Kedudukan Shahih Bukhari Di Sisi Sunni Dan Al Kafi Di Sisi Syiah

Created by : http://www.jaringiklanku.com/?id=adiluhur BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Kita sering mendengar istilah Islam Syiah, tetapi kadang lupa istilah Islam Sunni. Sunni atau Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah pemeluk Islam mayoritas di dunia. Jumlahnya mencapai 90% sedangkan Syiah hanya 10% dan terfokus di Republik Islam Iran. Sesuai namanya, Sunni berarti “orang-orang yang senantiasa menegakkan Islam sesuai dengan Al-Quran dan hadits, sesuai dengan pemahaman sahabat nabi, tabi’in (sahabat dari sahabat nabi), dan tabi’ut tabi’in (sahabat dari sahabat dari sahabat nabi). Diskusi tentang Syiah dan Sunni sampai hari ini menjadi diskusi tak berkesudahan, terkait dengan persoalan keyakinan, fikih, bahkan politik. Sering kali perdebatan dan saling tuduh terjadi lantaran sudut pandang yang bias. Agar kita mendapatkan sudut pandang yang jernih tentang hal ini, tentu kita mesti menengok terlebih dahulu sejarah Syiah dan Sunni, terutama pada era kekhalifahan, di mana kedua sekte (aliran) itu lahir, bergesekan dan berdampingan. Selain itu juga kita perlu mengetahui tentang kedudukan hadits dari Syiah dan Sunni, yaitu Al Kafi yang menjadi rujukan Syi’ah dan Shahih Bukhari yang Menjadi rujukan Sunni. B. PEMBAHASAN MASALAH 1. Apa itu Syi’ah dan Sunni? 2. Apa perbedaan dari Sunni dan Syi’ah 3. Bagaimana sejarah terbentuknya Syi’ah dan Sunni? 4. Apa itu Shahih Bukhari dan bagaimana kedudukannya di sisi Sunni? 5. Apa itu Al Kafi dan Bbagaimana kedudukannya di sisi Syi’ah? C. TUJUAN Dari latar belakan dan pembahasan masalah di atas terdapat beberapa tujuan yang akan di capai dari pembahasan ini yaitu : 1. Mengetahui tentang definisi Sunni dan Syiah. 2. Mengetahui Perbedaan dan Kontroversi antara Sunni dan Syi’ah. 3. Mengetahui kitab hadits yang menjadi rujukan Sunni dan Syiah. 4. Mengetahui kedudukan kitab hadits bagi Sunni dan Syi’ah

BAB II PEMBAHASAN

A. SEKILAS TENTANG SUNNI DAN SYI’AH 1. SUNNI Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah atau Sunni. Ahlussunnah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah. Arti secara terminologi Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat. Sejarah Sunni dimulai ketika ricuhnya perpolitikan yang mengatasnamakan Islam. Nabi Muhammad wafat sebelum menunjuk pengganti. Oleh karena itu, terjadi konflik tentang siapa yang paling pantas menggantikan beliau sebagai khalifah. Setelah ketegangan dan tarik-ulur selama dua hari sehingga menunda pemakaman jasad Nabi Muhammad, ditunjuklah Abu Bakar as-Shiddiq sebagai khalifah. Penunjukan ini tidak memuaskan beberapa kalangan. Bahkan, kalangan yang mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih sah menjadi khalifah kemudian memisahkan diri dan membentuk Syiah. Sementara itu, golongan yang lebih umum, kemudian disebut Sunni. Golongan ini hingga saat ini terbagi dalam empat mahzab berbeda. Yang perlu dicatat, empat mahzab tersebut tidak menandakan perpecahan. Perbedaan empat mahzab hanya terletak pada masalahmasalah yang bersifat “abu-abu”, tidak diterangkan secara jelas oleh Al-Quran atau hadits seiring dengan kemajuan zaman dan kompleksitas hidup muslim. Empat Imam utama Sunni yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka sama-sama mengambil ijtihad (upaya) dalam menyelesaikan masalah yang bersifat “abu-abu” tersebut. Adapun empa mahzab Sunni adalah sebagai berikut. a. Mahzab Hanafi Mahzab ini didirikan oleh Imam Abu Hanifah. Mahzab ini diikuti oleh 45% muslim dunia; jumlah yang paling besar di dunia. Penganut mahzab Hanafi kebanyakan terletak di Asia Selatan dan Asia Tengah. India, Libanon, dan Pakistan termasuk negara-negara yang berkiblat pada Imam Abu Hanifah. b. Mahzab Syafi’i Mahzab ini didirikan oleh Imam Syafi’i. Jumlah pengikutnya mencapai 28% muslim dunia. Umat Islam negara kita, Indonesia, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya (Malaysia, Brunei, Thailand, Singapura) berbasis pada mahzab ini. c. Mahzab Maliki Mahzab ini didirikan oleh Imam Malik. Penganutnya tersebar luas di daerah Afrika Barat

dan Utara. Jumlah pengikutnya mencapai 20% muslim. d. Mahzab Hambali Mahzab ini digagas oleh murid Imam Ahmad bin Hambal. Meskipun hanya dianut oleh 5% muslim dunia, mahzab inilah yang dipegang oleh negara Arab Saudi. Yang menarik, Arab Saudi yang didirikan oleh Klan Saud termasuk dalam negara yang juga berpegang teguh pada sikap eksklusif Wahhabiyah, yang kadang dikaitkan dengan “terorisme Islam”. 2. SYI’AH Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab Syi`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syi`i "Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali ???? ??? artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali kamu dan pengikutmu adalah orangorang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun). Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.[ Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab. Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah. Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah. Syi'ah terpecah menjadi tiga sekte yang masih ada sampai sekarang, yakni: a. Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam) Disebut juga Imamiah atau Itsna 'Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu: 1) Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin 2) Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba 3) Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid 4) Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin 5) Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir 6) Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq 7) Musa bin Ja'far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim 8) Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha 9) Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi 10) Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi

11) Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari 12) Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi b. Ismailiyah (Tujuh Imam) Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari 'Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma'il. Urutan imam mereka yaitu: 1) Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin 2) Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba 3) Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid 4) Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin 5) Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir 6) Ja'far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq 7) Ismail bin Ja'far (721 – 755), adalah anak pertama Ja'far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim. c. Zaidiyah (Lima Imam) Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu: 1) Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin 2) Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba 3) Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid 4) Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin 5) Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir. B. KONTOVERSI SUNNI SYI’AH Hubungan antara Sunni dan Syi'ah telah mengalami kontroversi sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para pengikut Bani Umayyah dan para pengikut Ali bin Abi Thalib. Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syi'ah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan. Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna "mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan sebagian sahabat yang mengikuti keduanya". Sebagian Sunni menganggap firqah (golongan) ini tumbuh tatkala seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang menyatakan dirinya masuk Islam, mendakwakan kecintaan terhadap Ahlul Bait, terlalu memuja-muji Ali bin Abu Thalib, dan menyatakan bahwa Ali mempunyai wasiat untuk mendapatkan kekhalifahan. Syi'ah menolak keras hal ini. Menurut Syiah, Abdullah bin Saba' adalah tokoh fiktif. Namun terdapat pula kaum Syi'ah yang tidak membenarkan anggapan Sunni tersebut. Golongan Zaidiyyah misalnya, tetap menghormati sahabat Nabi yang menjadi khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka juga menyatakan bahwa terdapat riwayat-riwayat Sunni yang menceritakan pertentangan di antara para sahabat mengenai masalah imamah Abu Bakar dan Umar. Sebutan Rafidhah ini erat kaitannya dengan sebutan Imam Zaid bin Ali yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada Khalifah

Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik bin Marwan di tahun 121 H. Syaikh Abul Hasan Al-Asy'ari berkata: "Zaid bin Ali adalah seorang yang melebihkan Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai'atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: "Kalian tinggalkan aku?" Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka "Rafadhtumuunii". Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam "Majmu' Fatawa" (13/36) ialah bahwa Rafidhah pasti Syi'ah, sedangkan Syi'ah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syi'ah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi'ah Zaidiyyah. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar'." Pendapat yang agak berbeda diutarakan oleh Imam Syafi'i. Meskipun mazhabnya berbeda secara teologis dengan Syi'ah, tetapi ia pernah mengutarakan kecintaannya pada Ahlul Bait dalam diwan asy-Syafi'i melalui penggalan syairnya: "Kalau memang cinta pada Ahlul Bait adalah Rafidhah, maka ketahuilah aku ini adalah Rafidhah". Dikotomi Syiah dan Sunni tidak pernah ada sebelum peristiwa tahkim (arbitrase) pada abad ke-1 H, yaitu perundingan damai antara Ali bin Abi Thalib, yang saat itu menjabat sebagai khalifah ketiga, dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang mengklaim sebagai khalifah. Kedua sahabat tersebut bertikai, bahkan berperang, dan menemui titik temu pada peristiwa tahkim itu. Sebagian pengikut Ali tidak sepakat dengan arbitrase ini. Mereka lalu keluar dari barisan pendukung dan membuat kelompok tersendiri yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij, yang malah balik menentang Ali. Sedangkan sebagian lagi bersikap sebaliknya: mendukung penuh Ali. Kelompok ini lantas dinamai Syiah, yang artinya “para pengikut.” Adapun umat Islam yang lain, yang tidak masuk dalam kelompok pendukung maupun penentang, disebut kelompok Sunni. Khawarij punah seiring zaman, sementara dua sekte yang lain tetap hidup. Pada perkembangan selanjutnya, kedua sekte ini mengembangkan perbedaan-perbedaan mereka kepada ranah teologi (keyakinan), fikih, dan sikap politik. Kaum Sunni sepakat bahwa para Khalifah Yang Empat (khulafaur-rasyidin) adalah sah, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sementara, beberapa kelompok Syiah hanya mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Menurut mereka, penerus sah kepemimpinan Muhammad Saw adalah Ali, lalu diteruskan kepada para imam yang suci dari kalangan Ahlul Bayt (keluarga Nabi Muhammad Saw). Dalam sejarah politik Islam, Syiah menjadi oposan (penentang) utama kekhalifahan Dinasti Umayah (abad ke-1 -2 H) yang Sunni, karena dianggap memusuhi ahlul bayt yang dalam Syiah disucikan dan diagungkan. Ketika Dinasti Umayah runtuh, Syiah sempat mendapatkan kekuasaan ketika turut serta mendirikan kekhalifahan Dinasti Abassiyah pada pertengahan abad ke-2 H. Namun, beberapa lama kemudian, Syiah menjauh lagi dari kekuasaan. Pada masa kekacauan pemerintahan Abassiyah, salah satu sekte Syiah, yaitu Ismailiyah (yang paling banyak dipermasalahkan oleh Sunni akibat keyakinannnya yang

menyimpang) menguasai Mesir dan mendirikan kekhalifahan Dinasti Fathimiyah di sana pada 910 M. Dinasti ini sempat mendirikan sebuah universitas yang terkenal hingga kini, yaitu Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Setelah beberapa kurun, Fathimiyah runtuh dan Al-Azhar diambil alih oleh Sunni. C. SHAHIH BUKHARI DAN KEDUDUKANNYA DI SISI SUNNI Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih. Judul lengkap Kitab Shahih Bukhari adalah al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah wa Sunanih wa Ayyamih. 1. Biografi Singkat Al Bukhari Imam Al Bukhari lahir di kota Bukhara di Asia Tengah, di belahan timur Turkistanitulah. Bukhari lahir pada 13 Syawal 194 H/19 Juli 810 M. Orang tuanya adalah muslimin keturunan Iran. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil. Ibunyalah yang mengasuh dan mendidiknya dengan baik. Bukhari pun tumbuh jadi anak cemerlang. Konon, ketika masih remaja ia sudah mampu menghafal puluhan ribu hadis. Pada usia 16 tahun ia bersama ibunya mengadakan perjalanan ibadah haji ke Mekah. Sejak itulah ia berkelana mengumpulkan hadis, menyusuri dunia Muslim untuk memungut ingatan dan catatan tentang ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW. Pada usia 18 tahun ia menyusun karya pertamanya, yang menuturkan riwayat sahabatsahabat Nabi serta para penerusnya. Ia pun menyusun kitab lainnya, antara lain At-Tarikh Al-Kabir (Sejarah Akbar) yang menuturkan riwayat para perawi hadis, dan Al-Adab AlMufrad yang menghimpun hadis perihal etika dan perilaku. Selama sekitar 16 tahun Imam Bukhari berkelana di dunia Muslim. Dari Saudi hingga Mesir, dari Syiria hingga Iraq, ia mencari orang-orang yang menghafal ucapan dan mengingat perbuatan Sang Nabi. Konon, narasumber yang ditemuinya lebih dari 1000 orang, dan keterangan yang dikumpulkannya lebih dari 600.000 butir. Informasi sebanyak itu ia sunting hingga tersaring sekitar 7.275 butir yang dianggap sahih. Hanya editor kawakan yang mampu menyaring dan menyunting informasi dari ratusan ribu menjadi ribuan, dan hasilnya meyakinkan. Hasil kerja keras Imam Bukhari yang amat terkenal adalah Al-Jami' As-Sahih (Kumpulan yang Sahih). Itulah kumpulan hadis yang hingga kini dianggap sebagai kumpulan hadis terpercaya, teristimewa oleh kalangan Suni. Untuk mudahnya, selama ini kita terbiasa menyebut koleksi itu Sahih Bukhari. "Saya telah menulis tentang 1.800 orang, yang masing-masing memiliki ucapan Nabi, tapi apa yang telah saya tulis itu hanyalah orang-orang yang lulus uji kesahihan yang saya tetapkan," begitulah konon sekali waktu Imam Bukhari pernah bertutur, seperti yang dikutip dalam situs “Kitaabun”. Secara teologis, Imam Bukhari memang dianggap konservatif. Pandangannya berseberangan dengan pandangan kaum Mu'tazilah. Dalam hal hukum agama, ia berdiri di lingkungan mazhab Syafi'i. Ia pun dikenal dekat dengan Ahmad Ibnu Hanbal, bahkan konon menyetujui pandangan Ibnu Hanbal, terutama perihal Alquran. Pada hari tuanya, seperti yang dicatat dalam “Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD-ROM”, sikap dan pandangan Imam Bukhari membuatnya terlibat dalam

pertentangan teologis di Nishapur. Ia pun meninggalkan kota itu, dan kembali ke Bukhara. Namun, di kota kelahirannya pun, ia rupanya menghadapi masalah. Sempat ia diminta untuk mengajar gubernur Bukhara dan anak-anaknya, tapi sang imam menolak permintaan itu. Akibatnya, Imam Bukhari dipaksa meninggalkan Bukhara, dan pergilah ia ke Khartank, Tadzikistan. Imam Bukhari wafat di pengasingannya di Khartank, pada 1 Syawal 256 H/31 Agustus 870 M dalam usia 62 tahun. Di kota kecil itu, di dekat Samarkand, ia bernisan. Hingga kini ke tempat itu para peziarah berdatangan. 2. Jumlah Hadits Shahih Bukhari Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah Hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari. Menurut penelitian Azami, ada 9.082 Hadis yang dimuat Imam al-Bukhari ke dalam kitab Sahih-nya, dan apabila dihitung tanpa memasukkan Hadis yang berulang, maka jumlahnya adalah 2.602 Hadis. Jumlah ini tidak termasuk di dalamnya Hadis Mauquf dan Hadis Maqtu’. Sementara itu, menurut Ibnu Shalah dan Imam an-Nawawi, kitab ini memuat 7.275 buah Hadis, dengan adanya pengulangan, dan bila tidak diulang jumlahnya hanya 4.000 buah. Dalam menyeleksi Hadis-hadis yang akan dimuat dalam kitabnya, Bukhari sangat cermat dan teliti, sehingga dari 600.000 Hadis yang ia dapatkan hanya 4.000 saja yang dimuat. Diriwayatkan bahwa karena kehati-hatiannya, setiap kali hendak menulis Hadis alBukhari selalu mandi dulu dan shalat istikharah dua raka’at untuk meyakinkan bahwa Hadis yang akan ditulisnya itu benar-benar Sahih. Hal tersebut terlihat dari pernyataan alBukhari sendiri, sebagai berikut: (Ibrahim berkata: “Saya mendengar dia (Bukhari) berkata: Saya tidak masukkan ke dalam kitab Sahihku kecuali Hadis yang sahih” Muhammad ibn Ismail (al-Bukhari) berkata:” Aku tidak akan memasukkan satu Hadis pun kedalam kitab sahihku kecuali setelah aku mandi dan shalat dua rakaa’at sebelumnya.”) Menurut Bukhari, sebuah Hadis baru dikatakan sahih apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Perawinya harus Muslim, sadiq, berakal sehat, tidak mudallis, tidak mukhtalit, adil, sehat panca indra, tidak suka ragu-ragu dan memiliki ‘itikad yang baik dalam meriwayatkan Hadis; 2. Sanadnya bersambung sampai kepada Nabi saw; dan 3. Matannya tidak syaz dan tidak mu’allalah Selain memiliki kualitas pribadi seperti tersebut diatas, menurut Bukhari, perawi Hadis harus mu’asirah (satu masa), liqa’ (bertemu) dan subut simaihi (mendengar langsung secara pasti) dengan gurunya. Berdasarkan hal diatas maka Imam Bukhari adalah seorang ulama yang paling ketat dalam mengajukan syarat-syarat kesahihan sebuah Hadis, dan ia juga sangat teliti dalam meriwayatkan Hadis, sehingga para ulama Hadis belakangan menempatkan kitab Sahih Bukhari pada peringkat yang pertama dalam urutan kitab-kitab yang muktabar. 3. Penilaian Ulama terhadap Sahih Bukhari Telah menjadi kesepakatan ulama Sunni dan umat Islam bahwa kitab Sahih al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan menduduki tempat terhormat setelah Alquran. Diantara para ulama yang mengemukakan demikian adalah Ibnu Salah, beliau mengemukakan, kitab yang paling otentik sesudah Al-Quran adalah Sahih Bukhari dan

Sahih Muslim. Abu Al-Azhar telah berkata: Ditaksirkan empat ratus orang murid yang mempelajari Hadits, mereka berkumpul selama tujuh hari, mereka suka berguru dengan Muhammad bin Ismail. Mereka gabungkan sanad Syam dengan sanad Iraq, sanad Yaman dengan sanad Mekah dan Madinah. Mereka tidak mendapati kesalahan pada Sanad atau Matan dalam Hadits yang diambil dari beliau. Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqolani berkata ketika menerangkan metoda yang dibawa oleh Imam Bukhari: Imam Bukhari amat berhati-hati dan begitu bertanggungjawab ketika mengatakan sesuatu berhubung dengan perawi Hadits. Ini dapat dirasakan oleh orang yang begitu mengamati kritikan dan kata-kata beliau berhubung dengan Jarah dan Ta'dil. Kata-kata beliau yang paling banyak ialah (mereka tidak mengatakan tentangnya, berhubung dengan rawi ini. Ada perbincangan di kalangan ulama, para ulama tidak membicarakannya) dan seumpamanya malah sedikit sekali beliau berkata: (pendusta atau pereka Hadits) sebaliknya beliau berkata: (Dia telah mengatakan si fulan itu pendusta, dia telah menuduh si fulan yaitu tuduhan dusta). 4. Sistematika Pembahasan Sahih Bukhari Hadis-hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari dikelompokkan berdasarkan topik-topik tertentu yang tersusun dalam beberapa kitab dan bab. Jumlah Hadis dalam setiap kitab dan bab bervariasi. Pada satu bab bisa memuat Hadis yang banyak, namun pada bab yang lain bisa hanya memuat satu atau dua Hadis saja. Bahkan pada beberapa bab hanya berisi ayat-ayat Al-Quran saja tanpa satu pun Hadis didalamnya, atau hanya terdapat judul bab tanpa ada satu pun Hadis maupun ayat-ayat Alquran di dalamnya, untuk memudahkan baginya menemukan Hadis sesuai dengan bab tersebut pada suatu saat. Isi kitab Sahih al-Bukhari dibagi ke dalam lebih dari 100 bagian dan 3.450 bab. Dimulai dari pembahasan tentang wahyu dan ditutup dengan pembahasan tauhid. Dalam menyusun kitabnya al-Bukhari menggunakan susunan dan topik-topik yang lazim digunakan dalam ilmu fiqih. Hadis-hadis dipilah-pilah dan dikelompokkan berdasarkan bidang-bidang yang menjelaskan bagian-bagian yang ada, dengan menyebutkan secara lengkap sanad-sanadnya. Metode dan sistematika penulisannya adalah : 1. Mengulangi Hadis jika diperlukan dan memasukkan ayat-ayat Al-Quran; 2. Memasukkan fatwa sahabat dan tabi’in sebagai penjelas terhadap Hadis yang ia kemukakan; 3. Menta’liqkan (menghilangkan sanad) pada Hadis yang diulang karena pada tempat lain sudah ada sanadnya yang bersambung; 4. Menerapkan prinsip-prinsip al-jarh wa at-ta’dil; 5. Mempergunakan berbagai sigat tahammul; 6. Disusun berdasar tertib fiqih. Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah: 1. Memulainya dengan menerangkan wahyu, karena ia adalah dasar segala syari’at; 2. Kitabnya tersusun dari berbagai tema; 3. Setiap tema berisi topik-topik ; 4. Pengulangan Hadis disesuaikan dengan topik yang dikehendaki tatkala mengistinbatkan hukum. 5. AL KFI DAN KEDUDUKANNYA DI SISI SYI’AH Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada

abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya. Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. 1. Biografi Singkat Al Kulaini Faqih dan perawi hadis mazhab Syi‘ah yang paling tersohor pada belahan kedua abad ketiga dan belahan pertama abad keempat tahun Hijriah adalah Tsiqatul Islam Syaikh Muhammad al-Kulaini. Ia dilahirkan pada masa kepemimpinan Imam Kesebelas mazhab Syi‘ah, Imam Hasan al-‘Askari di dalam pelukan sebuah keluarga yang terkenal dengan kecintaannya kepada Ahlulbait as. Keluarga ini berdomisili di sebuah desa bernama Kulain yang terletak sekitar 38 km dari kota Rei. Ayahnya, Ya‘qub bin Ishaq adalah seorang ayah yang memiliki keutamaan luhur dan berjiwa suci. Dari sejak masa kecil, ia mengawasi langsung pendidikan putranya dan dengan tindakan, ia mengajarkan etika Islam kepadanya. Setelah memetik buah pengetahuan etika dari ayahnya, ia melanjutkan pendidikan di bawah asuhan langsung pamannya. Pamannya adalah juga seorang perawi hadis dan pecinta mazhab Ahlulbait as yang tersohor. Di bawah asuhan pamannya ini, Muhammad mengenal sumber-sumber ilmu hadis dan Rijal. Setelah berhasil melalui jenjang pendidikan permulaan, dengan tujuan untuk menempuh kesempurnaan insani, ia berpindah ke kota Rei yang pada waktu itu memiliki prestasi keilmuan yang sangat istimewa. Masa Syaikh al-Kulaini hidup selayaknya kita beri nama “abad penulisan hadis”. Sebuah kebangkitan untuk menemukan, mendengarkan, dan menulis hadis telah mendominasi seluruh penjuru pemerintahan Islam kala itu. Dan al-Kulaini adalah salah seorang ulama yang merasa haus terhadap ilmu hadis. Dengan modal pengenalan yang mapan terhadap masanya dan pemahaman atas realita bahwa masa tersebut adalah sebuah periode transisi bagi mazhab Syi‘ah dimana jika seluruh hadis telah berhasil melewati masa transisi ini, maka mazhab Syi‘ah akan dapat hidup dengan selamat dan terjauhkan dari setiap penyelewengan, al-Kulaini harus rela meninggalkan kota Rei dengan segala keindahan dan daya tariknya untuk mengumpulkan hadis dan riwayat, meskipun para pecinta Imam Ali as telah berhasil menguasai daerah itu, untuk menuju kota Qom, kota para perawi hadis. Meskipun kota Qom dikenal sebagai pusat mazhab Syi‘ah dan dapat mampu menghilangkan dahaga para pencari kalam suci Ahlulbait as, kehausan al-Kulaini terhadap air Zamzam kalam Ahlulbait as memaksanya untuk meninggalkan kota suci

tersebut demi mencari hadis dan riwayat-riwayat yang belum pernah didengarnya. Setelah tujuh puluh tahun menjalani kehidupan fana ini dan setelah dua puluh tahun usaha keras untuk menulis buku al-Kâfî dan menanggung segala kesulitan dan keterasingan, al-Kulaini harus meninggalkan dunia yang fana ini. Ia meninggal dunia pada bulan Sya’ban 329 Hijriah. Tahun wafatnya dikenal dengan sebutan tahun “keruntuhan bintang-gumintang”; tahun dimana langit dunia fana ini kehilangan banyak ulama besar. Seorang ulama kenamaan Baghdad, Abu Qirath menyalatinya dan para pengikut Syi‘ah menguburkannya di Bab Kufah, Baghdad. Pada tahun ini juga, dengan meninggalnya wakil Imam Mahdi yang terakhir, Ali bin Muhammad as-Samuri, periode Ghaibah Kubra dimulai. 2. Hadits dalam Syi'ah dimana hadits adalah perkataan dan tindakan dari al-Ma'shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits ini akan diteliti dengan shahih atau dengan interview dengan sang perawi. Hadits ini akan melewati banyak perawi yang di antaranya adalah sahabat dari alMa'shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) dan sampai akhirnya akan tiba di alMa'shum tersebut (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits dalam satu jalur: karena hadits merupakan hasil adaptasi untuk mempertahankan dan menyampaikan sebuah cerita atau perkataan dari al-Ma'shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam), maka ada satu orang yang akan menyampaikan banyak hadist dalam satu jalur dan kemudian akan diteruskan ke setiap orang, seperti yang telah ditulis dan diikuti dalam ilmu Ushul Fiqih, bahwa kebenaran hadist dari al-Ma'shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) belum tentu benar adanya jika disampaikan dalam banyak jalur. Ilmu rijal : Ilmu yang ditujukan untuk menguji ilmu dan keadaan para perawi saat menyampaikan hadits untuk mengetahui dan mengidentifikasi sebuah hadits sebagai shahih atau tidak shahih. Sifat perawi yang riwayatnya dan kualifikasinya diterima: Beragama Islam: Tidak akan diterima riwayat hadits dari perawi kafir,¬ sebelum sang perawi kafir tersebut mengucapkan syahadat secara sungguh-sungguh. Mempunyai akal yang logis (tidak gila): Tidak diterima hadits yang disampaikan oleh orang gila¬ Baligh (cukup umur untuk menyampaikan hadits): Tidak diterima hadits dari seorang anak kecil sebelum dia mumayyiz (dewasa)¬ Beriman¬ Adil: Sang perawi harus bisa mempertahankan haditsnya dalam kebenaran dan tidak berlebihan dalam meriwayatkan hadits.¬ Di dalam Syi'ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari: Al Kafi yang dikumpulkan oleh¬ Syaikh Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Man la yahdarul fiqh ditulis oleh Syaikh Abu Ja'far Muhammad bin Ali¬ bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah. Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah Tazhibul Ahkam ditulis oleh Syaikh Abu Ja'far Muhammad bin Hasan¬ al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah. Terdapat sekitar 13590

Hadits dalam kitab ini. Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar. Ditulis oleh Syakih Abu¬ Ja'far Muhammad bin Hasan al-Tusi. Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah. Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini. Dari keempat hadits di atas yang dianggap paling shahih menurut kaum Syi’ah adalah Al Kafi karya Syaikh Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini ar-Razi. 3. Jumlah Hadits Al Kafi Dari hadis-hadis dalam Al Kafi yang berjumlah sekitar 16.000 Hadits, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kirakira lebih dari 50% hadis dalamAl Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari. 4. Penilaian Ulama Ali Akbar Al Ghifari, pentahqiq kitab Al Kafi menyatakan: mazhab Imamiyah sepakat bahwa seluruh isi kitab Al Kafi adalah sahih. Abdul Husein Syarafuddin Al Musawi dalam kitab Al Muraja’at [edisi bahasa Indonesia berjudul Dialog Sunnah Syi’ah, terbitan Mizan] menegaskan: yang terbaik dari yang dibukukan adalah empat kitab yang merupakan pegangan mazhab Imamiyah dalam masalah ushul maupun furu’ sejak zaman pertama hingga masa kini, yaitu kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih, semua isinya adalah mutawatir dan dipastikan status kesahihannya, dan Al Kafi adalah yang paling terdahulu, paling hebat, paling bagus edisi Dar Shadiq Beirut. An Nuri At Thabrasi mengatakan: posisi Al Kafi di antara empat kitab adalah bagaikan matahari dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di langit, jika orang yang bersifat objektif menelaah kitab Al Kafi, maka dia tidak perlu lagi meneliti kesahihan perawi yang ada dalam kitab itu, dan akan segera percaya bahwa isi kitab itu adalah sahih dan sahih. Lihat Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 hal 532 Sementara Abbas Al Qummi menyatakan: Al Kafi adalah kitab yang terbaik dalam Islam, kitab syi’ah yang terbaik yang tidak pernah ada lagi kitab syi’ah yang seperti itu, Muhammad Amin Al Istrabadi menyatakan: kami mendengar dari para guru dan ulama kami bahwa tidak ada kitab dalam Islam yang menyamai atau mendekati Al kafi. Al Kuna wal Alqab jilid 3 hal 98. 5. Isi Pembahasan Dalam Kitab Al Kafi Isi kitab-kitab utama syiah hanyalah maslah fiqih, kecuali dua jilid pertama dari kitab Al Kafi memuat tentang akidah syiah. Jika kita perhatikan, isi kitab fiqih mereka mirip dengan fiqih ahlussunnah. Sementara bahasan lain yang terdapat dalam Al Kafi dan Biharul Anwar adalah tentang tauhid, al adl , imamah. kebanyakan berisi keyakinan mereka tentang imamah dan para imam yang dua belas, tentang penunjukan mereka dari Allah, sifat-sifat para imam, kisah hidup mereka dan keutamaan berziarah ke kubur mereka. Begitu juga membahas tentang musuh para imam, terutama para sahabat Nabi SAW, jika kita perhatikan, mayoritas bahasan adalah tentang imamah dan para imam. Judul atau Bab yang terdapat dalam Al Kafi yang merupakan ajaran dari Syi’ah diantaranya adalah : Bab Wajib taat pada para imam.¬

Bab para imam adalah pembawa petunjuk.¬ Bab para imam adalah pembawa perintah Allah dan penyimpan ilmuNya.¬ Bab Para imam adalah cahaya Allah.¬ Bab para imam adalah tiang bumi.¬ Bab bahwa ayat yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya adalah para imam.¬ Bab bahwa ahli dzikir yang diperintahkan bagi manusia untuk bertanya pada mereka adalah para ima.¬ Bab bahwa orang yang diberikan ilmu yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah para imam.¬ Bab bahwa orang yang dalam ilmunya adalah para imam.¬ Bab bahwa Al Qur’an menunjukkan pada imam.¬ Bab para imam mewarisi ilmu Nabi Muhammad dan seluruh Nabi dan washi sebelumnya.¬ Bab para imam memiliki seluruh kitab suci yang diturunkan oleh Allah.¬ Bab tidak ada yang mengumpulkan Al Qur’an yang lengkap selain para imam, dan mereka mengetahui ilmu Al Qur’an seluruhnya.¬ Bab para imam memiliki mukjizat para Nabi.¬ Bab para imam memiliki senjata dan barang-barang peninggalan Nabi.¬ Bab jumlah para imam bertambah pada malam jum’at.¬ Bab para imam jika mereka ingin mengetahui sesuatu mereka akan mengetahuinya.¬ Bab bahwa para imam mengetahui kapan mereka mati, mereka hanya mati saat mereka berkehendak.¬ Bab para imam akan memberitahukan rahasia orang walaupun mereka tidak diberitahu.¬ Bab bumi dan seisinya adalah milik para imam.¬ Bab para imam mengetahui seluruh ilmu yang diberikan pada malaikat, Nabi dan Rasulullah Alaihissalam.¬ Bab Para imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi, tidak ada yang tidak mereka ketahui.¬

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah atau Sunni. Ahlussunnah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Dalam perkembangan terakhir Sunni terbagi menjadi 4 Mahzab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Kitab hadits yang digunakan oleh Sunni adalah al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah wa Sunanih wa Ayyamih karya Imam Al Bukhari. Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Seperti halnya Sunni, dalam perkembangannya Syi’ah juga terbagi menjadi beberapa sekte. Namun yang masih ada hingga saat ini hanya 3 sekte yaitu Itsna ‘Asyariak, Ismailiyah dan Zaidiyah. Perbedaan dari ketiga sekte tersebut terletak pada jumlah imam yang mereka yakini. Kitab hadits yang menjadi rujukan ajaran Syi’ah yaitu Al Kafi karya Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini. B. KRITIK DAN SARAN Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kekurangan dan kekeliruan dalam pembahasan ini kami mohon ma'af karena hal ini adalah proses awal bagi kami. Tidak lupa, dalam penulisan makalah ini kami juga mohon kritik dan sarannya agar dalam penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi. Dan juga kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.

- 13 -Created by http://www.jaringiklanku.com/?id=adiluhur. 63920872.doc

DAFTAR PUSTAKA 1. Id. Wikipedia.com/sunni 2. http://hakekat.com/content/view/5/1/ 3. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=223334&kat_id=319 4. Nawir Yuslem, Kitab Induk Hadis, (Jakarta: Hijir Pustaka Utama, 2006) 5. Id.wikipedia.com/syiah 6. Id.wikipedia.com/12imamiyah

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful