P. 1
Anapro Tenaga Kerja Marvin e. Mundel - Matius Handika n.a.s

Anapro Tenaga Kerja Marvin e. Mundel - Matius Handika n.a.s

|Views: 1,582|Likes:
Published by foniw

More info:

Published by: foniw on Aug 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan Kerja Praktek
  • 1.3. Manfaat Kerja Praktek
  • 1.4 Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktek
  • 2.1. Sejarah Pendirian Perusahaan
  • 2.2. Alasan Kritis Pendirian Perusahaan
  • 2.3 Deskripsi Geografis dan Administratif
  • 3.1. PROSES PRODUKSI
  • Gambar 3.1 Monorail
  • Gambar 3.2 Withering Through (WT)
  • Gambar 3.3 Green Leaf Shifter (GLS)
  • Gambar 3.4 Barbora Leaf Conditioner (BLC)
  • Gambar 3.5 Mesin Triple CTC
  • Gambar 3.6 Fermenting Unit
  • Gambar 3.7 Fluidisize Bed Dryer (FBD)
  • Gambar 3.8 Middle Tone
  • Gambar 3.9 Vibro Blank
  • Gambar 3.10 Chota Sifter Conveyor
  • Gambar 3.11 Suction Winower
  • Gambar 3.12 Tea Bin
  • Gambar 3.13 Tea Bulker
  • Gambar 3.14 Tea Sack Packer
  • Gambar 3.15 Bag Shaver
  • 3.3 Sistem Pengendalian Mutu Produk
  • 4.1 Struktur Organisasi
  • 4.2 Ketenaga Kerjaan
  • 5.1. Mesin dan Peralatan Produksi
  • 5.2. Tata Letak dan Efisiensi Produksi
  • 5.4. Limbah dan penanganannya
  • Tabel 5.1 Jenis Limbah Yang Dihasilkan
  • DISTRIBUSI DAN PEMASARAN PRODUK
  • 6.1 SISTEM PEMASARAN
  • 7.1 Pendahuluan
  • 7.2 Dasar Teori
  • 7.3 Metodologi Penelitian
  • Gambar 7.2.Diagram Alir Penelitian
  • 7.4 Hasil dan Pembahasan
  • Tabel 7.1 Output Teh Kering
  • Tabel 7.2 Input Jam Kerja
  • Tabel 7.4 Rasio Tenaga Kerja
  • Tabel 7.5 Indeks Tenaga Kerja
  • 7.5 Kesimpulan
  • 7.6 Saran

LAPORAN KERJA PRAKTEK ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PENGOLAHAN TEH HITAM DENGAN METODE MARVIN E.

MUNDEL DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA GUNUNG MAS

Nama : Matius Handika N.A.S NIM : 07/254770/TP/08979

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

Bapak Dr. Kuncoro H. M. Ir. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana srata 1 (S1).. M.. Widodo.Sc. STP. Bapak Dr. 4. sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Kerja Praktek yang berjudul Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pengolahan Teh Hitam Dengan Metode Marvin E.. selaku Kepala Jurusan Teknologi Industri Pertanian. 3. Keluarga tercinta. iii . Bapak Dr. Mirwan Ushada.KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmatnya. selaku dosen penguji kerja praktek yang memberikan banyak masukan dan saran dalam perbaikan laporan kerja praktek ini. STP. Ir.Life.App. Jurusan Terknologi Industri Pertanian. 6. 2. selaku Dekan Fakultas Teknologi Pertanian. 5.Eng. Kedua orang tuaku yang selalu memberikan semangat serta doa yang tidak pernah putus. Universitas Gadjah Mada.. Djagal Wiseso Marseno. serta kepada kakakku Fr. Fakultas Teknologi Pertanian. M. Icktyani Wahyuningsih yang telah sering menginatkan dan memberi semangat dalam penyelesaian laporan kerja praktek ini. Tuha Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta kemudahan dalam pelaksanaan dan penyusunan laporan kerja praktek ini.Agr. Makhmudun Ainuri. Penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan serta doa yang telah membantu dalam pelaksanaan kerja praktek dan penyusunan laporan ini kepada : 1. 7. Universitas Gadjah Mada. M. Mundel Di PT Perkebunan Nusantara Gunung Mas. selaku dosen pembimbing kerja praktek yang memberikan bimbingan serta arahan dalam kerja praktek ini dari awal hinggal akhir penyusunan laporan kerja praktek ini. Bapak Dr. Prima Pinastika Adriana yang selalu mengingatkan serta memberi semangat.Si. Fakultas Teknologi Pertanian. Yogyakarta.

16 November 2010 Penulis iv . Seluruh pihak yang membantu dalam penyelesaian dan penyusunan laporan ini dan tidak dapat disebutkan satu persatu. atas pengetahuan serta bimbingan dan bantuan yang telah bapak berikan selama pelaksaan kerja praktek. Risan. 11. 14. Pak Risman. kritik. Bapak Ujang. Kafi. 2005. Dev. Pak Mali. Keluarga TIP 2007 yang telah bersama selama 3 tahun. Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Pak Dudie. dan tanggapan dari semua pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan laporan kerja praktek ini. 2004. maka dari itu saran. Seluruh karyawan dan pimpinan PT. bimbingan. Mas Kentang 05 yang telah memberikan bimbingan serta masukan dalam penyelesaian laporan kerja praktek ini. Agung. Fedy. 9. Pak Dedi. Seluruh karyawan serta mandor pabrik unit produksi. 12. dan Elen untuk keramahan. 13. Yogyakarta. Pak Wawan. Pak Husein. Seluruh teman – temanku.8. Sahabat – sahabat dan teman – temanku Wisnu. 16. Perkebunan Nusantara VIII yang telah memberikan kesempatan serta bantuan dalam pelaksanaan kerja praktek . serta penginapan selama pelaksanaan kerja praktek. Adit. Pak Dedi UPTC. 2006 sebagai tempat bertanya dan masukan yang telah diberikan. bantuan. Eka. Pak Toha. dan Mbak Santi. 15. Terimakasih atas pengalaman berharga yang tidak terlupakan. Antok. Keluarga besar HIMATIPA yang telah memberikan banyak pengalaman serta pelajaran yang sulit didapat di tempat lain. kakak angkatan 2003. Bagas. 10. Bu Ujang.

.......... Struktur Organisasi ........... 30 B....................... 5 C........................................................................... 41 v ............................................................................................. Sistem Pengendalian Mutu Produk ..................................................... Ketenaga Kerjaan .... Spesifikasi Produk........................................... Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktek .......................... Deskripsi Geografis dan Administratif ..... 4 A.............. 4 B. 1 B................. iii Daftar Isi ............................................... ii Kata Pengantar .... 1 A............................................ 30 A...... viii Daftar Lampiran .................................................................................... 3 BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN ........................... 33 BAB V SARANA DAN PRASARANA PRODUKSI ............................................................................................................................................... 38 C........ 6 BAB III PROSES PRODUKSI DAN PRODUK ......................................................................... 35 A.............................. Sanitasi Hygiene Perusahaan .................................................................................... 24 BAB IV ORGANISASI PERUSAHAAN ........ Proses Produksi ..... Sejarah Pendirian Perusahaan ....... 39 D. 2 C......................... 8 B.................... 2 D........................................................................................ Limbah dan Penanganannya ...............DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ...... 22 C................................................................................................ Latar Belakang ................ 35 B................................................. vii Daftar Gambar........................ Tata Letak dan Efisiensi Produksi ............................................................................................... Alasan Kritis Pendirian Perusahaan .. Mesin dan Peralatan Produksi ................................................................................................................... i Lembar Pengesahan ..................................................... 7 A............................................................................................... Tujuan Kerja Praktek ........ Manfaat Kerja Praktek ... ix BAB I PENDAHULUAN ............... v Daftar Tabel .

.......... Sistem Pemasaran ............... Distribusi dan Pemasaran ............... 48 C...................... Pendahuluan ........ 42 BAB VII TUGAS KHUSUS .................................................................................................... 75 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi ................................. 45 B.....BAB VI DISTRIBUSI DAN PEMASARAN PRODUK ................................ 42 B............................. Kesimpulan .......................... 54 D............................. 74 F................................................................................ Dasar Teori ...................... Saran ................. 45 A................................ 57 E. Metodologi Penelitian ...... Hasil dan Pembahasan ....................................................................................................... 42 A...........................................................

.....................................................................1 Output Teh Kering ...................... 61 Tabel 7...............................................1 Standar Mutu Isi Paper Sack atau Bags Teh Hitam ...2 Pengedalian Mutu Selama Proses ......5 Indeks Tenaga Kerja ...... 22 Tabel 3................... 21 Tabel 3...............................3.......................................... 59 Tabel 7................ 26 Tabel 5..............2 Jenis Teh dan Spesifikasinya .......1 Jenis Limbah Yang Dihasilkan ... 41 Tabel 7................................................3.... 25 Tabel 3.. 66 vii ... 63 Tabel 7.......3 Proses Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi .........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3..............2 Input Jam Kerja .........................4 Rasio Tenaga Kerja ......3..1 Pengendalian Mutu Pada Bahan Dasar atau Bahan Baku ... 24 Tabel 3..........................................

.. 13 Gambar 3.....................................7 Fluidisize Bed Dryer (FBD) .......................................................... 50 Gambar 7.......4 Barbora Leaf Conditioner (BLC) ............ 16 Gambar 3.................. 69 viii ..............................................................2 Diagram Alir Penelitian ...10 Chota Sifter Conveyor ..............14 Tea Sack Packer ................3 Green Leaf Shifter (GLS) . 17 Gambar 3........... 9 Gambar 3......................................................................................................8 Middle Tone ............................................................... 15 Gambar 3...................................................... 56 Gambar 7.............................12 Tea Bin ...........1 Siklus Produktivitas . 14 Gambar 3............ 17 Gambar 3..................................................................13 Tea Bulker ....................9 Vibro Blank ............................. 21 Gambar 7..................................................3 Grafik Pergerakan Indeks Tenaga Kerja .................................................................................................. 18 Gambar 3...................... 21 Gambar 3..............................................5 Mesin Tripel CTC .................15 Bag Shaver .......................... 13 Gambar 3..............6 Fermentasi Unit ....................................................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.......2 Withering Through ................ 10 Gambar 3.......... 12 Gambar 3.......1 Monorail ............................................................11 Suction Winover ............................... 18 Gambar 3..... 20 Gambar 3..............................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Distribusi Pemasaran Lampiran 2 Standar Mutu Densitas Teh Hitam CTC Lampiran 3 Kriteria Penilaian Teh Hitam CTC Mutu II. III Lampiran 4 Struktur Organisasi Lampiran 5 Layout Pabrik Lampiran 6 Peta Proses Operasi ix .

perlu dilakukan pemahaman yang lebih tentang teori – teori yang telah didapat melalui kerja praktek yang dilakukan mahasiswa secara langsung. mengalami pertumbuhan yang pesat terkait dengan semakin bertambahnya populasi manusia dan semakin terbatasnya persediaan pangan dunia. Perkebunan Nusantara VII Gunung Mas. Hal ini bertujuan untuk memberkan pengetahuan serta pengalaman yang lebih luas bagi mahasiswa tentang kondisi riil dalam kondisi dunia kerja yang berbeda dengan teori yang didapat pada saat dibangku kuliah. program studi Teknologi Industri Pertanian.1 Latar Belakang Saat ini pada era globalisasi. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada menjadikan mata kuliah Kerja Praktek sebagai prasyarat dalam menyelesaikan jenjang pendidikan S-1. industri berkembang dengan cepat dan memiliki peran yang sangat penting. Teknologi Industri Pertanian merupakan suatu ilmu yang berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya hayati melalui proses transformasi menjadi produk yang memiliki nilai lebih dan berdaya guna. serta mampu bersaing dalam tingkat global maupun dapat mengaplikasikan ilmu secara mandiri dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas. Oleh karena itu. Pelaksanaannya dilapangan dengan mengimplementasikannya dalam bentuk kerja praktek selama satu bulan dalam perusahaan yang berkonsentrasi dalam pengolahan hasil – hasil pertanian yaitu PT. 1 . Sehubungan dengan hal itu. Dengan harapan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetisi dalam bidang teknologi industri pertanian.BAB I PENDAHULUAN 1. Perguruan tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan industri ini harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas juga. namun bekal yang diberikan dibangku kuliah belum cukup untuk memberikan pemahaman tentang dunia kerja yang sesungguhnya. Industri khususnya industri pertanian.

Bagi Mahasiswa a. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada.2 Tujuan Kerja Praktek 1. dan sistem organisasi perusahaan di PT. sarana dan prasarana produksi serta sistem pemasaran di PT. khususnya pada produk teh hitam c. Tujuan Umum a. sehingga setelah lulus akan lebih siap untuk memasuki dunia industri. Memenuhi kurikulum akademik sebagai salah satu prasyarat kelulusan bagi mahasiswa S-1 program studi Teknologi Industri Pertanian. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas. c. Manfaat Kerja Praktek 1.3. 2. Mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah dalam dunia kerja industri. Mengetahui lebih dalam tentang proses produksi. 1.Bogor. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas b. bentuk organisasi. agar sesuai dengan definisi Teknologi industri pertanian sendiri. b. terutama terkait dengan tugas khusus yang akan dilaksanakan 1. Mendapatkan masukan tentang berbagai macam masalah yang sering terjadi dalam dunia industri yang dapat dipecahkan bersama 2 . Obyek kajian yang dipilih adalah industri pertanian. Tujuan Khusus a. Melatih kedisiplinan untuk mempersiapkan memasuki dunia kerja yang harus berinteraksi dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda – beda. Dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dalam bangku perkuliahan secara nyata b. Mengetahui lebih dalam tentang sejarah. Mengenal dunia industri yang sesungguhnya beserta permasalahan yang dihadapi.

c. Yogyakarta 1.O Bogor 16750 Fax (0251) 8254803. Mengenalkan dunia industri khususnya industri pertanian kepada mahasiswa agar mendapatkan gambaran dan pengalaman tentang industri pertanian yang sesungguhnya. 3. Dapat ikut berperan dalam peningkatan dan pengembangan profesionalisme mutu kurikulum pendidikan perguruan tinggi b. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam dunia industri c. Bagi Perguruan Tinggi a. Mengenal lebih dalam tentang kajian ilmu dalam Program Studi Teknologi Industri Pertanian. Bagi Perusahaan a. Fakultas Teknologi Pertanian. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas Jl. Tel (021) 8252502 3 . Universitas Gadjah Mada. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Raya Puncak Km. Sebagai bahan evaluasi dalam peningkatan mutu kurikulum pendidikan b.4 Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktek Waktu : 25 Februari . Kesempatan untuk memperdalam ilmu dan memahami profesi dalam kenyataan 2.25 Maret 2010 Tempat : PT. 87 Kotak Pos 6 Cisarua P. Penyiapan tenaga kerja terdidik yang diharapkan nantinya setelah lulus dapat bekerja dengan baik apabila mahasiswa tersebut bekerja pada perusahaan atau industri yang bersangkutan karena telah mengenal profil perusahaan dan sistem dalam industri c.

Sedang kepengurusannya diserahkan pada PT. Maka dari itu PT. Awal mula perkebunan ini didirikan oleh sebuah perusahaan dari Prancis pada tahun 1910 yang merupakan gabungan dari dua perusahaan Perkebunan yaitu Goenoeng Mas Francoise Nederlandeise de Culture Etde Commerce dengan NV Cultur My Zuid. Perkebunan Nusantara VIII yang berlokasi di Desa Tugu. Cisarua. Perkebunan Gunung Mas berada di bawah Manajemen PTP. van Kerchem pada tahun 1954 yang berkantor pusat di Bandung. Nusantara VIII yang berkantor pusat di jalan 4 . Sejarah Pendirian Perusahaan Perkebunan Gunung Mas merupakan bagian dari perkebunan perkebunan pada lingkup wilayah PT. PTP XII. Perkebunan Nusantara VIII yang merupakan gabungan dari PTP XI. Gede Bagja dan dimasukkan dalam lingkungan baru Kesatuan Jabar II. Pengelolaan perkebunan ini selanjutnya dialihkan pada perusahaan Belanda yang bernama NV. Tiedemen E. Perkebunan XII (persero) pada tanggal 1 Agustus 1971. PT. Atas instruksi pemerintah pada tanggal 15 Desember 1962. Perkebunan XII diubah menjadi PT. Baru pada tahun 1958 perusahaan ini dinasionalisasikan oleh pemerintah Republik Indonesia dan dimasukkan dalam lingkungan PPN (Perusahaan Perkebunan Negara). Gede Bagja yang berlokasi di Bogor. Kemudian pada tahun 1963-1964 terjadi reorganisasi daerah kerja sehingga Perkebunan Gunung Mas dimasukkan ke dalam PPN Aneka Tanaman VII yang kemudian diubah statusnya dari PNP VII yang kemudian berubah lagi menjadi PT.BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2. maka Perkebunan Gunung Mas diambil alih kepengurusannya dari PT. Nusantara VIII meliputi wilayah Propinsi Jawa Barat dan Banten. Perkebunan ini merupakan peninggalan pada masa kolonialis Belanda. dan PTP XIII. Kemudian pada tanggal 11 Maret 1996.1. Untuk selanjutnya PTP. Kabupaten Bogor.

Memperluas lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya dan meningkatkan taraf hidup karyawan perkebunan pada khususnya. c.2. diantaranya berupa pemeliharaan/ penambahan lapangan kerja bagi warga negara RI. yaitu menciptakan BUMN Perkebunan yang tangguh dalam bidang agribisnis dan agroindustri yang memuaskan stake holder ( Customer. khususnya menjaga kelestarian. Menghasilkan devisa bagi negara dengan cara yang seefisien mungkin. mencegah kehancuran dan meningkatkan kesuburan tanah serta sumber mata air. Tujuan ini menjadi landasan kerja bagi Departemen Pertanian dan Dirjen Perkebunan serta sejalan dengan Tri Dharma Perkebunan: a. 2. b. visi PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun GUNUNG MAS. c. Memelihara kekayaan alam berupa pemeliharaan dan peningkatan kesuburan tanah dan tanaman. maka Perkebunan Gunung Mas ditetapkan sebagai objek wisata yang berbasiskan perusahaan perkebunan. pemilik saham dan karyawan ) serta berwawasan akan lingkungan. Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan bidang pertanian/ perkebunan bagi pendapatan nasional yang diperoleh dari hasil produksi dan pemasaran beberapa komoditi/ produksi untuk keperluan ekspor dan konsumsi dalam negri. 503/SK005/Diparda/0691. 5 . Gunung Mas merupakan salah satu kebun PTPN VIII yang memiliki tujuan sama dengan kebun PTPN VIII lainnya. 4 Bandung. b. Memenuhi fungsi sosial. Namun visi dan misi yang diemban berbeda. Tujuan didirikannya PT Perkebunan Nusantara VIII yaitu: a. Alasan Kritis Pendirian Perusahaan PT Perkebunan Nusantara VIII merupakan perseroan terbatas yang terdiri dari beberapa kebun.Sindangsirna No. Berdasarkan Surat Izin Usaha Kepariwisataan No. Memelihara kekayaan alam.

bantuan kepada ekonomi lemah dan Koperasi. antara lain pengelolaan Wisata Agro.3 Deskripsi Geografis dan Administratif Perkebunan Gunung Mas ini terletak pada ketinggian 800 sampai 1200 meter diatas permukaan laut dan pada dua kecamatan. Iklim di PT.61 Ha terdiri dari emplasmen.Misi PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun GUNUNG MAS yaitu: 1. 2. Agent Of Development (Wahana Pembangunan) 3. b. Sedangkan suhu rata – rata harian berkisar antara 140C sampai 280C dengan kelembaban relatif udara sekitar 70%.65 Ha yang terdiri dari tanaman pokok teh seluas 681.62 Ha dan sisanya seluas 9681. Memenuhi fungsi sosial.42 Ha. Sebagai Badan Usaha Milik Negara mempunyai Misi : a. Menghasilkan Devisa maupun Rupiah bagi Negara dengan cara seefisien – efisiennya. yang diantaranya berupa pemeliharaan / penambahan lapangan pekerjaan bagi warga negara Indonesia. Perkebunan ini berjarak sekitar 80 km dari Ibu Kota Jakarta atau sekitar 90 km dari Kota Bandung. yaitu kecamatan Cisarua dan Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. sarana sosial. sumber dan tata air serta tanamannya. Perkebunan Nusantara Gunung Mas ini termasuk iklim sedang dengan curah hujan cukup tinggi sepanjang tahun. Memelihara kekayaan alam berupa pemeliharaan dan peningkatan kesuburan tanah. dan hutan yang semuanya merupakan kawasan hutan lindung dan kawasan penyagga bagi tata air daerah sungai Ciliwung. Pengabdian kepada Masyarakat (Pembinaan Ekonomi Lemah) Dalam hal ini perusahaan telah melaksanakan peningkatan kesejahteraan tidak hanya terbatas bagi karyawan saja akan tetapi juga masyarakat disekitarnya. 2. tanaman kina 53. antara 2500 hingga 4000 meter per tahun. Perkebunan Gunung Mas memiliki luas area sekitar 1. c.703. 6 .

Penggunaan jalur ini disesuaikan dengan jumlah bahan baku yang tersedia sehingga produksi menjadi lebih efisien dalam hal penggunaan bahan bakar pada mesin pengeringan. penggilingan dan fermentasi. jika menggunakan 1 line maka pengisian selang 3 monorail sedangkan jika menggunakan 2 line maka pengisian selang 2 monorail. Penggunaan jalur kerja ini juga berpengaruh dalam efisiensi pengisian monorail pada proses pemindahan bahan dari ruang pelayuan ke ruang penggilingan. 7 . Tahapan-tahapan yang digunakan dalam pengolahan teh hitam CTC di PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas antara lain : penerimaan bahan baku. Dengan demikian prosesnya berjalan lebih gampang daripada sistem ortodoks yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia. sortasi dan pengepakan. Jika bahan baku pucuk basah lebih dari 10 ton maka akan digunakan 2 line sedangkan jika hanya tersedia kurang dari 10 ton maka akan digunakan 1 line. Semua tahap tersebut saling berhubungan dan menjadi faktor penentu kualitas produk yang dihasilkan.BAB III PROSES PRODUKSI DAN PRODUK Proses produksi di PT. sedangkan pada proses ini menjaga suhu serta dalam pengecilan ukuran juga lebih diperhatikan untuk mendapatkan cita rasa yang ditetapkan. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dibagi menjadi 2 jalur (2 line) kerja yaitu line A dan line B. Pengolahan teh hitam di PTP. Nusantara VIII Gunung Mas telah menggunakan sistem CTC (Crushing Tearing Curling) yang telah menggunakan mesin-mesin dalam setiap prosesnya. semakin lama teh hitam dipanaskan pada penggilingan maka aroma yang dihasilkan kan mengalami penurunan. pembeberan. pengeringan. pelayuan. Penggunaan metode ini lebih dipilih karena dapat memperkuat cita rasa dari the hitam tersebut.

8 .1.00 untuk periode I dan jam 14. yaitu berat pucuk yang diterima oleh pabrik. Selisih berat bruto dengan tarra adalah berat netto. dilengkapi dengan pintu angin dibagian ujung untuk mengatur hembusan angin sehingga kadar air dalam pucuk teh berkurang. Setelah truk sampai di pabrik. pertama kali dilakukan penimbangan dengan mesin Avery Hidraulic yang berkapasitas 20 ton. lalu separuh bagian bawah berupa kolong untuk menghembuskan angin.1. Penerimaan Bahan Baku Pucuk Pucuk-pucuk daun teh yang telah dipetik diangkut dari kebun menuju ke pabrik dengan menggunakan truk. Sebelum diangkut. Berat yanjg diperoleh merupakan berat bruto.3.00 – 11. bentuk dari WT berupa bak dengan separuh kedalamannya untuk memuat pucuk teh. sehingga diperoleh berat tarra. Withering Through (WT) adalah bak untuk membeber dan melayukan pucuk teh segar. Penyimpangan hasil penimbangan yang dilakukan di kebun dan di pabrik tidak boleh lebih dari 1%. Truk kembali ditimbang setelah pucuk diturunkan.1. Setelah selesai ditimbang selanjutnya pucuk-pucuk daun teh segar akan dibawa ke tempat pembeberan. Pucuk-pucuk daun tersebut diangkut dari truk ke tempat pembeberan Withering Trough (WT) dengan menggunakan monorail dimulai dari ujung yang berlawanan dengan arah fan dimana Thermometer Dry–Wet telah terpasang pada WT untuk mengetahui selisih udara kering dan basah.1. pucuk-pucuk daun tersebut ditimbang terlebih dahulu di kebun.2. Proses Pembeberan Pucuk-pucuk daun teh segar selanjutnya diturunkan dari truk untuk dibeberkan pada ruang pelayuan. Terdapat dua periode penimbangan dalam sehari yaitu jam 10. Pembeberan ini bertujuan untuk memecahkan gumpalan pucuk teh supaya memudahkan sirkulasi udara.00 – 15. Penimbangan dilakukan dengan menimbang truk beserta seluruh isinya. Tujuan utama dari penimbanagan ini adalah sebagai pengecekan ulang atas hasil penimbangan yang dilakukan di kebun.00 pada periode II. Penimbangan ini juga termasuk berat truk besarta isinya yang kemudian juga dihitung berat pucuk tehnya saja. 3. PROSES PRODUKSI 3.

daun tua dan daun rusak dipisah-pisahkan.Bersamaan dengan proses pembeberan dilakukan proses analisis petik dan analisis pucuk. Pada daun jenis ini selanjutnya akan dilakukan analisis pucuk. Daun muda adalah petikan dengan rumus peko plus satu. dua atau tiga daun muda (p+1m. Daun tua merupakan petikan dengan rumus p+4 atau p+5.1 Monorail 9 . Analisis ini dilakukan dengan cara mengambil sampel dari WT secara acak sebanyak 100 gr dari setiap mandor petik. Gambar 3. dengan demikian maka daun ke-4 dan ke-5 akan dimasukkan dalam kelompok tua yang diproduksi menjadi teh kualitas second grade. Analisis pucuk medium merupakan jumlah prosentase dari daun muda tersebut. p+2m dan p+3m) serta burung plus 1 daun muda (b+1m). Daun muda. Proses ini bertujuan untuk mengetahui syarat minimal pucuk medium yang di Gunung Mas berkisar antara 66-70 % dan juga merupakan ketentuan besarnya upah para pemetik. Analisis pucuk yang digunakan pada Perkebunan Gunung Mas adalah analisis pucuk medium.

Udara kering yang diperoleh dari fan akan dialirkan pada bagian bawah WT. Kadar air akhir yang didapatkan dari proses ini berkisar antara 68-74 %. pelayuan juga bertujuan untuk memberi kesempatan senyawa-senyawa yang terdapat pada daun teh secara kimiawi menjadi senyawa-senyawa baru penentu kualitas terutama Inner quality. Hal ini bertujuan untuk menguapkan air yang terkandung di dalam pucuk teh. Pembalikan dilakukan dengan cara membalik daun lemas yang berada di bawah untuk diganti daun yang lebih segar di atasnya. maka perlu dilayukan terlebih dahulu.1.Gambar 3. Proses pelayuan ini berlangsung antara 14-18 jam. Pada kurun waktu tersebut dilakukan pula proses pembalikan sebanyak 1–2 kali. Pembalikan dilakukan ketika kondisi pada permukaan helai pucuk tidak terdapat air dan pada bagian bawah beberan telah melemas. Hasil pengujian tersebut kemudian dicatat dalam buku pelayuan. Pengujian kadar air pucuk daun dilakukan dengan mengambil sampel pucuk yang telah mengalami pembalikan sebanyak 1 kg yang diukur menggunakan alat ukur Sartorius. Selain itu. Pada saat akan diadakan 10 . Proses Pelayuan Sebelum pucuk-pucuk daun teh turun giling.3.2 Withering Through (WT) 3. Kegiatan pelayuan ini dilakukan setelah pucuk daun dibeberkan pada WT. Proses pelayuan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air pucuk segar dan untuk memudahkan proses penggilingan serta fermentasi.

akan dilakukan 11 . dan belakang WT untuk dianalisis kadar airnya. Untuk mengatasinya.pembalikan. tengah. Kelembaban relatif 70 % 3.7 oC 4.1. warna pucuk teh menjadi hijau tua agak kekuning-kuningan. Penanganan Setelah pucuk layu. Proses Penggilingan Penggilingan merupakan proses penghancuran pucuk teh layu menjadi partikel yang lebih kecil. maka proses pelayuan akan terganggu karena naiknya kelembaban udara. Suhu udara lingkungan kurang lebih 20o C 2. maka semua pintu ataupun fan yang berhubungan dengan udara luar akan ditutup dan proses pelayuan tersebut akan dibantu dengan menggunakan alliran udara panas dari Heat Exchanger sehingga kelembabannya akan menurun. Suhu udara pelayuan 26. pintu aliran udara di bawah WT dibuka terlebih dahulu. Pada musim penghujan atau ketika kabut turun. Dari pucuk yang layu inilah akan diambil sampelnya sebanyak 10 gram dari depan. Sebelum masuk ke mesin penggilingan. Proses Penggilingan Dan Fermentasi 3. Beberapa faktor yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pelayuan antara lain : 1. tangkai lentur dan lemas serta akan terasa lembut dan dingin apabila digenggam. Hal ini bertujuan untuk mengurangi aliran udara ke atas supaya lebih memudahkan proses pembalikan. Pembalikan ini bertujuan untuk memperoleh kelayuan yang seragam pada satu WT.1. Keadaan dan jenis pucuk 5. 3.1. maka akan dilakukan turun giling. Pucuk tersebut akan dimasukkan ke dalam keranjang yang kemudian diangkut ke penggilingan dengan menggunakan monorail. Pucuk dapat disebut ‘layu’ apabila sudah mencapai kadar air yang sesuai. Apabila kelayuan pucuk daun belum memenuhi standar yang dikehendaki maka akan dilakukan pemballikan lagi.4.4.

12 . Di sini akan dipisahkan barang-barang yang tidak diperlukan yang ikut terangkut sampai WT. Pada mesin ini. Gambar 3.proses sortasi bahan baku terlebih dahulu. Setelah bersih. pucuk layu akan diayak sehingga terpisah dari materi-materi yang tidak diingikan seperti ulat dan kerikil. pucuk daun akan masuk ke mesin Barbora Leaf Conditioner (BLC). Setelah itu pucuk layu dimasukkan ke mesin Green Leaf Shifter.3 Green Leaf Shifter (GLS) Di mesin ini akan diadakan sortasi bahan baku yang ke-dua. Di sini pucuk layu akan dipecah-pecah dengan ukuran kasar (1 cm) dengan temperatur keluarannya sebesar 25– 26 oC. Sortasi yang pertama dilakukan ketika penurunan pucuk layu dari monorail yang dilakukan oleh dua orang karyawan atau lebih.

5 Mesin Triple CTC 13 .Gambar 3.4 Barbora Leaf Conditioner (BLC) Kemudian masuk ke mesin Triple Crushing Tearing Curling (CTC) melalui conveyor yang diratakan terlebih dahulu dengan roll conditioning (roll tambahan). CTC II dan CTC III berukuran 10 TPI. Yang membedakan tiga mesin CTC tersebut adalah ukuran gigi dan celah antar pasangan roll-nya. dan CTC III. Hasil gilingan yang keluar dari mesin ini sudah berupa butiran halus. CTC II : 27–34 oC. Tearing (penyobekan). Kriteria hasil giling yang baik adalah berbentuk butiran-butiran hancuran daun teh yang sesuai dengan rancangan fungsional mesin giling yaitu Crushing (pemotongan). CTC II. dan CTC III : 26-36 oC. Pada mesin CTC bubuk teh basah akan digiling melalui tiga tahapan yaitu : CTC I. Temperatur yang keluar dari CTC I berkisar antara 28–32 o C. Gambar 3. Pada CTC I berukuran 8 TPI (Teeth per Inchi). dan Curling (penggulungan).

Suhu ruangan harus dijaga berkisar antara 19–26 oC. temperatur bubuk awal 27–32 oC. Dalam proses ini bubuk teh akan berubah warna mulai dari hijau segar berubah menjadi kekuning-kuningan kemudian terakhir berwarna coklat. temperatur bubuk tengah 26–28 oC. Fermentasi merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk menjadikan teh yang telah digiling tersebut lebih mempunyai cita rasa yang diinginkan dalam kondisi yang terkendali sehingga diperoleh hasil standar serta bebas kontaminasi.4.3. kecepatan FU 80–100 menit.1.2. Gambar 3. Proses Fermentasi Butiran-butiran halus tersebut untuk selanjutnya masuk ke Fermenting Unit (FU) untuk proses fermentasi yang diratakan terlebih dahulu dengan spreader. ketebalan bubuk di FU 6–10 cm. Tujuan lain dari proses ini adalah untuk mengendalikan reaksi oksidasi enzimatis dalam bubuk teh sehingga diperoleh sifatsifat yang khas yang diinginkan pada teh kering atau sebagai penentu kualitas teh kering.6 Fermenting Unit 14 . dan temperatur bubuk akhir 25–27 oC. Proses ini menghasilkan substansi theaflavin dan thearubigin yang menentukan sifat air seduhan antara lain : strength. colour infuse. dan briskness. RH 90-95 %. rasa) dan juga outer quality (warna air. Cita rasa disini mencakup pada inner quality (aroma. appearance) dari bubuk teh tersebut.

Pengeringan yang terlalu lama akan menyebabakan bubuk menjadi rapuh. FBD dipanaskan terlebih dahulu selama 10–20 menit dengan menggunakan udara panas. Untuk mengetahui tingkat kematangan bubuk teh yang keluar dari FBD maka perlu dilakukan uji inderawi (dilihat. Gambar 3.5. dicium) dan non inderawi (dengan alat).5 %. membunuh mikroba dan supaya produk dapat tahan lebih lama.7 Fluidisize Bed Dryer (FBD) Panas yang dihasilkan dalam HE berasal dari pembakaran IDO (Internat Diesel Oil) dengan tekanan sebesar 11-12. cepat bau. Bubuk yang tercecer dan masih memenuhi syarat akan diproses kembali sesuai warna bubuk. Pengeringan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan lama pengeringan karena akan sangat mempengaruhi kualitas produk. Pengeringan Pengeringan merupakan sebuah proses pengurangan kadar air dari bubuk teh yang bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi enzimatis. Sedangkan ceceran bubuk yang tidak memenuhi syarat akan dikumpulkan dan dapat digunakan sebagai pupuk.1.5-3.3. Sebelum digunakan untuk mengeringkan. dan berkualitas rendah. Alat yang digunakan dalam proses ini adalah Fluidisize Bed Dryer (FBD) dengan sumber panas yang berasal dari Heat exchanger (HE) yang disalurkan melalui multi turbuler heat. Proses ini berlangsung selama 13–18 menit dengan suhu inlet 110–120 oC dan suhu outletnya 80–105 oC sedang kadar air dari bubuk teh kering harus sebesar 2. diraba. 15 . Kemudian bubuk teh dari FU dimasukkan dengan memberi tanda girik.5 bar.

Sortasi Setelah melewati proses pengeringan dan lolos uji mutu maka proses selanjutnya adalah sortasi. bagian yang berwarna hitam dari daun dan yang berwarna coklat dari batang (serat).8 Middle Tone Bagian yang kasar masuk ke mesin crusher (B) dan bagian yang halus masuk ke mesin Vibro Blank (A).6. Gambar 3.1. Vibro Blank digunakan untuk memisahkan daun dan serat. Temperatur pada ruang sortasi berkisar antara 20–25 o C dengan RH 50-60 % yang bertujuan supaya tidak terjadi penurunan mutu bubuk teh kering karena sifatnya yang mudah menyerap air (higroskopsis). ukuran partikel. Proses ini bertujuan untuk memisah-misahkan jenis teh yang dihasilkan berdasarkan bentuk. 3. berat jenis dan kandungan serat sehingga diperoleh partikel bubuk teh yang seragam sesuai dengan standar yang diinginkan pasar. warna. Pada proses sortasi teh hitam CTC terdapat 2 jalur besar yaitu jalur A (halus) dan B (kasar).Sebaliknya jika waktunya kurang berakibat produk akan berpenampakan kurang baik serta tidak tahan lama. 16 . Bubuk teh dari pengeringan masuk ke middle tone untuk memisahkan teh kasar dan halus. Hal ini bertujuan untuk memproses ulang teh yang tidak memenuhi syarat mutu pada jalur A dan diulang pada jalur B.

Gambar 3.Gambar 3. mesh 22 dan 24 jenis BP. Corong sebelah kiri digunakan untuk keluaran bubuk yang menempel pada roll sedangkan corong pada sisi kanan digunakan untuk keluaran bubuk teh yang telah terpisah berdasarkan ukuran mesh. mesh 12 jenis BP 1. Teh yang lolos mesh 16 dan 18 masuk jenis PF. Untuk bubuk yang tidak lolos mesh akan diproses ulang pada jalur B. Pada mesin Vibro Mesh terdapat 6 corong keluaran kanan dan kiri. Setelah itu masing-masing jenis teh dimasukkan ke mesin chota sifter conveyor untuk meratakan ukuran teh.9 Vibro Blank Bagian yang lolos kemudian masuk ke dalam Vibro Mesh yang berfungsi untuk memisahkan daun dan serat serta jenisnya. dan mesh 30 jenis Dust.10 Chota Sifter Conveyor 17 .

Gambar 3. Untuk proses pemisahan teh berdasarkan berat jenis dan debu maka teh akan dimasukkan ke dalam mesin suction winower. Teh kemudian dimasukkan ke mesin Vibreak untuk memastikan teh bersih dari serat setelah keluar dari suction winower. mesh 16 dan 18 pengulangan PF.11 Suction Winower Pada mesin ini terdapat 4 keluaran bubuk teh. pintu 1 dan 2 berukuran berat. mesh 24 pengulangan BP.12 Tea Bin 18 . dan mesh 30 pengulangan dust. Setelah itu teh ditimbang kemudian disimpan pada tea bin (peti miring) sampai mencukupi untuk pengepakan. Gambar 3.Teh yang lolos dari mesh 12 untuk pengulangan BP. pintu 3 dan 4 berukuran ringan.

7. mencegah kontaminasi. Pengepakan merupakan proses akhir dari produk sebelum dilepas ke pasaran. Pengepakan Proses selanjutnya dari pembuatan teh hitam CTC adalah pengepakan.Pada proses sortasi dilakukan uji mutu inner dan outer quality. 19 . Cara pengujian inner quality sama dengan pengujian pada proses pengeringan sedangkan pengujian outer quality merupakan pengujian kenampakan ampas seduhan dan kenampakan teh jadi. penyimpanan. 3. Pengepakan mempunyai tujuan untuk melindungi produk dari kerusakan. Teh tersebut akan dipak apabila telah mencukupi untuk dibuat satu chop untuk ekspor dan satu KB untuk lokal yang terdiri atas 20 papersack/bag. memudahkan transportasi. Selain itu Tea Bulker juga berfungsi sebagai tempat pengaduk teh kering dan untuk mem-blend apabila teh yang akan dipak berasal dari kebun lain.1. kemasan dalam jumlah tertentu dan pemasaran. dan menghindarkan produk dari pengaruh lingkungan yang dapat menurunkan kualitasnya. Tea bulker merupakan suatu tempat penyimpanan sementara sebelum dilakukan proses pengepakan. Teh yang akan dipak pertama-tama dikeluarkan dari peti miring melalui conveyor ke tea bulker. Tea Bulker terdiri atas 8 segmen di dalamnya yang berkapasitas tampung maksimal 3 ton.

Gambar 3.13 Tea Bulker Proses pengepakan dilakukan bertahap per jenis teh yang dimulai dari partikel teh yang halus.7 kg yang terbuat dari bahan bahan kertas berlapis alumunium foil. Pengayaan ini bertujuan untuk menyeragamkan butiran yang lolos dari sortasi. Kemudian bubuk teh tersebut dipak dalam sebuah papersack seberat 0. Bubuk teh kering tersebut dipak sambil ditimbang dan kemudian dipadatkan dengan menggunakan tea sack packer yang bekerja dengan menggunakan prinsip getaran selama 15 detik. Pelapisan tersebut bertujuan untuk menjaga kestabilan kadar air dalam teh kering. Teh yang akan dipak dikeluarkan dari tea bulker melalui corong pengeluaran yang kemudian masuk ke pengayaan. 20 .

Kapasitas paper sack atau bags berbeda untuk setiap jenis teh.Gambar 3.14 Tea Sack Packer Setelah itu kembali dipadatkan lagi dengan dimasukkan ke dalam mesin bag shaver sehingga didapat ketebalannya sekitar 20 cm yang kemudian disusun berdasarkan jenis dan chop-nya.15 Bag Shaver Ketinggian maksimum dari susunan tersebut adalah 220 cm untuk papersack dan 188 cm untuk bag. Setelah semuanya selesai maka pada kemasan teh tersebut kemudian ditempeli label status inspeksi yang sudah diparaf oleh Sinder Pabrik. Gambar 3. Pada setiap pengambilan satu papersack dilakukan pengambilan sampel bubuk teh pada 21 .

dan bagian atas untuk digunakan sebagai sampel bubuk yang akan dijual Tabel 3.1 Standar Mutu Isi Paper Sack atau Bags Teh Hitam Jenis teh Isi kemasan tiap sack atau bags (kg) BP1 PF PD D1 Fanning D2 Fngs BM Pluff 48 53 56 60 52 60 50 50 40 20 20 20 20 20 20 40 40 30 Jumlah sack atau bags tiap chop Sumber PTPN VIII Gunung Mas 3. PD ( Peko Dust ). D1 ( Dust 1). Mutu III (third grade). Mutu II (second grade). Tingkatan mutu teh hitam yang dihasilkan dapat ditulis sebagai berikut : 1. Spesifikasi Produk Pabrik Teh Gunung Mas menghasilkan tiga tingkatan mutu teh yang masingmasing tingkatan mutu terdiri atas beberapa grade. yaitu: BM2. dan F ( Fanning ) 2. PF I ( Peko Fanning I ). tengah.pengisian bagian bawah. Mutu I (first grade). dan FNGS 3.2. dan Pluff 22 . yaitu: BP I ( Broken Peko I ). yaitu: D2 ( Dust II ).

kecil Kehitamankecoklatan sampai kemerahan Sedikit sampai banyak 6 D2 sangat kecil. pendek.2 Jenis Teh dan Spesifikasinya No Jenis teh Bentuk/ tekstur partikel Mutu I 1 BP I Partikel pendek bulat Kehitaman tidak ada Warna Serat 2 PF I Pendek terpilin. agak keriting Kehitaman tidak ada 3 PD Agak bulat sampai bulat Kehitaman sampai kecoklatan Kehitaman Sedikit sampai tidak ada Sedikit sampai tidak ada 4 D1 Berukuran kecil agak bulat sampai bulat 5 Fanning pipih.tulang daun Kemerahan Sangat banyak Sumber PTPN VIII Gunung Mas 2009 23 .agak bulat Kemerahan Lebih banyak daripada D 1 7 FNGS Kebulatan agak pipih Kehitamankecoklatan sampai kemerahan Sedikit sampai banyak 8 BM 2 Bentuk dan ukuran beragam Kehitamankecoklatan sampai kemerahan Banyak 9 Pluff Terdiri dari seratserat.Tabel 3.

produk antara dan hasil akhir sehingga kualitas dari suatu produk sesuai dengan yang diharapkan. Fisika Meliputi karat.3. 3. salmonella. logam. jamur dan sebagainya. 3. jaminan keamanan produk bersih dan higienis (GMP/Good Manufacturing Praktis) serta jaminan keamanan produk bebas dari kontaminasi fisika. stempel dan sebagainya. dan biologi (HACCP/Hazard Analysis Critical Control Point). Pada PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas telah mendapatkan sertifikat jaminan dari ISO (International Standar Organitation) tentang sistem manajemen mutu produk. oli.3 Sistem Pengendalian Mutu Produk Pengendalian mutu merupakan penguasaan terhadap faktor-faktor mutu sehingga yang diinginkan dari suatu produk dapat tercapai. Sertifikat ISO dan HACCP cenderung mengarah pada mutu produk sedangkan GMP pada kebersihan dan sanitasi alat serta ruangan. Kebijakan Mutu Pabrik Teh Gunung Mas adalah sebagai berikut : Pabrik Teh Hitam CTC Gunung Mas berkomitmen untuk : 1. kayu. 2. kimia. Maka dari itu pelaksanaan pengendalian mutu secara umum harus disesuaikan dengan GMP Plan maupun HACCP Plan. menjamin kepuasan pelanggan dan keinginan pasar. melakukan perbaikan berkelanjutan dengan didukung sumber daya manusia yang profesional. Kimia Meliputi pestisida. Melalui penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2002. 2. 24 . Pengendalian mutu dilakukan pada bahan dasar. Pada HACCP terdapat 3 critical control point yang harus dipenuhi yaitu berupa jaminan produk bebas kontaminasi secara: 1. kaca dan sebagainya. Biologi Meliputi bakteri. Menghasilkan produk sesuai standar dan higienis.

Pengaturan gilir petik. keadaan baik 25 .1. dilihat dari pucuk medium yang diperoleh dari pemetikan 3.3. Pucuk teh Bahan baku yang dikatakan rusak jika daunnya sobek. Analisis pucuk petik adalah penilaian hasil petikan dari Analisis pucuk suatu kebun pada saat tertentu melalui uji sampel sebesar 66 % sebelum melalui proses pengolahan. Analisis pucuk sebesar 56 % bertujuan untuk memperkirakan hasil olahan atau untuk Bahan baku yang memperkirakan presentase teh mutu I yang akan baik.Secara garis besar terdapat tiga macam pengendalian mutu yang dilakukan pada proses pengolahan teh hitam CTC pada PT Perkebunan VIII Gunung Mas yaitu 3. Pengendalian mutu pada bahan dasar atau bahan baku Pengendalian Mutu Sasaran mutu 1. memar dan diproses dalam terperam yang dapat menurunkan mutu teh. Analisis petik bertujuan untuk mengetahui kualitas pemetik dan standar petikan pada hari tersebut 2. Analisis petik adalah analisis atau penilaian yang Analisis petik dilakukan setelah sortasi analisis petik. Pemeriksaan tingkat kerusakan pucuk. Kualitas pucuk terjaga 4. dihasilkan.

sungkup magnet trap green dhool test Tidak ada rasa asing (tainted). warna air dan ampas seduhan tidak mentah dan tidak terlalu matang (dull) 26 . uji kerataan layuan Manual dan visual e. Exhaus fan fan. pengaturan suhu dan kelembaban ruangan b. inner dan outer quality Humidifire. kontaminasi Manual dan visual Min 90% Min 2oC Tidak ada kontaminasi 19-26oC/ 90-98% Max 27oC Tidak ada kontaminasi Metode/ alat Sprayer pada atap Standar mutu 14-26oC/ 80-95% Proses Pelayuan Penggilingan dan Oksidasi Enzimatis a. penghilangan kontaminasi fisik (logam) d. pengaturan suhu dan kelembaban ruangan b.3.3. pengaturan suhu bubuk c.2 Pengendalian Mutu Selama Proses Pengendalian mutu a.

27 .tidak ada bau asing Sortasi a.chop. pengaturan suhu dan kelembaban ruangan d.5 % Tidak ada kontaminasi e. diremas dan dicium Tidak terlalu kering dan tidak mentah.5-4. jenis.5% Lihat tabel (terlampir) Pengepakan a. uji kadar air c. penghilangan kontaminasi fisik d. pengaturan suhu inletoutlet b. penghilangan kontaminasi fisik c. penghilangan serat dan batang b. inner dan outer quality Roll magnet Tidak ada magnet trap Tidak ada 20-25oC/ 50-60% Exhaus fan Uji organoleptik e. uji densitas Sartorius Tea densimeter 3. inner dan outer quality Uji organoleptik Sartorius Magnet trap Main dumper Inlet = 100-120oC Outlet = 80-105oC 2. kemasan magnet trap Tidak ada bag shaver 20 cm kelengkapan No.Tabel 3.3 Proses Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi Pengeringan a.5-3. uji inderawi Diraba. ketebalan kemasan papersack c.3. penghilangan kontaminasi fisik b. uji kadar air f.

bubuk 28 . bruto. dan cap gunung mas.3 Proses Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi (lanjutan) nomor urut (1-20). Kebersihan (tulang daun. Pengendalian mutu yang dilakukan pada produk akhir adalah dengan cara uji organoleptik. kemudian didiamkan selama 5 menit. pengaturan suhu dan kelembaban ruangan Exhaus fan 20-25oC/ 50-60% Sumber PTPN VIII Gunung Mas 2009 3.3. Setelah itu dituangkan dalam mangkok yang bersih dengan ampas tertinggal dalam cangkir. warna. jumlah dan keadaan b. meliputi: warna air. Bentuk dan ukuran partikel c. Outter test Penilaian dilakukan secara visual sesuai dengan jenis mutunya yang meliputi: a. d. yang terdiri dari 2 tahapan yaitu : 1.3. tangkai.Tabel 3. adan ukuran.2 Pengendalian mutu produk akhir. Pengujian dilakukan dengan menimbang 5 gram bubuk teh kering kemudian diseduh dengan air panas dalam cangkir volume 280 ml untuk cangkir kecil dan 300 ml untuk cangkir besar. dan benda asing lain) Penilaian dilakukan dengan mengambil sejumlah teh kering dan disebarkan secara merata di atas alas berwarna putih untuk melihat bentuk. Untuk melihat kerataan ukuran. kekuatan rasa dan aroma. netto. Inner test yang dilakukan pada air seduhan teh (liquor). Warna bubuk. 2.

29 .tersebut disebarkan tipis. Teh yang baik harus mengandung sesedikit mungkin tulang daun. dan tidak mengandung benda asing. serat.

Pemilik Saham. Visi tersebut kemudian di Implementasikan. 30 . sebagai berikut : 1. 1. Perusahaan sebagai suatu Organisasi memilki Visi dan Misi yang harus dicapai agar perusahaan tersebut dapat terus berjalan. Karyawan dan Masyarakat Sekitar) serta peduli akan lingkungan. khususnya di Sub Sektor Perkebunan dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan skema ini memperlihatkan hubungan formal antara fungsi serta orangorang yang bertanggung jawab atas fungsi tersebut. M i s i. Sebagai tercantum dalam Tri Dharma Perkebunan. Manfaat dari skema organisasi antara lain : 1. Sebagai peringatan bagi para pegawai tentang siapa atasan mereka. Menunjukkan hubungan kerja di dalam perusahaan. Agro Industri dan Agro Wisata untuk memuaskan Stake Holder (antara lain : Pelanggan. 4. Sebagai sarana training dan pedoman dalam rencana perluasan usaha. Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan Program Pemerintah dibidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional pada umumnya. 2. 2.BAB IV ORGANISASI PERUSAHAAN 4.1 Struktur Organisasi Setiap perusahaan pada umumnya mempunyai satu skema organisasi yang jelas. V i s i. yaitu : a. Memperlihatkan garis / saluran wewenang langsung dan dapat diketahui siapa yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi. PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas memiliki Visi untuk Perusahaan Perkebunan yang tangguh dalam Bidang Agribisnis. Menghasilkan Devisa maupun Rupiah bagi Negara dengan cara yang efisien. 3.

Pabrik Teh Gunung Mas dipimpin oleh seorang Administratur yang bertangung jawab langsung kepada Direksi PTPN VIII di Bandung. Mabes panen dibantu oleh mandor panen sedangkan mabes rawat dibantu oleh mandor herbisida. Sinder Teknik. 31 . c. Setiap sinder afdeling dibantu oleh JTU kepala dan dua mandor besar (mabes) yaitu mabes panen dan mabes rawat.b. d. Bertangung jawab atas segala sesuatu dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan perusahaan. diantaranya berupa penyediaan atau penambahan lapangan kerja bagi Warga Negara Indonesia. Pengabdian kepada masyarakat (Pembinaan Ekonomi Lemah dan Koperasi). Dalam menjalankan dan mengelola perusahaan sehari-hari. Sinder Tata Usaha Keuangan (TUK) dan Sinder Wisata Agro. Sinder kepala dibantu oleh sinder afdeling. b. Menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perkebunan yang merupakan penjabaran dari RKAP. Memenuhi fungsi sosial. 2. Bertugas memimpin dan secara kreatif mengembangkan pelaksanaan kebijaksanaan rencana kerja (RKAP) yang telah disahkan direksi. Administratur dibantu oleh Sinder Kepala. sumber air dan tanamannya. Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) perkebunan yang dipimpinnya paling sedikit satu tahun periode. Memelihara kekayaan Alam berupa memelihara dan peningkatan kesuburan tanah. penyiangan dan pangkas. Sebagai Agent Of Development (Wahana Pembangunan). Administratur a. Sinder Pabrik. Berikut adalah kewajiban dan wewenang dari masing-masing staff : 1. c. 3. Sinder Afdeling.

Melaksanakan penanganan produk akhir Direksi. kendaraan. Menyelenggarakan administrasi teknik secara efisien sesuai dengan kebijakan yang berlaku. b. Sinder Kepala a. listrik dan bangunan. Merencanakan kebutuhan dan melakukan perawatan mesin pengolahan. 4. Sinder Teknik a. Menyelenggarakan administrasi produksi pengolahan sesuai kebijaksanaan Administratur. sedangkan masing-masing sinder afdeling dibantu oleh mandor besar afdeling. kendaraan. sesuai dengan kebijaksanaan Administratur 32 . Bertanggung jawab terhadap pengelolaan kebun untuk menghasilkan bahan dasar pucuk teh yang baik untuk diolah. listrik dan bangunan. Menyelenggarakan pekerjaan yang berhubungan dengan bagian mesin. Sinder kepala dibantu oleh sinder dari tiap-tiap afdeling dan 1 orang TU Tanaman. 2. c. c. 3. b.e. Administratur atas nama pembantu Direksi bertindak untuk dan atas nama Direksi sepanjang menyangkut keperluan perkebunan dan dalam batas kewenangannya. Seorang sinder pabrik dibantu oleh dua orang mandor besar. Dapat berperan sebagai wakil Administratur apabila berhalangan. e. Menetapkan kebijakan pada setiap tahap proses pengolahan. Sinder Pabrik a. Melaksanakan pengolahan bahan mentah dari perkebunan sampai hasil akhir dengan pedoman RKAP c. b. d. yaitu mandor besar basah dan mandor besar kering.

b. Sinder Wisata Agro Sinder Wisata Agro bertugas melaksanakan kebijaksanaan Administratur dalam bidang pariwisata perkebunan. Menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan gudang.5. tenaga kerja harian tetap. c. tenaga kerja bulanan. keuangan dan gudang sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Staff adalah tenaga kerja yang masuk ke dalam struktur organisasi perusahaan. yaitu staff. Karena itulah maka suasana kerja di perkebunan Gunung Mas sangat penuh nuansa kekeluargaan. d.2 Ketenaga Kerjaan Sebagian besar tenaga kerja yang bekerja di Gunung Mas memiliki hubungan keluarga antara satu dengan yang lainnya. Tenaga kerja di perkebunan Gunung Mas dibedakan menjadi 5 (lima) kategori. Sinder Tata Usaha Keuangan (TUK) a. Tenaga kerja bulanan adalah tenaga kerja yang memiliki ikatan kerja dalam jangka waktu bulanan saja. Mengontrol dan melaksanakan ketertiban administrasi setiap bagian organisasi pabrik. Mengkoordinasi kegiatan yang bersifat umum. Tenaga kerja harian tetap adalah tenaga kerja yang telah bekerja selama 6 bulan secara terus menerus setelah mendapat pengakuan dari 33 . Sinder Afdeling Sinder afdeling bertugas melaksanakan dan mengelola perkebunan seharihari. Berkewajiban menyelenggarakan dan menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan tata usaha. dan tenaga kerja honorer. 8. 7. 6. personalia. Mandor besar Mandor besar mengkoordinasikan mandor (kecil) dibawahnya sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing serta bertanggung jawab kepada sinder masingmasing bidangnya. 4. tenaga kerja lepas (musiman).

Tenaga honorer adalah tenaga kerja yang penghasilannya berupa honor dari tugas apa yang telah dikerjakannya. Berikut ini merupakan komposisi tenaga kerja pada PTPN VIII Perkebunan Gunung Mas (sampai dengan 31 Desember 2007): 1. Karyawan unsur pimpinan Karyawan golongan IB-IID Karyawan golongan IA Tenaga kerja harian tetap : 11 orang : 121 orang : 620 orang : 247 orang Tenaga kerja lepas (musiman) : 122 orang Jumlah : 1121 orang 34 .administratur. 2. 5. 3. Tenaga kerja harian lepas adalah tenaga kerja tenaga kerja yang hanya bekerja jika perkebunan kekurangan tenaga kerja. 4.

1. Berfungsi untuk mempermudah pengangkutan pucuk dari truk ke WT dan pengangkutan pucuk dari WT ke tempat turun giling dengan penggerak berupa elektromotor. c) Heat exchanger (HE). penyimpanan dan pengepakan 5. Dari dasar WT akan dihembuskan udara segar dari blower untuk melayukan pucuk teh basah. b) Withering trough. Mesin dan Peralatan proses pembeberan dan pelayuan a) Monorail. Heat Exchanger berfungsi untuk memperoleh udara panas yang akan disalurkan ke Withering Through jika udara luar memiliki suhu  260C atau selisih db/wb < 20C. Satu unit monorail terdiri dari 66 kursi dan dapat menampung beban setiap kursinya sampai seberat 50 kg. Berfungsi sebagai tempat penghamparan pucuk selama proses pelayuan. Alat dan mesin yang digunakan dalam pengolahan teh hitam CTC di Pabrik Teh Gunung Mas meliputi : alat dan mesin proses pelayuan. 35 . Monorail berjumlah 1 unit dengan kapasitas 1650 kg dan panjang lintasan sepanjang 225 meter. fermentasi.1.1. Alat ini berjumlah 25 unit dengan kapasitas mesin berbeda-beda untuk tiap-tiap spesifikasi. sortasi. Mesin dan Peralatan Produksi Penggunaan teknologi berupa penyediaan alat dan mesin pengolahan yang lengkap menjadi bagian yang sangat penting dalam menghasilkan teh hitam bermuitu tinggi. pengeringan.BAB V SARANA DAN PRASARANA PRODUKSI 5. penggilingan.

5.1.2. Mesin dan Peralatan proses penggilingan dan oksidasi enzimatis a) Green Leaf Shifter (GLS). Mesin ini berfungsi untuk memisahkan partikelpartikel asing pada pucuk teh , misal : ulat, pasir, kerikil, rambut, besi, dll yang dapat menyebabkan kerusakan pada mesin CTC. b) Barbora Leaf Conditioner (BLC). Mesin ini berfungsi untuk memperkecil ukuran pucuk teh dan mememarkan pucuk sehingga lebih mudah untuk diproses pada mesin triple CTC. c) Triple CTC Machines. Mesin ini sesuai namanya berfungsi untuk menghancurkan, merobek dan menggulung daun teh dengan mnggunakan prinsip putaran roda gigi. Mesin ini berjumlah 2 unit d) Fermenting unit (FU). Mesin ini berfungsi sebagai tempat berlangsungnya reaksi enzimatis yang menentukan karakteristik bubuk teh yang akan

dihasilkan. Kecepatan FU disesuaikan dengan hasil green dhool test dan kadar air pucuk segar. 5.1.3. Mesin dan Peralatan proses pengeringan a) Fluidisize Bed Drier (FBD). Mesin ini berfungsi untuk menghentikan proses fermentasi dan menurunkan kadar air sampai sekitar 2,5-3,5 % dengan menggunakan panas yang disalurkan oleh HE serta dilengkapi oleh cooling fan untuk mendinginkan suhu bubuk teh dan mengeluarkan bubuk teh, thermostat untuk mengatur suhu di dalam FBD, oscillator untuk meratakan dan mendorong bubuk teh ke depan. b) Heat Exchanger (HE). Mesin ini berfungsi sebagai sumber panas untuk keperluan pengeringan. 5.1.4. Mesin dan Peralatan proses sortasi a) Midleton digunakan untuk memisahkan bubuk teh kering berdasarkan ukurannya. Pada midleton terdapat dua ayakan, bagian atas (mesh 10) dan bagian bawah (bubble mesh) berdiameter 7 dan 5 mm

36

b) Vibro Fiber Extractor Blank. Berfungsi untuk memisahkan partikel teh kering dengan mengangkat serat partikel teh yang berat jenisnya sangat ringan dengan bantuan magnetic trap yang berjumlah 6 buah. c) Fibro Vibro Extractor Mesh. Berfungsi untuk memisahkan teh kering dari serat-serat dan memisahkan teh kering berdasarkan atas ukuran partikelnya. d) Chota shifter berfungsi untuk memisahkan partikel berdasarkan

ukurannya.untuk menyeragamkan ukuran tiap jenis teh konstruksinya berbentuk lima tingkat ayakan. e) Suction winower. Berfungsi untuk memisahkan teh kering yang sejenis berdasarkan berat jenis partikelnya dengan menggunakan prinsip penghisapan menggunakan exhaust fan, dengan konstruksinya yang terdiri atas empat ruangan untuk memisahkan bubuk teh yang sejenis dengan berat jenis yang berbeda. f) Exhaust fan berfungsi untuk menghisap debu dan kotoran serta membuangnya ke luar ruangan. 5.1.5. Mesin dan Peralatan proses pengepakan a) Lift berfungsi untuk mempermudah pengangkatan teh saat akan dimasukkan ke peti miring (tea bin) dengan muatan maksimal 500 kg dan kecepatan 12 detik. b) Peti miring (tea bins) berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum proses pengepakan dilakukan. Ada tiga jenis tea bin yaitu : besar (volume 8,84 m3), sedang (volume 5,30 m3), kecil (volume 3,54 m3) c) Tea Bulker berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sekaligus tempat untuk mencampur teh kering yang berasal dari peti yang berbeda, pada tea bulker terdapat 8 seksi dengan corong terbuka sehingga tiap seksi dapat terisi. d) Tea Packer berfungsi untuk menyakurkan bubuk teh kering dari tea bulker ke dalam paper sack, ujung mesin ini berbentuk corong yang dapat dihubungkan langsung dengan papersack sehingga bubuk tidak tercecer.

37

e) Tea Sack Packer berfungsi untuk memadatkan teh dalam papersack. Proses pemadatan ini dengan cara menekan kemasan sehingga rata menggunakan besi beban yang merupakan komponen Tea Sack Packer. f) Bag Shaver berfungsi mengatur ketebalan paper sack setebal 20 cm. g) Exhaust fan yang berfungsi untuk menghisap debu dan kotoran, kemudian membuangnya ke luar ruangan. 5.2. Tata Letak dan Efisiensi Produksi Pengaturan tata letak mesin dan peralatan industri pabrik teh hitam CTC Gunung Mas pada dasarnya adalah process layout karena tiap-tiap alat yang digunakan pada operasi yang sama dikelompokkan pada suatu tempat, tetapi karena produk yang dihasilkan pada proses produksi ini melewati proses yang sama maka tata letak pabriknya juga dapat dikatakan product layout. Tata letak bangunan PTP Nusantara VIII Gunung Mas dibagi menjadi dua yaitu pabrik dan kantor. Bangunan pabrik terdiri dari 2 lantai, pada lantai pertama terdiri atas ruang produksi dan etalase, lantai kedua terdiri dari kantor dan ruang produksi. Pada lantai satu terdapat 4 ruang produksi yaitu ruang penggilingan dan oksidasi enzimatis, pengeringan, sortasi dan pengepakan. Sedangkan lantai 2 terdiri atas ruang pelayuan dan kantor pabrik. Tata letak pabrik Gunung Mas dilihat dari alur proses produksi dapat dikatakan sangat baik karena sudah sesuai dengan urutan proses produksi, selain itu karakteristik tiap stasiun kerja juga sudah diperhatikan dengan baik misalnya : pada stasiun pengeringan ruangan dibuat tertutup supaya uap air dari udara luar tidak masuk, lalu stasiun kerja penggilingan di buat tidak berdekatan dengan stasiun sortasi karena stasiun penggilingan bersifat basah dan stasiun sortasi bersifat kering sehingga kedua stasiun tersebut tidak boleh berdekatan karena ditakutkan akan merusak bubuk teh kering yang bersifat higroskopis. Tetapi pengaturan tata letak gunung mas juga masih terdapat beberapa kelemahan misalnya kelengkapan fasilitas di pabrik Gunung Mas yang amat tidak memadai hal ini bisa dilihat dari jumlah wastafel yang hanya ada 1 buah di dekat
38

masker. 5. tutup kepala. lantai langit-langit.2. Sanitasi dan Hygiene Perusahaan Penerapan sanitasi di PT Perkebunan Nusantara VIII pabrik Gunung Mas berdasarkan ketentuan dalam GMP PLAN. Sanitasi dan Hygiene Bangunan dan Fasilitas Bagian-bagian dari bangunan yang menjadi sasaran pelaksanaan sanitasi adalah dinding. b) Sikap kerja (hygiene) karyawan yaitu meliputi peraturan untuk selalu mencuci tangan setiap masuk ke area proses dan larangan untuk merokok. hal ini dapat dilihat dengan banyaknya ruangan kosong di pabrik gunung mas dan biasanya digunakan untuk menyimpan produk sebelum dikirim dan letaknya terpencar-pencar. 5.3.3.3. Semua kelengkapan kerja harus dicuci sesuai jadwal pencucian untuk masing-masing jenis kelengkapan. dengan aturan sebagai berikut: a) Kelengkapan kerja karyawan dibagian pengolahan yaitu: baju kerja. efesiensi ruang yang kurang diperhatikan.1. Penanggungjawab program sanitasi ini adalah mandor QC GMP yang dibantu oleh mandor kebersihan dan petugas kebersihan sebagai pelaksana harian dan diawasi langsung oleh sinder pabrik. Sanitasi dan Hygiene Karyawan Penerapan sanitasi lingkup karyawan yaitu meliputi kelengkapan pakaian kerja dan sikap kerja selama proses produksi. Penerapan sanitasi di PT Perkebunan Nusantara VIII pabrik Gunung Mas meliputi: 5. sekitar 5 meter dari pabrik dan hanya berjumlah 1 buah. dan penggunanan parfum yang berbau tajam di area proses. jumlah pintu darurat yang hanya terdapat satu buah selain pintu utama dan akses menuju pintu tersebut terhalang alat. Sedangkan untuk fasilitas 39 . minum. 2 hari sekali untuk baju kerja dan tutup kepala. Pada stasiun sortasi letak alat menyulitkan pekerja untuk mengawasi alat karena tidak ada akses langsung ke gang yang berada di antara 2 line. makan. yaitu: setiap haari untuk masker dan sarung tangan. sarung tangan dan alas kaki. dan ventilasi.pintu masuk pabrik dan kamar mandi yang letaknya jauh. seminggu sekali untuk alas kaki.

memasang perangkap tikus dan memasang perangkap serangga (insect killer) didepan pintu utama pabrik. dan ventilasi dilakukan seminggu sekali sedangkan untuk lantai dilakukan setiap hari baik selama proses ataupun setelah proses produksi selesai dengan menggunakan sapu.3. pemantauan ini dilakukan setiap hari dengan mengisi lembar monitor untuk setiap ruang produksi. kompresor dan disinfektan yaitu air kaporit. pengecualian untuk mesin berukuran besar kegiatan sanitasi dilakukan seminggu sekali. Sanitasi untuk dinding. fasilitas air bersih dan fasilitas pengendalian hama dan serangga. tahan karat. saluran pembuangan yang terdapat di area proses produksi harus menggunakan penutup.penunjang sanitasi terdapat wastafel lengkap dengan disinfektan. tahan air dan tahan terhadap bahan kimia. dan seluruh peralatan harus terbuat dari bahan yang halus. sapu. Metode pembersihan menggunakan lap. kompressor dan disinfectan berupa kaporit. Pelaksanaan sanitasi dalam GMP PLAN juga meliputi Pemantauan GMP yaitu pemantauan pelaksanaan sanitasi oleh mandor QC GMP. 5. Sanitasi dan Hygiene Mesin dan Peralatan Sanitasi untuk mesin dan peralatan meliputi kegiatan pembersihan dan ketentuan umum tentang bahan dari mesin dan peralatan yang digunakan.toilet. atap dan langit-langit. Kegiatan sanitasi mesin dan peralatan dilakukan setiap hari setelah proses produksi selesai. Untuk pengendalian hama dan serangga dilakukan dengan memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Ketentuan umum untuk mesin dan peralatan yang ditetapkan perusahaan yaitu: mengenai bahan/ komponen penyusun mesin dan peralatan tidak menggunakan bahan kayu dan kaca atau jika mesin terbuat dari kayu harus dilapisi dengan bahan tidak berbahaya dan kedap air. Ketentuan untuk konstuksi bangunan harus terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan berwarna terang. 40 .3. mesin dan peralatan yang mengalami kontak langsung dengan produk tidak boleh dicat.

limbah pabrik Gunung Mas terdiri dari limbah cair.1 Jenis Limbah Yang Dihasilkan Jenis Limbah Cair Padat Asal Limbah Air sisa pembersihan Bubuk teh Penanganan Limbah Mengalirkan ke selokan yang Dikumpulkan lalu tercecer. untuk penanganan limbah di gunung mas disesuiaikan dengan jenis limbah. padat dan gas.5.4.debu Gas Heat exchanger dijadikan pupuk di kebun Dikeluarkan cerobong asap melalui Sumber PTPN VIII Gunung Mas VIII 2009 41 . Limbah dan penanganannya Limbah yang di hasilkan dari pabrik Gunung Mas relatif tidak terlalu berbahaya sehingga proses penanganannya cukup sederhana. Tabel 5.

6. kemudian kantor direksi akan mengirim sampel ke calon pembeli yang terdaftar. dan Kenya.1 SISTEM PEMASARAN 6.1. Pabrik mengirim sampel chop ke kantor direksi PTPN. Perkebunan Nusantara. dan persaingan yang sedemikian ketat dari pesaing-pesaing lain maka dibutuhkan usaha pemasaran yang baik untuk dapat terus mempertahankan konsumen.1. untuk mengantisipasi hal tersebut pabrik Gunung Mas dan pabrik-pabrik teh lain yang masih termasuk dlam PTPN menggunakan sistem pemasaran yang seragam auction (lelang) untuk sebagian besar produknya dan sistem free sale untuk sisanya. kemudian produk teh akan dikirim ke alamat pembeli. karena dengan pemasaran yang baik maka barang yang diproduksi oleh perusahaan akan diterima oleh pasar.BAB VI DISTRIBUSI DAN PEMASARAN PRODUK Dalam suatu perusahaan pemasaran memegang peranan yang sangat penting. Lelang dilakukan setiap hari Rabu yang bertempat di kantor Pemasaran Bersama Jakarta. yaitu sekitar 85 % dari total produksi teh hitam Indonesia Dengan potensi sedemikian besar. Produk yang dipasarkan dengan cara ini yaitu berjumlah 90% dari produk yang dihasilkan. dan mendapat keuntungan dari penjualan produk. Srilanka. Untuk mencapai tujuan pemasaran maka perlu diterapkan konsep pemasaran yang berorientasi pada konsumen. 42 . Kepuasaan konsumen menjadi sasaran utama pemasaran perusahaan Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pengekspor teh hitam disamping negara-negara lain di dunia seperti : India. Produksi teh hitam Indonesia sebagian besar berasal dari PT. Pemasaran Dengan Cara Auction Auction (lelang) adalah sistem Pemasaran dengan sistem lelang dari sampel produk. Data pembeli akan dikirim ke Pabrik.

setelah india dan kenya selain itu pansa pasar Indonesia untuk komoditi teh ini sangat besar. harga (price). perusahaan harus menerapkan prinsip pemasaran marketing mix yang terkenal dengan sebutan 4P yaitu produk (product). sehingga cara pemasaran komoditi teh dengan cara lelang akan lebih menguntungkan bagi indonesia. product Jenis produk teh hitam yang diproduksi di PTP Nusantara VIII Gunung Mas berdasarkan ketersediaan bahan baku pucuk segar dari kebun yang ada pada hari itu. tempat (place) dan promosi (promotion). Sistem lelang ini diberlakukan karena melihat kondisi Indonesia yang merupakan negara pengekspor teh terbesar ke-tiga di dunia. 43 . yaitu : 1. selain itu dengan sistem lelang ini akan lebih mempermudah pendataan karena setiap barang yang akan dilelang harus melalui kantor pemasaran bersama dan hal tersebut juga mempermudah konsumen untuk mendapatkan barang yang diinginkannya. namun mayoritas terdiri dari perusahaan luar negri. 2.Peserta lelang ini berlaku untuk perusahaan luar negri dan lokal. yang kemudian akan dilakukan negosiasi harga. Untuk menghadapi persaingan pasar. price Penjualan komoditi teh dengan cara auction. Sehingga banyaknya jenis mutu produk teh yang akan dihasilkan dapat diketahui setelah proses penyortiran pucuk dilakukan. Namun sebelumnya pihak kantor direksi PTPN memberikan tawaran harga dasar berdasarkan keadaan pasar dan kualitas teh yang dihasilkan.adalah salah satu kekuatan dalam penentuan harga karena pada dasarnya dengan sistem ini pembeli dengan harga yang paling menguntungkan produsen lah yang akan mendapatkan produk yang diinginkan. Dengan menerapkan kebijakan lelang ini pemerintah berniat untuk melindungi harga komoditi teh agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat bagi masing-masing unit PTPN yang menghasilkan teh.

Terutama dalam sistem auction ini apabila suatu konsumen sudah menjadi konsumen yang loyal maka ia memiliki kecenderungan untuk membeli produk dari produsen dengan harga yang tinggi dan itu akan meningkatkan harga dasar yang dapat diterapkan oleh perusahaan PTPN. Pemasaran Dengan Cara Free sale Pemasaran sistem ini yaitu dengan cara penjualan langsung ke pelanggan di kantor direksi.2. place Target utama penjualan produk yaitu untuk kebutuhan ekspor. 44 . kemudian produk teh akan dikirim ke alamat pembeli oleh pihak Gunung Mas. Penjualan ini berlaku untuk perusahaan luar negri dan domestik.3. 6. 4. karena dengan pelayanan konsumen yang baik maka konsumen akan menjadi semakin loyal terhadap produk yang dihasilkan oleh suatu produsen dalam hal ini adalah PTPN sehingga dengan adanya konsumen yang loyal maka perusahaan akan sangat diuntungkan. promotion Promosi dilakukan dengan cara mengirimkan sampel chop teh ke pelanggan yang terdaftar. namun hal itu juga harus diikuti dengan pelayanan konsumen yang baik misalnya dengan menjamin mutu teh yang ada pada chop sampel yang dikirim sebagai contoh sesuai dengan apa yang didapatkan konsumen. ini dikarenakan produk PTPN telah memiliki pelanggan tetap yang jumlahnya banyak sehingga produk untuk kebutuhan domestik sangat sedikit.1. jika terjadi kecocokan harga antara pelanggan dengan pihak PTP Nusantara VIII maka penjualan dapat dilakukan. Sistem penjualan teh dengan cara auction memang tampaknya cukup baik untuk diterapkan karena akan lebih menguntungkan dengan kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas. Data pembeli akan dikirim ke Gunung Mas.

1.BAB VII TUGAS KHUSUS ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PENGOLAHAN TEH HITAM DENGAN METODE MARVIN E. Pemiliha faktor tenaga kerja ini dilakukan karena dalam suatu industri pekerja merupakan salah satu faktor penentu produktivitas perusahaan dan tenaga kerja 45 .1 Pendahuluan 7. Dalam proses ini diperlukan bebagai sumber daya pendukung yang mencukupi agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Pengukuran produktivitas yang dilakukan oleh management terhadap kinerja pekerja dapat mengetahui perubahan produktivitas baik maupun turun. MUNDEL PT PERKEBUNAN NUSANTARA GUNUNG MAS 7. serta dapat menjaga saat produktivitas meningkat. Pengawasan yang dilakukan terhadap produktivitas juga dapat mencegah kerugian perusahaan atau dapat mengetahui tindakan yang diambil dalam mengatasi masalah yang timbul.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan agroindustri memiliki tujuan untuk membuat bahan baku mempunyai nilai tambah atau melakukan proses transformasi. Efisiensi serta efektifan suatu proses produksi dapat terlihat dari produktivitas yang dicapai oleh elemen sumber daya yang berpengaruh terhadap suatu proses produksi tersebut. Kinerja yang baik dari pekerja dapat meningkatkan produktivitas perusahaan apabila dilakukan secara terus menerus dan teratur disertai dengan pengawasan dari management yang maksimal. Indikasi yang dapat dilihat dari pencapaian hasil produksi ditentukan salah satunya oleh keefektifan dan keefesienan proses produksi proses produksi itu sendiri.

serta dilihat perkembangan produktivitas tenaga kerja selama periode pengukuran dan usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dimasa yang akan datang.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang akan diteliti adalah masalah produktivitas tenaga kerja yang ada dibagian pengolahan teh hitam (produksi) per bulan. Produktivitas yang akan dibahas mengenai perubahan yang terjadi tiap periode berdasarkan data jumlah produksi dan jumlah tenaga kerja dengan menggunakan metode Marvin E. Tenaga kerja sangat berpengaruh dalam proses produksi yang dilakukan oleh sebuah industri. sehingga diperlukan daya saing yang maksimal.merupakan salah satu faktor yang menjadi naik turunnya perusahaan karena tenaga kerja ini lah yang menjadi faktor berjalannya produksi. terutama pada proses produksi yang bagian pengolahan bahan baku menjadi produk jadi dilakukan dengan cara manual ataupun semi otomatis bahkan jika dilakukan secara otomatis masih memerlukan tenaga kerja untuk pengontrol mesin yang beroperasi. Mundel dalam pengukuran indeks produktivitas perusahaan didasarkan pada kesederhanaan dan kemampuannya untuk mengambarkan tingkat produktivitas secara umum secara luas namun terbatas.1. Mundel. 7. serta hubungan pabrik sebagai pemakai jasa serta pekerja sebagai pemberi jasa untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk tetap baik. Selain faktor kemakmuran bagi warga disekitar dan para pekerja maupun pabrik yang berhubungan secara sosial depat berjalan dengan baik dapat menjaga lingkungan sekitar maupun lingkup secara nasional. Produktivitas harus mendapatkan perhatian karena menjaga persaingan produk sekarang tidak hanya berskala nasional maupun regional tetapi berskala internasional. sehingga dengan menggunakan metode ini dapat diketahui produktivitas pabrik. Penggunaan metode Marvin E. 46 .

7.7. Mengukur indeks produktivitas parsial tenaga kerja bagian pengolahan teh hitam (produksi) selama periode pengukuran. 47 . Jenis pengukuran produktivitas yang digunakan adalah produktivitas parsial tenaga kerja bagian produksi yaitu bagian pengolahan teh yang dinyatakan dalam indeks produktivitas. c.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah : a.1. Penelitian ini tidak memasukkan pertimbangan harga dan biaya. d. batasan masalah yang akan dianalisis adalah sebagai berikut : a. e.1. f. Perhitungan produktivitas dilakukan berdasarkan data perusahaan bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2009 dengan periode pengukuran setiap bulan. Perhitungan produktivitas berdasarkan angka indeks dengan menggunakan model Marvin E. b. Periode dasar yang digunakan dalam perhitungan indeks produktivitas adalah periode yang mempunyai nilai rasio mendekati rata-rata yang mendekati dengan kemampuan maupun kapasitas perusahaan. Mundel sebagai model sederhana untuk memperoleh gambaran umum produktivitas secara umum. Perhitungan tingkat produktivitas yang dilakukan menggunakan elemen output berupa jumlah produksi teh kering yang dihasilkan dalam satuan kilogram dengan elemen input berupa jumlah pekerja dalam satuan orang yang digunakan untuk menghasilkan output berupa teh kering selama periode pengukuran di bagian pengolahan teh hitam (produksi).3 Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang sudah dikemukakan.

. tetapi juga masukan yang dipakai.. Memberikan saran perbaikan jika hasil yang diperoleh menunjukkan adanya penurunan produktivitas. maka prestasi 48 .. 1982 ).... jika hanya kenaikan jumlah yang dihasilkan yang dilihat.. 7.. c... atau besaran hasil keluaran (output) dari masukkan (input) yang digunakan...b.. Perusahaan akan memperoleh informasi dalam bentuk bahasan. 7..... dan pengorganisasian perusahaan di masa mendatang... 1982)..1 Dari rumus diatas dapat dilihat bahwa yang diperhatikan bukan saja jumlah yang dihasilkan (output).. I... metode pengukuran produktivitas perusahaan dan saran-saran terhadap masalah yang berhubungan dengan perhitungan produktivitas untuk bagian pengolahan teh. Perusahaan dapat menilai dan mengevaluasi tingkat produktivitas yang telah dicapai sebagai dasar/masukan untuk perencanaan. Dalam arti sebenarnya produktivitas adalah rasio antara keluaran dan masukan yang biasanya dinyatakan dalam indeks (Bain....2 Dasar Teori Produktivitas merupakan rasio dari sejumlah output dan sejumlah input.. Atau biasa dipahami juga bahwa produktivitas adalah ukuran yang menunjukan perbandingan antara keluaran dan masukkan. Jadi dengan perkataan lain...1. mengidentifikasi penyebab terjadinya fluktuasi tingkat produktivitas.. 7.. pengendalian. b..5 Manfaat Penelitian Manfaat dari penulisan tugas khusus ini adalah : a. Melakukan analisis hasil yang diperoleh.P = KELUARAN YANG DIHASILKAN MASUKKAN YANG DIGUNAKAN .. Dengan arti sederhana produktivitas yaitu rasio antara keluaran dan masukan yang dinyatakan dalam indeks ( Menurut Bain. Pada dasarnya produktivitas merupakan ukuran yang menunjukkan perbandingan antara besar keluaran yang dihasilkan dari setiap satuan masukan yang digunakan....

2000) : a. dan lain-lain. Informasi. g. modal diklasifikasikan sebagai input tetap. informasi telah dipandang sebagai input. Dalam sistem produksi terdapat beberapa input baik variabel maupun tetap. Tenaga kerja (labor). Sistem produksi manufaktur membutuhkan lokasi (ruang) untuk mendirikan gudang. yang biasa disebut dengan produk. Input energi dapat diklasifikasikan sebagai input tetap atau input variabel tergantung pada apakah penggunaan energi itu tergantung atau tidak tergantung pada kuantitas produksi yang dihasilkan. diperlukan material atau bahan baku. sebagai berikut (Gaspersz. Output dari proses dalam sistem produksi dapat berbentuk barang dan/atau jasa. d. Merupakan bentuk intervensi manusia dan orang-orang yang terlibat dalam proses sistem produksi. Produktivitas dikatakan total adalah bila keluaran dan semua faktor masukan diperhitungkan. Input tenaga kerja dapat diklasifikasikan dalam input tetap dan variabel. c. Energi. Modal. Tanah. Agar sistem produksi dapat menghasilkan produk manufaktur. pabrik. Berbagai pengetahuan manajemen industri modern dianggap sebagai input manajerial. Pengukuran karakteristik output mengacu kepada kebutuhan atau keinginan pelanggan dalam pasar yang amat sangat kompetitif sekarang ini. Mesin-mesin produksi dan aktivitas pabrik lainnya membutuhkan energi untuk menjalankan aktivitas ini. Biasanya dalam periode jangka pendek. Manajerial.sebenarnya tidak akan nampak. karena tanpa memperhitungkan jumlah yang dipakai. e. b. Dalam sistem modern. Material diklasifikasikan sebagai input variabel. Dalam operasi sistem produksi membutuhkan modal. Material. f. 49 .

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa). selanjutnya dapat direncanakan kembali target produktivitas yang akan 50 . 2000) : a. Evaluasi produktivitas c. Peningkatan produktivitas Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya dipandang dari sisi output. (3) perencanaan produktivitas. Dari pengukuran yang dilakukan. Perencanaan produktivitas d.1 Siklus Produktivitas (Gaspersz. yaitu : (1) pengukuran produktivitas. yaitu (Gaspersz. 2000). Tahap 1: Pengukuran produktivitas Tahap 4: Peningkatan produktivitas Tahap 2: Evaluasi produktivitas Tahap 3: Perencanaan produktivitas Gambar 7. perusahaan dapat melakukan evaluasi dengan membandingkan hasil pengukuran dengan rencana. Sumanth (1984) memperkenalkan suatu konsep formal yang disebut sebagai siklus produktivitas (productivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan produktivitas terus-menerus.Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri atas empat tahap utama. (2) evaluasi produktivitas. Pengukuran produktivitas b. maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus. dan (4) peningkatan produktivitas. Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri dari empat tahap utama. Berdasarkan evaluasi tersebut. yaitu sisi input dan sisi output.

..2 IP = {(AOMP/AOBP)/(RIMP/RIBP)} X 100 ... mengukur tingkat perbaikan produktivitas dari waktu ke waktu. Pengukuran Produktivitas Suatu organisasi perusahaan perlu mengetahui pada tingkat produktivitas mana perusahaan itu beroperasi. 2. yaitu (Gazpers.3 dimana : IP = indeks produktivitas AOMP = output agregat untuk periode yang diukur AOBP = output agregat untuk periode dasar RIMP = input agregat untuk periode yang diukur 51 ..... Untuk mencapai target produktivitas yang telah direncanakan itu.. pada industri dengan pekerja intensif........dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 7.... agar dapat membandingkannya dengan produktivitas standar yang telah ditetapkan manajemen.. berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terus-menerus..... Penggunaan angka indeks produktivitas pada tingkat perusahaan berdasarkan dua bentuk pengukuran... Metode konvensional untuk menentukan produktivitas tenaga kerja adalah dengan pembobotan produk yang dihasilkan dengan waktu standar dan meringkas nilai bobot tersebut untuk memperoleh output total... 7....... dan membandingkan dengan produktivitas industri sejenis yang menghasilkan produk serupa..................... kemudian dibagi dengan total pekerja untuk mendapatkan indeks produktivitas pekerja............... produktivitas tenaga kerja merupakan suatu hal yang kritis.. Siklus produktivitas ini diulang kembali secara kontinu untuk mencapai peningkatan produktivitas terus-menrus dalam sistem industri.. 2000) : IP = {(AOMP/RIMP)/(AOBP/RIBP)} X 100 ....... Menurut Riggs (1987).

baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya agar dapat meningkatkan produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber daya itu. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan kompetitif berupa upaya peningkatan produktivitas terus-menerus. Nilai produktivitas hasil pengukuran menjadi informasi yang berguna dalam merencanakan tingkat keuntungan perusahaan. Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui pengukuran produktivitas. Strategi untuk meningkatan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan tingkat kesenjangan produktivitas antara produktivitas terencana dan produktivitas terukur. d. e. Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali berdasarkan pengukuran tingkat produktivitas sekarang. f. c. g. b. i. 2000) : a. Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi dalam mengevaluasi perkembangan dan efektivitas dari perbaikan terus-menerus yang dilakukan dalam perusahaan 52 .RIBP = input agregat untuk periode dasar Beberapa manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi perusahaan antara lain (Gaspersz. Pengukuran produktivitas terus-menerus akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk menentukan dan mengevaluasi kecenderungan perkembangan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu. j. Pengukuran produktivitas menjadi informasi produktivitas industri yang bermanfaat pada skala nasional maupun global. Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali dengan memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari sudut produktivitas. h.

2. Tenaga kerja merupakan sumber daya seperti modal atau bahan. 1999) : 1. Pengukuran produktivitas akan memberikan motivasi kepada orang-orang untuk secara terus-menerus melakukan perbaikan dan juga akan meningkatkan kepuasan kerja. Menurut Gasperz (2000) juga ada tiga macam tipe pengukuran produktivitas. 3. 1987) a) Investasi modal. Jumlah produksi yang sama atau meningkat dicapai dengan menggunakan sumber daya yang kurang. Peningkatan produktivitas dapat dilihat dari 3 bentuk (Triwijaya. Jumlah produksi meningkat dengan menggunakan sumber daya yang sama. Aktivitas perundingan bisnis secara kolektif dapat diselesaikan secara rasional.k. Evaluasi dan Peningkatan Produktivitas Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan pembaruan pandangan hidup dan kultural dengan sikap mental memuliakan kerja dan perluasan upaya meningkatkan mutu kehidupan masyarakat. Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengan sumber daya yang relatif lebih kecil. Maka pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja antara lain adalah (Walley. pertama yaitu produktivitas parsial merupakan perbandingan keluaran terhadap salah satu faktor masukan. Produktivitas ini menunjukkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam menghasilkan keluaran. dengan ukuran-ukuran produktivitas yang telah tersedia. contohnya produktivitas tenaga kerja. Dan yang ketiga yaitu produktivitas total yang merupakan perbandingan antara keluaran dengan jumlah seluruh faktor-faktor masukan. 53 . Produktivitasnya terikat pada penggunaan seluruh sumber daya dalam organisasi. l. Produktivitas tenaga kerja sering langsung sebanding dengan investasi modal. Keluaran bersih merupakan selisih antara output total dengan jumlah barang dan jasa yang dibeli. 3. Kedua yaitu produktivitas faktor total yang merupakan perbandingan antara keluaran bersih terhadap masukan tenaga kerja dan modal.

e) Pengendalian.3. c) Motivasi. Membuat multi produk dengan banyak penyetelan mesin akan mengurangi produktivitas tenaga kerja sampai di bawah yang terbaik. Objek yang diteliti adalah output berupa jumlah produksi teh kering yang dihasilkan dalam satuan kilogram dengan elemen input berupa jumlah pekerja di setiap bagian produksi dalam satuan orang yang digunakan untuk menghasilkan output berupa teh kering selama periode pengukuran. Nilai-nilai nasional dan skema perangsang lokal sering sama dampaknya terhadap produktivitas. Periode pengukuran yang dilakukan pada bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2009.1 Obyek Penelitian Penelitian tentang pengukuran produktivitas tenaga kerja ini dilakukan di bagian pengolahan teh hitam (produksi) berupa pengolahan daun teh menjadi teh kering di pabrik teh hitam PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas. 7. Provinsi Jawa Barat.3 Metodologi Penelitian 7. pencatatan kerja biasanya menjadi banyak disalahgunakan. berbagai macam pelanggaran disiplin. Data yang Diperlukan Data-data yang diperlukan dalam melakukan pengukuran produktivitas parsial tenaga kerja pada bagian pengolahan (produksi) adalah : 54 . Cisarua.b) Bauran produk. Tanpa pengendalian yang memadai terutama dari penyeliaan lokal yang bermotivasi tinggi.3. d) Perencanaan. Perencanaan produksi atau perencanaann operasional merupakan faktor pokok dalam menjamin adanya produktivitas tenaga kerja yang tinggi.2 Pengumpulan Data a. f) Organisasi kerja merupakan faktor kunci bagi terjaminnya persesuaian dari tingkat-tingkat produktivitas yang telah disepakati. Alat dan bahan yang digunakan adalah lembar pengamatan. 7.

2) Jumlah jam kerja pekerja selama periode pengukuran. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu : 1. buku penunjang kuliah terutama mengenai materi tentang produktivitas. 2. Selain itu data pendukung lainnya bisa juga didapatkan melalui literatur ataupun referensi lainnya yang berasal dari luar perusahaan seperti internet.3. operator. Pengamatan Lapangan Mengadakan pengamatan dan pengujian secara langsung di bagian pengolahan teh hitam PTP Nusantara VIII Gunung Mas atau melaksanakan sebagian pekerjaan sebagai pembanding. Metode Observasi Metode ini berusaha untuk melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala dan fakta yang dihadapi dan terjadi selama berada di lapangan. 7. Pengamatan dilakukan untuk menetapkan masalah serta tujuan dari penelitian.3 Kerangka Pemecahan Masalah Kerangka pemecahan masalah diawali dengan mengadakan pengamatan terhadap kondisi perusahaan. Studi Pustaka Mendapatkan data dan informasi yang mendukung penelitian yang berasal dari dokumen perusahaan serta buku-buku penunjang. Cara pengumpulan data a. 3) Jumlah pekerja bagian pengolahan selama periode pengukuran. karyawan atau petugas berwenang lainnya. 55 . Metode Survei Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada pembimbing. a.1) Jumlah produk teh kering yang dihasilkan selama periode pengukuran. b. Masalah yang diamati adalah efisiensi penggunaan input untuk menghasilkan output yang efektif. Data-data yang dikumpulkan dengan metode ini adalah data mengenai proses produksi dan segala hal yang mendukungnya.

Kerangka pemecahan masalah secara sederhana adalah sebagai berikut : Mulai Observasi Pendahuluan Observasi Pendahuluan Identifikasi Masalah Perumusan Masalah Penetapan Tujuan Studi Pustaka Konsep Pengukuran dan Analisa Hasil Produktivitas Penentuan Elemen untuk Pengukuran Tingkat Produktivitas . Analisis kuantitatif digunakan untuk melakukan perhitungan tingkat produktivitas dari data-data yang berwujud angka dengan pembahasannya menggunakan rumus yang ada.Wawancara -Data sekunder Pengolahan Data (Pengukuran Produktivitas dengan Metode Mundel) Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Kesimpulan Selesai Gambar 7.3.2. yaitu dengan 56 .Diagram Alir Penelitian 7.Output : Jumlah produksi (kg) .4 Analisis / Pengolahan Data Pengolahan data yang telah diperoleh dilakukan dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.Input : Jumlah jam kerja pekerja dan jumlah pekerja per bulan Pengumpulan Data -Pengamatan .

............ 7..... Perhitungan indeks produktivitas parsial Pada dasarnya perhitungan indeks produktivitas total maupun parsial menggunakan parameter yang hampir sama hanya berbeda pada input yang digunakan.......... menganalisis permasalahan sebagai penyebab penurunan produktivitas pada bagian produksi..menghitung rasio dari indeks produktivitas dengan menggunakan model Marvin E..4 b)...... Perhitungan produktivitas parsial Produktivitas parsial (PP) dalam penelitian ini yang dihitung adalah produktivitas parsial tenaga kerja yang kemudian dibandingkan produktivitas secara keseluruhan.... 7........ Mundel kemudian hasil perhitungan diplotkan ke dalam sebuah grafik indeks produktivitas sehingga lebih mudah menjelaskan hasil yang diperoleh...... 7. Cara untuk menghitung indeks produktivitas parsial (IPP) : IPP : PRODUKTIVITAS PARSIAL INPUT PERIODE PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS PARSIAL INPUT PERIODE DASAR ...5 c)... Analisis Penyebab Penurunan Produktivitas Melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi..4 Hasil dan Pembahasan Dalam proses menganalisis suatu masalah harus dilihat dari berbagai aspek tetapi juga harus memiliki batasan sehingga masalah yang akan dihadapai tidak 57 ...... a). Pemberian Saran-saran perbaikan produktivitas Hasil dari identifikasi permasalahan yang menyebabkan penurunan produktivitas dikaji lebih mendalam sebagai dasar untuk memberikan saran untuk usaha perbaikan yang mungkin menjadi jalan keluar bagi permasalahan tersebut dalam rangka peningkatan produktivitas.. d). Untuk melakukan perhitungan dapat digunakan rumus : PPI – n : TOTAL OUTPUT INPUT PARSIAL (MATERIAL /TK /ENERGI ) ........

Cop merupakan satuan yang digunakan untuk mengumpulkan sak teh.meluas. dengan output adalah hasil dari keseluruhan proses produksi pada periode yang akan dihitung. Untuk pengukuran produktivitas tenaga kerja pada bagian pengolahan teh hitam di Pabrik teh hitam PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas. Jawa Barat). Komponen output yang digunakan yaitu jumlah total teh kering yang dihasilkan perbulan. Analisis produktivitas sendiri membutuhkan elemen pendukung sebagai acuan untuk evaluasi akhir hasil suatu pekerjaan mengolah bahan baku menjadi produk jadi Komponen atau elemen yang dibutuhkan dalam menganalisis produktivitas yaitu output dan input. sedangkan komponen input yang digunakan yaitu jumlah total tenaga kerja dan jam kerja perbulan untuk tenaga kerja bagian produksi teh hitam.4. Mundel merupakan perbandingan antara output per input. Perbandingan output dalam periode pengukuran dapat dilihat didalam tabel. Output yang dihasilkan perbulan sangat berfluktuasi satu periode dengan yang lainnya.1 Output Dalam pengukuran produktivitas menggunakan metode Marvin E. Dengan diketahui berat tiap cop teh maka jumlah total hasil produksi teh yang digunakan sebagai output dalam satuan kilogram. Untuk pengamatan pada pabrik PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas hasil dari pengolahan teh berupa kemasan teh yang siap ekspor atau pun untuk produk lokal yang mempunyai berat tertentu sesuai dengan jenisnya. 7. Solusi yang diberikan dalam pembatasan tersebut dapat fokus untuk memperbaiki hal – hal tertentu yang kurang baik atau belum baik. 58 . yang tiap copnya terdiri dari 20 sak yang terdapat pada PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas (Bogor.

75 kg = 100222 kg = 26967 kg = periode dasar Jumlah produk teh kering terbesar terjadi pada periode April 2008 yaitu sebanyak 100222 kg teh kering.Tabel 7. untuk periode yang mendekati rata – 59 . sedangkan untuk periode yang mendekati rata – rata adalah periode November 2009 yaitu sebesar 68200 kg.1 Output Teh Kering Tahun Periode(bulan) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November(pd) Desember Hasil(kg) 69729 71197 62463 100222 91577 83831 81488 46190 79885 76233 81517 93441 71198 36923 91053 79199 74524 72816 56245 35965 26967 33304 68200 60331 Anggaran(kg) 92000 85000 94000 95800 90000 92000 92000 90000 98000 91000 95000 108000 98350 92200 90200 98000 92800 89600 78900 78000 84200 111400 117400 123000 2008 2009 Sumber PTPN VIII Gunung Mas 2009 Rata – rata Output maksimal Output minimal Keterangan (PD) = 68520. dan hasil terkecil yaitu pada periode september 2009 yaitu sebesar 26967 kg.

Data input selama periode pengukuran dapat dilihat dalam tabel. 7. Input tersebut ada banyak macamnya. Mundel nantinya diketahui mengapa naik turun jumlah produk teh kering yang dihasilkan dengan penyebab dari tenaga kerja bagian pengolahan (produksi) teh kering.2 Input Pada tiap proses produksi yang menghasilkan suatu produk pasti membutuhkan input karena input adalah komponen atau elemen dalam produk atau output. sedangkan dalam perhitungan produktivitas tenaga kerja di Pabrik the hitam PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas input yang digunakan berupa jumlah total tenaga kerja pada produksi the hitam dan jumlah total jam kerja per periode yang dipakai berupa perbulan. Dengan penggunaan metode Marvin E.rata dijadikan sebagai periode dasar dalam perhitungan karena saat kondisi mendekati rata – rata maka keadaan pabrik berupa input yang masuk (teh). yang didalamnya tidak ada jam lembur hanya penambahan tenaga kerja musiman saja untuk menyelsaikan pekerjaan.4. Input pertama yang digunakan yaitu total jam pekerja per bulan yaitu jumlah keseluruhan jam kerja yang dibutuhkan tenga kerja pada bagian produksi untuk menyelesaikan pekerjaan berupa mengolah the menjadi the kering yang dikemas. 60 . Digunakannya input tersebut dalam perhitungan yaitu untuk mengetahui efek tenaga kerja terhadap kuantitas produk yang dihasilkan apakah sudah sesuai dengan target yang ditetapkan perusahaan atau belum. peralatan produksi serta kecepatan produksi dalam kecepatan normal. Jadi dapat diketahui jumlah total jam kerja per bulan yaitu dengan cara mengetahi waktu kerja yang digunakan tiap harinya.

58 jam / bulan Input 1 maksimal = 4914 jam / bulan Input 1 minimal = 4368 jam / bulan 61 .Tabel 7.2 Input Jam Kerja Tahun Periode Jumlah Hari tenaga kerja / kerja/hari bulan Jam kerja/ hari Jam kerja per pekerja / bulan 7 189 7 175 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 182 182 189 175 189 189 182 189 182 189 175 168 182 182 182 182 189 182 182 175 175 189 Total jam kerja / bulan 4914 4550 4732 4732 4914 4550 4914 4914 4732 4914 4732 4914 4550 4368 4732 4732 4732 4732 4914 4732 4732 4550 4550 4914 Januari Februari Maret April Mei 2008 Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei 2009 Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 27 25 26 26 27 25 27 27 26 27 26 27 25 24 26 26 26 26 27 26 26 25 25 27 Sumber PTPN VIII Gunung Mas 2009 Rata – rata = 4739.

.6 Hasil perhitungan rasio produktivitas tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel Untuk mengetahui produktivitas perorangan dari pekerja........ 7......3 Perhitungan Rasio Produktivitas Tenaga Kerja Perhitungan rasio produktivitas tenaga kerja dilakukan dengan menggunakan rasio perbandingan output hasil produksi dan input tenaga kerja dengan persamaan sebagai berikut : Rasio produktivitas tenaga kerja : 𝐽𝑈𝑀𝐿𝐴𝐻 𝑃𝑅𝑂𝐷𝑈𝐾𝑆𝐼 (𝐾𝐺) 𝐽𝐴𝑀 𝐾𝐸𝑅𝐽𝐴 (𝐽𝐴𝑀 ) . maka dapat digunakan persamaan sebagai berikut : Rasio jumlah produktivitas tenaga kerja : 𝐽𝑈𝑀𝐿𝐴𝐻 𝑃𝑅𝑂𝐷𝑈 𝐾𝑆𝐼 (𝐾𝐺) 𝐽𝑈𝑀𝐿𝐴𝐻 𝑇𝐸𝑁𝐴𝐺𝐴 𝐾𝐸𝑅𝐽𝐴 (𝑂𝑅𝐴𝑁𝐺 ) ........................... 7......7 62 ........4....7.....................

921 22.371 12.438 11.751 16.189 15.919 7.881 14.231 8.209 21.400 63 .068 14.650 13.026 18.444 19.Hasil perhitungan rasio produktivitas jumlah tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel.273 12.624 12. Tabel 7.452 14.4 Rasio Tenaga Kerja Tahun Periode (bulan) Output (kg) 2008 2009 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 69729 71197 62463 100222 91577 83831 81488 46190 79885 76233 81517 93441 71198 36923 91053 79199 74524 72816 56245 35965 26967 33304 68200 60331 Total Jam Kerja / Bulan (jam) 4914 4725 4186 4550 4914 5425 5670 3591 4732 5103 5278 4914 4375 3024 4186 4732 5096 5642 5670 4550 3276 3850 5075 5292 Rasio Produktivitas Tenaga Kerja (kg/jam) 14.938 15.635 15.906 9.015 16.904 8.736 14.862 16.

.493 %/jam Perhitungan rasio produktivitas digunakan untuk mengetahui keefektifan pemakai input untuk menghasilkan output per periodenya. 7.. Perhitungan menggunakan metode Marvin E.4 Perhitungan Indeks Produktivitas Tenaga Kerja Perhitungan indeks produktivitas tenaga kerja dilakukan dengan menggunakan metode Marvin E... Dari perhitungan ini nantinya per periode diketahui kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah teh hingga menjadi teh yang dikemas sudah sesuai atau berlebih bahkan kurang.8 Perhitungan Indeks Produktivitas Tenaga Kerja memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran umum tingkat produktivitas selama waktu tertentu. Penggunaan faktor pengali sebesar 100 adalah untuk 64 .904 %/jam = 14.. Mundel mempunyai alasan karena kemampuannya dalam menggambarkan produktivitas secara umum dan secara luas tetapi terbatas.026 %/jam = 7.. 7. Dalam penelitian yang dilakukan yang dipilih sebagai waktu pengukuran dan sebagai penggambaran adalah periode 2008-2009.Rasio produktivitas tenaga kerja Rasio maksimal Rasio minimal Rata – rata = 22. Hal lain yang berpengaruh adalah faktor – faktor tenaga kerja itu sendiri...4. Kemudian hasil yang didapat dikali dengan faktor pengali sebesar 100. Hal tersebut juga berlaku untuk jam kerja normal yang diberikan oleh pabrik apakah sudah sesuai atau kurang dalam memenuhi untuk penyelesaian pekerjaan. Dari perhitungan yang dilakukan diketahui keefektifan dan keefesiensian kerja yang dilakukan selama periode pengukuran. Perhitungan yang dilakukan dengan cara membagi rasio produktivitas hari perhitungan dengan rasio produktivitas tenaga kerja periode dasar.. Mundel sebagai berikut : = 𝑅𝐴𝑆𝐼𝑂 𝑃𝑅𝑂𝐷𝑈𝐾𝑇𝐼𝑉𝐼𝑇𝐴𝑆 𝑇𝐸𝑁𝐴𝐺𝐴 𝐾𝐸𝑅𝐽𝐴 𝑃𝐸𝑅𝐼𝑂𝐷𝐸 𝑃𝐸𝑅𝐻𝐼𝑇𝑈𝑁𝐺𝐴𝑁 𝑅𝐴𝑆𝐼𝑂 𝑃𝑅𝑂𝐷𝑈𝐾𝑇𝐼𝑉𝐼𝑇𝐴𝑆 𝑇𝐸𝑁𝐴𝐺𝐴 𝐾𝐸𝑅𝐽𝐴 𝑃𝐸𝑅𝐼𝑂𝐷𝐸 𝐷𝐴𝑆𝐴𝑅 𝑋100 ..

memudahkan dalam melihat perubahan yang terjadi. Hasil perhitungan indeks produktivitas jam tenaga kerja pada bagian produksi teh hitam di Pabrik teh PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas selama periode 2008-2009 dapat diketahui pada tabel. Periode normal merupakan keadaan pabrik dengan bahan baku yang masuk kedalam pabrik sesuai dengan kapasitas pabrik tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit. 65 . Periode yang dipilih dalam pengamatan adalah periode bulan dengan data yang diperoleh dari bulan Januari 2008 hingga Desember 2009 atau selama 24 periode. Sehingga untuk periode dasar diambil kondisi rata – rata yaitu disesuaikan dengan kapasitas pabrik bahwa periode dasar sama dengan periode normal di pabrik.rata output yang dihasilkan selama periode pengukuran dan diasumsikan mempunyai tingkat ouput dan input normal. Dari hasil tersebut maka diperoleh dasar yaitu November 2009 yang mempunyai nilai output mendekati rata . hal ini sangat tergantung dengan jumlah teh yang masuk sebagai bahan baku. baik itu kenaikan maupun penurunan indeks produktivitas tenaga kerja karena kejelasannya lebih besar dan hal ini cukup untuk pengidentifikasian masalah yang terjadi. Output yang dihasilkan oleh pabrik berupa teh kering yang bervariasi setiap periodenya.

818 61.400 Indeks Produktivitas Perubahan IP Jam Tenaga Jam Kerja Tenaga Tenaga Kerja 105.834 5.444 19.369 100 84.881 14.621 111.631 0 -15.674 14.621 11.862 16.635 15.862 124.987 6.452 14.162 14.854 161.129 11.919 7.987 106.589 12.036 163.015 16.928 141.862 24.502 121.097 -9.097 90.938 15.589 112.826 -3.624 12.751 16.674 114.959 -26.5 Indeks Tenaga Kerja Tahun Periode (Bulan) Rasio Produktivitas Jam kerja Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 14.273 12.904 8.041 73.943 -4.182 -38.736 14.748 -35.068 14.166 2008 2009 66 .813 58.286 25.542 108.542 8.906 9.146 61.189 15.Tabel 7.129 111.826 96.036 63.231 8.162 114.187 -41.502 21.252 64.928 41.209 21.714 125.943 95.921 22.908 38.371 12.908 138.026 18.650 13.438 11.

Mundel dilakukan dengan cara membandingkan output dan input. Perhitungan dengan metode Marvin E. serta keefisiensi dan efektivitas pekerja. Rasio produktivitas tenaga kerja yang dihasilkan dari perhitungan data output dan input yang diperoleh akan digunakan sebagai acuan untuk mengetahui seberapa banyak setiap pekerja dapat menghasilkan kg teh kering maupun berapa banyak waktu yang digunakan untuk menghasilkan setiap kg teh kering. Dari rasio produktivitas pada periode dasar atau sebagai periode normal diketahui bahwa untuk 14.Keterangan tabel : Indeks produktivitas tenaga kerja Indeks maksimal Indeks minimal Rata – rata indeks = 163. sedangkan untuk inputnya menggunakan jumlah total jam kerja pekerja produksi perbulan dan jumlah total tenaga kerja bagian produksi teh per bulan.908 = 58.854 Perubahan indeks produktivitas tenaga kerja Indeks maksimal Indeks minimal Rata – rata indeks = 63. Sehingga dari perhitungan keseluruhan rasio produktivitas dapat diketahui bahwa proses pengolahan teh paling produktif pada periode April 2008 dan yang paling tidak efektif dan efisien adalah periode Agustus 2009.818 = 107.493%. Hal ini dapat terjadi 67 .493 %/jam bearti setiap satu jam kerja dapat digunakan oleh pekerja untuk mengolah teh dari Gunung Mas secara efisien dan efektif sebesar 14.182 = 7.854 Analisis produktivitas tenaga kerja bagian produksi teh di PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dengan metode Marvin E.908 = -41. Output yang digunakan dalam perhitungan ini adalah hasil teh kering yang dihasilkan setiap bulan oleh Gunung Mas untuk setiap produksinya. Mundel diawali dengan perhitungan produktivitas.

Sedangkan untuk periode lain dapat diketahui nilai produktivitasnya setelah dibandingkan dengan periode dasar dapat dilihat dalam grafik. Sedangkan pada bulan Oktober 2009 yang terjadi sebaliknya. Dalam perhitungan indeks produktivitas dan perubahannya diperlakukan periode dasar sebagai pembanding dengan periode lain. Seletah diketahui rasio produktivitas setiap periode maka dibandingkan rasio produktivitas antar periode dalam indeks produktivitas dan perubahan indeks produktivitas untuk mengetahui perubahan yang terjadi setiap periodenya dan faktorfaktor kendala yang dihadapi oleh tenaga kerja agar dapat diberikan solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Periode dasar dipilih berdasarkan nilai yang mendekati rata – rata keseluruhan periode karena itu dapat dikatakan periode dasar merupakan kondisi yang keadaan pabrik berupa input masuk (teh). 68 . Dari perhitungan yang telah dilakukan diperoleh periode dasar yaitu pada bulan November 2009. jadi pada bulan November 2009 memiliki nilai indeks produktivitas tenaga kerja 100%. peralatan produksi dan kecepatan produksi pekerja dalam kondisi normal (berjalan dengan baik). serta pada kebun teh banyak yang terserang hama sehingga menyebabkan terjadinya penurunan tingkat produksi pucuk teh yang dipanen.karena pada bulan April 2008 teh yang diolah kualitasnya baik serta pekerja melakukan pekerjaan yang dilakuka sesuai dengan standar operasional proses (SOP) yang telah ditetapkan serta penggunaan jumlah tenaga kerja yang telah sesuai dengan bahan baku yang ada sehingga dalam penganannya sesuai dengan kapasitas pekerja yang ada serta penentuan anggaran yang dilakukan oleh manajemen perusahaan sudah tetap dan sesuai dengan keadaan dilapangan dan juga dengan bahan baku yang banyak dan jam kerja yang sama pada bulan ini dapat menghasilkan lebih banyak dibandingkan dengan bulan yang lain.

sedangkan pada tahun 2009 banyak mengalami penurunan produktivitas. Keterkaitan antara periode dalam indeks produktivitas yang dibandingkan dengan periode dasar dilakukan untuk mengetahui efektif dan efisien kerja yang dilakukan oleh pekerja setiap periode yang diteliti dengan periode normal yaitu November 2009. Dapat dilihat bahwa pada tahun 2008 sebagian besar indeks produktivitasnya berada diatas periode dasar kecuali pada bulan Agustus. masuk kedalam pabrik sehingga terjadi teh yang masuk sedikit tetapi pekerja yang ada yang disediakan dalam periode tersebut terlalu banyak 69 .3 Grafik Pergerakan Indeks Tenaga Kerja Dari grafik dapat diketahui bahwa pada periode pertama yaitu bulan Januari sampai Periode terakhir yaitu Desember 2009. Keadaan suatu periode yang berada dibawah periode dasar menunjukkan bahwa ada suatu kesalahan baik dari sistem yang dijalankan pihak manajemen.Indeks Produktivitas Tenaga Kerja 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0 10 20 30 Indeks Produktivitas indeks produktivitas periode dasar indeks prododuktivitas periode n Periode Bulan Gambar 7. pihak manajemen kurang memperhatikan seberapa banyak bahan baku yang masuk (teh) yang. Pengaruh produktivitas tenaga kerja terhadap produktivitas jumlah tenaga kerja dapat terjadi karena dalam menetapkan banyaknya pekerja untuk suatu periode (bulan). maupun kurang maksimal pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja.

Daun ataupun pucuk yang rusak akan mempengaruhi hasil akhir teh kering yang akan dihasilkan sehingga akan didapat kualitas yang tidak diharapkan. Kualitas teh dapat dikatakan baik apabila pucuk yang diambil berkisar antara p+1m. Kedisiplinan saat bekerja Selama melakukan pengamatan memang masih terdapat beberapa pekerja yang kurang disiplin. atau pada saat seorang pekerja masuk untuk bekerja tetapi dia tidak masuk untuk bekerja. Hal ini juga dapat terjadi bahan baku (teh) yang masuk ke dalam pabrik tertalu banyak namun jumlah tenaga kerja yang ditetapkan perusahaan sedikit atau pada saat itu banyak karyawan yang tidak masuk atau ijin sehingga teh yang diolah hasilnya kurang maksimal karena kemampuan pekerja mengolah teh dan dalam penanganan teh kurag baik menjadi banyak produk yang hasilnya kurang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. dan p+3m. Sikap pekerja seperti ini akan menurunkan volume output yang dihasilkan karena konsentrasi pekerja tidak penuh untuk pekerjaannya sehingga tingkat produktivitas pabrik akan menurun.sehingga banyak pekerja yang menganggur. Untuk bahan baku yang digunakan tidak dibahas terlalu dalam hanya diketahui bahwa kualitas dan kuantitas bahan baku yang masuk pada bulan April merupakan bahan baku terbanyak yang masuk. Contohnya masih ada pekerja yang meninggalkan pos kerjanya padahal masih dalam waktu bekerja. p+2m. Kenaikan maupun penurunan nilai indeks produktivitas tenaga kerja yang terjadi disebabkan oleh faktor – faktor antara lain sebagai berikut yaitu kemampuan tenaga kerja dan penentuan jumlah tenaga kerja serta jam kerja tiap periodenya. sedangkan bahan baku pada bulan september 2009 merupakan periode bahan baku tersedikit. hal ini menyebabkan produktivitas tenaga kerja menurun. mesin dan peralatan. Dari tenaga kerja di pengolahan teh faktor yang berpengaruh yaitu sebagai berikut : 1. Hal ini bisa 70 . Masalah kualitas dan kuantitas teh tergantung pada cuaca atau pada masing – masing pohon teh. Faktor lain yang memperngaruhi indeks produktivitas tenaga kerja atau indeks jumlah tenaga kerja yaitu bahan baku (teh).

terjadi karena kurangnya ketegasan dari pengawas sehingga pekerja menaggap bahwa yang dilakukanya tidak dilarang. maka dia akan bekerja dengan tidak maksimal yang akan mengakibatkan produktivitas karyawan tersebut dalam menghasilkan produk akan mengalami penurunan. Sehingga menyebabkan kurang ratanya proses pelayuan sehingga kadar air yang dimiliki daun teh masi tinggi dan hasil yang didapat kurang maksimal untuk melakukan proses selanjutnya. Pada saat pembeberan daun teh pekerja kurang konsentrasi dalam mengerjakan pekerjaan. 4. Kebersihan lingkungan kerja Pekerja pada awal kegiatan memang malukan pembersihan keseluruhan terhadap peralatan maupun lingkungan kerja tetapi kadang saat bekerja. Pembeberan daun teh Setelah dilakukan penimbangan bahan baku yang datang. agar pada saat turun dari truk bahan baku yang dibeberkan tidak menggumpal. kebersihan kurang dijaga sehingga ada kontaminan yang masuk kedalam teh selama proses produksi sehinggap kualitas teh yang dihasilkan akan menurun. Hal ini harus diperhatikan karena jika tidak dilakukan perbaikan terhadap kedisiplinan pekerja maka perusahaan akan mengalami kerugian. 3. 71 . Fasilitas karyawan dan pemenuhan haknya akan sangat berpengaruh pada kenyamanan karyawan. Jika karyawan tidak merasa nyaman bekerja pada suatu tempat. Pengawasan yang dilakukan terhadap kebersihan memang sangat diperhatikan namun pada saat proses produksi kebersihan menjadi hal yang kurang diperhatikan. kemudian dilakukan pembeberan. 2. sehingga pada saat pelayuan dapat secara merata. Kenyamanan pekerja Dalam melakukan pekerjaan pekerja harus diberi kenyamanan pada saat bekerja sehingga pekerja akan menjadi lebih semangat dan akan meningkatkan loyalitas terhadap pabrik dan perusahaan.

2. Untuk penjagaan serta pengawasan bahan baku saat pengiriman dari kebun harus tetap diawasi hal ini dapat dilakukan terhadap jumlah bahan baku yang masuk ke pengolahan dikontrol serta diawasi agar jumlah bahan baku yang dating dapat sesuai dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada sehingga pengolahan dapat efektif dan efisien.5. Tenaga kerja a. sehingga proses produksi juga sering terhambat. Hal ini dilakukan sesuai dengan cuaca yang sesuai dengan kondisi pohon serta pengawasan yang maksimal dari pihak perusahaan. Kedisiplinan Memberikan hukuman kepada pekerja yang kurang disiplin dengan tujuan agar memberikan efek jera dan tidak mengulangi tindakan yang sama. karena dengan adanya mesin ini akan berjalannya proses produksi yaitu untuk megolah bahan baku menjadi bahan jadi. Peralatan Mesin Produksi Dalam proses produksi tingkat produktivitas juga tidak lepas dari partisipasi mesin produksi. 1. Hukuman 72 . Evaluasi dan saran dapat diberikan untuk menghadapi faktor – faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja sehingga produktivitas pabrik secara keseluruhan dapat menjadi lebih baik atau meningkat. karena banyak mesin yang sering mengalami kerusakan yang dikarenakan juga karena umur pemakaian yang tidak muda lagi. sehinggal output yang dihasilkan kurang maksimal karena hanya menggunakan satu jalur saja. Bahan baku Dapat menjaga kualitas dan kuantitas teh yang dihasilkan dengan melakukan perawatan yang baik terhadap pohon. hal ini merupakan salah satu hal yang menyebabkan penurunan produktivitas. Faktor yang diberikan dari peralatan pada pengolahan teh yang digunakan sudah kurang memadai seperti pada mesin penggilingan sudah sering mengalami kerusakan sehingga menganggu berjalannya proses produksi. Pada mesin yang digunakan juga harus dilakukan controlling.

kontaminan yang ada. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah aturan kerja yang jelas sehingga pekerja sadar akan pekerjaannya serta tanggung jawabnya. seperti pada saat pengeringan dilakukan selama kurang lebih 15 menit agar teh yang dihasilkan tidak gosong atau kurang kering sehingga kualitas teh tersebut tetap terjaga. Kemampuan pekerja Pelatihan proses dalam pengolahan teh kepada seluruh pekerja pengolahan dari penerimaan bahan baku hingga pengepakan sehingga pekerja dapat melakukan berbagai proses dan tidak tergantung pada pekerja lain pada proses tertentu. d. yang dimungkinkan agar pekerja tidak jenuh dalam menghadapi perkerjaannya selama dia bekerja dipabrik. Untuk pekerja yang berprestasi dapat diberikan penghargaa atau hadih agar pekerja lain dapat terpicu untuk mendapatkan hadiah atau tambahan gaji. Untuk kebersihan dilakukan dengan kesadaran pekerja yaitu membersihkan diri dan alat yang akan digunakan untuk proses selain kesadaran dari pekerja juga diperlukan pengawasan karena dengan kebersihan ini kualitas teh dapat terhindar dari kontaminan . b. c. Selain mengawasi juga harus memberi contoh dalam melakukan pekerjaan atau proses tersebut agar smua yang dilakukan sesuai dengan ketentuan pabrik. Hal ini ditunjukkan untuk meratakan kemmpuan seluruh pekerja karenan dalam periode tertentu akan diadakan rotasi pekerjaan. Kesesuaian SOP (standar proses operasi) Pengawasan kepada pekerja agar melakukan semua proses sesuai dengan SOP yang telah ditentukan. 73 . Kebersihan lingkungan kerja Penjagaan atas kebersihan lingkungan dapat dilakukan juga saat proses berlangsung tidak hanya pada saat akan proses atau setelah proses. Pengawasan ini hendaknya dilakukan oleh sinder atau mandor besar sehingga dapat memberikan teguran atau hukuman lainnya.yang diberikan haruslah mendidik dan menuju kepada perbaikan.

2.908% dicapai pada bulan April 2008. sedangkan pada indeks produktivitas tenaga kerja terendah sebesar 58. Dari pengukuran produktivitas tenaga kerja di Pabrik PTPN VIII Gunung Mas dapat mengevaluasi hal – hal yang telah dilakukan kemudian dapat diketahui kegiatan yang perlu dilakukan atau tidak perlu dilakukan untuk tetap menjaga produktivitas pabrik agar tetap terjaga bahkan dapat meningkat terutama produktivitas tenaga kerjanya.e. harus dilakuakn perawatan berkala agar umur penggunaan mesin lama serta proses produksi dapat maksimal serta kualitas the tetap terjaga. oleh karena itu perlu adanya tempat istirahat dan hiburan yang memadai selain tempat bekerja saja. 3. Pemberian fasilitas tersebut dapat disediakan PTPN VIII Gunung Mas. Peralatan Perawatan dan penggantian peralatan seperti mesin CTC yang digunakan. dan tenaga kerja yaitu proses pembeberan teh. Penurunan produktivitas yang terjadi disebabkan dari bahan baku yaitu kualitas dan kuantitas teh. 74 .5 Kesimpulan Dari pembehasan dan penelitian topik tugas khusus produktivitas tenaga kerja pada bagian pengolahan teh di Pabrik teh PTPN VIII Gunung Mas dapat didapat kesimpulan : 1. 7. begitu juga pada Withering Through untuk tempat pembeberan serta untuk tempat pelayuan. Indeks produktivitas tenaga kerja tertinggi sebesar 163. Kenyamanan pekerja Pekerja akan bekerja dengan baik apabila kebutuhan hidupnya telah tecukupi dan masalah yang dihadapi teratasi. Perawatan maupun penggantian peralatan dapat dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan sehingga waktu dapat menyesuaikan. Fasilitas yang diberikan seperti kamar mandi serta ruang istirahat yang layak. karena dalam pengamatan blm ditemukan hal tersebut.818% dicapai pada bulan Agustus 2009.

Produktivitas dapat diperbaiki dengan cara memperbaiki dari aspek bahan baku yaitu penjagaan kualitas dan kuantitas bahan baku. perbaikan. serta diharapkan penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan metode dan komponen yang lebih kompleks. 3.penggilingan. 75 . kesesuaian SOP. 7. sortasi. dari aspek tenaga kerja yaitu pengawasan dan pemberian contoh kedisiplinan pekerja. kedisiplinan. pengeringan.6 Saran Evaluasi yang diberikan agar dapat dilakukan dengan baik supaya produktivitas pabrik akan meningkat. kebersihan dan dari peralatan yang digunakan yaitu kurangnya perawatan yang dilakukan. kenyamanan. Dalam penelitian selanjutnya dapat juga dimasukkan faktor biaya. kebersihan. Untuk penelitian yang selanjutnya diharapkan lebih baik lagi dengan menggunkan input yang lebih beragam sehingga hasil perubahan produktivitas yang terjadi dapat maksimal. dan penggantian terhadap alat yang sudah rusak. serta kenyamanan pekerja dan dari aspek peralatan yang dilakukan perawatan. pengepakan.

Yogyakarta Walley. 1987. 1987. Triwijayana. B. FTP UGM.DAFTAR PUSTAKA Bain. 1999. 1982. John Willey and Sons. Mcgraw-Hill. Manajemen Produktivitas Total.H. US Gaspersz. The Productivyty Preseption. Pedoman Menghadapi Tantangan Meningkatkan Produktivitas. A. V. Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global. Jakarta. Manajemen Produksi.L. PT Gramedia Pustaka Utama. New York USA. PT Pustaka Binaman Pressindo. New York. D. Skripsi: Pengukuran Produktivitas dengan Model Multifaktor. 2000. J. 76 . Production System : Planing. Analysis and Control. Jakarta Riggs.

LAMPIRAN 77 .

LAMPIRAN 1 DISTRIBUSI PEMASARAN Pabrik Gunung Mas Pabrik Gunung Mas Sampel chop produk Sampel chop produk teh teh Kantor pusat PTP Kantor pusat PTP Nusantara VIII Nusantara VIII auction auction Free sale Free sale Data pembeli Data pembeli Pabrik Gunung Mas Pabrik Gunung Mas Distribusi produk ke Distribusi produk ke perusahaan pembeli perusahaan pembeli .

LAMPIRAN 2 Standar Mutu Densitas Teh Hitam CTC Grade BP I bold/MC BP I PF I PD D1 Fann D2 BM FNGS BM 2 Pluff Gelas ukur (Tanpa ketukan) 330-340 cc/ 100 gr 300-330 cc/ 100 gr 250-295 cc/ 100 gr 250-280 cc/ 100 gr 240-260 cc/ 100 gr 290-310 cc/ 100 gr 235-245 cc/ 100 gr 295-320 cc/ 100 gr 295-320 cc/ 100 gr 350-380 cc/ 100 gr 485-495 cc/ 100 gr Tea densimeter (20 ketukan) 70-82 cc/ 25 gr 70-82 cc/ 25 gr 70-75 cc/ 25 gr 65-70 cc/ 25 gr 58-60 cc/ 25 gr 54-57 cc/ 25 gr 64-74 cc/ 25 gr 56-63 cc/ 25 gr 69-80 cc/ 25 gr 74-78 cc/ 25 gr 95-120 cc/ 25 gr Sumber: Bagian Pengolahan PTPN VIII Gunung Mas .

Mustly. Less. Soft. Granular Fairly Grainy. Flavoury Has Flavoury Normal . Coarse. Too Bold. Few Green Leaf Fairly even 85 – 90 % Greyish Reddish. Smaller. Clean Clean 98% Few Embaded Fibres. Blackist Fairly black. Bright Red Fairly Bright. Ragged Kerataan 2.LAMPIRAN 3 Kriteria Penilaian The Hitam CTC Mutu I No. Fairly Clean 96-97% Reather Flakey/Open Some Fibres. Light in Cup Fair Strenght. Few Floating Fibres. Greenish. Burnt Gone off. Even > 95 % Even 91 – 95 % Uneven 75 – 84 % Ragged. tainted Aroma 3. Bold Too Small. Oily. Brisk. Fairly Granular Good Open/Flaky. Quality. Brisk Bitter. Too Open II. Strenght. Fruity ). brownish. Appearance Warna 1. Irreguler Fibrous <90% Kebersihan 3. Nice Fairly good Unsatisfactory Bad Warna air 1. Some Strenght. Uraian Karakteristik Kriteria Penilaian A Well Made Blackist & bloom B Good C Fair Made D Unsatisfactory E Bad I. Dry. mixed <75%. Very Good Bright Red & Coloury Good Strenght. Smokey. Hars. Bakey. Raw. Slight Dry Light in cup.Sour. Bentuk & ukuran Grainy. dark in cup Dull Kekuatan 2. Over Fired Oldish Tainted (Spicy. Some Stalks 90-95% 4. Liquor. Body. Plain. Rather Greyish.

Few Floating. Kebersihan Clean > 85% 4. Too Much Stalks Clean < 70% Flaky/ Open Smaller. Kerataan 3. Liquor. Greenish Dull / Dark Kerataan 2. Too Bold. Few Green Leaf Even 83 – 87 % Kriteria Penilaian C D Fair Unsatisfactory Made Some Reddish Green Leaf. Irreguler Too Much Fibrous. coppery Fairly Bright Bit Dull. Some Stalks Clean 7580% Fibrous. Warna air Fairly Grainy. Few Stalks Clean 8085% Rather Flaky/ Open Good Bright Red Some Fibres. Rather Brownish Even > 87 % B Good Brownish. A Well Made Fairly black. Bentuk & ukuran II. Brisk. Fairly Granular Very Good Bright Red & Coloury Few Fibres. Greyish Fairky even 80 – 83 % Uneven 70 – 80 % E Bad Too Reddish 2. III No. Even 85 – 90 % Fairly Even 80 – 85 % Uneven Tainted. Mixed Kriteria Penilaian Teh Hitam CTC Mutu II. Light in Cup Unsatisfactory Dark in Cup Too Smaler. Few Powdery. Many Stalks Clean 70-75 % Uneven < 70 % Mixed. Ragged.Kriteria Penilaian The Hitam CTC Mutu I (lanjutan) III. Coppery Even > 90 % Good Fairly Good Unsatisfactory Bad Warna 1. Long Stalks Fairly good Fairly bright. Ampas Very Good Very Bright. 1. Too Powdery. Too Long Stalks Bad Dull . I. Uraian Karakteristik Appearance Warna 1. Bold. Few Embaded. Rather Greyish.

Sour. Hars. Dry. Slight Dry Bitter. Kerataan 2. Brisk Flavoury Very Good Very Bright. Musty. III. Has Flavoury Good Bright. Body Quality. Less Brisk Fair Strenght. Fruity ). Plain. Raw. Bakey. Gone Off Unsatisfactory Bad Bit Dull Uneven 70 – 75 % Dull / Dark Aroma 3. Ampas Warna 1. Oily. Soft. Good Strenght. Coarse. Raw. III (lanjutan) Kekuatan 2. Smokey. Over Fire Tainted (Spicy. Good Nice. Coppery Even > 85 % Strenght. Coppery Even 81– 85 % Normal Fairly Good Fairly Bright. Mixed Uneven < 70 %. Greenish. Irreguler .Kriteria Penilaian Teh Hitam CTC Mutu II. Burnt Oldish Tainted. Some Strenght. Greenish Fairly Even 75 – 80 % Tainted.

SORTASI MDR. PENGGILINGAN MANDOR BESAR KERING MDR.PEMBEBERAN MDR.LAMPIRAN 4 Struktur Organisasi PTPN VIII Perkebunan Gunung Mas Bagian Pabrik Pengolahan Teh Hitam CTC STRUKTUR ORGANISASI PTP NUSANTARA VIII PERKEBUNAN GUNUNG MAS ADMINISTRATUR SINDER PABRIK ASS. PENGEPAKAN MANDOR PENGEPAKAN JTU KEPALA UPTC JTU PEMBANTU OPERATOR MESIN KARYAWAN PENGEPAKAN JTU TIMBANG PETUGAS ANALISA PETUGAS UJI MUTU QC GMP . PENGERINGAN MANDOR BESAR TEA BAG JTU KEPALA MDR. PELAYUAN MDR. SINDER PABRIK MANDOR BESAR BASAH MDR.

LAMPIRAN 5 Layout Pabrik
BULKER TEA PAC KER MINI VIBR O BLA NK WINNOW ER

A CHOTA SHIFTER

VIBRO MESH

R. HE PELAYUAN BENGKE L

BAG SAHVER

VIBRO MESH

VIBR OB LAN K MINI CRUSH
ER CRUSHE R

PETI MIRI NG

VIBRO BLANK

MYDLETON

H.E FBD VFBD II

FERMENTING UNIT

BLC B L C TRIPLE CTC GLS

H.E CT C B TRIPLE CTC L C

GL S

R. KANTOR F.O

FBD

FERMENTING UNIT

U

Layout Pabrik (lanjutan)

U

LAMPIRAN 6 Peta Proses Operasi

PETA PROSES OPERASI
Nama kegiatan Tanggal peta Dipetakan oleh Nomor peta : Produksi Teh Hitam : 10 Mei 2010 : Matius Handika N.A.S :1 Pucuk segar

8 menit

O-1 I-1 I-1

Penimbangan Dengan jembatan timbang Pembeberan Manual

15 menit

O-1 I-2

1320 menit

O-2 I-3

Pelayuan Udara segar dari fan Penggilingan

6 menit

O-3 I-4

BLC dan triple CTC

64 menit

O-4 I-5

Oksidasi enzimatis Fermenting Unit

18 menit

O-5 I-6

Pengeringan FBD

A

S :2 Papersack A 1.11 menit Pemasukan 4.06 menit Sortasi 3 6.71 menit O-9 Vibro mesh Sortasi 4 5 menit O-11 Chota Sifter 5.16 menit Sortasi 5 O-12 Winower RINGKASAN Kegiatan operasi inspeksi penyimpanan Jumlah 20 menit Waktu O-14 I-7 Pengemasan 14 7 1 22 Penyimpanan 1470.3 menit .2 menit Sortasi 1 O-7 Midleton Sortasi 2 O-8 Vibro blank O-13 Plastik Tea Bulker 5.A.3 menit 1436 menit total 2906.Peta Proses Operasi (lanjutan) PETA PROSES OPERASI Nama kegiatan Tanggal peta Dipetakan oleh Nomor peta Lakban : Produksi Teh Hitam : 10 Mei 2010 : Matius Handika N.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->