P. 1
mendobrak_kebiasaan

mendobrak_kebiasaan

4.75

|Views: 911|Likes:
Published by baehaqie
Jakarta as capital of Indonesia have many problems such as other developing country, government of jakarta already make some approach to solve the problems, but little result to solve the problems. this book give some tutorial and lesson learned about how community approach can solve the problem
Jakarta as capital of Indonesia have many problems such as other developing country, government of jakarta already make some approach to solve the problems, but little result to solve the problems. this book give some tutorial and lesson learned about how community approach can solve the problem

More info:

Published by: baehaqie on Sep 28, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Sections

mendobrak kebiasaan

MENDOBRAK KEBIASAAN

INSTIT

UT

PERT

belajar bertata krama dalam proses perencanaan pembangunan di Rawa Bunga
IAN AN
BO

G OR

komunikasi pembangunan
JAYA R AYA

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN PERDESAAN PPS INSTITUT PERTANIAN BOGOR BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEMERINTAH PROPINSI DKI JAKARTA

mendobrak kebiasaan

KREDIT
PROSIDING KEGIATAN
Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas

©PS PWD-IPB, JULI 2002 Prosiding Kegiatan Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas

TIM PENYUSUN

Widhyanto Muttaqien Ahmad Ahmad Baehaqie Abdul Rahman Andit A. Baehaqie W. M. Ahmad Pandan A. Baehaqie Pandan

TATA LETAK

DESAIN SAMPUL DAN GRAFIS

Para pelaksana program ‘Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas’
komunikasi pembangunan

mendobrak kebiasaan

SAMBUTAN

Cara-cara Perencanaan Kegiatan Perbaikan Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik di tingkat lokal maupun regional pada masa sekarang telah banyak mengalami perubahan-perubahan. Umpamanya cara pendekatan perencanaan dengan pendekatan cetak-biru (blue print approach) melalui pendekatan top-down mengasumsikan bahwa para perencana mempunyai suatu pemahaman dan overview terhadap persoalanpersoalan yang dihadapi oleh masyarakat secara akurat. Namun dengan caracara ini selain telah menunjukkan hasil-hasil yang tidak efektif dalam mencapai sasaran-sasaran yang dituju, tetapi juga tidak efisien dalam arti terlalu banyak sumberdaya dan dana yang mubazir. Karena asumsi tersebut tidaklah realistik, terutama dalam menghadapi persoalan sosial ekonomi dan lingkungan yang semakin kompleks yang bersifat dinamis. Oleh karena itu dalam menghadapi sistem yang kompleks dan dinamis itu sekarang metodenya telah diganti dengan melalui berupa pemberdayaan masyarakat guna mendorong pertisipasi mereka secara interaktif melalui proses dialog-dialog antara perencana dan masyarakat sehingga samasama mengalami learning by doing untuk menggali dan mengenal beberapa persoalan pokok yang dihadapi oleh masyarakat serta merumuskan solusi-solusi pemecahannya atas dasar kesepakatan bersama. Demikianlah bahwa landasan pemikiran singkat diatas didasarkan kepada hasil pengalaman-pengalaman dalam tiga dekade terakhir ini dimana telah terjadi proses pergeseran paradigma dalam pendekatan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Cara pandang pembangunan yang berorientasi pada laju pertumbuhan ekonomi secara fisikal (investasi dalam man-made capital) dengan basis peningkatan investasi dan teknologi yang didatangkan dari luar semata lingkungan masyarakatnya telah bergeser ke arah pemikiran pembangunan yang menekankan pada kemampuan masyarakat (human dan social capital) untuk diajak serta dalam mengarahkan dan mengendalikan keadaan kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungannya. Pengalaman empiric menunjukkan bahwa ketidak-seimbangan dalam investaasi keempat capital (natural, physical, human dan social capital) dapat menimbulkan kesenjangan tingkat kehidupan dalam masyarakat yang pada gilirannya akan menjadi sumber dari krisis ekonomi, sosial dan lingkungan yang satu kepada krisis lainnya. Oleh karena itu paradigma baru yang berkembang ini lebih menekankan kepada proses-proses partisipatif dan kolaboratif (participatory and collaborative processes) yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan material, termasuk meningkatnya keadilan dalam distribusi penguasaan, pengelolaan dan manfaat pembangunan serta kebebasan dan kemandirian. Oleh karena itu kini telah banyak disadari bahwa pengalaman dalam membangun kehidupan masyarakat selama ini telah banyak menimbulkan dampak permasalahan pembangunan yang semakin besar dan kompleks. Semakin melebarnya kesenjangan sosial-ekonomi, degradasi dan tingkat kerusakan lingkungan yang semakin besar, maka beban dan ketergantungan pada pihak luar (pemerintah pusat, bahkan luar negeri) yang semakin berat adalah merupakan bukti-bukti nyata atas kegagalan praktek pelaksanaan pembangunan selama ini. Atas dasar realitas tersebut, maka pengalaman tersebut telah mendorong kearah terjadinya perubahan pemikiran dan konsepsi pembangunan yang perlu dicermati.

komunikasi pembangunan

i

mendobrak kebiasaan

Paradigma baru pengembangan lokal dan wilayah pada saat ini adalah didasarkan kepada prinsip-prinsip pembangunan yang menekankan aspek-aspek berikut : (1) Mengedepankan peran-serta (partisipasi) masyarakat dan memprioritaskan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pemerintah sebaiknya lebih berperan sebagai fasilitator pembangunan daripada sebagai inisiator dan pelaksana. Menekankan aspek “proses” dibandingkan pendekatan-pendekatan yang menghasilkan “produk-produk” perencanaan berupa masterplan dan sejenisnya.

(2)

Salah satu bentuk dari apa yang disebut government failure di masa lalu adalah terjadinya kegagalan menciptakan keterpaduan intersektoral yang sinergis, baik dalam pengertian keterpaduan intern-horizontal (antar instansi pemerintahan sederajat), intern-vertikal (antara instansi pemerintah pusat, regional hingga lokal), hubungan-hubungan antara pelaku (pemerintah-masyarakat-swasta), hingga sinergi antara kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat. Struktur insentif yang dikembangkan sejauh ini cenderung tidak mendorong bahkan menghambat para pejabat pelaksana pembangunan untuk menciptakan keterpaduan-keterpaduan yang diinginkan. Sebagai akibatnya, pemerintahan daerah dan lokal gagal menangkap kompleksitas pembangunan di wilayahnya, dan partisipasi masyarakat lokal tidak mendapat tempat. Keterpaduan sektoral tidak hanya mencakup hubungan antar lembaga pemerintahan tetapi juga antara pelaku-pelaku ekonomi antar sektor yang berbeda. Wilayah yang berkembang dengan baik ditunjukkan oleh keterkaitan antara sektor ekonomi wilayah, dalam arti terjadi transfer input dan output barang dan jasa antar sektor secara dinamis dan efisien. Dalam paradigma baru pembangunan sekarang, kekuasaan pemerintah harus semakin dibatasi yang hanya menyediakan pada bidang “public good”, dan bidang dimana pihak swasta dan masyarakat tidak punya insentif untuk melakukannya. Sebenarnya pergeseran paradigma pembangunan tersebut telah berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu. Secara keseluruhan hasil pergeseran tersebut secara terus menerus dapat disimpulkan bahwa penekanan hakiki tujuan pembangunan adalah tercapainya pemerataan (equity), pertumbuhan (efficiency), dan keberlanjutan (sustainability) dalam pembangunan ekonomi. Paradigma baru pembangunan ini dapat mengacu kepada apa yang disebut dalil kedua fundamental ekonomi kesejahteraan (The second fundamental of welfare economics), dimana dalil ini menyatakan bahwa sebenarnya pemerintah dapat memilih target pemerataan ekonomi yang mendorong pertumbuhan yang diinginkan, melalui cara transfer, perpajakan dan subsidi, sedangkan aspek ekonomi selebihnya dapat diserahkan kepada mekanisme pasar. Dengan demikian, penterjemahan dari dalil tersebut kepada paradigma baru pembangunan sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah. Dengan diberlakukannya UU 22/1999 mengenai Otonomi Daerah berimplikasi luas dalam sistem perencanaan pembangunan diwilayah-wilayah. Kebijaksanaan desentralisasi melalui otonomi daerah sebenarnya mengisyaratkan tentang pentingnya pendekatan pembangunan berbasis pengembangan masyarakat lokal
komunikasi pembangunan

ii

mendobrak kebiasaan

dan wilayah dibanding dengan pendekatan sektoral. Pembangunan berbasis pengembangan wilayah dan lokal memandang penting tentang perlunya keterpaduan antar sektoral, antar spatial (keruangan), serta antar pelaku pembangunan di dalam dan antar daerah. Sehingga setiap program-program pembangunan sektoral dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah. Keadaan demografi dan potensi sumberdaya alam serta aktivitas-aktivitas sosialekonomi yang tersebar secara tidak merata dan tidak seragam membutuhkan adanya interaksi spasial yang optimal dalam arti terjadinya struktur keterkaitan antar wilayah dan lokal yang dapat berlangsung secara dinamis. Dalam hubungan dengan perubahan paradigma dan pendekatan pembangunan wilayah dan lokal di atas, maka penerapan perencanaan dari bawah yang dilaksanakan pada Kelurahan Rawa Bunga, Jakarta, merupakan studi kasus yang dapat menjadi pilot proyek untuk seluruh wilayah DKI. Sehingga keberhasilan dari landasan pendekatan perencanaan ini dapat disebar dengan mereplikasikannya kepada Kelurahan-kelurahan lainnya melalui cara-cara pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up) pada wilayah lokal ini dengan mengingat perlunya modifikasi yang disesuaikan pada keadaan-keadaan sosial ekonomi dan lingkungan setempat. Dengan demikian pilot proyek ini diharapkan dapat menyumbang kepada perbaikan kehidupan sosial ekonomi di wilayah DKI disatu pihak, dan mampu memberikan umpan balik bagi pengkayaan pengetahuan perencanaan wilayah di pihak lain.

Amien.

AFFENDI ANWAR
Ketua Pasca Sarjana PWD-IPB

komunikasi pembangunan

iii

mendobrak kebiasaan

SAMBUTAN

Paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian dan sasaran sekaligus pelaku utama pembangunan. Segala upaya pembangunan harus selalu diarahkan pada penciptaan kondisi dan lingkungan yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik dan memberi kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk melakukan pilihanpilihan yang sesuai potensi dan karakteristik di wilayahnya. Kegiatan yang kita laksanakan ini merupakan salah satu proses pembelajaran pemberdayaan bagi masyarakat dalam upaya perencanaan pembangunan yang didasarkan atau melihat potensi dan permasalahan di Kelurahan Rawa Bunga. Kita harus tahu apa itu pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat atau upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Disamping itu juga untuk meningkatkan kekuatan, kemauan, tenaga akal/cara sehingga masyarakat Kelurahan mempunyai daya (kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak untuk mengatasi masalah dalam menghadapi keterbatasan dan hambatan yang saudara/warga kelurahan hadapi. Pemberdayaan bukan voting tetapi membuka dialog dan keterikatan dengan keaktifan masyarakat, sehingga warga kelurahan memberikan suatu untuk memutuskan sesuatu yang akan mempengaruhi lingkungannya. Dalam usaha menuju pembangunan kelurahan rawa Bunga yang partisipatif maka: a. Perlu perubahan persepsi dalam proses pembangunan yaitu bahwa masyarakat bukan obyek, sehingga haruslah terbentuk equal power sharing antara masyarakat dan aparat perencana dan pelaksana pembangunan. Selain sebagai sumber energi, masyarakat kelurahan Rawa Bunga juga merupakan sumber informasi dan informasi yang dimiliki masyarakat menjadi aset penting bagi keberhasilan pembangunan di Kelurahan. Merubah makna dan fungsi kekuasaan aparat pemerintah, jadi bukan hanya mengatur saja, tetapi juga memfasilitasi dan membantu masyarakat kelurahan memecahkan problem yang tidak dapat masyarakat pecahkan sendiri. Seluruh unsur masyarakat perlu diberikan rangsangan/stimulan untuk ikut memikirkan masalah-masalah pembangunan yang dihadapi dan ikut memikirkan jalan keluar pemecahannya. Meninggalkan persepsi proses pembangunan Kelurahan yang seragam dengan meningkatkan pengertian tentang pentingnya berdaya lokal sebagai suatu aset pembangunan dan bukan sebagai hambatan akan mendorong secepatnya proses kelembagaan.

b. c. d.

Wassalamualai’kum Wr. Wb.

ROHANA MANGGALA
Kepala BPM Propinsi DKI Jakarta
komunikasi pembangunan

Kegiatan komunikasi dan partisipasi masyarakat Kelurahan Rawa bunga seperti sekarang ini hendaknya dapat diberdayakan dan berkelanjutan sehingga proses perencanaan partisipatif pembangunan dapat mewujudkan pembangunan yang masyarakat inginkan. Pada kesempatan ini juga saya mengucapkan terima kasih kepada Program PS PWD-IPB khususnya mahasiswa Pasca Sarjana yang telah membantu proses pembelajaran ini yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kiranya hasil kegiatan ini dapat digunakan sebagai acuan masyarakat untuk proses perencanaan pembangunan yang akan datang dan sebagai percontohan untuk Kelurahan yang lainnya.

iv

mendobrak kebiasaan

RINGKASAN

Meningkatnya tuntutan masyarakat akan perencanaan yang partisipatif menyebabkan pemerintah daerah harus segera mengadopsi berbagai pendekatan pembangunan dengan konsep partisipasi masyarakat. Namun dalam banyak kasus pelaksanaan konsep ini tidak banyak dipahami oleh pemerintah daerah. Implementasi program pemberdayaan masyarakat menjadi kata-kata retoris yang disematkan pada dokumen perencanaan pembangunan. Latar belakang tersebut mendorong PPS-PWD IPB dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) DKI-Jakarta berinisiatif untuk membuat sebuah kegiatan yang ‘baik’ dan ‘benar’, bertajuk “Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas”. Kegiatan ini sendiri merupakan sebuah exercise untuk melakukan sebuah komunikasi diantara para stakeholder pembangunan, dalam sebuah bentuk komunikasi yang emansipatoris. Dimana setiap ‘pihak’ duduk setara dan berusaha membuat sebuah konsensus bersama. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah: [1] Adanya sebuah dokumentasi proses yang dapat menjadi ‘manual book’ sebuah proses perencanaan yang partisipatoris yang kemudian dapat direplikasikan secara kontekstual; [2] Menjadi media belajar bagi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan; [3] Menjadi salah satu acuan bagi warga Rawa Bunga untuk kegiatan pembangunan mereka. Kegiatan ini berlangsung selama sebulan penuh (Mei 2002) di kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur. Alasan pemilihan Kelurahan Rawa Bunga karena wilayah ini secara kasat mata mempunyai permasalahan tipikal kota besar. Kegiatan ini dimulai dengan melakukan identifikasi wilayah, identifikasi stakeholder, dan identifikasi pendekatan untuk membangun kekerabatan. Tahap ini biasa disebut penilaian perkotaan secara cepat (rapid urban appraisal/RUA). Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan yang dibagi menjadi dua kegiatan. Pertama adalah sumbang saran di tingkat RW. Pada tahap ini dilakukan pencarian isu-isu strategis, mengidentifikasikan kemampuan/potensi yang ada, dan memotivasi warga untuk terus terlibat pada proses berikutnya. Metode yang digunakan adalah penilaian perkotaan secara partisipatif (participatory urban appraisal/PUA), dan pendekatan kerangka logis (logical framework analysis/ LFA). Kedua adalah kegiatan sumbang saran tingkat kelurahan yang melakukan pemetaan masalah sekaligus saling mengkonfirmasi hasil-hasil pada proses sebelumnya. Pada tahap ini digunakan pendekatan diskusi kelompok tematis (focus group discussion) dengan partisipan dari berbagai RW dan pihak eksternal. Pelibatan stakeholder diharapkan terjadinya pengayaan perspektif pemikiran dan setiap keputusan yang dibuat memiliki legitimasi yang kuat. Proses PUA menghasilkan 10 isu pokok, yaitu (1). Keamanan yang tidak kondusif; (2). Kebersihan lingkungan kurang terpelihara; (3). Kemiskinan; (4). Sarana publik kurang; (5). Kelembagaan kepemudaan tidak berjalan; (6). Kelembagaan RW tidak berfungsi optimal; (7). Rendahnya manajemen SDM; (8). PKK kurang berfungsi dan kurang diperhatikan; (9). Kerjasama dengan pihak luar tidak berjalan; (10). Sosialisasi program kurang efektif. Untuk menganalisa masalah dilakukan LFA yang menunjukkan bahwa dua penyebab utama munculnya berbagai masalah yaitu : (1) Kelembagaan RT/RW yang tidak berfungsi; dan (2) Terjadinya tumpang tindih program dari luar. Pengerucutan lebih tajam lagi menunjukkan bahwa akar masalahnya adalah ketidakmengertian para pihak tentang perencanaan wilayah berbasis warga. Melemahnya kelembagaan RT/RW karena kelembagaan ini dianggap lebih memperhatikan ‘kepentingan’ pemerintah dibandingkan sebagai representasi dari suara masyarakat. Kelembagaan RT/RW menjadi kehilangan legitimasinya untuk mengexercise kekuasaan yang ada padanya dalam mengelola masyarakat. Sementara masyarakatpun menjadi apatis karena

komunikasi pembangunan

v

mendobrak kebiasaan

pengkondisian seperti itu. Sebagian menjadi speechless, tidak mampu menyuarakan apa yang mereka inginkan. Bermimpi pun menjadi hal yang tidak mungkin. Mereka terkungkung di dalam ‘wilayah’ budaya kemiskinan yang sengaja atau tidak tercipta dari sebuah proses pembangunan yang meminggirkan mereka. Kenyataan inilah yang kemudian ‘terungkap’. Sedangkan isu sosialisasi program kurang efektif terjadi selama ini karena pola pembangunan yang top down dan tersentralisasi menjadi sebab mengapa setiap program pemerintah menjadi ‘mandul’. Masyarakat merasa tidak memiliki kepentingan apapun atas program ‘dari atas’ tersebut, sehingga program tersebut menjadi tidak efektif (making nothing form something). Kerjasama dengan pihak luarpun menjadi kurang berjalan, dikarenakan selama ini potensi lokal tidak teridentifikasi secara baik, para pihak yang ada di masyarakat tidak dapat mensinergikan kekuatan yang ada padanya. Kerjasama yang sesungguhnya dapat meningkatkan taraf hidup akhirnya tidak dapat dikelola. Lebih jauh lagi dilakukan analisa keterkaitan masalah yang menunjukkan bahwa setiap isu tidak berdiri sendiri, sehingga didapatkan keterkaitan antara 10 isu dengan tiap masalah. Empat isu memiliki keterkaitan kuat, yaitu [1] Lemahnya kelembagaan RT/RW, [2] Kurang efektifnya sosialisasi program pembangunan, [3] Kurangnya kerjasama dengan pihak luar, dan [4] Kemiskinan. Keterkaitan antar keempat masalah tersebut sangat erat. Kemiskinan yang ada sesungguhnya disebabkan oleh lemahnya pengorganisasian di antara warga. Kemiskinan menjadi awet ketika warga tidak mendapatkan akses untuk membuat keputusan bagi kepentingan mereka sendiri. Mereka terisolasi dari setiap proses pengambilan keputusan baik ditingkat RT/RW maupun ditingkat yang lebih tinggi. Sedangkan jumlah permasalahan yang ada di kelurahan Rawa Bunga yaitu 31 buah dengan tingkat kemunculan permasalahan di tingkat RW menunjukkan bahwa RW 01 mempunyai tingkat keragaman permasalah tertinggi yaitu 20 buah masalah, sedangkan yang mempunyai tingkat keragaman masalah terendah adalah RW 09 dengan tingkat keragaman 10 buah masalah. Beberapa hasil pembelajaran terpenting pada proses ini adalah [1] Peningkatan kapasitas kelembagaan di tingkat RT/RW dan tingkat kelurahan (ini melibatkan organisasi RT/RW, organisasi LPM/Dewan kelurahan dan pemerintahan kelurahan, serta lembaga swadaya masyarakat lokal). [2] Mendorong koordinasi antar lembaga yang ada ditingkat kelurahan untuk dapat mensinergikan berbagai kegiatannya terutama dalam perbaikan taraf hidup kelompok miskin. [3] Mendorong pemerintah untuk terus mempromosikan perencanaan berbasis warga sebagai sebuah langkah awal untuk pembentukan masyarakat sipil yang cerdas dan beradab. [4] Merekomendasikan kepada pemerintah untuk meninjau kembali segala produk yang berhubungan dengan kelembagaan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan proses perencanaan pembangunan (khususnya untuk tingkat kelurahan). [5] Secara jujur dan cerdas bersama-sama melakukan reorientasi konsep pemberdayaan dan meng-exercise konsep tersebut dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Sebagai sebuah exercise kegiatan ini tentu memiliki banyak kekurangan, namun kekurangan tersebut sesungguhnya menjadi sebuah ‘pekerjaan rumah’ untuk dievaluasi dan dimodifikasi sehingga pendekatan yang digunakan sesuai dengan keadaan riil masyarakat.

komunikasi pembangunan

vi

mendobrak kebiasaan

DAFTAR ISI
Halaman SAMBUTAN Ketua PS-PWD IPB Kepala BPM Prop. DKI Jakarta RINGKASAN DAFTAR ISI AWALNYA DARI SINI Pengantar Magnet Itu Jakarta Sesaknya Rawa Bunga Hebatkah Rawa Bunga Kekerabatan yang Kuat Superman Bisa Lahir Disini Lokasinya Strategis Semua Tersedia DEKATILAH DENGAN JUJUR Latar Belakang Tujuan Hasil Diharapkan Metodologi Merekam Kejadian Sumbang saran per RW Pembelajaran Sumbang Saran Se Kelurahan Pembelajaran INILAH HASIL PENDEKATAN Perumusan Masalah Identifikasi Masalah Analisis Masalah Akar Masalah Penyebaran Masalah Keterkaitan Masalah Keterlibatan Para Pihak Perumusan Tujuan Perumusan Tindakan Tujuan 1. Tujuan 2. Analisis Para Pihak Tingkat Nasional Tingkat Pemerintahan Kotamadya Tingkat Kecamatan Tingkat Kelurahan Tingkat RT/RW i iv v vii 2 4 6 7 7 8 8 10 10 10 10 12 15 17 18

21 24 24 25 26 27 29 30 31 32 32 33 33 34

komunikasi pembangunan

vii

mendobrak kebiasaan

Halaman BELAJARLAH AGAR TIDAK GAGAL LAGI Pembelajaran Terjadi Saat Ini Rekomendasi Perubahan DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN Profil RW 01 Profil RW 02 Profil RW 03 Profil RW 04 Profil RW 05 Profil RW 06 Profil RW 07 Profil RW 08 Profil RW 09 TERIMA KASIH 36 37 38 40 42 45 48 51 54 57 60 63 66 69

komunikasi pembangunan

viii

mendobrak kebiasaan

AWALNYA DARI SINI

Panji Koming. Kompas. 14 Februari 1982

komunikasi pembangunan

1

mendobrak kebiasaan

PENGANTAR
MENDOBRAK KEBIASAAN Proses Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas Merujuk pada kata pembangunan, pikiran kebanyakan langsung pada kekayaan yang akan menumpuk, tentunya hasil dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini biasa terjadi karena selama ini pembangunan sering menjadi sarana ‘basah’ untuk memperkaya diri, sekaligus visi pembangunan bukanlah untuk manusia tetapi pembangunan untuk pembangunan itu sendiri. Manusia menjadi mahluk yang tidak pernah dianggap mempunyai pikiran dan hati, hanya sebagai obyek yang hanya mendapatkan tempatnya ketika proses pembangunan sudah selesai dilakukan. Kata orang ‘pembangunan sebenarnya identik dengan sebuah rumah manusia’. Selama ini pembangunan dibuat oleh para teknokrat dengan teori yang dibawa dari ‘dunia antah berantah’ yang tidak pernah berakar pada tanahnya sendiri. Tidak pernah ditanyakan apa pendapat pemilik rumahnya. Para filsuf ‘kampungan’ dari berbagai pelosok kampung di Indonesia sangat sadar dan mengerti artinya rumah. Dikatakannya bahwa rumah adalah raga kedua yang harus mampu mencirikan hati, perilaku, pikiran, dan mimpi penghuninya. Kasihan memang. Buku ini mencoba mengikuti ajaran para filsuf sepuh kita yang ‘kampungan’ dengan mencoba melakukan tata krama pembangunan kepada para penghuni rumah sebelum melakukan renovasi atas rumah yang memang sudah hancur akibat pendekatan para teknokrat sebelumnya. Betapa warga sebagai pemilik rumah merasa senang dan merasa sangat dihargai. Seorang warga berujar ‘kenapa cara ini tidak dilakukan sejak dahulu’. Jelaslah bahwa tata krama memang budaya kita. Kenapa harus dicabut. Berbagai pihak sangat mendukung upaya renovasi ini, warga yang datang dengan berbagai harapan, ada yang ingin perubahan, ada yang ingin dapat makan minum gratis, yang lainnya supaya disebut masyarakat yang sosial, bahkan ada yang mengharapkan amplop karena memang sebelumnya pertemuan seperti ini selalu mendapatkan amplop. Pertemuan-pertemuan tidak hanya didominasi kaum Bapak, kaum Ibu-pun antusias, pemuda dan pemudi juga terlibat penuh. Kakek-nenek juga hadir walaupun dengan suara yang kurang jelas. Suara-suara penuh optimis bersahut-sahutan, terkadang berbagai kata seronok muncul. Maklum inilah Jakarta. Kita sebagai pelaksana mengalami sebulan penuh ketakutan, karena baru turun ke masyarakat sebenarnya, dimana selama ini bicara masyarakat sering dilakukan hanya di belakang meja, di hotel, dalam berbagai seminar, dan lokakarya. Senyum lebar kita mulai muncul setelah warga bisa menerima kehadiran kita, kejujuran menunjukkan siapa sebenarnya kita adalah rahasianya. Warga memang begitu. Kita jujur, merekapun akan begitu. Tekanan pekerjaan yang penuh dengan kejutankejutan karena berhadapan dengan berbagai manusia memberikan impuls yang menyenangkan. Betapa kelelahan dan kepenatan yang seharusnya muncul, sama sekali tidak terasa. Walaupun ada beberapa yang muntah, mencret, dan pusing. Itu biasa kalau kita mulai dengan hal-hal yang baru.

Panji Koming. Kompas. 14 Februari 1982

komunikasi pembangunan

2

mendobrak kebiasaan

Salam,

Proses ini tidak mungkin terlaksana tanpa kerjasama berbagai pihak. Program Pasca Sarjana PWD-IPB yang penuh antusias mendukung program ini karena berharap mendapatkan pengayaan pengetahuan. Teman-teman Pasca Sarjana yang penuh percaya diri dan penuh kepenasaran serta kesabaran mengikuti proses. Teman-teman KomBeT (Komunitas BeTe) dari Tegal Gundil yang mendukung dalam tahap-tahap akhir. Pak Lurah dan jajarannya yang menyediakan tempatnya untuk kotor-kotoran. Pemda DKI yang memang punya keinginan untuk berubah dalam cara merenovasi ‘rumah’. Terakhir tentunya Pengurus RW dan jajarannya serta warga yang sangat ‘welcome’ dalam menyambut dan membangun proses diskusi, sehingga berlangsungnya diskusi jadi tidak begitu ‘garing’ tapi bisa dilakukan sambil terbahak, bersama dengan celetukan ‘goyang dombret mang’. Buku ini hanyalah sebuah buku yang bisa hilang karena dimakan rayap jika hanya disimpan di sudut rak buku yang lembab. Buku ini juga bisa menjadi inspirasi bagi berbagai pihak yang memang berniat memperbaiki cara merenovasi ‘rumah’. Semoga anda termasuk yang berniat itu. Kami percaya bahwa anda melihat ‘rumah’ sebagai ‘rumah’.

TIM PENYUSUN Widhyanto M. Ahmad Ahmad Baehaqie Abdul Rahman Andit

komunikasi pembangunan

3

mendobrak kebiasaan

MAGNET ITU JAKARTA
Banyak tulisan mengenai Jakarta yang ditinjau dari berbagai sisi dalam rentang waktu tertentu. Menarik melihat Jakarta dari ‘wajah’ dan ‘kebiasaan’ penduduknya. Unsur penduduk merupakan unsur pokok dalam sejarah kota, karena, pertama, kota tidak mungkin terjadi tanpa penduduk. Kedua, corak penduduk menentukan wajah kota. (Sedyawati et al., Sejarah Kota Jakarta, 1950-1980, Depdikbud, 1987). Jakarta, sebuah kota yang pada masa pendudukan Belanda dibuat berdasarkan pengaturan (segregasi) ‘rasial-etnisitas’. Pengaturan penduduk inilah yang mencirikan wajah kota Jakarta tempo dulu. Setelah kemerdekaan pemerintah berusaha membaurkan penduduk tidak berdasarkan ‘rasial-etnisitas’ walaupun peninggalan kolonial tersebut masih membekas di beberapa tempat. Kini segregasi dilakukan untuk alasan rasionalitas ekonomi dan kepentingan modal. Dengan pola atau modus perencanaan yang ‘masih’ represif. Pemerintah kota masih berperan sebagai ‘penguasa’ Jakarta yang serba tahu dan harus dipatuhi perintahnya. Susan Abeyasekere (Jakarta: A History, Oxford University Press, 1987), mengatakan bahwa yang berubah mengenai Jakarta selama 5 abad ini adalah struktur politik, sosial dan ekonomi. Secara politik Jakarta berpindah dari tangan kolonial Belanda ke kolonial Jepang, ke Orde Lama dan ke Orde Baru. Ekonomi berpindah dari kongsi dagang Belanda ke kongsi dagang Cina. Dari segi kependudukan orang Jawa dan orang Sunda mendominasi, mengganti masyarakat Indo dan multi bangsa serta orang Betawi. Yang tetap adalah lingkungan alam yang kurang sehat, nyamuk, banjir, kurang fasilitas air bersih, kampong kumuh, dan seterusnya. Jakarta (dulu Batavia) pernah disebut Ratu Dari Timur (Queen of The East) dimana orang Eropa lebih memilih plesiran ke Jakarta dibandingkan ke Singapura atau daerah sekitar Semenanjung Melayu. Dulu Jakarta memang diperuntukan bagi masyarakat kota semata, khususnya untuk kaum kolonial. Segala kemanjaan, kenyamanan, keamanan dijanjikan dan terbukti bisa diraih di Jakarta tempo dulu. Setelah merdeka orientasi Jakarta tentu berubah, sebuah kota merdeka untuk rakyat yang merdeka. Segala kemanjaan itu tentu ingin diraih orang diluar Jakarta. Bias kota dan ketimpangan pembangunan antar wilayahlah yang membuat Jakarta overload/overurbanized. Paska kolonial Jakarta (dan kota-kota Dunia Ketiga) secara unik terbentuk. Modernisasi merupakan kemasan dari ‘para pemilik modal’ sebagai penyedia kerangka dan ruang operasi akumulasi modal dari perusahaan multinasional, transnasional dan oligopoly lokal. Sebagai penyaji Jakarta menjadi ruang produksi dan reproduksi (Prisma, No. 5 Tahun XXI, LP3ES, 1992). Produksi berarti pemutusan ekonomi dan konvergensi demografis dari berbagai wilayah pinggiran (perdesaan/pedalaman) ke perkotaan. Reproduksi berarti ekspansi pasar dan penyebaran budaya; gaya hidup baru, adat istiadat, kebiasaan dan pola-pola perilaku lainnya. Namun latar belakang sosial budaya ternyata menjadi asumsi perbedaan pola dan tingkat integrasi penduduk. Keseragaman karakter ‘menjadi’ penduduk atau suku Jakarta/Betawi (dalam konteks kultur kota/urban) juga masih patut dipertanyakan. Adakah? Terjadikah?

komunikasi pembangunan

4

mendobrak kebiasaan

Jakarta dan penduduknya tidak dapat dipisahkan. Kini penduduk Jakarta berjumlah sekitar 8 juta jiwa di malam hari dan lebih dari 10 juta jiwa di siang hari. Jakarta sangat dipengaruhi oleh perilaku penduduknya. Kaum migran tidak serta merta membuang tradisi mereka, ini dibuktikan dengan aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Banyaknya perkumpulan dan berdasarkan etnisitas membuktikan bahwa Jakarta merupakan ‘kumpulan kampung migran’ (yang setiap tahun hampir setengahnya ‘mudik’ di waktu Lebaran). Orientasi kaum migran merupakan orientasi kedesaan. Keberhasilan mereka dalam mengumpulkan uang tidak serta merta mengubah cara hidup mereka. Berkumuhkumuh di Jakarta, memiliki ‘rumah gedong’ di desa. Dunia mereka merupakan dunia desanya (Abdul Hamid dan Iman Ahmad, Prisma, LP3ES, 1992). Lepas dari perdebatan tentang teori dualisme ekonomi (formal-informal/firma dan bazaar) ternyata Jakarta merupakan magnet bagi siapa saja (entah dosen, peneliti, seniman, gembel, pelacur atau pejabat daerah sekalipun) yang memimpikan hidup yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi. Jakarta juga menjadi tempat berbagai dualisme-kontradiksi. Perkampungan kumuh disebelah real estate (yang dipagar tinggi), permukiman padat disela gedung pencakar langit (yang siap digusur), kaum yuppies (young urban professionals) yang senang makan di emper kaki lima (kaki limanya dikejar-kejar tidak boleh berdagang), riuhnya café ditabuhi oleh alunan dzikir di Kemang, goyang dangdut yang menjadi ikon kaum marjinal dan kampungan memassal disetiap stasiun televisi (yang menjadi supremasi pembentuk imaji dan proses imitasi) diskotik dan taman umum. Semuanya mengalir. Menjadi, menjadi, menjadi. Bertentangan atau saling melengkapi. Kacau atau harmoni. Anomali atau kenormalan. Di Jakarta semuanya terjadi dan menjadi. Jakarta tempat segala sesuatu yang norak menjadi sebuah kelaziman. Dimana bangunannya gagah, menantang langit, dengan arsitektur yang ‘terinspirasi’ dari tempat-tempat yang jauh, namun membuat gagap para penghuninya, menyeramkan bagi ‘orang luar’. Jakarta merupakan tempat orang melakukan pencitraan yang terus menerus terhadap dirinya, sebagai manusia modern? Namun kesehariannya tetap sebagai orang yang sama seperti sebelumnya. Jakarta tempat ‘kemasan’ lebih dihargai dari ‘isi’. Seperti anekdot yang mengisahkan orang yang dipacari kemudian hamil, sang pacar kemudian berkilah isi diluar tanggungan percetakan. Jakarta tempat para migran dipupur, didesain ulang, dihamili dan melahirkan berbagai persoalan.

Bappeda-Jakarta. Jakarta Membangun. 2002

komunikasi pembangunan

5

mendobrak kebiasaan

SESAKNYA RAWA BUNGA
Kelurahan Rawa Bunga dengan luas wilayah 87,65 KM2 berpenduduk 44.800 jiwa merupakan salah satu kelurahan yang terpadat di wilayah kotamadya Jakarta Timur. Selain padat, Rawa Bunga terkenal dengan potensi rawan sosialnya, seperti wanita tuna susila, perjudian, anak jalanan, gelandangan/tuna wisma, narkoba, pedagang kaki lima, dan penduduk musiman yang berdiam di bantaran kali. Dulu Rawa Bunga dinamakan Rawa Bangke yang konon kabarnya tempat pembuangan mayat. Di tempat ini sampai sekarang masih terdapat pemakaman umum yang cukup luas, biasa disebut dengan Kober. Sekitar 20 tahun yang lalu di wilayah ini juga terkenal dengan lokasi pelacurannya yang berada di sekitar pasar Rawa Bening. Saat ini lokasi tersebut telah berubah menjadi sarana publik berupa lapangan tennis, badminton, dan ruang terbuka hijau. Sebagian wilayah ini secara kontur pada dasarnya merupakan sebuah rawa, sehingga sampai saat ini sebagian wilayah mudah digenangi air jika musim penghujan tiba. Kelurahan Rawa Bunga memiliki 9 RW dan 104 RT. Daerah kumuh yang masih tersisa terdapat di lima RW (01, 05, 06, 07 dan 08) dengan penduduk kumuh sekitar 6.119 jiwa (1.114 KK), dan penduduk miskin sekitar 800 KK. Selain padat penduduknya, wilayah Rawa Bunga juga merupakan daerah yang strategis dengan heterogenitas penduduk yang tinggi. Berbagai suku/etnis berdiam selama puluhan bahkan ratusan tahun. Sehingga di beberapa lokasi RW banyak terdapat paguyuban-paguyuban dari suku Jawa atau Sunda yang masih kental budaya asalnya. Walaupun begitu tetap kultur yang dominan adalah kultur Betawi. Secara lokasi kelurahan ini berbatasan dengan daerah Pasar Jatinegara yang lebih dikenal dengan Pasar Mester (diambil dari Meester Cornelis Senen, Tuan Tanah yang menguasai tanah seluas 5.000 km persegi) sekarang menjadi Pasar Regional Jatinegara. Di wilayah ini dikenal dengan Pecinaan, dan dari jaman Belanda memang sudah menjadi pusat perniagaan dan tempat tinggal orang Cina. Berbagai peninggalan arsitektur etnis Tionghoa masih dapat dilihat di beberapa lokasi, juga peninggalan gedung-gedung buatan Belanda. Sebuah benteng Belanda yang dibangun untuk membendung pemberontakan Pangeran Jayakarta sempat dijadikan Komando Daerah Militer (KODIM) 0505 Jakarta Timur, kini pengelolaannya dikuasakan ke organisasi Warga Jaya dan Pemuda Panca Marga. Sayangnya bangunan bersejarah tersebut sebagian dibongkar untuk Wartel dan tempat bilyar tanpa mengindahkan estetika dan nilai-nilai kesejarahan. Sekarang Rawa Bunga terus berbenah diri memperbaiki citranya. Bahkan Pemerintah Daerah menetapkan Pasar Rawa Bening (yang dulu dikenal sebagai daerah ‘lampu merah’) sebagai salah satu wisata belanja di DKI Jakarta. Dengan produk unggulan batumulia dan permata yang kabarnya merupakan salah satu pasar batu mulia dan permata terbesar di Indonesia.
komunikasi pembangunan

6

mendobrak kebiasaan

HEBATKAH RAWA BUNGA?
KEKERABATAN YANG KUAT
Salah satu modal dasar yang harus diperhatikan namun sering diabaikan dalam proses pembangunan adalah modal sosial atau modal kekerabatan, artinya ada sebuah pola kebersamaan baik dalam berbagi tugas maupun tanggung jawab. Modal sosial yang dimiliki oleh warga Rawa Bunga didasarkan oleh kebersamaan hidup bertetangga yang cukup lama terutama bagi warga asli. Sedangkan bagi kaum urban kekerabatannya terjadi karena kedekatan wilayah asal. Di beberapa lokasi RW terdapat kelompok kaum urban yang berasal dari daerah tertentu (misalnya di RW 06 ada kelompok yang berasal dari Wonogiri; di RW 09 ada kelompok yang berasal dari Garut dan Tasikmalaya). Ikatan kelompok ini sangat berperan pada perkembangan usaha/kesejahteraan mereka.
Kue-kue tradisional yang tidak termakan jaman. Sampai saat ini masih digunakan sebagai media dalam saling antar makanan terutama ketika menjelang Lebaran. (LeBoYe Cr eations. Boeatan Indonesia Asli.1997)

Kekerabatan lainnya adalah adanya ikatan relijius dengan patronase ulama. Untuk sebagian masyarakat etnis Betawi yang ada di kelurahan ini peran ulama sangat besar. Sebagian aksi kolektif masyarakat Rawa Bunga didasarkan oleh ikatan semacam ini (sebagian warga RW 07 dan RW 09). Sementara pola kekerabatan lainnya yang bisa dilakukan dengan intervensi luar dengan cara pengorganisasian pada bidang tertentu dan berdasarkan jenis kelamin. Jika dibandingkan dengan kelompok lain pada kelas sosial-ekonomi yang sama, maka ibu-ibu yang terorganisir dalam kelompok PKK lebih ‘aman’ dalam menghadapi kerentanan ekonomi (dengan dana bergulir kelompok) atau dalam menghadapi permasalahan keluarga lainnya/siklus dalam keluarga (dengan pola pemenang arisan adalah yang paling membutuhkan dalam kelompok tersebut). Hampir di setiap RW terdapat kelompok pengajian yang biasa juga digunakan sebagai sarana membangun kekerabatan. Bahkan sampai saat ini ketika bulan puasa tiba terutama ketika lebaran akan tiba, masih banyak dilakukan budaya saling antar makanan untuk berbuka. Mesjid-mesjid penuh dengan makanan bagi para musafir yang akan berbuka. Namun lambat laun kegiatan tersebut semakin tergerus jaman.

SUPERMAN BISA LAHIR DI SINI

Permasalahan sumber daya manusia (SDM) sebenarnya merupakan sebuah kekuatan jika kemampuan tiap manusia bisa disatukan dengan benar, ibarat potongan-potongan puzzle yang disatukan. Superman sebenarnya bisa dilahirkan dengan cara tersebut di Rawa Bunga. Kelurahan Rawa Bunga memiliki modal SDM yang cukup besar. Dengan jumlah penduduk yang besar dan kualitas SDM yang cukup, Rawa Bunga sesungguhnya mampu melakukan perencanaan partisipatif sendiri dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Di beberapa tempat masih terdapat sanggar-sanggar kesenian RW (04 dan 08), perguruan Silat dan tempat-tempat ‘belajar’ lain, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh para remaja dan pemuda yang ada disana. Beberapa kelemahan dalam pengelolaan SDM disebabkan oleh kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan sehingga kemampuan sesungguhnya dari masyarakat tidak terbaca oleh pengelola lingkungan (RT/RW).

Kekuatan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan bisa menyelesaikan masalah bersama antar warga.

komunikasi pembangunan

7

mendobrak kebiasaan

LOKASI YANG STRATEGIS

Padatnya pemukiman menyebabkan hampir seluruh lahan tersedia digunakan seketat mungkin untuk kebutuhan pemukiman, bahkan tempat yang seharusnya menjadi sarana publik menjadi pemukiman. Keberadaan sungai dan aliran air alami sama sekali tidak mempunyai arti apapun kecuali menjadi tempat sampah dan sebagai pembuangan kotoran manusia. Daerah pinggiran sungai yang seharusnya digunakan sebagai daerah sempadan sungai juga tidak luput dari serangan pemukiman. Konturnya yang rendah karena asalnya merupakan rawa (terutama RW 05 dan 06), menyebabkan daerah ini tidak dapat lepas dari banjir tahunan. Bahkan jika terjadi hujan kecilpun daerah ini bisa tergenang, daerah resapan air hampir dikatakan tidak ada. Praktis Rawa Bunga hanya mengandalkan kekuatan lokasi strategisnya yang berada di jantung ekonomi Jakarta, sehingga aktivitas terdepan adalah jasa dan perdagangan. Kelurahan Rawa Bunga terletak di dekat terminal Kampong Melayu yang menjadi terminal transit ke daerah Pasar Minggu, Kramat Jati, Senen, Cililitan dan Pulogadung yang ‘hidup’ 24 jam sehari. Disini juga terdapat Stasiun Kereta Api Jatinegara yang juga hidup selama 24 jam sehari mengalirkan kaum urban dan para komuter.

SEMUA TERSEDIA DI SINI

Keberadaan lokasinya yang strategis secara langsung telah mendorong dibangunnya sarana dan prasarana yang berorientasi pada kegiatan ekonomi warga Rawa Bunga. Ketersediaan fasilitas dua buah pasar regional dan satu mal/plaza, ditambah pasar spesifik seperti pasar burung dan pasar batu permata maka warga Rawa Bunga sangat terbantu dengan fasilitas tersebut. Sarana lain seperti sarana pendidikan, jalan dan jembatan sudah memadai bagi warga Rawa Bunga. Jaringan jalan sudah sangat mencukupi mulai dari jalan propinsi yang memotong RW 01 dengan RW lainnya, sampai jalan tikus antar gang. Jaringan telepon sudah menyebar sampai ke pelosok, termasuk ketersediaan telepon umum. Jaringan PAM (Perusahaan Air Minum) sudah dapat dinikmati warga. Namun keberadaan hampir semua sarana dan prasarana tersebut tidak mendapatkan pemeliharaan yang cukup. Warga malah cenderung untuk merusaknya. Pemerintah sering tidak memberikan pelayanan yang baik terutama dalam urusan PAM. Kerusakan sarana lainnya yang terjadi secara alami yaitu terhadap jalan yang selalu tergenang. Orientasi pengadaan sarana ekonomi sama sekali tidak diimbangi dengan upaya mendorong sarana untuk membangun modal sosial. Sarana yang masih dianggap kurang oleh warga adalah sarana bermain anak, taman/ruang terbuka hijau, sarana olah raga, dan sarana kesehatan di RW 01 (yang dari segi jarak, jauh dari RW lain dan puskesmas kelurahan-sementara klinik murah juga tidak ada). Padahal sarana tersebut sangat berpotensi untuk mendorong semakin kuatnya kekerabatan antar warga yang sebenarnya merupakan salah satu modal dalam pembangunan. Di kelurahan Rawa Bunga juga terdapat komplek perpustakaan umum. Gedungnya yang nyaman, suasana yang santai sesungguhnya bisa menjadi modal Rawa Bunga dalam membangun masyarakatnya terutama generasi barunya.

komunikasi pembangunan

8

mendobrak kebiasaan

DEKATILAH DENGAN JUJUR

komunikasi pembangunan

9

mendobrak kebiasaan

LATAR BELAKANG
Paradigma baru perencanaan pembangunan dari bawah/masyarakat (bottom up) yang sesuai dengan subtansi otonomi daerah membutuhkan pembelajaran (exercise/learning by doing) bagi semua pihak (stakeholder). Hal ini diperlukan karena secara teknis pelaksanaan dalam membumikan paradigma tersebut belum banyak dikuasai. Partisipasi seluruh stakeholder dalam perencanaan pembangunan akan memberikan pengayaan pemikiran kepada pemerintah tentang kebutuhan, prioritas, dan mekanisme kerja yang sesuai untuk diaplikasikan di lapangan. Sekaligus memberikan keyakinan bahwa masyarakat bisa melakukan perencanaan yang memang sesuai dengan kebutuhannya selama difasilitasi dengan baik dan benar. Atas dasar itu, maka maksud dari perencanaan pembangunan berbasis komunitas ini adalah untuk mensinergikan program kerja Pemda DKI Jakarta dengan kondisi riil masyarakat dan keterlibatan publik yang lebih luas dalam suatu model komunikasi pembangunan yang berbasis pada komunitas (warga). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang mengacu pada proses yang partisipatoris. Dengan pendekatan ini diharapkan informasi dan data yang digali lebih akurat dan sampai pada akar masalah.

TUJUAN

* * * * * *

Mengimplementasikan konsep otonomi daerah sebagai konsep otonomi yang berbasiskan pada komunitas; Mendorong adanya forum terbuka yang menjadi ruang untuk mencari sebabakibat dan solusi optimal bagi permasalahan yang muncul; Melakukan berbagai pendekatan dan metode yang paling baik dalam perencanaan pembangunan; Menjadikan langkah awal dari rencana aksi yang akan dikerjakan secara bersama-sama (kolaboratif); Mendorong munculnya berbagai indikator awal bagi evaluasi pelaksanaan pembangunan yang mengacu pada pendekatan proses.

HASIL YANG DIHARAPKAN

Terbitnya sebuah dokumentasi berupa buku manual proses perencanaan partisipatoris yang dapat direplikasikan secara kontekstual; * Menjadi media belajar bagi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan; * Menjadi salah satu bahan acuan perencanaan pembangunan di wilayah kelurahan. Beberapa definisi yang digunakan dalam tulisan ini antara lain; perencanaan yang dimaksud mengacu pada perencanaan pembangunan yang memiliki siklus tahunan yang dahulu dikenal sebagai sarasehan pembangunan. Komunitas yang dimakud adalah komunitas masyarakat dalam sebuah wilayah yang bernama kelurahan. Pada tahap ini dilakukan penilaian atas wilayah dengan menggunakan metode rapid urban appraisal-RUA. Hasil dari RUA tersebut adalah: * * * * Peta wilayah; Peta permasalahan; Peta para stakeholder dan terbangunnya saling percaya pada warga; Identifikasi pendekatan/metode dialog yang akan digunakan.

METODOLOGI
Tahap persiapan

komunikasi pembangunan

10

mendobrak kebiasaan

Tahap pelaksanaan dialog perencanaan

Sumbang Saran Per RW. Tahap ini merupakan diskusi pertama (briefing workshop) dalam kegiatan komunikasi pembangunan berbasis komunitas. Tujuan utama dari sumbang saran per RW adalah membangun agenda dan mensosialisasikan program. Pada tahap ini digunakan metode diskusi dengan pendekatan participatory urban appraisal – PUA. Pada tahap ini dilanjutkan dengan proses pemetaan masalahdengan menggunakan pendekatan kerangka logis (logical framework analisys/LFA). Kegunaan dari pendekatan ini adalah: * * * * Memperkenalkan maksud dari program/proyek; Mencari isu-isu strategis di tingkat komunitas; Memotivasi warga untuk terlibat dalam proyek/program; Mengidentifikasikan kemampuan/potensi sumber daya lokal.

Tahap sumbang saran tingkat kelurahan. Kegiatan ini merupakan diskusi lanjutan (action planning workshop) yang berujuan membuat rencana kerja dan mengidentifikasikan para stakeholder yang akan terlibat dan mempengaruhi proses aksi/kerja bersama. Pada tahap ini digunakan pendekatan kerangka logis (logical framework analisys/ LFA) dan focus group discussion (FGD). Kegunaan dari pendekatan ini adalah: * * * * * * Melakukan proses konfirmasi-afirmasi isu-isu strategis di tingkat komunitas; Melakukan penelusuran isu yang teridentifikasi secara mendalam (in depth); Mengidentifikasikan kemampuan/potensi sumber daya lokal (tingkat kelurahan); Mengidentifikasikan stakeholder lain (kerjasama antar wilayah RW atau pihak lain yang wewenangnya diatas pejabat RW); Memotivasi warga untuk melakukan proses pencarian solusi atas kemampuannya sendiri; Merumuskan rancana tindak lanjut aksi bersama (sebaiknya sampai ke tahap penganggaran).
Data historis Temuan Lapang Opini Publik

!
DIALOG PUBLIK Undangan Poster

Pembuatan Proposal insiasi

Feed back

Tingkat RT/RW

Display Keputusan

Komentar Opini

Pendekatan logis untuk mencapai tujuan dalam ‘Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas’

1. Identifikasi wilayah 2. Identifikasi stakeholder 3. Identifikasi metode dialog

Evaluasi

Tingkat Kelurahan

Program Kerja Prioritas Kegiatan Siapa Melakukan Apa

komunikasi pembangunan

11

mendobrak kebiasaan

MEREKAM KEJADIAN
SUMBANG SARAN PER RW
Dalam melakukan proses PUA di tingkat RW tentunya diperlukan kehadiran warga RW bersangkutan. Pihak-pihak yang diundang harus mewakili berbagai elemen, biasanya meliputi Ketua RW, Ketua RT, tokoh pemuda, ibu-ibu, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh suku/etnis. Pelaksanaan yang dilakukan paling tidak meliputi beberapa hal seperti : Siapkan daftar undangan sesuai dengan hasil pemetaan stakeholder. Kecenderungan orang akan merasa dihargai jika namanya ada di daftar undangan. Sebaiknya buatlah daftar undangan dengan nama yang lengkap.

Kehadiran

Perkenalan

Perkenalan diri diperlukan untuk memulai membangun keberanian peserta dalam berbicara, namun perlu ditetapkan lamanya perkenalan sehingga tidak membuat bosan dan tentukan butir-butir yang memang peserta lain biasanya kurang paham (misalnya hanya menyebut nama, asal, pekerjaan); * Siapkan kartu besar (untuk name tag) guna memudahkan orang memanggil nama satu sama lain dan memudahkan notulis dalam mencatat orang yang sedang berbicara, serta mempercepat akrab antara peserta dengan fasilitator; Sebaiknya peserta menulis sendiri namanya pada name tag, selain hal ini diperlukan untuk membiasakan peserta menulis dalam kertas karton (metacard) juga untuk menghindari kesalahan penulisan dan mempercepat proses; Jadikan perkenalan sebagai momentum ice breaking (pencairan suasana)

*

*
komunikasi pembangunan

12

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

Setelah proses perkenalan dilakukan, kemudian dilakukan identifikasi/penggalian masalah. Supaya identifikasi masalah ini mendapatkan hasil yang maksimal, maka perlu dilakukan beberapa tahapan, yaitu : Pembagian kartu * * Awalnya tanyakan gambaran tentang kondisi ideal yang diinginkan warga; Jika kondisi ideal tersebut sudah didapatkan, kemudian tanyakan dengan pertanyaan sederhana yang mudah dijawab, misalnya “apa yang menyebabkan kondisi ideal tersebut tidak tercapai”?; Jawaban harus ditulis pada sebuah kartu yang sebelumnya telah dibagikan. Pembagian kartu disesuaikan dengan kegunaan (misalnya; sesi pertama penggalian masalah dengan kartu warna merah, solusi warna biru, dst-nya). Hal ini diperlukan untuk memudahkan dalam pengelompokkan dan perunutan;

*

*

Berikan sebanyak mungkin kesempatan pada peserta untuk menuliskan apa yang dirasakan dan dipikirkannya (berikan sebanyak kartu yang partisipan minta);

Pengisian kartu * * * * Masing-masing peserta mengisi kartu sesuai dengan warnanya (untuk memudahkan pengelompokkan); Pastikan bahwa satu kartu hanya berisi satu isu/masalah; Tulisan sebaiknya hanya mencantumkan kata-kata kunci dalam huruf kapital yang mudah dibaca peserta lainnya. Contoh salah yang sering sulit dalam membuat pengelompokkan hubungan sebab-akibat, jika dalam satu karton tertulis hubungan sebab-akibat, misalnya ‘saat musim hujan selalu terjadi banjir di berbagai tempat karena got-got macet, akibatnya jalanan rusak’. Contoh benar tiap masalah hanya dalam satu karton, misalnya : BANJIR atau GOT MACET atau JALAN RUSAK yang terdapat dalam tiga (3) karton terpisah;

*

Pengelompokkan Pengelompokkan diperlukan untuk menampung semua permasalahan yang ada di warga dengan cara menyatukan seluruh karton yang mempunyai tulisan/arti yang sama. * * * Usahakan agar pengelompokkan dilakukan secara partisipatif (oleh peserta); Jika terdapat tulisan yang kurang dimengerti, langsung ditanyakan kepada warga yang menulisnya sehingga tidak ada kesalahan pengartian; Lakukan pengelompokkan dengan penggunaan istilah yang dimengerti oleh semua warga (Define Your Own Acronyms-DFA).

komunikasi pembangunan

13

Analisa masalah

Setelah dilakukan identifikasi masalah, kemudian dilakukan proses analisa masalah, sehingga akhirnya didapatkan akar masalah. Untuk melakukan analisa masalah diperlukan beberapa tindakan, yaitu :

Logical Framework Approach (LFA)
LFA yaitu sebuah Pendekatan Kerangka Logis yang berupaya untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat, caranya sebagai berikut: * * * * Fasilitator bertugas mempertanyakan hubungan kausalitas yang mereka bangun (sesuai dengan logika umum atau tidak); Lakukan konstruksi kerangka logis dengan ‘jalan’ pikiran partisipan; Lakukan proses konfirmasi/afirmasi kepada peserta lain terhadap ‘logika pikir’ peserta lainnya; Jika sudah selesai menjadi sebuah kerangka pikir logis, kemudian diceritakan kembali cerita sebab-akibat tersebut sampai peserta mengertti dan menyepakatinya.

Pemetaan Dilakukan untuk memberikan gambaran secara utuh tentang penyebaran permasalahan dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Peta lokasi merupakan sarana yang sangat memudahkan peserta dalam melihat penyebaran masalah dan beratnya masalah yang dihadapi. Siapkan peta yang sudah jadi dalam skala yang cukup besar sehingga warga bisa mengenali tanda-tanda khas yang ada di lokasi (misalnya mesjid, sekolah, nama jalan); * Jika tidak tersedia peta, maka warga diharapkan membuat peta sketsa yang berisi tanda-tanda khas yang ada di lokasi; * Pemetaan masalah sepenuhnya dilakukan oleh partisipan; Gunakan simbol dan warna yang berlainan untuk tiap masalah yang berbeda. Misalnya warna merah bentuk kotak untuk narkoba, warna merah bentuk bulat untuk got macet, warna merah bentuk segitiga untuk jalan rusak, warna biru kotak untuk pemukiman kumuh, dst-nya; (jangan lupa warna tersebut digunakan sebagai legenda peta). *

*

Analisis Pelaku

Dalam melakukan perencanaan diperlukan pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya, untuk itu dilakukan analisa pelaku dengan cara : * * * * Tanyakan kepada peserta para pihak yang seharusnya bertanggung jawab pada setiap permasalahan yang muncul, baik pelaku setempat maupun dari luar; Gunakan sesi analisis pelaku untuk menggali/identifikasi potensi lokal sebanyak mungkin; Dorong peserta untuk menyatakan bahwa mereka dapat menyelesaikan persolan mereka dengan kemampuan sumber daya setempat; Tanyakan dan tentukan perwakilan dari tingkat RW yang akan hadir dalam pertemuan tingkat kelurahan.

komunikasi pembangunan

14

PEMBELAJARAN

Sumbang saran per RW merupakan diskusi pertama (briefing workshop) dalam kegiatan komunikasi pembangunan berbasis komunitas. Tujuan utama dari sumbang saran per RW adalah membangun agenda dan mensosialisasikan program. Pada tahap ini digunakan pendekatan kerangka logis (logical framework analisys). Kegunaan dari pendekatan ini adalah: * * * * * Memperkenalkan maksud dari program/proyek; Mencari isu-isu strategis di tingkat komunitas; Memotivasi warga untuk terlibat dalam proyek/program; Mengidentifikasikan kemampuan/potensi sumber daya lokal; Merumuskan rencana tindak lanjut. Pengantar. Kegunaan dari dialog dijelaskan oleh fasilitator. Setiap orang (partisipan) mengenalkan diri mereka sendiri dan menjelaskan keinginan dan kepentingan mereka. (20 menit); Sumbang saran (Individual Brainstorming). Sumbang saran (brainstorming) dilakukan secara individual dengan menggunakan kartu metaplan. Dengan tiga warna berbeda yang akan menggambarkan respon mereka terhadap permasalahan; apa yang salah; apa yang menjadi harapan; apa yang dapat dilakukan. (15 menit). Setiap kartu diharapkan berisi satu tanggapan/isu dengan kalimat pendek (contoh; WC gantung di RT 10 rusak); Kategorisasi. Mengkategorisasikan permasalahan yang muncul dan. (20 menit). Usahakan agar warga yang mendefinisikan kelompok isu tersebut; Pohon masalah. Setiap isu akan dibuatkan skenario sebab akibat, analisis tujuan/harapan dan analisis peran (kerangka logis/LFA). (20 menit); Diskusi. Hasil analisis LFA didiskusikan bersama. Hasil ini diharapkan merupakan sebuah rekomendasi rencana aksi yang harus dilakukan sesuai dengan skala prioritas. Waktu yang dibutuhkan lebih kurang 2 jam. Aturan main ditawarkan kepada peserta sebelum brainstorming dimulai; Setiap orang memiliki posisi yang setara dalam sumbang saran ini; Fasilitator tidak boleh bersikap menggurui, merasa lebih tahu daripada partisipan atau mendominasi forum; Ada petugas penjaga waktu (time keeper) yang ditunjuk dari partisipan supaya tidak ada yang mendominasi pembicaraan di forum; Peserta kadang memiliki kesulitan dalam menuliskan masalah, fasilitator dapat mengatakan,’tulis saja apa yang ada di pikiran seluruh masalah, baik itu masalah besar atau kecil’; Faslitator jika perlu dapat berkeliling sambil menanyakan apakah partisipan ada yang mengalami kesulitan sambil membangun keakraban; Fasilitator harus bisa mengarahkan siapa yang harus berbicara supaya peserta pasif berbicara dan menghentikan dominasi peserta lainnya; Setiap kartu harus terdokumentasi secara baik. Hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung kepada penulis kartu. Pembuka forum (Bapak RW/Tokoh Masyarakat); Penerima tamu; Fasilitator (co-fasilitator); Perekam proses (tukang foto dan notulis); Penjaga Waktu.

Alur proses

* *

* * *

Aturan main

* * * *

Saran

* * * *

Sumberdaya

* * * * *

komunikasi pembangunan

15

mendobrak kebiasaan

Al at

* * * * * * * *

Kartu metaplan yang digunakan sebagai media untuk melakukan penggalian masalah; Kertas plano yang digunakan sebagai alat bantu tulis; Whiteboard; Spidol permanen dan whiteboard; Blue-Tack/Selotip yang digunakan untuk menempel metacard; Paku payung/pin berwarna, untuk melakukan penandaan peta; Stryofoam, yang digunakan sebagai alas peta; Alat perekam (tape recorder/kamera/handycam); Jumlah peserta yang ideal (24-30 orang); Warga yang diundang merupakan hasil rapid appraisal fasilitator sebelumnya; Tokoh masyarakat; Pejabat setempat (RT/RW, Aparat Kelurahan, Dewan Kelurahan dll); Pihak terkait (LSM pendamping, organisasi lokal, kalangan bisnis).

Peserta

* * * * *

komunikasi pembangunan

16

mendobrak kebiasaan

SUMBANG SARAN SE-KELURAHAN
Kehadiran

Setelah dilakukan pertemuan tingkat RW, selanjutnya, untuk melihat gambaran secara utuh maka dilakukan pertemuan tingkat kelurahan yang dihadiri oleh perwakilan RW yang ditunjuk pada pertemuan di tingkat RW sebelumnya. * * Siapkan daftar undangan sesuai dengan hasil pemetaan stakeholder. Kecenderungan orang akan merasa dihargai jika namanya ada di daftar undangan; Undang juga para pihak dari luar yang telah diidentifikasi saat sumbang saran RW. Mereka perlu diundang karena seharusnya mereka bertanggung jawab dalam setiap permasalahan (Tingkat Nasional, Pemerintahan Kota, Tingkat Kecamatan, Tingakat Kelurahan, dan Pihak swasta).

Paparan Temuan

* *

Gunakan foto atau gambar guna memberikan kesan yang mendalam bagi peserta. Foto dan gambar juga akan membantu paparan sebagai fakta yang dihadirkan untuk pengantar diskusi; Jelaskan secara naratif sambil menggoda peserta untuk mengomentari tampilan titik/isu yang dipresentasikan. Paparan juga dapat digunakan untuk mengklarifikasi hasil-hasil temuan dan menetapkan berbagai isu yang sebenarnya ada dan harus diangkat dalam pertemuan di tingkat kelurahan. Lihat jumlah peserta yang ikut serta dalam tiap kelas, jumlah ideal 15-24 orang/kelas. Diskusi kelas dilakukan sesuai dengan jumlah isu yang dibahas; Sebelum diskusi kelas dimulai perlu dilakukan perkenalan sebelumnya, minta peserta menjelaskan mengapa mereka hadir sekarang dan apa harapan mereka setelah ada proses sumbang saran di tingkat RW; Perkenalan dapat digunakan sebagai proses ‘penyetaraan’ antar peserta, mengingat peserta di forum ini adalah para stakeholder yang mungkin belum saling kenal satu dengan lain, berbeda status sosial, atau peran dan fungsinya. Focus Group Discussion merupakan metodologi diskusi yang mempertemukan beberapa stakeholder yang tentunya memiliki kepentingan berbeda atas sebuah isu/masalah, memberikan pengayaan, dan pendalaman isu dari berbagai perspektif; Jelaskan bahwa FGD merupakan proses pendalaman isu dan pencarian solusi dengan cakupan geografis adalah wilayah kelurahan; Gunakan FGD sebagai media penylesaian konflik kepentingan lintas wilayah.

Diskusi Kelas

* * *

FGD

*

* *

Paparan Interaktif

*

* *
komunikasi pembangunan

Paparan interaktif dilakukan untuk melakukan afirmasi/konfirmasi terhadap hasil penggalian isu di diskusi kelas. Hal ini dilakukan mengingat para peserta yang ada di dalam kelas-kelas mungkin memiliki opini dan fakta lain atas isu yang di diskusikan oleh kelompok lain; Paparan juga diperlukan karena setiap isu mempunyai keterkaitan erat dengan isu lainnya, sehingga seluruh peserta mampu melihat adanya hubungan tersebut dengan jelas; Proses pemaparan sebaiknya dilakukan oleh partisipan.

17

mendobrak kebiasaan

PEMBELAJARAN

Sumbang saran tingkat kelurahan merupakan diskusi lanjutan (action planning workshop) dalam kegiatan komunikasi pembangunan berbasis komunitas. Tujuan utama dari sumbang saran tingkat kelurahan adalah membuat rencana kerja dan mengidentifikasikan para stakeholder yang akan terlibat dan mempengaruhi proses aksi/kerja bersama. Pada tahap ini digunakan pendekatan kerangka logis (logical framework analisys) dan focus group discussion (FGD). Kegunaan dari pendekatan ini adalah: * * * * * * Melakukan proses konfirmasi-afirmasi isu-isu strategis di tingkat komunitas; Isu yang teridentifikasi sebelumnya, dapat ditelusuri secara mendalam (in dep th) ; Mengidentifikasikan kemampuan/potensi sumber daya lokal (tingkat kelurahan); Mengidentifikasikan stakeholder lain (kerjasama antar wilayah RW atau pihak lain yang wewenangnya diatas pejabat RW); Memotivasi warga untuk melakukan proses pencarian solusi atas kemampuannya sendiri; Merumuskan rencana tindak lanjut aksi bersama (sebaiknya sampai ke tahap pengganggaran). Pengantar. Kegunaan dari dialog dijelaskan oleh fasilitator. Dijelaskan pula bahwa dialog ini merupakan kelanjutan dari dialog-dialog sebelumnya ditingkat RW; Display interaktif. Presentasi hasil per RW untuk mengingatkan proses sebelumnya dan peta permasalahan skala kelurahan. Sebaiknya dalam paparan interaktif gunakan pula bahasa gambar (foto/video) untuk meyakinkan partisipan bahwa kejadian/masalah tersebut terjadi kini dan disini. Workshop. Peserta dipisah menjadi beberapa kelompok (sesuai dengan isu yang teridentifikasi sebelumnya. Masing-masing kelompok membahas sebuah topik/isu tertentu.
Pastikan dalam pembagian kelompok partisipan terbagi secara proposional (representasi dari RW dan dari pihak terkait). Karena sudah lintas RW dan stakeholder yang terlibat lebih luas, sebaiknya dilakukan perkenalan. Jika dibutuhkan dapat melakukan teknik metaplan (lihat proses sumbang saran RW)

Alur proses

* *

*

* *

-

Forum terbuka/pleno. Forum dibuka dengan fasilitator membahas hasil yang didapat dari diskusi kelompok (workshop) peserta diharapkan dapat memberikan konfirmasi/afirmasi terhadap hasil diskusi kelompok; Jejaring. Memberikan rekomendasi dan rencana aksi yang perlu dilakukan. Disini dilakukan rencana kerja bersama dan identifikasi stakeholder yang akan terlibat dalam kerja bersama. Sebaiknya pada proses ini dilakukan skala prioritas mengingat anggaran untuk satu kelurahan terbatas.

Aturan main

* * *

Setiap orang ketika diskusi kelompok diharapkan tidak hadir sebagai ‘wakil RW’ tetapi sebagai orang yang peduli terhadap pembahasan isu yang sedang diikutinya; Pihak yang terlibat (diluar komunitas) tidak berlaku sebagai ‘narasumber’ tetapi sebagai ‘partisipan’ yang ‘butuh’ penyelesaian konsensual; Lihat aturan main di tingkat sumbang saran.

komunikasi pembangunan

18

mendobrak kebiasaan

Sumberdaya

* * * * * *

Pembuka forum (Bapak Lurah/Dewan Kelurahan) Penerima tamu Fasilitator inti/pleno (co-fasilitator) Fasiltator kelas Perekam proses pleno dan kelas (tukang foto dan notulis) Penjaga Waktu Sebaiknya memperhatikan kategorisasi isu dalam pembagian kelas (lihat sumber daya yang ada) Kartu metaplan Kertas plano Whiteboard Spidol Blue-Tack/Selotip Paku payung Stryofoam Alat perekam (tape recorder/kamera/handycam) OHP/proyektor atau infocus Tenda/besar aula Sound system Warga hasil kesepakatan pertemuan RW Pejabat setempat (RT/RW, Aparat Kelurahan, Dewan Kelurahan, instansi pemerintah terkait dll). Pihak terkait (LSM pendamping, organisasi lokal, kalangan bisnis/investor) Jumlah peserta harus merepresentasikan stakeholder.

Al at

* * * * * * * * * * * * * *

Peserta

komunikasi pembangunan

19

mendobrak kebiasaan

INILAH HASIL PENDEKATAN

komunikasi pembangunan

20

mendobrak kebiasaan

PERUMUSAN MASALAH
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Keamanan yang tidak kondusif Permasalahan keamanan merupakan permasalahan dominan yang ada di setiap RW. Isu keamanan dijadikan isu pokok yang berakibat pada berbagai bentuk tindak kriminal, seperti menjamurnya perjudian, masalah penanggulangan narkotika dan zat aditif (NAZA), tawuran dan kenakalan remaja, berkembangnya warung remangremang dan prostitusi, dan permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL). Isu keamanan ini tentu tidak serta merta menjadi sebab dari segala bentuk tindak kriminal di atas, namun dari hasil diskusi warga ternyata isu keamanan dimaknai sebagai kurangnya ketegasan dari pihak yang berwenang dalam menegakkan aturan secara konsisten dan adil. Ketidaktegasan, ketidakadilan, dan inkonsistensi dari pihak yang berwenang inilah yang menyebabkan tidak pernah selesainya permasalahan keamanan di atas. Dilihat dari sisi keswadayaan masyarakat, isu keamanan terkait erat dengan fungsi pertahanan sipil (hansip) dan kesejahteraannya. Insentif hansip sangat kecil jika dibandingkan dengan tanggung jawab yang dibebankan masyarakat kepadanya. Jumlah petugas hansip juga kurang dilihat dari luas area RW yang harus diawasi. Sementara sistem keamanan lingkungan (siskamling/ronda) sudah kurang berjalan di masyarakat. 2. Kebersihan lingkungan kurang terpelihara Masalah kebersihan lingkungan ternyata lebih banyak disebabkan oleh ketidaksadaran warga dan ketidakpedulian warga terhadap dampak lingkungan yang tidak bersih. Hasil diskusi juga menunjukan bahwa salah satu yang menyebabkan warga membuang sampah tidak pada tempatnya karena ‘tempat’ sampahnya atau lokasi pembuangan sampahnya tidak ada (sarana kurang). Sedangkan akumulasi sampah dari keseluruhan rumah tangga tidak sebanding dengan jumlah lokasi pembuangannya atau petugas kebersihannya tidak bekerja secara optimal (waktu/jadwal pengambilan sampah dari rumah tangga tidak tertentu). 3. Kemiskinan Masalah kemiskinan juga mengemuka dalam diskusi. Masalah kemiskinan dianggap (persepsi) warga sebagai faktor eksternal (penyebabnya). Hasil diskusi menunjukan bahwa faktor urbanisasi yang tinggi, keterbatasan lahan di perkotaan, krisis ekonomi, dan pembinaan terhadap ekonomi masyarakat kelas bawah sebagai faktor yang mengawetkan kemiskinan. Dilihat dari sisi internal permasalahan pendidikan yang rendah, ketrampilan dalam pengelolaan usaha yang kurang dan terbatasnya modal kerja menjadi faktor yang dominan dalam isu kemiskinan.
komunikasi pembangunan

21

mendobrak kebiasaan

4. Sarana publik kurang

Terbatasnya ruang publik di wilayah Rawa Bunga menyebabkan munculnya kebutuhan untuk mengoptimalkan lahan milik Pemda untuk dijadikan sekretariat RW/Pos Kamling, Taman Bermain Anak, Ruang Terbuka Hijau, Sarana Olah Raga, Lokasi Pembuangan Sampah Sementara, MCK, Ruang Serbaguna (Balai Warga), Posyandu dan PKK serta kebutuhan akan fasilitas umum/sosial lainnya. Sarana publik juga diidentifikasikan warga sebagai perbaikan sarana yang telah ada. Beberapa sarana yang secara swadaya terlalu besar jika dibebankan kepada warga seperti perbaikan gorong-gorong, pengerukan saluran utama, perbaikan jalan, lambat direspon pemerintah. Hal lain yang banyak disinggung berkenaan dengan fasilitas umum adalah adanya kecerobohan dalam penyelesaian proyek yang berkaitan dengan utilitas (PAM, PLN, Telkom). Proyek-proyek tersebut menyebabkan kerusakan pada sarana publik seperti jalan, taman dan trotoar. Diharapkan setiap proyek yang berkaitan dengan sarana umum dikoordiansikan dengan RW sehingga kerja kontraktor proyek dapat diawasi warga.

Lokasi pos RW 03 yang terletak di atas trotoar

5. Kelembagaan kepemudaan tidak berjalan.

Kelembagaan pemuda yang tidak berjalan banyak menyebabkan terjadinya berbagai perilaku negatif generasi muda. ‘Salah gaul’ istilah anak muda terhadap perilaku negatif tersebut terjadi karena kurangnya media/sarana dalam mengekspresikan minat, bakat dan kemampuan remaja/pemuda. Salah satu tawaran warga dalam upaya memerangi NAZA adalah mengaktifkan kembali kegiatan kepemudaan di masing-masing RW. Pada dasarnya potensi internal didalam kelurahan sangat besar, namun proses komunikasi tidak berjalan baik sehingga potensi tersebut masih belum dikenali oleh mereka sendiri. Isu yang menjadi ‘akar masalah’ ini sesungguhnya isu yang tersirat dan secara eksplisit mengemuka di beberapa RW. Selama ini ternyata kelembagaan RT/RW oleh masyarakat banyak lebih dipandang sebagai fungsi administratif belaka. Beberapa sebab yang melatar belakangi kurang berperannya RT/RW tersebut disebabkan oleh pertama, inkosistensi pemerintah dalam pembinaan wilayah (baik RT/RW maupun sampai wilayah kelurahan). Peraturan yang dibuat pemerintah menyebabkan tumpang tindihnya fungsi-fungsi kelembagaan yang ada di masyarakat; kedua, kurangnya pembinaan dari aparat pemerintah kepada ketua RT/RW mengenai tugas dan tanggung jawab yang diembannya; ketiga fungsi RT/RW yang tidak memiliki sistem insentif dan disinsentif yang jelas (apa indikator keberhasilan tugas RT/RW dan bagaimana cara pemerintah mengapresiasikannya). Pengelolaan sumber daya yang ada di RT/RW juga sangat rendah. Kualitas manajemen ini ternyata mempengaruhi kinerja kelembagaan RT/RW. Selama ini pengelolaan RT/RW menjadi macet disebabkan pengelolaanya tidak optimal. Dengan kualitas pengelola yang kurang maka permasalahan yang muncul tidak terselesaikan dengan benar dan cepat.

6. Kelembagaan RW tidak berfungsi optimal.

Tower di RW 03 yang memicu konflik antar warga karena Ketua RW dianggap tidak membawa kepentingan warga.

7. Rendahnya manajemen SDM

komunikasi pembangunan

22

mendobrak kebiasaan

8. PKK kurang berfungsi dan kurang diperhatikan.

Kader PKK sebenarnya berperan dalam pengelolaan RT/RW. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh kader PKK berkenaan dengan upaya peningkatan taraf hidup keluarga. Dalam banyak kegiatan/’proyek’ peran perempuan khususnya penggiat PKK sangat besar dalam membuka pintu masuk ke warga. Beberapa permasalahan yang dialami oleh kegiatan PKK ini antara lain kurangnya penyuluhan tentang manfaat kegiatan PKK kepada warga, disiplin waktu yang kurang dari para penggiat PKK sehingga para ibu sukar untuk meluangkan waktunya untuk kegiatan PKK.

9. Kerjasama dengan pihak luar tidak berjalan.

Yang dimaksud dengan kerjasama dengan pihak luar tidak berjalan adalah kemampuan pengurus RT/RW dalam melakukan hubungan/kerjasama dengan pihak lain diluar institusi kelurahan. Padahal dalam wilayah RW banyak institusi lain (publik dan swasta) yang turut berperan sebagai penyebab (negatif) ataupun pemberi manfaat (positif) bagi lingkungan RT/RW tersebut. Kerjasama dengan pihak luar juga mengisyaratkan proses pengambilan keputusan yang sebenarnya ‘milik’ warga Rawa Bunga tetapi diputuskan oleh ‘pihak lain’ sehingga warga sekadar mengkonsumsi hal-hal yang diberikan orang lain kepada dirinya. Beberapa RW di Rawa Bunga bahkan cenderung mengharapkan ‘bantuan’ dari luar, sehingga ‘kemiskinan’ menjadi ‘betah’, ‘proyekpun’ lancar mengalir.

10. Sosialisasi program kurang efektif.

Sosialisasi program pemerintah kurang efektif ternyata lebih banyak disebabkan oleh kurangnya partisipasi warga dalam perencanaan program tersebut. Kurangnya partisipasi warga tersebut menimbulkannya ketidak sesuaian antara program dengan kebutuhan riil masyarakat yang bermuara pada ketidakpedulian warga terhadap program yang akan dilaksanakan. Hal lain yang menyebabkan tidak efektifnya sosialisasi program adalah kurang dimengertinya bahasa proyek dan petunjuk pelaksanaan program.
KETIDAK MENGERTIAN PARA PIHAK TENTANG PERENCANAAN WILAYAH BERBASIS WARGA

Kerjasama pihak luar tidak berjalan Tidak diperhatikannya PKK Kebersihan lingkungan tidak baik

Sosialisasi program tidak efektif

Kemiskinan Kepemudaan tidak berfungsi Keamanan tidak baik Kelembagaan RW tidak jalan Rendahnya SDM dan Manajemen SDM Tidak adanya Sarana Publik (OR)

Pendekatan kerangka logis yang menunjukkan hubungan sebab-akibat permasalahan di kelurahan Rawa Bunga.

komunikasi pembangunan

23

mendobrak kebiasaan

ANALISIS MASALAH
Kelembagaan RT/RW yang tidak berfungsi

Dari identifikasi masalah, kemudian dilakukan pengelompokkan dalam isu besar dengan pendekatan kerangka logis (LFA), ternyata hasilnya adalah terdapat dua penyebab utama munculnya berbagai masalah diatas yaitu : Masalah kelembagaan RT/RW merupakan isu yang paling banyak muncul dalam diskusi, baik di tingkat RW maupun ditingkat kelurahan. Selain disebabkan oleh ketidakmengertian pengurus mengenai tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya, masalah lainnya adalah kondisi kultural masyarakat perkotaan yang tidak lagi peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Keadaan ini berakibat pada lemahnya peran yang bisa diberikan oleh RT/RW dalam penyelesaian permasalahan yang ada di lingkungannya. Ketidakmengertian pengurus dalam pengelolaan wilayah RT/RW juga menyebabkan terjadinya kecenderungan penyalahgunaan prosedur administratif, terutama yang menyangkut masalah kependudukan. Dampaknya adalah permasalahan kekumuhan, perumahan dan fasilitas permukiman yang layak bagi kaum urban, kebersihan dan kesehatan lingkungan dan berbagai permasalahan perangkap kemiskinan lainnya yang berawal dari masalah kependudukan.

Terjadinya tumpang tindih program dari luar

Permasalahan tumpang tindihnya program pemerintah, minim koordinasi antar lembaga menjadi ‘sebab’ kedua. Permasalahan ini berdampak pada kurang efektifnya program-program yang dijalankan oleh berbagai pihak. Rawa Bunga dikenal juga sebagai ‘daerah proyek’. Banyak Lembaga Swadaya Masyarakat yang memiliki program pemberdayaan masyarakat di kelurahan ini. Namun sedikit sekali catatan tentang adanya hubungan yang sinergis antar program pemberdayaan satu dengan lainnya. Juga proyek-proyek yang diinisiasikan oleh pemerintah tidak luput dari gejala ‘tumpang tindih’, baik program maupun sasarannya. Dampak dari tumpang tindihnya program pemerintah pada komunitas RT/RW (lokal) di kelurahan Rawa Bunga adalah ketergantungan masyarakat pada bantuan dari luar dan lebih lanjut justru menghilangkan keberdayaan masyarakat dalam melakukan perencanaan bagi keberlanjutan hidup mereka kearah yang lebih baik.

AKAR MASALAH

Kata kunci dari berbagai masalah dan ‘sebab utama’ adalah ketidakmengertian para pihak tentang perencanaan wilayah berbasis warga (komunitas). Hal ini terungkap dari kurangnya pemahaman para stakeholder dalam diskusi di wilayah RW ataupun diskusi lanjutan di tingkat kelurahan. Pemahaman tentang proses yang partisipatoris baik pada tataran metodologi, ataupun pada tataran keterampilan praktis (how to) tidak dipahami secara benar dan kontekstual oleh berbagai pihak (pemerintah desa/daerah/RT/RW) maupun oleh para pihak yang merepresentasikan kepentingan masyarakat (LSM/Dewan Kelurahan).

komunikasi pembangunan

24

mendobrak kebiasaan

PENYEBARAN MASALAH

Setelah seluruh kegiatan identifikasi masalah, pemetaan masalah, dan pendekatan kerangka logis (Logical Frame Approach) di tiap RW dilakukan selama sebulan, sejak awal bulan Mei 2002, yang diakhiri dengan pertemuan warga di tingkat kelurahan pada tanggal 25 Mei 2002. Maka didapatkan beberapa hasil perumusan baik hasil di tingkat RW maupun di tingkat kelurahan. Jumlah permasalahan yang ada di kelurahan Rawa Bunga yaitu 31 buah dengan tingkat kemunculan permasalahan di tingkat RW menunjukkan bahwa RW 01 mempunyai tingkat keragaman permasalah RW 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Σ tertinggi yaitu 20 buah masalah, sedangkan yang 1 1 1 1 4 mempunyai tingkat keragaman masalah terendah 1 1 2 1 1 1 1 1 5 adalah RW 09 dengan tingkat keragaman 10 buah 1 1 1 3 masalah.
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 4 5 2 9 6 5 1 1 1 4 9 5 4 1 1 2 7 2 9 9 1 9 9 1 1 2

No

Penyebaran Masalah

1 Apotik hidup 2 Banjir 3 Dana Macet/modal 4 Gizi Balita: 5 Gorong-gorong 6 Gotong Royong: 7 Jalan Rusak 8 Kantor RW 9 Kegiatan Dewan Kelurahan 10 Kenakalan Remaja 11 Kesehatan 12 Lahan bermain 13 Lampu Jalan Umum 14 Lansia 15 MCK 16 Narkoba 17 Pedagang Kakilima 18 Pelayanan Masyarakat 19 Pelayanan Puskesmas 20 Pembangunan Tower 21 Pembinaan Keagamaan 22 Pemukiman kumuh 23 Pendidikan 24 Pengangguran 25 Perjudian 26 Perkuburan/pemakaman 27 Saluran Got 28 Sampah 29 Sumber daya 30 Tembok Perumka mau rubuh 31 WTS Jumlah Masalah Per RW

Masalah yang tersebar merata di seluruh RW adalah lemahnya kegiatan Dewan Kelurahan, maraknya narkoba, tingginya angka pengangguran, perjudian yang meraja lela, saluran got yang mampet, dan tidak terkendalinya masalah sampah. Sementara masalah yang paling sedikit muncul dengan hanya ditunjukkan sekali kemunculan di RW adalah adalah ketiadaan lahan bermain, rusaknya lampu jalan umum, tidak terjaminnya kenyamanan lansia, rendahnya tingkat pelayanan Puskesmas, terjadi konflik pembangunan tower, mahalnya biaya perkuburan/pemakaman, ketiadaan sumber daya (dana) untuk pembiayaan RT/RW, dan ketakutan akan rubuhnya tembok Perumka.

1 1 20 13 13 15 16 13 12 14 10 126
10 9 8 7 6

Tabel Penyebaran masalah per RW

Grafik Penyebaran masalah per RW
LEGENDA : 1. Apotik hidup, 2. Banjir, 3. Dana Macet/modal, 4. Gizi Balita:, 5. Gorong-gorong, 6. Gotong Royong, 7. Jalan Rusak, 8. Kantor RW, 9. Kegiatan Dewan Kelurahan, 10. Kenakalan Remaja, 11. Kesehatan. 12. Lahan bermain, 13. Lampu Jalan Umum, 14. Lansia. 15. MCK, 16. Narkoba, 17. Pedagang Kakilima, 18. Pelayanan Masyarakat, 19. Pelayanan Puskesmas, 20. Pembangunan Tower, 21. Pembinaan Keagamaan, 22. Pemukiman kumuh, 23. Pendidikan, 24. Pengangguran, 25. Perjudian, 26. Perkuburan/pemakaman, 27. Saluran Got, 28. Sampah, 29. Sumber daya, 30. Tembok Perumka mau rubuh, 31. WTS

5 4 3 2 1 0

1

2 2

3 5

4 3

5 2

6 4

7 5

8 2

9 9

10 11 6 5

12 1

13 1

14 1

15 4

16 17 9 5

18 4

19 1

20 1

21 2

22 23 7 2

24 9

25 9

26 1

27 9

28 29 9 1

30 1

31 2

Penyebaran masalah 4

komunikasi pembangunan

25

mendobrak kebiasaan

KETERKAITAN MASALAH

Dari hasil yang didapatkan ternyata ditemukan bahwa setiap isu tidak berdiri sendiri tetapi mempunyai keterkaitan dengan beberapa masalah lainnya, sehingga didapatkan keterkaitan antara 10 isu dengan tiap masalah. 1. 2. 3. 4. Keamanan tidak baik, Kenakalan Remaja, WTS, Pedagang Kakilima, Narkoba, Pemukiman kumuh, Perjudian, Pengangguran. Kebersihan lingkungan tidak baik, Pedagang Kakilima, Pemukiman kumuh, Banjir, Utilitas, Gorong-gorong, Saluran Got, MCK, Sampah, Kesehatan. Sosialisasi program kurang efektif, Narkoba, Pemukiman kumuh, Dana Macet/modal, Gizi Balita, Kegiatan Dewan Kelurahan, Perkuburan/ pemakaman. Kelembagaan RW tidak jalan, WTS, Pedagang Kakilima, Narkoba, Pemukiman kumuh, Banjir, Dana Macet/modal, Utilitas, Saluran Got, Gizi Balita, Gorong-gorong, Jalan Rusak, Kantor RW, Kegiatan Dewan Kelurahan, Lahan bermain, Lansia, Pembangunan Tower, Perkuburan/pemakaman, Gotong Royong:, Sampah, Tembok Perumka mau rubuh, Perjudian, Sumber daya. Kemiskinan, Pedagang Kakilima, Pemukiman kumuh, Dana Macet/modal, Gizi Balita, Lansia, Pembangunan Tower, Pendidikan, Perkuburan/ pemakaman, Perjudian, Pengangguran. Kepemudaan tidak berfungsi, Kenakalan Remaja, Narkoba, Kantor RW, Pengangguran. Kerjasama pihak luar tidak berjalan, WTS, Pedagang Kakilima, Narkoba, Pemukiman kumuh, Banjir, Utilitas, Gizi Balita, Gorong-gorong, Jalan Rusak, Lahan bermain, Lampu Jalan Umum, Pelayanan Masyarakat, Pelayanan Puskesmas, Perkuburan/pemakaman, Pendidikan, Perjudian, Tembok Perumka mau rubuh, Sumber daya. Rendahnya SDM dan Manajemen SDM, Narkoba, Dana Macet/modal, Kantor RW, Pelayanan Masyarakat, Pembinaan Keagamaan, Pendidikan, Pengangguran, Sumber daya. Tidak diperhatikannya PKK, Apotik hidup, Gizi Balita, Lansia. Tidak adanya Sarana Publik, Kenakalan Remaja, Narkoba, Pemukiman kumuh, Banjir, Utilitas, Kantor RW, MCK, Pengangguran, Sampah. Dari tabel di samping menunjukkan bahwa terdapat tiga isu dengan keterkaitan tertinggi artinya isu yang terkait dengan seluruh isu lainnya yaitu (1) tidak berfungsinya kelembagaan RW, (2) kemiskinan, dan (3) tidak berjalannya kerjasama dengan pihak luar. Sedangkan yang paling tidak berkaitan dengan isu lainnya hanya ‘tidak diperhatikannya PKK. Secara umum terlihat bahwa setiap isu sangat berkaitan dengan isu lainnya, artinya untuk menyelesaikan sebuah isu harus juga memperhatikan isu lainnya.
8. Rendahnya SDM dan Manajemen SDM 7. Kerjasama pihak luar tidak berjalan

5. 6. 7.

8. 9. 10 .
Tabel Keterkaitan masalah

3. Sosialisasi program kurang efektif

2. Kebersihan lingkungan tidak baik

6. Kepemudaan tidak berfungsi

4. Kelembagaan RW tidak jalan

10. Tidak adanya Sarana Publik 1 1 1 1 1 1 1 7

9. Tidak diperhatikannya PKK

1. Keamanan tidak baik

KETERKAITAN M ASALAH

1. Keamanan tidak baik 2. Kebersihan lingkungan tidak baik 3. Sosialisasi program kurang efektif 4. Kelembagaan RW tidak jalan 5. Kemiskinan 6. Kepemudaan tidak berfungsi 7. Kerjasama pihak luar tidak berjalan 8. Rendahnya SD M dan M anajemen SDM 9. Tidak diperhatikannya PKK 10. Tidak adanya Sarana Publik Banyaknya keterkaitan

1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 7

1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 9

1 1 1 1 1 1 1 1 1 9

1 1 1 1 1 1 1 7

1 1 1 1 1 1 1 1 1 9

1 1 1 1 1 1 1

1 1 1

7

1 8

3

komunikasi pembangunan

26

Banyaknya keterkaitan 8 7 7 9 9 7 9 8 3 7 74

5. Kemiskinan

mendobrak kebiasaan

KETERLIBATAN PARA PIHAK

Hasil lain yang didapatkan dalam pengamatan ini adalah penentuan pihak-pihak yang terlibat dalam setiap permasalahan. Ternyata setiap permasalahan berkaitan erat dengan pihak yang ‘seharusnya terlibat’, dengan kata lain ‘pihak yang bertanggung jawab’. Dari analisa hasil didapat besarnya keterkaitan dengan pengaruh terhadap munculnya masalah. * Besarnya nilai keterkaitan (1 s/d 5) artinya kurang berpengaruh terhadap terjadi proses perubahan, yaitu pihak LSM Puspa Indah, Bappeko Jaktim, BPM Kodya, Sudin Pariwisata, Indosat (Pendiri Tower), Perumka, PT. PAM, PT. PLN, PT. Telkom , LSM MER-C, Sudin P & P, Sudin Pemakaman, Sudin Pertanian , LPM, UPGK, Jasa Marga (Jalan Tol), PD Pasar Jaya, P2KP, BLH, Sudin Penerangan Jalan Umum, Sudin Tenaga Kerja , Klinik Yayasan RS Karya Bakti, Posyandu, Tokoh Agama, Biro Perekonomian, Sudin Pertamanan., Kecamatan, Dept. Kimpraswil, Sudin Kebersihan, Sudin Kesehatan, Sudin Pemuda dan Olahraga, Puskesmas, Karang Taruna, Orang Tua. Besarnya nilai keterkaitan (6 s/d 9) artinya cukup berpengaruh terhadap terjadi proses perubahan, yaitu pihak Sudin Perumahan, Trantib Tingkat Kota, Hansip, Tokoh Masyarakat, Biro Hukum, Ibu-ibu PKK, Sudin PU, Sudin Sosial, Dewan Kelurahan, Pemilik Tempat, Kepolisian, Sudin Tata Kota, BINMAS. Besarnya nilai keterkaitan (13 s/d 17) artinya berpengaruh terhadap terjadi proses perubahan, yaitu pihak Swasta, Forum RW, Kelurahan Besarnya nilai keterkaitan (22 sd/ 26) artinya sangat berpengaruh terhadap terjadi proses perubahan, yaitu pihak Pengurus RT, Pengurus RW, Warga.

*

* *

Dari data di atas menunjukkan bahwa untuk melakukan perubahan di kelurahan Rawa Bunga sebaiknya dengan melakukan perubahan terhadap pihak-pihak yang mempunyai pengaruh sangat besar, yaitu Pengurus RT, Pengurus RW, Warga. Artinya permasalahan kelurahan sebenarnya hanya bisa diselesaikan oleh pihak lokal. Memang begitulah seharusnya dan warga sudah menyadarinya dengan selalu menempatkan warga dalam 26 masalah sebagai penanggung jawab yang diikuti dengan tanggung jawab dari pengurus RT dan pengurus RW. Tahapan kedua yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan perubahan terhadap kelurahan dan Forum RW, sementara dari sisi eksternal pihak swasta juga harus menjadi perhatian karena lokasi kelurahan Rawa Bunga ini memang menjadi lokasi strategis bagi para pengusaha. Sementara pihak-pihak yang kurang memberikan pengaruh ternyata secara merata pihak eksternal yang kurang berhubungan dengan kepentingan keseharian warga secara umum.

Keterlibatan para pihak dalam pertemuan di Kelurahan yang membahas permasalahan warga

komunikasi pembangunan

27

mendobrak kebiasaan

Dalam menentukan keterkaitan dan keterikatan dengan tingkat pengambil keputusan didapatkan 6 (enam) tingkatan yaitu (1) Nasional, (2) Pemerintah kota, (3) Tingkat kecamatan, (4) Tingkat kelurahan, (5) Pihak Swasta, dan (6) Kelembagaan RW. Setiap tingkatan merupakan hasil pengelompokan berbagai pihak, dengan hasil sebagai berikut : * * Tingkat Nasional, yang meliputi Dep. Kimpraswil, LSM MER-C, LSM Puspa Indah. Tingkat Pemerintah kota, yang meliputi Bappeko Jaktim, Biro Hukum, Biro Perekonomian, BLH, BPM Kodya, Sudin Kebersihan, Sudin Kesehatan, Sudin P & P, Sudin Pariwisata, Sudin Pemakaman, Sudin Pemuda dan Olahraga, Sudin Penerangan Jalan Umum, Sudin Pertamanan, Sudin Pertanian, Sudin Perumahan, Sudin PU, Sudin Sosial, Sudin Tata Kota, Sudin Tenaga Kerja, Trantib Tingkat Kota. Tingkat Kecamatan, hanya Kecamatan. Tingkat Kelurahan, yang meliputi BINMAS, Dewan Kelurahan, Kelurahan, LPM, Puskesmas, UPGK. Pihak Swasta, yang meliputi Indosat (Pendiri Tower), Jasa Marga (Jalan Tol), Klinik Yayasan RS Karya Bakti, PD Pasar Jaya, Pemilik Tempat, Perumka, Posyandu, PT. PAM, PT. PLN, PT. Telkom, Swasta. Kelembagaan RW, yang meliputi Forum RW, Hansip, Ibu-ibu PKK, Karang Taruna, Kepolisian, Orang Tua, PKP, Pengurus RT, Pengurus RW, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Warga.

* * * *

Dari grafik di bawah didapatkan bahwa pihak yang paling harus bertanggung jawab ada pada tingkatan Kelembagaan RW dengan jumlah kemunculan sejumlah 125, artinya bahwa untuk melakukan perubahan, kelembagaan RW paling strategis. Posisi kedua diikuti oleh pihak Pemerintah Kota dengan jumlah kemunculan sejumlah 85, hal ini menunjukkan bahwa permasalahan bisa diselesaikan jika pemerintahan kota mau melayani permasalahan warga. Pendekatan yang paling tidak strategis saat ini jika dilakukan pendekatan melalui Tingkat Kecamatan, pengaruh dari Kecamatan sangat kecil sekali, yaitu 4 bahkan lebih kecil dari tingkat Nasional yaitu 8. Angka ini menunjukkan bahwa pada era otonomi daerah pengaruh Nasional dan Kecamatan hampir dikatakan tidak ada.
140 120 100 80 60 40 20 0 Nasional Pemerintah kota 85

Grafik Tingkat keterlibatan
para pihak dengan tiap permasalahan
komunikasi pembangunan

Tingkat kecamatan 4

Tingkat kelurahan 43

Swasta 36

Kelembagaan RW 125

Jenjang 'Para pihak'

8

28

mendobrak kebiasaan

PERUMUSAN TUJUAN
MISI
Mendorong pengertian para pihak tentang perencanaan wilayah berbasis warga (komunitas). 1. 2. Memfungsikan kelembagaan RT/RW berbasis kebutuhan warga (komunitas). Menghentikan terjadinya tumpang tindih program dari luar dengan mendorong koordinasi melalui perencanaan berbasis warga Menguatkan PKK terutama di tingkat RT/RW; Menguatkan kelembagaan kepemudaan di tingkat RT/RW; Menguatkan keamanan antar wilayah RT/RW; Mengadakan sarana publik di wilayah kelurahan; Meningkatkan kebersihan lingkungan antar wilayah RT/RW; Meningkatkan kerjasama dengan pihak luar-terutama yang berdampak langsung pada kehidupan lingkungan bertetangga; Memperkuat manajemen SDM dalam perencanaan dan pelayanan umum di tingkat RT/RW; Mendorong pemberdayaan masyarakat miskin melalui berbagai kegiatan yang sinergis satu dengan lainnya.

TUJUAN

SASARAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

PARA PIHAK MENGERTI TENTANG PERENCANAAN WILAYAH BERBASIS WARGA

PKK mendapatkan perhatian

Lakukan kerjasama dengan pihak luar

Meningkatnya efektifitas sosialisasi program

Perbaikan Kebersihan Lingkungan Kelembagaan RW Berjalan Tersedia Sarana Publik (OR) Berkurangnya Kemiskinan Kuatnya SDM dan Manajemen SDM

Kepemudaan Berfungsi Keamanan Terjamin
Pendekatan kerangka logis yang menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam perumusan tujuan di kelurahan Rawa Bunga.

komunikasi pembangunan

29

mendobrak kebiasaan

PERUMUSAN TINDAKAN
Untuk mencapai misi yang diemban, maka diperlukan tindakan-tindakan strategis untuk setiap tujuan. Tujuan 1. Memfungsikan Kelembagaan RT/RW berbasis kebutuhan warga 1. Memberikan pemahaman tentang proses perencanaan yang partisipatorisdengan mendorong mereka untuk mengenali diri mereka sendiri (bisa dilakukan dengan pendekatan Rapid Urban Appraisal-RUA). Dari kegiatan ini maka hasil yang dicapai adalah ‘sejarah’ kelurahan Rawa Bunga berdasarkan pengalaman warga dan ‘persepsi’ mereka tentang berbagai kejadian, permasalahan dan tindakan atas penyelesaian yang mereka berikan atau terima selama ini. Sejarah Rawa Bunga juga berisikan peta wilayah dan peta masalah serta peta para pelaku yang berpengaruh pada kehidupan mereka selama ini. Mendorong para stakeholder untuk melakukan perencanaan partisipatoris (bisa dilakukan dengan pendekatan Participatory Urban Appraisal-PUA). Perencanaan ini dilakukan mulai dari tingkat RT/RW sampai pada tingkat kelurahan untuk isu-isu yang berpengaruh antar wilayah RW. Dengan pendekatan ini diharapkan perencanaan yang dilakukan sejak dini sudah mengantisipasi benturan konflik kepentingan antar berbagai pihak dan membuat konsensus untuk aturan main dan aksi bersama. Membuat sistem insentif dan disinsentif yang wajar dan memiliki rasa keadilan terhadap berbagai pihak yang bertanggung jawab untuk penyelesaian masalah, baik untuk para pengurus RT/RW, pengurus Dewan Kelurahan, warga, petugas yang dipilih dan dibebankan tugas tertentu (petugas keamanan atau kebersihan atau pihak swasta yang ditunjuk untuk melakukan fungsi pelayanan umum) dan berbagai pihak lain yang ikut berpengaruh pada kualitas kehidupan masyarakat setempat. Mendorong pemerintah untuk konsisten dalam melakukan perencanaan (termasuk aturan main/pengelolaan kegiatan) dan penegakan hukum. Hal ini dimulai dengan perlibatan masyarakat dari awal sampai pada monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan/proyek. Melakukan koordinasi antar lembaga di wilayah kelurahan Rawa Bunga dalam rangka pembelajaran lembaga dan mensinergikan kegiatan yang dilakukan para pihak. Mendorong pemerintah daerah untuk mengintensifkan komunikasi dengan pihak yang merepresentasikan kepentingan masyarakat (contoh: Dewan Kelurahan). Mendorong pemerintah untuk mengadakan pembinaan/pelatihan mengenai perencanaan wilayah berbasis komunitas (warga) kepada pengurus RT/ RW. Mempromosikan Dewan Kelurahan sebagai representasi warga dalam mengawasi implementasi perencanaan di tingkat kelurahan.

2.

3.

4.

5. 6. 7. 8.

komunikasi pembangunan

30

mendobrak kebiasaan

Tujuan 2. Menghentikan terjadinya tumpang tindih program dari luar

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Melakukan perencanaan dengan meningkatkan kualitas data dan informasi mengenai berbagai masalah yang ada di kelurahan Rawa Bunga. Mengefektifkan peran berbagai lembaga yang ada di kelurahan Rawa Bunga. Melihat kembali dan melakukan perbaikan terhadap semua produk yang berhubungan dengan kelembagaan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan proses perencanaan pembangunan. Membuat petunjuk pelaksanaan yang dapat dipahami oleh pelaku di tingkat RT/RW. Memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Melakukan reorientasi konsep pemberdayaan masyarakat kepada para pelaku/institusi lokal (aparat kelurahan/pemda, LSM, Dewan Kelurahan, dan lain-lain).

komunikasi pembangunan

31

mendobrak kebiasaan

ANALISIS PARA PIHAK
TINGKAT NASIONAL
1. Depar temen Per mukiman dan Prasarana Wilayah. Banyaknya permasalahan tata ruang, prasarana publik dan kampong kumuh menjadi sebab mengapa departemen ini kerap kali muncul dan menjadi harapan warga untuk ‘segera’ bertanggung jawab mengatur wilayah mereka, memberikan fasilitas yang mendukung kesejahteraan hidup mereka. LSM MER-C dan LSM Puspa Indah adalah contoh lembaga swadaya masyarakat yang mencoba membantu masyarakat memberdayakan diri mereka sendiri. Ada beberapa program yang diinisasi pemerintah melalui LSM lain, seperti pada proyek P2KP yang memiliki skala nasional yang difasilitasi oleh LSM Bina Karya Mandiri. Atau Yayasan Paramu yang memberikan beras murah. Pada dasarnya fungsi LSM adalah mengorganisasikan masyarakat untuk ‘kenal’ diri mereka sendiri dan mencari peluang untuk keluar dari ‘kondisi miskin’ berdasarkan sumber daya lokal yang mereka miliki. Sejauh ini peranan LSM masih memiliki nilai positif. Pandangan negatif dari masyarakat mengenai LSM adalah tentang hal-hal yang seharusnya bisa dikordinasikan dengan program lain, lembaga lain-kurang diminati oleh LSM. Mereka tampaknya ingin bersaing untuk ‘mengerjakan’ programnya sendiri. Perguruan Tinggi di Jakarta seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Indonesia (UI) juga sering memberikan fasilitasi. UNJ sering mengadakan kegaiatan yang berkaitan dengan pendidikan anak tidak mampu, sedangkan UI lebih banyak memberikan fasilitasi di Bidang Kesehatan. Pemerintah daerah kotamadya; masyarakat tetap beranggapan bahwa peran paling besar dalam implementasi perencanaan pembangunan tetap di tangan pemerintah. Peran pemerintah diposisikan sebagai lembaga yang paling mampu memberikan yang terbaik, sangat dikritisi oleh warga. Dalam perencanaan program diharapkan dinas ataupun badan yang ada di tingkat kodya memperhatikan aspirasi warga. Karena program yang sering tumpang tindih ataupun tidak sesuai dengan kondisi di lapangan sering diatasnamakan ‘program dinas’, sedangkan pihak kecamatan (suku dinas) cuma melaksanakan saja. Intitusi pemerintah lain/alat kelengkapan negara, unit teknis/suku dinas memainkan peranan besar dalam implementasi perencanaan pembangunan berbasis warga. Peranan mereka diperlukan terutama untuk pengerjaan/penyelesaian masalah lintas kelurahan atau berbiaya besar. Masyarakat meminta agar unit teknis/sudin dapat berkoordinasi dalam pengerjaan proyek sehingga tidak tumpang tindih dalam menentukan sasaran proyek (contoh: antara kantor koperasi dan PKM dengan sudin peternakan memberikan bantuan yang sama pada kelompok sasaran yang sama). Atau saling menghilangkan aturan (contoh: diperbolehkan berdagang di ruang terbuka hijau oleh aparat kecamatan, namun beberapa bulan kemudian terjadi penggusuran oleh Tramtib Kotamadya). Lembaga lain yang paling banyak mendapat gugatan masyarakat adalah kepolisian. Aparat kepolisian dianggap tidak dapat menegakkan hukum dengan tegas. Padahal peran kepolisian terutama yang menyangkut masalah keamanan lingkungan sangat signifikan bagi perencanaan wilayah (menjamin ketertiban, keamanan, kenyamanan wilayah, dan kepastian hukum).

2.

3.

TINGKAT PEMERINTAHAN WALIKOTA

1.

2.

komunikasi pembangunan

32

mendobrak kebiasaan

TINGKAT KECAMATAN

Pada tingkat kecamatan tidak banyak solusi permasalahan dialamatkan. Ini mungkin disebabkan oleh 1. Kecamatan tidak langsung memberikan pelayanan langsung ke masyarakat, kecuali untuk permasalahan tertentu (misalnya pertanahan, kegiatan Suku Dinas); 2. Masyarakat umum tidak mengetahui secara pasti, apa saja fungsi dan tugas kecamatan. Kinerja aparat kelurahan dalam memberikan pelayanan yang cepat dan benar kepada seluruh lapisan masyarakat menjadi agenda utama untuk perbaikan peran pemerintah kelurahan. Tanggapan warga atas pelayanan yang ada di tingkat kelurahan masih banyak yang negatif seperti lambatnya BINMAS, kurang tersosialisasikannya UPGD, dan Puskesmas yang sering buka ‘siang’. Dewan Kelurahan selama ini diharapkan sebagai langkah awal dalam mengubah paradigma pembangunan. Namun sejauh ini opini yang berkembang menyiratkan bahwa Dewan Kelurahan masih dipandang sebagai ‘percobaan’ pemerintah untuk mengubah citranya dalam melaksanakan pembangunan secara bottom up. Masyarakat mengharap banyak kepada Dewan Kelurahan untuk menjadi mitra yang kritis dan cerdas sehingga mampu menyelesaikan permasalahan dan menjadi pengawas terhadap implementasi perencanaan pembangunan yang direncanakan mereka. Dari hasil diskusi terlihat jelas banyak tanggung jawab yang diamanatkan masyarakat kepada Dewan Kelurahan.

TINGKAT KELURAHAN

Dewan Kelurahan

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)

Lembaga yang dulu bernama LKMD ini masih menjadi sorotan masyarakat. Masih banyak ‘hutang’ kegiatan yang belum dilaksanakan oleh LPM. Kondisi LPM sepertinya mati segan hidup tak mau, padahal banyak yang bisa dikerjakan oleh LPM jika saja lembaga ini dapat memberikan kembali kepercayaan kepada masyarakat. Termasuk didalamnya lembaga swadaya masyarakat juga memainkan peranan yang penting dalam perencanaan wilayah berbasis komunitas. Sinergi antara pihak eksternal dengan komunitas merupakan hal yang penting bagi keberlanjutan program pemberdayaan yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat. Institusi swasta lain seperti perusahaan/lembaga bisnis juga berperan terhadap perencanaan wilayah berbasis komunitas. Terutama bagi perusahaan yang memberikan dampak ekternalitas negatif bagi komunitas dan lingkungan sekitar (contoh; kasus kontainer sampah di RW 02, kasus pendirian relay tower Pro XL yang berlarut-larut di RW 03, kandang burung merpati aduan di RW 08 atau kasus penggalian utilita yang selalu menimbulkan ketidaknyamanan di warga).

Lembaga/institusi swasta

komunikasi pembangunan

33

mendobrak kebiasaan

TINGKAT RT/RW
Pengurus RT/RW Pengurus RT/RW merupakan pintu masuk pertama dalam perencanaan pembangunan berbasis komunitas. Walau secara hirarki RT/RW merupakan tingkat terbawah dalam pengelolaan wilayah, namun wilayah RT/RW sesungguhnya merupakan awal dari keseluruhan proses perencanaan pembangunan di kelurahan. Pengaruh kelembagaan RT/RW menentukan bagi suksesnya perencanaan dan implementasi pembangunan secara keseluruhan. Dalam diskusi hal yang menarik adalah sulitnya mencari pengurus RT/RW karena kurangnya apresiasi warga terhadap lembaga ini. Hal ini disebabkan oleh persepsi warga mengenai RT/RW sebagai penyalur aspirasi pemerintah daerah dibandingkan penyalur aspirasi warga. Perencanaan yang diawali dengan pertemuan di tingkat RT/RW akan mengubah persepsi yang demikian. Sulitnya mencari pengurus RT/RW juga disebabkan tidak adanya insentif materi terhadap pengurus RT/RW untuk operasional kelembagaan RT/RW. Pengurus RT/ RW bahkan harus membiayai pelayanan umum terhadap warganya. Walaupun di beberapa tempat di wilayah RW kelurahan Rawa Bunga, warganya dapat mencukupi kebutuhan operasional RT/RW. Solusi lain adalah RT/RW juga mendapatkan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan administrasinya. Hal menarik yang juga terungkap dalam diskusi adalah isu transparansi yang harus sampai pada tingkat RT/RW. Segala pendapatan dan pengeluaran serta cara-cara yang dipakai dalam menggalang dana masyarakat juga menjadi perhatian warga. Disini jelas peran RT/RW menjadi ujung tombak pembangunan berbasis warga, kepercayaan masyarakat dibangun dari RT/RW. Warga Peran warga dalam perencanaan berbasis komunitas merupakan faktor yang menentukan dalam keberhasilan pembangunan. Beberapa sikap yang diekspresikan warga terhadap berbagai perencanaan pembangunan, seperti sikap apatis, pesimis atau optimis harus dimaknai sebagai kesadaran warga atas kekuatan/kekuasaan yang melingkupinya. Sikap apatis atau pesimis sebagian warga atas kegiatan perencanaan pembangunan merupakan akumulasi dari pengalaman atas pelaksanaan pembangunan selama ini. Menumbuhkan kesadaran baru pada dasarnya adalah menumbuhkan kepercayaan baru warga terhadap pemerintah daerah/desa. Dalam hal ini peran warga pada akhirnya menjadi sentral untuk keseluruhan model pembangunan yang partisipatif. Dalam diskusi yang terjadi, masyarakat juga melakukan intropeksi ke dalam, mengingat begitu banyak permasalahan yang disebabkan oleh sikap masa bodoh, mau enak sendiri dan kurang memperhatikan lingkungan bertetangga sehingga masalah menjadi semakin dalam dan berlarut. Memberlakukan aturan main di antara warga menjadi solusi atas berbagai persoalan di tingkat RT/RW (contoh; sistem insentif dan disinsentif untuk permasalahan kebersihan lingkungan dan pengelolaan/pembuangan sampah). Dengan aturan main dan perencanaan yang mereka buat sendiri diharapkan warga ‘disadarkan’ oleh lingkungannya sendiri.
komunikasi pembangunan

34

mendobrak kebiasaan

BELAJARLAH AGAR TIDAK GAGAL LAGI

komunikasi pembangunan

35

mendobrak kebiasaan

Pekerjaan yang memakan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran ini telah menghasilkan banyak sekali pelajaran yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk menghindari kegagalan pembangunan. Paradigma partisipasi dalam kontek pembangunan berbasis warga tidak hanya bisa diucapkan tanpa pernah turun ke lapangan. Lapangan akan memberikan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, sehingga menjadi benar dengan pendapat bahwa ‘pelajaran yang paling baik adalah langsung turun ke lapangan, dibandingkan hanya membaca buku atau mendengarkan dari pihak yang telah melakukannya’.

PEMBELAJARAN
Proses Pada kegiatan ini ada beberapa rencana kerja yang terpotong atau tidak optimal dalam pelaksanaannya. Pada tahapan penilaian wilayah, rapid urban appraisal tidak dilakukan secara benar, sehingga data dan informasi yang terkumpul tidak mencukupi untuk dijadikan referensi bagi fasilitator, serta tidak terbangunnya kekerabatan antara fasilitator dengan warga. Hal ini disebabkan karena rentang waktu dan sumber daya yang kurang tersedia. Pada proses participatory urban appraisal para fasilitator tidak mempunyai skema yang sama dalam melakukan proses dan hasil yang seharusnya muncul, sehingga hasilnya beragam akhirnya sulit sekali dilakukan pengambilan kesimpulan. Bahkan LFA tidak dilakukan di seluruh RW, sehingga di kemudian hari dilakukan pendugaan hubungan sebab-akibat dengan beberapa orang dari RW. Pada tahap display interaktif/wawancara acak yang dimaksudkan untuk menjaring usulan ataupun bantahan terhadap isu yang muncul di tingkat RW atau prioritas yang diinginkan warga juga tidak dilakukan. Dampaknya adalah kurangnya pembobotan terhadap masalah dan solusi alternatif terhadap isu-isu yang ada. Partisipan/Undangan Tingkat RW. Sebagian besar undangan yang pendistribusiannya diserahkan kepada pengurus RT/RW ternyata tidak mewakili kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Bahkan di beberapa RW undangan dianggap tidak prioritas sehingga yang hadir sedikit, selain itu dalam undangan tidak dijelaskan maksud dan tujuannya sehingga para peserta datang dengan ketidak tahuan. Tingkat Kelurahan. Banyak undangan yang diharapkan hadir, terutama wakil dari pemerintah tidak datang sehingga warga tidak dapat melakukan klarifikasi atas permasalahan yang mereka hadapi. Para undangan terutama dari warga masih kurang representatif untuk mewakili berbagai kelompok yang ada di masyarakat. Hal ini terjadi karena terlambatnya undangan formal dan bertabrakan dengan acara warga yaitu Maulid Nabi. Artinya bahwa para perencana harus menyesuaikan kegiatannya dengan kepentingan warga dan menganggap warga adalah prioritas. Hasil Sebenarnya hasil kegiatan ini bisa dirumuskan menjadi sebuah cetak biru perencanaan kelurahan. Hasil diskusi bisa dioptimalkan sampai pada tahap skedul kerja (pembagian waktu dan tanggung jawab) bahkan sampai kepada proyeksi anggaran. Namun untuk mencegah ‘kebingungan’ warga, maka hasil tersebut cuma sampai pada pemetaan masalah dan siapa yang paling bertanggung jawab menyelesaikannya, tidak sampai kepada action planning.

komunikasi pembangunan

36

mendobrak kebiasaan

TERJADI SAAT INI

Era otonomi daerah yang ditandai dengan gencarnya motto ‘perlunya perencanaan pembangunan berbasis warga’ telah merubah pendekatan pemerintah secara drastis dari pola semua ditentukan pusat menjadi semua ditentukan bawah. Sayangnya dalam proses membumikan motto tersebut terjadi kebuntuan teknis pihak pelaksana, sehingga tetap saja motto hanya tinggal motto. Alur proses saat ini yang dilakukan dalam perencanaan pembangunan ternyata cuma menyisakan dokumen perencanaan. Deskripsi karikaturis Panji Koming di depan secara ‘jujur’ menyatakan bagaimana masyarakat mempersepsi sebuah perencanaan pembangunan. Sebuah forum perencanaan untuk merencanakan forum perencanaan berikutnya. Partisipasi masyarakat dalam desain pembangunan selama ini cuma direpresentasikan oleh ‘daftar isian kebutuhan warga’. Daftar tersebut disebarkan ke kelurahan untuk diedarkan di masyarakat melalui lembaga RT/RW. Sebuah daftar panjang yang memuat usulan (lebih tepat keluhan) warga. Sedangkan pemberdayaan dianggap telah berjalan ketika ‘daftar usulan tersebut’ menjelma menjadi ‘proyek’. Desain perencanaan saat ini memiliki sedikitnya dua kelemahan. Pertama, terjadi lagi ‘pengatasnamaan’ kebutuhan warga. Kedua, proses tersebut meniadakan kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi ‘masyarakat belajar (learning society)’. Sebuah masyarakat mampu mengorganisir dirinya, terus belajar untuk mengenali dirinya dan belajar dari kesalahan masa lalu. Artinya proses seperti ini justru ‘menyesatkan’ arah yang sudah diberikan oleh Pemda sendiri. Jika arah sudah tidak dapat dilihat, jejak sudah sulit ditelusuri, bagaimana tujuan bisa dicapai?.

- Aparat Kelurahan - Para Ketua RW - Dewan Kelurahan - Tokoh Masyarakat

- Unit Kecamatan - Unit Kelurahan

Forum Kelurahan

Konsolidasi Kecamatan

Pra Isu Makro

Isu Makro

Forum Kotamadya

Forum Propinsi

Form Isian Aspiratif Isu Mikro

Rapat Teknis Unit - Unit Kecamatan - Unit Kotamadya

Rakor Lintas Seksi dan Sektor

Skema Proses Penyusunan APBD di Tingkat Kelurahan. (Bappeda. 2002)

- Block Grant (PPMK + Sektor) - Swadaya Masyarakat

komunikasi pembangunan

37

mendobrak kebiasaan

REKOMENDASI PERUBAHAN

Gambaran kekumuhan Rawa Bunga bukanlah sesuatu yang khas dalam pembangunan kota besar khususnya di Indonesia (dan Dunia Ketiga pada umumnya). Permasalahan yang ada seperti permasalahan perjudian, pelacuran, perkelahian, narkotika, permukiman kumuh merupakan ciri ‘masyarakat miskin kota’. Oscar Lewis menyebutnya ‘budaya kemiskinan’. Mereka tidak bisa keluar dari lingkungan seperti itu karena seperti itulah budaya mereka, mereka baru dapat keluar dari ‘budaya’ tersebut jika ada ‘kesadaran kritis’ dari dalam diri mereka sendiri. Namun seringkali ‘kesadaran kritis’ tersebut tidak muncul/dimandulkan oleh ‘struktur kekuasaan’ yang diejawantahkan melalui perencanaan pembangunan yang top down dan tersentralisasi. Kesadaran kritis tersebut oleh struktur kekuasaan dimentahkan dengan dominasi (represi atas dasar kekerasan/paksaan/kekuatan), atau dengan hegemoni (penaklukan dengan legitimasi moral atau ideologi melalui tokoh masyarakat/tokoh agama). Kasus hilangnya kepercayaan warga atas sebagian besar lembaga ‘bikinan pemerintah’ yang berada di tingkat akar rumput dengan banyak ‘tokoh’ didalamnya merupakan kasus tindakan hegemonik negara. Dari 10 isu yang dominan di kelurahan ini, terlihat bahwa isu strategis makro hanya tiga (sosialisasi program pemerintah, penyediaan sarana publik dan kerjasama dengan pihak luar). Sedangkan isu mikro ada tujuh (keamanan, kebersihan, kelembagaan RW, kemiskinan, kepemudaan, rendahnya SDM dan manajemen SDM dan PKK). Dan ternyata jalinan paling kuat antar isu adalah [1] tidak berjalannya kelembagaan RW, [2] kemiskinan, [3] serta kerjasama dengan pihak luar. Tidak berjalannya kelembagaan RW (organisasi) dan kemiskinan (kondisi) serta kerjasama dengan pihak luar (pengambilan keputusan) menunjukkan bahwa persoalan ‘kemiskinan’ sesungguhnya harus diselesaikan ‘sendiri’, namun demikian ‘kemiskinan’ sangat dipengaruhi ‘pengambilan keputusan/struktur politik’ makro. Jadi aksesibilitas pada pengambilan keputusan baik skala lokal (mikro) maupun skala makro (diluar kelurahan) akan menentukan ‘perubahan’ kondisi kemiskinan. Lemahnya organisasi di tingkat RT/RW mengindikasikan bahwa warga belum sepenuhnya sadar bahwa organisasi yang kuat, mengakar, dan mandiri merupakan modal kuat untuk merubah kondisi mereka. Modal sosial tersebut sesungguhnya ada dan sebagian dipraktekkan di beberapa RW (paguyuban sedaerah atau beberapa kelompok arisan untuk membantu ekonomi keluarga). Namun jika dilihat dari jejaring antar lembaga dan aksi kolektif yang skalanya lebih luas (diluar kelompok) maka modal sosial tersebut masih belum digali oleh warga. Sebagai antitesis dari organisasi bentukan pemerintah yang top down dan instant maka ‘kelembagaan RT/RW’ atau lembaga lain di tingkat kelurahan harus mengalami perubahan budaya insitusi. Antara lain mempergunakan proses pengambilan keputusan yang partisipatif, mengedepankan tranparansi dan akuntabilitas serta pembagian peran/kerja yang jelas. Proses pembelajaran selanjutnya adalah melatih keterampilan para fasilitator lokal untuk dapat melakukan model perencanaan berbasis komunitas ini sendiri. Investasi

komunikasi pembangunan

38

mendobrak kebiasaan

sumber daya manusia ini tentu akan mengefisienkan pengeluaran pemerintah. Di tahun pertama pemetaan wilayah akan mencakup sejarah RW secara detil, memberikan wawasan perancanaan jangka panjang dan penentuan skala prioritas, serta memberikan landasan dalam pembuatan mekanisme pengambilan keputusan di tingkat lokal secara partisipatif. Semua ini pada dasarnya adalah mengefisienkan pengeluaran pemerintah terutama untuk biaya sosial dan penegakan hukum. Kontek Regional (Kotamadya/Propinsi) Perencanaan Kota Proses perencanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah di Propinsi DKI Jakarta pada dasarnya telah memberikan ruang yang cukup luas bagi perencanaan berbasis komunitas. Pemda DKI telah memiliki model perencanaan yang membagi isu makro dan mikro. Dimana isu makro merupakan isu yang melewati batas-batas teritorial kelurahan, lintas sektor, dan membutuhkan pendanaan proyek skala besar. Sedangkan isu mikro merupakan isu yang bersifat lokal, dapat diselesaikan dengan dana swadaya masyarakat, dan tidak membutuhkan ‘tangan luar’ untuk penyelesaian masalah. Permasalahan yang terjadi selama ini adalah cara Pemda dalam melakukan perencanaan. Namun masalah ‘cara’ yang tampaknya persoalan ‘remeh’ ini berhulu pada paradigma atau konsep berpikir, dan muaranya adalah goodwill dari pemerintah untuk secara benar melakukan proses pemberdayaan. Pemahaman-pemahaman tentang konsep otonomi, partisipasi, dan pemberdayaan masih kabur dimaknai oleh Pemda DKI, sehingga pilihan perencanaan yang berorientasi pada proses-pun acapkali menjadi slogan kosong dan dilaksanakan untuk kebutuhan seremonial. Padahal biaya yang dikeluarkanpun sama besar jika proses tersebut dilakukan secara baik dan ‘benar’. Disini masih terlihat orientasi Pemda DKI terhadap perencanaan sebenarnya masih berorientasi pada hasil tanpa menghiraukan aspek kelembagaan yang merupakan bagian terbesar dalam pembangunan yang berorientasi pada proses yang berkelanjutan. Dengan menyatukan konsep perencanaan pembangunan dalam penyusunan APBD dengan konsep perencanaan berbasis warga sebenarnya pemerintah tengah mengadakan upaya pemberdayaan masyarakat secara partisipatoris. Otonomi daerah telah memberikan jaminan dalam perencanaan wilayah berbasis warga. Namun proses pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai pihak merupakan prasyarat agar upaya tersebut tidak lagi terjebak menjadi slogan kosong. Dalam beberapa diskusi dengan warga pengulangan-pengulangan model perencanaan yang bersifat seremonial belaka menjadi kendala pada usaha pemerintah dalam memperbaiki citra dirinya. Masyarakat tidak lagi percaya bahkan apatis pada setiap usaha pemerintah dalam ‘melibatkan masyarakat’ dalam perencanaan pembangunan. Forum warga yang berbasis komunitas akan menjawab kekurangan tersebut, mengingat untuk isu-isu yang ada ditingkat kelurahan (mikro) akan digali dengan pendekatan yang lain (metode PRA dan FGD). Pemetaan masalah dan pembagian kerja akan jelas terlihat. Konsensus terjadi di antara para stakeholder, mengingat mereka sendiri yang mendesain dan merencanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya mereka.
komunikasi pembangunan

39

mendobrak kebiasaan

Sedangkan untuk tingkat makro para pejabat yang akan merumuskan di tingkat kecamatan dan tingkat kotamadyapun akan diundang secara langsung dan merencanakan pembangunan bersama warga. Sehingga pemahaman mereka akan ‘sebuah’ aspirasipun menjadi utuh, tidak multitafsir dan terjadi proses saling belajar dan memahami diantara pemerintah kota dengan warganya.

DAFTAR PUSTAKA
Abeyaskere, Susan, Jakarta: A History, Oxford University Press, 1987 Anonim, Manual P2KP, Bappenas, 2000 Anonim, Manual Pelaksanaan Forum Perencanaan Kelurahan dan Konsolidasi Kecamatan, Bapeda, 2002 Anonim,Jakarta Membangun, Bapeda Propinsi DKI Jakarta, 2002 Hamid, Abdul dan Ahmad, Iman, Perubahan Ekonomi dan Resistensi Budaya, Prisma, LP3ES, 1992 Koendoro, Dwi. Panji Koming I (1979-1984). Elex Media Komputindo. 1979 Sedyawati, Edi et. all, Sejarah kota Jakarta 1950-1980, Depdikbud, 1987 Shahab, Alwi, Batavia: Queen of The East, Penerbit Republika, 2002 Rachmadi, Benny, Lagak Jakarta; Transportasi, Penerbit KPG, 1997

komunikasi pembangunan

40

mendobrak kebiasaan

LAMPIRAN

komunikasi pembangunan

41

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 01

Terletak di ujung utara kelurahan Rawa Bunga, disebelah Utara bertetangga dengan Kelurahan Kayumanis dipisahkan oleh rel kereta api. Sebelah Barat dan Selatan bertetangga dengan kelurahan Balimester dengan batas alam terusan kali Mookevart atau kali Baru. Disebelah Timur bertetangga dengan Stasiun Kereta Api Jatinegara. Letak RW 01 terpisah dari RW-RW lainnya. Disela oleh jalan propinsi, Jalan Bekasi Barat Raya. Dikelilingi oleh pasar regional Jatinegara, Plaza Jatinegara, Pertokoan Lokomotif milik PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) dan Pasar Burung Jatinegara (dikenal dengan Pasar Kemuning). Warga RW 01 sebagian besar pedagang, baik pedagang formal maupun informal (pedagang kaki lima). Sebagian lain adalah karyawan toko dan pegawai PT. KAI (sebagian wilayah RW 01 dikuasai oleh PT. KAI dulu Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA, diwilayah ini terdapat perumahan pegawai PT. KAI). Perpindahan penduduk di wilayah ini (penduduk musiman) termasuk cepat dan cukup membuat sibuk para pengurus RT. Hal ini disebabkan oleh akses lokasi RW 01 yang sangat strategis. Para penduduk musiman ini biasanya tinggal di rumah saudaranya yang telah menetap sebelumnya, kemudian ‘magang’ dan membuka usaha sendiri. Dari hasil pemetaan masalah, di RW ini ada beberapa isu strategis yang muncul. Pertama, masalah keamanan. Masalah keamanan merupakan masalah yang cukup mendominasi. Isu keamanan ini berhubungan dengan ketertiban pedagang terutama para pedagang burung yang ada di jalan Kemuning, masalah pungutan liar (pungli) kepada para pedagang, masalah Narkoba dan perjudian. Disini ada arena sabung ayam yang cukup di kenal di Jakarta. Kedua, masalah kemiskinan. Permasalahan akses kepada sumber daya pembiayaan, akses kepada perumahan yang layak, akses untuk mendapatkan pencaharian hidup yang layak merupakan karakteristik masyarakat migran kota (baca: kaum miskin kota) yang merupakan akar kemiskinan. Ketiga, masalah pelayanan umum/sosial. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan luas lahan yang terbatas serta lokasi yang terpisah dari RW lain maka permasalahan pelayanan umum merupakan masalah yang cukup dominan. Masalah seperti MCK helikopter, fasilitas pertemuan warga yang kurang memadai, sarana olah raga yang kurang layak merupakan sebagian dari permasalahan fasilitas umum/ sosial. Keempat, masalah kelembagaan RW. Masalah pembinaan RW kepada pengurus RT menjadi sebab mengapa banyak pengurus RT tidak memahami fungsinya sebagai wakil rukun tetangga. Masih dalam lingkup RW, ada persoalan kurang aktifnya (responsif) wakil Dewan Kelurahan di RW 01 dalam menjaring aspirasi warga untuk pengambilan keputusan di tingkat kelurahan.

Daerah kumuh bantaran kali dengan menggunakanyan selain untuk bangunan, juga dimanfaatkan untuk melepas hajat melaluli ‘jamban helikopter’. Kali menjadi tempat sampah dan kotoran terpanjang

komunikasi pembangunan

42

mendobrak kebiasaan

Kelima, masalah eksternal. Masalah eksternal yang muncul antara lain program pemerintah yang dirasakan tumpang tindih. Banyak program yang memiliki sasaran yang sama dengan kegiatan yang ‘hampir’ sama. Masalah eksternal lainnya adalah hubungan dengan stakeholder lain, seperti tembok Perumka yang mau rubuh dan membahayakan orang-orang disekitarnya, permasalahan dengan lembaga lain seperti informasi tentang biaya pemakaman dan biaya pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Identifikasi Masalah

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Masalah Kegiatan Dewan Kelurahan Pelayanan Masyarakat Perkuburan/pemakaman Sarana Prasarana Pendidikan TPA Tembok Pembatas rel kereta api Program pemerintah Dana Macet Ketertiban umum Judi dan narkoba

Para Pihak yang Terlibat RW Kelurahan Dinas Pemakaman-Pemerintah kota a. Masalah sampah: PD Pasar Jaya b. Masalah jalan: (Pemerintah kota, Kimpraswil c. Masalah kantor RT (RT, Swadaya) RT/RW PJKA Pemerintah Pemerintah kota madya Intern dan trantib Polisi, trantib, warga

LFA

Perkampungan Kumuh Tidak Layak Huni [1]

IPB Perhatikan Orang Miskin [1]

Penguburan [3] Masalah KTP [2] Biaya KUA [1] Tembok Perumka akan Rubuh [1] Penghijauan [1] Program Kali Bersih [1] Dana Bergulir Macet [8] Kegiatan TPA Al Barokah Macet [1]

Program Pemerintah Tumpang Tindih [1]

Kurang Aktifnya Dekel [5]

Kurang Pembinaan RT/RW [1]

Sarana Olah Raga Kurang Memadai [1]

Pedagang Tidak Tertib [2] Pungli [2] Narkoba [7] Perjudian [2] Masalah Keamanan [3]

Isu Strategis

Keamanan, Kemiskinan, Sarana Publik (OR), Kelembagaan RW (SDM)

komunikasi pembangunan

43

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

44

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 02

RW 02 diapit oleh dua jalan utama. Di Utara Jalan Bekasi Barat tepat di belakang Pasar Rawa Bening (Ramayana Departement Store dan Pasar Batu Mulia Rawa Bening), di Timur dan Selatan disela oleh Jalan Bekasi Barat I. Di sebelah Barat bersisian dengan kali Mookevart). Diseberangnya ada kelurahan Balimester. RW 02 juga merupakan daerah pasar dan sebagian besar penduduknya berasal dari etnis Cina. Daerah ini merupakan bagian dari Pecinaan yang ditata sejak jaman Belanda. Sebagian besar warga disini adalah pedagang. Dan perumahan disini berfungsi juga sebagai gudang. Di daerah ini terkenal sebagai tempat saudagar lapak barang bekas, terutama kertas dan kardus bekas. Juga ‘pasar pagi’ yang menjual aneka barang loak (daerah Jembatan Item). Dalam dua tahun terakhir banyak gubug-gubug liar tempat tinggal pemulung dibangun di sepanjang bantaran Kali Baru. Hal ini menjadi isu dominan dalam diskusi warga. Isu rumah kurang layak milik beberapa warga juga menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian. Permasalahan menonjol lainnya adalah komunikasi didalam Rukun Warga. Warga dirasakan kurang kompak, sulit diminta kesediaannya dalam berpartisipasi membangun lingkungan mereka. Padahal banyak permasalahan yang harus ditanggulangi bersama seperti iuran untuk kesejahteraan petugas Hansip, iuran petugas kebersihan, masalah kerja bakti/gotong royong untuk membersihkan sampah rumah tangga mereka sendiri. Atau patungan untuk memperbaiki jalan yang rusak berat oleh truk milik warga sendiri. Masalah ekternal yang muncul adalah pedagang kaki lima yang mengganggu arus lalu lintas sekitar jalan lingkungan mereka. Juga sampah yang dihasilkannya. Masalah sampah pasar Rawa Bening juga mengganggu warga. Kontainer sampah warga digunakan juga oleh pedagang pasar Rawa Bening untuk membuang sampah pasarnya. Sehingga kontainer tersebut kepenuhan sehingga tumpah ke jalan dan saluran air. Sedangkan pihak RW tidak mendapatkan kompensasi apa-apa atas sampah pasar tersebut. Masalah eksternal lain yang muncul adalah kurangnya perhatian Suku Dinas Pertamanan untuk merawat pohon pelindung. Banyak pohon pelindung yang menghalangi cahaya lampu jalan karena daunnya tidak dipangkas.

Rumah liar di bantaran kali Baru RW 02. Baru dibangun sekitar dua tahun lalu. Dibiarkan saja oleh aparat, tempat akumulasi masalah.

komunikasi pembangunan

45

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No. 1 2

3 4 5

Pertanyaan/Pernyataan Keamanan kurang Kebersihan 1. Kurangnya koordinasi antara pihak Lurah dan RW. 2. Sampah di sembarangan tempat/kuburan (RT07) 3. Got mapet di Jembatan Item. Sarana Publik Jalan Rusak Kemiskinan Rumah tidak layak huni berlantai tanah pada RT di Gang Kohen Kelembagan RW Masyarakat kurang aktif dalam permasalahan RW

Para Pihak yang Terlibat Warga, RT, Polisi, Pemda dan tamtib. Warga, Pemda, PU

Warga, Dinas PU Pemda, Kimpraswil Warga, Dekel

LFA

Jalan Raya Macet [1]

Kaki Lima [8]

Warga Bantaran liar [5]

KOMUNIKASI KELEMBAGAAN RT/RW Kurang [7]
Warganya tidak kompak [6] Keamanan Kurang [2] Gaji hansip kurang [2] Hansip Tidak Ada [1] Banyak tempat judi liar [1] Kurangnya tempat pembuangan [1]

Pohon pelindung tidak dirawat [3]

Kebersihan Kurang [1]

Kebersihan Bak Sampah [1]

Kesejahteraan tukang kurang [6]

Masalah Sampah [11]

Got Mampet [13]

TRUK [1]

Jalan Rusak [5]

Isu Strategis

Kelembagaan RW, Keamanan, Kepemudaan, Kebersihan, Kemiskinan, Kerjasama pihak luar

komunikasi pembangunan

46

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

47

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 03

Letak RW 03 bersebelahan dengan RW 04 arah Selatan. Di Timur dibatasi oleh Jalan Ahmad Yani By Pass dan Taman Viaduk. Di Utara dibatasi oleh Jalan Bekasi Timur Raya dan berseberangan dengan Stasiun Kereta Api Jatinegara. Di arah Barat berbatasan dengan RW 02 yang disela oleh Jalan Bekasi Barat I. Daerah RW 03 merupakan daerah yang dikenal rawan kriminalitas. Isu yang banyak berkembang di RW 03 adalah isu keamanan. Isu keamanan menyangkut permasalahan pengaturan pedagang kaki lima, perjudian, tempat-tempat maksiat (hotel short time tempat transaksi pelacuran), narkoba dan para wanita tuna susila yang nongkrong di daerah depan stasiun dan taman Viaduk. Masalah lain yang mengemuka dan merupakan isu paling hangat saat diskusi terjadi adalah masalah pembangunan menara relay Indosat. Menara yang dibangun tanpa konsensus dan kompensasi yang jelas diantara warga ini, diikuti dengan kekhawatiran akan robohnya menara dan radiasi gelombang elektromagnetik yang berpengaruh pada kesehatan warga dibawahnya. Terletak di depan stasiun KA Jatinegara membuat daerah RW 03 menjadi sangat terbuka, dilalui oleh berbagai kendaraan umum, dan bagi warga Klender atau Cipinang teritorial RW 03 menjadi pintu masuk untuk kawasan pasar Jatinegara. Banyaknya ‘orang luar’ di wilayah ini menyebabkan RW 03 memiliki tingkat kerawanan sosial yang tinggi. Masalah kepemudaan juga mengemuka dalam diskusi warga di RW 03. Pemuda yang menganggur dan terlibat narkoba menjadi perhatian dalam diskusi. Walaupun kegiatan karang taruna RW tidak berjalan namun kelompok pemuda masjid atau mushala berjalan dan memiliki berbagai agenda kegiatan. Namun demikian warga menginginkan adanya wadah bersama dalam bentuk karang taruna untuk dihidupkan kembali. Dari banyaknya persoalan yang muncul masalah kelembagaan RW yang tidak berjalan merupakan masalah yang paling pokok. Beberapa tahun belakangan di RW 03 pengurus RW tidak berfungsi. Sehingga banyak masalah menjadi menumpuk dan terbengkalai, seperti tidak jelasnya pembagian jatah beras untuk orang miskin, koordinasi dalam kegiatan kebersihan/kerja bakti, gaji hansip dan petugas kebersihan. Akuntabilitas dan transparansi pengurus menjadi tuntutan warga. Dalam beberapa beberapa bulan terakhir dibentuk Forum Musyawarah RW yang ikut memperhatikan kinerja pengurus RW. Forum ini merupakan pengambilan keputusan tertinggi di tingkat RW dan lumayan berhasil dalam mendongkrak aktivitas pengurus RW untuk memperhatikan kepentingan warganya. Warga juga berharap dapat membangun pos RW di lokasi taman Viaduk, sekaligus dijadikan pos keamanan. Karena saat malam hari taman ini dijadikan tempat joget dan lokasi wanita tuna susila. Isu tentang penataan wilayah dan perbaikan rumah tidak layak huni juga hadir disini. Beberapa rumah di RW ini memang sudah tidak layak. Kemiskinan menjadi penyebab utamanya. Lingkungan disekitarnya

komunikasi pembangunan

48

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Permasalahan KeRW-an Pembangunan Tower Fisik Sosial (Saluran Got, Kebersihan, dll) WTS Judi Kaki Lima Narkoba

Para Pihak yang Terlibat Warga, Forum RW, Dekkel, Pengurus RW Seluruh Warga RW 03, Pengurus RW, Forum RW dan Dekkel, Indosat (Pendiri Tower), BLH, Yang Punya Tanah Warga, Lurah, Pengurus RW, Dekkel, PU, Dinas Kebersihan Warga, Dinas Sosial, Penurus RW, Dekkel, Lurah, Trantib, Kepolisian, Dinas Pariwisata, Tokoh Agama, Pemilik Tempat, Dinas Pertamanan. Warga, Kepolisian, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Dekkel, Pemilik Tempat Warga, Dinas Tata Kota, Trantib, Dekkel, Warga Jaya, Bappeko Jaktim Kepolisian, Warga, Pengurus RW, Dekkel, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Hansip, Orang Tua, Karang Taruna

LFA

Radiasi [1]

Kemungkinan Roboh [1] Warga miskin

Pembangunan Tower tanpa mustawarah [10] Beras Miskin Tidak Merata [1] Penataan wilayah semrawut [1] Masih banyak rumah kumuh [1]

Karang Taruna tidak berjalan [3]

Pedagang kaki lima [2]

Tempat maksiat (Hotel) [2]

Perjudian [4]

Narkoba [6]

WTS [10]

KELEMBAGAAN RT/RW Buruk [17]

Kuang adanya kesadaran kebersihan lingkungan [7] Warga ada yang tidak bayar [1] Kurang tukang sampah [1]

Keamanan Kurang [6] Pembangunan pos RW terpadu tertunda [4] Got Mampet [1] Gorong-gorong kotor dan bau [3]

Isu Strategis

Kelembagaan RW, Keamanan, Kepemudaan, Kebersihan, Kemiskinan, Kerjasama pihak luar

komunikasi pembangunan

49

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

50

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 04

Bertetangga dengan RW 03 di sebelah Utara, diarah Selatan bertetangga dengan RW 05 dan RW 07 di sebelah Barat diseling oleh Jalan Ceng Hay dan bersisian dengan Jalan Ahmad Yani By Pass terletak RW 04. RW 04 juga dikenal dengan ‘bunga-bunganya’, para penjaja jasa layanan seks yang memang banyak ‘ngekost’ wilayah ini, terutama disekitar Gang SS. Pada waktu malam di wilayah sekitar lokasi pembuangan sampah sementara (LPS) dan sepanjang trotoar By Pass berjejer warung remang-remang dengan gegap musik house dangdut, kupu-kupu malam mulai melakukan transaksi. Masalah ini merupakan masalah klasik RW 04 sejak dulu. Prostitusi selalu membawa kawan seiring, perjudian, minuman keras dan narkoba serta gangguan ketertiban (suara bising dan perkelahian). Masalah keamanan ini menjadi isu dominan di RW 04. Warga RW 04 sebagian besar pegawai dan secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup. Sumber daya RW 04 tidak kalah kaya dibanding RW lainnya. Ada sanggar kesenian Sunda yang terus menerus hidup dengan wayang Sunda dan teaternya, ada perguruan wushu Somba yang cukup punya nama. Dan terdapat beberapa alternatif lokasi untuk pusat kegiatan pemudanya. Masalahnya adalah kelembagaan karang taruna yang tidak berjalan. Hal ini menyebabkan banyak pemuda yang senang nongkrong di setiap mulut gang dan kerap memicu perkelahian dan penyalahgunaan obat terlarang. Masalah eksternal yang muncul adalah pohon yang tidak dipangkas di sisi Jalan By Pass menutupi lampu jalan, sehingga menciptakan suasana kondusif bagi kehadiran warung remang-remang. Warga juga mengeluhkan seringnya penggalian kabel dan utilitas lain yang penyelesaian tidak becus. Masalah penghijauan, sampah, polisi tidur menjadi masalah internal yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh warga. Kurangnya kesadaran pengurus RT/ RW dan apatisme warga dalam masalah-masalah lingkungan menjadi penghambat dalam kerja bersama untuk menuntaskan berbagai masalah yang melingkupi mereka. Khusus untuk permasalahan sampah warga RW 04 mempunyai tuntutan tersendiri. Mereka berharap adanya jadwal pembuangan sampah yang rutin dan perbaikan LPS yang temboknya sudah runtuh . Seluruh sampah di kelurahan Rawa Bunga ditampung sementara disini dan akumulasinya membuat sampah tersebut tumpah ruah ke jalan dan saluran air disisi Jalan By Pass. RW 04 merupakan muara terakhir perjalanan saluran air utama di kelurahan Rawa Bunga. Namun kondisi riol (gorong-gorong) yang menyambungkan saluran air ini dengan saluran air di seberang jalan By Pass (Kali Cipinang) tertutup sampah dan mengalami pengendapan lumpur di dasarnya. Hal ini menyebabkan sebagian wilayah RW 04 mudah tergenang air dan dilanda banjir jika hujan turun. Warga daerah banjir ini meminta agar gorong-gorong ini dinormalisasikan kembali oleh pemerintah daerah.

komunikasi pembangunan

51

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Permasalahan KeRW-an Fisik Sosial (Saluran Got, Kebersihan, dll) Warung remang-remang Judi Kaki Lima Anak Muda Nongkrong Fasilitas publik (sarana olah raga) dan utilitas Narkoba

Para Pihak yang Terlibat Warga, Forum RW, Dekkel, Pengurus RW Warga, Lurah, Pengurus RW, Dekkel, PU, Dinas Kebersihan Warga, Dinas Sosial, Penurus RW, Dekkel, Lurah, Trantib, Kepolisian, Dinas Pariwisata, Tokoh Agama, Pemilik Tempat, Dinas Pertamanan. Warga, Kepolisian, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Dekkel, Pemilik Tempat Warga, Dinas Tata Kota, Trantib, Dekkel, Warga Jaya, Bappeko Jaktim Warga, Pengurus RW, Instansi (Dinas) terkait, Dewan Kelurahan, Lurah, PT. PLN, PT. PAM, PT. Telkom Kepolisian, Warga, Pengurus RW, Dekkel, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Hansip, Orang Tua, Karang Taruna

LFA
Tendanisasi [1] Lampu Penerangan Kurang [1] Galian Kabel [1] Pohon Pelindung Tidak Dipangkas [1] Pembinaan Remaja Kurang [2]

Tanaman Obat [1]

Polisi Tidur [1]

No. Rumah Tidak Urut [1]

Kesadaran Pengurus RT/ RW Kurang [4]
Pemuda Nongkrong [4] Narkoba [8]

Kuang adanya kesadaran kebersihan lingkungan [2] Sampah Berserakan [12]

Pengangguran

Tidak Ada Sarana Olah Raga [2]

Parit Selokan Berlumpur [1] Lokasi Penampungan Sampah Sementara [1]

Banjir [1] Keamanan Kurang [5] Penyakit Demam Berdarah [3] Lemahnya Hukum dan Keadilan [1] Warung Remang-remang (WTS) [5]

Isu strategis

Keamanan, Kepemudaan, Kebersihan, Kemiskinan, Sarana Publik (OR), Kesadaran pengurus RW, Kerjasama pihak luar

komunikasi pembangunan

52

mendobrak kebiasaan

komunikasi pembangunan

53

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 05

RW 05 berbatasan dengan RW 04 disebelah Utaranya disela oleh Jalan Haji Kaiman, berbatasan dengan RW 07 disebelah Barat dan berbatasan dengan RW 06 disebelah Selatan. Di Timur bersisian dengan Jalan Ahmad Yani (By Pass). RW 05 secara kontour memiliki daerah yang paling rendah diantara RW-RW lain sehingga menjadi genangan besar jika musim penghujan tiba. Banjir juga disebabkan oleh sampah yang menumpuk di saluran air utama. Disini juga pernah terjadi kebakaran besar yang menghanguskan ratusan rumah. Daerah RW 05 merupakan salah satu daerah yang paling padat di kelurahan Rawa Bunga. Rumahnya sepetaksepetak (2x3m2). Dengan kepadatan seperti ini permasalahan yang dominan adalah penataan ruang dan perbaikan permukiman kumuh. Kemiskinan merupakan masalah utama di wilayah ini. Banyak dari penduduk RW 05 bekerja sebagai buruh lepas atau pegawai kecil. Isu lemahnya kualitas sumber daya manusia terlontar dalam forum. Namun yang menjadi penyebab utamanya adalah lemahnya komunikasi dan tingkat koordinasi antar warga. Warga selama ini bergerak sendiri-sendiri. Yang paling menarik di wilayah ini adalah peranan ibu-ibu PKK dalam menunjang kesejahteraan keluarga. Aktivitas kader PKK berperan dalam penyadaran warga mengenai sampah, kesehatan lingkungan, perbaikan gizi keluarga melalui difersifikasi pangan dan aktifitas lain yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi rumah tangga. Namun aktifitas ibu-ibu PKK ini perlu di dorong oleh fasilitas tempat berkumpul yang memadai mengingat rumah merekapun terlalu sempit. Sempitnya lahan, padatnya manusia yang menghuni RW 05 menyebabkan masalah pembuangan limbah rumah tangga menjadi isu yang dominan. Kesadaran warga untuk menciptakan lingkungan yang sehat dirasakan masih kurang. Hal lain adalah kurangnya sarana pembuangan sampah (tong dan gerobak sampah). Dan partisipasi warga dalam memberikan insentif kepada petugas kebersihan. Sempitnya lahan dan lemahnya kualitas pengeloaan sumber daya manusia juga menimbulkan dampak bagi kegiatan pemuda. Tidak aktifnya kelembagaan pemuda menyebabkan timbulnya masalah narkoba di kalangan mereka.

Kondisi kekumuhan di RW 05, jalan dan jembatanpun menjadi tempat bagi berbagai kegiatan termasuk menjemur pakaian. Hal ini menunjukkan sempitnya ruang.

komunikasi pembangunan

54

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Masalah Kelembagaan/ Organisasi Sampah Banjir Got mampet Pendidikan Modal Judi Rumuh kumuh Kesehatan Jalan Rusak Narkoba Gorong-gorong

Para Pihak yang Terlibat Warga, Forum RW, Dekkel, Pengurus RW, Tokoh masyarakat, RT, Seluruh Warga RW 03, Pengurus RW, Dinas Kebersihan, Dekkel Pengurus RW, Warga, PU, RT, Kelurahan, Dekkel, Warga, Pengurus RW, Dekkel Warga, MER-C, Kelurahan, Dinas P & P P2KP, BKM, PPMK, Dekkel Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pengurus RW, RT, Dekkel, Warga, Kepolisian/aparat Dinas Perumahan, LSM Puspa Indah Dinas perumahan, LSM MER-C, Pos Syasndu, Klinik Yayasan RS Karya Bakti PU, warga, Dekkel, Pengurus RW, BKM, P2KP Tokoh Agama, Warga, Pengurus RW, RT, Kepolisian, BINMAS, BABINSA PU, Jasa Marga (Jalan Tol)

LFA

Keamanan lingkungan kurang

Narkoba dan obat terlarang Pengelolaan Kebersihan Lingkungan

Kurang Komunikasi antar Pengurus RW

Tidak ada tempat pembuangan sampah

Kurangnya kesadaran masyarakat

Alat angkut sampah kurang

Bingung untuk pemberdayaan dan penyadaran masyarakat Sumberdaya manusia rendah

Banyak yang buang sampah ke kali

Buang sampah sembarangan

Perlu kegiatan PKK

Sampah

Ekonomi sulit Perjudian Rumah kumuh Susah usaha

Gorong-gorong macet

Banjir

Timbul Penyakit

Jalan Rusak

Isu Strategis

Kebersihan lingkungan, SDM, Ekonomi, Keamanan, Kelembagaan RW

komunikasi pembangunan

55

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

56

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 06

RW 06 berbatasan langsung dengan RW 05 disebelah Utara, RW 08 dan pemakaman umum disebelah Barat, RW 09 disebelah Selatan dan Jalan Ahmad Yani (By Pass) disebelah Timur. Secara kontour RW 06 sama dengan RW 05, yang merupakan daerah cekungan dan daerah yang terendah dibanding daerah lainnya. Daerah RW 06 dikenal dengan daerah ‘Bronx’, kekompakan dalam arti negatif pernah disandang daerah ini. Tawuran warga ‘diikuti’ mulai dari warga yang berumur ‘atas lima puluh tahun’ sampai ‘anak baru gede’ (ABG). Permasalahan kelembagaan pemuda masih menjadi isu yang dominan. Akibat dari lemahnya pengorganisasian pemuda menyebabkan tawuran ABG, narkoba, pemalakan masih sering terjadi di daerah ini. Penduduk RW 06 sebagian besar pedagang kecil, buruh kasar dan karyawan. Di RW ini ada tuan tanah yang sampai sekarang masih memiliki lahan yang cukup luas yang diatasnya dibangun rumah-rumah kontrakan/kost. Secara sosiologis RW 06 memenuhi kerumitan budaya kota apatis, individualistis. Walaupun ada paguyuban dari Wonogiri yang membangun kekerabatan yang cukup erat dan secara signifikan membantu perekonomian kelompok mereka. Kepadatan penduduk menyebabkan hilangnya ruang tempat publik berinteraksi. Ditambah dengan keadaan ekonomi yang sulit, penduduk RW 06 berpikir sangat praktis bahkan cenderung megharapkan uluran proyek dari luar untuk menyelesaikan keterbelakangan mereka. Modus yang sama dialami oleh RW 01 dan 05. Padahal di RW ini berlangsung pertemuan yang cukup intensif antar pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat. Pertemuan yang biasa dilakukan di minggu kedua setiap bulannya ini membahas permasalahan yang ada di RW 06. Namun persoalan yang begitu banyak mengharuskan mereka untuk berpikir praktis, spontan dan parsial. Banyak sebab yang menjadi akar masalah dibiarkan mengalir bersama waktu karena menurut pandangan mereka dibicarakanpun tidak akan selesai, diupayakan hilang pun tetap ada. Masalah lain adalah banjir dan pengelolaan saluran air. Kesadaran warga masih rendah dalam kebersihan lingkungan merupakan kendala utama. Kurangnya sarana pengangkut sampah dan petugas kebersihan juga menjadi alasan mengapa warga membuang sampah seenaknya. Sempitnya lahan dan kepadatan penduduk juga menimbulkan perilaku negatif dari warga yang memanfaatkan tebing saluran air untuk meluaskan rumahnya, sehingga terjadi penyempitan saluran. Identifikasi Masalah LFA

komunikasi pembangunan

57

mendobrak kebiasaan

Isu Strategis

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Masalah Banjir Remaja Apotik hidup Pemukiman kumuh Lampu Jalan Umum

Para Pihak yang Terlibat Warga, Sudin PU, Dinas Kebersihan, Forum RW, Pengurus RW, Tokoh Masyarakat, Puskesmas, LSM Puspa Indah Seluruh Warga RW 03, Pengurus RW, Forum RW, Kelurahan, Kepolisian, Keamanan (hansip), Dinas Tenaga Kerja Ibu-ibu PKK, Warga, Kelurahan, Sudin Pertanian Dinas Perumahan, Warga Dinas penerangan jalan umum

Kepemudaan, Keamanan,
Karang Taruna [1]

RENDAHNYA SDM RW 06, SEHINGGA KELEMBAGAAN TIDAK BERJALAN

Kebersihan lingkungan [4]

Penyaluran Tenaga Kerja [1]

Sampah Tidak Tertampung Semua [4]

Tidak Ada Sarana Olah Raga [2] Keterampilan

Pengangguran

Saluran Air Mampet [9]

Genangan Air [1]

Pemalakan [1] Keamanan Kurang [5] Tawuran [1] Narkoba [8] Perjudian

Banjir [1]

Kesehatan Lingkungan [2]

Peningkatan Pendapatan [1]

Kebersihan lingkungan,

Kemiskinan, Sarana Publik (OR), Kelembagaan RW (SDM)

Pendidikan Anak Nakal [2]

Jalan Rusak [2]

Pemukiman yang Kurang Layak-Ventilasi Kurang [1] Pendidikan Anak Kurang Mampu [1]

Penghijauan [1]

komunikasi pembangunan

58

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah
RW 05

(A. Yani) Jl. BY Pass

RW 08

Pemaka man Umum Rawa Bunga

Pabrik Kerupuk Jl. Kober Ulu

= Banjir

= Remaja

= Daerah Kumuh

= Lampu Jalan Umum

= Banjir

= Remaja

= Daerah Kumuh

= Lampu Jalan Umum

komunikasi pembangunan

59

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 07

Bertetangga dengan RW 04 disebelah Timur, RW 08 disebelah Selatan. Diapit oleh Jl. Bekasi Timur 1 disebelah Utara dan Jalan Jatinegara Timur IV disebelah Barat, terletak RW 07. Disini terdapat kompleks pendidikan Rawa Bunga dan di dalam kompleks pendidikan terdapat lokasi kantor Kelurahan Rawa Bunga dan Puskesmas kelurahan. Warga RW 07 sebagian besar memiliki penghasilan yang cukup tinggi. Sebagian besar warganya terdiri dari etnis Cina, Betawi keturunan Arab, dan warga pendatang lainnya. Dalam hal pengambilan keputusan di tingkat RW peran tokoh masyarakat dengan latar belakang religi sangat dominan. Disini juga terdapat masjid jami’ yang besar dan bersejarah, yang menjadi saksi perkembangan wilayah Rawa Bunga. Sebuah masjid dengan aktivitas dan pola pendidikan dan pengajaran agama yang konservatif yang kukuh ditengah ‘modernitas’ dan gerak kota. Permasalahan yang mendominasi RW 07 adalah permasalahan kurangnya rasa kebersamaan didalam warga. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Kesadaran warga untuk bergotong royong membersihkan sampah dirasakan sangat kurang. Dilokasi ini juga banyak terdapat saudagar lapak botol bekas. Lapak botol ini dirasakan makin hari semakin mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga. Hal lain yang mengganggu kenyamanan warga adalah banyaknya bengkel liar yang berisik dan bau karbit. Dan perumahan liar para pemulung yang baru setahun ini bermunculan di sepanjang jalan Jatinegara Timur IV disisi Kali Baru. Perumahan padat juga terdapat di RW 07 terutama di wilayah gudang botol (yang juga kumuh) dan wilayah belakang SMU 54. Masalah sarana bermain anak juga menjadi isu di wilayah ini. Juga pelayanan Puskesmas yang kurang baik. Masalah sarana/prasaran lain yang muncul adalah kantor RW yang kurang memadai untuk pertemuan warga. Walau sebenarnya para fungsionaris RT/RW 07 rajin bertemu sebulan sekali di awal bulan secara bergiliran di rumah para pengurus RT. Namun bagi warga sendiri dirasakan komunikasi pengurus RT/RW ke warga berkaitan dengan program pemerintah masih kurang.

komunikasi pembangunan

60

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Permasalahan Sarana dan prasarana got, Kantor RW, lahan bermain, MCK Kebersihan Pengangguran Sosialisasi Program Pemerintah Pelayanan Puskesmas Pedagang Kakilima Kesehatan (Demam berdarah) Perjudian Perumahan

Para Pihak yang Terlibat Sudin Tata Kota, Kelurahan, Sudin Kebersihan Dinas/Sudin Olahraga, Sudin PU. Sudin Kebersihan, Kelurahan, Dekel, PU Sudin Tenaga Kerja, Sudin Sosial, BPM Kodya Bapeko, Kecamatan, Kelurahan BPM Kodya Sudin Kesehatan, Kecamatan Trantib, Perekonomian, Biro Hukum, Kepolisian, Sudin Pertamanan, Sudin Kebersihan Sudin Kesehatan, Kelurahan Tramtib, Polisi, Kelurahan Sudin Perumahan, Bapeko, Sudin Tata Kota

LFA
Puskesmas Dibuka Tidak Tepat Waktu [1] Sosialisasi Program Pemerintah Tidak Efektif/top down [1] Permukiman Padat dan Kumuh [1] Warga Tidak Punya Jamban [1]

Sampah Tidak Diangkut Setelah Kerja Bakti [9]

Got mampet [9]

Sarana Bermain Anak [1]

KELEMBAGAAN RW 07
Karang Taruna Kurang dana [1] Anak Tamat Sekolah Yang Mengganggur [1]

Masalah Nyamuk DB [1]

Masalah Keamanan Lingkungan [2]

Kantor RW Kurang Besar [3]

Tidak Ada Rasa Kebersamaan [1] Anak Sekolah Berkeliaran [1] Perjudian [4]

Parkir Truk Sembarangan [2]

Isu Strategis

Pemuda, Keamanan, Kebersihan lingkungan, Kebijakan top down, Sarana Publik (OR), Kelembagaan RW

Rumah Liar di Bantaran Kali [1]

Bengkel Ilegal Bikin Polusi [1]

komunikasi pembangunan

61

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

62

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 08

RW 08 terletak bersebelahan dengan Pemakaman Umum Kober disebelah Selatannya, di sebelah Timur bertetangga dengan RW 06, di sebelah Utara berdampingan dengan RW 07 dan bersisian dengan Kali Baru (Mookevart) di sebelah Baratnya. Warga RW 08 sebenarnya memiliki potensi sumber daya yang cukup besar. Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pernah dipercaya untuk menduduki jabatan di organisasi masyarakat seperti pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (dulu LKMD). Mereka sebagian besar para pensiunan pegawai negeri atau swasta yang kemudian terjun ke masyarakat. Warga RW 08 sebagian besar merupakan penduduk musiman, mereka mengontrak ataupun kost di wilayah tersebut. Mata pencaharian warganya sebagian besar pegawai kantoran. Ditempat ini terdapat beberapa industri rumah tangga seperti pabrik krupuk, industri tas khusus untuk perempuan dan industri mainan Yoyo. Masalah yang paling dominan di wilayah ini adalah Kelembagaan RW yang belum optimal. Masalah ini ternyata menimbulkan dampak pada pengelolaan programprogram layanan masyarakat teruatama untuk kegiatan yang dikoordinasikan oleh PKK, seperti kegiatan Posyandu untuk Balita, kegiatan pengobatan dan perawatan untuk Lansia. Kelembagaan RW yang belum optimal memberikan pengaruh buruk bagi pembinaan pemuda. Masalah ketiadaan organsiasi pemuda menyebabkan banyak pemuda pengangguran melakukan hal-hal yang negatif. Seperti judi dan pemakaian narkoba. Sebenarnya di wilayah ini terdapat Teater Kubur yang cukup dikenal di Jakarta dan penikmat teater Indonesia, yang letaknya disisi Pemakaman Kober. Namun keberadaannya tidak dioptimalkan oleh para pembuat kebijakan di RT/RW/ kelurahan. Masalah kebersihan lingkungan, pengadaan sampah dan insentif petugas pengangkutnya juga dipengaruhi oleh konsolidasi pengurus RW. Sehingga sampah menjadi isu klasik yang seakan-akan tidak memiliki jalan keluar permasalahan. Warga yang kurang peduli dianggap memberikan peranan dalam permasalahan kelembagaaan RW. Namun tokoh atau pemimpin yang dipercaya warga juga memberikan pengaruh pada lemahnya kelembagaan RW. Tokoh yang diangkat warga sering melupakan fungsinya ketika menduduki jabatan tertentu. Identifikasi Masalah

komunikasi pembangunan

63

mendobrak kebiasaan

LFA

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Gizi Balita

PERMASALAH

PIHAK YANG TERLIBAT Posyandu dan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) UPGK Tingkat Kelurahan, Puskesmas. UKM dan BKM perlu diarahkan untuk pembinaan (Tingkat Kota). Tingkat Kelurahan. Tingkat Kelurahan Dinas PU, Dinas Perumahan, DPJU Warga Dinas Kesehatan dan Trantib Tingkat Kota Trantib Tingkat Kota Kelurahan, Dewan Kelurahan, Forum Musyawarah, Warga. Warga Warga, Kelurahan Warga, Kelurahan.

Lansia (Pengobatan, Gizi) Perbaikan Ekonomi Warga Gotong Royong
Lingkungan (Banjir) Sarana dan Prasarana (Jalan Lingkungan Rusak, Penerangan Jalan, Perbaikan Pembangunan Musholla) Anak Sekolah Kesehatan Perjudian Pelayanan Umum Keamanan Pembinaan Keagamaan SDM

Isu Strategis
Jalan Umum Dipakai Untuk Menjemur Pakaian [1]

Uang Denda KTP

Sumur Umum Tidak Memadai

Penentuan Batas Wilayah

Saluran Ledeng Bocor

Pembangunan Mushala Terhambat [4]

Kepedulian Antar Warga Kurang [4]

Keindahan Wilayah RW 08 Kurang [4]

Pengobatan Untuk Para Lansia [3] Kebersihan [1]

KELEMBAGAAN

RT/RW Belum Optimal [4]

Pengadaan Sarana dan Prasarana PKK

Balita Kurang Gizi [5] Gizi Lansia [2]

Warga Kurang Mampu [3]

Rumah Warga Sudah Lapuk [1]

Tukang Sampah Kurang [1]

Tong Sampah [1]

Pembinaan Remaja/ Karang Taruna [2]

Keamanan Kurang [5] Masalah Sampah [7] Hansip Tidak Ada [1] Kenakalan Remaja [7]

Pengangguran [7]

Masalah Siswa Drop Out Anak Putus Sekolah [1]

Anak Terlantar Kurang Biaya

Got Mampet [17]

Anak Sekolah Sering Nongkrong [3]

Perawatan Anak Kurang waras (stress) [1]

Jalan Rusak Akibat Banjir [12]

Judi [4]

Narkoba [13]

Masalah Kesehatan [1]

Kandang Burung Menyebabkan Penyakit Gatal [1]

Kelembagaan

RW

(komunikasi), Keamanan, Kebersihan, Kepemudaan, Kemiskinan, PKK

komunikasi pembangunan

64

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

65

mendobrak kebiasaan

PROFIL RW 09

Ujung lain dari kelurahan Rawa Bunga adalah RW 09. Wilayah ini berbatasan dengan kelurahan Cipinang Cempedak di sebelah Selatan di sela oleh Jalan Pedati Raya. Di sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Balimester disisipi Kali Baru (Mookevart). Di Utara berbatasan dengan Pemakaman Umum Kober dan di Timurnya berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani (By Pass). RW 09 dibelah oleh Jalan Casablanca, sebuah ruas jalan yang membelah kota Jakarta dari Timur ke arah Selatan. Ruas jalan tersebut bernama jalan Jendral Basuki Rahmat. Sebagian besar penduduknya digusur untuk pembangunan jalan tersebut. Secara kultur masyarakat Betawi mendominasi wilayah ini. Disini banyak terdapat guru ngaji dan tokoh agama. Ciri lainnya adalah disini masih tersisa beberapa peternak kambing. Biasanya para peternak membuat kandangnya di sisi Kuburan Belanda. Kabarnya bekas Kuburan Belanda tersebut akan dijadikan alternatif lahan terminal Kampung Melayu yang sudah tidak sanggup menampung jumlah kendaraan umum. Sebagian besar warga memiliki tingkat kehidupan yang baik, terutama para penduduk asli Betawi. Para pendatang mendiami pinggiran kali Mookevart, kebanyakan dari mereka berasal dari Jawa Tengah. Daerah ini biasa disebut Kampung Jawa. Disisi lain dari jalan yang membelah RW 09 terdapat komunitas tukang kasur. Mereka berasal dari daerah Garut dan Tasikmalaya. Mereka mendiami wilayah ini sudah puluhan tahun. Isu dominan di wilayah ini adalah kurang berfungsinya kelembagaan RW. Hal ini disebabkan oleh lemahnya manajemen SDM. Walaupun sumberdaya manusia yang ada sangat potensial untuk disinergikan. Akibat dari lemahnya pengelolaan SDM ini adalah kurang diperhatikannya kegiatan kepemudaan, sehingga muncul masalah lanjutan seperti maraknya narkoba dan kenakalan remaja. Masalah lain yang muncul adalah kurang diperhatikannya kesejahteraan Hansip dan petugas kebersihan. Kesadaran warga untuk mendahulukan kesehatan dan kebersihan lingkungan masih rendah. Masalah ekternal yang juga muncul adalah seringnya galian kabel atau pipa ledeng. Masalah utilitas ini sangat mengganggu kenyamanan warga. Dan masalah pembangunan jembatan penyebrangan orang di Jalan Casablanca.

komunikasi pembangunan

66

mendobrak kebiasaan

Identifikasi Masalah

No 1

2

3

4 5 6

Permasalahan Keamanan kurang: - Dana untuk keamanan kurang. - Adanya pendududuk musiman - Masyarakat miskin - Kenakalan remaja dan narkoba Kebersihan 1. Kurangnya koordinasi antara pihak Lurah dan RW. 2. Sampah di sembarangan tempat/kuburan (RT04) 3. Saluran air got mampat dipinggir jalan raya Basuki Rahmat, akibat saluran dibendung oleh warga. Sarana Publik 1. Prasarana olah raga kurang 2. Jalan rusak di RT 04 3. Sarana Jalan & Parkir 4. Perlu jembatan penyeberangan di RT 02 Kemiskinan Rumah tidak layak huni berlantai tanah pada RT 03 Sumber Daya Keuangan di RW yang kurang memadai. Kenakalan Remaja

Pihak yang Terlibat Warga, RT, Polisi, Pemda dan tamtib.

Warga, Pemda., Sudin Kesehatan dan social

Warga, PU, .PLN dan PAM

Pemda, Kimpraswil Warga, Swasta Sudin Olah Raga dan Pemuda Jaktim

LFA
Banyak Kecelakaan Karena Tidak Ada Jembatan Penyebrangan [1] Galian PAM/TLP/PLN [1]

Parkir Truk Tanah [1]

Manajemen SDM Lemah [1]

Kenakalan Remaja [1]

Kegiatan Olah Raga Tidak Memiliki Lahan [1]

Kelembagaan RW 09
Pengelolaan Kebersihan Lingkungan [6]

Narkoba [1]

Sampah [6]

Kesejahteraan Hansip Tidak Terjamin [1] Kurang Anggota Hansip [1]

Got macet [1]

Banjir [1]

Keamanan Kurang Terkoordinir [6]

Jalan Rusak [1]

Isu Strategis

Kebersihan lingkungan, Manajemen SDM, Keamanan, Sarana Publik (OR), Kelembagaan RW, Kerjasama pihak luar

komunikasi pembangunan

67

mendobrak kebiasaan

Pemetaan Masalah

komunikasi pembangunan

68

mendobrak kebiasaan

TERIMA KASIH
Fasilitator RW Fasilitator Kelurahan Co Fasilitator Notulis

Kegiatan Pembelajaran ini tidak akan terlaksana tanpa keterlibatan penuh berbagai pihak. Untuk itu ucapan terima kasih sewajibnya disampaikan kepada Ahmad Baehaqie, Ernan Rustiadi, Budiman P, Widhyanto M. Ahmad Ahmad Baehaqie, Ernan Rustiadi, Budiman P, Widhyanto M. Ahmad, Dadang Iskandar, Sulistyowati, Tarmidi, Abdul Rachman Andit, Meidiani Dwi Sabarti Harya B. Surbakti, Nona Iriana, Laeli Sugiono, Zainal Achmad, Priyadi Priautama Ignatius, Budi Ayu Kusuma Dewi, Eman Suherman, Maryanta, Purwanto R. Diana Aryanti, Mimin Karmiati, Widya Indra Rosiana, Meidiani Dwi Sabarti, Prima Shandya Dewi, Rifa Rufiadi, Suryadi, Yezua H.F.H. Abel, Zul Amri, Eko Oesman Husen Thoib RW 01 : Rahiman, Opi, H. Ismanan, Ujang, Rohanas, Syaifulah, Karim, Agus Suhartono, Djoyo S, Sutejo, Roelima, Budi F RW 02 : Dudung, M. Saleh. H, Irwan, Iis, Dona, Heni N, Yusup K, Wati, Dewi, Sarnah, Ningsih, Usman M, Suhandi, Hali N, Widyani N, Maryani, Marni, Dede RW 03 : Farman Syah Maliki, Sariyaman, Endang Suparjo, Rudi Maulana, Saad, Upi, Buchori, Mansyur, Wisnu, Nasrulah RW 04 : Erna, Fanar, Rufleni, P.F. Sinaga, Maryono, Mulyadi, Rifai RW 05 : Anis, Mardiah, Muti, Arni, Meri, Rosita, Wartini, Juju, Wiwin, A Syakur, Udin Atmaja, Afiah, Titin, Saroh, Badriah, Ruswi, Tipah, Sumiyati, Eva, Sadikin, Suherni, Kartini, Dhana Mihardja, Santi, Isah Isardah, Tini, B. Maulana, Salmin, Suryaman, Acep, Muhamat RW 06 : Hikmah, Sutris, Srijanto, Ukar, Sanusi, Lili S, D Kadin, H.M. Yoyib, E. Muryadi, Samsudin, Aswardi, A. Sahetapy, Agus, Sudarno, Muchtar, S. Wardah, Maria, Zuhriah Zaim, Nani H, Neneng R, M. Yusni, M. Arifin, Sarim RW 07 : Udi Tarmudi, Jeram, Hadi W, Musalam, Sarmo, Iwan SL, Indri, Hendri, Nyai Komariah, Nurbaeti, Nurhaini, Suryani RW 08 : Morsiah, Jacky T, A. Salam, Taufik SM, Margono, L. Kujang, Ferdy, R.M. Irwan, Eddy Makara, Achmad Gani, H. Darwis, Pangaluli, Rosyidi, B. Situmorang, Ibrahim K, Adang AS RW 09 : Sarifudin, Rudi, Nur, Iwa, Furqon, Fathudin, Imam S Arifin, Ida Farida, Vera, Tono Fathoni, Eman Sulaeman

Lurah Rawa Bunga Warga Rawa Bunga

Komunitas BeTe
komunikasi pembangunan

Luthfi Kurnia, Hendra, Iman Taufik, Espan, Ricky Himawan, Enny, Ririn.

69

mendobrak kebiasaan

Proses membangun pengertian perlunya mendengarkan suara ibu sebagai seorang warga bagi sebuah pembangunan melalui pertemuan warga. Para pejabat dan kalangan akademis cukup mendengarkan. Memang harus dirubah.
komunikasi pembangunan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->