You are on page 1of 20

Edisi I Tahun X Agustus 2011

Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 2
G
O
N
G
Salam Redaksi
SURAT PEMBACA
S
ejak pindahnya kampus Undip Ple-
buran ke Tembalang dan masuknya ma-
hasiswa Undip tahun ajaran 2010/2011,
kini Kampus Tembalang dibanjiri orang.
Akibatnya, terjadi kemacetan dimana-mana,
harga kos melambung, dan warung makan
penuh sesak.
Ingin rasanya Tembalang dikembalikan
seperti dulu, yang tidak ramai dan nyaman.
Sekarang ini, harga sewa kos di daerah Tem-
balang melambung tinggi. Belum lagi, masalah
kemacetan yang selalu menghinggapi daerah
Tembalang, terutama dekat pintu keluar Tol
Tembalang yang selalu macet di saat jam masuk
dan pulang kantor sehingga juga menggangggu
mahasiswa yang berangkat dan pulang kuliah.
Oleh karena itu, saya menyarankan agar Un-
dip dapat memaksimalkan penggunaan Rumah
Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) untuk men-
gantisipasi kepadatan kos-kosan.
Selain itu, bekerja sama dengan pemerintah
setempat untuk dapat memperluas atau mem-
buat alternatif jalan, sehingga dapat mengurangi
kemacetan.
Andai Tembalang dapat kembali nyaman
seperti dulu..
(Widya Saftri, FPIK)
Rindu Tembalang yang Dulu
Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal Universitas Diponegoro Pelindung:
Prof Drs. Sudharto P. Hadi, MES., Ph.D. Penasehat: Prof. Dr. dr. Hertanto W. Subagio, M.S.,
Sp.GK., Dr. Mohammad Chabachib, M.Si, Akt, Drs. Warsito, S.U., Prof. dr. Sultana, Ph.D., Dr
Adi Nugroho, Agus Naryoso, S.Sos Pemimpin Umum: Nurul Huda Sekretaris Umum: Makrus
Ali Pemimpin Redaksi: Rio Sandy Pradana Pemimpin Litbang: Septian Anggadipa Pemimpin
Perusahaan: Astri Nur Afdah Sekretaris Redaksi: Restu Wardani Redaktur Pelaksana: Furqon
Abdi Staf Redaksi: Ali Budi Utomo, Syarif Prasetyo, Yunni Wulandari Redaktur Artistik: Hasan
Anwar Staf Artistik: May Trio Vimeris, Nabila Nailatus Sakina Manajer Iklan: Rahman Adi Nugroho Staf Iklan: Aulia Nadine Paramitha, Genda Priherdika, Edysri Hermayuda
Manajer Rumah Tangga: Destiya Dwi P. Produksi dan distribusi: Junarso Adi Cahyanto, Reza Fadhillah, Muhammad Fakhrulzahmi Alamat Redaksi, Iklan dan Sirkulasi: Pusat
Kegiatan Mahasiswa (PKM) Joglo Universitas Diponegoro Jln. Imam Bardjo, SH No.2 Semarang 50241 Telp: (024) 8446003 email: persmanunggal@yahoo.com website:
www.manunggal.undip.ac.id
Redaksi menerima tulisan berupa opini, esai, puisi, cerpen, surat pembaca, resensi buku, resensi flm, resensi musik, dan akademika. Tulisan diketik rapi dengan spasi 2, maksimal 3
folio. Redaksi berhak melakukan penyuntingan naskah seperlunya. Tulisan dapat dikirim ke email LPM Manunggal
S
alam pers mahasiswa. Pembaca yang
setia, mengawali tahun ajaran baru Tab-
loid Manunggal kembali menyuguhkan
berita indepth dengan informasi terbaru.
Dengan diperkuat awak redaksi yang juga baru,
kami mencoba untuk tetap cerdas dalam men-
gupas permasalahan yang aktual.
Dalam edisi pertama ini, kami mengupas
tema radikalisme agama yang memicu terjadinya
kekerasan. Kemunculan beberapa kelompok “a-
gamis” yang mencoba memaksakan keyakinan-
nya hingga mencoba untuk mengoyahkan Tanah
Air menjadi alasan dipilihnya topik ini. Pendapat
beberapa praktisi dan akademisi semakin me-
lengkapi sahihnya Sajian Utama kami.
Radikalisme agama yang dilakukan oleh ke-
lompok agama, mengarah pada Negara Islam
Indonesia (NII). Organisasi berbasis Islam ini
kembali muncul selepas tidur panjangnya 49
tahun silam. Namun, banyak yang berpendapat
kelompok ini telah melenceng jauh dari NII ben-
tukan Kartosoewirjo. Bagaimana sejarah, geliat,
dan tidakan preventif gerakan underground ini
tersaji lengkap dalam rubrik Fokus.
Semakin berkembangnya kelompok-kelom-
pok radikal ini tentu tak terlepas dari kepe-
mimpinan para petinggi negara. Kita sebagai
generasi penerus tidak sepatutnya melimpahkan
kesalahan kepada pemimpin negeri. Yang bisa
kita lakukan adalah mempersiapkan diri un-
tuk menjadi pemimpin teladan. Dalam rubrik
Lipsus, kami menyajikan program pelatihan
kepemimpinan. Diharapkan output-nya mampu
membawa perubahan bagi Indonesia ke arah
yang lebih baik.
Tak ketinggalan, kami juga menghadirkan
indahnya Curug Tujuh Bidadari pada rubrik Per-
jalanan. Selain wisata alam, tak ada salahnya kita
nguri-uri senjata khas warisan budaya Nusantara.
Dibalik aura mistis yang tersimpan, keris mengand-
ung bermacam flosof yang dibalut keindahan
sebuah karya seni. Ulasan mengenai keris dan
makna dibalik ornamennya dihadirkan lewat
rubrik Sastra Budaya.
Dengan terbitnya tabloid ini, kami senan-
tiasa memberikan yang terbaik bagi pembaca.
Mengusung tagline “Memadukan Masyarakat-
Kampus”, kami berusaha mendekatkan isu-isu
aktual di masyarakat kepada sivitas akademika.
Semoga tabloid kali ini menjadi tonggak semangat
konsistensi kami. (Redaksi)
Tetap Cerdas Mengupas
Radikalisme agama akan
mengusik kesatuan dan
persatuan bangsa
Gerakan radikalisme
akan melunturkan ajaran
multikulturalisme bangsa
NII merayap pada dunia
mahasiswa
Kapan bisa hidup damai kalau
bersatu saja sulit...
Ingat, Bhinneka Tunggal Ika
harus dijunjung tinggi
Sebagai tunas bangsa harus
wapada
Dok. Manunggal
Nana/ Manunggal
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 3
Gaung
Damai dalam Keberagaman
T
entu saja tidak ada peraturan yang
melarang mahasiswa untuk langsung
pulang setelah kuliah. Namun, den-
gan adanya perbedaan sistem pem-
belajaran antara siswa dan mahasiswa, menye-
babkan mereka tidak harus segera pulang setelah
kuliah. Siswa menerima pelajaran sesuai dengan
jadwal yang ditetapkan sekolah. Sedangkan
perkuliahan, menggunakan sistem satuan kredit
semester (SKS), sehingga mahasiswa dapat
mengatur dirinya sendiri untuk memilih waktu
dan mata kuliah yang ditawarkan.
Dalam Peraturan Akademik (Perak)
Undip, berdasarkan SK Rektor No. 469/PER/
H7/2010, Bab I Pasal 1 ayat 2 menyebutkan,
program sarjana (S1) memiliki beban studi
sekurang-kurangnya 144 sks dan sebanyak-
banyaknya 160 sks yang dijadwalkan untuk
delapan semester dan dapat ditempuh dalam
T
idak perlu dipungkiri, bahwa
Indonesia merupakan negara yang
terdiri dari berbagai macam unsur,
baik ras, suku, budaya, maupun
agama. Keragaman tersebut merupakan se-
buah fakta yang harus dimengerti oleh seluruh
lapisan masyarakat. Selain itu, dapat menjadi
cambuk agar kita mengerti arti penting sebuah
toleransi dan kebersamaan.
Hal tersebut juga dapat menjadi kelemah-
an, jika heterogenitas hanya dilihat dari sudut
pandang sepihak. Dampaknya, terjadi eksklu-
sivisme terhadap kelompoknya dan menyalah-
kan yang lain. Inilah yang menimbulkan
tindakan-tindakan radikalisme di Indonesia.
Tindakan-tindakan yang menghendaki adanya
perombakan sistem sesuai dengan ajaran ke-
lompok tertentu.
Biasanya, tindakan ini bersifat pemaksaan
yang berujung pada kekerasan. Bahkan, kalau
perlu berbagai cara dapat dibenarkan dengan
alasan memperjuangkan kepentingan kelom-
poknya. Salah satu aspek yang paling marak
terjadi adalah radikalisme agama.
Perbedaan agama menjadi salah satu as-
pek timbulnya tindakan radikalisme. Padahal,
sebenarnya agama apapun yang diakui di
Indonesia selalu mengajarkan adanya toleransi
dan perdamaian. Tidak ada agama yang meng-
ajarkan kekerasan, kecuali bila terdesak.
Karena substansi dari agama adalah se-
bagai pedoman yang memberikan tuntunan
dalam mengarungi hidup di dunia sehingga
mendapatkan kebahagiaan, di dunia maupun
akhirat. Manusia merupakan makhluk sosial
yang hidup berdampingan dengan yang
lain. Ini yang menjadikan aspek toleransi dan
tenggang rasa perlu dibina untuk menciptakan
kehidupan yang damai dan harmonis.
Memang, tidak ada salahnya menyebar-
kan ajaran agama kepada orang lain, tetapi
bukan pemaksaan dan eksklusivisme. Dengan
menanamkan nilai-nilai ajaran agama ke dalam
setiap lini kehidupan, kita dapat menjadi te-
ladan bagi yang lain. Orang lain pun akan
mengerti dan memahami konsep agama yang
kita anut, sehingga mereka pun akan memilih
yang menurutnya paling benar.
Negara sendiri telah memberikan ke-
bebasan terhadap rakyat Indonesia untuk
memeluk agama menurut kepercayaan ma-
sing-masing, tercantum dalam Pasal 29 UUD
1945. Apalagi jika bersinergi dengan sistem
politik demokrasi Indonesia, maka setiap
warga negara bebas memilih tanpa ada pe-
maksaan dari pihak lain. Apapun alasannya
tindakan radikalisme tidak sepatutnya terjadi
di Indonesia.
Alangkah indah jika Indonesia menjadi
negara yang kuat dan damai. Heterogenitas
merupakan rahmat dari Tuhan agar kita saling
mengenal dan menghargai. Jadikanlah per-
bedaan yang ada menjadi sebuah kekayaan
untuk membangun bangsa menjadi yang besar
dan kokoh.
Dengan demikian, akan tercipta sebuah
fondasi atau tatanan bangsa yang kuat, yang
bergerak dalam bingkai Bhinneka Tunggal
Ika. Untuk kepentingan yang lebih besar yakni,
solidaritas antar sesama masyarakat Indonesia
(Ukhuwah Wathoniyyah).
*Pemimpin Umum
LPM Manunggal Tahun 2011
OPINI DOSEN
Oleh: Nurul Huda*
waktu kurang dari delapan semester dan paling
lama 14 semester. Peraturan tersebut mengindi-
kasikan bahwa mahasiswa memang harus pandai
mengatur waktu untuk dapat menyelesaikan
studi sesuai dengan ketentuan.
Agent of Change
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, peran mahasiswa tidak bisa
diabaikan. Bidang akademik menuntut ma-
hasiswa menyelesaikan studi dengan sebaik-
baiknya dan tepat. Namun, sebagai anggota
masyarakat mahasiswa adalah agent of change.
Ketika kehidupan dalam masyarakat meng-
alami ketimpangan seperti ketidakadilan, nepo-
tisme, korupsi, dan kolusi, mahasiswa senan-
tiasa tampil di barisan depan untuk mencoba
merubah atau mengakhiri keadaan. Peristiwa
Tiananmen Cina pada 1989 adalah sebuah rang-
kaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa
untuk memprotes ketidakstabilan ekonomi dan
korupsi politik di negerinya. Dengan korban
lebih dari 3.000 orang meninggal.
Di Indonesia pada 1998, mahasiswa melaku-
kan sebuah proses perubahan sosial, dengan
menggulingkan pemerintah saat itu (Soeharto).
Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa
mahasiswa juga memiliki peran sebagai agent
of social control. Keterlibatan mahasiswa dalam
agent of change maupun agent of social control
tidak serta merta. Pembekalan diri sebagai ang-
gota masyarakat perlu diupayakan baik oleh
diri sendiri maupun organisasi.
Banyak Kegiatan
Kuliah tepat waktu dan indeks prestasi (IP)
tinggi, tentu menjadi harapan mahasiswa, orang
tua, dan juga perguruan tinggi terkait. Namun,
dengan predikat agent of change dan agent
of social control, mahasiswa menjadi aktor
strategis dalam memperjuangkan kehidupan
masyarakat, bangsa, dan negaranya. Sebagai
mahasiswa, adakah peranan kita sebagai agent
of change atau agent of social control? Jawabannya,
tentu pada diri kita sendiri.
Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM),
banyak ditawarkan kegiatan yang berkaitan de-
ngan minat dan bakat. Diantaranya, pecinta
alam, kegiatan resimen mahasiswa, olah raga,
seni tari dan musik, atau organisasi kemaha-
siswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM). Kegiatan yang merupakan intra kampus
tersebut dimaksudkan untuk pengembangan
diri di samping lebih mengakrabkan antar ma-
hasiswa Undip.
Sedangkan kegiatan atau organisasi di luar/
ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GMNI), Persatuan Mahasiswa
Katolik Republik Indonesia (PMKRI),
dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
(GMKI).
Jika mahasiswa kurang tertarik dengan
berbagai kegiatan organisasi intra maupun
ekstra, dapat mengunjungi perpustakaan. Su-
dah banyak perpustakaan fakultas di Undip
yang telah memiliki fasilitas pendukung yang
memadai seperti AC, sistem pencarian digital,
dan hotspot area.
Prof. Dharto memang tidak eksplisit menye-
butkan kegiatan seperti di atas tetapi menurut
saya, jadilah mahasiswa yang SMART (Sema-
ngat, Maju, Aktif, Responsif, dan Tangguh).
Mulai sekarang jangan menjadi mahasiswa
kupu-kupu.
* UPT Perpustakaan Undip
Oleh: Ari Widjayanti *
Jangan Jadi Mahasiswa “Kupu-Kupu”
Kalimat di atas sering diucapkan oleh Prof Sudharto P Hadi, Rektor
Undip, saat memberikan sambutan untuk memotivasi mahasiswa.
Di saat mengucapkan “kupu-kupu”, biasanya rektor sambil
tersenyum, dan melanjutkan maksudnya. Artinya, mahasiswa
jangan hanya kuliah pulang, kuliah pulang.
Bhinneka Tunggal Ika. Itulah
semboyan yang dijunjung
tinggi bangsa Indonesia.
Semboyan yang mengantarkan
pada penghargaan terhadap
keberagaman unsur yang
ada. Bahkan begitu vitalnya,
hingga terpampang dalam
lambang negara, Garuda
Pancasila. Oleh karena itu,
semboyan ini perlu dijadikan
semangat untuk mewujudkan
kedamaian hidup dalam sebuah
keberagaman.
Dok. Istimewa
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 4
Sajian Utama
D
alam kehidupan masyarakat ter-
dapat pandangan yang berbeda-
beda. Sebagai negara yang meng-
anut paham demokrasi, setiap
warga negara harus menerima berbedaan tersebut
dengan penuh penghormatan. Diharapkan terja-
lin kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang.
Akhir-akhir ini, Indonesia diguncang berbagai
kelompok yang ingin mengusik perdamaian
tersebut. Kelompok yang ingin mengubah semua
tatanan kehidupan di Indonesia sesuai dengan
ajarannya. Kelompok tersebut bahkan melakukan
berbagai tindakan kekerasan untuk mewujudkan
tujuannya. Fenomena inilah yang memunculkan
tindakan radikalisasi agama.
Menurut Triyono Lukmantoro SSos MSi,
dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Undip menjelas-
kan, radikal berasal dari kata “radik” dan “akar”
yang berarti hal-hal mendasar. Seseorang dalam
agama dianggap radikal jika menjalankan ajaran-
ajaran agama paling mendasar yang sebelumnya
terabaikan, salah satunya ajaran untuk memerangi
orang kafr.
Triyono menambahkan, gerakan radikal
sering diidentikkan dengan Islam, padahal ra-
dikalisasi merupakan tindakan yang dilakukan
oleh elemen dalam sebuah agama. Kaum atau
kelompok radikal menggunakan kitab suci dalam
agama sebagai dasar pergerakan. Namun, pema-
hamannya hanya harfah atau tesktual, sehingga
dapat memicu konfik dengan masyarakat lain
yang berbeda penafsiran. Tidak menutup ke-
mungkinan juga dengan kelompok seagama.
Di sisi lain, Tedi Kholiluddin, Peneliti Lem-
baga Studi Agama (eLSA) menyatakan, dalam
kajian sosiologi ada beberapa sikap yang hampir
mirip dengan radikalisme. Sikap tersebut yakni
terorisme dan fundamentalisme, meskipun ke-
tiganya memiliki makna dan perbedaan ma-
sing-masing.
“Radikalisme dan fundamentalisme ham-
pir mirip karena mereka menganjurkan untuk
kembali kepada ajaran agama yang paling dasar
(radix) atau fundamental,” jelasnya. Tidak semua
kelompok radikal menganjurkan cara-cara teror.
Kenyataannya, banyak kelompok umat beragama
yang mencari pembenaran aksi teroris dengan
medium pemahaman agama yang paling fun-
damental.
Berdasar Keyakinan
Kelompok yang melakukan kekerasan atas
nama agama, tidak bisa selalu disalahkan. Karena
tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakin-
an terhadap “sesuatu yang benar”. Tidak mudah
untuk menilai mana keyakinan yang salah dan
benar, karena merupakan hak setiap manusia.
Menurut Tjahyadi, salah satu Penasehat Fo-
rum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Pusat
mengatakan, kesadaran beragama merupakan
sesuatu yang luhur dan membuat manusia mau
melindungi yang lemah. Berbeda dengan kelom-
pok yang menunjukkan keyakinannya dengan
melanggar peraturan yang berlaku. Indonesia
adalah negara hukum, tindakan kekerasan apapun
baik itu terkait dengan keyakinan atau tidak,
harus mendapat tindakan hukum sesuai dengan
undang-undang yang berkaitan.
Menurut Taufqurrahman, Kepala Sub Ba-
gian Hubungan Masyarakat dan Kerukunan
Umat Beragama Departemen Agama Jawa
Tengah mengatakan, fenomena kekerasan yang
kerapkali terjadi bukanlah berdasarkan agama
melainkan pelaku dengan toleransi rendah. Dua
hal utama penyebab kekerasan adalah paham
dan penistaan agama.
Pernyataan berbeda diungkapkan oleh Tedi
yang menyebutkan ada beberapa alasan muncul-
nya radikalisme. Berdasarkan pengamatan eLSA
alasan radikalisme yang pertama, faktor ideologis,
yakni pengaruh dari pemahaman terhadap ajaran
agama secara tekstual, sehingga agama dijadikan
dalil legitimasi.
Kedua, kekecewaan pada sistem demokrasi
yang dinilai sekuler. Dalam sistem ini seakan
agama tidak diberi tempat di dalam negara. De-
mokrasi mengajarkan bahwa suara rakyat adalah
suara Tuhan (vox populi, vox Dei). Negara diang-
gap tidak berdaya untuk mengatur kehidupan
masyarakat secara religius.
Ketiga, ketidakadilan politik. Radikalisme
agama juga bisa muncul sebagai ekspresi per-
lawanan terhadap sistem politik yang menin-
das dan tidak adil. Keempat, ketidakadilan tata
hubungan antarbangsa yang makin didominasi
imperialisme Amerika Serikat.
Keamanan Negara Terabaikan
Triyono mengkhawatirkan efek dari gerakan
radikalisasi agama akan memudarkan ajaran
multikulturalisme yang sudah menjadi fondasi
bangsa ini. Individu akan terpolarisasi dengan
kelompok masing-masing sesuai agama dan
etnisnya. Terbentuknya kelompok-kelompok
berpotensi membentuk negara yang sesuai de-
ngan keinginan suatu kelompok yang paling kuat.
Keamanan negara menjadi terabaikan karena
mereka tidak pernah berpikir dalam wilayah
tersebut ada kelompok lain yang berbeda.
Taufq sendiri menuturkan bahwa sekarang
ini masyarakat Indonesia mudah terprovokasi
terhadap kelompok, sehingga radikalisasi terjadi
tanpa memerdulikan peraturan yang telah dibuat
oleh pemerintah. Misalnya, kasus penistaan
agama sebenarnya sudah diatur melalui PP No
1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penodaan
Agama. Apabila ada yang melanggar akan dike-
nai sanksi sesuai Pasal 165 A KUHP dengan
ancaman hukuman lima tahun penjara. ”Dengan
adanya peraturan tersebut, harusnya masyarakat
tidak perlu melakukan tindakan yang melanggar
peraturan negara,” pungkasnya.
Tanggung Jawab Semua
Permasalahan ini tidak hanya merupakan
tanggung jawab pemerintah. Semua elemen
harus dilibatkan dalam menekan radikalisasi
dalam agama, seperti pendidikan dan tokoh-
tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Menu-
rut Triyono, hal pertama yang harus dibenahi
adalah bagaimana menyikapi persoalan dengan
cara yang tepat, bukan hanya dipandang dalam
kaca mata agama.
Tedy menambahkan bahwa solusi dari
mengeliminasi radikalisme agama, dengan
cara menyadari kenyataan bahwa Islam bu-
kan produk monolitik. Di dalamnya terdapat
keragaman tafsir dan asal budaya.
Adanya Piagam Madinah menjadi
semacam milestone bagi rumusan tentang
kesepakatan umat Islam di bawah pimpinan
Nabi Muhammad dengan berbagai kelompok
non muslim untuk membangun masyarakat
yang tertib.
“Dalam kesepakatan itu semua kalangan
baik yang berasal dari kaum Muslim Quraisy
Mekkah, Muslim Madinah dari suku Aus dan
Khazraj serta Yahudi membentuk satu komuni-
tas. Semangat penerimaan terhadap perbedaan
itulah yang seharusnya dilihat sebagai karakter
fundamental dari Islam,” tegas Tedy. (Furqon,
Dian, Hanan)
Indonesia adalah sebuah negara
multi kebudayaan, agama, dan
etnis. Keberagaman ini diatur
dalam perundang-undangan,
termasuk heterogenitas dalam
beragama yang mewajibkan
setiap warga negara memiliki
agama dan hidup berdasarkan
nilai-nilai Ketuhanan.
Namun, apa yang terjadi jika
perbedaan tersebut kemudian
menimbulkan konfik, yang
bermuara pada penekanan salah
satu ajaran agama dengan jalan
kekerasan? Indonesia adalah
negara hukum. Oleh karena itu,
tindakan kekerasan apapun,
haruslah mendapat tindakan
hukum sesuai dengan undang-
undang yang mengaturnya.
Masyarakat yang menentang aksi kekerasan yang berkedok agama
Dok. IStimewa
RADIKALISME AGAMA
Menggoyahkan Persatuan Bangsa
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 5
Sajian Utama
A
wal 2010 tersebar isu tentang kem-
balinya sebuah negara berbasis Islam
bernama Negara Islam Indonesia
(NII). Banyak pendapat mengenai
kelompok ini dengan menyebutnya sebagai ke-
lompok agama yang radikal. Geliat perkem-
bangan kelompok ini sendiri telah dimulai sejak
lama.
Munculnya keinginan suatu kelompok
membentuk negara bisa disebut sebagai benih-
benih radikalisme. Radikal merupakan sikap atau
perilaku yang mengarah pada pandangan yang
menyalahkan orang lain. Kelompok radikal bi-
asanya berpendapat bahwa sikap dan pemikiran
mereka yang paling benar dan hanya kelompok
mereka yang berhak masuk surga.
Seperti yang diungkapkan Drs Muhammad
Adnan MA, pengamat politik Undip, radikalisme
agama bisa ada di setiap agama, tidak hanya NII
yang menjadi contoh radikalisasi agama Islam.
Namun, hanya beberapa kelompok dalam agama
saja yang diketahui. Ketua Pengurus Wilayah
Nahdhatul Ulama Jawa Tengah ini juga meng-
golongkan NII menjadi dua. NII asli dan NII
yang tidak asli atau tidak berdasarkan ideolo-
gisnya. NII tidak asli dinilai hanya mengejar
materi dari pengikutnya.
Banyak kabar yang menyebutkan bahwa
sasaran utama dari NII adalah dari kalangan
terpelajar, terlebih dari perguruan tinggi negeri
(PTN). Adnan berpendapat, NII menilai ma-
hasiswa sebagai kalangan menengah ke atas,
sesuai dengan tujuan materi yang diinginkan.
Selain itu, lebih banyaknya target pengikutnya
dari mahasiswa PTN karena mereka merupakan
hasil seleksi, lebih kompetitif, dan berkualitas.
Dengan adanya pengikut dari kalangan atas,
dinilai mampu menyukupi kebutuhan kelompok
dan menghasilkan keuntungan secara materi.
Sedangkan dari konteks kualitasnya, mahasiswa
PTN diharapkan bisa mengajak lebih banyak
orang untuk bergabung.
Tumbuhnya kelompok-kelompok radikal
seperti NII menurutnya, berkaitan erat dengan
melunturnya nilai pluralisme. Sehingga tidak ada
nilai toleransi dengan kelompok lain.
Meskipun demikian, Indonesia sebenarnya
sudah ditakdirkan sebagai negara
plural, baik agama, bahasa,
dan etnis. Dalam me-
nye-lesaikan masalah
radikalisasi agama
seperti NII, Badan
Intelektual Ne-
gara (BIN)
tidak bisa
dipaksakan
mengi kuti
salah satu
diantaranya.
”Lebih pas kalau
kita menghadapinya
dengan masyarakat
yang Bhineka Tunggal
Ika,” kata Adnan.
Banyak kerugian yang
dirasakan sebuah bangsa dari
radikalisasi agama. Kesejahteraan
dalam masyarakat akan menurun
dan takut akan aktivitas radikalisasi
tersebut. Selain itu, juga berdampak
pada stabilitas politik dan ekonomi.
Pemerintah akan sulit mendatangkan
investor dan menghabiskan energi
hanya untuk menghentikan kelompok-kelom-
pok radikal.
Senada dengan Adnan, Cita Ekanijati,
mahasiswi Ilmu Pemerintahan mengatakan,
radikalisasi agama dapat mengarah pada tin-
dakan kekerasan, konfik dan kerusuhan. Jika
dibiarkan akan berdampak pada kerugian materi
dan non materi pada masyarakat umum. Pada
hakikatnya hal ini tidak sesuai dengan esensi
dan substansi perdamaian serta penghormatan
sebuah agama.
Jika agama dipahami secara rasional,
tidak ada yang menganjurkan
kekerasan. “Kekerasan
hanya dalam kon-
disi terdesak dan
diserang. Bagi kaum
radikal ini, akan
meni mbul kan
dendam dengan
kelompok lain
yang mereka nilai
sebagai kelompok
yang menghalangi
tujuannya,” kata
Cita.
Cita menilai,
dalam pandang-
an radikal, polisi
di Indonesia se-
bagai penghalang
kaum mereka. Ini
yang menjadi penye-
bab terjadinya teror
bom di lingkungan
kepolisian beberapa
waktu lalu.
Solusi
Adnan menawarkan solusi untuk mengatasi
radilkalisasi agama dengan beberapa cara. Tentu-
nya dengan peran seluruh elemen di Indonesia,
seperti kementrian dan lembaga masyarakat.
Pertama, menyosialisasikan sejak awal nilai-
nilai etika dan pluralisme melalui pendidikan
formal maupun non formal. Ini merupakan
peran Kementrian Pendidikan Nasional (Ke-
mendiknas). Kedua, kemiskinan harus diber-
antas. Seringkali kemiskinan sebagai pemicu
tindakan-tindakan radikal. Banyak kasus yang
menunjukkan bahwa pengikut baru kelompok
NII banyak kehilangan barang-barang ber-
harga. Mereka melakukan tindakan kriminal
untuk mendapatkan uang.
Terakhir, menghilangkan ketidakadilan.
Banyak kelompok kecewa terhadap perilaku
masyarakat maupun pemerintah yang tidak adil.
Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Ketidaka-
dilan yang terjadi di luar negeri bahkan mampu
menumbuhkan gerakan kelompok dalam negeri.
Umumnya kelompok dalam negeri ini berang-
gapan mereka memiliki kesamaan.
Sebenarnya Indonesia merupakan negara
yang damai dalam keberagaman. Semboyan
negara Bhinneka Tunggal Ika sebagai buktinya.
Oleh karena itu, tidak mungkin negara ini di-
jalankan berdasarkan pada satu aliran agama.
Namun dalam menjalankan sebuah ne-
gara, dapat mengadopsi berbagai nilai-nilai
luhur yang diatur agama. Bukan pemurnian
salah satu agama. Sebagai negara pluralis,
dengan persatuan dan mengutamakan ke-
pentingan bangsa akan tercipta negara yang
kuat dan unggul.
(Dian)
S
ARA adalah berbagai pandangan
dan tindakan yang didasarkan pada
sentimen identitas yang menyangkut
keturunan, agama, kebangsaan atau
kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang
melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan
yang didasarkan pada identitas diri dan golongan
dapat dikatakan sebagai tidakan SARA. Tindak-
an ini mengebiri dan melecehkan kemerdekaan
dan segala hak-hak dasar yang melekat pada
manusia.
SARA dapat digolongkan ke dalam tiga ka-
tegori. Pertama, individual, merupakan tindakan
SARA yang dilakukan oleh individu maupun
kelompok. Termasuk di dalamnya adalah tindak-
an maupun pernyataan yang bersifat menyerang,
mengintimidasi, melecehkan, dan menghina
identitas diri maupun golongan. Kedua, institu-
sional, merupakan tindakan SARA yang dilaku-
kan oleh suatu institusi, termasuk negara, baik
secara langsung maupun tidak langsung, sengaja
atau tidak sengaja telah membuat peraturan
diskriminatif dalam struktur organisasi maupun
kebijakannya. Ketiga, kultural, merupakan pe-
nyebaran mitos, tradisi, dan ide-ide diskriminatif
melalui struktur budaya masyarakat.
Oleh karena itu, LPM Manunggal meng-
adakan jajak pendapat kepada 120 responden
mahasiswa dari berbagai fakultas di Undip
mengenai isu SARA yang sedang marak di
negara ini.
Dari jumlah tersebut, 81% mahasiswa me-
ngetahui tentang SARA, sedangkan 19% tidak
mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa isu
SARA marak terjadi di lingkungan masyarakat
kita. Akan tetapi, faktanya 64% belum pernah
melihat tindakan SARA dan sisanya 36% me-
ngatakan pernah melihatnya.
Penyebab SARA berbagai macam bentuknya,
mulai dari keadaan sosial, isu berbau politik,
penistaan agama hingga konfik antar golongan.
Dari keseluruhan responden memandang bahwa
egoisme kelompok dan provokasi menempati
faktor utama penyebab SARA yakni sebesar 35%
dan 34%. Sementara responden lainnya menilai
20% dari kontrol pemerintah dan 11% lemahnya
penegakan hukum di Indonesia.
Peran pemerintah sangatlah penting dalam
upaya menanggulangi SARA. Sebanyak 73%
berpendapat penting, 24% cukup penting, dan 3%
tidak penting. Penegakan hukum Indonesia juga
dinilai penting, namun efektiftasnya belum ter-
laksana dengan baik. Sebanyak 58% menyatakan
masih kurang, 30% cukup, dan 12% baik.
SARA sendiri perlu dilakukan pencegahan
agar tidak menimbulkan kekacauan sosial. Upaya
konsolidasi dinilai tepat untuk mengatasinya.
Sebanyak 42% responden memilihnya. Disusul
dengan cara sosialisasi 19%, pemberian hukuman
16% dan cara lainnya 23%. (Litbang)
Polling ini dilakukan oleh Litbang Manunggal pada April 2011. Jumlah responden
adalah Mahasiswa Undip sebanyak 120 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan metode
Simple Random Sampling dengan tingkat kepercayaan 95% dengan sampling error ±1,7%.
Metode pengisian polling dilakukan dengan cara pengisian dan wawancara.
KONFLIK AGAMA LECEHKAN NEGARA
Radikalisme Sebuah Paradoks
Fokus
Lebih dari enam dasawarsa Indonesia menikmati kemerdekaan. Dalam kurun waktu tersebut, masih terjadi berbagai
peristiwa yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mulai dari perang, pemberontakan,
hingga gerakan separatisme. Salah satu peristiwa penting dalam catatan sejarah negeri ini adalah diproklamirkannya
Negara Islam Indonesia (NII) pada awal masa kemerdekaan.
S
ekarmadji Maridjan Kartosoewirjo
adalah tokoh yang tidak dapat dilepas-
kan dari masalah yang berkaitan dengan
NII. Dialah pendiri negara berasas Is-
lam tersebut. Kartosoewirjo adalah tokoh yang
tidak lebih dari seorang pemberontak yang telah
mendirikan negara baru di wilayah NKRI. NII
berusaha membangun supremasi Islam. Mereka
memproklamasikan diri sebagai sebuah negara
pada 7 Agustus 1949. Namun, hanya bertahan
selama 13 tahun (1949-1962).
Akhir-akhir ini media massa di Indonesia
gencar memberitakan bangkitnya NII. Sebuah
gerakan berbasis Islam yang sedang melakukan
rekrutmen anggota baru. Bedanya, cara-cara yang
mereka gunakan ternyata berlawanan dengan
syariah dan sunnah Rasulullah SAW.
Ken Setiawan, Ketua NII Crisis Center yang
juga mantan anggota NII mengatakan, gerakan
ini bukanlah NII atau DI/TII, yakni NII yang
diploklamirkan Kartosoewirjo. NII saat ini me-
nyimpang jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sun-
nah, serta memiliki kaitan erat dengan Pondok
Pesantren Al-Zaytun di Jawa Barat.
Pondok Pesantren Al-Zaytun berdiri pada
akhir tahun 1990-an dan diresmikan oleh BJ
Habibie, Presiden RI saat itu. Pesantren yang
dipimpin oleh Panji Gumilang tersebut, diisu-
kan mendapat suntikan dana dari Pemerintah
Kerajaan Inggris. Pondok pesantren modern ini
menurut Ken, dibentuk sebagai alat propaganda
agar masyarakat tidak curiga bahwa pesantren
tersebut merupakan sentra NII.
Kemunculan kembali fenomena pergerakan
NII, bisa jadi merupakan suatu usaha yang dilaku-
kan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan
umat Islam di Indonesia. “Jika alasan ini suatu
kebenaran, maka, sudah sepantasnya bagi umat
Islam untuk menjadikan masalah tersebut seb-
agai musuh bersama yang harus diselesaikan,”
tutur Ken.
Target Potensial
Sivitas akademika khususnya maha-
siswa merupakan target yang sangat potensial
dalam kegiatan perekrutan anggota baru NII.
Mahasiswa baru yang cenderung memiliki rasa
keingintahuan tinggi menjadi peluang bagi ger-
akan NII untuk mengisi celah tersebut. Di Jawa
Tengah, mahasiswa Universitas Diponegoro (Un-
dip) merupakan salah satu targetnya.
Ken Setiawan menerangkan, pola pertemanan
merupakan modus yang digunakan oleh gerakan
NII dalam menjaring mangsa. Dengan pertem-
anan, orang tidak akan menyangka bila ia akan
dijerumuskan teman dekatnya dalam ajaran NII.
Biasanya korban akan dibawa ke suatu tempat
dan dihadapkan pada teman-teman lain, yang
juga anggota NII.
Pada mulanya, korban akan dibuat nyaman
dengan segala pembicaraan yang menyangkut
hobinya. Kemudian, saat dialog mulai menjurus
ke agama, korban diposisikan tidak bisa me-
nyanggah dalam argumentasi anggota NII lain.
Ini adalah salah satu upaya anggota NII untuk
meyakinkan ajarannya pada korban.
Kesaksian Korban
Seperti yang dialami RD dari Fakultas MIPA
dan RY dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) Undip. RD termasuk salah satu maha-
siswi yang hampir direkrut NII. Awalnya, RD
diajak HR, mahasiswi Fakultas Peternakan Undip
2006, untuk mengikuti pengajian di Ngesrep,
Semarang. Karena HR adalah kakak kelas sewaktu
SMP dan berasal dari daerah yang sama maka,
RD pun mengiyakannya.
Sesampainya di sana, pimpinan pengajian
tersebut menanyakan latar belakang keluarga
RD. Seperti, nama orang tua, berapa saudara,
adakah yang berprofesi sebagai polisi/tentara.
Orang tua maupun teman lain juga tidak boleh
mengetahui jika RD mengikuti pengajian itu. Dan
saat mengikuti pengajian tersebut, ternyata yang
dikaji sangat bertolak belakang dengan ajaran
Islam yang diketahuinya.
Hal tersebut membuat RD bingung dan
menduga bahwa pengajian tersebut adalah sesat.
Dengan banyaknya keganjilan, RD memutuskan
untuk hengkang dari pengajian tersebut. Namun,
ini bukan berarti RD terlepas dari komunitas
pengajian tersebut.
RD seringkali dihubungi via ponsel untuk
kembali datang pada pengajian. Orang-orang
dari komunitas pengajian tersebut juga sering
membuntuti dan memantau keberadaan RD. Baik
di kampus, masjid, atau bahkan saat di kantin.
RD yang bersikeras untuk menghindar dan
tidak memperdulikan akhirnya membuat orang
dari komunitas pengajian tersebut menyerah.
Sampai saat ini RD tidak lagi dihubungi atau
bahkan dibuntuti. Bahkan, HR yang pertama
kali mengajak RD ke pengajian, tak lagi men-
emuinya.
Lain lagi dengan RY, mahasiswa FISIP, yang
juga pernah dipengaruhi oleh NII. Pada 2008,
ada seorang perempuan yang mengajak kenalan
RY melalui SMS. Sifat iseng RY membuatnya
memenuhi ajakan perempuan yang mengaku ma-
hasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes)
untuk bertemu.
RY nampak kaget karena perempuan yang
ditemuinya di sebuah mal di Semarang ini berpe-
nampilan menarik, cantik, dan berpakaian seksi, ti-
dak berjilbab. Di sela-sela obrolan tiba-tiba datang
seorang laki-laki dan perempuan berpakaian rapi.
Perempuan tersebut kemudian memperkenalkan
mereka kepada RY. Dua orang tersebut kemudian
asyik menceritakan kesuksesan mereka setelah
mengikuti sebuah seminar.
Sekitar pukul 21.00 WIB karena mall akan
tutup, kemudian mereka pindah ke Taman Budaya
Raden Saleh (TBRS) untuk melanjutkan obrolan.
Di TBRS tersebut mereka membelokkan arah
pembicaraan ke ranah agama. Karena didorong
oleh rasa penasaran RY kemudian mengikuti
pembicaraan tersebut.
Kemudian laki-laki tersebut mengeluarkan
sebuah Al Quran kecil dilengkapi terjemahan.
Kemudian laki-laki tersebut bertanya tentang
kepercayaan RY terhadap Al Quran. Berdasar-
kan agama yang diyakininya, RY pun menjawab
percaya.
Dalam pembicaraan selanjutnya, laki-laki
tersebut memberikan penjelasan yang tidak
masuk akal mengenai sholat. Menurut laki-laki
tersebut, percuma saja kita sholat di tempat ko-
tor seperti Indonesia, akan membuat tidak sah.
Karena, penggunaan Burung Garuda sebagai
lambang negara dianggapnya sebagai pemujaan
terhadap berhala, yang dilarang dalam Islam.
Mendengar penjelasan tersebut, RY segera
meninggalkan pembicaraan tersebut. Anehnya,
perempuan yang mengajak ketemu dirinya justru
melanjutkan pembicaraan dengan kedua orang
tadi. Hal ini semakin membuat RY yakin kalau
pertemuan tersebut sudah diatur.
Tidak berakhir pada malam itu, perempuan
yang mengajak bertemu, sering menghubungi
RY. Bahkan ia berani mencoba meminjam uang
dengan nominal yang cukup besar. RY yang se-
lalu mengacuhkan membuat perempuan tersebut
menyerah dan tidak lagi menghubunginya.
Bentuk Tindakan Subversif
Terpisah, dalam Sarasehan yang diadakan
Undip beberapa waktu lalu, Ahmad Rofq, Sek-
retaris MUI Jateng menyampaikan, menyebut
dan melakukan gerakan NII merupakan per-
buatan/tindakan bughat, makar atau subversif.
Karena telah mengingkari kesepakatan seluruh
komponen bangsa, yang diperjuangkan dengan
cucuran air mata, darah, dan nyawa.
Gerakan NII yang dilakukan oleh para oknum,
menuntut pemerintah untuk mengambil langkah
tegas. Bahkan, menjatuhkan sanksi sesuai dengan
Undang-undang dan peraturan yang berlaku,
secara adil dan bertanggung jawab.
Pemerintah tidak boleh membiarkan gerakan
NII ini hidup di wilayah NKRI. “Membiarkan,
sama halnya memberi ruang dan kesempatan
mereka untuk berkembang. Setiap saat mereka
dapat meruntuhkan NKRI, yang merupakan
kesepakatan fnal seluruh komponen bangsa,”
tegas Rofq.
Pemerintah dituntut tegas mengambil tin-
dakan kepada oknum pejabat yang “bermain”
dengan gerakan NII, demi meraih kepentingan
politik semata, mempertaruhkan NKRI. Karena
menurut pandangan ulama (MUI), gerakan/tin-
dakan bughat, makar, subversif, adalah haram
hukumnya. (Pras)
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X
6
Gerakan Perusak Agama
Pemuda adalah generasi penerus dan masa depan bangsa. Kalimat tersebut telah menjadi sebuah stereotip yang selalu
muncul ketika membicarakan tentang bangsa. Semua bangsa di dunia pasti menggantungkan nasib kepada para
pemudanya. Suatu bangsa akan cerah masa depannya jika mampu mempersiapkan pemudanya menjadi generasi penerus
yang handal.
F
ilosofi tersebut yang digunakan oleh
para pendiri program Young Lead-
ers for Indonesia (YLI). YLI adalah
sebuah program untuk menciptakan
pemimpin kelas dunia yang mampu membuat
perubahan bagi Indonesia. Komunitas yang di-
prakarsai oleh McKinsey & Company Jakarta
pada 2008 ini memilih para mahasiswa terbaik
Indonesia melalui proses seleksi yang cukup ketat.
Mereka yang telah lolos seleksi akan dibimbing
dengan program pelatihan kepemimpinan secara
intensif. Sasaran dari program ini adalah para
mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi,
negeri maupun swasta di Indonesia.
Program ini bertujuan untuk memberikan
sebuah pembelajaran tentang kehidupan ber-
bangsa kepada para pemuda Indonesia. Me-
reka diajarkan tentang bagaimana cara
memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi oleh negara bahkan dunia
saat ini. Cakupannya, meliputi
permasalahan politik, ekonomi,
budaya, pendidikan, hingga ke-
sehatan. Setiap peserta pelatihan
akan dipacu untuk berpikir ke
depan dan kreatif dalam mem-
berikan solusi. Mereka dituntut
untuk menjadi seorang problem
solver, bukan problem thinker apa-
lagi problem maker.
Pelatihan diadakan tiga kali
selama setahun, yakni pada bulan
Februari, April, dan Juni. Pelak-
sanaannya dilakukan selama dua
hari setiap pertamuannya. Dalam
pelatihan tersebut didatangkan para
tokoh nasional yang sangat berkompeten di
dalam masing-masing bidang permasalah-
an. Beberapa tokoh yang pernah menjadi
pembicara dalam program tersebut diantaranya,
Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina),
Martha Tilaar (pendiri perusahaan kosmetik), dan
sebagainya.
Setiap waktu pelaksanaan, program pelatihan
dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, seluruh peserta
dikumpulkan menjadi satu forum untuk diberikan
materi kepemimpinan umum untuk didiskusikan
bersama. Setelah itu, mereka dibagi menjadi ber-
bagai kelompok kecil sesuai dengan kategori per-
masalahan yang dijadikan objek diskusi.
Sesi kedua, peserta dikelompokkan berdasar-
kan jurusan mereka di universitas.
Misal, peserta ma- ha-
siswa ilmu
pemerintahan, maka ia akan masuk ke dalam forum
politik. Sementara mahasiswa kedokteran akan ma-
suk bidang kesehatan. Namun, tidak mustahil jika
mereka berminat untuk mengambil forum yang
tidak sesuai dengan jurusan mereka.
Pratama Yoga, anggota angkatan kedua
program YLI 2010 mengatakan, program ini
merupakan salah satu program non-pemerintah
yang memberdayakan dan mempersiapkan kaum
muda sebagai agen perubahan. Hingga saat ini,
telah ada empat mahasiswa dari Undip yang
menjadi peserta dalam pelatihan
tersebut.
Aplikasi Ilmu
Program dari McKinsey ini merupakan pro-
gram swasta yang futuristik. Mahasiswa sebagai
generasi penerus bangsa disiapkan dengan matang
untuk meneruskan tonggak kepemimpinan
yang akan diwariskan kepadanya kelak.
Tak harus menungggu lama untuk melihat
hasil dari program pelatihan tersebut. Ter-
bentuknya sebuah komunitas alumni program
YLI adalah salah satu buktinya. Alumni YLI
yang masih muda sangat bersemangat untuk
segera mengaplikasikan ilmu yang didapatnya
dari pendidikan di universitas dan di pelatihan
YLI yang diikutinya.
Salah satu wujud dari semangat tersebut
adalah diadakannya kegiatan bakti
bangsa di pedalaman Kalimantan
awal Mei.Bekerja sama
dengan McKinsey
dan perusahaan
sepeda United,
YLI Commu-
nity meng-
adakan acara
pe mbe r i a n
sepeda kepada
mas yar akat
Biduk-Biduk,
Ka l i ma n t a n
Timur. Fokus
utama dari pro-
gram YLI adalah
mempersi apkan
generasi muda se-
bagai agen peruba-
han. Agen perubahan
haruslah mempunyai
pendidikan yang layak
dan bagus. (Furqon)
LIPUTAN KHUSUS
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 7
CIRI-CIRI NII
NII dapat digolongkan sebagai ge-rakan
yang berbahaya. Berbahaya bagi diri sendiri,
keluarga, dan tentunya jika dibiarkan terus-
menerus akan merusak kesatuan Indonesia.
Sebagai agent of change kita harus dapat
mencegah atau setidaknya menghindari.
Berdasarkan sumber di berbagai situs
internet menyebutkan ciri-ciri kelompok
bawah tanah yang mengatasnamakan NII
tersebut. Berikut ini adalah sebagian ciri-
cirinya:
Dalam mendoktrin, mata calon ditutup
rapat, dan baru akan dibuka ketika me-
reka sampai di tempat tujuan.
Para calon yang akan mereka doktrin
rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang
rendah, bahkan tidak memiliki ilmu
agama. Sehingga, mereka dengan mu-
dah diberi ajaran yang menurut mereka
adalah Dinul Islam. Padahal, kebanyakan
akal merekalah yang berbicara, dan bu-
kan Dinul Islam.
Calon utama mereka adalah orang-orang
yang memiliki harta berlebih, atau anak
orang kaya yang jauh dari keagamaan.
Sehingga yang terjadi adalah penyedotan



uang para calon dengan dalih Islam
Pola dakwah relatif singkat, kurang
lebih tiga kali pertemuan. Setelah itu,
sang calon resmi masuk ke dalam keang-
gotaan mereka. Ini adalah pemaksaan
ideologi, bukan lagi keikhlasan. Selama
hari terakhir pendakwahan, sang calon
dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang
mereka terjemahkan seenaknya hingga
sang calon mengatakan siap dibai’at.
Ketika sang calon akan dibai’at, dia harus
menyerahkan uang yang mereka namakan
dengan uang pencucian jiwa. Besaran
uang yang harus diberikan adalah Rp
250 ribu ke atas. Jika sang calon tidak
mampu saat itu, maka infaq itu menjadi
hutang yang wajib dibayar.
Tidak mewajibkan menutup aurat bagi
anggota wanitanya dengan alasan kahf
Tidak mewajibkan sholat lima waktu bagi
para anggotanya dengan alasan belum
futuh. Padahal, mereka mengaku telah
berada dalam Madinah. Seandainya
mereka tahu bahwa selama di Madinah-
lah justru Rasulullah SAW benar-benar
menerapkan syari’at Islam.
Sholat lima waktu mereka ibaratkan de-





ngan doa dan dakwah. Sehingga, jika me-
reka sedang berdakwah, saat itulah mereka
anggap sedang mendirikan sholat.
Sholat Jum’at diibaratkan dengan rapat/
syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat,
maka saat itu pula mereka anggap sedang
mendirikan sholat Jum’at.
Untuk pemula, mereka diperbolehkan
shalat yang dilaksanakan dalam satu
waktu untuk lima waktu shalat.
Infaq yang dipaksakan per pe-
riode (per bulan) sehingga men-
jadi hutang yang wajib dibayar
bagi yang tidak mampu ber-infaq.
Adanya qiradh (uang yang dikeluarkan
untuk dijadikan modal usaha) yang
diwajibkan walaupun anggota tak
memiliki uang, bila perlu berhutang
kepada kelompoknya. Pembagian bagi
hasil dari qiradh yang mereka janjikan
tak kunjung datang. Jika diminta tentang
pembagian hasil bagi itu, mereka
menjawabnya dengan ayat Al-Qur’an
sedemikian rupa sehingga upaya
meminta bagi hasil itu menjadi hilang.
Zakat yang tidak sesuai dengan
syari’at Islam. Takaran yang terlalu





melebihi dari yang semestinya. Mere-
ka menyejajarkan sang calon dengan
sahabat Abu Bakar dengan menaf-
kan syari’at yang sesungguhnya.
Tidak adanya mustahik di kalangan mer-
eka, sehingga bagi mereka yang tak mampu
makan sekalipun, wajib membayar zakat/
infaq yang besarnya sebanding dengan
dana untuk makan sebulan. Bahkan,
mereka masih saja memaksa pengikut-
nya untuk mengeluarkan infaq, padahal,
pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan.
Belum berlakunya syari’at Islam di
kalangan mereka sehingga perbuatan
apapun tidak mendapatkan hukuman
Mengkafrkan orang yang berada di luar
kelompoknya, bahkan menganggap halal
berzina dengan orang di luar kelompoknya.
Menghalalkan mencuri/mengambil
barang milik orang lain.
Menghalalkan segala cara demi mencapai
tujuan, seperti menipu/berbohong
meskipun kepada orang tua sendiri.





Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 8
Opini Mahasiswa
S
etiap manusia diciptakan untuk men-
jadi pemimpin (khalifah). Disadari atau
tidak, kita sebagai manusia ditakdirkan
untuk menjadi pemimpin di bumi
(khalifah fl arhdy). Paling tidak setiap ma-
nusia harus mampu menjadi pemimpin bagi
d i r i sendiri.
Di dalam organ-
isasi juga dikenal
adanya pemimpin.
Seorang pemimpin
dalam organisasi
merupakan tokoh
utama organisasi.
Sebuah organ-
i s a s i b i s a
Susahnya Jadi Pemimpin
D
ewasa ini, aksi kekerasan berla-
tar belakang agama kerap terjadi.
Kemajemukan bangsa Indonesia
yang seharusnya dipahami sebagai
karunia Tuhan terabai. Sebagian kelompok malah
menjadikan satu penyebab terjadinya konfik.
Berbagai macam agama dan kepercayaan bisa
kita jumpai di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.
Agama yang resmi diakui hanya enam, yaitu
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong
Hu Chu.
Indonesia sudah mengatur kebebasan ber-
agama dalam Pasal 29 UUD 45. Kemunculan
aliran, agama, dan kepercayaan di luar agama
resmi itu seharusnya tidak menjadi masalah. Yang
terpenting, tidak menimbulkan tindak kriminal
seperti pencemaran nama baik, tindakan asusila,
atau menodai agama yang sudah diakui oleh
pemerintah.
Konfik antar agama didalangi oleh oknum-
oknum yang tidak bertanggung jawab. Kenapa
disebut oknum, tentunya masyarakat sadar
bahwa esensi dari setiap agama adalah keda-
maian. Kurang pas jika kita menyebut bahwa
pelaku tindak kekerasan tersebut adalah murni
penganut suatu agama tertentu.
Di era reformasi, hampir semua orang
– baik yang mempunyai kapasitas, kredibilitas,
dan kapabilitas, maupun tidak – bisa bicara dan
bertindak. Tak heran jika banyak orang mulai
berjalan atau tidak semua tergantung oleh adanya
pemimpin.
Masih teringat jelas memori 1998 pasca la-
hirnya reformasi di negara kita. Saat itu muncul
seorang anak bangsa yang dengan segala keter-
batasannya mampu menjadi seorang presiden.
Adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur,
sosok pemimpin yang muncul di saat bangsa
kita membutuhkan seorang yang mampu
mema-damkan bara emosi berbagai
konfik antar etnis, agama, suku, ras,
golongan, hingga partai.
Segala kebijakan selama dua ta-
hun menjabat sebagai presiden
dibuat untuk kepentingan
seluruh bangsa, tak peduli
mayoritas maupun minori-
tas. Sebagai contoh, saat ia
menjadikan Hari Raya Imlek
sebagai hari libur nasional. Di satu
sisi hal tersebut membuatnya
dipuja oleh kalangan Tionghoa,
namun tak sedikit pula yang
mencibirnya. Namun, ia tetap
te-guh dalam prinsip membela
yang benar dan yang tertindas.
Menjadi pemimpin yang berani men-
gambil setiap resiko merupakan kewajiban. Jika
kita sudah terjun dalam dunia organisasi, maka
kita harus siap utuk disukai dan tidak disukai
oleh banyak orang (Taufq: 2008). Selain itu, kita
pun harus yakin dan meyakinkan diri bahwa apa
yang kita lakukan adalah untuk memperjuang-
kan kebenaran. Meskipun beberapa kebenaran
tersebut harus kita tebus dengan ketidaksenangan
orang lain terhadap diri kita. Sudah seharusnya
jika seorang pemimpin harus memegang prinsip
bahwa yang dilakukan adalah hal yang benar.
Kebenaran harus sesuai dengan kemaslahatan
masyarakat, baik masyarakat organisasi, maupun
orang-orang yang berada di sekitar organisasi.
Susahnya menjadi pemimpin, memanglah
suatu pernyataan yang benar adanya. Namun,
diantara kita harus ada yang menjadi seorang
pemimpin. Jika tidak ada yang meneruskan
perjuangan para pendahulu kita, tidak mungkin
akan bertahan suatu organisasi. Pro dan kontra
akan selalu ada. Sekalipun kita tidak menjadi
pemimpin suatu organisasi, permasalahan akan
selalu ada. Karena kita adalah pemimpin bagi diri
kita sendiri. Menjadi seorang pemimpin suatu
organisasi akan memberikan kita permasalahan
yang lebih berat dan keras. Hal tersebut akan
membiasakan diri kita sehingga masalah dalam
kehidupan sehari-hari kita akan terlihat lebih
mudah untuk dihadapi.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa
yang akan datang, tapi kita tahu apa yang harus
kita siapkan untuk menjemput kesuksesan di masa
yang akan datang (Taufq: 2009). Selama Tuhan
masih memberikan waktu kepada kita untuk
menjalani kehidupan ini, marilah kita menjadi
manusia yang baik. Dan sebaik-baik manusia
adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia
yang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas). Entah
sampai kapan kesempatan kita akan berhenti,
Toleransi Makin
Terkikis
bertindak “gila” dalam menyuarakan pendapat-
nya, termasuk dalam masalah agama. Mereka
seolah bertindak sebagai hakim tertinggi yang
berhak menilai sesat atau tidaknya suatu agama,
aliran, dan kepercayaan. Padahal, sebagaimana
kita ketahui penghakiman yang maha adil hanya
ada pada Tuhan itu sendiri.
Keyakinan seharusnya bersifat ke dalam.
Artinya, tidak ada paksaan kepada orang lain
untuk memercayai apa yang menjadi keyakinan
kita. Jika kita percaya tentang keyakinan yang
dianut, yang dilakukan hanya sebatas menyam-
paikan dan mungkin mengajak dengan bahasa
yang baik. Bukan memaksa untuk ikut bersama-
sama kita, apalagi dengan kekerasan.
Ternyata yang menjadi motif timbulnya
konfik bukan hanya berasal dari agama itu
sendiri. Ada beberapa faktor X yang perlu
dicermati, salah satunya ekonomi. Kesenjan-
gan ekonomi di kalangan masyarakat bisa
jadi merupakan penyebab terjadinya konfik.
Adanya forum silaturahmi antar agama dan
menyamakan visi bangsa sesuai cita-cita para
founding father dapat menjadi langkah awal
menghindari konfik berkelanjutan.
Rifka Pratama
Ketua Senat Mahasiswa
FIB Undip 2011
Oleh: Febri Taufqurrman
biarkan waktu yang akan menjawab. Hal yang
wajib kita lakukan adalah dengan memanfaat-
kan segala kesempatan sekecil apapun untuk
melakukan kebaikan.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang
mengerti, memahami, mengayomi, dan menjadi
tuntunan bagi mereka yang dipimpinnya. Pe-
mimpin yang menjadi tuntunan juga pasti akan-
menjadi tontonan bagi mereka yang dipimpinnya.
Setiap penonton boleh menilai apapun tentang
apa yang mereka tonton. Begitu juga dengan
mereka yang dipimpin, mereka berhak untuk
memberikan penilaian terhadap pemimpinnya.
Seorang pemimpin pasti sudah pernah merasakan
bagaimana menjadi seorang yang dipimpin, na-
mun apakah mereka yang dipimpin sudah pernah
merasakan menjadi seorang pemimpin?
Untuk itu, marilah kita sebagai insan yang
sama-sama berjuang dalam suatu organisasi de-
ngan visi dan misi bersama harus saling mengerti.
Mengerti siapa pemimpinnya dan mengerti siapa
yang dipimpinnya. Mengerti bagaimana pemim-
pinnya dan juga mengerti bagaimana yang di-
pimpinnya. Mengerti kenapa pemimpinnya dan
mengerti kenapa yang dipimpinnya. Mencintai
pemimpinnya juga mencintai yang dipimpinnya.
Serta memposisikan diri kita menjadi pemimpin
bagi diri kita sendiri. Dengan begitu kita akan
sama-sama mengerti dan menjadi manusia
yang kehadirannya dinanti dan kepergiannya
ditangisi.
Ketua BEM
Fakultas Ilmu Budaya Undip 2011
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 9
S
umber Air Tiga Rasa berada di kawasan
wisata Rejenu yang terletak di Pegunun-
gan Argo Jembangan, Gunung Muria.
Objek wisata ini berjarak ± 3 Km dari
pesanggrahan Colo. Sumber air tersebut memi-
liki tiga rasa yang berbeda pada masing-masing
sumbernya. Keunikan lainnya adalah jarak antar
sumber yang hanya satu meter.
Sumber air pertama mempunyai rasa tawar-
tawar masam atau dalam Bahasa Jawa disebut
anyep-anyep asem/kecut. Sumber air kedua mem-
punyai rasa yang mirip dengan minuman ringan
bersoda. Sedangkan sumber air ketiga mempu-
nyai rasa yang mirip minuman keras tuak/arak.
Uniknya jika air dari ketiga sumber ini dicampur
menjadi satu, rasanya menjadi tawar.
Keunikan air tiga rasa ini tak pelak men-
imbulkan pertanyaan, apakah air tersebut telah
layak dikonsumsi tanpa dimasak terlebih da-
hulu. Untuk alasan tersebut Wiwin, mahasiswi
semester enam Biologi Fakultas MIPA Universitas
Diponegoro (Undip), terdorong untuk melaku-
kan penelitian.
Standar Kualitas Air
Air yang digunakan untuk keperluan sehari-
hari sebaiknya memenuhi kriteria sebagai air
bersih. Air bersih merupakan air yang dapat
digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan
dan dapat diminum apabila telah dimasak, seperti
yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kes-
ehatan RI/416/Menkes/Per/IX/1990 (Waluyo,
2007).
Kriteria kualitas air ditentukan melalui
kualitas fsik, kimia, dan biologi. Kualitas fsik,
meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau, dan
rasa. Kualitas kimia, berhubungan dengan ion-ion
senyawa ataupun logam yang membahayakan.
Adanya senyawa-senyawa ini kemungkinan besar
membuat bau, rasa dan warna air akan berubah,
seperti yang umumnya disebabkan oleh adanya
perubahan kelembaban air.
Selanjutnya adalah kualitas biologi. Ada dua
semua sampel menunjukkan hasil negatif, na-
mun tumbuh koloni bakteri yang diidentifkasi-
kan sebagai Enterobacter, Klebsiella, dan bakteri
golongan coli selain E. coli.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
air dari sumber Air Tiga Rasa tidak memenuhi
syarat untuk dikonsumsi langsung karena rata-
rata jumlah bakteri golongan coli 2,3 x 10
1
/100 ml.
Jumlah ini melebihi standar yang ditetapkan oleh
Permenkes No. 492/MENKESPER/IV/2010.
Sumber Air tiga Rasa memenuhi syarat untuk
digunakan sebagai bahan baku air minum dan
kebutuhan rumah tangga karena rata-rata jum-
lah golongan coli dan coli fekal masih di bawah
standar yaitu masing-masing 2,3 x 10
1
/100 ml
dan 0,3 x 10
1
/100 ml. Standar yang ditetapkan
yaitu 10.000 /100 ml untuk koloni coliform dan
2.000 /100 ml untuk coli fekal.
Alangkah lebih baik bagi kita untuk tidak
mengkonsumsi air tanpa dimasak terlebih dahulu
untuk menghindari adanya bakteri berbahaya
yang bisa masuk dan mengganggu kesehatan
tubuh kita, juga untuk membiasakan diri se-
lalu menjaga kebersihan. Seperti kata pepatah
“mencegah lebih baik daripada mengobati” dan
“kebersihan pangkal kesehatan”. (Ali, Pras)
Air merupakan materi esensial dalam kehidupan.
Mahkluk hidup di dunia ini memerlukan dan
mengandung air. Indonesia merupakan salah
satu negara yang memiliki banyak sekali sumber
air, salah satunya Sumber Air Tiga Rasa.
parameter biologi untuk menentukan kualitas air
yaitu coliform tinja, contohnya Escherichia coli dan
coliform total, contohnya Enterobacter. Coliform
merupakan suatu koloni bakteri yang digunakan
sebagai indikator adanya polusi kotoran maupun
kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap suatu
perairan.
Penelitian dilakukan dengan mengambil
sampel secara langsung dari Sumber Air Tiga
Rasa. Metode penelitian ini dilakukan secara
kuantitatif dan kualitatif. Uji kualitatif coliform
secara lengkap terdiri dari tiga tahap, yaitu uji
penduga (presumptive test), uji penguat (confrmed
test), dan uji pelengkap (completed test). Uji penduga
juga merupakan uji kuantitatif coliform meng-
gunakan metode MPN.
Hasil pemeriksaan kualitas air dari sumber
Air Tiga Rasa secara bakteriologis menunjukkan
bahwa semua sumber air mengandung bakteri
golongan coli dan bakteri jenis lain.
Tabel 1.2. menunjukkan bahwa jumlah
bakteri pada sampel B lebih banyak dari
sampel A dan C, dan jumlah bakteri pada
sampel C lebih banyak dari sumber A. Hal
ini disebabkan karena faktor pH yang ber-
beda. Nilai pH sangat berpengaruh pada jenis
mikroba yang tumbuh (Waluyo, 2004).
Mikroba pada umumnya dapat tumbuh pada
kisaran pH 3-6. Kebanyakan bakteri mempunyai
pH optimum (tingkat asam-basa yang ideal)
untuk pertumbuhan berkisar antara 6,5 sampai
dengan 7,5. Bakteri tidak dapat tumbuh baik
dengan kondisi pH di bawah 5,0 dan diatas 8,5,
kecuali bakteri asam asetat (Acetobacter suboxy-
dans) dan bakteri yang mengoksidasi sulfur.
Faktor abiotik lain seperti suhu, kadar oksigen,
bahan organik dan anorganik, serta cahaya juga
sangat berpengaruh pada pertumbuhan mikroba
dalam perairan. Jumlah sel bakteri pada ulangan
I lebih banyak dibanding dengan ulangan II.
Hal ini disebabkan oleh faktor abiotik seperti
jumlah nutrisi, kadar oksigen, kejernihan, dan
suhu berbeda pada masing-masing pengulangan.
Sampel diambil pada kondisi yang berbeda yaitu
pada ulangan I sampel diambil saat cuaca cerah
dan ulangan II diambil saat malam dan hujan.
Selain itu, juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia
yang mengunjungi tempat tersebut.
Tabel 1.3. menunjukkan bahwa seluruh
sampel mengandung bakteri golongan coliform,
sedangkan coli fecal ditemukan pada sampel A
dan B. Kehadiran fecal coli pada sumber A dan
B mengindikasikan adanya cemaran kotoran
yang berasal dari saluran pencernaan manusia
atau hewan berdarah panas. Air ini tidak bisa
dikonsumsi secara langsung karena dapat me-
nyebabkan penyakit perut.
Nester, ilmuwan terkemuka menyatakan
bahwa fecal coli merupakan bakteri coli yang
berasal dari kotoran manusia dan hewan ma-
malia. Bakteri ini bisa masuk ke perairan bila
ada buangan feses yang masuk ke dalam air. A-
danya bakteri fecal coli dalam air, mengindikasikan
bahwa kemungkinan air itu tercemar, sehingga
tidak bisa dikonsumsi. Perbedaan jumlah fecal coli
pada sampel I dan II kemungkinan disebabkan
karena pada saat pengambilan sampel yang kedua,
sehari sebelum pengambilan sampel hujan dari
pukul 11.00 sampai malam.
Pengujian terhadap kehadiran E coli dari
TABEL 1.1
TABEL 1.2
TABEL 1.3
Dok. Istimewa
Penelitian
SEMARANG
Sambut Ramadhan
Siang itu, cuaca di Kota Semarang terasa sangat terik. Dengan ditambah suhu
udara yang tinggi, tak menyurutkan antusiasme warga untuk memeriahkan dugderan.
Dugderan adalah sebuah karnaval tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Semarang untuk
menyambut Bulan Ramadhan.
Pagelaran yang selalu dibuka dengan pukulan beduk dan letusan petasan menghadirkan
warak ngendhog sebagai ikon utama. Kehadiran hewan berkepala naga dan berkaki empat ini semakin
dimeriahkan oleh beberapa perwakilan kesenian dari kecamatan, SMA, hingga Akpol. Karnaval ini dapat
dijadikan sebagai rekreasi yang murah tanpa meninggalkan nilai budaya asli Kota Semarang. (Evan)
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X
10
Perjalanan
D
alam Bahasa Jawa curug yang be-
rarti air terjun. Menurut cerita warga
sekitar, sejarah curug ini bermula saat
para bidadari datang untuk singgah.
Mitos yang beredar, ada tujuh bidadari yang
datang ditambah keindahannya, sehingga oleh
warga dinamakan Curug Tujuh Bidadari.
Curug ini terdiri atas tiga tingkatan yang
mempunyai ketinggian yang berbeda. Antar ba-
gian jaraknya setinggi tiga meter. Apabila dihitung
ketinggian semua curug ±10 meter. Tak mudah
untuk menemukan wisata ini karena sedikit pe-
tunjuk arah. Namun, perpaduan harmoni alam
yang tersaji khas pegunungan memberikan bar-
gaining setimpal.
Terletak di Desa Keseneng, Kecamatan
Sumowono, Kabupaten Semarang objek wisata ini
masih tampak natural. Untuk menjangkau Curug
Tujuh Bidadari bisa ditempuh dari dua arah. Dari
Semarang melewati Ungaran kemudian menuju
Pasar Bandungan, selanjutnya ke Sumowono.
Apabila dari Yogyakarta bisa menggunakan jalur
alternatif melalui Pasar Projo Ambarawa, belok
kiri menuju Bandungan.
Waktu yang ditempuh dari Pasar Bandungan
Perjalanan Manunggal kali ini melewati jalan yang
menanjak dengan tikungan yang tajam untuk sampai
pada tujuan. Mata kami dimanjakan dengan hamparan
sawah luas dikelilingi pepohonan yang rindang. Hawa
dingin pun langsung mendekap sesampainya di Curug
Tujuh Bidadari.
hanya 45 menit dengan jarak 12 Km sampai
tujuan. Butuh tenaga ekstra untuk sampai ke
Curug Tujuh Bidadari karena medan jalan hanya
selebar 3 meter dari jalan raya Sumowono. Jalan
yang sempit dan berliku memerlukan keterampi-
lan kemampuan dari pengemudi.
Kondisi jalan hanya memungkinkan untuk
dilalui motor dan mobil. Walaupun mobil bisa
melewati, tetapi juga harus saling bergantian
bila saling berpapasan. Aspal jalanan yang be-
lum merata juga menjadi perhatian ekstra bagi
pengemudi. Terutama saat hujan jalanan akan
licin penuh lumpur.
Dengan mengeluarkan uang sebesar Rp
2.000/orang anda sudah bisa masuk ke dalam
kawasan Curug Tujuh Bidadari. Harga tersebut
berlaku Senin sampai Sabtu. Sedangkan Minggu
atau hari-hari besar lainnya pengunjung dipungut
ongkos masuk Rp 3.000/orang. Untuk parkir
cukup membayar Rp 1.000 bagi yang membawa
motor dan Rp 2.000 untuk mobil.
Lahan parkir sangat luas. Lahan parkir
masih sederhana beralaskan tanah dan belum
ada penjagaan khusus dari petugas. Meskipun
lokasinya sederhana, namun tak mengurangi mi-
nat pengunjung untuk datang. Jarak dari loket
pembayaran ke Curug Tujuh Bidadari sejauh
200 meter, ditempuh dengan jalan kaki.

Proses pematangan
Walaupun sudah setahun diresmikan, namun
masih banyak pembenahan dan proses peny-
empurnaan. Hal tersebut terlihat jelas ketika
beberapa area masih dibangun sarana pendu-
kung. Apabila anda kebingungan mengelilingi
sekitar, area wisata ini telah tersedia akses papan
penunjuk yang memberikan informasi fasilitas
yang ada. Selain itu, petugas obyek wisata yang
berjaga dapat memberikan informasi mengenai
fasilitas yang tersedia.
Warung kecil yang berhimpitan di kedua sisi
juga menyediakan makanan dan minuman apabila
pengunjung kelelahan, terutama yang berasal dari
luar kota. Namun, warung ini tidak semua buka
setiap hari, biasanya penjual membuka warung
saat akhir pekan atau musim liburan tiba. Untuk
menambah kenyamanan bagi pengunjung yang
ingin menunaikan ibadah sholat, area Curug
Tujuh Bidadari juga menyediakan mushola yang
terletak di belakang warung.
Rombongan wisata yang datang bisa me-
manfaatkan gazebo terletak di sebelah Selatan.
Biasanya pengunjung memanfaatkannya untuk
menggelar pertemuan atau acara tertentu. Ga-
zebo berjumlah empat bilik dan masing-masing
dapat menampung 20 orang. Untuk dapat meng-
gunakan fasilitas ini, pengunjung yang datang
harus menambah biaya sewa kepada petugas
loket. Harga sewa tergantung kesepakatan dan
tujuan pemakaian tempat tersebut.
Menurut petugas loket, Sabar, untuk me-
ningkatkan kenyamanan bagi pengunjung, para
pengurus obyek wisata melakukan kerja bakti
seminggu sekali. “Dengan jumlah pengelola se-
banyak delapan orang, kami berusaha menjamin
obyek wisata ini tampak bersih dan tertata rapi,”
ujar Sabar.
Saat cuaca buruk, pengunjung dilarang un-
tuk berenang di sekitar Curug Tujuh Bidadari.
“Kalau musim hujan, air yang di sela-sela curug
kotor dan pengunjung tidak boleh berendam,
itu untuk keselamatan,” kata Sabar. Pengunjung
diperbolehkan sebatas mengabadikan Curug
Tujuh Bidadari dengan kamera.
“Wisata Curug Tujuh Bidadari ini memang
tempat sangat menarik untuk bersantai bersama
teman. Di sini juga jauh dari polusi udara kota,”
kata Boy, pengunjung dari Ungaran. Letaknya
yang dekat dari Ungaran membuat Boy ingin
berkunjung lagi di lain kesempatan. (Ali)
Ali/ Manunggal
Panorama Menawan: Keindahan alam Curug Tujuh Bidadari
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 11
Profil
Marine Diving Club (mdc) •
Dengan semboyan
kekeluargaan
dan cinta bahari,
Marine Diving Club
(MDC) konsisten
menunjukkan
eksistensinya
di dunia bawah
air. Selama dua
dasawarasa, klub
selam Jurusan Ilmu
Kelautan Undip
ini giat menyelami
lautan, membawa
misi pelestarian
alam laut dan
pengembangan wisata
bahari.
MDC-Gombz
M
DC berdiri pada 1991 silam.
Klub selam ini dibentuk berdasar
pengembangan hobi selam dan
aplikasi ilmu kelautan beberapa
mahasiswa pada waktu itu. Ketua MDC angkat-
an pertama adalah Ir Agus Trianto MSc, yang
sekarang menjadi dosen Jurusan Ilmu Kelautan
Undip. Hingga saat ini, MDC mempunyai 17
angkatan.
MDC berada di bawah naungan Himpun-
an Mahasiswa Ilmu Kelautan (HMIK) Undip.
Anggotanya hanya mahasiswa yang terdaftar
di Jurusan Ilmu Kelautan saja. Bertempat di
Jl Gondang Barat III/5 Tembalang, Semarang,
MDC merupakan unit kegiatan kemahasiswaan
(UKK) bidang scientifc diving dan aktif di ke-
giatan konservasi laut.
Menurut Irvan, ketua MDC angkatan 16,
banyak manfaat yang didapatkan. “MDC dapat
menumbuhkan dan mengembangkan olah raga
selam guna mendukung ilmu pengetahuan ber-
basis kelautan. Selain itu, kekeluargaan di MDC
sangat erat, baik itu antar teman satu angkatan
maupun lintas angkatan,” ujarnya.
Sejalan dengan misinya, MDC rutin meng-
adakan berbagai ekspedisi. Seperti Ekspedisi
Corallium yang bertujuan untuk pemetaan
terumbu karang di perairan Kep Karimunja-
wa, menggunakan metode line intercept tran-
sect (LIT). Ekspedisi ke Kep Alor, NTT untuk
melakukan penyuluhan ke SD-SMA menge-
nai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem
laut.
MDC juga mengadakan kegiatan Reef
Check Karimunjawa bekerjasama dengan Ja-
ringan Kerja Reef Check Indonesia ( JKRI).
Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data
tentang kondisi terumbu karang, ikan karang,
invertebrata, dan berbagai indikator.
MDC juga telah menelurkan atlet selam
mewakili Jawa Tengah ( Jateng) seperti, untuk
sparing partner atlet selam Jawa Timur di Pasir
Putih (2003), Pra-Pekan Olahraga Nasional
(PON) di Lampung (2004), PON XVI Sumsel
(2004), Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Selam
di Pulau Seribu (2007), dan Kejurnas Selam
di Banda 2010. Dalam rangka HUT RI ke-
63, MDC ikut andil dalam upacara dua alam.
Upacara yang dilakukan di dalam air dan darat
bertempat di Karimunjawa, Jepara dan di Kolam
Renang Manunggal Jati, Semarang.
Regenerasi anggota MDC tidak jauh berbe-
da dengan organisasi yang lain. Perekrutan ang-
gota dilakukan setahun sekali bertepatan dengan
pergantian kepengurusan. Yang berbeda adalah
keanggotaan MDC yang berlaku seumur hidup.
“Ketika sudah masuk menjadi anggota MDC,
selamanya menjadi anggota. Jadi, anggota MDC
mulai dari angkatan pertama sampai angkatan
17. Tercatat ada 399 orang,” papar Irvan.
MDC sebagai organisasi harus ikut bertang-
gung jawab untuk mengembangkan keahlian se-
lam anggotanya. Keahlian selam perlu adanya
pengakuan dari induk organisasi selam yang
ada di Indonesia sehingga diharapkan mampu
meningkatkan peranan dalam sektor kelautan.
Sehubungan dengan hal tersebut, MDC men-
gadakan kegiatan sertifkasi ketrampilan selam.
Selain untuk meningkatkan profesionalisme,
juga untuk membekali peserta dengan sertifkat
sebagai bukti kemampuan serta keterampilan di
bidang selam.
Prestasi
Semangat kekeluargaan yang dibina MDC
serta usaha kerja keras anggotanya membuahkan
berbagai prestasi. Mereka berhasil merebut juara
umum perlombaan selam POSSI Antar Club
Semarang 2010 di Kendal. Tahun berikutnya,
menyabet Juara 3 di ajang yang sama. MDC juga
sukses menyelenggarakan Underwater Wedding
dan Underwater Hockey setahun yang lalu.
MDC juga berhasil mencetak dua rekor
Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor ber-
main catur bawah laut pada 2007 dan rekor
penyelenggaraan kuliah bawah laut pada 2010
berhasil mereka torehkan. Hal ini dilakukan un-
tuk mendukung upaya peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap rasa cinta bahari.
Menurut Irvan, sumbangsih yang diberikan
baik itu di fakultas maupun tingkat universitas
belum ada apa-apanya dibanding organisasi
kemahasiswaan lainnya. “Yang terpenting, kita
(MDC) akan selalu berusaha memberikan yang
terbaik untuk siapa pun,” tegas Irvan.
Jalin Kerjasama
Selama dua dasawarsa mengarungi kegiatan
selam, MDC berhasil menjalin kerjasama dengan
berbagai instansi baik dalam maupun luar ne-
geri. Dari dalam negeri diantaranya, Pemerintah
Daerah Jateng, Pemerintah Kab Jepara, Dinas
Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng, Bank
Tabungan Negara (BTN) Karimunjawa, Dinas
Pariwisata Jateng, BAPEDALDA Jawa Tengah,
Safety and Resque Daerah (SARda) Jateng,
Yayasan TAKA, Jaringan Kerja Reef Check
Indonesia dan beberapa klub selam mahasiswa
dari berbagai universitas di Indonesia.
Sedangkan dari luar negeri seperti, United
Nation Environmental Program, World Wild
Fund (WWF), Te Nature Conservation, US-
AID, dan Conservation International (CI). Ker-
jasama itu berupa penyuluhan ke sekolah-sekolah
(SD-SMA) di Indonesia mengenai pentingnya
menjaga kelestarian ekosistem laut hingga kam-
panye see food.
Selain itu, MDC memiliki jaringan kerjasa-
ma dengan beberapa media antara lain, Harian
Suara merdeka, Harian Kompas, Te Jakarta
Post, Indosiar, Trans7, Metro TV, SCTV, Dive
Magazine, National Geograpic Indonesia, dan
Dive Discovery. Irvan berharap bahwa dengan
dukungan banyak pihak MDC bisa go interna-
tional. Di samping itu, anggota MDC harus dapat
menjaga mutu maupun kualitasnya. (Hanan)
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 12
B
erbicara telah menjadi kegiatan se-
hari-hari semua orang sebagai ko-
munikasi verbal. Namun, sebagian
orang akan menemui kesulitan jika
harus berbicara di hadapan khalayak. Pesan
yang disampaikan terkadang mengalami
gangguan (noise) saat kata yang diucapkan
tidak jelas akibat grogi. Diperlukan pen-
guasaan berbagai kemampuan, diantaranya
intonasi suara, olah tubuh sampai mental
yang kuat.
Tak cukup hanya itu saja, bagi Shinta
Ardhan, pengalaman dan pengetahuan juga
penting. Menurut pengajar sekaligus pre-
senter Cakra TV ini, keterampilan berbicara
di khalayak umum (public speaking) saat ini
makin dibutuhkan. Berikut petikan wawan-
cara reporter Manunggal, Ali Budi Utomo,
dengan Shinta Ardhan, beberapa waktu lalu.

Menurut Anda, bagaimana perkemban-
gan public speaking pada era demokrasi saat
ini?
Sejak dibukanya kran demokrasi, public
speaking mengalami perkembangan pesat.
Keterampilan berbicara ini sudah melebar
ke segala bidang pekerjaan. Semua perusa-
haan pastinya membutuhkan public speaking
untuk mendukung kesuksesan. Dalam dunia
politik, public speaking dapat dimanfaatkan
seorang kandidat untuk pencitraannya.
Biasanya, yang bertindak selaku public speaker
adalah orator kampanye atau kandidat itu
sendiri.
Apakah public speaker harus mempunyai
konsep jelas dan berkarakter ?
Setiap pembicaraan harus mempunyai
tema dan pesan yang jelas. Public speaker
harus pandai dalam menyampaikan pesan
tersebut kepada pendengar. Penggunaan
tema bertujuan agar pembicaraan tidak
melebar, sehingga pesan dapat sesuai yang
diharapkan. Apalagi dengan waktu yang
terbatas. Olah bahasa tubuh serta variasi
suara sangat dibutuhkan untuk menghindari
kejenuhan para pendengar.
Apa saja yang dibutuhkan public speaker
untuk dapat berbicara secara kompeten terha-
dap audience ?
Bagi seorang public speaker, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara
di atas panggung. Pertama, seorang pub-
lic speaker harus fokus dan terarah. Kedua,
berbicara sesuai dengan tema yang telah
disiapkan. Ketiga, penyampaian yang men-
arik dengan memperhatikan bahasa tubuh,
keramahan, kejelasan bicara, dan intonasi.
Ketiga, faktor tersebut akan mempengaruhi
tersampainya pesan ke pendengar atau tidak.
Bagaimana bila audience yang dihadapi
berasal dari masyarakat yang heterogen ?
Jika kita sedang berbicara dengan suatu
komunitas yang mempunyai latar belakang
pengetahuan berbeda-beda, gunakan bahasa
umum dan mudah diterima berbagai ka-
langan. Hindari penggunaan bahasa asing
dan bahasa ilmiah, sehingga pesan dapat
dimengerti dan mudah diterima semua kalan-
Curiculum Vitae
Nama: Shinta Ardhan
Hobi : Travelling, membaca, berenang dan
bermain gitar.
Penghargaan :
- Grand Prize Winner of UNICEF and AJI
Award 2010, for best media reporting on
children’s issues 2009.
- Te radio category with a report titled “Ar-
ranged Marriage in Central Sumba” NTT
WorkingExperiences :
- Artist/ Commedian
-RADIO Journalist and Broadcaster
Journalist _ Radio News Agency Jakarta
(Current)
-Journalist _CVC Radio Australia ( 2007-
2010)
- Correspondent of SS Radio (2003-2005)
- Announcer of SPS Radio Ambarawa Ka-
bupaten Semarang (2000)
- Announcer and Reporter of Ras FM Ra-
dio Semarang (2000-2005)
- TV Presenter and Dubber
- Host/TV Presenter on ‘Bali TV Network’
Semarang ( 2007-2010)
- Print Media
Book :
“Karena Aku Perempuan” Works Coali-
tion of Women Journalists of Central Java .
(2009)
Organization:
Head of the Alliance of Indonesian
Journalists Radio , Central Java.
PR Coalition of Female Journalists
Semarang Central Java
Wawancara Khusus
gan. Public speaker tidak boleh memposisikan
dirinya sebagai orang yang sangat pintar
dan serba tahu, namun harus lebih bersifat
rendah hati agar tidak menyinggung perasaan
pendengarnya.
Bagaimana agar audience dapat me-
nerima pesan yang kita sampaikan?
Agar para pendengar dapat mengerti
pesan yang kita sampaikan, hendaknya
perlu mengatur volume suara kita. Berbicara
dalam suatu ruangan tidak harus dengan
suara lantang, ada teknik vokalnya. Bisa juga
dengan menggunakan dukungan teknologi,
seperti penggunaan pengeras suara dengan
microphone atau sound kecil. Selain menghe-
mat suara, bagi pendengar juga agar lebih
enak didengar. Yang terakhir, coba belajar
mengikuti sekolah public speaking secara
kelembagaan. Di sana akan diajarkan salah
satunya bagaimana cara menguasai penden-
gar dengan berbagai macam teknik, salah
satunya dengan mengontrol volume suara.
Bagaimana cara mengontrol situasi saat
sedang berbicara di atas panggung?
Kontrol itu dari diri kita, hanya perlu
meng-atur feeling saja. Untuk mengetahui
apakah kita sudah terlalu lama berbicara, tes
saja lewat reaksi dari pendengar. Jika terlihat
ekspresi yang mulai gelisah atau sudah
sedikit bergerak tidak nyaman, imbangi den-
gan mengajak para pendengar untuk ikut
berkomunikasi. Selain itu, untuk mencairkan
suasana kita perlu menyajikan guyonan-guyo-
nan yang melibatkan pendengar. Hal terse-
but juga bisa membuat komunikasi menjadi
lebih akrab.
Apakah seorang public speaker harus
mempunyai karakter yang khas dalam setiap
menyampaikan suatu pesan di semua situasi
dan kondisi?
Tidak ada salahnya kalau penyampaian
oleh seorang public speaker dilakukan den-
gan ciri tertentu. Seperti yang saya lakukan,
cara penyampaian saat mengajar dengan
pembawaan ketika menjadi seorang pre-
senter sama saja. Nyatanya, hal tersebut tidak
menjadi masalah bagi murid saya. Namun,
seorang public speaker juga bisa menyesuaikan
dengan kondisi yang ada. Mi-salnya, saat
seorang guru mengajar di kelas akan berbeda
dengan saat menjadi seorang pembawa acara
di luar kelas.
Apa harapan anda tentang bidang profesi
public speaking ini?
Harapan saya, bagi mereka yang terbiasa
menggunakan metode lama, seperti berpikir
bahwa makin panjang omongan makin
bagus, agar bisa sedikit digeser. Karena
yang bisa kita lihat sekarang ini, pendengar
terkadang mempunyai pengetahuan yang
sama dengan pembicaranya. Tidak seperti
dahulu, guru selalu lebih pintar dari anak
didiknya. Jadi, jangan sampai merasa bahwa
kita lebih tahu dari pendengar. Dalam public
speaking, akan lebih baik jika pembicara
mampu berkomunikasi dengan pendengar-
nya, membuat sebuah diskusi. Terkadang
kita mendapat banyak pengetahuan baru dari
mereka yang kita jadikan sebagai audience.
Jangan Merasa Lebih Pintar
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 13
K
ita, bangsa Indonesia, bersemboyan
Bhinneka Tunggal Ika, bermakna
berbeda-beda namun satu tujuan.
Semboyan ini menjadi prinsip dalam
hidup berbangsa dan bernegara di dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Prinsip
ini tercipta adanya kemajemukan budaya, ba-
hasa, kepercayaan serta agama. Prinsip pluralisme
mampu menjadi landasan saat bangsa ini berjuang
meraih kemerdekaan. Peristiwa Sumpah Pemuda
juga menjadi catatan sejarah dalam penyatuan
visi meraih kemerdekaan.
Kini, semangat Sumpah Pemuda kian meng-
hilang dari bangsa yang telah satu ini. Prinsip
semboyan Bhinneka Tunggal Ika kian kabur
maknanya. Nilai-nilai terdegradasi oleh sikap
dan tindakan tidak menghormati keragaman
dan nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai tragedi
konfik berbau suku, agama dan ras, atau SARA
mampu mengguncang keutuhan pluralisme di
Indonesia.
Pluralitas disalahartikan dan menjadi sangat
rawan sehingga pergolakan dan gesekan yang
mengarah pada isu-isu keagamaan. Agama
digunakan sebagai kedok dan alat melakukan
kejahatan. Semestinya, agama menjadi pegangan
hidup, baik menghormati sesama, membangun
perdamaian, serta keteduhan justru menjadi sum-
ber kejahatan.
Kesalahan penghayatan dan penyimpangan
dalam praktiknya menjadi penyebab. Kerap ter-
jadi pembenaran simbolis agama, mempertajam
permusuhan, hingga memistiskan motif menjadi
perjuangan membela iman dan kebenaran. Hal ini
dapat dikatakan sebagai sikap fundamentalis.
Sikap fundamentalis berkecendurungan mau
menang sendiri, memaksakan kehendaknya pada
orang lain, cenderung menghalalkan segala cara
demi tercapai tujuan sendiri. Kepentingan ke-
lompok atau golongan dengan memutlakkan
interpretasinya kebenaran agama yang diyakini,
dan memaksakan orang lain menaatinya. Sikap
anarki, teror hingga tindakan-tindakan radikal
menjadi jalan pencapaian tujuan.
Fundamentalisme mampu mengancam
negara kita. Penanganan atas menguatnya gel-
ombang fundamentalisme dan radikalisme, yaitu
berupa tafsir baru atas pluralisme dalam konteks
keindonesiaan. Pluralisme seharusnya ditafsirkan
mampu memperkaya khasanah kehidupan secara
pribadi maupun bernegara.
Di tengah keragaman yang ada harus mun-
cul keterlibatan aktif antarumat beragama yang
diharapkan mampu menumbuhkan pemahaman
konstruktif, yaitu pluralisme bukanlah relativ-
isme, melainkan upaya untuk saling menemu-
kan komitmen bersama. Pembauran dan dialog
antarpenganut agama menjadi hal yang sangat
penting terlebih menghindari sikap eksklusif diri.
Perlu pengakuan masyarakat tentang kemaje-
mukan secara utuh dengan menjunjung tinggi
multikulturisme serta menghargai keragaman.
Kita ingat kembali bangsa ini dapat meraih
kemerdekaaan atas kekuatan kesatuan di atas
keragaman suku, kepercayaan, agama dan ras
yang ada. Dengan kata lain, perilaku nasionalisme
didasarkan pada pluralisme itu sendiri. Dengan
kesadaran yang demikian, semoga kita tak ter-
jebak konfik sosial yang berkepanjangan.
di Tengah Pluralisme
Oleh:
Dwi Nastiti Muliasari
Redaktur Pelaksana Joglo Pos
KEBHINEKATUNGGALIKAAN
Kataku adalah sajak, katamu
Katamu adalah sajak, kataku
Kata-kata kita mungkin adalah
sajak
Kataku
Tidak
Sajak telah menahun
meninggalkan kata-kataku
Sempat terlupa apa itu
Kata ‘sajak’
Lalu kamu hadir dan berkata-
kata
Tiba-tiba kata-katamu
Telah ada dalam tiap kata-
kataku
Menjelma menjalin kata-kataku
Kataku, begini
Katamu adalah kataku
Lalu kamu berkata
Lalu?
Kataku, katamu yang
membuatku berkata
Kamu tak berkata lagi
Aku pun berkata
Katamu adalah sajakku
Kamu masih enggan berkata
Tatapanmulah yang berkata-kata
Sejenak tak ada kata diantara
kita
Mungkin
Kitalah sajak itu, katamu
SAJAK KITA
Kolom
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 14
Konsultasi
U
ntuk memupuk rasa percaya
diri bisa dengan membanggakan
prestasi kita di masa lalu, yang
berbeda dari orang lain. Dengan
mengingat dan mengenang prestasi-prestasi
yang sudah pernah kita dapatkan di masa lalu.
Misalnya, kita pernah menjuari lomba baca
puisi tingkat kecamatan. Kemudian
prestasi-prestasi tersebut itu bisa
jadi adalah bakat-
bakat kita,
d e n g a n
s e d i k i t
diasah akan
menjadikan
sesuatu yang
lebih baik.
L a l u
bagai mana
de nga n
yang di
masa lalunya be-
lum pernah memiliki prestasi-
prestasi demikian? Ya, kita bisa
melihat potensi-potensi dalam
diri kita yang bagus. Misal-
nya kita memiliki rambut
yang bagus, atau memiliki
kulit hitam manis, atau me-
miliki potensi untuk memi-
kat lebih banyak orang pada
Saya mempunyai pacar yang sudah masa semester akhir
tetapi, sampai sekarang dia belum menentukan masa depan-
nya. Bagaimana cara memotivasi dia agar dapat memikir-
kan masa depannya?
(Tary, Akuntansi)
S
ebenarannya dan bebaskan diri dari
kecemasan-kecemasan yang tidak perlu.
Hidup bukan sekedar untuk dipikirkan,
tapi untuk dijalani. Tetap harus berkarya,
walau cemas/pesimis. Hal tersebut tidak
semestinya menjadi ganjalan. Lulus
cepat itu adalah suatu prestasi. Harus
mengarahkan psikologi kita dalam
hal-hal yang positif untuk hari ini dan
kedepan.
Berusaha, jika gagal cari batu loncatan lain.
Jangan pernah takut gagal dulu. Nasib orang
siapa tahu. Nasib baik atau buruk seseorang itu
tergantung dari sepak terjang di masa lalunya.
Kalau mau mendapatkan hal-hal baik, kita harus
meninggalkan yang tidak baik. Contohnya,
tidak pacaran dulu, tidak
pernah berbuat
mesum, tidak
berbuat hal-
hal yang
S
haring dengan pacar, membahas hal-hal yang bermutu, dan membahas kedekatan spiritual
serta bagaimana aplikasinya. Misalnya, membahas masalah puasa, bagaimana tanggapannya
tentang puasa itu, lalu aplikasinya dalam kehidupannya apa. Sehingga ada motivasi
dan pengendalian diri yang bisa memunculkan soft skill.
Namun, bagaimana jika ditemui pacar yang tidak begitu suka dengan obrolan serius,
ya kita bisa mengemasnya dengan cara lain. Dengan cara yang sesuai frame
of reference pacar. Jika pacar adalah tipe yang suka bercanda, kita
bisa menge- masnya dalam frame yang tidak terlalu
serius. Asalkan dengan topik yang sama, membahas
kedekatan spiritual misalnya, puasa
itu tadi.
Bagaimana cara memupuk rasa percaya diri
tanpa harus membandingkan diri kita dengan
orang lain?
(Dina, Sastra Inggris)
Sekarang ini, saya mempunyai pacar yang lebih
tua. Usia kami terpaut dua
tahun. Banyak teman yang mengatakan hubun-
gan saya tersebut kurang
baik. Apakah itu benar?
Saya adalah mahasiswa semester akhir yang tinggal menyu-
sun skripsi. Namun, saya sekarang dilema, karena masih ragu
bagaimana nasib setelah lulus nanti. Bagaimana cara meng-
hilangkan dilema tersebut?
(Nurul, Administrasi Publik)
maksiat, dan yang terpenting adalah
mensyukuri yang ada.
P
endapat yang mengatakan hubun-
gan dengan selisih usia dua
tahun tidak baik, sangat tidak
mendasar. Usia tersebut tidak terpaut
jauh. Laki-laki 20 tahun, dengan wanita 18
tahun tingkat perkembangan psikologinya
itu sebaya. Dengan laki-laki yang umurnya
lebih diatas kita itu justru baik.
Karena seorang laki-laki itu ses-
uai kodratnya adalah seorang
pemimpin nantinya. Pe-
mimpin yang lebih dihormati.
Dalam agama sendiri, kalau
dengan orang yang lebih tua
itu kita harus menghomati.
Dan yang tua harus menyay-
angi yang muda. Terlepas dari
potensi yang dimiliki.
diri sendiri, yaitu disukai teman-teman. Hal-hal
tersebut bisa memupuk rasa percaya diri yang
lebih, karena setiap orang diciptakan dengan
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Diasuh oleh:
Endang Sri Indrawawati, M. Si
Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Undip
Kirimkan masalah seputar kehidupan priba-
di atau kesehatan ke email: persmanunggal@
yahoo.com
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 15
K
eris adalah salah satu senjata adat
suku-suku bangsa di Nusantara
yang merupakan senjata penusuk
jarak pendek. Senjata ini dikenal
dan dipakai oleh sebagian masyarakat di Asia
Tenggara. Keris merupakan senjata penusuk
yang dimuliakan, dihormati, bahkan dianggap
keramat. Tidak hanya suku bangsa di Indonesia,
bangsa lain di sebagian Asia Tenggara juga me-
ngenal dan memakainya. Diantaranya, Malaysia,
Brunei, Sabah, Tailand, Kamboja, Laos, dan
Suku Moro di Filipina Selatan.
Hampir semua orang tahu apa itu keris
dan bagaimana bentuknya, namun hanya se-
dikit yang mengetahui nama setiap bagiannya.
Keris sejak jaman dahulu memiliki bentuk paten
yang tidak berubah hingga sekarang. Keris atau
dhuwung terdiri dari tiga bagian utama, yaitu
bilah (wilah atau daun keris) digunakan untuk
menusuk, penopang (ganja), dan hulu/pegangan
keris (deder).
Bagian yang wajib ada pada sebuah keris juga
pisau lainnya adalah bilah. Selain merupakan
bagian utama, bilah dapat menjadi alat untuk
mengidentifkasi sebuah keris. Ganja tidak selalu
ada, tetapi keris-keris yang baik selalu memi-
likinya. Keris sebagai senjata dan alat upacara
dilindungi oleh sarung yang disebut warangka.
Untuk hulu keris, dapat terpisah maupun me-
nyatu dengan bilah.
Pengetahuan mengenai bentuk (dhapur) atau
morfologi keris menjadi hal yang penting untuk
dapat mengidentifkasinya. Selain nilai estetika,
bentuk keris memiliki banyak simbol spiritual.
Hal-hal umum yang perlu diperhatikan dalam
morfologi keris adalah kelokan (luk), ornamen
(ricikan), warna atau pancaran bilah, serta pola
pamor.
Beberapa bentuk pamor dianggap memiliki
kekuatan magis. Misalnya, pamor Subhanallahi,
selain sebagai senjata juga menambah wibawa
pemakainya. Ada lagi yang disebut pamor Rak-
matullahi karena dianggap membawa rejeki dan
disukai oleh sesama.
Berdasarkan proses terbentuknya, pamor
dibagi menjadi dua, yaitu pamor Jawalata yang
timbul secara otomatis karena proses pembuatan
(ditempa) dan Anukarta, pamor yang dibuat oleh
empu. Pamor sendiri wujudnya ada yang tampak
maupun tidak tampak (samar-samar). Contoh,
corak yang mirip daun kelapa (godhong klapa)
disebut pamor blarak mlirid sedangkan pamor
berwujud garis tegak disebut adeg
Sejarah Keris
Sebagai warisan budaya, keris mempunyai
jalan sejarah yang panjang. Sejarah mengenai
keris dapat ditemukan pada babad dan riwayat,
relief candi, serta literatur. Pada babad dan ri-
wayat, ditulis dalam sebuah Kitab Pararaton yang
ditemukan di Lombok. Kitab tersebut bercerita
tentang kekuatan sebuah keris yang sangat besar
hingga mampu membuat pemiliknya menjadi
orang terkuat di muka bumi.
Di babad lain juga diriwayatkan seorang
empu di Tanah Jawa pada masa Medang Ka-
mulan bernama Empu Ramadi membuat sebilah
keris tanpa peralatan. Dalam membuat, ia hanya
menekan menggunakan jari tangan. Keunikan
proses ini membuat keris pada jaman dahulu sulit
dibandingkan dengan cara pembuatan jaman
sekarang yang membutuhkan waktu lama.
Sejarah mengenai keris juga terpatri pada
relief candi-candi yang tersebar luas di Indonesia,
seperti yang terlihat pada Candi Sukuh, Solo.
Pada candi Hindu yang merupakan tempat
pemujaan masa akhir Kerajaan Majapahit ini,
terukir relief seorang empu yang tengah membuat
keris. Hal ini menjadi alasan para ahli untuk
menyatakan bahwa bentuk keris yang dikenal
sekarang telah mencapai perkembangan mo-
dernnya pada masa itu.
Karya-karya ukir dari milenium pertama
penanggalan masehi kebanyakan menampilkan
bentuk-bentuk senjata tikam dan wesi aji lain
yang diadopsi dari India. Meskipun demikian,
diketahui terdapat satu panel relief Candi Boro-
budur, Jawa Tengah (abad ke-9), yang memper-
lihatkan seseorang memegang benda serupa keris.
Sedangkan relief Ramayana di Candi Penata-
ran, Jawa Timur, memperlihatkan para prajurit
monyet sedang memerangi Kerajaan Alengka
membawa senjata mirip keris.
Pada literatur Jawa terdapat beberapa catatan
dari para penjelajah yang menyebutkan kepopu-
leran keris pada masa kerajaan Jawa jaman dulu.
Catatan Ma Huan pada 1416, anggota ekspedisi
Cheng Ho, dalam Ying-yai Sheng-lan menye-
butkan, orang-orang zaman Majapahit selalu
mengenakan “belati” (pu-la-t’ou) yang diselip-
kan pada ikat pinggang. Terdapat deskripsi yang
menunjukkan bahwa “belati” ini adalah keris dan
teknik pembuatan pamor telah berkembang baik.
DG Stibe dan Uhlen Beck dalam Encyclopaedie
van Nederlandsch Indie menyebutkan, keris sudah
ada pada abad IX.
Kegunaan Lain
Jaman dulu, keris digunakan para algojo untuk
mengeksekusi hukuman serta prajurit saat berper-
ang. Pada pertempuran-pertempuran melawan
penjajah, peranan keris tidak kalah dengan sen-
jata api. Kegunaannya sebagai alat pembunuh
pun sifatnya seremonial dan khusus, misal keris
milik Pangeran Puger bernama Kanjeng Kyai
Balabar. Pada abad ke-18 keris ber-dhapur Pa-
sopati itu digunakan oleh Sunan Amangkurat
Amral untuk menghukum mati Trunojoyo di
Alun-Alun Kartasura.
Walaupun oleh sebagian peneliti dan penulis
bangsa barat keris digolongkan sebagai senjata
tikam, sebenarnya alat ini dibuat bukan sema-
ta-mata untuk membunuh. Keris lebih bersifat
sebagai senjata simbolik. Dalam artian spiritual
mempunyai sifat kandel, seperti yang dipercaya
oleh masyarakat Jawa. Selain itu, keris juga di-
pandang dan diperlakukan sebagai suatu simbol
dan status bagi sang pemiliknya.
Dapat dipastikan, hampir di setiap keluarga
aristokrat Jawa memiliki sebuah keris Pusaka
Keluarga dengan berbagai keampuhan khas.
Keris juga dapat digunakan sebagai hadiah
kehormatan. Seorang senopati atau prajurit
yang sudah lama mengabdi pada negara diberi
hadiah berupa keris oleh sang raja. Raja juga
biasa memberikan keris pusaka kepada putra
mahkota sebelum dinobatkan.
Dalam acara keluarga seperti acara perni-
kahan, keris biasa digunakan sebagai simbol
untuk mempelai pria. Bilamana pengantin pria
mengalami suatu halangan, kehadirannya dapat
diwakili oleh keris tersebut. Yang masih lestari
hingga sekarang adalah fungsi keris sebagai
pelengkap busana tradisional Jawa. Di sejum-
lah kerajaan yang masih ada hingga sekarang,
misalnya Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Yogjakarta, keris merupakan aksesoris wajib yang
harus dikenakan dalam setiap agenda keraton.
Bagi para budayawan, keris dianggap se-bagai
sebuah benda seni yang mengandung nilai seni
yang sangat tinggi. Beberapa yang lain mengang-
gap keris sebagai barang seni yang berharga tinggi,
sehingga pantas digunakan se-bagai lahan bisnis
cinderamata ataupun sarana dekorasi. Sebagian
orang percaya bahwa keris tertentu dapat menam-
bah keberanian dan rasa percaya diri seseorang,
yang dalam hal ini pemilik keris tersebut.
Keris juga dapat menghindarkan dari se-
rangan wabah penyakit maupun hama tanaman.
Keris dapat pula menyingkirkan dan menangkal
gangguan makhluk halus. Selain itu, juga diper-
caya memudahkan pemiliknya mencari rejeki
serta mengangkat derajat kedudukannya. Pendek
kata, keris oleh sebagian orang dipercaya dapat
dimanfaatkan tuahnya, sehingga benda itu di-
Benda ini berwujud pisau dengan lengkungan khas. Sebuah
karya seni yang makin berkharisma tatkala dipadu ukiran khas
jaman kerajaan. Aura spiritual nan mistis selalu mengiringi
benda yang disebut keris ini pada setiap jamannya.
anggap bisa memberikan bantuan keselamatan
bagi pemilik dan orang-orang sekitarnya. Se-
hingga mereka akan merawatnya dengan sangat
hati-hati sebagaimana mereka merawat seorang
anak.
Disertai Doa
Keris adalah benda seni yang meliputi seni
tempa, seni ukir, seni pahat, seni bentuk serta
seni perlambang. Pembuatannya selalu disertai
doa-doa tertentu, berbagai mantra, upacara, dan
sesaji khusus. Doa pertama seorang empu ketika
akan memulai menempa keris adalah memohon
kepada Yang Maha Kuasa, agar keris buatannya
tidak mencelakakan pemiliknya maupun orang
lain. Doa-doa itu juga diikuti dengan tapa brata
dan lelaku, antara lain tidak tidur, tidak makan,
dan tidak menyentuh lawan jenis pada saat-
saat tertentu.
Memiliki sebuah keris pusaka, mengharus-
kan se-seorang untuk memenuhi berbagai ritual.
Yang sering dilakukan adalah upacara pemandian
keris (jamas). Ritual ini dilakukan setiap tahun,
tergantung kepada pemiliknya masing-masing.
Hal tersebut dilakukan guna menghindari hal-
hal yang tidak diinginkan. (Pras)
Sastra Budaya
Nilai Lebih
Sebuah Karya Seni
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X
16
Sebelum menekuni usaha Rumah Makan
(RM) Padang Basamo, ia pernah membuka
Warung Sarapan Nyam-nyam dengan menu
utama nasi uduk bersama rekan-rekannya. De-
ngan usahanya tersebut, ia memenangi Program
Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas
Diponegoro 2008. Namun, karena kesibukan
masing-masing akhirnya usaha ini berhenti di
tengah jalan.
Setelah itu, Nanang menganggap bahwa
RM Padang merupakan lahan basah untuk ber-
wirausaha. Saat itu, untuk daerah Tembalang,
RM Padang terhitung belum memiliki banyak
kompetitor. Menurutnya, bisnis ini sangat men-
janjikan. Kecintaannya terhadap masakan padang
serta hobinya memasak merupakan alasan lain
mengapa ia terjun dalam bisnis kuliner khas
Minang ini.
Pada awalnya usaha ini adalah sharing pro-
ft, yang dijalankan antara Nanang dan (Alm)
Martono. Nanang hanya konseptor sedangkan
sebagai (Alm) Martono sebagai pemodal. Namun
setelah 1,5 tahun berjalan, RM Padang Basamo
sepenuhnya telah menjadi miliknya.
Sejak awal berdiri, pada 5 September 2009,
Nanang tidak secara langsung turun tangan
dalam melayani para pembeli. Alumnus
Fakultas Peternakan Undip 2004 ini hanya
mengontrol para karyawannya. Apakah sudah
menjalani kebijakan yang telah dibuat dengan
benar atau tidak. Namun, seringkali ia me-
luangkan waktu berkunjung ke Basamo untuk
memonitor kegiatan para karyawan dan suasana
warung makan.
Ketidakpastian
Ketidakpastian merupakan hal yang wajar
dalam menjalankan sebuah usaha. Hal ini juga
dialami Nanang selama menjalankan bisnis.
Harga cabai yang sempat meroket hingga Rp
100 ribu per Kg membuatnya bingung. Padahal
makanan padang selalu identik dengan rasa pedas.
Ia juga tidak mungkin menaikkan harga demi
menjaga kepuasan konsumen.
“Untuk menyiasatinya, kami tidak merubah
kualitas makanan ataupun harga. Mungkin
hanya mengurangi kuantitasnya saja. Penting
bagi kita untuk mengkomunikasikan hal ini
kepada para konsumen dan membuat mereka
mengerti,” ucapnya.
Untuk menghadapi kompetitor Nanang
berupaya sebisa mungkin selalu memperbaiki
diri, tidak melulu melihat orang lain. “Kami me-
miliki nilai lebih, bukan masalah harga, namun
kita memiliki sesuatu yang berbeda. Seperti
varian menu belut sambal ijo yang tidak ditemui
di rumah makan sejenis,” tambah Nanang.
Saat ini, Nanang telah memiliki tiga orang
karyawan, termasuk satu juru masak yang berda-
rah asli Minang. Walaupun sempat berpindah
tempat, dari yang awalnya berada di daerah Ban-
jarsari hingga sekarang di Jln Prof Soedarto SH,
hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk tetap
menjalankan usaha ini.
Hambatan sesungguhnya dalam men-
jalankan roda usaha terutama bagi anak muda
adalah seberapa kuat mental mereka menahan
kesabaran untuk tidak sukses secara instan. Pria
asal Lampung ini mengatakan bahwa mayoritas
entrepreneur muda ingin cepat sukses dalam
waktu singkat. Ini yang membuat banyak usaha
hanya berumur jagung.
Mengenai peluang merambah usaha lain,
Nanang tidak menutup kemungkinan akan
menjalankan ternak kelinci. “Sebagai lulusan
Fakultas Peternakan, saya ingin mengaplikasi-
kan ilmu yang telah didapat,” jawab Nanang.
Untuk rencana usahanya ini, lokasinya tidak
akan bertempat di wilayah perkotaan Semarang
lagi. (Yuni)
Siapa bilang tanpa uang, seseorang tidak dapat jalankan usaha? Hal ini dibuktikan
oleh Nanang Laksmana saat awal mula merintis usaha rumah makan padang. Dengan
mengusung nama “Basamo”, Nanang mulai merintis usahanya ini dengan bekerja sama
dengan seorang pengusaha, (Alm) Martono.
Pulang Geni
Pulang Geni merupakan salah satu dhapur
keris yang populer dan banyak dikenal karena
memiliki padanan nama dengan pusaka Arjuna.
Pulang Geni bermakna ratus, dupa, atau keme-
nyan. Maknanya, manusia harus berusaha memi-
liki nama harum dengan berperilaku yang baik,
suka tolong menolong, dan mengisi hidupnya
dengan hal-hal atau aktivitas bermanfaat bagi
bangsa dan negara.
Kidang Soka
Kidang Soka yang berarti “kijang yang ber-
duka”. Dhapur ini bermakna, hidup manusia akan
selalu ada duka, tetapi manusia diingatkan agar
tidak terlalu larut dalam duka yang dialaminya.
Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus
dilalui dengan semangat hidup yang tinggi.
Naga Sasra
Salah satu dhapur keris yang paling terkenal,
walau jarang sekali dijumpai adanya keris Naga
Sasra Tangguh Tua. Umumnya, keris ini dihiasi
dengan kinatah emas sehingga penampilannya
terkesan indah dan lebih berwibawa. Keris dapur
Naga Sasra berarti “ular yang jumlahnya seribu
(beribu-ribu)” dan juga dikenal sebagai keris
dapur “Sisik Sewu”. Dalam budaya Jawa, naga
diibaratkan memiliki wibawa yang tinggi. Oleh
karena itu, keris Naga Sasra memiliki nilai yang
lebih tinggi daripada keris lainnya.
Raga Pasung atau Rangga Pasung
Raga Pasung atau Rangga Pasung, memi-
liki makna sesuatu yang dijadikan sebagai upeti.
Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan
diri manusia ini telah diupetikan kepada Tuhan
YME. Oleh karena itu, manusia harus ingat
bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia
ini sesungguhnya semu dan kesemuanya adalah
milik Tuhan YME.
Keris Sumelang Gandring
Keris Sumelang dalam bahasa Jawa bermakna
“kekhawatiran atau kecemasan terhadap sesuatu”.
Sedangkan Gandring memiliki arti “setia atau
kesetiaan” yang juga bermakna “pengabdian”.
Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki
makna sebagai bentuk dari sebuah kecemasan
atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan.
Beberapa kalangan menyebutkan bahwa keris
dapur Sumelang Gandring termasuk keris dhapur
yang langka atau jarang ditemui walau banyak
dikenal di masyarakat.
Tilam Upih
Tilam Upih dalam terminologi Jawa ber-
makna tikar yang terbuat dari anyaman daun
untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan
ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh
karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang
diberikan secara turun-temurun dalam dapur
Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan
dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya
nanti bisa memeroleh ketenteraman dan kes-
ejahteraan dalam hidup berumah tangga.
Puthut Kembar
Puthut Kembar oleh banyak kalangan awam
disebut sebagai Keris Umphyang. Puthut dalam
terminologi Jawa bermakna cantrik, atau orang
yang membantu atau menjadi murid dari seorang
pandita/empu pada zaman dahulu. (Pras, dari
berbagai sumber)
Makna Desain Keris
www.goedangdjadoel.com
Pojok Usaha
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 17
Resensi
P
opularitas sepeda sebagai sarana trans-
portasi roda dua kembali marak di se-
gala penjuru negeri. Berbagai manfaat
transportasi ini menjadikannya layak
untuk menemani dalam tiap aktivitas. Selain
mengurangi kemacetan, sepeda juga membantu
mengurangi asap karbon dioksida karena po-
lusi. Sebagai sarana untuk menjalankan aktivitas,
sepeda juga telah menjadi gaya hidup sebagian
orang perkotaan.
Judul : Melihat Indonesia
dari sepeda
Editor : Ahmad Arif
Penerbit : Kompas
Cetakan : 1, Oktober 2010
Tebal : xii+196 hlm
S
atu lagi, serial adaptasi komik di-
angkat ke layar lebar. Setelah kisah
superhero Tor, Green Latern, Green
Hornet muncul di bioskop, kini giliran
kisah petualangan Tintin dan anjing kesayan-
gannya Snowy.
Jaminan nama Steven Spielberg yang duduk di
kursi sutradara membuat flm ini dinantikan oleh
banyak penggemar, terutama yang menggemari
serial komiknya. Terlebih, kisah petualangan
detektif Tintin ini dibuat dengan teknologi 3D.
Film yang awalnya berjudul Te Adventure of
Tintin : Te Secret of the Unicorn ini mengalami
pergantian judul, menjadi Te Adventure of Tintin.
Pergantian judul ini disebabkan karena judul
lama dirasa terlalu panjang mengingat flm ini
berasal dari tiga komik.
Karakter-karakter yang bermain dalam se-
rial komiknya, masih dipertahankan di flm ini.
Captain Haddock dan si kembar Dupond dan
Dupont (atau yang dikenal dengan nama Tom-
son dan Tompson) dibuat semirip mungkin
dengan komiknya Tak terkecuali kumis Dupond
dan Dupont. Karakter Tintin yang hobi me-
makai celana coklat dan baju biru juga masih
dipertahankan.
Serial komik karangan Georges “Herge”
Remi yang kemudian diangkat ke layar le-
bar ini mengisahkan petualangan Tintin dan
kawan-kawan dalam memberantas kejahatan.
Petualangan yang tercipta merupakan gabungan
dari petualang-petualangan Tintin dalam tiga
seri buku sebelumnya, yakni Te Crab with the
Golden Claws, Te Secret of the Unicorn, dan Red
Rackham’s Treasure. (Afd)
Directed by : Steven Spielberg
Produced by : Peter Jackson
Steven Spielberg
Kathleen Kennedy
Written by : Steven Mofat
Edgar Wright
Joe Cornish
Studio : Amblin Entertainment
Te Kannady/ Marshall Company
Nickeledeon Movies
Wingnut Films
Distributed by : Paramount Pictures
Columbia Pictures
Release date : October 26, 2011 (USA)
Budget : US$135 million
Fenomena bersepeda yang sedang hangat
di kalangan masyarakat Indonesia saat ini yang
kemudian mendorong Ahmad Arif membuat
sebuah buku. Diharapkan buku ini mampu
memberikan pengetahuan yang baru mengenai
kegiatan bersepeda di mata kehidupan. Dengan
buku berjudul Melihat Indonesia dari Sepeda,
Arif mencoba memberikan gambaran mengenai
kehidupan melalui kegiatan bersepeda.
Setelah alat sepeda sempat terbenam cukup
lama bak ditelan bumi, buku ini hadir disaat yang
tepat. Perubahan gaya hidup membuat berbagai
kalangan masyarakat untuk menggunakan sepeda
untuk berbagai kegiatan. Menilik latar belakang
yang berdasar pengalaman perjalanan penulis,
buku ini cenderung mengungkapkan secara
nyata tentang fenomena bersepeda masyarakat
Indonesia saat ini. Dengan bahasa penyampaian
yang lebih santai dan mengena membuat buku
ini sangat mudah untuk dicerna segala isinya.
Buku ini mampu memberi motivasi kepada
pembaca tentang kebutuhan bersepeda. Hanya
waktu yang bisa membuktikan jika di suatu saat
dengan bersepeda kita bisa mengelilingi serta
mempelajari berbagai macam kehidupan di
berbagai belahan dunia. (Ali)
F
leet Foxes merupakan band indie asal
Seattle, Amerika Serikat (AS) yang
terbentuk pada 2006. Band yang diga-
wangi oleh Robin Pecknold (lead vo-
kal, gitar), Skyler Skjelset (lead gitar, mandolin),
Christian Wargo (bass, vokal), Casey Wescott
(keyboards, mandolin, vokal), Joshua Tillman
(drum, vokal), dan Morgan Henderson (multi-
instrumen) mengusung genre folk dan barouqe
pop.
Setelah sukses dengan album pertama, Fleet
Foxes, Mei 2011 mereka merilis album kedua
Helplessness Blues. Album kedua ini berisi 12
lagu yaitu Montezuma, Bedouin Dress, Sim Sala
Bim, Battery Kinzie, Te Plains/Bitter Dancer,
Helplessness Blues, Te Cascades, Lorelai, Some-
one You’d Admire, Te Shrine, Blue Spotted Tail,
dan Grown Ocean.
Album yang sebenarnya dirilis pada 2009 ini
terpaksa ditunda hingga 2011 karena padatnya
jadwal tur mereka. Dengan vokal Pecknold yang
memikat ditambah petikan melodi gitar Skjelset
memberikan warna lain bagi pecinta musik folk.
Band yang bergabung dengan label rekaman Sub
Pop dan Bella Union ini mendapat tanggapan
yang positif dari penikmat musik AS.
Fleet Foxes memperoleh banyak tanggapan
yang positif dari Rolling Stones, Te Guardian,
Uncut, Mojo, dan Entertainment Weekly. Mereka
juga mendapatkan penghargaan dari berbagai
media, dari AS maupun Britania Raya. Dian-
taranya, peringkat ketiga Best Music of 2008
dari Amazon.com, peringkat kedua pada 50 Best
Album of the year 2008 (Q Magazine), peringkat
pertama Top 50 Albums of 2008 (Mojo), dan
peringkat pertama 100 Best Albums of Te Year
(Te Times). (Evan)
Rilis : Mei 2011
Genre : folk, baroque pop
Artist : Fleet Foxes
Lebel : Sub Pop, Bella Union
Judul Single : Helplessness Blues,
Grown Ocean
M
e
r
d
e
k
a
.
.
.
!
!
!
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X
18
Sosok
Pembantu Rektor III
Drs Warsito SU
B
anyak hal yang sudah menjadi pro-
gram kerjanya. Mewujudkan inter-
nasionalisasi kurikulum yang belum
terlaksana pada periode sebelumnya
menjadi prioritasnya. Dalam waktu dekat, dosen
Fakultas Kedokteran ini akan mengusahakan
dua program studi (prodi) dari Fakultas Teknik
dan satu dari Fakultas Kesehatan Masyarakat
yang telah diajukan ke badan akreditasi inter-
nasional.
Kurikulum 2007 yang akan habis masa ber-
laku pada 2012 juga tak luput dari perhatian-
nya. Ia akan mengevaluasi, memperbaiki, dan
meningkatkan kualitas kurikulum agar dapat
mencapai mobile complete. Pada kurikulum ini
lebih terintergrasi dan memberat pada pem-
bekalan pembelajaran sepanjang hayat. Inte-
grasi dan student central learning (SCL) menjadi
kunci utamanya. “Dalam kurikulum ini dosen
hanya berperan sebagai fasilitator sedangkan
mahasiswa diharapkan dapat aktif mencari ilmu
sendiri, bukan hanya disuapi teori saja,” kata
Hartono.
Metode SCL ini sangat berguna bagi
mahasiswa dengan tidak lagi mengandalkan
materi dosen sebagai satu-satunya pembela-
jaran. Menurutnya, pada awalnya mungkin
mahasiswa akan kaget karena lebih rumit dan
lebih menantang dibanding hanya menghafal-
kan materi dari dosen. Harapannya, dari proses
pembelajaran seperti ini akan diperoleh output
yang lebih bagus.
Setelah menyelesaikan studi di Undip,
mahasiswa harus COMmunicator, Professional,
Leader, Entrepreneur, Tinker, and Educator
(COMPLETE). Untuk menjadi COMPLETE
harus ada pembentukan kompetensi melalui
pembelajaran kapan pun. Dan untuk menca-
pai kompetensi itu semua harus diatur dalam
kurikulum yang baru.
Ia sadar bahwa pada 2020 Undip harus sudah
menjadi universitas riset. Pada masa jabatannya
Undip berada pada fase “embrio”, yang harus “di-
rawat” dengan baik supaya nantinya lahir dengan
kondisi sempurna. Oleh karena itu, perbaikan
hal-hal yang sifatnya mendasar pada universitas
riset akan menjadi prioritas. (Ali)
Pembantu Rektor I
Prof Dr dr Hertanto W Subagyo MS, SpGK
Target Universitas Riset
Saatnya Ekspresikan Gagasan
P
ejabat rektorat yang juga mengajar
di Fakultas Ekonomi ini akan mem-
perbaiki sistem administrasi umum,
keuangan, personalia, dan lingkungan.
Salah satu program yang akan dilakukan dalam
bidang keuangan adalah tertib administrasi.
De-ngan status Undip sebagai Badan Layanan
Umum (BLU), semua keuangan harus diatur
sesuai aspek akuntansi agar berjalan lancar dan
tanpa penyimpangan.
Terkait dengan target Undip menjadi world
class university (WCU), ia akan bekerja sama
dengan PR I untuk mengembangkan sumber
daya manusia khususnya di seluruh fakultas.
Menurutnya, tanpa pengembangan penelitian,
Undip tidak akan maju dan terjebak pada keg-
iatan rutin yaitu mengajar. Kegiatan mengajar
pun seharusnya berdasarkan pada penelitian yang
membutuhkan perencanaan jelas. Jika tidak, akan
terjadi kesulitan dari aspek penganggaran dan
akhirnya bersifat spontanitas.
Pria kelahiran 1954 ini berharap, Undip
mempunyai kebanggaan pada penelitian yang
hasilnya dapat menjadi rujukan dunia. Minat
penelitian mahasiswa harus dikembangkan. Lem-
baga di Undip seharusnya dapat mengapresiasi
riset maupun lomba karya ilmiah secara ter-
program. “Kegiatan juga harus terencana dan
terarah, jangan bersifat spontan,” pungkasnya
dengan penuh antusias. (Ali)
Pembantu Rektor II
Dr Moh. Chabachib MSi Akt
Ingin Undip Lebih Maju
“Sejak awal saya bersedia menjadi
pembantu rektor (PR) karena panggilan
almamater. Saya sebagai alumni Undip
berkewajiban untuk membawa Undip lebih
maju,” kesan Dr Mochammad Chabachib
MSi Akt mengenai jabatannya sebagai PR
II saat ini.
Repot dan bertambah sibuk untuk empat tahun kedepan, itulah yang menjadi
kesan bagi Prof Hertanto, Pembantu Rektor I. Visi Undip menjadi universitas riset
memperbesar tanggung jawabnya. Ia optimis dapat mengemban tugas dengan baik
dengan didukung sivitas akademika.
M
enurutnya, perubahan politik
negara telah merubah sistem
pengelolaan kemahasiswaan.
Ekspresi diri mahasiswa cen-
derung tidak memperhatikan sisi akademis.
Hal tersebut bukannya tidak bagus, namun
akan lebih baik jika sisi akademis yang lebih
ditonjolkan. Mahasiswa harus mampu dan mau
belajar menganalisis persoalan yang dihadapi dan
mengimplementasikan keputusan sendiri.
Ia berusaha untuk lebih menekankan platform
akademis. Kegiatan yang telah dirancang oleh
eksekutif harus menyesuaikan minat bakat dan
kesejahteraan kemahasiswaan. Hal ini dilakukan
supaya peran eksekutif dengan kemahasiswaan
dapat bersinergi.
Pada dasarnya menurut Warsito semua yang
telah dilakukan oleh Undip sudah benar namun
untuk konsep student government belum tampak.
Untuk program pengembangan dibagi menjadi
dua kategori pengamatan yaitu kegiatan yang
sifatnya kompetisi nasional dan internasional. Ia
akan menempatkan staf ahli untuk mengurus
kegiatan internasional seperti beasiswa maupun
kompetisi kemahasiswaan.
Membina hubungan dengan alumni juga
dirasa perlu bagi Warsito. Menggaet alumni
untuk mengembangkan kurikulum, melakukan
penelitian, dan praktek kerja magang. Akan lebih
bermanfaat jika dapat memberikan pendanaan
bidang kemahasiswaan untuk pengembangan
kualitas mahasiswa. Untuk strategi pengemban-
gan prestasi, akan dilakukan melalui penelitian
dengan seleksi dari tingkat jurusan ke fakultas
untuk mewakili universitas.
Program paling mendesak bidang kemaha-
siswaan yakni program awal untuk menyatukan
sinergi antara Badan Eksekutif (BEM) dengan
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat
universitas. Seperti terlihat dalam pelantikan
BEM kemarin, ke depan mereka agar lebih sa-
ling mengenal melalui dialog bersama dalam
kegiatan kemahasiswaan secara terbuka. Harapan
Warsito, mahasiswa harus mempunyai karakter
yang kuat dalam pendidikan. “Kita tidak bisa
mencetak orang-orang muda yang berkualitas
jika mereka tidak berkarakter dan mudah goyah
oleh arus,” pungkasnya. (Ali)
P
embantu rektor bidang pengemban-
gan dan kerjasama bernama Prof
Sultana MH Faradz MD PhD.
Perempuan kelahiran Purbalingga,
2 Februari 1952 ini adalah dosen S1 program
Histologi, Fakultas Kedokteran Undip se-
jak 1979. Di samping itu juga menjadi
Direktur Pusat Penelitian Biomedical,
dosen S2 Ilmu Biomedical, dan dosen
S3 Ilmu Kedokteran Undip.
Selain itu, ibu tiga anak ini menjabat
Supervisor Laboratorium Cytogenetic
dan Konselor Genetic di RS Telogorejo,
Semarang. Ia juga aktif di RS Dr Kariadi
Semarang sebagai Koordinator Klinik Ge-
netik dan Kordinator Tim Gender. Warga
Tumpang Raya ini, juga menjadi tim medis
H. Soemiyati, tim medis YPAC Founda-
Pembantu Rektor IV
Prof Sultana MH Faradz MD PhD
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X
Menjadi seorang Pembantu Rektor III, yang menangani bidang kemahasiswaan, memberi kesan
tersendiri bagi Drs Warsito SU. Baginya, kesempatan tersebut merupakan salah satu jalan untuk
mengekspresikan gagasan-gagasan dalam mengembangkan kehidupan pola kemahasiswaan di Undip.
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 19
Memantapkan
Kerja Sama
tion untuk anak cacat di Semarang. Ia
juga dipercaya sebagai penasehat Forum
Komunikasi Intersex Indonesia (Forkis).
Atas semua dedikasi dan kerja ker-
asnya, ia pernah mendapatkan beberapa
penghargaan. Diantaranya, Dosen Terbaik
Fakultas Kedokteran Undip (2005), Finalis
Alumni Australia dalam Penelitian dan
Inovasi, Kedutaan Besar Australia (2008),
dan penghargaan dari Walikota Semarang
sebagai penemu Laboratorium Genetik
(2008). (Rio)
Manunggal - Agustus 2011 - Tahun X 20
KEMBALI KULIAH, KEMBALI BELAJAR !!!
BINGUNG CARI BUKUNYA ?
Tanyakan pada pakarnya...
PENERBIT ERLANGGA
Kami Melayani Ilmu Pengetahuan
Jl. Puspowarno Tengah No. 38-40 Semarang. Telp. (024) 7609432, 7609475, Fax (024)7615612
TEKNIK
MIPA
KEDOKTERAN
EKONOMI PSIKOLOGI
SOSPOL
MKDU
MELAKUKAN FOTOCOPY ATAS SEBAGIAN ATAU KESELURUHAN ISI BUKU BERARTI
MELAKUKAN TINDAKAN PEMBAJAKAN ATAU MELANGGAR UU NO. 19 TAHUN 2002
PASAL 72 TENTANG HAK CIPTA & BISA DIKENAKAN SANKSI HUKUMAN PENJARA
PERINGATAN PEMERINTAH
Contact Person : (024) 7030 3984, 0856 4094 1789 Surya Dani
0857 2693 9988, Yogo Fadhli 085 64039 4273
Mau Pinter & Nilai OK..?? Gunakan yang Asli & Berkualitas
Dapatkan buku-buku tersebut di :
Raih diskon besar-besaran mulai : 01 Agust s/d 30 Okt 2011 !!!
TB. Gramedia, TB Gunung Agung, TB. Merbabu, TB. Toga Mas,
TB. Komplek Stadion Diponegoro, TB.Bledak Kanthil,
TB.Sari Agung.TB Annur, TB Aneka Ilmu
www.erlangga.co.id
K
L
IK
!