Topik Pembahasan Qawa’id Fiqhiyah 2010-02-1 Catatan: Perkuliahan ditekankan pada belajar mandiri sehingga setiap kali pertemuan

mahasiswa sudah menyiapkan tulisan sesuai dengan topik yang akan dibahas. Referensi matakuliah Qawa’id Fiqhiyah lebih banyak menggunakan bahasa Arab disamping bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Semua referensi sudah tersedia di Perpustakaan FIAI- UII dan di Perpustakaan MSI-FIAI-UII di kampus UII Jalan Demangan Baru No. 24 lantai 2. Materi Perkuliahan: I. Kontrak Belajar meliputi: a) Penjelasan Silabi. b) Penjelasan Referensi c) Penjelasan tugas-tugas makalah dan ujian sisipan d) Kehadiran kuliah dan batas toleransi keterlambatan e) Sistem penilaian. II.Pengerian Qawa’id Fiqhiyah a) Pengertian Qawa’id menurut bahasa dan Istilah b) Pengertian Qawa’id Fiqhiyah c) Unsur-unsur dalam Pembentukan Qawa’id Fiqhiyah III.Karakteristik Qawa’id Fiqhiyah a) Perbedaan Qawa’id Fiqhiyah dengan Qawa’id Ushuliyah b) Perbedaan Qawa’id Fiqhiyah dengan Dhawabith Fiqhiyah c) Perbedaan Qawa’id Fiqhiyah dengan Nazariyat Fiqhiyah d) Perbedaan Qawa’id Fiqhiyah dengan Qawa’id Qanuniyah IV.Al-Asybah dan al-Naza’ir a) Perbedaan antara al-Asybah dan al-Naza’ir b) Perbedaan antara al-asyabah dengan al-Furuq V.Qawa’id Fiqhiyah dalam berbagai mazhab Hukum Islam a) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Hanafi b) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Maliki c) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Syafi’i d) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Hanbali e) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Syiah Imamiyah f) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Syiah Zaidiyah g) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Ibadhiyah h) Qawa’id Fiqhiyah dalam mazhab Zahiriyah VI.Karya-Karya Qawa’id Fiqhiyah dalam berbagai Mazhab Hukum Islam VII.Ujian Sisipan VIII.Kaidah Niat dan beberapa Kaidah turunan dari kaidah niat a) Dalam bidang Ibadat b) Dalam bidang Muamalat Maliyah c) Dalam Bidang ahkam al-Usrah d) Dalam bidang Peradilan IX.Kaidah al-Masyaqqah dan beberapa kaidah turunannya a) Dalam bidang Ibadat b) Dalam bidang Muamalat Maliyah c) Dalam Bidang ahkam al-Usrah

Gamzu ‘Uyûni al-Basha’ir wa Syarah al-Asybâh wa al-Nâza’ir. a) Dalam bidang Ibadat b) Dalam bidang Muamalat Maliyah c) Dalam Bidang ahkam al-Usrah d) Dalam bidang Peradilan XIII. 1405 H/1985 M. 1997.Diskusi Umum Referensi: Al-’Allâmah ar-Rabbâni Abdurrahman ibn Nâshir as-Sa’dî. Abdul Mudjib. H. 1413 H Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân.Kaidah al-Dharar dan beberapa kaidah turunannya a) Dalam bidang Ibadat b) Dalam bidang Muamalat Maliyah c) Dalam Bidang ahkam al-Usrah d) Dalam bidang Peradilan XII. (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. SunniPath Academy Teacher What is the difference between usool al fiqh and al Qawaai’d al Fiqhiyyah? Al-Hamawy. Keenam. Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah.Diskusi Umum XIV. . Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih. Syarh al-Qaqâ’id al-Fiqhiyyah.Kaidah a) b) c) d) al-yaqin dan al-Syak dan beberapa kaidah turunannya Dalam bidang Ibadat Dalam bidang Muamalat Maliyah Dalam Bidang ahkam al-Usrah Dalam bidang Peradilan XI.Kaidah al-‘Urf dan beberapa kaidah turunannya. Riyadh: Dar Balinsiyyah. H. Damaskus: Dâr al-Qolam. Al-Qawâid al-Fiqhiyyah al-Kubrâ. ”Al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah li Fahmi an. cetakan ketiga. Bairut: Dar al-Kutub al-‘ilmiah. Jalâluddîn as-Suyûtî.Nushshûs asy-Syar’iyyah” Asy-Syaikh Ahmad ibn asy-Syaikh Muhammad az-Zarqâ. 1417 H. Difference Between Usul al-Fiqh and al Qawaid Fiqhiyya Answered by Shaykh Hamza Kaamali. cet. al-Asybâh wa an-Nazâir. Cet. Jakarta: Rajawali Pers. 1993 M/1414 H. 2005.d) Dalam bidang Peradilan X. Jakarta: Kalam Mulia. Ahmad Ibn Muhammad. Muhlish Usman.

1. karena ilmu ini selain merupakan suatu pedoman yang dapat menjaga amalan-amalan manusia (orang mukallaf) dan memberikan arahan yang harus ditempuh dalam ibadah dan mumalat. 1418 H/ 1998 M. hal. Cet. diantara peninggalan-peninggalan ilmu yang paling besar yang dapat diwarisi oleh semua generasi dan telah dibukukan adalah ilmu Fiqih. diantara peninggalan-peninggalan ilmu yang paling besar yang dapat diwarisi oleh semua generasi dan telah dibukukan adalah ilmu Fiqih. Dalam Islam. 1415 H/1994 M. MA Dalam Islam. Badruddin. al-Furuq fi Anwar al-Buruq fi Anwai al-Furuq. 1032. Bismillahirrahmanirrahim 1. Mustofa Ahmad. al-Madkhal al-Fiqhi al-‘Am (al-Fiqh al-Islami fi Saubihi al-Jadid).Harun Zaini. al-Asybah wa al-Naza’ir. ilmu Fiqih juga menunjukkan jalan yang akan membawa kebahagiaan bagi umat manusia. Dar al-Kuwait. al-Mantsur fi al-Qawa’id. II. Dalam rangka untuk menghindari kekeliruan dalam mengistimbatskan hukum. karena ilmu ini selain merupakan suatu pedoman yang dapat menjaga amalan-amalan manusia (orang mukallaf) dan memberikan arahan yang harus ditempuh dalam ibadah dan mumalat.Al-Qurafi.Beirut: Dar al-Fikr. Ahmad Ibn Idris. Al-Zarqa’. Jalaluddin. para mujtahidin juga telah menyusun kaidah- . Beirut: Muassasah alKutub al-Saqofiyah. Para kibar mujtahidin telah berusaha keras dalam menggali hukum syara’ dari sumber aslinya dan dari nas-nas syara’ itu mereka keluarkan hukum agama yang sangat tinggi nilainya yang menjamin kemashlahatan bagi umat manusia. Mansyurat Muhammad Ali Baidhun. I. ilmu Fiqih juga menunjukkan jalan yang akan membawa kebahagiaan bagi umat manusia. Al-Zarkasyi. Cet. memenuhi kebutuhan mereka serta dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada bahkan lebih dari itu memuat hukum-hukum yang dapat memberikan jawaban /pemecahan bagi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.Pendahuluan a. Oleh : H. Suyuthi. Beirut: Dar al-Kutub al-‘ilmiyah. 1405 H. Cet.

c. Definisi Fiqih ‫العلم بالحكام الشرعية العملية المكتسبة من أدلتها التفصيلية‬ Mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah (Perbuatanperbuatan orang mukallaf) yang diambil dari dalili-dalilnya yang tafshili. b. “akan menyadari betapa luas dan fleksibelnya Fiqih Islam dan kemampuannya memberikan jawaban-jawaban yang ampuh dalam menghadapi berbagai masalah/problema yang ada dan betapa Fiqih Islam itu mampu mengikuti perjalanan kehidupan dan cocok/sesuai untuk segala zaman. ada hukumnya dalam syarat Islam yang didasarkan kepada nas-nas syara’. Hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan dan ucapan manusia dan yang diambil dari sumber hukum agama. Tiap kaidah mengandung banyak materi hukum yang sejenis. Pengertian Fiqih dan Ushul Fiqih a. “kemadharatan itu harus dihilangkan “ dan “kebiasaan itu dapat dijadikan hukum”. maka mengetahui kaidahkaidah yang juga berfungsi sebagai pedoman berfikir dalam menentukan hukum suatu masalah.kaidah tentang metode penggalian hukum dari sumbernya serta syaratsyarat bagi yang akan melakukan istimbats hukum yang hal ini disebut Ushul Fiqih. jenayat. 1). Barang siapa melihat dan mampelajari kaidah-kaidah Fiqih seperti “kesulitan akan mendapat menarik kemudahan”. Hukum Fiqih lapangannya sangat luas meliputi beberapa peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan Kholiknya dan hubungan manusia dengan sesama makhluk yang dalam pelaksanaanya juga berkaitan dengan situasi/keadaan tertentu. muamalat. dirasa perlu sekali. inilah yang dinamakan Fiqih. Dengan adanya kaidah ini maka seseorang akan mudah mengetahui hukum suatu masalah dengan cara menerapkan kaidah tersebut. keadaan dan tempat”. khususnya untuk menghadapi berbagai persoalan yang muncul dan yang belum pernah terjadi sebelummnya maka para mujtahidin telah berusaha menyusun cabangcabang ilmu baru dibidang Fiqih-yang sekaligus untuk lebih memposisikan Fiqih Islam-dengan merumuskan hukum-hukum Islam dalam kaidah-kaidah yang disebut ”Al Qowait al Fiqhiyah”. ‫مجموعة الحكام الشرعية العملية المكتسبة من ادلتها التفصيلية‬ Himpunan hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah (perbuatanperbuatan orang mukallaf) yang diambil dari dalili-dalilnya tang tafshili. Fiqih Telah menjadi kesepakatan Ulama dari semua madzhab bahwa setiap perbuatan/ucapan manusia (orang mukallaf) baik itu berhubungan dengan ibadah. 1. akhwal. saksiyah dsb. .

AL-Asybah wa An Nadzair. tindakan dan ucapan orang mukallaf. karangan Abu Abbas Al-Qarafi (758 H) c). Ushul Fiqih Hukum Fiqih diambil dari adilatul ahkam/ sumber-sumber hukum Islam dan untuk menggali hukum tersebut diperlukan metode penggalian hukum serta siapa saja yang berhak untuk melakukan istimbats hukum. 1). Kitab-Kitab standar kaidah Fiqih: a). karangan Malik al. agar tidak salah dan keliru dalam pengambilan hukum tersebut. Definisi Ushul Fiqih ‫معرفة دلئل الفقه إجمال وكيفية الستفادة منها وحال المستفيد‬ Mengetahui dalil-dalil Fiqih secara global dan cara menggunakannya serta mengetahui keadaan orang yang menggunakannya (Mujtahid) ‫القواعد التى يتوصل بها استنباط الحكام من أدلتها التفصيلية‬ Himpunan kaidah-kaidah yang berfungsi sebagai alat penggalian hukum syara’ dari dalil-dalilnya yang terperinci. b. Metode pendayagunaan sumber hukum/metode penggalian hukum dari sumbernya. 3) Menerapkan kaidah. Kaidah-kaidah Fiqih disebut juga Kaidah-kaidah syar’iyah yang berfungsi untuk memudahkan mujtahid memudahkan sesorang menistimbatskan hukum yang bersesuaikan dengan tujuan syara’ dan kenashlahatan manusia terhadap suatu masalah dengan cara menggabungkan masalah yang serupa dibawah satu kaidah. Persyaratan orang yang berhak melakukan istimbats hukum dengan semua permasalahannya. Dari sekian kitab kaidah-kaidah Fiqih. Al Furuq. kitab tersebut oleh beberapa ulama disebut sebagai kitab yang terbaik dan banyak dipakai oleh kebanyakan ulama Indonesia. 2). Qowaid Fiqiyah 1). b). Obyek Ushul Fiqih a). Qowaid Fiqiyah dan Qowaid Ushuliyah a. Ushulu al Jami’ al-Kabir. 2). karangan Imam As suyuti (911 H) . c). yang akan digunakan disini adalah kitab “Al ashbah wan Nadloir” karangan Imam Jalalaludin assuyuti. 3).Mu’adzam’isa Al-Ayubi(623 H) b). hal ini disamping kitab tersebut muncul pada saat puncak keemasan pembukuan kaidah-kaidah Fiqih. Obyek Fiqih Perbuatan orang mukallaf dilihat dari sudut ketetapan hukum syara’ . Tujuan Fiqih Menerapkan hukum-hukum syariat Islam atas seluruh perbuatan. Dalil syara’ (sumber hukum) dengan semua seluk beluknya.2). Inilah Ushul Fiqih. 1. teori dan pembahasan dalil-dalil secara rinci untuk menghasilkan hukum syara’ yang diambil dari dalil tersebut.

Prof T. Hal ini disebutkan dalam kata katanya sewaktu menjelaskan tujuan menulis kitab “Qowaidul Ahkam fi Mashalihil Anam” sebagai berikut ‫الغرض بوضع هذالكتاب بيان مصالح الطاعات والمعاملت وسائر التصرفات لسعى العباد فى تحصيلها وبيان مقاصد‬ ‫المخالفات فى درئها وبيان مصالح العبادات ليكون العباد على خير منها وبيان مايقدم من بعض المصالح على بعض ومايؤخر‬ ‫من بعض المفاسد على بعض ومايدخل تحت اكتساب العبد دون مالقدرة لهم ولسبيل لهم اليه‬ Maksud dari menyusun kitab ini adalah menjelaskan mashlahat-mashlahat ketaatan muamalat dan semua perbuatan dalam usaha hamba untuk memperolehnya. Dalam kitab “Al Faraid al Bahiyyah” dikatakan Sesunguhnya cabang-cabang masalah Fiqih itu hanya dapat dikuasai dengan kaidah-kaidah Fiqih. menerangkan maksud dari pelanggaran/ kemadharatan agar bisa dihindari. Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan: Dikehendaki dari kaidah Fiqih adalah kaidah-kaidah hukum yang bersifat kulliyah yang dipetik dari dalildalil kulliyah (yaitu Al Quran dan Hadist yang menjadi pokok kaidah-kaidah kulliyah yang dapat disesuaikan dengan banyak juziyahnya) dan dari maksud syara’ dalam meletakkan kallaf dibawah beban taklif dan dari memahamkan rahasia dan tasriq dan hikmahnya.M. 4). Para fuqoha’ mengatakan ‫من راعى الصل كان حقيقيا بالوصول ومن راعى القواعد كان خليقا بادراك المقاصد‬ Barangsiapa memelihara Ushul maka ia akan sampai kepada yang dimaksud. Definisi kaidah Fiqih ‫المر الكل الذى ينطبق على جزئيات كثيرة تفهم احكامها منها‬ Suatu Kaidah kulli (umum) yang bersesuaiakan atas juziyahnya (bagian– bagiannya) yang banyak yang dari padanya diketahui hukum-hukum juziyah tersebut. menjelaskan mashlahat-mashlahat mana yang harus didahulukan dari yang lain serta mafshadat/ madharat . Imam Abu Muhamad Ezzudin Ibn Abd Salam berpendapat bahwa kaidah-kaidah Fiqih adalh sebagai jalan untuk mendapatkan mashlahat dan menolak mafshadah. dan barangsiapa memelihara kaidah-kaidah selayaknya ia dapat mencapai maksudnya. karangan Ibnu Qadi Al Jabali (771 H) 3). Maka menghafal kaidah –kaidah itu termasuk sebesarbesar manfaat. karena itu perlu adanya usaha untuk mensistemasikan hukum-hukum tersebut dalam bentuk kaidahkaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu’menjadi beberapa kelompok.d). Obyek kaidah Fiqih Perbuatan –perbuatan orang mukallaf 5). Al Qowaid al Fiqiyah. menunjukkan mashlahat-mashlahat ibadat agar hamba itu dapat melakukan sebaik mungkin. Kegunaan /urgensi kaidah Fiqih Fiqih adalah merupakan kumpulan berbagai macam aturan hidup yang begitu luas karena mencakup berbagai huruf furu’. dan tiap-tiap kelompok itu merupakan kumpulan dari masalah-masalah yang serupa.

Kebiasaan itu dapat dijadikan hukum. Sistematika Qowaid Fiqiyah Pada umumnya pembahasan Qowaid Fiqiyah berdasarkan pembagian kaidah-kaidah asasiyah dan kaidah-kaidah ghoiru asasiyah. Sedang kaidah Ghoiru asasiyah adalah kaidah yang merupakan pelengkap dari kaidah asasiyah dan keabsahannya masih diakui. bab Uqubah dsb seperti kitab “Al Faraidul Bahiyyah fil Qowaidi wal Fawaidil Fiqiyah” karangan Sayyid Mohammad Hamzah. Dr Nasrun Harun mengatakan dalam bukunya Ushul Fiqih untuk memahami syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW para ulama ushul Fiqih mengemukakan 2 bentuk pendekatan . Selanjutnya sebagian fuqoha’ lagi menyusun kaidah berdasarkan sistematika fiqih. d). bab Muamalat.mana yang harus dikemudiankan dan menerangkan apa yang termasuk dibawah (kemampuan) usaha hamba bukan hal yang diluar kemampuannya dan tidak ada jalan untuk menuju kepadanya. 6). maka para fuqoha’memperhatikan sungguh kaidah-kaidah ini. yaitu melalui kaidah-kaidah kebahasaan (pendekatan . Segala sesuatu tergantung kepada tujuannya. Kelima kaidah itu diringkas oleh Ezzudin Ibn Ab Salam dungeon “Menolak kerusakan dan menarik kemashlahatan”. Hasbi Ash Shiddiqi juga mengatakan mengingat pentingnya kaidah-kaidah itu dan besarnya manfatnya serta mendalam pengaruhnya dalam membuat petunjuk hukum-hukum furu’ bila kita memerlukan hujjah dan dalil serta mengistimbatskan hikmah. Kesulitan itu dapat menarik kemudahan. b. misal klasifikasi kaidah berdasarkan bab Ibadah. Kaidah ini berjumlah 19 buah (Hasbi Ash Shiddiqi). Kaidah Ushuliyah disebut juga kaidah istimbatstiyah yaitu kaidah-kaidah yang berkaitan dengan metode penggalian hukum. e). Yakin itu tidak dapat dihilangkan dungeon keraguan. Kemadharatan itu harus dihilangkan. Selain sistematika tersebut sebagian ulama ada yang menyusun kaidah Fiqih berdasarkan abjad dungeon jumlah 145 buah kaidah yang kemudian disarikan menjadi 99 buah kaidah dalam buku “ Majalah al ahkam al adliyah”. Adapun jumlah kaidah asasiyah hanya 5 macam yaitu a). Qowaid Ushuliyah 1). Kaidah asasiyah adalah kaidah yang disepakati oleh imam-imam azhah tanpa diperselisihkan kekuatannya disebut juga sebagai kaidah-kaidah induk karena hampir setiap bab dalam Fiqih masuk dalam kelompok kaidah induk ini. c). b). ada yang mengatakan 40 kaidah yang tidak diperselisihkan dan 20 kaidah yang diperselisihkan (Abdul Mujid).

Penggalian hukum terutama hukum syariah tidak terlepas dari pembahasan kebahasaan karena hampir 80% penggalian hukum syariah menyangkut lafadz. Pendekatan maqosit syariyah. Urgensi Qowaidul Ushuliyah Qowaidul Ushuliyah pada umumnya berkaitan dengan dalalah lafadz atau kebahasaan. penekanannya terletak pada upaya menyingkap dan menjelaskan hukum dari suatu kasus yang dihadapi melalui pertimbangan maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum. b). nahyu dsb. istihsan. dapat diketahui melalui metode ijma’. Untuk itu para ahli Ushul Fiqih membuat berbagai kaidah. urf dsb. Dalam kaidah kebahasaan ini dikemukakan cara-cara menyelesaikan dalildalil yang bertentangan secara dhair. Pada hakekatnya intisari maqosit syariat adalah kemashlahatan manusia didunia dan diakherat. Teori yang digunakan untuk menyingkap dan menjelaskan hukum dalam berbagai kasus yang tidak ada nash (Ayat Al Quran dan atau al Hadis)nya secara khusus. Perbedaan antara Qowaid Fiqihiyah dengan Qowaid Ushuliyah a). Sejumlah peraturan untuk menggali hukum.dalam pada itu sumber hukum adalah wahyu yang berupa bahasa oleh karena itu kaidah ushul berfungsi sebagai alat untuk menggali ketentuan hukum yang terdapat dalam bahasa. Perbedaan-perbedaan yang ada antara Qowaid Fiqihiyah dengan Qowaid Ushuliyah: 1). Obyek Qowaid Ushuliyah adalah dalil hukum. mujmal dan mubayyan. Oleh sebab itu. Sebenarnya lafadzlafadzlah yang menunjukkan hukum harus jelas dan tegas supaya tidak membingungkan para pelaku hukum namun pada kenyataannya petunjuk (dalalah) lafadz yang terdapat dalam nasyara’ itu beraneka ragam. dan kaidah ushuliyah umumnya berkaitan dengan ketentuan dalalah lafaz atau kebahasaan. sedang Qowaid Fiqihiyah adalah perbuatan mukallaf. muhkam mufassar amar. 3). . Obyek dalil hukum 4). 1. Definisi kaidah Ushul a). prinsip-prinsip dasar dan metode yang dapat digunakan dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hukum. 2). Hukum Kulli yang dapat dijadikan standar hukum bagi juzi yang diambil dari dasar kulli yakni Al Quran dan Sunnah. berbagai metode yang digunakan untuk menyingkap dalam menjelaskan hukum pada setiap kasus yang tidak ada nashnya harus senantiasa berorientasi kepada kemashlahatan umat kedua pendekatan yang digunakan dalam memahami syariat-syariat Islam diatas dibahas dalam ilmu Ushulil Fiqih. qias. sehingga seluruh yang ada dalam Al Quran dan Sunnah dapat dipahami serta diamalkan. Persoalan hukum dalam pendekatan ini terkait langsung dengan nas (Al Quran /Sunnah).bahasa) dan melalui pendekatan maqoshid syariyah (tujuan syara’ dalam menetapkan hukum) pendekatan melalui kaidah kebahasaan (uslub maupun tarkibnya) adalah untuk mengetahui dalil yang aam dam khas mutlak dan muqoyat.

Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 145: ‫ومن يرد ثواب الدنيا نؤته منها ومن يرد ثواب الخرة نؤته منها‬ Artinya:”Barangsiapa menghendaki pahala dunia Kami berikan pahala itu dan barang siapa menghendaki pahala akherat Kami berikan kepadanya pahala itu. Firman Allah SWT dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: ‫وماامروا إلليعبدال محلصين له الدين حنفاء‬ Artinya: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dungeon memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus. perbuatan dsb bergantung pada niatnya. Pengertian Maksud dari qaidah ini adalah setiap perkara bergantung pada tujuannya. Dengan kata lain. (2). cabang dan aplikasi kaidah asasiyah Qaidah Pertama ‫المور بمقاصدها‬ (1). Ketentuan Qowaid Ushuliyah berlaku bagi seluruh bagiannya (juziyahnya) sedangkan Qowaid Fiqihiyah berlaku pada sebagian besar (Aghlabiah) juziyahnya. Jika kaidah Ushuliyah dicetuskan dan disusun oleh ulama ushul sedangkan kaidah Fiqihiyah oleh ulama Fiqih namun aplikasi kaedah tersebutselalu berkaitan tidak berdiri sendiri mengingat kaidah ushul memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya sedangkan Qowaid Fiqhiyah merupakan operasionalisasi dari kaidah ushul tersebut sehingga kadang-kadang terjadi seperti tumpang tindih mana yang disebut kaidah Ushuliyah dan mana yang disebut Fiqhiyah. sumber. Yang jelas keduanya merupakan patokan dalam mengistimbatskan hukum. 1. b). bahwa setiap mukallaf dan berbagai bentuknya serta hubungannya. Dengan kata lain. Contoh Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah a). baik dalam ucapannya.” (b).2). . Kaidah Fiqhiyah Pengertian. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Sumber pengambilan (a). Qowaid Ushuliyah sebagai sarana istimbats hukum sedangakan Qowaid Fiqihiyah sebagai usaha menghimpun dan mendekatkan ketentuan hukum yang sama untuk memudahkan pemahaman fiqih. niat dan motivasi yang terkandung dalam hati sanubari seseorang sewaktu melakukan suatu perbuatan menjadi kriteria yang menentukan nilai dan status hukum amal yang ia lakukan. 3). Jadi suatu kaidah apabila digunakan sebagai dalil pembantuuntuk mengistimbatskan hukum dari dalil tafshili maka disebut kaidah Ushuliyah dan apabila melihat kaidah tersebut atas dasar obyeknya yaitu perbuatan mukallaf dan memuat hukum bagi sejumlah perbuatan yang serupa maka dinamakan kaidah Fiqhiyah.

Dan sesungguhnya bagi seseorang hanyalah apa yang ia niati. Contoh Aplikasi Diantaranya adalah: . maka kesalahannya membatalkan perbuatan tersebut.” (3).” (d).” (f). Hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Abu Hurairah: ‫انمابعث الناس على نياتهم‬ Artinya:”Sesungguhnya manusia itu dibangkitkan menurut niatnya. Qaidah ‫النية فىاليمين تخصص الفظ العام ولتعم الخاص‬ Artinya:”Niat dalam sumpah menkhususkan lafadz umum dan tidak pula menjadikan umum pada lafadz yang khusus. Qaidah ‫ماليشترط التعارض له جملة وتفصيل إذا عينه وأخطأ لم يضر‬ Artinya:”Suatu amal yang tidak disyaratkan untuk dijelaskan.” (d). Qaidah ‫العبرة فى العقود المقاصد والمعانى للللفاظ والمعانى‬ Artinya:”Yang dimaksud dalam bentuk akad adalah maksud / makna bukan lafadz atau bentu-bentuk perkataan.” (f).” (e).” (e).” (4). yaitu dalam sumpah dihadapan hakim.baik secara global atau terperinci. kecuali dalam 1 tempat. Qaidah ‫وما يشترط فيه التعارض فالخطأ فيه مبطل‬ Artinya:”Suatu amal yang disyariatkan penjelasannya. bila dipastikan dan ternyata salah. Hadis yang diriwayatkan Anas Ibnu Malik: ‫لعمل لمن لنية له‬ Artinya:”Tidak ada pahala bagi perbuatan yang tidak disertai niat. maka kesalahannya tidak membahayakan. Cabang-cabangnya (a).(c).” (b). Hadis riwayat At-Thabrani dari Shal’an Ibnu Said: ‫نية المؤمن خير من عمله‬ Artinya:”Niat seseorang itu lebih baik dari pada perbuatannya. karena bila disebutkan secara terperinci dan ternyata salah maka kesalahannya membahayakan. Dalam keadaan demikian maksud lafadz menurut niat hakim. Hadis yang diriwayatkan Bukhari: ‫انما العمال بالنيات وانما لكل امرئ مانوى‬ Artinya :”Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya.” (c). Qaidah ‫مقاصد الفض على نية اللفظ إلفىموضع واحد وهو اليمين عند القاض فانها على نية القاض‬ Artinya:”Maksud dari suatu lafadz adalah menurut niat orang yang mengucapkannya. Qaidah ‫ومايجب التعارض له جملة وليشترط تعينه تفصيل اذا عينه فأخطأ ضر‬ Artinya:”Suatu amal yang harus dijelaskan secara global dan tidak disyaratkan secara terperinci.

Seorang yang akan melakukan sholat Duhur. Maksudnya. suatu hukum yang mengandung kesusahan dalam pelaksanaannya / memadharatkan dalam pelaksanaannya. /harta seorang mukallaf . Dalam sholat tidak disyaratkan niat menyebutkan jumlah rakaat. Sumber kaidah (a) Firman Allah SWT dalam surat Al. dan maksudnya dengan ahmad. diringankan sehingga tidak memadharatkan lagi. maka bila seoarang muslim berniat melaksanakan shalat Maghrib 4 rakaat. Kesulitan yang dianggap bisa meringankan taklif kepada seorang mukallaf menurut AsySyatibhi ialah: (a) Karena khawatir terputusnya ibadah dan kerusakan paa diri. Keringanan tsb dikenal dengan rukhsah. menhendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (2). (b). tapi niatnya menunaikan sholat ashar. jiwa. (c) Seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan seseorang.(a). baik badan.” (d) Hadis riwayat Ibnu Abbas : ‫بعثت بالحنيفية السمحة‬ Artinya:”Aku diutus oleh Tuhan dungeon membawa agama yang penuh kecenderungan dan toleransi. harta dsb (b) Ada rasa takut akan terkuranginya kegiatan sosial yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan.” (3) Cabang-cabang (a) Qaidah ‫اذاضاق المر اتسع واذا اتسع المر ضاق‬ .Baqarahayat 185: ‫يريدال بكم اليسر ول يريد بكم العسر‬ Artinya:”Allah SWT. tapi ia tetap melaksanakan 3 rakaat maka sholatnya tetap sah. agama yang disenangi oleh Allah SWT adalah agama yang benar dan mudah. Hal itu antara lain karena kemampuan seorang mukallaf terbatas.” (c) Hadis riwayat Abu Hurairah: ‫الدين يسر احب الدين الى ال الحنيفية السمحة‬ Artinya:”Agama itu memudahkan. Pengertian Arti dari qaidah ini ialah suatu kesusahan menharuskan adanya kemudahan. maka sumpahnya hanya berlaku pada ahmad saja.” (b) Firman Allah SWT dalam surat Al Haj ayat 78: ‫وماجعل لكم فى الدين من حرز‬ Artinya:”Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. maka sholatnya tidak sah. Qaidah Kedua ‫المشقة تجلب التيسير‬ (1).

maka hukumnya menjadi sempit.” (b) Qaidah ‫كل ماتجاوزحده انعكس الى ضده‬ Artinya:”Semua yamg melampaui batas. (c) Tidak ada untuk melakukan kemaksiatan tapi harus menghindarinya. H Rhachmat Syafi’I 5)Ushul Fiqh : Dr.” Buku-buku rujukan. (2) Qaidah Artinya:”Lafadz nakirah dalam kalimatnegatif (nafi) mengandung pengertian umum.” (4) Contoh Aplikasi Diantarnya adalah: (a) Boleh berbuka puasa ketika berpergian atau sakit.” (c) Qaidah ‫الرخص لتناط بالمعاصى‬ Artinya:”Rukhsah-rukhsah itu tidak boleh dihubungkan dengan kemaksiatan. (b) Dibolehkan tidak ada ijab qabul dalam jual barang-barang yang tidak berharga.” (4) Qaidah Artinya:”Perintah terhadap sesuatu berarti larangan atas kebalikannya. b) Kaidah Ushuliyah (1) Qaidah Artinya:”Yang dipandang dasar adalah petunju umum dasar lafadz bukan sebab khusus (latar belakang kejadian).” (d) Qaidah ‫الرخص لتناط بالشك‬ Artinya:”Rukhsah itu tidak dapat disangkutputkan dungeon keraguan. 1)Ilmu Ushulil fiqhi : Sheik Abd Wahab Khallaf 2)Al Qowaidul fiqhiyah : Ali Ahmad an Nadawi 3)Tarikh tasyriq : Sheik Khudori Bey 4)Ushul Fiqh : Dr.” (3) Qaidah Artinya:”Petunjuk nash didahulukan dari pada petunjuk zahir.Artinya:”Apabila suatu perkara itu sempit maka hukumnya menjadi luas sebaliknya jika suatu perkara itu luas. H Nasrun Harun . maka hukumnya berbalik kepada kebalikkannya.

H Mukhlis Usman MA 7)Kaidah-kaidah ilmu Fiqih : Drs. Asymuni A. H Abd Mujib 8)Kaidah-kaidah Fiqih : Drs. H. Rahman .6)Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah : Drs.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful