PEDOMAN PENULISAN CATATAN KAKI (FOOTNOTE) ---------------------------------------------------------oleh: Febrie G.

Setiaputra

A. Prinsip Penulisan Footnote 1. Footnote dibuat untuk menyatakan hutang budi pada penulis lain atau informan, karena sebagian dari tulisan atau perkataan (dalam wawancara) penulis lain tersebut digunakan oleh penulis. Selain itu, footnote juga berfungsi untuk menyampaikan keterangan tambahan terhadap beberapa bagian persoalan yang dijelaskan, definisi misalnya; 2. Footnote disusun berdasarkan nomor urut kutipan; 3. Hubungan antara footnote dengan teks menunjukkan hubungan integral, artinya antara nomor urut kutipan dengan footnote harus terletak pada halaman yang sama.

B. Teknik Penulisan Footnote 1. a. Dimulai dengan nomor urut kutipan; b. Nama penulis; c. Judul karya; d. Data Publikasi. Contoh:
1

Febrie G. Setiaputra, Kehidupan Kraton Kasunanan Surakarta pada Masa Paku Buwono XII Tahun 1950-1988 (Yogyakarta: Ombak, 2005), hlm. 19. 2. Ketentuan Penulisan Nama Penulis a. Jika tidak diketahui nama marga/keluarga (second name) maka nama penulis ditulis sebagaimana adanya;

1

2

b. Bila diketahui nama second name atau merupakan nama penulis asing maka nama penulis dibalik. Contoh: Andy Malarangeng ditulis Malarangeng, Andy; c. Nama gelar, baik kebangsawanan, agama, dan akademis, tidak dicantumkan; d. Apabila penulis berjumlah lebih dari tiga, hanya nama pada urutan pertama yang dicantumkan dengan diikuti keterangan dkk atau et al; e. Apabila editor berjumlah lebih dari tiga, hanya nama pada urutan pertama yang dicantumkan dengan diikuti keterangan (eds.), sebaliknya, jika hanya satu, cukup ditulis namanya dengan diikuti keterangan (ed.); f. Jika nama penulis tidak diketahui dapat langsung ke penulisan judul karya atau dengan mencantumkan keterangan Tanpa Nama Penulis atau Anonim. 3. Ketentuan Penulisan Judul Karya a. Judul karya ditulis miring (italic); b. Pada karya berupa antologi, judul karya ditulis tegak dan dalam tanda kutip. Contoh:
1

Moerdino, “Wahyu di Keraton Jawa,” dalam Antlöv, Hans dan Sven Cederroth (eds.), Kepemimpinan Jawa (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), hlm. 21. c. Pada artikel dari media cetak, judul artikel ditulis tegak dan dalam tanda kutip. Contoh:
1

Tanpa Nama Penulis, “Keraton Jawa di Masa Revolusi,” dalam Kompas, 25 Agustus 1970, Nomor 39, Tahun ke-40, hlm. 19. d. Judul skripsi, tesis, dan disertasi yang belum diterbitkan ditulis tegak dan dalam tanda kutip. Contoh:
1

Febrie G. Setiaputra, “Kehidupan Kraton Kasunanan Surakarta Pada Masa Paku Buwono XII Tahun 1950-1988,” Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, Jember, 2005, hlm. 12.

3

4. Data Publikasi Jika ada komponen yang tidak disebutkan dapat ditinggalkan atau dengan mencantumkan keterangan tanpa penerbit, tanpa tahun terbit, tanpa kota terbit.

C. Penulisan Footnote 1. Baris pertama footnote tegak lurus dengan alinea baru teks, sedangkan baris selanjutnya tegak lurus dengan margin kiri; 2. Footnote ditulis dengan spasi tunggal; 3. Jarak antarfootnote adalah 2 spasi; 4. Contoh penulisan footnot berupa hasil wawancara adalah sebagai berikut. 1 Hasil wawancara dengan Febrie G. Setiaputra pada tanggal 5 November 2005 di Malang. 5. Jika penulis yang dikutip pendapatnya memiliki beberapa buku yang samasama dikutip, maka sebelum keterangan op. cit., atau loc. cit., ditulis tahun penerbitan sebagai pembeda. Contoh:
5 7

Kuntowijoyo, 1998, op. cit., hlm. 2. Kuntowijoyo, 2001, loc. cit.

Jika terdapat dua sumber dengan tahun penerbitan yang sama, gunakan huruf alfabet setelah keterangan tahun sebagai pembeda. Contoh:
5 7

Kuntowijoyo, 1998a, op. cit., hlm. 2. Kuntowijoyo, 1998b, loc. cit.

6. Setiap bab baru dimulai dengan nomor urut kutipan baru; 7. Font size footnote sama dengan teks.

D. Singkatan dalam Footnote 1. ibid., singkatan dari ibidem. Berfungsi untuk menunjuk pada (a) sumber yang telah dikutip sebelumnya dan (b) tanpa disela oleh sumber lain;

4

2. op. cit., singkatan dari opere citato. Berfungsi untuk menunjuk pada (a) sumber yang telah dikutip sebelumnya, (b) sudah disela oleh sumber lain, dan (c) halaman yang dikutip berbeda; 3. loc. cit., singkatan dari loco citato. Berfungsi untuk menunjuk pada (a) sumber yang telah dikutip sebelumnya, (b) sudah disela oleh sumber lain, dan (c) halaman yang dikutip sama; 4. et al., sama dengan dkk., 5. p. untuk menunjukkan halaman yang dikutip hanya terdiri dari satu halaman; 6. pp. untuk menunjukkan halaman yang dikutip terdiri dari beberapa halaman; 7. hlm. singkatan dari halaman. Pilihan menggunakan p./pp. atau hlm. bergantung pada aturan yang berlaku di institusi terkait.; 8. ed. singkatan dari editor, digunakan jika editor hanya terdiri dari satu orang; 9. eds. Dipergunakan jika editor terdiri dari dua orang atau lebih.

5

CONTOH:    .1    .2  .3    .4 .5   6

Febrie G. Setiaputra, Kehidupan Ekonomi Kraton Kasunanan Surakarta Pada Masa Paku Buwono XII Tahun 1950-1988 (Yogyakarta: Ombak, 2005), hlm. 19. Malarangeng, Andy, “Keraton Jawa di Masa Revolusi,” dalam Kompas, 24 Agustus 1970, Nomor 39, Tahun ke-40, hlm. 20.
3 2

1

Febrie G. Setiaputra, op. cit., hlm. 36. Ibid., hlm. 40. Ibid. Malarangeng, Andy, loc. cit.

4

5

6

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful