P. 1
Pembuatan Ekstrak Kering Herba Meniran

Pembuatan Ekstrak Kering Herba Meniran

|Views: 2,555|Likes:
Published by Harrizul Rivai

More info:

Published by: Harrizul Rivai on Aug 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

PEMBUATAN EKSTRAK KERING DARI HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L.

*)

Nama : Mayang Dwi Lianova Nim : 2008013 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tanaman obat memiliki khasiat dan kegunaan masing ± masing, salah satu diantaranya adalah Herba meniran yang berkhasiat untuk menghambat

pertumbuhan bakteri staphylococcus, dan hasil penelitian terhadap herba meniran menunjukkan adanya kandungan minyak atsiri. Dalam infus meniran juga diketahui berkhasiat sebagai antidiare. (Dalimartha, 2000) Bahan obat sediaan fitofarmaka umumnya menggunakan ekstrak cair, ekstrak kental dan tingtur. Sediaan fitofarmaka yang dibuat dari bahan ekstrak cair jika disimpan dalam jangka waktu yang lama akan lebih cepat mengalami gangguan penyimpanan dalam penyimpanan secara fisika, kimia, dan mikrobiologi. Berdasarkan hal tersebut, ekstrak kering perlu dikembangkan dalam penggunaan obat pada sediaan fitofarmaka. (Anonim, 2004)
*)Proposal ini diseminar kan di Akademi Farmasi Ranah Miang Padang pada : Hari/tanggal : Jam : Tempat : Ruangan Seminar Akademi Farmasi Pembimbing : 1.Drs.Harrizul Rivai.M 2.Vivaldi Ersil, S.Si,Apt

1

Ekstrak kering adalah sediaan tanaman yang diperoleh dengan cara pemekatan dan pengeringan ekstrak cair sampai mencapai konsentrasi yang diinginkan menurut cara ± cara yang memenuhi syarat. Pengaturan biasanya dilakukan berdasarkan kandungan bahan aktif dengan cara penambahan bahan inert. (Anonim, 2004) Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mengembangkan pembuatan ekstrak kering dari simplisia herba meniran (Phyllanthus niruri L.) sebagai ekstrak kering yang memenuhi standarisasi Farmakope Indonesia. 1.2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana cara membuat ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.) yang bermutu baik. 2. Bagaimana karakteristik ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.)

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak kering dari herba meniran yang bermutu baik dan memenuhi standarisasi esktrak. 1.3.2 Manfaat Penelitian 1. Manfaat penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan kita tentang cara pembuatan ekstrak kering dari herba meniran (Phyllanthus niruri L.) 2. Untuk mengetahui karakteristik ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.) sehingga dapat dipakai untuk standarisasi.

2

1.4 Hipotesis Herba meniran (Phyllanthus niruri L. ) dapat dibuat menjadi ekstrak kering dan memiliki karakterisasi yang sesuai dengan standar mutu ekstrak kering Farmakope Indonesia. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup ini merupakan bagian dari penelitian pengembangan obat tradisional menjadi sediaan fitofarmaka. Obat tradisional yang diteliti ini adalah dari herba meniran (Phyllanthus niruri L. ) Penelitian yang dilakukan adalah penelitian untuk pembuatan ekstrak kering dan penentuan karakteristik dari herba meniran (Phyllanthus niruri L. )

3

) Ekstraksi dengan maserasi Ekstrak Kental Pengeringan dengan penambahan saccharum lactis Ekstrak Kering Karakterisasi Ekstrak Terkarakterisasi Spesifik Non Spesifik Susut pengeringan Bj Nyata dan Bj Mampat Identitas Organoleptis Kadar senyawa larut air Kadar senyawa larut etanol Kadar abu total Kadar abu tak larut asam 4 .) y y y y Identifikasi di Herbarium Pemanenan Sortasi Basah Pencucian Pengeringan Daun Kering y y y y Penetapan susut pengeringan Penetapan kadar abu Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Penetapan kadar abu yang larut air Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.1.6 Kerangka Konsep Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.

5 . Ye xia zhu ( Cina ). maupun pekarangan halaman rumah. Meniran tumbuh di hutan-hutan liar. Child pick a back ( Inggris ). ( Jayusman dan Sulaksana. Nama lain dari herba meniran ini adalah Kilanelli ( India ). Dan jenis meniran yang akan diujikan disini adalah meniran hijau. Meniran ( Jawa ). Zhen chu cao. di kebun-kebun. Klasifikasi Divisi Subdivisi Kelas Bangsa Family Marga Jenis : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Geraniales : Euphorbiaceae : Phylianthus : Phyllanthus niruri L.1 Tinjauan Botani Herba Meniran Meniran atau yang disebut juga dengan (Phyllanthus niruri L. meniran hijau. 2004) Varietas dari herba meniran ini adalah meniran putih. Pada umumnya tidak dipelihara karena dianggap tumbuhan rumput biasa.dan meniran merah.) merupakan tumbuhan yang berasal dari hutan tropis.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Air yang terkumpul diminum. Ekstrak herba meniran dosis 400 mg/kgBB tikus. dan tetanus.2. bubuhkan bahan tersebut ketempat yang sakit kemudian di balut.3 Uji Klinik Bagian-bagian tanaman meniran telah dimanfaatkan untuk berbagai penyakit. gangguan menstruasi. yang diberikan pada tikus yang dibuat luka pada bagian ketiaknya.7 %. lalu air rebusannya diminum. disentri. Selain itu juga dapat mengurangi waktu epitelisasi pada luka karena terpotong dan meningkatkan laju penutupan luka [WC (wound closure)50] sebesar 8. asma.2.2 Tinjauan farmakologi 2. Ekstrak air dari meniran telah dimanfaatkan oleh masyarakat Brazil dan Peru untuk melarutkan batu ginjal dan batu saluran kemih. secara bermakna dapat mengurangi diameter luka tersebut masing±masing sebesar 90. Meniran juga banyak dimanfaatkan di belahan bumi lainnya. gonorhoea. 2010) 2.untuk pemakaian luar cuci herba segar lalu giling sampai halus. diabetes.2. juga dapat meningkatkan berat jaringan granuloma secara bermakna (Anonim.2 Uji Laboratorium (Uji Farmakologi) Salep ekstrak metanol herba meniran dosis 200 dan 400 mg/kgBB (disuspensikan dengan DMSO 10%). 2. Sedangkan di Afrika utara.1 Penggunaan Secara Tradisional Untuk obat yang diminum. daun dan batang meniran digunakan untuk mengobati penyakit kelamin akut.9 dan 93. anti radang.2. dan sebagai pencahar.7% pada hari ke -18 setelah kejadian luka. diare. meniran digunakan untuk mengobati demam. Meniran dapat 6 . Cara lain. sakit pinggang. Thailand. Tumbuk herba meniran segar lalu peras. seperti di India. keputihan. rebus 15 ± 30 gram herba meniran kering. dan Indonesia untuk mengobati penyakit kuning.

Ikatan glikosida terdapat pada posisi 4 sebagai gliksida flavonoid terdapat pula 5. dilaporkan bahwa terapi adjuvan dengan ekstrak meniran berhasil mempersingkat waktu pengobatan beberapa jenis penyakit. Pada akarnya terdapat 3. 6. dan alkaloid dari trans-phytol (Sudarsono dkk. ligtetralin.-rihydroxyflavononone-7-O-_-L-(-). 5.3 Tinjauan Kimia Herba Meniran Meniran mengandung golongan senyawa kimia golongan flavonoid. ( Kusuma dan Kardinan. 2004) 2. phyllanthostatin A. 7 . Disamping itu terdapat senyawa lignan. allosecurinine.4-methylendioxy-5¶-methoxy-9-hidroxy-4¶-7 epoxy8. quercetrin.digunakan sebagai terapi adjuvan. 7. 3¶. nirphyllin (3. yaitu obat yang dikonsumsi untuk menunjang efek obat utama. hypophyllanthin (tidak pahit). 4¶-tetrahydroxy-8-(3-methylbut-2-enyl)-flavonone-5-O-runoside (nirurin). isolintetrain. 7-trihydroxyflavonl-4´-O-_-L-(-) rhamnopyranoside. Hasil penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di Jakarta dan Surabaya. 4¶. antara lain quercetin. isoquercetrin. Ignan. suatu senyawa glikosida flavonoid dengan kaemperol sebagai aglikon dan rhamnosa sebagai bagian glikon. di antaranya adalah tuberkulois (TBC). phyllnirurin (3. niranthin. 4. dan senyawa alkaloid (entnorsecurinine). eriodictyol-7-rhamnopyranoside. 9¶-pentamethoxy-4-hydroxy. hinikinin. 5. 9. astragalin. suatu flavonone (eriodictyol). securinine. rutin kaemperol-4¶- rhamnopyranoside. L(-)-rhamnose sebagai bagian gikon. 1996). phyllanthin (pahit).3¶neolignan). 3¶. fisetin-4¶-O-glicoside. 5methylendioxylignan. Nirtetralin. norsecurinine. 5.

2.4 Tinjauan Farmakognosi Herba Meniran (Anonim, 1977) 2.4.1 Bentuk Makroskopik Batang ramping, bulat, garis tengah sampai 3 mm, garis tengah cabang sampai 1 mm. Daun kecil, bentuk bundar telur sampai bundar memanjang, pada varietas javanicus panjang helai daun 5 mm sampai 10 mm, lebar 2,5 mm sampai 5 mm, pada varietas genuinus panjang helai daun 7 mm sampai 20 mm,lebar 3 mm sampai 5 mm, bunga dan buah terdapat pada ketiak daun. Buah berwarna hijau kekuningan sampai kuning kecoklatan. 2.4.2 Bentuk Mikroskopik Daun : Epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel dan agak menonjol keluar, epidermis bawah lebih menonjol dari epidermis atas, pada penampang tangensial sel epidermis atas dan bawah mempunyai dinding samping yang bergelombang; kutikula jelas dan berbintik. Stomata tipe anisositik, terdapat pada kedua permukaan, pada permukaan bawah lebih banyak. Jaringan palisade terdiri dari 1 lapis sel berbentuk silindrik, tebal jaringan hampir setengah tebal mesofil daun. Pada jaringan palisade dari varietas genuinus terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk prisma berukuran 10 µm sampai 5 µm, pada jaringan palisade dari varietas javanicus terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk roset berukuran lebih kurang 20 µm. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel. Berkas pembuluh tipe kolateral, tulang daun di dalam mesofil disertai hablur kalsium oksalat berbentuk roset, umumnya berukuran lebih kecil dari hablur di jaringan palisade. Batang : Epidermis terdiri dari 1 lapis sel dengan bentuk memanjang. Korteks terdiri dari jaringan kolenkim dan parenkim yang berisi butir hijau daun

8

atau berisi hablur kalsium oksalat

berbentuk roset besar; kelompok serabut

perisikel, berlignin dan tersusun dalam lingkaran yng terputus-putus. Floem sedikit, Xilem sekunder tersusun radial. Jari- jari xilem terdiri dari 1 sampai 2 deret sel yang agak terentang radial. Dalam paremkim empulur terdapat hablur serupa hablur di korteks. Buah : Kulit buah terdiri dari 1 lapis sel parenkim jernih, 2 lapis sel-sel kecil dengan dinding radial agak menebal, selapis sel serupa jaringan palisade yang jernih dengan dinding tangensial dalam dan luar lebih tebal dan berlignin. Biji : Di dalam kulit biji terdapat 1 lapis sklerenkim yang terdiri sel batu berbentuk segi empat atau segi panjang, dinding luar dan dinding radial lebih tebal dari dinding dalam, berlignin, lumen berbentuk segi tiga, saluran noktah bercabangcabang. Endosperm terdiri dari sel-sel kecil. Serbuk : Warna hijau kelabu. Fragmen pengenal adalah fragmen epidermis atas dan bawah serta hablur kalsium oksalat berbentuk prisma atau berbentuk roset yang berasal dari jaringan palisade atau parenkim di sekitar berkas pembuluh; fragmen mesofil; fragmen kulit buah dengan dinding tangensial serupa serabut sklerenkim; fragmen kulit biji, tampak tangensial. 2.5 Pengeringan Simplisia Pengeringan adalah suatu cara pengawetan dan pengelolaan simplisia dengan cara mengurangi kadar air sehingga pembusukan dapat terhambat dalam proses ini. Kadar air dan reaksi ± reaksi zat aktif dalam simplisia akan berkurang, air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat menjadi pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim lain tertentu dalam sel masih dapat bekerja
9

menguraikan senyawa aktif saat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut mengadung air tertentu. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air < 10%. Kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung atau banyak air yang terserap zat. Teknik pengeringan secara alami tergantung dari zat aktif yang terkandung dalam organ yang dikeringkan, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : a. Dengan panas cahaya matahari langsung. Cara ini dilakukan untuk mengeringkan simplisia yang relatif keras (kayu, kulit kayu, akar, biji, dsb), dan mengandung zat aktif yang relatif stabil. b. Dengan cara diangin ± anginkan dan tidak kena cahaya matahari langsung, cara ini untuk pengeringan simplisia lunak (bunga, daun, dsb), dan mengandung zat atau kandungan zat aktif yang mudah menguap dan tidak tahan terhadap panas matahari 2.6 Standarisasi Ekstrak Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunkan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut

diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Standarisasi ekstrak dilakukan secara parameter non spesifik dan parameter spesifik (Farmakope Indonesia, 1995). Ekstrak kering adalah sediaan yang berasal dari tanaman, diperoleh dengan cara pemekatan dan pengeringan ekstrak cair sampai mencapai konsentrasi yang diinginkan menurut cara-cara yang memenuhi syarat. Pengaturan biasanya

10

Pada prinsipnya pelarut yang digunakan memenuhi syarat kefarmasian ³Pharmaceutical Grade´ Sampai saat ini pelarut yang diperbolehkan adalah air dan alkohol (etanol) serta campurannya (Anonim.dilakukan berdasarkan kandungan bahan aktif dengan cara penam bahan bahan tambahan inert (Anonim. Namun kebijakan pemerintah dalam hal ini juga membatasi pelarut yang dibolehkan. Cairan pelarut dipilih agar dapat melarutkan hampir semua metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya.1 Ekstraksi Dengan Mengunakan Pelarut Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 95% dilakukan dengan cara maserasi. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontiniu (terus-menerus). Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia. 2. dengan cara perendaman menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). 2000). dan aman.6. selektif. ekonomis. 2000). Faktor utama untuk pertimbangan pada pemilihan cairan antara lain stabil. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya (Anonim. 11 . 2004). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metoda pencapaian konsentrasi pada keseimbangan.

Tujuan penentuan parameter ini adalah memberikan batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Penentuan kadar abu ada dua macam yaitu : 1) Penetapan kada abu total 2) Penetapan kadar abu tidak larut asam 12 . Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganiknya saja.7 Standarisasi Ekstrak (Anonim. b) Kadar Abu Prinsip penentuan parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap.1 Parameter Non Spesifik a) Susut Pengeringan Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105rC selama 30 menit atau sampai berat konstan.7. Tujuan penentuan parameter ini adalah memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. a) Bobot Jenis Nyata dan Bobot Jenis Mampat Merupakan massa per satuan volume pada suhu kamar tertentu (25rC) yang ditentukan dengan alat khusus tab volumeter. 2.2. yang dinyatakan sebagai nilai persen. 2000).

Tujuan penentuan parameter ini adalah pengenalan awal yang sederhana dengan seobyektif mungkin. b) Organoleptik Merupakan parameter yang ditentukan dengan penggunaan pancaindera mendiskripsikan bentuk. Sehingga memberikan gambaran awal jumlah kandungan senyawa.2 Parameter Spesifik (Depkes. yaitu : 1) Kadar senyawa yang larut dalam air 2) Kadar senyawa yang larut dalam etanol 13 . dan rasa. c) Senyawa Terlarut Dalam Pelarut Tertentu Merupakan parameter yang ditentukan dengan melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol atau air) untuk ditentukan jumlah solut yang identik dengan jumlah senyawa kandungan ekstrak secara gravimetri. warna.7. Dibedakan atas dua. 2000) a) Identitas Merupakan parameter tentang deskripsi tata nama :  Nama ekstrak  Nama latin tumbuhan  Bagian tumbuhan yang digunakan  Nama Indonesia tumbuhan  Senyawa Identitas Bertujuan memberikan identitas obyektif dari nama dan spesifik dari senyawa identitas.2. bau.

Saring. menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam. 2000). 14 .0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml air kloroform LP menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. dihitung terhadap ekstrak awal (Anonim. Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan etanol 90%. Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam etanol (95%). dihitung terhadap ekstrak awal ( Anonim. kemudian uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. panaskan residu pada suhu 105rC hingga bobot tetap.0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml etanol (95%).1) Kadar senyawa yang larut dalam air Maserasi sejumlah 5. uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal yang telah ditara. 2000). 2) Kadar senyawa yang larut dalam etanol Maserasi sejumlah 5. panaskan residu pada suhu 105rC hingga bobot tetap.

1 set alat refluks.) yang diatas permukaan tanah. piknometer. Pemanenan herba meniran (Phyllanthus niruri L. dan labu bersumbat. krus.BAB III METODOLOGI PENELITIAN 2. tumbuh tegak.2 Alat dan Bahan a. 1997) 1. timbangan. etanol 90%.) Tumbuhan dipanen secara manual. 2. laktosa.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei ± Juni 2011 di Laboratorium Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Taman Siswa Padang. diambil semua bagian dari tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L. Alat ± alat yang digunakan adalah: Corong pisah. 15 . herba meniran. kertas saring.3 Prosedur Penelitian 2. perkolator.3. b. alat ± alat gelas.1 Pengumpulan dan Identifikasi Sampel (Soetarno. larutan HCl. Bahan ± bahan yang digunakan antara lain: Aquadest. bercabang ± cabang dipanen pagi hari dan diambil tumbuhan yang telah dewasa atau telah berbunga. 2. kloroform. dan asam sulfat encer. rotari evaporator.

5. sehingga didapatkan herba yang layak untuk digunakan. Pencucian dilakukan dengan air mengalir dan dalam waktu yang sesingkat mungkin bertujuan untuk menghilangkan mikroba dan pengotor. Sortasi Basah Dilakukan untuk pemisahan pengotor pada simplisia sebelum pencucian. Identifikasi herba meniran (Phyllanthus niruri L. 3. 16 . cara ini dapat dilakukan dengan manual.2. Pengeringan ini berlangsung ±10 hari sampai kadar air <10%. dengan cara membuang bagian ±bagian yang tidak perlu sebelum pengeringan. namun tidak menghilangkan zat berkhasiat simplisia tersebut. 4. Pengeringan Simplisia Dilakukan pengeringan dengan cara diangin ± anginkan atau tidak kena cahaya matahari langsung atau pada suhu kamar. ) Identifikasi tumbuhan di Herbarium Universitas Andalas. Pencucian Simplisia Dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang masih melekat pada simplisia setelah pelaksanaan sortasi basah.

Penetapan susut pengeringan Timbang seksama 1 g sampai 2 g zat dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit dan telah ditara. Penetapan kadar abu total Lebih kurang 2 g sampai 3 g zat yang telah digerus dan ditimbang seksama. saring melalui kertas saring bebas abu. Pijarkan sisa dan dan kertas saring dalam krus yang sama. sebelum ditimbang digerus dengan cepat hingga ukuran butiran lebih kurang 2 mm. timbang. hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai 10 mm. keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. biarkan botol dalam keadaan terlebur zat lebih rendah dari suhu penetapan. buka tutupnya. 1980) a. Pijarkan perlahan ± lahan hingga arang habis. Hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara. b. tambahkan air panas. masukkan ke dalam ruang pengering. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan. ratakan. timbang.6. kemudian pada suhu penetapan selama waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap. masukkan ke dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara. Rumus Kadar Abu= Keterangan 17 x100% . Pengujian Simplisia (Anonim. Ratakan zat dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol. Sebelum setiap penimbangan. pengeringan dilakukan pada suhu antara 5o dan 10o dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 2 jam. pijarkan hingga bobot tetap. Masukkan filtrat kedalam krus. uapkan. dinginkan. Jika zat berupa hablur besar.

Wo=Berat krus porselen kosong W1= Berat krus porselen dan simplisia W2=Berat krus porselen setelah pengeringan konstan c. cuci dengan air panas. Penetapan kadar abu yang larut dalam air Abu yang diperoleh pada penetapan kadar kadar abu. Perbedaan bobot sesuai dengan jumlah abu yang larut dalam air terhadap bahan yang dikeringkan di udara. kumpulkan bagian yang tidak larut asam. didihkan 25 ml asam klorida encer P selama 5 menit. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam Abu yang diperoleh pada Penetapan kadar abu. timbang. cuci dengan air panas dan pijarkan selama 15 menit pada suhu tidak lebih dari 4500. Hingga bobot tetap. timbang. didihkan dengan 25 ml air selama 5 menit. saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu. 18 . Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara. kumpulkan bagian yang tidak larut. saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu. pijarkan hingga bobot tetap. Rumus Kadar Abu Tidak Larut Asam = x100% Keterangan : Wo=Berat krus porselen kosong W1= Berat krus porselen dan simplisia W2=Berat krus porselen setelah pengeringan konstan d.

2004). dan proses diulangi 2 kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. al. Pembuatann ekstrak kental Pembuatan Ekstrak Kental Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan etanol 95%. (Anonim. baru keringkan pada suhu 70oC . Maserat dipisahkan. kemudian aduk sempurna beberapa kali selama 2 jam. 1961) 19 . Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum menggunakan rotari evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Pengeringan Ekstrak Pengeringan ekstrak antara lain caranya adalah : Ekstrak kental yang telah didapat. 8. Satu bagian serbuk kering herba meniran dimasukkan kedalam maserator. Pada serbuk kering ini tambahkan pelarut heksan 300ml heksan untuk tiap 100 gr ekstrak. Rendeman yang diperoeh ditimbang dan dicatat.7. ulangi pencucian sekali lagi dengan heksan.keringkan dengan menambahkan sebagian pati atau laktosa. ditambah 10 bagian etanol 95% direndam selama 6 jam sambil diaduk-aduk kemudian didiamkan sampai 24 jam. at. biarkan mengendap dan enaptuangkan cairan. lalu campurkan sisa dengan heksan lagi 300 ml aduk sempurna dan pisahkan kelebihan heksan. timbang serbuk ini dan tentukan kadar zat aktif dan karakteristiknya (Martin.

Campurkan silika tersebut secara rata dengan ekstrak pada saat panas. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25oC. kemudian keringkan kembali pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelum ditimbang ekstrak diratakan dalam botol timbang. Jika ekstrak sulit kering dan mencair pada pemanasan. ratakan dengan bantuan pengaduk. Susut Pengeringan dan Bobot Jenis a) Susut Pengeringan Ekstrak ditimbang secara seksama sebanyak 2 gram dan dimasukkan ke dalam botol timbang dangkal tertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105oC selama 30 menit dan telah ditara. Jika ekstrak yang di uji berupa ekstrak kental. 2000) b) Bobot Jenis Gunakan piknometer bersih. Kemudian dimasukkan kedalam ruang pengering. Karakterisasi ekstrak kering  Parameter Non spesifik A. dengan menggoyangkan botol. keringkan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. hingga terdapat lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai 10 mm. Kurangkan bobot piknometer yang telah diisi. Bobot jenis ekstrak cair adalah hasil yang 20 . kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru didihkan pada suhu 25oC. buang kelebihan ekstrak cair dan timbang. masukkan kedalam piknometer. buka tutupnya.9. ditambahkan 1 gram silika pengering yang telah ditimbang seksama setelah dikeringkan dan disimpan dalam eksikator pada suhu kamar. (Anonim. biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu kamar. Sebelum setiap pengeringan.

2000) Bobot Jenis = ( ) Keterangan :  = Bobot piknometer kosong b = Bobot piknometer tambah air c = bobot piknometer tambah ekstrak B. Lanjutkan pengeringan dan timbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara 2 penimbangan berturut ± turut tidak lebih dari 0. dalam piknometer pada suhu 25oC (Anonim. tambahkan air panas. dimasukkan kedalam krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara. Kadar Abu a) Penetapan Kadar Abu 2. pijarkan hingga bobot tetap. (Anonim. Masukkan filtrat kedalam krus. diratakan. Keringkan pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang.diperoleh dengan membagi bobot ekstrak dengan bobot air.25%.5 gram ekstrak yang telah digerus dan ditimbang seksama. Kadar Air Penetapan kadar air menggunakan metode gravimetri. saring melalui kertas saring bebas abu. 21 . uapkan. Pijarkan sisa dan kertas saring dalam krus yang sama. Pijarkan perlahan ± lahan hingga arang habis. dinginkan dan timbang. 2000) C. Jika cara ini arang tidak dapat dihilangkan. Masukkan lebih kurang 10 gram ekstrak dan timbang seksama dalam wadah yang telah ditara.

Identitas Identitas tanaman uji ini dikeluarkan oleh Herbarium Universitas Andalas B. d) Rasa 22 .timbang. hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.0%.9%. (Anonim. 2000) b) Penetapan Kadar Abu Yang Tidak Larut Asam Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu. Organoleptis a) Bentuk Pengujiannya : Ekstrak dilihat dengan kasat mata bagaimana bentuknya b) Warna Pengujiannya : Ambil dengan spatel sedikit ekstrak kering diletakkan diatas wadah yang beralaskan warna putih c) Bau Pengujiannya : Ambil sedikit sampel lalu cium bau apa yang terjadi. kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam. timbang. saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu. penetapan kadar abu tidak larut asam tidak lebih dari 2. Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara. didihkan dengan 25 ml asam sulfat encer P selama 5 menit. 2000)  Parameter Spesifik A. pijarkan hingga bobot tetap. Penetapan kadar abu total tidak lebih dari 8. (Anonim. cuci dengan air panas.

menggunakan labu bersumbat sambil berkali -kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam.Pengujiannya : sedikit sampel diletakkan diujung lidah dan dirasakan C. panaskan residu pada suhu 105oC hingga bobot tetap. panaskan residu pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Senyawa Terlarut Dalam Pelarut Tertentu a) Kadar senyawa yang larut dalam air Maserasi sejumlah 5. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan etanol 90%. (Anonim. kemudian uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air. Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam etanol (90%). Saring. dihitung terhadap ekstrak awal (Anonim. dihitung terhadap ekstrak awal.0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml etanol (90%).0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml air kloroform LP menggunakan labu bersumbat sambil berkali ± kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. 2000) 23 . uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal yang telah ditara. 2000) b) Kadar senyawa yang larut dalam etanol Maserasi sejumlah 5.

(famili Euphorbiaceae) (Lampiran 1).463% 6. Hasil pengujian simplisia herba meniran (Phyllanthus sebagai berikut : Tabel 1 Hasil Pengujian Parameter fisikokimia Simplisia Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.098% 0.275% 2 Uji Kadar abu total 6.660% 7.) No 1 Parameter Susut pengeringan Nilai 6.932% 1.401% 0.598% Rata-rata ± SD niruri L.747% 3 Uji kadar abu tidak larut asam 1.000% 1.1 Hasil Penelitian Hasil identifikasi tanaman di Herbarium Universitas Andalas Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas (ANDA) adalah spesies Phyllanthus niruri L.075 % 1.573% 6.660 % 6.) adalah 24 .476 % 5.697 % 1.888% 6.271% 4 Uji kadar abu larut air 4.779% 0.660% 7.956% 5.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.479% 7.

dan karekteristiknya maka didapatkan hal sebagai berikut : 25 .061 gram Setelah dilakukan penelitian tentang pembuatan ekstrak kering herba meniran Pyllanthus niruri L.082 gram 4 Ekstrak kering 50.Tabel 2 Hasil Pembuatan Ekstrak Kering Herba Meniran No Tahapan Hasil 1 Simplisia segar 4 kg 2 Simplisia kering 1.35 Kg 3 Ekstrak kental 30.

606 g/ml 0.222% 5 Rasio Hausner 1.329% 0.396/ml 0.625 g/ml 0.736% Rata-rata ± SD 26 .049% 0.076% 1.121 0.099% 0.588 g/ml 0.505% 9.606 g/ml 3 Bobot mampat jenis 0.653 g/ml 0.714 g/ml 0.789% 2.115% 0.197% 1.039g/ml 0.681 g/ml 0.497% 7 Kadar abu yang Tidak larut asam 0.969 % 10.297% 1.) No 1 Parameter Susut pengeringan Nilai 1.Tabel 3 Hasil Pengujian Parameter Non Spesifik Ekstrak Kering Herba meniran (Phyllanthus niruri L.142 1.675 g/ml 4 Index Carr¶s 12.151% 1.113 6 Kadar Abu total 1.199% 0.098% 2.027% 0.110 1.017 10.899 g/ml 1.193% 2 Bobot jenis nyata 0.018 g/ml 2.

700% 36.) No 1 Parameter Organoleptis Bentuk Warna Bau Rasa Serbuk Kering Coklat Tua Khas Herba Meniran Pahit 2 Kadar senyawa yang Larut dalam air 79.600% 84.Tabel 4 Hasil Pengujian Parameter Spesifik Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.469% 69.678% Nilai Rata-rata ± SD 27 .000% 3 Kadar senyawa yang Larut dalam etanol 18.200% 30.033% 22.500% 43.400% 28.433% 9.

dimana kadar air dari daun tidak lebih dari 10%. Kabupaten Pasaman Barat.4. Pembahasan Pengambilan sampel ini dilakukan di daerah Simpang Tiga. pencucian dengan air mengalir. hal ini dilakukan untuk menyeragamkan waktu panen. dan pengeringan.397%. setelah dipanen dilakukan sortasi basah.201% 7. Hal ini bertujuan agar sampel memperoleh udara yang baik sehingga sampel yang didapatkan cepat kering. tidak berjamur atau tidak ditumbuhi kapang. Sampel yang digunakan untuk pengujian ini adalah herba meniran (Phyllantus niruri L. Pengeringan sampel dilakukan dengan cara di anginkan atau tidak kena cahaya matahari langung.2. selama 10 hari sampai diperoleh kadar air <10%. Kadar air yang diperoleh berkisar antara 6. Sumbar. Sumatera Barat. Meniran yang diambil adalah yang masih muda karena kandungan senyawa aktifnya masih banyak dan pengambilan dilakukan pada pagi hari sebelum mengalami fotosintesis. Alat yang digunakan untuk pengeringan sampel adalah wadah yang terbuat dari plastik yang ada lobang-lobang udaranya. Padang.) yang telah dilakukan uji identifikasi di Herbarium Universitas Andalas (ANDA). Jadi kadar air memenuhi standar parameter. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Kampus Limau Manis. 28 . Indonesia dengan hasil specimen Phyllanthus niruri L. (famili : Euphorbiaceae).

Setelah itu dilanjutkan dengan pengujian simplisia yang bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang bermutu baik dan memenuhi standarisasi Materia Medika Indonesia (1977).082 g ekstrak kental.1. ditambah 1000 ml etanol 95% direndam selama 6 jam sambil sekali-kali diaduk.098% 0.075% bekisar antara 4. Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum (Rotary Evaporator) pada suhu dibawah 50rC. y Uji kadar abu tidak larut asam Hasil yang didapat 1.697% 1. 100 g serbuk kering herba meniran dimasukkan ke dalam maserator. yaitu di antaranya : y Uji kadar abu total Hasil yang didapat 7.922% . Maserat dipisahkan dan proses diulangi 2 kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama.082 g ekstrak kental) lalu tambahkan saccharum lactis sama banyak (30. Ekstrak kental yang telah jadi tersebut.082 g). dilanjutkan dengan pembuatan ekstrak kering dengan cara : Ekstrak dimasukkan ke dalam lumpang yang telah dipanaskan (30. pelarut yang digunakan adalah etanol 95%. ditimbang sebanyak 100 g untuk dijadikan ekstrak.772% . Sehingga hasil yang diperoleh dari maserasi sebanyak 100 g sampel dalam 3000 ml etanol 95% adalah 30. y Uji kadar abu larut air Hasil yang didapat 5.7. penambahan saccharum lactis ini bertujuan untuk 29 . Ekstrak dibuat dengan cara maserasi.573% berkisar antara 6. sedikit demi sedikit aduk sempurna.401% 0. sampel yang telah kering dirajang sampai halus. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan ekstrak.479% berkisar antara 0. hingga diperoleh ekstrak kental.525% .622% . hal ini bertujuan agar ekstrak tidak rusak.880%.6.671%.

Selanjutnya dilakukan pengujian karakteristik ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.061 g.763% adalah berarti ekstrak herba menira (Phyllanthus niruri L. Susut Pengeringan Nilai yang diperoleh pada susut pengeringan ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.027% 0.018g/ml berkisar antara 0. kemudian aduk sempurna beberapa kali selama 5 menit. b.membantu mengeringkan ekstrak. Hal ini berarti ekstrak kering yang diperoleh 1 : 3 dari 100 g simplisia yang dimaserasi dalam 3000 ml etanol 95%.) ini tidak banyak mengandung air dan memenuhi parameter standar umum ekstrak tumbuhan obat. Ekstrak yang diperoleh diharapkan tidak ditumbuhi jamur dan kapang.) 2. Bobot Jenis Nyata Dan Bobot Jenis Mampat Nilai yang diperoleh : o BJ nyata 0. lalu campurkan sisa dengan heksan lagi 90.588 g/ml 0. dimana kadar air dari ekstrak tidak lebih dari 10%. Setelah tercampur sempurna lalu tambahkan 90.) antara lain : 1. Baru keringkan pada suhu 70rC.624 g/ml 30 .736% dengan rentang 1. timbang serbuk ini dan tentukan karakteristiknya.606 g/ml 0.Parameter Non Spesifik a. heksan digunakan untuk membebaskan lemak pada ekstrak sehingga ekstrak mengumpul dan tidak melengket pada lumpang dan mortir. Ekstrak yang didapat berupa ekstrak kering sebanyak 50.291% - 2.24 ml aduk sempurna dan pisahkan kelebihan heksan. ulangi pencucian sekali lagi dengan heksan. Biarkan mengendap dan enaptuangkan cairan.24 ml heksan.

642 g/ml 0. Kadar abu tidak larut asam Nilai yang diperoleh 0.o BJ mampat 0. biji Nama Indonesia tumbuhan : Meniran (Indonesia). c.329% 0.720 g/ml.039 g/ml berkisar antara 0.104 1. Kadar abu total Nilai yang diperoleh 1. Kadar abu yang diperoleh pada ekstrak kering herba meniran rendah. d. Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.191%.874%.039% - 0. daun. 2.076% dengan rentang 0.115% 0. o Index carr¶s 10.480%. berarti ekstrak kering hanya sedikit mengandung oksida logam dibandingkan ekstrak kental herba meniran (Phyllanthus niruri L). Siccum (ekstrak kering herba meniran) y y y Nama latin Bagian tumbuhan : (Phyllanthus niruri L) : batang.121 1.12.138.Parameter Spesifik a.178% - 1. Identitas y Nama ekstrak : Extractum Phyllanthy niruri L.681 g/ml 0. 31 .899% o Rasio hausner 1.924% . Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.975% berkisar antara 8.017 berkisar antara 1. Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait kemurnian dan kontaminasi.151 dengan rentang 1. 0.

Kadar senyawa larut etanol yang diperoleh rendah.681%.325% - 91. Kadar senyawa larut air yang diperoleh cukup tinggi ini berarti ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.b.) banyak mengadung senyawa polar. Kadar Senyawa Yang Larut Etanol Nilai yang diperoleh 28. d.) yang diperoleh berupa serbuk kering. 32 . dengan bau khas simplisia herba meniran dan rasanya yang pahit.433% 9. Kadar Senyawa Yang Larut Dalam Air Nilai yang diperoleh 69. yang berwarna coklat tua.37. c. Organoleptis Ektrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.469% dengan rentang antara 18.033 % 22. ini bearti ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L) sedikit mengandung senyawa semi polar.678 % dengan rentang 46.964% .902%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pembebasan lemak memakai heksana dan pengeringan ekstrak dengan menggunakan waterbath pada suhu < 70rC. dilanjutkan dengan penguapan pelarut memakai rotary evaporator dan penambahan saccharum lactis untuk membantu pengeringan ekstrak.  Organoleptis : y y y y Bentuk Warna Bau Rasa : Serbuk Kering : Coklat Tua : Khas simplisia herba meniran : Pahit 33 .  Identitas : o Nama ekstrak : Extractum Phyllanthus niruri L.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di dapatkan kesimpulan sebagai berikut : a) Ektrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L) dapat dibuat dengan maserasi simplisia herba meniran (Phyllanthus niruri L) dengan etanol 95%. siccum (ekstrak kering herba meniran) o Nama latin o Bagian tumbuhan o Nama Indonesia tumbuhan : (Phyllanthus niruri L) : Herba : Meniran (Indonesia).

027% 1.899% 1.606 g/ml 0.469% L) yang b) Karakteristik ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri diperoleh sebagai berikut :  Susut pengeringan  Kadar abu total = = 2.681 g/ml 10. Kadar senyawa larut air  Kadar senyawa larut etanol = 69. Saran = = = = 0.018 g/ml 0.050% 0.033% = 28.433% 22.121 g/ml 0. L) untuk melengkapi standar 34 .134 % 0.396% 0.151%  Kadar abu tak larut asam =  Bobot jenis nyata  Bobot jenis mampat  Index Carr¶s  Rasio Hausner 5.678% 9.736% 0.329% 0.017 g/ml Disarankan pada peneliti berikutnya agar dapat menentukan kadar zat aktif pada ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L).2.039 g/ml 1.

Farmakope Indonesia. 1980. VanMeter. Djamal. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. E. edisi II. Padang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas. 1977. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Kimia Bahan Alam. Farmakope Indonesia. Kardinan A. Jilid IV. 1983. Fullerton Cook. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 35 . 2010. Jakarta: Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan RI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Anonim.DAFTAR PUSTAKA Anief M. Dalimartha. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Anonim. E. Farmakope Indonesia. 1961. Materia Medika Indonesia. Jakarta : Pemeriksaan Obat dan Makanan RI. Anonim. 1997. Materia Medika Indonesia. edisi II. Anonim. Jakarta: Agromedi Pustaka Martin. Jilid IV. 1972. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. E. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. 2000. Pemanfaatan tanaman obat. 1979. 1995. PT Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Anonim. Arthur Osol. Jakarta. 2000. Acuan Sediaan Herbal. Anonim. Kusuma FR. Badan Anonim. jilid II. Emerson Leuallen. edisi III. 2004. volume I. cetakan I. 1980. Anonim. Tice. Ilmu meracik obat Teori dan Praktek . edisi III. Linwood F. Anonim. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Anonim. Anonim. edisi IV. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2004. W. Remington¶s Practice Of Pharmacy.1981. Edisi 1. Pemanfaatan Tanaman Obat. Easton: Mack Publishing Company. Materia Medika Indonesia. Clarence T. jilid V. 1989. Trubus Agriwidya. Volume 5. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Meniran penambah daya tahan tubuh alami.

Jakarta: Pustaka Populer Obat. 2001. Meniran Budidaya dan Pemanfaatan untuk Obat.Soetarno K & Soediro Iwang S. T.I. Supriadi. Yogyakarta: Medpres. dan Jayusman D. Edisi I. 2004. Cara Pembuatan Jamu Yang Terbaik. Yuniarti. Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya. Bandung: Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Farmasi. 1997. Sulaksana J. 36 . 2008. Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional..

Lampiran 1. Data Hasil Penelitian 37 .

158 g 57.356 g 57.275 g 39.275% Tabel 6 Kadar Abu Total Simplisia Herba meniran (Phyllanthus niruri L.) No.159 g 60.893 g 55.543 g 32.257 g 1.490 g 6.000 % 1.156 g 57.660 % 7.463 % 6.750 g 32.932 % 1.156 g 57.205 g 40.300 g 61.) No. (Wo) Krus Porselen Kosong (W1) Krus Porselen dan sampel (W2) Krus Porselen setelah simplisia menjadi abu 1 2 3 61.543 g 32.271 % Abu tak larut asam 38 .747 % Abu Total Tabel 7 Kadar Abu Tak Larut Asam Herba Meniran (Phyllanthus niruri L. (Wo) Cawan Penguap Kosong (W1) Cawan penguap dan sampel 1 2 3 53.899 g 56.Lampiran 1 (Lanjutan) Tabel 5 Susut Pengeringan Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.143 g Susut pengeringan 6.254 g 64. (Wo) Krus Porselen Kosong (W1) Krus Porselen dan sampel (W2) Krus Porselen setelah simplisia menjadi abu 1 2 3 61.548 g 35.) No.888 % 6.206 g (W2) Cawan penguap setelah pengeringan 54.832 g 56.490 g 61.547 g 32.202 g 54.660 % 7.356 g 57.280 g 40.254 g 61.750 g 32.

802 g 32.193% Susut pengeringan Tabel 10 Kadar Abu Total Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.271 % Abu larut air 4. 1 2 3 Abu total 6. (Wo) Cawan Penguap Kosong (W1) Cawan penguap dan sampel (W2) Cawan penguap setelah pengeringan 1 2 3 34.266 g 63.197 % 1.460 g 38.Lampiran 1 (lanjutan) Tabel 8 Kadar Abu Larut Air Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L).) No.494 % Abu Total 39 .944 g 35.956 % 5.155 g 33.168 g 57.932 % 1. (Wo) Krus Porselen Kosong (W1) Krus Porselen dan sampel (W2) Krus Porselen setelah ekstrak menjadi abu 1 2 3 57.476 % Tabel 9 Susut Pengeringan Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) No.153 g 32.161 g 59. No.660 % 7.098 % 2.925 g 1.947 g 35.191 g 1.888 % 6.000 % 1.464 g 39.297 % 1.262 g 61.806 g 34.826 g 32.789% 2.747 % Abu tak larut asam 1.436 g 39.288 g 61.144 g 33.660 % 6.

969 10.625 0.588 0.5 ml Volume Setelah Ketukan ( ml ) 14 ml 15.266 g 63.675 12.653 0.) No.222 1.001% Abu tak larut asam Tabel 12 Bobot Jenis Nyata Dan Bobot Jenis Mampat Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.606 0.049% 0.802 g 32.806 g 34.168 g 57.099% 0.8 ml 0.165 g 0.804 g 32.Lampiran 1 (lanjutan) Tabel 11 Kadar Abu Tak Larut Asam Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.110 1.262 g 61.505 9.714 0.161 g 59.142 1.263 g 61.113 Bj Nyata ( g/ml ) Bj Mampat ( g/ml ) Index Carr¶s ( %) Rasio Hausne r 40 .3 ml 14. (Wo) Krus Porselen Kosong (W1) Krus Porselen dan abu sebelum penambahan HCl (W2) Krus Porselen dan abu setelah tambah HCl 1 2 3 57.) No Berat Serbuk (g) Volume Sebelum Ketukan ( ml) 1 2 3 10 g 10 g 10 g 16 ml 17 ml 16.

600 % 43.400% 41 .549 g 5g 5g 5g (W2) Ekstrak Awal Senyawa Larut Etanol 18.200 % 30.988 g 35.367 g 38. (W o) cawan Penguap kosong (W1) cawan penguap dan sampel setelah pengeringan 1 2 3 34.) No.209 g 32.158 g 38.005 g 33.700% 36.) No.185 g 37.Lampiran 1 (lanjutan) Tabel 13 Kadar Senyawa Larut Air Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus nirurui L. (W o) cawan Penguap kosong (W1) cawan penguap dan sampel setelah pengeringan 1 2 3 26.300 g 26.003 g 39.000 % 84.500% Tabel 14 Kadar Senyawa Larut Etanol Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.993 g 26.185 g 26.418 g 5g 5g 5g (W2) Ekstrak Awal Senyawa Larut Air 79.

899  53.893 g) W1 = Berat cawan penguap kosong dan 1 g simplisia (54.750  61. Kadar Abu Total Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.( W 2  Wo X 100%) W 1  Wo = 100% .832 g) Susut pengeringan = 100% .893 x100 % ) 54.548  61.660% 54.548 g) W2 = Berat krus porselen setelah simplisia menjadi abu (61.Lampiran 2.( = 6. Contoh Perhitungan Hasil Penelitian a.543 x100 % 64.899 g) W2 = Berat cawan penguap dan simplisia setelah pengeringan (54.888 % 42 .543 g) W1 = Berat krus porselen dan 3 g simplisia (64.543 W 2  Wo X 100% W 1  Wo = = 6.) Rumus kadar abu total = Penimbangan 1 Wo = Berat krus porselen kosong (61.750 g) Kadar abu total = W 2  Wo X 100% W 1  Wo 61.( W 2  Wo X 100%) W 1  Wo = 100% .833 b. Susut Pengeringan Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L) Susut pengeringan Penimbangan 1 Wo = Berat cawan penguap kosong (53.832  53.

Kadar Abu Larut Air Simplisia Herba Meniran (Phyllanthus niruri L).750 g) W2 = Berat krus porselen dan abu setelah tambah HCl (61.Lampiran 2 (Lanjutan) c.932% = 4.) Rumus kadar abu tak larut asam = W 2  Wo W 1  Wo X 100% Penimbangan 1 Wo = Berat krus porselen kosong (61. Kadar abu total ± kadar abu yang tak larut asam Sisa kering = 6.543 x100 % 61.888% .543 g) W1 = Berat krus porselen dan abu sebelum ditambah HCl (61.544 g) Abu yang tak larut asam = W 2  Wo X 100% W 1  Wo 61.547  61.956% 43 .932 % d.1.750  61.543 = = 1. Kadar Abu Tak Larut Asam Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.

098% 44 .155  34.144 g) Susut pengeringan = 100% W 2  Wo X 100% W 1  Wo 35. Susut Pengeringan Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L) Susut pegeringan Penimbangan 1 Wo = Berat cawan penguap kosong (34.Lampiran 2 (lanjutan) e.155 g) W2 = Berat cawan penguap dan ekstrak setelah pengeringan (35.153 x100 % 35.153 = 100% .144  34.( W 2  Wo X 100%) W 1  Wo = 100% = 1.153 g) W1 = Berat cawan penguap dan 1 g ekstrak (35.

288 g) Kadar abu total = W 2  Wo X 100% W 1  Wo 57.297 % 45 .288  57. Kadar Abu Total Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.266  57.262 x100 % 59.) Rumus kadar abu total = Penimbangan 1 Wo = Berat krus porselen kosong (57.262 g) W1 = Berat krus porselen dan 2 g ekstrak (59.262 W 2  Wo X 100% W 1  Wo = = 1.266 g) W2 = Berat krus porselen setelah ekstrak menjadi abu (57.f.

263 g) Kadar abu yang tak larut asam = W 2  Wo X 100% W 1  Wo 57. 262 x100 % 59.262 g) W1 = Berat krus porselen dan abu sebelum penambahan HCl 59.Lampiran 2 (Lanjutan) g.049 % 46 .266 g) W2 = Berat krus porselen dan abu setelah tambah HCl (57. 263  57. Kadar Abu Tak Larut Asam Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L) Rumus kadar abu tak larut asam = Penimbangan 1 Wo = Berat krus porselen kosong (57.266 W 2  Wo X 100% W 1  Wo = = 0.266  57.

714 Rasio Hausner = Bjnyata 0.505 % = 1. Bobot Jenis Nyata Dan Bobot Jenis Mampat Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) Penimbangan 1 Berat serbuk Volume sebelum ketukan Volume setelah ketukan = 10 g = 16 ml = 14 ml Bj Nyata beratserbu k = volumeserb uksebelume tukan Bj Nyata = 10 g 16 ml = 0.714 g/ml = 12.625   = 0.142 47 .714 Index Carr¶s = Index Carr¶s = Rasio Hausner = Bjmampat 0.714  0.Lampiran 2 (lanjutan) h.625 X 100 0.625 g/ml Bj Mampat = eratserbu k volumeserb uksetelah1250 ketukan 10 g 14 ml Bj Mampat = Index Carr¶s dan Rasio Hausner dihitung dengan rumus : Bjmampat  Bjnyata X 100 Bjmampat 0.

600% 48 . Kadar Senyawa Larut Air Ekstrak Kering Herba meniran (Phyllanthus niruri L.) Penimbangan 1 Wo = Berat cawan penguap kosong (34.209 100 v v 100% 5 20 Kadar senyawa yang larut dalam air = = = 79.000 g) P = Faktor Pengenceran W 1  Wo 100 v v 100% W2 20 35.041 g) W2 = Berat ekstrak awal ( 5.209 g) W1 = Berat cawan penguap dan sampel setelah pengeringan konstan (35.005  34.Lampiran 2 (Lanjutan) i.

) Penimbangan 1 Wo = Berat cawan penguap kosong (26.185 100 v v 100 5 20 Kadar senyawa yang larut dalam etanol = = = 18.j.367 g) W2 = Berat ekstrak awal (5.185 g) W1 = Berat cawan penguap dan sampel setelah pengeringan konstan (26.200% 49 . Kadar Senyawa Larut Etanol Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.000 g) P = Faktor Pengenceran W 1  Wo 100 v v 100 W2 20 26.367  26.

799% 0. Perhitungan Statistik Hasil Penelitian Tabel 15 Susut Pengeringan Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.504 % Jumlah ( x  x) 2 0.660 % 7.598% Jadi susut pengeringan atau kadar air dari herba meniran (Phyllanthus nirurui L. 50 .463 % 6.275 % 6.598%.714233% 3 1 = 0.714233 % SD = § ( xi  x) 2 ni SD SD = 0.7.254016 % 0.139 % 0.019321 % 0.201% .397%.Lampiran 3. berkisar antara 6.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x)Susut Pengeringan 6.440896 % 0.664 % -0.) adalah 6.799 % ( x  x) -0.

) adalah 7.421201 % 0.098% ( x  x) -0.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Abu Total 6.747 % 7.573 Jadi kadar abu total dari herba meniran (Phyllanthus niruri L.573%.671%.888 % 6.525% .21% 0.649 % Jumlah ( x  x) 2 0.098% 0.657145 31 = 0. berkisar antara 6. 51 .191844 % 0.0441% 0.438 % 0.660 % 7.7.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 16 Kadar Abu Total Herba Meniran (Phyllantus niruri L.657145 % Lampiran 3 (lanjutan) SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 0.

281961 % 0.401% 0.531% -0.130% -0. 52 .401% ( x  x) 0.932 % 1.880%.459662 % SD = § ( xi  x) 2 ni SD SD = 0.271 % 1.000 % 1.479% Jadi kadar abu tak larut asam dari herba meniran (Phyllanthus niruri L.479%.0169 % 0.) adalah 1.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 17 Kadar Abu Tak Larut Asam Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Abu Tak Larut Asam 1.922% -1.401% Jumlah ( x  x) 2 0. berkisar antara 0.160801 % 0.459662 31 = 0.

060841 % 1.157291 % SD = § ( xi  x)2 ni SD SD = 1.549081 % 0.697 % ( x  x) -0.) adalah 5.741% -0.779% Jumlah ( x  x) 2 0.001369 % 0. 53 .956 % 5.037% 0.157291 31 = 1.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 18 Kadar Abu Larut Air Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.075%.075 Jadi kadar abu larut air dari herba meniran (Phyllanthus niruri L.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Abu Larut Air 4.777%. berkisar antara 4.476 % 5.662% -6.660 % 6.697% 1.

193 % 2.736%.) adalah 2.736 Jadi susut pengeringan dari ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruru L.471241 % SD = § ( xi  x) 2 ni SD SD = 1.863041 % 0.166% Jumlah ( x  x) 2 0.929% 0.291% .Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 19 Susut Pengeringan Ektrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Susut Pengeringan 1.027 % ( x  x) -0.789 % 2. 54 .027556 % 1.027% 0.098 % 2.762% 0.763%.471241 31 = 0. berkisar antara 1.2.580644% 0.

151 Jadi kadar abu total dari ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri L.165% Jumlah ( x  x) 2 0.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 20 Kadar Abu Total Ektrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.532 % ( x  x) -0. 55 .494% 0. berkisar antara 1.001024 % 0.178 % .480%.045673 % SD = § ( xi  x) 2 ni SD SD = 0.1.132% 0.045673 3 1 = 0.) adalah 1.032% -0.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Abu Total 1.151%.027225 % 0.197 % 1.329% 0.297% 1.017424 % 0.

099 % 0.004356 % 0.066% -0.011668% SD = § ( xi  x ) 2 ni SD = 0.039% . 56 .076% Jadi kadar abu yang tak larut asam dari ekstrak herba meniran (Phyllantus niruri L.) adalah 0.005834% = 0.076%.199 % 0.0.011668% 31 SD SD = 0.049 % 0.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Abu Tak Larut Asam 0.115% 0.084% Jumlah ( x  x) 2 0.115 % ( x  x) -0. berkisar antara 0.016% 0.007056 % 0.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 21 Kadar Abu Tak Larut Asam Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.191%.000256 % 0.

624 g/ml.000685 3 1 = 0. 57 .588 g/ml 0.) adalah 0.606 g/ml ( x  x) 0.606 g/ml 0.018 g/ml Jadi Bj Nyata dari ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri L.018 g/ml 0 g/ml Jumlah ( x  x) 2 0.019 g/ml -0.000361 g/ml 0.000685 g/ml SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 0.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 22 Bobot Jenis Nyata Ekstrak Kering herba meniran ( Phyllanthus niruri L.018 g/ml.000324 g/ml 0 g/ml 0.588 g/ml 0. berkisar antara 0.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Bj Nyata 0.606 g/ml 0.625 g/ml 0.

681 g/ml 0.001909 g/ml SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 0.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 23 Bobot Jenis Mampat Ekstrak Kering Herba Meniran ( Phyllanthus niruri L.039 g/ml Jadi Bj Mampat dari ekstrak kering herba meniran (Phyllanthus niruri L.000784g/ml 0.064 g/ml .028g/ml 0.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Bj Mampat 0.681 g/ml ( x  x) 0.) adalah 0.001089g/ml 0.033g/ml -0.000036g/ml 0.653g/ml 0.675g/ml 0. berkisar antara 0.0.001909 31 = 0.006g/ml Jumlah ( x  x) 2 0.720 g/ml.714g/ml 0. 58 .039 g/ml.

579236 % 0.93% -0. 59 .899 % ( x  x) 1.899% 1.677% Jumlah ( x  x) 2 2.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 24 Index Carr¶s No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Index Car¶s 12.295%.458329 % 3.396%.8649 % 0.606% -0.222 % 10.505 % 9.902465 % SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 3.503% - 12. Berkisar antara 9.396 % Jadi index carr¶s adalah 10.902465 3 1 = 1.969 % 10.

Berkisar antara 1.113 1.000121 0.011 -0.121 60 .110 1.017 0.017.000064 0.142 1.104 1.121 ( x  x) 0.008 Jumlah ( x  x) 2 0.000441 0.000626 SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 0.138 Jadi rasio hausner adalah 1.000626 3 1 = 0.021 -0.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 25 Rasio Hausner No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Rasio Hausner 1.

296 % 240.000% 69.156 % 1028. Berkisar antara 46.003% 22.Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 26 Kadar Senyawa Larut Air Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.600% 84. 61 .033 % ( x  x) 10.157 % 676.003% Jumlah ( x  x) 2 112.325 % .) adalah 69.91.597% 15.500% 43.609% SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 1028.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Senyawa Larut Air 79.678% Jadi senyawa yang larut air dari ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri L.609 3 1 = 22.681%.678%.497% -26.

Lampiran 3 (lanjutan) Tabel 27 Kadar Senyawa Larut Etanol Ekstrak Kering Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.233% 2.) No 1 2 3 ( x ) rata2 (x) Senyawa Larut Etanol 18.964 % .326 % SD = § ( xi  x ) 2 ni SD SD = 179.967% Jumlah ( x  x) 2 104.200 % 30.469% Jadi senyawa yang larut etanol dari ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri L.400 % 28. 62 .326% 3 1 = 9. Berkisar antara 18.139 % 69.37.714% 5.902%.433 % ( x  x) -10.700 % 36.433 % 9.469%.) adalah 28.475 % 179.267% 7.

) ¤ ¡ £ ¢¡ simplisia yang telah diserbukkan proses maserasi Estrak kental herba meniran 63 .Lampi an Dokumentasi proses pembuatan ekstrak kering herba meniran (Phyll thus ni uri. Herba Meniran (Phyll nthus niruri L. L dan pengujian karakteristiknya.) hasil maserasi S Proses pengentalan (Phyll nthus niruri L.

Gambar 1. Skema Pembuatan Ekstrak Kental Herba Meniran (Phyll nthus niruri L) Lampiran . (Lanjutan) Proses Pengeringan EkstrakHerba Meniran Hasil ekstrak kering herba meniran (Phyll nthus niruri L) ¥ ¦ 64 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->