1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keadaan tubuh yang sehat diperoleh dari keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala dan lingkar lengan. Jika keseimbangan tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk . Krisis yang melanda perekonomian Indonesia pada pertengahan tahun 1997 telah berpengaruh negatif terhadap kondisi perekonomian secara menyeluruh dan khususnya terhadap kesejahteraan penduduk. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengakses pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi terutama anak balita. Dengan demikian status gizi balita perlu dipertahankan dalam status gizi baik, dengan cara memberikan makanan bergizi seimbang yang sangat penting untuk pertumbuhan. Menurut data RisKesDas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2010 di Indonesia Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17,9 % diantaranya 4,9 % yang menderita gizi buruk. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30,5%), dan terendah adalah Provinsi Sulut (10,6%). Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35,6 %, dengan rentang 22,5 % (DI Yogyakarta) sampai 58,4 % (NTT). Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13,3 %, dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%), dan terendah adalah Bangka Belitung (7,6%). Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur, Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur, Balita Pendek dan Balita Kurus. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15,9 persen tahun 2007 menjadi 15,2 % tahun 2010 prevalensi balita pendek turun dari 32,7% tahun 2007 menjadi 31,4 % tahun 2010 dan prevalensi balita kurus turun dari 13,1 % tahun 2007 menjadi 12,5% tahun 2010.

2

Gizi kurang dan gizi buruk pada balita berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Secara tidak langsung gizi kurang dan gizi buruk dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat gizi yang dapat berakibat panjang, yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan penyakit tertentu. Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang. Dengan demikian jelaslah masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat untuk melakukan perbaikan gizi. Untuk provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan laporan riset kesehatan dasar (RisKesdas) pada tahun 2010 menyatakan bahwa status gizi balita berdasarkan indikator BB/U dengan prevalensi balita yang menderita gizi buruk dan kurang sebesar 23,7%, Berdasarkan indikator TB/U diperoleh prevalensi balita yang menderita gizi buruk dan kurang sebesar 38,9%, Berdasarkan indikator BB/TB diperoleh prevalensi balita yang menderita gizi buruk dan kurang sebesar 14,2%. Untuk kota Lhokseumawe sendiri berdasarkan laporan riset kesehatan dasar 2007 berdasarkan indikator BB/U diperoleh persentase balita dengan kategori gizi buruk sebesar 9,8%, gizi kurang 14,2%, gizi baik 70,4%, gizi lebih 5,6%.Berdasarkan

indikator TB/U diperoleh persentase balita dengan kategori sangat pendek sebesar 25,7 %, pendek 18,7 %,normal 55,7%. Berdasarkan indikator BB/TB diperoleh persentase balita dengan kategori sangat kurus sebesar 11,2 %, kurus 10,0%, normal 56,0%, gemuk 22,7%. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil judul : ³ FaktorFaktor Yang Berhubungan dengan Status Gizi Pada Balita Di Puskesmas Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe´. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana gambaran status gizi balita yang berkunjung diPuskesmas kecamatan muara satu kota Lhokseumawe pada bulan Oktober 2011? 2. Bagaimana gambaran asupan makan balita yang berkunjung dipuskesmas

kecamatan muara satu kota hokseumawe pada bulan Oktober 2011? 3. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan Ibu balita yang berkunjung

dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011? 4. Bagaimana gambaran status ekonomi balita yang berkunjung dipuskesmas

kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011?

3

5. Bagaimana hubungan asupan makan terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011? 6. Bagaimana hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011? 7. Bagaimana hubungan status ekonomi terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita dipuskesmas kecamatan muara satu Kota Lhokseumawe. 1.3.2 Tujuan Khusus Untuk mengetahui gambaran status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui gambaran asupan makan balita yang berkunjung dipuskesmas

kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu balita yang berkunjung

dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui gambaran tingkat status ekonomi ibu balita yang berkunjung

dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui hubungan asupan makanan terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011. Untuk mengetahui hubungan status ekonomi ibu terhadap status gizi balita yang berkunjung dipuskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe pada bulan Oktober 2011.

4

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu gizi, serta dapat menyampaikan pada masyarakat tentang cara-cara untuk meningkatkan status gizi balita agar lebih baik. 2.Bagi Puskesmas Hasil penelitian diharapkan sebagai masukan mengenai status gizi diwilayah kerja puskesmas kecamatan muara satu kota lhokseumawe. 3. Bagi Masyarakat Dengan dipublikasikan skripsi ini diharapkan masyarakat mempunyai

pengetahuan gizi yang baik, sehingga berusaha untuk selalu meningkatkan status gizi keluarga terutama pada balitanya. 4.Pemerintah Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang dapat membantu dalam menanggulangi masalah gizi balita. 5.Ilmuan-ilmuan lainnya Dengan adanya penelitian ini semoga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan kedokteran serta dapat menjadi bahan informasi bagi penelitian lebih lanjut oleh ilmuan-ilmuan lainnya.

5

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Status Gizi Balita Usia balita ialah rentang umur 1-5 tahun.16 Masa balita merupakan proses pertumbuhan yang pesat dimana memerlukan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan lingkungannya. Disamping itu balita membutuhkan zat gizi yang seimbang agar status gizinya baik, serta proses pertumbuhan tidak terhambat, karena balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi.18 Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan panjang tungkai.4 Jika keseimbangan tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk.1 Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh.3 Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik,

perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.

2.2

Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan dengan

menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang berisiko atau dengan status gizi buruk.21 Untuk menentukan status gizi seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan interpretasi informasi dari hasil beberapa metode penilaian status gizi yaitu: penilaian konsumsi makanan, antropometri,

laboratorium/biokimia dan klinis. Dalam penilaiannya terbagi menjadi 2 cara penilaian yaitu penilaian secara langsung dan secara tidak langsung.2

6

2.2.1 Penilaian Status gizi secara langsung 1.Antropometri Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.Dalam antropometri dapat dilakukan beberapa macam pengukuran yaitu pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar lengan atas (LILA). Dari beberapa pengukuran tersebut BB, TB dan LILA sesuai dengan umur adalah yang paling sering digunakan untuk survey sedangkan untuk perorangan, keluarga, pengukuran BB dan TB atau panjang badan (PB) adalah yang paling dikenal.3 Melalui pengukuran antropometri, status gizi anak dapat ditentukan apakah anak tersebut tergolong status gizi baik, kurang atau buruk. Untuk hal tersebut maka berat badan dan tinggi badan hasil pengukuran dibandingkan dengan suatu standar internasional yang dikeluarkan oleh WHO. Status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB,TB atau LILA sesuai dengan umur secara sendiri-sendiri, tetapi juga merupakan kombinasi ketiganya. Masing-masing indikator mempunyai makna sendirisendiri.19 Indikator berat badan menurut umur (BB/U) adalah pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang dan otot).2 Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal dimana kesehatan baik, keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin maka berat badan berkembang mengikuti pertumbuhan umur. menunjukkan secara sensitif status gizi saat ini (saat diukur) karena mudah berubah, namun tidak spesifik karena berat badan selain dipengaruhi oleh umur juga dipengaruhi oleh tinggi badan.Sebaliknya dalam keadaan abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur

7

digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan, maka indeks BB/U menggambarkan status gizi seseorang saat ini. 1. Kelebihan Indeks BB/U a. Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum b. Baik untuk status gizi akut atau kronis c. Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil d. Dapat mendeteksi kegemukan. 2. Kelemahan Indeks BB/U a. Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering sulit di taksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik. b. Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak di bawah usia lima tahun. c. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak pada saat penimbangan.

Indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) dapat menggambarkan status gizi masa lampau atau masalah gizi kronis.18 Seseorang yang pendek kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Berbeda dengan berat badan yang dapat diperbaiki dalam waktu singkat, baik pada anak maupun dewasa, maka tinggi badan pada usia dewasa tidak dapat lagi dinormalkan. Pada anak balita kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimal masih bisa sedangkan anak usia sekolah sampai remaja kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan masih bisa tetapi kecil kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan optimal.Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur. Pertambahan TB relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Pengaruh kurang gizi terhadap pertumbuhan TB baru terlihat dalam waktu yang cukup lama. Indikator ini juga dapat dijad ikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk. 1. Keuntungan IndeksTB/U a. Baik untuk menilai status gizi masa lampau. b. Ukuran panjang dapat dibuat sendiri murah dan mudah dibawa.

8

2. Kelemahan Indeks TB/U a. Tinggi badan tidak cepat naik. b. Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya. c. Ketepatan umur sulit didapati. Indikator lingkar lengan atas menurut umur (LL/U) merupakan pengukuran antropometri yang dapat menggambarkan keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit.Ukuran lingkaran lengan atas menentukan massa otot jaringan subkutan.Pengukuran ini sensitif terhadap balita yang menderita kekurangan energi protein (KEP).10 Kelemahan: -Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. -Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada tinggi badan (TB). -Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa. Indikator Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) merupakan indikator yang baik karena dapat menggambarkan secara sensitif masalah gizi akut. Berat badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan mengikuti pertambahan tinggi badan pada percepatan tertentu.Dengan demikian berat badan yang normal akan proporsioanal dengan tinggi badannya.Ini merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini terutama bila data umur yang akurat sering sulit diperoleh.22 1. Keuntungan Indeks BB/TB a. Tidak memerlukan data umur b. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan kurus) 2. Kelemahan Indeks BB/TB a. Tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, karena faktor umur tidak

dipertimbangkan. b. Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalam melakukan pengukuran tinggi badan kelompok balita.

9

Untuk kegiatan identifikasi dan manajemen penanganan bayi dan anak balita gizi buruk akut,maka WHO dan UNICEF merekomendasikan menggunakan indikator BB/TB dengan cut point < - 3 SD WHO 2006. Menurut SK tersebut penentuan gizi status gizi tidak lagi menggunakan persen terhadap median, melainkan nilai Z-score pada baku WHO-NCHS. Secara umum klasifikasi status gizi balita yang digunakan secara resmi adalah seperti Tabel 2.1. Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (Balita) * INDEKS Berat Badan menurut Umur (BB/U) STATUS GIZI Gizi Lebih Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk Normal Pendek (Stunted) Gemuk Normal Kurus (wasted) Kurus sekali AMBANG BATAS **) > +2 SD >= -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai >= -3 SD < -3 SD > = -2 SD < -2 SD > +2 SD >= -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai >= -3 SD < -3 SD

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

Berat badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

*) Sumber : SK Menkes 920/Menkes/SK/VIII/2002. **) SD = Standard deviasi. Berdasarkan Baku Harvard, status gizi dibagi menjadi 4:8 1.Gizi lebih untuk overweight, termasuk kegemukan dan obesitas. 2.Gizi baik untuk well nourished. 3.Gizi kurang untuk under weight, mencakup mild dan moderate PCM. 4.Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwashiorkor dan kwashiorkor. Buku acuan yang digunakan dalam penentuan status gizi ada dua jenis, yaitu lokal dan internasional. Baku acuan internasional adalah Harvard dan NCHS. Indonesia menggunakan buku acuan international WHO-NCHS.4 2. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidak cukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel

10

(supervicial epithelial tissue) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit. 3. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain, darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh (hati dan otot). Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk m enentukan kekurangan gizi yang spesifik. 4. Biofisika Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan.Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi.

2.2.2 Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung 1. Survei konsumsi makanan Survei konsumsi makanan adalah penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.9 Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi k elebihan dan kekurangan zat gizi.

11

2. Statistik vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa satistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. 2.3 Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita 2.3.1 Pola Makan Pola makan balita ialah jumlah nutrisi dan frekuensi pemberian makanan yang diberikan pada balita usia 1-5 tahun(12-60 bulan).17
20 Bahan makanan yang dianjurkan pada balita:

Daging Daging merupakan bahan makanan yang mengandung protein, selain daging makan yang mengadung protein yaitu telur. Daging segar baik untuk dikomsumsi tidak berbau, berwarna merah tua, tidak berulat.. Sayur-Sayuran Sayur-sayuran merupakan bahan makan yang mengandung zat besi misalnya sayuran bayam, kangkung, sawi. Sayur-sayuran yang layak dimakan yaitu sayuran yang tidak busuk, sayuran yang segar, Susu Susu mengandung kalsium. Susu yang paling baik buat bayi adalah ASI. Susu juga didapatkan dari hewan yaitu sapi, domba, dan kuda. Susu juga didapat dari kedelai. Padi Padi merupakan bahan makanan yang mengandung karbohidrat, selain padi makanan yang mengandung karbohidrat yaitu gandum, jagung, dan sagu. Padi digiling jadi beras, beras bisa masak menjadi nasi atau bubur. Ikan Ikan merupakan bahan makanan yang mengandung asam folat, protein hewani, AA dan DHA. Ikan laut sangat baik buat balita khususnya buat perkembangan otak yaitu tongkol, salem, mujair, bandeng dan lain-lain.

12

Tabel 2.2 Anjuran pola makan untuk anak sakit maupun sehat dalam metode Manajemen terpadu balita sakit (MTBS) :8
Sampai umur 6 bulan Berikan air susu ibu sesuai dengan keinginan anak paling sedikit 8 kali sehari,pagi, siang maupun malam Jangan berikan makanan atau minuman lain selain air susu ibu(ASI) Umur 6-9 bulan Umur 9-12 bulan Umur 12-24 bulan Teruskan pemberian Asi Berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak Berikan 3x sehari sebanyak 1/3 porsi makan orang dewasa yang terdiri dari nasi,laukpauk,sayur,ikan dan buah Beri makanan selingan kaya gizi 2x sehari diantara waktu makan (seperti biscuit,kue) Perhatikan variasi makanan Umur 24 bulan atau lebih Berikan makanan keluarga 3x sehari sebanyak 1/3 sampai 1/2 porsi makan orang dewasa yang terdiri dari nasi,laukpauk,sayur,i kan dan buah Beri makanan selingan kaya gizi 2x sehari diantara waktu makan (seperti biskuit,kue)

Teruskan pemberian Asi Mulai pemberian makanan pendamping asi (MP-ASI) seperti bubur,susu, pisang,pepaya lumat halus air jeruk,air tomat saring Secara bertahap sesuai pertambahan umur berikan bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/tempe/ tahu/ daging sapi/wortel/ bayam/kacang hijau/santan/minyak Setiap hari berikan makan sebagai berikut: 6 bulan :2x6 sdm peres 7 bulan :2-3 x 7 sdm peres 8 bulan :3x8 sdm peres

Teruskan pemberian Asi Berikan makanan pendamping asi (MP-ASI) yang lebih padat dan kasar seperti bubur nasi,nasi tim,nasi lembek Tambahkan kuning telur/ayam/tempe/ tahu/ daging sapi/wortel/ bayam/kacang hijau/santan/minyak Setiap hari (pagi,siang, malam)diberikan makanan sebagai berikut : 9 bulan : 3x9sdm peres 10 bulan : 3x10sdm peres 11 bulan : 3x11sdm peres

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi rata-rata yang dianjurkan Oleh Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi ke IV (LIPI, 1988) adalah sebagai berikut:5 Tabel 2.3 Kebutuhan Zat Gizi Balita Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) ratarata perhari
Golongan Umur Balita 0-6 bulan 7-12 bulan 1-3 thn 4-6 thn Berat Badan (Kg) 5.5 8.5 12 18 Tinggi badan (cm) 60 71 90 110 Energi (Kkal) 560 800 1250 1750 Protein (g) 12 15 23 32 Lemak (g) 13 19 28 39 Vitamin A (mg) 350 350 350 460 Vitamin C (mg) 30 35 40 45

13

Jumlah nutrisi dan frekuensi pemberian makanan pada dewasa berbeda dari balita sehingga dibutuhkan perhatian ekstra pada masa balita dimana masa anak yang paling gemilang dalam hal perkembangan dan pertumbuhan anak yang

baik,intelektual,serta jiwanya. Merencanakan Menu Makanan Sehat:
y

Gula dam garam. Melupakan penggunaan gula dan garam pada menu balita. Apabila mereka berusia diatas 1 tahun, batasi penggunanya. Bailta harus mengkonsumsi garam tidak lebih dari 1/6 jumlah maksimum orang dewasa dalam sehari atau kurang dari 1 gram. Cermati makanan anak karena makanan orang dewasa belum cocok untuk anak. Kadang-kadang makanan yang dibuat oleh para ibu terlalu banyak garam atau gula, bahkan mengandung bahan pengawet atau pewarna buatan.

y

Porsi makan. Porsi makan anak juga berbeda dengan orang dewasa. Mereka membutuhkan makanan sumber energi yang lengkap dan bergizi dalam jumlah yang lebih kecil.

y

Kebutuhan energi dan nutrisi. Bahan makanan sumber energi seperti karbohidrat, protein, lemak serta vitamin, mineral dan serat wajib dikonsumsi oleh balita setiap hari. Atur agar semua sumber gizi tersebut ada dalam menu sehari mereka.

Mengembangkan Kebiasaan Makan Sehat Pada Balita 20
y

Mengembangkan kebiasaan makan sehat pada balita perlu lebih dari sekedar menyajikan makanan yang tepat : melainkan berarti menangani semua faktor perilaku, sosial dan lingkungan yang mempengaruhi makan. Orang tua harus mencari kesempatan untuk membantu anak belajar tentang makanan dan terlibat dalam nutrisi mereka sendiri.

y

Balita sekarang mengkonsumsi makanan yang tidak seimbang, mengandung terlalu banyak kalori dengan terlalu banyak kalori dengan terlalu sedikit zat gizi. Piramida panduan makanan USDA bagi balita merupakan sarana yang bermanfaat untuk membuat komponen utama makanan menjadi seimbang, tetapi masih kurang mengandung informasi penting mengenai cara memilih makanan yang paling sehat.

14

Teori yang menghubungkan asupan makanan dengan status gizi balita :aghubungkann dengan status gizi balita: 1. Mengetahui apa yang harus dicari saat memilih makanan dari setiap kelompok dalam piramida itu penting untuk membentuk diet bergizi (Walker, 2006). 2. Susu sebagai salah satu sumber kalsium, juga penting dikonsumsi oleh balita. Sedikitnya balita membutuhkan susu 350 ml/12 ons per hari. Susu merupakan asupan gizi yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak usia 12 bulan ke atas dan menjadi pelengkap menu anak(Yusrianto, 2010). 2.3.2 Tingkat Pendidikan Ibu Pendidikan mempunyai tujuan memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya. Berarti mengembangkan potensi fisik, emosi, sikap moral, pengetahuan dan ketrampilan semaksimal mungkin agar dapat menjadi manusia dewasa. PENDIDIKAN Dalam pencapaian tujuan pendidikan, dapat ditempuh melalui tiga jenis pendidikan yaitu: pendidikan informal, pendidikan non formal, dan pendidikan formal. a. Pendidikan Informal Jenis pendidikan ini meliputi ketrampilan, pengetahuan, sikap, nilai dan cara hidup pada umumnya, berlangsung sepanjang umur dan cara berlangsungnya paling wajar. Berlangsung tidak terikat jam, hari, bulan dan tahun tetapi bisa terjadi setiap saat pada insan yang berinteraksi secara sadar dan bermakna. Jenis pendidikan ini memang tidak diatur dalam suatu organisasi secara struktural dan sama sekali tidak mengenal perjenjangan secara kronologis menurut tingkatan umur maupun tingkatan ketrampilan dan pengetahuan.Adapun suasananya tidak hanya kategori sosial tertentu dari kelompok tertentu, tetapi semua kategori sosial dan kelompok usia. b. Pendidikan Non Formal Tujuan dari pendidikan ini selalu berorientasikan langsung pada hal hal yang penting bagi kehidupan, tergantung pada taraf hidup orang yang bersangkutan secara ekonomis, keadaan budaya, maka ditentukan pada kebutuhankebutuhan praktis ekonomis sesuai dengan keadaan sosial budaya serta lingkungan sekitar. Pendidikan jenis ini perlu diorganisasikan dan isi pendidikan diprogram secara khusus, misalnya praktek kerja lapangan atau magang .

15

c. Pendidikan Formal Ciri pendidikan formal yang sampai saat ini tidak dimiliki oleh pendidikan non formal dan informal adalah adanya penjenjangan kronologis yang ketat untuk tingkattingkat umur populasi sasarannya dan menurut tingkat pengetahuan dan ketrampilan. Hal ini jelas tercermin pada penjenjangan yang mengatur sistem penyampaian dari taman kanak-kanak sampai sarjana di perguruan tinggi. Yang masing-masing jenjang menerima kelompok umur tertentu dan memberikan pengetahuan serta ketrampilan tertentu. Ciri lain yang membedakan secara menyolok yaitu ada pengorganisasian lebih ketat, program lebih formal, perurutan lebih sistematis, adanya sanksi legal dan berlaku untuk semua bidang pada semua lembaga. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.6 Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum, dan pendidikan menengah kejuruan.Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA),Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16

Teori yang menghubungkan tingkat pendidikan Ibu dengan status gizi balita: 1. Tingkat pendidikan khususnya tingkat pendidikan ibu mempengaruhi derajat kesehatan karena unsur pendidikan ibu dapat berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari (Depkes RI, 2004 ). 2. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai nilai yang baru diperkenalkan (Kuncoroningrat, 1997). 2.3.3 Status Ekonomi Faktor status ekonomi sangat berperan dimana status ekonomi yang cukup atau baik akan memudahkan mencari pelayanan kesehatan yang lebih baik. Faktor ekonomi berkaitan erat dengan konsumsi makanan atau dalam penyajian makanan keluarga. Kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi kebutuhan dirinya masing-masing. Keadaan umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya anggota keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan rendah. Status ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluarga di masyarakat berdasarkan pendapatan per bulan. Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang disesuaikan dengan harga barang pokok.12 Menurut (UMR,Kab Madiun 2010) status ekonomi seseorang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: Penghasilan tipe kelas atas > Rp 670.000,00 dan Penghasilan tipe kelas bawah < Rp 670.000,00.13

17

Teori yang menghubungkan status ekonomi keluarga dengan status gizi balita: 1. Status ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun sekunder (Soetjiningsih, 2004). 2. Dinegara Indonesia yang jumlah pendapatan penduduk sebagian rendah adalah golongan rendah dan menengah akan berdampak pada pemenuhan bahan makanan terutama makanan yang bergizi (Hendra Arif W, 2008). 2.4 Kerangka Teori
Status pekerjaan Ibu Status Kesehatan Status Ekonomi keluarga Akses kesehatan Status Gizi

Tingkat pendidikan Ibu

Tingkat pengetahuan bu

Pola Makan

Besarnya keluarga

Pantangan Makan

Sumber : Soetjiningsih, 2004, Depkes RI, 2004, Hendra Arif W, 2008, Walker, 2006 Keterangan: Yang dihitamkan Yang tidak dihitamkan = Yang akan diteliti = Yang tidak akan diteliti

Kerangka teori diatas digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan kerangka konseptual pada bab ke tiga.

18

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Variabel Bebas (Independen)
POLA MAKAN

Variabel Terikat(dependen)

TINGKAT PENDIDIKAN IBU

STATUS GIZI BALITA

STATUS EKONOMI KELUAGA

3.2 Hipotesis Hipotesis mayor :Status gizi balita berhubungan dengan asupan makanan,tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi keluarganya. Hipotesis Minor :Makin baik pola makan yang diberikan semakin baik status gizi balita tersebut. Makin baik tingkat pendidikan ibu semakin baik status gizi balita tersebut. Makin baik status ekonomi keluarga balita tersebut semakin baik status gizi balita tersebut.

19

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 . Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di Desa Blang pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe dan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Oktober Jenis /Rancangan penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan ialah penelitian deskriptif dengan Pendekatan Cross Sectional. 4.2 Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel , dan Besar Sampel 2011. .

Populasi Semua balita yang bertempat tinggal diwilayah Desa Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe berjumlah 208 berdasarkan data desa Blang pulo Kecamatan Muara Satu. Sampel Penelitian Sebagian Balita yang yang bertempat tinggal di Desa Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe. Kriteria Penelitian 1.Kriteria Inklusi Semua balita yang bertempat tinggal di Desa Blang Pulo kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe 2.Kriteria eksklusi
y

Balita yang bertempat tinggal di luarDesa Blang Pulo kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe

y y

Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Balita yang sedang sakit atau sedang terinfeksi suatu penyakit kronis (Diare, TBC, DB, Malaria, Campak, Polio, DPT). Kriteria ini dapat diketahui melalui pertanyaan penyaring pada saat yang bersamaan dengan pengambilan data dengan kuesioner.

20

Teknik Pengambilan Sampel Teknik Pengambilan Sampel yang digunakan adalah Random Sampling (simple stratified). Besar Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari balita di Desa Blang pulo. Berikut cara penghitungan sampel : Keterangan : N: Ukuran Populasi n: Ukuran Sampel d: Tingkat Kepercayaan yaitu 0,1/10% n= N = 1+ N (d )2 1 + 208 (0,1)2 208 = 3,08 208 = 67,5

Berdasarkan penghitungan diatas, maka besar sampel yang digunakan adalah 68 balita. 4.3 Variabel penelitian dan Definisi Operasional

Variabel Penelitian Variabel dependen (terikat) meliputi Status gizi. Variabel independen(bebas) meliputi asupan makanan,tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga. Definisi Operasional Tabel 4.1 definisi operasional
Variabel Dependen Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil ukur Skala ukur

21
Status Gizi keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan balita Cek list WHONCHS BB/TB -Timbangan Anak Salter spring balance dan pijak -Pengukur Tinggi Badan Health Scale (Microtoa) & panjang badan anak (length board) -Tabel Cek List WHO-NCHS BB/TB Berdasarkan indikator BB/TB : - Pendek : < - 2SD - Gemuk : > + 2 SD - Normal : >= - 2SD sampai >= -3 SD - Kurus : < - 2SD sampai > = - 3SD - Kurus sekali : < - 3 SD ordinal

Variabel Independen Pola makan balita

Definisi Jumlah nutrisi dan frekuensi pemberian makanan yang diberikan pada balita usia 1-5 tahun.

Cara Ukur Wawancara

Alat Ukur Kuesioner

Hasil ukur Baik : Apabila dari hasil penelitian didapatkan nilai > median Tidak baik : Apabila dari hasil penelitian didapatkan nilai < median Pendidikan dasar(SD/SMP) Pendidikan menengah SMA sederajat Pendidikan tinggi (Akademi dan perguruan tinggi) tipe kelas atas : > Rp 670.000, tipe kelas bawah : < Rp 670.000, -

Skala ukur Ordinal

Tingkat pendidikan ibu

Pendidikan formal yang ditempuh ibu dan telah mendapat ijazah

Wawancara

Kuesioner

Ordinal

Status ekonomi

Kedudukan seseorang /keluarga dimasyarakat berdasarkan pendapatan per bulan berdasarkan UMR daerah/provinsi 2010

Wawancara

Kuesioner

Ordinal

4.4

Prosedur Pengambilan atau Pengumpulan data

Data Primer Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara responden (Ibu balita) dengan menggunakan kuesioner terlampir . Data Sekunder Meliputi populasi penduduk dan jumlah balita dari data status gizi balita di puskesmas kecamatan muara satu. 4.5 Cara Pengolahan atau Analisa data

1.Pembuatan Kode (Coding)

22

Coding dilakukan sebagai usaha menyederhanakan data yaitu dengan memberi simbol angka pada masing-masing kategori jawaban dari seluruh responden. 2. Pemeriksaan Data (Editing) Dilakukan dengan cara meneliti kembali data yang terkumpul dari penyebaran kuesioner. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul sudah cukup baik. Pemeriksaan data atau editing dilakukan terhadap jawaban yang telah ada dalam kuesioner dengan memperhatikan hal-hal meliputi: kelengkapan pengisian jawaban, kejelasan tulisan, kejelasan makna jawaban, serta kesesuaian antar jawaban.

3.Entry (memasukkan data) Pada tahap ini dilakukan setelah semua data manual terkumpul dan pengkodean untuk pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dalam penelitian ini dengan memasukkan data tersebut ke program computer yang digunakan yaitu SPSS. 4.Cleaning (Membersihkan data) Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan kembali/pengecekan ulang,terhadap data yang telah terkumpul seperti kelengkapan pengisian ,kesalahan pengisian,konsistensi jawaban dari setiap kuesioner dan agar data yang berada diluar range penelitian tidak diikut sertakan. Analisis Univariat Analisis ini dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel.Data hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi untuk mengevaluasi besarnya proporsi masing-masing faktor yang meningkatkan yang ditemukan pada sampel untuk masing-masing variabel yang diteliti.Analisis univariat bermanfaat untuk melihat apakah data sudah layak untuk dilakukan analisis melihat , gambaran data yang dikumpulkan dan apakah data optimal untuk analisis lebih lanjut. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis dua variabel. Dalam penelitian ini digunakan uji Chi-Square dengan Coefficient Contingency untuk menghubungkan variabel terikat dengan variabel bebas.

23

DAFTAR PUSTAKA 1. Almatsier, Sunita, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2. Abunain Djumadias, 1990. Aplikasi Antropometri sebagai Alat Ukur Status Gizi, Puslitbang Gizi Bogor. 3. Departemen FKM UI, 2008. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 4. 5. DepKes, RI, 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta. DepKes RI. Kandungan Makanan Sehat.dikutip dari: Http//www.depkes.co.id. pada tanggal 10 Maret 2010 6. Departemen pendidikan nasional, 1996-2011. dikutip dari :

Http//www.depdiknas.go.id 7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000.dikutip dari :

www.depkes.go.id 8. Direktorat bina kesehatan anak,depkes,2009.Manajemen terpadu balita sakit(MTBS) atau Integrated management of childhood Ilness(IMCI),2008. Dikutip dari : http//www.scribd.com. 9. dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM Manajemen terpadu balita

sakit(MTBS) .dikutip dari : Http//www.infodokterku.com pada tanggal 07 December 2009. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Dr.Andry Hartono,Sp.GK,2000.Terapi Gizi dan Diet Rumah sakit.Jakarta;EGC Dr.Eko Budianto,2003.Metodologi penelitian kedokteran.Jakarta;EGC Kartono. 2006. Perilaku Manusia. ISBN. Jakarta. Pemda, 2010. UMR Kabupaten Madiun. RisKesDas (Riset kesehatan dasar ) ,2007.dikutip dari : www.docstor.com RisKesDas (Riset kesehatan dasar ) 2010.dikutip dari : www.scribd.com Soetjiningsih,2004. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta EGC

24

17. 18. 19. 20. 21. 22.

Suharjo, 1996, Gizi dan Pangan, Kanisius, Yogyakarta. Supariasa, I.D.N, 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC. Supariasa, 1999, Epidemiologi Gizi, AKZI Malang. Walker.2006. Makanan Sehat Bagi Balita. Jakarta: Surya WHO, 1983. Measuring Change In Nutritional Status, Genewa. WHO dan UNICEF,2009.National Food Consumption survey dikutip dari Http//www.pediatrica.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful