Nasionalisme Sepak Bola Garuda didadaku .. garuda kebangganku .. kuyakin hari ini pasti menang ..

Potongan lagu Band Netral ini membahana sepanjang pertandingan Indonesia vs Philipina pada laga semifinal piala AFF, pertandingan ini dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 1-0 lewat gol semata wayang seorang pemain naturalisasi Christian Gonzales menit ke 31, memanfaatkan umpan sang kapten Firman Utina. Selama 90 menit kita disuguhkan permainan yang atraktif oleh para pemain timnas, diberbagai media timnas diasanjung bak pahlawan diekspos sampai pada kehidupan pribadinya, sepertinya ada secercah harapan dalam timnas kita. Seakan menjadi pelipur lara, kemenangan demi kemenangan Timnas indonesia sedikit mengobati luka yang dialami oleh rakyat Indonesia sepanjang tahun, bencana alam merapi dan mentawai, kisruh politik, korupsi dan kemiskinan.

Sebelum pertandingan Indonesia vs Philipina Presiden SBY menyempatkan diri untuk menyambangi tempat latihan timnas, SBY memberikan dukungan moril kepada Bambang Pamungkas dkk, suatu kejadian yg jarang terjadi, Bahkan SBY berjanji akan mengelontorkan dana Miliyaran rupiah demi mendukung bangkitnya kejayaan sepak bola nasional. Pertanyaannya kemudian apakah ini bentuk keseriusan pemerintah ataukah sekedar politik pencitraan? Prestasi dan prestise Sepak bola merupakan olahraga paling favorit rakyat Indonesia, bahkan bisa dikatakan menjadi olahraga rakyat, olahraga ini dimainkan semua kalangan dari orang muda sampai tua, pria maupun wanita, dilapangan, dikampung-kampung, dikompleks bahkan disudut-sudut gang. Wajar saja jika rakyat Indonesia sangat menginginkan timnas bisa punya prestasi yang lebih baik. Iya, sepakbola memang tak bisa dilepaskan dari persoalan prestasi dan prestise, dan demi prestise itulah Seorang diktator Italia Mussolini pada final piala dunia 1934 antara Italia dan Rumania menggunakan kekuasaannya untuk menghentikan langkah Rumania dengan mengancam tidak akan membiarkan satupun pemain Rumania keluar dari stadion dalam keadaan hidup ketika Rumania mengalahkan Italia. Bahkan Adolf Hitler pemimpin Fasis Jerman memerintahkan agennya untuk mencuri trofi piala dunia, hingga trofi itu harus disembunyikan dibawah kolong tempat tidur Presiden FIFA.

. misalnya dibidang hukum rakyat kita butuh kebangkitan semangat nasionalisme dengan mengganyang koruptor-koruptor yang memakan uang rakyat. Namun keraguan ini coba dijawab dengan kemenangan demi kenangan yang diraih oleh timnas. iya. Kita menunggu sepak terjang sang kapten (presiden) bertindak memimpin memberantas korupsi dan kemiskinan. salah satu faktor yang dianggap mempengaruhi penampilan timnas kita adalah pemain naturalisasi. bukan tunduk dan kalah kepada pemodal asing (AS dan Lembaga Donor). Sang Kapten harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukanlah bangsa kuli. Dilapangan ekonomi bangsa kita juga butuh kebangkitan semangat nasionalisme dengan menyingkirkan dominasi modal asing diberbagai sector yang kini menguasi 80% ekonomi kita. hingga kita bisa membangun ekonomi kita secara mandiri. intinya kita butuh ketauladanan karena bangsa ini telah lama tidak terpimpin. Riuh rendah Nasionalisme Eforia kemenangan timnas ini melanda semua negeri. bukan nasionalisme riuh rendah seperti yang ditunjukkan presiden SBY saat pertandingan berlangsung dengan memakai syal merah putih bertuliskan Indonesia. seperti nasib TKI kita diluar negeri. Kita tentu menunggu Presiden SBY bisa bermain cantik seperti permainan yang ditunjukkan Firman Utina dkk mengalahkan lawan-lawanya. Permainan Timnas memang membaik akhir-akhir ini. Nasionalisme yang kita ingin bangkitkan haruslah Nasionalisme yang bertendensi antiImperialisme atau anti-penjajahan. Kita butuh kebangkitan yang sama dilapangan yang lain. bukan bangsa tempe yang tidak produktif. Karena pada kenyataannya bangsa kita sedang mengalami kemunduran dan apatisme atas berbagai kebijakan pemerintah yang tak kunjung memberikan kesejahteraan. seakan memberikan suntikan moral kepada bangsa Indonesia untuk bangkit. tapi apakah ini tidak menggangu regenerasi pemain local kita nantinya ? bukankah yang menjadi masalah selama ini adalah kompetisi dan sistem yang bobrok? jangan sampai karena hanya kejar target prestise masa depan sepokbala kita korbankan.Untuk mengejar dua target tersebut (prestasi dan prestise) PSSI mencoba jalan naturalisasi pemain yang oleh beberapa pengamat dinilai hanya mendokrak prestasi sepak bola secara instan.

Sepak bola bisa menjadi awal yang baik. . filosofi sepakbola sinergis dengan filosofi bangsa kita yaitu gotong royong bersama-sama memeras keringat untuk satu tujuan. bisa menjadi contoh bagaimana kerjasama kolektif satu tim bisa mengahasilkan kemenangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful