A- Pengertian Ilmu Hadis Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadisyang

mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadis adalah: “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis, karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadis yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Pada mulanya, ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya, sepertiIlmu al-Hadis al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al-Asma’ wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan, khususnya, oleh para ulama abad ke-3 H. Umpamanya, Yahya ibn Ma’in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa’ad (230H/844) menulis Al—Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilaldan Al-Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadis, karena masing-masing membicarakan tentang Hadis dan para perawinya. Akan tetapi, pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi penggunaan lafaz jamak Ulumul Hadis setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalahMusthalahul Hadis. B- Pembagian Ilmu Hadits Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian, yaitu Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah. 1) Ilmu Hadis Riwayah Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Riwayah, sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-

Hadisseperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: ‫علم الحديث الخاص بالرواية هو: علم يعرف به أقهوال رسهول اله صهلى اله عليهه وسهلم وأفعهاله وأحهواله وروايتهها‬ َ ُ َ َ ِ َ ُ ُ َ ْ ََ ُ ُ َ ْ ََ ِ ِ ْ ُ َ ُ َ ْ َ ِ ِ ُ َ ْ ُ ٌ َْ َ ُ ِ َ َ ّ ِ ّ َ ِ ْ ِ َ ْ ُ ِْ ‫وضبطها وتحرير ألفاظها‬ َ ِ َ ْ َ ُ ْ ِ ْ ََ َ ُ ْ َ َ Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasul SAW serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya. 2) Ilmu Hadis Dirayah Mengenai pengertian Ilmu Hadis Dirayah, para ulama hadis memberikan definisi yang bervariasi, namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan, maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya, terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya: Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: ْ ُ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ ّ ُ َ َ َ ُ َ ْ ََ َ ُ َ ْ ََ َ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ َ ّ ُ َ ْ ِ َ ُ ْ ِ ُ َ ْ ُ ٌ ْ ِ ِ َ َ ّ ِ ّ َ ِ ْ ِ َ َ ُ ْ ‫َع‬ ‫و ِلم الحديث الخاص بالدراية : علم يعرف منه حقيقة الرواية وشروطها وأنواعها وأحكامها وحال الرواة وشروطهم‬ ‫وأصناف المرويات ومايتعلق بهها‬ َ ِ ُ َّ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُ َ ْ ََ C- Sejarah dan Perkembangan Ulumul Hadis Pada dasarnya Ulumul Hadis telah lahir sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam, terutama setelah Rasul SAW wafat, ketika umat merasakan perlunya menghimpun hadis-hadis Rasul SAW dikarenakan adanya kekhawatiran hadis-hadis tersebut akan hilang atau lenyap. Para sahabat mulai giat melakukan pencatatan dan periwayatan hadis. Mereka telah mulai mempergunakan kaidah-kaidah dan metode-metode tertentu dalam menerima hadis, namun mereka belumlah menuliskan kaidah-kaidah tersebut. Adapun dasar dan landasan periwayatan hadis di dalam Islam dijumpai dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. Dalam QS. Al-Hujarat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menelitu dan mempertanyakan berita-berita yang datang dari orang lain, terutama dari orang fasik. Firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang telah beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah berita tersebut dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”.(QS. Al-Hujurat: 6). Sementara dalam hadis disebutkan, “(Semoga) Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (hadis), lantas dia menyampaikannya (hadis tersebut) sebagaimana dia dengar, kadangkadang orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengar”. (HR. AtTirmizi).

Hubungan Hadits dengan Al-Qur’an
02 Mei 2009 Oleh Rudi Arlan Al-Farisi A. PENGERTIAN HADITS Kata "Hadits" atau al-hadits menurut bahasa berarti al-jadid (sesuatu yang baru), lawan kata dari al-qadim (sesuatu yang lama). Kata hadits juga berarti al-khabar (berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Kata jamaknya, ialah al-hadist. Secara terminologi, ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. Di kalangan ulama hadits sendiri ada juga beberapa definisi yang antara satu sama lain agak berbeda. Ada yang mendefinisikan hadits, adalah : "Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan hal ihwalnya". Ulama hadits menerangkan bahwa yang termasuk "hal ihwal", ialah segala pemberitaan tentang Nabi SAW, seperti yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaanya. Ulama ahli hadits yang lain merumuskan pengertian hadits dengan : "Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya". Ulama hadits yang lain juga mendefiniskan hadits sebagai berikut : "Sesuatu yang didasarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya". Dari ketiga pengertian tersebut, ada kesamaan dan perbedaan para ahli hadits dalam mendefinisikan hadits. Kasamaan dalam mendefinisikan hadits ialah hadits dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan maupun perbuatan. Sedangkan perbedaan mereka terletak pada penyebutan terakhir dari perumusan definisi hadits. Ada ahli hadits yang menyebut hal ihwal atau sifat Nabi sebagai komponen hadits, ada yang tidak menyebut. Kemudian ada ahli hadits yang menyebut taqrir Nabi secara eksplisit sebagai komponen dari bentuk-bentuk hadits, tetapi ada juga yang memasukkannya secara implisit ke dalam aqwal atau afal-nya. Sedangkan ulama Ushul, mendefinisikan hadits sebagai berikut : "Segala perkataan Nabi SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara�". Berdasarkan rumusan definisi hadits baik dari ahli hadits maupun ahli ushul, terdapat persamaan yaitu ; "memberikan definisi yang terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, tanpa menyinggung-nyinggung prilaku dan ucapan shabat atau tabi�in. Perbedaan mereka terletak pada cakupan definisinya. Definisi dari ahli hadits mencakup segala sesuatu yang disandarkan atau bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Sedangkan cakupan definisi hadits ahli ushul hanya menyangkut aspek perkataan Nabi saja yang bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara�. Selain Hadits, ada juga istilah yang mempunyai makna seperti Hadits, yakni :

1. As-Sunnah Sunnah menurut bahasa berarti : "Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang buruk". Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut : "Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat" (H.R. Al-Bukhary dan Muslim). Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut. Menurut Ajjaj al-Khathib, bila kata Sunnah diterapkan ke dalam masalah-masalah hukum syara�, maka yang dimaksud dengan kata sunnah di sini, ialah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW., baik berupa perkataan maupun perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalil hukum syara� disebutkan al-Kitab dan as-Sunnah, maka yang dimaksudkannya adalah al-Qur�an dan Hadits. Pengertian Sunnah ditinjau dari sudut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan. Ada ulama yang mengartikan sama dengan hadits, dan ada ulama yang membedakannya, bahkan ada yang memberi syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah hadits. Ulama ahli hadits merumuskan pengertian sunnah sebagai berikut : "Segala yang bersumber dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul, seperti ketika bersemedi di gua Hira maupun sesudahnya". Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits. "Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas, mereka memandang diri Rasul SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Olah karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri Rasul SAW., tanpa membedakan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara� atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW., atau sesudahnya. Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah adalah "segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut

pautnya dengan hukum". Menurut T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, makna inilah yang diberikan kepada perkataan Sunnah dalam sabda Nabi, sebagai berikut : "Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya" (H.R.Malik). Perbedaan pengertian tersebut di atas, disebabkan karena ulama hadits memandang Nabi SAW., sebagai manusia yang sempurna, yang dijadikan suri teladan bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah surat al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut : "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu". Ulama Hadits membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW., baik yang ada hubungannya dengan ketetapan hukum syariat Islam maupun tidak. Sedangkan Ulama Ushul Fiqh, memandang Nabi Muhammad SAW., sebagai Musyarri�, artinya pembuat undang-undang wetgever di samping Allah. Firman Allah dalam al-Qur�an surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi: "Apa yang diberikan oleh Rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apa yang dilarang oleh Rasul jauhilah". Ulama Fiqh, memandang sunnah ialah "perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu. Atau dengan kata lain sunnah adalah suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan, dan tidak dituntut apabila ditinggalkan. Menurut Dr.Taufiq dalam kitabnya Dinullah fi Kutubi Ambiyah menerangkan bahwa Sunnah ialah suatu jalan yang dilakukan atau dipraktekan oleh Nabi secara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya; sedangkan Hadits ialah ucapan-ucapan Nabi yang diriwayatkan oleh seseorang, dua atau tiga orang perawi, dan tidak ada yang mengetahui ucapan-ucapan tersebut selain mereka sendiri. 2. Khabar Selain istilah Hadits dan Sunnah, terdapat istilah Khabar dan Atsar. Khabar menurut lughat, yaitu berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang. Untuk itu dilihat dari sudut pendekatan ini (sudut pendekatan bahasa), kata Khabar sama artinya dengan Hadits. Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah hadits sama artinya dengan khabar, keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu, mauquf, dan maqthu. Ulama lain, mengatakan bahwa kbabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW., sedang yang datang dari Nabi SAW. disebut Hadits. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar. Untuk keduanya berlaku kaidah umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa tiap-tiap hadits dapat dikatan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan Hadits. Menurut istilah sumber ahli hadits; baik warta dari Nabi maupun warta dari sahabat, ataupun warta dari tabiin. Ada ulama yang berpendapat bahwa khabar digunakan buat segala warta yang diterima dari yang selain Nabi SAW. Dengan pendapat ini, sebutan bagi orang yang meriwayatkan hadits dinamai muhaddits, dan orang yang meriwayatkan sejarah dinamai akhbary atau khabary. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar, begitu juga sebaliknya ada yang mengatakan bahwa khabar lebih umum dari pada hadits, karena masuk ke dalam perkataan khabar, segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi maupun dari selainnya, sedangkan hadits khusus terhadap yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja.

terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. B. para Fuqaha’ khurasan membedakannya dengan mengkhususkan almawquf." (HR. “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat maghrib). Hadits yang berupa perbuatan (fi’liyah) mencakup perilaku Nabi SAW. haji. BENTUK-BENTUK HADITS Sesuai pengertiannya dengan berdasarkan secara terminologi. atau sisa sesuatu. yang satu sama lain saling menguatkan. namun. dsb. Atsar Atsar menurut lughat ialah bekasan sesuatu. Dari pengertian menurut istilah. Contohnya hadits berikut. seperti tata cara shalat. Hadits Fi’il. Hadits Taqriri Hadits yang berupa penetapan (taqririyah) atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebut diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan.3. Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Berikut contoh haditsnya. puasa. yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan istilah Khabar. dan tabiin. barulah Nabi SAW bertakbir. "Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa Atsar sama dengan khabar. Jumhur ulama cenderung menggunakan istilah Khabar dan Atsar untuk segala sesuatu yang disandarkan kepada NAbi SAW dan demikian juga kepada sahabat dan tabi’in. KEDUDUKAN HADITS TERHADAP AL-QUR’AN . Hadits Qauli Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah). seorang sahabat berkata . Sedangkan menurut ulama Khurasan. dan berarti nukilan (yang dinukilkan).” (HR. Muslim) C. yaitu berita yang disandarkan kepada sahabat dengan sebutan Atsar dan almarfu’.. Apabila saf-saf kami telah lurus. Hadits ataupun Sunnah. bahwa Atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu. sahabat. yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. dapat dibagi menjadi tiga macam hadits : 1. beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR. Sesuatu doa umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai: doa matsur. Muslim) 2. contohnya sabda Nabi SAW : "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Muslim) 3. Sedangkan menurut istilah jumhur ulama sama artinya dengan khabar dan hadits.

orang yang beriman harus merujukkan pandangan hidupnya pada Al qur`an dan sunnah/hadits rasul. bahkan perilaku Nabi sebagai rasul harus diteladani kaum muslimin sejak masa sahabat sampai hari ini telah bersepakat untuk menetapkan hukum berdasarkan sunnah Nabi. Dalam hukum islam. Hadist menguatkan hukum yang ditetapkan Al-qur`an. penetapan hadits sebagai sumber kedua ditunjukan oleh tiga hal. D. maka walaupun masih terdapat perbedaan dalam penafsirannya. kesepakatan (ijma`) ulama.Allah SWTmenutup risalah samawiyah dengan risalah islam. Al-qur`an dan hadist merupakan dua sumber yang tidak bisa dipisahkan. Al-qur`an sebagai sumber pokok dan hadits sebagai sumber kedua mengisyaratkan pelaksanaan dari kenyataan dari keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam dua kalimat syahadat. yang diturunkan kepada Rasul SAW. Melalui malaikat Jibril mutawatir lafadznya baik secara global maupun rinci. Keterkaitan keduanya tampak antara lain: a. karena itu apa yang disampaikan Nabi harus diikuti. Al-qur`an merupakan dasar syariat karena merupakan kalamullah yang mengandung mu`jizat. yaitu Al qur`an sendiri. terutama yang berkaitan dengan petunjuk operasional. hadits menjadi sumber hukum kedua setelah Al-qur`an . dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan dan menjelaskannya. Alquran menetapkan hukum puasa. dalam firman-Nya : . dianggap ibadah dengan membacanya dan tertulis di dalam lembaran lembaran. umat islam seyogyanya menghargai perbedaan tersebut. Alqur`an dan hadits merupakan rujukan yang pasti dan tetap bagi segala macam perselisihan yang timbul di kalangan umat islam sehingga tidak melahirkan pertentangan dan permusuhan.garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia. oleh karena itu. Karena itu. Karena itu menggunakan hadits sebagai sumber ajaran merupakan suatu keharusan bagi umat islam. berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS 16:44). menurunkan Al-qur`an kepadanya yang merupakan mukjizat terbesar dan hujjah teragung. tetapi ia juga harus percaya kepada hadits sebagai sumber kedua ajaran islam. Sebagai Rasul yang memberikan petunjuk. Misalnya. Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta fungsinya. dan logika akal sehat (ma`qul). Taat kepada Allah adalah mengikuti perintah yang tercantum dalam Al-qur`an sedang taat kepada Rasul adalah mengikuti sunnah-Nya. Setiap muslim tidak bisa hanya menggunakan Al-qur`an. Dia mengutus Nabi SAW. Keberlakuan hadits sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa Al-qur`an hanya memberikan garis. Al qur`an menunjuk nabi sebagai orang yang harus menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan Allah. Apabila perselisihan telah dikembalikan kepada ayat dan hadits. keabsahan hadits sebagai sumber kedua secara logika dapat diterima. Di sini hadits berfungsi memperkuat dan memperkokoh hukum yang dinyatakan oleh Al-quran. FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QUR’AN Al-Quran menekankan bahwa Rasul SAW.

d.S Al Baqarah /2:110) shalat dalam ayat diatas masih bersifat umum.“Hai orang – orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” .S Al Baqarah/2:180) Hadits memberikan batas maksimal pemberian harta melalui wasiat yaitu tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan (harta warisan). yang lainnya adalah sunnat” (HR. Rasulullah melarang memberikan seluruhnya. Misalnya Al-qur`an mengharamkan memakan bangkai dan darah: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. apabila seorang diantara kamu kedatangan tanda–tanda maut dan dia meninggalkan harta yang banyak.Misalnya Al qur`an mensyariatkan wasiat: “Diwajibkan atas kamu. dan yang disembelih untuk berhala.” (Q. karena itu sebagai kefasikan. dan berkata : “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku salat apa yang difardukan untukku?” Rasul berkata : “Salat lima waktu. baik bacaan maupun gerakannya. daging yang disembelih atas nama selain Allah . Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh Hadits.S AL BAQARAH/2:183) Dan hadits menguatkan kewajiban puasa tersebut: Islam didirikan atas lima perkara : “persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah . puasa pada bulan ramadhan dan naik haji ke baitullah.R Bukhari dan Muslim) b. mendirikan shalat . Bukhari) c. Hal ini disampaikan Rasul dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sa`ad bin Abi Waqash yang bertanya kepada Rasulullah tentang jumlah pemberian harta melalui wasiat. Dan diharamkan pula bagimu mengundi nasib dengan anak panah. yang jatuh.” (H. Hadits membatasi kemutlakan ayat Al qur`an . daging babi. yang dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya . Ini adalah kewajiban atas orang–orang yang bertakwa.” (HR. berwasiatlah untuk ibu dan bapak karib kerabatnya secara makruf. atau setengah. yang dipukul. misalnya shalat yang wajib dan sunat. lalu hadits merincinya.S Al Maidah /5:3) Hadits memberikan pengecualian dengan membolehkan memakan jenis bangkai tertentu (bangkai ikan dan belalang ) dan darah tertentu (hati dan limpa) sebagaimana sabda Rasulullah SAW: .Bukhari dan Muslim) Al-qur`an tidak menjelaskan operasional shalat secara rinci. Beliau menyetujui memberikan sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkan. membayar zakat . (Q. sabda Rasulullah SAW: Dari Thalhah bin Ubaidillah : bahwasannya telah datang seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW. Hadits memberikan rincian terhadap pernyataan Al qur`an yang masih bersifat global. (Q. Misalnya Al-qur`an menyatakan perintah shalat : “Dan dirikanlah oleh kamu shalat dan bayarkanlah zakat” (Q. darah. yang dicekik. misalnya sabda Rasulullah SAW: “Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Hadits memberikan pengecualian terhadap pernyataan Al Qur`an yang bersifat umum. yang ditanduk. dan Muhammad adalah rasulullah.

Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah halal mengumpulkan antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara bapa yang . sedangkan yang kedua memperjelas. merinci. sedangkan lafadz hadits bukanlah dari Allah melainkan dari redaksi Nabi sendiri. Sedangkan hadits tidak demikian keadaannya. ‘Abdul Halim menegaskan bahwa. dan sah membaca ayat-ayatnya di dalam sholat. dalam bukunya Al-Sunnah fi Makanatiha wa fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah atau Hadits mempunyai fungsi yang berhubungan dengan Al-Quran dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara’. mantan Syaikh Al-Azhar. PERBANDINGAN HADITS DENGAN AL-QUR’AN Hadits dalam islam merupakan sumber hukum kedua dan kedudukannya setingkat lebih rendah daripada Al-quran Al-quran adalah kalamullah yang diwahyukan Allah SWT lewat malaikat Jibril secara lengkap berupa lafadz dan sanadnya sekaligus. Al-qur`an bersifat global. Hadits menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan oleh Al-qur`an. pengertian lahir dari ayat-ayat Al-Quran. Dan mushaf itu terus terpelihara dengan sempurna dari masa ke masa. banyak hal yang hukumnya tidak ditetapkan secara pasti . Kebanyakan hadits yang mutawatir mengenai amal praktek sehari-hari seperti bilangan rakaat shalat dan tata caranya.Ibn Majah .Baihaqi dan Daruqutni) e. bahkan membatasi. Hadits juga ikut menciptakan suatu hukum baru yang belum terdapat dalam al-quran seperti dalam hadits yang artinya : Hadits dari Abi Hurairoh R. Sekalipun ada hadits yang mencapai martabat mutawattir namun jumlahnya hanya sedikit. ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan. hadits berperan menetapkan hukum yang belum ditetapkan oleh Al-qur`an. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat di dalam Al-Quran. Dari segi kekuatan dalilnya. karena hadits qouli hanya sedikit yang mutawatir. satu huruf pun tidak berubah atau hilang. misalnya hadits dibawah ini: Rasulullah melarang semua binatang yang bertaring dan semua burung yang bercakar (HR. Syafii`. dalam kaitannya dengan Al-Quran.”(HR. Al-quran merupakan hukum dasar yang isinya pada umumnya bersifat mujmal dan mutlak. sementara tidak demikian halnya dengan hadits. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang dan dua darah adalah hati dan limpa.Dalam hal ini. E. Al-quran adalah mutawatir yang qot’i. Muslim dari Ibn Abbas) ‘Abdul Halim Mahmud. sedangkan hadits kebanyakannya khabar ahad yang hanya memiliki dalil zhanni.A dia berkata.Dari Ibnu Umar ra. yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta’kid dan bayan tafsir. Dengan menunjuk kepada pendapat Al-Syafi’i dalam Al-Risalah. Sedangkan hadits sebagai ketentuanketentuan pelaksanaan (praktisnya).Ahmad. Para sahabat mengumpulkan Al-quran dalam mushaf dan menyampaikan kepada umat dengan keadaan aslinya. Membaca Al-Qur’an hukumnya adalah ibadah.Rasulullah saw bersabda : ”Dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua darah .

(H. SEJARAH KODIFIKASI HADIST A.perempuan) dan tidak pula antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara ibu yang perempuan). Bukhari dan Muslim). Penulisan Hadits pada Periode Rasululloh SAW .R.

Meskipun begitu terdapat beberapa dokumentasi penting sebelum pengkodifikasian hadits secara resmi. Diantaranya ditemukan hadits-hadits yang sebagiannya membenarkan atau bahkan mendorong untuk melakukan penulisan hadits Nabi. Mereka menulis hadis untuk dikirimkan kepada para sahabat yang bertempat tinggal jauh B. Penulisan Hadis setelah Nabi Wafat Setelah Nabi wafat para sahabat belum memikirkan penghimpunan dan pengkodifikasian hadits. Pada permulaan Islam. karena banyaknya problem yang dihadapi.Mengapa hadits tidak atau belum ditulis secara resmi padat masa Nabi. timbulnya peperangan sehingga banyak orangorang asing/non Arab yang masuk Islam yang tidak paham bahasa Arab secara baik sehingga dikhawatirkan tidak bisa membedakan antara al-Qur’an dan hadits. diantaranya: . diantaranya timbulnya kelompok orang yang murtad. Abdullah bin Abbas. Mereka melakukan penulisan itu dengan dasar i’tikad baik dan dengan alasan-alasan tertentu pula. Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya. penulisan hadis merupakan inisiatif perorangan yang dilakukan oleh para sahabat tertentu seperti Abdullah bin Umar. seperti dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar pernah berkeinginan membukukan Sunnah tetapi digagalkan karena khawatir terjadi fitnah di tangan penghafal al-Qur’an yang gugur dan konsentrasi mereka bersama Abu Bakar dalam membukukan al-Qur’an. terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang kadang-kadang satu dengan yang lainnya saling bertentangan. di samping ada hadits-hadits lain yang melarang melakukan penulisannya. Misalnya mereka ingin menulis sabda Nabi pada pedang mereka.

Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalm berbagai bab. memuat kurang lebih 1000 hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan kitab-kitab Sunan lainnya. 65 H).1. Khalifh Umar bin Abdul Aziz (99-110 H) yakni yang hidup pada akhir abad 1H menganggap perlu adanya penghimpunan dan pembukuan hadits. 3. berisikan kurang lebih 138 buah hadits. 2. Ash-shahifah as-shodiqoh. Jabir mempunyai majlis atau halaqoh di masjid Nabawi dan mengajarkan hadits-haditsnya secara imlak atau dikte. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada abad pertama perkembangan hadis. hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah. lenyapnya ajaran-ajaran Nabi setelah wafatnya ulama baik dikalangan sahabat maupun tabi’in. sebagian perawi mencatat hadis-hadis dari para pendahulunya. sedang yang lain tidak mencatatnya. Ash-shahifah Jabir bin ‘Abd Allah Al-anshori (w. Periode Tabi’in Pada masa abad ini disebut masa Pengkodifikasian Hadits (al-jam’u wa atTadwin). tulisan Abdullah bin Amr bin Ash (w. 130 H). Tulisan ini berbentuk lembaran-lembaran sesuai namanya ash-shahifah (lembaran). Ash-shohifah Ash-shohihah. catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 78 H) yang diriwayatkan oleh sebagian sahabat. Dalam meriwayatkannya mereka berpegang pada ingatan dan kekuatan hafalannya. karena beliau khawatir. Muhammad bin . maka beliau intruksikan kepada para gubernur diseluruh wilayah negeri Islam agar para ulama dan ahli ilmu menghimpun dan membukukan hadits. Keadaan demikian terus berlangsung hingga masa pemerintahan Abdul Aziz bin Marwan C.

Diantara buku-buku yang muncul pada masa ini adalah: 1. dan 5. Misalnya musnad Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H). 2.Muslim bin Asy-Syihab Az-Zuhri dinilai sebagai orang pertama dalam melaksanakan tugas pengkodifikasian hadits dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. Musnad dalam bahasa tempat sandaran sedang dalam istilah adalh pembukuan hadits yang didaarkan pada nama para sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut. Teknik pembukuan hadits hadits pada periode ini sebagaimana disebutkan pada nama-nama tersebut. As-Sunnah ditulis oleh Abd bin Manshur 4. dan maqthu’. al-muwaththa’. Al-Mushannaf dihimpun oleh Abu Bakar bin Syaybah. Dalam istilah AlMuwaththa’ diartikan sama dengan Mushannaf. yaitu al-mushannaf. Al-Muwaththa’ yang ditulis oleh Imam Malik 2. dan musnad. hasan dan dha’if. . tidak perbab seperti Fiqih dan kualitasnya ada yang shahih. 3. yaitu sebagai berikut: 1. mauquf. Al-Mushannaf dalam bahasa diartikan sesuatu yang tersusun. Arti istilah-istilah ini adalah: 1. Al-Mushannaf oleh Abdul Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani 3. yaitu menghimpun semua hadits dari tiap-tiap sahabat tanpa memperhatikan masalah atau topiknya. Perkembangan pembukuan hadits pada periode tabi’in ada 3 bentuk. Dalam istilah yaitu teknik pembukuan hadits didasarkan pada klasifikasi hukum fiqh dan didalamnya mencantumkan hadits marfu’. Musnad. Al-Muwatththa’ dalam bahasa diartikan sesuatu yang dimudahkan. Musnad Asy-Syafi’i.

Yang pertama kali berhasil membukukan hadits shahih saja adalah Al-Bukhori kemudian disusul Imam Muslim. dan sunan Abu Dawud. Sunan. Al-Jami’.2. Jami’ at-Tirmidzi (209-269 H) 6. yang dijadikan pedoman dan referensipara ulama’ hadits berikutnya. Sunan Ibn Majah. sebab pada masa ini ulama hadits telah berhasil memisahkan hadits Nabi SAW dari yang bukan hadits atau dari hadits Nabi. Periode Tabi’ Tabi’in Periode ini masa yang paling sukses dalam pembukuan hadits. fitnah (fitan). D. Sunan Ibnu Majah Al-Qazwini (209-276 H) . Pada masa ini lahir pula lahir buku induk enam (Ummahat kutub as-sittah). yaitu: 1. 3. Sunan Abu Dawud (202-276 H) 5. tarikh dan sejarah. adab makan minum. Sunan An-Nasa’i (215-303 H) 4. Oleh karena itu. periode ini dengan juga disebut masa kodifikasi dan filterisasi (Ashr Al-Jami’ wa At-Tashhih). perbudakan. Al-Jami’ ash-Shahih li Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (204-261 H) 3. (syamail). seperti Sunan An-Nasa’I. sehingga telah dapat di pisahkan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan shahih. yaitu teknik pembukuan hadits yang mengakumulasi Sembilan masalah yaitu aqa’id. dari perkataan sahabat dan fatwanya dan telah berhasil pula mengadakan filterisasi (penyaringan) yang sangat teliti apa saja yang dikatakan Nabi. setiap bab memuat beberapa hadits dalam satu topic. teknik penghimpunan hadits secara bab seperti fiqih. hukum. sifat-sifat akhlaq. dan sejarah (manaqib). Al-Jami’ Ash-Shahih li Al-Bukhori (194-256 H) 2. tafsir.

artinya metode pembukuannya mengikuti metode pembukuan hadits Shahihayn (Al-bukhori dan Muslim) yang hanya mengumpulkan hadits shahih saja menurut penulisnya seperti Shahih Ibnu Hibban Al-bas’ti (w. Periode Setelah Tabi’ Tabi’in Pada masa abad ini disebut Penghimpunan dan penertiban (Al-Jam’I al-Tartib). Mu’jam. atau diartikan seperti Kamus ialah penghimpunan hadits didasarkan pada nama Masyayikh-nya atau negeri tempat tinggal atau kabilah secara abjad seperti Al-mu’jam al-awsath oleh penulis yang sama. Untuk itu mereka tidak segan-segan mengadakan perjalanan jauh untuk mengecek kebenaran hadits yang mereka dengar dari orang lain.E. 354 H) dan lain-lain. . Sedang ulama mutaakhirin cara periwayatan dan pembukuannya bereferensi dan mengutip dari kitab-kitab mutaqaddimin. Namun. Shahih. dari segi tekhnik pembukuan lebih sistematik dari pada masa-masa sebelumnya. Perkembangan teknik pembukuan pada abad ini yakni pada abad 4-6 ialah sebagai berikut: 1. Perbedaan mereka dalam periwayatan dan kodifikasi hadits. artinya penghimpunan hadits yang berdasarkan nama sahabat secara abjad (alphabet) seperti Al-mu’jam al-kabir Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani (w. Oleh karena itu. 2. tidak banyak penambahan hadits pada abad ini dan berikuutnya kecuali hanya sedikit saja. ulama mutaqaddimin hadits Nabi dengan cara mendengar dari guru-gurunya kemudian mengadakan penelitian sendiri baik matan maupun sanadnya. 360 H). Ulama yang hidup pada abad ke 4 H dan berikutnya disebut ulama Mutaakhirin atau Khalaf (modern) sedang yang hidup sebelum abad 4 H disebut ulama mutaqaddimin atau Ulama Salaf (klasik).

7. 458 H) . 307 H). Syarah ad-Daruquthni (w. metode penulisannya seperti kitab sunan abad sebelumnya. misalnya Mustadrok Abi Bakr Al-Isma’ili ‘ala Shahih Al-Bukhori (w. Al-jam’u Bayn Ash-shahihayn yang ditulis oleh Ismail bin Ahmad yang dikenal dengan ibn al-Furat (w.371 H). Mustakhroj. Pada masa berikutnya abad ke 7-8 dan berikutnya disebut masa Penghimpunan dan Pembukuan Hadits secara sistematik(Al-jam’u wal At-tandzim). seperti Muntaqo ibn al-Jarud (w. gabungan dua atau beberapa buku hadits menjadi satu buku. 6. A. hasan. 401 H). dan Syarah Musykil Al-Atsar ditulis Ath-thahawi (w. 405 H). 4. yaitu cakupannya hadits-hadits tentang hukum seperti fikih dan kualitasnya meliputi shahih. yakni penjelasan hadits baik yang berkaitan dengan sanad atau matan. misalnya Syarah Ma’ani Al-Atsar. Sunan. 5. Syarah.3. terutama maksud dan makna matan hadits atau pemecahannya jika terjadi kontradiksi dengan ayat atau dengan hadits lain. seperti Almustadrok ‘ala Shahihayn yang ditulis Abi Abdillah Al-Hakim An-Naissaburi (w. PENGERTIAN SANAD DAN MATAN HADIS . dan dha’if. 458 H). Al-mustadrok. artinya menambah beberapa hadits shahih yang belum disebutkan dalam kitab Al-bukhori dan Muslim serta memenuhi persyaratan keduanya. Al-jam’u. 385 H) dan Sunan Al-Bayhaqi (w. yaitu seorang penghimpun hadits mengeluarkan beberapa buah hadits seperti yang diterima dari gurunya sendiri dengan menggunakan sanad sendiri.

" (AlHadis) Dalam hadis tersebut dinamakan sanad adalah: (Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari nafi yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:. "Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya.Sanad dari segi bahasa artinya (sandaran. . tempat bersandar. Sedangkan menurut istilah ahli hadis. sanad yaitu: (Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis).. yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya) ..) Matan dari segi bahasa artinya membelah. yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda. mengikat. Sedangkan menurut istilah ahli hadis. mengeluarkan. yang menjadi sandaran). matan yaitu: (perkataan yang disebut pada akhir sanad. Contoh : Artinya: "Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi.

dan Umar r. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. maka perlu didatangkan saksi/keterangan.a. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah. bahwa Rasulullah SAW bersabda. mereka pun menerima periwayatannya. "Seandainya tidak memberatkan terhadap umatku. . periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi. Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya. Meminta seorang saksi kepada perawi. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis . Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya. niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap akan melakukan salat.a. Pada masa Abu bakar r. tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. " (Al-Hadis) Adapun yang disebut matan dalam hadis tersebut yaitu: B.Artinya: " Dari Muhammad yang diterima dari Abu Salamah yang diterimanya dari Abu Hurairah. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu.

Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak. ialah sanad. tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya. karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad." Asy-Syafii berkata. untuk diamalkan. tanpa memerlukan sanad. Antara kami dengan mereka. karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Artinya: "Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad. Karenanya .Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting. di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin. termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad. idlah agama. sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. bahwa beliau berkata: Artinya: "Ilmu ini (hadis ini)." Abdullah lbnu Mubarak berkata: Artinya: "Menerangkan sanad hadis. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid'ah dan para pendusta. " Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukumhukum Islam.

dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari Allah khususnya kepada orang-orang Islam.imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad 'aali Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW.pula imam. IImu Rijalil Hadis llmu Rijalil Hadis ialah: . A.

Kemudian usaha itu dilaksanakan oleh Muhammad Ibnu Saad. lni dinamai Muttafiq dan Muftariq.Artinya: “Ilmu yang membahas tentang para perawi hadis. di antaranya. lain orangnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. Di samping itu ada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satusatu kitab saja. mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis. Ibnu Atsir ini adalah saudara dari Majdudin Ibnu Atsir pengarang An-Nihayah fi GaribiI Hadis. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya. Sesudah itu pada abad kesembilan Hijrah. tetapi berlainan keturunan dalam sebutan. karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadis disebut Mu’talif dan Mukhtalif. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan. Izzuddin ibnul Atsir (630 H) mengumpulkan kitabkitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai Usdul Gabah. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. Pada permulaan abad ketujuh Hijrah. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi. Nama ini banyak orangnya. yang penting diterangkan ialah Ibnu Abdil Barr (463 H). Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama. atau para mudallis. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah. Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqali menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama AI-Ishabah. maupun dari angkatan sesudahnya . Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat.” Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi menerima hadis dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadis dari sahabat dan seterusnya. ialah Al-Bukhari (256 H). Kitab Izzuddin diperbaiki oleh Ai-Dzahabi (747 H) dalam kitab At-Tajrid. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. Dalam kitab ini dikumpulkan Al-Istiab . Ini dinamai Musytabah. Dalam semua itu para ulama telah berjerih payah menyusun kitab-kitab yang dihajati. baik dari sahabat. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. Dan ada yang menerangkan namanama yang serupa tulisan dan sebutan. Kitabnya bernama AI-Istiab. sesudah itu terdapat beberapa ahli lagi. tabi’in. atau: beberapa kitab saja. atau para pemuat hadis maudu’. Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. Kitab yang diriwayatkan keadaan para perawi dari golongan sahabat ” Permulaan ulama yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat. sedang dalam tulisan serupa.

dalam bab ini Yahya ibnu abdul Wahab ibnu Mandah Al-Asbahani (551 H) menulis sebuah kitab yang menerangkan nama-nama sahabat yang hidup 120 tahun. Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Ibnu Sirin (110H). para ahli mulai menyebutkan keadaan-keadaan perawi. ibnu Said AlQattan (189H). seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H). adakalanya karena me. masih sedikit orang yang dipandang cacat. Dalam masa mereka itu. Kemudian. telah tumbuh sejak zaman sahabat. Abdur Rachman ibnu Mahdi (198 H)”. Ubadah ibnu Shamit (34 H).dengan Usdul Gabah dan ditambah dengan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadis ialah Ibnu Abbas (68 H). yaitu pada kira-kira tahun 150 Hijrah. dan Anas ibnu Malik (93 H). ” Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik. B.rafa-kan ltadis yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja. Yazid Ibnu . menulis juga kitab yang menerangkan nama-nama sahabi yang hanya meriwayatkan suatu hadis saja yang dinamai Wuzdan. Akan tetapi. Di antara tabi’in ialah Asy Syabi(103 H). karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. sesudah itu. Kitab ini telah diringkaskan oleh As-Sayuti dalam kitab Ainul Ishabah. Sesudah berakhir masa tabi’in. Ilmul Jarhi Wat Takdil Ilmu Jarhi Wat Takdir. pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. para ahli telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat. menakdil dan menajrihkan mereka. agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya). Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsal-kan hadis. Di antara ulama besar yang memberikan perhatian pada urusan ini. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. ialah Yahya. Al-Bukhori dan muslim telah.

Al-Hariwi (301 H) dan ibnu Hatim (327 H). Al-Ajali(261 H). Abu Zurah (264 H).Harun(189 H). atau orang-orang yang menadlieskan hadis. Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja ialah: Kitab Ad-Duafa. Baqi ibnu Makhlad (276 H). Di dalamnya diterangkan keadaan para perawi. karangan Al-Ajaly (261 H) dan kitab As-Siqat karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al-Busty. Kitab ini sangat besar. barulah para ahli menyusun kitab-kitab jarah dan takdil. Ishaq ibnu Rahawaih (237 H).Ali Ibnul Madini (234 H). Muslim (251 H). Az-Zahabi.Sesudah itu. Di antara kitab yang melengkapi semua itu ialah: Kitab Tabaqat Muhammad ibnu Saad Az-Zuhri Al-Basari (23Q H). Dan yang sangat berguna bagi ahli hadis dan fiqih ialah At-Takmil susunan Al-Imam ibnu Katsir. Muslim. Kemudian berusaha pula beberapa ulama besar lain. hingga sampai pada ibnu Hajar Asqalani (852 H).AlBukhari (256 H). Di dalamnya terdapat nama-nama sahabat nama-nama tabi’in dan orang-orang sesudahnya. dan ada pula yang melengkapi semuanya. Abu Zurah Ad-Dimasyqi (281 H). Sesudah itu. Di samping itu. Ad-Darimi (255 H). Kemudian pada tiap-tiap masa terdapat ulama-ulama yang memperhatikan keadaan perawi. ada yang menerangkan orang-orang yang lemah saja. Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat dipercayai saja ialah Kitab As-Siqat. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan As-Sayuti. Abu Bakar ibnu Syaibah (235 H).Duafa karangan ibnul Jauzi (587 H) C. Abdur Razaq bin Human (211 H). Abu Daud At-Tahyalisi (204 H). MUhammad ibnu Saad (230 H). Banyak pula ulama yang menyusun kitab ini. karangan Al-Bukhari dan kitab Ad. di antaranya Ali ibnul Madini(234 H). Al-Bukhari. Ahmad ibnu Hanbal (241 H). ada beberapa macam. Di antara pemuka-pemuka jarah dan takdil ialah Yahya ibnu Main (233 H). IImu Illail Hadis Ilmu Illial Hadis. Masuk dalam bagian ini adalah kitab-kitab yang menerangkan tingkatan penghapal-penghapal hadis. yang boleh diterima riwayatnya dan yang ditolak. di antaranya. Ada yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja. ada yang menerangkan perawi-perawi suatu kitab saja atau beberapa kitab dan ada yang melengkapi segala kitab. ialah: . Kitab-kitab yang disusun mengenai jarah dan taqdil.

ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H). Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H). tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadis itu dinamai Mukhatakiful Hadis. Namun jika dilawan oleh hadis yang sederajatnya. dan sehalushalusnya. ialah Ibnul Madini (23 H). dapat merusakkan kesahihan hadis. ialah: Artinya: “ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. Ilmun nasil wal mansuh Ilmun nasih wal Mansuh. yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya. tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadis tersebut dinamai Muhkam. yang dapat mencacatkan hadis. merafakan yang mauqu memasukkan satu hadis ke dalam hadis yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini. D. Selain itu. Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam’uh ini. maka yang terkemudian itu. di antaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H). bila diketahui. Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh. Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis. Di antara para ulama yang menulis ilmu ini. Yakni menyambung yang munqati. kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya. yang dinamai Al-lktibar. Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) . ” Apabila didapati suatu hadis yang maqbul. tidak nyata. Ibnu Abi Hatim (327 H). E.Artinya: Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. ialah: . Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadis melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadis. Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AI-Hakim. Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian.

kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. ilmu ini ialah Al-Imamusy Syafii (204 H). ” Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang ‘amm. atau menaqyidkan yang mutlak. Ilmu Talfiqil Hadis Ilmu Talfiqil Hadis.” Penting diketahui. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun. ialah: Artinya: “Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadis-hadis yang isinya berlawanan. At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran. ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masamasanya Nabi menurunkan itu. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H). Kitabnya bernama At-Tahqiq.Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. Ibnu Qurtaibah (276 H). . dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H F. UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari. dari murid Ahmad (309 H). karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadis. atau dengan memandang banyaknya yangterjadi. Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad.

Pembagian Hadis Berdasarkan Jumlah Perawinya Ditinjau dari segi jumlah perawinya. Hadis Mutawatir 2.PENGKLASIFIKASIAN HADIS A. hadis terbagi kepada dua. Hadis Ahad Diantara ulama hadis. yaitu : 1. yaitu : . ada yang membaginya menjadi tiga.

Sedang menurut istilah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. pada setiap tingkatan sanad. Jumlah tersebut harus terdapat pada setiap lapisan atau tingkatan sanand. Sedang menurut istilah hadis ahad yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang memiki sanad yang pada setiap tingkatannya terdiri atas perawi yang banyak dengan jumlah yang menurut hukum adat atau akal tidak mungkin bersepakat unutk melakukan kebohongan terhadap hadis yang mereka riwayatkan tersebut. . Sandaran riwayat mereka adalah pancaindera. adalah sepuluh orang. ada yang mangharuskan lima orang. c. yaitu: 1. Hadis Masyhur Masyhur adalah isim maf’ul dari syahara. yaitu hadis yang mutawatir lafazdan maknanya 2) Mutawatir Ma’nawi yaitu hadis mutawatir maknanya saja. Menurut ‘Ajjaj al-khathib hadis ahad yaitu hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada hadis mutawatir ataupun hadis masyhur. yaitu: 1) Mutawatir lafzhi. Hadis mashur 3. Perawi tersebut terdiri atas jumlah yang banyak. Status dan hukum hadis masyhur tidak ada hubungannya dengan shahih atau tidaknya suatu hadis. ada yang berpendapat minimal empat orang dalam setiap tabaqat. Sekurang-kurangnya jumlahnya. dianalogikan kepada jumlah nabi yang memperoleh gelar Ulul Azmi. sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu alThayyib.) Kriteria Hadis Mutawatir 1. mutawatir berarti hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat bahwa mereka bersepakat untuk berbuat dusta. 2. Hadis Ahad a. Namun. b. Mustahil menurut adat bahwa mereka dapat sepakat unutk berbuat dusta. tidak pada lafaznya. karena dianalogikan kepada saksi dalam qadzf. Menurut istilah ulama hadis. yang berarti “al-zuhur” yaitu nyata. 3. Menurut imam Nawawi mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang mengahsilkan ilmu dengan kebenaran mereka secara pasti dari orang yang sama keadaannya dengan mereka mulai dari awal (sanad) nya sampai ke akhirnya. Hadis Mutawatir a. karena diantara hadis masyhur terdapat hadis yang mempunyai status shahih. 4.) Pengertian Hadis Mutawatir Mutawatir secara kebahasaan adalah isim fail dari kata al-tawatir yang berarti al-tatabu’ yaitu berturut-turut. Khabar al-Wahid adalah kabar yang diriwayatkan oleh satu orang.1. menurut sebagian ulama hadis. selama tidak sampai kepada tingkat mutawatir.) macam hadis mutawatir Hadis mutawatir terbagi menjadi dua. Hadis Ahad 1.) Pengertian Hadis AHAD Kata ahad berarti “satu”. 2.) Macam-macam hadis ahad Hadis ahad terbagi menjadi tiga macam. b. Hadis Mutawatir 2.

perbuatan. 2. yang diterianya dari perawi yang sama dengannya sampai kepada akhir sanad. Pembagian Hadis Berdasarkan Tempat Penyandarannya 1. Hadis Gharib Menurut bahasa kata gharib berarti shifat musyabbahat berarti al-munfarid atau alba’id’an aqaribihi. yaitu menyendiri atau jauh dari kerabatnya. Namun disandarkan beliau kepada Allah SWT. yaitu Allah SWT. yang maha suci. 5) Hadis Masyhur di kalangan ahli nahwu 6) Hadis Masyhur di kalangan awam 2. yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. “bagus”. 2) Hadis Masyhur dikalangan fuqaha 3) Hadis Masyhur dikalangan ulama’ ushul fiqh. yaitu hadis yang ditolak atau tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam menetapkan sesuatu hukum. maka hadis masyhur itu hukumnya lebih kuat dari pada hadis ‘Aziz dan Gharih. . Hadis Qudsi bukanlah al-Qur’an dan bahkan keduanya adalah berbeda. 3. 1. Hadis Dha’if Hadis dha’if adalah hadis mardud. Sedangkan menurut istilah perkatan yang bersumber dari rasulullah SAW. Sedang menurut istilah berarti bahwa tidak kurang perawinya dari dua orang pada seluruh tingkatan sanad. meskipun itu adalah perkataan atau firman llah. dhabith. B. dan bahkan ada yang mawdhu’ (palsu). dan hadis tersebut tidak syadz. yaitu : 1) Hadis Masyhur dikalangan ahli hadis. taqrir (pengakuan/ketetapan). 2. atau haif. Hadis Shahih Adalah lawan dari saqim (sakit) sedangkan dalam istilah ilmu hadis shahih berarti hadis yang berhubungan (bersambung) sanadnya yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Sedang istilah setiap hadis yang diriwayatkan dan tidak terdapat pada sanadnya perawi yang pendusta. 3. dan kalangan awam. Hadis Hasan Secara etimologi berarti “indah”. Akan tetapi. Pembagian Hadis Bedasarkan Kualitas Sanad dan Matan-nya. Hadis Qudsi Adalah hadis yang dihubungkan keapada zat yang quds. serta diriwayatkan pula melalui jalan yang lain. ulama Ushul fiqh.ya’izzu yang berarti qalla dan nadara yaitu sedikit dan jarang. Akan tetapi hadis tersebut berstatus shahih. Sedangkan menurut istilah yaitu hadis yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya. Hadis Marfu’ Hadis marfu’ adalah segala bentuk yang disandarkan kepada nabi SAW dalam bentuk perkataan.ataupun sifat. 4) Hadis Msyhur di kalangan ulama hadis. tidak syad dan tidak pula ber’ilat. Hadis ‘Aziz Aziz menurut bahasa adalah shifat musyabbahat dari kata ‘azza. Hadis masyhur dapat dibagi menjadi enam macam. fuqaha. C.hasan.

baik perkataan maupun perbuatan tabi’at tersebut. Hadis Mauquf Hadis mauquf adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari. 3. sehingga dengan demikian memungkinkan sesuatu hadis marfu’ itu berstatus shahih. maupun pengakuan. atau dihubungkan kepada. ‫ ( الحط‬merendahkan ) . Hadis Maqthu’ Secara etimologi adalah putus atau terputus. 4. atau dha’if. perbuatan. seorang sahabat atau sejumlah sahabat baik berupa perkataan.Hukum hadis marfu’ tergantung pada kualitas dan bersambung atau tidaknya sanad. hasan. hadis maqthu’ berarti sesuatu yang terhenti (sampai) pada tabi’at. . Sedangkan secara terminologi. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1.

Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia . bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ َ ْ َ ‫من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya.2. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ ّ َ َ ُ ٍ ِ َ ِ ّ َ ‫َ ْ َ ّث‬ ‫من حد َ عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. pada dusta yang disengaja saja.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. 3. 2. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ). ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3. 3 Diada-adakan oleh perawinya.

Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi).dusta. Cuma dia keliru. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu yang menjadikannya hadits. kubu Ali radhiyallohu anhu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga . Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. setelah itulah muncul orang-orang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. 3. memalsukan hadits . mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu.

Utsman. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. b. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan Al-Hakam bin Sohir. Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Pada khalifah dan pemimpin . Umar.mengenai Abu Bakar. Fanatisme kepada: 1.

Bepergian mencari hadits . Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3. Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari Ahlus-Sunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2.Berkeliling daerah menyebarkannya 10. Bahasa 4. Negeri 3.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta. Mazhab b. Membuat hadits yang tidak punya asal 2.2. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b. Pencurian hadits 9. seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8.

namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a.Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. 4. Pengakuan sang pemalsu. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu.Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1. 2. Al Jami’ 2:224) 3. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. Ilmu jarh wa ‘tadil 3. Pemisahan hadits shohih dan selainnya. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. 2. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1.000 hadits.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. b. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2. c. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini . Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya . apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. a.

3. Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ ََ ُ ََ َ َ ِ َ َ َ َ ُ ََ َ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ‫ل يدخل الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b. bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (Al-An’am 164 ) 1. al-Jami’ 1.pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat .Tanda pemalsuan pada matan 1.123). Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 . Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1.

Kata al Naqd itu juga berarti “kritik” seperti dalam literatur Arab ditemukan kalimat Naqd al kalam wa naqd al syi’r yang berarti “ mengeluarkan kesalahan atau kekeliruan dari kalimat dan puisi[2] atau Naqd al darahim yang berarti : ‫تمييزالدراهم واخراج الزيف منها‬ (memisahkan uang yang asli dari yang palsu ). Di dalam ilmu Hadis. Hal itu dilakukan oleh Muhadditsin karena mungkin ia menyadari bahwa perawi Hadis adalah manusia sehingga dalam dirinya terdapat keterbatasan dan kelemahan serta kesalahan. Untuk mengetahui otentik atau tidak nya sumber Hadis tersebut maka kita harus mengetahui dua unsur yang sangat penting yaitu sanad dan matan. Berdasarkan hal tersebut di atas maka makalah ini mencoba untuk memaparkan bagaimana melakukan penelitian terhadap sanad dan matan Hadis. Kedua unsur tersebut mempunyai hubungan fungsional yang dapat menentukan eksistensi dan kualitas suatu Hadis. Dan selain berkedudukan sebagai sumber hukum juga berfungsi sebagai penjelas. oleh karena itu otentisitas sumber Hadis adalah hal yang sangat penting.2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah 3 Matinya sunnah. A. Penelitian Sanad Dan Matan Hadis merupakan sumber hukum Islam yang pertama setelah Alquran. yaitu memisahkan sesuatu yang baik dari yang buruk[1]. penilaian dan penelusuran Hadis dengan tujuan untuk mengetahui kualitas Hadis yang terdapat dalam rangkaian sanad dan matan yang diteliti. al Naqd berarti : ‫تمييز الحاديث الصحيحة من الضعيفة والحكم على الرواة توثيقا وتجريحا‬ . perinci dan penafsir Alquran. tujuan dan manfaat penelitian sanad dan matan Hadis. sehingga Hadis tersebut dapat dipertanggungjawabkan keotentikannya. yang terlebih dahulu kita memahami pengertian. Pengertian dan Sejarah Penelitian Sanad dan Matan Kata penelitian (kritik) dalam ilmu hadis sering dinisbatan pada kegiatan penelitian hadis yang disebut dengan al Naqd (‫ ) ا لنهقهد‬yang secara etimologi adalah bentuk masdar dari ( ‫ ) نقهد ينقهد‬yang berarti mayyaza. Sehingga sangat wajar manakala para muhadditsin sangat besar perhatiannya untuk melakukan penelitian.

pembahasan materi atau matan Hadis itu sendiri. Sikap dan tindakan kehati-hatian Abu Bakar telah membuktikan begitu pentingnya kritik dan penelitian Hadis. Aisyah dan Abdullah Ibn Umar. Umar bin Khattab. namun Alquran dalam maksud tersebut menggunakan kata yamiz yang berarti memisahkan yang buruk dari yang baik[4] Obyek kajian dalam kritik atau penelitian Hadis adalah : Pertama. Kedua. Pada masa Sahabat. arti kritik tidak lebih dari menemui Nabi saw dan mengecek kebenaran dari riwayat (kabarnya) berasal dari beliau. yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan dari sumbernya yang pertama[5]. yang secara etimologi mengandung kesamaan arti dengan kata thariq yaitu jalan atau sandaran sedangkan menurut terminologi. sanad adalah jalannya matan. Dan pada tahap ini juga. Yang secara etimologi memiliki arti sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari tanah[6] . Ali bin Abi Yhalib.“Memisahkan Hadis-Hadis yang shahih dari dha’if. kegiatan kritik Hadis tersebut sebenarnya hanyalah merupakan konfirmasi dan suatu proses konsolidasi agar hati menjadi tentram dan mantap[8]. karena keputusan tentang otentisitas suatu hadis ditangan nabi sendiri. Diantara wujud penerapannya yaitu dengan melakukan perbandingan di antara beberapa riwayat yang yang ada seperti contohnya : . Sehingga kritik matan adalah kajian dan pengujian atas keabsahan materi atau isi hadis. dan menetapkan para perawinya yang tsiqat dan yang jarh (cacat) “[3] Jika kita telusuri dalam Alquran dan Hadis maka kita tidak menemukan kata al Naqd digunakan dalam arti kritik. kegiatan kritik Hadis dilakukan oleh Abu Bakar al shidiq. Apabila kritik diartikan hanya untuk membedakan yang benar dari yang salah maka dapat dikatakan bahwa kritik Hadis sudah dimulai sejak pada masa Nabi Muhammad. Seperti yang dikatakan oleh Al Dzahabi bahwa “ Abu Bakar adalah orang pertama yang berhatihati dalam menerima riwayat hadis” dan juga yang dikatakan oleh Al Hakim bahwa “Abu Bakar adalah orang pertama yang membersihkan kebohongan dari Rasul SAW”. dan penelusuran sanad Hadis tentang individu perawi dan proses penerimaan Hadis dari guru mereka dengan berusaha menemukan kesalahan dalam rangkaian sanag guna menemukan kebenaran yaitu kualitas Hadis. Maka pengertian kritik sanad adalah penelitian. yaitu berupa perkataan[7]. Lain halnya dengan masa sesudah nabi wafat maka kritik Hadis tidak dapat dilakukan dengan menanyakan kembali kepada nabi melainkan dengan menanyakan kepada orang atau sahabat yang ikut mendengar atau melihat bahwa Hadis itu dari nabi seperti : Abu Bakar al-Shidiq. pembahasan tentang para perawi yang menyampaikan riwayat Hadis atau yang lebih dikenal dengan sebutan sanad. Sedangkan secara terminologi. penilaian. matan berarti sesuatu yang berakhir padanya (terletak sesudah) sanad. tapi pada tahap ini . Oleh karena itu kegiatan kritik hadis pada masa nabi sangat simple dan mudah.

Sehubungan . yang terkemuka antara lain adalah : Said bin Jubair. Suatu ketika ada seorang nenek menghadap kepada khalifah Abu Bakar yang meminta hak waris dari harta yang ditinggalkan cucunya. seperti yang dilakukan Abu Ayyub al Anshari dengan melakukan perjalanan ke Mesir hanya dalam rangka mencocokkan sebuah Hadis yang berasal dari ‘Uqbah ibn Amir. Hasan al Bashri (w.110H) dan ibn Sirrin (w. bahwa kami tidak melihat petunjuk al Quran dan praktik nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek. Setelah berakhirnya periode Tabi’in. Abdullan ibn Umar Abu ayyub al Anshari serta sahabat lainnya juga melakukan kritik Hadis.Azamai[10] bahwa setelah Umar dan Ali di Madinah pada abad pertama Hijrah muncul tabi’in kritikus Hadis antara lain : Ibn al Musayyab (w. Kegiatan itu pasca sahabat dilanjutkan para tabi’in yang berkonsentrasi pada kedua daerah tersebut. yang kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan para ulama setelah mereka. setelah itu muncul Ayyub as Sakhtiyani dan ibn ‘Aun. Urwah bin az Zubair (w.100H). thawus. al Mughirah Ibn Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar. Yahya bin Said dan Hisyam bin Urwah. maka kegiatan kritik dan penelitian Hadis memasuki era perluasan dan perkembangannya ke berbagai daerah yang tidak terbatas.110H). Abu Bakar menjawab.93H). asy sya’bi. Hadis pun mulai tersebar luas ke daerah-daerah di luar Madinah sehingga mendorong lahirnya pengkajian dan penelitian Hadis seperti di Madinah dan Irak. Abu Bakar bin Abdurrahman bin al Harist (w.93H). maka Muhammad Ibn Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan al Mughirah dan akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian berdasarkan hadis nabi yang disampaikan oleh al Mughirah” Setelah periode Abu Bakar.106H). Mendengar pernyataan tersebut.“Pengalaman Abu Bakar tatkala mengahadapi kasus waris untuk seorang nenek.94H). Kemudian Abu Bakar bertanya kepada para sahabat. Abu Bakar meminta agar al Mughirah menghadirkan saksi tentang riwayat yang sama dari rasul SAW. maka Umar bin Khattab melanjutkan upaya yang dirintis pendahulunya dengan membakukan kaidah-kaidah dasar dalam melakukan kritik dan penelitian Hadis. Sedangkan di Irak.106H). bahwa Nabi telah memberikan bagian harta waris kepada nenek sebesar seperenam bagian. Ali bin Husain bin Ali (w. al Qasim bin Muhammad bin Umar (W. terutama ketika menerima riwayat dari sesama sahabat. Demikian pula Aisyah.M. Abu Sulamah bin Uthbah . Kharidjah bin Zaid bin Tsabit (w.[9] Menurut Ibn Khibban yang dikutip oleh M. Seiring dengan perluasan daerah Islam. Al Mughirah mengaku hadir pada waktu Nabi menetapkan kewarisan nenek tersebut.100 H).94H) dan Sulaiman bin Yasir (w. Salim bin Abdullah bin Umar (w. Ibn Khibban menyatakan bahwa sesungguhnya Umar dan Ali adalah sahabat yang pertama membahas tentang para perawi Hadis dan melakukan penelitian tentang periwayatan Hadis. Setelah mereka muncul murid-muridnya di Madinah pada abad kedua yaitu tiga ulama kritikus hadis yaitu : az Zuhri.

Malik bin Anas dari Madinah (93-179H). Ibn Hanbal dari Baghdad (w. Abdurrahman bin Mahdi dari Basrah (w.204H). Ayat Alquran yang berkaitan dengan perintah tersebut antara lain : a.Tujuan dan Manfaat Penelitian Sanad dan Matan Tujuan pokok dari penelitian sanad dan matan Hadis adalah untuk mengetahui kualitas suatu Hadis.196H).198H) dan Asy Syafi’I dari Mesir (w. Murid-murid dari mereka itu yang tersohor adalah antara lain : Adz Dzuhali.S. karena Hadis kategori tersebut telah menghasilkan keyakinan yang pasti bahwa Hadis tersebut berasal dari Nabi SAW. bukan untuk mengetahui kualitas sanad dan matan nya sebagaimana yang dilakukan terhadap Hadis ahad. meski demikian tidaklah berarti bahwa terhadap Hadis mutawatir tidak dapat dilakukan penelitian lagi.Faktor-faktor yang Mendorong Penelitian Sanad dan Matan Adapun faktor-faktor yang mendorong perlunya penelitian sanad dan matan diantaranya adalah[13]: 1. Yahya bin Sa’id al Qathan dari Basrah (w.Q. Abu Zur’ah ar Razi. Ali bin al Madini dari Basrah (w. Jika hal itu dilakukan hanya bertujuan untuk membuktikan bahwa benar Hadis tersebut berstatus mutawatir. antara lain : Yahya bin Ma’in dari Baghdad (w.[12] Sedangkan terhadap Hadis mutawatir. Ishak bin Rahawaih dari Marw (w. Abdullah bin al Mubarak dari marw(118-181H). Ulama-ulama tersebut di atas pada gilirannya melahirkan banyak ulama mashur di bidang kritik Hadis. Waki’ bin al Jarrah dari Kuffah (w.235H).234H). Muslim bin al Hajjaj an Nisaburi dan Ahmad bin Syu’aib.238H) dan lain-lain. Ibn Uyaianah dari Mekah (107-198H).233H).Kedudukan Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam Diterimanya Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam merupakan keniscayaan. Maka terhadap hal ini Nabi Muhammad SAW bertugas menjelaskan secara rinci dan juga mendapat legitimasi dari Allah dan umat pengikutnya berkewajiban mengikutinya. para ulama tidak menganggap perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut.dengan itu muncul beberapa ulama kritik Hadis.241H). hamad bin salamah dari Bashrah(w. Adapun Hadis yang perlu diteliti adalah Hadis yang berkategori ahad. Abu Hatim ar Razi. Suatu Hadis dapat dijadikan hujjah (dalil) dalam menetapkan hukum apabila Hadis tersebut telah memenuhi syarat-syarat diterimanya (maqbul) suatu Hadis[11]. karena begitu luas ruang lingkup Alquran di satu sisi dan keterbatasan manusia manusia dalam memahami Alquran di sisi yang lain. B. Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Wasith (w.192H). yaitu yang tidak sampai kepada derajat mutawatir. Al Bukhari. karena hal tersebut sangat fungsional berhubungan dengan kehujjahan Hadis. al Auza’I dari Beirut (88-158H). Ad Darimi. al Hasyr ayat 7 . Al laits bin Sa’ad dari Mesir (w. antara lain : Sufyan ats Tsuri dari Kuffah (97-161H). C. karena Hadis kategori tersebut berstatus Zhanni al Wurud. Syu’bah dari Wasith (83-100H).175H).167H).

al Khutub al Sittah dan al . Tidak seluruh Hadis ditulis pada masa nabi SAW Bahwa Hadis nabi lebih sedikit yang ditulis dibanding dengan yang diriwayatkan secara hafalan di kalangan para sahabat dan itu pun belum mendapat pengujian (cek ulang) di hadapan Nabi SAW. sehingga Hadis Nabi. seperti : al Kutub al Khamsah. selain penghimpunan Hadis adalah juga pengkajian sejarah para perawi Hadis itu sendiri. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. Maka terimalah. Oleh Karena itu kegiatan penting yang dilakukan para ulama Hadis. begitu juga dengan penelitian terhadap pribadi para perawi yang telah memperoleh suatu Hadis adalah bagian terpokok dalam penelitian Hadis. Dalam kaitan ini.Maka tinggalkanlah. Munculnya Pemalsuan Hadis Berbagai faktor yang mendorong pemalsuan Hadis menyebabkan banyak bermunculan Hadis-hadis palsu. Lamanya Masa Pengkodifikasian Hadis. 5. 3. jika kamu berpaling. al Imran ayat 32 Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. dan apa yang dilarangnya bagimu. ulama Hadis bekerja keras dan dengan kesungguhan menyelamatkan Hadis-hadis Nabi SAW. dan bertakwalah kepada Allah. baik yang telah maupun yang belum di tuliskan pada masa Nabi SAW perlu di lakukan penelitian lebih lanjut terhadap para perawi dan periwayatannya sehingga tingkat validitasnya suatu riwayat dapat dibuktikan. Q. Muhammad ibn Muslim ibn Syihab az Zuhri adalah satu diantara ulama yang berhasil melaksanakan perintah khalifah Umar ibn Abd Aziz dalam penghimpunan Hadis. Oleh karena itu mendorong kegiatan penelitian Hadis semakin penting. mengakibatkan Hadis-hadis yang terhimpun dalam berbagai kitab menuntut penelitian yang seksama dari Hadis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan ke shahihan nya. akhirnya umat Islam mengalami kesulitan untuk mengetahui Hadis yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan yang asli berasal dari Nabi SAW. Tidak seragamnya metode dan sistimatika penyusunan kitab-kitab Hadis pada masa penghimpunan .S. b. 4. yaitu berupa penyusunan beberapa kaidah dan ilmu Hadis secara ilmiah untuk dapat di pergunakan penelitian Hadis. dan hasil karyanya tersebut selanjutnya di kirim oleh Khalifah ke berbagai daerah untuk dijadikan bahan penghimpunan Hadis selanjutnya.… apa yang diberikan Rasul kepadamu. 2. Jarak waktu antara masa penghimpunan Hadis dengan masa Nabi SAW yang cukup lama. Beragamnya Metode Penyusunan Kitab-Kitab Hadis. maka para ulama Hadis menilai dan membuat kreteria tentang peringkat kualitas kitab-kitab Hadis. Pengkodifikasian Hadis secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (99 – 101 H). Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". Sehingga sanad Hadis menjadi sanngat penting.

Oleh karena itu apabila sanad suatu Hadis tidak memiliki kreteria yang telah ditentukan seperti tidak adil maka riwayat tersebut langsung ditolak dan selanjutnya penelitian terhadap matan Hadis tidak diperlukan lagi. yaitu berupa kita-kitab Hadis yang standar. Anas ibn Malik. yaitu bahwa sanad tersebut tidak syadz dan tidak ber ‘illat[14]. Oleh karena itu untuk mengetahui kesahihan suatu Hadis yang termuat dalam kitab-kitab tersebut maka diperlukan adanya penelitian. Sanad Hadis Keadaan dan kualitas sanad merupakan hal yang pertama sekali diperhatikan dan dikaji oleh para ulama Hadis. Sehingga sangat perlu dilakukan penelitian Hadis. karena salah satu prinsip yag dipedomani oleh para ulama Hadis adalah bahwa suatu Hadis tidak akan diterima meskipun matan nya kelihatan shahih kecuali disampaikan oleh orang-orang yang adil akan tetapi apabila sanad nya telah memenuhi persyaratan ke shahih an. seperti : sami’tu. seperti Ali ibn Abi Thalib. Apabila syarat-syarat tersebut telah terpenuhi oleh suatu sanad maka sanad tersebut secara lahir telah dapat dinyatakan shahih. apakah memenuhi syarat atau tidak. Sementra itu untuk mengetahui kandungan petunjuk dari suatu Hadis. seperti : Umar ibn al Khattab. Abu Hurairah dan Aisyah serta sahabat yang lain secara ketat melarang periwayatan hadis secara makna. Abdullah ibn Abbas. Adanya Periwayatan Hadis Secara makna sebagian sahabat ada yang membolehkan periwayatan Hadis secara makna. D. akhbarani. Akan tetapi para ulama hadis menambahkan lagi dua syarat lain guna memperkuat status ke shahih an. Kalangan sesudah sahabat terdapat juga para ulama yang membolehkan periwayatan Hadis secara makna. Kegiatan penelitian tersebut akan dapat menentukan kualitas para periwayat yang termuat dalam berbagai sanad. Kreteria yang tidak seragam tersebut selanjutnya akan menghasilkan kualitas Hadis-hadisnya tidak selalu sama. seperti perawi yang bersangkutan harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentanng bahasa Arab. Prinsip ulama Hadis itu adalah : “ Ke shahih an sanad tidak mengharuskan ke shahih an matan suatu hadis “ Agar suatu sanad dapat dinyatakan shahih dan diterima maka harus memiliki syaratsyarat seperti : bersambung ( muttashil). 6. terutama Hadis Qauli. namun dengan syarat-syarat tertentu. Abdullah ibn Umar dan Zaid ibn Arqam. ‘an dan ‘anna.1. 1. . terlebih dahulu harus mengetahui redaksi Hadis yang bersangkutan. terutama yang menyangkut nama-nama perawi yang terlibat dalam periwayatan Hadis dan lambang-lambang periwayatan Hadis yang telah digunakan oleh masing-masing perawi dalam meriwayatkan Hadis. maka barulah kegiatan penelitian dilanjutkan kepada matan Hadis itu sendiri. Bagian-Bagian Yang Harus Diteliti : Sanad dan Matan Adapun yang menjadi obyek penelitian Hadis adalah sanad Hadis dan matan Hadis . Abdullah ibn Mas’ud. adil dan dhabit.Kutub al Sab’ah. Hadis yang diriwayatkan bukan bacaan yang bersifat ta’abbudi seperti bacaan shalat dan periwayatan secara makna mengindikasikan bahwa Hadis tersebut memiliki matan tertentu dari Rasul SAW.

tempat lahir dan daerah-daerah yang pernah dikunjunginya. tidak dikenal (majhul) ataupun samara-samar (mubham). seperti Bukhari dan lainlain. sehingga menghasilkan jiwa yang percaya dengan kebenarannya yang ditandai dengan sikap menjahui dosa-dosa besar dan dari sejumlah dosa kecil. yang selanjutnya dituliskan dalam bentuk rangking yang saling berkaitan sehingga dapat digambarkan peringkat masing-masing perawi seperti . tersembunyi (mastur).. b. bahwa di dalam sanad tidak ada perawi yang gugur (munqathi’). . Dalam hal meneliti sejarah hidup perawi. Demikian pula. dan selanjutnya dia menyampaikan kepada perawi yang dating sesudahnya. Dalam hal penelitian mengenai kebersambungan sanad. Adapun untuk mengetahui keadilan seorang perawi Hadis.generasi sahabat yang menerima hadis tersebut langsung dari Rasul Allah SAW . maka ada dua hal yang harus dikaji oleh peneliti Hadis yaitu : sejarah hidup masing-masing perawi dan sighat al tahammul wa al ‘addad. Hal tersebut harus berlangsung dan dapat dibuktikan dari sejak perawi pertama . dapat dilakukan dengan cara : • • • Melalui pemeberitahuan para kritikus Hadis atau dalam istilah ibn Shalah dan al Nawawi adalah melalui pernyataan dua orang mu’addil. tabi’in. sumber Hadis yang diterimanya dan muridnya yaitu yang meriwayatkan Hadis.samapai kepada perawi terakhir – yang mencatat dan membukukan hadis itu. sahabat. Keadilan Perawi Yang dimaksud dengan sifat ‘adil disini adalah suatu sifat yang tertanam di dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk senantiasa memelihara ketakwaan.Kebersambungan Sanad (Ittishal al Sanad) Yang dimaksud sanad bersambung adalah bahwa masing-masing perawi yang terdapat dalam rangkaian sanad tersebut menerima Hadis secara langsung dari perawi sebelumnya. Selain itu. muru’ah (moralitas). langkah yang dilakukan adalah pencatatan nama-nama seluruh perawi yang terdapat pada sanad. Dan langkah selanjutnya barulah diteliti riwayat hidup masing-masing perawi dengan memperhatikan hubungan satu perawi dengan perawi lainnya yaitu masa hidupnya. sepertio Malik ibn Abbas atau Sufyan al Tsuri Apabila terdapat berbagai pendapat para ulama mengenai status keadilan seorang perawi. anatara satu perawi dengan perawi lainnya harus dapat dibuktikan bahwa mereka adalah semasa (al mu’asharah) dan telah terjadi pertemuan langsung diantara mereka (al liqa’). Melalui popularitas yang dimiliki seorang perawi bahwa dia adalah seorang adil. seperti ada yang menyatakan adil dan ada juga yang menyatakan jarh maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan mempedomani kaidah dalam ‘Ilm al jarh wa al Ta’dl sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai keadilannya[15].a. tabi’i al tabi’in dan seterusnya. dan selanjutnya meneliti lambang-lambang periwayatan Hadis yang telah digunakan masing-masing perawi.

baik disertai dengan pembicaraan tentang status hadis-hadis tersebut dari segi sahih atau daif. ‘Mengeluarkan’. melekat (setia) nya apa yang dihafalnya di dalam ingatannya dan pemeliharaan tulisan (kitab) nya dari segala macam perubahan sampai dia menyampaikan (meriwayatkan) Hadis tersebut . yaitu mengeluarkan hadis dari dalam kitab dan meriwayatkannya. yaitu menunjukkan pada sumber hadis asli dan menyandarkan hadis tersebut pada kitab sumber asli dengan menyebutkan perawi penyusunnya.[5] Para muhadisin mengartikan takhrij hadis sebagai berikut: 1. 3. dan yang populer diantaranya adalah al-istinbath (mengeluarkan). atau para gurunya. Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh.c. atau kitab-kitab lainnya. 4. . atau berbagai kitab lain yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri. al-masikhat. ditolak atau diterima. al-tawjih (memperhadapkan)[4] Sedangkan secara terminologi. Al-Sakhawy mengatakan dalam kitab Fathul Mugis sebagai berikut. dan dibicarakan kemudian disandarkan kepada pengarang atau penyusun kitab itu”. Kemudian hadis tersebut disusun gurunya atau teman-temannya dan sebagainya. Pengertian Takhrij Hadis Takhrij menurut bahasa mengandung pengertian bermacam-macam. “Takhrij adalah seorang muhadis mengeluarkan hadis-hadisdari dalam ajza’. Ke dhabit an Perawi Al dhabit atau ke dhabit an seorang perawi dalam terminologi ulama Hadis adalah ingatan (kesadaran) seorang perawi hadis semenjak dia menerima Hadis. siapa periwayatnya dari para penyususn kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pengambilan. Dalalah. 2. atau hanya sekedar mengembalikannya kepada kitab-kitab asal (sumbernya)nya. al-tadrib (melatih atau membiasakan). Ulama mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis. tajhrij berarti : ‫عزو الحاديث التى تذكر في المصنفات معلقة غير مسندة ول معزوة الى كتاب او كتب مسندة اما مع الك َم عليها‬ َ ْ ََ ِ ‫َ ْ ُ َ ِ ْ ِ ّ ُ ْ َ ُ ِ ُ َ ّ َ ِ ُ َّ َ ً َ ْ َ ُ ْ َ َ ٍ َ َ ْ ُ ّ ٍ َِ ِ َ ٍ َ ْ ُ ُ ٍ ُ ْ َ َ ٍ ِ ّ َ َ ْ َل‬ ِ ْ ُ ُ َِ ِ ْ َ ْ ََ ِ َ ِ ْ ِ ِ ّ َِ ِ َِ ْ َ ِ َ ْ ِ َ ِ َ َ َ ً ْ ُ َ َ ّ َ َ ً ْ ِ ْ َ َ ً ْ ِ ْ َ ‫تصحيحا وتضعيفا وردا وقبول وبيان مافيها من العلل واما بالقتصار على العزو الى الصول‬ Mengembalikan (menelusuri kembali ke asalnya) hadis-hadis yang terdapat di dalam berbagai kitab yang tidak memakai sanad kepada kitab-kitab musnad. dan penjelasan tentang kemungkinan illat yang ada padanya.

khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadis.5. Disamping itu. 1). khususnya yang menekuni bidang hadis dan ilmu hadis. seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara untuk sampai kepada suatu hadis di dalam sumber-sumbernya yang asli yang pertama kali disusun oleh para Ulama pengkodifikasi hadis. dapat disimpulkan bahwa hakikat dari takhrij hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab hadis sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanadnya. Musnad Ahmad.[8] Penguasaan tentang ilmu Takhrij sangat penting. Dan hal ini akan memudahkan untuk melakukan penelitian sanad dalam rangka untuk mengetahui status dan kualitasnya.[6] Dari uraian defenisi di atas.[7] B. Dengan mengetahui hadis tersebut dari sumber aslinya. maka akan dapat diketahui sanadsanadnya. Menghindari kesalahan nilai hadis karena membangsakan kualitas hadis secara tidak benar. Al-Kutub al-Sittah. 3). Seperti menempatkan hadis daif kepada hadis sahih atau sebaliknya. dengan metode dan kualitas para rawi sekaligus hadisnya. 2). Secara metodologis pengutipan hadis pada sumber primer adalah suatu keharusan. yakni kitab yang di dalamnya dikemukakan secara lengkap dengan sanadnya masingmasing. Penelusuran dan pencarian hadis pada sumber aslinya ini memeliki beberapa urgensi yakni. lalu untuk kepentingan penelitian. Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal. bahkan merupakan suatu keharusan bagi setiap ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu-ilmu kasyariahan. Kitab-kitab tersebut seperti. . Syarat untuk penelitian sanad. Mengemukakan asal usul hadis sambil dijelaskan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang diperoleh oleh penulis kitab tersebut dari para gurunya. Muwaththa’ Malik. didalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh. takhrij Hadis dapat dijelaskan sebagai berikut: • • • Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadis itu. Mengemukakan hadis-hadis berdasarkan sumber pengambilannya dari kitab-kitab yang didalamnya dijelaskan metode periwayatannya dan sanad hadis-hadis tersebut. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumber yang asli. lengkap dengan sanadnya sampai kepada Nabi Saw. Dengan mempelajari kaidah-kaidah dan metode takhrij. Mustadrak Al-hakim. Dari berbagai pernyataan di atas. 4). Menghindari kesalahan redaksi.

dan gharibnya. Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis melalui perbandingan sanadsanad yang ada. Diantara kitab-kitab yang dapat dijadikan pedoman dalam men-takhrij adalah: Usul al. Adapun manfaat takhrij Hadis antara lain sebagai berikut: 1. maka nama perawi itu akan menjadi jelas.[9] 3. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat. 6. 5. 8. karena dengan adanya takhrij. Kitab-Kitab yang Diperlukan dalam Men-takhrij Dalam melakukan takhrij.[10] 10. dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. 7. Demikian pula akan dapat diketahui istilah hadis mutawatir. Sehingga hadis tersebut menjadi jelas. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut. Memperjelas perawi yang samar.Gharami. Memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan di antara sanad-sanadnya. Maka dengan takhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain yang dapat mengangkat status hadis tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. atau hasan li ghairi. masyhur. Turuq Takhrij Hadis Rasul Allah Saw karya Abu Muhammad al- . baik dari segi sanad maupun matan. seperti hadis da`if melalui satu riwayat. Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadis tersebut adalah makbul (dapat diterima). Hal ini karena mungkin saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. baik asal-usul maupun kualitasnya. seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut. hasan li zatih. Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. orang tidak akan mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadis tersebut mardud (ditolak). Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadis yang sedang menjadi topik kajian. Sebaliknya. 9.[11] C. Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al. 11. kita akan mengetahui hadis-hadis yang pengutipannya memperhatikan kaidahkaidah ulumul hadis yang berlaku. 2. 4. Memperjelas hukum hadis dengan banyaknya riwayatnya. Dapat diketahui status hadis sahih li zatih atau sahih li ghairih. Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada. Dengan cara ini. Dengan adanya sanad yang lain.Takhrij wa Dirasat al-Asanid oleh Muhammad Al-Tahhan.Dengan demikian Takhrij hadis bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang di takhrij. aziz.

Sunan Darimi. seperti: 1. diantaranya seperti: • • AL-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi. Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Kitab ini memuat hadis-hadis yang terdapat dalam empat belas buah kitab. oleh Iz al-Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammadibn Al-asir al-Jazari (w. oleh `Abdullah Muhammad ibn Sa`ad Khatibal-Waqidi (w. Kitab ini memuat hadishadis dari Sembilan kitab induk hadis seperti Sahih al-Bukhari. 2. b) Kitab-kitab Tabaqat yaitu kitab-kitab yang membahas biografi para perawi hadis berdasarkan tingkatan para perawi (tabaqat al-ruwat). karangan Abu `Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Usman al-Zahabi (w. 630 H/ 1232 M) 3. Metodologi Penelitian Hadis Nabi oleh Syuhudi Ismail. 463 H/1071 M). Sahih Muslim. Al-Tabaqat al-Kubra.Mahdi ibn `Abd al-Qadir ibn `Abd al Hadi. Sunan Turmidzi. Tazkirat al-Huffaz. baik mengenai Sunnah maupun biografi Nabi. 230 H). Cara Pelaksanaan dan Metode Takhrij . Musnad Zaid ibn Ali ibn Husein ibn Ali ibn Abi Talib. D. Yaitu selain dari Sembilan kitab induk hadis yakni. musnad al-Tayalisi. oleh Al-Hafiz ibn Hajar al-asqalani (w. oleh ibn ‘abd al-Barr al-Andalusi (w. AlMagazi. karya ibn Abi Hatim (w 327 H). oleh Imam Al-Bukhari (w 256 H/870 M) 2. 2. 852 H/ 1449). 748 H/ 1348 M). Sirah ibn Hisyam. Selain kitab-kitab di atas. c) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadis secara umum. Sunan Nasa’i. Al-Tabaqat al-Kubra. Al-Tarikh al-Kabir. dan lain-lain. Al-Jarh wa al-Ta`dil. di dalam men-takhrij diperlukan juga bantuan dari kitab-kitab kamus atau mu’jam hadis dan mu’jam para perawi hadis. Al-Isti ab fi Ma`rifat al Asahab. Sunan ibn Majah.[12] Sedangkan kitab yang memuat biografi para perawi hadis diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Thahhan sebagai berikut:[13] a) Kitab yang memuat biografi sahabat 1. Al-Ishabah fi Tamyizal-Sahabah. 1. Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Sahabah. Miftah Kunuz al. Sunan abu Daud.Sunna.

maka lafaz pertama dari hadis tersebut adalah iza atakum (‫اذا‬ ِ ْ ُ ََ ‫ . bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah. Metode ini mempunyai kelebihan dalam hal memberikan kemungkinan yang besar bagi seorang mukharrij untuk menemukan hadis-hadis yang dicari dengan cepat. Penggunaan metode ini akan lebih .)اتاكم‬Namun.)اذاجههاءكم‬maka hal tersebut tentu akan ْ ُ ََ ْ َ َُْ َ menyebabkan sulitnya menemukan hadis yang sedang dicari. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf. ِ َ ْ ُ ِ ُ ِْ ّ َ َْ ‫ليس الشديد بالصرعة‬ Untuk mengetahui lafaz lengkap dari penggalan matan tersebut. Akan tetapi. apabila terdapat kelainan atau perbedaan lafaz pertamanya sedikit saja. langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi. Misalnya.Di dalam melakukan takhrij. tetapi yang dicantumkan adalah bagian hadisnya sehingga pencarian hadishadis yang dimaksud dapat diperoleh lebih cepat. ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman. baik berupa kata benda ataupun kata kerja. tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalh orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah”. ُ ْ ُ ّ َ َ ُ َ ُُ َ ُ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ ُ َ َ ِ ‫اذاأتاكم من ترضون دينه و خلقه فزوجوه‬ Berdasarkan teks di atas. lafaz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu. apabila akan men-takhrij hadis yang berbunyi. Takhrij Melalui Kata-Kata dalam Matan Hadis Metode ini adalah metode yang berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis. meskipun ketiga lafaz tersebut mengandung arti yang sama. 1. 2. Hadis-hadis dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafaz pertamanya menurut urutan huruf hijaiyah.[14] Setelah diperiksa. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad fuad Abdul Baqi. apabila yang diingat oleh mukharrij sebagai lafaz pertamanya adalah law atakum (‫ )لههو اتهها كههم‬atau iza ja’akum [15](‫ . Sebagai contoh . Takhrij Melalui Lafaz Pertama Matan Hadis Metode ini sangat tergantung pada lafaz pertama matan hadis. penggalan hadis tersebut terdapat di halaman 2014. yaitu. ِ ْ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ ُ ِْ َ ْ ِ ّ ُ ْ ِ َ َ ّ ِ ِ َ ْ ُ ِ ُ ْ ِ ّ َ ْ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ َ ْ ُ َ ّ َ َ َ ْ َ ُ ْ ِ َ َ ‫عنْ ا بي هريرة أن رسول ال صلى ال عليه وسلم قال: ليس الشديد باالصرعة انما الشديد الذي يملك نفسه عندالغيب‬ Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda. mak akan sulit unruk menemukan hadis yang dimaksud. Bearti. karena adanya perbedaan lafaz pertamanya.

Sunan Nasa’i. adalah mencari bentuk kata kunci tadi sebagaimana yang terdapat di dalam hadis yang akan kita temukan melalui Mu’jam ini. penggunaan kata tabara (‫ )تبارى‬di dalam kitab induk hadis (yang berjumlah Sembilan) َ ََ hanya dua kali. Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi.)طعام‬yu’kal (‫ )يؤكل‬al-mutabariyaini (‫ . Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu.)المتباريين‬Akan tetapi dari sekian kata yang ََ ْ َْ ُ ِ َِ ََُ dapat dipergunakan. Sahih Bukhari. dan Musnad Imam Ahmad. Dan berdasarkan bentuk dasar tersebutdicarilah kata-kata itu di dalam kitab Mu’jammenurut urutannya secara abjad (huruf hijaiyah). َ َ ْ ُ ْ َ ِ ْ َ ِ َ َ ُ ِ َ َ ْ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ َ ِ ّ ّ ِ ‫ان النبي صلى ال عليه وسلم نهى عن طعام الْمتباريين أن يؤكل‬ Dalam pencarian hadis di atas. Muwaththa’ malik. Mengiringi hadis tersebut turut dicantumkan kitab-kitab yang menjadi sumber hadis itu yang dituliskan dalm bentuk kode-kode sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Kitab ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di dalam Sembilan kitab induk hadis sebagaimana yaitu. adalah menentukan kata kuncinya yaitu kata yang akan dipergunakan sebagai alatuntuk mencari hadis. Menurut penelitian para ulama hadis. Metode ini mempercepat pencarian hadis dan memungkinkan pencarian hadis melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadis. Sebaiknya kata kunci yang dipilih adalah kata yang jarang dipakai. metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu. kata tersebut dikembalikan kepada bentuk dasarnya. Contohnya pencarian hadis berikut. Setelah itu. Langkah kedua. Penggunaan metode ini dalam mentakhrij suatu hadis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: Langkah pertama. Sunan Ibn Majah. Sunan Turmizi. Sunan Darimi. 3. Terkadang suatu hadis tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata lain. Sahih Muslim. Selain itu. Takhrij Berdasarkan Perawi Sahabat . karena semakin bertambah asing kata tersebut akan semakin mudah proses pencarian hadis. Di bawah kata kunci tersebut akan ditemukan hadis yang sedang dicari dalam bentuk potongan-potongan hadis (tidak lengkap).mudah manakala menitikberatkan pencarian hadis berdasarkan lafaz-lafaznya yang asing dan jarang penggunaanya. lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini ( ِ ْ َِ ََُ ‫ )المتبههاريين‬karena kata tersebut jarang adanya. pada dasrnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha (‫)نهى‬ ََ ta’am ( ‫ . Sunan Abu Daud.

Oleh karena itu untuk melakukan takhrij dengan metode ini. maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-atraf tadi untuk kemudian mengambil hadis secara lengkap. apabila perawih yang hendak diteliti itu tidak diketahui. maka kita mencari hadis tersebut dalam kitab ini hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. Akan tetapi. zakat. Al. berpuasa bulan Ramadhan. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadis itu. Berdasarkan tema-tema tersebut maka hadis diatas harus dicari didalam kitab-kitab hadis dibawah tema-tema tersebut. Dari keterangan diatas jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung kepada pengenalan terhadap tema hadis. membayarkan zakat. Dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk hadisnya. mendirikan shalat. Dalam kitab ini disebutkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. Dalam kasus yang demikian seorang mekharrij harus mencarinya pada tema-tema yang mungkin dikandung oleh hadis tersebut. Kebanyakan kitab al-atraf disusun berdasarkan musnadmusnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. shalat. Contoh : ّ َ َ َ َ َ َ ِ ْ َ َ ِ َ ّ ِ َ ْ َ ‫ُ ِ َ ِ ْ َ ُ ََ َ ْ ٍ َ َ َ ِ ْ َِ َ ِ ّ ّ ّ ُ َ ّ ّ َ ُ ْ ُ ّ َِ َ ِ ّ ة‬ ‫بني السلم على خمس شهادة ان لاله ال ال وان محمدا رسول ال واقام الصل ِ وايتاء الزكاة وصوم رمضان وحج‬ ِ ّ ْ ِ َ ِ ْ َِ َ َ َ ْ ِ َ ِ ْ َ ْ ‫البيت من استطاع اليه سبيل‬ Dibangun Islam atas lima pondasi yaitu : Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz AsSunnah yang berisi daftar isi hadis yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. 4. Untuk itu seorang mukharrij harus memiliki beberapa pengetahuan tentang kajian Islam secara umum dan kajian fiqih secara khusus. Takhrij Berdasarkan Tema Hadis Metode ini berdasrkan pada tema dari suatu hadis. Kelebihan metode ini adalah bahwa proses takhrij dapat diperpendek. Susunan hadis di dalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) sesuai huruf kamus hijaiyah. Kitab-kitab Al-Atraf. dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik. . Seringkali suatu hadis memiliki lebih dari satu tema. perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadis yang akan ditakhrij dan kemudian baru mencarinya melalui tema itu pada kitab-kitab yang disusun menggunkan metode ini. • • • Al-Masanid (musnad-musnad). Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis.Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis. puasa dan haji.ma`ajim (mu`jam-mu`jam). tauhid. lalu kita mnecari bantuan dari tiga macam karya hadis yakni. Hadis diatas mengandung beberapa tema yaitu iman.

Akan tetapi metode ini juga memiliki berbagai kelemahan. dengan sedikitnya hadis-hadis yang dimuat dalam karya-karya sejenis. tanpa memerlukan pengetahuan tentang lafaz pertamanya. maka metode ini tidak mungkin diterapkan. dan kitab-kitab sejenis lainnya. Takhrij Berdasarkan Status Hadis Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam menyusun hadis-hadis. Kitab kitab yang disusun berdasarkan metode ini : • • • Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akbar al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi. sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit.Metode ini memiliki kelebihan yaitu : Hanya menuntut pengetahuan akan kandungan hadis. seperti hadis qudsi. Kelebihan metode ini dapat dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. Hal ini karena sebagian besar hadis-hadis yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadis sangat sedikit. Al-Ittihafat al-Saniyyat fi al-Ahadis al-Qadsiyyah oleh al-Madani. terutama apabila kandungan hadis sulit disimpulkan oleh seorang peneliti. hadis mursal dan lainnya. . sehingga dia tidak dapat menentukan temanya. Al-Marasil oleh Abu Dawud. hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini. hadis masyhur. 5. Seorang peneliti hadis dengan membuka kitab-kitab seperti diatas dia telah melakukan takhrij al hadis. Namun. yaitu penghimpunan hadis berdasarkan statusnya. karena cakupannya sangat terbatas. Karyakarya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadis berdasarkan statusnya.

menurut pandangannya. Instruksinya kepada Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm. Khalifah Umar juga mengirim surat kepada para penguasa didaerah-daerah agar mendorong para ulama setempat untuk mengajarkan dan menghidupkan sunnah Nabi SAW. dengan demikian. Khalifah Umar Ibn Abdul al-Aziz menginstruksikan dalam menginstruksikan kepada para ulama dan penduduk Madinah untuk memperhatikan dan memelihara hadits mengatakan. “Tuliskan untukku seluruh hadits Rasul SAW yang ada padamu dan pada Amrah. yaitu dengan mengeluarkan perintah secara resmi untuk pengumpulan dan pembukaan hadits. Dengan demikian. Dorongan untuk menuliskan dan memelihara hadits selain karena dikhawatirkan akan lenyapnya hadits bersama meninggalnya para penghafalnya. dengan cara demikian hadits Nabi SAW dapat terpelihara. salah satu kebijaksanaan Umar Ibn al-Aziz menggalakan para ulama dalam hal penulisan hadits serta memberikan kebolehan untuk itu. “Perhatikanlah hadits-hadits Rasul SAW dan tuliskanlah. Gubernurnya di Madinah. Amir al-Mu’minin. beliau telah mempergunakannya secara maksimal dan efektif untuk pemeliharaan hadits-hadits Nabi SAW. Selain perintah untuk mengumpulkan hadits. yang sebenarnya belum ada kebolehan resmi. beliau lahir pada tahun 61 H. karena aku mengkhawatirkan lenyapnya hadits dan perginya para ahlinya”. beliau berkata : . Dia sendiri menuliskan sejumlah hadits. Umar Ibn Abdul al-Aziz hidup dalam suasana atsmosfir ilmu pengetahuan cukup baik dan beliau sendiri sebagai Amir al-Mu’minin tidak jauh dri ulama. sejak pertama dikumpulkan secara resmi sampai pada penyelesaiannya antara yang shahih dan yang bukan shahih adalah : Umar Ibn Abdul al-Aziz ( 61-101 H) Nama lengkapnya adalah Umar Ibn Abdul al-Aziz Ibn Marwan Ibn al-Hakam Ibn Abi alAsh Ibn Umayyah Ibn Abdul Syams al-Qurasyi al-Umawi Abu Hafs al-Madani alDimasyzi. selain mendorong para ulama untuk melakukan hal yang sama. maka umumnya para ulama hadits menghubungkan permulaan hadits dengan Umar Ibn Abd al-Aziz yaitu pada awal abad kedua Hijriah dan orang yang mula-mula membukukan hadits adalah Ibn Syihab al-Zuhri. karena aku mengkhawatirkan hilangnya hadits-hadits tersebut. Khalifah “Umar juga memerintahkan Ibn Syihab al-Zuhri (W. Meskipun masa pemerintahan beliau relative singkat. Ibunya adalah Umm’Ashim binti Ashim Ibn Umar Ibn alKhaththab. Ibn Syihab alzuhri berhasil mengkoleksi hadits.BAB PEMBAHASAN BIOGRAFI SINGKAT BEBERAPA ULAMA HADITS II Diantara para ulama hadits yang telah berjasa dalam pengkordifikasikan hadits dan ilmu hadits. juga dikarenakan berkembangnya kegiatan pemalsuan hadits yang disebabkan oleh terjadinya pertentangan politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat Islam. 124 H) dan ulama lainnya untuk mengumpulkan hadits Nabi SAW. dia adalah cucu dari Umar Ibn al-Khathathab dari garis keturunan ibunya. mengatakan.

Abdullah ibn Umar. Abdullah. al-Hafizh al-Madani dan lain-lain. Dan dia selanjutnya perkataannya : Tidak ada seorang pun yang telah membukukan ilmy ini (hadits) sebelum pembukuan yang aku lakukan ini. “Umar Ibn Abd al-Aziz adalah seorang yang tsiqat. Ada sebuah kisah tentang kesetiaan dan keteguhan hafalannya terlihat ketika suatu hari Hisyam ibn Abd al-Malik memintanya untuk mendiktekan sejumlah hadits untuk anaknya. anak pamannya yakni Maslamah Ubn al-Malik Ibn Marwan. Al-Zuhri hidup pada akhir masa sahabat.‘Umar Ibn Abd al-Aziz telah memerintahkan kami untuk mengumpulkan sunnah Nabi SAW. Jabir ibn Abdillah. ketika itu Hisyan mengatakan kepadanya bahwa kitab yang berisikan 400 hadits tempom hari telah hilang. Oleh karenanya. saudaranya yakni Zuban Ibn Abd al-Aziz. maka kami pun menuliskannya dalam beberapa buku. lalu dia mendiktekan kembali hadits-hadits tersebut. dia mendengar hadits dari para sahabat seperti Anas ibn Malik. dia meriwayatkan banyak hadits. Lantas al-Zuhri meminta menghadirkan seorang juru tulis dan kemudian dia mendiktekan sejumlah 400 hadits. Al-Zuhri. dan dia masih bertemu dengan sejumlah sahabat ketia dia berusia 20 tahun lebih. seperti dikatakan Umar bin Abd al-Aziz. yaitu pada masa pemerintahan khalifah mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Setelah berlalu lebih sebulan. dia seorang faqih. Penilaian para kritikus hadits mengenai diri Umar Ibn Abd al-Aziz adalah sebagai berikut : Ibn Sa’ad berkata. . antara lain alFaqih. Sahal ibn Sa’ad. “Engkau tidak akan kehilangan hadits-hadits itu. Muhammad ibn Syihab al-Zuhri (50-124) Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn muslim ibn’ Ubaidillah ibn Syihab ibn Abdullah ibn al-Harits ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah al-Qurasyi al-Zuhri alMadani. Meskipun seorang Khalifah. Umar ibn Abd al-Aziz meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 101 H. Ibn Hibban memasukkan Umar ibn Abd al-Aziz kedalam kelompok Tabi’in yang tsiqat. dua orang anak Umar Ibn Abd al-Aziz. Al-Masur ibn Makhramah dan lainnya. Umar Ibn Abd al-Aziz juga seorang perawi hadits. al-Zuhri bertemu kembali dengan Hisyam. dan dia adalah imam yang adil. ia seperti yang dikatakan al-As-Zalani. Abu Bakar Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm. Malik dan Ibn Uyainah menyataka Umar ibn Abd al-Aziz adalah imam. Al-Sa’ib Ibn Yazid. Ayyub dan al-Laits. tidak ada ulama yang lebih tinggi kemampuannya khususnya dalam bidang ilmu agama dari alZuhri. Abu AtThufail. alim. mendapat beberapa gelar. Dia selanjutnya mengirimkan masing-masing satu kepada setiap penguasa didaerah. sedangkan yang meriwayatkan hadits-haditsnya diantaranya adalah Abu Salamah Ibn Abd al-Rahman dan kedua anaknya yakni Abdullah dan Abd al-Aziz. Menurut para ulama. Anbasah Ibn Sa’id Ibn al-Ash dan lain-lain.” kemudian dia meminta seorang juru tulis. dan wara’. Al-Zuhri menjawab. Al-Bukhari. beliau lahir pada tahun 50 H. ma’mun. Beliau menerima hadits dari Anas.

360 H) . Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Madinah dan sekaligus sebagai ulama hadits dia pernah diminta oleh Khalifah Umar ibn abd al-Aziz untuk menuliskan hadits-hadits Nabi SAW yang ada pada ‘Umrah binti Abd al-Rahman (W. Ibn Hazm adalah seorang ulama besar dalam bidang hadits dan dia juga terkenal ahli dalam bidang fiqh pada masanya. yaitu seorang sangat mulia muru’ah-nya dan sempurna sifanya.107 H) dan ibn hazm lantas menuliskannya umrah yang adalah makcik dari ibn Hazm sendiri. sementara itu. pernah tinggal bersama Aisyah dan dia adalah yang paling terpecaya dari kalangan Tabi’in dalam hal hadits Aisyah.117 H) Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazm al-Anshari alKhazraji al-Najjari al-Madani al-Qadhi. Imam Malik ibn Anas mengatakan. Ada yang menyebutkan bahwa namanya adalah Abu Bakar dan kuniyagnya Abu Muhammad dan ada bahka ada yang mengatakan bahwa nama dan kuniyahnya adalah sama. “saya tidak melihat seorang ulama seperti Abu Bakar ibn Hazm. d Al-Zuhri dari manshur. dan ibn Hibban memasukkan ibn Hazm ke dalam kelompok tsiqat. dari ayahnya dari kakeknya. Dia memerintah di Madinah dan menjadi hakim (qadhi) tidak ada dikalangan kami di Madinah yang menguasai ilmu al-Qadha’ (mengenai peradilan) seperti yang dimiliki oleh ibn Hazm. Al-Zuhri adalah seorang yang sangat intens dan bersemangat dalam memelihara sanad hadits bahkan beliau yang pertama menggalakan penyebutan sanad hadits tatkala meriwayatkannya. Dan beliau telah memberikan perhatian yang besar dalam pengkajian dan penuntutan ilmu hadits. Menurut al-Nasdi ada empat jalur sanad yang terbaik dari beliau yaitu : a Al-Zuhri dari Ali ibn al-Husain. dan pendapat ini dipegang oleh Ajjaj al-Khathib. b Al-Zuhri dari Ubaidillah. dari ibn Abbas. Tahun lahirnya tidak diketahui dan tahun meninggalnya. al-Waqidi dan ibn alMadini berpendapat bahwa ibn Hzm meninggal pada tahun 120 H. dari Muhammad dari Ubaidah dari Ali. Beliau meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 124 H.setelah itu. ibn Ma’in dan kharrasy mengatakan bahwa ibn Hazm adalah seorang yang tsiqat . Muhammad ibn Hazm (W. Al-Zuhri memiliki sekitar 2000/2200 hadits. Al-Ramahurmuzi (W. dan pendapat ini diikuti oleh Hasbi ash-Shidieqy. dari ibrahim dari Al-Qamah dari Abdullah. dia menyerahkan kepada Hisyam dan isi kitab tersebut ternyata satu huruf pun tidak berubah dari isi kitab yang pertama. Abu Musa dan ibn Bakir adalah tahun 117 H.98 H0 serta al-Qasim ibn Muhammad (W. menurut al-Haitsam ibn Adi. c Al-Zuhri dari Ayyub. bahkan beliau bersedia memberikan bantuan materi terhadap mereka yang berkeinginan mempelajari hadits namun tidak mempunyai dana untuk itu.

seorang muhaddist non Arab. “Dia (Al-Ramahurmuzi) adalah seorang yang termuka dan banyak pembendaharaannya dalam hadits. ayahnya Isma’il adalah adalah seorang ulama hadits yang pernah belajar hadits dari sejumlah ulam terkenal seperti Malik ibn Anas. yang diantaranya adalah dalam bidang ilmu mushthalah al-Hadis. Komentar dari Al-Dzahabi yang mengatakan. 296 H). Amtsal al-Nabawi. bermunculanlah ilmu-ilmu yang mandiri. Abu al-Qasim Abdullah bin Ahmad ibn Ali al-Baghdadi. Abu Bakar Muhammad ibn Musa ibn Mardawaih.Namanya adalah Abu Muhammad al-Hasan ibn abd al-Rahman ibn Khallad alRamahurmuzi.Bukhari. dapat disimpulkan bahwa dia adalah seorang yang terpelihara muru’ah-nya. dari segi kualitas pribadinya dia adalah seorang yang hafizh. kemudian. al-Hasan ibn al-Laits al-Syirazi. Tahun kelahirannya tidak disebutkan secara ekspelesit oleh para ahli sejarah. tatkala ilmu-ilmu ke Islaman mengalami kematangan dan memiliki istilah-istilah sendiri. yang pertama menulis kitabnya adalha Al-Ramahurmuzi dengan judul AlMuhaddits al-Fashil bayn al-Rawi wa al-Wa’I. Abu Hushain Muhammad ibn al-Husain al-Wadi’I (W. dan beberapa karyanya muncul seiring dengan kebesarannya dalam bidang hadits tersebut. al-Ramahurmuzi juga menulis sejumlah kitab. 303 H). namun dari riwayat perjalanan hidupnya dan kegiatan periwayatan hadits yang dilakukannya. mulia akhlaknya dan bagus kepribadiannya. “Al-Ramahurmuzi adalah seorang imam hafiz. Dia dilahirkan pada hari jum’at 13 Syawal 194 H di Bukhara. Hammad ibn . tsiqat. kitab ini dipandang sebagai kitab yang pertama dalam bidang ilmu ushul al-Hadits (mushthalah al-Hadits). Bukhari (194-256 H) Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn AlMughirah Ibn Bardizbah al-Ju’fi (al-Ja’fai) al. Selain kitab al-Muhaddits al-Fashil. al-Illal fi Mukhtar al-akhbar dan lain-lain. dan lain-lain. dan lain-lain. Al-Ramahurmuzi adalah seorang ulama besar dan terkemuka dalam bidang hadits pada zamannya. Ajjaj al-Khathib menyimpulkan bahwa al-Ramahurmuzi lahir sekitar tahun 265. Abu Ja’far Umar ibn Ayyub alSaqthi (W. Abad al-Nathiq. Al-Qadhi Ahmad ibn Ishaq al-Nahawindi. Imam al-Tanzil fi al-Qur’an alKarim. Pada ke-4 Hijriah. Dalam bidang mushthalah al-Hadits. Abu Ja’far Muhammad Ibn al-Husain al-Khats’ami (221-315 H). menyusun dan melahirkan berbagai karya ilmiah mengikuti jejak para ulama hadits dan juga ahli syi’ir. Diantara para gurunya dalam bidang hadits adalah ayahnya sendiri. Al-Ramahurmuzi meninggal dunia pada tahun 360 H di Ramahurmuzi. Sedangkan diantara para muridnya yang meriwayatkan hadits-haditsnya adalah Abu al-Husain Muhammad ibn Ahmad al-Shaidawi. pengalaman dan peninggalan karya ilmiahnya. yang diantarannya adalah : Adab al-Muwa’id. ma’mun dan melalui kesan-kesan. Al-Sam’ani berkata. Ibn Khallad al-Ramahurmuzi hidup dari akhir abad ke-3 H sampai dengan pertengahan abad ke-4 H. dia menulis. yakni Abd alRamahurmuzi.

Abu Zur’ah. Para ulama yang hadir tercengang dan terpaksa harus mengakui kepandaiannya. antara lain Maky bin Ibrahim. mulai dari tanggal dan tempat tanggal lahir mereka. beliau pergi ke bagdad para ulam ahli hadits sepakat menguji ulama muda yang mulai menanjak namanya. Imam Bukhari di undangnya pada suatu pertemuan umum yang dihadiri juga oleh muhatdditsin dari dalam dan luar kota. Abdullah bin Usman al-Marwazy. Abu Ashim As-Syaibany dan Muhammad bin Abdullah AlAnshary. berdasarkan pengakuan beliau sendiri. dan sebagainya. Namun. dia memiliki kecerdasan dan kemampuan menghafal yang luar biasa. At-Turmudzy. Beliau merantau ke negeri Syam. antara lain : Imam Muslim. Bahkan diundang juga ulam hadits dari khurasan. sampai berkali-kali semua itu beliau lakukan untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai suatu hadits. juga tanggal dan tempat mereka meninggal dunia. Baik matan ataupun sanatnya. “saya tidak memasukkan dalam kitabku ini kecuali shahih semuanya. ke Hijaz bermukim 6 tahun dan pergi ke bagdad bersama-sama para ahli hadits yang lain. ujarnya. Abdullah bin Musa Abbasy. yakni kumpulan tersebut berisikan hadits-hadits shahih yang beliau persiapkan selama 16 tahun lamanya. Waki’. Ulama-ulama besar yang telah pernah mengambil hadits dari beliau. Ulama hadits terdiri dari 10 orang yang masing-masing akan mengutarakan 10 hadits kepada beliau. Kitab tersebut berisikan hadits-hadits shahih semuanya.Zaid. mesir. dan ibn al-Mubarak. Dia tidak hanya menghapal hadits-hadits dan karya ulama terdahulu saja. antara lain : (1) Jami’us-shahih. lalu beliau menerangkan dengan membenarkan dan mengembalikan sanad-sanadnya pada matan yang sebenarnya satu per satu sampai selesai semuanya. Satu demi satu dari ulama 10 hadits tersebut menanyakan 10 hadits yang telah mereka persiapkan. majulah penanya ke dua dengan satu persatu dikemukakan hadits yang sudah dipersiapkan dan seterusnya sampai selesai penanya yang kesepuluh dengan hadits-haditsnya sekali.” . Pada suatu ketiaka. bahkan sebelum mencapai usia 10 tahun. menjelang usia 16 tahun dia telah mampu menghafal sejumlah buku hasil karya ulam terkenal pada masa sebelumnya. Demikianlah selesai penanya pertama. Tetapi setelah beliau mengetahui gelagat mereka yang bermaksud mengujinya. ke basrah empat kali. ayahnya meninggal dunia ketika Bukhari masih dalam usia sangat muda. seperti ibn al-Mubarak. Karya-karya beliau banyak sekali. Bukhari mulai mempelajari hadits sejak usianya masih nuda sekali. Jazirah sampai dua kali. yang sudah di tukar-tukar sanad dan matannya. jawabannyapun saya tidak mengetahui. Ibnu khuzaimah dan An-Nasa’iy. ketelitiannya dan kehafalannya dalan ilmu hadits. Beliau telah memperoleh hadits dari beberapa hafidh. dan lainnya. Jawaban beliau terhadap setiap hadits yang dikemukakan oleh penanya pertama ialah saya tidak mengetahuinya. tetapi juga mempelajari dan menguasai biografi dari seluruh perawi yang terlibat dalam periwayatan setiap hadits yang di hafalnya. Meskipun usianya masih sangat muda.

didatanginya kota Rey untuk belajar hadits pada Muhammad ibn Mahran. Telah diakui oleh jumhur ulama. Beliau juga dinisbatkan kepada nenek memangnya Qusyair bin Ka’ab Rabi’ah bin Sha-sha’ah suatu keluarga bangsawan besar. yakni kota kecil di Iran bagian timur laut. Al-Jami’al-kabir 4. Ismail Ibn Abi Muhammad ibn al-Muksanna. 2. bahwa shahih Bukhari adalah sesahih-sahih kitab hadis dan sebesar-besar pemberi faidah. Ahmad ibn al-Mubarak dan lain sebagainya. At-Tarikhu’I-Kabir At-Adabu’I-Munfarid Beliau wafat pada malam sabtu selesai sholaat Isya. tepat pada malam Idul Fitri tahun 252 H. Musa ibn Haram. tidak lagi ditaruh di maudhu lain. Yahya ibn Sa’id. Kitab I’al wa Kitabu Uhamil Muhadditsin 5. seperti Qatadah ibn Sa’id. al-Musnad al-Shahih. sebab sebuah hadits yang telah beliau letakakan pada suatu maudhu. seperti Abu Halim. Kitab Al-Tamyiz . beliau dinisbatkan kepada Naisabury. hafidh lagi terpercaya terkenal sebagai ulama yang gemar bepergian mencari hadits. Ibnu Khuzaimah. karena beliau adalah putra kelahiran Naisabur.(2) (3) (4) (5) (6) Birru’i-Walidain. Al-Musnad Al-Kabir. ulama-ulama yang sederajat dengan beliau dan para hafidh. Ulama-ulama besar. sedang shahih muslim adalah secermat-cermat isnadnya dan berkurang-kurang perulangannya. Abu Mas’ad dan di Mesir beliau berguru kepada Amir ibn Sawad. Ia mulai belajar hadits pada tahun 218 H saat berusia kurang lebih lima belas tahun. dan dikebumikan sehabis sholat Dhuzur di Khirtank. dan Awawanah. Imam Muslim salah seorang Muhaddisin. pada tahun 204 h. Qadlayass-shahabah wat-tabi’in. al-Mukhtashar min al-Sunan bi Naql al-Adl’an Rasulullah. Selain yang disebutkan diatas masih banyak ulama hadits yang menjadi gurunya. Beliau kunjungi kota Khurasan untuk berguru hadits kepada Yahya ibn Yahya dan Ishaq ibn Rahawaih. At-Tarikhu’I-Ausath. 3. Harmalah ibn Yahya dan kepada ulama hadis yang lain. suatu kampung tidak jauh dari kota Samarkand. Muslim (204-261 H) Nama lengkapnya Imam Muslim adalah Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj alQusyairy. Jadi kitab shahih ini berada satu tingkat dibawahi sahih Bukhari. Muhammad ibn rumbi dan lain-lainnya. banyak yang berguru hadits kepada beliau. Karya-karya Imam Muslim antara lain : 1. Abu Isa alTirmidzi. al-Qa’naby. Kitab yang menerangkan tentang nama-nama Rijal Al-Hadits. Shahih muslim yang judul aslinya.

Masyayikh al-Tsauri. Al-Intifa bi Julus al-Shiba. berwudhu lebih dahulu. kemudian duduk diatas shalat dengan tenang dan berwudhu. Az-zuhry. asy-Syafi’iy. Imam muslim wafat pada hari ahad bulan Rajab 261 H dan dikebumikan pada hari senin di Naisabur. Disamping keahliannya dalam bidang ilmu fiqhi. Nenek moyang kita. al-Tharikh. kecuali perang Badar. Nafi’. ditengah jalan atau dengan tergesa-gesa. Kitab Muhadlramin 9. Aulad Al-Sha-habah. Abu Amir adalah seorang sahabat yang selalu mengikti seluruh peperangan yang terjadi pada zaman Nabi. dilahirkan pada tahun 93 Hijriah. Irfad Al-Syamiyyin. beliau bila handak memberikan hadits. dan lain sebagainya. Hadist Amr ibn Syu’aib. seluruh warga Negara Hijaz memberikan gelar kehormatan baginya “Sayyidi Fuqaha’i-Hijaz”. Malik adalah seorang tabi’in yang besar dan fuqaha kenaman dan salah seorang dari 4 orang tabbi’in yang jenazahnya dihusung sendiri oleh khalifah Utsman kelompok pemakamannya. Beliau benci sekali memberikan hadits sambil berdiri. Imam Bukhari mengatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahu’i-asnaid. Nafi’I. seluruh ulama telah mengakuinya sebagai muhaddits yang tangguh . dikota Madinah. Al-Agran. atas anjuran khalifah Ja’far al-Manshur. ialah kitab-kitab AlMuwaththa tersebut ditulis pada tahun 144 H.a. Sebagai seorang muhaddits yang selalu menghormati dan menjunjung tinggi hadits Rasulullah saw. ialah bila sanad itu terdiri dari Malik. Ibnu’I Mubarak. Ulama-ulama yang pernah berguru kepada beliau antara lain : al-Auza’iy. Beliau mengambil hadits secara qira’ah dari Nafi’ bin Abi Nua’im. Sufyan ats-Tsaury. pelayan ibnu Umar r. dan Ibnu’Umar r. Silislah beliau berakhir sampai kepada Ta’rub bin al-Qahthan al-Ashbahy. Sufyan bin Uyainah. Karya beliau yang sangat gemilang dalam bidang ilmu hadits. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Imam Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Amr bin alHarits adalah seorang imam Darul Hijrah dan seorang faqih. Sha-lawatuh Ahmad ibn Hanbal. Imam Malik bin Anas. sewaktu bertemu di saat-saat menunaikan ibadah haji. Masyayikh Malik dan Al-Wuhdan. Kitabu al-Tahbaqat al-Tabi’in 8. sedang kakeknya.a dan lain sebagiannya. .6. pemuka mazhab malikiyah. Kitab lainnya adalah : Al-Asma wa al-Kuna. Imam Yahya bin Sa’id al-Qahthan dan Imam Yahya bin Ma’in menggelarinya sebagai Amirulmukminin Fi’I-Hadits. setelah tak tahan lagi menunggu didalam rahim ibunya selama tiga tahun. Rijal’urwah. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahidun 7.

dengan meninggalkan 3 orang putra : Yahya. Juga beliau mempunyai hafalan matan hadits sebanyak 1. di Madinah. Adapun ulama-ulama besar yang pernah mengambil ilmu dari padanya antara lain : Imam-imam Bukhary.000.Beliau wafat pada hari ahad. Diantara karya beliau yang sangat gemilang ialah musnadu’i kabir kitab musnad ini merupakan satu-satunya kitab musnad terbaik dan terbesar diantara kitab-kitab musnad yang pernah ada. Beliau dituduh bahwa beliaulah yang menjadi sumber pendapat. Syam. Imam Ahmad bin Hanbal Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Hanbal al-Marwazy adalah ulama hadits yang terkenal kelahiran Bagdad. Dari peratauan ilmiah. tahun 179 H). terkenal juga sebagai salah seorang pendiri dari salah satu mazhab empat yang dikenal oleh orangorang kemudian.000 orang laki-laki dan 60. Madinah. sehingga mengakibatkan penyiksaan dan harus meringkuk dipenjara atas tindakan pemerintah diwaktu itu.000 buah. antara lain : Sufyan bin Uyainah. Beliau wafat pada hari Jumat bulan Rabiul Awal tahun 241 H di Bagdad dan dikebumikan di Marwaz. beliau mendapatkan guru-guru hadits yang kenamaan. sejak beliau baru berumur 16 tahun. Yaman. ke-wara’-an dan ke-zuhudan beliau. sebagian ulama menerangkan bahwa disaat meninggalnya. untuk kepentingan yang sama. tanggal 14 Rabiul Awwal tahun 169 (menurut sebagian pendapat. dengan nama mazhab Hanabilah (Hanbaly). Basrah dan lain-lain. Disamping sebagai seorang muhadditsin. Beliau dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal.000 orang perempuan dan suatu . ketakwaan. Kemudian berkerumunlah orang untuk menanyakan hadits. Yahya bin qaththan. Tidak pernah berpisah dengan gurunya kemana pun sang guru berpergian. disamping keahliannya dalam bidang perhaditsan. tahun 169 H. Muslim. Disambutnya pertanyaan mereka dengan gembira dan sekaligus meluncurkan berpuluh-puluh hadits dan hafalannya lewat mulutnya. Jenazahnya diantar oleh 800. dikota Bagdad. beliau mempunyai tulisan sebanyak 12 macam yang semuanya sudah dikuasai diluar kepala. beliau berdiri dengan bersandar pada tembok dibawah menara mesjidnya. Beliau sendiri adalah seorang murid imam As-Syafi’I yang paling setia. yang kemudian diikuti dengan peratauannya ke kota-kota Mekah. Para ulama telah sepakat menetapkan keimanan. Ibrahim bin sa’ad. Dari Bagdad inilah beliau memulai mencurahkan perhatiannya belajar dan mencari hadits sekhidmat-khidmat. Ibnu Abid-Dunya dan Ahmad bin Abil Hawarimy. Beliau juga berkirim surat kepada ulama-ulama hadits di beberapa negeri. Dan menurut Abu zur’ah. Sehabis salat Ashar. bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Muhammad dan Hammad.

. makamnya paling banyaj dikunjungi orang.000 orang dari kaum Nasrani. pula 20.kejadian yang menakjubkan disaat itu. Yahudi dan Majusi masuk agama Islam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful