PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2008

i

ii

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah Penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga materi perkuliahan Ekonomi Moneter dapat terselesaikan. Materi perkuliahan ini bertujuan untuk membantu mengatasi keterbatasan literatur yang dimiliki oleh mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar khususnya di lingkungan Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo. Dalam penyusunan materi perkuliahan ini mungkin masih ada kekurangan baik dari segi isi materi maupun teknik penulisan. Oleh karena Penulis sangat mengharapkan saran-saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaan tulisan. Semoga Allah SWT memberikan berkah-Nya kepada kita sekalian. Amin. Kendari, Januari 2008 Penyusun

Muh. Ilham

iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................ DAFTAR ISI..................................................................................... UANG DAN PEREKONOMIAN..................................... A. Pendahuluan.............................................................. B. Sejarah, Fungsi dan Pengertian Uang ..................... C. Pasar Uang................................................................ D. Soal-soal Latihan....................................................... LEMBAGA KEUANGAN DAN PEREKONOMIAN....... A. Pengertian dan Klasifikasi Lembaga Keuangan........ B. Peranan Lembaga Keuangan dalam Perekonomian C. Soal-soal Latihan...................................................... PENAWARAN UANG (JUMLAH UANG BEREDAR) i ii 1 1 2 13 18 19 19 20 23 24

A. Uang Beredar dan Likuiditas Perekonomian............. 24 B. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Jumlah.... Uang Beredar............................................................. 27 C. Teori Penawaran Uang.............................................. 29 D. Penciptan Uang oleh Bank Umum............................ 30 E. Soal-Soal Latihan....................................................... 50 PERMINTAAN AKAN UANG........................................ A. Teori Kuantitas Sebagai Teori Permintaan Uang (Teori Klasik)............................................................ B. Teori Permintaan Uang : Golongan Keynesian........ Teori Permintaan Uang : Milton Friedman (Teori Kuantitas Modern).......................................... D. Soal-Soal Latihan..................................................... I N F L A S I.................................................................. A. Pengertian dan Pengukuran Inflasi........................... B. Jenis-jenis Inflasi........................................................ C. Teori-teori Inflasi........................................................ D. Soal-Soal Latihan...................................................... 52 52 55 68 72 73 73 77 79 93

C.

Muh. Ilham

iv

SUKU BUNGA DAN KURS VALUTA ASING................ A. Suku Bunga.............................................................. B. Pasar Valuta Asing dan Kurs.................................... C. Depresiasi-Apresiasi dan Devaluasi-Revaluasi....... D. Soal-Soal Latihan..................................................... KEBIJAKAN MONETER.............................................. A. Pendahuluan............................................................. B. Instrumen Kebijakan Moneter................................... C. Kebijakan Moneter dan Perbankan di Indonesia..... D. Soal-Soal Latihan.....................................................

95 95 101 104 109 111 111 111 114 116

Muh. Ilham

UANG DAN PEREKONOMIAN
A. Pendahuluan Uang mempunyai suatu tujuan fundamental dalam sistem ekonomi, yaitu : memudahkan pertukaran barang dan jasa, mempersingkat waktu dan usaha yang diperlukan untuk melakukan perdagangan. Akan tetapi uang juga dapat menjadi masalah jika jauh dari titik keseimbangan penawaran dan permintaan akan uang. Melalui ekonomi moneter kita dapat memperoleh gambaran tentang uang. Apakah sebenarnya uang itu? Apa fungsinya di dalam perekonomian. Bagaimana uang melaksanakan fungsi tersebut? Sampai sejauh mana uang dan kebijaksanaan ekonomi, moneter ikut mengakibatkan gangguan-gangguan dan bagaimana

kebijaksanaan moneter dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi yang diperlukan? Bagaimana perubahan yang pesat pada sistem keuangan, seperti yang dialami dewasa ini, apakah memperumit peran kebijaksanaan moneter? Sampai sejauh mana kita dapat menggunakan kebijaksanaan moneter untuk mencegah pengangguran dan mencapai tingkat kesempatan kerja yang tinggi, mencapai tingkat output yang mengalami peningkatan dan memelihara daya beli mata uang yang mantap dengan 1 tetap mempertahankan suatu

2 perekonomian moneter. Uang memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Tanpa uang kegiatan perdagangan tidak akan berlangsung dengan lancar. Selain itu, uang memegang peranan penting dalam mempengaruhi tingkat harga, kesempatan kerja dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Oleh karena itu diperlukan stabilitas atau adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang agar stabilitas perekonomian tetap terjaga. B. Sejarah, Fungsi, Pengertian, dan Jenis Uang 1. Sejarah Uang Uang menjadi bagian yang demikian besar dalam kehidupan kita sehari-hari, kita mengejar uang tanpa mengenal lelah, bahkan tanpa mengenal halal tidaknya uang yang kita peroleh, walaupun jarang kita berpikir sejenak mengenai apa itu uang sebenarnya. Sistem keuangan modern dengan uang kertas Rp.100.000, cek, kartu kredit dan lain sebagainya tidaklah tercipta dalam satu malam. Diperlukan waktu berabad-abad lamanya sampai pada sistem keuangan yang kita alami di jaman modern sekarang ini. Dalam usaha memenuhi berbagai macam kebutuhan pada masyarakat primitif mereka melakukan pertukaran dengan cara barter, yaitu suatu sistem pertukaran dengan menggunakan komoditi atau
Muh. Ilham

yang

berada

dalam

keseimbangan.

Pertanyaan-

pertanyaan tersebut merupakan perhatian utama dalam ekonomi

3 berbagai barang yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia pada saat itu. Atau dengan kata lain pertukaran secara barter adalah pertukaran antara barang dengan barang. Jika saya memiliki pisang dan ingin mengkonsumsi kacang, maka saya harus menukarkan pisang tersebut dengan pemilik kacang yang juga menginginkan pisang. Berdasarkan contoh sederhana yang dikemukakan di atas, kita sudah dapat membayangkan betapa rumitnya pertukaran dengan cara barter, karena kita harus mencari orang yang memiliki kacang dan ia membutuhkan pisang. Dengan barter yang sederhana berlangsung dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Sekarang dalam semua kebudayaan, kecuali masyarakat primitif, orang tidak secara langsung menukarkan suatu barang dengan barang lain. Mereka menjual barang dan menerima uang tersebut untuk membeli barang lain yang dibutuhkannya. Sekilas, kondisi tersebut memang merumitkan, karena terjadi dua kali transaksi dibanding dengan cara barter yang hanya sekali transaksi. Jadi, jika saya memiliki pisang dan ingin memiliki kacang, apakah tidak lebih sederhana bila langsung menukarkannya, dari pada menjual pisang dan memperoleh uang kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli kacang? Memang pada awalnya ada orang lain yang membutuhkan pisang dan menjual kacangnya. Tetapi lambat laun akan sangat sulit untuk bisa menemukan orang lain dengan keinginan yang tepat berlawanan dengan keinginan saya : Saya ingin menjual pisang dan ingin memiliki kacang, dan orang lain menjual kacang serta ingin memiliki pisang.
Muh. Ilham

4 Situasi seperti ini disebut “kesesuaian ganda dari keinginan” (double concidence of wants). Situasi kebetulan seperti ini sulit ditemukan. Bila kita gunakan ungkapan ekonomi klasik, maka bukannya kesesuaian ganda dari keinginan, tetapi yang ada justru keinginan akan adanya kesesuaian, sehingga tidak akan terjadi pertukaran, kecuali jika seorang penjahit yang lapar kebetulan bertemu dengan petani yang tidak berpakaian dan yang memiliki makanan dan ingin memiliki baju atau celana. Dengan adanya kelemahan pada sistem barter, di mana barang ditukar dengan barang lainnya, maka masa pertukaran secara barter beralih ke masa penggunaan uang. Uang, sebagai uang dan bukannya sebagai komoditi, diinginkan tidak untuk manfaatnya sendiri tetapi untuk barang yang bisa dibelinya. Uang merupakan kesepakatan sosial buatan. Jika dengan salah satu alasan, suatu bahan digunakan sebagai uang, maka orang akan menghargai bahan tersebut. Seorang yang bukan perokok akan menghargai rokok apabila rokok disepakati sebagai uang. Hal ini mengantar kita sampai pada suatu paradoks : Uang diterima sebagai uang, karena ia diterima. Dalam sejarah, berbagai komoditi pernah berfungsi sebagai alat tukar, seperti ternak, tembakau, minyak zaitun, bir atau anggur, tembaga, emas, perak, cincin, permata, dan rokok. Masing-masing komoditi ini memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri. Ternak tidak bisa dipecah-pecah sebagai uang kembalian. Bir tidak bertambah nilainya bila disimpan, walaupun mungkin tuak atau anggur nilainya
Muh. Ilham

5 bisa bertambah bila disimpan lama. Minyak zaitun mungkin mudah dibawa dan segera bisa dibagi dalam ukuran yang lebih kecil/sedikit, namun demikian terasa repot juga untuk membawanya dalam jumlah yang banyak. Uang komoditi berupa logam sangatlah terbatas. Perak berkilau tetapi bisa pudar. Gaya berat yang sangat khas dari emas mudah terasa bila dipalsukan, serta mudah dicampur. Namun di sepanjang sejarah, nilai kelangkaan emas menjadi demikian tinggi per gramnya untuk digunakan dalam pembelian kecil-kecilan. Selanjutnya, dengan berbagai kelemahan yang ada pada uang komoditi, maka masa uang komoditi beralih lagi ke masa uang kertas (uang kartal). Penggunaan uang kartal menjadi meluas karena memang memadai sebagai alat tukar. Uang kartal mudah dibawa dan disimpan. Dengan mencetakkan tambahan nol pada permukaan uang, maka sejumlah nilai yang lebih besar tetap mudah dibawa dan ringan. Uang kartal mudah dipecah dengan ukuran nilai yang lebih kecil. Dengan mengukir dan mendesain secara hat-hati, nilai uang bisa dilindungi dari kemungkinan pemalsuan. Dengan tidak memungkinkan setiap orang mampu menciptakan uang sekehendaknya sendiri, maka uang bisa dipertahankan agar tetap langka, sehingga nilainya bisa dipertahankan. Uang kartal modern memiliki nilai, karena keterbatasan jumlah. Uang kartal bisa digunakan untuk membeli barang walaupun tanpa dukungan emas, perak atau pemerintah. Masyarakat tidak tahu ataupun peduli, dan memang tidak perlu tahu dan peduli, apakah uang kartal
Muh. Ilham

6 berbentuk sertifikat perak, sertifikat Bank Sentral, atau tembaga. Sepanjang setiap bentuk uang dapat ditukarkan dengan barang lain, yang terbaikpun akan sama saja dengan yang terjelek. Dalam perkembangannya, uang mengalami evolusi yang pesat, dan sekarang ini merupakan abad uang bank, dengan cek yang ditulis untuk deposito atau rekening bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya. Pembelian rumah, kendaraan, pakaian dan lain sebagainya dewasa ini bisa dibayar dengan cek. Evolusi pesat dan inovasi jenis uang yang tersedia terus berlangsung. Kartu kredit (credit cards) dan cek perjalanan (traveler’s cheks) bisa digunakan dibanyak toko di kota-kota besar. Mungkin ada yang berkhayal bahwa suatu saat kita semua akan memiliki kartu kredit pribadi yang tidak mungkin dipalsukan, dan yang dijamin dengan komputer terpusat, dan dengan kartu tersebut kita dapat melakukan setiap transaksi di pasar tanpa repot membawa sejumlah uang tunai di dompet. 2. Fungsi Uang Uang melayani tujuan pokoknya sebagai roda utama sirkulasi perekonomian, dengan melaksanakan tiga fungsinya : a). Sebagai satuan nilai (unit of value); b). Sebagai alat tukar (medium of exchange); c). Sebagai alat penimbun kekayaan (store of value). a. Uang sebagai satuan nilai Uang sebagai satuan nilai (pengukur nilai) merupakan satuan moneter yang berfungsi sebagai satuan pengukur terhadap mana nilai
Muh. Ilham

7 barang-barang dan jasa-jasa diukur dan dinyatakan. Segera setelah satuan moneter diperkembangkan seperti rupiah, dollar, poundsterling, dan lain sebagainya, maka nilai dari setiap barang atau jasa dapat dinyatakan sebagai suatu harga, yang diartikan sebagai jumlah satuan moneter untuk apa dia akan ditukarkan. Misalnya kita mengatakan bahwa nilai sepasang sepatu dengan merk tertentu adalah Rp.150.000, nilai sebuah buku ekonomi moneter adalah Rp.50.000. Pengukuran nilai kedua jenis barang tersebut sangat menyederhanakan masalah pengukuran nilai tukarnya di pasar. Kita tinggal membandingkan hargaharga relatifnya dalam unit moneter, yaitu sepasang sepatu dengan merk tertentu berharga tiga buah buku ekonomi moneter. b. Uang sebagai alat tukar Hakekat uang adalah fungsinya sebagai alat tukar, dan dengan alat tersebut kita membeli dan menjual berbagai macam barang atau jasa. Fungsi uang ini dijalankan oleh sesuatu yang umumnya diterima orang dalam pertukaran barang-barang dan jasajasa. Sesuatu itu dapat berupa taring gajah, gigi ikan lumba-lumba, sepotong emas, secarik kertas, atau kredit pada buku bank. Satusatunya syarat yang diperlukan untuk objek yang akan digunakan sebagai uang adalah bahwa orang umumnya bersedia menerimanya dalam pertukaran barang-barang dan jasa-jasa. Kenyataan bahwa uang seringkali disebut sebagai “daya beli yang umum” (generalized purchasing power) menekankan kebebasan memilih
Muh. Ilham

8 yang dipunyai sipemakai. Uang hanya dapat berfungsi dengan baik hanya jika daya beli uang itu relatif stabil. Jika daya beli rupiah atau dollar dibiarkan berfluktuasi dan tak menentu, hal ini akan mengakibatkan kekacauan dan ketidakstabilan dalam perdagangan dan perekonomian pada umumnya. c. Uang sebagai alat penimbun kekayaan. Setelah uang digunakan sebagai satuan nilai dan diterima secara umum sebagai alat pembayaran serta dapat mengalihkan daya beli sekarang menjadi daya beli di masa mendatang, dengan cepat uang itu digunakan secara luas sebagai alat penimbun kekayaan. Uang merupakan alat penimbun kekayaan yang dapat membayar keperluan mendadak yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya dan terutama untuk melunasi hutang-hutang yang ditetapkan dalam nilai uang. Hal ini tidak berarti bahwa uang adalah stabil dan secara keseluruhan merupakan penimbun kekayaan yang memuaskan, dapat dikatakan demikian hanya bila daya beli uang tidak menurun. Dalam praktek yang sebenarnya uang melaksanakan fungsi ini dengan nilai yang tidak tetap. 3. Pengertian Uang Sementara orang telah mencoba untuk merumuskan uang dalam istilah-istilah yang sah secara hukum, dan mengemukakan bahwa “uang adalah uang yang dirumuskan oleh undang-undang”. Ketentuan-

Muh. Ilham

9 ketentuan hukum tentunya relevan. Suatu benda mungkin sekali akan mengalami kesulitan untuk diterima secara umum dalam pembayaran jika undang-undang melarang penggunaannya, walaupun pelanggaran terhadap undang-undang sulit untuk diketahui. Undang-undang juga dapat membantu agar suatu benda diterima secara umum dengan menyatakan sebagai uang. Namun demikian pengertian uang secara hukum tidak memuaskan untuk keperluan analisis ekonomi. Alasannya antara lain, bahwa orang mungkin menolak benda-benda yang secara hukum didefinisikan sebagai uang dan mungkin menolak untuk menjual barang-barang dan jasa-jasa kepada mereka yang memberikan alat pembayaran yang sah dalam pembayarannya. Selain itu, benda-benda yang secara hukum tidak didefinisikan sebagai uang mungkin diterima secara umum dalam pembayaran dan bahkan menjadi suatu bagian penting dalam perantara sirkulasi ekonomi. Rekening koran merupakan contoh nyata, karena ia tidak mempunyai status hukum sebagai uang, tetapi orang dapat menerimanya sebagai alat pembayaran. Oleh sebab itu, ketentuanketentuan hukum memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu benda-benda yang dapat dan tidak dapat berfungsi sebagai uang. Agar berguna untuk tujuan analisis ekonomi, maka pengertian uang harus dinyatakan dalam istilah fungsional. Uang adalah segala sesuatu yang melaksanakan fungsi-fungsi uang, selain itu tidak. Berdasarkan fungsi-fungsi uang yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan uang adalah segala
Muh. Ilham

10 sesuatu yang diterima secara umum sebagai alat penukar dan sebagai alat pengukur nilai yang pada waktu bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan. Sebenarnya semua ahli ekonomi setuju bahwa jumlah uang beredar harus termasuk segala benda yang dalam kenyataannya diterima secara umum dalam pembayaran hutang dan sebagai pembayaran untuk barang-barang dan jasa-jasa. Jika suatu benda dalam kenyataannya diterima secara umum dalam pembayaran dan umumnya digunakan sebagai alat perantara pembayaran, maka benda itu disebut sebagai uang, apapun status hukumnya. 4. Jenis-jenis Uang

a. Uang bernilai penuh (full bodied money) Uang bernilai penuh adalah uang yang nilainya sebagai suatu komoditi untuk keperluan non moneter sama dengan dengan nilai sebagai uang. Uang penuh yang utama dalam sistem moneter modern adalah mata uang logam yang dibuat dari logam standar bila suatu negara menganut standar logam (standar emas, standar perak, atau stanbar kembar/bimetallic standar) yang menggunakan emas dan perak. Uang logam bernilai penuh khususnya dikeluarkan oleh pemerintah, menyangkut tiga langkah : 1) Menentukan nilai emas dari satuan moneter. Hal ini dapat juga dilakukan dalam dua cara, akan tetapi keduanya sama saja, yaitu :

Muh. Ilham

11 menetapkan kandungan emas dari satuan moneter atau menetapkan harga uang dari setiap unit emas. 2) Berdasarkan harga yang ditetapkan, semua logam yang ditawarkan dibeli, dan membuat mata uang logam tanpa batas dan tentu saja tanpa biaya. Hal ini bertujuan mencegah jatuhnya harga pasar emas di bawah harga pembelian pada waktu penciptaan uang logam tersebut. 3) Mengizinkan peleburan mata uang logam untuk memperoleh emas bagi keperluan non moneter dan/atau siap untuk menjual semua komoditi yang diminta pada harga tertentu. Biasanya peleburan mata uang logam tidak memerlukan izin, bagaimanapun orang akan melakukannya jika mereka beranggapan bahwa hal itu adalah cara yang termudah untuk memperoleh emas di atas harga pencetakan uang logam tersebut selama emas dapat diperoleh untuk keperluan non moneter. b. Uang bernilai penuh yang representatif (representative fullbodied money) Full bodied money biasanya terbuat dari kertas, sebenarnya merupakan perederan resi penyimpanan mata uang logam bernilai penuh atau ekuivalennya dalam bentuk batangan emas dan perak. Uangnya sendiri tidak mempunyai nilai yang berarti sebagai suatu komoditi, akan tetapi mewakili peredaran sejumlah logam dengan nilai komoditi yang sama dengan nilai uangnya. Keuntungan utama dari
Muh. Ilham

12 jenis uang ini adalah untuk memudahkan bilamana transaksi dilakukan dalam jumlah besar. Contohnya sertifikat emas. c. Uang kredit (credit money) Uang kredit atau uang hutang adalah semua uang kecuali uang penuh yang refresentatif, yang beredar dengan nilai yang lebih besar dibanding dengan nilai komoditi material yang dipakai untuk membuatnya. Dalam beberapa hal nilai pasar dari material uang tersebut tidaklah mempunyai arti penting, seperti halnya sebagian besar uang kertas. Dalam hal lain, seperti mata uang tembaga, nilai pasar dari materialnya mungkin besar, akan tetapi masih berada di bawah nilai uangnya. Uang kredit dapat berbentuk :
1)

Uang logam tidak bernilai penuh (token coins), misalnya uang

receh Rp.25, Rp.50, Rp.100, Rp.200 dan Rp.1.000. Kesemua uang logam tersebut termasuk token money.
2)

Uang tidak bernilai penuh yang refresentatif (refresentative token

money). Jenis uang ini biasanya merupakan uang kertas berupa peredaran resi penyimpanan mata uang logam yang tidak bernilai penuh atau sejumlah logam yang sama beratnya yang didepositokan pada pemerintah. Jenis uang ini menyerupai uang penuh yang representatif. Kecuali bahwa uang logam atau batangan yang dipegang sebagai jaminan lebih murah sebagai komoditi dari pada sebagai uang. Contohnya sertifikat perak di USA yang diedarkan dari tahun 1878 sampai 1967.
Muh. Ilham

13
3)

Promes yang beredar yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jenis

uang promes yang beredar (circulating promisorry notes), biasanya dibuat dari kertas dan kadang-kadang dinamakan uang fiat. Uang ini biasa juga disebut uang kertas pemerintah. 4) Promes yang beredar yang dikeluarkan oleh bank swasta. Promes yang dikeluarkan oleh swasta merupakan surat hutang yang diterbitkan oleh bank swasta. 5) Promes yang beredar yang dikeluarkan oleh bank sentral. Ini merupakan surat hutang yang dikeluarkan oleh bank sentral. 6) Rekening giro di bank. Rekening giro ini adalah tagihan-tagihan para kreditor ke sebuah bank yang dapat ditransfer dari orang atau perusahaan yang satu kepada yang lain dengan menggunakan cek atau perintah untuk membayar. Tagihan pada bank ini pada umumnya diterima dalam pembayaran hutang dan pembayaran barang ataupun jasa. C. Pasar Uang 1. Pengertian dan Fungsi Pasar Uang Dalam sistem keuangan, pasar uang (money market) merupakan bagian dari pasar keuangan (financial markets). Pasar uang adalah suatu kelompok pasar di mana instrumen kredit jangka pendek

Muh. Ilham

14 diperjual belikan. Jangka waktu instrumen pasar uang biasanya jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau kurang. Pasar uang bersama pasar modal seringkali diartikan sama, padahal kedua jenis pasar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Pasar uang sebagaimana telah dikemukakan adalah pasar yang menyediakan sarana pengalokasian dan pinjaman dana jangka pendek. Sebaliknya, pasar modal berkaitan dengan surat-surat berharga yang berjangka panjang. Pasar modal memiliki tempat transaksi tertentu yang disebut bursa efek, sedangkan transaksi dalam pasar uang dilakukan dengan menggunakan sarana telekomunikasi. Oleh karena itu pasar uang sering pula disebut dengan pasar abstrak, karena pelaksanaan transaksi tidak dilakukan di tempat tertentu sebagaimana halnya dengan bursa efek pada pasar modal. Berkaitan dengan itu, pasar uang merupakan pasar yang tidak terorganisasi (unorganized market), sementara pasar modal adalah pasar yang terorganisasi (organized market), karena di samping memiliki tempat transaksi khusus, pelaksanaannya diatasi dan diawasi oleh otoritas pasar modal. Persamaan kedua pasar tersebut adalah kedua pasar merupakan sarana bagi investor dalam melakukan investasi di samping sebagai sarana mobilisasi dana bagi pihak yang membutuhkan dana. Dengan kata lain pasar uang dan pasar modal merupakan sarana investasi dan mobilisasi dana.

Muh. Ilham

15 Pasar uang pada prinsipnya merupakan sarana alternatif khususnya bagi lembaga-lembaga keuangan, perusahaan-perusahaan non keuangan dan peserta-peserta lainnya, baik dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka melakukan penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya. Pasar dimaksudkan secara tidak langsung sebagai sarana pengendali moneter oleh otoritas moneter dalam melaksanakan operasi pasar terbuka. Di Indonesia pelaksanaan operasi pasar terbuka oleh Bank Indonesia dilakukan dengan menggunakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). SBI sebagai instrumen dalam melakukan operasi pasar terbuka digunakan untuk tujuan kontraksi moneter, sedangkan SBPU berfungsi sebagai instrumen ekspansi moneter. Pasar uang adalah mekanisme yang mempertemukan pihak yang memiliki surplus dana dengan pihak yang mengalami defisit. Mekanisme dalam pasar uang pada dasarnya dirancang untuk mempertemukan kepentingan kedua kelompok tersebut. Pasar uang di satu sisi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek perusahaan, lembaga keuangan, dan pemerintah, mulai dari overnight sampai dengan jangka waktu jatuh tempo satu tahun. Pada kesempatan yang sama pasar uang menyediakan outlet investasi bagi pihak surplus dana jangka pendek yang ingin memperoleh pendapatan atas dana yang belum terpakai. Dengan demikian keberadaan pasar uang memungkinkan terjadinya transaksi pinjam meminjam.
Muh. Ilham

16 2. Tujuan Pasar Uang bagi Investor Investor di pasar uang terutama betujuan mencari keamanan dan likuiditas di samping peluang untuk memperoleh pendapatan bunga. Hal tersebut dilakukan karena dana yang diinvestasikan di pasar uang adalah kelebihan dana sementara, dan biasanya dibutuhkan dalam waktu singkat untuk membayar pajak, gaji, dividen dan sebagainya. Dengan alasan tersebut, maka investor pasar uang sangat sensitif terhadap risiko. Adapun jenis-jenis risiko yang mungkin dihadapi dalam kegiatan investasi di pasar uang antara lain : a. Risiko pasar. Semua surat berharga termasuk instrumen pasar uang memiliki risiko yang disebut market risk atau interest rate risk yaitu risiko yang berkaitan dengan turunnya harga (dan tingkat bunga naik) mengakibatkan investor mengalami capital loss. b. Risiko reinvestment. Tingkat bunga juga bisa turun atau naik. Turunnya harga sekuritas pada gilirannya menyebabkan timbulnya risiko investor yang disebut reinvestment risk, yaitu risiko terhadap suatu aset finansial yang harus direinvest dalam aset yang berpendapatan rendah. Atau dapat pula dikatakan bahwa reinvestmen risk adalah risiko yang memaksa investor menempatkan pendapatan yang diperoleh dari bunga kredit atau surat-surat berharga ke investasi yang berpendapatan rendah akibat turunya tingkat bunga.
Muh. Ilham

17 c. Risiko gagal bayar. Risiko yang terjadi akibat tidak mampunya peminjam (debitur) memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Default risk dapat juga disebut sebagai risiko gagal bayar. d. Risiko inflasi. Pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya harga-harga barang dan jasa yang akan menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya. Untuk menghadapi hal tersebut pemberi pinjaman (lender) biasanya mengimbangi proyeksi inflasi dengan meminta atau mengenakan tingkat bunga yang lebih tinggi atas pinjaman. e. Risiko valuta (currency risk). Investor internasional dihadapkan pada risiko mata uang, yaitu kerugian yang terjadi akibat adanya perubahan yang tidak menguntungkan terhadap kurs mata uang asing. Misalnya, apabila seorang investor Amerika Serikat membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di pasar uang Indonesia, keuntungan SBI tersebut akan turun bilamana nilai rupiah mengalami penurunan terhadap dollar Amerika Serikat. f. Risiko politik. Risiko ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan undang-undang atau peraturan pemerintah yang mengakibatkan turunnya pendapatan yang diperkirakan dari suatu investasi atau bahkan akan terjadi kerugian total dari modal yang diinvestasikan.

Muh. Ilham

18 D. Soal-soal latihan 1. Uraikan secara singkat sejarah uang dari zaman primitif hingga jaman modern sekarang ini! 2. Sebut dan jelaskan fungsi-fungsi uang! 3. Sebutkan pengertian uang secara fungsional! 4. Sebutkan jenis-jenis uang! 5. Kemukakan pengertian pasar uang 6. Apakah fungsi pasar uang? Jelaskan! 7. Kemukakan apa yang menjadi tujuan pasar uang bagi investor! 8. Sebut dan jelaskan secara singkat jenis-jenis risiko yang mungkin dihadapi oleh investor dalam berinvestasi di pasar uang!

Muh. Ilham

LEMBAGA KEUANGAN DAN PEREKONOMIAN
A. Pengertian dan Klasifikasi Lembaga Keuangan Lembaga keuangan adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan atau tagihan (claims), yang berbeda dengan aset non finansial atau aset riil. Aktivitas lembaga keuangan adalah dalam bentuk pemberian kredit kepada nasabah dan menanamkan dananya dalam bentuk surat-surat berharga. Di samping itu lembaga keuangan juga menawarkan berbagai jasa keuangan antara lain dalam bentuk skim tabungan, proteksi asuransi, program pensiun, penyediaan sistem pembayaran dan mekanisme transfer dana. Lembaga keuangan merupakan bagian dari sistem keuangan dalam perekonomian modern yang melayani masyarakat pemakai (user) jasa-jasa keuangan yang tersedia. Lembaga intermediasi keuangan atau sering juga disebut lembaga dapat diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya

menghimpun dana dari masyarakat secara langsung. Dengan demikian lembaga keuangan dapat dibedakan menjadi lembaga keuangan depositori (depository financial institution) dan lembaga keuangan non depositori (non depository financial institution). Lembaga keuangan depositori (depository intermediary) merupakan lembaga keuangan yang menghimpun dana secara 19

20 langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan (deposits) misalnya giro, tabungan atau deposito berjangka yang diterima dari penabung atau unit surplus. Lembaga keuangan yang menawarkan jasa-jasa tersebut adalah bank-bank. Lembaga keuangan non depositori atau lembaga keuangan bukan bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan usahanya bersifat kontraktual (contractual institutions), di mana kegiatannya berupa penarikan dana dari masyarakat dengan cara menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap risiko ketidakpastian, misalnya polis asuransi (oleh perusahaan asuransi), program pensiun (oleh perusahaan dana pensiun). Kemudian lembaga keuangan investasi yaitu lembaga keuangan yang kegiatannya melakukan investasi di pasar uang dan pasar modal, misalnya perusahaan efek. Selanjutnya lembaga keuangan bukan bank lainnya adalah lembaga keuangan yang kegiatan usahanya tidak termasuk dalam dua kelompok tersebut di atas yaitu perusahaan modal ventura dan perusahaan pembiayaan yang menawarkan jasa pembiayaan sewa guna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan kartu kredit. B. Peranan Lembaga Keuangan dalam Perekonomian Lembaga keuangan memiliki peran pokok dalam perekonomian khususnya dalam proses pengalihan dana. Peran yang dijalankan dalam proses pengalihan dana adalah sebagai intermediasi keuangan, yaitu suatu proses pembelian surplus dana dari unit ekonomi seperti
Muh. Ilham

21 sektor usaha, pemerintah dan individu atau rumah tangga untuk disalurkan kepada unit ekonomi defisit. Dengan kata lain intermediasi keuangan merupakan kegiatan pengalihan dana dari penabung (ultimate lenders) kepada peminjam (ultimate borrowers). Proses intermesiasi dilakukan oleh lembaga keuangan dengan cara membeli sekuritas primer yang diterbitkan oleh unit defisit dalam waktu yang sama lembaga keuangan mengeluarkan sekuritas sekunder kepada penabung atau unit surplus. Sekuritas primer antara lain dapat berupa saham, obligasi, commersial paper, perjanjian kredit dan sebagainya. Sekuritas sekunder adalah giro, tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito, polis asuransi, reksa dana dan sebagainya. Bagi penabung, simpanan tersebut merupakan aset finansial, di pihak bank merupakan hutang. Selanjutnya sekuritas sekunder tersebut dapat dialihkan menjadi aset misalnya dalam bentuk pinjaman kepada unit defisit atau dengan membelaikannya surat-surat berharga di pasar uang dan pasar modal. Lembaga keuangan sebagai lembaga intermediasi memiliki peran yang sangat strategis dalam proses intermediasi keuangan sebagai berikut : 1) Pengalihan aset atau asset transmutation. Lembaga keuangan memiliki aset dalam bentuk “janji-janji untuk membayar” oleh debitur. Bentuk janji-janji tersebut pada dasarnya adalah kredit yang diberikan kepada unit defisit dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan
Muh. Ilham

22 dengan peminjam. Dalam membiayai aset tersebut lembaga keuangan memperoleh dana dari simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan yang jangka waktunya diatur menurut kebutuhan penabung. 2). Likuiditas Likuiditas berkaitan dengan kemampuan memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan. Beberapa sekuritas sekunder yang dikeluarkan lembaga keuangan dibeli oleh sektor usaha dan rumah tangga terutama dimaksudkan untuk tujuan likuiditas. Sekuritas sekunder seperti giro, tabungan, sertifikat deposito memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dan lebih aman serta adanya tambahan pendaparan. 3). Realokasi pendapatan. Banyak individu yang memiliki pendapatan memadai dan menyadari bahwa suatu saat mereka akan menjalani hari tua di mana mereka tidak optimal lagi dalam menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu mereka akan menyisihkan dan merealokasikan pendapatannya sebagai persiapan menghadapi hari tua. Realokasi pendapatan dapat dilakukan dengan cara memiliki sekuritas sekunder yang diterbitkan oleh lembaga keuangan misalnya simpanan di bank, polis asuransi jiwa, reksa dana, program pensiun dan sebagainya.

Muh. Ilham

23 4) Transaksi. Sekuritas sekunder yang diterbitkan lembaga intermediasi keuangan seperti rekening giro, tabungan, deposito berjangka dan sebagainya merupakan bagian dari sistem pembayaran. Oleh karena itu sekuritas sekunder tersebut dapat berfungsi sebagai alat pembayaran guna mempermudah penyelesaian transaksi baeang dan jasa untuk tujuan posisi likuiditas. C. Soal-soal Latihan 1. Sebutkan pengertian lembaga keuangan! 2. Sebut dan jelaskan klasifikasi lembaga keuangan! 3. Jelaskan bagaimana proses terjadinya intermediasi keuangan yang dilakukan oleh lembaga keuangan! 4. Sebut dan jelaskan peran lembaga keuangan sebagai lembaga intermediasi keuangan dalam perekonomian!

Muh. Ilham

PENAWARAN UANG (JUMLAH UANG BEREDAR)
A. Uang Beredar dan Likuiditas Perekonomian Konsep penawaran uang atau uang beredar (money supply) mempunyai arti yang sangat kompleks, oleh karena itu perlu dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu M1, M2 dan M3. Penawaran uang M1 meliputi uang kartal (uang kertas dan uang logam) yang ada dalam peredaran ditambah dengan uang giral (uang bank), yaitu deposito yang disimpan dalam bank-bank umum dan dapat dikeluarkan dengan menggunakan cek, giro atau surat perintah lainnya. Uang kartal dan uang giral atau narrow money yang memilki sifat dapat dipakai sebagai alat pembayaran sewaktu-waktu atau setiap saat bila diinginkan, tidak terikat waktu dalam pemakaiannya. M1 inilah yang disebut uang beredar. Penawaran uang M2 adalah uang beredar dalam arti luas (broad money) yang meliputi M1 ditambah uang kuasi yang terdiri atas deposito berjangka, tabungan, valuta asing milik swasta domestik. Uang kuasi (QM) ini adalah jenis uang yang tidak dapat dipakai setiap saat dalam pembayaran karena keterikatan waktu. Jumlah uang beredar (M1) dan uang kuasi atau quasi money (QM) disebut likuiditas perekonomian (uang beredar dalam arti luas) atau broad money, yang dapat dirumuskan dengan : M2 = M1 + QM 24

25 Dengan demikian likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (broad money) adalah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) ditambah uang kuasi. Penawaran uang M3 mempunyai pengertian yang lebih luas, yaitu meliputi M2 ditambah dengan deposito dan tabungan berjangka dalam lembaga-lembaga keuangan yang lain di luar dari bank-bank umum. Di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia di mana lembaga-lembaga keuangan dan sektor moneternya masih belum berkembang data penawaran uang yang dikumpulkan hanyalah meliputi M1 dan M2. Laju pertumbuhan uang beredar (M1) dalam indikator perekonomian Indonesia sering dikaitkan dengan tingkat inflasi. Hubungan antara keduanya biasanya bersifat positif/searah. Semakin tinggi laju pertumbuhan M1 semakin tinggi pula tingkat inflasi. Laju pertumbuhan M1 dapat dihitung dengan rumus :
ΔM 1(x) = M −M 1(x) 1(x − 1) x 100% M 1(x − 1)

Keterangan : ∆ M1(x) = Laju pertumbuhan uang beredar tahun x (%) M1(x-1) = Jumlah uang beredar tahun sebelumnya M1(x) = Jumlah uang beredar tahun x Selanjutnya posisi uang kartal dan uang giral dalam uang beredar dimaksudkan untuk melihat bagaimana perkembangan peranan uang kartal dan uang giral terhadap uang beredar. Dalam

Muh. Ilham

26 perekonomian yang semakin maju terutama dalam hal lalulintas moneter, posisi uang giral semakin lebih besar dari pada uang kartal. Masyarakat di kota-kota besar akan cenderung menggunakan uang giral sebagai alat tukar atau alat bayar. Untuk menentukan posisi uang kartal dan uang giral dapat digunakan rumus :
P U k U = K x 100% M 1

menunjukkan posisi uang kartal menunjukkan posisi uang giral

Ug P g= U x 100% M 1

Rasio atau posisi uang beredar (M1) dan rasio atau posisi uang kuasi terhadap likuiditas perekonomian (M2) merupakan indikator permintaan masyarakat (aggregate demand) terhadap barang dan jasa yang disediakan di pasar. Jika semakin rendah rasio M1 terhadap M2, di lain pihak semakin tinggi rasio uang kuasi terhadap M2, berarti permintaan masyarakat melemah, sehingga inflasi akan cenderung turun, dan sebaliknya. Rasio M1 dan QM terhadap M2 dapat dirumuskan dengan :
R M M = 1 x 100 % 1 M 2

dan

R M = Q

Q M x 100% M 2

Pengertian lain tentang uang yang perlu dipahami adalah uang primer, yaitu uang yang diartikan sebagai uang yang diedarkan pemerintah yang dipegang oleh masyarakat dan bank-bank. Uang primer ini meliputi uang yang dipegang masyarakat sebagai alat bayar

Muh. Ilham

27 sehari-hari (uang kartal) dan uang serap yang dimiliki bank (uang tunai di bank dan deposito di Bank Sentral). Rumus uang primer adalah : Mp = Uk + Us Keterangan Mp : uang primer Uk : uang kartal Us : uang serap Komposisi struktural uang primer menentukan perluasan M1. Pada umumnya semakin besar persentase uang serap semakin besar pula perluasan M1 melalui indikator koefisien likuiditas. Koefisien likuiditas adalah kemampuan untuk memperluas uang beredar (M1) melalui uang giral (Ug) yang diciptakan berdasarkan jumlah uang serap (Us) yang ada. Rumus menghitung koefisien likuiditas (KL) adalah :
KL = Us x 100% Ug

Keterangan : KL : Koefisien likuiditas Us : uang serap Ug : uang giral B. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Jumlah Uang Beredar. Setiap minggu, bulan atau tahun jumlah uang beredar selalu mengalami perubahan. Perubahan jumlah uang beredar (bertambah ataupun berkurang) dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi dan keadaan
Muh. Ilham

perekonomian

secara

keseluruhan.

Faktor-faktor

yang

28 menyebabkan perubahan jumlah uang beredar adalah aktiva Luar negeri bersih, tagihan bersih pada pemerintah pusat, tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan perusahaan negara, rekening khusus, tagihan pada perusahaan dan perorangan, simpanan berjangka dan tabungan dan faktor lainnya bersih. Dengan demikian perubahan jumlah uang beredar (M1) dapat dirumuskan dengan : ∆ M1 = Aln + Tp + Ts + Dbt + L Keterangan : ∆ M1 : perubahan jumlah uang beredar Aln : aktiva luar negeri bersih (cadangan devisa + lainnya). Tp : tagihan sektor pemerintah, terdiri atas pemerintah pusat, BUMN dan rekening khusus. Ts : tagihan pada perusahaan dan perorangan Dbt : deposito berjangka dan tabungan L : faktor lainnya. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan perubahan uang primer adalah aktiva luar negeri bersih dan aktiva dalam negeri bersih. Aktiva luar negeri bersih meliputi cadangan devisa bersih dan aktiva luar negeri lainnya, sedangkan aktiva dalam negeri bersih meliputi tagihan pada pemerintah, rekening khusus pemerintah, tagihan bersih lainnya, aktiva lainnya (SBPU, SBI, fasilitas diskonto, fasilitas kredit khusus, jaminan impor Bulog), setoran wajib bank-bank, rekening valuta asing. Dengan demikian perubahan uang primer dapat dirumuskan dengan persamaan : ∆ Mp = Aln + Adn
Muh. Ilham

29 Keterangan : ∆ Mp : perubahan uang primer Aln : aktiva luar negeri bersih Adn : aktiva dalam negeri bersih. C. Teori Penawaran Uang Ahli-ahli ekonomi klasik berpandangan bahwa perubahan dalam penawaran uang tidak akan menimbulkan perubahan ke atas tingkat kesempatan kerja, upah riil dan pendapatan nasional riil. Perubahan penawaran uang hanya akan menyebabkan perubahan tingkat harga, tingkat upah nominal dan pendapatan nasional nominal. Menurut Klasik bahwa perubahan penawaran uang proporsional dengan perubahan harga. Apabila penawaran uang meningkat 5 persen, maka tingkat harga akan meningkat 5 persen. Pandangan ini diterangkan melalui teori kuantitas uang (quantity theory) dan teori sisa tunai (cash-balance theory). 1. Teori Kuantitas Teori kuantitas diterangkan dengan menggunakan suatu persamaan yang dikenal sebagai persamaan pertukaran atau equation exchange, yaitu : MV = PT .............(1) Keterangan : M : penawaran uang V : kelajuan peredaran uang P : tingkat harga T : jumlah barang/jasa yang dihasilkan dalam suatu waktu tertentu.
Muh. Ilham

30 Nilai V (velocity of money) ditentukan berdasarkan kekerapan sejumlah uang digunakan dalam transaksi dalam suatu waktu tertentu. Apabila rata-rata sejumlah uang digunakan 5 kali dalam satu tahun untuk membiayai transaksi, maka nilai V adalah 5. Misalnya Jumlah transaksi barang 100 kg dan harga rata-rata per kg Rp.1.000. Berapakah jumlah uang beredar (M) ? 5M = 1.000(100) M = Rp.100.000/5 M = Rp.20.000 (jumlah uang beredar). Bila diandaikan penawaran uang (M) meningkat 5 %, berapakah kenaikan tingkat harga ? Kenaikan penawaran uang 5% adalah Rp.1000, maka jumlah uang beredar (M) sekarang sebesar Rp.21.000. Dengan demikian kenaikan harga dapat diketahui sebagai berikut : 5(21.000) = 100P P = Rp.105.000/100 P = Rp.1.050 Dengan demikian terjadi kenaikan harga sebesar Rp.50 atau
50 x 100% = 5% 1.000

Nilai V dapat juga ditentukan dengan rumus : V =

PT ............(2) M

Menurut Irving Fisher, nilai V ditentukan oleh kebiasaan pembayaran gaji dan efisiensi operasi lembaga keuangan. Oleh karena faktor-faktor ini tidak selalu berubah, Fisher berpendapat bahwa nilai V
Muh. Ilham

31 tetap. Nilai T menggambarkan nilai riil barang dan jasa yang diproduksikan. Dengan demikian nilai T merupakan pendapatan nasional riil. Nilai T tersebut tidak dipengaruhi oleh penawaran uang. Oleh karena perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh (full employment), maka nilai T adalah tetap dan telah mencapai tingkat yang maksimum. Oleh karena nilai V dan T tetap, maka perubahan dalam penawaran uang hanya akan mempengaruhi tingkat harga. Dengan demikian menurut Klasik bahwa inflasi adalah disebabkan oleh ekspansi moneter (pertambahan penawaran uang). 2. Teori Sisa Tunai Teori ini pada dasarnya berpandangan sama dengan teori kuantitas, yaitu perubahan penawaran uang akan menimbulkan perubahan tingkat harga dengan proporsi atau persentase yang sama besarnya. Teori ini dikembangkan oleh ahli-ahli ekonomi Cambride, terutama Alfred Marshall dan A.C. Pigou. Walaupun teori sisa tunai berpandangan sama dengan teori kuantitas, akan tetapi teori sisa tunai tidak terlalu menekankan hubungan di antara penawaran uang dengan tingkat harga. Penekanan teori sisa tunai adalah analisis mengenai tujuan masyarakat untuk meminta uang dan bagaimana faktor ini menentukan jumlah uang yang diperlukan masyarakat. Dalam menerangkan teori sisa tunai Marshall berpandangan bahwa masyarakat memegang uang terutama untuk membiayai
Muh. Ilham

transaksi

yang

dilakukannya.

Kemudian

Pigou

32 menambahkan bahwa alasan lain masyarakat memegang uang adalah untuk berjaga-jaga. Teori sisa tunai dapat dirumuskan dengan : M = kPT..........(3) di mana M : permintaan/penawaran uang P : tingkat harga T : pendapatan nasional riil k : suatu angka pecahan yang menggambarkan bahwa permintaan uang meliputi suatu proporsi dari pendapatan nasional. Menurut teori sisa tunai bahwa perubahan permintaan uang adalah proporsional dengan perubahan pendapatan nasional. Apabila membandingkan persamaan (1) dengan persamaan (3) dapat dibuktikan bahwa k = 1/V. Oleh karena persamaan (3) tidak berbeda dengan persamaan (1), maka teori sisa tunai tidak berbeda pandangannya penawaran dengan akan teori kuantitas, yaitu perubahan perubahan yang dalam sama uang mengakibatkan

persentasenya dengan perubahan tingkat harga. Misalnya bila diketahui pendapatan nasional (PT) = Rp.100.000 dan jumlah uang beredar Rp.20.000, maka nilai k dapat diketahui dengan rumus : k =
M PT

k = 20.000/100.000 k = 0,2 Nilai k dapat pula diperoleh dengan rumus : k = 1/V, sehingga : K = 1/5 = 0,2.
Muh. Ilham

33 Mengenai hubungan perubahan permintaan/penawaran uang dengan perubahan pendapatan nasional dan perubahan tingkat harga berdasarkan teori sisa tunai dapat diketahui dengan cara berikut : Bila penawaran uang bertambah 5% atau Rp.1.000, sehingga M = Rp.21.000, maka : M = kPT 21.000 = 0,2(100)P 21.000 = 20P P = 1.050 Harga (P) meningkat 5 % atau Rp.50/kg, yaitu dari Rp.100/kg menjadi Rp.1.050/kg. Selanjutnya pendapatan nasional nominal meningkat dari Rp.100.000 menjadi PT = 1.050(100) = Rp.105.000. Pendapatan nasional nominal mengalami pertumbuhan sebesar Rp.5.000 atau 5 %. 3). Teori Milton Friedman Untuk menerangkan pandangan Friedman mengenai hubungan di antara penawaran uang dengan tingkat kegiatan ekonomi dan pendapatan nasional nominal perlu dikemukakan terlebih dahulu tentang teori permintaan uang dari Friedman dengan rumusan :
_

Md = k(rb, re, rd)PY ...........(4) Di mana : Md = permintaan uang rb = suku bunga obligasi re = persentase pendapatan dari nilai saham rd = persentase pendapatan dari harta-harta tetap P = tingkat harga
_

Y = pendaatan riil
Muh. Ilham

34
_

k = rasio perbandingan keseimbangan pasar uang adalah Selanjutnya diketahui syaratnilai PY dengan Md Md = Ms, sehingga rumusan penawaran uang adalah :
_

Ms = k(rb, re, rd)PY ...........(5) Persamaan (5) pada dasarnya sama dengan persamaan (1) dan (3). Menurut Friedman permintaan uang adalah relatif stabil, sehingga nilai k pada persamaan (5) adalah stabil dan tidak berubah dalam jangka pendek. Dengan demikian perubahan penawaran uang
_

akan

mengakibatkan perubahan pendapatan nasional nominal (PY).

Besarnya perubahan pendapatan nasional nominal yang diakibatkan oleh perubahan penawaran uang ditentukan oleh nilai k. Misalkan jumlah uang beredar (Ms) Rp.20.000 dan nilai k = 0,2,
_

maka pendapatan nasional nominal adalah : Ms = k PY
_

20.000 = 0,2 PY
_

PY = 20.000/0,2 = 100.000 Jadi semakin kecil nilai k, maka semakin besar tingkat pendapatan nasional nominal, karena nilai k yang semakin kecil menunjukkan laju perputaran uang yang semakin cepat. Hal tersebut dapat dihubungkan dengan teori sisa tunai di mana k = 1/V, di mana v merupakan kelajuan peredaran uang.
Muh. Ilham

35 Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa menurut Friedman : dalam jangka pendek, kegiatan ekonomi dan pendapatan nasional nominal maupun riil secara langsung dipengaruhi oleh penawaran uang dan perubahan-perubahannya. Berdasarkan persamaan (5) menunjukkan bahwa penawaran uang merupakan satusatunya faktor yang menentukan perbelanjaan agregat dan tingkat pendapatan nasional. Apabila penawaran uang bertambah, maka lebih banyak uang yang berada di tangan masyarakat. Pertambahan kepemilikan uang ini akan meningkatkan perbelanjaan masyarakat. Pembelanjaan ini akan menimbulkan dua efek : (i) harga naik; dan (ii) kegiatan ekonomi dan produksi nasional bertambah. 4). Teori J.M. Keynes Menurut Keynes bahwa perubahan pendapatan nasional tidak proporsional dengan perubahan penawaran uang. Apabila didasarkan pada teori permintaan uang dari Keynes :
_

Md = k PY + Msp ...........(5.6) Keterangan : Md = permintaan uang
_

k PY = permintaan uang untuk spekulasi dan berjaga-jaga Msp = permintaan uang untuk transaksi Keseimbangan pasar uang terjadi pada saat Md = Ms, sehingga penawaran uang dapat pula dirumuskan dengan :

Muh. Ilham

36
_

Ms = k PY + Msp

(5.7)

Menurut Keynes bahwa pertambahan penawaran uang akan mengakibatkan : (1) turunnya suku bunga; (2) turunnya suku bunga
_

akan mengakibatkan bertambahnya Msp; (3) kPY akan bertambah, akan tetapi pertambahannya tidaklah proporsional dengan kenaikan penawaran uang, karena sebagian kenaikan penawaran uang digunakan untuk berspekulasi. Dapat disimpulkan bahwa perubahan penawaran uang dapat mempengaruhi pendapatan nasional nominal, namun perubahan pendapatan nasional tidak proporsional dengan perubahan penawaran uang. Menurut Keynes besarnya kenaikan pendapatan nasional nominal sebagai akibat kenaikan penawaran uang sulit ditentukan, karena kenaikan penawaran uang tidak hanya menaikkan pendapatan nasional nominal, akan tetapi dapat pula menaikkan kenaikan permintaan uang untuk tujuan spekulasi, dan kenaikan penwaran uang akan menurunkan suku bunga yang selanjutnya akan meningkatkan investasi. D. Penciptaan Uang Oleh Bank Umum 1. Monetery Base dan Penawaran uang

Muh. Ilham

37 Salah satu fungsi penting bank sentral adalah menciptakan uang kartal untuk digunakan dalam kegiatan perekonomian. Untuk menjaga kelancaran perekonomian, maka bank sentral perlu menciptakan uang kartal yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian. Pertambahan uang kartal akan memberikan dorongan terhadap perkembangan uang giral. Bagaimana hubungan uang kartal dengan perkembangan uang giral dapat dijelaskan melalui gambar berikut : Gambar 1 : Hubungan uang kartal dan uang giral Uka Ukb

Uka

Pg

Pada gambar di atas Uka menunjukkan uang kartal yang berada di luar bank umum dan bank sentral. Uang ini berada di tangan masyarakat, kas perusahaan, dipegang oleh institusi-institusi lain dalam perekonomian dan badan-badan pemerintah kecuali yang berada di kas negara. Selanjutnya Ukb menunjukkan uang kartal yang disimpan oleh bank umum sebagai cadangan. Dengan demikian Uka + Ukb menunjukkan jumlah uang kartal yang telah diciptakan (dicetak)
Muh. Ilham

38 dan dikeluarkan oleh bank sentral. Uang tersebut dinamakan uang berkuasa tinggi (high-powered money) atau biasa juga disebut basis moneter (monetery base). Disebut sebagai uang berkuasa tinggi, karena uang inilah yang akan menentukan kemampuan bank-bank umum menciptakan uang giral pada suatu waktu tertentu. Pg menunjukkan besarnya penciptaan uang giral oleh bank-bank umum. Sistem perbankan modern beroperasi berdasarkan kepada cadangan sebagian (fractional reserve system). Maksudnya, setiap bank umum tidak perlu menyimpan semua uang yang didepositokan padanya. Bank tersebut hanya perlu menyimpan sebahagian dari sejumlah yang didepositokan tersebut sebagai cadangan. Selebihnya dapat dipinjamkan kepada individu dan perusahaan. Kegiatan bankbank umum menerima deposito dan selanjutnya meminjamkan sebahagian besar dari deposito inilah yang kemudian dapat menciptakan uang giral. Jadi bank umum dapat menciptakan uang giral dengan dua cara. Pertama, uang giral tercipta apabila nasabahnasabah mendepositokan uang kartal mereka pada bank-bank umum. Pemilik uang tersebut akan memperoleh buku cek dan dapat menggunakannya dalam pembayaran. Kedua, penciptaan uang giral yang diakibatkan oleh kegiatan bank-bank umum meminjamkan kelebihan cadangan yang dimilikinya. Apabila bank umum telah menyetujui pemberian pinjaman kepada seseorang atau perusahaan, bank juga akan mengeluarkan cek dan memberi kuasa kepada

Muh. Ilham

39 peminjam tersebut mengeluarkan uang dengan cek sebanyak pinjaman yang diberikan kepadanya. Pada gambar 1 cadangan yang disimpan oleh bank-bank umum sebanyak Ukb memungkinkan terciptanya uang giral sebanyak Pg. Nilai Uka + Pg adalah lebih besar dari nilai Uka + Ukb. Kondisi ini terjadi karena adanya penciptaan uang giral sebagai akibat kegiatan bank umum memberikan pinjaman. Uka + Pg menggambarkan nilai M1 2. Proses Penciptaan Uang Giral Untuk menganalisa proses penciptaan uang giral oleh bank-bank umum, terlebih dahulu perlu digambarkan tentang keadaan neraca gabungan bank umum sebelum proses penciptaan uang berlaku. Misalkan gabungan bank umum mempunyai neraca seperti berikut : Neraca Gabungan Bank Umum Per .....
AKTIVA PASIVA Uang tunai dan cadangan* Rp. 20.000 Deposito giral Rp.100.000 Pinjaman Rp.100.000 Investasi Rp. 30.000 Modal Rp. 50.000 Jumlah Rp.150.000 Jumlah Rp.150.000 * Cadangan 20% dari deposito giral (kewajiban setiap bank umum menyimpan cadangan yang merupakan Giro Wajib Minimum/GWM).

Selanjutnya, dimisalkan ada investor asing membawa uang senilai US$ 5 dengan kurs US$ 1 = Rp.8.000, yang berarti bernilai Rp.40.000. Uang senilai Rp.40.000 tersebut disimpan pada Bank A dalam bentuk deposito giral. Selanjutnya Bank A menahan dalam

Muh. Ilham

40 bentuk cadangan sebesar 20% atau Rp.8.000, selebihnya Rp.32.000 dipinjamkan kepada Bank B. Kemudian Bank B menahan 20% dalam bentuk cadangan, yaitu senilai Rp.6.000, selebihnya dipinjamkan pada Bank C sebesar Rp.25.600. Bank C kemudian menahan dalam bentuk cadangan sebesar 20% atau senilai Rp.5.120, dan selebihnya Rp.20.480 dipinjamkan kepada Bank D, demikian seterusnya. Secara ringkas proses di atas dapat digambarkan sebagai berikut :
Bank A B C D . . . ∆ Deposito Giral 40.000 = D0 32.000 = D0(1-R) 25.600 = D0(1-R)2 20.480 = D0(1-R)3 ............................ ............................ ............................... ∆ cadangan 8.000 6.400 5.120 4.096 .................. .................. .................. ∆ Pinjaman 32.000 25.600 20.480 16.384 .................. .................. .................. 160.000

Jumlah 200.000 40.000 Keterangan : D0 = deposito giral pada periode awal R = persentase cadangan

Proses penciptaan uang giral sebagaimana digambarkan di atas dapat disingkat dengan rumus :
ΔDG = D0  
   ................(5.8)  

1 1−(1 −R)

atau

ΔDG = D0 

 1  ...........(5.9) R 

Muh. Ilham

41 Nilai   merupakan multiplier penciptaan uang giral sebagai akibat dari pertambahan deposito giral dan cadangan bank-bank umum.
ΔDG = 40.000 
 1    0,2  ΔDG =40.000(5) = Rp. 200.000
∆d = C ∆ do C R

1 R 

Jumlah perubahan cadangan dapat diperoleh dengan rumus ...........(5.10)

di mana ∆ Cdo = jumlah cadangan pada periode awal (D0 x R)
8 .0 00 ∆D = C 0,2

= Rp. 40.000

Jumlah perubahan pinjaman dapat diperoleh dengan rumus :
∆j = P ∆ jo P ..............(5.11) R

di mana ∆ Pjo = jumlah pinjaman pada periode awal (D0 - ∆ Cdo)
3 .0 0 2 0 ∆j = P 0,2

= Rp.160.000

Setelah terjadi penciptaan uang giral, maka keadaan neraca bank-bank umum sekarang menjadi : Neraca Gabungan Bank Umum Per .....
AKTIVA PASIVA Uang tunai dan cadangan* Rp. 60.000 Deposito giral Rp.300.000 Pinjaman Rp.260.000 Investasi Rp. 30.000 Modal Rp. 50.000 Jumlah Rp.350.000 Jumlah Rp.350.000 * Cadangan 20% dari deposito giral (kewajiban setiap bank umum menyimpan cadangan yang merupakan Giro Wajib Minimum/GWM).

Muh. Ilham

42 Berdasarkan neraca di atas tampak bahwa jumlah giral sekarang menjadi Rp.300.000, pada neraca awal berjumlah Rp.100.000, yang berarti ada pertambahan uang giral dari proses penciptaan oleh bankbank umum sebesar Rp.200.000. dari proses penciptaan uang giral tersebut juga terjadi pertambahan cadangan sebesar Rp.40.000, sehingga jumlah uang tunai dan cadangan pada aktiva berjumlah Rp.60.000, Rp.260.000. 3. Faktor-Faktor Yang Menentukan Besarnya Penciptaan Uang Giral Besarnya dikemukakan pertambahan dengan uang giral rumus sebagaimana (5.9) telah menggunakan merupakan demikian halnya dengan jumlah pinjaman menjadi

pertambahan maksimum yang dapat terjadi. Dalam prakteknya, jumlah maksimum uang giral yang dapat diciptakan tidak dapat tercapai. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor : a. Masyarakat memegang sebahagian uangnya dalam bentuk uang tunai; b. Bank menyimpan cadangan melebihi dari yang ditetapkan oleh Bank Sentral; c. Masyarakat mendepositokan sebahagian uangnya dalam bentuk tabungan ataupun deposito berjangka. a. Masyarakat Memegang Sebahagian Uangnya Dalam Bentuk Uang Tunai Masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi tidak selamanya menggunakan cek. Demikian halnya pinjaman yang
Muh. Ilham

43 diperoleh, tidak sepenuhnya didepositokan pada bank lainnya, tetapi ada pula yang disimpan dalam bentuk uang tunai. Oleh karena itu, dalam analisis berikut ini kita akan membahas bagaimana pemegangan uang secara tunai dapat menentukan proses penciptaan uang giral. Guna menganalisis hal tersebut dapat digunakan rumus :
D0 ∆G = D R +C

.............(5.12) atau

 1  ∆ G =D0 D  R +C ..........(5.13)   

Nilai

1 R +C

merupakan multiplier penciptaan uang giral.

di mana C = persentase uang tunai yang dipegang masyarakat Berdasarkan contoh kita sebelumnya diketahui D0 = Rp.40.000 dan GWM = 20%. Kemudian dimisalkan persentase uang tunai yang dipegang oleh masyarakat sebesar 10%. Dengan demikian jumlah penciptaan uang giral adalah :
  1  ∆ G =4 .0 0  D 0 0  0,2 +0,1   

∆ G =40 .000 (3,3333333 ) D

= Rp.133.333,33

Jumlah cadangan pada periode awal merupakan penjumlah dari persentase GWM dengan persentase uang tunai yang dipegang masyarakat, yaitu : ∆ Cdo = 40.000(0,2 + 0,1) = Rp.12.000, maka jumlah perubahan cadangan keseluruhan adalah :

Muh. Ilham

44
1 .0 2 00 ∆d = C 0,3

= Rp.40.000

Jumlah pinjaman pada periode awal adalak ∆ Pjo = D0 – Cdo, yaitu : ∆ Pjo = 40.000 – 12.000 = Rp.28.000

Dengan demikian jumlah keseluruhan perubahan pinjaman adalah :

∆ Pj=

∆ P jo R + C .............(5.14)
2 .0 0 8 0 ∆j = P 0,3

Jumlah

= 93.333,33

Berdasarkan hasil analisis di atas, maka neraca bank-bank umum setelah proses penciptaan uang giral adalah : Neraca Gabungan Bank Umum Per .....
AKTIVA Uang tunai dan cadangan Rp. 60.000 Pinjaman Rp.193.333,33 Investasi Rp. 30.000 Jumlah Rp.283.333,33 PASIVA Deposito giral Rp.233.333,33 Modal Jumlah Rp. 50.000,00 Rp.283.333,33

Berdasarkan hasil perhitungan dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa semakin banyak uang tunai yang dipegang oleh masyarakat, semakin kecil jumlah uang giral yang dapat diciptakan oleh bank-bank umum.

b. Bank Menyimpan Cadangan Melebihi dari yang ditetapkan Biasanya bank-bank umum menempuh kebijakan untuk

menyimpan uang tunai dan cadangan yang melebihi dari yang diwajibkan oleh Bank Sentral. Kebijakan tersebut biasanya ditempuh
Muh. Ilham

45 dengan tujuan untuk menjaga kestabilan bank, atau karena kurangnya nasabah bank yang dapat dipercaya dan yang diharapkan dapat mengembalikan pinjaman yang telah diterima. Implikasi dari kebijakan tersebut adalah terbatasnya penciptaan uang giral oleh bank-bank umum. Rumus yang dapat digunakan untuk kasus ini adalah :
∆G = D D0 R +R t

............(5.15) atau
 ............(5.16)  

 1 ∆ G =D0 D  R +R t 

Nilai

1 R +R t

merupakan multiplier penciptaan uang giral.

Rt = persentase jumlah uang tunai yang ditahan oleh bank umum. Sesuai pada contoh pertama di ketahui D0 = Rp.40.000, dan persentase GWM adalah R = 20%. Kemudian bank-bank umum menahan sebahagian dananya dalam bentuk uang tunai sebesar 25% atau Rp.10.000, maka besarnya penciptaan uang giral adalah :
 1 ∆ G =4 .0 0  D 0 0  0,2 +0,2 5     

∆ G =40 .000 ( 2,2222222 ) D

= Rp.88.889 cadangan secara keseluruhan dapat

Jumlah
∆d Co R +R t

perubahan

dirumuskan dengan :
∆d = C

............(5.17)

∆Cdo diperoleh dari D0(R + Rt), sehingga jumlah perubahan cadangan

secara keseluruhan adalah :

Muh. Ilham

46 ∆ Cdo = 40.000(0,2 + 0,25) ∆ Cdo = 40.000(0,45) = 18.000, sehingga :
1 .00 8 0 ∆d = C 0,4 5

= 40.000

Jumlah perubahan pinjaman secara keluruhan dirumuskan dengan :
∆ jo P ∆j = P R +R t

...........(5.18)

dan ∆ Pjo = D0 – Cdo ∆ Pjo = 40.000 – 18.000 = 22.000, sehingga jumlah perubahan pinjaman secara keseluruhan adalah :
2 .0 0 2 0 ∆j = P 0,2 +0,2 5 2 .0 0 2 0 ∆j = P 0,4 5

= Rp.48.889

Adapun keadaan neraca gabungan bank umum setelah adanya proses penciptaan uang giral adalah : Neraca Gabungan Bank Umum Per .....
AKTIVA Uang tunai dan cadangan Pinjaman Investasi Jumlah Rp. 60.000 Rp.148.889 Rp. 30.000 Rp.238.889 PASIVA Deposito giral Modal Jumlah Rp.188.889 Rp. 50.000 Rp.238.889

Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa apabila bank umum menahan uang tunai dalam jumlah yang lebih besar, maka ju,lah uang giral yang dapat diciptakan semakin kecil. c. Masyarakat Menyimpan Sebahagian Uangnya Dalam Bentuk Tabungan atau Deposito Berjangka.
Muh. Ilham

47 Masyarakat biasanya dari sejumlah uang dimilikinya, selain ia menyimpan dalam bentuk deposito giral, mereka juga menyimpan dalam bentuk deposito berjangka ataupun dalam bentuk tabungan. Perilaku masyarakat yang demikian dapat mempengaruhi besarnya penciptaan uang giral oleh bank-bank umum. Misalkan diketahui D0 = Rp.40.000. Sebesar 25% dari D0 disimpan dalam bentuk deposito berjangka. Jumlah yang dicadangkan dari deposito berjangka (Db) sebesar 10%. Selanjunya dapat diketahui bagaimana pengaruhnya terhadap proses penciptaan uang dan ekspansi uang giral. -

Deposito giral (D0) = Rp.40.000 Jumlah deposito berjangka (Db) = 25% x Rp.40.000 = Rp.10.000. Jumlah Db yang dicadangkan = 10% x Rp.10.000 = Rp.1.000. Jumlah deposito giral (D1) adalah Rp.40.000 – Rp.10.000 = Rp.30.000, atau sebesar 75%. Jumlah yang dicadangkan dari deposito giral (D1) adalah sebesar 20% x Rp.30.000 = Rp.6.000. Total cadangan (Tcd) = cadangan Db + cadangan D1 (Rp.1.000 + Rp.6.000 = Rp.7.000).
Tcd 7.000 ; R= = 0,175 D0 40 .000

-

-

-

Nilai R =

Muh. Ilham

48
  Dengan demikian berdasarkan perumusan (5.9), yaitu ∆ DG = D0 R  1  
 dengan sedikit perubahan simbol, yaitu ∆D = D0 1  , di mana ∆ D R 

merupakan penjumlahan dari ∆ D1 dan ∆ Db dapat diketahui :
 1  ∆ =40 .000  D   0,175 

- Besarnya penciptaan uang dari keseluruhan jumlah deposito : ∆ D = 40.000(5,7142857) = 228.571,43 - Besarnya penciptaan uang giral dari D1 :
1 ∆D 1 = D 1   R 
 1  ∆ 1 =30 .000  D   0,175 

∆ D1 = 30.000(5,7142857) = 171.428,57 - Jumlah penciptaan uang dari Db :
1  ∆Db = Db   R 
 1  ∆ b =10 .000  D   0,175 

∆ Db = 10.000(5,7142857) = 57.142,86
Cd - Jumlah perubahan cadangan : ∆ = Tcd R

7.0 0 0 ∆d = C 0,1 5 7

= Rp. 40.000

P - Jumlah perubahan pinjaman : ∆ j =

∆ jo P R

∆ Pjo = D0 – Tcd ∆ Pjo = 40.000 – 7.000 = 33.000

Muh. Ilham

49
3 .0 0 3 0 ∆j = P 0,1 5 7

= 188.571,43

Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat ditarik tiga kesimpulan :
(a)

Penyimpanan

dalam

bentuk

deposito

giral

hanya

dapat

menambah deposito giral sebanyak Rp.200.000, sedangkan penambahan deposito dengan memperhitungkan keseluruhan deposito (D1 + Db) dapat menambah deposito dalam jumlah yang lebih besar, yaitu Rp.228.571,43.
(b)

Deposito yang beragam (D1 dan Db) hanya menciptakan uang giral sebesar Rp.171.428,57 lebih rendah bila dibandingkan dengan pertambahan DG sebesar Rp.200.000. Kondisi seperti ini mengakibatkan lambannya perkembangan M1 yang bersumber dari uang giral.

(c)

Deposito yang beragam bentuknya akan menambah uang kuasi, sehingga M2 mengalami perkembangan yang pesat.

Selanjutnya dari hasil analisis di atas dapat dibuat neraca bankbank umum setelah proses penciptaan uang giral dan uang kuasi. Neraca Gabungan Bank Umum Per .....
AKTIVA Uang tunai dan cadangan Rp. 60.000 Pinjaman Rp.288.571,43 Investasi Rp. 30.000 Jumlah Rp.378.571,43 PASIVA Deposito giral Deposito Bjk. Modal Jumlah Rp.271.428,57 Rp. 57.142,86 Rp. 50.000 Rp.378.571,43

E. Soal-soal Latihan

Muh. Ilham

50 1. Kemukakan pengertian jumlah uang beredar dalam arti luas dan dalam arti sempit beserta rumusnya! 2. Kemukakan indikator apa yang dapat ditunjukkan oleh : a. Rasio atau posisi uang kartal terhadap uang giral b. Rasio atau posisi uang giral terhadap uang kartal
c. d.

Rasio atao posisi M1 terhadap M2 Rasio atau posisi uang kuasi terhadap M2

3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan jumlah uang beredar!

4. a. Dengan menggunakan model teori kuantitas uang Klasik, jika diketahui sejumlah uang digunakan rata-rata 10 kali dalam setahun untuk membiayai transaksi. Jumlah transaksi barang 10.000 kg, harga rata-rata per kg barang Rp.5.000. Berapakah jumlah uang beredar? Bila penawaran uang (M) meningkat 15 %, berapakah kenaikan tingkat harga ? b. Dengan soal yang sama pada nomor 4.a. Gunakanlah model sisa tunai, bandingkan hasilnya dan berikan kesimpulan tentang dua model tersebut. 5. Bandingkan antara teori penawaran uang Klasik, Milton Friedman dan Keynes, kemudian berikan kesimpulan! 6. Jelaskan bagaimana cara bank umum dapat menciptakan uang giral, dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penciptaan uang giral. 7. Bila diketahui neraca gabungan bank umum adalah :
Muh. Ilham

51 AKTIVA PASIVA Uang tunai dan cadangan Rp. 7.500* Deposito giral Rp.150.000 Pinjaman Rp. 147.500 Investasi Rp. 70.000 Modal Rp. 75.000 Jumlah Rp.225.000 Jumlah Rp.225.000 * Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 5% Misalkan ada tambahan deposito giral pada salah satu bank umum sebesar Rp.100.000, dan 20% dari deposito giral tersebut disimpan dalam bentuk deposito berjangka. Jumlah yang dicadangkan dari deposito berjangka sebesar 10%. Berdasarkan data di atas hitunglah : a. Besarnya penciptaan uang dari keseluruhan jumlah deposito. b. Besarnya penciptaan uang giral c. Besarnya penciptaan uang dari deposito berjangka d. Jumlah perubahan cadangan e. Jumlah perubahan pinjaman f. Neraca gabungan bank umum yang baru.

Muh. Ilham

PERMINTAAN AKAN UANG
A. Teori Kuantitas Sebagai Teori Permintaan Uang (Teori Klasik) Pandangan klasik mengenai faktor-faktor yang menentukan permintaan uang dapat diterangkan dengan menggunakan teori kuantitas dan teori sisa tunai. Teori kuantitas dan teori sisa tunai pada dasarnya bertujuan untuk menerangkan hubungan antara penawaran uang dengan tingkat bunga. Di samping untuk tujuan tersebut, kedua teori tersebut dapat juga digunakan untuk menerangkan pandangan Klasik mengenai tujuan masyarakat meminta/memegang uang. Dua cara yang digunakan untuk menjelaskan hubungan di antara jumlah uang dan arus pengeluaran uang. Yang pertama menggunakan konsep tingkat perputaran uang (velocity of money). Dalam kasus ini efek perputaran uang terhadap pendapatan (income velocity of money. Teknik yang pertama disebut dengan teori kuantitas uang dapat dirumuskan dengan MV = PT. Keterangan : M : jumlah uang V : jumlah rata-rata berapa kali per tahun setiap rupiah dari M itu dibelanjakan. P : harga rata-rata per unit output atau tingkat harga output. T : Output riil dalam satu tahun. Identitas permintaan uang di atas seringkali disebut jenis persamaan Fisherine karena digunakan oleh Irving Fisher dari Universitas Yale. 52

53 Identitas di atas menyatakan pentingnya persamaan di antara aliran pengeluaran untuk output (MV) dan nilai uang dari output yang dibeli oleh arus itu (PT atau Y). Selanjuutnya, teknik lain adalah pendekatan Cambridge yang digunakan oleh Alfred Marshall dan para ahli ekonomi lain dari Universitas Cambridge. Pendekatan itu disebut teori sisa tunai dirumuskan dengan M = kPT. M dan PT mempunyai arti yang sama dalam persamaan kuantitas uang, sedangkan k adalah bagian dari PT yang dipegang oleh masyarakat dalam bentuk saldo uang. Dalam teori kuantitas maupun sisa tunai, ahli ekonomi Klasik berpendapat bahwa nilai V dan nilai k tetap, dan perekonomian selalu mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, yang berarti nilai T juga tetap. Guna menjelaskan teori kuantitas dan teori sisa tunai sebagai teori permintaan uang, maka teori kuantitas dan teori sisa tunai perlu dimodifikasi. Nilai PT sama dengan nilai pendapatan nasional nominal (Y). Berdasarkan kesamaan PT dan Y, maka persamaan teori kuantitas dan sisa tunai dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
-

V Teori kuantitas : M =Y atau M =

1 Y ...........(1) V

-

Teori sisa tunai : M = kY ...........(2).

Nilai V pada persamaan (1) menggambarkan kekerapan jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian berpindah tangan untuk membiayai transaksi yang dilakukan. Apabila uang yang tersedia dalam perekonomian secara rata-rata digunakan sebanyak 6 kali dalam
Muh. Ilham

54 setahun, maka V = 6. Nilai tersebut menggambarkan bahwa secara rata-rata uang rupiah yang terdapat dalam perekonomian digunakan dalam akan transaksi disimpan sebanyak masyarakat 6 kali dalam setahun. Nilai k menggambarkan periode di mana uang (sisa tunai atau saldo uang) sebelum digunakan kembali untuk transaksi). Oleh karena k = 1/V, maka apabila uang yang tersedia dalam perekonomian digunakan 6 kali dalam setahun, berarti uang yang disimpan (dipegang) masyarakat selama 1/6 tahun atau 2 bulan sebelum digunakan lagi untuk transaksi. Menurut teori kuantitas bahwa nilai V menunjukkan berapa kalikah uang yang tersedia dalam perekonomian digunakan untuk membayar transaksi yang dilakukan. Di lain pihak menurut teori sisa tunai, nilai V menunjukkan berapa lamakah uang yang tersedia dalam perekonomian disimpan masyarakat sebelum digunakan kembali untuk transaksi. Berdasarkan teori kuantitas dan teori sisa tunai sebagai teori permintaan uang dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menentukan permintaan menurut pandangan Klasik adalah : (a) Nilai transaksi yang berlaku dalam perekonomian dalam suatu waktu tertentu, yang diukur berdasarkan nilai produksi nasional yang diciptakan (Y). (b) Kecepatan peredaran uang dalam perekonomian (nilai V atau 1/k). Sebagaimana telah diuraikan bahwa menurut Klasik nilai V adalah tetap, maka nilai transaksi terhadap produksi nasional, merupakan faktor utama yang menentukan permintaan uang dalam perekonomian
Muh. Ilham

55 dan perubahan permintaan dari waktu ke waktu. Dengan demikian tujuan masyarakat meminta (memegang) uang adalah untuk kegiatan transaksi. Di samping itu menurut A.C. Pigou adalah untuk kebutuhan berjaga-jaga. Tingkat kelajuan peredaran uang dapat dihitung dengan rumus :
k= G DP n M +M A B 2

............(3)

(R.M. Sundrum, 1973) Keterangan : GDPn = Gross Domestic Product Nominal (Pendapatan Domestik Bruto Nominal). MA = Jumlah uang beredar awal tahun MB = Jumlah uang beredar akhir tahun k = Nilai kecepatan peredaran uang dalam satu tahun. B. Teori Permintaan Uang : Golongan Keynesian Analisis tentang ciri-ciri permintaan akan digunakan pendekatan yang dikemukakan oleh J.M. Keynes bahwa permintaan akan uang ditentukan atas tiga motif : (a) Motif transaksi (transaction motive); (b) Motif berjaga-jaga (precautionary motive); (c) Motif spekulasi (speculative motive). 1. Permintaan Uang Untuk Transaksi

Muh. Ilham

56 Teori tersebut pada dasarnya menerangkan bahwa seseorang tidak akan memegang uangnya dalam bentuk uang tunai dan disimpan di rumah. Sesorang akan menyimpan uangnya di bank dan mengharapkan hasil dari bunga atas penyimpanan tersebut. Kekerapan seseorang pergi ke bank mengambil uangnya guna membiayai transaksinya ditentukan oleh dua hal, yaitu : (1) biaya untuk pergi ke bank; dan (2) bunga yang diperoleh dari penyimpanan uang di bank. Apabila biaya transportasi diperhitungkan, maka seseorang tidak setiap hari melakukan pengambilan uangnya di bank. Dengan demikian seseorang akan memperhitungkan berapa banyak uang yang akan dipegangnya dan berapa kali ia akan pergi ke bank. Bila semakin banyak uang tunai yang dipegang, maka biaya yang dikeluarkan bertambah. Dengan demikian biaya yang timbul adalah : (1) biaya pergi ke bank; (2) biaya karena kehilangan pendapatan. Biaya pergi ke bank biaya untuk setiap perjalanan (misalnya = b) dikali dengan jumlah frekuensi perjalanan yang dilakukan (misalnya = n). Biaya yang timbul karena kehilangan pendapatan dari bunga ditentukan oleh suku bunga (r) dan pemegangan uang rata-rata (money balance). Apabila perjalanan ke bank hanya dilakukan sekali dalam satu periode, pemegangan uang rata-rata dapat dihitung dengan rumus : Mb = Y/2 .............(4) Y = pendapatan per bulan Apabila perjalanan ke bank di lakukan sebanyak n kali, maka pemegangan uang rata-rata dapat dihitung dengan rumus :
Muh. Ilham

57
1Y  Y mb =   = ..............(5). n  2  2n

Contoh : Andy memperoleh pendapatan Rp.2.800.000 per bulan. Setiap bulan Andy pergi ke bank sebanyak 4 kali yang berarti setiap kali ke bank Andy mengambill rata-rata sebesar Rp.700.000. Dengan dmikian pemegangan uang rata-rata atau saldo uang rataratanya sebesar Rp.350.000. Dari contoh tersebut dapat dijelaskan sebagaimana gambar berikut ini. Gambar 2 menjelaskan bahwa uang sebanyak Rp.700.000 yang diambil Andy setiap kali ke bank akan dibelanjakannya dalam satu periode pengambilan. Pada periode I uang sebesar Rp.700.000 dibelanjakannya pada awal periode I yaitu mulai dari titik A hingga ke titik B, di mana pada titik B uang Andy sebesar Rp.700.000 sudah habis. Pada periode II Andy mengambil lagi sebesar Rp.700.000 yang ditunjukkan oleh titik C. Demikian seterusnya hingga periode IV pada titik H uang Andy sebesar Rp.2.800.000 akan habis, dan yang tertinggal hanyalah pendapatan bunga. Gambar 2 : Pemegangan uang rata-rata Rp 700 A 350 Pemegangan uang rata-rata
Muh. Ilham

C

E

G uang yang dipegang

58 I B II D Periode III F IV H

Selanjutnya untuk menghitung besarnya biaya karena kehilangan pendapatan bunga dapat digunakan rumus berikut :
Cr =r 
 Y  rY = ..........(6)  2  2n

Cr = biaya karena kehilangan pendapatan dari bunga r = suku bunga bank Keseluruhan biaya yang timbul dari memegang uang tunai adalah biaya perjalanan tambah biaya kehilangan pendapatan dari bunga, dengan demikian total biaya dapat dihitung sebagai berikut :
TC =bn + rY ................(7) 2n

Biaya perjalanan (bn) akan semakin tinggi apabila frekuensi ke bank (n) bertambah. Sebaliknya Biaya kehilangan pendapatan dari bunga semakin rendah apabila frekuensi ke bank bertambah. Selanjutnya untuki menentukan jumlah perjalanan (nilai n) yang paling minimum untuk memperoleh biaya yang paling minimum dapat digunakan rumus :
n= rY .............(8) 2b

Contoh : Dimisalkan Dedy memperoleh pendapatan Rp.3.200.000 per bulan. Dalam sebulan (30 hari) Dedy menggunakan uang setiap
Muh. Ilham

59 harinya dalam jumlah yang sama, maka uang yang ideal baginya adalah mengambil sebanyak Rp.106.667 per hari. Pada akhir bulan pendapatan Dedy telah habis digunakan untuk transaksi, yang tetap ada pada rekening Dedy adalah bunga uang dari menyimpan uang di bank, dan ini merupakan pendapatan bunga yang paling maksimum dapat diperolehnya. Namun, karena ada biaya transportasi ke bank, maka biaya tersebut harus diperhitungkan, sehingga dengan tambahan biaya, maka Dedy tidak setiap hari pergi ke bank mengambil uangnya. Misalkan : Pendapatan (Y) = Rp.3.200.000 tingkat suku bunga r = 1 % Biaya transportasi setiap kali pergi ke bank (b) = Rp.4.000
n= 0,01(3.200 .000) 2(4.000)

n=

32.000 8.000
4

n= n=2

Dengan demikian frekuensi pengambilan uang di bank dengan jumlah biaya yang paling minimum dikeluarkan oleh Dedy adalah apabila ia mengambil uangnya di bank sebanyak 2 kali dalam sebulan, yang berarti pengambilan Dedy setiap kali ke bank adalah sebesar Rp.1.600.000. - Pemegangan uang rata-rata :

Muh. Ilham

60
mb = 1  3.200.000  3.200.000  = = Rp. 800.000 2 2 2(2) 
 3.200.000  0,01(3.200 .000) =  2(2) 2(2)  

- Besarnya biaya kehilangan pendapatan :
Cr = 0,01 

Cr =

32.000 = 8.000 4

- Biaya perjalanan sebesar Mb = 4.000(2) = Rp.8.000 - Total biaya yang dikeluarkan Dedy adalah : TC = Rp.8.000 + Rp.8.000 = Rp.16.000 Bila Dedy hanya sekali pergi kebank, biaya yang dikeluarkan : Biaya transportasi adalah sebesar : bn = 4.000(1) = Rp.4.000 Biaya kehilangan pendapatan bunga adalah sebesar :
Cr = 0,01(3.200 .000) = Rp.16.000 2(1)

- Total biaya TC = Rp.4.000 + Rp.16.000 = Rp.20.000 Bila Dedy melakukan tiga pengambilan, maka biaya yang dikeluarkan : -

Biaya transportasi : bn = 4.000(3) = Rp.12.000 Biaya
Cr =

kehilangan

pendapatan

bunga

:

32.000 =Rp.5.333,3 3 2(3)

-

Total biaya yang dikeluarkan TC = Rp.12.000 + Rp.5.333,44 = Rp.17.333,33

Muh. Ilham

61 Berdasarkan contoh di atas jelaslah kiranya bahwa jika Dedy mengambil uang ke bank sebanyak 1 kali atau lebih dari 2 kali dalam sebulan, maka biaya yang dikeluarkannya akan lebih besar. 2. Permintaan Uang Untuk Berjaga-jaga Dalam jangka pendek maupun jangka panjang seseorang perlu menyisihkan dana untuk berjaga-jaga. Dalam jangka panjang uang itu meliputi keperluan untuk hari tua, biaya pendidikan anak untuk masa yang akan datang, dan lain-lain. Dana untuk kebutuhan jangka pajang ini tidak akan disimpan di rumah atau di bank dalam bentuk uang giral. Biasanya dana tersebut akan diinvestasikan dalam bentuk harta tetap, obligasi dan saham, atau asuransi. Dengan demikian permintaan uang untuk kebutuhan berjaga-jaga dalam jangka panjang lebih tepat digolongkan ke dalam permintaan uang untuk spekulasi. Pemiliknya akan berusaha memperoleh pendapatan dari dana untuk keperluan berjaga-jaga jangka pajang. Dalam jangka pendek setiap orang akan memerlukan dana untuk berjaga-jaga. Uang yang dipegang oleh seseorang yang tinggal di rumah berbeda dengan orang yang sedang bepergian. Pertama-tama yang membedakannya adalah untuk berjaga-jaga jika ada tambahan biaya transportasi atau tambahan biaya makan, sehingga seseorang yang sedang bepergian akan membawa uang melebihi dari yang dibutuhkannya untuk keperluan transaksi yang telah direncanakannya. Jadi uang tersebut hanya akan digunakan untuk keperluan yang tak terduga.
Muh. Ilham

62 Apakah yang menentukan jumlah uang yang disisihkan untuk berjaga-jaga? Seperti halnya dengan permintaan uang untuk transaksi, permintaan uang untuk berjaga-jaga ditentukan oleh pendapatan seseorang. Semakin tinggi pendapatan, semakin banyak uang yang dibawanya untuk keperluan transaksi dan berjaga-jaga. Selain itu, akan ditentukan pula oleh perkembangan lembaga keuangan, misalnya dengan adanya ATM (automatic teller machine) atau kartu kredit. Artinya seseorang yang memiliki ATM atau kartu kredit akan membawa uang tunai dalam jumlah yang terbatas. 3. Permintaan Uang Untuk Spekulasi Individu-individu dalam masyarakat akan selalu memikirkan untuk memperoleh pendapatan dari kelebihan uang yang dimilikinya. Setiap kali memperoleh uang akan diperhitungkan berapa kebutuhan untuk transaksi dan berjaga-jaga dan selebihnya akan digunakan untuk tujuan menambah kekayaan di masa depan dengan membeli surat berharga. Keynes dalam analisisnya memisalkan bahwa dalam perekonomian hanya terdapat dua bentuk aset keuangan, yaitu uang tunai (termasuk uang giral), yaitu harta kekayaan yang tidak menghasilkan pendapatan (bunga) dan aset yang menghasilkan pendapatan terdiri atas obligasi (bonds) pemerintah. Dengan demikian setiap individu hanya mempunyai dua pilihan, yaitu tetap menyimpan uang tunai atau membeli obilgasi. Bagaimana perilaku individu dalam

Muh. Ilham

63 kondisi seperti itu ? dan apa implikasinya terhadap permintaan uang untuk spekulasi? Contoh : Misalkan pemerintah mengeluarkan obligasi yang setiap lembarnya bernilai Rp.2.000.000 dengan bunga tetap 10% per tahun. Dengan demikian setiap tahunnya akan diterima sebesar Rp.2.000.000 x 10% = Rp.200.000. Selanjutnya dimisalkan pada suatu tahun tertentu suku bunga naik menjadi 12,5 persen per tahun. Dengan naiknya suku bunga tersebut, maka bagi seorang investor, pendapatan sebanyak Rp.200.000 yang akan diterima sebagai pendapatan bunga obligasi akan dinilai sebesar 12,5 persen dari harga obligasi. Berarti harga obligasi tersebut dengan bunga 12,5 persen per tahun adalah :
200.000 = Rp.1.600.0 00 0,125

Dengan demikian dengan adanya kenaikan suku bunga menjadi 12,5 persen menyebabkan harga obligasi turun menjadi sebesar Rp.1.600.000. Selanjutnya dengan harga obligasi Rp.1.600.000 dan bunga 12,5 persen, maka pendapatan bunga yang diperoleh adalah : Rp.1.600.000 x 12,5% = Rp.200.000. Dalam kondisi demikian, maka seseorang akan memilih untuk membeli obligasi, karena dengan harga yang lebih rendah ia akan memperoleh pendapatan sebesar Rp.200.000. Kemudian dimisalkan bila suku bunga obligasi turun 8 persen per tahun, maka harga obligasi adalah sebesar :
200.000 = Rp.2.500.0 00 . 0,08

Muh. Ilham

64 Dengan demikian pendapatan bunga yang dapat diperoleh adalah : Rp.2.500.000 x 8% = Rp.200.000. Dengan harga obligasi yang lebih tinggi besarnya pendapatan yang diperoleh hanya Rp.200.000 Berdasarkan pemisalan di atas dapat disimpulkan bahwa : harga obligasi akan turun apabila suku bunga naik, dan sebaliknya harga obligasi akan naik apabila suku bunga turun. Turunnya harga obligasi berarti di satu sisi permintaan terhadap obligasi meningkat dan di sisi lain permintaan terhadap uang untuk tujuan spekulasi berkurang. Begitu pula sebaliknya, bila harga obligasi naik, maka di satu sisi permintaan terhadap obligasi turun (masyarakat akan melepas obligasinya) dan di sisi lain permintaan terhadap uang untuk tujuan spekulasi bertambah (masyarakat cenderung memegang uang tunai untuk tujuan spekulasi). Berdasarkan sifat hubungan antara harga obligasi dengan suku bunga, maka dapat dijelaskan hubungan antara permintaan uang untuk spekulasi dengan suku bunga. Gambar 3 : Permintaan uang untuk spekulasi menurut Keynes
3.a r r r0 rn rc rt
MD S MD S MD S

3.b.

Muh. Ilham

65

Sumbu vertikal pada gambar di atas menunjukkan tingkat suku bunga (r) dan sumbu horisontal menunjukkan jumlah permintaan uang
D untuk tujuan spekulasi ( M S ). Menurut Keynes berdasarkan gambar

3.a bahwa setiap individu mempunyai persepsi tersendiri mengenai suku bunga normal yaitu suku bunga berdasarkan ekspektasi akan berlaku di masa akan datang. Suku bunga normal disimbolkan dengan rn. Seseorang akan membeli obligasi apabila suku bunga yang berlaku sama dengan suku bunga normal. Apabila suku bunga normal berbeda dengan suku bunga yang berlaku, yaitu : a) apabila suku bunga berlaku lebih tinggi dari suku bunga normal, maka seseorang akan tetap memegang obligasi, dengan harapan suku bunga akan kembali ke suku bunga normal, sehingga harga obligasi akan naik. Dalam kondisi demikian seseorang akan memperoleh keuntungan dari (i) bunga yang diterima, dan (ii) kenaikan nilai obligasi.
b) Apabila suku bunga berlaku berada di antara suku bunga normal

(rn) dan suku bunga kritis atau critical interest rate (rc), ekspektasi seseorang adalah suku bunga akan meningkat kembali ke rn dan akan menurunkan harga obligasi. Pada suku bunga di antara rn dan rc tersebut masih dapat mengimbangi kerugian dari penurunan harga obligasi. Oleh sebab itu seseorang akan tetap memegang obligasi yang dimilikinya. Suku bunga kritis adalah

Muh. Ilham

66 suku bunga di mana seseorang investor akan menjual

obligasinya dan lebih memilih memegang uang tunai.
c) Apabila suku bunga berada di bawah suku bunga kritis (r c),

diharapkan pada masa berikutnya suku bunga akan kembali pada tingkat rc, maka harga obligasi akan turun lebih rendah dari bunga yang dapat diterima. Dalam keadaan seperti itu, akan lebih baik menjual obligasi dan memilih memegang uang tunai dari pada membeli obligasi. Menurut Keynes setiap individu mempunyai persepsi yang berbeda tentang suku bunga normal (rn). Ada yang menentukannya pada suku bunga yang relatif tinggi dan ada pula yang menetapkan pada suku bunga yang relatif rendah. Dengan demikian setiap individu akan mengganti uang yang dispekulasikannya dengan obligasi, atau sebaliknya, yaitu mengganti obligasi dengan uang tunai, pada suku bunga yang berlainan. Namun demikian secara umum dapat dikatakan bahwa semakin tinggi suku bunga, semakin banyak investor yang akan membeli obligasi dengan menggunakan uang yang disisihkannya untuk spekulasi, sehingga permintaan uang untuk spekulasi berkurang. Pada gambar 3.b suku bunga r0 merupakan suku bunga yang paling tinggi. Pada suku bunga r0 tersebut menunjukkan bahwa semua investor telah membeli obligasi dari sejumlah uang yang disisihkannya untuk tujuan spekulasi. Suku bunga rt merupakan suku bunga yang paling rendah, di mana pada tingkat tersebut tingkat suku bunga tidak akan turun lagi ke tingkat yang lebih rendah. Pada suku bunga rt para
Muh. Ilham

67 investor lebih memilih untuk memegang uang tunai dari pada obligasi, sehingga permintaan uang untuk spekulasi bertambah. C. Teori Permintaan Uang : Milton Friedman (Teori Kuantitas Modern) Pandangan Friedman mengenai teori permintaan uang dikenal dengan “teori kuantitas modern”. Pandangan Friedman tersebut diulas dalam bukunya yang berjudul “The Quantity Theory of Money – A Restatement”. Friedman dalam ulasannya memberikan reaksi terhadap pandangan Keynes mengenai faktor-faktor yang menentukan permintaan uang, di mana suku bunga obligasi merupakan salah faktor yang menentukan permintaan uang. Menurut Friedman bahwa bukan hanya suku bunga obligasi yang menentukan permintaan uang, tetapi juga suku bunga aset lainnya seperti aset tetap. Di sisi lain Friedman sependapat dengan pandangan klasik bahwa permintaan uang adalah proporsional dengan pendapatan nasional. Dalam teori kuantitas modern sebagaimana dikemukakan oleh Friedman bahwa permintaan uang ditentukan oleh : tingkat harga, suku bunga obligasi, suku bunga equities, modal fisikal dan kekayaan. Selanjutnya dalam teori klasik maupun Keynes ditekankan pada permintaan uang nominal, sedangkan Friedman menekankan pada permintaan uang riil (real balances). Mengenai peranan harga dalam menentukan permintaan uang, Friedman berpendapat bahwa memegang uang adalah salah satu cara untuk menyimpan kekayaan,
Muh. Ilham

68 selain itu dapat pula dilakukan dengan cara menyimpan dalam harta keuangan (financials asset), seperti obligasi, deposito dan saham, harta tetap berupa tanah dan rumah serta human wealth. Bila terjadi kenaikan harga (inflasi), maka nilai uang akan merosot, sehingga akan mendorong masyarakat untuk mengurangi memegang uang tunai dan menggantikannya dengan memegang harta keuangan atau harta tetap. Dalam menentukan pilihan apakah masyarakat akan memegang uang atau menggantikannya dengan obligasi dan ekuiti akan ditentukan oleh suku bunga. Suku bunga yang tinggi mendorong orang membeli lebih banyak obligasi dan ekuiti, di sisi lain uang tunai yang dipegang akan dikurangi. Berarti permintaan uang akan berkurang apabila suku bunga obligasi dan ekuiti meningkat. Keadaan yang sebaliknya akan meningkatkan permintaan uang. Modal fisikal dapat menghasilkan pendapatan, misalnya dengan penyewaan rumah atau harta-harta tetap lainnya, dan memiliki modal fisikal merupakan alternatif dari menyimpan kekayaan berupa uang. Apabila modal fisikal menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, maka masyarakat cenderung mengurangi memegang uang tunai. Dengan demikina permintaan akan uang akan berkurang. Sebaliknya bila modal fisikal hanya menghasilkan pendapatan yang relatif lebih rendah, orang lebih suka memegang uang tunai, sehingga permintaan akan uang bertambah. Selanjutnya, faktor lain yang menentukan permintaan uang adalah pendapatan dan kekayaan. Pendapatan dan kekayaan merupakan penentu besar kecilnya kemampuan belanja seseorang.
Muh. Ilham

69 Semakin besar pendapatan dan kekayaan, maka semakin besar pula pembelanjaan seseorang. Hal ini berarti semakin besar pendapatan dan kekayaan, semakin besar pula permintaan uang untuk transaksi. Teori Friedman mengenai permintaan uang dapat dirumuskan dengan : Md = f(P, r, rFC, Y) atau sebagaimana persamaan (5.4). Keterangan : Md : permintaan uang nominal P : tingkat harga r : suku bunga rFC : tingkat pengembalian modal dari modal fisikal. Y : pendapatan dan kekayaan. Selanjutnya untuk permintaan uang riil, persamaannya adalah :
M d P

= f(∆ P, r, Y*)
M d P

Keterangan :

: permintaan uang riil

∆ P : tingkat kenaikan harga r : suku bunga obligasi, ekuiti, tingkat pengembalian modal fisikal Y* : nilai pendapatan dan kekayaan riil. Mengenai pengaruh suku bunga terhadap permintaan uang, terdapat perbedaan antara Friedman dengan Keynes. Menurut Friedman, perubahan suku bunga tidak akan banyak mempengaruhi perubahan permintaan uang, sedangkan Keynes berpendapat bahwa perubahan suku bunga sangat mempengaruhi permintaan uang. Selanjutnya, jika membandingkan teori permintaan uang Klasik dengan teori permintaan uang oleh Friedman, tampaknya kedua
Muh. Ilham

70 pandangan tersebut memiliki persamaan dalam hal sifat hubungan antara pendapatan nasional dengan permintaan uang. Walaupun Friedman berpendapat bahwa terdapat banyak faktor yang menentukan permintaan uang tetapi di antara permintaan uang dan pendapatan nasional masih bersifat proporsional. Teori permintaan uang Friedman dalam bentuk yang lebih sederhana dapat dinyatakan dengan :
MD = P

f(∆ P, r).Y*

D Keterangan : M : permintaan uang riil P Y* : pendapatan nasional riil P : tingkat harga r : tingka suku bunga Menurut Friedman bahwa nilai f(∆ P, r).Y* adalah cukup stabil dan banyak berubah. Perubahan harga dan suku bunga tidak akan banyak mempengaruhi nilainya. Berdasarkan keyakinan ini, seperti juga yang diyakini oleh ahli-ahli ekonomi klasik, maka Friedman berpendapat bahwa permintaan uang adalah proporsional dengan pendapatan nasional riil. D. Soal-soal Latihan 1. Bandingkan antara teori permintaan uang Klasik, Milton Friedman dan Keynes, kemudian berikan kesimpulan! 2. Bila diketahui Zidane mempunyai pendapatan dalam sebulan sebesar Rp.2.000.000, tingkat suku bunga bank 1 % per bulan,
Muh. Ilham

71 biaya transportasi ke bank Rp.4.000. Berdasarkan data tersebut tentukanlah : a. Jumlah perjalanan dengan biaya yang paling minimum; b. Besarnya total biaya yang dikeluarkan dalam pengambilan uang di bank. 3. Dalam pandangan Keynes mengenai permintaan uang untuk spekulasi, pada saat mana seseorang akan memegang obligasi dan melepaskannya untuk memegang uang tunai dan gambarkan grafiknya!
4.

Jika diketahui pemerintah mengeluarkan obligasi yang setiap

lembarnya bernilai Rp.1.500.000 dengan bunga tetap 15% per tahun. Selanjutnya dimisalkan pada suatu tahun tertentu suku bunga turun menjadi 12,5% persen per tahun. Kemudian dimisalkan bila suku bunga obligasi naik menjadi 16% per tahun. a. b. Berdasarkan data di atas tentukanlah harga obligasi pada Berikan kesimpulan kualitatif atas hasil perhitungan Anda! suku bunga 12,5% per tahun dan 16% per tahun

Muh. Ilham

INFLASI
A. Pengertian dan Pengukuran Inflasi Inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi dan juga masalah politik yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia dewasa ini. Hal tersebut ada benarnya, sebagaimana telah ditulis oleh J.M. Keynes tentang Lenin yang konon pernah menyatakan bahwa cara terbaik untuk menghancurkan sistem kapitalisme adalah dengan menghancurkan sistem keuangannya. Dengan proses inflasi yang terus menerus berlangsung, pemerintah dapat mengambil alih, secara diamdiam dan sulit dilacak, sebagian besar jumlah kekayaan waraga negaranya. Inflasi terjadi apabila tingkat harga-harga dan biaya-biaya umum naik, yaitu harga beras, harga bahan bakar, harga mobil, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal dan lain sebagainya mengalami kenaikan. Secara singkat inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga secara umum. Dalam pengertian inflasi di atas, kita tidak mengatakan bahwa selama masa inflasi semua harga dan biaya meningkat dalam proporsi yang sama, dan memang, jarang sekali terjadi laju kenaikan yang sama. Pada masa inflasi, terjadi kenaikan tingkat harga-harga yang 73

74 diukur dengan indeks harga, yaitu rata-rata harga konsumen atau Indeks Harga Konsumen (IHK), rata-rata harga produsen produsen atau Indeks Harga Produsen (IHP), faktor penyesuai Gross National Product (GNP) deflator yang merupakan indeks harga bagi GNP secara keseluruhan. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur biaya dari sekumpulan atau sekeranjang barang konsumsi dan jasa yang dipasarkan. Kelompok utama dalam kumpulan ini adalah makanan, sandang, perumahan, bahan bakar, transportasi, kesehatan dan pendidikan. Indeks Harga Produsen (IHP) merupakan indeks harga dari distributor. Indeks ini disusun untuk mengukur harga-harga pada tempat penjualan pertama, dan indeks ini sangat berguna karena sangat terinci dan mencakup jenis barang yang jauh lebih banyak. GNP deflator dihitung sebagai rasio antara GNP nominal dengan GNP riil. Atau dengan kata lain GNP deflator =
GNP nominal GNP riil

.

Indeks ini bermanfaat karena

mencakup harga-harga seluruh barang dan jasa dalam GNP sehingga bersifat lebih terpadu. Untuk mengukur laju inflasi berdasarkan IHK, maka harus dihitung terlebih dahulu angka IHK. Rumus yang digunakan dalam menghitung IHK adalah rumus modifikasi Laspeyres berikut ini.

Muh. Ilham

75
m Pni .P .Qoi ∑ i=1P(n−1)i (n−1)i IHK n = .100 m ∑ Poi.Qoi i=1

Keterangan : IHKn = Indeks Harga Konsumen periode n Poi.Qoi = Nilai konsumsi suatu jenis barang pada periode dasar P(n-1)i.Qoi = Nilai konsumsi periode ke n-1 Pni = Harga suatu jenis barang pada periode berjalan P(n-1)i = Harga suatu jenis barang pada periode sebelumnya Untuk lebih jelasnya dapat diberikan contoh perhitungan secara sederhana sebagaimana di bawah ini. Dimisalkan tahun dasar adalah tahun 2000 dan tahun berjalan adalah Pebruari tahun 2008.
Poi (Rp) P(n-1) (Rp) 3.500 9.000 Pni (Rp) 4.000 10.000 50.000 9.000 2.500 1.200 7.000 3.000
Pi n x Pi n P −1 (n )i P −1 P −1 o (n )i (n )i.Q i

Jenis Barang

Qoi

Poi.Qoi (Rp) 30.000.000 40.000.000

Beras (kg) 3.000 10.000 Ikan segar 8.000 5.000 (kg) Daging (kg) 40.000 50 Telur ayam 7.000 100 (kg) Sayur mayur 1.500 6.000 (kg) Garam (kg) 600 50 Gula pasir 4.500 100 (kg) Minyak 2.000 3.000 tanah (liter) Σ

1,14 1,11 1,11 1,06 1,25 1,20 1,27 1,20

39.900.000 49.950.000 2.497.510 901.000 15.000.000 60.000 698.500 9.000.000 118.007.000

2.000.000 45.000 700.000 8.500 9.000.000 30.000 450.000 6.000.000 88.180.000 2.000 1.000 5.500 2.500

Muh. Ilham

76
IHK n = 117.536.52 7 x 100 = 133,825 88.180.000
 IHK n x100%  IHK n−1    − 100%  

Misalkan IHK bulan Januari 2008 (IHKn-1) = 130,05
LajuInflas i = 

atau :

Laju Inflasi =
Laju Inflasi =

IHK n −IHK IHK n− 1

n− x100% 1

133,825 x100% − 100% = 2,98% 130,05

Dengan demikian laju inflasi pada bulan Pebruari tahun 2008 adalah 2,98 persen. Laju inflasi tahunan dapat dihitung dengan tiga metode : 1). Point to point method, yaitu menghitung laju inflasi setiap bulan desember (December to December Method) :
Laju inflasi = 
 IHKdes.2001  x100%  − 100% IHKdes.2000  

2). Average to average method, yaitu menghitung laju inflasi dengan membandingkan IHK rata-rata selama setahun terhadap rata-rata tahun sebelumnya :
Laju inflasi = 
 IHK 

t x100%  −100%  IHK  t -1  

3). Cummulative method, yaitu menghitung laju inflasi dengan menjumlahkan laju inflasi setiap bulan (dari bulan Januari sampai

Muh. Ilham

77 Desember pemerintah. B. Jenis-jenis Inflasi Jenis Inflasi dapat dibedakan berdasarkan parah tidaknya inflasi, asal inflasi, sumber atau penyebab timbulnya inflasi. 1. Inflasi berdasarkan tingkat keparahannya Jenis inflasi ditinjau dari aspek patah tidaknya tingkat inflasi dapat dibedakan atas : a. Inflasi ringan, yang lajunya kurang dari 10 persen per tahun b. Inflasi sedang, yang lajunya antara 10 persen sampai 30 persen per tahun c. Inflasi berat, lajunya di atas 30 pesren sampai 100 persen per tahun d. Hiperinflasi, yaitu jika laju inflasi berada di atas 100 persen per tahun. Penggolongan laju inflasi di atas bersifat relatif, artinya belum tentu sama antara pengamat inflasi yang satu dengan yang lain, atau mungkin setiap orang berbeda dalam merespon ataupun merasakan tingkat keparahan laju inflasi. Misalnya, laju inflasi 20 persen mungkin sudah digolongkan sebagai inflasi berat bagi pengamat atau golongan penduduk tertentu, tetapi bagi pengamat atau golongan penduduk lainnya masih menggolongkan sebagai inflasi sedang. Berdasarkan tingkat inflasi di atas, jika tingkat harga mengalami kenaikan secara per lahan-lahan, maka disebut sebagai inflasi yang merayap (creeping inflation). Bila kenaikan harga
Muh. Ilham

tahun

berjalan).

Cara

ini

yang

digunakan

oleh

78 berlangsung secara cepat hingga menembus tingkat inflasi di atas 100 persen, maka disebut dengan hiper inflasi (hyper inflation). 2. Asal Inflasi Jika ditinjau dari aspek asal inflasi, maka asal inflasi dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
a. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation). Inflasi ini

timbul misalnya karena terjadinya defisit anggaran belanja, sehingga harus dibiayai dengan pencetakan uang baru. Inflasi ini juga dapat timbul karena adanya kegagalan panen di dalam negeri dan lain sebagainya yang berasal dari dalam negeri.
b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation). Jika terjadi

kenaikan harga di luar negeri (khususnya harga barang impor), maka indeks biaya hidup di dalam negeri akan mengalami kenaikan. Bentuk lain dari imported inflation adalah jika terjadi kenaikan bahan baku impor sehingga menyebabkan meningkatnya biaya produksi sektor usaha yang menggunakan bahan baku impor yang kemudian harga-harga dalam negeri akan turut mengalami kenaikan. 3. Inflasi berdasarkan sumber atau penyebabnya Inflasi jenis ini dapat dibedakan atas : Inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation) dan inflasi dari sisi penawaran (cost push inflation).
a. Inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation)

Muh. Ilham

79 Inflasi sisi permintaan adalah inflasi yang timbul karena permintaan agregat akan berbagai barang ataupun jasa sangat kuat melebih penawaran agregat (output) yang tersedia dalam perekonomian. b. Inflasi dari sisi penawaran (cost push inflation) Inflasi sisi penawaran adalah inflasi yang timbul karena dorongan atau kenaikan biaya produksi. C. Teori-teori Inflasi Dalam penawaran. 1. Inflasi yang disebabkan oleh perubahan permintaan agregat. Untuk membahas inflasi yang disebabkan oleh perubahan permintaan agregat, dua hal yang akan menjadi pokok pembahasan, yaitu : (i) perubahan permintaan agregat yang disebabkan oleh perubahan penawaran uang; (ii) perubahan permintaan agregat yang disebabkan oleh perubahan di sektor riil. a. Perubahan permintaan agregat perubahan penawaran uang (1) Pandangan Klasik yang disebabkan oleh membahas teori-teori inflasi kita akan kembali

menguraikan penyebab inflasi dari sisi permintaan dan dari sisi

Muh. Ilham

80 Teori permintaan uang merupakan salah satu landasan penting dari pemikiran ekonom Klasik. Teori tersebut menerangkan hubungan antara penawaran uang dengan permintaan agregat dan tingkat harga. Pada dasarnya teori kuantitas Klasik mengatakan bahwa : perubahan-perubahan dalam penawaran uang akan mengakibatkan kenaikan harga yang proporsional dengan kenaikan penawaran uang. Dalam teori kuantitas Klasik diketahui MV = PT ..........(1), di mana M adalah penawaran uang, V adalah kelajuan peredaran uang, P adalah tingkat harga dan T adalah produk nasional yang dinyatakan dalam nilai kuantitas barang/jasa. Selanjutnya nilai MV menggambarkan nilai transaksi yang dilakukan dalam perekonomian dalam periode tertentu, sedangkan PT menggambarkan nilai produk nasional nominal yang dibeli dalam satu periode yang sama. Dengan demikian MV = PT menggambarkan Nilai Transaksi = Nilai Barang. Di balik teori kuantitas uang tersebut di atas terdapat tiga pandangan penting ahli-ahli ekonomi Klasik, yaitu : Pertama, bahwa seluruh penawaran uang yang terdapat dalam perekonomian digunakan untuk transaksi, yaitu untuk membiayai pembelian barang dan jasa. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini : M =
1 PT ..............(2) V

Muh. Ilham

81 Persamaan (2) pada dasarnya menyatakan bahwa banyaknya uang yang diperlukan dalam perekonomian adalah nasional. Kedua, bahwa nilai V tetap. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa kebiasaan orang dalam menerima uang dan membelanjakannya relatif tetap. Sebagai contoh, pada umumnya karyawan menerima pendapatannya setiap bulan, dan dalam setiap bulan cara membelanjakannya relatif sama (kecuali di masa-masa tertentu, misal menjelang hari raya). Ketiga, perekonomian bahwa telah perekonomian menciptakan selalu produksi mencapai nasional tingkat secara kesempatan kerja penuh (full employment). Dengan demikian maksimal, yaitu nilai T tidak dapat ditambah lagi. Berdasarkan pandangan tersebut, ahli ekonomi Klasik berkeyakinan bahwa pertambahan penawaran uang akan menimbulkan kenaikan harga proporsional dengan pertambahan penawaran uang. Gambar 3 : Hubungann Penawaran Uang, Tingkat Harga dan Pendapatan Nasional : Pandangan Klasik P AS
1 V

dari pendapatan

P1

E1 AD1(M1V)

Muh. Ilham

82 P0 E0 AD0(M0V)

Y*

Pendapatan nasional riil

Gambar 3 menunjukkan bahwa keseimbangan awal pada titik E0. Kurva AD0 menggambarkan nilai transaksi yang berlaku apabila jumlah penawaran uang adalah M0 dan laju peredaran uang adalah V (yang nilainya tetap). Pada keseimbangan E0 tingkat harga yang berlaku adalah P0 dan pendapatan nasional nominal adalah P0 x Y*, di mana Y* adalah nilai pendapatan nasional riil dalam kondisi full employment. Selanjutnya, jika terjadi pertambahan penawaran uang menjadi M1, maka keseimbangan akan bergeser dari E0 ke E1, di mana tingkat harga naik menjadi P1 dan pendapatan nasional nominal menjadi P1 x Y*. Perhatikan bahwa kenaikan penawaran uang yang menyebabkan perubahan permintaan agregat ternyata hanya menaikkan harga dari P0 menjadi P1 dan menaikkan pendapatan nasional nominal dari P0 x Y* menjadi P1 x Y*, akan tetapi pendapatan nasional riil tidak mengalami peningkatan yaitu tetap sebesar Y*. Nilai Y* tersebut menggambarkan nilai T pada persamaan MV = PT. (2) Pandangan Keynes

Muh. Ilham

83 J.M. Keynes mengembangkan suatu teori dalam bukunya “The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936) yang menjelaskan mengapa masalah depresi yang serius dapat berlaku (sebagaimana depresi tahun 1930-an yang membingungkan banyak ahli ekonomi pada masa itu), dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Keynes berpendapat bahwa : “Money is not neutral” ( Uang tidak netral), uang mempunyai peranan dalam mempengaruhi kegiatan perekonomian. Perubahan penawaran uang akan mempengaruhi kegiatan perekonomian dan pendapatan nasional melalui mekanisme transmisi berikut : (i) pertambahan penawaran uang akan menurunkan tingkat suku bunga; (ii) Penurunan tingkat suku bunga akan menaikkan tingkat investasi; (iii) Kenaikan investasi akan menimbulkan proses multiplier sehingga akan meningkatkan pendapatan nasional. Analisis Keynes tidak memperhatikan efek dari pertambahan uang terhadap tingkat harga. Tingkat harga dianggap tidak mengalami perubahan. Gambar 4 : Uang dan Kegiatan Ekonomi P AS

P0

E0

E1

Muh. Ilham

84 AD0 Y0 Y1 AD1 Y*

Gambar 4 menunjukkan bahwa kurva penawaran agregat (AS) pada mulanya horisontal hingga mencapai pendapatan nasional Y* yang kemudian menjadi tegak lurus, yang berarti produksi nasional tidak dapat ditambah lagi. Menurut pandangan Klasik bahwa jika permintaan agregat bertambah, maka inflasi (kenaikan harga) akan berlaku, akan tetapi dalam pandangan Keynes bahwa dalam keadaan tingkat pengangguran yang tinggi, pertambahan penawaran uang tidak mengakibatkan permintaan agregat tidak mencapai tingkat yang dibutuhkan untuk mewujudkan tingkat kesempatan kerja penuh. Perubahan yang berlaku hanyalah seperti yang digambarkan oleh pergeseran kurva AD0 ke AD1. Dengan demikian efeknya adalah harga tetap pada tingkat P0 tetapi pendapatan nasional meningkat dari Y0 menjadi Y1. (3) Pandangan Modern Pandangan modern merupakan pandangan yang dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi sesudah Klasik dan Keynes, yaitu golongan Keynesian, golongan Moneteris dan golongan Klasik Baru. Ketiga golongan tersebut mengemukakan pandangan yang berbeda

Muh. Ilham

85 mengenai hubungan penawaran uang dengan tingkat harga dan pendapatan nasional sebagaimana pada gambar berikut ini. Gambar 5(a) menerangkan pandangan golongan Keynesian mengenai efek dari perubahan penawaran uang terhadap tingkat harga dan pendapatan nasional. Dalam pandangan golongan Keynesian bahwa bentuk kurva AD adalah curam dan kurva AS lebih landai. Kurva AD yang curam disebabkan oleh tidak sensitifnya tingkat suku bunga terhadap investasi, karena permintaan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga tetapi oleh banyak faktor. Kurva AS yang landai disebabkan oleh sensitifnya tingkat suku bunga terhadap permintaan uang untuk spekulasi, artinya perubahan suku bunga akan mempengaruhi permintaan uang untuk spekulasi dan permintaan uang secara keseluruhan, di samping itu dalam anggapan Keynes bahwa dalam perekonomian masih banyak pengangguran. Berdasarkan pandangan tersebut, jika ada pertambahan penawaran uang, maka pendapatan nasional akan mengalami peningkatan yang cukup besar, dan tingkat harga mengalami kenaikan yang tidak terlalu tinggi. Pandangan Keynesian jelas terlihat pada gambar 5(a) di mana keseimbangan awal tercapai pada titik E0 yaitu pada tingkat harga P0 dan pendapatan nasional Y0. Jika terjadi pertambahan penawaran uang, maka permintaan agregat akan bergeser dari AD0 ke AD1 sehingga tercapai keseimbangan baru pada E1, di mana pada keseimbangan tersebut pendapatan nasional meningkat cukup besar
Muh. Ilham

86 dari Y0 ke Y1, sedangkan tingkat harga peningkatannya tidak terlalu tinggi dari P0 ke P1.

Gambar 5 : Hungan Penawaran Uang dengan Tingkat Harga dan Pendapatan Nasional P P AS AS P1 P0 E1 E0 AD0 AD1 Y0 Y1 Y (b) Golongan Moneteris SRAS1 SRAS0 P1 P0 E0 E1 AD1 P0 E0 AD0 Y0 Y1 Y (a) Golongan Keynesian P P2 LRAS E2 P1 E1 AD1

Muh. Ilham

87 Y* (c) Golongan Klasik Baru Selanjutnya pandangan golongan moneteris ditunjukkan oleh gambar 5(b) di mana kurva AS berbentuk curam karena diasumsikan bahwa perekonomian mendekati tingkat kesempatan kerja penuh, dan kurva AD yang landai berkaitan dengan tingkat suku bunga yang sensitif terhadap permintaan investasi. Pada gambar 5(b) terlihat dengan jelas bahwa jika ada pertambahan penawaran uang, maka kurva AD bergeser dari AD1 ke AD0, sehingga keseimbangan bergeser dari E0 ke E1. Perubahan permintaan agregat tersebut mengakibatkan kenaikan harga yang cukup tinggi dari P0 ke P1, sedangkan pendapatan nasional tidak meningkat cukup besar yaitu dari Y0 ke Y1. Dengan demikian dalam pandangan Moneteris bahwa pertambahan penawaran uang yang mengakibatkan pertambahan permintaan agregat akan menaikkan harga yang cukup tinggi, tetapi peningkatan pendapatan nasional tidak terlalu tinggi. Pandangan golongan Klasik Baru ditunjukkan oleh gambar 5(c). Mengenai pandangan bagaimana penawaran uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi dan tingkat harga, perlu dibedakan dua kondisi yaitu pertama, dalam kondisi perubahan yang sudah diramalkan, dan kedua, dalam kondisi perubahan yang tidak diramalkan.
Muh. Ilham

AD0 Y1

Y

88 Untuk kasus perubahan yang sudah diramalkan, golongan Klasik Baru sependapat dengan pandangan Klasik yang menyatakan bahwa perekonomian cenderung untuk selalu mencapai kesempatan kerja penuh. Dimisalkan pada mulanya penawaran agregat jangka pendek adalah SRAS0, sedangkan permintaan agregat AD0 dengan titik keseimbangan pada E0 dan pada harga P0, pendapatan riil Y0. Jika penawaran uang bertambah, maka permintaan agregat bergeser ke AD1 dan masyarakat meramalkan bahwa inflasi akan terjadi. Para pekerja akan menuntut kenaikan upah sehingga kurva AS bergeser ke SRAS1, dalam kondisi tersebut pendapatan riil tidak mengalami kenaikan yaitu tetap pada Y0. Keadaan tersebut akan tercapai pada keseimbangan E2. Hal ini menunjukkan bahwa pertambahan penawaran uang akan mengakibatkan kenaikan harga yang lebih tinggi dari P0 ke P2, sedangkan pendapatan nasional riil akan tetap sebesar Y0. Selanjutnya, jika perubahan permintaan agregat dari AD0 ke AD1 tidak diramalkan, para pekerja tidak akan dengan cepat menuntut kenaikan upah. Dalam kondisi tersebut keseimbangan dicapai pada E1 dan kenaikan harga relatif kecil dari P0 ke P1, pendapatan nasional juga meningkat dari Y0 ke Y1. b. Perubahan Permintaan Agregat yang disebabkan Oleh Perubahan di Sektor Riil Perubahan di sektor riil dapat disebabkan oleh perubahan di dalam negeri maupun luar negeri. Sektor dalam negeri meliputi
Muh. Ilham

89 kenaikan pengeluaran rumah tangga (C), kenaikan investasi (I), kenaikan pengeluaran pemerintah (G), atau penurunan pajak pendapatan dan perusahaan (yang mengakibatkan meningkatnya C dan I. Perubahan sektor luar negeri meliputi kenaikan ekspor bersih (X – M), baik hanya disebabkan oleh kenaikan ekspor maupun hanya penurunan impor ataupun keduanya terjadi secara bersamaan. Untuk lebih jelas perhatikan gambar berikut ini. Gambar 6 : Inflasi Akibat Perubahan Permintaan di Sektor Riil P P1 P0 E0 AD1 AD0 Y0 Y1 Output riil E1 AS

Gambar 6 menunjukkan bahwa perekonomian berada dalam keseimbangan awal pada titik E0 Tingkat harga yang berlaku pada keseimbangan E0 adalah P0 dan output riil sebesar Y0. Jika permintaan agregat bertambah (misalnya karena bertambahnya uang beredar, menurunnya tingkat pajak, pengeluaran pemerintah bertambah, konsumsi otonom bertambah), maka kurva AD akan bergeser ke kanan atau ke atas dari AD0 ke AD1, sehingga tercapai keseimbangan baru pada titik E1. Pada keseimbangan E1 tersebut tingkat harga naik dari P0
Muh. Ilham

90 menjadi P1 dan output riil yang dihasilkan juga bertambah dari Y0 menjadi Y1. Pergeseran output riil keseimbangan akan menambah yang menyebabkan kerja pertambahan kesempatan

(employment) atau mengurangi pengangguran (unemployment). 2. Inflasi yang disebabkan Oleh Perubahan Penawaran Agregat Inflasi yang disebabkan oleh perubahan penawaran agregat disebut inflasi desakan biaya (cost push inflation). Kenaikan biaya produksi secara keseluruhan bersumber dari faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi di dalam negeri, dapat dibedakan kepada tiga faktor, yaitu (i) kenaikan upah tenaga kerja, (ii) kecenderungan meningkatkan keuntungan, dan (iii) harga bahan baku yang semakin meningkat. Ketiga faktor tersebut biasanya akan menimbulkan inflasi apabila perekonomian sudah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh. Pada tingkat kesempatan kerja penuh, serikat pekerja menuntut kenaikan upah yang melebihi kenaikan produktivitas. Para pengusaha dapat pula memperburuk keadaan apabila mereka mencoba mengambil kesempatan dengan menaikkan keuntungan per unit barang dan jasa yang dihasilkannya. Gambar 7 : Inflasi sisi penawaran P SRAS1 SRAS0
Muh. Ilham

91 P1 P0 E1 E0 AD Y1 Y0 Output riil

Gambar 4 menunjukkan keseimbangan awal pada titik E0 dengan tingkat harga P0 dan jumlah output riil pada tingkat kesempatan kerja penuh sebesar Y0. Jika dalam perekonomian biaya produksi naik yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku, kenaikan harga bahan bakar, atau kegagalan panen, sehingga output riil menurun, maka kurva SRAS0 bergeser ke SRAS1 dan keseimbangan perekonomian akan bergeser dari E0 ke E1. Pada keseimbangan yang baru tersebut jumlah output riil berkurang dari Y0 menjadi Y1, sedangkan tingkat harga naik dari P0 menjadi P1. Faktor ekstern disebabkan oleh sektor luar negeri, dapat bersumber dari kenaikan harga barang dan jasa di luar negeri atau masalah ketidakseimbangan neraca pembayaran. Kedua faktor ekstern tersebut akan mengakibatkan harga barang dan jasa impor meningkat dan menimbulkan kenaikan biaya produksi di dalam negeri. Untuk menjelaskan bagaimana faktor ekstern mengakibatkan inflasi akan dikemukakan dua kasus : (i) kenaikan harga bahan bakar minyak di tahun 1970-an dan efeknya terhadap negara-negara
Muh. Ilham

92 industri; (ii) krisis mata uang di Asia tahun 1997-1998 dan efeknya terhadap negara yang mengalaminya (termasuk Indonesia).

Gambar 8 : Inflasi Desakan Biaya yang disebabkan oleh Faktor Ekstern P SRAS2 P SRAS1 SRAS1 P2 P1 P0 E2 SRAS0 E1 P1 E0 AD Y2 Y 1 Y0 Y (a) Efek kenaikan harga BBM P2 P0 E2 E1 E0 AD0 AD1 SRAS0

Y2 Y1 Y0 Y (b) Efek merosotnya nilai mata uang Gambar 8(a) menunjukkan keadaan yang berlaku di negara-

negara industri seperti Amerika Serikat. Pada awalnya keseimbangan perekonomian berada di titik E0 dengan tingkat harga P0 dan pendapatan nasional sebesar Y0. Ketika harga BBM meningkat, maka biaya produksi juga meningkat dari P0 ke P1, dan menggeser kurva

Muh. Ilham

93 SRAS0 ke SRAS1 sehingga keseimbangan bergeser ke titik E1 dan pendapatan nasional yang dicapai menurun menjadi Y1. Inflasi yang terjadi telah menaikkan biaya hidup dan menodorong para pekerja menuntut kenaikan upah. Kenaikan upah yang berlaku selanjutnya menggeser kurva SRAS1 ke SRAS2, sehingga keseimbangan ekonomi bergeser ke E2. Dalam kondisi tersebut tingkat harga naik menjadi P2 dan pendapatan nasional menurun lagi menjadi Y2. Selanjutnya gambar 8(b) keadaan di negara-negara Asia yang mengalami kemerosotan nilai mata uangnya. Keseimbangan awal pada E0, Jika nilai mata uang domestik merosot harga barang-barang impor (umumnya bahan baku industri) naik. Kenaikan harga mengakibatkan biaya produksi naik sehingga menggeser keseimbangan ke E1 dan tingkat harga naik dari P0 ke P1, pendapatan nasional turun dari Y0 menjadi Y1, akibat selanjutnya adalah pengangguran bertambah, sehingga perekonomian berada dalam keadaan stagflasi. Dalam keadaan stagflasi, timbul dua keadaan penting, yaitu (i) pengangguran mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat, dan (ii) inflasi mengakibatkan menurunnya pendapatan nasional riil dan semakin menurunkan daya beli. Dengan berlakunya dua keadaan tersebut, kurva AD0 bergeser ke AD1, sehingga keseimbangan ekonomi bergeser ke E 2 dan pendapatan nasional menurun lagi menjadi Y2 dan mengakibatkan masalah pengangguran yang semakin serius. Tetapi di sisi lain, tingkat harga turun ke P2 sebagai akibat menurunnya daya beli.

Muh. Ilham

94 D. Soal-soal Latihan 1. Jelaskan pengertian berikut ini : a. b. c. d. Demand pull inflation Cost push inflation Domestic inflation Imported inflation.

2. Di ketahui data harga dan kuantitas permintaan beberapa jenis barang sebagai berikut :
Jenis Barang Beras (kg) Ikan segar (kg) Daging (kg) Telur ayam (kg) Sayur mayur (kg) Garam (kg) Gula pasir (kg) Minyak tanah (liter) Harga tahun dasar, tahun 2000 (Rp) 1.500 4.500 20.000 4.000 1.000 500 3.500 600 Kuantitas tahun dasar, tahun 2000 20.000 10.000 100 150 7.000 75 200 5.000 Harga tahun 2004 (Rp) 2.500 5.500 30.000 6.000 2.500 1.000 5.500 1.200 Harga tahun 2005 (Rp) 3.000 6.000 35.000 6.500 3.000 1.500 6.000 3.000

Jika diketahui IHK tahun 2004 = 150, maka berdasarkan data di atas, hitunglah Indeks Harga Konsumen (IHK) dan laju inflasi/deflasi tahun 2005.

2. Bandingkan pandangan Klasik, Keynesian dan pandangan Modern mengenai inflasi dari sisi perubahan permintaan agregat yang disebabkan oleh perubahan penawaran uang, dan berikan kesimpulan!

Muh. Ilham

95 3. Jelaskan secara singkat inflasi dari sisi permintaan agregat yang disebabkan oleh perubahan sektor riil dan gambarkan grafiknya! 4. Jelaskan secara singkat mengenai inflasi dari sisi penawaran agregat yang disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern serta gambarkan grafiknya.

Muh. Ilham

SUKU BUNGA DAN KURS VALUTA ASING
A. Suku Bunga 1. Pengertian Pada bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa terdapat dua jenis aset, yaitu aset finansial dan asset non finansial. Aset finansial adalah aset yang sifatnya likuid yaitu berupa instrumen keuangan, sedangkan asset non finansial adalah aset yang kurang likuid yaitu berupa harta-harta tetap. Salah satu karakteristik yang mendasarkan seseorang meminta/memegang aset finansial adalah adanya perkiraan imbalan (expected return) yang ditawarkan oleh aset tersebut dibandingkan dengan imbalan yang dijanjikan oleh aset lainnya yang kurang likuid. Uang tunai yang dipegang masyarakat tidak menghasilkan bunga. Jika Anda bersedia memegang uang tunai, berarti Anda telah mengorbankan pendapatan bunga lebih tinggi yang ditawarkan oleh aset-aset lainnya seperti obligasi pemerintah, sertifikat deposito dan lain-lain. Besarnya imbalan yang ditawarkan itulah yang disebut sebagai suku bunga. Oleh karena bunga yang ditawarkan uang tnai adalah nol, sedangkan imbalan simpanan bank cenderung relatif konstan, maka selisih pendapatan (imbalan) uang pada umumnya aset95

96 aset alternatif yang kurang likuid tercermin melalui suku bunga pasar; semakin tinggi suku bunga, semakin besar pegorbanan yang Anda lakukan bila Anda bersedia menyimpan kekayaan dalam bentuk uang. 2. Keseimbangan Tingkat Suku Bunga Permintaan dan Penawaran Uang : Interaksi Antara

Pada bab 4 telah dibahas tentang permintaan uang, namun kini kita akan membahas permintaan uang secara agregat dan penawaran uang dalam hubungannya dengan tingkat suku bunga. Permintaan uang agregat pada dasarnya adalah penjumlahan dari semua permintaan uang secara individual dari suatu perekonomian. Ada tiga faktor pokok yang menentukan permintaan uang agregat, yaitu : (a)Suku bunga. Kenaikan suku bunga mengakibatkan setiap individu dalam sebuah perekonomian mengurangi permintaannya akan uang. Ceteris paribus, permintaan agregatpun turun ketika suku bunga naik. (b)Tingkat harga. Tingkat harga dari suatu perekonomian adalah keseluruhan harga aneka barang dan jasa yang dinyatakan dalam satuan uang tunai. Jika tingkat harga meningkat, setiap rumah tangga dan perusahaan akan membelanjakan lebih banyak uang untuk membeli berbagai barang dan jasa dalam jumlah yang sama sebelum kenaikan harga. Oleh karena itu untuk mempertahaakan

Muh. Ilham

97 tingkat likuiditas seperti sebelum naiknya tingkat harga, mereka harus menyediakan atau memiliki lebih banyak uang. (c) Pendapatan nasional riil. Ketika pendapatan nasional riil meningkat, jumlah barang dan jasa yang terserap atau terjual dalam perekonomian juga meningkat. Kenaikan nilai transaksi riil ini memperbesar permintaan uang, ceteris paribus, yongkat harga tetap. Untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara permintaan uang riil agregat dipengaruhi oleh suku bunga, perhatikan gambar berikut ini. Gambar 9 : Hubungan Suku Bunga dengan Permintaan Uang Agregat r

MD(r, Y) Permintaan uang agregat Gambar 9 menunjukkan bahwa kurva permintaan uang riil agregat arahnya menurun dari kiri atas ke kanan bawah yang melambangkan permintaan uang riil agregat arah turun dari kiri atas ke kanan bawah karena penurunan suku bunga langsung meningkatkan

Muh. Ilham

98 minat setiap rumah tangga dan perusahaan dari perekonomian yang bersangkutan untuk memiliki uang tunai. Besarnya penawaran uang ditentukan oleh Bank Sentral, oleh karena itu jumlah penawaran tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat suku bunga, sehingga kurva penawaran uang bentuknya vertikal yang sejajar dengan sumbu tingkat suku bunga. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gamnbar 10 : Kurva Penawaran Uang r MS

Penawaran Uang (MS) Selanjutnya bagaimanakah keseimbangan di pasar uang dapat terjadi dalam hubungannya dengan tingkat suku bunga? Keadaan tersebut dapat dilihat berdasarkan gambar di bawah ini. Gambar 11 menujukkan bahwa keseimbangan pasar uang terjadi pada titik E di mana kurva MD memotong kurva MS yang berarti MD0 = MS pada tingkat suku bunga r0.

Muh. Ilham

99

Gambar 11 : Keseimbangan Pasar Uang r r1 r0 r2 A E B MD MD1 MD0=MS MD2 MS dan MD MS

Mengapa tingkat suku bunga selalu cenderung mengarah pada tingkat keseimbangan E? Kita misalkan suku bunga pasar mula-mula pada r1. Pada tingkat suku r1 permintaan uang riil ditik A sebesar MD1 lebih kecil dari pada penawaran uang (MS), sehingga terjadi kelebihan penawaran uang. Jika setiap orang memegang uang lebih banyak dari pada yang mereka kehendaki, pada suku bunga r1, maka mereka akan mencoba mengurangi likuiditasnya dengan menggunakan sebagian uang yang mereka miliki untuk membeli aset-aset yang menghasilkan bunga. Dengan kata lain, setiap orang akan berusaha menghilangkan kelebihan uangnya dengan cara meminjamkan kepada pihak lain. Namun karena pada suku bunga r1 terjadi kelebihan penawaran uang, tidak semua orang berhasil meminjamkan uangnya, mengingat jumlah

Muh. Ilham

100 orang yang hendak meminjamkan uangnya dalam rangka mengurangi likuiditas lebih banyak dari pada jumlah orang yang ingin meminjam uang untuk meningkatkan likuiditasnya. Mereka yang tidak berhasil meminjamkan uang akan berusaha menarik calon peminjam dengan cara menurunkan suku bunga, sehingga lambat laun suku bunga turun dari r1. Tekanan penurunan suku bunga akan terus berlangsung hingga pada suku bunga r0. Pada suku bunga r0, setiap orang yang hendak meminjamkan uangnya akan terpenuhi keinginannya karena kelebihan penawaran uang telah lenyap atau MS = MD. Demikian pula yang akan terjadi jika suku bunga pasar mulamula pada r2 di mana permintaan uang riil pada titik B sebanyak MD2. Pada titik B terjadi kelebihan permintaan uang, sehingga setiap orang berusaha menjual aset-aset penghasil bunga yang mereka miliki, seperti obligasi, guna meningkatkan cadangan uangnya atau untuk memperoleh uang tunai. Pada suku bunga r2 tidak semua orang berhasil memenuhi keinginannya menjual aset penghasil bunga yang mereka miliki sebanyak uang tunai yang ingin mereka peroleh. Oleh karena itu mereka berusaha memperolehnya dengan cara menaikkan suku bunga sehingga lambat laun suku bunga berada pada r0 dan keseimbangan tercapai di titik E. Dalam kondisi tersebut kelebihan permintaan uang akan lenyap dan kenaikan suku bungapun terhenti. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pasar selalu bergerak menuju suku bunga di mana penawaran uang riil sama dengan permintaan uang riil. Jika pada awalnya terjadi kelebihan
Muh. Ilham

101 penawaran uang, suku bunga akan turun, sedangkan jika pada awalnya terdapat kelebihan permintaan uang, maka suku bunga akan meningkat. B. Pasar Valuta Asing dan Kurs
Pertukaran valuta asing adalah suatu kegiatan memperdagangkan mata uang dari negara-negara yang berbeda. Berbagai mata uang tersebut mengambil bentuk sebagai uang di dalam suatu negara. Uang masing-masing negara memiliki harga yang diukur oleh uang negara lain. Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya disebut kurs atau nilai tukar (exchange rate). Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu di dalamnya terdapat perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar ini merupakan harga di dalam pertukaran tersebut. Oleh karena itu harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya, juga merupakan sebuah aktiva atau harga aset (asset price), sehingga prinsip-prinsip pengaturan harga-harga aset lainnya juga berlaku dalam pengaturan kurs. Suatu kurs dapat dikemukakan dengan dua cara, yakni sebagai harga mata uang asing dalam mata uang domestik (misalnya USA$.1 seharga Rp.9.000) atau sebagai harga mata uang domestik dalam mata uang asing (misalnya Rp.1 seharga USA$.1/9000). Seperti halnya dengan harga-harga lainnya dalam perekonomian yang ditentukan oleh interaksi pembeli dan penjual, kurs juga ditentukan oleh interaksi antara berbagai rumah tangga, perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan yang membeli dan menjual valuta asing guna keperluan pembayaran internasional. Pasar yang memperdagangkan mata uang internasional disebut pasar valuta asing (foreign exchange market).
Muh. Ilham

102
Semua transaksi valuta asing yang berlangsung seketika atau secara langsung, di mana kedua belah pihak sepakat untuk saling menukarkan simpanan bank mereka serta melaksanakan secepatnya disebut dengan kurs spot, sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Istilah seketika atau spot ini lazimnya baru dilaksanakan sampai dua hari setelah tercapainya kesepakatan. Kelambatan ini terjadi karena kebanyakan transaksi bank perlu waktu dua hari guna melaksanakan instrumen pembayaran (misalnya berupa cek). Beberapa kesepakatan valuta asing secara khusus menetapkan suatu tanggal nilai lebih dari dua hari, bisa 30 hari, 90 hari, 180 hari, atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang menjadi dasar transaksi semacam ini disebut kurs berjangka (forward exchange rates). Dengan demikian transaksi ini dilakukan di pasar berjangka, yaitu pasar di mana transaksi jual beli terjadi dengan harga yang disetujui pada saat transaksi dilakukan, tetapi penyerahan barang dilakukan kemudian hari.

Guna memahami terbentuknya kurs di pasar valuta asing, pertama-tama kita harus mengetahui terbentuknya permintaan dari pelaku utama di pasar tersebut terhadap berbagai macam simpanan valuta asing. Permintaan terhadap suatu simpanan valuta asing di bank dipengaruhi oleh faktor-faktor yang juga mempengaruhi permintaan terhadap aset-aset lainya. Faktor utama adalah keyakinan para pelaku bahwa simpanan tersebut akan menjadi sangat berharga di masa mendatang. Nilai suatu simpanan valuta asing di masa mendatang

Muh. Ilham

103 selanjutnya ditentukan oleh dua faktor, yakni suku bunga yang ditawarkan (oleh bank yang bersangkutan) dan peluang perubahan selisih kurs mata uang yang diminati terhadap mata uang-mata uang lainnya. Seperti halnya di pasar-pasar aset lainnya, para pelaku di pasar valuta asing mendasarkan permintaan terhadap simpanan dalam valuta asing pada perkiraan imbalan aset (mata uang) yang bersangkutan. Untuk membandingkan perkiraan imbalan dari sejumlah pilihan mata uang diperlukan dua jenis informasi. Pertama, perlu diketahui perubahan nilai uang dari simpanan itu. Kedua, perlu mengetahui kemungkinan perubahan kurs sehingga peluang imbalan dari masingmasing devisa dapat diperbandingkan. Jenis informasi pertama untuk memperkirakan imbalan suatu devisa adalah informasi tentang suku bunga devisa tersebut, yakni jumlah sewa atau imbalan yang diterima seseorang atas kesediaannya meminjamkan sejumlah devisa selama satu tahun. Suku bunga memainkan peranan penting dalam pasar valuta asing mengingat simpanan-simpanan berjumlah besar yang diperdagangkan di pasar itu menghasilkan bunga, masing-masing tingkat suku bunganya berbeda sesuai dengan mara uang yang menjadi satuannya. Jenis informasi kedua yang diperlukan untuk membandingkan imbalan yang ditawarkan misalnya oleh simpanan rupiah dan dolar adalah perkiraan perubahan kurs rupiah per dolar selama satu tahun. Contoh : Dimisalkan suku bunga Rupiah 10% per tahun, dan suku bunga US$ adalah 5% per tahun. Kurs yang berlaku adalah US$1 =
Muh. Ilham

104 Rp.9.000. Pertanyaannya adalah mata uang mana yang memberikan imbalan yang lebih besar jika terjadi perubahan kurs pada satu tahun ke depan, misalnya kurs berubah menjadi US$1 = Rp.9.500. Jawab : diketahui suku bunga Rupiah 10% pertahun, berarti setelah setahun Rp.1 akan menjadi 10% x Rp.1 = Rp.1,10. Suku bunga US$ 5% per tahun, yang berarti setelah setahun nilai US$ akan menjadi US$1,05. Jika kurs berubah menjadi US$1 = Rp.9.500, maka nilai Rupiah simpanan dolar akan menjadi Rp.9.500 per US$ x US$1,05 = Rp.9.975 setahun kemudian. Dengan demikian imbalan Rupiah senilai US$1 adalah (9.975 – 9.000) : 9.000 = 0,1083 atau 10,83%. Oleh karena imbalan Rupiah dari simpanan rupiah hanya sebesar 10% pertahun, tetapi dengan adanya perubahan kurs (nilai rupiah merosot terhadap US$) yang menjanjikan keuntungan tambahan (capital gain) yang lebih besar yaitu 10,83%, yaitu jika menyimpan Rupiah dengan bunga 10% per tahun, pendapatan yang diperoleh sebesar Rp.900, dan jika meyimpan US$ dengan bunga 5% per tahun dengan harapan nilai Rupiah merosot menjadi Rp.9.500 per US$, maka pendapatan yang diperoleh sebesar Rp.975. Dengan demikian US$ menjadi aset yang lebih menguntungkan. C. Depresiasi–Apresiasi dan Devaluasi-Revaluasi 1. Depresiasi-Apresiasi

Muh. Ilham

105 Di dalam sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate sytem) perubahan-perubahan kurs atau nilai suatu mata uang terhadap mata uang lainnya akan terjadi berdasarkan kondisi penawaran dan permintaan valuta asing. Perubahan-perubahan kurs disebut sebagai depresiasi atau apresiasi. Depresiasi adalah penurunan dalam nilai mata (currency) atau mata uang lainnya. Suatu depresiasi Rupiah terhadap US$ artinya suatu penurunan harga Rupiah terhadap US$, misalnya dari US$1 = RP.9.000 menjadi US$1 = Rp.9.500. Contoh tersebut menunjukkan bahwa bila faktor lain konstan (ceteris paribus), depresiasi mata uang suatu negara mengakibatkan harga barang-barang ekspor menjadi lebih murah bagi pihak importir luar negeri dan harga barang-barang impor menjadi lebih mahal bagi pihak importir dalam negeri, sehingga menurunkan impor dan menaikkan ekspor, di mana hal ini akan membantu memperbaiki neraca pembayaran, yaitu dapat meningkatkan surplus atau mengurangi/menghilangkan defisit neraca pembayaran internasional negara yang melakukan depresiasi mata uangnya terhadap mata uang asing. Tabel 6.1 : Dampak Depresiasi terhadap Harga Barang Ekspor dan Barang Impor Kurs Harga domestik Harga produk Indonesia Indonesia di USA US$1 = Rp.8.000 Rp.1 US$0.000125 US$1 = Rp.8.200 Rp.1 US$0.000122

Muh. Ilham

106 Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa pada kurs US$1 = Rp.6.850, maka untuk harga barang Indonesia senilai Rp.1 akan dibayar oleh importir USA seharga US$0.000146. Jika Rupiah terdepresiasi terhadap US$ menjadi US$1 = Rp.8.000, maka harga barang Indonesia di USA turun menjadi US$0.000122. Sebaliknya, harga barang USA yang diimpor Indonesia akan naik dari Rp.8.000 menjadi Rp.8.200 per US$. Agar depresiasi dapat bekerja secara efektif, maka tiga hal pokok yang harus dipenuhi :
(a)

Keberhasilan depresiasi tergantung pada reaksi volume

ekspor dan impor pada perubahan harga relatif. Sebagai contoh, elastisitas permintaan terhadap harga (price elasticity of demand) ekspor dan impor. Jika volume perubahan ini rendah, di mana permintaan tidak elastis, maka volume perdagangan tidak berubah banyak. Jika elastisitas permintaan terhadap harga adalah elastis, maka depresiasi dapat mengakibatkan perubahan ekspor dan impor yang lebih besar, sehingga dapat memperbaiki posisi neraca pembayaran internasional. (b) Pada sisi penawaran, sumber daya harus tersedia dan cukup fleksibel, yang dapat dipindahkan dari sektor lain dalam perekonomian ke industri yang memproduksi barang ekspor dan produk substitusi barang impor. (c) Dalam jangka panjang, untuk mengimbangi harga dalam negeri, kenaikan permintaan harus ditahan. Suatu depresiasi akan
Muh. Ilham

107 menaikkan harga barang impor dan bahan makanan yang akan mendorong biaya produksi dalam negeri dan biaya hidup. Hal ini akan meningkatkan harga dalam negeri dan upah, sehingga membutuhkan depresiasi lebih lanjut untuk mempertahankan persaingan harga, Telah dijelaskan di muka bahwa depresiasi merupakan

penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Sebaliknya, apresiasi merupakan peningkatan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Oleh karena itu, maka apresiasi mengakibatkan nilai uang dari impor menjadi lebih murah, dan sebaliknya nilai uang dari ekspor menjadi lebih mahal. Efektifitas dari apresiasi akan ditentukan oleh elastisitas harga dari permintaan, yaitu jika elastisitas harga dari permintaan rendah (kurang dari satu), maka apresiasi mata uang tidak merubah volume impor dan impor lebih besar dan surplus neraca pembayaran akan menjadi lebih besar. Di sisi lain, jika permintaan impor dan ekspor elastis, maka volume perdagangan dapat mengurangi atau menghilangkan surplus. 2. Devaluasi-Revaluasi Devaluasi merupakan suatu kebijakan nilai tukar mata uang (kurs) domestik terhadap mata uang asing lainnya di dalam sistem nilai tukar tetap. Kebijakan yang ditempuh adalah menurunkan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing lainnya. Jadi kalau
Muh. Ilham

108 depresiasi, nilai tukar mata uang turun berdasarkan permintaan dan penawaran pasar (mekanisme pasar), maka devaluasi penurunan nilai mata uang terjadi melalui kebijakan pemerintah yang menganut sistem nilai tukar tetap. Devaluasi yang dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk memperbaiki defisit neraca pembayaran (balance of payment deficit). Akibat dari devaluasi adalah harga barang impor menjadi lebih mahal, sehingga mengurangi permintaan barang impor. Sebaliknya harga barang ekspor semakin murah, sehingga merangsang meningkatnya permintaan barang ekspor di luar negeri. Devaluasi dapat mempengruhi iklim usaha dalam beberapa cara, tetapi yang paling utama memberikan peluang bagi dunia usaha domestik untuk meningkatkan penjualan dan kemampulabaan. Devaluasi meningkatkan harga barang impor, sehingga barang impor kalah bersaing dengan produk dalam negeri, sehingga konsumen dalam negeri terangsang untuk mensubstitusi produk impor dengan produk dalam negeri. Revaluasi merupakan suatu kebijakan untuk meningkatkan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing lainnya dalam sistem nilai tukar tetap. Tujuan pemerintah menempuh kebijakan revaluasi adalah untuk memperkecil atau menghilangkan surplus neraca pembayaran dan penimbunan cadangan internasional yang berlebihan. Kebijakan revaluasi mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih murah, sehingga permintaan terhadap barang impor meningkat.
Muh. Ilham

109 Sebaliknya. Revaluasi mengakibatkan semakin mahalnya harga barang ekspor, sehingga permintaan terhadap barang ekspor di luar menurun. D. Soal-soal Latihan 1. Kemukakan pengertian tingkat suku bunga! 2. Sebut dan jelaskan faktor-faktor yang menentukan permintaan uang agregat! 3. a. Jelaskan Bagaimana hubungan antara tingkat suku bunga dengan penawaran dan permintaan uang agregat? b. Gambarkan terjadinya ketidakseimbangan dan keseimbangan penawaran dan permintaan uang agregat dalam hubungannya dengan tingkat suku bunga dan jelaskan! 4. Kemukakan pengertian istilah di bawah ini : a. b. c. d. exchange rates Foreign exchange rates Spot exchange rates Forward exchange rates

5. Sebut dan jelaskan jenis informasi yang diperlukan untuk membandingkan perkiraan imbalan dari sejumlah pilihan mata uang! 6. Jika suku bunga Rupiah 12% per tahun, dan suku bunga US$ adalah 8% per tahun. Kurs yang berlaku adalah US$1 = Rp.8.700. Ditanya : mata uang mana yang memberikan imbalan yang lebih besar jika terjadi perubahan kurs pada satu tahun ke depan, misalnya kurs berubah menjadi US$1 = Rp.9.300. 7. Jelaskan arti istilah berikut di bawah ini :
Muh. Ilham

110 a. Depresiasi; b. Apresiasi; c. Devaluasi; Revaluasi 8. Jika diketahui harga cengkeh di Indonesia Rp.30.000 per kg, kurs yang berlaku adalah US$1 = Rp.Rp.8.700. Selanjutnya pemerintah mendevaluasi mata uang rupiah terhadap US$ menjadi US$1 = Rp.9.300. Ditanya : tentukanlah harga domestik cengkeh di Indonesia dan harga cengkeh asal Indonesia di Amerika Serikat pada saat sebelum dan setelah dilakukan devaluasi. 9. Faktor apakah yang menentukan efektifitas dari depresiasi dan apresiasi mata uang serta devaluasi dan revaluasi mata uang suatu negara atas mata uang asing terhadap neraca pembayaran internasional? Jelaskan!

Muh. Ilham

111

Muh. Ilham

KEBIJAKSANAAN MONETER
A. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter (monetery policy) sebagai salah satu bagian dari kebijaksanaan ekonomi makro yang ditempuh oleh Bank Sentral pada dasarnya merupakan kebijaksanaan pengendalian uang beredar, tingkat suku bunga dan kredit dalam rangka mengendalikan tingkat pembelanjaan atau pengeluaran yang dibutuhkan oleh suatu sistem perekonomian. Melalui pengendalian jumlah uang beredar tersebut diharapkan dapat dicapai suatu tingkat pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan inflasi akibat bertambahnya jumlah uang beredar yang mendorong meningkatnya permintaan barang dan jasa atau demand pull inflation. Sasaran kebijaksanaan moneter yang ingin dicapai oleh otoritas moneter di Indonesia pada prinsipnya adalah pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga dan tingkat bunga, dan keseimbangan neraca pembayaran serta untuk mencapai tingkat kesempatan kerja penuh (full employment). B. Instrumen Kebijaksanaan Moneter Dalam rangka mencapai sasarannya, ada beberapa instrumen ayang digunakan dalam kebijaksanaan moneter, yaitu : 1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) 111

112 Operasi pasar terbuka merupakan instrumen yang digunakan melalui penjualan dan pembelian surat-surat berharga seperti SBI dan SBPU. Penjualan surat-surat berharga dapat dilakukan jika dalam perekonomian terjadi inflasi yang tidak dapat ditolerir. Dengan penjualan tersebut berarti uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, sehingga tingkat harga akan kembali turun. Sebaliknya jika perekonomian mengalami kelesuan karena kurangnya jumlah uang beredar dan tingkat harga sangat rendah, maka bank Sentral atau Bank Indonesia dapat melakukan pembelian surat-surat berharga, sehingga akan menambah jumlah uang beredar di masyarakat dan tingkat harga akan kembali naik. 2. Politik diskonto (discount policy). Politik diskonto merupakan instrumen yang dgunakan melalui peningkatan atau penurunan tingkat suku bunga. Jika uang beredar terlampau banyak melebih permintaan yang mengakibatkan inflasi, maka Bank Sentral dapat menaikkan tingkat suku bunga. Dengan naiknya tingkat suku tersebut, maka jumlah uang beredar akan berkurang dan tingkat harga akan turun. Sebaliknya, penurunan tingkat suku bunga dapat dilakukan jika jumlah uang beredar dalam perekonomian kurang dibanding permintaan sehingga terjadi deflasi. Dengan turunnya tingkat suku bunga, maka masyarakat akan mengurangi simpanannya di bank dan akan lebih baik melakukan

Muh. Ilham

113 investasi yang lebih menguntungkan sehingga jumlah uang beredar bertambah yang dapat mendorong naiknya tingkat harga. 3. Giro Wajib Minimum (GWM). Pada dasarnya Giro Wajib Minimum adalah sejumlah minimum dana yang harus selalu tersedia pada saldo giro setiap bank pada Bank Sentral. Keharusan menyediakan saldo minimum disebut juga dengan likuiditas wajib minimum (statutory reserve requirement). Dalam keadaan inflasi, Bank Sentral dapat meningkatkan GWM bank, sehingga kemampuan bank untuk menyalur dana di masyarkat rendah dan jumlah uang beredar berkurang yang kemudian tingkat harga akan turun. Sebaliknya jika terjadi deflasi, maka Bank Sentral menurunkan GWM agar bank dapat meningkatkan kemampuannya menyalurkan dana ke masyarakat sehingga jumlah uang beredar bertambah dan tingkat harga akan naik. Untuk pertama kalinya sejak Paket Kebijakan Oktober 1988 (Pakto 1988) Bank Indonesia Bank Indonesia menggunakan GWM untuk mengerem pertumbuhan besaran-besaran moneter yang masih tinggi yaitu dengan menetapkan GWM sebesar 3 persen pada Pebruari 1996 (ketentuan likuditas sebelumnya menurut Paktor 1988 sebesar 2 persen). Sejak April 1997 GWM ditingkatkan lagi menjadi 5 persen.

Muh. Ilham

114 4. Persuasi Moral. Instrumen ini digunakan oleh Bank Sentral dengan meminta atau menghimbau bank-bank untuk selalu mempertimbangkan kondisi makroekonomi maupun mikroekonomi masing-masing bank dalam menyusun rencana ekspansi kredit yang realistis. Kebijakan persuasi moral pada dasarnya dimaksudkan untuk mendorong perbankan agar senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memberikan kredit, namun tetap memberikan kebebasan bagi perbankan untuk tumbuh dan berkembang berdasarkan mekanisme pasar. C. Kebijakan Moneter dan Perbankan di Indonesia Perkembangan kebijakan moneter dan perbankan di Indonesia sejak orde baru pada dasarnya dapat digolongkan dalam tiga periode, yaitu : 1. Periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Kebijakan moneter dan perbankan pada periode tersebut pada dasarnya untuk mengatasi kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan saat itu. Meskipun tidak ada angka inflasi yang pasti dan disepakati namun berbagai pengamat memperkirakan tingkat inflasi berkisar 650% per tahun. Untuk menghambat laju inflasi tersebut pemerintah mengupayakan pengendalian tingkat inflasi ke batas yang aman, meningkatkan ekspor, dan mencukupkan sandang bagi masyarakat. Kebijakan yang ditempuh adalah kebijakan kredit yang
Muh. Ilham

115 sangat ketat dan kualitatif guna membatasi jumlah uang beredar dilakukan dengan dua cara : Pertama, (a) Menetapkan tingkat bunga kredit bagi bank-bank pemerintah, (b) Penyaluran kredit yang sangat selektif, (c) Menerbitkan tata cara pemberian kredit perbankan. Kedua, Dalam rangka meningkatkan mobilisasi dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan pembangunan sekaligus untuk mengurangi pertumbuhan jumlah uang beredar, diterbitkan Inpres No. 22 tahun 1968 yang diharapkan dapat mendorong minat masyarakat menabung, yaitu : (a) Menawarkan tingkat bunga deposito yang tinggi, (b) bebas pengusutan asal usul uang yang didepositokan, (c) jaminan pembayaran kembali oleh Bank Indonesia, (d) Bebas pajak, (d) Pengetatan rahasia bank terhadap pemilik deposito. 2. Periode saat ekonomi ditunjang sektor minyak Kebijakan pemerintah dalam upaya memobilisasi dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan pembagunan disertai dengan penyediaan kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang berbunga rendah memperbesar kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit. Penyediaan KLBI dalam jumlah besar akibat besarnya penerimaan dari hasil ekspor minyak pada pertengahan dekade 1970an yang dikenal dengan istilah “boom minyak” mendorong tingginya laju inflasi. Kebijakan moneter yang ditempuh pada periode boom minyak antara lain : (a) menciptakan pagu kredit (credit ceiling) dan
Muh. Ilham

116 aktiva lainnya, (b) menaikkan bunga kredit, (c) menaikkan bunga deposito dan tabungan, (d) menaikkan ketentuan GWM. 3. Periode deregulasi perbankan. Memasuki dekade 1980-an ekonomi Indonesia megalami resesi sebagai dampak resesi dunia. Untuk mengatasi kondisi ekonomi yang semakin buruk tersebut pemerintah melakukan perubahan-peribahan di bidang ekonomi termasuk moneter dan perbankan. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pada waktu itu antara lain : (a) Penyesuaian nilai tukar rupiah terhadap dolat Amerika Serikat (devaluasi) pada bulan Maret 1983 dari Rp.700 per US$ menjadi Rp.970 per US$, (b) Penjadwalan ulang proyek-proyek yang menggunakan devisa dalam jumlah besar, (c) Melakukan deregulasi sektor moneter dan perbankan dengan berbagai jenis paket kebijakan. Berbagai kebijakan moneter dan perbankan terus dilakukan guna menyempurnakan kebijakan sebelumnya dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan makroeknomi maupun mikro ekonomi hingga pada kebijakan penggunaan sistem nilai tukar mengambang bebas (floating exchange rate) sejak 14 Agustus 1997 ketika krisis ekonomi melanda Indonesia. D. Soal-soal latihan 1. Apakah yang dimaksud dengan kebijakan moneter? 2. Apakah sasaran dari kebijakan moneter? 3. Sebut dan jelaskan instrumen kebijakan moneter
Muh. Ilham

117 4. Mengapa dalam keadaan inflasi Bank Sentral perlu menempuh misalnya kebijakan menaikkan persentase Giro Wajib Minimum bank-bank? Jelaskan! 5. Kemukakan secara singkat kebijakan moneter yang pernah ditempuh oleh Indonesia dan apa sasarannya!

Muh. Ilham

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful