Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999: Sebuah refleksi perbandingan dengan Kamboja Ben

Kiernan
(“War, Genocide and Resistance in East Timor, 1975-1999: Comparative Reflections on
Cambodia,” ch. 9 in Mark Selden and Alvin Y. So, eds., War and State Terrorism: The United States, Japan and the Asia-Pacific in the Long Twentieth Century, New York, Rowman and Littlefield, 2004, pp. 199-233) Diterjemahkan oleh Andi Achdian

Kamboja, Timor-Timur dan Amerika Serikat Pada tanggal 5 Juli 1975, dua bulan setelah pihak komunis meraih kemenangan di Kamboja dan Vietnam, Suharto mengadakan lawatan ke Washington. Untuk pertamakalinya ia bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Gerald Ford dan Menteri Sekretaris Negara Henry Kissinger. Pembicaraan mereka berkisar mengenai perkembangan paling mutakhir di kawasan Asia Tenggara. Menyinggung kekalahan Amerika Serikat dalam perang Vietnam, Suharto mengatakan: “Persoalannya bukan sekedar keunggulan militer kaum komunis. Mereka memiliki ideologi dan fanatisme”—satu hal yang tidak dimiliki kekuatan antikomunis di Vietnam. Menurut Suharto: “Meskipun kekuatan antikomunis memiliki keunggulan persenjataan dalam menghadapi golongan komunis, mereka tidak memiliki faktor manusia yang dapat mendukung kemenangan mereka dalam peperangan itu. Tidak ada ideologi nasional yang dapat menghimpun kekuatan antikomunis dalam memerangi komunisme.” Suharto menegaskan tentang pengalaman Indonesia yang berbeda. “Kami beruntung memiliki sebuah ideologi nasional (Pancasila). Persoalannya apakah ini saja sudah cukup kuat?”1 Pada tanggal 6 Desember, Ford dan Kissinger menghubungi Suharto di Jakarta. Ford mengatakan “meskipun Amerika Serikat telah mengalami kekalahan telak di Vietnam” tujuh bulan sebelumnya, “Kami masih memiliki kepentingan besar di kawasan Asia Tenggara, Asia dan Pasifik. ... [K]ami berharap dapat memperluas pengaruh ini.” Ford yang baru kembali dari Cina menyatakan bahwa “Amerika Serikat menentang setiap bentuk ekspansi oleh suatu bangsa atau gabungan bangsa-bangsa.” Ford tidak mengarahkan pernyataannya pada Cina, tetapi lebih kepada pesaingnya. Kissinger selanjutnya menjelaskan kepada Suharto: “Kami yakin saat ini Cina tidak memiliki ambisi ekspansionis... Perhatian mereka sepenuhnya terarah pada Uni Soviet dan juga Vietnam.” Ini sejalan dengan pandangan Ford yang mengatakan “Kesan saya Cina menahan diri dalam kebijakan politik luar negeri mereka.” Suharto selanjutnya bertanya apakah Amerika Serikat dapat menerima kemungkinan bahwa Kamboja, Laos dan Vietnam dapat dijadikan “satu negara.” Ford menjawab: “Penyatuan Vietnam terjadi lebih cepat dari yang kita duga. Tetapi ada perlawanan yang muncul di Kamboja terhadap perluasan pengaruh Hanoi. 1

Sekarang ini kita mencoba dengan hati-hati memberikan dukungan bagi Kamboja. Kita mengharapkan mereka dapat menghambat perluasan pengaruh Vietnam Utara. Bagaimanapun ini bukan pekerjaan mudah.” Kissinger selanjutnya mengatakan bahwa Beijing pada dasarnya memiliki strategi yang sama: “Pemerintah Cina menggunakan Kamboja sebagai penyeimbang terhadap Vietnam ... Kita menyadari bahwa pemerintahan Kamboja sekarang ini tidak lebih baik dibanding Vietnam. Tetapi kita tidak memiliki pilihan lain selain memberi dukungan bagi mereka menjadi sebuah negara merdeka. Kita tidak akan menghambat mereka, dan kita juga tidak berusaha menghambat langkah Thailand atau Cina mendekati Kamboja.”2 Pada saat Ford dan Kissinger bertujuan memperkuat kemerdekaan rejim komunis Kamboja di bawah Pol Pot, bencana kemanusiaan lainnya mulai menguak di Asia Tenggara. Dalam bulan Desember 1975, Suharto menyinggung “persoalan lain yang muncul: Timor Timur.” Suharto mengharap dukungan Amerika Serikat terhadap ekspansi Indonesia ke bekas koloni kecil Portugis di antara kepulauan Indonesia. “Kami harap anda mengerti jika kami merasa perlu bertindak cepat dan drastis.” Ford menjawab “Kami paham dan berjanji tidak mempersulit langkah itu.” Kissinger menambahkan: “Anda tahu bahwa penggunaan perangkat senjata milik Amerika Serikat akan menimbulkan masalah ... Semuanya tergantung sejauh mana kita mengemasnya; apakah hal ini merupakan upaya mempertahankan diri atau sebuah operasi pemerintahan asing. Kita dapat mempengaruhi reaksi yang muncul di Amerika bila semua itu terjadi setelah kita kembali. Dengan cara ini kita bisa menutup peluang pembicaraan macammacam mengenai soal ini ... Kami mengerti persoalan anda dan kebutuhan untuk bergerak cepat ... Apapun yang anda lakukan, kami mencoba mengatasinya dengan sebaik mungkin ... Jika anda sudah menentukan rencana, kita akan melakukan yang terbaik untuk membuat banyak pihak tetap diam sampai presiden kembali pulang.” 3 Di sini kita melihat aspek penting dalam kebijakan AS. Pada satu sisi mereka menentang ekspansi Vietnam, namun di sisi lain mereka mendukung ekspansi Indonesia. Washington mendukung kemerdekaan yang rejim Khmer Merah, tetapi tidak untuk Timor Timur. Amerika Serikat mau melakukan apa saja untuk menolak kemerdekaan itu demi pengaruh mereka di Jakarta. Suharto segera memanfaatkan lampu hijau ini. Keesokan harinya, pasukan Indonesia diterjunkan di ibukota Dili. Genosida telah dimulai di Kamboja. Tragedi yang sama menyusul di TimorTimur. Jumlah korban dari serbuan dan pendudukan militer Indonesia dari tahun 1975 sampai 1999 diperkirakan mencapai sekitar 150,000 jiwa atau seperlima jumlah penduduk.4 Dalam perhitungan absolut, angka tersebut memang masih lebih rendah dibanding pembantaian di Kamboja. Tetapi apabila kita meninjaunya secara proporsional, angka itu cukup relevan untuk membandingkannya dengan kematian massal di Kamboja sepanjang tahun 1975-1979 dengan korban 1,7 juta orang dari 7,9 juta jumlah penduduk. 5 Masih ada kemiripan lainnya. Di masingmasing negara, perang saudara dalam skala kecil mendahului lahirnya intervensi internasional. Kedua peristiwa genosida yang terjadi sejak tahun 1975 diikuti dengan pendudukan kekuatan asing dalam periode waktu cukup panjang. Sampai akhirnya muncul intervensi PBB. Perang dan Genosida di Kamboja dan Timor-Timur Perang saudara pertama yang terjadi di Kamboja terjadi, yaitu antara tahun 1967 sampai 1970, telah menempatkan beberapa ribu gerilyawan Partai Komunis Kamboja (CPK, atau

2

“Khmer Merah”) berhadap-hadapan dengan pemerintahan Sihanouk. Perang ini berkembang menjadi perang internasional menyusul kudeta Lon Nol pada tanggal 18 Maret 1970 ketika pasukan Vietnam melintasi perbatasan. Kekuatan komunis dan antikomunis di Vietnam, angkatan darat dan armada laut Amerika Serikat mengubah Kamboja menjadi medan pertempuran baru. Lebih dari 100.000 penduduk sipil Khmer tewas akibat hujan bom yang dijatuhkan pesawat pembom Amerika B-52. 6 Sihanouk kemudian bergabung dengan kekuatan Khmer Merah yang terus berkembang dalam perang saudara dan perang internasional yang meluas. Khmer Merah berhasil mengalahkan Republik Khmer ciptaan Lon Nol. Pasukan mereka memasuki kota Phonm Penh pada bulan April 1975, dua minggu sebelum pihak komunis di Vietnam menguasai Saigon. Pasukan Pol Pot yang menang perang segera melakukan serangan ke wilayah Vietnam. Tetapi mereka dengan cepat dikalahkan oleh rejim komunis yang baru saja meraih kemenangan di Vietnam. Serangan lainnya dilakukan Kamboja pada bulan Januari 1977 dan gelombang serangan lain yang terus berlangsung dalam bulan-bulan berikutnya. 7 Pada akhir tahun itu pihak Phnom Penh menyatakan perang kepada Vietnam. Mereka menolak tawaran Vietnam untuk mengadakan berundingan dan menarik mundur pasukan. Di dalam negeri, memasuki pertengahan tahun 1978, rejim Khmer Merah mulai bertindak meredam pemberontakan yang muncul di bagian timur Kamboja. Gelombang pembantaian massal terhadap rakyat Kamboja serta etnis minoritas lainnya mencapai puncaknya dalam periode tersebut. Pembantaian berhenti pada bulan Desember 1978 ketika pasukan Vietnam berhasil mengalahkan kekuatan Khmer Merah dari Kamboja dan mengusirnya sampai perbatasan Thailand. Pasukan pendudukan Vietnam segera membentuk pemerintahan dan kekuatan militer baru di Kamboja. Hun Sen menjadi Perdana Menteri sejak tahun 1985. Tetapi perlawanan Khmer Merah tidak berhenti setelah kekalahan mereka. Khmer Merah tetap melakukan serangan gerilya yang dilancarkan dari tempat persembunyian mereka di Thailand. Pada tahun 1989, Vietnam menarik pasukan mereka dan PBB kemudian mensponsori pelaksanaan pemilihan umum di Kamboja pada tahun 1993. Hasilnya adalah koalisi setengah hati antara Partai Rakyat dibawah pimpinan Hun Sen dengan partai pendukung kerajaan, Funcinpec, dibawah pimpinan Pangeran Ranariddh, putra Sihanouk. Hun Sen memimpin koalisi tersebut. Pada tahun 1999, koalisi ini berhasil mengakhiri perlawanan gerilya Khmer Merah. Dua bulan kemudian, Kelompok Ahli yang ditunjuk PBB membuat kesimpulan bahwa pemimpin Khmer Merah yang tersisa harus diadili oleh Pengadilan Internasional “atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.”8 Menurut Kelompok Ahli itu, peristiwaperistiwa yang terjadi sepanjang tahun 1975 sampai 1979 memenuhi kriteria kejahatan yang tertuang dalam Konvensi Genosida PBB 1948. Di luar “kejahatan perang” rejim Khmer Merah terhadap rakyat Vietnam dan Thailand, ahli-ahli hukum menyatakan bahwa rejim Khmer Merah juga telah “melakukan kekejian terhadap rakyat Kamboja seperti tertuang dalam kriteria Konvensi Genosida.” Apakah rejim Khmer Merah melakukan aksiaksi mereka dengan sengaja dan ditujukan kepada kelompok-kelompok yang mendapat perlindungan dalam Konvensi PBB? Menurut ahli-ahli hukum PBB: Studi-studi kesejarahan memberikan dukungan kuat, termasuk genosida dalam jurisdiksi pengadilan untuk mengadili pimpinan Khmer Merah. Secara khusus, bukti menunjukkan pentingnya jaksa penuntut untuk membentuk komisi penyelidikan tentang genosida yang dilakukan terhadap terhadap orang-orang 3

13 Korban yang jatuh di Timor-Timur bukan lagi sekedar “sebagian” dari “kelompok nasional” Timor yang dihancurkan akibat perlawanan terhadap aneksasi Indonesia. “ada maksud sengaja rejim Khmer Merah menghancurkan bangsa Cham dan kelompok etnis minoritas lainnya.7 juta penduduk Kamboja tewas. Vietnam dan kelompok minoritas lainnya. bahkan setelah referendum yang disponsori PBB menyatakan 79 persen penduduk wilayah itu menginginkan kemerdekaan dari Indonesia. larangan menyeluruh praktek kebudayaan masing-masing kelompok. sekitar 90.” 9 Sebagai contoh. dengan jelas memenuhi kriteria-kriteria sosiologis genosida yang biasa digunakan para sarjana yang membahas fenomena tersebut dan juga menekankan baik kelompok etnis maupun kelompok politik dapat dipandang sebagai korban genosida. dari jumlah total populasi 250.000 jiwa. Perang skala besar berlangsung sampai tahun 1980. Menurut para ahli hukum PBB. dari jumlah total penduduk 650. Pendudukan militer Indonesia ini terus berlangsung selama dua dekade lebih. ras. bukan yang lainnya.Cham. Selain anggota keluarga gerakan Fretilin. jenis dan jumlah korban dari masing-masing kelompok dalam perhitungan absolut mapun proporsional dibanding jumlah penduduk secara keseluruhan. 11 Kesulitan interpretasi mengenai “kelompok-kelompok politik” pada akhirnya menjadikan peristiwa pembantaian massal antikomunis di Indonesia tahun 1965-1966 terlupakan.000 orang Cham. serta dikombinasikan dengan program kerja paksa dalam model utopis Maois. 12 Kejahatan di Timor-Timur yang terjadi selama satu dekade dengan korban sekitar 150. Pada pertengahan 1975. seperti dalam pernyataan-pernyataan pimpinan Khmer Merah. pembunuhan kelompok politik di TimorTimur oleh pihak Indonesia dari tahun 1975 sampai 1999. termasuk para pendeta Budha. uraian saksi mata. atau keagamaan—dapat digunakan dalam melihat kekejian Khmer Merah terhadap kelompok non-komunis dan perwira militer yang dikalahkan. Kekuatan militer Indonesia melakukan invasi ke Timor-Timur pada tanggal 7 Desember. perang saudara skala kecil mendahului tragedi yang terjadi di Timor-Timur. tewas dalam aksi-aksi pembantaian yang dilakukan. dan para pendeta Budha sebagai kaum agamawan. dan diiringi pemusnahan “musuh kelas” model Stalinis. Seperti yang terjadi di Kamboja. Kesengajaan tindakan mereka terdapat dalam bukti langsung dan tidak langsung.000 jiwa. Kemudian. Mereka dengan sengaja dibunuh karena latar belakang etnisnya. penghancuran mereka dan eksekusi-eksekusi terhadap pimpinannya. Kelompokkelompok yang menjadi sasaran kekejian Khmer Merah layak dimasukan dalam kriteria sebagai kelompok yang seharusnya dilindungi sesuai konvensi yang berlaku: kaum Muslim Kamboja sebagai kelompok etnis dan keagamaan. dalam sebuah operasi yang 4 . kekejian itu juga diarahkan terhadap dua puluh ribu minoritas etnis keturunan Tionghoa yang tinggal di kota-kota besar di Timor-Timur. konflik singkat yang terjadi di bekas koloni Portugis ini secara tak terduga membawa kemenangan bagi gerakan kemerdekaan. selama empat tahun. sekitar 1. komunitas orangorang Vietnma sebagai kelompok etnis dan juga—barangkali—kelompok ras. namun masih ada keraguan dalam menafsirkan definisi hukum kalimat yang tercantum dalam Konvensi Genosida PBB—yaitu “penghancuran secara keseluruhan atau sebagian” kelompok etnis. Pihak militer Indonesia telah menjadikan kelompok-kelompok itu sebagai target penghancuran karena status etnis kelompok Tionghoa. Di bawah kondisi itu. Bukti tentang ini tertuang dalam kebijakan rejim Khmer Merah melakukan homogenisasi.000 orang tewas.10 Meskipun para ahli hukum mengakui adanya kejahatan terhadap kemanusiaan.

Untuk dapat memahami kondisi-kondisi yang 5 . dan sekaligus menjadi satu bentuk kekuatan bersenjata menentang rejim yang menjalankan genosida. Pemberontakan ini sekaligu mewakili sebuah perlawanan terhadap dominasi kekuatan pusat dalam tubuh partai. dan kalangan militer profesional. sejak awal perpecahan politik dan regional telah memecah kekuatan proIndonesia dan gerakan Fretilin. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin aksi kontra gerilyawan antikomunis Indonesia dan revolusi komunis Kamboja sama-sama menghasilkan peristiwa mengerikan dalam sejarah? Melalui tulisan ini saya berpendapat bahwa pada satu sisi. pasukan pendudukan Indonesia membumihanguskan TimorTimur. PBB menyerahkan tanggungjawab mengurus negara baru tersebut kepada rakyat Timor-Timur.telah direncanakan sebelumnya. Xanana Gusmao. menjadi sumber inspirasi perlawanan terhadap kekuatan agresor Indonesia. genosida adalah hasil sebuah tekanan dan aliansi internasional. Xavier do Amaral. Tetapi tidak terhindarkan pula bahwa ideologi ini menjadi senjata dalam pertikaian di antara pimpinan Fretilin. Dalam kaitan ini. Pasukan Australia memimpin pasukan PBB ketika pasukan Indonesia meninggalkan puing-puing kehancuran di Timor-Timur. koalisi regional. elit-elit lokal. dan kebalikannya ideologi ini mempengaruhi gerakan perlawanan Fretilin. dan resolusi konflik oleh PBB.14 Pada tanggal 20 Mei 2002. Fretilin meraih kemenangan 57 persen jumlah suara. menghancurkan 80% rumah-rumah penduduk. hanya meraih 17 persen suara. termasuk kelompok peranakan Tionghoa lokal dan musuhmusuh politik mereka. sementara yang berkuasa di Kamboja adalah rejim komunis. Di sisi lainnya peristiwa itu juga merupakan cerminan. dan kemungkinan membunuh sekitar seribu orang. baik perpecahan yang berakar pada masalah ideologi maupun pada masalah regionalisme. setelah dua tahun dibawah pemerintahan transisi. Kedua rejim yang melakukan kejahatan ini bertanggungjawab dalam pemusnahan minoritas etnis. Tetapi terdapat pula perbedaan yang cukup signifikan. Sedangkan di Kamboja adalah revolusi. Sebaliknya. Salah satunya adalah pemberontakan yang dilakukan oleh kekuatan PKK di Zona Timur pada tahun 1978. Presiden AS. Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah Amerika Serikat mendukung pihak Indonesia yang melakukan invasi. dan juga mendorong. Dalam sebuah pemilu yang disponsori PBB pada tahun 2001. Ideologi Maoisme mempengaruhi rejim Khmer Merah pimpinan Pol Pot. perpecahan yang terjadi di antara kekuatan di dalam. Rejim penguasa di Jakarta adalah sebuah rejim antikomunis. Apakah pada beberapa aspek hal ini mencerminkan sebuah masalah yang berakar pada faktor etnis seperti di Kamboja? Perbedaan-perbedaan politik dan regional telah memecah belah kekuatan rejim Khmer Merah. mendeportasi ratusan ribu penduduk ke wilayah Timor Barat. Bill Clinton menyatakan bahwa Indonesia harus “mengundang” pasukan perdamaian internasional untuk mengatasi masalah Timor-Timur. meraih kemenangan 79 persen suara. Dalam pemilihan presiden bulan April 2002. Tujuan utama Indonesia adalah pendudukan. Ideologi Maoisme Partai Komunis Kamboja telah bercampur baur dengan rasisme Khmer dan ekspansionisme. dan menjadi dasar pemusnahan musuh-musuh politik dan etnis serta serangan militer ke negara tetangga. intervensi internasional ganda. Sedangkan pendiri organisasi itu.15 Di Timor-Timur. ideologi Maoisme Fretilin. di masing-masing tempat terdapat fenomena mengenai jatuh bangunnya koalisi. Sementara itu mereka memberikan dukungan pada rejim lokal menghadapi kekuatan Vietnam. kedua kasus pembantaian masal di kawasan Asia Tenggara secara umum memiliki kesamaan dalam rentang waktu serta kombinasi antara perang saudara. Apakah perpecahan dalam kedua kasus itu disebabkan oleh faktor etnis? Dalam perjalanan waktu.

yang diwakili oleh posisi penting wakil komunitas Muslim Arab dalam struktur pimpinan Fretilin yang mayoritas katolik.. Suharto menekankan bahwa Indonesia sebagai “negara kesatuan tidak memiliki ambisi teritorial. Hasilnya adalah kemenangan Fretilin yang meraih 50–55 persen suara. Menurut Suharto anggota-anggota Fretilin “hampir semuanya Komunis. Fretilin.21 Pesaing utama mereka. Dalam pembicaraan awal. kita perlu mempelajari unsur-unsur kekuatan internasional yang mendukung rejim Suharto dan Pol Pot. Suharto telah menyinggung masalah dekolonisasi di TimorTimur. Dalam kaitan ini. Fretilin mencoba menyampaikan sebuah visi nasionalisme kepada 650. “di wilayah itu terdapat orang-orang yang mendukung Indonesia dan orang-orang yang dipengaruhi komunisme. Langkah ini tidak dianggap sebagai ekspansionisme.” dan “langkah terbaik adalah menggabungkan mereka dengan Indonesia.22 Dimensi multikultur.”19 Jakarta melihat sosok mahasiswa Timor-Timur yang belajar di Lisbon sebagai kekuatan yagn mewakili “sayap Komunis” dalam gerakan Fretilin. menjadi jantung kekuatan gerakan tersebut.23 Bagaimanapun kelompok keturunan Tionghoa tidak dapat menghilangkan kecurigaan mereka terhadap Fretilin. Masalahnya adalah bagaimana menata proses penentuan nasib sendiri itu ketika mayoritas penduduk Timor-Timur menginginkan bersatu dengan Indonesia.20 Dari bulan Maret sampai Juli 1975. atau menggunakan kekuatan terhadap wilayah negara lain.menyebabkan perpecahan itu dengan seksama. Uni Demokrasi Timor (UDT) yang menginginkan proses bertahap dalam mencapai kemerdekaan. 17 Menurut Kissinger “terdapat sebuah pemerintahan komunis di jantung wilayah Indonesia. mendapat suara yang lebih sedikit. dan mempertanyakan sejauh mana kedua pengalaman sejarah ini dapat diperbandingkan. sebuah partai kecil yang menginginkan persekutuan dengan Indonesia. aspek kelas lebih menonjol dibandingkan ras. menempati posisi ketiga dengan jumlah suara yang terpaut jauh dari dua kekuatan yang ada. mereka sulit mendapatkan posisi yang cukup jelas dalam gerakan Fretilin.” Namun Timor-Timur adalah sebuah pengecualian. adalah “sebuah partai kiri. Sebagai komunitas pengusaha yang tinggal di perkotaan.” demikian kementerian sekretariat negara Amerika Serikat menyatakan.” dan “tidak akan melakukan agresi terhadap negara-negara lain . Lampu Hijau Ford dan Kissinger Seperti diuraikan sebelumnya. Terdapat alasan kuat untuk membenarkan invasi: ancaman komunisme. dalam pertemuan dengan Ford dan Kissinger di Camp David pada tanggal 5 Juli 1975. “[S]ebuah negara merdeka [di Timor-Timur] adalah pilihan sulit. Sedangkan Apodeti. Mereka dianggap terpengaruh ideologi Maoisme ketika terjadi revolusi di Portugis pada tahun 1974. Setelah kembali dari kunjungannya ke Amerika Serikat.”18 Gagasan ini sejajar dengan pemikiran Suharto. pada tanggal 8 Juli 1975 Suharto 6 .000 jiwa penduduk yang terbagi dalam tiga puluh kelompok etnis dan empat belas bahasa berbeda. pejabat Portugis di Timor-Timur mengorganisir sebuah pemilihan umum yang berlangsung sampai tingkat desa.” Suharto lebih lanjut mengatakan bahwa “Indonesia tidak ingin melakukan campur tangan dalam upaya penentuan nasib sendiri rakyat Timor-Timur.” 16 Suharto dalam kaitan ini telah mendapatkan persetujuan Amerika Serikat enam bulan sebelum ia memerintahkan invasi ke Timor-Timur dan menjadikan wilayah itu sebagai bagian dari wilayah Indonesia..” Persoalannya.

Jill Jollifffe melaporkan bahwa “Portugis kembali menguasai tempat itu setelah mengirim pasukan dari Dilli. Kissinger mengatakan. Pihak Indonesia jelas tidak akan membiarkan unsur-unsur yang tidak bersahabat berkuasa di sebuah wilayah di tengah-tengah kepulauan Indoesia. Pada akhir Agustus.. “Pihak Indonesia cepat atau lambat akan segera mengambil alih pulau itu. Dan Alves kemudian dipenjara selama dua puluh hari. pasukan Indonesia membunuh lima orang wartawan Australia di kota perbatasan Balibo 7 . 29 Pengambilalihan kekuasaan dengan kekerasan oleh UDT pada akhirnya mendorong lahirnya perang saudara selama tiga minggu. 30 Selanjutnya Fretilin yang memenangkan pertempuran itu “menangkap dan memukuli para pendukung UDT”.” Tetapi apabila kudeta itu terbukti merupakan langkah yang dilakukan oleh kekuatan pro-kemerdekaan. sisa-sisa kekuatan UDT mundur sampai wilayah perbatasan Indonesia.24 Pernyataan ini menggema di latar belakang sebuah kudeta yang dilakukan pesaing utama Fretilin pada tanggal 11 Agutus.32 Pada tanggal 6 Oktober. Fretilin berkuasa secara mutlak di Timor-Timur selama tiga bulan berikutnya. Sekitar sembilan ratus anggota UDT menyebrangi perbatasan menuju Timor Barat pada tanggal 24 September. Di antara korban adalah beberapa pendiri Fretilin. atau pihak Indonesia tengah bergerak melawan kudeta itu . seorang bekas prajurit Portugis.. Jumlah korban tewas dalam perang saudara ini dilaporkan mencapai sekitar empat ratus orang di Dii dan enam ratus orang di tempat lain di perbukitan. hanya dalam waktu empat hari pimpinan UDT menangkap lebih dari 80 anggota Fretilin. Ratusan pasukan UDT berhadapan dengan dua ribu pasukan reguler dibawah komando Fretilin. Mereka berhasil mendapatkan dukungan dari unit-unit militer Timor-Timur yang pernah mendapat latihan militer oleh pihak Portugs. Koalisi ini berlangsung selama beberapa bulan di Oecusse.menyatakan bahwa Timor-Timur adalah sebuah negara yang sama sekali tidak memiliki landasan ekonomi yang cukup kuat untuk merdeka.”27 Setelah kudeta di ibukota Dili tanggal 11 Agustus.25 Pagi harinya di Washington. wakil presiden Fretilin. sebuah pemukiman Portugis di Timor Barat. berhasil menguasi secara singkat wilayah Oecusses. Operasi ini diketahui intelejen AS.”26 Perang Saudara Pada pertengahan Juni 1975. termasuk Xanana Gusmao. pasukan Fretilin dibawah pimpinan Hermingildo Alves. sekitar dua ratus pasukan khusus melakukan penyusupan. Philip Habib mengatakan kepada Henry Kissinger bahwa masih belum jelas siapa yang menciptakan kudeta itu “[A]pabila itu merupakan gerakan dari pihak Indonesia. termasuk saudara lelaki Nicolau Lobato. Pada awal bulan September. Anggota-anggota UDT membunuh lusinan anggota Fretilin di empat wilayah.31 Indonesia mempercepat rencana invasi. kita harus tetap diam. pimpinan Fretilin di masa depan. baru Amerika Serikat dapat bertindak menentangnya. Gelar pasukan konvensional dimulai berlangsung pada bulan Oktober. Menyusul kemudian. diikuti kemudian oleh ribuan pendukung UDT lainnya.” Habib menambahkan bahwa “kita jangan sampai mengeluarkan sebuah pandangan apapun tentang hal ini.28 Fretilin membalasnya.” untuk menjamin “lenyapnya sisa-sisa kolonialisme. pihak UDT dan Fretilin sepakat untuk menjalankan kekuasaan bersama di wilayah itu.

Sebagai antisipasi. Kabinet Fretilin pun terbentuk dan menjalankan pemerintahan. pihak Fretilin menangkap Soares dan beberapa ratus anggota Apodeti dan UDT. terdapat satu orang Portugis dan dua orang keturunan Arab yang menjadi anggota Komite Sentral partai. Genosida.34 Situasi politik semakin menegang. atau apa yang disebut Jolliffe sebagai “perubahan kekuataan yang jelas”. Mereka memformulasikan sebuah gagasan yang merupakan pembauran “nasionalisme revolusioner Afrika. “konsekuensi dari perkawinan dua aliran ini adalah Timorisasi kepemimpinan gerakan Fretilin setelah periode kudeta. yang sebagian besar berasal dari keluarga yang 8 . Nicolau Lobato. pragmatisme dan sifat mandiri yang konservatif. Setelah kudeta UDT.”33 tetapi dengan semakin banyak pasukan Indonesia menyebrangi perbatasan.Pada bulan September. Kota adalah sekelompok monarki yang dibentuk oleh sejumlah liurai (penguasa lokal. Dari delapan belas anggota kabinet. pemimpin partai Apodeti yang pro-Indonesia.36 Waktu terus berjalan dan ancaman invasi militer Indonesia semakin mendekat. para pejabat Portugis mengungsi ke wilayah pantai. Dalam tulisan Jollife mengenai struktur kepemimpinan pemerintahan yang baru—di mana didalamnya terdapat Xavier do Amaral. Invasi. Osorio Soares.” Jolliffe mengatakan bahwa semua ini lahir dari dari “sebuah kerangka yang dibangun kaum nasionalis dalam upaya mereka menyesuaikan diri dengan kebutuhan lokal. masih tetap “bebas bergerak. sedikit sekali bukti adanya ideologi rasis yang berakar dari dalam. terjadi perubahan mendasar dalam tubuh gerakan Fretilin. 1975-1980. Dua kepala suku Timor Timur dari perbatasan Timor Barat menyatakan mendapat dukungan dari partai Kota dan Trabalhista untuk berintegrasi dengan Indonesia.”37 Tidak ada wakil etnis Tinghoa duduk dalam struktur kepemimpinan. Kelompok-kelompok ini menjadi sebuah kelompok berbasis ras yang menjadi jaringan pendukung Apodeti. Mereka lebih memandang diri sebagai kaum nasionalis yang melihat manfaat dalam gagasan Marxisme demi tujuan kaum nasionalis. Fretilin mendeklarasikan kemerdekaan Timor-Timur.” Trabalhista memiliki “selusin lebih anggota. Ketegangan dan Perpecahan Politik Pihak Jakarta sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari pimpinan-pimpinan UDT yang kalah ketika terjadi perang saudara. dan Gerakan Perlawanan. Dukungan kuat didapat pula dari Partai Apodeti. atau ‘raja-raja kecil”) dengan keanggotaan beberapa ratus orang. Mereka semakin “melihat ke dalam” dan kaum nasionalis dibawah pimpinan Nicolau Lobato mendominasi kendali gerakan tersebut. Di luar ideologi anti-Cina dan anti-kapitalis.” Sayap kiri Fretilin “tidak memandang diri mereka sebagai kaum Marxis. dan Mari Alkatiri— “dua figur utama gerakan itu memiliki latar belakang Katolik sementara yang ketiga adalah Muslim. berlandaskan lingkaran pimpinan-pimpinan adat yang memiliki akses terhadap ritus mistik dan budaya tradisional.”35 Helen Hill mengungkapkan bahwa politik gaya Afrika ini sebagai “nasionalisme hitam”. Pada tanggal 28 November 1975. tanpa peduli apakah pilihannya sosialisme atau liberalisme.” Seperti ditekankan Jolliffe. Fretilin adalah sebuah gerakan yang pembentukannya dibidani oleh Asosiasi Kaum Sosial Demokrat Timor dibawah pimpinan Jose Ramos Horta dan seorang bekas Jesuit Xavier do Amaral. Diikuti kemudian dengan tekanan menuju nasionalisme hitam dibanding agenda sosial demokrasi.

Termasuk juga di antara mereka yang dieksekusi adalah tujuh puluh tahanan UDT. Perbedaan-perbedaan juga muncul di kalangan anggota Fretilin. Tetapi. Suharto menambahkan bahwa : “Raja-raja lokal berperan penting . ketika pasukan Indonesia mendarat di Dili. Xavier do Amaral.”43 Jakarta secara resmi melarang kehadiran partai pada tanggal 3 Februari. “Saya akan berangkat ke Dili untuk bertanya kepada orang-orang Jawa itu mengapa mereka menyerang tanah air kita.45 Kita bisa menyimpulkan bahwa dukungan terhadap Indonesia sesungguhnya terbatas dari kalangan pimpinan tradisional di bagian barat wilayah tersebut. do Amaral menghubungi wakil presiden Fretilin Nicolau Lobato.!” 47 Sebulan kemudian. tewas ditembaki oleh senjata mesin di jalanan. Etnis Tionghoa juga menjadi sasaran pembantaian. Pasukan-pasukan Indonesia menembak mati tiga puluh pendukung Apodeti dengan darah dingin. yang di dalamnya terdapat Sekretaris Jendral partai. anak seorang liurai dari Ermera di Timor-Timur Barat. seorang liurai di Atsabe diangkat menjadi gubernur dan seorang liurai dari Maubara menjadi ketua badan legislatif yang baru dibentuk di propinsi tersebut. Osorio Soares. Pada tanggal 31 Januari 1976. dalam percakapannya dengan Ford dan Kissinger pada tanggal 6 Desember untuk menyatakan bahwa Indonesia mendapat dukungan dari “empat partai” di Timor-Timur. Setelah “integrasi” formal wialyah Timor-Timur pada pertengahan 1976. dimasukan dalam tahanan rumah di Timor Barat dan kemudian dibuang ke Portugal pada pertengahan 1976. Fernando Luz. pihak Indonesia mengumumkan pembubaran semua partai politik di Timor-Timur. Xanana Gusmao. beberapa minggu setelah invasi. dalam posisi penting.42 Seorang tokoh Timor yang sebelumnya menjadi pejabat pro-Indonesia. di wilayah perbukitan. dan mereka berada di pihak kita.sama. termasuk pimpinan partai tersebut. salah seorang pendiri Fretilin. Jose Martins. Namun perkembangan yang terjadi menunjukkan merosotnya dukungan bagi Jakarta.44 Langkah Jakarta berikutnya ditujukan kepada pimpinan-pimpinan tradisional dari bagian barat TimorTimur. yang juga pendiri UDT. Eduardo dos Anjos. Dalam kunjungan PBB pada bulan Maret 1976.”41 Selanjutnya kita akan melihat bahwa pasukan Indonesia tidak membatasi sasaran pembunuhan mereka terbatas pada para pendukung Fretilin. Fretilin mengeksekusi delapan puluh anggota Apodeti. pada bulan Januari 1976.. Fretilin melepaskan sejumlah tahanan yang terdiri dari tokoh-tokoh Apodeti dan UDT keesokan harinya.” demikian Dunn menguraikan. 40 Sebagai tambahan tragedi nasib buruk yang mereka alami. Mereka semua diminta untuk “membubarkan diri.”38 Ini memungkinkan Suharto. Mario Carrascalao. termasuk dari kelompok anti-Fretilin. Martin melontarkan kritik terhadap intervensi Jakarta.” 46 Pada hari berikutnya. bahwa do Amaral telah mengancam “akan berbicara dengan pihak penyerbu dan mendesak mereka untuk mundur!” Xanana mengingat bahwa “Eduardo telah mencoba meyakinkan dirinya untuk menghentikan langkah aneh dan nekat. dan menyarankan kepadanya agar “meminta PBB mengadakan referendum mengenai 9 .. Pada pagi hari ketika invasi Indonesia dimulai. dos Anjos mengatakan kepada anggota komite sentral Fretilin. Dilaporkan pula bahwa “seorang pendukung Apodeti ditembak ketika mereka menunjukan kartu anggota partai mereka keapda sekelompok prajurit. Ia berkata kepada menteri kabinetnya. dicurigai telah berangkat ke ibukota Timor-Timur. Seorang lagi pejabat Timor ketiga yang “prointegrasi” melarikan diri ke Portugal.”39 Segera setelah invasi Indonesia. Pasukan Indonesia segera menunjuk pemimpin Kota. “sejumlah pendukung Apodeti yang baru dilepas dari kamp tawanan Fretilin dan berupaya menyambut pembebas mereka.

terdapat perpecahan lebih lanjut mengenai sifat “perang rakyat” yang telah ditetapkan sebagai strategi peperangan Fretilin sejak pertemuan nasional Soibada pada bulan Mei dan Juni 1976. Memasuki tahun 1978.48 Perang Memasuki bulan April 1976. Seorang pejabat senior Indonesia mengatakan pada awal tahun 1977 bahwa Fretilin telah menyebabkan 5000 orang terluka. luka dan hilang dalam menjalankan misi mereka. pimpinan Fretilin telah menekankan pentingnya pembangunan pedesaan dan kebijakan sosial yang egaliter yang bertentangan dengan struktur masyarakat lokal yang tradisional dan hirarkis di beberapa 10 . 56 Di luar perbedaan regional ini. Sebagian besar prajurit profesional yang bergabung dengan Fretilin pada tahun 1975 adalah para prajurit yang dilatih oleh Portugis. Carmel Budiardjo dan Liem Soei Liong menguraikan tiga isu utama yang memecah belah gerakan perlawanan Fretilin sejak tahun 1975. Terdapat kecenderungan di antara perwira-perwira militer untuk menolak koordinasi militer dan politik menyeluruh. “terjadi perpecahan di antara pimpinan mengenai persoalan tersebut.52 Sumber-sumber informasi dari pihak Australia menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1976. 57 Tetapi. sekitar 10.50 Sampai bulan Agustus 1976. Indonesia memang berhasil mendapatkan dukungan dari pihak liurai dan pimpinan-pimpinan lokal lainnya dari wilayah barat daya Timor-Timur. memasuki awal tahun 1977. Komite Sentral telah berpegang teguh pada strategi Maois untuk bersikap mandiri dalam mencapai kemerdekaan.000 pasukan di Timor-Timur dan 10. 53 Pada awal tahun 1977. Suharto mengetahui bahwa “gerakan Fretilin masih memiliki kekuatan di Timor-Timur.”51 Laporan pihak intelejen Indonesia.000 orang gerilyawan. Kedua. Sedangkan kekuatan terkuat Fretilin hanya bertahan di sektor terjauh di bagian timur yang menguasai setengah pulau tersebut. memperkirakan bahwa Fretilin memiliki sekitar 5. terdapat pula perpecahan ideologis.000 anggota pasukan Indonesia tewas. bagaimana peperangan dilakukan dan bagaimana program-program sosial dan politik Fretilin diterapkan.hak menentukan nasib sendiri. Pada tahun 1984. Indonesia membentuk dua batalion pasukan ayng direkrut dari orang-orang Timor 55 Kita segera akan melihat bagaimana munculnya sebuah pola-pola regional yang berbeda. Mereka umumnya memiliki sikap menjauhi urusan politik. yang disusun sampai bulan September.000 pasukan cadangan yang ditempatkan di Timor Barat.” Pertama. Di dalam organisasi gerakan perlawanan itu sendiri. Ketiga. berdasarkan sebuah laporan intelejen Australia. diberitakan bahwa Indonesia telah menempatkan 32. Mereka memilih bergerak mundur dan dengan demikian memperkuan regionalisme dalam gerakan perlawanan mereka. Masign-masing adalah: “sikap kompromi dengan musuh. faksi-faksi yang bersikap lebih moderat dan siap bekerjasama dengan pihak Indonesia berpusat di north-central.” Lobato dan kepala staf Falintil (angkatan bersenjata Fretilin) “menolak mentah-mentah” usulan itu yang dianggap tidak relevan karena mereka telah menyatakan kemerdekaan Timor-Timur pada tanggal 28 November. sejak awal mayoritas dari lima puluh dua anggota Komite Sentral Fretilin menentang setiap bentuk negosiasi atau kompromi dengan Indonesia. Dalam kaitan ini. 54 Tetapi pihak penyerbu telah melakukan pembunuhan yang jauh lebih besar dibanding Fretilin. muncul perbedaan di antara kalangan militer profesional dengan pemimpin sayap kiri Fretilin yang menegaskan “garis politik adalah hal utama di atas garis militer” dan pentingnya mengorganisir kekuatan bersenjata dari kalangan petani.” yang berakhir dengan pemecatan do Amaral.

Fernandes berharap munculnya dukungan dari negara-negara sosialis. Dalam pidato Lobato disebukan bahwa “terdapat kebenaran dalam siaran tersebut.” 59 Seperti yang akan kita lihat kemudian. Fernandes adalah mantan ahli meteorologi dan seorang sosial-demokrat non-komunis. Radio Dili yang dikuasai pasukan musuh dari Jawa telah menyiarkan cerita mengenai perpecahan serius” antara dirinya dan do Amaral. meskipun terdapat ketidakstabilan dan kekerasan internal dalam tubuh gerakan mereka. memasuki tahun 1977–78 posisinya “menjadi ragu dan beralih” memilih berkompromi dengan pihak Indonesia.64 Pada pertengahan tahun 1976.63 Sejak periode ini. yang saat itu berada di luar negeri. 67 (Jose Ramos–Horta dan Mari Alkatiri. ruang bergerak yang bebas bagi kekuatan bersenjata mereka. Puncaknya terjadi pada bulan September 1977 ketika Lobato memerintahkan penangkapan Amaral atas tuduhan “pengkhianatan tingkat tinggi. Keduanya dilaporkan begitu terkejut menyaksikan kebrutalan pasukan Indonesia.komunitas dan wilayah. 60 Tetapi. tetapi semakin rumit dan mudah meledak seiring dengan perkembangan suasana dan perubahan pandangan dalam perjalanan waktu. perbedaan di antara kedua tokoh pimpinan ini semakin meruncing. Lobato mengemukakan bahwa “hampir setahun. Tetapi harapan ini tidak pernah terwujud.” Dalam pidato yang disiarkan melalui radio Fretilin pada tanggal 14 september 1977. perpecahan dalam tubuh Fretilin bukan hanya sekedar masalah kedaerahan dan ideologis sifatnya. di dalam wilayah administrasi Fretilin yang 11 . Xanana Gusmao mengatakan bahwa Fernandes menjadi seorang “algojo” dengan “sikapnya yang penuh dendam dan haus darah. Ketika perang melawan pihak Indonesia berlangsung.” 65 Bagaimanapun. deputi dua Menteri pertahanan. Sosok Alarico Fernandes. 66 Empat puluh dari lima puluh dua anggota Komite Sentral partai selamat dan lolos dari penangkapan pada masa-masa awal invasi. Tidak cukup jelas apakah Fernandes bertanggungjawab atas eksekusi terhadap tahanan-tahanan UDT setelah periode invasi. mengungkapkan kepada kita bagaimana perbedaan regional dan politik yang tajam. Ketika tekanan semakin meningkat. menjadi petunjuk penting yang mengungkapkan pola perubahan yang terjadi selama 1975-1978. pemecatan demi pemecatan terhadap anggota gerakan Fretilin semakin meningkat.58 Selama satu setengah tahun pertama perang kemerdekaan (1975-1977). mobilitas pemimpin-pemimpin Fretilin.” Gusmao bagaimanapun menyatakan hal ini secara implisit dan samar-samar. 64 Xanana menulis bahwa sayap kiri Maois dalam tubuh Fretilin turut bertanggungjawab atas “gelombang pembantaian terhadap kaum nasionalis” yang “dibunuh atas tuduhan reaksioner dan pengkhianat. menjalankan perjuangan diplomatis di PBB dan belahan dunia lainnya). Menteri Informasi dan Keamanan Nasional dari kubu Fretilin. presiden Fretilin Xavier do Amaral bekerja secara sporadis dengan wakil presiden dan perdana menteri. Pidato Nicolau Lobato yang bertele-tele pada bulan September 1977. Hermengildo Alves.”62 Fernandes bagaimanapun mulai kehilangan harapan datangnya dukungan internasional dalam perjuangan mereka. Fernandes bergabung dengan faksi militer profesional. dan juga seorang “pemabuk” berubah menjadi seorang “algojo sejati”. rapat-rapat umum di hutan. setelah kudeta penuh kekerasan oleh pihak UDT. pada tahun-tahun pertama perang Fretilin berhasil membangun sebuah bentuk gerakan perlawanan terhadap Indonesia. Nicolau Lobato. dan menyatakan bahwa “Saya meyakini Marxisme sebagai satu-satunya jalan dalam pembebasan rakyat kita. Ia memandang bahwa Austria dan Skandinavia adalah model politik yang masuk akal bagi Fretilin. Apabila sebelumnya Fernandes merupakan orang yang menentang dengan keras langkah perundingan.

sekelompok orang ditembak karena menolak menyerahkan harta mereka. serangan militer Indonesia disebut sebagai “salah satu operasi militer paling brutal dalam sejarah perang modern.”72 Seperti yang diungkapkan Dunn. Angka itu menunjukkan kemungkinan bahwa sekitar 200.”71 Nicolau Lobato menambahkan bahwa “di seluruh negeri peralwanan tetap kuat meskipun terdapat serangan-serangan beruntun oleh musuh di wilayah-wilayah mereka. para pejabat Indonesia mengakui kemudian bahwa pada 1975–76. 75 Di bagian timur.68 Menurut laporan Gereja katolik Indonesia pada tahun 1976 menyebutkan bahwa “80% wilayah Timor-Timur masih belum dapat dikuasai sepenuhnya oleh kekuatan militer Indonesia. 77 Dalam kaitan ini.000 masih tinggal di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Fretilin di pegununangan. sementara di tempat lain pasukan Indonesia melemparkan granat ke dalam rumah yang dikunci dari luar. Alarico Fernandes menyebutkan dalam sebuah siaran radio bahwa Fretilin “menguasai sebagian besar wilayah mereka. 80% dari lahan nasional. harapan Jakarta untuk segera meraih kemenangan dengan cepat gagal total. serta eksekusi langsung terhadap pendukung Fretilin. sementara Fretilin menguasai sepertigannya dan dapat bergerak bebas di sepertiga wilayah lainnya. pasukan Indonesia membunuh sekitar dua ribu orang pada hari pertama invasi mereka. Menurut keterangan seorang pastur. menteri luar negeri Indonesia Mochtar mengakui bahwa hanya setengah dari penduduk Timor-Timur sebelum tahun 1975 yang berada di bawah kekuasaan Indonesia. 78 Genosida Pembantaian massal terhadap penduduk Timor-Timur dimulai sejak awal pendaratan pasukan Indonesia pada bulan Desember 1975. Dalam uraian Dunn.”76 Sampai akhir November 1979.”73 Dari total jumlah penduduk pada 1974 yang diperkirakan mencapai sekitar 650. yang ditembak di dermaga. Sekitar lima ratus keturunan Tionghoa dibantai dalam waktu satu hari pada tanggal 8 Desember. empat puluh penduduk Timor-Timur tak bersenjata tewas dibunuh. “sebagian besar penduduk wilayah ini telah bersembunyi di wilayah pegunungan.000. Bayi laki-lakinya dapat diselamatkan oleh adik perempuannya pada saat-saat 12 .”69 Satu delegasi diplomatik asing yang mengunjungi Timor-Timur pada bulan Mei 1977 melaporkan bahwa Indonesia hanya dapat menguasai sepertiga wilayah Timor-Timor. “petunjuk tentang sejauh mana kontrol Fretilin adalah bahwa mereka masih menguasai kota Remexio. 70 Pada bulan selanjutnya. sebagai contoh. termasuk sedikitnya dua puluh perempuan di dermaga kota. Pasukan Indonesia dengan membabi buta menembaki ratusan orang Timor-Timur dan peranakan Tionghoa di jalanan.000. tanpa pernah terganggu selama lebih dari tiga tahun. tanggal 9 Desember.” Uskup Timor-Timur menyaksikan pembantaian 150 orang.79 John Taylor menguraikan pula kesaksian individu-individu yang menyebutkan “seluruh anggota keluarga dibunuh karena mengibarkan bendera Fretilin di rumah mereka. dan mengalahkan pasukan penyerbu Indonesia di setiap medan pertempuran. termasuk di dalamnya tujuh ratus orang keturunan Tionghoa. Tetapi ramalan Nicolau Lobato tentang kemenangan mereka melawan “ekspansi Jawa yang tertatih-tatih” juga bersifat prematur. 74 sebuah sensus yang dilakukan oleh pihak Indonesia pada bulan Oktober 1978 menyebutkan sebuah perkiraan 329. meskipun mereka mendapat tekanan keras pihak Indonesia.”80 Termasuk mereka yang dibunuh dalam gelombang pembantaian awal ini adalah istri wakil presiden Nicolau Lobato. sekitar 15 kilometer dari ibukota Dilli. Keesokan harinya.cukup luas.

000 sampai 100. mereka membunuh hampir semua anggota komunitas keturunan Tionghoa. mereka membunuh siapa saja yang mereka temui di jalan-jalan. sebuah wilayah di sebelah selatan Dili. Namun. menyatakan bahwa sampai tanggal 13 Februari 1976. Dengan demikian pasukan Indonesia membantai cukup banyak penduduk Timor-Timur dalam periode awal invasi.82 Taylor yang mengutip Dunn mengatakan bahwa “di wilayah pedesaan di Remexio dan Aileu. penduduk yang tersisa hanyalah sekitar 1. setiap orang yang berusia di atas tiga tahun ditembak mati. ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 55.”84 Dan memasuki bulan Mei 1976. setelah invasi hanya tersisa sekitar 32.terakhir. pasukan Indonesia memberondong penduduk yang tersisa di kota-kota tersebut. sementara sebagian besar lainnya mengungsi dan bersembunyi di wilayah-wilayah perbukitan yang berada di bawah kontrol Fretilin. ketika pasukan Indonesia memasuki Zona Tengah. Penduduk yang tersisa sampai Februari 1976 hanya sekitar 9. kaum pria. 1975.81 Pembantaian menyebar ke wilayah pantai dan kota-kota di perbukitan. “Ketika pasukan Indonesia pada akhirnya berhasil merebut Liquica dan Maubara dari kontrol Fretilin.000. Sisanya dikabarkan telah mengungsi dan berlindung di wilayah perbukitan. Sebagian besar penduduk telah mengungsi.” Tanpa terkeculai.88 Pada bulan Maret 1977.000 sejak tanggal 10 Desember. Mereka yang dibiarkan hidup hanyalah anak-anak dibawah usia empat tahun yang kemudian dibawa ke Dilli dengan kendaraan truk.” Secara tidak langsung.” Setelah membakar rumah-rumah penduduk.”83 Seorang pelancong di Timor-Timur pada akhir 1975 menuturkan bahwa sulit baginya menemukan satu orang Timor-Timur yang masih tinggal di kota Ainaro. Lopez da Cruz. Seorang warga Timor-Timur yang menjadi penunjuk jalan bagi pejabat-pejabat senior Indonesia mengatakan kepada Dunn bahwa “pada bulan-bulan awal pertempuran.000 orang menjadi korban pembantaian “selama enam bulan perang saudara di Timor-Timur. dan menjadi tontonan publik. bahkan bagi Tomas Goncalves. di Lamaknan “pasukanpasukan Indonesia yang terluka dalam pertempuran membalas dendam dengan menyerang penduduk sipil di pengungsian yang mencapai sekitar sekitar 5000 sampai 6000 orang. 87 Laporan Gereja Katolik memperkirakan bahwa 60. masih terdapat 5. pasukan Indonesia mengeksekusi dua puluh enam orang di wilayah Liquica. mereka menembaki para pengungsi selama beberapa jam lamnya. perempuan dan anak. Dunn melaporkan bahwa pada bulan Juni 1976. Dunn menceritakan: “Ketika Fretilin pada akhirnya terpaksa mundur dari Aileu. 86 Pemimpin sementara pemerintahan pro-Indonesia.000 atau mungkin 80.000 orang tewas dibunuh sepanjang berlangsungnya 13 . menjadi korban penembakan.” Taylor menambahkan bahwa “Ketika pasukan Indonesia memasuki Aileu pada bulan Februari 1976. Di kota Baucau. Menteri Luar Negeri Adam Malik menyatakan bahwa “sekitar 50.000 orang tewas setelah dua bulan pasukan Indonesia melakukan invasi ke Timor-TImur. Pada pertengahan 1976. Seorang supir truk asal TimorTimor yang bekerja untuk pihak Indonesia melaporkan bahwa sekitar dua ribu orang tewas dalam peristiwa itu. dari jumlah penduduk sekitar 85.000 orang dibunuh dalam periode waktu dua bulan tersebut.” Peristiwa pembantaian di Aileu menjadi begitu mengerikan. ketika para pekerja asal Indonesia yang memperbaiki infrastruktur mengunjungi wilayah itu pada bulan September 1976.000 penduduk yang menghuni kota tersebut. 60. Sebagian kecil penduduk tetap tinggal di kota tersebut. seorang putra liurai Atsabe yang menjadi pendukung utama integrasi dengan Indonesia.000 orang.”85 Pembantaian terburuk terjadi di Timor Barat yang sejak awal telah jatuh di bawah kekuasaan pasukan Indonesia.646 jiwa.

Pada tahun 1987. yang merupakan putra seorang liurai. Amerika Serikat adalah penyumbang terbanyak. Xanana menolak “radikalisme yang tidak masuk akal” dan “tidak memperhatikan kondisi-kondisi kongkrit kita” serta “menjadi penyebab kehancuran dan menjadikan tindak-tanduk rekan-rekan pejuang sebagai agresor kriminal.000 tewas sejak 1975. Lobato. Kekuatan baru segera muncul dibawah pimpinan Xanana Gusmao yang merupakan kekuatan nasionalis moderat dalam tahun-tahun awal pendudukan. Dalam pidato pada bulan September 1977. baik yang bersifat regional maupun idologis.93 Tuduhan Lobato tentang politik rasis do Amaral terhadap keturunan Portugis memberikan gambaran yang menarik tentang pengaruh etnisitas dalam tubuh gerakan Fretilin. Kecaman do Amaral’s nampaknya lebih banyak diarahkan pada dominasi politik yang bersifat top-down. militer Indonesia telah berupaya menjadikan Fretilin sebagai sasaran penghancuran pada 1977–79. Tetapi tetap saja mereka tidak mampu melenyapkan sama sekali kekuatan itu. diikuti oleh Inggris. Prancis dan Australia. 92 Gerakan Perlawanan Bagaimanakah gerakan perlawanan Fretilin dapat bertahan dibawah tekanan kelaparan dan genosida oleh pihak Indonesia? Dan bagaimanakah pimpinan moderat dalam tubuh Fretilin dapat mengembangkan inisiatif bagi pergerakan mereka dibawah tekanan seperti itu? Sumber-sumber primer mengenai perpecahan internal dalam tubuh Fretilin. sebuah genosida yang dilakukan pasukan pendudukan Indonesia. Pertentangan politik semacam itu bagaimanapun tidak menghasilkan persekusi rasial. Ia juga menyesalkan bahwa “kemanusian telah menutup matanya dalam pemusnahan rakyat Maubere. Tidak dapat disangkal bahwa identitas nasional dan multiregional Fretilin berasal dari kalangan perkotaan. Mungkin saja do Amaral menganggap “nasionalis hitam” seperti Lobato tidak lebih dari sebuah pretensi yang menutup-nutupi kenyataan mengenai kondisi ekslusif yang tidak demokratis dalam tubuh gerakan itu.90 Invasi skala besar dan genosida pada akhirnya mendorong lahirnya elemen-elemen radikal yang mulai mendominasi gerakan perlawanan Fretilin. Namun soal sesungguhnya terletak pada permusuhan mendalam di antara mereka. 94 mencoba menghidupkan semanga regionalisme tradisionalisme.”91 Lebih dari $1 milyar peralatan militer Indonesia didapat dari luar negeri.000 orang lainnya selamat. Dengan mencoba memahami posisinya. Menteri Luar Negeri Indonesia yang baru. yang mengakui dan sekaligus menolak tuduhan itu. terlepas dari perpecahan regional dengan skala konflik etnis yang kecil. memberikan angka perkiraan yang menyebutkan bahwa sekitar 120. Mochtar Kusumaatmaja. menggarisbawahi sebuah fakta mengenai daya tahan nasionalisme Timor Timur. Nicolau Lobato menyatakan bahwa do Amaral telah “mengembangkan sebuah teori yang bersifat rasis.”89 Kemudian pada tanggal 12 November 1979. dengan menyalahkan sebab terjadinya peperangan kepada pihak mesticos. do Amaral mungkin saja telah melontarkan tuduhan tentang organisasi Fretilin yang dikuasai oleh sekelompok elit kecil mestico non Tionghoa dibanding penduduk pribumi Timor-Timur.peperangan. Adam Malik mengatakan bahwa setidaknya 600. Seperti yang akan kita lihat. dan ideologi nativisme dari dalam 14 . Mereka semua bertanggungjawab dalam genosida tersebut. balik menuduh bahwa Amaral.

Amaral “menjalankan praktek hukuman mati. Baik pihak sipil maupun militer.. do Amaral “tidak pernah hadir dalam rapat Komite Sentral Fretilin... Seperti tertuang dalam tuduhan Lobato. telah mengadopsi strategi perang rakyat.”98 Di luar tuduhan tersebut.” Rapat Komite Sentral di Soibada pada 20 Mei sampai 2 Juni 1976.” Ia berpendapat “sentralisme demokratis” sebagai “prinsip utama . prajurit. kita sesungguhnya menyaksikan sebuah perkembangan politik penting dari persaingan ini.sebagai bahan dukungan politiknya. sucos (kelompok suku). menekankan pentingnya tugas-tugas pengorganisasian dan militer.” dan menyalahkangunakan “perlindungan lembaga-lembaga feodal seperti rajah. “Dapat disimpulkan bahwa perlawanan frontal terhadap pasukan Indonesia yang bersenjata lengkap adalah tindakan bunuh diri..”96 Do Amaral “menempatkan saudara dan teman-temannya. 99 Budiardjo dan Liong melaporkan. beberapa komandan yang sebagian besar merupakan para pejabat adalah pendukung Amaral yang setia.” Do Amaral “mengunjungi upacara-upacara dengan penuh kesombongan dan pesta jamuan besar. . kekuatan regional. telah menyebarkan teori yang salah bahwa Turiscai adalah mata air politik di Timor-Timur. yaitu regionalisme dan otoritas kepimpinan tradisional..” Do Amaral “melalui mulut saudara-saudara dan bos-bos feudal. Akibatnya pimpinan gerakan Fretilin cenderung beralih pada taktik perang gerilya.” 95 Rejim seperti apakah yang dijalankan oleh do Amaral di wilayah Utara Tengah pada tahun 1976–77? Xanana mengenang bahwa pada awal 1976. dan dasar pikiran politik kita. dan kemudian “pesta dansa bergaya kolonial semalam suntuk dan terkadang selama seminggu. “Kami mengadakan perjalanan melewati Turiskai. Kepala-kepala suku ini.Remexio-Lekidoe-Mantuto dan sebagian Maubisse.. [S]eluruh tindakan kita harus diarahkan dan berorientasi apda tujuan politik. “Tanah-tanah feudal yang dimilikinya terbentang dari Turiscai-[Ainaro]..”100 Di sini kita melihat pengaruh Maoisme yang terang. dan kelompok-kelompok etnis yang berbeda. sebagai pemimpin gerakan perlawanan yang tidak banyak berperan dalam periode 1975-1977. perkawinan paksa (balaques). Xavier mengendalikan kerajaannya dalam kehidupan yang mewah dibawah perlindungan feodalistik saudara-saudaranya. Semangat regionalisme semacam ini sudah barang tentu menjadi ancaman bagi kelompok nasionalis.” Lobato menggunakan slogan “Politik sebagai panglima. perjalanan dengan iring-iringan panjang dan suara riuh penjaganya.” Lobato mengungkapkan bahwa kekuatan do Amaral berada di sudut wilayah Utara Tengah Timor-Timur. menghidupkan pengadilan Dewan Tetua. dan secara praktis. bersama dengan pendukung-pendukung mereka. dan povoacaos [unit-unit desa]. yang membentang dari wilayah pegununang selatan Dili sampai pantai di barat.” termasuk juga kepercayaan terhadap lulics (jimat) “dan takhyul lainnya. do Amaral nampaknya berhasil memanfaatkan teknik-teknik kekuasaan tradisional liurai. Regionalisme semacam itu jelas menjadi tantangan bagi dominasi kaum nasionalis.. Menurut Lobato. orang sipil dapat menjadi tentara dan tentara dapat menjadi orang sipil.” Ia malah memperuncing perpecahan di antara pimpinan. Lobato membayangkan “sebuah masyarakat baru.” Lobato menyebut semua ini sebagai “otoritas feudal yang otentik.” 97 Di tingkat lokal. dukungan untuk hubungan kekeluargaan feodal. bebas dari segala jenis eksploitasi manusia oleh manusia. Nampaknya kondisi itu pula yang 15 .” yang berarti “tidak ada tembok yang memisah penduduk sipil dan tentara . tugas mereka adalah tugas politik .

do Amaral memandang bahwa perjuangan militer dipisahkan dari perjuangan politik. Seperti dikatakan Lobato. Xanana mengenang bahwa ia pernah mendengar slogan Maois yang antiSoviet: “‘Imperialisme [sebanding] dengan imperialisme sosial” yang menjadikan para politisi menolak permintaan dukungan dari Uni Soviet. pertentangan tetap terjadi dalam lingkup perjuangan nasionalis yang inklusif. dan menjadikan peperangan sebagai tugas tak terhindarkan dalam mengorganisir negara dan ekonomi. imperialisme dan kaki tanganya..”104 Cukup menarik.103 Pada saat yang sama. seperti dikatakan Lobato. “hanya satu kekuatan pelopor yang ada: Komite Sentral Fetilin—baik dalam jiwa dan raga.” Sedangkan siaran Fernandes dan Lobato menyatakan bahwa “musuh utama rakyat adalah imperialisme. tidak dapat mempersiapkan diri mereka di garis depan seperti di wilayah Turiscai dan Maubisse.” Langkah ini jelas mengancam kedudukan Lobato sebagai perdana menteri sekaligus panglima tertinggi angkatan bersenjata di wilayah-wilayah yang dikuasai Fretilin. Bukankah ini yang terpenting bagi kita?” ujar Xavier. Yang saya perlukan adalah bantuan. Saya tidak peduli bantuan itu datang dari Amerika Serikat. Dalam masingmasing serangan politik. yang dianggap memiliki harapan besar atas dukungan dari luar dalam perjuangan mereka.” 101 Pernyataan ini jelas menunjukkan sebuah posisi politik.” Dengan demikian “do Amaral telah memulai sebuah polemik tajam” dengan Fernandes. kekuatan Maois dalam tubuh Fretilin terus menyerang kedudukan do Amaral.Uni Soviet atau Cina dan lainnya. Perpercahan politik ini memang melemahkan Fretilin. yang semakin terdesak dan kalah posisi. dan juga Fernandes sebagai perwira militer. Sebagian besar “pasukan yang tercerai berai . Kehancuran Konflik internal dalam tubuh gerakan Fretilin telah dimulai sejak awal bulan Maret 1976. serta mengalihkan pengorbanan sumber daya ekonomi dan manusia demi kekuatan militer berdasarkan “teori aneh bahwa dalam periode perang kita hanya memiliki sedikit waktu untuk berpikir.” demikian Lobato mengemukakan. dari basis kedaerahan yang kuat di timur. “Tidak ada tempat” bahkan untuk melakukan persiapan militer. bahwa pertentangan internal yang sebagian bersifat politik dan sebagian lagi bersifat kedaerahan tidak pernah menjadi sebuah konflik bersifat rasial.melahirkan Dewan Perlawanan Tertinggi untuk mengawasi perang rakyat.. Ini merupakan sebuah 16 . tetapi juga tidak menghambat kebangkitan kembali gerakan itu di seluruh wilayah. “Saya tidak peduli apakah arti dari imperialisme atau imperialisme sosial. Do Amaral dianggap telah “memberikan perintah keliru” dengan menyiarkan “tidak perlu lagi melakukan serangan terhadap . Sebaliknya.102 Persaingan di antara keduanya tersiar dalam siaran radio yang dikelola Alarico Fernande.. seiring dengan berlangsungnya rapat Komite Sentral di Fatu Berliu. “Memang saat ini kita tidak memiliki pilihan lain selain berperang. Do Amaral telah menterjemahkan arti “Politik Sebagai Panglima” dengan menempatkan orang-orang sipil yang ditunjuknya mengepalai unit-unit bersenjata di wilayahnya.. Ia menjadikan Biro Politik “sebagai sebuah komite sentral mini” seperti seorang raja kecil yang memimpin orang di wilayah tersebut.

berikut pemancar radio.” Komite Sentral kemudian menolak usulan pencalonan kembali do Amaral’ sebagai anggota. Dalam kondisi ini Xanana mulai mengkhawatirkan kondisi “para prajurit yang mulai dicekam rasa ketakutan..” Komite Sentral mengadopsi strategi perang rakyat dengan pilihan “kemandirian”—kecuali bagi perwira-perwira militer. Ia mulai mendepak kelompok nasional Fretilin dari wilayahnya. hubungan antara kekuatan sipil dan militer semakin menegang.. Dalam kongres itu. Atmosfir rasa tidak puas dan ketegangan mewarnai pertentangan tersebut .. “jelas sekali bahwa piha militer memandang para politisi sipil sebelah mata . Fernandes “memulai serangan dengan menelanjangi kesalahan-kesalahan Xavier do Amaral. Soares dan tiga rekan mereka ditangkap oleh komandan gerakan Fretilin di wilayah tetangganya dan dihukum mati. do Amaral dianggap “tidak lagi mengikuti resolusi yang dikeluarkan dalam kongres Mei 1976. Sementara Nicolau memiliki pendapat berbeda. mengajukan gaya hidup “puritan” yang mendapat dukungan lebih luas.. Sejak saat itu.” 110 Pertentangan lebih keras berlangsung antara mayoritas anggota komite sentral dan para prajurit yang dipimpin Aquiles Soares. Sa’he juga memberikan sebuah buku mengenai Materialisme Sejarah.” Ia merencanakan “pemusatan massa secara besar-besaran di lingkup kekuasaan feudalnya di Turiscai” pada bulan Juni. sementara yang lainnya. Do Amaral menyatakan bahwa negara adalah “abadi dan berasal dari Tuhan.111 Salah seorang yang turut dieksekusi adalah seorang liurai yang pro -Fretilin di sektor Tengah Timur. “tetapi saya mengatakan padanya bahwa saya sudah mendengar terlalu banyak berbagai isme di Barique.”112 17 . Mereka membahas persoalan konsep-konsep Marxisme dan negara. seperti Vincente Sa’he. “banyak” perwira profesional diusulkan menjadi anggota Komite Sentral “untuk mencegah pemberontakan para prajurit. Nasionalis konservatif dan prajurit profesional ini menolak adanya pandangan politik nasional. yaitu anggota Komite Sentral Fretilin masih bersifat apolitis.. Beberapa mahasiswa beraliran kiri yang baru kembali dari Portugal. Alarico Fernandes “telah menyatukan diri dengan para prajurit” dan juga meninggalkan rapat Soibada. sementara kelompok liurai lokal lainnya telah menjadi pendukung Apodeti.”108 Do Amaral juga berkeberatan untuk tunduk pada Dewan Tertinggi. Terlebih lagi. dalam pertemuan di dekat Barique. Pada bulan November 1976. terdapat juga pembahasan mengenai masalah ideologi.107 Do Amaral akhirnay meninggalkan rapat tersebut “setelah hadir selama tiga hari dengan alasan perayaan hari nasional pada tanggal 20 Mei. di luar rapat. “Xavier kehilangan kontrol diri karena ia tidak paham politik. seorang liurai dari wilayah Tengah bagian Timur. “Komandan-komandan kita terus menerus menangkapi orang Apodeti dan saya terus menerus membebaskannya.”109 Rapat Soibada juga memunculkan perpecahan lain.” Dalam apa yang disebut Xanana sebagai “bola salju pikiran revolusioner. Menurut Xanana. seperti dikatakan Xanana.” Ia malah menyatakan “bahwa pekerjaan pengorganisasian berjalan setelah perang. Soares selanjutnya dilaporkan telah mengabaikan perintah Komite Sentral menyediakan makanan untuk penduduk di wilayah lain serta mengungsikan mereka ke tempat yang lebih aman.105 Pada bulan April.” Meskipun demikian. sampai mereka bosan melakukannya. para prajurit menolak kedudukan para politisi.”106 Dan kemungkinan dalam kesemptan itu kesepakatan lahir untuk membentuk Dewan Tertinggi Perlawanan. Dalam rapat Komite Sentral di Soibada tanggal 20 Mei-2 Juni 1976. dan mayoritas dari kita. “mencoba mempengaruhi pemikiran kita tentang ‘cinta bebas’.kongres pertama yang dilakukan Fretilin di sektor Selatan Tengah. Para prajurit tetap membentuk kekuatan inti yang terpisah. Kemungkinan juga Soares membangun kontak dengan pihak Indonesia.

.” Menurut Xanana “saat itu kami masih dibuat bingung oleh visi pembebasan mansuia yang begitu ajaib. Hermengildo Alves mengeluhkan . bagaimanapun ia tetap seorang yang bersifat relijius . Perdebatan nampaknya tidak selesai. Nicolau Lobato “berhenti berbicara . ‘Tak seorangpun berdoa kepada Tuhan atas makanan yang diberikan dari keringat rakyat yang mengerjakannnya. Teori itu betul-betul menarik minat kita untuk merencanakan gagasan dan pemikiran strategis. sampai semua komisaris politik diperintahkan untuk duduk di meja yang sama dan mengorganisir diri. Gerak pasukan Indonesia yang semakin mendekat menghentikan langkah ratifikasi usulan tersebut.” Menteri Keuangan Sera Key “memperdebatkan isu tersebut. .” Xanana mengenang. “Saya mencoba mendapatkan buku Pikiran-Pikiran Ketua Mao. “perdebatan tajam terjadi berkait dengan usulan menjadikan Fretilin sebagai gerakan Marxis.”116 Terlepas dari ketidakhadiran Amaral.”114 Pertentangan internal dalam tubuh gerakan Fretilin semakin meruncing. “Kami melakukan studi kelompok mengenai “persoalanpersoalan strategis” dalam pikiran Mao dan merubah teori perang.” Pada saat yang sama. Pada pertengahan Desember. negara juga akan mendapatkan anting emas istri saya. menunjukkan kemampuannya sebagai seorang teoritisi politik. 119 Menurut Xanana.Komite Tetap Komite Sentral.” Pada bulan Mei 1977. menghantam rakyat.” 117 Pada saat makan siang di tengah-tengah diskusi politik. tetapi itu semua teori yang membutuhkan korban jiwa yang besar. Setelah menolak undangan dari “seluruh anggota” Komite Sentral. kemungkinan telah mengeluarkan perintah tindakan represi. mengancam eksistensi negara kita yang baru terbentuk dan menghancurkan kesatuan Front. pihak Indonesia memulai pemboman lewat udara.” tetapi semua ini dilakukan tanpa pembentukan sebuah partai revolusioner.” ujar Lobato. do Amaral sebagai presiden Fretilin memboikot pelaksanaan konferensi Komando Tinggi Gerakan Perlawanan dari Seksi Politik Komite Sentral yang dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 20 Mei 1977. yang mengadakan rapat pada tanggal 20 September 1976. Xanana mengingat: “Pada saat itu saya memahami kekecewaannya. Tidak jelas apakah do Amaral hadir dalam pertemuan tersebut. mencoba memahami cara Mao yang sederhana dalam menjelaskan persoalan-persoalan rumit. 113 Jurang ideologi juga semakin melebar. dos Anjos “yang bohemian” melontarkan “lelucon-lelucon anti-revolusioner yang tidak dianggap lucu bagi orang-orang di Departemen Politik dan Ideologi. .“bahwa sejak hari ini. do Amaral dituduh telah melakukan pertemuan secara diam-diam dengan para komandan di luar pengetahuan kader-kader politik dan “membujuk mereka mengabaikan” perintah komando tinggi. “Marxisme mungkin telah ditetapkan. Setelah itu tidak ada lagi perdebatan. Nicolau menghentinka rapat tersebut. Meskipun ia seorang Marxis.. Hasilnya adalah apa yang disebut Lobato sebagai “krisis mendalam yang mengguncang bangsa kita..” Lobato telah menyumbangkan perkebunan milik keluarganya untuk negara. Tetapi yang jelas telah terjadi perpecahan di antara para pengikut gerakan Fretilin.”121 Perbedaan yang semakin mendalam nampaknya tercermin dalam pernyataan-pernyataan yang 18 . Ia adalah satu-satunya yang tidak meninggalkan ruang rapat. 115 Xanana mengatakan bahwa “Xavier nampaknya berbahagia di kerajaannya dan tidak mau lagi ikut dalam pertemuan-pertemuan. “Pada akhir 1976. Ia merasa nampaknya merasa muak. Saya membaca dan membaca ulang.”118 Pada saat pimpinan Fretilin berdebat soal Marxisme.120 Tekanan militer Indonesia pada akhirnya semakin memperuncing pertentangan internal Fretilin.

dan nampaknya menolak menggunakan istilah “imperialisme”. Atau setidaknya mereka adalah kaum Maois. Dalam berbagai wawancara.”130 Dalam rapat Komite Politik CC di Aikurus.. yang dilakukan oleh radio dari Australia pada 18 dan 19 Juni 1977. do Amaral kembali tidak hadir dalam rapat di Laline.” faksi Lobato’s memecat dua anggota CC dari Timor-Timur tengah dan lima kader dari wilayah yang sama. Pada tanggal 20 Mei 1977. tetapi disebar untuk menahan invasi Indonesia.. Amaral juga sama sekali tidak menyinggung pemikiran Maois tentang “imperialisme sosial” Uni Soviet.122 Dalam kaitan ini. “pengkhianat Domingoes Simoes” mencoba melakukan pembunuhan terhadap Alarico Fernandes. ia ditangkap oleh Lobato dan Fernandes. dan penjual tanah air.” 123 Perbedaan ini telah memunculkan isu lain. kita mengunjukkan senjata. yang mungkin terjadi karena sekali lagi tidak hadir dalam rapat Dewan Tertinggi. Do Amaral langsung dipersalahkan. Untuk melakukan itu. Perjuangan bersenjata kita memiliki bentuk dan nuansa politik. dan menaytakan bahwa pemerintahannya telah “mengorganisir rakyat untuk membela tanah air. Di Lisbon. Sebaliknya.” Sa’he. yang kagum atas pengalaman Albania dan Kuba. 125 Pada tanggal 7 Agustus 1977.” 127 Lobato mengumumkan: “Dalam menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh kawan. Vincente Sa’he dan Xanana telah menyiapkan “rencana pembentukan sebuah partai revolusioner ketika waktunya tiba. Semua disiarkan oleh radio Fretilin yang dapat ditangkap dan direkam di utara Australia.” dan “jangan pernah berunding dengan musuh. Do Amaral menekankan aspek militer dan regional dari perlawanan. kita harus memperkuat aparat represif negara kita. Sampai hari ini. jadi mereka tidak akan digiring . Nicolau Lobato menyatakan: “Politik adalah komando. Xanana menjawab “Tidak”. jangan dikira saya benar-benar menguasai masalah teori. ia nampaknya mencoba melakukan kompromi dengan pasukan pendudukan. Pembahasan masalah ideologi terus berlanjut. waktu terbanyak yang saya lakukan dengan Partai Komunis Portugis adalah menulis slogan-slogan di dindin!” 131 19 .. Dalam sebuah rapat pada malam bulan Agustus 1977.” 124 Tetapi masih belum jelas siapa yang sesungguhnya menginginkan perundingan. pada saat perayaan hari jadi Fretilin. pengkhianat. menteri pendidikan Hamis Basserwan mendapat “tanggungjawab pendidikan ideologi bagi anggota-anggota komite sentral Fretilin. “Kami mungkin Maois. meminta Xanana untuk bergabung dengan partai tersebut. yaitu apakah mereka akan memilih jalan perundingan. Sedangkan kesalahan yang dilakukan musuh. panah dan tombak. Lobato dan Fernandes. Mereka melakukannya dengan baik hanya dengan senjata. perjuangan melawan koloanialisme dan neo-kolonialisme Indonesia terus berjalang.dilontarkan do Amaral. Pada tanggal 7 September 1977.” Xanana mengenang kembali percakapannya dengan Basserwan yang mengatakan “Xanana.”128 Sambil menyerang kelompok Amaral sebagai “budak yang taat dari kaum ekspansionis Jawa. Kita tidak berperang hanya demi peperangan itu sendiri.” Dan Ia menyerukan “pembebasan rakyat kita dari kaum kolonialis dan imperialis. 129 Kader-kader lain yang dituduh sebagai agen “yang disusupkan dalam Departemen Informasi dan Keamanan Nasional” juga ditangkap dan “diinterogasi secara mendalam..” 126 “Dalam suasana yang kisruh. kita menggunakan senjata kritik.” Lobato mengumumkan bahwa pengakuan telah “didapat dari para tahanan” dan diketahui bahwa sekretaris Zona Remexio adalah “seorang penkhianat yang telah kita amankan. dalam sebuah wawancara yang disiarkan dalam bulan berikutnya.” Xanana mengenang. tanpa artileri berat. Alarico Fernandes menekankan sebuah slogan yang masih membutuhkan penegasan dalam perdebatan terakhir: “jangan pernah berunding dengan pemerintahan Jakarta yang korup.

yang mana tiga puluh orang menjaga kekuatan wilayah itu. Xanana kemudian melepaskan para tahanan tersebut.” Tetapi dalam sebuah rapat empat anggota CC. 132 Meskipun terjadi gelombang penyingkiran penuh kekerasan terhadap para pengikutnya. Komisi Politik Nasional Vicente Sa’he. 143 Kemudian. Menteri Pendidikan Basserwan. terjadi penangkapan lagi. pada tahun 1977-1978 sektor north-central nampak lebih condong untuk mendapatkan pimpinan lokal dan nasional yang dapat melakukan kompromi dengan Jakarta. do Amaral menghabiskan masa hidupnya di Bali dan Jakarta)135 Pada tanggal 2 Desember 1978. Pesawat-pesawat tempur telah menyebar benih kematian sepanjang hari. Kita tidak memiliki kontrol kuat sesungguhnya . bekas saingan Amaral. Ia menguraikan apa yang dilihatnya di sana: “Saya mengunjungi semua garis depan dari pertempuran. ledakan bertubi-tubi. Dengan jarak yang tidak jauh dari Dili dan pusat kekuasaan Indonesia. Xanana dan beberapa pasukan bertempur mati-matian mencari jalan keluar ke arah timur. . Fernandes menyebutkan enam pimpinan “pemberontak” yang melanjutkan gerakan perlawanan Fretilin: Presiden Lobato.”141 Basis itu kemudian jatuh dalam pengepungan pihak Indonesia pada tanggal 22 November 1978. Namun ia tetap yakin pentingnya “kekerasan revolusioner. Kali ini yang tertangkap adalah Menteri Informasi Fernandes. seperti lembah Natarbora. . do Amaral dan rekannya Arsenio Horta tetap bertahan dalam tahanan Fretilin. asap.137 Pada akhirnya Fretilin menuduhnya menciptakan konspirasi untuk kudeta “melalui hubungan dengan kekuatan-kekuatan di sektor central-north. yang dipimpin oleh wakil presiden Mau Lear dan Vicente Sa’he. Pada tanggal 30 Agustus 1978. pasukan Indonesia berhasil menangkap pendukung gerakan Fretilin dalam pertempuran di Remexio.133 Do Amaral kemudian dibawa ke Dili. Pada 20 . Ia terlihat bingung. 142 sementara yang lain berhasil lolos ke arah barat. debu dan antrian panjang orang-orang yang mencoba mendapatkan air bagi anak-anak mereka .” Key adalah orang yang mendorong lahirnya penyelidikan di tingkat lokal terhadap golongan “kontra-revolusioner. Nicolau Lobato dikepung dekat Maubisse. Pemboman. . 140 Xanana sampai di wilayah itu dengan orang-orang lainnya dari ujung timur pulau tersebut pada bulan September 1978. 134 (Selama dua puluh tahun kemudian.139 Salah satu basis kekuatan terakhir mereka adalah wilayah Zona Timur di pegunungan Matebian. Wakil Menteri Ekonomi Helio Pina.”138 Ini adalah basis dukungan utama Amaral.136 Salah satu pengumuman radio terakhir yang terlontar dari Fernandes adalah bahwa ia dan rekan-rekannya telah memutuskan ikatan dengan CC. Tidak ada tempat bagi rakyat. Pada saat ditangkap. Ia kemudian menyerukan kepada anggota Fretilin lainnya untuk menyerah. Pada malam itu. Saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa anggota CC melakukan penyiksaan. . kematian. dengan jumlah penduduk sebanyak enam puluh ribu jiwa dekat pantai selatan.” Xanana menyatakan bahwa ia mencoba membujuk Key untuk membiarkan dirinya yang melakukan investigasi. mengenai kekejian yang terjadi di wilayah itu. Xanana. anggota CC Sera Key kembali dari Aikurus dan mengatakan kepada bawahannya.Di bagian timur. Xanana membuat laporan yang menantang posisinya: “Saya tidak bisa menerima kekerasan ini. menteri kehakiman yang baru Mau Lear. dan anggota Komisioner Carlos Cesar. Pasukan Indonesia Indonesian menduduki Natarbora pada bulan December. Fretilin mulai kehilangan kemampuan untuk melindungi wilayah yang besar. . darah.

pasukan Indonesia berhasil melukai kaki Sa’he.150 Budiardjo menulis. “Meskipun kerugian Fretilin di sektor timur sangat besar. ia berhasil melarikan diri dan kemudian menjadi wakil kepala staf Falintil.149 David Alex. Ia memerintahkan rekan-rekannya meninggalkan dirinya. David Alex. termasuk empat belas pasukan dari desa asalnya. Falantil—setelah lolos dalam pertempuran dengan Hamis B a s s e r w a n . Seorang anggota CC dari wilayah center–east. Mauk Moruk.“komandan terbaik” di wilayah timur.148 Antara bulan September 1977 sampai Februari 1979. seperti di Viqueque yang mana Hermengildo Alves telah memperlakukan mereka dengan penuh “curiga”. saya memanggil Txay dan Kilik sehingga kita bisa menilai situasi bersama-sama.” bersamasama dengan kurir yang mengantar mereka. Bulan berikutnya. Prabowo. “sekitar satu setengah bulan saya terus berjalan di dusun-dusun.” Mereka melaporkan bahwa situasi di wilayah tengah berada dalam “kekacauan”.”151 Di wilayah inilah Xanana mulai secara perlahan dan sangat sulit membangun kembali kekuatan. Dua puluh pimpinan Fretilin dan pasukannya turut tewas bersamanya. Setelah dua puluh hari kemudian. Pada bulan Desember 1978-Januari 1979. dan mereka yang tidak berhasil. Xanana Gusmao (kepala sektor timur.” Xanana melakukan kunjungan di bagian timur. gerakan perlawanan di wilayah itu lebih baik dibandingkan wilayah tengah dan perbatasan. semuanya “telah diisolasi antara satu dan lainnya dan dibuang oleh satuan pasukan mereka.” Seorang pejbat kepala desa yang diangkat oleh pihak Indonesia telah mengadakan sebuah rapat rahasia dengan bekas anggota CC Fretilin. Sera Key dan istrinya. seperti juga “Olo Kasa dan istrinya yang lemah. Lay Kana. Taur Matan Ruak. Vicente Sa’he mengambil alih komando sayap militer. “para komandan yang seharusnya berada di wilayah Tengah bergabung dengan saya. juga tetap aktif di bagian timur ini. termasuk wakil menteri pertahanan Guido S o a r e s . 145 T e t a p i Mau Lear berhasil tertangkap dan dieksekusi pada tanggal 2 February 1979. Tetapi Indonesia berhasil menangkap Solan dan Olo Kasa. dan Cesar semuanya menghilang. Taur Matan Ruak.” Tetapi unit pasukannya dihianati dan terjebak dekat Viqueque. Olo Gari. 144 Mau Lear kemudian mengambil alih pimpinan Fretilin. Ruak menyerah pada tanggal 31 Maret. 146 Basserwan. Joao Branco.tanggal 31 Desember. bertemu dengan orang-orang.” Sera Key merekomendasikan kepada dua orang komandannya bahwa kekuatan yang telah kembali dari Centre Region. dan Sabica. Fera Lafaek. Mereka juga membantai Lay Kana. Ia akan bergerak ke Centre untuk menemui Pimpinan Eksekutif Perlawanan. Xanana mengirim komandan Falantil yang masih muda. akan berada di bawah pimpinan saya. Pada bulan Februari 1979. dan semuanya tinggal di zona timur: Menteri Keuangan dan komisaris politik Sera Key. Ponte Leste). kekuatan komando sentral Fretilin hampir berantakan.152 Pada bulan Maret 1979.” Termasuk juga. Kekuatan pasukannya tetap tidak terganggu. serta defectors. Pina. yang sebelumnya memimpin sebuah pasukan elit sampai kekalahan mereka di pegunungan Matebian. dan anak buahnya. ia mengingat. lima pimpinan utama perwira militer Fretilin (komandan operasional 21 . dan Mau Hunu (wakil sekretaris komando wilayah timur). dan istrinya yang sedang sakit. Pimpinan Fretilin terbunuh setelah enam jam pertempuran dengan pihak Indonesia yang dipimpin oleh calon menantu Suharto. menempatkan unitunit pasukan yang dipimpin oleh Mau Hodu. Hanya tiga dari lima puluh dua anggota CC tetap selamat. ke bagian sektor tengah untuk “mencari Pimpinan Ekesekutif REsistensi. dan mereka “menetapkan gagasan-gagasan kecil tentang kelanjutan perjuangan. Solan. 147 Di bagian Timur.

Xanana melakukan kontak dengan sisa-sisa perlawanan di Kablek dekat perbatasan dan di sektor tengah.”157 Bencana kelaparan terjadi di Timor-Timur pada tahun 1979. tersingkir dan dikhianati oleh kekuatan terkahir dari sektor East Centre yang telah menyerah. sebagian besar menjadi korban kelaparan dan pembantaian serta represi terus menerus oleh pihak Indonesia. dari tanggal 1 sampai 8 Maret 1981 di Lacluta di wilayah central-east.000 orang Timor hilang. Taylor melaporkan bahwa pada tanggal 23 November 1978. Jumlah penduduk meningkat hampir dua kali lipat dari 329. Ia dan istrinya tertangkap. dan semua saluran komunikasi di antara kelompokkelompok yang terpecah dengan dunia internasional pun terputus.”153 Sera Key dikirim dari timur pada bulan April untuk membangun kontak dengan sisa-sisa kelompok perlawanan di sektor tengah. dan kelaparan pun merajalela. pasukan Indonesia menembak mati lima ratus orang yang menyerah sejak jatuhnya kekuatan perlawanan di pegunungan Matebian. Xanana dan Mau Hunu mengirim kembali misi lainjuta. Mau Hodu.Falintil Mauk Muruk. disebutkan bahwa sebagai akibat kerusuhan. dan kontrol pihak Indonesia semakin meluas. Falintil menyerang Baucau. Pemboman oleh pihak Indonesia terhadap rumah-rumah penduduk dan kebun di wilayah perbukitakan telah menyebabkan banyak orang Timor di dataran rendah menyerah. Bere Malay Laka. Kili Wae Gae.160 Dalam pembantaian pada bulan September 1981 di Tenggara Dili.155 Fretilin pada akhirnya dapat mengorganisir sebuah konferensi nasional. Bere Malay Laka ditunjuk sebagai menteri informasi. Segera setelah peristiwa itu terjadi pula pembantaian yang hampir sama di Taipo. 156 Kelaparan dan Pembantaian Menurut dokumen-dokumen pemerintah Indonesia yang dirampas Fretilin pada tahun 1982. dan seluruh basis pendukung. kota besar kedua di Timor-Timur. empar ratus orang tewas.154 Pada bulan Mei 1980. 80 persen pasukan. dan Taxy) di Titilari–Laivai di sektor central-eastern. sebagian 22 . “sakit-sakitan. banyak kepala desa diganti dan pada saat bersamaan desa-desa baru lahir. Olo Gari. Satu unit Fretilin telah melakukan serangan spektakuler di stasiun TV Dili pada tanggal 10 Juni.” Pasukan Indonesia dilaporkan membawa Sera Key ke Dili dengan helikopter dan menceburkannya ke laut.” penduduk “mengungsi ke wilayah hutan. dan Mau Hunu menjadi wakil kepala staf. “Tetapi hal ini menyebabkan mereka tidak lagi dapat bertani di atas lahan mereka sendiri. Nelo dan Freddy) mengadakan rapat dengan lima pimpinan politik senior (Xanana. Kilik Wae Gae menjadi kepala staf.000 pada pertengahan 1979.” dan baru kembali pada bulan Mei 1979. pihak Indonesia membantai Joao Branco dan empat puluh orang lainnya pada akhir 1979.158 Lebih dari 120. Pda Hari Natal. Pengalaman dua desa di bagian timur cukup menarik untuk diperhatikan: “Dengan terjadinya gejolak. Tetapi makanan cukup langka di wilayah itu. dan merancang langkah yang tepat dalam melakukan reorganisasi gerakan perlawanan. Pada bulan Juli dan Desember. Pada bulan Oktober.159 Juga di bagian tengah. tetapi keduanya kembali tanpa dapat menemui sisa-sisa kelompok perlawanan di bagian Barat. Mereka melaporkan dalam konferensi itu bahwa Fretilin telah kehilangan 79 persen anggota Komando Tingginya. 90 persen senjat. Dua insiden lainnya terjadi di bagian timur pada bulan April–Mei 1979 yang mana pasukan Indonesia membunuh 97 dan 118 orang. “untuk menganalisi sebab dan konsekuensi kegagalan militer. Mau Hunu. ketika mereka “dimukimkan” kembali di kota-kota distrik. Xanana membawa setengah dari dari enam puluh pasukan dari timur menuju perbatasan barat dan kembali. Xanana terpilih sebagai presiden.000 sampai sekitar 522.

Dalam serangan yang ditujukan pada kekuatan pasukan Xanana pada bulan September. Dalam dua bulan pertama tahun 1982.164 Pada tahun 1982. Hal ini dimungkikan terjadi karena ikatan keluarga yang erat dan kuat dan juga anggota-anggota GPK dimungkinkan melakukan konsolidasi untuk pimpinan politik mereka di wilayah ini selama beberapa tahun.166 Komandan pasukan Indonesia di Dili. Kolonel A. yang menyebut Fretilin sebagai Gerakan Pengacau Keamanan. terdapat sebuah pemusatan kekuatan di satu tempat”. dan di satu sektor di wilayah Zona Timur. Hal ini juga karena sebagian besar penduduk di wilayah-wilayah ini telah mengungsi di wilayah pegunungan dan baru kembali ke desa 23 . yang melakukan pembantaian besar-besaran pada tahun 1990an. Matabean dan Macadique atau Bulio. gerakan perlawanan di Timor-Timur tetap dapat bertahan menghadapi kekuatan Jakarta.” Setelah tujuh tahun pendudukan.besar adalah anak-anak dan perempuan.” Dengan memberikan catatan ringkas mengenai kelompok-kelompok tersebut.” Jaringan bawah tanah ini berkait erat dengan adat dan sistem kekerabatan. membunuh delapan pemberontak Falintil dan menangkap tiga puluh dua orang lainnya. Liquica dan Ailiu. tim Railakan I. “jaringan pendukung” Fretilin masih hidup “di setiap pemukiman. dari enam desa-desa di Zona Timur. perempuan dan anak-anak diikat bersama-sama dan digilas oleh buldoser di Malim Luro dekat pantai selatan. “di perbatasan distrik Ermera . Railakan I membunuh sembilan orang lainnya pasukan Fretilin. mengatakan kepada bawahannya bahwa sembilan kelompok Fretilin masih terus bergerak.163 Kebangkitan Regional Pada awal tahun 1980an. pasukan Indonesia membakar hiduphidup sedikitnya delapan puluh orang di sebelah selatan desa Kraras.161 Pada bulan Agustus 1983.. meskipun mereka mengalami pukulan besar. Rajagukguk menyimpulkan bahwa “mereka masih dapat mengadakan rapat di tempat-tempat tertentu . Rapat-rapat masih dapat dilakukan di di wilayah timur seperti Koaliu. GPK masih tetap memiliki kekuatan di hutan-hutan. dan di distrik Dili.” Jakarta berusaha keras “menghambat wilayah-wilayah tradisional GPK” dan “menghancurkan GPK sampai ke akar-akarnya.. Dari sekitar dua puluh ribu minoritas etnis Cina di Timor-Timur. pasukan khusus Indonesia mulai bekerja merekrut sebuah tim paramiliter yang berasal dari orang-orang Timor-Timur. mereka yang selamat dapat dihitung hanya mencapai “beberapa ribu” orang pada tahun 1985. komandan-komandan Indonesia di Dili mengakui dalam sebuah dokumen rahasia bahwa “meskipun terdapat tekanan kuat dan kondisi yang tidak menguntungkan dalam operasi-operasi mereka. desa-desa dan perkotaan. yang terdiri dari lima puluh dua pasukan. Sahala Rajagukguk.” Deportasi terus berjalan.162 Seiring dengan pertempuran yang terus berlanjut. Dalam beberapa peristiwa.”165 Wilayah yang telah diduduki harus “benar-benar dibersihkan dari pengaruh dan kehadiran gerilya. Selanjutnya Rajagukguk mengatakan: “di sektor Timur rakyat mendukung kekuatan yang paling militan dan sulit (bagi pasukan Indonesia) untuk mengungkapkan jati diri mereka. tiga puluh desa telah dipindahkan pada tahun 1982. 293 penduduk masih “tinggal di hutan. enam puluh orang pria.” Sebagai contoh. Dari empat “kelompok kecil yang tak terorganisir” dan salah satunya beroperasi dekat Timor Barat dan Dili. Pada tanggal 21–22 Agustus. and kemudian melakukan “penyisiran” wilayah tetangganya yang mana lima ratus orang tewas.

Xanana melakukan perundingan selama dua hari dengan orang-orang Indonesia pada tanggal 21 dan 23 Maret 1983. tim ini telah membunuh sekitar tiga puluh dua orang Falintil dan menangkap sekitar 12 orang lainnya. tentara menembaki dan menusuk dengan bayonet tiga ratus orang yang berdemonstrasi di sekitar 24 .168 Jika sebelumnya pihak Jakarta tidak mengetahui secara persis bagaimana posisi kepemimpinan Xanana. sebuah tim paramiliter lokal yang direkrut oleh pihak Indonesia. Dari bulan Maret sampai Desember 1984. Pertempuran untuk sementara waktu berhenti. Pada tahun 1989 Paus mengunjungi wilayah ini. dan pada saat bersamaan gerakan Falantil berkembang mencapai sekitar seribu kekuatan gerilya di beberapa tempat.” khususnya yang ditujukan untuk melawan strategi baru Fretilin yang membangun gerakan protes damai di perkotaan. termasuk 11. pihak Indonesia melakukan penambahan pasukan hingga empat belas ribu sampai dua puluh ribu orang. meningkat jumlahnya dari lima puluh dua menjadi sembilan puluh orang. “keterbukaan wilayah yang lebih besar disertai pula dengan peningkatan operasi-operasi rahasia dan teror. Mau Hunu. Indonesia juga mencoba upaya menangkap Xanana yang secara diam-diam telah bergerak ke Dili pada bulan Februari 1991. jumlah pasukan Indonesia di Timor-Timur mencapai sekitar 20.mereka apda tahun 1979. Bagaimanapun gencatan senjata tersebut secara tidak langsung menjadi bukti pengakuan Indonesia terhadap kekuatan militer Fretilin. Jakarta kemudian mengumumkan “terbukanya” wilayah Timor-Timur dan dimulainya Operasi Senyum.169 Douglas Kammen memandang gencatan senjata 1983 sebagai sebuah langkah “bersifat sementara dan sudah barang tentu abortif dalam upaya awal” menormalkan kontrol mereka terhadap Timor-Timur dan mempertahankan pengakuan luar negeri mengenai integrasi TimorTimur ke dalam wilayah Indonesia. Pada tanggal 12 November 1991. Jakarta kemudian meninggalkan langkah perundingan mereka. yang dapat dibandingkan bahwa terdapat satu orang tentara dari tiga puluh penduduk sipil.” yang mana sekitar sepuluh sampai empat belas orang pasukan ditempatkan di masing-masing desa atau RT. Suharto mengumumkan situasi darurat di Timor-Timur pada 9 September 1985. GPK secara sadar memiliki wilayah timur dan pedalaman sebagai daerah kekuatan mereka. Suharto mencoba langkah kedua ketika pada tahun 1988. Bagaimanapun langkah ini telah disertai “kekerasankekerasan lain” seperti meningkatnya penggunaan “sebuah tim” tempur dari Timor-Timur.800 pasukan “territorial” atau lokal. “Orang Timor-Timur terus hidup di bawah pendudukan militer paling intensif dalam sejarah modern. Ia menyatakan Timor-Timur “berstatus sama” dengan dua puluh enam propinsi Indonesia.170 Pada bulan Agustus 1991. Ketika peperangan meningkat. dan anggota lainnya dari angkatan bersenjata Indonesia. sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan berunding dengan Fretilin. Kilik. pihak intelejen Indonesia menyadari bahwa masih tersisa pimpinan gerakan yang penting.700. 1983–99 Pada tahun 1982. Samuel Moore menulis.000 pasukan “dari luar” yang dirotasi dari propinsi-propinsi lainnya. Panglima angkatan bersenjata Indonesia yang baru. yaitu Mauk Moruk. David Alex. Tetapi Kammen mengatakan. Railakan I. Jendral Mohammad Yusuf. Faktor lainnya karena sebagai besar dari pendukung partai-partai tersebut tealh mengungsi di wilayah pegunungan dan hanya kembali ke wilayah asal mereka Dalam situasi seperti itu. Txay. dan Loro Timur Anan.”167 Menormalkan Pendudukan. Pada tahun 1984.. satu tahun kemudian mereka mulai mengetahui hal ini. dan 4.

Mereka digantikan pasukan-pasukan lokal. Pada saat yang sama. yang memiliki keanggotaan ratusan organisasi pada tahun 1996. menghabiskan sisa waktunya di ruang isolasi psikiatrik rumah sakit militer di Jakarta. Setelah penangkapan Xanana pada bulan November tahun tersebut. Mantan komandan Railakan I sebelumnya memiliki seribu seratus anggota milisi pada tahun 1996. dan mendapat tambahan enam ratus tenaga baru yang direkrut pada tahun 1998.pemakaman Santa Cruz. Penggantinya adalah Konis Santana. Ia terluka dan berhasil ditangkap oleh pasukan Indonesia pada bulan Juni 1997 dan dianggap tewas. Kekuatan milisi ini berkembang dengan cepat. Pada 1997–98. yang telah menyerah pada tahun 1985. Langkah ketiga dalam upaya normalisasi Timor-Timur adalah melikuidasi Kolakops pada bulan April 1993. Komandan Operasional Falintil. Pada bulan Mei 1990. mantan komandan tim paramiliter Railakan I telah memimpin tiga ratus orang-atau ratusan anggota milisi yang terlatih baik. Mauk Muruk. Juga pada tahun 1997–98. tetapi ia segera tertangkap pada bulan Januari 1992. sekarang ini dialihkan dibawah kontrol Korem 164 yang bermarkas di Dili. Semua tanggung jawab masalah keamanan. termasuk di dalamnya 8. batalyon-batalyon pasukan dari luar mulai ditarik ke luar Timor-Timur. 176 Pada bulan Juni 1990. dan pihak militer mulai membentuk apa ayng disebut sebagai Garda Paksi.” 172 Pada bulan April 1994. terdapat dua belas tim paramiliter dengan anggota mencapai sekitar empat sampai delapan ribu orang.171 Bagaimanapun gerakan perlawanan tetap hidup. terdapat dua belas tim paramiliter dengan anggota mencapai sekitar empat ribu milisi. pihak Jakarta telah mengganti Komando Operasi Keamanan (Koopskam) dengan Komando Pelaksanaan Operasi (Kolakops). Kekuatan milisi ini berkembang dengan cepat.174 Pada bulan Mei 1998. Tetapi jelas “semuanya berada dibawah arahan orang-orang non-Timor. Sebagai tanggapan terhadap kecaman internasional dalam pembantaian Santra Cruz.173 Pada bulan Agustus 1998.000 pasukan dari luar. David Alex diangkat sebagai kepala staf Falantil. jumlah batalyon reguler dibawah Korem 164 meningkat kembali menjadi tiga belas batalyon. Pada tahun 1995. Suharto jatuh dari kekuasaan. Pasukan T a u r Matan Ruak’ yang berjumlah seribu lima ratus orang adalah pihak yang menyambut kedatangan penjaga perdamaian PBB ketika mereka tiba di wilayah itu pada bulan September 1999. Tekanan terhadap Jakarta untuk melangsungkan referendum di wilayah itu semakin meningkat yang disambut dengan meningkatnya aktivitas milisi Timor-Timur. Mau Hudo diangkat sebagai wakil ketua Fretilin. aksi-aksi protes di perkotaan meningkat. yang tewas dalam sebuah kecelakaan bulan Maret 1998. Ia digantikan oleh Taur Matan Ruak. termasuk sembilan batalion yang bertugas berkeliling wilayah itu. sekitar enam ratus sampai sembilan ratus veteran pasukan Fretilin tetap berjuang di hutan-hutan. jumlah batalyon pasukan dibawah Korem 164 dikurangi samapi tujuh unit.177 Meskipun terjadi kemunduran. 178 25 .600 pasukan. yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala staf pada pertengahan tahun 1980. Pada tahun 1997-98. Setahun kemudian. Pihak angkatan darat mensponsori pembentukan beberapa kekuatan milisi baru pada akhir 1998. sebuah peristiwa yang secara diam-diam difilmkan seorang journalis dan sekaligus membawa masalah Timor-Timur dalam perhatian dunia.175 Kepemimpinan dalam tubuh Fretilin mengalami nasib buruk setelah jatuhnya Suharto. Xanana berhasil ditemukan dan ditangkap. jumlah total pasukan Indonesia di wilayah Timor-Timur mencapai sekitar 21.

dengan mendekatnya waktu pelaksanaan referendum yang disponsori PBB. “sampai generasi keempat mereka.Terlepas dari kekalahan militer. seorang prajurit nampaknya mencoba menjelaskan dengan mengatakan. intelejen Korem 164 memperkirakan Gerakan Pengacau Keamanan memiliki anggota di ibukota yang mencapai 1500 milisi. komandan pasukan Indonesia.180 Setahun kemudian. Letnan Kolonel Yahyat Sudrajad menyerukan pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin gerakan prokemerdekaan. dan memilih Xanana Gusmao yang masih berstatus tahanan politik sebagai ketua. ujar sang kolonel dalam pertemuan tersebut. Fretilin tetap mampu membangun kekuatan basis pendukung yang luas. Tujuh puluh sembilan desa mendapat kode “merah” atau “terganggu” (yang kemungkinan berada dibawah kontrol Fretilin). 79 persen orang Timor memilih untuk merdeka dalam sebuah referendum yang diorganisir oleh PBB. Pertanyaannya adalah ideologi seperti apakah yang melahirkan Genosida dan sekaligus pembenaran terhadapnya? Di Remexio dan Aileu. menghancurkan semua pendukung gerakan kemerdekaan. Dewan Perlawanan Nasional Timor-Timur the Timorese Council of National Resistance (CNRT). dalam sebuah laporan intelejen Indonesia dengan judul “Data mengenai desa-desa yang tidak aman” . dalam pertemuan dengan seorang pimpinan milisi. Adam Damiri dan Mahidin Simbolon telah memerintahkan milisi-milisi “melenyapkan para pimpinan dan pendukung CNRT. anak laki-laki dan perempuan serta cucu-cucunya. Genosida anti-gerilya Jakarta dengan demikian gagal memenuhi target menguasai Timor-Timur.Timur. anak-anak dan cucu mereka.” 181 Perpaduan metafora biologis dan pertanian memang sering dijumpai di setiap rejim genosidal. dalam ekspansi teritorial satu dekade selanjutnya kekuatan represif Jakarta menjadikan orang-orang Tionghoa di Timor-Timur sebagai target “pembunuhan selektif. disebutkan bahwa hanya 163 dari 442 desa di TimorTimur yang masuk dalam kategori aman dan damai. bukankah anda juga membunuh ular-ular yang ada. lima partai yang saling berperang satu sama lainnya di TimorTimur membangun langkah rekonsiliasi yang bersifat historis. Pada awal tahun 1999. ”186. pihak militer dan komandan milisi Indonesia mengancam untuk “.” 184 Dalam sebuah pertemuaan di Bali pada bulan Februari 1999.. tempat “setiap orang di atas tiga tahun ditembak mati” pada awal tahun 1976. Pada tahun 1992. orang tua mereka.” Pada tahun 1984. 179 Pada bulan September 1998..000 orang-orang komunis di Indonesia pada tahun 1965–66 langkah itu tidak disertai dengan pemusnahan kelompok etnis minoritas. Pada tahun 1997. “Tak satupun dari anggota keluarga mereka akan dibiarkan hidup. sebuah gerakan militer besar-besaran di wilayah Timor-Timur telah menyerukan pemusnahan kekuatan Fretilin. Pasukan Indonesia menjelaskan bahwa orang-orang lokal telah “terjangkiti benih-benih Fretilin. 182 Apabila dalam pembantaian lebih dari 500. “Ketika anda akan membersihkan semak belukar. tidak peduli besar dan kecil.” 183 Penetapan target multi generasi dari kekuatan Fretilin oleh pihak Indonesia dapat dikatakan memiliki unsur genosida. dan pada tahun 1999 jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar enam ribu anggota untuk seluruh Timor.” Setelah pembantaian Lacluta pada bulan September 1981.”185 Pada tanggal 16 Februari. Mereka menggabungkan diri dalam sebuah organisasi payung baru. Gubernur yang ditunjuk oleh pihak 26 .

. rasisme dan expansionisme memainkan peran penting dalam kedua tragedi tersebut. eds. Dan dukungan itu terus berlangsung setelah pembantaian berlangsung. Vietnam menghentikan genosida yang dilakukan Khmer Merah. yang dilakukan melalui pelatihan dan penjualan peralatan militer kepada pihak Indonesia.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62. December 6. Dalam kedua kasus. dan pad saat bersamaan. Ideologi Maoisme di Timor-Timur memiliki fungsi di dalam partai nasionalis yang multikultural sebagai landasan melawan invasi asing dan genosida. Di Timor-Timur. Notes 1. Tangkap dan bunuh mereka. Sementara itu kita menyaksikan pengalaman berbeda dalam pengalaman rejim Maois Fretilin..gwu. Electronic Briefing Book 62.” 189 Sebuah dokumen pihak angkatan darat Indonesia pada bulan Mei 1999 memerintahkan bahwa “pembantaian harus dilakukan dari desa-ke-desa setelah pengumuman kotak suara dikeluarkan. dan Kissinger. regionalisme telah undercut para pelaku genosida dan perjuangan. Gerakan kemerdekaan Timor-Timur harus dihapuskan dari tingkat pimpinan sampai dengan akarakarnya. . Dalam kedua kasus. at www.”188 Tono Suratman. Suharto. Masing-masing rejim pembantai mendapat dukungan politik Amerika Serikat. pasukan Indonesia menjadi pelaku genosida. Sampai tahun 1990-an. Washington terus memberikan dukungan atas pendudukan militer Indonesia di Timor-Timur.”190 Kesimpulan Pada tahun 1975-1979. Timor-Timur tidak pernah menyerang Indonesia. 2001. memperingatkan bahwa “jika gerakan pro-kemerdekaan menang.”187 (Soares diadili di Jakarta pada tahun 2002) Pimpinan-pimpinan milisi telah menyerukan kepada para pendukung mereka untuk “melakukan pembersihan terhadap setiap pengkhianat integrasi. Genosida di Timor-Timur diciptakan oleh kekuatan luar yang membawa panji-panji antikomunisme. 1975. Kissinger and the Indonesian Invasion. dan memberikan dukungan suara bagi pemerintah Khmer Merah dalam pengasingan untuk mewakili Kamboja di PBB. komandan Korem 164 Dili.. dalam W. Kamboja dan Timor-Timur telah menjadi ajang pembantaian massal atau genosida. Dalam kasus Kamboja. Sementara di Kamboja. East Timor Revisited: Ford. Memorandum of Conversation Ford..Jakarta untuk wilayah Timor-Timur adalah Abilio Soares. Burr et al. July 5. ideologi Maoisme terhadap pihak Fretilin di Timor-Timur dan Khmer Merah di Kamboja menciptakan sebuah pembersihan politik. National Security Archive. Keadaannya akan lebih buruk dibanding dua puluh tiga tahun yang lampau. agresi militer Khmer Merah terhadap Vietnam dengan dukungan Cina —atas alasan geopolitik—digabung dengan sikap rasial menjadikan orang-orang asing dan kelompok minoritas sebagai sasaran pemusnahan menjadi landasan dasar praktek genosida. 27 . represi dan pembantaian. Mereka adalah korban agresi. yang memerintahkan “para pendeta dan biarawati dibunuh. Dengan demikian terdapat faktor-faktor politik dan geopolitik yang beragam yang menciptakan genosida. semuanya akan dihancurkan.

Kiernan. I. East Timor: The Price of Freedom (London: Pluto. 7. ed. Ben Kiernan. see Kiernan. 15. 5. A/53/850. 171–90 (Philadelphia: University of Pennsylvania Press. N. 6. 3. (Armonk. 458. Australia: Monash Centre of Southeast Asian Studies. AS. General Assembly. 9. S. 191–94.: Yale University Press. 216–29. Embassy Jakarta Telegram 1579. 1990). 1990). G. 10. Kissinger and the Indonesian Invasion. March 16. eds.: M. The Pol Pot Regime: Race. Kiernan. 24. Kiernan. 1999). in Genocide. 1999. ed. E.: Yale University Press. John G. “The Impact on Cambodia of the U. Leo Kuper.“Does the Genocide Convention Go Far Enough?” Ohio Northern Law Journal 321 (1981): 8. On the Eastern Zone. Andreopoulos. Security Council. ed. Heder mengatakan bahwa Laporan ini “mengingatkan tentang “tugas yang amat sulit” dalam untuk membuktikan CPK melakukan tindakan mereka “dengan sengaja” untuk menghancurkan kelompokkelompok etnis dan kegamaan”’” S. History and Sociology of Genocide (New Haven. Robert Cribb. Chalk and K. Charny. 2001.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62. 8. 12. Burr et al. Power and Genocide in Cambodia under the Khmer Rouge. Taylor. 2001). Encyclopedia of Genocide (Oxford: ABC-Clio. 1970–78.. 23. Conn. Genocide (New Haven. United Nations. 11. The Indonesian Kilings. 28 . at www. Pol Pot Regime. in W. “East Timor”.gwu. 1975–1979 (New Haven. Heder. 1981). 19–20. 2002. Electronic Briefing Book 62.“Was the Conflict in East Timor ‘Genocide’?” Melbourne Journal of International Law 2 (2001): 477–522. J. 1994).. December 6. 357–68. 408–11. 186. Annex. 458. B. 1993). December 6. Conn. Clark. 1965–66 (Clayton. Diskusi Ford–Kissinger–Suharto.S. Pol Pot Regime.. 241. 14–15. “Seven Candidates for Prosecution” (Washington: unpublished manuscript. S/1999/231. 65–68. 19–20.2. East Timor Revisited: Ford. Sharpe.. R. Jonassohn. W. 2002). Saul. 4. 57.” in The Vietnam War.: Yale University Press. Intervention in Vietnam. Werner et al. April 17. Report of the Group of Experts for Cambodia Established Pursuant to General Assembly Resolution 52/135. eds. 46–47. James Dunn. 103–11. 14. Report of the Group of Experts. New York Times.Y. Conn. 1975. 1999). National Security Archive. 14 n. Pol Pot Regime. 13. F. Ford–Kissinger–Suharto discussion.. 174–75.

2000). 52. November 21. December 6.. P. 369–76. R. 1975.: Rowman & Littlefield.edu/~nsarchiv/ NSAEBB/NSAEBB62..205–10. 136–211.gwu. 17.etan. Memorandum of Conversation. Electronic Briefing Book 62. East Timor. Gusmao. Chandler et al. Jolliffe. 23 n. Lucia. Washington. 4041. Helen Hill. 320–21. Timor Loro Sae (Macau: Oriente. 36.C. East Timor Revisited: Ford. Conversation between Ford. 310–12. Conversation between Ford. and Kissinger. 1975. and the World Community (Lanham. How Pol Pot Came to Power (London: Verso. To Resist. 1985). 1983). Timor. 88. 166.gwu. 131–39. 2 (1997). Ben Kiernan. at www. no. December 6. August 29 . December 6. at www. Suharto. 358. 26. July 5. 2001. Conn. 1986). 70. 340–41. 51. Australia: Jacaranda. Taylor. Burr et al. East Timor Revisited: Ford. at www.. State Department. 1975. Md. 2001).. 16. 24. 2001.“The Secretary’s Principal’s [sic] and Regional Staff Meeting. 21. et al. 323–25. Electronic Briefing Book 62. 2001. Indonesia. 3. 22. Burr et al. in W. 363–68. W. Timor. Dunn.edu/ ~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62. Electronic Briefing Book 62. “Indonesia and Portuguese Timor.: Yale Southeast Asia Council. (New Haven. To Resist Is to Win! (Mel-bourne: Aurora.htm. 25. Gunn. Australia: University of Queensland Press. 18. “Racism. 115. D. D. “Departmental Policy. 36. James Dunn. Bitter Flowers. Stirrings. Ben Kiernan. National Security Archive. “Wild Chickens. 270–84. 45 n. G. Dunn. 392–405. eds.. Kissinger and the Indonesian Invasion. S.” at www. State Department. 1978). 220. M. Cambodia: The Eastern Zone Massacres (New York: Columbia Center for the Study of Human Rights. UDT leader Joao Carrascalao acknowledged responsibility for the coup. 2002). 28 n. Hill. and Kissinger. ed. National Security Archive. Kissinger and the Indonesian Invasion. Xanana Gusmao. Timor: A People Betrayed (Milton. 20. in W. Cambodia 1975–1982 (Boston: South End. National Security Archive. East Timor. 6. 1984). Burr et al. Ben Kiernan.” Southeast Asia Research 5. East Timor Revisited: Ford. 133–35.org/news/kissinger/secret. Suharto. 1983). Farm Chickens and Cormorants: Kampuchea’s Eastern Zone. 23. East Timor: Nationalism and Colonialism (St.” c. Stirrings of Nationalism in East Timor: Fretilin 1974–1978 (Sydney: Otford. Sweet Flowers: East Timor. 1975. Jill Jolliffe.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62..gwu. 1999). 117–23. 19. 66. Labelling and Genocide. Vickery.” in Revolution and Its Aftermath in Kampuchea. Tan-ter. Marxism. July 5. December 18. 254–56. Kissinger and the Indonesian Invasion. Heder. 84.

Burr et al. Sweet Flowers: East Timor. Timor. Jolliffe. Fretilin killed Soares two weeks after the invasion. Indonesia. 75. 38. 1171. at www. Denis Freney. D.gwu. Dunn. East Timor. at www. Timor. Timor. Jolliffe.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62. 30–31. Dunn. 36. 2001). 98–99. Timor. To Resist. 181–82.12. 26. Ball and H. Gusmao. 37. 273. 51.” 19. To Resist. Timor. To Resist. Death in Balibo (Sydney: Allen & Unwin. 42. 32. 283–85. 177–80. M.” in East Timor at the Cross-roads. Kissinger and the Indonesian Invasion. 24. Stirrings.” in Bitter Flowers. Jolliffe. 1975. Sarah Niner. National Security Archive. “Long Journey. East Timor. Gusmao. Gusmao. 39. 2001. 32. National Security Archive.S. 30.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB62. 67. in W. 33. Kissinger and the Indonesian Invasion.gwu. Timor (Nottingham. 156. 305. P. 29. 28. December 6. Timor. England: Spokesman. Australian Senator Arthur Gietzelt reported meeting Apodeti secretary general Fernando Osorio Soares in Dili in September 1975. 1975–85: A Fretilin Commander Remembers. 1975). Bentley (New York: SSRC. “A War in the Hills. East Timor Revisited: Ford. Embassy Jakarta Telegram 1579. in W. 29. 177. U. R. Jolliffe. 305. 296. Timor. 1975. April 7. Dunn. Paulino Gama (Mauk Muruk). Hill. Tanter. Hansard. Dunn. 152–53. ed.” 2–4. 34. Carey and G. Electronic Briefing Book 62. Selden and S. McDonald.. Burr et al. 2001. 17. 22–31. Md. East Timor Revisited: Ford. Niner. 1976. C.. 31. Jolliffe.: Rowman & Littlefield. Shalom (Lanham. 321.. East Timor. 219–20. and the World Community.“Intervention of the Republic of Indonesia in the Life of Portuguese 30 . R. 40. East Timor. ed. Electronic Briefing Book 62. 2000). Timor. Gusmao. 35. “A Long Journey of Resistance. East Timor. 41. 72. 1995). Dunn. Dunn. 175. 27. Dunn. To Resist. paragraphs 39. December 6. Dunn. December 6.

September 20. Timor. “The Trouble with Normal: The Indonesian Military. “Speech of Nicolau Lobato. Timor. 1976. East Timor. 1976.” East Timor News Agency (ETNA).” Kota internal document. 296–97. 60. Reading Statement of the Permanent Committee of Fretilin Central Committee on the High Treason of Xavier do Amaral. 1977. R.” 10. 1984). 49. Taylor.” Pacific Research 8.” 52. East Timor. N. 47. Timor. “Speech of Nicolau Lobato. Sydney. Tanter.. 45. 291–92. AM. Age (Melbourne). 310. 1976. 2 (1977): 1–6. 2001). cited in Tanter. Dunn. Gusmao. typescript. Para-militaries. and Australian. War. Dunn. To Resist.. 31 . Timor. September 27. “Full Text of Speech of Nicolau Lobato. and Sydney Morning Herald. Douglas Kammen.. “Military Situation. September 17. To Resist. 72. 46. Dunn. War. The War against East Timor (London: Zed.“The Military Situation in East Timor. August 26.Y. 1977. Tanter.: Cornell University. 57. March 23. 49.Timor. Carmel Budiardjo et al. Anderson (Ithaca. cited in R.” 50. Dunn. “Military Situation. Jolliffe. September 20. 54. 55. Jolliffe. East Timor.” 9–10. 60. Tanter. 1976. 43. 5. ed. ABC radio. 159. 58. Southeast Asia Program. 61. Tanter. 1976. 270. over Radio Maubere September 14. 48. citing Peter Monckton. 44. 29 n. 282– 87. “Military Situation. 13 pp.” 4–5. East Timor. 51. 70. Budiardjo et al. 4. 60–65. B. Taylor. 59. 56.” citing National Times. Gusmao. O’G. Budiardjo et al. 53. and the Final Solution in East Timor. “Military Situation.” in Violence and the State in Suharto’s Indonesia. no.

War.. 67. 203. 1978. statement dated December 7.” passim. 64. 63. 2001]. 1987.” 13. “Military Situation. Jolliffe. 63.000 (the Timorese Catholic Church).” June 18. Indonesian offensives began conquering wide areas. 89–90. June 29. Age. 273. 74. 32. Timor.60. 1977. 98. 62. East Timor. Taylor. 61. 1977. 66. East Timor.. 61.000 (Jill Jolliffe. To Resist.“Offensive Near Dili. July 4. Jolliffe. 81–82. Taylor. Gusmao. 201. 300–01. 220. 134. 73. East Timor. Budiardjo et al. 32 . Dunn. East Timor. Estimates for 1974 are 635. 1977. 79. To Resist. East Timor. East Timor. From September 1977. 72. Jolliffe. Gusmao.” 5. 154. see Taylor. “Speech of Nicolau Lobato. ETNA. 77. 65. Cover-Up [Melbourne: Scribe. 89–90. See also Jolliffe. 283–85.” June 30. Budiardjo et al. Budiardjo et al. 56. 71. For accounts by priests living in Fretilin areas until 1979. 1. June 21. War. 307. Timor. cited in Tanter. 78. “Speech of Nicolau Lobato. 68. 32. 47. Indonesian forces attacked Remexio in June 1978. Gusmao.. Dunn. 309. 69. and 689. Dunn. Taylor. 68. Gusmao. “Fretilin Secretary for Information Answers Journalists’ Questions. 31. East Timor. 75. ETNA. 42–43. Dunn. 310. Taylor. War. 46). 1976. 68–69. To Resist. Taylor. 47. 201. East Timor. East Timor.” East Timor News 36. 43. 1977. 22 n. “Prime Minister Nicolau Lobato Answers Questions. East Timor. 61. 39 n. 270.. Budiardjo et al. Timor. November 19. Timor. 72. 76. War. 70. 57–58. To Resist.

vol. 69. 81. East Timor. 310. 82. War. 13.. 98. 203. Jolliffe. 10. 81. 86. Gusmao. Timor. 40. Ball and McDonald. 84. “Speech of Nicolau Lobato. 1 (Boston: South End. 4. 286.Budiardjo et al. 91. 133–34. Tanter. East Timor. 99. East Timor. 5. 174–75. 132. 95. The statement was made December 7. To Resist. 100. Dunn. 83. 88. East Timor. ed. Taylor. War. “Speech of Nicolau Lobato. 293. 1987.” 6–9. 101. 63. Dunn. 4. Dunn. 182. 201.” 7. Taylor. East Timor. See also N. Timor. 1977. East Timor. 6. 87. 8. 286. East Timor. 7–8. Dunn. 278. 303. 89. The Political Economy of Human Rights. based on “Notes on East Timor. Taylor. Dunn.80. 92. 175–76. 33 . “Speech of Nicolau Lobato.. “Speech of Nicolau Lobato. Herman. Bitter Flowers. 80–81. To Resist. Dunn.” in Dunn’s possession. 93. Age. 1979). 163–72.” 4–6. 8–11. Taylor. 84. 90. 94. Timor. Chomsky and E. Death. “Speech of Nicolau Lobato. 303. Gusmao. Budiardjo et al.” 4. Timor. 293. 96. April 1. 70.” 2. Dunn. Jolliffe. 203. Timor. East Timor. 97. Timor. Taylor.“Speech of Nicolau Lobato. 26..” 6–8. 302–303. 135–36. Timor. 85. Taylor. 303.

To Resist. 106. 47. To Resist. 120. 116. 103.” June 30. ETNA. To Resist. 25 n.” 5. To Resist. June 8. 114. Gusmao.Gusmao. To Resist. 117. 47–58. 44–46. 34 .“President F. 118.“Speech of Nicolau Lobato. 1977. 113. To Resist. July 4. 83. “Long Journey.“Speech of Nicolau Lobato. 47.Gusmao. 47. 1977.Niner. 104.” 5. 42–43. 95–96. 42. 107. Jolliffe.Gusmao. East Timor. 43.Gusmao. Xavier do Amaral on Radio Maubere May 20 1977.Gusmao. 1977.” 19. 219. 11.” 11. To Resist. Harapan kita Amaral dapat memberikan keterangan mengenai periode 1974–77. East Timor.” 11. 108. 110.Gusmao. “Long Journey. 44. 41–42.” 8–9. To Resist. Niner.Gusmao. 49. 50.” ETNA. To Resist.Gusmao. 42. “Long Journey.“Speech of Nicolau Lobato.” 19.“Speech of Nicolau Lobato. 41–42. 122. 109.Dalam kaitan ini kita mengandalkan uraian dari saingan dan pengganti Amaral. 8. 112. 121. Tidak semuanya masih tetap hidup.“Speech of Nicolau Lobato.“Speech of Nicolau Lobato.Gusmao. Niner.Gusmao.” 10. 66. To Resist. 105.” 19.102. 123.Gusmao.Taylor. To Resist. 115. 52 n. 42. 119.“Prime Minister Nicolau Lobato Answers Questions. 111. To Resist. 49.

” 19. June 19.Gusmao. 129.“Speech of Nicolau Lobato.” 19. 1978. 135. 33.” East Timor News 41.Gusmao.” 1. Ia kembali ke TimorTimur pada tahun 2000.Melbourne Herald.” Jolliffe. Taylor. 3. December 5. East Timor News 47. 56. see “Speech of Nicolau Lobato.” ETNA. December 8. . 20.“Betrayal Not End of Struggle. 141.Gusmao. To Resist. 1978. 125.” 27 n. East Timor.“Speech of Nicolau Lobato.“Fretilin Secretary for Information Answers Journalists’ Questions. 134. 138.Niner.Niner. January 18. December 28. On fellow CC member Redentor.” 19. Niner. December 28. Niner. East Timor. 132. 1978. 3.Budiardjo et al. To Resist. 1977. Xavier Rescue. 47. East Timor. . To Resist. 127.Gusmao.” 11–12. 1977. 1978.“Traitors Escape. “Long Journey.” 3.. 219. serta anggota sekretariat Laklubar. 131. 20. ETNA. “Answers by Minister Alarico Fernandes.Gusmao. 1977.“Speech of Nicolau Lobato. 35 . East Timor News 47.” June 18. 1978. December 13. 1978. “Long Journey. 130. 49–52. War. 58 n. 126.” 9.East Timor News 48. Pada tahun 1990an. 66. East Timor News 47.124.” 9. Jolliffe. 96. “Long Journey. 1. 137. 136. 1978. 27 n. 139. 219–20.” Tribune (Sydney). 1977. 140. Jolliffe says Basserwan was “Hata. 91. 1979. December 28. 66. “Speech of Nicolau Lobato. 11. June 21.Melbourne Herald. 128. do Amaral bergabung dengan kelompok yang mendukung otonomi di dalam wilayah Indonesia. July 12. To Resist. 133. September 14. “Long Journey. To Resist. .Anggota-anggota Komite Sentral berasal dari Manatuto dan Lakular. kader-kader di zona tersebut berasal adalah anggota sekretariat di Laclo dan Remexio dan wakil-wakil mereka.

25 n. 156. 68–70. 36. 40. East Timor. To Resist. 97. 60 n. 1979. 157. 57 n.Taylor. 115.. 212–13. 89. 147. Gusmao mengatakan Txay adalah anggota komite sentral ketiga yang masih hidup. To Resist. 58–59. 143. To Resist. 220. 183. January 18. Alas. “War in the Hills.142. East Timor. Gusmao. Taylor.Gusmao.Gusmao.” 102.” 101. 67–70.Dunn. 42. 145. 142.. War. East Timor. War. Taylor. 51.. To Resist. citing Indonesian reports. 206..Gusmao. 155.. War.Gusmao.East Timor News 48. xii. To Resist. To Resist. To Resist. War. 151. 101–102.Xanana mendapatkan laporan bahwa “Cesar Maulaka berada di wilayah Seletan Tengah. 159. 70. 213. 94. East Timor. 115.Gama. 149.Budiardjo et al. 59 n. Taylor.” English translation in Budiardjo et al. 158.Taylor. 115. 25 n. 153. 57.Budiardjo et al.Taylor. 89. 60. 102–103.Gusmao. 3.” Gusmao. 150. 317. 62. 25 n. 42.Gusmao. 317. War. 33.Budiardjo et al. 67. Taylor. 148. 154. Gusmao. 207 (citing Far Eastern Economic 36 . says it was Sera Key. To Resist.“Instruction Manual No. Dunn.Gusmao.. Timor. 29 n. 152. East Timor. 67. 146. East Timor. 152. Gusmao.Taylor. 144. Budiardjo et al. Budiardjo et al. War.Budiardjo et al. 67. Gama. 98. 64–65.. 160. Budiardjo et al. 196. 66. 164. War.. 63.. To Resist. Juknis//05/I/1982: System of Security. East Timor. “War in the Hills. East Timor. Timor.Budiardjo et al. To Resist. 243. 201. 162. To Resist. 92. East Timor. Tetapi terdapat banyak informasi yang saling bertentangan. 53–54 n. Jolliffe. 88. 161. War. 51.

To Resist. 179.” 182–83. 213. “Trouble. 181. 166. “Trouble. 177. 180. R. 241. “Indonesian Military. “Indonesian Military.C. 57–60. 29 n.Budiardjo et al. 169.Budiardjo et al.Gama. 171.. 227. Moore. 172. 176. 151. 174. 228.. 216. 193.” 28. “Trouble.Kammen.” 160–62. East Timor.Budiardjo et al.. D. 294–99. Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Budiardjo et al. 167. ed. “Trouble. 175. 180.Dokumen-dokumen pihak Indonesia yang berhasil dirampas. 170. 193. 178. “Trouble. War. Moore names other 1990s leaders: Sabica. 176. and Falur. 196.Kammen. Samuel Moore.” 164–65. “The Indonesian Military’s Last Years in East Timor: An Analysis of Its Secret Documents. Dunn. War. War. table 2. 136. War. 70. War. Kammen.“Genocide and ‘Ethnic Cleansing. table 2.Moore. 242–3. “Indonesian Military.: Congressional Quarterly. 177. 173. 319. 203.” 13–14.Review.. 43–44.” 103. 242.Gusmao. 82. “Trouble.Kammen. 215. 206. Wuthnow (Washington. 168–69. “Indonesian Military.Kammen. “Trouble. Moore.Kammen.” 14. 1998). 37 .Kammen. War. 51.Kiernan. “Trouble. 201. 102.Moore. 165.” 24–25.” 173. Lere Anan Timur. 168.” 25. September 8. A 1982 Indonesian document de-scribes the “Red Zone” as areas of Fretilin control.” 159–60. Budiardjo et al..Moore. Timor. 164. 194–96. 174. 182.” 159–60. Gusmao. 151. To Resist.” 166. “War in the Hills. I. Ular..Taylor. Moore. 222.” 13.Kammen. 1985).Taylor. “Indonesian Military. 163. 196.” 162–65. East Timor. “Indonesian Military.’” in Encyclopedia of Politics and Religion.” Indonesia 72 (October 2001): 14.Budiardjo et al. 16.

” Observer. 38 . Andrew Fowler melaporkan bahwa pada awal 1999. 187. For details. “Trouble.183.” South China Morning Post. . Chomsky. 186. 1 8 8 . “Trouble.” 1 8 4 . 69. New Generation. 190. 74. 72. K a m m e n .Tomas Goncalves. “Dangers of Timorese Whispers Capital Idea. dan cucu mereka. Kosovo. bekas pimpinan milisi PPPI.” Australian Broadcasting Corporation. see A. orang tua.. “Revealed: The Plot to Crush Timor. 72.Taylor. September 12. and the Standards of the West (London: Verso.Chomsky. 2000. “Revealed.” Chomsky. 185. A New Generation Draws the Line: East Timor. semua pendukung pro-kemerdekaan.Evans. August 14. “Revealed”. February 14.” 54.Andrew Fowler. anak-anak. 1999. dikutip dari Evans. komandan-komandan pro-Indonesia mengancam akan “melikuidasi . 189. quoted in N. “Trouble. “The Ties that Bind. “Revealed: Army’s Plot. 2000). John Aglionby et al.Quoted in Kammen. Kammen. East Timor. New Generation. .” Australian Financial Review. 1999. 1999.” 184.Brian Toohey. Evans.” 183. 184. September 16.

39 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful