You are on page 1of 26

I.

Latar Belakang Dengan semakin berkembangnya kemajuan kehidupan manusia yang berdampak pada semakin rumitnya masalah hubungan sosial manusia maka muncullah apa yang disebut administrasi yang dipakai sebagai metode untuk mengatur tata urusan kehidupan manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, kenegaraan, hubungan sosial dan banyak lagi. Sistem manajerial kemudian juga hadir sebagai aplikasinya dalam bidang ekonomi. Sistem ini kemudian melahirkan institusi baru yang mengakomodasi administrasi yang kini lazim kita sebut kesekretariatan atau perkantoran. Di era globalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan/pekerja di sektor kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya. Dari hasil penelitian di sarana kesehatan Rumah Sakit, sekitar 1.505 tenaga kerja wanita di Rumah Sakit Paris mengalami gangguan muskuloskeletal (16%) di mana 47% dari gangguan tersebut berupa nyeri di daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5.057 perawat wanita di 18 Rumah Sakit didapatkan 566 perawat wanita adanya hubungan kausal antara pemajanan gas anestesi dengan gejala neoropsikologi antara lain berupa mual, kelelahan, kesemutan, keram pada lengan dan tangan. Di perkantoran, sebuah studi mengenai bangunan kantor modern di Singapura dilaporkan bahwa 312 responden ditemukan 33% mengalami gejala Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%. Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja 1

disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.
II. Deskripsi A. Profil Kantor Pajak

Dalam melaksanakan visi dan misi, Direktorat Jenderal Pajak melaksanakan reformasi administrasi perpajakan yang selaras dengan dinamika perekonomian dan dunia usaha agar mewujudkan system perpajakan yang adil, kompetitif dan memberikan kepastian hukum. Bukti nyata reformasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak adalah penerapan system modernisasi. Modernisasi Administrasi Perpajakan yang merupakan salah satu program reformasi dilakukan melalui penataan organisasi berdasarkan fungsi dan segmentasi Wajib Pajak, reformasi proses bisnis yang berorientasi pada penyederhanaan system dan prosedur dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta reformasi manjemen SDM yang semuanya bertujuan untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, sehingga Wajib Pajak merasa puas dan rela untuk membayar pajak sebagaimana mestinya. Konsep Modernisasi Administrasi Perpajakan adalah mengutamakan pelayanan prima dan pengawasan intensif dengan harapan tercipta Good Corporate Governance yang lebih baik dan bersih. Dengan Modernisasi Administrasi Perpajakan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran, kemauan, kerelaan untuk membayar pajak, dan menumbuhkan kepatuhan secara sukarela Wajib Pajak, yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam

mewujudkan

Modernisasi

Administrasi

Perpajakan,

Direktorat Jenderal Pajak membentuk KPP Modern dengan karakteristik: Struktur Organisasi berdasarkan fungsi Penggabungan KPP, KPPBB, dan Karikpa Tersedianya Representative Penerapan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak Penerapan Teknologi informasi Sarana dan prasarana yang lebih baik Peningkatan Renumerasi Peningkatan kemampuan dan kompetisi pegawai Taxpayer bill of right staf pendukung pelayanan/Account

Direktorat Jenderal Pajak meresmikan KPP Modern pertama tahun 2002 di KPP WP Besar/LTO pada Kanwil DJP Jakarta Khusus, diikuti pembentukan KPP Madya/MTO di Kanwil Jakarta I tahun 2004, pembentukan KPP MTO di beberapa Kanwil tertentu tahun 2006. Untuk Kanwil DPJ Jatim I, II, dan III KPP Pratama dilaunching tanggal 4 Desember 2007 dan sejak itulah KPP Pratama Malang Selatan dideklarasikan. Akhir tahun 2008 seluruh KPP di Indonesia sudah menjadi KPP Pratama Malang/STO. Pembentukan KPP Pratama Malang Selatan Guna mewujudkan visi dan misi Direktorat Jenderal Pajak, secara berkesinambungan diupayakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada Wajib Pajak. Sebagai bagian dari upaya tersebut adalah dideklarasikannya pembentukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan yang dilakukan bersamaan di seluruh wilayah Kanwil Jatim III pada tanggal 4 Desember 2007. Kantor dideklarasikan Pelayanan Pajak Malang Keputusan Selatan secara resmi berdasarkan Menteri Keuangan 3

No.55/PMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Sejak saat itulah Kantor Pelayanan Pajak Malang (KPP induk) yang beralamat di Jalan Merdeka Utara No. 3 Malang pecah menjadi: Untuk wilayah Kota Malang terdiri dari KPP Pratama Malang Selatan (3 Kecamatan yaitu Kecamatan Klojen, Sukun dan Kedungkandang)

KPP Pratama Malang Utara (2 Kecamatan yaitu Kecamatan Lowokwaru dan Blimbing) Untuk wilayah Kabupaten Malang bagian selatan adalah KPP Pratama Kepanjen Untuk wilayah Kabupaten Malang bagian utara

diadministrasikan oleh KPP Pratama Singosari. Kantor pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan merupakan bentuk kantor yang menerapkan Sistem Administrasi Modern. Diharapkan dengan penerapan ini, tujuan untuk memberikan pelyanan yang lebih baik bagi Wajib Pajak akan dapat terpenuhi. Geogarfis Wilayah Kerja Kantor dideklarasikan Pelayanan Pajak Malang Keputusan Selatan secara resmi berdasarkan Menteri Keuangan

No.55/PMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. KPP Pratama Malang Selatan berlokasi di pusat kota yaitu di Jalan Merdeka Utara No.3 Malang, mencakup 3 kecamatan yaitu kecamayan Klojen, Sukun dan Kedungkandang. Batas Wilayah KPP Pratama Malang Selatan

Sebelah utara

Kec.Blimbing,Kec.Lowokwaru,

Kec. pakis 4

Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah Barat

: Kec. Tajinan : Kec. Pakisaji : Kec. Wager, Kec. Dau

B.

Lingkungan Kerja Fisik Karyawan dikantor tersebut bekerja di dalam ruangan ber AC dengan ruangan yang selalu tertutup. Lantai kantor berkeramik dan tidak berkarpet kecuali pada lantai kantor di ruang data base adalah berkarpet. Ventilasi dikantor tersebut berupa jendela tetapi tidak pernah dibuka dikarenakan ruangan yang selalu ber AC. b. Kimia Adanya penggunaan pengharum ruangan, pembersih lantai, dan pajanan asap rokok khususnya di ruang bagian PDI meskipun ruangan tersebut ber AC. c. Biologi Tidak terdapat tanaman hias dalam ruangan dan adanya mikroorganisme yang tersimpan dan berkembangbiak di AC.
d.

a.

Sosial budaya Karyawan bekerja selama 8 jam sehari (08.00-16.00) selama

6 hari kerja dalam seminggu. Tetapi seringkali karyawan mendapat jam lembur sampai jam 19.00. Dan terkadang lembur pada hari minggu untuk menyelesaikan tugas dari atasan. Tingkat stressor tinggi terutama pada bagian PDI karena harus mengentry data sebanyak standar yang sudah ditentukan perharinya. Pada bagian pelayanan, karyawan bertatap muka langsung dengan klien tanpa ada pembatas.
JALAN RAYA

TERAS

Hubungan antar karyawan baik. Tidak terdapat kesenjangan golongan pangkat dan pendidikan yang terlalu jauh antar karyawan. Hubungan antara atasan dan karyawannya cukup baik namun menurut kebanyakan karyawan, atasan serinng bersikap galak sehingga menimbulkan tambahan stressor bagi karyawannya. C. Proses Kerja

a. Denah kantor

Satgas I Satgas II Satgas III

TPT
Satgas IV, komputer, Seksi PDI

NPWP & help desk


Seksi Pelayanan

b. Proses Kerja Front Office SATGAS I Koordinator : Kasi Vastoa SATGAS II Koordinator : Kasi Pelayanan SATGAS III Koordinator : Kasi Vastoa SATGAS IV Koordinator : Kasi PDI Keterangan : Front Office Melakukan pelayanan pajak dengan masyarakat

Tim Sortasi (SATGAS I) Menerima SPT dari KPP lain Sortir KPP lain dan KPP sendiri Meneruskan SPT lengkap ke SATGAS II

Tim Processing (SATGAS II) Rekam LAPD/BPS Membuat Surat Permintaan Kelengkapan ke WP Membuat Surat Pengantar Pengiriman ke KPP lain 7

Tim Expedisi (SATGAS III) Memintakan paraf dan tanda tangan ke kepala kantor

Mengirinkan surat permintaan kelengkapan dan surat pengantar pengiriman KPP lain ke kantor pos Menerima respon dari WP

Meneruskan SPT yang semula tidak lengkap menjadi lengkap ke SATGAS II Validasi LPAD dengan Berkas SPT

Meneruskan (temporary) SPT lengkap untuk direkam ke SATGAS IV Menereuskan SPT gagal rekam atau SPT unbalance ke AR untuk ditindak lanjuti Tim Recording (SATGAS IV) Menerima SPT Lengkap dari SATGAS III

c. Struktur Organisasi Kepala Kantor Kasubag Umum Mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas untuk parastaff dan seluruh pegawai agar berjalan sebagaimana mestinya sesuai SOP Melaksanakan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha, rumah tangga dan bantuan hukum

Melakukan pengumpulan, pencarian data dan pengolahan data Kepala Seksi Penyajian informasi perpjakan, perekaman dokumen perpajakan PDI Pelayanan dukungan teknis komputer Pemantauan aplikasi e-SPT, dan e-Filling Penyiapan laporan kerja Kepala Seksi Penerbitan produk hukum perpajakan Pelayanan Pengadministrasian dokumen dan berekas perpajakan Kepala Seksi Penerimaan dan penatausahaan SPT, serta penerimaan 8

Ekstensifikasi

Kepala Seksi Waskon I

Kepala Seksi Waskon Ii

Kepala Seksi Waskon Iii

Kepala Seksi Penagihan Kepala Seksi Pemeriksaan

surat lainnya Penatausahaan berkas wajib pajak Pengawasan kepatuhan perpajakan WP Bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan Penyusunan profil wajib pajak Rekonsiliasi data WP dalam rangka melakukan intensifikasi serta melakukan evaluasi Pengawasan kepatuhan perpajakan WP Bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan Penyusunan profil wajib pajak Rekonsiliasi data WP dalam rangka melakukan intensifikasi serta melakukan evaluasi Pengawasan kepatuhan perpajakan WP Bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan Penyusunan profil wajib pajak Rekonsiliasi data WP dalam rangka melakukan intensifikasi serta melakukan evaluasi Penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif usulan penghapusan piutang pajak Penyimpanan dokumen panagihan Penyusunan rencana pemeriksaan dan pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan Penerbitan dan penyaluran surat perintuah pemeriksaan pajak serta administrasi perpajakan yang lain

D.

Sarana dan Prasarana Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan berlokasi di jalan

Merdeka Utara no.3 Malang yang terdiri dari dua lantai: Lantai 1 : Tempat Pelayanan Terpadu, Seksi Pelayanan, Seksi Ekstensifikasi, Seksi Pengolahan Data dan Informasi, Su Bagian Umum, Ruang kepala Kantor, Seksi Penagihan. Lantai 2 : Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Seksi Pengawasan dan Konsultasi III, Seksi Pemeriksaan, dan Aula. Tempat pelayanan yang disediakan untuk memberikan semua jenis pelayanan baik PPh, PPN, maupun PBB. Fasilitas yang tersedia di TPT: 9

1. NPWP.

Loket pelayanan PPh, PPN, PPnBM, PBB, BPHTB serta

Pelayanan untuk menyampaikan pelaporan PPh dan PPN serta pelayanan PBB dan NPWP. 2. 3. Help Desk Tempat Pembayaran Pelayanan untuk memperoleh informasi peraturan pajak. KPP Pratama Malang Selatan bekerjasama dengan Bank Bukopin untuk mempermudah pembayaran. 4. Mesin Nomor Antrian Nomor antrian terdiri dari 3 bagian untuk pelayana PPh dan PPN, PBB dan NPWP. Disediakan untuk memberikan kepastian dan menjaga ketertiban dalam memperoleh pelayanan. 5. 6. Papan Standar Pelayanan Layar Sentuh Informasi jangka waktu penyelesaian pelayanan. Informasi profil KPP Pratama Malang Selatan, prosedur pelayana dan peraturan perpajakan. 7. Papan Denah kantor Informasi tentang ruangan yang ada di kantor KPP Pratama Malang Selatan. 8. 9. Running Tax/Moving Sign Ruang Konsultasi Informasi tentang kewajiban perpajakan wajib pajak. Ruang yang digunakan wajib pajak untuk berkonsultasi dengan Account Representative. 10. Rak Brosur Rak yang berisi brosur-brosur tentang peraturan perpajakan untuk memudahkan pemahaman. 11. Line Telepon

10

Disediakan untuk wajib pajak yang akan berkonsultasi lewat media telekomunikasi. 12. Kotak Saran Disediakan untuk wajib pajak yang akan memberikan saran dan kritik atas pelayanan yang diterima. 13. Tempat Surat Kabar Disediakan surat kabar untuk memberikan kenyamanan wajib pajak dalam menunggu antrian. 14. 15. 16. 17. antrian. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Air Conditioner dan lampu penerangan Lemari, rak buku, meja kursi kantor dan alat tulis kantor Papan informasi, memberikan informasi penyelesaian Ruang konsultasi, digunakan untuk konsultasi wajib pajak Ruang tunggu tamu, berupa sofa untuk kenyamanan wajib Perangkat komputer Air Minum Toilet Wajib Pajak Informasi Kurs Televisi, untuk memberikan kenyamanan sambil menunggu Di ruang tunggu disediakan air minum untuk wajib pajak.

permohonan wajib pajak. dengan AR. pajak dan informasi tingkat kurs yang berlaku. Ruang kerja untuk pegawai ditata dan dilengkapi dengan peralatan denga teknologi terkini sehingga memberikan kenyamanan kerja yang akan meningkatkan produktivitas kerja. 24. 25. Ruang tamu Scanner dan Plotter Disediakan ruang tunggu untuk tamu kepala Kantor. Untuk memindahkan gambar peta blok menjadi file dalam basis data dan untuk mencetak peta blok secara digital. 11

26.

Mesin cetak hasil keluaran

Di ruang Operator Consule dilengkapi dengan hi-speed printer untuk mencetak hasil keluaran seperti SPPT, STTS, dan DHKP PBB. 27. Ruang Rapat Ruang rapat yang dilengkapi dengan proyektor dan infocus digunakan untuk rapat pembinaan dengan Kepala Kantor maupun untuk menerima tamu-tamu rombongan. 28. Aula Aula yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, layar infocus, dan sound system digunakan untuk sosialisasi peraturan perpajakan kepada wajib pajak dan in house training pegawai. 29. Musholla untuk karyawan/wati dan wajib pajak untuk Digunakan 30.

melaksanakan sholat Tempat Parkir Tempat parker disediakan di belakang dan samping untuk karyawan/wati dan di depan khusus untuk wajib pajak. 31. Ruang jaga satpam Ruang jaga satpam disediakan di dekat pintu masuk untuk memudahkan pengawasan keamanan kantor. 32. 33. Finger Print Mobile Filling Untuk absensi on time pegawai. Terdapat 2 mobile filling yang disediakan untuk meyimpan berkas wajib pajak, terdiri dari mobile filling WP orang pribadi, mobile filling WP badan, dan WP PBB dan BPHTB. 34. Klinik Klinik disediakan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi para pegawai KPP Pratama Malang Selatan.

12

E.

Pekerja yang Terlibat dan Komposisi karyawan


Persentase 31% 69% Jabatan Kepala kantor Kepala Seksi/Sub Bagian Fungsional Penilai PBB Fungsional Pemeriksa Account Representative Pelaksana Persentase 1% 11% 2% 13% 21% 52%

Jenis Kelamin Perempuan laki-laki

Tingkat Pendidikan SMA Diploma I Diploma III Diploma IV/S1 S2

Persentase 17% 30% 24% 22% 7%

Golongan Pangkat II A II B II C II D III A III B III C III D IV B

Persentase 7% 10% 16% 17% 14% 19% 4% 12% 1%

Distribusi Pegawai Kepala Kantor Sub Bagian Umum PDI Ekstensifikasi Pelayan Penagihan Pemeriksaan Wsakom I Waskom II Waskom III Fungsional Pemeriksa Fungsional Penilai

Persentase 1% 10% 10% 8% 18% 6% 4% 11% 10% 7% 13% 2%

13

F.

Sistem Manajemen Dengan kondisi kerja yang penuh sterssor baik fisik maupun

psikologi, menejemen menerapkan sistem komposisi pegawai dengan lebih banyak merekrut karyawan laki-laki dari pada perempuan. Pada seleksi penerimaan karyawan, tidak hanya menggunakan tes intelegensi saja namun juga menggunakan tes kesehatan. Hal ini dilakukan agar karyawan yang terjaring memiliki ketahanan fisik yang kuat sehingga nantinya dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan kerja. Kantor menyediakan fasilitas klinik kesehatan bagi karyawan yang kurang sehat dan mengadakan pemerikasaan kesehatan berkala bagi karyawannya. Karyawan diberi fasilitas asuransi kesehatan bagi dirinya dan keluarga untuk menjamin kesehatannya. Untuk mengurangi tingkat stress, kantor menyediakan fasilitas rekreasi bersama pada salah satu akhir pekan atau ketika libur nasional. Untuk meminimalisir resiko sakit karena lingkungan pekerjaan, kantor berusaha untuk memodifikasi lingkungan kerja kantor. Misalnya dengan penggunaan kursi yang menunjang sikap duduk yang baik dan adanya ventilasi yang cukup baik. G. Kode Etik Sejalan dengan penerapan Sistem Administrasi Modern di lingkungan Direktorat Jendral Pajak dan untuk meningkatkan citra Direktorat Jendral Pajak di masyarakat, diterapkan panduan standar perilaku pegawai Direktorat Jendral Pajak berupa Kode Etik Pegawai. Kode Etik Pegawai Direktorat Jendral Pajak adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan yang mengikat pegawai Direktorat Jendral Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam 14

pergaulan hidup sehari-hari. Dengan Kode Etik, segenap jajaran Direktorat Jendral Pajak dituntut untuk mengetahui, memahami, menghayati dan melaksanakan tugas sesuai prinsip-prinsip tata pemerintah yang baik (Good Governance). Dengan Kode Etik Pegawai diharapkan akan membawa perubahan paradigma dan pola tindak pegawai dilingkungan DJP yang pada akhirya akan meningkatkan citra DJP. Penerapan Kode Etik Pegawai DJP memuat 9 kewajiban dan 8 larangan bagi pegawai DJP. Penerapan Kode Etik Pegawai ini dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya baru berupa sikap Zero Tolerance seluruh pegawai terhadap praktek-pratek KKN sehingga tercapai Good Governance. Untuk menjamin pelaksanaan Kode Etik Pegawai, Direktorat Kepatuhan Internal dan Tranformasi Sumber Daya Aparatur selaku pihak internal DJP melakukan pengawasan secara intensif. Pengawasan dari pihak eksternal dilakukan oleh Badan Independen, yaitu: 1. Komite Kode Etik Pegawai (Setjen Depkeu) 2. Komisi Ombudsman Nasional (Desk Pengaduan Mayarakat) 3. Tim Khusus Itjen Depkeu III. Faktor Resiko dan Masalah Kesehatan yang Timbul Faktor Resiko Masalah kesehatan dalam lingkungan pekantoran tidak kalah dengan masalah kesehatan di pabrik-pabrik. Faktor-faktor yang mendorong timbulnya masalah tersebut antara lain: 1. Faktor Sosial Ekonomi Salah satu masalah yang timbul yaitu stress, yang disebabkan karena terlalu banyaknya pekerjaan dan juga adanya konflik dengan rekan sesama karyawan atau dengan atasan. Stress ini termasuk dalam masalah kesehatan mental dan psikologi. 2. Faktor Resiko dan Gaya Hidup Pekerja Perkantoran Gaya hidup yang salah sering menimbulkan masalah pada para pekerja, seperti: 15

H. Karena terlalu sering duduk di belakang meja, sehingga aktivitas gerak mereka kurang. Hal tersebut dapat menyebabkan aliran darah kurang lancar sehingga timbul masalah pegal-pegal, linu di daerah punggung, pinggang, leher dan bahu. Kebiasaan lainnya seperti merokok, minum kopi, dan alkohol juga sering menimbulkan masalah. Kebiasaan makan makanan cepat saji (karena kurangnya waktu istirahat) sering menimbulkan masalah yang serius seperti stroke dan jantung koroner. Bagi operator komputer, sering timbul masalah dengan penglihatannya seperti mata perih, berair, dan mata merah Kebiasaan para pekerja untuk lembur dapat merangsang timbulnya stress akibat terlalu memaksakan diri dalam bekerja 3. Faktor Struktur Bangunan dan Lingkungan Kerja Hal yang sering menimbulkan masalah antara lain : ventilasi, kinerja AC gedung yang buruk (suhu AC di dalam gedung bertingkat biasanya terlalu dingin, yaitu berkisar antara 20-23 derajat Celsius, yang membuat dan bakteri-bakteri Legionella merugikan spleluasa seperti Chlamydia, di saluran Escheriachia bergerilya

pernapasan), pencemaran zat kimia yang ada di dalam gedung, seperti mesin fotokopi, pengharum ruangan, larutan pembersih, atau bahan kain pelapis dinding juga menyebabkan gangguan pernapasan, pencahayaan, dan sanitasi yang kurang memenuhi persyaratan. Dari hal- hal di atas, masalah kesehatan yang mungkin timbul antara lain : sesak nafas, asma, dan pneumoconeosis. Masalah Kesehatan yang Timbul di Perkantoran Pada umumnya, penyakit yang sering muncul pada pekerja perkantoran adalah sress dan penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang sering mengenai para pekerja perkantoran tersebut antara lain : 1. Batuk 16

Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi debu, asap dan benda benda asing kecil merupakan penyebab paling sering dari batuk. Perokok sering kali menderita batuk kronik karena terus menerus mengisap benda asing (asap) dan saluran nafasnya sering mengalami peradangan kronik. Orang orang yang bekerja pada perkantoran dan perbankan mempunyai resiko terkena batuk lebih besar. Hal ini disebabkan karena umumnya mereka bekerja pada suatu ruangan tertutup (ventilasi kurang), sehingga resiko inhalasi debu dan asap lebih besar. Hal ini diperparah apabila dalam ruangan tertutup tersebut terdapat perokok sehingga ruangan itu dipenuhi asap rokok. 2. Dispnea Sering disebut sebagai sesak nafas, adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluh nafasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Dispnea merupakan keluhan yang biasa pada syndrome hiperventilasi pada orang orang sehat yang mengalami stress emosi. Orang orang yang bekerja pada ruangan tertutup tentu saja memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami dispnea. Hal ini diperparah bila orang tersebut mempunyai rasa takut secara psikis bahwa dia tidak dapat memperoleh jumlah udara yang cukup. Seseorang menjadi sangat dispnea terutama akibat pembentukan karbondioksida yang berlebihan dalam cairan tubuh. Namun, pada suatu waktu karbondioksida dan oksigen dalam cairan tubuh dalam batas normal. Tetapi untuk mencapai gas gas ini dalam batas normal, orang tersebut harus bernafas dengan kuat sekali. Pada keadaan seperti ini, aktivitas otot otot pernafasan yang sering kali membuat seseorang merasa dalam keadaan dispnea berat. 3. Sianosis Sianosis merupakan salah satu tanda pertukaran gas yang kurang memadai. Hal ini ditandai dengan warna kebiru biruan pada kulit dan 17

selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan absolut hemoglobin tereduksi (hemoglobin yang tidak berikatan dengan O2). Dapat merupakan tanda insufisiensi pernafasan, meskipun bukan merupakan tanda yang diandalkan. Ada 2 jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi hemoglobin dalam paru paru, dan yang paling mudah diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga serta bagian bawah lidah. Sianosis perifer akan terjadi apabila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat menurunkan saturasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru. Sianosis perifer dapat terjadi akibat infusiensi jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah akibat suhu yang dingin. Pada orang yang bekerja di suatu perkantoran ataupun perbankan, sering terkena suhu yang dingin akibat penggunaan AC yang terus menerus dalam suatu ruangan kerja. Oleh sebab itu, orang orang yang bekerja pada ruangan yang ber AC mempunyai resiko yang lebih besar terkena sianosis khususnya sianosis perifer 4. Empisema Paru Kronik Empisema paru kronik yang dapat muncul bila seseorang menghisap asap rokok dalam jangka waktu yang lama. Orang orang yang bekerja pada perkantoran yang ruangannya tidak berAC dan kebetulan di dalam ruangan tersebut terdapat perokok, maka seluruh pegawai dalam ruangan tersebut mempunyai resiko untuk terkena empisema paru kronik. Empisema paru kronik yang disebabkan oleh asap rokok ini diakibatkan oleh adanya bahan bahan yang dapat mengiritasi bronkhus dan bronkhiolus. Bahan bahan tersebut mengacaukan mekanisme pertahanan normal saluran pernafasan termasuk kelumpuhan sebagian silia epitel pernafasan oleh efek nikotin. Sehingga mukus tidak dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran nafas. Perangsangan sekresi mukus yag berlebihan yang selanjutnya mengakibatkan kekambuhan kondisi ini, dan hambatan terhadap 18

makrofag alveolus sehingga menjadi kurang efektif dalam memerangi infeksi. 5. Carpal Turner Syndrom Pada karyawan yang bertugas di bagian PDI memiliki resiko terkena carpal turner syndrom karena aktivitas kerja yang selalu melakukan pengetikan dengan cepat selama sehari penuh. Carpal tunnel syndrome (CST) adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan/penekanan saraf pada pergelangan tangan. Kumpulan gejala oleh penekanan nervus medianus pada terowongan karpal, berupa nyeri, paresthesi, terbakar dan kesemutan di jari-jari dan tangan yang terkadang menjalar ke siku. Nervus medianus melewati kanalis karpus tersebut. Meliputi jari-jari tangan. 6. Stress Emosi Selain penyakit pernafasan, orang orang yang bekerja pada perkantoran ataupun perbankan juga mempunyai kecenderungan untuk mengalami stress emosi. Stress ini dapat disebabkan karena banyaknya pekerjaan yang dibebankan pada mereka, konflik dengan teman sekantor ataupun karena kebosanan terhadap pekerjaan yang monoton di kantor. Untuk menghindari terjadinya stress perlu diciptakan suatu suasana kerja yang harmonis dan variatif. Suatu hal yang sering kita lupakan pada tinjauan aspek klinik adalah kedudukan pegawai wanita yang hamil. Dalam suatu perkantoran pada umumnya belum diatur secara jelas apa yang menjadi hak mereka. Misalnya, mereka berhak mendapat cuti selama berapa bulan. Namun, yang perlu diingat bahwa selama pegawai tersebut cuti hamil mereka tetap mendapatkan gaji secara utuh. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menetapkan suatu UU yang mengatur hal ini. 7. Sick building syndrome Merupakan kondisi ketika para pekerja dalam suatu gedung mengalami penurunan kesehatan yang berkaitan dengan lamanya waktu berada di dalam gedung. Pada kasus yang ringan, keluhan ini akan 19

menghilang ketika Anda keluar dari gedung tersebut. Keluhan yang dialami biasanya menetap dalam waktu setidaknya selama dua minggu. IV. Strategi Penanggulangan Dalam melakukan strategi penanggulangan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan yaitu: 1. Proses Kerja Agar proses kerja pada perkantoran modern berjalan optimal, maka proses kerja yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. Halhal yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan proses kerja diantaranya: a. Sikap tubuh dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, alat petunjuk dan cara-cara dalam menggunakan mesin (gerak, arah dan kekuatan) b. Untuk normalisasi ukuran mesin dan alat-alat kerja, harus diambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat diperkecil dan dapat dipakai oleh tenaga kerja yang lebih kecil. Misalnya; kursi dapat dinaik turunkan, tempat duduk yang dapat dimaju-mundurkan, dll. c. Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang, dinasehatkan untuk duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan pemilihan sikap duduk tegak diselingi istrirahat dengan sedikit membungkuk. 2. Pengendalian Lingkungan Kerja a. Lingkungan fisik Pekerjaan yang memerlukan ketelitian harus mendapat penerangan yang intensitasnya tinggi (1000 luks). Pekerjaan yang memerlukan perbedaan dalam waktu yang pendek dan kontras harus mendapat penerangan sedikitnya 3000 luks. Pekerjaan kasar 20

yang tidak memerlukan penglihatan yang kritis harus mendapat penerangan sedikitnya 50 luks. Selain intensitas penerangan, kesilauan dan kedipan antara obyek kerja dan sekitarnya juga harus diperhatikan. Sumber cahaya lain selain dari matahari tidak boleh menimbulkan panas berlebihan atau merusak susunan udara sehingga mengakibatkan gangguan dalam bekerja. Membersihkan mesin atau peralatan lain (seperti AC) dari debudebu yang bisa masuk per inhalasi dan mengganggu kesehatan secara rutin Jika memungkinkan, membuka pintu atau jendela di pagi hari sebelum polusi udara di luar tinggi untuk memberi udara segar masuk. Meminta manajemen gedung untuk meningkatkan perawatan gedung sehingga karpet, perabot serta meja dan kursi di kantor tidak terlalu berdebu. Menghindari pula menyalakan AC secara nonstop dan penyemprotan pewangi ruangan secara berlebihan. Sesekali, mengistirahatkan AC agar kuman tidak berkembang biak di AC. Meminta kepada pengurus gedung agar membuka jendela lebarlebar beberapa menit sebelum AC dinyalakan. Membiarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan, karena panasnya akan membunuh sebagian besar kuman. b. Lingkungan kimia melarang konsumsi rokok pada ruang ber AC Meminimalkan penggunaan pengharum ruangan atau larutan pencuci karpet yang baunya cukup tajam. c. Lingkungan Biologi

21

Mengatur kelembaban udara, pH, suhu sehingga mikroba dan jamur tidak tumbuh Memajang tanaman hias di sekitar ruangan serta meja kerja karyawan. Sebab tanaman hias dalam ruangan terbukti mampu menguraikan udara tercemar dalam gedung. Tanaman yang bisa dipilih di antaranya bonsai beringin (Ficus menyamina), palempaleman (Rhapis), jenis-jenis kaktus kecil (Cactus), atau tanaman lidah mertua (Sanseviera).

d. Lingkungan sosial budaya Menciptakan suasana perkantoran yang kondusif. Keharmonisan antar karyawan dan antar karyawan dengan atasan akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, selain itu bisa mengurangi penyakit yang sering menyerang karyawan yaitu stress. 3. Manajemen Pelayanan Kesehatan Kerja pada Karyawan a. Primer level of prevention Penyuluhan kesehatan yang dapat dilakukan diantaranya tentang gizi yang baik (karena kebanyakan pekerja perkantoran lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji akibat waktu istirahat yang terbatas, dimana makanan cepat saji ini disinyalir menjadi penyebab stroke dan penyakit jantung koroner), sanitasi individu dan lingkungan kerja, kebiasaan hidup sehat dan kegiatan sosial/rekreasi serta spiritual b. Secondary level Early diagnosis terhadap karyawan sehingga jika dimungkinkan adanya penyakit kerja maka akan segera diketahui dan diterapi. Sehingga fungsi tubuh bisa cepat kembali dan tidak menimbulkan kecacatan c. Rehabilitation 4. Sistem Manajemen

22

a. Kebijakan perusahaan dalam pemberian upah yang sesuai sehingga karyawan tidak mencari kerja sambilan yang akan mengganggu produktivitas kerja dan juga kesehatannya b. Pengadaan sarana kesehatan yang memadai seperti klinik, rumah sakit dan yang lainnya c. Pemberlakuan sangsi bagi pekerja yang melanggar aturan kesehatan dan keselamatan kerja d. Adanya pembagian shift ataupun kerja malam secara proporsional, karena pada pekerja malam (lemburan) akan menyebabkan: Irama faal terganggu Adanya ketidakseimbangan elektrolit tubuh Kelelahan yang sangat akibat kuatnya kerja parasimpatis dibanding simpatis e. Adanya kebijakan bahwa pekerja dalam sehari tujuh jam dan 35 jam dalam seminggu 5. Pelaksanaan UU yang berhubungan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (a) UU Kerja No. 3 Tiap-tiap minggu harus diadakan sedikitnya sehari untuk istirahat (b) PP Menaker No. 7 Tahun 1964 Memenuhi ukuran yang sesuai dengan tubuh tenaga kerja Nyaman sehingga menghindarkan ketegangan otot dan Memudahkan gerakan untuk bekerja, harus ada sandaran kita dan sesuai dengan bentuknya kelesuan yang berlebihan punggung (c) UU No. 14 Tahun 1969 tentang ketentuan pokok tenaga kerja Memuat ketentuan pokok tenaga kerja, mengatur hygiene perusahan dan kesehatan kerja (d) Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1951 Buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jikalau pekerjaan dilakukan malam hari atau berbahaya 23

bagi kesehatan atau keselamatan buruh, waktu kerja tidak boleh lebih dari 6 jam sehari dan 35 jam seminggu (Pasal 10 Ayat 1)

DAFTAR PUSTAKA Alphatino. 2009. Gangguan di Perkantoran Modern. http://alphatino.blogspot .com/2009/06/gangguan-pada-karyawan-di-perkantoran.html. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.00 Adi. 2010. Pekerja Kantor Rawan Sick Building Syndrome http://www.gajimu.com/main/news/berita/pekerja-kantor-rawan-sickbuilding-syndrome. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 11.00

Erik. 2004. Masalah Kesehatan Berkaitan dengan Penggunaan Komputer Pribadi. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi? newsid1 078198611,65486. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.30 Hartanto, Yudha. 2008. Tanaman Hias Indoor Berpengaruh Terhadap Kesehatan.http://embunflora.multiply.com/journal/ tem/17/Tana manhiasIndoor_Berpengaruh_Terhadap_Kesehatan_ . Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.30

24

Freya. 2009. Bahaya Sepatu Hak Tinggi. http://akuyanganeh .blogspo t.com/2009/06/bahaya-sepatu-hak-tinggi.html. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.45 Medicastore. 2010. Sindrom Carpal Tunnel. http://medicasto re.com/penyakit/591/Sindrom_Carpal_Tunnel__.html Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.30 Qauliyah, Asta. 2006. http://astaqauliyah.com/2006/02/17/kesehatan-dankeselamatan-kerja-perkantoran. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.00 2009. Awas, sick building syndrome. http://www.wawasa ndigital.com/index.php? option=com_content&task=view&id=14507&Itemid=43. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 11.00 Digest & Brown Cake. 2010. Sick Building Syndrome http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/1917495-sickbuilding-syndrome/. Diakses pada 21 maret 2010 pukul 11.30

Ranita.

Readers,

Wibowo, Adril. 2009. Kesehatan dan keselamatan kerja di lapangan kerja. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/%E2%80%9Ckesehatandan-keselamatan-kerja%E2%80%9D/ Diakses pada 21 maret 2010 pukul 10.15

Tugas Makalah CHN VI

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kantor Pajak Malang

25

Oleh Kelompok : Ayu Nanda Lestari Citra Setya Sakti Lailul Nadziroh Niko Dima K Renny Nova Shofiyatun Ningsih 0610720003 0610723008 0610720022 0610720033 0610723023 0610720048

Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang 2010

26