You are on page 1of 80

Konspirasi Neo Orba: Mega, Hendro & NII Al-Zaytun 01 PENDAHULUAN Oleh Umar Abduh

BUKU yang hadir di tangan para pembaca sekalian ini disusun menjadi 3 Bab, Bab Pendahuluan menjelaskan latar belakang, tujuan dan methode penulisan. Bab I menjelaskan sikap kritis terhadap fenomena kontroversi kehadiran kepala BIN Hendro priyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003. Fenomena kontroversi kehadiran kepala BIN tersebut diabadikan dalam bentuk VCD, selanjutnya dijual untuk umum oleh komunitas Ma’had Al-Zaytun. Selebihnya isi buku ini merupakan analisis dampak hukum, politik serta duduk masalah yang perlu diungkap dan dikaji untuk kepentingan masyarakat banyak. Bab II menjelaskan eksistensi tentang apa dan bagaimana Ma’had Al-Zaytun, tentang AS Panji Gumilang juga tentang gerakan organisasi NII-NKA. Bab III berisi kritik membangun dan gugatan konstruktif terhadap kinerja dan mekanisme fungsi peran BIN di bawah Hendropriyono berkenaan dengan hubungannya dengan Ma’had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang maupun gerakan organisasi NII-NKA yang dipimpin AS Panji Gumilang. Bab Kesimpulan dan penutup berisi himbauan bagi masyarakat, BIN, Hendro dan pemerintah tentang pentingnya kekuatan moral dan control masyarakat terhadap system dan kinerja penyelenggaraan Negara dan pemerintahan. Ma’had Al-Zaytun sejak awal diselimuti misteri, dikenal sebagai ma’had yang kaya dengan kontroversi. Kini untuk kesekian kalinya Ma’had tersebut mengeluarkan debut kontroversi yang semakin membuat banyak orang terperangah. Gumpalan misteri Ma’had Al-Zaytun, sebagian telah tersingkap. Salah satu misteri itu, tersingkap setahun yang lalu, tepatnya tanggal 14-15 Mei 2003 di mana kepala BIN Hendropriyono berada di Ma’had tersebut disertai beberapa deputi BIN. Jika terungkapnya manipulasi data dan rekayasa pembengkakan suara pilpres di Ma’had Al-Zaytun 5 Juli lalu sudah dianggap sebagai kontroversi, maka Ma’had Al-Zaytun sudah memproduksi dan menjalankan kontroversi sejak awal pembangunan ma’had tersebut. Praktek manipulasi data pengelola Ma’had Al-Zaytun terhadap system – aturan kependudukan dilakukan bekerjasama dengan aparat Pemda Indramayu cq Kepala Desa dan Camat, di mana para warga AlZaytun tersebut tinggal. Menerbitkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) bagi warga Zaytun yang berperan sebagai pekerja, pembeli tanah masyarakat yang selanjutnya menjadi pewakif maupun mereka yang kemudian berperan sebagai eksponen Ma’had tersebut. Keahlian AS Panji Gumilang selaku pimpinan dan penanggung jawab Ma’had maupun organisasi NII-NKA melakukan manipulasi data kependudukan atau pengerahan massa sudah berulangkali terbukti. Sejak awal perayaan 1 Muharram diselenggarakan Ma’had tersebut tahun 2000 hingga 2004 yang lalu, komunitas Ma’had Al-Zaytun mampu menghimpun kedatangan anggota gerombolan NII-NKA tersebut sebanyak 120.000 – an. Demikian halnya praktek manipulasi data dalam momentum pilkades desa Mekar Jaya tahun 2002. Komunitas Al-Zaytun sukses menggalang manipulasi dan pemalsuan data kependudukan yang bekerjasama dengan aparat pemda Indramayu cq Kelurahan dan Kecamatan untuk membengkakkan suara pemilih calon kades Api Karpi. Keahlian AS Panji Gumilang memanipulasi data dan pemenangan suara memang sudah

banyak terbukti. Sukses tersebut karena dukungan moral dam mental komunitas NII yang terbiasa dan ahli dalam hal palsu memalsu – menduplikasi KTP, Surat Tanah, Akta Jual Beli Tanah dan sebagainya. Menurut kesaksian Ustadz Rani Yunsih, AS Panji Gumilang pernah memenangkan suara UMNO di Sabah saat menggusur partai Datuk Pairin Kittingan pada dekade 90 an. Layaknya pesulap AS Panji Gumilang, Ma’had Al-Zaytun dan gerombolan NII-NKA memang merupakan sumber kontroversi. Namun keahlian AS panji Gumilang, Ma’had Al-Zaytun dan organisasi gerombolan NII-NKA dalam merakit manuver maupun kontroversi itu nampaknya terantuk batu. Manuver politik dan kontroversi AS panji Gumilang yang menggunakan Ma’had Al-Zaytun beserta organisasi gerombolan NII-NKA telah memakan korban orang besar, yaitu capres dari partai Golkar, jendral Purn Wiranto. Orang pun lantas teringat dengan track record AS Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun, saat mereka menyambut kehadiran kepala BIN Hendro tanggal 14-15 Mei 2003 lalu. Peristiwa langka itu ternyata berhasil dikemas AS Panji Gumilang bersama komunitas Ma’had Al-Zaytun sebagai alat justivikasi terhadap kontroversi yang telah digelar selama ini. Kesan yang berhasil dibangun AS Panji Gumilang terhadap kepala BIN Hendropriyono sebagai pemilik dan berada di belakang eksistensi Ma’had Al-Zaytun akhirnya tersebar luas. AS Panji Gumilang berhasil menarik keuntungan, baik moril maupun materiil dari kehadiran dan sikap kepala BIN Hendropriyono yang ikhlash, lillahi Ta’ala memposisikan diri menjadi pelindung atau backing Al-Zaytun. Kemungkinan, Hendro pun puas karena berhasil memanfaatkan kontroversi Al-Zaytun dan panji Gumilang and his Gang menjadi alat dan bahan pembusukan dalam perang politik kepentingan, seperti yang terjadi saat pemilu legislative maupun pemilu presiden 5 juli yang lalu. Akibat langsung maupun tak langsung dari sikap kepala BIN Hendro yang ikhlash dan kesatria membacking Al-Zaytun tersebut akhirnya memunculkan ketidak jelasan sikap Panglima TNI, KSAD, Kapolri dan pemerintahan Megawati terhadap Ma’had tersebut. Karena Panglima TNI, KSAD, Kapolri dan kabinet Mega-Hamzah hingga kini tidak berani berbeda sikap dan berbeda pendapat dengan kepala BIN Hendropriyono, akibatnya Dansat Transportasi dan beberapa sopir Mabes TNI yang menjadi korban. Menteri Agama juga menjadi ewuh pakewuh untuk mengumumkan hasil penelitian tim INSEP yang bekerja sama dengan Badan Litbang Agama Dan Diklat Keagamaan Departemen Agama R.I yang beranggotakan enam orang sudah menyelesaikan tugasnya sejak akhir Februari 2004 lalu tentang Ma’had Al-Zaytun. Kesan dan kesimpulan masyarakat awam pun terlanjur mengarah kepada tuduhan atau sangkaan bahwa BIN dan Hendro sebagai pihak yang mengatur scenario dan segala sesuatu yang terjadi serta terkait dengan Ma’had tersebut. Masyarakat tidak bisa disalahkan, bila mereka menuding BIN atau Hendro sebagai pihak yang harus dan paling bertanggungjawab, apalagi hingga kini baik Hendro maupun BIN masih bersikap bungkam, diam seribu bahasa. Fenomena kontroversi Al-Zaytun dalam pemilu legislative April dan pemilu presiden 5 Juli kemarin jika dibiarkan berlalu tanpa ada sikap kritis dan tindakan konkret yang berkelanjutan dari KPU, Panwaslu, aparat hukum dan keamanan, hal ini merupakan preseden buruk sekali gus merupakan pelecehan terhadap hukum, undang-undang, negara dan pemerintah. Termasuk pelecehan terhadap citra pondok pesantren khususnya. Akibat langsung maupun tak langsung dari senyawa kontroversi antara AS Panji Gumilang dan kepala BIN Hendropriyono banyak masyarakat yang menjadi korban dan semakin tertipu. Karena kesan Hendropriyono selaku kepala BIN sebagai pemilik dan backing Ma’had Al-Zaytun tidak saja berhasil mengecoh komunitas NII-NKA dan para keluarga wali santri, tetapi masyarakat lain pun, termasuk para petinggi Golkar dan TNI akhirnya ikut yakin dan percaya bahwa Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang memang tidak bermasalah. Padahal kesan tersebut dibangun AS Panji Gumilang dan kepala BIN Hendropriyono hanya berdasarkan kecohan saat keduanya menyampaikan retorika yang sebenarnya mungkin hanya basa basi belaka.

Pernyataan dan sambutan Abu Toto nama lain AS Panji Gumilang, selaku petinggi Ma’had sekaligus dikenal sebagai Presiden gerakan organisasi gerombolan NII-NKA periode 1996 hingga sekarang, saat menyambut kehadiran Hendropriyono, akhirnya menyingkap tabir dan gumpalan misteri sekaligus kontroversi, pernyataan AS Panji tersebut sebagai berikut: “Selamat datang. Ahlan wa sahlan wa Marhaban. Indinikum Ila al Ma’had. Ma’had al Sya’rif, Ma’had Al-Zaytun ”. … Selamat datang, kunjungannya ke Ma’had Al-Zaytun ini. … Ini sebenarnya bukan satu kunjungan. Tapi pemiliknya datang kembali; yang sudah agak lama. Kami, kalau sahabat tidak ketemu sepekan, …itu rasanya, Subhanallah … Tapi ini betapa relanya … 4 (empat) tahun, 3 (tiga) bulan, kurang 3 (tiga) hari. Itu sahabat baru berkunjung kembali kembali ke Ma’hadnya. Inilah sambutan dan puji sanjung sekaligus pengakuan dari orang yang paling bertanggungjawab di Ma’had Al-Zaytun pada 14 Mei 2003 tentang Hendropriyono, di mana pada Februari 1999, sejak Hendro menjabat sebagai Menakertrans namun sudah memiliki hubungan sekaligus mendukung dan mem-back up keberadaan Ma’had Al-Zaytun dan Abdus Salam Panji Gumilang. Misteri dan kontroversi Ma’had Al-Zaytun semakin tersingkap setelah Hendro beserta rombongan hadir ke Ma’had tersebut sebagai kepala BIN, dalam sambutan pertama saat kedatangannya langsung menyatakan pembelaan dan menunjukkan kepedulian yang serius: Empat tahun saya tidak mendampingi beliau. Empat tahun lebih. Tetapi karena hubungan batin, saya ikut sekalian bersama Saudara-Saudara untuk menghadapi badai, badai fitnah terhadap Al-Zaytun. Alhamdullilah. Alhamdulillah Robbil ’alamin. Kita sudah sepakat memuji kehadirat Nya. Alhamdulillah … Akhirnya Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara sekalian mau tidak mau semua orang mengakui; akan kebulatan tekad, kebenaran, kekuatan hati dari Syaikh Sahabat Al Mukarrom, Syaikhul Ma’had Panji Gumilang, beserta keluarga besarnya. Siapa? Yang akan bicara lagi, bahwasanya Syaikh dengan segenap ummatnya di sini, adalah bukan seorang nasionalis? Siapa yang bilang … bukan mempunyai rasa patriotisme dan kebangsaan yang tebal? Saya sampaikan ini kepada Ibu Megawati, dan saya katakan bahwa Ibu diundang oleh keluarga besar Al-Zaytun, untuk meletakkan fondamen pertama. Batu pertama. Corner-stone. Untuk suatu gedung, yang sangat luar-biasa dan megah. Untuk menghormati The Founder of the Nation, yaitu: Dr. Ir. Soekarno … dia sangat terharu, dan masih tidak percaya: Apa iya? Saya bilang: orangnya itu baru datang tadi malam, menemui saya, dan meminta Ibu: “Ini suratnya!”. Dia baca, Alhamdulillah, Insya Allah, katanya: “Kapan?”. Saya bilang, “Maksimal tanggal 14. Karena tanggal 14 itu, seluruh siswa, santri akan check-out untuk liburan”. “Bagaimana kalau pulang libur?”. Saya bilang, “Nggak bisa!” “Terlalu lama”. “Jadi, Coba diatur dengan Sekretaris Presiden dan Sekretaris Negara”. Setelah atur sana, atur sini, disepakati: ini hari. Tiba-tiba ada yang kelupaan, yang sudah direncanakan sejak lama, acara di Kebumen, dan kebingungan dia itu. Lalu saya bilang begini: “Yang penting Ibu janji saja, untuk membuka sekolah ini, eh, maaf, Gedung ini; Gedung Pembelajaran ini”. “Kira-kira berapa lama?”. “Wah, itu saya belum tanya”. Mungkin bisa satu hari, mungkin bisa satu tahun. Bisa dua tahun, saya tidak bisa menduga Syaikhul Ma’had ini, orang ajaib. Banyak hal yang tidak disangka-sangka bisa kejadian. Jadi saya tidak bisa menduga. Saya sampaikan kalau Ibu .. tidak bisa, silahkan kirim wakilnya, tapi mewakili Ibu Presiden. Lalu beliau melihat ke langit-langit lama .. Lha Mbok sampeyan sendiri!! Ah, Alhamdulillah, memang rejeki saya!!! Ya heh heh he! Berarti rejeki saya. Saya telpon Menteri Agama. Saya mewakili Presiden, untuk berkunjung … atau kalau tadi Syaikhul Ma’had bilang bukan berkunjung, tapi kembali … Zaytun. Menteri Agama menjawab: Dalam rangka apa ini? Saya bilang: dalam rangka … Lalu saya bilang: “Antum mau ikut nggak?”. Menteri Agama menjawab “Lho kok mendadak begini?”. Lalu saya bilang, “Ada titip apa?”. “Titip salam..”.

Jadi, salam juga saya sampaikan karena ini amanah dari Menteri Agama Republik Indonesia, dan beliau juga menyampaikan penghargaan yang tinggi. Beliau bilang pada saya, “Pak Hendro apa yang disampaikan Pak Hendro, pertama kali dulu, Sidang Kabinet, saya khusus melaporkan soal Al-Zaytun?”. “Benar, karena Departemen Agama sudah mengirimkan Tim. Untuk melihat: Apa, Siapa, Bagaimana, Al-Zaytun?”. Ternyata badai yang saya katakan itu, yang mengatakan bahwa di sekolah yang kita banggakan ini: diajari aliran sesat, dia sendiri yang sesat!! Dan, berbagai macam Tim dikirim. Tim apa saja saya katakan. Sudah banyak dikirim! Dan memang, yang benar itu benar, yang salah itu salah. Jadi pada saat saya di Yogya. Saya mendapat laporan dari ajudan, bahwa Syaikh akan bicara, tapi bicaranya pake handphone, tidak bisa, karena saya berada di kampung. Jadi mohon-maaf, saya tidak sampai, karena saya di Imogiri, bukan di Yogya itu. Di Imogiri. Di sana saya berjumpa dengan seorang Kyai, dan saya bicara, bicara soal Al-Zaytun. Pertanyaan-pertanyaannya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang dia dapatkan dari membaca buku. BUKU-BUKU IBLIS!! Bukunya orang yang iri hati. Bukunya orang yang iri hati!! Mudah-mudahan dia segera bertobat, setelah tahu itu apa al Zaytun. Saya sampaikan. Kita … Farodlo taubata wa harroma … isroro … Kita harus bertobat, karena kesalahan dalam menilai apa itu Al-Zaytun. Saya pura-pura katakan kita, karena sebenarnya saya tidak termasuk di situ. [tepuk-tangan]. Lantas mulai tanya macemmacem. Dia tanya siapa itu Panji Gumilang, siapa itu… Saya bilang yang jelas dia itu sahabat saya, dan dia itu orang yang paling benar di dalam permasalahan ini. Dan pagi-pagi ketika saya diwawancara oleh beberapa wartawan. Pagi-pagi, maksudnya sebelum Presiden Republik Indonesia saat itu Habibie, datang, berkunjung kemari meresmikannya; saya diwawancarai oleh wartawan. Dan mati-matian semua pertanyaan itu saya jawab. Karena pertanyaan itu memojokkan. Tidak ada satu pun jawaban saya yang dimuat. MEMANG IBLIS!!! Memang sudah di-set orang-orang yang tanya itu, untuk memang memojokkan, tapi saya ya, waspada, karena saya dulu sudah direncanakan oleh Syaikh untuk menjadi Kepala Intel, waktu itu, He he he … Tapi, banyak wartawan lain, yang membela. Sehingga keluarlah di satu majalah, mengenai jawaban, meskipun jawaban saya dikorting, tetapi cukup. Cukup. Saya puas. Karena ada suatu keyakinan akan kebenaran yang harus dibela. Saya sampaikan kepada sahabat karib saya: “I am your friend in need, so I have to be a friend indeed”. Seorang sahabat sejati harus pada saat-saat dibutuhkan. Dan bukan pada waktu senang, sudah jadi kayak begini baru datang. Nah … saya tetap membela!! Dan bukan saya sendirian. Banyak juga. Saya akan perkenalkan satu per satu. Karena waktunya sudah mepet, kita mau bermaghrib. Ee .. saya juga bawa dalam rombongan ini, wartawan yang pro dan yang betul-betul tahu akan kebenaran yang saya sampaikan tadi. Namanya Imam Ashori. Ini juga sahabat karib saya, jadi saya katakan yang benar, dan dia juga percaya. Karena saya juga sudah menyelidikinya, dan sebetulnya sudah tidak ada apa-apa, setelah 4 tahun lebih, diterpa oleh badai. Toh akhirnya biduk berlalu dengan – sampai – satu per satu ke pulau ini sampai. Memang, untuk sampai kepada satu cita-cita, yang mulia begini dengan ide brillian ini, tidak mungkin jalan itu dipenuhi dengan harumnya bunga-bunga. Musti duri-duri dan bau-baunya kembang kentut-kentutan. Semakin dekat cita-cita itu sampai, semakin bau dia. Semakin berat. Saya didampingi oleh Deputi (Wakil Kepala) Produk Intelijen: Bey Sofwan. Kemudian juga Mayor Jendral (Pol.) Atok Rianto beliau mantan Kapolda Kalimantan Selatan. Kemudian Sekretaris saya adalah Saudara Muaman Rachman. Kemudian Kolonel Abdul Mutalib Ambong. Direktur Luar Negeri BIN: Sukrisno. Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri: Joharman.

Ini semua Badan Intelijen Negara adalah Saudara-saudara Bapak/Ibu sekalian, diterima atau tidak diterima… mendaftar sebagai Saudara dan pengikut Al-Zaytun.” Saya juga bawa guru bahasa Arab saya, yaitu Saudara Jamaluddin. Ini 32 tahun di Arab Saudi. Sama dengan Pak Harto 32 tahunnya. … Dengan istri, non mana non, nah itu … istrinya yang cantik itu. Kemudian, Ajudan saya: Zainuddin Ibrahim. Saya, sangat terharu dan bangga. Karena dulu sebagai Menteri Transmigrasi saya berusaha dan bekerja keras untuk membangun suatu yang disebut Islamic Village. Belum berhasil, keburu Pak Habibie jatuh. Baru separuh. Tahu-tahu kesalip sama Al-Zaytun !! Konsep seorang Menteri kalah. Berarti Syaikhul Ma’had di atas Menteri!! Saya berbunga-bunga hati saya. Karena itu citacita kita sebagai seorang Muslim. Kita ingin ada suatu perkampungan Mulsim yang betul-betul bisa dibanggakan. Tidak seperti waktu jamannya saya masih kecil. Kalo kita ngomong Madrasah, ngomong Mesjid … itu dianggap masyarakat kumuh. Saya sekolah di Muhammadiyah dulu. Anak-anak sekolah Negeri itu, nggak ada yang mau deket-deket saya itu. Dikira saya bisanya ngaji aja!! Tapi dengan seperti ini!! Merupakan suatu Center of Excellence dari Islam di Republik Indonesia. Di sini nanti, tempatnya. [tepuk tangan]. Di sini tempatnya anak kita digembleng. Saya dengar sudah sampai D-2, luar biasa!! Karena terus-terang saya merasa sangat-sangat sedih. Karena banyak kawan-kawan kita, Saudara-saudara kita, ee … yang keluar jalur, sampai dicap teroris! Dan pagi-pagi saya katakan: Awas!! Teroris di antara kita ada! Dihujat habis-habisan saya. Dihujat habis! Tapi … sebagaimana juga hati dan tekad saya membela kebenaran. Saya membela kawan saya yang benar dan MEMBELA ALZAYTUN. SEMASA SAYA MASIH KUAT DAN ADA KUASA – begitu harusnya iman kita bukan? – DENGAN TANGAN. Kalau ini nanti tidak bisa, dengan mulut. Kalo tidak bisa baru dengan doa. TAPI SEMASA MASIH BISA DENGAN TANGAN, SAYA HAJAR SIAPA YANG MAU MENGHUJAT TERUS!!! (Sambil mengepalkan tangan kanannya Hendro priyono memperagakan gerakan memukul dengan tangan kanannya, di hadapan para hadirin, diikuti dengan gemuruh tepuk-tangan yang amat riuh]. Al Mukarrom, Syaikhul Ma’had. Ummi dan segenap keluarga besar Al-Zaytun yang saya cintai dan saya hormati. Marilah kita bergandeng dengan tangan. Bersama-sama menghadap hari depan yang cerah, yang dibawa dan dipandu oleh Syaikhul Ma’had. Dan semoga Allah S.W.T senantiasa meridhoi kita sekalian. Seakan masih tak puas dengan statemen kontroversi di Ma’had Al-Zaytun, 6 bulan dan 1 tahun kemudian Hendro tampil kembali menegaskan sikapnya terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun maupun terhadap para pengganggu Al-Zaytun dengan argumentasi melalui Harian Media Indonesia edisi Rabu, 18 November 2003 dan melalui sebuah buku Menegakkan Indonesia – Pemikiran Dan Kontribusi 50 Tokoh bangsa Berpengaruh; Penerbit – Grafindo Jakarta, Mei 2004, antara lain menegaskan pada alenia 2 dan 3 hal 510 : “Disadari Oleh Hendro, bila sebelumnya banyak kelompok yang mempersoalkan keberadaan Ma’had Al-Zaytun. Tetapi dari berbagai penelitian dari epartemen agama bersama tim lintas sektoral, tak ada bukti-bukti bahwa terdapat penyimpangan di dalam pesantren itu. Kalau misalnya ada penelitian lain yang menemukan penyimpangan, ya kita luruskan, bukan malah kita bubarkan pesantren itu. Ini kan asset ummat dan asset Negara, harus kita pertahankan.

Disinggung apakah dia pernah mengecap ‘iblis’ bagi para pengganggu Al-Zaytun pada saat berkunjung ke pesantren AlZaytun Mei 2003, Hendro mengakuinya. “Saya mengatakan iblis itu dalam konteks bagi pengganggu dakwah dan syi’ar Islam. Tak hanya itu, yang mengganggu dakwah dan syi’ar Islam bisa disebut Dajjal. Sebagai alat Negara, dirinya merasa wajib melindungi kelompok yang melaksanakan syi’ar Islam, apalagi benar-benar bisa menjadi asset nasional yang besar seperti Al-Zaytun” Berdasarkan sambutan dua tokoh misteri dan kontroversi tingkat nasional di atas, terkuak hubungan erat antara sebuah lembaga pesanten Ma’had Al-Zaytun yang merangkap cover dari sebuah gerakan NII-NKA (Negara Islam Indonesia-Negara Kurnia Allah) dengan lembaga Non Departemen BIN (Badan Intelejen Negara) pimpinan AM Hendropriyono. Sinergi debut kontroversi antara lembaga pendidikan Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panji Gumilang dengan lembaga Intelejen BIN pimpinan Hendropriyono memang menarik untuk dikritisi. Karena dalam sejarah pemerintahan sejak orde lama, orde baru hingga orde Mega – Hamzah saat ini, pemerintah bangsa dan negara Republik Indonesia belum pernah memiliki Badan Intelejen Negara yang carut marut, apalagi bisa dipimpin oleh seorang yang krodite, sepak terjangnya sangat kontroversi kecuali lembaga BIN di bawah Hendropriyono. Deretan berbagai kontroversi yang dilakukan BIN di bawah Hendropriyono bisa diinventarisir sebagai berikut : Kontroversi BIN yang pertama di bawah kepemimpinan Hendro adalah mengangkat secara resmi seorang pengacara, Muhyar Yara yang berperan sebagai Humas atau Juru bicara BIN yang tanpa NIP, dan hanya berlangsung selama 2 tahun kemudian di PHK, dan mungkin tanpa pesangon. Kontroversi BIN yang kedua adalah saat menugaskan Abdul Haris yang resmi anggota BIN melakukan penyusupan ke dalam gerakan Islam JI (Jama’ah Islamiyah), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) sekaligus menjerumuskan berbagai gerakan Islam tersebut ke dalam aksi kekerasan dan terorisme. Namun dalam waktu yang sama Abdul Haris bersandiwara untuk ikut ditangkap bersama Al-Farouk, selang beberapa saat kemudian Abdul Haris justru berperan mewakili BIN, menjadi anggota tim pemeriksa atau penyidik bersama Mabes Polri terhadap Al-Farouk di Guantanamo Kuba. Kontroversi BIN yang ketiga adalah saat menyatakan diri menjadi pengikut sekaligus backing Ma’had Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang baik sebagai pimpinan pesantren maupun sebagai Imam atau Presiden gerakan Negara Islam Indonesia – Negara Kurnia Allah, yang kaya kontroversi. Kontroversi BIN yang keempat adalah melakukan penghinaan, pelecehan dan pengancaman terhadap para peneliti, kritikus dan penentang kesesatan missi dan keberadaan Ma’had Al-Zaytun. Kontroversi BIN yang kelima adalah saat menyimpulkan hasil penginderaan dini BIN terhadap missi dan keberadaan ma’had Al-Zaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang secara bertolak belakang dalam substansi maupun diametral dengan hasil penelitian dari berbagai tim investigasi yang bersifat individual (para penulis) lembaga swasta (LPPI, LPDISIKAT, TIAS, FUUI dan sebagainya) atau dari hasil penelitian lembaga resmi pemerintah (MUI dan DEPAG) Kontroversi BIN yang keenam adalah melakukan kebohongan publik, menyembunyikan dan memanipulasi data-informasi yang sebenarnya, antara lain melakukan politik pembiaran terhadap perwujudan maupun kontroversi Ma’had Al-Zaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang yang melakukan manuver dan gerakan politik bersama partai politik PKPB dan GOLKAR dalam pemilu legislative April dan pilpres juli 2004.

Kontroversi BIN yang ketujuh adalah membiarkan keberadaan dan semua kontroversi maupun manuver politik Ma’had AlZaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang yang dijadikan sebagai alat politik dalam menjalankan kekuasaan dan untuk kepentingan Megawati? Konspirasi Neo Orba: Mega, Hendro & NII Al-Zaytun 02 BAB I ANALISIS INTI MASALAH, DAMPAK PERISTIWA KEHADIRAN HENDRO DI MA’HAD AL-ZAYTUN.

Umar Abduh Kehadiran Hendropriyono ke Ma’had Al Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 adalah resmi, sebagai acara dinas kenegaraan. Karena dalam isi sambutan dan kegiatan di Ma’had tersebut dilakukan selama 24 jam. Hendropriyono pun dengan jelas menyatakan sendiri bahwa kapasitasnya adalah sebagai kepala BIN (Badan Intelijen Negara) sekaligus mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri. Dalam rangka undangan atau permintaan pimpinan Ma’had Al Zaytun, Syaikh A.S. Panji Gumilang, untuk meresmikan peletakan batu pertama pembangunan sebuah gedung di lingkungan Ma’had tersebut yang diberi nama “Gedung Pembelajaran Ir. Ahmad Soekarno” Kehadiran pimpinan Badan Intelejen Negara Hendropriyono memenuhi undangan resmi (ke Ma’had Al Zaytun) pada tanggal 14-15 Mei 2003 tersebut sudah pasti dilakukan melalui proses pertimbangan yang komprehensif dari berbagai aspek (hukum, moral, politik) karena kapasitasnya sebagai kepala BIN sekali gus mewakili Presiden R.I. Kehadiran Hendro tentu mendasarkan assessment (penilaian dan penyimpulan) intelejen yang matang terhadap esensi sebenarnya, terhadap apa yang dikenal dengan “Ma’had Al-Zaytun”. Di mana 3 bulan sebelum Agustus 1999 saat dibuka awal penyelenggaraan tahun pertama pembelajaran yang diresmikan Presiden Republik Indonesia ke III Ir. B.J. Habibie, Hendro sudah mengontrolnya. Padahal sejak saat itu keberadaan Ma’had Al-Zaytun mulai mengundang berbagai sikap, sorotan kritis dan badai kritik dari banyak pihak, baik secara individu, kolektif (LSM) maupun kelembagaan atau keormasan. Sorotan negative akhirnya muncul dari instansi resmi pemerintahan (Depag dan MUI), bahkan pemerintah kerajaan Malaysia pun tidak mau ketinggalan melakukan investigasi. Semua pihak seperti berkepentingan mencari bukti keterkaitan dengan paham aliran, keorganisasian gerakan sesat dan kriminal yang secara hukum dan undang-undang NKRI telah dinyatakan terlarang, kecuali BIN dan Hendro. Kehadiran Hendropriyono dengan kapasitas sebagai kepala BIN di Ma’had Al-Zaytun pada tanggal 14-15 Mei 2003 yang secara terang-terangan, menyatakan mewakili Presiden R.I karena Ibu Mega berhalangan hadir. Oleh karena itu, secara moral, hukum, politik dan assessment intelejen, Hendropriyono telah memikul tanggungjawab besar, baik kepada Presiden, para Menteri dan berbagai lembaga resmi Negara termasuk terhadap segenap rakyat Indonesia. Selaku Kepala Badan Intelijen Negara, Hendropriyono tentu telah banyak menyerap dan sangat menguasai informasi, apakah berkenaan dengan eksistensi maupun operasional dari seluruh detil kegiatan di Ma’had tersebut (di mana, baik secara de facto maupun de jure) telah menimbulkan berbagai kontroversi dalam masyarakat; bahkan tengah disorot, dikritisi dan dikupas berbagai fihak yang berkompeten. Sejumlah penulis, lembaga penelitian, LSM, Ormas Islam, Forum Ulama dan MUI, Litbang. Departemen Agama bahkan pihak Mabes Polri pun telah melakukan investigasi, penelusuran dan berhasil

membedah kontroversi keberadaan Ma’had Al-Zaytun tersebut. Investigasi dari berbagai pihak itu dilakukan karena banyaknya laporan masyarakat berkenaan dengan faham, para tokoh pengelola Ma’had tersebut terkait erat dengan doktrin dan organisasi gerakan NII (Negara Islam Indonesia) cq. NII/KW9 (Komandemen Wilayah 9) yang resmi dilarang karena dianggap bertentangan dengan prinsip hokum dan konsep ideologi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Kehadiran dan keberadaan Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 selain mengatasnamakan kepala BIN (Badan Intelejen Negara), sekaligus sebagai wakil resmi Kepala Negara Presiden Megawati, menjadi pertanyaan besar: ada kepentingan apa di balik kehadiran Kepala BIN di kompleks Ma’had Al Zaytun yang dituduh, dicurigai diduga keras oleh masyarakat sebagai markas besar dari jajaran pejabat fungsional dan sebagai pusat pengendalian teritorial gerakan NII/KW 9 ? Selain itu, ada ikatan, motivasi dan hak apakah, kepala BIN Hendropriyono melontarkan ancaman kepada segenap pihak yang bersikap kritis/mengkaji eksistensi dan operasional Ma’had Al Zaytun tersebut ? Dalam kunjungan itu Hendro mengeluarkan pernyataan yang mengandung makna pelecehan, penghinaan dan ancaman terhadap para pihak yang menggunakan tanggungjawab dan hak demokrasinya melancarkan sikap kritis terhadap Ma’had Al Zaytun (selanjutnya dalam kesempatan tersebut oleh Hendro dinyatakan sebagai “IBLIS”). Mengkaji lebih lanjut keterkaitan para pengelola Ma’had Al Zaytun yang erat hubungannya dengan penyebaran: doktrin, faham dan organisasi lanjutan dari gerakan NII (Negara Islam Indonesia) Kartosoewiryo maupun gerakan sesat, kriminal dan kontroversi NII Komandemen Wilayah 9, yang juga dipimpin oleh pimpinan Ma’had Al-Zaytun itu sendiri, yakni : Abu Toto alias A.S. Panji Gumilang. Yang lebih aneh dan menarik adalah kehadiran Hendro di Ma’had Al-Zaytun tiba-tiba menunjukkan sikap pembelaan habis-habisan seraya memberi pembenaran terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun beserta para pengelolanya sebagai orang-orang yang maju dan berhasil. Dengan ramah dan sangat hormatnya Hendro memuji kebesaran dan kemampuan A.S. Panji Gumilang sebagai figur pemimpin yang lebih hebat daripada kemampuan seorang Menteri. Kehadiran Hendropriyono dengan pernyataan yang kontroversi itulah selanjutnya memicu reaksi. DUDUK PERMASALAHAN Berdasarkan analisis di atas, peristiwa kehadiran Hendropriyono ke Ma’had Al-Zaytun yang fenomenal tersebut bisa didudukkan masalahnya secara proporsional, paling tidak menurut 3 sudut pandang. A. Berdasarkan fakta dan kontroversi kehadiran kepala BIN Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun. B. Berdasarkan sikap, pandangan dan kebijakan pemerintah terhadap organisasi gerakan NII dan pembangunan Ma’had AlZaytun sejak diresmikan hingga pemerintahan kabinet Gotong-Royong saat ini. C. Berdasarkan kondisi objektif keberadaan Ma’had Al-Zaytun yang terbukti terkait erat dengan gerakan subfersif Negara Islam Indonesia maupun gerakan sesat dan criminal NII Komandemen Wilayah 9 pimpinan Abu Toto alias AS Panji Gumilang. Menurut Tinjauan dan Analisis Sudut pandang A: Makna dan indikasi maksud kehadiran Hendro berdasarkan fakta dan kontroversi kehadirannya sebagai kepala BIN di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003. Pertama Kehadiran, sikap dan pernyataan Hendropriyono di Mabes NII Ma’had Al-Zaytun pada tanggal 14-15 Mei 2003 tidak bisa dilepaskan dari posisi politisnya sebagai Kepala BIN (Badan Intelejen Negara). Terlebih pada kesempatan kunjungan tersebut Hendro menyertakan beberapa deputy BIN yang dengan bangga diperkenalkan satu persatu lengkap dengan

menyebut posisi tugas dan jabatannya. Yang lebih mengejutkan, kehadiran Hendro di Ma’had Al Zaytun tersebut menyatakan dengan tegas dan resmi tentang kapasitasnya selain sebagai kepala BIN, Hendro juga menyatakan sebagai representative Megawati selaku Presiden Republik Indonesia. Kedua Pernyataan fenomenal dalam liputan kehadiran Hendro tersebut direkam dalam bentuk VCD, selanjutnya diproduk pihak Ma’had Al-Zaytun, secara resmi sudah disebarkan (dipasarkan) dalam bentuk paket berisi 5 keping VCD. Paket tersebut dipromosikan dalam majalah Al-Zaytun, yang tersedia di berbagai outlet agency. Sebagian transkrip VCD kehadiran Hendro ke Ma’had Al Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 telah dimuat Majalah Medium edisi Oktober 2003 Ketiga Hasil rekaman kehadiran Hendropriyono dalam bentuk VCD yang di produck dan dipasarkan pihak Al Zaytun hingga kini tidak dibantah atau diklarifikasi barang sedikit pun (melalui hak jawab, misalnya) baik oleh BIN sebagai institusi maupun oleh Hendro selaku pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa sikap Hendro dan BIN secara politik, hukum dan moral sudah tidak mempermasalahkan adanya pemberitaan atau penyebaran VCD yang memuat atau menyuguhkan gambaran nyata seluruh rangkaian peristiwa, sejak kehadiran, pidato, sikap dan pernyataan yang disampaikan di Ma’had Al-Zaytun. Sikap BIN dan Hendro yang tidak mempermasalahkan tersebarnya VCD oleh pihak Al Zaytun maupun pemberitaan Majalah Medium edisi Oktober 2003 tentang rangkaian acara di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 bahkan selanjutnya diakui dan dibenarkan Hendro sendiri dalam pemberitaan harian Media Indonesia edisi Rabu,18 November 2003, isi berita di Media Indonesia itu antara lain menyebut: “Saya melakukan semua itu dalam rangka membela syi’ar Islam” yang paling mutakhir pernyataan yang sama dari Hendro melalui buku Menegakkan Indonesia – Pemikiran Dan Kontribusi 50 Tokoh bangsa Berpengaruh; Penerbit – Grafindo Jakarta, Mei 2004, antara lain menegaskan pada alenia 2 dan 3 hal 510 : “Saya mengatakan iblis itu dalam konteks bagi pengganggu dakwah dan syi’ar Islam. Tak hanya itu, yang mengganggu dakwah dan syi’ar Islam bisa disebut Dajjal. Sebagai alat Negara, dirinya merasa wajib melindungi kelompok yang melaksanakan syi’ar Islam, apalagi benar-benar bisa menjadi asset nasional yang besar seperti Al-Zaytun” Dengan demikian bisa disimpulkan, Hendro dan BIN memang setuju dan sengaja mempublikasikan kehadiran, sikap dan berbagai pernyataan yang sangat kontroversi tersebut untuk diketahui masyarakat umum, atau Hendro dan BIN justru merasa diuntungkan dengan pemberitaan tersebut. Keempat Transkrip dan tayangan VCD liputan kehadiran Hendropriyono di Ma’had Al- Zaytun sangat diyakini tidak akan menimbulkan heboh dan kontroversi apabila isi pidato Hendro tidak menyebut hal-hal yang di luar batas kewajaran maupun batas kepatutan sebagai pejabat Negara sekaligus mantan pangdam dan menteri serta bekas jenderal berbintang tiga dengan sederet title kesarjanaan. Apalagi pada kesempatan tersebut Hendro berbicara sambil menepuk dada sebagai kepala intel Negara sekaligus mewakili kepala Negara Republik Indonesia presiden Megawati. Kelima Dalam materi pernyataan dan sumpah serapahnya, sejak di awal sambutannya Hendro sudah membuat pernyataan blunder, dan hal itu sangat tidak lazim untuk kapasitas kepala BIN. Setelah berbasa-basi memuji AS Panji Gumilang yang menurut

pengakuan baru dikenalnya sejak 4 tahun yang lalu, Hendro lantas menegaskan “Selama hampir 4 tahun lebih saya memang tidak sempat mendampingi beliau (AS Panji Gumilang), tetapi karena sebagai teman….. Kalimat demi kalimat aneh tersebut dilontarkan Hendropriyono tanggal 14-15 Mei 2003 dengan jelas dan telanjang dinyatakan sendiri dalam kapasitasnya sebagai kepala BIN sekaligus mewakili presiden Megawati selaku kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keenam Masalah penyebutan tentang buku-buku iblis dan penganomalian kata iblis terhadap mereka yang bersikap kritis dan dianggap menghujat Al-Zaytun disampaikan berulang-ulang dengan nada tekanan sinis, berupaya meyakinkan dan penuh arogansi yang dilontarkan secara terang-terangan oleh Hendropriyono tanggal 14-15 Mei 2003. Artinya perkataan, penghinaan danpengancaman Hendro tersebut sangat jelas dan telanjang dan dinyatakan sendiri sebagai atas nama dan kapasitasnya sebagai kepala BIN sekaligus mewakili ibu presiden Megawati selaku kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketujuh Pernyataan atau kalimat ancaman (terhadap mereka yang terus menghujat Ma’had Al-Zaytun : Saya akan hajar dengan tangan saya selagi saya ada kuasa) dilontarkan Hendropriyono tanggal 14-15 Mei 2003 tersebut dengan jelas dan telanjang dinyatakan sendiri dalam kapasitasnya sebagai kepala BIN sekaligus mewakili presiden Megawati selaku kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedelapan Masalah penyebutan iblis dan ancaman kepada para penghujat Al Zaytun itu jelas ditujukan kepada para pihak yang selama ini mengkritisi dan menentang gerakan NII Al Zaytun. Pertama mungkin ditujukan kepada yang menggunakan kata iblis terhadap Al-Zaytun (Penulis Buku Al Zaytun-gate, Investigasi Misteri Dajjal Indonesia & Negara Impian Iblis). Kedua penganomalian maupun ancaman itu ditujukan kepada para Ulama yang tergabung dalam lembaga formal Islam, yang selama ini gigih dan turut serta menentang kesesatan dan keberadaan gerakan NII KW-9 yang bermarkas di Ma’had Al Zaytun. Seperti para ulama yang tergabung dalam RMI (Rabithatul Ma’ahid al Islamiyah) FUU (Forum Ulama Ummat Indonesia), Team investigasi MUI dan sebagainya. Kesembilan Mempertanyakan keabsahan tentang sejauh mana kewenangan Hendro sebagai kepala BIN untuk berbicara di luar wilayah dan tanggung jawabnya sebagai intelejen, di mana semestinya hanya berhak dan wajib bicara berkenaan dengan soal keamanan presiden dan keamanan Negara. Dalam undang-undang, hukum, aturan dan tata tertib penyelenggaraan Negara maupun aturan dan disiplin intelejen, seorang kepala BIN baik ia bernama Hendro atau Ali Murtopo jelas tidak patut dan tidak dibenarkan mengambil alih peran MUI, Depag maupun Pakem atau Kejaksaan, sekalipun mungkin Hendro punya kapasitas bicara seperti layaknya muballigh. Kalaupun Hendro dan BIN ingin melibatkan diri dalam masalah kajian aqidah Islamiyah maupun tentang kesesatan paham atau praktek keagamaan dari komunitas Al Zaytun, seharusnya Hendro atau BIN melakukan pembicaraan dan penyelesaian secara baik dan proporsional, bijaksana, ilmiah dan bertanggungjawab dengan para pihak yang selama ini gigih mempersoalkan Al Zaytun. Kenapa Hendro dan BIN justru bersikap srudak sruduk, bahkan bertekad menjadi pengikut Syaikhul Ma’had AS Panji Gumilang ? Hal ini tentu sangat disayangkan, kenapa berbagai

statemen dan sikap Hendro pada saat itu tidak menggunakan nalar intelektual dan nalarnya sebagai tokoh intelejen, padahal Hendro adalah kepala BIN. Kesepuluh Berkenaan dengan niat, makna dan maksud ancaman Hendro sebagai kepala BIN yang dilontarkan di Ma’had Al-Zaytun tersebut seyogyanya hal itu patut dikonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan. Artinya segenap masyarakat yang dirugikan Hendro dan BIN berhak meminta penegasan kepada yang bersangkutan, baik langsung maupun tak langsung untuk menanyakan, kepada siapa sebenarnya ancamannya tersebut ditujukan melalui pihak berwenang, yakni Kepolisian. Apabila Hendropriyono selaku kepala BIN memang seorang lelaki gentle, dia pasti akan bicara jujur, blak-blakan dan ceplas ceplos apa adanya. Sehingga persoalan ini segera clear. Menurut Tinjauan dan Analisis Sudut pandang B : Analisis kritis dan obyektif terhadap sikap, pandangan dan kebijakan pemerintah terhadap organisasi gerakan NII maupun pembangunan Mabes NII, Ma’had Al-Zaytun sejak diresmikan oleh Habibie hingga pemerintahan kabinet Gotong-Royong saat ini. Bahwa telah hampir 6 dasawarsa sikap dan kebijakan pemerintah NKRI terhadap gerakan DI (Darul Islam) –TII (Tentara Islam Indonesia) atau NII (Negara Islam Indonesia) yang dipimpin SM Kartosuwiryo memiliki variant yang patut dicermati. 20 tahun sejak Indonesia merdeka, era rezim Sukarno tahun 1945-1965 sikap dan kebijakan pemerintah terhadap gerakan DI (Darul Islam)–TII (Tentara Islam Indonesia) atau NII (Negara Islam Indonesia) dipimpin SM Kartosuwiryo, terlihat sangat jelas. Artinya, baik pihak pemerintah rezim Sukarno maupun militer Indonesia telah mengambil sikap dan kebijakan yang tegas, yaitu secara kompak menyatakan seluruh aksi dan eksistensi gerakan DI-TII atau NII pimpinan SM Kartosuwiryo dinilai sebagai aksi dan gerakan pemberontakan atau makar (subversif) sehingga harus ditumpas. Selanjutnya hal itu dibuktikan dengan tindakan hukum yang tegas dan keras melalui perang selama lebih dari 12 tahun, akhirnya berhasil menangkap dan menjebloskan para anggota maupun komandan pemberontak tersebut ke penjara. Selanjutnya pemerintahan Soekarno mengadili dan mengeksekusi mati pucuk pimpinan gerakan DI-TII SM Kartosuwiryo melalui MAHADPER (Mahkamah Agung Darurat Perang) tahun 1962. Demikian halnya gerakan Negara Islam bagian Aceh yang pimpinan Daud Beureueh yang berhasil dipatahkan pada tahun 1962. Adapun gerakan Republik Persatuan Islam pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan baru berhasil dipatahkan tahun 1965. Sejak tahun itulah organisasi gerakan DI-TII/NII dinyatakan sebagai organisasi dan gerakan terlarang. 30 tahun era rezim Soeharto, hukum, perundangan dan kebijakan politik maupun intelejen Negara yang tegas terhadap organisasi dan gerakan NII tersebut, secara politik tiba-tiba diregulasi. Keberadaan organisasi dan gerakan NII yang terlarang secara hukum dan perundangan justru direkayasa untuk kepentingan politik intelejen dihidupkan kembali pada sejak dasawarsa 70 hingga Soeharto terjengkang tahun 1998. Kebijakan regulasi politik tersebut dilakukan dalam rangka kooptasi dan kepentingan proyek politik serta operasi intelejen pihak pemerintah dan militer. Kebijakan politik-intelejen (rekayasa) inilah yang akhirnya menjerumuskan pemerintah, militer dan intelejen ke dalam system hukum, peradilan dan politik Indonesia kepada totaliter, militeristik dan berstandar ganda. 6 tahun era Reformasi sejak Indonesia dipimpin presiden Habibie, Gus Dur hingga rezim Megawati saat ini, sistem dan kebijakan politik-intelejen, hukum dan perundangan yang bersifat totaliter, militeristik dan berstandar ganda tersebut belum sempat diurus dan diregulasi. Namun secara hukum dan politik, baik presiden Gus Dur maupun presiden Megawati justru menerapkan kebijakan yang tidak mentolerir aksi-aksi gerakan organisasi yang bersifat subversif seperti RMS (Republik Maluku Selatan) dan JI (Jama’ah Islamiyah) maupun NII (Negara Islam Indonesia)

Berkenaan dengan keberadaan Ma’had Al-Zaytun yang diduga terkait erat dengan gerakan DI-TII/NII, kebijakan pemerintah era Reformasi presiden Habibie disertai rombongan kabinetnya justru sempat hadir meresmikan pembukaan tahun ajaran baru Ma’had tersebut pada 27 Agustus 1999. Sekali pun konon kehadiran presiden Habibie ke Ma’had Al Zaytun tersebut atas permintaan mantan presiden Soeharto. Selain itu kehadiran Habibie saat itu akibat dorongan ICMI, di mana ICMI sangat terkait erat dengan kelahiran program dan atau pembangunan Ma’had Al-Zaytun bahkan ICMI mencanangkan program AlZaytun secara nasional. Kebijakan politik dan intelejen menghadapi gerakan Islam (DI-TII /NII dan yang lain) di masa presiden Gus Dur dan Megawati agak mengalami sedikit perubahan, sedikit hati-hati. Hal ini terlihat dalam dua kali undangan yang disampaikan pihak Ma’had Al Zaytun kepada presiden Megawati (pertama pada even Pospenas – Pekan Olah Raga dan Seni Pesantren tingkat Nasional di Ma’had tersebut pada Oktober 2001 Mega menolak hadir dan mewakilkan kepada Mendiknas Malik Fajar, undangan kedua pada even peresmian peletakan batu pertama pembangunan gedung Ir Ahmad Sukarno diwakilkan kepada Hendropriyono. Kebijakan presiden Megawati yang plintat plintut, tidak jelas dan tidak tegas terhadap keberadaan Ma’had yang tengah disorot karena dianggap kontroversi oleh berbagai kalangan masyarakat karena diduga terkait dengan faham dan gerakan NII Kartosuwiryo maupun NII KW 9. Sikap Mega yang agak hati-hati saat itu memang tak bisa dilepaskan dari peran pro aktif pihak Intelkam dan Korserse Mabes Polri maupun berbagai pernyataan atau desakan MUI, ormas Islam dan Pesantren. Demikian halnya sikap Menteri Agama Said Agil Husein Al Munawar dan Kapolri Da’i Bachtiar ketika diundang Ma’had Al Zaytun yang disampaikan melalui Menko Kesra Yusuf Kalla. Ketidak bersediaan Kapolri Da’i Bachtiar memenuhi undangan pihak Ma’had Al Zaytun saat itu merupakan bentuk konsistensi pihak Kaba Intelkam (Irjen S. Simatupang), Ka Korserse (Irjen Engkesmen R. Hillep) dan Kabahumas (Irjen Saleh Sa’af) di Mabes Polri terhadap berbagai temuan dan keyakinan atas bahaya dan keterkaitan Ma’had Al-Zaytun dengan gerakan terlarang NII Kartosuwiryo maupun NII Komandemen Wilayah 9 yang dipimpin AS Panji Gumilang. Berbagai partisipasi masyarakat berkenaan dengan kontroversi keberadaan Ma’had Al-Zaytun yang diyakini sebagai kelanjutan keberadaan organisasi gerakan NII, rekayasa kebijakan politik dan intelejen Orde baru (tahun 1968-1998) telah menghasilkan data-data primer, sekunder atau data pendukung dalam bentuk kesaksian para korban gerakan NII yang terkait dengan Ma’had Al-Zaytun, Laporan Kepolisian, Fatwa, laporan liputan investigasi oleh berbagai media massa cetak maupun elektronik, investigasi MUI, investigasi terakhir LITBANG DEPAG Maret 2004 yang menyimpulkan bahwa “Ma’had AlZaytun adalah proyek NII” serta beberapa buah karya Buku tentang NII dan Ma’had Al-Zaytun yang ditulis Al Chaidar (mantan pengikut sekaligus korban gerakan NII pimpinan AS Panji Gumilang) dan Umar Abduh. Peranserta, partisipasi dan sikap pro aktif masyarakat Islam (ormas, LSM dan pesantren) terhadap kontroversi keberadaan Ma’had Al-Zaytun selanjutnya disambut dengan tanggap oleh MUI maupun LITBANG Departemen Agama. Hal ini juga direspon secara hangat oleh pihak Kementrian Agama Menteri di Jabatan Perdana Menteri Datuk Abdul Aziz Zainal Abidin yang merujuk kepada kajian yang dijalankan oleh jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) dan Kepolisian diraja Malaysia antara lain mengeluarkan Maklumat penting “Tidak akan mengesahkan kelulusan Ma’had Al-Zaytun, menarik seluruh 111 siswa yang berasal dari negeri tersebut dan menutup seluruh kegiatan perwakilan Ma’had Al-Zaytun di Malaysia” Menurut Tinjauan dan Analisis Sudut Pandang C : Berdasarkan kondisi objektif keberadaan Ma’had Al-Zaytun yang terbukti terkait dengan gerakan subfersif dan terlarang yaitu gerakan NII (Negara Islam Indonesia) maupun gerakan sesat dan kriminal NII Komandemen Wilayah 9 pimpinan Abu Toto alias AS Panji Gumilang.

Berkat peranserta dan partisipasi masyarakat, lembaga kajian dan penelitian, forum kajian dan fatwa, lembaga pesantren maupun para penulis dan lembaga penerbitan serta lembaga pemberitaan elektronik dan cetak (Pers) yang selanjutnya disambut dengan sikap pro aktif komisi Fatwa MUI, Kepolisian Mabes Polri (Kaba intelkam, Kakorserse dan Kabahumas) dan Tim investigasi oleh LITBANG DEPAG yang ke II dan terakhir (dibuat Februari 2004) maka keberadaan Ma’had AlZaytun tentu masih tetap diselimuti misteri. Berkat peranserta dan partisipasi masyarakat serta sikap pro aktif berbagai lembaga resmi pemerintah tersebut, apa yang selama ini dianggap masih sebagai misteri, kamulflase dan tipu muslihat Ma’had Al-Zaytun dan segenap mata rantai jaringan organisasinya dapat terkuak secara meyakinkan. Siapa sesungguhnya AS Panji Gumilang dan bagaimana konsep general keberadaan Ma’had Al-Zaytun menurut Grand Strategi Perjuangan NKA-NII (Negara Karunia Allah – Negara Islam Indonesia), bagaimana bentuk organisasi dan gerakan yang telah dicanangkan maupun yang telah berhasil dicapai mereka, seberapa banyak jumlah anggota dan peran serta fungsi mereka, sejauh mana ekses dan bahaya yang telah ditimbulkan dalam tataran sosio, politik, moral, hukum, keamanan dan agama di Indonesia. Publik bisa merjuk pada beberapa buku yang ditulis Umar Abduh (Pesantren Al-Zaytun Sesat ? dan AlZaytun-gate), Al Chaidar dan hasil penelitian Tim MUI maupun Tim Balitbang Depag & INSEP. Konspirasi Neo Orba: Mega, Hendro & NII Al-Zaytun 03 BAB – II MA’HAD AL-ZAYTUN & AS PANJI GUMILANG Oleh Umar Abduh

Umar Abduh A. Siapa AS (Abdus Salam) Panji Gumilang alias Abu Toto? Menurut Abduh dalam buku berjudul Pesantren Al Zaytun Sesat (Darul Falah 2001) dan buku Al-Zaytun Gate (LPDI 2002), buku Al Chaidar serta hasil penelitian tim MUI dan Depag (2004) antara lain mengetengahkan: Berdasarkan wawancara Harian Pelita saat berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun kurang lebih satu bulan sebelum diresmikan BJ Habibie (27 Agustus 1999), AS (Abdus Salam) Panji Gumilang sempat menyatakan dirinya adalah pria kelahiran Indramayu. [01] Dalam kesempatan lain, kepada sahabatnya di Dewan Dakwah Islamiyah dan Rabithah Alam Islami (Ustadz Rani Yunsih) Abdus Salam Rasyidi alias Abu Toto mengaku sebagai pria kelahiran Banten. Pada kesempatan BKSPPI mengadakan musyawarah di Ma’had Al-Zaytun tahun 1999, Kyai Khalil Ridlwan sempat menanyakan nama asli, alamat di Jakarta dan nomor HP AS Panji Gumilang, ia hanya menjawab: ”… nanti juga tahu.” Padahal Abu Toto dan Kyai Khalil Ridlwan adalah teman sekelas (satu angkatan) ketika menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Berdasarkan testimoni beberapa nama yang dicantumkan Al Chaidar dan Umar Abduh dalam bukunya, yang semuanya mengaku pernah terlibat dan bersama-sama dengan Abu Toto, Abu Ma’ariq atau Toto Salam dalam gerakan NII KW-9, termasuk Al Chaidar sendiri, sebenarnya telah cukup sebagai dasar yang kuat untuk alat bukti, baik dari sisi hukum maupun sisi barang bukti dan persaksian, bahwa yang bernama AS Panji Gumilang yang kini menjadi Syaikh Ma’had Al-Zaytun dan

foto close up maupun postur penuh dirinya yang terpampang di berbagai media massa, itulah Abu Toto, atau Toto Salam atau Abu Ma’ariq, Imam KW-9 yang dimaksud dalam testimoni mereka. Demikian halnya dengan Ma’had Al-Zaytun, ma’had itulah salah satu pembangunan yang dimaksudkan, selain untuk pembangunan asykariyah (ketentaraan dan persenjataan) dan lembaga formal struktural NII, dalam gerakan pengumpulan dana, melalui istilah harakat Qurban, harakat Ramadlon, Infaq, Shadaqah, Qiradl, Istighfar dan lain sebagainya. Menurut hasil investigasi tim Penulis buku Pesantren Al-Zaytun Sesat ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, maupun investigasi ke kampung halaman isterinya di Menes (Pandeglang, Banten) yang ditinggalkan sejak tahun 1994, data identitas asli diri AS Panji Gumilang telah diperoleh dan bisa dipastikan nama maupun asal-usulnya, maupun perjalanan serta kariernya. 01. Nama asli: Abdul Salam bin Rasyidi 02. Nama alias: Prawoto, Abu Toto, Toto Salam, Syamsul Alam, Syamsul Ma’arif, Nur Alamsyah, Abu Ma’ariq, Panji Gumilang – Syaikh Ma’had Al-Zaytun. 03. Tempat/tanggal lahir: Desa Dukun, Sembung Anyar, Gresik, 27 Juli 1946. 04. Pendidikan: SR (Sekolah Rakyat), Lulus Tahun 1958/9; Siswa Pondok Modern Gontor, masuk Tahun 1961; Mahasiswa Fak. Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 05. Istri: Khotimah Binti Efendy Said alias Maysaroh 06. Lahir: Menes, 25 April 1944. 07. Lulus: Tsanawiyah Mathla’ul Anwar Th 1963. Pegawai Negeri, yang ditugaskan sebagai Guru di Perguruan MA (Mathla’ul Anwar) Menes Pandeglang. 08. Anak-anak: Imam Prawoto, Wushtho, Iwan, Anis dan 2 adiknya. Gelar Abu Toto sendiri menurut para mantan kawannya di KW9 adalah mengambil bagian belakang nama tokoh Masyumi Prawoto Mangkusasmito yang pada saat dibai’at sebagai nama samaran Abdus Salam atas permintaan sendiri dan akhirnya ketika anak pertamanya lahir diberi nama Imam Prawoto. Adapun beberapa anak Abu Toto seperti Imam Prawoto kini menjabat sebagai sekretaris Yayasan Pesantren Indonesia Ma’had Al-Zaytun. Sedangkan Anis bt Abdul Salam kini juga menjadi Guru di Ma’had Al Zaytun. Pengalaman Organisasi dan Sepak Terjang Abu Toto [02] 01. Menjadi anggota Perguruan Mathla’ul Anwar dan menjadi guru ‘Aliyah sejak tahun 1969/70 di Menes. Dan menjadi anggota HMI sejak kuliah di IAIN Ciputat. 02. Tahun 1971 -1978 Anggota / Ketua GPI Cabang Menes, Pandeglang – Banten. 03. Tahun 1978 dibai’at menjadi anggota NII KW9 sebagai mas’ul Imarah (Pendidik an) dan berganti nama menjadi Prawoto. 04. Tahun 1978 ditahan Laksusda Bandung (selama 8 bulan), dalam kasus GPI (SU MPR) dan keluar pada tahun yang sama. 05. Tahun 1979 meminta surat tugas dakwah sebagai muballigh Rabithah Alam Islami ke negeri Sabah Malaysia atas rekomendasi Pak Natsir Alm. Pada tahun ini ia non aktif dari organisasi Perguruan Mathla’ul Anwar. 06. Tahun 1981-1987 menjadi buron sekaligus menjadi Da’i/Muballigh di Sabah Malaysia sambil membawa lari dana (kas) NII sebesar Rp 2 miliar. Pada waktu penggerebegan di rumahnya di Menes Pandeglang telah ditemukan dokumen Marxisme cetakan Libya serta buku DaS Capital. Sejak itu Abdul Salam oleh aparat setempat dianggap terlibat dalam gerakan PKI. 07. Tahun 1987 atas komitmen Himawan Sutanto yang saat itu sebagai pejabat atase militer RI di Malaysia. Abu Toto kembali dari Sabah Malaysia, langsung bergabung kembali dengan NII KW-9/LK (Lembaga Kerasulan) pimpinan H Abdul Karim untuk di daerah Menes, Pandeglang (Banten), dengan nama panggilan Syamsul Alam atau Abu Toto alias Toto Salam.

08. Tahun 1989, Abu Toto secara langsung di bawah struktur H. Abdul Karim, Komandan KW-9 (bertugas sebagai kepercayaan H Karim). 09. Tahun 1990, diangkat sebagai orang ke-3 dalam struktur KW-9 membidangi urusan penggalian dana ummat. 10. Tahun 1993, mengangkat diri sebagai Mudabir bin Yabah (pejabat sementara) Komandan tertinggi KW-9. 11. Nama panggilan (gelar) diganti Abu Toto atau Abu Ma’arif (Abu Ma’ariq) dan mulai membuat aturan serta paham atau ta’wil baru terhadap fiqh maupun tafsir dan syari’at melalui qoror-qoror. Pada tahun ini memberlakukan program pembuatan KTP NII yang dihargakan sebesar Rp 500 ribu untuk setiap warga, namun sampai sekarang tidak ada realisasinya sedang uang yang telah disetor tidak ada kabar beritanya. 12. Tahun 1994 untuk kedua kalinya digerebeg aparat Kodim, namun Toto Abdus Salam lolos dari penangkapan, sejak saat itu rumahnya di Menes ditinggalkan sampai sekarang dalam keadaan rusak, namun tetap dijaga salah seorang keponakannya. Namun dalam masa pelarian itulah Abu Toto justru memperoleh suntikan dana besar dari Cendana melalui ICMI sebanyak 1,3 Trilliun rupiah. 13. Tahun 1996, diangkat Adah Djaelani, menggantikan posisi ke Imamahan dirinya dalam struktur NII (sekalipun Toto pada dasarnya sama sekali tidak memiliki latar belakang garis maupun latar kesejarahan pada struktur NII) 14. Tahun 1997, mencanangkan pembangunan Ma’had Al-Zaytun. Berganti gelar (Abdus Salam) AS Panji Gumilang, nama Abu Toto tidak dipakai lagi 15. Tahun 1999, menjadi Syaikh Al Ma’had Al-Zaytun. 16. Tahun 2001, mendapat gelar Prof dan Ph.D yang konon diperoleh dari Universitas di New Zealand. 17. Tahun 2002 didaulat menjadi Ketua Perhimpunan alumnus IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 18. November 2003 ikut serta dalam deklarasi pendirian Partai Karya Peduli Bangsa (Partai Antek Soeharto) pimpinan HR, Hartono dan Tutut. 19. Maret 2004 AS Panji Gumilang selaku Syaikhul Ma’had Al-Zaytun dan sebagai pimpinan tertinggi gerakan NII menetapkan, seluruh anggota dan keluarga dari warga NII dan segenap komunitas Ma’had Al-Zaytun wajib mendukung dan memberikan suara kepada partai PKPB dalam pemilu 5 April 2004. Penulusuran lebih detil dan akurat terhadap Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang dilakukan tim Abduh hingga ke desa tanah kelahirannya, Gresik, tepatnya di kelurahan Sembung Anyar, Abu Toto Abdus Salam, sejak ia menjadi Syaikh AlMa’had Al-Zaytun di Haurgeulis Indramayu, masyarakat Sembung Anyar memanggil sebagai Syaikh. Sedang di kelurahan tersebut nama H. Imam Rasyidi (alm) orang tua Abu Toto dikenal masyarakat luas hingga tukang ojek. Nama H. Imam Rosyidi diabadikan menjadi nama sebuah jalan desa yang membentang di depan rumah mendiang ayah Abu Toto. Menurut Abdul Wahib Rasyidi, Kepala Desa Sembung Anyar yang juga adik kandung Abu Toto Abdus Salam, seluruhnya biaya pembangunannya berasal dan Abu Toto Abdus Salam (AS) Panji Gumilang, Syaikh Al-Ma’had Al-Zaytun. Data empiris di lapangan berkenaan dengan asal usul struktur, ajaran dan eksistensi, kiprah Gerakan NII Al Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang serta berbagai dampak yang ditimbulkan. Menurut Buku Abduh antara lain sebagai berikut: 01. Kelompok LK (Lembaga Kerasulan) ini lahir tahun 1985 dibidani oleh elite sempalan NII KW IX (yakni H.A. Karim Hasan, H.M. Rais Ahmad dan Nurdin Yahya alias Tsabit = pembaharu paham aliran Isa Bugis yang telah dinyatakan terlarang oleh Kejagung RI) yang menyatakan lepas dari struktur kepemimpinan Adah Djaelani. 02. Tahun 1987 kelompok LK kembali memakai nama, struktur dan eksistensi gerakan NII Komandemen Wilayah IX (KW IX). Namun tetap dengan paham aliran Isa Bugis setelah Abu Toto bergabung kembali ke dalam gerakan tersebut, setelah mendapat restu A dah Djaelani yang sedang berada di LP Cipinang. 03. Tahun 1990 H.Abdul Karim mencanangkan, eksistensi KW IX sebagai pusat gerakan dan Ummul Quro (Ibukota dan pusat gerakan) NII. Dan mensosialisasikan gerakan maupun struktur KW IX kepada seluruh warga atau anggota NII yang ada di wilayah lain sehingga mereka berhasil mencaplok sebagian Wilayah I (Priangan Timur), Wilayah VII (Priangan Barat), Wilayah II (Jawa Tengah) dan Wilayah III (Jawa Timur) sebagian terpengaruh dan akhirnya malah menerima

keberadaan NII KW IX. Akan tetapi kelompok NII di bawah kepemimpinan Ajengan Masduqi dan Abdullah Sungkar menolak. 04. Tahun 1992 NII KW IX beralih kepemimpinan kepada Abu Toto. Abu Toto secara langsung mencanangkan program rekruitmen angggota dan pengerahan dana ummat secara besar-besaran untuk pembangunan basis Negara Islam Indonesia atau Madinah II. 05. Tahun 1994 menetapkan pembangunan pondok pesantren Ma’had Al-Zaytun sebagai kedok (tameng) bagi basis keberadaan Negara Islam Indonesia atau Madinah II di Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, dan mulai membangun jaringan lobby dengan ICMI, BPPT dan lembaga resmi pemerintah seperti Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta dari unsur setingkat Muspida hingga setingkat Gubernur dan seterusnya. Selanjutnya mereka melakukan program pembebasan tanah di daerah tersebut dan mengiringinya dengan melancarkan pelaksanaan program ekonomi NII dengan menyelengga -rakan perusahaan industri beras dan penggilingan padi di sekitar kota Purwakarta. Subang, Indramayu dan Cirebon. 06. Oktober 1996 NII versi KW IX di bawah kepemimpinan Abu Toto mendapat-pengesahan formal (melalui proses pembai’atan dan pelimpahan kekuasaan kepemimpinan NII) dari Adah Djaelani selaku Imam dan Panglima Tertinggi NII saat itu. 07. Tahun 1997 mencanangkan mega proyek Al-Zaytun sebagai mercusuar yang diharapkan mampu memancarkan nur Negara Islam Indonesia (versi NII KW IX) demi memperoleh simpati dan membangun citra (image). Melalui mercusuar ini mereka bermaksud membangun emosi dan keterlibatan aktif masyarakat untuk diformat sebagai obor-obor NII (artinya bukan diformat sebagai anggota namun masih dalam taraf dijadikan sebagai simpatisan yang fanatik), dan kelak diharapkan dapat membantu terciptanya jaringan yang kuat gerakan NII di seluruh strata masyarakat Indonesia dan dunia sebagai oborobor NII atau bahkan boleh jadi malah ingin langsung menjadi anggota NII. 08. Tahun 1999 Abu Toto mencanangkan sebagai awal pembelajaran santri angkatan pertama Ma’had Al-Zaytun, dan memprogram obsesi peresmian pembukaan Ma’had tersebut oleh Presiden BJ Habibie dan mendeklarasikan diri sebagai Syaykhul Ma’had terbesar se Asia Tenggara serta merubah identitas dirinya menjadi AS Panji Gumilang setelah sebelumnya memiliki banyak nama, antara lain Abu Bakar, si OROK, kemudian menjadi Abu Ma’ariq, Syamsul Ma’arif, Syamsul Alam, Nur Alamsyah, Abu Toto, Toto Salam, dan Prawoto. Padahal nama aslinya sendiri adalah Abdul Salam bin Rasyidi. 09. Tanggal 1 Muharram 1421 H atau 16 Maret tahun 2000 Abu Toto mencanangkan program pembangunan masjid Rahmatan lil Alamin (masjid termegah di Asia Tenggara dengan luas bangunan 99 x 99 sebanyak 6 lantai mampu menampung jama’ah sebanyak 100 ribu jama’ah dan akan diselesaikan selama 1000 hari dengan biaya sebesar Rp 100 Milliar. 10. Tahun 2001 memperoleh gelar Professor dari Canada University dan gelar Master Phd dari universitas di negeri New Zealand. 11. Tahun 2001 dari struktur NII faksi Al Zaytun AS Panji Gumilang, sekitar 20% dari kader inti faksi Abu Toto memisahkan diri, pemisahan tersebut dipimpin oleh INSAN HADID (menantu Adah Djaelani) yang sempat menjabat sebagai Mensesneg NII, selanjutnya bergabung kepada faksi TAHMID RAHMAT BASUKI. Sebuah upaya pembuktian terhadap eksistensi AS PANJI GUMILANG dan gerakan yang dipimpinnya dalam bentuk lembaga pendidikan Ma’had AL-ZAYTUN dan oranisasi NII-NKA (NEGARA ISLAM INDONESIA- NEGARA KURNIA ALLAH) POROS BENANG MERAH BUKTI INTEGRALITAS GERAKAN NII POROS ANTARA MA’HAD AL-ZAYTUN DENGAN TOKOH-TOKOH STRUKTUR NII KOMANDO ADAH DJAELANI TaHun 1978-1996 Bila masyarakat menginginkan dan meminta bukti ada tidaknya hubungan keterkaitan yang bersifat integral antara Ma’had al Zaytun dengan NII KW IX maupun dengan NII ADAH DJAELANI TIRTAPRAJA bentukan BAKIN – ALI MURTOPO & SOEHARTO maka selayaknya kita mampu merunut secara pasti perjalanan gerakan maupun proses yang dilalui oleh para

tokoh person atau para oknum yang kini secara inclusif maupun eksclusif berperan secara aktif di Ma’had Al Zaytun sekarang ini beserta data-data kesejarahan mereka. Tokoh Al Zaytun sejak dari urutan yang terdepan hingga yang paling buncit selayaknya kita kenali secara cermat dan obyektif, dan selanjutnya kita renda data maupun informasi yang valid tersebut dalam bentuk sketsa hingga sampai kepada kesimpulan yang pasti. Untuk itu kita perlu mengenali tokoh terkemuka Ma’had Al Zaytun, yang memiliki “Dasa Nama dan Dasa Muka” sebagaimana yang juga telah diketengahkan di buku Abduh yang pertama tentang Al Zaytun. Syaykh AS Panji Gumilang sebagai pria berperawakan tinggi besar (tinggi badan 190 cm dengan berat badan 105 kg) dan berkulit agak gelap, adalah asli putra daerah kelahiran desa Sembung Anyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur: 27 Juli 1946. Tamat Sekolah Rakyat di Gresik tahun 1959, masuk Pondok Modern Gontor tahun 1961 dan memperoleh gelar kesarjanaan fakultas Adab IAIN Ciputat, Jakarta tahun 1969. Lantas sempat menjadi guru Aliyah di Perguruan Mathla’ul Anwar, Menes, Pandeglang – Banten selama 8 tahun dan berhenti di tahun 1978. AS Panji Gumilang terlahir bernama Abdus Salam bin Rasyidi, berganti dengan nama Prawoto ketika menyatakan bai’at dan bergabung dengan gerakan NII Wilayah IX pimpinan Seno alias Basyar (alm) tahun 1978 dan diangkat sebagai pejabat mas’ul jajaran Imarah untuk daerah Banten. Pernah di tahan di POMDAM Bandung selama 8 bulan dalam kasus GPI (Gerakan Pemuda Islam dalam peristiwa SU-MPR th 1978). Dalam tahanan Abdus Salam berempat dengan Shaleh As’ad, Ating dan Mursalin Dahlan maka sejak itulah si Orok panggilan akrab Prawoto di tahanan Pomdam Bandung ketika masih bertubuh kurus berubah menjadi fundamentalis NII. Pada tahun berikutnya semakin radikal setelah dekat dengan para elite NII seperti Adah Djaelani, Aceng Kurnia, Tachmid Rahmat Basuki Kartosuwiryo, Toha Machfudz dan lain-lain saat buron dalam kasus tertangkapnya HISPRAN (H. Ismail Pranoto dan 23 tokoh komandemen gerakan NII di Jawa Timur awal Januari tahun 1977 yang dikenal dengan nama Komando-Jihad. Saat giliran tertangkapnya para tokoh elite NII Adah Djaelani cs maupun elite NII Wilayah IX, Seno dan H. Abdul Karim Hasan cs yang berlangsung secara bersamaan pada Agustus tahun 1981 di Jakarta, Prawoto Abdus Salam berhasil kabur dan buron ke negeri Sabah Malaysia dengan membawa dana jama’ah, yang menurut sahabatnya berjumlah 2 milliar rupiah. Namun ketika berada di Sabah tersebut Prawoto mengaku sebagai pengusaha kayu dan besi tua yang bangkrut. Prawoto alias Abdus Salam Rasyidi dalam menjalani masa buron tersebut seringkali mondar mandir Banten-Jakarta-Sabah. Adapun tempat singgah Prowoto Abdus Salam Rasyidi di Jakarta adalah di rumah kediaman Ustadz Rani Yunsih, Bidara Cina, Cawang. Sedangkan untuk ongkos tiket kembali ke Sabah seringkali dicukupi oleh HM Sanusi (alm) jalan Bangka Mampang. Dukungan itu baru dihentikan ketika HM Sanusi terkena mushibah ketika dijebloskan ke penjara rezim ORBA melalui kasus Bom BCA. Prawoto Abdus Salam kembali kerumahnya di Menes, Pandeglang – Banten tahun 1987 dan kembali bergabung dengan H. Abd Karim Hasan, M. Ra’is Ahmad dan Nurdin Yahya dalam kelompok gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan). Tahun 1990 Toto Salam nama panggilan barunya dipercaya H Karim, Komandan I Wilayah IX untuk menjadi Ka Staf I Wil IX, dan tahun 1992 Toto Salam melakukan kudeta internal di Wil IX saat di bawah Komando H. Mohammad Ra’is Ahmad. Selanjutnya Toto Salam menobatkan diri menjadi Komandan Tertinggi NII (Dengan status atau catatan bersifat Mudabir bin yabah) dan menetapkan wilayah IX sebagai Ummul Qura (Ibu Kota) NII. Nama baru pun dibuat, diantaranya adalah Syamsul Alam, Nur Alamsyah, Syamsul Ma’arif, Abu Toto, Toto Salam dan Abu Ma’ariq (nama yang terakhir ini digunakan untuk membuka Bank Account – nomor rekening – pada Bank CIC, tempat kelompok ini menyimpan dana jama’ah). Namun menurut berbagai sumber dikalangan LSM keberadaan Abu Toto As Panji Gumilang di Bank CIC justru menempati deretan elite sebagai pejabat pada Bank tersebut dalam rangka mengelola dana keluarga Soeharto, data lain menunjukkan bahwa Abu Ma’ariq memiliki saham di CIC sebanyak 115 Milliar rupiah. Termasuk diantaranya dari pengakuan para aparat teritorial NII di Jakarta Selatan yang tertangkap tangan pun menyatakan 60 % dari hasil pendapatan jalan toll Cawang-Pondok Pinang adalah masuk ke rekening Abu Toto AS Panji Gumilang.

Tahun 1993 Abu Toto Ma’ariq diadili melalui Musyawarah pimpinan KW IX lantaran perilakunya yang buruk dan berkhianat terhadap kawan membuat H Muhammad Ra’is Ahmad ditangkap dan ditahan dalam waktu yang cukup lama, disamping itu Abu Toto Ma’ariq dinilai tidak pantas memimpin KW IX. Musyawarah pimpinan KW IX akhirnya memutuskan Abu Toto dipecat dari jabatan Mudabir bin yabah (komandan sementara) hasil kudeta tahun 1992 tersebut. Tetapi Abu Ma’ariq membandel, ia tetap berjalan dengan orang-orangnya dan justru akhirnya mampu membangun KW IX yang kemudian secara cepat membesar. Selama kurun waktu sejak menjadi Mudabir bin yabah antara tahun 1992-1994 Abu Ma’ariq berhasil menghimpun dana jama’ah yang jumlahnya fantastis diperoleh melalui qoror-qorornya yang terkenal dan akhirnya berlaku hingga sekarang. Tahun 1994, hampir 1000 orang anggota NII wilayah Pandeglang – Banten yang menyatakan keluar dari struktur kepemimpinan Abu Toto dan berhasil memecatnya tahun 1993 ditangkap aparat keamanan, para mantan NII KW IX tersebut mengaku dan memberikan keterangan diarahkan kepada Abu Toto. Aparat tidak cepat bertindak, tetapi menunggu Abu Toto sekeluarga kabur dan meninggalkan rumah kediamannya di Menes Pandeglang – Banten hingga saat ini. Dari starting kejadian ini sinyalemen bahwa Abu Toto adalah pemain tingkat tinggi yang bermain dengan pihak aparat keamanan yang diketahui dan disadari banyak pihak, namun hal itu berjalan terus hingga sekarang. Pada tahun 1994-1995 program dan mobilisasi pembebasan tanah di Indramayu berlangsung semena-mena terhadap tanah masyarakat untuk rencana pembangunan ma’had Al Zaytun mulai berlangsung dan selanjutnya langsung berjalan cepat. Tahun 1996, Abu Toto dilantik Adah Djaelani untuk secara resmi menjadi pengganti Adah Djaelani selaku Presiden, Imam dan Komandemen Tertinggi NII. Tahun 1997 meletakkan batu pertama pembangunan Ma’had Al-Zaytun dan sejak saat itu seluruh nama alias yang macam-macam dan berendeng itu ditanggalkan, kemudian ditetapkan yang ada hanya satu nama baru yaitu AS (Abdus Salam) Panji Gumilang (yang bermakna filosofi simbolik – Abdus Salam Pembawa Bendera Kejayaan NII), sejak itu komunitas Ma’had Al Zaytun diharamkan menyatakan ada dan kenal dengan nama-nama samaran atau nama alias AS Panji Gumilang sebelumnya. Hanya ada satu sebutan panggilan untuk AS Panji Gumilang yang diperbolehkan yaitu panggilan sebagai Syaykhul Ma’had. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan wartawan The Asian Wall Street Journal, si OROK Abdus Salam, membeberkan asal muasal nama Panji Gumilang yang disandangnya kini. Dengan menyatakan bahwa nama Panji Gumilang itu adalah nama besar bapaknya yang asli bernama Rosyidi. Padahal menurut penuturan masyarakat desa Sembung Anyar, Gresik ketika H. Rosyidi sebelum meninggal dahulu sama sekali tidak mendengar memiliki gelar Panji Gumilang. Selain itu gelar Panji Gumilang tidak cocok dengan telinga masyarakat Gresik, nama Panji Gumilang adalah hanya cocok di telinga masyarakat Jawa Barat yang Sunda. Lantas bagaimana halnya dengan pengakuan pengakuan Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang, yang kalau di sana mengaku sebagai putra daerah kelahiran Indramayu, di sini mengaku sebagai putra daerah kelahiran Kulon (Banten) dan di situ mengaku sebagai putra daerah kelahiran Bogor ?!. Itulah hebat, unik dan kontroversialnya pola tingkah-laku Abdus Salam yang asli kelahiran Sembung Anyar, Gresik- Jawa Timur. Demikian pula pernyataannya tentang dirinya sendiri: Masa lalu silahkan berlalu Masa pula pernyataannya tentang dirinya sendiri: Masa lalu silahkan berlalu Masa depan sajalah yang perlu dilihat dan diperhatikan. Padahal baik dalam kelakuan maupun dalam ajaran doktrin sesat NII Kartosuwiryo dan doktrin sesat NII Adah Djaelani serta doktrin sesat NII H Karim Hasan yang dikembangkan terus bersama kawan-kawan seiringnya itulah yang masih dijalankan hingga detik ini, bahkan kualitas kesesatannya pun kini semakin menjadi-jadi. Berkat bantuan fisik material dan finansial dari penguasa orde baru Suharto beserta kroninya di Golkar, militer serta para konglomerat Taipan dalam membangun mercu suar monumen pendidikan dalam wujud Ma’had Al Zaytun. Semua itu telah membuat dada, kepala dan nama Abu Toto menjadi membesar, demikian halnya kecanggihan dalam memanage kejahatan dan kedzhaliman, sama persis dengan manhaj sesat orde baru di masa lalu maupun sekarang. HUBUNGAN DAN KRONOLOGI SEBAGAI BUKTI ASPEK INTEGRAL SEJARAH PARA TOKOH STRUKTUR NII TH 1976-2002

Keterkaitan secara kronologi kesejarahan antara gerakan NII bentukan militer intelejen sejak dasawarsa 70 di bawah DAUD BEUREUEH th 1976 maupun di bawah ADAH DJAELANI tahun 1978 hingga 1993, dengan gerakan NII yang terpecah belah menjadi NII faksi KW IX Abu Toto, yang berlanjut dengan pengesahan kepemimpinan Abu Toto sebagai Imam – Presiden atau Komandan tertinggi NII oleh ADAH DJAELANI, Ules Suja’i, Ahmad Husen alias Mbah Nurcahyo dan Idris Darmin Prawira Negara alias si Datuk Maharajalela beserta hulu balang Abu Toto pada tanggal 19 Oktober tahun 1996 di Bandung. Alih generasi dan pelimpahan kekuasaan NII yang diketahui banyak saksi merupakan bukti sejarah yang akhirnya berlanjut hingga apa yang berjalan dan berlangsung sekarang ini baik pada tataran yang terjadi dimasyarakat akar rumput, kemudian membuat sarang di ma’had Al Zaytun, Indramayu Jawa Barat tahun 1996 hingga 2004 sekarang. Simak keterangan Ules Suja’i saat diwawancara berkenaan dengan keberadaan Abu Toto dan Ma’had Al-Zaytun yang dipimpinnya dalam buku Abduh -2001: “Saya dan pak Adah memang sebagai Dewan Imamah NII waktu tahun 1979 tapi sekarang sudah non-aktif, lalu kata pak Adah kita ini sudah tidak steril sedangkan gerakan harus terus maju, ya sudah kalau begitu kita serahkan kepada generasi baru yang memang kelihatannya lebih punya kemampuan yang lebih hebat dari pada kita. Kita merasakan, yang kedua memang masalah kelemahan, coba pak Adah sendiri bilang, kita sejak 1962 melakukan dakwah hasilnya malah pecah-pecah, itu menunjukkan kita tidak mampu, kan? Jadi perjuangan harus ada regenerasi. Lalu sekarang robah strateginya dari strategi revolusi kepada strategi seperti semboyan yang ada di Zaytun yaitu “Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian” robah yang seperti itu bisa saja”[03] Apakah sebuah kenyataan yang didukung bukti dan data konkret tentang kejelasan hubungan erat dan menjadi poros integral antara Ma’had Al Zaytun dan gerakan NII yang berhasil dilacak terbukti keberadaan gerakannya diatasnamakan gerakan NII masih layak diperdebatkan ?! Para tokoh NII sendiri secara terang-terangan mejeng di Ma’had Al Zaytun dan juga di “Majalah Al Zaytun”. Mereka juga terang-terangan memajang dan memaparkan secara jelas berbagai ajaran (doktrin) yang berlaku dan diterapkan dalam gerakan lintas teritorialnya (Underground Movement). Untuk lebih mengkonkretkan kejelasan hubungan tersebut adalah dengan mengetengahkan data bukti adanya benang merah – hubungan keterlibatan – pasti antara poros dan nama para tokoh NII yang terdahulu dengan para tokoh NII yang kemudian maupun mereka yang kini aktif dan berada di ma’had Al Zaytun, sehingga data tersebut bisa mengantar kepada persepsi serta nalar yang sehat dan benar tentang apa itu Ma’had Al Zaytun dan gerakan NII yang bagaikan gambaran dua sisi mata uang dari sebuah gerakan NII yang paling sesat dan paling jahat di Indonesia. Berikut ini nama-nama para tokoh NII yang diharapkan bisa mengingatkan dan mampu menyadarkan tentang hubungan keterkaitan antara para pengelola Ma’had Al-Zaytun dengan gerakan NII bentukan intelejen. PARA TOKOH NII PERIODE TAHUN 1976-1993 DAUD BEUREUEH – ADAH DJAELANI TIRTAPRAJA: 01. Adah Djaelani Tirtapraja – Bandung Jabar 02. Aceng Kurnia – Bandung Jabar (Wafat Tahun 1997) 03. Toha Mahfudzh – Cianjur Jabar 04. Ateng Djaelani – Bandung Jabar (Wafat Tahun 1978) 05. Ules Suja’i – Abu Ridha – Cianjur Jabar 06. Opa Mustapa – Bandung Jabar (Wafat Tahun 1990) 07. Saiful Iman – Bandung Jabar (Wafat Tahun 1991) 08. Tahmid Rahmat Basuki Kartosuwirjo – Garut Jabar

09. Dodo Muhammad Darda’ Kartosoewirjo – Garut Jabar 10. Danu Muhammad Hasan – Jakarta (Wafat Tahun 1986) 11. Hidayat – Lampung 12. Syarif Hidayat – Lampung (Wafat Tahun 1987) 13. H. Isma’il Pranoto – Brebes Jateng (Wafat Tahun 1994) 14. Ajengan Masduqi – Cianjur Jabar 15. Djarul Alam alias Hadi – Garut Jabar 16. Helmi Aminuddin Bin Danu Muhammad Hasan – Jakarta 17. Gustam Effendy – Lampung 18. Seno alias Basyar – Jakarta (Wafat Tahun 1981) 19. Ahmad Husen Salikun alias Nurcahyo – Kudus Jateng 20. Idris Prawiranegara alias Darmin – Bojonegoro Jatim 21. Mukhshar – Malang Jatim (Wafat Tahun 1988) 22. Rasmin alias Anshari – Bojonegoro Jatim (Wafat Tahun 1993) 23. Warman (Wafat Tahun 1981) 24. Bambang Sispoyo – Solo (wafat, eksekusi mati 1990) 25. Farid Ghazali 26. Abdullah Umar (Eksekusi mati tahun 1989) 27. H. Muhammad Faleh – Kudus Jateng (Wafat Tahun 1989) 28. H. Abdullah Sungkar – Solo Jateng (Wafat Tahun 2001) 29. H. Abubakar Ba’asyir – Solo Jateng 30. Mursalin Dahlan – Bandung Jabar 31. Abdul Qadir Baraja – Lampung 32. Abud alias Rasyid – Bogor TOKOH-TOKOH DALAM NII KW IX TH 1978-1981: 01. Seno alias Basyar 02. H. Abdul Karim Hasan 03. H. Mohammad Ra’is Ahmad 04. H. Mohammad Sobari 05. Ahmad Sumargono 06. Amir 07. Abidin 08. Nurdin Yahya 09. Ali Syahbana 10. Dr. Mu’adz 11. Abdul Salam alias Prawoto 12. Shaleh As’ad 13. Fachrur Razi 14. Royanuddin TOKOH -TOKOH NII KW IX TH. 1987-1996: 01. H. Abdul Karim Hasan – Jakarta (Wafat tahun1992) 02. H. Mohammad Ra’is Ahmad – Jakarta (Dikudeta Abu Toto tahun 1992)

03. Nurdin Yahya alias Joni Alias Tsabit – Jakarta 04. Prawoto alias Abu Toto Alias Toto Salam – Menes Banten 05. Shaleh As’ad – Menes Banten (Mengundurkan Diri Tahun 1993) 06. Amr alias Encu – Banten (Mengundurkan Diri Tahun 1991) 07. Handoko alias Abdul Ra’uf – Bandung Jabar 08. Djaldjuli alias Jazuli – Jakarta 09. Aseng alias Saefulloh – Jakarta 10. Maktal – Jakarta 11. Jamal Abdaat – Jakarta 12. Karim – Jakarta 13. Oji alias Abdul Halim – Jakarta 14. Mali – Jakarta 15. Yazid – Jakarta 16. Ali – Jakarta 17. Cecep – Cirebon (Mengundurkan Diri Tahun 1996) 18. Anas Hutapea – Jakarta (Mengundurkan Diri Tahun 1996) 19. Iwan alias Faishal – Jakarta (Mengundurkan Diri Tahun 2001) 20. Chaeruddin – Jakarta (Mengundurkan Diri Tahun 1994) 21. Ismail Subarja – Jakarta (Mengundurkan Diri Tahun 1996) 22. Rifa’i alias Hamzah – Jakarta (Mengundurkan Diri Tahun 1996) 23. Mahfudzh Shiddiq – Banten (Mengundurkan Diri Tahun 1993) 24. Mi’an Abdusy Syukur – Banten (Mengundurkan diri Tahun 1993) 25. Abdul Quddus – Banten (Mengundurkan Diri Tahun 1993) 26. Abbas Ali Nasution – Umar Nasution asal Medan, sahabat Abu Toto ketika di Sabah Malaysia. 27. Agus Kumis alias Lukman 28. M. Qassim alias A. Majid alias Munir TOKOH -TOKOH AL-ZAYTUN NII FAKSI AS PANJI GUMILANG (TH 1993-2002): 01. Adah Djaelani dengan nama panggilan Mama (Kakek) 02. Ules Suja’i alias Abu Ridlo 03. Ahmad Husen Salikun alias Mbah Nurcahyo 04. Idris Darmin diberi gelar menjadi Datuk Maharajalela Idris Furqan Prawira 05. Abdul Salam alias Prawoto alias Abu Toto alias Toto Salam alias Abu Ma’ariq alias Abu Ma’arif alias Syamsul Alam alias Nur Alamsyah menjadi Syaykhul Ma’had dan bergelar AS Panji Gumilang 06. Nurdin Yahya alias Joni alias Tsabit tetap menjadi Tsabit 07. Handoko alias Abdul Ra’uf menjadi Imam Syarwani, dipecat dan dikeluarkan November 2003 08. Imam Prawoto bin Abu Toto Abdus Salam 09. Djaldjuli 10. Aseng alias Ali alias Iskandar alias Saefulloh tetap menjadi Saefulloh 11. Jamal – Ir. Djamal Abdaat 12. Oji – Fauzy Abdaat 13. Yazid 14. Ali 15. Abbas Ali Nasution (nama asli Umar Nasution) sahabat Abu Toto ketika di Sabah Malaysia, kini sebagai Pimred Majalah Al Zaytun.

16. Nawawi 17. Syaifuddin Ibrahim Humas Dewan Guru 18. Muttahid Azwari alias Abu Qasim 19. Mashrur Anhar sebagai Menteri Pekerja Raya telah mengundurkan diri terhitung awal Januari 2002 20. Insan Hadid Bin Tagor Harahap (menantu Adah Djaelani) mantan sebagai Mensesneg, mengundurkan diri terhitung awal Januari 2002 21. Muammar Yasir Bin Tagor Harahap sebagai Panglima Hankam, mengundurkan diri bersama seluruh pasukan TIBMARA & GARDA terhitung sejak awal Januari 2002 22. Ahmad Ghazali sebagai Sekjen. MA (Mahkamah Agung) dan pejabat SUK (Setia Usaha Kerja – Badan Pemeriksa Keuangan) beserta wakil dan staff, mengundurkan diri sejak awal Januari 2002 PARA EKSPONEN MA’HAD AL ZAYTUN: 01. Abu Salam (Mantan Kepala Daerah Jakarta Selatan) sekarang menjadi Kepala Sekretariat Pendidikan Ma’had Al-Zaytun 02. Nurdin (Mantan Wakil Kepala Daerah Jakarta Selatan) sekarang menjadi Staff Sekretariat Pendidikan Ma’had Al-Zaytun 03. Ja’far Ash-Shubhani (Mantan Mudabbir Tsani Wilayah IX) Ketua Majelis Syura NII Al-Zaytun dan sebagai Imam rawatib masjid Al Hayat. 04. H. Badar (Mantan Mudabbir Wilayah IX) 05. Nawawi Berdasarkan data ini, kepada para pembaca dipersilahkan melakukan komparasi atau mencocokkan dengan susunan daftar dalam sruktur pemerintahan NII Al Zaytun yang terdapat dalam halaman lain tentang struktur pemerintahan dan susunan kabinet. MAS’UL WILAYAH KW IX: 01. Agus Kumis alias Luqman – Komandan Wilayah IX 02. Abu Somad – Ka. Staff Wilayah IX 03. Ja’far Shiddiq – Mudabbir Tsalits Wilayah IX 04. Fatih Sodiqin – Kabag. Pendidikan Wilayah IX 05. M. Yusuf – Ketua Lajnah Wilayah IX 06. Munir alias A. Majid alias Humaidy alias M Qassim Kabag Logistik SIFAT & KARAKTERISTIK NII Al-Zaytun Faksi AS Panji Gumilang Target dan Sasaran Gerakan NKA / NII Al-Zaytun Secara doktrinasi dan gerakan NII Al Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang berprinsip hampir sama dengan induknya, NII Karto suwiryo, yaitu menjadikan masyarakat sebagai obyek sasaran atau target korban gerakan yang kemudian dipilih dan dipilah sebagai berikut: Kelompok Masyarakat yang dibidik untuk diproses dan ditargetkan menjadi kekuatan absolute sebagai anggota NII Al Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang. Dalam kerangka gerakan membangun komunitas masyarakat (anggota) NII berdasarkan paham dan ajaran melalui sarana rekruitmen yang spesifik : Mengembangkan paham aliran NII Kartosoewirjo melalui wujud Qonun Asasi dan PDB NII berdasarkan paham aliran Isa Bugis, Inkaru as Sunnah dan Syi’ah Nushairiyah (Di Yordan, Syria dan Iraq).

Kelompok masyarakat yang dibidik melalui pendekatan forum & program pendidikan Ma’had Al Zaytun, diyakinkan sebagai lembaga yang murni dan steril atau sama sekali tidak memiliki dan atau ada hubungan benang merah sedikit pun dengan eksistensi gerakan NII, yang bergerak secara eksis dan membahayakan masyarakat. Masyarakat menjadi target dan obyek rekruitmen NII akan menjadi kekuatan pendukung gerakan NII. Masyarakat akan diformat menjadi santri, sedangkan orang tua dan keluarga mereka ditarget menjadi simpatisan NII atau sebagai obor-obor NII. Membangun komunitas masyarakat simpatisan atau Obor-Obor NII sebagaikedok dan wadah gerakan yang berwajah Ekonomi, Politik, Budaya & Pendidikan melalui Ma’had Al Zaytun. BASIS EKSISTENSI & STRUKTUR PEMERINTAHAN NII AL ZAYTUN – FAKSI AS PANJI GUMILANG Keberadaan basis NII Al-Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang dalam prakteknya sangat berbeda dengan keberadaan basis faksi-faksi NII yang lain. Hal itu disebabkan karena faksi NII Al Zaytun secara sengaja dan riil telah mengambil taktik dan strategi dua muka (ambivallen) yakni dengan mengedepankan mega proyek bisnis pendidikan Ma’had Al Zaytun sebagai cover dan kedok resmi system ekonomi pendidikan gerakan bawah tanah NII yang tersebar hingga ke manca negara. Karenanya istilah yang digunakan dalam membagi basis keberadaan gerakan menjadi dua bagian aparat Fungsional dan aparat Teritorial. STRUKTUR & APARAT FUNGSIONAL (Basis Keberadaan Sektor Formal di permukaan) Aparat fungsional adalah warga NII Al Zaytun yang telah menjadi pejabat (elite) tingkat Menteri dan Departemen hinga ke tingkat prajurit (Garda Ma’had dan Tibmara) atau karyawan (muwadhzof = pasukan kuning dan hijau), serta mahasiswa P3T (Program Pendidikan Pertanian Terpadu) yang kesemuanya berdomisili di Ma’had Al-Zaytun dan memiliki nomor data QO’ID (keaparatan) yang diawali dengan kode huruf “F”. Demikian pula keberadaan para pejabat YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) yang berdomisili di luar Jawa atau berada di setiap kota kabupaten dan propinsi, yang disebut sebagai mas’ul NII KW IX yang ditugaskan melaksanakan perekrutan santri sekaligus membentuk barisan obor-obor NII. Mereka yang kelak menempati posisi sebagai pengurus atau kordinator YPI di tingkat kota Kabupaten (Distrik) disebut sebagai aparat fungsional ma’had tingkat asas NII Al Zaytun termasuk seluruh para asatidz atau guru. Sedangkan mereka yang menempati posisi sebagai pengurus atau kordinator YPI tingkat propinsi (Wilayah) disebut sebagai aparat fungsional Ma’had Al Zaytun yang secara administrasi terpisah dengan para aparat teritorial wilayah yang dipimpin oleh seorang Gubernur, sebagai bentuk perubahan dari sistem Komandemen yang meliteristik menjadi sistem Civil Society – Masyarakat Madani. Para prajurit, seperti barisan satuan pengamanan garda Ma’had dan Tibmara (Satpam Ma’had) maupun para muwadzhof (karyawan yang berseragam kuning dan hijau), posisi mereka sebelum menjadi warga Al Zaytun adalah sebagai mas’ul atau pejabat tingkat desa (PTD) dan kecamatan (ODO) dari jajaran teritorial NII yang berdomisili di wilayah yang ada, namun karena mereka memiliki skill yang diperlukan “negara” sehingga keberadaan mereka ditarik ke Ma’had Al-Zaytun. Demikian pula halnya dengan warga NII teritorial yang pernah bermasalah sebagai residivis (bromocorah) misalnya, keberadaan mereka yang seperti itu cenderung ditarik dan diselamatkan ke Ma’had Al-Zaytun dan bekerja sebagai muwadzhof (pasukan kuning). Sedang para mahasiswa P3T (Program Pendidikan Pertanian Terpadu) sesungguhnya hanya bisa diikuti oleh para aparat atau anggota NII teritorial dan paling tidak disyaratkan harus berasal dari kalangan keluarga NII, atau harus melalui koordinator YPI yang tidak lain adalah para mas’ul dari tingkat distrik (Bupati) hingga tingkat wilayah (Gubernur) NII faksi AS Panji Gumilang. Adapun keberadaan para santri yang berasal dari warga NII jumlah prosentase mereka di ma’had Al Zaytun untuk

tahun angkatan pertama sebanyak 59,6 % atau 864 santri. Untuk tahun angkatan kedua sebanyak 23,4 % atau 395 santri sedang untuk tahun angkatan ketiga th 2001 sebanyak 25,4 % atau 556 santri. JARINGAN STRUKTUR FUNGSIONAL Jaringan Struktur Fungsional NII Al Zaytun adalah mereka yang tampil sebagai Aparat dan warga NII yang bergerak di permukaan dan bertugas sebagai Koordinataor Wilayah (Korwil) dan Koordinator Derah (Korda) Yayasan Pesantren Indonesia. Tugasnya merekrut warga NKRI usia sekolah untuk belajar di Ma’had Al-Zaytun dan membentuk Dewan Wali Santri sebagai pendukung kuat Ma’had Al-Zaytun. Jumlah Personil Mas’ul wilayah di Luar Jawa: dipegang 4–5 orang personil, berperan sebagai Korwil (Koordinator Wilayah) dan Korda (Koordinator Derah) atau sebagai Aparat Fungsional. Dalam Struktur Fungsional susunan keaparatan dilihat dari jabatan yang dimiliki dalam Yayasan Pesantren Indonesia dan Ma’had Al-Zaytun. Susunan Keaparatan Fungsional dalam NII Al Zaytun, sebagai berikut: Koordinator Pusat, digunakan untuk sebutan Aparat Fungsional yang meliputi para Eksponen, Karyawan, Kesihatan (Dokter, Perawat dan Bidan) serta Guru yang berdomisili di Ma’had Al Zaytun. Jumlah koordinator Pusat terbagi: 01. Eksponen sebanyak 214 orang + 216 Istri dan 29 Aspri 02. Karyawan sebanyak 2.861 orang + 2.457 orang Istri 03. Kesehatan sebanyak 31 orang + 14 orang Istri dan 1 orang sopir 04. Guru sebanyak 388 orang + 161 orang istri Koordinator Jawa, meliputi: 01. Jabar Utara, jumlah Mas’ul (Aparat Teritorial) 261 orang dengan jumlah ummat 1.826 anggota. 02. Jabar Selatan, jumlah Mas’ul 928 orang dengan jumlah ummat 17.340 orang. 03. Jakarta Raya, jumlah Mas’ul 12.342 Orang dengan jumlah ummat 119.459 orang. 04. Jawa Tengah, jumlah Mas’ul 610 orang dengan jumlah ummat 3.482 warga. 05. Jawa Timur, jumlah mas’ul 1.008 orang, dengan jumlah ummat 3.755 warga. 06. Sedang untuk koordinator YPI di Jawa semua berkeduduk- an sebagai Aparat Teritorial yang juga berteugas mempromosikan Al-Zaytun ke seluruh pelosok Jawa. Koordinator Luar Jawa, meliputi: 22 Propinsi. Dengan jumlah aparat fungsional (Korwil dan Korda YPI) sebanyak 236 orang. Koordinator Malaysia, dengan jumlah Mas’ul 15 orang dan ummat 790 orang. STRUKTUR & APARAT TERITORIAL Eksistensi gerakan NII Al Zaytun setelah menjadi faksi terbesar dalam gerakan NII semakin merambah keseluruh penjuru Indonesia dan bahkan penjuru Nusantara. Dalam perkemba -ngannya NII Al-Zaytun menerapkan pemekaran wilayah dan sistem teritori Nusantara yang dimana sebelumnya penggunaan istilah teritori terdiri dari 9 wilayah Komandemen. KONSEP & ISTILAH TERITORIAL TERBARU NII AL-ZAYTUN – FAKSI AS PANJI GUMILANG

Tahun 2000 atau tarikh 1421 H, NII Al-Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang mencanangkan program perubahan sekaligus sebagai pengembangan konsep kewilayahan melalui Perpu NO. II (Peratuan pengganti Undang-Undang) NIINKA. Sebelum tahun 2000 pembagian teritori NII versi AS Panji Gumilang masih sama dengan pembagian teritori NII versi lain (seperti versi Komando Dodo dan Tahmid Kartosoewirjo, versi Komando Ajengan Masduqi, versi Aspal (Asli palsu) Komando Abdul Fatah Wirananggapati, versi Komando Aly Mahfudzh) yakni meliputi 9 Wilayah. Melalui Perpu (Peraturan Pengganti Undang-Undang) no. II NII faksi Komando AS Panji Gumilang melakukan perubahan sekaligus pengembangan teritori dengan menggu nakan istilah dan konsep yang berbeda dengan sebelumnya, antara lain dengan membagi wilayah territory Indonesia – Nusantara menjadi wilayah jalur utara dan jalur selatan. Jalur Utara dibagi menjadi 11 Propinsi: Malaysia, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sulteng, Sulut, Sultra, Maluku dan Irja. Jalur Selatan dibagi menjadi 17 Propinsi : Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Lampung, DKI Jakarta Raya (Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Banten), Badar (Jabar) Utara, Badar (Jabar) Selatan, Jateng, jatim, Bali, NTB, NTT dan Tim-Tim. Setiap Propinsi dipimpin seorang Gubernur menurut pembagian Struktur Pemerintahan Teritorial untuk kawasan Jawa dan atau Pemerintahan Fungsional untuk kawasan luar Jawa. Struktur Teritorial tersebar di seluruh Jawa yang terbagi menjadi 5 wilayah, Yaitu: 01. Wilayah 1 – Jabar Selatan (dahulu Priangan Timur) 02. Wilayah 2 – Jawa Tengah 03. Wilayah 3 – Jawa Timur 04. Wilayah 7 – Jabar Utara (dahulu Priangan Barat) 05. Wilayah 9 – Jakarta Raya dan Banten Struktur Fungsional tersebar di 23 Propinsi Luar Jawa dan 1 di Malaysia. Malaysia, Brunai dan Singapura, Kalimantan Timur, Selatan, Barat dan Selatan, Sulawesi Selatan, Tengah, Tenggara dan Utara, Maluku, Irian Jaya (Papua), Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumsel dan Lampung. Bali, NTB dan NTT NAMA-NAMA PEJABAT PIMPINAN TERAS JARINGAN ORGANISASI PEMERINTAHAN KABINET NKA-NII (NEGARA KURNIA ALLAH / NEGARA ISLAM INDONESIA) FAKSI AS PANJI GUMILANG PERIODE 1418 – 1423 H IIMAM/ PRESIDEN NKA-NII: Abdus Salam alias Abu Toto alias Abu Ma’ariq alias Syamsul Alam alias AS Panji Gumilang (ASPG). MAJLIS (Kementrian): 01. Majlis / Kementrian Pembangunan Sekretariat Negara: Oji alias Abdul Halim. 02. Majlis / Kementrian Pembangunan Dalam Negeri: Nurdin alias Joni alias Yahya alias Abu Tsabit. 03. Majlis / Kementrian Pembangunan Luar Negeri: AS Panji Gumilang.

04. Majlis / Kementrian Pembangunan Pertahanan: Handoko alias Abdul Ra’uf alias H. Imam Syarwani. 05. Majlis / Kementrian Pembangunan Pendidikan: AS Panji Gumilang. 06. Majlis / Kementrian Pembangunan Keuangan: Amadi alias Aseng alias Ali alias Iskandar alias Syaifullah atau Syaf Allah. 07. Majlis / Kementrian Pembangunan Penerangan: Edi Suaidi alias Abu Hanifah. 08. Majlis / Kementrian Pembangunan Urusan Hukum dan Syariat: Muttahid Azwari alias Abu Qosim. 09. Majlis / Kementrian Pembangunan Kementrian Negara: Taufiq. 10. Majlis / Kementrian Pembangunan Kesehatan: A. Mufakir alias Abdullah al Hayyi. 11. Majlis / Kementrian Pembangunan Kesejahteraan Ummat: Jaljuli alias Jazuli alias Robby alias Silmi Aulia. 12. Majlis/Kementrian Pembangunan Logistik & Pembekalan: Idris Darmin al Furqan Perwiranegara Datuk Maharajalela. 13. Majlis / Kementrian Pembangunan Perdagangan: Carsadi alias Abdul Jabbar. 14. Majlis / Kementrian Pembangunan Kerja Raya: Masrur Anhar. 15. Majlis/ Kementrian Pembangunan Peningkatan Produksi Pangan: Imam Supriyanto alias Imam Abdul Aziz. DEWAN FATWA 01. Adah Djaelani 02. Ules Sudja’i 03. H. Mursidi (Abu Anshori). MAHKAMAH AGUNG Ketua: Ahmad Husein Salikun (Mbah Nur Cahyo alias Noor). Sekjen: A. Rijal MAJLIS SYURO/ DEWAN SYURO (Legislatif/ Parlemen) Ketua: Miftah alias Ja’far Al Syubbani. Wakil Ketua: M. Ihsan alias Fathan Mubinan, berasal dari Aceh. SEKJEN 01. Sekretaris Negara: Eddy alias Insan Hadid. 02. Kementrian Dalam Negeri: Yasin alias Mahdi. 03. Kementrian luar Negeri: Muhammad Nasir alias Abdul Qadir. 04. Kementrian Pertahanan: Syaefullah alias Aseng, lias Asmadi alias Ali alias Iskandar. 05. Kementrian Pendidikan: Abdul Salam. 06. Kementrian Keuangan: Umar. 07. Kementrian Penerangan: Imam Prawoto alias Aziz An Naba. 08. Kementrian Aparatur Negara: Hilman alias Badar. 09. Kementrian Kesihatan: Dani Kadarisman. 10. Kementrian Kesejahteraan Ummat, Logistik dan Pembekalan Prdagangan, erja Raya: …………………………………………………. 11. Kementrian Peningkatan Produksi Pangan: Abdul Rozak. PARA PEJABAT GUBERNUR WILAYAH JAWA:

01. Gubernur Wilayah 1 (Jabar Utara): Mustawa, domisili Cirebon, Jabar. 02. Gubernur Wilayah 7 (Jabar selatan): Abu Fatin, domisili Bandung. 03. Gubernur Wilayah 2 (Jateng): Mizan Shiddiq, domisili Yogya. 04. Gubernur Wilayah 3 (Jatim): Deden alias Anshori, domisili Sidoarjo. 05. Gubernur Wilayah 9 (Jabotabek): Agus Kumis alias Lukman Hakim. PARA PEJABAT DAERAH WILAYAH 9: 01. Daerah 1 Bekasi: Syu’aib. 02. Daerah 2 Jakarta Timur: Wawan alias Bardan Salam. 03. Daerah 3 Jakarta Selatan: Nurhasan. 04. Daerah 4 Jakarta Barat: Sugianto alias Amrullah. 05. Daerah 5 Jakarta Utara: Mahdi Asasi. 06. Daerah 6 Jakarta Pusat: Syuhada. 07. Daerah 7 Tangerang: Irfan. 08. Daerah 8 Banten Utara: Jalaluddin. 09. Daerah 9 Banten Selatan: Syaefullah. PARA PEJABAT WILAYAH 9: 01. Gubernur: Agus Kumis alias Lukman Hakim 02. Wakil Gubernur: Abdul Samad 03. Sekretaris Wilayah: Abu Barqun 04. Kabag keuangan: Fatih Shadiqin 05. Kabag Kesihatan: Iskandar M. Amin. 06. Kabag Logistik: Ja’far Shiddiq alias Munir alias Abdul Majid alias Humaidy alias M. Qosim PENGERTIAN STRUKTUR TERITORIAL NII Struktur Teritorial adalah Aparat dan warga NII yang bergerak di bawah tanah (UNDERGROUND MOVEMENT) yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan seluruh program NII, dalam bentuk: 01. Sumber Daya Manusia untuk meningkatkan pemasukan dan sebagi kader calon mas’ul Teritorial dan kader yang akan dimutasi ke Struktur Fungsional sebagai Muwazhof (Karyawan), Korwil dan Korda YPI, Eksponen, Guru dan Kesihatan (Dokter, Bidan dan Perawat). 02. Penggalangan Dana sebagai kekuatan untuk membangun Ibukota Negara Ma’had Al-Zaytun dan pusat pendidikan lain setingkat Sekolah Dasar di 340 kota di Indonesia serta dalam rangka penguasaan ekonomi lewat jalur pertanian, perkebun -an, perikanan dan industri. Struktur Teritorial dalam gerakannya memiliki susunan keaparatan sebagai berikut: Gubernur Wilayah (Mas’ul Wilayah), jumlah personil (Mas’ul Wilayah) berlaku untuk Wilayah Jawa: 01. Gubernur 02. Wakil Gubernur 03. Sekretaris Gubernur

04. Kepala Personalia 05. Waka. Personalia + 2 Staff 06. Kabag. Keuangan + 2 Staff 07. Kabag. Pendidikan dan Bimbingan + 2 Staff 08. Kabag. Kesra. Umum + 2 Staff 09. Kabag. Pertahanan & Perhubungan + 2 Staff 10. Kabag. Logistik + 2 Staff Tanggung jawab Gubernur Wilayah adalah mengatur program dan koor dinasi di seluruh jajaran di bawahnya, untuk memenuhi target yang telah ditentukan dalam forum Syura Wilayah bersama Imam dan seluruh Menteri. Daerah/Residen (Mas’ul Daerah), jumlah personil (Mas’ul Daerah): 01. Kepala Daerah 02. Wakil Kepala Daerah 03. Sekretaris Daerah 04. Kepala Staff Daerah 05. Kabag. Pendidikan 06. Kabag. Personalia 07. Kabag. Keuangan 08. Kabag. Logistik 09. Kabag. Perhubungan 10. Kabag. Kesejahteraan Ummat 11. Kabag. Pertahanan Tanggung jawab kepala daerah (Residen) adalah mengatur koordinasi Distrik dalam pemenuhan program yang harus dilaporkan kepada Wilayah dan penyam -paian instruksi dari Wilayah kepada Distrik. Dalam hal penyetoran dana dari daerah ke Wilayah melalui fasilitas bank (bank account) yang telah ditentukan (pada tahun lalu masih atas nama Abu Ma’ariq dan keluarga di Bank CIC). District Officer (Mas’ul Kabupaten), jumlah personil Mas’ul Kabupaten: 01. Kepala District (Bupati) 02. Wakil District 03. Sekretaris District 04. Kabag. Personalia 05. Kabag. Pendidikan 06. Kabag. Keuangan 07. Kabag. Logistik Tanggung jawab para Bupati NII mendistribusikan tugas dari Gubernur (Wilayah) kepada Desa yang dikoordinasikan dengan Kecamatan, dan menyerahkan hasil setoran dana harian-bulanan negara yang diterima dari tingkat ODO kepada Kabag Keuangan Daerah (residen) dalam saat forum briefing setiap pagi dan taqrir (pelaporan) sore. Onder District Officer (Mas’ul Kecamatan), jumlah personil Mas’ul Kecamatan:

01. Kepala O.D.O (Mas’ul Kecamatan) 02. Ka.Bag Personalia 03. Ka.bag pendidikan 04. Ka.Bag Keuangan 05. Ka.Bag Logistik Tanggungjawab Camat adalah mengatur koordinasi Desa untuk memenuhi kebutuhan program yang akan dilaporkan kepada District Officer (DO) termasuk masalah setoran dana harian dan bulanan Negara Islam Indonesia. Petinggi Desa (Mas’ul Kelurahan), jumlah personil Mas’ul Desa: 01. Petinggi Desa 02. Sekretaris Desa 03. Ka.Bag Keuangan Tanggung Jawab Desa adalah melaksanakan seluruh program Negara (Perekrutan dan Penggalangan Dana) dengan mengerahkan ummat yang ada. Untuk memudahkan pelaksanaan Program Negara, Desa diberi kekuasaan untuk membentuk kekuatan tambahan sebagai kader tangguh yang akan diproyeksikan menjadi Mas’ul dalam bentuk Qabilah atau Setingkat RW. Qabilah dalam susunannya memiliki personil: 01. Kader I (Ketua RW) 02. Kader II (Sekretaris RW) 03. Kader III (Ka.Bag Keuangan RW) Tugas dan tanggung jawab Qabilah: membawahi warga dan bertanggung jawab kepada Lurah atau PTD (Petinggi Tingkat Desa) untuk berbagai urusan sebagai berikut: 01. Urusan uang setoran anggota tiap hari dari ummat dan hanya berhubungan dengan Kabag Keuangan tingkat Desa. 02. Urusan Hujumat (rekruitmen), berhubungan dengan Sekdes. 03. Urusan pelaporan dan briefing setiap pagi dan sore hari, berhubungan dengan Lurah (PTD). 04. Urusan uang setoran anggota tiap hari dari ummat dan hanya berhubungan dengan Kabag Keuangan tingkat Desa. 05. Urusan Hujumat (rekruitmen), berhubungan dengan Sekdes. 06. Urusan pelaporan dan briefing setiap pagi dan sore hari, berhubungan dengan Lurah (PTD). KEKUATAN ANGGOTA & PENGGUNAAN KODE/SANDI BAGI APARAT TERITORI ORGANISASI GERAKAN NII AL-ZAYTUN Penggunaan Kode Sandi teritori adalah susunan kode angka 4 s/d 6 digit yang menunjukkan terhadap identitas Wilayah dan posisi seorang warga NII Al Zaytun, penggunaan kode teritori ini hanya diberlakukan di Pulau Jawa atau Aparat Teritorial saja. Untuk Aparat Fungsional hanya menggunakan nama Perwakilan YPI di suatu Propinsi. Berikut contoh penggunaan kode sandi teritori yang digunakan sampai hari ini: Penggunaan Kode Awal Angka 1XXXX

Digunakan untuk Menunjukkan Wilayah (JABAR SELATAN = Priangan Timur) meliputi: Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Banjar Negara,Sumedang Majalengka, Indramayu, Subang dan Purwakarta. Kode Awal Angka 2XXXX Digunakan untuk Menunjukkan Wilayah JAWA TENGAH Kode Awal Angka 3XXXX Digunakan untuk Menunjukkan Wilayah JAWA TIMUR Kode Awal Angka 7XXXX Digunakan untuk Wilayah (JABAR UTARA = Priangan Barat) meliputi: Garut, Bandung-Padalarang, Cianjur, Bogor dan Sukabumi. Kode digit Kedua 71XXX Digunakan untuk Teritori Daerah : Kode Angka: 71XX Menunjukkan Daerah Teritori GARUT Kode Angka: 72XX Menunjukkan Daerah Teritori BANDUNG Kode Angka: 73XX Menunjukkan Daerah Teritori SUKABUMI Kode Angka: 74XX Menunjukkan Daerah Teritori BOGOR Kode Awal 9XXXX Digunakan untuk Wilayah 9 atau Jakarta Raya (Bekasi, DKI Jakarta, Depok,Tangerang dan Banten). Kode digit Kedua 91XXX Digunakan untuk Teritorial Daerah: Kode Angka: 91XXX Menunjukkan Daerah Teritori BEKASI Kode Angka: 92XXX Menunjukkan Daerah Teritori JAK-TIM Kode Angka: 93XXX Menunjukkan Daerah Teritori JAK-SEL Kode Angka: 94XXX Menunjukkan Daerah Teritori JAK-BAR Kode Angka: 95XXX Menunjukkan Daerah Teritori JAK-UT Kode Angka: 96XXX Menunjukkan Daerah Teritori JAK-PUS Kode Angka: 97XXX Menunjukkan Daerah Teritori TANGERANG Kode Angka: 98XXX Menunjukkan Daerah Teritori BANTEN UTARA Kode Angka: 99XXX Menunjukkan Daerah Teritori BANTEN SELATAN Kode digit Ketiga 911XX

Digunakan untuk Teritorial District Official (Kabupaten). Untuk Teritorial District, O.D.O dan Desa jumlah territorial tersebut disesuaikan dengan territorial yang ada di Wilayah NKRI. Sebagai contoh: Daerah Jakarta Selatan memiliki 10 Kabupaten (Distrik Officer) meliputi: Distrik Setia Budi (931XX) Distrik Cilandak (932XX) Distrik Mampang (933XX) Distrik Tebet (934XX) Distrik Pasar Minggu (935XX) Distrik Pancoran (936XX) Distrik Jagakarsa (937XX) Distrik Kebayoran Baru (938XX) Distrik Kebayoran Lama (939XX) Distrik Ulujami (9310XX) Kode digit Keempat 9111X Digunakan untuk Teritorial Onder District Official (Kecamatan). Sebagai contoh: Distrik Tebet memiliki 7 Kecamatan (Onder Distrik Officer), meliputi: Kecamatan Kebon Baru (9341X) Kecamatan Manggarai (9342X) Kecamatan Bukit Duri (9343X) Kecamatan Manggarai Selatan (9344X) Kecamatan Tebet Barat (9345X) Kecamatan Tebet Timur (9346X) Kecamatan Menteng Dalam (9347X) Kode digit Kelima 91111 Digunakan untuk Teritorial Desa. Sebagai contoh: Kecamatan Bukit Duri memiliki 12 Desa, meliputi: Desa 01 (9343/01) Desa 02 (9343/02) Desa 03 (9343/03) Desa 04 (9343/04) Desa 05 (9343/05) Desa 06 (9343/06) Desa 07 (9343/07) Desa 08 (9343/08) Desa 09 (9343/09) Desa 10 (9343/10)

Desa 11 (9343/11) Desa 12 (9343/12) Desa dapat membawahi 3-10 Qabilah dan menambah kode dengan digit Keenam. Sebagai contoh: Desa 01 memiliki 5 Qabilah, meliputi: Qabilah 01 (9343/01-01) Qabilah 02 (9343/01-02) Qabilah 03 (9343/01-03) Qabilah 04 (9343/01-04) Qabilah 05 (9343/01-05) Satu desa bisa memiliki 3–10 RW atau Qabilah dengan jumlah anggota (ummat atau warga) berkisar dari 30–300 orang anggota atau warga. Berdasarkan data dan perhitungan inilah kekuatan riil keanggotaan NII Al Zaytun bisa diperkirakan. JUMLAH RIIL KEKUATAN ANGGOTA NII AL ZAYTUN Secara organisasi, kekuatan riil dan dianggap lengkap dalam gerakan NII faksi Komando AS Panji Gumilang hanya ada di teritorial IX (KW IX) yang juga dijuluki sebagai Dapur Negara. Hal ini bisa dirujuk berdasarkan target perolehan setoran dana bulanan program mobilisasi dana NII sekitar Rp 10.500.000.000,- (sepuluh miliar lima ratus juta rupiah) dari total target Rp 14,5 miliar adalah kontribusi dari Wilayah IX. Yang terbesar diantara penyetor dana bulanan NII di wilayah IX adalah daerah Jakarta Timur yakni Rp 1.160.000.000,- (satu miliar seratus enam puluh juta rupiah), dan yang paling minim kontribusinya adalah daerah Banten. Tentang kekuatan pendukung teritorial NII yang sudah dianggap menuju proses lengkap organisasi teritorialnya adalah seluruh wilayah yang ada di Jawa. Hal ini ditandai dengan program mutasi aparat NII besar-besaran dari wilayah IX menuju ke seluruh wilayah Indonesia, sesuai dengan Perpu No. II NII versi AS Panji Gumilang. Yang dimaksud dengan organisasi teritorial yang lengkap adalah telah memiliki struktur organisasi dan keaparatan dari tingkat wilayah (Gubernur) hingga tingkat Desa sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam hal basis massa, daerah yang memiliki massa paling banyak dan kuat anggota atau warga NII AS Panji Gumilang adalah Derah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, Depok, Tangerang serta Bekasi dan Banten. Tetapi menurut data riil dari faksi Insan Hadid yang baru saja memisahkan diri terhadap kepemimpinan AS Panji Gumilang, hingga tanggal 01 Jumad Al-Uwla 1422 atau Juli 2001, Kekuatan Aparat (Mas’ul) Teritorial NKA/NII (Al Zaytun) diketahui telah mencapai sebanyak 15.149 personil Mas’ul (Aparat dari strata Desa hingga Gubernur Wilayah) dengan kekuatan Ummat pendukung sebanyak 140.069 Personil yang tersebar di seluruh Jawa dan luar Jawa yang disebut sebagai aparat dan ummat (Thoifah). Kemudian ditambah dengan aparat yang terdapat dalam Struktur Fungsional, maka total kekuatan anggota gerakan NII Al Zaytun adalah sebanyak 168.660 Orang. (Data ini didasarkan data laporan resmi dari data base Al Zaytun yang ditemukan di lapangan dan hasil kerja sama informasi dari mantan elite NII Al Zaytun dengan beberapa lembaga resmi pemerintah)

Dalam perkembangan selanjutnya menyusul peristiwa eksodus para kader militan terlatih di bawah komando Insan Hadid dan Muammar Yasir, kekuatan Al Zaytun kini setidaknya telah menyusut hampir sekitar 30.000 an anggota dan aparat, baik jajaran teritorial maupun jajaran fungsional. Tidak ketinggalan pula eksodus dikalangan para santri Ma’had, karena tidak kurang dari 1700 santri pada liburan kenaikan kelas tahun 2002 ini menyatakan tidak akan kembali ke Ma’had, baik karena alasan mengikuti keputusan para orang tua atau keluarga yang telah eksodus dan bersikap kontra terhadap AS Panji Gumilang maupun yang karena alasan beaya tinggi, termasuk diantaranya para santri yang berasal dari Malaysia. Seperti diketahui dari 5.323 jumlah santri angkatan 1 s/d 3, sejumlah 1.815 diantaranya adalah berasal dari warga NII. MODUS, STRATEGI & TAKTIK PENGKABURAN DOMISILI DAN GERAKAN Pola dan taktik-strategi domisili gerakan NII Al – Zaytun atau NII faksi AS Panji Gumilang pada prinsipnya menggunakan strategi dan metode random (acak), hal itu dilakukan agar keberadaan dan aktivitas gerakan NII Al Zaytun menjadi sulit dideteksi baik secara domisili markaz teritori maupun keberadaan riil domisili para anggotanya. Untuk itu domisili wilayah teritory sebagai ruang gerak dalam melaksanakan program gerakan NII sama sekali tidak terikat dengan disiplin teritory yang lazim berlaku dalam masyarakat kita. Markaz-markaz NII Al Zaytun yang terdiri dari tingkat desa hingga daerah adalah sebagai pusat berkumpul mereka dari mulai calon anggota hingga Camat dan Lurahnya, konsekuensi dari taktik & strategi pengkaburan sifat, bentuk maupun wujud serta kebe radaan gerakan yang diharapkan anti deteksi tersebut, maka keberadaan malja’(posko-posko tingkat Desa hingga tingkat Residen bahkan tingkat Wilayah di suatu daerah tertentu dalam praktek teritorial NII tidak diharuskan berada dalam teritori daerah menurut struktur teritori sebagaimana lazimnya). Demikian pula dalam hal sasaran operasi maupun program perekrutan ataupun pengumpulan dana yang dilakukan secara legal (infaq dan shadaqah) maupun yang ilegal (kriminal). Oleh karenanya jika kemudian ditemukan banyak anggota atau ummat NII di berbagai kampus yang berlainan domisili maupun wilayah propinsinya, tetapi secara organisasi terkadang malah berada dalam kordinasi di Jakarta. Hal itu bisa terjadi karena keberadaan saat mereka direkruit sebagai anggota atau ummat NII Al Zaytun terjadi sejak mereka masih tingkat SMU di Jakarta. Pada prinsipnya daerah yang digunakan sebagai markas adalah daerah yang harus aman sekalipun untuk keperluan itu letaknya bila perlu sangat jauh di luar kota, namun hal tersebut harus diorientasikan pada terwujudnya kondisi kondusif bagi terlaksananya program gerakan sehingga konsentrasi gerakan bisa lebih cepat dan agresif. Sampai hari ini pusat konsentrasi markas NII untuk tingkat Desa sampai tingkat Daerah masih berada diseluruh kawasan DKI Jakarta, dikhususkan di daerah: 01. Jakarta Selatan (Tebet, Setiabudi, Pejaten-Pasar Minggu, Lenteng Agung, Cilandak, Cinere, Fatmawati dan Pondok Labu, Blok M dan Kebayoran Baru serta Bintaro, Cipulir). 02. Jakarta Barat (Pal Merah – Slipi, Kebon Jeruk, Kemanggisan Meruya, Rawabuaya, Kalideres, Joglo). 03. Tangerang (Ciledug, Pondok Aren, Pondok Pinang, Lebak Bulus, Ciputat, Pamulang dan Jombang). 04. Jakarta Timur (Pulogebang, Pulogadung, Penggilingan, Pondok Kopi, Buaran, Pondok Bambu). Namun daerah Jakarta Timur lebih dikhususkan sebagai peruntukan bagi domisili malja’ (markaz) tingkat wilayah (Kalimalang, Jatiwaringin, Jatibening, Pondok Gede, Galaxy, Kranji, Cipinang, Kampung Melayu dan Klender). 05. Jakarta Utara (Rawa Badak, Rawa bambu,Koja, Ancol, Pademangan, Semper, Kelapa Gading, Pegangsaan II, Sukapura dan Cilincing) 06. Jakarta Pusat (Tanah Abang, Senen, Salemba, Cempaka Putih, Kemayoran, Galur, Cikini, Petamburan dan Petojo) Untuk fokus dan metode perekrutan anggota dalam pelaksanaan lebih dikonsentrasikan di sekolah SMU-STM, Kampuskampus, Mall dan Plaza serta pabrik-pabrik di kawasan Industri, Yayasan Penyalur Pembantu dan Baby Sitter maupun para

PRT langsung di komplek perumahan. Dari hasil investigasi yang diperoleh dari data base Computer maupun dokumen tertulis di beberapa Malja’ Desa dan Distrik NII daerah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan maupun Jakarta Timur hasil penggerebekan (sweeping team SIKAT bersama warga dan aparat kepolisian) maupun dari laporan kesaksian para mantan korban NII Al Zaytun. BAGAIMANA GERAKAN NII Al-ZAYTUN MENGORGANISASI TINDAK KEJAHATAN-KRIMINALITAS Program tindak kejahatan Gerakan NII Al Zaytun atau NII faksi komando AS Panji Gumilang adalah didasarkan pada doktrin program penggalangan dana untuk negara dan filosofi paham sesat tersebut adalah Qonun Asasi dan Qonun Uqubat NII yang dinamakan jihad dan fa’i: Sesungguhnya seluruh harta itu pada dasarnya adalah milik Allah yang pengelolaannya diserahkan kepada pimpinan dan warga NII. Seraya mengutip ayat: “Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shalih.” Yang mereka maksud dengan kata hamba-hamba-Ku yang shalih di sini menurut tafsir NII adalah para aparat Negara Islam Indonesia dan seluruh warganya. Dengan pedoman tafsir NII tersebut seluruh warga NKRI pada hakekatnya memiliki derajat sama dengan binatang, untuk itu menurut hukum-Nya (menurut hukum dan fiqh NII) yaitu boleh diambil susunya, diperas tenaganya, dan dimakan dagingnya (atas dasar fa’i dan tazkiyah). Praktek pelaksanaan shalat, dzikir, tilawah, ta’lim dan tazkiyah yang sebenarnya adalah melaksanakan program negara, adapun program yang utama adalah setiap aktivitas yang dilakukan dalam rangka menghimpun dana dan merekruit atau ummat sebanyak-banyaknya untuk kepentingan membangun dan membesarkan jama’ah – Negara Islam Indonesia yang basis utamanya adalah Ma’had Al-Zaytun. Oleh karenanya dengan melalui cara apapun setiap warga NII Al Zaytun wajib mengambil kembali seluruh harta Allah yang ada di tangan orang-orang kafir NKRI dengan melalui fa’i, sekaligus dengan dasar keyakinan yang bertujuan untuk membersihkan mereka dari dosa, sehingga suatu saat kelak pada akhirnya mereka mudah dan bersedia untuk menerima seruan untuk masuk serta bergabung dengan NII. Karenanya perilaku menipu, mencuri hingga sampai membunuh pun terhadap setiap kalangan di luar NII selain telah dianggap kafir dan berderajat binatang adalah karena dianggap sebagai salah satu bagian dari modus fa’i (mengambil hak secara paksa) belaka. Pada hakekatnya tindakan kriminal seperti itu diyakini komunitas NII sebagai praktek ibadah kepada Allah dan bentuk pengabdian kepada negara yang sebenarnya. POLA DAN PROGRAM KRIMINAL GERAKAN NII FAKSI AL-ZAYTUN Pada dasarnya modus fa’i secara umum pasti dilakukan oleh seluruh warga NII Al Zaytun. Namun dalam pelaksanaan pola fa’i dilakukan dengan cara bermacam-macam, hal itu tergantung kepada kondisi materi (SDM) ummat yang dimiliki. Polapola ini terus berkembang sehingga ada yang menjadi trade mark bagi setiap daerah, namun masing-masing daerah memiliki pola yang khas dalam menjalankan tugas fa’i tersebut. Berikut ini contoh pola dan modus program fa’i yang sering dilakukan: Di Daerah Jakarta Pusat: Pola yang selama ini diterapkan adalah dengan mengkoordinir pembantu rumah tangga dan baby sitter untuk mencuri dan merampok isi rumah majikan atau tempat bekerja dalam waktu minimal 2-3 hari dan maksimal satu minggu, terhitung

setelah masuk kerja. Untuk pola pembagian kerja fa’i tersebut digunakan berbagai sarana yayasan penyalur baby sitter dan PRT, dan sebelumnya mereka dibekali dengan identitas palsu oleh para mas’ul. Proses serah terima baby sitter dan PRT dilakukan secara formil sebagaimana biasa, dengan diantar oleh penanggung jawab yayasan yang nota bene adalah mas’ul NII juga, kemudian menandatangani pernyataan dan surat perjanjian. Para pekerja wanita tersebut sebenarnya merupakan kader NII yang handal dan berani (militan), segera setelah melakukan aksi secepatnya, segera kembali ke markasnya dengan membawa hasil kejahatannya. Sebagaimana yang terungkap oleh pihak aparat Polsek Pulogadung, dua bulan lalu, para pelaku tindak kriminal dengan modus PRT & Baby Sitter memang terbukti dilakukan oleh komunitas NII dari Distrik dan Daerah Jakarta Pusat. Sayang aparat Polri malah menjeratnya hanya dengan pidana Tipiring (Tindak Pidana Ringan) yang berkenaan dengan masalah KTP semata. Padahal setelah mereka dilepas, hari itu pula mereka kembali berkumpul di malja’ mereka yang lain dan melakukan tindak kriminal lagi antara lain di kawasan Pondok Indah dan Kebon Jeruk dengan mengeruk dana hingga ratusan juta rupiah. Daerah operasi tindak kejahatan gerakan ini sangat luas, sesuai dengan keberadaan jaringan NII, diantaranya adalah kota Bandung, Purwokerto, Banyumas, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, Palembang, Jambi hingga Pekanbaru (Riau). Ini baru jaringan dari satu distrik Jakarta Pusat. Di Daerah Jakarta Selatan: Pola dan program kebijakan praktek pelaksanaan fa’i yang diterapkan Daerah Jakarta Selatan mengalami perubahan setelah beberapa kali berurusan dengan pihak yang berwajib. Pola yang diterapkan sejak tahun 1995 s/d tahun 1999 lebih banyak menjurus kepada pencurian dan perampokan serta pembunuhan yang sudah direncanakan sebelumnya, seperti modus perampokan Taksi dan menggunakannya untuk merampok dan membunuh penumpang serta merampas mobil yang lain. Target dan sasaran operasi seperti Kampus, rumah kosong, perkantoran, SPBU, Toko, Supermarket serta para executive muda yang menjadi konsumen hiburan malam menjadi target utama operasi fa’i, bahkan rumah orangtua atau keluarga sendiri pun bisa menjadi target operasi. Namun setelah tahun 1999 s/d sekarang, pola dan modus fa’i yang diterapkan berubah kepada modus penipuan, diantaranya ada yang berdalih sebagai panitia Bhakti Sosial dan pembangunan pesantren dengan melalui surat edaran resmi dari instansi tertentu yang dipalsukan kemudian diedarkan ke lingkungan saudara, teman dekat dan orang yang tergolong kaya. Namun apabila target pengumpulan dana ternyata tidak mencukupi juga maka jurus menipu orangtua dan keluarga sendiri hingga mencuri atau menggelapkan barang keluarga mau tak mau harus dilakukan. Para anggota NII teritorial Jakarta Selatan yang bermalja’ (berdomisili) di Yogyakarta atau dalam istilah NII adalah Tha’ifah Yogyakarta, didalam melaksanakan praktek program fa’i antara lain menggunakan modus pencurian. Akan tetapi pola kriminalitas yang dipakai yaitu dengan berpura-pura mencari tempat tinggal (rumah kost) dan kemudian membayar sejumlah uang sebagai tanda jadi kurang lebih Rp 10.000,00 dari harga sewa per bulannya sekitar Rp 75.000,00 sampai Rp 100.000,00. Namun setelah tinggal di tempat kost tersebut hanya beberapa hari (sekitar tiga hari), mereka memanfaatkan keleluasaan untuk menjarah semua barang-barang yang berharga dari kamar-kamar kost yang letaknya sangat berdekatan dan aman, lantas dengan cara mencongkel pintu atau masuk lewat atas plafon kamar-kamar yang kosong, karena penghuninya sedang berada di kampus atau melakukan aktivitas yang lain. Dengan dibantu oleh beberapa mas’ul (aparat Desa) yang datang dan biasanya mengaku sebagai keluarga atau orang tua anak kost, dan yang pasti dengan membawa sebuah kardus yang besar, yang berisi tas-tas kecil atau kardus-kardus yang tersusun berurutan ukurannya dari ukuran besar hingga ukuran kardus Indo Mie. Maka para mujahid NII dengan sangat leluasa sekali selalu berhasil membawa barang-barang elektronik seperti TV, VCD, Computer dan barang berharga lainnya milik para penghuni kontrakan mahasiswa atau kardus Indo Mie. Maka para mujahid NII dengan sangat leluasa sekali selalu berhasil

membawa barang-barang elektronik seperti TV, VCD, Computer dan barang berharga lainnya milik para penghuni kontrakan mahasiswa atau karyawan tersebut tanpa kecurigaan dari para penghuni kontrakan tersebut maupun masyarakat sekitarnya. Daerah Jakarta Timur dan Barat: Pola fa’i yang kerap dilakukan di daerah ini adalah melalui modus pengumpulan dengan dalih sumbangan pembangunan masjid, panti asuhan dan pesantren dengan menggunakan proposal pembangunan kartu selebaran dan kotak amal dari masjid atau pesantren yang bersangkutan yang alamat hingga tandatangan serta cap stempel panitia yang kesemuanya dipalsukan. Modus ini dilakukan banyak personil dengan tujuan meningkatkan hasil pendapatan, untuk modus ini dikerahkan 10-15 personil. Modus ini sering ditemui di pasar-pasar dan bis-bis umum di Jakarta dan sekitarnya. Secara umum seluruh ummat NII wajib melakukan aksi -aksi tersebut, baik secara individu atau kelompok bahkan untuk aksi pencurian dan penipuan terhadap harta orangtua sendiri adalah kebiasaan yang harus dilakukan warga NII. Namun modus kriminal yang sudah menjadi trademark kedua daerah ini. Inilah hasil investigasi yang serius dan mendalam tentang gerakan NII faksi Al Zaytun yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya dalam sebuah penelitian sekaligus sebagai upaya pembuktian terhadap aspek kejahatan dan aspek keterkaitan langsung secara ideologis–sosio agama, budaya politik, ekonomi dan organisasi antara Ma’had Al Zaytun dengan gerakan NII yang sangat meresahkan tersebut. SISTEM KEUANGAN YANG BERLAKU DALAM KOMUNITAS NII AL-ZAYTUN Seluruh hasil program Hujumat Tabsyiriyah yang pada prinsipnya hanya sebagai alat atau sarana penggalian (eksplorasi) dana dari anggota yang diberi nama program Tis’atal Mawarid (Sembilan Pos Pendanaan Negara). Setiap struktur territorial dari tingkat yang terendah (Desa) hingga tingkat Gubernur telah ditargetkan melakukan penyetoran dana hasil program Sembilan Pos Pendanaan tersebut. Untuk struktur tingkat Desa kewajiban penyetoran dana ke struktur tingkat Kecamatan dilaksanakan setiap hari 2 kali, pada waktu pagi dan sore. Demikian halnya penyetoran struktur tingkat Kecamatan ke struktur tingkat Distrik dan tingkat Distrik ke struktur tingkat Daerah dan seterusnya Residen. Namun untuk tingkat Residen kewajiban penyetoran dana untuk negara dijadwalkan hanya satu kali dalam sebulan, yakni pada tanggal 25-27 dalam penanggalan (kalender) Hijriyah pada Bank CIC, atas nama Abu Ma’ariq. Dalam pelaksanaan tersebut para aparat struktur tingkat Daerah atau Residen tidak harus datang sendiri ke kantor Bank CIC dimaksud, terkadang pihak Bank yang melakukan jemput bola atau langsung mendatangi aparat struktur tingkat Daerah tersebut di tempat yang terjamin keamanannya dan ditetapkan sebelumnya. Apabila target penyetoran dana negara mengalami kekurangan atau keterlambatan, maka setiap kekurangan atau keterlambatan tersebut wajib dipenuhi dan ditetapkan sebagai tanggungjawab sebagai hutang. Tetapi bila dana yang diperoleh ternyata berhasil melampaui target setoran, maka kelebihan dana hasil program Tis’atal Mawarid (9 pos pendanaan negara) tersebut dibolehkan menjadi milik struktur teritorial yang bertingkat-tingkat tersebut. Biasanya surplus dana setoran tersebut sebagian digunakan untuk kepentingan Malja’, sebagian disimpan sebagai jaminan bagi kelancaran setoran bulan selanjutnya. Namun tak jarang terjadi kelebihan dana setoran tersebut dikorupsi oleh para aparat struktur itu sendiri. Karenanya setiap struktur tingkat Distrik maupun Daerah sering mematok (menetapkan) target perolehan setoran yang lebih tinggi kepada struktur yang berada di bawahnya atau tingkat-tingkat struktur yang berada dalam kontrol dan tanggungjawabnya sesuai target yang telah menjadi kesanggupannya, hal ini dilakukan dalam rangka memperoleh kelebihan dan menumpuk kekayaan.

Pengumpulan dana untuk memenuhi kebutuhan program negara yang disentralisir di tingkat Daerah dilaksanakan dengan administrasi yang lengkap dan rapi. Kepala bagian keuangan Daerah, dalam hal ini sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dalam hal pemenuhan kebutuhan dan alokasi pendanaan. Namun dalam hal penyetoran ke Tingkat Wilayah (melalui Bank) seluruhnya diserahkan kepada Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Selain metode di atas, pengumpulan dana juga ada yang langsung diserahkan kepada Tingkat Wilayah. Metode ini dilaksanakan dalam acara-acara tertentu yang disentralisir di Tingkatan Wilayah, Contoh: 01. Program acara Tartib (Pelantikan Aparat Teritorial dan Fungsional) 02. Program acara Munakahat (Menikah) 03. Program acara Irsyad (Penataran Calon Aparat) 04. Program acara Tahkim (Sidang Mahkamah) Penyetoran akhir yang dilakukan pada akhir bulan Hijriyah dikoordinir oleh beberapa Badan yang telah berjalan di NII, antara lain: 01. Departemen Pembangunan Keuangan: Badan ini bertanggung jawab dalam hal pembagian sistem keuangan yang berjalan untuk pembangunan dan Gaji aparat. Dalam Distribusi Gaji aparat yang mulai diturunkan ke setiap Tingkat Daerah pada tanggal 25-27 kalender hijriyah, setiap bulan penyalurannya juga lewat Bank. Tingkat Daerah mengakomodir Gaji tersebut, melengkapinya dengan blanko Gaji NII untuk tiap tingkatan. Dalam distribusi Ihsan (Gaji) seluruhnya sudah diatur dalam PERPU I (Peraturan Pengganti UndangUndang) yang mengatur tentang pembagian Gaji, NDQ (Nomor Data Qoid/ Nomor Induk pegawai) dan Golongan layaknya pegawai negeri. Distribusi gaji melewati tahapan berjenjang sebelum sampai ke tingkatan masing-masing yang sebelumnya harus dipotong hutang dan kebutuhan lain. 02. Setia Usaha Kerja Badan ini bergerak untuk memenuhi kebutuhan yang diajukan ummat atau Aparat lewat rekomendasi Daerah atau wilayah. Jenis-jenis bantuan (pinjaman) yang diberikan lewat Badan ini, antara lain: Huqnatul Rosmal (Suntikan dana untuk usaha yang telah berjalan), Muqorodoh Malja’ (Bantuan – subsidi untuk memenuhi kebutuhan sewa Malja’), dll. 03. Baitul Mal Adalah wadah sentralisasi dana-dana yang dihasilkan dari sektor ekonomi, seperti: pertanian, perikanan, perkebunan, perhutanan dan industri. Gaji Mas’ul dan Karyawan Sistem penggajian para mas’ul baik aparat trritorial maupun aparat fngsional, telah ditetapkan sebagai berikut: 01. Gaji para Aparat Territorial tingkat Desa (3 orang) sebesar Rp 700.000. 02. Gaji para Aparat Territorial tingkat ODO – Kecamatan (5 orang) sebesar Rp 1.700.000. 03. Gaji para Aparat Distrik – Kabupaten (7 orang) sebesar Rp 3.500.000. 04. Gaji para Aparat Territorial tingkat Daerah (11 orang) sebesar Rp 7.000.000. 05. Gaji para Aparat Teritorial tingkat Wilayah (22 orang) berjumlah sebesar Rp 20.000.000.

Berdasarkan data Laporan dalam Rencana Anggaran Belanja tahun 2001-2002 akumulasi gaji yang diberikan ke seluruh tingkatan aparat teritorial masing-masing, sebagai berikut: 01. Gaji aparat Desa sebanyak 11.120 personil sebesar Rp 1.198.331.505. 02. Gaji aparat Kecamatan sebanyak 2.373 personil sebesar Rp 525.980.838. 03. Gaji aparat Kabupaten sebanyak 884 personil sebesar Rp 384.446.218. 04. Gaji aparat Daerah sebanyak 379 personil sebesar Rp 234.155.747. 05. Gaji aparat aparat Wilayah sebanyak 145 personil (terdiri dari 5 Wil. Besar di Jawa + 3 Wil di luar Jawa) jumlah dana sebesar Rp 167.814.721. Sedang jumlah Gaji untuk para aparat Fungsional yang berada di Ma’had Al-Zaytun maupun yang menjadi Korwil dan Korda YPI di luar daerah sebesar Rp 1.193.521.748 (Copy Data dokumen resmi Laporan keuangan Al Zaytun diperoleh dari faksi Insan Hadid). Total Gaji yang diberikan kepada seluruh jajaran sudah mencakup beberapa kebutuhan lain yang diberikan oleh negara, antara lain meliputi: 01. Gaji Pokok 02. Tunjangan Makanah (Jabatan) 03. Tunjangan Kesihatan 04. Tunjangan Ma’unah 05. Tunjangan Ghizaiyah (Paket Gizi berupa beras, gula,minyak goreng, teh, kopi, garam, sabun mandi, sabun cuci, ikan asin dan pasta gigi). 06. Syu’unul Malja’ (Bantuan untuk kebutuhan markas). 07. Syu’unul Idaroh (Bantuan Operasional) SISTEM PENGGAJIAN GURU & KARYAWAN MA’HAD AL ZAYTUN Para guru atau asatidz-asatidzah Ma’had Al-Zaytun digaji berdasarkan ketentuan sesuai kebijakan dan perjanjian, seperti yang berlaku dalam kewajiban maliyah (keuangan) yang dibebankan kepada setiap warga NII di manapun. Para asatidz dan asatidzah Ma’had Al Zaytun terdiri dari dua latar belakang, yang berlatar belakang anggota NII berasal dari teritori berjumlah mayoritas atau dalam jumlah prosentase 90% sedang yang 10% berlatar belakang umum dengan kontrak kerja selama 1-2 tahun, tetapi kebijakan sistem gaji mereka semua diberlakukan sama. Para karyawan disebut pasukan hijau dan kuning (Muwadzhof) diberi gaji sangat rendah dalam penerimaan riil setiap bulannya. Bagi mereka yang masa kerjanya masih 3 bulan pertama, gaji yang diterima dan ditetapkan sebesar Rp 60.000 perbulan, 3 bulan berikutnya dinaikkan menjadi Rp 75.000. Tiga bulan berikutnya dinaikkan menjadi Rp 100.000. Nilai gaji riil para muwadzhof sebenarnya hanya sebesar Rp 100.000 tersebut, hakekatnya sebagai sisa gaji yang diterima setelah dipotong negara atas dasar kewajiban yang dibebankan dalam program 9 Pos Pendanaan negara yang rata-rata mencapai 75% dari nilai gaji yang sesungguhnya, atau kelipatan 3 dari nilai nominal riil yang diterima. Artinya, jika seorang karyawan menerima gaji riil sebesar Rp 100.000 maka gaji asli mereka sebenarnya sebesar Rp 400.000. Bagi mereka yang masih berstatus ghairu mutazaawij (belum menikah) tidak diberikan tunjangan apapun sebagaimana yang berhak diperolehnya, sedang bagi karyawan yang berstatus mutazaawij (sudah menikah) akan diberi tunjangan, yang secara tertulis meliputi beberapa item dibawah ini kecuali (tunjangan kesehatan):

01. Gaji Pokok 02. Tunjangan Makanah (Jabatan) 03. Tunjangan Kesihatan 04. Tunjangan Ma’unah 05. Tunjangan Ghizaiyah (Paket Gizi berupa beras, gula,minyak goreng, teh, kopi, garam, sabun mandi, sabun cuci, ikan asin dan pasta gigi). Namun praktek yang direalisasikan oleh pihak Ma’had hanya butir ke-5 belaka, butir yang lain belum bisa terlaksana. Karena itu praktek pelayanan kesehatan hingga hari ini dikenakan biaya). MEKANISME KERJA KARYAWAN MA’HAD AL-ZAYTUN Para pekerja pasukan kuning dan hijau Ma’had Al-Zaytun berjumlah 3.500 orang sebenarnya masyarakat pekerja yang patut dikasihani, dan perlu mendapat perhatian dari LSM seperti PPMI atau menteri ketenaga kerjaan Republik Indonesia. Sebab mekanisme kerja yang diberlakukan Abu Toto AS Panji Gumilang lebih dekat pada system kerja Rodi dan Romusha. Antara lain menerapkan pemberlakuan jam kerja yang tidak umum dan menyalahi peraturan ketenaga kerjaan maupun rasa kemanusiaan dalam hal pemberian upah atau jasa yang minim maupun dalam hal penerapan sistem base camp. Penerapan jam kerja yang diberlakukan Ma’had Al Zaytun terhadap 3.500 tenaga kerja terlatih yang meliputi banyak bidang seperti tenaga kasar terlatih, tukang batu, kayu dan konstruksi besi dan beton maupun pengelasan (perbengkelan) ditetapkan sejak dari pukul 07.00 wib hingga pukul 22.00 wib. Selain pekerja bangunan, tenaga kerja ahli di bidang perkayuan dan besi diorientasikan pada sistem fabrikasi, karena hal itu direncanakan menjadi mesin produksi yang tidak saja diformat untuk memenuhi kebutuhan sendiri tetapi juga untuk kepentingan perdagangan dan atau melayani pesanan. Seluruh tenaga kerja Ma’had Al Zaytun disediakan base camp (barak penampungan) yang letaknya di pojok sebelah kiri Ma’had tersebut. Para pekerja tersebut wajib menginap dalam base camp tersebut selama 6 hari berturut-turut, pada hari ke tujuh mereka baru mendapat cuti 1 hari untuk mengunjungi keluarga yang juga diwajibkan bermukim secara kontrak didesadesa sekitar Ma’had. Dari penuturan beberapa mantan pekerja maupun Tibmara serta Garda Ma’had yang telah eksodus menceritakan tentang duka dan penderitaan kehidupan sehari-hari, dimana para muwadzhof yang harus bermukim selama sepekan berada dalam base camp, dan baru bisa berkumpul dengan keluarga cuma satu hari. Demikianlah hasil investigasi LPDI-SIKAT tentang Ma’had Al Zaytun yang berhasil dibukukan Umar Abduh. Temuan data dan informasi yang meyakinkan tentang keberadaan Ma’had Al-Zaytun dan kaitan gerak aktivitasnya tersebut dapat dipertanggungjawab kan, karena hal itu merupakan hasil investigasi dari banyak pihak, selain dari penyerahan para mantan anggota NII, baik yang berasal dari dalam Ma’had Al Zaytun (aparat dan pekerja Fungsional) maupun yang berada di luar Ma’had Al Zaytun (aparat atau anggota Teritorial NKA-NII) juga pengakuan dari mereka mendatangi lembaga resmi MUI, DEPAG dan aparat Mabes Polri. Catatan Akhir: [01] Pelita, 27 Juli 1999. [02] Umar Abduh – Pesantren Al-Zaytun Sesat Darul Falah 2001 & Al-Zaytun – gate LPDI -2002 [03] Umar Abduh – Pesantren Al-Zaytun Sesat – Darul Falah 2001 Bab 2 Kesaksian Ules Suja’i, VCD Al Zaytun –gate liputan Metro TV, 2002.

Konspirasi Neo Orba: Mega, Hendro & NII Al-Zaytun 04 BAB – III ADA HUBUNGAN APA ANTARA BIN (BADAN INTELEJEN NEGARA) DAN MA’HAD AL-ZAYTUN? Oleh Umar Abduh

Umar Abduh Suatu pengetahuan dan penginderaan boleh saja berbeda dalam sudut hal pandang maupun hasil kesimpulan, sekalipun obyeknya sama. Akan tetapi hasil beda kesimpulan tersebut tentu hanya bersifat kualitatif dan fakultatif saja, tidak mungkin bentuk perbedaan tersebut akan bertolak belakang. Apa yang dilakukan para peneliti dari berbagai lembaga resmi maupun swasta dalam melakukan investigasi dan kajian terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun maupun jaringan gerakannya telah menghasilkan dugaan dan kesimpulan hampir sama. Para peneliti tersebut, baik yang swasta maupun yang resmi mungkin bila diminta bersepakat menyatakan keberadaan dan madlarat yang bisa ditimbulkan oleh Ma’had Al-Zaytun dan jaringan gerakannya, mereka pasti Ijma’ (keputusan mereka pasti akan sama) Namun alangkah naifnya, bila sejak dahulu atau sampai sekarang hasil kesimpulan dari penginderaan dini sebuah Badan Intelejen yang canggih milik Negara (BIN) terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun beserta jaringan gerakannya justru berbeda bahkan bertolak belakang dengan Ijma’ hasil penelitian, kajian dan investigasi dari beberapa lembaga pemerintah sendiri maupun swasta ? Mungkin bila kebijakan BIN dan Hendro ini dilakukan pada decade 1970 masyarakat tak menganggapnya sebagai hal yang naïf, karena masa itu era Ali Murtopo dan Soeharto. Posisi BIN, baik di bawah Hendro atau di bawah siapa dan pihak mana saja bila tidak sependapat dengan hasil Ijma’ temuan dan rumusan tentang fenomena kontroversi keberadaan Ma’had Al-Zaytun, semestinya mampu mengajukan bukti-bukti primer maupun sekunder secara bertanggungjawab. Artinya bukti-bukti yang dimiliki BIN tersebut bisa diuji kebenaran maupun akurasi – validitasnya. Masyarakat dan pihak-pihak yang berkompeten bisa meminta dan melakukan konfirmasi langsung kepada pihak peneliti swasta maupun pemerintah seperti, koordinator korban Al-Zaytun LPDI-SIKAT, LPPI, FUUI, Tim Komisi Fatwa MUI, Tim LITBANG DEPAG bekerjasama dengan INSEP untuk dipertemukan secara langsung dengan para korban dan mantan aparat teritori NII, anggota TIBMARA atau GARDA MA’HAD maupun yang lain. Sikaap pembelaan, bantahan dan atau apriori yang dilakukan BIN dengan tanpa menyertakan bukti primer maupun bukti sekunder, patut dinilai sebagai sikap dan tindakan yang bersifat kekanak-kanakan atau justru menunjukkan kebodohan, kejahatan dan kesewenangan, Hendro lahir telat ? Namun itulah sikap dan kebijakan oknum kepala BIN Hendropriyono dan para deputy yang menyertainya. Apalagi Hendro mengaku mewakili presiden Megawati namun berbicara absurd dan ngaco. Ada apa sebenarnya dengan Hendro dan BIN ? Kenapa seorang kepala BIN bisa membuat pernyataan naif seperti ini: “I am your friend in need, so I have to be a friend indeed”.

Seorang sahabat sejati harus pada saat-saat dibutuhkan. Dan bukan pada waktu senang, sudah jadi kayak begini baru dateng. Nah Saya tetep membela!! Dan bukan saya sendirian. Banyak juga. Saya akan perkenalkan satu per satu. Saya didampingi oleh Deputi (Wakil Kepala) Produk Intelijen: Bey Sofwan. Kemudian juga Mayor Jendral (Pol.) Atok Rianto beliau mantan Kapolda Kalimantan Selatan. Kemudian Sekretaris saya adalah Saudara Muaman Rachman. Kemudian Kolonel Abdul Mutalib Ambong. Direktur Luar Negeri BIN: Sukrisno. Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri: Joharman. Ini semua Badan Intelijen Negara adalah Saudara-saudara Bapak /Ibu sekalian, diterima atau tidak diterima… mendaftar sebagai Saudara dan pengikut Al-Zaytun.” Saya membela kawan saya yang benar dan membela AL-ZAYTUN. Semasa Saya masih kuat dan ada kuasa – begitu harusnya iman kita bukan? – Dengan tangan, kalau ini nanti tidak bisa, dengan mulut, kalo tidak bisa baru dengan doa. Tapi semasa masih bisa dengan tangan saya hajar siapa yang mau menghujat terus!!! Sikap Pandangan Umum Terhadap Pernyataan dan Ancaman Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 Beredarnya VCD liputan kehadiran Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 maupun yang beredar melalui pemberitaan Majalah Medium edisi Oktober 2003 telah muncul beberapa komentar dan tanggapan dari para pihak yang tersangkut baik langsung maupun yang tidak langsung dengan statemen dan ancaman Hendro dalam peristiwa langka namun memalukan tersebut. Terlebih sikap dan pernyataan Hendropriyono selaku kepala BIN menyatakan sebagai mewakili presiden Megawati. Menurut pendapat umum, pernyataan sumpah serapah Hendro selaku kepala BIN dan mewakili presiden Megawati saat hadir di Ma’had Al Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 tak lebih sebagai pernyataan dengan bobot intelejen klasifikasi E-5. Uniknya hal tersebut justru dilakukan oleh seorang kepala BIN Hendropriyono. Sebagai publik figure, Hendro dikenal sebagai tokoh dan pejabat Negara, yang dimaklumi tidak memiliki basis dan background agama, apalagi background keshalihan atau keulama’an. Karena itu pernyataan dan sumpah serapah Hendro menurut logika ilmu dan iman, sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Namun bila ditinjau secara politik, hukum dan konstitusi ketatanegaraan atau moral, peristiwa kehadiran Hendro di Ma’had Al-Zaytun dan implikasinya harus dikaji serta disikapi secara adil, serius dan disoal secara proporsional, tidak boleh berlalu dan dibiarkan. Bagi komunitas peneliti dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta Ormas Islam yang peduli terhadap bahaya sebuah organisasi kesesatan, demikian halnya segenap instansi yang berwenang di bidang hukum (polisi dan kejaksaan) Departemen Agama dan MUI serta Polkam, sebetulnya patut bersyukur dengan munculnya sikap dan arogansi serta pamer kejumawaan yang dilakukan Hendropriyono saat hadir di Ma’had Al Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 tersebut. Selain Hendro menyebut sendiri secara jelas dan terang-terangan kapasitasnya sebagai kepala BIN sekaligus mewakili presiden Megawati, secara jelas dan telanjang Hendro selaku kepala BIN menyatakan telah berpihak menjadi pengawal dan backing Al Zaytun. Menurut sikap dan pandangan umum terjadinya peristiwa dan preseden buruk berkenaan dengan statemen absurd yang keluar tanpa kontrol dari mulut Hendro di Ma’had Al-Zaytun pada tanggal 14-15 Mei 2003, memunculkan berbagai tinjauan, hal itu perlu dilakukan demi memperoleh pandangan yang adil, jernih dan menyelesaikan persoalan.

Berbagai Tinjauan Terhadap Pernyataan dan Ancaman Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 Peristiwa kehadiran Hendropriyono dalam kapasitasnya sebagai kepala BIN sekaligus mewakili presiden Megawati ke Ma’had Al Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 merupakan fenomena langka. Inilah gambaran absurd dari sebuah praktek penyelenggaraan Negara yang carut marut. Apalagi jika penilaian tersebut menggunakan dasar tinjauan berbagai disiplin ilmu ketata negaraan, ilmu pemerintahan atau menurut proporsi undang-undang, konsep, fungsi serta peran Badan Intelejen Negara. Tinjauan dari berbagai sudut pandang dan disiplin terhadap fenomena langka dan absurd dari praktek penyelenggaraan Negara, pemerintahan dan Intelejen rezim Mega-Hamzah saat ini dianggap urgen dilakukan, mengingat sikap dan kebijakan politik dalam negeri pemerintah Mega-Hamzah, yang dengan dalih perang melawan terorisme dan menerbitkan Perpu I dan II tahun 2002 diskriminasi hukum dan tindakan sewenang-wenang telah terjadi terhadap komunitas tertentu di kalangan organisasi dakwah, pergerakan dan pesantren. Di satu sisi pemerintah begitu tegas menyikapi dan mengambil kebijakan secara kritis, menindak dan mengadili para pihak (individu maupun organisasi) sekali pun hal itu baru diduga terkait dengan tindak terorisme atau hanya diduga terkait dengan organisasi JI (Jama’ah Islamiyah) pihak kepolisian langsung menangkap dan memperlakukan secara sewenang-wenang, melanggar hukum dan HAM. Sementara di lain pihak pemerintah terutama BIN dan Kepolisian seakan dengan sengaja mengambil sikap dan tindakan kebijakan tutup mata, membiarkan atau bahkan terang-terangan melindungi dan menjadi backing terhadap individu, komunitas atau organisasi, pergerakan dan pesantren yang secara aqidah, moral, perundangan, hukum dan politik telah dianggap salah, menyimpang dan bermasalah. Sikap dan kebijakan BIN dan pemerintah tersebut sungguh sangat bertentangan dengan prinsip dan amanah undang-undang, namun hal itu sudah terjadi sejak era rezim Orde baru. Hingga Orde Reformasi saat ini pun pemerintah dan BIN ternyata masih tetap konsisten dalam hal diskriminasi, tutup mata melakukan pembiaran bahkan terang-terangan melindungi dan menjadi backing organisasi, gerakan dan pesantren yang berpaham sesat dan terlarang tersebut. Sejak Orde baru, kebijakan melindungi, memelihara dan membacking berbagai gerakan sesat memang dilakukan dan hal itu berlangsung secara sistematis. Seperti terhadap gerakan Darul Hadits atau Islam Jama’ah, LEMKARI atau LDII, gerakan NII yang bermakas di Ma’had Al Zaytun, gerakan Ahmadiyah dan masih banyak lagi yang lain. Kebijakan diskriminatif seperti ini jelas bukan sekedar preseden buruk atau cerminan sikap kebijakan sosial politik yang menyimpang dalam sistem penyeleng garaan Negara. Fenomena penyimpangan kekuasaan seperti ini lebih menunjukkan sebagai bukti dari ketidakbecusan pemerintah menjalankan kekuasaan sebagaimana diatur dan diamanahkan undang-undang. Karenanya hal ini merupakan kategori tindak pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara Negara. Pernyataan dan Ancaman Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 Menurut Tinjauan Hukum dan Disiplin ilmu serta Aturan Ketatanegaraan. Berdasarkan hukum dan disiplin ilmu ketatanegaraan, prinsip penyelenggaraan Negara dan pemerintahan seharusnya mengacu kepada berbagai peraturan pemerintah, juklak (petunjuk pelaksanaan) dan hal-hal yang bersifat protokoler dan teknis, semuanya harus mencerminkan tertib administrasi, kordinasi polkam, tertib anggaran dan sebagainya. Menurut ketentuan hukum dan disiplin penyelenggaraan kekuasa -an Negara seperti disebutkan di atas, kehadiran dan keberadaan rombongan BIN di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 yang resmi mengatasnamakan kepala BIN (Badan Intelejen Negara) dan mewakili kepala negara Republik Indonesia presiden Megawati, Hendro tidak dibenarkan mengeluarkan statemen yang tidak bertanggung jawab apalagi mengucapkan kalimat pelecehan, penghinaan, ancaman dan sebagainya. Berdasarkan peraturan pemerintah, juklak dan protokoler maupun teknis atau tertib administrasi, kordinasi polkam, anggaran dan sebagainya, seluruh kegiatan yang berkaitan dengan kehadiran Hendropriyono ke Ma’had Al Zaytun pada tanggal 14-15 Mei 2003 yang mengatas -namakan kepala BIN sekaligus mewakili presiden Megawati telah layak

dimintakan pertanggungan jawab. Pertama melakukan konfirmasi kepada Badan Sekretariat Negara. Kedua, melakukan konfirmasi kepada presiden Megawati. Namun melihat sikap diam dan tindakan pembiaran yang dilakukan Megawati, baik selaku pribadi maupun sebagai presiden terhadap kontroversi sepak terjang Hendro selaku kepala BIN sebagaimana terjadi selama ini, Mega pun layak diminta pertanggungan jawab. Megawati sebagai presiden sejak Agustus 2001 sebetulnya sudah mendapat laporan tentang kontroversi Ma’had Al-Zaytun dari berbagai pihak dan instansi yang berwenang Polri, Depag dan MUI maupun masyarakat swasta. Selanjutnya Hendropriyono baik selaku pribadi maupun sebagai kepala BIN, demikian pula Megawati Soekarnoputri selaku kepala negara telah layak diadukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara sehubungan dengan dugaan atas kebohongan publik yang telah dilakukan. Diantaranya meneliti kebenaran atau keaslian surat tugas untuk mewakili kehadiran presiden RI ke Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 dan beberapa prosedure lainnya. Langkah selanjutnya mengadukan dan mengajukan Hendropriyono baik selaku pribadi maupun sebagai kepala BIN kepada Lembaga Ombudsmen dan Badan Kepolisian Negara serta Lembaga Legis latif (DPR-MPR) berkenaan dengan dugaan tindak penyalahgunaan wewenang sebagai pejabat Negara dan kepala BIN yang melakukan tindak pembelaan dan dukungan terhadap gerakan kriminal, sesat dan makar NII – Ma’had Al-Zaytun dalam waktu yang sama diduga telah melakukan tindak pelecehan dan pengancaman terhadap pihak-pihak tertentu yang sebenarnya wajib didukung serta diberikan perlindungan. Pernyataan dan Ancaman Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 Menurut Konsep Fungsi dan Peran Organisasi Intelejen Negara. Berdasarkan konsep baku fungsi dan peran intelejen terdapat beberapa definisi yang lazim berlaku atau dipahami masyarakat penyelenggara Negara, pemerintahan dan perusahaan. Intelejen di kalangan ilmuwan dikenal sebagai kegiatan organisasi yang dibentuk dan diperlukan demi kepentingan atau tujuan tertentu demi memperoleh informasi, hipotesa, sintesa tentang sesuatu untuk didayagunakan sesuai keperluan dan bermanfaat bagi kepentingan dan tujuan ilmu dan kemashlahatan ummat manusia, masyarakat bangsa atau negara. Intelejen di kalangan pemerintah dan negara dikenal sebagai organisasi yang dibentuk dan diperlukan pemerintah (Kepala Negara beserta kabinet dan lembaga legislative) untuk tujuan dan kepentingan negara dan bangsa serta dalam rangka pengamanan dan mengambil kebijakan. Keberadaan, peran dan fungsi intelejen menjadi strategis sangat menentukan, sebab intelejen berperan-fungsi menjadi mata dan telinga kepala negara. Dinas Intelejen yang bertanggungjawab, demokratis, tertib hukum, konstitusi dan administrasi adalah memberikan saran dan rekomendasi tentang segala sesuatu berkenaan dengan tugas penyelenggaraan negara – pemerintahan yang berorientasi kepada empat hal: 01. Tanggungjawab penginderaan dini yang dirumuskan dan diselenggarakan dalam rangka kepentingan pengamanan program dan tanggung jawab Negara/pemerintah di bidang pemberdayaan SDM, keamanan dan kesejahteraan rakyat. 02. Tanggungjawab penginderaan dini yang dirumuskan dan diselenggarakan dalam kerangka dan kepentingan pengin -deraan dini bagi penegakan hukum dan keadilan demi menghindarkan terjadinya konflik dalam masyarakat dan bentukbentuk pelanggaran demokrasi dan konstitusi. 03. Tanggungjawab penginderaan dini yang dirumuskan dan diselenggarakan dalam kerangka dan kepentingan untuk menunjang kekuatan dan kekuasaan (pemerintah eksekutif dan legislatif) 04. Tanggungjawab penginderaan dini yang dirumuskan dan diselenggarakan dalam kerangka dan kepentingan pertahanan dan keutuhan Negara.

Untuk kepentingan, tugas dan tanggungjawab tersebut intelejen menerapkan sistem penguasaan lapangan atau medan dengan menggunakan mekanisme struktur pemerintahan yang sudah berjalan dari hulu (tingkat Kelurahan) hingga hilir (tingkat Distrik dan Propinsi) dalam rangka menguasai informasi tentang kondisi obyektif potensi (positif dan negatif) yang terdapat dalam suatu daerah atau komunitas masyarakat secara detil dan akurat. Oleh karena itu Intelejen diberi kewenangan besar dengan fasilitas luar biasa, yang dalam kamus kehidupan sehari-hari dengan semboyan: Tidak ada pintu yang tertutup, tidak ada rahasia yang tak terdeteksi, tidak ada tembok (kekuasaan) yang tidak bisa ditembus, tidak ada tiket yang di cancel dan tidak ada yang boleh tahu gerakan, kebijakan dan rahasia intelejen. Intelejen negara juga mengarahkan tanggungjawab kepentingan negara terhadap potensi positif atau negatif yang dimiliki dan terdapat di negara-negara tetangga yang secara politik ideologis berseberangan. Tugas dan tanggungjawab intelejen selanjutnya diberdayakan untuk diposisikan sebagai bagian dari kepentingan pemerintah dan kepentingan negara dalam rangka memantau jalannya program dan kebijakan pemerintah, untuk keperluan evaluasi dan melihat langsung reaksi yang terjadi di masyarakat atas pemberlakuan program kebijakan tersebut. Setiap sikap pro dan kontra yang muncul dalam masyarakat akibat program kebijakan pemerintah-negara menjadi tugas dan tanggungjawab intelejen lebih lanjut. Intelejen militer dibentuk dan diperlukan bagi kepentingan strategi dan pengamanan wilayah (teritori) negara, penguasaan medan dan menghadapi musuh atau lawan baik di saat aman maupun perang. Intelejen militer berkoordinasi dengan intelejen negara guna memanfaatkan data potensi lapangan yang ada untuk dikembangkan bagi kepentingan lebih lanjut. Di Indonesia penyelenggaraan intelejen militer (BIA atau BAIS) dan intelejen negara (BAKIN atau BIN sekarang) di masa Orde Baru telah keluar dari pakem ketatanegaraan karena berubah fungsi dan perannya dalam prinsip dan konstitusi penyelenggaraan Negara. Kedua institusi intelejen tersebut yang oleh Soeharto digabung dalam satu komando dan satu kepentingan, dalam rangka membangun kekuatan sekaligus melanggengkannya dalam wujud kekuasaan,[01] konsep seperti ini akhirnya lebih popular disebut sebagai konsep militerisasi build-in yang bila dibahasakan menurut Nasution dan Soeharto berubah istilah menjadi Dwifungsi ABRI. Militerisasi build-in itu sinonim dengan Dwifungsi ABRI karena tentara bukan dirancang menjadi profesional. Artinya tentara tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan, tetapi juga fungsi politik dan kekuasaan sipil, hal ini memungkinkan kalangan militer menekuni pofesinya dan tergiur untuk ikut campur tangan dalam soal politik Penyelenggaraan sistem politik kekuasaan negara rezim Soeharto yang menerapkan kebijakan dan pendekatan militerintelejen, membuat orientasi peran dan fungsi standar baku intelejen menjadi berubah total. Seluruh posisi kekuasaan strategis di kabinet diisi oleh jenderal loyalis, demikian halnya di tingkat propinsi dan kabupaten. Organisasi intelejen militer dan intelejen negara menjadi sangat kuat setelah Soeharto menggelar konsep ideologi Pancasila atau nasionalisme sempit sekaligus menerapkan kebijakan stigma dan penghancuran terhadap potensi kekuatan ummat Islam serta kekuatan para rival politiknya secara radikal dan sistematis. Inilah penyimpangan dalam konsep dan penerapan intelejen yang sangat fatal di masa Orba, yang mengedepankan kontrol, karena hanya berorientasi kepada kepentingan kekuasaan-negara dan bukan kepada tanggung jawab pemberdayaan terhadap SDM, keamanan dan kesejahteraan rakyatnya sesuai amanah konstitusi dan prinsip serta disiplin ketatanegaraan – penyelenggaraan negara. Akibatnya konsep pembinaan teritorial menjadi sama dengan konsep penerapan penguasaan sebagaimana yang berlaku dalam daerah operasi militer yang mengharuskan rakyat tunduk kepada pemerintah-negara. Konsep pembinaan juga diartikan sebagai proses penggalangan, pembinaan, penugasan dan penghancuran. Praktek intelejen di lapangan, di era Orde baru justru memeran -kan fungsinya menjadi alat dan penginderaan kekuasaan Soeharto sekalipun tetap mengatasnamakan demi negara (NKRI dan nasionalisme sempit ideologi P4). Soeharto, militer dan intelejen semakin leluasa baik dalam kewenangan (mengontrol sekaligus menteror) maupun sewenang-wenang (merampas kebebasan dan menginjak-injak kedaulatan agama maupun HAM) terhadap rakyat dan musuh politik ideologisnya, yaitu

Islam dan gerakannya. Antara lain melalui program litsus, screening dan monoloyalitas melalui apel kesetiaan dan menandatangani pernyataan (Sapta Marga untuk militer dan Janji Korpri untuk pegawai negeri sipil) sebagai strategi, taktiktehnik pembersihan (sterilisasi) dalam penyelenggaraan pemerintahan dari musuh politik ideologis, Islam dan Komunis. Di masa lalu masyarakat mengibaratkan kekuasaan, fungsi dan peran intelejen rezim Soeharto sebagai alat canggih sekaligus jahat dan biadab, sebab jarum jatuh bisa kedengaran dan tembok pun bisa bicara, akibatnya masyarakat ketakutan. Arti lain kebijakan politik intelejen adalah menjalankan aksi teror mental, dengan menciptakan agen dan informan intelejen dalam jumlah sebanyak-banyaknya ditempatkan di seluruh strata masyarakat, baik yang berbasis Kristen, Kejawen, Aliran Sesat dari elite ormas gerakan Islam sendiri. Tekad rezim Soeharto menggelar program permusuhan dengan Islam dan gerakannya menjadi standar baku strategi militer dan intelejen, selanjutnya diterapkan dalam kerangka untuk menghancurkan potensi perlawanan dan kekuatan purifikasi politik ideologis Islam. Konsep operasi intelejen melalui Koter dan Binter selalu berprinsip dan menerapkan metodologi aksi galang, rekrut, bina, tugaskan dan hancurkan[02] terhadap kalangan tertentu yang dianggap berpotensi berlawanan dan membahayakan ideologi dan kekuasaan negara serta pemerintahan. Adapun prinsip dan operasi intelejen terhadap rival politik ideologis kekuasaan selalu diterapkan prinsip memperlemah dan memprematurekan gerakan dan kekuatan lawan melalui metode susupi, kacaukan, pecah-belah dan lemahkan. Lain halnya terhadap individu-individu potensial dan menonjol, intelejen sangat berkepentingan untuk merekrutnya, tetapi kalau mereka menolak, prinsip intelejen akan menerapkan kebijakan mempersulit dan mempersempit ruang gerak individu target sasaran dengan membuat berbagai kendala dan isolasi baik secara ekonomi maupun akses kordinasi. Namun jika dianggap berbahaya prinsip intelejen akan menerapkan fitnah, stigma dan atau masukkan dalam killing ground. Prinsip, strategi dan terapan intelejen dalam kepentingannya memperlemah dan menghancurkan potensi permusuhan dan kekuatan lawan politik ideologis adalah menerapkan konsep industri manufactur, artinya untuk menguasai musuh, intelejen harus menguasai prinsip yang sama dan berlaku dalam kerja lapangan seperti melakukan eksplorasi, pengolahan, produksi, pemasaran. Eksplorasi diterjemahkan sebagai program-proses penggalangan[03] musuh untuk dijadikan sasaran rekrutmen. Pengolahan adalah program dan proses pembinaan dan penugasan[04], sedang produksi adalah proses seleksi terhadap hasil produk mana yang layak jual dan mana yang reject harus dimusnahkan.[05] Pemasaran adalah proses dan program penempatan produk layak jual ke posisi-posisi potensial dan strategis yang diklasifikasikan sebagai musuh politis ideologis dalam negeri maupun luar negeri. Berbeda dengan prinsip dan konsep intelejen jahiliyah seperti di atas sangat berbeda jauh dengan konsep intelejen yang berlaku dalam sejarah wacana dan harapan ummat Islam (seperti peran dan fungsi intelejen pada zaman Nabi saw dan Khulafa’ yang diidam-idamkan ummat Islam). Dalam Islam prinsip dan kebijakan intelejen hanya dilakukan dalam rangka demi kebaikan rakyat dan perbaikan tanggungjawab secara terus menerus terhadap penyelenggaraan Negara – pemerintahan, sebagaimana 4 orientasi tanggung jawab tugas intelejen yang disebutkan di muka. Sebuah konsep penginderaan dini sekaligus pemantauan dilakukan dalam rangka mendengar dan melihat kondisi objektif dan riil yang dirasakan, dinyatakan atau disuarakan masyarakat, untuk dikaji dan dicarikan solusinya. Sedang untuk menghadapi ancaman yang berasal dari luar negeri, intelejen negara sama sekali tidak ditugasi untuk memata-matai dan mewaspadai atau apalagi sampai bermaksud mengatur negara lain agar jangan berpotensi menjadi musuhnya seperti halnya yang dilakukan Israel, Uni Soviet, Inggris dan Amerika Serikat sekarang ini.

Konsep intelejen negara yang resmi menerapkan kebijakan dan operasi rekayasa terhadap rakyat – bangsanya sendiri dalam rangka memenangkan pertarungan ideology nasionalisme sempit (seperti melalui operasi kooptasi dan konspirasi intelejen: galang, rekrut, bina, tugaskan dan hancurkan) diawali melalui kooptasi, kolaborasi, konspirasi yang berlanjut dengan provokasi-agitasi, pematangan potensi, situasi ketidakpuasan, atau permusuhan masyarakat, bahkan sampai pada tingkat rekayasa bersifat teknis dan taktis dalam aksi destruksi makar terhadap pemerintah, jelas merupakan konsep dan praktek Intelejen yang menyimpang dan sangat keliru. Seperti melakukan propaganda-agitasi, penyesatan informasi dan memberikan sarana (dana, senjata dan amunisi) memberi peluang kepada kalangan tertentu untuk melakukan kejahatan kriminal, makar, terorisme kemudian mendorong dan menggiring sekaligus menjebak mereka, sebagian diantaranya dilindungi dan sebagian dikorbankan. Prinsip penyelenggaraan negara seharusnya berpegang teguh pada perundangan dan disiplin koridor dan zona kompetisi politik, kommited terhadap prinsip Agama, HAM dan Demokrasi serta harus menerapkan dan berpegang pada tanggungjawab moral yang elegan dan edukatif ketika bersaing dalam pertarungan (persaingan) ideologis. Lebih-lebih terhadap sesama elemen bangsa, sosio politik yang sama-sama ikut memerdekakan bangsa Indonesia serta membangun NKRI ! Jika kepribadian para penyelenggara negara dan pemerintahan sejak awal sudah memiliki komitmen kemanusiaan yang benar dan murni, memiliki keinginan baik bagi pembangunan sistem kemanusiaan, politik, bangsa negara secara bertanggung jawab sudah barang tentu praktek intelejen dan sikap nasionalisme penguasa tidak akan terjebak dalam ekstrimisme sempit, radikal yang kejam dan sadis terhadap warga masyarakat dan saudara sebangsanya sendiri. Sebuah tragedi yang tragis dan ironi dalam pembangunan politik ideologi penyelenggaraan Negara, karena secara sadar telah melupakan sekaligus sengaja melakukan penyimpangan terhadap pakem penyelenggaraan system politik dan ketatanegaraan. Padahal prinsip moralitas elegan, edukasi memberdayakan dan kepeloporan, taat, disiplin terhadap koridor demokrasi dan HAM merupakan syarat mutlak, sebagai tanggungjawab setiap penyelenggara kekuasaan Negara, baik dalam membangun bangsa dan negara sekaligus dalam waktu yang sama menyadari bila hal itu menjadi hak seluruh rakyat yang harus ditunaikan. Potret dan praktek politik intelejen sebagaimana yang diterapkan Orde baru memang harus diakui memiliki seni dan citarasa tinggi atas perannya menjadi dalang dalam rekayasa, pembodohan, pembusukan melalui budaya korupsi dan pemiskinan, kejahatan dan kesewenang-wenangan. Yang menjadi persoalan kenapa rezim reformis saat ini justru juga cenderung memilih gaya, langgam dan kebijakan sistem politik intelejen yang sama dengan semangat dan potret Orde Baru yang masyhur dalam keburukan dan kejahatan ? Apakah hal ini mengindikasikan posisi dan karakter intelejen Negara dengan gaya dan karakter Orde baru belum berubah, sehingga fungsi dan peran intelejen secara efektif masih mendikte dan selalu berupaya mengendalikan pemegang dan penyelenggara kekuasaan ? mari dibuktikan. Praktek fungsi dan peran intelejen di masa Orde baru Selama hampir 4 (empat) dasawarsa penerapan strategi militer dan intelejen Indonesia tidak berpihak kepada eksistensi, hak dan kepentingan rakyat, tetapi hanya dalam rangka membangun infra struktur, memperkuat dan melanggengkan posisi kekuatan politik, ideologi nasionalisme sempit dan kekuasaan yang sewenang-wenang yang berakibat menyeret pemerintah terjebak ke dalam kebijakan politik – intelejen kooptasi, kolaborasi dan upaya pemandulan hingga adu domba terhadap setiap potensi kekuatan rakyat atau gerakan yang terdapat dalam tubuh bangsa. Pertimbangan dan kepentingan politik ideologis nasionalisme sempit itulah yang membuat strategi militer dan intelejen bila ditinjau berdasarkan prinsip kemerdekaan, menurut konstitusi negara dan tujuan pembangunan disebut sebagai sikaptindakan yang sangat bertentangan dengan amanah konstitusi dan pembangunan, melanggar HAM dan demokrasi serta

memperdaya agama. Akibatnya pemerintah tidak berpihak kepada rakyat bahkan justru menjadi otoriter, inilah yang akhirnya melatari kultur mental-intelektual dan karakter tiga elemen negara yaitu militer, intelejen dan pemerintah. Karena itu ketiga elemen negara Republik Indonesia merasa berat untuk menggeser tekad dan keputusan atau kebijakan sebagai rezim totaliter warisan Orde baru apalagi pihak militer sudah terlanjur memposisikan diri sebagai tulang punggung dan penentu mind control sekaligus master mind bagi penyelenggaraan negara Kesatuan Republik Indonesia melalui konsep Dwifungsi ABRI atau Komando Teritorial dan Pembinaan Teritorial serta renstra (rencana strategis) Hankam dan Kamdagri tahun 1974-1978 yang berpuncak pada program Opstib dan Opsus yang secara praktis tetap berlanjut hingga sekarang. Dwifungsi Sebagai Politik Totalitarian & Cermin Militeristik Dasawarsa pertama rezim Orde baru merupakan puncak aksi program penyatuan komando dan kekuatan antara satuan operasional sebanyak 420 kompi, aparat teritorial sebanyak 255 Kodim dengan 1300 Koramil dan Intelejen dalam Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pusat dan Badan Pelaksana tingkat Kodam atau Laksusda. Konsep Dwifungsi ABRI selanjutnya diisi dengan nafas militerisasi build-in melalui dua wajah yaitu Dwifungi teritorial dan struktural. Dwifungsi teritorial terwujud dalam bentuk struktur birokrasi sipil dan militer yang hirarkis dan pararel dari pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/ kota, kecamatan sampai kelurahan / desa. Mendagri adalah pengendali hirarki birokrasi sipil bertanggung jawab kepada presiden. Pararel dengan hirarki birokrasi sipil adalah hirarki militer dari Dephankam /Mabes TNI, Kodam, Korem, Kodim, Koramil dan Babinsa. Menhankam dan Panglima TNI adalah pengendali utama hirarkhi militer yang bertanggung jawab kepada presiden. Militer selalu nimbrung dalam pengendalian pemerintahan di tingkat kabupaten dengan tampil dalam Muspida yang terdiri dari Bupati, Dandim, Kapolres, Kajari, dan Kepala Pengadilan. Di kecamatan ada Muspika yang memberi ruang bagi Danramil dan Kapolsek untuk ikut mengontrol pemerintah dan rakyat. Dwifungi skruktural hadir dalam bentuk kekaryaan TNI/Polri atau keterlibatan mereka dalam jabatan sipil. Hampir semua jabatan sipil yang strategis dimasuki militer baikdi wilayah eksekutif (dari gubernur sampai dengan lurah/ kepala desa) maupun legislatif (MPR, DPR sampai DPRD II). Dalam birokrasi sipil terdapat pula Ditjen Depdagri, Ditsospol dan Kantor Sospol sebagai aparat intelejen sipil dan aparat ideologis untuk melakukan indoktrinasi kepada masyarakat dan regulasi terhadap aktivitas politik dan sosial. Dwifungsi ABRI tidak hanya merambah bidang politik dan kemasyarakatan, tapi juga sampai bidang ekonomi. Salah satu bentuk konkretnya berupa “premanisme”. Dwifungsi menjadi ancaman serius bagi demokratisasi keamanan dan bahkan stabilitas sosial-politik. Analisis ini bertolak belakang dengan ideologisasi Dwifungsi ABRI yang justru mengandaikan ABRI sebagai stabilisator dan dinamisator. Meski pada masa Orde Baru stabilitas nasional relatif mapan, tapi bersifat semu karena diikuti dengan matinya demokrasi, merajalelanya kekerasan, rekayasa politik dan intelejen serta kuatnya supremasi militer, sementara elemen-elemen sipil tetap dalam posisi lemah. Dengan program inilah antara kebijakan politik pemerintah, intelejen dan militer maupun pelaksana politik di lapangan menjadi tidak bisa dibedakan lagi. Apalagi setelah program tersebut diterapkan sampai ke tingkat Koramil dan Polsek (tingkat Kecamatan) dan Babinsa (Badan Pembinaan Desa) dan BINMAS. Di bidang keamanan, kehadiran militer terlihat dengan melembaga -nya intervensi Sistem Hankamrata. Semua elemen masyarakat lokal dilibatkan dalam pemeliharaan keamanan dan pertahanan di wilayah masing-masing di bawah “pembinaan” polisi dan tentara. Pembentukan Babinsa, Binkamtibmas, Hansip, Kamra maupun Siskamling merupakan perwujudan dari sistem Hankamrata. Intervensi Hankamrata telah membentuk pola hubungan antara masyarakat dan militer/polisi di dalam mengelola masalah keamanan dan meciptakan pola ketergantungan masyarakat terhadap militer/polisi di bidang keamanan dan politik serta ekonomi. Di sini tentara dan polisi menjadi banyak terlibat dalam menangani masalah keamanan di desa. Dalam kesadaran

semu warga masyarakat, tentara dan poIisi tidak berbeda jenis profesinya, tetapi hanya berbeda tingkat PoIisi menangani masalah keamanan yang bersifat mikro misalnya masalah kriminal kecil, sedangkan tentara menangani keamanan yang bersifat makro, misalnya keributan massa yang dapat membahayakan stabilitas sosial-poIitik di desa. Polsek kerap melakukan pembinaan terhadap siskamling untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan warga di bidang keamanan. Koramil dan Babinsa banyak berurusan dengan upaya mewaspadai kelompok yang membahayakan negara seperti para bekas anggota DI-TII atau Muslim Fundamentalis (ektrem kanan) dan PKI (ektrem kiri). Pembinaan militer/tentara kepada warga desa dalam menangani keamanan berdampak pada melemahnya kesadaran terhadap hak dan tanggungjawab mereka dalam menangani masalah yang sebetulnya dapat diselesaikan dalam level dan antar komunitas. Akibatnya berbagai gerakan baik yang berbasis agama, ekonomi dan bisnis maupun keilmuan menjadi target sasaran kooptasi, stigma, konspirasi dan kolaborasi. Karakter dan keberadaan militer, intelejen dan pemerintah Orde baru sebagai dalang (Master mind & Mind control) kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya aman atau rusuh hingga pers dan kampus justru menjadi kebanggaan atau trade mark. Sehingga tidak satu pun jenderal dari kalangan TNI AD khususnya (kecuali jenderal yang berani membelot kepada Soeharto) yang hari ini memiliki kesadaran dan rasa malu ketika mengekspresikan sosok keberadaan dan ambisinya sebagai Master Mind & Mind Control atas rakyat dan NKRI sekali pun dengan bahasa klise, tidak jelas dan ngambang. ” Bagi TNI, Merah Putih, Pancasila-UUD’45 dan keutuhan wilayah NKRI adalah sesuatu yang final dan tidak bisa ditawar, karena ini amanah jenderal Besar Soedirman” Beberapa individu jenderal memang ada yang berbeda bersikap dengan konsep terapan yang menyimpang tentang fungsi dan peran intelejen yang digelar Soeharto dan menganggap kebijakan itu sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan, akan tetapi keberadaan mereka nyaris tak berdaya, karena hingga saat sekarang mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Secara politik, budaya dan pergaulan mereka mungkin bisa dinilai bersih dan mungkin selamat dari kutukan akibat buruk kejahatan peran dan fungsi intelejen yang digeser Soeharto tersebut, namun secara hukum, moral dan undang-undang mereka tidak bisa menghindar dari tanggungjawab kolektif, karena sikap mereka yang membiarkan kekeliruan tersebut terus berjalan dan belum ada satu pun upaya yang dilakukan secara konkret untuk mencegah atau melakukan pelurusan. Praktek penerapan strategi kooptasi intelejen terhadap peta kekuatan potensi massa dan gerakan yang berbasis agama dalam hal ini Islam khususnya, selama ini dilakukan secara komprehensif dan sangat sistematis. Disebut demikian karena militer (aparat teritori), intelejen dan pemerintah di masa lalu selalu berjalan seiring dalam menggarap target-target dan sasaran operasi kooptasi terhadap tokoh – elite organisasi partai dan massa serta gerakan politik. Operasi dan program kooptasi, konspirasi sekaligus stigma yang diarahkan kepada partai dan gerakan yang dianggap memiliki potensi ekonomi, politikideologis bisa menjadi ancaman atau berlawanan selanjutnya digiring ke dalam aksi dan gerakan subversif, kekerasan, teror dan kriminal. Operasi dan program kooptasi sekaligus stigma yang dilakukan intelejen di masa otoriter Orde Baru terhadap kekuatan politik partai dan gerakan berbasis Islam boleh dikata nyaris tidak ada yang lolos dari strategi dan taktik managemen konflik dan konspirasi intelejen yaitu, rangkul dan jaring atau galang, rekruit, bina, tugaskan dan binasakan dalam adu domba, fitnah dan jebakan stigma. Taktik dan strategi kooptasi, konspirasi, stigma dan adu domba terhadap gerakan Islam yang dilancarkan intelejen Orde Baru telah berlangsung selama hampir 4 (empat) dasawarsa terbukti sangat efektif dan berhasil membonsai dan menggembosi gerakan Islam maupun segenap tokoh – elite hingga anggota sekaligus sebagai sasaran tembak. Jika di awal Orde Baru para pimpinan dan elite gerakan NII (Abu Daud Beureueh, Danu M Hasan, Ateng Djaelani, Hispran, Adah Djaelani, Tahmid Kartosuwiryo dan kawan-kawan) bisa dikooptasi kemudian dijebak dalam konspirasi dan akhirnya distigmatisasi, begitu pula dengan para tokoh dan elite partai PPP melalui John Naro dan Mintareja, maka bagaimana dalam ormas Muhammadiyah, NU, DDII, Al Irsyad PSII, PII, GPI dan sebagainya ? Demikian halnya yang terjadi terhadap tokoh pimpinan dan elite

gerakan sesat Darul Hadits / Islam jama’ah / LEMKARI / LDII, gerakan Ahmadiyah, Tarekat Kadirun Yahya, Jama’atul Muslimin (Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah) gerakan sesat NII Al-Zaytun dan gerakan sesat lainnya. Di masa pertengahan hingga akhir Orde Baru, strategi dan kebijakan kooptasi, konspirasi, stigma dan adu domba militerintelejen terhadap gerakan, ormas dan partai Islam tetap tidak beringsut dalam peran dan eksistensinya sebagai dalang. Hampir seluruh tokoh dan elite ormas, partai dan gerakan Islam telah dan setidaknya pernah terkooptasi militer dan intelejen. Tidak terkecuali hingga tokoh elite JI (Jama’ah Islamiyah) dari faksi ideologis yang paling rapi sekali pun atau faksi moderat, apalagi JI faksi liar-radikal pimpinan Hambali dan Zulkarnaen yang berada di bawah kordinasi Abdul Haris yang anggota BIN dan Abu Jihad yang agen BIN. Konsep kooptasi dan penetrasi para planted agent intelejen yang berinteraksi langsung disusupkan, berkordinasi dengan para tokoh gerakan Islam. Di tahun 1968 ketika membangun neo NII pada awal Orde Baru antara tahun 1970-1977 hal tersebut dilakukan secara sangat transparan dan nyaris terang-terangan di bawah kordinasi komando mayor jenderal TNI AD Ali Moertopo dengan pejabat pelaksana harian – lapangan oleh Kolonel TNI AD Pitut Soeharto dengan markas kantor BAKIN di Senopati, Jakarta Selatan dan Gedung BPI jalan Raden saleh 24 Jakarta Pusat. Kebijakan kooptasi intelejen terhadap gerakan NII di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani dan Hispran cs terus berlanjut dan diabadikan melalui Abu Toto AS Panji Gumilang yang kini memiliki kompleks eksclussive berupa Ma’had Al-Zaytun yang juga berfungsi sebagai markas besar dan ibukota NII-NKA (Negara Islam Indonesia-Negara Karunia Allah) Sementara menurut dokumen intelejen BIN sendiri keberadaan Ma’had Al-Zaytun diposisikan hanya sebagai salah satu KODAM diantara beberapa KODAM yang berhasil dibangun oleh gerakan NII. Lain hanya dengan intelejen yang disusupkan guna menghadapi gerakan PII – GPI militerdan intelejen cukup dengan mengirim seorang Letnan Dua Suprapto, didampingi menantu Danu M. Hasan Zainuddin Qari’ yang didukung dengan rekomedasi Danu M. Hasan yang sudah dikenal komunitas PII-GPI. Intelejen untuk menghadapi gerakan Imran (Woyla) malah cukup seorang Kopral TNI AD berbasis Yon Armed, Najamuddin. Agen binaan intelejen untuk menghadapi gerakan NII Warman adalah Hasan Baw dan Prof Parmanto Rektor UNS Solo. Intelejen yang ditugaskan menghadapi veteran Mujahidin Afghan, Moro Ambon yang terorganisir dalam organisasi MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) Laskar Jundullah, KPPSI, Kompak dan JI (Jama’ah Islamiyah) juga cukup seorang Kolonel TNI AU Muhammad Abdul Haris dibantu para agen binaan rekrutan baru seperti Abu Dzar, Umar Farouk, Abu Jihad, Hambali, Zulkarnaen, Zackaria dan sebagainya. Di daerah-daerah justru baru tersadar terhadap strategi dan kebijakan kooptasi, konspirasi dan stigma yang dilancarkan militer-intelejen ketika terbuka kedok Abdul Haris, Al Farouk, Hambali dan Zulkarnaen pasca bom Bali. Terbukanya jaringan mata rantai siapa yang anggota intel dan siapa yang planted agen intelejen dan siapa yang agen musiman maupun siapa yang terkooptasi, telah membuat berbagai scenario operasi intelejen berantakan dan tidak jalan. Keberadaan dan kinerja jaringan mata rantai intelejen berikut kooptasi dan permainannya seperti virus HIV dalam tubuh manusia. Keberhasilan pihak intelejen dalam menginfiltrasi maupun melakukan proses mutasi gen intelejen ke dalam jaringan aksi dan organisasi gerakan JI sehingga mereka tidak sadar telah masuk dalam kooptasi, konspirasi dan berujung stigma intelejen negara melalui manipulasi dan penghancuran. Permainan kooptasi dan infiltrasi intelejen Negara di bawah Hendro semakin telanjang setelah harian The New York Times memberitakan. Dalam harian New York Times By JANE PERLEZ (NYT) 1123 words Late Edition – Final, Section A, Page 4, Column 3. DISPLAYING FIRST 50 OF 1123 WORDS – IN the year before terrorists killed more than 200 people in a Bali night club……….. Dalam edisi Koran NYT itu Hendro juga dengan jelas disebut sebagai The Butcher Of Lampung

Pada tanggal 13 Des 2003 kepala BIN Hendropriyono melakukan lawatan dan sowan ke markas CIA di Washington, Amerika Serikat. Hendro diterima direktur CEO George J. Tenet mendapat pujian sekaligus sindiran pedas yang bernuansa penelanjangan, berita tersebut isi lengkapnya dikutip satu alenia sebagai berikut. “Earlier this month, he met in Washington with the director of central intelligence, George J. Tenet, and White House officials, and according to an American official he was shown appreciation for his “leadership from the very beginning” in fighting terrorism. Another American official said he gave the general top marks for infiltrating Jemaah Islamiyah but wondered whether he wanted to “manipulate” rather than “crush” the group. Eksistensi, Peran, Fungsi dan Kinerja Intelejen dalam Timbangan Keberadaan lembaga atau badan intelejen Negara memiliki hak proteksi dan keistimewaan luar biasa dalam aspek kerahasiaan berkenaan dengan aksi tugas dan kegiatan, juga kerahasiaan personil anggota dan organisasinya demikian halnya dengan penguasaan tentang segala hal termasuk informasi ipoleksos -budhankam baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Reputasi dan keberhasilan dinas intelejen Indonesia sudah terbukti hanya bermanfaat bagi penguasa beserta para pejabatnya dan sangat bisa dirasakan baik kejahatan maupun daya rusak dan berbagai dampaknya oleh masyarakat banyak. Beberapa pandangan berkenaan dengan fenomena perubahan artificial, karena hanya berubah pada tataran luar belaka. Keberadaan, peran dan fungsi dinas intelejen di Indonesia, menurut Angel Rabasa, John Haseman dalam buku yang berjudul : The Military and Democracy in Indonesia: Challenges, Politics, and Power, termuat di Bab IV tentang PerubahanPerubahan dalam Fungsi Intelijen Perubahan dalam Fungsi Intelijen.Selain Angkatan Bersenjata (TNI) beserta Kepolisian, institusi-institusi intelijen Indonesia senantiasa menjadi Tonggak Ketiga bagi aparatus keamanan di Indonesia. Di bawah Suharto, fungsi intelijen ditempatkan secara berbarengan dengan berbagai ragam organisasi serupa (a plethora of organizations), di mana yang paling penting di antaranya adalah: BAIS (Badan Intelijen Strategis), yang bertangganggungjawab atas intelijen militer dan intelijen asing (melalui kontrol BAIS atas seluruh attaché Pertahanan Indonesia), BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) pasca lengsernya Suharto. Sebagai tambahan, masing-masing KODAM juga memiliki Staf Intelijen yang memberikan laporan via ASINTEL KSAD dan kemudian ke Panglima TNI. Dalam tahun-tahun penghujung masa kejayaan Suharto, para personil BAIS serta BAKIN juga menduduki posisi di BAKORSTANAS (Badan Koordinasi Pemantapan Stabilitas Nasional), yang dikepalai oleh Panglima ABRI, yang mengantisipasi segala ancam an politik atas rejim Suharto. Setelah kejatuhan Suharto, BAKORSTANAS kemudian turut dibubarkan (sungguh pun para staf mereka tetap dipertahankan di pos-pos mereka yang semula [?]). Serta garis komando dalam komunitas intelijen – yang semasa ORBA Suharto terlebur dalam pribadi Presiden – kini menjadi kabur pula. Dewasa ini, Indonesia mengidap kelemahan dari segi mekanisme untuk mengkoordinasikan segenap lembaga-lembaga intelijennya sendiri. Sementara BAIS menyampaikan laporan-laporannya kepada Mabes TNI, BIN menyampaikan laporan-laporannya langsung ke Presiden. Sementara Polri juga – setelah pemisahannya dengan Angkatan Bersenjata – juga kini menyampaikan laporannya langsung ke Presiden. Dalam struktur ini, produk intelijen BAIS dapat disampaikan ke Presiden via Panglima TNI seturut diskresi dari sang Panglima, demikian pula produk intelijen BIN dapat pula disampaikan kepada Departemen (atau Kementerian) Pertahanan melalui Presiden, hal ini berlaku setidak-tidaknya di atas kertas (di tataran teori).[06] Oleh karena itu, struktur intelijen Indonesia secara kasar akan bisa dilihat sebagaimana dalam Tabel 4.1 (garis bersambung menunjukkan garis komando, sementara garis patah-patah menunjukkan garis koordinasi).

BAIS – sebagai dinas intelijen militer – telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam struktur kekuasaan di bawah naungan Suharto. Secara rutin BAIS mengevaluasi loyalitas politik dari segenap pejabat pemerintahan, serta mempraktekkan otoritas vertical yang sedemikan melebar melalui TNI. Secara berkelan -jutan, adalah BAIS pula yang mem-bypass rantai komando operasional dan administratif ABRI. BAIS mencapai masa puncak pengaruhnya di bawah naungan seorang pimpinan militer yang kuat: Leonardus “Benny” Moerdani.[07] Dalam beberapa waktu menyusul tersingkirnya Moerdani, Panglima ABRI sempat diharuskan merangkap pula sebagai Direktur BAIS. Belakangan pada masa bergeraknya arus penentangan terhadap institusi-institusi warisan Suharto yang menandai bubarnya Orde Baru, BAIS ditempatkan di bawah KASUM TNI, seorang yang non-Angkatan Darat, yakni Laksamana-Madya Ian Santosa Perdana kusumah, yang ditunjuk selaku Direktur BAIS (Haseman, 2000). Dalam organisasinya dewasa ini, BAIS memiliki 7 (tujuh) DIREK -TORAT, termasuk (1) [Direktorat A] INTERNAL; (2) [Direktorat B] LUAR NEGERI; (3) [Direktorat C] PERTAHANAN; (4) [Direktorat D] KEAMANAN; (5) [Direktorat E] OPERASI PSIKOLOGIS; (6) [Direktorat F] ANGGARAN dan ADMINISTRASI; dan (7) [Direktorat G] PRODUKSI INTELIJEN. Direktorat yang disebutkan terakhir ini [7], bertugas menyiapkan produk-produk intelijen bagi Panglima TNI. BAIS tidaklah memiliki fungsi operasional. Fungsinya dibatasi pada koleksi (pengumpulan informasi) dan analisis. Sumbersumber intelijen BAIS dalam urusan dalam negeri adalah unit-unit independent yang melaksanakan pengumpulan infor masi dari lapangan dan menyampaikan laporannya langsung ke Markas Besar BAIS, serta unit-unit intelijen yang merupakan bagian organik dari struktur komando teritorial. Segala pelaporan intelijen militer tersebut pada ujungnya akan bermuara pada pucuk hirarki pimpinan militer, Panglima TNI. Tabel 4.1 Struktur Komunitas Intelijen di Indonesia [RAND MR1599-4.1] BIN menyelenggarakan operasi intelijennya (dengan sokongan dari personil intelijen TNI), serta melakukan tugas pengumpulan informasi dan tugas-tugas analitis. Kepala BIN adalah sekaligus juga merangkap sebagai kepala penasihat intelijen bagi Presiden. BIN juga memiliki jaringan intelijen dalam dan luar negeri. BIN melakukan pengumpulan informasi dan pembuatan laporan berkenaan dengan persoalan-persoalan ipoleksosbud-hankam; termasuk pula – tentunya – segala hal yang menyangkut problem terorisme internasional dan subversi. Tidak ada hubungan langsung antara kedua lembaga ini (BIN dan BAIS), sungguh pun para pejabat BAIS dan BIN (di level Staf) bertemu secara berkala, serta melangsungkan relasi-relasi informal secara pribadi, yang amat penting dalam konteks Indonesia. [08] Kegagalan inteliljen Indonesia dalam mendeteksi aksi-aksi kekerasan atau pun dalam mengidentifikasikan sumber-sumber /akar penyebabnya, serta kecurigaan bahwa dinas-dinas intelijen menjalankan agenda-agenda mereka masing-masing, mendatang kan kebutuhan untuk membenahi struktur maupun meningkatkan kontrol pemerintah pusat atas dinas-dinas tersebut.[09] Setelah rangkainan konsultasi dengan pihak parlemen serta militer, pemerintahan Abdurrahman Wahid [berupaya] melancarkan reorganisasi terhadap kinerja intelijen di tahun 2001. Sebagaimana disinggung di muka, BAKIN direstrukturasi dan diganti dengan nama baru: BIN, yang bertanggungjawab kepada Parle -men dan Presiden. Prosedurprosedur juga disusun untuk memberikan fungsi pengawasan/kontrol (over-sight) atas BIN.[10] Bahkan lebih jauh lagi, sungguh pun kemudian Presiden Megawati menganugerahkan posisi Kepala BIN – seorang pensiunan, Letjen. Hendropriyono – dengan status (keanggotaan) di Kabinet; namun [patut dicatat] bahwa sejauh ini masih tidak terdapat mekanisme institusional untuk mengkoordinasikan kerja dinas-dinas intelijen yang ada tersebut, sebagaimana halnya dengan yang terjadi di Amerika Serikat, misalnya. Dinas-dinas intelijen Indonesia juga memiliki kelemahan lain, berupa minimnya otoritas legal untuk mengontrol arus lalulintas keuangan internasional, serta melancarkan tindakan-tindakan lainnya untuk meredam aktivitas-aktivitas tersangka teroris. Para pejabat Indonesia sendiri sebenarnya menyadari juga akan kebutuhan bagi sebuah perundangan Anti-Teroris;

namun sampai dengan bulan Juni 2002, perundangan yang dimaksud masih menggantung pada level diskusi belaka. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu penyususn tulisan ini, Ketua MPR Amien Rais menyatakan keyakinannya bahwa Parlemen akan menggolkan sebuah peraturan/perundangan yang cukup kuat, yang memungkinkan pengambilan tindakan efektif dalam memberantas terorisme. Namun di sisi lain, ia juga kuatir jika UU semacam ini juga bisa dipakai untuk menindas lawan-lawan politik pemerintah, sebagaimana yang pernah terjadi pada era Suharto.[11] Tarik Ulur Regulasi Peraturan Intelejen Melalui Keppres-Inpres Yang menarik untuk diamati adalah konsep peran, fungsi dan susunan organisasi intelejen Indonesia dalam era rezim transisi 1998-2004 pasca lengsernya penguasa Orde baru, lebih khusus di era Gus Dur-Megawati 1999-2004 muncul sekitar 10 keppres (keputusan Presiden) [12] berkenaan dengan penyelenggaraan dinas intelejen. Diawali dengan langkah pertama Gus Dur yang meregulasi keberadaan Dinas Intelejen Negara, dilakukan melalui Keppres No 146 tahun 1999 sebagai perubahan atas keppres no 135 tahun 1999 dalam hal pelaksanaan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud (pasal 4 dan pasal 5)tentang kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja menteri Negara koordinator. Dengan Keppres ini keberadaan Badan Koordinasi Intelejen Negara diregulasi posisinya menjadi di bawah kordinasi Menko polkam. Regulasi keberadaan peran, fungsi intelejen berikutnya, Gus Dur mengeluarkan Keppres no 178 Tahun 2000 yang mene -tapkan tentang keberadaan, fungsi dan peran dinas intelejen sebagai lembaga Pemerintah Non Departemen. Keppres tersebut juga menetapkan susunan organisasi dan tugas lembaga non depatemen bidang intelejen diregulasi menjadi BIN Badan Intelejen Negara melalui (Pasal 22) oleh rezim Mega Deputi BIN disempurnakan menjadi 7 Deputi, melalui Keppres No 62 – 2003 BIN terdiri dari: a. Kepala; b. Sekretariat Utama; c. Deputi Bidang Penyelidikan Luar Negeri; d. Deputi Bidang Penyelidikan dalam Negeri; e. Deputi Bidang Pengolahan; f. Deputi Bidang Pengamanan; g. Deputi Bidang Penggalangan; (Pasal 23) (1) Kepala BIN mempunyai tugas: a. memimpin BIN sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; b. menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas BIN; c. menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas BIN yang menjadi tanggung jawabnya d. membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain; (2) Sekretariat Utama mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan, pembinaan, pengendalian administrasi dan sumber daya di lingkungan BIN; (3) Deputi Bidang Penyelidikan Luar Negeri mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang penyelidikan luar negeri;

(4) Deputi Bidang Penyelidikan Dalam negeri mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang penyelidikan dalam negeri; (5) Deputi Bidang Pengolahan mempunyai tugas melaksana -kan perumusan kebijakan di bidang pengolahan; (6) Deputi Bidang Pengamanan mempunyai tugas melaksa nakan perumusan kebijakan di bidang pengamanan; (7) Deputi Bidang Penggalangan mempunyai tugas melaksana kan perumusan kebijakan di bidang penggalangan; Susunan organisasi dan tugas BIN diregulasi kembali oleh Gus Dur melalui Keppres no 17 tahun 2001 sebagai perubahan atas Keppress 16 tahun 2000 berkenaan dengan pasal 22 dirubah menjadi BIN terdiri dari: a. Kepala; b. Sekretariat Utama; c. Deputi Bidang Penyelidikan Luar Negeri; d. Deputi Bidang Penyelidikan Dalam Negeri; e. Deputi Bidang Pengolahan; f. Deputi Bidang Pengamanan; g. Deputi Bidang Penggalangan; h. Deputi Bidang Hubungan Antara lembaga dan Antar Daerah i. Deputi Bidang Teknologi Intelejen j. Staf Ahli Bidang Politik Dalam Negeri; k. Staf Ahli Bidang Politik Luar Negeri; l. Staf Ahli Bidang Ekonomi; m. Staf Ahli Bidang Sosial Budaya; n. Staf Ahli Bidang Pertahanan dan Keamanan. Pasca lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan, Megawati melakukan regulasi secara cukup signifikan terhadap beberapa Keppres sebelumnya berkenaan dengan peran, fungsi tugas Badan Intelejen Negara. Regulasi berbentuk Inpres itu dibuat setelah Megawati dan Hendropriyono menghadiri KTT APEC di Mexico dan ikut menandatangani kerjasama perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat dan Inggris. Regulasi intelejen melalui Inpres/Keppres Megawati bak membalik begitu saja upaya pembenahan, transparansi dan demokratisasi intelejen yang dilakukan Gus Dur yang mereformasi bidang itu. Inpres/Keppres Megawati tersebut secara signifikan berimplikasi terhadap kinerja BIN yang selama ini berkecenderungan lancang dan liar atau berjalan sendiri, di mana oleh Gus Dur diberi koridor dan di posisikan di bawah koordinasi Menkopolkam. Keppres yang dikeluarkan Gus Dur secara tidak langsung telah mengamputasi watak buruk dan tindakan liar BIN dari payung hukum. Factor inilah yang diperjuangkan BIN agar kewenangan kembali diperoleh secara tak terbatas sebagaimana peran, fungsi dan susunan tugas dan organisasi dinas Intelejen yang eksist di era Ali Murtopo awal Orde baru 1968. Kebijakan regulasi Megawati tentang keberadaan, peran dan fungsi dinas intelejen akhirnya seperti berada di bawah keinginan dan kontrol penuh Hendropriyono yang juga menjabat kepala BIN. Rentetan keluarnya payung hukum untuk mengembalikan keberadaan, peran dan fungsi dinas intelejen menjadi persis sama dengan yang berlaku di zaman rezim Orde baru tersebut dilakukan antara lain :

Melalui KEPPRES NO 3 TAHUN 2002 , yang berbunyi “Ketentuan Pasal 105 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut” : Kepala LPND menyampaikan laporan, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan tanggung jawabnya kepada Presiden dengan tembusan kepada Menteri yang mengkoordinasikan. Kemudian dilanjut melalui INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2002 yang isinya sebagai berikut : MENGINSTRUKSIKAN Kepada: Kepala Badan Intelejen Negara PERTAMA: Di samping tugas pokoknya sendiri sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Keputusan Persiden Nomor 46 Tahun 2002, melakukan pengkoordinasian penyusunan perencanaan umum dan pengkoordinasian pelaksanaan operasi -onal kegiatan intelejen seluruh instansi lainnya, yang menye -lenggarakan fungsi tersebut sebagai bagian atau untuk mendukung penyelenggaraan tugas masing-masing. KEDUA: Mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mewujudkan, membina, dan menjaga keutuhan dan keterpaduan rencana dan gerak operasional intlejen, baik dalam kerangka institusi maupun diantara aparatnya, sehingga seluruh instansi tersebut dapat merupakan satu kesatuan masyarakat intelejen Indonesia yang secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama mampu bekerja secara efisien dan efektif. KETIGA: Melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan cermat dan bertanggungjawab, serta secara berkala atau sewaktuwaktu apabila dipandang perlu menyampaikan laporan kepada Presiden. Regulasi strategis Megawati mengembalikan fungsi, peran dan susunan organisasi dan tugas BIN sebagai LPND (Lembaga Pemerintah Non Departemen) diregulasi menjadi kembali berkuasa sebagaimana keberadaan semula di era rezim Orde baru, regulasi tersebut dilakukan Megawati melalui Keppres No 9 Tahun 2004 dalam pasal 106 : Dalam melaksanakan tugasnya, masing-masing LPND, kecuali BIN, dikoordinasikan oleh Menteri. Inilah regulasi terakhir Megawati yang melepas batas dan rambu atau kebebasan hukum bagi gerak dan operasi dinas intelejen BIN, maka bisa dimaklumi jika BIN di bawah Hendropriyono hendak membangun kembali jaringan kerajaannya, seperti mengajukan RUU Intelejen yang dilakukan sejak tahun 2002. Secara hukum dan perundangan RUU intelejen ini baru sebatas wacana, akan tetapi praktek kinerja dinas intelejen BIN di lapangan sudah berjalan sejak awal Orde baru dan sedikit berkurang karena tertiup angin reformasi. Akan tetapi pasca lengsernya Soeharto kinerja dinas intelejen justru berhasil menggelar berbagai operasi intelejen secara serius dan besar-besaran dalam melakukan penggalangan, kooptasi dan konspirasi terhadap berbagai gerakan Islam, Kristen dan agama lainnya untuk dibinasakan melalui konflik etnis dan agama yang berujung kekerasan dan terror. Berbagai regulasi terhadap keberadaan, peran dan fungsi dinas intelejen dilakukan pada era reformasi tahun 1998-2004 pada dasarnya tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya. Artinya , regulasi-regulasi tersebut sama sekali tidak menghentikan kinerja dinas dan operasi intelejen dari watak dan karakternya yang culas, busuk dan jahat terhadap rakyat dan bangsanya sendiri. Kesimpulan awal dan akhir terhadap kebijakan Megawati sejak ia memangku jabatan sebagai presiden adalah keberhasilannya menegakkan dan menerapkan kembali system penyelenggaraan

Negara yang totaliter dan militeristik sekalipun tetap dikemas dengan jargon demokrasi, yakni Demokrasi PDI-Perjuangan. Memperjuangkan kembalinya supremasi militer dan intelejen ke panggung politik secara demokratis, sepertinya tekad Megawati dan para jenderal yang berada disekeliling kursi kekuasaan. Sehingga sangat tidak mengherankan bila pada 3 bulan sebelum habis masa tugasnya sebagai penguasa Indonesia bersamaan dengan menjelang pilpres ke II digelar, Mega tak merasa malu menyetujui dan atau mengesahkan RUU TNI, sekalipun hal itu bertentangan dengan agenda reformasi dan tak disukai rakyat ! DUA PERSPECTIVE, LATAR BELAKANG FUNGSI & PERAN BIN Perspective dan Latar Belakang Pertama Apabila sejarah keberadaan, track record, penyimpangan fungsi dan peran Badan intelejen Negara ala rezim Orde baru masih berlanjut di masa rezim transisi sebagaimana dijelaskan di atas, maka kehadiran, keterlibatan moral, emosi dan fisik-material Hendropriyono dalam kapasitasnya sebagai kepala BIN di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 adalah sebagai hal yang wajar, karena habitat intelejen Orde baru memang berada pada jalur yang melenceng, khianat dan melanggar amanah konstitusi maupun prinsip penyelenggaraan tatanegara. Artinya, sikap dan kebijakan intelejen Negara bukan sekedar berpihak, memback up dan memelihara berbagai organisasi gerakan sesat – kontroversi seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), Perguruan Mahesa Kurung Al Mukarramah dan NII (Negara Islam Indonesia) dalam berbagai faksi dan sebagainya. Semua organisasi gerakan sesat dan kontroversi itu memang sengaja dibentuk dan atau seizin, sepengetahuan serta menjadi bagian dari program (scenario) dan asset intelejen. Inilah inti masalah duduk perkara berbagai persoalan ipolsoskam (ideology, politik, sosial, budaya dan keamanan) yang kontroversi namun bisa terjadi di Indonesia, tanpa ada yang mempersoalkan. Dengan memahami secara teliti dan benar terhadap latar belakang sejarah keberadaan organisasi gerakan yang berideologi dan berbudaya aneh, menyimpang dan kontroversi maupun yang terkait dengan permasalahan menurut perspective yang jernih dan benar, semoga semua misteri, keanehan dan kemunafikan sikap atau kebijakan public yang didemonstrasikan oknum dan institusi intelejen cq pemerintah dapat dipahami sekaligus diluruskan menurut hukum dan undang-undang. Secara intelejen seluruh keberadaan kegiatan organisasi maupun gerakan massa apapun baik yang berbasis kecil maupun yang besar tidak ada yang luput dari penginderaan dini Badan Intelejen (yang meliputi pantauan dan penyadapan, perhitungan dan counter serta antsipasi). Apalagi penguasaan intelejen terhadap keberadaan sebuah organisasi dan gerakan sekelas LDII, Perguruan Mahesa Kurung Al Mukarramah maupun gerakan sesat NII Al Zaytun, maka persoalan itu bagi Badan Intelejen Negara adalah masalah yang sangat sederhana dan tentu dianggap kecil. Kini hal-hal aneh, tidak lazim bahkan hal yang kontroversi itu pelakunya justru dari pihak Badan Intelejen Negara, seperti yang terjadi terhadap LDII, Perguruan Mahesa Kurung Al Mukarramah maupun gerakan sesat NII Al Zaytun, atau seperti peristiwa kehadiran, keterlibatan moral, emosi dan fisik-material yang didemonstrasikan Hendropriyono dalam kapasitasnya sebagai kepala BIN di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 yang bisa disaksikan dalam VCD. Inilah potret gambaran peristiwa naïf dari seorang pimpinan sebuah institusi Negara yang katanya paling cerdas (BIN) di negeri ini dalam mendemonstrasikan kebodohan struktural, yang dialkukan tanpa perhitungan dan tanpa rasa malu. Demonstrasi kebodohan itu jelas suatu yang direncanakan secara matang sekalipun hanya sekedar demonstrasi sandiwara belaka, atau mungkin pada saat itu Badan Intelejen Negara sedang lupa ingatan, sehingga ketidaksadarannya justru menyingkap aib dan belangnya sendiri di sekujur tubuhnya ? Ataukah karena pihak BIN terlalu yakin dalam menganggap bangsa ini sebagai bangsa yang bodoh, bangsa yang tidak memiliki penguasaan tentang fungsi dan peran institusi intelejen. Emosi bahasa yang didemonstrasikan kepala BIN menjadi begitu mudah dibaca masyarakat awam untuk berkesimpulan :

gerakan NII Al Zaytun pasti milik dan bikinan BIN, maka pantas kepala BIN sampai bisa sewot dan sentimentil. Logika lain juga berkata : Kalau Al-Zaytun dan gerakan NII serta massa pendukungnya bukan milik dan proyek Hendro atau BIN, lalu kenapa kepala BIN harus membuat pernyataan dan ancaman secara arogan seperti itu ? Statemen yang lebih absurd dan tidak bisa ditolong atau dimaafkan juga dinyatakan Hendro “Ini semua adalah Badan Intelijen Negara adalah Saudara-saudara Bapak/Ibu sekalian, diterima atau tidak diterima… mendaftar sebagai Saudara dan pengikut Al-Zaytun.” Statemen seperti ini pasti membuat semua pihak bingung !! Apalagi setelah Hendro dan rombongan besar jajaran BIN dibawa serta, diperkenalkan satu persatu sambil diminta unjuk muka dan berdiri pasang badan: 1. Dari kalangan wartawan: Imam Anshori (mendapatkan penilaian sebagai wartawan yang baik oleh Hendro priyono). 2. Deputi Kepala BIN Produk Intelijen: Bey Sofwan. 3. Mayor Jendral (Pol.) Atok Riyanto (mantan Kapolda Kalimantan Selatan). 4. Sekretaris Pribadi Hendropriyono: Muaman Rachman. 5. Kolonel Dul Mutallib Ambong. 6. Direktur Luar Negeri BIN: Sukrisno. 7. Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri: Joharman (Seraya menawarkan kepada hadirin dengan menyatakan : Kalau kalangan wartawan atau media massa dan para demagog ingin tahu hal sebenarnya tentang Al-Zaytun silahkan bertanya kepada Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri.Yang tidak mau percaya dengan Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri berarti memang hanya bangsa iblis. Kalau tidak mau percaya dengan intelejen, lantas mau percaya kepada siapa lagi? 8. Ajudan Hendropriyono: Zainuddin Ibrahim. Inilah sikap dan pernyataan Hendro sebagai kepala BIN yang selanjutnya mengundang sikap kritis dan menuai banyak pertanyaan: 01. Sebuah statemen dan sikap yang sangat mengherankan, bagaimana mungkin pernyataan semacam ini (atau lebih tepatnya klaim semacam ini) bisa keluar dari lisan dan pikiran seorang pimpinan sebuah lembaga resmi Badan Intelejen Negara (BIN) (?).

02. Pantas dan legalkah sikap dan tindakan Hendropriyono mensubkontrakkan mandat sebuah institusi vital milik negara seperti BIN (yang mandatnya berasal dari rakyat, diemban oleh Lembaga Eksekutif, dan harus dipertanggung jawabkan kembali kepada seluruh rakyat Indonesia) diserahkan kepada Al-Zaytun? Di pihak lain benarkah segenap anggota dan jajaran BIN setuju dan sepakat terhadap klaim pimpin BIN Hendropriyono tersebut (… bahwa semua BIN diterima tidak diterima … mendaftar sebagai pengikut Al-Zaytun). 03. Apakah hukum intelejen, hukum militer maupun hukum dan undang-undang Negara dan pemerintah membenarkan pejabat kepala BIN menggunakan institusi BIN (Badan Intelejen Negara) dan menunjuk Komandan Satgas Operasi Intelejen dalan Negeri untuk bertindak sebagai Publik Relation bagi kepentingan Ma’had Al-Zaytun, yang nota bene sebagai markas besar gerakan makar NII ? 04. Apakah menurut kacamata intelejen (penginderaan dini) Hendropriyono selaku kepala BIN dan segenap aparatnya, tentang keberadaan Ma’had Al-Zaytun telah dianggap sama dengan atau diposisikan sebagai bagian dari Negara atau Badan Usaha Milik Negara atau sebagai proyek Nasional ? Sehingga Hendro dan BIN merasa perlu membuat statemen dan penegasan dalam sambutan yang emosional sekaligus controversial tersebut ? 05. Apakah karena alih-alih Hendropriyono menjabat sebagai pimpinan BIN lantas ia boleh seenak perutnya bermain-main dalam hal penyelenggaraan kekuasaan intelejen dan fasilitas Negara ?

06. Apakah kapasitas moral-intelektual seorang Kepala Badan Intelijen Negara seperti Hendropriyono sudah kehilangan nalar kearifan sehingga sikap dan tindakannya srudak-sruduk dan sembarangan dalam mengumbar statemen dan klaim ? Terutama yang berkenaan dengan hal-hal yang berada di luar kapasitas/kewenangannya sebagai kepala BIN ? 07. Tidakkah Hendropriyono sebagai pimpinan BIN seharusnya menjaga sekuat-mungkin, agar eksistensi dan kewibawaan BIN sebagai insitusi tetap menjadi sebuah lembaga dinas intelejen yang profesional, sebuah dinas intelejen yang secara politis tetap dalam posisi netral, imparsial (tidak memihak) kepada suatu kelompok/gerakan/ormas/partai maupun entitas politik lainnya, kecuali untuk kepentingan dan demi eksistensi negara ? 08. Atau, mungkinkah demi kepentingan-kepentingan sesaat yang sesat dan terselubung (unlegitimate) itu sebagai pimpinan BIN Hendro nekat mengorbankan sekaligus menceburkan institusi vital milik negara baik dengan mempolitisir dan atau menjadikan BIN sebagai kendaraan politik pribadi di luar control/kehendak ”para penggunanya (users) sendiri (Lembaga Eksekutif dan Legislatif). (?) 09. Mencermati daftar sejumlah jajaran BIN yang secara terbuka diperkenalkan satu per satu kepada khalayak ramai dalam kunjungannya ke Al-Zaytun tersebut; Apakah Hendro tidak sadar bila perbuatan tersebut bisa menimbulkan bahaya atau bisa mendatangkan ancaman bagi keamanan /kelangsungan BIN itu sendiri? Tak jadi soal jika Hendro dalam kapasitasnya sebagai Kepala BIN tampil di berbagai forum-forum public, sepanjang tetap memperhatikan batas-batas aturan dan kapasitasnya selaku Kepala BIN. Namun ketika Hendropriyono dengan bangga membuka identitas sejumlah “elite khusus BIN” yang menurut norma dan disiplin intelejen harus bersifat rahasia atau sebagai aktivitas-aktivitas tertutup (under-cover); Dengan sikap dan kebijakan Hendropriyono yang aneh ini tidakkah justru dapat mengancam keselamatan para anak buahnya sendiri? Dalam peristiwa ini apakah Hendropriyono sudah tidak ambil peduli terhadap keselamatan anak buahnya sendiri? Secara makro, adakah Hendropriyono peduli terhadap keutuhan/ integritas BIN sebagai sebuah lembaga dinas intelejen milik negara, agar tetap steril dari penyuapan, pemerasan dan infiltrasi (setelah para elitenya diungkap), atau mungkin bahkan bisa dicelakai oleh pihak-pihak asing, atau siapa pun yang hendak mencelakakan? 10. Sejak awal kepemimpinannya di BIN, sekitar akhir Oktober 2001 sebelum acara Pospenas di Ma’had Al-Zaytun, Hendro sempat mengundang secara tidak resmi terhadap pimpinan sebuah lembaga penelitian aliran sesat (LPPI) disertai seorang wakil SIKAT untuk memutar video berisi kesaksian korban dan beberapa mantan anggota NII Al-Zaytun. Namun dalam kesempatan tersebut kepala BIN, Hendropriyono tidak memberikan tanggapan apapun. Selanjutnya Hendro justru berpesan dengan nada dan gaya bahasa seperti ini : Jangan coba-coba mengaitkan Al-Zaytun dengan keluarga Cendana !! [13] Perspective dan Latar Belakang Kedua Berdasarkan konstitusi dan prinsip penyelenggaraan Negara maupun konsep fungsi dan peran intelejen negara secara professional menurut proporsi hukum, administrasi negara dan undang-undang, kehadiran Hendro yang disertai jajaran deputy BIN dan seluruh rangkaian sikap, pernyataan maupun ancaman yang dilakukan di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 adalah sebuah sikap dan perilaku inkonstitusional, indisipliner, sangat bodoh, memalukan sekaligus terkesan tak bermoral. Eksistensi dan kemampuan Badan intelejen Negara (BIN) tidak pernah diragukan barang sedikitpun, berkenaan dengan informasi dan aktifitas riil di masyarakat baik yang bersifat positif terhadap kepentingan Negara maupun yang bersifat negative atau bertentangan dan merugikan negara. Eksistensi dan kemampuan Badan Intelejen Negara (BIN) juga tidak diragukan dalam memilih kebijakan yang tepat dan strategis berkenaan dengan langkah-langkah operasi pengamanan, infiltrasi (penetrasi-penyusupan) dalam rangka

penumpulan hingga penghancuran terhadap setiap potensi individu maupun gerakan yang dianggap musuh dan bisa merugikan Negara. Kemampuan Badan Intelejen Negara (BIN – dulu BAKIN) telah dibuktikan dengan keberhasilannya menginfiltrasi sekaligus mengendalikan, memecah belah (sebagian tetap dipelihara dan sebagian dihancurkan) terhadap berbagai gerakan Islam seperti gerakan neo NII (Negara Islam Indonesia) sejak tahun 1968, gerakan Jama’ah Imran tahun 1980, gerakan Warsidi tahun 1988, gerakan JI sejak 1992, Al Qaeda sejak nama tersebut dimunculkan Amerika Serikat tahun 2000, terhadap gerakan LDII sejak tahun 1971, gerakan Jamus sejak 1952 dan sebagainya. Demikian halnya terhadap gerakan RMS di Maluku, Kasebul (Kaderisasi sebulan atau Kawan Sebulan) di kalangan Katolik oleh Frater Beek yang berpusat di Klender sejak 1968-1998 selanjutnya berganti nama menjadi Mahda (Mawas Diri Harian) di Lampung, Salatiga dan Muntilan Jawa Tengah sejak 1998 hingga saat ini. Selama lebih 3,5 dasawarsa kemampuan BIN dalam hal penginderaan dini dan pelaksanaan operasi penindakan terbukti mampu menjangkau sampai kepedalaman hutan rimba di Aceh dan berhasil menginfiltrasi serta menumpulkan organisasi Gerakan Aceh Merdeka. Penginderaan dini dan pelaksanaan operasi penindakan BIN juga bisa menjangkau secara tepat dan canggih ke seluruh jaringan Jama’ah Islamiyah baik di Asia Tenggara (Malaysia, Singapore, Thailand, Burma, Filipina dan seluruh pelosok Indonesia) hingga Afghanistan, Pakistan dan Australia. Kemampuan penginderaan dini dan pelaksanaan operasi penindakan BIN juga bisa menjangkau jaringan gerakan Organisasi Papua Merdeka di Irian Jaya, bisa menelisik keberadaan base camp Al Qaeda di tengah hutan Poso, bisa membedakan pesantren mana yang tradisional, mana yang moderat dan mana yang bisa dikaitkan dengan jaringan teroris maupun Jama’ah Islamiyah dan Al Qaeda. Namun kenapa kemampuan BIN di bawah Hendropriyono tidak mampu melihat keberadaan dan apa yang terjadi sesungguhnya di kota Indramayu khususnya berkenaan dengan beroperasinya Ma’had Al Zaytun dan jaringan gerakan yang terbukti memiliki akar filosofi dan kegiatan gerakan riil dari organisasi makar NII Kartosuwiryo maupun NII Komandemen Wilayah 9 yang sudah dikenal kesesatan ajaran dan kriminalitasnya ? Kenapa BIN tidak mampu melihat, tidak mampu mendengar dan tidak mampu merasakan atau berbuat sesuatu dan menggunakan kemampuan intelejensia dalam hal penginderaan dini atau melakukan operasi intelejen, baik untuk mengendus terhadap hakekat maupun melakukan penindakan terhadap keberadaan gerakan NII dan Ma’had Al-Zaytun yang dinisbatkan sebagai ibukota sekaligus markas besar NII ? Kenapa Hendropriyono sebagai kepala BIN begitu yakin dan percaya bahwa gerakan NII dan keberadaan Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panji Gumilang sudah berubah ideologi menjadi Nasionalis ? Mungkinkah karakter gerakan NII ada yang Nasionalis, maksudnya nasionalisme NII ? Kalau NII binaan BIN mungkin ada, namun bagaimana dengan NII faksi AS Panji Gumilang ? Hanya ada dua kemungkinan dugaan yang penyebab terjadinya disfungsi atau lumpuhnya kemampuan BIN dalam hal penyelidikan maupun orientasi fungsi dan peran intelejen sehubungan dengan kasus Ma’had Al-Zaytun dan jaringan organisasi NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang. Kemungkinan pertama, fenomena Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang beserta program dan jaringan kordinasi gerakan yang dimiliki, baik yang legal (dipermukaan) maupun yang illegal (bergerak di bawah tanah) adalah proyek dan kebijakan intelejen Orde baru yang belum selesai dalam rangka mengikat dan melokalisir kekuatan Islam agar tetap dalam bingkai dan kontrol pemerintah (Negara). Kemungkinan kedua, fenomena Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang beserta program dan jaringan kordinasi gerakan yang dimiliki baik yang legal (dipermukaan) maupun yang illegal (bergerak di bawah tanah) hanya permainan politik kubu jendral militer tertentu beserta jaringannya untuk kepentingan mencari peluang biznis, kerjasama ilmu dan kebudayaan serta melancarkan penipuan terhadap pihak asing maupun domestic.

Apapun dalih dan kemungkinan yang menyebabkan pihak BIN tidak mampu menjalankan tanggungjawabnya terhadap fungsi dan peran intelejen dalam melakukan control dan penginderaan dini atau melakukan operasi penindakan sebagaimana yang diamanatkan Negara sebagaimana ketentuan hukum dan konstitusi terhadap fenomena keberadaan Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang beserta program dan jaringan kordinasi gerakan yang dimiliki baik yang legal (dipermukaan) maupun yang illegal (bergerak di bawah tanah) patut diduga sebagai sikap dan tindak penyelewengan dan pelanggaran baik menurut konstitusi, hukum, system admistrasi Negara dan pemerintahan. Demikian halnya menurut kaidah hukum dan undangundang penyelenggaraan intelejen. Apalagi bila pihak BIN secara terang-terangan justru menunjukkan diri mendaftar sebagai pengikut Al-Zaytun sekaligus sebagai backing, memberi garansi perlindungan (proteksi) selanjutnya melakukan pengancaman terhadap berbagai pihak yang bersikap mengkritisi dan menentang keberadaan Ma’had Al-Zaytun dan gerakan sesat NII pimpinan AS Panji Gumilang. Dugaan tindak pelanggaran konstitusi yang dilakukan Hendro selaku pimpinan BIN dan segenap jajaran yang menyertai dalam peristiwa kehadiran dan seluruh rangkaian acara yang dilakukan di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003, adalah didasarkan pada tanggungjawab dan kapabilitas dari seorang pejabat dan pimpinan intelejen Negara yang berbasis militer, mantan pejabat Badan Intelejen ABRI (BIA), mantan Pangdam Jaya dan pangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal TNI-AD, maka secara moral ideologis Hendropriyono masih terikat dengan sumpah prajurit saptamarga dan terikat dengan sumpah jabatan untuk setia kepada NKRI, UUD’45 dan Pancasila. Berdasarkan sumpah jabatan dan saptamarga prajurit tersebut kehadiran Hendropriyono dan seluruh rangkaian acara yang dilakukan di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 yang pada intinya menyatakan secara terang-terangan menunjukkan diri mendaftar sebagai pengikut dan sebagai backing, memberi garansi perlindungan (proteksi) terhadap fenomena keberadaan Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang beserta program dan jaringan kordinasi gerakan baik yang legal (dipermukaan) maupun yang illegal (bergerak di bawah tanah) sekaligus melakukan aksi pengancaman terhadap berbagai pihak yang bersikap mengkritisi dan menentang keberadaan Ma’had AlZaytun dan gerakan sesat NII pimpinan AS Panji Gumilang, dengan demikian integritas dan dedikasi Hendro sebagai kepala BIN harus didiskualifikasikan atau didesersikan. Hendropriyono selaku pimpinan BIN dan prajurit saptamarga patut diduga dan disposisikan sebagai pejabat telah mengkhianati dan melanggar konstitusi Negara UUD’45 karena dengan segaja dan terang-terangan memberikan dukungan, pembenaran dan pembelaan terhadap keberadaan gerakan dan organisasi NII (Negara Islam Indonesia) secara politikideologi bertentangan dengan penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dugaan tindak pelanggaran Hukum dan system admistrasi Negara-pemerintahan serta tata tertib aparatur Negara yang dilakukan Hendropriyono selaku pimpinan BIN dan segenap jajaran yang menyertai dalam peristiwa kehadiran dan rangkaian acara yang dilakukan di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 antara lain mengingat: Menurut ketentuan hukum dan pasal-pasal KUHP, berkenaan dengan gerakan makar (mendirikan Negara dalam Negara) yang dilakukan dan dipimpin oleh AS Panji Gumilang baik dalam rangka melanjutkan cita-cita, methodologi perjuangan ideology NII (Negara Islam Indonesia) Kartosuwiryo maupun berdasarkan methodology lain dan berkedok lembaga pendidikan Ma’had Al-Zaytun. – Lihat kembali bukti data SEBUAH PEMBUKTIAN TERHADAP EKSISTENSI AS PANJI GUMILANG DAN GERAKAN YANG DIPIMPINNYA DALAM BENTUK MA’HAD AL-ZAYTUN DAN ORGANISASI NKA-NII (NEGARA KARUNIA ALLAH NEGARA ISLAM INDONESIA) hasil investigasi dan pembuktian berkat peranserta dan partisipasi berbagai organisasi massa Islam, lembaga Pesantren, LSM, Penulis dan Peneliti, Liputan Media massa cetak dan elektronik serta lembaga resmi Negara (DEPAG, MUI dan MABES POLRI) hal 1537. Tinjauan Aspek Moral terhadap Kehadiran, Pernyataan dan Ancaman Hendropriyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003

Bukti dan indikasi kuat adanya pelanggaran Moral, disiplin intelektual serta intelejen yang dilakukan Hendropriyono selaku pimpinan BIN dan segenap jajaran yang menyertai kehadiran dan rangkaian acara serta statemen yang dilakukan di Ma’had Al-Zaytun tanggal 14-15 Mei 2003 antara lain adalah: Kapasitas Hendropriyono baik sebagai pejabat public maupun sebagai kepala intelejen Negara sangat tidak pantas berbicara dan mengeluarkan statemen sembarangan apalagi berkenaan dengan persoalan Iman (Aqidah). Persoalan Aqidah, Fiqh dan Akhlaqu al Karimah al Islamiyah adalah wilayah para ‘Alim dan Ulama’. Karena merekalah yang mengerti dan menguasai betul setiap persoalan Agama, tentang benar salahnya (sesat dan menyimpang tidaknya sebuah pemahaman). Sebagai Kepala BIN baik menurut hukum dan undang-undang Agama maupun hukum dan undang-undang Negara, Hendropriyono sama sekali tidak berhak, atau punya kewajiban dan tanggungjawab sedikitpun ikut campur tangan melibatkan diri dalam persoalan Agama yang sangat prinsip – fundamental. Seandainya Hendropriyono memiliki penguasaan ilmu atau keshalihan dalam Agama yang bisa disebut lumayan misalnya, namun secara undang-undang, hukum dan aturan main dalam penyelenggaraan Negara, Hendro tetap tidak diidzinkan berbicara tentang ilmu keislaman : keshalihan Iman, fiqh dan akhlaqu al karimah, selama ia masih berada dalam wilayah dan kaitan kedinasannya, kecuali jika ia berbicara secara informal terhadap internal keluarganya sendiri khususnya atau barangkali terhadap internal inner circlenya (anak buah dan kolega) kedinasannya. Namun bila kapasitas Hendro di bidang keshalihan Ilmu, Iman, keshalihan fiqh dan keshalihan perangai, tutur kata serta perilaku ternyata serba minus bin dla’if, hanya bisa asbun (asal bunyi) bahkan banyak yang menyebut Hendro sangat dikenal berperangai dan berperilaku buruk, tetapi berbicara agama dan berani mengeluarkan fatwa seperti yang terangkum dalam khutbah sambutan di awal kedatangannya maupun di tengah dan di akhir keberadaannya di Ma’had Al-Zaytun tersebut ??!! Bunyi rekaman pernyataan Hendro ditranskrip sebagai berikut: Ternyata badai yang saya katakan itu, yang mengatakan bahwa di sekolah yang kita banggakan ini: diajari aliran sesat, dia sendiri yang sesat!! Dan, berbagai macam Tim dikirim. Tim apa saja saya katakan. Sudah banyak dikirim! Dan memang, yang benar itu benar, yang salah itu salah. ……Saya berjumpa dengan seorang Kyai, dan saya bicara, bicara soal Al-Zaytun. Pertanyaan-pertanyaannya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang dia dapatkan dari membaca buku. BUKU-BUKU IBLIS!! Bukunya orang yang iri hati. Bukunya orang yang iri hati!! Mudah-mudahan dia segera bertobat, setelah tahu itu apa al Zaytun. Saya sampaikan. Kita … Farodlo taubata wa harroma isroro … Kita harus bertobat, karena kesalahan dalam menilai apa itu Al-Zaytun. …… Lantas mulai tanya macem-macem. Dia tanya siapa itu Panji Gumilang, siapa itu… Saya bilang yang jelas dia itu sahabat saya, dan dia itu orang yang paling benar di dalam permasalahan ini. Fatwa pembenaran Hendro selaku kepala BIN terhadap ajaran sesat Ma’had Al-Zaytun sebagai ajaran yang benar, demikian pula pernyataan vonis sesat kepada mereka yang melakukan study kritis dan investigasi yang mendalam terhadap ajaran dan aktivitas komunitas Ma’had Al-Zaytun dan yang terkait selama bertahun-tahun, sumpah serapah Hendropriyono terhadap hasil penelitian dan pengkajian tentang Al-Zaytun dan gerakan NII yang berhasil disusun dalam bentuk buku tersebut diberi gelar buruk sebagai “buku-buku IBLIS” sebagaimana terekam dan tertulis di atas. Pernyataan dan pelecehan itu disampaikan Hendro tanpa argument, namun hanya mengutip kalimat plagiat: Dan memang, yang benar itu benar, yang salah itu salah. Argumentasi pembelaan dan pembenaran Hendropriyono terhadap kebenaran (keshalihan ?) AS Panji Gumilang, hanya berdasarkan hasil keyakinannya sendiri melalui sebuah kalimat : Saya bilang yang jelas dia itu sahabat saya, dan dia itu orang yang paling benar di dalam permasalahan ini.

Di lain waktu dalam kesempatan konfirmasi oleh komunitas pers, Hendro tetap istiqamah dengan keyakinan dan pendiriannya yang membela Al-Zaytun dengan paham sesat yang dimilikinya melalui statemen diakui dan dibenarkan sendiri dalam pemberitaan yang dilansir harian Media Indonesia edisi 18 November 2003, yang sebagian isinya antara lain menyebut: “Saya melakukan semua itu dalam rangka membela syi’ar Islam” Menurut kaidah Ilmu, Iman, fiqh, akhlaq serta kecendekiaan Islam, suatu sikap pembelaan dan atau pembenaran terhadap keshalihan seseorang itu telah disyaratkan harus didasarkan hanya karena Allah (menurut prinsip ilmu, ketaqwaan dan keshalihan yang bisa dipertanggungjawabkan) jadi bukan karena asal bunyi dan bukan pula karena ikatan persahabatan sebagaimana argument Hendro yang kebetulan dikenal sebagai pribadi yang “ghairu shalih”. Kesimpulan dari setiap mereka yang arif dan faham terhadap penyimpangan intelektual, akhlaq dan moral yang dimiliki Hendro di atas pasti meyakini bahwa hal itu terjadi karena posisi dan kedudukan Hendro sebagai kepala BIN, sehingga beliau menjadi mudah naïf, terlalu mengandalkan ilmu, kemampuan dan kesetiaan kepada lembaga intelejen, bukan komitmen dan kesetiaan kepada Allah. Keberadaan Hendro sangat diyakini tidak memiliki kemampuan apapun berkenaan dengan apa yang disebut sebagai tanda-tanda kecerdasan, ketelitian dan keseriusan dalam beragama, bahkan Hendro tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Terbukti ketika beliau dengan penuh keyakinan dan keberanian menyatakan Al-Zaytun sebagai Syi’ar Islam ! maka hal itu jelas menunjukkan bila pengetahuan islamnya tanpa dilandasi ilmu, iman, taqwa dan keshalihan ! Seorang kepala BIN, baik ia bernama Hendro atau siapapun telah patut dianggap dan dinilai sebagai pejabat tidak cerdas, tidak berakhlaq dan tak bermoral, manakala dalam masa dinasnya melakukan manuver, sikap dan perilaku yang melampaui batas wilayah kewenangannya sendiri, apalagi melangkahi kewenangan Ulama dan lembaga PAKEM (MUI, DEPAG, POLRI dan KEJAKSAAN AGUNG). Pembelaan dan dukungan moril, politik dan power (kekuatan dan kekuasaan) Hendro secara membabi buta dan membuta tuli sebagai Kepala BIN terhadap Ma’had Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang serta gerakan NII yang digelarnya selama ini, telah menunjukkan kegagalannya menggunakan dalam ilmu dan kemampuan intelektualnya sebagai kepala badan intelejen. Secara moral dan intelektual Hendropriyono sebagai kepala BIN wajib meminta dan melakukan konfirmasi atau berdialog dengan para pihak yang selama ini gigih melakukan study kritis serta investigasi mendalam terhadap eksistensi Ma’had AlZaytun, AS Panji Gumilang dan segala kiprah maupun jaringan gerakannya yang telah diyakini membawa politik makar NII yang bertentangan dengan hukum dan undang-undang NKRI. Tanggungjawab moral-intelektual (melakukan konfirmasi atau dengar pendapat) dengan para pihak yang selama ini gigih melakukan study kritis serta investigasi mendalam terhadap eksistensi Ma’had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang dan kiprah jaringan gerakan politik makar NII I sepatutnya dilakukan kepala BIN, baik sebagai wujud responsibilitas maupun dalam rangka melakukan dalam rangka comparacy atau mencari kebenaran. Kapasitas Hendro sebagai kepala Badan intelejen Negara dalam persoalan ini sangat tidak mungkin untuk boleh berpihak sekali pun kepada kepentingannya sendiri. BIN dan Hendro tidak boleh berpihak baik kepada pihak mereka yang kritis maupun apalagi kepada AS Panji Gumilang – Ma’had Al-Zaytun. Keberpihakan Hendro sebagai kepala BIN hanya kepada eksistensi kebenaran dan atau demi keutuhan masyarakat bangsa Indonesia. Secara intelektual, moral dan institusional sebagai kepala BIN, Hendro bertanggungjawab meluruskan setiap informasi yang bengkok, menghadapi data dengan data, argument dengan argumen serta mencarikan jalan keluar yang baik, tepat dan benar. Ketua DPRD Kabupaten Indramayu dan masyarakat yang selama ini kritis dan menentang keberadaan Ma’had Al-Zaytun dan jaringan gerakan NII yang dipimpin AS Panji Gumilang memiliki argument dan data yang akurat. Pihak Kepolisian (Mabes Polri) memiliki data dan kesimpulan, demikian pula MUI dan Departemen Agama. Namun apa lacur, Hendro justru menggunakan lembaga BIN yang dibanggakannya itu justru hanya untuk mencapai kepuasan dalam perselingkuhan politik serta memamerkan kesewenang-

wenangan. Kecongka’an Hendro dan BIN justru telah mengabaikan semua data dan argument serta kesimpulan yang dimiliki masyarakat peneliti, masyarakat pesantren, masyarakat yang menjadi korban A Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun, lembaga resmi Negara Departemen Agama, MUI (Majelis Ulama Indonesia) maupun Mabes Polri. Inilah wujud gambaran sesungguhnya penampilan dan karakter Hendro dan BIN menurut tinjauan aspek moral sehubungan dengan statemen, ancaman dan kehadirannya di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003 yang lalu. KESIMPULAN & PENUTUP Masyarakat bangsa Indonesia sejak merdeka dari penjajahan hingga saat ini belum pernah melihat dan merasakan tentang nikmatnya kemerdekaan. Nikmat kemerdekaan yang diharapkan rakyat bangsa Indonesia yang tidak muluk-muluk. Seperti sekedar bisa melihat dan bisa merasakan kerja para penyelenggara kekuasaan Negara ini untuk berkemampuan mendidik, mengentas dan memberdayakan masyarakat bangsa Indonesia ini menjadi mampu, kuat dan berani melakukan control (monitoring and evaluating) terhadap program dan kinerja masyarakat eksekutif, yudikatif, legislative, alat keamanan Negara (TNI/POLRI/ INTELEJEN). Kemerdekaan bangsa ini sangat tidak berarti bila harkat dan martabat mereka justru hanya diformat untuk menjadi rakyat dan sebagai wong cilik yang hanya wajib bermental sabar, maklum, hormat, patuh dan taat kepada para penguasa serta pembesar Negara. Sebuah status kemerdekaan milik rakyat namun nyaris tanpa wujud dan makna akibat keserakahan, kesewenangan dan kegilaan serta rendahnya kualitas mental dan moral para penyelenggara Negara. Masyarakat bangsa Indonesia memang pantas meneguhkan sikap keprihatinan terhadap kualitas dan kinerja maupun kredibilitas oknum pimpinan maupun institusi Badan Intelejen Negara jika kemampuan dan pengalaman lembaga tersebut hanya melakukan kebijakan politik dan intelejen untuk menjebloskan masyarakat ke dalam situasi dan kondisi yang serba memprihatinkan. Masyarakat dan bangsa ini akan semakin bodoh, dan mungkin bias menjadi barbarian, mudah diadu domba (namun bukan karena serangan dan hegemoni neo kolonialisme Barat atau Amerika) karena akibat kebijakan politik dan intelejen yang tidak bermoral dari para penyelenggara Negara. Badan Intelejen, Polisi dan Tentara adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas keterpurukan masyarakat bangsa ini dalam kubangan kemiskinan, konflik dan dekadensi moral. Segenap masyarakat bangsa Indonesia berhak menuntut hak-hak sipil dan demokrasinya kepada pemerintah, termasuk berhak menuntut mundur dan mencopot Hendropriyono sebagai kepala BIN bahkan berhak mengadukan ke polisi atau mengajukannya ke pengadilan. Seluruh side efek yang timbul akibat keberpihakan Hendro dan BIN terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun suatu saat pasti akan terjadi, dan hal itu pasti akan merugikan pemerintah, merugikan militer, merugikan masyarakat partai dan ormas yang terpengaruh oleh sikap dan keberpihakan Hendro serta BIN. PENUTUP Inilah sikap dan tanggapan konkret dari mereka yang terancam akibat langsung maupun tak langsung pernyataan dan ancaman Hendropriyono selaku kepala BIN saat hadir di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003. Tanggapan ini juga dimaksud sebagai hak jawab dari mereka yang dimaksud oleh pernyataan Hendro selaku kepala BIN atas kehadiran dan statemen serta ancaman yang dinyatakan di Ma’had Al-Zaytun serta dipublikasikan melalui VCD oleh komunitas Al-Zaytun maupun melalui Majalah Medium edisi Oktober 2003. Segenap masyarakat muslim yang tertindas dan dirugikan oleh kebijakan politik dan intelejen Hendropriyono yang berpihak kepada paham sesat dalam beragama berhak mengajukan do’a perlindungan dan pertolongan kepada Allah dari setiap potensi bahaya dan ancaman, kebengisan, kejahatan maupun kesewenang -wenangan Hendro dan BIN. Semoga Allah melaknat Hendro dan BIN yang dipimpinnya dengan laknat yang sepantasnya. Segenap masyarakat muslim pantas mendo’akan kepada Allah semoga BIN dan Hendro diberi kesadaran Ilmu, Iman, Taqwa dan Keshalihan setelah mereka menerima bukti

kutukan Tuhan. Semoga, idzin dan pertolongan Allah mengantar masyarakat bangsa Indonesia menjadi sadar dan mengerti terhadap sepak terjang BIN dan Hendro, sehingga mampu mengambil ibrah dan hikmah secara baik dan benar. Jika Hendropriyono memiliki takdir yang baik, maka beliau akan sadar menerima serta melakukan perbaikan, kelak bila beliau mati semoga matinya dalam kebaikan. Namun jika Hendro memiliki takdir yang buruk, maka beliau pasti akan cenderung memilih tetap eksist dan istiqamah dalam tindakan dosa dan kejahatan, beliau akan bertambah bengis dan jahat baik dalam tutur kata, perangai maupun perilaku. Semoga Allah segera memperlihatkan kekuasaan Nya, kelak bila beliau mati, semoga matinya dalam keadaan penuh dosa atau sedang melakukan kedzaliman. Semoga Hendro segera mendapat celaka dan kebinasaan serta dikembalikan ke asalnya dalam keadaan rugi, menderita dan sengsara hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Catatan Akhir: [01] Dalam Buku Biografi Jendral purn Makmun Murod yang diluncurkan November 2003 menjelaskan sejarah pola pengembangan organisasi dan kekuatan TNI AD, terdapat data primer pada tahun 1974-1978 Soeharto meletakkan renstra (rencana strategis) berkaitan dengan repelita tahap II. Antara lain menetapkan melalui prinsip ABRI, Tugas dan tanggung jawab KASAD tentang peran politik dan strategis: I. Titik berat renstra pada tahun 1975-1976 tersebut adalah: Tahun 1975-1976 sebagai tahun kedua pelaksanaan renstra Hankam, dengan mengambil pemilu sebagai sasaran antara. Pencapaian sasaran renstra 1974-1978 harus disesuaikan dengan penyiapan kekuatan tahun 1975-1976, a.l : a. Menfokuskan seluruh daya dan dana TNI AD tahun 1975-1976 untuk mensukseskan terwujudnya target pembangunan kekuatan dan kemampuan. b. Meningkatkan kemampuan Komando, pengendalian dan mobilitas kemampuan satuan AD telah dikelompokkan kembali (regrouping) II. Kesiapan Operasi a. Merealisir program regrouping satuan target yang direncanakan tahun 1975-1976 target pola regrouping digunakan agar pemilu tahun 1977 dan target terwujudnya 420 satuan kompi sudah bisa dioperasikan bagi tugas pengamanan pemilu, dan operasi keamanan dalam negeri melalui Opsus dan Opstib. b. Merealisir sinergi keberadaan aparatur territorial dan intel yang menggunakan pola regrouping dapat mencapai target 245 Kodim dan 1300 Koramil, pembinaan territorial harus berjalan mantap c. Menyelenggarakan latihan terarah mendukung pola latihan regrouping agar satuan operasional, aparat teritorial dan intelejen memiliki kemampuan operasi keamanan dalam negeri (Opsus dan Opstib) III. Intel Pam. a. Organisasi aparatur Intel Pam baik tingkat pusat hingga daerah yang baru dibentuk harus dapat beroperasi pada tahun 1975 b. Pembersihan sisa sisa PKI dalam tubuh AD terlaksana dengan intensif.

c. Menghadapi ancaman kekuatan ektrem kanan dan ektrem lainnya d. Mendukung kebijakan Operasi Khusus dan Operasi Tertib yang dicanangkan Pemerintah. [02] Lucuti kekuatan ekonomi dan persempit ruang kordinasi gerakannya. [03] Prinsip penggalangan adalah menebar jaringan, menciptakan opini, pengelabuhan dan penyesatan dilakukan melalui pendekatan kesejahteraan dalam rangka eksplorasi mitra keagenan dalam informasi dan data. [04] Prinsip pembinaan dan penugasan dilakukan setelah proses penggalangan berhasil merekrut agen yang handal (setia, berkualitas dan professional setelah proses mutasi kepribadian berjalan efektif). Tugas yang dibebankan baru akan diberikan setelah hasil rekrutmen layak ditingkatkan peran SDM melalui diklat. Tugas-tugas tersebut meliputi, penyadapan, intrik, provokasi dan penjerumusan melalui aksi makar serta kekerasan. Dalam strata ini mereka sudah dilengkapi dengan kartu tanda pengenal termasuk posisi jabatan dan rekomendasi formal. Demikian seterusnya berjenjang semakin eksclussif dan profesional. [05] Para agen binaan yang kurang loyal dan banyak tahu rahasia intelejen bila saatnya tiba mereka pasti menerima giliran dimusnahkan. Aksi pemusnahan agen yang telah dianggap reject karena banyak tahu persoalan, menggunakan trick macammacam. Melalui pemusnahan secara perlahan (racun arsenikum yang dicampurkan melalui makanan atau minuman) seperti yang diterapkan kepada Danu M. Hasan, melalui trick kriminal sekaligus politik adu domba seperti aksi pemusnahan yang diterapkan untuk Abu Jihad alias Teungku Fauzy Hazbi Geudong oleh sesama binaan intel Anto alias Ariyanto namun dengan mengikut sertakan komunitas JI link Kompak, pemusnahan terhadap Al Farouk, Hambali dan Abu Dzar. Penghancuran seluruh potensi jaringan kelompok perlawanan seperti laskar-laskar gerakan Islam dalam strategi intelejen sangat mudah, karena hanya dengan memasok sedikit bahan, dana dan para pelaku yang tak sadar terhadap provokasi dan skenario rekayasa intelejen, semua laskar-laskar gerakan Islam akan terjerat dengan bukti lapangan sesaat setelah aksi kekerasan dan terorisme dilaksanakan. Modus penghancuran lain yang juga digunakan intelejen Indonesia terhadap para target kooptasi (binaan) yang bandel dan gagal seperti melalui jebakan pemberian kendaraan namun dengan STNK palsu dan tanpa disertai dengan Surat BPKB, pada saatnya intelejen kemudian bekerja sama dengan pihak kepolisian dengan cara melaporkan bahwa kendaraan yang diberikan kepada seseorang yang menjadi target kooptasi adalah sebagai mobil curian. Selanjutnya polisi dengan serta merta segera menangkap kendaraan berikut pembawa dan “pemilik” mobil pemberian BIN tersebut dan memprosesnya sebagai anggota sindikat penjahat dan pencurian kendaraan, untuk ditekan dan didikte. Namun kalau menolak mereka dijebloskan ke tahanan. (Modus kooptasi dan jebakan intelejen seperti ini sudah didata pihak Polri, Tim peneliti LPDI-SIKAT dan CedSos juga memiliki beberapa bukti signifikan tentang kasus dengan modus ini) [06] Kyrway, 2000; Ingo, 2000; diskusi-diskusi yang dilangsungkan dengan para personil BAIS dan BIN, Jakarta, Februari 2002. [07] Namanya dieja sebagai Murdani, namun ia sendiri lebih menyukai penulisan Moerdani. [08] Diskusi Angel Rabasa, John Haseman dengan personil BAIS dan BIN, Jakarta, Februari 2002 dan Juni 2002. [09] Dalam sebuah kesempatan, Laksamana Udara Hanafie Asnan dikutip dengan pernyataannya bahwa sistem intelijen (memang bisa dibilang) lemah, dikarenakan aksi-aksi pengeboman bisa terjadi tanpa adanya deteksi dini atau pun peringatan dari dinas-dinas intelijen; namun di sisi lain, ia juga sempat bertanya-tanya apakah pengeboman tersebut berlangsung karena kapabilitas intelijen yang melemah, ataukah justru karena personil-personil intelijen bermain di dalamnya (dikutip pada International Crisis Group, 2001d, h. 6).

[10] Tujuan dari reorganisasi ini, di luar kebutuhan untuk memperkuat kontrol (pemerintah) pusat, juga untuk menegakkan Paradigma Baru intelijen : sebuah pergeseran fokus, dari pengawasan aktivitas-aktivitas politik dalam negeri (on surveillance of internal political affairs), mengarah ke pengamanan preventif: “Untuk melacak informasi lebih dini, sedemikian rupa, sehingga setiap ancaman potensial atas bangsa dan negara dapat dideteksi” (Yasril Ananta Baharuddin Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, dikutip dalam Ingo [2000]). [11] Wawancara Angel Rabasa, John Haseman dengan Amien Rais, Jakarta, Juni 2002.[12] http://www.ri.go.id/produk_uu/keppres perubahan BIN th 1999-2004[13] Pembicaraan tersebut sempat terekam dalam Handycam yang dibawa wakil SIKATAgen Noordin di Kepolisian? Minggu, 30 Agustus 2009 04:37 “Noordin punya akses informasi ke dalam, sehingga dia bisa segera berpindah tempat dari posisi target semula” UMAR ABDUH Pengamat IntelijenNoordin M Top kerap lolos dari sergapan polisi, sehingga menimbulkan kecurigaan buronan nomor wahid ini memperoleh informasi saat akan dikepung polisi. Benarkah?PENGAMAT intelijen Umar Abduh menilai adanya kemungkinan Noordin M Top memiliki ‘orang dalam’ di tubuh Kepolisian maupun di Detasemen Khusus (Densus) 88 sangat terbuka. Hal itu terbukti dengan selalu lolosnya Noordin dalam beberapa kali penyergapan yang dilakukan oleh Densus 88. “Noordin punya akses informasi ke dalam sehingga dia bisa segera berpindah tempat dari posisi target semula,” ucap Umar kepada Berita Kota di Jakarta, Sabtu (29/8).Umar menilai langkah Noordin dua kali lebih panjang dari polisi yang memburunya. Tak heran kalau polisi selalu kalah langkah. Fakta tersebut, menurut Umar, mengindikasikan paling tidak Noordin punya akses informasi di tubuh Kepolisian sehingga teroris asal Malaysia ini bisa segera berpindah tempat sebelum terjadinya penggerebekan. Bahkan, Umar mengaku mendapat informasi kalau rencana penggerebekan Noordin di Temanggung itu sebenarnya sudah akan dilaksanakan sejak dua minggu sebelumnya. Tapi karena pertimbangan politis dan segala macam sehingga polisi baru melaksanakannya dua minggu kemudian. Maka, dia menilai dalam kurun waktu itu ada proses bocornya informasi ke Noordin. “Informasi penangkapan itu kerap bocor karena polisi sering menundanya atas berbagai pertimbangan,” tambahnya. Atas dasar itu, Umar menilai langkah penanganan terorisme lebih tepat diserahkan kepada pihak militer yang juga memiliki Desk Anti Teror dengan kemampuan yang tak perlu diragukan. Menurutnya, masalah terorisme itu bukan saja ancaman keamanan negara tetapi sudah merupakan ancaman global sehingga lebih baik ditangani oleh TNI yang merupakan penjaga keamanan. Sedangkan pihak Kepolisian biar berkonsentrasi kepada pemeliharan kamtibmas dan penegakan hukum saja. “Penanganan teror lebih baik diserahkan kepada TNI karena mereka punya sumpah prajurit dan lebih tegas. Sedangkan polisi biar menangani urusan sipil saja,” paparnya. Bubarkan Densus 88Umar juga menilai Densus 88 telah gagal dalam melaksanakan tugas pemberantasan tindak terorisme. Bahkan mereka kerapkali melakukan tindakan salah tangkap. Karena itu, dirinya mendesak pembubaran Densus 88. “Densus 88 itu telah gagal karena itu harus dibubarkan dan tugasnya diserahkan kepada TNI yang merupakan penjaga keamanan nasional sesuai khittahnya. Karena itu kami akan ajukan uji materi ke MK,” pungkasnya. Menanggapi ancaman pembubaran itu, mantan Kepala Staf Badan Kordinasi Intelijen Negara (Bakin) Soeripto, menilai hal itu harus dievaluasi lebih dahulu. Demikian pula dengan adanya dugaan penyusupan intel atau orang dalam di tubuh Kepolisian. Semua itu harus dibuktikan. Alasannya, segala kemungkinan bisa terjadi. Buktinya dalam razia biasa saja juga kerap terjadi kebocoran. Yang terpenting saat ini pihak Kepolisian harus berbenah diri terutama ke dalam internal mereka. “Segala kemungkina bisa terjadi, yang jelas pihak Kepolisian harus berbenah diri,” tutur Wakil Ketua Komisi III DPR itu. Sudah Lama TerciumSementara itu, pemerhati terorisme Mardigu WP mengatakan kemungkinan adanya agen Noordin yang menyusup pada aparat keamanan ini sudah lama tercium sejak peristiwa Bom Bali I dan II. Namun penyelidikan terhadap para intel tersebut makin mengkristal sejak bom di JW Marriott dan Ritz Carlton.Orang yang dipilih Noordin sebagai intel adalah para penganut paham jihad yang ‘soft’. Bukan tipe orang yang secara frontal siap mengorbankan nyawanya demi syariah Islam. “Bukan orang yang hard seperti para ‘pengantin’, yang pasti supaya tidak terlalu mencolok,” jelas ahli hipnoterapis yang pernah dilibatkan dalam penanganan teroris ini.Untuk membasminya, kata Mardigu, perlu dilakukan kerjasama dengan pihak TNI. Terutama untuk melacak kemungkinan agen-agen Noordin di lembaga lain. “TNI soalnya punya kemampuan untuk langsung bertindak,”

tutupnya. Belum TerendusSementara itu meski masih simpang-siur, pencarian terhadap Novi Lutfiati, wanita muda berusia 19 tahun yang disebut-sebut dinikahi gembong teroris Noordin M Top, terus dilakukan jajaran Polres Pandeglang. Namun, hingga hingga Sabtu (29/8) sore keberadaan Novi maupun keluarganya belum berhasil diendus polisi. Di tengah kesibukan polisi “memburu” Novi, sejumlah wartawan cetak dan televisi (TV) termasuk Berita Kota menerima kabar mengenai penghulu yang menikahkan Noordin dengan Novi di Kampung Bojong, Desa Sukamanah, Rt 07/02 Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang. Tapi, Jasman (63) sang penghulu membantah informasi tersebut. “Selama jadi penghulu, saya belum pernah menikahkan wanita bernama Novi. Kalaupun informasi itu benar, bisa saja wanita itu menikah tanpa melalui penghulu,” jelasnya. Sejumlah warga Kampung Bojong juga mengaku sama sekali tidak mengenal sosok Novi, apalagi mendengar bahwa wanita itu menikah dengan gembong teroris yang paling dicari Densus 88. “Di sini tidak ada gadis bernama Novi,” ujar beberapa warga yang namanya enggan disebut.“Perburuan” terhadap Novi yang disebut-sebut putri pemilik pondok pesantren (Ponpes) di wilayah Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang juga tidak membuahkan hasil. Selain tidak pernah mendengar kabar pernikahan Noordin dengan Novi, warga mengaku tidak mengenal wanita itu maupun keluarganya. Tidak adanya alamat pasti Novi dan keluarganya, tidak hanya membuat polisi “kelabakan” mencari istri gembong teroris itu, hal serupa juga dialami wartawan yang bertugas di wilayah Pandeglang. 3 Jenderal Jamin Sementara itu kekhawatiran keluarga akan keselamatan Mohamad Jibril yang kini tengah menjalani pemeriksaan di Mabes Polri terkait dugaan keterlibatan kasus peledakan Bom Hotel JW Marriot dan Rizt Carlton, akhirnya terjawab. Polisi menegaskan, akan menjamin keselamatan dan keamanan Jibril selama proses pengembangan penyidikan. Selain itu, keluarga juga bisa bertemu Jibril 7×24 jam setelah ditangkap pada 25 Agustus 2009.“Kemarin kami sudah bertemu tiga Jenderal. Pak Saleh Saab, Saud Usman, dan Susno Duadji. Beliau bertiga menjamin keberadaan Jibril aman,” kata pengacara Jibril dari LBH Muslim, Yusuf Sembiring kepada wartawan, Sabtu (29/8).Dia mengatakan, Jibril masih dibawa polisi untuk proses pemeriksaan. Bisa saja, dalam sehari Jibril di Jakarta lalu pindah ke Jawa Tengah atau Jawa Timur.“Masih dalam pemeriksaan. Kenapa tidak dipertemukan? Mungkin hari ini nggak ada di Jakarta. Bisa saja ada di Jawa Tengah atau di Jawa Timur,” kata Yusuf menirukan ucapan salah satu jenderal tersebut.Ketiga Jenderal tersebut juga membantah kalau Jibril merupakan anggota Al Qaedah seperti yang dikatakan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD).“Kita tanya soal komentar Kapolri di televisi yang bilang Jibril anggota Al Qaedah. Terus dijawab saya rasa nggak mungkin Kapolri ngomong seperti itu. Jibril Al Qaedah. Kami yang tahu. Kita bertiga,” kata Yusuf masih menirukan ucapan salah satu jenderal tersebut. O dir/sep/son/dka/bam/dtcSource: http://www.beritakota.co.id/berita/berita-utama/13608-agen-noordin-dikepolisian.htmlMenggugat Al-Qaidah, Dikritisi dan DisanjungSelasa, 07 Juli 2009 09:15Jakarta – Di bulan April 2009, sebuah buku diterbitkan oleh Sabili Publishing, berjudul Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia. Di sampul depan tercantum nama penulisnya, Dr Fadl, Pendiri Al Qaidah dan Mantan Penasihat Ayman al-Zawahiri.Tidak ketinggalan sebuah label bertuliskan “Buku Paling Kontroversial Di Timur Tengah” terpampang di sampul depan, melengkapi buku berilustrasi gagang pedang warna keemasan dengan latar belakang warna hitam.Semalam (4/7), dalam perayaan Pesta Buku Jakarta yang diadakan di Senayan, Jakarta Selatan, Sabili Publishing mengadakan bedah buku kontroversial tersebut dengan mengundang dua pembicara, Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman dan Ust. Umar Abduh. Acara yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, walau tidak dihadiri oleh ratusan orang, namun sangat terasa “panas”, karena di sana terdapat dua kubu, pendukung dan penghardik.Buku ini telah disebarkan Sabili untuk 600 pesantren di seluruh Indonesia, termasuk Ust. Abu Bakar Baasyir yang mendapatkan dua eksemplar.Dalam penjelasannya, pembicara pertama, yaitu Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman menyangsikan buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Sabili Publishing ini merupakan tulisan utuh Dr. Fadl atau Sayyid Imam atau Syekh Abdul Qadir bin Abdul Aziz, mengingat Dr. Fadl termasuk ulama mujahid yang hasil karyanya (buku-bukunya) memberikan inspirasi jihad. Di dalam buku hanya ada 35 kutipan dari pemikiran Dr. Fadl.Sebelum berada di penjara Mesir, Dr. Fadl pernah membuat buku-buku yang isinya saling bertentangan, jauh berbeda dengan buku yang akhirnya diterjemahkan oleh Sabili dan diberi judul Menggugat AlQaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia ini.“Jika benar yang menulis buku ini adalah beliau, maka saya berhusnu dzan, beliau tengah berada dalam tekanan yang hebat dipenjara Mesir, hingga terpaksa melakukannya,” ujar Ust. Abu Jibriel.“Sungguh, buku ini tak layak dijadikan bacaan oleh kaum Muslim, karena isinya adalah penggembosan terhadap jihad dan pembunuhan karakter Dr. Fadl,” lanjut Ust. Abu Jibriel.Ust. Abu Jibriel mengingatkan penerbit, jika ingin

mempublikasikan buku ini, sebaiknya pihak penerbit melakukan revisi terlebih dahulu.Berbeda dengan Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman, pembicara kedua, yakni Ust. Umar Abduh merasa tidak ada masalah dengan terbitnya buku ini. Tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam isi buku. Bahkan ia membenarkan apa yang ada di buku tersebut dengan menyimpulkan bahwa di dalam buku tersebut “ada upaya penyadaran”.“Selama ini, akibat adanya fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Syeikh Usamah bin Ladin atau Mullah Umar berdampak adanya jihad yang melebar ke seluruh dunia. Sebelumnya, Dr. Abdullah Azzam tidak pernah mengeluarkan fatwa-fatwa seperti itu,” ujarnya.Menurut Umar Abduh, kesalahan Sabili Publishing hanyalah karena mereka menulis, “Menggugat Al-Qaidah” sebagai judul buku, padahal isinya tidak ada yang mengkhawatirkan. Ia berpendapat ini hanyalah strategi penerbit agar bukunya mendapat tempat dipasaran.Namun ia juga berpendapat sah-sah saja menggugat Al-Qaidah, “toh Al-Qaidah bukan Islam, bukan Al-Qur’an, jadi tidak haram menggugatnya.”“Jika benar ini ditulis oleh Dr. Fadl, saya tidak sependapat dengan Ust. Abu Jibriel, bahwa ia menulis di bawah tekanan. Tidak ada Muslim yang tertekan di dalam penjara, apalagi Muslim sekaliber Dr. Fadl. Ini ditulis berdasarkan pemikirannya yang sehat,” lanjut Umar Abduh.Pihak Sabili mengeluarkan statemen terkait diterbitkannya buku ini yang diwakili oleh Luthfi A. Tamimi, ia mengatakan bahwa Sabili sebagai media Islam di Indonesia, tidak pernah dipesan untuk menerbitkan buku ini. Sabili berani menerbitkannya karena memang terdapat naskah yang asli, selain itu Sabili (melalui pendapat Luthfi A. Tamimi-red) mengetahui benar kebobrokan Al-Qaidah.“Al-Qaidah itu lahir dari adanya rasa sakit hati, saya tahu benar yang dialami Usamah bin Ladin atau Az-Zawahiri, apa yang dilakukan negara terhadap mereka, saya 18 tahun di sana,” ujar Luthfi A. Tamimi (Direktur Sabili) menilai Al-Qaidah. (Nauzubillah Min Zalik)Segera saja statemen ini mendapat bantahan dari salah seorang peserta yang hadir dan maju sebagai penanya.“Al-Qaidah tidak berangkat dari sakit hati, jika sakit hati terhadap negara, mengapa mereka (Usamah dan Az-Zawahiri-red) tidak menyerang negara mereka saja? Melainkan mereka menyerang Amerika Serikat, musuh utama ummat Islam. Tidak benar itu jika mereka sakit hati, mereka ikhlas mengeluarkan seluruh harta yang dimiliki untuk kemuliaan Islam!” ujar Abu Jundu Rahman.“Saya ingin menyanggah pernyataan Umar Abduh, Dr. Abdullah Azzam, Syeikh Usamah bin Ladin maupun Mullah Umar merupakan para mujahid yang memiliki referensi yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi salah jika dikatakan bahwa Dr. Abdullah Azzam tidak pernah menyerukan jihad global. Melalui beliaulah Usamah bin Ladin akhirnya menjadi seperti sekarang, karena Usamah notabene adalah murid kepercayaan Abdullah Azzam,” lanjut Abu Jundu menanggapi pernyataan Umar Abduh dengan nada keras.Menutup acara, Ust. Abu Jibriel mengatakan, jihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat, tidak ada yang bisa menghalanginya. Walau manusia sejagat raya bergabung untuk menghalanginya, namun jihad akan terus berlangsung. (haninmazaya/arrahmah.com)Source: tp://www.arrahmah.com/index.php/news/read/4902/menggugat-al-qaidah-dikritisi-dandisanjungPolisi Harus Menjelaskan Apakah itu Bom atau BukanJumat, 17 Juli 2009 03:18Jakarta kembali diguncang ledakan. Apa sebenarnya yang terjadi masih terlalu dini untuk memastikan. Namun Umar Abduh, pengamat intelijen punya pendapat lain. Berikut wawancara Eman Mulyatman dengan Umar Abduh :Bom meledak pagi ini, apa komentar Anda ? Belum jelas, belum pasti itu bom. Itu bisa saja gas.Apa targetnya?Sekarang ini bisa-bisa saja, tapi belum bisa bicara. Ini bisa jadi memancing polemik. Ini semacam politik opini.Siapa yang bermain?Polisi harus memastikan ini, bom atau gas. Kalau tidak ada kepastian maka akan menciptakan keresahan.Jadi….?Polri harus segera pastikan sumber ledakan di TKP Polri tidak boleh berpolitik dan mempolitisir ledakan sebagai arena spekulasi politik pasca pilpres dan terorisme. Masyarakat harus menuntut Polri agar tampil elegan dan profesional memastikan sumber dan jenis ledakan yang terjadi di TKP dalam tempo 1 jam. Lebih dari 1 jam Polri tidak mampu memastikan apa yang sesungguhnya terjadi Polri patut dicurigai telah berpolitik dn mempolitisir ledakan tersebut.Kenapa siklusnya setiap habis pesta pemilu ?Nantilah setelah jelas kita bicara. Karena bisa jadi ini semacam umpan untuk menjaring pihak-pihak yang bereaksi.Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu meninjau lokasi ledakan yang terjadi di dekat hotel JW Marriott dan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan. Kapolri menolak berkomentar. Kapolri menyambangi JW Hotel Marriott, Jumat (17/7/2009) pukul 09.15 WIB. Selanjutnya, Kapolri dan rombongan meninjau Ritz Carlton.Kapolri yang ditanya wartawan mengenai berapa jumlah korban masih belum mau bicara malah bergegas masuk ke dalam Ritz Carlton.Turut hadir Menko Polhukam Widodo AS, Kepala BIN Syamsir Siregar, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.Bom atau GasPolisi memastikan bila ledakan yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Hotel

Ritz Carlton akibat bom. Tapi belum bisa dipastikan apakah jenis low explosive atau high explosive.“Kita bisa melihat dari akibatnya,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Chrysnanda saat dihubungi melalui telepon, Jumat (17/7/2009).Saat ini petugas sedang melakukan penyelidikan di lokasi. Puslabfor masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).“Masih sedang diselidiki dan masih identifikasi,” terangnya.Source: ttp://sabili.co.id/index.php? option=com_content&view=article&id=333:polisi-harus-menjelaskan-apakah-itu-bom-ataubukan&catid=82:inkit&Itemid=199Umar Abduh Tuding Hendropriyono Pengimpor TerorismeSaturday, 22 August 2009 02:29Syabab.Com – Setiap operasi intelijen itu rekayasa, kalau dikatakan terorisme itu bagian dari operasi intelijen pasti itu rekayasa. “Saya merasakan itu, sejak dulu sampai sekarang. saya perlu membongkar semua ini dan memberitahu pada umat jangan sampai masuk terperangkap pada rekayasa tersebut,” ujar Pengamat Intelijen Umar Abduh pada acara Halqah Islam dan Peradaban (HIP), Kamis (20/8) di Jakarta.Seharusnya intelejen itu sifatnya dalam rangka edukatif kepada masyarakat, memberi pelajaran supaya tidak dilakukan.”Yang sekarang ini masalahnya proyek ini impor. Ada yang membawa, ada yang memfasilitasi, ada yang mengembangkan, ada yang ngecer, kemudian ada yang ditugaskan untuk menangkapnya” ujar mantan tapol Jamaah Imran itu.Jadi tidak lagi dalam rangka membina atau mendidik masyarakatnya. Tapi di sini justru ada kecenderungan untuk melibatkan sebanyak mungkin orang Islam agar terlibat dalam tindakan terorisme. Alih-alih memberikan edukasi agar perbuatan teror itu tidak terjadi.Abduh menyayangkan pemerintahan yang ada tidak kritis baik itu legislatif, yudikatif, maupun eksekutif bahwa kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia itu untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan bangsa atau rakyat Indonesia. Tetapi tiba-tiba mengimpor terorisme ini untuk memecahbelah dan memusuhi bangsanya sendiri.“Itu yang harus disadari. Ada intelijen pengkhianat! Kita tahu, maaf ya kita harus fair saja, Hendropriyono sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat itu, tapi dia lah yang tahu dan memfasilitasi yang namanya Umar Faruq” tudingnya dihadapan lima ratus peserta HIP ke-12 itu. Setelah ada Bom Bali, Faruq disebut sebagai agen CIA, agen Al Qaida di Indonesia. “Kok bisa-bisanya dia mengatakan begitu” tanyanya retoris.Lelaki yang pernah dipenjara selama 11,5 tahun di era Soeharto karena menolak asas tunggal Pancasila ini menyebutkan Umar Faruq sejak 1987 sudah ada di Indonesia. Kemudian pada 1999 menikah dengan anaknya Abu Dzar. Abu Dzar itu sejak 1997 sudah diciptakan sebagai orang yang mendistribusikan senjata dengan jual beli. Umar Faruq didatangkan bersama Siamreda.Mereka diantarkan ke Haromain milik Saudi Al Amudi oleh Abdul Haris. Ke mana-mana mereka berangkat bersama memberikan donasi kepada daerah-daerah konflik dan orang-orang yang akan berangkat ke daerah konflik. Siapa Abdul Haris? Ia adalah notabene masih aktif di Intelmadya BIN.Abduh pun menyebutkan bahwa Hendropriyono telah mem-backup secara penuh KW-9 pimpinan Abu Toto yang membuat pesantren Az Zaitun yang kontroversial itu karena dokrinnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam. “Kemudian kita juga tahu Hendro pula yang melindungi Az Zaitun, teroris moral itu namanya, teroris mental, teroris sosial!”.Padahal Megawati, yang sebelum reformasi disebut sebagai pintu masuknya asing ke Indonesia, tidak mau masuk ke Az Zaitun. “Jadi kalau mau dihitung jahat mana Megawati dibanding Hendro?” ujarnya.Megawati pun menolak menyerahkan Abu Bakar Baasyir ke Amerika. Tapi Hendro menawarkan kepada Megawati skenario Musyaraf, menjadi orang seperti Musyaraf. Mengikuti apa saja yang dikatakan oleh Bush dan CIA.“Kita masih punya kedaulatan! Tetapi kenyataannya sebagai kepala BIN dia lah yang mengimpor kemudian mengecer dan menumpas terorisme itu sendiri,” tandas Abduh berang.Dalam talkshow yang bertema Mencari Dalang Terorisme itu Abduh menyebutkan, “Memang Hendro jadi dalangnya sampai dia lengser, saat SBY jadi presiden dia tidak jadi dalang lagi” akunya.Namun, terkait dengan bom MariottCarlton, Abduh enggan menyampaikan analisanya, dengan sedikit berkelakar ia menyatakan “Kan kejadiannya baru saja terjadi, jadi kalau saya bilang sudah tahu saya disebut dalangnya nanti” pungkasnya. [jp/htipress/syabab.com]Source: http://www.syabab.com/index.php?option=com_content&view=article&id=707:umar-abduh-tuding-hendropriyonopengimpor-terorisme&catid=23:akhbar-muslimin&Itemid=53Noordin Tinggal di Hutan? Tak Mungkin!JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara, AC Manulang menangkap kejanggalan dalam penggerebekan sarang teroris di Temanggung, Jawa Tengah, pada 8 Agustus lalu. Operasi yang mengerahkan dua batalyon aparat kepolisian dan Densus 88 itu, menewaskan Ibrohim yang merupakan bagian dari kelompok Noordin M Top. Sebelumnya, operasi besar-besaran itu diduga akan menggerebek Noordin. Menurut Manulang, sebagai komandan, Noordin tak mungkin memilih tinggal atau bersembunyi di hutan.“Tidak mungkin pemimpin atau komandan seperti Noordin hidup di hutan. Dia orang kaya, pasti memilih tinggal di kota. Terlalu gampang mencarinya kalau di hutan,” kata Manulang, pada

diskusi ‘Mencari Dalang Teroris’, di Wisma Antara, Jakarta, Kamis (20/8).Seperti diketahui, rumah yang digerebek di Temanggung, Jawa Tengah, berada di kawasan kaki bukit. Sementara itu, mantan tahanan politik anggota Jamaah Imran, Umar Abduh mengatakan, sosok Noordin M Top memang ada. Meskipun, ia sendiri mengaku tidak mengenalnya. Akan tetapi, operasi intelijen, menurut dia, semuanya sudah direkayasa. Bahkan, ia mengatakan, Noordin sendiri merupakan bagian dari rekayasa itu.“Noordin M Top memang ada, tapi dia hanya dijadikan ikon saja. Semuanya sudah disiapkan karena operasi intelijen emuanya rekayasa,” kata Umar yang sempat ditahan selama 11 tahun pada era Orde Baru.Source: ttp://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/20/16281679/noordin.tinggal.di.hutan.tak.mungkinINTELEJEN, MUNIR dan KOMANDO JIHADOleh Umar AbduhPERSPEKTIF INTELEJEN dalam kerangka kepentingan keamanan dan alasan stabilitas Negara secara subyektif menetapkan kategorisasi terhadap kalangan atau lembaga tertentu yang dianggap sebagai gerakan bawah tanah sehingga ada yang diklasifikasikan berpotensi sebagai mengganggu dan atau sebagai gangguan dan ada pula yang diklasifikasikan sudah berpotensi sebagai mengancam dan atau sebagai ancaman. Dalam rangka dan berdasarkan demi kepentingan nasional dan alasan keamanan atau stabilitas Negara tersebut intelejen mengatur, merencanakan, menetapkan dan melaksanakan sebuah operasi. Dan bertumpu pada kebijakan serta kepentingan subyektif tersebut berbagai operasi intelejen dilakukan.tanpa mengindahkan lagi kaidah hukum, moral, kejujuran maupun keadilan dan HAM.Dalam kaitan ini, kasus almarhum Munir Said Thalib – tokoh Kontras yang masih bertalian saudara dengan Ja’far Umar Thalib (Panglima Laskar Jihad) – termasuk kalangan yang digolongkan berklasifikasi sebagai gangguan.bagi Negara atau pejabat Negara atau pejabat-pejabat intelejen itu sendiri. Karenanya Munir sudah termasuk dalam Daftar G versi Badan Intelejen Negara pada masa itu.Dengan demikian, Munir – dan hampir seluruh aktivis HAM atau pegiat lainnya – yang menurut kategori intelejen hanya sebagai kalangan yang berada dalam klasifikasi atau berpotensi sebagai gangguan dengan posisi daftar G versi BIN tersebut posisi mereka sesungguhnya yang tidak mungkin menjadi target pembunuhan dengan alasan kepentingan Negara, pejabat Negara dan atau pejabat intelejen. Bahkan meski katakanlah Munir atau siapa saja yang sudah berada dalam kategorisasi dengan klasifikasi sebagai ancaman sekalipun, mereka itu belum tentu disikapi dengan tindakan operasi intelejen melalui aksi pembunuhan.Artinya, bila sosok seperti Munir yang hanya masuk daftar G dalam kategorisasi versi badan intelejen negara dengan klasifikasi sebagai mengganggu atau gangguan, lalu kedapatan tewas ‘dibunuh’ entah oleh siapa, apalagi kematiannya begitu banyak menyimpan misteri (kurang dan atau hilangnya data pendukung maupun bukti serta sulitnya kesaksian) yang begitu rapi, maka boleh jadi klasifikasi Munir memiliki tingkat ancaman yang sangat tinggi dan serius, tapi bagi siapa?Kalau Munir merupakan ancaman serius bagi NKRI sehingga menurut badan intelejen negara harus dibunuh, maka yang paling mungkin terjadi adalah melalui modus ketika Munir naik motor atau mobil lalu ia ditabrak truk hingga tewas. Kemudian, aparat yang berwenang akan menyimpulkan kematiannya sebagai kecelakaan murni. Operasi semacam ini selain praktis dan murah juga tanpa resiko. Karena, untuk menjalankan operasi intelejen harus serba dan penuh misteri dan harus rapi – apalagi kalo sampai melibatkan Muchdi PR, Dirut Garuda dan Pollycarpus – maka operasi semacam itu pasti membutuhkan biaya yang sangat banyak.Dalam konstelasi politik nasional, kedudukan Munir boleh dikata sangat kecil, sekecil postur tubuhnya. Maka sebesar apapun gangguan dan ancaman yang paling mungkin bisa diproduksi Munir dan kelompoknya, tidak akan pernah meningkat menjadi sebagai ancaman yang serius bagi negara. Hiruk-pikuk gangguan dan atau ancaman yang mampu diproduksi Munir dan kawan-kawan, paling tinggi hanya menjadi berita dan penghias dalam panggung demokrasi di Indonesia.Bagaimana kasus Komando Jihad? Istilah Komando Jihad sendiri dipopulerkan oleh Ali Moertopo di tahun 1970-an, dilakukan terhadap gerakan yang dirancang sendiri bersama sejumlah elite DI/TII atau NII. Gerakan itu dihidupkan oleh sejumlah konstituen DI/TII atau NII yang kepincut dengan ajakan kerja sama membendung masuknya komunisme dagangan politik Ali Moertopo saat itu. Maka dalam tempo singkat, sejumlah tokoh DI/TII atau NII pasca tewasnya SMK (Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo), berhasil merekrut ribuan orang untuk memenuhi ajakan Ali Moertopo tersebut.DI/TII atau NII dalam perspektif intelejen merupakan ancaman ideologis yang serius bagi negara. Jadi bukan sekedar gangguan. Terbukti kategorisasi gerakan NII yang diklasifikasikan sebagai ancaman serius bagi ideology Negara tersebut tidak disikapi dengan pembunuhan. Mengingat saat itu tergantung siapa yang berkuasa. Bagi Ali Moertopo, memainkan instrumen DI/TII atau NII boleh jadi bisa menghantarkannya ke tahapan kekuasaan yang lebih tinggi, walau terbukti gagal. Sedangkan bagi elite DI/TII atau NII, bekerja sama dengan Ali Moertopo, boleh jadi akan membawa mereka kepada semakin dekatnya cita-cita kelompok akan tercapai.Bagi orang kebanyakan yang tergiur dengan ajakan untuk

membendung bahaya komunisme yang dipromosikan petinggi DI/TII atau NII dengan bekerja sama dengan Ali Moertopo, adalah bagian dari jihad sekaligus membela negara atau tanah darah tertumpah. Ketika itu mereka sama sekali belum menyadari, bahwa semua itu terlahir dari dua ambisi agenda tersembunyi: agenda Ali Moertopo di satu sisi dan agenda elite DI/TII atau NII di sisi lainnya.Kalau toh ‘koalisi setengah hati’ itu harus berakhir dengan pembunuhan, hal itu belum tentu disebabkan oleh status mereka (elite DI/TII atau NII) yang dikategorikan sebagai ancaman ideologis yang serius bagi negara. Tetapi, lebih disebabkan oleh konflik kepentingan di antara mitra koalisi setengah hati tersebut. Atau, masing-masing pihak mulai sadar dan mencium adanya gelagat ‘pengkhianatan’ di antara mereka sendiri.Para elite DI/TII atau NII yang bekerja sama dengan Ali Moertopo, sebelumnya pun tercatat pernah menerima tawaran dari pemerintah untuk menyerah, berdamai, atau turun gunung. Sekalipun, amanat terakhir Kartosoewirjo kepada mereka adalah perintah “jangan menyerah”. Artinya, kalau amanat Kartosoewirjo saja bisa semudah itu mereka ‘khianati’ apalagi sekedar Ali Moertopo. Begitulah barangkali argumen-argumen yang berkecamuk di benak Ali Moertopo. Sehingga akhirnya gerakan dan kerja sama itu dimandulkannya sendiri, dengan mengharapkan beberapa keuntungan. Misalnya, menabur stigma pemberontak kepada kalangan Islam, sehingga kewaspadaan terhadap bahaya disintegrasi yang berasal dari kanan perlu dan bisa ditingkatkan. Dengan demikian dana operasi bisa direncanakan, diatur, digali dan ditingkatkan secara mudah selanjutnya bias segera dilaksanakan.Di masamasa itu, aparat intelejen dan aparat keamanan pada umumnya, memang terlalu cepat menyimpulkan hasil endusan terhadap keberadaan sekelompok orang sebagai ancaman bagi negara, serta terlalu cepat pula di dalam merumuskan perlunya operasi intelejen yang berdarah-darah. Hal itu didukung oleh mudah dan melimpah-ruahnya dana operasi, dan begitu luasnya dominasi dan daya intervensi intelejen ke hampir semua sektor kehidupan.Kalau berbicara tentang DI/TII atau NII, tentu tidak bisa lepas dari figur SMK (Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo). Faktanya, Kartosoewirjo sudah divonis sebagai pemberontak yang berhajat mendirikan negara Islam, dan hukuman mati pun sudah dijalani pada bulan September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta. Namun jangan diabaikan, bahwa Kartosoewirjo punya pertalian emosional dan historis dengan Bung Karno serta Panglima Besar Sudirman. Bahkan dengan Semaun tokoh PKI.Sejarah mencatat bahwa Kartosoewirjo, Bung Karno dan Semaun adalah murid HOS Tjokroaminoto, setidaknya murid untuk urusan ideologi dan politik. Mereka akhirnya tumbuh dengan persepsi masing-masing. Kartosoewirjo berlatar belakang pendidikan sekolah kedokteran Djawa (NIAS), bukan sekolah agama, ternyata belakangan hari justru lebih dikenal sebagai sosok pemberontak yang bercita-cita mendirikan negara Islam. Sementara Bung Karno menjadi tokoh Nasionalis-sekuler, dan Semaun sebagai tokoh nasional yang berpaham Komunis.Keterkaitan Kartosoewirjo dengan Panglima Besar Sudirman, dapat dilihat melalui catatan KH Firdaus A.N. pada sebuah buku berjudul Menelusuri Perjalanan Jihad SM Kartosuwiryo Proklamator Negara Islam Indonesia (Jogjakarta, Juli 1999). Menurut Firdaus, pasca perjanjian Renville 17 Januari 1948, Panglima Besar Sudirman mengharuskan pasukan Siliwangi mengungsi dari Jawa Barat ke Jogjakarta. Meski perjanjian itu merugikan, namun hal itu disengaja karena merupakan bagian dari strategi Panglima Besar Sudirman sendiri.Seorang wartawan Antara yang diajak Panglima Besar Sudirman bersama dalam satu mobil, setelah sang panglima menyambut kedatangan pasukan Siliwangi di Stasiun Tugu (Jogjakarta), sempat bertanya apakah siasat itu (menarik pasukan Siliwangi ke Jogjakarta) tidak merugikan Indonesia? Ketika itu Panglima Besar Sudirman menjawab, “Saya telah menempatkan orang kita di sana.”Siapa sesungguhnya yang dimaksud sebagai ‘orang kita’ oleh Panglima Besar Sudirman? Jawabannya bisa ditemukan pada sebuah buku kecil berjudul Himbauan yang ditulis Bung Tomo pada 7 September 1977. Orang itu ternyata adalah Kartosoewirjo. Maka sebelum Kartosoewirjo meninggalkan Jogjakarta menuju Jawa Barat di tahun 1948 tersebut, ia telah terlebih dahulu izin pamitan kepada Panglima Besar Soedirman dan mendapat restu. Ketika itu, Kartosoewirjo merupakan orang penting dalam Kementrian Pertahanan Republik Indonesia.Pertanyaannya, apakah yang melatarbelakangi Kartosoewirjo mengusung ideologi ‘ekstrim kanan’ itu karena ia menjadi bagian dari gerakan Islam garis keras trans nasional sebagaimana diributkan pada akhir-akhir ini oleh kalangan sepilis, ataukah karena hal itu ada masalah di dalam hubungan interpersonal antara dirinya dengan para founding fathers kita? Apakah Bung Karno dianggap dan atau dalam penilaian Kartosoewirjo mengkhianati atau justru sebaliknya? Yang jelas, Kartosoewirjo akhirnya dihukum mati atas perintah panglima tertinggi, Presiden Sukarno yang nota bene sebelumnya merupakan teman dekat tersebut. Dengan keputusan dijatuhi hukuman mati dan segera dieksekusi tersebut, berati kalsifikasi posisi Kartosoewirjo telah dikategorikan sebagai ancaman. Tapi bagi siapa? Apakah bagi negara atau bagi elite tertentu?Demikian halnya dengan Kahar Muzakkar yang selama ini dikenal sebagai tokoh pemberontak

ekstrim kanan, yang bergabung ke dalam gerakan pemberontakan Kartosoewirjo, dengan posisi terakhir menyandang pangkat letnan Kolonel, TNI-AD. Kahar yang tercatat pernah menjadi ajudan Bung Karno, pernah harus turun pangkat satu tingkat hanya karena menghormati Soeharto yang kala itu berpangkat letnan Kolonel yang ditugaskan di Sulawesi Selatan.Menurut Barbara Sillars Harvey (Cornell University), salah satu alasan yang mendorong Kahar bergabung ke dalam gerakan Kartosoewirjo adalah karena keinginan Kahar membentuk Resimen Hasanuddin ditolak Kolonel Kawilarang. Saat itu Kahar adalah pemimpin KGSS (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan), yang ikut perang kemerdekaan. Para gerilyawan ini tidak diterima masuk ke dalam TNI karena dianggap tidak memenuhi syarat, dengan menjadikan pendidikan formal para anggota laskar tersebut sebagai alas an penolakan.Sisi lain tentang Kahar yang jarang diungkap adalah, bahwa Kahar Muzakar adalah anggota PMC (Penjelidik Militer Chusus), salah satu institusi intelejen di masa awal kemerdekaan. Bahkan, Kahar Muzakar merupakan orang kedua setelah Zulkifli Lubis yang pernah mengenyam pendidikan intelejen di Jepang, sesuatu yang tidak pernah dialami oleh Ali Moertopo maupun Soeharto.Pertanyaannya, apakah pemberontakan Kahar Muzakar itu disebabkan oleh karena ia terlibat dalam sebuah Gerakan Islam Radikal Trans Nasional, ataukah karena ada masalah dalam hubungannya dengan petinggi TNI saat itu? Apakah Kahar yang sebelumnya pernah besekolah di sebuah pesantren yang berhaluan keras, atau sama karena sekali tidak pernah besentuhan dengan pesantren dan institusi pendidikan keagamaan (Islam) apapun?Fakta-fakta sejarah di atas, seharusnya menjadikan badan intelejen kita makin cerdas, terampil dan berkualitas. Artinya, tidak tergesa-gesa dan tidak terburu-buru menyimpulkan adanya sesuatu sebagai ancaman bagi Negara yang didasarkan hanya karena style dan potensi kekuatan serta pengaruh yang sedemikian rupa dari seseorangatau sekelompok orang.Jangan lupa, sebelum masuk TNI Ali Moertopo yang asli Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) itu mengaku sebagai anggota tentara Hizbullah sehingga sempat bekerja sama dengan barisan TII (Tentara Islam Indonesia). Kawan seperjuangan Ali Moertopo adalah Danu Muhammad Hasan dari TII. Sejarah mencatat, akhirnya Ali Moertopo dan Banteng Raiders-nya yang menangkap Danu dan kawan-kawan untuk berdamai dengan pemerintah NKRI. Melalui jalinan ini pula kemudian lahir kasus Komando Jihad.Untungnya, pemerintah saat ini lebih cenderung menerapkan kebijakan simpatik. Apalagi dana operasi intelejen saat ini tidak semelimpah zaman Ali Moertopo, Benny Murdani dan Hendropriyono. Begitu juga dengan kewenangan daya intervensinya yang tidak seluas intelejen zaman dulu. Sehingga, kekhawatiran sebagaimana yang terjadi pada masa lalu rasanya tidak eralasan.Operasi intelejen terhadap kelompok-kelompok yang dikategorikan sebagai ancaman bagi Negara akhirnya dipilih berdasarkan hitungan kebijakan yang tepat dan cerdas, yaitu ditempuh dengan menerapkan soft power policy. Misalnya, membiarkan hidup organisasi-organisasi dan atau lembagalembaga yang selama ini dinilai sebagai bagian dari gerakan garis keras.Kebijakan Pemerintah saat ini tidak sekedar membiarkan, tetapi juga memonitor dengan seksama, seraya menyusupkan agen intelejen ke dalam tubuh lembaga garis keras tersebut. Bahkan dalam upaya penyusupan tersebut ada yang berhasil dijadikan sebagai elite lembaga garis keras, ada juga yang dicukupkan menjadi ajudan tokoh pentingnya. Penampilan mereka sebagai volunteer dan penyusup tak berbeda dengan penampilan kebanyakan anggota kelompok di sana, antara lain, berjidat hitam, reaksioner dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan rapi dan seksama, tanpa bisa disadari oleh elite maupun anggota lembaga garis keras tersebut..Itulah bentuk reformasi di kalangan intelejen yang dijalankan saat ini dalam menyikapi kelompok-kelompok yang dianggap berpotensi menjadi gangguan dan ancaman, operasi mereka tidak lagi frontal, tetapi lebih menerapkan teori desepsi yang nyaris sempurna. Hal itu setidaknya terbukti bahwa, saat ini tidak ada satu pun ormas, parpol, dan bahkan gerakan bawah tanah dari kiri, tengah, dan kanan yang tidak lepas dari penyusupan tersebut.Dalam kasus radikalisme yang digerakkan JI (Jama’ah Islamiyah) misalnya, intelejen sudah berhasil menjinakkan, memelihara dan membina Nassir Abbas dan Ali Imran. Selama ini masyarakat dijejali dengan opini bahwa ahli bom dari JI adalah Azahari. Padahal, dalam merangkai bom, Ali Imran alias Ale adalah gurunya Azahari. Ali Imron adalah adik kandung Amozi dan Ali Ghufron yang telah dieksekusi mati bersama Imam Samudera pada 09 November 2008, pukul 00:15 wib di Bukit Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Karena Ali Imran kooperatif maka ia ‘hanya’ divonis seumur hidup.Kini, Ali Imran dan Nassir Abbas bagai asset penting yang terus dipelihara. Bahkan konon Noordin M Top juga sudah menjadi bagian dari asset intelejen. Seluruh gerakannya pun sudah termonitor. Dari setiap langkah Noordin, aparat bisa menemukan dan mengukur potensi radikalisme kelompok JI sejak dini dan dapat mengantisipasinya secara dini pula.Kontradiksi dan kelemahan fatal intelejen saat ini dibanding dengan intelejen zaman orde baru terdapat pada ruang tanggungjawab antisipasi, intersepsi maupun intervensinya

terhadap setiap potensi dan ancaman maupun keberadaan riil berbagai tindak kejahatan yang secara nyata merongrong, menghambat serta merusak kewibawaan undang-undang, hukum, Negara dan pemerintah yang dilakukan oleh mafia peradilan, bandar narkoba, korupsi serta kejahatan moneter yang saat ini merajalela. Para pelaku dan tindak kejahatan tersebut tidak saja telah mengancam tetapi telah nyata-nyata menggerogoti APBN, kekayaan Negara serta merusak kewibawaan Pemerintah. Namun demikian keberadaan dan tanggungjawab intelejen yang sesungguhnya dalam mengawal kepentingan Negara serta memproteksi Presiden dari citra negatif nyaris tak terlihat dan tak terdengar.TERORIS JUGA MANUSIA Oleh Umar Abduh (Mantan Napol Woyla)BAGI TRIO TERPIDANA MATI kasus Bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra, dijuluki teroris oleh media massa lokal dan internasional, atau oleh siapapun juga, tidak membuat mereka marah atau kecil hati. Mereka yakin, apa yang mereka lakukan adalah jihad. Sehingga mereka pun yakin Allah akan memberi mereka gelar mujahid.Bahkan, mereka sama sekali tidak merasa keberatan dengan apapun yang ditempuh pemerintah di dalam menjalankan hukuman mati atas diri mereka. Ditembak mati dengan bedil, dipancung, dialiri listrik, atau cara lainnya, bagi mereka sama saja. Semuanya menuju mati syahid. Bagaimana kita memposisikan Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra: Mujahid atau Teroris? Yang jelas, mereka juga manusia. Sebagai manusia, mereka termasuk yang mempunyai ketaatan kepada ajaran agamanya, mempunyai keseriusan di dalam mendalami ajaran agamanya, mempunyai keberpihakan kepada umat Islam

Amrozi, Ali Ghufron, Imam Samudra Kalau toh akhirnya ada yang menilai mereka mengalami distorsi di dalam memaknai dan mempraktekkan jihad, itu urusan mereka dengan Allah. Bagi yang sepaham dengan ‘ijtihad’ mereka, maka Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra adalah Mujahid. Sebaliknya, bagi yang tidak sepaham, ketiganya dijuluki Teroris. Alumni Afghan Dua dari trio terpidana mati Bom Bali I adalah alumni Afghan. Ali Ghufron alias Mukhlas adalah alumni Afghan angkatan kedua (masuk pada akhir 1987), satu angkatan dengan Abu Rushdan dan Mustapha alias Pranata Yudha. Sedangkan Imam Samudra angkatan kesembilan (masuk pada tahun 1991), seangkatan dengan Ali Imran (adik Ali Ghufran alias Mukhlas, yang juga terlibat kasus Bom Bali I namun tidak divonis hukuman mati).

Abu Rushdan alias Hamzah

Mustofa (Mustapha) alias Pranata Yudha alias Abu Tholut

Ali Imron Rombongan pertama dari Indonesia yang berjihad ke Afghan terjadi sekitar akhir 1984 hingga awal 1985, antara lain diikuti oleh Sa’ad alias Ahmad Roihan, yang juga terlibat dalam kasus Bom Bali I, bahkan beberapa kasus peledakan sebelumnya. Abu Dujana menutup rombongan warga Indonesia berlatih militer untuk berjihad di Afghan. Abu Dujana sebagaimana Ahmad Roihan juga sudah ditangkap aparat.

Sa'ad alias Ahmad Roihan

Abu Dujana

Sidney Jones, Direktur International Crisis Group (ICG) Biro Jakarta, pada salah satu kesempatan pernah mengatakan, kalau saja orang-orang seperti Imam Samudra tahu bahwa ‘proyek’ Aghan merupakan rancangan CIA, niscaya mereka tidak akan mau pergi ke Afghan untuk berlatih militer dan berjihad. Benarkah demikian? Tidak! Meski mereka tahu CIA berada di belakang ‘proyek’ Afghan, tekad dan semangat jihad mereka membebaskan Muslim Afghan dari penjajahan rezim komunis Soviet, dapat mengalahkan realitas itu.Sebagai superpower AS seharusnya mampu mengirimkan sejumlah pasukannya untuk mengusir komunisme Soviet dari Afghanistan. Namun kala itu AS belum pulih dari trauma akibat mengalami kekalahan siginfikan pada perang Vietnam yang berlangsung sejak 1961 hingga 30 April 1975. AS kehilangan lebih dari 58.000 prajuritnya dan menghabiskan lebih dari 15 miliar dollar AS.Presiden AS terpilih, Kennedy, pada tahun 1961 mengirimkan 400 tentara ke Vietnam. Tahun berikutnya, Kennedy menambah pasukannya di Vietnam menjadi 11.000 tentara. Di tahun 1968, AS mengirimkan 500 ribu pasukannya ke Vietnam, belum termasuk berbagai pasukan dari Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Filipina dan Thailand yang berjumlah 90.000 orang.Perang Afghan sendiri berlangsung awal 1980-an hingga awal 1990-an. AS tidak mau mengorbankan prajuritnya sebagaimana terjadi di Vietnam. Maka, pilihan jatuh kepada pemuda Islam di pelosok dunia yang terkenal dengan semangat jihadnya, termasuk dari Indonesia. Osama bin Laden menjadi sosok yang sangat penting, di samping tokoh-tokoh lainnya, di dalam merekrut dan memfasilitasi pemuda-pemuda Islam yang mau berjihad ke Afghan.Membangkitkan HarimauSejak 1990 hingga 1995, alumni Afghan asal Indonesia berangsur-angsur pulang ke tanah air. Sebagian melanjutkan jihadnya ke Moro (Philipina), menghidupkan Kamp Hudaibiyah hingga akhir 1990-an.Di Afghan, sebelum berjihad mereka melengkapi diri di Kamp Latihan dengan berbagai hal, seperti menggunakan senjata, kursus mengenali berbagai jenis bahan kimia dan meracik bahan peledak (bom), kursus menggunakan tank tempur, latihan tempur pada berbagai medan perang. Namun ketika kembali ke tanah air, keterampilan itu sama sekali tidak digunakan untuk melakukan aksi teror. Karena, mereka sama sekali tidak bercita-cita menjadi teroris, apalagi di negerinya sendiri.Akan tetapi sejak tragedi 25 Desember 1998, ketika umat Islam sedang menjalankan shaum Ramadhan, dan umat Kristiani masih dalam suasana Natal yang seharusnya damai penuh kasih. Tiba-tiba kedamaian itu dirobek-robek oleh pemuda kristiani yang dalam keadaan mabuk memasuki Mesjid kemudian membacok Ridwan. Inilah kasus Poso pertama, yang mengawali kasus-kasus Poso lainnya.Sekitar tiga pekan kemudian, 19 Januari 1999 pecah lagi kasus Ambon, yang diawali dengan aksi pemalakan yang dilakukan pemuda Kristen terhadap dua pemuda Muslim. Konflik berlanjut secara meluas dan berdarah-darah. Hingga puncaknya terjadi pada 24 Desember 1999 hingga 7 Januari 2000, yang dinamakan kasus Tobelo-Galela, dengan korban terbanyak dari kalangan Muslim. Ada yang menyebutkan jumlah korban mencapai 3000 jiwa, dan 2800 di antaranya Muslim. Menurut versi Gus Dur, korbannya hanya lima orang. Sedangkan menuruut versi Max Tamela, Pangdam Pattimura kala itu, korban yang diakuinya berjumlah 771 jiwa, mayoritas Muslim.Belakangan diketahui, pada tragedi pembantaian di Tobelo-Galela ini, ada keterlibatan Sinode GMIH (Gereja Masehi Injil di Halmahera), yang mengkoordinir pengungsian umat Kristen ke Tobelo berjumlah sekitar 30.000 orang. Pengungsian dilakukan secara bertahap sejak pertengahan November hingga awal Desember 1999. Bahkan, pada Jumat 24 Desember 1999 dengan alasan pengamanan gereja, diangkut ratusan warga kristen dari Desa Leloto, Desa Paso dan Desa

Tobe ke Tobelo. Mereka datang mengendarai truk dengan berbagai atribut perang seperti kain ikat kepala berwarna merah, tombak, parang dan panah.Mei 2000, pecah lagi kasus Poso ketiga. Ratusan warga pesantren Walisongo, dibantai oleh Tibo dan kawan-kawan. Belakangan diketahui, ada keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena. Juga, sejumlah tokoh (16 orang), sebagaimana disebutkan Tibo sebelum dieksekusi mati.Peristiwa-peristiwa itu ibarat membangkitkan harimau yang sedang istirahat. Maka meledaklah aksi teror yang pertama kali dilakukan para alumni Afghan, yaitu peledakan Bom di Kediaman Kedubes Philipina. Aksi peledakan itu terjadi pada tanggal 01 Augst 2000. Alasannya, para pelaku pemboman menduga Philipina secara ilegal turut mengirimkan senjata ke Ambon (Maluku) yang kala itu sedang konflik, dan tentu saja menguntungkan salah satu pihak yaitu kelompok merah (kristen).Kemudian, pada malam Natal 24 Desember 2000, terjadi ledakan di sejumlah gereja di berbagai kota di Indonesia, seperti di depan Gereja Katedral (Jakarta Pusat), Gereja Santo Yosef, dan halte bus sekolah katolik Marsudi Rini di Jalan Matraman Raya (Jakarta Timur), Gereja Koinonia (di Jatinegara, Jakarta Timur), juga gereja dan sekolah Kanisius, Jalan Menteng Raya (Jakarta Pusat). Ledakan juga terjadi di dekat gereja di Medan, Sumatera Utara, Mojokerto Jawa Timur, Mataram NTB dan Pekanbaru dan Batam Riau, serta Bekasi. Alasannya jelas, merupakan peringatan keras kepada kalangan Kristen terutama tokoh rohaniwan, yang sejumlah petinggi gerejanya justru menjadi aktor intelektual tragedi pembantaian Muslim di Ambon (Maluku) dan Poso.Februari 2001 terjadi lagi pengusiran dan pembantaian terhadap warga Madura di Sampit, yang dilakukan oleh Dayak Kristen dan animis. Tragedi Pemenggalan kepala warga Madura oleh suku Dayak dilakukan secara demonstratif di siang hari dan di depan kamera teve lokal dan internasional yang sedang meliput. Dua bulan kemudian, April 2001, pecah lagi kasus Poso ke-empat.Meski tidak ada kaitannya dengan kasus Sampit, Ambon dan Poso, yang jelas pada 11 September 2001, terjadi tragedi WTC 911 di negerinya Bush. Tudingan teroris yang dilekatkan kepada Islam, mulai disosialisasikan Bush. Kekhawatiran Bush terhadap aksi terorisme yang dilekatkan kepada Islam, ibarat senjata makan tuan. Perang melawan terorisme pun dicanangkan, karena AS (CIA) yang paling tahu kualitas mujahid alumni Afghan. Ibarat sang guru yang tahu betul kualitas murid-muridnya.Setahun kemudian, 12 Oktober 2002, barulah meledak kasus Bom Bali I yang menewaskan 202 korban jiwa dan 350 orang lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan. Secara keseluruhan, korban tewas pada kasus Ambon, Poso dan Sampit, terutama dari pihak Islam, jumlahnya puluhan bahkan ratusan kali jauh lebih besar dibandingkan dengan korban tewas pada kasus Bom Bali I dan II.Kurang setahun dari kasus Bom Bali I, terjadi peledakan di depan lobi Hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003 sekitar pukul 12.40 wib, menyebabkan 10 orang tewas dan 152 luka-luka. Setahun kemudian, terjadi Bom Kuningan (9 September 2004), di depan Kedubes Australia jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Setahun kemudian, terjadi Bom Bali II (01 Oktober 2005). Sekitar sebulan kemudian, Doktor Azhari yang selama ini menjadi hantu teroris berhasil ditembak mati, di kawasan Batu, Malang, pada 09 November 2005.Objektif dan AdilPasca tertembaknya Azahari, kasus peledakan betul-betul terhenti, sampai saat ini. Namun, potensi teror tetap ada, bila merujuk pada adanya penangkapan di Palembang (01 Juli 2008) dan Kelapa Gading (21 Oktober 2008), yang menjadikan target peledakannya Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara. Meski Azahari sudah ditembak mati, dan tiga ratusan anggota jaringan teroris sudah ditangkap, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Abu Dujana, para pengamat pun menyatakan prediksinya tentang potensi destruktif dari gerakan terorisme Jama’ah Islamiyah tinggal sepuluh persen saja namun potensi teror dinyatakan tetap ada, bahkan pihak kepala Polri yang baru menyebutkan terorisme kini justru ada di mana-mana. Dengan alasan, Noordin M Top yang selama ini dinilai ahli melakukan rekrutmen, dinyatakan belum tertangkap. Artinya, meski Amrozi cs ditembak mati sekalipun, potensi teror masih tetap tinggi. Lantas, bagaimana mengeliminasi potensi teror sebagaimana terjadi selama ini? Semua pihak seyogyanya, terutama pemerintah harus bersikap objektif dan berlaku adil lihat akar masalahnya. Ini resepnya. Akar masalahnya, pertama, ada pembantaian yang dilakukan umat Kristiani terhadap umat Islam baik di Ambon (Maluku) maupun di Poso. Ini bukan onflik horizontal biasa. Fakta ini diabaikan, bahkan dipaksakan menjadi konflik horizontal biasa, yang dimulai dari adanya pertikaian antara preman dari kedua belah pihak. Padahal, faktanya tidaklah demikian.Yang terjadi sesungguhnya adalah ummat non Muslim (KristenKatholik) sebagai pihak yang memulai pertikaian ini, yang diyakini ada keterlibatan gereja serta tokoh-tokoh masyarakat Kristen-Katholik di sana sebagai perancang aksi (aktor intelektual). Mereka memulai penyerangan dan pembunuhan, sedangkan ummat Islam hanya melakukan reaksi balik, sekaligus dalam rangka mempertahankan diri. Bantuan yang datang dari luar titik konflik, karena ummat Islam menyadari posisi aparat baik pusat maupun daerah meberi porsi berat sebelah,

sama sekali tidak melindungi masyarakat muslimnya.Akar masalah kedua, sikap arogan dan tidak loyal kalangan KristenKatholik (dan kemudian Hindu). Sikap arogan ini terjadi terutama di daerah-daerah tertentu yang masyoritas penduduknya non-Muslim. Pengusiran hingga pembantaian (muslim cleansing) terjadi di beberapa daerah-daerah ini. Sedangkan di daerahdaerah yang masyoritas penduduknya Muslim, umat Kristen-Katholik dan Hindu tidak pernah ada pengusiran apalagi pembantaian. Dari daerah-daerah ini pula ancaman dan gertakan memisahkan diri dari NKRI sering dikumandangkan. Ini menunjukkan bahwa non-Muslim (kecuali umat Budha) secara konsisten menebar benih dan memang tidak loyal kepada NKRI. Seharusnya, pemerintah dan aparat keamanan mendorong tokoh Kristen-Katholik berjiwa besar, dengan mengakui kekeliruan sebagian ummatnya maupun tokoh gereja, yang secara sengaja menjadi aktor intelektual dalam pembunuhan umamt Islam. Permintaan maaf tersebut dilakukan secara terbuka, sehingga terbaca oleh alumni Afghan, insya Allah hal tersebut dapat menyejukkan hati mereka.Selain itu, aparat juga harus berlaku adil. Dalam menangani kasus Poso yang berkepanjangan, misalnya, untuk operasi pemulihan keamanan yang targetnya pelaku teror dan pembantaian dari pihak Kristen, aparat menggunakan sandi Operasi Cinta Damai. Sedangkan bila hal yang sama ditujukan kepada komunitas Islam, aparat menggunakan sebutan Operasi Raid yang bermakna serbu atau basmi, hal ini mengingatkan kita pada racun pembasmi nyamuk. Ini jelas tidak adil dan sangat provokatif. Setidaknya menimbulkan kegeraman.Saya yakin mereka tidak bercita-cita jadi teroris. Mereka manusia biasa saja. Namun bila ratusan (atau ribuan) saudara seagamanya dibantai oleh saudara lainnya yang berbeda agama, jelas dan pasti mereka tentu tidak mungkin berpangku tangan. Ke Afghan yang jauh saja mereka siap bersabung nyawa. Apalagi hanya ke Ambon dan Poso. Demikian halnya soal keberanian dalam jihad, saya pastikan bahwa ummat Islam Indonesia memiliki sangat banyak pemuda muslim yang jauh lebih berani dan pintar dari Azahari atau Amrozi cs, apalagi kalau hanya sekedar meletakkan sebuah atau beberapa rangkaian bom di tempat-tempat yang tidak beresiko. Masalahnya, ummat Islam yang potensinya lebih baik tersebut masih diberi kesadaran dan akal sehat, dan yang lebih penting lagi adalah apakah pihak pemerintah punya kemauan politik untuk menyelesaikan atau tidak?Jakarta, 7 Nopember 2008BERDAMAI DENGAN TERORIS Oleh John Helmy Mempi dan Umar AbduhJohn Helmy Mempi (putra Dayak beragama Islam, masih berkerabat dekat dengan Letjen TNI Purn. ZA Maulani)TINDAKAN RADIKAL dan terorisme di Indonesia telah mencapai perkembangan yang mengejutkan, dengan munculnya ‘pasukan’ bom bunuh diri, sebagaimana terjadi pada Bom Bali II tanggal 1 Oktober 2005, dan sebelumnya pada kasus Bom Kuningan di depan Kedubes Australia 9 September Oktober 2004, juga Bom Marriott tanggal 5 Agustus 2003, dan terakhir 17 Juli 2009 di Ritz Carlton dan JW Marriott.Di dalam upaya menangulangi dan memberantas fenomena ini, pemerintah antara lain menempuh cara memanfaatkan sejumlah ulama untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat luas terutama di lingkungan pesantren. Juga, melakukan pendekatan dengan tokoh Islam radikal yang berseberangan visi dengan kelompok Doktor Azahari dan Noordin Moh. Top.Melalui Menteri Agama, telah pernah dibentuk Tim Penanggulangan Terorisme (TPT) yang dipimpin KH Ma’ruf Amin (Ketua Majelis Fatwa MUI), untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai pemahaman jihad yang benar. Juga dibentuk pokja (kelompok kerja) yang tugasnya antara lain, menyensor buku-buku yang berisi seruan jihad yang tidak benar. emanfaatkan ulama untuk memberikan pencerahan kepada komunitas pesantren berkenaan dengan terorisme, terminologi jihad dan mati syahid, memberi kesan bahwa pemerintah memang serius mencurigai pesantren. Padahal, Departemen agama telah melakukan penelitian setidaknya di dua pesantren yang patut diduga mengajarkan paham terorisme, yaitu di Pesantren Ngruki (Solo) dan Pesantren Al-Islam, Tenggulun (Jawa Timur). Hasil penelitian menyimpulan bahwa di kedua pesantren itu “tidak ada kurikulum terorisme”.Selain itu, proses penggemblengan yang dilakukan para teroris untuk mendapatkan calon pelaku bom bunuh diri, adalah melalui serangkaian indoktrinasi yang relatif tidak singkat, sembunyi-sembunyi, dan tidak ada kaitannya dengan lembaga pendidikan formal dan nonformal. Maka terkesan, selain memang serius mencurigai pesantren, pemerintah juga tidak tepat sasaran di dalam upaya melakukan pencerahan bagi masyarakat di dalam menanggulangi masalah terorisme ini.Jika pencerahan atau sosialisasi ini ditujukan kepada masyarakat luas (di luar pesantren), ini bukanlah merupakan upaya yang efektif, karena memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang cukup besar. Padahal, masyarakat awam –termasuk komunitas pesantren– pada dasarnya anti terhadap bom bunuh diri, mereka tanpa diberikan pencerahan pun sudah pasti menolak dan tidak akan mau bila disuruh untuk melakukan bom jihad atau bom syahid atau bom bunuh diri.Menyensor buku-buku bertemakan jihad (yang tidak benar) juga merupakan salah satu upaya yang tidak tepat sasaran dan tidak efektif.

Karena buku-buku dimaksud, tidak dapat diperoleh pada toko-toko buku besar seperti Gramedia, tetapi hanya beredar di toko-toko buku kecil tertentu. Artinya, kalau toh buku-buku dimaksud memang ada, ia tidaklah begitu mengkhawatirkan karena peredarannya sangat terbatas, konsumennya pun terbatas. Upaya ini, selain tidak tepat sasaran dan tidak akan efektif, terkesan diskriminatif. Karena, selama ini pemerintah membiarkan (tidak menyensor) berbagai buku yang bertema penyesatan, pendangkalan aqidah, menghujat Islam. Pemerintah juga terkesan tidak tegas dan membiarkan beredarnya bukubuku porno, majalah porno, VCD porno, aksi porno melalui berbagai tayangan televisi, padahal itu semua melanggar Undang-Undang.Di mata para radikalis (teroris), para ulama yang dimanfaatkan pemerintah untuk mencerahkan masyarakat berkenaan dengan terorisme ini, tidak dipandang sebagai ulama pewaris nabi, sehingga nasihat maupun himbauannya cenderung diabaikan.Artinya, nasihat dan himbauan para ulama itu hanya akan efektif bagi kalangan awam, padahal kalangan awam ini tidak akan pernah mau melakukan bom bunuh diri, dan tidak pernah terlibat aksi radikal apapun. Dengan kata lain, upaya yang ditempuh pemerintah –meminjam istilah dari dunia medis– merupakan treatment yang keliru akibat diagnosa yang keliru pula.Akar MasalahHarus diakui, bahwa di Indonesia terdapat segugus konstituen radikal yang secara kultural dan ‘institusional’ bermuara kepada konstituen NII (Negara Islam Indonesia) atau disebut juga dengan DI/TII (Darul Islam / Tentara Islam Indonesia), yang dilahirkan melalui proses ‘dinamika politik’ pasca kemerdekaan. Secara formal, NII atau DI/TII memang sudah tidak eksis. Namun, secara kultural masih tetap hidup. Bahkan konstituen inilah yang terbesar dibandingkan dengan ‘institusi’ radikal lainnya. Dari konstituen ini pulalah kelak lahir institusi JI (Jama’ah Islamiyah) yang merupakan organisasi rahasia (gerakan bawah tanah, klandestein) atau dalam istilah Arab disebut tandzim sirri.Sebagaimana digambarkan oleh mantan anggota JI Nasir Abbas melalui bukunya berjudul Membongkar Jamaah Islamiyah, pada mulanya mereka adalah jamaah NII. Setelah terjadi perpecahan antara Sungkar-Ba’asyir dengan Ajengan Masduki, maka Sungkar-Ba’asyir pun mendirikan JI pada Januari 1993. Dari konstituen NII ini pulalah yang paling banyak engirimkan pemuda-pemudanya untuk berjuang ke Afghanistan, ketika pemerintah Amerika bermaksud menghalau Soviet dari bumi Afghanistan.Sepanjang 1982-1992 pemerintah AS melalui CIA berhasil merekrut 100 ribuan pemuda radikal Islam dari sekitar 43 negara –dari Timur Tengah, Afrika Utara dan Timur, Asia Tengah dan Asia Timur Jauh termasuk Indonesia– untuk dilatih menggunakan berbagai jenis senjata, merakit bom (termasuk jenis C-4), tehnik berperang, dan sebagainya, dalam rangka menghadapi tentara Soviet. Dari Indonesia saja, setidaknya ada 3000 alumni Afghanistan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Masalahnya, para mujahid itu tidak menyadari bahwa ini merupakan proyek CIA bekerjasama dengan Dinas Intelijen Pakistan (ISI, Inter Service Intelligent), dan Badan Intelijen Inggris MI-6. Tidak seluruh “alumni Afghan” yang ada di tanah air ini menjadi bagian dari institusi JI. Dan tidak seluruh faksi JI yang ada terlibat di dalam aksi radikal seperti pemboman yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagai contoh, pada kasus Bom malam Natal 2000, pelakunya adalah JI faksi liar bekerja sama –antara lain– dengan NII faksi Ajengan Masduki.Namun, yang dijadikan sasaran pemerintah adalah Ba’asyir, padahal ia berasal dari faksi JI yang tidak terlibat pada serangkaian peledakan yang terjadi di tanah air. Sementara itu, sosok seperti Ajengan Masduki (tokoh NII dari salah satu faksi radikal) sampai detik ini tidak pernah tersentuh aparat.Bila pemerintah menggeneralisir bahwa pelaku tindakan radikal adalah JI pada umumnya, maka sikap ini akan membuat ‘marah’ faksi JI yang baik-baik saja. Padahal, mereka juga tidak bisa membenarkan perbuatan itu. Begitu juga bila pemerintah menggeneralisir bahwa aksi radikal ini dilakukan oleh “alumni Afghan” pada umumnya, maka para “alumni Afghan” lainnya yang baik-baik saja akan ‘marah’. Apalagi bila generalisasi ini dilekatkan kepada ummat Islam pada umumnya, maka yang ‘marah’ tidak hanya ummat Islam di Indonesia, tetapi juga ummat Islam dari berbagai penjuru dunia.Keterampilan para “alumni Afghan” menggunakan senjata dan merakit bahan peledak, harus diakui merupakan hasil didikan instruktur CIA. Kini, keterampilan itu digunakan untuk melakukan aksi teror yang bertemakan “melawan Amerika dan sekutunya”.Bila dahulu mereka dimanfaatkan Amerika (CIA) untuk mengusir Soviet dari Afghanistan, kini mereka dicampakkan, lalu di-sett up bahkan dianggap teroris yang memusuhi Amerika dan sekutunya, sehingga harus ditumpas. Ini jelas merupakan tragedi kemanusiaan yang dapat menyuburkan bibit radikalisme dan terorisme.Oleh karena itu, semangat memerangi para teroris, sebaiknya diwujudkan dalam bentuk program yang persuasif-kreatif dan humanis. Bila pemerintah AS telah bersedia mengeluarkan dana ratusan miliar rupiah untuk mengatasi terorisme di Indonesia (kepada Densus 88), maka seharusnya mereka tidak sungkan-sungkan menggelontorkan sejumlah dana untuk menciptakan perdamaian dengan para teroris dan calon teroris –tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.Membuka dialog dengan para “alumni

Afghan” di seluruh dunia, adalah bentuk kongkrit dari jiwa Amerika yang digelari sebagai kampiun demokrasi. Bila program dialog ini sudah dirancang AS, maka pastilah pemerintah tempat di mana para “alumni Afghan” itu berasal, akan turut mendukung. Apalagi bila ada reward. KASUS JAMA’AH IMRAN 1980-1981 Oleh Umar AbduhKETIKA MUNCUL gerakan pemuda Masjid BKPMI (Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia) pada tahun 1976, semangat dan ide penegakan syari’ah Islam terhadap sistem Jama’ah Imamah Islamiyah di kalangan pemuda dan remaja Islam menjadi mengemuka. Melalui sistem pengkaderan LMD (Lembaga Mujahid Dakwah) dan sistem pembinaan Usrah hampir bisa dikata seluruh kampus di kota besar di Indonesia terlibat secara pasti dan berpartisipasi. Demikian pula halnya pertumbuhan organisasi Remaja Masjid, hampir mayoritas pemuda muslim berada di bawah koordinasi BKPMI. Kewaspadaan ummat khususnya pemuda Islam terhadap proyek dan program Asas Tunggal Pancasila melalui P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau Eka Prasetya Panca Karsa) yang digelar rezim Orde Baru, telah memunculkan kesadaran massa pemuda Islam melakukan penentangan dan mempersiapkan sikap kritis maupun perlawanan. Terlebih setelah menyaksikan sikap melempem, hipokrit dan tidak tegas dari para ulama dan tokoh Islam terhadap rencana politik, proyek dan program pemberlakuan Asas Tunggal Pancasila, kecuali yang dilakukan Buya Malik Ahmad dan buya AR Sutan Manshur dari komunitas Muhammadiyah. Sikap yang benar sebagai muslim sama sekali tidak ditunjukkan para tokoh dan pimpinan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Al Irsyad dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di bawah almarhum M. Natsir demikian pula halnya Buya Hamka yang menjadi ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada saat itu. Fenomena BKPMI dan Jama’ah ImranFenomena munculnya Pemuda Masjid seperti itu ternyata mudah diantisipasi rezim intel Orde Baru. Sayang, para elite organisasi BKPMI seperti Toto Tasmara, Tatang Nasir, Jimly Asshiddiqqy, Syafi’i Anwar, Ndhun dan yang selevel pada saat itu tidak mampu menolak tekanan intelejenKetika BKPMI menggelar acara Muktamar pertama pada April tahun 1980 di Asrama Haji Pondok Gede, dalam rangka menentukan sikap politik terhadap program dan rencana pemberlakuan asas tunggal Pancasila sekaligus memilih kepemimpinan atau Imamah Islamiyah, para pimpinan BKPMI tersebut mengkhianati para peserta Muktamar yang saat itu berjumlah 1000 orang lebih. Para elite pimpinan BKPMI saat itu berkhianat secara tiga rangkap. Pertama, berkhianat kepada Islam. Kedua, berkhianat kepada peserta atau undangan yang hadir. Ketiga, berkhianat kepada amanat organisasi BKPMI. Para elite BKPMI menerapkan politik dagang sapi karena telah menjual acara Muktamar kepada beberapa menteri rezim ORBA dengan harga yang sangat murah, selain mengambil untung dari sumbangan dana yang masuk dan diwajibkan kepada setiap peserta untuk mengedarkan kepada para pejabat di kota masing-masing. Kekecewaan para peserta terhadap rusak dan gagalnya Muktamar pertama BKPMI, dan sikap pengkhianatan para elite tersebut, akhirnya menjadi stimulan munculnya gerakan pemuda Islam Bandung di bawah pimpinan Imran bin Muhammad Zein yang selanjutnya dicap fundamentalis, radikal dan ekstrem. Sebuah pemberian gelar yang sangat buruk dan sarat nuansa stigma negatif sengaja dilemparkan rezim intelejen Soeharto dalam rangka pembusukan terhadap pemuda Islam yang berani menyuarakan sikap kritis dan berbeda bahkan bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Munculnya kelompok gerakan ini sebenarnya tidak lepas dari idzin dan restu para ulama kaliber nasional, di antaranya Ustadz Abdur Rahman (pimpinan Persatuan Islam, Bandung) Buya AR Sutan Manshur (dari Muhammadiyah) dan Buya Mawardi Noor (dari Dewan Da’wah Islamiyah – Rabithah Alam Islamy) dan yang lain. Sekalipun demikian tentu sama sekali tidak ditolak jika dalam kenyataan ada penentangan yang muncul dari tokoh Dewan Da’wah Wilayah Jawa Barat dan unsur ormas lain seperti KH Rusyad Nurdin, KH EZ Muttaqin, DR Syamsuddin dan yang lain. Para ulama dan tokoh kaliber nasional mendukung atas munculnya gerakan pimpinan Imran, ternyata ditakdirkan menjadi ulama yang konsisten. Sementara para ulama dan tokoh lokal malah menjatuhkan diri, melipat lutut di bawah tekanan intelejen. Padahal secara ideologis dan aqidah, para ulama dan tokoh lokal di atas sebelumnya resmi sebagai pendidik dan pembina pemuda Islam Bandung tersebut dalam mengkritisi dan menentang keberadaan palsu ideologi Pancasila dan UUD 1945, yang dinobatkan secara resmi dan disahkan secara konstitusional melalui Tap MPR rezim Orba sebagai satu-satunya berhala bagi masyarakat bangsa Indonesia. Sayang, para ulama dan tokoh lokal tersebut lebih memilih sikap munafiq. Semoga di akhir ajalnya, mereka sempat bertobat kepada Allah. Namun demikian kelompok ini sama sekali tidak memiliki garis dan benang merah sedikit pun dengan apa yang disebut dengan organisasi Neo NII dan Komando Jihad hasil rekayasa OPSUS (Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Juga tidak saling kenal dengan para pelaku kasus Teror Warman, yang ditangkap OPSUS dalam rentang waktu antara tahun 1977-1981. Sifat dan keberadaan gerakan Jama’ah Imran dan

gerakan Neo NII, Komando Jihad dan Teror Warman, jelas sama sekali berbeda.Sekitar tiga bulan setelah kelompok gerakan pimpinan Imran ini terbentuk, seorang anggota intelejen Negara yang berasal dari satuan organik TNI Yon Armed Cimahi segera disusupkan. Rekayasa pun disusun rapi dan dikemas dalam bentuk provokasi, berdasarkan setumpuk dokumen aspal dari Mabes ABRI dan CSIS yang berisi agitasi. Gerakan pemuda Islam Bandung pimpinan Imran terpedaya, terjebak dalam isu provokasi intelejen tersebut, apalagi setelah Najamuddin menjanjikan akan memberikan suplai berbagai jenis senjata organik ABRI, seraya menunjukkan contoh konkret senjata mana yang diperlukan dan pantas untuk masing-masing orang. Bodohnya, ketika beberapa anggota kelompok ini diminta Najamuddin agar masing-masing difoto seraya memegang senjata hasil pemberian yang dijanjikan dan berlangsung hanya sesaat oleh Najamuddin itu, tidak seorang pun dari anggota gerakan Imran keluar sikap kritisnya.Selanjutnya kelompok ini terjebak semakin jauh dengan rencana perburuan senjata maupun tindak kekerasan yang selalu didukung dan diprovokasi oknum aparat intelejen bernama Najamuddin. Bermula melalui sebuah proses rekayasa pematangan terhadap situasi kondisi mental para Ja’maah maupun aksi kekerasan dalam wujud penyerangan dan perlawanan terhadap pemerintah, yang secara hukum mencukupi unsur yang dibutuhkan bagi prinsip penindakan hukum tindak kriminal atau aspek subversif. Dimulai dari ide pencurian dan perampasan senjata milik aparat keamanan, penyerangan pos-pos polisi termasuk di antaranya ide dan target melakukan aksi pembajakan pesawat muncul, dan segera hal tersebut didorong oleh Najamuddin agar secepatnya direalisir. Rencana dan target pembajakan pun tidak tanggung-tanggung, kelompok ini mengagendakan akan membajak 9 buah pesawat sekaligus yang harus dilaksanakan kelak pada hari dan jam yang sama, bila kekuatan dan kemampuan SDM jama’ah telah memungkinkan. Rencana aksi pembajakan itu kelak dilaksanakan dengan tujuan untuk mempermaklumkan kepada dunia tentang adanya gerakan Islam di Indonesia dan telah terjadinya kekejaman rezim militer Orde Baru terhadap ummat Islam dengan ditahannya sekitar 6000 orang pejuang Islam dalam gerakan NII, akibat rekayasa militer dan intelejen ABRI yang bersandi opstib dan opsus sejak tahun 1977-1983 yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatra. Setelah proses pematangan intelejen terhadap gerakan pemuda Islam pimpinan Imran ini berhasil menggiring gerakan ini menjadi brutal dan tak terkendali, tetapi tidak satu pun senjata yang pernah dijanjikan intel BAKIN Najamuddin diberikan kepada kelompok ini, yang terlaksana. Najamuddin hanya memberi peluang untuk mencuri sebuah senapan organik tua jenis Garrand di sebuah markas angkatan darat kepada Abdul Haris salah seorang anggota kelompok gerakan ini, termasuk menjamin keamanan proses aksi pencurian tersebut. Dengan bermodalkan sebuah Garrand tua itulah kelompok ini terjebak dalam skenario prematur melalui provokasi penyerangan polsek Cicendo, Bandung. Melalui modus operasi penyerangan pos polisi yang dilengkapi dengan seragam militer sebagai akibat entah sengaja atau kebetulan telah menahan sebuah kedaraan bermotor roda dua bernomor polisi sementara (profit) milik anggota jama’ah. Momentum ini dimanfaatkan Najamuddin untuk merealisir terjadinya aksi kekerasan bersenjata, antara lain menyiapkan magazen dan amunisi senapan Garrand hasil curian, satu hari menjelang penyerangan pos Polisi tersebut. Penyerangan akhirnya berlangsung brutal, dengan bermodalkan satu pucuk senjata Garrand hasil curian (pemberian Najamuddin) Salman dan kawan-kawan berhasil menembak mati 3 anggota polisi serta melukai satu orang di polsek tersebut dan merampas senjata genggam sebanyak 3 buah. Implikasi dari penyerangan polsek berlanjut dan memicu rencana pembajakan pesawat, padahal momentum dan kondisi obyektif kemampuan organisasi dan SDM tidak mendukung, namun itulah yang harus dilakukan kelompok ini. Karena intelejen Angkatan Darat telah menangkap 13 dari hampir 30 anggota jama’ah pelaku penyerangan polsek Cicendo. Karena langkah ke depan gerakan ini sudah terlanjur diayunkan sementara konsekuensi serta reaksi hukum dan politis akibat penyerangan pos Polisi Cicendo tak mungkin lagi bisa dihindari. Dari tempat pelarian di Surabaya dan Malang, Imran dan anggota elite jama’ah –Ahmad Yani Wahid, Zulfikar, Mahrizal, Abu Sofyan, Wendy dan HM Yusuf Djanan– merancang pembajakan pesawat, disertai Abdullah Mulyono dan si kecil Ma’ruf Dahlan alias Obe. Ahmad Yani Wahid dan kawan-kawan berangkat dari Lawang-Malang menuju Semarang melakukan observasi terhadap Bandara Semarang, setelah hasil observasi lapangan menyatakan sulit dilakukan, selanjutnya rombongan calon pembajak langsung menuju Jakarta untuk menyiapkan berbagai perlengkapan pembajakan. Setelah memperoleh bekal yang dianggap cukup, maka dengan mengandalkan tiga pucuk revolver jenis Colt 38 hasil rampasan di Polsek Cicendo, Bandung dan satu pucuk Revolver Maccarov caliber 32 hasil pemberian Ir. Yacob Ishak (Mayor TNI-AU) dan dua buah Granat serta beberapa batang Dinamit, selanjutnya mereka berangkat menuju Palembang pada tanggal 25 Maret. Rombongan pembajak tersebut berangkat dari Lawang- Malang tanggal 22 Maret, dan sampai di Palembang tanggal 26 Maret. Dengan dipandu A.Yani

Wahid, kelima calon pembajak (Zulfikar, Mahrizal, Abu Sofyan, Wendy dan Abdullah Mulyono) yang disertai Ma’ruf berangkat menuju bandara. Setelah menyiapkan tiket untuk 5 pembajak mereka bertujuh ke bandara (Talang Betutu) Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, A.Yani Wahid menyiapkan modus dan teknis, seluruh senjata api dan bahan peledak dimasukkan dalam ransel untuk dibawa Ma’ruf, yang saat itu diberi kostum celana pendek seragam pramuka, dalam rangka mengecoh petugas pintu masuk bandara. Modus yang diterapkan A. Yani ternyata berhasil, ransel yang berisi 4 pucuk revolver, granat dan beberapa batang dinamit itu lolos dari pintu detektor metal maupun saat memasuki pemeriksaan terakhir melalui scanner bandara, antara lain dengan menempuh cara sandiwara. Pada saat setelah Mahrizal cs melewati pintu terakhir bandara, maka melalui trick Ma’ruf yang sudah siap dengan ransel di tangan sekonyong-konyong berteriak sekaligus berlari, “…Bang, ransel ketinggalan, ransel etinggalan…!” Petugas pun terkecoh, sementara ransel berhasil diterima dengan selamat oleh Mahrizal cs tanpa diperiksa lagi. Maka terjadilah apa yang terjadi, sebuah proses pendewasaan terhadap gerakan ini dalam memperjuangkan Islam maupun atas diri mereka sendiri, sekalipun dalam kenyataannya, kini gerakan tersebut tidak menunjukkan kiprahnya secara signifikan. Keberhasilan kelompok ini melakukan penyerangan polsek Cicendo dengan beberapa hasil jarahan tersebut ternyata sempat pula diabadikan Najamuddin dalam bentuk foto. Dalam kesempatan yang lain provokasi Najamuddin kepada anggota jama’ah Imran di Jawa Timur saat melakukan operasi mencari senjata dengan cara kekerasan juga tak lepas dari jepretan tustel Najamuddin. Bahkan intel Najamuddin berhasil membuat rekayasa pengadaan kartu keanggotaan jama’ah Imran berikut teks bai’at palsu, padahal semua itu hasil rekayasa Najamuddin sendiri atau lembaga intel BAKIN yang menaunginya. Proses politik pembusukan dan stigma negatif intelejen terhadap kelompok ini seperti tidak akan berhenti. Ketika gerakan ini belum bisa diberangus dimasukkan ke penjara semuanya, gerakan ini diberi stempel sebagai gerakan Islam fundamentalis, radikal dan ekstrim yang sangat membahayakan pemerintah. Tetapi setelah gerakan ini berhasil disusupi, diprovokasi dan dimatangkan melalui rekayasa intelejen, stempel buruk bagi gerakan ini ditingkatkan kelasnya menjadi kelompok gerakan ekstrem kanan dan teroris. Ketika masalah pembusukan atau jebakan yang sangat telanjang seperti itu dipertanyakan ke hadapan majelis hakim oleh salah satu saksi, Umar Abduh, dalam persidangan Salman Hafidz di Pengadilan Negeri Bandung, hakim ketua dalam sidang saat itu malah memberi jawaban, “… pemerintah memang sengaja menjebak anda untuk kepentingan negara.” Setelah acara persidangan gerakan ini selesai, tibatiba stempel bagi gerakan ini dirubah lebih dahsyat dan sangat buruk, jahat dan keji, antara lain dengan menebarkan isu bahwa gerakan ini sebagai hasil binaan intelejen (kelompok binaan Ali Murtopo) dilakukan dalam rangka menghancurkan Islam sekaligus mengadu domba antara gerakan Islam yang ada. Puncak stigma terhadap gerakan ini adalah memberi stempel sebagai gerakan yang di back-up intelejen militer dan sangat anti Islam, seraya menebar isu yang bertolak belakang dengan kenyataan. Pada saat Imran sempat berhasil melarikan diri dari tahanan Pomdam Guntur Jakarta dan tertangkap di Palembang beberapa hari kemudian, selanjutnya Imran dieksekusi mati satu bulan kemudian. Namun karena pelaksanaan eksekusi Imran tanpa peliputan dan pemberitaan resmi di media massa, tiba-tiba Imran diisukan sudah berada di Amerika Serikat atau Arab Saudi atas kebijakan intelejen Indonesia, yang disebarkan melalui mulut ke mulut dan melalui opini yang menyesatkan di beberapa media massa. Pembusukan intelejen militer dan para agen penebar isu kewaspadaan kepada berbagai ormas terhadap bahaya sisa-sisa gerakan Imran yang dikelompokkan pemerintah sebagai orang-orang yang sangat radikal dan berbahaya, anti militer serta anti pemerintah seraya mengingatkan kembali track record buruk berupa file lama gerakan ini. Inilah profil dan karakter negara intelejen Indonesia yang saat ini tetap berlangsung dan tidak berubah.