You are on page 1of 169

Al Chaidar: “Ini Bukan Pengajian Biasa, Tapi Korporasi Jihad yang Mencengangkan”

By klubbukusctv

Jihad tak harus selalu diurus dengan muka serius dan urat tegang. Dia bisa lucu dan jenaka karena bagi mereka : jihad adalah juga wisata umat, yang di dalamnya, terkadang, ada banyak pernikahan. Dua belas tahun lalu, Al Chaidar sedang menyiapkan tesis akhirnya di Jurusan Antropologi. Dosennya, Profesor Parsudi Suparlan Almarhum, waktu itu meminta tiap mahasiswanya meneliti suku terasing. Sebagai orang Aceh, Chaidar berpikir meneliti suku sendiri, yang kemudian urung karena melihat Aceh sudah sangat kosmopolit. Dalam pencariannya, Chaidar bertemu dengan sebuah kelompok kecil di Musholla Fisip UI, yang belakangan dikenal adalah bagian dari kelompok Darul Islam. Kelompok tersebut dikenal inferior. Beberapa temannya sempat mengingatkannya agar tidak berteman apalagi mengikuti kegiatan kelompok tersebut. Tapi, penelitian mengharuskannya terlibat jauh. “Ini kelompok DI/NII, saya berkenalan dengan mereka dan sempat ikut ke Afghanistan dan Mindanao untuk menulis dan meneliti.” Yang terkejut dengan hasil penelitiannya adalah Profesor Parsudi. “Mereka akan jadi teroris,” kata Parsudi waktu itu. Konsep dan pemikiran kelompok tersebut tentang negara, target dan cara mereka mencapai tujuan itu, menjadi patokan kesimpulan itu. Mereka bukan sekadar gerakan tapi sebuah aktifivitas radikal. Yang paling mengejutkan adalah mereka begitu mudahnya menilai nyawa mereka dan juga “lawan”nya sebagai sesuatu yang murah. Tapi Chaidar belum percaya. “Ilmu saya belum cukup untuk menafsirkan seperti dia,” katanya. Baginya, menjadi teroris adalah sebuah keniscayaan. Apalagi, kelompok ini punya pengalaman pahit di masa orde baru. Mereka pernah trauma, dikejar-kejar aparat pemerintah karena terlibat kasus Usro tahun 1982, masa dimana ketika mereka secara door to door mengajak dan merekrut orang menjadi anggota Darul Islam, yang membuat mereka harus lari ke Malaysia, Lampung, dan juga ke Jawa Timur. Apa yang diramalkan Almarhum Parsudi pada akhirnya benar : kelompok ini menunjukkan wajah aslinya, menjadi pusat teroris, yang menjadi biang berbagai bom bunuh diri di Indonesia, dalam beberapa tahun belakangan ini. “Saya tidak menduga kelompok yang saya teliti adalah pusat bom bunuh diri dan fokusnya akan sedemikian besar,” kata Chaidar yang sejak tahun 2000 terkena insomnia, dia baru bisa tidur jam enam atau tujuh pagi. Dia masih saja berpikir, gerakan mereka hanya hit and run, pukul dan lari, bukan orang yang berani kehilangan nyawa seperti kata sang professor. Dia juga masih berpikir, mereka sudah sangat kapok dengan Kelompok Usro. Sebaliknya, mereka mengalami re-radikalisasi di Afghanistan tahun 1983-1985.

Satu per satu akhirnya terbuka. Chaidar misalnya baru tahu kalau teman mengobrolnya selama di Malaysia, Abu Umar, adalah Imam Samudera, buronan paling dicari polisi karena kasus beberapa pemboman. “Saya lihat wajahnya di televisi, saya bilang, loh itukan Abu Umar,” kenangnya. Dia juga baru tahu belakangan kalau Ustad Hambali, yang kini di tahan di Amerika adalah orang yang pernah menemaninya mencari rokok di Kuala Lumpur, pada sebuah malam sampai menjelang subuh. Tiap kali ke Malaysia, dosen di sebuah universitas di Aceh ini menginap di rumah Imam Samudera atau Ustad Yunus, anggota dari Faksi Ajengan Masduki. ( Faksi Ajengan Masduki adalah salah satu pecahan Darul Islam. Seperti diketahui Darul Islam terpecah-pecah, pertama menjadi 14, kemudian 24, dan 38. Tahun 1992, berdiri Faksi Abdullah sungkar dan Faksi Ajengan Masduki. Keduanya masuk ke Malaysia dan Faksi Ajengan Masduki punya jaringan sangat kuat dengan Osama bin Laden) Pertemanannya dengan kaum Mujahidin, yang sama sekali tak disengaja itu, membuatnya harus berurusan dengan polisi, digrebek dan diintai. Termasuk semua foto-fotonya dengan Ustad Hambali, Abubakar Baasyir dan tokoh penting lainnya di Malaysia, diambil polisi ketika kantornya di Gang Arab digrebek polisi. Catatan paspor menunjukkan, Chaidar 23 kali ke Malaysia, untuk urusan dengan kelompok tersebut. Sebagian besar diundang menulis perjuangan dan perkembangan gerakan mereka. “Mereka minta ditulis karena ingin menguasai kelompok DII secara luas. Penguasaan secara luas itu berarti legitimasi, siapa yang akan menjadi pemimpin paling tinggi bagi faksi-faksi yang terpecah,” katanya. Berteman dengan Imam Samudera dan Abubakar Baasyir, tapi dia tak pernah bertemu Dr. Azhari, baik di Malaysia maupun Indonesia. Dengan Nurdin M Top, dia hanya bertemu sekali, itupun di Indonesia. “Kalau tidak salah, lima hari sebelum Dr Azahari terbunuh di Batu, Malang,” katanya. Pertemuan itu, katanya, untuk membuka komunikasi negosiasi dengan teroris yang difasilitasi Umar Abduh, bekas narapidana kasus pembajakan pesawat Woyla. “Empat sampai lima hari sebelum Dr Azhari dikepung, saya ditelepon polisi dan diminta ke kantor polisi,” kata Chaidar. Ia menolak dan meminta polisi datang ke rumahnya. Polisi akhirnya datang dan bertanya macam-macam. Menjumpai Nurdin M Top, dia harus melalui tujuh pos. Di pos pertama, dia harus meninggalkan telepon genggam. Di situ, Umar Abduh minta ikut tapi tidak diijinkan kelompok tersebut. Hanya Chaidar seorang yang dibolehkan. Dia harus berganti naik motor dua sampai tiga kali sebelum akhirnya sampai ke pos ke tujuh, dimana dia bertemu dengan Nurdin M Top, yang memperkenalkan namanya sebagai Mustopa. Korporasi Jihad Di Malaysia, Chaidar bertemu dengan Zulkifli Hir atau Marwan. Dia tidak tahu dimana Marwan sekarang. Ada kabar dia sudah ditangkap polisi. Tapi, ketika dicari di Penjara Cipinang, “teman-temannya” bilang, Marwan tidak ada di penjara itu. Chaidar punya kesan khusus terhadap orang ini, seorang akuntan yang punya pergaulan luas, bergaul dengan bule dan orang Kristen, meski dia seorang mujahidin sejati. Pekerjaannya sebagai akuntan membuatnya bertugas membenahi administrasi dan keuangan di kelompok tersebut. Untuk memudahkan pekerjaannya, Marwan memindahka kantornya dari Port Klang ke Sungai Manggis, agar dekat dengan komunitas kelompoknya. Marwan mengatur semuanya dengan manajemen modern, seperti keuangan, jaringan dan komunikasi. Kantornya mewah, kontras dengan rumah pemimpin kelompok tersebut seperti Abubakar Baasyir, dll.

Manajemen dikelola sangat rapi, berbeda dengan sistem yang dibuat faksi Darul Islam yang sangat tradisional, yang menggerakkan kelompok tersebut dengan modal ingatan, tanpa catatan. “Manajemennya modern dan rapi, sangat disiplin dalam mencatat tiap perihal dan tiap ada rapat, ada minute of meeting, yang tidak boleh dibawa pulang. Ada banyak profesional yang membuat ini bukan pengajian biasa, tapi korporasi jihad yang mencengangkan,” kata Chaidar. Kantor mewah didirikan Marwan dekat rumah Ustad Abu Umar dan rumah Abu Jibril, yang sederhana. Sebagai catatan : kelompok ini berada dalam satu kompleks cukup besar, di dalamnya ada jalan besar dan mesjid. Gerakan radikal berskala internasional menjadi pilihan sejumlah ustad di kelompok itu. Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abubakar Baasyir adalah orang yang mencoba melepaskan diri dari NII, dengan mengubah nama NII menjadi Jamaah Islamiyah. Tiap orang diberi pilihan apakah akan tetap menjadi Darul Islam atau NII. Konsep Jamaah Islam yang dianut diambil dari Umar Abdul Rahman dari Yaman. Jalan pemikirannya adalah ketika negara tidak ada, maka kekuasaan dikembalikan ke jamaah. Mereka tidak memilih konsep Ikhwanul Muslimin yang punya banyak tokoh hebat seperti Muhhamad Qutb Hasan ALbana karena Abdullah Sungkar dan Umar Abu berasal dari Yaman. Jaringan keluarga Laporan Sidney Jones menyebutkan jaringan ini sangat geneologis : kepercayaan tertinggi diberikan pada mereka yang mempunyai hubungan darah, atau menjadi saudara karena perkawinan. Jabatan strategis dan penting hanya diberikan pada orang-orang yang mempunyai hubungan darah, baik karena keluarga atau perkawinan. “Kalau ada yang sangat pintar dan ingin diberi kepercayaan lebih besar tapi dia orang luar, maka orang itu akan dikawinkan dengan salah satu dari antara mereka,” kata Chaidar. Problem muncul ketika Dr. Azahari tidak mau dikawinkan dengan saudaranya Ustad Abubakar Baasyir. Sebuah jabatan tinggi yang sudah dipersiapkan untuknya urung diberikan. Azahari akhirnya hanya sebagai teknisi. Ini perbedaan mendasar dengan NII yang membolehkan orang baru masuk dan memegang posisi tertentu. Mereka menyaring dengan sangat ketat, terutama orang “luar” yang tidak punya hubungan darah. Saringan pertama adalah geneologis. “Sidney Jones pernah dengan jenaka mengatakan ada yang sudah diceraikan, dikawin anggota lain, cerai, kawin lagi dengan anggota lainnya sampai akhirnya dikawin lagi oleh orang pertama yang mengawininya. Chaidar punya istilah untuk ini : sebuah pergerakan keluarga yang trans-nasional. Islam teroris Chaidar membagi Islam menjadi tiga bagian : Muhammadiyah, NU, dan Islam Sempalan. Islam Sempalan dibagi lagi menjadi Islam Fundamentalis dan Islam Radikal. Irisan antara keduanya disebut Chaidar sebagai Islam Teroris. Orang-orang yang diteliti Chaidar adalah mereka fundamentalis dan radikal. Fundamentalis adalah orang yang beragama tinggi tapi tidak dengan kesadaran politik tinggi. Mereka biasanya sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan jargon-jargon agama seperti misalnya memelihara jenggot, baju muslim dll. Dia mencontohkan Hambali yang sangat penolong karena dalam pahamnya membantu adalah ibadah. “Ketika suatu malam saya kehabisan rokok di rumah Ustad Abu Umar, dia menemani saya mencari rokok tapi ternyata kedai-kedai sudah tutup. Kami akhirnya mencari rokok sampai ke Kuala Lumpur yang perjalanannya sampai dua jam. Kami sampai di rumah Abu Umar sudah menjelang pagi,” kenang Chaidar sambil tertawa. Hambali, yang kini berada di tahanan di Amerika sana,

melakukan itu : “Karena dia fundamentalis ketimbang radikal. Bagi dia menolong adalah ibadah.” Imam Samudera contoh yang radikal. Bagi dia lari lebih mulia, ketimbang tertangkap Pemahaman lainnya adalah bagi mereka jihad adalah wisata umat, yang didalamnya terkadang ada banyak perkawinan. Syamsul Arifin keberatan dengan penggolongan yang dilakukan Chaidar, yang menyebutkan adanya Islam Teroris. “Sebagai peneliti, anda juga harus melindungi Islam yang punya banyak wajah,” katanya. Menurutnya, tidak ada Islam Teroris, yang ada adalah teroris yang menggunakan Islam sebagai tamengnya. “Apakah anda tidak bermasalah dengan teroris? Apakah anda setuju dengan kekerasan? Samsul mencecar. Chaidar menjawab : “Tidak masalah anda tidak setuju, tapi itu objek penelitian saya dan itu riel adanya. Kewajiban saya sebagai peneliti untuk melakukan kategori itu. “ Dia mengakui ada banyak pertanyaan soal penggolongan yang dia lakukan, ada yang setuju, banyak juga yang anti. “Saya mengembalikan ke defenisi awal saja. Para fundamentalis adalah mereka yang memahami agama dengan kuat tapi minus politik.” Kaum Radikal sebaliknya. Mereka kuat dalam agama tapi juga berpolitik. “Kesadaran tinggi tentang Islam, ditambah politik tinggi menjadikan mereka teroris,” kata Chaidar. Lalu bagaimana pertanggungjawaban kepada publik? “Saya sebut mereka teroris. Banyak orang Islam yang marah, mereka sendiri menerima, bagi mereka itu heroik. Dan mereka menyebut diri mereka sebagai teroris yang baik.” Wajah Al Chaidar Yang menggelitik adalah siapakah Al Chaidar? Pertanyaan itu muncul karena ditengah polisi sibuk mencari dan menelisik jaringan teroris, dia bisa dengan bebasnya bertemu dengan sebagian dari mereka. Pertanyaan dan jawabannya begitu menarik sehingga saya tuliskan dalam bentuk tanya jawab. Tanya : “Untuk apa sebenarnya mereka sering memanggil anda?” Chaidar : “Mereka meminta saya ikut diskusi.” Tanya : “Apakah anda tidak dicurigai sebagai “orang”nya polisi?” Chaidar : “ Mereka menganggap saya teman dengan tingkat trust, kepercayaan tertinggi. Kalau mau lebih tinggi lagi, harus kawin dengan salah satu dari mereka.” Tanya : “ Bagaimana anda meletakkan posisi anda di antara mereka dan polisi?” Chaidar (yang sudah berkali-kali diperiksa polisi) : “Saya lebih nyaman berteman dengan mereka karena dalam relasi selama ini dengan kaum Mujahidin, saya lebih dimanusiakan ketimbang oleh polisi.” Dia mengakui pernah dicurigai kelompok tersebut dan pernah dua kali disidang atau tabayun. “Tapi kecurigaan itu lebih karena faksi,” katanya. Dia dituduh menyebabkan tertangkapnya banyak orang di kelompok tersebut. “Saya minta ditunjukkan siapa yang tertangkap karena informasi saya. Atau saya habis berkunjung dan dia tertangkap. Kalau terbukti, halal saya untuk dihukum mati. Dicari ternyata tidak ada, semua yang tertangkap karena ada yang tertangkap sebelumnya, jadi berdasarkan BAP-nya.”

Imam Samudera tertangkap karena email dan jaringan telepon. Ini membuat tingkat kepercayaan mereka pada saya makin tinggi. Tanya : Lalu siapakah anda di mata polisi? Chaidar : “Saya tidak mengerti tapi saya merasa tidak nyaman dengan polisi. Saya sering diundang dan ditanya dan berusaha menjelaskan. Di mata polisi saya partisipan, di Mujahidin sebagai sahabat.” Tanya : “Nurdin ada di mana? Chaidar : “Dilihat dari gesture mereka, mereka cukup nyaman, kelihatannya tidak ada di banten. Tapi yang saya dengar dia sudah kawin ladi dengan seorang perempuan bernama Novi di Pandeglang.” Tanya : “Kalau Nurdin datang ke rumah anda, apa yang anda lakukan? Chaidar : “Sama seperti Mullah Umar, saya akan melindungi dia.” Tanya : “Fakta menunjukkan kelompok teroris itu ada, tapi pasti ada yang menunggangi ketika terjadi aksi teroris? Chaidar : “Negara selau punya komoditas pada saat tertentu untuk keselamatan negara. Ada yang murni gerakan teroris tapi ada juga yang ditunggangi. Kita tidak boleh mengambil kesimpulan sebagian untuk keseluruhan. Misalnya bom Istiglal, sepenuhnya dilakukan negara melalui agennya yang sudah direkrut melalui jaringan teroris ini. Tanya : “Kenapa JI pulang ke Indonesia?” Chaidar : “Karena menurut Osama bin Laden, Indonesia termasuk negara yang kondusif.” Tanya : “Apakah mungkin ada perjanjian damai dengan teroris? Siapa yang harus memulai? Chaidar : “Ketaatan mereka pada fatwa adalah ketaatan pada perjanjian. Mereka sangat terikat dengan perjanjian, sebenarnya tidak harus langsung dengan terorisnya. Ada dua kelompok yaitu Kelompok Nurdin M Top dan Kelompok Poso. Perjanjian dilakukan dengan aliansi atau Jamaah Islamiyah misalnya Ustad Abu. Walau mereka membentuk jamaah baru tapi tidak bisa begitu saja meninggalkan pucuknya, yaitu Jamaah Islamiyah. Tanya : “Apakah Nurdin bisa tidur nyenyak atau tidak?” Chaidar : “Dia bisa tidur, saya dengar dia kawin lagi di Pandeglang dengan seorang perempuan bernama Novi.“ Ini bagian paling menarik dari seorang Nurdin. Dia menerjemahkan preskripsi ketuhanan dalam fabel kehidupannya secara jenaka. Semua temannya akan bercerita bahwa dia orang yang ramah, murah senyum, dan jenaka. Salah satunya soal pembekalan bagi sang “pengantin” calon pembawa bom bunuh diri. Mereka memang dibekali berbagai hal dengan metode Dauro atau Retreat, tapi disusupi hal-hal ringan dan jenaka. Dia menyebut “pengantin” karena ketika mati karena bom bunuh diri, mereka tak lagi melewati siksa kubur, langsung bertemu bidadari. Debu yang berterbangan usai sebuah bom meledak, diartikan para pelaku bom bunuh diri itu langsung dimandikan bidadari. “Waktu bertemu Nurdin, ada dua calon “pengantin” disitu. Ketika mereka akan pamit dan mengucap salam, Nurdin bilang begini : I’ll make you famous – aku akan membuatmu terkenal.” Kata Chaidar tertawa satir.

Jakarta, 28 Agustus 2009 Disarikan dari Diskusi Klub Buku dan Film SCTV dengan Al Chaidar Leanika Tanjung

23 Responses to “Al Chaidar: “Ini Bukan Pengajian Biasa, Tapi Korporasi Jihad yang Mencengangkan””
1. Wilrazin Says:
August 29, 2009 at 5:00 pm | Reply

Jihad tidak musti dalam berhadapan, jihad bisa dilakukan dimana disitu ada lahan jihad. Jihad juga bukan saja dengan mengantar nyawa tapi dgn mendidik anak bangsa diarahkan ke religi juga termasuk jihad. Negara ini sudah hancur dgn kebohongan2 yg dilakukan dgn pejabatnya, sy yakin sebentar lagi Allah swt. akan menurunkan ajabnya yg cukup luar biasa. Banyaknya rekayasa disana sini baik yg dilakukan aparaat apalagi SBY yg melakukan manover politiknya luar biasa dgn kelemah lembutannya mampu nglabui masyarakt ini. Mudah2an nglabuinya utk kebaikan bangsanya. Dira Says: Jihad bukan memerangi secara fisik, namun jihad adalah memerangi hawa nafsu yang ada dalam diri kita sendiri, muslim Says: lumayan juga ….Jorge Says: HI CHAIDIR ! IT’S JUST A KIDING TOO ??arie Says: “”BASMI TERORIS SAMPAI AKAR AKARNYA”"biar negeri ini aman dari benjana bom.hanya org2 tolol dan “BLOOk<<<ON jihat spt itu.jihat adalah memerangi hawa nafsu kita sendiri.dan jgn lakukan kejahatan pd siapapun dan apapun""""arie Says: “SESUNGGUHNYA ISLAM “cinta damai jgn di kotori jihat spt itu,mengebom,atau membunuh sesama manusia,.INI INDONESIA NEGARA HUKUM” BUKAN NEGARA ISLAM SPT TIMUR TENGAH”"KLO INGIN JD SPT OSAMA BIN LADEN SEBAIKNYA “”ANGKAT KAKI DARI BUMI INDONESIA”"DAN JGN PRNH DATANG LG KE INDONESIA”’burhaq Says: sepertinya yang anda ceritakan kisah fiksi, yang tidak pernah terjadi…. hanya ilusi buatan anda sendiriArif Salomo Says: Pantasan saja teroris NMT ga bisa ditangkep. Lha wong pelindungnya banyak…ihsan Says: ngamalan Islam yang benar adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Memahami Al-Qur’ad dan As-Sunnah yang benar, haruslah sesuai dengan apa yang dipahami serta dipraktekkan oleh Rasulullah SAW, Para Sahabat, serta para Salafussoleh.Sangat disayangkan jika kelompok Jamaah Islamiyah yang telah disebutkan diatas menafsirkan Jihad dalam konteks yang sangat sempit, tidak mempunyai dalil, contoh, serta sumber yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat.Melakukan aksi bunuh diri, jelas merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Apalagi sampai melakukan aksi teror, pengeboman, serta pengrusakan yang tidak mempunyai manfaat dan kemaslahatan sama sekali.Adapun pembagian Islam menjadi tiga kategori itu tidaklah tepat. Apalagi dengan menyebutkan bahwa Islam Radikal itu kuat dalam beragama. Radikalisme tersebut tidak lain hanyalah semangat menggebu-gebu yang menginginkan tercapainya tujuan tertentu, tanpa didasari ilmu dan pehaman Islam yang syar’i. sadiq bagess

Says: chaider is the best men in the word..good bless you.doremi Says: ini wacana,hanya kita sendiri harus bisa memahami agama dg lebih baik dan benar. jangan mudah terpengaruh.. lebih baik berdasarkan pancasila..bukankah didalamnya ada berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.. shilo Says: ahh,Teroris kelihatannya msh bisa bernafas panjang, Ternyata masih banyak org yg tidak mencintai negara dan bangsanya bahkan sdr muslimnya (yg akan jadi korban berikutnya). Org jiran diberi kemudahan menghancurkan negara dan bangsa ini hanya dng alasan paham yg sama. Ingat! si nordin pnya misi ganda, menghancurkan dan mengadu domba bangsa ini lewat kedok islam. Golongan mereka menghujat pemerintah tapi mereka sendiri menebar teror, yg membuat rakyat kecil yg notabene kaum muslim makin sengsara n terpuruk krn dampaknya. Hanya Allah yg berhak menentukan SURGA ini dihuni siapa, bukan nurdin yg sok punya aset bidadari banyak. Allah maha adil dan Maha Tahu. yang saya tahu (sbg org awam dlm islam) Islam itu Indah dan sangat mengasihi, Teduh dan Damai. Allahu Akbar!!! big enemy of fu*king Terorist Says: Sedih….Inikah negaraku saat ini,, dimana – mana dengki, dendam, dan rasa permusuhan bertebaran… Mereka (para teroris) sudah tersesat oleh pemahaman yang salah ttg islam yang sesungguhnya,, Jauh sebelum islam masuk ke Indonesia,, nenek moyang kita hidup damai berdampingan,, kenapa sekarang malah seperti i…..TANYA KANAPA???? ihan Says: Al- Chaidar : Penelitian itu harus berdasarkan kebenaran bukan berdasar pemahaman, anda mambagi islam dalam tiga bagian : NU,Muhamadiyah dan islam sempalan , itukan berdasarkan pemahaman anda bukan berdasarkan kebenaranya. Jadi anda disini berusaha untuk membenarkan pemahaman anda sendiri berdasar pengalaman anda dengan “teman-teman” anda. Ingatlah agama (pemahaman) seseorang itu bisa dilihat dari siapa temanya, jika anda mengatakan -saya berteman dengan siapa saja- berarti anda telah mencampuradukan agama.heheheheh Says: salam menurut pengetahuan saya islam adalah dien(aturan) dan aturan itu harus diterapkan dalam semua aspek kehidupan sadar lah ya akhi semuariski Says: Simpel adja, kelompok noordin membelokkan ajaran islam dengan mengarang pahala dan sebagainya. Bukti: ketika digrebeg densus88 dan tewas, dia takut mati (tidak membom dirinya sendiri) –>Tikus pengecut dengan twisted mind.Mamat Says: itu sendiri…T_T?mari kita tunjukkan bahwa Islam iti cinta damai. Mamat Says: Islam adalah Rahmatan lil’alamin,untuk semua umat manusia di dunia,kenapa Islam dikotori oleh orang islam itu sendiri…T_T?mari kita tunjukkan bahwa Islam itu cinta damai. jessi Says: ya……..? akhirnya.. siapa bidadari yang NMT dapati….? ya istri2nya yang pernah dinikahi itu.mereka itu bidadri yang kena tipu daya pak de nordinrofiq Says: Paling sopan, paling jujur, paling bagus, paling perhatian itu memang bergaul dengan manusia yang dianggap teroris sekarang ini. sy jg punya pengalaman sama dg mas Al Chaidar. menurut saya, mereka itu lebih menghargai diri kita dari pada orang yg tdk taat beragama. mereka itu justru menjadi rahmat, nyaman bagi orang sekitarnya. silahkan bergaul dengan mereka. silahkan sholat berjama’ah bersama mereka, lihatlah kepribadian mereka dari dekat.muslim Says: Dalam sejarah Nabi, tidak ada yang jihad untuk menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri dari serangan dan ancaman penyerangan pihak musuh, ini jihad tidak hanya menyerang kaum musyrik, tapi juga oang muslim jadi korban, gimana penafsiran

jihadnya .. ini juga menyakiti perasaan muslim lainnya se-Indonesia yang tidak sepaham, gimana pertanggung jawaban di akhirat kelak? Taruno Bumi Says: Rasul mengajarkan kita untuk mengasihi satu sama lain bahkan beliau tidak pernah menyakiti orang lain. bahkan dari hadith soheh di sebutkan bahwa rosul selalu mendoakan agar Allah memberikan hidayah dan ampunan kepada setiap orang yang menyakiti rosul. maka jelas Islam selalu mengajarkan kebaikan, nah apabila saat ini ada yang menggunakan Islam untuk kemunkaran maka janganlah menyalahkan agama tapi salahkanlah orangnya. ada orang Islam yang jadi perampok namun banyak juga orang Islam yang jadi penderma, banyak orang non muslim yang jadi penderma namun juga ada yang jadi perampok, yang jadi teroris juga ada maka mari hindari SARA, karena setiap agama pasti mengajarkan kebaikan.Fauzi Says: Islam Hanya satu…yang lain…….saya tdk tahu…NEGARA ISLAM INDONESIA ATAUKAH NEGARA PANTJASILA STATEMEMT PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA

Pilihlah: NEGARA ISLAM INDONESIA ATAUKAH NEGARA PANTJASILA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Assalmu ‘alaikum w.w., Alhamdu lillah wasjsjukru lillah! Allahu Akbar! Segala pudji hanja wadjib dipersembahkan kepada Dia, Dzat Maha-Tunggal, Maha-Murah dan Maha-Asih, jang telah berkenan membuka djalan, lapang dan kesempatan kepada sekalian hamba-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja semata, djihad-berperang pada djalan-Nja, guna memuliakan Kalimat-Nja (Agama-Nja, Islam), guna keselamatan Ummat bangsa manusia serta segenap peri kemanusiaan, istimewa bagi keselamatan mereka, jang sengadja hendak tha’at sepenuhnja kepada perintah2 Allah dan mentjontoh perdjalanan Rasulullah Clm. Sungguh tugas-wadjib muthlak langsung daripada Allah itu maha-berat, tapi maha-sutji. Semoga Ia berkenan memperlindungi dan memelihara sekalian Mudjahidin daripda pelbagai matjam goda dan tjoba, jang manis maupun jang pahit, daripada sjak dan raba2, daripada ingkar dan dosa, dan berkenanlah kiranja Ia menuntun dan membim-bingnja ke arah Mardlotillah sedjati, ialah udjungnja maksud dan tudjuan manusia, jang sehat pikirannja dan terbuka mata hatinja. Kemudian daripada itu, berkenanlah kiranja Ia mentjurahkan sebesar2 kedjajaan dan kemenangan kepada seluruh Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, ialah sjarat muthlak untuk mendekati dan mentjapai kekuasaan Islam (ad-Daulatul-Islamiyah), satu2nja djembatan

mas jang akan membawa ummat manusia ke dalam Keradjaan Allah di dunia, dimana berlaku Hukum2-Nja (Islam) dengan sempurnanja. Insja Allah. Amin. Hatta, maka pada tanggal 10 November 193 jang baru lalu, jang lazim dinamakan “hari pahlawan”, maka presiden RIK Karno mengambil kesempatan, untuk memun-tahkan segenap isi perut dan hatinja, menarik urat lehernja sekuat2 dan sekeras2nja, menjerang Negara Islam Indonesia habis2an, dalam pidato berapi-api jang meluntjur daripada mulut djahannam berbisa (beratjun), di depan rapat tertutup dalam lingkungan terbatas, bertempat di hotel “Dana” Surakarta (Solo), dihadiri oleh kurang lebih 600 orang penonton dan pendengar jang “terpilih”, terdiri daripada pemimpin2 dan pengikut2 pantjasila, prija dan wanita. Pidato beratjun itu diutjapkkan kurang lebih dalam waktu 100 menit; sedang 90 menit daripadanja dipergunakan untuk melantjarkan serangan kepada Negara Islam Indonesia, dengan mengemukakan beberapa bagian daripada Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, tentang “Sambutan atas Perma’luman Perang resmi dari Republik Indonesia Komunis kepada Negara Islam Indonesia”; ialah sebuah Statement Pemerintah N.I.I., jang menggerakkan dan membangunkan bulu-roma Karno serta kawan2 sekomplotnja, mengganggu urat-sjarafnja, serta mengiris2, menusuk2 dan membelah djantung hatinja. Kali ini Karno selaku pentjipta “ideologi” pantjasila dan presiden negara pantjasila, menumpahkan segenap tenaga dan pribadinja, membela mempertahankan mati-matian “ideologi” dan negara djahiliyah tersebut. Dalam hubungan ini, perlulah ditjatat, bahwa dalam sedjarah perdjuangan Indonesia, terutama sedjak revolusi nasional berkobar, baru kali inilah Karno berbuat serupa itu, melakukan pembelaan mati-matian atas negara djahiliyah (RIK), jang kini praktis sudah mendjadi “negara komunis”, beserta kabinet merah Ali-Wongso. Berkat pidato abu djahal jang meluap2 dan membakar2, penuh dengan ghodzob, sjahwat dan nafsu durhaka itu, maka setiap manusia di Indonesia —bahkan djuga hingga di luar negeri—, mendengar dan menjaksikan, tahu dan jakin: “Bahwa di Indonesia telah sedjak lama berdiri sebuah negara, bernamakan Negara Islam Indonesia, diproklamirkan pada tanggal 7 Agustus 1949, oleh Imam N.I.I. - S.M. Kartosoewirjo, atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia (U.I.B.I.); ialah hak2 asasy U.I.B.I.; tjurahkan kurnia Ilahy jang maha-besar atas U.I.B.I.; satu idzin dan perkenan Allah, jang berwudjudkan inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada harapan, du’a, tekad dan ‘amal-usaha perdjuangan U.I.B.I.; satu hak sutji U.I.B.I., jang tidak hanja patut, harus dan wadjib dihargai oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap2 bangsa di seluruh dunia”. Bandingkanlah dengan Manifest Politik N.I.I. Nomer V/7, 7 Agustus 1952, Heru Tjokro bersabda: “Indonesia, kini dan kelak”, Lampiran 4, angka 8, huruf a. dan b.! Serangan tadjam dan pedas, ganas dan kedjam, membabi-buta dan membuta-tuli, jang dilantjarkan oleh Karno itu berwudjudkan “anti-propaganda” terhadap kepada N.I.I., noda terhadap kesutjian Agama Allah (Islam), dan satu ketjaman serta pukulan jang hebat-dahsjat atas seluruh Ummat Islam, terutama atas mereka, jang sengadja hendak atau lagi melaksanakan tugas Ilahy muthlak, tugas maha-sutji: menggalang dan mendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Bagi kami beserta kawan2 seperdjuangan dengan kami, pudji (dari kawan) atau tjela (dari

lawan), sepakat atau bantahan, propaganda “pro” (positif, konstruktif) atau “contra” (negatif, destruktif), tidaklah sedikitpun mengherankan, karena semuanja itu adalah barang sesuatu jang lazim berlaku di ‘alam mumkin ini. Disamping itu, tiap orang harus mengakui, bahwa “propaganda tetaplah propaganda”, walau keluar daripada mulut anak-tjutju iblis dan sahabat dadjdjal la’natullah sekalipun! Alhamdulillah! Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7 tersebut —laksana panah Tjokro jang telah dilepaskan kearah musuhnja, musuh2 Islam, musuh2 N.I.I., dan musuh2 Allah beserta Rasul-Nja— tepatlah mengenai sasaran jang dibidiknja; menimbulkan reaksi dalam djiwa (psychische reactie), pikiran dan pribadi Karno. Maka karenanja, tampaklah dengan djelas dan terang, djiwa rendah ta’ berbudi, djiwa sakit jang didjangkiti oleh sifat2 “inferieur” (hina), penuh dengan apa jang disebut “negatieve complexen)”. Karno tidak lagi tenang, tidak pandai menguasai dirinja, ta’ tjakap mengekang mulutnja, dan jang lebih djahat lagi ialah, dengan tjurang dan serongnja ia sudah tjoba2 membelokkan dan memutar-balikkan sual, seakan2 hendak “membalik timur mendjadi barat”, memutar-balikkan kebenaran dan ke’adilan mendjadi salah, keliru dan sesat. Tetapi setinggi2 bangau terbang, djatuhnja pun Ke tanah djua, dan sepandai2nja iblis bersilat dan berchianat, ta’ pandailah ia menjuramkan dan memadamkan tjahaja Kebe-naran dan Ke’adilan Allah; ta’ tjakap membasmi kesutjian Agama “Allah, Islam; dan ta’ kuasa pula menghantjurkan Keradjaan Allah, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, jang memang dilahirkannja hanjalah karena Kehendak dan Kekuasaan-Nja, karena tolong dan kuria-Nja belaka, bagi U.I.B.I. dan segenap manusia, jang hidup di bumi-Allah Indonesia. Meskipun tidak patutlah kiranja kita berterima kasih kepada Karno dan kawan2 sekomplotnja, atas pidatonja jang penuh dengan fitnah, dengki dan hasud itu, tetapi setiap orang harus mengakui, bahwa dengan utjapannja pidato djahannam itu, maka ada dan berdirinja N.I.I. dinjatakan dan diakui dengan resmi sebagai suatu kenjataan, satu “fait accompli”, jang ta’ dapat dibantah atau disangkal oleh siapapun djuga. Dan lebih djauh, boleh dianggap sebagai landjutan dan penguatan atas pidatonja pada tanggal 17 Agustus 1953 jang baru lalu. Lepas daripada niat, hadjat dan harapan djahat Karno sendiri. Oleh sebab itu, baiklah kita membanjak2an tahmid dan sjukur kehadlirat Ilahy, ialah Dzat Maha-Kuasa, Jang menitahkan dan memerintahkan kita sekalian, kaum Mudjahidin seluruhnja, mengenjahkan pantjasila dan menghantjur — binasakan negara Pantjasila, beserta segenap pengikut2nja: Alhamdulillah wasjsjukru lillah. Adapun Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VIII/7 ini ditudjukan kepada hadjat untuk: A. Menolak dan membalas serangan dari Karno atas N.I.I.; Islam dan U.I.B.I.; satu wadjib sutji muthlak, jang ditugaskan dan dipertanggung-djawabkan atas pundak setiap Mudjahid penggalang N.K.A., N.I.I.; B. Menjangkal tuduhan2 Karno atas N.I.I.; dan menundukkan sual pada tempat (pro-porsi) jang sewadjarnja; bagi mentjegah anak-tjutju iblis la’natullah terus-menerus melakukan perbuatan chijanatnja, mengabui mata ra’jat, masjarakat dan dunia, memikat hati dan membelokkan perdjalanan (perdjuangan) Ummat Islam dalam menunaikan tugasnja jang maha-sutji, ialah tugas Ilahy jang tidak dapat ditawar2 dan tidak tergantung kepada kata

sepakat atau penolakan dari siapapun djua; C. Membela dan memelihara kesutjian Agama Allah, Islam; D. Mempertahankan dan menjentausakan Kedaulatan Negara Islam Indonesia; dan E. Membela hak2 asasy Ummat Islam Bangsa Indonesia; ialah tugas-wadjib jang diletak-kan Allah atas setiap Mudjahid, jang sengadja hendak membina dan mendlohirkan Kebenaran dan Ke’adilan Allah, Keradjaan Allah, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dipermukaan bumi-Allah, Indonesia. Dengan ini, tidaklah bererti, bahwa tiap2 kata Karno akan kami persalahkan. Tidak, sekali2 tidak! Kami tidak sanggup mengikuti tjara Karno dan kawan2 sekomplotnja berpikir, berbuat dan bertindak. Kami akan menaruh setiap sual pada ukuran jang sebenarnja dan memberi timbangan jang se’adil2nja, berdasarkan atas keadaan jang sewadjarnja, dan sesuai dengan adjaran Agama Islam jang sutji, tidak terombang-ambing oleh purba-sangka jang menjebabkan timbulnja penglihatan jang kabur, samar2 dan mengelirukan. Semoga Statement ini memadai hadjat dan memenuhi keperluan dan kepenti-ngannja, bagi menampakkan Sji’arul-Islam, bagi mendjaga dan memelihara kesutjian Islam, bagi mempertahankan dan menjentausakan Kedaulatan N.I.I., dan bagi memper-kokoh hak2 asasy U.I.B.I. djua adanja. Insja Allah. Amin. Dengan karena tjurahan Hidajatullah dan Hidajatuttaufiq semata. A. Sesuai dengan ‘adat-kebiasaan Karno, maka hampir dalam tiap2 pidatonja, jang diutjapkan di depan Ummat Islam/Pemimpin2 Islam, selalu ia menondjol-nondjolkan dan melagaklagakkan dirinja, dengan pernjataan2: “Saja Muslim! Saja Muslim!.........”, seberapa kalipun dianggap perlu olehnja. Kali ini di Solo ia berkata pula jang demikian, dan ditambah dengan “aku tahu fiqih Islam.....!!!” B. Utjapan “anak2” serupa itu, hanjalah boleh keluar daripada mulut seorang mu’allaf (baru masuk Islam) jang hendak “minta2” (mengemis2), mengharap-harapkan belas-kasihan sesama machluk; ingin dipertjaja, dianggap dan diperlakukan sebagai Muslim; ingin menampakkan dirinja sebagai “Muslim sedjati”; sifat dan perbuatan rija’, sombong dan takabbur, jang tidak patut mendjadi hiasan djiwanja seseorang jang menamakan dirinja “Muslim”. Bahkan, lebih dari itu, utjapan2 serupa itu adalah kata2 “nifaq”, jang hanja dimiliki oleh kaum munafiqin, satu golongan manusia dalam lingkungan Islam, jang lebih djahat dan lebih berbahaja, dibandingkan dengan kafirin biasa atau kafirin harbi sekalipun. Tjobalah kita udji “pengakuan Karno” itu menurut dan berdasarkan bukti2 jang njata: 1. Karno adalah pentjipta dan pembela mati2an pantjasila dan negar pantjasila (djahiliyah); dan ia menundjukkan sikap dan pendirian anti-N.I.I., menghalang2i berlakunja Hukum2 Allah (Islam), dan membelokkan perdjalanan Ummat Islam daripada garis2 sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Clm. Inikah buktinja “pengakuan Muslim Karno” itu? 2. Orang boleh berkata: Karno dan kawan2nja suka sembahjang Djum’ah, hari-raja, membuat pidato2 di mesdjid, ikut merajakan nuzulul-Qur’an, Isra’ dan Mi’radj Rasulullah clm., Maulidin-Nabi dan seterusnja, apakah itu semuanja bukan tanda2 (bukti) ke-Islam-annja? Kami mendjawab: Tidak! sekali lagi, tidak!

Tjobalah buka lembaran sedjarah Islam! a) Tidakkah Abdullah bin Ubay, pemimpin munafiqin jang termasjhur tapi terku-tuk itu, berbuat lebih daripada apa jang diperbuat oleh Karno? Bahkan ia mengasuh dan memimpin Ummat, berlaku dan berbuat seakan2 lebih daripada Muslim biasa. Tetapi toch ia adalah seorang munafiq, bahkan seorang pemimpin munafiq jang ulung, jang karena perbuatannja jang “tam-paknja” baik itu, mendjauhkan ummat manusia daripada bakti kepada Allah. Semuanja ini tidak hanja tampak pada lidah dan hatinja jang “bertja-bang dua” —ular kepala dua—, melainkan kemudian pun disaksikan pula dengan bukti2 jang njata. b) Herankah kita, djika Abu-Lahab dan Abu-Djahal djuga pergi menghadap kiblat (Ka’batullah), djika ia hendak berangkat perang atau melakukan sesuatu perbuatan jang penting? Ia pergi ke Ka’bah bukan untuk menjembah Allah, melainkan untuk memudja berhala2nja. c) Dengan keterangan singkat di atas, herankah kita, djika Karno pidato di de-pan kaum Muslimin, di mesdjid2 atau tempat sutji lainnja, dimana ia mela-gak2kan dirinja sebagai “Muslim, pembela Agama dlls.”? 3. Wal-hasil, segala perbuatan kaum munafiqin dimaksudkan untuk menipu dan memperdajakan kaum Muslimin, dengan kedok Islam (pulasan) dan tingkah laku ke-Islam-an (jang dibuat2, diatur2, supaja dapat menarik kepercajaan orang). ‘Akibatnja: Semangat perdjuangan Islam mendjadi lemah; potensi Ummat Islam mendjadi kurang atau habis-ledis; dan makin lama Ummat Islam makin mendjauhkan diri daripada adjaran2 sutji, ingkar daripada tuntunan Ilahy dan Sunnah Nabi Besar Clm. Tjobalah djeladjah utjapan Karno di mesdjid Solo, pada tanggal 13 Nopember jang lalu, dimana ia a.l.l. mengatakan “supaja Ummat Islam djangan fanatik, djangan sentiment..”, karena ia tahu dan jakin, bahwa djika Ummat Islam sungguh2 dan tepat melaksanakan tugas Ilahy dengan sempurnanja, sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Clm. —jang lazim dinamakan “fanatik” atau “sentiment” itu —, maka semuanja itu akan menatidjahkan di kuburnja negara pantjasila, hantjur-binasanja komunisme dan marhainisme jang dipudja-pudjinja, dan musnahnja segenap penjakit, bentjana dan bahaja dunia jang lainnja. Dalam hubungan ini, tidak diketjualikan orang2 jang dipertempatkan oleh negara pantjasila dalam apa jang dinamakan kementerian “agama” (pantjasila), djawatan2 atau kantor2 “agama”, ialah sarang2 pengchianat Islam, Ummat Islam dan Negara Islam Indonesia. Dengan kedok “Islam” mereka mentjoba berdaja-upaja, untuk memper-pantja-sila-kan Islam dan Ummat Islam, memper-sjirik-kan Islam dengan “kepertjajaan djahiliyah”, suatu dosa terbesar ‘indallah wa ‘indannas, jang tiada ampunan Allah atasnja. Na’udzu billahi min dzalik! 4. Kembali kepada “pengakuan Karno”, bahwa ia “mahir dalam fiqih Islam”, dengan ma’na dan maksud: “mengetahui dan mengerti akan fiqih perang, hukum Islam dimasa Perang”. Tjobalah kita udji “pengakuan Karno” itu dengan satu pertanjaan: “Mengapa Karno membela pantjasila, negara pantjasila, komunisme Indonesia, marhainisme, jang bererti “djihad fi sabilith-thaghut”, dan sebaliknja, ia menen-tang N.I.I. dengan sekuat tenaganja dan memeranginja, ialah “djihad fi sabilillah” (djihad membela Agama Allah-Islam),

mempertahankan kedaulatan Negara Kurnia Allah, dan memperkokoh hak2 asasy U.I.B.I.??” “Mengapa ia lebih suka membela kekufuran dan kemusjrikan daripada membela Islam???” Dengan keterangan singkat tersebut di atas, njatalah sudah, bahwa “pengakuan Karno” itu bohonglah semata2, bertentangan dengan bukti kenjataan jang sesung-guhnja, tegasnja: Karno beserta kawan2 sekomplot dengan dia, adalah termasuk golongan “munafiqin sedjati”, ialah golongan jang amat berbahaja bagi ummat manusia di Indonesia, terutama bagi U.I.B.I., jang berhadjat melaksanakan tugasnja jang maha-sutji: menggalang dan mendukung N.K.A., N.I.I.! Harap ditjatat baik2! 5. A. I. Huda adalah wakilnja Kartosoewirjo, atau dengan kata lain: Kuasa-Usaha K.T. A.P.N.I.I. I. Huda adalah wakilnja Imam N.I.I./ Plm.T. A.P.N.I.I.—S.M. Kartosoewirjo. Demikian Karno. Oleh sebab itu, maka Karno menganggap Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, jang ditanda-tangani oleh K.U.K.T.-- I. Huda, 100% resmi, seperti djuga djika Statement tersebut ditanda-tangani oleh Imam N.I.I./ Plm. T. A.P.N.I.I. sendiri. Itulah kiranja jang menjebabkan, maka Karno sendiri selaku presiden negara pantjasila merasa perlu untuk menjambut atau membalasnja. B. Pernjataan Karno ini betul, meski tidak 100%. Pendjelasan dan keterangan seka-darnja adalah sebagai berikut: 1) Dalam triwulan kedua tahun 1952, maka Imam N.I.I./ Plm. T. APNII bertolak dari Indonesia, melawat keluar negeri, bagi kepentingan NII. 2) Beberapa hari sebelumnja, maka beliau telah menjampaikan amanat2 tertulis bagi/kepada masing2 Anggauta KT APNII (dulu: Dewan Imamah), dianta-ranja djuga kepada Anggauta KT-I. Huda, jang menerima surat-kuasa untuk menguruskan dan menjelesaikan beberapa hal jang chusus, politis dan militer, baik interinsuler maupun internasional, atas nama atau selaku K.T. A.P.N.I.I. —wakil muthlak— atau/dan atas nama Plm.T. APNII, bagi kepentingan Islam, N.I.I. dan U.I.B.I. Djadi, ma’na dan nilai kata2 “kuasa-usaha” di sini berbeda dan berlainan de-ngan istilah jang lazim dipakai, untuk menundjukkan sebuah perwakilan sesuatu negara di luar negeri, tingkatan bawah. 3) Maka pantaslah, bahwa —setelah Karno membatjakan sebagian daripada surat Plm. T. APNII— Kartosoewirjo, No. 694/KU/52, bertarich 9 April 1952, djam 10.00 — ia berpendapat, bahwa I. Huda adalah wakilnja Karto-soewirjo, atau dengan kata2 lain: K.U.-K.T.- I. Huda adalah wakilnja Imam NII/ Plm.T. APNII. 4) Tugas serupa ini, jang diberikan kepada tiap2 Anggauta KT APNII, termasuk djuga Kepala Staf ‘Umum (K.S.U.), berachir di sa’at Imam NII/ Plm.T. APNII telah tiba kembali di Indonesia, atau sewaktu2 bila beliau mentjabutnja. 5) Oleh sebab itu, maka selama masa tersebut tiap2 Ma’lumat, Statement, Manifest Politik atau Siaran lainnja, jang dikeluarkan dan ditanda-tangani oleh salah seorang Anggauta KT. APNII atau KSU APNII, mempunjai sifat resmi, jang formil dan sepandjang hukum, berkekuatan sama dengan Ma’lumat, Statement, Manifest Politik dan Siaran2 lainnja, jang ditanda-tangani oleh Imam NII/ Plm.T. APNII sendiri.

Hendaklah tiap2 jang bersangkutan mengetahui djua adanja. 6. A. Karno pura2 tidak mengerti dan tidak tahu, mengapakah Kartosoewirjo men-dirikan negara (baru), memproklamasikan berdirinja Negara Islam Indonesia. Dan Proklamasi N.I.I. tersebut belum pernah ditjabut. Demikian Karno. B. Sekali lagi, kami ingin mempersilahkan kepada setiap pembatja jang ‘arif-budi-man, periksalah: 1) Teks Proklamasi N.I.I., 7 Agusuts 1949, beserta Pendjelasan Singkat atasnja! Ditanda-tangani oleh Imam N.I.I.—S.M. Kartosoewirjo. 2) Manifest Politik N.I.I. Nomer I/7, tentang “Wadjib berdirinja N.I.I.”, 26 Agustus 1949, hampir 20 hari kemudian daripada Proklamasi berdirinja N.I.I. Ditanda-tangai oleh Imam NIIS.M. Kartosoewirjo. 3) Statement Pemerintah N.I.I. Nomer IV/7, 7 September 1950, angka 8, Ditanda-tangani oleh Imam NII —S.M. Kartosoewirjo. 4) Dan selandjutnja, Manifest Politik NII Nomer V/7, 7 Agustus 1952, ditanda-tangani oleh K.U.-K.T.—I. Huda, Heru Tjokro bersabda “Indonesia, kini dan kelak”, dimana a.l.l. dinjatakan: a) Di tengah2 api revolusi, diachir kesudahan Perang Segi Tiga pertama, dimasa vacuum, dikala Indonesia kosong daripada pemerintahan, disa’at itulah Allah berkenan mentjurahkan kurniaNja jang maha-besar;....... Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia”. (Bab VII, angka 1) b) Dan hakikatnja Proklamasi NII ialah: I. Kurnia Allah atas U.I.B.I.; II. Inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, du’a, tekad dan ‘amal-perbuatan U.I.B.I.; dan III. Hak sutji, hak asasy U.I.B.I. Sekianlah pendjelasan singkat atas pernjataan dan pertanjaan Karno, “mengapa Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinja NII”. Hanja orang2 dan golongan2 jang berotak udang, berhati djahil, berniat chijanat, dan sengadja menolak kebe-naran dan kenjataanlah, jang akan tidak suka dan tidak dapat mengerti dan mem-fahami keterangan ini. Memang pantjasila “an sich” (hakikatnja pantjasila) mendjadi hidjab, menutup djalan kebenaran dan kenjataan, dan menolak seruan sutji, seruan Ilahy. Adapun jang mengenai pernjataan Karno, bahwa “Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia belum pernah ditjabut” —tegasnja: tetap dipertahankan—, memang benar. 7. A. Karno tjoba2 menjangkal kebenaran riwajat, dengan kata2 “bahwa perdjuangan nasional belum pernah kandas dan gagal”. B. Di bawah ini kami berikutkan beberapa tjatatan riwajat: 1) Pertengahan 1949 : Statement Rum-Royen. 2) 27 Desember 1949: Pemberian daulat hadiyah, dari Ratu Belanda Juliana kepada Pemimpin Ra’jat Indonesia Mohd. Hatta, jg. menerimanja atas nama Ra’jat Indonesia, bukan atas nama atau dengan nama R.I. (Djokja, jang sudah mati itu). Kata2 “overdracht” (dalam naskah K.M.B) = penjerahan = diterdjamahkan oleh pihak RIK mendjadi “pemulihan” (herstel = herstelling) atau “peng-akuan” (erkenning). Setiap orang jang

tahu akan bahasa asing, tentulah dapat menjaksikan dan mejakinkan akan sikap dan perbuatan sengadja serong dan tjurang dari pihak RIK, alias negara pantjasila itu! Komentar selandjutnja, kiranja tidak diperlukan. 3) Sebelum 27 Desember 1949, sa’at lahirnja R.I.S., belum ada pengakuan ke-daulatan Republik Indonesia dari pihak luar negeri. 4) RIS adalah telur K.M.B. (Round Table Conference). Bukan natidjah perang antara R.I. Djokja dan tentara pendudukan Belanda (KNIL dan KL), dan bukan pula hasil perdjuangan nasional, dengan tjatatan: a) Bahwa tentara RI (TRI, TNI, Kini: TRIK) tidaklah keluar dari gelanggang sebagai pemenang; bahkan selalu “mundur teratur”, membalik-belakang; dengan meninggalkan kawan2 seperdjuangan dengan mereka, ja’ni pihak Hizbullah dan Sabilillah, jang tetap tinggal/memang ditinggalkan digaris depan, mendjadi perisai, dengan resiko dan pertanggungan-djawab jang besar, kadang2 terpaksa mendjadi korban, petjah sebagai ratna, djatuh di medan bakti; dan b) Tentara pendudukan Belanda tidak kalah; hampir tiada seorang pun mendjadi korban, selainnja karena ketjelakaan lalu-lintas; tetapi korban Belanda jang terbesar terdjadi setelah berkobar revolusi Islam di Gunung Tjupu (17 Februari 1948) hingga penjerahan daulat hadiyah. 5) Bukti jang lebih terang dan tegas, bahwa penjerahan kedaulatan kepada RIS (Republik Indonesia Serikat), bukanlah hasil kemengan perang atau natidjah perdjuangan nasional, a.l.l. ialah: a) RIS harus membajar hutang/kerugian perang sedjumlah bermiljard2 rupiah Belanda. b) RIS dipaksakan mengakui dan mentha’ati Uni Indonesia-Belanda dan beberapa ketentuan K.M.B. lainnja, jang mengikat dan membatasi ke-daulatan RIS, sehingga karenanja merugikan kepada Ra’jat Indonesia. c) Mengeluarkan Irian-Barat dari wilajah Indonesia; dan d) Konsesi2 dan ketentuan2 mengenai ekonomi, keuangan, perdagangan, perusahaan dan lain2 sjarat hidupnja sesuatu negara, jang karenanja terang merugikan Ra’jat Indonesia djua. 6) Sementara itu, Proklamasi N.I.I. mendengung-dengung di seluruh nusantara Indonesia djuga diluar negeri: 7 Agustus 1949! Masihkah Karno belum mengerti, bahwa pada masa itu (7 Agustus 1949) perdjuangan nasional dengan pusat Djokja sudah kandas dan gagal ??? 8. A. Kartosoewirjo hanja suka berunding dengan dasar antara negara dengan negara, dimana tiap2 pihak harus mengirimkan wakilnja, jang sah dan berkekuasaan pe-nuh, untuk memutuskan sesuatu, atas nama negaranja. Sjarat2 ini saja tidak terima, kata Karno selandjutnja. B. Pada tanggal 17 Aagustus 1953, Karno telah menuduh dengan tjongkak dan sombongnja, bahwa pihak N.I.I. tidak suka mendengarkan kata2, “keblinger”, dst. Tetapi setelah ia membatja sambutan kita atas pidatonja tersebut di atas, sebagai-mana jang termaktub di dalam Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, maka ia membalik haluan, mentjabut tuduhannja jang semula, seperti jang inti-sarinja kami suntingkan

di atas. Adapun sikap dan pendirian Karno beserta pemerintah merah Ali-Wongso menolak sjarat2 perundingan jang dikemukakan oleh pihak N.I.I., adalah urusan mereka sendiri, dan tidaklah mendjadi tanggung-djawab kita, N.I.I. Segala resiko untung ataupun rugi, jang diderita oleh segenap ra’jat umumnja, adaalah akibat daripada sikap sombong, angkuh dan menolak dari pihak pantjasila, chusus pihak Karno dan kawan2nja beserta kabinet Ali-Wongso, dalam hubungan ini. Pihak N.I.I. sendiri tidak akan rugi atau dirugikan karenanja. Nilai dan harga daripada Negara Islam Indonesia adalah setinggi harga dan nilai Agama Allah, Agama Islam! Bukan barang sesuatu jang boleh ditawar oleh Karno dan kawan2nja maupun oleh kita sendiri!!! 9. A. Siapakah anak-tjutju iblis la’natullah? Dengan menghasut, dengan kata2 jang membakar2 hati dan semangat pen-dengar2nja, maka Karno berkata: bahwa D.I.-Kartosoewirjo (batja: N.I.I.) menuduh kepada para alim-’ulama djahilin, fasiqin, munafiqin, pembesar2 RIK sebagai anak-tjutju iblis la’natullah. B. Baiklah kami persilahkan sekali lahi meneliti Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, Bab V., angka 5., A.dan B., jang antara lain2 dituliskan sebagai berikut: 1) (Tudjuan) “Tiap pihak, golongan, party, organisasi, perhimpunan atau perseorangan, dengan tidak membedakan djenis, tingkatan, kedudukan, bangsa dan agama, kejakinan dan ideologi, dalam lingkungan RIK dan TRIK.” 2) “Barang siapa membantu, mengikuti, memihak dan membenarkan RIK dan TRIK, dengan tjara, bentuk dan sifat jang manapun djuga (lisan, tulisan, ‘amal-perbuatan dan lain2 sebagainja), maka mereka itu dianggap musuh NII, musuh Islam dan mush Allah;.......” 10. A. Disiplin negara pantjasila terlanggar atau sengadja dilanggar oleh D.I.—Karto-soewirjo, atau N.I.I., kata Karno. B. Sesunggunja hal ini tidak perlu diherankan. Karena N.I.I. dan R.I.K. adalah dua negara, jang kini lagi bermusuhan dan berperang. Langgar-melanggar antara satu pihak dengan jang lainnja, antara negara dan negara jang berperang, bukanlah barang ‘adjaib. Karno seakan2 tertjengang, djika disiplin negaranja, negara pantjasila dilanggar orang, padahal semuanja itu hanjalah merupakan serangan pembalasan belaka. Sebaliknja Karno akan menganggap biasa, djika tentara djahiliyahnja mengin-djak-indjak kedaulatan negara lain, melantjarkan agresi kepada negara lain, dan seterusnja. Bandingkanlah dengan keterangan dalam Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, Bab I, angka 3. Lebih landjut harus diketahui, bahwa hukum jang berlaku di negara pantjasila berbeda, berlainan dan bertentangan dengan hukum jang berlaku di Negara Islam Indonesia, tiada titik pertemuan antara kedua matjam hukum itu, laksana “bumi dengan langit”. Herankah kita, djika masing2 pihak mempunjai sikap dan pendirian, faham dan pendapat, filsafat dan haluan negara, jang satu sama lain bertikai ??? 11. A. Karno melihat bajangan malaikat-maut di depan matanja. Dalam pidatonja di Solo

tersebut di atas, selain membatjakan beberapa bagian daripada Statement Pemerintah N.I.I., ia pun membatjakan pula sebagian daripada surat Imam N.I.I./ Plm.T. APNII—S.M. Kartosoewirjo, jg. ditudjukan kepada K.U.K.T. I. Huda, berkenaan dengan terdjunnja seorang pedjuang sutji ke medan djihad, asal keturunan Belanda, Ch. H. Van Kleef namanja, jang antara lain2 adalah sebagai berikut: "Hendaklah Saudara suka memberi bantuan kepada Saudara Ch. H. Van Kleef, dimana perlu dan apapun jang diperlukannja, teristimewa sekali jang mengenai hubungan antara orang2 kita dengan orang2 Belanda di Indonesia, dan lebih djauh antara Negeri Belanda dan Negara Islam Indonesia.".......................................... a. Di dalam sual2 Interinsuler (terutama menghadapi Republik Indonesia dan Komunisme di Indonesia), banjaklah garis2 dan titik2 jang boleh membawa kedua belah pihak kesatu arah kerdja-sama jang kuat dan erat. b. Di dalam sual2 Internasional pun tampak pelbagai kepentingan antara kedua belah pihak, terutama djika dipandang daripada sudut kedudukan Indonesia, di tengah2 samudera Pasifik, dan kedudukan blok Anti Komunis meng-hadapi bahaja merah internasional. c. Oleh sebab itu, saja mendapat kesan dan berpendapat: “Djika kerdja-sama antara Bangsa Belanda di Indonesia dan Mudjahidin Indonesia dapat dilaksanakan —lebih djauh “mumkin” kelak antara Peme-rintah Belanda dengan Pemerintah Negara Islam Indonesia—, maka, Insja Allah, akan menimbulkan hasil jang baik dan memuaskan bagi kedua belah pihak, terutama mempertjepat proces perdjuangan kita dan mendekatkan kita kepada maksud dan tudjuan jang sutji”. B. Pendjelasan dan keterangan atasnja dari pihak kami, pihak N.I.I., adalah sebagai berikut: 1) Instruksi Plm.T. APNII-S.M. Kartosoewirjo kepada K.U.-K.T.- I.Huda tersebut, termaktub di dalam surat Nomer 694/KU/52, bertarich 9 April 1952, djam 10.00, beberapa hari sebelum beliau meninggalkan Indonesia, melawat keluar negeri. 2) Dalam surat instruksi tersebut, dinjatakan “garis2 politik luar negeri N.I.I.”, mengenai bangsa Belanda di Indonesia maupun “kemumkinan” hubungan dengan pemerintah Belanda, di masa depan. 3) Adakah haknja N.I.I. untuk menentukan garis politik luar negerinja sendiri, djuga menghadapi pemerintah Belanda dalam sual2 Irian-Barat dan lain2 jang meliputi kepentingan negara seluruhnja? Tentu! Dan pastilah dengan tidak menghendaki kata sepakat atau persetudjuan dari pihak negara pantjasila, musuhnja, bukan? Sedang mengenai sual2 sekitar Irian-Barat, N.I.I. pun telah mempunjai konsesi tersendiri. Lapi pula, “kemumkinan” hubungan ini diawali dengan kata2 “kalau”. Tetapi, Karno dengan pengikut2nja sudah berani lantjang mulut mengatakan, bahwa seakan2 “kemumkinan” dan “kalau” itu sudah mendjadi kenjataan, sedikitnja merupakan perdjandjian antara negara dengan negara (staats verdrag). Kalau bukan tersorong oleh hati hasud dan dendam, chijanat dan durhaka, tentulah ia (Karno) tidak akan berani memberi kata putus jang pasti, atas barang sesuatu jang ia sebenarnja tidak tahu.

Kalau Karno memang laki2 (djantan) —djangankan selaku pemimpin ra’jat jang tahu harga diri, atau lebih djauh sebagai presiden negara pantjasila, jang dianggap orang sebagai “lambang negranja”— tjobalah umumkan dan siarkan dokumentasi dan bukti2 jang njata (aunthentik), bahwa “Kartosoewirjo telah bersekutu dengan pihak atau pemerintah Belanda”!!! Hai Karno pengchianat dan pendjual negara dan agama! Tundjukkanlah ke-laki-laki-an-mu, kedjantananmu! Kami beri tempo (termijn) sampai achir tahun ini. Silahkan! Dan djika waktu diberikan kepadamu telah lampau, padahal kamu tidak dapat memberikan bukti2 jang njata, tidak berani menjiarkan dokumtasi, jang kamu anggap “authentik” itu, maka kamu akan ditjap oleh Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, sebagai pengchijanat bangsa dan negara, sebagai pendjual agama dan tukang obral berita2 bohong dan palsu, ialah benih2 bahaja dan bentjana bagi sesuatu negara dan masjarakat, jang hanja patut disiarkan oleh anak-tjutju iblis la’natullah! Belum terhitung sebagai musuh Islam, musuh N.I.I. dan musuh Allah! Tantangan kami kepada Karno ini, kami sudahi dengan kata2: “kalau kutjing bertanduk, Karno dapat membuktikan, bahwa Kartosoewirjo bersekutu dengan Belanda!” 4) Selandjutnja, kami ingin bertanja kepada Karno: a) Tahukah Karno dan pemerintah negara pantjasila akan hubungan antara N.I.I. dengan: I. Amerika Serikat; Australia; Inggris; dan lain2 negara, jang tergabung dalam apa jang dinamakan “Dunia Merdeka”? II. Saudy Arabia, Pakistan dan lain2 negara blok Islam? b) Kalau tahu, bolehlah siarkan! Kami menantikan! 5) Kembali kepada Karno sendiri dan negara pantjasila, kami ingin tanja pula: a) Tahukah atau ingatkah Karno apa jang dinamakan “perdjandjian Stikker-Hatta”, jang terdjadi di Bandung pada pertengahan tahun 1949??? b) Kalau kau tahu dan suka menjiarkannja, tentulah kau dan negaramu akan menanggung malu besar! Terutama akan menatidjahkan pemberontakan di kalangan kamu dan negaramu sendiri, tegasnja dalam lingkungan U.I.B.I. dalam kungkungan kekuasaan pantjasila, karena di dalam perdjan-djian Stikker-Hatta tsb., antara lain2 disebutkan: “Bahwa pihak R.I. (kini: R.I.K.) dengan karena kesanggupannya sendiri, minta bantuan alat sendjata kepada pihak Belanda, untuk menghantjurkan pihak N.I.I. dan membasmi Agama Islam”. Rentjana dan perdjandjian Stikker-Hatta ini sudah mendjadi kenjataan, bukan “kemungkinan”, jang diselenggarakannja sedjak Djanuari 1950, beberapa hari kemudian daripada penerimaan daulat hadiyah. Sedang pemberian bantuan sendjata dari pihak Belanda tersebut dimaktubkan didalam naskah K.M.B., seharga f 2.000.000,- (dua djuta rupiah Belanda). 6) Selandjutnja, kawan dan lawan, sudah pula tahu, “apa gerangan sebab dan dasarnja”, “maka kabinet merah Ali-Wongso, jang dibela mati2an oleh Karno, memaksakan negaranja mentjari dan mendapatkan hubungan dengan RRT (Peking), Sovjet Russia (Moskow) dan lain2 negara komunis.” Itu bukan “kemungkinan”, jang bukan pula “bila”, tetapi satu bukti jang njata.

Kami tidak heran, kalau RIK mentjari dan mendapatkan hubungan dengan negara2 komunis, dengan kedok (kamuflase) perdagangan, kebudajaan dan lain2 alasan palsu. Karena memang sudah sedjak lama RIK melepaskan “poli-tik bebas dan aktif”-nja, menjeberang dan berdiri disalah satu pihak, berdiri dipihak merah, pihak komunis, pihak penjebar bentjana dunia dan achirat! Oleh sebab itu, maka segala matjam ketjaman dan makian terhadap kepada “garis2 politik luar negeri” N.I.I. jang “notabene” masih dalam taraf “kemum-kinan” dan “kalau”, hanjalah untuk menutupi politik-merahnja negara pantjasila, dan kedjahatan2, jang sudah, lagi atau akan dilaksanakan. 7) Lebih djauh pernjataan2 Karno dalam hubungan ini menundjukkan: a). Bahwa ia telah melihat bajangan hantu disendja-hari, melihat bajangan malaikat pentjabut njawa di depan matanja; b). Bahwa “kemungkinan” dan “kalau” sudah tjukup menjadi alasan dan sebab bagi menggentarkan pantjasila, menakutkan Karno, mengganggu urat-sjarafnja. Sebab, “kalau” N.I.I. sungguh2 sudah memilih pihak, maka Karno dan negara pantajasilanja boleh “gantung diri”! 8) Dan achirnja, berkenaan dengan garis2 politik luar negeri N.I.I., maka dengan ini kami njatakan, bahwa segala sesuatu jang berkenaan dengan itu adalah tanggung-djawab N.I.I. sendiri, dan bukanlah tanggung-djawab RIK atau negara pantjasila! 12. A. Karno hendak membudjuk Kahar Mudzakkar (mestinja: Abdul-Qahhar Mudzak-kar!) dan Tgk. Muhammad Daud Beureu’eh, dengan utjapan kata2nja jang bera-tjun, dan alasannja jang palsu, serong dan tjurang, merupakan pertanjaan kepada kedua pemimpin N.I.I. itu, berganti2: “Masihkah Saudara tha’at dan simpati kepada Kartosoewirjo jang terang2an telah mengchianati Proklamasi 17 Agustus 1945, dan bersekutu dengan Belanda itu??” B. Tentang serong dan tjurangnja Karno, demikian pula tentang kepalsuan alasan2 jang dikemukakan, kiranja tiada pihak jang masih sehat ‘akalnja akan menjang-sikannja. Darah pengchianat mengalir dalam tubuh dan djantung iblis Karno. Tinggal kita tanjakan kepada ra’jat Indonesia dan Ummat Islam dalam lingkungan pantjasila dan dalam kungkungan dan genggaman kekuasaan pantjasila: Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno, jang (ingin) membawa kamu kearah neraka dunia dan achirat? Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno dan kawan2nja, jang terang2an berchi-janat kepada nusa dan bangsa Indonesia, serta agama Islam? Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno, jang terang2an pro-komunis 100%, anti-Islam, antiN.I.I., dan anti-Allah 100% itu? Inilah kartu terachir (laatste truf) jang dikeluarkan oleh Karno! Kalau dulu, zaman peristiwa-Madiun, Karno berani tjepat2 dan terang2an menga-takan: “Pilihlah: Muso atau Karno!”, maka kini agaknja ia ragu2. Kiranja lebih baik dan lebih manfa’at bagi Ra’jat Indonesia, djika Karno suka dan berani membuat “plebisit pribadi”, seperti jang dilakukan pada zaman Ma-diun di atas, sebagai

kelandjutan daripada pertanjaannja kepada Saudara2 Abdul-Qahhar Mudzakkar dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sementara “plebisit” jang sungguh2 dan sah sepandjang hukum belum dapat dilaksanakan —kini memang masih sepi daripada sjarat-rukun untuk membuat “plebisit” jang sah—, bolehlah disimpulkan dalam kata2: Pilihlah Karno atau Karto! Pilihlah pantjasila atau Islam! Pilihlah negara pantjasila atau Negara Islam Indonesia! Dengan tjara demikian, Insja Allah pada garis globalnja akan segera diperoleh kesimpulan benar atau salahnja “pengakuan dan pernjataan Karno”, bahwa 85% daripada Ra’jat Indonesia masih mengikuti “ideologi” pantjasila dan masih setia kepada pemerintah negara pantjasila; sedang jang 15% lagi —demikian kesan kami daripada pembitjaraan tersebut— masuk dalam lingkungan N.I.I. 13. A. Negara Islam Indonesia (D.I.-Kartosoewirjo, kata Karno) selalu menanti-nantikan petjahnja perang dunia ketiga, dimana mereka (NII) akan merebut kekuasaan (negara pantjasila) di seluruh Indonesia. N.I.I. berusaha akan menjeret Indonesia dalam kantjah perang dunia jang akan datang. Hal ini sangat berbahaja bagi politik bebas (latjur!) dan politik damai (komunis!) dari bangsa Indonesia (negara pantjasila!). Oleh sebab itu, maka N.I.I. adalah bahaja jang amat besar bagi R.I.K. jang datang dari dalam, jang karenanja harus segera dibasmi hingga akar2nja. B. Tentang taktik perdjuangan dan sijasat perang kita kiranja tidak perlu diperbin-tjangkan di sini. Sesungguhnja bukan hanja pihak N.I.I. sadja jang menanti2kan meletusnja perang dunia ketiga itu, dengan perhitungan jang tentu2, melainkan lebih2 lagi pihak komunis, jang pada masa itu ingin melaksanakan rentjananja, men-sovyet-kan Indonesia dan memper-komunis-kan ra’jatnja. Sebaliknja, RIK alias negara pantjasila, nistjajalah brepikir dan berpendapat sebaliknja. Dengan takut dan chawatir ia (RIK) melihat perkembangan dunia internasional sekarang ini, jang kian hari kian bertambah mendekati kepada putjuk krisis jang tertinggi. Lihatlah: berlomba2nja tiap2 negara (besar) dalam persendjataan jang amat berbahaja, jang boleh menjebabkan pembunuhan manusia setjara besar2an —atoom, hydrogeen dan lain2 sebagainja —! Belum peralihan, pergeseran dan gerakan militer, kesibukan politik dan diplo-masi, kesibukan dalam tiap2 lapangan lainnja, terutama dalam djurusan apa jang dikatakan “pertahanan bersama.” Inilah sa’at jang ditakuti oleh Karno dan kawan-kawan pengikutnja! Selain daripada itu, perbedaan kepentingan dan keperluan selaku negara menim-bulkan sikap dan pendirian jang berlainan dan berbalikkan antara N.I.I. dan RIK. Kalau RIK berpendapat, bahwa N.I.I. adalah “bahaja” bagi RIK, maka sebaliknja pun demikian pula: 1) pantjasila dan negaranja merupakan bahaja dan bentjana bagi N.I.I., Islam dan Ummat Islam di Indonesia; 2) adanja negara pantjasila di tengah2 ummat dan masjarakat Islam di Indonesia merupakan

“duri dalam daging”; 3) hidup dan berkembang-biaknja hantu2 merah di dalam hati, djantung dan darahnja negara dan pemerintah pantjasila, makin menambah besarnja bahaja dan bentjana jang mengantjam2 ra’jat dan Ummat Islam di Indonesia; dan seterusnja. Demikianlah selandjutnja, tentang tuduhan2 lainnja seperti “mengchianati proklamasi 17 Agustus 1945”, “musuh negara pantjasila kemerdekaan Indonesia” dan lain2 sebagainja, samalah halnja dengan apa jang tertera di atas. 14. Praktis “negara pantjasila” adalah “negara komunis”. Pendapat ini telah berkali2 dikemukakan oleh pihak N.I.I. Periksalah: Statement Pemerintah dan Manifest Politik N.I.I. jang bersangkutan! Dalam pidatonja pada 10 Nopember 1953 di atas, dengan tjara tidak langsung (indirect), Karno mengakui kebenaran pendapat kita itu. Di samping tjatji-makian dan tjertja-tjelaan jang diluntjurkan daripada mulutnja, maka Karno tidak melahirkan sepatah katapun, jang merupakan sangkalan dan ban-tahan atas pendapat kita itu. Bahkan sedjak lebih dari setahun jang lalu, ia edjah: R.I.K. = er-ie-ka = republik indonesia komunis. Pernjataan ini tidak hanja disaksikan oleh para pendengarnja, kawan dan lawan, di seluruh Indonesia, melainkan djuga diketahui dan ditjatat oleh pihak luar negeri, pihak internasional. Lebih2 lagi, bila kita menelilti “penindjauan, perkundjungan resmi atau tidak resmi” di beberapa bagian di Indonesia, jang dilakukan tidak hanja oleh duta2 atau duta2 besar luar negeri jang ada di Indonesia, melainkan djuga oleh politici penting luar negeri, seperti R. Nixon, Wakil Presiden Amerika Serikat, Mac. Donald, Komisaris Djenderal Inggris di Asia-Tenggara dan lain2 lagi. Masihkah ada manusia jang sjak, bahwa “negara pantjasila” kini praktis sudah berwudjudkan “negara komunis”? 15. Karno membuat demarkasi politik dan ideologi. Dengan pidatonja jang menggelora itu, maka Karno telah membuat dan meletakkan demarkasi politik dan demarkasi ideologi, walaupun di sana-sini masiih diselubungi dengan kata2 jang halus, tapi tjukup dimengerti oleh tiap manusia jang agak sehat dan tjerdas pikirannja. Dengan ini, maka tampaklah dengan djelas dan terang: 1) djurang jang tjuram-dalam, jang memisahkan antara pihak Negara Islam Indonesia dan negara pantjasila. 2) garis pemisah antara golongan jang pro-komunis dan antii-komunis, dalam ka-langan ra’jat dan Ummat Islam di dalam lingkungan negara pantjasila; 3) perpetjahan besar dan ketjil, jang terdjadi di dalam tiap2 lapisan masjarakat Indonesia, tidak terketjuali dalam lingkungan Islam. Adapun sambutan kita atasnja dengan ringkasan: “Bagimu pantjasilamu, dan bagi kami Islam kami!” Bagimu negara djahiliyahmu, dan bagi kami Negara Islam Indonesia kami”! Dan seterunja. Sesuai dengan Firman Allah dalam Surah Al-Kafirun: “lakum dinukum walijadien” (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku).

16. Semoga Allah tetap berkenan memelihara dan memperlindungi setiap Mudjahid, dalam lingkungan N.I.I. maupun di luarnja, daripada tiap2 goda dan tjoba, fitnah dan aniaja, bahaja dan bentjana, hasud dan chijanat, dengki dan murka, jang dite-bar2kan dan dihambur2kan oleh anak-tjutju iblis la’natullah dan sahabat2 djadjdjal jang terkutuk itu. Dan selandjutnja, semoga Ia berkenan pula lebih mendekatkan dan segera mentjam-paikan kita sekalian kepada satu2nja maksud dan tudjuan sutji: Dlohirnja Keradjaan Allah, berdirinja Negara Kurnia Allah, dan tegak-teguhnja Negara Islam Indonesia, di tengah2 Ummat dan Masjarakat di Indonesia. Insja Allah. Amin. PERMA’LUMAN PERANG RESMI REPUBLIK INDONESIA KOMUNIS KEPADA NII
STATEMENT PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA

ALLAHU AKBAR Sambutan atas : PERMA’LUMAN PERANG RESMI Dari : REPUBLIK INDONESIA (KOMUNIS) Kepada : NEGARA ISLAM INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim. Asalamu ‘alaikum w.w.! I. KALAM PENGANTAR 1. Alhamdu lillahwasj-sjukru lillah! Allahu Akbar! Segala pudji wadjib hanya diper-sembahkan kepada Dia., Dzat MahaTunggal, Maha-Murah dan Maha-Asih, Jang telah berkenan membuka djalan, lapang dan kesempatan kepada sekalian hamba-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja, djihad berperang pada djalan-Nja, untuk memuliakan kalimat-Nja (Agama-Nja, Islam), guna keselamatan mereka, jang sengadja hendak tha’at sepenuhnja kepada perintah-perintah Allah dan mentjontoh perdjalanan Rasulullah çlm. Sungguh tugas-wadjib muthlak langsung daripada Allah kepada setiap Mudjahid itu maha-berat, tapi maha-sutji. Semoga Ia berkenan memperlindungi dan memelihara sekalian Mudjahidin daripada pelbagai matjam goda dan tjoba, jang manis maupun jang pahit, daripada sjak dan raba-raba, daripada ingkar dan dosa, dan berkenanlah kiranja Ia menuntun dan membimbingnja maksud dan tudjuan hidup manusia, jang sehat pikiranja dan terbuka mata-hatinja. Kemudian daripada itu, berkenanlah pula kiranja Ia mentjurahkan sebesar-besar kedjajaan dan kemenangan kepada seluruh Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, ialah sjarat muthlak untuk mendekati dan mentjacapai kekuasaan Islam (ad-daulatul-Islamiyah), satu-satunja djembatan mas jang akan membawa ummat manusia kedalam Keradjaan Allah di dunia, dimana berlaku hukum-Nja (Islam) dengan sempurnanja. Insja Allah. Amien. 2. Sjahdan, maka dengan karangan ini kami hndak tjoba mengupas dengan tjara ringkas tapi tegas, realitis dan elementer, sual² sekitar “Permaluman Perang dengan resmi dari pihak Republika Indonesia Komunis kepada Negara Islam Indonesia”,

suatu peristiwa jang maha-penting, tidak hanja bagi RIK dan NII, melainkan djuga bagi seluruh dunia, terutama bagi Dunia Merdeka atau Blok Demokrasi. Adapun bahan, dasar dan pangkal kupasan akan kami ambil daripada intisari: A. Pidato Soekarno, selaku Presiden dan Panglima Tertinggi RIK: 1) 16 Agustus 1953, djam 20,15 hingga djam 21,50, didepan sidang pleno isti-mewa parlemen, di Djakarta; dan 2) 17 Agustus 1953, djam 08,30 hingga djam 10,00 dimuka umum; dan B. Pidato Ali Sastroamidjojo, selaku Perdana Menteri Kabinet Ali-Wongso, tentang “keterangan pemerintah dan programnja”, jang diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953 malam hari, didepan sidang parlemen. Adapun peristiwa² lainnja, jang terdjadi sebelum atau sesudahnja, hanjalah meru-pakan pendjelasan, pentegasan, tambahan keterangan dan alasan, untuk membuka tabir dan menghalau kabut, menghilangkan segala salah faham dan keliru tafsir, dan menutup segala kemungkinan mendapat pendapat sesaat, jang pada lazimnja hanja disebabkan karena kira dan sangka, terka dan raba, berat sebelah dan tidak ‘adil. Pidato2 tersebut, jang memakan waktu berdjam2 lamanja, tidak kami kutip di sini seluruhnja, melainkan hanja diambil beberapa bagian (passages) daripadanja, jang pokok (prinsipil) dan penting (urgent), chusus mengenai program kabinet Bahagian I Fasal pertama tentang “Pemulihan Keagamaan”. Kiranja sambutan jang sesingkat ini akan dapat memadai dan mentjukupi kepentingan dan keperluannja. Bagi kedaulatan N.I.I., kesutjian Islam dan keselamatan U.I.B.I. (ummat Islam Bang-sa Indonesia), djua adanja. Dengan karena limpahan Hidajatuttaufiq dan Hidajat-ullah semata. 3. Bahwasanja pidato2 itu sudah terlambat, amat konsep diutjapkannja, bukanlah satu sual jang perlu dikupas. Lantaran peristiwa2 jang berwujudkan Perang itu bukanlah baru mulai atau dimulaikan, beberapa waktu sebelum atau sesudah Perma’luman Perang (oorlogsverklaring) resmi itu —sebagaimana jang pernah terjadi di dalam riwajat dunia, seperti: serangan dan pernjataan perang Djerman kepada Nederland, Djepang kepada Amerika Serikat, Korea Utara kepada Korea Selatan dan lain2 sebagaimanja, dengan berdasarkan ‘akidah “pukul dulu”, perkara di belakang, atau serang dulu, pernjataan di belakang”—, Melainkan serangan atau agressi RIKdan TRIK itu dilantjarkan, sedjak 4½ tahun jang lalu, atau sekurang2-nja sedjak 3½ tahun jang lalu, seperti jang dibuktikan dalam riwajat: 4. A. Peristiwa Antralina, 25 Djanuari 1949, dimana tentara liar (TNI pelarian dari Djokja) melantjarkan agressi pertama kepada Tentara Islam Indonesia, memper-kosa Ummat Islam dan melanggar batas2 daerah de facto N.I.I. (waktu itu: Madjlis Islam). Titik permulaan Perang Segi Tiga pertama. B. Agressi kedua jang berwujudkan serangan besar-besaran terus-menerus hingga kini dilakukan mulai Djanuari 1950, beberapa hari kemudian daripada peneri-maan daulat hadijah, telur K.M.B. Serangan ini boleh dianggap sebagai landjutan daripada Perang Segi Tiga Pertama, jang berhenti dengan pemberian daulat hadijah, 27 Desember 1949, sa’at dilahirkannja RIS atau RI Djakarta. Betapa tjurang dan serongja pemim-pin-pemimpin nasional kiri, dibantah oleh pihak komunis, membuat “sulap politik”, sehingga R.I. Djokja (jang sudah mati itu)”, tjukuplah pembatja kami perselahkan meneliti Manisfest Politik N.I.I. No. V/7! Maksud jang terkandung di dalamnja ialah: hendak mengabui mata ra’jat, dan terutama mata internasional, walaupun terpaksa menjalani kenjataan2 dalam riwajat, dan lebih djauh, untuk “menghapuskan hak asasy Ummat Islam, jang telah terlebih dulu mempro-klamasikan kemerdekaannja: 7 Agustus 1949”. Harap ditjatat baik2! Kini, setelah kabinet Ali-Wongso, jang bertjorak kiri dan berhaluan merah itu dibentuk, maka nama RIK sesuailah dengan kenjataannja, walau mereka masih tjoba2 memukai kamuflase “merk nasional” atau “merk Islam” (munafiq)” sekalipun. 4. Sebelum memulaikan pendjeladjahan jang dimaksudkan di atas, maka terlebih dulu akan diuraikan beberapa tindjauan, beralaskan atas beberapa kedjadian dan peristiwa di masa jang lampau, beberapa waktu berselang, djuga tentang kedudukan hukum perbedaan pendapat, selisih pendirian, pribadi Soekarno sendiri sebagai politikus, pemimpin ra’jat, orator, agitator, presiden RIK dan Panglima Tertinggi APRIK. Karena faktor2 ini masuk bahan2 pendjeladjahan utama, bagi memperoleh pengertian jang tegas dan penglihatan (visie) jang djelas dan benar (objektif) dalam hubungan ini. sehingga karenanja, setiap orang dan negara, djuga didalam lingkungan dunia internasional, dapat menetapkan pendapat dan pertimbangannja sendiri betapakah gerangan keadaan dan kedudukan perkara jang sewadjarnja, dan apakah sikap dan

pendirian jang patut diambil, berkenaan dengan ini. Selandjutnja, untuk membanding dan mempertimbangkan dengan teliti dan seksama segala sesuatu berkenaan dengan sual2 sekitar Perma’luman Perang RIK kepada NII, baiklah kami persilahkan pembatja memeriksai kembali Manifest Politik N.I.I., No. V/7, Heru Tjokro bersabda: Indonesia, kini dan kelak! Semoga dengan sambutan singkat ini Allah berkenan membuka mata seluruh dunia, interinsuler dan internasional, terutama didalam lingkungan Ummat Islam Bangsa Indonesia, djua adanja. Amin. II. KEDUDUKAN HUKUM Menjebabkan Perbedaan Pendapat, Penglihatan dan Pendirian Sebagaimana diterangkan di atas, maka N.I.I. lahir di dunia diterangkan di atas, maka N.I.I. lahir didunia pada tanggal 7 Agustus 1949, sedang RIK (dulu: RIS atau RI) dilahirkan pada tanggal 27 Desember 1949. Dengan tarich kelahiran di atas, maka njatalah sudah, bahwa agressi kedua, mulai djanuari 1950, dilantjarkan oleh sebuah negara atas sebuah negara jang lainnja, tegasnja: oleh RIK kepada NII. Sebagai negara, maka masing-masing2 pihak menpunjai pendirian dan sikap serta haluan sendiri2, jang masing2-nja bertentangan satu dengan jang lainnja, disebabkan karena perbedaan dasar, asas, maksud dan tudjuan sebagai negara. Mitsalnja: NII berdasarkan UUDS (= Undang-Undang Dasar Sementara), pentjuarian dari RI Djokja, pantjasila). Demikian selandjutnja, sampai kepada perbedaan sifat, bentuk, usaha dan lain2 jang seketjilnja, seperti: lambang, bendera dan lain2. Heran kita, bila pandangan dan penglihatannja RIK berbeda dan bertentangan dengan pandangan dan penglihatan NII? Apalagi, kalau kita perhitungkan faktor permusuhan, djurang jang tjuram-dalam, antara kedua negara itu, tegasnja: keadaan perang, maka djelaslah sudah, apa sebab RIK mengatjau dan mengamuk, dengan sombong dan takaburnja, dengan tjongkak dan chijanatnja, bagaimana orang jang kalap dan lupa daratan. Agaknja mereka, RIK, ahli-waris dan anak-tjutju iblis la’natullah, tidak akan menghentikan usahanja jang kedji kedjam dan durdjana itu, selama mereka belum dapat mentjapaikan maksudnja, atau hantjur-binasa dan tenggelam-terbenam dalam dasar Lautan Merah, jang lagi diarungi bachtera mutawasithah, menudju ke Darul-Falah dan Darul-Fatah. Oleh sebab itu, djika nanti di sini kami utarakan barang sesuatu jang berbeda atau bertentangan dengan apa jang pernah dilahirkan oleh pihak RIK, hendaknja para pembatja jang budiman suka mema’lumi dan memafhuminja. Sebaliknja, dalam beberapa hal jang memang benar, biar asalnja dari musuh sekalipun, kami tidak akan menjangkalnja. Selandjutnja, mengingat haluan politik keluar (luar negeri) daripada tiap-tiap negara, jang bulat, maka perbedaan kepentingan pun sudah mendjadi alasan jang tjukup kuat, untuk mempunjai visie jang beda dan berlainan, antara satu pihak dengan pihak jang lainnja, mitsalnja: RRT dan Rusia membantu Korea Utara hanjalah karena daerah (negara) tersebut masuk kepentingannja (pertahanan, ideologi, pengaruh dan lain 2). Dan sebaliknja, A.S. dan kawan2nja membantu Korea Selatan, bukanlah sekali2 karena “tjinta” kepada negara tersebut, melainkan karena daerah (negara) tersebut masuk kepentingan A.S. dan kawan2nja, ditindjau daripada sudut geopolitik. Dan seterusnja. Dengan tamsil ini sadja, tjukup teranglah kiranja, bahwa hanja karena perbedaan kepentingan (belum perhitungan ideologi, asas dan maksud-tudjuan sesuatu negara), maka masing2 negara mempunjai hak sepenuhnja untuk menentukan sikap dan pendirian serta haluan negaranja sendiri, berbeda dan berlainan dengan negara jang lainnja, bahkan kalau perlu bertentangan. Itu semuanja bukanlah kedjadian jang aneh bin ‘adjaib, melainkan biasa sadja, jang boleh berlaku setiap masa. Djadi, kalau pendirian RIK dan pendirian NII berbeda dan bertentangan satu dengan jang lainnja, tidaklah sekali2 mengherankan, terlebih2 lagi karena kedua negara tersebut lagi dalam permusuhan, dalam keadaan perang. Apa jang halal untuk RIK belum tentu halal buat NII, dan sebaliknja apa jang wadjib bagi NII mumkin haram untuk RIK. Harap pembatja mema’luminja!

III. SEKITAR PRIBADI SOEKARNO 1. Setiap penduduk di Indonesia agaknja sudah tahu, siapakah gerangan Soekarno itu (selandjutnja di sebut: Karno!) A. Di zaman Belanda ia masuk salah seorang pemimpin muda jang ulung, di kalangan nasional. Karno terkenal memiliki mulut dan kerongkongan (tenggo-rokan), dari mana ia pandai melantjarkan suara jang menggeledek dan meluntjur-kan pidato jang berapi2. Dengan bawaannja jang serupa itu, maka ia dapat mengembangkan dirinja mendjadi orator (tukang pidato) jang hebat dan agitator (penghasut dan menggelora semangat) jang tjakap dan mahir. Dalam posisi sebagai agitator dan orator, jang membutuhkan tepuk-tangan dan sorak-sorai dari pendengarnja, maka atjapkali ia dihinggapi oleh penjakit iblis (rija’, sum’ah, takabbur dan lain2), terombang-ambing oleh gelombang nafsu, sjahwat, amarah dan perasaannja (sentimentil), jang kadang2 meledak laksana dynamit, seperti jang terdjadi pada tanggal 17 Agustus 1953 jang baru lalu. Adapun isi-hati dan dasar-djiwanja jang mendjadi filsafat-hidupnja, didjeladjah daripada kata2 dan tulisannja dengan tjara analytis dan synthetis (tafsil dan idjmal), ialah: marhainisme, satu bentuk (model) ideologi, terletak antara nasio-nalisme kiri dan komunisme, jang “keluar” tampak sebagai salah satu mata-rantai Pan-Asiatisme. Karena “ideologi” itu pulalah, maka ia terdjebak oleh pemerintah djadjahan Belanda, dan kemudian dibuang! B. Di zaman Djepang karno mendjadi agen Djepang nomer satu. Dewi sri alias ibu Pertiwi diselaraskan dengan Dewi Amaterasu, animisme Djawa (kedjawen) ditjampur dengan sintoisme, marhainisme disesuaikan dengan tjita2 kema’muran Asia-Timur-Raja, dan dengan alat2 itu, atas perintah tuannja, ia siap memperdjepangkan diri dan kawan2nja, dan kemudian U.I.B.I. pun mendjadi sasarannja jang istimewa. Sebagai hamba Dewi Amaterasu ia dapat menundjuk-kan kepandaian dan ketjakapannja, sehingga ia mendapat kedudukan jang lumajan dan bintang dari tuannja. Waktu itu, suaranja, jang menggeledek ditu-djukan kepada perkuatan kekuasaan Djepang dan aksi anti-A.S., dan anti-Inggeris, ialah musuh2 negara tuannja. Babak ini berhenti dengan kapitulasi Djepang. C. Pada awal revolusi nasional, maka Karno (+ Hatta) dipaksa oleh segolongan pemuda revolusioner untuk menjatakan proklamasi (17 Agustus 1945). Karena nasib jang mudjur dan bintangnja lagi naik, maka ia dakui dan mengakui dirinja presiden, walau sebagai presiden konstitusionil sekalipun, sebagai lambang kesatuan negara. Sehingga karenanja, ia menempati kedudukan “kepala negara” (boneka) jang tidak bertanggung-djawab dan ta’ boleh diganggu-gugat (dalam segala perbuatan dan pernjataannja), dan di dalam lingkungan angkatan perang ia mendjadi panglima tertinggi (kalau lazim ada panglima tertinggi tituler, mumkin ia mendapat gelar “panglima tertinggi tituler”!). 2. Kembali kepada marhaenisme, jang djuga terkenal dengan nama proletarisme, jang mendjadi isi-djiwa Karno, maka bolehlah diterangkan di sini, bahwa sedjak mula zaman Djepang, ideologi ini selalu diselubungi dan ditjampur-adukkan dengan “pantjasila” satu ideologi djahilijah jang sering kali diselimuti dengan “Islam”, tegasnja “Islam munafiq”. Walaupun gutji-wasiat ini senantiasa ditutup disembunjikan, namun sering kali tampak wudjud, bentuk dan sifat jang sesungguhnja daripada apa jang disebut “marhaenisme” itu. Pada masa PNI = Partai Nasional Indonesia (I, II dan III —periksalah Manifest Politik N.I.I. No. V/7.—) marhaenisme ini tampaknja amat dekat sekali dengan ko-munisme. Sehingga pada zaman PPPKI (Permufakatan Perhimpunan2 Politik Kebangsaan Indonesia) sering terdjadi bentrokan dan pertikaian politik, antara pihak nasional kiri (marhaenisme, jang dibelakang dibantu oleh pihak komunis “di bawah-tanah” dan ex-digulisten) dengan pihak Islam, masing2 dipelopori oleh PNI dan PSII (Party Sjarikat Islam Indonesia). Pada zaman pendudukan Djepang, sifat anti-Islam ini tidak seberapa tampak, karena (1) tiap party memang terkurung didalam berbagai2 “sangkar mas”, dan (2) memang sesuai dengan instruksi Djepang, jang amat lemah-lembut didalam melakukan tipu-muslihatnja, untuk memperdjepangkan Indonesia dan men-sinto-kan U.I. B.I. Pada zaman revolusi nasional tengah menggelora sifat djahannam itu ta’ tampak sama sekali (latent, terpendam). Tetapi tidak tampak atau tidak timbul di sini, bukan sekali2 bererti hilang dan sembuh, melainkan hanjalah sifat “sementara”, hal mana memang dipergunakan sebagai taktik untuk menggalang dan memperoleh “persatuan nasional”,

satu tipu-daja jang amat litjin dan tjerdik, bagi menina-bobok-kan U.I.B.I., jang pada waktu itu memiliki semangat perdjuangan jang menggelora dan hebat-dahsjat. Kemudian, setelah daulat hadijah diterima dan pihak merah beserta pembantu2nja jang setia, agen2 Moskow, mendapat kesempatan jang baik, untuk melakukan pernanannja jang penting dan melaksanakan programnja, sepandjang konsepsi Moskow, maka “taktik” mendjaga “persatuan nasional”itu (jang kini berubah sifat dan istilahnja, mendjadi “perdamaian nasional”) lambat laun ditinggalkan. Karena pengaruh rasa bebas, lepas daripada tekanan pendjadjahan dan pendudukan asing, maka isi-djiwa jang lama terpendam itu pada suatu sa’at meledak, meletup dan meluap, dan achir-kemudiannja menampakkan pribadi jang sebenarnja. A. Ingatkah saudara apa jang diutjapkan oleh Karno tiga tahun jang lalu, semasa ia tourne ke Sunda-ketjil, pada kesempatan mana ada seorang pemuda Islam jang menanjakan tentang “kemumkinan berdirinja Negara Islam Indonesia?” Djawab Karno, katanja: “Negara Islam Indonesia tidak mumkin berdiri di Indonesia (tegasnja: RI, kini: RIK) harus melepaskan sebagian daripada wilajahnja, dimana penduduknja tidak beragama Islam, seperti Bali, Minahasa dan lain2 sebagainja.” Alangkah pitjiknja pengetahuan dan pengertian Karno dalam seluk-beluknja Agama Islam! Ia beranggapan, bahwa didalam lingkungan Negara Islam orang tidak dibolehkan memeluk Agama jang lainnja. Satu bukti jang njata akan kebodohan dan tololnja presiden RIK. Tjelakanja bagi masjarakat ialah: ia sebagai orang jang “besar” telah memberi kata-putus dan pendapat jang pasti akan barang sesuatu jang sesungguhnja ia tidak mengetahui, atau sengadja menjangkalnja. Terutama jang mengenai keseluruhan negara. Sajang! Sebaliknja, untungnja bagi dia, bahwa ia tidak tanggung-djawab, dan memang tidak dapat dipertanggung-djawabkan atas utjapan dan perbuatannja jang anti-Islam dan anti-Negara Islam itu! Berkat kedudukan dia sebagai “boneka negara”. B. Ingatkah Saudara, apa jang pernah meluntjur daripada mulut lantjang Karno, dengan sadar atau karena lupa, dengan sengadja atau tidak, dikala ia (dengan keluarganja) melawat dan berada di Manila? Antara lain2 ia berkata: “Bila ra’jat Indonesia menghendaki negara komunis, maka ia (Karno) akan tunduk kepada ra’jat itu!” Kata2 itu menggambarkan dengan djelas dan terang akan isi-hati dan djiwa Karno jang sewadjarnja, ja’ni: 1) Bahwa sewaktu2 dimana perlu, mulai sa’at itu djuga, menurut keadaan dan kepentingan (keselamatan) dirinja, maka ia ta’ segan2 mendjadi komunis, tegasnja: anti-Islam dan anti-Negara Islam. Dan 2) Bahwa didalam djantung dan hati Karno mengalirlah darah merah-Moskow, darah penganut djahannam, pengikut Beruang-Merah, darah Dadjal dan Abu-Lahab Indonesia! C. Ingatkah Saudara, apa jang pernah dilahirkan oleh mulut Karno di Amuntai pada awal tahun ini, jang isinja hampir sama dengan apa jang tersebut dalam huruf A. di atas? Anti-Islam dan Anti-Negara Islam, jang bererti pula: berchijanat kepada Allah dan kepada Rasulullah clm., serta adjaran sutji, tuntunan Ilahy dan sunnah Nabi ! Pidato ini, seperti djuga pidato2 sebelumnja, telah menimbulkan gundah dan kemarahan U.I.B.I. Dalam hubungan ini, bolehlah kiranja ditjatat reaksi daripada pihak Perti, GPII, NU, PB Persatuan Islam, dan dari pemimpin2 Islam Isa Anshary (ketua Masjumi Djawa Barat dan anggauta PB Persatuan Islam tersebut), dan Ghazali Hasan, ketua harian PB “Front Muballighin Islam Sumatera”, jang se-muanja memprotest keras dan menjangkal pidato si-djahannam itu, dan mengharapkan ditjabutnja. Hampir seluruh Indonesia, dalam lingkungan Ummat Islam, bergolaklah karenanja. D. Berkenaan dengan itu, dan berhubungan dengaan banjaknja pertanjaan dari pihak kaum Muslimin dan pemuda Islam, dari setiap lapisan dan pendjuru di Indonesia, djuga pada kesempatan diadakannja rapat peringatan Isra dan Mi’radj Rasulullah clm., maka pada awal bulan Februari ’53 dilangsungkanlah sebuah kulliyah-Karno, jang diadakan didepan mahasiswa2, maha-guru2, pembesar2 dan pemimpin2 negara, organissasi dan party, bertempat di aula Universiteit di Djakarta. Isi chulasoh kulliyah tersebut antara lain2 adalah sebagai berikut: 1) RI adalah negara nasional.

2) Nasionalisme tidak menghalang2-i penjebaran idelogi2 jang lainnja, seperti: Islamisme, komunisme, marhaenisme dan lain2. 3) Islam bukan hanja utusan pribadi (privaatzaak), tetapi mengatur hubungan antara orang dengan Tuhan dan antara orang dengan orang, satu djalan keluar (way out) jang meliputi. 4) Konklusi: a. Nasionalisme hanjalah merupakan tempat (wadah). b. Isinja boleh Islamisme, komunisme, marhaenisme atau isme2 jang lainnja (tergantung kepada kehendak ra’jat, dalam pemilihan umum jang akan datang?). E. Apa jang tersebut di atas —D., (4)—, itu djualah jang mendjadi isi pidatonja Karno di mesdjid Kotaradja, Atjeh, dengan tambahan, bahwa menurut pendapat Karno, jang tergila2 kepada pantjasila: “rukun Islam harus ditambah dengan 2 rukun lagi, jaitu ke’adilan sosial dan peri-kemanusiaan” (supaja tjotjok dengan pantjasila?). Perlu pula diterangkan di sini, bahwa semasa Karno melawat ke Atjeh, banjaklah slogan2 jang diperlihatkan ra’jat, untuk menundjukkan kehendak, keinginan dan tjita2nja. Di antaranja: “Menudju Negara Islam!” Tetapi sesuai dengan sifat dan djiwa penipu pengchijanat, dengan perantaraan lildahnja jang berbisa (beratjun) itu, maka ia tjoba2 menina-bobokkan kawan2 kita di Atjeh, dengan kata-kata dan tjeritera, jang “memikat hati dan memberi harapan.” Perdjalanan Karno ini lalu disusul oleh Hatta, dengan selimut kooperasinja jang masjhur itu, dengan maksud jang tertentu: melunakkan kawan2 kita seperdjuangan sutji di Atjeh. 3. Dengan kupasan ringkas, berdasarkan atas riwajat jang njata dan kedjadian jang sesungguhnja, masih herankah kita, djika: A. Karno berpihak kepada merah, mendjadi alat merah atau memang merah sama sekali? B. Karno anti-Islam dan Anti-Negara Islam mati2an, tegasnja: menolak berlakunja hukum2 Islam, jang maha-’adil? C. Karno dengan karena kejakinannja jang djahannam itu, hendak mengarahkan segenap tenaga, untuk membasmi N.I.I. dan memadamkan tjahaja Ilahy (Islam)? Lebih2 lagi, djika kita mengingat kedudukan Karno sebagai orator dan agitator, jang selalu haus akan tepuk-tangan dan sorak-sorai chalajak ramai, maka ia sering kali lupa daratan, ta’ menginjak kenjataan (realiteit) jang sesungguhnja. Sadarkah ia, bahwa pidatonja penuh mengandung nafsu dan perasaan dendam, sehingga ia lupa kepada keadaan jang sebenarnja dan menjalahi kedjadian riwajat jang sesung-guhnja? Ataukah, memang ia sengadja memutar-balikkan sualnja? Dan, ataukah ia memang tidak menerima laporan2/ berita2 jang sebenarnja, sivil dan militer —jang memang sengadja menjembunjikan kenjataan2 itu, karena “malu” menjaksikan realiteit— ??? Tetapi, walaupun betapa pula diputar-balik, dipulas dan diperhalus, maka pidato Karno mentjapai puntjaknja (climax), menundjukkan djiwa Abu-Lahabnja dan hati-iblisnja, jang dengan terang2an hendak membasmi Islam, Negara Islam Indonesia dan memperkosa hak asasy Ummat Islam Bangsa Indonesia. Lebih dari itu, kiranja tidak mumkin. Ketjuali djika Karno sudah gila 100%! Di balik itu, ia ingin memuaskan hati badut2 merah, jang telah menjatakan protest, membuat demonstrasi2 dan tuntutan2. Kalau ia sendiri tidak merah dan masih tahu harga dirinja sebagai pemimpin, nistjajalah tidak begitu sadja ia membelok ke Moskow. Selandjutnja, ia ingin memberi dan menerima bantuan atau sokongan dari kabinet Ali-Wongso jang merah itu, jang menurut perhitungan akan mendapat dukungan jang kuat dari parlemen. 4. Hal ini perlu kita kemukakan lebih dulu, djika kita hendak mendjeladjah hakikinja perkara, lebih2 karena pribadi Karno menggambarkan salah satu exponent dan realisasi daripada golongan djahiliyah, golongan nasionalis kiri beserta merahMoskow, jang kini memegang kendali pemerintahan RIK. Djadi, semuanja ini dituliskan, lepas daripada pertimbangan2 apakah pidato Karno, selaku presiden konstitusionil (dan panglima tertinggi—tituler!), jang membati-buta dan lupa daratan itu, mempunjai kekuatan hukum (rechtskracht) dan dituruti oleh bawahannja. Demikian pula tentang nafsu jang menggelora itu, akan sesuai dengan kemampuan, ketjakapan dan ketjukupan RIK, melakukan rentjananja jang djahannam itu! Wallahu a’lam! Hanja Allah pula Jang Maha-Mengetahui. Kami masih amat menjangsikan.

IV. SARI-PATI PIDATO KARNO DAN KETERANGAN ALI Perma’luman Perang Resmi dari R.I.K. kepada N.I.I. Di bawah ini akan kami berikutkan chulasoh ringkas daripada inti-sari pidato Karno dan keterangan Ali (P.M. kabinet AliWongso), jang boleh dianggap sebagai pernjataan resmi daripada pemerintah RIK, menghadapi Negara Islam Indonesia, sekedar jang berhubungan dengan Bab I (dalam negeri), fasal 1, mengenai atjara “pemulihan kema-nan”. Yang tersebut pertama diutjapkan sidang pleno istimewa parlemen, dan pada tanggal 17 Agustus 1953 pagi, sedang jang kedua (keterangan pemerintah—Ali) diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953, didepan sidang pleno parlemen, dan pada tanggal 17 Agustus 1953 pagi, sedang jang kedua (keterangan pemerintah—Ali) diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953, didepan sidang pleno parlemen. Untuk memudahkan penelitian pembatja, maka di bawah tiap2 bagian chulasoh, hendak kami berikutkan djawab dan keterangan atas fasal2 jang bersangkutan. 1. Lebih dulu, baiklah kami njatakan, bahwa: A. Barang apa jg. diutjapkan oleh Karno dalam pidatonja pada tanggal 16 Agustus malam dan tanggal 17 Agustus pagi itu bukanlah barang baru. Karena proses dan peristiwa, jang disebutkan “sengketa bersendjata” atau “pe-rang” itu sudahlah dimulaikan pada kurang lebih 4½ tahun jang lalu, sekurang2nja 3½ tahun jang lalu, semasa pihak RIK melantjarkan agressinja jang pertama dan kedua. B. Jang perlu ditjatat dan diperhatikan ialah isinja, jang menundjukkan “Perma’-luman Perang resmi, dari RIK kepada NII”, satu peristiwa jang maha-penting dan satu titik jang bersedjarah, didalam riwajat perdjuangan Ummat Islam menggalang Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia! C. Pernjataan Karno itu, boleh dianggap sebagai “dekrit presiden”, sebagaimana jang diharapkan dan dituntut oleh pihak merah, dalam berbagai2 rapat ‘umum, demonstransi2 dan audiensi pemerintah jang lainnja. D. Selandjutnja pidato jang beratjun itu mengandung sifat membenarkan dan menguatkan keputusan pengadilan negeri di Bandung, beberapa bulan jang lalu, dalam perkara Affandi Ridwan, jang didjatuhi hukuman pendjara 3½ tahun, atas tuduhan dan karena dipersalhkan: “Dengan sengadja memberikan bantuan kepada musuh dalam waktu keadaan perang”, dengan tjatatan, bahwa: 1) Jang dikatakan “musuh”, ialah: D.I.—Kartosoewirjo; dan 2) Dibelakangkan tiap2 kata “D.I.—Kartosoewirjo” harus dibubuhi kata2nja erti, ma’na dan tafsir daripada kata2 (istilah) “D.I.—Kartosoewirjo” itu. Mengingat keputusan pengadilan negeri di Bandung itu, ditindjau daripada sudut hukum (juridis) dan ketata-negaraan (staatsrechterlijk) dan formil: diakui adanja satu negara, bernamakan Negara Islam Indonesia, dan bahwa negara itu (NII) lagi dalam keadaan perang dengan jang lainnja (RIK). Alhamdulillah! Barang sesuatu jang selama ini selalu ditjoba ditutup2 (dan diang-gap “sepi”, untuk mengabui mata internasional dan interinsuler), maka sekarang sudah dibuka dan terbuka. Bahkan, jang membukanja pun RIK sendiri, jang tadinja menutupnja rapat2. E. Lebih2 karena reaksi pidato Karno (dan keterangan Ali) itu djauh melintasi lautan, masuk dalam telinga luar negeri, sehingga beberapa surat2 kabar dan madjalah di Amerika Serikat memuatnja, sebagian atau semuanja, terutama jang berkenan dengan sual “pemulihan keamanan”. Karenanja, berita jang tempo hari dimuat dalam madjalah “Time” (Febr. 1953) tentang “Perang jang tidak tampak di Djawa-Barat”, sekarang dibenarkan oleh pidato Karno, bahkan lebih luas dan lebih djelas, dengan keterangan, bahwa: “D.I.-Kartosoewirjo sekarang tidak hanja ada di Djawa-Barat dan Djawa-Tengah sebelah Barat sadja, melainkan djuga sudah mentjoba melantjarkan infiltrasi (mestinja: expansi!) kewilajah2 Djawa Timur, Sumatera-Utara, Sumatera-Selatan,

Kalimatan dan Sulawesi (mestinja: Sulawesi masuk golongan pertama, ja’ni golongan Djawa-Barat dan Djawa-Tengah, dan tidak masuk daerah-expansi!)”. Walhasil, biar kurang tepat sekalipun, maka dengan keterangan Karno dalam pidatonja tempo hari, diakuinjalah: 1) Bahwa Negara Islam Indonesia makin hari makin bertambah kuat dan meluas; 2) Bahwa sebaliknja, kelemahan dan proses keruntuhan RIK dipertontonkan dimedan internasional. 2. A. Tiap2 kabinet RIK jang lalu hingga kini (ke-14) selalu memasukkan sual “pemu-lihan keamanan” di dalam programnja. Satu bukti, bahwa pemerintah RIK amat memperhatikan sual jang amat penting dan urgent itu, jang menghendaki penje-lesaian dengan segera. Dalam pada itu, demikian Karno, pemerintah RIK telah mengerahkan tenaganja (angkatan perangnja), namun hingga kini hasilnja belum memuaskan. B. Pernjataan ini betul: Dan, Alhamdulillah! Serangan RIK dengan angkatan perang-nja jang ganas dan kedjam itu, dibantu oleh sebagian ra’jat jang dipaksanja, ditentang dan dilawan oleh N.I.I. dengan angkatan perangnja —walaupun amat ketjil, djika dibandingkan dengan kekuatan RIK pada waktu itu—, dengan sengitnja. Sehingga karenanja, sering kali terdjadi pertumpahan darah jang hebat dahsjat. Pihak RIK senantiasa berusaha untuk memadamkan api revolusi Islam jang bergelora dan menjala2 itu, hendak memadamkan tjahaja Ilahy, api sutji jang berkobar dalam setiap kalbu ksatrija sutji (Mudjahidin). Tetapi Allah tidak membiarkan mereka itu melandjutkan chijanatnja. Maka kerugian dan kerusakanlah jang diperolehnja, baik jang berupa manusia maupun sendjata, belum terhitung harta benda, jang mendjadi umpan api neraka. Semuanja itu mendjadi milikja T.I.I., P.I.I., ialah kurnia Allah, jang dilimpahkan Allah atas segenap Barisan Mudjahidin dan A.P.N.I.I. Dalam hubungan ini, baiklah pula kiranja dikutip pernjataan dan pertanjaan anggauta parlemen Dr. Diapari, dallam perdjalanannja pulang dari Menado ke Djakarta, liwat Makassar. Atas pertanjaan “Antara” antara lain2 ia menjatakan: “Kalau gerombolan dimana2 persendjataannja “bertambah, lagi bertambah hebat, dengan “dilengkapi sendjata modern, maka tidakkah “kita harus menaruh pertanjaan: “dari manakah datangnja sendjata2 modern ini”?” Demikan Diapari. Djawab kami dengan ringkas adalah sebagai berikut: 1) Datangnja berbagai2 sendjata beserta alat2 dan kelengkapan perang milik Angkatan Perang Negara Islam Indonesia 90% dari RIK dan TRIK. Bukan pemberian atau hadiyah, melainkan barang rampasan, hasil pertempuran, natidjah perang. Di antaranja terdiri daripada sendjata jang dibawa oleh kawan2 seperdjuangan kita —ex-Hizbullah— jang menggabungkan diri dengan kawan2 Mudjahidin jang lainnja. 2) Kalau Karno dan kawan2nja, jang suka bohong dan dibohongi itu tidak pertjaja! a. Tjobalah periksa (inspeksi) tentaramu beserta alat-perangnja! Djangan pertjaja kepada laporan2 palsu, jang memang sengadja dibuat2, untuk menutupi kekalahannja! Terutama suara jang keluar daripada mulut djuru2 bitjara gerombolan TRIK djahannam, memang sengadja dibuat serong dan tjurang, sesuai dengan sifat dan thabi’at pengchianat dan pendurhaka ! Awas tipu-muslihat musuh! Awas tipu-daja anak-tjutju iblis la’natullah! b. Lebih baik dan lebih diutamakan, kalau Karno dan kawan2nja suka zijarah kekuburan2 jang biasanja dinamakan: taman pahlawan, taman bahagia dan lain2 sebagainja. Nistjajalah ia akan tertjengang menjaksikan dengan mata-kepala sendiri “realiteit” jang sebenarnja. c. Tjobalah tjotjokkan stambuk tentara dengan bukti-kenjataannja, dan bukalah daftar alat dan kelengkapan perang jang hilang musna, tanpa berita suatu apapun? 3) Inilah bukti2 jang njata, jang boleh dipergunakan sebagai alasan, untuk mem-bantah kebohongan, sikap serong dan tjurang, jang selalu digembor2kan dengan megah dan takabbur itu. Ra’jat tidak kenjang dengan tjeritera2 bohong! Melainkan ra’jat menuntut bukti! Hingga kini tjara propaganda daripada djuru2 penerangan dan djuru2 bitjara RIK dan TRIK masih selalu mengikuti tjara2 jang pernah dilakukan oleh Djerman dan Djepang, beberapa sa’at sebelum tekuk-lutut! Inginkah RIK dan TRIK mengikuti “sunnah” keruntuhan dan kedjatuhan

kedua negara itu ??? Silahkan! 4) Adapun mengenai berita2 “onar” (sensasionil), jang digembar-gemborkan oleh pihak RIK dan TRIK, jang mengatakan “seakan2 N.I.I. —APNII— mendapat bantuan sendjata dari “luar”, dengan perantaraan kapal2 udara dan kapal2 silam”, baiklah kami silahkan RIK dan TRIK sendiri mendjawabnja, dengan alasan dan bukti2 jang sah, kuat dan tjukup. Djangan asal “ngomel” sadja! Silahkan ! 3. A. Gerakan-Kartosoewirjo, atau D.I.-Kartosoewirjo, atau Negara Islam Indonesia, telah membuat “negara didalam negara”, sehingga dengan karena perbuatannja jang serupa itu, maka mereka (N.I.I) dinjatakan sebagai musuh masjarakat dan musuh negara (RIK). B. Kita Ummat Islam Bangsa Indonesia tidak sekali-kali membuat “negara didalam negara” (staat in de staat). Jang benar ialah, bahwa U.I.B.I. telah “mem-proklamir-kan kemerdekaannja, N.I.I. “pada tanggal 7 Agustus 1949, pada masa pendudukan Belanda dan pada masa perdjuangan nasional pusat Djokja, telah kandas dan gagal, dan pada masa RIK belum lahir. Siapakah gerangan jang membuat “negara di dalam negara?” Satu2nja djawab jang tepat ialah: RIK jang lahir kurang lebih 4½ bulan kemudian daripada lahirnja N.I.I., dan RIK jang membuat agresi (periksalah keterangan di atas!), dan kemudian RIK pulalah jang memperma’lumkan perang kepada NII. Djadi, kenjataan menundjukkan bukti sebaliknja daripada tuduhan RIK! Ia jang mentjuri, orang lain jang dituduh. Inilah taktik RIK djahannam, bangsat jang ulung, tapi djiwanja pengetjut dan penakut. Adapun pernjataan RIK, jang menganggap NII sebagai musuhnja, hal ini memang benar. Kalau RIK tidak menganggap NII sebagai musuhnja, tentulah ia tidak akan melantjarkan agresi berkali2 dan melakukan serangan terus-menerus hingga dewasa ini. Kenjataan ini dibenarkan, dikuatkan dan disahkan dengan resmi oleh pidato Karno dan Keterangan Ali, jang terang2 an telah “Memperma’lumkan Perang kepada NII”. Alhamdu lillah! Dengan karenanja, maka tabir jang selama 4½ tahun ini selalu menjelubungi dan menjelimuti keadaan perang terbukalah. Djadi, pada njtanja dan sepandjang Ali itu tidak mengubah suatu apapun. 4. A. D.I.-Kartosoewirjo, atau N.I.I., membuat teror, membunuh, mentjulik, mengha-dang, menggulingkan kereta-api dan seterusnja. Semuanja itu dilakukan dengan atas nama Islam, untuk kepentingan ra’jat, bagi pengabdian dan seterusnja. B. Tuduhan Karno kali ini betul, hanja salah meletakkan perkaranja, tidak didu-dukkan dan disandarkan atas hukum jang berlaku! 1) Betul, bahwa T.I.I. dan P.I.I. bertempur mati2an dengan TRIK, dengan tekad jang bulat “Juqtal au Jaghlib”, baik menjerang maupun mempertahankan. Herankah? Tidak perlu. Karena kedua negara tersebut lagi dalam keadaan perang. 2) Pembunuhan dilakukan atas pengchianat2 negara (NII), pengchianat Agama (Islam) dan pengchianat Allah, beserta kaki-tangannja, sedang pembakaran dilakukan atas sarang gerombolan2 TRIK dan hak-milik anak-tjutju iblis la’na-tullah, jang haram muthlak itu. 3) Mensita, (bukan merampok!) harta-benda musuh (NII dan Islam) dan meram-pas hak-milik pengchianat, bukanlah barang baru dan barang jang menta’djubkan. Semuanja itu berlaku atas sendi2 hukum, tegasnja: hukum Perang. Demikian pula menghadang patroli2 dan kendaraan2 musuh, menggulingkan kereta-api musuh dan seterusnja. 4) Adakah hak dan wadjib kita melakukan semua perbuatan itu? Tentu! Tentu! Tentu! Dan, semuanja itu dilakukan tidak membabi-buta atau menurut sekehendak hati pembuat dan pelakunja, melainkan berdiri dan bersandarkan atas hukum2 dan menurut saluran2 jang benar dan njata, sepandjang Kitabullah dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm., tegasnja: menurut hukum Islam dimasa perang, hukum jang berlaku dilingkungan N.I.I., hingga saat ini. Rupanja fiqih perang ini tidak dapat masuk didalam otak dan ‘akalnja Karno, tidak diketjualikan “pemimpin2 Islam munafiqin, Islam djahilin dan Islam fasiqin” dalam lingkungan RIK. Kalau bukan otak udang, kiranja memang terlalu penuh dengan “pantjasila”, kejakinan djahiliyah jang menutup kepada segala djalan kenjataan, kebenaran dan ke’adilan! 5) Selandjutnja, kami harapkan, supaja Karno djangan terlalu melihat “keluar” kepada musuhnja (NII) sadja, tjobalah

kenangkan sebentar dengan tenang hati dan djudjur “kedalam”, dan tanjalah kepada kawan2mu sendiri, tentaramu jang djahil itu: Berapakah djumlah wanita jang diperkosa kehormatannja oleh TRIK? Berapakah djumlah harta benda ra’jat jang dirampok dan digarong oleh TRIK? Berapa djumlah manusia jang “begitu sadja” ditawan dan dibunuh tanpa pemeriksaan hakim (zonder vorm van proces), dianiaja dan diasingkan dengan tiada alasan, melainkan hanja karena disangka dan dituduh “ikut D.I” (oleh TRIK dan RIK)? Adakah pengetahuan Karno, bahwa diantara anak-tjutju iblis jang mendjadi tentaranja itu, sungguh2 orang2 jang liar dan buas, suka makan daging manusia, ja sungguh2 (letterlijk) makan daging manusia! Walhasil, djawab dari sual semua itu akan mendjadi bukti kenjataan dan persaksian jang beralasan, akan kerendahan budi dan kerusakan achlak, jang menudju keruntuhan dan kedja-tuhan RIK sebagai negara. Lebih daripada apa jang digambarkan oleh Karno sendiri dalam pidatonja tentang “pantjakrisis”. Kalau Karno dan kawan2nja memang menghendaki kebenaran, ke’adilan dan kenjataan jang sebenarnja, tjobalah djalan2 menjamar, setjara incognito, lihat dan periksalah dengan teliti keadaan dlohir-bathin daripada pesawat2 sivilnja, jang tidak kurang hebat dalam berlomba2 meruntuhkan negaranja (RIK). 5. A. D.I.-Kartosoewirjo, atau Negara Islam Indonesia makin bertambah meluas. Tidak hanja di Djawa-Barat dan DjawaTengah sebelah Barat sadja, melainkan sekarang sudah tampak tanda2, bahwa NII membuat infiltrasi (mestinja: expansi, perluasan!) di Djawa-Timur, di Sumatera Utara, di Sumatera Selatan, di Kali-mantan dan Sulawesi (mestinja: “Sulawesi” bukan masuk daerah expansi, melainkan masuk daerah de facto, sedjak 16 Agustus 1951, dikala CTN dalam pimpinan Kahar Mudzakkar melebur dirinja mendjadi Tentara Islam Indonesia. Pen.). B. Kata2 jang dilahirkan Karno ini belum pernah diutjapkan oleh orang atau instansi RIK, sebelum itu.Oleh sebab itu, maka banjak pihak jang ta’djub dan heran terengah2. Walaupun tidak semuanja itu benar, tetapi dalam kata2 tersebut terdapat pula kebenaran. Pendjelasan sekadarnja adalah sebagai berikut: 1) Pada masa RIK melantjarkan agresi pertama, maka kekuatan NII (waktu itu Madjlis Islam) hanja merupakan pasukan gerilja ketjil, terdiri daripada beberapa kompi TII. Daerah kekuasaan dan pengaruhnja merupakan daerah gerilja jang berserak2, seluas krang lebih hampir dua kabupaten. 2) Pada masa agresi kedua dilakukan oleh RIK, maka kekuatan NII sudah naik, mendjadi 3 (tiga) resimen infanteri ketjil (bukan bataljon), sedang luas daerah mendjadi kurang lebih 1½ karesidenan, terletak sebagian besar di Djawa-Barat sebelah Timur dan sebagian lainnja di Djawa-Tengah sebelah Barat. 3) Sedjak agresi kedua hingga kini, selama kurang lebih 3½ tahun, maka kekuatan NII makin membesar, sehingga mendjadi 4 (empat) divisi gerilja (infanteri) sedang, ditambah 3 (tiga) tjalon (tjadangan) divisi gerilja sedang, jang mana kini lagi dalam penjelenggaraan. Selama itu, sampai keapda sa’at Karno pidato, maka daerah kekuasaan dan pengaruh NII makin bertambah meluas dan meliputi 8 (delapan) provinsi (wilajah), hampir merata diseluruh Indonesia. Alhamdu lilllah! Semuanja itu adalah kurnia Allah jang langsung dilimpahkan kepada NII dan Angkatan Perangnja, berkat kesungguh2an dan kegiatan ‘amal-djihadnja para Mudjahidin segenapnja, serta ketangkasan dan ketjakap-annja A.P.N.I.I. seluruhnja. Hendaklah kita sekalian pandai2 mensjukuri ni’mat dan kurnia Ilahy ang maha besar, jang ta’ ternilai harganja itu! 6. A. Kini sudah sampai sa’atnja, untuk memerintahkan kepada segenap angkatan perang (RIK) bagi menggempur D.I.Kartosoewirjo, atau N.I.I., demikian Karno dalam pidatonja jang berapi2 itu. Kalau kata2 (RIK) tidak dapat menginsafkan mereka (NII), demikian Karno selandjutnja, maka biarlah mulut sendjata, meriam dan lain2 alat perang jang berbitjara. Dalam pada itu, Karno —RIK— mengharapkan bantuan ra’jatnja. Sebab, tanpa bantuan tenaga ra’jat, maka ta’ mumkin usaha pemerintah RIK akan berhasil, kata Ali selandjutnja. Mereka N.I.I., katanja, sudah “keblinger”, kesasar, lupa akan tjita2 sutji dan seterusnja. B. Lepas daripada sual apakah Karno mendjadi dan berbuat sebagai panglima ter-tinggi angkatan perangnja dalam erti kata sebenarnja ataukah tidak (hanja formil belaka), maka kata2 itu “seakan2 menggambarkan, bahwa baru sekarang inilah

APRIK diperintahkan untuk menggempur APNII”. Padahal semuanja itu adalah rentjana lama, jang sudah sedjak 4½ tahun jang lalu dilaksanakan. Kami katakan “rentjana lama”, oleh karena dalam naskah Stikker-Hatta di Bandung, dan sebelum clash kedua (serangan Belanda ke Djokja) hal ini —serangan kepada NII— sudah direntjanakan. Keterangan kami ini berdasarkan atas dokumentasi2 rahasia, jang terampas oleh pihak NII dan TII. Dipandang dari sudut ini, maka chronologis “perintah” daripada panglima tertinggi di atas sudah kasep, telah terlambat, bagaikan teriakannja orang2 jang kalap dan hilang ‘akal. Inikah imbangan “komando terachir” (mestinja: sekarat achir) jang tempo hari diteriakkan oleh kerongkongan Wongso? Sadarkah Karno dan Ali-Wongso berbuat sedemikian itu? Tahukah ia (mereka ) akan resiko jang dihadapinja? Selain daripada itu, dalam pidato tersebut dinjatakan, bahwa seakan2 NII keras kepala; dan tidak mendengarkan kata2 (ta’ mau berunding?). Dalam hubungan ini, baiklah kami tanja kepada Karno: “Kapan harikah pihak RIK mengadjak berunding, atau hendak mengadakan perundingan?” Djawab pertanjaan (jang rethoris ini): “belum pernah!” Djadi, kalau Karno mengatakan, bahwa NII tidak suka mendengarkan kata2, maka tuduhan dan ketjaman jang serupa itu sama sekali salah, melainkan sebalik-nja. Bukankah pihak N.I.I. telah dua kali mengirimkan nota (rahasia) kepada pihak RIK? Tetapi sepatah katapun belum pernah terdengar, apa gerangan “reak-si” daripada nota2 itu. Oleh sebab itu, sebelum Karno berpidato djual tampang, kiranja lebih baik ia “mentjermin dirinja sendiri”. Lebih baik, kalau ia suruh periksa dirinja (otak dan hatinja) oleh ahli2 djiwa (psychiaters) jang tjakap dan berani terus-terang menjatakan penjakit Karno, beserta RIK. Lebih baik istirahat di Tjikeumeuh, Bogor (rumah-sakit orang2 gila), daripada membuat bentjana ditengah2 ummat dan negara, hanja untuk menurutkan nafsu-merah-Moskow belaka. Mengingat apa jang diterangkan di atas, maka pembatja tentulah dapat membuat konklusi sendiri: Siapakah gerangan jang “keblinger” itu? Sjahdan, maka lepas daripada sual benar atau salahnja pidato Karno dan keterangan Ali, maka dapatlah diperoleh satu kesimpulan daripadanja: “Bahwa tantangan, antjaman dan perma’luman perang RIK kepada NII itu menje-babkan gagalnja segala usaha dan buntunja segala djalan kearah penjelesaian setjara damai”. Nasi sudah mendjadi bubur. Alhamdulillah wasjsjukru lillah, bahwa RIK jang melantjarkan agresi, bahwa RIK jang menjatakan atau memperma’lumkan perang kepada NII. Bagi kita, Negara Islam Indonesia, tinggal menjambutnja. V. SAMBUTAN ATAS PERMA’LUMAN PERANG R.I.K. KEPADA N.I.I. 1. Terlebih dulu akan kami berikutkan ma’na beberapa ajat Qur’an, Tuntunan Ilahy, Pedoman Sutji bagi setiap Mudjahid dalam menunaikan tugas-wadjibnja jang maha-sutji: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dengan tjara djihad-berperang pada djalan-Nja, li i’lai Kalimati-Llah semata. A. “Perangilah olehmu pada djalan Allah akan orang2 jang memerangi kamu dan djangan melampaui batas; bahwasanja Allah tidak mentjintai orang2 jang jang melanggar batas (hukum2 Allah-Islam)”. Q.S. Al-Baqarah: 190. B. “Bunuhlah mereka itu dimana kamu bertemu dengan (menemukan) mereka, dan usirlah mereka; fitnah itu lebih berbahaja (djahat) daripada pembunuhan (orang); .......dan djika mereka memerangi kamu, maka perangilah pula mereka; demikianlah pembalasan atas orang2 kafirin”. Q.S. Al-Baqarah:191. C. “Hendaklah kamu bersiap-sedia melawan mereka (kafirin), dengan (sekadar) tenagamu, dengan kekuatan dan kudakasjkar (alat2 perang apa dan manapun djuga)!” Q.S. Al-Anfal: 60. D. “Perangilah mereka (kafirin) itu, hingga lenjap-musnalah (segenap) fitrah didunia (bagi kita: RIK dan TRIK djahilin)”. Q.S. Al-Anfal: 39. E. “Hai orang2 jang beriman! Manakala kamu bertempur dengan kaum kafirin, hendaklah kamu bertetap-hati (tenang, ulet, kuat dan tahan),serta ingatlah (dzikir-lah) banjak2 kepada Allah, agar supaja kamu memperoleh kemenangan”. Q.S. Al-

Anfal: 45. F. “Hai orang2 jang beriman! Djika kamu berdjumpa dengan orang2 kafirin (harbi- jang memusuhi Islam) banjak, jang hendak memerangi kamu, maka djanganlah (haramlah) kamu membalik-belakang”. Q.S. Al-Anfal: 9. G. “Berapa banjak kedjadian, kaum jang sedikit (ketjil djumlahnja) dapat menga-lahkan kaum jang banjak (besar djumlahnja) dengan idzin (tolong) Allah; dan Allah beserta orang2 jang sabar (tahan udji dan ulet dalam melak-sanakan tugas Ilahy muthlak, dengan tha’at dan patuhnja).” Q.S. Al-Baqarah: 249. 2. Mengingat, bahwa: A. Tuntunan Ilahy, Pedoman Sutji, wadjib kita imankan dan ‘amalkan sepenuhnja, dengan tiada tawaran apapun djuga; B. Sunnah Rasulullah clm., dalam menghadapi musuh2nja, kaum Quraisj kafirin, wadjib mendjadi tjontoh dan tauladan ‘amal, bagi setiap Mudjahid; C. Sandaran gerak perdjuangan sutji, jang termaktub dan Siaran Pemerintah Negara Islam Indonesia, satu2nja Ulil-Amri Islam di Indonesia jang sah dan wadjib ditu-ruti perintah2nja; D. Pernjataan Perang pihak RIK kepada pihak NII itu hakikatnja hanja merupakan kelandjutan, pembenaran, penguatan dan peresmian keadaan perang antara kedua Negara selama 4½ tahun itu; E. Setiap Muslim dan Mudjahid wadjib menolak bahaja dan bentjana, jang ditim-bulkan oleh perbuatan kafirin dan djahilin RIK dan TRIK, ialah perbuatan2 djahannam jang njata2: 1) mentjemarkan, menodai dan mengindjak2 kesutjian Agama Allah (Islam); 2) memperkosa kedaulatan Negara Islam Indonesia, sebagai Negara Kurnia Allah; dan 3) melanggar hak2 asasy daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia. F. Setiap Muslim dan Mudjahid wadjib membela dan memelihara kesutjian Agama Allah (Islam), mempertahankan kedaulatan N.I.I., dan menguatkan serta menjen-tausakan hak2 asasy U.I.B.I., sebagai tanda bakti, tha’at dan patuhnja kepada perintah2 Allah, daripada setiap agresi atau serangan, apa dan dari manapun djuga, terutama terhadap agresi jang dilantjarkan oleh RIK dan TRIK, sedjak bertahun2 lamanja itu; dan G. Haramlah hukumnja atas tiap2 perbuatan, jang menolak dan ingkar daripada Tuntunan Ilahy, Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm. Dan perintah Ulil-Amri Islam (Imam N.I.I.); Maka sambutan kita, sikap dan pendirian Negara Islam Indonesia, atas tantangan, antjaman dan perma’luman perang dari pihak R.I.K., adalah sebagai berikut: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Bismillahi tawakkalna ‘alallahi lahaula wala quwwata illa billahil ‘alijjil-’adzim! Perma’luman Perang RIK kepada NII disambut dengan Takbir kehadlirat Ilahy, dengan angkatan sendjata, dengan perang berkuah darah, berdasarkan sebesar2 Taqwa dan Tawakkal ‘alallah semata, dengan memper-gunakan alat apapun jang dikurniakan Allah atas kita, baik jang berwudjudkan kekuatan dlohir maupun kekuatan bathin, dan dengan hati jang tulus ichlas, serta tekad “Juqtal au Jaghlib”, Menang atau Surga! Semoga Allah berkenan melimpahkan perlindungan, kedjajaan dan kemenangan bagi seluruh Barisan Mudjahidin dan segenap Angkatan Perang Negara Islam Indonesia —sebagaimana jang didjandjikan didalam Kitab-Nja—, dalam segala ‘amal-usahanja mempersembahkan dharma baktinja kepada ‘Azza wa Djalla semata: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Insja Allah. Amin. 3. Kepada seluruh Barisan Mudjahidin dan segenap A.P.N.I.I.! A. Kini telah tiba sa’atnja kita menghadapi perdjuangan mati-matian, perang berkuah darah, menghadapi RIK dan TRIK djahannam, perdjuangan mana —Insja Allah— akan diachiri dengan kemenangan2 jang gilang-gemilang bagi kita, ialah sjarat muthlak bagi berdirinja keradjaan Allah, dlohirnja Kebesaran dan Ke’adilan Allah di dunia, dan terwudjudnja Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Dengan karena idzin, tolong dan kurnia Allah djua. B. Selamat berdjuang dimedan perang! Gempur! Gempur! Gempurlah RIK dan TRIK! Beserta segenap kaki-tangan dan pesawat2-nja! Hingga tekuk-lutut atau hantjur-binasa! Hingga hukum2 Allah berlaku dengan sempurnanja dipermukaan bumi-Allah, Indonesia! Itulah djalan

satu2nja kearah Mardlotillah sedjati! Djalan menudju Darul-Islam dan Darus-Salam, usaha mentjapai Darul-Fatah dan Darul-Falah! Insja Allah, kita sekalian, Mudjahidin dan A.P.N.I.I. seluruhnja, didjadjakan dan dimenangkan Allah! Dengan karena Idzin dan Kehendak-Nja semata. 4. Kepada Ummat Islam dan Pasukan2 Islam, didalam lingkungan RIK dan TRIK! A. Tela’ahlah sekali lagi seruan dan adjakan kami di dalam Manifest Politik Negara Islam Indonesia, Nomer V/7 !!! B. Kini telah sampai sa’at jang terachir bagi Saudara2 sekalian. Sa’at, dimana Saudara2 sekalian harus, mesti dan wadjib menentukan sikap, menghadapi RIK dan TRIK djahannam! Selama Saudara2 sekalian belum lepas daripada belenggu hukum pantjasila, hukum djahil, selama itu Saudara2 sekalian tetap menanggung dosa, dan makin lama makin mendekati kepada tingkatan hidup jang haram dan mati jang durhaka! Adapun sikap dan pendirian, perbuatan dan tindakan, jang perlu Saudara2 sekalian lakukan, untuk melaksanakan taubatunnasuha itu, tidak lain, hanjalah dengan djalan: 1) Menjerang dan menjabotir tiap langkah RIK, serta menentang dan mendja-tuhkannja! 2) Memberontak dan menjerang RIK dan TRIK, dengan segenap kekuatan jang ada pada Saudara2 sekalian! Djangan tunggu sampai sempurna, sepandjang hitungan manusia! Karena tiap2 sa’at Saudara2 sekalian terlambat, maka perbuatanmu selandjut-nja akan merupakan “taubatnja orang jang tengah sekarat”! Dan 3) Gabungkanlah dengan segera tenagamu, dengan pihak NII dan APNII (T.I.I. dan P.I.I) setempat, jang telah mempunjai hubungan dengan Saudara2 sekalian! Dengan demikian, Insja Allah Saudara2 sekalian akan mendapat kesempatan dan lapang jang luas, bagi melaksanakan bakti sutji kepada Rabbul-’Izzati, bahu-membahu dengan kawan2mu Mudjahidin jang lainnja, satu2nja djalan-selamat bagi Saudara2 sekalian! Alangkah untung, bahagia dan mulianja setiap hamba-Allah jang pandai mempergunakan kesempatan dan lapang jang terluang bagi melakukan bakti maha-sutji, walau maha-berat sekalipun! Ingatlah! Bahwa sa’at jang sebaik ini belum tentu dapat diketemukan dalam waktu 10, 100 atau 1000 tahun sekali! Pergunakanlah sebaik2nja! Silahkan. 5. Kepada pihak jang lainnja! A. Jang dimaksudkan dengan “pihak jang lainnja” di sini, ialah tiap2 pihak: 1) Di luar Mudjahidin, dalam lingkungan N.I.I., dan di luar lingkungan A.P.N.I.I.; 2) Di luar Ummat Islam dan Pasukan2 Islam, didalam lingkungan RIK dan TRIK; tegasnja: tiap pihak, golongan, party, organisasi, perhimpunan atau perse-orangan, dengan tidak membedakan djenis, tingkatan, kedudukan, bangsa dan agama, kejakinan dan ideologi, dalam lingkungan RIK dan TRIK. B. Kepada mereka itu diperma’lumkan: 1) Barang siapa membantu, mengikuti, memihak dan membenarkan RIK dan TRIK, dengan tjara, bentuk dan sifat jang manapun djuga (lisan, tulisan, ‘amal-perbuatan dan lain2 sebagainja), maka mereka itu dianggap Musuh Negara Islam Indonesia, Musuh Islam dan Musuh Allah; dan 2) Karenanja, mereka diperbuat dan diperlukan, sebagai Musuh N.I.I., Musuh Islam dimasa perang, dan boleh didjatuhi hukuman berat atas mereka ,atas pertanggung-djawab Komandan atau/dan Panglima jang bersangkutan. Hendaklah tiap2 jang bersangkutan dan berkepentingan mendjadi ma’lumlah adanja. C. Sebagai penutup dalam sambutan ini, baiklah kami njatakan sepatah dua patah kata, mengenai Ra’jat dan nasibnja. 1) Ra’jat merupakan faktor jang terutama dan terpenting, sjarat muthlak dalam bentuk dan wudjud negara, serta masuk rukun jang amat penting dalam susunan tenaga dan organisasi negara ! 2) Lebih2 lagi, pentingnja kedudukan ra’jat tampak didalam Perang Totaliter, jang kini lagi berlaku antara NII dan RRIK, walau dalam ukuran ketjil2an sekalipun. 3) Perang bererti bukan hanja perebutan kekuasaan negara, melainkan djuga perebutan Ra’jat, perebutan dasar atau fondament negara.

4) Oleh sebab itu, maka pada ‘umumnja bolehlah dikatakan, maka pada ‘umum-nja bolehlah dikatakan, bahwa “barang siapa dapat merebut dan menguasai ra’jat, maka ialah jang akan menang”. Tuntunan dalam hal ini, periksalah: Siaran2 dan MKT2, jang bersangkutan. 5) Lebih2 lagi, di sini (Indonesia) kita menghadapi satu “fait accompli” (kenja-taan jang muthlak) jang gandjil: “Dua kekuasaan, dua dasar hukum, dua pemerintahan, di dalam satu negara dan mempunjai satu ra’jat jang sama”. Sehingga di dalam perang jang berlaku antara NII dan RIK, tidak dikenal garis demarkasi. 6) Oleh sebab itu, maka Ra’jat mendjadi alat dan sjarat dalam perdjuangan, maka Ra’jat mendjadi alat dan sjarat dalam perdjuangan, lapang berkuah-darah, medan pertempuran, gelanggang peperangan, jang atjapkali memba-karmenghanguskan segala apa jang dilaluinja. Hukum Allah harus berdjalan, sunnatillah harus berlaku. Tiada pilih kasih dan perketjualian di dalamnja. Barang apa jang malang-melintang patah, jang membudjur hantjur! Kalau bukan perintah Allah, tugas muthlak dari Allah langsung, kiranja tidak seorang Mudjahid jang sanggup angkat sendjata, mengingat kepedihan dan penderitaan Ra’jat jang boleh timbul daripadanja! Tetapi......tiada ksatrija jang enggan melihat darah! Tiada baji jang lahir, melainkan disertai dengan tjurahan darah! Tiada kemuljaan tertjapai, tanpa penderitaan! Tiada kemenangan, tanpa perdjuangan (perang)! Dan tiada Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dlohir di dunia, melainkan harus disertai dengan runtuh-djatuhnja RIK dan TRIK! Dalam pada itu, dalam menghadapi perang dewasa ini, mengenai nasibnja Ra’jat kedepan, hendaklah selalu kita berpegangan kepada pedoman: “Bawa-lah U.I.B.I. --djuga Ra’jat-- kearah Mardlotillah! Kalau perlu, dengan paksa” Tertimbang Ra’jat mendjadi alat iblis la’natullah atau makanan dadjdjal djahannam, lebih baik kita lempar dia masuk dalam surga!

NOTA RAHASIA KEDUA NII
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA NOTA RAHASIA KEDUA Barang disampaikan Allah kiranja kepada jang terhormat: Sdr. Ir. S O E K A R N O Presiden Republik Indonesia, Jang bersemajam di DJAKARTA Assalamu’alaikum w.w. 1. Alhamdulillah! Allahumma! Iyaka na’budu, wa iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakkalna ‘ala-Llah! Lahaula wala quwwata, illa-bi-Llah! 2. Sjahdan, maka baiklah kiranja terlebih dahulu kami njatakan kepada Saudara, bahwa telah genap hampir 4 bulan jang lalu sudahlah Kami lajangkan sebuah Nota Rahasia (jang pertama) kepada Saudara, Nota mana bertarich “Mardlotillah, 22 Oktober 1950/10 Muharram 1370”. Kiranja sementara ini, Saudara telah menerimanja dengan sempurna, serta menaruh perhatian atasnja, seberapa perlu dan dimana perlunja. Hanja bagi kepentingan Negara, Bangsa dan Agama Allah, djua

adanja. Atas perhatian Saudara jang seksama dalam hal-hal jang Kami tuliskan dalam Nota tersebut, maka sebelum dan sesudahnja Kami njatakan diperbanjak-banjak terima kasih, dan Alham-duli-Llah! Semoga Allah berkenan menimbulkan manfa’at dan maslahat daripadanja, bagi Republik Indonesia maupun bagi Negara Islam Indonesia! Insja Allah. Amin. 3. Selain daripada itu, perlu djuga agaknja Kami njatakan di sini, bahwa Nota Rahasia Kedua ini mengandung maksud, untuk: a. Memberi pendjelasan dalam beberapa hal, atas Nota Rahasia jang pertama; dan b. Menambah sesuatu jang dianggap perlu, jang harus diperhatikan oleh tiap-tiap Pimpinan Negara, teristimewa sekali oleh Kepala Negara jang bertanggung-djawab, menghadapi nasibnja Negara dan Bangsa, dimasa jang mendatang, mengarungi Lautan Merah, meng-hadapi Perang Brata Juda Djaja Binangun dan Revolusi Dunia, dimasa jang —Insja Allah— tidak djauh lagi. 4. Bila di dalam Nota-Rahasia Kedua ini Kami njatakan terus terang segala sesuatu kepada Saudara, tiada lain maksud kami, melainkan hanjalah untuk kepentingan Negara dan Bangsa Indonesia belaka, jang langsung atau tidak langsung mengenai nasibnja Republik Indonesia dan Negara Islam Indonesia, mulai sekarang kedepan. Kiranja Saudara dalam hal ini sepen-dapat dengan Kami. 5. Sebaliknja, djika dalam sual-sual tersebut ada selisih faham dan pendapat, antara Saudara dan Kami, sudi apalah kiranja Saudara suka memperma’afkan banjak-banjak! Berhubung dengan pergolakan Internasional, baiklah kiranja, djika Kami njatakan sebagai jang berikut: a. Tentang akan terdjadinja Perang Dunia Ketiga, agaknja tidak lagi patut dipersualkan. b. Di dalam Perang Dunia tersebut tidak mungkin Republik Indonesia akan tetap memegang haluan “Bebas” (neutral) jang mendjadi pendiriannja, baik lambat maupun tjepat. c. Di dalam memilih Blok, dengan sukarela atau dengan terpaksa, maka amat besar sekali kemungkinan bahwa RI akan masuk Blok-Amerika, sedang pada waktu ini politik Luar-Negari RI telah menundjukkan tjondongnja kearah dan djurusan itu. d. Djika terdjadi jang demikian, maka segala langkah dan tindakkan tentulah ditudjukan kesatu arah, ja’ni: keluar (internasional), atau/dan mengenai urusan luar. Dalam pada itu, usaha dan tindakan kedalam amat kekurangan tenaga, waktu dan sjarat (miniem). e. Letaknja Indonesia di tengah-tengah rantai-pertahanan Amerika di Pasifik, membawa dia ke satu arah —mau ataupun tidak mau—, terseret dalam gelanggang peperangan. Bahkan praktis Indonesia akan masuk salah satu rantai didalam “garis depan”. f. Kiranja semuanja itu telah Saudara perhitungkan masak2, terlebih dulu. 6. Di dalam menindjau dan meneliti situasi interinsuler, baiklah Kami harapkan perhatian Saudara atas: a. Persiapan Kaum Komunis, dalam semua lapangan, untuk melakukan perampasan keku-asaan, “coup d’etat”, politis dan militer. Kiranja Saudara telah lebih mengetahui tentang hal ini dan memperhitungkan langkah dan tindakan, bagi mendjaga dan memelihara kedaulatan Negara. b. Persiapan pihak jang lainnja, ideologis atau tidak, didalam lapangan politik dan militer, untuk mentjampaikan maksudnja. c. Akibat daripada KMB, Konferensi Irian, dan lain-lain sual kenegaraan (Staatkundige vraagstukken) dan ketentaraan, jang kini masih merupakan sual-sual jang kurang penting dan kurang mendapat perhatian, maka pada sa’at meletusnja Perang Dunia Ketiga itu, sepandjang hitungan, akan menimbulkan bahaja jang amat besar sekali, jang natidjahnja akan merugikan kepada negara. d. Keadaan alat-alat negara dan pesawat-pesawat Negara djauh daripada capable, untuk menghadapi segala kemungkinan, karena: 1) Di dalamnja telah penuh dengan benih-benih dan ‘anasir-’anasir serta aliran “anti-negara” (anti-RI), terutama sekali jang

merupakan: Komunisme. 2) Meradjalelanja kerusakkan achlak dan budi pekerti, dan sepinja kesadaran bernegara, sehingga membawa ‘akibat korrupsi, tidak boleh dipertjaja, sabotage —dengan sengadja atau tidak— menentang usaha Pemerintah, melakukan tindakan dan per-buatan, sehingga ra’jat dan masjarakat anti kepada pemerintah, dan lain-lain seba-gainja. Kiranja tentang hal ini, Kami tidak perlu menundjukkan tjontoh-tjontoh jang njata. e. Oleh sebab itu, maka disa’at jang kritik nanti, Kami chawatirkan, bahwa Republik Indonesia akan mengalami nasib jang tragis, seperti jang telah Kami gambarkan dalam Nota Rahasia terdahulu (pertama). 1) Djika terdjadi jang demikian, bukanlah negara lain jang akan menjerang dan mem-bunuh Indonesia, melainkan alat-alat dan pesawat-pesawat RI sendirilah jang akan menjerang dan membunuh RI, bagi kepentingan dan keperluan sesuatu ideologi, ialah: Komunisme. 2) Djika RI “bunuh-diri”, karena “sendjata makan tuan”, maka pergolakan politik dan militer serta huru-hara di Indonesia, tidaklah akan berhenti sampai batas itu. Karena proces ini hanja merupakan pangkal dan bukan udjung daripada revolusi dunia didaerah Indonesia, nanti. Lebih djauh, dengan hantjur-leburnja RI sebagai negara, maka Nasionalisme Indonesia akan mengalami perpetjahan jang hebat; sebagian mungkin beralih tempat, masuk golongan Komunis, dan jang sebagian lagi akan menggabungkan dirinja dengan golongan Islam. 3) Sudah boleh dikira-kirakan dan dibajangkan terlebih dulu, betapakah gerangan kelak sikap langkah dan pendirian Ummat Islam, jang hingga kini masih mempunjai sikap Nasional-Islamistis-Parlementer itu. Karena tusukan dan tekanan kaum Komunis —dengan tjara dan sifat apa dan jang manapun djuga— maka Ummat Islam akan disorong kesudut “memilih pihak”. Dan, Insja Allah, kelak kemudian mereka akan masuk Blok-Islam, tegasnja: Negara Islam Indonesia. 4) Djika dengan idzin Allah terdjadi jang serupa itu, maka di dalam lapangan dan gelang-gang perdjuangan di Indonesia hanja akan ada dua golongan, jang berhadap-hadapan sebagai musuh dan lawan jang ta’ kenal damai, antara satu dengan jang lain, ialah: Komunisme lawan Islamisme. 7. Inilah beberapa hal, jang perlu Kami kemukakan kepada Saudara, dengan harapan mendapat perhatian sepenuhnja. Dengan ini pula Kami njatakan sekali lagi pertimbangan dan andjuran daripada pihak Kami, sebagaimana jang termaktub didalam Nota Rahasia terdahulu (pertama), angka 11, berkenaan dengan sual-sual tersebut: a. Tiada djalan lain, jang menudju kearah “Keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia”, melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiaptiap lapangan, terutama sekali jang melekat di dalam tubuh Pemerintahan Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja dengan wudjud dan sifat apa dan jang mana pun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. ...................................... 8. Kemudian daripada itu, berkenaan dengan sual Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949, dan sualsual lain disekitarnya, seperti jang berikut: a. Proklamasi 7 Agustus 1949, adalah satu tjurahan Kurnia Allah, atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, satu idzin dan perkenan Allah jang berwudjudkan: “inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, dua, tekad, dan amal-usaha perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia”. b. Oleh sebab itu, maka Proklamasi 7 Agustus 1949 merupakan satu hak-sutji daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang tidak hanja harus serta wadjib dihargai dan dihor-mati oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap-tiap bangsa diseluruh dunia. c. Hak-sutji tersebut di atas bolehlah kiranja dibagi mendjadi dua bagian: 1) Jang mengenai isi, maksud dan wudjud bulat sempurna (essensiel substantif), ialah: Kemerdekaan Islam bulat 100%, seperti jang dimaksudkan dalam Pendjelasan singkat atas Proklamasi tersebut, angka 5, sub a. hingga d. Tentang hal ini, sedikitpun tiada tawaran, tambahan, pengurangan atau perubahan apa dan jang mana pun djuga. Lantaran, sebagaimana Saudara tentu mafhum dan mengerti, bahwa tiap-tiap peru-bahan dalam hal ini, walaupun hanja sedikit, akan membawa akibat perubahan jang besar dalam bagian-bagian jang lainnja. 2) Jang mengenai technik-pelaksanaan, seperti mitsalnja: batas daerah dan lain-lain jang serupa itu, berbeda dengan jang

tersebut dalam angka 8, sub c. (1) di atas, jang mempunjai sifat “absoluut” (pasti), maka bagian (2) ini bersifat “relatif” (boleh berubah-rubah). Boleh pandjang atau pendek, boleh luas atau sempit, dan lain-lain sifat alam dahry (materieel). Wal hasil, tentang hal ini bolehlah dilakukan tawar-menawar, perdamaian, dan lain-lain usaha pendjelasan jang serupa itu. d. Agaknja keterangan ringkas jang dituliskan di atas, bolehlah kiranja dianggap sebagai bantuan daripada pihak Kami kepada Saudara, kalau-kalau dapat meringankan dan memu-dahkan Saudara, dalam pertanggung-djawab Saudara, memetjahkan sual Proklamasi 7 Agustus 1949 itu dan sual-sual di sekitarnja. e. Dengan ini , maka atas nama Pemerintah Negara Islam Indonesia, bolehlah dengan terus-terang Kami njatakan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, bahwa: 1). Djika Pemerintah Republik Indonesia suka mengakui dengan resmi akan Proklamasi, maka Kami sanggup mendjamin, bahwa Republik Indonesia akan mempunjai sahabat sehidup-semati dalam menghadapi tiap-tiap kemumkinan, dari luar dan dari dalam, terutama menghadapi Komunisme, jang makin hari makin bertambah tampak bahajanja, bagi Negara dan Bangsa Indonesia maupun bagi seluruh dunia demokrasi (nasional). 2). Sebaliknja daripada itu, djika Republik Indonesia tidak mengakui Proklamasi 7 Agustus 1949 --jang kini sudah mendjadi kenjataan (fati accompli)--. maka Kami tidak akan iku tanggung djawab atas nasibnja Negara dan Bangsa Indonesia, baik di hadapan Mahakamah Sedjarah maupun di depan Mahkamah Allah kelak. 3). Dalam hal ini, Kami pertjaja sepenuh-penuhnja atas kebidjaksanaan Saudara. 9. Adapun tentang perubahan dan peralihan Republik Indonesia, ke dalam maupun ke luar, se-bagai djalan dan obat jang lainnja, untuk menghindarkan "Negara dan Bangsa Indonesia" daripada bahaja keruntuhan, sudahlah agaknja tjukup dirawaikan dalam Nota rahasia jang terdahulu (pertama), angka 14. Sudi apalah kiranja saudara suka menganggapnja sebagai bantuan daripada pihak kami, bagi memetjahkan sual-sual ketata-negaraan jang sukar sulit itu. 10. Achirul-kalam, segala sesuatu harus dilakukan dengan tjepat dan tepat. Demikianlah harapan kami kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, bagi kepentingan Negara dan Bangsa Indonesia, djua adanja. Di balik itu, djika langkah dan tindakan jang diharapkan itu lambat atau terlambat, maka tidaklah boleh diharapkan akan menimbulkan natidjah jang sebaik-baiknja, bagi kepentingan Negara dan Bangsa.Bahkan amat mumkin sekali, sebaliknja. Sekali lagi, sudi apalah kiranja Saudara suka menaruh perhatian sepenuhnja. Sebelum dan sesudahnja, terima kasih dan Alhamdulillah li-Llah, kami aturkan. 11. Semoga Allah berkenan menuntun kita sekalian ke arah dan maqam jang diliputi rahmat dan ridlo-Nja, bagi kepentingan Republik Indonesia dan Negara Islam Indonesia, serta Ra'jat dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, djua adanja. Inna fatahna laka fat-han mubina........................... Insja Allah. Amin. Bismillahi....................................Allahu Akbar! Wassalam,

NOTA - RAHASIA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA NOTA - RAHASIA Barang disampaikan Allah kiranja kepada jang terhormat: SAUDARA Ir. S U K A R N O

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Jang bersemajam di DJAKARTA Assalamu’alaikum w.w. 1. Alhamdu li-Llah! Allahumma! Iyaka na’budu, wa iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakkalna ‘ala-Llah! Lahaula wala quwwata, illa-bi-Llah! 2. Dengan seputjuk surat jang berwudjudkan Nota-Rahasia ini, maka terkandunglah di dalamnja keinginan Kami jang —Insja Allah— tumbuh daripada hati jang sutji dan niat jang ichlas dengan penuh rasa pertanggung-djawab atas nasibnja Bangsa Indonesia pada ‘umumnja dan Ummat Islam Bangsa Indonesia pada chususnja, serta atas nasibnja Negara Indonesia, dimasa jang mendatang. 3. Lebih dulu baiklah kiranja Kami njatakan di sini, bahwa segala peristiwa jang terdjadi di seluruh Indonesia dan sekitarnja, militer dan politis, nasional maupun internasional, terutama jang langsung mengenai Bangsa Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, senantiasa Kami ikuti dengan teliti dan seksama. Maka bolehlah agaknja Nota-Rahasia ini dianggap sebagai hasil dan natidjah daripada pendjeladjahan dan analyse serta synthese daripadanja. 4. Mudah-mudahan segala sesuatu jang hendak Kami rawaikan di bawah ini disertai dengan Hidajatu-Llah dan Hidajatuttaufiq jang sempurna, sehingga bolehlah kiranja mendjadi obor dan pelita bagi tiap2 pemimpin Negara jang bertanggung-djawab. Insja Allah. Amin. Kemudian, chusus kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, jang dipertjajakan orang jang memikul pertanggung-djawab jang amat besar atas hantjur dan luhurnja Negara dan Bangsa Indonesia, maka Kami ingin sekali menjatakan persilahan: Sudi apalah kiranja Saudara suka memperhatikan isi dan maksud Nota-Rahasia ini, dengan sepertinja. 5. Dalam Nota-Rahasia ini kami tjukupkan dengan menindjau beberapa peristiwa politik dan militer, pada masa jang achir-achir ini, ialah natidjah atau resultante daripada segala kedjadian (proces) dan keadaan (tustand), dikala telah lampau. 6. Sjahdan, maka masuknja Republik Indonesia mendjadi anggauta P.B.B. (Perserikatan Bangsa-Bangsa), seperti djuga tiap2 langkah dan tindakan hasil politik jang lainnja, pastilah membawa hasil “untung” dan “rugi”, manfa’at dan mudlorotnja. 7. Djika diperhitungan kan benar-benar dan sedalam-dalamnja, terutama djika mengingat kedu-dukan Republik Indonesia sebagai negara muda, maka masuk dan diterimanja Republik Indonesia, anggauta P.B.B. itu, nistjajalah menimbulkan kerugian jang amat besar sekali, bagi Negara dan Bangsa serta Ummat, djika dibandingkan dengan keuntungan jang ta’ sebera-pa besarnja dan bersifat sementara itu. Lebih-lebih, djika diingati akan letaknja Indonesia ditengah-tengah negara-negara Besar, jang kini lagi ‘asjik menjalakan api-peperangan, jang membakar-bakar dibenua Asia. Demikianlah pendapat daripada ‘umumnja politici golongan

“moderate”. 8. Satu-dua resiko “ke-anggauta-an P.B.B.” diwaktu ini, ialah: a. Bahwa Republik Indonesia, mau atau tidak mau, sengadja atau tidak sengadja, akan disorong kesatu arah dan djurusan jang tertentu, jang membawa dia kepada satu tingkatan: Memilih salah satu diantara dua Blok, jang lagi bertentangan. b. Kiranja tidak djauh daripada kenjataan (realiteit) dalam waktu jang dekat, djika orang meramalkan, bahwa Republik Indonesia akan masuk dalam Blok-Amerika. c. Djika terdjadi jang demikian, maka “neutraliteits-politiek” jang tempo hari dilahirkan oleh jang terhormat Saudara Drs. Mohd. Hatta, sebagai Perdana Menteri, dalam mene-gaskan haluan politik Pemerintah terhadap Luar Negeri, lenjaplah, laksana debu ditiup angin. Dan lebih landjut, Republik Indonesia akan mendjadi satu Negara jang anti-Blok-Russia, atau anti-Komunis. Kami jakin, bahwa semuanja itu telah masuk perhitungan Pemerintah Republik Indonesia, sebelum melakukan langkah jang “sportief” itu. 9. Berkenaan dengan jang tersebut dalam angka 8 di atas, maka Kami atas nama Pemerintah Negara Islam Indonesia menjatakan: Selamat! Terima Kasih! Dan, Alhamdu li-Llah! Karena dengan terbukanja “topeng” haluan politik Republik Indonesia jang sesungguhnja itu, dari politik “neutral” beralih mendjadi politik “anti-Komunis”, maka Negara Islam Indonesia merasa mempunjai kawan jang sedjalan, dalam melaksanakan usaha membasmi dan mengenjahkan lawan jang sama (gemeenschappelijkevijand), ialah: kaum Komunis. 10. Lebih djauh, Kami pertjaja dan jakin, bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah lebih mengetahui akan sarang-sarang dan gerak-gerik kaum Komunis Indonesia, di dalam tiap-tiap lapangan dan lapisan masjarakat Indonesia, djuga didalam tubuh Pemerintah Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja sendiri, jang makin hari makin bertambah berbahaja bagi Negara Republik Indonesia. Agaknja ta’ perlu lagi kami tundjukkan akan perbuatan-perbuatan mereka itu, dalam usahanja meruntuhkan Negara, baik dalam lapangan politik dan militer maupun dalam lapangan ekonomi, keuangan, d.l.l.-nja, legaal dan illegal. 11. Sebagai kawan sedjalan, semaksud dan setudjuan didalam menghadapi bahaja-Komunisme di Indonesia itu, maka baik djuga agaknja, bila di sini kami njatakan dengan terus-terang dan dengan hati jang terbuka, kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, kalaukalau —dengan tolong dan kurnia Allah pula— akan mendjadi sebab terhindarnja Negara dan Bangsa Indonesia daripada bahaja keruntuhan dan kedjatuhannja, dimasa jang akan datang. Pertimbangan dan andjuran dari pihak Kami, ialah: a. Tiada satu djalan lain, jang menudju kearah “Keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia,” melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiap-tiap lapangan, terutama sekali jang melekat didalam tubuh Pemerintahan Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja, dengan wudjud dan sifat apa dan mana pun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. Bilamana Republik Indonesia segan-segan dan terlambat dalam melakukan tindakan dan usaha membasmi “bahaja” jang selalu mengantjam-antjam itu, maka terbukalah ke-mungkinan

jang amat besar sekali, bahwa Republik Indonesia dalam waktu jang singkat akan djatuh sebagai Negara seperti nasibnja Tiongkok di tahun-tahun jang achir-achir ini, setelah kaum “Merah” dapat mengusir kaum “Nasionalis”, dari pusat tanah-tumpah-darahnja. c. Terutama djika kelambatan melakukan tindakan tersebut memandjang hingga sampai kepada meletusnja Perang Dunia ke III, maka sepandjang perhitungan sjari’at, nistjajalah Republik Indonesia akan menemui djalan buntu dan nasib malang, jang sedikitnja senisbat dengan nasib Korea pada dewasa ini. Bahkan, mungkin sekali lebih djelek dan lebih buruk daripada itu. Oleh sebab itu, maka sekali lagi Kami pertimbangkan dan serukan kepada Saudara: “Hendaknja disegerakanlah, melakukan tindakan jang tjepat dan tepat atas bahaja nasional dan internasional tersebut, jang pada hemat kami, tindakan jang serupa itu adalah salah satu tugas dan wadjib-muthlak bagi Pemerintah Republik Indonesia, untuk menghin-darkan Negara dan Bangsa Indonesia daripada antjaman mara-bahaja jang amat dahsjat itu!” Adapun tentang tjara, alasan dan lakunja, maka Kami pertjaja dengan sepenuh-penuhnja atas kebidjaksanaan Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini. 11. Dalam pada itu, baik djuga Kami njatakan di sini akan Sikap dan Pendirian Pemerintah Negara Islam Indonesia terhadap bahaja Komunisme, bahwa sedjak mula berdirinja —7 Agustus 1949— telah ditetapkan: “Pemerintah Negara Islam Indonesia dengan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta segenap alat kekuasaannja sudah, lagi dan akan terus-menerus melakukan wadjib-sutjinja: Membasmi bahaja-Negara, bahaja-Agama Allah (Islam) dan bahaja Ummat itu, hingga sampai kepada akar-akar dan dasar-dasarnja”. Karena dalam pandangan Islam, Komunisme itu adalah musuh ideologi jang amat besar sekali. 12. Lebih djauh lagi, tentulah Saudara telah mengetahui pula, bahwa “tiada lagi ideologi, melain-kan hanja “Islamisme” sadjalah, jang sanggup dan kuasa membendung aliran Komunisme dan menghantjur-musnahkannja”. Insja Allah. Sedang sementara itu, bolehlah Kami njatakan dengan tiada samar-samar lagi, bahwa Nasionalisme jang mendjadi sendi dan dasar serta haluan Negara Republik Indonesia, bukanlah satu ideologi, sematjam Islamisme atau Komunisme. Melainkan ia hanjalah merupakan satu tingkatan “kasih sajangnja” sesuatu bangsa kepada tanah kelahirannja dan dirinja. Dengan analyse ringkas seperti jang tertulis di atas, njatalah sudah, bahwa didalam pertentangan antara Nasionalisme dan Komunisme, didalam masa jang lama (long term), terutama djika Komunisme dibiarkan mendjadi agressor, maka amat boleh djadi sekali Nasionalisme akan terpaksa menjerah-kalah, atau patah dan terpelanting serta terpentjar dalam pertentangan tersebut. Sebagai tjontoh dan bukti jang njata daripada nasibnja negara-negara jang berdasarkan Nasionalisme dalam “pertentangan ideologi”, hendaklah Saudara suka memeriksa lembaran riwajat Eropa-Timur dan Asia-Timur, setelah Perang Dunia ke II, teristimewa nasibnja Tiongkok Nasional, jang amat tragis itu. Djika perhitungan Saudara, dalam hal ini,, tidak sesuai dengan perhitungan Kami, sudi apalah kiranja suka memperma’afkan banjak-banjak!

13. Mengingat segala apa jang Kami uraikan di atas itu, maka njatalah sudah, bahwa: a. Nasionalisme tidak akan mampu dan tidak pula kuasa membendung derasnja arus Komunisme, karena Nasionalisme tidak dapat mengikat djiwa Ra’jat Indonesia, jang sebagian terbesar memeluk Agama Islam dan tidak pula mendjadi ikatan-djiwa antara Pemerintah Indonesia dan Ra’jat Indonesia; b. Karenanja, Negara Republik Indonesia tidak akan dapat menghindarkan dirinja daripada mara-bahaja jang amat besar itu, jang langsung akan mengakibatkan runtuh-djatuhnja Negara Indonesia, sebagai Negara Nasional; dan c. Hanja Islamisme sadjalah, sebagai ideologi dan stelsel dunia (woreldstelsel), jang sanggup mengatasi kesulitan, jang boleh timbul karena datangnja bahaja Merah itu. Berhubung dengan itu, maka Kami berpendapat, bahwa obat jang paling mudjarab jang akan mendjadi sebab sembuhnja Negara Indonesia dan Bangsa Indonesia daripada penjakit, jang berwudjudkan seribu satu kesulitan dalam tiap-tiap lapangan-usaha itu, tidak lain, hanjalah: “Djika Islamisme didjadikan sendi-dasar daripada Pemerintah dan Negara Indonesia”! Atau dengan kata-kata lain: “Satu-satunja Djalan-Selamat bagi Indonesia dan Bangsa Indonesia, ialah: Djika Negara Indonesia atau Republik Indonesia dalam waktu jang sesingkat-singkatnja beralih sifat dan wudjudnja, dari “Nasional” kepada “Islam”, mendjadi NEGARA ISLAM INDONESIA”. Dengan ini Kami ingin sekali menjatakan persilahan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, sudi apalah kiranja Saudara suka mempertimbangkan baik-baik dan sedalam-dalamnja akan pendapat Kami ini. Sebelum dan sesudahnja, atas perhatian Saudara itu, Kami haturkan diperbanjak-banjak terima kasih, dan Alhamdu li-Llah. 14. Selain daripada itu, tidak pula boleh dilupakan akan peristiwa-peristiwa jang terdjadi disekitar KMB atau/dan natidjah jang timbul daripadanja, jang semuanja itu makin hari makin mendekati kepada puntjak keruntjingan dan kegentingannja, jang achir-kemudiannja —lambat atau tjepat— akan meng’akibatkan “pertentangan antara Republik Indonesia dan Belanda”. Kini teranglah sudah, bahwa KMB dengan segala sebab jang menimbulkannja dan segala ‘akibat jang timbul daripadanja, tidaklah sekali-kali mendjadi obat jang dapat menjembuhkan Bangsa Indonesia daripada serangan penjakit “Kolonialisme Belanda”. Maka pada achir-achir ini, tampaklah dengan tegas dan njata, akan timbulnja kembali penjakit: “Kolonialisme” itu. Oleh sebab itu, maka Uni Indonesia-Belanda jang tadinja diharapkan akan mendjadi tali persahabatan antara kedua negara itu, pada achir-kemudiannja, beralih sifat dan tjoraknja, mendj’adilah lapang pertikaian. Kiranja Saudara tidak menaksir rendah (onderschatten) dan terlalu “optimistis” tentang hal ini, dan baiklah agaknja, djika mulai sekarang djuga Pemerintah Republik Indonesia “bersedia pajung, sebelum hudjan.” 15. Sekianlah hal-hal jang kini perlu Kami njatakan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, jang bertanggung-djawab berat dan besar atas nasibnja Negara dan Bangsa, dimasa jang akan datang. Sekali lagi! Sudi apalah kiranja Saudara suka menaruh perhatian, dimana perlu dan seberapa perlunja. 16. Semoga Allah selalu berkenan mentjurahkan Hidajat dan Taufiq-Nja atas kita, Ummat

Islam Bangsa Indonesia, dan berkenan pulalah kiranja Ia menuntunnja kearah BahagiaSentausa, dunia dan achirat. Amin. Inna fatahna laka fat-han mubina .... Insja Allah. Amin. Bismillahi ..... Allahu Akbar!!!WassalamMANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA

Oleh: I. HUDA KUASA USAHA KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim Assalammu’alaikum W. W. BAB I: MUQODDIMAH 1. Alhamdulillah, wasj-sjukru rillah! Allahu Akbar. Segala pudji hanja bagi Allah, Dzat Maha Tunggal. Dzat Pelindung para Mudjahidin, Dzat Pendjaja dan Pemenang Tentara Allah, Tentara Islam Indonesia. Mudah2an selandjutnja hingga ia berkenan mendlahirkan keradjaannja, di tengah-tengah dan ra’jat nusantara Indonesia berwudjudkan: Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Insja Allah. Amin. 2. Sjahdan, di tengah-tengah serangan badai dan gelombang International jang hebat dahsjat, di tengah-tengah taufan menderu-deru jang menggetarkan dan menggem-purkan seluruh dunia, maka tepat pada saat jang genting-runtjing itu: Heru Tjokro tiba! Heru Tjokro bersabda! Heru Tjokro berbuat! Kiranja ada guna dan faedahnja, djika kami sadjikan keterangan dan penerangan jang serba ringkas atas: Apa ge-rangan jang dimaksudkan dengan nama dan istilah “Heru Tjokro” itu. 1). Kalimat “Heru” —biasanja dipakai di dalam rangkaian dan gubahan kata “hera-hero”, atau

“hera-heru”—, bolehlah diartikan : “huru-hara, revolusi, atau perang, suatu tanda dan alamat akan timbulnja suatu perubahan ‘alam dan masjarakat jang tjepat, meninggalkan zaman lama riwajat “nan usang”, mendjelang zaman baru, zaman dlahirnja kebesaran dan Ke’adilan Allah dipermukaan bumi, zaman jang membarukan sesuatu jang lama dan lapuk, zaman jang menimbulkan dan mentjiptakan barang sesuatu jang baru. 2). Kalimat “Tjokro” menggambarkan suatu machluk Allah, suatu pesawat dan alat Allah, jang menguasai dan memutarkan roda dunia”, roda “Tjokro Penggilingan”, menudju kepada suatu arah dan menurutkan suatu rentjana jang tertentu, dengan kehendak dan kekuasaan Allah, menudju Mardlotillah sedjati: Keradjaan Allah di dunia atau Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Kalimat “Tjokro” dipakai dan dipergunakan —terutama di dalam buku-buku tambo dan riwajat purba—, untuk menundjukan nama “seorang” hamba-Allah jang setengah gaib, jang lazim pula disebut “Risjadullah” (lelaki kekasih —pembela Agama— Allah), jang pada garis besarnja memiliki sifat-sifat; a. Pembawa amanat Allah, berwudjudkan Kebenaran dan Ke’adilan, sepandjang hukum dan adjaran sutji, tuntunan Illahi; b. Pelepas dan pembebas (verlosser) bagi segenap perikemanusian, daripada bentjana dan malapetaka dlahir dan bathin, didunia hingga di achirat kelak; c. Pembela Agama Allah dalam arti kata jang luas: a) Merupakan “Ksatrija Sutji”, Pahlawan Agama, Panglima Perang dan pemimpin Revolusi, dimasa huru-hara, dimasa perang; b) Berwudjudkan “Wiku Sutji dan Pendhita Sakti”. Pemimpin Ummat manusia dalam menunaikan tugas sutjinja, mempersembahkan dharma bhaktinja kepada Dzat Rabbul-’Izzati. Sehingga dengan karenanja, ia mendjadi tjontoh dan tauladan, memberi tuntunan dan pimpinan kepada masjarakat sekelilingnja, jang bertuhankan kepada Allah dan ber-Nabi-kan kepada Muhammad, Rasulullah Clm. d. Pelaksana dan pendlahir Ke’adilan Allah didunia, berdasarkan kepada tuntun-an Ilahy jang sutji murni dan adjaran Nabi-nja, jang dengan karenanja berlaku: a) Keras terhadap tiap2 pemungkir, penolak dan pelanggar hukum2 sutji, hukum Ilahy; b) Lunak dan kasih sajang kepada barang siapa jang ta’luk-tunduk dan tha’at kepada Allah dan Rasulnja, beserta Ulil-Amri-Nja; sesuai dengan amanat sutji “.... asjidda-u ‘alal kuffar, ruhama-u bainahum....”, melindas barang sesuatu jang malang melintang! 3). Inilah beberapa sifat, jang mendjadi bawaannja (ruping) hamba Allah, jang biasanja diberi gelaran “Heru Tjokro”: Pembasmi setiap musuh Allah, musuh petjinta dan pembela Agama Allah, musuh segenap Mudjahidin, musuh Negara Kurnia Allah, dan musuhnja Negara Islam Indonesia. 4). Di dalam riwajat purba kalimat “Tjokro” itu dikenal pula sebagai nama sebuah “sendjata sakti”, sendjata “penghantjur bukit, penjapu, pembelah angkasa, dan pengering lautan (air)”, jang hanja dipergunakan dimasa sukar-sulit, disa’at pe-rang besar, Perang Brata Juda Djaja Binangun. Di dalam karangan ini, kalimat “Tjokro” dalam ma’na “Sendjata Sakti”, bolehlah diartikan:

a. Penjapu masjarakat djahiliah, pembela gelap gulita, jang lagi meliputi dan menjelubungi seluruh Indonesia, karena perbuatan2 anak dadjdjal la’natullah, beralih mendjadi terang benderang, terang tjuatja, lepas daripada gangguan kabut tabir, sehingga tampak dengan djelas: apa dan betapa keadaan sesung-guhnja; b. Pembasmi barang siapa jang chianat dan murtad, kufur dan munafiq, tjurang dan serong, pendjual Agama dan Negara, tegasnja: segala anak-tjutju iblis la’natullah, jang kini masih leluasa erkeliaran ditengah2 masjarakat dan ra’jat Indonesia dan achir kemudiannja: Sji’ar-ulIslam akan menampakkan tjahaja jang tjemerlang —tanda turunnja Nur Ilahiyah dan Nur Muhammadiyah— dipermukaan bumi Allah Indonesia. c. Pembeda dan pemisah —sesuai dengan kalimat Al Furqan didalam Al-Qur’an, sebagai salah satu namanja Kitab Sutji itu—, jang dengan karenanja, membedakan dan memisahkan haq daripada bathil, benar daripada salah, iman daripada kufur, tha’at daripada ma’sjat, djudjur, setia dan ‘adil daripada serong, tjurang dan munafiq, Islam daripada murtad. 5). Sekali “Heru Tjokro” melepaskan anak panahnja (Panah Tjokro) Insja Allah, sekali itu pula agaknja akan mentjukupi keperluan hadjatnja, sebagai langkah dan tindakan langkah jang pertama : a. Membuka kedok “buta terong” jang berpakaian “ksatrija” dan menelanjangi “penipu” dan “pengchianat”, jang selalu menakan dirinja “pemimpin” dan “pembela” ra’jat ; b. Melepaskan ra’jat daripada tjengkraman “sjaitan merah”, jang menamakan dirinja “pembebas manusia”, dan c. Memimpin dan menuntun ra’jat. Ke arah maqam jang dilimpahi rahmat dan ridla Ilahy, kearah Mardlotillah sedjati. 6). Dengan keterangan ringkas jang tsb. di atas, tjukuplah kiranja untuk menjatakan himmah dan minat kami : mempergunakan nama “Heru Tjokro” sebagai nama daripada Manifesto Poitik Negara Islam Indonesia Nomor: V/7.ini. Semoga Allah berkenan membenarkan, memberkahi dan meng-idjabah barang apa jang dipandjatkan kehadirannja, sebagai harap dan du’a, sebagai letupan djiwa dari-pada pengarang beserta seluruh pedjuang sutji jang lainnja, jang lagi tengah melaksanakan dharma bhaktinja kepada Dzat Maha Tunggal. Jang Maha Kuat: Dzat Waahid-ul-Qahhar! Amin. 3. Selain daripada itu, pernjataan “Sabda” (medar sabdo Dj.) itu dilakukan tepat pada hari tanggal 7 Agustus 1952, hari peringatan Ulang Tahun Ketiga daripada Prokla-masi berdirinja Negara Islam Indonesia, ialah hari besar jang bersejarah, dimana tiap2 Ummat Islam terutama Mudjahid, patut, harus dan wadjib: Membesarkan Allah! Allahu Akbar! 1). Membesarkan Allah dengan tekad jang sutji dan kejakinan penuh, tasdiq bil-qalbi, dalam arti kata: Menanam dan mejakinkan akan benarnja ideologi Islam dalam dada dan djiwa setiap Mudjahid, sehingga mendjadi “Allah minded”, Islam-minded, dan Negara Islam Indonesiaminded” 100%. 2). Membesarkan Allah, dengan pernjataan (Bai’at kepada Allah) iqrar bil-lisan, jang menundjukkan akan keinginan dan kesanggupan setiap Mudjahid, menunaikan tugas sutji, dengan segenap djiwa raganja: li ilai Kalimatillah, meluhurkan Agama Allah lebih daripada sesuatu diluarnja.

3). Membesarkan Allah dengan bukti njata, qabul bil-’amal, dengan ‘amal dan usaha dlahir bathin chas dan ‘am, sjachsiyah dan idjtima’iyah bagi mendlahirkan Kebesaran dan Ke’adilan Allah didunia, dan bagi Membina-mendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. 4). Wal-hasil, pada hari besar ini terdj’adilah suatu peristiwa jang besar, sabda jang besar, pernjataan seorang jang besar, Heru Tjokro Ridjalullah, suatu tjurahan rahmat jang besar, jang timbul hanja karena Kebesaran Allah semata. Dengan tolong dan Kurnia-nja djua. Semoga Allah berkenan memandaikan dan mentjakapkan kita sekalian jang membesarkan Dia, dan semoga Ia berkenan pula membesarkan kita sekalian, para Mudjahidin dan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, sehingga kita didjadikannja mendjadi Ummat dan Bangsa jang besar, karena membesarkan Dia dan karena dibesarkan-Nja jang dengan karenanja patut dan mustahiq menerima kurnianja jang maha besar: Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. 4. Sabda Heru Tjokro di atas kami susun sebagai karangan, dengan bentuk brosur (brochure) ketjil, jang memuat tindjauan atas tanah-tumpah-darah kita, “Indonesia” Kini dan Kelak. Dalam pada itu, terlebih dalu kita akan menengok perdjalanan riwajat perdjuangan ummat manusia, Bangsa Indonesia, sedjak setengah abad jang lampau. Riwajat nan usang ini, perlu diselidiki. Didjeladjah dan ditindjau dengan seksama, sebab apa jang kita hadapi dewasa ini, tiada lain, hanjalah sebuah natidjah (resultante) daripada perdjalanan Ummat dimasa jang telah silam itu. Riwajat selalu mengulangi dirinja, dengan lambat ataupun tjepat, menudju kepada tingkatan jang lebih tinggi, tjerdas dan sempurna. Dari masa kemasa jang berikutnja, riwajat ummat manusia selalu mengalami dan menderita pelbagai keadaan (tustand) dan kedjadian (proces), menghadapi masa pasang dan surut, masa naik dan turun, sesuai dengan sunnati-Llah (hukum Allah) dan sunnatuth-thabi’ah (hukum2 alam — natuuretten), jang berlaku atas semesta ‘alam mungkin ini. Semuanja itu berlaku, dengan karena kehendak dan kekuasaan serta Rentjana Allah semata, Dzat Wahid-Ul-Qahhar, jang berbuat segala sesuatu menurut kehendaknja. Kemudian, daripada apa jang kini kita hadapi sebagai dunia, masjarakat, ummat, negara dan lain2 bentuk daripada idh-har-nja Kekuasaan dan Kehendak Allah itu, maka bagi tiap2 ahli pikir, tiap2 sardjana, tiap2 ahli-filsafah dibuatnja dan didjadi-kannja bahan2 untuk merabaraba dan membuat gambaran atas “apa jang boleh dan mungkin terdjadi daripadanja”, ialah gambaran jang berupakan “harapan” ummat manusia, dikala jang akan tiba. Dengan karena Allah, merupakan Hidajatut-taufiq dan Hidajatullah, jang boleh dilimpahkan atas tiap2 hambanja jang bidjak-budiman, maka ditjobanjalah menembus tabir jang gelap dan tirai besi jang kuat, jang membuka pintu gerbang baginja: meneropong kedjadian dan keadaan dimasa jang mendatang, seakan-akan merupakan ramalan akan riwajat kedepan. Alangkah untung besar dan bahagianja tiap-tiap ummat manusia, jang dikurniai milik, mempunjai pemimpin dan penuntun, sardjana dan pudjangga, ulama dan tjerdik pandai, jang dipandaikan dan ditjakapkan oleh-Nja memimpin dan menuntun, membimbing dan mengasuhnja, kesuatu arah Mardlotillah! Semoga harapan dan du’a daripada pengarang ini, jang tumbuh daripada ichlas dan sutji hati semata, bagi keperluan bangsa dan ummat manusia, terutama bagi Ra’jat Indonesia dan

Ummat Islam Bangsa Indonesia chususnja, dibenarkan, dikabul dan dilaksanakan-Nja, untuk mentjukupi berlakunja suatu chilqah sutji (heilirooping) mentjurahkan rahmat bagi seluruh ummat manusia di dunia dan semesta alam. Amin. -------Ζ Ζ Ζ ------BAB II: NASIONALISME 1. Di bawah ini akan diberikutkan “chulasoch Sedjarah daripada Bangkit dan Berkem-bangnja Aliran Semangat dan Saluran Pikiran”, selama setengah abad, di Indonesia. Semuanja dibuat dengan amat ringkas, tindjauan selajang pandang, tetapi tjukup djelas dan tegas, sehingga setiap pembatja boleh mendapat gambaran jang sempurna, atas segala sesuatu jang terdjadi dan mendjadi di nusantara Indonesia. Terlebih da-hulu, kami mulaikan dengan Nasionalisme. 2. Tahun 1905, tahun kemenangan Djepang atas Russia, tahun kemenangan Timur atas Barat, tahun pembuka halaman baru dalam sedjarah dunia, bagi benua Asia terutama, terdengar dan berkumandanglah di seluruh Asia, sebagai tjanang pertama, jang membangunkan dan membangkitkan ummat bangsa manusia —, dari tidurnja jang njenjak, berabad-abad lamanja. Kepertjajaan dan kejakinan “nan usang” dan lapuk (inferieur), jang salah dan keliru, sifatthabiat jang hina dan rendah (minder-waardigheidsoomplexen), beralih dengan segera sifat dan bentuknja, tjorak dan ragamnja, mendjadi kepertjajaan dan kejakinan, sifat thabiat jang sebaliknja, merang-kak-rangkak dan berangsur-angsur, sesuai dengan suasana dan ‘alam gelap gulita, jang masih amat tebal meliputi dan menjelubungi benua Asia pada waktu itu. 3. Djika pada waktu itu, di Tiongkok Dr. Sun Yat Sen mulai menundjukkan minatnja jang besar, untuk melepaskan bangsa Tionghoa daripada kungkungan dan tjengkra-man Imperialisme dan Kapitalisme Barat, jang dengan kuat dan megahnja menantjap-kan kekuatan dan kekuasaannja atas hampir tiap2 pendjuru Asia, maka di Indonesia para kaum terpeladjar dan golongan pertengahan menampakkan kesadarannja atas nasib bangsa dan tanah airnja dalam tingkatan pertama, dengan pendirian suatu perhimpunan kebangsaan, bernamakan: “Tri Koro Dharmo” (Tiga Tudjuan jang Utama, 1908). Dari tahun ketahun, benih pertama itu hidup dengan suburnja, di tengah2 masjarakat pertengahan pada waktu itu. Setelah menderita tjoba dan goda sederhana, maka perhimpunan tersebut beralih bulu, tjorak dan ragamnja, mendj’adilah “Budi Utomo”. 4. 22 tahun kemudian daripada tumbuhnja benih pertama itu, maka timbullah aliran kebangsaan muda, jang djauh lebih revolusioner, lebih kreatif, lebih realistis dan progresif, dengan lahirnja Partay Nasional Indonesia (PNI), di bawah pimpinan pemimpin-pemimpin muda jang berapi-api semangatnja. Di antara pemimpin2 kebangsaan muda ini, a.l.l. baiklah kiranja disebut nama2: Ir. Soekarno. Drs. Mohd Hatta dan Sjahrir, jang memegang peranan penting di dalamnja. Pada achir 1927 itu djuga, maka didirikanlah satu lembaga politik, antara perhimpunan2 politik jang ada pada masa itu –di antaranja PSII (Party Sarikat Islam Indonesia) di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto dan H.A. Salim; Studieclub Surabaja, di

bawah pimpinan Dr. Sutomo; Studieclub Bandung; Kaum Batawi, di bawah pimpinan Moh. Husni Thamrin dll.– dengan nama: Permufakatan Perhimpunan2 Politik Kebangsaan Indonesia atau PPPKI. Dengan pesat dan tjepat, laksana garuda terbang di angkasa, PNI bergerak melalui perhimpunan2 politik jang lainnja, jang lebih tua daripadanja, dan mendjual “pelopor” (voorlopor) dan pendorong seluruh masjarakat Nasional Indonesia. Dengan tjerdiknja pemerintah djadjahan Belanda pada waktu itu “mem-biarkan” letupan djiwa jang menjalanjala itu, sehingga achirnja terbakarlah. Dengan ini dengan peristiwa ditangkap, ditahan, dihukum dan dibuangnja pemimpin2 nasional muda itu (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta beserta kawan2nja), selesailah sudah riwajat pertama daripada aliran Kebangsaan muda itu, jang – untuk memudahkan ingatan kita– bolehlah diberi nama P.N.I. I. 5. Sebelum kita langsungkan langkah dan melandjutkan djedjak, untuk menindjau dari dalam dan kedalam, apakah gerangan isi dan inti daripada gerakan kebangsaan muda itu, sehingga ia dapat memperoleh record jang menta’djubkan itu. Dalam rapat2 ‘umum sering didengung2kan satu theori jang menarik perhatian dan masuk meresap dalam darah daging ra’jat, sesuai dengan keadaan dan semangat, tjita-tjita dan harapan ra’jat hina-papa (proletar) pada dewasa itu, ialah; theori Marhainisme, atau dengan kata2 lain, Ploletarisme –Kera’jatan (djelata) Di lain kali terdengar pula dengan terang dan tegas: theori Sosio-Demokrasi (Kera’-jatan menudju Ke’adilan Sosial), jang hampir-hampir mirip kepada Nazi-Djerman atau SocioNasionalisme tjiptaan Adolf Hitler, atau Pascisme Itali ala B. Mussolini. Kiranja tidak djauh daripada kebenaran, djiwa kita gambarkan Marhaenisme itu sebagai “Chauvinisme” (nasionalisme sempit) jang di dalam “realisasi dan krista-lisasinja” (perwudjudan) tidak hanja bertjorak “anti-kapitalisme” dan anti-imperialisme, tegasnja: “anti pendjadjahan”, melainkan menundjukkan djuga sifat “anti-asing” (orang dan barang). Dengan karenanja, maka timbullah aksi “ahimsa” (perlawanan tidak bersendjata, leidelijk verzet) dan usaha “swadesa” (mentjukupkan keperluan sendiri), kedua-duanja kiriman dari India, import dari M. Gandhi. Walaupun nasionalisme sempit (Chauvinisme) menimbulkan bentji dan marah terhadap kepada sesuatu jang “asing”, tetapi djalan keluar tampak pula dengan terang, bersifat Inter-Asiatis, jang pada lazimnja dinamakan Pan-Asiatisme. Simbol dan sembojan jang sering diperdengarkan dalam hal ini, ialah: Lembu Nandi India, Banteng Indonesia …. Dan Matahari Terbit Djepang (dimasa pendudukan Djepang) dikatakan: di bawah sinar Matahari Dai Nippon). Dalam djurusan ini, maka Pan-Asiatisme bolehlah kiranja dibandingkan dengan dibenua Eropa-Barat. 6. Perlu pula diiperhatikan dan diperingati akan timbulnja satu model ideologi baru, ideologi tjampuran antara nasionalisme Indonesia (waktu itu: Djawa) dan Sosial demokrasi Barat, merupakan sosial-demokrasi-Indonesia (Indische Social Demo-cratie), dengan bentuk “Indische Partj”, satu perhimpunan assosiasi antara Timur dan Barat, di bawah pimpinan “Tiga Sedjoli”: Dr. Tjipto Mangunkusumo, Duwes Dekker (achirnja Setiabudi) dan Suwandi Surjaningrat (kemudian: Ki Hadjar Dewantara). Aksinja jang terutama, ialah “Indieweerbaar”. 7. Beberapa tahun kemudian daripada itu, setelah suasana politik di Indonesia agak reda, maka sisa-sisa semangat dan aliran kebangsaan muda –jang telah ditanam didalam masjarakat, dan

se-olah2 mati atau pingsan (latent)– bangunlah dan bangkit kembali, jang achir kemudian lahir dalam bentuk dan sifat jang agak lunak (moderate), dengan nama: A. Party Nasional Indonesia djuga (disingkat: P.N.I.) atau dengan istilah jang dipergunakan didalam karangan ini: PNI II, karena PNI ini boleh dianggap adik –djika diingati dan dihitung daripada “waktu kelahirannja”– daripada PNI I tsb. di atas PNI II ini di bawah “pimpinan tidak langsung” dari Ir. Soekarno, jang pada masa itu masih dalam pembuangan. B. Pendidikan Nasional Indonesia (disingkat PNI djuga, atau dengan istilah jang dipergunakan dalam karangan ini: PNI III), di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta, Sjahrir dll. lagi. PNI II dan III ini tidak dapat mentjapai tingkatan jang setinggi-tingginja (culminatiepunt) daripada maksud dan tudjuan kebangsaan muda jang diharapkan dan ditjita-tjitakan semula, karena tangan besi pemerintah djadjahan Belanda pada masa itu menekannja dengan amat keras dan kedjamnja. Intaian, tangkapan, pembuaian dan pembuangan (Boven Digul dan lain-lain tempat di Indonesia) adalah gambaran pagar dan palang pintu besi, randjau dan bentjana, jang terbentang dengan dahsjatnja didepan tiap2 gerak dan langkah pemimpin, jang berhaluan muda dan revolusioner. Mau tidak mau, mereka harus memper-hatikannja. Disa’at mereka agak lengah dan lalai, kurang tertib dan hati2, di dalam pertjakapan dan perkembangan letupan djiwanja, maka pada sa’at itu pula mereka itu dianggap melanggar randjau, melanggar “keamanan dan keter-tiban ‘umum” (istilah pada waktu itu), didjebloskan di dalam terungku, jang memang sudah dipersiapkan oleh pemerintah djadjahan dan alat2 serta pesawat2nja. 8. Pada masa Djepang masuk dan duduk di Indonesia (1945) dan pemerintah djadjahan pindah ke Australia, maka salah satu usaha jang terutama dan pertama-tama sekali didjalankan oleh pemerintah dan tentara pendudukan Djepang, ialah: membasmi dan membunuh semua party2 dan perhimpunan2 politik, dengan tjorak dan warna jang manapun djuga, hingga sampai habisledis. Ta’ diketjualikan PNI II dan III, jang senasib dengan kawan2 seperdjuangan lainnja “dikubur hidup2”, di “taman bahagia”, jang bernamakan Hookookai, satu tempat model “sangkar emas”, jang memang sudah direntjanakan dan dipersiapkan terlebih dulu oleh anak tjutju Dewi Amaterasu. Bagi kaum Muslimin “taman bahagia” itu merupakan “Masjumi” (periksalah di bawah). Kembali kepada “taman bahagia” atau “sangkar mas” itu, maka semuanja itu merupakan “medan bahkti tjiptaan Djepang dan agen2nja. Tiap2 bangkai hidup itu mempunjai keleluasaan bergerak, sepandjang, seluas dan sebesar kawat berduri jang melingkari “sangkar mas” itu. Njanjian lagu2 Djepang terdengar dengan meriah dan memikat hati, mengajun djiwa manusia ke satu arah salah dan palsu, ialah: persembahan kepada manusia jang Sintoisme dan hakko itjiu (impian “kema’muran Asia Timur Raja”). Bolehlah pula masuk tjatatan dalam sedjarah kebangsaan Indonesia, bahwa Soekarno-Hatta cs. Termasuk dalam golongan “pemimpin-pemimpin terbesar dan tertinggi” (topleiders) –ingatlah: istilah “empat serangkai”, ja’ni Soekarno–Hatta–Ki Hadjar Dewantoro–K.H. Mas Mansur–, jang diperalat oleh kekuasaan Djepang, untuk mem-per-djepang-kan Indonesia dan Ra’jat Indonesia. Di samping itu di dalam lingkungan Islam, tidak kurang2 harga dan pentingnja usaha dan daja K.H.A. Wahid Hasjim beserta kawan2nja, untuk membunuh-mati menapis-ledis semangat Islam dan Usaha Sutji Ummat Islam, sehingga Ummat Islam menghadapi bahaja dan

bentjana jang maha besar: sjirik, kufur dan murtad. Pada masa itu, Soekarno-Hatta cs. Mentjapai puncak “kemasjhurannja” sebagai agen imperialisme Djepang, terutama sekali setelah Soekarno dapat mentjiptakan satu “ideologi” baru bernama “pantjasila”. Ja’ni: satu tjiptaan, satu tjampuran masakan, jang terdiri daripada Shintoisme, hakko itjiu, Islam sjirik dan nasional-djahil. Keterangan landjutan atasnja, periksalah di bawah! Didalam perlombaan dalam lapangan “memper-djepang-kan” Indonesia, maka tidak sedikit djasanja K.H.A. Wahid Hasjim beserta kawan2nja, jang hendak tjoba2 menjembuhkan “Mekkah” dengan “Tokio”, kepertjajaan Wahdani jah Allah dan Watsanijah (sjirik). Sampai dimana benar atau tidaknja tuduhan “kollaborator” atas pemimpin2 agen Djepang: Soekarno cs. Wang Tjing Wei Cs., Chandra Bose cs., tidaklah mendjadi perbintjangan di dalam karangan ini. 9. Dalam djurusan lain, di dalam kalangan pemimpin-pemimpin Indonesia, jang masih tetap terkandung dalam “sangkar mas” itu, timbullah usaha2 menentang, menolak dan menghela, jang akan mentjoba dan berusaha melepaskan tjengkraman fascis Djepang, jang amat ganas, kedjam dan serem itu, jang menjebabkan berdirinja bulu roma tiap-tiap orang jang mengalami atau menjaksikannja. Adapun usaha ini, jang nanti akan ternjata menimbulkan buah dan natidjah jang amat besar dan dahsjat dalam zaman revolusi nasional, adalah “gerakan di bawah tanah” gerakan gelap gerakan subversif. Salah satu letupan daripadanja, jang mati dalam kandungan, ialah: peristiwa Singaparna, Tjilegon dan Kediri. Sungguhpun peristiwa2 itu (pembe-rontakan) merupakan usaha jang gagal, tetapi besarlah harga dan nilainja didalam perdjuangan sedjarah Indonesia, sebagai titik2 dab garis2 jang pertama jang menggambarkan minat dan hasratnja Bangsa Indonesia –terutama Ummat Islam, melepaskan belenggu dan rantai pendjadjahan dan pendudukan fascis Djepang. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB III: ISLAMISME 1. Pada achir tahun 1911 dan awal 1912, barulah Ummat Islam mulai bangun dan ber-bangkit dari tidurnja. Dengan pimpinan Hadji Samanhudi Solo, dan kemudian dibantu, dilanjutkan dan dipimpin oleh Umar Sa’id Tjokroaminoto, maka didiri-kanlah Sarekat Dagang Islam (SDI) jang achirnja bernamakan kedjurusan sosial dan ekonomi, dengan dasar keagamaan (Islam), perhimpunan ini bersifat massal, meliputi seluruh Ummat Islam, sehingga gentaran langkah dan geraknja amat besar pengaruhnja, dan berkumandang djauh2, melintasi lautan seluruh nusantara, dari Atjeh hingga Merauke. Di dalam dan terutama setelah Perang Dunia Pertama (1914-1918), dan kemudian daripada ditandatanganinja perdjandjian Damai Versailles (1919), maka pemerintah djadjahan Hindia Belanda mempergunakan taktik litjin: Menina-bobokan bangsa Indonesia, dengan “pemberian hak2 politik” (walaupun amat sederhana dan ketjil sekali), sehingga dibentuknjalah Volksraad dan badan2 kenegaraan jang lainnja.

Taktik ini didahului dengan hidangan “makanan jang lezat, manis dan gurih” –sesuai dengan lidah Indonesia—, berupa duurte tooslag, kenaikan pangkat, pemberian berbagai2 bintang, tanda-tanda djasa dll. Sementara itu, njanjian merdu “November-Belofte” dilagukan dengan meriahnja, di bawah pimpinan seorang kopelmeester, jang tjerdik, pandai, ulung dan bidjaksana, sesuai dengan tugasnja (Gubernur Djendral): Idenburgh. Njanjian jang serupa itu perlu didengungkan dan ditiupkan didalam tiap2 telinga bangsa Indonesia. Sebab djika terdjadi kerusuhan atau pemberontakan ra’jat, maka Pemerintah Belanda pada waktu itu belum mempunjai kekuatan jang mentjukupi, untuk mengatasinja, bagi mempertahankan kedudukan dan kekuasaan pemerintah djadjahan Belanda, di Indonesia, sedang kekuatan dari negeri Belanda sendiri, tidak mungkin, begitu sadja dialirkan ke Indonesia, sebagai bantuan karena Belanda harus mempertahankan kebebasan (neutraliteit) negaranja. Beberapa tahun kemudian daripada itu, pemerintah djadjahan Belanda menun-djukkan tangan besi dan melakukan tindakan2 keras, dalam segala lapangan (zaman Gup. Djend. De Fook). 2. Sementara itu Sarekat Islam beralih sifat dan usahanja, mendj’adilah sebuah perhim-punan politik, berdasarkan keputusan Kongresnja di Madiun (1922). Party Sarikat Islam HindiaTimur, dan 8 tahun kemudian berubah mendjadi Party Sarikat Islam Indonesia (1929), Kongres Djakarta, dengan sendi dasar jang lebih kuat dan teguh, serta program politik, ekonomis dll. jang lebih luas. Dalam pada itu Sarekat Islam menderita kerusakan dan perpetjahan di dalamnja, dengan karena infiltrasi komunis (periksalah di bawah, sehingga terbelah mendjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah, jang achirnja merupakan 2 party politik jang senantiasa bertentangan satu dengan lainnja, ja’ni: Party Sarekat Islam Indonesia (P.S.I.I.) dan Party Komunis Indonesia (P.K.I.). Dengan karena tekanan pihak pemerintah djadjahan Belanda waktu itu atas kaum pergerakan ‘umumnja, maka sikap ke (co-operation) mendjadi non (non co-operation). Mereka keluarlah dari badan2 perwakilan, jang dibentuk oleh pemerintah djadjahan pada waktu itu. 3. Semasa keadaan politik di Indonesia agak panas dan perhubungan antara kaum pergerakan —terutama P.S.I.I.— mendjadi tegang, maka terdengarlah dengan sajup-sajup tapi tjukup djelas dan terang: coup d’etat kaum Wahhabi, dengan pimpinan Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud, jang telah berhasil merebut kekuasaan negara, dari tangan Sjarif Husein, tangan2 dan boneka Inggris, di Djaziratul ‘Arab (1925). Kemenangan kaum Wahhabi, dan pindahnja kekuasaan negeri Arab dari Sj Husain kepada A.A. Ibnu Sa’ud, tidak sedikit pengaruh, harga dan nilainja bagi perhimpunan dan pergerakan Islam di Indonesia. Dengan segera Ummat Islam di Indonesia mempersatukan diri, di dalam suatu (perwufakatan federasi), merupakan satu Blok Islam, jang lalu mengirimkan utusannja kenegeri ‘Arab, ja’ni: ‘Umar Said Tjokro-aminoto dan K.H. Mas Masur (masing2 dari PSII, dan Muhammadiyah = MD). Kesempatan itu dipergunakan untuk menjelenggarakan sebuah Kongres Seluruh Alam Islam, jang Ummat Islam Indonesiapun mendjadi salah satu angautanja, dengan nama: Mu’tamar-ul ‘Alam-il-Islamy farul-Hindisj-Sjarqiyah (M.A.I.H.S.), Kongres Seluruh Alam Islam tjabang

Hindia Timur. Ichtisar Ummat Islam Indonesia kedjurusan Pan Islamisme ini gagal, disebabkan karena halangan dan rintangan, saingan dan tantangan pihak imperialis (terutama Inggris), karena Ummat Islam sendiri belum tjukup besar kesadaran dan himmahnja, untuk melaksanakan dan mewudjudkan buktinja Pan Islamisme itu, meskipun berpuluh-puluh tahun sebelum-nja telah diandjurkan dimulaikan oleh pemimpin-pemimpin Islam Internasional jang amat masjhur seperti: Djamaluddin Al-Afghany, Muhammad Abduh dan Amir Al Husainy. Setelah mati dan buntunja usaha Islam Internasional jang pertama itu, maka diutusnjalah untuk kedua kalinja K.H. Agus Salim, ke negeri Arab. Maka dibentuknjalah sebuah perhimpunan Islam Internasional —pengganti H.A.I. jang kandas dan terdampar di lautan karang—, bernamakan: Ansarul-Haremain (Pembela kedua Tanah Sutji: Mekkah dan Madinah). Selain daripada djalan-keluar melalui Pan Islamisme, maka Ummat Islam Indonesia (batja: PSII) mentjari pula djalan keluar kedjurusan Internasional “kiri dan merah-muda” (socialistis, social demokratis dan agak komunistis). Maka didapatnjalah hubungan administratif antara PSII dengan Liga anti-Imperialisme, anti-kapitalisme, dan anti-djadjahan, lembaga mana berpusat di Eropa Barat. Usaha ini segera menemui djalan buntu, dan putus sama sekali. Di antara sebab2nja, perlulah ditjatat: Tekanan dan tindakan keras daripada pihak Parket pemerintah djadjahan Belanda waktu itu. Berkenaan dengan itu, maka keadaan pergerakan politik, sosial, ekonomis, keagamaan dll. Di Indonesia pada waktu itu, tidak seberapa mentjapai kemadjuanm lesu dan kurang semangat, seakan2 hampir dian (statis). 4. Pada zaman awal kedudukan Djepang, maka semuanja perhimpunan2 politik Islam dibunuhnjalah. Masjumi (Madjelis sjuro Muslimin Indonesia), dan kemudian MIAI (Madjelis Islam ‘ala Indonesia), kedua-duanja buatan Djepang —dengan perantaraan agen-agennja kijaikijai ala Tokio—, merupakan lembaga dan medan pertempuran. Oleh pihak Islam muda, pihak revolusioner dan progresif, lembaga ini dipakai untuk menjusun dan mengatur “gerakan bawah tanah”, seperti djuga jang dilakukan oleh kawan2 seperdjuangan lainnja, di Hoo-kookai dan lain2 badan “kebaktian”, buatan “saudara tua” itu. Benih2 subversif, dimasa “sangkar mas” Djepang —jang sesungguhnja merupakan kamp konsentrasi, kamp tawanan jang halus—, dimasa nanti, menghadapi revolusi nasional, mendjadi pendorong dan daja-kekuatan jang hebat. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB IV: KOMUNISME 1. Revolusi Komunisme di Russia, jang terdjadi pada achir Perang Dunia Pertama (1917), adalah salah satu patok jang maha penting didalam sedjarah dunia, terutama jang mengenai Perkembangan Komunisme Internasional. Segera kemudian daripada selesainja, Perang Dunia Pertama itu (1919) maka agen2 komunis internasional, dengan pimpinan langsung dari Russia –

Internasional III– menjebar dan menjelundup kedalam hampir tiap2 negara, diseluruh dunia. Djuga di Indonesia. Dalam pemasukan dan perkembangan Komunisme di Indonesia, all. Perlu ditjatat nama beberapa orang Belanda, seperti: Baars dan Sneevlist. Di antara murid2nja jang amat setia, bolehlah disebut: Sama’un, Darsono, Marco (Kartodikromo), Alimin, Muso, Aliarcham, Tan Malaka, dll. lagi. Dengan tjara menginjeksi ratjun Komunisme kedalam tubuh dan djiwanja pemimpin2 Sarekat Islam pada waktu itu, maka dengan segera perhimpunan tsb. belah mendjadi dua aliran, jang bertentangan satu dengan lainnja, sebagai musuh jang ta’ kenal damai. Keputusan tentang adanja Party-discipline dalam Kongres SI tahun 1921, memisahkan dua aliran dan ‘anasir itu, sehingga masing-masing berdiri, dengan bentuk party S.I. Putih mendjadi P.S.I. H.T. (achirnja: P.S.I.I.) dan S.I. Merah menjalurkan aliran merahnja didalam Party Komunis Indonesia (P.K.I.). Sikap pemerintah djadjahan pada waktu itu “melihat dan menanti”, sedang dalam prakteknja merupakan politik “adu domba” – devide et impera– antara PSII dan PKI, dengan selalu diselang-selingi oleh tindakan2 jang “tidak langsung” (inderekt): memukul kedua belah pihak, dengan membangunkan gerombolan2 Sarekat Hidjo, Daf’us-Sial, Al-Hasanatul-Chairiyah, dll. (dalam zaman achir, djuga tampak gerom-bolan tjap Djangkar), ialah alat2 pengatjau, jang dibiajai dan dipimpin langsung atau tidak langsung oleh pemerintah djadjahan. Semangat komunis muda jang berkobar-kobar waktu itu –dengan pusat (C.C.), di Semarang, dengan kiblat Moskow, dan dengan petundjuk2 langsung daripada agen2 Lenin—, ingin segera dan tjepat2 mentjapaikan maksud dan tudjuannja, merampas kekuasaan dari tangan pemerintah djadjahan Hindia-Belanda. Peristiwa itu terdjadi pada achir tahun 1926, dan terkenal dengan nama: Pemberon-takan Komunis. Dalam tarich tertjatat, sebagai Coup d’atat Komunisme jang pertama. Dengan peristiwa itu, jang sesungguhnja karena perbuatan provokasinja, jang sudah agak lama sebelumnja sengadja diselundupkan kedalam tubuhnja Komunisme Indonesia, maka pihak pemerintah djadjahan mempunjai “alasan jang tjukup kuat dan sah” untuk membasmi dan membinasakan “Komunisme”. Beribu-ribu manusia, laki2 dan perempuan, tua dan muda mendjadi kurban perdjuangan, kurban Komunisme, dibuang-diasingkan ke Boven-Digul. Di antara pemimpin2 jang ikut dalam pembuangan itu, ialah: Marco, jang beberapa tahun kemudian meninggal di tanah pengasingan itu. Didalam peristiwa tahun 1926 tsb. di atas, baiklah ditjatat nama seorang agen provokator bikinan Belanda, peng-chianat Komunisme di Indonesia, ialah: Sanusi, seorang alat pendjadjah Belanda, pemimpin Komunis gadungan. Adapun pemimpin2 lainnja, mereka tjepat2 meninggalkan Indonesia, pergi keluar negeri, menudju kedjurusan Moskow. Diantara mereka jang mendapat “angin baik” bisa sampai di ibu kota Komunis itu, sedang sebagian besar lainnja terdampar di tengah djalan (Singapura, Bangkok, Rangoon, Shanghai). Di antara mereka ini, bolehlah ditjatat nama-nama: Tan Malaka, Alimin, Muso, Sama’un, Darsono, dan Subakat. Sampai dimana mereka itu setia kepada organisasinja (di Russia), njatalah dengan terang benderang dikala mula pertama berkobar revolusi nasional di Indonesia (1945), terutama setelah revolusi tersebut agak reda. Mereka pulang kembali ke pangkalan semula, ketjuali

beberapa orang. Tentu dengan tugas2 daripada induk-organisasinja. 2. Sedjak waktu itu, hingga berachirnja pemerintah djadjahan Belanda (awal 1942), maka tidaklah tampak tanda2, bahwa komunis di Indonesia akan hidup, bangun dan bangkit kembali, seakan2 pingsan kena pukau dan pukulan jang sangat hebat. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB V : NASIONALISME, ISLAMISME, DAN KOMUNISME Pertentangan antara 3 ‘Anasir Masjarakat Pada masa Pendudukan Djepang, Revolusi Nasional, hingga kini 1. Selama masa pendudukan Djepang (awal 1942 hingga pertengahan 1945), maka ditutupnja rapat2 segala djalan dan kesempatan mengembangkan ideologi dan aliran manapun djuga; tiada sebuah pun jang boleh tampak di muka bumi dan di atas air, melainkan hanja “Djepangisme” sadjalah. Semuanjaa disapu bersih ditjukur gundul. Tekanan jang amat berat, perkosaan hak jang melampaui batas, ditambah dengan kekedjaman dan keganasan jang tiada tara dan hingganja, memaksalah semua pe-djuang-pedjuang melakukan “sijasat”; hidup dan berkembang di bawah tanah, di alam gelap, di belakang tabir, mereka silam, menjelundup dan bergerak di bawah tanah, lepas daripada intaian dan pengawasan kenpetai (Polisi militer Djepang) dan Polisi rahasia Djepang. Walaupun sering terdjadi penggeropjokan2 (razzia), penangkapan, perkosaan dan penganiajaan, dengan tuduhan2 melakukan “gerakan di bawah tanah”, tetapi aliran jang besar, jang disalurkan di dalam dada dan hati ra’jat, tidaklah banjak terganggu dan terhambat karenanja. Tanda2 kedjatuhan Djepang sudah tampak disegenap lapisan masjarakat. Mereka mengindjak-indjak dengan laku sewenang2 hak2 kemanusiaan, memperkosa ke’adilan dan kebenaran, melampaui segala batas hukum, menimbulkan hina, papa dan sengsara. Ra’jat hanja pandai meratap dan menangis, memandjatkan harap dan du’a kepada Allah, Tuhan ‘alam semesta, dalam keadaan ta’ berdaja: “kapan harikah mereka akan erlepas daripada malapetaka, melarat dan hina, nista dan sengsara, keganasan dan kedjahatan, sewenang2 dan kedlaliman tekanan dan antjaman, jang ditimbulkan oleh anak tjutju Dewi Amaterasu pada waktu itu....?” Beberapa waktu sebelumnja, persiapan pihak “di bawah tanah” sudahlah dimulai. Di tengahtengah suasana jang amat gelap gulita, dimana ra’jat sudah tidak berdaja memperbuat sesuatu apapun, disa’at itulah Allah berkenan melimpahkan “Rahma-niyat-dan Rahimijat-Nja” atas Ummat manusia, dengan djatuhnja bom atom di atas beberapa kota Djepang. Peristiwa itu terdjadi pada pertengahan bulan Agustus 1945. 2. Djatuhnja Djepang, mendjadi sebab menjalanja api revolusi jang pertama di Indonesia, revolusi nasional, revolusi menentang pendjadjahan; revolusi melawan kekuasaan asing; revolusi, jang dari detik kedetik mendjalar dan meliputi seluruh nusantara Indonesia, sambil

membakar-bakar tiap2 lapisan masjarakat dan tingkatan manusia; revolusi, jang hebat-dahsjat menjala-njala ta’ kundjung padam; revolusi jang menghanguskan djiwa dan semangat ra’jat, hampir2 ta’ kenal batas jang manapun; ialah revolusi jang mendjadi sebab dan dorongan pertama akan “Prokla-masi Kemerdekaan Indonesiaa 17 Agustus 1945”. Pada waktu itu semua aliran dan lapisaan ikut serta; api revolusi merata di seluruh nusantara; ada jang ambil bagian genap lengkap 100%, dan ada pula jang hanja sebagian, dengan kadar kekuatan dan lapangan jang terbuka. Tetapi perketjualian tidak ada, dan tidak mungkin ada. Mereka ikut menggelorakan revolusi, kalau bukan karena sadar dan insjaf, sedikitnja karena takut dituduh anti revolusioner atau contra-revolusioner, chawatir dibawa agen imperialisme (Belanda) atau agen provakator, dan memang sebagian daripada mereka berbuat demikian, hanjalah karena “ikut-ikutan” (ikut hanjut) dan “hilang-akal”. 3. Beberapa bulan kemudian daripada itu (September 1945), maka langganan lama, pihak Belanda pendjadjah, mulai mendjedjakan kakinja di pantai Indonesia, naik di daratan dan memasuki kota2 dengan pengantara dan pengawal daripada pihak sekutunja: Inggris, dengan tentara Ghurkanja. Diantara kota2 jang mula pertama dimasukinja, ialah Surabaja, Djakarta dan Bandung. Bolehah ditjatat pula didalam riwajat, bahwa masuknja tentara Inggris —di dalamnja ada tentara Belanda dan kaki tangannja—, dengan idzin pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu, dan dikawal oleh B.K.R. (Badan Keamanan Ra’jat) —jang achirnja mendjadi T.R.I. dan T.N.I. Apa gerangan sebabnja? Wallahu ‘alam! Tetapi “pembuka pintu pertama” itu sungguh2 terdjadi, dan pemimpin Republik Indonesia sendirilah membukakan pintu itu dengan tangannja sendirilah membukakan pintu itu dengan tangannja Demikianlah kenjataannja didalam riwajat, jang tidak dapat disangkal oleh tiap2 orang jang tahu perdjalanan riwajat dalam tingkatan revolusi nasional kita! Satu bukti daripada kebodohan RI pada masa itu! Dengan datangnja “kembali” Belanda di tengah-tengah masjarakat dan ra’jat Indonesia —sementara itu kedudukan pemerintah RI tsb. di atas masih di Djakarta—, maka disebarkanlah kutu2, agen2 dan mata2nja, menjelundup dan melakukan peranannja di-tengah2 masjarakat dan ra’jat terutama di dalam kalangan pedjuang2 dan pemimpin2 revolusi pada waktu itu. Usaha Belanda “di bawah tanah” ini memang sudah sedjak lama dimulaikan oleh grup Van der Plas, jang selama itu tinggal di Australia, jang dianggap sebagai pangkalan, darimana ia melantjarkan tipu-dajanjaa, untuk mengembalikan peme-rintah djadjahan Belanda, di Indonesia. Infiltrasi pertama dilakukan kurang lebih setahun, sebelum, sebelum Djepang menjatakan kapitulasi. 4. Belum djuga revolusi nasional reda, api masih berkepul-kepul, maka tiap2 aliran jang dari tadinja —sedjak pendudukan Djepang— memang sudah mulai membuat rentjana, untuk melebarkan sajapnja dan mengembangkan ideologinja masing2, mulailah membuat dan mentraceer salurannja masing-masing. Tidaklah kiranja djauh daripada kebenaran dan kenjataan, djika dikatakan, bahwa di dalam hal ini pihak komunis, jang muda maupun jang tua, lagi sibuk dan asjik membuat saluran2 itu. Mereka melakukan tugasnja dengan tjakap tjerdiknja, atjapkali dengan tjurang dan serongnja, walaupun terpaksa merugikan kepada ra’jat, kepada perdjuangan, kepada revolusi maupun terpaksa merugikan kepada ra’jat, kepada kawan2nja seper-djuangan lainnja, jang beda aliran dan ideologinja, sikap dan haluannja. Organisasi

diaturnja dengan tertib, orang2 dipersiapkan dan dipertempatkan ditempat-tempat jang penting, di dalam dan diluar organisasi negara, dengan tugas jang tentu, dan .... saluran menudju Moskow, dengan bentuk “Republik Ra’jat (Komunis) Indonesia” hendak tjepat2 dilaksanakannja. Mereka ingin mempergunakan waktu dan kesempatan untuk kepentingan ideologinja (Komunisme), dimasa kawan2 seperdjuangannja jang lainnja “lengah”. “Lengah” dalam arti kata: masih terus-menerus menggelorakan revolusi. Walhasil, komunis ingin “membokong” dari belakang. Pihak nasional pada waktu itu diperalat, diperbolehkan dengan mentah-mentah dan terang2an, oleh pihak komunis, walau kadang2 pemimpin2 nasional tua menduduki tempat2 “tuan-besar” sekalipun. Padahal “tuan besar” nasional itu hanja dipakai bendera-kamuflase komunis, untuk menjembunjikan maksud hakiki jang sesungguhnja, dan untuk memperoleh lapangan dan tempat jang lebih luas, bagi memperkembangkan ideologi komunismenja kurang tjerdik, kurang tangkas dan kurang tjepat, djika dibandingkan dengan gerak langkah pihak komunis, jang memang sudah mendapat pendidikan dan pengadjaran, latihan dan tuntunan langsung dari agen2 Moskow. Adapun peranan “pemimpin2 Islam” dan Ummat Islam pada waktu itu, masja Allah, sungguh2 menjedihkan dan memilukan hati. Oleh pihak komunis dan nasionalis, “ pemimpin2 Islam” itu dianggap dan diperbuatnja sebagai kuda-tunggangan dan kuda penarik gerobak, sedang “Ummat Islam” dianggap dan diperlakukannja oleh kedua anasir tsb. sebagai sapi perah, jang sbar. Sapi harus memberikan air susunja kepada komunis pengchianat dan nasionalis djahil itu. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun proces jang kami gambarkan itu, berlaku di tengah2 masjarakat Indonesia, ditengah revolusi nasional. Aneh dan djanggal didengar, tapi sungguh2 kedjadian, dengan bukti jang njata. Taktik dan tjara mengembangkan ideologi komunisme dilakukan dengan tjara memperbanjak “sarang” dan “sajap”, mendirikan organisasi-organisasi, baik jang menjebut dirinja komunis sedjati maupun jang setengah komunis atau memasang merk “nasional”, seperti Party Komunis Indonesia (PKI), Party Murba, Pemuda Sosialis Indonesia (Persindo), Angkatan Pemuda Indonesia (API), dan lain2 lagi. Dan pada zaman RI Djakarta (kini: RI Komunis), maka sarang2 dan sajap2nja makin diperbanjak, diperluas dan diperdalam, sehingga sebagian besar kaum buruh dan kaum tani, diseluruh Indonesia. Langkah dan taktik Komunis ini diakui oleh pihak nasionalis, tapi ketjerdasan, ketjakapan dan ketangkasannja, memang amat djauh lebih lemah, lunak dan kurang daripada pihak komunis, jang memang tidak kenal batas hukum jang manapun djuga. Kembali mwembitjarakan nasibnja “pemimpin2 Islam´dan “Ummat Islam”, sekali lagi, masja Allah, mereka tetap bodoh dan tolol (ma’af), dan melakukan usaha sebaliknja daripada kawan2 perdjuangan lainnja. “Masjumi buatan Djepang” ditjiptakan dengan bentuk baru, merupakan Party Masjumi. Besar dan hebat, tapi tidak berdaja. Gendut (log), dan tidak mungkin melakukan gerak-tjepat, serta djauh daripada bentuk “stream-line”, menurut kehendak zaman. Dalam pada itu, Masjumi tetap mendapat “penghargaan jang patut”, dan “kehormatan jang pantas” dari kawan2 dan —terutama— lawan2nja, untuk menetapkan mereka (Ummat Islam dan pemimpin Islam) dalam keduduknja jang lemah dan keadaannja “bodoh dan tolol” (ma’af) itu. Mudah ditipu, mudah diperalat dan mudah dipergunakan untuk keperluan apapun djuga, walau untuk kepentingan Moskow sekalipun! Na’udzu billahi min

dzalik. Semoga selandjutnja Allah berkenan mendjauhkan Ummat Islam dan pemimpinnja daripada sifat dan kelakuan jang serupa itu, sehingga tahu, sadar dan insjaf akan tugas wadjibnja, bakti kepada ‘Azza wa Djalla: Djihad pada djalan Allah untuk membesarkan Dia, mensutjikan Agamanja, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, Insja Allah. Amin. 5. Sementara itu, kutu2 dan lawan Belanda pendjadjah masuk-meresap, menjerbu-menjerang, dalam kalangan pedjuang-pedjuang nasional dengan tachta (pangkat dan kedudukan), harta (kekajaan dunia) dan wanita (baik jang berupakan “perem-puan” jang sesungguhnja, maupun jang mewudjudkan “keinginan”, serasi dengan getaran djiwa, nafsu dan ghodzob manusia dari — materieel —, Dengan adanja Iblis jang “ikut serta” bersma pedjuang2 kemerdekaan, menggalang negara, maka makin hari makin tambah surutlah revolusi nasional itu, dan lalu berbalikan arah-tudjuannja, mendj’adilah: revolusi sosial, revolusi kedalam dan istimewa dalam kalangan pemimpin2nja. Sudah barang tentu, jang mendjadi kurban pertama2 sekali nistjajalah si-bodoh dan si-tolol, “pemimpin2 Islam” dan “Ummat Islam”. Kijai sadja didekat kota Garut ditjulik dan dibunuh oleh PT (Polisi Tentara) Samber Njawa, pada pertengahan tahun 1940. Kijai Thoha beserta 13 orang ‘alim ‘ulama dan pemimpin Islam lainnja, di daerah Sumedang, ditawan dan dibunuh, oleh komplotan Sadikin dan Sumantri (waktu itu masing2 mendjadi Kmd. Resimen 6 TRI dan Kmd. Bataljon dp. Resimen tsb.), be-serta kawannja, semuanja pihak komunis. Pemimpin Islam/sabil, Endang dan 4 orang kawannja, dari Limbangan, Garut, dita-wan dan dibunuh, diperbatasan antara Garut dan Sumedang, oleh PS (Pasukan Silat?), ialah salah satu bagian organisasi rahasia “setengah resmi”, masuk organisasi kom-plotan Sadikin. Dan masih banjak lagi kedjadian jang serupa itu, jang sungguh menggerakkan bulu roma, sehingga ratusan, ribuan pemimpin2 Islam, alim ulama mendjadi korban daripada pengchianatan pihak komunis itu. Sebagai saksi bolehlah ditarik Kolonel Hidajat dan Kolonel Nasution (kini kap. Staf Angkatan Darat RI), jang pada waktu itu mempunjai pertanggungan-Djawab langsung atas daerah2 tsb. dan atas sebagian Djawa Barat. Dengan itu, maka komunis menundjukkan keberaniannja jang luar biasa, dengan bukti jang njata, bahwa komunis tidak hanja berani melakukan serangan terhadap kepada alat2 dan kekuasaan Belanda pendjadjah, tetapi djuga melakukan serangan terhadap kepada kawan2 seperdjuangan dengan mereka, jang dianggapnja boleh menghalang2i perkem-bangan ideologinja. Herankah kita, apabila didalam keadaan dan suasana jang demikian, kutu2 dan mata-mata Belanda —dari NAFIS, NICA dll.— dengan mudah dan leluasa dapat melakukan tugasnja jang chianat itu? Herankah pula kita, apabila pihak tentara Belanda, dikawal oleh tentara Inggris —dan djuga oleh orang2 “bangsa Indonesia”—, dengan lenggang-lenggang kangkung boleh masuk dan menduduki tiap2 pelosok Indonesia? 6. Selain daripada itu, pihak Nasionalis dan Komunis pun melakukan tipu daja dengan organisasi “palsu”, baik setjara resmi maupun “setengah resmi”. Waktu itu, boleh diibaratkan, bahwa RI merupakan seorang machluk Allah, jang berhati merah, tjetakkan Moskow, berdjiwa palu-arit, dan berdjasad nasional, kiri atau kanan, dengan ‘amal anti-Agama, anti-Islam, anti-

perdjuangan Islam, anti-Ummat Islam, anti-Tuhan dan anti-Allah, walaupun diselimuti kata2 jang manis dan perbuatan jang munafiq. Mereka itu mentjari akal dan daja-upaja untuk memperlunak perdjuangan Islam dan membinasakan Ummat Islam beserta pemimpin2nja! Dalam hal ini, sekedar jang berkenaan dengan Djawa Barat; bolehlah ditjatat nama2: Sutoko, Sama’un, Bakry, Kol. Nasution, Kol. Hidajat dan beberapa biang keladi lainnja. Djadi, kalau kita katakan, bahwa Komunis Indonesia itu agressif, tidaklah djauh daripada kebenaran dan kenjataannja, bahkan tepat. 7. Di dalam masa revolusi nasional tengah menggelora, pihak komunis sudah mulai mentjobakan perampasan kekuasaan jang kedua, dari tangan pemerintah Republik Indonesia. Peristiwa ini terdjadi di Banten, pada aksi tahun 1947, dan di dalam karanga ini dinamakan: Coup d’ etat Komunis jang kedua. Hampir tidak ada jang mengetahui peristiwa sepenting ini, selainnja beberapa orang dalam (insider), karena usaha itu gagal, sebelum mentjapai tudjuan dan maksudnja. Tetapi usaha dan rentjana lengkap beserta sjarat rukunnja, sudahlah dihimpun dan dikerahkan. 8. Perampasan kekuasaan ketiga, jang agak besar-besaran, dengan kekuatan sendjata, dilakukan oleh Komunis Indonesia, dari tangan RI, semasa masih berpusat di Djogja. Coup d’ etat Komunis jang Ketiga ini, jang terdjadi tidak lama kemudian daripada coup d’ etat Komunis keduapun gagal pula. Kemudian diikuti oleh tindakan-tindakan keras daripada pemerintah RI: melakukan tangkapan dan penahanan besar2an atas beberapa pemimpin, diantaranja ialah: Tan Malaka, Mr. Subardjo, Mr Iwa Kusuma Sumantri, Mr. Muhd. Yamin, Abikusno Tjokrosujoso dan beberapa lainnja. Seorang panglima Divisi (Diponegoro, Sudarsono???) tersangkut pula didalam komplotan itu. Sedang beberapa kesatuan tentara (TRI = TNI) jang diperalat didalam peristiwa tsb., dilutjuti dan dimasukkan pula didalam terungku. 9. Perampasan kekuasaan keempat, atau Coup d’ etat Komunis jang keempat terdjadi di Madiun, terkenal dengan nama “Peristiwa Madiun” atau “Madiun Affaire”. Muso dan Mr. Sjarifuddin cs. Mendjadi biang keladinja. Rupanja ada tangan ketiga jang memegang peranan, dan menjokong pemberontakan Madiun dari pintu belakang. Peristiwa ini terjadi pada bulan September 1956, hampir 3 (tiga) bulan sebelum Belanda mengadakan aksi polisionilnja jang kedua. Republik Sovjet (Komunis) Madiun hanja berumur beberapa hari, mengikuti majatnja Muso masuk kelubang kubur, kurang lebih 10 hari kemudian daripada proklamasinja. 10. Djadi, selain Belanda memang ingin “kembali” menduduki Indonesia, maka dari pihak orang2 jang menamakan dirinja “pahlawan dan pedjuang kemerdekaan”itu sendirilah, jang membuka pintu masuk dengan lebarnja. Karena perbuatan jang mereka lakukan sendiri! Sehingga sudahlah selajak dan sepatutnja, jika kita menga-takan, bahwa R.I. chianat!!! 11. Komunis memang ulet. Ia bekerja terus, dengan sembunji, di atas maupun di bawah tanah. Sehingga dengan karenanja, pertjobaan perampasan kekuasaan jang ke lima kalinja, dilakukan pada pada pertengahan tahun 1949. Jang direntjanakan hendak dijadikan”basisnja”, ialah: Keresidenan Semarang dan Solo (Surakarta), dengan ibu-kota Solo. Didalam bulan Agustus tahun itu, maka rentjana tersebut sudah harus selesai didjalankan dan dilaksanakan. Coup d’ etat Komunis jang kelima inipun gagal pula, dikarenakan usahanja jang chianat kali ini menerjang batu karang, terdampar di atas pantai kesesatan, sehingga “mati sebelum lahir”.

Segala keterangan, penerangan dan dokumentasi seluruhnja, tentang gerak-gerik pengchianat ini, sudahlah sampai ditangan pemerintah R.I. pada waktu itu. Tetapi oleh karena pada waktu itu R.I.—R.I. Djogja— sesungguhnja sudah mati, akibat daripada aksi polisionil kedua pihak Belanda, dan pengasingan pemimpin2 R.I. ke Bangka —, maka R.I (bangkainja) tidak dapat berbuat suatu apa. Tetapi untung, Alhamdulillah, dikota Solo dan sekitarnja masih ada pasukan2 Islam dan tentara pelajar, T.R.I.P., kedua-duanja anti-komunis. Sehingga dengan karenanja, segala usaha dan daja upaja komunis chianat itu, kandaslah. 12. Untuk melengkapkan riwajat komunis di Indonesia, baik pula ditjatat pertjobaan perampasan jang keenam, berlaku di dalam bulan Agustus 1951. Pertjobaan Coup d’ etat Komunis jang keenam inipun gagal. Sebab sebelum berdjalan sudah ditjium baunja lebih dulu, sehingga pemerintah R.I. — kabinet Sukiman Suwirjo — dapat melakukan tindakan preventif, sebelum komunis dapat melakukan perbuatan chianatnja, peristiwa mana terkenal dengan nama “Razzia Agustus” (1951). Sungguh-pun demikian, perlulah selama2nja orang menaruh perhatian, bahwa walaupun pihak komunis Indonesia untuk kesekian kalinja, hingga pertengahan tahun 1952 ini, semua perbuatan chianatnja gagal, tetapi kini pihak merah sudah boleh berbesar hati, karena pihak pemerintah R.I. talah menjerahkan dirinja, untuk diindjeksi dan diinfeksi dengan tjara merah asli, buatan Moskow. Sedang di samping itu, dengan djalan apapun djuga, parlementer maupun revolusioner, dengan politik halus maupun dengan senjata, pihak merah akan terus menerus mengusahakan terlaksananja tugas jang pertama (primer): mendjadikan Indonesia, negara Soviet (komunis)”, sepandjang idam-idaman Stalin, jang didewa-dewakan oleh pihak merah itu. Tjatat dan tjamkan baik-baik!!! -------Ζ Ζ Ζ ------BAB VI: PERANG SEGI TIGA PERTAMA 1. Dengan ditanda-tanganinja Naskah Renville 17 Djanuari 1948, tentara Republik Indonesia mengalir masuk daerah Djogja dan sekitarnja –8 karesidenan, dengan pusat Djogja, dengan batas2 demarkasi Van Mook.– Ummat Islam di Djawa sebelah Barat tidak menjetudjui naskah tersebut, karena dianggap: A. Membunuh api revolusi nasional dan B. Memperketjil kekuasaan negara R.I. Sebulan kemudian daripada itu, 17 Februari 1948, Ummat Islam di Djawa sebelah Barat bangun dan bangkit, angkat sendjata, menentang dan melawan Belanda pendjadjah, melandjutkan perdjuangan kemerdekaan, jang telah setengah kandas itu. Perlu didjelaskan di sini, arti istilah “Djawa sebelah Barat”, ja’ni: daerah mulai batas demarkasi Van Mook –Gom-bong keutara– (Djawa-Tengah) ke djurusan Barat terutama jang mengenai Djawa Barat sebelah Timur (Karesidenan Tjirebon dan Priangan) dan Djawa Tengah sebelah Barat (Karesidenan Pekalongan dan Banjumas). 2. Pada waktu aksi polisionil kedua (tentara Belanda) pada bulan Desember 1948, maka Ummat Islam jang angkat sendjata itu, —dengan induk organisasi, bernamakan: Madjlis Islam; dan

alat perdjuangan, bernamakan Tentara Islam Indonesia– sudahlah memiliki, menduduki dan menguasai beberapa bagian daerah jang disebutkan di atas, daerah de facto. Pada waktu itu Tentara RI (TRI-TNI) –jang tadinja masuk Jogja, meninggalkan Djawa sebelah Barat– “kembali keempat jang semula”, dengan membawa pemerintah RI dlarurat. Adapun pihak komunis, pada waktu itu masih tetap sebadju dan sepakaian, sebulu dan sekelakuan, setjorak dan seragam, dengan pihak nasional. Sehingga Tentara RI jang liar itu –dan memang sungguh2 “liar”– beserta pemerintah RI dlarurat merupakan sarang dan tempat perlindungan bagi komunis Indonesia, jang dengan bersiul-siul menaiki bachtera RI jang telah kandas itu. 3. Waktu mereka (ja’ni RI dlarurat dan komunis gadungan) itu masuk didaerah de facto Madjlis Islam, maka dengan sombong dan tjongkaknja mereka mengindjak-indjak hak dan memperkosa ke’adilan “tuan-rumah” (N.I.I.), sehingga terdj’adilah insiden Pertama, dengan mempergunakan sendjata, jang terkenal dengan nama “Pe-ristiwa Antralina” dan terdjadi pada tanggal 25 Djanuari 1949. Dengan peristiwa ini, maka berkobarlah dengan hebatnja “Perang Segi Tiga Pertama di Indonesia”, antara (1) Madjlis Islam beserta Tentara Islam Indonesia, (2) pihak pemerintah RI dlarurat beserta tentara liarnja, dan (3) pemerintah pendudukan Belanda, beserta tentara pendudukan, KNIL dan KL. 4. Untuk menghiasi halaman hitam daripada sedjarah Indonesia, baiklah ditjatat: A. Dimana tempat dan setiap sa’at ketiga pihak itu bertemu satu dengan jang lainnja, di sanalah terdjadi pertempuran; B. Pada ‘umumnja, tentara liar RI selalu di dalam kedudukan lemah dan kalah; se-babnja jang terutama ialah, karena mereka tidak mempunjai akar pengaruh tidak mempunjai kepertjajaan dan penghargaan ra’jat, dan kelakuannja, dimasa perdju-angan jang lampau; C. Tentara liar ini menundjukkan kedjatuhan achlak dan budi-pekertinja (degradasi dan demoralisasi), dengan satu sikap jang rendah: ta’ malu2 menjerah kepada pihak Belanda pendjadjah, seperti tjontohnja Ahmad Wiranatakusumah dan kesatuannja, Sudarman (major) –Kmd. Batalijon, Pesindo– beserta kawan2nja dan lain2 pengchianat bangsa dan pendjual negara lainnja. D. Tentara Liar (TL) itu lebih suka menjerah kepada Belanda pendjadjah, daripada ta’luk kepada Madjlis Islam atau Tentara Islam Indonesia; apa gerangan sebab-nja? 1) Karena Belanda, terutama tentara pendudukan Belanda waktu itu “tidak ba-njak” mengetahui, dan mungkin “sama sekali tidak” mengerti akan “isi hakiki dan kedudukan pemerintah RI dlarurat itu: sedang 2) Madjlis Islam beserta Tentara Islam Indonesia tahu dan jakin akan isi djan-tung-hati dan kedok pemerintah RI dlarurat beserta tentara liarnja, ialah: sa-rang daripada kutu2 komunis Indonesia; mereka memakai “nama” RI dan “seragam tentara” hanjalah untuk “menutup dan menjelimuti” maksud dan tudjuan mereka jang djahanam itu. Adapun Perang Segi Tiga Pertama itu berhenti, setelah dilangsungkan statement Rum-Royen, pada pertengahan tahun 1949, pada masa mana tentara liar itu dimasuk-kan di dalam kantong2, dibeberapa daerah. Sementara itu, pertarungan dilandjutkan antara NI dan TII, menghadapi kekuasaan pendudukan Belanda. Sedang pengubur-an resmi, kesudahan Perang Segi Tiga tsb., terdjadi pada achir tahun 1949 (27 Desember), dikala turunnja “daulat hadiyah.”

------Ζ Ζ Ζ -----BAB VII: PROKLAMASI BERDIRINJA NEGARA ISLAM INDONESIA 1. Di tengah2 api-revolusi, doachir-kesudahan Perang Segi Tiga Pertama, dimasa vacuum, dikala Indonesia kosong daripada kekuasaan dan pemerintahan, disa’at itulah Allah berkenan mentjurahkan kurnia-Nja jang maha besar; suatu peristiwa, jang akan menentukan nasib dan kedudukan Ra’jat Indonesia, terutama Ummat Islam Bangsa Indonesia, dimasa depan; suatu peristiwa jang perlu ditjatat dengan tinta mas dalam sedjarah Indonesia, istimewa tarich perdjuangan Islam dan Ummat Islam, di Indonesia; suatu peristiwa jang bersedjarah, dengan lahirnja suatu negara baru dipermukaan bumi-Allah, Indonesia: Proklamasi Berdirinja Negara Islam Indonesia !! Sa’at jang bersedjarah itu adalah: 7 Agustus 1949. Semuanja itu berlaku, terdjadi dan mendjadi, hanja dengan karena Kehendak dan Kekuasaan Allah, dengan tolong dan kurnia-Nja djua. Kiranja Allah berkenan memandaikan, mentjakapkan dan mentjukupkan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia: menerima Kurnia Allah jang maha-besar itu! Amin. 2. Kini, setelah tiga tahun bulat ‘umur negara baru itu, hidup dengan sejahtera dan bahagia, di tengah2 masjarakat dan Ummat manusia di Indonesia, mengalami suka dan duka, gembira dan sungkawa, menurutkan naik turunnja gelombang Qodratillah, jang membawanja kepada suatu arah dan maqam jang pasti: Mardlotillah sedjati. Alhamdulillah dengan asuhan Allah langsung, disertai dengan amal-bakti para mudjahidin seluruhnja muthlak, kepada ‘Azza wa Djalla, Djihad-berperang pada djalan-Nja, maka bertambah mendekati kepada tingkatan dewasa, sanggup duduk dengan patutnja, di samping negara2 jang merdeka, di seluruh dunia. Semoga selan-djutnja, Allah berkenan melimpahkan taufiq dan hidajat-Nja, kekuatan dan kekuasa-an-Nja, atas kita sekalian, para mudjahidin penggalang dan pendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dalam usaha kita menunaikan dharma bakti sutji: mendlahirkan Ke’adilan dan Kebesaran Allah, dipermukaan bumi Indonesia! Insja Allah. 3. Dalam waktu itu, orang boleh menerima dan mengakui, dan sebaliknja orang boleh menjangkal atau menolak. Tetapi Allah tetap melakukan rentjana-Nja, Negara Islam Indonesia tetap melakukan tugas-wadjib-nja jang maha sutji, hingga hukum sjari’at Islam berlaku dengan se-luas2nja dan sesempurna2nja diseluruh Indonesia. Sikap dan pendirian kedalam, ditentukan dan dilaksanakan dengan ‘amal jang njata, djelas dan tegas! Demikian pula haluan keluar, konkrit dan positif, lepas daripada sjak dan bimbang, sepi daripada ragu2 dan rusak! Dengan karena tolong dan kurnia Allah djua. …. Amin. Periksalah lebih landjut: Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, dan Pendjelasan singkat atasnja!

------Ζ Ζ Ζ -----BAB VIII: KEADAAN GANDJIL DAN ‘ADJAIB LUAR BIASA DI DUNIA Dua Negara, Dua Kekuasaan dalam satu daerah, nusantara Indonesia; Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia. (R.I.S.) 1. Segera kemudian daripada letusan terachir didaerah Djerman; jang menundjukkan, bahwa Perang Dunia Kedua dibagian benua Eropah telah berachir; disusul dengan ledakan bom atom jang kedua dan terachir atas beberapa kota Djepang; belum djuga diselenggarakan “Perdjandjian Damai Dunia”, maka dengan tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh orang berpendapat dan berkejakinan, bahwa “Perang Dunia Kedua dengan resmi telah disudahi”. Manusia telah haus akan damai, dahaga akan aman dan tenteram! Maka kesudahan Perang Dunia Kedua itu tidaklah sekali2 diartikan, bahwa seluruh dunia sudah aman dan tenteram, mendjelang zaman bahagia dan sedjahtera, melainkan Perang Dunia Kedua itu diberbagai2 tempat meninggalkan batu-bara jang masih selalu menjala-njala dan membakar2 bangsa2 jang lemah, ummat2 terlindas, golongan2 terdjadjah, sehingga dibeberapa tempat dipendjuru dunia, terutama di Asia, berkobarlah, revolusi nasional; revolusi melawan pendjadjahan dan perbudakan, revolusi menentang kekuasaan asing, jang manapun djuga. Salah satu daerah jang menduduki tempat penting dalam sedjarah dunia, jang berkenaan riwajat revolusi nasional di benua Asia, ialah: Indonesia. Lebih djauh diperiksalah: A. Riwajat Tiongkok Nasional jang amat tragis itu, hingga terusirnja pemerintah nasional (Chiang Kai Sek) dari daratan Asia, dan hingga digantinja oleh peme-rintah ra’jat (KomunisMao Tse Tung); B. Riwajat Hindustan jang achir-kemudiannja mendjadi dua: (1) India, dan (2) Pakistan. C. Pergolakan di Korea, Indo-Tjina, Malaja, Burma dan lain2 lagi, jang kini tidak lagi merupakan masalah setempat melainkan sudah beralih sifat dan wudjudnja, mendjadi: masalah dunia (berela-vraagstuk). 2. Revolusi Nasional itu selesai, setelah masing2 bangsa dan golongan jang bersangkutan mendapat kedudukan jang pantas dan patut, didalam lingkungan bangsa2 dan negara2 merdeka didunia. Masing2 memperoleh miliknja sendiri2. Ada jang mendjadi “bo-neka” (satelliet) daripada negara besar dan jang mendapat “daulat hadiyah”, kemerde-kaan terikat, dengan selubung dan tabir berkilau-kilauan jang mensilaukan tiap2 mata jang “buta politik”. Wal-hasil negara2 baru, negara2 muda berdiri seperti tjendawan dimusim hudjan. Maka beralihlah sifat dan bentuk revolusi nasional, jang hanja menghadap keluar, mendj’adilah revolusi sosial, revolusi kedalam dan didalam, sehingga membakar dan menghanguskan tiap2 sesuatu, jang ada didalam tubuh bangsa dan ummat itu. Peristiwa jang serupa ini, antara lain2 terdjadi di Indonesia, jang hingga kini belum djuga diperoleh penjelesaian jang memuaskan kedua belah pihak jang bertentangan. Mereka tetap

bertarung didalam selimut, merupakan “Perang-Saudara”, perang kejakinan, perang ideologi. Titik dan garis jang mempertemukan kedua belah pihak belum didapatkan, sedang pintu pembuka “penjelesaian” tetap tertutup dengan rapat2. Jang satu ber-sikeras kepada sikap dan pendiriannja, kepada kejakinan dan pendapatnja, kepada ideologi dan filsafat hidupnja, tiada tawar-menawar dan kalah mengalah, dengan kesanggupan mendjandjikan kurban apa dan betapapun djuga. Sedang sebaliknja, pihak jang lain-nja pun demikian pula. Oleh sebab itu, maka perang saudara, perang ideologi, perang kejakinan itu, tidaklah hanja merupakan “perang kalam” (tjatur) dan perang pena, melainkan berwudjudkan “perang adu tenaga, perang bersendjata”. Selandjutnja, sual itu mendjadi sual “darah dan besi”, sual kekuatan dan kekuasaan, sual negara, di dalam ma’na jang luas. Di dalam hal ini, sual “hidup dan mati” tidaklah masuk perhitungan. Sampai dimana kelandjutan proces perang saudara dan perang ideologi akan berlaku, seberapa besar djumlah korban manusia dan harta benda jang perlu disadjikan, tidaklah agaknja seorang manusia dapat meraba2 dan memperhitungkannja. Hanjalah boleh ditaksir2, bahwa djumlah korban djiwa manusia dan harta benda jang sudah dituntut oleh revolusi sosial ini, djauh lebih besar, lebih banjak dan lebih berharga daripada korban jang telah diberikan oleh ummat dan bangsa Indonesia, dimasa revolusi nasional jang telah lampau. 3. Untuk menolong dan memudahkan pembatja, memperoleh kesimpulan dan tindjauan jang tepat, serta timbangan jang djudjur dan ‘adil, baiklah terlebih dulu kami per-silahkan meneliti: A. Lampiran 1, Ichtisar I, Bandingan A., antara Republik Indonesia Djogja, Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia Djakarta; dan B. Lampiran 2, Ichtisar II, bandingan B., antara Negara Islam Indonesia dan Repu-blik Indonesia Djakarta. Dengan tjara jang mudah, nanti tiap2 pembatja akan memperoleh kesimpulan dan chulasoh jang pasti, betapakah gerangan duduknja perkara jang sesungguhnja. Lebih2 lagi djika pembatja sudi meneliti dengan seksama, barang apa jang dituliskan sebelum maupun sesudahnja. Beberapa hal, pada hemat kami, perlu bagi pengetahuan dan pengertian jang kritis, dan bagi menetapkan sikap jang ta’ berat sebelah, dan lebih djauh, untuk memperoleh tindjauan (visie) dan pendapat genap-lengkap, ‘adil, djudjur dan benar, maka di ba-wah ini kami sadjikan kupasan atasnja. Kiranja pembatja jang bidjak-budiman suka memperhatikan seperlunja. 4. Kelahiran. Periksalah lampiran jang bersangkutan! A. Jang paling tua –dihitung daripada kelahirannja, sedjak kebangunan nasional (nasional reveille)– ialah Republik Indonesia, atau dengan kata2 lain disebut di dalam karangan ini, dengan istilah “Republik Indonesia Djogja” (karena nama pusatnja: Djogjakarta), untuk menolong dan memudahkan pembatja, di dalam mendjeladjah dan menelitinja, terutama bagi pembatja luar negeri. Hari jang bersedjarah itu adalah hari Proklamasi Nasional 17 Agustus 1945. B. Dengan; berdjangkitnja penjakit jang menghinggapi dirinja –periksalah riwajat selajang

pandang di atas!—, dan karena desakan, tekanan dan serangan “penja-kit” dari luar, maka ‘umurnja RI Djogja tidak memandjang lebih daripada sa’at ditanda-tanganinja Statement Rum-Royen, pada pertengahan tahun 1949. Dengan itu, selesailah sudah nasibnja Republik Indonesia Djogja. C. Dengan tjara nakal, serong dan tjurang, terutama untuk mengelabui ra’jat Indonesia dan (djuga) mata internasional, jang hingga kini belum pernah melepaskan pengawasannja atas Indonesia –langsung ataupun tidak langsung—, maka bangkai jang telah mati pada pertengahan tahun 1949 itu, sengadja tidak lekas2 dikubur. Upatjara penguburan resmi jang dimaksudkan, barulah dilakukan satu tahun lebih daripada matinja, ja’ni pada tanggal 17 Agustus 1950. Kesempatan ini digunakan untuk “memaksa” RIS (Republik Indonesia Serikat, natidjah K.M.B.) mewarisi nama bangkai jang mati itu, sehingga mendjadilah “Republik Indonesia” (II). Didalam karangan ini, nama RI (II) itu disebut dengan istilah : “Republik Indonesia Djakarta” (karena nama ibukotanja: Djakarta). D. Hari kelahiran RI Djakarta ini –sesungguhnja nama resminja: Republik Indonesia Serikat– djatuh bersamaan turunnja “daulat-hadiyah”, ja’ni: 27 Desember 1949, ialah salah satu hari jang bersedjarah di dalam riwajat Indonesia, baik ba-gi bangsa Indonesia maupun bangsa Belanda. Djika kelahiran RIS (RI Dajakarta) itu, oleh sebagian daripada bangsa Indonesia, terutama jang “buta-politik”, disambut dengan riang gembira dan suka-tjita, maka sebaliknja bagi bangsa Belanda hari itu merupakan hari berkabung, hari sungkawa. Karena pada sa’at itu pemerin-tah Belanda, dengan sedih dan ratap-tangis serta terharu, terpaksa menjerahkan sebuah “hadiyah jang maha besar”, ialah: hadiyah kemerdekaan Indonesia, walaupun tidak 100%. Dengan beberapa patah kata kami ingin menggambarkan, betapa gerangan “suasana” jang sesungguhnja pada dewasa itu, terutama didalam kalangan bangsa Belanda, di Nederland maupun di Indonesia. Bangsa Belanda dan pemerintah Belanda –dipandang daripada sudut pendirian dan keadaanja pada dewasa itu– tidaklah merasa mempunjai alasan jang tjukup, sah dan kuat untuk memberikan “daulat-hadiyah” itu. Terutama sekali, bila dipandang dari sudut militer, bahwa tentaranja (KNIL dan KL) di dalam melakukan tugasnja (“perang”) di Indonesia tidaklah mengetjewakan dan merasa kalah, bahkan sebaliknja. Buktinja? Di antara orang2 besar bangsa Belanda, jang memegang tampuk pemerintahan di Indonesia, di Negeri Belanda maupun di luar negeri, sama “mengundurkan diri dengan hormat”, karena mereka tidak menjetudjui beleid pemerintahnja. Malah ada pula jang (letterlijk) “bunuh diri”, seperti peristiwa djenderal Spoor, beberapa hari sebelum ditandatanganinja perdjandjian KMB. Pendjeladjahan lebih dalam menundjukkan adanja “udang internasional, di balik batu”, jang mendjepit, menekan dan mendesak pemerintah Belanda dan bangsa Belanda, kepada suatu posisi jang amat sukar-sulit (internationale dwangpositie), jang memaksa pemerintah dan bangsa Belanda, sukarela atau terpaksa, ichlas atau tidak, dengan gembira atau sedih: “mengakui dan menjerahkan kembali kemerdekaan Indonesia kepada ra’jat bangsa Indonesia, meski tidak bulat dan tidak genap-lengkap sekali pun”.

Peranan jang dipegang oleh “udang internasional” itu amat sungguh penting dan berguna bagi ra’jat bangsa Indonesia. Adapun alat-pendjepit jang amat sakti itu, ialah: “Atlantic Charter” beserta “self-determination”-nja. Dan “udang internasional” jang kami maksudkan itu, jang mendorong dan menjorong dengan kerasnja “turunnja daulat-hadiyah” itu ialah: pihak Amerika Serikat, Inggeris dan Australia, djuga Perantjis. E. Setelah RI – Djogja mati dan meninggalkan langgang perdjuangan, pulang ke maqam abadi, dan belum pula Konferensi Medja Bundar (KMB) dimulai, maka pada sa’at itu lahirlah satu negara baru, dengan bentuk dan sifat baru, dengan sendi dan tjara2 baru, ialah: Negara Islam Indonesia. Periksalah: Bab VII di atas, Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, beser-ta Pendjelasan Singkat Atasnja: Peristiwa penting, jang berlaku menurutkan Ke-hendak dan Kekuasaan Allah semata, terdjadilah pada tanggal 7 Agustus 1949. Dengan kenjataan riwajat ini (historis), maka bolehlah ditetapkan, bahwa Negara Islam Indonesia lebih tua dari RIS, jang kemudian diberi nama pindjaman Repu-blik Indonesia (matinja RI Djakarta). Tetapi setelah “pemimpin2” RI Djogja, jang tjurang dan chianat itu, tahu dan sadar, bahwa mereka (RI Djakarta) didalam posisi politik maupun sepandjang hukum (staatkundig en staatsrechtelijk), terutama sepandjang kenjataan sedjarah, menduduki posisi jang lemah dan kalah, maka dengan segera mereka mentjoba-kan tipu-daja dan tipu-muslihatnja, untuk membangunkan dan menghidupkan kembali nama “RI (Djogja)” jang sudah mati itu, sehingga RIS dipaksakan memakai nama “Republik Indonesia”, tegasnja: RI Djakarta. Semuanja itu dilaku-kan dengan tjurang dan serong, dengan chianat dan hasut, dengan sengadja hendak mengelabui mata dan menjumbat mulut ra’jat, serta dunia internasional, dan lebih djauh untuk mendjauhkan dan menghilangkan perhatian dan mata dunia kepada Negara Islam Indonesia. Tiap-tiap manusia jang tahu dan memperhatikan sedalam2nja akan riwajat Indonesia, berkenan dengan hal ini nistjajalah tidak akan menolak atau membe-narkannja dengan bulat2, disertai dengan pertanggung-djawab sepenuhnja. F. Sepandjang sedjarah, jang tentu dibenarkan oleh tiap2 manusia dan pihak jang masih sehat ‘akalnja dan ‘adil pendiriannja, maka njatalah sudah, bahwa: 1) RI Djakarta –RI lainnja memang tiada lagi– sungguh2 telah melanggar, mem-perbuat kedjahatan politik dan sengaja berchianat kepada Proklamasi Kemer-dekaan 17 Agustus 1945. 2) RI Djakarta (jang kini masih ada) bukanlah RI 17 Agustus 1945, jang ditim-bulkan dalam masa revolusi nasional pertama. 3) RI Djakarta adalah satu natidjah (resultante) daripada sikap serong dan tjurang, hasut dan chianat dari “pemimpin2nja”, jang kini lagi menaiki “kuda tunggang dan sapi perah” ra’jat dengan megah dan gagah, sombong dan takabburnja. Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam bangsa Indonesia ditipu, didjual dan dichianati mentah2!!! Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam bangsa Indonesia mendjadi korban: hina, papa, sengsara, miskin dan nista dalam segalagalanja, lebiih daripada zaman kolonial Belanda, bahkan lebih dari-pada zaman pendudukan Djepang, jang terkutuk itu!!! Hai, “pemimpin2 kebangsaan” jang chianat! Nantikanlah perhitungan atas perbuatanmu jang

djahat, atas Bangsa, Negara maupun Agama itu!!! 4) Adapun ketjurangan dan pelanggaran RI atas perdjandjian KMP (RTC) maupun penipuan terang-terangan terhadap kepada dunia internasional, bukanlah tempatnja diuraikan didalam karangan ini. Melainkan kami serahkan dan pertjajakan sepenuhnja atas beleid dan kebi-djaksanaan, sikap dan pendirian masing2 pihak: Amerika Serikat, Inggeris, Australia, Perantjis. Dan silahkan! 5. Dasar dan ideologi negara, antara NII dan RI Djakarta. Bandingkanlah dengan lampiran jang bersangkutan! A. Dengan djelas dan tegas, NII meletakkan sendi2 dan dasar2 kenegaraannja: ISLAM 100%; satu-satunja Agama Allah –jang hingga kini sepandjang penelitian dan penjelidikan daripada para ‘alim ‘ulama dan ahli pengetahuan, dari pihak kawan dari lawan—, masih tetap terpelihara dalam kesutjiannja dan kemurni-annja. Barang siapa, jang tidak sengadja dari tadinja menolak kebenaran Islam, atau ingkar (kufur) daripada tuntunan Ilahy dan adjaran Muhammad Rasulullah Clm., dapatlah menetapkan kejakinannja jang kuat dan kepertjajaannja jang teguh, bahwa: “Islam menentukan dengan pasti dasar2 hidup dan kehidupan, dlahir (materieel) maupun bathin(spiritueel), mengandung peraturan2 bakti duniawy dan uchrowy, mulai keperluan pergaulan hidup sehari2 biasa dan ‘ibadah chususnja (rubbu-biyah) hingga sampai kepada dasar2 dan tingkatan memperdjuangkan, memiliki dan mengatur negara dan dunia Islam.” Di dalam Islam tiada faham dan pendirian, jang memisahkan dunia dari achirat, dlahir dari bathin, mesdjid dari kantor, tidak sesuai dengan faham “kuno”, faham “Damaskus”, jang menjatakan perpisahan antara agama dan negara (scheiding van kerk on staat). Djika pada zaman abad kedua puluh ini masih djuga ada orang atau pihak jang pendirian “kuno”, silahkan mempeladjari kembali Kitabul-lah dan Sunatin-Nabi Besar, Muhammad Clm., dan Insja Allah achir-kemudiannja akan sampai kepada satu kesimpulan: mengoreksi faham dan pendiriannja, jang salah dan keliru itu! Djadi, kalau di sini kita katakan Islam, djanganlah hendaknja kita merasa tjukup dan puas dengan keterangan2 dari mulutnja “tukang obat” jang tidak bertanggung-djawab, atas benar atau salahnja kata2 jang dilahirkannja, lepas daripada niat baik atau djelek daripada orang jang mengutjapkannja. Melainkan, kita harus dan wadjib memandang Islam, sebagai peraturan jang hidup, stelsel masjarakat, stelsel pemerintahan, stelsel negara dan stelsel dunia. Dengan sendinja jang pasti, kuat dan sentausa, luas dan mendalam, sutji dan ter-pelihara, jang tidak dapat diperkuda dan dipermainkan oleh siapapun djuga, maka kami –Negara Islam Indonesia– meletakkan dasar2 negara kami. Kami tidak ingin ingkar daripadanja sedjari sekalipun! Melainkan kami akan mentju-kupi sepenuhnja barang apa jang termaktub dalam adjaran Islam! Insja Allah. Kami tidak ingin melalaikan dan menawarnja, sedjengkal sekalipun! Sebaliknja, kami ingin memenuhi segenap tuntunan Ilahy dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm., dengan sempurnanja. Insja Allah. Sendi dasar inilah, jang pada ‘umumnja orang mengatakan: ISLAMISME. B. Adapun sendi dan dasar daripada Republik Indonesia seperti jang sering didengung2kan oleh “pemimpinnja”, terutama “Presidennja”, ialah: Pantjasila. Satu tjampuran (alliage)

daripada (1) Shintoisme Djepang, (2) Sjirik Indonesia –animisme, dengan persembahan kepada Blorong, Dewi Sri, Dewi (ibu) Pertiwi, dll. Dewa tjiptaan, tiada bedanja dengan persembahan kepada Dewa2 Wisnu, Brahma dll. atau kedjawen (heidendom),, sebuah model persembahan berhala, jang berlaku di Djawa Tengah—, (3) Hakko Itjiu, alias theori penipuan “Kemakmuran Asia Timur Raja”, buatan Djepang semasa zaman pendudukan, dan (4) Nasionalisme Indonesia djahil, jang agak kemerah-merahan itu. Dengan kupasan singkat di atas, —tidak mengikuti susunan dan aliran pikiran Soekarno dan kawan2-nja (ma’af)—, maka mudahlah kita dapat mengerti dan memfahami sedalam-dalamnja: 1) Apakah gerangan sebabnja, maka “Tuhan” ala Pantjasila itu tidak mempunjai wudjud, sifat perbuatan dan lain2 jang tentu2, baik jang “wadjib”, jang “hak” maupun jang “mustahil”; “tuhan” jang tidak ber-‘amal (memerintah) dan tidak pula ber-“nahi” (terlarang); “tuhan” jang tidak menurunkan “nabi”nja, atau “utusan”-nja dan “wahju”-nja; “tuhan” neutraal (bebaskah? Jang boleh dibajangkan dan ditafsirkan oleh tiap-tiap manusia, menurut kehendak, pikir-an dan perasaannja masing2, walaupun oleh manusia jang sesat, jang anti-tuhan sekalipun (seperti komunis); “tuhan” inikah jang di dalam ‘ilmu “Kedja-wen” disebut dengan istilah ‘alam suwung wangwung” (tiada sesuatu alias kosong)? Wal-hasil, “tuhan” ini adalah “tuhan palsu”, “tuhan” buatan manusia, “tuhan” tjiptaan Soekarno. Lebih-lebih lagi, tampak bohong dan palsunja “tuhan” a la Pantjasila itu, dan chianatnja pentjipta dan buatannja (Soekarno) beserta pengi-kut-pengikutnja, dimana “tuhan” pantjasila itu “dipersamakan” (atau didu-dukan sedjadjar) dengan Tuhan dalam faham dan kejakinan Islam: Allahu Subhanahu wa Ta’ala! Subhana-Llah! Maha-Sutji-lah Allah! Maha Sutji dari-pada tiap2 terkaan dan rabaan, bandingan dan buatan, fikiran dan hitungan manusia jang manapun djuga. Kalau di antara “pemimpin2” Islam di kalangan RI Djakarta masih djuga ada jang berpendapat, bahwa “tuhan” ala Pantjasila itu “sama” dengan Allah di dalam Al-Qur'an, maka faham dan pendapat, kejakinan dan kepertjajaan jang serupa itu teranglah salah, sesat dan keliru semata2. Hendaklah “pemim-pin” Islam jang “musjrik dan memusjrikkan” itu – walaupun dengan tidak sengadja, hanja karena bodoh dan tolol (ma’af) belaka– segera insaf, sadar dan taubat kepada Allah! Sajang ibadah jang dilakukan seumur hidupnja hanjalah dihadapkan dan diperuntukkan kepada “tuhan bajangan” belaka. 2) Apakah gerangan sebabnja, maka kata2 muluk “kebangsaan Indonesia”, ke-daulatan ra’jat, keadilan sosial dan kemanusian” hanjalah merupakan “huruf jang mati” dan hiasan mulut munafiq? Kata2 jang membumbung seting-gi langit itu hanjalah merupakan “alamat palsu” dan “bajangan” (chajal kepa-da chalajak ramai, kalau2 ra’jat boleh merasa puas dengan dongeng2 jang hebat2 itu” dan kenjang dengan “omong kosong” jang senantiasa dihamburhamburkan dan membosankan itu! Ra’jat minta bukti! Ra’jat menuntut realiteit! Bukti! Bukti! Bukti! Itulah jang diharapharapkan ra’jat. 3) Apakah gerangan sebabnja, maka Nasionalisme Indonesia lebih dekat kepada Merah (Komunisme) daripada kepada hidjau (Islamisme) ? Karena Nasionalisme Indonesia berdasarkan kepada “tuhan” jang neutraal (bajangan) tjiptaan

pantjasila, alias “kosong”; sedang Komunis Indonesia, sesuai dengan adjaran2 tiap2 faham dan kejakinan “ketuhan-an” jang manapun djuga (historis materialisme). Komunis asli Moskow menolak mentah2. 4) Apakah gerangan sebabnja, maka Komunis Indonesia, dengan tjepat berkem-bang-biak didalam tubuhnja pemerintah Republik Indonesia, jang –katanja– berdasarkan nasionalisme itu? Sekali baksil-baksil dan bakteri-bakteri Komunis itu disuntikkan dan diratjunkan (geinjecteerd en geinfecteerd) kedalam tubuhnja RI, maka sekali itu tjukuplah kiranja untuk “memper-merah dan memper-moskow-kan RI, karena perbedaan antara djahil dan sjirik hanja-lah beberapa streep belaka. Ratjun komunisme buatan Moskow itu dibuat demikian rupa, sehingga nasionalisme Indonesia (batja RI Djakarta) selalu tergila-gila kepada tiap2 jang merah dan jang ke-merah2an, terpikat oleh tiap-tiap komunis dan barang sesuatu jang komunistis. Berkenaan dengan kenja-taan jang berdjalin-djalin dalam tubuhnja RI, lebih2 lagi setelah membatja statement Party Nasional Indonesia (jang kini telah mengikuti djedjak langkah PKI–mengiblat ke Moskow) pada awal bulan Djuli 1952 jbl.; ditambah de-ngan sikap komunis Indonesia jang sudah tidak tahu malu dan lebih dari kurang adjar, mengindjak-indjak kepala RI dengan njanjian “internationale” (komunis), dan menusuk-nusuk djantung hati pemerintah RI dengan ratjun buatan Moskow, maka mengingat semuanja itu, dengan ini kami dapat menja-takan pendapat jang pasti, bahwa: a. RI Djakarta –jang katanja Nasional itu, sesungguhnja “nasional merah”– kini sudah mendjadi RI Komunis; dan b. RI inilah jang berchianat kepada perdjuangan kemerdekaan Indonesia, kepada Agama Islam, kepada ummat Islam Bangsa Indonesia: kepada Allah dan Rasul-Nja, tegasnja: berchianat kepada Negara Islam Indonesia!!! 5) Apakah gerangan sebabnja, maka “ideologi” pantjasila tidak dapat tertanam dan hidup didalam dada dan hati ra’jat jang sebagian besar memeluk Agama Isllam? Memang sedjak mula berdirinja, RI (kini RIK) selalu berpegangan kepada pihak luar, pihak internasional. “International minded” katanja. Tegas-nja: RI (RIK) tidak berakar kedalam, melainkan keluar, tidak berdiri atas kekuatan dan tenaga ra’jat sendiri; tidak sesuai dengan kehendak dan tjita2 ra’jat; melainkan kedaulatan dan kemerdekaannja diperoleh dan dipertahan-kan dengan pegangan kepada “tongkat internasional”, dan berdasar atas kasih sajang dan kemurahan pihak luar. Maka dengan tjepat kita dapat menjebutkan, bahwa kedudukan RI (RIK) kini ialah: “Bergantung ta’ bertali, berdiri ta’ berakar!“ 6. Kanun Asasy Negara Islam Indonesia dan Undang-Undang Dasar RI palsu. Undang-Undang Dasar RI sebagai “warisan badju” daripada “bangkai jang sudah mati itu” (RI Djogja) dan sebagai indjakan tampak kosongnja, kosong daripada dasar hukum, jang mendjadi salah satu tulang-sendi (prinsip) bagi pendirian suatu negara, sesungguhnja tidaklah patut ditindjau dan didjeladjah. Sebab, memang bukan dasar dan pakaian RI sekarang (Djakarta) sendiri. Tetapi untuk kepentingan pembatja jang masih “asing” dalam seluk beluknja keadaan dan kedjadian di Indonesia, teru-tama sekitar “tipu-muslihat RI Djakarta”, maka dengan ini baiklah kami sadjikan buah pendjeladjahan sekedarnja, dengan pertanggung-djawab sepenuhnja atas benarnja penerangan dan keterangan tersebut:

A. Bahwa RI Djakarta kini belum mempunjai Undang-Undang Dasar (Grondwet), jang seharusnja mendjadi tulang sendirinja sesuatu negara. B. Bahwa pemakaian UUDRI (Djogja) adalah suatu pentjurian politik jang amat tjurang (kurang adjar jang dilakukan oleh pemimpin2 RI (Djogja lama), jang kini –dengan bukti2 jang njata, terang dan djelas– boleh selandjutnja dinamakan: Republik Indonesia Komunis, disingkat dibatja dan ditulis: “er-ie-ka atau “rik”. C. Bahwa karenanja, RIK bukanlah suatu negara hukum (rechtsstaat) –sedang Undang-Undang Dasar pun belum memilikinja—, sehingga pada hakikatnja dan pada bukti sjari’atnja, tidak terikat dan tidak mengikatkan dirinja dengan suatu hukum. Lebih2 lagi, djika kita suka meneliti bukti2 kenjataannja, bahwa: 1) Tiada suatu peraturan jang tentu, jang mengekang mengendalikan peme-rintahan didalam negara, sehingga pesawat-pesawat dan alat-alat negara tidak mempunjai pegangan jang tetap, dalam melakukan tugasnja. Herankah kita, djika pesawat2 dan alat2 RIK mendjadi lesu dan tidak bersemangat, kadang-kadang a-nasional dan tidak tahu djalan, sehingga sering tubruk menubruk satu dengan jang lainnja, semacam orang gila? Herankah kita djika pelatjuran, korupsi besar2an dan lain2 kedjahatan, baik didalam pandangan negara, maupun di dalam pandangan hukum, mendjadi suatu kemegahan, ketjong-kakan, kesombongan jang luar batas? Herankah kita, djika dengan karenanja banjak di antara anggauta2 pemerintah RIK mendjadi agen Moskow, atau tangan-tangan luar negeri jang lainnja, dengan maksud mendjual negara dan bangsanja, bagi kepentingan dirinja sendiri? Herankah kita djika ra’jat RIK selalu gelisah dan apathis, jang achir-kemudiannja merupakan sampah masja-rakat, jang meng-halang2ngi dan menghambat berputarnja roda-pemerintahan RIK? 2) Dalam sual2 militer, baiklah diperingati: a. Tindakan Tentara RIK –di sini, disebut: TRIK– selalu melanggar hukum, baik hukum kemanusiaan, menangkap dan menawan, menjiksa dan mem-bunuh, menghukum dan membuang, dengan tjara sewenang-wenang, me-langgar hukum kemanusiaan dan kesusilaan, bukanlah barang sesuatu jang aneh dan adjaib di Indonesia (lingkungan RIK), melainkan semuanja itu termasuk kedjadian se-hari2; jang boleh disaksikan orang pada setiap tempat dan waktu, hampir diseluruh Indonesia. Dari biasanja melakukan perbuatan2 jang hina dan rendah, tjemar dan kotor, kedjam dan ganas itu, hingga TRIK merasa bangga dan megah serta puas djika mereka telah “selesai”memperbuat barang sesuatu jang kedjam, djahat dan mesum itu. Semuanja dilakukan untuk keperluan sesuatu ideologi, kiriman luar negeri, import dari Moskow, jang bernama-kan Komunisme. Sadar atau tidak sadar, pura-pura tidak tahu atau dengan pengertian jang pasti, perbuatan-perbuatan jang serupa itu tidak hanja bersifat merusak, membentjanai dan merobohkan negara, bahkan lebih dari itu: TRIK (kini TNI –Tentara Nasional Indonesia) mendjual negara dan bangsa Indonesia kepada kekuasaan asing, ialah: Sovjet Russia. b) Sudah sedjak lama terdjadi perpetjahan didalam kalangan TRIK, seperti proces perpetjahan jang berlaku pada lapisan jang lainnja. Periksalah riwajat keluarja Pasukan Hisbullah (TNI) – jang kini telah insaf dan sadar akan tugas wadjibnja jang maha sutji: menggalang Negara

Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, Alhamdulillah—, berkat chianatnja pihak RIK sendiri. Proces jang serupa ini akan berlaku terus-menerus, hingga tiada seorang Muslim lagi, jang sanggup hidup di lingkungan RIK Perpetjahan jang timbul karena keluarnja pihak ex KNIL (bekas Koninklijk Nederlands Indonesia Legor) dari kalangan tersebut, bukanlah suatu hal boleh disem-bunjikan. Lajangkanlah pandangan kita atas: Maluku Selatan (RMS), Andi Abdul Aziz, dll. jang hingga kini belum djuga ada penjelesaian atasnja. Proses di dalam kalangan KNIL inipun akan berdjalan terus-menerus, karena mereka tidak sanggup menelan pil-pahit buatan Moskow, walaupun dibungkus dengan “gula2 manis”. 3) Belum mengenai sual-sual ‘umum politis dan militer seperti perkaranja Sultan Abdul Hamid (pihak RIS dan KNIL), perkaranja Chairul Saleh (pihak Party Murba–Komunis), perkaranja Amir Fatah (pihak Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesia dan perkaranja sepuluh ribu orang jang lainnja, jang begitu sadja dimasukkan didalam pendjara, didalam tawanan, dan di tempat pengasingan Nusakambangan (Digul Kedua?), dengan tiada urusan, pemeriksaan atau penjelesaian atasnja. Walhasil, kalau lembaran2 hitam daripada riwajat Indonesia ini ditulis satu demi satu kiranja akan meru-pakan beberapa buah buku tebal tersendiri. D. Walaupun tidak patut dan tidak pantas, djika kita membuat bandingan, ditilik daripada sudut hukum dan politik, antara Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia Komunis, tetapi bagi orang2 jang mengaku warga negara RI (kini: RIK) mungkin besar guna dan faedahnja, djika kami berikutkan pendapat dan kesan-kesan kami atasnja, sekedar pada garisgaris besar dan pokok2nja belaka. 1) Bahwa di Indonesia, sedjak 3 tahun ini, berdirilah dua negara, jang berbedaan hukum dan pendiriannja, berlainan sikap dan haluan politiknja, bertentangan maksud dan tudjuannja, tegasnja: berselisih, hampir dalam tiap2 hal, mulai dasar dan pokok hingga sampai kepada tjabang dan rantingnja. 2) Bahwa daerahnja adalah satu dan bersamaan, ialah: Indonesia. 3) Bahwa ra’jat-penduduknja adalah satu dan bersamaan pula, ialah : ra’jat Indonesia. 4) Bahwa tiada batas jang tertentu: daerah, tanah, air, rimba, bukit, laut, dll., jang boleh membedakan dan memisahkan, antara kedua negara itu; sehingga batas sematjam “garis demarkasi” tidak ada, dan tidak mungkin ada. 5) Bahwa ‘alamat di luar jang tampak (oleh pihak luar): RI. Tetapi isi jang se-sungguhnja, ialah: a. Negara Islam Indonesia dan b. Republik Indonesia Komunis. 6) Bahwa kedua negara tsb. sedjak hampir 3 tahun ini, ja’ni : Sedjak 27 Desember 1949, senantiasa dalam keadaan permusuhan dan pepe-rangan, sehingga selama itu sampai kini Indonesia selalu terlibat di dalam “Perang Saudara”, Perang Ideologi, jang makin hari makin bertambah meng-hebat dan mendahsjat. 7) Bahwa tiada garis demarkasi jang tertentu bagi tiap2 pihak jang bertentangan, sehingga tiap2 kampung dan kota, tiap2 bukit dan pantai, tiap2 hutan dan ladang, sewaktu2 boleh mendjadi lapang peperangan, gelanggang (arena) adu tenaga antara dua kekuatan, dua kekuasaan dan

dua negara itu, dalam sifat politis, militer, ekonomis dan lain2. 8) Bahwa karena perbedaan kedudukan kedua negara itu, dalam pandangan hukum dan politik, maka satu sama lain berlainan dan bertentangan pulalah tanggung-djawab terhadap kepada : a. Ra’jat; b. Tanah tumpah darah; c. Mahkamah sedjarah, interinsuler dan internasional; d. dan Mahkamah Allah, kini dan kelak. Misalnja: Djika pihak R.I.K. hanja akan bertanggung djawab akan nasibnja ra’jat jang mengikuti langkah R.I.K. —dengan sadar atau tidak, dengan paksa atau tipuan— (djadi: bukan lagi sual “warga negara”), maka sebaliknja, Negara Islam Indonesia pun hanja akan bertanggung djawab atas nasibnja ra’jat, jang mengikuti ketentuan2 dan hukum2 jang berlaku di dalam lingkung-an Negara tsb. 9) Bahwa perlulah dinjatakan, bahwa (a) Ra’jat, (b) Daerah —negara— dan (c) Kekuasaan, adalah tiga factor jang terpenting, jang selalu mendjadi sasaran (maf’ul objekt) daripada setiap pihak jang bertentangan dan bermusuhan. Herankah kita, djika proces “Perang Saudara” ini memakan korban jang ti-dak terhingga besarnja, baik merupakan djiwa manusia maupun harta dan benda? 10) Bahwa tjatatan2 di atas perlulah kiranja, terutama bagi pihak RI —kini: R.I.K.—, kalau2 di dalam golongan atau pihak, jang masih sehat pikirannja dan djernih tindjauannja serta ‘adil timbangannja. Kemudian, tersilah! -------Ζ Ζ Ζ ------BAB IX: PERHUBUNGAN ANTARA NEGARA ISLAM INDONESIA DAN REPUBLIK INDONESIA 1. Dulu, pada mula pertama R.I. (R.I.S.) baru menerima “daulat hadiyah”, dikala itu ia dan segenap alat kekuasaannja mabok daulat. Oleh boneka (R.I.) jang mabok itu selalu dihamburhamburkan berita dan tjeritera, omong kosong dan palsu, hasut dan chianat, tjurang dan serong, sesuai dengan djiwa dan perbuatan pemabok jang lupa daratan, hidup dalam alam chajal dan margajangan. 2. Pihak Negara Islam Indonesia beserta alat pemerintahan dan kekuasaan dihina, ditjer-tja dan ditjatji maki dianggap dan diperbuat sebagai “gerombolan”, pengatjau, pem-berontak, perampok dan lain2 istilah, jang hanja patut keluar daripada hati dan mulut-nja orang2 jang dendam dan marah, djengkel dan murka rendah achlak-budi-pekerti dan ketjewa hati. Dengan “alasan2” jang serupa itu, maka dilakukanlah oleh pihak R.I. suatu perbuatan chijanat kepada Ummat Islam, ingin “membasmi gerombolan D.I. (Darul Islam, jang lazim dipakai untuk menundjukkan sebutan Negara Islam Indonesia hingga habis ledis, dan menghantjurbinasakannja”, katanja. Perbuatan chianat ini, jang dilakukan dengan “penggempuran jang membabi-buta”, sering pula di’umumkan dengan sombong dan tjongkaknja, dengan taktik

serupa dengan djuru-bitjara Djerman dan Djepang —selalu “menang dengan gilang-gemilang” sadja—, semasa achir Perang Dunia Kedua 3. Perlulah didjelaskan, bahwa sebelum R.I. melakukan perbuatan chianatnja itu, maka terlebih dulu beberapa kali ia telah membuat sematjam panitja, jang hendaknja akan membuat hubungan antara R.I. dan N.I.I., dan dimana perlu —katanja— boleh mendjadi pengantara dalam “penjelesaian antara kedua belah pihak. Usaha penipuan jang demikian itu terus menerus dilakukan olehnja hingga sampai tahun 1951 jbl. Jang ikut serta dalam perbuatan chianat ini, tidak hanja pihak militer dan sivil, R.I., melainkan djuga masja Allah! —‘alim-’ulama jang terkenal didalam kalangan Islam (jang kini kiranja belum perlu disebutkan nama2nja, karena mereka itu memperbuatnja tjuma sebagai “kuda tunggang” dan “kaki tangan” jang tidak sadar— ma’lum: buta politik, dan “takut”), jang di belakang, djika tetap tidak sadar dan insjaf akan kewadjibannja sebagai Muslim, terutama selaku pemimpin Islam, tentulah akan diperhitungkan lebih djauh. Kepada mereka jang telah melakukan perbuatan chianat itu, meski jang tidak disengadja sekalipun., kami harapkan dengan tulus dan djudjur: Taubatlah! Tau-batlah! Taubatlah! Marilah kita bersama-sama melakukan tugas sutji, tugas Ilahy: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia!!! Kembali kepada “panitja penipuan” itu, bolehlah ditjatat: A. Bahwa segala usaha tentulah gagal, dan memang sengadja “dibikin gagal”. B. Bahwa maksud sesungguhnja, ialah: mengelabui mata ra’jat, menjumbat mulut-nja, dan lebih djauh “menutup mata dunia”, tegasnja: dunia internasional. C. Bahwa kalau wali-Al-Fatah dan kawan2nja tempo hari (pertengahan tahun 1950 dikirim kedaerah Negara Islam Indonesia, untuk mendjadi “penghubung dan perantara” itu hanjalah tipuan pihak Iblis la’natullah semata. Demikian pula usaha Sadikin, Sutoko, Rukman, Lukas dan pengchianat2 jang lainnja. D. Bahwa lebih djauh, maksud jang lebih dalam daripada “penipuan” itu, ialah: untuk menutupi kelemahan, kekurangan, kepintjangan dan kekosongan R.I. sendiri. Dan E. Bahwa “last but not least” (jang terachir dan maha penting) dengan tjara demikian “rahasia Komunis di dalam R.I.” tidak akan terbuka, sedang pada masa itu penjelundupan komunis di dalam pemerintahan dan alat2 kekuasaan R.I. lagi berlaku dengan giat dan tjepatnja. Perebutan kaum Komunis jang serupa ini didasarkan atas suatu kejakinan, bahwa mereka (komunis Indonesia) tidak akan diberi lapang hidup, djika Negara Islam Indonesia berdiri dengan tegak teguhnja, di tengah2 masjarakat Indonesia. Semuanja ini dibuktikan dengan dokumentasi komunis, jang terampas oleh pihak Negara Islam Indonesia, beserta Tentara Islam Indonesia. Oleh sebab itu, hai Ummat Islam dan pemimpin2 Islam: Awas dan waspadalah!!! 4. Sementara itu, pihak ‘umum djuga pers, jang tahu akan keadaan dan kedjadian jang sesungguhnja, tetap bungkam, tutup mulut. Sebabnja, karena djika mereka suka bitjara atau menulis terus-terang, menurut keadaan jang sesungguhnja, maka mata dan tangan besi jang kedjam telah siap di sekelilingnja. 5. Di dalam waktu jang achir2 ini, setelah terbukti, bahwa segala usaha dan tindakan mereka,

jang keras-kedjam, hasut chianat, selama hampir 3 (tiga) tahun ini, ternjata kandas, gagal dan tidak berdaja, maka barulah ada suara2 dan angin2 baru, tampak dan terdengar nama-nama: Negara Islam Indonesia, Tentara Islam Indonesia, dll. Bukan se-kali2 karena pihak R.I. dan persnja —jang selalu masih tetap dalam penga-wasan antjaman dan tekanan sendjata, daripada tentaranja jang sombong dan se-wenang2 itu— ingin menghargai dan menghormati Negara Islam Indonesia! Melain-kan sikap jang serupa itu hanjalah menundjukkan kebingungan, kelemahan dan kedjatuhannja belaka! Di dalam pers beberapa bulan j.l. a.l.l. di’umumkan oleh pihak djuru-bitjara-tentara, bahwa “N.I.I. pernah mengirimkan Nota2 Rahasia kepada pihak R.I.”, dengan tidak menundjukkan sepatah katapun, akan isi dan maksud jang terkandung didalam Nota2 Rahasia tsb. Dengan peng’umuman itu, chalajak ramai tetap bimbang, tetap tidak menerima penerangan dan keterangan jang selajaknja. Berkenaan dengan itu, maka pada ketika itu djuga kami membuat hubungan dengan Imam Negara Islam Indonesia jang kini untuk sementara waktu lagi tinggal diluar negeri —bagi kepentingan Negara Islam Indonesia—, bagi memperoleh perkenan (idzin) dari beliau, untuk memper’umumkan Nota2 Rahasia itu, bagi kepentingan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang selalu di’abui matanja, sehingga tidak tahu duduknja perkara jang sesungguhnja, dan djuga menghilangkan salah faham dan keliru sangka, baik dari pihak lawan maupun pihak kawan. Maka pada achir bulan j.l. kami memperoleh perkenan tsb. jang diharapkan itu, sehingga mudah2an dengan itu pihak R.I. tidak akan tetap melandjutkan sikapnja jang tidak tahu malu, masa bodoh dan berchianat kepada ra’jat dan negara. Dengan per’umuman itu pula, maka Nota2 Rahasia —jang tadinja sengadja ditutup-tutup dan dirahasiakan— kini mendjadi Nota2 Terbuka, atau Surat2 Terbuka. Mudah2-an ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia terbuka matanja, tahu dan mengerti akan duduknja perkara jang sebenarnja, sehingga dimana perlu dan seberapa perlunja — boleh mendjadi Hakim didalam Mahkamah Sedjarah Dunia dimasa jang dekat. Kepada Dunia Merdeka, dunia internasional kami tidak kurang mengharapkannja, sudi apalah kiranja mengambil Nota2 Rahasia itu mendjadi tambahan bahan2, untuk menentukan sikap dan pendiriannja, mengenai Indonesia, dengan tindjauan jang benar dan timbangan jang ‘adil. 6. Berhubung dengan per’umuman Nota2 Rahasia itu —jang kini sudah mendjadi Nota2 Terbuka, atau Surat2 Terbuka—, baiklah kami menjatakan beberapa hal, untuk menolong dan memudahkan pembatja, didalam meneliti dan pendjeladjahan atasnja. A. Nota Rahasia itu ada 2 bagian: Pertama: bertarich 22 Oktober 1950, djadi kurang lebih 10 bulan daripada serang-an R.I. kepada Negara Islam Indonesia; dan Kedua: bertarich 17 Februari 1951, hampir 14 bulan, kemudian daripada chianat-nja R.I., jang diperbuatnja terus menerus, tiada berhentinja. B. Nota2 Rahasia tsb. ditanda-tanganinja dengan resmi oleh Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, dan di’alamatkan kepada Saudara Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia, dengan tembusan kepada Sdr. M. Natsir, selaku Perdana Menteri R.I. pada dewasa itu. C. Kedua Nota Rahasia ini sudah diterima oleh masing2 mustahiqnja, tapi belum pernah

mendapat balasan apapun dari pihak R.I.. Melainkan hanja dengan serang-an jang hebat dahsjat, dengan hasutan jang djahat, dengan blokade politik, militer, ekonomis dll., jang boleh diharapkan —sepandjang rentjana Abu-Djahal dan Abu-Lahab Indonsia,—: membunuh Negara Islam Indonesia, Agama Islam dan Ummat Islam Bangsa Indonesia seluruhnja. Alhamdu-lillah! Rentjana Abu-Djahal dan Abu-Lahab itu kandas dan gagallah, dan ber’akibat sebaliknja! Dengan karena tolong dan kurnia Allah djua. Semen-tara itu, Rentjana Allah terus berlaku: mendlahirkan Kebesaran dan Ke’adilannja, ditengah2 masjarakat dan ummat manusia di Indonesia, berwudjudkan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Sekali lagi, Alhamdu-lillah! Dengan “latihan” jang diadakan oleh R.I. terhadap kepada N.I.I., dengan makan kurban jang tidak ternilai harga dan besarnja, maka makin hari Negara Islam Indonesia makin kuat dan sentausa, besar dan meluas. D. Atas beberapa fatsal, jang termaktub di dalamnja, akan kami berikutkan pen-tegasan seperlunja. Periksa dan bandingkanlah: Lampiran 3 dan 4, Nota Rahasia pertama dan kedua! 7. Peringatan, perhatian, pertimbangan dan kesan tjukuplah diletakkan di dalam Nota2 Rahasia itu, oleh Pemerintah Negara Islam Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia, terutama tentang bangkit dan tumbuhnja bahaja dari dalam maupun dari luar. Peringatan dan perhatian itu diberikan, pada masa R.I. baru mendjadi anggauta P.B.B. (Perserikatan Bangsa—United Nation Organization = U.N.O.), dua tahun bulat jang lampau. Walaupun demikian R.I. (Djakarta; kini: R.I.K..) telah menutup matanja dan menjumbat mulutnja, dan tidak mengabaikan sedikitpun djuga atas semuanja itu. Selama dua tahun ini, sudah banjak peristiwa2 jang terdjadi, interna-sional maupun interinsuler, jang sedikit banjaknja mempengaruhi kedudukan R.I.K., sehingga makin hari semakin bertambah2 sulit karenanja. 8. Politik Bebas (neutralitdit) R.I. jang tadinja diharapkan akan bersifat positif dan konstruktif, ternjata achirnja mendjadi negatif dan destruktif, sehingga karenanja Politik Bebas makin hari makin bertambah menjulitkan dan membahajakan kedu-dukan R.I. (R.I.K.) dalam lingkungan negara2 di Pasifik, istimewa mengenai rantai pertahanan. Wal-hasil, Politik Bebas jang tadinja diharapkan akan mendjadi salah satu daja-upaja untuk “melepaskan Indonesia dari antjaman bahaja, dari luar dan dari dalam”, maka sekarang ternjata mendjadi “tambahan penjakit”, jang akan segera menjorong R.I. (R.I.K.) tjepat2 masuk kelobang kuburnja. Mula-pertama, Politik Bebas itu hanja berwudjud politik “latjur”, politik “ronggeng” (flirterij), mentjintai si A. dan mengasih-sajangi si B., dengan tidak haluan jang tetap dan tentu, tiada sikap jang djelas dan tegas tiada tahu harga diri dan kehormatan Ma’na jang paling baik untuk menggambarkan “politik jang mentah dan setengah matang ini, paling tinggi, ialah politik “wandu” (bukan laki-laki dan bukan pula perempuan)”, jang oleh karenanja tentulah tidak akan mendapat kehormatan peng-hargaan dari pihak diluarnja. Politik latjur dan wandu ini masih djuga boleh dima’-lumi dan diperma’afkan, walaupun tentu merugikan negara, kehormatan dan kedau-latannja, jang hanja boleh dilakukan oleh orang, pihak dan golongan, jang berachlak rendah dan berbudi hina. Tapi ....! Tapi ....! Tapi ....!

Ada akibat jang lebih berahaja dan berchianat daripada latjur dan wandu itu. Ja’ni: setelah pihak Merah sudah mulai masuk-meresap dalam tubuhnja R.I. (R.I.K.), maka Politik Bebas itu dipergunakan orang (batja: Pemerintah R.I.K.) untuk memindahkan kiblat, dari bebas ke Moskow. Barang siapa jang teliti mendjeladjah sikap R.I. (R.I.K.) menghadapi dunia luar (politik luar negerinja), maka kesimpulan dan pendapat kami itu, Insja Allah, tidak djauh daripada kebenaran. Periksalah sikap R.I. terhadap (1) M.S.A., (2) T.C.A., (3) pengangkatan duta2 besar untuk Moskow dan Peking, (4) K.M.B. = R.T.C., (5) Irian Barat dll.! Semuanja itu menundjukkan bukti jang njata, bahwa kutu2 dan ratjun Komunisme dapat hidup dengan subur dan berkembang biak, didalam tubuhnja R.I. (R.I.K.), jang selalu mempergunakan kamuflase (pendirian samaran) jang bernamakan “neutraliteit” alias Politik Bebas itu. R.I. menjerahkan dirinja, untuk di-indjeksi dan di-infeksi oleh kutu2 komunis, dengan ratjun buatan Moskow. Awas! Hai, Ra’jat Indonesia! Pemerintahmu sendirilah, Pemerintah Republik Indonesia, jang berchianat: mendjual negara dan bangsamu, Negara dan Bangsa Indonesia!!! 9. Oleh pemerintah Negara Islam Indonesia diharapkan dan dipertimbangkan kepada pemerintah R.I. —periksalah: Nota Rahasia jang pertama, angka 11 !—, betapa hendaknja R.I. bersikap dan bertindak terhadap kepada Komunisme di Indonesia, jang sedjak dua tahun jang lalu sudah boleh di-raba2 diperhitungkan bahaja nasional dan bahaja internasional, jang boleh tumbuh daripadanja. Antara lain dalam angka 11 disebutkan: 11. ........................................................................................................................... a. Tiada suatu djalan lain, jang menudju kearah “keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia”, melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiap2 lapangan, “terutama sekali jang melekat di dalam tubuh “Pemerintahan Republik Indonesia dan alat2 kekuasaannja, dengan wudjud dan sifat apa dan manapun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. ..................................................................................................................... c. ..................................................................................................................... “Hendaknja disegerakanlah, melakukan tindakan jang tjepat dan tepat atas bahaja nasional dan internasional tersebut, jang pada hemat Kami, tindakan serupa itu adalah salah satu tugas jang wadjib mutlak bagi Pemerintah Republik Indonesia, untuk menghindarkan Negara dan Bangsa Indonesia daripada antjaman mara-bahaja jang amat dahsjat itu.” .................................................................................................................................. Sikap dan pendirian jang diharapkan boleh mendjadi “obat” untuk R.I., dinjatakan pula didalam Nota Rahasia Kedua angka 7. Periksalah: Lampiran 4, jang bersangkutan ! Walaupun demikian Pemerintah R.I. tetap tuli dan membuta-tuli, dengan sengadja, sadar dan insjaf, dengan pengetahuan dan pengertian jang tjukup. Mengapakah R.I. tidak bertindak? Tidak beranikah? Takutkah kepada pihak merah dan

agen2nja, jang siang malam berdjalan2 didepan istana mereka? Tidak mampukah (impotent)? Setudjukah kepada Komunis? ataukah R.I. memang komunis dan masuk golongan komunis? Rupanja kemungkinan jang terachir inilah jang paling dekat kepada kebenaran. Selandjutnja, apakah buktinja? Sebaliknja daripada apa jang di-harapkan. Bukan ia (R.I.=R.I.K.) membasmi Komunisme, semasa masih ketjil dan lemah, dikala 2 tahun jang lalu, melainkan (R.I.=R.I.K.) bersedia menerima Komu-nisme didalam tubuhnja, didalam pemerintahannja, didalam tentaranja, dan hampir didalam tiap-tiap lapangan hidup dan kehidupan, dinegara R.I. (R.I.K.). Ini bukan dongeng dan tjeritera purba, melainkan bukti jang njata, jang setiap orang boleh menjaksikannja. 10. Adapun Sikap dan pendirian Negara Islam Indonesia sendiri terhadap kepada bahaja komunisme itu, dinjatakan pula dengan djelas dan tegas: (Nota Rahasia Pertama, angka 12) ........................... 12. Dalam pada itu, baik djuga kami menjatakan di sini akan Sikap dan Pendirian Pemerintah Negara Islam Indonesia terhadap bahaja Komunisme, bahwa sedjak mula berdirinja —7 Agustus 1949— telah ditetapkan: “Pemerintah Negara Islam Indonesia dengan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta alat- kekuasaannja sudah, lagi dan akan terus menerus melakukan wadjib sutjinja. Membasmi bahaja-Negara, bahaja-Agama-Allah (Islam) dan ba-haja-Ummat itu, hingga sampai kepada akar-akar dan dasar-dasarnja”. .................................................................................................. Pentegasan atasnja kiranja tidak diperlukan. Tjukup djelas! 11. Selain daripada itu, dalam Nota Rahasia tsb. dituliskan pula dengan terang2an dan dengan dada terbuka, hanja karena mengingat kepentingan Negara, Bangsa serta Agama semata2 a.l.l.: A. Bahwa Nasionalisme tidak akan sanggup dan tidak pula akan mampu membasmi Komunisme, dan djika Komunisme mendjadi agressor, maka pihak Nasionalisme akan segera menjerah-kalah: B. Bahwa tiada kejakinan, stelsel dan ideologi lainnja, jang dapat membendung arus Komunisme dan menghindarkan bahaja Negara, Bangsa dan Agama, melain-kan hanja Islamisme sadjalah. C. Bahwa wadjib mutlak “membasmi Komunisme” harus dilakukan dengan tjepat, agar supaja Indonesia djangan hendaknja mendjadi Tiongkok kedua atau Korea kedua. D. Bahwa djika R.I. lalai akan kewadjibannja jang pertama2 dan jang terutama itu — membasmi komunisme—, maka ia akan bunuh diri, dibunuh oleh alat dan pesawatnja sendiri, untuk kepentingan dan keperluan negara dan ideologi lain, ialah: Sovjet Russia. E. Bahwa sual sekitar KMB Irian Barat dll. harus diteliti dengan bidjaksana, agar supaja djangan menambah besar dan dahsjatnja bahaja jang meng-antjam-antjam kedudukan Indonesia, dari dalam maupun dari luar. Berkenaan dengan kesulitan2 jang timbul sekitar sual Irian, dari sendirinja akan membawa ‘akibat (jang kurang enak) kepada ikatan bangsa2 dan negara2 di dalam rantai pertahanan Pasifik. Karena negara2 jang ikut serta, bahkan mempunjai peranan penting di dalam pemberian “daulat hadiyah” kepada Indonesia, adalah negara besar, jang berkuasa di pantai Pasifik , seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Perantjis.

F. Bahwa di masa jang dekat —tindjauan dan rabaan serta perhitungan hampir 2 tahun jang lalu— akan terdjadi Perang Segitiga jang kedua. Kini dengan per-lawan2 dan ber-angsur2, sedjak beberapa lamanja, sudahlah dimulai. Dan oleh karena sebagian besar proces ini berlaku “di dalam selimut” (dan memang diseli-muti), maka pihak luar (outsider) tidak banjak mengetahui dan mengertinja. Ini-lah suatu bukti, jang membenarkan tindjauan kita di atas, hampir 2 tahun jang lampau. Lebih djauh, periksa dan bandingkanlah dengan Statement Negara Islam Indonesia, No. IV/7 ! Masihkah orang menjangka, bahwa Pemerintah Negara Islam Indonesia kurang “goodwill” terhadap kepada Pemerintah Republik Indonesia, walaupun masih tetap bermusuhan dan tidak setudju kepada sikap dan pendirian serta dasar nega-ranja sekalipun??? Kiranja sekarang hanja tinggal menantikan “goodwill” (kemauan baik) daripada pihak Pemerintah Republik Indonesia!!! Terserah dan tersilah! Tiap2 pembatja jang bidjak-budiman, kiranja dapat menentukan dan mengambil kesimpulan sendiri! 12. Kemudian di dalam Nota Rahasia Kedua, angka 8., dinjatakan pula dengan terang-terangan akan Sikap dan pendirian jang djelas dan tegas, mengenai Proklamasi ber-dirinja Negara Islam Indonesia, untuk memudahkan RI dalam usaha “pemetjahan” dan “penjelesaian” atasnja. Antara lain dituliskan: ................................................................................................................................. a. Proklamasi 7 Agustus 1949, adalah suatu tjurahan Kurnia Ilahy, atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, satu idzin dan perkenan Allah jang berwudjudkan: “inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, du’a, tekad dan ‘amal-usaha perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia”. b. Oleh sebab itu, maka Proklamasi 7 Agustus 1949 merupakan hak sutji daripada atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang tidak hanja harus serta wadjib dihargai dan dihormati oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap2 bangsa diseluruh Dunia. c. Hak sutji tsb. ...................................................................................................... (1) Jang mengenai isi, maksud dan wudjud bulat sempurna (essensial-substantif), ialah: Kemerdekaan bulat 100%, ................................................................. (2) Jang mengenai technik-pelaksanaan, ........................................................... Selandjutnja, bagi Republik Indonesia boleh memilih: “menerima dan mengakui Proklamasi 7 Agustus 1949, ataupun menolaknja”. Dalam kedua2 kemungkinan itu, maka berdirinja Negara Islam Indonesia telah melahirkan sikap dan pendiriannja jang tegas, tidak ragu2 dengan bertanggung-jawab sepenuhnja. Periksalah: Nota Rahasia Kedua, angka 8, c., (1) dan (2)! 13. Achirul-kalam, sekali lagi dengan ini kami njatakan rasa-kemenjesalan kami dan pihak Negara Islam Indonesia, bahwa Pemerintah Republik Indonesia, jang kini praktis sudah mendjadi Republik Indonesia Komunis, telah mengabaikan segala pertimbangan, perhatian, peringatan dan kesan2 atas nasibnja Ummat dan Bangsa, Negara dan Agama, dimasa jang mendatang, berkenaan dengan antjaman bahaja dari dalam maupun dari luar, jang akan membunuh-mati dan menghantjur-luluhkan negara dan ra’jat Indonesia, sebagai negara dan

bangsa di dunia. Sajang! Sekali lagi, sajang! Kini sudah terlambat! Walaupun demikian, kalau sekarang ini djuga, semasa Perang Dunia Ketiga belum meletus, Pemerintah R.I. suka mengubah sikapnja jang membuta-tuli dan keras-kepala, pura2 tidak tahu dan tidak sadar akan resiko jang boleh diderita oleh ra’jat dan ummat serta negara jang mendjadi pertanggung-djawab atas pundaknja, maka agaknja masih djuga terbuka djalan untuk menolong dan menghindarkan sebagian (ketjil) Ra’jat, daripada antjaman bahaja jang amat besar dan dahsjat itu. 14. Pendjadjahan Belanda telah lampau, pendudukan Djepang sudah berachir, Kemerdekaan (palsu) Indonesia lagi berdjalan, kalau nanti disusul dengan djadjahan komunisme, djadjahan ideologi, djadjahan politik, djadjahan militer, djadjahan eko-nomi, djadjahan Sovjet Russia djahanam. Alangkah besarnja mara bahaja, dlahir dan bathin, dunia dan achirat, jang akan menimpa Indonesia, sebagai negara dan bangsa!!! Naudzu billahi min dzalik! Pada zaman pendjadjahan Belanda, orang mengira, bahwa diduduki (didjadjah) oleh Djepang —karena katanja: “saudara tua”— lebih enak atau kurang pahit, daripa-da oleh Belanda. Sangkaan itu salah belaka. Ra’jat djelata menderita, lebih daripada jang sudah-su-dah. Tiada kalam manusia, jang dapat menggambarkan dengan tepat, akan penderita-an ra’jat dlahir dan bathin, waktu itu! Pada zaman Fascisme Djepang, orang meratap menangis, berdu’a kepada ‘Azza wa Djalla: “Kapan hari-kah Indonesia merdeka? Dan kalau Indonesia sudah merdeka, tentulah akan hilang segala hina dan papa, nista daan sengsara, melarat dan derita..! Demikianlah agaknja gambaran-letupan djiwa ra’jat jang lagi tidak berdaja meng-hadapi Fascisme Djepang itu. Pada suatu detik jang ditentukan oleh Allah Pribadi, maka Indonesia mendjadi negara jang merdeka, walau hanja merupakan “daulat hadiyah” sekalipun. Lumajan djuga tapi apa latjur! Sekali lagi, ra’jat ketjewa, ra’jat lebih sengsara, lebih menderita dalam segala2nja —ketjuali beberapa manusia, jang menamakan dirinja “pemimpin ra’jat, pemimpin negara dll”.—, lebih daripada zaman djadjahan Belanda, bahkan lebih daripada za-man pendudukan Djepang, Meskipun dipimpin oleh bangsa sendiri, bangsa Indonesia, dan sudah memiliki kemerdekaan pribadi, kemerdekaan Indonesia. 15. Tanda2 akan runtuh dan djatuhnja R.I. sebagai negara, sudahlah tampak dengan njata. Setiap orang, jang tidak sengadja menutup matanja, akan dapat menjaksikan matjam kebiadaban dan pelanggaran teradap kepada hukum, dan ke’adilan, kebe-naran dan kemanusiaan. Perkosaan kepada wanita termasuk salah satu kesukaan (liefhoberij) jang istimewa daripada T.R.I.K. djahanam itu, sedang perampasan hak dan harta benda ra’jat bukanlah masuk barang sesuatu jang luar biasa. Proces dege-neralisasi dan demoralisasi besar2an berlaku dengan pesat dan tjepatnja, ditengah2 masjarakat dan negara R.I.K.. Barang siapa tjoba2 membendungnja hanjut-lenjaplah didalam nja. Semuanja itu termasuk tanda2 jang njata, akan segera djatuh-runtuhnja R.I. (R.I.K.) sebagai negara. 16. Kini .... Ra’jat Bangsa dan Negara Indonesia (R.I.K.) lagi menghadapi sebuah djalan

simpangan. Hendak ke kanankah (Blok Amerika)? Ataukah mau ke kiri (Blok Russia)? Wallahu ‘alam. Di bawah ini kami akan tjoba menggambarkan “kemungkinan kedepan akan nasib Indonesia, beserta ra’jat dan negaranja”. Semoga Allah berkenan memberi petundjuk langsung kepada kita sekalian, hingga terhindarlah kiranja Indonesia daripada antjaman mara-bahaja dunia, jang amat besar, hebat dan dahsjat itu! Dengan tolong dan kurnia Allah djua. Insja Allah. Amin. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB X: INDONESIA MENDJELANG MASA DEPAN Terapung ta’ Hanjut, Terendam ta’ Basah, Berdiri ta’ Berakar, Bergantung ta’ Bertali. 1. Dengan memperhatikan apa jang telah kami rawaikan di atas, sekedar gambaran kasar atas keadaan dan kedudukan Indonesia, hingga kini, dapatlah kita mengambil peladjaran, mengupas dan mendjeladjah, meraba2 dan menggambarkan: apa gerangan nasib jang boleh dialami oleh Indonesia, Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, di masa depan. Suatu masa jang penuh dengan awan dan kabut jang tebal; suatu masa jang tidak mengandung “harapan baik”. Sungguhpun demikian, kita tidak perlu ketjil hati atau putus harapan (pessimistis), dan sebaliknja, kitapun djangan terlalu gembira dan berbesar hati (optimisme), sehingga atjapkali lupa-daratan, lupa kepada realiteit jang kita hadapi dan jang lagi kita indjak pada dewasa ini. Hendaknja kita berdiri di djalan-tengah itu, didjalan jang dirahmati dan diridlai Allah kiranja. Amin. Isti’anah, istiqamah dan istitha’ah adalah pendirian ‘amal tiap2 Muslim terutama Mudjahid! Semoga Allah berkenan menuntun kita sekalipun, Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta Ra’jat Indonesia seluruhnja, dan Negara Islam Indonesia kearah Mardlotillah Sedjati! Insja Allah. Amin. 2. Dipandang daripada sudut dan pendirian “orang dalam” (insider), maka penjakit jang menghinggapi darah dan djantungnja R.I. (R.I.K.) sudahlah meningkat demikian tinggi dan hebat, sehingga tidak mungkin ia (R.I.=R.I.K.) sembuh dan sehat kembali. Adapun jang dimaksudkan per-tama2 sekali dengan istilah R.I. (R.I.K.) di sini, ialah: Pemerintah R.I., atau pemerintah R.I.K... Adapun ra’jatnja, ummatnja, kiranja masih dapat diobati, ditolong, meskipun tidak semuanja. Sebab infeksi dipusat itu sudah mendjalar menghinggapi hampir tiap2 lapisan dan tingkatan masjarakat. Lebih lanjut boleh ditegaskan, bahwa di dalam “permainan tjatur politik” ini, maka Ra’jat Indonesia hanjalah merupakan objekt (maf’ul), barang permainan belaka. Tidak lebih dan tidak kurang daripada itu. Beberapa orang manusia jang menamakan dirinja “pemimpin”, itulah jang memper-mainkan

nasib ra’jat. Dan di antara beberapa orang manusia itu termasuklah Peme-rintah RI, pemerintah R.I.K.. tahu dan sadar akan tanggung-djawabnja, terhadap kepada negara dan ra’jat Indonesia, lebih2 lagi djika sifat ksatrija tertanam di dalam djiwanja, maka Pemerintah R.I.K.. —pemerintah nasional kemerah2an dan merah-Moskow sekarang ini— harus dan wadjib mengundurkan diri! Tetapi dengan sikap jang melekat pada diri, dan mengalir ber-sama2 darah peng-chianat, kita tidak boleh mengharapkan suatu sikap ksatrija daripadanja. Memang mereka sengadja hendak mendjual negara dan bangsa, kepada negara dan ideologi jang lainnja! 3. Lain halnja, djika Ummat Islam dilingkungan R.I.K. kuat dan sentausa, dan terutama memiliki keberanian jang mentjukupi, maka Insja Allah keadaan Indonesia tidak akan sesulit sekarang ini. Tetapi siapa tahu, bahwa kuda-tunggang” dan “sapi peres”, jang selama itu hanja melakukan tugasnja “ditunggangi dan diperah”, oleh nasional kemerah-merahan dan komunis-merah, pada suatu sa’at jang ditentukan Allah, sadar dan insjaf akan tugasnja-wadjibnja jang sutji, diikuti dengan tindakan jang tegas: “melemparkan nasional dan komunis-merah dari atas punggungnja, dan kemudian bertindak membasmi-membinasakan merah djahanam itu; mengabungkan diri bahu-membahu dengan kawan2 pedjuang sutji jang lainnja, mempersembahkan dharma-bakti kepada Allah: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia”! Djika terdjadi jang demikian, luar daripada dugaan dan sangkaan, alangkah besarnja kurnia Allah, jang dilimpahkan atas Ummat dan Pemimpinnja (Islam), jang selama 7 tahun ini hanja pandai “meng-hambakan diri kepada pihak nasional kemerah-merahan dan komunis merah Moskow itu”! Mudah2an mereka segera dianugerahi tolong dan kurnia Allah, sehingga berani merobohkan masjarakat djahilijah, masjarakat kufur, beserta pemerintahnja jang djahil murakkab itu !!! Silahkan! 4. Apa jang disebutkan diangka 3. Masih masuk bagian “kalau”, belum boleh masuk perhitungan, hanja boleh “diharapkan”. Adapun jang sudah terang dan pasti, ialah: bahwa R.I. (R.I.K.) hanja tinggal merk dan ‘alamatnja. Isinja: merah muda dan merah tua. Bilamana keadaan telah mengizinkan, sepandjang hitungan dan rentjana merah —mitsalnja Ho Chi Min dapat mengusai Indo-Tjina, atau Malaja dikuasaia oleh Komunis, atau R.R.T. sudah masuk menjerbu ke Burma, dan ...—, maka pada saat itu dengan mudah dan lenggang2 kangkung, dengan tidak segan dan sjak lagi, si-merah akan mengganti nama dan ‘alamat Republik Indonesia, mendjadi: Republik Ra’jat (Komunis) Indonesia Republik Sovjet Indonesia, atau nama lainnja, jang sekiranja sesuai dengan kehendak dan tjiptaan, intruksi dan recept komunis jang agresif itu. Tjatatlah baik-baik! 5. Di atas dinjatakan, bahwa sampai sekarang R.I. (R.I.K.) merasa puas dan merasa tjukup, mewarisi “nama” bangkai jang telah mati dan dikubur itu, beserta “undang2 dasar” dan pakaian jang lainnja, jang kini hanja merupakan “pindjaman sementara” (tapi tidak terbatas) itu. Sengadjakah? Betul, sengadja, dan memang disengadja! Dan perbuatan “sengadja itu dilakukan menurut

rentjana Merah Indonesia, dengan pimpinan Moskow. Masih kurang kekuatan negara (karena tidak memiliki undang2 jang mendjadi sendi-nja), makin mudah pula merobohkan dan menggulingkannja, se-kurang2nja mudah diindjeksi dan diinfeksi, dengan ratjun dadjdjal la’natullah jang istimewa. Pemimpin2 nasional jang tahu, membiarkannja, bahkan sebagian besar membenarkannja! Hendak menentang arus tidak berani, dan tidak berdaja! Adapun pemimpin2 Islam, tetap tolol dan bodoh (ma’af), se-akan2 tidak tahu, bahwa dunia hendak ganti bulu, menukar kulit dan isinja! Mereka tetap manggut2 dengan kebodohan dan ketololannja, jang “old fashion” (lapuk) itu! Kasihan. 6. Keadaan pemerintahan (berstuur) R.I. morat-marit dan berantakan. Masih djuga pihak merah belum puas, ingin mempertjepat dan memperhebat proces kedjatuhan dan keruntuhan itu. Mereka melakukan aksi2 jang muluk2 seolah2 mereka adalah “satu2nja pembela marhain, sihina-dina”, mereka melakukan agitasi dengan kata2, jang seakan2 hendak membelah angkasa dan menelan dunia, serasi dengan rentjana dan tipuan dadjdjal la’natullah. Padahal niat dan hadjat jang sesungguhnja ialah: merobohkan dan menghantjur binasakan negara, aksi destruktif semata. Sementara itu ra’jat mendjadi “permainan politik”, terombangambing, dengan tiada ketentuan arah-tudjuannja, tiada mem-punjai pedoman pegangannja. Di kala katjau-balau dan keruh itu, si-merah mendapat kesempatan baik, dan mempergunakannja dengan effektif. Mereka naik panggung, sambil menjanji lagu-lagu merah. Sedjenak mereka menundjukkan “sosial dan merahnja”, karena R.I. tidak demokratis, tidak sosialistis ...................................................................................... Di kala lain, mereka “menangis merintih-rintih” dan “meratap tersedu-sedu”, semasa menghadapi kaum buruh dan kaum tani jang dianiaja, dihina dan diperkosa .......... oleh majikannja, dan pemerintah R.I.! Main komedi, main tonil, main sulap ini ber-laku dengan leluasa, seidzin R.I. jang hendak dibongkar, dibasmi dan dibinasakannja! Pada hakikatnja dalam hati-ketjilnja mereka tertawa tergelak-gelak, riang gembira dan sukatjita, karena “obat merah” sungguh2 mudjarab dan “makan” dalam djantung hati R.I. dan masjarakat djahilijah. Hatta, maka meradjalelanja kerusakan dan kesengsaraan didalam masjarakat, jang makin hari makin bertambah2 —kalau masih kurang, pihak merahpun siap-sedia untuk menambah kedjatuhan dan berantakkannja R.I.—, mendj’adilah dasar2 hidup-nja komunisme dengan subur dan ma’mur. Masihkah ada orang jang sjak akan kenjataan ini??? Tambahnja kekatjauan, rampok, perkosaan hak, perbuatan sewenang-wenang, korupsi besar2an dan chianat, jang dilakukan oleh pemerintah R.I. (R.I.K.) sendiri, oleh pesawat2nja jang merupakan tentara, sivil dan pegawai2 lainnja, maka semuanja mempertjepat proces: lekas djatuh dan hantjurnja Republik Indonesia (R.I.K.) sebagai Negara. 7. Sedjak R.I. (R.I.K.) sakit, maka penjakitnja semakin hari semakin tambah keras dan berbahaja. Nafasnja Senin-Kamis detikan darahnja tidak normal lagi, roman mukanja putjat, kurus, kering, laksana bangkai hidup. Ia dirawat didalam rumah sakit “merah” dipelihara oleh dokter2 “merah”, dan didjaga oleh

djuru2 rawat “merah”. Siang malam perawatan dilakukan dengan penuh hati2. Tiap2 saat mereka meneliti keadaan sisakit, memuthola’ah thermometer dan alat2 pengukur penjakit jang lainnja. Wal-hasil,, pemeliharaan dan perawatan di dalam rumah sakit itu “sempurna-lah” sudah. Tak kurang suatu apa. Oleh karena si-dokter tidak hanja ahli didalam obat2an melainkan djuga mempunjai “spesialisasi jang istimewa” dalam bagian politik, terutama politik-merah, maka dalam melakukan tugasnja jang maha penting didalam rumah sakit, tidak lupa ia melihat2 dunia luar, tekanan hawa dan djurusan angin dunia. Perubahan djarum berometer internasional selalu mendapat perhatian sepenuhnja; sebuah alat pengukur tekanan hawa, aliran angin dan gerakan bumi, menundjukkan besar atau ketjilnja gelombang, memberi tanda2 akan datangnja angin taufan. Bahwa panas angin berhenti, jang meliputi Moskow dan Peking, Washinton dan London, seolah-olah mendjadi tanda jang pasti akan datangnja mara-bahaja, jang akan menimpa ummat manusia seluruh dunia. Ini semuanja, tidak diabaikan oleh dokter jang lagi melakukan tugasnja dirumah sakit itu. Selain daripada itu, mereka —para dokter dan djuru-rawat— selalu meneliti dan memperhatikan sa’at jang paling baik, bagi sisakit memenuhi panggilan Ilahy, pulang ke maqam abadi: sa’at jang dianggap menguntungkan bagi ummat manusia jang berhaluan dan bertjorak merah. Wal-hasil si-sakit dirawat dan dipelihara demikian rupa, sehingga ia boleh meninggalkan rumah sakit, menghadap Mahkamah Ilahy, tepat pada waktu jang direntjanakan, sepandjang rentjana manusia merah. Bila suatu sa’at R.I. menghampiri sakaratul maut, maka dikerahkannja-lah segala tenaga dan daja-upaja, untuk mendapatkan obat penjambung njawa dan pemandjang ‘umur. Itupun, djika waktu datangnja adjal dianggap “belum tepat”, sepandjang perhitungan dan rentjana merah, tegasnja: tanda2 jang ditundjukkan oleh barometer internasional belum tjukup mateng, untuk menundjukkan “belasungkawanja” atas mangkatnja orang besar R.I. (R.I.K.) itu. Taruhlah R.I. sudah mati, dengan karena Kehendak dan Kekuasaan Allah djua, tapi waktunja “belum tepat” maka berita kematian itu akan ditutup rapat2, bangkainja akan dibalsem baik2 dan suasana gembira akan tetap meliputi rumah sakit itu, se-olah2 tidak terdjadi suatu peristiwa sedih-pahit suatu apapun: aman dan tenteram, ma’mur dan sentausa, sehat dan bahagia! Sebaliknja daripada itu, kalau sa’at tepat jang dinanti2kan itu telah tiba —baro-meter telah menundjukkan dengan pasti akan mengamuknja angin taufan, langit sebelah Timur dan Barat sudah gelap gulita, halilintar peperangan telah menghambur-hamburkan apinja, jang menjambar2 seluruh dunia —, maka pada sa’at itulah para dokter “merah” tsb. akan mempergunakan “indjeksi” ratjunnja jang penghabisan”, jang akan menjudahi riwajat hidupnja R.I. lenjap dari muka bumi, menjebrang alam di balik kubur! Inna lillahi wa inna ilaihi radji’un! Itulah kata2 jang terachir, jang mengantarkan majat ke ‘alam baqa. 8. Dalam sa’at jang genting-runtjing, seperti sekarang ini, jang didalam anggapan dan pandangan kaum Merah menguntungkan kedudukan merah seluruh dunia, maka sa’at itulah

akan dipergunakan baik2, untuk melaksanakan tjita2nja; menelan dan memper-Sovjet-kan dunia. Djuga Indonesia. Oleh sebab itu, maka mereka berdaja keras, untuk memperpendek ‘umurnja R.I. dan di atas kuburan R.I. itu mereka ingin mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Semuanja itu menurut rentjana jang tentu, kalau perlu dengan paksa, ganas dan kedjam, jang tidak kenal batas hukum !!! Dalam satu babakan tonil jang dipermainkan dan dipertontonkan oleh pihak Merah itu, dengan tidak ragu2 atau malu2, dengan hati munafiq dan tekad jang tidak djudjur, mereka akan ikut serta menghantarkan djenazah R.I. masuk kelobang kuburnja, kalau perlu dengan bertjutjuran air-mata (buaja???) dan belasungkawanja, dan mela-hirkan pidato di atas kuburan dengan semangat berkobar2 (lijkrede = talqin) serta melakukan upatjara lainnja, berhubung dengan djatuh dan mangkatnja seorang besar lagi kuasa, sahabat karibnja. Tetapi sepulangnja dari kuburan, maka “si-dadjdjal merah” boleh bersiul2 dan menjanji2 sepandjang djalan, lagu “Internationale”, de-ngan riang gembira dan suka-tjita jang ta’ terhingga. 9. Demikianlah gubahan merdeka, jang menggambarkan akan gerak-gerik pihak Merah (Komunis), didalam lingkungan R.I. (R.I.K.), jang tidak djemu2 dan malu2nja selalu menondjolkan dirinja, sebagai pembela bangsa, pemimpin negara, pentjinta damai dan pembebas manusia. Sesungguhnja gambaran di atas, terlalu amat lunak dan sangat sederhana sekali. Padahal, keadaan jang lagi akan terdjadi itu, mungkin 1000 kali lebih hebat, lebih dahsjat daripada itu. Kerusakan, kemelaratan, kesengsaraan penderitaan....akan djauh lebih daripada apa, jang boleh digambarkan oleh pikiran dan kalam manusia. Dan kalau Komunis sungguh2 akan berkuasa di Indonesia —INSJA ALLAH HAL INI TIDAK AKAN TERDJADI —, alangkah besar dan dahsjatnja mara-bahaja, jang boleh timbul karenanja dan tumbuh daripadanja. Tiada seorang jang boleh menaksir dan memperhitungkannja! 10. Walaupun betapa pula kekeruhan dan kesukaran, jang lagi akan kita hadapi nanti, djanganlah sekali2 menimbulkan ketjewa dan putus harapan, lemah dan ketjil hati, melainkan semua itu hendaknja mendjadi tambahan bekal dan bahan, dalam usaha kita, mempersembahkan dharma-bakti sutji kehadlirat Ilahy: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. “Tiada penjakit jang timbul, melainkan telah disediakan obat penjembuh baginja! Tiada bhakti-sutji, melainkan disertai dengan godaan anak-tjutju Iblis la’natullah jang durdjana! Orang ta’ tahu harganja sehat, sebelum ia sakit! Orang ta’ tahu harganja merdeka, sebelum ia menderita! Makin hebat perdjuangan sutji menggelora, makin besar tinggi nilai harga daripada Kurnia Allah jang akan tiba”! Alhamdulillah! Sementara itu, Negara Islam Indonesia berdiri. Makin hari makin meningkat tinggi, semata2 hanja karena tolong dan kurnia Ilahy. Kurnia Allah, hak sutji daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia ini, kiranja boleh mendjadi factor ketiga (luar daripada nasionalisme dan komunisme), obat penjembuh penjakit negara dan masjarakat jang berbahaja itu. Semoga Allah berkenan melimpahkan tolong dan kurnia-Nja atas Negara Islam Indonesia beserta sekalian penggalang dan pendukungnja, sehingga dipandaikan, ditjakapkan dan

ditjukupkannja menunaikan salah satu bhakti sutjinja: “melepaskan, menghindarkan dan membebaskan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia daripada antjaman marabahaja dunia dan achirat itu. Insja Allah. Amin. Mengingat segala jang tertulis di atas, maka disa’at jang genting, runtjing dan kritik itu, Negara Islam Indonesia tidak akan tinggal diam, melainkan akan berbuat dan bertindak sepandjang rentjananja: ikut tjampur tangan, menentukan nasibnja Negara dan Bangsa, Agama dan Ummat hanja karena wadjib, tugas dan pertanggung-djawab, jang diletakkan atas pundaknja belaka. Pada dewasa itu berkobarlah Perang Saudara, Perang Ideologi, perang adu tenaga, perang darah dan besi, perang didalam selimut (dalam kalangan bangsa Indonesia di Indonesia), bertikai-bertikam didalam satu sarung, lebih hebat dan dahsjat, daripada apa jang telah dan lagi berlaku hingga kini. Mungkin Perang Saudara tsb. merupakan “Perang Segitiga Kedua”, landjutan daripada jang sekarang lagi berdjalan, djika sementara itu pihak Nasionalisme belum berantakan dan merupakan front tersendiri. Dan mungkin pula perang saudara itu merupakan Perang antara Islamisme dan Komunisme, djika sementara itu pihak Nasionalisme sudah mentjapai keruntuhan dan kedjatuhannja sedemikian rupa, sehingga tidak mewudjudkan factor sendiri, didalam pertentangan hidup (struggle for life) mati-matian itu. Tegasnja: didalam kemungkinan (kedua) ini, maka Perang Saudara tsb. akan berlaku, kemudian daripada Perang Segitiga Kedua, di Indonesia. Sampai dimana benar atau salahnja perhitungan kami ini, sedjarah Indonesia dan riwajat dunia jang akan datang, akan membuktikannja. 11. Dalam pada itu, djangan sekali2 dilupakan kedudukan Indonesia menghadapi dunia luar, dunia internasional, dan sebaliknja, sikap dunia internasional atas dan terhadap Indonesia. Sedjak mula berdiri, maka Indonesia tidak pernah mendasarkan laku-langkahnja dan sepakterdjangnja atas kekuatan, tenaga dan kehendak ra’jat; tidak berdiri atas akar kuat jang menantjap didalam tanah (ra’jat); tidak mengindjak djalan jang njata (rieel) melupakan keadaan ra’jat; melainkan selalu memalingkan mukanja daripada ra’jat, mengkiblat kearah jang ditundjukkan oleh djarum pedoman internasional, tergila2 kepada “dunia luar”, jang pada lazimnja bernamakan: International minded. Kiranja tidak djauh daripada kebenaran dan kenjataan, bila kita menggambarkan kedudukan Indonesia keluar, sebagai pepatah: “Terapung ta’ hanjut, terendam ta’ basah, Berdiri ta’ berakar, bergantung ta’ bertali” Tafsir lebih djauh periksalah uraian di bawah. 12. Dengan karena pendirian tsb., maka Indonesia selalu bertjumbu2an dengan dunia luar, dunia internasional. Perhubungan, ikatan dan persambungan keluar itu achir kemudiannja meningkat demikian rupa, sehingga mendjadi pegangan, tongkat dan dasar, dimana ia (Indonesia) berakar memperoleh hak2 dan zat2 hidupnja. “Atlantic Carter” didjadikan primbon, tempat dan pangkal Indonesia menjandarkan dirinja: menuntut dan menentukan nasib dirinja, nasibnja sesuatu bangsa jang patut memiliki sesuatu negara di dalam lingkungannja sendiri, jang biasanja disebut dengan istilah: “selfdetermination”. Tjeritera punja tjeritera, runding punja runding, achirnja berlangsunglah K.M.B. (R.T.C.)

dimana pihak Belanda didesak dan terdesak disatu sudut: harus mengakui Kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, dunia masih tengah-tengahnja djemu kepada perang, ‘akibat daripada lelah-letih disebabkan Perang Dunia Kedua. Wal-hasil, perang harus berhenti, keamanan dan kema’muran didalam tiap2 negeri —djuga di Indonesia, jang masuk salah satu daerah-pengaruh Blok Amerika— harus segera dilaksanakan. Sedjak itu, Indonesia mendjadi merdeka, walaupun tidak 100%. Rupanja memang sengadja, Indonesia dimasak dan dibuat setengah matang, berkat ketjerdikan para diplomat dan politikus internasional pada waktu itu; un tuk mendjaga “kemungkinan” di masa depan, sambil menantikan bukti jang njata. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, maka achir kemudiannja sampailah kepa-da tahun 1952. Kini, keadaan sudah berbeda, berlainan daripada tahun 1949, tahun kelahiran “daulat hadiyah”, kurnia atas Indonesia. Meskipun Perang Dunia Kedua dengan resmi telah disudahi, tetapi sisa2 api batu-bara internasional masih tetap menjala2, mendjilat dan membakar-bakar, menimbul-kan huru-hara dibeberapa tempat di dunia. Teradju dan mizan internasional mulai gojang lagi. Insiden di tempat2 pengawasan —negara2 muda, negara2 baru, negara2 boneka (satelliet) dari masing-masing blok, pihak— mulai terdjadi. Makin hari, makin bertambah ramai, hangat dan panas. Lama kelamaan orang tidak lagi memikirkan “damai”, walaupun selalu berteriak2 “damai dunia, damai dunia”! Tetapi orang ber-siap2 untuk menghadapi perang, memperlengkapkan alat perang, dan menjempurnakan tenaga perang. Keadaan ini, bolehlah digambarkan di dalam pepatah purba: “Si vis pacem para bellum”, Djika engkau menghendaki damai, bersiaplah untuk berperang!” 13. Kini keadaan internasional sudah sampai pada tingkatan kritik. Peralihan tentara, kesibukkan diplomasi dan lain2 usaha, menundjukkan akan segera datangnja “taufan mara bahaja”. Perang Dunia Ketiga, Perang Brata Juda Djaja Binangun. Tanda-tandanja sudah tampak, dengan terang dan njata. Meski pihak jang ingin damai (Pasifisten) sekalipun tidak akan dapat menjangkal kebenaran dan kenjataan ini. Maka pada suatu sa’at, dengan pilihan Allah langsung, Perang Dunia Ketiga akan meletus. Seluruh dunia akan terdjilat oleh api peperangan itu. Djuga Indonesia tidak mungkin menghindarkannja, terutama djika ditilik daripada sudut kedudukan Indonesia didalam lingkungan bangsa2, dan rantai pertahanan blok Amerika, di Pasifik. Ditambah lagi, letaknja Indonesia, ditengah2 dan disekeliling negara2 blok Amerika. 14. Mungkinkah Indonesia dapat tetap mempertahankan kedudukan dan sikapnja, jang bernamakan “Politik Bebas” (neutral) itu? Dengan tiada sjak dan ragu2 sedikitpun, bolehlah kami djawab: Tidak! Sekali-kali tidak! Indonesia dimasa Perang Dunia Ketiga j.a.d. tidak mungkin tetap berpegang kepada politik-bebasnja. Kalau Indonesia tidak mau ikut perang, maka ia akan dipaksa ikut serta, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Adanja Blok ketiga, jang diharapkan akan boleh mendjadi pengantara dan pentjegah Perang Dunia Ketiga, akan tetap tinggal “impian” belaka.

15. Siapakah jang mula-pertama akan “memperlindungi” (protect) Indonesia? Lebih dulu, baiklah kita peringati akan berita jang 90% resmi, disiarkan oleh Party Demokrat A.S., dalam konferensinja jang di’umumkan pada tg. 23 Djuli 1952, jang a.l.l. menjatakan: “bahwa Indonesia tidak disebut dl. daftar negara-negara sahabat Amerika Serikat”. Sedang India jang djuga berhaluan “politik bebas” dimasukkan dalam daftar sahabat tsb. Apalagi Pakistan, Australia, New Zealand, Pilipina dan Djepang. Dengan ini njatalah sudah, bahwa bukan karena “politik bebas”-nja Indonesia tidak diakui “sahabat”, melainkan semata2 karena ke-komunis2-annja. Gutji wasiat merah Indonesia, sudahlah terbuka, Kembali kepada sekitar sual “siapa jang akan memper-lindungi mula pertama”, maka sekedar rabaan dan pendjeladjahan kasar hingga sa’at ini, ialah: Blok Amerika, dipelopori oleh Belanda dan Australia. Peringatilah: peralihan tentara Belanda tjepat2 ke Irian, salah satu mata-rantai perta-hanan di Pasifik; sikap Belanda dalam sual2 sekitar K.M.B., Irian Barat d.l.l. lagi; djangan pula diabaikan kesibukan PM Australia pada achir2 ini, terutama mengenai kedudukan Irian Barat, berhubung dengan tuntutan-tuntutan daripada pihak Indonesia, jang sikap Australia atasnja sungguh2 tidak menggembirakan Indonesia; belum terhitung pengintaian terang-terangan dari pihak asing —Australia dan Belanda— atas daerah Indonesia dan pembentukan Pakta Pasifik. Sebodoh-bodoh keledai, kiranja dapat pula mengerti dan memahami, apa harga dan artinja segala matjam kesibukan politik, peralihan serta gerakan militer di daerah Pasifik Barat, berkenaan dengan kedudukan Indonesia!!! Tentang hal ini pun Pemerintah Negara Islam Indonesia seperlunja, semasa Kabinet-Natsir. Hanja karena mengingati nasibnja Indonesia dimasa jang akan tiba. Tetapi sajang seribu kali sajang! R.I. (kini R.I.K.) tetap keras kepala! Peringatan dan pertimbangan jang sebaik itu tidaklah pernah mendapat penghargaan daripadanja. 16. Sekarang, baiklah kita mengambil kesimpulan atas rawaian di atas, tentang “nasib Indonesia, kini dan kelak” : A. Selambat2nja pada sa’at meletusnja Perang Dunia Ketiga, Party Komunis Indonesia akan melakukan Coup d’ etat; perampasan kekuasaan jang ketudjuh di dalam sedjarah Komunis di Indonesia, terhitung mulai tahun 1926. R.I. mau atau tidak mau, harus tekuk lutut, menjerah kalah. Tenaga musuh (merah) dari dalam (Infiltrasi) dan tenaga dari luar (kekuatan sendjata) akan menjudahi njawanja R.I.. B. Negara Islam Indonesia tidak akan tinggal diam, akan berbuat dan bertindak, dimana perlu dan seberapa perlunja. Bagi kepentingan Negara dan Agama, Um-mat dan Bangsa. Oleh karenanja, berkobarlah: Perang Saudara, Perang Ideologi, Perang antara Islamisme dan Komunisme, dengan dahsjatnja. Perang Saudara itu akan berlaku terus-menerus, hingga Allah berkenan mendla-hirkan Ke’adilan dan Kebesaran-Nja di-tengah2 bumi Allah, Negara Islam Indonesia, berdeka dan berdaulat 100%. Insja Allah. Amin. C. Dalam pada itu, maka pihak jang hingga kini masih mentjatatkan diri dalam daftar Nasional terpaksa atau sukarela, harus dan wadjib memilih pihak. Sebab, pihak jang ketiga, pihak penonton dan mudzabzab, tidak lagi mungkin ada, pada masa itu. Pihak ini jang berpendirian

“untung anteng” akan tersapu dari muka bumi. Berhubung dengan itu, baiklah kami nasihatkan: Baiklah siang2 memilih pihak djangan ketinggalan. D. Pihak Sekutu atau Blok Amerika kiranja jang akan menduduki Indonesia. Ia masuk sebagai sahabat, dengan Indonesia memihak pada bloknja. Dan seba-liknja, ia datang sebagai musuh djika Indonesia memihak kepada Russia. Dan kalau Indonesia tetap memegang “politik bebasnja”, maka Indonesia akan dianggap sebagai “tanah jang ta’ bertuan” ( .......land), dimana tiap2 orang dan pihak boleh berbuat sekehendaknja, menurut kepentingan dan keperluannja sendiri2. Boleh pilih, silahkan! Kemungkinan Indonesia akan dapat mempertahankan “politik bebasnja” tidak dapat diperhitungkan, karena djika Indonesia sungguh2 hendak tetap “neutral”, maka ia harus sanggup dan mampu menghadapi serangan kedua belah pihak bersama-sama. Berdasakan kepada realiteit jang ada, maka perhitungan sematjam itu mati “chajal” atau “impian” belaka.. E. Pada salah satu detik didalam masa Perang Dunia Ketiga itu, selambat2nja Insja Allah, Republik Indonesia akan menghembuskan nafasnja jang penghabisan, menjudahi riwajatnja jang tragis dan menjedihkan itu. Tegasnja: ‘umurnja R.I., tidak akan memandjang, lebih daripada satu detik dalam Perang Dunia j.a.d. Insja Allah. Kemungkinan R.I. masih dapat tahan hingga selesainja Perang Dunia Ketiga tidaklah dapat diperhitungkan. F. Tinggallah sekarang sual: “Mana dan apakah kekuatan dan kekuasaan jang nanti akan memegang peranan penting, dalam menentukan sedjarah dan nasibnja Indonesia dimasa jang akan tiba?” Djawab atasnja, dengan singkat, kami njatakan sebagai jang berikut: 1) Kalau Indonesia dipegang dan dikuasai oleh Komunis, maka Indonesia akan menghadapi mala-petaka jang amat hebat, dan dahsjat, lebih daripada jang hingga kini boleh di’alami dan diderita oleh bangsa Indonesia. Negara Komu-nis Indonesia berarti: La’natullah dan kutuk bagi Indonesia dan seluruh Dunia Merdeka. Apalagi, letaknja Indonesia didjalan simpangan di dalam rantai pertahanan Amerika, di Pasifik. Oleh sebab itu, kiranja tiap2 negara jang mempunjai kepentingan dan sangkutan dengan Indonesia, tidak akan lengah dan tidak akan membiarkan proces Komunis itu berlaku dengan leluasa di Indonesia. 2) Mengingat dan menghadapi bahaja jang amat besar bagi Negara, Agama dan Ummat Manusia, terutama di Indonesia, maka dengan kesadaran dan keinsjafan serta pertanggungandjawab jang sepenuh2nja: ”Negara Islam Indonesia, beserta seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, dan alat serta pesawat Negara Islam Indonesia, akan berdaja-upaja dengan segenap kekuatan dan tenaganja, dlahir maupun bathin, untuk menghindarkan dan mengejahkan bentjana dan bahaja, jang mengantjam-antjam itu, hingga Allah berkenan mendlahirkan Keradjaan-Nja di tengah2 nusantara Indonesia, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, merdeka dan berdaulat 100%.” Semoga Allah berkenan melimpahkan kekuatan sebanjak2nja, tolong dan kurniaNja atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, chususnja atas kaum Mudja-hidin, jang kini lagi tengah

mempersembahkan dharma bhaktinja kepada Azza wa Djalla semata. Insja Allah. Amin. 3) Djadi, kalau Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ra’jat Indonesia ‘umumnja mustahiq menerima tjurahan kurnia Ilahy, Insja Allah, dimasa depan, Indonesia akan mendjadi Negara Islam Indonesia. Mudah2an rentjana, gambaran dan hitungan kami ini dibenarkan Allah, sehingga tertjapailah, tjita2 tinggi dan mulia daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia: membina dan men-dukung “Daulat-Islamiyah” di Indonesia. Insja Allah. Amin. 4) Tindjauan, pendapat dan kesimpulan ini, kami njatakan dengan se-objektif mungkin. Bukan kami seorang muslim-mudjahid-penggalang N.I.I. Djuga bagi tiap2 orang di luar Islam, di luar medan djihad, di luar negeri sekalipun, jang suka menggunakan pikirannja jang sehat dan timbangannja jang djudjur dan ‘adil, berdasarkan atas kenjataan, Insja Allah akan sampai kepada pendapat dan kesimpulan jang kami uraikan di atas. 17. Indonesia di atas Peta Dunia Baru A. Kemudian daripada Perang Dunia Ketiga, maka akan dilangsungkan Perdjandjian Damai, dimana ditentukan nasibnja tiap2 bangsa dan negara, di seluruh dunia. Djuga nasibnja Indonesia. B. Djika perhitungan kami tertera di atas dibenarkan Allah, maka di atas Peta Dunia Baru jang akan dibuat nanti: Indonesia akan merupakan Daerah Negara Islam Indonesia. C. Demikianlah harapan, du’a, kejakinan dan perhitungan kami. Mudah2an Allah berkenan membenarkan dan mengidjabahnja. Insja Allah, Amin.-------Ζ Ζ Ζ -------+Dengan keterangan dan kupasan ringkas di atas, ditjukupkan kiranja, sekedar untuk menggambarkan Harapan dan Hari Depan Indonesia. Kemudian terserah dan tersilah! Kepada para Mudjahidin seluruhnja, sekalian penggalang dan pendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dengan ini kami serukan: “Bersiap! Songsonglah turunnja tjurahan Kurnia Ilahy! Selamat berdjuang! Ila Mardhatillah! Hingga keradjaan Allah berdiri dengan tegak teguhnja di tengah-tengah Masjarakat Indonesia Juqtal au jaghlib !”Fi ‘Aunillah, 7 Agustus 1952Buku Sikap Hidjrah Jilid 2 JILID 2 Bismillahirrahmanirrahim 7 AGUSTUS 1949 PROKLAMASI BERDIRINJA NEGARA ISLAM INDONESIA! Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah wasjsjukru lillah! Allahu Akbar!! Segala pudji hanja dipersembahkan kepada, Dzat Jang Maha Tunggal, Pemelihara dan

Pelindung segenap Mudjahidin serta Pendjaja seluruh A.P.N.I.I.! Sjahdan, maka himpunan “Pedoman Dharma Bakti” hendaknja dianggap sebagai persembahan bakti-sutji kami beserta kaum Mudjahidin seluruhja kepada Allah ‘azza wa djalla semata. Semoga Ia berkenan menerimanja. Insja Allah, ‘Amin. Kepada Pemimpin-pemimpin Mudjahidin, Pemimpin N.I.I. dan Komandan T.I.I. diharapkan, sudi apalah kiranja memakai dan mempergunakan, selaku pedoman dan pegangan ‘umum, tuntunan dan bimbingan, bagi membawa Ummat, Bangsa dan Negara ke satu-satunja arah: Mardlotillah sedjati, dunia achirat! Demikianlah harap dan du’a singkat daripada penghimpun dan penerbit. Wa’adallahulladzina amanu minkum wa-’amilussalihati lajastachlifannahum fil- ardli kamastachlafalladzina min qablihim......Inna fatahna laka fat-han mubina...........Insja Allah. Amin. Bismillahi.......Allahu Akbar!........ Juqtal au jaghlib! Wassalam, P.S.R., 5 Oktober 1960 Madjlis Penerangan N.I.I. Kepala: T.J. KARMA JOGA ------Ζ Ζ Ζ -----Bismillahirrahmanirrahim KALAM PENGANTAR 1. Bismillahi tawakkalna ‘alallah, lahaula wala quwwata illa billahil-’aliyil-’adzim. Allahumma Iyaka na’budu, wa iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim. 2. Alhamdulillah, pada tanggal 7 Agustus 1949, Ummat Islam Bangsa Indonesia mene-rima kurnia jang maha besar, ialah: Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. 3. Sedjak mula ditanda-tanganinja “perdjandjian politik dan militer” antara Republik Indonesia dan Belanda jang lazimnja diberi nama “Statement Rum-Royen” (7 Mei 1949, djam 17.00), maka hudjanlah pertanjaan dari berbagai-pihak, betapakah ge-rangan sikap dan pendirian kita terhadap kepada Statement tsb. 4. Pertanjaan serupa itu tidak hanja disampaikan oleh chalajak ramai, melainkan djuga oleh beberapa ahli politik dari berbagai-bagai aliran dan haluan. 5. Sajang, seribu kali sajang; bahwa pertanjaan2 jang seperti itu, terutama sekali jang mengenai

(1) caese fire –penghentian tembak menembak– dan (2) Round Table Conference –Konferensi Medja Bundar–, selalu tidak mendapat djawaban jang memuaskan, bahkan adakalanja kita menjatakan penolakan dengan terus terang, karena: 1) “Perdjandjian” tsb. hanjalah mengenai pihak jang membuat perdjandjian itu sendiri; 2) Kita berdiri di luar lingkungan kedua belah pihak jang bersangkutan; 3) Kita tidak ikut tjampur-tangan, tidak menanggung resiko dan tidak bertanggung djawab kepada siapapun djuga, dalam hal “perdjandjian” atau “statement” itu; 4) Kita tidak suka mendjadi “tukang nudjum” atau “tukang ramal” djuga didalam su’al ini, melainkan “perdjandjian” jang tadinja bersifat “sementara” itu, kita ingin dulu menjaksikan dan menjatakan bukti pelaksanaannja. 6. Kepada sekalian pihak, jang tempo hari hingga saat jang achir2 ini tidak/belum me-nerima balasan jang tegas serta memuaskan, sudi apalah kiranja memberi ma’af banjak2! 7. Sekarang, sudahlah tiba sa’atnja untuk memberi uraian jang ringkas, tapi tjukup djelas dan tegas tentang sual jang amat berbelit-belit dan sukar-sulit itu, ialah sual2 jang langsung atau tidak langsung mengenai nasibnja ra’jat bangsa kita diseluruh Indonesia, terutama mengenai nasibnja Ummat Islam Bangsa Indonesia. Malahan sual ini boleh dianggap sebagai sual jang akan menentukan hidup dan matinja, luhur dan hantjurnja, laksana dan kandasnja perdjuangan kemerdekaan, baik kemerdekaan nasional maupun kemerdekaan agama, dalam arti kata jang seluas-luas dan sesem-purna-sempurnanja. 8. Semoga Allah berkenan mentjurahkan taufiq dan hidajat-Nja atas segenap lapisan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang lagi melakukan tugas sutji, demikian pula berkenanlah kiranja Ia membenarkan marang apa jang hendak dirawaikan di bawah ini, sehingga mendjadi obor pelita dan petundjuk djalan, baik bagi kawan maupun lawan, dalam menghadapi usaha sutji, ialah: menggalang Negara Kurnia Allah, Ne-gara Islam Indonesia. Insja Allah. Amin ------Ζ Ζ Ζ -----BAB I BAGIAN ‘UMUM 1. Bila kita hendak mendjeladjah dan mengupas sesuatu hal, terutama djika hasil dan natidjah (kesimpulan-pen.) pendjeladjahan dan kupasan itu hendak kita ambil sebagai pokok, dalam membuat tindjauan politik (politieke-visie) jang objektif, dan kemudian mendjadi bahan untuk memperdjuangkan politik di medan inter-insuler maupun hingga medan internasional, maka antara lain djanganlah hendaknja kita melupakan kepada riwajat perdjuangan kemerdekaan dimasa lampau. 2. Sengadja dalam tulisan ini, tidak diambil dan diulangi riwajat perdjuangan kemerde-kaan sedjak semula diusahakan orang di Indonesia, ialah “perdjuangan kemerdekaan nan usang.” Melainkan dalam tulisan jang sesingkat ini, ditjukupkan agaknja dengan memuat ichtisar

daripada perdjuangan kemerdekaan, sedjak proklamasi kemerdekaan Indonesia, sedjak petjahnja revolusi nasional di Indonesia, atau sedjak berdirinja Negara Republik Indonesia, atau sedjak berdirinja Negara Republik Indonesia (17 Agustus 1945), selama 4 tahun ini. Itupun dilakukannja dengan amat ringkas sekali, sebab hal ini dianggap telah diketahui dan dima’lumi oleh chalajak ramai! Untuk menambah djelas dan tegasnja penglihatan kita dalam hal ini, silahkan sekali lagi mengulangi beberapa ma’lumat dan keterangan serta penerangan dari Madjlis Penerangan, terutama karangan Abu Darda dan Huru Hara. Silahkan. -------Ζ Ζ Ζ -------

RIWAJAT RINGKAS PERDJUANGAN KEMERDEKAAN SELAMA 4 TAHUN (1945-1949) 1. Daripada ichtisar jang dilampirkan bersama tulisan ini, kiranja sekalian pembatja dapat melihat dan mengetahui serta mengukur sendiri, betapa grafik perdjuangan kemerdekaan nasional, selama 4 tahun bulat ini. 2. Mula pertama, ketika revolusi nasional lagi berkobar dan menggelora di seluruh Indonesia, seakan-akan telah masuk dalam pintu gerbang kemerdekaan Indonesia jang sedjati. 3. Pada waktu itu segenap lapisan masjarakat ikut serta. Tidak hanja jang memang asli “pedjuang kemerdekaan” dimasa jang sudah, ketika dizaman kolonial Belanda da-hulu hingga pendudukan Djepang. Tetapi djuga segala matjam pengchianat bangsa dan pendjual agama, jang karena sengadja atau karena tidak disengadjakan oleh pihak pendjadjah, ikut berdjuang!!! 4. Kemudian –sekarang djuga– kita dapat menjaksikan siapakah golongan dan pihak serta orang2 jang berdjuang dengan sesungguhnja, pedjuang sedjati, dan siapakah pedjuang palsu. 5. Tiap2 kali revolusi nasional hendak menggelora dan menjapu sampah2 masjarakat, tiap2 kalinja itu dihambat, dihalangi dan dirintangi oleh berbagai-bagai randjau dan penghalang, dari pihak Belanda pendjadjah, baik jang ada dalam tubuhnja peme-rintah Belanda sendiri maupun jang sudah masuk-meresap dalam darah-daging dan djantungnja pemerintah Republik Indonesia. 6. Dalam riwajat jang amat tragis, memilukan dan menjedihkan itu, maka berkali-kali “bahtera-republik” terdampar atas batu karang jang amat tjuram sekali. “Berkat” usaha diplomasi, jang dilakukan oleh djago2 alias pemimpin republik! Itulah makan-an jang didjandjikan “Belanda”, jang berisi ratjun bagi perdjuangan kemerdekaan Indonesia. 7. Naskah Linggardjati bernatidjahkan “repot” dan “rewel.” Tetapi lumajan, untuk menaikkan Sjahrir di atas panggung “politik kolonial”. Biar negera dan ra’jat rugi —dlohir dan bathin— tapi Sjahrir jang “ketjil” itu mendjadi “tuan besar”, tjukuplah sudah agaknja. Jang lebih menta’adjubkan lagi, sebagian besar lapisan masjarakat menjetudjui N.L. itu, dengan karena

ketjerdikan tipu-daja jang propagandistis, jang dihambur-hamburkan oleh pihak republik sendiri. Istilah “International minded” (batja: internasional maindid) mendjadi alasan jang maha penting. Hanja benteng Republik Indonesia “marhum” dan Masjumi serta keluarganja jang berani terang-terangan menjatakan “tidak setudju” kepada N.L. itu, tetapi tetap lojal. 8. Naskah Renville lebih tidak berharga lagi daripada Naskah Linggardjati, jang memang sudah amat merosot nilainja itu. Baik dipandang dari sudut politik, maupun ditindjau dari sudut militer. Walaupun N.R. ini merupakan harga pembelian negara jang amat rendah sekali, tetapi toch didalam kalangan jang chusus. Sjarifuddin masih djuga mendapat penghargaan jang pantas, sebagai “tengkulak negara” dan agen “imperialis Belanda”. Sajang ‘umurnja pendek. Ja sajang! Kata manusia jang pitjik! Karena pada zaman “peristiwa Madiun” terachir, ia telah pulang ke la’natullah. Riwajat tengkulaknja tidak memandjang, lebih daripada umurnja. 1) Daerah Republik, jang sedjak N.L. hanja meliputi Djawa dan Sumatera sadja, maka dengan N.R. lebih merosot lagi, sampai batas “demarkasi Van Mook”. 2) Luar daripada itu, merupakan tanah pendudukan, alias persiapan djadjahan. 3) Pemimpin2 didaerah pendudukan, baik jang nasional, jang Islam ataupun haluan lainnja, melarikan diri menudju ibu-kota republik (Djogdjakarta Adi Ningrat), sambil meninggalkan ra’jat, pengikut dan handai taulannja. 4) Sebagian lagi, masuk kekota2 pendudukan (Bandung, Djakarta, dll., sebagainja) untuk “tjariselamat”. Ada jang terus dan terlandjur mendjadi “Belanda-hitam”, dan ada pula jang passif. Itu semuanja karena propaganda Belanda “menakut-nakuti” dan mengantjam, walaupun katanja ada “ampunan” atau amnesti. Ma’lum penakut ..... sebelum dikedjar, sudah lari tunggang-langgang! 5) Tetapi walaupun betapa pula halnja, dengan adanja Naskah Renville dan kechianatan Amir Sjarifuddin mendjual negara dan ra’jat, maka wadjiblah kita pandjatkan sjukur kehadlirat Ilahy. Sebab karena N.R. dan chianatnja Amir Sjarifuddin-lah, maka Ummat Islam Bangsa Indonesia didaerah pendudukan, terutama di Djawa sebelah barat, lebih chusus lagi di Priangan dan Tjirebon, sebagai pelopornja, terpaksa bangkit dan bergerak, angkat sendjata melawan pendjadjahan durdjana. 6) Sekali lagi, Alhamdulillah, karena kalau Amir Sjarifuddin tidak berchianat dan mendjual negara, rupanja –begitulah hitungan manusia– Ummat Islam akan tetap tidur njenjak dan ..… Wallahu ‘alam! 9. Taktik dan politik Belanda jang bernatidjahkan N.R., baik dengan memasukkan “agen2-nja” kedalam tubuh Republik, maupun dengan kekerasan dan keganasannja, jang merupakan aksi polisionil pertama, rupanja dianggap sebagai “pertjobaan” (steekpruf) untuk menentukan sikap dan pendiriannja dimasa mendatang. 10. Kedalam digalau dengan penjakit “pembangunan”, sedang dari luar diserang dengan pukulan jang hebat, ialah Aksi Polisionil Kedua, maka dalam sekedjap mata Peme-rintah Republik djatuh ditangan Belanda. Setelah ditawan, dengan tjara jang halus, Pemerintah Republik tidak djemu2-nja melagukan njanjian2nja jang sudah amat tidak aktuil itu, ialah membuat rundingan diplomasi.

Maka mau ataupun tidak mau, benteng Indonesia jang gagah perkasa itu, karena kalah silatnja dengan singa Belanda, terpaksa diikat lehernja, walaupun memakai rantai mas, dan kemudian masuk dalam salah satu kandang dalam Kebon Binatang Modern, jang bernamakan “Negara Indonesia Serikat” atau “Republik Indonesia Serikat.” Kalau perlu, dan tidak malu, boleh ganti lain “nama.” 11. Inilah gambaran proces dan natidjah, jang tumbuh daripada Statement Rum-Royen, jang dilangsungkan pada tanggal 7 Mei 1949, djam 17.00 itu. 12. Dengan adanja S.R.R. itu, maka Rum telah menjelesaikan tugasnja: 1) Atas nama Republik, chusus Bung Karno dan Bung Hatta, jang pada dewasa achir2 ini memang tidak tahu malu lagi, mendjual negara sampai habis, obral besar-besaran, sehingga mulai ditanda-tanganinja S.R.R. itu, maka hilang-musnahlah Kedaulatan Republik Indonesia, jang sedjak beberapa waktu memang berangsur-angsur diserahkan kepada Belanda — pendjadjah. 2) Sebagai wakil Masjumi, wakil Ummat Islam ..…sungguh amat memalukan sekali! Kalau dulu, zaman Naskah Linggardjati Masjumi mati2-an “anti-Naskah-Linggardjati”, sekarang: wakil Masjumi dalam kabinet dan Wakil Ummat Islam sendiri jang dapat giliran terachir: mendjual negara sampai habis ledis. 3) Sungguhpun peristiwa jang amat tragis itu amat memilukan hati ra’jat kita, ter-utama Ummat Islam Bangsa Indonesia, tetapi dibalik itu wadjiblah kita bersjukur kehadlirat Ilahy; a. bahwa di balik kerugian jang amat besar itu, dalam pandangan nasional, tetapi bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia adalah semuanja itu mendjadi salah satu sjarat dan sebab akan turunnja Kurnia Ilahy jang maha-besar ialah: Proklamasi Berdirinja Negara Islam Indonesia. Dan b. bahwa segala sesuatu itu sungguh2 berputar karena qudrat iradat Allah semata2, Allahu Akbar. Tiada sesuatu di luar-Nja. 13. Semoga Allah berkenan mendjauhkan kita daripada pengulangan “lembaran hitam” daripada riwajat Diponegoro, riwajat pertentangan Chalifah ‘Ali dan Mu’awiyah, dan riwajat perdjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, selama 4 tahun ini, dan lain2 riwajat jang natidjahnja mendjatuhkan harkat deradjat dan kedudukan sesuatu Bangsa dan Ummat. Insja Allah, amin. “Sebodoh-bodoh keledai, tidaklah ia djatuh atas batu, dimana ia mulai pertama djatuh!” 14. Karena Republik Indonesia sedjak hari tanggal tersebut di atas sudah mendjadi negara bagian atau negara boneka, bahkan mungkin djuga agak kurang daripada deradjat jang sesudah itu, maka perlulah kami menjatakan beberapa peringatan, kalau2 masih ada djalan untuk menaikkan sebagian daripada Ummat jang terseret daripada djalan jang benar, jang sudah djatuh, kepada djalan kemuliaan. Dengan karena Tolong dan Kurnia Allah punja hendaknja. 1) Kepada sdr.2 kaum republikeinen! Kalau sdr.2 masih mempunjai semangat berdjuang dan hasrat melandjutkan per-djuangan kemerdekaan: ikutilah langkah kita melakukan tugas sutji, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia!

2) Kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia! Chususnja di sini kami harapkan kepada sdr. kita jang tertipu atau ditipu atau jang memberi kesempatan (untuk –pen.) ditipu, baik oleh pihak lawan (Belanda pendjadjah) maupun oleh pihak kawan sendiri (pemimpin2 Republik dan pemim-pin2 Masjumi)! Walaupun sudah terlalu amat terlambat, ‘ibarat “nasi sudah hampir mendjadi bubur”, tetapi bagi sdr.2 jang masih hendak menegakkan Kalimatullah –li ‘ilai kalimatillah– Insja Allah masih ada djalan terbuka jang dilapangkan Allah bagi melakukan wadjib sutji, sepandjang hukum2 sutji, jang dikurniakan Allah, dengan pedoman Kitabullah dan Sunnatin-Nabi Clm. Karena Allah semata-mata, bagi memelihara kesutjian Agama dan kepentingan Negara, maka kami memberanikan diri, menjerukan kepada sdr.2 sekalian: Marilah kita bersama-sama melangkah melakukan tugas wadjib jang maha-sutji menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Insja Allah, hanja itu sadjalah djalan jang mendjamin keselamatan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, dlohir maupun bathin, didunia hingga diachirat kelak! Amin. 3) Tentang hal ini, kepada sdr.2 kaum Republikkeinen dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang tertipu atau ditipu. Periksalah sekali lagi Ma’lumat Imam No. 6, jang ditulis pada awal-permulaan Belanda melakukan aksi Polisionilnja jang kedua, 22 Safar 1368/23 Desember 1948!!! Camkanlah baik2!! 15. Dengan ini, maka dalam 4 tingkatan masa perdjuangan (fase) selesailah sudah perdjuangan kemerdekaan nasional, jang diusahakan selama 4 tahun itu. Tegasnja: kini Republik Indonesia telah kembali kepada deradjat sebelum pro-klamasi, ja’ni: deradjat nol besar. Inna lillahi wa inna ilaihi radji'un! -------Ζ Ζ Ζ ------HALAMAN BARU DAN BUKU SEDJARAWAN BARU DARIPADA PERDJUANGAN KEMERDEKAAN ISLAM INDONESIA

PENDJADJAHAN MODERN 1. Belanda bukan anak2. Ia adalah pendjadjah, imperialist dan kapitalist ketjil, jang sudah berpengalaman 3 ½ abad lamanja. Djustru karena “ketjilnja”, maka Belanda menampakkan dirinja sebagai politikus jang tjerdik, sebagai diplomat jang ulung, sebagai imperialis jang kedjam, sebagai kapitalis jang mengisap darah Indonesia hingga habis ledis, sebagai pemain jang tjurang .…. Sebagai “buta ketjil kurus jang menerkam mangsanja jang “besar-gemuk” itu. Keadaan negerinja jang serba amat kurang, hampir dalam tiap2 kepentingan dan keperluan hidup dan kehidupan, memaksalah Belanda mentjari bahan2 hidup di luar negerinja, maka Belanda, mau tidak mau harus mentjari “lapangan-hidup” jang merupakan tanah djadjahan dari ra’jat djadjahan.

Walhasil, silahkan pembatja lebih landjut memeriksa sekali lagi buku2 tarich pendja-djahan, terutama sekali siaran2 Madjlis Penerangan, di antaranja: karangan sdr. Abu Darda, tentang “Ad-Daulatul-Islamijah”. 2. Dalam melaksanakan maksudnja jang tjermat itu, maka beralih-alihlah Belanda mendjandjikan lagu2-nja. Ada kalanja terdengar “mars-militer” dengan dentuman mortier dan meriamnja. Atjapkali djuga terdengar suara merdu meraju-raju, laksana seorang ibu jang hendak menidurkan anak-kekasihnja. Dikala lainpun terdengar pula suara merdu dan lemahlembut, seakan-akan seperti seorang djedjaka jang lagi terpikat hatinja oleh seorang puteri djelita bangsawan ….. Tetapi kita tahu, bahwa semua lagu2 itu dikomando oleh seorang “dirigent’, dengan maksud dan konsepsi: Mendjadjah Indonesia! Lain dari itu, dan di luar dari itu, tidak! Oleh sebab itu, dengan ini kami peringatkan sekali lagi kepada sekalian pemim-pin Ummat, penghela masjarakat, penuntun bangsa, pedjuang kemerdekaan, pembela Agama. Awas dan waspada!! Belanda pendjadjah selalu siap-sedia untuk mendjaring sdr.2 sekalian dengan perangkapnja dan menjorong kearah neraka dunia dan neraka achirat!! 3. Baiklah kiranja digambarkan di sini, dengan beberapa patah perkataan: politik, taktik dan strategi Belanda selama 4 tahun ini. 1) Van Mook, dalam beberapa masa lamanja, telah menampakkan djasa dan usahanja jang amat tinggi nilainja, bagi kepentingan Belanda (pribadi-pen.) dan pemerintah Belanda serta Bangsa Belanda. Periksa djasa2 Van Mook jang amat besar itu, diantaranja: a. Konferensi Malino; b. Naskah Linggardjati; c. Aksi polisionil pertama; d. Naskah Renville; e. Demarkasi Van Mook, sehingga Republik tersesak sampai satu sudut jang hampir2 tidak ada lapangan untuk bernafas lagi (tidak punja pelabuhan, tinggal 8 keresidenan jang rata2 meluas). 2) Dengan itu sadja, Belanda jang amat serakah, kedjam dan ganas itu, masih djauh dari puas, sungguhpun Van Mook sudah banjak sekali djasa usahanja, maka ia (tetap –pen) harus berhenti. Kendali pendjadjahan dipertjajakan kepada Beel. Taktik jang serupa itu memang bukan barang baru, walaupun dengan terpaksa dengan menjesal kami njatakan di sini, bahwa sesudah mendapat pengalaman jang tjukup banjak, toch masih djuga ada pemimpin2 – djangankan chalajak ramai– jang masih tertipu, dan “siap-sedia untuk ditipu.” 3) Dengan Beel, orang masih djuga mengira dan berharap: ada angin baru (dalam arti kata: njaman, sedjuk dan sehat), aliran serta suasana politik baru, haluan baru. Padahal, Belanda tetap Belanda djuga. Sekali pendjadjah tetap pendjadjah: Pepatah mengatakan: “Kalau kutjing bertanduk, Belanda masuk Islam”. Alhasil, mustahil iblis mendjadi malaikat pembawa petundjuk Ilahy! Beel mendapat mandat dari radjanja, bahwa ia harus melandjutkan usahanja Van Mook dan mempertjepat terlaksananja tjita-tjita Belanda; mendjadjah Indonesia! 4) Beel, sebagai “komidiant jang ulung” pura2 tidak setudju dengan politik dan taktik Belanda, jang tempo hari diketengahkan oleh Van Royen, kepala delegasi Belanda. Ia berhenti, dan permintaannja pun dikabulkan. 5) Sekarang tinggal melaksanakannja. Tapi kekang pendjadjahan diserahkan kepada Lovink. Inipun bukan anak2, bahkan boleh masuk djuga bangsa “babu”, tukang mengasuh dan mendidik anak jang tjakap dan tjerdik. Tjobalah dengarkan lagu2-nja jang bergelombang dan

memikat hati itu: “Lagu Republik Indonesia Serikat,” dengan semangat “nasional jang hebat” dan demokrasi jang hampir2 tidak terbatas.” Awas! Sekali lagi: Awas dan waspada!! Djangan sekali lagi tertipu! Semoga Allah mendjauhkan kita daripada bisikan iblis la’natullah jang kini mendjelma dalam tubuh Belanda pendjadjah itu! Mudah-mudahan kesempatan menipu dan kesediaan ditipu ini. Didjadikan Allah kesempatan jang terachir, jang penghabisan sehingga kedepannja Ra’jat Indonesia terutama Ummat Islam Bangsa Indonesia, lepas daripada godaan, bisikan dan budjukan iblis la’natullah itu, Insja Allah. 6) Kepada saudara2 pemimpin bangsa, jang bersidang di Konferensi Medja Bundar! a. Kalau diibaratkan orang jang “hanjut” maka sdr.2 sekalian kami anggap, sebagai orang jang kalap, jang sudah djatuh-terdjun terombang-ambing oleh gelombang dahsjat, jang amat membahajakan. Bukan hanja mengenai diri sdr.2 sendiri2 dan masing2, melainkan perbuatan sdr. jang serupa itu akan merugikan seluruh keluarga kita, ra’jat Bangsa Indonesia. Kiranja sdr.2 seka-lian dalam hal ini sefaham dengan kami. b. Berdasarkan apa jang kami sebutkan di atas, maka kami mengharapkan kepada sdr.2 sekalian dalam tjermin jang terachir ini (taubat, semasa malai-katul-maut siap untuk mentjabut njawa), dengan se-mata2 mengingat kepentingan Ra’jat dan Bangsa Indonesia, uang ikut “terdjual”: (a) Sadarlah! Insjaflah! Kesadaran dan Keinsjafan jang bersandarkan atas pertanggung djawab sepenuhnja, atas Ra’jat dan Bangsa Indonesia, jang sudah tidak bernegara dan tidak berdaulat itu: Ra’jat hina dina dan papa; terdjerumus dalam kerendahan pendjadjah kembali, lepas daripada perlindungan dlohirbathin dan diserahkan kepada kekedjaman dan ketjurangan pendjadjah, jang tidak kenal hukum dan peri-kemanusiaan itu. (b) Taubatlah! Taubatlah! Taubatlah! Taubat, dalam arti kata “mengembalikan kedaulatan Negara dan kerugian Ra’jat dan Bangsa dengan kurbannja jang tidak ternilai harganja itu”!!! Taubat dalam arti kata “membeli kembali Negara dan kedaulatannja, serta ra’jat hina-papa, jang akan mendjadi mangsanja sipendjadjah”!!! (c) Hanja itulah djalan keselamatan bagi saudara, baik dalam pandangan manusia maupun dalam pandangan Allah S.w.T.! (d) Djalan itulah jang memberi lapangan kepada saudara untuk menerima ampunan (maghfirah) daripada ‘Azza wa Djalla, dan kesempatan jang sebaik-baiknja, untuk melepaskan2 sekalian daripada tuntutan Mahkamah Sedjarah dimasa jang mendatang! (e) Harapan ini adalah harapan jang terachir, disertai dengan pandjatan du’a semoga Allah menginsjafkan dan mensadarkan Sdr2 sekalian sehingga Ia berkenan melepaskan sdr2 sekalian daripada api neraka dunia dan api neraka achirat, jang dengan sengadja ataupun tidak sengadja, sdr2 sekalian sudah tiba ditepi Neraka Djahanam itu ! (f) Kemudian terserah kepada saudara-saudara sekalian. Dan kepada Allah pula kita sekalian berlindung diri.

-------Ζ Ζ Ζ ------

STATEMENT RUM-ROYEN DAN PELAKSANAANNJA 1. Dari pada suatu perdjandjian antara pihak Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda, dalam masa jang terachir ini, jang pada lazimnja bernamakan “Statement Rum-Royen”, adalah diantaranja jang maha penting: 1) Cease Fire, atau penghentian tembak menembak; 2) Round Table Conference, atau Konferensi Medja Bundar (K.M.B.); dan 3) Kerdja sama, atau Samenperking, antara pihak Republik dan pihak Belanda. Semuanja itu lagi dalam pelaksanaan. Baiklah kita kupas seperlunja. 2. Kerdja-Sama. Kita mulaikan dengan bagian (3), ja’ni: Kerdja Sama. Sebab itulah jang mula pertama dilaksanakan terlebih dahulu. Memang “kerdja-sama” itulah jang mendjadi kuntji, untuk membuka kemungkinan2 lainnja, dalam faham dan pengertian politik kolonial. Adapun kata2 “kerdja-sama” adalah istilah politik dan diplomasi. Bukan istilah dalam ma’na jang sering kita pergunakan sehari2 dalam pergaulan, atau dipakai dalam buku-buku batjaan, atau lain jang serupa itu. Oleh sebab itu djika kita memfahamkan istilah “kerdja-sama” itu, dengan arti dan faham jang biasa dipergunakan orang se-hari2, maka keliru, sesat dan salah-lah pengertian dan faham kita itu. Sekali lagi keliru, sesat dan salah dalam pengertian dan faham, maka selandjutnja akan keliru, sesat dan salah pula penglihatan (visie) kita menghadapi sual ini. Tahu2 setelah dilaksanakannja –nasi sudah mendjadi bubur–, barulah kita tertjegang! Laksana si-buta diberi tjermin mata. Sebanjak2 tjermin dipakainja, si-buta tetap tidak melihat; Memang buta; Kasihan! 1) Statement Rum-Royen, adalah perdjandjian politik militer antara Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda, jang diwakili oleh delegasinja masing-masing, dan dikepalai oleh Rum dan Royen. 2) Karenanja, maka “perdjandjian” itu, tidak hanja menjelesaikan sual2 sosial-economi, keamanan ‘umum, polisionil dlls., tetapi djuga membuka djalan untuk menjelesaikan sual2 militer dan politik ialah tiang2 besar atau “soko guru” (grond-slagen) daripada sesuatu negara jang merdeka. 3) Pelaksanaan “kerdjasama” itu, dilakukan oleh pihak Republik dan pihak Belanda. Tegasnja oleh pihak jang ditawan dan oleh pihak jang menawan; oleh pihak jang kalah dan oleh pihak jang kuat; oleh pihak jang tekuk lutut dan oleh pihak jang kuasa; ……………………. Jang satu siap “didjadjah” jang lainnja, siap “mendjadjah”. Itulah sebabnja, maka se-olah2 ada persesuaian, persetudjuan dan permufakatan antara kedua belah pihak. Ra’jat ditipu dengan omong kosong! Ra’jat dikelabui matanja dengan tjeritera-tjeritera bohong! Alangkah besar dosanja pemimpin2 jang telah mendjual Negara dan Agama dengan segenap isi jang

terkandung didalamnja! Na’udzu billahi miin dzalik! 4) Sementara itu, wakil UNCI melihat, memimpin, mengawasakan…. Membontjeng di belakang Belanda! 5) Sungguh politik itu, dalam hal ini, tjurang dan kedjam! Ja’ni politik kapitalisme dan imperialisme! Politik djadjahan! 6) Dengan keterangan tsb di atas, teranglah sudah, bahwa “kerdja sama” itu natidjahnja tiada lain adalah: “persiapan menerima pendjadjahan Belanda”.Lebih dari itu, dan lain dari itu, tidak! Memang politik kolonial litjin. Tidak saban orang dapat melalui “djembatan mas” itu dengan “selamat”! 3. Cease Fire 1) Kuntji “kerja-sama” dapat dilaksanakan dalam waktu jang amat singkat. Dengan itu, maka pintu pendjadjahan dibuka atau terbuka, dengan lebarnja. 2) Sekarang tanduk banteng harus dilutjuti, segala tembak menembak harus berhenti. Cease Fire di’umumkan oleh seorang jang mendjadi Panglima Tertinggi. Djadi dengan alasan apapun djuga…. Perang harus berhenti ! Karena perintah dari Panglima Tertingginja! Sesungguhnja karena perintah Belandapendjadjah! Tjaranja? Itu mudah. a. Sebelum itu sudah ada jang karena kehendaknja sendiri”, melebur dirinja pada Tentara Belanda. Tjontohnja Ahmad Wiranatakusumah cs. Karena pe-merintah federal belum ada, maka tentara gabungan itu, sementara dinamakan tentara “Pre-Federal” (Persiapan Federal, atau persiapan tentara kolonial. Dalam keberaniannja mendjadi “pelopor” memang perlu ditjontoh. Sebalik-nja, dalam hichajat dan tidak tahu malunja, wadjib pula kita enjahkan sedjauh-djauhnja! Sajang! Sdr. Ahmad Wiranatakusumah ta’ tahan udji ta’ tahu malu dan ta’ punja darah ksatrija (melainkan ksatrija dalam “panggung sandiwara”), ta’ tahu mendjaga kehormatan dirinja! Memang bangsa budak! Kita tidak boleh mengharapkan lebih dari pada kapasiteit jang ada pada dirinja! b. Djalan lainnja, hokok (melden) kepada tentara Belanda di tiap2 tempat. c. Jang dekat dengan tempat tinggal Republik (Djogja bukan ibu-kota lagi, karena negaranja djuga sudah hapus musnah), mereka boleh masuk kare-sidenan Djogja. d. Dan lain2 tjara dan djalan, jang kasar maupun halus, tetapi semuanja itu menudju satu arah, ialah: mendjadi tentara, tentara kolonial, Tentara Federal, atau Tentara Sarikat. Mungkin lain kali, ada tukang-tjet dan tukang gambar jang tjerdik pandai, mentjari nama lain lagi, jang sesuai dengan tuntutan masa dan selaras dengan kehendak pendjadjahan modern. Tetapi biar diputer-balik betapa pula, Tentara Nasional Indonesia dan jang sebangsa dengan itu, bersamasama dengan kawannja jang sudah agak lama menghamba kepada Belanda, seperti: KNIL, NP, Tentara Pengawal (Veili-gheids-Batallion –VB–), dan lain2, semuanja akan mendjadi Tentara Pendjadjahan, Tentara jang akan diperalat oleh Belanda-pendjadjah, untuk menguatkan, memperkokoh dan menjentausakan kekuasaan Belanda di Indonesia (Republik Indonesia Serikat, nanti). 3) Kiranja tidak perlu lagi dituliskan di sini, bahwa dalam hal inipun Belanda tetap tjurang dan

tetap berchianat. Bolehlah tjatat sendiri! Dibeberapa tempat diseluruh Indonesia, sesudah per’umuman Cease Fire itu, masih djuga terdjadi pertem-puran, serang-menjerang antara pihak Belanda-pendjadjah dan pihak serta golongan jang masih berdjiwa merdeka! Peristiwa2 tsb. terdjadi disebabkan karena perbuatan dan sikap Belanda sendiri, menjerang kepada golongan2 jang dianggap menghalang-halangi berkembangnja pendjadjahan di Indonesia! Belanda tjidra djandji! Belanda menjerang terus! Walaupun setelah diper’umum-kan Cease Fire! Bung Karno sebagai Panglima Tertinggi harus tanggung-djawab! Baik kepada Belanda sendiri, maupun kepada masjarakat serta chalajat ramai, jang tidak suka tunduk kepada pendjadjah! 4) Wahai Ra’jat Bangsa Indonesia! Kamu wadjib menurut, tha’at dan tunduk kepada pemerintah jang pandai mem-pertahankan kedaulatan negara kita! Sebaliknja, kamu pun harus insjaf, menge-tahui dan sadar, bahwa kamu tidak wadjib, tidak wenang, bahkan haramlah tha’at kepada Pemerintah pendjual Bangsa dan Negara, serta kedaulatannja! Bung Karno dalam hal ini, jang mengenakan “pakaian Panglima Tertinggi”, ha-njalah merupakan “orator” (tukang pidato) dan djuru bitjara daripada golongan2 pengchianat, golongan pendjual Bangsa dan Negara kepada kekuasaan Asing, kekuasaan Pendjadjahan! Untung, bahwa diantara Ra’jat Bangsa Indonesia masih djuga ada jang terbuka mata-hatinja, sehingga tidak dapat diabui matanja oleh “pemimpin2 pengchianat”, jang mendjadi alat2 pendjadjahan Belanda itu! 5) Alhamdulillah, maka Ummat Islam Bangsa Indonesia, terutama Negara Islam Indonesia, tidak ikut tanggung-djawab, dan sedikitpun tidak sangkut-paut-nja dengan “Cease Fire” chususnja, dan Statement Rum-Royen itu ‘umumnja. Sehingga kalau kita melakukan sesuatu di luar SRR itu, selainnja karena pertang-gungan-djawab jang sepenuh2nja atas nasibnja Ummat Islam Bangsa Indonesia, adalah semuanja itu timbul karena wadjib-sutji, jang diletakkan Allah atas pundaknja tiap2 muslim, dan atas pundaknja seluruh Negara Islam Indonesia. Oleh sebab itu, maka Statement Rum-Royen, ta’ anggap sepi. Seperti tidak ter-djadi peristiwa suatu apapun. Andjing menggonggong, kabilah lalu! Kita melandjutkan wadjib kita, tugas sutji, sebagaimana jang telah diperintahkan oleh Allah, menurutkan Sunnah Nabi Besar, dan perintah daripada Pemerintah Negara Islam Indonesia! Semoga Allah berkenan selalu menuntun kita kearah Mardlotillah! Insja Allah. Amin. 4. Konferensi Medja Bindar (KMB), atau “Round Table Conference.” 1) Dengan ditanda-tanganinja S.R.R., terutama kemudian daripada usaha pelaksa-naannja, maka Republik, sebagai sisa jang terachir daripada kedaulatan “Indonesia”, mau atau tidak mau, mengaku ataupun tidak mengaku, terpaksa melepaskan kedaulatannja kepada Belanda. Di sini Republik mendjadi pihak jang kalah, dan Belanda merupakan pihak jang menang! Politikus atau diplomat jang “ulung” –mengatakan, bahwa Republik tidak menjerahkan kedaulatan dengan R.I.S. (Republik Indonesia Sarikat), itu semuanja hanjalah “omong kosong” belaka! Kalau politikus jang ulung itu bukan sengadja berchianat, maka ia telah bersalah menutup mata bangsanja sendiri dan menjumbat mulut serta telinga bangsanja dan menjerahkan nasib bangsanja mentah-mentah kepada kekuasaan pendjadjah asing. Sajang! Di

antara “politikus bangsa Indonesia” masih banjak sekali jang mempunjai achlak (karakter) jang serendah itu! Achir-kemudiannja, ra’jat Bangsa Indonesia dan Negaranja djugalah jang mendjadi korban pendjadjahan Belanda! 2) Sedjak itu, di Indonesia dianggap tiadalah lagi berdiri kedaulatan dan kekuasaan daripada Ra’jat Bangsa Indonesia. 3) Alhamdulillah, dengan tiadanja kedaulatan dan kekuasaan ra’jat Bangsa Indonesia, di Indonesia, maka terbukalah kesempatan jang terbaik sekali bagi ummat Islam Bangsa Indonesia untuk menerima kurnia Allah jang maha-besar, ialah, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, jang diproklamirkannja pada tanggal 7 Agustus 1949 jang baru lalu. 4) Sekali lagi: Alhamdulillah, dengan berdirinja Negara Islam Indonesia, maka Ummat Islam Indonesia chususnja dan Ra’jat Bangsa Indonesia ‘umumnja, mem-punjai pegangan dan pedoman jang tegak-teguh, bagi melandjutkan perdjuangan kemerdekaannja, baik perdjuangan nasional, maupun perdjuangan kemerdekaan Agama, dalam arti kata jang seluasluas dan sesempurna-sempurnanja. Hai, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ra’jat Bangsa Indonesia! Pergunakanlah kesempatan jang amat baik itu, untuk menegakkan kemerdekaan kita, jang sudah dimulaikan sedjak 4 tahun jang lalu itu !!! 5) Dengan keterangan ringkas, sebagai jang tertulis di atas, njatalah sudah bahwa konferensi Medja Bundar itu adalah merupakan lakon wajang atau lakon tonil, jang dalangnja berwudjud Belanda pendjadjah djahanam itu, sedang wajangnja ialah pemimpin2 negara boneka. “Berkat” kepandaian dan ketjerdikan ki-dalang, jang memang sudah berpengalaman 350 tahun itu, maka dalam pandangan penon-ton jang “buta politik”, seolah2 wajang2 itu hidup dan pandai melakukan rolnja masing2, seakan-akan lepas daripada Komando dan perintah Ki dalang. Tetapi, walaupun betapa pula halnja kami pertjaja lakon wajang dan tonil palsu, jang sekarang ini lagi dipertontonkan sebagi K.M.B. akan terbuka gutji-wasijatnja. Kalau nanti tonil-tonil palsu itu sudah selesai melakukan rolnja jang maha hebat dan maha penting itu, dan mereka membuka “pakaian wajangnja” masing2, Insja Allah seluruh ra’jat Bangsa Indonesia, biar jang “buta” sekalipun akan melihat, mengetahui dan menjaksikan sendiri akan “kepalsuan jang maha ulung” itu. Lebih tegas lagi, kalau di sini dikatakan, bahwa K.M.B. itu tidak ada lain, melain-kan: “Konferensi Djadjahan (Koloniale Conferentie)”. Lain daripada itu, dan lebih daripada itu, Insja Allah, tidak !!! 6) Oleh sebab itu, maka dalam ramalan politik jang mendatang, sebagai hasil daripada K.M.B. itu tidak akan djauh daripada satu “alat pendjadjahan modern” dengan bentuk Republik Indonesia Sarikat (R.I.S.) atau bentuk lainnja, jang selaras dengan tuntutan “nasionalisme djadjahan”, sesuai dengan potongan “demokrasi djadjahan”, dan mungkin djuga memakai snit “sosialisme djadjahan” jang paling baru (Model 1949). 7) Djika R.I.S. dipaksakan orang (terutama Belanda dan agen2-nja) mesti lahir, maka tingkatan R.I.S. hanjalah 2 bagi: a. Pertama: R.I.S. dalam masa sebelum berdaulat, hanjalah akan mempunjai deradjat budak belian didalam bentuk modern, jang sudah menjilaukan mata penonton jang kurang kritis. Djangankan matanja penonton jang memang “buta politik”. Tidak punja kedaulatan, kekuasaan, beserta alat2 dan sjarat rukunja. Sungguh nol besar!! Tapi, kita tahu, bahwa budak

belian tetaplah budak belian! Walau dipakaikan atas kepalanja mahkota “Radja-BesarBoneka” sekalipun! b. Kedua: RIS mendapat kedaulatannja dari tuannja, radja Belanda. Walaupun bukan kedaulatan jang asli tetapi rupanja RIS akan menerima “hadiyah” dan tanda belas kasihan Belanda itu dengan gembira dan suka hati sampai…. Lupa daratan. Ma’lum! Seorang berdjiwabudak, lalu dengan kurnia iblis mendjadi “radja” walaupun radja palsu. Tentu lupa daratan! Kemerdekaan, kedaulattan dan kekuasaan jang serupa itu adalah, “kemerdekaan, kedaulatan dan kekuasaan jang “terikat”. Lumajan untuk menina-bobokan anak-anak jang lagi menangis! -------Ζ Ζ Ζ -------

KUNTJI TERACHIR PEMBUKA PENDJADJAHAN NATIDJAH DAN AKIBAT STATEMENT RUM-ROYEN 1. Lahirnja N.I.S. atau R.I.S. Dengan djatuhnja Republik Indonesia sebagai suatu negara jang merdeka, maka kandas dan patahlah perdjuangan kemerdekaan jang diusahakan oleh kaum nasional, selama 4 tahun itu. Kalau kita hitung dari mula pertama dilakukan usaha itu, sedjak mula lahirnja Tri-KoroDarmo (tahun 1908), maka perdjuangan kemerdekaan itu sedjak benih pertama hingga kembali lagi kepada djadjahan asing adalah sedjumlah 41 tahun. Sajang seribu kali sajang! Tetapi memang sudah mendjadi kader Tuhan, djadi …mau atau tidak mau suka atau tidak suka, ridla atau tidak ridla … ra’jat bangsa Indonesia harus menerima nasib buruk dan hina itu. Untunglah; Alhamdulillah, di balik itu, oleh Allah dibukakan lagi djalan jang lebih baik dan kesempatan jang lebih bagus bagi seluruh Ra’jat bangsa Indonesia, bagi menempuh bukti jang lebih berat, tetapi lebih sutji, ialah : Melandjutkan perdjuangan dengan Islam, menudju Mardlotillah! Barang siapa hendak mempergunakan kesempatan baik dan djalan jang lurus benar, sepandjang Kitabullah dan Sunnatun-Nabi Besar Muhammad Clm. ini, silahkan! Djalan dan kesempatan lain tidak ada dan tidak mungkin ada! Inilah satu2nja djalan dan keesempatan jang mendjamin dan melepaskan Ra’jat Bangsa Indonesia daripada Angkara murka pendjadjahan, dan melepaskan Ummat Islam Bangsa Indonesia dari-pada neraka djahanam dunia dan neraka djahanam achirat. Insja Allah! 2. Kemungkinan bagi R.I.S. Sebelum dan Sesudah Berdaulat. 1) Proces lahirnja R.I.S. akan memakan waktu ber-bulan2 lamanja. Semuanja itu tentulah dibuat menurutkan rentjana dan gambar (projekt) dan potongan tertentu ala Belanda. Sebabnja agak pandjang, oleh karena orang2, tuan2 dan njonja2 “pemain” itu perlu istirahat, bertamasja keliling2 kota dan lain2. Ada pula jang sedikit nakal, tetapi nakalnja anak2 jang hanja akan menambah lutjunja. Begitu djuga ada jang “aansstellerig” (ego) dan lain2 sifat

“anak-anak” jang semuanja memang perlu untuk memandjangkan waktu dan menghabiskan tenaga, sehingga orang luar boleh mendjangka, bahwa mereka itu “kerdja keras.” Memang kerdja keras! Tetapi untuk menjusun organisasi pendjadjahan baru! Sesuai dengan kehendak tuannja! Kiranja gambaran ringkas itu, tidak berbeda dengan kenjataan jang sesungguhnja! Tentulah nanti ada orang jang Mengemukakan alasan: Saja akan membuat “orientasi” politik di Anu; Saja akan bitjara dengan si Anu, buat meraba-raba dan mempelajari keadaan dan proces politik internasional; dan ……. lain2 lagi jang hebat. Singkatnja, Ki dalang tidak akan kekurangan lakon, dan …. (“Pemainpun tidak akan kehabisan lagu) ! 2) Selama masa itu, maka R.I.S. lahir merupakan Nederlandsch-Indie pada zaman purbakala, mungkin model atom, tahun 1949. Semuanja penontonpun akan ta’adjub melihatnja. Bitjara punja bitjara, tawar punja tawar (memang disuruh menawar, ma’lum “wajang”), maka dengan kurnia dan bidjaksananja radja Belanda dan tangan2nja jang tjerdik-pandai itu, maka dianugrahkanlah kepada ra’jat Bangsa Indonesia jang terlantar, satu model “kebun binatang”, jang bernamakan “Republik Indonesia Serikat” atau dengan merk dan tjet jang lain. Hanja beberapa streep bedanja dengan Hindia Belanda, semasa Idenburgh jang termasjhur karena “haluan politiknja jang lemah lembut, tapi beratjun” (politik kurs, othische kurs dan kursen jang lainnja) itu. Direktur “kebun-binatang”, jang dengan resmi bergelar Wakil Tinggi Mahkota (Belanda) atau W.T.M. pada waktu ini ialah Lovink, jang dalam perhitungan politik merupakan saudara-tua dari Idenburgh. Dulu semasa perang dunia pertama, sekarang, mendjelang Perang Dunia Ketiga! -------Ζ Ζ Ζ -------

PROSES POLITIK LANDJUTAN SEBELUM R.I.S. BERDAULAT 1. Perang Dunia Ketiga. Sebelum Perang Dunia Ketiga petjah, dan sebelum Revolusi Dunia selesai serta padam 100%, Insja Allah, Belanda tidak akan memberikan kurnianja jang maha besar itu, jang pada saat itu Ra’jat Bangsa Indonesia, politis, militer, economis dan sosial, sudah ditapis-ledis oleh kekuasaan pendjadjah. Belanda bukan babu jang bodoh, jang akan menurutkan apa kehendak anak-anak jang nakal. Belanda bukan direkteur-amatour, jang baru2 memegang “kebon-binatang”. Singa boleh meraung, monjet boleh beranai-anai, banteng boleh bersemangat “liar” …. Tetapi kuku sudah tidak ada, gigipun habis, tanduk patah dan …. Masing2 tetap dalam kandangnja sendiri di dalam lingkungan kebon binatang itu. Ratapan tangis dari ra’jat jang menanti-nantikan mengamuknja banteng jang sudah djinak itu, sia2 belakalah! 2. Stabilisasi Pemerintah Belanda dan Hindia Belanda (R.I.S.), baik dalam urusan po-litik maupun militer, terutama sekali urusan economi, mendjadilah salah satu “palang pintu” menudju ke arah “daulat-hadijah” itu. Belanda bukan anak2 kemarin dulu.Sudah banjak

garam politik pendjadjahan jang ia makan. Ma’lum pengalaman selama 350 tahun! Djadi, sebelum Belanda merasa puas kembali, walaupun mitsalnja Perang Dunia Ketiga telah selesai dan telah “normal” atau “setengah normal” kembali, tidak begitu sadja “daulat hadijah” itu dapat diberikan. Sementara itu, Insja Allah, Pemerintah Belanda dan Djadjahannja makin bertambah kelam-kabut, baik dalam urusan politik, militer, maupun dalam sual2 ekonomis. Padahal kita tahu, bahwa stabilisasi politik dan kekuatan tentara jang mendjamin keselamatan, keamanan dan ketertiban ‘umum (Belanda) itulah, pangkal jang pertama untuk memperbaiki sual ekonomi. Kalau tidak punja uang sendiri –dan memang, tidak punja—, boleh pindjam kepada Dunia Luar (Internasional). Tetapi harus pakai borg, jang merupakan pabrik-pabrik minjak, perusahaan dan perkebunan kopi, teh, kina, karet dll lagi. Sementara itu, barang2 Indonesia jang hendak diborg-kan kepada madjikannja, sudah hampir ledis, Insja Allah. Djadi, sementara itu, si-banteng boleh tetap dalam lingkungan kekuasaan singa Belanda. Nasib! Nasibnja banteng Indonesia memang amat sial sekali! Nasib tera-pung ta’ hanjut, ta’ rendam, ta’ basah! Nasib bergantung ta’ bertali, berdiri ta’ ber-akar! Nasibnja suatu golongan atau bangsa, jang “hidupnja hanjalah karena tidak mati” belaka! Djadi, sekali lagi: Singa Belanda jang kurus ketjil itu, lebih2 lagi mempunjai alasan tjukup, kuat dan sjah, sepandjang “filsafat singa” tetaplah berhak menerkam mangsanja, banteng Indonesia, jang tidak berdaja lagi! Masja Allah! 3. Belum hitungan ke dalam, mengenai “negara2 boneka” itu sendiri, jang nantinja akan bergabung dan digabungkan mendjadi R.I.S. itu. Ini kurang, itu kurang, ini lebih, itu lebih, semuanja serba kurang atau serba lebih! Wal-hasil belum sesuai dengan kehendak dan tjetakan Belanda sendiri, politis, militer, ekonomi …. Seribu rupa alasan akan dikeluarkan oleh tuan ketjil itu kepada budak beliannja, jang sungguhpun besar tapi kurus kering dan bodoh itu. Apa daja …. Wallahu ‘alam! 4. Demikianlah gambaran ringkas daripada proses politik jang akan berlaku di Nederland maupun di Indonesia, ketika R.I.S. atau N.I.S., melakukan perbuatannja jang hina dina dan amat rendah itu, mengemis-ngemis “daulat hadijah” kepada kekuasaan Asing, jang menguasai bangsa dan negerinja. Bahkan lebih dari itu, mengemis-ngemis “hadijah” (pemberian) kepada pendjadjah durdjana! Na’udzu-billahi min dzalik. Demikianlah agaknja perdjalanan riwajat Indonesia dimasa jang akan datang, sekedar jang bertalian dengan Konferensi Medja Bundar, jang memang tidak tampak pangkal dan udjungnja itu. 5. Ini semuanja akan memakan tempo jang tidak sedikit. Memang sengadja Belanda mengulurkan waktu itu, karena kalau belum sjarat2 tersebut –demikianlah pengalaman daripada riwajat jang sudah-sudah– tertjapai, Belanda terpaksa karena sesuatu jang tidak diharapkan, melepaskan djadjahannja, maka peristiwa pahit bagi Bangsa dan Pemerintah Belanda itu hanjalah akan merupakan “hukuman mati atas pemerintah dan Bangsa Belanda sendiri.” Djadi, pada hitungan sja’atnja, peristiwa pahit jang serupa itu, masuk barang jang mustahil. Ketjuali, djika memang sudah sampai sa’atnja Belanda mesti “bunuh diri” atau “gantung diri”!!! Kata pepatah mereka itu sendiri: Indonesia verlozon, rampspud geboren. Itulah salah satu pedoman (hypothesa) bangsa Belanda dan pemerintah Belanda. Sebab perubahan jang

serupa itu menghendaki pula perubahan dalam Kanun Asasy Belanda (Grondwet), jang untuk mengubah bagian jang sepenting itu didalam Gr.W. bukanlah sual ketjil, dan tidak pula akan makan tempo mingguan atau bulanan. Bahkan mungkin tahunan. Hendaklah diperhatikan oleh setiap warga negara, teru-tama oleh orang2 jang menamakan dirinja Republikeinen. Djangan terlalu pertjaja kepada fatamorgana! Mentjari kedaulatan Indonesia dengan djalan R.I.S. samalah nisbatnja dengan “mendjaring angin”! Tjamkanlah baik-baik!!! 6. N.I.S. berdaulat (???). Walaupun kemungkinan itu amat ketjil, tetapi sepandjang penglihatan orang2 jang masuk “pemain-pemain politik” di medan “tonil besar” KMB itu, adalah masuk salah satu hal jang dijakini. 7. Kami tidak akan menjangkal “kemungkinan” itu. Sebab memang ada kemungkinan itu, sungguhpun kalau dihitung benar2 hampir kepada limiet (dasar-pokok) 00,00% 8. Taruhlah R.I.S. berdaulat, tegasnja menerima “daulat hadijah” dari Belanda. Maka “daulat hadijah” jang serupa itu adalah kedaulatan jang palsu. Bukanlah kedaulatan jang sedjati, jang dapat melepaskan ra’jat bangsa Indonesia daripada pendjadjahan dan penghambaan dalam tiap-tiap lapangan Hidup dan Kehidupannja. Djadi, “daulat hadijah” adalah “daulat palsu”, alias “daulat imitasi” atau “daulat-tiruan”. Namanja sama, tapi bukti dan njatanja beda. 9. Walaupun ada “kurnia Belanda jang maha istimewa” jang berwudjudkan “daulat-hadijah”, tiba di tengah2 masjarakat K.M.B. tetapi kemerdekaan jang serupa itu adalah kemerdekaan palsu, kemerdekaan jang terikat. Setinggi-tinggi hadijah itu, agaknja tidak djauh daripada tingkatan protektorat atau dominion status. Merdeka tapi tidak lepas dan tidak bebas! Berdaulat tapi tidak berkuasa penuh! Hendaknja diperingati oleh ahli politik dan ahli riwajat dimasa depan, untuk ditjatat dan dike-tahui, sampai dimanakah benar atau salahnja kurang atau lebihnja tindjauan politik ini. Silahkan. -------Ζ Ζ Ζ -------

N.I.I., BELANDA DAN R.I.S. 1. Selama RIS hendak dilahirkan, sungguhpun dengan paksa, hingga sampai tingkat fase A (permulaan) dan fase B (penghabisan), —mulai tingkatan djadjahan modern mutlak hingga tingkatan “setengah-merdeka” (protektorat atau dominion)– maka selama itu Negara Islam Indonesia melandjutkan usahanja: 1) Melenjapkan segala matjam pendjadjahan dan perhambaan, dalam arti kata jang luas, dari Indonesia; 2) Memusnahkan musuh2 Allah, musuh2 agama dan musuh Negara Islam Indonesia;

3) Melakukan hukum2 Islam, sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnatin-nabi, dalam arti jang sesempurna-sempurnanja di seluruh Indonesia; 4) Melakukan usaha2 lainnja, jang dapat mempertjepat datangnja Kurnia Allah, jang maha besar, ialah: Negara Islam Indonesia berdaulat 100% keluar dan kedalam, de facto dan de jure. Hendaklah lebih landjut periksa “Pendjelasan Singkat” daripada Proklamasi berdi-rinja Negara Islam Indonesia. 2. Baik djuga diterangkan di sini, bahwa terbukalah sementara itu beberapa kemung-kinankemungkinan politik, jang merupakan hubungan, baik hubungan politik, diploma atau lainnja. Dengan ringkas kemungkinan itu bolehlah kiranja kami gambar-kan, sebagai jang berikut : 1) Hubungan dengan RIS sebelum berdaulat. Kemungkinan akan adanja hubungan dengan R.I.S. sebelum berdaulat dengan Negara Islam Indonesia, pada hitungan kasarnja bolehlah diberi angka Nul, atau nihil, alias tidak mungkin dan tidak berguna. Sebab deradjat dan harkat RIS pada fase A (permulaan) itu tidak akan lebih da-ripada budak belian, atau djadjahan se-mata2. 2) Hubungan dengan RIS sesudah menerima “daulat-hadiyah”. Kemungkinan hubungan seperti ada, tetapi karena R.I.S. tidak mempunjai kedau-latan jang penuh, bahkan hanja merupakan pembantu Belanda, jang mempunjai “kedaulatan terikat” itu, maka djika ada hubungan antara Negara Islam Indonesia dan R.I.S. dalam tingkatan penghabisan (fase B) itu, hanjalah sekedarnja sadja. Tidak lebih dari takaran dan ukuran “daulat-hadiyah” itu. 3. Siapakah Belanda? Sebelum kita membuka kemungkinan, kala2 ada hubungan antara pihak Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Negara Islam Indonesia, baiklah diuraikan dengan ringkas dalam beberapa patah perkataan “siapakah gerangan, jang dinamakan Belanda itu? 1) Kita tahu, bahwa Belanda selalu mengembor-gemborkan haknja untuk duduk, hidup dan berkuasa di Indonesia. Biasanja dinamakan “historisch recht” hak jang diperoleh suatu bangsa didalam riwajat hidupnja. Dengan ini maka kita tolak alasan Belanda memakai dasar historisch recht itu. Melainkan bagi kita sebaliknja. Belanda hidup, tinggal, duduk dan berkuasa di sini, tidaklah sekali-kali berdasarkan atas historisch recht, melainkan historisch onrecht, karena chianat dalam riwajat hidupnja. Hal ini perlu kami njatakan terus terang, terutama pada Bangsa dan Pemerintah Belanda, baik jang ada di Nederland maupun jang ada di Indonesia, kalau2 masih diantara mereka jang agak sehat pikirannja, djernih penglihatan politiknja dan jang tulus-ichlas suka mengakui kesalahannja! Kalau kita membatja satu dua lembaran sedjarah Indonesia, bolehlah kita tjatat : 2) Sebelum Belanda datang di Indonesia, maka di sini berdirilah suatu bangsa jang berdaulat dengan penuh2, mempunjai kekuasaan dan kedaulatan sendiri, lengkap dengan segala alat2nja. Periksalah tarich: Padjadjaran, Dhaha, dan lain2 hingga Madjapahit. 3) Setelah itu, maka di sinipun tetap berdiri suatu negara jang berdaulat pengganti negara2 jang berdasarkan atas Agama Budha itu, ialah Negara Islam, tegasnja negara2, dimana Islam dianggap sebagai agama negara, dan menundjukkan berlakunja hukum2 Islam, didalam

kalangan ra’jatnja. Periksalah riwajat Bintoro (Demak), Padjang, Mataram dan lain2 lagi. 4) Semasa kekuasaan dipegang oleh Sultan Agung, Radja Mataram itu waktu, pada ketika itulah nelajan2 Belanda jang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Cun baru tiba dipantai Indonesia, terutama di Banten dan Djakarta. 5) Kalau alasan ini masih dianggap kurang, bolehlah periksa lagi riwajat jang lebih djelas, jang di sini bukanlah tempatnja untuk memperbintjangkannja. 6) Wal-hasil dengan alasan Belanda jang dipakai oleh Belanda sendiri, maupun jang mungkin djuga dipergunakan oleh agen-agen Belanda Bangsa Indonesia, jang bernamakan historisch recht itu, tidaklah sekali2 berarti, atau keliru, melainkan sengadja mengchianati kenjataan riwajat Indonesia dan riwajat Belanda sendiri di Indonesia. Hanjalah karena darah “Imperialisme dan Kapitalisme ketjil” jang mengalir dalam tubuhnja Belanda dan Masjarakat Belanda. 7) Dengan keterangan ringkas ini teranglah sudah, bahwa jang berhak bernegara di Indonesia ini bukan Bangsa Belanda, melainkan Bangsa Indonesia jang beragama Islam, atau dengan kata2 lain : Ummat Islam Indonesia. Oleh sebab itu, sudah atas wadjib dan haknjalah, djika Ummat Islam Bangsa Indonesia mere-but kembali haknja, memerintah negaranja sendiri, dengan dasar-dasar Islam. 4. Hubungan dengan Belanda. Maka kemungkinan tingkatan Pemerintah Belanda menghadapi Negara Islam Indonesia dua bagai: 1) Belanda pendjadjah, jang telah 350 tahun berchianat kepada ra’jat Bangsa Indonesia dengan kekuatan sendjata dan paksa, serta djurang. Dengan Pemerintah Belanda pendjadjah jang serupa ini, ialah akar daripada suatu golongan Belanda jang Imperialistis dan Kapitalistis itu, tidak mungkin dan tidak berguna ada hu-bungan dengan pihak Negara Islam Indonesia. Tandanja, bahwa pemerintah Belanda dinamakan Pemerintah Belanda Pendjadjah, ialah selama ia belum me-ngakui akan kedaulatan Negara Islam Indonesia. Tidak tergantung, kepada tem-pat tinggal atau tempat kedudukannja, baik di Indonesia atau dinegeri Belanda maupun di luarnja. 2) Pemerintah Belanda jang mengakui ke Negara Islam Indonesia. Dengan Pemerintah Belanda jang serupa ini, jang mengakui kedaulatan Negara Islam Indonesia dengan resmi, mengingat hak dan wadjibnja dalam sual jang chusus ini, maka Negara Islam Indonesia bolehlah membuat hubungan jang perlu2 dengan negara jang sematjam itu. 3) Demikian pula hubungan dengan negara2 lainnja, diluar Belanda, jang telah meng-akui kedaulatan Negara Islam Indonesia. Kupasan tentang hal ini, sekedarnja, baiklah di belakang. 5. Unie Indonesia Belanda. Tentang hal ini kiranja tidak perlu dituliskan, karena Unie bukanlah satu negara, dan tidak ada hak kekuasaan atau kedaulatan pada dirinja, melainkan Unie hanjalah merupakan: 1) Badan-penghubung (Kontakt) antara Negara Belanda dan Negara Indonesia Serikat, jang sekarang hendak diberi nama “Republik Indonesia Serikat”. 2) Badan-penghubung ini boleh diadakan sebelum atau sesudah R.I.S. berdaulat, menurut seberapa perlu dan kepentingannja bagi Nederland, baik sebagai negara dengan anak

djadjahannja maupun sebagai negara dengan dominionnja. 3) Oleh sebab itu, sementara ini belum perlu diperbintjangkan djauh2, melainkan dimasa R.I.S. diberi “daulat hadiyah”, maka disa’at itulah mungkin ada kepen-tingannja kita mengulangi pembitjaraan tentang Badan-Penghubung ini. -------Ζ Ζ Ζ ------

PERDJUANGAN UMMAT ISLAM BANGSA INDONESIA MENGGALANG NEGARA KURNIA ALLAH NEGARA ISLAM INDONESIA 1. Tingkat Pertama (Fase I) dalam perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang mulai sedjak mula meletusnja pemberontakan didaerah Tjiamis Utara, kemudian daripada terdjadinja Naskah Renville jang amat masjhur itu, sudahlah dilalui dengan selamat. Lulus dalam udjian pertama, dalam perdjuangan menggalang Negara Kurnia Allah itu. Riwajat tentang hal ini telah lengkap, jang pahit dan jang manis, jang senang dan jang susah, gembira dan sedih, dalam menerima kurnia maupun dalam menghadapi mala-petaka. Insja Allah, pada suatu waktu jang tepat tentang hal ini, akan diuraikan tersendiri. 2. Dengan penanda-tanganan Statement Rum-Royen, maka tingkatan pertama daripada perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia itu berachirlah sudah. 3. Kemudian disambung dengan tingkatan kedua (fase II), jang dimulai dengan Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, pada tanggal 7 Agustus 1949. Habis-lah riwajat Republik Indonesia sebagai negara, setelah melalui 4 tingkatan dalam masa 4 tahun itu, diganti dan disambunglah oleh riwajat perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, dalam Fase II. 4. Pada dewasa ini –Fase II— tumbuhlah pula tanaman dan benih2 jang lama, benih2 pendjadjahan, jang tempo hari masih tinggal akar2nja, semasa digali oleh Djepang, selama 3 ½ tahun dahulu itu, Tampaknja benih2 pendjadjahan lama itu, tumbuhlah makin hari makin subur dan gemuk, ditambah lagi pemimpin Republik jang berchi-anat, jang sengadja ataupun tidak sengadja membantu masuknja Belanda pendjadjah di Indonesia. Dengan diberi nama dan gelaran jang hanja patut bagi nama dan gelaran jang hanja patut bagi orang2 jang berdjiwa boneka itu, maka mereka itu kaum peng-chianat jang mana menamakan dirinja “pembela bangsa, agama dan tanah air” – sudah tjukup mempunjai alasan kemegah-megahan, tjongkak dan takabbur seolah-olah tuannja itu memperlindunginja selama2nja. Inilah bukti kenjataan daripada pendjadjahan modern mutlak, salah satu natidjah jang amat membahajakan sekali bagi seluruh Ra’jat Bangsa Indonesia, dan chususnja bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia. 5. Tjukuplah kiranja gambaran kasar, betapa hendaknja hubungan Negara Islam Indonesia dengan berbagai2 model “negara” dalam lingkungan “Daulat-ul-Holandijah” seperti jang

diuraikan di atas, selama masa kedua (Fase II) daripada perdjuangan Islam ini. 6. Sekarang kita meningkat pada tingkatan ketiga. Pada saat perang Dunia Ketiga petjah atau Revolusi Dunia meletus, maka pada waktu itulah kiranja Allah berkenan menaikkan harkat-deradjat Ummat Islam Bangsa Indonesia sampai ketingkatan jang ketiga, ja’ni dengan berdiirinja: Negara Basis, jang akan merupakan Madinah Indonesia 1) Pada waktu itu, kedaulatan Negara Islam Indonesia berlaku disebagian kepulauan Indonesia, walaupun belum 100%. 2) Hukum2 Islam mulai didjalankan, sebagai mana harusnja, sedikit demi sedikit menudju kesempurnaan. Dan 3) Dengan itu, Negara Islam Indonesia dapat menguasai daerah2 jang agak luas, walaupun belum seluruh Indonesia, dengan tjara de facto, menurut kenjataan. 7. Tingkatan kedua dan ketiga ini, memberi kesempatan jang baik dan lapangan jang tjukup bagi berlakunja Revolusi Islam, baik keluar maupun kedalam, jang masing2 berwudjudkan revolusi nasional dan revolusi sosial. Hal ini perlulah kami tjantumkan di sini dengan sepatah kata dua patah kata, kalau2 nanti diantara kita —Ummat Islam Bangsa Indonesia— masih ada djuga ada jang menjangka, bahwa api revolusi itu sudah padam atau akan dipadamkan, kalau kita sudah sampai di Madinah Indonesia itu. Bukan! Sesekali bukan! Insja Allah Revolusi Islam bergelora terus, hingga sampai kepada selesainja udjian keempat dalam masa keempat, Fase IV, ialah berdirinja Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia. 8. Di kala angka 5., a., b., c., dan d., daripada Pendjelasan Singkat atas Proklamasi tg. 7 Agustus jang lalu sudah selesai dengan sempurnanja hingga merupakan bukti kenjataan rieel, maka barulah Ummat Islam Bangsa Indonesia disampaikan Allah kepada harkat deradjat danmmartabat setinggi-tingginja, menerima kurnia Allah jang tiada ternilai harga kebesarannja, ialah : Berdirinja Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Dimana tampaklah kebesaran Allah, kesutjian Agama Allah (Islam) dan kesempurnaan Keradjaan Allah didunia. Inilah udjungnja perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang sering2 diberi nama, dengan memakai istilah: Mardlotillah. 9. Hubungan International. Kami ta’ ingin meramalkan sesuatu jang akan terdjadi dalam kalangan internasional. Hanja boleh diperhitungkan mulai sekarang, bahwa djika terdjadi Perang Dunia Ketiga, jang mungkin lebih dahsjat dan hebat daripada jang sudah2, maka keadaan internasional, Insja Allah akan banjak berubah. Hanjalah jang berkenaan dengan Negara Islam Indonesia, bahwa kiranja sedjak mula perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia dinaikkan Allah sampai kepada tingkatan jang ketiga, sedjak itulah kiranja Negara Islam Indonesia mulai ada hubungan dengan dunia internasional, dan perhubungan itu makin lama makin sempurna, hingga sampai kepada tingkatan keempat. Tentang satu2 hal jang berkenaan dengan ini agaknja bukan tempatnja diuraikan dalam keterangan ini. ------Ζ Ζ Ζ ------

GAMBARAN NEGARA KURNIA ALLAH 1. Banjak sekali orang menanjakan tentang istilah “Negara Kurnia Allah”. Baiklah kami akan tjoba menerangkannja dengan serba singkat, apakah gerangan jang dinamakan “Negara Kurnia Allah” itu. 2. Terlebih dahulu, kita harus mempunjai dua pokok jang besar, ‘anasir jang mendjadi sjarat masjrut serta rukun daripada N.K.A. itu. 3. Pertama, harus ada suatu Negara jang berdaulat penuh, 100%, keluar dan kedalam, de facto dan de jure. Kedua, harus ada peraturan Allah jang merupakan Agama Allah, atau Agama Islam. 4. Kedua ‘anasir jang besar ini harus bersatu atau dipersatukan. Bukan sebagai minjak dengan air jang ada disebuah periuk. Tetapi bersatu dan dipersatukan, hingga tiap2 ‘anasir jang ada dalam negara itu, baik jang berupa Fa’il (subjekt), Maf’ul (Objekt) maupun Fa’il (Predikaat), urusan ketata-negaraan, kemiliteran, hingga sampai kepada tiap2 djirim dan djisim jang hidup dalam negara itu, semuanja itu dapat melakukan baktinja kepada ‘Azza wa Djalla. Mitsalnja : Seperti “air” dengan “kopi” tidak begitu sadja lalu mendjadi “air kopi”, sehingga tiap2 ‘anasir “air” bersatu dengan ‘anasir “kopi”, melainkan setelah airnja dimasak hingga 100 graad Celsius. Maka tidak lupa mungkin Negara dan Agama, Manusia dan Agama, dapat bersatu dalam arti kata jang seluas-luas dan sesempurna2nja, melainkan apabila Negara dan Masjarakat serta segenap ‘anasir jang termasuk di dalamnja dapat dipanaskan sampai kepada tingkatan jang setinggi-tingginja. 5. Pergolakan masjarakat, pergolakan negara, pergolakan bangsa manusia jang serupa inilah, jang biasanja dinamakan Perang atau Revolusi. 6. Oleh karena Agama jang hendak dipersatukan dengan masjarakat Indonesia ini meru-pakan Revolusi Islam. 7. Djadi, untuk membina dan menggalang Negara Kurnia Allah itu, perlu dan wadjiblah bergeloranja Revolusi, lebih2 lagi Revolusi Islam, jang akan memasak masjarakat sampai kepada tingkatan “mateng” (moding), baik dalam arti kata politis, militer, Agama maupun dalam arti kata jang lainnja. Djadi, kalau kita menghendaki berdirinja Negara Kurnia Allah itu, djangan sekali-kali takut terdjilat oleh api revolusi. “Tiada baji jang lahir, melainkan disertai dengan tjurahan darah”. 8. Inilah satu2nja djalan, menudju kepada Mardlotillah Dunia dan Mardlotillah Achirat, kelak. 9. Sebelum menjudahi keterangan ini, baik djuga kiranja diperma’lumkan, bahwa tjita2 jang lagi diusahakan oleh Ummat Islam Bangsa Indonesia pada dewasa ini men-djelang zaman baru, dalam tingkatan ke-4 itu, djauh lebih tinggi daripada “theori-Pakistan-Indonesia”. Sehingga di sini tiada tempatnja, memperbintjangkan sual itu lebih djauh. Kedudukan “Pakistan-

Indonesia” hanja setinggi dominion status; djadi kurang dari kedaulatan 100%. Hendaklah ma’lum! 10. Semoga Allah membenarkan apa jang ditulis di atas itu djua adanja. Insja Allah. Amin. Dan kepada Allah pula kita sekalian selalu berlindung diri.Wallahu ‘alam bissawabAllahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!Madinah Indonesia, 1 Dzul-qa’idah 1368 / 20 Agustus 1949. STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia 7 September 1950 Bismillahirrahmanirrahim STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia

Barang disampaikan Allah kiranja kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia. Sembojan : Bawalah Ummat Islam Bangsa Indonesia ke arah Mardlotillah. Kalau perlu dengan paksa! Pedoman : Tiada wadjib dan tugas jang maha sutji, melainkan hanjalah wadjib dan tugas: “Menggalang Negara Kurnia Allah” Negara Islam Indonesia. Hal : Tindjauan dan Sikap-Pendirian Kedepan Assalammu’alaikum warahmattullahi wabarakatuh 1. Alhamdulillah! Sekalian pudji kepada Dzat Jang Maha Kuasa, jang telah berkenan memberi perlindungan, kekuatan dlahir bathin, hidajat dan taufiq jang sempurna, sehingga pada setiap hambanja terbukalah kesempatan jang seluas-luasnja untuk melakukan tugas sutji, tugas Ilahy. Allahumma! Ijjakaa na’budu, wa ijjaka nasta’in ihdinas-sirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakalna ‘ala-Llah, lahaula wala quata illa bi-Llah! 2. Situasi dunia pada dewasa ini merupakan minjak dalam periuk, jang sekelilingnja penuh dengan api jang lagi menjala-njala, jang setiap sa’at dapat mendjilat kepadanja. Praktis, perang Dunia ke III sudahlah dimulai, sedjak mula petjah Perang Korea, 25 Djuni 1950. Hanjalah baru sampai kepada tingkatan pertama (eorste stadium). Sedikit waktu lagi, djika perang telah di’umumkan oleh salah satu pihak —blok Amerika atau blok Russia—, maka pada sa’at itu pula seluruh dunia terlibat dan terseret da-lam api peperangan jang maha dahsjat, jang orang belum dapat mengira-ngirakan, betapakah gerangan perdjalanan proces-dunia itu dan ‘akibat daripadanja. 3. Sepandjang hitungan manusia, maka petjahnja Perang Dunia ke III tidak akan djauh lagi, bahkan agaknja amat dekat sekali. Wallahu ‘alam. Hanja Allah pulalah jang mengetahui. 4. Djika terdjadi Perang Dunia ke III itu dengan idzin Allah djua —, maka automatis menjalalah Revolusi Dunia. Revolusi jang akan timbul dalam tiap2 negara. Djuga di negara

kita, “Indonesia”. Insja Allah. 5. Pada sa’at ini kita belum perlu memperhitungkan pihak mana ang menang atau kalah, atau belum perlu pula mengira-ngirakan atau meramalkan ‘akibat daripada Perang Dunia ke III itu, melainkan sementara ini tindjauan kita akan terbatas kepada nasibnja Negara dan Agama di tanah air kita sendiri, dimasa mendatang jang dekat. 6. RIS dalam bentuk lama atau baru (RIS baru) dapatlah neutral dalam Perang Dunia ke III jang akan datang? Sepandjang perhitungan politik internasional, maka mau tidak mau RIS akan terseret dalam Perang Dunia itu. Dan kalau RIS ikut serta dalam Perang Dunia j.a.d., maka ia akan memihak pada blok Amerika. Demikian perhi-tungan ahli politik dan militer hingga pada sa’at ini, dengan perhitungan “kans” 90%. 7. Sementara itu, tiap pihak, terutama jang berideologi —Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme—, sudahlah membuat persiapan, dalam tiap-tiap lapangan, meng-hadapi setiap kemungkinan dimasa amat kritis itu.Dengan keadaan jang demikian, maka tiap-tiap manusia jang suka mempergunakan akalnja dapatlah mengira-ngirakan, betapakah gerangan peristiwa2 jang akan terdjadi selama masa kritis itu. Dalam penglihatan kita, sedikitnja akan terdjadi. Perang Segi-Tiga antara Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme. Belum terhitung pihak Belanda, jang rupanja tidak akan “diam”. Periksalah kembali : (1) Peristiwa Westerling, (2) tangkapan atas Sultan A. Hamid II, (3) peristiwa-Makasar, sedjak Abd. Azis hingga jang achirachir ini, (4) sual Republik Maluku Selatan, (5) dll lagi. Perampok, Perampas, Pentjuri, Pentjulik dlls., jang tentulah akan mengambil kesempatan untuk memainkan “rol”-nja. Walhasil— akan terdjadi huru-hara, dengan berbagai ragam dan arah-tudjuan-nja. 8. Nistjajalah daripada pihak ‘arif-budiman, ahli-politik dan filsafat, dan lain-lain pihak “pacifisten” (Tjinta damai, dengan atau tidak dengan alasan) akan tjoba2 meng-hindarkan dunia dari api peperangan dan api bara revolusi itu. Tapi, Insja Allah, rupanja usaha jang tampaknja “humanistis” atau “mono-humanistis” itu tidaklah akan berhasil. Karena dunia sendirilah jang telah berabad lamanja mengandung ‘anasir2 “kotoran-dunia”, jang menjebabkan tumbuhnja perang dunia dan Revolusi Dunia itu. Kiranja belum tjukup kotoran2 dunia itu dibasmi dan dienjahkan selama Perang Dunia ke I dan ke II. Melainkan sepandjang perhitungan sjari’at, maka per-lulah —bahkan hampir “wadjib”— tumbuhnja Perang Dunia ke III dan Revolusi Dunia itu. Pendek-pandjangnja “selama Ke’adilan Allah, dengan di dunia damai, aman dan tenteram”. 9. Apakah jang mendjadi “maf’ul” (objekt) terpenting dalam dan selama “huru-hara” itu? 1) Perebutan Kekuasaan A. Pihak Pemerintah RIS atau RI baru, akan mempertahankannja. B. Pihak Komunis akan “menjerobot”, dengan “coup d’etat” (perampasan kekuasaan — batjalah: Kup-de-ta), militer dan politis. C. Pihak jang lainnja pun tidak akan ketinggalan. Apalagi Negara Islam Indonesia/Ummat Islam Bangsa Indonesia jang sudah memproklamirkan kemer-dekaanja, pada tanggal 7 Agustus 1949. 2) Perebutan Daerah. Masing2 tentulah mentjari daerah, sebagai basis, dan pangkalan. Periksalah: Manifest Politik

No. I/7, 26 Agustus 1949; Bab VIII, angka 6, 7 dan 8, Ichtisar III! 3) Perebutan Ra’jat Dalam hal ini Ra’jat harus pandai menentukan nasibnja sendiri. A. Pihak RIS atau RI baru, akan “menasionalisirnja”. Pandangannja terhadap Agama jang manapun “neutral”. B. Pihak Komunis —jang sementara itu mungkin memproklamirkan “Republik Sovjet di Indonesia”— akan “memper-komunis-kan”-nja. Pendirian pihak ini terhadap semua agama “anti”. Djadi kalau ada pihak Komunis “tidak anti agama”, maka mereka itu adalah komunis palsu atau gadungan. Agama dipa-kai “kamuflase” (kedok), bagi memikat hati ra’jat. Awaslah! dan Waspada! C. Pihak Negara Islam Indonesia/Islam akan “meng-Islamisir”-nja hingga “Islam-minded” dan Allah minded” 100%. Lebih landjut, periksa dan banding-kanlah dengan karangan Huru-Hara “Mendjelang Dunia Baru”, Darul Islam, atau Negara Islam Indonesia”, k. 18 - 25, k. 35 - 49 dan karangan Abu Darda “Ad-Daulat-Ul-Islamiyah”, k. 18 - 32 ! 10. Tiap2 sesuatu ada batasnja; ada pangkal dan ada ujungnja. Demikian pula tentang satu wadjib sutji, jang bernamakan “Djihad”, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Adapun batas “Istitha’ah” dalam melakukan Djihad, tegasnja: Udjungnja wadjib djihad bagi tiap2 Muslim dan Mukmin, terutama Mudjahid, dan bagi seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, ialah sampai kepada terdjadinja Damai Dunia. Lebih tegas lagi, djika dikatakan: Apabila sampai kepada waktu dilangsungkan Per-djandjian damai (Vredos-Verrag) bagi seluruh dunia, kemudian dari pada selesainja Perang Dunia ke III dan Revolusi dunia jang akan datang, Ummat Islam Bangsa Indonesia masih djuga belum mempunjai milik menerima Kurnia Allah jang maha besar berwudjudkan negara islam Indonesia, maka waktu jang amat berharga bagi seluruh Ummat Islam itu, untuk melakukan wadjib sutji, sudahlah lampau. Djangan diharapkan, bahwa dalam waktu 10, 100, atau 1000 tahun lagi, kita akan menemui sa’at “mustari”, sa’at kritik jang serupa itu. Sa’at petjahnja Perang Dunia hingga damai Dunia, sa’at dimana Allah akan menentukan nasibnja tiap2 Ummat. 11. Walaupun kita jakin dengan se-penuh2 kejakinan, bahwa pada sa’at jang mustari itu -‘ibarat lailatul-qadar-- Allah akan mendjurahkan Anugerah dan Kurnianja jang maha besar itu, jang sedikitnja merupakan “Negara Basis” atau “Madinah Indonesia”, dan lebih djauh “Daulatul-Islamiyah”, tapi mungkin Allah bewrkenan sebaliknja dari pada itu. Maka timbullah pertanjaan dalam hati kita masing2: “Apakah gerakan sikap kita, Ummat Islam bangsa Indonesia, djika sampai pada sa’at jang terachir itu, Ummat Islam bangsa Indonesia tidak mempunjai milik untuk menerima Kurnia Allah jang maha-besar itu?” Djawabnja dengan ringkas: 1) Djika terdjadi demikian, maka anggapan itu dalam anggapan Ummat Islam Bangsa Indonesia berarti “Qijamah”, Qijamah wustha atau Qijamahnja suatu Ummat dan Bangsa. Qijamah dalam pandangan hukum, karena pada waktu itu bukanlah hukum2 Allah jang sutji jang berlaku di Dunia, melainkan hukum manusia, hukum dahry, hukum kuffar.

2) Sedang djika hukum (stelsel) jang berlaku di dalam suatu negara ‘bukan hukum Allah”, maka haramlah bagi tiap2 Muslim dan Mu’min, terutama Mudjahid hidup di dalamnja. 3) Haramlah hukumnja bagi tiap2 Muslim dan Mu’min dan Mudjahid, didjadjah oleh siapa dan berwudjud bagaimanapun djuga, terutama djika didjadjah dalam ideologi. 4) Oleh sebab itu, djika kedjadian sesuatu jang tidak kita harapkan itu, maka sikap tiap2 Muslim, Mu’min dan Mudjahid, hanja satu dan jang penghabisan: Juqtal au Jaghlib Atau dengan kata lain : Membasmi segala kafirin dan kekufuran hingga habis/ musnah dan Negara Kurnia Allah berdiri dengan tegak teguhnja dibumi Indonesia. Atau mati sjahid dalam Perang Sutji! 12. Semoga Allah berkenan membenarkan dan meluruskan perdjalan Ummat Islam Bangsa Indonesia, dalam menunaikan wadjib dan tugas sutjinja: menggalang NE-GARA KURNIA ALLAH, Negara Islam Indonesia! Insja Allah, Amin. 13. Inna fatahna laka fat-ham mubina .... Insja Allah. Bismillah ........ Allahu Akbar! Mardlotillah, 7 September 1950 24 Dzul-qaidah 1369MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia 31 Desember 1949 Bismillahirrahmanirrahim MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia

Barang disampaikan Allah kiranja kepada sau-dara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia. Firman Allah : Wa qullil-haqqu min rrobbikum, Faman sja-a fal-ju’min,Waman sja-a fal-jakfur… “Dan katakan (olehmu, Muhammad!) Haq itu dari Tuhanmu! Maka barang siapa hendak iman, imanlah! Dan barang siapa hendak kufur, kufurlah…(Al-Kahfi, ajat 29). KALAH-ACHIR. 1. Alhamdu lillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haqqi lijudh-hirahu ‘aladdinni kullihi, walau karihal musjrikun. Allahumma! Ijjaka na’budu wa ijjaka nasta’in, ihdinas siratalmustaqim. 2. Hingga kini sudahlah tjukup besarnja (goodwill) kami, terhadap kawan2 dan saudara2 sebangsa dan setanah air. 1) Seruan pertama berisi peringatan-peringatan penting, bagi saudara2 sekalian, terutama mengingat nasibnja ra’jat Bangsa Indonesia. Periksalah Ma’lumat Imam No. 7 bertarich 21

Desember 1948. 2) Peringatan jang kedua merupakan Menifes Politik Negara Islam Indonesia No. I/7, bertarich 26 Agustus 1949, 3) Peringatan jang Ketiga dituliskan dalam Ma’lumat Negara Islam Indonesia No. I/7, bertarich 10 Oktober 1949. Seruan jang Ketiga ini berachir pada sa’at diper’-umumkan berdirinja RIS (Republik Indonesia Serikat). 3. Maka kini sampailah sa’atnja kami menjatakan : 1) Bahwa kami merasa telah tjukup menunaikan kewadjiban kami, terhadap kepada ‘Azza azDjalla, sekedar jang berkenan dengan wadjib dakwah kepada kawan-kawan dan saudarasaudara sebangsa dan setanah air. 2) Bahwa kesempatan (termijn) jang terachir, jang telah disaipaikan kepada saudara tiga kali berturut-turut itu, sudahlah lampau. 4. Kepada saudara2 jang insjaf, kemudian daripada peringatan2 tsb. –lalu ikut serta dalam perdjuangan sutji, menunaikan tugas Ilahy, menggalang Negara Kurnia Allah—, dengan ini kami njatakan Alhamdulillah, diperbanjak-banjak terima kasih. Kemudian selamat berdjihad! Pada djalan Allah! Karena Allah! Inna fatah-na laka fat-ham mubina… Insja Allah. Bismillahi…., Allahu Akbar !!!Madinah Indonesia, 31 Desember 1949 10 Rabi-ul Awal 1369MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia Tg. 10 Oktober 1949 Bismillahirrahmanirrahim MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia

Barang disampaikan Allah kiranja kepada sau-dara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia. Seruan : Melepaskan diri daripada kungkungan kekuasaan pendjadjah modern. Assalamu’alaikum W. W. 1. Alhamdullillahiladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil-haqqi, lijudh-hirahu ‘aladdini kullihi, walau karihal-musjrikun. Allahumma! Ijjaka na’budu wa ijjaka nasta’ in, ihdinas-sirathal-mustaqim! 2. Sjahdan, maka perdjuangan kemerdekaan nasional, jang dimulaikan dengan Prokla-masi berdirinja Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, sudahlah mengachiri riwajat-nja. Orang boleh memberi tafsir jang muluk2, jang membumbung tinggi menembus angkasa; orang boleh tjari lagi alasan2 jang lebih litjin, lebih juridis, lebih staa tsrechtelijk, lebih volkonrechtolijk; tetapi meski diputar-balik betapa pula, dengan laku jang serong dan alasan jang tjurang sekalipun, orang ta’ kuasa membalik hitam mendjadi putih, bathil mendjadi hak, haram mendjadi halal….

Sepandai-pandai manusia bersilat tidaklah kuasa membalik Timur mendjadi Barat ! Setinggitinggi bangau terbang, kembali kekubangan djuga. Maka Republik djatuh pula kepada tingkatan sebelum proklamasi; kembali pada pokok pangkal pertama, ditangan musuh, ditangan Balanda pendjadjah. 3. Alhamdullillah, pada sa’at kosong (vacuum), sa’at dimana tiada kekuasaan dan pemerintahan jang bertanggung djawab (gezags-en regerings vacuum), maka pada sa’at jang kritis (membahajakan) dan psychologisch itulah, Ummat Islam Bangsa Indonesia memberanikan dirinja menjatakan sikap dan pendirianja jang djelas tegas, kepada seluruh dunia: Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949. 4. Pada sa’at itu, maka automatis (dengan sendirinja) perdjuangan kemerdekaan Indonesia beralih arah, bentuk, sifat, tjorak dan tudjuannja, mendj’adilah perdjuangan Islam Indonesia. Keterangan dan penerangan lebih djauh, telah diuraikan dalam Ma’lumat, Manifest Politik dan lain2 siaran. Silahkan memeriksanja dengan teliti! 5. Agaknja ta’ perlu lagi di sini dinjatakan, bahwa : a. Republik Indonesia Serikat (RIS), sebelum berdaulat mempunjai deradjat jang bersamaan dengan “pendjadjahan muthlak” (absoluut oud-kolonialisme). b. RIS sesudah berdaulat, tidaklah akan mempunjai kekuasaan dan kemerdekaan jang penuh. Melainkan setinggi-tinggi deradjat jang boleh ditjapai, “dengan karena kurnia dan belas kasihan Radja Belanda djuga”, hanjalah sampai kepada tingkatan “setengah merdeka dan setengah djadjahan”, dalam arti kata politik, militer, ekonomi dan lain2 lapangan lagi. Nanti, tentulah akan didengungkan politik assosiasi (associatie-politik), politik kerdja sama, politik bantu-membantu …..antara si-kuat dan si-lemah, antara si-keras-kuasa dan si-hina-hamba, antara ibu-djadjahan dan anak-djadjahan! c. Sementara itu radja Belanda duduk di “kursi mas” jang kedua; duduk dengan megahnja bertachta di atas singgasana RIS, jang tidak akan berkuasa, lebih dari-pada ukuran suatu “negara hasil, radja Belanda maha-kuasa atas segala sesuatu, sekedar jang bertalian dengan RIS. Nistjajalah-semuanja itu akan dilakukan dengan taktik jang amat litjin dan tipu daja jang maha halus, sehingga mata pe-nonton jang belum berpengalaman dalam “main politik” sangat mudah sekali tertipu oleh ”tukang sulap” jang maha ulung. 6. Selaras dengan kedudukan RIS sebagai negara boneka maka negara2 bagian akan mempunjai harkat-deradjat tidak lebih tinggi daripada negara boneka itu. Bahkan mungkin sekali, lebih rendah. Oleh karenanja, di dalam lingkungan negara boneka RIS itu, maka suatunja harus disesuaikan dengan sifat, tjorak, bentuk dan dasar ke-djadjahanan, kolonial seperti: a. Ekonomi : ekonomi kolonial. b. Politik : politik kolonial. c. Tentara/ketentaraan : Tentara/Ketentaraan kolonial. Begitulah selanjutnja. 7. Lebih landjut harus pula diketahui, bahwa lahirnja RIS atau suatu organisasi jang serupa itu bukan sekali2 untuk kepentingan dan keperluan ra’jat Bangsa Indonesia, melainkan tjuma mengingati kepentingan dan keperluan Belanda dan Pemerintah Belanda semata-mata. Djadi,

bilamana sewaktu-waktu Radja Belanda boleh mentju-rahkan “kurnianja jang maha besar itu, hanjalah berdasarkan atas kepentingan dan keperluan Belanda belaka. Lebih dari itu, dan lain dari itu Insja Allah tidak !!! 8. Disa’at keruntuhan negara jang amat tragis itu, baiklah kiranja kaum Republik sedju-rus merenungkan sedjak dl. Bahasa Belanda jang menggambarkan kesulitan dan kesukaran negara Belanda, pada kala diidjak-indjak oleh kekuasaan asing (Spanjol), kalau2 –dengan tolong dan kurnia Ilahy– mendjadi sebab, sadar dan insjaf akan kewadjibannja, terhadap kepada tanahair, kepada bangsa dan kepada negaranja! De regering is redeloos …. Pemerintah telah hilang akal. Het volk is redeloos ……... Ra’jat mendjadi bingung. Het land is redeloos ….….. Negara ta’ tertolong lagi. Memang Bung Karno dan Bung Hatta, beda ukurannja dengan pendekar-pendekar kemerdekaan jang lainnja, seperti: Willem van Oranjo, Garibaldi, dan Sun Yat Sen, supaja lepas dari tali dan kungkungan pendjadjahan, sia-sialan belaka. Ra’jat ber-harap, lebih daripaada kekuatan dan ketjakapan pemimpin jang diikutinja! Ra’jat berdjuang mati matian dan berkurban habis-habisan…. Pemimpin, dengan lenggang lenggang kangkung, melakukan diplomasi dan … menjerah mentah2 kepada pendjahdjah! Ratap tangis ra’jat tidak berguna lagi! Sajang seribu sajang! 9. Negara sudah didjual! Kedaulatan telah musnah! Kemerdekaan djatuh ditangan musuh! Tinggal sekarang; perhitungan; djual beli, hutang piutang. Tetapi djangan salah sangka: bukan jang membeli jang membajar. Melainkan si-pendjual dan ra’jat Indonesia jang terdjual jang harus membajarnja!!! Begitulah beleid pemimpin2 negara boneka, dalam : "Mendjual Negara." Masih djuga kaum tengkulak itu berani memadjukan beraneka warna argumentasi, dengan tjara jang ta’ tahu malu terhadap kepada ra’jat dan bangsanja sendiri. Beberapa tjontoh “omong kosong” jang dihadapkan kepada ra’jat ramai, mitsalnja: a. Konferensi Medja Bundar dilangsungkan antara jang “berdaulat” dengan lantjar dan ladju. b. Perhatikanlah permusuhan, agar supaja konferensi berlangsung dengan lantjar dan ladju. c. Djagalah “persatuan” dan sokonglah pemimpin2mu, jang lagi konferensi itu. d. Dan seribu satu “omong kosong” lagi jang semuanja menjorong ra’jat Bangsa Indonesia kearah pendjadjahan modern, pendjadjahan asing, pendjadjahan imperialist-kapitalistBelanda. 10. Sekali lagi Alhamdu Lillah : a. Negara Islam Indonesia sudah berdiri; dan b. Ra’jat Indonesia, jang sudah berdjiwa merdeka melawan dan berdjuang terus. 11. Berhubung dengan apa jang kami tuliskan di atas dengan amat ringkas itu, maka dengan ini kami ingin menjatakan seruan dan harapan jang terachir kepada sekalian saudara2 kami, sebangsa dan setanah-air kalau masih ada djalan dan lapangan, untuk mentaubati dosanja, dan memulihkan mereka itu pada djalan jang benar, jang ‘adil, sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnatun Nabi Clm.: 1). Kepada kaum Republikeinen! Kini, walaupun telah amat sontak sekali, masih terbuka pintu taubat bagi saudara2 sekalian!

Perhatikanlah isi Manifest Politik, Bab II, angka 14 (1) dan (2)! 2). Kepada saudara2 jang duduk di KNIL (Koninkli Nederlands Indische Leger), di VB (Beiligheids Batallion), TNI (Tentara Nasional Indonesia), dan jang lain2 kesatuan tentara dan ketentaraan. a. Djika saudara2 masih bersemangat Ksatrija dan berdjiwa merdeka serta mempunjai hadjat untuk melepaskan diri dari kungkungan pendjadjahan : a). Lepaskan dam lemparkanlah tali-tali rantai pendjadjahan itu, baik jang melekat pada daging saudara itu sendiri, maupun jang diluarnja! b). Masukilah dengan tulus dan setia hati: Tentara Islam Indonesia. Itulah satu2nja djalan selamat bagi saudara2 sekalian. c). Bila tindakan dan perbuatan itu saudara lakukan, sesuai dengan seruan dan harapan kami, Insja Allah, kamipun berani bertanggung-djawab dan mendjamin akan keselamatan saudara2. Niatlah Taubat! d). Sebaliknja, djika sdr2 sekalian berbuat munafiq dan chianat, baik terhadap kepada negara maupun Agama (Allah) –tegasnja: Djika saudara tidak djuga mau menghiraukan seruan dan harapan kami jang terachir ini, bagi keselamatan dan kebaikan saudara2 sekalian, dengan niat li 'ilai Kalimatillah —, Insja Allah kamipun tidak akan segan2 lagi memperbuat tindakan apapun djuga, bagi melebur dosa2 saudara2 sekalian. b. Hendaklah saudara2 sekalian suka makan “pil-pahit” jang kami sadjikan itu. Insja Allah, Allah pulalah jang akan menjembuhkan kamu! 3). a. Termijn pertama –periksalah: Pendjelasan dan Tjatatan atas Ma’lumat Imam no. 7, angka 1 !– 1 Djanuari 1949, sudahlah lampau! b. Dengan ini kami ingin memberi kesempatan sekali lagi kepada saudara, untuk melakukan taubat. Hendaklah suka menggunakan kesempatan baik ini! c. Termijn jang penghabisan, jang terachir, berlaku sampai perma’luman berdirinja RIS. Dikala itu, segala djalan untuk kaum mudzab-dzab, kaum munafiqin, kaum sjak-wasangka, sudahlah tertutup sama sekali. Tiada lapangan ampunan dan taubat bagi mereka! Insja Allah. d. Kemudian, tersilah kepada saudara2 sekalian! 12. Inna fatahna laka fat-ham mubina … Insja Allah. Idza dja-a nash-ru-Llahi wal-fathu…. Bismillahi, tawakkalna ‘ala-Llah, lahaula wala quwwata illa billah. Bismillahi…. Allahu Akbar !!! Madinah Indonesia, 10 Oktober 1949 17 Dzul-hidjdjah 1368. PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA, Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO LAMPIRAN. 1. Ma’lumat Pemerintah No II/7 Tg. 10 Oktober 1949 Tjara Melakukan Taubat

I. Bagi ahli politik. A. Jang berkenaan dengan kekuasaan hanja akan diterima dan diselesaikan oleh Pemerintah Pusat Negara Islam Indonesia/ Komandomen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia. B. Jang tidak bertalian dengan “kekuasaan” boleh dilakukan dan diselesaikan oleh Komandemen Kabupaten ke atas. C. Hubungan boleh dengan perantaraan atau/ dan langsung kepada pihak jang bersangkutan, menurut lapang, kesempatan dan kemungkinan jang terbuka.II. Bagi ahli militer. A. Hubungan boleh dilakukan langsung/tidak langsung dengan Kmd. I, II dan III Komandemen Daerah (KD).B. Kmd. I. KD berhak menjelesaikan technik dalam sual ini.C. Segala sesuatu dilakukan, menurut ketertiban dan peraturan entara/ketentaraan. DAFTAR OESAHA HIDJRAH KALAM PENGANTAR DARI PENERBIT Alhamdoe lillah wasjoekroe lillah, maka dengan tolong dan koernia Ilahy dan berkat ichtijar bersama dari pada saudara-saudara kita, dapatlah kita menerbitkan soeatoe kitab ketjil yang bernama Daftar Oesaha Hidjrah P.S.I.I ini, karangan sdr. S. M. Kartosoewirjo, jang waktoe itoe mendjabat Vice-President Dewan Party S.I. Indonesia dan ketoea dari pada Komisi Daftar Oesaha Hidjrah P.S.I.I., dibangoenkan dan dibentoek pada M.T. ke 23 di Bandoeng, tahoen 1937. Moedah-moedahan dengan djalan tersiarnja kitab jang ketjil ini toemboehlah natidjah jang manfa’at dan maslahat bagi segenap Oemmat Islam Indonesia oemoem-nja, dan bagi kaoem Party Sjarikat Islam choesoesnja. Insja Allah. Begitoelah harapan dari pada: Penerbit: POESTAKA DAR-OEL-ISLAM Malangbong (SS W/L) Java Malangbong. Maart 1940 KATA PENDAHOELOEAN DARI PENGARANG Sjahdan, maka dalam pertengahan tahoen 1938 soedahlah dilangsoengkan di Soerabaja: Madjilis Tahkim Party Sjarikat Islam Indonesia ke-24. Salah satoe kepoe-toesannja jang penting, setelah diperbintjangkan masak-masak dan diroendingkan dengan matang-matang dengan berakibat beberapa peroebahan dalam redaksi (rangkaian kata-kata), ialah: .Daftar Oesaha Hijrah P.S.I.I. Bahagian Moeqaddimah

Kewadjiban jang seberat itoe moela-pertama diletakkan atas poendak kami pada waktoe Madjilis Tahkim Party di Bandoeng, th 1937, di mana diri kami diangkat mendjadi Ketoea dari pada Komisi Daftar Oesaha Hijdrah, oleh M T. tsb, djoega. Adapoen sebabnja, maka Daftar Oesaha Hijrah Bahagian Moeqaddimah ini diboeat sematjam ,,Stellingen” (pokok-pokok) ialah: oleh karena niat jang pertama M. T. Party ke-24 jang moelia itoe, terlebih doeloe akan dimasoekkan dalam Kongres Nummer” dari pada Soeara P.S.I.I”. Tapi hal ini—sajanglah tidak terdjadi! Selain dari pada jang tsb diatas, menoeroet kepoetoesan M.T. ke 24 di Soerabaja itoe djoega, akan diboeat soeatoe ,”TAFSIR”, jang akan memberi pendjelasan dan pentegasan lebih djaoeh dan lebih loeas atas segala sesoeatoe jang termaktoeb dalam, ,, Moeqaddimah” ini. Insja Allah, dalam sedikit waktoe lagi ”Tafsir” ini akan dapat diterbitkan. Dengan kesadaran dan keinsjafan jang sepenoeh-penoehnja, bahwa tiap-tiap manoesia terhinggapi oleh salah dan keliroe koerang dan tjela, maka kami mengharapkan kepada sekalian pembatja jang 'arif-boediman. Djika tampak ada kekeliroean atau kesalah-an di dalamnja, soedi kiranja dengan sigera “lillah” soeka menjampaikannja kepada Pengarang kitab ini, dengan menjampaikannja kepada Pengarang kitab ini, dengan kete-rangan dan penerangan jang tjoekoep, koeat dan sah. Sebaliknja, djika terdapat kebenaran dan kenjataan di dalamnja, hendaklah “Lillahi Ta’ala” poela soedi menjampaikan kepada handai-taulan, kawan dan djiran, agar soepaja lebih moedah dan lebih tjepat mendjalarnja Agama Allah dalam toeboeh Oemmat Islam Indonesia, adanja. Achiroel—kalam, harap dan doe’a dari pada Pengarang, moedah-moedahan tanda-bakti Pengarang kepada Azza wa Djalla” jang beroepa karangan kitab seketjil ini, dapatlah mendjadi bantoean tambahannja ‘Ilmoe rasih dan ‘amal salih jang sempoerna. Amien. Wassalam, S.M. Kartosoewirjo Malangbong, Maar 1940 BEBERAPA POKOK DAFTAR OESAHA HIDJRAH POKOK PERTAMA Pembagian Masjarakat Lebih doeloe kita haroes mengetahoei dan insaf, bahwa dalam pergaoelan hidoep bersama di Toempah Darah kita ini adalah Tiga matjam Masjarakat, jang beda hoekoem dan haloeannja, beda soesoenan dan atoerannja, beda sikap dan pendiriannja, hampir beda dalam segalagalanja, tetapi masih terjampoer satoe dengan jang lainnja, karena ketiga-tiganja itoe doedoek dalam satoe negeri bersama-sama, ialah Negeri Toempah Darah kita. 1. Masjarakat Hindia—Belanda. 2. Masjarakat Kebangsaan Indonesia; dan 3. Masjarakat Islam atau Dar-oel-Islam. Keterangan Adapoen jang diseboet ,,Masjarakat Hindia Belanda” ialah Masjarakat kedja-djahanan

(koloniale maatschappij), jang menoemboehkan adanja golongan pertoeanan (heerschende groep), golongan perhambaan (overheerschte groep) golongan jang memerintah dan golongan jang diperintah. Inilah Masjarakat jang terbesar sekali pengaroehnja, karena kekoeasaan dan kekoeatan jang ada pada dirinya. Ada hoekoem dan hakimnja, ada perintah dan pemerintahannja, ada tanda dan boektinja. Bagoes dan permai tampaknja Masjrakat Hindia Belanda itoe, tjemerlang dan ber-kilaukilauan disaksikan oleh mata-kepala tiap-tiap manoesia. Jang dinamakan “Masjarakat Indonesia” atau tegasnja. “Masjarakat Kebangsaan Indonesia”. Ialah: Masjarakat dari pada bangsa kita sendiri. Beloem mempoenjai hoekoem jang tentoe, beloem poela berpemerintahan, pendeknya miskin dalam segala-galanya. Dan jang dikatakan “Masjarakat Islam” atau “Dar-oel-Islam itoepoen tam-paknja tidak seberapa bedanja dengan Masjarakat Kebangsaan Indonesia. Ketiga tiga Masjarakat itoe, jang tiap-tiap hari dapat kita ketemoekan dalam tiap2 tempat di Negeri Toempah Darah kita, bedalah dasar dan haloeannja, beda poela maksoed dan toedjoennja. Kalau Masjarakat Hindia Belanda bermaksoed hendak mempertahankan, memper-tegoehkan dan menjentausakan kekoeasaan Belanda di Negeri Toempah Darah kita ini (ter bestendiging en handhaving van Nederlandsche Gezag in Indie), maka Masjarakat Kebangsaan Indonesia mengarahkan langkah dan sepak terdjangnja ke djoeroesan Indonesia Raja, agar soepaja dapat berbakti kepada Negeri Toempah Darahnja, berbakti kepada Iboe Indonesia. Sebaliknja dari pada itoe, maka kaoem Moeslimin jang hidoep dalam Masjarakat Islam (Daroel-Islam) tidaklah mereka ingin berbakti kepada Iboe-Indonesia atau kepa-da siapa poen djoega, melainkan mereka hanya ingin berbakti kepada Allah Jang Esa belaka. Maksoed toedjoeannja poen boekan Indonesia-Raja, melainkan Dar-oel-Islam jang sesempoerna-sempoernanja di mana tiap2 Moeslim dan Moeslimah dapat melakoe-kan hoekoem2 Agama Allah (Islam), dengan seloeas-loeasnja, baik jang berhoeboengan dengan sjahsijah maoepoen idjtima’ijah. POKOK KEDOEASebab-sebab Naik-toeroennja Deradjat Oemmat Sepandjang adjaran Agama Islam, maka naiknja deradjat seseorang Indonesia, baik dalam pandangan Allah maoepoen dalam pandangan manoesia, dan sesoeatoe Oemmat atau Bangsa, hanjalah disebabkan karena: “Soeka melakoekan hoekoem2 Islam menoeroet perintah Allah dan Soennatirasoel, dalam erti kata jang sesempoerna-sempoernanja”. Sebaliknja dari pada itoe, maka toeroennja harkat deradjat manoesia atau bangsa, dalam pandangan Allah dan pandangan manoesia, tjoema lantaran: Membelakangkan dan membohongkan Agama Allah, yang ditoeroenkan kepada Nabi-Nja Penoetoep, Moehammad Clm.”Keterangan Kalau kita soeka menjelidiki Riwajat Rosoeloellah (oetoesan2 Allah) dan tarich Anbija (Nabi2) Allah, teroetama sekali perdjalanan djoendjoengan kita Nabi Moehammad Clm., maka njatalah soedah, bahwa tiadalah sesoeatoe bangsa atau Oemmat jang tinggi dan moelia harkat deradjatnja, melainkan karena soeka mendjalankan Agama Allah, dengan toetoenan RasoelNja.— Boekan hanja moelia menoeroet oekoeran manoesia (‘indan-nas) sadja, melainkan djoega

moelia dalam pandangan Allah (‘indallah). Djadi, moelianja ialah: moelia dlohir dan moelia bathin, moelia djasmany dan roehany, moelia doenia dan acherat, moelia bagi tiap2 manoesia dan bagi segenap perikatan Oemmat dan Bangsa. Sebaliknja dari pada itoe, djika orang tidak beriman (koefoer) kepada Allah, dan tidak itba’ (inkar) kepada perintah Nabi-Nja, nistjajalah akan djatoeh dalam lembah kesengsaraan dan keroesakan, doenia dan achiratnja. Adapoen Iman dan Koefoer serta Islam itoe pada asasnja terbagi atas tiga bagian: Iman : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Koefoer : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Islam : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Begitoelah seteroesnja. Oleh sebab itoe, djika kita menghendaki kemoeliaan dan ketinggian harkat deradjat kita, baik sebagai manoesia maoepoen sebagai Oemmat, hendaklah kita soeka soenggoeh-soenggoeh mendjalankan perintah2 Allah, dengan sesempoerna sempoernanja dan Soennatirrosoel dalam segala hal ichwalnya, dengan tidak tawaran atau segan karena apapoen djoega. POKOK KETIGA Dasar dan Toedjoean Agama Adapoen dasar Agama (ad-dien) ialah: kepertjajaan atas Iman kepada Allah, jang achirnja meroepakan soeatoe Tauhid jang koeat dan tegoeh, serta sentausa. Dengan kepertjajaan yang seroepa itoe, toemboehlah kejakinan, bahwa semoea apa poen, jang hidoep atau jang mati, jang ada atau tiada, jang toemboeh atau binasa, dalam bagian ‘alam Moemkin, semoeanja itoe terdjadi atau tidak terdjadi dari karena kehendak dan kekoeasaan Allah semata-mata, (min-Allah). Sedang toedjoeannja Agama Islam ialah: hendak berbakti kepada Allah Jang Maha Esa. Tiada lain dari pada itoe.Keterangan Djika nanti orang ketemoekan sesoeatoe “agama”, jang dipertoendjoekkan bagi keperloean “doenia” keperloean harta dan pangkat, keperloean segala sesoeatoe jang keloear dari pada bakti kepada Jang Maha Esa biar berangkat dengan Al-Qoer'an dan Hadist sekalipoen boekanlah ia agama. Sebab Agama itoe soetjilah dari pada tiap2 hawa nafsoe manoesia, lepas dari pada kehendak ghodzob dan sjahwat manoesia.POKOK KEEMPATSebab2 Hoekoem Islam tidak Berdjalan dengan Sempoernanja Adapoen sebab-sebabnja, maka hoekoem Islam tidak berjalan dengan sempoerna-nja, alias tinggal hoeroef dan angka, tinggal kertas dan tinta, karena manoesia koerang sempoerna dalam memfahamkan Agama Islam, teroetama sekali memfahamkan Kalamoellah, jang termaktoeb dalam Al-Qoer'an-oel-Karim. Padahal Al-Qoer'an itoe mendjadi pedoman kita dalam melakoekan atau meninggalkan sesoeatoe ‘amal oesaha. Sjahdan, maka tjara memfaham Al-Qoer'an, jang boleh mendjadi sebab toem-boehnja kejakinan jang sempoerna, dan Iman jang tegoeh serta ‘amal salih jang njata, ialah: 1. Tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet soesoenan biasa, sebagaimana jang ditoe-roenkan oleh Allah kepada Nabi-Nja dihimpoenkan dan pada zamannja Chalifah Aboe Bakar, chalifah ‘Oemar dan chalifah Oetsman.

Soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe memoedahkan orang memberi dan mendapatkan peladjaran dalam Islam (Islam onderwijs), jang seloeas loeasnja. Gampang dihafadl, sehingga soekarlah akan hilang dari pada peringatan orang. Maka tjara memfaham Al-Qoer'an dengan soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe, bolehlah kita namakan: “Faham Loeghawy dari pada Al-Qoer'an.” 2. Tjara memfaham Al-Qoer -an menoeroet soesoenan, jang dihimpoenkan oleh chali-fah Ali bin Abi Thalib, menoeroet waktoe dan keadaan ditoeroenkannja ajat ajat itoe, tegasnja menoeroet “asbab-oen-noezoel” (sebab2 toeroennja ajat2 Al-Qoer'an). Maka soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe lebih oetama dipergoenakan oentoek pendidikan ‘amal (praktische opvoeding). Sebab dengan pengetahoean dan pengertian akan sebab-sebab toeroennja ajat-ajat Al-Qoer -an pada zaman dan menoeroet keadaannja, maka lebih moedahlah bagi tiap-tiap Moeslim dan Moeslimah oentoek menoeroetkan djedjak-langkah Rasoeloellah Clm., dari seta-pak ke setapak, mengingat dan menoeroet, waktoe dan tempat, jang didoedoeki oleh si ‘amil itoe. Karena sifat dan soesoenan serta rangkaiannja, bolehlah tjara memfaham Al Qoer'an jang seroepa itoe dinamakan: “Faham Madjazy dari pada Al-Qoer'an”. Maka jang diseboetkan “Faham Lafdli dari pada Al-Qoer'an” jalan faham Loegha-wy dan faham Madjazy dari pada Al-Qoer'an, kedoea doeanja. 3. Tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet faham Rasoeloellah Clm, pada zamannja. Tjara memfaham jang ketiga ini, soenggoehpoen pada hakikatnja sama dengan tjara jang pertama dan tjara jang kedoea, tetapi adalah lebih mendalam. Kita katakan sama, oleh karena Al-Qoer'an jang difaham itoe ialah Al-Qoer'an itoe-itoe djoega. Tegasnja: ialah Al-Qoer'an, jang ditoeroenkan dengan Wahjoe Illahy kepada Rasoeloellah Clm., tetapi tidak dihimpoenkan oleh seseorang sahabat, atau ditoeliskan oleh siapa poen djoega. Andai kata Rasoeloellah Clm., ditakdirkan Allah pandai membatja dan menoelis, poen hakikatnja Wahjoe (het Wezen van de Openbaring) jang seroepa itoe tidak dapat dibatja atau ditoeliskan, sebab memang boekan bangsa sesoeatoe jang dapat ditoelis atau didlohirkan oleh pantja-indrinja jang mana poen djoega. Melainkan wahjoe Illahy jang ditoeroenkan oleh Allah kepada Rasoeloellah sebagai Hidajat itoe mendjadilah: Kenjataan Roeh Pemboeka Hati dan Pensoetjikan Rasa. Mengingati tjara memfaham Al-Qoer'an jang ketiga ini, jika Al-Qoer'an itoe (haki-katnja Wahjoe = substantieve Openbaring) boleh kita tamsilkan sebagai soetoe “kitab” atau “boekoe”, dengan hoeroef dan angka, dengan kertas dan tinta, maka jang mendjadi toelisannja ialah Kalamoellah, jang mendjadi tintanja ialah Wahjoe Ilahy, dan jang mendjadi kitabnja ialah ‘Ilmoe Allah. Mengingat sifat dan woejoed dari pada wahjoe Illahy itoe, maka tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet faham Rasoeloellah Clm., pada zamannja itoe, boleh dinamakan: Tjara memfaham Haqiqy dari pada Al-Qoer'an. Ialah tjara-tjara sebaliknya dari pada, “tjara memfaham Lafdli” (atau, tjara memfaham Loeghawy dan tjara memfaham Madjazy). Lebih landjoet bolehlah diterangkan di sini, bahwa Al-Qoer'an di dalam ma’na Haqiqatoel Wahjoe itoe bolehlah dianggap sebagai atsar dari pada Kalamoellah jang Qadim. Djadi, teranglah soedah, bahwa jang beda itoe hanjalah di dalam tjara memfaham-nja, sedang

isi, maksoed dan toedjoean jang difahamnja itoe, sama dan tidak berbeda sedikit poen djoega. Sebab Kalamoellah tetap satoe, demikian poela Al-Qoer'an. Tidak lebih dan tidak koerang. Keterangan Dengan seboetan tiga matjam tjara memfaham Al-Qoer'an itoe, seperti jang kita toeliskan diatas, boekanlah sekali-kali maksoed kita oentoek mengatakan, bahwa Al-Qoer'an itoe ada 3 roepa atau 3 matjam, melainkan: Al-Qoer'an hanjalah satoe, tidak lebih dan tidak koerang. Tidak poela maksoed kita oentoek mengoerangkan atau melebihkan harga, tjara memfaham jang satoe dengan jang lainnja, atau harga jang difahamnja, karena ketiga tiganja memfaham dan jang difahamnja itoe, ada hakikatnja hanja satoe. Oleh sebab jang sedemikian itoe, maka ketiga-tiga jang difahamnja itoe (Al-Qoer'an) nistja-jalah sama dalam maksoed, isi dan toedjoeannja. Djadi dengan menoendjoekkan akan tiga tjara memfaham Al-Qoer'an tsb, maka maksoed kita hanjalah oentoek: a. Memoedahkan mempeladjari, memfaham, mengertikan dan mengetahoei dengan soenggoehsoenggoeh akan maksoed Al-Qoer'an dan Agama Allah jang sesoeng-goehnja, sehingga achirnja dapat melakoekan ‘amal sahih jang sebanjak-banjaknja dan sesempoerna-sempoernanja; dan b. Mentjegah, djangan sampai Al-Qoer'an hanjalah tinggal di bibir belaka, ataupoen hanja di amalkan sekehendak manoesia, melainkan hendaknja meroepakan soea-toe ‘amal salih, sebanjak toentoenan Allah dan adjaran dari dan dalam Kitaboellah serta Soennatirrasoel. Djadi, kalau kita hendak mentjari dan mendapat faham, pengetahoean dan penger-tian, serta kejakinan dan kepertjajaan, jang penoeh-penoeh dalam hal Islam dan ke-Islaman, maka seharoesnjalah kita beladjar memfaham Al-Qoer'an dari ketiga djoe-roesan itoe. Tertinggal dalam salah satoe djoeroesan, tertinggal poela ‘amal ‘ibadah kita. Djadi: sepatoetnja ketiga tiga djalan dan djoeroesan faham itoe haroes ada pada kita bersama-sama. Tjara memfaham Loeghawy dari pada Al-Qoer'an moedah djalannja. Karena jang hendak difahamnja, ja’ni Al-Qoer'an boleh didapat pada tiap2 toko kitab. Adapoen tjara memfaham Madjazy dari pada Al-Qoer'an agak soekar. Karena jang hendak difahamnja, ja’ni Al-Qoer'an, menoeroet soesoenan dan rangkaian sebagaimana jang dihimpoenkan oleh chalifah ‘Ali bin Abi Thalib tegasnja: sepandjang ‘ilmoe asbab-oen-noezoel soenggoehpoen boekan barang ghaib, tapi soesah didapatkannja. Sepandjang berita riwajat, maka Al-Qoer'an jang dikoempoelkan oleh chalifah ‘Ali bin Abi Thalib tsb. Konon chabarnja masih tersimpan di dalam salah satoe Museum (tempat barang2 koeno), entah di negeri2 Timoer (Mesir, Toerki. Dll nja), entah di negeri2 Barat ( London, Paris dll nja). Boleh djadi pada waktoe kaoem Moeslimin moelai tertidoer dengan njenjaknja, dan bangsa Barat moelai bangoen dan berbangkit karena orang tahoe dan jakin, akan toemboehnja kekoeatan jang maha hebatnja dalam kalangan kaoem Moeslimin dari pada sesoeatoe tjara peladjaran dan pendidikan (onderwijs en opvoe-dingsijsteem) sematjam toentoenan chalifah ’Ali bin Abi Thalib, maka kaoem pembentji dan pemoesoeh Islam laloe mengambilnja, dan kemoedian membakar dan membinasakannja, atau menjimpan di sesoeatoe tempat, jang kaoem Moeslimin ta’ tahoe lagi letaknja.

Dengan tiadanja Al-Qoer'an dalam erti kata Penoentoen ‘Amal, maka kaoem Moes-limin kehilangan Imamnja. Imam dlohir dan Imam bathin, Imam djasmany dan Imam Roehany (dalam kejakinan dan kepertjajaan), sehingga lambat laoen dan dengan perla-han-lahan kaoem Moeslimin ta’ sadar lagi akan hidoepnja. Lebih soekar lagi, kalau kita hendak mentjari dan memperoleh tjara memfaham Ma’any dari pada Al-Qoer'an, karena Al-Qoer'an dalam ma’na atsar dari pada Kalamoellah jang Qadim itoe tjoema njata bagi orang-orang jang mendapat Hidajat dan Foetoeh dari pada ‘Azza wa Djalla. Djadi, bagi orang jang boeta-mata-roehnja dan tertoetoep mata-hatinja tiadalah djalan bagi dia, oentoek mengetahoei dan menjatakannja. Karena Rasoeloellah Clm, seorang Nabi-Allah jang oemmy (tidak pandai membatja dan menoelis), bolehlah kita mengira-ngira, bahwa faham Rasoeloellah Clm. Tentang Al-Qoer'an tidak-boleh-djadilah kepada sesoeatoe barang jang beroepa “kitab” atau “boekoe” jang tampak hoeroef dan angkanja, kertas dan tintanja itoe. Lebih-lebih lagi, karena pada zaman Rasoeloellah Clm. Beloemlah dihimpoenkan Al-Qoer'an jang meroepakan soeatoe “boekoe” ataoe “kitab” itoe, Melainkan kenjataan Roehany jang dianoegerahkan oleh Allah pada NabiNja Penoetoep itoe. Soenggoehpoen setelah zaman Nabi hingga achiroez-zaman -djadi djoega pada zaman kita sekarang ini- tertoetoep djalan toeroennja Wahjoe Ilahy, karena tiada Nabi lagi, kemoedian dari pada Rasoeloellah Clm. Maka tidaklah bagi Allah koerang djalan oentoek memberi Hidajat (Petoendjoek, Kenjataan) jang seroepa itoe (kenjataan roehany) mitsalnja: dengan djalan memberi “ilham” kepada tiap2 Oemmat dan Hamba-Nja, jang soenggoeh-soenggoeh hendak mendjalankan perintah2 Allah, pada djalan-Nja dan karena-Nja semata-mata, dengan tjontoh dan tauladan dari pada Nabi Moehammad Clm. Insja Allah. Inilah sebab-sebabnja jang teristimewa, maka hoekoem2 Agama Islam tidak dapat berdjalan dengan sempoernanja. Malahan hampir2 boleh dikatakan “mati”. Boekan “mati” jang sesoenggoehnja, boekan “mati karena tidak hidoep”, tetapi mati dalam erti istilah (figuurlijk). Tegasnja “mati” karena hoekoem Islam (hoekoem Allah) tidak berlakoe, tidak berdjalan dengan sempoernanja, sebagaimana haroes dan mestinja. Padahal biar poen apa dan betapa poela Al-Qoer'an itoe dinamakan dan diseboet-seboet, mitsalnja: Asj-Sjifa, Al-Bajan, Al-Foerqan, An-Ni’mat, Al-Hoeda, Ar-Rahmat dlls., jang mendjadi Penoendjoek Djalan bagi kita dalam tiap-tiap waktoe dan di mana- mana tempat, menoeroet djalan dan lakoe, jang diridloi oleh Jang Maha Esa, sedjak moelai dilahirkan di atas doenia ini hingga pindah ke ‘alam Achirat. Djadi, kalau dia soenggoeh2 mendjadi Imam kita dan kita mendjadi ma’moemnja, maka segala lakoe dan ‘amal-perboeatan kita seharoesnja dan sewadjibnjalah tjotjok dan sesoeai dengan Imam kita (Al-Qoer'an) itoe. Oleh sebab itoe, djanganlah hendak-nja kita tidak mensesoeaikan faham dan ‘amal perboeatan kita dengan Imam kita itoe! Adapoen tentang Asbab-oen-noezoel, sepandjang adjaran dan keterangan dari pada berbagaibagai Moefassirin, dan sebagian dari pada mereka itoe berpendapat, sebagai jang berikoet: Moechtasar Asbab-oen-noezoelDemikianlah gambaran pada garis besarnja soesoenan soerat2 dari pada Al-Qoer'an-Karim, boekan dan beloem ajat-ajatnja, sepandjang peladjaran dari pada

‘Ilmoe Asbaboen-noezoel.POKOK KELIMA Tjara dan lakoe ber’amal Adapoen djalan jang sesempoerna-sempoernanja dalam melakoekan ‘amal setjara Islam, adalah 2 bagai: 1. ‘Amal Al-Hadits ‘alal-Hadits, ja’ni ‘amal manoesia dalam badan djasmanynja ke-pada ‘alam atau keadaan jang dihadapinja. 2. ‘Amal Al-Hadits ‘alal-Qadim, jaitoe ‘amal manoesia dalam badan roehanynja ter-hadap kepada Allah S. W. T. Kedoea djalan 'amal itoe berbeda, tapi tidak terpisah. Satoe sama lain boetoeh-memboetoehi, sehingga tidak dapat didjalankan satoe persatoe, djika kita menghendaki akan ‘amal jang sempoerna, melainkan sewadjibnjalah kedoea-doea itoe berlakoe ber-sama-sama. Keterangan Oentoek mengetahoei ‘amal Al-Hadits ‘alal-Hadits haroeslah kita mengetahoei 3 perkara: a. Orang jang mendjalankan (manoesia), istimewa dalam bagian djasmany, atau “Fail” atau “Subject.” b. Barang sesoeatoe jang didjalankan, jang dilihat, dimakan, diminoem, dikerdja-kan dan lain2 sbg.nja dinamakan “Maf’oel” atau “Object.” c. Perboeatan jang dilakoekan, jaitoe “Fi’il “ atau “Predicaat." Ketiga-tiga perkara itoe haroeslah berdiri atas hoekoem sjara jang njata (Wadjib, Soennat, Moebah, Makroeh, dan Haram). Sehingga sesoeatoe perboeatan mendjadi amal salih jang sempoerna, djika ketiga-tiga perkara itoe soedah tjoekoep koeat dan sah didjalankannja, sepandjang hoekoem-hoekoem sjara Agama Islam. Hoekoem Wadjib atas Fa’il dan Halal atas Maf’oel, mendjadi sebab akan wadjib mendjalankannja, Wadjib dan Fi’il. Kalaoe kita soedah mengetahoei djalan ber’amal Al-Qoer'an ‘alal-Hadits, perloelah kita mengetahoei dan mengerti akan djalan ber’amal, setjara Al-Hadits ‘alal-Qadim, jang djoega terbagi atas 3 bagian: 1. Manoesia jang mendjalankan atau jang memperboeat sesoeatoe, tegasnja: “Fa-’il” atau “Subject”. Tapi di sini boekanlah dalam bagian badan djasmany, melainkan badan roehanynja, badan jang bertanggoeng djawab atas tiap-tiap amal jang dilakoekan, atau jang ditinggalkan. Manoesia bagian roehany, jang berbakti kepada Allah itoe, dinamakan: 'Abid. 2. Dzat jang mendjadi maksoed dan toedjeoan ‘Abid itoe berbakti. Maka Dzat jang wadjib dibakti itoe dinamakan Ma’boed, jang disini maksoednja ialah: Allah S.W.T. 3. Karena perbaktian itoe dilakoekan oleh 'Abid kepada Ma’boednja, maka “Fi’il” atau “Predicaat” itoe di sini dinamakan: 'Ibadah atau Perbaktian. Di sini perloelah kita terangkan, bahwa soenggoehpoen pada dlohirnja jang tampak hanja Fail bagian djasmany, tetapi pada hakikatnja badan (djasad) manoesia itoe hanjalah satoe perkakas atau alat belaka. Sebab, diam atau geraknya Fail bagian djasmany itoe semata-mata tergantoeng kepada ‘Abid bagian roehany. Mitsalnja: “Seorang membatja Al-Qoer'an.” Tanja: “Siapa Fa’ilnja?” Djawabnja: “Fa’ilnja ialah moeloet.” Tanja: “Siapa atau apakah Maf’ulnja?” Djawabnja: “Maf’ulnja ialah Al-Qoer'an’. Tanja: “Apakakah Fi’ilnja, atau manakah

perboeatan ‘oeboedijahnja?” Djawabnja: “Batjaan jang keloear dari moeloet itoe.” Tanja: “Siapakah ‘Abidnja?” Djawab: “Roeh manoesia.” Tanja: “Siapakah Ma’boednja?” Djawab: “Allah S.W.T.” Tanja: “Manakah ‘Ibadahnja?” Djawab: “Membatja Al-Qoer'an dengan lillahi Ta’ala.” Djadi, njatalah di sini, bahwa sesoeatoe perboeatan dapat dianggap ‘amal salih atau ‘amal bakti kepada Jang Maha Esa, djika tjoekoep sjarat dan roekoennja, seperti jang tsb, di atas. ‘Amal jang demikian itoelah, jang pada hoekoemnja wadjib dila-koekan. Sekarang kita ambil satoe mitsal, yang lainnja: Soeatoe ‘amal baik (Fi’il), jang diperboeatnja baik djoega (Maf’oel) dan alat memperboeatnja poen baik djoega (Fa’il), seperti batjaan AlQoer'an jang tsb, di atas. Boekan hanja baik sadja, melainkan perboe-atan jang seroepa itoe adalah soeatoe perboeatan jang terpoedji dan amat dioetamakan. Tapi…….Karena 'Abid tidak tahoe akan Ma’boed jang sebenarnja, maka ‘amal jang dikirakan baik dan benar menoeroet hoekoem sjara’ itoe, bisa sesat dan keliroe atau salah. Hoekoemnja poen tidak lagi wadjib atau soennat, malahan kadang-kadang men-djadi Moebah, Makroeh dan Haram! Kalau kita membatja Al-Qoer'an oentoek menjembah Iblis, tentoelah tidak lagi wadjib hoekoemnja, walaupoen jang dibatjanja (Maf’oel) Al-Qoer'an jang soetji, dan batjaannja (Fi’il) mahir dan menoeroet aqidah jang bagoes, serta jang membatjanja (Fa’il) poen lebih doeloe mensoetjikan diri. Sebaliknja dari pada itoe, sesoeatoe ‘amal bagian ‘ibadah (Al-Hadits ‘alal-Qadim) tidak boleh melalaikan dengan meninggalkan ‘amal bagian ‘oeboedijah (Al-Hadits ‘alal-Hadits). Sebab, sesoeatoe amal ibadah tidak boleh dianggap sah djika tidak ada persaksiannja (Fa’il, Fi’il dan Maf’oel). Dengan djalan demikian, maka njatalah soedah, bahwa di dalam melakoekan sesoeatoe amal ibadah, kita tidak boleh meninggalkan salah satoenja, baik bagian djasmanyah maoepoen bagian roehanyahnja, dlohir maoepoen bathinnja, Begitoelah adjaran Islam, djika kita ingin memperboeat sesoeatoe amal perboeatan, jang sesoeai dengan perintah Allah dan Soennah Rasoeloellah Clm. Dengan pengetahoean akan tjara dan lakoe ber’amal jang seroepa itoe, maka sete-ngah ‘Oelama membagi manoesia mendjadi tiga golongan: 1. Golongan Moeta-awilah, jaitoe golongan orang jang tjakap dan tjoekoep oentoek mendjalankan amal 'oeboedijah antara Hadits dan Hadits (Fail, Fiil dan Mafoelnja), tetapi boetalah ia dalam bagian ibadah Hadits’alal-Qadim ('Abid, 'Ibadah dan Ma’boednja). Djadi dengan singkat: jang dikatakan “Golongan Moeta-awilah” ialah orang2 orang jang mendjalankan perintah2 Islam. Tetapi tidak mempoenjai Iman jang penoeh2 terhadap kepada Allah S.W.T. 2. Golongan Moeta-achirah, (kebalikan dari Moeta-awilah), ja’ni: orang-orang jang penoeh kepertjajaannya kepada Allah S.W.T. (‘Abid, ‘Ibadah dan Ma’boednja), tetapi tidak soeka atau segan mendjalankan sjari’at Nabi. Djadi ringkasnja ialah: orang2 jang iman penoeh2 kepada Allah, tetapi tidak mendjalankan sjari’at Nabi Moehammad Clm. (hoekoem2 Islam) dengan sempoernanja. 3. Golongan Moetawasithah, ja’ni: golongan orang2 jang iman dengan penoeh2 kepada Allah

S.W.T. dengan tegoeh dan koeatnja, serta menoeroeti djedjak Rasoel-oellah Clm. Jang sesemperna-sempoernanja. Imannja kepada Allah S.W.T. meresap dan masoek melipoeti roeh, hati (qalboe) dan rasanja, sedang Islamnja mendjalar dalam seloeroeh badan dan djasmanynja, baik jang beroepa pantjaindrinja maoepoen jang lainnja. Sehingga kepertjajaan (Iman) jang tegoeh, koeat dan sentausa itoe mendjadi pendorong dan pengemoedi amal salih jang sebanjak-banjaknja. Golongan ketiga inilah, jang senantiasa mendjadi tjita-tjita kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, ialah: Djalan Hadits ‘alal-Hadits, bersama-sama dengan djalan Hadits ‘alal-Qadim. Atau Persatoen antara Iman dan Islam. Dalam badan roehany dan badan djasmanynja, jang kedoa badan ini poen tidak dapat dipisahkan antar satoe dengan jang lainnja, semasa kita masih dihidoepkan Allah di alam doenia ini; atau lebih tegas lagi: Djalan Moetawasithah. Periksalah ringkas Gambar Amal di bawah ini Allah=Ma'boed=Object Ibadah=Predikat Roeh='Abid=Subject Djasad=Fa'il=Subject Fi'il=Predicaat Maf'oel=Object= Sekalian 'Alam Moemkin POKOK KE ENAM Persatoean Manoesia dan ke-satoe-an Allah (Al-Ittihad-oel-Islam dan Wahdanijat Allah) Mengingat Pokok kelima jang tsb, diatas, maka Persatoean Doenia Islam (Daroel-Islam), jang diharap-harapkan dan ditjita-tjitakan terdjadinja oleh Party S.I. Indonesia itoe, baik di Indonesia maoepoen di seloeroeh Doenia, Insja Allah, akan dapat berlakoe djika manoesia dan Masjarakat kita soedah sampai kepada tingkat “Hendak berbakti kepada Jang Maha Esa, Satoe2nya Zat Wadjib-oel-Woedjoed. Jang Pandai Menje-lamatkan kita dan Masjarakat kita, doenia dan achiratnya.” Dengan asas Bakti kepada Allah, dengan beralaskan dan bersandarkan kepada Iman jang tegoeh dan Tauhid jang sentausa, maka moedahlah akan toemboeh: a. Persatoean Doenia Islam dengan sempoernanja, baik dlohir maoepoen ba-thinnja. b. Persatoean antara Moeslim dengan Moeslim, dengan koeat dan tegoeh. c. Persamaan dalam harkat-deradjat manoesia dan kedoedoekannja dalam Masjarakat, di dalam maoepoen di loear hoekoem, dan perikatan antara bangsa dengan bangsa, antara Oemmat dengan Oemmat jang lainnja. d. Dan lain-lain sbg-nja, menoeroet perintah Allah dan Soennah Rasoel, dan de-ngan djalan jang sedemikian itoe, Insja Allah kita mendapat Doenia Baroe, Doenia Islam, Dar-oelIslam,Dar-oel-Falah, atau Dar-oel-Fatah. Dan djika kita telah sampai kepada tingkat jang sedemikian itoe, maka tiap-tiap manoesia jang

ber-Toehankan kepada Allah S.W.T. dan ber-Nabikan kepada Rasoeloellah Clm., nistjajalah dengan izin Allah akan dapat mendjalankan segenap hoekoem-hoekoem Allah, dengan sesempoerna-sempoernanja, menoeroet tjontoh dan tauladan dari Rasoeloellah Clm., satoesatoenja tjontoh jang dapat membawa kita membawa ke arah Falah dan Fatah itoe. Keterangan Roepanja dalam bagian ini tidak perloe kita perpandjangkan keterangannja. Hanjalah rasanja ada goenanja, djika kita koetipkan beberapa kalimat, jang termaktoeb dalam Tafsir Asas PSII: .Bagi kita, kaoem PSII, jang… telah melakoekan Bai’at kita, poen kita ta’ oesah was-was di dalam hati kita akan tertjapainja maksoed kita, kalau kita soenggoeh-soenggoeh melakoekan perintah-perintah Allah dan mendjaoehi larangannja. (Tafsir asas P.S.I.I. Katja 20) ..hendak mendjalankan Islam dengan seloeas-loeasnja dan sepenoeh-penoehnja.… (Tafsir asas P.S.I.I., Katja 5) ..tjoekoeplah… Al-Qoer'an dan hadits akan dipergoenakan oentoek dasar atau pedoman segala wet jang perloe kita bikin, sehingga keradjaan (staat) itoe boleh kita pimpin menoedjoe maksoed. Sebahagia-bahagianja tiap-tiap manoesia oentoek dirinja sendiri, dan membikin manoesia dengan sebisa-bisanja masing-masing mendjadi goena oentoek pergaoelan hidoep bersama dan oentoek peri kemanoesiaan seloeroehnja, dengan lantaran mentjerdaskan kepandaian djasmaniyah dan keba-djikan roehaniyah. (Tafsir Asas P.S.I.I., katja 36 dan 37) Dengan koetipan-koetipan itoe, teranglah soedah bahwa jang kita maksoedkan dengan peroebahan Masjarakat, hingga sampai kepada ‘Alam doenia Baroe itoe berlakoe dalam tiaptiap lapisan dan golongan serta tingkatannja, baik jang mengenai keperloean diri maoepoen jang mengenai keperloean ‘oemoem, kepentingan pendoedoek (burger), hingga keperloean keradjaan (staat), keperloean jang seketjil-ketjilnja hingga jang sebesar-besarnja. Periksalah ma’na dan maksoed ‘Ibadah, dalam Brosoer Hidjrah bagian pertama! POKOK KETOEDJOEH Pembagian daftar oesaha Hijrah Oleh sebab itoe, maka pertama-tama sekali perloelah ada soeatoe Pendahoeloean Kata, jang bersifat Penoendjoek Djalan ataoe Koentji dalam memasoeki “Dar-oes-Salam” atau “Dar-oelIslam”. Djika orang telah mengerti dan mengetahoei koentji itoe, dan pandai mempergoenakannja, Insja Allah ia akan dapat masoek dalam “Dar-oel-Islam” atau “Dar-oel-Islam” itoe. Dan, jika orang ta’ tahoe dan ta’ mengerti tjara memboekakan pintoe jang menoedjoe ke “Daroes-Salam” atau “Dar-oel-Islam” itoe, nistjajalah Doenia Baroe itoe selaloe akan tertoetoep Bagi dia. Maka penerbit dan toentoenan jang seroepa itoe haroeslah poela bertaoeroet-toeroet dan berangsoer-angsoer, menoeroet bagian dan fasalnja masing2, mitsalnja: Serie A Bagian Politik. 1. Politik Islam Nasional;

2. Politik Islam Internasional; 3. Politik Islam terhadap Doenia Loear; 4. Dan lain-lain sebagainja. Serie B Bagian Sosial. 1. Perhoeboengan antara diri manoesia, dengan manoesia jang lainnja; 2. Perhoeboengan antara manoesia dengan kampoengnja; 3. Perhoeboengan antara kampoeng dengan kampoeng; 4. Perhoeboengan antara negeri dengan negeri; 5. Dan lain-lain oesaha, jang semoeanja itoe berkenaan dengan kemaslahatan oemoem. Serie C Bagian Ekonomi. 1. Ekonomi, jang berkenaan dengan keperloean : a. Diri sendiri; b. Roemah-tangga; c. Kampoeng; d. Negeri; e. Dan lain2 jang bersangkoetan dengan ekonomi, tjara2 mengatoer dan membagi rizki. 2. Ekonomi dari golongan Islam terhadap kepada jang di loearnja. Serie D Bagian ‘Ibadah. 1. Tauhid; 2. Shalat; 3. Dlls, Serie E Bagian Tasawoef dan Filsafatoel—Adabijah. 1. Bagian Oemoem; 2. Bagian choesoes; 3. Dan lain2 sbg.—nja. Serie F Bagian adjaran Islam jang lainnja. 1. Riwajat Rasoeloellah Clm; 2. Riwajat Anbija—Allah; 3. Dan lain2 sebagainja. Keterangan Dengan rawaian di atas, perloelah ditjari dan didapatkan experten, ertinja: orang-orang jang ahli dalam sesoeatoe perkara, atau jang dianggap ahli dalam hal itoe, oentoek mengerdjakan satoe-satoenja bagian dari pada Daftar Oesaha Hidjar itoe. Maka dengan djalan ini, moedahlah diperdapat toentoenan jang lengkap dan sempoerna, dalam waktoe jang sesigera-sigeranja. Poen tentang tjara-tjaranja memberi-kan toentoenan itoe haroes poela mendjadi perbintjangan dan kepoetoesan kita bersama. Sebab, pekerdjaan jang besar dan loeas, seperti jang kita seboetkan di atas, beloem poela dalam bagian jang berkenaan dengan Tafsir Al-Qoer'an. Terdjamah Hadits dlls, boekanlah soeatu kewadjiban, jang boleh ditanggoeng, oleh seorang atau doea orang manoesia sadja, melainkan haroes mendjadi tanggoengan tiap2 ahli dalam Agama Islam, baik dalam bagian mana poen djoega. Insja Allah, dengan djalan ini Party kita akan madjoe selangkah, menoedjoe ke “Dar-oes-

Salam”, atau “Dar-oes-Islam”, tempat manoesia mendapat Rahmat dan Ridlo dari pada Allah jang sempoerna. POKOK KEDELAPAN Tjara dan lakoe Hidjrah Oleh sebab itoe, maka tjara dan lakoe kita berhidjrah, mendjalankan amal-perboeatan Hidjrah, tegasnja: menoentoet berlakoenja sjari’at Agama Islam dengan berangsoer-angsoer dan bertoeroet-toeroet boekanlah “Hidjrah ril-makan”. Jang bererti “pindah dari satoe tempat ke tempat jang lainnja, atau beralih dari satoe negeri ke negeri jang lainnja”, melainkan hidjrah kita itoe ialah: 1. Hidjrah bagian I’tiqad, hingga sampat kepada Iman jang sebersih-bersihnja, 2. Hidjrah bagian ‘amal oesaha, perboeatan dan lakoe langkah manoesia, sehingga achirnja mendjadi boekti persaksian akan apa jang mendjadi I’tiqad dan oetjapan lisan kita. Tegasnja: menoentoet berlakoenja hoekoem2 Allah dan Soennatirrasoel, dalam erti kata jang sesempoerna-sempoernanja dan seloeas-loeasnja. Djadi erti hidjrah itoe ialah: Hidjrah dari “Mekkah-Indonesia” ke “Madinah-Indonesia”, atau dari “Mekkah-Indonesia”, ke “Habsji-Indonesia”, atau dari “Mekkah-Indonesia”, ke “IefIndonesia”, boekanlah sekali-kali kita haroes berpindah kampoeng dan negeri beralih daerah dan wilajah, melainkan hanjalah di dalam sifat, thabi’at, kelakoean, amal, itiqad dan lain-lain sbg.-nja. Dan djika kedjadian ada orang pindah tempat, maka tidaklah kepindahannja itoe memang bersifat Hidjrah, maka pindah jang demikian itoe mendjadi perboeatan jang oetama. Keterangan Sebagaimana telah kita toeliskan dalam Brosoer Hidjrah, maka maksoed kita melakoekan Hidjrah sebagai Oemmat ialah dalam erti kata isti’arah (figuurlijk), karena tiada moemkin Party kita mendjalankannja dalam erti kata “leterlijk”. Kata-kata “Mekkah-Indonesia”, “Madinah-Indonesia”, “Habsji-Indonesia”, Atau “IefIndonesia”, tidaklah menoendjoekkan kepada seseorang manoesia, atau segolongan orang, atau sesoeatoe tempat, tetapi semata-mata hanjalah menoendjoekkan kepada sifat dan woedjoed jang terkandoeng di dalamnja. Tegasnja: sifat “Ke Mekkah-an”, sifat “Ke Madinah-an”, sifat “Ke Ief-an” dan sifat “Ke Habsjian.” Djadi, kalau kita haroes Hidjrah dari “Mekkah-Indonesia” berarti, bahwa kita haroes melepaskan sifat, thabi’at dan lakoe “Ke Mekkah-an” dan beralih menoedjoe kepada sifat, thabi’at dan lakoe “Ke Madinah-an.” Adapoen jang kita maksoedkan “Madinah-Indonesia” ialah: Masjarakat Madinah pada zaman Rasoeloellah Clm., teristimewa sekali pada zaman Madinah Awwal, atau lebih tegas lagi: “Daroel-Islam” jang sesempoerna-sempoernanja. Oleh sebab kita soedah berniat Hidjrah atau dalam perdjalanan Hidjrah, atau dalam keadaan Hidjrah, maka soedah sewadjiblah kita haroes ber’itiqad, berthabi’at dan ber’-amal-oesaha, menoeroet tjontoh dan tauladan dari pada Penghoeloe kita, Moehammad Clm. POKOK KE SEMBILAN

Kehidoepan Islam Adapoen jang kita maksoedkan dengan “Kehidoepan Islam” ialah Kehidoepan dalam Masjarakat Madinah, atau Kehidoepan dalam Masjarakat “Madinah Indonesia” tegasnja Masjarakat Islam jang sempoerna. Sjahdan, maka pada masa zaman Madinah adalah terkenal 3 golongan kaoem Moeslimin: 1. Golongan Kaoem Moehadjirin, ja’ni: orang-orang jang berasal dari Mekkah dan kemoedian pindah ke Madinah, karena Agamanja, dan karena fitnah dalam Agamanja; 2. Golongan Kaoem Ançar, ja’ni: orang-orang Madinah asli, jang telah memeloek Agama Islam dan menerima kedatangan saudara-saudaranja dari Mekkah, tidak hanja sebagai “toean roemah”, tetapi sebagai saudara dalam perikatan Islam jang sedjati, sehingga mereka itoe mendjadi pelindoeng-pelindoeng atau “pembela-pembela” atas pendatang-pendatang baroe (kaoem Moehadjirin); dan 3. Golongan orang-orang beriman, jang ikoet djedjak Rasoeloellah Clm (walladzina amanoe ma’ahoe) atau terkenal djoega dengan nama golongan “Tabi’in”, jaitoe orang-orang jang itba’ kepada perdjalanan Rasoeloellah Clm. Orang-orang ini asalnja dari loer Mekkah dan dari loer Madinah, baik dari djaziratoel-Arab sendiri maoepoen dari tanah dan negeri jang lainnja. Sedang orang-orang jang mengikoeti kemoedian dan ini jang dinamakan “Tabi’at-tabi’in”. Keterangan Oentoek melakoekan apa-apa jang telah dioetjapkan dalam Bai’at Aqaba jang kedoea: ..darahmoe ialah darahkoe, akoe adalah bagi kamoe, dan kamoe adalah… ”, antara Rasoeloellah Clm, dan sahabat2 Ançar, maka terdirilah…. bagikoe Madinah satoe Persatoean Oemmat jang kokoh dan sentausa, persatoean manoesia, jang berdiri atas Wahdanijat Allah S.W.T. Pada waktoe itoe pekerdjaan jang moela pertama, didjalankan oleh Rasoeloellah Clm. Memboeat masdjid Madinah jang pertama, jang selainnja dipergoenakan oentoek keperloean sembahjang dan moe’amalah, djoega jang berhoeboengan dengan bagian alhajatoelidjtima’ijah, yang beroepa moesjawarat, pengadjaran, pendidikan dalam oeroesan sosial, politik dan lain-lain sebagainja. Dan perboeatan kedoe, jang dilakoekan oleh Rasoeloellah Clm, pada waktoe itoe ialah: Tentang Pembagian Rizki (Ekonomi), jang berdiri atas dasar ke-ichlasan dan qana’at, persaudaraan (solidariteit) dan perikatan jang erat (collektivisme), jang semoeanja peratoeran Nabi-Nja. Dengan djalan ini, maka harta jang lebih dari pada tiap2 keperloean diri dan roemah-tangga masoeklah dalam Tempat Perbendaharaan Oemoem, atau Bait-oel-Mal. Jang lebih, dimasoekkan di dalamnja; dan jang koerang, ditambah dan ditjoekoepkan olehnja (Bait-oelMal). Maka dari sendirinja, tidaklah ada penimboenan harta-benda jang keliwat-liwat, atau ketiadaan benda (kemiskinan) jang ledis. Inilah gambarannja “Doenia-Islam”, jang kita kehendaki itoe. TAFSIR DARIPADA DAFTAR OESAHA HIDJRAH INI AKAN MENOESOELMemboelatkan Tenaga Menoedjoe Kepada Realiteit

Soeara P.S.I.I., (25 April 1937, hlm. 5) Soal tanah adalah masalah mengoesai per-economian bangsa sendiri. (economischh zelfbeschikking srecht) Oleh A.I.K. Pada sampingnja algemeene actie Partij kita, jang bertoeroet-toeroet dilangsoeng-kan semendjak tanggal 15 April hingga tanggal 15 Mei j.a.d. dalam mana dengan bersan-darkan keterangan-keterangan dan boekit-boekti persaksian alasan jang tegas dioeraikan tentang nasib penderitaan ra’jat bangsa kita dilapang perekonomiannja (moelai dari kewadjibannja memikoel beban negeri beroepa pelbagai matjam padjak sampai kepada onkost-onkost dan oeroesan pentjaharian nafkah-hidoep dari hari ke seharinja), maka pada sampingnja semoea itoe masih terletak toentoetan dan kewadjiban diatas poendak Partij sebagai pesawat-perdjoeangan ra’jat, oentoek berdaja-oepaja dengan sekoeat-koeat tenaga dan ketjakapan bagi mewoedjoedkan sesoeatoe perbaikan economisch jang mesti langsoeng dan dengan tjara-oesaha jang reel, tegas, terasa kelazatannja oleh seloeroeh lapisan ra’jat itoe. Sebab didalam actienja sesoeatoe Partij jang bagaimanapoen djoega toedjoeannja, haroeslah senantiasa diperhatikan oleh kaoem kita, djanganlah hendaknja actie pembe-laan dan perbaikan nasibnja ra’jat djalata itoe tjoekoep meroepakan perboeatan-perboe-atan jang informatief sadja, dalam mana selaloe terdengar theorie-theorie jang wetens-chaplijk atau pemandangan-pemandangan jang mendahsjatkannja tetapi constructieveI arbeid jang berwoedjoedkan realiteit, jang hasilnja dapat diraba, dirasa dan dilihat itoelah pertama kali jang dapat diharapkan ,,berkahnja” bagi negeri dan masjarakat. Dan semoeanja itoe dengan sendirinja haroes disesoeaikan poela dengan tempat dan waktoenja, istimewa sekali dengan sjarat dan keadaan lachir-bathin jang ada pada kita dan jang melipoeti kita semoeanja. Dari orientatie (orijentasi) kepada realiteit! Daripada pandangan dan selidik beralih tempat kepada ‘amal dan perboeatan! Soedah hampir satoe tahoen lamanja dinegeri Spanjol ada perdjoeangan jang hebat. Perdjoeangan diantara satoe kaoem dinegeri itoe, jang hendak melawan pemerintah, hendak meroeboehkan kekoeasaan pemerintah itoe. Oemeomnja orang mengatakan bahwa perang Spanjol itoe adalah soeatoe perkelahian hebat diantara kaoem fasist dengan kaoem koeminis. Jang berontak adalah kaoem fasist, dipimpin oleh djenderal Franco. Jang diberontaki ialah pemerintah negeri, jang dalamnja toeroet tjampoer kaoem koeminis. Pemerintah itoe ialah pemerintah jang sah, karena dibangoenkan daripada pihak-pihak ra’iat jang telah beroleh kemenangan didalam pemilihan oemoem oentoek dewan ra’iat dan balaibalai pemerintahan daerah kota dan desa. Maka pihak jang membangoen-kan kemenangan itoe ialah beberapa partij ra’iat jang berhimpoen didalam pergaboengan jang bernamakan barisan ra’iat. Maka berhadaplah kaoem fasist itoe dengan barisan ra’iat itoe, djadi pada hakekatnja

adalah perdjoeangan itoe perdjoeangan fasist meng-hadapi barisan ra’iat boekan fasist lawan komoenis. Asal-moelanja Pemilihan oemoem jang terseboet diatas tadi soedah kedjadian dalam boelan Febru-ari tahoen jang laloe. Soe’al tanah mendjadi actie penoentoetan hak jang tersendiri! Masalah perbaikan penghidoepan economienja ra’jat bangsa kita tidak bisa dipisah-djaoehkan dari pada masalah tanah jang sesoenggoehnja telah mendjadi hak-kelahirannja bangsa Indonesia. Tidak sadja keadaan dan kenjataan jang mengoetkan pendirian itoe, bahkan achli-achli economie diloear kalangan kitapoen memang mengakoei bahwa ra’jat bangsa kita adalah ,,een landbouw bevolking bij uitnemendheid”, ja’ni ra’jat tani meloeloe, jang hidoep-matinja, djatoeh dan berdirinja lantaran tanahnja semata-mata. Maka so’al tanah inilah sekarang haroes kita hangatkan kembali dengan segenap perhatian dan tenaga-perboeatan kita, ialah tanah sebagai salah satoenja sjarat oentoek dapat membangkitkan kembali kaoem tani ra’jat kita daripada kematian per ekonomiannja (economiesche dood). Jang dimaksoedkan dengan soe’al tanah disini ialah penoentoetan akan kelebihan hak atau bertambahnja hak-hak tanah ketangan bangsa kita. Sekali-kali boekan maksoed saja didalam karangan sesingkat ini meriwajatkan perdjalanan dan pengaroehnja politiek-erfpacht didalam genggamannja fihak kekoeasaan Hindia-Belanda di Indonesia demikian poela tentang riwajat asas jang telah mendjadi sandarannja pendirian politiek itoe. Tetapi tjoekoep hendaknja kita meng-ambil kejakinan dan kepertjajaan daripada boekti-boekti jang nampak kepada peman-dangan dan mata djeladjahan kita, bahwasenja politiek erfpacht itoelah jang telah menjebabkan djatoehnja bermiljoen bouws tanah dari boemi Indonesia kepada tangannja kapital international, jang bersarang dengan tegak dan sentausanja ditengah-tengah lingkoengan bangsa dan ra’jat Indonesia. Kita mengetahoei dan mengakoei akan kebenarannja asas dan peladjaran didalam Islam, bahwa hanja Toehan itoelah sadja jang mempoenjai sepenoeh-penoehnja haq eigendom diatas segenap boemi dan langit, sedangkan manoesia dengan tanah-tanah itoe diberilah oleh Toehan hak oentoek memakainja, mengerdjakannja atau menarik, sebanjak-banjak hasil daripadanja bagi memelihara sjarat kesempoernaan kehidoepan dan penghidoepannja didalam pergaoelan bersama dan sebagai alat ber’ibadah kehadli-rat Allah Ta’ala boeat ketinggian deradjat di doenia dan diachirat. Tetapi dengan adanja politiek erfpacht; itoe (atau politiek tanah) terpetjah-petjah dan terbagi-bagilah miljoenan bouws tanah Indonesia mendjadi garapannja matjam-matjam peroesahaan asing dengan lantaran hak erfpacht huur (menjewa), opstal, eigendom dan lain-lainnja sematjam itoe. Dan terboekalah kekoeasaan kepada golongan-golongan kapitaal dan bangsa asing itoe akan berboeat dengan leloeasa diatas tanah dan kekajaan-kekajaan jang ada dimoeka dan didalam boemi Indonesia. Tetapi pada bagian lainnja timboellah daripada perdjalanan politiek tanah itoe satoe pengaroeh jang menjaingi, jang dan menentang kemadjoean ekonomie ra’jat sendiri, satoe pengaroeh jang menjempitkan dan menghilangkan kesem-patan kepada ra’jat anaknegeri akan memakai dan menggoenakan tanah-tanah itoe oentoek keperloean dan kemadjoean penghidoepannja, bahkan malahan kemoedian mendjatoehkan deradjat ra’jat kaoem tani

bangsa kita daripada deradjat tani merdeka mendjadi tani boeroeh, tani koeli atau tani boedak jang kadang-kadang bertambah malang poela nasibnja djika ia terikat oleh rantai poenalesanctie jang sangat merendahkan harga kemanoesiaannja. Maka djikalau soe’al tanah jang menjebabkan oemoemnja kedjatoehan bangsa kita kepada deradjat perhambaan-economie (economiesche slavernij), maka tanah itoelah poela haroes didjadikan sjarat oentoek menarik ra’jat kaoem tani daripada kedja-toehannja itoe. Oentoek ra’jat Indonesia kembalinja hak-hak tanah itoe, adalah bererti kembali kepadanja; sjarat hidoep dan sjarat kemadjoean hidoepnja tiap-tiap bertambahnja kem-bali hak-hak itoe ketangannja, bertambahlah poela kemadjoean dan loeasnja pertaniannja, dan dapatlah poela diharapkan naiknja harga persewaan tanah jang hingga kini haroes di bajar oleh fihak pertanian besar kemodalan asing, membawa poela harapan akan naiknja deradjat perboeroehan bangsa kita dan berkoeranglah mengalirnja keoentoengan bagi kapitaal loear negeri dan tersimpanlah agaknja harta dan keoentoengan hasil tanah itoe bagi keperloean dan bakal hidoepnja ra’jat, sendiri. Sebab sebagai satoe ,,landbouw bevolking bij uitnemendheid” (ra’jat tani meloeloe) kaoem tani Indonesia tidak sadja terbatas kepandaiannja kepada tanaman-tanaman padi dan polowidjo, tetapi mengerti dan biasalah ia menanam tanamtanaman jang hasilnja boleh didjoeal di pasar doenia (exportgewassen). Demikian tegasnja bagi kita, bahwasenja so’al tanah adalah soeal hidoep oentoek oemoemnja kaoem tani bangsa kita; menoentoet dan pengoesahakan akan kembali dan bertambahnja hakhak itoe ketangan kita, boleh diharap akan tertjapainja perbaikan nasibnja kaoem tani, dan kembalilah kepadanja sjarat dan hak oentoek mengatoer dan mengoeasai penghidoepan ekonominja sendiri. Kita tida’ meloepakan akan harga pemerintahan dan kekoeasaan disini negeri mempoenjai mata dan telingan oentoek menjaksikan betapa haoes dan boetoehnja ra’jat kepada tanah itoe. (Vide verslag Congres ke XX dan XXI). Lebih-lebih oentoek di zaman pengangoeran seperti adanja sekarang ini, jang dengan ganasnja membawa pengaroeh kebinasaan (destructief) diatas penghidoepannja ra’jat terbanjak, dan mengingat betapa besar bertambahnja djoemlah djiwa ra’iat Indonesia pada setiap tahoennja, maka tjoekoeplah hendaknja diatas segala kenjataankenjataan itoe kita menentoekan pendirian bahwa tidak boleh tidak awal achir mestilah kita sampai kepada kenjataan tanah itoelah jang dapat diharapkan perlindoengannja oentoek peroet ra’jat jang megap-megap! Tidak meloepakan akan harganja djasa pemerintah dengan adanja kolonisasi, memindahkan sebagian ra’jat dari sesoeatoe daerah ke daerah lainnja; oentoek medja kelaparan dan kesengsaraan, menghindarkan dirinja daripada bahaja. Tetapi pada bagian ichtiar itoe, masalah pengembalian hak-hak tanah bagi keperloeannja ra’jat terbanjak, tetap menoetoet poela perhatiannja dan pertanggoengan djawabnja negeri. Sepandjang hak-hak tanah itoe tetap tergenggam pada tangannja satoe fihak dan tidak dilonggarkan kesempatan menggoenakannja kepada ra’jat bangsa kita, pastilah segala oesaha diatas perbaikan perekonomiannja ra’iat hanjalah bererti: lapwerk semata-mata, pekerdjaan tambalan belaka. Bagi kita soedah tjoekoep sampai kepada sa’atnja menghangatkan kembali toen-toetan

pengembalian hak-hak tanah itoe. Tidak perloe lagi rasanja, kita menjabarkan diri lebih lama sampai habisnja tempo erfpacht dalam waktoe 20 tahoen jang akan datang. Kita moelai ini waktoe mengarahkan perhatian dan penoentoetan terhadap kepada tanah-tanah erfpacht jang tidak dikerdjakan, tidak bisa dikerdjakan atau beloem dikerdjakan oleh kaoem erfpachters itoe. Tanah-tanah reserve atau hoetan-hoetan toetoepan, jang njata akan lebih mem-berikan kesedjahteraan dan kebahagiaan bagi kehidoepannja ra’jat, itoelah haroes mendjadi toentoetan poela soepaja diboekakan kembali kepada ra’jat. Actie sedemikian itoe tidaklah perloe didjadikan satoe aksi jang mendengoeng-dengoeng tapi tjoekoeplah kiranja djika Partij kita bekerdja bersama-sama dengan fihak ra’jat di setiap tempatnja. Dengan toentoetan Partij jang tentoe-tentoe, oentoek mentjatat-tjatatkan seberapa perloenja dan seberapa banjaknja djiwa ra’jat jang soeng-goeh-soenggoeh memperloekan tanah itoe. Dengan tjatatan loeasnja tanah tersedia dan banjaknja ra’jat jang memboetoeh-kannja, dapatlah Partij kita ditiap-tiap tempat memperhoeboengkan semoea kepentingan-kepentingan itoe kepada fihak pemerintahan dan kekoeasaan, jang berkewadjiban boeat menjelesaikannja hingga tertjapailah segala apa jang diangan-angankannja itoe. Penoen-toetan kembalinja hakhak tanah itoe mesti disertai poela dengan toentoetan akan hilangnja ketentoean termijn, didalam waktoe mana tanah mesti soedah ditanami, sebab bagi pemboeka tanah-tanahnja itoe mesti soedah diselesaikan didalam waktoe jang ditentoekan oleh fihak negeri, hal mana tidak ada berlakoe bagi kaoem erfpacht bangsa asing. Pembebasan padjek tanah sampai sepoeloeh tahoen lamanja, poen tidak ada bagi ontginner (pemboeka tanah) ra’iat akan negeri, sebab mereka ini baharoelah mendapat-kan kebebasan padjek sematjam itoe, (mitsalnja boeat selama 3 tahoen), hanjalah djika ternjata sangat soesah atau mahalnja pemasangan batas-batas ditanah-tanah jang tinggi letaknja. Tegasnja dan kesingkatannja, termijn bagi menjelesaikan pemboekaan tanah-tanah itoe haroeslah diloeaskan waktoenja, djika tidak dihilangkan sama sekali, dan haroeslah poela ada ketentoean pembebasan padjek tanah mitsalnja selama 5 tahoen atau selama tanah-tanah jang dikerdjakan itoe beloem mengeloearkan hasil jang tjoekoep memberikan hasil jang tjoekoep memberikan kekoeatan nafkah hidoepnja kaoem tani dengan sekalian anak isterinja dan pembagian padjaknja. Insja Allahoe Ta’ala, dengan kembalinja hak diatas tanah-tanah itoe, terboekalah sebesar-besar kesempatan kepada ra’jat boeat membangoenkan dan menjoesoen kembali kesedjahteraan dan deradjatnja didalam pergaoelan hidoep perekonomiannja. Kepentingan so’al tanah adalah rapat bersangkoetan dengan pendiriannja sesoeatoe bank pertanian! Mengingatkan bahwa pendirian Bank sematjam Bank Qirad akan mendjadi pembitjaraan djoega didalam Congres-Partij j.a.d. moedah-moedahan segenap kaoem kita akan beroleh poela kesempatan oentoek memboelatkan hadjat dan tenaganja terhadap kepada penoentoetan dan pengembalian hak-hak tanah itoe. Sjoekoer Alhamdoelillah, djika sesingkat boeah fikiran ini mendapatkan perhatian adanja. Baitoel Mal Pada Zaman Pantjaroba

oleh: Esemka Soeara M.I.A.I., (tahoen I, 28 Djoemadil Achir 1362/4 Djoeli 2603, No. Baitoel Mal, hlm. 7) Tiap-tiap manoesia jang sadar akan kewadjiban tentoelah ingin melakoekan ‘amal oesaha jang soetji, jang boleh membawa dia ke arah kesedjahteraan dan kema’moeran, dalam erti kata: Keselamatan doenia dan kemoeljaan achirat. Sedjak moela terdengar berita tentang pendirian Baitoel Mal maka sedjak itoe poelalah niat dan hadjat jang soetji itoe mendapat samboetan jang menggembirakan dari tiap-tiap lapisan masjarakat, istimewa dalam kalangan kaoem moeslimin. Alhamdoelillah. Badan Amal atau Tata Oesaha Baitoel Mal boekanlah soeatoe gerakan atau perhimpoenan. Melainkan Baitoel Mal adalah soeatoe Badan Amal atau soeatoe Tata Oesaha. Pendirian Baitoel Mal Sedjak moela Baitoel Mal diperdirikan, sedjak waktoe itoe poela tata-oesaha itoe diperasaskan pada sendi-sendi jang soetji, menoedjoe maksoed jang soetji, ialah agar soepaja tiap-tiap manoesia dapat hidoep dalam kesoetjian jang sedjati. Adapoen jang kita maksoedkan dengan ,,soetji” dan ,,Kesoetjian” disini soetji dan kesoetjian sepandjang adjaran Agama jang soetji, ialah Agama Allah (ad-din-oel-Islam). Djadi tiap-tiap ‘amal dalam Baitoel Mal adalah mengandoeng niat dan ma’na ‘ibadah lillahi Ta’ala. Sifat Baitoel Mal Dalam zaman Pantjaroba ini tentoelah beda bentoek dan bangoenan Baitoel Mal jang lagi kita oesahakan itoe, djika dibanding dengan Baitoel Mal pada zaman Rasoeloellah Clm dan pada zaman Choelafa-oer-rasjidin. Beda karena perbedaan keadaan dan kedoedoekan Oemat Islam pada zaman doeloe dan pada dewasa ini. Oleh sebab itoe, maka pendapatan Baitoel Mal Pantjaroba ini terbatas atas beberapa perkara sadja. Mitsalnja: (1) Zakat benda, (2) Zakat fitrah, berbagai-bagai sidqah dan infak seperti beras prelek (Djoempoetan) dlls. Poen maf’oel (object) jang dihadapi tidaklah seloeas maf’oel pada zaman doeloe. Melainkan hanjalah terhadap kepada dan bagian, seperti jang di maktoebkan dalam adjaran Islam. Sedang sementara ini, jang amat dioetamakan ialah: pemeliharaan fakir dan miskin. Kepentingan Baitoel Mal bagi Masjarakat Pada sa’at jang sepenting ini, dimana Saudara-Toea kita masih lagi tengah-tengah menghadapi perdjoeangan mati-matian oentoek membinasakan fihak sekoetoe, maka sewadjibnjalah Oemat Islam berdiri dibelakang garis peperangan serta mentjari djalan dan oesaha jang manfa’at dan maslahat bagi oemat dan agama, jang menoedjoe kepada kema’moeran dan kesedjahteraan Bersama, agar soepaja dengan selekas moemkin tjita-tjita Asia Timoer Raja dapat tertjapailah

hendaknja. Insja Allah. Adapoen faedah dan goena jang boleh ditimboelkan karena berdirinja Batioel Mal bagi masjarakat dalam pantjaroba ini, baiklah satoe doea perkara soentingkan di bawah: 1. B.M. memperoleh harta dan bendanja daripada kalangan ra’iat sendiri jang nisab (menoeroet oekoeran sjara’) sehingga dengan djalan ini orang-orang hartawan mempoenjai kesempatan jang amat loeas sekali bagi berboeat ‘amal bakti kepada Allah, jang membersihkan dan menjoetjikan djasad, roeh dan rizkinja. Perben-daharaan negeripoen tidak akan terganggoe olehnja. 2. B.M. membagikan harta dan benda itoe dikalangan ra’iat jang moestahik oentoek menerima sokongan dan bantoean itoe. Dengan djalan ini maka tertolonglah fakir dan miskin, atau setidak-tidaknja mengoerangkan beban hidoep dan pelbagai kesoekaran dan kesoesahan dalam penghidoepannja. 3. Dengan pertolongan jang seroepa itoe, maka orang-orang jang boleh melakoekan kedjahatan, karena kekoerangan dan kesoekaran beban hidoepnja, terhindarlah hendaknja daripada kedjahatan dalam pandangan Allah maoepoen dalam pandangan manoesia (masjarakat). Ra’iat mendjadi tentaram dan negeri mendjadi aman, makmoer dan sentausa. 4. Lebih-lebih lagi karena B.M. berasaskan kepada Agama jang soetji, maka B.M. poen beroesaha poela oentoek memasoekkan kesoetjian agama dalam hati sanoe-bari ra’iat, dengan tjara memberi keterangan dan penerangan agama (tabligh) dimana-mana tempat. 5. B.M. boleh djoega dianggap sebagai obat jang sanggoep mentjegah timboenja tiap-tiap penjakit massa, dan djika ia soedah ada, maka obat itoe akan digoenakan sebagai pembasmi. 6. B.M. akan dapat mendekatkan perhoeboengan dan menimboelkan bekerdja ber-sama-sama antara: a. Pihak pemerintah dengan ra’iat. b. Golongan si-kaja dengan Miskin. c. Kaoem Intellek dan para kjahi dengan kaoem Kromo. d. Pihak Pangereh-Pradja dengan bekas-bekas kaoem pergerakan. e. Pihak Penghoeloe dengan kaoem ‘alim oelama jang ,,toea” dan jang ,,moeda”. Wal hasil B.M. meroepakan tali persaudaraan jang erat dan tali soetji jang mengikat serta mempesatoekan ‘itikad dan ‘amal daripada lapisan masjarakat. Semoea-nja serentak mendjadi satoe, karena mereka menghadapi kewadjiban jang satoe dan menoedjoe maksoed jang satoe, ialah manoedjoe ,,Doenia Baroe”, jang berisikan Kema’moeran dan Kesedjahteraan bersama dalam lingkoengan Asia Timoer Raja. Bantoean di belakang Garis Peperangan Kiranja tidak perloe lagi dikatakan, bahwa B.M. itoe adalah salah satoe bantoean oesaha jang teroetama dalam ichtijar menjelenggarakan ,,Doenia Baroe” itoe. Oleh sebab itoe, djika soedah timboel kesadaran dan keinsjafan jang sempoerna akan kewadjiban tiap-tiap manoesia dan golongan menghadapi penjelenggaraan ,,Doenia Baroe” itoe, Insja Allah B.M. akan mendapat perhatian, sokongan dan bantoean daripada tiap-tiap pihak dan lapisan bantahan berkenaan

dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schimdt Jungschlaeger cs. STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA

TENTANG: Sikap (reaksi), bantahan dan sangkalan Negara Islam Indonesia terhadap tipu-muslihat R.I.1950, berkenaan dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schimdt Jungschlaeger cs. Oleh: ANGGAUTA KOMANDEMEN TERTINGGI A.P.N.I.I., Djenderal Major T.I.I.: DJAJASAKTI.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM 7 AGUSTUS 1949: PROKLAMASI BERDIRINJA N.I.I. Assalmu ‘alaikum w.w., BAGIAN I: KALAM AWAL Alhamdu lillah wa Sjukru lillah.....Allahu Akbar! Segala Pudja-Pudji serta Sjukur hanjalah dipersembahkan kehadirat Allah, Dzat Maha Tunggal, Dzat Maha Kuat-Kuasa, Jang senantiasa dan selalu membimbing, menun-tun, meimpin, mengasuh, melindungi, mendjajakan dan memenangkan serta melimpah-tjurahkan Ni’mat-Nja atas para Mudjahidin, chususnja Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, di dalam mempersembahkan dharma bakti-sutjinja kepada-Nja (Allah) sema-ta: berdjihad diDjalan Allah, berperang li i’lai Kalimatillah serta menggalang dan men-dukung Negara KurniaNja, Negara Islam Indonesia!

Semoga berkenanlah kiranja Ia (Allah), Dzat Jang Menentukan segala sesuatu, mengantar dan menjampaikan “bachtera mutawasithoh”-N.I.I. dengan selamat-se-djahtera-sempurna, lahirbathin, kebandar Darul-Fatah dan Darul-Falah, dunia-achirat, di dalam waktu jang tidak lama lagi! Demikianlah hendaknja! Insja Allah! Amin, Ja Mudjibas-sailin............!!! Sjahdan, maka sudah lebih-kurang 2 tahun lamanja masjarakat ramai, chususnja di Indonesia dan di Nederland, umumnja diseluruh dunia, telah digemparkan oleh suatu perkara jang bersifat politis-kriminil jang serba sensasionil dan tendentieus, dimana terlibat beberapa puluh orang Belanda, jang pada lebih-kurang achir tahun 1953 ditang-kap oleh Polisi R.I., terutama di-ibu-kota propinsi Djawa-Barat, BANDUNG. Mula pertama, hal dan sual itu, tidaklah begitu mendjadi perhatian kita (N.I.I.), sebab hal dan sual tersebut, bukanlah urusan Negara Islam Indonesia. Akan tetapi, ke-mudian ternjata, bahwa di dalam perkara itu (Schmidt, Jungschlaeger cs) NEGARA ISLAM INDONESIA, Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, beserta Pe-mimpin-Pemimpin N.I.I. lainnja, senantiasaa dan selalu dibawa2 dan ditjemarkan! Oleh karena itu, maka mau atau tidak mau, kita terpaksa memperhatikan perkara itu dengan sepenuhnja dan mengikutinja dengan seksama! Selama itu, dengan sengadja (met opzet), kita biarkan proces itu berdjalan dulu, sebab ingin mengetahi sampai dimana dan bagaimana usaha2 R.I.-“1950” membawa2, menjangkut-pautkan, mentjemarkan dan menodai Negara daan Pemimpin2 kita, di dalam perkara itu. Kini, sa’atnja sudahlah kita anggap tiba! Sebab, kita anggap sudah tjukup “keterlaluan”, luar, keluar dan di luar daripada batas-kepatutan, bahkan sudah sampai kepada taraf “kurang adjar”! Djadi, djika kita (N.I.I.) sekarang menjatakan segala sesuatu jang bertalian dengan perkara Schmidt-Jungschlaeger cs. — dan dengan begitu, walaupun tidak langsung, ikut “tjampur-tangan” di dalamnja —, bukanlah karena apa2, melainkan hanjalah “karena Allah” semata2, mengingat kewadjiban kami, baik terhadap Agama Islam, Negara Islam Indonesia, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan para Mudja-hidin Indonesia sendiri pada chususnja, maupun bagi masjarakat dunia pada umumnja. Tegasnja, hendaklah masjarakat-chalajak-ramai, di dalam dan di luar Indonesia, memahami dan meninsafi sepenuh2nja (ten volle), bahwa maksud usaha kami ini, semata2 ditudjukan kepada hadjat untuk: a. Mendudukkan haq (recht, right), kebenaran (waarheid, truth) dan ke’adilan (gerech-tigheid, justice) pada tempatnja. b. Meluruskan pandangan dan pendapat umum, jang sudah dengan sengadja “dibeng-kokkan” dan “diperkosa” (verwrongen en verkracht!) oleh R.I., terhadap kebersihan dan kesutjian perdjuangan Negara Islam Indonesia! c. Mendjaga, memelihara, mempertahankan serta membela integriteit dan kehormatan (eer) Imam dan Pemimpin2 Negara Islam Indonesia lainnja! BAGIAN II: SEDJARAH (HISTORIE) SINGKAT INDONESIA dari 17 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1955

A. Kekuasaan Belanda-kolonial Contra R.I. -1945 dan Peranan Ummat Islam Bangsa Indonesia. 1. Seperti umum telah mengetahui dan menjaksikan dengan mata kepala sendiri, maka Revolusi Nasional Indonesia, jang dimulaikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah memperoleh dukungan terkuat dan terbesar dari Ummat Islam Bangsa Indonesia. Beratus2, beribu2 para Pemuda Islam Indonesia beserta orang tuanja mengerahkan segenap harta, djiwa dan raganja untuk menjelesaikan Revolusi Nasional tersebut. Ingatlah bantuan jang sangat berharga —umpamanja— dari Ummat Islam di Atjeh kepada Pemerintah Republik Indonesia Dlarurat dulu! Lihatlah dan kenangkanlah tenaga pasukan2 bersendjata para Pemuda Islam ketika melakukan perlawanan terhadap usaha2 pendjadjahan, ketika meletus pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaja! Djuga di Bandung ! dan dilain2 tempat diseluruh Indonesia! Sesungguhnja, pelopor penggempur jang menghantjurkan gerombolan2 Komunis di Madiun, adalah Patriot Islam, Lasjkar Islam, jang pada waktu itu dinamakan Lasjkar2 Hizbullah, jang masuk formasi T.N.I., misalnja: Kesatuan Bataljon 426 dan lain2 kesatuan Bataljon Hizbullah! Betapakah hebatnja tentangan Ummat Islam (jang dipelopori oleh Masjumi) pada ketika Naskah Linggar djati ditanda-tangani! Dengan lahirnja Naskah Renville, pada tanggal 17 Djanuari 1948, maka Ummat Islam Bangsa Indonesia, chususnja jang berada di Djawa sebelah Barat, ditinggalkan oleh para pemimpin2 dan “djago2”-Nasional; lari ... dan mengungsi — bukan “hidjrah”!— ke Djokja....!!! 2. Mereka —chususnja Ummat Islam Bangsa Indonesia di Djawa sebelah Barat itu— diserahkan begitu sadja, dengan mentah2 (zo maar zonder meer!) kepada (“willek-eur”-nja!) Belanda-pendjadjah, seakan2 hiduup sebatang kara, menghadapi musuh2-nja jang ganas dan kedjam: serdadu2 dan alat2 pemerintah djadjahan Belanda.........!!! Meskipun demikian, mengingat akan tugas dan kewadjibannja, menunaikan Perintah Allah S.W.T. semata, ja’ni: memenuhi panggilan-sutji, djihad fisabilillah, li-i’lai Kalimatillah, maka sedjak tanggal 17 Februari 1948 meletuslah “Revolusi-Islam”, jang dimulaikan di Gunung Tjupu, suatu tempat di Kabupaten Tjiamis (Priangan-Timur), Djawa-Barat! Madju.......melawan dan menangkis serangan2 serdadu2 Belanda dan kaki-tangannja! Alhamdulillah dan Allahu Akbar ! Darah-sjuhada mengalir membasahi bumi Allah Indonesia, sebagai kurban dan tanda-baktinja kehadlirat Chaliqul-’Alamin............! Tapi, darah-musuhpun mengalir, bahkan berlipat-lipat ganda banjaknja, sebagai hukuman dari Dzat Jang Maha ‘Adil atas segala dosa dan keangkara-murkaannja......! 3. Dalam pada itu, pemimpin2 dan “djago2”-nasional jang ada di dalam “kurungan”-Djokja, berfoja-foja terus dan hanja “menonton-tanpa-membajar” serta mendengar-kan dari djauh........!!! Ringkasnja, pada tanggal 18/19 Desember 1948, “kurungan”-Djokja diserbu oleh tentara Belanda, hingga berantakan...!!! Pemimpin2 dan djago2-nasional-tjabang-atas dengan “tangkas dan tjepatnja-laksanakilat”.....mengibarkan bendera putih.......!!! MENJERAH dan DITAWAN.....!!! Sungguh suatu hal dan peristiwa jang memilukan dan menjedihkan hati.....! Sungguh suatu

perbuatan jang nista dan hina-dina....! Sungguh suatu perbuatan jang memalukan, “ngawirangkeun” (bhs. Sunda).....! Dan, ....hal, peristiwa serta kedjadian tersebut, di-”pelopori” oleh “pemimpin dan djago besa” Soekarno, jang pada waktu itu —sebagaimana “kesukaannjajang-biasa”!— ber-uniformkan “Panglima Tertinggi”.......! For shame......!!! “Djago”-besar-Soekarno, jang lebih “ichlas”, jg. lebih “ridla”, jang lebih suka dan jang lebih “seneng”: menjerah dan ditawan oleh musuh daripada “memimpin-gerilja”.....!!! “Djago”besar-Soekarno —“djago” di atas kertas dan di muka microfoon?!— jang lebih “ichlas “, “ridla” dan “seneng”(!): menjerah dan ditawan serta dibuang ke Prapat, kemudian ke Bangka, sambil dengan enak2 memakan mentega dan kidju serta meminum susu, jang diterima dari sihkurnianja sang cipier-Belanda, terasing dan djauh dari rakjat-berdjuang, daripada “memimpin gerilja-sambil-mema-kan-batu” bersama2 dengan dan di tengah2 rakjat....!!! Tableau........!!! Sungguh, sekali lagi, suatu hal, peristiwa dan perbuatan jang memilukan, menjedih-kan, nista, hina-dina dan memalukan serta menurunkan dengan sekaligus, harkat-deradjat Negara dan Bangsa Indonesia......!!! B. R.I. - 1945 gugur (6 Agustus 1949) Proklamasi Negara Islam Indonesia ( 7 Agustus 1949) Selandjutnja, sedjarah mentjatat beberapa peristiwa lagi jang penting, a.l.l.: a. Statement Rum-Rojen, 5 Mei 1949 (compromis!), disusul dengan “Cease-Fire” dan .....”Tracebaru”, jang —tentunja!— didjagoi (lagi) oleh bung Karno.......!!! b. Moh. Hatta cs. meninggalkan tanah-air Indonesia, berangkat, terbang, menudju ke Nederland —Den Haag—, (hendak) menghadiri “Konperensi Medja Bundar” dan .....(hendak) mengubur (begraven) “Republik Indonesia-Proklamasi 1945”....! Tegasnja: R.I.-Proklamasi 1945 (hendak) digugutkan dan dihapuskan serta diganti dan didjadikan suatu “negara bagian” (deelstaat) dari “Republik Indonesia Serikat” (R.I.S.), tjiptaan v. Mook & Beel cs. Dan, dengan demikian, sama sadja statusnja dengan “negara2-boneka” lainnja tjiptaan V. Mook, seperti Pasundan, Djawa-Timur, Madura, N.I.T., dan lain2nja! Tanggal pemberangkatan Moh. Hatta cs., adalah: 6 Agustus 1949! NOOT: Hendak dan haruslah ditjatat tanggal 6 Agustus 1949 ini dengan baik2, Ja’ni! tanggal “mati”-nja R.I.-Proklamasi 1945! Memento Mori.. A.D. 6 Agustus 1949! c. “Penjerahan”-kedaulatan (souvereiniteits-overdracht) dari Keradjaan Nederland kepada Republik Indonesia Serikat (R.I.S.) —bukan dan tidak kepada R.I.—”tjiptaan-1950"! 27 Desember 1949. NOOT: Istilah (term) “penjerahan” (overdarcht) hendak “selalu” diputar-balikkan mendjadi “pengakuan” (erkenning) dan/atau hendak “selalu” di-”sunglap” mendjadi “pemulihan” (herstel)! Jang di dalam hal ini, —sudah barang tentu lagi!—, bung Karno-lah jang “ingin” sekali (men) jadi “tukang sunglap-jang terbesar”........!!! Berhubung dengan peristiwa2 tersebut di muka tadi, dan dengan ‘amal (daad) “pemberangkatannja Delegasi Hatta, pada tanggal 6 Agustus 1949 ke Nederland itu”, sebagai “finishing touch”-nja, maka pada tanggal 7 Agustus 1949 dila-kukanlah Proklamasi berdirinja Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia oleh Imam S.M. Kartosoewirjo, atas nama

Ummat Islam Bangsa Indonesia!!! Alhamdu lillah........ALLAHU AKBAR ! Hanja karena mengingat kehendak dan kemauan Ummat Islam Bangsa Indonesia djua! Hakikatnja, hanja karena Perintah Allah semata! Baiklah djuga di sini diperingatkan dan hendaklah pula difahami, bahwa Proklamasi NII tersebut di atas, adalah dan merupakan hak asasy (fundamenteel recht, fundamental right) daripada U.I.B.I., sebagai letupan djiwa U.I.B.I., sebagai manifestasi dan realisasi daripada pengharapan sutji dan du’a U.I.B.I. ! C. Tentara Islam Indonesia centra kekuasaan Belanda-kolonial dan gerombolan tentara-liar dari ex-R.I.-1945 (Perang Segi Tiga) Di tengah2 menghebat-dahsjatnja perlawanan T.I.I. terhadap Belanda-pendjadjah, maka tiba2 datanglah penggempuran2 TNI, (gerombolan dan tentara liar), jang datangnja dari djurusaan Djokja, masuk kewilajah Djawa-Barat. Penggempuran2 (agressi) TNI —jang sifat-thabi’atnja hanja dapat berlaku serta ber-tindak “gagah-dan berani” kepada saudara2 dan bangsanja sendiri!— ini, dimulai pada tanggal 25 Djanuari 1949, jang kita anggap sebagai pelaksanaan daripada “konsepsi—Stikker-Hatta”. (Nopember 1948), di dalam konsepsi mana dengan djelas dan terang-njata ditjantumkan: “kerdja-sama” dan “bersama-sama” (samen werking en gezamenlijk) antara R.I. (T.N.I.) dengan Belanda (K.L., K.N.I.L. enz.) di dalam menghancur-binasakan “Pasukan2 Islam”, c.q. Tentara Islam Indonesia, jang melawan kepada Belanda-pendjadjah....! Hari itulah (25 Djanuari 1949), Insja Allah, akan tertjatat di dalam sedjarah Indonesia, sebagai “Hari-Perang-Saudara”! D. Republik Indonesia Serikat Contra Negara Islam Indonesia. 1. Serangan2 dan penggempuran2 dari pihak T.N.I. terhadap T.I.I., lebih2 diperbesar serta diperhebat, setelah T.N.I. “dengan resmi” —paling achir dengan melalui K.M.B.— mendapat tambahan sendjata dari Belanda; tegasnja, setelah T.N.I. dipersendjatai dengan lengkap oleh Belanda (sic!)!!! Bukan sadja jang merupakan alat2 sendjata, akan tetapi djuga tenaga-manusia (manpower) dan...”brains” (pelatih2).......!!! Bekas-anggauta2 KNIL dimasukkan dalam formasi TNI dengan diberi kenaikan pangkat jang “melompat-lompat” disertakan gadji jang besar2.....!!! Demikian pulalah keadaannja di dalam Angkatan Laut dan Udara; alhasil, disemua Angkata Perang, jang pada waktu itu diberi nama “bagus”: “Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat” (APRIS)...! “Brains”, pelatih2, didatangkan dari Nederland, jang terkenal dengan nama “Nederlandse Militaire Missie” (NNM) atau “Misi Militer belanda” (NMB)....!!! 2. Sedang.... sedang TNI-”asli”-pedjuang-1945...harus menghadapi dan mengalami operasinja “pisau-re-ra”= reorganisasi-rasionalisasi....(atau “pisau-rara”??? --“rara” bhs. Belanda!--), jang “ampuh nan batuah” itu.....!!! Ada (banjak) jang “disembelih” sekali, disuruh menanggalkan pakaiannja, uniform-nja-jang-revolusioner (aduh) .... disuruh pulang-kembali ke masjarakat, dengan istilah (jang bagus djuga!): “didemobiliseer”......!!! Laksana “habis manis, sepah dibuang”......!!! Pulang.... dengan diiringi suara nan merdu:

“Tenaga saudara2 dibutuhkan di lapangan lain, di lapangan “pem-bangunan”, jang tidak kurang ertinja bagi menjelesaikan revolusi-nasional.....!!!” Dan hingga kini nasib mereka, para demobilisanten itu, masih terkatung-katung. NOOT: Kepada para demobilisanten jang dulunja revolusioner itu, seluruh anggauta Tentara Islam Indonesia dengan hati jang terbuka, ingin menjatakan terharunja dan ikut merasakan (meeleven) ...! Tapi, ma’aflah, sementara ini, belum dapat berbuat dan berkata apa2, hanja: “sabarlah..... tunggulah...! Mudah2an kelak ada perubahan dalam nasib Saudara2. “Bukankah ada peribahasa jang mengatakan: “Ada waktu datang, akan tetapi ada pula masa jang lalu” (Er is een tijd van komen, maar er is ook een tijd van gaan)....?! Maka oleh karena itu, sekali lagi, “sabar dan tunggu-lah.........!!” Ada (banjak) jang “dipotong” (geamputeerd) oleh pisau “re-ra” itu, ja’ni tetap dalam formasi (TNI), akan tetapi pangkatnja diturunkan.....!!! Maka, dengan kenjataan (feit) ini, —“fusie”, “unie” TNI-KNIL dll. Alat-pendjadjah-Belanda!—, beralih T.N.I. dari “Tentara Nasional Indonesia” mendjadi “Tentara Nederlands-Indie”.....!!! (atau “Tentara Nica Indonesia/Inlander?”) Istilah2 “militer”, “tangsi”, “Belanda-Hitam” (ma’af: “belanda-hitam” —tjukup dengan “huruf ketjil”—), dan “nica”, sudahlah tidak asing lagi di kalangan rakjat.....!!! Istilah2 mana itu ditudjukan kepada T.N.I. atau/dan jang bersangkutan dengannja! Hal ini — anggapan dan djulukan rakjat-djelata itu— memang diketahui oleh T.N.I.!!! 3. Serangan2 dan penggempuran2 TNI setjara besar2an, jang dimaksudkan di atas tadi, dilantjarkan sedjak awal bulan Djanuari 1950; djadi, hanja beberapa hari sadja setelah “penjerahan” ( —ingat: bukan “pengakuan” dan/atau “pemu-lihan”!— ) kedaulatan........!!! Dengan demikian, berertilah, bahwa sebelumnja “daulat-hadiyah” itu “dikur-niakan” (27 Desember 1949), maka TNI dengan “diam2” sudah dipersiapkan (voorbereid) oleh dan dengan bantuan Belanda-pendjadjah! Mungkin djuga, diiringi dengan du’a serta harapan, mudah2an “ajam-djagonja” (atau “dombanja?!), dapat mengalahkan dan menghantjur-binasakan seluruh kekuatan Tentara Islam Indonesia dan alat2 N.I.I. lainnja dengan sekaligus, jang ia (Belanda) sendiri tidak dapat, tidak sanggup dan tidak mampu melakukan-nja........!!! Tegas-djelasnja: dengan-djalan dan tangan lain.......!!! 4. Alhamdu lillah wa Sjukru lillah, “du’a dan harapan” itu tidak mendjadi kenjataan, tidak terbukti....!!! Tentara Islam Indonesia dan alat2 N.I.I. lainnja, dapat bertahan, bahkan dapat memberi pukulan2 kembali, hingga kian lama kian bertambah kuat dan besar......!!! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat Allah Jang Maha Murah lagi Maha Asih serta Tolong dan Sih-Kurnia-Nja djua! Kepada “panglima-tertinggi-Soekarno”, pada kesempatan jang baik ini, ingin djuga kita menjatakan diperbanjak terima kasih atas “kiriman dan pemberian” sendjata2, di antaranja banjak sekali jang “modern”, sendjata2 mana lengkap dengan memakai tanda serta tjap “J” (Juliana) dan “KNIL”, beserta nomornja sekali.....!!! Sekali lagi: terima kasih dan Alhamdu lillah. Walaupun, dalam hal ini —“kiriman dan

pemberian sendjata2 itu”!—, tidak dilakukan dengan “suka-rela”, “ichlas” dan “seneng” hati.......!!! E. Republik Indonesia Serikat di-”Sunglap” mendjadi R.I. -1950. 1. Marilah sekarang kita “meneropong” R.I.S., hasil persetudjuan K.M.B., dari dekat. Selain dari “penjerahan kedaulatan”, maka dari sekian banjaknja keputusan2 terda-patlah sedjumlah clausules jang “mengikat” R.I.S., terutama dalam lapangan ke-uangan dan ekonomi.......! Merdeka, tapi “diikat” (gebonden)......! Bebas, tapi tidak lepas........! Walaupun pada waktu itu digembar-gemborkan —terutama oleh propagandist-besar-Soekarno—, bahwa penjerahan kedaulatan tersebut dilakukan dan diterima tanpa sjarat, njata dan komplit...! Unconditional, real and complete.....!!! Memang, “enak” didengarnja dan memang demikian pulalah “maunja”, akan tetapi, kenjataannja: a. Apa persetudjuan keuangan dan ekonomi itu? b. Apa “Unie” Belanda-Indonesia itu? c. Mana Irian Barat? Hal ini, —tidak “unconditional”, tidak “real” dan tidak “complete”— memang sudah kita (NII) duga dan perhitungkan terlebih dulu! (periksalah tanggal Proklamasi berdirinja NII!). Belanda bukanlah “anak-kemarin”! Dalam soal kolonialisme dan imperialisme, termasjhurlah namanja, masuk “kelas satu”........! Dan Belandapun tahu dengan siapa ia berhadapan.....!!! Oleh karena itu, mesti ia (Belanda) mempunjai “controle middelen” dan di antaranja adalah: Irian Barat (Pardon! Kini: West Nieuw Guinea!) Walhasil, setelah RIS lahir, setelah Dunia-Luar mengakui “daulat-hadiyah”, maka pemimpin2 RIS merasa dirinja “kuat”. “Djago2”-Republikeinen, “djago2”-Kesatuan (Unitarisen) tampil kemuka, madju ke depan, “ingin” mendjadi dan disebut “patriot 100%”, “patriot 24 Karat” atau “unitaris-tulen”.........! Bukankah sekarang tiba sa’atnja........! Bukankah sekarang datang kesempatan jang baik.........! Kemudian dengan “gaja-jang-gagah-berani” disertai “suara-nan-lanang”: “Hapuskan Serikat”....! Ganti dan djadikanlah Negara kita “Negara Kesatuan” kembali! Dan, dengan melalui “usul-integraal-dari-Natsir cs.” jang dibanggakan itu, maka “tertjiptalah”: R.I.-1950 (15 Agustus 1950) lengkap dengan “Undang-Undang-Dasar”-nja jang sementara! RIS dihapuskan dan bersamaan dengan itupun UUD nja (RIS), dengan setjara “unilateraal” sekali......! Bagus dan Bravo.....!!! Hebat djuga ! Maka dengan itu pun, dengan sekaligus “Pacta sunt servanda” ditjoret dari kamusnja djago2 dan pemimpin2 R.I.-1950......!!! “Pacta sunt servanda” itu, adalah untuk orang lain........!!! Dalam pada itu, “Hukum actie dan reactie”, masih berlaku di’alam jang fana ini, Sajang.....! Sebab, dengan tindakan jang gagah dan hebat dari para “djago2” Repu-blikeinen dan unitariseen itu, maka Belanda, dengan “k-a-l-m”, memasukkan Irian Barat kedalam wilajahnja, jang “de facto” memang dikuasainja, mendjadi bagian daripada “Het Koninkrijk der Nederlanden”, djuga dengan setjara “unila-teraal”.....!!! Mendjaga agar “tidak lupa”, maka ditjatatlah kedjadian itu oleh Belanda di dalam “GrondWet”nja, dengan nama: WEST NIEUW GUINEA.

Sajang....... Sajang.......!!! Kalau boleh kita sajangkan! Djago2-Republikeinen/Unitariseen, memang “pintar”, “litjin” dan “litjik” (?), tapi sajang, kurang tepat “timing”-nja! Kalau sadja, agak sabar sedikit.... dan tidak terburu nafsu.......!!! Tapi, jah, “nasi sudah mendjadi bubur”................!!! Dalam pada itu, dengan “suara jang menggeledek” laksana hendak “membelah angkasa”, maka didjedjal-djedjalkanlah kepada rakjat, bahwa R.I. 1950 itu adalah (sama dengan) R.I.-1945....!!! NOOT: Bagi kita, N.I.I. bagaimana pula diputar-balik dan bagaimana pula hendak “disunglap” tetaplah ia itu: R.I.-1950, R.I. ala KMB! Bukan dan tidak: R.I.-”asli”, R.I.-1945...! “Pakaiannja”, “badjunja” memang (ber)ganti, tapi isi dan wudjudnja adalah: RIS (KMB!). Buktinja? Unie Belanda-Indonesia, perdjandjian keuangan dan ekonomi serta lain2 perdjandjian/persetudjuan jang merugikan Negara dan Rakjat (Bangsa) masih tetap ada dan berlaku.....!!! Djadi, bagaimanapun pula dipakaikan pantolon-wool, colbert-tricot, dasi-sutera, tepi “Chaplin”, sepatu-Robinson, minum serutu “Karel I” serta pakai tongkat..”monjet”, jah, tetaplah “monjet” djuga namanja...bukan “ma-nusia”..!! (Al draagt een aap een gouden ring, het is en blijft een lelijk ding!). Sementara itu, ajam sudah beberapa kali ber-”krujuk” pada “fadjar-menjingsing”—1951, 1952, 1953, 1954, 1955 (dan beberapa hari lagi 1956)......, tapi “kekasih” Irian Barat (Pardon! Kini: West Nieuw Guinea) ta’ kundjung datang.........!!! Walaupun sudah amat “gandrung”(!) sekali ........!!! Bung Karno teh gandrung, gandrung.....ke Irian Barat........! Masja Allah...........! Lagu “Gandrung-Irian”, entah untuk berapa kalinja, didengungkan melalui radio, dengan suara jang “lengas-leungis”, tapi West Nieuw Guinea masih dan tetap “dikekepi” oleh Belanda......!!! Poster2 dipasang, berteriak, mata-melotot, kepalan diatjungkan keawang-awang (dan dimasukkan ke/didalam saku!), Biro Irian didjelmakan, akan tetapi sudah sekian tahun ... masih “sabar”, sebab katanja “ingin dengan setjara damai”..... Amboi.......!!! Sesungguhnja, bukanlah “sabar”, bukanlah “ingin dengan setjara damai”, akan tetapi, dengan terus-terang sadja, tidak ada kesanggupan, tidak ada kemampuan dan tidak ada keberanian lahir-bathin untuk merebut Irian Barat alias “West Nieuw Guinea”.....! Bagaimana utjapanja salah seorang pemimpin India jang selalu di-”citeer” dan dika-gumi oleh “djago”-besar-Soekarno di dalam pidato2nja di hadapan rakjat-banjak??? “Djangan mengemis-ngemis, djangan meminta-minta......, tapi.................!!! Sorry, bung Karno, dengan pidato2, dengan kepandaian “men-citeer2” sadja, pasti Irian Barat tidak dapat djatuh begitu sadja “kepangkuannja-ibu-pertiwi”...............!!! Apakah bung Karno memang —mengingat “kepandaiannja” sebagai “tukang-sunglap-jang besar”!— mempunjai pengiraan dan anggapan, bahwa Irian Barat itu boleh dan dapat disamakan dengan “duren jang sudah masak (matang)”.........?! NOOT: N.I.I., sesungguhnja, sudah “gandrung”, sudah “ingin sekali”, bahkan su-dah “amat rindu-pangkat sekian”, mendengarkan “djago-besar” bung Karno (dan tentaranja!) mengtjapkan —dengan suara jang menggeledek itu!— kata2: “keblinger”,

“bandel”.....dan....”biarlah mulut2 bedil dan meriam jang sekarang disuruh berbitjara”, ...tapi (sekali ini!) jang ditudjukan kepada Belanda (dalam soal Irian Barat jang di-”kekepi”-nja, jang didudukinja —sic!— selama sekian tahun itu!)! Tapi, kiranja kegandrungan, keinginan jang sangat dan kerinduan jang kesekian pangkatnja dari NII itu, tidak akan, tidak mungkin dapat dipenuhi oleh dan mendapat “balasan” bung Karno berserta “ajam2-djogonja”, angkatan perangnja..............!!! Sebab, membatja, mendengar, melihat dan mengingat sifat-thabi’atnja, “mentalitet’-nja (!), jang hanja “gagah dan berani” kedalam, kepada saudara2— dan bangsanja sendiri! (Tentara Islam Indonesia). Sehingga seluruh kekuatannja, seluruh angkatan perangnja, baik didarat, diudara maupun dilaut dikerahkan, jang nota bene sebagian besar daripada kekuatan2nja (sendjata2nja) itu diperdapat dari dan dilengkapi oleh Belanda, dengan siapa suadara2 dan bangsanja itu— Tentara Islam Indonesia! —telah mengadu kekuatan (17-2-1948 s/d 27-12-1949)...!!! Bahkan sedemikian rupa kegagahan, keberanian- dan ke-”laki2annja daripada angkatan perang R.I.S./R.I.-1950, sehingga tidak lagi memperdulikan “aturan2 perang orang dan manusia jang beradab”....; tegasnja; ganas dan kedjam....di luar perikemanusiaan.........!!! Tapi, kalau menghadap “ke luar, sifat-thabi’atnja: aju, lunak; pengetjut, penakluk”.......!!! Tidak kurang dan tidak lebih, demikianlah keadaanja jang sewadjarnja!!! Tjoba dan silahkan bantah pernjataan kami ini!!! Djangan dengan kata2, tapi dengan perbuatan jang njata (daadwerkelijk)! Tjoba! Dalam “Noot” ini, baik djuga dinjatakan, bahwa: Djenderal Spoor mening-galkan dunia jang fana ini, dengan perasaan puas (hati), dengan senjum-simpul jang menghiasi bibir-nja! Dan, Kolonel Van Langen —kepada siapa bung Karno cs. menjerah dan terus ditawan!— dengan hati jang penuh duka-tjita, sambil mengeluarkan “air-mata-buaja”!), harus meninggalkan Indonesia......! Jang kemudian, guna “menghibur dan melipur hatinja”, ia, Kolonel van Langen, dinaikkan pangkatnja mendjadi Djenderal Major. Kenapa jang satu puas hatinja sambil bersejum-simpul dan jang lain-nja berduka-tjita sambil menangis? Sebab, kedua2-nja itu adalah laki2 dan djantan; di dalam kalbu kedua2-nja itu bersemi djiwa satrija, djiwa soldaat! Jang pertama merasa puas, oleh karena dapat mengobrak-abrik “djago2” TNI dengan gampang dan mudah, laksana pisau memotong kueh; dan, terutama sekali, merasa puas mengalami perlawanan jang sengit serta merasakan pukulan2 jang didapatnja dari Tentara Islam Indonesia! Per-lawanan dan pukulan2 dari Tentara Islam Indonesia itulah jang mengelus (strelen) djiwa-soldaat-nja. Sebagai soldaat, ia dapat dan pandai mengharga-kan lawannja, musuhnja! Ia baru (merasa) berkelahi dengan Tenatara Islam Indonesia........!!! Jang terachir, berduka-tjita, sebab setelah mendapat kemenangan, ia terpaksa harus melepaskan kemenangan-nja itu dan memberikannja lagi kepada lawannja (bukan karena kalah perang!)...! Sungguh tersinggung sekali kehormatan militernja (militaire ser), menjentuh dengan hebatnja djiwa-soldaat-nja.......! Tetapi, ia sebagai “alat-negaranja”, ia sebagai “soldaat”, harus dan wadjib tunduk, tha’at, kepada atasannja “rasa-berat” sekali-pun.....!!! Demikianlah “rasa-berat” itu, sehingga ta’ dapat ditahan air-ma-tanja......; seorang tua, seorang

kolonel jang menangis seperti anak-ketjil.......!!! Maka kepada kedua perwira, kepada kedua soldaat tersebut pula! —menjampaikan “ere-saluut”! Tegasnja, bukan kepada Sporr dan van Langen sebagai Belanda-alat-pendjadjah, bekas musuh (ex-vijand!)! Bukan! Akan tetapi, kepada Spoor dan van Langen, qua “Soldaat”! “Djiwa”-soldaatnja, keperwiraannja, jang kami hargakan! “Soldaat”-zijn, “djiwa-soldaat”, “keperwiraan” mana, bukan dan tindaklah bersifat “nasional”, akan tetapi (ia) adalah “universeel”. Tjamkanlah! Sekian. Dan bagaimana “djiwa-soldaat”, keperwiraan, kesatriaanja “ini”...?! Kira-nja, “rakjat” dapat “mendongenkannja”.......! Ingin tahu? Silahkan, tapi djangan memakai uniform dan membawa “bedil”! 2. KMB (!) dengan segala unak-aniknja, memang (terasa) berat.........!!! Politisi memang “merdeka” (terikat) —ingat: Uni Belanda-Indonesia!—, akan tetapi dilapangan lain, terutama dalam soal keuangan dan ekonomi terang tidak! Tidak lepas dan tidak bebas, tapi ter-diikat, ter- dan dibelenggu! Dalam hal ini baik djuga kita “pinjamkan” perkataan dan pendapatnja Mr. Moh. Ali, Perdana Menteri Pakistan, ja’ni (dalilnja!):”Political freedom without economic independence, is meaningless”.....!!! Hal manapun, sudah kita njatakan terlebih dulu (vide Manifest Politik N.I.I., 26 Agustus 1949)! Kaum Komunis —”djago”-Linggardjati, “djago”-Renville dan djuga “djago”KMB!— kemudiannja dengan serta-merta, hendak menutup “muka”-nja Karikatur —bagus dan menarik djuga!—dibuatnjalah dalam salah satu madjalahnja. Apakah bung Karno dan bung Hatta masih ingat? Kalau sudah lupa, tjoba tolong periksa lagi didalam archiefnja kementerian penerangan; barangkali belum dibakar.....!!! Atau, barangkali bung Sjamsuddin St. Makmur dapat membantu menjegarkan ingatannja (geheugen) “dwi-tunggal”.......?! Suara batalkan KMB terdengar dimana-mana! Dengan “tovarich” D.N. Aidit tentu ditempat jang paling muka (terdepan).........!!! Indonesia toch sudah diakui oleh “dunia-internasional”........?! Dengan “R.I.-1950” sekali....?! Bukankah PBB —jang dalam persetudjuan KMB diwakili oleh UNCI-nja!—, sudah dengan “diam2”, setjara “gerusloos”, me-”legaliseer” perbuatan dan tindakan kita (R.I.-1950)........?! Bukankah kita sekarang mendapat sokongan dari Negara2 Asia-Afrika (A.-A.), jang mewakili sekian banjak negara dan sekian djuta manusia....? “Truf”-pertama kan sudah “goal”....? (RIS mendjadi R.I.-1950). Walaupun Irian Barat mendjadi “West Nieuw Guinea”........!”Truf-kedua (pembubaran Unie Belanda-Indonesia) toch sudah kita keluarkan (lanceran), walaupun agak “matjet”......!!! Walaupun hingga kini “protocol-pembubaran Unie”, hasil (maximum?) dari bung Mr. Sunario itu, belum dan tidak (mau) di-”ratificeer” oleh parlemen (semen-tara).......!!! Bukankah sekarang kesempatan (gelegenheid, oportunity) jang baik, jang mustari.....? Bukankah “Pacta sunt servanda” sudah hilang-lenjap-musna dari kamus kita.........? Bukankah kita mempunjai sendjata-ampuh, jang merupakan dan berbunji: “The end justifies the means”.........? Mari, marilah bung, kita sodorkan “truf” baru kita, kita “fait accompli”-kan sadja...... pembathalan KMB.....!!! Heup bung Karno, hajeh “djago”, silahkan naik mimbar, berdiri

dimuka microfoon, dan ....perdengarkanlah lagi suara-bariton bung jang hebat itu .......! Dan, marilah, seluruh rakjat: ja bung Menteri, jang bung tukang betja, ja bung koruptor, ja bung tukang sapu, ja Pa’ Sura/Kromo, ja Nji Mimi/Mbok Sarinem, ja.....semuanja....mari kita dengan “gegap-gempita” bersorak-sorai......!!! (Dan, hm, ketahuilah mas Karno, mata2 djelita dari wanita2-tjantik melihat dan mengawasi kang mas ....!!! Djangan lupa: “uniform” bung jang netjis itu atau lebih baik, dalam kesempatan ini, mengenakan “battle dress”......!!! Agar lebih hebat dan serem.........!!!). NOOT: N.I.I. —ma’af— mempunjai kepertjajaan penuh dan berkejakinan jang kuat —bulat, bahwa R.I.-1950 (bung Karno cs.) kurang dan tidak mempunjai kesanggupan, kemampuan dan keberanian untuk mengeluarkan dan me-mainkan “truf”— pembathalan K.M.B. itu! Tiada lain, melainkan mengingat dasar2, sifat-thabi’at serta mentaliteitnja itu —! Tjoba, tjobalah, beranikah membantah kepertjajaan dan kejakinan N.I.I. ini ?! Silahkan ! Tapi, sekali lagi, dengan amal perbuatan jang njata! Bukan dengan “omong-kosong” jang murah. F. R.I. -1950 (R.I.K.) contra N.I.I. Kaum Komunis Indonesia dan peranannja Mar-hainisme. Dalam pada itu, pertarungan, peperangan antara R.I.-1950 dengan N.I.I. berdjalan terus....! Maka tibalah sa’at dibentuknja Kabinet Ali-Wongso-Arifin (30 Djuli 1953), tanpa Masjumi, kabinet mana mendapat dukungan jang kuat dari dan didjamin kedu-dukannja oleh partai Komunis Indonesia (P.K.I.)! a. Sedikit tentang kaum komunis (Indonesia) dan peranan (rol) jang dilakukan achir2 ini. Adapun maksud dan tudjuan kaum komunis Indonesia, sebagaimana kita sama2 sudah mengetahui dengan jakin, ialah (dengan ringkasnja): “mentjetak” Indonesia ini mendjadi suatu “negara komunis”, atas dan dengan pimpinan serta titah langsung dari kaum komunis di Rusia (Moskow) Tegas-djelasnja: Hendak didjadikan suatu “negara-djadjahan” dari Rusia atau dengan istilah jang “baru”, hendak didjadikan “satelliet-Rusia”. Dalam kejakinan-rohaninja: Tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, bahkan anti-Agama dan anti-Tuhan! Djadi, dengan demikian, pokok, dasar dan prinsip tiap2 (orang) komunis —di luar Rusia dan orang2 Rusia—, adalah: anti-nasional (a-nasional) dan anti-Tuhan (athiest)! Kalau ada orang komunis menjatakan, bahwa ia adalah seorang nasionalist, maka pernjataan itu, adalah tidak benar, dusta dan bohong! Kalau ada orang Komunis jang menjatakan, bahwa ia ber-agama dan dapat menerima sila-Ketuhanan (Jang Maha Esa), maka itupun tidak benar, dusta alias bohong semata! Maka, djika orang komunis menjatakan jang tersebut di atas itu, tiadalah lain, hanja untuk kepentingan tactiek, tipu-muslihat dan siasatnja sadja, pada sesuatu waktu dan masa jang diperlukan, jang mereka anggap perlu! Tidak lain dan tidak bukan! Tidak lebih dan tidak kurang! Di dalam sual tactiek, tipu-muslihat dan siasat, orang komunis memang dan sungguh “ahli”. ..; tidak boleh dianggap “ringan”. Segala “theorie” Lenin/Stalin (paralellisme, infiltratie dllsb), mereka —chususnja kaum komunis Indonesia— praktekkan dengan segala ketekunan, kedjudjuran, keichlasan dan kesetiaan serta keabdian jang sungguh mengagumkan! Baik

menurut huruf dan angkanja, maupun sepandjang djiwanja (`en naar de letter `en naar de geest)! Kalau pada suatu ketika jang diperlukan harus mendjadi Masjumi/NU/PSII/Perti dlls.nja, djadilah dia Masjumi/NU/PSII/Perti dllsb.! Djika dianggap perlu mendjadi PNI/PIR? PRN/PARKI dllsb., maka djadilah ia PNI/PIR/PRN/PARKI dllsb. Pun dia sanggup pula — andaikata diperlukan— mendjadi Parkindo/Partai Katolik Indonesia! Djika perlu —pada suatu masa— memeluk, memandja-mandjakan, memudji, menjuap, menjogok, menghina, mengedjek, menipu dllsb, itu pulalah jang didjalankan..........! Bagaikan “ular”-jang-djahat-berbisa-”berkepalakan-banjak”........!!! Caveant consules !!! Alhasil, usaha dan ichtijar apa sadja, baik jang kedji-kotor-kasar, tjurang-litjik maupun jang lemas-halus, —tanpa mengindahkan batas halal/haram atau sah/batal—, hantam terus....! Asal, maksud dan tudjuannja tertjapai! The end justifies the means! Habis perkara.....! Bum! Apa itu susila....! Persetan dengan moraal-moreel........! Bukankah begitu “tovarich” (-sjaithon) D.N. Aidit ! Tjukup sekian sadja tentang apa, bagaimana dan siapa itu “komunis”! Baik rupa lahirnja, maupun isi djiwanja. b. Dan marilah sekarang kita lihat sepak-terdjangnja dan peranan jang dilakukan (di Indonesia). Dari semua dan segala “isme” jang boleh berkembang biak di tanah jang suburmakmur Indonesia ini, adalah satu jang dia anggap bahaja serta berbahaja dan jang memang sungguh2 ia takuti, ja’ni: ISLAM ! “Islam”-nja Masjumi, N.U., P.S.I.I., Perti dllsb., dianggap tjukup “lunak”, “em-puk” dan “enak” untuk dimakan dengan sekali “suap”.....! Tapi, jang dia takuti sangat, adalah “Islam”nja N.I.I., Islamnja D.I./T.I.I. ! Untuk menghadapi bahaja Islamnja-N.I.I., maka diaturnjalah tactiek dan stra-tegienja dengan baik (tentu dengan advies, tuntunan dan bantuannja Moskow!). Baik setjara legaal maupun dengan djalan illegaal! Setjara illegaal, maka ditaruh-lah pasukan2 bersendjata di belakang! (Mengingat teori “Mao Tse Tung”, bukan?) NOOT: Tapi sajang, pasukan2-komunis-bersendjata ini diobrak-abrik oleh Tentara Islam Indonesia, dimana dan kapan sadja bertemu. Jang dapat meloloskan dan menjelamatkan diri dari kedjaran T.I.I., tidak tahan, dan minta “ditampung” oleh kawannja (TNI!). Baik djuga diterangkan di sini, bahwa buku2 jang terdapat dan dike-temukan diri markas2-nja pasukan2 bersendjata itu, ber-tjapkan “Kedutaan Besar Republik Rakjat Tiongkok”Djakarta....!!! Adapun jang dengan djalan legaal, selain duduk dalam parlemen (sementara), maka dimasukinjalah, di-infiltreer-njalah segala lapangan, lapisan dan kalangan rakjat/masjarakat! Begitu pula dalam kalangan pemerintah R.I.-1950 beserta alat2-kekuasaannja, dari tingkatan atas hingga ke bawah! Dengan pura2 “lupa” dan “tidak tahu” akan perbuatan2 jang serong-tjurang serta pengchijanatan2nja jang sudah2 (terutama pengchijanatannja di Madiun, 18 September 1948), didekatinjalah, di-”djilati”-njalah (apanja?) dan dipeluknjalah bung Karno, agar didalam menghadapi PNI mendapat “een gud woordje (van de grote baas)”!

Dimandjakannjalah dan dipudji-sandjungnjalah bung Karno setinggi langit.......!!! Sungguh, “tovaich” D.N. Aidit tahu apa jang diperbuatnja! Dan bung Karno, jang memang “suka” dan “seneng” (!) diperlakukan demikian —ma’lumlah merasa di-elus2 (strelen) perasaan2nja (gevoulens, ijdelheid!)—, tertarik dan terpikat...jang selandjutnja “linea recta” masuk dalam “pelukannja” (perang-kapnja?!) tovarich-Aidit.......!!! Lajar ditutup......! Dengan “aanbevellingsbriefje” dari “bung-besar”, dipeluknjalah PNI. PRN (“bekas”-PNI!) dan dengan “surat” (2) jang sama maksudnja, pun partai2 lainnja, termasuk djuga diantaranja Pa’ “Kijai”-NU....! Angkatan Perang, Polisi, kedjaksaan, Kehakiman tidak pula dilupakan, Begitu pula organisasi2 masjarakat (Badan Kontak “Nasional”, PPDI, dllsb.) dan perseorangan2.....semua dipeluknja, dikail (di-”gaet” bilang bung Mu’in!) oleh “arit”-nja! Sehingga, di atas huruf “S” dari R.I.S. jang sudah disamar-samar-kan itu, di-”tik”-njalah huruf “K”, mendjadi “R.I.K.” (Republik Indonesia Komunis). Baik djuga diterangkan, bahwa ada djuga partai2 dan orang2 jang tidak dapat dan tidak mau dipeluk dan di-”gaet”, terutama Masjumi dan bung Hatta. Masjumi tidak mau, karena berpedomankan Firman Allah: “Aduwwallah wa ‘aduwwa-kum” (musuh Allah, adalah musuhmu —muslimin/mu’minin—). Wallahu ‘alam atas dasar apa bung Hatta menolaknja...... Sajang, katanja, Masjumi bukan N.U.; bung Hatta bukan bung Karno......! Lain lagi wataknja, karakternja! Maka dengan tidak ajal2 lagi, di-”palu”-njalah Masjumi dan bung Hatta. Badan Kontak “Komunis” (oh pardon: “nasional”?), PPDI, persorangan2 disuruhnjalah membuat “delegasi”, beraudiensi kepada bung Karno, dengan “desakan”, supaja bung Karno mengeluarkan “decreet”, sebagai-mana djuga dulu dilakukan terhadap kaum Komunis-Muso! — untuk membasmi dan menghantjurkan NII dan men-”tjap” mereka (NII, DI/TII) sebagai “musuh-negara” dan “musuh-rakjat”..! c. Bung Krno sudah “dipeluk” (oleh komunis) dan inti (kren) dari kabionet Ali-Wongso-Arifin adalah terdiri dari orang2 komunis, semi-komunis, pembantu komunis dan penggemar komunisme-marhainisme. “Marhainisme” adalah ideologi Partai Nasional Indonesia, ja’ni tjiptaan Soekarno jang berdasarkan atas ideologi “proletar” ala Marx! Periksa dan ingatlah kete-rangan2nja “pamong” S. Mangunsarkoro! NOOT: “Bung Karno, “dulur2” (saudara2), adalah Marhain...Marhain! Seperti dulur2 dan saudara2 djuga”......!!! Tapi, itu ... istana2, mobil2 dan lain2nja jang serba mentereng dan meng-kilap, bagaimana....?! Sedang rakjat.... gubug botjor, pakaian tjumpang-tjamping dan perut-kosong! “Mentereng dan mengkilap” atas keluh-kesah, peluh, air-mata dan darah-rakjat....! Bung Karno marhain.....? Oh, what a joke.....!!! Ma’af, djangan mengira bahwa kita (NII) “iri-hati”...O, tidak! Tidak sekali-kali! Kalau kita hendak berkata kepada “meneer van Mook” atau kepada “meneer Beel”, —djago2 dan pentjpta2 RIS!—: “O, ik gun het je wel, hoor! Trouwens, je verdient het!” Tapi, itu utjapan2 dan perkataan2 bung dan “marhain2” lainnja, jang sungguh amat menggelikan...; djauh daripada kenjataan, laksana djauh-nja bumi dari langit....! Tjoba renungkan! Dan, by the way, hanja kaki2 jang kuat sadjalah jang dapat memikul, memanggul

kemewahan....! (Het zijn maar sterke benen, die de weel de kunnen dragen.....!). G. Perma’luman Perang Resmi dari: R.I.K. terhadap N.I.I. Maka pada hari tanggal 17 Agustus 1953, keluarlah dari mulut “djago”-besar-Soekarno “komando terachir” (untuk sekian kalinja?!), perma’luman perang daengan resmi terhadap NII. Perma’luman perang dan “komando terachir-untuk-kesekian-kalinja” mana dilakukan dengan begitu nafsunja, seolah2 hendak “menelan dunia segala isinja sekali”.......!!! Terhadap “komando terachir-untuk kesekian kalinja” dan perma’luman perang itu, dengan kalm, kita (NII) sambut dengan baik. Kaum komunis dan kontjo2nja serta komplotan2nja, bertepuk-tangan, memudji bung Karno akan “ketegasannja”! Mereka (RIS/RI-1950/RIK) membuat rentjana, kita (NII) pun membikin rentjana dan Allah, Dzat Wahidul Qahhar, mempunjai rentjana pula dan “wallahu chairul makirien”..... (Sesungguhnjalah Allah sebaik2 perentjana...) Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Dan hingga kini, “komando terachir-untuk sekian kalinja” itu, sudah berdjalan lebih dari 2 ½ tahun.....!!! Bukankah begitu, mas Wongso (“tukang dan djago pentjak-silat”).....?! Buktinja...?!!! NII bertambah kuat dan besar! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajah serta Tolong dan Sih-Kurnia Allah, Dzat ‘Aziezul-Djabbar, djua! Alhamdu lillah wa Sjukru lillah! Allahu Akbar! Keadaan NII sekarang —dengan ke-kuasa-an dan ke-hendak Allah djua!— adalah sebagaimana di “gambarkan” oleh-Nja (Allah) di dalam Firman-Nja (Surat Al-Fath, ajat 29) Begini: “....kazar’in achradja sjath-ahuu fa-aazarhu fastaghladha fastawaa ‘alaa suuqihie ju’djibuzurraa’a lijaghiedha bihimul kuffar.......” Jang ertinja l.k.: “....Adalah mereka itu seperti tumbuh2an jang mengeluarkan (melahirkan) anaknja — jang ketjil lagi lemah—, kemudian ia bertambah besar, lalu tegak lurus batangnja (serta kuat), sehingga menta’adjubkan orang2 jang menanamnja, —Begitu pula para Mudjahidin N.I.I. pada mulawnja sedikit serta lemah, kemudian berubah besar dan kuat—, sehingga memarahkan hati orang2 kafir....” H. Tjatat dan Peringatan Umum. Demikianlah beberapa petikan (enkele grepen) dari sedjarah Revolusi Indonesia, setjara garis besarnja (in globale trekken), sedjak 17 Agustus 1945 hingg dengan 27 Desember 1955, dengan sewadjarnja, baik jang mengenai R.I.-1945, NII, RIS, R.I.-1950, maupun jang berkenaan dengan Belanda, begitu pula peranan kaum komunis Indonesia. (lebih landjut, periksa dan bandingkanlah Statement/Manifest Politik Pemerintah NII, Nos. IV, V, VI, VII, DAN VIII/7!). Agar supaja: a. Kita tidak (akan) melupakan djalannja sedjarah itu atau (tjoba2) meng-”kerrap”-nja. b. Mengetahui dan mengenal dengan sungguh2 apa, bagaimana dan siapa R.I. beserta pemimpin2nja; sifat-thabi’atnja, karakter dan mentaliteitnja; tindak-tanduk serta sepakterdjangnja jang selalu tjurangkang serong, tukang dusta dan bohong! Penuh dengan tjatat, noda serta pengchianatnja2! Tegasnja, antara lain2, siapa jang sudah terang dan njata berkompromi, bekerdja sama dan bersatu dengan Belanda?!!!

c. Mengetahui dan mengenal dengan benar2, apa, bagaimana dan siapa itu N.I.I. dan Pemimpin2nja; isi-djiwa, watak, sikap, haluan dan pendiriannja! Setiap orang dan ahli sedjarah jang djudjur dan benar akan mentjatat, bahwa dalam hal melawan pendjadjah, c.q. Belanda, nama N.I.I., Pemimpin2 dan Pe-djuang2 N.I.I. adalah bebas dan bersih dari noda! Alhamdulillah! NOOT: Dengan hal jang demikian itu, maka dapatlah dimengerti, kalau R.I.-1950, (tjoba2) berusaha memindahkan dan mealihkan mukanja jang penuh tjatjad dan hitam” itu kepada alamat lain, dalam hal ini kepada N.I.I., Pemimpin2 dan Pedjuang2 (Mudjahidin) N.I.I.! d. Semua keterangan dan penerangan itu, didjadikan bahanw (gegevens) di dalam melakukan penindjauan (orientatie) dan pertimbangan, serta dapat memudahkan membuat suatu “recontructie” jang selandjutnja dapat menarik serta mengambil kesimpulan (conclusie) jang djudjur dan ‘adil serta tepat dan benar, chususnja di dalam soal disangkut-pautkannja N.I.I., Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja (di dalam perkara “Schimdt & Jungschlaeger cs.”). Demikianlah hendaknja! Insja Allah! Amin! Dalam pada itu, mungkin chalajak ramai akan bertanja, bagaimana haluan, pendirian dan sikap kita (NII) terhadap Irian Barat alias Nieuw Guinea itu. Hal ini —walaupun bukan “rahasia”— belum mau kita djawab dengan pandjang-lebar sekarang ini. Tjukuplah kami njatakan, bahwa soal itu —pada waktunja (te zijner tijd)!— akan kita (NII) hadapi dan selesaikan dengan djalan dan tjara jang tersendiri; dengan djalan dan tjara jang orsinil serta unique! INSJA ALLAH! BAGIAN III: POKOK PERSOALAN: R.I.-1950 (=RIK) Mendjalinkan N.I.I. dengan setjara “Listig” (Litjin-Litjik-Tjurang-Serong) di dalam Perkara Schmidt & Jungsclaeger cs. Ialah sekarang kita kembali kepada pokok-persoalan, ja’ni: Disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia, Imam S.M. Kartosoewirjo dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”! Dengan ringkas, tegas dan djelas, maka di sini kita (NII) menjatakan, bahwa: “Negara Islam Indonesia beserta pemimpin2nja, sama sekali tidak ada sangkut-pautnja dengan perkara "Schmidt, Jungschlaeger cs. jang dituduhkan itu!” Agar (dapat) memuaskan (hati) chalajak ramai, masjarakat umum, maka baiklah kita periksa satu demi satu —jang perlu2 sadja!— apa jang dituduhkan dan didakwakan oleh Pemerintah R.I.-1950, jang diwakili oleh “Djaksa-Tinggi”- Sunarjo, sebagai penun-tut umum (openbare ministerie), begitu pula keterangan2 daripada “saksi2”, disertakan djawaban dan bantahan serta sangkalan kita (NII) atasnja. A. Tuduhan/Dakwaan dan Persaksian.

1. Di dalam tuduhan dan dakwaan resmi, jang dilantjarkan oleh pihak Polisi R.I. (dulunja djuga bekas “polisi”-Belanda!) dan penuntut umum (openbare minis-terie), Djaksa Tinggi Sunarjo, terhadap diri para terdakwa (hingga kini: Schmidt dan Jungschlaeger) berbunji, bahwa: “terdakwa2 tersebut telah berniat dan melakukan usaha untuk merobohkan R.I., antara lain2 dengan tjara bekerdja-sama dengan dan memperlengkapi N.I.I./D.I./T.I.I. 2. Di dalam “persaksiannja” di muka sidang “pengadilan-negeri” Djakarta, Haris bin Suhaemi —jang menjebut dirinja sebagai “bekas anggauta D.I./N.I.I.”—, a.l.l. menja-takan, bahwa: 1) ia pernah mendjadi “kurier-pribadi”, bahkan “pengawal” Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo; 2) ia pernah hadlir dalam suatu “pertemuan antara Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, dengan bekas Wali Negara Pasundan, R.A.A. Wiranata-kusuma, dan bekas Kapten KNIL, Westerling”; 3) ia pernah menjaksikan suatu “pertemuan antara Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dengan bekas Komisaris Tinggi Belanda untuk Indonesia, Lamping, dan bekas Kapten KNIL, Westerling, di Hotel der Nederlanden, Djakarta”; 4) ia sudah pernah melihat “sebuah kapal selam menurunkan perlengkapan2/alat2 sendjata untuk D.I./ N.I.I. di pantai selatan Priangan-Timur, sedangkan nachoda kapal selam itu seorang bangsa Amerika”; 5) ia mengetahui/menjaksikan adanja “dropping dari kapal2 udara asing di atas beberapa daerah di Djawa Barat, untuk keperluan memperlengkapi D.I./N.I.I.”; 6) ia sering melihat “Kapten Bosch dan Schmidt di antara anggauta2 D.I./N.I.I.”; 7) dan lain2 hal, jang semuanja bertudjuan menjangkut-pautkan N.I.I. dalam proces pengadilan tersebut. 3. “Saksi” Tomasoa dalam “persaksiannja” di muka sidang Pengadilan Negeri Djakarta a.l.l. telah menjatakan, bahwa ia “tahu” akan adanja suatu “rentjana Westerling/NIGO/Jungschlaeger cs. guna melawan R.I. di wilajah Djawa Barat, rentjana mana menjebut beberapa nama Komandan Tentara Islam Indonesia (seperti: Ahmad Sungkawa, H. Zainal Abidin) bersama2 (in `e`en adem) dengan pemimpin2 NIGO/APRA dan sebagainja, seakan2 ada kerdja-sama antara NII dengan organisasi2 gelap/subversief (mungkin; dus, belum pasti!) tjiptaan beberapa orang Belanda.” 4. Djuga beberapa orang “saksi” lainnja, jang memperkenalkan dirinja sebagai “bekas anggauta2 D.I./N.I.I.”, menguraikan di muka sidang pengadilan tersebut, hal2 jang bertudjuan mentjampur-adukkan antara komplotan2 (mungkin; dus, belum pasti!) sementara orang2 Belanda di Indonesia dengan perdjuangan N.I.I. 5. Dalam pada itu mungkin masih akan menjusul hal2 jang serupa sifat dan maknanja, jang dimaksudkan sebagai usaha untuk mentjemarkan dan merendahkan N.I.I., Imam S.M. Kartosoewirjo serta Pemimpin2 dan Pedjuang2 N.I.I. sekalian. B. Djawaban, Bantahan, Sangkalan N.I.I. (Negara Islam Indonesia). 1. Terhadap tuduhan dan dakwaan resmi R.I. tersebut: 1) Dalam tuduhan dan dakwaan atas dirinja sedjumlah orang2 Belanda sebagaimana tersebut di

atas, pihak Polisi R.I. beserta kedjaksaan tinggi R.I./Djaksa Tinggi Sunarjo sebagai penuntut umum, dengan sengadja dan sertjara categorisch mela-kukan usaha guna mentjemarkan dan mendjatuhkan nama baik N.I.I. beserta Pemimpin2 N.I.I. di hadapan pendapat umum rakjat Indonesia dan di muka forum Internasional! 2) Usaha merangkaikan/mentjampur-adukkan (samansmelten) perdjuangan sutji N.I.I. dengan gerakan subversief, jang “mungkin”(!) dilakukan oleh sebagian orang2 Belanda di Indonesia adalah sungguh2 absurd dan sama sekali tidak me-ngandung kebenaran sedikitpun djua! Sedangkan, segala daja-upaja R.I., jang mengesankan adanja kerdja-sama antara N.I.I. dengan (kemungkinan adanja!) komplotan gelap, di bawah pimpinan beberapa orang Belanda di Indonesia, merupakan suatu kedjahatan lahir-bathin jang tidak dapat dipertanggungdjawabkan! 3) Merendahkan deradjat dan menodai perdjuangan sutji N.I.I. beserta nama baik, integriteit dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, adalah suatu per-buatan jang sangat kotorkedji dan hina-dina! 2. Terhadap keterangan “saksi” tersebut: 1) Nama Haris bin Suhaemi tidak dikenal dalam kalangan Pimpinan Tinggi/Mene-ngah N.I.I.! Boleh djadi, (mungkin!) dia pernah “berdjuang” di kalangan bawahan N.I.I. di daerah Tasikmalaja, dan pada suatu waktu telah meninggalkan Medan-Djihad, menjeberang kepada R.I., sehingga mendjadi seorang murtad-chijanat. Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, tidak pernah mempunji seorang “kurier pribadi/pengawal/vertrouwensman”, jang bernama Haris bin Suhaemi! Oleh sebab iitu, maka kami menjatakan dengan tegas, bahwa segala keterangan Haris bin Suhaemi di muka sidang Pengadilan Negeri Djakarta, jang maksudnja menjeret2 dan menjangkut-pautkan N.I.I. dengan persoalan (kemungkinan) kom-plotan orang2 Belanda, tidak mengandung kebenaran sama sekali. Tegasnja: dusta alias bohong! Kedustaan dan kebohongannja mana, di-”onderstreep”-nja pula dengan “gam-baran” dirinja Imam S.M. Kartosoewirjo, jang ia (Haris bin Suhaemi) berikan di muka sidang Pengadilan Negeri itu. Bagi setiap orang jang sudah mengenal dan bergaul dengan Imam S.M. Kartosoewirjo, “gambaran” (persoonsbesch-rijving) itu, adalah: salah!!! NOOT: Bukankah begitu, bung Karno, bung Hatta, bung Anwar Tjokroami-noto, bung Abikusno, bung Arudji....? Ingat dan periksalah djuga bantahan serta sangkalannja Sdr. R.A.A. Wiranatakusuma jang ber-kenaan dengan A. 2 : 2) ! NOOT: Kenapa Tuan Lamping berdiam diri.....? 2) Kami mengutuk perbuatan tjurang “saksi” Tomasoa, jang menjataka tentang adanja “kerdja-sama” antara Komandan2 T.I.I. dengan beberapa orang Belanda, misalnja Schmidt, Jungschlaeger dll., orang2 Belanda mana tidak perrnah ada dan tidak dikenal didalam lingkungan perdjuangan N.I.I.! 3) Demikian pula, kami tegaskan di sini, bahwa setiap “keterangan”, jang telah, sedang atau akan diutjapkan dalam perkara ini, di muka sidang pengadilan negeri Djakarta oleh “saksi2” tersebut di atas dan/atau “saksi2” jang lainnja, dengan maksud untuk mengesankan kerdjasama antara N.I.I. dengan (kemungkinan) gerakan subversief orang2 Belanda di Indonesia,

merupakan bual dan isapan djempol belaka! C. Reconstructie, tentang asal-usul, sebab-musabab dan perlu-pentingnja di tjiptakannja sandiwara pendjalinan N.I.I. di dalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs.(oleh R.I.-1950= RIK). Bagi barangsiapa, jang memang ma’lum akan watak, tabi’at, isi-djiwa, maksud-tudjuan dan tjita2 mulia serta sutji dari Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, beserta para Pemimpin/Pedjuang N.I.I. lainnja, kiranja amat sukarlah untuk menaruh keper-tjajaan akan segala fitnahan jang ditudjukan (terhadap) kepada N.I.I. dalam proces pengadilan ini! Memanglah salah satu “siasat perang” (krijgslist) dan lagu lama R.I.-1950 beserta alat2 kekuasannja dalam hal menghadapi perdjuangan N.I.I., ialah untuk menekankan kesan kepada bangsa Indonesia dan Dunia Luar, bahwa terdapat “kerdja-sama” antara N.I.I. dengan segelintir orang2 bangsa Belanda dan berfikir” dalam alam pendja-djahan. Sehingga mudahlah diterka oleh sertiap orang jang menindjau perkembangan politik interinsuler dan internasional selama tahun2 jang terachir, bahwa pihak Politisi dan Kedjaksaan R.I dengan sengadja dan setjara sadar telah mem"buat2" suatu per-kara jang ber-tendenz politis-kriminil, lengkap dengan saksi2 palsu jang disuap2, disogok2, di-intimidir, dianiaja, didjandjikan hadijah2, dipaksa2 ber-sumpah palsu, dllsb., kesemuanja langsung atas instigatie, perintah dan tanggungdjawab pemerintah Ali-Wongso-Arifin/ Ali-Arifin! Memang, mustarilah sa’at untuk “men-tjipta2-kan” perkara serupa itu dan amat djelas-lah latar belakang dari maksud-tudjuan pemerintah Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin dalam hal tersebut. Marilah kami sadjikan sebuah reconstructie umum, berdasarkan pelbagai segi tindjauan. Satu dan lainnja, periksalah lagi uraian kami jang terdahulu! Reconstructie umum mana, adalah sebagai berikut: 1. Sebagaimana sudah diterangkan, maka pada tanggal 17 Agustus 1953, presiden Soekarno telah mengumumkan sebuah decreet pemerintah, jang berisikan “per-ma’luman perang R.I. kepada N.I.I.” (komando-terachir). 2. Decreet itu telah dibuat oleh Soekarno bersama2 dengan pemerintah Ali-Wongso-Arifin – tanpa Masjumi!–, pemerintah mana dibentuk beberapa pekan sebelum tanggal pengumuman decreet tersebut (30 Djuli 1953). Sebagaimana halnja de-ngan Soekarno, maka pemerintah AliWongso-Arifin pun sangat anti-N.I.I., dise-babkan inti daripada kabinet tersebut terdiri dari orang2 komunis, semi-komunis, pembantu2 komunis atau penggemar2 komunismemarhainisme. Sedangkan, setja-ra parlementer, kabinet itu didjaminkan kedudukannja oleh Partai Komunis Indonesia dkk! 3. Apa latjur, meskipun dengan adanja decreet tersebut, jang mengakibatkan me-ningkatnja tindakan2 agressi dengan kekerasan-sendjata dari alat2 kekuasaan R.I. terhadap N.I.I., namun N.I.I. tidak semakin (mendjadi) lemah, bahkan sebaliknja! Perdjuangan gerilja N.I.I. dari sa’at demi sa’at bertambah luas, bahkan l.k. sebulan setelah tanggal dikeluarkannja decreet tersebut di atas, maka Atjeh melepaskan dirinja dari kungkungan dan belenggunja-(masjarakat dan negara)-pantjasila, jang kemudian mengisi serta

memperkuat barisan Mudjahidin N.I.I. (20/21 September 1953)! Allahu Akbar wa Lillahil hamd...........! 4. Melihat kegagalan militer jang menimpa usahanja, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin dan Soekarno sibuk mentjari2 alasan dan tjara untuk menghantam perdju-angan N.I.I., dengan mempergunakan siasat pengchijanatan setjara politis-psychologis! Bersamaan (simultaneously) dengan “decreet”-”komando terachir” (!) itu, maka timbul dan datanglah pula minat serta hasrat bung Karno dan pemerintah Ali-Wongso-Arifin –atas desakan “rakjat” jang dipelopori oleh kaum komunis (-Indonesia)!– untuk “memperdjuangkan” lagi (untuk kesekian kalinja djuga!) masuknja Irian Barat (West Nieuw Guinea!) kedalam wilayah kekuasaan R.I.-1950. Memang tidak sanggup, tidak mampu dan tidak berani, baik lahir maupun bathin, memakai djalan “biarlah mulut2 bedil dan meriam jang berbitjara” (sic!), maka ditempuhnjalah (tjoba2) djalan “diplomasi” ( jang “empuk-lunak”!), disertai usaha2 penghasutan2 dan ketjurangan-ketjurangan, dengan “harapannja” –begitulah perhitungannja! dengan “harapannja”– dapat berarah ke dalam mau-pun keluar (negeri)! 5. Dengan demikian, terang dan djelaslah, bahwa “djago”-Karno dan pemerintah Ali-WongsoArifin, menghadapi dua rupa persoalan (vraagstuk, problem), jang sangat sulit-rumit pemetjahannja (oplossingnja)! Bagaimana ‘akal dan djalannja! “Kebetulan” (tuvallig), lebih kurang pada waktu itu, (achir tahun 1953) beberapa puluh orang Belanda ditangkapi oleh Polisi R.I., penangkapan2 mana untuk sebagian besar dilakukan di kota besar Bandung! Di antara sekian banjak orang2 Belanda jang ditangkapi itu, terdapat djuga seorang Belanda, jang ditangkapi itu, terdapat djuga seorang Belanda, jang konon kabarnja, adalah bekas Kapten KNIL dan pada waktu itu bekerdja di Denis, Bandung, bernamakan-”asli”: “Schmidt” (batja: Sjmit! —edjaan Djerman). “Kebetulan” lagi, di kalangan para Mudjahidin N.I.I., ada bekerdja seorang ketu-runan Belanda jang bernamakan-”asli”: Ch.H. van Kleef, dengan (menggunakan) nama —“samaran” (Schuilnaam, Pseudoniem): W(im) Smits (edjaan Belanda!) Djelas-tegasnja: – Bekas-kapten KNIL dan pegawai Denis (Bandung) Schmidt itu, jang kini di hadapkan di muka pengadilan-negeri Djakarta, bukanlah W. Smits alias Ch. H. Van Kleef, Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I.! Atau: – Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I. W. Smits = (sama dengan) Ch. H. Van Kleef, tapi tidak sama dan bukan Schmidt, bekas kapten-KNIL dan pegawai Denis Bandung, jang kini diperiksa di Djakarta itu. Baik djuga diterangkan, bahwa W. Smits alias Ch. H. Van Kleef, Mudjahid-PenggalangPendukung N.I.I., hingga kini (27 Desember 1955) masih tetap ada dan berada di tengah2 dan tidak djauh dari para Mudjahidin lainnja. Harap mafhum dan ma’lum! Lebih landjut, tentang soalnja Ch. H. Van Kleef alias W. Smits (bukan Schmidt!), Insja Allah, akan didjelaskan di dalam bab atau bagian lain. Dengan adanja “co-incidentie” ini, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin jang “merah” dan/ atau “merah-djambu” itu, dengan bung Karno sekali, mendapat suatu “alat” dan “tongkat” (alias

‘akal bulus-buruk)...!!! Mendapat suatu “alat”, berupakan “pedang” jang “bermata-dua” .....!!! 6. Sebagaimana telah diuraikan tadi, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin (jang kemudiannja mendjadi A.-A. = Ali-Arifin!) + bung Karno, menghadapi dua rupa persoalan jang sulit, ja’ni: Pertama: Melawan dan mentjoba (berusaha) membasmi dan menghantjurkan N.I.I.; dan Kedua : Memasukkan Irian-Barat (West Niew Guinea!) ke dalam wilayah kekuasaan R.I.-1950. bagi pemetjahan (oplossing, solution) kedua persoalan tersebut, diperlukan sekali sebagai sjaratpertama dan jang terutama: Semangat daripada seluruh lapisan rakjat dilingkungan R.I.-1950! “Tongkat”, “pedang-bermata-dua” sekarang sudah ada di tangannja! Dan lobangpun sudah digalinja .....!!! Maka dengan “pintar-litjin-dan litjiknja” (listig), diputuskannjalah oleh pemerintah Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin untuk meng-komidir penjelesaian kedua persoalan itu setjara politis-psychologis, agar —demikian harapannja!— dapat “memukul dua ekor lalat sekaligus”, dapat “twee vliegen in één klap slaan”....!!! Sungguh “plintar” dan “litjin”...!!! Sungguh “efficient”, “effectief” dan “rasionalnil”.......!!! Kemudian, —di samping usaha2 jang lainnja—, ditjetuskannjalah sebuah perkara politiskriminil, jang serba sensasionil dan tendentieus itu, jang mentjampur-adukkan perdjuangan N.I.I. dengan hal (kemungkinan!) gerakan subversief beberapa gelintir orang2 Belanda di Indonesia! Dengan “men-”seru”-kan (verwissenleu) nama Schmidt dan Smits! Dengan tjara menghasut2 rakjat R.I. terhadap perdjuangan sutji N.I.I., dengan djalan membuat kesan seakan2 N.I.I. “bekerdja-sama” dengan pihak Belanda untuk mendjadjah bangsa Indonesia, maka Soekarno & kabinet Ali-Arifin ber-pengharapan akan dapat “menghibur” rakjat djelata dan memindahkan perhatian mereka daripada soal penderitaan lahir-bathin, jang meliputi alam kehidupan/penghidupannja, dan menstimultir serta membangkitkan fighting spirit atau semangat perlawanan rakjat R.I., baik terhadap N.I.I. maupun terhadap pihakBelanda! NOOT: Dengan berdasarkan atas “zo heer, zo knecht” (= begitu tuan, begitu pulalah budjangnja), maka dengan radjin dan giatnja TNI melakukan aksi dan propagandanja, menjebar-njebarkan pamflet dimana-mana. Dan, jang dipakai alat-propaganda serta agitasi itu, ialah keterangan2 saksi2 Haris bin Suhaemi dll.-nja. Kenapa “kol.” Kawilarang diam? Kenapa “kapten” (kini: “major”) Nawawi Alif bungkam? “Kol.” Kawilarang dan “major” Nawawi Alif tahu, bahwa Schmidt itu, bukanlah W. Smits alias Ch. H. Van Kleef! Bukankah potret (foto) W. Smiths alias Ch.H. van Kleef pernah dimuat didalam madjalah-tentara (dalam lingkungan T.T. -III) jang dipimpin oleh saudara Nawawi Alif (ketika itu masih “kapten”!)??? Dengan mempergunakan alat-fitnah jang sangat hina-dina, kotor, tjurang dan serong itu, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin pun bermaksud menu-tupi segala kegagalannja di lapangan politik dalam maupun luar negeri! Kesemuanja itu djuga hendak dipergunakan untuk menghasilkan keuntungan baginja dari pihak dunia luar, bagi pemetjahan kedua masalah penting itu! 7. Maka keluarlah perintah rahasia dari kabinet Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin, melalui tangan “kotor” Menteri Kehakiman-nja, Mr. Djody Gondokusumo, seorang jang terkenal berfikir dan

berbuat menurut asas2 ideologi komunis, seorang koruptor besar, tanpa “geweten”. Sama sekali ta’ sukarlah untuk memahami peranan jang telah dipegang oleh Menteri “Kehakiman” ini, dalam perkara politis-kriminil tersebut! Kedoknja terbuka lebar, disa’at ia dimasukkan ke dalam tahanan pihak jang berwadjib, beberapa hari setelah ia dibebaskan dari tugasnja sebagai “Menteri Kehakiman” dalam kabinet-merah Ali-Arifin! Seorang jang sanggup mengeruk2 (schrapen) uang untuk kepentingan diri sendiri serta partainja dengan djalan mempergunakan kekuasaan djabatannja sebagai “menteri”, jang sanggup menerima uang suap, jang sanggup memasukkan tangan-nja ke dalam perkara2 kotor, sebagaimana achir2 ini dibuktikan kepada umum, pasti ta’ akan segan2 untuk ikut “mentjiptakan” suatu kekedjian terhadap kepada N.I.I.! Nistjaja tidaklah sukar bagi seorang “djago jang-korrup”, untuk memerintahkan “anakbuah”nja, seperti Djaksa Tinggi Sunarjo, guna “membuat2” sesuatu perkara fictief jang bersifat politis-kriminil, jang dapat menggemparkan chalajak ramai di Indonesia dan di dunia umumnja, selaku usaha untuk menghantjurkan N.I.I.! Sama sekali ta’ sukarlah pula kiranja bagi Djody Gondokusumo dan Djaksa Tinggi Sunarjo untuk “membeli” kesetiaan dan ketha’atan (gewilligheid) para pegawai Polisi R.I. (anak2 buah “perdana menteri” AliSastroamidjojo!), guna memindjamkan tangan- “kotor” mereka dalam hal “pengusutan” sesuatu “perkara bikin2an” serupa itu. Bagi kaum koruptor kalangan atasan amat mudahlah untuk membajang2kan djan-dji2 akan kenaikan pangkat/djabatan, hadiah2 istimewa, dllsb. Kepada anak2 buahnja! Sebaliknja, bagi kaum korruptor kalangan bawahan, memang sangatlah memikat hati untuk menerima dan mempertjajai djandji2 sedemikian rupa! 8. Sebahagian pegawai Polisi R.I., jang “dipilih” (“keur-corps”?!) oleh Djaksa Tinggi Sunarjo untuk “mengusut” perkara tersebut, dengan segala djalan dan tjara jang illegal, seperti: menjuap2, meng-intimidir, menganiaja, mendjandji2kan hadiah dllsb., telah memaksakan saksi2 palsu untuk menerangkan suatu tjeritera chajal, jang didikte oleh Djaksa Tinggi Sunarjo, “menteri kehakiman” Djody Gondokusumo, “perdana menteri” Ali Sastroamidjojo dkk.! Hal ini tjukup terbukti, melihat kegaduhan suasana jang senantiasa meliputi sedang pemeriksaan para terdakwa dalam proces itu, serta kenjataan, bahwa sebahagian daripada “saksi2” a chargo itu telah mentjabut kembali segala keterangan mereka jang diberikannja dimuka Polisi, dengan alasan, bahwa mereka telah dianiaja oleh pegawai2 Polisi R.I. tersebut! 9. Guna melengkapkan (ter completering), maka baiklah sekarang kami terangkan —beberapa hal jang perlu2 sadja dan setjara ringkas— jang berkenaan dengan dirinja Ch.H. van Kleef, nama samarannja mana (dulu) adalah: Wim Smits. Ch.H. van Kleef a.W. Smits adalah seorang keturunan Belanda dan berumur sekarang l.k. 41 tahun (dilahirkan pada tanggal 15 April 1915). Sebagaimana orang Belanda (Indo) lainnja, maka dulunja ia mendjadi pegawai pemerintah-kolonial Belanda (polisi dan tentara). Setelah RIS berdiri, ia memilih N.I.I. sebagai lapangan pekerdjaannja. Maka djadilah ia seorang pegawai N.I.I., sedjak awal (permulaan) bulan Februari 1951, dengan tetap memeluk kepertjajaan dan kejakinannja (Rooma Katholiek). Untuk suatu keperluan, maka ia pernah mengikut (tegasnja: bukan dan tidak memimpin!) dengan suatu kesatuan Tentara Islam

Indonesia kedaerah Tjiandjur (pada pertengahan tahun 1951 —bulan Djuni!—). Kurang dari sebulan, ia dengan kesatuan Tentara Islam Indonesia itu berada di daerah Tjiandjur (kawedanaan Tjirandjang); kemudian berangkat lagi “dibawa” oleh kesatuan T.I.I. tersebut, meninggalkan daerah Tjiandjur pulang dan kembali kepangkalan semula. Teranglah, bahwa jang pernah datang kedaerah Tjiandjur dengan T.I.I., adalah W. Smits alias Ch.H.van Kleef, Mudjahid-N.I.I. dan bukanlah Schimdt jang sekarang diperiksa di Djakarta. Adapun jang terkenal dan disebut “Ejang” (Madhapi) didaerah karesidenan Bogor dan jang sering disebut2 oleh “saksi2” a charge (bekas anggauta2 “DI/TII”), tiada lain dan tiada bukan, adalah Pemimpin kami, ja’ni Letnan Djenderal T.I.I. Rd. Sanusi Partawidjaja, K. S.U. A.P.N.I.I., jang kini bertugas di luar Djawa/Indonesia! Pada tanggal 15 Djuli 1953 —setelah 2½ tahun bekerdja di salah satu instansi N.I.I. dan bergaul dengan para Mudjahidin N.I.I.— maka dengan kemauannja sendiri, dengan suka-rela (vrijwillig!) —ingat: bukan dan tidak dipaksa; sebab didalam Agama Islam jang sutji tidak ada paksaan!—, dengan ichlas dan sutji-hati, ia (Ch.H. v. Kleef a W. Smits) memeluk Agama Islam, mendjadi Muslim jang selandjutnja, djadilah ia: Mudjahid, Penggalang serta Pendukung Negara Islam Indonesia jang volwaardig (penuh). Dengan niat jang sutji serta ichlas, hendak mengabdikan dirinja (dienen) kepada Allah S.w.T.; dan mentjurahkan segala sesuatu jang ada padanja bagi kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia, dan Ummat Islam Bangsa Indonesia! Bagi setiap orang, chususnja Muslim, jang mengikuti dan tahu benar2 akan tarich Nabi -Kekasih-Allah. Muhammad Clm., maka bolehlah ia (Ch.H. v. Kleef a W. Smits) itu dinisbatkan dengan Shahabat Salman Al-Farisy r.a. Alhamdu lillah, Allahu Akbar! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat serta Tolong dan Sih-Kurnia Allah, Dzat Jang MahaMurah lagi Maha-Asih, djua. Sampai hari ini (27 Desember 1955), ia (Muslim Mudjahid N.I.I. Ch.H. v. Kleef a W. Smits) dengan asjik, chusju’ dan chudlu’nja sedang menunaikan dharmabaktinja kepada Allah semata, berdjuang, berdjihad li-i’lai Kalimatillah, bersama2 dengan saudara2nja, pada Mudjahidin lainnja, dan berada dalam keadaan selamat-sedjahtera, sehat dan ‘afiat, lahir-bathin! Alhamdu lillah! Mudah2an demikianlah selandjutnja. Insja Allah. Amin. M asjarakat-djahilijah-pantjasila, terutama dalam kalangan pemerintahannja, dari bawah hingga atas, tiada terketjuali ..... “geger”, “ribut”, “gempar”.......!!! Surat2 kabar, madjalah2 dllsb. Diisilah dengan berita, chabar dan kedjadian serta peristiwa itu! Pamflet2 disebarkan ..... ja dari darat, ja dari udara (wallahu a’lam dari laut; barangkali djuga ada?)....!!! Dengan tidak lupa pula dihiasi dengan portrat (foto) Ch.H. v. Kleef a W. Smits ...... sebagai buktinja! Pemantjar2 radio, djuga tidak mau ketinggalan.........!!! Propaganda di sini, agitasi di sana.......! Beri “bumbu” di sini, tambah bumbu di sana......! Alhasil, seluruhnja: geger, ribut, gempar, ramai dan sibuk.......! Uang dan kapital jang bukan dan tidak sedikit dikeluarkan..! Atas pundak dan beban rakjat! Apa toch jang digegerkan, diributkan, digemparkan dan diramaikan itu.....?!!! Jang mendjadi

sebab, tidak lain-tidak bukan dan tidak lebih-tidak kurang: – S-A-T-U (batja dan tulis s-a-t-u; one, wahid!) orang keturunan Belanda jang bernama Ch.H. v. Kleef alias W. Smits, Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I.........!!! Dengan keadaan dan heboh itu —jang memakan banjak uang dan kapital atas djerihpajah rakjat djelata!—, kami, Djajasakti, pembuat Statement ini, hanja “mesem” sadja, menundukkan kepalaku dengan serta-merta dan memandjatkan sebanjak2 tasbih, tahmid dan takbir kehadlirat Allah S.w.T.......!!! Kena apa? Sebab apa.....?!! Sebabnja, tiadalah lain, hanja —demikianlah kejakinan jang ditanamkan oleh Tuhan Seru sekalian ‘alam di dalam hati dan djiwaku—, bahwa: – Sungguh Besar dan Tinggi nilai serta Mahal harganja seorang jang hendak mengabdikan dirinja kepada Allah semata. Memang demikianlah! Besar dan tinggi nilai sserta mahal harganja seorang Mudjahid-sedjati, Mudjahid-jang-muwahhid........! Allahu Akbar! Maka kepada Mudjahid Ch.H. v. Kleef a W. Smits pun sudah kami sampaikan utjapan “Selamat”, sebagai tanda-sjukur kami kehadlirat Ilahy, atas kehormatan (eer) jang besar jang dia peroleh dari pihak R.I.-1950! Dan, tidak lupa, dari tempat ini, kami ingin pula menjampaikan utjapan terima kasiy kepada pihak R.I.-1950 beserta pemerintahannja dan alat2nja, dari bawah hingga atas, tiada terketjuali, atas Penghargaan dan Penilaiannja itu! Sekali lagi: terima kasih dan alhamdu lillah! Selain daripada itu, djuga hanja menundjukkan Kelemahan (Zwakheid) R.I.-1950. Sebab, orang jang “kuat”, tidak usah dan tidak perlu ribut2 atau geger...... dan gempar. (Bukankah begitu?). NOOT: 1) Dalam pada itu —tussen twee haak jes— berapa banjak orang2 Belanda, baik jang “totok” maupun jang “indo” jang ada dan bekerdja pada R.I.-1950? Bahkan banjak djuga (!) jang menduduki djabatan2 jang penting?!!! Tjoba, tolong terangkan! Terima kasih, sebelumdan sesudahnja.......! Memang, biasanja (?!) “kuman” di tepi laut (sana) tampak, tapi “gadjah” di kelopak matanja sendiri, tidak (tampak); atau memin-djam kata2 orang Belanda: “Men ziet wel een splinter in iemand anderr oog, masr de balk in zijn eigen oog ziet men niet”.....!!! Apakah kita (NII) mengegerkan dan meributkan soalnja orang2 Belanda jang ada dan bekerdja pada R.I.-1950? Toch tidak......? Sebab, itu bukanlah/ dan urusan kita (NII). Tapi, hal serta urusan R.I. dan jang bersangkutan sendiri! Lagi pula, kita merasa sajang dan tidak mau mengeluarkan energie kita untuk perkara jg. serupa serta ketjil itu............! Dan, pendirian kami jang pertama dan jang terutama, dalam hal ini, adalah: “Manusia itu dilahirkan merdeka; djadi, merdeka-dan bebaslah pula ia mentjari dan memilih (lapangan) pekerdjaan jang disukainja, menurut bakat dan ketjakapannja”. N’est ce pas ? 2) Baik djuga masjarakat umum, chalajak ramai mengetahui dan men-tjatat, bahwa di kalangan N.I.I. djuga terdapat orang2 Bangsa (turunan) Arab, orang2 Bangsa Djepang, orang2 Bangsa Tionghoa dllsb. Kita (NII) senantiasa dan selalu siap-sedia menerima saudara2 kita Bangsa lain, jang ingin dan suka menjumbangkan tenaga dan fikirannja, asal sadja:

a) djudjur, benar, ichlas dan setia; dan b) tidak merugikan Agama Islam, Negara Islam Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia pada chususnja serta seluruh Ummat Bangsa Indonesia pada umumnja. Kecuali kaum komunis, maka bagi mereka tidaklah ada kesem-patan dan lapang, walau dia, orang dan bangsa Indonesia seka-lipun! Harap ma’lum ! 10. Maka, dengan reconstructie umum ini, tidaklah sukar bagi kita dan masjarakat-umum, chalajak ramai, baik didalam maupun di luar negeri, jang berfikirkan sehat-kritis serta mempunjai pertimbangan jang adil, djudjur dan benar, untuk menarik suatu kesimpulan, bahwa: — Menjangkut-pautkan, menjeret-njeret dan membawa2 Negara Islam Indonesia beserta Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja didalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs. itu, adalah: Suatu Sandiwara Besar-besaran. Sandiwara Besar-besaran jang sangat Rendah, Hina-dina, Kotor, Kedji, Tjurang, Bohong dllsb. NOOT: 1) Kami pun, Alhamdu lillah, tahu “Riwajat Reichtag” di Djerman, semasa Hitler ........!!! 2) Perlu djuga di sini kami peringatkan, bahwa: a. Tongkat itu, dapat kembali (memukul) kepada jang memukulnja; tjoba tanjakan kepada orang suku Sunda apa ertinja “taming meulit ka bitis”. b. Pedang-jang-bermata-dua itu dapat djuga “memakan tuannja” (= sendjata makan tuan!). Dan, c. Barangsiapa menggali lobang untuk orang lain, maka dia sendirilah jang (akan) terperosok (dan dikubur!) ke-dalamnja (Wie een kuil graaft voor ‘n ander, vait er zelf in!). Insja Allah. Amin. Baiklah hal ini, kita —masjarakat umum, chalajak-ramai, dan kami/N.I.I.— tunggu, lihat dan saksikan! BAGIAN IV: MENOROPONG SIDANG PENGADILAN-NEGERI DJAKARTA, IBU-KOTA “NEGARA-HUKUM” (?!) R.I.-1950 (= R.I.K.) Sekarang, baiklah kita melihat dan meneropong keadaan dan kedjadian serta peristiwa di sekitar sidang-pengadilan-negeri di Djakarta, jang memeriksa Schmidt & Jungschlaeger cs. (setjara ringkas dan jang perlu2 sadja). A. Kenapa Hakim Mr. Lim, jang mula-pertama mengetuai sidang2 pengadilan itu, mengundurkan diri dan minta dibebaskan daripada tugasnja sebagai Hakim dan Ketua Sidangpengadilan tersebut? Kiranja, bukanlah karena jang terhormat Hakim Mr. Lim itu sakit ( — met groot verlof, Edel achtbare ?!— ).....! Maka, kepada para Hakim jang mengurus dan meng’adili perkara ini, kiranja ta’ usah dan ta’ perlulah kami di sini memeperingatkan akan “Sumpah-Hakim” dan “ere-code” Saudara2,

sebagai hakim (rechter, judge). Sebab, kami pertjaja dan jakin, bahwa Saudara2 (Hakim2) sadar dan insaf akan kewadjibannja, selaku pemegang dan pembela kebenaran dan ke’adilan, sebagai wakil daripada “Vrouwe Justitia” (jang ditutup kedua matanja oleh sepotong kain jang-”horizontal”, dan bukan oleh sepotong kain-jang-”mentjeng” atau “verticaal”)! B. “Saksi2” `a charge jang terpenting, sebagaimana diketahui, adalah: a. bekas alat-pendjadjah-Belanda, tegasnja bekas-kaki-tangan-alat-kekuasaan-kolonial, seperti Tomasoa, Manoch dll.; dan b. bekas-anggauta-”D.I./T.I.I.”, jang atau murtad/chijanat, atau tertawan di Medan-Djihad, seperti Haris bin Suhaemi dll. Melihat dan mengingat keadaan jang sedemikian itu, maka setjara psychologisch, dapatlah kita fahami dengan mudah, bahwa “saksi” tersebut, tentu terpaksa melakukan segala sesuatu jang sama-sekali tidak mengandung suatu kebenaran atau/dan menerangkan sesuatu jang diharapkan daripadanja, guna kepentingan dan keselamatan dirinja semata2! (leuter uit zucht tot selfbehoud!) Walhasil (ringkasnja): – Saksi2 tersebut dalam sub a. tadi, ingin “menutup” segala dosanja dimasa jang lampau, terutama dalam masa “Revolusi Nasional” dan ingin “diakui” serta mendapat kedudukan/kehidupan jang lajak dilingkungan R.I.-1950; dan – Saksi2 tersebut dalam sub b. Tadi, ingin bebas dan takut dibunuh (mati). Maka, oleh karenanja, “saksi” jang sedemikian itu, terang tidak dapat berlaku dan bersifat adil. Djadi, tegasnja: TIDAK SAH! (sic!) C. Kenapa pembela terdakwa2, Mr. Nani Razak, djuga mengundurkan diri? “Sakit”-kah pula? Atau terlalu banjak “bitjara”...? Atau mendapat “antjaman” dari pihak “jang berwadjib” di kalangan R.I.-1950? Kenapa pihak R.I.-1950 menolak pembela (advocaat) dari luar negeri untuk terdakwa2? Seperti pengatjara orang Inggeris! Derek Curtis Bennett? Apakah tidak sanggup menghadapi advocaat luar negeri? Ataukah masih tumbuh dengan suburnja (penjakit) “minderwaardigheids dan inferieure complexen” dikalangan orang2 dan pemimpin2 R.I.-1950? Alasan dan hudjah, bahwa di Indonesia ini, masih banjak terdapat pengatjara jang volwaardig, adalah ditjari-tjari, adalah tidak tjukup kuat dan sah. Alasan itu, hanja merupakan advocaterijtingkat-bawah sadja alias “pemokrolan-bambu” jang murah. Konon chabarnja, R.I.-1950 itu adalah suatu “negara-hukum”. Djika benar2 dan betul2, R.I.-1950 itu, adalah “negara-hukum” dan sungguh2 berdiri di atas dasar haq (kebenaran), kenapa tidak mau dan tidak berani menghadapi advocaat, pembela dari luar-negeri, seperti Tuan Derek Curtis Bennett itu? Ketahuilah, orang jang benar, orang jang berdiri di atas haq, adalah kuat. Djadi, tidak usah dan tidak perlu chawatir dan takut! Kalau kita benar2, betul2 dan sungguh2 “djago” kebenaran dan “pembela”-keadilan, harus dan mestilah kita mempunjai pendirian, bahwa, bagaimana pula keadaannja, haq (recht. Kebenaran) itu, harus dan mesti berdjalan sebagaimana mestinja. Harus dan mesti bersikap “het recht zal zijn beloop hebben”.......!!! Walau diri kita, karena-nja, harus menderita kerugian, dan, bila perlu, harus hantjur-lebur sekalipun.......!!! Kalau tidak berani, maka itu hanja menundjukkan, bahwa ada “apa2” jang (harus) disembunjikan, takut terbuka “gutji wasiat”. Menandakan “there’s something rotten”....! Ja of Ja.......?! Djika memang R.I.-1950 itu, “bersih”

dan “sutji”, tjoba terima dan berilah kesempatan dan keleluasaan kepada Tuan D.C. Bennett atau kepada siapa sadja dan, bila perlu, semua pengatjara dari seluruh dunia......!!! Tjoba, tjoba fikirkan dan renungkan, hai “djago2”-hukum, “pahlawa2”-kebenaran dan “pembela2”ke’adilan jang ada semuanja di kalangan R.I.-1950, advies kami nan “pro deo” (lillah) ini! BAGIAN V: TAWARAN N.I.I. KEPADA R.I.-1950 Demikianlah, sangkalan dan bantahan kami atas disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta nama baik dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo —mudah2an Berkah dan Rachmat Allah selalu dilimpahkan kepadanja—, begitu pula Pemimpin2 N.I.I. lainnja, di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs”, perkara mana hingga kini masih terus berdjalan. Atas semua keterangan, penerangan, sangkalan dan bantahan itu, kami berani bertanggungdjawab sepenuhnja, baik terhadap mahkamah Masjarakat dunia seluruhnja, maupun terhadap mahkamah sedjarah dan lebih djauh, terhadap Mahkamah Allah, Tuhan Seru Sekalian ‘Alam. Insja Allah . Tegasnja, kami/ N.I.I. berani dan siap-sedia, setiap sa’at dan waktu, diperiksa oleh siapa sadja dan dari mana pula datangnja, bahkan oleh seluruh dunia beserta semua isinja sekalipun, atas benar dan kebenarannja sangkalan serta bantahan kami itu (chusus-nja, jang berkenaan dengan soal disangkut-pautkannja N.I.I. di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”). Silahkan! Kami “berani”, bukanlah karena apa2. Hanja karena Allah semata, jang hidup dan mati kami ada di tangan-Nja! Demi kepentingan haq (kebenaran) dan ke’adilan serta kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ummat/ Rakjat Bangsa Indonesia seluruhnja, djua. Kemudian, agar supaja masjarakat umum, chalajak ramai, djangan mengira dan menduga, bahwa pernjataan kami itu, adalah hanja “omong-kosong” jang murah belaka, maka baiklah di sini kami memadjukan “usul” dan “tawaran” kepada fihak R.I.-1950, ja’ni: – Bila R.I.-1950 sungguh2 dapat membuktikan, sebagaimana jang dituduhkan oleh penuntut umum, Djaksa Tinggi Sunarjo itu, maka kami —Insja Allah!— tanpa sjarat, akan memasrahkan serta menjerahkan Negara Islam Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua lainnja, kepada R.I.-1950. Akan tetapi sebaliknja, – Bila ternjata tidak benar, maka pihak R.I.-1950 pun harus dan mesti memasrahkan dan menjerahkan (Negara) Republik Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua isinja, kepada Negara Islam Indonesia (N.I.I.), djuga tanpa sjarat. Demikian usul serta tawaran kami jang tidak seberapa. Dan, bila “tawaran” ini diteri-ma oleh pihak R.I.-1950, maka sebagai “jury” kami minta jang neutral, jang ‘adil, jang tidak beratsebelah! Tegasnja, jury dari luar-negeri! Tjoba, djawab “tawaran” kami ini! Waktu-terachir (laatste termijn); Tgl, 7 Agustus 1956. Kiranja, tjukup pandjang dan lama termijn/waktu jang diberikan untuk mem-fikirkan dan memutuskannja. Tapi, lebih tjepat, adalah lebih baik dan utama. Silahkan! Kami tunggu! Insja

Allah! KALAM ACHIR 1. Kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, chususnja kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100% serta ‘adil, benar dan djudjur, hendaklah suka mendjadi saksi dan ikut serta meng’adili soal dan perkara ini. Terima kasih. 2. Begitu pula, kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, terutama kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100%, perlu di sini, kami mengharapkan ma’afnja, berhubung didalam pernjataan-resmi kami ini, banjak djuga terdapat istilah2 dan kata2 asing, terutama istilah2 bahasa Belanda. Tiada lain, oleh karena masjarakat, pemerintah dan pemimpin2 R.I.-1950 (inclusief “djago”-Soekarno!) masih “suka” dan “seneng” (!) memakai dan menggunakannja, walaupun, konon katanja, bahasa Belanda hendak dilenjap-hapuskan dari alam Indonesia jang merdeka ini. Sekali lagi, harap ma’af banjak2 dan ma’lum. Terima kasih....! 3. Kepada para “pemimpin” R.I.-1950, terutama kepada “tjabang atasnja” (inclusief “djago”Soekarno!), ingin pula kami njatakan, bahwa beberapa bagian (passages) daripada pernjataan resmi kami ini, tidak begitu “enak” dan “manis” dibatja dan didengarnja. Tiada lain, maka hal itu kami kembalikan kepada mereka. Tegasnja, adalah mendjadi risiko dan mendjadi tanggungdjawab mereka sepenuhnja (sendiri). Bukankah pepatah Belanda (lagi) menjatakan bahwa: – Wie kaatst, mut de bal verwachten ? Dan, – Wie wind zaait, zal storm oogsten ?!!! 4. Baik djuga kami peringatkan di sini, bahwa: – Wal-fitnatu asjaddu minal-qatli.....! Dan fitnah itu lebih berbahaja —lebih besar urusan dan perkaranja— dari pada membunuh (orang) Firman Allah: Djaa-al haqqu wa zahaqal-baathilu; innal baathila kaana zahuuqaa. Bila haq (kebenaran) tiba, (maka) jang bathil/salah (mesti) lari (lenjap). Sesung-guhnja, jang bathal/salah itu adalah (bersifat) pelari...... —Firman Allah!— Kemudian, segala Pudji dan Sjukur kami pandjatkan kehadlirat Allah S.w.T., Jang hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat, serta Tolong dan Sih-Kurnia-Nja djua, pernja-taan resmi ini, dapat kami sadjikan kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, baik jang ada di Indonesia, maupun jang ada di luar negeri. Achirnja, segala sesuatu kami kembalikan dan pulangkan kepada Dzat Ghafururrahim, dan kepada-Njalah djua kami berlindung serta berserah diri.......! Bismillahi tawakkalna ‘alallah...Lahaula wala quwwata illah billahil-’alijjil-’adziem....! Allahu Akbar! Juqtal Au Jaghlib!!!ssalam,Anggauta Komandemen TertinggiAngkatan Perang Negara Islam IndonesiaDJAJASAKTIDjenderal Major T.I.I.Medan Djihad, 27 Desember 1955 STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI
STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA

TENTANG: BUKTI KEBENARANNJA N.I.I. DAN BUKTI KEPALSUAN, KETJURANGAN SERTA KECHIJANATANNJA R.I.-1950-PANTJASILA-KOMUNIS Firman Allah S.w.T.: “Diturunkan-Nja air hudjan dari langit, lalu mengalir di lembah dengan kadarnja, maka air bah itu mengandung buih jang timbul dimuka air. Di atas benda jang dibakar dengan api, untuk mendjadi perhiasan dan mata benda, ada pula bih seumpama air bah itu. Demikianlah Allah meumpamakan jang benar (haq) dan jang tiada benar (batal). Adapun buih itu maka lenjaplah sebagai kotoran, dan adapun jang berguna bagi manusia tetaplah ia tinggal dimuka bumi. Demikianlah Allah melukiskan beberapa perumpamaan.” (Q.S. XIII – Al-Ra’du: 17). Bismillahirrahmanirrahim, 7 Agustus 1949: Proklamasi Berdirinja N.I.I. Assalamu ‘ala manittaba’alhuda wa-rahmatullahi wa-barakatuh! 1. Alhamdu lillah wa Sjukru lillah… Allahu Akbar! Allahumma! Iyaka na’budu wa-iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim….! Amin! 2. Sebagaimana kita sama2 sudah ma’lum, maka pada tanggal 27 Desember 1955, oleh Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia buah Statement, No. IX/7, jang ditanda-tangani Statement mana menegaskan: -- Sikap (reaksi), bantahan dan sangkalan Negara Islam Indonesia terhadap tipu-muslihat R.I.-1950, berkenaan dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indo-nesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs. -Semendjak l.k. 8 (delapan) bulan jang lalu, Statement No. IX/7 tersebut, telah disiarkan setjara luas, baik dikalangan Negara Islam Indonesia sendiri, maupun terutama sekali (!), dilingkungan R.I.-1950-pantjasila-komunis dan begitu pula keluar negeri. NOOT: Andaikata dan bilamana ada sebagian daripada Rakjat Indonesia, jang hidup di bawah kekuasaan R.I.-1950pantjasila-komunis, hingga sa’at ini djuga belum sempat/dapat mema’lumi isi daripada Statement tersebut, maka itu adalah semata2 akibat daripada sikap tjurang-palsu-chijanat, pengetjut, jang memang sudah mendjadi sifat dan tabi’at serta milik daripada Pemerintahan, pemimpin2-gadungan dan pers R.I.-1950- pantjasila-komunis. Tiada lain, agar ma’lum dan faham djua! Bagian V daripada Statement jang maha-penting itu, dengan terang, djelas dan tegas memuat suatu bukti akan kebenarannja, bahkan suatu "kuntji" kebenaran dan "batu udjian" (tustssteen), jang selandjutnja djuga berlaku sebagai "sanctie", untuk mengudji dengan seluas2-dan sedalam2nja masalah “Haq dan Batal”, terutama di dalam soal peperangan antara N.I.I. dengan R.I.-1950-pantjasila-komunis. Tegasnja: -- Pihak manakah jang benar, ‘adil dan berdiri di atas dasar Haq. Dan -- Pihak manakah jang salah, tjurang, chijanat serta berdiri di atas dasar Bathal. 3. A. Adapun kuntji-kebenaran, batu-udjian dan sanctie (!) itu, ialah terkandung di dalam “Usul” dan “Tawaran” daripada pihak Negara Islam Indonesia kepada R.I.-1950 –pantjasila-komunis, seperti tertera “hitam di atas putih”, di dalam Bagian V daripada Statement tersebut.Agar djelasnja, baiklah, di bawah ini, kami berikutkan lagi (kutipan dari) Bagian V jang dimaksudkan itu. "........................................................................................................................... Bagian V: Tawaran N.I.I. kepada R.I.-1950

Demikianlah, sangkalan dan bantahan kami atas disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta nama baik dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo —mudah2an Berkah dan Rachmat Allah selalu dilimpahkan kepadanja—, begitu pula Pemimpin2 N.I.I. lainnja, di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs”, perkara mana hingga kini masih terus berdjalan. Atas semua keterangan, penerangan, sangkalan dan bantahan itu, kami berani bertanggung-djawab sepenuhnja, baik terhadap mahkamah Masjarakat dunia selu-ruhnja, maupun terhadap mahkamah sedjarah dan lebih djauh, terhadap Mahkamah Allah, Tuhan Seru Sekalian ‘Alam. Insja Allah . Tegasnja, kami/ N.I.I. berani dan siap-sedia, setiap sa’at dan waktu, diperiksa oleh siapa sadja dan dari mana pula datangnja, bahkan oleh seluruh dunia beserta semua isinja sekalipun, atas benar dan kebenarannja sangkalan serta bantahan kami itu (chusus-nja, jang berkenaan dengan soal disangkut-pautkannja N.I.I. di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”). Silahkan! Kami “berani”, bukanlah karena apa2. Hanja karena Allah semata, jang hidup dan mati kami ada di tangan-Nja! Demi kepentingan haq (kebenaran) dan ke’adilan serta kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ummat/ Rakjat Bangsa Indonesia seluruhnja, djua. Kemudian, agar supaja masjarakat umum, chalajak ramai, djangan mengira dan menduga, bahwa pernjataan kami itu, adalah hanja “omong-kosong” jang murah belaka, maka baiklah di sini kami memadjukan “usul” dan “tawaran” kepada fihak R.I.-1950, ja’ni: – Bila R.I.-1950 sungguh2 dapat membuktikan, sebagaimana jang dituduh-kan oleh penuntut umum, Djaksa Tinggi Sunarjo itu, maka kami —Insja Allah!— tanpa sjarat, akan memasrahkan serta menjerahkan Negara Islam Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua lainnja, kepada R.I.-1950. Akan tetapi sebaliknja, – Bila ternjata tidak benar, maka pihak R.I.-1950 pun harus dan mesti mema-srahkan dan menjerahkan (Negara) Republik Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua isinja, kepada Negara Islam Indonesia (N.I.I.), djuga tanpa sjarat. Demikian usul serta tawaran kami jang tidak seberapa. Dan, bila “tawaran” ini diterima oleh pihak R.I.-1950, maka sebagai “jury” kami minta jang neutral, jang ‘adil, jang tidak berat-sebelah! Tegasnja, jury dari luar-negeri! Tjoba, djawab “tawaran” kami ini! Waktu-terachir (laatste termijn); Tgl, 7 Agustus 1956. Kiranja, tjukup pandjang dan lama termijn/waktu jang diberikan untuk mem-fikirkan dan memutuskannja. Tapi, lebih tjepat, adalah lebih baik dan utama. Silah-kan! Kami tunggu! Insja Allah! Kalam Achir 1. Kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, chususnja kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100% serta ‘adil, benar dan djudjur, hendaklah suka mendjadi SAKSI dan ikut serta meng’adili soal dan perkara ini. Terima kasih. 2. Dst................................................................................................................................... B. Terang-benderanglah sudah segala isi –ma’na serta inti-pati daripada “Usul” dan “Tawaran” itu, jang sesungguhnja, pada hakikatnja, merupakan dan adalah (suatu) T-a-n-t-a-n-g-a-n (!), Uitdaging, Challenge, dan amat djelas– tegaslah (klaar en duidelijk!) maksud-tudjuannja! Bukankah begitu……?! Bukankah begitu……?! Oleh karena itu, semedjak sa’at disiarkan pimpinan negara, msajarakat dan “dunia-pers” dikalangan R.I.-1950-pantjasilakomunis, maka kami menanti-nantikan gerangan apakah jang (akan) diperbuat oleh pimpinan pusat R.I.-1950-pantjasilakomunis, inclusief “djago”- Karno, sebagai reaksi atas tantangan itu…! Kini, —7 September 1956—, batas waktu –terachir (7 Agustus 1956) jang diberikan (kepada pihak R.I.-1950-pantjasilakomunis) untuk mendjawab Tantangan N.I.I. itu, telah dilampaui dengan waktu sebulan lamanja!!! Perlu pula diketahui, bahwa sedianja Statement No. X/7 ini hendak dikeluarkan tepat setelah tanggal 7 Agustus 1956 – Hari-Ulang Tahun jang ke-7 daripada Prokla-masi berdirinja Negara Islam Indonesia!—, sesuai dengan batas waktu jang telah ditetapkan. Akan tetapi, achir kemudiannja, mengingat keinginan kami hendak memberikan lebih banjak lagi kesempatan kepada

pimpinan pusat R.I.-pantjasila-komunis, maka sengadja batas waktu-terachir itu, kita (N.I.I.) tambah dan ulur dengan sebulan lagi………………………….!!! Walaupun, sesungguhnja, kita sudah tahu dan sudah pula kita perhitungkan terlebih dulu, bahwa pihak R.I.-1950pantjasila-komunis pasti: TIDAK (akan) SANGGUP, TIDAK (akan) DAPAT dan TIDAK (akan) BERANI, Mendjawab usul, tawaran dan tantangan N.I.I. tersebut!!! Alhamdu lillah, perhitungan kita itu ternjata telah dibenarkan oleh Allah S.w.T …!!! Allahu Akbar! Sebab, buktinja —sebagaimana kita sekalian sama-sama menjaksikannja sendiri!– pihak R.I.-1950-pantjasila-komunis, termasuk di dalamnja “djago”-Karno: Tetap tinggal diam-membisu…Bungkam di dalam seribu bahasa! Tegas-djelasnja: Tidak memberikan dan tidak ada reaksi sesuatu apapun djuga .....!!! C. Kesimpulannja? Dengan bukti dan kenjataan (feit) ini, jang tidak dapat dibantah lagi, maka setiap orang jang sehat (tidak gila!) dan jang memang mau (!) bersikap djujur, ‘adil dan benar, dapatlah dengan djelas-tegas menentukan, bahwa: 1) Seluruh isi-ma’na daripada Statement K.T.A.P.N.I.I., tt. 27 Desember 1955, No.IX/7 itu, adalah: Tepat dan Benar 100%! Sehingga, tidak dapat dijawab, tidak dapat ditolak, apalagi dibantah oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis!!! Hanjalah dengan karena Berkah, Idzin dan Perkenan Allah Jang Maha Kuat-Kuasa lagi Maha ‘Adil-Bijaksana, djua adanja! NOOT: Dengan dibatalkanja seluruh perdjandjian K.M.B. setjara unilateraal (sepihak) oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis, maka mau atau tidak, suka atau tidak, malu atau tidak, R.I.-1950-pantjasila-komunis, mesti mengakui, bahwa: – Sikap-pendirian dan politik N.I.I., semendjak meletusnja Revolusi Islam di Gunung Tjupu (17 Februari 1948), ternjata dan terbukti tetap: Tahan Udji! Tegasnja: Tepat, Djitu dan Benar 100%! Sebaliknja, – Sikap-pendirian dan politik R.I.-1945 (djokja)/R.I.S./R.I.-1950-pantjasila-komunis, semendjak Naskah Linggardjati, ternjata dan terbukti: Tidak Tahan Udji alias Bobrok dan Bangkrut sama-sekali!!! Tegasnja: Bodoh, Tolol dan Salah 100%!!! Alhamdulillah…………..!!! Alhasil, di dalam soal pembatalan seleuruh perdjanjian K.M.B., jang selalu “sa-ngat dibangga-banggakan” (1) itu, njatalah dengan terang dan djelas sekali, bahwa R.I.-1950-pantjasila-komunis, sungguh-sungguh hanjalah mengekor alias membontjeng kapada sikap-pendirian dan politik Negara Islam Indonesia (sic!)!! (Tjoba, periksalah sekali lagi siaransiaran Madjelis Penerangan, Manisfest-manifest Politik dan Statement-statement N.I.I. jang terdahulu!). Bukankah begitu mas Karno dan komplotan-komplotannja …???!!! Ini, satu lagi (!) di antara sekian banjak tjontoh dan bukti dari kesalahannja. R.I.–1945 (Djokja)/R.I.S/R.I.-1950– Pantjasila-komunis, dan kebenarannja N.I.I….! Harap tjata baik-baik!!! 2) Pihak R.I.-1950-pantjasila-komunis, inclusief “djago”-Karno, —jang memang tidak tahu dan kenal malu itu! Sungguhsungguh dan betul-betul: tjurang, serong, palsu, chijanat, pengetjut, Dllsb., serta tidak bertanggung djawab ! 3) Kliek pimpinan R.I.-1950-pantjasila-komunis, memang dan sunguh-sungguh: hanjalah mementingkan dirinja sendiri c.q. komplotan korupsinja c.q. partainja!! Dan, sama-sekali tidak menghiraukan, tidak membela, apalagi memperdjuangkan kepentingan, keselamatan serta kesedjahteraan nusa dan bangsa, masjarakat atau Rakjat Indonesia!!! Sebab, bukankah (dengan) usul, tawaran dan tantangan N.I.I.–jang sungguh-sungguh berdjiwakan “fair play”!–itu, dapat didjadikan kuntji atau djalan dan tjara jang tepat djitu pula untuk/di dalam memetjahkan, mengatasi dan menje-lesaikan soal-soal sekitar “perang-saudara” (R.I.-pantjasila-komunis contra N.I.I.), jang telah sekian (tahun) lamanja berketjamuk dipermukaan bumi Indonesia…???! Jang kami maksudkan, ialah: djika usul, tawaran dan tantangan N.I.I. itu, diterima dan disambut oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis………………!!!? Djadi, djelas-tegaslah: dengan tidak diterimanja dan tidak disambutnja usul, tawaran dan tantangan N.I.I. termaksud itu, maka dengan sendirinja, berartilah djuga (!), bahwa:

– Pihak pimpinan R.I.-1950-pantjasila-komunis, incl. Karno (!), sesungguhnja dan memang: Tidak menghendaki adanja penjelesaian perang-saudara….....! Atau, dengan lain perkataan: – Pihak pimpinan-gabungan R.I.-1950-pantjasila-komunis, incl. Karno (!), se-sungguhnja dan memang: Hendak memaksakan, supaja tanah-air Indonesia tetap katjau-balau dan supaja rakjat Indonesia tetap menderita terus-menerus, lahir-bathin...................!!! 4) R.I.-1950-pantjasila-komunis memang benar-benar dan betul-betul: b-a-t-a-l 100%!!! N.I.I. memang sungguh-sungguh: Haq dan Benar 100 %!!! Allahu Akbar wa Lillahil-Hahmdu!!! 4. Sebagai konsekwensi daripada kesemuaannja itu, maka dengan ini pula kami serukan dan peringatkan: A. Kepada Masyarakat jang ada dan hidup di dalam/di bawah ‘kekuasaan” R.I.-1950-pantjasila-komunis: – Pandai-pandailah membedakan antara Haq dan Bathil serta antara Benar dan Salah !!! – Djauhkanlah dirimu daripada pemimpin-pemimpin gadungan, jang bertjokol dikalangan R.I.-1950-pantjasila-komunis, jang sudah terang dan njata-njata hendak mendjerumuskan kamu sekalian ke dalam djurang kehina-dinaan, lahir-bathin, dunia-achirat…!!! – Berdiri-dan berdjuang-djihadlah di pihak N.I.I., sebelum terlambat!!! Peringatan : chususnja ditudjukan kepada pimpinan R.I.-1950-pantjasila- komunis, incl. Karno! – Ketahuilah, wahai pemimpin-pemimpin-gadungan R.I.-1950-pantjasila-ko-munis, bandit-bandit (!) dan pendjahatpenjahat-perang (!), bahwa “hari-perhitungan” dan “hari-pembalasan” (dag der vergelding) sudah semakin dekat dan kamu sekalian tidak akan dapat menghindarkan dirimu daripadanja! Insja Allah! B. Kepada pihak kalangan di Luar Negeri: – Hendaklah segala hal-ichwal serta pengalaman sekitar masalah ini pada chu-susnja, didjadikan bahan pertimbangan dan ukuran, guna menentukan sikap-pendirian, baik kini maupun kelak! Terima kasih……………………………………!!! C. Kepada segenap Mudjahidin dan Warga-warga Negara Islam Indonesia: – Pergiatkanlah segala usaha-usahamu kearah penjempurnaan dan penjelesaian tugasmu masing-masing di dalam rangka Revolusi Islam! – Gempur, gempurlah musuh-musuhmu dengan segala tjara dan alat jang halal bagi kita! – Runtuhkanlah negara dan kekuasaan djahiliyah serta tunaikanlah kewadji-banmu selaku Ksatria Islam jang sejati! Hantjur-leburkanlah ke-bathilan-an, ja’ni R.I.-1950-pantjasila-komunis dan tegakkanlah haq (Negara Islam Indonesia) di permukaan bumi Indonesia! – Mari, marilah kita bergerak-serentak, madju-kedepan, menudju pintu-gerbang kedjajaan dan kemenangan, lahir-bathin, dunia-achirat! Ketahuilah, bahwasanja Allah selalu manjertai kita (N.I.I.)! Insja Allah! 5. Dalam pada itu, baik djuga di sini kami suntingkan 2 buah Hadits, sabda Nabi dan Rasul, kekasih Allah, Muhammad Clm., untuk direnung-resapkan serta dijakinkan oleh kita sekalian, chususnya oleh para Mudjahidin A.P.N.I.I. dan umat Islam Bangsa Indonesia, ja’ni seperti berikut (lebih kurang): Terus-menerus akan ada golonganλ dari umatku jang menegakkan kebenaran, hingga datang pekerdjaan (=Ketentuan) Allah; dan mereka pasti mendapat keme-nangan. (R. Buchori & Muslim). Dan Terus-menerus ada golongan dari Umatku, tegakλ berdiri mendjalankan kebe-naran; tak dapat disakiti oleh jang menjakitkannja, (dan) oleh jang menjalahinja. (R. Ibnu Madjah, shahih). Achirulkalam, hanjalah kepada Allah, dzat Jang Menggenggam semesta ‘alam serta Jang Menetukan Taufiq-dan HidajahNja djualah kami kembali akan Kurnia-Nja, dan kepada-Nja djualah kami berlindung serta berserah ……………………!!! Bismillahi tawakkalna ‘alallah……! Lahaula wala quwwata illa billah…! Nasrunmin allahi wa fat-hun qarib…..! Innafatahna laka fat-than mubina…………..!Insja Allah. Amin………….!!! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!Juqtal au Jaghlib!Wassalamu ‘ala manittaba ‘alhuda w. w. ;Anggauta K.T./Wk. K. S. U. A.P.N.I.I.;DJAJASAKTIDjend. Maj. T.I.I.Medan-Perang Sutji, 7 September 1956.Statement

K.T.A.P.N.I.I. No. X/7 ini, disampaikan kepada:1. Kalangan dan masjarakat R.I.-1950-pantjasila-komunis. 2. Kalangan Luar Negeri.3. Kalangan dan masjarakat N.I.I.