BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Proses tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa, yang mengikuti pola tertentu yang khas untuk setiap anak.1 Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan

perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Semua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.2 Perwujudan Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang cerdas, produktif, dan mandiri.3 Tumbuh kembang anak memegang peranan yang penting bagi sumber daya masyarakat di masa mendatang. Anak merupakan generasi penerus suatu bangsa, dengan demikian dibutuhkan anak dengan kualitas yang baik agar tercapai masa depan suatu bangsa yang baik. Untuk mendapatkan kualitas anak yang baik harus dipastikan bahwa tumbuh kembangnya juga baik. 1-3 Sering dijumpai pendapat bahwa pertumbuhan lebih mendapat perhatian dibandingkan perkembangan. Menilai pertumbuhan secara kasat mata jauh lebih mudah terlihat, padahal penilaian perkembangan penting dilakukan.4 Berdasarkan jumlah anak yang menderita gangguan perkembangan dan tingkah laku berat hanya sebagian kecil (kurang dari 50%) yang terdeteksi sebelum usia sekolah, padahal sebagian besar dari anak-anak tersebut selalu

1

diperiksa kesehatan secara teratur bahkan turut serta dalam program pendidikan prasekolah, tetapi tetap saja gangguan perkembangannya tidak mendapat perhatian penuh dari tenaga kesehatan.5 Dengan demikian gangguan perkembangan yang ringan merupakan tantangan untuk dideteksi secara dini. Masa balita merupakan periode yang amat penting dalam tumbuh kembang anak, karena gangguan perkembangan yang terjadi pada masa tersebut akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak

selanjutnya. Lima tahun pertama merupakan periode keemasan (golden period) atau jendela kesempatan (window of opportunity) atau masa kritis (critical period) untuk optimalisasi proses tumbuh kembang dan merupakan masa yang tepat untuk mempersiapkan seorang anak menjadi dewasa yang unggul di kemudian hari.2 Pada saat ini telah tersedia berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan perkembangan anak. Demikian pula dengan skrining untuk mengetahui penyakit-penyakit yang potensial bisa mengakibatkan gangguan perkembangan balita. Deteksi dini kelainan perkembangan balita sangat berguna, agar diagnosis maupun pemulihannya dapat dilakukan lebih awal, sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin.1,2,6-9 Saat ini sudah terdapat bermacam-macam tes perkembangan anak yang sering digunakan, di antaranya Tes Intelegensi Stanford-Binet, Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Denver Developmental Screening Test/ DDST, Skala Bayley, dan Skala Perkembangan menurut Gessel.1 Ada sebuah metode yang telah dikembangankan oleh Glascoe yaitu metode Parents’

2

Evaluation of Developmental Status (PEDS) yang berupa kuesioner yang dapat diselesaikan dalam 5 menit, mempunyai sensitivitas (74-80%), dan spesifitas yang tinggi (70-80%) yang dapat membantu dokter menggali keluhan orang tua mengenai gangguan perkembangan dan perilaku anak. Praskrining perkembangan dengan PEDS dapat membantu mendeteksi anakanak yang mempunyai resiko maupun anak yang mempunyai risiko rendah adanya gangguan pertumbuhan dan tingkah laku. Di samping itu PEDS dapat membantu mengetahui kebutuhan psikososial anak-anak dan

keluarganya.5,6,11,12 Sebenarnya PEDS sudah dapat digunakan untuk bayi baru lahir sampai usia 8 tahun, tapi biasanya pada bulan-bulan pertama kehidupan anak, orang tua dan petugas lebih sibuk memperhatikan kesehatan balita terlebih dahulu. Oleh karena itu akan lebih bermakna jika memperkenalkan PEDS pada orang tua saat anak memasuki 4-6 bulan dan disarankan untuk melakukan skrining dengan menggunakan PEDS pada saat orang tua membawa anaknya untuk kunjungan rutin pemeriksaan kesehatan, tetapi bila orang tua jarang datang memeriksakan kesehatan anaknya, PEDS dapat digunakan saat mereka berobat atau kontrol.5 PEDS juga telah memenuhi rekomendasi untuk deteksi dini yang ditetapkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), National Association for the Education of Young Children, American Nurses’s Association, Bright Futures Guidelines, Council for Exeptional Children, Head Start, Royal College of Pediatrics, dan sebagainya.6 Sampai saat ini PEDS masih belum terlalu umum digunakan di Indonesia untuk membantu mendeteksi perkembangan anak, oleh karena itu peneliti ingin melakukan

3

penelitian untuk mengetahui status perkembangan anak dengan menggunakan PEDS. Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan dasar yang

menyelenggarakan kegiatan promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk Keluarga Berencana (KB), perbaikan gizi, pemberantasan penyakit menular serta pengobatan dan sampai saat ini masih cukup banyak orang tua yang membawa balitanya mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas.8 Puskesmas Bahu merupakan salah satu puskesmas yang ada di kota Manado yang memiliki wilayah pelayanan kesehatan yang luas, dan penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Bahu untuk kemudahan mengumpulkan anak beserta orang tua yang akan bersedia untuk ikut serta dalam penelitian.

1.2. Masalah Bagaimana gambaran status perkembangan balita yang datang ke Puskesmas Bahu dengan menggunakan Parents’ Evaluation of

Developmental Status (PEDS) ?

1.3. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui gambaran status perkembangan balita yang datang ke Puskesmas Bahu dengan menggunakan Parents’ Evaluation of

Developmental Status (PEDS). 1.4.Manfaat Penelitian

4

1. Dapat mengetahui gambaran status perkembangan balita yang datang ke Puskesmas Bahu dengan menggunakan Parents’ Evaluation of

Developmental Status (PEDS). 2. Sebagai bahan acuan dalam melakukan skrining lanjutan apabila ternyata balita yang diteliti memiliki masalah atau keterlambatan dalam

perkembangan berdasarkan hasil interpretasi Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS). 3. Menambah referensi dan sumber pengetahuan tentang gambaran status perkembangan balita sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya. 4. Memberi informasi dan menambah pengetahuan masyarakat tentang gambaran status perkembangan anak di Bahu. 5. Sebagai acuan bagi instansi pemerintah yang terkait untuk mengadakan pengawasan dan perbaikan perkembangan balita. 6. Menambah pengetahuan dan keterampilan penulis dalam melakukan praskrining perkembangan anak dengan menggunakan Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5

2.1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.2,7,9,14 Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.2,7,10 Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.2,10 Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Semua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.2

2.2. Ciri-Ciri Tumbuh Kembang Anak Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri yang saling berkaitan, yaitu:

1. Perkembangan menimbulkan perubahan

6

Perkembangan

terjadi

bersamaan

dengan

pertumbuhan.

Setiap

pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi, misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.2 2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan

perkembangan selanjutnya Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahap sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.2,4,7 3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.1,2 4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.2

5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap Perkembangan terjadi lebih dahulu menurut dua hukum yang tetap, yaitu:

7

a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju kearah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).1,2 b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).2 1. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan, dan sebagainya.2

2.1. Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang Anak Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.2 2. Pola perkembangan dapat diramalkan Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.2 2.4.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

8

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu: 1. Faktor genetik Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Yang termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang bermutu diharapkan dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.1 2. Faktor lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan

memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan “biofisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.1,13, 14 Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi: a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (Faktor prenatal) b. Faktor lingkungan yang mempenagruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (Faktor postnatal).1 Sementara itu Unicef dan Jonsson yang dikutip oleh Soetjiningsih 1, mangajukan model lain mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Di mana dibedakan sebab yang langsung, tidak langsung dan dasar seperti tampak pada Gambar 1.

9

TUMBUH-KEMBANG ANAK

Sebab langsung

Kecukupan makanan

Keadaan kesehatan

Sebab tak langsung

Pendidikan Keluarga
Keberadaan dan Kontrol Sumber Daya Keluarga: Manusia, Ekonomi, dan Organisasi

Super Struktur Politik dan Ideologi

Struktur Ekonomi Sebab dasar
Potensi Sumber Daya

Gambar 1. Model Interalasi Tumbuh Kembang

1.5.Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Anak Walaupun terdapat variasi yang besar, akan tetapi setiap anak akan melalui suatu “milestone” yang merupakan tahapan dari tumbuh kembangnya dan tiap-tiap tahap mempunyai ciri tersendiri. Dari kepustakaan terdapat berbagai pendapat mengenai pembagian tahap-tahap tumbuh kembang ini, tetapi pada tulisan ini digunakan pembagian berdasarkan Hasil Rapat Kerja

10

UKK Pediatri Sosial Kerja di Jakarta, Oktober 1986, seperti tampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Tahap-tahap tumbuh kembang anak

1. Masa prenatal a. Masa mudigah/embrio : konsepsi – 8 minggu b. Masa janin/fetus : 9 minggu – lahir 1. Masa bayi : usia 0 – 1 tahun a. Masa neonatal : usia 0 – 28 hari – – Masa neonatal dini : 0 – 7 hari Masa neonatal lanjut : 8 – 28 hari

a. Masa pasca neonatal : 29 hari – 1 tahun 1. Masa pra sekolah : usia 1 – 6 tahun 2. Masa sekolah : 6 – 18/20 tahun a. Masa pra-remaja : usia 6 – 10 tahun b. Masa remaja: 1. Masa remaja dini – – Wanita, usia 8 – 13 tahun Pria, usia 10 – 15 tahun

1. Masa remaja lanjut – – Wanita, usia 13 – 18 tahun Pria, usia 15 – 20 tahun

11

Sesungguhnya tiap-tiap tahap tumbuh kembang tersebut tidak terdapat batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan. 1

1.6. Beberapa Gangguan Tumbuh Kembang Yang Sering Ditemukan 1. Gangguan bicara dan bahasa Kamampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psiklogis, emosi, dan lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.2 2. Cerebral palsy Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang belum selesai pertumbuhannya.2 3. Sindrom Down Anak dengan sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya dan anak mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.2 4. Gangguan autis

12

Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autis mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.2 5. Retardasi mental Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ < 70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.2 6. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) Merupakan gangguan di mana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.2 1.6. Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS) Berhubung jumlah tenaga kesehatan baik dokter dan tenaga lainnya masih kurang dan pasien yang dilayani banyak, maka salah satu cara skrining antara lain dengan melibatkan orang tua seperti PEDS.5,6,11,12 Diperlukan waktu lima menit untuk pelaksanaan berikut skoringnya bila dilakukan melalui wawancara. Waktu yang dibutuhkan akan lebih singkat bila orang tua dapat melengkapi sendiri pertanyaan singkat di ruang tunggu atau kamar periksa atau di rumah.5,6,11,12 Selain berfungsi sebagai alat surveilans dan alat skrining yang berbasis bukti, PEDS juga bermanfaat dalam tata laksana masalah perkembangan, perilaku, dan masalah keluarga. Dengan sepuluh pertanyaan singkat kepada

13

orang tua, PEDS membantu tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi anakanak yang berisiko mengalami masalah sekolah serta anak dengan kelainan perkembangan dan perilaku yang tidak terdeteksi.5,6 PEDS membantu para dokter memutuskan : a. Apakah seorang anak membutuhkan evaluasi perkembangan atau pemeriksaan kondisi mental? Bila perlu, metode apa yang digunakan? b. c. Perlukah dilakukan uji skrining perkembangan lanjutan? Apakah orang tua hanya membutuhkan saran (konseling) saja ? Jika ya dalam hal apa? d. Apakah anak hanya perlu dipantau dengan seksama pada setiap kunjungan untuk mengetahui masalah-masalah yang memerlukan perhatian segera? e. Apakah pemantauan dan penilaian yang telah dilakukan tersebut telah memuaskan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, PEDS telah mengidentifikasi tingkat risiko untuk mendapat masalah perkembangan dan tingkah laku pada anak. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa: – 11% dari anak-anak mempunyai risiko tinggi mendapat kelainan dan memerlukan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut. – 26% mempunyai risiko sedang dan memerlukan skrining, peningkatan perkembangan dan observasi lebih lanjut. – 20% mempunyai risiko rendah tetapi kebanyakan memerlukan bimbingan tingkah laku – 43% mempunyai risiko rendah dan hanya memerlukan

pemantauan rutin.5,7

14

Untuk setiap nomor dengan jawaban “Ya” atau “Sedikit”, beri tanda sesuai dengan kotak pada lembar penilaian PEDS. Pada lembar penilaian PEDS terdapat kotak kecil berwarna dan kotak kecil yang tidak berwarna. Kotak kecil yang berwarna menunjukkan kekuatiran yang bermakna (prediktor signifikan) terhadap kemungkinan, sedangkan kotak kecil yang tidak berwarna (bukan prediktor signifikan) menunjukkan kekuatiran yang tidak bermakna. Jumlah kotak kecil berwarna yang ditandai (√) dihitung dan jumlahnya dituliskan pada kotak berwarna besar, demikian juga dengan jumlah kotak kecil tidak berwarna yang ditandai (√) dihitung dan jumlahnya dituliskan pada kotak besar tidak berwarna. Nilai PEDS yang ada pada lembar penilaian menunjukkan satu di antara lima bentuk penafsiran (interpretasi), yaitu: a. Gangguan perkembangan risiko tinggi, jika kotak yang besar bewarna bernilai 2 atau lebih. Intervensi yang diperlukan adalah langkah A. b. Gangguan perkembangan risiko sedang, jika kotak besar berwarna bernilai 1. Intervensi yang diperlukan adalah langkah B. c. Gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku, jika kotak besar tidak berwarna bernilai 1 atau lebih dan nilai kotak besar berwarna bernilai 0. diperlukan adalah langkah C. d. Gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua, jika didapatkan nilai 0 pada kedua kotak besar tetapi orang tua mempunyai kesulitan dalam komunikasi yang mungkin disebabkan oleh hambatan bahasa, kurang akrab dengan anak (anggota Intervensi yang

15

keluarga lain yang mengasuh anak), masalah mental orang tua dan lainlain. Intervensi yang diperlukan adalah langkah D. e. Gangguan perkembangan risiko rendah, jika didapatkan nilai 0 pada kotak besar dan orang tua masih dapat berkomunikasi dengan baik. Intervensi yang diperlukan adalah langkah E.

Intervensi a. Langkah A yaitu melakukan rujukan kepada yang lebih kompeten baik untuk penilaian (assessment) maupun untuk intervensi. b. Langkah B yaitu skrining lanjutan (skrining tahap 2) agar dapat diketahui mana yang memerlukan rujukan dan mana yang tidak perlu. Bila hasil skrining lanjutan menunjukkan hasil gagal, maka lakukan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. c. Langkah C adalah melakukan konseling pada orang tua agar lebih memperhatikan tingkah laku atau memantau perkembangan secara terusmenerus serta disarankan untuk melakukan stimulasi. Jika konseling dan stimulasi tidak berhasil (yang diketahui pada pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu), maka dilakukan rujukan ke tempat pelayanan kesehatan jiwa/mental untuk konsultasi keluarga, oleh psikiater, psikolog, lembaga sosial atau pusat kesehatan mental lain. d. Langkah D adalah peningkatan perkembangan dan tindak lanjut. e. Langkah E pada umumnya hanya memerlukan pemantauan rutin oleh petugas dan mengisi PEDS pada kunjungan sehat atau kunjungan anak sakit atau kunjungan ulang jika keluarganya tidak datang pada saat kunjungan sehat. Jika orang tua tidak memperhatikan adanya kelainan

16

tapi penilaian klinis mengarah pada adanya masalah, maka ikuti langkah A atau B.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei potong lintang.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat penelitian

17

Penelitian dilakukan di Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado. 3.2.2. Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan terhitung sejak bulan Mei-Juli 2009.

3.3. Subjek Penelitian Sampel : pengambilan sampel secara purposif terhadap 100 anak yang datang ke Puskesmas Bahu. 3.3.1. Kriteria Inklusi a.Balita berusia 6 bulan – 5 tahun yang berkunjung di Puskesmas Bahu. b.Orang tua yang bersedia ikut dalam penelitian dan yang telah mengisi inform consent.

3.3.2. Kriteria Eksklusi a. Balita yang datang ke Puskesmas tetapi tidak diantar oleh orang tuanya. b. Orang tua yang meninggalkan lokasi penelitian sebelum mengisi kuisioner walaupun inform consent telah diisi.

3.4. Variabel Penelitian Variabel yang dipakai dalam penelitian ini yaitu: 3.4.1. Variabel Terikat Status perkembangan balita :

18

-Gangguan perkembangan risiko tinggi. -Gangguan perkembangan risiko sedang. -Gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku. -Gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua. -Gangguan perkembangan risiko rendah. 3.4.2. Variabel Bebas a. Usia b. Jenis kelamin c. Pendidikan orang tua d. Pekerjaan orang tua e. Pendapatan keluarga f. Riwayat pemberian ASI g. Penyakit ibu saat hamil h. Proses persalinan i. Status gizi

3.5. Definisi Operasional 1. Balita terbagi dalam 3 kelompok umur: 2. kelompok umur 6 bulan – 1 tahun kelompok umur > 1 tahun – 3 tahun kelompok umur > 3 tahun – 5 tahun

Lokasi penelitian adalah Puskesmas Bahu.

19

3.

Usia adalah waktu hidup yaitu terhitung mulai pada saat dilahirkan sampai sekarang.

4. 5.

Jenis kelamin dinyatakan dalam laki-laki dan perempuan. Pendidikan orang tua adalah pendidikan terakhir yang dimiliki oleh orang tua dari balita tersebut.

6.

Pekerjaan orang tua adalah pekerjaan yang dimiliki oleh orang tua dari balita tersebut.

7.

Pendapatan keluarga adalah jumlah penghasilan yang dimiliki oleh kedua orang tua balita tersebut.

8.

Riwayat pemberian ASI yaitu apakah balita tersebut pernah menerima pemberian ASI dari ibunya.

9.

Penyakit ibu saat hamil yaitu apakah pada saat hamil ibu dari balita tersebut menderita suatu penyakit.

10.

Proses persalinan yaitu apakah pada waktu ibu melahirkan balita tersebut mengalami kesulitan sehingga perlu dilakukan tindakan khusus dalam persalinan.

12.

Status gizi adalah keadaan gizi anak yang ditentukan dengan metode antropometri dan menggunakan standar WHO berdasarkan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Z skor Status gizi dibedakan atas a. Z skor > 3 b. Z skor > 2 c. Z skor > 1 d. Z skor 0 s/d (-2) e. Z skor < -2 : Obesitas : Overweight : Risiko overweight : Normal : Kurus

20

f. Z skor < -3

: Severly wasted (sangat kurus)

3.6. Instrumen Penelitian Untuk penelitian ini diperlukan 1. Formulir kuisioner Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS). 2. 3. 4. 5. 6. Lembar interpretasi hasil. Kurva standar pertumbuhan WHO Timbangan berat badan bayi Timbangan injak Alat ukur panjang/tinggi badan

3.7. Metode Pengumpulan Data Berdasarkan sumber data, yaitu: 1. Data primer : berdasarkan wawancara dengan panduan Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS), pada orang tua yang

membawa anak tersebut ke Puskesmas Bahu, ataupun bisa juga kuesioner diisi oleh orang tua jika orang tua tersebut mampu dan bersedia mengisi sendiri tanpa wawancara. 2. Data sekunder : gambaran umum lokasi penelitian dikutip dari laporan kegiatan Puskesmas Bahu tahun 2008

Cara melakukan Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS): 1. Sebelum mewawancara ataupun memberikan lembar pertanyaan PEDS pada orang tua, jelaskan tujuan pelaksanaan PEDS pada orang tua, yaitu

21

untuk mengetahui perkembangan dan tingkah laku anak. Kemudian tanyakan, “apakah orang tua mampu mengisi lembar tersebut sendiri atau perlu bantuan?” Bila tidak yakin orang tua mampu mengisi sendiri, dapat dilakukan tanya jawab/wawancara. 2. Tulis nama anak, dan nama orang tua, serta tanggal pemeriksaan, dan tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan, dan tahun anak lahir kemudian dicatat pada lembar pertanyaan PEDS. 3. Jika orang tua tidak mampu mengisi sendiri dan akan dilakukan wawancara, maka jelaskan pada orang tua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh karena itu pastikan bahwa orang tua mengerti apa yang ditanyakan padanya tanpa mempengaruhi jawaban dari orang tua, dan ajukan pertanyaan secara beraturan dan satu persatu. 4. PEDS terdiri dari 10 pertanyaan dengan 1 pertanyaan terbuka dan 9 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya, Tidak, dan Sedikit 5. Jika lembar penilaian PEDS sudah diisi, maka isi kotak-kotak pada lembar penilaian sesuai dengan umur anak. 6. Perhatikan jawaban orang tua terhadap pertanyaan nomor 1 pada lembar penilaian PEDS, tentukan termasuk kategori aspek perkembangan yang mana (Lihat table Kategori Respon/Jawaban Orang tua,) kemudian beri tanda (√) pada kotak lembar penilaian PEDS. Jika orang tua

memberikan pernyataan seperti ‘dahulu saya khawatir terhadap anak saya tetapi saat ini saya lihat dia dapat melakukan lebih baik’, tandai ini sebagai perhatian pada jenis perkembangan yang dimaksud. Sama halnya jika orang tua melaporkan bahwa mereka hanya ‘sedikit’ memperhatikan anaknya mengalami gangguan/kelainan, hal itu juga

22

harus ditandai sebagai adanya perhatian terhadap kelainan yang terjadi pada anaknya. 7. Untuk setiap nomor dengan jawaban ‘Ya’ atau ‘Sedikit’ beri tanda (√) sesuai dengan kotak pada lembar penilaian PEDS. Jika orang tua tidak menulis apapun kecuali melingkari pilihan ‘Ya’ atau ‘Sedikit’ pada pertanyaan 2 – 10, lakukan pemeriksaan ulang dengan mengisi ulang lembar PEDS melalui wawancara atau tanya jawab. Perhatikan dalam menentukan kategori aspek perkembangannya. Misalnya pada

pertanyaan nomor 2 tentang bahasa ekspresif, mungkin jawaban tidak menggambarkan pernyataan tentang aspek tersebut, misalnya orang tua menjawab : Anak suka merengek; yang sebenarnya termasuk kategori aspek perilaku (pertanyaan no. 6). 8. Jumlahkan hasil penilaian di lembar penilaian PEDS. Pada lembar penilaian PEDS terdapat kotak kecil berwarna dan kotak kecil yang tidak berwarna. Kotak kecil yang berwarna menunjukkan kekuatiran yang bermakna (prediktor signifikan) terhadap kemungkinan, sedangkan kotak kecil yang tidak berwarna (bukan prediktor signifikan) menunjukkan kekuatiran yang tidak bermakna. Jumlah kotak kecil berwarna yang ditandai (√) dihitung dan jumlahnya dituliskan pada kotak berwarna besar, demikian juga dengan jumlah kotak kecil tidak berwarna yang ditandai (√) dihitung dan jumlahnya dituliskan pada kotak besar tidak berwarna. 9. Teliti kembali apakah pengisian lembar penilaian sudah benar atau belum.

23

10. Lakukan interpretasi status perkembangan anak berdasarkan hasil pada lembar penilaian PEDS.

Interpretasi hasil penilaian PEDS a. Gangguan perkembangan risiko tinggi, jika kotak yang besar bewarna bernilai 2 atau lebih. Intervensi yang diperlukan adalah langkah A. b. Gangguan perkembangan risiko sedang, jika kotak besar berwarna bernilai 1. Intervensi yang diperlukan adalah langkah B. c. Gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku jika kotak besar tidak berwarna bernilai 1 atau lebih dan nilai kotak besar berwarna bernilai 0. Intervensi yang diperlukan adalah langkah C. d. Gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah

komunikasi dengan orang tua, jika didapatkan nilai 0 pada kedua kotak besar tetapi orang tua mempunyai kesulitan dalam komunikasi yang mungkin disebabkan oleh hambatan bahasa, kurang akrab dengan anak (anggota keluarga lain yang mengasuh anak), masalah mental orang tua dan lain-lain. Intervensi yang diperlukan adalah langkah D. e. Gangguan perkembangan risiko rendah, jika didapatkan nilai 0 pada kotak besar dan orang tua masih dapat berkomunikasi dengan baik. Intervensi yang diperlukan adalah langkah E.

Cara mengukur berat badan dan panjang/tinggi badan a. Prosedur penimbangan berat bayi 0-2 tahun

24

1. Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang 2. Posisi jarum harus menunjuk ke angka 0 3. Bayi telanjang, popok dilepas 4. Tempatkan bayi di tengan alat timbangan 5. Lihat jarum timbangan sampai berhenti dan baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan 6. Kalau bayi bergerak terus-menerus, tunggu beberapa menit kemudian timbang ulang 7. Kalau bayi tetap rewel dan bergerak aktif sehingga sulit menimbang, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kiri dan ke kanan. a. Prosedur penimbangan berat anak > 2 tahun 1. Letakkan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak 2. Posisi jarum pada angka 0 3. Hanya pakai pakaian yang tipis 4. Anak berdiri di timbangan tanpa dipegangi 5. Lihat jarum timbangan sampai berhenti dan baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan 6. Kalau anak bergerak terus-menerus, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kiri dan ke kanan. a. Prosedur pengukuran panjang bayi 0-2 tahun 1. Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang 2. Bayi dibaringkan pada alas yang datar, sepatu dan hiasan dibuka

25

3. Petugas 1 : memegang kepala bayi agar menempel pada pembatas angka 0 (pembatas kepala), posisi kepala lurus, pandangan ke atas 4. Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan menekan pembatas kaki ke telapak kaki bayi 5. Baca angka pada pembatas kaki. a. Prosedur pengukuran tinggi badan anak > 2 tahun 1. Menggunakan stadiometer atau microtoise 2. Anak tidak memakai sandal atau sepatu 3. Berdiri tegak, menghadap ke depan, pendangan lurus ke depan 4. Punggung, pantat, dan tumit menempel pada dinding/tiang pengukur 5. Anak diinstruksikan untuk menarik napas dalam-dalam 6. Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun 7. Baca angka pada batas tersebut.

3.8.

Pengolahan dan Analisa Data Hasil yang didapat berdasar interpretasi dengan menggunakan PEDS akan diolah, dan akan disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan variabel penelitian dan analisa sesuai hasil persentase.

26

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1.Gambaran Umum Lokasi Penelitian15 4.1.2. Keadaan Geografis Puskesmas Bahu berada di Kecamatan Malalayang tepatnya di kelurahan Bahu. Wilayah kerja Puskesmas Bahu terdiri dari : 1. Kelurahan Bahu 2. Kelurahan Kleak 3. Kelurahan Batu Kota 4. Kelurahan Winangun I 5. Kelurahan Winangun II 6. Kelurahan Malalayang I Timur 7. Kelurahan Malalayang I 8. Kelurahan Malalayang II Barat 9. Kelurahan Malalayang II Adapun batas-batas Kecamatan Malalayang yaitu: – – – Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan : Kecamatan Sario : Kecamatan Pineleng : Kecamatan Pineleng

27

Sebelah barat

: Laut Manado

4.1.2.

Luas Wilayah Luas wilayah kerja Puskesmas Bahu adalah 17,1175 Km2.

4.1.3. Kependudukan Jumlah penduduk Kecamatan Malalayang adalah 58.245 jiwa yang terdiri dari laki-laki 28.548 jiwa dan perempuan 29.697 jiwa, di mana jumlah kepala keluarga secara keseluruhan adalah 12.655 KK. Pada tahun 2008 di wilayah Kecamatan Malalayang terdapat 967 kelahiran hidup. Jumlah anak balita yang terdata pada tahun 2008 berjumlah 3.555 balita.

4.1.4. Pendidikan Tingkat pendidikan tertinggi yang ditempuh oleh sebagian besar penduduk di wilayah Kecamatan Malalayang adalah SLTA/MA.

4.1.5. Sosial Ekonomi Di Kecamatan Malalayang masih terdapat keluarga yang termasuk dalam kategori keluarga miskin. Pada tahun 2008 terdapat 2.440 KK miskin (7.455 jiwa).

4.1.6. Tenaga Kesehatan Pada tahun 2008 Puskesmas Bahu memiliki tenaga kesehatan sebanyak 36 orang, di antaranya 5 orang tenaga medis yaitu 4 orang dokter umum dan 1 orang dokter gigi. Perawat berjumlah 17 orang,

28

bidan sebanyak 7 orang. Tenaga gizi dan farmasi masing-masing sebanyak 1 orang, dan staf lainnya adalah tata usaha dan tenaga lainnya. 4.2. Hasil Distribusi status perkembangan pada 100 orang balita usia 6 bulan – 5 tahun di Puskesmas Bahu dapat dilihat pada tabel 2 didapatkan 10 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko tinggi, 20 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang, 32 balita mengalami risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku, 1 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua dan 37 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah. Tabel 2. Distribusi Status Perkembangan Status Perkembangan (A). Gangguan perkembangan risiko tinggi (B). Gangguan perkembangan risiko sedang (C). Gangguan perkembangan risiko rendah, namun terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku (D). Gangguan perkembangan risiko sedang, dan terdapat masalah komunikasi orang tua (E). Gangguan perkembangan risiko rendah Total 37 (37) 100 (100) 1 (1) n (%) 10 (10) 20 (20) 32 (32)

29

Dari 10 balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi, didapatkan 6 balita (60%) berusia > 1 tahun - 3 tahun dan 4 balita (40%) berusia > 3 tahun - 5 tahun. Dari 20 balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang, didapatkan 3 balita (15%) berusia 6 bulan - 1 tahun, 6 balita (30%) berusia > 1 tahun - 3 tahun, dan 11 balita (55%) berusia > 3 tahun 5 tahun. Dari 32 balita yang termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku didapatkan 4 balita (12,5%) berusia 6 bulan - 1 tahun, 15 balita (46,8%) pada usia > 1 tahun - 3 tahun dan 13 balita ( 40,7%) pada usia > 3 - 5 tahun. Dalam penelitian ini juga didapatkan 1 balita yang termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua, berusia > 1 tahun - 3 tahun. Dari 37 balita yang termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah didapatkan 13 balita (35,1%) berusia 6 bulan 1 tahun, 15 balita (40,6%) berusia > 1 tahun - 3 tahun, dan 9 balita (24,3%) berusia > 3 tahun – 5 tahun. Distribusi status perkembangan dapat dilihat pada
Status Perkembangan Usia A n (%) B n (%) C n (%) D n (%) E n (%)

6 bulan – 1 tahun
> 1 tahun – 3 tahun > 3 tahun – 5 tahun

0(0) 6 (60) 4 (40)

3 (15) 6 (30) 11 (55)

4 (12,5) 15 (46,8) 13 (40,7)

0(0) 1 (100) 0(0)

13 (35,1) 15 (40,6) 9 (24,3)

tabel di bawah ini.

Tabel 3. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Usia

30

Dari 10 balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi, ditemukan 8 balita laki-laki (80%) dan 2 balita perempuan (20%). Dari 20 balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang ditemukan pada 13 balita laki-laki (65%) dan 7 balita perempuan (35%). Dari 22 balita dengan gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat masalah dalam tingkah laku, ditemukan 20 balita laki-laki (62,5%) dan 12 balita perempuan (37,5%), sedangkan yang termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang di mana terdapat masalah komunikasi dengan orang tua yaitu hanya 1 balita lakilaki. Dari 37 balita yang termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah, ditemukan 15 balita laki-laki (40,5%), dan 22 balita perempuan

(59,5%). Distribusi status perkembangan balita menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Jenis Kelamin A n (%) 8 (80) 2 (20) Status Perkembangan B C D n (%) 13 (65) 7 (35) n (%) 20 (62,5) 12 (37,5) n (%) 1 (100) 0(0) E n (%) 15 (40,5) 22 (59,5)

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

Dari penelitian yang dilakukan, bisa dilihat pada tabel 5 mengenai distribusi status perkembangan menurut pendidikan orang tua, didapatkan bahwa umumnya balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi

31

umumnya memiliki ayah (70%) dan ibu (70%) yang berpendidikan SLTA dan dari 20 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang umumnya memiliki ayah (40%) berpendidikan SLTP dan ibu (55%) berpendidikan SLTA. Dari 32 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku umumnya memiliki ayah (72%) dan ibu (78,1%) berpendidikan SLTA dan balita yang memiliki status perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua memiliki ayah yang berpendidikan S1 dan ibu yang berpendidikan SD. Dari 37 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki ayah (73%) dan ibu (67,6%) berpendidikan SLTA. Pada tabel 6 dapat dilihat distribusi status perkembangan berdasarkan pekerjaan orang tua dan didapatkan dari 10 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya memiliki ayah yang mempunyai pekerjaan sebagai wirasawsta (70%) dan ibu sebagai ibu rumah tangga (100%), dan dari 20 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang umumnya memiliki ayah yang bekerja sebagai wiraswasta (75%), dan ibu sebagai ibu rumah tangga (70%). Dari 32 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah, tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku, umumnya memiliki ayah yang bekerja sebagai wiraswasta (62,5%), dan ibu sebagai ibu rumah tangga (78,1%), dan untuk balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi orang tua memiliki ayah yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, dan ibu sebagai ibu rumah tangga, sedangkan untuk balita yang memiliki

32

gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki ayah yang bekerja sebagai wiraswasta (73%), dan ibu sebagai ibu rumah tangga (81,1%)

Tabel 5 Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Pendidikan Orang Tua Pendidikan A n (%) Ayah SD SLTP SLTA Akademi S1 Ibu SD SLTP SLTA Akademi S1 2 (20) 1 (10) 7 (70) 0(0) 0(0) 0(0) 8 (40%) 11 (55%) 0(0) 1 (5%) 2 (6,3) 4 (12,5) 25 (78,1) 1 (3,1) 0(0) 1 (100) 0(0) 0(0) 0(0) 0(0) 0(0) 9 (24,3) 25 (67,6) 0(0) 3 (8,1) 1 (10) 2 (20) 7 (70) 0(0) 0(0) 3 (15) 8 (40) 7 (35) 0(0) 2 (20) 2 (6,2) 2 (6,2) 23 (72) 1 (3,1) 4 (12,5) 0(0) 0(0) 0(0) 0(0) 1 (100) 1 (2,7) 3 (8,1) 27 (73) 0(0) 6 (16,2) Status Perkembangan B C D n (%) n (%) n (%)

E n (%)

Tabel 6. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Status Perkembangan Pekerjaan A n (%) B n (%) C n (%) D n (%) E n (%)

33

Ayah PNS/TNI/POLRI/BUMN/swasta bukan di bidang kesehatan Tenaga kesehatan Wiraswasta Nelayan Lain-lain 0(0) 7 (70) 0(0) 3 (30) 1 (5) 15 (75) 0(0) 0(0) 0(0) 20 (62,5) 1 (3,1) 8 (25) 1 (100) 0(0) 0(0) 0(0) 1 (2,7) 27 (73) 0(0) 6 (16,2) 0(0) 2 (10) 3 (9,4) 0(0) 3 (8,1)

Ibu PNS/TNI/POLRI/BUMN/swasta bukan di bidang kesehatan Tenaga kesehatan Wiraswasta Ibu rumah tangga Lain-lain 0(0) 0(0) 10 (100) 0(0) 0(0) 2 (10) 14 (70) 3 (15) 1 (3,1) 5 (15,7) 25 (78,1) 0(0) 0(0) 0(0) 1 (100) 0(0) 0(0) 3 (8,1) 30 (81,1) 2 (5,4) 0(0) 1 (5) 1 (3,1) 0(0) 2 (5,4)

Dari 10 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya berasal dari keluarga yang berpenghasilan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 per bulan (50%) dan dari 20 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang umumnya berasal dari keluarga yang berpenghasilan Rp. 1.000.000 – Rp 2.500.000 perbulan (55%). Dari 32 balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku umumnya berasal dari keluarga yang berpenghasilan Rp. 500.000 – Rp. 1000.000 perbulan (43,8%). Balita

34

dengan gangguan perkembangan

risiko sedang dan terdapat masalah

komunikasi dengan orang tua berasal dari keluarga yang berpenghasilan Rp. 1.000.000 – Rp. 2.500.000 per bulan dan dari 37 balita yang memiliki

gangguan perkembangan risiko rendah umumnya berasal dari keluarga yang berpenghasilan Rp. 1.000.000 – Rp. 2.500.000 per bulan (51,4%). Distribusi status perkembangan berdasarkan pendapatan keluarga dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Status Perkembangan Pendapatan per bulan (Rp) < 500.000 500.000 – 1000.000 1.000.000 – 2.500.000 > 2.500.000 A n (%) 1 (10) 5 (50) 4 (40) 0(0) B n (%) 2 (10) 7 (35) 11 (55) 0(0) C n (%) 4 (12,5) 14 (43,8) 12 (37,5) 2 (6,2) D n (%) 0(0) 0(0) 1 (100) 0(0) E n (%) 4 (10,8) 11 (29,7) 19 (51,4) 3 (8,1)

Tabel 7. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Pendapatan Keluarga

Distribusi gangguan perkembangan balita menurut riwayat pemberian ASI dapat dilihat pada tabel 8. Dari 10 balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya mendapatkan ASI (70%), tetapi ASI baru diberikan setelah 1 – 3 hari setelah lahir, dengan frekuensi pemberian ASI > 5 kali setiap hari dan lama pemberian ASI < 6 bulan (57,1%). Dari 20 balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang umumnya juga mendapatkan ASI (85%) dan ASI diberikan sejak lahir (88,2%), dengan frekuensi pemberian

35

ASI > 5 kali sehari dan lama pemberian ASI 12 - 24 bulan (64,7%). Dari 32 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku umumnya juga memperoleh ASI (93,8%), dan ASI diberikan sejak lahir (60%), dengan frekuensi pemberian ASI > 5 kali setiap hari (60%), dan lama pemberian ASI 12-24 bulan (46,7%). Balita dengan status gangguan perkembangan risiko sedang dan memiliki masalah komunikasi orang tua juga diberikan ASI, dan ASI diberikan sejak lahir dan lama pemberian ASI 12-24 bulan, tetapi frekuensi pemberian ASI < 5 kali sehari. Dari 37 balita dengan gangguan perkembangan risiko rendah umumnya juga memperoleh ASI (97,3%) dan ASI diberikan sejak lahir (66,7%), dengan frekuensi pemberian ASI > 5 kali sehari (61,2%), dan lama pemberian ASI 12-24 bulan (58,3%).

Tabel 8. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Riwayat Pemberian ASI
A n (%) Diberikan Ya Tidak Mulai umur Sejak lahir 7 (70) 3 (30) 2 (28,6) 17 (85) 3 (15) 15 (88,2) 30 (93,8) 2 (6,2) 18 (60) 1 (100) 0(0) 1 (100) 36 (97,3) 1 (2,7) 24 (66,7) B Status Perkembangan C D n (%) n (%) E n (%)

Riwayat ASI

n (%)

36

Setelah 1 – 3 hari Setelah 4 – 7 hari > 7 hari Frekuensi ≤ 5 kali Setiap kali menangis > 5 kali Lamanya pemberian < 6 bulan 6 – 12 bulan 12 – 24 bulan

4 (57,1) 0(0) 1 (14,29) 0 (0) 2 (28,6) 5 (71,4) 4 (57,1) 0(0) 3 (42,9)

1 (5,9) 0(0) 1 (5,9) 4 (23,5) 3 (17,7) 10 (58,8) 4 (23,5) 2 (11,8) 11 (64,7)

10 (33,3) 0(0) 2 (6,7) 6 (20) 6 (20) 18 (60) 5 (16,6) 11 (36,7) 14 (46,7)

0(0) (0) (0) 1 (100) 0(0) 0(0) 0(0) 0(0) 1 (100)

9 (25) 2 (5,5) 1 (2,8) 7 (19,4) 7 (19,4) 22 (61,2) 3 (8,4) 12 (33,3) 21 (58,3)

Dari 100 orang tua yang membawa balita ke puskesmas dan yang bersedia ikut serta dalam penelitian ini hanya 12 orang ibu (10%) yang mengakui bahwa selama hamil mengalami penyakit, dan distribusinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 9. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Riwayat Kehamilan Status Perkembangan Riwayat Kehamilan Penyakit Hipertensi Jantung Diabetes Infeksi (panas tinggi) Tidak ada (0) (0) (0) 3 (30) 7 (70) (0) (0) (0) 6 (30) 14 (70) 2 (6,2) 0(0) (0) (0) 30 (93,8) (0) (0) (0) (0) 1 (100) (0) (0) (0) 1 (2,7) 36 ( 97,3) A n (%) B n (%) C n (%) D n (%) E n (%)

37

Persalinan Normal Tindakan 9 (90) 1 (10) 19 (95) 1 (5) 30 (93,8) 2 (6,2) 1 (100) 0 (0) 34 (91,9) 3 (8,1)

Dari 10 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko tinggi, 3 diantaranya memiliki ibu yang mengalami sakit selama hamil (30%) dan melahirkan dengan persalinan normal (90%). Dari 20 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko sedang memiliki ibu yang menderita sakit (30%) dan melahirkan dengan persalinan normal (95%). Dari 32 balita dengan gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku hanya 2 balita yang memiliki ibu yang mengalami penyakit berisiko selama hamil (6,2%), dan melahirkan dengan persalinan normal (93,8%). Balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko sedang dan memiliki masalah komunikasi dengan orang tua memiliki ibu yang tidak pernah mengalami penyakit berisiko selama hamil dan balita tersebut dilahirkan dengan persalinan normal. Dari 37 balita dengan status gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki ibu yang tidak pernah mengalami sakit (97,3%), dan melahirkan dengan persalinan normal (91,9%).

Distribusi status perkembangan balita menurut status gizi dengan menggunakan Z skor (weight for height) dapat dilihat pada tabel 10. Dari 10 balita dengan status gangguan perkembangan risiko tinggi, umumnya adalah balita yang kurus (50%) dan dari 20 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko sedang umumnya termasuk dalam status gizi normal

38

(35%) dan status gizi kurus (35%). Dari 32 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada tingkah laku umumnya adalah balita yang memiliki status gizi normal (68,7%), demikian juga dengan balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah dalam komunikasi dengan orang tua memiliki status gizi normal. Dari 37 balita yang memiliki status gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki status gizi normal (75,7%).

Tabel 10. Distribusi Status Perkembangan Berdasarkan Status Gizi Status Perkembangan Status Gizi A n (%) Obesitas Overweight Risiko overweight Normal Wasted (kurus) Severly wasted (sangat kurus) 0(0) 0(0) 2 (20) 3 (30) 5 (50) 1 (10) B n (%) 0 2 (10) 3 (15) 7 (35) 7 (35) 1 (5) C n (%) 3 (9,4) 1 (3,1) 4 (12,5) 22 (68,7) 2 (6,3) 0(0) D n (%) 0(0) 0(0) 0(0) 1(100) 0(0) 0(0) E n (%) 1 (2,7) 2 (5,4) 4 (10,8) 28 (75,7) 2 (5,4) 0 (0)

39

BAB V PEMBAHASAN

Dari 100 anak usia balita yang berkunjung di Puskesmas Bahu, didapatkan 10% balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko tinggi, 20% balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang, 32% balita mengalami risiko rendah namun terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku, 1% balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua, dan 37% balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah.

5.1. Gangguan Perkembangan Risiko Tinggi Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh orang tua, umumnya balita yang masuk dalam kelompok risiko ini memiliki masalah global kognitif, bahasa ekspresif dan artikulasi. Balita yang termasuk dalam gangguan risiko ini umumnya masuk dalam golongan usia >1 tahun – 3 tahun (60%). Pada usia tersebut gangguan perkembangan anak sudah bisa dengan jelas diamati oleh

40

orang tua.4,5 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa balita laki-laki (80%) lebih banyak mengalami gangguan perkembangan risiko tinggi dibandingkan balita perempuan (20%). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinto Robert dkk4 memperlihatkan kecenderungan bahwa laki-laki memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami gangguan perkembangan. Menurut Soetjiningsih1, anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak perempuan, tetapi belum diketahui dengan pasti mengapa demikian. Pendidikan orang tua termasuk salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak.1,13,14 Dalam penelitian ini diperoleh hasil yang cukup berbeda. Balita yang termasuk kelompok gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya memiliki orang tua yang memiliki pendidikan terakhir SLTA. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara pendidikan terakhir responden dengan interpretasi hasil. Walaupun orang tua memiliki pendidikan terakhir SLTA dan diasumsikan dengan pendidikan seperti itu membuat mereka mudah untuk mengakses informasi tentang tumbuh

kembang anak, tetapi ternyata mereka tidak dengan segera melakukan konsultasi dengan dokter, dan ada juga yang terbentur dengan kendala biaya sehingga tidak membawa anaknya berobat. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Sinto Robert dkk4, tidak didapatkan hubungan bermakna secara statistik antara pendidikan responden dengan hasil uji perkembangan. Dalam penelitian ini juga didapatkan bahwa balita dengan status perkembangan risiko tinggi umumnya memiliki ayah yang bekerja sebagai wiraswasta (70%) dan ibu sebagai ibu rumah tangga (100%), dengan penghasilan orang tua berkisar antara Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 perbulan. tapis

41

Untuk kategori pendapatan itu dalam kondisi perekonomian saat ini mungkin tidak akan mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, apalagi jika keluarga tersebut memiliki anak lebih dari satu. Pendapatan keluarga yang memadai sebenarnya akan menunjang tumbuh kembang balita1,13,14 Balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya diberikan ASI (70%), tetapi 4 dari 7 balita yang diberikan ASI ternyata nanti mendapatkan ASI setelah 1 – 3 hari setelah lahir. Awal menyusui yang baik adalah 30 menit setelah bayi lahir karena dapat merangsang pengeluaran ASI selanjutnya, di samping itu akan terjadi interaksi atau hubungan timbal balik dengan cepat antara 2 sampai 8 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif sampai 4 bulan dibandingkan yang tidak.16 Berkaitan dengan pernyataan tersebut diperoleh data bahwa umunya balita yang tidak segera diberikan ASI umumnya lama pemberian ASInya kurang dari 6 bulan walaupun frekuensi pemberian ASI lebih dari 5 kali dalam sehari dan mungkin ini disebabkan karena proses penyapihan yang tidak maksimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Irawati dkk17, ternyata ibu yang segera kontak dengan bayi untuk menyusui mempunyai potensi 50% lebih lama waktu menyusuinya. Infeksi intrauterin merupakan salah satu faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin dan dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa 30 % dari balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi memiliki ibu yang menderita infeksi pada waktu kehamilan. Infeksi intrauterin sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin yang juga pasti mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan setelah lahir.1,18

42

Status gizi juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita.1,16,19,20,21 Terdapat 50% dari jumlah balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi adalah balita kurus berdasarkan hasil perhitungan status gizi dengan menggunakan kurva standar WHO. Hal itu berarti bahwa kebutuhan gizi dari balita-balita tersebut tidak tercukupi dan hal itu juga ternyata mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sembilan puluh persen dari balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi dilahirkan normal. Ternyata proses persalinan hanya memberikan pengaruh yang sangat kecil dalam gangguan perkembangan risiko tinggi. Terdapat banyak faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita, di antaranya kondisi ibu sebelum dan selama hamil1. Dalam data ini tidak diuraikan tentang tindakan persalinan secara terperinci, sehingga sulit untuk menganalisa tindakan persalinan yang beresiko mempengaruhi janin.

5.2. Ganggguan Perkembangan Risiko Sedang Terdapat 20 balita dari seratus balita yang diteliti memiliki gangguan perkembangan risiko sedang dan distribusi umumnya pada kelompok usia > 3 tahun – 5 tahun (55%). Gangguan perkembangan balita semakin jelas diamati oleh orang tua, apalagi saat orang tua membandingkan perkembangan balitanya dengan balita-balita yang lain.10,12 Seperti distribusi status perkembangan risiko tinggi, umumnya juga balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang juga distribusinya sebagian besar kepada balita laki-laki (65%). Menurut Soetjiningsih1, laki-laki lebih sering sakit dibandingkan perempuan, tetapi penyebab pastinya belum diketahui.

43

Berdasarkan penelitian ini, diperoleh data umumnya balita yang termasuk kelompok risiko ini memiliki ayah dengan pendidikan terakhir SLTP dan ibu dengan pendidikan terakhir SLTA. Bisa diamati bahwa balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang ternyata ada keterkaitan dengan tingkat pendidikan terakhir orang tua. Menurut Soetjiningsih, pendidikan orang tua dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak.1 Balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang umumnya memiliki orang tua yang bekerja sebagai wiraswasta (75%) dan ibu sebagai ibu rumah tangga (70%) dengan pendapatan perbulan rata-rata Rp. 1.000.000 – Rp. 2.500.000. Jumlah tersebut lebih tinggi dari pada penghasilan keluarga dari balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi. Diasumsikan bahwa dengan pendapatan seperti itu, orang tua dapat memenuhi kebutuhan balitanya. Pendapatan orang tua yang memadai dapat menunjang tumbuh kembang balita.1,13,14 Umumnya balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang diberikan ASI setelah lahir dengan frekuensi pemberian ASI lebih dari 5 kali sehari dan lama pemberian ASI adalah 12 – 24 bulan. Walaupun riwayat pemberian ASI dapat dikatakan sudah baik tapi tetap saja balita-balita

tersebut mengalami gangguan perkembangan risiko sedang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sinto Robert dkk4, tidak terdapat hubungan yang bermakana secara statistik antara pemberian ASI dan perkembangan anak. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

44

Berdasarkan

status

riwayat

penyakit

pada

masa

mengandung

didapatkan pada umumnya balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang memiliki ibu (30%) yang menderita infeksi sementara mengandung. Diduga setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat

mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin.1 Balita dengan gangguan perkembangan sedang pada umumnya dilahirkan secara normal (95%). Hasil ini tidak menunjukkan korelasi yang begitu berarti antara mekanisme persalinan dengan gangguan perkembangan balita. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan balita.1,8,13 Distribusi status gizi balita dengan gangguan perkembangan risiko sedang yaitu status gizi normal (35%) dan status gizi kurus (35%). Persentase status gizi kurus dari balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi masih lebih besar dibandingkan dengan balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko sedang. Ada juga balita dalam kelompok risiko ini yang masuk dalam risiko overweight (15%), overweight (10%), dan sangat kurus (5%). Status gizi merupakan akibat langsung dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan dipengaruhi oleh usia, pertumbuhan, keadaan kesehatan, kebiasaan makan, cara mendapatkan makanan dan sosial budaya.22 Masalah gizi bukan hanya pada balita yang memiliki gizi kurang tetapi juga gizi berlebih.19,20

5.3 Gangguan Perkembangan Risiko Rendah Tetapi Terdapat Peningkatan Risiko Pada Tingkah Laku Umumnya balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini memiliki masalah pada perilaku. Orang tua sering mengeluhkan perilaku balita yang

45

cenderung keras kepala, manja, dan hanya melakukan apa yang si balita inginkan. Balita yang masuk dalam kelompok risiko ini umumnya masuk dalam kelompok usia > 1 tahun – 3 tahun (43,8%). Pada usia tersebut gangguan perilaku balita sudah sangat jelas diamati oleh orang tua. Umumnya dalam usia tersebut balita mulai suka beridentifikasi dengan orang dewasa, mengekspresikan perasaan, dan pada akhir usia balita, sudah mulai membanding-bandingkan dirinya dengan teman-teman sebayanya. Menurut Erickson (perkembangan psikososial), anak pada usia 10-36 bulan berada pada fase otonomi. Anak dapat menolak ataupun menuntut dengan keras kepala apa yang dikehendaki dan bersifat egosentris.23,24 Berdasarkan distribusi menurut jenis kelamin, diperoleh hasil bahwa balita laki-laki (62,5%) memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan dengan balita perempuan (37,5%), sama halnya dengan distribusi menurut jenis kelamin untuk balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi dan risiko sedang. Soetjiningsih menyatakan bahwa laki-laki lebih sering sakit dari pada anak perempuan tetapi penyebabnya belum diketahui.1 Balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini umumnya memiliki ayah dan ibu dengan pendidikan terakhir SLTA dan ada juga yang hanya berpendidikan terakhir SD dan SLTP tapi persentasenya hanya kecil. Pendidikan orang tua merupakan faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik orang tua dapat menerima dan memahami informasi tentang cara pengasuhan anak yang baik.1 Tetapi hal itu tidak menjadi faktor yang utama yang mempengaruhi perkembangan anak, buktinya pada balita dengan gangguan perkembangan

46

risiko sedang umumnya memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir SLTA. Umumnya juga balita pada kelompok risiko ini memiliki ayah yang bekerja sebagai wiraswasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga dengan pendapatan keluarga berkisar antara Rp 500.000 - Rp. 1.000.000 per bulan. Dengan tingkat penghasilan seperti ini umumnya orang tua akan sangat sulit untuk menyediakan semua kebutuhan balita baik yang primer maupun sekunder, apalagi jika keluarga tersebut memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak. Balita yang berusia antara 2 – 3 tahun belum dapat mengendalikan emosi dengan baik dan pada akhir masa balita, anak mulai membanding-bandingkan dirinya dengan teman-temannya.23 Dalam hal ini akan sangat sulit bagi orang tua untuk bisa memenuhi keinginan si balita jika keadaan ekonomi keluarga tidak mencukupi dan hal seperti ini akan mempengaruhi perilaku si balita. Riwayat pemberian ASI pada balita dalam kelompok risiko ini pada umumnya diberikan ASI setelah lahir dengan frekuensi pemberian ASI lebih dari 5 kali (60%) dan riwayat pemberian sampai usia 12 – 24 bulan dan riwayat pemberian sampai usia 12 – 24 bulan. Riwayat pemberian ASI ini berkorelasi dengan status gizi balita tersebut karena persentase paling besar (68,7%) tergolong status gizi normal. Kelompok balita dalam kelompok risiko ini sebenarnya tidak begitu bermasalah dalam pertumbuhan fisiknya tetapi pada masalah tingkah lakunya. Balita yang masuk dalam kelompok risiko ini sebagian besar (93,8%) dilahirkan secara normal dan hanya 6,2% yang memiliki ibu yang menderita sakit selama hamil yaitu hipertensi. Hipertensi yang tidak diobati

47

mengakibatkan retardasi pertumbuhan intrauterin dan lahir mati1. Dalam penelitian ini, para ibu yang mengalami hipertensi selama hamil langsung berobat sehingga tekanan darahnya terkontrol dan bayi tidak mengalami retardasi pertumbuhan dan bisa lahir hidup.

5.4 Gangguan Perkembangan Risiko Sedang dan Terdapat Masalah Komunikasi Dengan Orang Tua Melalui penelitian ini diperoleh data, dari 100 balita yang diteliti hanya satu balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini yaitu balita laki-laki dan masuk golongan usia > 1 tahun – 3 tahun. Balita ini memiliki gangguan perkembangan dalam emosi sosial seperti senang menyendiri dan pemalu serta sepertinya tidak memiliki hubungan yang akrab dengan ayahnya yang cenderung menunjukkan sikap yang keras dan acuh tak acuh kepada balita tersebut sehingga terjadi masalah komunikasi antara si balita tersebut dengan orang tua. Masalah komunikasi dapat menyebabkan si balita tidak merasa nyaman dan sulit untuk mempercayai orang lain. Dalam masa balita sangat dibutuhkan perhatian dan kasih sayang dari ibu maupun ayahnya1,7,8,14 Ayah dari balita tersebut memiliki pendidikan terakhir sarjana dan ibu dari balita tersebut hanya lulusan SD. Perbedaan pendidikan yang begitu jauh antara kedua orang tua dari balita tersebut kemungkinan besar mempunyai pengaruh terhadap satabilitas rumah tangga. Stabilitas rumah tangga termasuk dalam faktor keluarga yang mempengaruhi tumbuh kembang anak1,25 Pendapatan keluarga dari balita dalam kelompok risiko ini berkisar antara Rp. 1000.000 – Rp 2.000.000 dan balita adalah anak satunya-satunya

48

dalam keluarga, sehingga kebutuhan fisik dari balita tersebut dapat dipenuhi oleh kedua orang tuanya namun kebutuhan kasih sayang dan perhatian dari orang tua merupakan hal yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan.1,7,8,14 Berdasarkan riwayat pemberian ASI, balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini diberikan ASI setelah lahir selama 12 – 24 bulan tapi hanya dengan frekuensi ≤ 5 kali sehari. Tidak diketahui faktor penyebab mengapa ASI hanya diberikan ≤ 5 kali sehari. Pada pengukuran status gizi, balita tersebut masuk dalam kelompok balita dengan status gizi normal, berarti kebutuhan gizi anak dapat dicukupi oleh orang tua. Balita tidak hanya memerlukan pengasuhan yang baik secara fisik, namun juga secara kejiwaan. Komunikasi antara anak dan orang tua yang dilandasi kasih sayang secara timbal balik akan memberikan keharmonisan dalam keluarga yang dapat memberikan dampak positif kepada

perkembangan. 1,7,8,14,26

5.5 Gangguan Perkembangan Risiko Rendah Terdapat 37 balita (37%) yang termasuk dalam gangguan

perkembangan risiko rendah dan kelompok risiko ini memiliki persentase terbesar dari kelompok-kelompok risiko yang lain. Berdasarkan setiap pertanyaan di kuesioner yang dijawab oleh orang tua, tidak ada satupun pertanyaan yang dijawab “ya” atau “sedikit” mengenai gangguan perkembangan anaknya dan hal ini berarti tidak ada hal yang dikhawatirkan oleh orang tua mengenai perkembangan anaknya. Pada umunya balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini masuk dalam kelompok usia > 1 tahun – 3 tahun (37,9%). Dalam usia seperti itu orang tua terus mengamati

49

perkembangan anaknya dan tidak terdapat penyimpangan dari tahap-tahap perkembangan anak yang normal. Berdasarkan penelitian ini, umumnya balita yang termasuk dalam kelompok ganggguan perkembangan risiko rendah adalah balita perempuan (59,46%), berbeda dengan kelompok risiko yang tinggi dan sedang yang didominasi oleh balita laki-laki. Belum diketahui faktor penyebab mengapa balita laki-laki cenderung lebih mudah sakit daripada balita perempuan.1 Balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir SLTA, bahkan ada juga yang memiliki status pendidikan terakhir sarjana dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok risiko yang lain. Orang tua dari balita dengan gangguan perkembangan risiko rendah umumnya memiliki

pendidikan yang baik, sehingga dapat diasumsikan dapat mengakses informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik dan bagaimana menjaga kesehatan anaknya. Dari kelompok risiko ini didapatkan juga orang tua yang memiliki pendidikan terakhir SD dan SLTP tetapi persentasenya hanya kecil. Walaupun hanya memiliki tingkat pendidikan terakhir yang rendah namun mereka selalu memperhatikan perkembangan balitanya dan selalu memberikan stimulasi kepada balitanya. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Sinto Robert dkk4, diperoleh hasil bahwa kualitas dan kuantiitas stimulasi yang baik lebih banyak menunjukan hasil perkembangan subjek (anak) yang normal secara statistik bermakna. Umumnya orang tua dari balita ini bekerja sebagai wiraswasta dengan pendapatan perbulan Rp. 1.000.000 – Rp 2.500.000. Dengan pendapatan seperti ini setidaknya kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder anak

50

dapat dicukupi oleh orang tua. Pemenuhan kebutuhan anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak.1-3 Balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko rendah sebagian besar (97,3%) memperoleh ASI dan ASI diberikan sejak lahir dengan frekuensi pemberian ASI > 5 kali setiap hari dan ternyata ASI tetap diberikan sampai usia 2 tahun. Saat memberikan ASI, ibu dapat berinteraksi secara langsung dengan balita tersebut. Di dalam interaksi timbal balik antara ibu dan anak tersebut terdapat keuntungan yang timbal balik pula. Keuntungan untuk bayi selain nilai gizi yang lebih, juga adanya zat anti pada ASI yang melindungi bayi terhadap berbagai macam infeksi.14,16,20 Berdasarkan riwayat kehamilan, balita yang memiliki status

perkembangan risiko rendah umumnya memiliki ibu yang tidak pernah sakit selama mengandung dan berdasarkan riwayat persalinan didapatkan balita yang termasuk dalam kelompok risiko ini dilahirkan melalui persalinan normal. Kualitas bayi yang dilahirkan tergantung pada kondisi ibu sebelum dan selama hamil.1 Berdasarkan distribusi status gizi, diperoleh data bahwa sebagian besar balita dalam kelompok gangguan perkembangan risiko rendah memiliki status gizi normal (75,7%), dengan kata lain bahwa orang tua dapat mencukupi kebutuhan gizi dari balita mereka. Status gizi memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak. Kekurangan salah satu unsur gizi dapat menyebabkan gangguan dalam mata rantai perkembangan otak dan pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat kecerdasan serta kualitas sumber daya manusia. Kurang gizi pada usia muda dapat mengakibatkan terganggunya

51

fungsi otak secara permanen, sebab pada usia tersebut otak sementara mengalami pertumbuhan maksimal.3,18

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

52

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 balita yang datang ke Puskesmas Bahu, didapatkan 10 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko tinggi, 20 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang, 32 balita mengalami risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku, 1 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua, dan 37 balita termasuk dalam gangguan perkembangan risiko rendah. Dari penelitian ini didapatkan bahwa distribusi gangguan

perkembangan umumnya pada balita yang berusia >1 tahun – 3 tahun, dan balita laki-laki lebih sering mengalami gangguan perkembangan dibandingkan dengan balita perempuan. Pendidikan dan pekerjaan serta pendapatan orang tua tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap perkembangan balita, karena pada balita dengan gangguan perkembangan risiko tinggi umumnya memiliki orang tua dengan pendidikan yang baik dan memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup. Riwayat pemberian ASI dan dan riwayat persalinan juga tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap status perkembangan. Balita dengan status gizi normal memiliki status gangguan perkembangan risiko rendah dan balita dengan status gizi kurus umumnya memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi dan sedang. 1.2. Saran 1. Perlunya dilakukan skrining lanjutan terhadap balita yang memiliki gangguan perkembangan risiko tinggi, gangguan perkembangan risiko sedang dan gangguan perkembangan risiko rendah tetapi terdapat peningkatan risiko pada masalah tingkah laku serta balita dengan gangguan

53

perkembangan risiko sedang dan terdapat masalah komunikasi dengan orang tua. 2. Perlunya penelitian lanjutan dengan metodologi yang berbeda, misalnya suatu penelitian dengan intervensi terhadap subyek penelitian. 3. Perlu diadakan penyuluhan dan sosialisasi terhadap orang tua yang memiliki anak balita menyangkut pemberian stimulasi perkembangan anak yang baik dan benar. 4. Perlunya dilakukan deteksi dini perkembangan balita secara rutin, sehingga dapat segera dilakukan intervensi jika balita tersebut mengalami gangguan perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta : EGC;1995.h.1-32. 2. Departmen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelaksanaan

stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat

54

pelayanan kesehatan dasar. Jakarta : Departemen kesehatan republik Indonesia;2005.h.1-14. 3. Endarwati D, Prastowo A, Sylviningrum T. Hubungan status gizi dengan intelegensi dan prestasi belajar murid SDN Sokarja Kidul III, kecamatan Sokarja kabupaten Banyumas. Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala of Health vol.2 (3) september 2006.h12-13. 4. Sinto R, Oktaria S, Astuti S, Mirdhatillah S, Sekartini R, Wawolumaya C. Penapisan perkembangan anak usia 6 bulan – 3 tahun dengan uji tapis perkembangan Denver II. Sari Pediatri, vol.9,No.5,Februari 2008.h.348353. 5. Unit kerja koordinasi tumbuh kembang anak-remaja / pediatri sosial – IDAI. Buku panduan pemantauan perkembangan anak (praskrining perkembangan) Parents’ evaluation of developmental status (PEDS). Bandung : Trikarsa Multi Media ; 2006.h.1-19. 6. Parents Evaluation of Developmental Status: PEDS developmental screening. Diunduh dari www.peds.com. Diakses tanggal 7 April 2009. 7. Surviana. Sesuaikah tumbuh kembang anak anda – bag 1. Diunduh dari http://www.infoibu.com diakses tanggal 7 April 2009. 8. Amiruddin Ridwan. Tumbuh kembang anak “new paradigm of health”: Diunduh dari http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/tumbuhkembang-anak/ diakses tanggal 7 April 2009. 9. Siswono. Kelainan dapat dideteksi sejak balita. Diunduh dari http//www.suarapembaruan.com/News/2004/12/21/index.html. Diakses tanggal 7 April 2009.

55

10. Pusponegoro H D, Passat J, Mangunatmadja I, Widodo, Taskin, Ismael S. Naskah lengkap pendidikan kedokteran berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XXXIV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1995. h. 1-45. 11. Glascoe F P. How well do parents concern identify children with behavior and emotional problems. Diunduh dari: www.ncbi.nlm.nih

981/pubmed/12659386. Diakses tanggal 7 April 2009. 12. Child development assessment tool. Diunduh dari

www.nch.org.au/ccch/recources.cfm?doc.id:10963. Diakses tanggal 7 April 2009. 13. Amiruddin Ridwan. Pencapaian Indonesia sehat tahun 2002: Diunduh dari http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/capaian-kesehatanindonesia/ diakses tanggal 7 April 2009. 14. Staf pengajar ilmu kesehatan. Buku kuliah 1 ilmu kesehatan anak. Editor Hassa Rusepno, Alatas Husen. Jakarta : bagian ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran universitas Indonesia; 1985.h.145-168. 15. Profil Kesehatan Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2008. 16. Setiyowati Rahardjo. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol 1, No 1, Agustus 2006. 17. Irawati. Pola inisiasi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan inisiasi ASI di Indonesia. Journal of Indonesian Nutrition Association. Jakarta:1996. 18. Fenichel G. Neonatal Neurology Edition 3rd. New York: Churchill Livingstone; 1990. h.1-16

56

19. Tangkilisan HA. Makanan bayi dan anak sehat. Bahan kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. 2006. 20. Altseimer S. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama ; 2001 h. 1 – 13. 21. Qauliyah A. Pola asuh dalam hubungannya dengan status gizi anak balita ditinjau dari pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran orang tua di daerah Sulawesi Selatan. Diunduh dari: astaqauliyah.com/…/pola-asuh-dalamhubungannya-dengan-status-gizi-anak-balita. Diakses tanggal 18 April 2009. 22. Aritonang I. Pemenuhan gizi kurang pada anak di Negara berkembang. Dalam Majalah Kesehatan Masyarakat. 1998. 23. Tangisan di masa pertumbuhan balita depresi atau frustasi. Indonesia Hospital Vol 12 Edisi September 2003. h. 18-19 24. Hurlock E. Perkembangan Anak Jilid 1. Editor. Agus Dharma. Erlangga; 1995. h. 1-19 25. Hurlock E. Perkembangan Anak Jilid 2. Editor. Agus Dharma. Erlangga; 1995. h. 197-229 26. Media Y, Rachmalina, Manalu H. Pengetahuan, persepsi dan perilaku ibu tentang pemberian ASI/ASI Eksklusif. Media Litbang Kesehatan XVI Nomor 3 Tahun 2006. h. 1 – 6

57

INFORM CONSENT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama Umur : :

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa sebagai orang tua / wali dari Nama Umur : :

Dengan ini menyatakan SETUJU / MENOLAK untuk ikut serta dalam penelitian Karya Tulis Ilmiah Sarjana Kedokteran dengan judul Gambaran Status

58

Perkembangan Balita yang Datang ke Puskesmas Bahu Dengan Menggunakan Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS). Dari penjelasan yang diberikan telah saya mengerti segala hal yang berhubungan dengan penelitian tersebut serta tindakan yang akan dilakukan dan kemungkinan risiko yang dapat terjadi sesuai dengan penjelasan yang diberikan.

Manado, Peneliti

2009

Yang membuat pernyataan

(Ollyvia M Kembuan)

(

)

KUISIONER

Gambaran status perkembangan balita yang datang ke Puskesmas Bahu dengan menggunakan Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS). Nama Peneliti: Ollyvia. M. Kembuan

Lokasi : Puskesmas Bahu Tanggal Pemeriksaan A. Data Anak Nama Anak Tanggal Lahir : : Umur:

59

Jenis Kelamin Tinggi Badan Berat Badan sekarang Berat Badan Lahir a. < 1000 g b. 1000 – 1500 g c. 1500 – 2500 g d. > 2500 g Jumlah saudara kandung

: : : :

L/P cm Kg

:

orang

A. Data Keluarga Nama Ayah Umur Pendidikan a. b. c. d. SD SLTP SLTA Akademi : : : : e. Sarjana /S1 f. Magister / S2 g. Doktoral / S3

Pekerjaan a. b. c. d. e. f.

PNS / TNI / POLRI / BUMN/ swasta bukan di bidang kesehatan Tenaga kesehatan Wiraswasta Nelayan Petani Lain-lain, sebutkan:__________

60

Pendapatan a. b. c. d. < Rp .500.000 / bulan

:

Rp. 500.000 - 1000.000 / bulan Rp. 1.000.000 – 2.500.000 / bulan > Rp. 2.500.000 / bulan : : : e. Sarjana /S1 f. Magister / S2 g. Doktoral / S3

Nama Ibu Umur Pendidikan a. b. c. d. SD SLTP SLTA Akademi :

Pekerjaan a. b. c. d. e.

PNS / TNI / POLRI / BUMN/ swasta bukan di bidang kesehatan Tenaga kesehatan Wiraswasta Ibu rumah tangga Lain-lain, sebutkan:__________ :

Pendapatan a. b. c. d. < Rp .500.000 / bulan

Rp. 500.000 - 1000.000 / bulan Rp. 1.000.000 – 2.500.000 / bulan > Rp. 2.500.000 / bulan

Penyakit ibu saat hamil : a. Hipertensi

61

b. Jantung c. Diabetes d. Infeksi (panas tinggi) Persalinan ibu a. Normal b. Dilakukan tindakan A. Status Gizi Pemberian ASI • • Ya Tidak : :

Jika jawaban Ya, a. Diberikan mulai umur • • • • Sejak lahir 1 – 3 hari sejak lahir 4 – 7 hari sejak lahir > 7 hari sejak lahir

a. Berapa kali pemberian ASI dalam sehari : • • • ≤ 5 hari Setiap kali menangis > 5 kali :

a. Lama pemberian ASI • • • < 6 bulan 6 – 12 bulan 12 – 24 bulan

62

63

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful