ASPEK SPIONASE DALAM PERANG DIPONEGORO (1825 – 1830

)
Saleh A. Djamhari*, Tutie.Artica@yahoo.co.id,
Abstrak - Diponegoro bercita-cita membangun masyarakat baru berdasarkan Qur’an dalam wadah Balad Islam melalui Perang Sabil. Ia membangun kekuatan bersenjata dan moral pengikutnya melalui conspiracy of silence selama 12 tahun. Ia juga membangun aparat intelijen yang tangguh yang disebut Pacalang dan Kajineman. Jaringan mereka ada di semua jajaran pemerintah Kesultanan Yogyakarta. Pada saat Tentara Hindia Timur Belanda (NOIL) menyerbu Tegalrejo pada bulan Juli 1825, Diponegoro telah siap menghadapinya. Sebaliknya Tentara Hindia Timur dipimpin oleh Jenderal de Kock, karena kurang mengenal medan merekrut pribumi untuk diangkat sebagai spion. Melalui informasi para spion, NOIL melakukan operasi pengejaran untuk menangkap Diponegoro. Upaya ini gagal karena para Pecalang dan Kajineman memiliki kemampuan dan kualitas yang tinggi. Hanya dengan pendekatan budaya Diponegoro berhasil dibujuk untuk “berunding”. Abstract - Diponegoro aspire to build a new society based on the Qur'an in Islamic Balad container through Sabil War. He built the armed forces and the morale of his followers through a conspiracy of silence for 12 years. He also built a formidable intelligence apparatus called Pacalang and Kajineman. Their networks exist at all levels of government to the Sultan Yogyakarta.Pada when the Dutch East Indies Army (NOIL) Tegalrejo invaded in July 1825, Diponegoro was ready to face it. Instead East Indies Army led by General de Kock. Because the less familiar terrain to recruit native to be appointed as a mirror. Through the mirror information, perform NOIL pursuit operation to capture Diponegoro. This effort failed because the Pecalang and Kajineman have the ability and high quality. Only with a cultural approach Diponegoro was persuaded to "negotiate". Kata Kunci : Balad Islam, perang sabil, conspiracy of silence, morale

PENDAHULUAN Makalah yang disajikan dalam jurnal ini, mengangkat satu topik yang jarang dan luput dari perhatian peneliti, karena kelangkaan sumber sumbernya. Penulis mencoba melakukan identifikasi, rekonstruksi, mengeksplotasi, mengeksplorasi dan menginterpretasi aspek dan peranan kelompok yang tertutup ini berdasarkan sumber sumber yang ditemukan. Spioen (Jawa) didefinisikan sekelompok orang atau seseorang yang ditugasi melaksanakan operasi intelijen, guna mencari informasi tentang musuh (kedudukan, kekuatan dan
* Dr. Saleh A. Djamhari merupakan dosen di Prodi SSPS Unhan.

mobilitas), tentang medan (yang belum dikenal sebelumnya), mengenali para pemimpin musuh (wajah, karakter dll) juga melakukan disinformasi (penyesatan), sabotase obyek-obyek vital strategis. Intensitas peranan mereka, dapat mempengaruhi jalannya suatu peperangan. Pada kerajaan Jawa peranan spioen sudah amat dikenal sekalipun bukan melaksanakan kontra operasi intelijen namun untuk kepentingan kelompok (intrik). Peran spioen yang terkenal pada pertengahan abad 19 adalah berhasil dibunuhnya Sultan Hamangkubuwono IV

Universitas Pertahanan Indonesia

1

bahkan memperkuat kesan negatif pihak kraton dan pemerintah Hindia Belanda terhadap Diponegoro untuk melindungi aktivitasnya. namun tidak menentangnya secara terbuka. berencana memanfaatkan orang-orang pribumi yang terseleksi dengan bayaran yang mahal sebagai spion. baru disadari oleh pejabat pemerintah Hindia Belanda pada bulan Juli 1825. penulis ingin menyajikan kisah “pertempuran sunyi senyap” yang diperankan oleh para spion dan spioen dari kedua belah pihak. 188). Operasi spioen Diponegoro Tidak ada sumber yang ditemukan mengenai organisasi aparat intelijen. Bagaimana Diponegoro mendidik spioen. Peristiwa ini menggemparkan masyarakat. Conspiracy of silence yang berlangsung hampir 12 tahun. yang taat beragama. pertama. teguh dalam pendiriannya. Diponegoro dengan cermat membangun jaringan rahasia dengan merekrut spioen. tanpa bantuan peta dan hanya informasi yang samar-samar tentang wilayah Kesultanan dan kekuatan lawan. Di samping kisah gegap gempitanya pertempuran di pelbagai medan yang telah banyak ditulis. Kehidupannya di masa remaja. sebagai Hamangkubuwono III. semakin mempertajam konflik antar bangsawan kelompok Kasepuhan dan Karajaan.(Desember 1822). juga ketika Diponegoro berada di Tangkilan Sang Nata nimbali age marang ingkang Kajineman sadika wastanira kinen lumebeta marang ing lanat pondhoke“ Dengan hanya berbekal dua kata kunci itu. Peristiwa pembunuhan ini menjadi salah satu causal factor pecahnya Perang Diponegoro. membentuk pribadinya menjadi manusia fanatik. Untuk merealisasi citacitanya. karena Diponegoro sendiri sangat ketat memegang teguh rahasia dan menghukum berat pembocor rahasia. teguh memendam rahasia. Setibanya di Surakarta de Kock menyusun rencana operasi. satu domein lain dari sejarah perang. karena aktivitas dan kemampuan mereka luar biasa. Para spioennya berhasil melakukan disinformasi dalam pelbagai hal. juga tidak ada sumber yang ditemukan. Dalam rencana operasinya Jenderal de Kock memprioritaskan merebut kembali Yogyakarta. yang tercermin pada perilaku dan praktik kepemimpinannya. 228). menyusun strategi dan rencanarencana operasi perangnya. karena tidak setuju kebijakan ayahnya. tanpa diketahui dan bisa dibuktikan aktivitasnya oleh aparat keamanan Kesultanan dan Pemerintah Hindia Belanda. pacalang (Babad II. sekalipun dalam tingkat rumor. Mengapa? Sejak ayahnya naik tahta. 1983. kajineman (Babad II. sudah barang tentu sejarawan sulit merekonstruksi struktur institusi yang penuh kerahasiaan ini. Tuduhan kuat dialamatkan kepada Diponegoro. 1983. Perubahan masyarakat hanya bisa dilakukan dengan perang sabil. 215). “Mangkana sampun prapta. membangun kekuatan militer. melatih prajurit prajuritnya secara clandestine. bahwa dirinya tertipu setelah pasukan Diponegoro yang berhasil memasuki Yogyakarta. Diponegoro mengisolasi diri. yang dalam sejarah militer dikenal sebagai conspiracy of silence. Dalam Babad ditemukan hanya dua nama sebagai pembukanya. Dalam 2 Universitas Pertahanan Indonesia . Ia mempunyai visi dan cita-cita sendiri tentang suatu negara dan masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Letnan Jenderal de Kock sebagai panglima operasi untuk memadamkan pemberontakan. ing Tangkilan pacalang atur uning iku dhumateng Sri Naranata yen Laknatullah nututi kedua. yang dibangun oleh Diponegoro. Pasukan Hindia Timur terkepung di dalam kota dan pemberontakan meletus di pelbagai tempat di wilayah Kesultanan. 1983. Pemerintah Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin ayahnya yang kemudian digantikan adiknya dianggapnya telah “menyimpang” dari nilainilai budaya Jawa dan melanggar hukum agama Islam serta menyerahkan kedaulatannya kepada Pemerintah Hindia Belanda. Ia bercita cita membangun suatu masyarakat baru yang terwadahi dalam balad (negara) Islam (Babad I.

Arsip Koleksi H. Selain informasi tentang Diponegoro dan pejabatnya. para spion diperintahkan membuntuti “perjalanan” Diponegoro. Tawanan atau spion dianggap sumber pembocor rahasia. sebagai berikut: “Kawulo abdi dalem pun Pancatnyana Kawula kakersaaken utusan anitik pasanggrahanipun Pangeran Diponegoro dhateng ing dusun Jeksa” Ia mengutus seorang bawahannya bernama Ki Sapengawat. adalah kata peringatan dan ancaman terhadap pejabatnya yang mbalelo dan pembocor rahasia. Sejak awal perang. Diponegoro memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan markas komando di desa Selarong (bukan Gua Selarong) dan cadangannya di Jekso.” (ARA. ditemukan laporan tertulis pada 1826 dari “koordinator” spion bernama Ngabehi Pancayatna bersama timnya yang ditugasi mengamati desa Jekso (Dekso). ia juga memperoleh informasi perintah Diponegoro. Ia dijatuhi hukuman mati karena mengetahui surat rahasia Residen Kedu Van Valck kepada Diponegoro.M. Dalam perang ini tidak mengenal kata “tawanan perang”. hukuman langsung dijatuhkan. “Yen wonten mengsah medal. Jenderal De Kock berpendapat bahwa peranan spion amat berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi militernya. “Lan maneh pepajalingsun marang sira aja angalaaken wong kang becik lan aja ambecikaken wong kang ala lan aja anganiaya wong akeh Tabayan (purapura) ora mitahu seunine nuwalaningsun ini amasthi nemu bilahi kang luwih abot. de Kock. Jenderal de Kock mengkompensasikan dengan informasi tentang musuh dan medan berasal dari para spion yang direkrutnya. 230). Kemudian mereka berjalan keliling desa. Organisasi dan Operasi Intelijen Tentara Hindia Timur (NOIL) Sekalipun tanpa mendapatkan peta yang lengkap mengenai medan di wilayah Kesultanan. Sebaliknya pihak Belanda yang berusaha memburu dan menangkapnya selalu gagal. karena Diponegoro memperoleh informasi yang cepat dan akurat dari para spioennya. yakni langsung dipancung. tidak ada sumber yang ditemukan. datang ke rumah familinya bernama Amat Rupangi. penulis “menangkap” pendirian Diponegoro. Para pengikutnya dipanggil melalui para spioen agar berkumpul di Selarong sewaktu-waktu pecah perang. salah satu markas Diponegoro. Selanjutnya memerintahkan melakukan pembelian padi dan beras secara besar besaran.” Universitas Pertahanan Indonesia 3 . Salah satu kasus terjadi pada Pangeran Karim Ario Bintoro. ia memperoleh informasi mengenai letak penginapan Diponegoro dan pengikutnya. Serie 14) Nemu bilahi kang luwih abot. untuk membuktikan kebenaran percakapan itu. Kegagalannya dalam melaksanakan operasi pengejaran terhadap Diponegoro (1825-1827). Meningkatnya peran para spioen ini dimulai dari sesudah insiden penutupan jalan ke Tegalrejo (1825) oleh Patih Danurejo. Laporan ditujukan kepada Jenderal De Kock.satu surat keputusan yang ditemukan dalam Arsip pada 1826. mobilisasi massa dan membagi bagi mandala perang (16 mandala). Sekalipun struktur organisasinya tidak pernah terungkap. Dari sumber Arsip. yen kuwawi kakersaaken narungi. 1853. dengan dua kali kekalahan (Kejiwan dan Delanggu Agustus 1826) dan sekali memenangkan pertempuran di Gawok (Oktober 1826). Bahkan para spioen ditugasi melakukan pembelian senjata api (geweren) dan penimbunan mesiu. yen mboten kuwawi kakersaaken nilar lumajar. berarti nemu bilahi kang luwih abot. Bagi pembocor rahasia atau pendengar rahasia yang ketahuan. namun aktivitasnya yang observable adalah peristiwa yang bisa diinterpretasi yang berbeda. Dalam percakapannya dengan Rupangi. apakah berasal dari pacalang atau kajineman. tentang perang gerilya. Persiapan Diponegoro untuk perang sabil melalui conspiracy of silence sangat matang baik di wilayah nagara maupun di mancanagara. Namun Karim berhasil melarikan diri. (Weitzel II.

Pola operasinya berubah dari operasi penangkapan dan pengejaran ke operasi pembujukan dan operasi pengejaran sekaligus. kecuali pimpinannya. De Kock menangkap nuansa morale disintegration pasukan Diponegoro. Tentu saja nama kedua ulama itu tidak tercatat dalam sejarah. Mereka berangkat dari desa Joholanang. Tujuannya untuk mengurangi jumlah korban pasukannya. Residen Surakarta MacGillavrij menyelundupkan dua orang spion berpredikat ulama terpercaya ke markas besar Diponegoro di Pajang. Stavers bertindak sebagai utusan resmi Jenderal de Kock.Rupanya masuknya spion NOIL ini “tercium” oleh spioen Diponegoro. William Stavers bersama seorang Arab bernama Ali Chalif. wilayah pasisir harus diserahkan kembali kepada Kesultanan. orang Belanda harus memeluk agama Islam. direkrut secara diam diam ditugasi untuk menemui Kyai Mojo salah seorang center of gravity perang. mengeksploitasi kondisi konflik ini dengan melakukan pendekatan terhadap Kyai Mojo. sebuah markas Diponegoro di Pajang dengan dikawal 1000 prajurit. “to capture of whatever they prize most”. yang disebar di pelbagai medan dan dikendalikan sendiri oleh de Kock. Pertama. Babad II. 1983. Beberapa kali utusan dikirim secara rahasia untuk membujuk sampai Kyai Mojo setuju bertemu dengan William Stavers yang telah mengenal Kyai Mojo sebelumnya. Dalam pertemuan ini Kyai Mojo hanya menyampaikan pesan Diponegoro. MacGillavrij dan de Kock menyimpulkan telah terjadi konflik pendapat antara Kyai Mojo dengan Diponegoro. pihak Diponegoro sebenarnya menolak menghentikan perang. Antara pasukan yang berasal dari Mataram dan Pajang terjadi konflik. ia mengubah strateginya. Seorang Inggris. Diponegoro telah meninggalkan desa ini (Juli 1826). Hasil pertemuannya dengan Stavers dilaporkan oleh Kyai Mojo kepada Diponegoro. Pasukan dari Mataram dituduh tidak berani berperang sebaliknya pasukan Mataram menuduh pasukan Pajang berperang untuk mencari kekayaan. Diponegoro ingin membangun morale 4 Universitas Pertahanan Indonesia . Ketika Jekso (Dekso) diserbu. yang mengintroduksi sistem benteng (Benteng Stelsel). Dari laporan kedua ulama spion itu. Kedua. Karena Diponegoro mengenali watak Kyai Mojo yang lemah terhadap bujukan dan iming-iming. bekas pengusaha perkebunan di Pajang. untuk menyampaikan syaratsyarat penghentian perang. dengan sasaran para pimpinan tertinggi dan para komandan pasukan Diponegoro yang prominent. Jenderal de Kock memperkuat operasi tempur sekaligus operasi intelijen dengan melipat gandakan jumlah spion. (Louw III. bahwa Diponegoro setuju penghentian permusuhan asalkan kedua belah pihak tetap tinggal (stand fast) di pos masing masing. orang Belanda boleh tetap tinggal di Jawa tetapi dilarang berdagang. saling tuduh menuduh. Isi pesan tersebut terdiri atas tiga masalah. Ketiga. Mengapa Diponegoro tiba-tiba setuju penghentian sementara permusuhan? Sejak kekalahannya di Gawok (Oktober 1826) pasukan Diponegoro mengalami morale disintegration. Dalam Rencana Operasi 1827. Kemudian ia menulis surat kepada Stavers. bahwa tujuan perangnya hanyalah untuk memuliakan agama Islam. satu bulan sesudah pertempuran Gawok (Oktober 1826). 11-12) Kemudian Kyai Mojo menyatakan kepada Stavers. ia melakukan “pertempuran yang senyap”. di suatu desa di wilayah Pajang pada bulan Agustus 1827. Sejak 1827 Strategi Stelsel Benteng diberlakukan. Stavers menangkap isyarat ini. sebagai syarat untuk menghentikan peperangan. Dua orang Mataram Pangeran Ngabei (Bei) dan Pangeran Ngabdul Majid diperintahkan untuk mendampinginya. 258. Rencana pertemuan direstui oleh Diponegoro. Sebelum itu. De Kock menyadari bahwa perang melawan pemberontak yang mobilitasnya tinggi dan tidak memiliki center of gravity. Dalam suasana demikian pada 1827 Diponegoro memutuskan untuk meninggalkan wilayah Pajang dan pasukannya dikonsentrasikan di Mataram. 1904. terutama setelah ia mendapat kritik dari pejabat-pejabat sipil. Kyai Mojo diperintahkan hanya sebagai utusan Diponegoro.

Kritik dari pejabat sipil tak kalah gencarnya. yaitu suatu elemen emosi untuk memperkuat solidaritas dan percaya diri (Andre Beaufre. para prajurit Hindia Timur juga mengalami kelelahan yang luar biasa. 1983. Para Residen ikut membantu. saudara Mangkuwijoyo bupati Kutagede dan pimpinan pasukan Bulkiyo di wilayah Gunung Kidul ikut terbujuk. Te Klepo en Tjebongang zijn Tomogong’s Tjago Pernolo 2/ Kogo Sonoen 3/ Kerto Patro met 100 man en in de Dessa Soempie. Sagung senopati ingkang agung ing santosa ing prangpan sinukan surat samin nanging mungel saking Residen sadaya (Babad I. Sebaliknya banyak komandan pasukan yang menolak bujukan para spion dengan dalih sebagai kurir residen. Beban logistik menghantui staf logistik karena membengkaknya konsumsi. Pangeran Purboyo dari Surakarta ikut membujuk Kyai Mojo melalui surat. Kyai Mojo menjawab: “tidak ada raja yang berbaik budi yang mengangkat derajat ulama. Seorang sahabat Kyai Mojo. 201). selain Sultan Hamid (Diponegoro)”. van Tjebongang zijn insgelijks 100 man den Pangerang Pakoe di Ningrat gevestigd. Bahwa Pangeran Pakudiningrat sedang berhenti istirahat di desa Cungranang (Junggrangan) bersama 75 orang. Juga faktor logistik dan pelayanan kesehatan yang buruk. 1965. Operasi “pertempuran senyap” dilanjutkan tidak hanya terhadap center of gravity. Di medan Mataram ternyata relasi antara prajurit dan masyarakat semakin kuat. Sejumlah spion dihukum pancung oleh komandan pasukan yang menolak ajakannya. 415) Dikembalikannya Sultan Sepuh (Hamangkubuwono II) ke tahtanya (1826) tidak banyak berpengaruh. De Kock dituduh mengorbankan nyawa prajurit dengan sia-sia. ikut mempersulit posisi de Kock. terpengaruh saudaranya. Hanya Tumenggung Mangkuwijoyo. Tampaknya seperti pemalas sebenarnya mereka adalah prajurit gerilyawan yang tangguh. Para prajurit ini berperang melawan pemberontak sekaligus melawan alam. setelah Residen Lawick van Pabst mengirim sejumlah spion untuk membujuknya selama dua bulan. Prakiraan strategi Diponegoro tidak keliru. Seperti prajurit Diponegoro. 20). Satu kolone harus menyediakan logistik untuk 1000 orang setiap hari bagi hulptroepen bersama istri dan anak anaknya (Weitzel. 7 Oktober 1828. De Kock kemudian menawarkan sejumlah uang sekiranya Kyai Mojo mau berunding di suatu tempat. sebagai contoh laporan Kapten Ten Have. N. anak Pangeran Mangkudiningrat yang terang-terangan mbalelo tatkala berada di Sambiroto. De Kock memerintahkan para komandan kolone untuk langsung melaporkan kedudukan para pimpinan utama lewat laporan para spion. 1983.endurance bagi prajuritnya. dengan sasaran para komandan pasukan Diponegoro yang prominent. darah yang tertumpah dalam perang untuk memperkuat keyakinan agama berdasarkan Qur’an (Babad II.W. Notoprojo menantu Ki Ageng Serang. Sukses dengan “pertempuran senyap” tahun 1827 diintensifkan pada 1828. Jenderal de Kock tidak berputus asa. karena karakter orang Jawa sulit diduga. Penambahan jumlah spion menjadi pilihan utama de Kock. Musuh yang berpangkalan jauh di pedalaman dapat dijangkau hanya dengan melewati gunung dan hutan sehingga energi terkuras. Di Klepo dan Tjebongang (Cebongan) Temenggungnya Tjago Pernolo (Gagah Universitas Pertahanan Indonesia 5 . berupa surat Spion Tijdingen atau Ingekomen Tijdingen. tetapi terhadap pimpinan pasukan yang dinilai prominent. Komandan Kolone 2 di Kalibawang. Dari arsip yang ditemukan. Sulit membedakan lawan dan kawan. Kyai Mojo mengirim utusan ke markas de Kock di Salatiga. II. Dalam Babad disebutkan. Dat den Pangerang Pakoe di Ningrat zicht te Tjoengranang ophoud met 75 man. 144). Penghematan anggaran belanja yang dicanangkan oleh Komisaris Jenderal Du Bus. Apa maksud Kyai Mojo mengirim utusan itu tidak ada sumber yang ditemukan. Dalam Babad Diponegoro dikisahkan. 1855. Morale dan militansi prajurit asal Mataram bangkit kembali setelah memasuki wilayah Kesultanan. Ia menyerah pada bulan Juli 1827. Pada 22 September 1827.

namun pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan. Perbuatan Kyai Mojo dinilai sebagai perbuatan orang yang takut mati. karena Kolonel Cleerens telah membuat jalur keamanan. Sebelum berangkat Kyai Mojo mengirim beberapa spioen ke Pajang Selatan di wilayah yang dikuasai oleh Pangeran Mangkunegoro. Peran para spion dan spioen ikut menentukan kelanjutan “pertempuran senyap” ini. Singowongso diperintahkan melakukan serangan di Ledok (Wonosobo).S. semakin memuncak setelah Jenderal de Kock mendeklarasikan “actieve oorlog” yang dijawab oleh Diponegoro dengan “prang betoel”. bertepatan pada bulan Puasa (Maret 1828). Aktivitas para spioen terbongkar karena “pengkhianatan” seorang bekel Karangmojo yang bernama Joleksono. de Klerck. agar mempersiapkan pemberontakan. Sedangkan Kyai Barnawi pernah sakit hati kepada Diponegoro yang menurunkan pangkatnya dari Penghulu menjadi modin. Sejak itu pengawasan spion terhadap aktivitas Kyai Mojo ditingkatkan. Conspiracy of silence. Kemudian ia mbalelo. Kyai Mojo diperintahkan kembali ke Pajang. De Kock tetap menginginkan Kyai Mojo untuk ditangkap. di tengah jalan ia berubah sikap. Sosrodilogo berhasil merebut dan menduduki Rajegwesi. 1905. Imam Musbah. Antara lain Demang Matesih.Pernolo) Kagosono dan Kertopatro bersama 100 pengawalnya dan di desa Sumpi. Tumenggung Sosrodilogo diperintahkan untuk berangkat ke Jawa Timur. Eskalasi perang pada akhir 1827-1829. Kyai Mojo meminta beberapa syarat untuk menghentikan perang. Kyai Mojo meninggalkan Sambiroto menju ke Pajang dikawal pasukan Mataram di bawah Alibasah Ngusman. Kyai Amat Asman (E. Mas Lurah berhasil menguasai wilayah lembah Gunung Prahu. untuk menangkis serbuan infiltran dari medan Bagelen. barat laut Cebongan. Sejumlah 33 orang demang dan bekel yang dihubungi. Diponegoro amat marah. Serbuan pasukan Diponegoro ke kedua medan tersebut tidak pernah diduga oleh Jenderal de Kock. Wironegoro menyanggupi. dan menguasai wilayah pantai utara Jawa Tengah bagian timur pada awal 1828. Para spioen menyampaikan surat Kyai Mojo yang ditujukan kepada para demang dan bekel. yang dinilai sebagai de bitterste vijand (pimpinan musuh yang ditakuti) karena dialah penerjemah keinginan Diponegoro. Dengan bantuan para spioen. Pertemuan di Melati terjadi pada 31 Oktober 1828. Konflik Diponegoro – Kyai Mojo semakin tajam. Para spion telah mencium rencana perjalanan Kyai Mojo. 100 orang bergerak menuju tempat Pangeran Pakudiningrat. Karena segan dikawal pasukan Mataram. 6 Universitas Pertahanan Indonesia . Bekel Kebak. Hubungan transportasi darat antara Semarang dan Surabaya terputus. Tumenggung Kertowinangun (Mas Lurah). yang melapor ke Pangeran Mangkunegoro. Demang Renating. 529). menghubunginya. dikawal dengan 300 Bulkiyo dan 500 prajurit biasa yang dipimpin oleh Alibasah Usman. Kyai Mojo setuju. Beberapa orang bekel yang pernah dihubungi oleh utusan/spioen Kyai Mojo ditangkap. Kyai Mojo dibebaskan dari jabatannya sebagai guru utama tetapi anaknya Sis diangkat sebagai Tumenggung bersama Kyai Karang dan Kyai Baderan. Atas kewaspadaan spioen para pimpinan pasukan Diponegoro meloloskan diri. Ia menyerah atas bujukan seorang ulama spion. Seorang muridnya yang menjadi spion bernama Kyai Barnawi. membujuk agar ia menerima tawaran penghentian perang dari Mayor Wironegoro komandan pasukan Kraton di Melati (Sleman). memerintahkan memanggil kembali Kyai Mojo. Kyai Mojo di Pajang gagal. karena Mayor Wironegoro adalah teman seperguruannya di Pesantren Kalang. kemudian diserbu oleh hulptroepen Arafuru. Kyai Mojo menulis surat kepada Diponegoro yang berada di Pengasih. serta meminimalisi kekuatan di Mandala Barat (Mataram). Setiap demang atau bekel diajak mempersiapkan 60-200 orang. dengan tugas merebut Rajegwesi (Bojonegoro) dan menghancurkan angkutan logistik di Bengawan Solo yang diangkut ke medan Mataram. Mereka mengaku dihubungi oleh seseorang yang mengaku bernama Singojoyo. Desa Junggrangan terletak di pegunungan Kelir di perbatasan wilayah Mataram dan Bagelen.

Sentot menuntut agar perundingan dilakukan dengan Nahuijs saja. Sentot meminta Nahuijs. De Kock marah besar atas gagalnya perundingan. komadan pasukan Kraton Solo. Karena dalam suratnya. sering kali bertindak brutal. Tinggal seorang lagi yang dianggap center of gravity peperangan. 184). ditempatkan di luar jajaran kepemimpinan perang. Mataram dan Bagelen. Sentot lebih tahu: “Yen Kyai Guru ing Maja kacepeng ing Welandi wonten ing Sela. Alibasah Sentot Prawirodirjo. 6). yang berada di Bagelen. tidak mengijinkan Sentot atau Pakuningrat datang berunding di Turus. I. Dalam pertemuan tersebut. Sentot menulis surat kepada Nahuijs yang isinya sangat singkat. Nahuijs tidak hadir tetapi Roeps dibebaskan. pasukan Le Bron menyergap dan menangkap Kyai Mojo. de Kock. Ia tiba pada Januari 1829. Tanpa diduga.menghina para rekan-rekannya yang gugur dalam perang sabil. Mengenai tertangkapnya Kyai Mojo. Perundingan direncanakan di desa Turus. Dan menantang Pangeran Kusumayuda. terutama Pangeran Kusumayuda. Dari benteng Cengkawak. damai. pimpinan pasukan Kraton Solo. spion ini mengirim surat kepada Sentot yang “memberitahukan” bahwa Kyai Mojo telah tertangkap. Pihak Diponegoro Universitas Pertahanan Indonesia 7 . 1835. kang kautus bucal abdi dalem kanca Temenggung kalih”. yang kemudian disusul dengan Basah. ditolak oleh de Kock. Sentot sangat membenci orang-orang Solo. Kapten Roeps yang datang ke markas Sentot ditahan sebagai sandera. Jenderal de Kock tidak berputus asa. Komisaris Kraton Surakarta. yang diberi wewenang untuk menentukan terus berperang atau berdamai. Sentot ingin bertemu dengan Nahuijs di Kalibondol pada pukul 10 pagi. Arsip Koleksi H. (ARA. Dari Melati rombongan Kyai Mojo menuju Pajang. Seminggu kemudian de Kock sendiri memprakarsai perundingan. Nahuijs dilarang bertemu dengan Sentot. tidak menjadi kenyataan. Dullah dan Seh dan Sentot adalah Panglima Tentara (Senopati) ing Lapangan. punika paman menggah Kyai Guru ing Maja sampun boten kangge. apakah ia mengatas namakan orang-orang Solo atau pemerintah. Serie 14 Volgnr.M. (De Stuers. “Hanya Tuhan dan senjata kita yang akan menghukumnya” (Nahuijs. Hubungan dengan Sentot tidak diputuskan. tetapi yang berunding bukan Sentot tetapi Pangeran Pakuningrat. Kyai Mojo kemudian dibawa ke Salatiga. Kedatangan Nahuijs dipertanyakan oleh Sentot. Roeps menyarankan kepada de Kock agar perundingan dihentikan. yaitu. 1847. menawarkan janji damai di seluruh medan Pajang. Ia menulis surat kepada Sentot lengkap dengan gelarnya. ikut berunding. surat de Kock mendapat jawaban positif dari Sentot dan menawarkan jangka waktu perundingan selama tiga bulan. Kyai Hajali bersama Kapten Roeps berhasil menemui Alibasah Sentot di desa Kalibondol (Kulon Progo). Diponegoro setelah mempelajari secara cermat surat de Kock. Kyai Hajali (Gozali) adik Kyai Mojo diperintahkan menemui Sentot. Jawaban Sentot dengan keras menolak ajakan menghentikan perang. Penangkapan Kyai Mojo yang diperkirakan oleh de Kock mempunyai pengaruh terhadap jalannya perang. de Kock hanya ingin membicarakan tiga hal saja. Pada dinihari tanggal 11 November 1828. Ternyata di tempat itu telah berkumpul para pimpinan pasukan Diponegoro. selama Roeps belum dibebaskan. membakar desa-desa yang diperkirakan sebagai pangkalan pasukan Sentot. lajeng kabucal dhateng ing tanah Pajang. Setibanya di Gamplong. 271). dan meminta Ansori dan Pangeran Arya Blitar ke luar dari kekuasaan Belanda. Alibasah adalah pangkat tertinggi (Jenderal ?) dalam jajaran Angkatan Perang Diponegoro. bernama Seh (Amirul Arabi) Akhmad al-Ansori (tertulis dalam huruf Jawa Tuwan Seh Amirul Karbisakmadul Anjari). Kapten Arab. berunding atau melanjutkan perang. Rupanya Sentot memanggil para komandan pasukannya. Pendekatan terhadap Alibasah Sentot melalui seorang seorang spion. secara diam-diam diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Sudah lama Kyai Mojo. Nahuijs diperintah oleh de Kock menuju benteng Gamplong.

1983. [8] Nahuijs. Tiga minggu setelah pertempuran Siluk.M.M. 1894. para spion melaporkan bahwa Diponegoro berada di desa Kemiri (Bagelen).M. Arsip Koleksi H. Arsip Koleksi. Serie 14. Buku [4] Beaufre. Breda. De Oorlog op Java van 1825 tot 1830. H. Kapten Bauer menerima laporan dari spionnya. de Klerck V. tidak mampu menangkap tokoh tokoh yang menjadi center of gravity perang. Pada 24 Oktober 1829. Volgnr 9.M. Akhirnya dengan perantara Pangeran Notoprojo. Landsdrukkerij. Babad Dipanegara ing nagari Ngayogyakarta Adiningrat. Landsdrukkerij.S. jilid I.F. jilid V (1908). Broese en Comp. 1835. Serie 14 Volgnr.melakukan redislokasi pasukan. P. baik melalui “pertempuran gegap gempita” maupun “pertempuran senyap”. de Kock. jilid III. M. De Java Oorlog van 1825-30. André‚ General d'Armée. De Java Oorlog van 182530. 6 [3] ARA. Akhirnya Diponegoro setuju mengakhiri perang dengan berunding. New York.. untuk membujuk Diponegoro agar mengakhiri perang. Diponegoro meloloskan diri ke arah barat dan Sentot ke arah selatan ke Imogiri. di Yogyakarta diadakan upacara resmi penyerahan Alibasah Sentot. Pangeran Mangkubumi telah bertemu dengan Diponegoro di Kalibeko. “Pertempuran senyap” antara kedua belah pihak berakhir seimbang. 1908. jilid VI (1909). E. Sasaran pada spion beralih ke Pangeran Mangkubumi. 1897. 1904. [7] Louw. Deventer. terjadi pertempuran yang menentukan (decisive battle) yang dipimpin oleh Diponegoro dan Sentot. de. Ambaristi dan Lasman Marduwiyota). Diponegoro dan para spioen anak buahnya tercatat dalam sejarah telah sukses menandingi operasi intelijen 8 Universitas Pertahanan Indonesia . demikian pula Jenderal de Kock.. Sentot menyatakan bersedia menghentikan permusuhan dengan tujuh syarat. “Pertempuran senyap” berakhir bersama dengan kedatangan Diponegoro di Remokawal pada 16 Februari 1830. Serie 14. Ballot. Batavia.S. Pada spion terus membuntuti perjalanan Sentot atas perintah de Kock. jilid I dan II (salin aksara Ny. Jakarta. de Kock. H. lawan (kontra intelijen) yang disebut di sini sebagai “pertempuran senyap”. Desa ini dikepung dari segala penjuru dengan kekuatan tiga kolone. Arsip Koleksi. [9] Weitzel. jilid II. Verzameling van Officielle Rapporten Betreffende den Oorlog op Java in de jaren 1825-1830. de Kock. Jenderal de Kock mengirim sejumlah spion. Dra. Serie 14 [2] ARA. jilid I. de Kock.W. Mangkubumi menolak melanjutkan perang. Diponegoro dan Sentot mengkonsentrasikan kekuatannya di bukit sekitar Selarong di desa Siluk (Selo). jilid IV (1905). Arsip Koleksi H. (ARA. An Introduction to Strategy. DAFTAR REFERENSI Arsip [1] ARA. Pada 17 September 1829.P. Batavia. Para spion NOIL yang telah bekerja keras. Semua syarat yang diajukan dipenuhi. [6] Klerck. [5] Diponegoro. Frederick A. Kesempatan yang baik ini ditangkap oleh de Kock. 1965. A. E.J. 1855. Praeger. Sejak Agustus 1829. jilid I (1852) jilid II (1853). pasukan Diponegoro mulai terdesak di semua medan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Sentot beserta pasukannya yang berkekuatan 600 orang menyatakan menyerah pada 17 Oktober 1829. 45). Volgnr 9. KESIMPULAN Dalam perang peranan spion atau spioen sebagai aparat dari operasi intelijen dari kedua belah pihak sangat mempengaruhi jalannya perang..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful