P. 1
A

A

|Views: 4,484|Likes:
Published by Elsa Tria Noviadi

More info:

Published by: Elsa Tria Noviadi on Aug 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1) Ilmu Hadis Riwayah
  • 2) Ilmu Hadis Dirayah
  • A. PENGERTIAN HADITS
  • 1. As-Sunnah
  • 2. Khabar
  • 3. Atsar
  • B. BENTUK-BENTUK HADITS
  • C. KEDUDUKAN HADITS TERHADAP AL-QUR’AN
  • D. FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QUR’AN
  • E. PERBANDINGAN HADITS DENGAN AL-QUR’AN
  • SEJARAH KODIFIKASI HADIST
  • A. Penulisan Hadits pada Periode Rasululloh SAW
  • B. Penulisan Hadis setelah Nabi Wafat
  • C. Periode Tabi’in
  • D. Periode Tabi’ Tabi’in
  • E. Periode Setelah Tabi’ Tabi’in
  • PENGKLASIFIKASIAN HADIS
  • A. Pengertian dan Sejarah Penelitian Sanad dan Matan
  • B.Tujuan dan Manfaat Penelitian Sanad dan Matan
  • C.Faktor-faktor yang Mendorong Penelitian Sanad dan Matan
  • D. Bagian-Bagian Yang Harus Diteliti : Sanad dan Matan
  • BAB II PEMBAHASAN BIOGRAFI SINGKAT BEBERAPA ULAMA HADITS

A- Pengertian Ilmu Hadis Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadisyang

mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadis adalah: “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis, karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadis yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Pada mulanya, ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya, sepertiIlmu al-Hadis al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al-Asma’ wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan, khususnya, oleh para ulama abad ke-3 H. Umpamanya, Yahya ibn Ma’in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa’ad (230H/844) menulis Al—Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilaldan Al-Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadis, karena masing-masing membicarakan tentang Hadis dan para perawinya. Akan tetapi, pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi penggunaan lafaz jamak Ulumul Hadis setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalahMusthalahul Hadis. B- Pembagian Ilmu Hadits Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian, yaitu Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah. 1) Ilmu Hadis Riwayah Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Riwayah, sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-

Hadisseperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: ‫علم الحديث الخاص بالرواية هو: علم يعرف به أقهوال رسهول اله صهلى اله عليهه وسهلم وأفعهاله وأحهواله وروايتهها‬ َ ُ َ َ ِ َ ُ ُ َ ْ ََ ُ ُ َ ْ ََ ِ ِ ْ ُ َ ُ َ ْ َ ِ ِ ُ َ ْ ُ ٌ َْ َ ُ ِ َ َ ّ ِ ّ َ ِ ْ ِ َ ْ ُ ِْ ‫وضبطها وتحرير ألفاظها‬ َ ِ َ ْ َ ُ ْ ِ ْ ََ َ ُ ْ َ َ Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasul SAW serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya. 2) Ilmu Hadis Dirayah Mengenai pengertian Ilmu Hadis Dirayah, para ulama hadis memberikan definisi yang bervariasi, namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan, maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya, terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya: Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: ْ ُ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ ّ ُ َ َ َ ُ َ ْ ََ َ ُ َ ْ ََ َ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ َ ّ ُ َ ْ ِ َ ُ ْ ِ ُ َ ْ ُ ٌ ْ ِ ِ َ َ ّ ِ ّ َ ِ ْ ِ َ َ ُ ْ ‫َع‬ ‫و ِلم الحديث الخاص بالدراية : علم يعرف منه حقيقة الرواية وشروطها وأنواعها وأحكامها وحال الرواة وشروطهم‬ ‫وأصناف المرويات ومايتعلق بهها‬ َ ِ ُ َّ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُ َ ْ ََ C- Sejarah dan Perkembangan Ulumul Hadis Pada dasarnya Ulumul Hadis telah lahir sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam, terutama setelah Rasul SAW wafat, ketika umat merasakan perlunya menghimpun hadis-hadis Rasul SAW dikarenakan adanya kekhawatiran hadis-hadis tersebut akan hilang atau lenyap. Para sahabat mulai giat melakukan pencatatan dan periwayatan hadis. Mereka telah mulai mempergunakan kaidah-kaidah dan metode-metode tertentu dalam menerima hadis, namun mereka belumlah menuliskan kaidah-kaidah tersebut. Adapun dasar dan landasan periwayatan hadis di dalam Islam dijumpai dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. Dalam QS. Al-Hujarat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menelitu dan mempertanyakan berita-berita yang datang dari orang lain, terutama dari orang fasik. Firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang telah beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah berita tersebut dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”.(QS. Al-Hujurat: 6). Sementara dalam hadis disebutkan, “(Semoga) Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (hadis), lantas dia menyampaikannya (hadis tersebut) sebagaimana dia dengar, kadangkadang orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengar”. (HR. AtTirmizi).

Hubungan Hadits dengan Al-Qur’an
02 Mei 2009 Oleh Rudi Arlan Al-Farisi A. PENGERTIAN HADITS Kata "Hadits" atau al-hadits menurut bahasa berarti al-jadid (sesuatu yang baru), lawan kata dari al-qadim (sesuatu yang lama). Kata hadits juga berarti al-khabar (berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Kata jamaknya, ialah al-hadist. Secara terminologi, ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. Di kalangan ulama hadits sendiri ada juga beberapa definisi yang antara satu sama lain agak berbeda. Ada yang mendefinisikan hadits, adalah : "Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan hal ihwalnya". Ulama hadits menerangkan bahwa yang termasuk "hal ihwal", ialah segala pemberitaan tentang Nabi SAW, seperti yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaanya. Ulama ahli hadits yang lain merumuskan pengertian hadits dengan : "Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya". Ulama hadits yang lain juga mendefiniskan hadits sebagai berikut : "Sesuatu yang didasarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya". Dari ketiga pengertian tersebut, ada kesamaan dan perbedaan para ahli hadits dalam mendefinisikan hadits. Kasamaan dalam mendefinisikan hadits ialah hadits dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan maupun perbuatan. Sedangkan perbedaan mereka terletak pada penyebutan terakhir dari perumusan definisi hadits. Ada ahli hadits yang menyebut hal ihwal atau sifat Nabi sebagai komponen hadits, ada yang tidak menyebut. Kemudian ada ahli hadits yang menyebut taqrir Nabi secara eksplisit sebagai komponen dari bentuk-bentuk hadits, tetapi ada juga yang memasukkannya secara implisit ke dalam aqwal atau afal-nya. Sedangkan ulama Ushul, mendefinisikan hadits sebagai berikut : "Segala perkataan Nabi SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara�". Berdasarkan rumusan definisi hadits baik dari ahli hadits maupun ahli ushul, terdapat persamaan yaitu ; "memberikan definisi yang terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, tanpa menyinggung-nyinggung prilaku dan ucapan shabat atau tabi�in. Perbedaan mereka terletak pada cakupan definisinya. Definisi dari ahli hadits mencakup segala sesuatu yang disandarkan atau bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Sedangkan cakupan definisi hadits ahli ushul hanya menyangkut aspek perkataan Nabi saja yang bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara�. Selain Hadits, ada juga istilah yang mempunyai makna seperti Hadits, yakni :

1. As-Sunnah Sunnah menurut bahasa berarti : "Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang buruk". Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut : "Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat" (H.R. Al-Bukhary dan Muslim). Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut. Menurut Ajjaj al-Khathib, bila kata Sunnah diterapkan ke dalam masalah-masalah hukum syara�, maka yang dimaksud dengan kata sunnah di sini, ialah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW., baik berupa perkataan maupun perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalil hukum syara� disebutkan al-Kitab dan as-Sunnah, maka yang dimaksudkannya adalah al-Qur�an dan Hadits. Pengertian Sunnah ditinjau dari sudut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan. Ada ulama yang mengartikan sama dengan hadits, dan ada ulama yang membedakannya, bahkan ada yang memberi syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah hadits. Ulama ahli hadits merumuskan pengertian sunnah sebagai berikut : "Segala yang bersumber dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul, seperti ketika bersemedi di gua Hira maupun sesudahnya". Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits. "Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas, mereka memandang diri Rasul SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Olah karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri Rasul SAW., tanpa membedakan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara� atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW., atau sesudahnya. Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah adalah "segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut

pautnya dengan hukum". Menurut T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, makna inilah yang diberikan kepada perkataan Sunnah dalam sabda Nabi, sebagai berikut : "Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya" (H.R.Malik). Perbedaan pengertian tersebut di atas, disebabkan karena ulama hadits memandang Nabi SAW., sebagai manusia yang sempurna, yang dijadikan suri teladan bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah surat al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut : "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu". Ulama Hadits membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW., baik yang ada hubungannya dengan ketetapan hukum syariat Islam maupun tidak. Sedangkan Ulama Ushul Fiqh, memandang Nabi Muhammad SAW., sebagai Musyarri�, artinya pembuat undang-undang wetgever di samping Allah. Firman Allah dalam al-Qur�an surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi: "Apa yang diberikan oleh Rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apa yang dilarang oleh Rasul jauhilah". Ulama Fiqh, memandang sunnah ialah "perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu. Atau dengan kata lain sunnah adalah suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan, dan tidak dituntut apabila ditinggalkan. Menurut Dr.Taufiq dalam kitabnya Dinullah fi Kutubi Ambiyah menerangkan bahwa Sunnah ialah suatu jalan yang dilakukan atau dipraktekan oleh Nabi secara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya; sedangkan Hadits ialah ucapan-ucapan Nabi yang diriwayatkan oleh seseorang, dua atau tiga orang perawi, dan tidak ada yang mengetahui ucapan-ucapan tersebut selain mereka sendiri. 2. Khabar Selain istilah Hadits dan Sunnah, terdapat istilah Khabar dan Atsar. Khabar menurut lughat, yaitu berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang. Untuk itu dilihat dari sudut pendekatan ini (sudut pendekatan bahasa), kata Khabar sama artinya dengan Hadits. Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah hadits sama artinya dengan khabar, keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu, mauquf, dan maqthu. Ulama lain, mengatakan bahwa kbabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW., sedang yang datang dari Nabi SAW. disebut Hadits. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar. Untuk keduanya berlaku kaidah umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa tiap-tiap hadits dapat dikatan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan Hadits. Menurut istilah sumber ahli hadits; baik warta dari Nabi maupun warta dari sahabat, ataupun warta dari tabiin. Ada ulama yang berpendapat bahwa khabar digunakan buat segala warta yang diterima dari yang selain Nabi SAW. Dengan pendapat ini, sebutan bagi orang yang meriwayatkan hadits dinamai muhaddits, dan orang yang meriwayatkan sejarah dinamai akhbary atau khabary. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar, begitu juga sebaliknya ada yang mengatakan bahwa khabar lebih umum dari pada hadits, karena masuk ke dalam perkataan khabar, segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi maupun dari selainnya, sedangkan hadits khusus terhadap yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja.

yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan istilah Khabar. Jumhur ulama cenderung menggunakan istilah Khabar dan Atsar untuk segala sesuatu yang disandarkan kepada NAbi SAW dan demikian juga kepada sahabat dan tabi’in. dan berarti nukilan (yang dinukilkan). haji. yang satu sama lain saling menguatkan. dan tabiin. bahwa Atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu. seorang sahabat berkata . para Fuqaha’ khurasan membedakannya dengan mengkhususkan almawquf. Apabila saf-saf kami telah lurus. BENTUK-BENTUK HADITS Sesuai pengertiannya dengan berdasarkan secara terminologi. Sedangkan menurut istilah jumhur ulama sama artinya dengan khabar dan hadits.” (HR. "Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa Atsar sama dengan khabar. atau sisa sesuatu. Hadits yang berupa perbuatan (fi’liyah) mencakup perilaku Nabi SAW. Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat.3.. Sedangkan menurut ulama Khurasan. namun. Berikut contoh haditsnya. barulah Nabi SAW bertakbir. sahabat. dapat dibagi menjadi tiga macam hadits : 1. Muslim) 2. “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat maghrib). Hadits ataupun Sunnah. Muslim) C. seperti tata cara shalat. Muslim) 3. Dari pengertian menurut istilah. yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Hadits Qauli Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah). terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. KEDUDUKAN HADITS TERHADAP AL-QUR’AN . yaitu berita yang disandarkan kepada sahabat dengan sebutan Atsar dan almarfu’. Atsar Atsar menurut lughat ialah bekasan sesuatu." (HR. Hadits Taqriri Hadits yang berupa penetapan (taqririyah) atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebut diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. contohnya sabda Nabi SAW : "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Hadits Fi’il. puasa. Contohnya hadits berikut. B. dsb. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan. Sesuatu doa umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai: doa matsur. beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR.

yaitu Al qur`an sendiri. kesepakatan (ijma`) ulama. penetapan hadits sebagai sumber kedua ditunjukan oleh tiga hal. oleh karena itu. Misalnya. dan logika akal sehat (ma`qul). Al-qur`an merupakan dasar syariat karena merupakan kalamullah yang mengandung mu`jizat. Alqur`an dan hadits merupakan rujukan yang pasti dan tetap bagi segala macam perselisihan yang timbul di kalangan umat islam sehingga tidak melahirkan pertentangan dan permusuhan. Hadist menguatkan hukum yang ditetapkan Al-qur`an. terutama yang berkaitan dengan petunjuk operasional. Keterkaitan keduanya tampak antara lain: a. umat islam seyogyanya menghargai perbedaan tersebut. Setiap muslim tidak bisa hanya menggunakan Al-qur`an. FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QUR’AN Al-Quran menekankan bahwa Rasul SAW. Sebagai Rasul yang memberikan petunjuk. Apabila perselisihan telah dikembalikan kepada ayat dan hadits. Alquran menetapkan hukum puasa. Taat kepada Allah adalah mengikuti perintah yang tercantum dalam Al-qur`an sedang taat kepada Rasul adalah mengikuti sunnah-Nya. keabsahan hadits sebagai sumber kedua secara logika dapat diterima. Karena itu menggunakan hadits sebagai sumber ajaran merupakan suatu keharusan bagi umat islam. Al-qur`an sebagai sumber pokok dan hadits sebagai sumber kedua mengisyaratkan pelaksanaan dari kenyataan dari keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam dua kalimat syahadat. Keberlakuan hadits sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa Al-qur`an hanya memberikan garis. menurunkan Al-qur`an kepadanya yang merupakan mukjizat terbesar dan hujjah teragung. bahkan perilaku Nabi sebagai rasul harus diteladani kaum muslimin sejak masa sahabat sampai hari ini telah bersepakat untuk menetapkan hukum berdasarkan sunnah Nabi. dianggap ibadah dengan membacanya dan tertulis di dalam lembaran lembaran. dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan dan menjelaskannya. Melalui malaikat Jibril mutawatir lafadznya baik secara global maupun rinci. dalam firman-Nya : . Dalam hukum islam.garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Karena itu. berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS 16:44). tetapi ia juga harus percaya kepada hadits sebagai sumber kedua ajaran islam. Al-qur`an dan hadist merupakan dua sumber yang tidak bisa dipisahkan. Di sini hadits berfungsi memperkuat dan memperkokoh hukum yang dinyatakan oleh Al-quran. Dia mengutus Nabi SAW. orang yang beriman harus merujukkan pandangan hidupnya pada Al qur`an dan sunnah/hadits rasul. D. maka walaupun masih terdapat perbedaan dalam penafsirannya.Allah SWTmenutup risalah samawiyah dengan risalah islam. Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta fungsinya. karena itu apa yang disampaikan Nabi harus diikuti. hadits menjadi sumber hukum kedua setelah Al-qur`an . Al qur`an menunjuk nabi sebagai orang yang harus menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan Allah. yang diturunkan kepada Rasul SAW.

” (H. misalnya shalat yang wajib dan sunat.” (HR. yang dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya . yang dicekik. Dan diharamkan pula bagimu mengundi nasib dengan anak panah. Rasulullah melarang memberikan seluruhnya. Beliau menyetujui memberikan sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkan. daging babi. yang dipukul.Misalnya Al qur`an mensyariatkan wasiat: “Diwajibkan atas kamu. Hadits memberikan rincian terhadap pernyataan Al qur`an yang masih bersifat global. d.S Al Baqarah /2:110) shalat dalam ayat diatas masih bersifat umum. misalnya sabda Rasulullah SAW: “Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.Bukhari dan Muslim) Al-qur`an tidak menjelaskan operasional shalat secara rinci. lalu hadits merincinya. yang lainnya adalah sunnat” (HR.S Al Maidah /5:3) Hadits memberikan pengecualian dengan membolehkan memakan jenis bangkai tertentu (bangkai ikan dan belalang ) dan darah tertentu (hati dan limpa) sebagaimana sabda Rasulullah SAW: .R Bukhari dan Muslim) b. (Q. (Q. puasa pada bulan ramadhan dan naik haji ke baitullah. Hadits memberikan pengecualian terhadap pernyataan Al Qur`an yang bersifat umum.“Hai orang – orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” .” (Q. sabda Rasulullah SAW: Dari Thalhah bin Ubaidillah : bahwasannya telah datang seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW.S Al Baqarah/2:180) Hadits memberikan batas maksimal pemberian harta melalui wasiat yaitu tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan (harta warisan). Misalnya Al-qur`an mengharamkan memakan bangkai dan darah: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. yang jatuh. daging yang disembelih atas nama selain Allah . dan Muhammad adalah rasulullah. Hal ini disampaikan Rasul dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sa`ad bin Abi Waqash yang bertanya kepada Rasulullah tentang jumlah pemberian harta melalui wasiat. darah. apabila seorang diantara kamu kedatangan tanda–tanda maut dan dia meninggalkan harta yang banyak. Hadits membatasi kemutlakan ayat Al qur`an . Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh Hadits. Ini adalah kewajiban atas orang–orang yang bertakwa. karena itu sebagai kefasikan. Misalnya Al-qur`an menyatakan perintah shalat : “Dan dirikanlah oleh kamu shalat dan bayarkanlah zakat” (Q. berwasiatlah untuk ibu dan bapak karib kerabatnya secara makruf. baik bacaan maupun gerakannya. yang ditanduk. dan berkata : “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku salat apa yang difardukan untukku?” Rasul berkata : “Salat lima waktu. mendirikan shalat . Bukhari) c.S AL BAQARAH/2:183) Dan hadits menguatkan kewajiban puasa tersebut: Islam didirikan atas lima perkara : “persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah . atau setengah. dan yang disembelih untuk berhala. membayar zakat .

Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah halal mengumpulkan antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara bapa yang .Baihaqi dan Daruqutni) e. Sedangkan hadits sebagai ketentuanketentuan pelaksanaan (praktisnya). satu huruf pun tidak berubah atau hilang. mantan Syaikh Al-Azhar. Syafii`. merinci. banyak hal yang hukumnya tidak ditetapkan secara pasti . Dengan menunjuk kepada pendapat Al-Syafi’i dalam Al-Risalah. sedangkan hadits kebanyakannya khabar ahad yang hanya memiliki dalil zhanni. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang dan dua darah adalah hati dan limpa.A dia berkata. Kebanyakan hadits yang mutawatir mengenai amal praktek sehari-hari seperti bilangan rakaat shalat dan tata caranya.Rasulullah saw bersabda : ”Dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua darah . misalnya hadits dibawah ini: Rasulullah melarang semua binatang yang bertaring dan semua burung yang bercakar (HR. Hadits menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan oleh Al-qur`an. Dari segi kekuatan dalilnya. Hadits juga ikut menciptakan suatu hukum baru yang belum terdapat dalam al-quran seperti dalam hadits yang artinya : Hadits dari Abi Hurairoh R. sedangkan lafadz hadits bukanlah dari Allah melainkan dari redaksi Nabi sendiri. Membaca Al-Qur’an hukumnya adalah ibadah. Dan mushaf itu terus terpelihara dengan sempurna dari masa ke masa. sementara tidak demikian halnya dengan hadits. Sedangkan hadits tidak demikian keadaannya. dalam bukunya Al-Sunnah fi Makanatiha wa fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah atau Hadits mempunyai fungsi yang berhubungan dengan Al-Quran dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara’. karena hadits qouli hanya sedikit yang mutawatir. ‘Abdul Halim menegaskan bahwa. dalam kaitannya dengan Al-Quran. bahkan membatasi. Al-quran adalah mutawatir yang qot’i. PERBANDINGAN HADITS DENGAN AL-QUR’AN Hadits dalam islam merupakan sumber hukum kedua dan kedudukannya setingkat lebih rendah daripada Al-quran Al-quran adalah kalamullah yang diwahyukan Allah SWT lewat malaikat Jibril secara lengkap berupa lafadz dan sanadnya sekaligus. Muslim dari Ibn Abbas) ‘Abdul Halim Mahmud. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat di dalam Al-Quran. sedangkan yang kedua memperjelas. ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan. yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta’kid dan bayan tafsir. hadits berperan menetapkan hukum yang belum ditetapkan oleh Al-qur`an.Dalam hal ini.”(HR.Ahmad. Sekalipun ada hadits yang mencapai martabat mutawattir namun jumlahnya hanya sedikit. E. pengertian lahir dari ayat-ayat Al-Quran. Al-qur`an bersifat global.Dari Ibnu Umar ra. dan sah membaca ayat-ayatnya di dalam sholat. Al-quran merupakan hukum dasar yang isinya pada umumnya bersifat mujmal dan mutlak. Para sahabat mengumpulkan Al-quran dalam mushaf dan menyampaikan kepada umat dengan keadaan aslinya.Ibn Majah .

perempuan) dan tidak pula antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara ibu yang perempuan). (H. Penulisan Hadits pada Periode Rasululloh SAW . SEJARAH KODIFIKASI HADIST A.R. Bukhari dan Muslim).

Penulisan Hadis setelah Nabi Wafat Setelah Nabi wafat para sahabat belum memikirkan penghimpunan dan pengkodifikasian hadits. Misalnya mereka ingin menulis sabda Nabi pada pedang mereka. penulisan hadis merupakan inisiatif perorangan yang dilakukan oleh para sahabat tertentu seperti Abdullah bin Umar. seperti dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. karena banyaknya problem yang dihadapi. Diantaranya ditemukan hadits-hadits yang sebagiannya membenarkan atau bahkan mendorong untuk melakukan penulisan hadits Nabi. diantaranya timbulnya kelompok orang yang murtad. terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang kadang-kadang satu dengan yang lainnya saling bertentangan.Mengapa hadits tidak atau belum ditulis secara resmi padat masa Nabi. di samping ada hadits-hadits lain yang melarang melakukan penulisannya. diantaranya: . Abdullah bin Abbas. timbulnya peperangan sehingga banyak orangorang asing/non Arab yang masuk Islam yang tidak paham bahasa Arab secara baik sehingga dikhawatirkan tidak bisa membedakan antara al-Qur’an dan hadits. Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya. Mereka menulis hadis untuk dikirimkan kepada para sahabat yang bertempat tinggal jauh B. Mereka melakukan penulisan itu dengan dasar i’tikad baik dan dengan alasan-alasan tertentu pula. Abu Bakar pernah berkeinginan membukukan Sunnah tetapi digagalkan karena khawatir terjadi fitnah di tangan penghafal al-Qur’an yang gugur dan konsentrasi mereka bersama Abu Bakar dalam membukukan al-Qur’an. Meskipun begitu terdapat beberapa dokumentasi penting sebelum pengkodifikasian hadits secara resmi. Pada permulaan Islam.

Ash-shahifah as-shodiqoh. sedang yang lain tidak mencatatnya. Keadaan demikian terus berlangsung hingga masa pemerintahan Abdul Aziz bin Marwan C. Jabir mempunyai majlis atau halaqoh di masjid Nabawi dan mengajarkan hadits-haditsnya secara imlak atau dikte. Ash-shohifah Ash-shohihah. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada abad pertama perkembangan hadis. Ash-shahifah Jabir bin ‘Abd Allah Al-anshori (w. catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. Muhammad bin . Tulisan ini berbentuk lembaran-lembaran sesuai namanya ash-shahifah (lembaran). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah. berisikan kurang lebih 138 buah hadits. lenyapnya ajaran-ajaran Nabi setelah wafatnya ulama baik dikalangan sahabat maupun tabi’in. Periode Tabi’in Pada masa abad ini disebut masa Pengkodifikasian Hadits (al-jam’u wa atTadwin). 78 H) yang diriwayatkan oleh sebagian sahabat. Dalam meriwayatkannya mereka berpegang pada ingatan dan kekuatan hafalannya. maka beliau intruksikan kepada para gubernur diseluruh wilayah negeri Islam agar para ulama dan ahli ilmu menghimpun dan membukukan hadits. 3. memuat kurang lebih 1000 hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan kitab-kitab Sunan lainnya. sebagian perawi mencatat hadis-hadis dari para pendahulunya. 2.1. Khalifh Umar bin Abdul Aziz (99-110 H) yakni yang hidup pada akhir abad 1H menganggap perlu adanya penghimpunan dan pembukuan hadits. 130 H). tulisan Abdullah bin Amr bin Ash (w. karena beliau khawatir. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalm berbagai bab. 65 H).

3. hasan dan dha’if. . Musnad. Al-Mushannaf oleh Abdul Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani 3. yaitu menghimpun semua hadits dari tiap-tiap sahabat tanpa memperhatikan masalah atau topiknya. mauquf. Diantara buku-buku yang muncul pada masa ini adalah: 1. Dalam istilah yaitu teknik pembukuan hadits didasarkan pada klasifikasi hukum fiqh dan didalamnya mencantumkan hadits marfu’. Al-Muwaththa’ yang ditulis oleh Imam Malik 2. dan 5. 2. Al-Mushannaf dihimpun oleh Abu Bakar bin Syaybah. Perkembangan pembukuan hadits pada periode tabi’in ada 3 bentuk. al-muwaththa’. As-Sunnah ditulis oleh Abd bin Manshur 4. yaitu sebagai berikut: 1. Musnad Asy-Syafi’i. Arti istilah-istilah ini adalah: 1. Misalnya musnad Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H). Musnad dalam bahasa tempat sandaran sedang dalam istilah adalh pembukuan hadits yang didaarkan pada nama para sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut. Al-Muwatththa’ dalam bahasa diartikan sesuatu yang dimudahkan. Teknik pembukuan hadits hadits pada periode ini sebagaimana disebutkan pada nama-nama tersebut.Muslim bin Asy-Syihab Az-Zuhri dinilai sebagai orang pertama dalam melaksanakan tugas pengkodifikasian hadits dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. tidak perbab seperti Fiqih dan kualitasnya ada yang shahih. Al-Mushannaf dalam bahasa diartikan sesuatu yang tersusun. dan maqthu’. Dalam istilah AlMuwaththa’ diartikan sama dengan Mushannaf. dan musnad. yaitu al-mushannaf.

tarikh dan sejarah. Yang pertama kali berhasil membukukan hadits shahih saja adalah Al-Bukhori kemudian disusul Imam Muslim. adab makan minum. seperti Sunan An-Nasa’I. 3. dan sejarah (manaqib). Periode Tabi’ Tabi’in Periode ini masa yang paling sukses dalam pembukuan hadits. hukum. yang dijadikan pedoman dan referensipara ulama’ hadits berikutnya. Al-Jami’. Sunan Abu Dawud (202-276 H) 5. yaitu: 1. teknik penghimpunan hadits secara bab seperti fiqih. Sunan Ibnu Majah Al-Qazwini (209-276 H) .2. Sunan An-Nasa’i (215-303 H) 4. dari perkataan sahabat dan fatwanya dan telah berhasil pula mengadakan filterisasi (penyaringan) yang sangat teliti apa saja yang dikatakan Nabi. Pada masa ini lahir pula lahir buku induk enam (Ummahat kutub as-sittah). periode ini dengan juga disebut masa kodifikasi dan filterisasi (Ashr Al-Jami’ wa At-Tashhih). D. Al-Jami’ Ash-Shahih li Al-Bukhori (194-256 H) 2. sifat-sifat akhlaq. sebab pada masa ini ulama hadits telah berhasil memisahkan hadits Nabi SAW dari yang bukan hadits atau dari hadits Nabi. dan sunan Abu Dawud. Sunan Ibn Majah. setiap bab memuat beberapa hadits dalam satu topic. Sunan. Al-Jami’ ash-Shahih li Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (204-261 H) 3. Oleh karena itu. fitnah (fitan). sehingga telah dapat di pisahkan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan shahih. perbudakan. Jami’ at-Tirmidzi (209-269 H) 6. (syamail). yaitu teknik pembukuan hadits yang mengakumulasi Sembilan masalah yaitu aqa’id. tafsir.

360 H). Perbedaan mereka dalam periwayatan dan kodifikasi hadits. artinya penghimpunan hadits yang berdasarkan nama sahabat secara abjad (alphabet) seperti Al-mu’jam al-kabir Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani (w. Namun.E. artinya metode pembukuannya mengikuti metode pembukuan hadits Shahihayn (Al-bukhori dan Muslim) yang hanya mengumpulkan hadits shahih saja menurut penulisnya seperti Shahih Ibnu Hibban Al-bas’ti (w. atau diartikan seperti Kamus ialah penghimpunan hadits didasarkan pada nama Masyayikh-nya atau negeri tempat tinggal atau kabilah secara abjad seperti Al-mu’jam al-awsath oleh penulis yang sama. 2. . Sedang ulama mutaakhirin cara periwayatan dan pembukuannya bereferensi dan mengutip dari kitab-kitab mutaqaddimin. Perkembangan teknik pembukuan pada abad ini yakni pada abad 4-6 ialah sebagai berikut: 1. ulama mutaqaddimin hadits Nabi dengan cara mendengar dari guru-gurunya kemudian mengadakan penelitian sendiri baik matan maupun sanadnya. Ulama yang hidup pada abad ke 4 H dan berikutnya disebut ulama Mutaakhirin atau Khalaf (modern) sedang yang hidup sebelum abad 4 H disebut ulama mutaqaddimin atau Ulama Salaf (klasik). 354 H) dan lain-lain. tidak banyak penambahan hadits pada abad ini dan berikuutnya kecuali hanya sedikit saja. Untuk itu mereka tidak segan-segan mengadakan perjalanan jauh untuk mengecek kebenaran hadits yang mereka dengar dari orang lain. Mu’jam. dari segi tekhnik pembukuan lebih sistematik dari pada masa-masa sebelumnya. Shahih. Periode Setelah Tabi’ Tabi’in Pada masa abad ini disebut Penghimpunan dan penertiban (Al-Jam’I al-Tartib). Oleh karena itu.

gabungan dua atau beberapa buku hadits menjadi satu buku. artinya menambah beberapa hadits shahih yang belum disebutkan dalam kitab Al-bukhori dan Muslim serta memenuhi persyaratan keduanya. 405 H). Mustakhroj. dan Syarah Musykil Al-Atsar ditulis Ath-thahawi (w. seperti Muntaqo ibn al-Jarud (w. 458 H). 4. Syarah. misalnya Mustadrok Abi Bakr Al-Isma’ili ‘ala Shahih Al-Bukhori (w. seperti Almustadrok ‘ala Shahihayn yang ditulis Abi Abdillah Al-Hakim An-Naissaburi (w. 458 H) . Sunan. Al-jam’u. 6. 307 H). terutama maksud dan makna matan hadits atau pemecahannya jika terjadi kontradiksi dengan ayat atau dengan hadits lain.371 H). yaitu seorang penghimpun hadits mengeluarkan beberapa buah hadits seperti yang diterima dari gurunya sendiri dengan menggunakan sanad sendiri. metode penulisannya seperti kitab sunan abad sebelumnya. hasan.3. Al-mustadrok. 385 H) dan Sunan Al-Bayhaqi (w. yakni penjelasan hadits baik yang berkaitan dengan sanad atau matan. A. Al-jam’u Bayn Ash-shahihayn yang ditulis oleh Ismail bin Ahmad yang dikenal dengan ibn al-Furat (w. yaitu cakupannya hadits-hadits tentang hukum seperti fikih dan kualitasnya meliputi shahih. 7. Syarah ad-Daruquthni (w. 401 H). misalnya Syarah Ma’ani Al-Atsar. dan dha’if. 5. PENGERTIAN SANAD DAN MATAN HADIS . Pada masa berikutnya abad ke 7-8 dan berikutnya disebut masa Penghimpunan dan Pembukuan Hadits secara sistematik(Al-jam’u wal At-tandzim).

yang menjadi sandaran). Sedangkan menurut istilah ahli hadis. matan yaitu: (perkataan yang disebut pada akhir sanad.Sanad dari segi bahasa artinya (sandaran. yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya) . sanad yaitu: (Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis). mengeluarkan. " (AlHadis) Dalam hadis tersebut dinamakan sanad adalah: (Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari nafi yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:.. yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda. .. tempat bersandar. Sedangkan menurut istilah ahli hadis. "Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya.) Matan dari segi bahasa artinya membelah. mengikat. Contoh : Artinya: "Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi.

Meminta seorang saksi kepada perawi. niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap akan melakukan salat. bahwa Rasulullah SAW bersabda.a. bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Pada masa Abu bakar r. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah. " (Al-Hadis) Adapun yang disebut matan dalam hadis tersebut yaitu: B. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya. "Seandainya tidak memberatkan terhadap umatku. .a. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis . mereka pun menerima periwayatannya. tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. dan Umar r. KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya.Artinya: " Dari Muhammad yang diterima dari Abu Salamah yang diterimanya dari Abu Hurairah. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi. maka perlu didatangkan saksi/keterangan.

" Abdullah lbnu Mubarak berkata: Artinya: "Menerangkan sanad hadis. Artinya: "Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad. bahwa beliau berkata: Artinya: "Ilmu ini (hadis ini). tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya." Asy-Syafii berkata. adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga. idlah agama. termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad. " Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. untuk diamalkan. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid'ah dan para pendusta. karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. ialah sanad. tanpa memerlukan sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad. sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. Antara kami dengan mereka. Karenanya .Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak. di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin. karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukumhukum Islam.

dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari Allah khususnya kepada orang-orang Islam. A. IImu Rijalil Hadis llmu Rijalil Hadis ialah: .imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad 'aali Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW.pula imam.

Pada permulaan abad ketujuh Hijrah. Di samping itu ada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satusatu kitab saja. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan. Ibnu Atsir ini adalah saudara dari Majdudin Ibnu Atsir pengarang An-Nihayah fi GaribiI Hadis. atau: beberapa kitab saja. Dalam kitab ini dikumpulkan Al-Istiab . Dan ada yang menerangkan namanama yang serupa tulisan dan sebutan. Ini dinamai Musytabah. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah. Kemudian usaha itu dilaksanakan oleh Muhammad Ibnu Saad. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Nama ini banyak orangnya. Sesudah itu pada abad kesembilan Hijrah. Dalam semua itu para ulama telah berjerih payah menyusun kitab-kitab yang dihajati. atau para mudallis. karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. Kitabnya bernama AI-Istiab. baik dari sahabat. di antaranya. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat. Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama. lain orangnya. sedang dalam tulisan serupa. yang penting diterangkan ialah Ibnu Abdil Barr (463 H). Kitab Izzuddin diperbaiki oleh Ai-Dzahabi (747 H) dalam kitab At-Tajrid. Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadis disebut Mu’talif dan Mukhtalif. mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi. Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqali menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama AI-Ishabah. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. Kitab yang diriwayatkan keadaan para perawi dari golongan sahabat ” Permulaan ulama yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat. lni dinamai Muttafiq dan Muftariq. Izzuddin ibnul Atsir (630 H) mengumpulkan kitabkitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai Usdul Gabah.” Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi menerima hadis dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadis dari sahabat dan seterusnya. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. sesudah itu terdapat beberapa ahli lagi. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. tetapi berlainan keturunan dalam sebutan. maupun dari angkatan sesudahnya . atau para pemuat hadis maudu’.Artinya: “Ilmu yang membahas tentang para perawi hadis. Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. tabi’in. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. ialah Al-Bukhari (256 H).

agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya). telah tumbuh sejak zaman sahabat. B. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu.rafa-kan ltadis yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja. ialah Yahya. adakalanya karena me. dan Anas ibnu Malik (93 H). menulis juga kitab yang menerangkan nama-nama sahabi yang hanya meriwayatkan suatu hadis saja yang dinamai Wuzdan. Di antara tabi’in ialah Asy Syabi(103 H). Abdur Rachman ibnu Mahdi (198 H)”. Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsal-kan hadis. Akan tetapi. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). ibnu Said AlQattan (189H). Kitab ini telah diringkaskan oleh As-Sayuti dalam kitab Ainul Ishabah. Kemudian. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadis ialah Ibnu Abbas (68 H). Ubadah ibnu Shamit (34 H). Ibnu Sirin (110H). karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Di antara ulama besar yang memberikan perhatian pada urusan ini. Yazid Ibnu .dengan Usdul Gabah dan ditambah dengan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tersebut. sesudah itu. masih sedikit orang yang dipandang cacat. ” Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik. Dalam masa mereka itu. menakdil dan menajrihkan mereka. Al-Bukhori dan muslim telah. seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H). para ahli mulai menyebutkan keadaan-keadaan perawi. para ahli telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat. yaitu pada kira-kira tahun 150 Hijrah. dalam bab ini Yahya ibnu abdul Wahab ibnu Mandah Al-Asbahani (551 H) menulis sebuah kitab yang menerangkan nama-nama sahabat yang hidup 120 tahun. Ilmul Jarhi Wat Takdil Ilmu Jarhi Wat Takdir. Sesudah berakhir masa tabi’in. Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil. pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis.

Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat dipercayai saja ialah Kitab As-Siqat.AlBukhari (256 H). di antaranya Ali ibnul Madini(234 H). Di samping itu. karangan Al-Bukhari dan kitab Ad. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan As-Sayuti.Sesudah itu.Harun(189 H). barulah para ahli menyusun kitab-kitab jarah dan takdil. Ad-Darimi (255 H). Kitab ini sangat besar. Az-Zahabi. Di dalamnya diterangkan keadaan para perawi. Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja ialah: Kitab Ad-Duafa. karangan Al-Ajaly (261 H) dan kitab As-Siqat karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al-Busty. Abu Zurah Ad-Dimasyqi (281 H).Duafa karangan ibnul Jauzi (587 H) C. ada yang menerangkan perawi-perawi suatu kitab saja atau beberapa kitab dan ada yang melengkapi segala kitab. Muslim. hingga sampai pada ibnu Hajar Asqalani (852 H). Dan yang sangat berguna bagi ahli hadis dan fiqih ialah At-Takmil susunan Al-Imam ibnu Katsir. MUhammad ibnu Saad (230 H). Ahmad ibnu Hanbal (241 H). Baqi ibnu Makhlad (276 H). ialah: . Di dalamnya terdapat nama-nama sahabat nama-nama tabi’in dan orang-orang sesudahnya. Abu Daud At-Tahyalisi (204 H). Banyak pula ulama yang menyusun kitab ini. Kemudian berusaha pula beberapa ulama besar lain. Masuk dalam bagian ini adalah kitab-kitab yang menerangkan tingkatan penghapal-penghapal hadis. IImu Illail Hadis Ilmu Illial Hadis. Al-Bukhari. Abu Bakar ibnu Syaibah (235 H). atau orang-orang yang menadlieskan hadis. yang boleh diterima riwayatnya dan yang ditolak. Ishaq ibnu Rahawaih (237 H). Ada yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja. Sesudah itu. Di antara kitab yang melengkapi semua itu ialah: Kitab Tabaqat Muhammad ibnu Saad Az-Zuhri Al-Basari (23Q H).Ali Ibnul Madini (234 H). ada yang menerangkan orang-orang yang lemah saja. Muslim (251 H). Abdur Razaq bin Human (211 H). Abu Zurah (264 H). Di antara pemuka-pemuka jarah dan takdil ialah Yahya ibnu Main (233 H). Al-Ajali(261 H). Kemudian pada tiap-tiap masa terdapat ulama-ulama yang memperhatikan keadaan perawi. Kitab-kitab yang disusun mengenai jarah dan taqdil. Al-Hariwi (301 H) dan ibnu Hatim (327 H). di antaranya. dan ada pula yang melengkapi semuanya. ada beberapa macam.

ialah Ibnul Madini (23 H). Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) . yang dinamai Al-lktibar. Yakni menyambung yang munqati. ialah: Artinya: “ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. Ibnu Abi Hatim (327 H). di antaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H). Namun jika dilawan oleh hadis yang sederajatnya. D. Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis. dan sehalushalusnya. ialah: . Selain itu. Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam’uh ini. dapat merusakkan kesahihan hadis. yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya. Ilmun nasil wal mansuh Ilmun nasih wal Mansuh. yang dapat mencacatkan hadis. E. Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H). ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H). Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya. merafakan yang mauqu memasukkan satu hadis ke dalam hadis yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini.Artinya: Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh. tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadis tersebut dinamai Muhkam. bila diketahui. Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AI-Hakim. ” Apabila didapati suatu hadis yang maqbul. tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadis itu dinamai Mukhatakiful Hadis. kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian. Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. Di antara para ulama yang menulis ilmu ini. maka yang terkemudian itu. tidak nyata. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadis melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadis.

Ibnu Qurtaibah (276 H). ” Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang ‘amm. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H). dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H F. ialah: Artinya: “Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadis-hadis yang isinya berlawanan. ilmu ini ialah Al-Imamusy Syafii (204 H). Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad. ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis.” Penting diketahui. UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari. Kitabnya bernama At-Tahqiq. karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadis. At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H).Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masamasanya Nabi menurunkan itu. dari murid Ahmad (309 H). . sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun. kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. Ilmu Talfiqil Hadis Ilmu Talfiqil Hadis. atau dengan memandang banyaknya yangterjadi. atau menaqyidkan yang mutlak.

hadis terbagi kepada dua.PENGKLASIFIKASIAN HADIS A. Hadis Mutawatir 2. yaitu : . ada yang membaginya menjadi tiga. Pembagian Hadis Berdasarkan Jumlah Perawinya Ditinjau dari segi jumlah perawinya. Hadis Ahad Diantara ulama hadis. yaitu : 1.

ada yang mangharuskan lima orang. c.) Kriteria Hadis Mutawatir 1. Hadis Masyhur Masyhur adalah isim maf’ul dari syahara. menurut sebagian ulama hadis. Sekurang-kurangnya jumlahnya. Khabar al-Wahid adalah kabar yang diriwayatkan oleh satu orang. karena diantara hadis masyhur terdapat hadis yang mempunyai status shahih. b.) Pengertian Hadis AHAD Kata ahad berarti “satu”. karena dianalogikan kepada saksi dalam qadzf. 2. yang berarti “al-zuhur” yaitu nyata. 2. 3. . Hadis Ahad 1. Hadis Ahad a. Hadis Mutawatir a. sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu alThayyib. tidak pada lafaznya. Menurut istilah ulama hadis. Menurut ‘Ajjaj al-khathib hadis ahad yaitu hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada hadis mutawatir ataupun hadis masyhur. Mustahil menurut adat bahwa mereka dapat sepakat unutk berbuat dusta. Sedang menurut istilah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih.) macam hadis mutawatir Hadis mutawatir terbagi menjadi dua. yaitu hadis yang mutawatir lafazdan maknanya 2) Mutawatir Ma’nawi yaitu hadis mutawatir maknanya saja. Menurut imam Nawawi mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang mengahsilkan ilmu dengan kebenaran mereka secara pasti dari orang yang sama keadaannya dengan mereka mulai dari awal (sanad) nya sampai ke akhirnya. yaitu: 1) Mutawatir lafzhi. selama tidak sampai kepada tingkat mutawatir. Jumlah tersebut harus terdapat pada setiap lapisan atau tingkatan sanand. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang memiki sanad yang pada setiap tingkatannya terdiri atas perawi yang banyak dengan jumlah yang menurut hukum adat atau akal tidak mungkin bersepakat unutk melakukan kebohongan terhadap hadis yang mereka riwayatkan tersebut. adalah sepuluh orang. b. mutawatir berarti hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat bahwa mereka bersepakat untuk berbuat dusta. Hadis mashur 3. Sandaran riwayat mereka adalah pancaindera. pada setiap tingkatan sanad. ada yang berpendapat minimal empat orang dalam setiap tabaqat. yaitu: 1. Hadis Mutawatir 2.) Pengertian Hadis Mutawatir Mutawatir secara kebahasaan adalah isim fail dari kata al-tawatir yang berarti al-tatabu’ yaitu berturut-turut.1.) Macam-macam hadis ahad Hadis ahad terbagi menjadi tiga macam. Sedang menurut istilah hadis ahad yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir. 4. Status dan hukum hadis masyhur tidak ada hubungannya dengan shahih atau tidaknya suatu hadis. dianalogikan kepada jumlah nabi yang memperoleh gelar Ulul Azmi. Perawi tersebut terdiri atas jumlah yang banyak. Namun.

yang maha suci. 1. Akan tetapi. dhabith. 2. Hadis Dha’if Hadis dha’if adalah hadis mardud. 3. Hadis Gharib Menurut bahasa kata gharib berarti shifat musyabbahat berarti al-munfarid atau alba’id’an aqaribihi. yaitu : 1) Hadis Masyhur dikalangan ahli hadis. dan hadis tersebut tidak syadz. taqrir (pengakuan/ketetapan). Sedangkan menurut istilah perkatan yang bersumber dari rasulullah SAW. fuqaha. Pembagian Hadis Berdasarkan Tempat Penyandarannya 1. Sedang menurut istilah berarti bahwa tidak kurang perawinya dari dua orang pada seluruh tingkatan sanad.ya’izzu yang berarti qalla dan nadara yaitu sedikit dan jarang. 2. atau haif. meskipun itu adalah perkataan atau firman llah. Hadis masyhur dapat dibagi menjadi enam macam. yaitu Allah SWT. 2) Hadis Masyhur dikalangan fuqaha 3) Hadis Masyhur dikalangan ulama’ ushul fiqh. Namun disandarkan beliau kepada Allah SWT. 3. maka hadis masyhur itu hukumnya lebih kuat dari pada hadis ‘Aziz dan Gharih. yaitu menyendiri atau jauh dari kerabatnya. dan kalangan awam. Hadis Shahih Adalah lawan dari saqim (sakit) sedangkan dalam istilah ilmu hadis shahih berarti hadis yang berhubungan (bersambung) sanadnya yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. 4) Hadis Msyhur di kalangan ulama hadis. ulama Ushul fiqh. B. yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. Sedang istilah setiap hadis yang diriwayatkan dan tidak terdapat pada sanadnya perawi yang pendusta. C. Akan tetapi hadis tersebut berstatus shahih.hasan. tidak syad dan tidak pula ber’ilat. Hadis Qudsi Adalah hadis yang dihubungkan keapada zat yang quds. Hadis Qudsi bukanlah al-Qur’an dan bahkan keduanya adalah berbeda. Hadis ‘Aziz Aziz menurut bahasa adalah shifat musyabbahat dari kata ‘azza. . “bagus”. Pembagian Hadis Bedasarkan Kualitas Sanad dan Matan-nya. yang diterianya dari perawi yang sama dengannya sampai kepada akhir sanad. dan bahkan ada yang mawdhu’ (palsu).ataupun sifat. serta diriwayatkan pula melalui jalan yang lain. 5) Hadis Masyhur di kalangan ahli nahwu 6) Hadis Masyhur di kalangan awam 2. perbuatan. yaitu hadis yang ditolak atau tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam menetapkan sesuatu hukum. Hadis Marfu’ Hadis marfu’ adalah segala bentuk yang disandarkan kepada nabi SAW dalam bentuk perkataan. Hadis Hasan Secara etimologi berarti “indah”. Sedangkan menurut istilah yaitu hadis yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya.

. maupun pengakuan.Hukum hadis marfu’ tergantung pada kualitas dan bersambung atau tidaknya sanad. Sedangkan secara terminologi. 3. Hadis Maqthu’ Secara etimologi adalah putus atau terputus. atau dha’if. ‫ ( الحط‬merendahkan ) . atau dihubungkan kepada. hasan. sehingga dengan demikian memungkinkan sesuatu hadis marfu’ itu berstatus shahih. perbuatan. 4. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1. baik perkataan maupun perbuatan tabi’at tersebut. seorang sahabat atau sejumlah sahabat baik berupa perkataan. Hadis Mauquf Hadis mauquf adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari. hadis maqthu’ berarti sesuatu yang terhenti (sampai) pada tabi’at.

Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. 3. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ). pada dusta yang disengaja saja. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya.2. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. 3 Diada-adakan oleh perawinya. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. 2. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia . bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ َ ْ َ ‫من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ ّ َ َ ُ ٍ ِ َ ِ ّ َ ‫َ ْ َ ّث‬ ‫من حد َ عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta.

Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. setelah itulah muncul orang-orang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2.dusta. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Cuma dia keliru. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu yang menjadikannya hadits. memalsukan hadits . 3. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga . kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. kubu Ali radhiyallohu anhu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a.

Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. b. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . Umar. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku.mengenai Abu Bakar. Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Fanatisme kepada: 1.Utsman. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. Pada khalifah dan pemimpin . Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan Al-Hakam bin Sohir.

Bahasa 4.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b. Mazhab b. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh.Bepergian mencari hadits . seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8. Negeri 3. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3.Berkeliling daerah menyebarkannya 10. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c.2. Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1. Membuat hadits yang tidak punya asal 2. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari Ahlus-Sunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an. Pencurian hadits 9.

Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Ilmu jarh wa ‘tadil 3.Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1. a. 2. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. Al Jami’ 2:224) 3. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1.000 hadits. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. 4. Pengakuan sang pemalsu. c.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. 2. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini . Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. b. Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya .Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1. Pemisahan hadits shohih dan selainnya. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2.

Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1. al-Jami’ 1. bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (Al-An’am 164 ) 1. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat . Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ ََ ُ ََ َ َ ِ َ َ َ َ ُ ََ َ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ‫ل يدخل الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina.Tanda pemalsuan pada matan 1.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b.123).pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya. 3. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 . Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib.

Di dalam ilmu Hadis.2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah 3 Matinya sunnah. oleh karena itu otentisitas sumber Hadis adalah hal yang sangat penting. al Naqd berarti : ‫تمييز الحاديث الصحيحة من الضعيفة والحكم على الرواة توثيقا وتجريحا‬ . Berdasarkan hal tersebut di atas maka makalah ini mencoba untuk memaparkan bagaimana melakukan penelitian terhadap sanad dan matan Hadis. Dan selain berkedudukan sebagai sumber hukum juga berfungsi sebagai penjelas. sehingga Hadis tersebut dapat dipertanggungjawabkan keotentikannya. Kata al Naqd itu juga berarti “kritik” seperti dalam literatur Arab ditemukan kalimat Naqd al kalam wa naqd al syi’r yang berarti “ mengeluarkan kesalahan atau kekeliruan dari kalimat dan puisi[2] atau Naqd al darahim yang berarti : ‫تمييزالدراهم واخراج الزيف منها‬ (memisahkan uang yang asli dari yang palsu ). A. yang terlebih dahulu kita memahami pengertian. yaitu memisahkan sesuatu yang baik dari yang buruk[1]. Hal itu dilakukan oleh Muhadditsin karena mungkin ia menyadari bahwa perawi Hadis adalah manusia sehingga dalam dirinya terdapat keterbatasan dan kelemahan serta kesalahan. Sehingga sangat wajar manakala para muhadditsin sangat besar perhatiannya untuk melakukan penelitian. perinci dan penafsir Alquran. Kedua unsur tersebut mempunyai hubungan fungsional yang dapat menentukan eksistensi dan kualitas suatu Hadis. Pengertian dan Sejarah Penelitian Sanad dan Matan Kata penelitian (kritik) dalam ilmu hadis sering dinisbatan pada kegiatan penelitian hadis yang disebut dengan al Naqd (‫ ) ا لنهقهد‬yang secara etimologi adalah bentuk masdar dari ( ‫ ) نقهد ينقهد‬yang berarti mayyaza. Penelitian Sanad Dan Matan Hadis merupakan sumber hukum Islam yang pertama setelah Alquran. tujuan dan manfaat penelitian sanad dan matan Hadis. Untuk mengetahui otentik atau tidak nya sumber Hadis tersebut maka kita harus mengetahui dua unsur yang sangat penting yaitu sanad dan matan. penilaian dan penelusuran Hadis dengan tujuan untuk mengetahui kualitas Hadis yang terdapat dalam rangkaian sanad dan matan yang diteliti.

yang secara etimologi mengandung kesamaan arti dengan kata thariq yaitu jalan atau sandaran sedangkan menurut terminologi. Lain halnya dengan masa sesudah nabi wafat maka kritik Hadis tidak dapat dilakukan dengan menanyakan kembali kepada nabi melainkan dengan menanyakan kepada orang atau sahabat yang ikut mendengar atau melihat bahwa Hadis itu dari nabi seperti : Abu Bakar al-Shidiq. Oleh karena itu kegiatan kritik hadis pada masa nabi sangat simple dan mudah. Kedua. namun Alquran dalam maksud tersebut menggunakan kata yamiz yang berarti memisahkan yang buruk dari yang baik[4] Obyek kajian dalam kritik atau penelitian Hadis adalah : Pertama. Ali bin Abi Yhalib. Seperti yang dikatakan oleh Al Dzahabi bahwa “ Abu Bakar adalah orang pertama yang berhatihati dalam menerima riwayat hadis” dan juga yang dikatakan oleh Al Hakim bahwa “Abu Bakar adalah orang pertama yang membersihkan kebohongan dari Rasul SAW”. Sehingga kritik matan adalah kajian dan pengujian atas keabsahan materi atau isi hadis. pembahasan tentang para perawi yang menyampaikan riwayat Hadis atau yang lebih dikenal dengan sebutan sanad. arti kritik tidak lebih dari menemui Nabi saw dan mengecek kebenaran dari riwayat (kabarnya) berasal dari beliau. Dan pada tahap ini juga. karena keputusan tentang otentisitas suatu hadis ditangan nabi sendiri. Pada masa Sahabat. matan berarti sesuatu yang berakhir padanya (terletak sesudah) sanad. yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan dari sumbernya yang pertama[5]. Maka pengertian kritik sanad adalah penelitian. penilaian. Yang secara etimologi memiliki arti sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari tanah[6] . dan menetapkan para perawinya yang tsiqat dan yang jarh (cacat) “[3] Jika kita telusuri dalam Alquran dan Hadis maka kita tidak menemukan kata al Naqd digunakan dalam arti kritik. tapi pada tahap ini . Sikap dan tindakan kehati-hatian Abu Bakar telah membuktikan begitu pentingnya kritik dan penelitian Hadis. Apabila kritik diartikan hanya untuk membedakan yang benar dari yang salah maka dapat dikatakan bahwa kritik Hadis sudah dimulai sejak pada masa Nabi Muhammad. dan penelusuran sanad Hadis tentang individu perawi dan proses penerimaan Hadis dari guru mereka dengan berusaha menemukan kesalahan dalam rangkaian sanag guna menemukan kebenaran yaitu kualitas Hadis. Umar bin Khattab. kegiatan kritik Hadis tersebut sebenarnya hanyalah merupakan konfirmasi dan suatu proses konsolidasi agar hati menjadi tentram dan mantap[8]. yaitu berupa perkataan[7]. pembahasan materi atau matan Hadis itu sendiri. sanad adalah jalannya matan. Diantara wujud penerapannya yaitu dengan melakukan perbandingan di antara beberapa riwayat yang yang ada seperti contohnya : . Sedangkan secara terminologi.“Memisahkan Hadis-Hadis yang shahih dari dha’if. Aisyah dan Abdullah Ibn Umar. kegiatan kritik Hadis dilakukan oleh Abu Bakar al shidiq.

Ibn Khibban menyatakan bahwa sesungguhnya Umar dan Ali adalah sahabat yang pertama membahas tentang para perawi Hadis dan melakukan penelitian tentang periwayatan Hadis.94H) dan Sulaiman bin Yasir (w.100H).106H).100 H). setelah itu muncul Ayyub as Sakhtiyani dan ibn ‘Aun. al Qasim bin Muhammad bin Umar (W. Kegiatan itu pasca sahabat dilanjutkan para tabi’in yang berkonsentrasi pada kedua daerah tersebut. yang kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan para ulama setelah mereka. Abu Sulamah bin Uthbah .94H). Hasan al Bashri (w. Urwah bin az Zubair (w.Azamai[10] bahwa setelah Umar dan Ali di Madinah pada abad pertama Hijrah muncul tabi’in kritikus Hadis antara lain : Ibn al Musayyab (w. Setelah berakhirnya periode Tabi’in. Abu Bakar meminta agar al Mughirah menghadirkan saksi tentang riwayat yang sama dari rasul SAW. yang terkemuka antara lain adalah : Said bin Jubair. Abdullan ibn Umar Abu ayyub al Anshari serta sahabat lainnya juga melakukan kritik Hadis. asy sya’bi. Seiring dengan perluasan daerah Islam. Demikian pula Aisyah.M. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada para sahabat.“Pengalaman Abu Bakar tatkala mengahadapi kasus waris untuk seorang nenek. Kharidjah bin Zaid bin Tsabit (w. Hadis pun mulai tersebar luas ke daerah-daerah di luar Madinah sehingga mendorong lahirnya pengkajian dan penelitian Hadis seperti di Madinah dan Irak. Ali bin Husain bin Ali (w. thawus.110H) dan ibn Sirrin (w. Sehubungan .93H). al Mughirah Ibn Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar. Salim bin Abdullah bin Umar (w. Al Mughirah mengaku hadir pada waktu Nabi menetapkan kewarisan nenek tersebut. Mendengar pernyataan tersebut.106H). maka kegiatan kritik dan penelitian Hadis memasuki era perluasan dan perkembangannya ke berbagai daerah yang tidak terbatas.[9] Menurut Ibn Khibban yang dikutip oleh M.93H). seperti yang dilakukan Abu Ayyub al Anshari dengan melakukan perjalanan ke Mesir hanya dalam rangka mencocokkan sebuah Hadis yang berasal dari ‘Uqbah ibn Amir. maka Muhammad Ibn Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan al Mughirah dan akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian berdasarkan hadis nabi yang disampaikan oleh al Mughirah” Setelah periode Abu Bakar. terutama ketika menerima riwayat dari sesama sahabat. Abu Bakar bin Abdurrahman bin al Harist (w. Suatu ketika ada seorang nenek menghadap kepada khalifah Abu Bakar yang meminta hak waris dari harta yang ditinggalkan cucunya. Yahya bin Said dan Hisyam bin Urwah. Setelah mereka muncul murid-muridnya di Madinah pada abad kedua yaitu tiga ulama kritikus hadis yaitu : az Zuhri. maka Umar bin Khattab melanjutkan upaya yang dirintis pendahulunya dengan membakukan kaidah-kaidah dasar dalam melakukan kritik dan penelitian Hadis.110H). Sedangkan di Irak. bahwa Nabi telah memberikan bagian harta waris kepada nenek sebesar seperenam bagian. Abu Bakar menjawab. bahwa kami tidak melihat petunjuk al Quran dan praktik nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek.

Abu Zur’ah ar Razi. Adapun Hadis yang perlu diteliti adalah Hadis yang berkategori ahad. Malik bin Anas dari Madinah (93-179H). karena hal tersebut sangat fungsional berhubungan dengan kehujjahan Hadis. Ad Darimi. karena Hadis kategori tersebut berstatus Zhanni al Wurud. Abdullah bin al Mubarak dari marw(118-181H).241H).238H) dan lain-lain. Ibn Hanbal dari Baghdad (w. Ayat Alquran yang berkaitan dengan perintah tersebut antara lain : a. yaitu yang tidak sampai kepada derajat mutawatir. antara lain : Sufyan ats Tsuri dari Kuffah (97-161H). C.204H). Al Bukhari. karena begitu luas ruang lingkup Alquran di satu sisi dan keterbatasan manusia manusia dalam memahami Alquran di sisi yang lain. Abu Hatim ar Razi.198H) dan Asy Syafi’I dari Mesir (w. Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Wasith (w. karena Hadis kategori tersebut telah menghasilkan keyakinan yang pasti bahwa Hadis tersebut berasal dari Nabi SAW. meski demikian tidaklah berarti bahwa terhadap Hadis mutawatir tidak dapat dilakukan penelitian lagi. Ulama-ulama tersebut di atas pada gilirannya melahirkan banyak ulama mashur di bidang kritik Hadis. Ishak bin Rahawaih dari Marw (w.233H). Ali bin al Madini dari Basrah (w. Maka terhadap hal ini Nabi Muhammad SAW bertugas menjelaskan secara rinci dan juga mendapat legitimasi dari Allah dan umat pengikutnya berkewajiban mengikutinya.235H). Al laits bin Sa’ad dari Mesir (w. antara lain : Yahya bin Ma’in dari Baghdad (w. Waki’ bin al Jarrah dari Kuffah (w.Tujuan dan Manfaat Penelitian Sanad dan Matan Tujuan pokok dari penelitian sanad dan matan Hadis adalah untuk mengetahui kualitas suatu Hadis. hamad bin salamah dari Bashrah(w. Jika hal itu dilakukan hanya bertujuan untuk membuktikan bahwa benar Hadis tersebut berstatus mutawatir.S. Murid-murid dari mereka itu yang tersohor adalah antara lain : Adz Dzuhali. al Auza’I dari Beirut (88-158H). Suatu Hadis dapat dijadikan hujjah (dalil) dalam menetapkan hukum apabila Hadis tersebut telah memenuhi syarat-syarat diterimanya (maqbul) suatu Hadis[11].167H).Faktor-faktor yang Mendorong Penelitian Sanad dan Matan Adapun faktor-faktor yang mendorong perlunya penelitian sanad dan matan diantaranya adalah[13]: 1.234H).192H). para ulama tidak menganggap perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Muslim bin al Hajjaj an Nisaburi dan Ahmad bin Syu’aib. Syu’bah dari Wasith (83-100H). bukan untuk mengetahui kualitas sanad dan matan nya sebagaimana yang dilakukan terhadap Hadis ahad.Kedudukan Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam Diterimanya Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam merupakan keniscayaan.196H). Abdurrahman bin Mahdi dari Basrah (w.Q.[12] Sedangkan terhadap Hadis mutawatir.175H).dengan itu muncul beberapa ulama kritik Hadis. Yahya bin Sa’id al Qathan dari Basrah (w. Ibn Uyaianah dari Mekah (107-198H). B. al Hasyr ayat 7 .

Oleh Karena itu kegiatan penting yang dilakukan para ulama Hadis. sehingga Hadis Nabi. Maka terimalah. al Imran ayat 32 Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". selain penghimpunan Hadis adalah juga pengkajian sejarah para perawi Hadis itu sendiri. jika kamu berpaling. Q. Tidak seragamnya metode dan sistimatika penyusunan kitab-kitab Hadis pada masa penghimpunan .Maka tinggalkanlah. Tidak seluruh Hadis ditulis pada masa nabi SAW Bahwa Hadis nabi lebih sedikit yang ditulis dibanding dengan yang diriwayatkan secara hafalan di kalangan para sahabat dan itu pun belum mendapat pengujian (cek ulang) di hadapan Nabi SAW. Munculnya Pemalsuan Hadis Berbagai faktor yang mendorong pemalsuan Hadis menyebabkan banyak bermunculan Hadis-hadis palsu. 2. Oleh karena itu mendorong kegiatan penelitian Hadis semakin penting. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. 5.… apa yang diberikan Rasul kepadamu. Jarak waktu antara masa penghimpunan Hadis dengan masa Nabi SAW yang cukup lama. ulama Hadis bekerja keras dan dengan kesungguhan menyelamatkan Hadis-hadis Nabi SAW. 4. yaitu berupa penyusunan beberapa kaidah dan ilmu Hadis secara ilmiah untuk dapat di pergunakan penelitian Hadis. akhirnya umat Islam mengalami kesulitan untuk mengetahui Hadis yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan yang asli berasal dari Nabi SAW. dan hasil karyanya tersebut selanjutnya di kirim oleh Khalifah ke berbagai daerah untuk dijadikan bahan penghimpunan Hadis selanjutnya. Dalam kaitan ini.S. dan apa yang dilarangnya bagimu. Muhammad ibn Muslim ibn Syihab az Zuhri adalah satu diantara ulama yang berhasil melaksanakan perintah khalifah Umar ibn Abd Aziz dalam penghimpunan Hadis. al Khutub al Sittah dan al . seperti : al Kutub al Khamsah. baik yang telah maupun yang belum di tuliskan pada masa Nabi SAW perlu di lakukan penelitian lebih lanjut terhadap para perawi dan periwayatannya sehingga tingkat validitasnya suatu riwayat dapat dibuktikan. dan bertakwalah kepada Allah. maka para ulama Hadis menilai dan membuat kreteria tentang peringkat kualitas kitab-kitab Hadis. b. Sehingga sanad Hadis menjadi sanngat penting. Beragamnya Metode Penyusunan Kitab-Kitab Hadis. begitu juga dengan penelitian terhadap pribadi para perawi yang telah memperoleh suatu Hadis adalah bagian terpokok dalam penelitian Hadis. mengakibatkan Hadis-hadis yang terhimpun dalam berbagai kitab menuntut penelitian yang seksama dari Hadis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan ke shahihan nya. 3. Pengkodifikasian Hadis secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (99 – 101 H). Lamanya Masa Pengkodifikasian Hadis.

terutama yang menyangkut nama-nama perawi yang terlibat dalam periwayatan Hadis dan lambang-lambang periwayatan Hadis yang telah digunakan oleh masing-masing perawi dalam meriwayatkan Hadis. Sanad Hadis Keadaan dan kualitas sanad merupakan hal yang pertama sekali diperhatikan dan dikaji oleh para ulama Hadis. yaitu bahwa sanad tersebut tidak syadz dan tidak ber ‘illat[14]. Kalangan sesudah sahabat terdapat juga para ulama yang membolehkan periwayatan Hadis secara makna. Abu Hurairah dan Aisyah serta sahabat yang lain secara ketat melarang periwayatan hadis secara makna. seperti : Umar ibn al Khattab. 6. seperti Ali ibn Abi Thalib. . maka barulah kegiatan penelitian dilanjutkan kepada matan Hadis itu sendiri. ‘an dan ‘anna. Sementra itu untuk mengetahui kandungan petunjuk dari suatu Hadis.Kutub al Sab’ah. namun dengan syarat-syarat tertentu. apakah memenuhi syarat atau tidak. yaitu berupa kita-kitab Hadis yang standar. akhbarani. Sehingga sangat perlu dilakukan penelitian Hadis.1. Adanya Periwayatan Hadis Secara makna sebagian sahabat ada yang membolehkan periwayatan Hadis secara makna. Oleh karena itu untuk mengetahui kesahihan suatu Hadis yang termuat dalam kitab-kitab tersebut maka diperlukan adanya penelitian. Anas ibn Malik. Kegiatan penelitian tersebut akan dapat menentukan kualitas para periwayat yang termuat dalam berbagai sanad. Akan tetapi para ulama hadis menambahkan lagi dua syarat lain guna memperkuat status ke shahih an. Bagian-Bagian Yang Harus Diteliti : Sanad dan Matan Adapun yang menjadi obyek penelitian Hadis adalah sanad Hadis dan matan Hadis . Abdullah ibn Mas’ud. Oleh karena itu apabila sanad suatu Hadis tidak memiliki kreteria yang telah ditentukan seperti tidak adil maka riwayat tersebut langsung ditolak dan selanjutnya penelitian terhadap matan Hadis tidak diperlukan lagi. terutama Hadis Qauli. Kreteria yang tidak seragam tersebut selanjutnya akan menghasilkan kualitas Hadis-hadisnya tidak selalu sama. adil dan dhabit. seperti : sami’tu. seperti perawi yang bersangkutan harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentanng bahasa Arab. Prinsip ulama Hadis itu adalah : “ Ke shahih an sanad tidak mengharuskan ke shahih an matan suatu hadis “ Agar suatu sanad dapat dinyatakan shahih dan diterima maka harus memiliki syaratsyarat seperti : bersambung ( muttashil). terlebih dahulu harus mengetahui redaksi Hadis yang bersangkutan. karena salah satu prinsip yag dipedomani oleh para ulama Hadis adalah bahwa suatu Hadis tidak akan diterima meskipun matan nya kelihatan shahih kecuali disampaikan oleh orang-orang yang adil akan tetapi apabila sanad nya telah memenuhi persyaratan ke shahih an. 1. Apabila syarat-syarat tersebut telah terpenuhi oleh suatu sanad maka sanad tersebut secara lahir telah dapat dinyatakan shahih. Hadis yang diriwayatkan bukan bacaan yang bersifat ta’abbudi seperti bacaan shalat dan periwayatan secara makna mengindikasikan bahwa Hadis tersebut memiliki matan tertentu dari Rasul SAW. D. Abdullah ibn Abbas. Abdullah ibn Umar dan Zaid ibn Arqam.

. sahabat. Hal tersebut harus berlangsung dan dapat dibuktikan dari sejak perawi pertama . tempat lahir dan daerah-daerah yang pernah dikunjunginya.a. tersembunyi (mastur). muru’ah (moralitas). Melalui popularitas yang dimiliki seorang perawi bahwa dia adalah seorang adil. sepertio Malik ibn Abbas atau Sufyan al Tsuri Apabila terdapat berbagai pendapat para ulama mengenai status keadilan seorang perawi. seperti ada yang menyatakan adil dan ada juga yang menyatakan jarh maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan mempedomani kaidah dalam ‘Ilm al jarh wa al Ta’dl sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai keadilannya[15]. tabi’in. Dalam hal meneliti sejarah hidup perawi. dan selanjutnya dia menyampaikan kepada perawi yang dating sesudahnya. yang selanjutnya dituliskan dalam bentuk rangking yang saling berkaitan sehingga dapat digambarkan peringkat masing-masing perawi seperti . maka ada dua hal yang harus dikaji oleh peneliti Hadis yaitu : sejarah hidup masing-masing perawi dan sighat al tahammul wa al ‘addad. anatara satu perawi dengan perawi lainnya harus dapat dibuktikan bahwa mereka adalah semasa (al mu’asharah) dan telah terjadi pertemuan langsung diantara mereka (al liqa’). sehingga menghasilkan jiwa yang percaya dengan kebenarannya yang ditandai dengan sikap menjahui dosa-dosa besar dan dari sejumlah dosa kecil. bahwa di dalam sanad tidak ada perawi yang gugur (munqathi’). seperti Bukhari dan lainlain.Kebersambungan Sanad (Ittishal al Sanad) Yang dimaksud sanad bersambung adalah bahwa masing-masing perawi yang terdapat dalam rangkaian sanad tersebut menerima Hadis secara langsung dari perawi sebelumnya. langkah yang dilakukan adalah pencatatan nama-nama seluruh perawi yang terdapat pada sanad. Dan langkah selanjutnya barulah diteliti riwayat hidup masing-masing perawi dengan memperhatikan hubungan satu perawi dengan perawi lainnya yaitu masa hidupnya. tabi’i al tabi’in dan seterusnya. tidak dikenal (majhul) ataupun samara-samar (mubham). b. . Adapun untuk mengetahui keadilan seorang perawi Hadis. Demikian pula. sumber Hadis yang diterimanya dan muridnya yaitu yang meriwayatkan Hadis. Dalam hal penelitian mengenai kebersambungan sanad. Selain itu.generasi sahabat yang menerima hadis tersebut langsung dari Rasul Allah SAW . dan selanjutnya meneliti lambang-lambang periwayatan Hadis yang telah digunakan masing-masing perawi. Keadilan Perawi Yang dimaksud dengan sifat ‘adil disini adalah suatu sifat yang tertanam di dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk senantiasa memelihara ketakwaan. dapat dilakukan dengan cara : • • • Melalui pemeberitahuan para kritikus Hadis atau dalam istilah ibn Shalah dan al Nawawi adalah melalui pernyataan dua orang mu’addil.samapai kepada perawi terakhir – yang mencatat dan membukukan hadis itu.

atau berbagai kitab lain yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri. al-tawjih (memperhadapkan)[4] Sedangkan secara terminologi. “Takhrij adalah seorang muhadis mengeluarkan hadis-hadisdari dalam ajza’. baik disertai dengan pembicaraan tentang status hadis-hadis tersebut dari segi sahih atau daif. Al-Sakhawy mengatakan dalam kitab Fathul Mugis sebagai berikut. Dalalah. atau hanya sekedar mengembalikannya kepada kitab-kitab asal (sumbernya)nya. yaitu mengeluarkan hadis dari dalam kitab dan meriwayatkannya. 2. . 4. al-masikhat. yaitu menunjukkan pada sumber hadis asli dan menyandarkan hadis tersebut pada kitab sumber asli dengan menyebutkan perawi penyusunnya.[5] Para muhadisin mengartikan takhrij hadis sebagai berikut: 1. Ulama mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis. siapa periwayatnya dari para penyususn kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pengambilan. dan yang populer diantaranya adalah al-istinbath (mengeluarkan). dan dibicarakan kemudian disandarkan kepada pengarang atau penyusun kitab itu”. melekat (setia) nya apa yang dihafalnya di dalam ingatannya dan pemeliharaan tulisan (kitab) nya dari segala macam perubahan sampai dia menyampaikan (meriwayatkan) Hadis tersebut . Kemudian hadis tersebut disusun gurunya atau teman-temannya dan sebagainya. tajhrij berarti : ‫عزو الحاديث التى تذكر في المصنفات معلقة غير مسندة ول معزوة الى كتاب او كتب مسندة اما مع الك َم عليها‬ َ ْ ََ ِ ‫َ ْ ُ َ ِ ْ ِ ّ ُ ْ َ ُ ِ ُ َ ّ َ ِ ُ َّ َ ً َ ْ َ ُ ْ َ َ ٍ َ َ ْ ُ ّ ٍ َِ ِ َ ٍ َ ْ ُ ُ ٍ ُ ْ َ َ ٍ ِ ّ َ َ ْ َل‬ ِ ْ ُ ُ َِ ِ ْ َ ْ ََ ِ َ ِ ْ ِ ِ ّ َِ ِ َِ ْ َ ِ َ ْ ِ َ ِ َ َ َ ً ْ ُ َ َ ّ َ َ ً ْ ِ ْ َ َ ً ْ ِ ْ َ ‫تصحيحا وتضعيفا وردا وقبول وبيان مافيها من العلل واما بالقتصار على العزو الى الصول‬ Mengembalikan (menelusuri kembali ke asalnya) hadis-hadis yang terdapat di dalam berbagai kitab yang tidak memakai sanad kepada kitab-kitab musnad. atau kitab-kitab lainnya. Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh. ditolak atau diterima. Pengertian Takhrij Hadis Takhrij menurut bahasa mengandung pengertian bermacam-macam. ‘Mengeluarkan’. atau para gurunya. 3. Ke dhabit an Perawi Al dhabit atau ke dhabit an seorang perawi dalam terminologi ulama Hadis adalah ingatan (kesadaran) seorang perawi hadis semenjak dia menerima Hadis. dan penjelasan tentang kemungkinan illat yang ada padanya.c. al-tadrib (melatih atau membiasakan).

Mengemukakan asal usul hadis sambil dijelaskan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang diperoleh oleh penulis kitab tersebut dari para gurunya.[8] Penguasaan tentang ilmu Takhrij sangat penting. lengkap dengan sanadnya sampai kepada Nabi Saw. Menghindari kesalahan redaksi. didalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh. Dari berbagai pernyataan di atas. khususnya yang menekuni bidang hadis dan ilmu hadis.[7] B. 1). Musnad Ahmad. bahkan merupakan suatu keharusan bagi setiap ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu-ilmu kasyariahan. 3). Dengan mengetahui hadis tersebut dari sumber aslinya. 4). yakni kitab yang di dalamnya dikemukakan secara lengkap dengan sanadnya masingmasing. takhrij Hadis dapat dijelaskan sebagai berikut: • • • Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadis itu. dapat disimpulkan bahwa hakikat dari takhrij hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab hadis sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanadnya. Penelusuran dan pencarian hadis pada sumber aslinya ini memeliki beberapa urgensi yakni. Syarat untuk penelitian sanad. Menghindari kesalahan nilai hadis karena membangsakan kualitas hadis secara tidak benar. Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal. khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadis. 2). Muwaththa’ Malik.5. Al-Kutub al-Sittah. Dengan mempelajari kaidah-kaidah dan metode takhrij. lalu untuk kepentingan penelitian. Mustadrak Al-hakim. . Seperti menempatkan hadis daif kepada hadis sahih atau sebaliknya. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumber yang asli. dengan metode dan kualitas para rawi sekaligus hadisnya. Kitab-kitab tersebut seperti. Dan hal ini akan memudahkan untuk melakukan penelitian sanad dalam rangka untuk mengetahui status dan kualitasnya. seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara untuk sampai kepada suatu hadis di dalam sumber-sumbernya yang asli yang pertama kali disusun oleh para Ulama pengkodifikasi hadis.[6] Dari uraian defenisi di atas. Disamping itu. maka akan dapat diketahui sanadsanadnya. Mengemukakan hadis-hadis berdasarkan sumber pengambilannya dari kitab-kitab yang didalamnya dijelaskan metode periwayatannya dan sanad hadis-hadis tersebut. Secara metodologis pengutipan hadis pada sumber primer adalah suatu keharusan.

dan gharibnya. 8. baik asal-usul maupun kualitasnya. Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadis tersebut adalah makbul (dapat diterima). Maka dengan takhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain yang dapat mengangkat status hadis tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. Demikian pula akan dapat diketahui istilah hadis mutawatir. 9.[9] 3. 6. Sehingga hadis tersebut menjadi jelas. masyhur.Gharami. Dengan adanya sanad yang lain. 2. hasan li zatih. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut. Adapun manfaat takhrij Hadis antara lain sebagai berikut: 1. aziz. Turuq Takhrij Hadis Rasul Allah Saw karya Abu Muhammad al- . maka nama perawi itu akan menjadi jelas. 5. Diantara kitab-kitab yang dapat dijadikan pedoman dalam men-takhrij adalah: Usul al. atau hasan li ghairi. Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada. seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. 4. Memperjelas hukum hadis dengan banyaknya riwayatnya. Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. karena dengan adanya takhrij. Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadis yang sedang menjadi topik kajian.Dengan demikian Takhrij hadis bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang di takhrij. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat. Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis melalui perbandingan sanadsanad yang ada.Takhrij wa Dirasat al-Asanid oleh Muhammad Al-Tahhan. Kitab-Kitab yang Diperlukan dalam Men-takhrij Dalam melakukan takhrij. seperti hadis da`if melalui satu riwayat. Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al. Memperjelas perawi yang samar. 11. Sebaliknya. Hal ini karena mungkin saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan cara ini. dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. 7. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut. Dapat diketahui status hadis sahih li zatih atau sahih li ghairih. orang tidak akan mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadis tersebut mardud (ditolak). kita akan mengetahui hadis-hadis yang pengutipannya memperhatikan kaidahkaidah ulumul hadis yang berlaku.[11] C.[10] 10. Memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan di antara sanad-sanadnya. baik dari segi sanad maupun matan.

Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Sahabah.[12] Sedangkan kitab yang memuat biografi para perawi hadis diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Thahhan sebagai berikut:[13] a) Kitab yang memuat biografi sahabat 1. Sirah ibn Hisyam. seperti: 1. Sunan Darimi. 463 H/1071 M). Miftah Kunuz al. D. Metodologi Penelitian Hadis Nabi oleh Syuhudi Ismail. Al-Tarikh al-Kabir. b) Kitab-kitab Tabaqat yaitu kitab-kitab yang membahas biografi para perawi hadis berdasarkan tingkatan para perawi (tabaqat al-ruwat). oleh ibn ‘abd al-Barr al-Andalusi (w. 748 H/ 1348 M). Sunan abu Daud. oleh Imam Al-Bukhari (w 256 H/870 M) 2. Yaitu selain dari Sembilan kitab induk hadis yakni. karya ibn Abi Hatim (w 327 H). musnad al-Tayalisi. Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. oleh Al-Hafiz ibn Hajar al-asqalani (w. Kitab ini memuat hadishadis dari Sembilan kitab induk hadis seperti Sahih al-Bukhari. Sahih Muslim. oleh Iz al-Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammadibn Al-asir al-Jazari (w. karangan Abu `Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Usman al-Zahabi (w. 852 H/ 1449). Al-Ishabah fi Tamyizal-Sahabah. Selain kitab-kitab di atas. 2. Al-Isti ab fi Ma`rifat al Asahab. AlMagazi. di dalam men-takhrij diperlukan juga bantuan dari kitab-kitab kamus atau mu’jam hadis dan mu’jam para perawi hadis. 230 H).Sunna. 1. dan lain-lain. Kitab ini memuat hadis-hadis yang terdapat dalam empat belas buah kitab. c) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadis secara umum. Sunan ibn Majah. Sunan Turmidzi. Musnad Zaid ibn Ali ibn Husein ibn Ali ibn Abi Talib. Al-Tabaqat al-Kubra. baik mengenai Sunnah maupun biografi Nabi. 630 H/ 1232 M) 3. Tazkirat al-Huffaz.Mahdi ibn `Abd al-Qadir ibn `Abd al Hadi. 2. oleh `Abdullah Muhammad ibn Sa`ad Khatibal-Waqidi (w. Al-Jarh wa al-Ta`dil. Sunan Nasa’i. diantaranya seperti: • • AL-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi. Al-Tabaqat al-Kubra. Cara Pelaksanaan dan Metode Takhrij .

tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalh orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah”. lafaz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. 2. 1. “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi. Bearti. Takhrij Melalui Kata-Kata dalam Matan Hadis Metode ini adalah metode yang berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis. Hadis-hadis dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafaz pertamanya menurut urutan huruf hijaiyah.[14] Setelah diperiksa. ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman. penggalan hadis tersebut terdapat di halaman 2014. Takhrij Melalui Lafaz Pertama Matan Hadis Metode ini sangat tergantung pada lafaz pertama matan hadis. maka lafaz pertama dari hadis tersebut adalah iza atakum (‫اذا‬ ِ ْ ُ ََ ‫ . metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu. apabila akan men-takhrij hadis yang berbunyi. langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. yaitu. apabila terdapat kelainan atau perbedaan lafaz pertamanya sedikit saja. bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah. Metode ini mempunyai kelebihan dalam hal memberikan kemungkinan yang besar bagi seorang mukharrij untuk menemukan hadis-hadis yang dicari dengan cepat. tetapi yang dicantumkan adalah bagian hadisnya sehingga pencarian hadishadis yang dimaksud dapat diperoleh lebih cepat. mak akan sulit unruk menemukan hadis yang dimaksud. baik berupa kata benda ataupun kata kerja.Di dalam melakukan takhrij. ِ ْ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ ُ ِْ َ ْ ِ ّ ُ ْ ِ َ َ ّ ِ ِ َ ْ ُ ِ ُ ْ ِ ّ َ ْ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ َ ْ ُ َ ّ َ َ َ ْ َ ُ ْ ِ َ َ ‫عنْ ا بي هريرة أن رسول ال صلى ال عليه وسلم قال: ليس الشديد باالصرعة انما الشديد الذي يملك نفسه عندالغيب‬ Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda.)اتاكم‬Namun. Akan tetapi. ُ ْ ُ ّ َ َ ُ َ ُُ َ ُ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ ُ َ َ ِ ‫اذاأتاكم من ترضون دينه و خلقه فزوجوه‬ Berdasarkan teks di atas. ِ َ ْ ُ ِ ُ ِْ ّ َ َْ ‫ليس الشديد بالصرعة‬ Untuk mengetahui lafaz lengkap dari penggalan matan tersebut. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad fuad Abdul Baqi. apabila yang diingat oleh mukharrij sebagai lafaz pertamanya adalah law atakum (‫ )لههو اتهها كههم‬atau iza ja’akum [15](‫ . Penggunaan metode ini akan lebih . karena adanya perbedaan lafaz pertamanya. meskipun ketiga lafaz tersebut mengandung arti yang sama.)اذاجههاءكم‬maka hal tersebut tentu akan ْ ُ ََ ْ َ َُْ َ menyebabkan sulitnya menemukan hadis yang sedang dicari. Sebagai contoh . Misalnya. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf.

Contohnya pencarian hadis berikut. Sunan Abu Daud.)طعام‬yu’kal (‫ )يؤكل‬al-mutabariyaini (‫ . Kitab ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di dalam Sembilan kitab induk hadis sebagaimana yaitu. Mengiringi hadis tersebut turut dicantumkan kitab-kitab yang menjadi sumber hadis itu yang dituliskan dalm bentuk kode-kode sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu. karena semakin bertambah asing kata tersebut akan semakin mudah proses pencarian hadis. َ َ ْ ُ ْ َ ِ ْ َ ِ َ َ ُ ِ َ َ ْ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ َ ِ ّ ّ ِ ‫ان النبي صلى ال عليه وسلم نهى عن طعام الْمتباريين أن يؤكل‬ Dalam pencarian hadis di atas. Sunan Darimi. kata tersebut dikembalikan kepada bentuk dasarnya. 3.)المتباريين‬Akan tetapi dari sekian kata yang ََ ْ َْ ُ ِ َِ ََُ dapat dipergunakan. Langkah kedua. Dan berdasarkan bentuk dasar tersebutdicarilah kata-kata itu di dalam kitab Mu’jammenurut urutannya secara abjad (huruf hijaiyah). Sahih Muslim. adalah menentukan kata kuncinya yaitu kata yang akan dipergunakan sebagai alatuntuk mencari hadis. Menurut penelitian para ulama hadis.mudah manakala menitikberatkan pencarian hadis berdasarkan lafaz-lafaznya yang asing dan jarang penggunaanya. lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini ( ِ ْ َِ ََُ ‫ )المتبههاريين‬karena kata tersebut jarang adanya. Penggunaan metode ini dalam mentakhrij suatu hadis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: Langkah pertama. Sahih Bukhari. Selain itu. Sebaiknya kata kunci yang dipilih adalah kata yang jarang dipakai. dan Musnad Imam Ahmad. Sunan Ibn Majah. pada dasrnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha (‫)نهى‬ ََ ta’am ( ‫ . Metode ini mempercepat pencarian hadis dan memungkinkan pencarian hadis melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadis. Di bawah kata kunci tersebut akan ditemukan hadis yang sedang dicari dalam bentuk potongan-potongan hadis (tidak lengkap). penggunaan kata tabara (‫ )تبارى‬di dalam kitab induk hadis (yang berjumlah Sembilan) َ ََ hanya dua kali. Setelah itu. Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu. Takhrij Berdasarkan Perawi Sahabat . Muwaththa’ malik. adalah mencari bentuk kata kunci tadi sebagaimana yang terdapat di dalam hadis yang akan kita temukan melalui Mu’jam ini. Sunan Nasa’i. Terkadang suatu hadis tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata lain. Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi. Sunan Turmizi.

maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-atraf tadi untuk kemudian mengambil hadis secara lengkap. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadis itu. Hadis diatas mengandung beberapa tema yaitu iman. zakat. . perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadis yang akan ditakhrij dan kemudian baru mencarinya melalui tema itu pada kitab-kitab yang disusun menggunkan metode ini. tauhid. mendirikan shalat. Berdasarkan tema-tema tersebut maka hadis diatas harus dicari didalam kitab-kitab hadis dibawah tema-tema tersebut. Seringkali suatu hadis memiliki lebih dari satu tema. Contoh : ّ َ َ َ َ َ َ ِ ْ َ َ ِ َ ّ ِ َ ْ َ ‫ُ ِ َ ِ ْ َ ُ ََ َ ْ ٍ َ َ َ ِ ْ َِ َ ِ ّ ّ ّ ُ َ ّ ّ َ ُ ْ ُ ّ َِ َ ِ ّ ة‬ ‫بني السلم على خمس شهادة ان لاله ال ال وان محمدا رسول ال واقام الصل ِ وايتاء الزكاة وصوم رمضان وحج‬ ِ ّ ْ ِ َ ِ ْ َِ َ َ َ ْ ِ َ ِ ْ َ ْ ‫البيت من استطاع اليه سبيل‬ Dibangun Islam atas lima pondasi yaitu : Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah. 4. Kelebihan metode ini adalah bahwa proses takhrij dapat diperpendek. Dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk hadisnya. shalat.Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis. • • • Al-Masanid (musnad-musnad). puasa dan haji. maka kita mencari hadis tersebut dalam kitab ini hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik. Dari keterangan diatas jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung kepada pengenalan terhadap tema hadis. Oleh karena itu untuk melakukan takhrij dengan metode ini. Akan tetapi. Dalam kasus yang demikian seorang mekharrij harus mencarinya pada tema-tema yang mungkin dikandung oleh hadis tersebut. membayarkan zakat. apabila perawih yang hendak diteliti itu tidak diketahui. Kebanyakan kitab al-atraf disusun berdasarkan musnadmusnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Al. Dalam kitab ini disebutkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Takhrij Berdasarkan Tema Hadis Metode ini berdasrkan pada tema dari suatu hadis. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz AsSunnah yang berisi daftar isi hadis yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. berpuasa bulan Ramadhan.ma`ajim (mu`jam-mu`jam). Untuk itu seorang mukharrij harus memiliki beberapa pengetahuan tentang kajian Islam secara umum dan kajian fiqih secara khusus. lalu kita mnecari bantuan dari tiga macam karya hadis yakni. Kitab-kitab Al-Atraf. Susunan hadis di dalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) sesuai huruf kamus hijaiyah.

Hal ini karena sebagian besar hadis-hadis yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadis sangat sedikit. Al-Marasil oleh Abu Dawud. Al-Ittihafat al-Saniyyat fi al-Ahadis al-Qadsiyyah oleh al-Madani. dengan sedikitnya hadis-hadis yang dimuat dalam karya-karya sejenis. tanpa memerlukan pengetahuan tentang lafaz pertamanya. Takhrij Berdasarkan Status Hadis Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam menyusun hadis-hadis. karena cakupannya sangat terbatas. Kitab kitab yang disusun berdasarkan metode ini : • • • Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akbar al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi. 5. Namun. hadis masyhur. yaitu penghimpunan hadis berdasarkan statusnya. Seorang peneliti hadis dengan membuka kitab-kitab seperti diatas dia telah melakukan takhrij al hadis. Kelebihan metode ini dapat dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. sehingga dia tidak dapat menentukan temanya. terutama apabila kandungan hadis sulit disimpulkan oleh seorang peneliti. Akan tetapi metode ini juga memiliki berbagai kelemahan. seperti hadis qudsi. maka metode ini tidak mungkin diterapkan. Karyakarya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadis berdasarkan statusnya. hadis mursal dan lainnya. hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini.Metode ini memiliki kelebihan yaitu : Hanya menuntut pengetahuan akan kandungan hadis. . sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. dan kitab-kitab sejenis lainnya.

“Tuliskan untukku seluruh hadits Rasul SAW yang ada padamu dan pada Amrah. dengan demikian. yang sebenarnya belum ada kebolehan resmi. beliau berkata : . yaitu dengan mengeluarkan perintah secara resmi untuk pengumpulan dan pembukaan hadits. 124 H) dan ulama lainnya untuk mengumpulkan hadits Nabi SAW. Dengan demikian.BAB PEMBAHASAN BIOGRAFI SINGKAT BEBERAPA ULAMA HADITS II Diantara para ulama hadits yang telah berjasa dalam pengkordifikasikan hadits dan ilmu hadits. selain mendorong para ulama untuk melakukan hal yang sama. Selain perintah untuk mengumpulkan hadits. Ibn Syihab alzuhri berhasil mengkoleksi hadits. Umar Ibn Abdul al-Aziz hidup dalam suasana atsmosfir ilmu pengetahuan cukup baik dan beliau sendiri sebagai Amir al-Mu’minin tidak jauh dri ulama. sejak pertama dikumpulkan secara resmi sampai pada penyelesaiannya antara yang shahih dan yang bukan shahih adalah : Umar Ibn Abdul al-Aziz ( 61-101 H) Nama lengkapnya adalah Umar Ibn Abdul al-Aziz Ibn Marwan Ibn al-Hakam Ibn Abi alAsh Ibn Umayyah Ibn Abdul Syams al-Qurasyi al-Umawi Abu Hafs al-Madani alDimasyzi. menurut pandangannya. Khalifah “Umar juga memerintahkan Ibn Syihab al-Zuhri (W. Instruksinya kepada Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm. karena aku mengkhawatirkan lenyapnya hadits dan perginya para ahlinya”. Khalifah Umar Ibn Abdul al-Aziz menginstruksikan dalam menginstruksikan kepada para ulama dan penduduk Madinah untuk memperhatikan dan memelihara hadits mengatakan. Amir al-Mu’minin. Meskipun masa pemerintahan beliau relative singkat. Ibunya adalah Umm’Ashim binti Ashim Ibn Umar Ibn alKhaththab. dengan cara demikian hadits Nabi SAW dapat terpelihara. beliau telah mempergunakannya secara maksimal dan efektif untuk pemeliharaan hadits-hadits Nabi SAW. Gubernurnya di Madinah. Khalifah Umar juga mengirim surat kepada para penguasa didaerah-daerah agar mendorong para ulama setempat untuk mengajarkan dan menghidupkan sunnah Nabi SAW. beliau lahir pada tahun 61 H. salah satu kebijaksanaan Umar Ibn al-Aziz menggalakan para ulama dalam hal penulisan hadits serta memberikan kebolehan untuk itu. maka umumnya para ulama hadits menghubungkan permulaan hadits dengan Umar Ibn Abd al-Aziz yaitu pada awal abad kedua Hijriah dan orang yang mula-mula membukukan hadits adalah Ibn Syihab al-Zuhri. karena aku mengkhawatirkan hilangnya hadits-hadits tersebut. Dia sendiri menuliskan sejumlah hadits. “Perhatikanlah hadits-hadits Rasul SAW dan tuliskanlah. Dorongan untuk menuliskan dan memelihara hadits selain karena dikhawatirkan akan lenyapnya hadits bersama meninggalnya para penghafalnya. juga dikarenakan berkembangnya kegiatan pemalsuan hadits yang disebabkan oleh terjadinya pertentangan politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat Islam. mengatakan. dia adalah cucu dari Umar Ibn al-Khathathab dari garis keturunan ibunya.

Umar ibn Abd al-Aziz meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 101 H. seperti dikatakan Umar bin Abd al-Aziz. maka kami pun menuliskannya dalam beberapa buku. Abu AtThufail. al-Zuhri bertemu kembali dengan Hisyam. Anbasah Ibn Sa’id Ibn al-Ash dan lain-lain. Setelah berlalu lebih sebulan. ia seperti yang dikatakan al-As-Zalani. mendapat beberapa gelar. lalu dia mendiktekan kembali hadits-hadits tersebut. Ibn Hibban memasukkan Umar ibn Abd al-Aziz kedalam kelompok Tabi’in yang tsiqat. tidak ada ulama yang lebih tinggi kemampuannya khususnya dalam bidang ilmu agama dari alZuhri. Umar Ibn Abd al-Aziz juga seorang perawi hadits. anak pamannya yakni Maslamah Ubn al-Malik Ibn Marwan. Jabir ibn Abdillah. . Penilaian para kritikus hadits mengenai diri Umar Ibn Abd al-Aziz adalah sebagai berikut : Ibn Sa’ad berkata. dan dia adalah imam yang adil. Abdullah ibn Umar. alim. Dan dia selanjutnya perkataannya : Tidak ada seorang pun yang telah membukukan ilmy ini (hadits) sebelum pembukuan yang aku lakukan ini. antara lain alFaqih. “Umar Ibn Abd al-Aziz adalah seorang yang tsiqat. dia mendengar hadits dari para sahabat seperti Anas ibn Malik. beliau lahir pada tahun 50 H. Abdullah. Lantas al-Zuhri meminta menghadirkan seorang juru tulis dan kemudian dia mendiktekan sejumlah 400 hadits. Ada sebuah kisah tentang kesetiaan dan keteguhan hafalannya terlihat ketika suatu hari Hisyam ibn Abd al-Malik memintanya untuk mendiktekan sejumlah hadits untuk anaknya. al-Hafizh al-Madani dan lain-lain. ketika itu Hisyan mengatakan kepadanya bahwa kitab yang berisikan 400 hadits tempom hari telah hilang. Al-Zuhri menjawab. Beliau menerima hadits dari Anas. Menurut para ulama. Al-Bukhari. dan dia masih bertemu dengan sejumlah sahabat ketia dia berusia 20 tahun lebih. Oleh karenanya. Ayyub dan al-Laits. Dia selanjutnya mengirimkan masing-masing satu kepada setiap penguasa didaerah. dia seorang faqih.‘Umar Ibn Abd al-Aziz telah memerintahkan kami untuk mengumpulkan sunnah Nabi SAW. Malik dan Ibn Uyainah menyataka Umar ibn Abd al-Aziz adalah imam. Muhammad ibn Syihab al-Zuhri (50-124) Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn muslim ibn’ Ubaidillah ibn Syihab ibn Abdullah ibn al-Harits ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah al-Qurasyi al-Zuhri alMadani. “Engkau tidak akan kehilangan hadits-hadits itu.” kemudian dia meminta seorang juru tulis. Meskipun seorang Khalifah. dua orang anak Umar Ibn Abd al-Aziz. saudaranya yakni Zuban Ibn Abd al-Aziz. Sahal ibn Sa’ad. sedangkan yang meriwayatkan hadits-haditsnya diantaranya adalah Abu Salamah Ibn Abd al-Rahman dan kedua anaknya yakni Abdullah dan Abd al-Aziz. Al-Zuhri. dia meriwayatkan banyak hadits. yaitu pada masa pemerintahan khalifah mu’awiyah ibn Abi Sufyan. dan wara’. Al-Masur ibn Makhramah dan lainnya. Al-Zuhri hidup pada akhir masa sahabat. ma’mun. Al-Sa’ib Ibn Yazid. Abu Bakar Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm.

b Al-Zuhri dari Ubaidillah. bahkan beliau bersedia memberikan bantuan materi terhadap mereka yang berkeinginan mempelajari hadits namun tidak mempunyai dana untuk itu. dari ayahnya dari kakeknya. dari ibrahim dari Al-Qamah dari Abdullah. Al-Ramahurmuzi (W.107 H) dan ibn hazm lantas menuliskannya umrah yang adalah makcik dari ibn Hazm sendiri. Beliau meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 124 H. dia menyerahkan kepada Hisyam dan isi kitab tersebut ternyata satu huruf pun tidak berubah dari isi kitab yang pertama. dan pendapat ini dipegang oleh Ajjaj al-Khathib. pernah tinggal bersama Aisyah dan dia adalah yang paling terpecaya dari kalangan Tabi’in dalam hal hadits Aisyah.117 H) Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazm al-Anshari alKhazraji al-Najjari al-Madani al-Qadhi. Imam Malik ibn Anas mengatakan.setelah itu. dan pendapat ini diikuti oleh Hasbi ash-Shidieqy. ibn Ma’in dan kharrasy mengatakan bahwa ibn Hazm adalah seorang yang tsiqat . Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Madinah dan sekaligus sebagai ulama hadits dia pernah diminta oleh Khalifah Umar ibn abd al-Aziz untuk menuliskan hadits-hadits Nabi SAW yang ada pada ‘Umrah binti Abd al-Rahman (W. “saya tidak melihat seorang ulama seperti Abu Bakar ibn Hazm. menurut al-Haitsam ibn Adi. Dan beliau telah memberikan perhatian yang besar dalam pengkajian dan penuntutan ilmu hadits. al-Waqidi dan ibn alMadini berpendapat bahwa ibn Hzm meninggal pada tahun 120 H. dari ibn Abbas. dan ibn Hibban memasukkan ibn Hazm ke dalam kelompok tsiqat. Muhammad ibn Hazm (W. Ibn Hazm adalah seorang ulama besar dalam bidang hadits dan dia juga terkenal ahli dalam bidang fiqh pada masanya. Tahun lahirnya tidak diketahui dan tahun meninggalnya. Al-Zuhri adalah seorang yang sangat intens dan bersemangat dalam memelihara sanad hadits bahkan beliau yang pertama menggalakan penyebutan sanad hadits tatkala meriwayatkannya. yaitu seorang sangat mulia muru’ah-nya dan sempurna sifanya. Dia memerintah di Madinah dan menjadi hakim (qadhi) tidak ada dikalangan kami di Madinah yang menguasai ilmu al-Qadha’ (mengenai peradilan) seperti yang dimiliki oleh ibn Hazm. Al-Zuhri memiliki sekitar 2000/2200 hadits. 360 H) . c Al-Zuhri dari Ayyub. Menurut al-Nasdi ada empat jalur sanad yang terbaik dari beliau yaitu : a Al-Zuhri dari Ali ibn al-Husain. Abu Musa dan ibn Bakir adalah tahun 117 H.98 H0 serta al-Qasim ibn Muhammad (W. Ada yang menyebutkan bahwa namanya adalah Abu Bakar dan kuniyagnya Abu Muhammad dan ada bahka ada yang mengatakan bahwa nama dan kuniyahnya adalah sama. dari Muhammad dari Ubaidah dari Ali. sementara itu. d Al-Zuhri dari manshur.

Abu Hushain Muhammad ibn al-Husain al-Wadi’I (W.Namanya adalah Abu Muhammad al-Hasan ibn abd al-Rahman ibn Khallad alRamahurmuzi. dan lain-lain. namun dari riwayat perjalanan hidupnya dan kegiatan periwayatan hadits yang dilakukannya. yang pertama menulis kitabnya adalha Al-Ramahurmuzi dengan judul AlMuhaddits al-Fashil bayn al-Rawi wa al-Wa’I. ayahnya Isma’il adalah adalah seorang ulama hadits yang pernah belajar hadits dari sejumlah ulam terkenal seperti Malik ibn Anas. Selain kitab al-Muhaddits al-Fashil. Al-Sam’ani berkata. dia menulis. yang diantaranya adalah dalam bidang ilmu mushthalah al-Hadis. Abu Ja’far Muhammad Ibn al-Husain al-Khats’ami (221-315 H). Al-Ramahurmuzi meninggal dunia pada tahun 360 H di Ramahurmuzi. dari segi kualitas pribadinya dia adalah seorang yang hafizh. tsiqat. dapat disimpulkan bahwa dia adalah seorang yang terpelihara muru’ah-nya. Al-Ramahurmuzi adalah seorang ulama besar dan terkemuka dalam bidang hadits pada zamannya. dan beberapa karyanya muncul seiring dengan kebesarannya dalam bidang hadits tersebut. Imam al-Tanzil fi al-Qur’an alKarim. dan lain-lain. al-Hasan ibn al-Laits al-Syirazi. Sedangkan diantara para muridnya yang meriwayatkan hadits-haditsnya adalah Abu al-Husain Muhammad ibn Ahmad al-Shaidawi. al-Illal fi Mukhtar al-akhbar dan lain-lain. 303 H). kitab ini dipandang sebagai kitab yang pertama dalam bidang ilmu ushul al-Hadits (mushthalah al-Hadits). Al-Qadhi Ahmad ibn Ishaq al-Nahawindi. 296 H). “Dia (Al-Ramahurmuzi) adalah seorang yang termuka dan banyak pembendaharaannya dalam hadits. ma’mun dan melalui kesan-kesan. Dalam bidang mushthalah al-Hadits. Tahun kelahirannya tidak disebutkan secara ekspelesit oleh para ahli sejarah. Abu Bakar Muhammad ibn Musa ibn Mardawaih. Pada ke-4 Hijriah. Abu al-Qasim Abdullah bin Ahmad ibn Ali al-Baghdadi. tatkala ilmu-ilmu ke Islaman mengalami kematangan dan memiliki istilah-istilah sendiri. Dia dilahirkan pada hari jum’at 13 Syawal 194 H di Bukhara. pengalaman dan peninggalan karya ilmiahnya. yang diantarannya adalah : Adab al-Muwa’id. Abad al-Nathiq. Diantara para gurunya dalam bidang hadits adalah ayahnya sendiri. yakni Abd alRamahurmuzi. al-Ramahurmuzi juga menulis sejumlah kitab. “Al-Ramahurmuzi adalah seorang imam hafiz. mulia akhlaknya dan bagus kepribadiannya. Abu Ja’far Umar ibn Ayyub alSaqthi (W. Bukhari (194-256 H) Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn AlMughirah Ibn Bardizbah al-Ju’fi (al-Ja’fai) al. kemudian.Bukhari. Ajjaj al-Khathib menyimpulkan bahwa al-Ramahurmuzi lahir sekitar tahun 265. Komentar dari Al-Dzahabi yang mengatakan. Amtsal al-Nabawi. Ibn Khallad al-Ramahurmuzi hidup dari akhir abad ke-3 H sampai dengan pertengahan abad ke-4 H. seorang muhaddist non Arab. bermunculanlah ilmu-ilmu yang mandiri. menyusun dan melahirkan berbagai karya ilmiah mengikuti jejak para ulama hadits dan juga ahli syi’ir. Hammad ibn .

Dia tidak hanya menghapal hadits-hadits dan karya ulama terdahulu saja. Ulama hadits terdiri dari 10 orang yang masing-masing akan mengutarakan 10 hadits kepada beliau. ayahnya meninggal dunia ketika Bukhari masih dalam usia sangat muda. berdasarkan pengakuan beliau sendiri. dan sebagainya. jawabannyapun saya tidak mengetahui. antara lain : (1) Jami’us-shahih. Bukhari mulai mempelajari hadits sejak usianya masih nuda sekali. Demikianlah selesai penanya pertama. Waki’. yang sudah di tukar-tukar sanad dan matannya. Abu Zur’ah. Beliau merantau ke negeri Syam. Ibnu khuzaimah dan An-Nasa’iy. Namun. antara lain Maky bin Ibrahim. sampai berkali-kali semua itu beliau lakukan untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai suatu hadits. antara lain : Imam Muslim. Abdullah bin Usman al-Marwazy. Jawaban beliau terhadap setiap hadits yang dikemukakan oleh penanya pertama ialah saya tidak mengetahuinya. Kitab tersebut berisikan hadits-hadits shahih semuanya. lalu beliau menerangkan dengan membenarkan dan mengembalikan sanad-sanadnya pada matan yang sebenarnya satu per satu sampai selesai semuanya. dia memiliki kecerdasan dan kemampuan menghafal yang luar biasa. Karya-karya beliau banyak sekali. dan ibn al-Mubarak. Pada suatu ketiaka. dan lainnya. mulai dari tanggal dan tempat tanggal lahir mereka. juga tanggal dan tempat mereka meninggal dunia. At-Turmudzy. Abdullah bin Musa Abbasy. bahkan sebelum mencapai usia 10 tahun. ujarnya. Ulama-ulama besar yang telah pernah mengambil hadits dari beliau. “saya tidak memasukkan dalam kitabku ini kecuali shahih semuanya. Para ulama yang hadir tercengang dan terpaksa harus mengakui kepandaiannya. Baik matan ataupun sanatnya. mesir. Bahkan diundang juga ulam hadits dari khurasan.” . Meskipun usianya masih sangat muda. beliau pergi ke bagdad para ulam ahli hadits sepakat menguji ulama muda yang mulai menanjak namanya. seperti ibn al-Mubarak. yakni kumpulan tersebut berisikan hadits-hadits shahih yang beliau persiapkan selama 16 tahun lamanya. majulah penanya ke dua dengan satu persatu dikemukakan hadits yang sudah dipersiapkan dan seterusnya sampai selesai penanya yang kesepuluh dengan hadits-haditsnya sekali. Abu Ashim As-Syaibany dan Muhammad bin Abdullah AlAnshary. Imam Bukhari di undangnya pada suatu pertemuan umum yang dihadiri juga oleh muhatdditsin dari dalam dan luar kota. tetapi juga mempelajari dan menguasai biografi dari seluruh perawi yang terlibat dalam periwayatan setiap hadits yang di hafalnya. ketelitiannya dan kehafalannya dalan ilmu hadits. Tetapi setelah beliau mengetahui gelagat mereka yang bermaksud mengujinya. ke basrah empat kali. Satu demi satu dari ulama 10 hadits tersebut menanyakan 10 hadits yang telah mereka persiapkan. menjelang usia 16 tahun dia telah mampu menghafal sejumlah buku hasil karya ulam terkenal pada masa sebelumnya. Jazirah sampai dua kali. Beliau telah memperoleh hadits dari beberapa hafidh.Zaid. ke Hijaz bermukim 6 tahun dan pergi ke bagdad bersama-sama para ahli hadits yang lain.

Ahmad ibn al-Mubarak dan lain sebagainya. ulama-ulama yang sederajat dengan beliau dan para hafidh. sedang shahih muslim adalah secermat-cermat isnadnya dan berkurang-kurang perulangannya. Kitab I’al wa Kitabu Uhamil Muhadditsin 5.(2) (3) (4) (5) (6) Birru’i-Walidain. Abu Isa alTirmidzi. Beliau kunjungi kota Khurasan untuk berguru hadits kepada Yahya ibn Yahya dan Ishaq ibn Rahawaih. Imam Muslim salah seorang Muhaddisin. Harmalah ibn Yahya dan kepada ulama hadis yang lain. Beliau juga dinisbatkan kepada nenek memangnya Qusyair bin Ka’ab Rabi’ah bin Sha-sha’ah suatu keluarga bangsawan besar. tidak lagi ditaruh di maudhu lain. suatu kampung tidak jauh dari kota Samarkand. sebab sebuah hadits yang telah beliau letakakan pada suatu maudhu. dan dikebumikan sehabis sholat Dhuzur di Khirtank. hafidh lagi terpercaya terkenal sebagai ulama yang gemar bepergian mencari hadits. dan Awawanah. Abu Mas’ad dan di Mesir beliau berguru kepada Amir ibn Sawad. yakni kota kecil di Iran bagian timur laut. 3. Ismail Ibn Abi Muhammad ibn al-Muksanna. Yahya ibn Sa’id. banyak yang berguru hadits kepada beliau. Musa ibn Haram. al-Musnad al-Shahih. beliau dinisbatkan kepada Naisabury. Jadi kitab shahih ini berada satu tingkat dibawahi sahih Bukhari. karena beliau adalah putra kelahiran Naisabur. Karya-karya Imam Muslim antara lain : 1. Kitab Al-Tamyiz . At-Tarikhu’I-Kabir At-Adabu’I-Munfarid Beliau wafat pada malam sabtu selesai sholaat Isya. Al-Musnad Al-Kabir. Ulama-ulama besar. seperti Abu Halim. Al-Jami’al-kabir 4. al-Qa’naby. didatanginya kota Rey untuk belajar hadits pada Muhammad ibn Mahran. Muslim (204-261 H) Nama lengkapnya Imam Muslim adalah Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj alQusyairy. Telah diakui oleh jumhur ulama. seperti Qatadah ibn Sa’id. 2. al-Mukhtashar min al-Sunan bi Naql al-Adl’an Rasulullah. Shahih muslim yang judul aslinya. At-Tarikhu’I-Ausath. Selain yang disebutkan diatas masih banyak ulama hadits yang menjadi gurunya. Ia mulai belajar hadits pada tahun 218 H saat berusia kurang lebih lima belas tahun. pada tahun 204 h. Kitab yang menerangkan tentang nama-nama Rijal Al-Hadits. bahwa shahih Bukhari adalah sesahih-sahih kitab hadis dan sebesar-besar pemberi faidah. Ibnu Khuzaimah. Muhammad ibn rumbi dan lain-lainnya. Qadlayass-shahabah wat-tabi’in. tepat pada malam Idul Fitri tahun 252 H.

Imam Yahya bin Sa’id al-Qahthan dan Imam Yahya bin Ma’in menggelarinya sebagai Amirulmukminin Fi’I-Hadits. Imam Bukhari mengatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahu’i-asnaid. atas anjuran khalifah Ja’far al-Manshur.a dan lain sebagiannya.6. Al-Agran. dilahirkan pada tahun 93 Hijriah. dan Ibnu’Umar r. Sufyan bin Uyainah. Nenek moyang kita. ialah bila sanad itu terdiri dari Malik. pelayan ibnu Umar r. Irfad Al-Syamiyyin. dan lain sebagainya.a. berwudhu lebih dahulu. Ibnu’I Mubarak. Kitabu al-Tahbaqat al-Tabi’in 8. Masyayikh Malik dan Al-Wuhdan. Rijal’urwah. Masyayikh al-Tsauri. dikota Madinah. seluruh warga Negara Hijaz memberikan gelar kehormatan baginya “Sayyidi Fuqaha’i-Hijaz”. Az-zuhry. Nafi’. pemuka mazhab malikiyah. . Beliau mengambil hadits secara qira’ah dari Nafi’ bin Abi Nua’im. setelah tak tahan lagi menunggu didalam rahim ibunya selama tiga tahun. Hadist Amr ibn Syu’aib. kemudian duduk diatas shalat dengan tenang dan berwudhu. ditengah jalan atau dengan tergesa-gesa. beliau bila handak memberikan hadits. asy-Syafi’iy. Ulama-ulama yang pernah berguru kepada beliau antara lain : al-Auza’iy. Malik adalah seorang tabi’in yang besar dan fuqaha kenaman dan salah seorang dari 4 orang tabbi’in yang jenazahnya dihusung sendiri oleh khalifah Utsman kelompok pemakamannya. Kitab lainnya adalah : Al-Asma wa al-Kuna. sewaktu bertemu di saat-saat menunaikan ibadah haji. Abu Amir adalah seorang sahabat yang selalu mengikti seluruh peperangan yang terjadi pada zaman Nabi. Kitab Muhadlramin 9. sedang kakeknya. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Imam Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Amr bin alHarits adalah seorang imam Darul Hijrah dan seorang faqih. Sebagai seorang muhaddits yang selalu menghormati dan menjunjung tinggi hadits Rasulullah saw. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahidun 7. Imam muslim wafat pada hari ahad bulan Rajab 261 H dan dikebumikan pada hari senin di Naisabur. ialah kitab-kitab AlMuwaththa tersebut ditulis pada tahun 144 H. Al-Intifa bi Julus al-Shiba. al-Tharikh. Sha-lawatuh Ahmad ibn Hanbal. Beliau benci sekali memberikan hadits sambil berdiri. Karya beliau yang sangat gemilang dalam bidang ilmu hadits. kecuali perang Badar. Nafi’I. seluruh ulama telah mengakuinya sebagai muhaddits yang tangguh . Disamping keahliannya dalam bidang ilmu fiqhi. Aulad Al-Sha-habah. Imam Malik bin Anas. Sufyan ats-Tsaury. Silislah beliau berakhir sampai kepada Ta’rub bin al-Qahthan al-Ashbahy.

Tidak pernah berpisah dengan gurunya kemana pun sang guru berpergian.000 buah. Juga beliau mempunyai hafalan matan hadits sebanyak 1. Madinah.000. yang kemudian diikuti dengan peratauannya ke kota-kota Mekah. untuk kepentingan yang sama. Muslim. Yahya bin qaththan. Beliau dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal. Dan menurut Abu zur’ah. tanggal 14 Rabiul Awwal tahun 169 (menurut sebagian pendapat. ketakwaan. Yaman. Beliau wafat pada hari Jumat bulan Rabiul Awal tahun 241 H di Bagdad dan dikebumikan di Marwaz.Beliau wafat pada hari ahad. antara lain : Sufyan bin Uyainah. Sehabis salat Ashar. Ibrahim bin sa’ad. Jenazahnya diantar oleh 800. Disamping sebagai seorang muhadditsin. sejak beliau baru berumur 16 tahun. sebagian ulama menerangkan bahwa disaat meninggalnya. ke-wara’-an dan ke-zuhudan beliau. di Madinah. Dari Bagdad inilah beliau memulai mencurahkan perhatiannya belajar dan mencari hadits sekhidmat-khidmat. Para ulama telah sepakat menetapkan keimanan. dikota Bagdad. disamping keahliannya dalam bidang perhaditsan. Dari peratauan ilmiah. Beliau sendiri adalah seorang murid imam As-Syafi’I yang paling setia. dengan meninggalkan 3 orang putra : Yahya.000 orang perempuan dan suatu . Beliau juga berkirim surat kepada ulama-ulama hadits di beberapa negeri. beliau berdiri dengan bersandar pada tembok dibawah menara mesjidnya. dengan nama mazhab Hanabilah (Hanbaly). Syam. Imam Ahmad bin Hanbal Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Hanbal al-Marwazy adalah ulama hadits yang terkenal kelahiran Bagdad. bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. tahun 179 H).000 orang laki-laki dan 60. Ibnu Abid-Dunya dan Ahmad bin Abil Hawarimy. Basrah dan lain-lain. Disambutnya pertanyaan mereka dengan gembira dan sekaligus meluncurkan berpuluh-puluh hadits dan hafalannya lewat mulutnya. beliau mempunyai tulisan sebanyak 12 macam yang semuanya sudah dikuasai diluar kepala. Muhammad dan Hammad. beliau mendapatkan guru-guru hadits yang kenamaan. tahun 169 H. terkenal juga sebagai salah seorang pendiri dari salah satu mazhab empat yang dikenal oleh orangorang kemudian. Adapun ulama-ulama besar yang pernah mengambil ilmu dari padanya antara lain : Imam-imam Bukhary. Beliau dituduh bahwa beliaulah yang menjadi sumber pendapat. sehingga mengakibatkan penyiksaan dan harus meringkuk dipenjara atas tindakan pemerintah diwaktu itu. Diantara karya beliau yang sangat gemilang ialah musnadu’i kabir kitab musnad ini merupakan satu-satunya kitab musnad terbaik dan terbesar diantara kitab-kitab musnad yang pernah ada. Kemudian berkerumunlah orang untuk menanyakan hadits.

. makamnya paling banyaj dikunjungi orang. pula 20. Yahudi dan Majusi masuk agama Islam.kejadian yang menakjubkan disaat itu.000 orang dari kaum Nasrani.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->