BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Gambaran Umum SMPN 13 Samarinda SMPN 13 Samarinda terletak di jalan R.A Kartini No.37 Samarinda, Kalimantan Timur. Sekolah ini berdiri pada tahun 1978. Visi misi dari SMPN 13 Samarinda adalah mendidik siswa memiliki imtaq, budi pekerti luhur, keterampilan, serta kecerdasan, spiritual, inte;lektual dan

emosional, memiliki siswa agar memiliki wawasan kemasyarakatan dan kebangsaan serta memiliki kepedulian sosial, meningkatkan prestasi siswa dalam bidang akademik dan non akademik, mengembangkan sistem kelembagaan, organisasi, manajemen, administrasi, budaya kerja sinergis serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) warga masyarakat sekolah guna mewujudkan sekolah yang dinamis dan berprestasi. Sarana dan prasarana yang terdapat di SMPN 13 Samarinda antara lain : ruang kelas sebanyak 18 buah, laboratorium IPA, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang OSIS, gedung serba guna, UKS. Jumlah siswa pada saat dilaksanakan penelitian berjumlah 162 siswa. Sebanyak 56 siswa kelas VII, 53 siswa kelas VIII dan siswa IX sebanyak 53 siswa.

Jumlah guru di SMPN 13 Samarinda sebanyak 38 orang. Tingkat pendidikan tenaga pengajar tetap, yaitu 2 orang dengan tingkat pendidikan strata-2 dan 32 orang dengan tingkat pendidikan strata-1 dan 4 orang dengan tingkat pendidikan D-1. Dimana seluruh guru memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.

2. Karakteristik Responden Karakteristik responden meliputi kelas, umur dan jenis kelamin. a. Karakteristik responden berdasarkan Kelas Karakteristik responden berdasarkan kelas pada siswa SMPN 13 Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kelas Pada Siswa SMPN13 Samarinda Tahun 2010

N0. 1. 2. 3.

Kelas VII VIII IX Jumlah

Frekuensi 56 53 53 162

Persentase 34,6 32,7 32,7 100

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa sebanyak 56 siswa (34,6%) adalah kelas VI, 53 siswa (32,7%) adalah kelas VII dan 53 siswa (32,7%) adalah kelas IX.

b. Karakteristik responden berdasarkan umur Karakteristik responden berdasarkan umur pada siswa SMPN 13 Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Pada Siswa SMP N 13 Samarinda Tahun 2010
No 1. 2. Umur Remaja awal (10-13 tahun) Remaja sedang (14-16 tahun) Total Frekuensi 61 101 162 Persentase 37,7 62,3 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa umur seluruh responden yang ada di SMP N 13 dari kelas VI sampai kelas IX memiliki usia 10-16 tahun. Umur responden yang terbanyak 14 tahun (43,8 %)

c. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin pada siswa SMPN 13 Samarinda dapat dilihat pada table berikut : Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Siswa SMPN 13 Samarinda Tahun 2010

No 1 2

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah

Frekuensi 72 90 162

Persentase 44,4 55,6 100

Dari tabel di atas diketahui bahwa dari 162 responden, 72 siswa (44,4%) berjenis kelamin laki-laki dan 90 siswa (55,6%) perempuan.

3. Analisa univariat Analisa ini dilakukan untuk memperoleh gambaran deskripsi tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian, data yang dianalisis berasal dari distribusi frekuensi : a. Perilaku Perilaku adalah aktivitas atau kegiatan responden terhadap seks pranikah sendiri yaitu sejauh mana responden melakukan aktivitas seksual dalam kehidupan sehari- harinya, tempat saat melakukan aktivitas seksual dan dengan siap melakukannya. Tabel 4. Distribusi Perilaku Responden Mengenai Seks Pranikah Antara siswa SMPN 13 Samarinda tahun 2010
No
1 2 3 4 5 6 7

Perilaku
Berpelukan Berpegangan tangan Menghabiskan waktu berduaan Ciuman Bermanja-manjaan Berbaring Bersama dengan pasangan Diraba didalam pakaian

Ya L
68 67 67 51 46 19 17

P
85 85 80 58 52 26 15

n
153 152 147 109 98 45 32

%
94,4 93,8 90,7 67,3 60,5 27,8 19,8

L
4 5 5 21 26 53 55

P

Tidak N
9 10 15 53 64 117 130

%
5,6 6,2 9,3 32,7 39,5 72,2 80,2

n

Total %
100 100 100 100 100 100 100

5 5 10 32 38 64 75

162 162 162 162 162 162 162

8 9 10 11

Meraba didalam pakaian Melepasakan pakaian memperlihatkan alat kelamin Bersenggama Dalam sebulan terkahir melakukan hubungan seks

dan

14 8 4 3

13 3 1 0

27 11 5 3

16,7 6,8 3,1 1,9

58 64 68 69

77 87 89 90

135 151 157 159

83,3 93,2 96,9 98,1

162 162 162 162

100 100 100 100

anda

12

memiliki pasangan hubungan seks yang berbeda dalam sebulan terkahir Tidak melakukan ASAI

1

1

2

1,2

70

90

160

98,8

162

100

13

5

5

10

6,2

67

85

152

93,8

162

100

Pada tabel diatas, mengenai perilaku berpacaran pada siswa , bahwa responden yang dijadikan sampel adalah responden yang tidak pernah

berpacaran,pernah berpacaran dan sedang berpacaran. Adapun aktivitas yang banyak dilakukan responden yaitu berpelukan 94,4%. Sebesar 3,1% responden telah melakukan hubungan intim selayaknya suami istri serta 1,9% pernah melakukan hubungan seks dalam sebulan terakhir dan 1,2% pernah melakukan hubungan seks yang berbeda dalam sebulan terakhir. Adapun yang tidak melalukan aktivitas ASAI sebesar 6,2%. Aktivitas ASAI dr urutan 10-13 banyak dilakukan oleh responden laki-laki. Gambaran menurut dengan siapa responden melakukan aktivitas perilaku seksual responden di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 5. Distribusi responden menurut dengan siapa responden melakukan aktivitas perilaku seksual responden di SMPN 13 Samarinda
No. Dengan siapa aktivitas tersebut dilakukan Pacar Teman Keluarga/Sepupu Ya L 55 12 1 P 66 13 9 n 122 25 10 % 75,3 15,4 6,2 L 16 60 71 P 24 77 81 Tidak n 40 137 152 % 24,7 84,6 93,8 n 162 162 162 Total % 100 100 100

1 2 3

Berdasarkan tabel 5 diatas diketahui bahwa responden melakukan aktivitas perilaku seksual dengan pacar sebesar 75,3%. Gambaran menurut tempat dimana responden melakukan aktivitas seksual di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 6. Distribusi responden menurut tempat responden melakukan aktivitas perilaku seksual responden di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
No. Tempat
L 1 2 3 4 5 6 7 Tempat Wisata Sekolah Rumah Bioskop Rumah makan Hotel,motel losmen Kost/kontrakan 22 12 16 13 1 1 0 P 23 23 17 18 1 0 1

Ya
n 45 35 33 31 2 1 1 % 27,8 21,6 20,4 19,1 1,2 6 6 L 50 60 56 59 71 71 72

Tidak
P 67 67 73 72 89 90 89 n 117 127 129 131 160 161 161 % 72,2 78,4 79,6 80,9 98,8 99,4 99,4

Total
n 162 162 162 162 162 162 161 % 100 100 100 100 100 100 100

Berdasarkan tabel 6 diatas diperoleh bahwa tempat wisata merupakan tempat favorit responden melakukan aktivitas seksual sebesar 27,8% dan sekolah sebesar 21,6%. Dalam kategori ASAI perilaku seksual remaja dapat dibagi menjadi 4 kategori resiko, yaitu : a. Tidak beresiko dengan skor 0 b. Resiko Rendah dengan skor 1-3 c. Resiko sedang dengan skor 4-6 d. Resiko Tinggi dengan skor 7-10

Gambaran responden menurut perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 7. Distribusi responden menurut perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda

No. 1 2 3 4

Tingakat Resiko Tidak Beresiko Resiko Rendah Resiko Sedang Resiko Tinggi Total 5 16 34 17 72

L

% 6,9% 22,2% 47,2% 23,6% 100% 5

P

% 5,4% 31,1% 46,7% 16,7% 100%

n 10 44 76 32 162

% 6,2% 27,2% 46,9% 19,8% 100%

28 42 15 90

B

BBerdasarkan tabel 7 tentang resiko perilaku seksual remaja, pada siswa sebesar 19,7% responden yang beperilaku resiko tinggi dan yang memiliki resiko tinggi adalah siswa laki-laki sebesar (23,6%). b. Pengetahuan Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual dapat dinilai dari 20 pertanyaan yang meliputi pengertian kesehatan reproduksi, organ reproduksi, pubertas, ciri-ciri seks sekunder, jenis perilaku seksual, akibat seks pranikah (PMS, kehamilan, dan aborsi). Berikut tampilan persentasi dari masing-masing pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan kesehatan reproduksi dan perilaku seksual siswa. Dapat dilihat dalam dari setiap pertanyaan ada 2 pilihan, yaitu jika “mengetahui” dengan pilihan “YA”, sedangkan jika “tidak tahu” dengan pilihan jawaban “TIDAK” dan dapat diketahui pengetahuan responden cukup dan kurang tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 9. Persentase Jawaban responden untuk mengetahui pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010.

No

Pernyataan
N

Total
% 73,5 76,8 65,4 36,4 40,1 8,6 29,6 46,3 10,5 10,5

Pengetahuan cukup 1. Pengertian kesehatan Reproduksi 2. Dampak dari hubungan seks 3. Pengertian Penyakit menular seksual Pengetahuan kurang 4. Organ reproduksi laki-laki 5. Organ reproduksi perempuan 6. Perilaku seksual 7. Ciri-ciri seks sekunder pada laki-laki 8. Ciri-ciri seks sekunder pada perempuan 9. Cara mencegah kehamilan 10. Termasuk penyakit menular seksual

119 124 106 59 65 14 48 75 17 17

Berdasarkan tabel diatas dilihat bahwa pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi sebesar 73,5% tetapi pemahaman terhadap perilaku seksual hanya 8,6% Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seks remaja dikatakan cukup jika memenuhi kriteria, kriteria tersebut adalah :
a. Cukup : ≥ 80% dari skor total

b. Kurang : < 80% Gambaran responden menurut pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 9. Distribusi frekuensi responden menurut pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
Frekuensi Pengetahuan 1. 2. Cukup Kurang Total n 119 43 162 % 73,5% 26,5% 100%

No.

Berdasarkan

tabel

9

tentang

pengetahuan

akan

kesehatan siswa

reproduksi yaitu dari 162 responden diperoleh hasil bahwa 119

(73,5%) responden memiliki pengetahuan Cukup tentang kesehatan reproduksi.

Gambaran pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual menurut tingkatan kelas di SMPN 13 Samarinda adalah sebagai berikut. Tabel 10. Distribusi frekuensi responden menurut tingkatan kelas remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
No. Pengetahuan N 1. 2. Kurang Cukup Total 49 7 56 VII % 87,5 12,5 100% N 51 2 53 Kelas VIII % 96,2 3,8 100% N 48 5 53 IX % 90,6 9,4 100%

Berdasarkan tabel 10 diatas tingkat pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja yang kurang terbanyak pada kelas VIII yaitu sebesar 96,2% c. Sikap

Sikap adalah Pernyataan siswa mengenai setuju atau tidak setuju terhadap perilaku seks pranikah. Respon siswa terhadap perilaku seks pranikah dan keterbukaan tentang perilaku seks pranikah. Tabel 11. Persentase Jawaban responden untuk mengetahui sikap tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010

No

Sikap n
Sikap Baik

Total %
61,7% 46,9% 70,4%

1. 2. 3.

4. 5.

Menjaga kebersihan organ 100 reproduksi adalah hal yang penting Bagi laki-laki menjaga keperjakaan 76 adalah hal yang penting Bagi perempuan menjaga 114 keperawanan adalah hal yang penting Sikap Kurang Hal yang terlarang apabila remaja 42 menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan Remaja yang hamil diluar nikah 10 bukanlah hal yang wajar bagi mereka yang berpacaran

25,9% 6,2%

Sebesar 61,7% responden menyatakan setuju tentang pernyataan menjaga kebersihan organ reproduksi adalah hal yang sangat penting.

Sebesar 6,2% menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa remaja yang hamil di luar nikah bukanlah hal yang wajar bagi mereka yang berpacaran. Gambaran responden menurut sikap terhadap kesehatan

reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 12. Distribusi frekuensi responden menurut sikap terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
Sikap n Baik Tidak Baik Total 82 80 162 Frekuensi % 50,6% 49,4% 100%

Berdasarkan tabel 12 tentang Sikap terhadap seks pranikah diketahui tentang sikap responden dapat dilihat yang memiliki sikap baik 50,6% lebih banyak dibandingkan dengan sikap yang tidak baik. d. Pola Komunikasi

Komunikasi adalah penyampaian orang tua tentang seks pranikah pada responden baik terbuka maupun tertutup Gambaran responden mengenai pola komunikasi orangtua dengan remaja tentang kesehatan reproduksi di SMPN 13 Samarinda tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13. Distribusi mengenai pola komunikasi tentang kesehatan reproduksi responden di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
No 1. 2. Komunikasi orang tua tentang kesehatan reprodukai Ya Tidak Total Frekuensi n 81 81 162 % 50% 50% 100%

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa responden memperoleh informasi kesehatan reproduksi dari orang tua sebesar 50%. Gambaran responden mengenai orang tua yang memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 14. distribusi mengenai orang tua yang memberikan informasi tentang kesehatan kesehatan reproduksi remaja dan perilaku seksual responden di SMPN 13 Samarinda 2010.

No .

Orang tua yang memberikan informasi tentang Kespro Ibu Ayah

Ya n 76 11 % 46,9% 6,8% n 86 151

Tidak % 53,1% 93,2% N 162 162

Total % 100% 100%

1 2

Dari tabel diatas dapat dilihat responden banyak mendaptkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja dari ibu sebanyak 46,9%. Gambaran responden menurut pola komunikasi orangtua terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15. Distribusi frekuensi responden menurut pola komunikasi terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
Komunikasi n Tertutup Terbuka 81 81 Frekuensi % 50% 50%

Total

162

100%

Dari tabel diatas dapat dilihat responden yang memiliki pola komunikasi tertutup dengan orang tua mengenai masalah kesehatan reproduksi dan prilaku seksual remaja adalah 50%. e. Informasi Media Informasi media pornografi yaitu Seberapa sering responden mencari informasi tentang pornografi di media baik cetak,elektronik, mapun internet. Gambaran frekuensi responden mengakses informasi tentang seksualitas dari media cetak di SMPN 13 Samarinda tahun 2010, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16. Persentase Jawaban responden untuk mengetahui paparan media di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010

No. 1.

Informasi Media Informasi tentang seksualitas pada media Jenis Media -Majalah - Buku - Tabloid - Komik - Poster - Foto Seberapa sering mengakses media cetak 1. Setiap hari 2. seminggu < 3 kali > 3 kali 3. Sebulan Pernah memperoleh informasi tentang seksualitas dari media

Ya n 147 102 54 39 17 7 24 % 90,7% 63,0% 33,3% 24,1% 10,5% 4,3% 14,8% 15 60 108 123 145 155 138 n

Tidak % 9,3% 37,0% 66,7% 75,9% 89,5% 95,7% 85,2% N 162 162 162 162 162 162 162

Total % 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

2.

3.

4.

12 31 23 8 70 107

7,4% 19,2% 14,2% 5,0% 43,2% 66%

150 131` 139 154 92 55

92,7% 80,9% 85,9% 95% 56,8% 34%

162 162 162 162 162 162

100% 100% 100% 100% 100% 100%

5.

6.

7.

elektronik Jenis Media - Radio - Televisi - VCD - DVD - Hendphone Seberapa sering mengakses media elektronok 1. Setiap hari 2. seminggu < 3 kali > 3 kali 3. Sebulan < 3 kali > 3 kali Pernah memproleh informasi tentang seksualitas media internet - Gambar - Video - Artikel 1. Setiap hari 2. Seminggu < 3 kali > 3 kali 3. Sebulan < 3 kali > 3 kali 4. 3 bulan < 3 kali

16 65 18 28 50 30 25 22 3 48 43 5 84 44 46 11 5 23 18 5 41 46 5 15 9

9,9% 40,1% 11,1% 17,3% 30,9% 18,5% 15,4% 13,6% 1,8% 29,6% 26,5% 3,1% 51,9% 27,2% 28,4 6,8% 3,1% 14,2% 11,1% 3,1% 25,4% 22,3% 3,1% 9,1% 5,5%

146 97 144 134 112 132 137` 140 159 114 119 157 78 118 116 151 157 139 144 157 121 116 157 147 153

90,1% 59,9% 88,9% 82,7% 69,1% 81,5% 84,6% 86,4% 98,2% 70,4% 73,5% 96,9% 48,1% 72,8% 71,6% 93,2% 96,9% 85,8% 88,9% 96,9% 74,6% 77,7% 96,9% 90,7% 94,5%

162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162 162

100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

8.

Dari tabel 16 adapat dilihat dari 3 media pornografi yang sering di akses oleh responden yaitu media cetak sebesar 90,7%. Gambaran responden menurut paparan media pornografi terhadap perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda, pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 17. Distribusi frekuensi responden menurut paparan media pornografi terhadap perilaku seksual remaja di SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
No. Informasi Media N 1. 2. Sering Jarang 110 52 Frekuensi % 67,9% 32,1%

Total

162

100%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden sering untuk mengakses pornografi, dapat dilihat bahwa yang sering mengakses sebanyak 67,9%. 4. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui besarnya hubungan variabel dependen dan variabel independen. Dalam hal ini hubungan antara Pengetahuan, Sikap, Pola Komunikasi dengan orang tua dan keterpaparan media pornografi dengan perilaku seks pranikah pada siswa SMPN 13 Samarinda. a. Hubungan pengetahuan terhadap perilaku seks Pranikah

Tabel 18. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan perilaku seks Pranikah pada siswa SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
Pengetahuan Cukup Kurang Total Tidak beresiko 4 28,6% 6 4,1% 10 6,2% Perilaku Siswa Resiko Resiko Rendah sedang 6 2 42,9% 14,3% 38 74 25,7% 50,0% 44 76 27,2% 46,9% P Value Resiko Tinggi 2 14,3% 30 20,3% 32 19,8% Phi Cramers

0.001

0.329

Dari tabel 18 diatas, hasil analisa hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku seks Pranikah pada siswa yaitu Pengetahuan Kurang dengan Perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 20,3%. Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,001) maka dapat disimpulkan bahwa ada Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku seks pranikah pada siswa Sedangkan Phi Cramer’s yaitu 0.329 artinya terdapat Hubungan antara tingkat Pengetahuan responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan tingkat Sedang.
b.

Hubungan Sikap dengan Perilaku seks Pranikah Tabel 19. Hubungan Tingkat Sikap dengan perilaku seks Pranikah pada siswa SMPN 13 Samarinda Tahun 2010
Sikap Baik Tidak Baik Total Tidak beresiko 6 7,3% 4 5,0% 10 6,2% Perilaku Siswa Resiko Resiko Rendah sedang 33 33 40,2% 40.2% 11 43 13,8% 53,8% 44 76 27,2% 46,9% Resiko Tinggi 10 12,2% 22 27,5% 32 19,8% P Value Phi Crame rs 0.326

0.001

Dari tabel 19 diatas, hasil analisa hubungan antara Sikap dengan Perilaku seks Pranikah diperoleh bahwa sikap responden tidak baik dengan perilaku resiko tinggi responden terhadap seks pranikah sebanyak 27,5%. Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,001) maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Sikap responden dengan perilaku seks pranikah pada siswa. Sedangkan Phi Cramer’s sebesar 0.326 artinya terdapat Hubungan antara Sikap responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan tingkat sedang.
c.

Hubungan pola komunikasi dengan Perilaku seks Pranikah

Tabel 20 : Hubungan Tingkat Pola Komunikasi dengan perilaku seks Pranikah pada siswa SMPN 13 Samarinda Tahun 2010

Pola komunikasi Terbuka Tertutup Total

Tidak beresiko 4 4,9% 6 7,4% 10 6,2%

Perilaku Siswa Resiko Resiko Rendah sedang 32 35 39,5% 43,2% 12 41 14,8% 50.6% 44 76 27,2% 46,9%

Resiko Tinggi 10 12,3% 22 27,2% 32 19,8%

P Value

Phi Cramer s 0.299

0.002

Dari tabel 20 diatas, Hasil analisa hubungan antara Pola Komunikasi dengan Perilaku seks Pranikah diperoleh bahwa pada siswa yaitu Komunikasi tertutup dengan Perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 27,2%. Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,002) maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Komunikasi responden dengan perilaku seks pranikah pada siswa. Sedangkan Phi Cramer’s pada siswa

sebesar (0.299) artinya terdapat Hubungan antara Pola Komunikasi responden dengan orang tua terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan Sedang.
d. Hubungan Keterpaparan media dengan perilaku seks pranikah

Tabel 21. Hubungan Keterpaparan media dengan perilaku seks Pranikah pada siswa SMPN 13 Samarinda
Media Jarang Sering Total Tidak beresiko 5 9,6% 5 4,5% 10 6,2% Perilaku Siswa Resiko Resiko Rendah sedang 22 21 42,3% 40.4% 22 55 20,0% 50,0% 44 76 27,2% 46,9% Resiko Tinggi 4 7,7% 28 25,5% 32 19,8% P Value Phi Cramers

0.003

0.297

Dari tabel 21 diatas, hasil analisa hubungan antara keterpaparan media dengan Perilaku seks Pranikah diperoleh bahwa responden yang sering terpapar media terhadap perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 25,5%. Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,003) maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Komunikasi responden dengan perilaku seks pranikah pada siswa. Sedangkan Phi Cramer’s pada siswa yaitu 0.297 artinya terdapat Hubungan antara Sikap responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan tingkat Sedang. B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa data maka dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan variabel yang di teliti.
1.

Perilaku Seksual Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk

hidup) yang bersangkutan. Perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,2003) Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang perilaku remaja pada siswa SMPN 13 Samarinda, diketahui bahwa responden yang dijadikan sempel adalah responden yang tidak pernah berpacaran dan pernah berpacaran (100%) dan aktivitas yang banyak dilakukan oleh responden dengan lawan jenis / pasangan yaitu berpelukan (94,4%), sedangkan yang melakukan hubungan intim (5%). Aktivitas responden dilakukan dengan pacar sebesar 75,3%, tetapi tidak menutup kemungkinan selain dengan pacar responden melakukan dengan teman dan sepupu. Aktifitas tersebut banyak dilakukan responden di tempat wisata (27,8%), disekolah (21,6%) dan dan dirumah (20,4%).Aktivitas tersebut dilakukan ditempat-tempat yang seharusnya penuh dengan

pengawasan tetapi responden masih bisa melakukan aktifitas tersebut, sekolah dan rumah adalah tempat yang seharusnya terjaga dan terkontrol tetapi responden dengan leluasa melakukan aktifitas tersebut, dengan tempat yang harusnya penuh dengan pengawasan responden bisa melakukan

aktivitas-aktivitas tersebut apa lagi dengan tempat-tempat yang tidak ada pengawasan dari orang tua dan pendidik, seperti bioskop, tempat wisata, tempat makan serta hotel, motel, losmen. Responden mulai tertarik dengan lawan jenis rata-rata pada usia 10-13 (72,2%) Dari data yang didapat diatas bahwa remaja mulai tertarik terhadap lawan jenis pada masa remaja awal, dimana pada tahap remaja awal ini responden mulai memasuki masa pubertas. Hasil penelitian yang dilakukan menjelaskan bahwa pengetahuan, sikap, paparan media pornografi dan pola komunikasi berkaitan dengan prilaku seks pranikah, prilaku tersebut dapat dilihat bahwa dari hasil yang ada didapatkan (3,1%) melakukan hubungn seks dan dalam sebulan 3 responden (1,9%) melakukan hubungan seks tersebut, hal ini dipengaruhi oleh faktorfaktor pengetahuan yang rendah, pola koumunikasi yang tertutup, sikap yang kurang baik, keterpaparan media pornografi. Menurut Hansen. Et al. (1999). Sebuah standar untuk mengukur setrategi interpersonal heterogen prilaku dikalangan kaum muda Adolescent Seksual Activity Indeks (ASAI) skala Guttman yaitu sebagai berikut : a. Berpelukan (Hungging), b. Memegang tangan, c. Menghabiskan waktu berdua, d. Berciuman (kissing), f. Bermanja-majaan (cuddling), g. Tidur bersama-sama, h.Tangan seseorang memasukan kedalam pakaiannya, memasukan tangannya kedalam pakaiannya, i. Melepaskan pakaiannya dan melihatkan organ seks, j. Terlibat dalam hubungan badan (intercause).Tiga intim tambahan yaitu sebagai berikut : k. Frekuensi melakukan hubungan

seks selama 30 hari sebelumnya, l. jumlah mitra seksual yang berbeda selama 30 hari, m. Jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan. Dengan menggunakan ASAI ini terdapat 11 poin (dari poin 0-10) penilaian, potensi keterkaitan penggunaan nilai pada index tersebut dapat menginterpretasikan nilai individu dan kelompok. Contoh : peneliti dapat menentukan dari seorang individu siap untuk memulai melakukan hubungan seks. Kira-kira pada nilai 7, maka seseorang dapat dikategorikan siap untuk memulai melakukan hubungan seks. Pada nilai 6, dikategorikan siap melakukan hubungan seks hampir tidak beresiko. Pada nilai 3, seseorang dikategorikan beresiko rendah melakukan hubungn seks. Dan pada nilai 8 atau lebih, maka seseorang dikategorikan sudah sangat siap atau aktif untuk melakukan hubungan seks. Dengan adanya acuan untuk mengukur prilaku seks pranikah melalui ASAI maka dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat siswa yang pernah melakukan seks pranikah, dan rata-rata siswa yang ada adalah siswa yang memiliki kategori seks aktif dilihat dari kriteria yang telah ada didalam ASAI sebanyak 3,1%. Selain itu juga responden yang berperilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah banyak ditemukan responden laki-laki dibandingkan perempuan ini menunjukan bahwa remaja sekarng sudah melakukan pergeseran – pergeseran norma perilaku dan ketaatan seiring dengan pergaulan remaja sekarang yang bebas.

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Dengan matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongandorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk melakukan aktifitas seksual bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari

kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Soetjiningsih, 2004). Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual dari pada remaja perempuan. Banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Untuk itu diharapkan pada seluruh aspek dapat memberikan dampak yang baik dengan mengubah yang buruk menjadi lebih baik, baik dari segi pengetahuan agar semakain ditingkatkan, pola komunikasi orang tua harus lebih terbuka dan merespon permasalahan anak agar anak tidak

mencurahkan permasalahan pada orang yang kurang tepat yang akan berdampak pada perilaku seks pranikah, serta memperkecil paparan media dengan memberikan himbauan, arahan dan terus memantau agar dapat terkontrol, dengan demikian sikap yang terbentuk akan jauh lebih baik dan akan menimbulkan perilaku yang positip pada para remaja.

2. Pengetahuan Menurut Bloom yang dikutip Notoatmodjo, (2005) bahwa pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang di milikinya ( mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek

mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Dalam pengertian yang telah dikemukakan oleh Notoatmodjo tentang Pengetahuan dimana siswa dapat menilai suatu objek dengan pengindraan yang mereka miliki dan tidak semua siswa menghasilkan pandangan atau pendapat yang sama dalam menilai suatu objek, maka dari perbedaanperbedaan yang ada saat menilai suatu objek dapat di ketahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap permasalahan seks pranikah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII, VIII dan IX maka terlihat bahwa kelas VIII memiliki pengetahuan yang kurang ini disebabkan oleh pada kelas VIII tingkatannya masih sedang dibandingkan kelas IX selain itu juga pemberian informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas masih sangat minim dari materi pelajaran biologi hal ini menyebabkan remaja mencari informasi dari teman sebaya ataupun media

(cetak,elektronik maupun internet) selain itu juga proses adaptasi dari SD ke SMP masih terbawa sehingga mereka belum memiliki pemahaman secara benar tentang kesehatan reproduksinya sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan ada Hubungan pengetahuan responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa masih dikatakan kurang, itu terlihat dari persentasi pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi. Pada siswa didapatkan hasil bahwa pengetahuan responden kurang dengan perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 20,3% sedangkan pada dikarenakan pengetahuan responden masih sangat kurang terhadap kesehatan reproduksi seperti siswa hanya mengetahui organ reproduksi pada laki-laki hanya Testis (79,6%) dan Penis (93,2%) selain itu juga responden hanya megetahui organ reproduksi pada perempuan yaitu Ovarium (79,0%) dan Vagina (93,2%). Padahal organ reproduksi pada laki-laki itu ada 6 organ yaitu Testis, Skrotum, Vas deferens, Prostat, Penis dan preputium sedangkan pada organ reproduksi pada perempuan ada 9 organ yaitu Ovarium, tuba fallopi, Fimbrae, uterus, serviks, Vagina, Klitoris, Labia mayora dan Labia minora. Karena Pengetahuan responden masih sangat kurang Sehingga responden tidak terlalu bertanggung jawab terhadap organ reproduksinya sendiri. (Depkes 2007)

Pengetahuan Responden kurang dengan berperilaku resiko tinggi ini disebabkan responden hanya mengetahui penyebab kehamilan Yaitu Bersenggama (berhubungan selayaknya suami istri). Pada pengetahuan responden tentang penyebab kehamilan yaitu bersenggama (94,4%) Padahal penyebab kehamilan itu tidak hanya Bersenggama saja tetapi dengan petting (18,5%) juga bisa menyebabkan kehamilan. Petting adalah melakukan hubungan seks dengan atau tanpa pakaian tetapi tanpa melakukan penetrasi penis kedalam vagina. Walaupun tanpa melepaskan pakaian dan penetrasi, petting tetap dapat menimbulkan kehamilan karena spermatozoa tetap dapat masuk kedalam rahim ketika terangsang perempuan akan mengeluarkan cairan yang mempermudah masuknya spermatozoa kedalam rahim, dan spermatozoa sendiri

mempunyai kekuatan berenang masuk kedalam rahim jika tertumpah pada celana dalam yang dikenakan wanita,apalagi jika langsung mengenai bibir kemaluan (Depkes 2007) Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,001) maka dapat disimpulkan bahwa ada Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku seks pranikah pada siswa. Sedangkan Phi Cramer’s pada siswa sebesar 0.329 yang artinya terdapat Hubungan antara tingkat Pengetahuan responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan tingkat Sedang. Dari hasil pengetahuan tentang kesehatan reproduksi siswa yang menjadi responden hal ini terdapat dalam tingkatan pengetahuan yaitu tahu

(know) yang berarti hanya sebagai recall (memanggil) emosi yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Hal ini dikarenakan belum semua responden yang mengetahui secara keseluruhan tentang kesehatan reproduksi. Ini terlihat dari jawaban responden yang memahami kesehatan reproduksi (73,5%),organ reproduksi laki-laki (36,4%) dan organ reproduksi perempuan (40,1%). Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa rata-rata pengetahuan siswa masih kurang. hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor eksternal maupun internal. Faktor-faktor itu antara lain kurangnya memperoleh informasi, baik dari teman, saudara serta pendidikan yang diberikan oleh pendidik disekolah maupun orang tua di rumah khususnya mengenai kesehatan reproduksi atau seks pranikah. Kehamilan tidak dikehendaki, aborsi ilegal dan tidak aman,

peningkatan kasus penyakit menular seksual termasuk infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. Hal tersebut sebagai akibat perilaku seksual remaja yang cenderung permisif dan berani serta adanya keterbatasan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Faktor lain yang mendukung adalah mudahnya akses informasi seksualitas yang keliru dari teman sebaya dan media massa serta adanya anggapan dari orang tua atau guru bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu, sehingga membangkitkan keingintahuan remaja terhadap hal seputar seksual menjadi besar dan mempengaruhi kebebasan remaja mengambil keputusan terhadap situasi tertentu khususnya terkait

kecenderungan melakukan hubungan seksual (intercourse) pranikah.

Dengan demikian remaja perlu diberikan informasi secara penuh dan benar tentang kesehatan reproduksi dan dampak- dampak yang ditimbulkan karena prilaku seks pranikah, diharapkan dengan informasi yang diberikan dapat menghindarkan remaja dari perbuatan seks pranikah, tetapi bagi yang sudah pernah melakukan juga dapat terhindar dari dampak-dampak akibat seks bebas tersebut melalui informasi yang diberikan dengan benar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama karena telah mengetahui bahaya dan resiko yang dapat terjadi karena hubungan seks bebas Sebaliknya Pengetahuan responden cukup Belum tentu tidak berperilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 14,3%, Ini disebabkan oleh tertutupnya komunikasi responden dengan orang Tua mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual selain itu juga seringnya responden mengakses media pornografi baik media Cetak, Elektronik maupun Internet. Pada tabel 9 terlihat bahwa pengetahuan siswa cukup 73,5%. Jika dilihat pengetahuan disekolah tersebut sudah cukup baik dikarenakan

sarana dan prasarana disekolah tersebut sudah lebih lengkap Misalnya sarana buku-buku yang dimiliki di perpustakaan lebih lengkap serta tersedianya fasilitas Wi-fi di laboratorium komputer yang bisa diakses responden dengan menggunakan komputer yang ada di laboratorium komputer milik sekolah, sehingga responden dapat dengan mudah mengakses informasi apa saja yang mereka inginkan.

Hasil penelitian Etikarieni (1998) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara tingkat keyakinan terhadap mitos yang mencegah dengan keserbahbolehan terhadap perilaku seks pranikah. Bahkan ada berkembangnya pengetahuan dan isu populer mengenai seks (mitos), dikalangan remaja. Mitos-mitos tersebut cendrung mendorong perilaku seks pranikah, yang disertai dengan alasan yang dibuat semasuk akal mungkin. Informasi yang benar, namun cendrung mencegah, ditolak dengan bermacam pembenaran. Adalah suatu ironi, di saat remaja sedang mengalami perkembangan seksual dan membutuhkan informasi yang tepat mereka malah dijauhkan dari informasi-informasi tersebut sehingga memilih mempercayai mitos-mitos yang dapat menjerumuskan mereka. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak serta penuh keingintahuan dan petualangan dalam hal-hal yang baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Sayangnya banyak diantara mereka tidak menyadari betapa pengalaman yang tampaknya menyenangkan justru dapat menjerumuskan. Rasa ingin tahu remaja kadang-kadang kurang disertai pertimbangan rasional akan akibat lanjut dari suatu perbuatan. Secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi integrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar (hurlock dalam zulkifli,2006)

Sehingga remaja harus dibekali dengan pengetahuan cukup tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas dengan cara memberikan materi tambahan disekolah yang mengkhususkan tentang kesehatan Reproduksi dan seks di Pelajaran Biologi maupun Budi Pekerti dan memberikan pengetahuan mengenai istilah-istilah dalam perilaku seks pranikah serta

dampak negatifnya. Selain itu juga harus adanya keterbukaan yaitu memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seks antara orang tua dan remaja agar remaja tidak merasa takut dan malu untuk bertanya serta perlunya peningkatan pengawasan pergaulan remaja agar tidak terjerumus kedalam perilaku seks pranikah.

3.Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2003). Sikap yang tidak seiring dengan perilaku disebabkan faktor situasi dan kondisi. Bila keyakinan normatif responden tentang perilaku seks pranikah bersifat mendukung, artinya bahwa pandangan orang lain, baik lingkungan maupun keluarga menganggap bahwa perilaku seks merupakan sesuatu yang wajar, maka hal tersebut akan memicu terjadinya perilaku seks

pranikah di kalangan mereka. Tetapi bila keyakinan normatif yang mereka miliki tidak mendukung, keyakinan subyektif terhadap perilaku seks pranikah akan berbeda. Akibatnya sikap yang sudah bagus tidak termanifestasi dalam perilaku yang baik seperti sikapnya terhadap sesuatu obyek. (azwar,1998) Berdasarkan penelitian ini dapat di ketahui bahwa rata-rata responden sudah memiliki sikap yang baik sebesar 50,6% ini terbukti dari pernyatan yang setuju dengan menjaga kesehatan organ reproduksi adalah hal yang penting sebanyak 68,5% serta bagi laki-laki menjaga keperjakaan adalah hal yang penting sebanyak 46,9% menyatakan sangat setuju dan responden menyatakan setuju dengan pernyataan bahwa bagi perempuan menjaga keperawanan adalah hal yang penting sebanyak 70,4% Dari hasil yang ada bahwa yang memiliki sikap yang baik tetapi tidak menutup kemungkinan dapat beresiko tinggi terhadap prilaku seks pranikah yaitu 12,2%, ini dikarenakan pengetahuan responden masih ada yang kurang seperti dilihat dari jawaban responden setuju 25,9% mengenai hal yang terlarang apabila remaja menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Selain itu juga memiliki sikap yang baik belum tentu tidak beresiko terhadap perilaku seks pranikah ini dikarenakan Pengetahuan remaja masih kurang terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seksual selain itu derasnya arus globalisasi sehingga remaja sering mengakses media pornografi baik dari media cetak,elektronik maupun internet dan juga keadaan ini diperkuat oleh kurangnya dukungan dari keluarga yaitu kurang

terbukanya orang tua dengan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehingga remaja beresiko tinggi terhadap perilaku seksual walaupun remaja memiliki sikap yang baik. Pada tabel 12 terlihat bahwa sikap baik sebesar 50,6% hal ini bisa disebabkan disekolah mempunyai kegiatan ekstrakulikuler yaitu kegiatan ibadah secara rutin di setiap minggunya dimana responden wajib untuk mengikutinya sehingga dengan adanya kegiatan tersebut dapat memperkuat keimanan. Hasil uji Chi Square dengan α 0,05 diperoleh bahwa nilai р < 0,05 (0,001) maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Sikap responden dengan perilaku seks pranikah pada siswa. Sedangkan Phi Cramer’s sebesar yaitu 0.326 artinya terdapat Hubungan antara Sikap responden terhadap perilaku seks pranikah pada siswa dengan keeratan hubungan tingkat sedang. Penerapan faktor akan berwujud kongkrit bila diterapkan untuk mengidentifikasikan dan menafsirkan alternatif-alternatif mengenai

kesehatan yang berhubungan dengan kesadaran atau ketidaksadaran akan tindakan yang konsekuensinya dapat menguntungkan kesehatannya dan orang lain atau, sebaliknya merugikan kesehatannya dan orang lain. Hal ini juga berlaku pada penelitian yang terjadi bahwa tidak semua sikap baik selalu dilakukan dengan kesadaran atau bahkan sikap baik yang ada terjadi

karena ketidaksadaran sehingga dapat berdampak terhadap prilaku seks pranikah. Dengan demikian penelitian yang dilakukan pada siswa di sekolah tersebut diketahui bahwa sikap yang ditunjukan sudah baik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket, tetapi disini juga tidak menutup kemungkinan bahwa pengisian tersebut belum dijawab dengan sejujur-jujurnya hal ini dapat dilihat responden dalam menjawab tidak searah, sehingga jawaban yang saling berkaitan menjadi tidak jelas. Namun demikian dapat dilihat bahwa hasil dari penelitian ini terdapat hubungan antara sikap dan prilaku seks pranikah. Dengan rata-rata sikap yang sudah baik yang dimiliki oleh responden maka diharapkan bagi responden dapat mempertahankannya, sehingga dapat terhindar dari hubungan seks pranikah dengan cara memperkuat keimanan dan

meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seks pranikah, serta bagi responden yang masih memiliki sikap yang tidak baik dikarenakan pernah melakukan hubungan seks maka tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan meingkatkan pengetahuan dan menjaga kesehatan reproduksinya, dan dengan memperbaiki akhlak dan memperkuat iman dapat menghindari seks pranikah. Sehingga perlunya pendidikan dan pengetahuan guru dan orang tua tentang kesehatan reproduksi sehingga guru dan orang tua dapat memberikan bimbingan konseling kepada responden yang memiliki masalah atau sikap yang menjurus kepada arah

perilaku seks pranikah sehingga dapat meminimalisir terjadinya perilaku seks pranikah. 4.Pola Komunikasi Komunikasi berlangsung bila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu

pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.( Djmarah,2004) Dukungan orang tua merupakan peran serta orang tua yaitu komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keluarga merupakan lingkungan primer hampir setiap individu. Hubungan antara manusia yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Oleh karena itu sebelum mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya (sarwono,2006) Hasil penelitian ini memiliki komunikasi orang tua yang tertutup dengan perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 27,2% hal ini dikarenakan tidak adanya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan remaja. Dimana orang tua sebagai sesosok orang yang susah untuk diajak tukar fikiran dan bertanya sehingga anak lebih condong keluar untuk mencari informasi apa yang dia butuhkan. Informasi yang dia dapat dari luar masih diragukan akan kebenarannya dan tanpa diimbangi dengan saran untuk kebaikan remaja tersebut. Peran keluarga dalam membimbing dan mendidik

anak-anaknya ternyata berpengaruh terhadap perilaku seksualnya. Dimana perilaku remaja jika tidak dikontrol dan diberikan arahan maka remaja akan berjalan sesuai dengan kehendaknya. Mengikuti keinginanya yang dianggap dapat membuatnya senang tanpa memikirkan dampaknya. Sehingga sangat diperlukan sekali Peran orang tua disini makin awal komunikasi itu dilakukan,fungsi pencegahannya semakin nyata. Makin sering terjadi percakapan tentang seks antara orang tua dan anak, tingkah laku seksual anak akan semakin bertanggung jawab. Hasil penelitian yang memiliki komunikasi terbuka dengan perilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah sebanyak 12.3% ini dikarenakan Adanya Peran keluarga yang baik belum tentu tidak berperilaku resiko tinggi terhadap seks pranikah karena bisa saja remaja memiliki pergaulan teman sebaya yang kurang baik. ini terlihat dari persentasi responden mendapatkan informasi tentang seksualitas dari teman pada siswa sebesar (40,1%) Pergaulan teman sebaya besar kecilnya akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksualnya karena terkadang remaja lebih terbuka dengan temanya dari pada dengan keluarganya karena rasa segan untuk bertanya dan menceritakan apa yang sedang dialami pada masa remajanya. Selain itu juga memiliki peran keluarga yang baik belum tentu tidak beresiko tinggi terhadap perilaku seks pranikah ini disebabkan dari sikap tidak baik responden yaitu responden tidak setuju kalau pendidikan seks sebaiknya diberikan dari lingkungan keluarga.

Selain itu juga memiliki komunikasi yang terbuka belum tentu tidak berperilaku seks pranikah ini disebabkan oleh Pengetahuan remaja kurang dan seringnya remaja mengkases media pornografi baik dari media cetak, elektronik maupun internet. Pada tabel 14 terlihat bahwa responden memiliki komunikasi terbuka dengan orang tua hal ini dikarenakan pada siswa juga sering terjadi komunikasi yang cukup baik, keterbukaan orang tua dengan segala pertanyaan anak tentang kesehatan reproduksi di tanggapi oleh orang tua dengan baik hal ini terlihat dari jumlah banyaknya siswa mendaptkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual dari orang tua terutama dari ibu yaitu (46,9%) karena keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungannya selain itu juga ibu didalam keluarga sangat berperan dalam meletakkan dasar perilaku sehat pada anak-anak mereka sejak lahir (Notoatmodjo 2005) Sehingga dengan adanya Komunikasi yang terbuka (memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas) dan pendidikan seks secara dini dari orang tua maka remaja tidak akan malu dan takut untuk bertanya sehingga remaja memperoleh informasi yang tepat dan akurat, sehingga remaja dapat terhindar dari perilaku seks pranikah. Selain itu juga harus adanya kerjasama dari lembaga-lembaga kesehatan dengan

lembaga pendidikan untuk memberikan penyuluhan kepada orang tua bahwa seksualitas itu bukan masalah tabu untuk dibicarakan. 5. Paparan media Pornografi Media pendidikan kesehatan karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau ”klien” (Notoatmodjo,2003) Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat Dari defenisi yang ada mengenai pornografi maka para remaja rentan untuk mencari informasi mengenai seks, dengan perkembangan jaman pada saat ini kita dapat lihat banyak media yang dapat diakses melalui mediamedia seperti tabloid, komik, majalah, televisi bahkan yang paling mudah untuk mendapatkan informasi pornografi adalah internet. Hal ini dipicu rasa ingin tau yang tinggi oleh para remaja untuk mengetahui seks, keadaan ini cenderung dipengaruhi oleh peningkatan hormon pada saat remaja, perubahan-perubahan yang dialami membuat remaja ingin mengetahui apa saja termasuk seks.

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan diketahui siswa yang sering mengakses media pornografi sebanyak 67,9%, didapatkan yang telah memperoleh informasi seks dari media cetak (90,7%)Setelah mengakses responden berfantasi (80,2%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut nampak jelas bahwa informasiinformasi dari media yang berbau pornografi dapat berdampak terhadap perilaku seksual remaja sehingga remaja bisa saja akan memperaktekkan terhadap teman kencannya dengan cara membujuk dan merayu. Hal ini jika dibiarkan lebih jauh akan beralih menjadi pergaulan remaja yang bebas. Namun jika remaja diimbangi dengan pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan juga agama yang baik maka remaja akan memiliki sikap positif terhadap perkembangan-perkembangan yang ditawarkan oleh media. Sehingga remaja tahu apa yang akan dilakukan dan resiko yang mungkin timbul dari perilaku seksualnya. Menurut VB Cline, seorang riserter masalah psikososial dan pornografi, mengungkapkan ada 4 tahapan perkembangan kecanduan seksual para konsumer pornografi, a. Adiksi : ketagihan, b. Eskalasi: Peningkatan kualitas ketagihan menjadi perilaku yang semakin menyimpang misalnya seks dengan hewan, kekerasan atau sesama jenis, c. Desentisisasi : Kian menipisnya sensitifitas. Pelaku kian permisif dan tidak peduli dengan kejahatan ( terutama kejahatan seksual ) disekitarnya, d. Acting Out : Pecandu pornografi mulai mempraktekan ( melakukan tindakan di dunia nyata ) Mencari pasangan bersetubuh, mulai relasi suka sama suka, yang

halal maupun yang haram. Dari kutipan diatas dapat diketahui responden yang sudah pada tahapan Acting Out sebanyak 3,1%. Sebaliknya Remaja yang jarang terpapar media pornografi belum tentu tidak berperilaku seks Pranikah sebanyak (9,6%) ini dikarenakan Sikap dan Pengetahuan responden masih kurang sehingga responden mencari informasi dari luar seperti pergaulan teman sebaya. Hubungan teman sangat berpengaruh terhadap perilaku seksualnya misalnya jika teman-teman memiliki pacar maka remaja akan terpengaruh untuk memiliki pasangan karena dalam berteman biasanya dituntut rasa kebersamaan Kondisi demikian akan membuka kemungkinan besar remaja memiliki perilaku seksual remaja yang tidak sehat. Sehingga Perlunya adanya PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) di setiap sekolah sehingga remaja Memiliki tempat apabila ingin bertanya tentang masalah Kesehatan reproduksi ataupun tentang masalah remaja sehingga remaja tidak salah memperoleh informasi. Sehingga Pihak Dinas kesehatan Memberikan Pelatihan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja bagi siswa. Pada tabel 17 responden yang Jarang mengakses media pornografi 32,1% Paparan media pornografi ini bisa saja dikarenakan siswa mendapatkan pengawasan dari pihak sekolah, sekolah mempunyai fasilitas Wi-fi laboratorium komputer tetapi siswa tidak boleh menggunakan fasilitas tersebut hanya waktu-waktu tertentu saja siswa boleh menggunakannya seperti pada waktu pelajaran Tekhnologi informatika.

Sangat diharapkan kepada orang tua dan pendidik dapat mengawasi dan memantau aktifitas anak dengan baik di rumah maupun disekolah. Guru lebih memantau siswa untuk tidak membawa headphone ke sekolah, pada laboratorium komputer, perpustakaan dan melarang responden untuk menggunakan komputer diluar jam pelajaran yang tidak dijangkau oleh pantauan guru, dapat juga melakukan rajia tanpa sepengetahuan siswa dan siswi yang ada dilingkungan sekolah diluar jam pelajaran. Sedangkan dirumah meletakan komputer yang dapat langsung mengakses dari internet diletakan diruang tamu atau di ruang keluarga dimana tempat tersebut akan selalu ramai dikarenakan untuk berkumpul keluarga dan dapat dipantau oleh orang tua selain itu orang tua wajib mendampingi remaja dalam mencari informasi dari media televisi sehingga remaja dapat mendapatkan informasi yang benar dan akurat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisis hasil disimpulkan: 1. Terdapat Hubungan antara Pengetahuan dengan perilaku seks pranikah pada siswa dengan nilai P value < 0.05 yaitu 0.001 dengan Phi crammer’s 0.329 yaitu terdapat keeratan hubungan dengan tingkatan yang lemah.
2.

Terdapat Hubungan antara Sikap dengan perilaku seks pranikah

pada Siswa dengan p < 0.05 yaitu 0.001 dengan phi crammer’s 0.326 yaitu terdapat keeratan hubungan dengan tingkatan yang Sedang.
3.

Terdapat Hubungan antara Komunikasi dengan orang tua dengan

perilaku seks pranikah pada Siswa dengan dengan p < 0,05 yaitu 0.002 dengan Phi crammer’s 0.299 dan yaitu terdapat keeratan hubungan dengan tingkatan sedang
4.

Terdapat hubungan antara Keterpaparan media pornografi dengan

perilaku seks pranikah pada siswa dengan p < 0,05 yaitu 0.003 dengan Phi crammer’s 0.297 yaitu terdapat keeratan hubungan dengan tingkatan yang sedang.

B. Saran Dari hasil kesimpulan yang di kemukakan, maka ada beberapa hal yang dapat disarankan yaitu :
1. Meningkatkan pengetahuan siswa, khususnya pengetahuan tentang

kesehatan reproduksi yang benar kepada siswa Kemudian memberikan pengetahuan mengenai istilah-istilah dalam perilaku seks pranikah serta dampak negatifnya kepada siswa. Peningkatan pengetahuan siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan materi tambahan di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seks,sehingga para siswa mendapatkan informasi yang akurat dan tepat juga dapat menambahkan buku-buku di sekolah seperti perpustakaan yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan siswa. 2. Perlu menambahkan materi pendidikan kesehatan reproduksi pada kurikulum pendidikan di sekolah dan perlu menekankan pendidikan dan pengetahuan guru dan orang tua mengenai kesehatan reproduksi dan seks pranikah dengan harapan guru dan orang tua dapat memberikan bimbingan konseling sehingga dapat membentengi sikap dan perilaku siswa juga meningkatkan kembali ekstrakulikuler di bidang keagamaan seperti

mentoring yang diberikan kepada siswa. 3. Orang tua perlu menjalin komunikasi terbuka yang baik dengan remaja terutama informasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas dalam lingkungan keluarga agar sumber informasi yang di dapat dalam

keluarga dipertanggung jawabkan oleh keluarganya dan memberikan informasi tentang upaya sosialisasi orang tua remaja tentang kesehatan reproduksi remaja. 4. Meningkatkan pengawadsan dan pemantauan aktivitas remaja baik di sekolah maupun di rumah yaitu, menempatkan computer pada areal yang terbuka agar dapat dipantau secara langsung oleh orang tua serta membatasi jumlah jam yang dihabiskan untuk menggunakan computer.

.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful