Peran G-20, Antara Harapan dan Realita dalam Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Menghadapi Krisis Financial Global

Pada tanggal 02 april lalu para pemimpin keuangan grup 20 (G-20) mengadakan pertemuan di London, Inggris. Dalam pertemuan tersebut, negaranegara yang tergabung dalam kelompok G20 memberikan komitmen untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan, pertumbuhan dan pekerjaan, memperbaiki sistem finansial sehingga kredit dapat berjalan lagi, memperkuat peraturan pada sistem finansial untuk menumbuhkan kembali kepercayaan, membiayai institusi finansial internasional untuk mengatasi krisis saat ini dan untuk mencegah terulangnya krisis di masa mendatang, mendukung perdagangan dan investasi dunia serta menolak proteksi, dan menciptakan proses pemulihan berkesinambungan kelestarian alam (green recovery). Untuk mengembalikan kepercayan, pertumbuhan ekonomi, dan yang memperhatikan

menciptakan lapangan pekerjaan, negara G20 telah sepakat untuk memberikan paket stimulus sebesar 1,1 trilun dolar. Paket ini terdiri atas tambahan sebesar 500 milyar dolar yang di salurkan melalui IMF, yang dengan segera dapat diakses oleh anggota IMF. Sebelumnya telah disetujui SDR (Special Drawing Rights) atau hak khusus penarikan dana untuk IMF sebesar 250 milyar dolar. Dengan demikian, fasilitas SDR yang tersedia di IMF meningkat menjadi 750 milyar dolar. Selain itu, untuk mendukung pembiayaan perdagangan dunia, disiapkan dana sebesar 250 milyar dolar dalam dua tahun. Sedangkan 100 milyar dolar disiapkan untuk meningkatkan program bantuan bagi bank pembangunan regional (Purbaya 2009). Dari hasil kesepakatan G-20 tersebut, dapat kita ketahui bahwa untuk saat ini IMF mulai di gerakkan kembali. Dimana dana yang di salurkan oleh IMF berupa pinjaman jangka pendek yang nantinya diharapkan mampu mengatasi kesulitan dana untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota G-20.

Bagi Indonesia, mungkin keputusan dari G-20 di London kemarin memberikan angin segar menghadapi krisis financial global saat ini. Pasalnya Indonesia bisa melakukan koordinasi dan saling bertukar informasi dalam perdagangan maupun sistem keuangan dengan negara-negara besar lainnya yang tergabung dalam G-20 tersebut. Dengan adanya koordinasi dan saling tukar informasi harapannya akan mampu meningkatkan laju pertumbuhan

perekonomian negara. Apa lagi untuk saat ini Bank Dunia telah melakukan perombakan pada sistem yang selama ini di anggap gagal. Bahkan para menteri G-20 sebelumnya telah mengeluarkan pemberitahuan resmi yang menyatakan, International Organization of Securities Commission (IOSCO) akan

meningkatkan peranannya sebagai badan pengawas supranasional untuk mencegah terulangnya krisis kembali (Mudrajad Kuncoro 2009). Ini

membutuhkan perombakan kuota IMF untuk meningkatkan porsi emerging markets dan ditargetkan harus selesai pada Januari 2011. Tetapi, berdasarkan hasil kesepakatan G-20 di London tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita kritisi menyangkut peran G-20 bagi negara-negara anggota termasuk Indonesia. Hal-hal tersebut diantaranya : 1. Satu hal yang amat menonjol dari paket kebijakan yang disebutkan di atas adalah ketergantungan kepada IMF. Dari 1,1 triliun dolar paket yang akan diberikan, 750 milyar dolar akan disalurkan melalui IMF. Langkah ini praktis membuat IMF menjadi lembaga yang kembali disegani dalam menentukan arah perekonomian dunia. Kita tahu sendiri bahwa IMF dalam memberikan bantuan, selalu memberikan kebijakan-kebijakan yang membatasi kinerja sistem financial dengan dalih melakukan kontrol dan pengawasan. Ini yang mengakibatkan kinerja lembaga keungan menjadi kurang maksimal. Dan dampaknya telah kita rasakan pada saat krisis tahun 1997/1998. 2. Mata uang yang digunakan adalah dolar ($). Kita tahu saat ini dolar dalam kondisi yang memprihatinkan. Dalam artian nilainya mulai melemah jika di bandingkan dengan mata uang rupiah. Jika negara anggota melakukan peminjaman dana dalam bentuk dolar, maka secara tidak langsung akan menaikkan nilai dolar. Sebab, semakin tinggi tingkat permintaan terhadap

dolar akan semakin tinggi pula nilai dolar tersebut jiak tidak diimbangi dengan supply dolar yang memadai. Hal seperti ini lah yang akan memperparah pengembalian hutang. Sebab hutang akan terakumulasi karena melemahnya kurs mata uang dalam negri terhadap dolar. Bahkan, negara ekonomi baru terbesar di dunia yaitu Cina mengajukan ide radikal pembentukan mata uang global untuk mengganti dolar. Ini merupakan langkah aman untuk menghindari ketidak stabilan nilai dolar yang digunakan dalam perdagangan internasional selama ini. 3. Mendukung perdagangan dan investasi dunia serta menolak proteksi. Point yang ke-3 ini perlu memperoleh perhatian lebih, sebab jika negara anggota G20 tidak melakukan proteksi terhadap investasi dan perdagangan dunia, dikhawatirkan akan mematikan produsen dalam negeri karena tidak mampu bersaing dengan serbuan produk dari luar. Selain itu, investasi yang dibiarkan semena-mena tanpa adanya proteksi akan mengakibatkan terjadinya Capital inflow dan capital outflow seenaknya tanpa terkendali. Ini kejadian ini pernah di alami Indonesia pada saat sebelum dan sewaktu krisis 1997/1998 lalu. Beberapa solusi menarik bagi Indonesia atas hasil KTT G-20 guna meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat diantaranya : 1. menciptakan proses pemulihan berkesinambungan yang memperhatikan

kelestarian alam (green recovery). Harapannya ini bukan menjadi wacana saja tetapi mampu direalisasikan. Untuk saat ini banyak investor dari luar negeri yang cenderung mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Jika ini benarbenar terealisasikan, maka APBN tidak lagi membengkak hanya untuk membiayai pemulihan lingkungan karena ulah investor yang tidak bertangungjawab. 2. Membantu mengawasi sistem financial. Ini merupakan sistem yang sangat rentan terserang krisis. Sebab, sistem financial ini lingkupnya bukan hanya dalam satu negara tetapi lingklup dunia. Sehingga dibutuhkan kinerja ekstra

untuk mengontrol dan memonitor. Dengan bantuan ini kemungkinan kinerja dari otoritas moneter inidonesia akan sedikit terbantu. 3. Mendukung perdagangan dan investasi. Tetapi saya kurang setuju jika dari perdagangan dan investasi ini tidak ada proteksi. Mungkin kalau dalam bidang perdangan dan investasi saja saya sangat setuju, sebab perdangan internasional sangat dibutuhkan oleh negara manapun guna menunjang pertumbuhan ekonomi negara. Mungkin Indonesia bisa meningkatkan ekspornya melalui kerjasama antar anggota G-20 tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Ali, Masyhud. 2002. Perbankan dan Dunia Usaha. Elex Media Komputindo. Jakarta. Kuncoro, Mudrajad. 2009. G-20 Mencari Solusi Krisis Global?.

http://economy.okezone.com/ Sadewa, Purba Y. 2009. G20 dan Harapan Atasi Krisis. http://www.danareksaresearch.com/index.php/economy ______. 2009. Dana Moneteri Internasional, IMF, Sangat Diuntungkan Dengan Hasil Pertemuan Puncak G20 Dengan Tambahan Dana Yang Besar Dan Peran Baru. http://www.bbcindonesia.com ______. 2009. Pertemuan Puncak G20 di London Ini Bisa Dikenal Sebagai Titik Balik Ketika Perbedaan Antara Negara Maju dan Berkembang Semakin Kabur. http://www.bbcindonesia.com ______. 2009. G7 dan G20 Bahas Jalan Keluar dari Krisis Global. http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=section &layout=blog&id=6&Itemid=29

Peran G-20, Antara Harapan dan Realita dalam Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Menghadapi Krisis Financial Global

Oleh :

Tri Cahyono

0610210124

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2009

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful