Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia CetakSurel Ditulis oleh Ronny, M.Kom, M.

H (Ronny Wuisan)* Rabu, 17 Februari 2010 05:52 Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Konten Multimedia yang telah disusun oleh Depkominfo beberapa saat yang lalu sedang diuji publik dari tanggal 11 Februari 2010 s/d 19 Februari 2010 untuk mendapatkan masukan dari masyarakat agar RPM tersebut lebih sempurna dan penerapannya dapat efektif. Sebenarnya, RPM Konten Multimedia merupakan pengaturan lebih lanjut atas Konten yang dilarang dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) meliputi diantaranya perjudian, pornografi, penghinaan dan pencemaran nama baik, berita bohong. RPM Konten Multimedia merupakan pengaturan secara teknis mengenai tanggungjawab Penyelenggara jasa Multimedia dan peran Tim Konten Multimedia dalam mengawasi dan melakukan tindakan terhadap konten yang dilarang. Dalam UU ITE, khususnya bab VII melarang Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan seperti melanggar kesusilaan, perjudian, pemerasan dan/atau pengancaman, berita bohong. Frasa "Setiap Orang" menunjukkan keberlakuannya baik terhadap Penyelenggara maupun Pengguna jasa Multimedia. RPM Konten Multimedia dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum dari perbuatan orang lain yang menyalahgunakan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik. Perlindungan kepentingan umum tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan tanggungjawab Penyelenggara jasa Multimedia dan peran Tim Konten Multimedia, tanpa bermaksud untuk meniadakan tanggungjawab Pengguna. Dalam Pasal 9 ayat 1 huruf c RPM Konten Multimedia dinyatakan bahwa ³keharusan bagi Pengguna untuk tunduk pada hukum negara Republik Indonesia´. Hal ini berarti bahwa ketika Pengguna memuat konten yang dilarang maka Pengguna akan dijerat dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku diantaranya UU ITE. Dalam masa uji publik RPM Konten Multimedia telah menuai banyak tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat. Pada bagian berikut ini, beberapa komentar dari saya atas tanggapan tersebut. Tanggapan 1 : RPM cuma di arahkan ke Wadah, Media, dan Providernya. Sementara pada hari ini content lebih banyak bersifat Blog, Diskusi di Forum atau Tweet. Di dunia Internet, prinsip tanggung jawab yang di pegang adalah end-to-end. RPM tidak mengatur sama sekali pertanggung jawaban sumber berita / informasi /pengupload. Komentar saya : RPM ini memang lebih dominan mengatur tentang tanggungjawab Penyelenggara jasa Multimedia dan peran Tim Konten Multimedia dalam mengawasi dan melakukan tindakan terhadap konten yang dilarang. Meskipun demikian, dalam Pasal 9 ayat 1

dan/atau disimpan oleh Pengguna yang dilakukan dengan cara melakukan penyaringan. Komentar saya : Dalam Pasal 2 ayat 2 dinyatakan "Tujuan dari pembentukan Peraturan Menteri Kominfo ini adalah untuk memberikan pedoman kepada Penyelenggara untuk bertindak secara patut. Hal ini berarti bahwa Penyelenggara tidak boleh bertindak sewenangwenang dan selalu dalam pengawasan atau pemantauan Direktur Jenderal. Komentar saya : Penyaringan yang dimaksudkan dalam Pasal 8(c) memperhatikan pula kemampuan dari Penyelenggara jasa Multimedia. dalam Pasal 14 ayat 3 dinyatakan "Penyelenggara dapat menghapus Konten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila ada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap". Penyelenggara menyediakan sarana penyaringan menurut upaya terbaik Penyelenggara sesuai dengan kapasitas Teknologi Informasi. Selanjutnya. RPM ini sudah jelas meminta Penyelenggara untuk bertindak hati-hati. Apalagi dalam Pasal 20 ayat 1 dinyatakan bahwa "Direktur Jenderal berwenang melakukan pemantauan dan penilaian untuk mendorong Penyelenggara mematuhi Peraturan Menteri ini". Apalagi.huruf c jelas bahwa pertanggungjawaban bukan hanya pada Penyelenggara tetapi juga pada Pengguna. ditransmisikan. teliti. tetapi tentu tindakan tersebut akan merugikan pengguna itu sendiri. maka dengan memalsukan identitasnya. Tanggapan 5 : . Tanggapan 3 : Dalam pasal 9 ayat 1 huruf b yang mewajibkan keharusan bagi pengguna untuk memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai identitas dan kontaknya saat mendaftar dianggap tidak ada jaminan. dan hati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya yang terkait dengan Konten Multimedia". diumumkan. Tanggapan 2 : Dalam Pasal 8(c) dimana penyelenggara wajib memantau seluruh Konten dalam layanannya yang dimuat. dia tidak dapat menggunakan haknya untuk melakukan upaya hukum atas keberatan terhadap tindakan Penyelenggara tersebut. dan secara patut untuk menghindari tindakan represif. Tanggapan 4 : Pasal 14 yang memungkinkan penyelenggara wajib meminta pengguna untuk menghapus dari Sistem Elektronik Penyelenggara Konten yang telah diputuskan oleh Penyelenggara atau Tim Konten Multimedia sebagai Konten yang dilarang bisa diterjemahkan sangat represif. teliti. kapasitas finansial. dalam UU ITE sudah ditegaskan larangan setiap orang (baik Penyelenggara maupun Pengguna) mendistribusikan dan/atau mentransmisikan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan dilarang. dan otoritas yang dimilikinya (sudah dijelaskan dalam Pasal 10 ayat 1). Ketika Penyelenggara melakukan penutupan akses (blocking) terhadap konten yang dimuat oleh Pengguna. Komentar saya : Seorang pengguna mungkin saja memalsukan identitasnya. Tindakan penyaringan tidak mudah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa Penyelenggara tidak boleh melakukan tindakan secara represif langsung melakukan penghapusan konten yang dilarang tetapi harus mendapatkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. karena di Internet orang sering mendaftar dengan alamat palsu.

keharusan bagi Pengguna untuk memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai identitas dan kontaknya saat mendaftar. Kelihatannya. Pengguna tidak perlu cemas sepanjang konten yang dimuat tidak melanggar aturan. mendistribusikan. Tanggapan 6 : Kalau mencermati pasal 9 ayat 2 berbunyi ³Penyelenggara dilarang membuat aturan penggunaan layanan yang menyatakan bahwa Penyelenggara tidak bertanggungjawab atas penyelenggaraan jasanya yang digunakan untuk memuat. Pengguna tidak didorong untuk bertanggungjawab terhadap apa yang diproduksinya. Misalnya. mentransmisikan. Pengguna yang memuat konten yang dilarang maka dia dapat dijerat dengan pasal-pasal pidana dalam UU No. dan/atau menyimpan Konten Multimedia´. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. keharusan bagi Pengguna untuk menyetujui ketentuan privasi yang paling sedikit mengenai: kesediaan Pengguna untuk mengizinkan Penyelenggara menyimpan data pribadi dan data penggunaan layanan. keharusan bagi Pengguna untuk menyetujui bahwa jika Pengguna melanggar kewajibannya. Pengguna juga turut bertanggungjawab terhadap apa yang diproduksinya atau dimuatnya.000.Dalam RPM pasal 20 juga diungkapkan bahwa seorang Direktur Jenderal dapat menjadikan penilaiannya atas kepatuhan Penyelenggara dalam melaksanakan Peraturan Menteri ini sebagai salah satu indikator prestasi Penyelenggara dalam melaksanakan ijin penyelenggaraan jasa Multimedia. Sepanjang pengguna tidak memuat konten yang dilarang maka Penyelenggara tidak akan menutup akses (blocking) ke konten itu. membuat dapat diaksesnya. Di pasal 20 ini ada kata-kata ijin penyelenggaraan jasa Multimedia. Hal ini sudah diterangkan dalam Pasal 9 ayat 1 huruf c bahwa ³keharusan bagi Pengguna untuk tunduk pada hukum negara Republik Indonesia´. orang yang memuat konten pornografi diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1. Komentar saya: Penyelenggara bertugas mengawasi dan melakukan tindakan terhadap keberadaan konten yang dilarang yang dimuat oleh pengguna. dan/atau kesediaan Pengguna untuk mengizinkan Penyelenggara mengungkapkan data pribadi dan data penggunaan layanan kepada aparat penegak hukum dan/atau Menteri apabila ada dugaan mengenai perbuatan melawan hukum terkait pemuatan suatu Konten. Penyelenggara dalam hal ini harus bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan pengguna dalam layanan yang disediakannya. Tentu. keharusan bagi Pengguna untuk tunduk pada hukum negara Republik Indonesia.000.00 (satu miliar rupiah).000. maka Penyelenggara dapat menutup akses (blocking) Akses dan/atau menghapus Konten Multimedia yang dimaksud. Blogger dan penulis Web terikat dengan ketentuan Pasal 9 ayat 1. yakni: larangan bagi Pengguna untuk memuat Konten yang menurut Peraturan Menteri ini merupakan Konten yang dilarang. . Jadi blogger & penulis web harus minta ijin kah? Komentar saya : Blogger dan penulis Web sebagai Pengguna jasa Multimedia bukan yang dimaksudkan dalam Pasal 20.

aset. dan/atau membuat dapat diaksesnya Konten yang mengandung muatan privasi. hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas. dan psikis seseorang. ³All Content. Maka ucapkan selamat tinggal kepada Twitter. Bisa dibayangkan apa jadinya bila . antara lain Konten mengenai isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang. Komentar saya : Pengaturan mengenai konten yang dilarang sudah ada dalam UU No. RPM Konten Multimedia mengatur secara teknis mengenai tanggungjawab Penyelenggara jasa Multimedia dan peran Tim Konten Multimedia dalam mengawasi dan melakukan tindakan terhadap konten yang dilarang. penyedia layanan website dilarang menampilkan informasi pribadi seperti alamat. RPM Konten Multimedia lahir sebagai bentuk peran Pemerintah seperti termuat dalam Pasal 40 ayat 2 UU ITE yakni ´melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum´. kondisi keuangan. Komentar saya : Pasal 7 huruf a dimaksudkan untuk melindungi kepentingan pengguna yaitu melindungi konten yang mengandung muatan privasi milik pengguna. Bukan oleh Permen atau PP. orang yang memuat konten yang dilarang sering menggunakan identitas yang palsu. Artinya. Masalahnya. nomor telepon. We may not monitor or control the Content posted via the Services and. sehingga akan menyulitkan aparat penegak hukum untuk menjerat pengguna itu. Any use or reliance on any Content or materials posted via the Services or obtained by you through the Services is at your own risk´. dalam UUD. Jadi urungkan niat anda untuk mengumbar data pribadi anda (mungkin termasuk mengunggah CV/Biografi) ke internet. Oleh karenanya. pendapatan. mentransmisikan. riwayat dan kondisi anggota keluarga. dan/atau catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal. diperlukan peran Penyelenggara jasa Multimedia untuk melakukan penutupan akses terhadap konten yang dilarang. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). email. Tanggapan 9 : Dalam pasal 7 huruf a dinyatakan : Penyelenggara dilarang mendistribusikan. mengeluarkan pendapat baik tulisan atau lisan dan kebebasan berbicara itu diatur oleh UU. intelektualitas. kondisi dan perawatan. Tanggapan 8 : Pada prinsipnya. dan rekomendasi kemampuan seseorang. riwayat.com. pengobatan kesehatan fisik.com kalau peraturan ini (RPM Konten Multimedia) benar-benar disahkan dan berlaku. we cannot take responsibility for such Content. dan rekening bank seseorang.com menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab konten pada orang yang memuatnya. Komentar saya : Memang benar beberapa layanan seperti Twitter. tanggal lahir dan lain-lain.Tanggapan 7 : Bandingkan dengan ketentuan layanan yang dipasang di Twitter. is the sole responsibility of the person who originated such Content. whether publicly posted or privately transmitted.

diumumkan. melakukan pemeriksaan mengenai kepatuhan Pengguna terhadap aturan penggunaan layanan Penyelenggara. atau melawan hukum mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5. tentu pengguna tersebut merasa dirugikan. email apa saja yang diterima dan dikirimkan oleh pengguna.com Komentar #1 17 Februari 2010 18:34 :angry-red: .000. Penyelenggara tidak memeriksa satu demi satu konten yang menuju ke pengguna. Hal ini termasuk website apa saja yang dilihat oleh pengguna. Komentar saya: Pasal 8 mewajibkan Penyelenggara melakukan pemantauan konten dengan cara : membuat aturan penggunaan layanan. Tanggapan 10 : Ada hak istimewa yang diberikan oleh RPM ini kepada penyelanggara. penyelenggara wajib memeriksa satu demi satu konten yang menuju ke pengguna. menyediakan layanan Pelaporan dan/atau Pengaduan. dan juga konten yang berasal dari pengguna.00 (lima miliar rupiah). ³Penyelenggara wajib memantau seluruh Konten dalam layanannya yang dimuat. tetapi memeriksa konten berdasarkan pelaporan dan/atau pengaduan. Sumber: ronny-hukum. dan juga konten yang berasal dari pengguna. tanpa hak.blogspot.000. seperti tertulis pada Bab III pasal 8. melakukan Penyaringan. menganalisa Konten Multimedia yang dilaporkan dan/atau diadukan oleh Pengguna. Secara teknis. lalu menindaklanjuti hasil analisis tersebut. dan/atau disimpan oleh Pengguna«´ yang diteruskan dengan butir b pada pasal yang sama ³melakukan pemeriksaan mengenai kepatuhan Pengguna terhadap aturan penggunaan layanan Penyelenggara´. Penyelenggara melakukan pemeriksaan mengenai kepatuhan pengguna terhadap aturan penggunaan layanan penyelenggara yang termuat dalam Pasal 9 ayat 1 (lihat sebelumnya di tanggapan 5). Seseorang yang melaporkan ke Penyelenggara bahwa terdapat konten yang dilarang yang dimuat oleh seorang pengguna. ditransmisikan. Dalam UU ITE pada pasal 32 ayat 3 jo Pasal 48 ayat 3 dinyatakan bahwa Bagi setiap orang secara sengaja. tentu saja hal ini hampir mustahil bisa dijalankan. * Penulis adalah Dosen dan Praktisi Hukum Telematika di Indonesia. maka Penyelenggara wajib menanggapi laporan tersebut dengan menganalisa konten tersebut. dan menindaklanjuti hasil analisis atas Laporan dan/atau Pengaduan dari suatu Konten Multimedia Jadi.000.Penyelenggara jasa Multimedia mengumbar data pribadi dari seorang pengguna seperti kondisi keuangan atau aset yang dimilikinya ke publik. Bayangkan.

bagaimana cara penyelenggara dapat memastikan pengguna memberikan informasi yang sesungguhnya..jika memang menurut bapak RMP ini sudah sempurna... orang yang memuat data palsu itu tentunya orang itu memang tidak berniat untuk melakukan pengaduan kan pak..jelas2 saya menilai bapak hanya seorang teoritis.karena semua orang tentu mengharapkan yang terbaik.Sedikit komentar untuk tanggapan no 3.. pribadi saya menilai masih banyak kekurangan dari RPM tersebut dan saya berharap adanya revisi ulang yang melibatkan beberapa pakar IT (Pakar IT ASLI bukan pakar IT PALSU) agar tidak timbulnya masalah lain di kemudian hari.. pasal ini mematahkan komentar bapak untuk tanggapan 10 karena disini penyelanggara wajib melakukan pemeriksaan rutin yang pastinya akan merepotkan penyelenggara yang mempunya member yang banyak pada contoh ini kaskus(karena saya melihat bapak ini mengkomentar tanggapan dari andrew darwin) lagipula tolong cukup jujur saja. terima kasih. lagipula tanggapan bapak tidak menyelesaikan masalah dari komentar ke 3. . lalu pada pasal 9 ayat 3 (3) Penyelenggara wajib melakukan pemeriksaan secara rutin mengenai kepatuhan Pengguna terhadap aturan penggunaan layanan Penyelenggara..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful