Penerbit: Bank Indonesia Jl. MH Thamrin No.2, Jakarta Indonesia

Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan
tugas Bank Indonesia dalam mewujudkan misi ≈mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan stabilitas sistem keuangan dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan∆.

KSK diterbitkan secara semesteran dengan tujuan untuk : Meningkatkan wawasan publik dalam memahami stabilitas sistem keuangan Mengkaji risiko-risiko potensial terhadap stabilitas sistem keuangan Menganalisa perkembangan dan permasalahan dalam sistem keuangan Merekomendasi kebijakan untuk mendorong dan memelihara sistem keuangan yang stabil.

Informasi dan Order : KSK ini terbit pada bulan Maret 2009 dan didasarkan pada data dan informasi per Desember 2008, kecuali dinyatakan lain. Dokumen KSK lengkap dalam format pdf tersedia pada web site Bank Indonesia : http://www.bi.go.id Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada : Bank Indonesia Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Biro Stabilitas Sistem Keuangan Jl.MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia Telepon : (+62-21) 381 8902, 381 8075 Fax : (+62-21) 351 8629 Email : BSSK@bi.go.id

Kajian Stabilitas Keuangan I - 2007 ( No. 12, Maret 2009 )

ii .

5.3.1. Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) 48 Boks 2. Risiko Kredit Sektor Korporasi: vi 3 9 9 12 15 17 18 21 21 22 22 22 25 31 33 36 36 39 46 Boks 2. Pengambilalihan Bank Century.1.2. Structured Products dan Offshore Products : Dampaknya terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Boks 2. Transition Matrices: Potensi Risiko Kredit Korporasi pada 3 Sektor Bab 2 Sektor Keuangan Struktur Sistem Keuangan Indonesia Indeks Stabilitas Keuangan Perbankan Pendanaan dan Risiko Likuiditas Perkembangan dan Risiko Kredit Risiko Pasar Profitabilitas dan Permodalan Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Pasar Modal Perusahaan Pembiayaan Pasar Modal Boks 2. Survei Neraca Rumah Tangga Indonesia 2008 Boks 1. Penutupan Bank Indover dan Stabilitas Sistem Keuangan 55 55 59 63 65 66 69 69 70 72 75 85 47 iii .Daftar Isi Kata Pengantar Gambaran Umum Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Kondisi Makroekonomi Kondisi Sektor Riil Boks 1. Stabilitas Sistem Keuangan dan PERPPU tentang Perubahan Undang Undang Bank Indonesia Boks 3.2.3.1.2. Best Practices Analisis Dampak Sistemik terhadap Sistem Keuangan Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Prospek Ekonomi dan Persepsi Risiko Profil Risiko Perbankan: Tingkat dan Arah Prospek Sistem Keuangan Indonesia Artikel Artikel 1 Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Artikel 2 Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt 50 52 Credit Default Swaps (CDS) Boks 1. Dampak Utang Luar Negeri terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Perkembangan Sistem Pembayaran Pengembangan Biro Informasi Kredit Jaring Pengaman Sistem Keuangan Boks 3. Kronologis Gejolak Sektor Keuangan 2008 dan Respon Kebijakan Boks 2.4.

3.2 1.3 2.1 Kronologis Gejolak Sektor Keuangan Indonesia 2008 2.1.6 3.2 2.6 1.9 2.11 2.3 2.6 2.5 2.2 Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi Persepsi Risiko Indonesia 64 37 37 39 41 41 60 10 34 Grafik 1.d Desember 2008 2.3.1 Migrasi Kolektibilitas Debitur 3 Sektor 2.13 2. Kartu Kredit & Lainnya Perkembangan Kredit Properti Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Valuta Asal Pangsa Kredit Penggunaan 22 23 23 23 23 24 25 25 26 26 26 27 27 27 27 13 14 21 Tingkat Pengangguran Beberapa Negara ASEAN 14 13 13 11 11 11 12 9 10 10 Tingkat Bunga Riil Indonesia.8 1. AS dan Singapura 12 Tabel Boks : 1.8 2.4 2.2 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Valas DN Januari s.5 1.1.9 1.1 1.4 2.1 Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo 2009 18 2.d Desember 2008 2.1 2.14 2.5 2.4 1.13 Business Confidence Indicators Indeks Harga Beberapa Komoditas Pertumbuhan PDB Negara Industri Pertumbuhan PDB Beberapa Negara Emerging Market Indeks Harga Saham Global Perkembangan Nilai Tukar Rupiah IDR/USD Perkembangan Inflasi ASEAN-5 dan Vietnam Pertumbuhan ROA dan ROE Perusahaan Non Financial Go Public Perkembangan DER dan TL/TA Perusahaan Non Financial Go Public Probability of Default (PD) Perusahaan Non Financial Go Public Komposisi Sumber Pendapatan Rumah Tangga Komposisi Aset Lembaga Keuangan Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index) 46 46 48 49 52 2.12 1.3 1.5.1 4.Daftar Tabel dan Grafik Tabel 1.1 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Rupiah Januari s.10 1.2 Respon Kebijakan 2.1 3.7 2.1 2.7 1.12 2.16 Perkembangan DPK Perkembangan DPK Valas Perkembangan DPK Valas vs Nilai Tukar Rupiah Ekses Likuiditas Bank Volume Transaksi PUAB DN (rata-rata per hari) Pertumbuhan Kredit (yoy) Perkembangan Kredit 2007-2008 Pertumbuhan Kredit Kelompok Bank (ytd) Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan (ytd) Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi Pertumbuhan KPR.1 2.2 Indikator Ekonomi Dunia Laba/Rugi Perbankan Perkembangan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Rasio-rasio Keuangan Perusahaan Pembiayaan Perkembangan NPL Perusahaan Pembiayaan Pertumbuhan Indeks Bursa Regional Pertumbuhan Indeks Sektoral Perkembangan Data SID 2006-2008 Kerangka Kerja Jaring Pengaman Sistem Keuangan 4.11 69 70 1.10 2.3.15 2.2 iv .

25 2.5 3.1 3.58 2.67 2.66 2. dan PPAP (Rp Triliun) Rasio NPL Gross Kelompok Bank Rasio NPL Gross Sektor Ekonomi Rasio NPL Gross Jenis Penggunaan Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi Rasio NPL Gross Kredit Properti (%) Rasio NPL Gross Kredit Rupiah dan Valas (%) Rasio NPL Gross MKM & Non MKM (%) Rasio NPL Gross Kredit MKM (%) Suku Bunga Rp & Nilai Tukar Profil Maturitas Rupiah Profil Maturitas Valas Posisi Devisa Netto Pangsa Kepemilikan SUN Perbankan Perkembangan SUN (Rp T) Profitabilitas Bank-mtm 2008 Pendapatan Bunga Bank Perkembangan Rasio ROA per Kelompok Bank Modal.37 2. dan CAR Integrated Stress Test terhadap CAR 15 Bank Besar Interbank Stress Test Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan Sumber Dana Perusahaan Pembiayaan Komposisi Nominal Pembiayaan PP (Nov'08) NPL Pembiayaan Perkembangan Nominal NPL Arus Kas PP Swasta Nasional Arus Kas PP Patungan Exposure Perbankan Perkembangan Penurunan NPL PP Subsidiary Bank Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Kepemilikan SUN dan SBI Investor Asing 28 28 28 29 29 29 29 30 30 30 31 32 32 32 32 33 33 34 34 34 35 36 36 37 37 37 38 38 38 38 39 39 40 40 40 2.2.46 2.24 2.59 2.53 Perkembangan Kredit MKM Non Performing Loans Kredit.1.2 Komposisi Hutang Rumah Tangga (dalam % terhadap Total Hutang) Tujuan Pinjaman Rumah Tangga Perkembangan Harga CDS Indonesia Perkembangan Spread CDS Indonesia 16 16 17 17 Perkembangan Kenaikan NPL PP subsidiary Bank 39 v .34 2.55 2. 30 tahun SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi Nilai Aktiva Bersih Reksadana Reksadana : Redemption-Subscription-NAB Reksadana : NAB-Unit Penyertaan Kinerja Penghimpunan Dana Reksadana Perkembangan Transaksi BI-RTGS Perkembangan Transaksi SKN-BI Perkembangan Transaksi APMK Perkembangan Transaksi E-Money Peran Biro Informasi Kredit Kebijakan Strategis BIK Profil Risiko Perbankan dan Arah ke Depan 42 42 42 42 43 43 43 43 44 44 44 44 55 56 56 56 59 60 71 41 40 Perkembangan Rasio BOPO per Kelompok Bank 35 Grafik Boks : 1.18 2.35 2.2 1.1 1.28 2.31 2.56 2.2 3.51 2.52 2.26 2.32 2.36 2.44 2.39 2.2.40 2.47 2.3 3.41 2.57 2.60 2.50 2.1 Penyerapan SUN Lembaga Keuangan Domestik dan Asing Perkembangan IHSG & Indeks Global dan Regional (Diindekskan dengan Indeks 31 Desember 2005) 41 Volatilitas (30 hari) beberapa Indeks Bursa Asia Nilai Transaksi Saham Investor Domestik dan Asing Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi Perkembangan Harga Saham Beberapa Bank P/E Ratio Saham Bank Perkembangan Harga Beberapa Seri FR Yield SUN 1 s.20 2.48 2.23 2.6 4.33 2.4 3.61 2.1.64 2.42 2.62 2.38 2.1 1.21 2.27 2.68 3.22 2.43 2.49 2.17 2.19 2.d.2.63 2.45 2.30 2. ATMR.29 2. NPL.65 2.54 2.

Salah satu indikator peningkatan tekanan tersebut adalah Financial Stability Index (FSI) yang melampaui batas maksimum indikatif angka 2 pada bulan November dan Desember 2008. Masalah lainnya yang juga dapat menimbulkan tekanan adalah semakin lambatnya penyaluran kredit (credit crunch) oleh perbankan yang pada gilirannya dapat mengganggu kinerja sektor riil. baik oleh Pemerintah maupun Bank Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum ketahanan sektor keuangan Indonesia selama semester II tahun 2008 relatif cukup terjaga meskipun tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan meningkat tajam karena imbas krisis global. peningkatan tekanan terlihat pada merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).5% (netto).2%) dengan kualitas aktiva yang masih tetap terjaga sebagaimana tercermin pada rasio NPL yang relatif rendah. Pada saat yang sama. Di pasar modal. Meskipun tekanan terhadap sektor keuangan meningkat. vi . rasio permodalan (CAR) perbankan tercatat masih tinggi (16. yaitu 3. menjelang akhir 2008 tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan mulai berkurang meskipun belum sepenuhnya pulih. relatif masih cukup baik. namun kinerja perbankan sebagai industri yang paling dominan di sektor keuangan. tekanan tersebut tercermin pada peningkatan risiko likuiditas terutama pada bulan Agustus-September 2008. Setelah dikeluarkannya berbagai kebijakan. Edisi ini kami pandang sangat penting karena akhir-akhir ini banyak sekali perkembangan yang terjadi yang perlu dikaji dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.12 Maret 2009 ini. Di perbankan. Terganggunya kinerja sektor riil berpotensi meningkatkan risiko kredit di perbankan. Tekanan likuiditas itu muncul tidak saja karena imbas krisis global. namun juga karena tingginya pertumbuhan kredit yang lebih banyak dibiayai dengan secondary reserves dibandingkan dengan pembiayaan yang berasal dari kenaikan dana masyarakat. ke depan perlu terus diwaspadai berbagai sumber instabilitas.8% (gross) dan 1. termasuk potensi peningkatan risiko kredit dan kemungkinan berulangnya tekanan likuiditas. Salah satu bentuk permasalahan yang belum dapat diatasi secara sempurna adalah segmentasi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). baik pada level korporasi maupun pada level households.Kata Pengantar Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami menyambut baik penerbitan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. Namun demikian. sementara di pasar SUN terjadi penurunan harga yang signifikan. Pada akhir Desember 2008. perbankan juga menghadapi peningkatan risiko nilai tukar karena menurunnya nilai mata uang Rupiah.

Jakarta. Dengan mengetahui lebih awal potensi risiko. Hadad vii . Semoga KSK berhasil mengemban misinya itu dengan baik dan informasi yang disediakannya bermanfaat bagi semua pihak. Maret 2009 DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA Muliaman D.Semakin banyaknya tantangan di sektor keuangan perlu diantisipasi dengan selalu berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas surveillance guna mendukung deteksi dini. Untuk itulah kami memandang penting penerbitan KSK ini karena dapat digunakan sebagai media yang efektif untuk mengkomunikasikan kepada para stakeholders hasil-hasil surveillance yang telah dilakukan. langkah-langkah mitigasi risiko dapat direncanakan secara cermat sehingga kerugian dapat diminimalisir.

viii .

Gambaran Umum Gambaran Umum 1 .

Gambaran Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 2 .

bahkan melampaui batas maksimum indikatif angka 2 pada bulan November dan Desember 2008.1. Ke depan. termasuk merubah Giro Wajib Minimum (GWM). 1. Selain itu. sementara Bank Indonesia mengeluarkan beberapa ketentuan baru. Hal ini karena perekonomian Indonesia semakin terintegrasi dengan perekonomian global. prospek stabilitas sistem keuangan diperkirakan masih akan tetap positif meskipun tantangan yang dihadapi semakin berat karena akan semakin melambatnya pertumbuhan ekonomi. Oktober 2008 yang sebagian besar dibiayai dengan secondary reserves. Namun. menjelang akhir 2008 dan awal 2009 terdapat tanda-tanda bahwa pertumbuhan kredit perbankan menjadi semakin melambat. sementara harga Surat Utang Negara (SUN) mengalami penurunan yang signifikan. Apabila hal ini terus berlangsung dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap perekonomian mengingat perbankan selama ini merupakan sumber pembiayaan yang paling utama.Gambaran Umum Gambaran Umum Stabilitas sistem keuangan pada semester II 2008 masih tetap terjaga.d. Selain itu. tekanan terhadap sektor keuangan domestik menjadi semakin besar. Dampak positifnya adalah kondisi likuiditas industri perbankan semakin membaik dan nilai tukar Rupiah semakin berkurang volatilitasnya meskipun belum kembali pada level seperti sebelum Oktober 2008. sumber dana dari luar negeri selama ini merupakan salah satu sumber dana yang penting. Krisis Keuangan Global Krisis keuangan global merupakan sumber instabilitas yang terutama. krisis keuangan yang dialami sejumlah negara sejak beberapa waktu terakhir ini 3 . SUMBER-SUMBER INSTABILITAS 1. Gejolak di sektor keuangan ini telah mengakibatkan Indeks Stabilitas Keuangan selama semester laporan meningkat tajam. menurunnya nilai tukar Rupiah sejak awal Oktober 2008 juga meningkatkan risiko di sektor keuangan. Selama periode tersebut. Perbankan juga sempat mengalami tekanan likuiditas tidak saja karena pengaruh krisis likuiditas global. Pemerintah menerbitkan beberapa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU). terimbas oleh krisis global. Indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot tajam. Oleh karena itu. Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. baik bagi perusahaan perbankan maupun perusahaan nonperbankan. namun juga karena tingginya pertumbuhan kredit yang berlangsung s.

Kondisi Makroekonomi Stabilitas makroekonomi merupakan prasyarat utama untuk tercapainya stabilitas sistem keuangan. kondisi sektor riil dan infratsruktur yang masih belum mendukung ini berpotensi menimbulkan tekanan terhadap 1. Berbagai pihak memperkirakan bahwa kondisi makroekonomi domestik tahun 2009 tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun 2008. potensi kerugian yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan 1.4. products sehingga menimbulkan dispute antara bank dengan nasabahnya. Akibatnya. Selain itu.2. Sementara itu. perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif untuk mencegah stabilitas sistem keuangan. hal-hal ini dapat mendorong terjadinya peningkatan kredit bermasalah (NPL). Meskipun di Indonesia. namun ancaman pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada beberapa perusahaan sangat berpotensi mengganggu kinerja household ke depan. Untuk itu. Disamping itu. Di samping itu. beberapa negara mengalami kesulitan karena kerugian yang disebabkan oleh structured meningkatnya risiko perbankan karena memburuknya kondisi makroekonomi. Terimbas krisis global. terutama dalam bentuk peningkatan NPL dan melambatnya penyaluran kredit perbankan. hal ini perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko kredit dan risiko nilai tukar di perbankan. kondisi infrastruktur. Di perbankan. dalam enam bulan terakhir juga tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Memburuknya kondisi makroekonomi berpotensi menekan stabilitas keuangan karena dapat mendorong peningkatan NPL. perusahaan-perusahaan Indonesia menjadi semakin sulit mendapatkan dana asing untuk membiayai kegiatan usahanya. Dalam kenyataannya sejak beberapa waktu terakhir sejalan dengan pelemahan nilai tukar mata uang domestik. Inovasi Keuangan. terutama karena pengaruh perlambatan ekonomi global.3. meskipun hasil survei tahun 2008 menunjukkan bahwa kondisi sektor rumah tangga (household) masih relatif aman. termasuk dengan memperketat monitoring dan mempercepat pelaksanaan restrukturisasi kredit terhadap debitur-debitur yang terkena imbas krisis global.Gambaran Umum berpotensi menular ke Indonesia.11 September 2008) telah dikemukakan pentingnya perbankan memperhatikan aspek manajemen risiko dan perlindungan nasabah dalam melakukan inovasi terhadap produkproduk keuangan yang ditawarkan kepada nasabah. Structured Products dan Offshore Products Dalam KSK edisi sebelumnya (No. Tidak saja sektor keuangan domestik menjadi semakin rentan oleh gejolak keuangan. hasil pemantauan negara-negara lainnya. perusahaan-perusahaan di sektor riil yang selama ini tergantung pada sumber pembiayaan dari luar negeri dapat terganggu kinerjanya dan dapat menurunkan debt repayment capacity dari perusahaan-perusahaan tersebut. serta perlambatan pertumbuhan kredit dan pembiayaan lainnya dalam valas yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan perekonomian. leverage juga cenderung meningkat sejalan dengan penurunan modal karena berkurangnya profitabilitas. termasuk structured products. Kondisi Sektor Riil dan Infrastruktur Potensi instabilitas juga dapat berasal dari kondisi sektor riil dan infrastruktur domestik yang masih belum menggembirakan. menunjukkan bahwa kinerja korporasi pada umumnya mengalami penurunan terutama dari segi profitabilitas dan ketersediaan likuiditas. Selanjutnya. risiko reputasi dan risiko hukum dari bank-bank yang terkait dengan 4 . Secara keseluruhan. perbankan kemungkinan menjadi semakin selektif menyalurkan kredit. 1.

6. terutama apabila transparansi dan perlindungan konsumen masih belum diprioritaskan. baik bank maupun non-bank. khususnya dari sisi likuiditas. penerapan good governance akan membuat lembagalembaga keuangan semakin memperhatikan prinsipprinsip transparansi. masih ada persoalan yang tersisa yaitu masih terdapatnya segmentasi PUAB dimana bank-bank besar cenderung hanya bertransaksi dengan bank-bank besar pula. products. pelaksanaan manajemen risiko dan good governance di perbankan sudah mengalami kemajuan. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. financial stability index serta survey households untuk mendukung surveillance pada tingkat macroprudential. Ke depan.1. Namun demikian. 2. telah dikembangkan berbagai tools dan methodologies seperti stress tests. analisis probability of default.5. akan sangat membantu dalam pengambilan langkahlangkah yang diperlukan untuk memitigasi risiko untuk menghindarkan potensi kerugian. Manajemen risiko yang lebih baik 1. tekanan likuiditas yang sempat dialami pada semester kedua 2008 dewasa ini telah teratasi dan industri perbankan sudah semakin likuid. Memperkuat Manajemen Risiko dan Good Governance Cara yang terbaik untuk menekan potensi instabilitas di sektor keuangan adalah memperkuat manajemen risiko dan good governance di lembaga-lembaga keuangan. dapat diperkirakan bahwa Pemilu memperkuat manajemen risiko dan implementasi good governance di perbankan. segmentasi PUAB ini perlu segera diatasi karena dapat menimbulkan tekanan pada stabilitas perbankan. Dari waktu 5 . baik yang berasal dari investor lokal maupun investor international. Sementara itu. sementara bank-bank kecil dan menengah relatif masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana antar bank. Memperkuat Surveillance Mitigasi risiko di sektor keuangan juga dapat dilakukan dengan memperkuat surveillance. Untuk itu. untuk mengantisipasi dampak semakin memburuknya ekonomi global. diperlukan upaya yang lebih keras lagi untuk terus 1. dengan mempertimbangkan bahwa rakyat selama ini sudah semakin terbiasa dengan pesta demokrasi seperti halnya Pemilihan Gubernur dan Bupati yang berlangsung terus menerus silih berganti sepanjang tahun di berbagai tempat di dalam negeri. akuntabilitas dan fairness yang memungkinkan berjalannya mekanisme disiplin pasar dan perlindungan nasabah yang memadai. Hal tersebut antara lain karena penanaman yang berlebihan dalam produk tersebut dapat mendorong terjadinya pelarian dana investor domestik ke luar negeri. serta meningkatkan potensi terjadinya dispute dengan nasabah. Namun. Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Secara umum. khususnya jika dispute dengan nasabah tidak berhasil diselesaikan dengan baik. Perkembangan Politik dan Keamanan Dalam Negeri Pelaksanaan Pemilu 2009 dapat berdampak terhadap kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang apabila tidak terkendali dapat mengganggu stabilitas keuangan. membuat bank lebih terekspose risiko reputasi dan risiko hukum. Namun. Keberhasilan melaksanakan Pemilu dengan damai dan demokratis akan mendorong meningkatnya investasi di dalam negeri. MITIGASI RISIKO 2. 2.2.Gambaran Umum structured products juga berpotensi meningkat. perbankan juga perlu pula meningkatkan kehati-hatian terkait dengan kegiatan keagenan offshore tahun 2009 juga akan terlaksana dengan aman dan terkendali. Selain itu.

sejumlah ketentuan baru di bidang perbankan yang ditujukan antara lain untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. microprudential . dewasa ini perbankan dan otoritas pengawasan bank lebih siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998. Pemerintah telah mempersiapkan Rancangan Undang-undang tentang JPSK dan sudah mulai dibahas dengan DPR. 6 . PROSPEK STABILITAS SISTEM KEUANGAN Prospek stabilitas sistem keuangan ke depan diperkirakan masih akan tetap positif meskipun tantangan yang dihadapi akan semakin berat terutama karena belum pulihnya kondisi perekonomian baik domestik maupun global. kehatihatian perlu terus lebih ditingkatkan karena krisis global dewasa ini dinilai sebagai yang terberat paska Depresi Besar ( Great Depression ) tahun 1929. Terkait dengan hal tersebut. untuk memitigasi risiko karena bergejolaknya sektor keuangan pada bulan Oktober 2008. hal-hal yang mendasari perkiraan ini sebagai berikut. Ketiga. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global secara kolektif akan sulit dihindarkan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Ditengah-tengah optimisme tersebut di atas. sementara perbankan domestik relatif tidak memiliki masalah seberat perbankan di luar negeri. sementara PERPPU tentang JPSK tidak mendapat terjadi lebih banyak karena faktor eksternal. Memperkuat Protokol Manajemen Krisis Untuk memitigasi risiko dalam konteks yang lebih luas di sektor keuangan telah disusun protokol manajemen krisis yang merupakan bagian penting dalam kerangka Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Kedua. Sementara itu. Dalam perkembangan selanjutnya. dan (iii) Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Pertama.3. serta terus memperbaiki berbagai pendekatan yang digunakan dalam rangka penerapan Risk-Based Supervision. fungsi pengawasan bank terus diperkuat. infrastruktur sektor keuangan sudah semakin lengkap. Pemerintah telah menerbitkan 3 PERPPU. antara lain ditandai dengan adanya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang cukup dipercaya dan menimbulkan ketentraman bagi nasabah penyimpan dana di perbankan. Disamping itu. Kondisi terakhir. gejolak keuangan yang terjadi akhir-akhir ini 2. yaitu masing-masing tentang (i) Peningkatan penjaminan oleh LPS dari semula maksimal Rp100 juta menjadi Rp2 milyar perorang pernasabah.Gambaran Umum ke waktu masing-masing pendekatan ini terus direview dan dikembangkan agar dapat menjadi alat deteksi dini (early warning) yang andal. 3. PERPPU tentang perubahan cakupan penjaminan oleh LPS dan perubahan Undang-undang Bank Indonesia sudah mendapatkan persetujuan dari DPR. Penerbitan ketiga PERPPU tersebut terbukti membantu meredam tekanan likuiditas perbankan. Oleh karena itu sangat penting untuk membentengi sektor keuangan domestik dengan membuat jaring pengaman yang memadai serta mengedepankan kehati-hatian dalam menjalankan aktivitas usaha. (ii) Perubahan Undang-undang tentang Bank Indonesia yang memungkinkan penggunaan kredit lancar sebagai agunan dalam mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dari Bank Indonesia. sehingga perbankan tetap tenang meskipun pada saat tekanan likuiditas terjadi terdapat 1 bank yang diserahkan ke LPS untuk disehatkan. Sebagaimana yang akan diuraikan lebih rinci pada Bab 4. juga telah dikeluarkan. pada level persetujuan. antara lain dengan membenahi sumber daya manusia pengawasan bank. Faktor penting berikutnya yang mendukung prospek positif stabilitas keuangan ke depan adalah Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang saat ini rancangan Undangundangnya sudah dipersiapkan dan telah mulai dibahas di DPR.

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil 7 .

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Halaman ini sengaja dikosongkan 8 .

4%. 2008 9 . keadaan diperkirakan akan sedikit membaik dengan pertumbuhan sebesar 3. 1.0%. Perlambatan ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2009 yaitu menjadi hanya sekitar 0. Sementara itu. pelaku usaha melakukan efisiensi berupa pengurangan tenaga kerja dan pembatasan kegiatan ekspansi yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan pendapatan rumah tangga. Jika terus berlanjut.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Selama semester II 2008 stabilitas makroekonomi Indonesia masih tetap terjaga meskipun mendapat tekanan dari krisis keuangan global.1 Business Confidence Indicators Manufacturing PMls 65 60 55 50 45 40 35 1985 1990 1995 2000 2005 Okt 2008 Emerging Economies United States (values greater than 50 indicate expansion) Euro Area Sumber: World Economic Outlook-IMF November. Kondisi ini menyebabkan produsen dan konsumen melakukan langkah antisipasi dengan menahan diri untuk melakukan investasi dan konsumsi. Selama tahun 2008 perekonomian dunia diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3. Kelangkaan likuiditas dan peningkatan volatilitas di pasar uang memicu penurunan kepercayaan sektor korporasi (produsen) maupun sektor rumah tangga (konsumen) terhadap kondisi perekonomian. melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2007 yang sebesar 5. KONDISI MAKROEKONOMI Perkembangan ekonomi internasional selama semester II 2008 diwarnai oleh meluasnya krisis keuangan global hingga merambat ke sektor riil. Pada tahun 2010. Hal ini tergambar pada penurunan Business Confidence Indicator yang dikeluarkan oleh IMF. Penurunan kepercayaan pasar menyebabkan krisis keuangan merambat ke sektor riil sehingga mendorong terjadinya perlambatan ekonomi pada banyak negara termasuk Indonesia.2%.5%. hal ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan domestik. penurunan daya beli yang diiringi dengan penurunan harga menyebabkan profitabilitas sektor korporasi menurun. Hal tersebut berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara maju. Akibatnya. Grafik 1.

00) (2.7 2. memasuki semester II 2008. Penurunan permintaan terhadap barang dan jasa.00 3.1 Indikator Ekonomi Dunia (%) Kategori World Output: Advanced Economies United States Euro area Emerging & Developing Countries Consumer Price: Advanced Economies Emerging & Developing Countries1) LIBOR2) US Dollar Deposit Euro Deposit Yen Deposit Oil Price (USD) .0 4.3 4.3 5.9 10. maka penurunan kinerja ekspor tersebut menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.00) (3.0) (1. Penurunan tersebut juga diikuti oleh penurunan harga-harga komoditas utama dunia lainnya.4 Proyeksi 2009 0. Akan tetapi penting dicatat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat signifikan pada triwulan IV 2008.0 600 500 400 300 200 100 0 2000 Grafik 1.4 5.IMF Januari 2009 Penurunan kegiatan ekonomi di negara-negara maju berdampak pada penurunan permintaan terhadap komoditas yang menyebabkan turunnya harga komoditas di pasar global.00 2.7 0. harga minyak dunia mengalami penurunan lebih dari 50% hingga menjadi USD44.1%. pelemahan nilai tukar dollar AS dan gejolak yang terjadi di pasar uang mendorong beralihnya arus dana investasi ke pasar komoditi yang memicu terjadinya lonjakan harga komoditas.5 (2.1 1.2 5. atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi beberapa negara Grafik 1. khususnya dari negara-negara maju seperti AS dan Uni kinerja ekspor negara-negara emerging market termasuk Indonesia.1 1.0 36.rata-rata3) 2007 5. seiring dengan menurunnya jumlah permintaan akibat penurunan kegiatan ekonomi dan berkurangnya transaksi yang bersifat spekulatif di pasar komoditas.3 3.4 1. yaitu sebesar 6.0 2.6 1.0) 3.8 5.00 (1.00 1.3 0.2 Indeks Harga Beberapa Komoditas 1990 = 100 Minyak Timah Minyak Sawit Beras Aluminium Tembaga Emas Kopi Karet 600 500 400 300 200 100 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Bank Indonesia Eropa yang selama ini menjadi pasar ekspor utama negaranegara emerging market.3 Pertumbuhan PDB Negara Industri % 6.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Tabel 1. harga minyak mentah dan harga komoditas utama dunia lainnya menurun tajam.3 0.3 2.3 2.5) 2010 3.0 0. Harga minyak mentah dunia sempat mencapai level tertinggi mendekati USD150 per barrel yang diikuti pula dengan kenaikan harga komoditas lainnya.0 1.9 2.7 2008 3. Semula. namun secara keseluruhan selama tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tumbuh cukup kuat.0 (48.00 4.6) (2.4 20.5 9.0 2.2 3.0 6.8 1.6 0. Dibandingkan akhir semester I 2008.2 1.0 1.6 per barrel pada akhir semester II 2008. yang disertai dengan penurunan harga komoditas di pasar global menyebabkan turunnya Sumber: World Economic Outlook . Namun. pada semester I 2008.1 6.00 5. Karena pendapatan negara-negara emerging market umumnya tergantung pada hasil ekspor.6 8.00) Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Amerika Serikat Jerman Canada Jepang Inggris 2000 Sumber: Bloomberg 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 10 .2 2.

penurunan permintaan dan penurunan harga komoditas di pasar internasional menyebabkan tekanan inflasi yang terjadi cukup kuat pada pertengahan tahun 2008 mulai mereda.000 0 2007 Sumber: Bloomberg 2008 Efek Indonesia turun tajam sekitar 42.178 9.159 9.302 juta.3% dari 2. BI rate juga mengalami 11 .6 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah IDR/USD 14.039 9.210 14. Pelemahan ini masih terlihat meskipun volatitasnya sudah semakin berkurang. baik untuk memenuhi kebutuhan likuiditas (flight to liquidity) maupun mencari tempat penanaman yang dianggap lebih aman (flight to quality).00) Indonesia Thailand China 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Singapura Korea Selatan India 2007 2008 tukar rupiah melemah sekitar 20.267 9. Gejolak keuangan yang meningkat khususnya sejak awal semester II 2008 juga berdampak kepada terdepresiasinya nilai tukar rupiah dengan volatilitas yang juga meningkat. Sementara itu.000 6.000 Rata-rata semesteran 9.25%. Grafik 1.000 emerging market.5 Indeks Harga Saham Global 35000 30000 25000 20000 15000 10000 Singapore NYA New York Dow Jones Indonesia Nikkei 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 2007 2008 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Sumber: Bloomberg ASEAN lainnya seperti Singapura.288 9. Aksi pelepasan investasi asing tersebut antara lain menyebabkan neraca modal dan finansial Indonesia pada triwulan IV 2008 mengalami defisit.00) (6.00 3.000 9.00) (9.000 6. peningkatan intensitas krisis keuangan global memicu para investor menarik investasi portfolionya dari negara-negara 5000 0 2006 Sumber: Bloomberg Grafik 1. Kondisi tersebut ditopang oleh masih cukup tingginya pertumbuhan konsumsi swasta.172 9. khususnya dari sektor-sektor non tradable seperti sektor pengangkutan dan komunikasi. Korea Selatan dan Thailand. Dibandingkan akhir semester I 2008.355.314 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.50%.00 6.000 10.5% hingga mencapai Rp11. Selama tahun 2008 neraca pembayaran Indonesia diperkirakan defisit sebesar USD2.102 9. Momentum penurunan inflasi ini mendorong bank sentral di beberapa negara melakukan pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga guna mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi.281 9.151 9. di sisi keuangan. Dibandingkan akhir semester I 2008.000 8.067 9.842 8.258 9.000 0 2.4 Pertumbuhan PDB Beberapa Negara Emerging Market % 12.000 Rata-rata bulanan 12. sehingga mengimbangi penurunan di sektor-sektor yang berorientasi ekspor.000 8.00 9.075 9. sementara suku bunga European Central Bank turun menjadi 2.354 9.203 9. nilai Pada sisi lain.000 10.356 9.41 pada akhir semester II 2008.358 9.352 12.105 9.990 11. indeks harga saham gabungan di Bursa 4.11 menjadi 1.406 9.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Grafik 1.981 9.077 9. Kondisi ini juga dialami Indonesia.000 9.095 8.349. Pada bulan Desember 2008 Fed Fund Rate mencapai titik terendahnya 0.180 9.00 (3.803 11.120 per dollar AS pada akhir semester II 2008.000 4.

baik korporasi maupun rumah tangga. AS dan Singapura % 4. Grafik 1.0 0.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil penurunan menjadi 9. Kondisi ini pada gilirannya dapat berdampak pada penurunan daya beli rumah tangga.25% pada Desember 2008 yang berlanjut hingga menjadi 7.75% pada Maret 2009.0) (4. baik 12 . perusahaan mulai banyak mengandalkan dana dari pihak ketiga.0) Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Indonesia AS Singapura Penurunan harga. 0 Filipina Malaysia Singapura Indonesia Okt Jan Apr Thailand Vietnam Jul Okt 2. karena secara riil tingkat bunga di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya. dan kenaikan gaji pegawai negeri sipil. sektor korporasi terlihat mulai mengalami keterbatasan modal. KONDISI SEKTOR RIIL Perlambatan ekspor karena imbas krisis keuangan global berdampak pula kepada kinerja sektor rill dalam negeri. (5) Jan Apr Jul 2007 Sumber: CEIC 2008 Grafik 1.7 Perkembangan Inflasi ASEAN-5 dan Vietnam y.y % diharapkan dapat mengimbangi tekanan dari sektor eksternal.0) (6.8 Tingkat Bunga Riil Indonesia. kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang diperkirakan melebihi 11%. Untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Stimulus dari sisi moneter adalah penurunan suku bunga.0 (2. Tidak kalah pentingnya adalah kegiatan Pemilu maupun Pilkada yang 10 diperkirakan juga akan mendorong pertumbuhan konsumsi swasta yang sangat diperlukan untuk 5 mengimbangi tekanan dari sektor eksternal.o. Hal ini antara lain tercermin pada penurunan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan non financial go public yang menyebabkan terjadinya pembatasan kegiatan ekspansi maupun pemutusan hubungan kerja. sementara stimulus dari sisi fiskal antara lain adalah pelaksanaan program peningkatan daya beli masyarakat oleh pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Penurunan permintaan barang ekspor akibat perlambatan kegiatan ekonomi global kemungkinan akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara dari sisi pembiayaan. tekanan krisis ekonomi global terhadap ekonomi dan keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut. beberapa stimulus dari dalam negeri baik dari sisi moneter maupun dari sisi fiskal diperkirakan cukup mampu mendorong pertumbuhan konsumsi swasta dan terlihat dari menurunnya pertumbuhan profitabilitas usaha (ROA dan ROE) perusahaan-perusahaan tersebut pada triwulan III 2008 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun BI rate mengalami penurunan tetapi iklim investasi di Indonesia diperkirakan masih cukup menarik. Namun. Hal ini Ke depan. penurunan harga bahan bakar minyak dan tarif angkutan.0) (8. berkurangnya permintaan ekspor dan melemahnya daya beli masyarakat karena krisis global 2004 2005 2006 2007 2008 2003 Sumber: Bloomberg dan CEIC menyebabkan sektor korporasi khususnya perusahaan non financial go public mengalami penurunan margin.0 2.

8 0. perusahaan-perusahaan di sektor riil khususnya DER Debt/TA konglomerasi besar Indonesia juga berpotensi mendapat tekanan risiko nilai tukar.7 0.2 0.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil perbankan maupun melalui penerbitan obligasi dan surat berharga lainnya.4 0.8-0.00 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Probability of Default .4-0.1-0.1 0.10 21 14 6 9 0 4 1 1 23 171 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Bursa Efek Indonesia Grafik 1.4-0.5-0.3-0.1-0.3 0. hal ini merupakan salah satu indikasi dini tentang peningkatan risiko kredit ke depan. mendorong pelaku usaha khususnya di sektor yang berorientasi ekspor untuk melakukan efisiensi berupa pengurangan tenaga kerja dan pembatasan kegiatan ekspansi.7-0.9 Pertumbuhan ROA dan ROE Perusahaan Non Financial Go Public 700 600 500 400 300 200 100 0 -100 -200 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 ROA (kiri) ROE (kanan) 100 50 5 350 300 250 200 150 100 50 0 -50 -100 -150 0 0.2-0.40 1. meskipun cenderung non financial go public tersebut.0-0.6-0.40 0.September 2009 Selain menghadapi potensi peningkatan risiko kredit.20 1.11 Probability of Default (PD) Perusahaan Non Financial Go Public Jumlah 250 215 200 debt to equity ratio (DER) dan rasio total liabilities terhadap total assets (TL/TA) pada triwulan III 2008 dibandingkan dengan triwulan III 2007.60 0. Namun demikian.10 Perkembangan DER dan TL/TA Perusahaan Non Financial Go Public 1.2-0.6-0. Hal ini dapat diamati dari meningkatnya Grafik 1. konglomerasi besar Indonesia tampaknya perlu memperhatikan potensi risiko karena fluktuasi nilai tukar.0-0.00 0.10 4 3 2 0 1 1 0 19 Probability of Default .80 1.20 0. Hal ini berpotensi menambah jumlah pengangguran nasional. Bagi perbankan.8-0.80 0.5-0. Penurunan profitabilitas akibat penurunan daya beli yang diiringi dengan penurunan harga.2 0.7-0.6 0. Berdasarkan data terakhir pada tahun 2008.6 0.60 1. hasil estimasi probability of default (PD) juga menunjukkan adanya kenaikan.9-0.100 per USD.9-0.7 0. Berdasarkan data per September 2008.3 0. 150 Grafik 1.1 0.9 0. hasil stress test terhadap 46 konglomerasi besar yang rutin dipantau menunjukkan bahwa secara umum permodalan masih dapat dipertahankan dan baru akan tertekan sampai 100% 2003 Sumber: Bursa Efek Indonesia 2004 2005 2006 2007 2008 Sejalan dengan menurunnya kinerja perusahaan apabila nilai tukar rupiah melebihi Rp16.8 0.4 0.5 0.September 2008 Jumlah 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0.5 0.9 0.5 meningkat dari 21 perusahaan pada September 2008 menjadi 29 perusahaan pada September 2009. Jumlah perusahaan dengan PD lebih besar dari 0. 13 .3-0.

Pendapatan usaha netto 31% Sumber: Survey Neraca Rumah Tangga 2008 14 . tetap diperlukan kehati-hatian 10.81% dari total aset.13 Komposisi Sumber Pendapatan Rumah Tangga ekonomi yang melambat seperti sekarang ini.0 8. Hal ini tergambar dari masih kecilnya rasio hutang terhadap total pendapatan maupun terhadap disposable income. Namun. dapat menurunkan kemampuan membayar (repayment capacity) rumah tangga.0 2. Malaysia dan Singapura (September 2008).31% s. Dalam jangka pendek. bangunan dan tanah dengan porsi 76. Ke depan. mengingat 56% dari total pendapatan rumah tangga bersumber dari gaji dan tunjangan. maka pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan berpotensi menurunkan pendapatan rumah Grafik 1.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil bergerak turun tetapi tingkat pengangguran Indonesia sebesar 8. Aset rumah tangga Indonesia didominasi oleh non financial asset berupa rumah. Penurunan nilai aset dan penurunan pendapatan rumah tangga akan semakin menekan kemampuan membayar rumah tangga.0 4. Seiring kecilnya eksposur aset rumah tangga pada sistem keuangan. yaitu hanya berada pada kisaran 6. tantangan di sektor rill diperkirakan masih akan tetap tinggi sejalan dengan masih terbatasnya pembangunan infrastruktur di dalam negeri.4% masih menjadi yang tertinggi di bandingkan beberapa negara ASEAN lainnya. Grafik 1. Jika berhasil diwujudkan maka stabilitas sistem keuangan ke depan diperkirakan akan tetap terpelihara dengan baik. mengingat kenaikan nilai aset tersebut diperkirakan lebih dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga properti yang terjadi secara persisten sejak tahun 2004. Dalam kondisi Hasil survey Neraca Rumah Tangga (Household) menunjukkan bahwa pada tahun 2008 secara keseluruhan rumah tangga Indonesia masih mempunyai kemampuan membayar hutang yang cukup baik. Thailand (November 2008).0 6. besar kemungkinan permintaan terhadap properti akan menurun sehingga harga properti juga berpotensi turun. Namun. Apabila kondisi ini terus berlanjut. Jika harga properti turun tentunya nilai aset rumah tangga juga akan turun. Sementara itu.0 Indonesia Thailand Malaysia Singapura Sumber: CEIC Keterangan: *) : Data untuk Indonesia (Agustus 2008). Sebagai antisipasi terhadap tekanan ekspor yang cukup besar. diperkirakan dampak langsung volatilitas pasar keuangan terhadap kondisi aset rumah tangga relatif kecil. Perekonomian diperkirakan juga akan masih dipengaruhi imbas krisis keuangan global. rumah tangga Indonesia tampaknya masih memiliki eksposur yang kecil terhadap aset keuangan. dilihat dari komposisi asetnya.62%.12 Tingkat Pengangguran Beberapa Negara ASEAN % 2006 2007 2008*) tangga. 28.d. beberapa stimulus yang telah dikeluarkan baik dari sisi moneter maupun fiskal diharapkan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi dan ketahanan sektor riil.0 0. diperlukan langkahlangkah untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor Penerimaan Pensiun 3% Lainnya 10% Gaji dan Tunjangan 56% usaha yang non tradable.

Gambaran Umum Neraca Rumah Tangga Indonesia Aset Rumah Tangga Seperti lazimnya di negara sedang berkembang. yaitu masing-masing sebesar 102. apabila kebutuhan tak terduga tersebut sudah melebihi dana cadangan maka rumah tangga mengatasinya dengan berhutang. Hal itu tercermin pada rasio total pengeluaran terhadap total pendapatan rumah tangga dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang di bawah 100%. aset rumah tangga Indonesia didominasi aset non keuangan (non financial asset) berupa properti seperti rumah.81% dari total aset.12%.39%). dan asset keuangan (7. Namun demikian. Namun. mencapai 96. dan 103. Tujuan pinjaman atau berhutang adalah 24% untuk modal usaha. DI Yogyakarta. ternak dan lainnya) sedikit meningkat.62%).553 rumah tangga. aset keuangan rumah tangga didominasi oleh penanaman pada bank (73%). diikuti oleh pembiayaan dari lembaga keuangan non bank (0. 14% untuk membangun atau renovasi rumah. Pembiayaan dari hutang bank hanya 3.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Boks 1. Sementara itu.47%) dan sumber dana lainnya 15 .57%). komposisi aset non keuangan lainnya (emas. yaitu masing-masing sebesar 83. Hal ini dipicu kenaikan harga emas pada pertengahan 2008 yang mendorong rumah tangga mengalihkan sebagian aset keuangannya ke dalam bentuk emas. kemampuan menabung rumah tangga yang tidak memiliki hutang cenderung lebih besar.61%. bangunan dan tanah dengan pangsa sebesar 76.59%. diikuti oleh penanaman pada lembaga keuangan non bank (13%). Bali.64% dan 83. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Sumber Dana Rumah Tangga Sumber dana utama rumah tangga adalah dari penghasilan sendiri (networth). Survei dilakukan pada 10 propinsi (Sumatera Barat. 16% untuk membeli alat transportasi. DKI Jakarta.01% dari total aset. Gorontalo) dengan total responden 3. Dibandingkan hasil survei 2007. Jawa timur. Berdasarkan nominalnya. Sementara rata-rata jangka waktu pengembalian hutang adalah sekitar 20 bulan. terlihat pada rasio total pengeluaran terhadap total pendapatan rumah tangga dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang lebih rendah. Kalimantan Timur. Hutang Rumah Tangga Sebagian besar (sekitar 65%) responden menyatakan bahwa mereka memiliki uang tunai yang disisihkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tak terduga. dan 13% untuk konsumsi makanan. (0.13% dari total aset. Kalimantan Selatan.1 Survei Neraca Rumah Tangga Indonesia 2008 Neraca rumah tangga (household) merupakan indikator penting untuk menganalisis potensi risiko kredit dari sektor rumah tangga. hutang rumah tangga Indonesia didominasi oleh hutang bank (78%). yaitu masing-masing sebesar 91. Hal ini tercermin dari rasio total pengeluaran terhadap total pendapatannya dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang di atas 100%.39%. Bank Indonesia bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) melakukan survei guna menyusun neraca rumah tangga Indonesia. diikuti oleh aset non keuangan lainnya (15. Sementara itu.29% dan 90. diikuti oleh hutang kepada lembaga keuangan non bank (12%) dan sumber lain diluar lembaga keuangan (10%). Pada bulan Juni 2008. Relatif tingginya networth rumah tangga didukung kemampuan menabung. kemampuan menabung kelompok rumah tangga yang berhutang cenderung kurang memadai sehingga berhutang untuk membiayai kebutuhan dan pembelian asetnya.

22%.2 Tujuan Pinjaman Rumah Tangga dan LKBB adalah yang tertinggi (72. risiko rumah tangga yang berhutang terhadap sektor keuangan relatif rendah mengingat kemampuan membayar kewajibannya yang jatuh tempo cukup baik.1. Sementara itu. Selanjutnya.38% dan 11.1 Komposisi Hutang Rumah Tangga (dalam % terhadap Total Hutang) hutang rumah tangga terhadap total pendapatan maupun disposable income kurang dari 100%.11% dan 33. bangunan. Dari pengelompokkan rumah tangga berdasarkan sumber hutangnya. yaitu masingmasing hanya 3. dan tanah). Hal tersebut mencerminkan bahwa kelompok rumah tangga yang berhutang cenderung juga masih mempunyai kemampuan membayar yang baik. kelompok rumah tangga tersebut diperkirakan masih memiliki kemampuan membayar yang baik apabila terdapat kewajiban yang jatuh tempo. namun kedua rasio tersebut juga masih di bawah 100%. nilai rasio tersebut juga masih di bawah 100%. Debt servicing ratio (cicilan pokok pinjaman dan biaya bunga terhadap Hutang LKBB 12% Hutang Lainnya 10% disposable income) rumah tangga juga kurang dari 100% yaitu hanya sebesar 6. meskipun rasio hutang terhadap disposable income maupun debt servicing ratio dari kelompok rumah tangga yang berhutang kepada bank Grafik Boks 1. Nilai household Membangun/Reno vasi Rumah 14% Kesehatan 3% Pendidikan 8% Potensi Risiko Potensi risiko terhadap sistem keuangan terutama ditransmisikan melalui volatilitas harga properti mengingat mayoritas aset rumah tangga berupa gearing ratio yang kecil ini juga merupakan salah satu indikasi bahwa rumah tangga masih mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk mendapatkan tambahan pembiayaan dari bank.1.03%. housing asset (aset properti seperti rumah.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Grafik Boks 1. diketahui bahwa kelompok rumah tangga yang berhutang kepada bank dan LKBB mempunyai household gearing ratio tertinggi dibandingkan lainnya. Dengan demikian. Hasil survei menunjukkan bahwa rasio 16 . Namun.31%. Konsumsi makanan 13% Elektronik 2% Membeli Alat transportasi 16% Membeli Tanah/Rumah tidak ditempati 2% Membeli Rumah ditempati sendiri 2% Lainnya 16% Modal usaha 24% Solvency Ratio Rasio ini menggambarkan kemampuan aset rumah tangga untuk meng-cover hutangnya apabila terjadi default . Kecil angka rasiorasio ini mengindikasikan bahwa rumah tangga mampu Hutang bank 78% mengelola pengeluarannya sedemikian rupa sehingga pendapatan yang dihasilkan dapat digunakan untuk membayar kewajibannya yang jatuh tempo. Berikut dikemukakan hasil analisis menggunakan beberapa rasio keuangan: Liquidity Mismatch Ratio Rasio ini menggambarkan kemampuan pendapatan rumah tangga untuk membayar kewajibannya.08%).87% dan 4. yaitu sebesar 10. Hasil survei menunjukkan bahwa kemampuan aset rumah tangga Indonesia cukup baik tercermin dari household gearing ratio (rasio total hutang terhadap total aset) maupun rasio total hutang terhadap networth yang sangat rendah.

namun telah berkembang menjadi salah satu indikator sovereign risk. 2004).4 yaitu terendah sejak Desember 2005. Credit Risk: Pricing. K. Sementara itu. Princeton University Press. Gejolak pasar keuangan yang sempat terjadi pada semester II 2008 telah menyebabkan harga dan spread CDS Indonesia menjadi melonjak tinggi. Princeton. yaitu dengan menganalisis perkembangan Credit Default Persepsi tersebut cenderung kurang menggambarkan kondisi yang sebenarnya mengingat harga dan spread CDS yang tinggi tersebut juga dipicu oleh tipisnya pasar. (2003). CDS dapat dipandang sebagai asuransi atau perlindungan atas default-nya kredit atau bonds (Duffie dan Singleton. D.2. D. and Management. dan Singleton. harga dan spread CDS sudah mulai menurun.J. perkembangan harga dan spread CDS semakin menjadi pusat perhatian. CDS dikenal luas sebagai salah satu instrument credit derivative .2. untuk tujuan surveillance ketahanan sistem keuangan. 17 . Namun.2 Perkembangan Spread CDS Indonesia Indonesia Philipin Korea Thailand 2 Ags 1 Sep 1 Okt 31 Okt 30 Nov 30 Des 29 Jan 2008 Sumber : Bloomberg 2009 Daftar Pustaka: Lando. sejalan dengan semakin memburuknya pasar keuangan global. harga dan spread CDS Indonesia juga masih menjadi yang tertinggi.1 Perkembangan Harga CDS Indonesia 1200 1000 800 600 400 200 0 3 Jul 2 Ags 1 Sep 1 Okt 31 Okt 30 Nov 30 Des 29 Jan Swaps (CDS). apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Princeton University Press. Hal ini mengindikasikan kentalnya persepsi pasar bahwa risiko kredit korporasi Indonesia masih tergolong tinggi.2 ini dikemukakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai perkembangan risiko kredit sektor korporasi. Lando. Grafik Boks 1. Namun demikian. CDS tidak saja sebagai cerminan risiko kredit korporasi. New Jersey.2 Risiko Kredit Sektor Korporasi: Credit Default Swaps (CDS) Sektor riil mencakup 2 komponen yaitu rumah tangga (household) dan korporasi. New Jersey. Credit Risk Modeling. Bahkan. Measurement. Perkembangan terakhir sektor rumah tangga telah diungkapkan pada Boks 1. Princeton. harga (price) CDS juga tetap perlu diperhatikan karena juga dapat menggambarkan perkembangan tekanan pasar. (2004). risiko kredit tercermin pada spread CDS. mencapai 1111. Duffie. Namun demikian. Puncaknya adalah sekitar tanggal 28 Oktober 2008 pada saat Bursa Efek Indonesia terpaksa ditutup sementara karena IHSG merosot tajam. Akhir-akhir ini. data tentang harga dan spread CDS ini dapat dijadikan sebagai salah satu alat deteksi dini (early warning). 2003. Pada Boks 1.1. Secara konseptual.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Boks 1. meskipun tetap lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum Oktober 2008. Secara teknis. setelah Pemerintah dan Bank Indonesia mengambil sejumlah kebijakan penting. 370 320 270 220 170 120 70 20 -30 -80 3 Jul Indonesia Philipin Korea Thailand 2008 Sumber : Bloomberg 2009 Grafik Boks 1.

3% 1.5% 0.0% 77.6% 1.0% 2 8.3% 68.1% 0. perhitungan kecukupan modal ( capital requirements) sesuai rekomendasi New Basel Accord (BIS.6% 10.d.5% 7.9% 27. Hasil estimasi menunjukkan bahwa dari ketiga sektor tersebut.0% 5 1.0% 5 0.1% 59.4% 33.0% 4 0.9% 0. Rating Transition Matrices oleh Hadad et al.7% 14.0% 0.0% 3 0.0% 3 0.4% 4. Kesimpulannya adalah metode Continuous Time memberikan hasil yang lebih efisien dibandingkan metode Cohort. metode Continuous Time juga memungkinkan adanya Tabel Boks 1.6% 2. Matriks transisi merupakan salah satu input penting dalam berbagai aplikasi manajemen risiko.0% 0.0% 4 0.0% 18 .6% 99.0% Tekstil Kolek 1 2 3 4 5 1 94.7% 3.5% 1. 2007 dalam KSK No. 2001) antara lain harus memperhatikan migrasi rating.5% 3.7% 23.1% 92.4% 15.4% 2. Penelitian sebelumnya (Credit Risk Modelling: Continuous Time dengan pertimbangan lebih unggul dibandingkan metode Cohort.3% 0. Peluang migrasi debitur NPL ke PL pada sektor properti lebih besar dibandingkan 2 sektor lainnya. serta mengasumsikan bahwa proses rating kredit mengikuti Markov chain .4% 100.0% 0.0% 84. Melanjutkan penelitian Hadad et al. debitur-debitur pada sektor properti cenderung lebih baik dibandingkan 2 sektor lainnya.0% 28.0% 3 0.0% 1.3% 0. yaitu metode Continuous Time dan metode Cohort .3 Transition Matrices: Potensi Risiko Kredit Korporasi pada 3 Sektor probabilitas migrasi ke rating yang memiliki jarak cukup jauh (rating default).8% 0.Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Boks 1. (2007).5% 53.0% 2 3.6% 100.0% 19.3% 28. transportasi dan tekstil) selama tahun 2008 dengan menggunakan data triwulanan SID yang mencakup 448. 4 dan 5 (Non Performing Loans atau NPL) pada sektor properti lebih kecil dibandingkan 2 sektor lainnya.0% Transportasi Kolek 1 2 3 4 5 1 89.0% 0.8% 1..3% 0.5% 1. Juni 2006.5% 2.5% 100.183 debitur.0% 0.7% 5.7% 3. Adapun pendekatan yang digunakan adalah metode Transition matrices (matriks transisi) merupakan salah satu alat atau pendekatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi risiko kredit pada korporasi. Peluang migrasi debitur kolektibilitas 3 ke kolektibilitas 5 pada sektor properti lebih kecil dibandingkan 2 sektor lainnya. yaitu dengan menghitung probabilitas terjadinya migrasi rating atau perubahan kualitas kredit terakhir suatu perusahaan.8% 4.4% 0.3.7% 0.8% 4.7% 0.0% 4 0.0% 0.0% 2 9.0% 5 1. Selain itu.5% 0.7% 3. dilakukan penelitian baru untuk mempelajari migrasi kolektibilitas kredit pada 3 sektor (properti. Penelitian tersebut menggunakan dua pendekatan.9 September 2007) menggunakan rating yang dikeluarkan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sejak Februari 2001 s. Bahkan.3% 1.1% 1.7% 64.4% 37.6% 0.1 Migrasi Kolektibilitas Debitur 3 Sektor Properti Kolek 1 2 3 4 5 1 89.3% 1. Hal ini tercermin pada: Peluang migrasi debitur dengan kolektibilitas 1 dan 2 (Performing Loans atau PL) ke kolektibilitas 3.

Bab 2 Sektor Keuangan Bab 2 Sektor Keuangan 19 .

Bab 2 Sektor Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 20 .

sekuritas dan pegadaian relatif masih tetap rendah. Pada industri perbankan.0% Perusahaan Pembiayaan Perusahaan Sekuritas Pegadaian tengah terjadi tidak berdampak signifikan terhadap industri perbankan.11 (Juni 2008) menjadi 21 .310. pangsa industri keuangan lainnya. krisis global telah sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga Surat Utang Negara (SUN).d.Bab 2 Sektor Keuangan Bab 2 Sektor Keuangan Selama semester II 2008.8% 2. Grafik 2. pertengahan Maret 2009. 2.0% 1.2% 8. dana pensiun.1 Komposisi Aset Lembaga Keuangan 3.41 (Desember 2008) atau turun 42. Industri perbankan yang terdiri dari bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) masih tetap mendominasi dengan pangsa sekitar 74% dari total asset sektor keuangan. sejak akhir Desember 2008 s.62%.6% selama periode 25 September 2008 s.3% selama periode 30 Juni s.3%. 15 bank besar menguasai sebagian besar (70%) total aset industri. perusahaan pembiayaan. STRUKTUR SISTEM KEUANGAN INDONESIA Dibandingkan dengan kondisi pada semester sebelumnya. meskipun kembali rebound sebesar 8. pada semester II 2008 struktur sistem keuangan Indonesia tidak banyak mengalami perubahan.349. total asset bank umum bertumbuh Rp269. Sementara.355. ketahanan sistem keuangan dapat tetap terjaga. Secara umum. krisis global telah memicu merosotnya IHSG dari 2.d. Sementara itu.3% 5. Namun.1.2%) menjadi Rp2.7 triliun (13. harga SUN kembali mengalami tekanan dan turun sekitar 5. harga SUN juga sempat turun yaitu sekitar 2. Perbankan sebagai industri yang paling dominan di sektor keuangan masih tetap menunjukkan kinerja yang positif. sektor keuangan Indonesia terus bertumbuh ditengah semakin beratnya tekanan yang berasal dari krisis keuangan global. Namun.7% Bank Umum BPR Perusahaan Asuransi Dana Pensiun 79.1% 0.6 triliun. Selama semester II 2008. Pertumbuhan ini merupakan salah satu pertanda bahwa krisis global yang 1. 25 September 2008. Akan tetapi. 31 Desember 2008.d. yaitu asuransi.

2.3 triliun. 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2.60 pada akhir Juni 2008 menjadi 2. sektor keuangan dalam negeri bergejolak sehingga stabilitas keuangan selama semester II 2008 mengalami tekanan (lihat Boks 2.43. dengan skenario moderat sebesar 1. Penurunan FSI tersebut mencerminkan bahwa stabilitas keuangan secara umum masih relatif terjaga.2 Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index) 3 2. Akibatnya. INDEKS STABILITAS KEUANGAN Perkembangan stabilitas keuangan dari waktu ke waktu tercermin pada Indeks Stabilitas Keuangan atau Grafik 2. nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. ke depan pada akhir Juni 2009.06 per Januari 2009. investasi pada lembaga non perbankan dinilai oleh sebagian pemilik dana sebagai berisiko tinggi dan imbal hasil yang diperoleh cenderung tidak pasti dibandingkan dengan menyimpan dana di perbankan.8 Maret 2007 dan No.3. Oleh karena itu.10 2.77 Financial Stability Index (FSI). Bersamaan dengan itu. Faktor penting lain yang turut mendorong kenaikan DPK adalah kebijakan Pemerintah melalui PERPPU pada 1 Uraian detail tentang metodologi dan pendekatan yang digunakan untuk menghitung Indeks Stabilitas Keuangan dapat dilihat pada KSK No.9 September 2007. FSI meningkat tajam dari 1.10 pada akhir Desember 2008. baik giro.1).Bab 2 Sektor Keuangan 2. Bahkan.13 1. sejak Oktober 2008. PERBANKAN 2. Dengan demikian. Respon kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia juga berhasil meredam gejolak keuangan yang sempat terjadi. dan baru tumbuh positif sejak pertengahan semester.5 1 0. DPK tumbuh positif sekitar 12. Tingginya angka FSI tersebut lebih banyak karena merosotnya IHSG dan harga SUN sebagai imbas krisis global. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa tekanan krisis keuangan global mulai sedikit menurun yang ditandai dengan mulai membaiknya IHSG dan harga SUN. Peningkatan tersebut terjadi pada semua komponen. Peningkatan DPK sejak pertengahan semester II 2008 tampaknya terkait dengan tingginya suku bunga pada waktu itu sebelum akhirnya diturunkan di penghujung tahun 2008. pertengahan Oktober 2008 untuk meningkatkan besarnya cakupan penjaminan simpanan oleh LPS dari sebesar 22 . FSI diperkirakan akan mencapai sekitar 1. Terlebih di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil. pada awal semester II 2008 tumbuh negatif. sebagai sumber dana utama perbankan.77 √ 2.95 1. angka FSI dalam dua bulan terakhir 2008 telah melampaui batas indikatif maksimum 2.1. mencapai 2. FSI semakin menurun. prospek stabilitas keuangan diperkirakan masih tetap positif dan stabilitas sistem keuangan ke depan akan relatif tetap terpelihara.5 2 1.753.13. maupun deposito. Sejalan dengan itu. dengan posisi tertinggi pada bulan November 2008 sebesar 2. Tingginya suku bunga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi naiknya minat masyarakat untuk kembali menanamkan dananya di perbankan.3.1 Terpengaruh oleh krisis keuangan global.5 0 2003 Proyeksi FSI FSI 2. Kenaikan signifikan DPK sejak bulan September 2008 menyebabkan selama periode laporan. tabungan.87% mencapai Rp1. Pendanaan dan Risiko Likuiditas Perkembangan Dana Pihak Ketiga Dana Pihak Ketiga (DPK).95 atau relatif lebih rendah dibandingkan posisi akhir Desember 2008.

300 8. pada saat ekses likuiditas mencapai titik terendah. dan Surat-surat Berharga. penempatan lainnya pada Bank Indonesia selain Giro pada BI (Fasbi/FTK).6 Ekses Likuiditas Bank 250 200 290 285 SBI (ki) SUN (kn) 280 150 290 27 100 24 DPK va dlm Rp (skala kanan) 21 230 260 50 0 Des 2007 Fasbi/FTK (ki) 275 270 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des 18 Des 2007 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des 200 2 Ekses likuiditas terdiri dari SBI.36 miliar.58 miliar. Selain itu. ekses likuiditas turun sekitar 30. Kebijakan tersebut dinilai cukup efektif untuk Grafik 2. 23 . Grafik 2. 30 27 Grafik 2. maka apabila dihitung dalam denominasi valas. karena faktor depresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD yang cukup besar selama periode laporan.Bab 2 Sektor Keuangan Rp100 juta menjadi Rp2 miliar per nasabah per bank. Namun.18% (ytd) dengan penurunan terbesar pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Akibatnya.900 10. terutama pada komponen deposito dan giro yang masing-masing turun sebesar USD0.700 dalam USD (skala kiri) mempertahankan dan bahkan mendorong peningkatan dana masyarakat di perbankan.500 500 18 Des Apr Ags Des Apr Ags Des 2006 2007 2008 450 Giro (ki) 450 300 Kecukupan Likuiditas Lambatnya pertumbuhan DPK pada awal semester 400 150 II 2008 yang terjadi bersamaan dengan keringnya 350 Des 2007 0 Feb Aprl Jun 2008 Ags Okt Des likuiditas global menyebabkan kondisi likuiditas perbankan domestik ikut tertekan.5 Perkembangan DPK Valas vs Nilai Tukar Rupiah USD miliar Rupiah 12. pertumbuhan DPK valas selama periode laporan justru turun sebesar USD1.100 24 nilai tukar rupiah thd USD (skala kanan) 900 750 600 Tabungan (ki) 21 9.d. Grafik 2. pertumbuhan DPK dalam valuta asing tercatat sebesar 18.94% atau sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK rupiah sebesar 18.85%.500 11.98 miliar dan USD0. bulan Oktober 2008. ternyata sebagian besar dibiayai dengan pencairan secondary reserves sehingga menekan likuiditas perbankan.3 Perkembangan DPK Rp triliun 550 Deposito (ka) 10. kecukupan likuiditas semakin berkurang dengan puncaknya pada bulan Agustus 2008.4 Perkembangan DPK Valas USD miliar 30 DPK va dlm USD (skala kiri) Rp triliun 320 pertumbuhan kredit yang cukup tinggi s. Berdasarkan jenis valuta. 2 Sampai dengan bulan tersebut.

baik yang bersifat ekspansi (FTE) untuk memberi kelonggaran bagi bank yang kesulitan likuiditas. dan penempatan lainnya). Bersamaan dengan itu. Dengan angka rasio yang kurang dari 100%. cenderung menurun. Selanjutnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi likuiditas perbankan sudah semakin terkendali. terdapat kecenderungan bank-bank domestik untuk menahan likuiditasnya dan membatasi transaksi antar bank sehingga menimbulkan segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Namun. Sementara itu. baik dalam rupiah maupun valuta asing (valas). (2-14 hari) untuk membantu bank yang mengalami kesulitan likuiditas.7 Volume Transaksi PUAB DN (rata-rata per hari) Rp triliun 14 12 400 10 8 6 4 100 2 PUAB Rupiah 0 Jan Mar Mei Jul USD juta 500 300 200 PUAB valas Sep Nov 0 2008 Untuk meminimalkan dampak segmentasi di PUAB. yaitu 84. termasuk pelonggaran kewajiban GWM rupiah dan valas. Grafik 2. Langkah-langkah ini terbukti cukup berhasil mengatasi tekanan likuiditas pada industri perbankan. Sedangkan NCD diasumsikan terdiri dari 30% giro + 30% tabungan + 10% deposito jangka waktu s. antara lain karena kebijakan Pemerintah meningkatkan besarnya cakupan penjaminan simpanan oleh LPS. tekanan likuiditas mulai berkurang.9%. Bank Indonesia juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi tekanan likuiditas.Bab 2 Sektor Keuangan Selain tercermin pada penurunan jumlah ekses likuiditas. Hal ini dilakukan dengan memperpanjang tenor FTE dari maksimum 14 hari menjadi maksimum 3 bulan agar bank dapat memperoleh akses lebih besar terhadap likuiditas dari bank sentral. berkurangnya kecukupan likuiditas bank juga ditunjukkan oleh rasio alat likuid terhadap Non Core Deposits (NCD)3 yang terus menurun dan mencapai angka terendah pada bulan Agustus 2008. Kenaikan DPK tersebut. SBI. Bank Indonesia kemudian melakukan penyempurnaan pada fitur FTO. maupun yang bersifat kontraksi (FTK) sebagai fasilitas penempatan dana bagi bank dengan kelebihan likuiditas.d 3 bulan. dalam rangka mengetahui ketahanan likuiditas perbankan. Rasio ini menunjukkan kemampuan bank untuk dapat memenuhi penarikan DPK sewaktu-waktu. kondisi likuiditas industri perbankan semakin membaik sehingga mendorong meningkatnya ketahanan likuiditas. Disamping itu. Bank Indonesia juga mengadakan transaksi repo dengan tenor lebih panjang Pasar Uang Antar Bank Sejalan dengan meningkatnya tekanan likuiditas global. maka ketahanan likuiditas perbankan pada waktu itu cenderung kurang memadai. Akibatnya. sehingga pada akhir Desember 2008 berhasil mencapai 109.1%. Bank Indonesia telah melakukan enhancement Operasi Pasar Terbuka (OPT) sejak Februari 2008. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Perkembangan positif tersebut juga tercermin dari angka rasio alat likuid terhadap NCD yang terus membaik. khususnya terhadap kemungkinan penarikan DPK secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar telah dilakukan suatu simulasi dengan mengasumsikan bahwa penurunan/penarikan DPK akan dibiayai dari ekses 24 . rata-rata per hari volume transaksi bank pada PUAB Dalam Negeri (DN) 3 Alat likuid terdiri dari kas dan penempatan pada BI (Giro BI. Setelah mengaktifkan fasilitas Fine Tune Operation (FTO). seiring dengan kenaikan signifikan DPK sejak awal September 2008.

3. Pada tahun 2008. Mengingat selama periode laporan telah terjadi depresiasi nilai tukar rupiah yang signifikan.2% pada Desember 2008. target kredit tersebut sudah terlampaui hingga mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2008 dengan pertumbuhan 37% yoy.8 Pertumbuhan Kredit (yoy) % 50 Kredit Valas dlm USD Total Kredit Total Kredit (NT Tetap) Kredit Rupiah Kredit Valas dlm Rp 2.2. Waktu itu pertumbuhan kredit mencapai 25% atau lebih tinggi dari target sebesar 22%. dari krisis global. yaitu sebesar 25. Gejala pertumbuhan kredit yang pesat sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2007.Bab 2 Sektor Keuangan likuiditas bank. maka dengan menghilangkan faktor nilai tukar. Sejalan dengan meningkatnya tekanan karena memburuknya perekonomian.87%.7%. Selain itu.9 Perkembangan Kredit 2007-2008 2008 2007 Kredit Valas (USD T) Kredit Valas (Rp T) Kredit Rupiah (Rp T) Total Kredit (Rp T) (15) 0 25 65 105 145 185 225 265 Sebelumnya telah dikemukakan bahwa selama periode laporan dana pihak ketiga (DPK) bertumbuh sekitar 12. Grafik 2. Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit mendorong peningkatan loan to deposit ratio (LDR) dari 76. sebelum tahun 2008 berakhir. Perkembangan dan Risiko Kredit 45 40 35 30 25 Perkembangan Kredit Pertumbuhan kredit yang tinggi menjadi hal yang menonjol pada tahun 2008.5% pada akhir tahun. Tingginya pertumbuhan kredit antara lain didorong oleh tingginya permintaan pengusaha domestik untuk modal kerja dan investasi sejalan dengan semakin sulitnya mendapat pendanaan dari luar negeri sebagai dampak 20 15 10 5 0 Des 2007 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des Data Des'08 menggunakan data LHBU Grafik 2. Namun. perbankan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 24%. juga telah dilakukan stress test risiko likuiditas untuk mengetahui ketahanan permodalan dalam menyerap biaya mendapatkan likuiditas dari PUAB apabila bank menghadapi kesulitan pendanaan. Hasil simulasi berdasarkan data akhir Desember 2008 menunjukkan bahwa ekses likuiditas yang dimiliki bank masih mencukupi untuk mengcover penurunan DPK hingga 29. sesuai Rencana Bisnis. Hasil stress test menunjukkan bahwa secara umum permodalan bank masih cukup kuat menghadapi tekanan risiko likuiditas dimaksud. Bahkan 25 . pertumbuhan kredit tahun 2008 sebenarnya lebih rendah.27%. Pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut dapat pula dipandang sebagai hasil dari berbagai kebijakan Bank Indonesia pada waktu-waktu sebelumnya dalam rangka mendorong fungsi intermediasi perbankan.6% pada Juni 2008 menjadi 77. Pertumbuhan kredit yang cukup tinggi tampaknya juga bagian dari strategi bank untuk mempertahankan tingkat laba karena spread antara biaya bunga DPK dengan pendapatan bunga dari penanaman pada PUAB dan SBI cenderung semakin menipis. sejak bulan November 2008 pertumbuhan kredit mulai melambat sehingga mencapai 29.

Air dan Gas. sektor Pengangkutan dan 26 . Lain-Lain (Konsumsi) serta Perdagangan. terutama untuk sektor Industri Pengolahan. Grafik 2.10 Pertumbuhan Kredit Kelompok Bank (ytd) 32% 46% Jasa Sosial Jasa Dunia Usaha Pertanian Konstruksi Pengangkutan Industri Pengolahan Lain-lain 50% Industri Asing Campuran BPD Swasta BUMN 0 10 20 30 27% Perdagangan 0 20 36% 40 60 80 100 120 140 % 32% 2008 2007 Meskipun tidak sebesar pertumbuhan kredit lainnya. Dari segi kelompok bank.6 triliun dan diikuti kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp10. sektor Jasa Dunia Usaha. Komunikasi.9 triliun. Dengan demikian.11 Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan (ytd) 2008 2007 Konsumsi 29% 37% Investasi Modal Kerja 32% 0 10 20 30 40 % Grafik 2. sektor Konstruksi.6% dari total kenaikan kredit Properti selama semester laporan yang mencapai Rp18. peningkatan kredit bank Swasta cenderung lebih rendah dibandingkan semester sebelumnya.6% 19. pertumbuhan kredit yang cukup tinggi terdapat pada sektor Listrik.2% 37. Sementara itu. dan sektor Industri Pengolahan. Selama periode laporan. 50 % 40 Kredit Konsumsi tetap meningkat sebesar Rp39 triliun selama semester II 2008. pangsa Suatu hal yang menggembirakan dari penyaluran kredit selama semester II 2008 adalah cukup tingginya penyaluran kredit untuk sektor produktif. pertumbuhan kredit Lainnya dan KPR menjadi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Kartu Kredit.5 triliun. Kenaikan kredit konsumsi terutama berasal dari peningkatan kredit Lainnya (mencakup kredit kendaraan bermotor.1% 20. kredit kelompok bank Persero meningkat signifikan.7% 2008 2007 133. Sementara itu. selama tahun 2008.1 triliun. dan lain-lain) sebesar Rp25. Perlambatan pertumbuhan kredit pada kelompok bank Swasta terutama untuk sektor Perdagangan dan Lain-Lain (Konsumsi). Hal ini tercermin pada Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi yang mendominasi penyaluran kredit dengan menyumbang masing-masing sebesar 49% dan 27% dari total kenaikan kredit. Dengan total kredit mencapai Rp198.Bab 2 Sektor Keuangan angka LDR sempat mencapai titik tertinggi setelah krisis 1997/1998 yaitu sebesar 81.6% pada Agustus 2008. sedangkan sektor Industri Pengolahan masih naik cukup besar. secara keseluruhan pertumbuhan Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi selama tahun 2008 bertumbuh cukup tinggi masingmasing 32% dan 37%.8% Grafik 2.9% 11. KPR menyumbang 54.1% 39.9% 29. Sementara itu.8% 70. walaupun masih tumbuh tinggi. secara sektoral. dari 3 jenis kredit yang termasuk dalam kelompok Kredit Properti (KPR. penyaluran kredit oleh bank Persero dan bank Swasta masih mendominasi.12 Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi Listrik Pertambangan 25.1% 42. kredit tanpa agunan. Kredit Real Estate dan Kredit Konstruksi). Dengan demikian.

5% pada akhir Desember 2008.6 triliun atau tumbuh 26.5% dari total peningkatan kredit MKM. Grafik 2. pangsanya terhadap total kredit mengalami sedikit penurunan dari 50. Kecil dan Menengah) mengalami peningkatan sebesar Rp58. Dari sisi lokasi proyek. Akibatnya.16 Pangsa Kredit Penggunaan KPR Maluku + Papua Pertumbuhan 2007 (%) Pertumbuhan 2008 (% ytd) Delta Kredit 2008 (Rp M) Bali + NusTra Sulawesi Kalimantan Sumatra Real Estate Delta Kredit 2007 (Rp M) KK KI KMK Konstruksi Jawa Timur JaTeng + DIY 0 9 18 27 36 45 DKI Jakarta JaBar + Banten Kredit rupiah masih mendominasi penyaluran kredit perbankan pada semester laporan.Bab 2 Sektor Keuangan kredit Properti mengalami sedikit penurunan dari 15. Penurunan kredit valas terjadi sejalan dengan meningkatnya risiko akibat berfluktuasinya nilai tukar dan kondisi perekonomian dunia yang masih belum menggembirakan.000 Lainnya 29% 2008 2007 26% 8.13 Pertumbuhan KPR.8 miliar menjadi USD23.1% pada akhir Juni 2008 menjadi 48.000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Konsumsi lebih merata. Perkembangan Kredit investasi dan Kredit 0 5 10 15 20 25 30 35 % Pada semester II 2008. Kartu Kredit & Lainnya 60 40 Grafik 2. Sementara itu. Kredit produktif pada kredit MKM lebih cenderung dalam bentuk Kredit Modal Kerja untuk kebutuhan operasional sehari-hari yang peningkatannya 27 . Dengan menggunakan denominasi USD. dengan pangsa mencapai 80% dari total kenaikan kredit. tercermin pada pangsa untuk 29% KPR pulau Jawa berkisar antara 50%-60%. Grafik 2.4 triliun lebih dipengaruhi oleh faktor depresiasi nilai tukar rupiah.7% pada akhir Juni 2008 menjadi 15. Kalimantan dan Sulawesi lebih kepada kredit investasi.000 (40) yoy Rp (%) yoy Va USD (%) kurs Kartu Kredit (60) 2000 6.000 20 (20) 10.2% pada akhir Desember 2008. kredit MKM masih didominasi oleh Kredit Konsumsi dengan peningkatan mencapai 61. kredit MKM (Mikro.1 miliar. penyaluran kredit masih terpusat di pulau Jawa.000 12. Sementara itu. terutama untuk kredit modal kerja (pangsa 72.1% yoy.15 Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Valuta Asal % Rp 14. kenaikan kredit valas sebesar Rp32. Secara umum.14 Perkembangan Kredit Properti Grafik 2. atau di bawah angka pertumbuhan total kredit perbankan.9%). kredit valas sebenarnya turun sebesar USD0. 0 5 10 15 20 25 30 % kredit di pulau Sumatera.

dan PPAP (Rp Triliun) 75 1600 Nominal NPL (kiri) 1400 Kredit (kanan) 1200 1000 800 600 400 200 2007 2008 Des Risiko Kredit Selama semester II 2008. namun mengingat rendahnya peningkatan nominal NPL tersebut adalah karena penghapusbukuan kredit yang cukup signifikan pada satu bank besar.9 triliun. dibandingkan dengan posisi akhir semester I 2008. Hal ini menyebabkan rasio NPL net menurun sebesar 0. Dari sisi rasio NPL.47%. rasio NPL gross menurun menjadi 3.Bab 2 Sektor Keuangan selama selama semester laporan mencapai Rp19 triliun (32. selama semester laporan. Secara sektoral.5 triliun selama semester laporan. Meskipun selama periode laporan nominal NPL hanya naik Rp2. sementara kenaikan rasio NPL kelompok kantor cabang bank Asing baru terjadi pada akhir semester. maka kenaikan nominal NPL perlu diwaspadai apalagi kondisi ekonomi tengah kurang menggembirakan.1 triliun karena penghapusbukuan kredit. Sementara itu. Peningkatan PPAP 70 65 60 55 50 45 40 35 30 2006 Dari segi kelompok bank.19 Kredit. sumbangan kredit Investasi relatif kecil yaitu sekitar 6.3 triliun menjadi Rp50. yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan nominal NPL mengindikasikan bahwa perbankan sudah mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan risiko kredit ke depan.2% menjadi 1. kenaikan nominal NPL cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya tekanan perlambatan perekonomian. kenaikan nominal NPL terjadi pada kelompok bank Swasta. kantor cabang bank Asing dan bank Campuran. NPL. Rendahnya rasio NPL dipengaruhi oleh tingginya peningkatan kredit yang jauh melebihi peningkatan nominal NPL. Grafik 2.4 triliun menjadi Rp47. Kenaikan kredit bermasalah pada kelompok bank Swasta dan Campuran terutama pada kredit untuk sektor Industri Pengolahan serta sektor Jasa Dunia Usaha. Naiknya nominal NPL pada kelompok bank Swasta dan Campuran disertai pula dengan peningkatan rasio NPL gross yang terjadi sejak pertengahan semester II 2008.1% dari total kenaikan kredit MKM.17 Perkembangan Kredit MKM % 1400 1200 1000 800 48 600 400 200 2006 2007 2008 Des 46 Total Kredit Rp T (kiri) MKM Rp T (kiri) % MKM/Kredit 8 54 7 6 52 5 4 3 2 1 2006 50 44 Grafik 2.18 Non Performing Loans (%) (Triliun) NPL Gross (kr) 75 70 65 60 NPL Nominal (kn) 55 50 45 NPL Net (kr) 40 35 30 Jun 2007 Jun 2008 Jun Des 10 9 Grafik 2. kenaikan nominal NPL juga diiringi dengan kenaikan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dalam jumlah yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp4. sedangkan nominal NPL bank Persero justru turun Rp3. sektor yang mengalami kenaikan kredit terbesar adalah sektor Lain-Lain dan Perdagangan. sementara untuk kelompok kantor cabang bank Asing 28 .76%.4% dari total peningkatan kredit). Sementara itu.

5 3.6% pada akhir Juni 2008 menjadi 3. Pengolahan Pertambangan Pertanian Des-07 Jun-08 Des-08 10 8 6 4 2 0 Des-07 Jun-08 Des-08 0. Grafik 2.21 Rasio NPL Gross Sektor Ekonomi 6 5 4 3 2 1 0 Modal Kerja Investasi Konsumsi Des-07 Jun-08 Des-08 Grafik 2. Sementara itu.0 4. Peningkatan nominal NPL sektor Jasa Dunia Usaha dan Industri Pengolahan membuat kedua sektor ekonomi tersebut mendominasi kenaikan nominal NPL sektoral industri perbankan.20 Rasio NPL Gross Kelompok Bank 7 6 5 4 3 2 1 0 BUMN Swasta BPD Campuran Asing Des-07 Jun-08 Des-08 pada Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi mengalami penurunan. Industri Pengolahan tampaknya masih menjadi sektor dengan tingkat risiko kredit yang cukup tinggi. meskipun sedikit membaik pada akhir periode laporan sejalan dengan hapus buku yang dilakukan oleh salah satu bank besar.22 Rasio NPL Gross Jenis Penggunaan 7 Rp0. Meskipun jumlah nominalnya mengalami peningkatan.26%.7 triliun. Kedua sektor tercatat memiliki rasio NPL gross masing-masing sebesar 2. Dengan demikian.41%.7 triliun.12% dan 5. NPL tertinggi masih terdapat pada Kredit Investasi. telah terjadi penurunan kredit non-lancar yang cukup signifikan karena adanya hapus buku sehingga rasio NPL gross Kredit Investasi turun dari 4. peningkatan nominal NPL selama semester II 2008 hanya terjadi pada Kredit Modal Kerja. sejalan dengan penurunan nominal NPL Kredit Konsumsi.Bab 2 Sektor Keuangan diikuti pula oleh kredit sektor Lain-Lain (konsumsi).5 KPR Kartu Kredit Lainnya Dari segi jenis penggunaan kredit. NPL gross Kredit Modal Kerja sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya sehingga menjadi 3.9% menjadi 2. sementara Penurunan nominal NPL Kredit Konsumsi terutama karena penurunan nominal kredit KPR yang menyebabkan rasio NPL gross KPR turun menjadi 2. secara rasio. yaitu sebesar Rp1.5 6. rasio NPL grossnya juga mengalami penurunan dari 2. walaupun secara rasio. Grafik 2.5%.0 7. masing-masing sebesar Rp1 triliun dan Grafik 2. 29 .8% pada akhir Desember 2008. Sementara itu.23 Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi % 12 Lain-lain Jasa Dunia Usaha Pengangkutan Perdagangan Konstruksi Ind.0 1.4%. Selanjutnya. terutama yang berasal dari kartu kredit.

6%. Hal tersebut karena nominal NPL Kredit Real Estate mengalami peningkatan dengan rasio NPL menjadi sebesar 4. Hal ini Grafik 2. Selama semester II 2008. walaupun nominal NPL KPR sudah mengalami penurunan. Sejalan dengan itu. Sementara itu.24 Rasio NPL Gross Kredit Properti (%) 6 5 4 3 2 1 Konstruksi Real Estate KPR Des-07 Jun-08 Des-08 penghapusbukuan kredit. penurunan nominal NPL terjadi pada hampir semua sektor. Berdasarkan jenis penggunaan. yaitu 10.5 triliun antara lain karena pelemahan nilai tukar rupiah.5 triliun.7 juta. rasio NPL gross kredit valas juga meningkat menjadi 4. terutama kewajiban dalam valas.25 Rasio NPL Gross Kredit Rupiah dan Valas (%) 5 4 3 2 1 0 Rupiah Valas Des-07 Des-08 Jun-08 Pada periode laporan. Nominal NPL kredit MKM sektor Industri Pengolahan naik Rp0.Bab 2 Sektor Keuangan rasio NPL gross Kartu Kredit masih cukup tinggi.6 triliun.97%. secara total. Penurunan nominal NPL kredit rupiah terutama karena menurunnya nominal NPL pada kelompok bank Persero dalam jumlah yang signifikan.8% pada akhir Desember 2008. kecuali sektor Industri Pengolahan. diikuti Kantor Cabang Bank Asing sebesar Rp0. Dari sisi sektoral. perlu semakin diwaspadai turunnya ekspor dan pelemahan nilai tukar rupiah karena berpotensi mempengaruhi kemampuan debitur membayar kewajibannya.2%) nominal NPL Kartu Kredit terdapat pada kelompok Kantor Cabang Bank Asing.3 triliun.9 triliun menjadi Rp10. Grafik 2. Sebagian besar (78. dengan penurunan terbesar pada sektor Perdagangan sebesar Rp1 triliun.5%.98% sejalan dengan penurunan nominal NPL kredit rupiah sebesar Rp0. Ke depan. yaitu sebesar Rp3.26 Rasio NPL Gross MKM & Non MKM (%) 5 4 3 Des-07 Juni-08 Nov-08 Kredit valas menjadi sumber utama peningkatan nominal NPL perbankan.9 triliun yang disebabkab oleh 2 1 0 MKM Non MKM 30 . nominal NPL kredit valas hanya naik USD29. Sejalan dengan itu. Apabila dinyatakan dalam USD.8 triliun. meskipun sedikit menurun dibandingkan posisi akhir Juni 2008 sebesar 11.8 triliun. Di lain pihak.7 triliun. terutama pada Kredit Modal Kerja sebesar Rp0. Kenaikan nominal NPL kredit valas terbesar pada kelompok bank Persero sebesar Rp0. sehingga rasio NPL gross-nya naik menjadi 7. Grafik 2. nominal NPL Kredit Properti masih mengalami peningkatan sebesar Rp0. rasio NPL gross kredit rupiah turun menjadi 2.7 triliun. nominal NPL dari semua jenis Kredit MKM turun.14%. nominal NPL Kredit MKM turun Rp1 triliun menjadi Rp18. nominal NPL kredit valas naik Rp1.51%. rasio NPL gross Kredit MKM juga turun menjadi 2.

sedangkan suku bunga kredit naik dalam level yang lebih rendah.27 Rasio NPL Gross Kredit MKM (%) Des-07 Des-08 Jun-08 masih tinggi pada saat itu juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi ke depan.0 3. suku bunga kredit Kredit Modal Kerja. Berdasarkan analisis Probability of Default ( PD ) dan model ekonometrik. Memperhatikan kondisi tersebut. Pada penghujung 2008. 139 bps. Risiko Pasar Perkembangan ekonomi domestik pada awal semester II 2008 ditandai dengan tingginya inflasi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM dan tingginya harga komoditas pokok dunia. hasil stress test terhadap 15 bank besar dengan menggunakan skenario pesimis (rasio NPL gross akan meningkat menjadi 5. 2.6% yaitu sebesar proyeksi tertinggi untuk tahun 2009) menunjukkan bahwa secara umum perbankan masih mampu mengatasi kemungkinan kerugian yang akan terjadi sehingga tidak terdapat bank yang CAR-nya turun menjadi di bawah 8%. 0.3.0 Namun. Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi masing-masing naik 222 bps.25% untuk mendorong kegiatan ekonomi mengingat prospek pertumbuhan ekonomi domestik ke depan diperkirakan melambat cukup dalam. 1. diproyeksikan bahwa pada akhir tahun 2009 rasio NPL gross perbankan akan meningkat menjadi sekitar 4. Selama periode laporan.5% pada Oktober.0 Mikro Kecil Menengah memburuknya kondisi pasar keuangan dunia mulai mempengaruhi kondisi ekonomi domestik.Bab 2 Sektor Keuangan Grafik 2. dan harga SUN. Sejak Juli sampai dengan Oktober. Namun demikian. Pertumbuhan ekonomi yang besarnya guna meningkatkan likuiditas perbankan. potensi peningkatan risiko kredit tercermin pula pada hasil analisis pasar keuangan yang menyebabkan menurunnya kinerja pasar saham.5% pada bulan November. sehingga ekonomi domestik mulai tumbuh melambat. dan 27 bps. Sementara itu. sehingga mencapai 9. secara 2. 31 . Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakannya (BI rate) sebagai upaya untuk meredam 4. Bank Indonesia mulai menurunkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 9. terutama di menunjukkan bahwa risiko kredit di sektor Industri Pengolahan tidak hanya berasal dari korporasi besar (Non MKM) tetapi juga dari usaha skala kecil dan menengah (MKM).75%. Sebagai respon atas kondisi tersebut. perlambatan ekonomi dunia menyebabkan pertumbuhan ekspor Indonesia turun signifikan.9%-5. Suku bunga perbankan masih meningkat meskipun sudah cenderung melambat. Masih tingginya suku bunga perbankan.0 tekanan inflasi. suku bunga deposito 1 bulan naik 356 bps menjadi 10. Selain itu. pada perkembangan lebih lanjut. Penurunan BI rate pada akhir 2008 tidak langsung direspon dengan penurunan suku bunga perbankan. terjadi karena perang suku bunga untuk menarik dana masyarakat sebesar- Probability of Default (PD) yang mengindikasikan bahwa ke depan risiko kredit yang berasal dari sektor riil (korporasi) akan cenderung meningkat. Bank Indonesia mempertahankan level BI rate pada 9.0 berturut-turut BI rate terus dinaikkan sebesar 25 bps.6%. serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang signifikan. khususnya suku bunga deposito. sehingga spread suku bunga cenderung menyempit. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 1.3.

untuk aset/kewajiban dalam valas.12 bln > 12 bln Grafik 2. terlebih dengan spread yang semakin menyempit.2%) menyebabkan eksposur perbankan terhadap risiko nilai tukar relatif terbatas.31 Posisi Devisa Netto % 9 8 7 6 5 Dengan profil maturitas perbankan. namun ke depan hal ini berpotensi mengurangi profitabilitas. Bahkan rupiah sempat mencapai Rp12. Namun demikian. Sebaliknya. Hasil stress test menunjukkan bahwa 32 . Hasil stress test menunjukkan bahwa apabila suku bunga meningkat 1%. posisi shortnya cenderung menurun sejalan dengan meningkatnya risiko akibat depresiasi rupiah yang cukup tajam. posisi short aset/kewajiban dalam rupiah untuk jangka waktu sangat pendek (s.138 per USD dibandingkan semester I 2008 sebesar Rp9. kenaikan suku bunga perbankan berpotensi merugikan karena akan mengurangi keuntungan atau meningkatkan kerugian.3 bln 3 . rasio PDN perbankan yang relatif rendah (6.6 bulan Des07 Sep08 Mrt08 Des08 Jun08 6 .6 bulan 6 . baik rupiah maupun valas. sehingga rata-rata nilai tukar rupiah selama semester II 2008 mencapai Rp10.3 bln 3 . tidak terdapat bank yang mengalami penurunan CAR menjadi di bawah 8%.150 per USD pada November 2008.30 Profil Maturitas Valas M USD 10 5 Grafik 2. 1 bulan) cenderung semakin meningkat seiring dengan gencarnya perbankan dalam menarik dana masyarakat untuk meningkatkan likuiditas.d. Meskipun selama semester II 2008 4 3 2 1 0 Des07 BUSN Mrt08 Campuran BPD Jun08 Persero Sep08 Asing Des08 SELURUH Gejolak pasar keuangan global juga menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.29 Profil Maturitas Rupiah Rp triliun 500 400 300 200 100 0 (100) (200) (300) (400) (500) sd 1 bln 1 .235 per dolar AS.12 bln > 12 bln Des07 Sep08 Mrt08 Des08 Jun08 0 (5) (10) (15) sd 1 bln 1 . Meningkatnya posisi short jangka pendek ini berpotensi meningkatkan risiko pasar perbankan akibat kenaikan suku bunga. Grafik 2.28 Suku Bunga Rp & Nilai Tukar % 20 KK (ki) 18 16 14 KI (ki) 12 10 8 Kurs (kn) 6 2006 7500 2007 2008 Des Deposito 1 bln (ki) 8500 9500 10500 KMK (ki) 11500 Rp 12500 pendapatan bunga bersih perbankan lebih tinggi dibandingkan semester I 2008 sebagai akibat dari penyaluran kredit yang masih tinggi. yang secara umum cenderung short dalam jangka pendek dan long dalam jangka panjang. Pada periode laporan.Bab 2 Sektor Keuangan Grafik 2.

Peningkatan tersebut antara lain karena pertumbuhan 156. Pemerintah (Bapepam-LK). sebagai salah satu indikator profitabilitas. Tekanan terhadap pasar saham dan pasar utang domestik selama semester II 2008 semakin tinggi akibat krisis pasar keuangan global yang semakin buruk. menunjukkan peningkatan yaitu dari Rp53. pangsa kepemilikan SUN untuk AFS turun 10. Harga SUN yang turun tajam juga mendorong perbankan untuk mengalihkan tujuan kepemilikan SUN dari AFS menjadi HTM untuk mengurangi kerugian. Namun demikian. Bank Indonesia. rasio kecukupan modal (CAR) perbankan masih berada di atas 8%. Selain itu.3% menjadi 56. selama semester II 2008. meskipun menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.6 Grafik 2. dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan keputusan bersama yang memungkinkan perbankan untuk menunda penerapan marking to market dalam penetapan nilai wajar untuk SUN. perbankan juga dimungkinkan untuk mengalihkan tujuan kepemilikan SUN dari kategori Trading dan Available for 300 250 200 150 100 50 0 126. Salah satu dampaknya adalah harga surat utang negara yang sempat turun signifikan pada Oktober.2 triliun (Juni 2008) menjadi Rp59. Hasil stress test menunjukkan bahwa apabila harga SUN turun sampai 20%. perlu diwaspadai pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap perbankan melalui penurunan kemampuan membayar debitur.000 per USD. Sale (AFS) menjadi kategori Hold to Maturity (HTM).4 33 . setelah sempat meningkat tinggi pada Oktober 2008. pada tanggal 9 Oktober 2008.33 Perkembangan SUN (Rp T) AFS Trading HTM 28. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. Pangsa kepemilikan SUN trading yang cukup rendah dan penundaan berlakunya marking to market menjadikan perbankan tidak terlalu terekspos dengan risiko penurunan harga SUN. karena sebagian besar bank memiliki SUN sebagai salah satu portofolio dalam aktiva produktif.8% menjadi 36. Akibatnya. Hal ini tercermin pada net unrealized loss di neraca dan nilai kerugian bersih Grafik 2. sedangkan pangsa HTM naik 11.4 16.2 Des 2007 Jun Jul Ags 2008 Sep Okt Nov Des pada laporan laba rugi yang menurun pada Desember 2008.9 HTM AFS Trading triliun (Desember 2008).8 130. tidak terdapat bank yang mengalami penurunan CAR menjadi di bawah batas minimum 8%. Perkembangan ini sangat mempengaruhi neraca dan laba rugi perbankan. Kebijakan tersebut memberikan dampak positif terhadap neraca dan laba rugi perbankan. industri perbankan masih mampu mempertahankan profitabilitasnya.9%. meski pada akhir 2008 sudah mulai meningkat.3.9%.32 Pangsa Kepemilikan SUN Perbankan % 60 50 40 30 20 10 0 Des07 Jun08 Des08 2. Profitabilitas dan Permodalan Profitabilitas Di tengah peningkatan tekanan terhadap perekonomian. Net Interest Income (NII).Bab 2 Sektor Keuangan apabila nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sampai dengan Rp5.4.9 101.

pada periode yang sama total aset perbankan juga mengalami peningkatan.16 Total 29.4 triliun menjadi Rp12.63 7.35 Pendapatan Bunga Bank 250 200 150 100 Lainnya Kredit SSB BI menjadi Rp30.39 12.86 18.82 49. 15 10 5 0 Nov Des Jan 2007 Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2008 Ags Sep Okt Nov Des menyebabkan perolehan laba berjalan menjadi lebih menurun. Penting dicatat bahwa penurunan laba yang terjadi pada paruh kedua tahun 2008 ini.04 14.63 Total 35.72 24. perolehan laba selama semester II 2008 turun 33.Bab 2 Sektor Keuangan kredit yang tinggi sejak awal tahun dan baru mulai melambat sejak bulan November 2008.23 24.17 18.24 12. Dengan demikian. Menengah S.2 triliun. merupakan kecenderungan tahunan yang juga terjadi pada tahun 2007 yang lalu.38 16. Hal tersebut karena perbankan mengantisipasi memburuknya kualitas kredit 2 1 15 BB S.97 7. Setelah memperhitungkan pajak.0 triliun pada akhir 2007 Grafik 2. Grafik 2.9%. yaitu dari Rp17. terjadi penurunan laba operasional sekitar 30.6%.10 30.07 7. meningkatnya tekanan terhadap kondisi perbankan pada tahun 2008. peningkatan NII lebih ditopang oleh pendapatan bunga kredit.01 23.02 2008 Semester I Semester II 17. yaitu dari sebesar Rp35.86 18. Kecil BPD Campuran Asing Industri Tabel 2. Hanya saja.86 35. Grafik 2. profitabilitas yang dihasilkan dari pendapatan bunga tersebut tidak seluruhnya dapat langsung menjadi laba bersih bank.1 Laba/Rugi Perbankan Rp triliun 2007 Semester I Semester II L/R Operasional L/R Non Operasional L/R sebelum Pajak L/R setelah Pajak 18.36 Perkembangan Rasio ROA per Kelompok Bank % 50 0 Nov 2007 Des Nov 2008 Des 4 ROA Des'07 ROA Des'08 3 Akan tetapi.6 triliun (Juni 2008) menjadi Rp12.6 triliun pada akhir 2008.23 11. Hal ini kemudian menyebabkan ROA perbankan juga menjadi menurun.69 16.10 25. yaitu dari Rp18. Bunga Beban Bunga NII terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi ke depan dengan meningkatkan beban Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP).24 48.55 34 . Sementara itu.34 Profitabilitas Bank-mtm 2008 Rp triliun 25 20 Pend.2 triliun (Desember 2008). Akibatnya.

ATMR. rasio permodalan (CAR) industri perbankan pada akhir semester II 2008 masih cukup tinggi. Grafik 2. Kecil BPD Campuran Asing Industri digunakan adalah rasio NPL gross meningkat menjadi sebesar 5.4%.38 Modal.6% (proyeksi pesimis rasio NPL tahun 2009). Grafik 2.3%. serta masih memiliki ruang gerak yang mencukupi untuk terus bertumbuh dan melakukan ekspansi kredit. Stress test ini dilakukan terhadap 15 bank besar yang mencakup sekitar 70% dari total aset industri perbankan. yang mencakup risiko kredit.37 Perkembangan Rasio BOPO per Kelompok Bank % 120 BOPO Des'07 BOPO Des'08 800 10 400 5 - Des 2007 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des 0 Ketahanan perbankan terhadap tekanan berbagai risiko tersebut tercermin pada hasil integrated stress test. data yang ada menunjukkan bahwa inefisiensi ternyata lebih banyak terlihat pada kelompok bank kecil dibandingkan kelompok bank lainnya. Dengan demikian.200 15 Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui merger dan akuisisi dalam rangka konsolidasi perbankan. Menengah S.Bab 2 Sektor Keuangan Penurunan laba operasional sepanjang tahun 2008 tampaknya juga dipicu oleh tingkat efisiensi yang ikut berkurang. Grafik 2. Dengan demikian.000 per USD. Skenario yang 100 80 60 40 20 15 BB S. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya pertumbuhan kredit yang dibarengi dengan lambannya peningkatan laba bank. rasio modal inti (Tier 1) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) juga masih cukup tinggi. salah satu agenda penting perbankan ke depan adalah upaya untuk meningkatkan efisiensi. terdapat sedikit penurunan. Namun demikian. maka CAR industri perbankan pada akhir tahun 2009 diperkirakan akan turun menjadi sekitar 14. risiko suku bunga.000 Modal ATMR CAR (kanan) % 25 1. salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi adalah dengan memperbesar size atau skala usaha bank. dan CAR Rp triliun 2. yaitu sebesar 14.39 Integrated Stress Test terhadap CAR 15 Bank Besar 30% CAR AWAL 25% 20% 15% 10% 5% 0% A B C D E F G H I J K L M CAR BARU N O 35 . yaitu 16. risiko harga SUN dan risiko likuiditas. harga SUN turun 20%. Selain itu.4%. Sementara itu. permodalan perbankan diperkirakan masih cukup kuat untuk menyerap berbagai risiko.600 20 1. jika dibandingkan dengan posisi akhir semester sebelumnya sebesar 16. Apabila kredit perbankan ke depan terus bertumbuh pada kisaran 15%-18%. suku bunga turun 1% dan rupiah terdepresiasi sampai dengan Rp5. Permodalan Secara umum. Penurunan efisiensi ini tercermin pada rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang meningkat. Oleh karena itu. Sementara itu.2%. risiko nilai tukar.

pangsa pembiayaan konsumen semakin berkurang dan cenderung A B C D E F G H I J K L 36 .40 Interbank Stress Test Bank Kena Dampak F M N O P 2. sewa guna usaha. anjak piutang dan kartu kredit. products . maka secara rata-rata rasio NPL 15 bank besar akan meningkat. tercermin pada peningkatan total asset dan modal masingmasing sebesar 23. meskipun beberapa Kantor Cabang Bank Asing tertentu yang aktif melakukan transaksi structured products harus siap-siap segera meningkatkan modal apabila potensi kerugian menjadi semakin meningkat. Akibatnya. Salah satu langkah yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan melakukan merger dan akuisisi sehingga dapat mempercepat proses konsolidasi perbankan. Untuk mendapatkan gambaran tentang ketahanan perbankan dalam menghadapi gejolak faktor-faktor makroekonomi.42% sehingga pangsanya menjadi 42% dari total Q R S T U V J W K Bank Pemicu pendanaan. telah dilakukan pula interbank stress test. mengingat beberapa bank dewasa ini sedang menghadapi potensi kerugian terkait structured dampak lanjutannya (second round effects) berpotensi membuat 24 bank lainnya ( multiple failure ) juga menghadapi tekanan permodalan. telah dilakukan macroeconomic stress test. kinerja PP meningkat cukup signifikan. khususnya terhadap 15 bank besar. sejalan dengan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi. apabila dilihat secara individual. yaitu untuk mengetahui dampak contagion kegagalan suatu bank terhadap bank lainnya dalam sistem perbankan (contagion risk).4. beberapa bank masih memiliki modal inti minimum kurang dari Rp100 miliar.4. Krisis keuangan global yang memperketat likuiditas menyebabkan tingginya biaya emisi saham dan obligasi.58%. LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK DAN PASAR MODAL 2. Meskipun ketentuan modal inti minimum sebesar Rp100 miliar baru akan berlaku pada akhir tahun 2010. bank-bank yang dewasa ini masih belum memiliki modal inti Rp100 miliar perlu segera menyiapkan langkahlangkah untuk pemenuhannya.Bab 2 Sektor Keuangan kekurangan likuiditas diasumsikan dipenuhi dari dana PUAB. terutama yang bersumber dari kredit perbankan yang meningkat cukup pesat yaitu sekitar 24.01%. Hasil stress test ini memperlihatkan bahwa pada akhir 2009. telah dilakukan pula stress test untuk mengetahui ketahanan permodalan dari bank-bank tersebut. namun masih pada kisaran 5%. Dari segi jenis pembiayaan yang diberikan. Hasil stress test ini menunjukkan bahwa secara umum permodalan bank cukup kuat. sementara Grafik 2. Hasil stress test ini menunjukkan bahwa apabila 11 bank pemicu gagal (single failure) terdapat 14 bank yang berpotensi permodalannya tertekan. sementara kegiatan pembiayaan meningkat sebesar 16. Selama semester II 2008 (s. PP semakin tergantung pada sumber dana kredit perbankan. Sementara itu.80% dan 2.1. Hasil stress test menunjukkan bahwa tidak terdapat bank yang CARnya turun menjadi di bawah 8%.d November). Perusahaan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) merupakan salah satu jenis lembaga keuangan bukan bank yang berfungsi melakukan pembiayaan melalui berbagai jenis pembiayaan antara lain pembiayaan konsumen. Selain itu. Selanjutnya. Pesatnya kegiatan usaha PP ditopang oleh kenaikan pendanaan.

00 140. sepanjang periode 2008.000 140.892 3. Penurunan konsentrasi kegiatan pembiayaan konsumen terutama terjadi pada PP Patungan yaitu dari 52.737.000.19% Sementara itu.654.41 Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan 200.533.72 4.00 20.866.00 160.328 8. Pinjaman Subordinasi dan Total Pinjaman Dalam dan Luar Negeri Grafik 2.07% 1.93 3.922 4.00 60.000 40.182 2 39.567 113.000 0 Piutang pembiayaan Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen Asset 116.262.96% (November 2008).000 20.96 triliun.03 0.795 46.68 Kewajiban/Equity 4.23 BOPO 0.000 60.985 Tetap baiknya kinerja PP pada semester laporan didukung oleh perkembangan pasar kendaraan bermotor yang masih tetap menggembirakan.000.59 4.2 Perkembangan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Jun»08 Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen Nov»08 Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen Total 33.80% 16.446 Profit After Tax 2.56% 0.99% Patungan 44.000 120.00 Aset Pembiayaan Pendanaan 2.222 1.76% Total 37.000 60.Bab 2 Sektor Keuangan Grafik 2.57% 0.59% Swasta Nasional 12.000 0 Pinjaman Bank Domestik Surat Berharga yang Diterbitkan Total Sumber Dana* -7.000 100.00 120.379.05 0.000 Debt (Pinjaman/ Obligasi) 81.257 5.227 5.81 0.004.244.707 100.71% Swasta Nasional 11.728 90.480 2.978.731.40% Patungan 49.96% Modal Grafik 2.921 4.15 0.178 84.738 Equity 20.22 4.105 30.895.726.000 40.00 180.3 Rasio-rasio Keuangan Perusahaan Pembiayaan Des-06 Mei-07 Des-07 Mei-07 *Total Sumber Dana: SSB.695.568.25% 47. (Gaikindo).175 44.649.000. Tabel 2.83% 59.785 26.780.214 Kewajiban 95. Kenaikan laba tersebut mendorong meningkatnya ROA dan ROE.560.183. meskipun terdapat trend penurunan penjualan pada November dan Desember.124. 37 .19% Jun 07 Des'07 Jun'08 Nov'08 Tabel 2.72% 1. keuntungan PP meningkat cukup signifikan.524.31% 3.58% 28.314 Patungan 93.759 1.670.00 80.078.758.926.752 102.763.634 1. Efisiensi usaha juga berhasil dipertahankan dengan rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO) sebesar 77%. penjualan mobil di Indonesia meningkat sekitar 40% menyentuh rekor tertinggi mencapai 607.85% 1.15 unit.42% Jun'07 Des'07 Jun'08 Nov'08 28.803.134.05% 1.34% 1.642.856.000.000 174.88% 1.328 0.895 143.052.157.05 ROE 0.77 3.40% (Juni 2008) menjadi 47.299 Swasta Nasional 46.911 128.179 53.423.319.114.18 140.000 127.14 0. yaitu sebesar Rp2.196.046.000 20.77 0.01% 84.000 120.953.466.241.26 0.248 24.43 Komposisi Nominal Pembiayaan PP (Nov'08) Pembiayaan (dalam Rp miliar) 160.00 0.01% 23.03 0.7 Total 141.690 ROA 0. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia didiversifikasi melalui peningkatan pembiayaan sewa guna usaha.001 1.85 triliun menjadi Rp5.10% 0.722.00 40.07% 63.69% 52.262 Profit Before Tax 2.000.45% 2.000 100.82% 1.467 5.00 100.000 80.01% 85.556.961.83 Debt/Equity 3.33% 24.914.2 4.42 Sumber Dana Perusahaan Pembiayaan Rp miliar 140.000 80.

221 944 4.00 8.000 Grafik 2.47 Arus Kas PP Patungan Rp miliar 15.67% Anjak Piutang 14.000 10.312 -177 1.00 10.000 1.000.133 494 7.28% 1.00 Jun'07 Des'07 Jun'07 Nov'08 Sewa Guna Usaha 2. Di samping itu.000 2.000 2.000.000 3.66% -2.000.00 4.00 2.184 -162 -811 Jun 08 1.79% 3. Selain itu.000 Jun 07 Arus kas neto dari aktivitas operasi Arus kas neto dari aktivitas investasi Arus kas neto dari aktivitas pendanaan 792 -45 -903 Des 07 1. khususnya pada pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha.000 0 -1. Grafik 2.44 NPL Pembiayaan NPL (%) 16.32% 9. Dengan demikian.70% 1.513 Jun-08 5.69 juta unit.000.66% 2.28% 3.Bab 2 Sektor Keuangan Sementara itu. penjualan sepeda motor selama tahun 2008 juga meningkat mencapai 6.46 Arus Kas PP Swasta Nasional Rp miliar 4.00 14.480 Nov-08 9.000.09% Pembiayaan Konsumen 1.000 -3. namun tetap tidak mampu mengimbangi tingginya arus kas keluar karena aktivitas operasi yang meningkat pesat.500.000 5. Hal tersebut terutama karena membesarnya mismatch liquidity.000 1.000 1. berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI).55% 1.000. namun secara nominal terindikasi adanya peningkatan NPL.00 0. potensi risiko yang lebih besar Jun 2007 Des Jun 2008 Nov akan dihadapi oleh bank-bank yang memiliki anak 38 .790 Des-07 7.000.67% 2.000 Grafik 2.786 724 11.109 Grafik 2. Pada tahun 2008 rasio NPL pembiayaan PP tetap menurun.528 174 4.000 0 -5.000 500.000. atau jauh lebih banyak dibandingkan penjualan pada tahun 2007 sebesar 4.90% 1.45 Perkembangan Nominal NPL Rp miliar 3.500.14% 11.00 6.000 -10.000 0 -15.000 Arus kas neto dari aktivitas operasi Arus kas neto dari aktivitas investasi Arus kas neto dari aktivitas pendanaan Jun-07 3.00 12.721 Nov 08 1.59% 11. Suku bunga kredit yang cukup tinggi pada semester laporan meningkatkan potensi risiko pembiayaan oleh PP.000 2. Arus masuk likuiditas yang bersumber dari pendanaan sebenarnya cukup tinggi.000.68% 1.772 -322 3. menurunnya pendapatan nasabah sebagai dampak krisis global juga berpotensi meningkatkan NPL.04% Kartu Kredit 4. risiko likuiditas juga berpotensi meningkat.22 juta.222 SGU AP KK PK Total Meningkatnya risiko pembiayaan dan risiko likuiditas tersebut pada gilirannya dapat mengganggu kinerja atau meningkatkan risiko bagi bank yang menjadi sumber dana bagi PP.

37% 1. Tabel 2.63% 53. Pasar Modal Portofolio Investasi Asing Pada semester II 2008.554 799.000 30.48 Exposure Perbankan Rp Miliar 50. Grafik 2. padahal pada semester sebelumnya terjadi inflows sebesar Rp18.000 25. sehingga meningkatkan peluang profit taking bagi investor asing.20% 0. berdasarkan 50000000 pemantauan terhadap 21 PP yang terafiliasi dengan bank 0 500000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov 0 diketahui adanya 10 PP yang memiliki NPL dan 6 diantaranya cenderung mengalami peningkatan.752 -990. sedangkan joint financing meningkat 9. sentimen negatif paska kejatuhan institusi keuangan internasional seperti Lehman Brothers di AS dan beberapa bank investasi di Eropa serta kegagalan Asuransi AIG menyebabkan semakin berfluktuasinya harga saham.06% 0.069.Ptng KK Pmb.Nov»08 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0.7 triliun.Bab 2 Sektor Keuangan perusahaan PP.000 15.4.03% - 2008 2.2. investor asing cenderung melakukan realisasi gain.Kons 413.370.37% 0. Akibatnya.578. Sementara itu.5 triliun.07% 0. NPL nominal pembiayaan konsumen cenderung mengalami penurunan.50 Perkembangan Kenaikan NPL PP Subsidiary Bank 30000000 25000000 20000000 15000000 10000000 2 3 6 7 9 10 4500000 4000000 3500000 3000000 2500000 2000000 1500000 1000000 Terkait dengan perkembangan tersebut.000 35.623 -26.00% 0. perilaku profit taking investor asing Ajk. meningkatnya kegiatan channeling dan joint financing antara bank dengan PP berpotensi meningkatkan tekanan risiko bagi bank. terjadi outflows investasi asing pada aset keuangan rupiah sebesar Rp20.49 Perkembangan Penurunan NPL PP Subsidiary Bank 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 1 8 Mar Apr 4 Mei 5 12000000 10000000 80000000 60000000 40000000 20000000 0 Jan Feb Jun Jul Ags Sep Okt Nov 0 2008 Grafik 2.416 42.328 -5.000 20.907 - turunnya kepemilikan asing pada SBI dan SUN masingmasing Rp25.61 triliun.74% menjadi Rp9.020 142.591.28% 39 .33 triliun.58% 0.8% menjadi Rp49. Outflows tersebut tercermin pada ∆ Perubahan Nominal NPL SGU 93.44% 0.558.20% 0.000 0 Jun 2007 Des Jun 2008 Nov Channelling Joint Financing Grafik 2.127 -540.000 40.000 5. channeling meningkat 23.79% 0.00% 1. Kenaikan nominal NPL yang signifikan terutama terjadi pada PP yang memiliki porsi pembiayaan sewa guna usaha yang tinggi.096 1. Sementara itu.000 45.805 32.2 triliun dan Rp6.608 279.02% 0.66% 0.03% 1.000 10.988 -3.4 triliun. Sementara. Di pasar saham domestik.37% 0. Selama semester II 2008.4 Perkembangan NPL Perusahaan Pembiayaan Perubahan % NPL PP Jun»08 Nov»08 Jun»08 .00% 0.54% 0.406.

Potensi kerawanan semakin besar karena perilaku investor utama SUN cenderung searah. pelemahan pasar SUN sangat mendalam dan recovery pasar menjadi sangat lambat.51 Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Rp triliun 35 SBI SUN Saham pelepasan SUN oleh investor domestik (khususnya lembaga keuangan) sekitar Rp10.3 triliun). bursa saham global terkoreksi turun terimbas sentimen negatif kejatuhan perusahaanperusahaan investasi peringkat atas serta meningkatnya laporan kerugian lembaga keuangan internasional. pelepasan SUN oleh investor asing juga akan berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan harga SUN.5 triliun.7 triliun diikuti dengan -30 -40 LK Domestik -50 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul LK Asing Ags Sep Okt Nov Des 2008 Pasar Saham Pada semester laporan.52 Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Rp triliun 35 25 100 80 60 15 5 -5 -15 -25 -35 Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 40 20 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2008 2007 2008 Grafik 2.Bab 2 Sektor Keuangan mengakibatkan terjadinya net beli saham sebesar Rp11. tetap tingginya portofolio SUN yang dimiliki oleh lembaga keuangan domestik.2 triliun) dan reksadana (Rp31.9 triliun). Pada sisi lain. menyebabkan pelemahan pasar SUN akan berdampak negatif terhadap kinerja lembaga keuangan domestik tersebut sehingga perlu diwaspadai.1 triliun. seperti perbankan (sebesar Rp253. Kerawanan terutama bersumber pada portofolio SUN yang dimiliki investor asing sejumlah Rp87. Bursa Dow Jones turun pesat sekitar 23% dan sempat 40 .4 triliun per akhir Desember 2008 yang sebagian besar merupakan portofolio manajer investasi asing. Hal ini tampak pada perkembangan selama semester laporan yaitu pelepasan SUN oleh investor asing sebesar Rp4. asuransi (Rp53.9 triliun).53 Kepemilikan SUN dan SBI Investor Asing Rp triliun 120 SBI SUN Grafik 2. dana pensiun (Rp32.54 Penyerapan SUN Lembaga Keuangan Domestik dan Asing Rp triliun 20 10 0 -10 -20 Perilaku profit taking oleh investor asing berpotensi menekan stabilitas sistem keuangan karena berpotensi memicu pembalikan arus dana secara tiba-tiba dan serentak ( sudden reversal ). 25 15 5 -5 -15 -25 -35 Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2007 2008 Grafik 2. Akibatnya. Grafik 2. Selain berpotensi memicu sudden reversal .

45 10850.68) (21.124.48 5.445.489.13 9.06 7.24) (41.754.96 876.94 46.80 4.745.94) (38.15) 4.33) (12.625. Pelemahan cukup besar juga dialami indeks sektoral yang rentan terhadap pelemahan nilai tukar yaitu indeks sektor perdagangan dan indeks sektor aneka industri yang masing-masing turun sekitar 58% dan 40%.66 1.31) (24.Bab 2 Sektor Keuangan menyentuh level terendah 7.51 2358.65 11.02) (12.97) (22.84 (0.61) 27.485. Gejolak krisis pasar global sempat membuat volatilitas pasar saham domestik melonjak tinggi pada periode SeptemberNovember 2008.41 (Desember 2008) dan sempat mencapai level terendah sebesar 1.57 2.947.39 pada tanggal 28 Oktober 2008. 2.740.15 214.92 8.259.54) (13.22) Indeks Sektor Properti 211.90 13408.552.01 1.28 2.17 8776.41 28.569.355.12 2.01 1.89 776.54 Indeks Sektor Infrastruktur 750.459.2 (pertengahan November 2008).832.55) (4.832.39 Indeks Sektor Konsumsi 437.873.18) (22.72 251.56 449.32 6.07) (42.42 103.40) (21.607.90) (32.01 436.04 398.434.21 1.26 Indeks Sektor Aneka Industri 324.60 9.70 100 80 Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 0.55 Perkembangan IHSG & Indeks Global dan Regional (Diindekskan dengan Indeks 31 Desember 2005) pasar saham domestik cukup moderat.79 1.35 16.872.34) (2. atau jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata selama semester sebelumnya sebesar 2.38 392.75) (9.761.897.49) (13.3% menjadi 1.20 2007 IHSG PCOMP FTSE FSSTI NKY NYA 2008 SET Hang Seng DJIA KLCI KOSPI 60 40 20 Seluruh indeks sektoral mengalami pelemahan.018.45) (69.186.78 27.05 200.39) (14.10 238.83 2.28 3.415. rata-rata IHSG selama semester II 2008 sekitar 1.448. Dalam hal ini.49) (46.25) (15.89 Sementara itu.82 168.29) (1.65 1.57) (%) Sem II 07 Sem II 08 Jun-Sep 08 28.20 1.69 (1.83 3.74 203.14 260.57 203.10 1.5 Pertumbuhan Indeks Bursa Regional Pertumbuhan Jun 07 Des 07 Jun 08 Sep 08 Des 08 IHSG STI SET KLCI PCOMP NIKKEI HSCI KOSPI FTSE UKX DJIA 2.723.48 1.532.48) (18.70 Grafik 2. maka minat investor untuk profit taking jangka pendek masih tetap bertahan.07) (15.20 0. Tabel 2.349.46 (16.387.54 768.85 8.139.65 326.81 570.465.43 874.34) (18.28) (34.76 3.51 1.355.59) (74.35 Indeks Sektor Keuangan 223.05 4.57 918.647.24 877. Tabel 2.99 21.87) (34.86) (33.859.30) (40. Namun.47 6.24 356.76 261.96 477. Dengan perkembangan pertambangan yang masing-masing turun sekitar 70% dan 74%.98 13.484.11 1.06 1. 0 terutama indeks sektor pertanian dan indeks sektor Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2007 2008 41 .73 1.138.38 3.40) IHSG 2.475.52) (17.07 652.90 13264.38 22.96 1.91 490.99) (0.78 Indeks Sektor Pertanian 1.016.89) (58.42) (40.81 (1.270.35 360.812.37 176.53) (21.29 381. berkurangnya tekanan inflasi dan terdapatnya sinyal penurunan suku bunga pada menjelang akhir tahun 2008 berhasil menahan pelemahan indeks sektor keuangan yang hanya turun sekitar 0.62 2.36 326.30) 10.33 16.11) (23.061.46) (26.06.54 1.55) (26.660.93 134.111.660. IHSG tercatat turun sekitar 42.94 Indeks Sektor Pertambangan 1. karena secara rata-rata volatilitas Grafik 2.59 1.47 5.680.86) (4.621.36 21.04 3.102.53 142.39 Jun 07 Des 07 Jun 08 Sep 08 Des 08 Sem II 07 Sem II 08 Jun-Sep 08 (42.6 Pertumbuhan Indeks Sektoral Pertumbuhan (%) tersebut.307.86 18.833.47 Indeks Sektor Perdagangan 387.63 858.96 Indeks Sektor Industri Dasar 196.56 14.74 8.09 3.355.68 2.99) (19.68 98.11 2.30) (13.18) (51.743.90 11350.772. Prospek memburuknya kondisi perekonomian global dan adanya ekspektasi resesi di AS dan beberapa negara di Eropa berdampak pada turunnya kinerja bursa regional Asia.77 63.674.49 18.03 3.47.354.02 6.902.82 2.91 596.56 Volatilitas (30 hari) beberapa Indeks Bursa Asia % 120 Indonesia Thailand Singapore Jepang Malaysia Hongkong 1.139.349.99) (32.60 15.456.75 1.33 148.33 1.86 18.05 162.18%.35 (0.745.757.41 1.

Bab 2 Sektor Keuangan

Turun tajamnya indeks saham diiringi pula dengan berkurangnya aktivitas transaksi. Hal tersebut antara lain karena adanya libur panjang menjelang akhir tahun 2008. Selama semester II 2008, transaksi saham turun sekitar 64% menjadi Rp34,88 triliun. Transaksi saham investor asing menurun, namun tetap tingginya minat investor mengakibatkan terdapatnya net beli sebesar Rp7,77 triliun. Penurunan harga yang disertai turunnya transaksi perdagangan menyebabkan turunnya kapitalisasi pasar sebesar 45,86% menjadi hanya Rp1,076 triliun. Sementara itu, likuiditas pasar tetap rendah, tercermin pada emisi saham yang hanya meningkat 6,94% menjadi Rp407,46 triliun dengan jumlah emiten yang hanya bertambah 17 perusahaan menjadi 485 perusahaan.

Selama semester laporan, harga sebagian besar saham perbankan melemah signifikan meskipun menjelang akhir semester terindikasi rebound. Sementara itu, dari sisi Price/Earning Ratio (PER), sebagian besar saham bank mengalami penurunan.

Grafik 2.59 Perkembangan Harga Saham Beberapa Bank
9.000,00 8.000,00 7.000,00 6.000,00 5.000,00 600,00 4.000,00 3.000,00 2.000,00 1.000,00 Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

1.200,00 1.000,00 800,00

400,00 200,00

Grafik 2.57 Nilai Transaksi Saham Investor Domestik dan Asing
Rp triliun 160
Total Indonesia Asing

2007 BCA (LHS) Danamon (LHS) CIMB Niaga (RHS)

2008 BRI (LHS) BNI (LHS) Mandiri (LHS) BII (RHS)

140 120 100 80 60 40 20 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Grafik 2.60 P/E Ratio Saham Bank
% 90 80 70 60 50 40 30 20 10
Jun 07 Jun 08 Des 07 Des 08

2008

Grafik 2.58 Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi
Rp triliun 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des N Kap (BEI) N Kap (BEJ) N Kap (BES) IHSG (RHS) N Emisi

0

Danamon

BCA

BRI

Mandiri

BNI

BII

CIMB Niaga

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Pasar Surat Utang
Tingginya suku bunga sejak awal sampai pertengahan semester II 2008 menyebabkan kinerja pasar surat utang menjadi tertekan. Harga SUN mengalami penurunan, tercermin pada turunnya indeks IDMA sekitar 11% menjadi 88,21. Bahkan, indeks IDMA sempat

2008

42

Bab 2 Sektor Keuangan

mencapai level terendah 67,11 pada tanggal 29 Oktober 2008. Untuk mengurangi potensi kerugian investor karena turun pesatnya harga SUN, telah ditempuh kebijakan untuk melonggarkan aturan marking to market bagi investor SUN. Sejalan dengan penurunan BI rate sejak awal November 2008, pasar mulai rebound, terindikasi pada turunnya yield penanaman rupiah berbagai tenor.

berkembangnya transaksi SUN untuk tenor jangka panjang. Tidak adanya acuan yield yang wajar untuk penanaman rupiah berjangka panjang (berjangka waktu lebih dari 10 tahun) juga menghambat perkembangan transaksi SUN berjangka panjang.
Grafik 2.63 SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor
Rp triliun 45 40 35
FR VR ORI Zero Coupon SPN

Grafik 2.61 Perkembangan Harga Beberapa Seri FR
140 120 100 80 60 40 20

30 25 20 15 10 5 0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2037 2038

FR02 FR48 Jan Feb Mar Apr Mei Jun

FR49 FR47 Jul Ags

FR27 FR45 Sep Okt Nov Des

Tertekannya pasar surat utang mengurangi minat emiten untuk menghimpun dana melalui penerbitan obligasi. Pada tahun 2008, pembiayaan melalui emisi

2008

Grafik 2.62 Yield SUN 1 s.d. 30 tahun
% 20 18 16 14 12 10 8 6 4
Des Jan Feb 1 tahun 10 tahun Mar Apr Mei 3 tahun 15 tahun Jun Jul Ags 5 tahun 30 tahun Sep Okt Nov Des

obligasi korporasi tercatat rendah, yaitu nilai emisi hanya naik sekitar 9% menjadi Rp145,9 triliun dengan tambahan emiten hanya 3 perusahaan sehingga menjadi 178 perusahaan. Emisi obligasi korporasi tersebut tidak berdampak nyata terhadap likuiditas pasar obligasi korporasi karena sebagian besar emisi merupakan

refinancing. Secara keseluruhan, posisi obligasi korporasi

2007

2008

Grafik 2.64 Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi
(Emisi & Posisi Trl Rp) (Emiten) Posisi Emiten 179 178 177 176 175

Dari segi likuiditas, tidak adanya lelang SUN pada Kuartal IV (sejak 14 Oktober 2008) telah menyeimbangkan likuiditas pasar yang diwarnai aksi jual. Sejalan dengan itu, posisi SUN pada semester laporan turun dari Rp515,0 triliun menjadi Rp511,0 triliun. Dari segi tenor, likuiditas pasar SUN tetap terkonsentrasi pada SUN berjangka pendek dan menengah yang menyebabkan kurang

160 140 120 100 80 60 40 20 0
Jan

Emisi

174 173 172 171
Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

170

2008

43

Bab 2 Sektor Keuangan

pada akhir Desember 2008 tercatat sebesar Rp73 triliun, atau turun sebesar 13,7% dibandingkan posisi pada akhir Desember 2007.

sejalan dengan melemahnya pasar surat utang, NAB reksadana pendapatan tetap turun 15% menjadi Rp14,0 triliun. Sementara itu, pemberlakuan ketentuan Bapepam-

Reksadana
Semakin melemahnya pasar keuangan menyebabkan memburuknya kinerja reksadana. Hal tersebut terlihat pada perkembangan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada semester laporan (s.d Oktober 2008) yang turun 25% menjadi Rp68,9 triliun. Dengan perkembangan tersebut, selama tahun 2008 NAB reksadana turun sekitar 27%. Perkembangan bursa saham yang kurang

LK yang melarang redemption reksadana terproteksi yang belum selesai masa pengelolaannya, menyebabkan NAB reksadana terproteksi tetap meningkat, yaitu naik 21% menjadi Rp24,9 triliun. Sejalan dengan itu, pangsa reksadana terproteksi pada akhir Desember 2008 menjadi yang terbesar yaitu sekitar 36%, padahal pada akhir Desember 2007 pangsanya masih sekitar 17%. Tetap meningkatnya NAB reksadana terproteksi berhasil mengurangi tekanan redemption. Bahkan, selama tahun 2008 redemption tetap lebih kecil dibandingkan dengan

menggembirakan yang disertai meningkatnya volatilitas IHSG mengakibatkan NAB reksadana saham turun sebesar 53% menjadi Rp16,6 triliun, sementara NAB reksadana campuran turun 38% menjadi Rp8,7 triliun. Selanjutnya,
Grafik 2.65 Nilai Aktiva Bersih Reksadana
Rp triliun 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Camp Jul Ags Sep Okt

subscription, yaitu Rp81,6 triliun berbanding Rp83,8
triliun.
Grafik 2.67 Reksadana : NAB-Unit Penyertaan
120 100 80 60 40 20 0 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Jul Ags Sep Okt 0

NAB, trl Rp,kr

Unit Penyertaan, mil unit,kr

NAB/Unit,knn

Pend Tetap

Saham

Ps Uang

Terproteksi

Grafik 2.66 Reksadana : Redemption-Subscription-NAB
14 Rdmp, trl Rp,kr 12 10 8 60 6 4 2 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Jul Ags Sep Okt 40 20 0 Subscr, trl Rp,kr NAB, trl Rp,knn 100 80 120

Grafik 2.68 Kinerja Penghimpunan Dana Reksadana
160 140 120 100 80 480 60 40 20 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei 2008 Jun Jul Ags Sep 460 440 420
Juml Unit Penyertaan,kr Juml Dana,Trl Rp,kr Juml Reksadana, knn

560 540 520 500

44

45 . Selain itu. namun sejak September 2008 menurun menjadi sekitar 62.5 miliar unit. Meskipun sepanjang tahun 2008 terdapat peningkatan unit penyertaan sebesar 17%.d September) tergolong kecil yaitu hanya sebesar 2% menjadi Rp135. sementara jumlah reksadana meningkat cukup besar yaitu sekitar 16% menjadi 549.5 triliun. Hal tersebut antara lain terlihat pada unit penyertaan. terdapat tanda-tanda bahwa minat investor terhadap reksadana semakin menurun.Bab 2 Sektor Keuangan Namun demikian. peningkatan penghimpunan dana melalui reksadana pada tahun 2008 (s.

terendah sejak 29 Oktober 2008 penerbitan SUN pertama kali pada Januari 2005.2 Respon Kebijakan Tanggal 16 September 2008 23 September 2008 13 Oktober 2008 Kejadian BI menurunkan O/N repo rate dari BI rate plus 300 bps menjadi BI rate plus 100 bps. BI merubah ketentuan tentang GWM rupiah dan GWM valas bagi Bank Umum (PBI No.10/25/PBI/2008). khususnya selama semester II. namun nilai tukar rupiah masih belum kembali kepada level sebelum Oktober 2008.d 14 hari menjadi 1 hari s. dan GWM sekunder sebesar 2.10/22/PBI/2008). FSI mulai sedikit menurun sejalan dengan membaiknya IHSG dan harga SUN. BI berkomitmen menyediakan valas bagi korporasi domestik melalui perbankan (PBI No.650. terendah sejak Desember 2005. Penerbitan PERPPU No. BI mengeluarkan aturan mengenai Fasilitas Pinjaman Darurat (FPD) (PBI No. meskipun volatilitasnya sudah semakin berkurang. BI mengeluarkan perubahan atas PBI No.3 Tahun 2008 yang mengatur kenaikan nilai simpanan nasabah yang dijamin LPS dari Rp100 juta menjadi Rp 2 milyar.10/26/PBI/2008).10/31/PBI/2008).10/21/PBI/2008).1 Kronologis Gejolak Sektor Keuangan 2008 dan Respon Kebijakan Kondisi sektor keuangan pada tahun 2008. BI memperpanjang tenor FX Swap dari paling lama 7 hari menjadi 1 bulan (PBI No. BI mengeluarkan peraturan yang membatasi transaksi spekulatif valas terhadap rupiah dengan mewajibkan adanya underlying transaksi untuk setiap pembelian valas yang melebihi USD100. Penerbitan PERPPU No.Bab 2 Sektor Keuangan Boks 2. Tabel Boks 2.d 3 bulan (PBI No. BI melarang transaksi derivatif structured product yang terkait transaksi valas (PBI No.11. BI menyesuaikan FASBI rate dari BI rate minus 200 bps menjadi BI rate minus 100 bps.1.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) bagi Bank Umum (PBI No. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya.1 Kronologis Gejolak Sektor Keuangan Indonesia 2008 Tanggal Kejadian Stability Index . penuh gejolak.000 (PBI No. Tabel Boks 2.10/38/PBI/2008).1.10/19/PBI2008 untuk menyempurnakan perhitungan GWM Rupiah menjadi GWM utama sebesar 5% dari DPK Rupiah. 20 Nopember 2008 LPS mengambilalih 1 bank yang dinilai berdampak sistemik (Bank Century). BI mengeluarkan perubahan atas PBI No.FSI) meningkat tajam selama semester laporan.2 Tahun 2008 tentang perubahan Undang-Undang Bank Indonesia yang memungkinkan kredit berkolektibilitas lancar dijadikan agunan untuk mendapatkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP).10/20/PBI/2008). 8-10 Oktober 2008 Bursa Efek Indonesia ditutup sementara. Penerbitan PERPPU No. bahkan pernah melampaui batas indikatif maksimum angka 2 pada bulan November dan Desember 2008. 10/30/PBI/2008). nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. 15 Oktober 2008 24 Oktober 2008 29 Oktober 2008 13 Nopember 2008 14 Nopember 2008 18 Nopember 2008 16 Desember 2008 46 .10/19/PBI2008). Dalam perkembangan terakhir.4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).5% dari DPK Rupiah (PBI No. 28 Oktober 2008 Indeks Harga SUN (IDMA): 67. BI meniadakan pembatasan posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri (PLN) jangka pendek (PBI No. IHSG: 1. Sementara itu. gejolak tersebut telah membuat Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Berikut ini disampaikan ringkasan kronologis gejolak keuangan di Indonesia selama semester II 2008 dan respon kebijakan yang telah diambil untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. 24 Nopember 2008 Nilai tukar Rp/USD: 12.39. BI mengeluarkan peraturan tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum (FPJP) (PBI No.10/14/PBI/2008).10/28/PBI/2008). BI memperpanjang jangka waktu Fine Tune Operation (FTO) dari 1 hari s.111. terendah sejak krisis 1997/ 1998.

Bank ini akhirnya dibekukan oleh pengadilan Belanda pada tanggal 6 Oktober 2008. Bersamaan dengan terjadinya kekeringan likuiditas global yang berimbas ke dalam negeri. interbank stress test juga menunjukkan bahwa bankbank yang mengalami penurunan CAR karena penutupan Bank Indover bukanlah bank-bank yang dapat menimbulkan dampak sistemik. Bank Indover sempat memiliki kinerja yang cukup bagus sebelum mengalami kesulitan likuiditas akibat penurunan secara drastis money market line sebagai dampak dari gejolak pasar keuangan global. Dari sisi likuiditas. Selain itu. Selanjutnya. kinerja bank terus menurun sehingga masuk dalam pengawasan khusus (Special Sementara itu. Namun demikian.2 Pengambilalihan Bank Century.01% s.07% dari total asset industri perbankan per Oktober 2008. Data yang ada menunjukkan terdapat sekitar 14 bank domestik yang melakukan penanaman pada Bank Indover sebelum ditutup. Pengambilalihan bank yang tidak menimbulkan gejolak ini sekaligus juga merupakan cerminan semakin kuatnya koordinasi antara lembaga-lembaga terkait dalam sistem keuangan di Indonesia dan berjalannya mekanisme protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang telah disepakati bersama. Bank Pikko dan Bank Danpac pada bulan Desember 2004. mengingat bank tersebut dinilai berdampak sistemik maka Bank Century kemudian diambilalih oleh LPS untuk disehatkan.09%.d 7. kondisi bank terus memburuk sehingga dinyatakan sebagai bank gagal pada tanggal 20 November 2008. khususnya yang terjadi di Eropa.18% menjadi 16. Mengingat jumlah eksposur ke14 bank domestik pada Bank Indover tersebut hanya sekitar Rp1. Belanda.28% dari secondary reserves perbankan. Yang pertama adalah pengambilalihan Bank Century oleh LPS dan yang kedua adalah penutupan Bank Indover. Baik nasabah maupun lembaga perbankan relatif tenang sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan.Bab 2 Sektor Keuangan Boks 2. Hasil Surveillance ) Bank Indonesia. 47 . Dalam kenyataannya pengambilalihan Bank Century oleh LPS tidak menimbulkan gejolak atau shock yang signifikan di perbankan. maka penutupan Bank Indover tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap ketahanan sistem keuangan Indonesia. dampaknya terhadap rasio permodalan (CAR) industri perbankan juga tidak besar.6 triliun atau 0. Penutupan Bank Indover hanya mengakibatkan penurunan CAR dari 16. Setelah itu. juga tidak berdampak signifikan karena hanya mengakibatkan penurunan likuiditas dalam kisaran antara 0. Penutupan Bank Indover dan Stabilitas Sistem Keuangan Pada semester II 2008 terdapat 2 permasalahan di perbankan yang banyak mendapat perhatian. De Indonesische Overzeese Bank atau lebih dikenal dengan Bank Indover adalah anak perusahaan Bank Indonesia yang berkedudukan di Amsterdam. Pertanyaannya adalah apakah kedua permasalahan tersebut mengganggu stabilitas sistem keuangan Indonesia? Bank Century adalah hasil merger Bank CIC. pada bulan Juli 2008 Bank Century mengalami kesulitan likuiditas yang ditandai dengan pelanggaran GWM beberapa kali. Salah satu potensi tekanan terhadap stabilitas keuangan adalah penanaman yang dilakukan oleh bank-bank domestik pada Bank Indover.

482 1.3% Total 4 Bank Persero Bank Besar Non Persero Bank Swasta Menengah Bank Swasta Kecil BPD Bank Campuran & KCBA TOTAL Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan 1.3% 97.310 143.521 10. Pada Tabel di bawah ini tahun 2008 dipecah menjadi dua periode.3 Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Segmentasi PUAB adalah suatu kondisi dimana transaksi antar bank cenderung terbatas dan hanya terjadi antara sesama kelompok bank tertentu saja.778 16.152 173.656 45.772 -28.819 45.d.184 -71. sedangkan periode II adalah setelah terjadi tekanan likuiditas (September s.112 -17.177 -28.7% 36. Pada PUAB Rupiah.090.192 1.799 3.411 0 -100.184 17.659 92. bank yang memerlukan likuiditas menjadi semakin berhati-hati dalam meminjam dana di PUAB.226 -39.926 31. September untuk PUAB Valas DN).118 1. baik dalam hal menempatkan dana (placing) maupun dalam hal meminjam (taking).9% 53.480 941. bukan hanya karena keterbatasan supply.3% 49.3% 271.815 90.6% 17.285.1% 592.515 37.354.3.d.434 434.763 2.783 424.853.762 -95.316.213 -0.223 15.9% 197.332 126.240 55. yaitu sejak bulan Oktober 2008.229 2.304 -74.1 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Rupiah Januari s. terlihat bahwa pada periode II hampir semua kelompok bank membatasi transaksi.829 4.4% 1.638 45.7% 62.532 709.6% BPD 706.565 225.786 30.8% 22. penurunan ratarata per hari volume transaksi terjadi sejak bulan September 2008.4% 456. Periode I adalah sebelum terjadinya tekanan likuiditas (Januari s.921 61.640 1.345 -38.980 -73.9% 9.1% 10.2% 188. bank yang memiliki likuiditas menjadi semakin berhati-hati dalam menempatkan atau mengelola likuiditasnya.610.0% 298.8% 8.093 169.3% 1.913 82.707 23.0% 71.384 247.628 0 -100.8% 2.279 318.5% 6.870 51.858 15.6% 1.429 -74.547 -88. Desember untuk PUAB Valas DN). sementara pada PUAB Valas Dalam Negeri (DN) penurunan rata-rata per hari volume transaksi baru terjadi satu bulan kemudian.167.3% 518.154 -84.963 -47.6% 7.382 4.586 -47.459 33.914 80. namun juga untuk menjaga reputasi.157 -31.500 -75.0% 81.665.962 -97.076 -58.594 -78. kalaupun ada Tabel Boks 2.424 1.377 2.7% 4.5% 238.2% 1.0% 69.585 51.954 12.415 -11.090 -30.d.939 -23.701 139.3% 99.690 -93. Segmentasi PUAB dapat ditelusuri dari perkembangan penurunan rata-rata perhari volume transaksi PUAB.728 26.766.193 335. Agustus untuk PUAB Rupiah atau Januari s.897 11.9% 63.469 -78.1% 2. Dengan memperbandingkan kedua periode tersebut.923 19.115 -88.6% 1.6% 873.866 20.1% 50.022 367.5% 252.7% 193.317 100.199.d Desember 2008 Rp juta BANK PEMBERI Kelompok Bank 4 Bank Persero 266.2% 119.9% 48 BANK PEMINJAM .247 36.196 -38.627 4.3% 239.737.0% 1. Dengan tersegmentasinya PUAB.915 -11.991 4.964 614. Selain itu.069 112.074 -65.155 117.289.730 -44.485.5% 36.0% 695.778 -45.8% Bank Campuran & KCBA 143.003 372.665.5% Bank Besar Bank Swasta Bank Swasta Non Persero Menengah Kecil 260.d. Sementara.839 121. Desember untuk PUAB Rupiah atau Oktober s.Bab 2 Sektor Keuangan Boks 2.388 355.5% 0 0 917.

seiring mulai membaiknya kondisi likuiditas domestik paska serangkaian kebijakan yang diambil Bank Indonesia dan Pemerintah.0% 0 19 24.065 -4. maka mulai penghujung tahun 2008. ke depan diharapkan permasalahan segmentasi PUAB ini segera terselesaikan secara menyeluruh sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap stabilitas keuangan.3% 78 0 -100.274 17.Bab 2 Sektor Keuangan transaksi.837 1.5% 24 8 -65.703 -14.168 -48.419 -84.087 188.513 78.110 23.585 -94. Bank-bank besar terlihat hanya mau bertransaksi dengan sesama bank besar pula.1% 45 25 -44.127 -31.212 -20.494 -11.4% 7.455 -48.481 2.561 2.0% 1.2 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Valas DN Januari s.9% 2.7% 3 0 -100.437 -35.0% 14 700 5037.1% 6.8% 37.3% 67.3.1% 91.193 -20.109 1.300 -1.611 71.623 4.9% BANK PEMINJAM 49 .093 2.6% 9.5% 53 18 -66.558 232 -85.364 41.508 30.3% 0 0 32 0 -100.014 4.7% 94 0 -100.014 -38.9% 87.3% 10. sementara bank-bank kecil dan menengah relatif kesulitan dalam mendapatkan dana antar bank.0% 81.889 4.568 -44.0% 45.943 6.6% 33.209 66.098 135.445 -44.7% 330 376 14.5% 9.530 -24.122 -37. baik PUAB rupiah maupun valas DN.6% 2.0% Total 4 Bank Persero Bank Besar Non Persero Bank Swasta Menengah Bank Swasta Kecil BPD Bank Campuran & KCBA TOTAL Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan 34.0% 52 50 -4.873 4.7% 759 894 17.0% 0 0 0 0 144 0 -100. sama-sama menunjukkan peningkatan rata-rata per hari volume transaksinya. Perkembangan terakhir. hal itu cenderung hanya terjadi terbatas pada kelompok bank-bank tertentu saja.0% 1.d Desember 2008 USD ribu BANK PEMBERI Kelompok Bank 4 Bank Persero 8.2% 139 737 429.9% 60.504 1.6% 1. Dengan demikian.8% 179 43 -76.337 174 -87.1% Bank Campuran & KCBA 2.7% 218.0% BPD 1.072 7.1% 294.5% Bank Besar Bank Swasta Bank Swasta Non Persero Menengah Kecil 14.6% 5.390 9.368 13.209 -78.668 2.170 -53.980 4.982 -36.9% 0 19 5.525 1.418 53.057 7.121 -67.7% 670 648 -3.935 16.763 -12.307 10.481 -25.660 -23. Tabel Boks 2.8% 6.

keagenan reksadana oleh perbankan tidak lagi hanya terbatas 50 . structured products dapat dipandang sebagai derivatif produk keuangan konvensional dengan struktur aset yang diharapkan menghasilkan return yang paling optimal atau memberikan yield enhancement bagi nasabah. karena bank masih memiliki kewajiban terhadap bank lain terkait transaksi structured products nasabah. terutama kantor cabang bank asing dan bank swasta nasional yang dimiliki asing. memburuknya perekonomian global menekan kinerja neraca pembayaran Indonesia. seperti eksportir. transaksi structured Structured products yang berkembang di Indonesia umumnya merupakan derivatif dari deposito dengan option atau hedging (umumnya forward) dengan option. Secara umum. maka bank seringkali menutup kewajiban nasabah yang jatuh waktu terlebih dahulu. Dalam perkembangan lebih lanjut. misalnya suku bunga. structured products karena tingginya biaya pembatalan transaksi (unwinding cost). padahal mereka juga kesulitan untuk membatalkan transaksi structured products . Bahkan nasabah structured products tertentu. nasabah ini tidak memiliki dana cukup untuk memelihara nilai simpanan. Akibatnya. berpotensi menekan stabilitas keuangan. dewasa ini ada yang menghadapi persoalan pembatalan sepihak oleh importir di luar negeri terkait dengan memburuknya perekonomian global. akhir-akhir ini aktif melakukan penawaran produkproduk investasi yang dikenal di Indonesia sebagai menyediakan dana untuk memelihara nilai simpanan. Sementara itu. maraknya transaksi reksadana telah mendorong perbankan untuk melakukan kegiatan keagenan reksadana.Bab 2 Sektor Keuangan Boks 2. Dengan demikian. Apabila masalah structured products tidak tuntas diselesaikan. Sementara itu. sementara investor tetap harus Offshore Products Sementara itu. transaksi forward juga meningkat yaitu pada tahun 2007 dan 2008 masing-masing naik 24% dan 46%. Data menunjukkan bahwa perkembangan transaksi option sangat pesat. dan dapat menjadi sumber dispute dengan nasabah. yaitu pada tahun 2007 meningkat 251% dan pada tahun 2008 meningkat 134%. praktek tersebut akan meningkatkan eksposur risiko kredit bank. Hal ini kemudian menjadi sentimen negatif yang membuat nilai tukar rupiah terdepresiasi. Pada tahun 2008.5% sehingga nilai tukar pada akhir Desember mencapai sekitar Rp11. menurunnya kinerja structured products menimbulkan kerugian bagi investor. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari permasalahan structured products yang saat ini ramai dibicarakan adalah pentingnya perbankan menerapkan kehati-hatian dan keterbukaan dalam memasarkan produk tersebut. termasuk dalam menjelaskan aspek mitigasi risiko dan perlindungan konsumen. Akibatnya. products yang pada umumnya tidak pernah memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan terdepresiasi secara signifikan. hal ini akan meningkatkan risiko reputasi dan risiko hukum dari masing-masing bank yang terkait. Sementara itu.120/USD. berdasarkan asumsi-asumsi tertentu dari indikator pasar keuangan yang umum.4 Structured Products dan Offshore Products: Dampaknya terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Structured Products Beberapa bank. Namun. Pelemahan nilai tukar rupiah ini kemudian mempengaruhi kinerja structured products telah menimbulkan suatu kesulitan baru diperbankan dan apabila tidak diselesaikan secara cermat. nilai tukar dan indeks saham. nilai tukar Rp/USD melemah sekitar 18.

d November) jumlahny menurun sekitar 6% sehingga menjadi sekitar Rp2 triliun. jumlah bank penyelenggara semakin meningkat. baik yang bersifat structured funds maupun structured notes.5 triliun. namun juga mencakup penawaran produk keuangan negeri pada semester II 2008 turun 14% menjadi sekitar Rp32 triliun. Namun demikian. Hal tersebut antara lain karena bertambahnya bank domestik yang telah diambil alih pihak asing. Dengan latar belakang tersebut. Dampak penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah penanaman yang berlebihan dalam offshore products berpotensi mendorong terjadinya pelarian dana investor domestik ke luar negeri. yaitu hanya berkisar Rp2. disamping memperbesar peluang meningkatnya kesalahpahaman dengan investor. Pada dasarnya.d November 2008. penawaran produk keuangan offshore oleh MI domestik jauh lebih rendah. Di samping perbankan. Namun demikian. Bahkan. structured funds merupakan reksadana yang diterbitkan oleh MI luar negeri. unit wealth management di Indonesia berhubungan langsung dan merupakan bagian dari unit wealth offshore. khususnya melalui unit private banking atau unit wealth management. Hal lain yang menyebabkan KCBA menjadi cukup aktif dalam melakukan penawaran produk keuangan offshore adalah karena kegiatan serupa telah sering dilakukan di kantor-kantor cabang bank tersebut di negaranegara lain. secara keseluruhan. Pada sebagian bank. Berdasarkan laporan dari beberapa bank penyelenggara keagenan produk keuangan offshore diketahui bahwa penawaran produk keuangan luar 51 . kehatihatian perlu ditingkatkan mengingat kegiatan keagenan produk keuangan offshore berpotensi membuat bank lebih terekspose terhadap risiko reputasi dan risiko hukum. yaitu hanya ditujukan bagi calon investor yang telah memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko penanaman pada produk keuangan offshore. selama semester II 2008 (data s. Penawaran produk keuangan offshore yang dilakukan oleh perbankan tampaknya masih cenderung terbatas. sementara structured notes merupakan jenis produk keuangan terstruktur yang yang diterbitkan oleh investment banks di luar negeri. yaitu pangsanya secara rata-rata hanya sekitar 29% dari reksadana onshore. Beberapa alasan utama dilakukannya kegiatan penawaran produk keuangan offshore oleh perbankan adalah: (i) adanya permintaan dari nasabah utama (prime customers).Bab 2 Sektor Keuangan pada reksadana onshore . (ii) dalam rangka memelihara hubungan dengan nasabah atau menjaga agar nasabah tidak pindah ke bank lain. khususnya apabila masalah tranparansi dan perlindungan nasabah kurang diperhatikan. Penurunan tersebut terkait dengan melemahnya pasar keuangan global sehingga mengurangi minat investor terhadap produk-produk investasi terstruktur. kantor cabang bank Asing (KCBA) adalah kelompok bank yang paling aktif dalam melakukan keagenan produk keuangan offshore. dan (iii) untuk menghadapi persaingan dengan semakin maraknya penawaran produk-produk keuangan luar negeri oleh bank dan MI luar negeri yang dilakukan dengan cara mengunjungi calon investor langsung ke Indonesia. posisi produk keuangan offshore yang ditawarkan oleh bank dan MI domestik relatif kecil. management pada global office bank yang bersangkutan di luar negeri. Berdasarkan data sementara s. penawaran produk keuangan offshore juga dilakukan oleh MI domestik. yaitu reksadana yang diterbitkan oleh manajer investasi (MI) domestik. Meskipun masih cenderung terbatas.

97 1.82 17.46 1. Jumlah pokok dan bunga ULN swasta perbankan yang jatuh tempo pada tahun 2009 hanya sebesar USD3.Bab 2 Sektor Keuangan Boks 2.46 15.084.11 621.70 17.76 3.612. 52 .55 3.55 57.88 4.86 Tw IV-09 3. jumlah ULN swasta non bank juga masih relatif kecil dibandingkan dengan cadangan devisa. Sementara itu.938.232.996.46 Loan Agreement Securities Trade Credits Other Loan Jumlah BUNGA LOAN_TYPE Tw I-09 271.5 Dampak Utang Luar Negeri terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Pengalaman krisis 1997/1998 menunjukkan bahwa utang luar negeri (ULN) perbankan dan korporasi dapat menjadi pemicu krisis. Bagi perbankan.36 87.428.94 6.35 154.08 Tw II-09 2.50 14.47 54.14 49.38 232.22 62.21 2.45 32.236.06 2.28 3.61 Tw III-09 238. Secara umum diperkirakan kewajiban pembayaran utang luar negeri 2009 masih yang mencakup kewajiban pembayaran ULN Pemerintah dan Swasta.190. khususnya apabila nilai tukar domestik mengalami penurunan yang signifikan.06 287.208.728.377.40 750.14 Tw II-09 555.380.66 761.03 87.67 3. Namun demikian. mengingat sekitar 60% dari total ULN yang akan jatuh tempo pada tahun 2009 merupakan banker»s acceptance.140. maka kehati-hatian perlu lebih ditingkatkan. Selama 2009 diperkirakan akan dilakukan pembayaran ULN sebesar USD27. tekanan terhadap nilai tukar yang berasal dari ULN swasta termasuk perbankan pada tahun 2009 diperkirakan tidak akan signifikan.47 104.07 6.55 66. tercermin dari rata-rata PDN industri perbankan yang cukup rendah (6.1 miliar.308 juta. mengingat profil maturitas valas perbankan menunjukkan cukup tingginya posisi short jangka pendek (tenor s. Belajar dari pengalaman tersebut.377.13 93.2 miliar (tidak termasuk jumlah ULN yang standstill ).106.06 Tw IV-09 699.43 10.191.190.681.73 755.5 miliar Tabel Boks 2.58 USD Juta 11. manageable . bank dewasa ini cukup berhati-hati dalam menjaga Posisi Devisa Netto (PDN).60 326.510.57 223.919. kewajiban pembayaran ULN diperkirakan akan cukup terkendali.5.d.46 Bank Non Bank ULN Swasta* USD Juta 1.94 Tw III-09 1. sedangkan jumlah ULN swasta non bank adalah sekitar USD14.520.23 2. 1 bulan).20 Loan Agreement Securities Jumlah Grand Total * Tidak termasuk surat-surat berharga domestik yang dimiliki asing sebesar USD1.44 1.614.2%) padahal batas maksimal adalah 20% dari modal.03 3. Dengan demikian.764.1 Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo 2009 LOAN_TYPE Tw I-09 4.

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko 53 .

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Halaman ini sengaja dikosongkan 54 .

9 ribu triliun (yoy). volume transaksi pembayaran melalui Sistem BI-RTGS bertambah 710 ribu transaksi atau tumbuh 14.0 30.9% mencapai 5.0 2004 2005 2006 2007 2008 10.000 6.000 Nominal (trilyun) 40.000 4. Seiring dengan peningkatan nilai transaksi.1 ribu triliun atau tumbuh 14. Selama 2 tahun terakhir sampai dengan akhir semester II 2008.000 Volume (jutaan) 10.0 Grafik 3.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Kehandalan infrastruktur keuangan selama semester II 2008 tetap terpelihara dengan baik sehingga dapat mendukung aktivitas di sistem keuangan dan perekonomian.0 8.000 Sementara itu. Secara lebih khusus.0 20. Nilai transaksi pembayaran melalui Sistem BI-RTGS mengalami peningkatan sebesar Rp3. Namun. nilai dan volume transaksi pembayaran melalui SKN-BI mengalami tren kenaikan. Keberadaan Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang saat ini sedang dipersiapkan undang-undangnya akan semakin memperkuat stabilitas sistem keuangan ke depan. 3. Peningkatan volume transaksi tersebut terutama karena semakin banyaknya transaksi antar nasabah dan transaksi pemerintah yang dilakukan melalui Sistem BI-RTGS. peranan Sistem BI-RTGS dalam sistem pembayaran semakin penting karena dari sisi nilai transaksi.1 Perkembangan Transaksi BI-RTGS 50. pembayaran dengan menggunakan kartu (Kartu kredit. sementara informasi yang disediakan oleh Biro Informasi Kredit semakin banyak dimanfaatkan. yaitu sebesar 97% dari total pembayaran.0 2. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Secara umum. jika dibandingkan dengan semester II 2007.1. setelmen melalui SKN-BI menunjukkan pola yang agak berbeda dengan yang melalui BI-RTGS. transfer dana ritel melalui SKN-BI mengalami penurunan 55 . 12. Sistem pembayaran terus menunjukkan kemajuan.45 juta transaksi dibandingkan periode sebelumnya. sekitar 93% pembayaran menggunakan sistem ini. namun pada semester II 2008 cenderung menurun. dari sisi volume transaksi. kartu debit dan kartu ATM) lebih mendominasi.68% (yoy) mencapai nilai Rp23.

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Rp105,35 triliun (14,31%) menjadi Rp631 triliun. Dari sisi volume transaksi juga terdapat penurunan yaitu 19,35 juta
500,00

Grafik 3.4 Perkembangan Transaksi E-Money
20,00
Volume (ribu) Nominal (milyar)

transaksi (47,96%) menjadi 21 juta transaksi.
400,00

15,00

Grafik 3.2 Perkembangan Transaksi SKN-BI
Volume 6
Volume (Juta)

300,00 10,00 200,00

Nilai (Rp Juta) 120

100,00 0,00

5,00

5 4 3 2 1 1 2

Nilai (Rp Triliun)

100
0,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

80 60 40 20 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

meningkat sebesar 1,15 juta transaksi (163,75%). Peningkatan ini karena semakin banyaknya penerbit baru

e-money, sehingga sampai dengan akhir tahun 2008 sudah
terdapat 8 penerbit e-money.

2007

2008

Penggunaan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) juga cukup tinggi dengan jumlah transaksi melalui kartu ATM/Debit masih mendominasi hingga mencapai 89%, sedangkan penggunaan kartu kredit hanya sebesar 11%. Dari sisi nilai transaksi, penggunaan kartu ATM/Debit juga tetap tertinggi yaitu sebesar 95%, sedangkan kartu kredit hanya 5%. Transaksi electronic money ( e-money ) dalam semester II 2008 mengalami pertumbuhan secara signifikan dibandingkan dengan semester I 2008. Dari sisi nilai transaksi, penggunaan e-money meningkat sebesar Rp0,05 triliun (398,44%). Sementara, dari sisi volume

3.1.1. Risk Assessment dan Mitigasi Risiko
Dalam rangka mitigasi risiko kredit dalam sistem pembayaran dan dalam upaya mengantisipasi dampak krisis global yang berpotensi membahayakan kebutuhan likuiditas dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia telah menyempurnakan ketentuan Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) dan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), serta mengeluarkan ketentuan baru mengenai Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD). Selain itu, dalam rangka mitigasi risiko setelmen dalam penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional, Bank Indonesia telah menetapkan prefund sebagai salah satu

Grafik 3.3 Perkembangan Transaksi APMK

5%

11%

95%
Kartu Berbasis (ATM dan ATM + Debit) Kartu Kredit

89%
Kartu Berbasis (ATM dan ATM + Debit) Kartu Kredit

56

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

mekanisme failure to settle (FtS) sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.7/18/PBI/2005 tentang Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI). Mekanisme prefund merupakan kewajiban bank peserta SKN-BI untuk penyediaan dana awal baik berupa dana tunai ( cash prefund ) atau surat berharga ( collateral

tanggal 24 Desember 2008 perihal Perizinan KUPU, yang mencabut ketentuan pelaksanaan sebelumnya (Surat Edaran Bank Indonesia No.8/32/DASP tanggal 20 Desember 2006 perihal Pendaftaran KUPU). Dengan berlakunya SE baru tersebut, masa transisi selama 2 tahun yang diberikan kepada penyelenggara KUPU untuk melakukan pendaftaran kegiatan usaha KUPU telah berakhir dan setiap penyelenggara KUPU diwajibkan untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia. Dengan adanya ketentuan baru ini diharapkan penyelenggaraan KUPU dapat termonitor dengan lebih baik dan memiliki standar kegiatan sesuai international best practices. Bank Indonesia juga terus berupaya untuk menyempurnakan ketentuan dan pengawasan APMK guna memastikan bahwa penyelenggara APMK dapat mengelola potensi risiko. Dalam rangka meningkatkan keamanan dan mitigasi potensi risiko penyalahgunaan dan/ atau pemalsuan kartu kredit termasuk keamanan perangkat Electronic Data Capture, Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan bahwa penggunaan chip pada kartu kredit harus dilakukan selambat-lambatnya 31 Desember 2009. Sementara itu, sebagai tindak lanjut hasil security

prefund ) dalam rekening giro dan agunan di Bank
Indonesia untuk dapat mengikuti kegiatan kliring debet. Dengan adanya kewajiban prefund ini diharapkan dapat meminimalkan risiko terjadinya bank yang tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya dalam setelmen kliring debet. Kegagalan pemenuhan

prefund pada waktu yang ditetapkan dapat
mengakibatkan bank peserta tidak dapat mengikuti kliring debet pada hari tersebut. Dalam rangka mitigasi risiko gagal bayar dalam penyelesaian hasil kliring transaksi pembayaran debet antar-bank, pada akhir tahun 2008 Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk menerapkan pula prinsip

no money no game untuk kliring debet.Ω Melalui penerapan
kebijakan penyempurnaan penyelesaian hasil kliring transaksi pembayaran debet antar-bank tersebut, risiko gagal bayar dalam penyelesaian hasil kliring debet dapat dimitigasi, dan Bank Indonesia sebagai Penyelenggara Kliring tidak akan menanggung risiko gagal bayar dari bank peserta kliring debet (mitigasi credit risk yang berpotensi dihadapi oleh Bank Indonesia). Penerapan kebijakan no

assessment dan progress implementasi chip kartu kredit
yang telah dilakukan pada semester I tahun 2008 dapat diinformasikan bahwa 46 temuan atau 58% dari 80 total temuan telah diselesaikan pada akhir semester II tahun 2008. Selanjutnya, Penerbit dan Acquirer diminta menyampaikan laporan progres implementasi chip dan tindak lanjut security assessment secara berkala (triwulanan). Sebagai upaya untuk terus memitigasi potensi risiko dalam sistem pembayaran antar-bank di Indonesia, pada Sistem BI-RTGS direncanakan akan dikembangkan mekanisme Payment-Versus-Payment (PVP) Settlement. Hal ini dimaksudkan untuk memitigasi risiko kegagalan

money no game dengan instrumen pre-fund tersebut akan
membuat seluruh transaksi pembayaran debet dari suatu bank dapat dibatalkan oleh Penyelenggara Kliring apabila

pre-fund untuk meng-cover kewajiban dari hasil kliring
debet-nya tidak mencukupi. Terkait dengan upaya mengurangi risiko dalam penyelenggaraan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU), Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan pelaksana Surat Edaran Bank Indonesia No.10/49/DASP

57

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

pembayaran dalam penyelesaian transaksi perdagangan valuta asing (valas) antar-bank di Indonesia (mitigasi FX

Untuk menjaga kelangsungan sistem BI-RTGS pada penyelenggara, Bank Indonesia melaksanakan ujicoba sistem

settlement risk). Dengan PVP settlement, pembayaran mata
uang domestik dan mata uang asing dari transaksi perdagangan valas antar-bank di Indonesia akan dilakukan secara bersamaan (simultaneous settlement), sehingga dua pihak dalam perdagangan valas antar-bank tidak akan mengalami kondisi telah melakukan serah mata uang yang dijualnya namun belum menerima mata uang yang dibelinya (FX settlement risk). Mekanisme PVP settlement yang akan dikembangkan pada Sistem BI-RTGS terutama untuk penyelesaian perdagangan Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah (USD/ IDR). Hal ini karena perdagangan USD/IDR merupakan porsi terbesar dalam perdagangan valas antar-bank di Indonesia. Mekanisme PVP yang dinamai USD/IDR PVP tersebut akan dikembangkan dengan membangun USD/IDR PVP Link yang akan menghubungkan Sistem BI-RTGS (untuk setelmen pembayaran IDR) dengan Sistem USD-CHATS4 di HongKong (untuk setelmen pembayaran USD). Untuk itu, Bank Indonesia dan Hong Kong Monetary Authority telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of

backup secara berkala dengan menggunakan berbagai
skenario. Sementara untuk memastikan keberfungsian sistem backup pada peserta, Bank Indonesia memberikan kesempatan untuk melakukan ujicoba koneksi ke penyelenggara. Selain itu, Bank Indonesia juga menyediakan alternatif mekanisme penyelesaian transaksi yang dapat digunakan oleh peserta dalam kondisi gangguan dan/atau keadaan darurat berupa fasilitas Guest Bank (penggunaan fasilitas hardware dan software di Bank Indonesia) dan penggunaan instrumen Cek dan Bilyet Giro Bank Indonesia. Dalam rangka menjaga kehandalan infrastruktur Sistem BI-RTGS dalam kondisi gangguan atau keadaan darurat, Bank Indonesia terus melakukan ujicoba dan analisa untuk meminimalkan recovery time objective (RTO). RTO adalah target waktu yang ditetapkan dalam proses pemulihan kegiatan operasional dan sistem untuk memastikan kesinambungan kegiatan operasional apabila terjadi gangguan (disaster). Penetapan RTO merupakan

iterative process dan negotiation process yang dilakukan
dengan mempertimbangkan antara biaya dan risiko yang akan ditanggung. Mengingat BI-RTGS merupakan sistem penyelesaian transaksi nilai besar dan merupakan

Understanding) pada tanggal 24 Oktober 2008.

3.1.2. Business Continuity Plan (BCP) Sistem BIRTGS
Kegagalan sistem pembayaran dapat menimbulkan gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, sistem pembayaran harus memiliki kinerja baik, handal, serta termitigasi risikonya. Untuk itu, diperlukan kesiapan sumber daya manusia dan kehandalan infrastruktur (aplikasi, hardware dan jaringan) baik pada penyelenggara maupun peserta dalam menghadapi kondisi darurat.

systemically important payment system (SIPS), maka RTO
diupayakan seminimal mungkin. Dalam kaitan ini, upayaupaya peningkatan percepatan proses recovery terus dilakukan melalui kajian teknis dan penyelenggaran uji coba disaster recovery plan (DRP) secara berkala.

3.1.3. Upaya Pemenuhan CP-SIPS
Bank Indonesia terus berupaya untuk memenuhi standar internasional dalam penyelenggaraan sistem pembayaran yang bersifat sistemik seperti pemenuhan core

principle systemically important payment system (CP-SIPS)
4 CHATS singkatan dari Clearing House Automated Transfer System, yang merupakan salah satu sistem RTGS di HongKong.

yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlements

58

UTILITAS PUBLIK INFORMASI INFORMASI PENGHIMUPUNAN DAN PENYEDIAAN DANA TRANSPARANSI DISIPLIN PASAR PEMERINTAH / REGULATOR (BIS) untuk penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. Hal ini merupakan wujud pelaksanaan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) khususnya Pilar V yaitu penguatan infrastruktur untuk menciptakan perbankan yang sehat. Upaya yang dilakukan antara lain mencakup peningkatan good 3. Reorganisasi DASP merupakan perwujudan dari kewajiban penyelenggara SIPS untuk menerapkan prinsip tata kelola yang baik antara lain melalui adanya pemisahan tanggung jawab pelaporan (reporting line) unit kerja yang menangani pengawasan ( payment system oversight) dengan unit kerja yang melaksanakan operasional Sistem BI-RTGS. Selain itu. Pada akhir tahun 2008.5 Peran Biro Informasi Kredit PERTUMBUHAN EKONOMI PERTUMBUHAN SEKTOR RIIL SEKTOR KEUANGAN BANK NON BANK BIRO INFORMASI KREDIT MEMPERLANCAR FUNGSI INTERMEDIASI MEMINIMALKAN GAP INFORMASI DAN RISIKO MEMPERCEPAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENURUNKAN BIAYA MASYARAKAT BADAN USAHA PERORANGAN SEKTOR NON KEUANGAN PERUSH. Tugas utama BIK adalah menghimpun dan menyimpan data perkreditan. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan kehandalan sistem yang ada. PENGEMBANGAN BIRO INFORMASI KREDIT Pembentukan Biro Informasi Kredit (BIK). Sistem ini telah mengalami penyempurnaan secara berkesinambungan dan sejak tahun 2005. 59 . Dengan demikian pelaporan data disampaikan secara on-line dan permintaan informasi debitur dapat dilakukan secara on- working group sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi antara penyelenggara dan peserta dengan melibatkan para peserta dalam pengembangan Sistem BIRTGS. merupakan salah satu upaya Bank Indonesia untuk memperkuat infrastruktur sistem perbankan dan sistem keuangan di Indonesia. kuat dan efisien. Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan internal No. yang diresmikan pada bulan Juni 2006. dapat dipertanggungjawabkan dan transparan.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Grafik 3. Keberadaan BIK diharapkan dapat membantu meminimalkan permasalahan asymmetric corporate governance melalui reorganisasi satuan kerja penyelenggara Sistem BI-RTGS. BIK mengoperasikan dan mengelola sebuah sistem dengan nama Sistem Informasi Debitur (SID). mempertukarkan dan pada akhirnya mendistribusikannya sebagai informasi debitur dalam rangka mendukung pelaksanaan fungsi intermediasi lembaga keuangan.2. Guna mendukung pencapaian tugas tersebut. telah berbasis web . line dan real-time. Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa peserta Sistem BI-RTGS membentuk suatu information antara penyedia dana dan penerima dana. Data perkreditan sebagai input SID.10/86/Intern tanggal 23 Desember 2008 mengenai Reorganisasi Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran (DASP) sebagai salah satu langkah agar penyelenggaraan sistem pembayaran dilakukan secara efektif.

255 10. dan PKKSB. Dari angka statistik.548 825 1 20. Sedangkan pelapor sukarela adalah BPR yang total asetnya belum sesuai dengan persyaratan menjadi pelapor wajib.748 308. Sedangkan Desember 2007 dan 2008. khususnya Perusahaan Pembiayaan (PP) masih tergolong KUALITAS DATA PRODUK & LAYANAN EDUKASI MASYARAKAT minim.813.900. dihimpun dari semua lembaga penyedia dana yang meliputi Bank Umum.022 21. Pelapor wajib terdiri dari Bank Umum. Selama 2 tahun pasca beroperasi. jumlah fasilitas kredit mencakup rekening yang aktif dan pasif.1 Perkembangan Data SID 2006-2008 Desember 2006 Jumlah Pelapor (Lembaga) Bank Umum BPR PP Jumlah Pelapor (Kantor Cabang) Bank Umum BPR PP Jumlah Debitur (berdasarkan Debtor Identification Number) Bank Umum BPR PP Jumlah Fasilitas Kredit (rekening)*) Bank Umum BPR PP Jumlah Permintaan Informasi Debitur**) Bank Umum BPR PP 486 130 355 1 3.790 1.054 2.147.178. fasilitas KETENTUAN & PENGATURAN SISTEM & APLIKASI BIK PELAPOR & PENGGUNA kredit maupun akses terhadap informasi debitur.697.521.374 2.187.863.780.359. Saat ini terdapat 2 jenis kepesertaan dalam SID yaitu kepesertaan yang bersifat wajib dan sukarela.374 2. data jumlah fasilitas kredit yang tersedia hanya untuk rekening yang aktif.986 26.788 2.6 Kebijakan Strategis BIK menunjukan hasil yang cukup menggembirakan.186 141.769 30.264 1.260 4 35.495 53.640. LKNB.689 1. serta adanya gap yang cukup besar antara struktur data yang dimiliki LKNB dengan struktur data yang dipersyaratkan dalam SID.192 1.374 29.957 1.669 Desember 2008 777 127 646 4 4. telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada jumlah pelapor. Hal tersebut terutama karena kepesertaannya bersifat sukarela.070. Bank Perkreditan Rakyat (BPR).657 395. BPR dengan total aset Rp10 miliar Sementara itu. Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) termasuk Penyelenggara Kartu Kredit Selain Bank (PKKSB).857 0 Desember 2007 751 130 618 3 3. penyelenggaraan BIK telah Grafik 3. debitur.573 57.626 751.915 Catatan: *) Desember 2006. ratarata permintaan informasi debitur selama tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 55% dibandingkan tahun 60 .849 1.839 1.782.536 2.979 822. Namun demikian.689. **) Jumlah permintaan pada bulan tersebut.833.023 782.200 824.857 33. dapat dicatat bahwa pelapor SID dari LNKB.050.957 1.464 3.850 19.633 3 28.062 20.312.534 95.096 30.139 27.078 1.788 2. ke atas selama 6 bulan berturut-turut. dari sisi pemanfaatan output SID.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Tabel 3.479.535.158 206.573. dan Koperasi Simpan Pinjam.

workshop secara bertahap untuk Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan LKNB calon pelapor SID. Disamping itu. Evaluasi tersebut tidak hanya sebatas pada aplikasi SID. Terkait dengan hal tersebut. 3. dengan target keluaran ≈tercakupnya data perusahaan utilitas publik pada SID∆. Upaya lainnya adalah peningkatan layanan help-desk SID. telah dilakukan kajian terhadap pengembangan BIK ke depan. yang dilakukan oleh internal Bank Indonesia maupun dengan melibatkan para pelapor. Penyempurnaan Sistem dan Aplikasi Penyempurnaan sistem dan aplikasi SID dilakukan secara berkesinambungan. Masih minimnya jumlah LKNB yang melaporkan SID saat ini menunjukan bahwa masih terdapat potensi data yang belum dimanfaatkan. telah disusun rencana kegiatan sosialisasi kepada pegawai Bapepam LK. Peningkatan Kualitas Data Untuk meningkatkan kualitas data dan informasi yang dihasilkan SID. Pada tahap awal. mengikuti standar credit bureau internasional. sumber data SID direncanakan akan diperluas sehingga mencakup data pelanggan perusahaan utilitas publik. Hal ini telah tertuang dalam Paket Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK) tahun 2008. penyempurnaan sistem dan aplikasi.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko 2007. Bank Indonesia bekerja sama dengan Departemen Keuangan (Bapepam LK) telah berupaya mendorong keikutsertaan LKNB dalam SID melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada bulan September 2007. Keandalan informasi debitur yang dihasilkan oleh BIK ditentukan pula oleh luasnya cakupan sumber data. namun terhadap aplikasi lainnya yang terkait. akan dilakukan perubahan terhadap mekanisme penyampaian laporan debitur agar lebih efektif dan efisien. serta edukasi kepada masyarakat. Sedangkan untuk tahap selanjutnya. Bank Indonesia menjalankan beberapa kebijakan strategis yang mencakup aspek peningkatan kualitas data. Kegiatan ini dimulai dengan melakukan evaluasi terhadap existing sistem dan aplikasi. perluasan cakupan pelapor dan pengguna. Share terbesar dari pemanfaatan informasi debitur dilakukan oleh Bank Umum. penyempurnaan ketentuan dan pengaturan. Untuk itu. telah dirumuskan rencana pengembangan SID dalam jangka pendek.3. serta masukan dalam pembuatan kajian rencana untuk joint procedure pengecekan kepada LKNB pelapor SID mulai tahun 2009. pembersihan data duplikat dan pemberian teguran atas kesalahan pelaporan. telah dilakukan pula pelatihan kepada petugas pelapor untuk meningkatkan pengetahuan serta kualitas pelaporan. PLN dan PDAM. serta penyusunan standard operating procedure (SOP) 3. Hasil evaluasi selanjutnya dipergunakan sebagai dasar penyempurnaan. sementara pemanfaatan output SID oleh BPR masih sangat rendah.2. Perluasan Cakupan Pelapor dan Pengguna 3. 61 . Sebagai tindak lanjutnya. seperti Telkom. Selain itu. pengembangan SID akan lebih difokuskan pada peningkatan akurasi data dan performance sistem.1. upaya yang dilakukan Bank Indonesia meliputi absensi secara periodik untuk memastikan ketepatan waktu pelaporan. Untuk lebih mengembangkan BIK sekaligus mengatasi kendala-kendala yang masih ada.2. menengah dan panjang. dan pemeriksaan terhadap pelapor untuk meningkatkan kesadaran pelapor terhadap ketentuan yang berlaku dan pentingnya pelaporan secara benar. integrasi∆ database dari perusahaan utilitas publik. Dalam kajian rencana pengembangan BIK.2. Pelaksanaan dari kajian ini dimulai tahun 2009 dan akan berlangsung sampai dengan 2 tahun ke depan.2. pengembangan produk dan layanan.

BPR dan LKNB yang tergabung dalam Working Group SID. Checking.2. Informasi debitur yang dihasilkan mencakup informasi positif (yaitu informasi kredit yang tidak mengalami kegagalan dalam penyelesaiannya) dan informasi negatif (yaitu informasi kredit yang mengalami kegagalan dalam penyelesaiannya) untuk seluruh penyediaan dana mulai dari Rp1 ke atas. termasuk kendala legal. serta mencakup pula informasi tentang historis pembayaran yang dilakukan oleh debitur dalam kurun waktu 24 bulan terakhir. Sebagai bagian dari upaya menjadikan BIK bureauinternasional.Bank Indonesia atau di lembaga keuangan pelapor SID yang memberikan penyediaan dana kepada debitur tersebut. pada tahun 2007-2008 telah dilakukan penyempurnaan Peraturan Bank Indonesia tentang SID beserta Surat Edaran Bank Indonesia sebagai aturan pelaksanaannya. Produk lain yang telah dikembangkan adalah penyediaan consumer report atau informasi debitur yang dapat diminta oleh debitur atas nama dirinya sendiri di Gerai Info .2. demikian. Dengan 3. Penyempurnaan Ketentuan Untuk menjamin kelancaran operasional BIK. serta sebagai sarana cross check debitur atas pelaporan yang telah dilakukan. Pengembangan Produk dan Layanan Pengembangan produk dan layanan BIK terus diarahkan untuk dapat memenuhi standar credit detection. seluruh hak dan kewajiban dari pelapor dan debitur dapat lebih diperjelas. Lokasi layanan penyediaan consumer report juga diperluas pada Kantor Bank Indonesia di daerah dan counter informasi kredit yang disediakan pada beberapa event khusus seperti Bazar UMKM dan Festival Ekonomi Syariah. Penyediaan consumer report ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan transparansi pelapor kepada debitur. serta performance dan kualitas kredit dari debitur yang bersangkutan. yang terdiri dari perwakilan Bank Pemerintah. Dari sisi sumber data. serta pengenaan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. pengelolaan risiko kredit. produk yang dihasilkan tidak hanya berupa basic report tetapi mencakup pula value added services yang merupakan olahan dan pengembangan data yang dihimpun dan teknologi yang dimiliki oleh credit bureau tersebut. Pada credit bureau berstandar internasional. Produk BIK saat ini adalah informasi debitur atau dikalangan perbankan dikenal dengan namaBI 62 . kewajiban pelapor. pihak yang dapat meminta informasi debitur beserta batasan penggunaannya.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Berdasarkan kajian tersebut masih terdapat beberapa kendala. Dengan adanya ketentuan ini. fraud alert/ 3. dan sebagainya. Secara garis besar. jasa konsultasi. informasi debitur yang dihasilkan dapat memberikan gambaran mengenai exposure kredit. cakupan dan prosedur penyampaian laporan debitur. data yang dihimpun oleh credit bureau internasional mencakup pula data dari perusahaan utilitas publik. Value added services ini dapat berupa credit scoring. Kontribusi aktif dari Working Group tersebut telah memperkaya materi pengaturan SID serta sebagai masukan untuk penyusunan rencana penyempurnaan aplikasi serta pengembangan BIK. koperasi dan keputusan pengadilan. ketentuan SID tersebut mengatur mengenai pihak yang dapat menjadi pelapor. Untuk itu. Sementara itu. pengawasan Bank Indonesia kepada pelapor. Proses penyusunan ketentuan tersebut telah mengakomodir kebutuhan industri perkreditan melalui keterlibatan perwakilan pelapor SID. Bank Asing.4. akan dilakukan harmonisasi ketentuan yang terkait dengan pemberian data dari perusahaan utilitas publik ke dalam SID. untuk meningkatkan jumlah penggunaan informasi debitur oleh BPR telah dilakukan sosialisasi serta pelatihan SID kepada pejabat dan petugas BPR.5.

namun juga memerlukan kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga reputasi kreditnya. pada pertengahan Oktober 2008. Secara konseptual. Dengan mengetahui bahwa riwayat kreditnya terdata di BIK dan dapat diakses oleh seluruh lembaga penyedia dana yang menjadi pelapor SID. Untuk mencapai tujuan dari JPSK. penanganan permasalahan lembaga keuangan yang berdampak sistemik dapat dilakukan secara tuntas. pada semester II 2008 terdapat beberapa bulan yang penuh tekanan di sektor keuangan. semakin tinggi pula tuntutan untuk meningkatkan kualitas data dan informasi debitur. tanpa mengurangi independensi masing-masing otoritas. khususnya credit scoring dan perluasan sumber data dari perusahaan utilitas publik. antara lain ditandai dengan keringnya likuiditas rupiah dan valas yang dibarengi dengan penurunan nilai tukar rupiah yang cukup signifikan. Adapun tindakan pencegahan dan penanganan krisis meliputi: (i) penanganan kesulitan likuiditas dan/atau masalah solvabilitas bank yang berdampak sistemik. Secara lebih rinci. diharapkan awareness debitur untuk menjaga nama baiknya akan meningkat. manfaat yang dapat diperoleh dari JPSK adalah: terdapat landasan hukum yang kuat dalam melakukan tindakan pencegahan dan penanganan krisis. maka penyediaan value added mengalami tekanan.3. adanya JPSK akan sangat membantu dalam memitigasi risiko sistemik. 63 . serta edukasi masyarakat melalui advertorial di media massa nasional. mekanisme pengambilan keputusan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis. Dampaknya adalah semakin meningkatnya jumlah permintaan consumer report melalui Gerai Info Bank Indonesia oleh masyarakat. antara lain melalui sosialisasi berupa seminar di beberapa daerah. karena dengan semakin seringnya output SID diakses oleh masyarakat. Untuk itu. Lazimnya dalam JPSK diatur protokol manajemen krisis (crisis management protocol) sebagai bagian dari mekanisme koordinasi diantara lembaga-lembaga pada saat sektor keuangan sedang Berdasarkan PERPPU tersebut. Sementara itu. Pemerintah telah menerbitkan beberapa Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (PERPPU) yang salah satunya adalah mengenai JPSK (PERPPU No. adanya transparansi dan akuntabilitas dalam services.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko berstandar internasional. JPSK merupakan suatu mekanisme pengamanan sistem keuangan dari ancaman krisis yang mencakup pencegahan dan penanganan krisis. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan BIK. Edukasi Kepada Masyarakat Pencapaian sistem perkreditan yang sehat dan efisien. merupakan target pengembangan produk BIK berikutnya. di Indonesia. terdapat mekanisme koordinasi diantara lembaga terkait dalam menghadapi gangguan yang berpotensi mengancam stabilitas sistem keuangan nasional. terdapat sumber pendanaan yang jelas untuk tindakan pencegahan dan penanganan krisis dengan memperhatikan tatacara dan mekanisme hak budget Dewan Perwakilan Rakyat.6. dan (ii) penanganan kesulitan likuiditas dan/atau masalah solvabilitas lembaga keuangan bukan bank (LKBB) yang berdampak sistemik. JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN Infrastruktur keuangan lainnya yang dinilai sangat penting bagi stabilitas sistem keuangan suatu negara adalah Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).4 Tahun 2008 tanggal 15 Oktober 2008). 3. 3.2. tidak hanya tergantung pada kesadaran dari para penyedia dana dalam melakukan pelaporan. Hal tersebut sesuatu yang positif bagi pengembangan BIK ke depan.

Penutupan Bank dan Pembayaran jaminan oleh LPS 3.a. Likuiditas Bank 2. Likuiditas dan/atau solvabilitas Penanganan Krisis 1. Solvabilitas Bank/ Bank Gagal KSSK melakukan: a. b. Penyertaan Modal Sementara (PMS) untuk Bank Sistemik. Likuiditas dan/atau solvabilitas LKBB 1. BI dapat membeli SBN dimaksud di pasar primer. Pada saat ini Rancangan Undang-undang (RUU) JPSK sudah berhasil disusun dan telah mulai dibahas di DPR. kerangka kerja yang diusulkan adalah sebagaimana yang tercantum pada Tabel 3. dijamin Pemerintah 2. Penyelesaian Bank Non-sistemik 3.b. 2. Pencegahan krisis meliputi tindakan Tabel 3. (ii) Bank yang secara individu dalam keadaan normal tidak berdampak sistemik tetapi dalam kondisi krisis berdampak sistemik dan berpotensi krisis. KSSK berwenang menetapkan kebijakan dan langkah-langkah dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis di sektor keuangan dan melakukan koordinasi dengan berbagai otoritas dalam mengatasi permasalahan: (i) Bank yang mengalami permasalahan likuiditas yang berdampak Sistemik. Pemberian bantuan likuiditas 2.2 Kerangka Kerja Jaring Pengaman Sistem Keuangan Tujuan/ Ruang Lingkup Pencegahan Krisis 1.b. Adapun ruang lingkup yang diatur dalam RUU JPSK adalah pencegahan dan penanganan krisis yang meliputi tindakan mengatasi permasalahan likuiditas dan permasalahan solvabilitas pada bank dan LKBB yang berdampak sistemik. penanganan krisis meliputi tindakan mengatasi permasalahan (i) beberapa bank yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau solvabilitas yang secara individu berdampak sistemik.b. Pinjaman/PMS oleh Pemerintah atau Badan Khusus 64 . Pinjaman atau penyertaan modal oleh Pemerintah Sumber pendanaan Pemerintah untuk pencegahan dan penanganan Krisis berasal dari APBN melalui penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) atau tunai. Pemberian bantuan likuiditas/Penyertaan Modal Sementara 1. dan (iii) Beberapa LKBB yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau solvabilitas yang berdampak sistemik.a. Evaluasi masalah b.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko dibentuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan (sebagai Ketua) dan Gubernur Bank Indonesia. Pemberian pinjaman atau penyertaan modal untuk LKBB FPD oleh BI. Sementara itu.4 Tahun 2008 tentang JPSK tidak mendapat persetujuan DPR sehingga harus disusun ulang dan diajukan kembali ke DPR. Penetapan masalah c. Likuiditas dan/atau solvabilitas Bank KSSK melakukan: a. Evaluasi masalah b.a. PMS oleh LPS atau Pemerintah atau Badan Khusus 2. PMS oleh LPS 2. dan (iii) LKBB yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau permasalahan solvabilitas yang berdampak sistemik.a. Penetapan masalah c. Penetapan langkah penanganan masalah 2. Penetapan langkah penanganan masalah 1.2 pelaksanaannya. Dalam perjalanannya PERPPU No. Pemberian bantuan likuiditas 1. FPD oleh BI 1. Penggunaan dana APBN untuk pencegahan dan penanganan krisis harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari DPR Pengambilan Keputusan Keputusan Tool Kits/ Mekanisme Sumber Pendanaan 3. (ii) Bank yang mengalami permasalahan solvabilitas atau kegagalan pelunasan Fasilitas Pinjaman Darurat (FPD) yang berdampak sistemik. Penyertaan Modal Sementara 2. Sementara itu.

1 Stabilitas Sistem Keuangan dan PERPPU tentang Perubahan Undang Undang Bank Indonesia Salah satu kebijakan penting yang diambil Pemerintah pada pertengahan Oktober 2008 adalah penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (PERPPU) Republik Indonesia No. Perubahan yang diatur PERPPU menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan agunan berkualitas tinggi dan mudah dicarikan. sehingga memperluas akses bagi bank untuk menggunakan FPJP. diperlukan dasar hukum yang kuat serta mekanisme kerja yang jelas untuk mendukung pengambilan keputusan-keputusan yang penting untuk mencegah terjadinya krisis ataupun menyelamatkan perekonomian dari krisis. tidak saja meliputi surat berharga dan/atau tagihan yang diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai. 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 65 . Sedangkan yang dimaksud dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan meliputi surat berharga dan/atau tagihan yang diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai. Sebelum dilakukan perubahan. Perluasan akses bagi bank tersebut didasarkan atas perubahan terhadap Pasal 11 Undang-Undang Bank Indonesia. Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah tersebut wajib dijamin oleh bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiyaan yang diterimanya. Dalam pencegahan maupun penanganan krisis. Dengan demikian. Perubahan Undang-Undang Bank Indonesia yang dilakukan melalui PERPPU tersebut di atas merupakan contoh langkah antisipatif Pemerintah dari sisi dasar hukum guna menjaga stabilitas sistem keuangan dalam menghadapi krisis global. namun juga termasuk aset kredit kolektibilitas lancar.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Boks 3. Pasal 11 pada intinya mengatur bahwa Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah untuk jangka waktu paling lama 90 hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank. PERPPU ini penting artinya bagi stabilitas sistem keuangan karena memberikan dasar hukum bagi Bank Indonesia dalam memberikan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) secara lebih luas bagi bank yang memerlukan. obyek yang dapat dijadikan sebagai agunan oleh bank untuk mendapatkan FPJP menjadi lebih banyak jenisnya.

penetapan dampak sistemik cenderung bersifat situasional. Kedua. Salah satu sumber referensi dalam penilaian dampak sistemik adalah dokumen Memorandum of Understanding on Cooperation between the Financial Supervisory Authorities. baik yang bersifat internal lembaga keuangan. menyebabkan kegagalan pada sistem keuangan secara keseluruhan. penilaian juga harus mencakup perkiraan kemungkinan akan terganggunya sektor riil dengan memperhatikan peranan atau kontribusi lembaga keuangan yang bersangkutan terhadap sektor tersebut. (ii) pasar keuangan. Suatu lembaga keuangan dapat dinyatakan berdampak sistemik pada situasi tertentu. (iii) sistem pembayaran. akan mendorong lembaga keuangan untuk melakukan pengambilan risiko yang tidak terkendali ( excessive risk taking ) karena yakin akan tetap diselamatkan oleh Pemerintah. Dokumen ini antara lain merekomendasikan bahwa penilaian dampak sistemik perlu memperhatikan dampak kegagalan atau permasalahan yang dihadapi lembaga keuangan terhadap: (i) institusi keuangan lainnya secara keseluruhan. Pertama. dampak sistemik sulit untuk ditetapkan diawal. Adanya kriteria yang eksplisit. Hal itu karena pemicu krisis sistemik dapat berbeda-beda tergantung situasi. namun tidak berdampak sistemik pada situasi yang lain. 66 . dengan dua alasan pokok sebagai berikut. dan (iv) psikologi pasar. dampak sistemik terhadap sistem keuangan terjadi apabila permasalahan dari suatu lembaga keuangan.2 Best Practices Analisis Dampak Sistemik terhadap Sistem Keuangan Secara konseptual. maka kriteria dampak sistemik tidak ditetapkan secara eksplisit dimuka (ex ante) dalam suatu ketentuan perundangundangan. baik secara individu maupun bersama-sama yang karena ukuran (size) dari lembaga keuangan tersebut dan potensi penyebaran masalah (contagion effect) yang ditimbulkannya. Berdasarkan best practices atau praktek yang berlaku umum di dunia internasional.Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Boks 3. serangan teroris. Dengan demikian. Central Banks and Finance Ministries of the European Union on Cross Border Financial Stability (Annex 2 Template for Systemic Assessment Framework). Selain itu. penetapan secara ex ante berpotensi menimbulkan moral hazard. Oleh karena itu. dan bencana alam. maupun yang bersifat eksternal seperti krisis keuangan global. penetapan dampak sistemik memerlukan professional judgement.

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia 67 .

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan 68 .

Namun.2 8. prospek sistem keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tetap positif.1 Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi 2008 Q1 Q2 Q3 Q4 6.7 * Prediksi dari Asia Pacific Concensus Forecast Sementara itu.1.3 5.4 2009* Q1 Q2 Q3 Q4 5. Hal-hal lainnya yang diperkirakan akan turut berkontribusi terhadap penurunan inflasi adalah penurunan harga komoditas di pasar global yang mendorong penurunan harga komoditas domestik. baik 69 . pada kuartal II 2009 diperkirakan inflasi berada di bawah satu digit.2 4. krisis keuangan global yang berimbas pada sektor keuangan domestik telah semakin meningkatkan persepsi risiko tentang Indonesia.3 6.0 12.5 5. penurunan harga BBM pada awal tahun 2009. Oleh karena itu. swasembada dan surplus beras yang diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun 2009.Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Secara umum.8 7.1 10. Sementara itu.1 6. 4.0 5. yaitu 8%.4 6. PROSPEK EKONOMI DAN PERSEPSI RISIKO Perekonomian Indonesia diperkirakan akan mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sekitar 45% di tahun 2009 seiring dengan perlambatan ekonomi dunia.1% pada akhir 2008. koordinasi antara otoritas perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank diperkirakan akan semakin erat dan menjadi bagian penting dari jaring pengaman sistem keuangan yang mendukung ketahanan sektor keuangan. apalagi di negara asalnya para investor umumnya sedang kesulitan likuiditas karena krisis global.7 7. meskipun tekanan karena belum pulihnya kondisi perekonomian global dan domestik tampaknya masih akan terus menjadi tantangan.8 8* 6. Hal itu tercermin pada yield spread yang cenderung meningkat. tingginya persepsi risiko akan membuat penyaluran kredit menjadi semakin selektif.8 7.5 4. Tingginya persepsi risiko tersebut berpotensi menghambat aliran investasi masuk. perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas di pasar global menyebabkan nilai ekspor menurun sehingga kinerja Neraca Perdagangan 2009 diperkirakan akan mengalami penurunan. Bagi perbankan. Aliran investasi masuk yang rendah cenderung menekan pertumbuhan ekonomi sehingga sektor riil.7 Inflasi (% yoy) Neraca Perdagangan (US$ miliar) 7. PDB (% yoy) Tabel 4. turun dari 11. prospek positif tersebut antara lain didukung oleh permodalan yang masih cukup tinggi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi akan mengurangi tekanan dari sisi permintaan sehingga inflasi relatif terkendali.3 4.0 11.6 11.4 4.8 5. Di perbankan.

dapat terganggu kinerjanya. bank-bank yang mengalami posisi short dalam valas berpotensi mengalami kerugian karena risiko nilai tukar. Hal-hal ini perlu diwaspadai agar stabilitas sistem perbankan dan sistem keuangan tetap terjaga. sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. rendahnya aliran investasi yang masuk juga berpotensi menimbulkan tekanan pada nilai tukar. termasuk offshore products.2 Persepsi Risiko Indonesia Yield Spread (bp) Obligasi Rating Ytm (%) September 2008 997. Ke depan perbankan tampaknya perlu lebih meningkatkan kehati-hatian terhadap produk serupa dan transaksi derivatif pada umumnya. risiko penurunan harga SUN berkurang dengan terbitnya Surat Edaran Bank Indonesia yang membolehkan bank untuk menangguhkan kewajiban marking to market. cenderung meningkat sejalan dengan 70 .95 4. Meskipun berdasarkan hasil stress test potensi kerugian tersebut masih dapat diserap oleh permodalan bank. perbankan yang merupakan industri yang paling dominan dalam sektor keuangan domestik. Tabel 4. Namun demikian. disamping karena trend kenaikan suku bunga pada waktu itu. dan risiko penurunan harga SUN).92 16.70 11. ke depan perbankan tampaknya masih tetap memiliki potensi risiko pasar yang cukup besar mengingat gejolak krisis keuangan global masih belum sepenuhnya mereda. Namun menjelang akhir 2008. Selanjutnya.Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia korporasi maupun rumah tangga (household).2.47 932. Sementara. Sementara itu. Namun demikian.30 Desember 2008 1015. Disamping itu. risiko suku bunga juga berkurang sejalan dengan penurunan BI rate yang dilakukan berulang-ulang sejak bulan Desember 2008 hingga menjadi sebesar 8.17 925.86 11. Hal tersebut antara lain ditandai dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia dan menurunnya harga Surat Utang Negara (SUN). secara keseluruhan kondisi sektor keuangan tetap terkendali. termasuk pula risiko yang berasal dari kerugian karena structured products.2%. secara umum masih memiliki ketahanan yang relatif baik yang tercermin dari CAR yang masih cukup tinggi di level valas.41 965. PROFIL RISIKO PERBANKAN: TINGKAT DAN ARAH Tantangan terhadap stabilitas sistem keuangan yang dialami pada semester I 2008 terus berlanjut pada semester II 2008 dan bahkan semakin besar. seperti risiko pasar (mencakup risiko suku bunga. permodalan tersebut masih mampu menyerap berbagai jenis risiko. Risiko pasar berada pada level moderat meskipun pada paruh kedua tahun 2008 sempat mengalami peningkatan yang signifikan terutama karena penurunan harga SUN dan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi. Di samping itu.46 918. risiko nilai tukar. risiko likuiditas dan risiko kredit. risiko nilai tukar cukup terkendali mengingat Posisi Devisa Netto (PDN) yang dipegang industri perbankan tergolong rendah (sekitar 6. Pada gilirannya hal ini dapat mendorong peningkatan risiko kredit di perbankan. Akibatnya. terutama pada bulan Agustus. beberapa bank diketahui memiliki potensi kerugian yang terkait dengan structured products.2%) dan kebanyakan bank memiliki posisi long dalam Indo 49 Indo 48 Indo 45 Ba3 (Moody's) Ba3 (Moody's) Ba3 (Moody's) 11. Seperti telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. gejolak pasar keuangan global dan perlambatan ekonomi dunia yang berimbas pada kondisi pasar keuangan dan perekonomian domestik telah menimbulkan tekanan pada sektor keuangan Indonesia.25% pada bulan Februari 2009. Berdasarkan hasil stress test. Risiko likuiditas pada awal semester II 2008.

71 . Sementara itu. dengan pelonggaran ketentuan GWM yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan peningkatan jumlah simpanan yang dijamin LPS. Bahkan sejak November 2008 sejalan dengan peningkatan DPK dan berkurangnya penyaluran kredit. Risiko lain yang juga cukup penting diperhatikan adalah risiko operasional. risiko kredit perbankan relatif stabil pada tingkat moderat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terus menurun. serta infrastruktur pendukung seperti teknologi informasi yang memadai dan good governance. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 1. Namun. Ke depan. Sementara itu. terimbas krisis keuangan global. penanaman bank dalam alat likuid seperti SBI kembali mengalami peningkatan yang signifikan. ke depan perlu diwaspadai potensi kenaikan risiko kredit karena proyeksi akan memburuknya kondisi ekonomi.1 Profil Risiko Perbankan dan Arah ke Depan Risiko Pasar Risiko Likuiditas Risiko Kredit Inherent Risk Moderate High Sem II-2008 Outlook Sem II-2008 Outlook Sem II-2008 Outlook Nilai Tukar Harga SUN Suku Bunga Low Weak Acceptable Strong Weak Acceptable Risk Control System (RCS) Strong Weak Acceptable Strong berkurangnya ekses likuiditas perbankan akibat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang masih tetap lambat sementara kredit yang disalurkan cenderung sangat ekspansif. Secara umum masih banyak tantangan yang harus dihadapi perbankan terkait dengan risiko operasional ini. kondisi pasar uang antar bank (PUAB) cenderung ketat dan terjadi segmentasi yang membatasi akses bank-bank khususnya dari kelompok menengah dan kecil untuk masuk ke PUAB. terutama yang berkaitan dengan kapasitas dan integritas sumber daya manusia untuk meminimalisir human error maupun kemungkinan fraud. tekanan yang berasal dari krisis global juga perlu diperhitungkan dampaknya terhadap kemampuan perbankan dalam melakukan penilaian terhadap risiko operasional. Selain itu. kondisi likuiditas industri perbankan terus membaik. Pada saat itu. potensi peningkatan risiko kredit ke depan juga tercermin pada hasil estimasi Probability of Default (PD) menggunakan data keuangan dari perusahaan non-financial go public yang listed di Bursa Efek Indonesia. walaupun risiko likuiditas diperkirakan akan relatif stabil.Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Grafik 4. potensi kenaikan risiko kredit juga dapat berasal dari debitur yang mengalami kerugian karena pelemahan nilai tukar rupiah yang kemudian mempengaruhi kemampuan mereka dalam menyelesaikan semua jenis kewajiban kepada perbankan. tetap perlu diwaspadai potensi tekanan yang berasal dari belum pulihnya kondisi likuiditas global serta masih adanya segmentasi di PUAB. rencana implementasi Basel II yang ditandai dengan kewajiban membentuk capital charges untuk risiko operasional yang rencananya dimulai pada tahun 2009 ditunda sampai dengan 2010. Namun. Untuk meningkatkan kesiapan perbankan di tengah krisis global tersebut.

diperkirakan dampak dari krisis global terhadap sektor keuangan dalam negeri akan sangat terbatas. Pertama. dewasa ini perbankan lebih siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998. FSI diperkirakan mencapai sekitar 1.Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Penundaan tersebut diharapkan tetap membuat perbankan memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan risiko operasional. Saat itu.3. sekarang ini tidak mudah untuk menjadi pengurus dan pemegang saham pengendali bank karena harus lulus Fit and Proper Test. 72 .77-2.13. perbankan semakin tahan terhadap gejolak keuangan. Prospek positif stabilitas keuangan juga diperkuat oleh telah semakin dipercayanya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) oleh masyarakat luas. gejolak keuangan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi lebih banyak karena faktor eksternal. untuk meningkatkan kualitas 4. Secara keseluruhan. Keberadaan LPS juga sudah semakin teruji dengan penutupan sejumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bermasalah serta pengambilalihan 1 bank umum yang dinilai berdampak sistemik pada bulan November 2008. Ketiga. Para pengawas bank dewasa ini diharuskan mengikuti program sertifikasi dan diberi kesempatan yang lebih luas untuk mengikuti training dalam rangka capacity building . Dibandingkan satu dawarsa yang lalu.FSI) yang setelah meningkat tajam selama semester II 2008. Dalam kenyataannya penutupan BPR maupun pengambilalihan bank umum tersebut sama sekali tidak menimbulkan gejolak di perbankan. Hal ini sangat berbeda dibandingkan dengan situasi krisis 1997/1998 yang lebih banyak dipicu oleh berbagai kelemahan pada perbankan dalam negeri seperti tingginya NPL serta pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan Posisi Devisa Netto (PDN). Kesiapan itu antara lain tercermin pada membaiknya pelaksanaan manajemen risiko dan good governance di perbankan. Dengan governance perbankan yang semakin baik. dengan skenario moderat sebesar 1.95 atau relatif lebih rendah dibandingkan posisi akhir Desember 2008 sebesar 2. otoritas pengawasan bank juga semakin siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998. termasuk memperkuat pelaksanaan fungsi pengendalian intern pada masingmasing bank. Beberapa hal yang mendasari perkiraan ini sebagai berikut. prospek positif stabilitas keuangan tercermin pada Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index . Perkiraan FSI yang relatif akan lebih rendah tersebut memberikan harapan bahwa ketahanan sektor keuangan ke depan masih akan tetap terjaga. pengawasan.10. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 2. tidak risk-based seperti yang sekarang ini dijalankan. Ke depan. Ke depan. Dengan demikian. sementara perbankan domestik relatif tidak memiliki masalah seberat perbankan di luar negeri. upaya memperkuat infrastruktur keuangan tersebut akan semakin mantap apabila rancangan Undang-undang tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) dapat disetujui DPR. pengawasan bank masih berorientasi pada compliance-based. kemudian mulai menunjukkan penurunan sejak beberapa bulan terakhir. hasil pengawasan dan pemeriksaan juga akan dibahas dengan panel ahli (expert panel). ke depan pada akhir Juni 2009. PROSPEK SISTEM KEUANGAN INDONESIA Prospek sistem keuangan Indonesia ke depan diperkirakan masih tetap positif di tengah-tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Kedua.

Artikel I .Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Artikel 73 .

Artikel I .Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan 74 .

Universitas Gadjah Mada.go. Thailand. yaitu krisis yang terjadi di suatu negara dapat menyebar ke negara lain. Korea. suku bunga PUAB dan harga minyak dunia. email: bagussantoso@ugm. Cina. email: rulina@bi. C22 LATAR BELAKANG Globalisasi keuangan yang menyebabkan terintegrasinya sektor keuangan suatu negara terhadap pasar keuangan global. dan Malaysia. dan AS). Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan.id 4 Peneliti Yunior Biro Stabilitas Sistem Keuangan. default terhadap sovereign obligation di suatu negara akan berdampak pada negara lainnya. Jerman. email: elis_deriantino@bi. Elis Deriantino4 Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat contagion risk pada pasar modal Indonesia. Taiwan. Key words: Financial Aspect of Economic Integration. Singapura. Jerman. Filipina. bangkrutnya pasar obligasi domestik Rusia dan jatuhnya LTCM berimbas pada Hongkong. Inggris. krisis 1997 yang berawal di Thailand akibat devaluasi baht yang diikuti kebijakan pengambangan nilai tukar baht. Bank Indonesia.id 3 Peneliti Senior Biro Stabilitas Sistem Keuangan.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Artikel I Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Wimboh Santoso1. Australia. 75 . Bagus Santoso2. Brazil dan Mexico dan 1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan. alamat email: wimboh@bi. Malaysia. dengan periode 2 Januari 1995 sampai 13 November 2008.id emerging market lainnya. Filipina. menyebabkan rata-rata nilai tukar negaranegara tersebut terdepresiasi sekitar 75%. data harian ini dibagi menjadi 4 periode. membuat negara-negara tersebut mengalami eksposur risiko contagion. Inggris.ac. terutama untuk negaranegara maju (Jepang. Sebagai contoh. nilai tukar Rp/USD. International Financial Market.go. Dengan menggunakan Indonesia sebagai titik referensi. Bank Indonesia. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan. Pada 1998. data T-Bill 3 bulan.go. Time Series Model JEL classification: F36. Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq).Artikel I . G15. India. Adapun data yang digunakan dalam studi ini adalah data harian indeks saham dari 15 negara yaitu Indonesia. Bank Indonesia. Pendekatan yang dipakai adalah Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC) dan Markov Regime Switching. Yang terakhir adalah krisis subprime mortgage 2007 di AS yang berdampak terutama pada pasar saham di negara-negara Eropa dan mulai menyebar ke negara-negara lain di dunia. Devaluasi nilai tukar. Ita Rulina3.id 2 Peneliti. Korea. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan. Australia. Hasil estimasi menunjukkan bahwa terdapat contagion antara Indonesia dengan negara-negara lainnya dalam penelitian ini dan Indonesia lebih merupakan shock absorber dan bukan merupakan shock transmitter. Jepang. Hong Kong. dengan cepat menyebar ke Indonesia.

r2.t.... dan Nasdaq). Taiwan.i. Jerman. Australia.1 Σ (log l Rt l + u»tRt ut .Artikel I . Hal ini akan menimbulkan kepanikan bagi investor dalam negeri sehingga ikut melepas saham yang dimilikinya mengikuti investor asing. metode Multivariate GARCH tersebut memiliki kelemahan dalam mendeteksi contagion. Ht) rt adalah return index saham masing-masing negara dengan n=16 (Indonesia.i..Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Kondisi Indonesia saat ini ditandai dengan semakin derasnya aliran hot money. Dalam model DCC. aset-aset Indonesia menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan AS. money.. Markov Regime Switching Namun.. ai = (a1.u»tut) 2 t-1 2. H t = Dt Rt D t Dt merupakan matriks diagonal nxn yang elemennya merupakan time varying standard deviation dari model univariat dengan diagonal ke-i dan Rt matriks time varying correlation nxn.t. UK. Thailand. Qt = (1-a-β)Q = aut-1u»t-1 + βQt-1 Qt=(q ij. matriks time varying covariance dituliskan sebagai berikut.1 Σ (nlog(2p) + log l Dt l2 + e»tDt2et) + 2 t-1 -1 » . an.t). Model DCC tersebut kemudian diestimasi dengan menggunakan fungsi log likelihood sebagai berikut: » lt (Σ. β skalar nonnegatif. dimana (diag(Qt ))1/2 = diag(1/ q1..t. Salah satunya dikemukakan oleh Bekaert et al. Hongkong. Oleh karena itu deteksi contagion perlu dilakukan termasuk identifikasi asal contagion tersebut... Hal ini juga akan membawa implikasi lain seperti pelemahan nilai tukar rupiah. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat contagion risk pada pasar modal Indonesia sebagaimana digambarkan pada analytical framework berikut: Multivariate conditional variance dirumuskan sebagai berikut. et = (e1. Sentimen global negatif berpotensi mendorong terjadinya sudden reversal dalam jumlah yang signifikan yang akan memberikan tekanan ke bawah pada harga aset-aset Indonesia sehingga menurunkan return aset tersebut. Penelitian ini menggunakan model multivariate GARCH (1. dan et l Σt-1 ~ N(0. a2. India.. Kondisi ekonomi AS yang berada diambang resesi sehingga memaksa The Fed menurunkan suku bunganya membuat spread suku bunga antar kedua negara semakin lebar. rn.1/ qn. Dow Jones.. Korea.1) dengan persamaan mean konstanta AR(1) dan tbill3m sebagai world common factor: rt = a0 + ai rt-1 + a2 tbill3m + et 76 . Singapura. (2005) yang menyatakan bahwa model GARCH tidak dapat menangkap adanya volatilitas yang tidak simetris dan hal ini dapat mempengaruhi korelasi yang diestimasi Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC) Model GARCH multivariate yang dikemukakan oleh Engle (2002) dapat digunakan untuk mengestimasi dynamic conditional correlation (DCC).. Jepang.t).. Malaysia.. e2. dan a.t). sehingga semakin mendorong kuatnya aliran hot Dimana rt = (r1. Q = E[ut ut»] matriks unconditional variance ut berukuran nxn.i).t) matriks time varying covariance dari u t berukuran nxn. Akibatnya kejatuhan harga aset yang terjadi semakin dalam. Filipina. Tbill3m adalah Treasury bill √ 3 bulan Amerika Serikat.t. Matriks korelasi kemudian dapat dirumuskan dengan: Rt = (diag(Qt ))1/2 Qt (diag(Qt ))1/2 METODOLOGI PENELITIAN Untuk menguji apakah terdapat contagion pada pasar modal Indonesia.t. en.. Cina.f ) = . penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu: 1.

Pr [St .. Periode Kedua disebut periode Krisis I Periode ini I.2lSt -1. yt-1. Cina.) = Pr (St = j l 3.2] 77 . Metode ini mampu memberikan periode krisis yang secara endogen didefinisikan dalam sistem persamaan. Data harian dimulai dari 2 Januari 1995 sampai 13 November 2008. yt-2. diperlukan informasi mengenai sifat stokastik St. Jepang. kecuali penentuan break pada estimasi Markov-Switching. Korea... Estimasi parameter dilakukan dengan menggunakan metode maximum likelihood. Metode estimasi yang digunakan dalam menentukan adanya break pada data harian adalah sebagai berikut: dimana p11+p12=p21+p22=1 dan P11 .. Jerman. Inggris.. ini dimulai dari 1 Januari 2001 sampai 14 Agustus 2007. Taiwan.Artikel I . P= P11 P12 P21 P22 Salah satu permasalahan dalam studi ini adalah menentukan break pada data harian dan bulanan.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia selama periode krisis. Krisis Periode ini dimulai dari 2 Januari 1995 sampai 15 Juli 1997. Dengan menggunakan Indonesia sebagai titik referensi. Periode Pertama disebut dengan periode sebelum PraKrisis. Oleh karena itu.2lSt -1.Pr [St . India.. Dalam menentukan break. St-2 = k. Adapun periode-periode tersebut adalah sebagai berikut: 1. suku bunga PUAB dan harga minyak dunia.1] P21 . Periode Keempat adalah periode Krisis II Periode ini II. dimulai dari 16 Juli 1997 sampai 29 Desember 2000. Filipina.Pr [St . data T-Bill 3 bulan.2] P22 . metode switching regime ini dianggap mampu menyelesaikan masalah generasi pertama pengujian contagion yang mensyaratkan bahwa periode krisis dan tranquil didefinisikan terlebih dahulu sebelum pengujian dilakukan.. Indonesia merupakan titik referensi atau pusat hubungan dengan negara-negara amatan dalam studi ini. Keunggulan metode switching regime dibandingkan dengan model GARCH dalam melakukan estimasi adalah kemampuannya dalam mengestimasi data yang memiliki nilai ekstrim yang merupakan indikasi adanya peristiwa yang ekstrim. dimulai dari 15 Agustus 2007 sampai 13 November 2008. untuk menggambarkan perpindahan dari St=1 ke St=2 digunakan prinsip rantai Markov yaitu : Pr (St = j l St-1 = i. 4. contagion. Australia. 2. probabilitas transisi (transition probabilities) dapat diformulasikan sebagai berikut.1lSt -1. nilai tukar Rp/USD. Markov-switching merupakan metode untuk menangkap adanya perubahan sifat stokhastik data time series dengan memodelkan data dalam beberapa persamaan. Misalkan return saham dalam suatu pasar memiliki dua keadaan atau state.Pr [St . data harian ini dibagi menjadi 4 periode. Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq). Oleh karena itu digunakan metode regime-switching untuk melakukan deteksi Dalam keadaan S t tidak dapat diamati secara langsung.1] P12 . Singapura. Thailand. St-1 = i ) = pij Dengan first order Markov-switching. yaitu tranquil state (St=1) dan volatile state (St=2). Hong Kong. Periode Ketiga adalah periode Setelah Krisis Periode Krisis. DATA Data yang digunakan dalam studi ini adalah data harian (berdasarkan 5 hari kerja) indeks saham dari 15 negara: Indonesia.1lSt -1. dan Malaysia.

8 0.7 0. kecuali Cina. kecuali Hong Kong. Periode Krisis II menunjukkan peningkatan korelasi yang cukup signifikan antara return saham Indonesia menunjukkan volatilitas yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat contagion antara Indonesia dengan kedua negara ini pada Periode Krisis II. HASIL ESTIMASI DETEKSI CONTAGION 1.1 0 -0. Namun pada periode Krisis II.5 0. korelasi antara Indonesia dan Australia meningkat secara signifikan.4 0.1 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara di Asia Tenggara 0. Namun korelasi ini kemudian meningkat secara signifikan dan mencapai puncaknya pada saat krisis Asia 1998.1 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Idn-sin Idn-thai Idn-mly Idn-phl Indonesia dengan semua negara dalam grafik.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Penentuan Periode Kedua sebagai periode Krisis I (16 Juli 1997-29 Desember 2000) dipilih berdasarkan krisis di Indonesia.2 menunjukkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara di Asia (kecuali negara-negara di kawasan Asia Tenggara). Penentuan break pada Krisis II (15 Agustus 2007-13 November 2008) berdasarkan krisis global. Untuk melihat apakah kenaikan korelasi yang diperoleh signifikan.1 menunjukkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Grafik A1. Hal ini menunjukkan bahwa pada krisis Asia. Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC) Grafik A1.Artikel I . yang mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan Hong Kong. Terlihat bahwa korelasi antara Indonesia dengan Thailand lebih rendah dibandingkan dengan korelasi dengan negara lain di kawasan ini pada pertengahan 1997. Indonesia mengalami peningkatan korelasi pada periode Krisis I dengan Hong Kong. Terlihat bahwa Indonesia tidak memiliki korelasi yang tinggi dengan negara-negara dalam grafik. terdapat peningkatan korelasi yang cukup signifikan antara Indonesia dengan Singapura dan Indonesia dengan Malaysia.8 0. dengan korelasi yang cukup tinggi antara Indonesia dengan Hong Kong. Sedangkan pada periode 2007-2008.2 0. Bahkan pada periode Krisis I.2 0.1 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 R_IND_HK R_IND_TWN R_IND_CHN R_IND_INA R_IND_JPN R_IND_KOR Grafik A1. Indonesia memiliki korelasi yang negatif dengan Amerika Serikat (baik untuk Dow Jones Index maupun Nasdaq). Hal ini mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan Australia. Grafik A1.4 0. yaitu Periode Sebelum 78 .6 0.3 0. DCC yang diperoleh dari Model 4 dipecah menjadi empat periode.7 0.2 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara di Asia (kecuali Asia Tenggara) 0.3 menggambarkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara maju.6 0. Break pada periode tersebut dipilih karena Grafik A1.5 0.3 0. terdapat contagion antara Indonesia dengan Thailand. Pada periode itu menunjukkan bahwa indeks harga saham Dow Jones dan Nasdaq mengalami penurunan yang signifikan. Terlihat bahwa Indonesia memiliki korelasi yang relatif rendah untuk negara-negara dalam grafik sampai dengan sebelum Periode Krisis II.

35927 0.13661 0.36340 0. Adanya peningkatan korelasi pada pengujian ini mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan negara lain.40707 -0.AUS IDN .35565 0.16979 0.GER IDN . Sedangkan menunjukkan adanya peningkatan korelasi yang signifikan antara Indonesia dengan Jepang dan India pada tingkat signifikansi 5 persen.18315 0.47997 0.14951 0.36211 0.77582 -4.37972 0.7 0.27282 0.69170 0.59024 -0.5 0.27484 0. Sedangkan untuk Periode 4.44685 0.KOR IDN .04146 0.16358 1.42429 0.1 Deteksi Contagion dengan Dynamic Conditional Correlation (DCC)-Return Saham harian P1 IDN .Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Grafik A1.54769 0. Jerman. Setelah Krisis.21785 0.26861 -4.SIN IDN .14 Agustus 2007) Korelasi Periode 4 (15 Agustus .47405 0.21825 0.24430 0.TWN IDN .06040 0.HK IDN .04681 P4 0.Artikel I . tidak ada contagion antara Indonesia dengan negara-negara dalam penelitian ini. serta antara Indonesia dengan Korea dan Taiwan pada tingkat signifikansi 1 persen.33810 -3. Tabel A1.15692 0.33648 0.MLY IDN .75542 1.72521 -0.60957 -3.94255 *** 2.64712 -2. Krisis I.17723 0. hasil estimasi dengan DCC Krisis.PHIL IDN .84920 0.1 0 -0.JPN IDN .31258 -2. dan Krisis II.85513 -1.33618 0. Hasil yang diperoleh berdasarkan Uji Fisher pada tabel A1.2 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 R_IND_UK R_IND_GER R_IND_DOW R_IND_NASDAQ R_IND_AUS hipotesis alternatif dalam uji ini adalah korelasi pada periode volatilitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi pada periode volatilitas rendah (∑i < ∑h).THAI IDN .92898 -5.28818 0.13033 -1.17594 0. Dari seri korelasi yang diperoleh tersebut kemudian diperoleh nilai rata-rata korelasi untuk keempat periode.25437 0.33702 0.16669 0.36499 0.13 November 2008) Signifikan untuk a=1% Signifikan untuk a=5% Signifikan untuk a=10% 79 .1 menunjukkan tidak adanya peningkatan korelasi yang signifikan pada Periode 2 antara return saham Indonesia dengan return saham negara lain.31572 0.13356 0.37696 0.DOW IDN .44945 0.55227 0.28916 Z-Stat P4 -2.44552 0.23446 ** 0.20369 0.49313 0.77732 0.30222 0.33905 *** -2.Desember 2000) Korelasi Periode 3 (1 Januari 2001 .1 -0.26543 0.18563 0.27986 0.26901 0.4 0.16031 0.UK IDN .82877 *** *** *** *** *** *** *** ** *** ** *** 0.65232 ** -3.36774 -4.18549 0.44598 1.45414 -0.38930 0.16984 0.11701 Z-Stat P2 0.2 0. peningkatan korelasi yang signifikan terjadi di hampir di semua negara.47507 0.66773 -0.05835 -4.52233 0.32417 0.12253 0.3 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara Maju 0.05611 0.00406 P3 0.40541 0.02885 0.07272 0.68655 -2. Null hypothesis dalam uji ini adalah tidak ada perbedaan korelasi antara periode volatilitas rendah dengan periode volatilitas tinggi (∑i = ∑h).CHN IDN . Dow Jones.53743 1.3 0.29427 0.32858 0.88472 -0.26867 0.INA IDN .05999 Korelasi Periode 1 (Januari 1995 .01949 0.18358 0.27669 0.09522 Z-Stat P3 -0. dan Nasdaq.29511 -2.62349 0. Hal ini berarti pada periode Krisis Asia.30109 0. Untuk Periode 3. Hal ini berarti terdapat contagion di Indonesia yang berasal dari negara-negara tersebut.94937 -0.03421 0. Nilai korelasi yang diperoleh ini kemudian diuji dengan menggunakan Uji Fisher.15270 0.29805 -0.NASDAQ Keterangan: P1: P2: P3: P4: ***: **: *: P2 0.Juli 1997) Korelasi Periode 2 (Agustus 1997 .6 0. kecuali korelasi antara Indonesia dengan Filipina.

002 0.JPN IDN .TWN IDN .026 -0.015 0.152 *** 0.004 0.008 -0.003 *** -0.009 0.090 *** 0.004 -0.018 a6 0. Dalam penelitian ini dilakukan estimasi dengan St.009 0.MLY IDN . mengasumsikan bahwa arah contagion terjadi dari negaranegara yang diestimasi ke Indonesia.006 *** 0.065 * -0.AUS IDN .014 0.010 -0.St rm.112 *** 0.004 ** 0.047 * -0.017 -0.016 -0.159 *** 0.054 * 0.050 * 0.128 -0.050 *** 0.120 -0.033 -0.St oil_dlog + a6.243 *** -0.029 -0.t ) s2St.SIN IDN .051 ** -0.t-1 Keterangan: ridn.CHN IDN .085 *** 0. Tabel A1.St ridn.001 0.080 ** a5 0.St idn_exe_dlog + a3.St tbill3m + a5.006 0.622 -0. metode switching regime Persamaan Markov-switching di atas.009 0. Variabel independen dalam persamaan mean di atas diperoleh berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan metode Autoregressive diestimasi dengan menggunakan persamaan GARCH (1.003 *** -0.174 *** 0.035 -0.127 -0.562 -0.500 -0.035 0.011 0.t eSt.Artikel I .001 0.357 *** 0.027 ** 0.011 0.658 *** -0.135 -0.019 0.003 0. Persistensi yang lebih rendah antara kedua state dikategorikan sebagai Regime 1 (non krisis).010 0.014 0.006 0.002 0.297 *** 0.003 *** -0.104 -0.015 -0.003 *** -0.006 0.614 -0.045 *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ** *** *** *** *** a4 -0.714 *** 0.t-1 + VCSt s2St.132 -0.002 * 0. Markov√Switching Regime Estimation Method Pada penelitian ini.007 -0.003 *** -0.142 -0.522 *** a2 -0.001 -0.t-1 + a2.002 a1 0.036 -0.040 -0.004 ** 0.003 0.046 0.068 -0. s 2 Distributed Lag (ADL) untuk melihat variabel-variabel keuangan dan ekonomi apakah yang berpengaruh terhadap return saham Indonesia.PHIL IDN .047 * 0.045 *** -0.013 -0.002 0.t = ac.672 *** 0.t ~ N(0.001 0.015 0.603 *** 0.686 *** 0.002 0.137 *** 0.065 * -0.014 0.002 0.415 -0.013 0.010 0.003 *** -0.640 -0.021 -0.t + eSt. sedangkan persistensi yang lebih tinggi dikategorikan sebagai Regime 2 (krisis).002 0.484 *** 0.016 0.005 -0.046 -0.116 -0.008 0.004 *** -0.St + a1.055 ** 0.001 0.021 -0.474 -0.754 *** 80 .THAI IDN . yaitu Regime Krisis dan Non-Krisis berdasarkan persistensi dan unconditional variance yang diperoleh dari conditional variance .451 *** 0.003 *** -0.538 *** -0.019 0.357 *** 0.020 0.393 *** 0.008 -0.004 ** 0.474 -0.004 *** -0.020 -0.616 *** 0.014 0.018 0.012 0.085 *** 0. Contagion dikatakan terjadi antara Indonesia dengan negara lain apabila terjadi peningkatan signifikan koefisien return negara lain (a6) dari Regime 1 ke Regime 2.t = VASt + VBSt e2St.004 ** 0.194 *** 0.UK regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 0.003 *** -0.015 0.608 *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ** *** *** *** *** *** *** *** *** *** a3 -0.003 *** -0.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia 2.1) dengan persamaan mean dan variansi sebagai berikut: ridn.127 -0.St idn_int + a4.2 Markov Switching Mean Equation a0 IDN .019 0.008 -0.603 *** 0.442 *** -0.005 0.HK IDN .KOR IDN .119 *** 0.549 *** 0.t: return saham Indonesia rm.696 -0.015 0.518 -0.2 memperlihatkan bahwa nilai koefisien a6 Tabel A1.053 ** 0.334 *** 0.014 0.015 -0.059 *** 0.t: return saham negara lain idn_exe_dlog: rate of depreciation nilai tukar Indonesia idn_int: interest rate Indonesia (PUAB) tbill3m: T-Bill 3 bulan oil_dlog: perubahan harga minyak e : error s2 : variansi St: regime 1 (non krisis) dan regime 2 (krisis) membagi state menjadi dua regime.011 0.005 *** 0.

000 0. Kedua uji ini merupakan pengujian contagion tanpa memperhitungkan negara yang menjadi awal krisis.522 *** 0.008 -0. Taiwan. kecuali Amerika Serikat (baik untuk Dow Jones maupun Nasdaq). Conditional Correlation-Multivariate GARCH) dan MarkovSwitching. seperti Jepang.012 0.006 0.045 -0.080 ** -0.3 merupakan rangkuman hasil estimasi dengan menggunakan metode DCC-MG (Dynamic Tabel A1.015 0.020 0. KESIMPULAN Tabel A1.Artikel I . Hal ini menunjukkan adanya wake- √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** up call hypothesis.056 *** 0. Terdapat pula contagion antara Indonesia dengan India. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya investor asing yang berinvestasi baik di India dan Indonesia. Indonesia dan India memiliki kondisi fundamental dan kondisi sosial yang mirip. Berdasarkan analisis dengan metode MarkovSwitching diperoleh kesimpulan bahwa contagion terjadi antara Indonesia dengan hampir semua negara yang diteliti.003 *** -0.002 0.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Tabel A1.042 -0.650 -0.004 0.001 0.800 *** a2 -0.122 -0.050 *** 0.007 *** *** *** *** *** *** a4 -0. apabila 81 .004 ** a1 0.003 *** -0.006 0. Selain itu.018 0.003 *** -0.029 -0.000 0. Markov-Switching melakukan pengujian adanya contagion tanpa memberikan terlebih dahulu periodisasi krisis.32) **: Signifikan untuk α=5% (critical value: -1.3 Kesimpulan Hasil Pengujian Deteksi Contagion (1) DCC/Multivariate GARCH P2 IDN-MLY IDN-SIN IDN-THA IDN-PHI IDN-JPN IDN-TWN IDN-HK IDN-CHN IDN-KOR IDN-INA IDN-AUS IDN-GER IDN-UK IDN-US(DJ) IDN-US(NQ) Keterangan: Tabel tersebut menunjukkan bahwa terdapat contagion antara Indonesia dengan negara-negara lainnya dalam penelitian ini.004 -0.437 *** 0.141 -0. Oleh karena itu.014 0.020 * 0. sehingga investor menggunakan India sebagai sinyal bagi kondisi pasar di Indonesia.GER IDN .64) *: Signifikan untuk α=10% (critical value: -1.608 -0. dan Korea.034 *** 0.582 -0. perilaku pasar saham P3 P4 √*** √*** √*** Markov-Regime Switching √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** di Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan pasar saham India.015 -0.DOW IDN . Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa tidak ada contagion antara Indonesia dan Amerika Serikat.INA IDN .053 ** 0. Contagion terutama terjadi antara Indonesia dengan negara-negara Asia Timur. Metode ini merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan dalam pengujian contagion yang mensyaratkan adanya titik krisis dan non-krisis yang ditetapkan secara arbitrary.015 0.012 0.004 ** 0.651 *** *** *** *** *** *** *** *** a3 -0.796 *** 0. dan sebaliknya menggunakan Indonesia sebagai sinyal bagi kondisi pasar di India.043 a5 0.007 -0.004 ** 0. baik ***: Signifikan untuk α=1% (critical value: -2.387 *** 0.051 0.NASDAQ regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 0.003 *** -0.28) Tanda √ menunjukkan bahwa terdapat contagion antara kedua negara. untuk estimasi dengan menggunakan indeks Dow Jones maupun dengan indeks Nasdaq.043 a6 0.135 -0.016 0.020 signifikan dan mengalami peningkatan pada Regime 2 untuk semua negara.2 Markov Switching Mean Equation (lanjutan) a0 IDN . kecuali dengan Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq).754 *** 0.042 0.142 -0.042 ** 0.

Tabel A1. Jerman.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Indonesia terpengaruh krisis global yang terjadi saat ini.Artikel I . dan India. Tabel A1.14 Agustus 2007. Hubungan contagion ini merupakan hubungan dua arah. dalam artian Indonesia mempengaruhi negara lain dan negara lain pun memiliki pengaruh terhadap Indonesia.4 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hubungan contagion dengan negara-negara di kawasan Asia. Australia. dapat dilihat bahwa Indonesia lebih merupakan shock absorber dan bukan merupakan shock transmitter terutama untuk negara-negara maju (Jepang. data bulanan Agustus 1997-Desember 2000) P3 : Periode 3 (data harian: 1 Januari 2001 . yang berawal dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. pengaruh ini bukan merupakan pengaruh langsung dari pasar Amerika Serikat. Hongkong. Inggris. melainkan merupakan pengaruh terusan dari pasar-pasar modal di Asia yang memiliki hubungan langsung dengan pasar modal Amerika Serikat. Taiwan.13 November 2008) ^^^ : Hubungan contagion dua arah ^^ : Hubungan contagion dengan Indonesia sebagai asal shock ^ : Hubungan contagion dengan negara lain sebagai asal shock Tanda √ menunjukkan bahwa terdapat contagion antara kedua negara Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5% dan 1% 82 . Namun berdasarkan uji deteksi error. seperti Jepang. Korea. dan AS).4 Kesimpulan Hasil Pengujian Deteksi Contagion (2) Data Harian √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^ ^^^ ^^^ ^ ^ ^ ^ ^ Data Bulanan √ √ √ √ √ √ √ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^^^ √ √ √ √ √ ^ ^ ^ ^ ^ Data Harian P2 P3 √ √ √ √ √ √ √ √ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^ √ √ √ √ √ √ P4 ^ ^ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ √ ^^^ √ √ √ √ √ √ √ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^ P2 Data Bulanan P3* Negara IDN-MLY IDN-SIN IDN-THA IDN-PHI IDN-JPN IDN-TWN IDN-HK IDN-CHN IDN-KOR IDN-INA IDN-AUS IDN-GER IDN-UK IDN-US(DJ) IDN-US-(NQ) Keterangan: √ √ ^^^ ^^^ P2 : Periode 2 (data harian: 16 Juli 1997 .29 Desember 2000. data bulanan Januari 2000-September 2008) P4 : Periode 4 (15 Agustus .

≈Channels of Financial Market Contagion∆. ≈Measuring Equity Market Contagion in Multiple Financial Events∆. 2004. Castiglionesi. 2008. Caramazza. 2461. 36:21. Forbes dan Rigobon. 23. Arestis. 2007. Mendes. Park. ≈Liquidity Risk and Contagion∆. dan Claessens. ≈Capital Openness and Financial Crises: A Financial Contagion Model with Multiple Equilibria∆. 15:8. International Journal of Financial Economics. and Output Fluctuations∆. ≈External Linkages and Contagion Risk in Irish Bank∆. 531-538.16:1. Engle. 83 . 51-70. Jouini. 10(1). IMF Working Paper. 2005. ≈Contagion in Latin America: Definition. Applied of International Economics. Journal of Economics Discussion Paper. ≈Testing for Contagion: a Conditional Correlation Analysis∆. 2005. 81-101. Chiang. Cifuentes. 79-91. Review Collins dan Gavron. 2007. dan Spagnolo. ≈Contagion: Evidence from International Banking Industry∆. ≈Dynamic Correlation Analysis Of Financial Contagion: Evidence From Asian Markets∆. dan Mametz. 10:4. dan Vieira. 1-20. Journal of Banking and Finance. ≈Testing for Financial Contagion between Developed and Emerging Markets during the 1997 East Asian Crisis∆. Multinational Financial Management. Applied Economics. ≈Dynamic Conditional Correlation √ A Simple Class of Multivariate GARCH Models∆. ≈Financial Contagion and the Role of the Central Bank∆. 14. 7885. Contagion. 1:6.Bank Lending Spreads. 2002. Dropsy. G. 1206-1228. Collins dan Gavron. World Bank Research Observer. International Money and Finance. ≈External Shocks. dan Shin. dan Khallouli. Documents De Travail-Working Papers. 2007. 10. Essaadi. 08. Journal of International Money NBER Working Paper Series. Duggar dan Mitra. dan Huimin Li. 556-566. 3(2-3). or Unsustainability∆. Review∆of International Economics. External Shocks. 2008. 2004. Bang Nam Jeon. 2004. 26. Ferrucci. Contagion Effects of the U. Hatemi-J dan Hacker.S Subprime Crisis on Developed Countries∆. Journal of the European Economic Association. Applied Financial Economics Letters. Bank Lending Spreads. Caporale. ≈International Financial Contagion in Currency Crisis∆. Horta. Cipollini. ≈The Asian Crisis Contagion: A Dynamic Correlation Approach Analysis∆. 0725. Journal of CEFAGE-UE Working Paper. Ricci. Cartapanis. 2000. 2000. UCSD Journal of Empirical Finance. Aizenman. Forthcoming Finance and Economics. 359-367. Measurement and Policy Implication∆.Artikel I . and Finance. 2000. 2007. ternative Method to Test for Contagion with an Application to the Asian Financial Crisis∆. dan Salgado. Luo dan Tang. 31. 476-489. dan Hoffmaister. 283-296.2469. 2007. 2005. Dornbusch. 353-368. ≈Contagion: How It Spreads and How It Can be Stopped∆. 2000-9. 2005. ≈The Asian Currency Crises: Vulnerability.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Daftar Pustaka Agenor. 12. Chu-Sheng Tai. 2005. 343347. Journal of Economic Policy Reform. et al.

≈Correlation Coefficients. 73:1. 197-213. ≈Interest Rate Volatility. ≈Towards a New Set of Leading Indicators of Currency Crisis for Developing Countries: an Application to Argentina∆. and East Asian Stock Markets∆. The Manchester Economics. 02. ≈Foreign Exchange Market Contagion in the Asian Crisis: A RegressionBased Approach∆. 92-100. ≈Measuring Financial Contagion: A Copula Approach∆.14. Sriananthakumar dan Silvapulle. 18:4. 2003. 17:3. Yang dan Lim. 468479. ≈Multivariate Conditional Heteroscedasticity Models with Dynamic Correlations for Testing Contagion∆. Rodriguez. International Suliman. Heteroskedasticity and Contagion of Financial Crises∆. 15:12. Van Horen. 2004. Jager. 16. 7:1. 84 . ≈Contagion and Interdependence among Central European Economies: the Impact of≈Common External Shocks∆. ≈Crisis. Marongiu.Artikel I . and External Contagion∆. ≈An Empirical Study to Identify Shift Contagion during the Asian Crisis∆. Review of Pacific Basin Financial Markets and Policies. 401-423. Sojli. 883-894. 2008. 2007. 2005. Yoon. Journal of Empirical Finance. Exchange Rates. 2006. 2007. Walti. Applied Financial Financial Markets Institutions and Money. 267-273. 2006. Applied Financial Economics. Contagion. 2005. dan Klaassen.Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Marais dan Bates. 2005. ≈Contagion in Emerging Markets: the Russian Crisis∆. 119-151. School. HEI Working Paper. Applied Financial Economics.

akuisisi serta ketersediaan kas akan mempengaruhi tingkat hutang korporasi. alamat email: heny_s@bi. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan. baik berupa hutang kepada perbankan atau pembiayaan non bank lainnya. Biro Stabilitas Sistem Keuangan. Keywords : Corporate debt.C33. alamat email: ardian@bi. Penurunan pendapatan yang tidak diiringi dengan penurunan biaya operasional maupun biaya produksi menyebabkan korporasi membutuhkan pinjaman dari pihak ketiga. equity issuance serta model investasi dan mengaplikasikan Generalized Moment of Method (GMM) dengan panel data dari 218 perusahaan yag sudah go public.id pertumbuhan ekonomi nasional. alamat email: reska@bi. PENDAHULUAN Meningkatnya volatilitas di pasar komoditas dan pasar uang internasional serta melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia berimbas kepada perlambatan 1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan. Semakin 85 . Selanjutnya. Heny Sulistyaningsih5 Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi hutang perusahaan Indonesia yang pada gilirannya akan mempengaruhi keputusan pembiayaan dan investasi perusahaan tersebut. speed of adjustment JEL Classification: C51. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan.id 2 Peneliti Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia. e-mail address: viverita@gmail. Melemahnya daya beli konsumen menyebabkan tingkat penjualan korporasi menurun sehingga pendapatan korporasi juga menurun. Penelitian ini akan memodelkan corporate leverage dengan mengkombinasikan hutang. balance sheet.go. Bank Indonesia.com 3 Peneliti Eksekutif. hasil estimasi juga menggambarkan bahwa teori pecking order berkontribusi signifikan terhadap model neraca korporasi. Kondisi ini secara tidak langsung berpotensi menurunkan kinerja keuangan sektor korporasi.id 4 Peneliti Yunior. Viverita2. Hasil estimasi menunjukkan bahwa penentuan level hutang korporasi di Indonesia dipengaruhi oleh default probability effect. Reska Prasetya4. Model yang digunakan merupakan pengembangan dari model Gibbard dan Stevens (2006) yang dikombinasikan dengan pendekatan tradisional struktur modal trade-off theory dan pecking order theory. Ardiansyah3. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan. Biro Stabilitas Sistem Keuangan.N65 1. Diketahui pula bahwa aktivitas Investasi. Biro Stabilitas Sistem Keuangan. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt Artikel II Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt Wimboh Santoso1.id 5 Peneliti Yunior. capital structure.Artikel II .go. sehingga membutuhkan penilaian yang hati-hati dalam penentuan sumber pendanaan.go.go. alamat email: wimboh@bi.

Oleh karena itu. Sebaliknya.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt besar hutang korporasi semakin besar eksposur korporasi terhadap sistem keuangan. sebuah perusahaan akan melakukan investasi apabila mempunyai cash. penurunan pendapatan berpotensi menurunkan kemampuan membayar korporasi terhadap kewajibannya kepada pihak ketiga sehingga dapat menjadi sumber instabilitas sistem keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model neraca korporasi dengan meneliti struktur hutang dan juga faktor-faktor yang 86 . literatur mengenai credit rationing menjelaskan sudut pandang kreditur dan perbankan tentang alasan korporasi membatasi jumlah pinjamannya. Faktor lain yang dianggap mempengaruhi penggunaan pinjaman adalah besarnya biaya yang dicadangkan apabila terjadi kebangkrutan atau apabila kondisi keuangan sedang buruk (Warner. Peningkatan jumlah hutang yang diiringi penurunan pendapatan lebih lanjut berpotensi menurunkan kemampuan membayar korporasi. hutang merupakan cara yang efisien untuk mengurangi biaya-biaya yang terkait dengan penerbitan saham sedangkan Klaus dan Litzenberger berpendapat bahwa hutang dapat mengoptimalkan struktur permodalan korporasi melalui keuntungan pajak. Hal ini mengindikasikan bahwa eksposur terbesar dari perbankan dan institusi keuangan lainnya adalah korporasi Indonesia. sangatlah penting untuk membuat suatu model yang dapat menentukan neraca korporasi Indonesia dengan meneliti peran dari optimal debt dalam mengambil keputusan pembiayaan dan investasi. Jaffe (1971) menggambarkan bahwa ketidakinginan seorang manajer untuk mendapatkan pinjaman disebabkan mereka ingin menjaga posisi dan kesejahteraan mereka. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Modigliani dan Miller (1963). 1976 dan Robichek dan Myers. Di sisi lain. namun juga pada ketersediaan kesempatan investasi. 2004). Sementara itu. perbankan berkontribusi memberikan pembiayaan ke perusahaan berupa kredit modal kerja dan kredit investasi sebesar 71% dari total kredit perbankan. penurunan leverage sejalan dengan peningkatan volatilitas. non-debt tax shield. 2. Menurut Jensen (1986). Oleh karena itu. Raviv (1991) menemukan bahwa peningkatan leverage sejalan dengan peningkatan hutang. fasilitas pinjaman yang akan diterima perusahaan akan berkurang seiring dengan meningkatnya pinjaman yang telah diterima oleh perusahaan tersebut. Farrar dan Selwyn (1967) yang berpendapat sama dengan Stiglitz (1972) menyatakan bahwa perbedaan dari pajak personal income yang dikenakan pada penambahan modal dan pendapatan tetap mengurangi keyakinan pada teori yang menyatakan bahwa keuntungan pajak dari fasilitas pinjaman akan berdampak pada penolakan penggunaan fasilitas pinjaman sebagai modal. Sampai dengan Juni 2008. Keputusan untuk tidak menerbitkan saham dan tidak menggunakan kesempatan berinvestasi akan berakibat pada ketidaktepatan pengalokasian dana yang nantinya akan menurunkan nilai perusahaan tersebut expenditure. keputusan untuk menggunakan sumber pembiayaan dari internal maupun eksternal tidak hanya bergantung pada waktu berinvestasi. Oleh karena itu.Artikel II . default probability dan keunikan dari suatu produk. optimal debt ratio ditentukan dengan mempertimbangkan keuntungan dan biaya yang dikeluarkan untuk menerbitkan hutang (Frydenberg. advertising mempengaruhi optimal level of debt dari suatu perusahaan dengan menggunakan teori pecking order dan teori trade- off. 1966). Menurut teori. Disisi lain. korporasi cenderung akan menjaga kapasitas cadangan hutang dalam kondisi pasar yang sempurna. Oleh karena itu. kesempatan investasi. Ross (2008) dan Leldan & Pyle (1977) berpendapat bahwa hutang merupakan poin yang penting dari nilai suatu perusahaan. Terdapat beberapa alasan suatu perusahaan menerbitkan hutang sebagai sumber pembiayaan usahanya.

apabila sumber eksternal sangat dibutuhkan. 1984). pecking order terutama cash flow dan akuisisi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap corporate debt level. kondisi tersebut dapat menciptakan gap antara dividends. Studi ini juga menemukan bahwa hutang memiliki korelasi yang positif dengan kebutuhan pembiayaan perusahaan. Secara umum. teori ini menjelaskan prioritas procyclicality hutang merupakan efek dari procyclicality gap pembiayaan. Selain itu.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt atau dikenal dengan financing trap (Myers dan Majluf. Teori trade off mengenai struktur permodalan menjelaskan bahwa tingkat hutang korporasi bisa dijelaskan dengan keseimbangan antara biaya dan keuntungan dari penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan. menerbitkan saham sebagai sumber pembiayaan merupakan pilihan pembiayaan yang kurang tepat mengingat nantinya tetap akan dibutukan pembiayaan dari sumber lain. Dengan menggunakan persamaan. dengan biaya kebangkrutan sebagai biaya hutang dan pengurangan pajak sebagai keuntungan dari penggunaan hutang. perusahaan yang mempunyai kelonggaran pembiayaan yang cukup besar cenderung akan mengambil kesempatan investasi yang ada. (2) menerbitkan surat hutang sebagai sumber pembiayaan paling aman apabila pembiayaan dari eksternal tidak dapat dihindari lagi. ditemukan bahwa variabel off antara keuntungan pajak dan biaya karena adanya tekanan keuangan. Teori ini fokus pada keseimbangan antara keuntungan dari hutang dan tingginya biaya penggunaannya serta kesempatan dari tekanan keuangan. Dampaknya. Perancis. Hal ini menjelaskan adanya trade gap. teori ini juga menjelaskan keterkaitan antara hutang dan risiko gagal bayar maupun hutang dan kesempatan pertumbuhan. US. Studi lain yang dilakukan oleh Shyam-sunder dan Myers (1999) mempergunakan debt ratio sebagai proxy untuk optimal level of debt dengan asumsi target level of debt konstan. sementara level optimal hutang korporasi berkorelasi negatif dengan market to book ratio. Jensen (1986) berpendapat bahwa sebuah perusahaan yang lebih memilih untuk menerbitkan dan mempergunakan hutang sebagai sumber pembiayaan akan menguntungkan tidak hanya bagi manajer dalam kaitannya dengan hak untuk menunda pemberian future perusahaan dalam memilih sumber internal sebagai sumber pembiayaan daripada menggunakan hutang. Teori ini lebih fokus pada bagaimana cara mengatur perusahaan agar mencapai keseimbangan antara ekonomi dengan stabilitas keuangan. Gibbard dan Stevens (2006) meneliti faktor-faktor penentu hutang korporasi di UK. Dalam teori ini pula.Artikel II . The pecking order theory menyatakan mengenai strategi pembiayaan jangka panjang dari perusahaan dan penggunaan sumber internal sebagai suatu pilihan pembiayaan. Berdasarkan perkembangan ini. perusahaan cenderung akan menggunakan hutang sebagai sumber eksternal saat pemegang saham yang ada tergolong sebagai passive investors. namun juga memberikan hak bagi pemilik perusahaan untuk mengambil legal action saat terjadi default. Adanya kenaikan penggunaan hutang akan meningkatkan leverage dari suatu perusahaan maupun agency dan bankruptcy cost. Selanjutnya. Terdapat 2 (dua) teori yang umum digunakan untuk menjelaskan struktur hutang korporasi yaitu teori trade corporate expenses dan free cash flow yang membutuhkan pembiayaan dari hutang (financing gap). Oleh karena itu. Berdasarkan teori ini. hutang lebih baik dibandingkan dengan equity (Myers dan Majluf. 1984). Temuan lain menggambarkan bahwa 87 . dan Jerman. Teori ini dapat dijelaskan sebagai berikut (1) pembiayaan dari internal (modal yang ditahan) digunakan karena dinilai lebih aman dibandingkan dengan hutang yang memiliki default risk. Namun. perubahan dari hutang harus sama dengan financing off dan teori pecking order. Studi ini menjelaskan peran hutang korporasi dengan menghitung investasi dan penerbitan equity.

Sebaliknya. ditemukan bahwa perusahaan dengan investasi yang besar memiliki hutang yang kecil. Penelitian ini menemukan bahwa makin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan dan makin jauh dari tingkat optimal debt akan makin cepat mencapai target leverage. Historis dari ratio). Contohnya. Sebaliknya.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt pertumbuhan hutang korporasi pada saat ekonomi membaik tidak dapat dijelaskan oleh kenaikan hutang optimal namun dijelaskan oleh gap pembiayaan. order dan menemukan 4 (empat) faktor penentu yaitu (1) profitability. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan pendapatan yang cukup besar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur permodalan. faktor penentu utama dari struktur permodalan adalah pengaruh eksternal daripada struktur internal.Artikel II . Tingginya pertumbuhan perusahaan (market to book ratio) mempunyai leverage yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki market to book ratio yang rendah. Sementara itu. Oleh sebab itu. Di satu sisi. teori trade off mengajukan konsep pecking order menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara expected investment dan book leverage. terdapat hubungan yang positif antara leverage dan besarnya perusahaan maupun antara dividen payout dengan besarnya perusahaan. penerbitan hutang jangka panjang mempengaruhi 30% dari perubahan debt level. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggabungkan teori trade off dan teori pecking order untuk membangun neraca korporasi di Indonesia. teori 3. Teori pecking order menyatakan bahwa penggunaan sumber internal merupakan sumber pembiayaan yang lebih utama dibandingkan dengan penerbitan saham. Penemuan ini mendukung Welch (2004). Fama dan French (2002) memperkenalkan two-step regression untuk menentukan level optimal dari hutang dengan menggabungkan Teori Trade off dan Teori pecking market to book value digunakan oleh Hovakimian (2003) untuk meneliti pengaruh dari faktor ini terhadap keputusan investasi dan pembiayaan. Sementara itu. (3) ukuran perusahaan (dilihat dari total aset) dan (4) target dividend payout . Teori ini berpendapat bahwa penerbitan saham akan dianggap sebagai sentimen negatif oleh investor. Selain itu. Sementara itu. Berdasarkan tujuan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan dan hasil yang bertolak belakang dari aplikasi ke-2 teori tersebut. Welch (2004) menemukan bahwa 40% perubahan di struktur hutang korporasi kemungkinan besar karena pendapatan dari saham. selanjutnya akan disusun neraca korporasi Indonesia dengan menggunakan model penelitian empiris mengenai optimal capital structure dan menemukan adanya hubungan yang kuat antara pendapatan dari saham perusahaan dan perubahan debt level. (2) investment opportunity. nilai equity. ditemukan juga bahwa tangibility dan besar kecilnya perusahaan tidak mempunyai hubungan yang positif dengan leverage. Hal ini menunjukkan bahwa current market to book value terhadap hutang gagal menggambarkan kesempatan pertumbuhan suatu perusahaan. Sementara itu. profitability mempunyai hubungan yang negatif terhadap leverage. perkiraan nilai equity saat ini dan debt equity Wanzenried (2002) meneliti pengaruh dari faktor-faktor tertentu di perusahaan dan faktor makroekonomi terhadap speed of adjustment untuk target leverage 90 perusahaan di Swiss. Selain itu. Drobetz dan 88 . saat mengaplikasikan teori trade off. Tsiplakov (2007) menggunakan model dinamis dari proxy tingkat optimal hutang dengan membandingkan keuntungan marginal dengan biaya marginal dari penggunaan hutang. Welch (2002) menyarankan bahwa struktur modal korporasi ditentukan dari return saham (misalnya. Hasilnya ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap keputusan investasi dan pembiayaan.

89 .1 Kerangka Konsep dari Model Neraca Korporasi hubungan yang positif dengan tingkat hutang korporasi. dengan mendifferensialkan variabel endogen dapat menyebabkan korelasi antara differenced of error term dan differenced Git = financing gap. Di satu sisi. secara statistik hubungan ini tidak signifikan. Gambar A2.t-1 + α4Ait + α5Ai.Artikel II . dan (3) penentuan tingkat optimum debt dengan meregressi variabel yang mungkin mempengaruhi target debt ratio perusahaan (Fama dan French.t-1 + α2Iit + α3Ii.t-1 * berbeda. sementara cash (C) mempunyai hubungan yang negatif DEBT EQUITY CASH dengan tingkat hutang. tingkat optimal dari Use to finance INVESTMENT ACQUISITION hutang (M) diharapkan memiliki hubungan negatif dengan tingkat aktual hutang korporasi. Namun. variabel investasi (I) dan akuisisi (A) memiliki Gambar A2. Penelitian ini memberikan kemungkinan untuk melihat siklus pergerakan dari hutang korporasi dan menghitung seberapa jauh pergerakan hutang memicu kebutuhan pembiayaan dan kecepatan penyesuaian dari tingkat hutang.t-1 + α8Mit + α9Mi. pengeluaran investasi dan akuisisi. equity issuance model. dimana variabel utama yang digunakan adalah arus kas. (2) rata-rata rasio hutang selama periode penelitian (Sunder dan Myers 1999). namun bisa diselesaikan menggunakan teknik differencing. Menurut teori pecking order.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt struktur permodalan. Namun. 1977) dan efek kemungkinan untuk default (Welch. Terdapat perbedaan sudut pandang dalam melihat perubahan posisi hutang apabila didasarkan pada 2 (dua) teori tersebut. yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam koefisien regresi.t-1 + η1 + εit (2) Dimana. Hasil yang ambigu ini dapat dijelaskan melalui dua pendekatan yaitu efek pertumbuhan kesempatan (Myers.1. Teori pecking order berpendapat bahwa perubahan posisi hutang bergantung pada financing gap yaitu gap antara pengeluaran korporasi (investasi & akuisisi) dengan sumber pembiayaan yang berupa cash. Dit adalah hutang korporasi pada suatu waktu t. η 1 di persamaan (2) menggambarkan efek khusus perusahaan. perusahaan akan menggunakan hutang sebagai sumber utama dari pembiayaan eksternal. 2002) seperti dalam persamaan dibawah ini: Dit = α + α1Di.1 menunjukkan kerangka konsep model hutang dari neraca korporasi Indonesia. Penelitian lain yang dilakukan oleh Welch (2002) memberikan kesimpulan yang Penelitian yang dilakukan Gibbard dan Stevens (2006) menggabungkan 2 (dua) teori mengenai struktur permodalan. Beberapa penelitian empiris telah dilakukan untuk memodelkan struktur permodalan korporasi dengan menggunakan beberapa model seperti debt model. dan investment model seperti yang dijelaskan dibawah ini: 3. seperti yang pernah dilakukan oleh Gibbard dan Stevens (2006). dimana market to book value of debt mempunyai hubungan yang negatif dengan tingkat hutang korporasi. seperti yang digambarkan dalam persamaan dibawah ini: Dit = αGit + βDit + (1-β) Di. Welch 2002). Dit* adalah optimal debt (dinyatakan oleh teori trade off) dan bisa ditentukan dari salah satu model berikut ini: (1) market to book value (Gibbard dan Stevens 2006. Untuk mengatasi keterbatasan cash . Selain itu. Debt Model Model ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat hutang korporasi. 1999).t-1 + α6Cit + (1) α7Ci. Nilai yang sesuai dari hasil regresi akan menggambarkan optimal debt dari korporasi. teori trade off berpendapat bahwa perubahan posisi hutang adalah perbedaan antara tingkat optimal hutang dengan hutang aktual.

Equity Issuance Model dapat ditunjukkan dalam persamaan (3) berikut: Eit = α + α1Di.t-1 + α6Cit + α7Ci. Penggunaan pendapatan saham bertujuan untuk menguji inertia dari penggunaan hutang di dalam struktur permodalan. I adalah investasi pada waktu t. Cit adalah arus kas korporasi pada waktu t. berdasarkan model empiris yang dibangun oleh Benito dan Young (2002). Penelitian Welch (2002) memasukkan pendapatan saham (R) sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi tingkat hutang perusahaan Generalized Methods of Moment (GMM) yang akan menghasilkan estimasi yang efisien. variabel Q (variabel yang digunakan berdasarkan bukti-bukti empiris dari Blundell.Artikel II .t-1 + η1 + εit (5) dimana. model yang disusun untuk penelitian ini terutama menggunakan model dari Gibbard dan Stevens (2006). Model ini mengharapkan bahwa cash (C) memiliki hubungan yang positif dengan nilai investasi perusahaan.al. Investment Model Persamaan (4) memodelkan tingkat investasi dari perusahaan. Indonesia. sementara cash (C) diharapkan memiliki hubungan yang negatif.t-1 + α10Ri.2. Mt = b0 + b1MVt-1 + b2EBITt-1 + b3DPt-1 + b4RDt-1 + b5 ln(At-1) + b6FAt-1 + b7MIt + b8Mt-1 + et+1 (6) Hal ini diasumsikan bahwa perusahaan memiliki laba sebelum pajak (EBIT) tinggi atau tingkat leverage yang rendah.t-1 adalah hutang pada waktu t-1.t-1 + η1 + εit 90 .3.t-1 + α4Ait + α6Cit + α7Ci. Rendahnya leverage bisa terjadi di perusahaan yang mempunyai laba ditahan cukup besar atau saat perusahaan membatasi leverage untuk melindungi franchise dalam menghasilkan laba yang besar. Pendekatan perilaku ini secara tidak langsung akan menjelaskan bahwa pendapatan saham yang negatif akan memberikan sinyal yang negatif sehingga akan meningkatkan tingkat hutang korporasi. Rasio target leverage perusahaan (M) nantinya menjadi model neraca perusahaan Indonesia. Arellano dan Bond (1991) menggunakan 3.t-1 + α8Mit + α9Mi. Model ini mendukung debt model dalam persamaan (2) dan digunakan untuk menentukan tingkat hutang korporasi Indonesia.1.t-1 + α4Ait + α5Ai.. Tingginya leverage menggambarkan kemampuan perusahaan untuk (4) memenuhi pembayaran hutang diluar relatif tingginya arus α9Qi. Pertama. at. Equity Issuance Model Persamaan (3) menggambarkan model dari penerbitan equity yang dipengaruhi oleh financing gap maupun tingkat optimal hutang korporasi. Tingkat hutang optimal memiliki hubungan yang ambigu dengan kenaikan jumlah saham yang diterbitkan dimana tingkat hutang optimal memiliki hubungan yang positif atau negatif dengan jumlah saham yang diterbitkan.4.t-1 + α8Qit + persamaan (6). rasio target leverage dari perusahaan ditentukan oleh nilai tetap dari 3. 3. Mit adalah target debt ratio pada waktu t.t-1 + α3Ii.t-1 menggambarkan pendapatan saham perusahaan pada waktu t.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt lag of endogenous term. Model ini dapat dituliskan dalam persamaan dibawah ini: Iit = α + α1Di.4.t-1 + α2Iit + α3Ii. Model dapat digambarkan sebagai berikut : Dit = α + α1Di. Ait menunjukkan akuisisi pada waktu t. dan Ri. Masalah ini bisa diatasi dengan menggunakan lebih dari satu lag untuk tingkat variabel. Menentukan Tingkat Optimal Hutang Perusahaan Menurut Fama dan French (2002).1992) dimasukkan di dalam persamaan. Spesifikasi Model Berdasarkan model-model sebelumnya. Misalnya. Di.t. Model ini mengharapkan pengeluaran modal (A & I) memiliki hubungan yang positif dengan kenaikan jumlah saham yang diterbitkan. Variabel ini diharapkan menjadi pengaruh yang positif terhadap investasi korporasi.t-1 + α2Iit + α3Ait + α4Cit + α5Mit + η1 + εit (3) 3.t.

04 0.87 644.59 1. Hal ini digambarkan pula oleh tanda dan koefisien yang signifikan dari 2 faktor generalised methods of moments mengikuti Arrelano dan 91 . ANALISIS Penelitian ini menggunakan unbalanced panel data dari 218 perusahaan go public yang terbagi dalam delapan sektor yaitu konsumsi. Mengikuti Fama & French (2002) serta Hovakimian et al (2003).73 90.78 0.384.10 0.43 246.52 0.1 Deskripsi Statistik Korporasi Indonesia (2004 √ 2007) All Variabel Total Asset (Trilliun IDR) Current Asset (Trilliun IDR) Fixed Asset (Trilliun IDR) Tangible assets (Trilliun IDR) Intangible Asset (Trilliun IDR) Total Debt (Trilliun IDR) Net Sales (Trilliun IDR) Net income (Trilliun IDR) Depretiation (Trilliun IDR) Amortization (Trilliun IDR) Capital expenditure (Trilliun IDR) EBIT Cash per total asset Depreciation Expense per tangible asset R & D Expense per total asset Size (Log of Total Asset) Fixed asset per total asset Debt per total asset Investment (Capex per total asset) acquisition (Acquisition per total asset) Mean 6.812.05 27.31 3.80 558. ditemukan juga bahwa besarnya perusahaan berhubungan secara negatif dan signifikan dengan penggunaan external source sebagai sumber pembiayaan. firm»s lagged industry Tabel A2.745. sementara perusahaan yang memiliki intangible asset tinggi dalam bentuk R&D lebih memilih equity sebagai sumber pembiayaan.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt kas.03 Standard Deviation 55.62 1. Di lain pihak.74 4. Hal ini sejalan dengan ekspektasi.52 0. 4. Tabel tersebut menunjukkan bahwa teori pecking order secara signifikan mampu menjelaskan hutang korporasi.24 1. mining. Namun. standar deviasi dari masing-masing variabel juga lebih tinggi dari rataratanya. tingginya market to book ratio (MV) secara umum menggambarkan pertumbuhan yang lebih baik di masa depan.85 0.157. digunakan estimator hutang korporasi Indonesia secara negatif dan signifikan dipengaruhi level keuntungan.11 25.024.079.08 Bover (1995). Depresiasi (DP) merupakan proporsi total aset.133. agriculture.24 1.08 327. Selanjutnya.34 0. Selanjutnya.11 473. property.83 437.08 46.11 1.02 1.65 872. Hal ini bisa terjadi karena perusahaan cenderung lebih transparan atau memiliki akses yang lebih mudah ke pasar surat hutang.27 0. trading dan miscellaneous industry dari tahun 2004 sampai dengan 2007. Tabel A2.40 1.89 992. Data bersumber dari Bloomberg dan Bursa Efek Indonesia.118.935.641.16 55.1 menggambarkan bahwa nilai rata-rata hutang perusahaan Indonesia adalah lebih dari 400 kali total aset perusahaan tersebut. Perusahaan dengan nilai aset yang tinggi ln(At) cenderung akan menggunakan lebih banyak hutang dibandingkan perusahaan yang memiliki aset yang kecil. basic industry.39 5.58 6. Dalam hal ini.Artikel II . infrastruktur.471.14 0. study ini menemukan bahwa level optimal media debt ratio (MI) digunakan untuk mengontrol karakteristik industri yang tidak bisa digambarkan oleh variabel independen lainnya.33 0. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum korporasi Indonesia lebih menyukai menggunakan keuntungan (internal sources) daripada menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaan. Perusahaan yang memiliki tangible asset (FA) tinggi cenderung memiliki kapasitas hutang besar. tingginya pertumbuhan perusahaan cenderung dapat dilindungi dengan membatasi jumlah leverage.658.38 0.891.04 0. Tabel A2.06 1.55 167. Perusahaan dengan tingkat depresiasi yang tinggi akan memperoleh pengurangan interest terkait dengan besarnya penggunaan leverage sebagai sumber pembiayaan. Untuk menguji faktor-faktor yang menentukan level hutang korporasi Indonesia.821. Metode ini digunakan untuk mengurangi firm specific effect dari sample perusahaan mengingat perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari beragam sektor industri.2 menunjukkan estimasi persamaan hutang dari perusahaan Indonesia.

1956 0.0392 -4. Komponen lain.5342 -41.1456 ACTA(-1) 0. stock return perusahaan mempengaruhi variabilitas level hutang yang optimal.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt financing gap yaitu investasi dan cash flow.5757 RETURN -0.2976 0. dimana semakin untung perusahaan maka penggunaan hutang semakin meningkat (kelebihan kas digunakan untuk keperluan lain seperti pembayaran deviden).00000 SSE 0.0692 CASH 0. Koefisien negatif ini mendukung efek DEBT(-1) 0. Selanjutnya.2 Determinants of Corporate Debt DEBT EQUATION (GMM Sys) Dependent Variable :DEBT Variable Coefficient t-Statistic 13.5740 ACTA -0.0137 -1. karenanya korporasi perlu lebih sedikit Analisis masing-masing variabel adalah sebagai berikut: INVTA : Koefisien dari investasi terhadap rasio penggunaan hutang korporasi adalah positif (+) dan signifikan pada level 5%.0000 0.0472 0.5368 0.0001 ACTA : Hasil regresi menunjukkan hubungan negatif dengan penggunaan hutang korporasi walaupun hasilnya tidak signifikan. 1986).0158 Cross-section fixed (first differences) R-squared 0.0030 0.0054 OD(-1) -0.5943 0. variabel stock return perusahaan sebagai proxy ekspektasi pasar menunjukkan bahwa stock return berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap level optimal hutang. 92 .3022 0.6478 0. akuisisi memiliki unexpected sign (negative sign) dan tidak signifikan. 0.07645 N (Firms) 201 Keterangan DEBT : Total debt per total asset ACTA : Total Acquisition per total asset CASH : Total cash per total asset INVTA : Total Investment per total asset Return : Tingkat pengembalian Saham per year default probability (Myers. Dengan menggunakan estimator Generalised Methods of Moment. Kedua variabel ini sesuai dengan pecking-order hutang sebagai sumber pembiayaan. 5. Studi empiris menunjukkan hasil koefisien yang berbeda.0524 -3. Hal ini mengindikasikan bahwa keputusan mengambil hutang sebagai sumber pembiayaan merupakan hal penting dan perlu dilakukan perusahaan secara hati-hati. Tabel A2.0574 CASH(-1) 0. Hubungan negatif antara akuisisi mengindikasikan prioritas sumber pembiayaan lain untuk membiayai aktivitas akuisisi. Ini sejalan dengan dengan teori pecking-order.4581 0.983631 P-value (Chi square) 0. Hasil estimasi seperti tercantum pada Tabel A2.1816 INVTA(-1) 0.6204 2. Hasil estimasi menunjukkan bahwa level hutang korporasi Indonesia ditentukan secara signifikan oleh level theory. Hal ini mengindikasikan semakin banyak jumlah investasi perusahaan maka penggunaan hutang semakin meningkat. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan neraca korporasi Indonesia dan menguji faktor-faktor yang mempengaruhi level optimal hutang korporasi dengan mengkombinasikan teori trade-off dan pecking order.1186 OD 0.Artikel II . Sejalan dengan Welch (2204).6196 0. CASH : Koefisien dari investasi terhadap rasio penggunaan hutang korporasi adalah positif (+). 1977 dan Jensen.1971 0. Kondisi ini menggambarkan bahwa pasar memiliki ekspektasi tinggi dan positif terhadap kinerja perusahaan di masa depan.0359 INVTA 0. hasil penelitian ini menangkap dinamika level hutang korporasi yang menyesuaikan dengan level optimalnya.1306 Prob.0067 1.2 menunjukkan bahwa Fitted Values of Debt (OD-1) sebagai suatu proxy level optimal dari hutang korporasi menunjukkan hubungan negatif dan signifikan dengan level hutang aktual.5362 0.0341 RETURN(-1) -0.0000 0.

Temuan study ini menunjukkan faktor-faktor yang menjadi penentu hutang perusahaan sehingga perusahaan menyesuaikan level hutangnya sedemikan rupa sampai mencapai level optimal hutangnya. kreditur dan regulator perlu melakukan penilaian komprehensif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan hutang yang berlebihan. Selanjutnya. manajemen level hutang yang baik yang mengarah pada level optimal hutang akan mendorong naiknya nilai perusahaan. hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas investasi dan akuisisi akan mempengaruhi level hutang korporasi. Karena hasil temuan menunjukkan bahwa neraca korporasi Indonesia secara umum dipengaruhi oleh teori pecking memperhatikan penyesuaian biaya karena level hutang ditentukan oleh efek default probability. Artinya bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan seluruh faktor yang mempengaruhi level hutangnya dan secara hati-hati perlu 93 .Artikel II . Temuan juga mengindikasikan bahwa teori pecking order berkontribusi signifikan terhadap model neraca korporasi Indonesia. Berdasarkan estimasi GMM-SYS.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt investasi dan arus kas. Untuk itu. Lebih lanjut. order.43. temuan tersebut dapat digunakan untuk memonitor hutang perusahaan yang digunakan untuk aktivitas investasi dan akuisisi sehingga pada akhirnya dapat digunakan untuk mnghitung potensi risiko default. Pada akhirnya. ditemukan bahwa hutang korporasi Indonesia menyesuaikan sedikit lebih rendah dari level optimalnya. level hutang optimal mendukung efek default probability seperti yang dijelaskan Myers (1977) dan Jensen (1986). yaitu dengan implied adjustment rate sebesar 0.

One Bernard Baruch Way. 1-33. http://www. P dan Stevens. The dan France:a comparative analysis for west German dan French incorporated enterprises with special reference to institutional factors∆. 76. Box B 10-225. ≈Corporate debt dan financial balance sheet adjustment: a comparison of the United States. 433443 Myers. Blundell. pp. Journal of Financial Economics. Norway. University of Durham Business School. Myers dan Majluf. corporate policy. dan M. ≈The determinants of corporate borrowing∆. ≈Testing trade-off dan pecking order prediction about dividends dan debt∆. 2 (Apr. H. ≈Determinants of corporate debt ownership structure: evidence from market-based dan bank-based economies∆. Y dan Paudyal.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt Daftar Pustaka Arellano Manuel dan Stephen Bond (1991). E. Oxford Review of Economic Policy. Journal of Econometrics 87. Davis.pp.7004 Trondheim. K (2003). vol. An international comparison∆. Richard dan Stephen Bond (1998). Sor-Trondelag University College.ssrn. Vol. (1996): ≈Financial constraints. N (1984). M. NY 10010. WP No. Harmen (2003). Vol. France dan Germany∆. 49-67 Deminguc-Kunt A. 444-54. Hovakimian. New York). Bank of Engldan. ≈Structures of corporate finance in Germany Economics. pp. Modigliani. Corporation Finance dan the Theory of Investment: Corrections. ≈Corporate Financing dan Investment Decision when Firms have information that investors do not have∆. Jensen.. Guney. 277-297 Antoniou.13. ≈Some Tests of Specification of Panel Data: Monte Carlo Evidence dan Application to Employment Equations∆. No. Department of Business Administration. 1971. mimeo. 5. Policy Research Working Paper 1671. ≈Agency costs of free cash flow. Jonsvannsun. Bernard Paranque dan Annie Sauve» (1999). E dan French. A. Friderichs. Wolfgang dan Gabrielle Wanzenried (2002). ≈Are Observed Capital Structures Determined by Equity Market Timing?∆. Baruch College. National Tax Journal 20. pp. Fama. American Review of Economic Studies. Drobetz. Donald dan Lee Selwyn (1967). ≈The Cost of Capital.. 58. pp. Jaffe. ≈Initial Conditions dan Moment Restrictions in Dynamic Panel Data Models∆. uses of funds dan firm growth.Artikel II . the City University of New York. dan return to investors. No. pp. 187-221. Gibbard.∆. pp. 15 (1). 10. K (2002). Hans. ≈What determines the speed of adjustment to the target capital structure?∆. Farrar. M (1986). corporate finance dan monetary policy: an empirical perspective. ≈Theory of capital structure √ a review∆. 2. Journal of Financial The Review of financial studies.com/ abstract=556631. P. Miller (1963). Credit Rationing dan the Commercial Loan Market. (1995): Banking. Vol. 1991). I (2006). 82. Stewart C (1977).∆ American Economic Review 53. Vol. the United Kingdom. corporate finance dan takeovers∆. D. Economic Review. pages 323-29. dan Maksimovic V. F. (Wiley. 115143..∆Taxe. 147-175. 94 . World Bank. 317. Frydenberg.Stein (2004).

Journal of Financial Economics 51. Myers (1999). L.∆ Financial Economics. A. 95 . Absolute Priority dan the Pricing of Risky Debt Claims. ≈On Some Aspects of the Pure Theory of Corporate Finance. ≈Testing static trade-off against pecking order models of capital structure. 219-244. Ivo (2002): Columbus» Egg: The real determinant of capital structure. Journal of Political Economy. Vol. No.112. Von Thadden. Welch. McCombs Research Paper Series No. Centre for Economic Policy Research. B.458-82.. 1.(12). ≈Corporate Fianance∆.pp. Ivo (2004): Capital structure dan stock returns. J. Working Paper. (1992): The commitment of finance. Sheridan dan Sergei Tsiplakov (2007). Laksmi dan Stewart C.com/abstract=332042 . Shyam-Sunder. dan S. McGraw Hill InternationalEdition. Myers. E. J.∆A dynamic model of optimal capital structure∆.8782. pp.Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt Robichek. Working Paper. Journal of Quantitative Analysis 1. 4. 1976.Artikel II . Warner. E. ≈Bankruptcy Costs. Westerfield dan Jaffe (2008). Bell Journal of Economics 3.. London Stiglitz. National Bureau of Economics Research. duplicated monitoring dan the investment horizon. SSRN: http:// ssrn. ≈Problems in the Theory of Optimal Capital Structure ≈Journal of Financial dan Titman. Welch. C. 1972. A. FIN-03-06. The University of Chicago. 1-35. Ross. Bankruptcies dan Takeovers.

Artikel II .Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt Halaman ini sengaja dikosongkan 96 .

Endang Kurnia Saputra. Erma Kusumawati. Linda Maulidina. Pipih Dewi Purusitawati. Sagita Rachmanira.Kajian Stabilitas Keuangan No. 12. Mestika Widantri. Wini Purwanti. Sekaryuni. Ita Rulina. BPR dan UMKM Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Diserktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa PENGOLAHAN DATA Suharso I Made Yogi . Adidoyo Prakoso KOMPILATOR. Primitiva Febriarti. Boyke Wibowo Suadi. Ratih A. Heny Sulistyaningsih. Tirta Segara. Reska Prasetya. Elis Deriantino. Anto Prabowo. Azka Subhan. Ida Rumondang. Maret 2009 PENGARAH Halim Alamsyah Wimboh Santoso Suhaedi KOORDINATOR & EDITOR Agusman TIM PENYUSUN Ardiansyah. LAYOUT & PRODUKSI Boyke Wibowo Suadi Primitiva Febriarti KONTRIBUTOR Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pengawasan Bank 3 Direktorat Perbankan Syariah Direktorat Kredit. Hero Wonida. Noviati. Rosita Dewi. Darmawan Tohap B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful