SKRIPSI

STRESS DAN COPING STRESS PADA PECANDU NARKOBA DEWASA AWAL YANG SEDANG MENJALANI REHABILITASI

Disusun oleh: Sara Sahrazad 705040010

Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta 2007

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia meningkat tajam. Data terbaru Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2006 menyebutkan, dalam lima tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51,3% atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Kenaikan tertinggi terjadi pada 2005 sebanyak 16.252 kasus atau naik 93% dari tahun sebelumnya. Di tahun yang sama tercatat 22 ribu orang tersangka kasus tindak pidana narkoba. Kasus ini naik 101,2% dari 2004 sebanyak 11.323 kasus (Damayanti, 2006). Data di atas menunjukkan bahwa perkembangan kasus narkoba makin meningkat, sehingga banyak didirikannya tempat-tempat rehabilitasi guna untuk membantu pecandu agar dapat berhenti dari efek penggunaan narkoba. Hawari (1991) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkan narkoba itu disalahgunakan, yaitu agar dapat diterima oleh lingkungannya, untuk mengurangi stres dan kecemasan, bebas dari rasa murung, mengurangi keletihan atau kejenuhan, dan dapat pula untuk mengatasi masalah pribadi. Pada awal pemakaian, para pengguna narkoba ini tidak merasakan akibat buruk dari narkoba. Akibat itu baru dirasakan setelah beberapa kali pemakaian sehingga menimbulkan kecanduan dan ketergantungan. Ketergantungan dapat menyebabkan kesulitan untuk melepaskan diri dari pemakaian narkoba, karena saat sudah ketergantungan dosis pemakaian narkoba akan makin bertambah. Pada beberapa jenis narkoba, seperti putaw dan shabu-shabu, proses ketergantungan terjadi lebih cepat, hanya dengan beberapa kali pemakaian.

1

Pasar gelap juga mengembangkan jenis narkoba murni dengan daya ketergantungan yang makin tinggi. Hal ini akan semakin cepat mengakibatkan kematian. Kematian dapat dicegah dengan cara mengikuti pengobatan untuk para pecandu narkoba, pengobatan dapat dilakukan di tempat rehabilitasi ataupun rumah sakit. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga sangat beragam. Ada yang hanya menyediakan detoksifikasi sehingga pasien tidak perlu menginap. Contohnya, rumah sakit, klinik, dan puskesmas. Ada juga tempat-tempat rehabilitasi yang menyediakan penginapan seperti asrama, dengan fasilitas yang lengkap, udara segar, dan pemandangan alam. Tempat-tempat ini berbeda satu sama lain, tergantung filosifi, tujuan dari tempat tersebut, dan pasien yang disasar. Ada pusat rehabilitasi yang berdasarkan agama sehingga memasukkan ajaran-ajaran agama di dalam program mereka (Kompas, 2006). Sebuah tempat rehabilitasi akan membantu seorang pecandu untuk bangkit dari keadaan mereka yang terpuruk secara mental, spiritual, jasmani, sosial dan membantu mereka untuk melanjutkan masa depannya. Penghuni panti rehabilitasi membentuk hidup bersama atau komunitas. Masing-masing membuat komitmen pada diri sendiri dan sesama anggota komunitas untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kehidupan di segala bidang: mental, spiritual, sosial dan jasmani, dengan demikian, hidup bersama, semangat persaudaraan, dan komitmen timbal balik antara mereka dengan sendirinya menjadi model, sekaligus metode penyembuhan bagi mereka masing-masing. Ada suatu program yang diadakan oleh salah satu tempat rehabilitasi yang memakai cara yang disebut dengan Naza Project. Naza Project adalah suatu

2

program yang diadakan oleh Yayasan Hikmatul Iman yang bertujuan untuk melakukan rehabilitasi terhadap korban narkotika, zat adiktif dan psikotropika agar sehat kembali (Wikipedia, 2007). Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana stress dan coping stress pada pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi dengan asumsi bahwa seseorang yang terbiasa menyelesaikan masalahnya dengan memakai narkoba akan menolak pemikiran tersebut karena ia ingin bebas dari pengaruh narkoba dan ingin menyelesaikan masalahnya dengan normal. Stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku. Stress ini dapat dikategorikan sebagai tiga bagian, yaitu stimulus, respon, dan proses. Pendekatan yang

mendefinisikan stress sebagai stimulus adalah pendekatan yang berfokus pada lingkungan. Pendekatan kedua memandang stress sebagai respon. Pendekatan ini fokus kepada reaksi individu terhadap sumber stress. Pada pendekatan terakhir, stress dideskripsikan sebagai interaksi antara stimulus yang memicu stres dan diri individu sendiri (Brannon & Feist, 2000). Menurut Lazarus & Folkman (1984), dalam melakukan coping, ada dua strategi yang dibedakan yaitu Problem-focused coping dan Emotion-focused coping. Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Emotion-focused coping, yaitu usaha

mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan.

3

Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat

dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991). Para peneliti menemukan bahwa penggunaan strategi emotion focused coping oleh anak-anak secara umum meningkat seiring bertambahnya usia mereka (Band & Weisz, Compas et al., dalam Wolchik & Sandler, 1997). Penulis telah melakukan survey ke sebuah tempat rehabilitasi yang terletak di daerah Sentul, tempat rehabilitasi tersebut bernama Kedhaton Parahita yang telah berdiri sejak 2001 dengan pendirinya Romo Somar. Saat penulis datang ke tempat rehabilitasi tersebut, penulis bertemu dengan salah satu psikolog bagian klinis berinisial E, dan E berkata “sangat jelas para pecandu narkoba mengalami stres saat menjalani rehabilitasi, karena saat dari pertama pecandu masuk ke tempat rehabilitasi, pecandu akan di karantina selama 6 bulan penuh. Saat 6 bulan para pecandu tidak diperbolehkan bertemu dengan orang luar maupun keluarga dan tidak diperbolehkan untuk keluar tempat rehabilitasi tersebut. Saat menjalani rehabilitasi pecandu pasti akan merasa stres fisik maupun psikis karena tubuhnya yang telah kecanduan narkoba dipaksa untuk tidak mengkonsumsi kembali sehingga tubuh akan bereaksi yang biasa disebut dengan sakaw. Tubuh yang sakaw akan merasa kesakitan yang luar biasa dan pecandu akan dibiarkan merasakan hal itu sampai tubuhnya kembali normal. Pecandu pun akan mengalami stres saat merasa sendiri (kesepian) karena

4

selama 6 bulan pertama tidak diperbolehkan bertemu dengan siapa-siapa. Seorang pecandu pun mempunyai cara masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan yang yang dihadapinya”. Percakapan penulis dengan E menunjukkan bahwa pecandu yang menjalani rehabilitasi pasti akan mengalami stres dan para pecandu juga akan menyelesaikan masalah (coping stress) dengan cara yang berbeda-beda (E. Sentul, personal communication, juni 13, 2007). Oleh sebab itu penulis ingin meneliti apa saja stressor yang akan timbul saat pecandu sedang menjalani rehabilitasi dan coping stress apa yang dipakai dalam mengatasi

permasalahannya. Penulis mempunyai tujuan dalam mengerjakan penelitian ini, yaitu agar peneliti mendapatkan gambaran stressor dan coping stress yang dilakukan oleh pecandu didalam rehabilitas, sehingga dapat memberi masukan kepada sebuah tempat rehabilitasi agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul di tempat rehab yang dapat menyebabkan para pasien menjadi jenuh dan bosan. Begitupula penulis dapat member masukan kepada para orangtua pecandu agar memberi dukungan kepada pecandu tersebut, karena hal itu dapat membantu dalam proses penyembuhan para pecandu tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana stress dan coping stress pada pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi?

5

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran stress dan coping stress yang dialami oleh pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Selain itu diharapkan juga dapat memberi sumbangsih terhadap pengembangan ilmu psikologi pada umumnya serta bidang psikologi sosial dan perkembangan pada khususnya. Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini dapat berguna untuk mengetahui bagaimana stress dan coping stress pada pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi.

1.4.2 Manfaat Praktis Manfaat dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan

pengetahuan masyarakat mengenai kehidupan pecandu narkoba. Selama ini masyarakat tidak mengetahui apa yang dialami oleh pecandu narkoba di tempat rehabilitasi, pecandu mengalami stress dan masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara pecandu narkoba tersebut dalam mengatasi stressnya. Banyak masyarakat berpendapat bahwa di tempat rehabilitasi para pecandu narkoba itu disiksa sampai pecandu sembuh, dengan penelitian ini penulis mengharapkan dapat merubah pandangan masyarakat tentang sebuah tempat rehabilitasi. Diharapkan pula agar para pecandu narkoba lainnya yang masih menggunakan narkoba menjadi sadar dan menginginkan perubahan pada

6

kehidupannya dan dapat mengetahui apa yang akan pecandu alami dan bagaimana cara mengatasinya dengan belajar dari pengalaman para subyek.

7

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Stress 2.1.1 Pengertian Stress Stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku. Stress ini dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yaitu stimulus, respon, dan proses. Pendekatan yang mendefinisikan stress sebagai stimulus adalah pendekatan yang berfokus pada lingkungan, misalnya, keadaan ekonomi, keadaan keluarga dan sekitarnya. Pendekatan kedua memandang stress sebagai respon, bagaimana individu merespon suatu permasalahan yang menyebabkan individu stress. Pendekatan ini fokus kepada reaksi individu terhadap sumber stress. Pada pendekatan terakhir, stress dideskripsikan sebagai interaksi antara stimulus yang memicu stress dan diri individu sendiri. Pendekatan terakhir ini menjelaskan bagaimana proses stimulus itu mempengaruhi individu sehingga individu menjadi stress (Brannon & Feist, 2000). Hal-hal, kondisi-kondisi, kejadian-kejadian yang menyebabkan, memicu, dan menjadi alasan organisme menjadi stress disebut sebagai stressor. Stressor ini dapat berasal dari lingkungan (keramaian, polusi, kebisingan), pekerjaan, dan hubungan personal (Brannon & Feist, 2000). Seringkali stres didefinisikan dengan hanya melihat dari stimulus atau respon yang dialami seseorang. Definisi stres dari stimulus terfokus pada kejadian di lingkungan seperti misalnya bencana alam, kondisi berbahaya, penyakit, atau berhenti dari kerja. Definisi ini menyangkut asumsi bahwa situasi demikian memang sangat menekan tapi tidak

8

memperhatikan perbedaan individual dalam mengevaluasi kejadian. Sedangkan definisi stres dari respon mengacu pada keadaan stres, reaksi seseorang terhadap stres, atau berada dalam keadaan di bawah stres (Lazarus & Folkman, 1984). Definisi stres dengan hanya melihat dari stimulus yang dialami seseorang, memiliki keterbatasan karena tidak memperhatikan adanya perbedaan individual yang mempengaruhi asumsi mengenai stresor. Sedangkan jika stres

didefinisikan dari respon, maka tidak ada cara yang sistematis untuk mengenali mana yang akan jadi stresor dan mana yang tidak. Untuk mengenalinya, perlu dilihat terlebih dahulu reaksi yang terjadi. Selain itu, banyak respon dapat mengindikasikan stres psikologis yang padahal sebenarnya bukan merupakan stres psikologis. berdasarkan penjelasan tersebut, terlihat bahwa respon tidak dapat secara reliabel dinilai sebagai reaksi stres psikologis tanpa adanya referensi dari stimulus (Lazarus & Folkman, 1984). Singkatnya, semua pendekatan stimulus-respon mengacu pada pertanyaan krusial mengenai stimulus yang menghasilkan respon stres tertentu dan respon yang mengindikasikan stresor tertentu. Yang mendefinisikan stres adalah hubungan stimulus-respon yang diobservasi, bukan stimulus atau respon. Stimulus merupakan suatu stresor bila stimulus tersebut menghasilkan respon yang penuh tekanan, dan respon dikatakan penuh tekanan bila respon tersebut dihasilkan oleh tuntutan, deraan, ancaman atau beban. Oleh karena itu, stres merupakan hubungan antara individu dengan lingkungan yang oleh individu dinilai membebani atau melebihi kekuatannya dan mengancam kesehatannya (Lazarus & Folkman, 1984).

9

Pandangan tentang stress yang mendefinisikannya sebagai stimulus dipelopori oleh Hans Selye. Selye mengkonsepkan stress sebagai respon nonspesifik yang disebabkan oleh stressor (Ibrahim, 2003). Selye mengkategorikan reaksi individu terhadap stress menjadi tiga tahapan yang disebut sebagai General Adaptation Syndrome (GAS).

Tahap pertama, alarm reaction, tahap ini adalah tahap awal, tahap peringatan. Individu memperlihatkan tanda-tanda seperti meningkatnya tekanan darah, jantung berdebar, serta tanda-tanda fisik lainnya. Pada tahap ini juga, tubuh melawan dan bertahan terhadap stressor. Tahap kedua, disebut sebagai tahap resistance. Pada tahap ini, individu bertahan, melawan, dan beradaptasi pada stressor. Lama dari tahap ini bergantung pada seberapa kuat stressor. Tahap terakhir adalah tahap exhaustion, di mana individu gagal untuk menangani stressor dan berakibat fatal pada kondisi fisiologis. Individu pada tahap ini telah kehabisan energi untuk melawan dan melakukan adaptasi terhadap stressor (Sarafino, 2002).

2.2 Coping Stress Stres yang muncul pada anak akan membuat anak melakukan suatu coping (Mu’tadin, 2002). Coping adalah suatu tindakan merubah kognitif secara konstan dan merupakan suatu usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang dinilai membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Coping yang dilakukan ini berbeda dengan perilaku adaptif otomatis, karena coping membutuhkan suatu usaha, yang mana hal tersebut akan menjadi perilaku otomatis lewat proses belajar.

10

Coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Namun coping bukan merupakan suatu usaha untuk menguasai seluruh situasi menekan, karena tidak semua situasi tersebut dapat benar-benar dikuasai. Maka, coping yang efektif untuk dilakukan adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman, 1984). Banyaknya tegangan fisik dan emosional yang mengiringi keadaan stress, menyebabkan adanya ketidak-nyamanan. Ketidak-nyamanan ini menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang dapat mengurangi keadaan stress tersebut. Hal-hal yang dimaksud di sini juga berkaitan dengan upaya mengalahkan, mentoleransi, mengurangi, memperkecil, dan mengatur tuntutan lingkungan, tuntutan internal, dan konflik yang terjadi di antara keduanya. Upaya-upaya ini baik yang disadari maupun yang tidak disadari disebut dengan coping (Brannon & Feist, 2000). Menurut Taylor (2003) coping adalah proses dimana seseorang mencoba untuk mengatur (manage) pengamatan ketidaksesuaian (perceive discrepancy) antara tuntutan dan daya yang orang tersebut prediksikan dalam situasi stress.

2.2.1 Strategy of Coping Menurut Lazarus & Folkman (1984), dalam melakukan coping, ada dua strategi yang dibedakan yaitu Problem-focused coping dan Emotion-focused coping. Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Emotion-focused coping, yaitu usaha

11

mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan. Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat

dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991). Para peneliti menemukan bahwa penggunaan strategi emotion focused coping oleh anak-anak secara umum meningkat seiring bertambahnya usia mereka (Band & Weisz, Compas et al., dalam Wolchik & Sandler, 1997). Suatu studi dilakukan oleh Folkman et al. (dalam Taylor, 1991) mengenai kemungkinan variasi dari kedua strategi terdahulu, yaitu problem-focused coping dan emotion focused coping. Hasil studi tersebut menunjukkan adanya delapan strategi coping yang muncul, yang terkait dalam Problem-focused coping adalah pertama Confrontative coping, yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko. Variasi yang kedua adalah Seeking social support; yaitu usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain. Dan Planful problem solving; usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

12

Variasi yang terkait dalam Emotion-focused coping adalah Self-control, yaitu usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan. Distancing; usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandanganpandangan yang positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon. Positive reappraisal; usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan terfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius. Accepting responsibility; usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya, dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun strategi ini menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut. Escape/avoidance; usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

Orang akan menggunakan problem-focused coping pada saat mereka yakin bahwa mereka dapat merubah keadaan yang memicu stress. Problem-focused coping dan emotion-focused coping dapat digunakan secara bersamaan. Contohnya adalah dalam kasus orang yang kehilangan surat berharga karena kelalaian anak buah. Orang tersebut akan berusaha mengurus surat berharga tersebut (problem-focused coping) dan dia menahan kemarahan (emotion focused coping).

13

2.2.2 Mekanisme Coping Leonard pearlin dan Carmi Schooler (dalam Friedman & DiMatteo, 1989) mengatakan bahwa mekanisme coping dapat mengambil tiga bentuk, yaitu psychological resources, social resources, dan respon coping spesifik. Pada psychological resources ada karakteristik personal di mana seseorang menggambarkan diri mereka sendiri sebagai orang yang mampu atau tidak mampu berdamai dengan keadaan mengancam yang berasal dari lingkungan (misalnya self-esteem—sikap positif yang dibangun seseorang mengenai diri sendiri, penguasaan dan kompetensi diri, dan perasaan orang dapat dan mampu mengontrol kehidupan). Berbeda dari psychological resources, social resources adalah aspek dari jaringan interpersonal. Social resources didapatkan dari dukungan sosial yang tersedia dari keluarga, teman, teman kerja, tetangga, dan teman sejawat. Dukungan sosial sering dikaitkan dengan dukungan emosional, hal ini juga terkait dengan sumber yang lebih nyata, seperti informasi dan kooperasi. Mekanisme coping yang terakhir, yaitu specific coping responses

merepresentasikan hal-hal yang orang lakukan. Specific coping responses dapat dipengaruhi oleh psychological resources dari individu dan social resources.

2.2.3 Metode Coping Ada beberapa metode coping (Taylor, 2003) yaitu emotional discharge, Intrusive thought, cognitive redefinition. Emotional discharge termasuk di dalamnya mengekspresikan atau mengurangi perasaan mereka mengenai kondisi stress. Pendekatan ini kadang berlangsung bersamaan dengan mencari

14

dukungan sosial, seperti dari teman dan keluarga. Dalam pendekatan ini, juga digunakan metode humor. Pendekatan kedua, intrusive thought yaitu mengabadikan gambaran stress yang pernah dialami. Contohnya adalah mengalami flashback tentang event atau keadaan yang membuat stress. Orang yang sering menggunakan intrusive thought memiliki kesehatan yang lebih rendah daripada orang yang jarang menggunakan intrusive thought (Nowack, 1989 dalam Taylor, 2003). Pendekatan terakhir, cognitive redefinition, adalah strategi di mana orang mencoba untuk “put the good face on a bad situation”. Contoh dari pendekatan ini adalah tanpa terjadinya hal yang buruk, hal tersebut akan menjadi lebih buruk, membuat perbandingan dengan orang yang lebih tidak mampu atau lebih berada dalam keadaan yang sulit, atau melihat hal yang baik yang berkembang pada saat suatu masalah berjalan.

2.3 Dewasa Awal 2.3.1 Perkembangan Kognitif Menurut Piaget (1972), orang dewasa mencapai tahap postformal thought yang merupakan tahap kognisi tertinggi. Postformal thought merupakan tipe yang matang, percaya pada pengalaman subjektif dan intuisi yang masuk akal dan berguna untuk berhubungan dengan ambiguitas, ketidakyakinan,

ketidakkonsistenan, kontradiksi, ketidaksempurnaan dan kompromi. Beberapa kriteria dari postformal thought, seperti (a) shifting gears yang memungkinkan untuk merubah penalaran abstrak dan mempertimbangkan dunia nyata; (b) multiple causality and multiple solutions untuk menyadari bahwa masalah lebih dari satu penyebab dan solusi; (c) pragmatism sebagai

15

kemampuan untuk memilih yang terbaik dari beberapa solusi dan menghargai solusi yang telah dipilih; dan (d) awareness of paradox, sebagai kemampuan untuk memikirkan kembali bahwa masalah dari solusi meliputi masalah yang terdahulu. Selain Piaget dan Sinott, Schale (2000) turut mengemukakan a life span model of cognitive development, yang dimulai dari acquisitive stage (anak-anak dan remaja), dan berakhir pada legacy creating stage (orang tua umumnya mendekati akhir hidupnya). Usia dewasa awal dalam a life span model of cognitive development mulai memasuki achieving stage (akhir remaja atau awal 20-30 tahun). Tahap ini ditandai dengan tidak atau kurangnya permintaan terhadap pengetahuan atau kepentingan sendiri, dan cenderung menggunakan apa yang ketahui untuk mencapai tujuan, seperti keinginan untuk berkarir dan berkeluarga.

2.3.2 Perkembangan Psikososial Ada empat pendekatan dalam perkembangan psikososial, antara lain (a) traits model, teori ini berfokus pada mental, emosional, tempramental, dan tingkah laku seperti kebahagiaan dan mudah marah. Teori ini mengemukakan bahwa kepribadian orang dewasa hanya mengalami sedikit perubahan. Menurut Costa dan Crae (2001), membagi faktor-faktor yang berhubungan dengan sifat yaitu (1) neuroticm, kelompok ini terdiri dari enam sifat negatif yang mengidentifikasikan permusuhan ketidakstabilan depresi hati emosi, yaitu kecemasan (anxiety), (self luka

(hostility), suara

(depression),

kesadaran dan

pribadi atau

consciousness),

(impulsiveness),

serangan

(vulnerability); (2) extraversion, kelompok ini mempunyai enam sisi yaitu

16

keramahan

(warmth),

berteman

(gregariousness),

tegas

(asseetiveness),

aktivitas (activity), mencari kegembiraan (excitement-seeking) dan emosi positif (positive emotions); (3) open to experience, kelompok ini mempunyai sisi yaitu fantasi (fantasy), keindahan (aesthetic), perasaan-perasaan (feelings), tindakantindakan (action), ide-ide (ideas), dan nilai-nilai (values); (4) conscientious, adalah yang ingin mencapai sesuatu, mereka mempunyai sisi yaitu tertib (orderly), patuh (dutiful), tenang dan berhati-hati (deliberate) dan disiplin (discipline); (5) agreeable, tipe orang yang dapat dipercaya, berterus terang, sering mengeluh (complaint), rendah hati (modest), dan mudah dipengaruhi. Pendekatan dalam perkembangan psikososial yang lain adalah (b) typological models, teori ini mengidentifikasikan dengan tipe kepribadian luas, mereka menampilkan cara-cara kepribadian diidentifikasikan secara individual. Teori ini mempunyai kecendrungan untuk menemukan keseimbangan dalam kepribadian. Terdapat tiga tipe typological models yaitu (1) ego resilient, adalah ego yang mampu beradaptasi di bawah kondisi tekanan dan orang yang mampu mengontrol diri (ego control), tipe seperti ini mempunyai kepercayaan diri, mandiri, pandai berbicara, penuh perhatian, suka menolong, mampu bekerja sama dan fokus pada pekerjaan; (2) overcontrolled, adalah orang yang memiliki sifat pemalu, pendiam, cemas, dan bergantung pada orang lain. Orang-orang yang memiliki tipe ini seperti memiliki kecendrungan untuk menyimpan pemikiran mereka sendiri dan menghindari konflik, orang yang memiliki tipe ini juga mudah mengalami depresi; (3) undercontrolled, adalah tipe orang yang aktif, energik, suka mengikuti kata hati, keras kepala, dan mudah mengalami kebingungan. Pendekatan yang ketiga adalah (c) normative-crisis models, teori ini menggambarkan rangkaian usia manusia berhubungan dengan perkembangan

17

yang berkesinambungan sepanjang hidupnya, misalnya pada masa kanak-kanak dan remaja. Teori ini memprediksikan, bahwa kepribadian orang dewasa mengalami perubahan. Menurut erikson (2001), manusia pada saat dewasa awal sudah memasuki tahap intimacy versus isolation, yaitu tahapan ketika orang dewasa membuat suatu komitmen maka orang tersebut akan mengalami keterasingan. Orang-orang dewasa awal cenderung siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Usia dewasa mendambakan hubungan-hubungan yang intim dan akrab, munculnya nilai cinta, dan persaudaraan sehingga, siap

mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmenkomitmen ini meskipun usia dewasa mungkin harus berkorban. Akan tetapi, berbahaya pada tahap keintiman ini adalah isolasi, yaitu suatu kecendrungan menghindari hubungan karena tidak mau melibatkan diri dalam keintiman. Pendekatan perkembangan psikososial yang terakhir adalah (d) timing of events models, teori ini menggambarkan bahwa perubahan tidak terlalu berhubungan dengan usia sebagai sesuatu yang diharapkan atau bersifat penting dalam hidup manusia. Teori ini menekankan individual dan konteks.

2.4 Narkoba Margono (2000) mendefinisikan narkoba sebagai zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan gangguan atau perubahan pada perilaku, kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang. Narkoba juga merupakan semua zat yang

mempengaruhi cara bekerja pikiran, perasaan, persepsi dan kehendak (Colondam, 2007).

18

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dapat dibedakan ke dalam golongangolongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang atau yang kemudian ditetapkan sebagaimana keputusan Menteri Kesehatan (UU RI No.22 tahun 1997). Menurut lampiran UU tersebut yang termasuk dalam jenis narkotika adalah: tanaman ganja, tanaman opium sampai heroin, tanaman koka sampai kokain, kodein dan turunan kimianya. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku (UU RI No.5 tahun 1997). Menurut lampiran UU tersebut yang termasuk dalam jenis psikotropika adalah amphetamin, metamfetamin, dan turunannya seperti pil ekstasi, shabu atau ice dan turunan kimia sejenisnya.

2.4.1 Penyalahgunaan Narkoba Menurut Hawari (2002) penyalahgunaan narkotika zat adiktif dan obat berbahaya lainnya merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat patologik, berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan menimbulkan gangguan fungsi social dan okupasional. Penyalahgunaan obat yang di maksud di sini adalah pemakaian obat yang disalahgunakan, bukan untuk keperluan medis, maupun pemakaian obat dengan dosis yang tidak tepat (Rice, 1993). Penyalahgunaan narkoba merupakan tindak pelarian yang sedang mempunyai masalah atau untuk mendapatkan perhatian dari orang lain di luar lingkungan

19

keluarga (Sarlito, 2003). Penyalahgunaan narkotika, psykotropika dan minuman keras pada umumnya disebabkan karena zat-zat tersebut menjanjikan sesuatu yang dapat memberikan rasa kenikmatan, kenyamanan, kesenangan dan ketenangan, walaupun hal itu sebenarnya hanya dirasakan secara semu (dalam http://www.narkoba-metro.org/). Efek ketergantungan atau kecanduan adalah suatu tahap yang dirasakan individu setelah memakai obat secara berulang kali. Secara umum individu dikatakan telah mengalami ketergantungan atau kecanduan obat apabila telah menunjukkan suatu simptom jika dihentikan pemakaian obat. Selain itu menunjukkan efek toleransi, yaitu meningkatnya jumlah dosis zat yang digunakan, dan meningkatkan frekuensi penggunaan (Hawari, 1991). Alasan pemakaian obat pertama kalinya berbeda-beda dari tiap individu. Namun demikian dari semua alasan yang ada, kebanyakan pemakaian obat untuk pertama kalinya didorong oleh rasa ingin tahu dan didasari untuk memperoleh kenikmatan yang kadang-kadang tanpa motivasi terlebih dahulu (Williams, 1974). Alasan pertama kali memakai obat dan meneruskan pemakaian kadang-kadang berbeda-beda (Capuzzi & Lecoq, 1983). Sumber dari sifat ketergantungan tidak menentukan oleh khasiat kimiawi zat (Hawari, 1991). Orang-orang yang memakai obat menandakan ”usaha” untuk memecahkan masalah emosi, lama-kelamaan akan menjadi ketergantungan secara psikologis pada obat tersebut (Johnson & Kaplan, 1991). Pemakaian obat berarti terpenuhinya keamanan, kenyamanan, dan rasa lega (Andrews, 1993).

20

2.4.2 Proses Ketergantungan Obat Nowinski (1990) membagi proses ketergantungan menjadi lima tahap, dimana tahap-tahap tersebut tidak dapat dipisahkan secara nyata. Proses

ketergantungan obat yang diuraikan di atas merupakan salah satu penjelasan proses yang lebih sederhana dibandingkan proses ketergantungan yang diajukan oleh Nowinski. Tahap pertama yang diuraikan oleh Nowinski yaitu tahap eksperimen atau coba-coba (the experimental stage), motif utama dari pemakaian coba-coba

adalah rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengambil resiko, yang keduanya merupakan ciri-ciri khas kebutuhan manusia. Tahap yang kedua adalah tahap sosial (the social stage), konteks pemakaian pada tahap ini berkaitan dengan aspek sosial dan pengguna, misalnya pemakaian yang dilakukan saat bersamasama teman-tema, misalnya pada saat pesta, acara kumpul-kumpul, dan lainlain. Tingkah laku menyimpang merupakan motivasi utamanya adalah

penerimaan sari kelompok atau sebagai fasilitas sosial supaya dapat cocok dengan kelompok tersebut. Tahap ketiga merupakan tahap instrumental (the instrumental stage), pada tahap ini melalui pengalaman-pengalaman coba-coba salah dan meniru, bahwa pengguna dapat bertujuan memanipulasi emosi dan tingkah laku, mereka menemukan bahwa pemakaian obat dapat mempengaruhi perasaan dan aksi. Tahap keempat adalah tahap pembiasaan (habitual stage), tahap ini berbeda dari pemakaian instrumental, bukan hanya pada frekuensi pemakaian, tetapi karena motivasi yang mendasarinya. Tahap ini merupakan batas antara pemakaian instrumental dan pemakaian kompulsif. Kata kunci dalam tahap “accomodation”.

21

Tahap yang terakhir adalah tahap kompulsif (the compulsive stage), pada tahap akhir ini pemakaian obat adalah sebagai tingkah laku yang kompulsif. Pemakaian akomodasi kini secara komplit dan total. Pikiran pecandu kini diokupasi pada keinginan atau untuk merasa high. Jangkauan perhatian untuk hal-hal lain sangat terbatas atau sama sekali tidak ada minat terhadap sekolah, pekerjaan, hobi, semuanya dialihkan pada pemakaian obat.

2.4.3 Kategori Pemakai Narkoba Secara umum para pemakai dapat dibagi menjadi tiga kelompok (1) ketergantungan primer, (2) ketergantungan simtomatis, (3) ketergantungan reaktif (Trevalga, 2000). Kelompok pemakai ketergantungan primer ditandai dengan adanya gangguan kejiwaan, kecemasan, dan depresi, yang pada umumnya terdapat pada orang dengan kepribadian tidak stabil. Kelompok ini memerlukan terapi kejiwaan psikologik serta perawatan bukan hukuman. Menurut Hawari (2002) kelompok pemakai ketergantungan simtomatis adalah orang-orang yang berkepribadian antisosial (psikopatik). Pemakaian obat-obat terlarang adalah untuk kesenangan semata, hura-hura, bersuka ria dan sebagainya. Kelompok pemakai ketergantungan simtomatis biasanya memakai obat-obat terlarang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mempengaruhi orang lain untuk menggunakan obat-obat terlarang dengan berbagai cara. Kelompok ketergantungan reaktif terdapat pada remaja karena dorongan ingin tahu, pengaruh lingkungan, dan tekanan kelompok sebaya (peer-group). Kelompok ini dapat dikategorikan sebagai korban, memerlukan perawatan serta rehabilitasi bukan hukuman.

22

2.4.4 Dampak Penyalahgunaan Narkoba Colondam (2007) mengatakan bahwa pemakaian narkoba jenis apa pun membawa kerusakan fisik, mental dan emosi. Organ tubuh yang paling terkena dampak penggunaan narkoba adalah otak dan efek kerusakan ini bersifat satu arah serta tidak dapat diperbaiki kembali (irreversible damage). Narkoba bila digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SPP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang (Hawari, 1991). Dampak yang ditimbulkan bagi para penyalahguna nakotika yang sudah akut atau kecanduan, secara fisik narkoba akan merusak susunan syaraf pusat atau merusak orang organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal serta menimbulkan penyakit lain dalam tubuh, seperti bintik- bintik merah pada kulit seperti kudis. Dalam psikisnya juga akan berdampak menjadi lamban dalam melakukan sesuatu, agresif, sulit berkonsentrasi dan cenderung menyakiti dirinya sendiri, dalam dampak sosial pecandu akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan penggunaan narkotika akibat ketergantungannya , Mereka dapat menghalalkan segala cara demi memperoleh narkotika. Awalnya mengambil dan menjual barang-barang milik pribadi, kemudian terus meningkat dengan mengambil barang-barang milik keluarganya dan kemudian pada gilirannya melakukan

23

tindak pidana baik berupa pencuriaaan, perampokan , dan lain-lainnya sekedar untuk membeli narkotika (dalam http://www.narkoba-metro.org).

2.5 Tempat Rehabilitasi Tempat rehabilitasi merupakan salah satu jalan keluar agar pecandu narkoba dapat sembuh dari jeratan efek dari narkoba tersebut. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga sangat beragam. Ada yang hanya menyediakan detoksifikasi sehingga pasien tidak perlu menginap. Contohnya, rumah sakit, klinik, dan puskesmas. Ada juga tempat-tempat rehabilitasi yang menyediakan penginapan seperti asrama, dengan fasilitas yang lengkap, udara segar, dan pemandangan alam bagus. Tempat-tempat ini berbeda satu sama lain, tergantung filosifi, tujuan dari tempat tersebut, dan pasien yang disasar. Ada pusat rehabilitasi yang berdasarkan agama sehingga memasukkan ajaran-ajaran agama di dalam program mereka (Kompas, 2006). Lamanya program rehabilitasi sangat bervariasi, ada yang hanya tiga-empat minggu, namun ada yang mencapai lebih dari 18 bulan. Hal ini tergantung kebutuhan dan kemampuan masing-masing pasien. Program yang diberikan juga beragam. Tidak hanya detoksifikasi, tetapi juga diberikan konseling dengan psikolog atau psikiater, olahraga dan sebagainya. Ada juga yang menyediakan grup pendukung sepertii teman sebaya atau mantan pecandu yang sudah bisa bebas dari pengaruh narkoba (Hawari, 1991). Aktivitas yang diselenggarakan harus mempunyai target agar terlihat jelas tahap kemajuan dari setiap pasien. Aktivitas ini juga harus dibawah pengawasan orang yang kompeten, seperti dokter, psikiater, dan psikolog. Pengobatan mental

24

ini bisa dilakukan dengan memberikan pembekalan seperti pelatihan self esteem (kepercayaan diri). Pasien harus siap secara mental jika dia pulang ke rumah. Dia harus dapat berkata tidak kepada narkoba dan siap jika ditolak oleh masyarakat. Oleh karena itu, ada baiknya pasien diberikan keterampilan seperti bahasa, musik, atau kerajinan tangan agar memiliki sesuatu ketika keluar nanti (Iven dalam kompas, 2006).

2.5.1 Pengobatan Pada Tempat Rehabilitasi Tahap pertama adalah tahap detoksifikasi. Detoksifikasi merupakan satu cara untuk menghilangkan racun-racun obat dari tubuh si penderita kecanduan narkoba. Proses ini dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini (1) Cold Turkey (abrupt withdrawal) yaitu proses penghentian pemakaian Narkoba secara tibatiba tanpa disertai dengan substitusi antidotum, (2) Bertahap atau substitusi bertahap, misalnya dengan Kodein, Methadone, CPZ, atau Clocaril yang dilakukan secara tapp off (bertahap) selama 1 - 2 minggu, (3) Rapid Detoxification: dilakukan dengan anestesi umum (6 - 12 jam), dan (4) Simtomatik: tergantung gejala yang dirasakan. Tahap kedua adalah tahap deteksi sekunder infeksi. Pada tahap ini, biasanya kita melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan tes penunjang yang lain untuk mendeteksi penyakit atau kelainan yang menyertai para pecandu Narkoba. Contohnya, Hepatitis (B/C/D), AIDS, TBC, JAMUR, sexual transmitted disease (Sifhilis, GO, dll). Jika dalam pemeriksaan ditemukan penyakit di atas, biasanya kita langsung melakukan pengobatan medis sebelum pasien dikirim ke rumah rehabilitasi medis. Hal ini perlu untuk mencegah untuk mencegah terjadinya penularan penyakit pada para penderita yang lain atau tenaga kesehatan.

25

Tahap ketiga adalah tahap rehabilitasi. Prinsip perawatan di setiap rumah rehabilitasi medis yang ada di Indonesia sangat beragam. Ada yang menekankan pengobatan hanya pada prinsip medis, ada pula yang lebih menekankan pada prinsip rohani. Atau, prinsip pengobatan dengan cara memadukan kedua pendekatan tersebut dalam komposisi yang seimbang. Pengobatan rawat inap ini biasanya dilakukan selama 3 bulan sampai dengan 1 atau 2 tahun. Tahap terakhir adalah tahap purnarawat. Sebelum kembali ke masyarakat, para penderita yang baru sembuh akan ditampung di sebuah lingkungan khusus (sektor swasta, jurnalis, kelompok agama, LSM, dll) selama beberapa waktu tertentu sampai pasien siap secara mental dan rohani kembali ke lingkungannya semula. Hal ini terjadi karena sebagian besar para penderita umumnya putus sekolah dan tidak mempunyai kemampuan intelejensia yang memadai. Akibatnya, banyak di antara mereka menjadi rendah diri setelah keluar dari rumah rehabilitasi. Lamanya proses aftercare dapat bervariasi, biasanya dilakukan antara 3 bulan sampai 1 tahun. Dari keempat tahap pengobatan, aftercare merupakan tahap yang terpenting dan sangat menentukan untuk mencegah si penderita kembali ke lingkungannya yang semula (dalam http://www.narkoba-metro.org/). Ada suatu program yang diadakan oleh salah satu tempat rehabilitasi yang memakai cara yang disebut dengan Naza Project. Naza Project memiliki langkah-langkah yang akan diberikan kepada pasien, antara lain: Langkah pertama adalah Analisis kondisi pasien. Pada tahap ini kondisi fisik, mental dan sosial pasien untuk kemudian dilakukan diagnosa terhadap keadaanya. Langkah kedua, Detoksifikasi (pembersihan racun). Fungsinya adalah untuk

26

membersihkan darah dan organ-organ tubuh pasien agar terbebas dari racun narkotika, alkohol, zat adiktif ataupun obat psikotropika. Langkah ketiga brainwash (cuci otak) yang akan dilakukan menggunakan alat khusus buatan Hikmatul Iman dan tidak akan ada efek samping. Fungsi dari proses cuci otak ini adalah untuk meng-"edit" memori-memori yang negatif (jelek) agar pasien tidak lagi teringan akan ketergantungannya ternadap narkotika, alkohol, zat adiktif ataupun obat psikotropika. Langkah selanjutnya, penguatan tubuh yang dilakukan sejak hari pertama pasien ikut program ini. Penguatan tubuh juga berfungsi untuk mengobati penyakit-penyakit lain (jantung, diabetes, kanker, dll.) yang diderita oleh pasien selain ketergantungannnya kan narkoba. Lankah kelima merupakan terapi mental, bergfungsi untuk menambah keyakinan pasien bahwa dia masih bisa disembuhkan dan menumbuhkan kembali kepercayaan akan dirinya, orang lain dan lingkungan sosialnya. Langkah terakhir adalag dengan pemberian suplemen khusus, yang terbagi menjadi dua bagian : a. Tips dan / trik khusus agar pasien setelah menjalani terapi tidak kembali terjerumus ke dalam "lingkungan setan" narkoba. b. Dilatih bela diri dari Hikmatul Iman Indonesia, yang terdiri dari materi : silat, tenaga dalam dan tenaga metafisika. Fungsi dari latihan bela diri ini selain berfungsi untuk defence (pertahanan tubuh) juga untuk kesehatan (Gani Kurnia, 2006).

2.6 Kerangka Berpikir Menurut Brannon & Feist (2000), stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku. Stress ini dapat dikategorikan sebagai tiga bagian, yaitu stimulus, respon, dan proses.

27

Pendekatan yang mendefinisikan stress sebagai stimulus adalah pendekatan yang berfokus pada lingkungan. Pendekatan kedua memandang stress sebagai respon. Pendekatan ini fokus kepada reaksi individu terhadap sumber stress. Pada pendekatan terakhir, stress dideskripsikan sebagai interaksi antara stimulus yang memicu stress dan diri individu sendiri. Sehingga setiap orang pasti akan mengalami stress, dimanapun orang tersebut berada, termasuk pada orang pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi. Menurut Piaget (1972), orang dewasa mencapai tahap postformal thought yang merupakan tahap kognisi tertinggi. postformal thought merupakan tipe yang matang, percaya pada pengalaman subjektif dan intuisi yang masuk akal dan berguna untuk berhubungan dengan ambiguitas, ketidakyakinan,

ketidakkonsistenan, kontradiksi, ketidaksempurnaan dan kompromi. Pada usia dewasa awal yang mempunyai kematangan kognitif akan mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menyelesaikan permasalahannya yang dapat menyebabkan seseorang menjadi stress. Penyalahgunaan narkoba merupakan tindak pelarian yang sedang

mempunyai masalah atau untuk mendapatkan perhatian dari orang lain di luar lingkungan keluarga (Sarlito, 2003). Sehingga pada pecandu yang

menyalahgunakan penggunaan narkoba tersebut akan mengalami dampak pada fisik, psikologis dan sosial, dimana akan berpengaruh akan cara pecandu dalam menyelesaikan masalah yang menyebabkan mereka stress di tempat rehabilitasi. Tempat rehabilitasi merupakan salah satu jalan keluar agar pecandu narkoba dapat sembuh dari jeratan efek dari narkoba tersebut. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga sangat beragam (Kompas, 2006). Dimana sebuah tempat rehabilitasi akan

28

menyebabkan pasien terkadang merasa jenuh, terlebih pada pasien yang baru masuk, karena pecandu berfikir ingin sembuh dari pengaruh narkoba, sedangkan tubuh mereka masih bereaksi akan obat-obatan terlarang tersebut, hal ini akan menyebabkan pecandu menjadi stress.

29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Subyek penelitian 3.1.1 Karakteristik subyek Karakteristik subjek yang akan dijadikan subyek penelitian adalah dewasa awal dengan rentang usia antara 20-40 tahun. Subyek adalah seorang pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi dengan rentang waktu 4 bulan masa pengobatan.

3.1.2 Populasi dan sampel Populasinya adalah individu yang sudah menjalani proses rehabilitasi selama 4 bulan masa pengobatan. Sampel yang akan diambil adalah individu dewasa awal yang berjumlah lima orang.

3.1.3 Teknik penarikan sampel Subyek penelitian dipilih sesuai dengan karakteristik atau kriteria yang telah ditentukan. Teknik penarikan sampel yang akan digunakan adalah criterion sampling, yang artinya sampel diambil berdasarkan kriteria tertentu yang sudah ditentukan.

3.2 Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan tujuan untuk menghasilkan suatu data yang lebih akurat dan tepat. Hal

30

tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara dengan subjek. Wawancara yang dilakukan disimpan dalam rekaman kaset. Penelitian ini dapat memberikan informasi yang cukup lengkap karena menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil kontak secara langsung antara peneliti sebagai pewawancara dan subjek sebagai narasumber. Oleh karena itu, informasi dan data yang diperoleh cukup rinci dan mendalam mengenai stress dan coping stress dewasa awal pada pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi.

3.3 Instrumen penelitian Instrumen yang digunakan untuk penelitian antara lain alat tulis, kertas biodata, surat pernyataan, kaset kosong, dan alat perekam kaset.

3.4 Prosedur Penelitian Dalam penelitian ini langkah pertama yang akan dilakukan adalah membuat surat keterangan dari kampus untuk diberikan kepada sebuah tempat rehabilitasi yang akan peneliti datangi. Kemudian setelah mendapatkan izin dari Kampus tersebut, peneliti meminta izin pada subjek penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan cara mewawancarai subjek. Proses pengumpulan data ini akan dilaksanakan oleh peneliti secara langsung.

3.5 Pengolahan Data Setelah semua data dan informasi dari wawancara yang direkam dengan taperecorder, catatan lapangan, dan pengamatan akan dianalisis denga tahapan berikut:

31

a. Mentranskripkan data tape b. Mengklasifikasikan pengamatan, c. Mengolah keterkaitan antar komponen, d. Konteks kedalam fokus permasalahan, e. Mendeskripsikan secara keseluruhan dan sistimatik keterkaitan antar satuan satuan gejala tersebut. data transkrip, catatan lapangan, dan data

32

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA PENELITIAN

4.1 Gambaran Subyek Penelitian 4.1.1 Gambaran Subyek A Subyek pertama yang diwawancara ialah A (25 tahun). Pengambilan data untuk subyek pertama dilakukan di daerah Jakarta Timur. Sebelum melakukan proses wawancara, peneliti meminta ijin terlebih dahulu oleh ustadz (orang yang bekerja di sana) untuk diperbolehkan mewawancarai pasien yang ada di tempat rehab. Setelah mendapatkan ijin dari bapak ustadz, peneliti langsung diperbolehkan pada hari itu juga untuk mewawancarai pasien. Wawancara pertama dilakukan pada tanggal 14 April 2008 pada pukul 15.0015.45 WIB dan wawancara kedua dilakukan pada tanggal 12 September 2008 pada pukul 13.00-13.30 WIB. Wawancara dilakukan di tempat rehab tesebut. Peneliti memilih subyek ini karena direkomendasikan oleh ustadz di tampat rehab X dan dicarikan yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti. Keadaan ini memiliki kelemahan tersendiri, karena peneliti harus membangun rapport terlebih dahulu, karena subyek terlihat tegang saat mau diwawancara. Ketika peneliti diperkenalkan dengan subyek, subyek langsung gelisah dan tadinya tidak mau diwawancara, setelah peneliti mengutarakan maksud kedatangannya baru subyek mau diwawancara, lalu sempat menunggu sebentar dulu, karena subyek meminta waktu untuk menenangkan diri sebelum diwawancara, subyek menghabiskan 2 batang rokok sebelum wawancara di mulai.

33

Berdasarkan hasil observasi terhadap A diperoleh gambaran sebagai berikut, subyek memiliki tinggi badan 170 cm dengan berat 70 kg. Subyek berkulit hitam dan memiliki rambut pendek berwarna hitam. Bola mata A berwarna hitam kecoklatan. Saat diwawancara subyek mengenakan kaos berwarna putih lengan pendek dengan tulisan Jogja di bagian depan dan memakan sarung kotak-kotak berwarna biru dan merah marun. Subyek A cenderung tertutup dan seperti agak berputar-putar dalam menjawab pertanyaan dari peneliti, hal ini terlihat saat subyek menjawab pertanyaan peneliti dengan wajah seperti sedang berfikir, dan menjawab pertanyaan hanya sekedarnya saja. Subyek tetap terlihat gelisah sebelum, saat dan sesudah wawancara di lakukan. Pandangan mata subyek tajam saat menatap peneliti, seperti sedang memikirkan sesuatu, tetapi saat ditanya subyek cenderung lebih seperti orang bengong dan bingung.

4.1.2 Gambaran Subyek AN Subyek kedua yang diwawancara ialah AN (27 tahun). Pengambilan data untuk subyek AN dilakukan di tempat yang sama seperti subyek A. Sebelum melakukan proses wawancara, peneliti meminta ijin terlebih dahulu oleh ustadz (orang yang bekerja di sana) untuk diperbolehkan mewawancarai pasien yang ada di tempat rehab. Setelah mendapatkan ijin dari bapak ustadz, peneliti langsung diperbolehkan pada hari itu juga untuk mewawancarai pasien. Wawancara dilakukan pada tanggal 14 April 2008 pada pukul 17.30-18.00 WIB dan wawancara kedua dilakukan pada tanggal 12 September 2008 pada pukul 14.30-15.00 WIB. Wawancara dilakukan di tempat rehab tesebut. Peneliti memilih subyek ini karena direkomendasikan oleh ustadz dari tempat rehabnya

34

dan dicarikan yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti. Sebelum melakukan proses wawancara peneliti sempat menunggu agak lama, karena subyek telat datang ke tempat rehab tersebut karena hujan besar dan ia dari tempat mengajar komputer di sekolah dasar daerah Jakarta Selatan. Setelah subyek datang dan siap diwawancara, prosesnya sangat mudah karena AN merupakan seorang mahasiswa Universitas A yang sedang menyelesaikan skripsi-nya, sehingga subyek terbiasa dengan proses wawancara. Jawabanjawaban yang diberikan oleh subyek sangat masuk akal, cepat dan benar-benar teratur. Subyek cenderung terbuka mengenai kehidupan narkoba yang dialaminya hingga sampai saat ini. Berdasarkan hasil observasi terhadap subyek AN diperoleh gambaran sebagai berikut, subyek memiliki tinggi badan 175 cm dengan berat 65 kg. Subyek berkulit sawo matang, rambut pendek berwarna hitam dengan potongan di belah dua, subyek memiliki bola mata berwarna coklat tua. Saat diwawancara subyek memakai kemeja berwarna putih tangan panjang dengan tangan yang di gulung sampai sikut dan celana bahan berwarna hitam. Kegiatan subyek saat ini mengajar komputer di sekolahan dasar dan sedang menyelesaikan skripsi program strata satu di Universitas A.

4.1.3 Gambaran Subyek EF Subyek ketiga yang diwawancara ialah EF (25 tahun). Pengambilan data untuk subyek EF dilakukan di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Sebelum melakukan proses wawancara peneliti datang ke tempat rehabilitasi Y untuk

35

meminta ijin mewawancarai pasien di Y. Setelah mendapatkan ijin, maka peneliti pun langsung melakukan wawancara. Wawancara dilakukan pada tanggal 19 Juni 2008 pada pukul 13.00-13.30 WIB dan wawancara kedua yang dilaksanakan pada tanggal 13 September 2008 pada pukul 19.00-19.30 WIB. Wawancara dilakukan di tempat rehab Y. Peneliti memilih subyek ketiga ini karena direkomendasikan dari Y yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti. Berdasarkan hasil observasi terhadap EF diperoleh gambaran sebagai berikut, subyek memiliki tinggi 170 cm dengan berat 65 kg. Subyek berkulit putih, rambut cepak, memiliki bola mata berwarna coklat muda. Saat diwawancara EF memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dengan tulisan rasta di bagian depan dan memakai celana pendek jeans selutut berwarna biru. Subyek terlihat sehat, bugar dan semangat sekali saat diwawancara. Kegiatan EF saat ini hanya mengikuti kegiatan yang ada di tempat rehabnya saja. Dalam proses wawancara, EF cenderung terbuka dalam mengungkapkan kondisi dirinya dari awal menggunakan narkoba sampai sekarang berada di tempat rehabilitasi. Subyek dapat mengerti pertanyaan dengan baik, serta menjawabnya dengan jelas. Subyek terlihat sangat bersemangat menceritakan kehidupannya yang telah dilaluinya dan kehidupan yang akan dijalankan setelah keluar dari tempat rehab tersebut.

4.1.4 Gambaran Subyek RG Subyek keempat yang diwawancara ialah RG (23 tahun). Pengambilan data untuk RG dilakukan di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Sebelum melakukan proses wawancara peneliti datang ke tempat rehabilitasi Y untuk meminta ijin

36

mewawancarai pasien di tempat rehabilitasi tersebut. Setelah mendapatkan ijin, maka peneliti pun langsung melakukan wawancara. Wawancara dilakukan pada tanggal 19 Juni 2008, pukul 16.00-16.30 WIB dan wawancara kedua yang di laksanakan pada tanggal 13 September 2008 pada pukul 11.00-11.30 WIB. Wawancara dilakukan di tempat rehab tersebut. Peneliti memilih RG karena direkomendasikan yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti. RG merupakan teman sekamar subyek EF, sehingga dapat mempermudah perolehan data. Peneliti hanya memerlukan sedikit pembinaan rapport agar dapat

kepercayaan dari subyek, karena peneliti diperkenalkan sebagai teman lama dari subyek EF. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi peneliti karena RG menjadi lebih terbuka dalam menceritakan pengalamannya dari pertama kali memakai narkoba sampai akhirnya sekarang berada di tempat rehabilitasi ini. Berdasarkan hasil observasi terhadap RG diperoleh gambaran sebagai berikut, subyek memiliki tinggi 160 cm dengan berat 55 kg. Subyek berkulit putih, rambut pendek berwarna hitam, memiliki bola mata berwarna coklat muda. Saat diwawancara RG memakai kaos berwarna hitam lengan pendek dengan tulisan ”I’m the bos” di bagian belakang kaosnya dan memakai celana pendek olahraga berwarna hitam. Subyek terlihat lesu, dan kurang bersemangat saat

diwawancara. Kegiatan RG saat ini hanya mengikuti kegiatan yang ada di tempat rehab.

4.1.5 Gambaran Subyek RI Subyek kelima yang diwawancara ialah RI (23 tahun). Pengambilan data untuk RI dilakukan di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Sebelum melakukan

37

proses wawancara peneliti datang ke tempat rehabilitasi Y untuk meminta ijin mewawancarai pasien di sana. Setelah mendapatkan ijin, maka peneliti pun langsung melakukan wawancara. Peneliti memilih RI karena direkomendasikan yang sesuai dengan kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara dilakukan pada tanggal 19 Juni 2008, pukul 17.00-17.30 WIB dan wawancara kedua yang di laksanakan pada tanggal 13 September 2008 pada pukul 14.30-15.00 WIB. Wawancara dilaksanakan dengan tepat waktu sesuai perjanjian yang telah dilakukan. Subyek cenderung terbuka, sehingga dapat mempermudah proses wawancara. Berdasarkan hasil observasi terhadap RI diperoleh gambaran sebagai berikut, subyek memiliki tinggi 168 cm dengan berat 55 kg, berkulit putih, rambut potongan pendek rapih berwarna hitam dan memiliki bola mata berwarna coklat muda. Saat diwawancara RI memakai kaos berwarna hitam lengan pendek dengan tulisan ”the Beatles” di bagian depan dan memakai celana jeans

panjang berwarna biru. Subyek mengenakan sandal kulit berwarna hitam dan memakai gelang batu di tangan kirinya. Subyek terlihat segar dan santai saat proses wawancara akan dilakukan.

38

Tabel 1 Latar Belakang Subyek Penelitian Aspek Usia Yang memasukan ke rehabilitasi Masuk rehabilitasi atas kemauan Lama tinggal di rehabilitasi Urutan kelahiran dalam keluarga Agama Pendidikan terakhir Pekerjaan Guru komputer Kru band musik Islam SMA Islam SMA Islam SMA Islam SMA Islam SMA 3 dari 5 4 dari 4 3 dari 5 2 dari 2 1 dari 3 9 bulan 6 bulan 7 bulan 9 bulan 7 bulan Orangtua Sendiri Sendiri Sendiri Sendiri A 25 tahun Orangtua AN 27 tahun Orangtua EF 25 tahun Orangtua RG 23 tahun Orangtua RI 23 tahun Orangtua

4.2 Gambaran Hasil Penelitian 4.2.1 Riwayat Penyalahgunaan Narkoba Penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh subyek RG dan RI merupakan pengalihan subyek tehadap masalah yang dihadapinya, ada pula subyek A, AN dan EF mengkonsumsi narkoba karena rasa keingintahuannya. Sarlito (2003) menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkoba merupakan tindak pelarian yang sedang mempunyai masalah atau untuk mendapatkan perhatian dari orang lain di luar lingkungan keluarga.

39

Subyek A mengenal narkoba dari teman bermainnya, yang berawal dari kumpul-kumpul saja lalu minum-minuman air keras dan ganja, yang pada akhirnya semua jenis narkoba telah ia coba, berikut pernyataan subyek saat ditanya tentang darimana A mengenal narkoba “Dari temen... Iya temen maen”. Pada awal memakai narkoba A hanya ingin mencoba-coba saja, karena subyek belum mengetahui dampak dari narkoba tersebut, hal ini terlihat dari pernyataan A berikut “dulu dah tahu kalo itu dilarang cuman kan yaaa namanya waktu masih smp yah, penasaran aja gitu, semakin di larang kayaknya semakin pengen nyoba aja.” Seperti pernyataan A yang menyatakan bahwa subyek memakai narkoba karena merasa bosan dirumah tidak ada kehangatan dalam keluarga, hal ini dibuktikan dari pernyataan subyek yaitu “nggak kok, cuman nyoba aja, bis bete sih dirumah sering ga ada orang, yaaa maen terus deh akhirnya... dulu sih saya selalu dikasih, tapi lama kelamaan jadi ketagihan trus lanjut deh jadinya di suruh beli... di kelas saya selalu ngantuk, ga pernah konsentrasi, dan akhirnya saya di panggil ke ruang BP.” Reaksi ayahnya saat sangat marah sampai A di tampar saat mengetahui bahwa anaknya merupakan seorang pemakai, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek, yaitu ”Yaa kesel… marah… terus saya di gaplok sama ayah saya”. Subyek masuk rehabilitasi bukan karena kemauan diri sendiri, hal ini terlihat dari penytaaan subyek “Ga lah siapa sih yang mau masuk ke tempat rehab begini, pokoknya waktu itu saya dah ga sadar dan pas sadar-sadar dah ada disini.” Subyek AN mengenal narkoba dari teman-temannya saat SMA dan karena rasa penasarannya yang tinggi saat usianya masih muda maka subyek mencoba

40

narkoba tersebut, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek berikut “Pertama di tawarin, di suruh nyoba, di bilangnya bisa ngilangin masalah yang ada gitu, yah namanya anak SMA penasarannya kan tinggi, jadi saya coba deh waktu itu.” Subyek EF mengenal narkoba saat menginjak SMA, pertama subyek mencoba merokok, lalu ganja dan akhirnya semua jenis narkoba subyek coba. Saat memakai ganja subyek tidak mengetahui akibatnya dan dilarang oleh pemerintah, yang subyek tahu di Aceh ganja di jadikan bumbu masak, hal ini dibuktikan dengan pernyataan subyek, yaitu “Waktu SMA, kan awal-awalnya bandel tuh waktu itu, dan dah mulai kecanduan ma rokok, trus temen saya ada yang bawa ganja dah siap di bakar gitu, yaa udah saya cobain deh, penasaran juga rasanya bagaimana... Tau itu ganja, tapi waktu itu ga tau efeknya bagaimana dan bahaya apa nggaknya, karna saya kan orang Aceh, di Aceh itu ganja malah di jadiin bahan bumbu masakan, jadi yaa saya ga tau.” Begitu pula yang dialami oleh RG yang merasa tertekan karena ajaran ayahnya yang otoriter dan memakai kekerasan hal ini diperkuat dari pernyataan subyek sebagai berikut, ”karena waktu itu saya merasa tertekan karena bokap saya kan orangnya keras, dia tuh ngajarin anaknya dah kayak ngajar militer deh. Pernah saya ketahuan rokok aja, eh rokoknya disundutin ke tangan saya... nieh bekasnya nieh... Lagian pasti ketahuan sih saya make, karna saya tingkahnya juga dah aneh, males-malesan, sering ga masuk sekolah, berantem terus ma orang... yaaa gitu-gitu deeeh...” Subyek RI awalnya di tawarin narkoba oleh teman satu sekolahnya, tetapi subyek mencoba narkoba atas kemauannya sendiri yaitu sebagai pelarian dari masalah yang dialami dalam keluarganya, yaitu keadaan kedua orangtuanya yang telah bercerai karena ayahnya telah menikah dengan wanita lain. Hal ini dibuktikan dari pernyataan RI sebagai berikut ”pertama yaa ditawarin, tapi itu karena keinginan saya sendiri kok... waktu itu saya pusing aja di rumah, ada

41

masalah keluarga gitu... waktu itu ibu dan bapak saya mau cerai, yah males aja saya di rumah, suasananya ga enak.” Ada pula alasan pemakaian obat pertama kalinya berbeda-beda dari tiap individu. Namun demikian dari semua alasan yang ada, kebanyakan pemakaian obat untuk pertama kalinya didorong oleh rasa ingin tahu dan didasari untuk memperoleh kenikmatan yang kadang-kadang tanpa motivasi terlebih dahulu (Williams, 1974). Seperti pernyataan AN ”Pertama di tawarin, di suruh nyoba, di bilangnya bisa ngilangin masalah yang ada gitu, yah namanya anak SMA penasarannya kan tinggi, jadi saya coba deh waktu itu”. Begitu pula alasan yang diungkapkan oleh EF yaitu, ”waktu SMA, kan awal-awalnya bandel tuh waktu itu, dan dah mulai kecanduan ma rokok, trus temen saya ada yang bawa ganja dah siap di bakar gitu, yaa udah saya cobain deh, penasaran juga rasanya bagaimana” Nowinski (1990) membagi proses ketergantungan menjadi lima tahap, dimana tahap-tahap tersebut tidak dapat dipisahkan secara nyata. Hasil wawancara dari kelima subyek semua tahap proses ketergantungan obat tersebut telah dialami, tetapi ada yang berbeda dari kelima subyek tersebut yaitu AN dan EF yang tidak mengalami tahap the compulsive stage, dimana pemakaian obat adalah sebagai tingkah laku yang kompulsif dan sama sekali tidak ada minat terhadap sekolah, pekerjaan, hobi, semuanya dialihkan pada pemakaian obat. Hal ini dibuktikan pasa pernyataan AN yang masih ingin menyelesaikan skripsinya dan sudah bekerja sebagai guru komputer di sekolah dasar, pernyataan subyek sebagai berikut “iyaa saya tinggal nunggu sidang skripsi dan masih bekerja jadi guru komputer di sekolah dasar yang kemarin”. Begitu pula ungkapan keinginan EF untuk bekerja kembali menjadi kru sebuah band di

42

indonesia, yaitu ”yang jelas saya mau kerja lagi seperti dulu, saya dah kangen banget ketemu teman-teman band saya itu, lalu saya ingin membahagiakan ibu saya dan keluarga”.

Tabel 2 Tahap-tahap proses ketergantungan A the experimental stage the social stage the instrumental stage the habitual stage the compulsive stage √ √ √ √ √ AN √ √ √ √ EF √ √ √ √ RG √ √ √ √ √ RI √ √ √ √ √

Kategori pemakai terhadap A adalah ketergantungan primer, dimana kelompok pemakai ketergantungan primer ditandai dengan adanya gangguan kejiwaan, kecemasan, dan depresi, yang pada umumnya terdapat pada orang dengan kepribadian tidak stabil. Kelompok ini memerlukan terapi kejiwaan psikologik serta perawatan bukan hukuman. Subyek A terlihat merasa cemas saat proses wawancara akan di mulai, peneliti harus menunggu subyek A menghabiskan tiga batang rokok terlebih dahulu. Subyek A terlihat sudah tidak ada semangat saat di tanyakan bagaimana rencana ke depan yang akan subyek lakukan nanti setelah keluar dari tempat rehab, berikut pernyataan subyek A “ngapain ya? Ga tau deh... keluar dari sini juga ga tau kapan nie... mungkin emang hidup saya harus begini aja kali ya...”. A juga sering terlihat termenung dan tidak konsentrasi saat proses wawancara. Sedangkan kategori terhadap AN, EF, RG dan RI adalah ketergantungan reaktif, dimana kelompok ketergantungan reaktif terdapat pada remaja karena

43

dorongan ingin tahu, pengaruh lingkungan, dan tekanan kelompok sebaya (peergroup). Kelompok ini dapat dikategorikan sebagai korban, memerlukan perawatan serta rehabilitasi bukan hukuman. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan AN “Pertama di tawarin, di suruh nyoba, di bilangnya bisa ngilangin masalah yang ada gitu, yah namanya anak SMA penasarannya kan tinggi, jadi saya coba deh waktu itu.” Begitu pula pernyataan EF mengenai alasan untuk bisa memakai narkoba, yaitu ”Waktu SMA, kan awal-awalnya bandel tuh waktu itu, dan dah mulai kecanduan ma rokok, trus temen saya ada yang bawa ganja dah siap di bakar gitu, yaa udah saya cobain deh, penasaran juga rasanya bagaimana.” Berikut juga pernyataan RG yang menunjukkan bahwa subyek merasa tertekan oleh bapaknya karena subyek diperlakukan kasar, yaitu ”waktu itu saya melihat teman-teman saya menghisap ganja, lalu saya mencobanya saat itu, eh jadinya ketagihan, karena waktu itu saya merasa tertekan karena bokap saya kan orangnya keras, dia tuh ngajarin anaknya dah kayak ngajar militer deh.” RI termasuk kategori reaktif juga karena subyek mengkonsumsi narkoba karena subyek merasa tidak betah dengan keadaan keluarganya yang mau bercerai, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, ”waktu itu saya pusing aja di rumah, ada masalah keluarga gitu... waktu itu ibu dan bapak saya mau cerai, yah males aja saya di rumah, suasananya ga enak.”

44

Tabel 3 Kategori pemakaian narkoba A ketergantungan primer ketergantungan simtomatis ketergantungan reaktif √ AN √ EF √ RG √ RI √

4.2.2 Dampak Penyalahgunaan Narkoba Dampak penyalahgunaan narkoba tentunya akan dialami oleh para pecandu seperti yang dinyatakan oleh Colondam (2007) bahwa pemakaian narkoba jenis apa pun membawa kerusakan fisik, mental dan emosi. Terlihat dari hasil wawancara bahwa kelima subyek mengalami dampak dari penyalahgunaan narkoba tersebut. Hal ini dapat diperkuat dari pernyataan A yang menceritakan bahwa subyek mendapatkan dampak fisik dan keterlambatan otak yaitu, ”ketahuan guru.. jadi dulu waktu SMP saya ketahuan sama guru, karena di kelas saya selalu ngantuk, ga pernah konsentrasi, dan akhirnya saya di panggil ke ruang BP, di Tanya-tanya dan saya ngaku aja kalo saya make.” Begitu juga yang dialami oleh AN, subyek mengalami kelelahan fisik dari dampak narkoba, dapat dilihat dari percakapan subyek yaitu, ”Yaaa... karena udah ngerasa capek aja yah, karena setiap pagi bangun tidur gitu, langsung nyari barangnya, dan langsung make lagi, kalo ga make kan sakit badan jadinya...” dan subyek berusaha menghalalkan segala cara demi memperoleh narkotika, seperti pernyataan subyek dibawah ini, “Yaa... ketika dengan orang tua ga dapet, yaa jadi mikir gimana caranya harus cari uang untuk beli barang tersebut, yaa akhirnya barang-barang sendiri tuh yang dijual, trus setelah barang-barang sendiri dah ga ada yang berharga lagi, baru cari barang-barang keluarga yang saya jual, cuman ga pernah sampe ke barang orang lain atau nyuri gitu sih nggak...”

45

Sama seperti A dan AN yang mengalami dampak fisik dan psikologis dari narkoba, hal ini dikemukakan oleh EF yaitu,

”umh... pernah tuh saya mengamuk, karena benar-benar bosan
sekali dan badan saya juga sakit sekali dan pikiran saya benerbener sedang kacau waktu itu. Sempet merasa menjadi orang yang terbodoh sedunia karena bisa terjerumus ma narkoba, karena itu saya jadi ga bisa melihat ayah saya untuk yang terakhir kalinya.” Seperti yang dialami oleh AN yang berusaha menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang agar dapat membeli narkoba, hal ini dapat terlihat dari pernyataan RG dibawah ini, ”pertama yah dari uang jajan sendiri, lama kelamaan kan makenya ga ganja doang tuh, mulai deh ke shabu, trus putau. Kan makin mahal tuh yaaa... saya pernah jual barang-barang yang ada dirumah, dari barang-barang punya saya, barang yang ada di rumah sampai waktu itu juga barang-barang pacar saya.” Berikut juga RG yang mengalami dampak fisik dan psikis dari narkoba tersebut, seperti yang dikemukakan oleh subyek berikut ini, ”yaah pernah saya sampe seminggu ga make, tapi saya ga bisa badan saya tuh sakit semua, menggigil, otak ga bisa mikir, jantung detaknya keras banget... duh dah kayak orang mau mati deh. Pernah saya yang sampai nyiletin diri sendiri itu di tangan trus ngisep darah sendiri gitu...” RI pun mengalami hal yang serupa menyatakan bahwa “pertama-tama sih yaaa badan pasti kaget kan, menggigil, badan rasanya sakit semua, pikiran sudah tidak bisa fokus lagi, kepala rasanya seperti mau pecah, wuuuh macemmacem deh… tapi setelah lama-kelamaan itu semua membaik dan sekarang saya sudah tidak merasakan sakit seperti itu”

46

Tabel 4 Dampak Penyalahgunaan Narkoba A Fisik Psikologis √ √ AN √ EF √ RG √ √ RI √ -

4.2.3 Sumber-Sumber Stress Saat Menjalani Rehabilitasi Menurut hasil wawancara, kelima subyek pernah mengalami stress saat berada di tempat rehabilitasi. Stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku (Brannon & Feist, 2000). Hal ini dapat terlihat pada pernyataan A mengenai rasa kangennya terhadap kehidupannya yang dulu yaitu, “Suka banget, kan di sini jauh dari komunitas, maksudnya tuh yah komunitas yang seharusnya saya jalanin, Kan saya seharusnya jadi mahasiswa nih, nah saya jadi ga bisa tuh ke kampus lagi, belajar ketemu teman-teman saya seperti dulu. Iya tapi saya tidak di perbolehkan, karena saya pernah dah sekali berhenti dari sini, saya kembali ke lingkungan sehari-hari saya dan saya balik lagi menjadi pecandu” Saat ketahuan oleh orang tua, A langsung dibawa ke tempat rehabilitasi, tetapi beberapa kali subyek ke tempat rehabilitasi yang berbeda, karena subyek merasa tidak mempunyai kebebasan. Tempat rehab yang terakhir dapat membuat A menjadi nyaman dan akhirnya subyek dapat bertahan, berikut penyataan A “Iya langsung ke tempat rehab trus cuman berapa lama langsung keluar... Karena ga betah, ga suka aja ga bebas. Beda ma di sini… di sini lebih bebas, dikasih waktu untuk ngelakuin apa yang kita suka tapi tetap di kontrol gitu… A merasa terkurung di tempat rehabilitasi ini karena tidak dapat bertemu dengan teman-teman dan keluarganya dengan bebas.

47

“Yaaa siapa sih yang mau dikurung begini, enakan juga di luar bebas mau ngapain aja, di sini mah ada aturannya... saya ga suka disini... ga bisa ketemu ma temen-temen lama, keluarga juga... kan di sini jauh dari komunitas, maksudnya tuh yah komunitas yang seharusnya saya jalanin... seharusnya jadi mahasiswa nih, nah saya jadi ga bisa tuh ke kampus lagi, belajar ketemu teman-teman saya seperti dulu...” Pada saat di tempat rehabilitasi A suka teringat akan masa lalunya yang menyebabkan subyek menjadi tergoda untuk memakai narkoba, seperti saat merasa kesepian di rumah sendirian karena orangtuanya sibuk kerja dan kurang mendapatkan perhatian dari keluarganya, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek berikut ”umh... waktu itu yaaa kalau saya sedang diam saja, bengong trus terlintas deh tuh masa lalu-masa lalu saya... yaaa sedih, kesal... pastinya saya jadi seperti mau marah ma diri sendiri, tapi kan ga bisa yah... pengen kembali ke masa lalu pun ga bisa juga, jadi yaah jadinya kesel sendiri gitu lah...” Subyek A merasa biaya di tempat rehabilitasi ini mahal, jadi subyek merasa kurang nyaman untuk tetap berada di rehab tersebut, hal ini di buktikan dengan pernyataan A berikut, ”pusing juga disini mahal bayarnya.” Kedua orangtua A sibuk kerja sehingga tidak dapat memperhatikan keadaan anaknya, hal ini dapat dilihat dari penyataan A mengenai orangtuanya apakah sering datang untuk menjenguknya di tempat rehab, yaitu “Jarang-jarang banget mereka dateng ke sini, lagian mereka juga pada sibuk dua-duanya sih, ga ada waktu kali untuk nengokin saya di sini.” A merasa dituntut oleh orangtuanya untuk cepat sembuh, karena orangtuanya mengeluh kepadanya tentang biaya pengobatan di tempat rehabilitasi tersebut, dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut,

48

”cuman waktu itu ibu saya bilang saya harus bisa sembuh di sini karna biaya yang di keluarkan ibu tidak sedikit... saya sih mikirnya ibu saya sudah capek ngurusin saya... yaaa buktinya dia dah ga pernah nengokin saya lagi, berarti dia dah ga sayang lagi kan sama saya.” Pada AN lebih dapat mengatasi rasa bosan akibat rutininas kegiatan di tempat rehabilitasi itu karena keinginannya yang kuat untuk berhenti dari narkoba, AN menyatakan bahwa, ”pas pertama sih asing yah, banyak orang yang ga dikenal gitu. Tapi karena ini keinginan saya sendiri yang mau berhenti, jadi saya bawa enjoy aja, kalo dipikirin kan pastinya pusing karna bawaannya pengen pulang aja”. AN juga menjelaskan rutinitas lah yang membuat rasa bosan itu muncul, hal ini dinyatakan sebagai berikut, ”kadang tuh yang paling membosankan itu karena rutinitas, jadi setiap hari tuh bangun pagi, sholat, makan, kerjain kegiatankegiatan yang ada di sini, kalo ga ada ya tidur lagi, yaaa gitu-gitu aja ga ada kegiatan lain, nah makanya kadang santri di sini suka disuruh ikut kegiatan kayak outbond, seminar, demo, nonton atau sekedar jalan-jalan barengan aja gitu, nah itu bisa ngelepas kebosanan.” AN merasa dalam hal apapun dapat menyebabkan sugesti muncul, misalnya saat subyek sedang diam saja, melamun, hal ini dapat menyebabkan subyek menjadi merasa ingin kembali mengkonsumsi narkoba tersebut. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, ”yaaaa kayak misalnya kita sedang diem aja nie, melamun lah misalnya, nah kebayang tuh saya sedang merasakan fly itu, rasa enaknya pakai putau itu, nah jadi deeeh saya tersugesti dan seperti ingin merasakan putau itu lagi... dalam keadaan apapun sebenarnya bisa memicu sugesti itu datang karena kan dulu putau itu bisa saya pakai dalam kegiatan apapun malahan rutin pakainya.” Saat teringat kuliah yang terbengkalai karena akibat mengkonsumsi narkoba AN merasa menjadi manusia yang bodoh melalaikan kuliah, hal ini dapat

49

dibuktikan dengan pernyataan subyek sebagai berikut “saya kan juga ga mau donk gitu-gitu aja, saya punya keluarga yang mau melihat saya berhasil. Saya juga punya tanggung jawab atas diri saya sendiri kan. Saya sudah cukup merasa bodoh kemarin melalaikan kewajiban kuliah saya.” Stressor yang serupa juga dialami oleh EF yaitu merasa terisolasi selama 3 bulan pertama di tempat rehab, hanya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh tempat rehab dan tidak diperbolehkan bertemu dengan siapa-siapa di luar tempat rehab, hal ini membuat subyek menjadi jenuh dan akibatnya akan memicu EF menjadi stress. Dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut “Yaa yang jelas sih sebenernya ga enak yah, kan terisolasi juga, ga boleh keluar, ga bisa ketemu temen-temen saya, ga bisa ketemu keluarga saya...” Stress muncul ketika EF merasakan bosan dan jenuh akan rutinitas kegiatan yang diadakan oleh tempat rehab tersebut, hal ini menyebabkan subyek tidak tahan sehingga subyek mengamuk dan merasa menjadi manusia terbodoh karena terjerumus narkoba. Subyek akhirnya sadar bahwa tindakan

mengamuknya itu tidak membantu dirinya dalam proses penyembuhan, hal ini dapat dilihat dari pernyataan subyek berikut, ”pernah tuh saya mengamuk, karena benar-benar bosan sekali dan badan saya juga sakit sekali dan pikiran saya bener-bener sedang kacau waktu itu. Sempet merasa menjadi orang yang terbodoh sedunia karena bisa terjerumus ma narkoba... Setelah kejadian itu, saya ga pernah lagi mengamuk seperti itu, karena saya sadar itu tidak membantu, malah memperlambat proses kesembuhan saya sendiri.” Begitupula saat EF merasa sedih saat terkenang masa lalunya ketika masih menggunakan narkoba, seperti ungkapannya berikut ini ”Biasanya kalo dah lagi bengong sendiri, pikiran mulai melayang memikirkan banyak

50

hal, saya berusaha bangkit dan mempersibuk diri saya sendiri... sebisa mungkin saya harus bisa kendalikan diri saya sendiri...” Sumber stress yang dialami oleh RG merupakan rasa kebosanan subyek yang menyebabkan adanya keinginan untuk kabur dari tempat rehabilitasi tersebut, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek yaitu, ”hahahahaha.... saya pernah berusaha kabur loh dari sini, itu waktu pas baru 1 bulanan lah disini... yaaaa bosen aja, dulu yang biasanya saya bisa bebas kemana aja, mau ngapain aja terserah saya, sekarang saya kemana-mana pasti merasa di perhatiin, duuuuh ga bebas banget deh jadinya... jadi pernah malem-malem waktu itu saya berencana pengen kabur, diem-diem hampir berhasil waktu itu tapi akhirnya ketahuan pas saya mau loncat pager” Steesor lain muncul ketika RG mengingat kekecewaan Ibunya terhadap dirinya, hal ini menyebabkan subyek menjadi memiliki tekad yang besar untuk cepat pulih dah kembali ke keluarga dan membahagiakan ibunya. hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, “yaaa dengan alasan dan tekad yang kuat mengenai ingin membuat ibu saya senang dan tersenyum aja itu sangat berarti buat saya, karena dalam hidup saya ini saya sudah banyak membuat banyak orang kecewa terutama ibu saya, saya ga mau misalnya ibu saya meninggal dalam keadaan menyesal mempunyai anak seperti saya” RI merasa sangat asing saat pertama kali masuk ke tempat rehab tersebut, karena di tempat rehab Y, pasien tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang di luar tempat rehab dan hanya boleh mengikuti kegiatan yang diadakan oleh tempat rehab itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan percakapan RI sebagai berikut, ”pertama yaaa asing banget yah, banyak orang ga dikenal, terjaga, ga boleh kemana-mana... kan disini harus 3 bulan dulu yang benerbener hanya mengikuti kegiatan yang ditentukan, ga boleh ketemu siapa-siapa. Ga bisa berinteraksi ma dunia luar seperti biasanya... pastinya bosan banget.”

51

RI sering merasakan sugesti timbul saat subyek teringat dengan Ayahnya yang telah menyakiti hati Ibunya, seperti yang dinyatakan berikut ”waktu bosan itu kan timbul rasa sugesti dari efek narkoba itu sendiri, yaaa pernah sih saya merasa itu sering malahan... apalagi kalau ingat kelakuan ayah saya ke ibu saya... rasanya tuh pengen make aja gitu, karena kan dah jadi kebiasaan saya selalu mengalihkan pikiran saya tentang masalah itu dengan make” Berdasarkan paparan di atas, dapat diperolah gambaran bahwa stressor yang dialami oleh para subyek relatif bervariasi. Beberapa subyek mengalami stressor yang hampir serupa, secara rinci dapat dipaparkan sebagai berikut dari hal peraturan tempat rehab yang dianggap terlalu ketat sehingga menyebabkan rasa terkurung, rutinitas kegiatan di rehabilitasi menimbulkan kejenuhan, dan sugesti dialami oleh kelima subyek. Stressor perlakuan orangtua yang menuntut dan mengabaikan hanya dirasakan oleh subyek A saja, dan rasa terasing atau terisolasi dari teman-teman tidak dialami oleh subyek AN, karena subyek dapat mengatasi masalah tersebut.

52

Tabel 5 Stressor Macam-macam stressor 1. Peraturan tempat rehab yang A AN EF RG RI

dianggap terlalu ketat sehingga menyebabkan rasa terkurung. 2. Rutinitas kegiatan di rehabilitasi menimbulkan kejenuhan. 3. Terasing atau terisolasi dari

teman-teman. 4. Sugesti. 5. Perilaku atau sikap orangtua yang menuntut. 6. Perilaku atau sikap orangtua yang mengabaikan.

√ √ √ √

√ -

√ √ -

√ √ -

√ √ -

4.2.4 Coping Stress yang Dipakai Coping dapat menyajikan dua fungsi utama yang dapat mengatasi masalah yang menyebabkan stress atau dapat mengatur respon emosional yang sebagai akibat dari masalah (Lazarus & Folkman, 1984). Subyek A memakai kedua fungsi coping stress tersebut, yaitu Emotion-Focused Coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan, dengan Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah

53

yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, ”sholat... di sini apa-apa yang kita rasakan selalu di suruh balik lagi beribadah ke Tuhan, berdoa aja gitu... ntar juga lama-lama saya reda sendiri... yaaa dengan saya merasa kesal begitu, setelah sholat seenggaknya pikiran teralihkan, n berdoa aja kalo semua baik-baik saja dan pasrah aja... refresing aja kayak ngobrol sama ustadznya, ma sesama santri sini, maen gitar, maen PS, maen layangan ato apa aja biar saya lupa dengan rasa bete itu.” A juga menjalankan strategi coping emotion-focused coping dengan cara menenangkan diri yang sedang stress dengan beribadah dan berdoa kepada Tuhan, A juga mengalihkan stressnya atau rasa kebosanannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang diadakan pada tempat rehabilitasi tersebut, hal ini dapat dilihat dari penyataan A berikut, ”Belajar lah, belajar agama gitu, belajar untuk ikutin program tajwid... Sholat, pengembangan diri, pemulihan

vitalitas, nguatin mental. Misalnya supaya kita jadi lebih bisa sabar, konsen akan sesuatu.” Para santri rehab X, A khususnya langsung melakukan sholat dan berdoa saat merasa ada kekesalan dalam dirinya, berikut penyataan subyek ”sholat... di sini apa-apa yang kita rasakan selalu di suruh balik lagi beribadah ke Tuhan, berdoa aja gitu... ntar juga lama-lama saya reda sendiri.” Apabila A sedang merasa tidak bersemangat dan terlintas pikiran-pikiran yang negatif, subyek biasanya bedoa dan pasrahkan semuanya kepada Tuhan, hal ini terlihat dari pernyataan A berikut ”ga lah ga tertekan kok, kalo pikiran-pikiran buruk itu datang, yaah saya suka jadi sedih aja terus berdoa deh ke Tuhan.” Subyek AN menjalankan kedua strategi coping stress tersebut yaitu emotionfocused coping dan problem-focused coping karena AN merasa mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri dan keluarga, oleh karena itu AN ingin cepat sembuh dan menanamkan pada dirinya untuk cepat pulih, hal ini terlihat dari

54

pernyataan subyek sebagai berikut ”yaa... saya kan juga ga mau donk gitu-gitu aja, saya punya keluarga yang mau melihat saya berhasil. Saya juga punya tanggungjawab atas diri saya sendiri kan. Sudah cukup saya menjahati diri saya sendiri, sekarang waktunya untuk maju.” Memiliki tekad yang kuat merupakan hal yang penting untuk dapat lepas dari narkoba, oleh karena itu AN selalu bisa mengatasi permasalahannya dengan berfikir positif dan ke depan agar dapat cepat sembuh yang termasuk kedalam metode emotion-focused coping. Hal ini dibuktikan dengan pernyataannya sebagai berikut ”pas pertama sih asing yah, banyak orang yang ga dikenal gitu. Tapi karena ini keinginan saya sendiri yang mau berhenti, jadi saya bawa enjoy aja, kalo dipikirin kan pastinya pusing karna bawaannya pengen pulang aja.” Strategi coping problem-focused coping juga dilakukan oleh subyek AN dengan cara berusaha memecahkan masalah kebosanan yang dialaminya tersebut dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan atau mengobrol dengan ustadz yang berada di tempat rehabilitasi tersebut. AN mengalihkan rasa bosannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang ada di tempat rehab tersebut, dan AN juga selalu menanamkan dalam dirinya untuk lebih dekat dengan Tuhan dan tekad yang kuat untuk cepat sembuh, hal ini dapat terlihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, ”Yaaa... alihkan pikiran aja, yaaa ngobrol ma orang-orang yang ada disini, yaaa pokoknya ada cara-cara tertentu lah gimana supaya saya betah di sini... ngobrol, main gitar, bicara sama ustadznya... misalnya ya cerita aja ke mereka gimana nieh saya sedang bosan, jalan-jalan yuk atau ngerjain apa yuk... gitu... kalo disini itu kan lebih di utamakan ke kaidah agama islam yaah... jadi kita benar-benar di tanamkan ke dalam hati bahwa semua ini hanya punya Tuhan, kita kemana lagi kalo tidak mengadu kepada Tuhan. Jadi kalau kita sedang pusing, stres, tidak bisa tahan dan tidak tahu mau kemana lagi, kita di sini diiajarkan untuk beribadah dan kembali kepada Tuhan.”

55

Subyek AN memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dan perhatian dengannya, oleh karena itu subyek merasa mendapat dukungan dari keluarganya dan termotivasi untuk cepat sembuh dan melakukan kegiatan atau dapat selalu bertemu dan membahagiakan keluarganya, hal ini dibuktikan dengan, ”Alhamdullilah yaa keluarga tuh malah tambah care kepada saya, karena itu juga saya semakin semangat untuk benar-benar sembuh dari efek narkoba itu. mereka benar-enar pengen lihat saya senang, saya sembuh. Karena yang saya rasa nieh kalau kita meerasa bosan timbul deh tuh sugesti-sugesti mau make lagi, nah bagaimana caranya saya harus tidak merasa bosan di sini.” Berbeda dengan EF yang hanya melakukan strategi coping stress yang problem-focused coping saja yaitu dengan berusaha untuk mempersibuk diri sehingga pikiran-pikiran maupun rasa bosan tidak timbul kembali. EF dengan sadar ingin berubah, subyek meyakinkan keinginannya untuk berhenti dari narkoba dan keinginan untuk sembuh pada diri sendiri, tapi karena keluarga tidak tega akhirnya subyek dibawa ke tempat rehabilitasi, dibuktikan dengan pernyataan subyek sebagai berikut “Waktu itu di cari cara apa yang paling ampuh untuk buat saya berhenti dari narkoba tersebut, cuman kan mau bagaimanapun dorongan mau sembuh itu harus dari diri sendiri dulu yah, jadi saya bener-bener tanemin ke diri saya dulu selama sebulan di rumah, dengan badan yang sakit karena sakaw tersebut, sampai saya minta saya jangan di kasihani oleh keluarga saya... tapi lama kelamaan keluarga saya ga tega melihat saya menderita seperti itu, dan akhirnya saya di bawa ke tempat rehab.” Subyek EF berfikir harus mempunyai tekad yang kuat agar keinginannya terbebas dari efek narkoba tersebut, hal ini dinyatakan oleh EF sebagai berikut “yang saya rasa sih sampe sekarang berhasil yah… karna kan tergantung kitanya aja menyikapinya dan seberapa besar keinginan kita untuk sembuh… itu

56

yang terpenting… kalo hanya keinginan berhenti tapi tanpa usaha yang di tambah dengan tekad yang kuat kan sama aja bohong.” Saat EF pernah mengamuk karena merasa jenuh di tempat rehab dan hal itu menyebabkan banyak orang terluka dan sakit hati. Sejak saat itu EF tidak pernah mengamuk lagi, bahkan EF berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat memperlambat kesembuhannya karena mengingat ada keluarga yang menyayanginya dan membutuhkannya, hal ini terbukti dari pernyataan subyek “Saya pengen cepat-cepat dinyatakan pulih nih dan balik lagi kerja seperti dulu, tapi tidak dengan narkoba lagi hehehe... kan kasian nieh kakak-kakak saya yang menanggung biaya kehidupan keluarganya dan keluarga sendiri. Ade saya masih pada kecil-kecil soalnya.” Keluarga sangat mendukung kesembuhan EF, terlihat dari rutinnya keluarga datang untuk menjenguk subyek di tempat rehab, hal ini dibuktikan dengan pernyataaan subyek “kalo keluarga sih iya mereka pasti datang minimal seminggu sekali, makanya saya senang banget dapat dukungan penuh dari keluarga.” Berbeda dengan EF, RG menjalankan strategi coping stress yang emotionfocused coping. Keinginan terbesar RG adalah cepat sembuh dan membuktikan kepada keluarga, khususnya kepada ibunya dan mantan pacarnya bahwa subyek dapat berubah. RG sangat menyesali dengan apa yang telah dilakukannya sewaktu subyek masih menggunakan narkoba. Hal ini dibuktikan pada pernyataan subyek sebagai berikut, ”itu yang paling utama, trus saya juga pengen sembuh lah, cape loh punya badan yang dah ketergantungan sama obat-obatan begituan, dan saya juga sadar banget perilaku saya dulu benar-

57

benar salah banget seperti ke pacar saya itu, ke teman-teman saya... ternyata saya baru sadar juga banyak loh teman-teman saya yang benci sama saya” Subyek RG memiliki tekad yang kuat untuk sembuh dari efek narkoba karena ingin membuat ibunya bahagia, hal ini dilihat dari pernyataan subyek sebagai berikut, “yaaa dengan alasan dan tekad yang kuat mengenai ingin membuat ibu saya senang dan tersenyum aja itu sangat berarti buat saya, karena dalam hidup saya ini saya sudah banyak membuat banyak orang kecewa terutama ibu saya, saya ga mau misalnya ibu saya meninggal dalam keadaan menyesal mempunyai anak seperti saya…” Sama halnya dengan A dan AN, RI juga melakukan kedua strategi coping stress. Subyek RI melakukan strategi coping problem-focused coping dengan cara banyak mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh tempat rehabilitasi tersebut seperti menjalani sesi konseling, kegiatan pengembangan diri dan keterampilan, hal ini dinyatakan oleh RI sebagai berikut ”kegiatan-kegiatan konseling, ada yang barengan ma semua santri di sini, ada yang perorangan, trus kegiatan pengembangan diri kayak diajarkan banyak keterampilan dan yang bisa meningkatkan rasa kepercayaan diri kita gitu... ngelakuin kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dibandingkan saya bengang-bengong aja kan.” Strategi emotion-focused coping juga dilakukan oleh RI, yaitu dengan memiliki kesadaran, keinginan dan tekad yang kuat untuk berhenti dan sembuh dari narkoba, hal ini dibuktikan dari pernyataan subyek sebagai berikut “semua itu tergantung dari dirinya sendiri. Kesadaran, keinginan dan tekad yang kuat jadi kunci utama dalam penyembuhan dari dampak narkoba itu sendiri.”

58

Tabel 6 Coping stress A Emotion-Focused Coping Problem-Focused Coping √ √ AN √ √ EF √ RG √ RI √ √

59

60

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Kelima subyek penelitian mengalami stress yang hampir sama, yaitu stress saat pertama datang ke tempat rehabilitasi dengan suasana yang asing, orangorang yang asing dan sedangkan secara fisik para subyek masih ingin mengkonsumsi narkoba, tetapi subyek juga harus beradaptasi dengan lingkungan tempat rehab itu sendiri. Oleh karena itu tempat rehabilitasi yang kedua peneliti kunjungi lebih memperketat kegiatan yang dilaksanakan dengan fokus selama tiga bulan untuk tetap berada di tempat rehab, tidak berinteraksi dengan dunia atau orang lain dari luar. Begitu pula coping stress yang dipilih oleh masing-masing subyek, misalnya dengan subyek A yang memilih menjalankan kedua strategi coping stress dengan emotion-focused coping dan problem-focused coping. Dimana emotionfocused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan. Sedangkan problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Subyek AN menjalankan kedua strategi coping stress tersebut yaitu emotionfocused coping dan problem-focused coping juga, dimana hal ini dapat terlihat dari usaha subyek AN dalam memecahkan masalah dan kebosanan yang

61

dialaminya tersebut dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bias dilakukan atau mengobrol dengan ustadz yang berada di tempat rehabilitasi tersebut. Berbeda sekali dengan subyek A dan subyek AN, subyek EF dan subyek RI lebih menjalankan strategi coping stress dengan problem-focused coping, hal ini dapat terlihat saat subyek selalu mengalihkan pikirannya dan rasa bosannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh tempat rehabilitasi tersebut. Berbeda dengan subyek RG menjalankan strategi emotion-focused coping, karena subyek terlihat lebih berusaha mengontrol perasaan menyesal dan pikiran-pikirannya yang mengganggu subyek selama subyek di tempat rehabilitasi tersebut.

5.2 Diskusi Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah lima orang. Mengingat jumlah ini adalah jumlah yang cukup sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi, maka, hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh pecandu narkoba yang sedang menjalani

rehabilitasi. Setiap tempat rehabilitasi juga melakukan pengobatan dengan cara yang berbeda-beda, oleh karena itu subyek yang dalam penelitian ini hanya sebagian contoh untuk masyarakat dapat mengetahui bagaimana para pecandu menalami stress dan bagaimana dalam mengatasinya. Pada awalnya, penulis ingin melakukan penelitian di beberapa tempat rehabilitasi yang berbeda, tetapi hal ini tidak dapat diberlakukan oleh penulis, karena penulis tidak mendapatkan ijin untuk melakukan penelitian. Kesulitan yang ditemukan juga disebabkan rata-rata pecandu yang diwawancarai sudang mengalami gangguan fisik dan psikis yang cukup parah, sehingga ada subyek

62

yang sulit untuk fokus dalam wawancara, ada pula subyek yang merasakan penyesalan yang dalam sehingga subyek terlihat sangat memprihatinkan. Penggalian data mengenai sumber stress dalam penelitian ini tidak mendalam dan hanya dilakukan sampai penulis mendapatkan data bahwa subyek mengalami stress. Hal ini dikarenakan penulis ingin memfokuskan penelitian pada metode coping stress apa yang dipakai oleh subyek dalam mengatasi stressnya tersebut. Menurut Brannon & Feist (2000), stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku. Oleh karena itu, tidak akan ada dampak positif yang akan ditimbulkan dari penggunaan narkoba. Semua dampak yang dirasakan maupun yang terlihat adalah dampak negatif. Kelima subyek pada awalnya tidak mengetahui informasi tentang narkoba, seperti apa bentuknya, bagaimana efeknya dan dampaknya. Hal ini dapat menyebabkan diri subyek stress karena keinginannya untuk sembuh dengan keadaan fisik subyek yang tidak mendukung menjadi tidak terpenuhi. Coping dapat menyajikan dua fungsi utama yang dapat mengatasi masalah yang menyebabkan stress atau dapat mengatur respon emosional yang sebagai akibat dari masalah (Lazarus, 2003). Fungsi yang pertama yaitu Emotion-Focused Coping ditujukan pada pengaturan respon emosional melalui pendekatan behavioral dan pendekatan kognitif. Fungsi yang ini lah yang dipakai oleh subyek RG, karena subyek RG lebih banyak merasa bersalah dengan orang-orang sekitarnya sehingga subyek belajar untuk mengontrol pikiran dan perasaannya dalam mengatasi

masalahnya. Fungsi yang kedua dari coping adalah problem-focused coping

63

yang bertujuan untuk mengurangi tuntutan dari situasi pembawa stress atau perkembangan sumber stress untuk menghadapinya. Fungsi problem-focused coping ini lah yang dipakai subyek EF karena subyek lebih memilih merubah sikapdan keadaannya saat berada di tempat rehabilitasi tersebut dan subyek RI yang terlihat menjadi lebih memanfaatkan waktu yang ada dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bias menghilangkan rasa bosan yang timbul saat di tempat rehabilitasi. Adapun subyek A dan subyek AN yang memakai kedua fungsi tersebut secara bersamaan, yaitu dengan subyek mengontrol pikirannya dan juga subyek juga melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menghilangkan rasa kebosanannya. Dukungan dari orang terdekat, motivasi dan semangat dalam merubah pola pikir dan keadaan dirinya sangat mendukung dalam proses penyembuhannya. Perasaan bosan akan menimbulkan rasa sugesti yang akan membuat pecandu menjadi terganggu, oleh karena itu sebisa mungkin subyek harus dapat mengontrol pikiran dan dapat mengalihkannya ke hal-hal yang lebih positif. Tempat rehabilitasi merupakan salah satu jalan keluar agar pecandu narkoba dapat sembuh dari jeratan efek dari narkoba tersebut. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga sangat beragam. Oleh karena itu subyek ada yang sudah berganti-ganti cara dan tempat rehabilitasi dalam menyembuhkan dirinya.

5.3 Saran 5.3.1 Saran untuk penelitian selanjutnya Pada penelitian selanjutnya sebaiknya subyek yang diteliti lebih di konsepkan mau tempat rehab seperti apa yang akan di menjadi tempat mencari subyek,

64

karena setiap tempat rehab memiliki cara yang

berbeda-beda dalam

menyembuhkan pasien. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh dapat lebih bervariasi. Peneliti diharapkan dapat lebih membina rapport yang baik dengan subyek agar subyek dapat merasa lebih nyaman dan terbuka dalam memberikan informasi. Saat melakukan proses wawancara hendaknya peneliti tidak terlalu terpaku pada pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya. Peneliti sebaiknya memiliki kepekaan dalam menggali jawaban-jawaban subyek sehingga jawaban yang dihasilkan dapat merepresentasikan keadaan subyek yang sebenarnya. Selain penelitian secara verbal juga perlu dilakukan observasi terhadap tingkah laku subyek untuk mendapatkan tambahan data mengenai subyek.

5.3.2 Saran untuk keluarga Keluarga hendaknya dapat mengetahui informasi tentang penyalahgunaan narkoba, agar keluarga dapat waspada apabila ada anggota keluarganya yang memiliki ciri-ciri sebagai pengguna narkoba tersebut. Keluarga hendaknya tetap menerima kehadiran anggota keluarganya yang sedang menjalani rehabilitasi tersebut, karena dukungan terbesar sebenarnya sangat diharapkan oleh pasien adalah dari pihak keluarga. Dukungan yang paling utama adalah dengan mempercayai bahwa anggota keluarga yang sedang menjalani rehab dapat benar-benar pulih dan berhenti. Pemberian rasa percaya dan dukungan saat pasien sedang menjalani rehab akan memberikan semangat pada pasien agar cepat memulihkan dirinya. Keluarga juga harus berusaha untuk membuka jalur komunikasi yang baik dan terbuka. Hal ini dilakukan agar nantinya pasien tersebut dapat terus

65

mengungkapkan perasaannya secara lebih jujur kepada keluarga. Ungkapan atau cerita yang tekah diungkapkan oleh pasien juga hendaknya diberikan respon dan dukungan-dukungan yang sewajarnya oleh keluarga.

5.3.3 Saran untuk pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi Pecandu juga hendaknya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,

memperbanyak ibadah serta kegiatan-kegiatan kerohanian agar dapat lebih cepat dalam proses pemulihan diri dan batin dan tidak akan mengulanginya kembali saat sudah keluar dari tempat rehabilitasi. Kegiatan kerohanian dapat menjadikan jiwa pecandu lebih tenang, sehingga dapat lebih menerima keadaan dirinya sendiri dan dapat mengontrol pikiran dan perilakunya.

5.3.4 Saran untuk masyarakat luas Sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahaya narkoba. Hal ini dapan dilakukan dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan, termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi pecandu narkoba yang berada di

lingkungannya. Masyarakat juga jangan sampai mendiskriminasikan atau mengucilkan para pecandu tersebut, karena penting adanya dukungan dari lingkungan agar pecandu sadar bahwa mereka melakukan kesalahan. Memberikan sikap mau menerima dan memberikan semangat pada pecandu akan membantu mereka dalam cepatnya proses pemulihan pada diri pecandu tersebut.

66

Daftar Pustaka

Anti-narkoba.web.id. Ciri-ciri pemakai narkoba. Diperoleh juni, 27, 2007 dari http://www.anti-narkoba.web.id/?pilih=hal&id=28# Brannon, L. & Feist, J. (2000). Health psychology: An introduction to behavior and health (4th ed.). Sydney: Wadsworth. Colondam, V. (2007). Raising drog-free children. Jakarta: YCAB. Damayanti, N.P. Kasus Narkoba di Indonesia Naik Tajam. Diperoleh juni, 28, 2007 dari http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/06/25/brk,2006062579376,id.html. Daymon, C. and Holloway, I. (2002) Qualitative Research Methods in Public Relations and Marketing Communications. New York: Routtledge, Taylor and Francis Group. Friedman, H. S. & DiMatteo, M. R. (1989). Health psychology. Boston: Allyn & Bacon. Hawari, D. (1991). Penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif. Jakarta: Balai penerbit FKUI. Hawari, D. (2002). Penyalahgunaan & ketergantungan NAZA. Jakarta: Balai penerbit FKUI. Ibrahim, A. S. (2003). Stress dan psikosomatis. Jakarta: Dian Aresta Jung, J. (2001). Psychology of alcohol and other drugs: a research perspective. USA: Sage Publications, Inc. Kompas. (2006). Keluarga anti n. Jakarta: Gramedia.

67

Lazarus, R.S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal and Coping. New York: Springer. Monks, F.J., Knoers, A.M.P., & Haditono, S.R. (2002). Psikologi perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Narkoba-metro.org. Tentang narkoba oleh Dr. Murcuanto Diwanto. Diperoleh juni, 27, 2007 dari http://www.narkoba-metro.org/ Pandi. Ciri-ciri pemakai narkoba. Diperoleh juni, 27, 2007 dari http://www.antinarkoba.web.id/?pilih=hal&id=28#. Papalia, E. D., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2004). Human development (9th ed.). New York: McGraw Hill. Rumah Belajar Psikologi. Stress oleh Reina Wangsadjaja. diperoleh November, 10, 2008 dari http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/stres.html Santrock, J. W. (2004). Life span development (9th ed.). New York: McGraw Hill Santrock, J. W. (2000). Psychology. USA: McGraw-Hill. Sarafino, E. P. (2002). Health psychology: Biopsychosocial interactions (4th ed.). New York: John Wiley & Sons. Strauss, A. L. & Corbin, J. M. (Eds.). (1990). Basics of qualitatif research:

grounded theory procedures and techniqes. Newbury Park, Calif.: Sage Publications. Taylor, S. E. (2003). Health psychology (5th ed.). New York: McGraw Hill. Wikipedia. Hikmatul Iman Indonesia. Diperoleh desember, 10, 2007 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hikmatul_Iman_Indonesia. Yayasan narkoba metro. Tentang narkoba oleh Dr. Murcuanto Diwanto. Diperoleh juni, 27, 2007 dari http://www.narkoba-metro.org/.

68

LAMPIRAN

69

PEDOMAN WAWANCARA
I. Data Demografis 1. Nama 2. Usia 3. Berapa bersaudara 4. Tingkat Pendidikan 5. status pernikahan 6. keputusan masuk rehabilitasi 7. Lama rehabilitasi 8. jenis narkoba yang dipakai 9. alasan memakai narkoba

II. Narkoba 1. Kapan pertama kali anda memakai narkoba? 2. Jenis apa yang anda pakai pertama kali? Dan apa yang anda rasakan? 3. Dimanakah anda mendapatkan narkoba tersebut? 4. apa anda mengetahui bahaya narkoba sebelumnya? 5. Apakah teman-teman anda juga seorang pemakai? 6. Alasan untuk pertama kali memakai? 7. Alasan untuk secara terus-menerus memakai narkoba tersebut? 8. Siapa saja yang mengetahui bahwa anda adalah seorang pemakai? 9. Sejak kapan orantua mengetahuinya? 10. Bagaimana perlakuan keluarga setelah mengetahui anda adalah seorang pemakai?

70

III. Hubungan dengan keluarga a. Sebelum masuk tempat rehabilitasi 1. Tolong anda ceritakan mengenai keluarga anda pada saat anda belum masuk ke tempat rehabilitasi! 2. Bagaimana perlakuan keluarga terhadap anda? 3. Siapa yang membiayai kehidupan anda pada saat itu? 4. Anda tinggal dengan siapa sebelum masuk rehabilitasi? 5. Apakah anda sering merasa kesepian padahal anda tinggal denga keluarga anda? 6. Apakah ada perbedaan kehidupan anda sebelum dan sesudah memakai narkoba? Bisa anda ceritakan?

b. Pada saat akan masuk tempat rehabilitasi 1. Apakah anda tahu alasan anda dimasukkan ke tempat rehabilitasi? apakah anda pernah menanyakannya? tanggapan anda mengenai alasan itu? 2. Pada saat tahu akan dimasukkan ke tempat rehabilitasi, reaksi dan perasaan anda seperti apa? 3. Sebelum mengambil keputusan untuk memasukkan anda ke tempat rehabilitasi, apakah anak anda pernah merundingkan atau membicarakan hal ini dengan anda?

c. Sesudah masuk tempat rehabilitasi 1. Apakah anda sering dijenguk atau dikunjungi oleh keluarga? (jika iya,

seberapa sering? Jika tidak, apakah anda tahu alasan keluarga anda tidak menjenguk anda? Tanggapan anda mengenai alasan keluarga tidak menjenguk?

71

2.

Apakah anda sering mengunjungi keluarga anda pada saat keluarga tidak

mengunjungi? Jika iya apa tanggapan atau reaksi keluarga anda? 3. 4. 5. 6. Saat ini kehidupan anda dibiayai oleh siapa? Jika sudah lama tidak dijenguk, perasaan anda seperti apa? Perasaan anda pada saat melihat orang lain dikunjungi? Siapakah yang paling anda harapkan untuk datang menjenguk anda? Apa

yang menyebabkan anda begitu ingin dijenguk olehnya? 7. 8. 9. Sering kangen atau tidak dengan keluarga? Jika sedang kangen apa yang dirasakan atau dilakukan? Pengaruh rasa kangen tersebut terhadap kegiatan sehari-hari anda?

IV. Kehidupan di tempat rehabilitasi a. Awal masuk ke tempat rehabilitasi 1. Pada saat awal mula masuk ke tempat rehabilitasi, menurut anda tempat

rehabilitasi ini seperti apa? 2. 3. 4. 5. 6. Perasaan anda pada awal masuk tempat rehabilitasi seperti apa? Pada awal masuk tempat rehabilitasi, apakah anda pernah merasa stress? Bisa anda gambarkan perasaan stress yang anda rasakan saat itu? B agaimanakah anda mengatasi stress yang anda alami tersebut? Apakah anda mencari atau berusaha mendapatkan teman pada awal anda

masuk ke tempat rehabilitasi?

b. Sekarang 1. Berapa lama anda dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tempat

rehabilitasi? (dengan lingkungan dan pasien lainnya) 2. Saat seperti apa anda dapat merasakan stress?

72

3. 4.

Saat ini, apakah anda sering merasakan stress tersebut? Bagaimana cara anda untuk mengatasi permasalahan yang membuat anda

stress itu?

73

Rangkuman dari data per subyek Subyek A Stressor Stress subyek muncul merasa Reaksi saat subyek merasa jenuh. tidak Coping stress Melakukan yang dapat kegiatan mengusir

bebas (banyak aturan dan batasan).

rasa bosan, seperti main PS, nonton bareng-

bareng, main layangan, ngobrol, main gitar,

outbond atau jalan-jalan.

Subyek

merasa Merasa jenuh.

Berinteraksi orang-orang

dengan di sekitar

terkurung dan tidak bisa bertemu dengan temanteman dan keluarganya.

tempat rehabnya, belajar menyablon dan belajar membuat layangan.

Biaya rehabilitasi mahal.

Pusing

Sadar bahwa biaya itu untuk kegiatan dan subyek

penghidupan

selama di tempat rehab.

Saat kesal,

subyek

merasa Uring-uringan, bosan, jenuh, bosan.

merasa Belajar agama, program tajwid, sholat, lebih diri Tuhan, diri, vitalitas,

memikirkan hal-hal yang memicu ingatnya masa lalu saat memakai

mendekaatkan kepada pengembangan pemulihan

narkoba (sugesti).

kuatkan mental, belajar sabar dan konsentrasi akan sesuatu.

74

Merasa komunitas, seharusnya mahasiswa, dengan

jauh

dari Merasa terasingkan, jauh Sholat. Karena di tempat yang dari komunitas yang rehab ini semua yang kita rasakan selalu

menjadi seharusnya. bermain

disuruh beribadah dan berdoa.

teman-teman

kampus, belajar di kelas, sekarang subyek tidak dapat melakukan hal itu semua.

Orang tua subyek jarang menengok ke tampat rehab.

Sedih

dan

menjadi Berdoa dan pasrahkan

berpikiran bahwa orang semuanya ke Tuhan. tuanya sudah tidak

memperdulikannya.

Saat subyek teringat akan masa lalunya saat memakai narkoba (sugesti).

Sedih, kesal, seperti mau Sadar akan masa lalu marah dengan diri sendiri. tidak dapat terulang kembali, pasrahkan semuanya dan kembali sholat dan berdoa.

Tuntutan dari orang tua Merasa tidak diperhatikan Pasrah. untuk rehab, tidak membiayainya. cepat karena keluar dan diperdulikan oleh

sudah keluarganya. sanggup

Merasa

Ibunya

sudah sedih

Sholat,

berdoa,

dan

capai mengurus dirinya dan merasa terabaikan karena tidak pernah di tengok.

selain itu baru subyek melakukan refresing

seperti main PS, main layangan, atau apa saja yang dapat membuat

75

subyek

lupa

akan

kesedihannya.

Subyek AN Stressor Merasa bertemu asing banyak Reaksi dan Merasa asing. orang Coping stress Dibawa enjoy aja.

yang tidak dikenal.

Subyek kuliahnya karena

teringat

bahwa Kesal.

Subyek merasa memiliki tanggung dirinya jawab dan atas kepada untuk

terbengkalai subyek

mengkonsumsi narkoba.

keluarganya

menyelesaikan kuliahnya. Dibawa enjoy saja,

karena kenginan subyek untuk sembuh lebih kuat daripada rasa bosannya.

Tempat rehabilitasi yang Bosan. membatasi subyek. Saat sedang terdiam, pergerakan

Alihkan

pikiran-pikiran

negative tersebut dengan mengobrol dengan orang sekitar, lakukan kegiatan yang tidak bikin bosan seperti main gitar, bicara dengan ustadznya, jalanjalan.

melamun,

pikiran-pikiran

negative terlintas, merasa Sugesti muncul. bosan dan sugesti muncul dan karena rutinitas yang dikerjakan selama di

tempat rehab.

76

Subyek EF Stressor Reaksi Coping stress Di bawa seenjoy mungkin dan menanamkan dalam dirinya tekad yang kuat untuk cepat sembuh.

Merasa terisolasi karena Bosan dan jenuh. selama 3 bulan tidak bolah kemana-mana dan tidak boleh bertemu Hanya

siapa-siapa.

boleh mengikuti kegiatan rutin yang diadakan oleh tempat rehab.

Saat

subyek

merasa Mengamuk,

merasa Sadar

akan

tindakan

sangat bosan dan jenuh menjadi sekali. terbodoh

manusia (mengamuk), dan berfikir karena yang negative seperti itu tidak membantu

terjerumus oleh narkoba.

penyembuhan dirinya.

Saat subyek melamun, Sugesti muncul. pikiran melayang berfikir yang macam-macam.

Berusaha mengendalikan diri dan berusaha

memikirkan rencana saya kedepan nantinya.

Subyek RG Stressor Reaksi Coping stress Dibawa enjoy semua

Rutinitas yang dilakukan Bosan dan jenuh. selama ditempat rehab, dan terisolasinya subyek selama 3 bulan tidak bolah bertemu siapa-

kegiatan yang dijalankan, dan subyek bertekad ingin cepat ingin sembuh berbakti karena dan

siapa dan tidak boleh

membanggakan

77

kemana-mana.

keluarganya keluar dari rehab.

setelah

Merasa

tidak

memiliki Berusaha

kabur

dari Banyak ngobrol saat sesi konseling, ngobrol dengan ustadznya dan sakhirnya subyek sadar bahwa hal itu tidak akan membantu penyembuhan dirinya.

kebebasan.

tempat rehab.

Saat kekecewaan

mengingat Sedih. Ibunya

Subyek

memiliki

tekad

untuk cepat sembuh dan ingin ibunya. membahagiakan

terhadap dirinya.

Subyek RI Stressor Subyek memiliki selalu merasa Reaksi tidak Merasa asing. Coping stress Berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya, dibawa enjoy dan

kebebasan, terjaga, banyak

orang tidak dikenal.

banyakin kenalan dengan orang-orang yang ada di tempat rehab.

Rasa

bosan

karena Muncul sugesti.

Berusaha

mengalihkan

mengikuti rutinitas dari tempat rehab, muncul

dan mengontrol pikiranpikiran menyebabkan tersebut, yang sugesti melakukan yang lain

rasa sugesti.

kegiatan-kegiatan lebih bermanfaat

yang bisa mengusir rasa

78

bosan.

Merasa eringat ayah ibunya.

kesal akan

saat Sugesti muncul.

Mengalihkan tersebut.

pikiran

kelakuan terhadap

subyek

79

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful