ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

I DENGAN GEDS DI RUANG MERPATI RSU TUGUREJO

Oleh : SITI MUTRIKAH 003784

AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2005

BAB I TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI Gastroenteritis adalah inmflamasi atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri agen bakteri atau virus dengan gejala sindrom klinik adalah diare, mual, muntah dan demam. (Carpenito, 1999 : 141) Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak; konsistensi feces encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 1997 : 143)

B. ETIOLOGI Ada beberapa penyebab dari diare ; 1. Faktor infeksi a. Infeksi enternal : infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare yaitu meliputi : Infeksi bakteri : Vibrio, Salmonella. Infeksi virus : Entero virus, Nativirisis, Astrovirus Infeksi parasit : cacing ascaris, protozoa.

b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar saluran pencernaan seperti Otitis Media Akut (OMA),tensilia fungitis, keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun. 2. a. Faktor malabsorbsi Malabsorpsi karbohidrat : di

sakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa); monosakarida (intoleran glukosa, fruktosa dan galaktosa). b. c. 3. Faktor makanan Malabsorpsi lemak Malabsorpsi protein

Makanan basi, beracun, atau alergi terhadap makanan. 4. Faktor psikologis yang

Rasa takut dan cemas meningkatkan rangsangan para simpatis meningkatkan mobilitas usus.

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare : 1. Gangguan osmotic Akibat terdapatnya makann atau zat yang tidak dapat diserap, menyebabkan tekanan osmitik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare.

2. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misalnya makanan pedas atau beracun) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya menyebabkan diare 3. Gangguan mobilitas usus. Hiperperistaltik menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap cairan dalam makanan sehingga timbul diare, sedangkan jika peristaltic menurun akan berakibat bakteri timbul berlebihan sehingga menimbulkan diare. (Nelson, Waldo E. 2002)

C. PATOFISIOLOGI Virus masuk kedalam traktus di gestivus bersama makanan dan minuman, kemudian berkembang biak didalam usus setelah itu virus masuk ke dalam epitel usus halus dan merusakkan bagian apikal villi usus halus, sel epitel usus halus bagian epitel akan dig anti oleh sel dari bagian kripto yang belum matang, berbentuk kuboid atau gepeng, akibatnya sel-sel epitel ini tidak dapat berfungsi untuk mnyerap makanan dan air sebagai akibat lebih lanjut akan terjadi diare osmotic. Villi usus kemudian akan memendek sehingga kemapuannya untuk menyerap dan mencerna amakanan pun kurang pada saat inilh diare timbul.

Bakteri masuk kedalam traktus di gevutus, kemudian berkembang bik didalamnya, bakteri ini lalu mengeluarkan toksin yang akan mengeluarkan toksin yang akan merangsang epitel usus sehingga terjadi peningkatan aktivitas enzim adenilsiklase atau quanilsiklase, sehingga akibat peningkatan aktivitas enzim-enzim ini akan terjadi peningkatan. CAMP (cyclic adenosine monophospate) atau CGMP (cyclic guanosine monophospate) yang mampu merangsang sekresi klorida, natrium dan air dari dalam sel kelumen usus serta menghambat absorbsi natrium, klorida di lubang usus ke dalam sel, hal ini lalu menyebabkan hiperperistaltik usus sehingga cairan di alirkan ke lumen usus besar, jika kemapuan penyerapan kolon berkurang atau skeresi cairan melebihi kapasitas, penyerapan kolon (4.400 ml) maka akan terjadi diare. Makanan yang terlalu pedas, asam, terlalu banyak serat dan lemak dapat merangsang peristaltic usus dan mengakibatkan diare. Makanan yang tidak dapat diserap atau dicerna, misalnya laktosa di fermentasikan oleh bakteri anaerob di dalam kolon menjadi molekul yang lebih kecil yaitu H2, CO2, H2O dan menyababkan tekanan osmotic didalam lumen usus yang hiper osmotar ini kemudian akan menyerap air dalam intra seluler diikuti peningkatan peristaltic usus sehingga terjadi diare. Proses diare akut di simpulkan sebagai berikut : 1. jasad renik masuk ke dalam usus halus etelah berhasil melalui asam lambung 2. berkembang di usus halus dan mengeluarkan toksin

3.

akibat toksin tersebut terjadi hi[ertensi yang selanjutnya menimbulkan diare untuk diare kronis lebih komplek dan factor yang menimbulkan ialah infeksi, bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain-lain.

D. MANIFESTASI KLINIS Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, lalu timbul diare, tinja cair mungkin di sertai lendir atau darh, warna tinja makin lama kehijauan. Karena bercampur dengan getah empedu anus dan daerah sekitarnya biasanya timbul kemerahan sambil lecet karena sering defekasi dan tinja semakin asam karena banyak asam lekatat uang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare, gejala mintah bias timbul sebelum atau sesudah diare, dapat disebabkan karena lambung yang turut meradang atau terjadi ketidakseimbangan asam-basa dan elektrolit, bila pasien banyak kehilangan cairan dan elektrolit maka akan mengalami dehidrasi. Penentuan derajat dehidrasi : 1. Dehidrasi ringan a. Keadaan umum: haus, sadar, gelisah b. Nadai radian, nafas ubun-ubun besar normal c. Elastis kulit pada pencubitan segera kembali. d. Mata normal dan ada air mata e. Selaput lendir, lembab. f. BAK dan KD normal

g. BB menurun 4-5 % 2. Dehidrasi sedang a. KU haus, gelisah, lethargi, tetap irritable b. Nadi radialis cepat dan lemah c. Pernafasan dalan dan mungkin cepat d. Ubun-ubun besar dan cekung e. Elastisitas kulit bila dicubit lambat kembali f. Mata cekung, air mata kering, selaput lendir kering g. BAK berkurang dan warna tua h. BB meningkat 6-9% 3. Dehidrasi berat a. KU : mengantuk, lemas, ekstreimtyas dingin, berkeringat, sianotik, mungkin koma b. Nadi radial cepat dan kadang tidak teraba c. Elastisitas kulit dalam cubitan kembali sangat lambat (≥ 2 detik) d. Pernafasan dalam dan cepat e. Mata sangat cekung f. Air mata sangat kering g. BAK tidak ada dalam beberapa jam, kadang kemih kosong h. TD sistolik ≤ 8 mmHg dan kadang tidak terukur. i. BB menurun 10 % atau lebih (Mansjoer Arief, 2000)

E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM a. Medis terapi cairan sesuai dengan tingkat dehidrasi pengobatan fotik (ASI atau susu formula yang mengandung rendah laktosa dan asam lemak) pengobatan anti sekresi dan anti dehidrasi obat pengeras feses obat anti spasmolitik dan anti piretik

b. Keperawatan Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan memakai alas kaki saat bermain di tanah. Menganjurkan agar tidak memberi makanan terbuka Hindari makanan yang basi Memberikan pelatihan pembuatan larutan gula-garam (CGG) sebagai pengganti sebagai dehidrasi awal. (Mansjoer Arief, 2000) F. FOKUS ITERVENSI a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan gastrointestinal berlebihan melalui feses dan muntah. Tujuan : menunjukkan dehidrasi dan mempertahankan dehidrasi yang adekuat Intervensi : kaji tanda-tanda dehidrasi

-

monitor KU dan TTV anjurkan peningkatan cairan peroral moitor intake dan output kaji turgor kulit dan membrane mukosa kolaborasi dengan tim medis dan pemberian terapi obat. (Whaley dan Wong, 1999)

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intervensi intake yang tidak adekuat. Tujuan : peningkatan asupan nutrisi untuk menyesuaikan BB dengan umurnya. Intervensi : Setelah dehidrasi anjurkan tetap minum ASI Observasi dan catat respon makan pasien Beritahu ibu untuk memberikan diet bubur dan makanan tambahan

sesuai diet Hindari makanan yang merangsang muntah Anjurkan keluarga tentang pentingnya nutrisi bagi penderita diare. (Doenges, 2000) c. Ganguan integritas kulit berhubugan dengan iritasi karena sering defekasi dan tingkat keasaman feses meningkat Tujuan : tidak terjadi iritasi kulit sekitar anus selama masa keperawatan Intervensi : Kaji tanda-tanda iritasi

-

Anjurkan pada ibu untuk segera membersihkan setiap anak habis bab Anjurkan kepada ibu untuk menjaga tetap kering daerah pantat dan mengganti pakaian kering.

-

Kolaborasi medis untuk pemberian salp. (Doenges, 2000)

Pathway

Infeksi (bakteri,virus,parasit

Malabsorbsi

Makanan beracun

psikologis

Reaksi inflamasi

Pergheseran cairan dan elektrolit ke rongga usus Isi rongga usus meningkat

Motilitas usus

Rangsangan parasimpatis meningkat

Kenaikan suhu tubuh

Hipermobilitas Usus Sekresi air dan elektrolit meningkat

diare

Tubuh kehilangan cairan dan elektrolit

Sering defakasi

Output berlebihan absorbsi berkurang

Penurunan volume cairan ekstra sel dan intra sel

Kemerahan dan iritasi sekitar kulit anus

Penurunan nutrisi

Turgor kulit menurun

Gangguan integritas kulit

Devisit volume cairan dan elektrolit

BAB II TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 7 juni 2005 jam 10.00 WIB di ruang melati RSU Tugurejo semarang dengan allow anamnesa 1. Identitas a. Identitas pasien Nama Umur Alamat Pendidikan Tgl. masuk No. register Dx. masuk : An. I : 7 bulan : Wonoharjo, Kembangaren Semarang :: 5 Agustus 2005 : 088874 : GEDS

b. Identitas penanggung jawab Nama Pekerjaan Pendidikan Agama Suku/bangsa Alamat : Tn. S : wiraswasta : SMU : protestan : Jawa : Wonoharjo, Kembangaren Semarang

Hub. dengan klien : Ayah kandung

2.

Keluhan utama :

Ibu pasien mengatakan BAB sudah 7 x dengan konsistensi cair 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Ibu pasien mengatakan anaknya BAB ± 3 hari dengan frekuensi 5 / hari di sertai lendir dan kejang di rumah pasien sudah di bawa ke bidan dan diberi larutan gula garam/oralit dan antibiotic tetapi belum ada perubahan kemudian oleh keluarganya di bawa ke RSU tugu rejo semarang untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan dan pada saat di kaji pasien tampak lemah, S = 380 C ibu pasien mengatakan sudah 7 x BAB cair. b. Riwayat kesehatan terdahulu Ibu pasien menatakn bahwa pasien belum pernah mengalami penyakit yang dialami saat ini. Pasien hanya sering menderita influenza, pusing biasanya setelah di bawa ke bidan dan minum obat langsung sembuh. c. Riwayat kesehatan keluarga Didalam keluarga pasien tidak ada yang menderita diare yang dialami oleh pasien. Di dalam keluarga pasien hanya mencret biasa dan sembuh setelah berobat ke bidan terdekat.

B. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL MENURUT GORDON 1. Persepsi kesehatan dan pola Manajemen Kesehatan

Keluarga belum mengerti tentang penyakit yang di derita pasien karena itu ibu sering bertanya pada perawat/dokter tentang perkembangan dan kondisi pasien. Keluarga hanya mengetahui kalau penyakit anaknya tersebut hanya diare biasa. 2. Pola nutrisi dan metabolisme.

Sebelum sakit : pasien mau minum dan makan porsi sedang habis dengan komposisi bubur. Selama sakit : pasien hanya habis ¼ porsi dengan komposisi bubur 3. Pola Eliminasi

Sebelum sakit : pasien BAB 1-2 x/hari dan BAK 6-7x/hari cair, BAK bau khas. Selama sakit : pasien BAB 6-8 x/hari dengan konsistensi cai disertai lendir, bau khas dan BAK 8-9 x/hari bau khas. 4. Pola Aktivitas dan Latihan

Sebelum sakit : pasien beraktivitas bebas tanpa ada gangguan Selama sakit : Aktivitas pasien terbatas karena pada lengan kanan pasien terpasang infuse dan kondisi pasien lemah. 5. Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit : pasien tidur ± 9 jam/hari sangat nyenyak.. Selama sakit : pasien tidur ± 4 jam/hari di sebabkan seringnya ingin BAB.

6.

Pola Persepsi dan Kognitif berada di sisinya dan pasien

Pasien terlihat tenang bila keluarganya menangis saat ditinggalkan ibunya. 7.

Persepsi Pola Konsepsi diri dan konsep diri

Peran pasien dalam keluarga adalah sebagai anak, pasien dapat melakukan aktivtas fisiknya secara optimal dan tidak mengalami cacat fisik. 8. Pola Peran dan Hubungan

Hubungan dengan social selama di rumah sakit hanya dengan keluarga. 9. Pola seksualitas dan reproduksi

Pasien berjenis kelamin laki-laki unur 5 bulan, alat kelamin lengkap terab sputum tidak ada kelainan. 10. Pola Keyakinan dan Nilai

Sebelum sakit : pasien beragama Kristen dan keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Selama sakit anaknya. C. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan umum : lemah : composmentis Tanda-tanda vital : 28 x/menit : 100 x/menit : keluarga pasien hanya berdoa untuk kesembuhan

Penampilan Kesadaran 2. RR N

S 3. BB 4. 5. Mata

: 380 C Panjang badan : 40 cm : 6 ½ kg Bentuk kepala : Mesochepal : Bentuk simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis

6. Hidung

: Simetris, bersaih, tidak ada pembesaran polip, tidak ada penumpukan secret, tidak pakai alat Bantu pernafasan

7. 8.

Mulut Telinga

: Mukosa bibir kering, tidak ada stomatis. : Bentuk simetris, tidak ada penumpukkan serumen,

tidak pakai alat Bantu pendengaran. 9. Dada I : Simetris, tidak tarikan intercosta

Paru-paru

Pa : tidak ada nyeri tekan Pi : sonar A : bunyi nafas vesikuler, tidak ada wheezing dan ronchi Jantung I P : Ictus cordis tidak tampak : Tidak ada pembesaran jantung/cardiomegali ictus cardis tidak teraba. P A 10. : Redup : Bunyi lubdup S1 dan S2 reguler I : Simetris

Abdomen

A

: Peristaltik usus 30 x/menit

Pe : Tympani Pa : Tidak terasa masa kolon 11. Genetalia 12. Anus 13. : bersih, lembab, tidak terpasang kateter. : lembab, kemerahan tidak ada hemoroid, tidak ada lesi. Ekstremitas : terpasang infuse RC 20 tts/mnt pada tangan kanan. : dapat bergerak bebas, tidak ada udem/lesi. : warna kuning langsat, turgor kulit jelek, kuku norml, CRT= 2 detik

Superior Inferior 14. Kulit

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 20 Maret 2005 1. Rutin • Makrokopis - warna : kuning muda Pemeriksaan laboratorium

- consistensi : cair - darah - lendir • Mikorskopis - amoeba - cyste ::::+

- T cacing - eritrosit - leukosit

::3–5 :4–7

- sisa makanan: 2. Terapi

Infuse KAEN 3B 20 tts/mnt (mikro) Moraxime 2 x 1 gr Inamid 3 x 1 tab Yekoradine 2 x 1 tab Pct 3 x 1 tab Diet bubur halus Px = ke ~ cairan Intake Infus Cairan oral Metab Air. Mak : 500 ml : 1000 ml : 300 ml : 1000 ml 2800 ml : intake – output (masukan) (haluaran) : 2800 – 3500 ml : 700 ml. < 700 ml + Output urine : 1200 ml feses Iwl : 1400 ml : paru 300 ml kulit 300 ml +

3500 ml

ANALISA DATA Nama klien Umur No 1. : An. I : 7 hari Hari/tgl/jam Senin, 8-8-2005 Jam 10.00 WIB DS : Ibu Data fokus pasien n penyebab mengatakan Out put yang berlebihan keperawatan Kurang volume cairan tubuh No. register : 088874 Dx. medis Kemungkina : GEDS Masalah

pasien BAB 7 x /hari DO : - pasien tampak lemah mata cekung mukosa bibir kering pasien BAB cair dan lendir pasien gelisah

2.

Senin 8-8-2005 Jam 10.00 WIB

- turgor kulit jelek DS : Ibu pasien mengatakan Proses suhu tubuh anaknya panas DO : - Muka pasien tampak kemerahan Tubuh pasien terasa panas Suhu pasien 38 0 C Mukosa bibir kering pasien mengatakan Seringnya inflamasi

Hipertermi

3.

Senin

DS : Ibu

Resti

gangguan

08-8-2005 jam 10.00 WIB

kalau BAB

anaknya

sering BAB

integritas kulit

DO : pada daerah sekitar anus terlihat kemerahan dan lembab

DAFTAR MASALAH Nama klien : An. I No. register : 0088874

Umur

: 7 bulan

Dx. medis

: GEDS

Tanggal No 1. Diagnosa keperawatan Gangguan cairan kurang Data fokus ditemukan keseimbangan DS : ibu pasien mengatakan 8-8- 2005 dan dari elektrolit BAB 7 x /hari kebutuhan DO : - pasien tampak lemah - mata cekung - mukosa bibir kering - pasien BAB cair 8-8- 2005

Tanggal Ttd teratasi

tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan

ditandai dengan : 2.

- pasien gelisah Hipeertermi berhubungan DS : ibu pasien mengatakan dengan inflamasi anaknya panas DO:- muka pasien tampak kemerahan Tubuh pasien

merasa panas C Mukosa bibir Suhu pasien 38 0

kering

3.

Resti

Gangguan

kulit DS : ibu pasien mengatakan 8-8- 2005

berhubungan seringnya BAB

dengan sering BAB dan gelisah DO : - pada daerah anus terlihat lembab - daerah anus juga terlihat kemerahan - pasien BAB 7 x /hari - pasien selalu gelisah

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Nama klien : An. I No. register : 0088874

Umur

: 7 bulan

Dx. medis

: GEDS

No Hari/tgl/jam 09/08/2005 selasa 11.00 WIB Data fokus intervensi DX I Setelah dilakukan keperawatan - monitor KU pasien selama 2 x 24 jam diharapkan - monitor TTV pasien memperlihatkan hidrasi - monitor out put dan input yang adekuat dengan KH: cekung cair 09/08/2005 selasa 11.00 WIB Setelah dilakukan II Pasien tidak gelisah Pasien tidak lemah Pasien BAB tidak Mata tidak cekung Mukosa bibir tidak - pantau tanda dan gejala dehidrasi - anjurkan kepada pasien untuk banyak minum air putih - observasi turgor kulit dan TTD

membrane mukosa - kolaborasi dalam perenteral - anjurkan pada pasien dalam dengan pemberian tim medis cairan

pemberian kompres dingin tindakan - monitor suhu sebelum dan

keperawatan selama 2 x 24 jam

sesudah kompres

suhu pasien normal dengan KH : - anjurkan pada pasien untuk tidak - muka kemerahan panas tubuh pasien tidak pasien tampak menggunakan selimut yang tebal - menganjurkan kepada pasien

untuk memakaikan pakaian yang tipis

09/08/2005 selasa 11.00 WIB setelah III

suhu pasien 360 C mukosa bibir lembab

- kolaborasi antiseptic

dalam

pemberian

- anjurkan kepada pasien untuk membersihkan setelah BAB dilakukan tindakan - anjurkan pada pasien untuk daerah anus

selama 2 x 24 jam diharapkan pada daerah sekitar anus tidak terlihat kemerahan

memberikan bedak setalah pasien dibersihkan anusnya

dengan - anjurkan pada pasien agar setelah BAB segera di bersihka dan

keterangan : - pada daerah anus tidak terjadi iritasi - pasien tidak gelisah - pasien lembab daerah anus tidak

keringkan dengan handuk yang lembut - kolaborasi dalam pemberian obat anti inflamasi

CATATAN TINDAKAN KEPERAWATAN Nama klien : An. I Umur Hari/tgl/jam : 7 bulan No Implementasi No. register : 088874

Dx. medis : GEDS Respon Ttd

Rabu 10-08-05 Jam10.00 WIB

Dx I

-

Monitor vital sign N : 100 x/mnt S : 380 C RR: 28 x/mnt

- Jam 10.00 WIB - S : 380 C - N: 100 x/mnt - RR : 28 x/mnt

-

Menimbang BB pasien, - Pasien kooperatif BB 6 ½ kg - Pasien mau diinjeksi terapi - Infuse terpasang lancer - Infuse KAEN 3B terapi terpasang pada flobat 4

-

Memberikan

medis injeksi moraxime 2 x 1 gr Memberikan terapi

purunteral infus KAEN 3B 20 tts/menit Rabu 10-08-05 Jam10.00 WIB II keluarga Memonitor parenteral setiap 8 jam Menganjurkan pasien cairan - Keluarga kooperatif kepada - Pasien mau memakai untuk pakaian yang tipis - Pasien mau minum paracetamol 3 x 1

melakukan kompres Mengukur suhu tubuh pasien = 380 C Mengajarkan kepada

kelurga pasien untuk mengganti Rabu 10-08-05 Jam10.00 WIB III selimut pasien dengan selimut - Keluarga pasien yang tipis Menganjurkan kooperatif kepada - Keluarga pasien mau

keluarga pasien untuk mengganti baju pasien dengan yang lebih tipis. Memberikan paracetamol 3 x 1 tab keluarga Menganjurkan pasien

melakukan anjuran perawat - Pasien mau di beri bedak pada daerah anus yang kemerahan

kepada - Pasien mau di beri obat untuk dan keluarga kooperatif

membersihkan anus setelah BAB - Terdapat kemerahan pada keluarga mengeringkan dibersihkan Mengajarkan kepada Menganjurkan pasien anus kepada untuk setelah daerah sekitar anus.

keluarga cara pemberian bedak salicil pada daerah anus Memberikan bedak salicil pada anus setelah dikeringkan. Mengkaji daerah anus.

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama klien Umur Hari/tgl/jam Rabu 10/08/05 Jam12.00 WIB

: An. I : 7 Bulan No Evaluasi

No. register : 088874 Dx. medis : GEDS Ttd

Dx I S : keluarga pasien mengatakan pasien masih BAB 5 x /hari O : - mata tidak cekung - Mukosa bibir lembab - Pasien tidak gelisah - Pasien BAB cair A : Masalah teratasi sebagian P : Pertahankan intervensi - Memonitor input dan out put - Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan bubur - Menganjurkan untuk minum air putih sedikit demi

Rabu 10/08/05 Jam13.00 WIB

sedikit S : Ibu pasien mengatakan sudah tidak panas lagi O : - muka pasien tidak kemerahan lagi - Tubuh tidak teraba panasnya - Suhu pasien 360 C - Mukosa bibir lembab A : Masalah teratasi P : - Pertahankan intervensi

- Anjurkan untuk banyak minum air putih sedikit demi sedikit - Kompres hangat jika suhu tubuh meningkat Rabu 10/08/05 Jam13.00 WIB III - Kolaborasi dengan tim medis jika panas meningkat S : Ibu pasien mengatakan tidak gelisah lagi O : - Kulit sekitar anus tampak kemerahan - Pasien BAB 5 x/hari A : Masalah teratasi sebagian P : - Pertahankan intervensi - Memberikan daerah sekitar anus setelah BAB - Memberikan bedak pada daerah yang kemerahan

Daftar pustaka

Brooker, Christine. 2001 Christine, H. 1996 Mansjoer, Arief, 1999. Kapita selekta Kedokteran. EGC. Jakarta Tuckler, 1996

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Jual. 1999. Diagnosa keperawatan. EGC. Jakarta Nelson. Widodo. E.2002. Keperawatan anak. EGC. Jakarta Ngastiyah.1997. Keperawatan anak sakit. EGC.Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. T DENGAN KUSTA DI RUANG KENANGA RSU TUGUREJO SEMARANG

Oleh : SITI MUTRIKAH 003784

AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2005

BAB I TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI Leprae adalah infeksi yang disebabkan oleh basil tahan asam mycrobacterium leprae. (Cristine Brooker, 2001) Leprae adalah infeksi yang menyerang kulit, syaraf, membrane mukosa dan tulang yang mnyebabkan destruksi (Cristine H, 1996) Leprae adalah infeksi di sebabkan oleh microbacterium leprae sering ditemukan didaerah yang lebih dingin. (Manjoer, 1999) leprae adalah infeksi yang disebabkan oleh mycrobacterium leprae yang penyebarannya lewat kontak erat dan berhubungan lama (Tucker 1996)

B. ETIOLOGI Faktor pendukung Sanisitas lingkungan buruk Personal hygiene buruk Kondisi fisik dan imunitas menurut

Factor presipitasi Mycrobacterium leprae (Cristine B. 2001)

C. PATOFISIOLOGI Penyakit infeksi ini biasanya ditemukan didaerah yang lebih dingin dengan sanitasi lingkungan yang sangat buruk dan personal hygiene yang kurang sehingga menimbulkan penyebaran bibit penyakit dan penyakit dan progesif dalam hal ini mycrobacterium dapat melalui kontak secara langsung dalam jangka waktu yang sehingga masa inkubasi penyakit infeksi ini berlangsung dalam tubuh manusia tergantung imunitas seseorang. Apabila personal hygiene buruk dan factor presipitasi mycrobacterium leprae menyerang manusia maka dapat terjangkit leprae, dengan periode tertentu infeksi akan menyerang.

BAB II TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN Pengkajian ini dilakukan [pada hari sabtu tanggal 23 juli 2005 jam 11.oo WIB di ruang kenanga (ruang isolasi) RSU Tugurejo semarang dengan auto anamnesa 1. a. Nama Umur Alamat Pekerjaan Jenis kelamin Identitas Identitas pasien : Ny. T : 50 th : Dusun Tumbul Pandean Kec Halumsari, Jepara : guru SD : perempuan

Tanggal masuk : 21 juli 2005 Dx medis No. reg b. Nama Umur Alamat Oekerjaan : kusta type MB reaksi : 087858 Identitas penanggung jawab : Tn. S : 50 th : ds tumbul pandea kec. Halumsari, jepara : pegawai swasta

Hub. dng pasien : suami

2. a. b.

Riwayat kesehatan Keluhan utama : cemas Riwayat kesehatan sekarang :

Pasien mengatakan 1,5 bulan yang lalu, muncul bercak-bercak di pinggang dan tangan. Pasien mengatakan memeriksanya ke puskesmas halumsari, disana pasien mendapatkan pangobatan rutin dan paien di diagnosa terkena sakit kusta, dan pada tanggal 21 juli 05 pasien dibawa kembali ke puskesma halumsari karena pasien mengalami reaksi, hanya saja pihak puskesmas tidak dapat mengatasinya sehingga pasien di rujuk ke RS Tugurejo degan dx MH reaksi ENL saat itu juga pasien segera di bawa ke RS Tugurejo oleh keluarganya. Di RS Tugurejo pasien di terima di IGD dan mendapat terapi repamisin ge gr hecobat 2 x 250 gr, vit C 3 x 1 dan vaselin selanjtnya pasien di tempatkan di ruang kenanga (khusus pasien kusta) dengan kondisi yang sama seperti di IGD yaitu MH dengan reaksi ENL. c. Riwayat kesehatan dahulu

Pasien mengatakan dulu juga pernah masuk RS dengan keluhan yang sama seperti sekarang yaitu 1,5 tahun yang lalu. d. Riwayat kesehatan keluarga

Pasien mengatakan dalam keluarganya ataupun keluarga di pihak suami tidak ada yang menderita penyakit kusta, pasien juga mengatakan dalam keluarganya tidak yang memiliki penyakit menular ataupun keturunan.

3. a.

Pemeriksaan fisik Keadaan umum : composmentis

Kesadaran

Penampilan : bersih b. Tanda – tanda vital

TD : 120/80 mmHg N S : 88 x/mnt : 370 C

RR : 24 x/mnt c. Kepala

Bentuk : bersih, persebaran merata, tidak mudah rontok dan patahpatah, tidak berketombe, tidak ada lesi. Mata : simetris, sclera tidak iskemik, konungtiva tidak anemis, pupil isokor, tidak memakai alat bantu penglihatan, dapat melihat dengan jelas (kanan/kiri). Hidung : simetris, tidak ada pembesaran polip, tidak ada penumpukan secret, dapat mencium bau-bauan dengan baik, tidak memakai alat Bantu pernafasan. Telinga : simetris, tidak ada penumpukan serumen, dapat mendengar dengan baik (kanan/kiri) tidak menggunakan alat Bantu pendengaran. Mulut : mukosa bibir cukup baik, tidak ada stomatis, ada karies, lidah bersih. Fungsi perasa baik.

4. 5.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid Dada

Paru-paru : I : tidak tampak tarikan luterkosta P : tidak ada nyeri tekan P : sonor A: vesikuler, wheezing Θ , ronchi Θ Jantung : I : tidak tampak adanya ictus kordis P : tidak teraba adanya ictus cardis P : redup A: S1, S2 reguler 6. Abdomen : I : simetris, datar, ada lesi

A: peristaltic usus 10 x/mnt P : tidak ada nyeri tekan P : tympani

7.

Ekstremitas

Superior : tidak terjadi oedem tidak terpasang infuse, ada lesi, Roni x/x, kekuatan tonus obat 5/5. Inferior : tidak terjadi oedem, ada lesi Roni x/x, kekuatan tonus otot 5/5 8. Kulit : terdapat nodus”eutema disekitar punggung, abdomen dan ekstremitas superior serta inferior, kondisinya kering, turgor kulit jelek, CRT normal 2-3 dt. 9. Genetalia : bersih tidak terpasang kateter.

10. 11.

Anus : bersih tidak terdapat hemoroid Data penunjang

hasil lab tanggak 21 juli 2005 jenis GDS Ureum Kreatinin nilai 90 mg/dl 23,5 mg/dl 0,71 harga normal < 110 mg/dl < 10,50 mg/dl Tk : 0,6-1,2 Pr : 0,5-1,1 Kalium Natrium Klorida GGDT 4,1 136 101 53 3,1-5,1 mmol/lt 136-145 mmol/lt 97-111 mmol/lt lk s/d 37.4/1 Pr s/d 31.4/1 GGDT 48 lk s/d 42 4/1 Pr s/d 32 4/1 Total protein 7,8 Albumin Globulin 3,7 4,1 6,2-8,4 gr/dl 3,5 – 5,0 gr/dl 2,7 – 3,4 gr/dl N N T interpretasi N N N N N N N T

Therapy Jenis obat Helobac Vit. BC dosis 2 x ½ ap 3 x 1 tab

Indrol Nadi clof Vit. C Ranitidin Neurodex CTM Amoxilin

3 x 0.0 ap 2 x 1 ap 3 x 1 tab 2 x 1 ap 2 x 1 ap 3 x 1 tab 3 x 1 tab

Dx nyeri P Q R S T 0 : nyeri timbul parah bila di gerakkan : nyeri seperti tertusuk-tusuk : ekstremitas sup/inf punggung abdomen : 4 (nyeri sedang) : sewaktu-waktu 4 10

ANALISA DATA Nama : Ny. T Ruang : kenanga No. reg Dx. Medis : 087858 :

Hari/tgl/jam Data fokus Sabtu DS : pasien mengatakan nyeri 23 juli 03 Sabtu 23 juli 03 pada seluruh tubuh DO: pasien menahan nyeri DS : pasien mengatakan gatal pada kulit DO: timbul bercak-bercak ada Sabtu 23 juli 03 nodul DS : pasien mengatakan malu bila berada dihadapan orang banyak DO: minder, menarik diri, nampak cemas, menunduk malu.

Evalusi lesi

Problem Gangguan rasa nyaman

Ttd

Kerusakan lapisan kulit

(nyeri) Kerusakan integritas kulit

Kerusakan kulit

Gangguan body image

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama : Ny. T Ruang : kenanga

No. reg Dx. Medis

: 087858 :

Hari/tgl/jam

Diagnosa keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dnegan kerusakan barier kulit Kerusakan integritas kulit Gangguan body image berhubungan dengan kulit

Tgl ditemukan

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Nama : Ny. T Ruang : kenanga Hari/tgl/jam Tujuan Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam dengan KH skala nyeri (3) Pasien tidak menahan nyeri ⊕ Tidak terjadi gangguan integritas kulit setalah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam dengan KH Θ Lesi sembuh No. reg Dx. Medis : 087858 : Ttd

Intervensi Kaji skala nyeri Berikan tehnik distraksi Berikan tehnik relaksasi Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic Kaji lokasi, warna lesi. Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk lesi Berikan penutup untuk menghindari trauma Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian

Tidak terjadi gangguan body image setelah dilakukan dukungan dengan KH pasien tidak minder Pasien tidak malu

antibiotic Kaji respon pasien Kaji tingkat HD pasien Berikan motivasi moral Berikan support sistem Anjurkan untuk menerima keadaan

CATATAN PERKEMBANGAN Nama : Ny. T Ruang : kenanga No. reg Dx. Medis : 087858 :

Hari/tgl/jam

Evaluasi S : pasien mengatakan nyeri berkurang O: pasien tidak tampak menahan rasa nyeri A: masalah sebagain teratasi P: lanjutkan intervensi S: pasien merasakan gatal berkurang O: pasien tidak menggaruk luka A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervfensi S: pasien merasakan masih merasa malu O: pasien tampak masih minder A: masalah sebagian teratasi P:lanjutkan intervensi.

Ttd

Implementasi Nama : Ny. T Ruang : kenanga No. reg Dx. Medis : 087858 :

Hari/tgl/jam

Implementasi - Menentukan skala nyeri dari pengkajian PQRST - Mengajak berbincang-bincang dengan pasien untuk mengalihkan perhatian - Menganjurkan klien tarik nafas dalam-dalam. - Memberikan obat CTM 3 x 1 - Menentukan luas lesi - Mengitruksikan kepada pasien untuk tak menggaruk lesi - Menutupi bagian yang lesi untuk menghindari trauma - Memberikan obat amoxillin 3 x1

Respon - Skala nyeri 4 - Pasien berkomunikasi dengan baik - Pasien mau tarik nafas dalam - Pasien mau minum obat - Lesi berdiameter 2 mm tak teratur - Pasien kooperatif tidak menggaruk lesinya. - Lesi tertutup - Pasien mau minum obat antibiotic amoxicillin

Ttd

- Mengamati komunikasi dan

- Respon pasien

respon terhadap tindakan yang kita lakukan terhadap pasien - Mengkaji tanda-tanda HDR pada pasien - Memberikan dukungan bahwa penyakitnya akan sembuh walaupun dalam jangka waktu yang lama - Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan dan mau bergaul denga orang lain.

baik - Pasien masih merasa malu bergaul dengan orang lain - Pasien belum mau menerima keadaan - Pasien mau mengungkapkan perasaannya bahwa dia masih mengeluh.

Catatan perkembangan Nama : Ny. T Ruang : kenanga No. reg Dx. Medis : 087858 :

Hari/tgl

Evaluasi S: pasien mengatakan nyeri berkurang. Skala nyeri 3 O: pasien tidak tampak menahan nyeri A: masalah sebagian teratasi P:lanjutkan intervensi S : pasien mengatakan gatal-gatal berkurang O: pasien pasien tidak tampak menggaruk luka A: masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi S : pasien mengatakan merasa malu O: pasien masih tampak minder tapi mau bergaul A: sebagian teratasi P : lanjutkan intervensi

Ttd

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful