ANALISIS TRANSFORMASI DATUM DARI DATUM INDONESIA 1974 KE DATUM GEODESI NASIONAL 1995

Eko Yuli Handoko * dan Hasanuddin Z. Abidin ** * Program Studi Teknik Geodesi, FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya ** Departemen Teknik Geodesi , FTSP, Institut Teknologi Bandung

Abstrak
Program pemetaan nasional diharapkan menggunakan datum geodetik nasional yaitu Datum Geodesi Nasional (DGN95). Namun masih banyak peta atau data geodesi yang mempunyai datum yang berbeda dengan DGN95, misalnya datum Indonesia Datum 1974 (ID74). Untuk itu perlu suatu model transformasi datum antara datum ID74 ke datum DGN95. Tulisan ini membahas hal tersebut dengan mempertimbangkan dua model transformasi yaitu : Model Transformasi 7 Parameter / Similarity Transformation ( Bursa-Wolf) dan Model Transformasi 10 Parameter / Affinity Transformation. Dengan menggunakan data titik sekutu yang ada, dihitung parameter transformasi dari dua model tersebut di atas. Dari hasil kedua model tersebut dianalisis sehingga dapat diketahui model yang mana yang memberikan hasil optimum. Kata kunci : datum, transformasi, ID74, DGN95

1. Pendahuluan
Dengan keppres No. 166 Tahun 2000 Bakosurtanal kembali diberi tugas untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang survei dan pemetaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menyelenggarakan tugas itu untuk pertama kalinya secara eksplisit ditetapkan bahwa Bakosurtanal mempunyai fungsi pembinaan infrastruktur data spasial atau yang lebih dikenal sebagai Infrastruktur Data Spasial Nasional ( IDSN ). Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dilihat sebagai satu upaya nasional untuk menghadirkan sumber-sumber data spasial dasar yang dapar dimanfaatkan seluas mungkin. IDSN harus menyediakan tema-tema data spasial yang paling umum digunakan oleh pengguna, dan terkait dengan penciptaan satu lingkungan yang mendukung pengembangan dan pemanfaatan data spasial secara optimal. Selanjutnya semua program pemetaan nasional maupun daerah diharapkan menggunakan georeferensi standar nasional yaitu Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN95). Pemetaan ke dalam sistem DGN95 dapat dilakukan dengan pengikatan ke kerangka kontrol horisontal Bakosurtanal Orde 0 dan Orde 1, serta ke Titik Dasar Teknik BPN, Orde II, III, dan IV. Ini adalah satu framework dataset atau data dasar utama dalam kerangka IDSN ( Villanueva, 2001 ). Dalam perjalanannya, Indonesia pernah mempunyai beberapa datum sebagai sistem referensi pemetaan. Berbagai datum tersebut antara lain Datum Genuk ( Pulau Jawa ) menggunakan

model ellisoid Bessel 1841 yang ditentukan menggunakan metode triangulasi, Indonesia Datum 1974 menggunakan ellipsoid referensi SNI (Sferoid Nasional Indonesia) dengan pengamatan menggunakan metode Doppler. Sekarang, dengan kemajuan teknologi Satelit Global Positioning System (GPS) , Indonesia menetapkan datum yaitu Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95) yang geosentrik. Datum ini ditentukan menggunakan pengamatan GPS dan menggunakan ellipsoid referensi WGS-84. Mengingat peta-peta yang ada sekarang ini masih banyak yang menggunakan sistem lama (ID74), sesuai dengan diselenggarakannya IDSN yang mempunyai standard, salah satunya bahwa datum yang digunakan adalah datum DGN-95 ( Matindas, 2002 ) , maka perlu dilakukan transformasi datum menjadi datum DGN-95. Dalam transformasi datum dari datum ID-74 ke Datum DGN-95 menggunakan model transformasi datum. Terdapat bermacam-macam model dalam transformasi datum. Model transformasi datum tersebut yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain : • Similarity transformation model ( model BursaWolf ) • Affinity transformation model ( 10 parameter transformasi ) Hitungan dilakukan dengan menggunakan data seluruh titik sekutu ( 35 titik sekutu ) dan hitungan menggunakan data yang dibagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah 1 dan wilayah 2 ( terlihat dalam gambar 1)

1

yA. dan faktor skala.719 47. Langkah pertama adalah mentransformasikan vektor posisi u ke dalam sistek koordinat lokal SL dengan P0 adalah centroid dari jaringan. cos θ ⎜ sin θ ⎝ Secara numerik hasil transformasi menggunakan model Bursa-Wolf dapat ditunjukan dalam tabel 1.309 9.520 0. perlu dipertimbangkan apakah perubahan pada skala lokal dan orientasi ini memberikan pengaruh secara signifikan atau tidak. maka model fungsional dari transformasi dengan 7 parameter adalah sebagai berikut : XB = s. dan faktor skala. Model ini sering disebut juga sebagai model linear conformal in three dimension atau three dimensional similarity transformation. yaitu : 3 rotasi.876 -0. 1992 ).589 -0. cenderung diasumsikan sebagai karakter dari affinity. Sering kali model ini tidak cukup merefreksikan situasi yang sebenarnya (Wolfrum. R. salah satunya transformasi dengan 7 parameter.313x10-06 satuan meter meter meter detik detik detik - Tabel 3.467 x 10 satuan meter meter meter detik detik detik - 2 .976 -185. Model Transformasi Datum 2. Menggunakan model three dimensional similarity transformation pada jaring kerangka yang besar mungkin dapat mengubah skala lokal dan orientasi. Oleh karena itu.634 -6 1. Jika XA = [ xA. Hal ini disebabkan bahwa dalam model ini faktor skala pada semua arah adalah sama. Parameter transformasi Bursa-Wolf dari ID74 ke DGN95 parameter ΔX ΔY ΔZ rx ry rz ds nilai -20. s t R faktor skala vektor translasi ( tx. yB. Parameter transformasi Bursa-Wolf dari ID74 ke DGN95 Wilayah 1 parameter ΔX ΔY ΔZ rx ry rz ds nilai -19.2 dan 3 Tabel 1. cos ω sin κ . ty. jika kita ingin mentransformasikan satu sistem koordinat ke sistem koordinat yang lain.860 -13. digunakan transformasi menggunan 7 parameter. cos ω − sin κ . Dari teori permukaan . sedangkan vL adalah siku dari uL ke arah timur.Δu dimana : M = P2 R 2 (ϕ 0 − π )R 3 (λ 0 − π ) 2 Dengan . 3 translasi. ( Hotine. Implikasi dari model ini adalah posisi titik dan panjang baseline akan berubah.2. tetapi sudut dan bentuk jaringan tidak berubah. 1947 dalam Wolfrum. Jika sistem koordinat A yang dinyatakan dalam Su ditransformasikan kedalam sistek koordinat B yang dinyatakan dalam Sx.428 0. zA ] t dan XB = [ xB. wL adalah normal ellipsoid. cos ω + cos κ . dengan affinity transformation model. sin θ . Dalam model ini bentuk jaringan dipertahankan. Vektor posisi u dalam sistem SL uL = M ( u – u0 ) = M.1992 ) bahwa setiap perubahan. cos ω − cosθ . dilakukan langkahlangkah sebagai berikut. sin ω ⎠ ⎛ cos κ . zB ] t adalah koordinat sebelum dan sesudah ditransformasi. bagian kecil dipermukaan.117 -0. sin ω sin κ . Parameter transformasi Bursa-Wolf dari ID74 ke DGN95 Wilayah 2 parameter ΔX ΔY ΔZ rx ry rz ds nilai -40.167 -38.760 6.743 -9. sin θ . uL adalah pararel meredian.284 1.321x10-06 satuan meter meter meter detik detik detik - 2. sin ω ⎟ ⎟ cosθ . sin ω + sin κ . 3 parameter translasi. 3 parameter rotasi. tetapi panjang baseline dan posisi titik dapat berubah. sin θ .883 -1. cosθ ⎜ R = ⎜ − sin κ . sin θ . maka sudut tidak berubah.2 Transformasi 10 Parameter (Affinity Model) Secara praktis.323 0.1 Transformasi 7 Parameter ( Bursa-Wolf ) Kita mengenal beberapa model transformasi koordinat.555 -0. XA + t B B B B B Tabel 2. tz) t matrik ortogonal dari rotasi sistem X1 ke sistem X2 cos κ . sin ω − cos κ .825 8. cos ω ⎞ ⎟ cos κ .

d μ .S dapat ditulis menjadi : R.S = I + dR + dS Sehingga persamaan linier dari model transformasi menjadi : x = u + t + MT (dR + dS ) M. k1. t z . Fi ≡ (u i + v u i ) + G. w. ds.R.u atau untuk vektor u. Matrik M merupakan matrik orthogonal sehingga M-1 = MT. Selanjutnya .cosα k 1 sin 2α + k 2 cos 2α 0 ⎥ ⎢ 0 0 k3⎥ ⎣ ⎦ S adalah matrik empat parameter affinity. M. k3 ) Selanjutnya diputar kempali sebesar sudut (-α ). perkalian product R. R. d ν . x iT = [u. maka persamaan tersebut dapat ditulis kembali : p = p0 +dp p0 =1 r = r0 + dr r0 = 1 s = s0 + ds s0 = 1 q0 = 1 q = q0 + dq sehingga matrik affinity dapat dibentuk menjadi persamaan : S = I + dS Dengan ⎡dp dq 0 ⎤ dS = ⎢dq dr 0 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 0 0 ds⎥ ⎣ ⎦ seperti hal di atas . Δ. maka untuk R menjadi .Δu.u L dengan : 0⎤ ⎡k 1 0 ⎢0 k K=⎢ 0⎥ 2 ⎥ ⎢0 0 k3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎡ k 1 cos 2α + k 2 sin 2α (k 1 − k 2 )sinα . Disederhanakan matrik affinity menjadi.uL’ dimana : dA − dμ ⎤ ⎡ 1 R = ⎢− dA dν ⎥ 1 ⎢ ⎥ ⎢ dμ − dν 1 ⎥ ⎣ ⎦ dengan mensubsitusi persamaan sebelumnya maka bentuk dari persamaan perbedaan vektor Δ x dan Δ. Oleh karena itu. dν merujuk pada sistem lokal SL. S . R = I + dR Maka dengan mengabaikan bentuk orde dua. x ( pada gambar 2.cosα jika persamaan diatas didekati dengan suatu mdel pendekatan.u adalah : Δ x = MT. Prosedur hitungan perataannya memerlukan model yang linier dari fungsi yang 3 yang kemudian dalam bentuk linier : A i v i + Bi Δ = w i = 0 dengan : v iT = v Ti v Ti = v u . z ]i i Secara numerik hasil transformasi menggunakan model 10 parameter dapat ditunjukan dalam tabel 4. v y u x ΔT = t x . Sistem lokal SL diputar / dirotasi pada sumbu wL sebesar sudut α searah jarum jam. dr.8 ) persamaan transformsai sebagai berikut : x = t + u0 + MT. x. perbedaan orientasi antara dua sistem diperhitungkan. v w . dA. dp. Akhirnya peralihan sistem SX didapatkan dengan membalikan rumus transformasi uL = M ( u – u0 ) = M.⎡− sin ϕ 0 cos λ 0 − sin ϕ 0 sin λ 0 M = ⎢ − sin λ 0 cos λ 0 ⎢ ⎢ cos ϕ 0 sin λ 0 cos ϕ 0 sin λ 0 ⎣ ⎡1 0 0 ⎤ P2 = ⎢0 − 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎢0 0 1 ⎥ ⎦ ⎣ cos ϕ 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ sin ϕ 0 ⎥ ⎦ tidak diketahui. M. v y . sebagai berikut : ⎡ p q 0⎤ S = ⎢q r 0 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 s ⎥ ⎣ ⎦ p = k1 cos2α + k2 sin2α r = k1 sin2α + k2 cos2α s = k3 q = (k1 – k2) sinα.Δu atau x = u + t + G ( u – u0 ) untuk menghitung nilai parameter. digunakan metode standard seperti dalam Mikhail ( 1976 ). Sedangkan k3 merupakan besarnya perbedaan skala tinggi . t y .S. k2 merupakan model sistematik distorsi affine dalam arah horisontal uL dan vL. [ ] . Seperti dalam Veis (1962). sehingga diperoleh : u 'L = R 3 (−α )KR 3 (α )u L = S. berlawaan arah jarum jam. model deferensial parameter orientasi dA. v v . maka : Δ x = MT.Δu i − (x i + v x i ) = 0 dimana : Langkah kedua adalah memmasukkan unsur affinitas. sehingga terdapat distorsi skala yaitu ( k1. Δ. k2. v. Hal di atas dapat berarti α. dμ.cosα 0 ⎤ ⎢ ⎥ S = ⎢(k 1 − k 2 )sinα . y.( u-u0 ) dimana t adalah vektor translasi antara dua sistem. R.5 dan 6. v x . dq wi = ui − xi Ai = [ [ ] [ ] ]i δFi δ (L i + v i ) Bi = δFi δΔ dimana : LT = u iT .

ΔY ≈ 1. kecuali terdapat beberapa titik yang berbeda.606 m (gambar 7 ) Dari hasil semua model transformasi.614 m.133 m dan ΔZ ≈ 4.00000125099 -0.666 0. 3 . daerah timur (wilayah 2) . Dari hasil tersebut terlihat variasi penyimpangan yang tidak teratur.127 m (gambar 5 ) Model 10 parameter pada wilayah 1 memberikan penyimpangan ΔX ≈ 1. Parameter transformasi affin 10 parameter dari ID74 ke DGN95 Wilayah 2 parameter ΔX ΔY ΔZ dμ dν dΑ dp dr ds dq nilai -22.512 m (gambar 6 ) Model 10 parameter pada wilayah 2 memberikan penyimpangan ΔX ≈ 21.150 4. Hasil berupa grafik selisih dapat ditunjukkan dalam gambar 2. ΔY ≈ 5. hasil tersebut dibandingkan dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95.0002048647734 0. & 7 Transformasi menggunakan model 7 parameter dengan semua data titik sekutu ( 35 titik ) seperti ditunjukkan dalam gambar 2 .00000049548 satuan meter meter meter detik detik detik - - Tabel 6.0000018140325 0.588 m. memberikan hasil penyimpangan yang besar dibandingkan dengan daerah barat (wilayah 1).613 -0.00000175379386 -0. Parameter transformasi affin 10 parameter dari ID74 ke DGN95 parameter ΔX ΔY ΔZ dμ dν dΑ dp dr ds dq nilai -21. Hal ini menunjukkan tidak homogennya ketelitian jaring kontrol horisontal dalam sistem yang lama ( ID74) yang pengukurannya memanfaatkan satelit doppler / transit.708 -0.00000874641 0.495 m.011 -0.0000703977996 0.450 0.090 m dan ΔZ ≈ 1.192 -24. Kesimpulan & Saran Dari analisis hasil hitungan dapat dilihat bahwa penggunaan model transformasi 10 parameter dapat memberikan hasil yang lebih baik dari model Bursa Wolf Meskipun begitu perlu dikaji lebih lanjut mengenai kinerja model transformasi 10 parameter dengan distribusi titik sekutu yang baik dan jumlah titik sekutu yang lebih banyak. Analisis Hasil Hitungan Dengan semua hasil yang ada. Selain itu perlu juga dilakukan pembobotan terhadap data ukuran dari sistem ID74 dan DGN95.678 -2.0000002310080 satuan meter meter meter detik detik detik - mempunyai variasi penyimpangan yang relatif sama. ΔY ≈ 27.339 3.093 m.339 m dan ΔZ ≈ 3.852 -0.033 0. pernyataan ini juga diungkapkan dalam Subarja (1995) 4.340 m. Hal ini disebabkan karena skala tiap sumbu berbeda. Nilai rata-rata penyimpangan ΔX ≈ 12. dapat dilihat terdapat perbedaan yang besar antara model 7 parameter dan model 10 parameter.180 m dan ΔZ ≈ 1.422 m. Parameter transformasi affin 10 parameter dari ID74 ke DGN95 Wilayah 1 parameter ΔX ΔY ΔZ dμ dν dΑ dp dr ds dq nilai -20. ΔY ≈ 6.642 m (gambar 4 ) Hasil transformasi menggunakan model 10 parameter ditunjukkan pada gambar 5.3618 -0.0000035919645 -0. ΔY ≈ 26.113 -24. yang telah dihitung menggunakan model-model transformasi yang tersebut diatas.346 -0. ΔY ≈ 24.033 m Hitungan model 7 parameter dengan data pada wilayah 1 (18 titik) memberikan hasil penyimpangan rata-rata ΔX ≈ 1.595 m dan ΔZ ≈ 0. Dari hasil tersebut dapat diketahui penyimpangan rata-rata ΔX ≈ 34.0000018792988 0.00000149589559 satuan meter meter meter detik detik detik - - - - Tabel 5.247 4. 4.323 m dan ΔZ ≈ 4.852 m (gambar 3) Hitungan model 7 parameter dengan data pada wilayah 2 (17 titik) memberikan hasil penyimpangan rata-rata ΔX ≈ 103.140 -0.00000008157 0. Dari setiap model transformasi.226 0.088 -24.Tabel 4. 6. 5. Terdapat model transformasi datum menggunakan persamaan multi regresi yaitu Multiple Regression 4 3.

K. J. Bosser. Taylor & Francis.W. Proceedings of The Third Geodetic Symposium on Satellite Doppler Positioning. Bakosurtanal. Manuscripta Geodetica (17) pp. H. Villanueva. National Imagery and Mapping Agency TR.I ( 1998 ) The Curviliner Datum Transformation Model.D. Smithsonian Contributions of Astrophysics.H. New York. New York. Walter de Gruyter. Bosser. Dissertationen Universität Stuttgart. ( 2002 ) Coordinate Transformations. ( 2001 ) Peran Bakosurtanal dalam Pembangunan Nasional Kepesisiran dan Kelautan Indonesia. its Definition and Relationships with Local Geodetic System (3rd ed). Pp 27-49. and Mikhail. F.R. Pp 16-26. ( 2002a ) Coordinates and Coordinates System.C. J.T. A.2. W. Taylor & Francis. Bosser. Taylor & Francis. San Francisco. ( 1980 ) Photogrammetry ( 3rd ed ). D. D. pp. London. Oxford.8350. Manual of Geospasial Science and Technology. Manual of Geospasial Science and Technology. Efroymson. J. Bosser. ( 1980 ) Geodesy. Draper. London. O. Wolfrum. Ed. N. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Kelautan – Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB. Clarendon Press. Subarya. 7 April. vol. ( 2002b ) Datum and Geodetic System. Freeman and Co. Inc. D. Bethesda MD Okeke. Mathematical Methods for Digital Computers. C & R. W. G.3. Pusat Pemetaan. Moffitt. Ed. School of Surveying-University of New South Wales. & H. John Wiley & Sons.A ( 1967 ) Multiple Regression Analysis. M. ( 1980 ) Geodesy ( 4th ed ). Matindas ( 1995 ) Datum Indonesia 1995 ( DI-95 ) yang Geosentrik. Indonesia. (1982 ) Geodetic Datum Transformation by Multiple Regression Equation. E. J. Veis. Bosser. Ed. ( 1993 ) Practical Least Squares and Statistics for Surveyors. Ralston. J. G. Smith ( 1981 ) Applied Regression Analysis – 2nd Edition. L. F. ( 1967 ) Physical Geodesy. Ed.210-214 5 . Harper & Row. Manual of Geospasial Science and Technology.D. Las Cruces. Heiskanen. Torge. A. ( 1992 ) Merging Terrestrial and Satellite Networks by A Ten-Parameter Transformation Model. No. 207-223 Bomford. W. Penggunaan model ini perlu dikembangkan sebagai pembanding dari modelmodel yang telah ada. B. CA. 9. John Wiley & Sons. New York Habib. New Mexico.A and Moritz. Kensington. Monograph 13. ( 1960 ) Geodetic uses of artificial satellites. Washington. Smithsonian Institute. New York. NIMA (1997 ) Department of Defense World Geodetic system 1984.D.. Bandung. München. Harvey. London. German. Pp 8-15. Australia.Equation.R. J. Pustaka Applebaum.

dp ⎥ ⎥ + sin φ 0 cos φ 0 cos λ 0 .dν ⎥ − sin λ 0 .406 Wilayah-2 D.500 D.dA ⎢ 2 ⎢+ sin φ 0 sin λ 0 cos λ 0 .469 D. Distribusi Titik Sekutu dalam Sistem ID74 dan DGN94 6 .452 SP.487 P.ds ⎥ ⎥ + cos φ 0 . sin λ 0 .ds ⎥ + sin φ 0 .dp + cos φ 0 .419 D. cos λ 0 .960 D.600 D.947 D. cos φ 0 .520 D. cos φ 0 sin λ 0 .dA ⎢ ⎢ − sin φ 0 .dq ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ + sin φ 0 .957 D. cos φ 0 .LAMPIRAN ⎡ ⎢ ⎢ + sin 2 φ .601 D.dA ⎥ − sin λ 0 .dq ⎢ ⎢ ⎢ + sin φ 0 . cos λ 0 . sin λ 0 . cos λ 0 . sin λ 0 .71 D. cos λ 0 .dμ ⎥ ⎥ + sin 2 φ 0 .470 D.dq ⎥ ⎥ ⎦ − sin φ 0 sin λ 0 .dr ⎥ 2 2 − sin φ 0 . sin λ 0 .dq − cos φ 0 sin λ 0 . sin λ 0 .ds 0 0 0 ⎢ ⎢ − cos φ 0 . cos φ .1244 D.ds ⎥ + cos 2 φ 0 .353 D.dν DISTRIBUSI TITIK SEKUTU ID74 DAN WGS84 D.660 D.dq ⎢ ⎢ ⎣ − cos φ 0 .dA + cos λ 0 .1203 D. cos λ 0 .dμ ⎢ − cos φ 0 . cos φ 0 . sin λ 0 .dA + cos 2 φ 0 .dp ⎥ + sin λ 0 .dp ⎥ − sin φ 0 .φ 0 . cos λ 0 .1204 D.dν 0 ⎢ ⎢+ sin φ 0 .dν ⎢ ⎢ − cos λ 0 . sin λ 0 .dp G = ⎢− sin λ 0 cos λ 0 .dp ⎢ + sin φ . cos φ 0 .ds 0 0 0 ⎢ 2 ⎢+ sin φ 0 (sin λ 0 − cos 2 λ 0 ).641 D. sin λ 0 .74 D. sin λ 0 .dr ⎢ ⎢+ cos 2 φ sin λ cos λ . cos λ 0 .962 D.dμ ⎥ − cos φ 0 .dp ⎥ + cos φ 0 .1202 D.dν ⎥ 2 2 _ sin φ 0 .955 D.1288 D.1208 Gambar 1. cos λ 0 . cos λ 0 .dA + cos 2 λ 0 . cos λ 0 .700 BPA PADANG D.ds ⎥ + sin φ 0 (sin 2 λ 0 − cos 2 λ 0 ).dq ⎢ ⎢ ⎢+ cos φ . sin λ 0 .ds ⎥ − 2 sin φ 0 .dμ ⎥ ⎥ + cos φ 0 cos φ 0 .471 D.dq ⎥ ⎥ ⎥ − sin φ 0 . cos λ .dq ⎥ + cos φ 0 .129A Wilayah-1 D.970 D.5 SP.1008 D. cos λ 0 .479 D.dp ⎥ + sin 2 φ 0 .949 D. cos 2 λ dp 0 0 ⎢ ⎢ + sin 2 λ dr 0 ⎢ ⎢ + cos 2 φ 0 cos 2 λ 0 ds ⎢ ⎢ + 2 sin φ 0 .508 D.967 D. sin λ 0 .ds ⎥ + sin φ 0 . sin λ 0 . sin λ 0 .dr − sin φ 0 cos φ 0 cos λ 0 .dν ⎤ ⎥ − sin .947 D.952 D.

20 02 N. 96 2 D. 60 10 Gambar 2. 97 0 N.962 D.DGN95 80 70 60 50 40 Selisih (meter) 30 20 10 0 -10 -20 -30 Tiitk Sekutu dX dY dZ D. 94 9 D.1096 NIAS N. 94 7 D.40 11 N1 .2007 N1. 60 07 N. 30 07 N1 .957 D.960 D. 00 92 N. 10 96 NI AS N. Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model Bursa-Wolf dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 Selisih koordinat Hasil Transformasi & Titik Sekutu -DGN95 (Wilayah 1) 35 30 25 20 Selisih (meter) 15 10 5 0 -5 -10 -15 -20 D. 95 7 D.970 N. 40 02 N1 .30 57 N. 10 01 N. 95 2 D. 30 02 N.20 30 N.3001 Titik Sekutu dX dY dZ Gambar 3.2005 N.952 D. 20 03 N.Selisih Koordinat Hasil Transformasi & Titik Sekutu . 40 01 N.40 17 N1 . 96 7 D.0092 N.949 D.40 37 N. Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model Bursa-Wolf dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 Wilayah 1 7 .40 13 N1 . 20 07 N1 . 20 05 N.1001 N.2030 N.40 01 N1 .2003 N.40 06 N1 .30 36 N1 . 50 06 N. 96 0 D. 30 01 N.2002 N.40 10 N1 .947 D.40 12 N1 .967 D.

3 00 7 1 .9 .9 00 N 00 00 . 60 N.40 11 N1 .9 67 IA S 49 57 62 70 .2 N N N N N N T it ik S e k u t u dX dY dZ Gambar 5.6 01 0 .40 12 N1 .DGN95 (Wilayah 2) 140 130 120 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 -10 -20 Selisih (meter) 07 N1 . 30 N. 30 36 1. 40 37 N .30 57 02 N1 .5 00 6 .2 . Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model 10 Parameter dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 8 N . 40 12 N 1. 40 10 1. 40 11 N 1. 30 N.4 00 2 1. 30 57 40 01 30 02 1.Selisih Koordinat Hasil Transformasi & Titik Sekutu . 60 N.40 37 02 01 06 07 N.3 00 1 .9 47 . 40 13 N 1.30 36 N1 . 20 30 . 40 Titik Sekutu dX dY dZ Gambar 4.9 . 40 01 1. Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model Bursa-Wolf dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 Wilayah 2 S e lis ih K o o rd in a t H a s il T ra n s fo rm a s i & T itik S e k u tu D G N 9 5 M e to d e A ffin e 35 30 25 20 15 10 Selisih (meter) 5 0 2 5 1.40 13 N1 .0 09 2 . 50 10 -5 -1 0 -1 5 -2 0 -2 5 -3 0 -3 5 -4 0 . N N N N N N N N N N N N.9 60 . N.40 17 N1 .9 52 . 40 N.2 00 3 .6 00 D D D D D D D D N. 40 06 .40 10 N1 .1 .1 09 6 7 N .9 .40 06 N1 . 40 17 N 1.2 00 7 1.40 01 N1 .

9 70 -1 .4 0 1 2 N 1 . 20 30 .0 09 2 N .9 47 D D D D D D D D .9 62 .3 0 0 2 N .3 0 3 6 N 1 .2 00 5 N .6 0 1 0 Selisih (meter) -1 0 -2 0 -3 0 -4 0 -5 0 -6 0 -7 0 -8 0 T it ik S e k u t u dX dY dZ Gambar 7.4 0 0 1 N 1 .1 09 6 N .9 57 .9 49 .9 67 .3 00 1 N .6 0 0 7 N .3 0 0 7 N 1 .4 0 1 0 N 1 . Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model 10 parameter dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 ( wilayah 2 ) 9 N -2 N .2 00 2 N .4 0 3 7 N .3 0 5 7 N . Selisih Koordinat hasil transformasi menggunakan model 10 Parameter dengan nilai koordinat titik sekutu dalam sistem DGN95 ( wilayah 1) S e l i s ih K o o r d i n a t H a s i l T r a n s f o r m a s i & T it i k S e k u t u D G N 9 5 M e t o d e A f f i n e W i la y a h 2 40 30 20 10 0 N .4 0 1 3 N 1 .9 60 .9 52 .4 0 1 1 N 1 .2 00 3 Selisih (meter) -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -1 0 -1 1 -1 2 -1 3 -1 4 -1 5 T it ik s e k u tu dX dY dZ Gambar 6.S e lis ih k o o r d in a t h a s il tr a n s fo r m a s i & titik s e k u tu D G N 9 5 M e to d e A ffin e (W ila y a h 1 ) 5 4 3 2 1 0 N IA S N .4 0 1 7 N 1 .4 0 0 2 N 1 .1 00 1 N .4 0 0 1 N .5 0 0 6 N .4 0 0 6 N 1 .2 00 7 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful