REAKTIFITAS BRONKIAL ASMA .VARIASI SIRKARDIAN KORTISOL EPINEFRIN MEDIATOR INFLAMASI TONUS VAGAL TEMPERATUR RESEPTOR B2 SaO2 SINUS APNU SAL.

‡ Penatalaksanaan : ± -adrenergik agonis ± Teofilin ± KS ± Antikolinergik ± Modifikasi leukotrien .

GAGAL NAPAS ‡ Ketidakmampuan sistem pernapasan untuk mempertahankan suatu keadaan pertukaran udara antara atmosfer dengan sel tubuh yang sesuai dengan kebutuhan tubuh normal ‡ Terjadi bila PO2 arterial < 60 mmHg atau PCO2 arterial >45 mmHg .

Epidemiologi ‡ Hasil studi di Jerman dan Swedia melaporkan bahwa insidensi gagal napas akut pada dewasa 77.000 penduduk / tahun. .88.6 kasus / 100.6.

asma. kondisi yang mempengaruhi bentuk atau ukuran dada seperti kifoskoliosis. penyakit paru interstisial ± PaCO2 > 45 mmHg ± Contoh: penyakit yang menyebabkan kelemahan otot pernapasan. fibrosis paru stadium akhir. penyakit paru obstruktif kronis. ARDS. penyakit sistem saraf pusat yang mengganggu pengendalian ventilasi. asma berat. ARDS berat .KLASIFIKASI ‡ Hiperkapnia ‡ Hipoksemia ± PaO2 < 60 mmHg ± Perubahan hubungan anatomik dan fisiologik antara udara di alveolus dan darah di kapiler paru hipoksemia ± Contoh: pneumonia. aspirasi isi lambung. emboli paru.

3 . ‡ Gagal napas akut ± semenit sampai jam ± pH kurang dari 7.KLASIFIKASI ‡ Gagal napas kronis ± beberapa hari atau lebih ± pH hanya sedikit menurun.

perfusi vena mirip campuran. pirau fisiologik. pneumonia yg terkonsolidasi. intrapulmonal) ‡ Pirau kapiler alveolar (atelektasis. pirau kanan ke kiri) ‡ Pirau anatomis kanan ke kiri (intrakardia. edema atau eksudat alveolar) . efek pirau) ± Pirau vena ke arteri (campuran vena sejati.Mekanisme Hipoksemia & Hiperkania pd Gagal napas ‡ HIPOKSEMIA ± FIO2 rendah (ketinggian tempat) ± Gangguan difusi ± Hipoventilasi alveolar ± Ketidakseimbangan [V/Q] ‡ Rasio V/Q rendah (perfusi yg terbuang.

Mekanisme Hipoksemia & Hiperkania pd Gagal napas ‡ HIPERKAPNIA ± Hipoventilasi alveolar ± Ketidakseimbangan V/Q ‡ Efeknya kecil selama keseimbangan V/q dari alveoli yg berfungsi secara keseluruhan memadai .

MANIFESTASI KLINIS Hiperkapnia ‡ Somnolen ‡ Letargi ‡ Koma ‡ Asteriks ‡ Tidak dapat tenang ‡ Tremor ‡ Bicara kacau ‡ Sakit kepala ‡ Edema papil Hipoksemia ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Ansietas Takikardia Takipnea Diaforesis Aritmia Aritmia Perubahan status mental Bingung Sianosis Hipertensi hipotensi .

PEMERIKSAAN ‡ Pemeriksaan laboratorium ± Hitung darah lengkap ± serum kreatin kinase ± Troponin ± serum thyroid-stimulating hormone ‡ Pemeriksaan penunjang ± Radiografi dada ± Ekokardiografi ± EKG .

PRIORITAS DAN PRINSIP PENANGANAN GAGAL NAPAS Prioritas 1 Masalah Sekret yg tertahan Penanganan ‡Hidrasi memadai. aerosol ‡Batuk yg dibantu aspirasi dg kateter ‡Penyedotan bronkoskopik ‡Aspirasi dg selang endotrakeal ‡trakeostomi Terapi O2 yg bertahap dg pemantauan gas darah ‡Perangsang respiratorik ‡Hidrasi sedasi ‡Ventilasi buatan melalui selang endotrakeal atau trakeostomi Antibiotik Obat bronkodilator (isoproterenol) dg terapi inhalasi (aminofilin) dan obat kortikosteroid Diuretik & digoksin 2 3 Hipoksemia Hiperkapnia 4 5 6 Infeksi saluran napas Bronkospasme Gagal jantung . ekspektoran.

TERAPI FARMAKOLOGI ‡ Diuretik ± Furosemide ± Metolazone ‡ Bronkodilator ± ± ± ± Terbutaline Albuterol Theophylline Ipratropium bromide ‡ Nitrat ± Nitroglycerin ± Nitroprusside sodium ‡ Kortikosteroid ± Methylprednisolone ‡ Analgesik ± Morphine sulfate ‡ Inotropik ± Dopamine ± Norepinephrine ± Dobutamine .

KOMPLIKASI ‡ ‡ ‡ ‡ Emboli paru Barotrauma Fibrosis paru Perdarahan gastrointestinal ‡ Distensi lambung ‡ Ileus ‡ Diare ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Pneumoperitoneum Pneumonia Infeksi traktus urinarius Hipotensi Penurunan cardiac output Aritmia Perikarditis Infark miokard akut Gagal ginjal akut .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful