Latar Belakang Pusat Kesehatan Masyarakat atau puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 oleh Departemen Kesehatan

Republik Indonesia agar masyarakat di pelosok tanah air dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar. Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan dasar perorangan dan masyarakat Namun sayangnya, untuk pelayanan perorangan, setelah hampir empat dekade, puskesmas belum menjadi pilihan utama masyarakat untuk memperole h pelayanan kesehatan (1). Kondisi puskesmas di Kabupaten Simalungun tidak jauh berbeda dengan kondisi puskesmas lain di seluruh Indonesia. Apalagi sejak adanya Undang -undang No. 32 Tahun 2004, yang memberikan kewenangan otonomi pada daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun menyikapinya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No.13 tahun 2004 tentang pembebasan tarif puskesmas untuk semua jenis pelayanan dan berlaku untuk seluruh pengunjung puskesmas itu (2). Sejak diberlakukan tarif tidak ada peningkata n kunjungan ke puskesmas, dan pemanfaatan puskesmas oleh penduduk masih dibawah 30%, karena rendahnya mutu pelayanan puskesmas. Beberapa pandangan yang berkembang di masyarakat Simalungun yaitu buruknya citra pelayanan di puskesmas, fasilitas gedung maupun peralatan medis dan medis kurang memadai, dan budaya pegawai puskesmas yang tidak disiplin, Untuk peningkatan mutu pelayanan di puskesmas sebenarnya sudah mengikuti pelatihan mutu seperti Jaminan Mutu, Total Quality Management (TQM), dan Good Governance, tetapi belum diterapkan di puskesmas masing -masing (3) . Di propinsi Sumatera Utara pembebasan tarif puskesmas ini hanya Kabupaten Simalungun dan Kota Medan yang menerapkan pembebasan tarif. Bila dibandingkan kunjungan puskesmas di Kabupaten Simalungun dan kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Asahan yang menerapkan tarif restribusi terlihat ada perbedaan seperti tabel dibawah ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 5 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 1. Data Kunjungan Rawat Jalan Puskesmas Tahun 2006 No. Kabupaten Simalungun Kunjungan No. Kabupaten Asahan Kunjungan
1. Silimakuta 8.380 1. BP. Mandoge 11.792 2. Raya 8.525 2. Aek Songsongan 8.625 3. Tanah Jawa 12.770 3. Pulau Rakyat 11.790 4. Hutabayu raja 10.008 4. Aek Loba 9.477 5. Panei 7.123 5. Sei Sepayang 11.012 6. Sidamanik 9.334 6. Sei Apung 6.511 7. Dolok Pardamean 6.314 7. Simpang Empat 6.743 8. Dolok Paribuan 4.321 8. Air Batu 5.273 9. Bandar 7.632 9. Hessa Air Genting 6.941 10. Pematang Bandar 13.532 10. Tinggi Raja 11.591

11. Raya Kahean 5.863 11. Meranti 10.800 12 Siantar 13.596 12 Rawang Pasar IV 6.597 13. Jorlang Hataran 6.157 13. B. Serbangan 9.745 14. Girsang 5.964 14. Tanjung Tiram 8.331 15. Purba 10.952 15. Sei Balai 7.673 16. Silau Kahean 8.774 16. Lab. Ruku 6.548 17. Bosar Maligas 9.072 17. Lima Puluh 11.645 18. Ujung Padang 9.145 18. Kedai Sianam 7.573 19. Dolok Silau 6.216 19. Pem. Panjang 7.430 20. Dolok Batu Nanggar 3.440 20. Indra Pura 7.104 21. Tapian Dolok 3.855 21. Pagu Rawan 6.989 22. Haranggaol 2.664 22. Sidodadi 6.332 23. Pematang Sidamanik 1.758 23. Gambir Baru 9.237 24. Hatonduan 2.261 24. Mutiara 14.786 25. Panambean Pane 7.185 26. Gunung Malela 8.674 27. Gunung Maligas 8.339 28. Jawa Maraja Bah Jambi 6.321 29 Bandar Huluan 6.409 30. Bandar Masilam 8.020 Sumber: Subdin Yankes Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan

Dari tabel diatas terlihat bahwa kunjungan pasien di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dari puskesmas dengan pembebasan tarif. Puskesmas di Kabupaten Simalungun rata-rata 7180/tahun/puskesmas atau 23 pasien per hari per puskesmas. Sedangkan puskesmas di Kabupaten Asahan ratarata 8.772/tahun/puskesmas atau 30 pasien per hari per puskesmas. Sarana dan tenaga yang tersedia di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Asahan cukup memadai untuk lebih jelas terlihat dari tabel berikut ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 6 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 2. Sarana dan Tenaga Kesehatan Kabupaten No. Jenis sarana dan prasarana Kabupaten Simalungun Kabupaten Asahan
I. Sarana RSU Daerah 2 unit 1 unit RS Swasta 2 unit 5 unit Puskesmas 30 unit 24 unit Puskesmas pembantu 167 unit 172 unit Puskesmas keliling 22 unit 24 unit BP Swasta 6 unit 76 unit II. Tenaga Dokter spesialis 2 orang 24 orang Dokter umum 124 orang 98 orang Dokter gigi 29 orang 20 orang Apoteker 4 orang 2 orang Tenaga keperawatan 634 orang 588 orang Sumber: Profil Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan.

Sebelum diberlakukannya pembebasan tarif, puskesmas mempunyai pendapatan dari tarif sebesar Rp. 4.500 per pasien. Pendapatan ini setiap bulan 50% disetor ke kas daerah dan

sisanya bisa dipergunakan langsung untuk melengkapi kebutuhan puskesmas(4). Kondisi sekarang dengan pembebasan tarif tidak ada penggantian langsung dari pemerintah daerah, berbeda keadaannya dengan puskesmas di Kota Medan yang juga menerapkan pembebasan tarif tetapi mendapatkan langsung biaya pengganti dari APBD . Tinggi rendahnya sistem pembiaya an pelayanan kesehatan berdampak kepada mutu pelayanan itu sendiri, apalagi alokasi dana untuk program penunjang kesehatan tidak memadai, apabila hal ini terjadi puskesmas makin lama akan ditinggalkan oleh pengguna jasanya, dan hanya akan dipergunakan saja oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai pilihan lain (5). Untuk melihat apakah perbedaan kunjungan ini menunjukkan perbedaan mutu pelayanan maka dilakukan penelitian bagaimana pengaruh pembebasan tarif terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Si malungun dengan membandingkan dengan di Kabupaten Asahan. Metode Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan rancangan postest only with control group design (post test dengan kelompok kontrol). Penelitian ini untuk mengetahui mutu pelayanan di puskesmas yang menerapkan kebijakan pembebasan tarif retribusi pelayanan di puskesmas. Hasil observasi yang dilakukan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerapkan kebijakan tersebut (6). Unit analisis
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 7 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

adalah puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) dengan subjek penelitian pasien yang berkunjung dan petugas petugas puskesmas. Jumlah sampel pasien 408 orang ( 12 diantaranya di wawancara mendalam) dan kepala puskesmas 6 orang. Lokasi penelitian di 6 puskesmas di kedua kabupaten yang dilakukan secara stratified random samplin g, puskesmas yang terpilih di puskesmas yang membebaskan tarif yaitu Puskesmas Siantar (kunjungan tinggi), Gunung Malela (kunjungan sedang) dan Dolok Batu Nanggar (kunjungan rendah). Sedangkan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) terpilih yai tu Puskesmas Mutiara (kunjungan tinggi), Aek Loba (kunjungan sedang) dan Sidodadi (kunjungan rendah). Besar sampel pasien dengan rumus Lameshow adalah 100 orang di Puskesmas Siantar, 110 orang di Puskesmas Mutiara, 60 orang di Puskesmas Gunung Malela, 68 orang di Puskesmas Aek Loba, 27 orang di Puskesmas Dolok Batu Nanggar dan 43 orang di Puskesmas Sidodadi. Penelitian dilakukan selama 2 bulan. Alat penelitian yang digunakan untuk mengukur harapan dan kenyataan pasien adalah kuesioner servqual yang terdiri dari pertanyaan tertutup, sedangkan untuk data kualitatif dengan panduan wawancara mendalam, observasi di lapangan, dokumen anggaran/keuangan dan sistem manajemen mutu ISO 9001;2000. Variabel penelitian meliputi variabel bebas yaitu

Dari hasil pengolahan data independen sample t -test menunjukkan .id 8 Hartati.050. jaminan (assurance) dan empati (empathy). sedangkan kualitatif didiskripsikan dalam bentuk narasi dan dilakukan dengan metode triangulasi data untuk memperkuat data kuantitati.4 Oktober 2007 1st draft menyatakan bahwa masyarakat dengan penghasilan m enengah kebawah lebih banyak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah secara gratis daripada pelayanan swasta yang mempunyai tarif lebih tinggi.baik di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). WPS no. (7) . Pada penelitian ini harapan pasien pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan ). Dari hasil pengamatan selama penelitian pada 6 puskesmas di kedua kabupaten terlihat bahwa jenis pelayanan yang diberikan di masing -masing puskesmas dan juga beban kerja petugas hampir sama antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. yaitu yang terbanyak berjenis kelamin perempuan.I. daya tanggap (responsiveness)..ugm. 5. kamar obat pada saat penelitian menunjukkan jumlah dan jenis tenaga kesehatan hampir sama baik itu di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) maupun yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). 4. untuk data kuantitatif dengan analisis deskriptif dan uji statistik beda mean (uji t -independen). BP umum. dalam usia produktif (18 -30 tahun). Hal ini mirip dengan penelitian yang dilakukan di Cyprus (8).--Rp. keandalan (realibility). dimana sudah hampir memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Depkes R. Hasil Karakteristik pasien yang jadi responden dalam penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dan Asahan ini terlihat hampir sama. sedangkan variabel terikat adalah persepsi tentang mutu pelayanan dengan dimensi berwujud ( tangibles). Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di kedua kabupaten suda h cukup memadai.pembebasan tarif. dan pe kerjaan di puskesmas kedua kabupaten hampir sama yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar berpendidikan SLTA dengan jenis pekerjaan ibu rumah tangga dan swasta pasien yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar adalah dengan tingkat penghasilan menengah k ebawah. Pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dan kualit atif. Untuk melihat tingkat kesanggupan membayar tarif puskesmas sebagian besar berkisar Rp. Dari hasil pengamatan selama penelitian di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) jumlah petugas yang melayani di loket pendaftaran. Untuk tingkat pendidikan.000.ac. Tjahjono Kuntjoro. Sedangkan responden yang menginginkan gratis hanya sedikit baik itu di daerah yang membebaskan tarif maupun daerah yang menerapkan tarif. (9).

responsiveness. assurance dan empathy lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tar if (Kabupaten Simalungun) daripada di puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Hal ini sesuai dengan pendapat teori yang menyatakan bahwa harapan dibentuk oleh pengalaman masa lalu.ac. pembicaraan dari mulut ke mulut dan dari iklan perusahaan jasa. Hal ini disebabkan pada pasien Askes (gratis) karena tingginya ekspektasi tidak disertai simetrisnya informasi yang dimiliki pasien Askes (12) . WPS no. Tjahjono Kuntjoro. responsiveness.05 . Harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada empat (4) variabel dimensi mutu reliability. yang meneliti di Korea Selatan tentang pengaruh frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan.id 9 Hartati. assuranc e dan emphaty lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) daripada puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). atribut. assurance dan empathy daripada dimensi tangibles.walaupun perbedaannya tipis tapi cukup bermakna. Sedangkan harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada dimensi mutu t angibles di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan menerapkan tarif tidak ada perbedaan signifikan. Hal ini sesuai dengan laporan. Sedangkan pasien baru lebih fokus padan dimensi tangibles (penampilan fisik) dari penyedia layanan (11). harapan pasien terhadap mutu pelayanan berbedabeda dari kelompok (group) pelanggan terhadap penyedia pelayanan yang berbeda berdasarkan perbedaan demografi pelanggan dan tempat pelayanan (10) . motivasi dan konsekuensi dari hasil . Akan tetapi hal ini muncul karena pengalaman pasien di Kabupaten Simalungun yang berdekatan dengan Kota Medan yang membebaskan tarif puskesmas tetapi dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan pelayanan puskesmas di Kabupaten Simalungun. informasi. Hal ini sejalan hasil penelitian yang menyatakan. valensi. nilai. Jadi kondisi puskesmas yang membebaskan tarif seharusnya harapan pasien tidak terlalu tinggi (13) . emosi. Harapan pasien terhadap mutu pelayanan dalam dimensi realibility. bahwa tinggi dan rendahnya harapan pelanggan dapat terjadi karena bermaca m-macam pengaruh antara lain faktor : (1) Perorangan misalnya kebutuhan. Hal ini sesuai dengan yang diteliti di RSUD Bengkulu menyatakan bahwa harapan pasien Askes (gratis) lebih tinggi daripada harapan pasien umum (membayar). Dalam konsep pemasaran jasa bahwa harga yang terlalu murah bahkan gratis membuat kesan jasa tersebut tidak bermutu atau mutunya rendah. setelah menerima jasa tersebut pelanggan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan (14). perhatian. ketertarikan.4 Oktober 2007 1st draft pasien lama terhadap mutu pelayanan fokus pada dimensi realibility. Hal ini didukung oleh teori ekpektasi. kapabilitas.perbedaan signifikan dimana p < 0. menunjukkan bahwa harapan Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. pengalaman. responsiveness.ugm.

responsiveness dan empathy lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan (yang menerapkan tarif) dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Dari dimensi mutu tangibles (bukti fisik) memang menunjukkan bahwa puskesmas di Kabupaten Asahan dari penampilan fisik gedung dan sarana pendukung lainnya termasuk peralatan medis dan obat -obatan lebih baik kondisinya bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Begitu juga dengan penampilan petugas lebih rapi pakaian seragamnya dan ada tanda pengenal di puskesm as Kabupaten Asahan. termasuk obat lebih bagus pada pelayanan kesehatan swasta (swasta) dibandingkan dengan fasilitas pemerintah (gratis) (17) . Ini terjadi karena di puskesmas Kabupaten Asahan ada pemasukan dana retribusi yang bisa dipergunakan langsung untuk kebutuhan yang mendesak.id 10 Hartati. Hal ini memang sesuai penelitian di India. bahwa memang ada perbedaan dimensi mutu pelayanan tangibles seperti gedung. ketidakadilan (15).pelayanan yang dirasakan. Kenyataan pelayanan yang dialami pasien di puskesmas Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dengan puskesmas di Asahan (yang menerapkan tarif) menunjukkan ada perbedaan signifikan. Makin Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Dari dimensi mutu responsiveness puskesmas di Kabupaten Asahan lebih tinggi bila dibndingkan dengan di Kabupaten Simalungun. kegiatan yang dibutuhkan. peralatan medis dan non medis. tekanan kelompok. Tjahjono Kuntjoro. yaitu dari tiga (3) dimensi mutu tangible.4 Oktober 2007 1st draft tinggi harapan seorang pelanggan maka semakin besar kemungkinan ia tidak puas terhadap j asa yang dikonsumsinya (16). Selain itu pelayanan yang benar akan menentukan harapannya pada suatu jasa. Hal ini disebab kan karena petugas sudah mendapatkan pelatihan Good Governance dan mereka sudah mempunyai motto bahwa kepuasan pasien dan kepentingan pasien adalah hal yang utama. Harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk yang dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk. Hal ini juga didukung dari penelitian di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayan an kesehatan terutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19).ugm. Dimensi mutu tangible penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tidak bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18). WPS no. Dan dapat ditambahkan b ahwa 2 orang kepala puskesmas di . norma sosial. (2) Sosial misalnya sosiodem ografi. Dengan kata lain mereka juga sudah menerapkan sistem manajemen mutu. Pelanggan akan mengeluh tidak puas apabila harap annya tidak terpenuhi. dan seorang pelanggan akan mengharapkan bahwa ia seharusnya juga dilayani dengan baik sebagaimana pelayanan diberikan pada pelanggan yang lain.ac.

Siantar (membebaskan tarif) dan Gunung Malela (membebaskan tarif). membuat kunjungan pasien berulang (23).0. Sidodadi (menerapkan tarif).19 0.id 11 Hartati.90 0.0. menyatakan bahwa petugas yang memberikan perhatian yang dalam kepada pasie n.49 0. Dolok Batu Nanggar (membebaskan tarif).000* . Perbedaan gap dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel 3. Begitu juga dilaporkan dari penelitian i di Campbell. Hal ini sesuai bahwa dalam penerapan sistem manajem en mutu peran aktif manajemen puncak harus benar -benar dirasakan sampai tingkat bawah (20). Aek Loba (menerapkan tarif).54 . WPS no. Dari dimensi mutu empati ( empathy) terlihat bahwa hal ini lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun.ugm. bahwa kecepatan pelayanan di unit pelayanan pemerintah yang gratis lebih lambat responnya bila dibandingkan pelayanan di unit swasta yang membayar (22). Sesuai dengan penelitian di Kanada.0.1.4 Oktober 2007 1st draft kepuasan pasien terutama pasien di bagian emergensi atau unit gawat darurat (21).2.000* Reliability Pembebasan Tarif . Berarti puskesmas di Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dan Asahan (yang menerapkan tarif) mempunyai kemampuan yang sama dalam hal memberikan keandalan dan jaminan kepada pasien.000* Responsiveness Pembebasan Tarif .1. pengabdian dan komitmen yang tinggi untuk menerapkan sistem manajemen mutu yang berorientasi kepada kepentingan pasien.48 .67 Penerapan Tarif .74 . Total Perbedaan Gap Pasien di Puskesmas Variabel Puskesmas Mean Gap P Tangible Pembebasan Tarif .2. Tjahjono Kuntjoro. Untuk melihat tingkat kepuasan terhadap mutu pelayanan dapat dilihat dari gap antara harapan dan ke nyataan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Mirip dengan penelitian di Cyprus bahwa dimensi mutu empathy lebih tinggi pada unit pelayanan swasta bila dibandingkan dengan unit pelayanan milik pemerintah yang gratis (8).2. Sedangkan dari 2 (dua) dimensi mutu realibilty dan assurance terlihat tidak ada perbedaan signifikan kenyataan pelayanan yang dirasakan pasien antara dua kabupaten.43 Penerapan Tarif .2. Berarti di puskesmas Kabupaten Asahan petugas mempunyai kepedulian yang tinggi . Berdasarkan hasil penghitungan gap antara harapan dan persepsi dapat diurutkan tingkatan mutu puskesmas dari urutan terbaik ke urutan yang jelek yaitu Puskesmas Mutiara (menerapkan tarif). memberikan perhatian yang dalam kepada pasien.64 Penerapan Tarif .ac. Begitu juga dari penelitia di Helsinki bahwa kecepatan pelayanan merupakan penentu tingkat Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.Kabupaten Asahan masih muda dan mempunyai semangat.

-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 Gratis Bayar tangibles reability responsivenes Assurance Emphaty total Gambar 1.82 Penerapan Tarif .id 13 Hartati. Untuk melihat gambaran gap dari masingm asing variabel dapat dilihat pada Gambar 3.ac.0.000* Emphaty Pembebasan Tarif . Skor Gap untuk Lima Dimensi Kepuasan pada Pasien Gratis Dari pengolahan data menunjukkan perbedaan signifikan dimana p<0. responsiveness. Tjahjono Kuntjoro.1. WPS no.000* Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Sebenarnya t ingkat kepuasan pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif maupun yang menerapkan tarif masih rendah ditandai adanya gap yang negatif berarti hal ini disebabkan oleh terlalu tingginya harapan pasien terhadap mutu pelayanan di puskesmas pada kelima dimensi. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.05.41 0.50 -1. assurance dan empathy (12).0. Dengan demikian memang ada perbedaan antara mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif dan yang menerapkan tarif.1.52 -1. Sesuai dengan laporan penelitian di Cyprus bahwa ada perbedaan mutu pelayanan pada pelayanan kesehatan pemerintah yang gratis dan pelayanan swasta.Assurance Pembebasan Tarif . realibility.91 Penerapan Tarif .4 Oktober 2007 1st draft Tapi bila dibandingkan gap antara pasien di puskesmas yang bayar gapnya lebih rendah daripada gap pasien yang gratis berarti pasien yang bayar lebih puas dari pasien di puskesmas . Hal ini menunjukkan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan.ugm. pada semua dimensi mutu. Tjahjono Kuntjoro.ac.4 Oktober 2007 1st draft Tabel 3 menunjukkan bahwa total perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) berdasarkan masing -masing variabel ada perbedaan signifikan.id 12 Hartati.30 0. dimana mutu pelayanan di fasilitas pemerintah yang tidak bayar lebih rendah daripada pelayanan swasta yang membayar (8).ugm. Dari hasil perhitungan statistik gap menunjukkan ada perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif dengan yang menerapkan tarif. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang melaporkan ketidakpuasan pasien Askes dan Umum di Rumah Sakit Umum Bengkulu pada ke 5 (lima ) dimensi mutu yaitu tangibles. WPS no. Hal ini menunjukkan pembebasan tarif retribusi mempengaruhi mutu pelayanan.

kepercayaan dan komunikasi.yang gratis. Hal ini juga didukung penelitan di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayanan kesehatan t erutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19). Sebagian besar responden menyatakan tidak puas dengan kenyataan yang ada. Berarti pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif pelayanan tidak bermutu hal Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. kenyamanan dan sarana non medis pada puskesmas yang membebaskan tarif bila dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif. Dimensi mutu tangibles penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tida k bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18). hal -hal yang menjadi harapan pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu harapan pasien terhadap fasil itas fisik dan lingkungan puskesmas. harapan pasien terhadap pelayanan petugas dan harapan pasien terhadap pembebasan tarif.ugm. berarti penyedia layanan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen (13). harapan pasien masih belum terpenuhi karena ada yang belum sesuai dengan etika pelayanan kedokteran karena kadang -kadang dokter meninggalkan tugas pada jam kerja di puskesmas yang membebaskan tarif. yaitu kecepatan pelayanan. WPS no. penampilan petugas. Peningkatan mutu pelayanan yang berkesinambungan menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi era globalisasi yang mengisyaratkan bahwa pelayanan haru s dilakukan sesuai standar dan memenuhi kaidah -kaidah mutu yang berorientasi kepada kepentingan konsumen.id 14 Hartati. yaitu fasilitas fisik dan lingkungan puskesmas yang tidak memadai.ac. tidak adanya keamanan non medik. Untuk pelayanan petugas. Harapan pasien terhadap tarif puskesmas (gratis dan bayar) dari hasil wawancara mendalam mengenai harapan pasien terhadap pembayaran tarif. bila dibandingkan de ngan pelayanan di puskesmas yang menerapkan tarif. Hasil wawancara mendalam dengan pasien terlihat. untuk kategori biaya pelayanan pasien berharap tidak perlu naik.4 Oktober 2007 1st draft ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pelayanan yang bermutu apabila penerapan kode etik kedokteran dan standar pelayanan dapat memuaskan pasien (24). dan dibandingkan dengan yang tidak diintervensi terlihat perbedaan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan (17). Hal ini juga didukung oleh penelitian di India yang melaporkan bahwa fasilitas pemerintahan yang diintervensi dengan perbaikan mutu melalui proyek dari The World Bank. ini sejalan dengan penelitian. Tjahjono Kuntjoro. Untuk puskesmas yang membebaskan . di Cyprus menyatakan pasien yang menggunakan fasilitas kesehatan pemerintah yang gratis tingkat kepuasannya rendah dibandingkan dengan pasien yang menggunakan fasilitas swasta yang menerapkan tarif (8).

merupakan syarat utama dalam arti dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang dibutuhkan. WPS no.id 15 Hartati. perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup (9). perencanaan dana yang tidak transparan. dari 6 pasien yang diwawancara 60% menyatakan kebijaksanaan ini tidak perlu dihentikan kar ena dalam situasi ekonomi yang sulit dapat membantu pasien. Jadi dalam pembiayaan kesehatan harus transparan. Tjahjono Kuntjoro. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa. Untuk memberikan pelayanan yang baik di puskesmas dibutuhkan dana yang cukup.2001.4 Oktober 2007 1st draft mencukupi jika syarat yang lain tidak terkelola dengan baik maka pembiayaan pelayanan kesehatan tidak berjalan secara optimal. niscaya akan menyulitk an penyelenggaraan setiap upaya kesehatan. jumlah besaran dana.2001 terlihat hasilnya tidak terlalu jauh perbedaan antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan).ugm. karena tidak ada peningkatan mutu pelayanan setelah diberlakukan pembebasan tarif. (c) Pemanfaatan. Dari hasil observasi kelengkapan dokumen di puskesmas ternyata semua dok umen yang ada hampir sama. (b) Penyebaran. kecuali pada Puskesmas Mutiara dan Aek . bila dana yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik. peralatan medis dan non medis sampai kebutuhan obat langsung ditangani oleh dinas kesehatan. akan tetapi karena di Kabupaten Asahan sudah menerapkan Good Governance hasil penilaian sedikit lebih tinggi penerapan ISO 9001. Hal ini didukung juga laporan dari Campbell bahwa pasien psikatri yang membayar di praktek dokter swasta lebih puas daripada di rumah sakit pemerintah yang membebaskan tarif (22). sekalipun dana Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Dari wawancara dengan kepala puskesmas dari kedua kabupaten menunjukkan. Hal ini menunjukkan pengalokasian dana. Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000. Tetapi sebagian lagi pasien menyarankan pemberlakuan tarif kembali asal tidak memberatkan masyarakat dan mutu pelayanan ditingkatkan lagi. akan banyak menimbulkan masalah (24).tarif. Ketiga syarat tersebut perlu diperhatikan.ac. dari hasil observasi check list ISO 9001. baik terhadap alokasi maupun pemanfaatannya. asal mutu pelayanan ini dapat ditingkatkan. bila tidak mendapatkan pengaturan yang seksama. bahwa dana operasional puskesmas ada tetapi pengelolaannya langsung oleh dinas kesehatan sehingga semua biaya untuk kelengkapan administrasi. (a) Jumlah. Hal ini sesuai penelitian di India. syarat pokok yang harus dipenuhi dalam m emberikan pelayanan bidang kesehatan . Sedangkan menurut aturan yang ada untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan masyarakat yang menjadi tanggungjawab puskesmas. bahwa fasilitas pemerintah sebaiknya memberlakukan pembayaran ( fee) yang sangat berguna sebagai pendapatan ( revenue) yang sebagian dapat langsung digunakan sebagai penunjang biaya operasional (17).

Banyak rekomendasi sebelumnya bahwa suatu penyedia jasa pelayanan kesehatan haruslah menerapkan sistem manajemen mutu termasuk metode untuk memonitor kepuasan pelanggan.2000 (25). Hasil wawancara mendalam terhadap kepala puskesmas dari dua kabupaten tersebut. Menurut penelitian di Helsinki menyatakan bahwa pengukuran dan peningkatan kepuasan pelanggan dalam sistem p elayanan kesehatan adalah bagian yang penting dari manajemen mutu (21). Perbedaan mutu t erdapat pada semua dimensi mutu tangibles. assurance dan empathy. proses yang tidak stabil. realibility. Saran Pertama. Penutup Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh pembebasan tarif retribusi puskesmas terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dapat disimpulkan sebagai berikut: (1). Pembiayaan kegiatan operasional puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) ada perbedaan dalam hal besaran dana. padahal keberadaan ISO 9001. . mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). sebagian besar mereka belum familiar dengan istilah ini. Tjahjono Kuntjoro. Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. Sesuai dengan p endapat yang menyatakan. WPS no. mengoreksi kekurangan yang dialami dan untuk memperbaiki proses secara berkesinambungan (27).2000 di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) masih rendah dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan).ac. jumlah dana yang tersedia di puskesmas yang membebaskan tarif lebih besar daripada di puskesmas yang menerapkan tarif.Loba dokumen lebih lengkap dengan adanya dokumen hasil survey kepuasan pelanggan. responsiveness. yaitu ada perbedaan signifikan.2000 dapat digunakan oleh organisasi yang perlu proses perencanaan. Bahwa hasil penelitian ini mendukung hipotesa yang diajukan. Dimana mutu Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. proses pengamatan.4 Oktober 2007 1st draft pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dibandingkan dengan di puskesmas yang menerapkan tarif. Karena standar ISO 9001. bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun perlu memperbaiki mutu pelayanan puskesmas dengan melengkapi sarana dan prasarana baik medis maupun non medis.2000 ini sudah lama. Suatu organisasi di era globalisasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya kompetisi maka organisasi itu dituntut untuk terus mengembangkan konsep dan teknologi peningkatan mutu(26).ugm. suatu organisasi harus dapat menerapkan sistem manajemen mutu. bahwa organisasi yang sudah berorientasi kepada kepuasan pelangan merupakan prasyarat sistem manajemen mutu ISO 9001. Untuk meningkatkan mutu. (2). (3).id 16 Hartati.

dan mensosialisasikan dan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. dan walaupun sudah diterapkan Good Governance pada pelayanan di puskesmas tapi perlu dipertimbangkan untuk mengadopsi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. Bagi Puskesmas Gunung Malela perlu melakukan perbaikan pada lima (5) dimensi mutu tangibles (penampilan fisik puskesmas). assurance dan empathy. misalnya rehabilitasi gedung). WPS no. Bagi Puskesmas Dolok Batu Nanggar hanya perlu memperbaiki tangibles (fasilitas fisik. bagi Kepala Puskesmas yang membebaskan tarif disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan.memperbaiki mutu pelayanan dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pemberian rewards. puskesmas yang menerapkan tarif disarankan untuk secara terus menerus melakukan evaluasi mutu pelayanan dengan berfokus pada kepuasan pasien. mengalokasian anggaran puskesmas sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan fungsi pengawasan keuangan puskesmas. Tjahjono Kuntjoro. dan meningkatkan motivasi petugas untuk lebih mementingkan apa yang diinginkan oleh pasien.ac. Ketiga. serta menggabungkan penerapan Good Governance dan ISO 9001. responsiveness. memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam meningkatkan mutu pelayanan.4 Oktober 2007 1st draft tanggap). dan komitmen kepala dinas untuk meningkatkan mutu pe layanan dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.2000 di puskesmas. sedang dimensi mutu realibility. dan memberikan pelatihan customer service dan ketrampilan medis bagi puskesmas yang mutu pelayanan rendah.ugm.2000 di puskesmas. meningkatkan mutu pelayanan puskesmas dengan peningkatan kualitas secara berkesinambungan. bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan perlu melakukan evaluasi mutu pelayanan setiap puskesmas secara rutin agar supaya kualitas pelayanan puskesmas dapat dipantau. assurance dan empathy tetap dipertahankan.id 17 Hartati. Puskesmas perlu memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam memperbaiki mutu pelayanan. responsiveness. Kedua. Keempat.2000. Kelima. mempertahankan sistem manajemen mutu dalam dimensi secara keseluruhan mulai dari tangibles. bagi peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian mengenai komitmen dan motivasi petugas puskesmas terhadap pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif. assurance (jaminan) dan empathy (perhatian). dengan memperbaiki fasilitias fisik. reliability. realibility (keandalan). 2000 untuk meningkatkan mutu pelayanan yang berorientasi kepada pasien. responsiveness (daya Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. melakukan penelitian mengenai efisiensi dan efektifitas . Bagi Puskes mas Siantar perlu melakukan perbaikan dimensi mutu tangibles dan empathy.

WPS no. Kim.. Mutu pelayanan pasien peserta Askes dan Umum di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. (2000.W. 18. International Journal for Quality in Health Care. Jakarta. M. PT.. London. (2005) Hubungan Persepsi Terhadap Kualitas . Jakarta.L. Family Practice ±An International Journal. (2004) Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) Edisi pertama. Thompson.S.ac. dan melakukan penelitian mengenai penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. Yogyakarta. Pemasaran Jasa & Kualitas Pelayanan. 14. Arief.4 Oktober 2007 1st draft 6. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. 19. Jakarta. (2006). (2004).N.K. Mukti. 7(2).C .H.). 17.D. The Impact of Visit Frequency on the Relationship between Service Quality and Outpatient Satisfaction. Haddad. Ghalia Indonesia: Jakarta. Vol.pembiayaan di puskesmas yang membebaskan tarif. M. Tarif versus mutu.Yogyakarta.H. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat. Desentralisasi Kesehatan Di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. M.D.T. Dilema Puskesmas.K. Mewujudkan Good Governance.IV. 1.htm. Sugiyono.R. Laksono. 4. 3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004.D.K. (1995).N. Yogyakarta. N. Profil Kesehatan Kabupaten Simalungun. (2004). (2002). Pertama. (2006) Quality Improvement and Its. Elex Media Komputindo. & Purwanta (2003). Journal Health Economics. 1. 12.13: 1167-1180. Hanson. (2006). (2006). Theory and Evidence. Pelayanan yang memuaskan. Tjiptono. Rao. Wiyadi.A. UG. 08 (01). Sunol. vol.Juni 2006. dan Utarini. Siantar. Winnie. 19-22.22. U.G. Potvin. (2004) Metode Penelitian Kualitatif.& Hsiao.K. Modul mata kuliah Magister Perilaku dan Promosi Kesehatan. Trisnantoro. Impact on The Use and Equality of Outpatient Health Services in India. & Lee. Marsuli.C.E. 5. Cho. 2006. Hubungan antara Persepsi Tarif Retribusi dengan Kualitas Pelayanan di Balai Pengobatan Puskesmas. Manajemen Jasa.interscience.No.id 18 Hartati. Oxford University 11. A South Korean Study. Edisi. Agus. Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat . (2005). Choi. no. Expectation As Determinant of Patient Satisfaction: Concept. Patient perception of quality following a visit to a doctor in a primary care unit. Departemen Kesehatan RI. Statistika untuk Penelitian . Edisi Pertama.dan Roberge. 2. Gajah Mada University Press. Bandung 7. Tjahjono Kuntjoro. Yogyakarta. (2005). Yogyakarta 15.U. Bayumedia Publishing.2000 di puskesmas yang membebaskan tarif.M. (2004) The Impact of quality on the demand for outpatient services in Cyprus.UGM. Prestaka.CV.127-1 16. 13. (2005).2. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Daftar Pustaka 1. 9.H. Dwiyanto. Peters. Gadjah Mada University Press. :<http:// Health Economics.W. Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun. Haryono.. Opini 07 Juli (2006). Iqbal. (2006). Utarini. Ed. Susanto.Yunus Bengkulu. 10. (www. Melalui Pelayanan Publik. 8.A. Nasution. Andi.ugm. Journal Health Care Services Research 39 : 1.17. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. F. Journal Health Economic.wiley.com). Alfabeta. A.

Hal ini menunjukkan adanya kontrol ketat pemerintah sebagai pemilik terhadap rumah sakit sebagai firma atau pelaku usaha.lrckmpk. Prinsip keadilan. maka Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Wilayah B ali bekerja sama dengan SMARTPlus Management Training & Consulting.4__Hartati_10_07_WPS. Dalam rangka memberikan kemampuan pemahaman sebagaimana dimaksud dan mempersiapkan RS Pemerintah menjadi BLU serta RS Swasta menuju pada RS yang efisien dan bermutu tinggi. . Tarif rumah sakit merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh rumah sakit swasta juga oleh rumah sakit milik pemerintah. Jasa pelayanan yang diberikan harus bermutu lebih baik. apabila tingkat pemulihan biaya ternyata juga rendah untuk kelas VIP misalnya. Akan tetapi disadari bahwa tarif pemerintah umumnya mempunyai cost-recovery (pemulihan biaya) yang rendah. harga relatif murah dan bermanfaat. Akan tetapi.ac. sebagai dasar penyusunan anggaran dan subsidi. pemahaman mengenai konsep tarif perlu diketahui oleh para manajer rumah sakit. efisiensi. tarif memang ditetapkan berda-sarkan Surat Keputusan Menkes atau Pemerintah Daerah. penghitungan unit cost menjadi sesuatu yang urgent untuk dibuat sehingga pengambilan keputusan yang diambil mempunyai dasar yang kuat. dan kualitas pelayanan kesehatan mempunyai implikasi rumah sakit harus mampu dalam pengelolaan biaya secara komprehensif. maka dapat terjadi subsidi untuk masyarakat atas.students-blog. Rumah sakit sebagai penyelenggara layanan kesehatan mempunyai beban tersendiri untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan adil bagi masyarakat. Adanya kebijakan swadana telah memberikan wewenang penetapan tarif pada direktur rumah sakit. 23 tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum (BLU) oleh Departemen Keuangan dan Permendagri No. Oleh karena itu.ugm. Bagi sebagian rumah sakit pemerintah. 146 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi BAB X KONSEP PENETAPAN TARIF DAN INVESTASI 10. Dikeluarkannya PP No. akuntanbilitas manajemen menjadi suatu unsur yang sangat penting.1 Konsep Penetapan Tarif dalam Manajemen Rumah Sakit Tarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan dengan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien. alat negosiasi pembiayaan kepada stakeholder terkait dan dapat pula dijadikan acuan dalam mengusulkan tarif pelayanan rumah sakit yang baru dan terjangkau masyarakat.pdfhttp://tinarbukaaw. baik pihak rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi alat advocacy dalam pembiayaan pelayanan kesehatan. sehingga terjadi subsidi pemerintah bagi masyarakat miskin untuk menggunakan pelayanan rumah sakit.id/2011/07/badan-layanan-umum-blu-rumah-sakit/LATAR BELAKANG Biaya pelayanan kesehatan akan semakin meningkat terus .ac. penanganan pasien lebih cepat. Analisis biaya melalui perhitungan biaya per unit ini (unit cost) dapat dipergunakan rumah sakit sebagai dasar pengukuran kinerja. 61 Tahun 2007 tentang Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menuntut rumah sakit harus banyak berbenah terutama dari sisi keuangan dan akuntabilitasnya. Apabila tarif mempunyai tingkat pemulihan biaya rendah diberlakukan pada kelas pelayanan bawah (misal kelas III) maka hal tersebut merupakan sesuatu yang layak. Good governance telah menjadi isu sentral saat ini.id/id/UP-PDF/_working/No.undip. bermaksud menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan topik ³Penghitungan Unit Cost Rumah Sakit´. Untuk mengakomodir akuntabilitas terutama dalam tarif layanan rumah sakit. Hal ini mendorong seluruh elemen. khususnya untuk bangsal VIP dan kelas I yang tidak banyak mempengaruhi orang miskin.Pelayanan dengan Minat Pemanfaatan Pelayanan Rawat Inaphttp://www.

Dalam ekonomi mikro. sudah dikenal suatu titik keseimbangan yaitu harga berada pada equilibrium berdasarkan demand dan supply (Lihat Bab II). Pada sistem ekonomi yang berbasis pada keseimbangan pasar. jelas bahwa subsidi pemerintah tidak dilakukan Bagian III 147 .

Keadaan ini terutama terdapat pada rumah sakit pemerintah yang semakin lama semakin berkurang subsidinya. Oleh karena itu. 10. sehingga subsidi perlu diberikan karena keadaan ini sangat penting pada proses penetapan tarif rumah sakit pemerintah. Di pandang dari aspek masyarakat sebagai pengguna. Dengan latar belakang kepemilikan tersebut. terdapat penggolongan rumah sakit berdasarkan pemiliknya yaitu penanganan penetapan tarif dan tujuan penetapan tersebut dipengaruhi oleh pemiliknya. Penetapan Tarif untuk Pemulihan Biaya Tarif dapat ditetapkan untuk meningkatkan pemulihan biaya rumah sakit. maka rumah sakit keagam saat ini bukan aan tempat berobat untuk orang miskin.) Oleh karena itu. Akibatnya. Dalam kaitan dengan misi sosial. tarif dibiarkan sesuai dengan permintaan pasar.2 Tujuan Penetapan Tarif Sebagaimana disebutkan dalam Bab I. Pada masa lalu kebijakan swadana rumah sakit pemerintah pusat ditetapkan berdasarkan pemulihan biaya ( costrecovery. 148 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . penetapan tarif dapat menunjukkan misinya. hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakadilan yaitu masyarakat miskin sulit mendapatkan pelayanan rumah sakit. muncul pendapat yang menyatakan bahwa kebijakan swadana berkaitan dengan naiknya tarif rumah sakit. tarif dapat ditetapkan dengan berbagai tujuan sebagai berikut.atau terbatas pada masyarakat miskin. Hal ini disebabkan oleh rumah sakit keagamaan sudah tidak mendapat subsidi dari pemerintah ataupun dari masyarakat baik melalui gereja ataupun dana-dana kemanusiaan lain. Akan tetapi. menarik untuk diperhatikan bahwa tarif rumah sakit keagamaan ternyata lebih tinggi dibandingkan tarif rumah sakit pemerintah.

Apabila rumah sakit memaksakan melakukan subsidi silang dari tarif±tarif yang ada dikhawatirkan akan terjadi penurunan mutu pelayanan dalam jangka panjang dibandingkan dengan rumah sakit yang tidak mempunyai tujuan untuk subsidi silang. misalnya instalasi farmasi. Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Ada suatu keadaan rumah sakit mempunyai misi untuk mela-yani masyarakat miskin. Kebijakan subsidi silang ini secara praktis sulit dilakukan karena terjadi tarif rumah sakit yang melakukan subsidi silang jauh berada di atas tarif pesaingnya. pemerintah atau pemilik rumah sakit ini mempunyai kebijakan penetapan tarif serendah mung-kin. Sebagai contoh IRD mempunyai potensi sebagai bagian yang mendatangkan kerugian.Penetapan Tarif untuk Subsidi Silang Dalam manajemen rumah sakit diharapkan ada kebijakan agar masyarakat ekonomi ku dapat ikut at meringankan pembiayaan pelayanan rumah sakit bagi masyarakat ekonomi lemah. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Berbagai pene litian menunjukkan bahwa mutu pelayanan rumah sakit pemerintah rendah akibat subsidi pemerintah terbatas dan tarif rumah sakit rendah dengan sistem manajemen yang birokratis. rumah sakit juga diharapkan melakukan kebijakan penetapan tarif yang berbeda pada bagian-bagiannya. Selain subsidi silang berbasis pada ekonomi. Bagian III 149 . Dengan konsep subsidi silang ini maka tarif bangsal VIP atau kelas I harus berada di atas unit cost agar surplusnya dapat dipakai untuk mengatasi kerugian di bangsal kelas III. Akan tetapi. patut diperhatikan bahwa akses tinggi belum berarti menjamin mutu pelayanan yang baik. perlu disubsidi oleh bagian lain yang mempunyai potensi mendatangkan keuntungan. Diharapkan dengan tarif yang rendah maka akses orang miskin menjadi lebih baik. Kegagalan pemerintah memberikan subsidi cukup bagi biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit yang mempunyai tarif rendah menyebabkan mutu pelayanan rumah sakit semakin rendah secara berkesinambungan.

mencip-takan corporate image. berbagai rumah sakit di Jakarta mene-150 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . Sebagai contoh. meminimalkan penggunaan. tarif periksa umum pada rumah sakit pemerintah ditetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelayanan serupa di Puskesmas. Sebagai contoh. Terlalu lamanya waktu yang dipergunakan dokter spesialis pemerintah bekerja di rumah sakit swasta dapat mengurangi mutu pelayanan. mengurangi pemakaian. sehingga dapat meningkatkan surplus secara maksimal. Penetapan tarif dengan tujuan menciptakan Corporate Image adalah penetapan tarif yang ditetapkan dengan tujuan meningkatkan citra sebagai rumah sakit golongan masyarakat kelas atas. Dengan cara ini maka fungsi rujukan dapat ditingkatkan sehingga masyarakat hanya menggunakan rumah sakit apabila perlu saja. Penetapan tarif untuk mengurangi pesaing dapat dilakukan untuk mencegah adanya rumah sakit baru yang akan menjadi pesaing. memaksimalkan pendapatan. maka tarif dapat dipasang pada tingkat yang setinggi-tingginya. Ada hal yang menarik tentang penetapan tarif yang bertujuan minimalisasi penggunaan pelayanan. tarif dapat ditetapkan secara tinggi. Sebagai contoh. kebijakan pene-tapan tarif pada bangsal VIP dilakukan berdasarkan pertimbangan untuk peningkatan mutu pelayanan dan peningkatan kepuasan kerja dokter spesialis.Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Di berbagai rumah sakit pemerintah daerah. Penetapan Tarif untuk Tujuan Lain Beberapa tujuan lainnya. bangsal VIP dibangun untuk mengurangi waktu spesialis di rumah sakit swasta. rumah sakit yang sudah terlebih dahulu beroperasi mempunyai strategi agar tarifnya tidak sama dengan rumah sakit baru. Tanpa kehadiran pesaing dalam suasana pasar dengan demand tinggi. penetapan tarif dapat dilakukan dengan tujuan memaksimalisasikan pendapatan. misalnya mengurangi pesaing. Penetapan tarif untuk memperbesar keuntungan dapat dilakukan pada pasar rumah sakit yang cenderung dikuasai satu rumah sakit (monopoli). Dengan cara ini. Oleh karena itu.

maupun persaingan sempurna. Rumah sakit swasta dapat berupa rumah sakit for-profit ataupun non-profit. kontrak dan cost-plus. Di sektor rumah sakit. baik monopoli. Teknik-teknik penetapan tarif pada perusahaan sebagian besar berlandaskan informasi biaya produksi dan keadaan pasar. Penetapan Tarif Rumah Sakit dengan Menggunakan Pendekatan Perusahaan Pada perusahaan penetapan tarif mungkin menjadi keputusan yang sulit dilakukan karena informasi mengenai biaya produksi mungkin tidak tersedia.tapkan tarif bangsal super VIP dengan nilai yang sangat tinggi. masih sangat jarang. tetapi membutuhkan informasi mengenai biaya produksi. target rate of return pricing. Timbul kesan seolah-olah berlomba untuk mendapatkan citra rumah sakit paling mewah.3 Proses Penetapan Tarif Pemilik rumah sakit dapat berupa lembaga swasta. perorangan ataupun pemerintah. maka proses penetapan tarif dapat berbeda pula. acceptance pricing. Pada bagian ini akan dibahas mengenai perbedaan penetapan tarif rumah sakit swasta dengan rumah sakit pemerintah. 10. Full-Cost Pricing Cara ini merupakan cara yang paling sederhana secara teoritis. Teknik-teknik tersebut antara lain: full-cost pricing. Dasar cara Bagian III 151 . keadaannya lebih parah karena informasi mengenai unit cost misalnya. Misi dan tujuan rumah sakit swasta dan pemerintah tentu dapat berbeda. oligopoli. Dengan perbedaan tersebut.

Misalnya. Tarif kontrak ini dapat memaksa rumah sakit menyesuaikan tarifnya sesuai dengan kontrak yang ditawarkan perusahaan asuransi kesehatan. Akan tetapi. Dengan demikian. Walaupun cara ini masih dikritik karena berbasis pada unit cost. Sebagai gambaran untuk mengembangkan sistem akuntasi yang baik. maka tarifnya harus sebesar Rp5. Dalam kontrak tersebut penghitungan tarif juga berbasis pada biaya dengan tambahan surplus sebagai keuntungan bagi rumah sakit. Dengan demikian. Teknik penetapan tarif ini dikritik karena pertama. dibutuhkan modal yang besar. ataupun konsumen yang tergabung dalam satu organisasi. Dengan cara ini. tarif ditentukan oleh direksi harus mempunyai 10% keun-tungan.000. Kedua. masalah efisiensi menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. sering mengabaikan faktor demand. Kontrak dan Cost-Plus Tarif rumah sakit dapat ditetapkan berdasarkan kontrak misal-nya kepada perusahaan asuransi. tetapi faktor demand dan pesaing telah 152 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . apabila biaya produksi suatu pemeriksaan darah Rp5. jelas bahwa analisis biaya (lihat bagian terdahulu) merupakan hal mutlak yang harus dilakukan.500. Target Rate of Return Pricing Cara ini merupakan modifikasi dari metode full-cost di atas.00 agar memberi keuntungan 10%.00. membutuhkan penghitungan biaya yang rumit dan tepat.ini dilakukan dengan menetapkan tarif sesuai dengan unit cost ditambah dengan keuntungan. maka asumsinya tidak ada pesaing ataupun demand-nya sangat tinggi. Dengan berbasis pada unit cost. Dengan demikian teknik ini mengabaikan faktor kompetisi. saat ini perhitungan tarif kontrak dengan asuransi kesehatan masih sering menimbulkan perdebatan : apakah rumah sakit mendapat surplus dari kontrak. Dengan asumsi ini maka pembeli seakan-akan dipaksa menerima jalur produksi yang menimbulkan biaya walaupun mungkin tidak efisien. atau justru malah rugi atau memberikan subsidi.

diperhitungkan. Pada saat melakukan investasi. rumah sakit harus dapat memperkirakan besar pemasukan yang benar. beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain. Terdapat dua tipe metode ini yaitu: (1) penetapan tarif di atas pesaing. Dalam teknik ini dibutuhkan beberapa kondisi antara lain. biaya yang menyesuaikan dengan tarif. rumah sakit harus mempunyai pandangan jangka panjang terhadap kegiatannya. Dalam metode ini. Penetapan tarif benar-benar dilakukan berbasis pada analisis pesaing dan demand. Penetapan Tarif dengan Melihat Pesaing Struktur pasar rumah sakit saat ini menjadi semakin kompetitif. pertama. rumah sakit harus dapat menetapkan tarif sendiri tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain. kedua. dan ketiga. Rumah sakit lain akan mengikuti pola pentarifan yang digunakan oleh rumah sakit tersebut. Dengan melihat berbagai macam teknik penetapan tarif di perusahaan swasta. Para pengikutnya harus mengevaluasi apakah akan mengikutinya atau tidak. Rumah sakit yang lain mengikutinya. tetapi ada saling pengertian antarrumah sakit. dan (2) penetapan tarif di bawah pesaing. Walaupun mungkin tidak ada komunikasi formal. Pada situasi ini. Mengapa butuh pemimpin dalam menetapkan harga? Keadaan ini dapat tim karena bul rumah-rumah sakit sakit enggan terjadi perang tarif dan mereka enggan saling merugikan. Jadi hal ini bukan semacam kartel. Hubungan antarrumah sakit dalam menetapkan tarif dapat menjadi "saling mengintip". Bagian III 153 . seharusnya telah diproyeksikan demand dan pesaingnya sehingga direksi berani menetapkan target tertentu. dapat muncul rumah sakit yang menjadi pemimpin harga. Acceptance Pricing Teknik ini digunakan apabila pada pasar terdapat satu rumah sakit yang dianggap sebagai panutan (pemimpin) harga. Masalah akan timbul apabila pemimpin harga ini merubah tarifnya.

informasi kualitatif perlu dicari untuk membantu penetapan tarif. dan tarif harus ditetapkan dengan berbasis pada tujuan. Dengan disubsidinya investasi dan biaya-biaya penelitian pengembangan. dan unit-unit pelaksana fungsional. investasi. dan penelitian pengembangan. Penetapan Tarif pada Organisasi Pemerintah Pada berbagai sektor termasuk kesehatan. Keadaan ini menyebabkan keputusan-keputusan manajemen rumah sakit pemerintah seringkali menjadi lamban karena harus menunggu persetujuan pihak-pihak berwenang. antara lain gaji. Pertama: rumah sakit pemerintah merupakan milik masyarakat sehingga direksi rumah sakit harus bertanggung jawab kepada pemimpin politik daerah atau nasional. Dengan latar belakang ini. pemerintah merasa perlu menegaskan bahwa berbagai komponen biaya pe nyelenggaraan rumah sakit tetap disubsidi. pusat atau daerah. Kedua: rumah sakit pemerintah cenderung lebih besar dibanding dengan swasta. misalnya di Jakarta dan Surabaya. rumah sakit pemerintah mendapat pengaruh langsung dari peraturan-peraturan atau norma-norma pemerintah. Besar dalam segi ukuran juga sering disertai dengan kepemimpinan dalam teknologi kedokteran. pemasaran. Dengan demikian. maka rumah sakit pemerintah berbeda dengan swasta dalam beberapa hal. pendapatan total dan biaya total harus dievaluasi dalam berbagai tingkat harga dengan asumsi-asumsi yang perlu dan penetapan tarif harus melibatkan partisipasi dari bagian akuntansi. Kewajiban ini ditujukan untuk menjamin terjadinya pemerataan pelayanan rumah sakit. rumah sakit terbesar adalah milik pemerintah pusat dan daerah. Untuk itu. jika dipandang dari sudut ekonomi manajerial. pemerintah masih mempunyai kewajiban mengatur tarif. rumah sakit pemerintah terutama rumah 154 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi .tujuan penetapan tarif harus diyakini secara jelas. dan bertanggung jawab pula kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Contoh klasik yaitu penetapan tarif rumah sakit daerah yang harus membutuhkan persetujuan bupati dan DPRD. struktur pasar dan demand harus dianalisis.

dan isu politik. akan tidak disertai dengan produktivitas yang tinggi. Sebenarnya rumah sakit keagamaan atau sosial yang tidak mencari keuntungan juga menghadapi berbagai isu yang serupa misalnya. dengan segera akan terjadi gelombang protes. biaya investasi tidak diperhitungkan dalam pentarifan sehingga dapat lebih murah dibanding swasta. bagaimana isu melayani kaum dhuafa bagi rumah sakit Islam atau menjalankan pelayanan berdasarkan Kasih bagi orang miskin pada rumah sakit Katolik. Ketiga: rumah sakit pemerintah cenderung mempunyai over-head cost yang tinggi. maka proses penetapan tarif dalam rumah sakit pemerintah harus memperhatikan berbagai isu yaitu isu sosial dan amanat rakyat. dalam proses pentarifan sering kali biaya sumber daya manusia tidak diperhitungkan.sakit pendidikan mempunyai peluang untuk memonopoli segmen pelayanan tertentu tanpa mempertimbangkan biaya investasi. Pengalaman kasus kenaikan tarif pada rumah sakit pemerintah menunjukkan hal tersebut. Apabila kenaikan tarif dirasakan terlalu tinggi bagi masyarakat. rumah sakit pemerintah menghadapi problem dalam Bagian III 155 . Dengan demikian. Isu Sosial dan Amanat Rakyat dalam Penetapan Tarif Satu hal penting yang harus diperhatikan dalam penetapan tarif rumah sakit pemerintah berkaitan dengan amanat rakyat yaitu pelayanan rumah sakit secara tradisional sebagai pelayananan sosial pemerintah yang harus disubsidi sehingga perlu berhati-hati dalam menaikkan tarif. isu ekonomi. Isu-Isu Ekonomi Sebagaimana suatu industri yang mempunyai struktur fixed cost yang tinggi. Berbasis perbedaaan dengan rumah sakit swasta. Keadaan inilah yang menyebabkan perubahan tarif rumah sakit pemerintah harus mendapat persetujuan wakil wakil rakyat. Hal ini terutama karena biaya gaji yang tinggi akibat besarnya jumlah pegawai tetap. Akibatnya.

Akan tetapi. Isu Politik Sebagaimana galibnya suatu pemerintahan. Misi rumah sakit pemerintah menuntut agar amanat rakyat dalam pelayanan rumah sakit dipenuhi. tarif ditetapkan rendah dan sebaliknya jika daerahnya kuat. ibarat seseorang yang masuk lumpur pasir. Fenomena menarik yaitu rumah sakit yang tidak mampu mengembangkan diri. Pada keadaan yang sangat sentralisasi. penghitungan tarif sudah mendekati 156 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi .investasi dan pengembangan program. Hal ini berakibat menurunnya jumlah pasien atau melayani pasien yang terbatas kemampuan membayar dan tuntutannya. Kebu-tuhan untuk berkembang ini semakin tinggi karena persaingan antar rumah sakit semakin besar. Bagi provinsi yang lemah secara ekonomi. Sumber anggaran pemerintah pusat berdasarkan asas keadilan akan lebih banyak diberikan ke daerah daerah yang lemah secara ekonomi. pemerintah pusat akan mengatur tarif sesuai dengan kekuatan daerah. Pada prinsipnya tarif yang ada. kemampuan pemerintah kurang. ada tarik-menarik antara sentralisasi dan desentralisasi perencanaan. Problem ini terjadi apabila daya subsidi pemerintah berkurang. Akan tetapi. mutu pelayanan akan semakin turun. cost-recovery-nya tidak memungkinkan rumah sakit pemerintah untuk berkembang. secara tidak langsung pemerintah menerapkan subsidi silang antardaerah. semakin berusaha akan semakin terpuruk. Menarik bahwa untuk beberapa produk. Penetapan tarif adalah bentuk kewenangan pemerintah. Jika suatu rumah sakit secara ekonomis tidak menarik stafnya. Berbagai hal di atas menunjukkan bahwa penetapan tarif rumah sakit pemerintah memang lebih kompleks daripada rumah sakit swasta. Akibatnya terjadi berbagai isu ekonomi yang berkaitan dengan tarif rumah sakit pemerintah. Dengan kebijakan ini. dalam perubahan rumah sakit menjadi lembaga sosial-ekonomi dengan prinsip-prinsip swadana. Dengan kewenangan ini. pemerintah pusat ingin melakukan perencanaan ketat yang menunjukkan kewenangan. penetapan tarif model perusahaan harus diperhatikan oleh rumah sakit pemerintah.

000 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.245 3. . Tabel di bawah menunjukkan contoh tarif dari suatu rumah sakit pemerintah dan penghitungan unit-cost-nya. .000 40. -2e. Tabel 10. bahwa pengaturan mengenai rumah sakit belum cukup memadai untuk dijadikan landasan hukum dalam penyelenggaraan rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masya rakat.000 3. huruf c. bahwa dalam rangka peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan Rumah Sakit serta pengaturan hak dan kewajiban masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan. b.unit-cost.800 1. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. e.1 Contoh perhitungan tarif dan Unit Cost bangsal Kegiatan/Bangsal IRJ 2. dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi -tingginya. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.960 14.000 Kelas III Kelas II Kelas I VIP Unit Cost Tarif 1.890 39. bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan. perlu mengatur Rumah Sakit dengan Undang -Undang. c. Menimbang : a.000 (3B) 10. 2.000 25. d. perlu . dan huruf d serta untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan Rumah Sakit.000 27. huruf b.000 (3A). kemajuan teknologi. bahwa .

dan gawat darurat. Mengingat : Pasal 5 ayat (1). 4. atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. keadilan. Pasal 28H ayat (1). -33. dan rehabilitatif. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah. 6. 5. . . etika dan profesionalitas. dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.membentuk Undang-Undang tentang Rumah Sakit. persamaan hak dan . Pelayanan . kuratif. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyed iakan pelayanan rawat inap. baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit. manfaat. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 20. rawat jalan. Bupati. 3. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan. 7. 2. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG RUMAH SAKIT. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. preventif. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan.

memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien. masyarakat. sumber daya manusia rumah sakit. . . menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat. pemerataan. b. serta mempunyai fungsi sosia l.anti diskriminasi. -4Pasal 3 Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan: a. . -5b. masyarakat. Rumah Sakit mempunyai fungsi : a. lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Pasal 4 Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. dan Rumah Sakit. . penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu peng etahuan bidang kesehatan. b. Pasal 3 . perlindungan dan keselamatan pasien. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit. memberikan kepastian hukum kepada pasien. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. c. . c. Pasal 5 Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan sta ndar pelayanan rumah sakit. dan d. BAB IV TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH Pasal 6 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk : a. pemeliharaan . dan d.

menggerakkan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. atau Lembaga Teknis Daerah dengan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung jawab. menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. (2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan BAB V PERSYARATAN Bagian Kesatu Umum Pasal 7 (1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi. atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi. sumber daya manusia. g. d. dan peralatan. prasarana. dan j. . menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa . h. f. bangunan. ata u swasta.b. kefarmasian. -7(3) Rumah Sakit yang didirikan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus berbentuk Unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang bertugas di bidang kesehatan. i. membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit. (2) Rumah Sakit dapat didirikan oleh Pemerintah. memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Instansi tertentu. . -6e. . e. Pemerintah Daerah. menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin. (4) Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) harus . c. (3) Rumah Sakit . . memberikan .

(3) Ketentuan . sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya. . anak-anak. -8(3) Ketentuan mengenai tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. . (2) Ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut Upaya Pemantauan Lingkungan. serta demografi. kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat. persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit. dan b. dan orang usia lanjut. Pasal 10 .berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang perumahsakitan. serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit. dan tata ruang. Bagian Ketiga Bangunan Pasal 9 Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi : a. . Bagian Kedua Lokasi Pasal 8 (1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan. keselamatan lingkungan. efisiensi dan efektivitas. sesuai dengan fungsi. . -9Pasal 10 (1) Bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang . (4) Hasil kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada studi kelayakan dengan menggunakan prinsip pemerataan pelayanan. Upaya Pengelolaan Lingkungan dan/atau dengan An alisis Mengenai Dampak Lingkungan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang -undangan.

i. l. o. (3) Ketentuan . ruang gawat darurat. ruang dapur. ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit. i. ruang ibadah. ruang mekanik. . ruang kantor dan administrasi. d. . laundry.paripurna. ruang rawat inap. c. serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. k. instalasi tata udara. m. ruang tenaga kesehatan. t. g. (2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) .10 (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. ruang radiologi. c. ambulan. . ruang operasi. s. h. (2) Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang: a. kamar jenazah. q. standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat. instalasi mekanikal dan elektrikal. instalasi pengelolaan limbah. dan j. e. ruang pendidikan dan latihan. e. n. p. ruang tunggu. g. pendidikan dan pelatihan. pencegahan dan penanggulangan kebakaran. instalasi air. ruang laboratorium. ruang menyusui. taman. pelataran parkir yang mencukupi. dan u. f. r. rawat jalan. d. ruang sterilisasi. j. petunjuk. Bagian Keempat Prasarana Pasal 11 (1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat meliputi: a. pengolahan sampah. b. f. b. h. instalasi gas medik. instalasi uap. ruang farmasi. sistem informasi dan komunikasi.

tenaga kefarmasian. serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit (3) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dalam keadaan terpe lihara dan berfungsi dengan baik. (2) Jumlah dan jenis sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan jenis dan klasifikasi Rumah Sakit. Pasal 13 . Bagian Kelima Sumber Daya Manusia Pasal 12 (1) Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis. keamanan. (3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi. . tena ga keperawatan. . (3) Rumah Sakit harus memiliki dat a ketenagaan yang melakukan praktik atau pekerjaan dalam penyelenggaraan Rumah Sakit. (5) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. . (4) Rumah Sakit dapat mempekerjakan tenaga tidak tetap dan konsultan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.harus memenuhi standar pelayanan. tenaga manajemen Rumah Sakit. dan tenaga nonkesehatan.11 (4) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. (4) Pengoperasian .12 Pasal 13 (1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib memiliki Surat Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin sesuai den gan ketentuan peraturan perundang -undangan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. . . . .

Pasal 14 (1) Rumah Sakit dapat mempekerjakan t enaga kesehatan asing sesuai dengan kebutuhan pelayanan. . . (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelay anan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan alih teknologi dan ilmu pengetahuan serta ketersediaan tenaga kesehatan setempat. Bagian Keenam Kefarmasian Pasal 15 (1) Persyaratan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu. (3) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan bagi tenaga kesehatan asing yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktik (4) Ketentuan .13 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan tenaga kesehatan asing pada ayat (1) ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. bermanfaat. . (4) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. (3) Pengelolaan alat kesehatan. (2) Pelayanan sediaan farmasi di Rumah Sakit harus mengikuti standar pelayanan kefarmasian. Bagian Ketujuh Peralatan Pasal 16 (1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) meliputi peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar pelayanan. standar prosedur operasional yang berlaku. aman dan terjangkau. menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. sediaan farmasi. etika profesi.standar pelayanan Rumah Sakit. dan bahan habis pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi farmasi sistem satu pintu. . (4) Besaran harga perbekalan farmasi pada instalasi farmasi Rumah Sakit harus wajar dan berpatokan kepada harga patokan yang ditetapkan Pemerintah.

. Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus. Pasal 14. (2) Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. golongan umur. Pasal 12. . Pasal 17 Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. dan manfaat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. (3) Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu. Pasal 19 (1) Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan. Pasal 13. (6) Pemeliharaan peralatan harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan (7) Ketentuan mengenai pengujian dan/atau kalibrasi peralatan medis. Pasal 10. Pasal 15. . . . .14 (2) Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang. (2) Peralatan . keamanan. dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit. dan Pasal 16 tidak diberikan izin mendirikan. (3) Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang.15 BAB VI JENIS DAN KLASIFIKASI Bagian Kesatu Jenis Pasal 18 Rumah Sakit dapat dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. Pasal 11.persyaratan mutu. mutu.. keselamatan dan laik pakai. (4) Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus dilakukan sesuai dengan indikasi medis pasien. . standar yang berkaitan dengan keamanan. BAB IV . organ. Pasal 9. (5) Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. Pasal 8. jenis penyakit.

rumah sakit . Pasal 20 (1) Berdasarkan pengelolaannya Rumah Sakit dapat dibagi menjadi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit privat. Pasal 21 Rumah Sakit privat sebagaimana dima ksud dalam Pasal 20 ayat (1) dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero. . . Pasal 22 (1) Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan. (4) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dialihkan menjadi Rumah Sakit privat. pendidikan kedokteran berkelanjutan. (3) Rumah sakit . Pemerintah Daerah.17 (2) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit Pend idikan dapat dibentuk Jejaring Rumah Sakit Pendidikan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rumah Sakit pendidikan diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Dalam . .atau kekhususan lainnya. Pasal 23 (1) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan Rumah Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran. (2) Rumah Sakit publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikelola oleh Pemerintah. dan badan hukum yang bersifat nirlaba. dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Bagian Kedua Klasifikasi Pasal 24 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan. . (2) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan. . .16 (3) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan.

(2) Izin Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat rekomendasi dari instansi yang melaksanakan urusan penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri. (4) Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan.18 BAB VII PERIZINAN Pasal 25 (1) Setiap penyelenggara Rumah Sakit wajib memiliki izin. (2) Klasifikasi Rumah Sakit umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Rumah Sakit umum kelas A. Rumah Sakit umum kelas D. (5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. b. . BAB VII . (3) Izin mendirikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun. .umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit. c. . . Rumah Sakit khusus kelas C. . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. b. (3) Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Rumah Sakit umum kelas C. Pasal 26 (1) Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi. . (3) Izin . Rumah Sakit khusus kelas A. Rumah Sakit khusus kelas B. d. Rumah Sakit umum kelas B c. (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional.

19 (3) Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. (4) Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar. Pasal 27 Izin Rumah Sakit dapat dicabut jika: a. . Pasal 28 Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan diatur dengan Peraturan Menteri. melaksanakan. membuat. . memberi pelayanan kesehatan yang aman. atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. dan/atau d. c. berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana. antidiskriminasi. .. menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin. pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa.20 a. habis masa berlakunya. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya. c. melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin. d. f. atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan hukum. bermutu. e. b. dan menjaga standar . g. dan ef ektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. b. pelayanan gawat darurat tanpa uang muka. sesuai dengan kemampuan pelayanannya. ambulan gratis. memberikan . BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK Bagian Kesatu Kewajiban Pasal 29 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban : a.

melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional. j. r. h. memiliki . jenis. lanjut usia. jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien. b. menentukan jumlah. atau c. p. dan t. membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya. denda dan pencabutan izin Rumah Sakit. anak-anak. menolak keinginan pasien yang bertentangan den gan standar profesi dan etika serta peraturan perundang -undangan. .22 - . i. parkir. o. menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws). n. . memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok.21 o. melaksanakan sistem rujukan. teguran tertulis. . menyelenggarakan rekam medis. menerima . menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah. k. menghormati dan melindungi hak -hak pasien. memberikan informasi yang benar. (2) Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi admisnistratif berupa: a. melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas. teguran. memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kew ajiban Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. s. ruang tunggu. . m. b. Bagian Kedua Hak Rumah Sakit Pasal 30 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai hak: a.mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien. q. wanita menyusui. . sarana untuk orang cacat. dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit. l. melaksanakan etika Rumah Sakit.

menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian. Bagian Keempat Hak Pasien Pasal 32 Setiap pasien mempunyai hak: a. melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan pelaya nan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai promosi layanan kesehatan sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf g diatur dengan Peraturan Menteri. insentif. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. e. f.b.23 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pasien diatur dengan Peraturan Menteri. e. d. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. memperoleh layanan yang manusiawi. b. dan h. d. c. c. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan. . memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. . Bagian Ketiga Kewajiban Pasien Pasal 31 (1) Setiap pasien mempunyai kewajiban terhadap Rumah Sakit atas pelayanan yang diterimanya. adil. jujur. menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. . mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi. mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. (2) Ketentuan . f. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai insentif pajak sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. dan tanpa diskriminasi. g. .

unsur . mendapatkan . n.25 BAB IX PENYELENGGARAAN Bagian Kesatu Pengorganisasian Pasal 33 (1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif. efisien. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. . menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. dan r. p. (2) Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit. tujuan tindakan medis. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit. . perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya. alternatif tindakan. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . unsur keperawatan. m. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. o. unsur pelayanan medis. l. risiko dan kompli kasi yang mungkin terjadi. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. . h. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. mengajukan usul. saran. i. dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.24 i. dan akuntabel. . k. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis. j. BAB IX .g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. q. .

atau berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. . Pasal 37 (1) Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit harus mendapat persetujuan pasien atau keluarganya. (3) Audit kinerja dan audit medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara internal dan eksternal. satuan pemeriksaan internal. (3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri.26 Bagian Kedua Pengelolaan Klinik Pasal 36 Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit dan tata kelola klinis yang baik. Pasal 35 Pedoman organisasi Rumah Sakit ditetapkan dengan Peraturan Presiden. . serta administrasi umum dan keuangan. komite medis. (2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien. Bagian Kedua . Pasal 38 (1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran. (2) Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus berkewarganegaraan Indonesia. (2) Audit sebagaimana dimaksud pada a yat (1) dapat berupa audit kinerja dan audit medis. Pasal 39 . Pasal 34 (1) Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.27 Pasal 39 (1) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit harus dilakukan audit. . (2) Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.penunjang medis. atas persetujuan pasien sendiri. . . untuk pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum. . .

(4) Audit kinerja eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh tena ga pengawas. (5) Pelaksanaan audit medis berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri. Bagian Ketiga Akreditasi Pasal 40 (1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala menimal 3 (tiga) tahun sekal i. (2) Akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku. (3) Lembaga independen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (4) Ketentuan . . . - 28 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keempat Jejaring dan Sistem Rujukan Pasal 41 (1) Pemerintah dan asosiasi Rumah Sakit membentuk jejaring dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan. (2) Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi, sarana prasarana, pelayanan, rujukan, penyediaan alat, dan pendidikan tenaga. Pasal 42 (1) Sistem rujukan merupakan penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal, maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehata n. (2) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban merujuk pasien yang memerlukan pelayanan di luar kemampuan pelayanan rumah sakit. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Kelima . . . - 29 Bagian Kelima Keselamatan Pasien Pasal 43 (1) Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.

(2) Standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. (3) Rumah Sakit melaporkan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh Menteri. (4) Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara anonim dan ditujukan untuk mengkoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keenam Perlindungan Hukum Rumah Sakit Pasal 44 (1) Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia kedokteran. (2) Pasien . . . - 30 (2) Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah Sakit dan menginformasikannya melalui media massa, dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum. (3) Penginformasian kepada media massa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan kewenangan kepada Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien sebagai hak jawab Rumah Sakit. Pasal 45 (1) Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprehensif. (2) Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. Bagian Ketujuh Tanggung jawab Hukum Pasal 46 Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.

Bagian Kedelapan . . . - 31 Bagian Kedelapan Bentuk Pasal 47 (1) Rumah Sakit dapat berbentuk Rumah Sakit statis, Rumah Sakit bergerak, dan Rumah Sakit lapangan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan Rumah Sakit bergerak dan Rumah Sakit lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB X PEMBIAYAAN Pasal 48 (1) Pembiayaan Rumah Sakit dapat bersumber dari penerimaan Rumah Sakit, anggaran Pemerintah, subsidi Pemerintah, anggaran Pemerintah Daerah, subsidi Pemerintah Daerah atau sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Ketentuan lebih lanjut meng enai subsidi atau bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 49 (1) Menteri menetapkan pola tarif nasional. (2) Pola . . . - 32 (2) Pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan komponen biaya satuan pembiayaan dan dengan memperhatikan kondisi regional. (3) Gubernur menetapkan pagu tarif maksimal berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berlaku untuk rumah sakit di Provinsi yang bersangkutan. (4) Penetapan besaran tarif rumah sakit harus berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pagu tarif maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 50 (1) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dike lola Pemerintah ditetapkan oleh Menteri. (2) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelola Pemerintah Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit selain rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit dengan

.34 BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Umum Pasal 54 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Rumah Sakit dengan melibatkan organisasi profesi. BAB XI . . b. .33 BAB XI PENCATATAN DAN PELAPORAN Pasal 52 (1) Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. dan pasien penderita ketergantungan narkotika dan/atau psikotropika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. . pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat. . (2) Pencatatan dan pelaporan terhadap penyakit wabah atau penyakit tertentu lainnya yang dapat menimbulkan wabah. keselamatan pasien . peningkatan mutu pelayanan kesehatan. asosiasi perumahsakitan. Pasal 53 (1) Rumah Sakit wajib menyelenggarakan penyimpanan terhadap pencatatan dan pelaporan yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan.memperhatikan besaran tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan organisasi kemasyaratan lainnya sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing. Pasal 51 Pendapatan Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah digunakan seluruhnya secara langsung untuk biaya operasional Rumah Sakit dan tidak dapat dijadikan pendapatan negara atau Pemerintah Daerah. (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaim ana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk : a. BAB XII . (2) Pemusnahan atau penghapusan terhadap berkas pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . c. .

. pengembangan jangkauan pelayanan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). Pasal 55 (1) Pembinaan dan pengawa san nonteknis perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Bagian Kedua Dewan Pengawas Rumah Sakit Pasal 56 (1) Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk Dewan Pengawas Rumah Sakit. (3) Keanggotaan . . (5) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat mengambil tindakan administratif berupa: a. organisasi profesi. dan e. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi dan keahliannya. . ayat (3). denda dan pencabutan izin. asosiasi perumahsakitan. . dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. . . (4) Tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis perumahsakitan. teguran.d.36 (3) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit terdiri dari unsur pemilik Rumah Sakit. dan tokoh masyarakat. ayat (4). (4) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. (3) Pembinaan dan pengaw asan secara eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. dan/atau c. . teguran . (2) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan suatu unit nonstruktural yang bersifat independen dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah Sakit.35 b. (2) Pembinaan dan pengawasan secara internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Dewan Pengawas Rumah Sakit. peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit. b. teguran tertulis. (3) Dalam melaksanakan tugas pengawasan.

(6) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dalam melaksanakan tugasnya dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris. mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya. menilai dan menyetujui pelaksanaan rencana anggaran. c. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Dewa n Pengawas Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri Bagian Ketiga Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia Pasal 57 (1) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia yang ditetapkan oleh Menteri. (2) Badan . f. (5) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia terdiri dari unsur pemerintah. (7) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien. mengawasi kepatuhan penerapan etika Rumah Sakit. b. (3) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia merupakan unit nonstruktural di Kementerian yang bertanggung jawab dibidang kesehatan d an dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia berjumlah maksimal 5 (lima) orang terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. etika profesi. Pasal 58 Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertugas: a.(5) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas : a. menentukan arah kebijakan Rumah Sakit. dan peraturan perundangundangan.37 (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertanggung jawab kepada Menteri. dan tokoh masyarakat. . menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis. organisasi profesi. e. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit. d. membuat pedoman tentang pengawasan Rumah Sakit untuk digunakan oleh Badan Pengawas Rumah . asosiasi perumahsakitan. dan g. . .

38 c. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien di wilayahnya. b. . . dan peraturan perundang -undangan. mengawasi penerapan etika Rumah Sakit. etika profesi. (3) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi terdiri dari unsur pemerintah. Pasal 60 Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) bertugas : a. Pasal 59 (1) Badan Pengawas Rumah Sakit dapat dibentuk di tingkat provinsi oleh Gubernur dan bertanggung jawab kepada Gubernur. dan tokoh masyarakat. dan f. c. Melakukan . menerima pengaduan dan melakukan upaya penyelesaian sengketa dengan cara mediasi. dan c. (5) Biaya untuk pelaksanaan tugas -tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja daerah. mengawasi dan menjag a hak dan kewajiban Rumah Sakit di wilayahnya. melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan. (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi merupakan unit nonstruktural pada Dinas Kesehatan Provinsi dan dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. membentuk sistem pelaporan dan sistem informasi yang merupakan jejaring dari Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi. asosiasi perumahsakitan.39 d. organisasi profesi. melakukan pelaporan hasil pengawasan kepada Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai B adan Pengawas . Melakukan analisis hasil pengawasa n dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan. (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. d.Sakit Provinsi. . b. . e. . . melakukan .

semua Rumah Sakit yang sudah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam Undang Undang ini. pencabutan izin usaha. Izin penyelenggaraan Rumah Sakit yang telah ada tetap berlaku sampai habis masa berlakunya. paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun setelah Undang -Undang ini diundangkan.000. . . Pasal 66 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . . BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Pada saat diundangkannya Undang -Undang ini berlaku semua peraturan perundang -undangan yang mengatur Rumah Sakit tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarka n Undang-Undang ini.40 (2) Selain pidana denda sebagaimana d imaksud pada ayat (1). (2) Selain . pencabutan status badan hukum. memerintahkan .00 .000. .000.(lima milyar rupiah). BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 62 Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah Sakit tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. (2) Pada saat undang -undang ini berlaku. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. Agar . selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. 5. BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 (1) Pada saat Undang-Undang ini berlaku.Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 63 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 dilakukan oleh korporasi. dan/atau b. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.41 Agar setiap orang mengetahuinya. .

Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian . perdamaian abadi. Sejalan dengan amanat Pasal 28 H ayat (1) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. UMUM Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan keseja hteraan umum. Berbagai jenis tenaga kesehat an dengan perangkat keilmuannya masing -masing berinteraksi satu sama lain. DR. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. mencerdaskan kehidupan bangsa. Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan melalui berbagai upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang didukung oleh suatu sistem kesehatan nasional. ttd. kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 153 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA RI Kepala Biro Peraturan Perundang -undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat. Wisnu Setiawan PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT I.pengundangan Undang -Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Disahkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. ttd. H. dan keadilan sosial. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan.

Peraturan perundang -undangan yang dijadikan dasar penyelenggaraan Rumah Sakit saat ini masih pada tingkat Peraturan Menteri yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan. Pasal 2 Yang dimaksud dengan ´nilai kemanusiaan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit dilakukan dengan memberikan perlakuan yang baik dan manusiawi dengan tidak membedakan suku. Antisipasi dampak globalisasi perlu didukung dengan peraturan perundang -undangan yang memadai. -3sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. . Yang dimaksud dengan ´nilai ma nfaat´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya . Dari aspek pembiayaan bahwa Rumah Sakit memerlukan biaya operasional dan investasi yang besar dalam pelaksanaan kegiatannya. Pada . Yang dimaksud dengan ´nilai persamaan hak dan anti diskriminasi´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak boleh membedakan masyarakat baik secara individu maupun kelompok dari semua lapisan. membuat semakin komple ksnya permasalahan dalam Rumah Sakit. sehingga perlu didukung dengan ketersediaan pendanaan yang cukup dan berkesinambungan. bangsa. II. . status sosial. mengarahkan dan memberikan dasar bagi pengelolaan Rumah Sakit diperlukan suatu perangkat hukum yang mengatur Rumah Sakit secara menyeluruh dalam bentuk Undang -Undang. .pelayanan yang bermutu. Yang dimaksud dengan ´nilai etika dan profesionalitas´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika profesi dan sikap profesional. . Yang dimaksud dengan ´nilai pemerataan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Yang dimaksud dengan ´nilai perlindungan dan keselamatan . agama. -2Pada hakekatnya Rumah Sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dan fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. dan ras. Dalam rangka memberikan kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan. serta mematuhi etika rumah sakit. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan ´nilai keadilan´ ad alah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit mampu memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada setiap orang dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat serta pelayanan yang bermutu.

pelaporan dan analisis insiden. Yang dimaksud dengan ³fungsi sosial rumah sakit´ adalah bagian dari tanggung jawab yang melekat pada setiap rumah sakit. Huruf b Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat kedua adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendaya gunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik. Huruf d Cukup jelas. dan manajemen risiko terhadap pasien. . Huruf b Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety´ adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. Yang dimaksud dengan sumber daya manusia di Rumah Sakit adalah semua tenaga yang bekerja di Ru mah Sakit baik tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Termasuk di dalamnya asesmen . dan memulihkan kesehatan. yang merupakan ikatan moral dan etik dari rumah sakit dalam membantu pasien khususnya yang kurang/tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan Pasal 3 Huruf a Cukup jelas. identifikasi. Pasal 4 Yang dimaksud dengan Pelayanan kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Pasal 5 Huruf a Cukup jelas. dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. -4asesmen risiko. Huruf c Cukup jelas. tetapi harus mampu memberikan peningkatan derajat kesehatan dengan tetap memperhatikan perlindungan dan kesela matan pasien. mencegah dan menyembuhkan penyakit. .pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan semata. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat ketiga adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik. Yang dimaksud dengan ³nilai keselamatan pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit selalu mengupayakan peningkatan keselamatan pasien melalui upaya majamenen risiko klinik. kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. .

-6kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Huruf j Yang dimaksud berteknologi tinggi dan bernilai tinggi adalah teknologi masa depan dan teknologi baru yang mempunyai aspek kemanfaatan yang tinggi dalam pelayanan kesehatan. ketenagaan. -5Huruf d Penapisan teknologi dimaksudkan dalam rangka perlindungan terhadap keamanan dan keselamatan pasien. Huruf b Cukup jelas.Huruf c Cukup jelas. serta tarif. Huruf g Informasi meliputi jumlah dan jenis pelayanan. Huruf i Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. ketersediaan tempat tidur. Huruf d . . . Huruf h Yang dimaksud dengan bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak/tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem. . Huruf e Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 6 Ayat (1) Huruf a Penyediaan Rumah Sakit didasarkan pada perhitungan rasio tempat tidur dan jumlah penduduk . . sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa un tuk menolong dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya. Huruf c Cukup jelas. . Yang dimaksud dengan Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/ kematian . hasil pelayanan.

dan kajian terhadap kemampuan pembiayaan. . Pasal 11 Ayat (1) .Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Persyaratan teknis bangunan untuk penyandang cacat. maka pendirian Rumah Sakit baru tidak menjadi prioritas. Pasal 8 Ayat (1) Kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit meliputi kajian terhadap kebutuhan akan pelayanan Rumah Sakit. -7Studi kelayakan Rumah Sakit merupakan suatu kegiatan perencanaan Rumah Sakit secara fisik dan nonfisik aga r Rumah Sakit berfungsi secara optimal pada kurun waktu tertentu. . peralatan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 9 Huruf a Bangunan Rumah Sakit merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya. termasuk dalam hal pemekaran wilayah. anakanak dan orang usia lanjut memiliki karakteristik sendiri. Ayat (3) Yang dimaksud dengan lokasi dan tata ruang adalah jika dalam satu wilayah sudah ada Rumah Sakit. dana dan tenaga yang dibutuhkan untuk pelayanan yang diberikan. Pasal 10 Cukup jelas. kajian terhadap kebutuhan sara na. prasarana. sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah yang berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pelayanan. Studi . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Kegiatan usaha hanya bergerak di bidang perumahsakitan dimaksudkan untuk melindungi usaha rumah sakit agar terhindar dari risiko akibat kegiatan usaha lain yang dimiliki oleh badan hukum pemilik rumah sakit. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. bahan kimia beracun dan sebagian bersifat radioaktif. -9Pasal 12 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tenaga tetap adalah tenaga yang bekerja secara purna waktu. tenaga kebersihan. Ayat (2) Cukup jelas. . Ayat (6) Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. . Pasal 12 . Huruf d Cukup jelas. dan tenaga keamanan. Yang dimaksud dengan tenaga nonkesehatan antara lain tenaga administratif. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. cair. Huruf j Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Huruf b Termasuk catu daya pengganti atau generator. -8Huruf c Cukup jelas. Huruf c . yang diolah secara terpisah. .Huruf a Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. . Huruf e Pengelolaan limbah di rumah sakit dilaksanakan meliputi pengelolaan limbah padat. Ayat (4) Yang dimaksud dengan kemampuan meliputi kemampuan . bahan gas yang bersifat infeksius.

Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah obat. obat tradisional. aparatus.dana dan pelayanan Rumah Sakit. Yang dimaksud dengan etika profesi adalah kode etik yang disusun oleh asosiasi atau ikatan profesi. . Standar prosedur operasional memberikan langkah y ang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.10 Yang dimaksud dengan standar pelayanan Rumah Sakit adalah pedoman yang harus diikuti dalam menyelenggarakan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional. Pasal 14 Cukup jelas. terapis wicara. Ayat (2) Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan tertentu adalah tenaga perawat. menyembuhkan dan meringankan penyakit. pera wat gigi. Ayat (3) Yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan (knowledge). Yang dimaksud dengan izin adalah izin kerja atau izin praktik bagi tenaga kesehatan tersebut. dan standar asuhan keperawatan. . . merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. bahan obat. dan sikap profesional (professional attitude) yang minimal harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi. mesin. apoteker. refraksionis optisien. radiografer. bidan. Yang dimaksud dengan standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah -langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. instrumen. asisten apoteker. mendiagnosa. Yang . serta implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah. dan okupasi terapis. fisioterapis. . standar pelayanan medis. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. dan kosmetika. keterampilan (skill). Ayat (4) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan alat kesehatan adalah bahan.

Ayat (5) . . . terapi. . mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di Rumah Sakit. Yang dimaksud dengan peralatan nonmedis adalah peralatan yang digunakan untuk mendukung keperluan tindakan medis. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 16 Ayat (1) Yang dimaksud dengan peralatan medis adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan diagnosa.Ayat (2) Cukup jelas.11 Ayat (3) Yang dimaksud dengan ³instalasi farmasi´ adalah bagian dari Rumah Sakit yang bertugas menyelenggarakan. rehabilitasi dan penelitian medik baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang dimaksud dengan sistem satu pintu adalah bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan formularium pengadaan. Ayat (3) . Yang dimaksud dengan kalibrasi adalah kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penunjukkan alat ukur dan/atau bahan ukur. sediaan farmasi. atau untuk menentukan besaran atau kesalahan pengukuran. mengkoordinasikan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pengujian adalah keseluruhan tindakan yang meliputi pemeriksaan fisik dan penguk uran untuk . Ayat (5) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan standar peralatan medis disesuaikan dengan standar yang mengikuti standar industri peralatan medik. Ayat (4) Informasi harga obat (perbekalan farmasi) harus transparan atau dicantumkan di dalam buku daftar harga yang dapat diakses oleh pasien. . dan pendistribusian alat kesehatan. . Ayat (4) Cukup jelas. . dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien.12 untuk membandingkan alat yang diukur dengan standar.

. 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis. Ayat (6) Cukup jelas. . Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Dalam ayat ini yang dimaksud dengan badan hukum nirlaba adalah badan hukum ya ng sisa hasil usahanya tidak dibagikan kepada pemilik. melainkan digunakan untuk peningkatan pelayanan. Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Perkumpulan dan Perusahaan Umum. Ayat (2) Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar. Ayat (2) Cukup jelas. . 5 (lima) spesialis penunjang medik. yaitu antara lain Yayasan. Ayat (4) Cukup jelas. Rumah Sakit . . Pasal 17 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan Pemerintah adalah Pemerintah Pusat termasuk TNI dan POLRI. Ayat (7) Cukup jelas. . . Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 20 . Pasal 22 Cukup jelas.13 Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kekhususan lainnya adalah jenis pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan bidang kedokteran.

. 4 (empat) spesialis penunjang medik. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas.14 Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar. Ayat (2) .15 Ayat (2) Yang dimaksud dengan izin mendirikan adalah ijin yang diberikan untuk mendirikan rumah sakit setelah memenuhi persyaratan untuk mendirikan. Ayat (5) Cukup jelas. . Rumah Sakit Khusus kelas B adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pali ng sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang terbatas. . Ayat (3) Rumah Sakit Khusus kelas A adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang lengkap. Yang dimaksud dengan izin operasional adalah izin yang diberikan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan setelah memenuhi persyaratan dan standar. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar.. Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis penunjang medik. Rumah Sakit Khusus kelas C adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang minimal. 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar. Ayat (4) Cukup jelas. . Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

. antara lain Standar Prosedur Operasional.16 Huruf d Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan standar pelayanan rumah sakit adalah semua standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit. Huruf o Rumah Sakit dibangun serta dilengkapi dengan sarana. Huruf d . kesehatan dan keselamatan . standar asuhan keperawatan. Huruf k Cukup jelas. standar pelayanan medis.Pasal 28 Cukup jelas. . Huruf l Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud dengan penyelenggaraan rekam medis dalam ayat ini adalah dilakukan sesuai dengan standar yang secara bertahap diuapayakan mencapai standar internasional Huruf i Cukup jelas. prasarana dan peralatan yang dapat difungsikan serta dipelihara sedemikian rupa untuk mendapatkan keamanan. Huruf m Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. mencegah kebakaran/bencana dengan terjaminnya . Huruf g Cukup jelas. Huruf e Yang dimaksud dengan ´pasien tidak mampu atau miskin´ adalah pasien yang memenuhi persyaratan yang diatur dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Huruf c Cukup jelas. . . Huruf n Cukup jelas.17 terjaminnya keamanan. Pasal 29 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. . .

Huruf b Cukup jelas. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan yang berlak u. . dan lingkungan Rumah Sakit.18 Ayat (2) Cukup jelas. Dalam peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) antara lain diatur kewenangan klinis (Clinical Privilege). pengunjung. Pasal 31 Ayat (1) Kewajiban pasien yang dimaksud dalam ayat ini antara lain mematuhi ketentuan yang berlaku di Rumah Sakit. Huruf f Cukup jelas. Huruf p Cukup jelas Huruf r Yang dimaksud dengan peraturan internal Ru mah Sakit (Hospital bylaws) adalah peraturan organisasi Rumah Sakit (corporate bylaws) dan peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) yang disusun dalam rangka menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). Ayat (2) Cukup jelas.pasien. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada tenaga kesehatan di Rumah Sakit. dan mematuhi kesepakatan dengan Rumah Sakit. Ayat (2) . Huruf s Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. petugas. Huruf d Cukup jelas. Huruf t Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. . . Pasal 32 Huruf a Cukup jelas. .

. Huruf m Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. . Ayat (3) Yang dimaksud dengan pemilik Rumah Sakit antara lain komisaris perusahaan. Huruf q Cukup jelas. . Huruf o Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. pendiri yayasan. Ayat (2) Pimpinan yang harus berkewarganegaraan Indonesia adalah direktur utama. Huruf r Cukup jelas. direktur medis dan keperawatan. Pasal 33 Ayat (1) Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah Sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dan tata kelola klinis yang baik (Good Clinical Governance). atau pemerintah daerah. Huruf h Cukup jelas.Huruf g Cukup jelas.19 Huruf n Cukup jelas. serta direktur sumber daya manusia. Huruf p Cukup jelas. Yang dimaksud dengan kepala Rumah Sakit adalah pimpinan tertinggi dengan jabatan Direktur Utama (Chief Executive . Huruf n . Huruf k Yang dimaksud dengan pemberian persetujuan atau penolakan atas tindakan kedokteran atau kedokteran gigi dapat berupa seluruh tindakan yang akan dilakukan atau dapat berupa tindakan tertentu yang disetujui.

21 Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 37 Ayat (1) Setiap tindakan kedokteran harus memperoleh persetujuan dari pasien kecuali pasien tidak cakap atau pada keadaan darurat. akuntabilitas. Persetujuan tersebut diberikan secara lisan atau tertulis. Pasal 35 . Tata kelola klinis yang baik adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan klinik. . Pasal 38 Ayat (1) Yang dimaksud dengan ³rahasia kedokteran´ adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang ditemukan oleh dokter dan dokter gigi dalam rangka peng obatan dan dicatat dalam rekam medis yang dimiliki pasien dan bersifat rahasia. . . mekanisme monitor hasil pelayanan. Ayat (2) Cukup jelas.20 Pasal 35 Cukup jelas. pengembangan profesional. . risiko klinis berbasis bukti. pengelolaan keluhan. Ayat (2) Audit kinerja adalah pengukuran kinerja berkala yang meliputi kinerja pelayanan dan kinerja keuangan. . audit klinis. . Persetujuan tertulis hanya diberikan pada tindakan kedokteran berisiko tinggi. independensi dan responsibilitas. Ayat (3) Cukup jelas. kesetaraan dan kewaja ran. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 36 Tata kelola rumah sakit yang baik adalah penerapan fungsi -fungsi manajemen rumah sakit yang berdasarkan prinsip -prinsip tranparansi. Pasal 39 . dan akreditasi rumah sakit. peningkatan kinerja. Audit medis adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis Ayat (3) Audit medis internal dilakukan o leh Komite Medik rumah sakit Audit kinerja internal dilakukan oleh Satuan Pemeriksaan . data klinis.Officer) termasuk Direktur Medis.

kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. Pasal 42 Cukup jelas. dan nyaris terjadi (near miss).22 Ayat (2) Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adalah kesalahan medis (medical error). kejadian yang tidak diharapkan (adverse event). . Ayat (3) Cukup jelas. . Ayat (2) Cukup jelas. dan manajemen risiko terhadap pasien. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 43 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu Rumah Sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Termasuk di dalamnya asesmen risiko. pelaporan dan analisis insiden. . Ayat (5) Cukup jelas.Internal. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) . Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 45 Ayat (1) Pasien berhak menolak atau menghentikan pengobatan. dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Ayat (5) Cukup jelas . identifikasi. Pasien yang menolak pengobatan karena alasan finansial harus diberikan penjelasan bahwa pasien berhak memperoleh jaminan dari Pemerintah. Pasal 49 Ayat (1) . Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas.

Ayat (2) . . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan pengawasan teknis medis adalah audit medis Yang dimaksud dengan pengawasan teknis perumahsakitan adalah audit kinerja rumah sakit. Ayat (6) . . Yang dimaksud kondisi regional termasuk didalamnya indeks kemahalan setempat Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. .24 Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. . . Pasal 53 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. . Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas.Pola Tarif Nasional adal ah pedoman dasar yang berlaku secara nasional dalam pengaturan dan perhitungan untuk menetapkan besaran tarif rumah sakit yang berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost).23 Ayat (2) Yang dimaksud dengan ´biaya satuan (unit cost)´ ada lah hasil perhitungan total biaya operasional pelayanan yang diberikan Rumah Sakit. Pasal 52 Cukup jelas.

Pasal 65 Cukup jelas. Penyebabnya sangat klasik. dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehingga akan berujung pada kepuasan pasien. Perkembangan pengelolaan rumah sakit. sehingga tidak bisa mengembangkan mutu layanannya. sumber daya manusia yang dimiliki (profesionalitas) dan yang tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi dari rumah sakit itu sendiri.Pasal 59 Cukup jelas. yaitu masalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah sakit umum daerah dan rumah sakit milik pemerintah. Pasal 61 Cukup jelas. tak sedikit keluhan selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah. Rumah sakit pemerintah yang terdapat di tingkat pusat dan daerah tidak lepas dari pengaruh perkembangan tuntutan tersebut. karena sebelumnya tidak ada pengaturan yang spesifik mengenai unit pemerintahan yang melakukan pelayanan kepada masyarakat yang pada saat itu bentuk dan modelnya beraneka macam. Dipandang dari segmentasi kelompok masyarakat. baik dari aspek manajemen maupun operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan. dan lain-lain. Jenis BLU disini antara lain rumah sakit. Pasal 64 Cukup jelas. PP tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik oleh Pemerintah. Pasal 62 Cukup jelas. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pasal 63 Cukup jelas. secara umum rumah sakit pemerintah merupakan layanan jasa yang menyediakan untuk kalangan menengah ke . penyiaran. lembaga pendidikan. tindakan ekonomis. pelayanan lisensi. Pasal 66 Cukup jelas. Namun. Latar Belakang Diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. Pasal 60 Cukup jelas. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya. Ini terutama rumah sakit daerah atau rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit sebagai salah satu jenis BLU merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. yaitu antara lain bahwa rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5072 Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 1 RUMAH SAKIT PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU) I. baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Pengendalian biaya merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai pihak yaitu mekanisme pasar. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 69 ayat (7) UU No.

Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi. Permasalahan 1.dan rumah sakit dituntut untuk secara mandiri mengatasi masalah tersebut. Dimanakah pengaturan mengenai BLU? 3. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pemecahan Pengertian. Biaya kesehatan cenderung terus meningkat. Rencana kerja. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 3 4. 2. maka dapat terlihat bahwa BLU memiliki suatu karakteristik tertentu. Tidak bertujuan untuk mencarai laba. 4.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 2 bawah. Pengelolaan sejalan dengan praktik bisnis yang sehat. 3. Pegawai dapat terdiri dari pegawai negeri sipil dan bukan pegawai negeri sipil. Pasal 2 yang menyebutkan bahwa ³BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas. Akibatnya rumah sakit pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah dan bermutu. Tujuan dan Azas BLU Pengertian atau definisi BLU diatur dalam Pasal 1 angka 23 UU No. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah yang tidak dipisahkan dari kekayaan Negara. Pejabat BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan layanan umum kepada pimpinan instansi induk. dan penerapan praktek bisnis yang sehat´. Sedangkan Asas BLU diatur menurut Pasal 3 PP No. sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat kelas menengah ke atas. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Peningkatan biaya kesehatan menyebabkan fenomena tersendiri bagi rumah sakit pemerintahan karena rumah sakit pemerintah memiliki segmen layanan kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah. yaitu: 1. 2. yaitu : ³Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas´. . II. Rencana kerja. 23 Tahun 2005. 3. Tujuan dibentuknya BLU adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) yang menyebutkan bahwa ³Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Kemudian ´. 6. 1 Tahun 2004. Apa saja yang dapat dikategorikan sebagai BLU? 4. Dari uraian definisi. Penerimaan baik pendapatan maupun sumbangan dapat digunakan secara langsung. yaitu : 1. ditegaskan kembali dalam PP No. 7. Bagaimana kaitannya antara BLU dengan Rumah Sakit Pemerintah Daerah? III. 5. anggaran dan pertanggungjawabannya dikonsolidasikan pada instansi induk. 5. Menyelenggarakan pelayanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan. Pengertian ini kemudian diadopsi kembali dalam peraturan pelaksanaannya yaitu dalam Pasal 1 angka 1 PP No. tujuan dan asas BLU. anggaran dan laporan BLU dan instansi induk tidak terpisah. 23 Tahun 2005 sebagai peraturan pelaksanaan dari asal 69 ayat (7) UU No. Apa yang dimaksud dengan Badan Layanan Umum (BLU)? 2. Menghasilkan barang dan/atau jasa yang diperlukan masyarakat. BLU tidak mencari laba. tidak terpisah secara hukum dari instansi induknya.

23 Tahun 2005).02/2006 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. Setiap BLU wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan. PP No. 7. Pendapatan yang diperoleh BLU sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan merupakan pendapatan negara/daerah. Selain itu. Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum. 8. 73/PMK.02/2006 jo.02/2006 tentang Tata Cara Penyusunan. yaitu: 1. Kekayaan BLU merupakan bagian dari kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLU yang bersangkutan. Penetapan. BLU bukan subyek pajak.02/2006 tentang Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa Pada Badan Layanan Umum. 4.05/2007 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan . namun terdapat beberapa karakteristik lainnya yang membedakan pengelolaan keuangan BLU dengan BUMN/BUMD. 119/PMK. 2. 66/PMK.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum. Peraturan Menteri Keuangan No. sekalipun BLU dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi. Dan Perubahan Rencana Bisnis Dan Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum. PP No. 10. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan BLU diatur dalam peraturan pemerintah (dhi. 09/PMK.05/2007 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Pengelola. 4. 10. Pembinaan BLU instansi pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 109/PMK. 8. 7. Peraturan Menteri Keuangan No. Pembinaan keuangan BLU instansi pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 4 9. BLU dapat menerima hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. 5. Peraturan Menteri Keuangan No.02/2006 tentang Pembentukan Dewan Pengawas Pada Badan Layanan Umum. Pendapatan tersebut dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja yang bersangkutan. Pasal 1 angka 23. 6. 08/PMK. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta laporan keuangan dan laporan kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKA serta laporan keuangan dan laporan kinerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 9. 2. yaitu: 1. Peraturan Menteri Keuangan No. Peraturan Menteri Keuangan No. 5. 3. Peraturan Menteri Keuangan No. 07/PMK. Dasar Pengaturan BLU BLU diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengaturnya. 10/PMK. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Menteri Keuangan No. Pengajuan. PMK No. 3. PP No.8. 6.

dan/atau c. dan lain-lain. apabila menyelanggarakan layanan umum yang berhubungan dengan : a. c. pelayanan lisensi. Persyaratan teknis : kinerja. 2. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 5 Standar layanan Tarif layanan Pengelolaan keuangan Tata kelola Ketentuan lain 15. yaitu : a. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. Gambar : syarat-syarat BLU 1. Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. Peraturan Menteri Keuangan No. keuangan. 12. Persyaratan Administratif. Jenis dan Persyaratan BLU Apabila dikelompokkan menurut jenisnya BLU terbagi menjadi 3 kelompok. 3. d. 14. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. laporan keuangan pokok. yaitu: 1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Persyaratan substantif : penyelenggaraan layanan umum. 13. standar pelayanan minimum. maka harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur menurut Pasal 4 PP No. sebagai berikut: 1. b. penyiaran. Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum. dana UKM. Untuk menjadi sebuah BLU. lembaga pendidikan. yaitu : a. 76/PMK. dan 3. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet). 2. pola tata kelola (yang baik).Layanan Umum. dan f. laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen. Per-50/PB/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP) Oleh Satuan Kerja Instansi Pemerintah Yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU). rencana strategis bisnis. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan. b. 3. Per-67/PB/2007 tentang Tata Cara Pengintegrasian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum Ke Dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. dan b. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. e. Persyaratan Teknis. kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Persyaratan administratif : dokumen-dokumen Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 6 Rumah Sakit Pemerintah Daerah Sebagai BLU Standar Pelayanan dan Tarif Layanan . 23 Tahun 2005. 2. Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum. Per-62/PB/2007 tentang Pedoman Penilaian Usulan Penerapan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. dan manfaat bagi masyarakat. Persyaratan Substantif. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. 11. kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya.

yaitu : 1. 4. rasional sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya. terakhir diubah dengan UU No. 76/PMK. dan Permendagri No. termasuk penentuan biaya. transparansi dan efisiensi. merupakan kegiatan yang sejalan. kemudian PP No. 23 Tahun 2005. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan . Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. pemerataan dan kesetaraan layanan. 12 Tahun 2008). 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Terukur. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. pengelolaan keuangannya harus mengacu dan berdasarkan Permendagri Permendagri No. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 7 membuat rumah sakit pemerintah daerah harus melakukan banyak penyesuaian khususnya dalam pengelolaan keuangan maupun penganggarannya. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Penyusunan APBD. biaya serta kemudahan untuk mendapatkan layanan. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. 32 Tahun 2004. PMK No. merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pengelolaan Keuangan Adanya desentralisasi dan otonomi daerah dengan berlakunya UU tentang Pemerintahan Daerah (UU No. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. Fokus pada jenis pelayanan. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar pelayanan minimal tersebut harus memenuhi persyaratan. indikator proses dan indikator output. 3. berkaitan dan dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi BLU/BLUD. Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang didasari dari indikator input. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. 5. Dapat dicapai.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan. dan 4. 29 Tahun 2002). UU No. 2. Tepat waktu.Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan tersebut harus mempertimbangkan halhal sebagai berikut: 1. harus mempertimbangkan kualitas layanan. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja (sesuai dengan Kepmendagri No. asas keadilan dan kepatutan. sebagaimana diatur berdasarkan PP No. kontinuitas dan pengembangan layanan. dalam arti mengutamakan kegiatan pelayanan yang menunjang terwujudnya tugas dan fungsi BLU/BLUD. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Dengan terbitnya PP No. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. daya beli masyarakat. 3. merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah ditetapkan. PP No. kompetisi yang sehat. merupakan kegiatan nyata yang dapat dihitung tingkat pencapaiannya. dan khusus untuk RSUD. 2. serta Kepmendagri No. Relevan dan dapat diandalkan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan. 3. Sebagai organisasi kepemerintahan yang bersifat nirlaba. 3. yaitu sebagai organisasi nirlaba (PSAK No. mengetahui kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan). Catatan atas laporan keuangan. Laporan aktivitas (yaitu penghasilan. Berdasarkan PMK No. Laporan keuangan tersebut merupakan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Dalam hal konsolidasi laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah dengan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah mencakup sebagai berikut: 1. 23 Tahun 2005 menggunakan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berasal dari IAI. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dari aktivitas operasi. 2. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang. utang dan aktiva bersih. Laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah merupakan laporan yang disusun oleh pihak manajemen sebagai bentuk penyampaian laporan keuangan suatu entitas. Adapun Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU yang disusun harus menyediakan informasi untuk: 1. dan perubahan klasifikasi aktiva bersih. maka rumah sakit pemerintah daerah semestinya juga menggunakan SAP bukan SAK. Klasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya. Laporan posisi keuangan (aktiva. 76/PMK. namun dalam PP No. antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer. Ketentuan ini menimbulkan inkonsistensi. karena BLU merupakan badan/unit atau organisasi pemerintahan yang seharusnya menggunakan PSAP atau Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur menurut PP No. maka rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU/BLUD mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP (Pasal 6 ayat (4) PMK No. Laporan keuangan rumah sakit yang harus diaudit oleh auditor independen. beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva bersih). Sesuai dengan Pasal 26 ayat (2) PP No. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 8 2. terikat kontemporer dan terikat permanen. sehingga isi pelaporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah harus mengikuti ketentuan untuk pelaporan keuangan sebagaimana diatur menurut SAK. Sedangkan aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi . Sehingga. aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. 45) dan menyanggupi untuk laporan keuangannya tersebut diaudit oleh auditor independen. 23 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa ³Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia´.Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. 4. maupun laporan keuangan pemerintah daerah. tidak disebut neraca).05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum). 4. Pelaporan dan Pertanggungjawaban BLU sebagai instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan merupakan organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba. Sedangkan pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas). pertanggungjawaban manajemen rumah sakit (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas dan laporan arus kas). 76/PMK.

3. dan lain-lain. PP No. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. Imbalan atas jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. b. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern. dan Pasal 1 angka 1 PP No.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. Laporan Keuangan tersebut paling sedikit terdiri dari: 1. 23 tahun 2005.Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum dan sesuai pula dengan Pasal 27 PP No. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. IV. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet). menyusun dan menyajikan: 1. Laporan Keuangan. dana UKM. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. Neraca. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas (Pasal 1 angka 23 UU No. Penutup 1. dan 4. b.dan e. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Pasal 1 angka 23. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. Peraturan Menteri Keuangan No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Catatan atas Laporan Keuangan. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal. maka rumah sakit pemerintah daerah dalam rangka pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan dan kegiatan pelayanannya. dan c. c. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. penyiaran. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. pelayanan lisensi. PP No. 2. 2. 4. 76/PMK. Peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur BLU/BLUD. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. antara lain yaitu: a. Yang dapat dikategorikan sebagai BLU menurut jenisnya terbagi menjadi 3 kelompok. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. lembaga pendidikan. Selain itu Rumah Sakit Pemerintah Daerah dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas jasa layanan yang diberikan. Laporan Arus Kas. dan 2. Laporan Kinerja. 3. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir. Laporan Realisasi Anggaran dan/atau Laporan Operasional. Reviu ini Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 9 dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran da penyusunan n Laporan Keuangan BLU. . d. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum). yaitu: a.

1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 23 Tahun 2005. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal yaitu BPK.bpk.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 10 Dengan terbitnya PP No. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR TINGKAT I JAWA TIMUR. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern. Menimbang : a.pdfhttp://www. Vianey Norpatiwi. ³ Aspek Value Added Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum´. Peraturan Menteri Keuangan No. c. 80).05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.jdih. PP No.M.jdih. Mengingat: 1.bahwa memandang perlu Rumah Sakit "Dr. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. yang menurut pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 6. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Soetomo" tersebut Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur melakukan pengerahan dan pengumpulan (alamulasi) dana dan daya (funds and forces).go. UU No. . 4. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. 3. ditugaskan kepada Kementerian Kesehatan. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. A. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 2.id/informasihukum/RSUD_BLU. Presiden Republik Indonesia. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja sesuai dengan Kepmendagri No. http://www. PP No. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor:4 TAHUN 1965 (4/1965) Tanggal:27 JANUARI 1965 (JAKARTA) Kembali ke Daftar Isi Tentang:PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. Soetomo" di Surabaya tersebut. Referensi : 1. transparansi dan efisiensi.go. PP No. disarikan dari Acara Workshop Penyusunan RPP tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Joko Supriyanto dan Suparjo. b. 76/PMK. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.bahwa untuk pembiayaan Rumah Sakit Umum "Dr. Soetomo" di Surabaya diserahkan kepada/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur.pdf PP 4/1965. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. Reviu ini dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran dan penyusunan Laporan Keuangan BLU. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. 29 Tahun 2002. 7.bpk.bahwa ketentuan mengenai penyelenggaraan Rumah Sakit "Dr. perlu diselaraskan dengan keputusan Konperensi tersebut. ³Badan Layanan Umum : Sebuah Pola Pemikiran Baru atas Unit Pelayanan Masyarakat´. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. 49 tahun 1952 (Lembaran. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN. yang menurut keputusan Konp erensi tersebut di-jalankan untuk kepentingan kerja pembangunan Daerah.Negara tahun 1952 No.id/informasihukum/RSUD_BLU. 8.Pasal 5 ayat 2 Undang-undang Dasar. sejalan dengan keputusan Konperensi Presidium Kabinet Kerja dengan semua Catur Tunggal Tingkat I seluruh Indonesia di Jakarta pada tanggal 11 s/d 16 Maret 1964. 5.

Pasal 1. Soetomo" di Surabaya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No. . 80). Mendengar: Menteri Koordiantor Kompartimen Kesejahteraan dan Menteri Kesehatan.Pasal 2 ayat (3) dan pasal 10 Peraturan Pemerintah no.2. Memutuskan: Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang penyerahan/penyelenggaraan Rumah Sakit Umum "Dr.

Senin kemarin. pengangkutan.Rumah Sakit Umum "Dr. Pasal 4. Ketapang Masih kurangnya fasilitas yang dimiliki RSUD AgoesDjam Ketapang hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien. Para pegawai sekarang tetap memiliki status sebagai pegawai Pemerintah Pusat. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia. pengobatan dan perawatan. ICHSAN. Soetomo". Diakui memang fasilitasi gedung khususnya masih minim namun. *16620 Pa 2.penyelenggaraan administrasi. Pasal 5. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. alat-alat kedokteran dan lain-lain sebagainya. Ia sendiri mengakui. SUKARNO.pelaksanaan funksi dan tugas pekerjaan Rumah Sakit Umum "Dr. Untuk itu. Demikian dikatakan Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Ketapang Ny Hj Hartati.satunya RS milik pemerintah yang tedapat di Kabupaten Ketapang ini RS harus berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara prima dan profesionalisme. sejak satu tahun terakhir ini pelayanan di RS kebanggaan Ketapang ini sudah terlihat baik. Pemeliharaan pegawai (perumahan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No. Pasal 3. b. Ia juga menambahkan ke depan harus ada penataan area menyediakan tempat untuk peristirahatan yang nyaman dan sejuk segar bagi pasien maupun keluarga pasien sehingga nantinya sebuah RS tidak hanya memberikan pengobatan secara medis saja akan tetapi juga . hal itu kata dia terlihat dari sisi pelayanan dan penataan ruang yang sudah terlihat familiar. 80) penyelenggaraannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. MOHD. ia memberikan apresiasi kepada pengelola RS banyak melakukan pembenahan dan penataan ruangan dengan harapan pasien yang berobat kesini akan merasa nyaman dan terobati. pemeliharaan gedung-gedung alat-alat rumah tangga. sal Penyelenggaraan yang dimaksudkan dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah ini meliputi : a. distribusi dan sebagainya) menjadi tanggungan Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. Departemen Kesehatan memberikan bantuan dalam hal keperluan akan obat obat dan alat-alat kesehatan menurut ketentuan-ketentuan tertentu. pendidikan. Soetomo" di bidang pemeriksaan. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1965. tentu harus ada upaya bertahap yang harus dilakukan Pemkab untuk pembangunannya. Namun sebagai satu . dipekerjakan pada Rumah Sakit Umum "Dr. Soetomo" di Surabaya sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. Presiden Republik Indonesia. Pasal 6. -------------------------------CATATAN Borneo Tribune. pembenahan dan penataan ruangan ini tentunya diiringi terutama peningkatan profesionalisme dalam pekerjaan dan meningkatkan mutu pelayanan. Sekretaris Negara.

jalan Tumbang Titi-Ketapang. pembangunan infrastruktur jalan tanah di pedalaman Ketapang sebenarnya sudah tidak layak. agar memudahkan transportasi dan memperlancar arus perekonomian masyarakat pedalaman. Sungai Gantang ± Teluk Batu. namun pada prinsipnya sama yaitu membuat atau menciptakan rasa atau suasana nyaman dan betah bagi konsumen. Indonesia sudah merdeka 63 tahun. Dia berharap tahun 2009 ini APBD yang untuk pos pembagunan infrastruktur agar digunakan untuk pembenahan jalan seperti poros Ketapng-Tumbang Titi.´ Demikian dikatakan anggota DPRD Provinsi Dapil Ketapang dari Partai Golkar. seperti pada jalan poros Pelang-Tumbang Titi. Sehingga perlu perhatian serius. namun jalan di pedalaman Ketapang belum diaspal. seperti pembanguna gedung sekolah yang sudah sepantasnya direhab jangan dibiarkan sampai roboh. sementara keadaan di desa pedalaman memprihatinkan. Menurut Anastasius. ketika ditemui di rumahnya di Pontianak (5/1). Anastasius berharap agar pembangunan di Ketapang berpihak juga pada masyarakat pedalaman.´ ujarnya. Anastasius Bantang. ³Seperti contoh. Kalau kita membawa orang sakit yang sudah koma bisa game di jalan.dapat memberikan pengobatan hati disamping tidak melupakan budaya keramah-tamahan dalam pelayanan kami kepada pasien. itu betul. Anastasius meminta jangan sampai gambut serta krisis global dijadikan alasan tersendatnya pembangunan jalan. hal ini yang membuat tidak masuk akal. Di Ketapang kota gedung dan tugu indah dan besar-besar. Bahkan kata dia. 2 Desember 2006 Unsur dlm Pelayanan Prima R Efektif R Efisien R Aman R Nyaman R Memuaskan . rumah sekolah. Sementara itu.Md mengatakan bahwa kendati tidak secara langsung namun keberadaan rumah sakit memiliki kaitan dengan pariwisata karena sama ± sama pemberi jasa dalam bidang pelayanan hanya saja bedanya rumah sakit dalam bidang jasa pelayanan kesehatan sedangkan pariwisata dalam bidang jasa pelayanan umum. di negara maju RS dapat dijadikan tempat wisata bagi pasien. Dengan adanya APBD 2009 diharapkan semua jalan di Kabupaten Ketapang supaya diaspal. rumah guru dan kesejahteraannya di pedalaman juga diperhatikan. TIPs dan trik peayanan prima RS (*Disampaikan pada:In-House Training ³Pelayanan Sepenuh Hati´ di RS PKU Muhammadiyah Sruweng. Siduk-Sungai kelik. ³Pembangunan di Pedalaman Ketapang lamban. A. Kepala Seksi Pariwisata Abdul Manan.

Manfaat Pelayanan Prima bagi RS R Mencerminkan produktivitas RS R Balancad Score-Card tinggi.´ R Tidak mungkin terjadi ³fokus pada pelanggan´ tanpa didahului oleh ³fokus pada karyawan. sehingga karyawan dapat . pelatihan. R Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri). Ada apa dengan Kemampuan karyawan? R Pengetahuan (Pendidikan. dari aspek: R financial measurement R marketing perspective R production & operational perspective R human resource perspective R Jalan Menuju RS Barokah Bagaimana Mewujudkannya? R bicara ³fokus pada pelanggan´ maka konteks seharusnya adalah pada ³pelanggan internal dan eksternal. R Social/Affiliation Needs (kebutuhan untuk bersosialisasi) R Esteem Needs (kebutuhan harga diri). pengalaman) R Kondisi Tubuh R Faktor Keluarga (demographical factors) R Faktor alamiah (geographical factors) Lingkungan kerja R Struktur tugas dan pola kerja R Kompleksitas pekerjaan R Pola kepemimpinan dan kerjasama R Ketersediaan alat sarana kerja R Imbalan (reward system) Tips Memotivasi Karyawan R Komunikasi Yang Terbuka: memberikan kepada pekerja keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik R memberikan kesempatan umpan balik secara teratur R meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka R Membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan. informasi.´ R Harus fokus pada peningkatan KINERJA KARYAWAN Kinerja Karyawan tergantung pada (Gibson): R Motivasi R Kemampuan R Lingkungan kerja Apa sebenarnya yg dibutuhkan karyawan (Maslow): R Physiological Needs (Kebutuhan fisiologis/dasar/pokok) R Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman).

R Sambungan telepon langsung. R menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum R meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan moril seperti ³merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok´ R memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan R apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik. forum-forum kelompok kecil. R memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik. R menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang R membantu berkembangnya rasa ³bermasyarakat´ R Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan R menawarkan ³pembagian keuntungan´ (profit sharing) kepada karyawan. dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan itu secara lebih teratur. R terus menerus memelihara hubungan dengan orang yang mereka bawahi R menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil kinerja mereka. tanya jawab dengan pimpinan dan ³politik pintu terbuka´ R belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka.menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban. R mempelajari apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai waktu luang. kotak saran. R Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan R Gagasan menggunakan kinerja sebagai dasar untuk promosi R menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful