You are on page 1of 3

3. Bottleneck dalam kinerja aparat pemerintah.

A. Penyimpangan dan Masalah

Program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan dilaksanakan melalui penataan dan penyempurnaan kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan, dan kepegawaian yang salah satu caranya dilakukan melalui Analisis Beban Kerja (ABK). Kementerian Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 140/PMK.01/2006 tanggal 29 Desember 2006 tentang Pedoman Analisis Beban Kerja (Workload Analysis) di Lingkungan Departemen Keuangan sehin gga Direktorat Jenderal Pajak sebagai bagian dari Kementerian Keuangan terikat untuk melaksanakan Analisis Beban Kerja. Pelaksanaan Analisis Beban Kerja ditujukan terutama untuk memenuhi tuntutan terciptanya efektivitas dan efisiensi organisasi serta profesionalisme sumber daya manusia pada setiap unit organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan serta mampu melaksanakan tugas -tugas umum pemerintah dan pembangunan dengan dilandasi semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Menindaklanjuti peraturan tesebut, Kementerian keuangan sebenarnya telah menerapkan berbagai macam cara untuk menetapkan, dan mengawasi standar kinerja para pegawai di lingkungan kementerian keuangan. Cara-cara sepert menetapkan Key Performance Indicator dan balance scorecard sudah mulai digunakan di kementerian keuangan. Dengan demikian di dalam sebuah Standar Operating Procedure (SOP) sudah disebutkan batasan waktu penyelesaian dari semua aktifitas yang terkait. Batasan waktu ini yang menentukanseberapa cepat sebuah kegiatan pelayanan kepada masyarakat harus diselesaikan. Secara teori, bila sebuah SOP sudah ditetapkan, maka SOP tersebut harus dilaksanakan secara nasional. Namun pada prakteknya, tidak semua kantor dapat melaksanakan apa yang tercantum dalam SOP. Berbeda dari bottleneck dalam anggaran, dimana bottleneck yang tejadi banyak dalam penyerapan anggaran, bottleneck yang terjadi dalam kinerja aparat salah satunya berupa keterbatasan aparat dalam melaksanakan tugasnya. Keterbatasan tersebut yang mengakibatkan terjad inya bottleneck dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai contoh, misalkan di dalam sebuah seksi pelayanan di sebuah Kantor Pelayanan Pajak hanya memiliki 2 orang petugas pelaksana. Pada

tanggal 20 setiap bulan, KPP tersebut harus melayani Wa jib Pajak yang ingin melaporkan SPT. Semaksimal apapun kinerja dari kedua petugas tersebut, tidak akan sanggup melayani seluruh wajib pajak yang saat itu ingin melaporkan SPT nya. Kendala lain terkait SOP adalah terkait indeks kinerja utama, dimana dalam IKU tersebut, ditentukan standar jumlah pelayanan minimum yang sudah ditargetkan untuk dilaksanakan dalam setahun. Standar tersebut berlaku sama bagi setiap kantor, dalam hal ini sebuah Kantor Pelayanan Pajak. Bagi kantor dengan jumlah pegawai yang memadai dan jumalh Wajib Pajak yang sudah sesuai dengan standar kinerja yang seharusnya, mencapai standar yang sudah ditetapkan dalam IKU tersebut seharusnya bukanlah sebuah masalah. Akan tetapi bagi kantor -kantor di pelosok Indonesia, dengan jumlah Wajib Pajak j auh lebih banyak, maka mencapai standar pelayanan yang sudah ditetapkan tersebut bisa menjadi masalah. Sebagai contoh, bagi seorang Account Representative (AR) dalam sebuah seksi Pengawasan dan Konsultasi, ditarget untuk mengunjungi Wajib Pajak dalam rang ka pengawasan dan konsultasi minimal dua kali dalam seminggu. Bagi AR dengan wilayah kerja yang meliputi pulau -pulau terpencil, namun memiliki jumlah wajib pajak cukup signifikan, maka kewajiban visit tersebut akan menjadi cukup sulit dilakukan. Bila dipaksakan untuk melakukan visit, maka tugas-tugas lain di kantor, yang jumlahnya tidak sedikit, akan menjadi terabaikan, terlebih bila tidak ada petugas yang dapat menggantikan selama AR tersebut melaksanakan dinas di luar kantor. Kendala lainnya dapat berupa belum meratanya sarana dan prasarana setiap kantor pelayanan di Indonesia. Salah satu masalah yang mencolok adalah ketersediaan sumberdaya energi, dalam hal ini berupa energi listrik. Dalam sistem yang sudah terkomputerisasi, energi listrik menjadi berperan penting dalam pelayanan masyarakat. Dengan demikian, bila ketersediaan energi listrik tidak terjamin keberlangsungannya, maka pelayanan masyarakat juga dapat dipastikan akan terganggu.
B. Langkah Perbaikan

Beberapa solusi yang dapat kami sampaikan mengena i masalah ini antara lain dapat berupa penambahan jumlah personil sesuai dengan analisa beban kinerja yang sudah dihitung oleh masing -masing kantor. Diharapkan dengan tercapainya

jumlah pegawai ideal yang memiliki kualitas tinggi, sesuai dengan beban kerja masing-masing kantor, maka masing-masing kantor dapat dengan optimal melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat. Mengenai masalah sumberdaya energi, solusi yang dapat kami ajukan berupa menyediakan genset bagi kantor-kantor yang sering mengalami pemadaman listrik. Selain itu, dana untuk operasional genset tersebut juga sebaiknya dimasukkan ke dalam anggaran kantor sehingga genset tersebut dapet berfungsi kapanpun kantor tersebut mengalami pemadaman listrik.