Kasus Pemicu 4 (AIDS) Tn.

A usia 35 tahun, TB 170 cm dan BB saat ini 50 kg, mengeluh lemah, lemas tidak bergairah, diare selama 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flue berat sampai suatu ketika hanya karena flue tersebut Tn.A nyaris pingsan. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan nilai ELISA Western Blot (+), neutropenia, anemia normositik normokrom, limfosit CD4+ 180 sel/µl. Step 1 (10 menit) Identifikasi istilah : 1. Elisa Western Blot 2. Neutropenia 3. Anemia normositik normokrom
4. LimfositCD4+ 180 sel/µl.

Step 2 (10 menit) Jawaban Istilah: 4) LimfositCD4+ 180 sel/µl Annisa Sholihatina Limfosit merupakan sejenis sel T, Limfosit diserang virus HIV. Bila diserang CD4+ <200 sel/µl, maka limfosit nya sudah rusak dan kekebalan tubuh menjadi menurun. Apabila <300 sudah terinfeksi virus HIV. Pertanyaan: 1. Annisa Fitria Apryanti Mengapa virus HIV menyerang Limfosit T? 2. Amilia Destiani Sofia Mengapa orang yang terkena HIV belum pasti terkena AIDS tapi orang yang sudah pasti AIDS pasti terkena HIV? 3. Anis Supi Tasripiyah Bagaimana mekanisme HIV menyerang tubuh? 4. Anisa Suangga Penjelasan HIV dan AIDS? 5. Asih Purwandari Apakah ada obat untuk HIV atau AIDS? 6. Ahira Amarilis Biasanya orang yang terkena HIV dikarenakan free sex atau pemakaian jarum suntik yang dipakai bergantian, apakah orang yang tidak melakukan itu semua bisa tertular juga? 7. Ana Noviana HIV bila terkena orang yang sudah ada penyakitnya, apakah akan berpengaruh lebih besar? 8. Annisa Fitria Apryanti Mengapa HIV ditularkan melalui cairan? 1

9. Ade Lestari Apa benar bila lewat saliva dan keringat, HIV tidak menular? 10. Anisa Suangga Mengapa diare pada kasus di atas bisa sampai 40 hari? 11. Amilia Destiani Sofia Mengapa pasien HIV sering mendadak flu bahkan sampai flu berat? 12. Ahira Amarilis Mengapa pasiennya bahkan sampai pingsan? 13. Annisa Sholihatina Mengapa virus HIV baru bisa dideteksi setelah beberapa tahun? 14. Anna Nurjannah Bagaimana tahapan dari terkena virus sampai terjadi AIDS? 15. Ayu Siti Marlina Biasanya orang yang terinfeksi HIV akan terjadi banyak komplikasi, bagaimana bisa sampai terjadi ke seluruh tubuh? 16. Aira Putri Mardela Apakah obat penguat sistem imun yang diberikan pada orang yang terinfeksi HIV ada efeknya? 17. Asih Purwandari Dalam kasus, pasien sudah pada tahapan AIDS keberapa? 18. Annisa Sholihatina HIV pertama kali ditemukan pada orang yang homosexual, apakah homoseksual lebih tinggi resikonya terkena HIV? Step 3 (30 menit) Jawaban Pertanyaan: 1. Asih Purwandari Karena mekanisme pertahanan tubuh adalah leukosit dan limfosit T termasuk leukosit yang bertugas untuk melawan virus yang masuk, sedangkan limfosit B untuk menahan virus masuk. 2. Ahira Amarillis Karena baru diketahui dan dideteksi AIDS bisa diketahui setelah beberapa tahun, bisa sampai 2 tahun. Dan bila gejalanya sudah terlihat itu bisa dipastikan sudah masuk tahap AIDS. 3. Ayu Siti Marlina Virus HIV itu baru bisa hidup jika RNA nya diubah menjadi DNA untuk menghasilkan protein, dimana protein ini akan menghasilkan virus-virus baru. 4. Ade Lestari HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah sindrom penurunan kekebalan tubuh yang 2

disebabkan oleh virus HIV. 5. Annisa Sholihatina Ada vaksin yang bernama Abacir bisa digunakan untuk menghambat proses perkembangan virus. Di negara maju juga ditemukan terapi HAART yang bisa menambah harapan hidup. 6. Annisa Fitria Apryanti HIV bisa tertular karena transfusi darah yang sudah terinfeksi HIV atau terkena jarum pentul yang sudah pernah tertusuk pada penderita HIV. Ade Lestari HIV juga bisa tertular melalui luka terbuka yang terkena darah atau semen penderita HIV Anis Supi Tasripiyah Bisa juga bayi terinfeksi dari ASI dan orang yang melahirkan sesar bayinya akan lebih kecil cenderung untuk terinfeksi HIV dari ibunya. 7. Aira Putri Mardela Akan semakin tambah parah, karena HIV langsung menyerang limfosit T, maka sistem imun akan semakin menurun. Asih Purwandari Bila terkena HIV maka sistem imun menurun sehingga rawan terkena penyakit, maka disebagian tempat penderita diisolasi. 8. Asih Purwandari Karena cairan tubuh sangat berperan penting dalam tubuh dan sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air, maka virus HIV bisa tumbuh disitu. Annisa Fitria Apryanti Sebenarnya orang yang meninggal itu bukan karena virusnya tapi dikarenakan komplikasi penyakitnya. 9. Annisa Sholihatina Menurut penelitian CDC, saliva, air mata juga memiliki andil untuk menularkan HIV tapi hanya 0,1%. Jadi banyak yang menganggap tidak menularkan. Asih Purwandari Virus HIV bila terkena sinar matahari bisa mati. 10. + 11. Annisa Fitria Apryanti Karena mekanisme pertahanan tubuh sudah tidak ada jadi diarenya tidak sembuh-sembuh. 12. Annisa Fitria Apryanti Pingsan karena kompensasi tubuh Anis Sufi Tasripiyah Karena flu banyak sekret, bersihan jalan nafas tak efektif jadi suplai oksigen menurun ke otak. 13. Ayu Siti Marlina 3

Karena antibodi tubuh lama bereaksi terhadap virus HIV, sehingga baru bisa dideteksi sampai beberapa tahun. 14. Anis Sufi Tasripiyah Tahap pertama disebut tahap jendela, tahap kedua disebut HIV, tahap ketiga disebut HIV + gejala , tahap AIDS Ayu Siti Marlina Tahap pertama belum ada gejala tapi sudah bisa menularkan; tahap kedua sudah bisa diperiksa positif terkena HIV; tahap ketiga sudah menunjukkan gejala seperti diare, lemas, flu berat; tahap keempat memiliki gejala komplikasi seperti TBC, kanker kulit. 15. Ahira Amarillis karena kekebalan tubuh menurun maka sangat sensitif terhadap banyak penyakit maka banyak komplikasi. 16. – 17. Annisa Sholihatina tahap 2 atau tahap 3, karena sudah ada gejala flu dan diare. Ayu Siti Marlina tahap 3, karena dari gejala-gejala sudah termasuk tahap AIDS 18. Ahira Amarillis Sebenarnya resikonya sama besar, hanya saja yang awal ditemukan pada homoseksual yang berganti-ganti pasangan dan yang homoseksual juga ada yang biseksual yang bisa memiliki keturunan yang juga tertular. Step 4 Mind Map
Organ,sel dan antibodi Tubuh yang terlibat dalam sistem pertahanan

Universal Precaution

Aspek etik dan legal Aspek Komunitas

Konsep Virus Definisi Karakteristik Sejarah Daur hidup virus

Aspek nutrisi

HIV

Asuhan Keperawatan Pengkajian Pem.Penunjang Analisa data Diagnosa Keperawatan Intervensi 4

Konsep AIDS Sejarah Definisi Etiologi Klasifikasi Manifestasi klinis Patofisiologi Pemeriksaan diagnostik Penatalaksanaan medis Komplikasi Pencegahan

LO 1. Mind Map 2. Istilah-istilah: a. Elisa Western Blot b. Neutropenia c. Anemia Normositik Normokrom 3. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab: No16. Apa efeknya terhadap virus HIV bila sudah diberikan obat terhadap sistem imun? Jawaban LO a. Western Blot • Elisa Western Blot

ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh terhadap virus HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi mulai minggu ke 2, atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV. Kerena alasan inilah maka para ahli menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi. Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air liur, atau air kencing. Saat ini telah tersedia Tes HIV Cepat (Rapid HIV Test). Pemeriksaan ini sangat mirip dengan ELISA. Ada dua macam cara yaitu menggunakan sampel darah jari dan air liur. Hasil positif pada ELISA belum memastikan bahwa orang yang diperiksa telah terinfeksi HIV. Masih diperlukan pemeriksaan lain, yaitu Western Blot atau IFA, untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan ELISA ini. Jadi walaupun ELISA menunjukkan hasil positif, masih ada dua kemungkinan, orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betul-betul telah terinfeksi HIV. • Western Blot Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. Western blot menjadi tes konfirmasi bagi ELISA karena pemeriksaan ini lebih sensitif dan lebih spesifik, sehingga kasus 'yang tidak dapat disimpulkan' sangat kecil. Walaupun demikian, pemeriksaan ini lebih sulit dan butuh keahlian lebih dalam melakukannya. b. Neutropenia Neutropenia adalah jumlah neutrofil yang sangat sedikit dalam darah. 5

Neutrofil merupakan sistem pertahan seluler yang utama dalam tubuh untuk melawan bakteri dan jamur. Neutrofil juga membantu penyembuhan luka dan memakan sisa-sisa bendaasing. Pematangan neutrofil dalam sumsum tulang memerlukan waktu selama 2 minggu. Setelah memasuki aliran darah, neutrofil mengikuti sirkulasi selama kurang lebih 6 jam, mencari organisme penyebab infeksi dan benda asing lainnya. Jika menemukannya, neutrofil akan pindah ke dalam jaringan, menempelkan dirinya kepada benda asing tersebut dan menghasilkan bahan racun yang membunuh dan mencerna benda asing tersebut. Reaksi ini bisa merusak jaringan sehat di daerah terjadinya infeksi. Keseluruhan proses ini menghasilkan respon peradangan di daerah yang terinfeksi, yang tampak sebagai kemerahan, pembengkakan dan panas. Neutrofil biasanya merupakan 70% dari seluruh sel darah putih, sehingga penurunan jumlah sel darah putih biasanya juga berarti penurunan dalam jumlah total neutrofil. Jika jumlah neutrofil mencapai kurang dari 1.000 sel/mikroL, kemungkinan terjadinya infeksi sedikit meningkat; jika jumlahnya mencapai kurang dari 500 sel/mikroL, resiko terjadinya infeksi akan sangat meningkat. Tanpa kunci pertahan neutrofil, seseorang bisa meninggal karena infeksi. Absolute neutrophil count (ANC) ditentukan oleh produk dari jumlah sel darah putih atau white blood cell count (WBC) dan fraction (pecahan) dari neutrophils diantara sel-sel darah putih seperti yang ditentukan oleh analisa WBC differential. Contohnya, jika WBC adalah 10,000 per microliter dan 70% adalah neutrophils, ANC akan menjadi 7,000 per microliter. ANC dari kurang dari 1500 per microliter (1500/microL) adalah definisi yang umumnya diterima dari neutropenia. Neutropenia adakalanya lebih jauh dikelompokan sebagai: • • • • ringan jika batasan ANC dari 1000-1500/microL, sedang dengan ANC dari 500-1000/microL, dan parah jika ANC dibawah 500/microL. Infeksi-infeksi (lebih umum infeksi-infeksi virus, namun juga infeksi-infeksi bakteri atau parasit). Contoh-contoh termasuk: HIV, tuberculosis, malaria, Epstein Barr virus (EBV); • • Obat-obat yang mungkin merusak sumsum tulang (bone marrow) atau neutrophils, termasuk kemoterapi kanker; Kekurangan-kekurangan vitamin (megaloblastic anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan/atau folate); 6

Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari banyak kondisi-kondisi medis:

• • • •

Penyakit-penyakit dari sumsum tulang seperti leukemia-leukemia, myelodysplastic syndrome, aplastic anemia, myelofibrosis; Terapi Radiasi; Penyakit-penyakit bawaan (sejak lahir) dari fungsi sumsum tulang atau dari produksi neutrophil, contohnya, Kostmann syndrome; Penghancuran autoimmune dari neutrophils (sebagai kondisi primer atau berhubungan dengan penyakit lain seperti Felty's syndrome) atau dari obat-obat yang menstimulasi sistim imun untuk menyerang sel-sel;

Hypersplenism, yang merujuk pada perampasan yang meningkat dan/atau penghancuran dari sel-sel darah oleh limpa (spleen).

Mendiagnosa Neutropenia didiagnosa dengan jumlah sel darah yang dilakukan pada sample darah yang dikeluarkan dari vena. Untuk menentukan penyebab yang spesifik dari neutropenia pada situasi yang diberikan, tes-tes lain mungkin diperlukan. Adakalanya biopsi sumsum tulang mungkin diperlukan untuk mendiagnosa penyebab yang spesifik dari neutropenia. c. Anemia Normositik Normokrom

Anemia Normositik Normokrom adalah Ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal ( MCV dan MCHC normal atau rendah ). Anemia normositik normokrom dapat terjadi karena: a. Hemolitik b. Pasca perdarahan akut c. anemia aplastik d. sindrom mielodisplasia e. alkoholism f. anemia pada penyakit hati kronik Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah / destruksi darah yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih keras lagi dalam eritropoiesis. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran darah tepi. Jika retikulosit tidak ditemukan, maka dicurigai adanya anemia aplastik, anemia def besi dan b12 yang tidak diobati, terapi radiasi, masalah endokrin, kegagalan sumsum tulang, sindrom mielodisplasia, dan alkoholism. 7

Pemeriksaan Laboratorium yang mendukung anemia hemolitik Test Coomb's. Dilakukan setelah hitung retikulosit dan di dapatkan retikulosit meningkat. Test Coombs ini ada yang secara langsung dan secara tidak langsung. 1. Secara langsung. Untuk mendeteksi antibodi yang melekat pada sel darah merah,yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Uji ini dapat mengidentifikasi suatu reaksi antigenantibodi yang lemah walaupun tidak tampak aglutinasi SDM. 2. Secara tidak langsung. Untuk mendeteksi antibodi yang bersirkulasi dengan bebas dalam serum klien. Biasanya uji ini digunakan sebelum transfusi darah (untuk memeriksa keberadaan antibodi dalam darah resipien dan donor sebelum dilakukan transfusi darah) d. CD4 Sel CD4 adalah macam sel darah putih atau limfosit dan ini bagian yang p-enting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Disebut juga sel T-4, sel pembantu atau kadang sel CD4+. Selain ada sel CD4 ada juga sel CD8 yang disebut sel T-8 atau sel pembunuh. Kerja sel T-8 membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus. Sel CD4 dapat dibedakan dari Sel CD8 berdasarkan protein tertentu yang ada di permukaan sel. Sel CD4 mempunyai protein CD4 pada permukaan sel. Pentingnya Sel CD4 sehububgan dengan HIV Ketika manusia terinfeksi HIV sel yang paling sering terinfesi adalah sel CD4, dan menjadi bagian dari sel tersebut. Ketika sel CD4 menggandakan diri untuk melawan infeksi apa pun, sel tersebut juga membuat banyak duplikasi HIV. Semakin menurunnya sel CD4 berarti sistem kekebalan tubuh kita semakin rusak dan semakin rendahnya jumlah CD4 yang ada dalam tubuh manusia, semakin mungkin kita akan mudah sakit atau mungkin akan mengalami infeksi oportunistik. Yang mempengaruhi Jumlah CD4 Jumlah sel CD4 berubah-ubah tergantung pada jam pengambilan contoh darahnya, kelehan dan stres. Infeksi lain juga dapat mempengaruhi jumlah CD4. Ketika tubuh kita melawan infeksi maka jumlah sel darah putih (limfosit) akan naik. Jumlah CD4 dan CD8 juga naik. Vaksinasi dapat berdampak serupa. Sebaiknya pengambilan contoh darah untuk tes CD4 dilakukan pada jam dan laboratorium yang sama. Juga dua minggu setelah pulih dari infeksi dan vaksinasi. Hasil Test CD4 8

Jumlah sel CD4 di tulis dalam satu milimeter kubik (mm3) darah. Tidak kesepakatan tentang jumlah CD4 yang normal, tetapi berkisar 500-1.600 mm3 . CD8 berkisar antara 3751.100 mm3 . Jumlah sel CD4 bisa jatuh pada angka yang sangat rendah pada orang yang terinfeksi HIV, kadang kala menjadi nol. Perbandingan sel CD4 dengan sel CD8 pada orang sehat berkisar 0,9 dan 1,9 berarti kurang lebih dari 1-2 sel. Pada orang yang terinfeksi HIV perbandingannya CD8 lebih banyak dibanding dengan CD4. Karena jumlah CD4 sering berubah-ubah biasnya dokter lebih menggunakan presentase sel CD4. Adalah perbandingan dengan limfosit total. Jika hasi tes CD4 = 34% berarti 34% dari limfosit kita adalah CD4. Angka normal berkisar 30 - 60%. Di bawah 14% menunjukan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh. Hal ini adalah tanda AIDS pada orang yang terinfeksi HIV. Jika jumlah CD4 dibawah 200 mm3, atau dibawah 14%, kita dianggap AIDS, berdasarkan definisi Depkes. Jumlah CD4 dipakai bersama untuk meramalkan berapa lama kita akan tetap sehat. Jika jumlah CD4 menurun dibawah 350 , sudah waktunya mempertimbangkan ART (Terapi Antiretroviral), beberapa dokter memakai prosentase jika CD4 dibawah 15%, sekalipun jumlah CD4 tinggi. Jawaban LO no.16 Pada orang yang terinfeksi HIV sistem kekebalan tubuhnya sudah melemah, bahkan rusak sehingga obat penguat sistem imun tidak akan berpengaruh apabila diberikan pada orang yang terinfeksi HIV.

9

Organ Tubuh yang terlibat dalam sistem pertahanan Kelenjar Timus Timus adalah sebuah organ berlobus dua yang terletak di mediastinum anterior dan di atas jantung. Saat lahir, berat timus adalah 10 sampai 15 gram dan meningkat ukurannya sampai maksimum pada saat pubertas, saat beratnya sampai sebesar 40 gram. Selama masa dewasa dan usia lanjut, timus mengalami involusi sampai beratnya kurang dari 15% ukuran saat pubertas. Timus adalah organ yang memiliki banyak pembuluh darah dan pembuluh limfatik yang mengalirkan isinya ke Organ yang terlibat dalam sistem kelenjar-kelenjar gatah bening mediastinum. Timus kekebalan tubuh memiliki korteks di sebelah luar dan medula di sebelah dalam. Korteks mengandung banyak timosit (limfosit T yang ditemukan di timus), sedangkan medula lebih jarang terisi oleh sel. Badan Hassall, yaitu kelompok-kelompok sel epitel yang tersusun rapat yang mungkin merupakan tempat degenerasi sel, ditemukan di medula. Timosit adalah limfosit T yang datang dari sumsum tulang melalui aliran darah dan berada dalam berbagai stadium perkembangan. Sel-sel kekebalan (limfosit T) yang dilatih di timus Limpa Unsur menakjubkan lain-nya dari sistem pertahanan kita adalah limpa. Limpa terdiri dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang baru dibuat di pulp putih mula-mula dipindahkan ke pulp merah, lalu mengikuti aliran darah. Kajian saksama mengenai tugas yang dilak-sanakan organ berwarna merah tua di bagian atas abdomen ini menying-kapkan gambaran luar biasa. Fungsinya yang sangat sulit dan rumitlah yang membuatnya sangat menakjubkan. Tugas limpa, seperti berkontribusi pada produksi sel, fagositosis, perlindungan sel darah merah, dan pembangunan kekebalan, sangat pen-ting sekaligus sulit. Tentu saja, limpa juga hanya segumpal daging, sama seperti organ-organ lainnya. Namun ia menunjukkan kinerja dan tingkat kecerdasan tak terduga dari sekadar segumpal daging. Ia mengorgani-sasikan 10

segalanya, tidak membiarkan terjadinya masalah, dan juga beker-ja tanpa istirahat. Sesungguhnya limpa bekerja untuk manusia dengan sangat giat sejak manusia lahir, dan akan terus-menerus seperti itu selama masih dikehendaki demikian oleh Allah. Sumsum Tulang

Sumsum tulang (Bahasa Inggris: bone marrow atau medulla ossea) adalah jaringan lunak yang ditemukan pada rongga interior tulang yang merupakan tempat produksi sebagian besar sel darah baru. Ada dua jenis sumsum tulang: sumsum merah (dikenal juga sebagai jaringan myeloid) dan sumsum kuning. Sel darah merah, keping darah, dan sebagian besar sel darah putih dihasilkan dari sumsum merah. Sumsum kuning menghasilkan sel darah putih dan warnanya ditimbulkan oleh sel-sel lemak yang banyak dikandungnya. Kedua tipe sumsum tulang tersebut mengandung banyak pembuluh dan kapiler darah. Sewaktu lahir, semua sumsum tulang adalah sumsum merah. Seiring dengan pertumbuhan, semakin banyak yang berubah menjadi sumsum kuning. Orang dewasa memiliki rata-rata 2,6 kg sumsum tulang yang sekitar setengahnya adalah sumsum merah. Sumsum merah ditemukan terutama pada tulang pipih seperti tulang pinggul, tulang dada, tengkorak, tulang rusuk, tulang punggung, tulang belikat, dan pada bagian lunak di ujung tulang panjang femur dan humerus. Sumsum kuning ditemukan pada rongga interior bagian tengah tulang panjang. Pada keadaan sewaktu tubuh kehilangan darah yang sangat banyak, sumsum kuning dapat diubah kembali menjadi sumsum merah untuk meningkatkan produksi sel darah.

11

Sel yang Bertugas dalam Sistem 1. Makrofag Makrofag adalah sel kecil yang tak terlihat oleh mata telanjang. Mereka tidak memiliki kapasitas untuk berpikir. Mereka adalah makhluk hidup yang hanya menuruti perintah yang lebih tinggi; mereka hanya melaksanakan tugas. Transfer Informasi Fungsi menakjubkan lainnya dari makrofag adalah dalam hal menyuplai limfosit yaitu sel B dan sel T dengan informasi mengenai musuh. Sel B dan sel T inilah pahlawan sejati di dalam sistem pertahanan. Setelah fagositosis antigen, sel yang membawa antigen berjalan ke nodus limfa (jaringan limfatik) melalui saluran limfatik. 2. a. Limfosit Limfosit B Fungsi utama dari sel-sel B yaitu sebagai imunitas atau antibody humoral. Setiap sel B dapat mengenali target antigen spesifik dan mampu mensekresikan antibodi spesifik. Saat terjadi respon imun, limfosit B akan melalui 2 proses yaitu respon imun primer dan respon imun sekunder. Jika sel limfosit B bertemu dengan antigen dan cocok, maka limfosit B membelah secara mitosis dan menghasilkan beberapa sel limfosit B. Semua limfosit B segera melepaskan antibodi dan merangsang sel Mast untuk menghancurkan antigen atau sel yang sudah terserang antigen untuk mengeluarkan histamin. 1 sel limfosit B dibiarkan tetap hidup untuk menyimpan antibodi yang sama sebelum penyerang terjadi. Limfosit B yang tersisa ini disebut limfosit B memori. Inilah proses respon imun primer. Jika suatu saat, antigen yang sama menyerang kembali, Limfosit B dengan cepat menghasilkan lebih banyak sel Limfosit B daripada sebelumnya. Semuanya melepaskan antibodi dan merangsang sel Mast mengeluarkan histamin untuk membunuh antigen tersebut. Kemudian, 1 limfosit B dibiarkan hidup untuk menyimpan antibodi yang ada dari sebelumnya. Hal ini menyebabkan respon imun sekunder jauh lebih cepat daripada respon imun primer. Suatu saat, jika suatu individu lama tidak terkena antigen yang sama dengan yang menyerang sebelumnya, maka bisa saja ia akan sakit yang disebabkan oleh antigen yang sama karena limfosit B yang mengingat antigen tersebut sudah mati. Limfosit B memori biasanya 12

berumur panjang dan tidak memproduksi antibodi kecuali dikenai antigen spesifik. Jika tidak ada antigen yang sama yang menyerang dalam waktu yang sangat lama, maka limfosit B bisa saja mati, dan individu yang seharusnya bisa resisten terhadap antigen tersebut bisa sakit lagi jika patogen itu menyerang, maka seluruh proses respon imun harus diulang dari awal. b. Limfosit T Limfosit T atau sel T memiliki dua fungsi utama : regulasi system imun dan membunuh sel-sel yang membawa target antigen spesifik. Setiap sel T memiliki penanda permukaan, seperti CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakan antar sel. Sel CD4+ merupakan sel pembantu yang mengaktivasi sel B, killer cells, dan makrofag saat ada antigen spesifik. Sel CD8+ membunuh sel yang terinfeksi virus atau bakteri, juga sel-sel kanker. Sel T mampu menghasilkan sitokin (zat kimia yang dapat membunuh sel) seperti interferon. Sitokin dapat berikatan dengan sel-sel target dan mengaktifkan proses inflamasi. Sitokin juga meningkatkan pertumbuhan sel, mengaktivasi fagosit dan menghancurkan sel target. Interleukin merupakan jenis sitokin yang berperan sebagai pembawa pesan antar sel darah putih. Interleukin rekombinan (sintetis) saat ini sedang dipelajari dalam uji klinis untuk pasien terinfeksi HIV. Selain itu, limfosit T berperan penting sebagai respon selular. Jika suatu saat ada patogen yang berhasil masuk dalam tubuh kemudian dimakan oleh suatu sel, biasanya neutrofil, maka patogen itu dicerna dan materialnya ditempel pada permukaan sel tersebut. Materi yang tertempel itu disebut antigen. Respon imun akan dimulai jika sel ini bertemu dengan limfosit T yang sedang berpatroli dengan mengeluarkan IL-1 sehingga limfosit T terangsang untuk mencocokkan antibodi dengan antigennya. Permukaan Limfosit T memiliki antibodi yang hanya cocok pada salah satu antigen saja. Jika antibodi dan antigennya cocok, maka limfosit T-Helper yang mengetahui bahwa sel ini sudah terkena antigen mempunyai 2 pilihan untuk menghancurkan sel tersebut dengan patogennya. Pertama, Limfosit T pembantu akan lepas dari sel yang diserang dan menghasilkan senyawa baru disebut IL-2, yang berfungsi untuk mengaktifkan dan memanggil Limfosit T Sitotoksik. Kemudian, Limfosit T Sitotoksik akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel yang terkena penyakit tersebut. Kedua, Limfosit T-Helper bisa saja mengeluarkan senyawa bernama perforin untuk membocorkan sel tersebut sehingga isinya keluar dan mati. Antibodi Dasar-dasar Antibodi Sistem kekebalan tubuh sendiri diartikan sebagai semua mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk menangkal pengaruh faktor atau zat yang berasal dari lingkungan, yang asing bagi tubuh kita. Secara garis besar, sistem kekebalan tubuh kita dibagi menjadi dua bagian, 13

yaitu sistem kekebalan alami (innate immunity) dan sistem kekebalan dapatan (acquired immunity) yang keduanya saling bekerja sama menangkal zat asing dari luar tubuh yang tentu apabila dibiarkan akan berbahaya bagi tubuh. Di dalam sistem ini, peranan senyawa kimia tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan cukup luas dan beragam dengan mekanisme kerja yang unik. Salah satu senyawa kimia yang berperan penting dalam kekebalan tubuh dapatan adalah antibodi. Antibodi adalah suatu protein yang dihasilkan oleh suatu sel dalam tubuh kita (dinamakan sel limfosit B dan termasuk ke dalam kelompok sel darah putih) sebagai respon terhadap adanya antigen (antigen adalah senyawa kimia atau zat asing atau mikroba yang tidak dikehendaki tubuh karena berbahaya yang mampu membangkitkan respon kekebalan pada tubuh kita) yang masuk dalam tubuh. Antibodi mempunyai ciri khas, yaitu spesifik terhadap jenis tertentu dari antigen. Ribuan atau jutaan jenis antigen yang masuk akan merangsang dibentuknya ribuan atau jutaan jenis antibodi pula. Setiap detik sekitar 2000 molekul antibodi diproduksi oleh sel limfosit B. Salah satu contoh peristiwa yang melibatkan antibodi adalah ketika kulit kita terkena infeksi karena luka maka akan timbul nanah. Nanah ini merupakan sel darah putih penghasil antibodi yang mati setelah berperang melawan antigen. Antibodi diproduksi sesudah host diinjeksi dengan antigen. Respon antibodi merupakan puncak dari serangkaian interaksi antara makrofag, sel T, sel B terhadap hadirnya antigen asing. Tahap pertama dari respon antibodi dimulai dari fagositosis antigen oleh makrofag atau sel lain dalam system retikuloendotelial yang meliputi sel-sel Langerhans di kulit, sel dendritik pada spleen dan lymph node, serta monosit dalam darah. Sel-sel tersebut berdasarkan fungsi imunologisnya digolongkan sebagai antigen-presenting cells (APC). Produksi antibodi diawali dengan melakukan injeksi atau imunisasi pada host atau hewan coba. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu penanganan dan pemilihan hewan coba, cara injeksi, sifat dan dosis antigen. Kualitas suatu antibodi dinilai dari beberapa hal, yaitu: konsentrasi kemurnian dan spesifisitas. Untuk menentukan kemurnian biasanya dipakai teknik elektroforesis. Beberapa teknik biasanya digabung untuk menentukan spesifitas sepeti kemampuan antibodi bereaksi dengan protein lain atau protein yang serupa dari spesies lain. Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan selsel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan musuh-musuh penyerbu. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan diri kepada sel-sel 14

musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya. Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuhkannya, layaknya tank yang hancur dan tak dapat bergerak atau melepaskan tembakan setelah dihantam rudal saat pertempuran. Antibodi bersesuaian dengan musuhnya (antigen) secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam struktur tiga dimensi. Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibodi khusus yang cukup kuat untuk menghadapi si musuh. Hal ini karena antibodi yang dihasilkan untuk suatu penyakit belum tentu mangkus bagi penyakit lainnya. Membuat antibodi spesifik untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa, dan pantas dicermati. Proses ini dapat terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen). Pengelompokan Antibodi Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa antibodi adalah sejenis protein. Protein-protein yang berfungsi untuk melindungi tubuh lewat proses kekebalan ini dinamakan "imuno globulin", disingkat "Ig". Protein paling khas pada sistem pertahanan, molekul imuno globulin mengikatkan diri pada antigen untuk menginformasikan kepada sel-sel kekebalan lainnya tentang keberadaan antigen tersebut atau untuk memulai reaksi berantai perang penghancuran. • IgG IgG (Imuno globulin G): IgG merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung dalam racun. Selain itu, IgG mampu menyelip di antara sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta 15

ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi. Jika antibodi tidak diciptakan dengan karakteristik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir. • IgA IgA (Imuno globulin A): Antibodi ini terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah lambung, dan sekresi usus. Kepekaan daerah tersebut berhubungan langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih menyukai media lembap seperti itu. Secara struktur, IgA mirip satu sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk melindungi daerah kritis. Antibodi ini melindungi janin dari berbagai penyakit pada saat dalam kandungan. Setelah kelahiran, mereka tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya. Setiap bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan ibunya, karena IgA tidak terdapat dalam organisme bayi yang baru lahir. Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya, pada saat bayi telah berumur beberapa minggu. Pernahkah Anda mempertanyakan siapa gerangan yang mengirimkan antibodi yang berusaha melindungi Anda dari mikroba pada saat Anda masih dalam bentuk embrio dan tidak mengetahui apa-apa? Mungkinkah itu ibu, atau ayah? Atau mungkinkah mereka memutuskan bersama dan mengirimi Anda antibodi secara bersama-sama? Tentu saja pertolongan yang kita bicarakan ini di luar kendali kedua orang tua. Si ibu malah tidak menyadari bahwa dia telah dikaruniai rancangan bantuan ini. Sang ayah juga tidak menyadari apa yang telah terjadi. Lalu kenapa sel-sel itu berada di payudara ibu? Kenapa pembuatan antibodi berlangsung dengan cara tersebut? Kekuatan mana yang memberi tahu sel-sel itu bahwa bayi yang baru lahir membutuhkan antibodi? Bukan suatu kebetulan bahwa sel yang terlibat dalam pembuatan anti-bodi untuk bayi ditempatkan pada bagian yang akan diisap sang bayi. Antibodi merupakan organisme yang tersusun dari protein. Sedangkan protein dicerna dalam lambung manusia. Karena itu, normalnya, bayi yang menyusu pada ibunya akan mencerna antibodi ini dalam lambungnya, sehingga tidak lagi terlindung dari 16

mikroba. Akan tetapi, lambung bayi yang baru lahir diciptakan sedemikian rupa untuk tidak mencerna dan menghancurkan antibodi ini. Pada tahap ini, produksi enzim pencerna protein masih sangat sedikit. Maka, antibodi yang sangat penting untuk hidup itu tidak dicerna dan akan melindungi bayi yang baru lahir dari musuhnya. Antibodi yang tidak dapat dihancurkan lambung ini dapat diserap oleh usus secara utuh. Sel-sel usus pada bayi diciptakan sedemikian rupa untuk melakukan hal itu. • IgM IgM (Imuno globulin M): Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen, IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan musuh. Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah. • IgD IgD (Imuno globulin D): IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel T menangkap antigen. • IgE IgE (Imuno globulin E): IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi. Mekanisme Kerja Antibodi Antibodi bekerja terutama melalui dua cara untuk mempertahankan tubuh terhadap agen penyebab penyakit : (1) dengan langsung menyerang penyebab penyakit tersebut dan (2) dengan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian dengan berbagai cara yang dimilikinya akan merusak penyebab penyakit tersebut. Kerja Langsung Antibodi Terhadap Agen Penyebab Penyakit. Akibat sifat bivalen dari antibodi dan banyaknya tempat antigen pada sebagian besar agen penyabab penyakitr, maka antibodi dapat mematikan aktivitas agen penyebab penyakit tersebut dengan salah satu cara berikut : 17

1. Aglutinasi, di mana berbagai partikel besar dengan antigen pada permukaannya, seperti bakteri atau sel darah merah, terikat bersama-sama menjadi satu kelompok 2. Presipitasi, dimana kompleks molekular dariantigen yang larut membentuk presipitat. 3. Netralisasi, di mana antibodimenutupi tempat-tempat yang toksik dari agen yang bersifat antigenik. 4. Lisis di mana beberapa antibodi yang sangat kuat kadang –kadang mampu langsung menyerang membran sel agen penyebab penyakit sehingga menyebabkan sel tersebut sobek. Dalam keadaan normal, kerja antibodi yang langsung menyerang penyebab penyakit yang bersifat antigenik mungkin tak cukup kuat untuk berperan dalam mempertahankan tubuh terhadap penyebab penyakit tersebut. Lebanyakan sifat pertahanan diddapat melalui efek penguatan dari sistem komplemen. Sistem Komplemen Pada Kerja Antibodi Komplemen istilah gabungan untuk menggambarkan suatu sistem yang terdiri dari kirakira 20 protein, yang kebanyakan merupakan prekursor enzim. Pemeran utama dalam sistem ini adalah 11 protein yang ditandai dengan C1 sampai C9, B, dan D. Dalam keadaan normal, semua protein ini terdapat diantara protein-protein plasma dan juga dalam protein plasma yang bocor keluar dari kapiler masuk ke dalam ruang jaringan. Biasanya prekursor enzim ini bersifat inaktif, namun dapat diaktifkan dengan 2 cara : (1) jalur klasik, dan (2) jalur altenatif 1. Jalur klasik Jalur ini diaktifkan oleh suatu reaksi antigen-antibodi. Yaitu, bila suatu antibodi berikatan dengan suatu antigen, maka tempat reaktif yang spesifik pada bagian ”yang tetap” dari antibodi akan menjadi tak tertutup atau diaktifkan dan gabungan ini kemudian langsung berikatan dengan molekul C1 dari sistem komplemen, masuk dalam ”rangkaian” reaksi-reaksi, Diawali dengan pengaktifan proenzim C1 itu sendiri, Untuk mengaktifkan banyak molekul pada tahap pertama dari sistem komplemen ini, hanya dibutuhkan sedikit gabungan antugen-antibodi. Enzim C1 yang terbentuk kemudai secara berturur-turut mengaktifkan enzim yang jumlahnya meningkat pada tahap akhir dari sistem ini, sehingga dari awal yang kecil terjadilah reaksi pengaut yang besar sekali. Pada gambar tersebut tampat terbentuk berbagai produk akhir dan beberapa diantaranya (misalnya racun tetanus) dan antibodimenjadi begitu besar sehingga berubah menjaditak larut dan

18

menimbulkan efek penting yang membantu mencegah kerusakan akibat organisme yang menyerbu atau oleh toksin. Efek-efek yang penting tersebut adalah sebagai berikut : a. Opsonisasi dan fagositosis. Salah satu produk dari rangkaian komplemen diatas, yaitu C3b, dengan kuat mengaktifkan fagositosis oleh netrofil dan makrofag, menyebabkan sel-sel ini menelan bakteri yang telah dilekati oleh kompleks antigen-antibodi. Proses ini seringkali mampu meningkatkan jumlah bakteri yang didapat dirusak sampai 100 kali lipat b. Lisis. Salkah satu produk paling penting dari seluruh priduk yang dihasilkan oleh rangkaian komplemen adalah kompleks litik, yang merupakan gabungan dari banyak faktor komplemen dan ditandai dengan C5b6789. produk ini memounyai pengaruh langsung untuk merobek membran sel bakteri atau organisme penyerbu lainnya. c. Aglutinasi. Produk komplemem juga mengubah permukaan organisme penyerbu, sehingga saling melekat satu sama lain, jadi meningkatklan proses aglutinasi. d. Netralisasi virus-virus. Enzim komplemen dan produk komplemen lain dapat menyerang struktur beberapa virus dan dengan demikian mengubahnya menjadi nonvirulen. e. Kemotaksis. Fragmen C5a menyebabkan kemotaksis dari netrofil dan makrofag, jadi menyebabkan sebagian besar sel fagosit ini bermigrasi ke dalam regio lokal dari agen antigenik. f. Pengaktifan sel mast dan basofil. Fragmen C3a, C4a, dan C5a semuanya mengaktifkan sel mast dan basofil, sehingga menyebabkan sel-sel tersebut melepaskan histamin, heparin, dan beberapa substansi lainnya kedalam cairan setempt. Bahan-bahan ini kemudian menyebabkan peningkatan aliran darah setempat, meningkatkan kebocoran cairan dan protein kedalam jaringan dan reaksisetempat lainnya yang membantu menginaktifkan atau mengimobilisasikan agen antigenik. Faktor-faktor yang sama juga berperan dalam proses peradangan. g. Efek inflamasi. Disamping efek peradangan yang disebabkan oleh pengaktifan sel mast dan basofil, ada beberapa produk komplemen lain yang turut menimbulkan peradangan setempat. Produk-produk ini meningkatkan aliran darah yang sebelumnya telah meningkat, meningkatkan kebocoran protein dari kapiler, dan kemudian protei akan berkoagulasi dalam ruang jaringan, jadi penghambat pergerakan organisme yang menyerbu melewati jaringan. 2. Jalur Alternaif 19

Sistem komplemen kadang-kadang diaktifkan diperantarai oleh suatu reaksi antugen-antibodi. Hal ini terutama terjadi dalam respon terhadap molekulmolekulpolisakarida besar dalam membran sel mikro-organisme yng menyerbu masuk. Bahan-bahan ini bereaksi dengan faktor komplemen B dan D, menghasilkan bahan pengaktif yang yang mengaktifkan faktor C3, Untuk memulai rangkaian komplemen yang tersisa, di luar tingkat C3. Jadi, pada dasarnya semua hasil akhir yang dihasilkan itu sama dengan yang dihasilkan dalm jalur klasik, dan ini juga menghasilkan pengaruh yang sama terhadap penyerbu dalam mempertahankan tubuh. Karena jalur alternatif tidak melibatkan reaksi antigen-antibodi, maka jaln ini juga merupakan garis pertahanan pertama terhadap mikro-organisme penyerbu, bahkan mampu berfungsi sebelum orang tersebut teriminisasi terhadap organisme. Toleransi Sistem Imunitas Didapat Terhadap Jaringan Sendiri Bila seseorang menjadi kebal terhadap jaringannya sendiri, maka proses imunitas yang didapat akan menghancurkan dirinya sendiri. Dalam keadaan normal, mekanisme imun dapat mengenali jaringannya sendiri yang jelas berbeda dengan bakteri atau virus, dan sistem imunitasnya membentuk sedikit antibodi atau sel-sel teraktivasi terhadap antigennya sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai toleransi sendiri terhadap jaringan tubuh sendiri. Sebagian Besar hasil Toleransi Terjadi Akibat Pemilihan Klon Selama Pengolahan Pendahuluan. Dianggap bahwa kebanyakan toleransi ini berkembang sewaktu terjadi pengolahan pendahuluan limfosit T di timus dan limfosit B di tempat pengolahan pendahuluan limfosit B ( pada manusia di sum-sum tulang ). Alasan untuk anggapan ini adalah bahwa bila dilakukan penyuntikan suatu antigen yang kuat kedalam pada janin saat terjadi pengolahan pendahuluan limfosit di kedua tempat tadi, maka akan terjadi pencegahan pertumbuhan klon limfosit didalam jaringan limfoid yang bersifat spesifik terhadap antigen yang disuntikkan. Percobaan-percobaan juga telah membuktikan bahwa limfosit imatur yang spesifik dalam timus, bila terpajan dengan antigen yang kuat, maka sel ini menjadi limfoblastik, sangat berproliferasi, serta selanjutnya bergabung dengan antigen yang merangsang tadi, suatu efek yang diamggap dapat menyebabkan sel itu sendiri dirusakkan oleh sel epitel timus sebelum mereka dapat bermigrasi dan menempati jaringan limfoid. Oleh karena itu, maka dianggap bahwa selam limfosit diolah lebih dulu ditimus dan sumsum tulang, semua atau sebagian besar klon limfosit tersebut yang bersifat spesifik terhafdap jaringan tubuh sendiri akan dirusak sendiri, karena adanya kontak yang terus menerus dengan antigen tubuh. 20

Peran Sel T Supresor dalam Membentuk Toleransi. Sel T supresor kemungkinan bertanggung jawab untuk jenis toleransi diri yang lain lagi. Sebagai contoh, kadang-kadang reaksi autoimun terjadi secara akut melawan salah satu jaringan tubuh, tetapi setelah beberapa hari atau beberapa minggu akan menghilang walaupun antibodi autoimun ini menetap dalam plasma yang bersirkulasi. Apa yang terjafi adalah bahwa sel T supresor yang secara spesifik tersensitisasi terhadap antigen diri jumlahnya menjadi sangat meningkat. Telah diyakini bahwa sel T supresor ini berfungsi untuk mengimbangi efek antibodi autoimun seperti juga mensensitisasi sel pembantu dan mensensitisasi sel T sitotoksik, jadi menghambat serangan imun pada jaringan. Namun, hal ini tidak sepenuhnya dimengerti. Kegagalan Mekanisme Toleransi Menyebabkan Penyakit Autoimun. Kadang-kadang orang kehilangan sebagian toleransi imun terhadap jaringannya sendiri. Semakin tua, hal ini menjadi semakin berat. Biasanya hal ini terjadi setelah timbul kerusakan beberapa jaringan tubuh, yang melepaskan banyak antigen sendiri yang bersirkulasi dalam tubuh dan diduga menimbulkan imunitas didapat dalam bentuk sel T yang teraktivasi atau antibodi. Konsep Virus ( HIV ) 1. Sejarah Virus HIV Menurut : http://www.geocities.com/igamamalang/info.htm Asal mulanya, tidak jelas darimana berasal dan kapan munculnya. Pada tahun 1969 dilaporkan bahwa di Sub Sahara Afrika ditemukan darah tahun 1950 yang ternyata positif HIV. Selain itu juga pada tahun 1980 dilaporkan pula di USA, bahwa darah tahun 1969 Positif. Akhirnya disepakati tanggal 5 Juni 1969, sebagai awal mula kasus HIV/AIDS muncul. Hal ini sesuai laporan kasus HIV/AIDS di USA Los Angeles CDC yang mengadakan peneliti pada pria homoseksual. Dan kini, kasus HIV/AIDS ini kini semakin meluas dan menyerang berbagai lapisan dan strata sosial. 2. Pengertian Virus HIV HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. (http://organisasi.org/pengertian_definisi_dan_cara_penularan_penyebaran_virus_hiv_aids_in fo_informasi_penyakit_menular_seksual_pms) 21

HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ Sel T dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS. (http://id.wikipedia.org/wiki/HIV) HIV merupakan bagian dari kelompok virus yang disebut Lentivirus yang ditemukan pada primata nonmanusia. Secara kolektif, Lentivirus diketahui sebagai virus monyet yang dikenal dengan nama Simian Immunodeficiency Virus (SIV). HIV merupakan keturunan dari SIV. Jenis SIV tertentu mirip dengan dua tipe HIV, yakni HIV- 1 dan HIV-2, yang menyerang salah satu sel dari darah putih yaitu sel limfosit. (http://education.feedfury.com/content/16689387-bahaya-aids-atau-hiv.html) HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. (http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/adakah_obat_untuk_hivaids_saat_ini/) Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan HIV adalah virus penyebab utama AIDS yang menyerang sistem imun sehingga terjadi penurunan fungsi imun yang material genetiknya adalah RNA. 3. Karekteristik Virus HIV

22

Virion HIV mempunyai bentuk sfera dan mempunyai diameter lebih kurang 1x 10-4 milimeter. HIV juga merupakan sejenis virus Retrovirus( virus RNA penyandi enzim yang mampu menyalin RNA menjadi DNA dan menyisipkannya ke dalam sel inang yang terjadi pada penderita HIV positif) . Sampul HIV mempunyai 2 lapisan yang terdiri daripada lipid yang diambil daripada membran dalam sel hos dan protein yang mempunyai rantaian karbohidrat (glikoprotein sampul virus). Salah satu protein sampul yang penting ialah glikprotein gp41 (glikoprotein transmembran), di mana ia terletak pada membran virus dan gp120 di mana terletak di luar membran seperti topi. Sampul meliputi keseluruhan core virus termasuk protein luar struktur p18 dan protein dalam p24. Di antara sarung kapsid dan protein p7 dan p9 ialah RNA virus. 4. Mekanisme Virus HIV Salah satu fakta terpenting mengenai virus HIV adalah bahwa ia hanya memasuki sebagian, tidak seluruh, sel tubuh manusia. Target utamanya adalah sel T penolong, yang merupakan elemen paling efektif pada sistem pertahanan. Ini penting sekali. Di antara berbagai jenis sel, virus memilih sel sistem pertahanan yang paling menguntungkan baginya dan hal ini menyebabkan perusakan tubuh manusia. Satu pertanyaan yang tak terjawab adalah: Bagaimanakah virus HIV tahu persis target mana yang harus difokuskan? Begitu memasuki tubuh manusia, menjelang ia bisa paham

bahwa sel T merupakan "otak" sistem pertahanan, virus AIDS akan segera dimusnahkan oleh sistem yang ada. Bagaimananpun, tidaklah mungkin bagi virus AIDS untuk melakukan penyelidikan intelijen sebelum memasuki tubuh manusia. Lalu bagaimanakah virus AIDS mengembangkan strateginya? 23

Ini baru salah satu dari keterampilan menakjubkan yang dikuasai oleh virus AIDS.

Pada tahap 1 Ketika sel T, elemen vital dari sistem pertahanan tertangkap, sistem pertahanan kekurangan tim pemikirnya, dan tak lagi mampu mengenali musuh. Ini umpama taktik peperangan yang cerdas. Pasukan tanpa komunikasi yang efektif dan tanpa sistem inteligensia dapat dikatakan telah kehilangan kekuatan utamanya.Lebih jauh dari itu, antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia tak membahayakan virus AIDS. Memang pasien AIDS terus memproduksi antibodi, tetapi tak lagi efektif tanpa adanya sel T. Virus AIDS (jingga) berusaha memasuki sel T dengan merobek membrannya.

Pada tahap kedua, Virus harus mengikatkan dirinya kepada sel lain yang sudah ditetapkannya menjadi target. Prosedur ini sama sekali tak sulit bagi virus AIDS. Nyatanya dia berikatan dengan sel ini seperti kunci dengan lubangnya. Pada tahap ketiga, 24

Virus HIV melakukan serangkaian proses menakjubkan yang akan menjaminnya berumur panjang. Virus HIV adalah retrovirus. Artinya, gen-nya hanya mengandung RNA, tanpa DNA. Tetapi sebuah retrovirus memerlukan DNA supaya tetap hidup. Untuk menyediakan DNA, dia membuat jalan lain dengan metode yang sangat menarik: Ia menggunakan asam nukleat dari sel tuan rumah dan mengonversikan RNA-nya menjadi DNA dengan bantuan sebuah enzim yang disebut "reverse transcriptase", yang berarti ia akan membalik prosesnya. Lalu ia menempatkan DNA ini pada DNA yang ditemukan di inti sel tuan rumahnya. Bahan warisan virus sekarang menjadi bahan warisan sel T. Ketika sel ini membelah diri, demikian pula virus HIV. Sel mulai bekerja sebagai pabrik bagi virus. Tetapi menduduki satu sel saja tidak memuaskan bagi virus HIV. Ia akhirnya akan mencoba untuk mengalahkan seluruh tubuh. Sebelum berpindah menginfeksi sel lain, sepotong kecil virus HIV (biru) menggandakan diri dalam sel pertahanan Setelah memasuki tubuh manusia, virus HIV dapat memproduksi sepuluh miliar virus sehari. Jumlah virus yang sangat banyak ini tak dapat diatasi, Selain kemampuan di atas, virus HIV juga mampu mengubah dirinya ke berbagai bentuk dalam upaya mencegah dirinya tertangkap oleh sistem pertahanan. HIV melompat dari satu sel T ke sel T lainnya untuk menghindari kontak dengan antibodi dalam aliran darah Hal ini membuat virus HIV sampai saat ini kebal terhadap efek pengobatan yang ditujukan padanya. Pada Tahap Keempat, Virus HIV awal dan replikanya ingin meninggalkan sel tuan rumah mereka dan menduduki sel lain serta memfasilitasi proses proliferasi. Mereka tidak perlu bekerja keras dalam melakukan hal ini. Segalanya berjalan dengan kecepatan alamiah. Membran sel T yang telah diduduki tidak kuat menanggung tekanan dari proses multiplikasi sehingga ia bolong-bolong, memungkinkan virus HIV untuk keluar dari sel untuk mencari sel tuan 25 Sel T sehat (kiri). Sel T yang telah dirusak oleh musuh (virus AIDS) dan kini memiliki profil bundar dan lumah (kanan). Citra ini diperbesar lebih dari 3.000 kali.

rumah lainnya. Setelah virus HIV bertambah jumlahnya, dia juga membunuh sel T tuan rumahnya. Virus HIV yang sukses sekarang telah sepenuhnya mengalahkan tubuh manusia. Kecuali manusia berhasil menemukan obat yang efektif untuk mengalahkan virus ini, ia akan tetap di sana. Semuanya bergantung kepada kemauan virus HIV, akan terus tidur selama bertahuntahun atau segera menyerang tubuh manusia.Semua ini dilakukan oleh sebuah virus, yang hanya berukuran satu mikron, tak memiliki DNA, dan bahkan tak dapat dikelompokkan sebagai makhluk hidup Virus akan menggandakan dirinya ditubuh sekitar beberapa minggu atau bisa saja sekitar sebulan sebelum system kekebalan tubuh meresponnya. Selama waktu itu jika dites hiv maka hasilnya bisa saja negatif. Namun tetap bisa menularkan ke orang lain. Ketika system kekebalan tubuh merespon maka system kekebalan tubuh akan membuat antiboidy. Ketika ini terjadi maka jika dites hiv hasilnya positif. Setelah gejala yang menyerupai terkena flu beberapa orang akan hidup dengan sehat sekitar 10 tahun. Tapi pada masa ini hiv mulai merusak kekebalan tubuh. Satu-satunya jalan untuk mengukur kerusakan system kekebalan tubuh adalah dengan menghitung sel sel CD4 positif yang dimiliki. Sel ini disebut juga sel T helper yang merupakan bagian sangat penting dari system kekebalan tubuh. Orang sehat biasanya memiliki sekitar 500-1500 sel CD4 positif. Jika memiliki dibawah 200 maka dapat dipastikan terkena virus hiv aids.

MEKANISME INFEKSI VIRUS HIV Infeksi Virus HIV-1(USA)/HIV-2(Afrika) ↓ Berikatan dengan reseptor CD4+ dan juga chemokine coerreceptor(limfosit T Helper. Limfosit B, makrofag, sel di CNS) ↓ Internalisasi virus ke sel Host ↓ Sintesis DNA dengan reverse transcriptase enzyme Sel berfungsi Integrasi DNA virus dengan DNA host dibantu oleh integrase enzyme(provirus) abnormal dan sel mati REPLIKASI ↓ VIRUS HIV 26 Depresi system imun tubuh ↓ Gangguan pada materi genetik sel host

Transkripsi DNA virus menjadi mRNA ↓ Translasi mRNA untuk membuat poliprotein ↓ Cleavage, pemotongan rantai poliprotein oleh enzyme protease ↓ Protein dan RNA berkumpul membentuk virus baru ↓ Pelepasan virus-virus HIV ke aliran darah ↓ Menyerang sel lain(mengulangi proses seperti semula)

Konsep Penyakit AIDS 1. Sejarah Penyakit AIDS AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles. Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun. Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada. 2. Pengertian Penyakit AIDS 27

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Wikipedia) AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan suatu penyakit yang cara kerjanya menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS disebabkan karena virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) masuk ke dalam tubuh manusia. HIV dengan cepat akan melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS biasanya akan meninggal karena suatu penyakit (disebut penyakit sekunder) yang biasanya akan dapat dibasmi oleh tubuh seandainya sistem kekebalan itu masih baik. ( http://education.feedfury.com/content/16689387-bahaya-aids-atau-hiv.html) AIDS adalah kependekan dari ‘Acquired Immune Deficiency Syndrome’. Acquired berarti didapat, bukan keturunan. Immune terkait dengan sistem kekebalan tubuh kita. Deficiency berarti kekurangan. Syndrome atau sindrom berarti penyakit dengan kumpulan gejala, bukan gejala tertentu. Jadi AIDS berarti kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir. (http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=101) Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa AIDS adalah kumpulan gejala akibat defisiensi sistem imun yang disebabkan oleh HIV. 3. Etiologi Penyakit AIDS Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor Gambar 1. HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatanbulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.

4. Stadium Penyakit AIDS Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS: Tahap 1: Periode Jendela 28

-

HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan HIV berkembang biak dalam tubuh Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (ratarata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun

Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala) Sistem kekebalan tubuh semakin turun Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah Tahap 4: AIDS

Klasifikasi CDC untuk infeksi HIV yang didasarkan pada patofisiologi penyakit seiring memburuknya secara progresif fungsi imun : Kelas Grup I Grup II Kriteria 1. Infeksi akut oleh HIV 2. gejala mirip influenza ; mereda sempurna 3. antibody HIV negative 1. Antibody HIV positif 2. Grup III Grup IV-A tidak ada indicator klinis atau laboratorium adanya imunodefisiensi 1. Antibody HIV positif 2. limfadenopati generalisata persisten 1. Antibody HIV positif 2. penyakit konstitusional 29

a. demam atau diare menetap grup IV-B b. menurunnya berat lebih dari 10% dibandingkan berat normal 1. Sama seperti grup IV-A 2. penyakit neurologic a. demensia b. neuropati grup IV-C c. mielopati 1. sama seperti grup IV-B dan 2. hitung limfosit CD4+ kurang daripada 200/µl Grup IV-D 3. infekioportunistik 1. Sama seperti grup IV-C dan 2. tuberculosis paru, kanker serviks invasif, atau keganasan lain

Klasifikasi stadium infeksi HIV dari Walter Reed stadium Antibody WR 0 HIV Limfadenopati Sel kronik CD4/mm3 >400 Uji kulit DTH Normal (reaktif terhadap ≥ 2 antigen WR 1 WR 2 WR 3 WR 4 + + + + + +/+/>400 >400 <400 <400 uji kulit) Normal Normal Normal Defek parsial (reaktif terhadap antigen WR 5 + +/<400 kulit) Alergi dan/atau thrush (reaktif terhadap WR 6 + +/<400 0 + antigen kulit) Normal, defek +/parsial, energi 30 atau 1 uji thrush Infeksi oportunis -

Ket : Kriteria absolute harus dipenuhi untuk penentuan stadium + : ditemukan; : tidak ditemukan;

DTH : delayed type hypersensitivity (hipersensitivitas tipe lambat) 5. Manifestasi Klinis Perjalan klinik infeksi HIV telah ditemukan beberapa klasifikasi yaitu : a. Infeksi Akut : CD4 : 750 – 1000 Gejala infeksi akut biasanya timbul sedudah masa inkubasi selama 1-3 bulan. Gejala yang timbul umumnya seperti influenza, demam, atralgia, anereksia, malaise, gejala kulit (bercak-bercak merah, urtikarta), gejala syaraf (sakit kepada, nyeri retrobulber, gangguan kognitif danapektif), gangguan gas trointestinal (nausea, diare). Pada fase ini penyakit tersebut sangat menular karena terjadi viremia. Gejala tersebut diatas merupakan reaksi tubuh terhadap masuknya unis yang berlangsung kira-kira 1-2 minggu. b. Infeksi Kronis Asimtomatik : CD4 > 500/ml Setelah infeksi akut berlalu maka selama bertahun-tahun kemudian, umumnya sekitar 5 tahun, keadaan penderita tampak baik saja, meskipun sebenarnya terjadi replikasi virus secara lambat di dalam tubuh. Beberapa penderita mengalami pembengkakan kelenjar lomfe menyeluruh, disebut limfa denopatio (LEP), meskipun ini bukanlah hal yang bersifat prognostic dan tidak terpengaruh bagi hidup penderita. Saat ini sudah mulai terjadi penurunan jumlah sel CD4 sebagai petunjuk menurunnya kekebalan tubuh penderita, tetapi masih pada tingkat 500/ml. c. Infeksi Kronis Simtomatik Fase ini dimulai rata-rata sesudah 5 tahun terkena infeksi HIV. Berbagai gejala penyakit ringan atau lebih berat timbul pada fase ini, tergantung pada tingkat imunitas pemderita. 1) Penurunan Imunitas sedang : CD4 200 – 500 Pada awal sub-fase ini timbul penyakit-penyakit yang lebih ringan misalnya reaktivasi dari herpes zoster atau herpes simpleks. Namun dapat sembuh total atau hanya dengan pengobatan biasa. Keganasan juga dapat timbul pada fase yang lebih lanjut dari sub-fase ini dan dapat berlanjut ke sub fase berikutnya, demikian juga yang disebut AIDS-Related (ARC). 31

2)

Penurunan Imunitas berat : CD4 < 200

Pada sub fase ini terjadi infeksi oportunistik berat yang sering mengancam jiwa penderita. Keganasan juga timbul pada sub fase ini, meskipun sering pada fase yang lebih awal. Viremia terjadi untuk kedua kalinya dan telah dikatakan tubuh sudah dalam kehilangan kekebalannya. Tanda dan Gejala AIDS Gejala-gejala yang umum orang yang tertular HIV/AIDS biasanya adalah: Berat badan turun secara mencolok, biasanya lebih dari 10% dalam waktu 1 bulan; Demam lebih dari 38oC, disertai keringat tanpa sebab yang jelas pada malam hari; Diare kronis lebih dari 1 bulan; Rasa lelah berkepanjangan; Pembesaran kelenjar getah bening yang menetap, biasanya di sekitar leher dan lipatan paha; Gatal-gatal; Herpes kulit; serta Kelainan lain pada kulit, rambut, mata, rongga mulut, alat kelamin dan lainnya.

Menurut penderita AIDS Tanda dan gejala meliputi : 1. Dicurigai AIDS pada orang dewasa bila ada paling sedikit dua gejala mayor dan satu gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti kanker,malnutrisi berat atau pemakaian kortikosteroid yang lama. a. gejala Mayor 1) Penurunan berat badan lebih dari 10% 2) Diare kronik lebih dari satu bulan 3) Demam lebih dari satu bulan b. Gejala Minor 1) Batuk lebih dari satu bulan 2) Dermatitis preuritik umum 3) Herpes zoster recurrens 4) Kandidias orofaring 32

5) Limfadenopati generalisata 6) Herpes simplek diseminata yang kronik progresif 2. Dicurigai AIDS pada anak. Bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dan dua gejala minor, dan tidak terdapat sebab – sebab imunosupresi yang lain seperti kanker, malnutrisi berat, pemakaian kortikosteroid yang lama atau etiologi lain. a. Gejala Mayor 1) Penurunan berat badan atau pertmbuhan yang lambat dan abnormal 2) Diare kronik lebih dari 1bulan 3) Demam lebih dari1bulan b. Gejala minor 1) Limfadenopati generalisata 2) Kandidiasis oro-faring 3) Infeksi umum yang berulang 4) Batuk parsisten 5) Dermatitis

6. Patofisiologi Penyakit AIDS Kontak langsung (membran/aliran darah) dengan cairan tubuh yang mengandung HIV HIV berikatan dengan CD4+ Sel T4 terinfeksi dan ikut dalam cairan tubuh Banyak CD4+ yang terinfeksi

infeksi

Fungsi sel T4 ↓↓ Mengaktifasi respon imun

Sel T4 terinfeksi diaktifkan

Sel killer penjamu mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi 33

Jumlah sel T4 ↓↓ Sistem imun seluler melemah (imunosupresi) Patogen mudah masuk ke dalam tubuh Virus berpoliferasi Infeksi yang parah pada neurologik, sistem respirasi, sistem GI, hepar, dan sistem integumen

Neurologik

HIV menginfeksi sel-sel otak Memicu toksin dan limfokin Fungsi neurotransmitter tergangggu

Penurunan progresif pada fungsi kognitif, perilaku, dan motorik Ketidakefektifan koping individu Fungsi sel T4 ↓↓

Respirasi

Mengaktivasi respon imun SISTEM RESPIRASI ++HIV ISPA Flu bertambah berat Produksi mukus >> Jalan nafas terhambat 02 supply ↓↓ RR ↑↑ HR ↑↑ Bersihan Jalan Nafas Tak Efektif

Pemakaian energi >> 34 Malaise Intolerant Activity

Gastrointestinal

Masuknya mikroorganisme Infeksi di intestinum

Tidak optimalnya absorpsi air dan sari makanan diare Diare bertambah berat Pengeluaran cairan Tidak terkontrol Defisit cairan Kekurangan volume cairan dehidrasi Gangguan membrane mukosa mulut tidak optimalnya peristaltic ↓↓ penyerapan sari makanan tidak seimbangnya kebutuhan dan suplai nutrisi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

merangsang baroreseptor Saraf simpatis aktif Saraf parasimpatis ↓↓ peristaltic ↓↓ makanan tertahan di usus dan lambung mual dan muntah Gangguan intake nutrisi mengaktivasi kelenjar keringat sekresi keringat

35

Hepar ++ HIV Hati terinfeksi Kerja hepar tidak optimal Fagositosis SDM ↓↓ Banyak SDM yang tidak produktif Pengangkutan 02 ↓↓ 02 supply ↓↓ RR ↑↑ HR ↑↑ Pengangkutan nutrisi ↓↓ Kemampuan memproduksi Fibrin ↓↓ Proses penyembuhan melambat Risiko Cedera

Pemakaian energi >> malaise Intoleran activity

GI

Integumen ++ HIV

Diare

Integumen terinfeksi Rentan terinfeksi gangguan kulit Harga diri rendah Penurunan berat badan Perubahan citra tubuh Isolasi sosial

36

7. Komplikasi Penyakit AIDS Penyakit paru-paru utama Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL. Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini. Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat. Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner. Penyakit saluran pencernaan utama Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka. 37

Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis). Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri. Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan. Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh 38

makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin. Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 1020%, namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV. Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India. Komplikasi saraf Kelainan sistem saraf terkait AIDS mungkin secara langsung disebabkan oleh HIV, oleh kanker dan infeksi oportunistik tertentu (penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus lain yang tidak akan berdampak pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat), atau efek toksik obat yang dipakai untuk mengobati gejala. Kelainan saraf lain terkait AIDS yang tidak diketahui penyebabnya mungkin dipengaruhi oleh virus tetapi tidak sebagi penyebab langsung. AIDS dementia complex (ADC), atau ensefalopati terkait HIV, muncul terutama pada orang dengan infeksi HIV lebih lanjut. Gejala termasuk ensefalitis (peradangan otak), perubahan perilaku, dan penurunan fungsi kognitif secara bertahap, termasuk kesulitan berkonsentrasi, ingatan dan perhatian. Orang dengan ADC juga menunjukkan pengembangan fungsi motor yang melambat dan kehilangan ketangkasan serta koordinasi. Apabila tidak diobati, ADC dapat mematikan. Limfoma sususnan saraf pusat (SSP) adalah tumor ganas yang mulai di otak atau akibat kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain. Limfoma SSP hampir selalu dikaitkan dengan virus Epstein-Barr (jenis virus herpes yang umum pada manusia). Gejala termasuk sakit kepala, kejang, masalah penglihatan, pusing, gangguan bicara, paralisis dan penurunan mental. Pasien AIDS dapat mengembangkan satu atau lebih limfoma SSP. Prognosis adalah kurang baik karena kekebalan yang semakin rusak. Meningitis kriptokokus terlihat pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati dan pada orang lain dengan sistem kekebalannya sangat tertekan oleh penyakit atau obat. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans, yang umum ditemukan pada tanah dan tinja burung. Jamur ini pertamatama menyerang paru dan menyebar ke otak dan saraf tulang belakang, menyebabkan peradangan. Gejala termasuk kelelahan, demam, sakit kepala, mual, kehilangan ingatan, bingung, pusing dan muntah. Apabila tidak diobati, pasien meningitis kriptokokus dapat jatuh dalam koma dan meninggal. 39

Infeksi cytomegalovirus (CMV) dapat muncul bersamaan dengan infeksi lain. Gejala ensepalitis CMV termasuk lemas pada lengan dan kaki, masalah pendengaran dan keseimbangan, tingkat mental yang berubah, demensia, neuropati perifer, koma dan penyakit retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Infeksi CMV pada urat saraf tulang belakang dan saraf dapat mengakibatkan lemahnya tungkai bagian bawah dan beberapa paralisis, nyeri bagian bawah yang berat dan kehilangan fungsi kandung kemih. Infeksi ini juga dapat menyebabkan pneumonia dan penyakit lambung-usus. Infeksi virus herpes sering terlihat pada pasien AIDS. Virus herpes zoster yang menyebabkan cacar dan sinanaga, dapat menginfeksi otak dan mengakibatkan ensepalitis dan mielitis (peradangan saraf tulang belakang). Virus ini umumnya menghasilkan ruam, yang melepuh dan sangat nyeri di kulit akibat saraf yang terinfeksi. Pada orang yang terpajan dengan herpes zoster, virus dapat tidur di jaringan saraf selama bertahun-tahun hingga muncul kembali sebagai ruam. Reaktivasi ini umum pada orang yang AIDS karena sistem kekebalannya melemah. Tanda sinanaga termasuk bentol yang menyakitkan (serupa dengan cacar), gatal, kesemutan (menggelitik) dan nyeri pada saraf. Pasien AIDS mungkin menderita berbagai bentuk neuropati, atau nyeri saraf, masing-masing sangat terkait dengan penyakit kerusakan kekebalan stadium tertentu. Neuropati perifer menggambarkan kerusakan pada saraf perifer, jaringan komunikasi yang luas yang mengantar informasi dari otak dan saraf tulang belakang ke setiap bagian tubuh. Saraf perifer juga mengirim informasi sensorik kembali ke otak dan saraf tulang belakang. HIV merusak serat saraf yang membantu melakukan sinyal dan dapat menyebabkan beberapa bentuk neropati. Distal sensory polyneuropathy menyebabkan mati rasa atau perih yang ringan hingga sangat nyeri atau rasa kesemutan yang biasanya mulai di kaki dan telapak kaki. Sensasi ini terutama kuat pada malam hari dan dapat menjalar ke tangan. Orang yang terdampak memiliki kepekaan yang meningkat terhadap nyeri, sentuhan atau rangsangan lain. Pada awal biasanya muncul pada stadium infeksi HIV lebih lanjut dan dapat berdampak pada kebanyakan pasien stadium HIV lanjut. Neurosifilis, akibat infeksi sifilis yang tidak diobati secara tepat, tampak lebih sering dan lebih cepat berkembang pada orang terinfeksi HIV. Neurosifilis dapat menyebabkan degenerasi secara perlahan pada sel saraf dan serat saraf yang membawa informasi sensori ke otak. Gejala yang mungkin baru muncul setelah puluhan tahun setelah infeksi awal dan berbeda antar pasien, termasuk kelemahan, refleks yang menghilang, jalan yang tidak mantap, pengembangan degenerasi sendi, hilangnya koordinasi, episode nyeri hebat dan gangguan sensasi, perubahan kepribadian, demensia, tuli, kerusakan penglihatan dan kerusakan 40

tanggapan terhadap cahaya. Penyakit ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Penyakit ini umum biasa mulai pada usia setengah baya. Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML) terutama berdampak pada orang dengan penekanan sistem kekebalan (termasuk hampir 5%pasien AIDS). PML disebabkan oleh virus JC, yang bergerak menuju otak, menulari berbagai tempat dan merusak sel yang membuat mielin – lemak pelindung yang menutupi banyak sel saraf dan otak. Gejala termasuk berbagai tipe penurunan kejiwaan, kehilangan penglihatan, gangguan berbicara, ataksia (ketidakmampuan untuk mengatur gerakan), kelumpuhan, lesi otak dan terakhir koma. Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan ingatan dan kognitif, dan mungkin muncul kejang. PML berkembang terus-menerus dan kematian biasanya terjadi dalam enam bulan setelah gejala awal. Kelainan psikologis dan neuropsikiatri dapat muncul dalam fase infeksi HIV dan AIDS yang berbeda, dan dapat berupa bentuk yang beragam dan rumit. Beberapa penyakit misalnya demensia kompleks terkait AIDS yang secara langsung disebabkan oleh infeksi HIV pada otak, sementara kondisi lain mungkin dipicu oleh obat yang dipakai untuk melawan infeksi. Pasien mungkin mengalami kegelisahan, depresi, keingingan bunuh diri yang kuat, paranoid, demensia, delirium, kerusakan kognitif, kebingungan, halusinasi, perilaku yang tidak normal, malaise, dan mania akut. Stroke yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah otak jarang dianggap sebagai komplikasi AIDS, walaupun hubungan antara AIDS dan stroke mungkin jauh lebih besar dari dugaan. Para peneliti di Universitas Maryland, AS melakukan penelitian pertama berbasis populasi untuk menghitung risiko stroke terkait AIDS dan menemukan bahwa AIDS meningkatkan kemungkinan menderita stroke hamper sepuluh kali lipat. Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi HIV, infeksi lain atau reaksi sistem kekebalan terhadap HIV, dapat menyebabkan kelainan pembuluh darah dan/atau membuatpembuluh darah kurang menanggapi perubahan dalam tekanan darah yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan stroke. Ensefalitis toksoplasma, juga disebut toksoplasmosis otak, muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati. Hal ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing, burung dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada daging mentah atau kurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem kekebalan, ia menetap di sana; tetapi sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan parasit tersebut hingga tuntas, mencegah penyakit. Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala berat yang tidak menanggapi pengobatan, lemah 41

pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan yang meningkat, masalah penglihatan, pusing, masalah berbicara dan berjalan, muntah dan perubahan kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan tanda infeksi. Mielopati vakuolar menyebabkan lapisan mielin yang melindungi untuk melepaskan diri dari sel saraf di saraf tulang belakang, membentuk lubang kecil yang disebut vakuol dalam serat saraf. Gejala termasuk kaki lemas dan kaku serta tidak berjalan secara mantap. Berjalan menjadi sulit dan penyakit semakin parah dan lama-kelamaan pasien membutuhkan kursi roda. Beberapa pasien juga mengembangkan demensia terkait AIDS. Mielopati vakuolar dapat berdampak pada hampir 30% pasien AIDS dewasa yang tidak diobati dan kejadiannya tersebut mungkin lebih tinggi pada anak yang terinfeksi HIV. Kanker dan tumor ganas (malignan) Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV). Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru. Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi. Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia. Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat 42

kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV. Infeksi oportunistik lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara. 8. Pemeriksaan Diagnostik a. Tes Laboratorium Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV) 1. Serologis Tes antibody serum Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa Tes blot western Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV) Sel T limfosit Penurunan jumlah total Sel T4 helper Indikator system imun (jumlah <200> T8 ( sel supresor sitopatik ) Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun. 43

-

P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) ) Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi Kadar Ig Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal Reaksi rantai polimerase Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler. Tes PHS Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif

2. Riwayat Penyakit Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral. 3. Neurologis EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf) Tes Lainnya: Sinar X dada Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain Tes Fungsi Pulmonal Deteksi awal pneumonia interstisial Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya. Biopsis Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi Brankoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru

b. Tes Antibodi Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. 44

Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu : 1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA) Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif. 2. Western Blot Assay Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pemeriksaan westen blot assay merupakan tes lainnya yang dapat mengenali antibody HIV dan digunakan untuk memastikan seropositifitas seperti yang teridentifasi lewat prosedur ELISA. Tes westen blot memanfaatkan kenyataan bahwa berbagai antigen HIV, dengan beragam berat molekul, menimbulkan pembentukan antibody spesifik. Antigen ini dapat dipisahkan berdasarkan berat molekulnya, dan antibody terhadap setiap komponen dapat dideteksi sebagai pita-pita pada westen blot. Westen blot yang negatif adalah yang tidak memperlikatkan pita – pita pada berat molekul yang sesuai dengan produk gena HIV. Pada pasien dengan ELISA positif atau menengah dan western blot negative, dapat disimpulkan reaktivitas ELISA tersebut adalah poitif palsu. Dipihak lain, wedtern blot yang positif, yang didefinisikan sebagai hasil positif terhadap anggota ketiga produk gena utama HIV(protein envelope, gag, dan pol) adalah bukti konklusif infeksi HIV. Kenyataanya, menurut sebagian bear pakar, serta criteria yang ditetapkan oleh The Association of State and Territorial Public Health Laboratory Directors, western blon dapat dianggap positif untuk HIV-1 bila mengandung pita-pita untuk paling sedikit 2 produk gena berikut : p24, gp41, dan gp120/60. Berdasarkan definisi pola reaktivita western blot yang tidak termasuk dalam kategori negative atau positif dianggap indeterminate. Terdapat 2 kemungkinan penjelasan untuk hasil western blot yang indeterminate. Penjelasan y ang paling mungkin adalah pasien yang diperiksa memiliki antibody yang bereaksi silang dengan 1 dari protein HIV. Pola reaktivitas ilang yang paling sering dijumpai adalah antibody yang bereaksi dengan p24 dan atau p55. Penjelasan yang kecil kemungkinannya untuk hail western blot yang indeterminate adalah pasien terinfeksi HIV dan sedang dalam proses membemntuk respons antibody klasik. Pada kedua keadaan tersebut diagnosis terinfeksi HIV harus diusahakan untuk 45

dikonfirmaikan atau disingkirkan dengan reaksi rantai polymerase. Selain itu, western blot haru diulang 1 bulan kemudian untuk memastikan apakah pola indeterminate tersebut merupakan pola dalam evolusi. Walaupun merupakan tes konfirmasi yang baik untuk infksi HIV pada paien dengan ELISA positif atau indeterminate, western blot mrupakan tes penapisan yang buruk. Pada individu dengan ELISA dan PCR negative untuk HIV, 2030% dapat memperlihatkan 1/lebih pita pada western blot. Walaupun pita – pita terebut mungkin tampak samar dan reaktivitas silang, keberadaannya menciptakan keadaan yang harus menggunakan modalitas diagnostic lain(misalnya PCR atau p24 antigen capture) untuk mematikan bahwa pita – pita tersebut bukan merupakan isyarat infeksi HIV awal. Pada pasien yang diduga terinfeksi HIV, tes yang paling sesuai diterapkan adalah ELISA. Bila hasilnya negatif, diagnosis dapat didingkirkan dn pemeriksaan ulang hanya dilakukan bila ada indikasi klinis, kecuali bila terdapat kecurigaan kuat adanya infeksi HIV dini, misalnya pasien tersebut terpajan dalam 3 bulan terakhir. Bila hasil ELISA indeterminate atau positif, maka tes harus diulang. Bila hasil tes ulang negative dua kali, dapat disimpulkan hail possitif pada pemeriksaan pertama merupakan kesalahan teknis kinerja assay dan pasien adalah negatif, harus dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan western blot. Bila hasil western blot positif dapat ditegakkan diagnosi HIV. Bila western blot negative, hasil ELISA sebelumnya dapat dianggap hasil positif palsu dan hasil diagnosis infeksi HIV dapat disingkirkan. Bila hail wetern blot adalah intermediate, harus dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan PCR, dengan pemeriksaan ulang western blot sebulan kemudian. Bila PCR positif dan atau wetern blot memperlihatkan perkembangan, dapat ditegakkan diagnostic infeksi HIV. 3. Indirect Immunoflouresence Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas. 4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA ) Mendeteksi protein dari pada antibody. c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.

46

Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden ). 9. Penatalaksanaan : a. Pencegahan Cara mencegah masuknya suatu penyakit secara umum di antaranya dengan membiasakan hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan sehat, berolah raga, dan melakukan pergaulan yang sehat. Beberapa tindakan untuk menghindari dari HIV/AIDS antara lain:

Hindarkan hubungan seksual diluar nikah dan usahakan hanya berhubungan dengan satu pasangan seksual. Pergunakan selalu kondom, terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi. Seorang ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata positif HIV sebaiknya jangan hamil, karena bisa memindahkan virusnya kepada janin yang dikandungnya. Apabila berkeinginan hamil hendaknya selalu berkonsultasi dengan dokter.

• •

Orang-orang yang tergolong pada kelompok perilaku resiko tinggi hendaknya tidak menjadi donor darah. Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti; akupunktur, jarum tatto, jarum tindik, hendaknya hanya sekali pakai dan harus terjamin sterilitasnya. Jauhi narkoba, karena sudah terbukti bahwa penyebaran HIV/AIDS di kalangan panasun (pengguna narkoba suntik) 3-5 kali lebih cepat dibanding perilaku risiko lainnya. Di Kampung Bali Jakarta 9 dari 10 penasun positif HIV.

10. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian : Tn.A : 35 tahun Biodata Nama Usia

Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluhan Utama Klien mengeluh lemah, lemas tidak bergairah, diare selama 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flue berat. Riwayat Kesehatan Saat Ini 47

Klien mengeluh lemah, lemas tidak bergairah, disre selama 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flue berat.

Riwayat Kesehatan Masa Lalu Klien mengalami diare selama 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flue berat sampai suatu ketika hanya karena flue tersebut Tn.A nyaris pingsan. Riwayat Kesehatan Keluarga Tidak teridentifikasi. Riwayat Psikososial dan Spiritual Spiritual • : Biasanya pasien HIV-AIDS seringkali merasa putus asa dan ingin bunuh diri karena :

merasa penyakit yang dideritanya sebagai kutukan dari Tuhan. Psikososial • Pasien merasa tidak percaya diri (minder) dengan keadaan lahiriahnya karena biasanya

penderita AIDS akan mengalami infeksi oportunistik, termasuk pada kulit seperti sarkoma kaposi • Perasaan tidak berguna bagi orang-orang disekelilingnya karena umumnya masyarakat enggan untuk bekerja atau beraktivitas bersama orang yang mengidap penyakit HIVAIDS Mood • • Rasa malu dan takut untuk bersosialisasi dengan masyarakat Rasa cemas dan depresi karena tahu HIV-AIDS sampai saat ini belum dapat

disembuhkan. Afek • Menutup diri dari lingkungan dan tidak mau berbagi dengan orang-orang disekitarnya

Pengkajian Fisik Inspeksi : Dalam kasus klien terlihat lemas dan tidak bergairah. 48

Namun pada pasien HIV AIDS ini kita juga dapat melakukan inspeksi yaitu: 1. Inspeksi penampilan umum klien yang meliputi BB, TB, postur, gaya berjalan, kehilangan BB, kesulitan berjalan, dan tanda vital lainnya. 2. Inspeksi warna kulit, suhu dan kelembaban. 3. Kulit dan membrane mukosa diinspeksi setiap hari untuk menemukan tanda-tanda lesi, ulserasi atau infeksi. Rongga mulut diperiksa untuk memantau gejala kemerahan. Ulserasi dan adanya bercak-bercak putih seperti krim yang menunjukan kandidiasis. Daerah perianal harus diperiksa untuk menemukan ekskoriasi dan infeksi pada pasien dengan diare yang profus. Pemeriksaan kultur luka dapat dimintakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang infeksius. 4. Dilihat apakah nodus limph cervikalnya bengkak atau tidak. 5. Dilihat apakah ada kemerahan, bengkak, tenderness atau deformitas pada sistem muskuloskeletal. Palpasi : Dalam kasus tidak teridentifikasi. Namun pada pasien HIV AIDS ini kita dapat melakukan palpasi pada: 1. Nodus limph cervikal (untuk meraba adanya bengkak) 2. Sistem muskuloskeletal untuk meraba adanya bengkak, tenderness atau deformitas. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif) Aktifitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur. Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ). Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera. Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler. Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari diagnosa, putus asa,dan sebagainya. Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah. 49

Eliminasi Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri. Neurosensori Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan. Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis. Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang. Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada. Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum. Keamanan Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam. Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum. 50

Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah kehamilan. Tanda : Kehamilan,herpes genetalia Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS Tanda : Perubahan interaksi Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Kegagalan dalam perawatan, prilaku seks beresiko tinggi, penyalahgunaan obatobatan IV, merokok, alkoholik. b. Analisis Data bersihan Etiologi Infeksi pernapasan Flu berat Produksi mukus >>> Jalan napas terhambat Bersihan jalan napas tidak efektif Jalan napas terhambat 02 supply ↓↓ RR dan HR ↑↑ Pemakaian energi >> Malaise 3. Diare berhubungan dengan infeksi 40 hari 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare di saluran cerna ditandai oleh diare selama Intolerant Activity Masuknya mikroorganisme Infeksi di intestinum Tidak optimalnya absorpsi air dan sari makanan diare Diare Pengeluaran cairan tidak terkontrol Defisit cairan 5. Perubahan nutrisi kurang Kekurangan volume cairan Diare Tidak optimalnya penyerapan 51 Mual, muntah, dan penurunan berat Diare selama 40 hari Diare selama 40 hari Symptom Flu

No Problem 1. Ketidakefektifan jalan napas

berhubungan

dengan infeksi pernapasan ditandai oleh flu

2.

Intoleransi berhubungan malaise kelelahan ditandai

Aktivitas dengan dengan

Lemah, yang (malaise)

kelelahan berlebihan

dari kebutuhan berhubungan

dengan ditandai

tidak oleh

optimalnya penurunan

sari makanan Tidak seimbangnya kebutuhan dan suplai nutrisi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Sistem imun melemah Mikroorganisme masuk Infeksi di saluran cerna Diare Defisit cairan Dehidrasi Gangguan membran mukosa mulut Infeksi di intestinum Merangsang baroreseptor Ss simpatis aktif Ss parasimpatis ↓↓ Peristaltik ↓↓ Makanan tertahan di usus dan lambung Mual dan muntah

badan

penyerapan sari makanan berat badan 6. Gangguan membran mukosa mulut berhubungan dengan sistem imun yang lemah

Diare selama 40 hari

7.

Gangguan

intake

nutrisi

Mual dan muntah

berhubungan dengan infeksi di intestinum ditandai oleh mual dan muntah

8.

Risiko cedera berhubungan dengan imunodefisiensi ditandai oleh anemia

Gangguan intake nutrisi HIV menginfeksi hepar Kerja hepar tidak optimal Jumlah fibrinogen ↓↓ Proses penyembuhan melambat Risiko cedera Diare Penurunan berat badan Gangguan citra tubuh Harga diri rendah

Anemia normositik

9.

Harga perubahan ditandai berat badan

diri citra oleh

rendah dengan tubuh penurunan

Penurunan badan

berat

berhubungan

10

Resiko

tinggi

Ansietas dengan

Inflamasi sistemik Berbagai penyakit gangguan sistemik 52

Dalam kasus diatas belum diidentifikasi.

berhubungan

ancaman/perubahan kesehatan

status Ancaman/perubahan status kesehatan Ansietas

Namun umumnya, Khawatir,

pada tandadepresi,

tandanya antara lain: keputusasaan, perasaan takut mati dsb. 11 Kurang pengetahuan

berhubungan dengan caracara penularan HIV c. . 1. Asuhan Keperawatan Tujuan bersihan Intervensi Klien Mandiri: Kaji berikut ini : dan Mengetahui gambaran dapat yang menentukan tindakan dan merancang diberikan jalan dokumentasikan hal-hal umum kondisi klien Rasional

No Diagnosa Ketidakefekti Jalan Nafas

fan Bersihan menunjukkan nafas yang efektif irama frekuensi rentang normal mengeluarkan sekresi efektif menunjukkan perilaku mengontrol perilaku perawatan secara

- Klien memiliki Keefektifan pemberian keefektifan dan oksigen Keefektifan pengobatan juga yang Kecenderungan gas darah arteri anterior dan posterior Jelaskan dengan (misalnya : pada

pernapasan dalam yang diresepkan

intervensi lanjutan

Klien mampu Auskultasi bagian dada

pengguanaan Mengetahui ada atau pendukung tidaknya penurunan benar ventilasi dan adanya oksigen, bunyi tambahan

Klien mampu peralatan

pengisapan, spirometer, Mencegah munculnya positive pressure akan datang

gejala-gejala dan inhaler, dan intermitent, masalah di masa yang : breathing <IPPB>) 53

penyakit cedera secara ditunjukkan.

atau Intruksikan yang pasien Bantu tentang klien

kepada batuk dalam posisi

konsisten dan tekhnik nafas dalam mengambil semi Mencegah Kolaboratif : Konsultasikan sekresi dengan meningkatkan Memudahkan bersihan jalan hasil gas darah lengkap abnormal. Konsultasikan dokter dan atau dengan tentang Perencanaan peralatan membantu menentukan intervensi yang tepat Hasil bermanfaat rencana lanjutan. Alat bantu tambahan mempermudah jalannya penyembuhan AGD untuk intervensi dengan pernapasan napas dan stasis dan

fowler tinggi ataupun

ahli pernapasan sesuai bersihan jalan napas dengan kebutuhan.

Beritahu dokter tentang pernapasan

kebutuhan untuk perfusi ahli pendukung.

2.

Intoleran Aktivitas

Klien mentoleransi aktivitas biasa

Mandiri : Kaji yang sosial, respon dan emosi, Dengan dan mengetahui klien, spiritual tingkat emosi, sosial, spiritual

dilakukan terhadap aktivitas. 54

dan dengan tahan,

ditunjukan daya

perawat melakukan

dapat

penyesuaian aktivitas Evaluasi motivasi dan Tingkat motivasi klien keinginan pasien untuk dapat meningkatkan aktivitas. Intruksikan pasien/keluarga penggunaan relaksasi selama aktivitas. Ajarkan kepada pasien dan orang terdekat bagi Meminimalisir pasien tentang teknik aktifitas menjaga klien perawatan akan diri yang dari kekurangan meminimalkan oksigen diri dan menentukan batas rencana aktivitas membantu

penghematan energi.

kepada yang akan diberikan dalam Relaksasi teknik ketahanan tubuh klien (mis; saat beraktifitas.

distraksi,visualisasi)

konsumsi oksigen (mis; memantau melakukan Ajarkan teknik kelelahan. Kolaborasi : Berikan nyeri sebelum aktivitas. Kolaborasikan ahli untuk terapi dengan okupasi, rasa teknik berjalan untuk aktivitas tentang managemen Meminimalisir kemungkinan pengobatan dapat keletihan klien kehidupan sehari-hari. pengaturan aktivitas dan waktu untuk mencegah

fisik, dan /atau rekreasi merencanakan Meminimalisir dan memantau program nyeri yang mungkin 55

aktivitas sesuai dengan dirasakan klien kebutuhan. untuk makanan meningkatkan makanan energi. yang Aktifitas yang akan kelelahan pada Rujuk pada ahli gizi terprogram merencanakan mencegah untuk yang asupan klien tinggi berlebih

Nutrisi dapat 3. Diare Menunjukkan yang ditandai indikator berikut ketentuan sedang, -pola dalam Mandiri :

yang

baik

meningkatkan

energi klien eliminasi defekasi Kaji kebiasaan defekasi Memberikan efektif, normal pasien. dengan Pantau sel darah) nilai dan oral tidak adekuat, dan banyak untuk evaluasi dasar

labiratorium (elektrolit, Diare kronik, masukan (dengan laporkan 1- normalan. ringan, eliminasi pasien setiap hari. ketidak muntah, berkeringat

gangguan sebagai hit

5:ekstrem, berat, atau tidak ada).

menipiskan elektrolit. Inflamasi usus halus dapat absorbsi Penurunan anemia HIV meningkatkan Kaji : berat warna, Kewaspadaan terhadap merusakan cairan dan berat umum dan risiko

rentang Timbang berat badan elektrolit. badan, malnutrisi, dan terhadap pada infeksi

yang diharapkan -diare tidak ada -darah dan lendir pada feses tidak ada -nyeri kram tidak ada -kembung ada

dan terhadap infeksi lebih

tidak dokumentasikan frekuensi, 56

konsistensi, dan jumlah kemungkinan (ukuran) feses ;turgor dehidrasi yang parah kulit dan kondisi mukosa mulut sebagai indikator dehidrasi. Pantau perianal. Informasikan tentang obat adanya iritasi Iritasi pasien memungkinkan yang Pengetahuan tersebut dapat meminimalisir dapat dan ulserasi kulit di area

kemungkinan keluarnya cairan tubuh

mengakibatkan diare.

Ajarkan pasien tentang kemungkianan penggunaan obat anti memarahnya diare diare yang tepat. Anjurkan untuk mencatat warna, volume, frekuensi dan konsistensi feses. memberitahu setiap kali diare. Pertahankan kecuali indikasikan. makan dalam masukan dikontra Memantau frekuensi cairan sedikitnya 3 liter diare membantu dalam porsi lanjutan secara hipovolemia petugas Membantu membuat Anjurkan pasien untuk perencanaan lanjutan Mencegah terulangnya pasien/anggota keluarga diare

Anjurkan pasien untuk penyusunan intervensi kecil, sering, dan jumlah Mencegah ditingkatkan bertahap Kolaborasi : Konsultasikan 57 dengan Menjaga asupan

ahli

diet

untuk nutrisi klien

penyesuaian diet yang diperlukan. Konsultasikan pada dokter jika tanda dan gejala diare yang terus menerus. Perencanaan dengan Lakukan tindakan untuk ahli nutrisi membantu mengurangi pembatasan membuat perencanaan yang sesuai ketentuan Perencaan dokter dan hindari hindari seperti sayuran 4. Kekurangan volume cairan Klien mengalami Klien menampilkan hidrasi yang baik (membran mukosa lembap) Memiliki asupan Pantau cairan oral dan haluaran atau yang adekuat masukan dari : pertahankan dokter sesuai lanjutan dokter, Menurunkan stimulasi merokok, usus iritan usus makanan mentah, dan pembatasan cairan ketentuan dengan membantu

makanan membuat perencanaan

berlemak/gorengan, kacangan-kacangan. tidak Mandiri : haus Pantau berat badan dan Penurunan status nutrisi anemia HIV meningkatkan dan berat nilai Diare kronik, masukan untuk oral tidak adekuat, dan banyak muntah, berat umum dan risiko

yang tidak normal nilai laboratorium untuk badan, malnutrisi, dan terhadap pada infeksi

terhadap infeksi lebih

intra vena laboratorium cairan dan

ketidakseimbangan (K,Na,Ca,Mg, dan zink) 58

elektrolit berkeringat

fosfor menipiskan elektrolit. Inflamasi usus halus

dapat absorbsi Pantau tanda dehidrasi Pantau interaksi obat (misalnya, klien, tempat letakkan yang dan dan laporkan elektrolit.

merusakan cairan dan

gejala Mengantisipasi dehidrasi terhadap parah Mencegah berikan Mencegah pada mudah berikan dengan terjadinya terjadinya bertambah

Tingkatkan asupan oral komplikasi cairan oral yang disukai dehidrasi pada klien

dijangkau, segar) 5. Perubahan dari kebutuhan Klien sesuai

sedotan, dan berikan air keinginan. dapat Mandiri : Kaji terhadap malnutrisi Memberikan pengukuran objektif

nutrisi kurang mempertahankan

massa tubuh dan (BB,TB, usia,Hb,Ht,dll) batas normal

berat badan dalam Dapatkan riwayat diet, terhadap status nutrisi termasuk makanan yang Memastikan disukai makanan dan tidak kebutuhan membantu terhadap nutrisi, intervensi disukai serta intoleransi pendidiakn Kaji faktor-faktor yang individual memengaruhi masukan Memberikan dasar dan oral Dorong klien istirahat sebelum makan Dorong orang lain Makan sedikit sering : 6 kali sehari 59 klien arahan untuk intervensi Meminimalkan keletihan yang dapat untuk menurunkan Membatasi tapi sosial nafsu isolasi makan dengan ditemani makan untuk

Instruksikan klien untuk Mencegah klien terlalu makan makanan kaya kenyang protein karbohidrat Kolaborasi : Konsulkan dengan ahli diet untuk menentukan kebutuhan nutrisi klien tentang pengganti makanan (nutrisi Memberikan dukungan nutrisi bila klien tidak mengonsumsi jumlah yang cukup per oral 6. Gangguan membran mukosa mulut Menunjukkan perbaikan daerah mulut (kelembapan meningkat) Pemberian buah sayur-sayuran daerah bibir 7. Gangguan intake nutrisi Tingkat gizi klien Mandiri : tercukupi memenuhi kebutuhan metabolik untuk Buat makan perencanaan Makan yang terjadwal dengan klien dapat memperbaiki Mandiri : air putih Kebutuhan dan cairan tubuh klien tercukupi meminimalisir daya dehidrasi dan Meningkatkan tahan tubuh kelembapan mulut mukosa pada Pemberian Memudahkan Konsul dengan dokter perencanaan makan dan kaya Memberikan protein dan kalori tambahan

enteral atau parenteral)

mukosa minimal 8 gelas sehari

Pemberian pelembap di Meningkatkan

untuk dimasukan dalam kondisi gizi klien jadwal makan, kesukaan dan ketidaksukaan klien Minimalkan factor yang dapat menimbulkan Mual dapat dan muntah mual dan muntah 60 memperburuk

Komunikasikan bahwa tingkat gizi klien klien bertanggung jawab terhadap pilihan fisik Rasa tanggung jawab dan makanan Identifikasi pada diri klien proses nafsu klien dan memudahkan

hindarkan faktor-faktor pemulihan yang dapat berpengaruh Hilangnya terhadap Kolaborasi: Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan ketidakadekuatan asupan klien dengan Nutrisi dapat yang baik meningkatkan hilangnya makan gizi klien nafsu makan klien

memperburuk tingkat

energy klien 8. Risiko cedera Adanya kemampuan untuk meminimalisir risiko cedera Mandiri : Berikan pendidikan berhubungan strategi Berikan mengenai lingkungan karakteristiknya Kolaborasi: Rujuk pada kelas Rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri klien membantu dalam proses pemulihan 9. Risiko Harga Klien Mandiri : 61 pendidikan komunitas dan materi Meminimalisir yang cedera dengan tindakan informasi bahaya Meminimalisir dan cedera risiko risiko

untuk mencegah cedera.

diri rendah

menunjukan harga ditandai indicator : Mengungkapakan penerimaan secara verbal Mempertahankan kontak mata Menerima kritikan orang lain dari

Kaji pernyataaan klien Mengetahui diri, tentang penghargaan pandangan tentang membantu menentukan intervensi tingkat diri Pantau klien dalam rasa percaya diri klien diri rasa berfungsi diri Tentukan rasa percaya Mengetahui penilaian diri. pengungkapn Pengungkapan menurunkan percaya diri klien. Berikan tentang konseling. informasi Konseling mencurahkan pandangannya terhadap diri. Hindari tindakan yang Tindakan dapat melemahkan klien melemahkan dapat tujuan yang realisitis. yang klien menurunkan terhadap pentingnya sebagai tempat klien diri yang negative yang negative dapat klien dirinya,

dengan diri.

Bantu klien menyusun rasa percaya diri klien. Pencapaian tujuan yang realistis membantu klien untuk mencapai harga diri yang lebih tinggi 10. Risiko tinggi Ansietas ansietas berkurang, dibuktikan dengan menunjukkan kontrol kontrol koping, impuls, agresi, ansietas, Sediakan Mandiri : Bantu klien unuk Alat pada mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas pengalihan Untuk mengurangi dan untuk memfokuskan situasi saat ini

kontrol melalui televisi, radio, ansietas permainan, serta terapi memperluas fokus 62

penahanan mutilasi dan substansial menunjukkan keterampilan interaksi secara konsisten, secara

okupasi diri Dampingi klien Untuk meningkatkan dan keamanan mengurangi takut Kolaborasi: Berikan untuk pengobatan Meminimalisir mengurangi ansietas

sosial ansietas, sesuai dengan

yang efektif kebutuhan 11. Isolasi sosial Penurunan rasa Mandiri : berhubungan dengan penyakit Observasi sosial Berikan mengenai penularan bantu klien isolasi sosial Kaji pola interaksi Menetapkan untuk individual terhadap Isolasi sosial dapat perilaku indikatif isolasi dimanifestasikan dalam beberapa cara instruksi Pengawasan informasi cara-cara yang HIV dan memperbaiki untuk kesalahan dan dan konsepsi menghilangkan akurat dasar intervensi sosial klien yang lazim

mengidentifikasi

menggali sumber untuk ansietas mendukung mekanisme koping Berikan bersama pengobatan prosedur Dorong dalam aktivitas pengalih 12. Ketidakefekti fan individu -Menimbang serta Mandiri : pandangan Menetapkan terhadap untuk dasar intervensi alternatif dan klien 63 waktu klien untuk Meningkatkan lebih perasaan diri

banyak daripada untuk bermaknadan dan memberikan interaksi sosial partisipasi Memberikan distraksi

koping memilih di antara Identifikasi

konsekuensinya -Berpartisipasi dalam hari

kondisinya kesesuaiannya

dan individual dengan pemberi informasi Memberikan kejelasan

aktivitas pandangan Berikan faktual dengan pengobatan, prognosis Bantu klien yang

kehidupan sehari- layanan kesehatan terkait dan membantu dalam dan lanjutan untuk Mengurangi dan koping Memberikan rasa ansietas

diagnosis, menentukan intervensi

mengklarifikasi kesalahpahaman Kolaborasi: Fasilitasi mengenal yang pemberi sumber-sumber 13. Risiko penularan infeksi berhubungan dengan faktor risiko kontak dengan cairan tubuh 14. Kurang pengetahuan berhubungan dengan dan pencegahan Peningkatan pengetahuan mengenai penularan penyakit 64 Mandiri : Instruksikan Minimalnya risiko penularan komunitas Mandiri : Berikan mengenai keluarga, klien

meningkatkan

untuk percaya diri kepada

kelompok klien membantu dalam layanan meningkatkan koping di

mendukungnya, proses pemulihan dan

kesehatan lainnya, dan

pendidikan Meminimalisir Universal penularan dan tenaga

risiko

Precaution pada klien, kesehatannya

klien, Pengetahuan

tentang penyakit

cara keluarga, teman tentang penularan rute penularan HIV dan dapat juga pencegahannya

cara pencegahan

membantu

mencegah penyebaran penyakit, juga dapat

penularan HIV 11. Asuhan Keperawatan Komunitas Konseling HIV/AIDS

menyebabkan takut

rasa

Konseling HIV/AIDS merupakan dialog antara seseorang (klien) dengan pelayan kesehatan (konselor) yang bersifat rahasia, sehingga memungkinkan orang tersebut mampu menyesuaikan atau mengadaptasi diri dengan stress dan sanggup membuat keputusan bertindak berkaitan dengan HIV/AIDS. Konseling HIV berbeda dengan jenis konseling lainnya, walaupun keterampilan dasar yang dibutuhkan adalah sama. Konseling HIV menjadi hal yang unik karena : 1. Membutuhkan pengetahuan yang luas tentang infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS. 2. Membutuhkan pembahasan mengenai praktik seks yang bersifat pribadi. 3. Membutuhkan pembahasan tentang kematian atau proses kematian. 4. Membutuhkan kepekaan konselor dalam menghadapi perbedaan pendapat dan nilai yang mungkin sangat bertentangan dengan nilai yang dianut oleh konselor itu sendiri. 5. Membutuhkan keterampilan pada saat memberikan hasil HIV yang positif. 6. Membutuhkan keterampilan dalam menghadapi kebutuhan pasangan maupun anggota keluarga klien. Tujuan konseling HIV : 1. Mencegah penularan HIV dengan cara mengubah perilaku. Untuk mengubah perilaku, ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) tidak hanya membutuhkan informasi belaka, tetapi yang jauh lebih penting adalah pemberian dukungan yang dapat menumbuhkan motivasi mereka, misalnya dalam perilaku seks aman, tidak berganti-ganti jarum suntik, dan lain-lain. 2. Meningkatkan kualitas hidup ODHA dalam segala aspek baik medis, psikologis, social, dan ekonomi. Dalam hal ini konseling bertujuan untuk memberikan dukungan kepada ODHA agar mampu hidup secara positif.

65

Dalam hal ini, konselor juga diharapkan dapat membantu mengatasi rasa putus asa, rasa duka yang berkelanjutan, kemungkinan stigma diskriminasi, penyampaian status HIV pada pasangan seksual, pemutusan hubungan kerja, dan lain-lain. Ciri-ciri Konseling HIV Konseling merupakan kegiatan membantu klien agar dapat : a. Memperoleh akses informasi yang benar. b. Memahami dirinya dengan lebih baik. c. Agar mampu menghadapi masalahnya. d. Agar mampu berkomunikasi lebih lancer. e. Mengantisipasi harapan-harapan, kerelaan, dan perubahan perilaku. Konseling bukan merupakan percakapan tanpa tujuan, juga bukan member nasihat atau instruksi pada orang untuk melakukan sesuatu sesuai kehendak konselor. Konselor bersifat sangat pribadi, sehingga membutuhkan pengembangan rasa saling percaya. Hal ini bukan suatu hal yang baku, dapat bervariasi tergantung kondisi daerah atau wilayah, latar belakang klien, dan jenis layanan medis atau social yang tersedia. Konseling bersifat tidak eksklusif, artinya setiap orang yang diberi pelatihan khusus dapat menjadi seorang konselor. Konseling HIV dianjurkan untuk keadaan berikut : 1. Orang yang sudah diketahui menderita AIDS atau terinfeksi HIV, dan keluarganya. 2. Mereka yang sedang dites untuk HIV (sebelum dan sesudah tes). 3. Mereka yang sedang mencari pertolongan diakibatkan perilaku resiko yang lalu dan sekarang sedang merencanakan masa depannya. 4. Mereka yang tidak mencari pertolongan namun berperilaku resiko tinggi. 5. Orang yang mempunyai masalah akibat infeksi HIV (pekerjaan, perumahan, keuangan, keluarga, dan lain-lain), sebagai akibat infeksi HIV. Petugas Konseling Selain dokter, perawat, psikolog, psikoterapis, pekerja social, dan orang dengan profesi lain dapat dianjurkan dan dilatih u8ntuk memberikan dukungan konseling. Petugas konseling tidak harus merupakan petugas kesehatan yang ahli. Guru, penyuluh kesehatan, petugas laboratorium, pemuka agama, kelompok kerja muda, dukun tradisional, dan anggota kelompok masyarakat dapat menolong dalam konseling pencegahan maupun konseling 66

dukungan untuk ODHA. Jadi, pada dasarnya yang dapat menjadi petugas konseling adalah mereka yang mempunyai ruang untuk orang lain dalam dirinya. Konseling versus Edukasi Kesehatan Perbedaan antara konseling dan edukasi kesehatan dapat dilihat pada table berikut. Konseling 1. Proses penyesuaian kecil 3. Berorientasi pada masalah 4. Menurunkan stress 5. Didominasi mood dan perasaan
Sumber: Depkes RI (2003)

Edukasi Kesehatan 1. Proses belajar

2. Bersifat individual atau kelompok 2. Kelompok besar atau kecil 3. Berorintasi pada isi 4. Meningkatkan pengetahuan 5. Didominasi oleh komprehensi

Sedangkan persamaannya adalah sebagai berikut : 1. Keduanya memberikan pengetahuan dan mengubah sikap. 2. Merupakan komunikasi dua arah. 3. Memerlukan pengatahuan dalam aspek teknik. Jenis Konseling HIV/AIDS Ada beberapa jenis konseling yang dapat dilakukan untuk para penderita HIV/ AIDS. Jenis konseling itu adalah sebagai berikut : 1. Konseling untuk pencegahan terjadinya HIV/AIDS. 2. Konseling pra-tes. 3. Konseling pasca-tes. 4. Konseling keluarga. 5. Konseling berkelanjutan. 6. Konseling pada mereka yang menghadapi kematian.

VCT (Voluntary Counseling Testing) Definisi VCT 67

VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga, dan lingkungannya. Tujuan VCT VCT mempunyai tujuan sebagai : 1. Upaya pencegahan HIV/AIDS. 2. Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang factor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV. 3. Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat. Tahap VCT 1. Sebelum Deteksi HIV (Pra-konseling) Pra-konseling disebut juga konseling pencegahan AIDS. Dua hal yang penting dalam konseling ini, yaitu aplikasi perilaku klien yang menyebabkan klien dapat beresiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS dan apakah klien mengetahui tentang HIV/AIDS dengan benar. Apabila perilaku klien tidak beresiko, biasanya setelah mengetahui dengan benar bagaimana cara AIDS menular, maka klien membatalkan pemeriksaan. Konselor harus lebih berhati-hati pada klien dengan perilaku beresiko tinggi karena harus diteruskan dengan rinci tentang akibat yang akan timbul apabila hasil tes sudah keluar. Tujuan dari konseling ini adalah untuk mengubah pola tingkah laku. Di Amerika Serikat setelah konseling ini berhasil, maka klien akan membubuhkan tanda tangan pada “surat persetujuan diperiksa” yang antara lain berisi keamanan klien bahwa identitasnya tidak akan dibocorkan. Hal yang perlu ditanyakan oleh konselor yaitu ada tidaknya sumber dukungan moral dalam hidup klien yang dapat membantu ketika menunggu hasil tes sampai hasil diagnosis keluar (apapun hasil, tesnya baik positif atau negative). Masa ketika menunggu hasil tes adalah masa yang paling berat bagi klien. Saat itu, jika tidak ada seorangpun sebagai pendukung moral maka konselor diharapkan dapat bertindak sebagai keluarga bagi klien. Tujuan Konseling pra-tes HIV/AIDS Terdapat beberapa tujuan dilakukannya konseling pra-tes pada klien yang akan melakukan tes HIV/AIDS. Tujuan tersebut adalah agar : 1. Klien memahami benar kegunaan tes HIV/AIDS. 2. Klien dapat menilai resiko dan mengerti persoalan dirinya. 68

3. Klien dapat menurunkan rasa kecemasannya. 4. Klien dapat membuat rencana penyesuaian diri dalam kehidupannya. 5. Klien memilih dan memahami apakah ia akan melakukan tes darah HIV/AIDS atau tidak. Lima Prinsip Praktis Konseling pra-tes HIV Ada lima prinsip praktis yang biasa dilakukan saat konseling pra-tes HIV. Lima prinsip praktis tersebut yaitu : 1. Motif dari klien HIV/AIDS Klien yang secara sukarela (Voluntary) dan secara paksa (compulsory) mempunyai perasaan yang berbeda dalam menghadapi segala kemungkinan, baik pra-tes atau pasca-tes. 2. Interpretasi hasil pemeriksaan a. Uji saring atau skrining dan tes konfirmasi.
b. Asimptomatik atau gejala nyata (Full Blown Symptom).

c. Tidak dapat disembuhkan (HIV) tetapi masih dapat diobati (infeksi sekunder). 3. Estimasi hasil a. Pengkajian risiko bukan hasil yang diharapkan. b. Masa jendela. 4. Rencana ketika hasil diperoleh Apa yang akan dilakukan oleh klien ketika telah mengetahui hasil pemeriksaan, baik positif maupun negative. 5. Pembuatan keputusan Klien dapat memutuskan untuk mau dan tidak mau diambil darahnya guna dilakukan pemeriksaan HIV.

2. Deteksi HIV (Sesuai keinginan klien dan setelah klien menandatangani lembar

persetujuan-informed consent) 69

Tes HIV adalah tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau belum. Caranya adalah dengan cara mendeteksi ada tidaknya antibody HIV dalam sampel darahnya. Hal ini perlu dilakukan agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama status kesehatan yang menyangkut risiko dari perilakunya selama ini. 3. Pasca-konseling : Konseling setelah Deteksi HIV Pasca-konseling merupakan kegiatan konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif maupun negative, konseling pasca-tes sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindarkan penularan HIV kepada orang lain. Cara untuk bisa mengatasinya dan menjalani hidup secara positif. Bagi mereka yang hasilnya tesnya HIV negative, maka konseling pasca-tes bermanfaat untuk membantu tentang berbagai cara mencegah infeksi HIV di masa mendatang. Tujuan Konseling pasca-tes ♦ Hasil negative a. Klien dapat memahami arti periode jendela. b. Klien dapat membuat keputusan akan tes ulang atau tidak, kapan waktu tepat untuk mengulang. c. Klien dapat mengembangkan pedoman praktis bagi dirinya untuk mengurangi risiko melalui perilakunya. ♦ Hasil positif a. Klien dapat memahami dan menerima hasil tes secara tepat. b. Klien dapat menurunkan masalah psikologis dan emosi karena hasil tes. c. Klien dapat menyesuaikan kondisi dirinya dengan infeksi dan menyusun pemecahan masalah serta dapat menikmati hidup. d. Klien dapat mengembangkan pedoman praktis bagi dirinya untuk mengurangi risiko melalui perilakunya. Jenis Tes untuk Mendeteksi HIV

70

Jenis tes yang biasa digunakan untuk mendeteksi seseorang terinfeksi HIV/AIDS adalah dengan menggunakan tes ELISA Latex Agglutination dan Westem Blot. Apabila tes ELISA atau Latex Agglutination menunjukkan bahwa klien terinfeksi HIV, maka hasilnya perlu dikonfirmasikan lagi dengan tes Westem Blot sebelum klien benar-benar dipastikan positif terinfeksi HIV. Tes juga dapat dilaksanakan untuk menguji antigen HIV, yaitu tes antigen P24 atau PCR (Polymerase Chain Reaction). PCR ini hanya dipakai untuk penelitian pada kasus-kasus yang sulit dideteksi dengan tes antibody, misalnya untuk tes pada bayi yang lahir dari ibu yang positif terinfeksi HIV dan kasus-kasus yang diperlukan masih berada dam periode jendela. Periode jendela adalah tenggang waktu antara masuknya HIV ke dalam tubuh seseorang dan munculnya antibody terhadap HIV, waktunya biasanya antara 1-6 bulan. Selama periode tersebut seseorang yang sudah terinfeksi HIV masih menunjukkan hasil tes yang negative. Yang terpenting adalah bahwa pelayanan VCT harus dilakukan oleh petugas yang sangat terlatih dan berkualitas tinggi dalam melakukan konseling dan deteksi HIV. Hal ini penting mengingat terinfeksinya seseorang dengan HIV/AIDS akan berdampak pada kehidupan pada penderitanya dan orang-orang yang berinteraksi dengannya. 12. Etik dan Legal Respect for Autonomy • Perawat harus menjelaskan dengan jelas kepada keluarga tentang kondisi yang

dialami pasien tanpa ada sedikitpun yang ditutupi sehingga pasien mendapatkan haknya.

Non- Maleficence • Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

Perawat melakukan prosedur keperawatan dengan benar sehingga klien terhindar dari hal yang merugikan. • Perawat melakukan kewaspadaan universal untuk mencegah terjadinya infeksi yang

lebih lanjut Beneficence • Justice Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik.Perawat memberikan

intervensi sesuai dengan kebutuhan dan diagnosa klien.

71

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil terhadap orang lain

yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. • Perawat harus bertindak adil dalam melakukan tindakan keperawatan tanpa membedakan status ekonomi, suku, agama, dll. Agar pasien dapat merasakan kenyamanan. Kejujuran (Veracity) • Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani 13. Universal precaution Sejak AIDS dikenal; kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal atau universal precaution dikembangkan. Kebijakan ini menganggap bahwa setiap darah dan cairan tertentu lain dapat menyebabkan infeksi, tidak memandang status sumbernya. Ada berbagai macam infeksi menular yang terdapat dalam darah dan cairan tubuh lain seseorang, di antarahya hepatitis B dan C, dan HIV. Mungkin juga ada infeksi lain yang belum diketahui. Dalam sarana kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, praktek dokter dan dokter gigi, tindakan yang dapat mengakibatkan Iuka atau tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan alat medis yahg tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit pada petugas layanan kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya kewaspadaan universal atau universal precaution diterapkan secara penuh. Harus ditekankan bahwa universal precaution dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat parah dan sebetulnya lebih mudah menular, misalnya virus hepatitis B dan C. Petugas layanan kesehatan harus menerapkan universal precaution dalam hubungan dengan semua pasien. Kita biasanya menganggap cairan yang dapat menularkan HIV sebagai darah, cairan kelamin dan ASI saja.Namun ada cairan lain yang dapat mengandung kuman lain, dan dalam sarana kesehatan, lebih banyak cairan tubuh biasanya tersentuh. Cairan tubuh yang perlu diwaspadai antara lain : 72 perawatan.

• • • • • • •

Semen Cairan vagina Cairan ketuban Cairan limfa Cairan cerebrospinal Cairan pleura dan peritoneal Cairan pericardial

Universal precaution tidak mencakup : • • • • • • • Faeses Nasal secretions Sputum Keringat Urine Cairan muntah Air liur ( kecuali ketika tercampur darah dalam tindakan mulut)

Kegiatan yang paling berisiko Jelas ada beberapa kegiatan yang umum dilakukan oleh petugas layanan kesehatan yang menimbulkan risiko, antara lain : • • • • • Menyuntiklmengambil darah Tindakan bedah Tindakan kedokteran gigi Persalinan Membecsihkan darah/cairan lain Sebaliknya ada beberapa perilaku yang menempatkan petugas layanan kesehatan atau pasien dalam keadaan berisiko, misalnya : • • • Menutup jarum suntik kembali Salah meletakkan jarum atau pisau/alat tajam Menyentuh pasien tanpa cuci tangan

Penerapan universal precaution 73

Karena akan sulit untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi atau tidak, petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal secara penuh dalam hubungan dengan semua pasien, dengan melakukan tindakan berikut : 1. Administrative Controls • Pendidikan Mengembangkan sistem pendidikan tentang tindakan pencegahan kepada pasien, petugas, dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan bertanggung jawab dalam menjalankannya • Adherence to Precaution (Ketaatan terhadap tindakan pencegahan) Secara periodik menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya perbaikan langsung

2. Standard Precautions • • • • • • • • • Cuci tangan dengan menggunakan antiseptik setelah berhubungan dengan pasien atau setelah membuka sarung tangan Segera cuci tangan setelah ada hubungan dengan cairan tubuh Pakai sarung tangan bila mungkin akan ada hubungan dengan cairan tubuh atau peralatan yang terkontaminasi dan saat menangani peralatan habis pakai Pakai masker dan kacamata pelindung bila mungkin ada percikan cairan tubuh Tangani dan buang jarum suntik dan alat tajam lain secara aman; yang sekali pakai tidak boleh dipakai ulang Bersihkan dan disinfeksikan tumpahan cairan tubuh dengan bahan yang cocok Patuhi standar untuk disinfeksi dan sterilisasi alat medis Tangani semua bahan yang tercemar dengan cairan tubuh sesuai dengan prosedur Buang limbah sesuai prosedur. Pemisahan limbah sesuai jenisnya diawali sejak limbah tersebut dihasilkan a. Limbah padat terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik kuning b. Limbah padat tidak terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik hitam c. Limbah benda tajam atau jarum dibuang ke kontainer yang berwarna kuning tahan tusuk dan tahan air • Kesehatan karyawan dan darah yang terinfeksi bakteri pathogen 74

Untuk mencegah luka tusuk benda tajam: a. Berhati-hati saat menangani jarum, scalpel, instrumen yang tajam atau alat kesehatan lainnya dengan permukaan tajam, b. Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau mernanipulasinya dengan kedua tangan. c. Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum d. Buanglah benda tajam atau jarum bekas pakai ke dalam wadah yang tahan tusuk dan air, dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan. e. Gunakan mouthpieces, ressucitation bags atau peralatan ventilasi lain sebagai alternatif mulut ke mulut. Alat pelindung Unsur lain yang penting dalam universal precaution adalah penggunaan alat pelindung yang sesuai tindakan. Alat yang dibutuhkan dapat hanya sarung tangan (misalnya untuk ambil darah) hingga semua alat yang dibutuhkan oleh seorang bidan waktu membantu kelahiran. Namun perawat yang hanya menyentuh pasien tidak membutuhkan sarung tangan, yang penting cuci tangan sebelum dan sesudahnya. Alat pelindung yang dibutuhkan antara lain : • • • • • Sarung tangan, digunakan sebab tangan atau kulit berpotensi kontak dengan darah atau cairan lain dan material yang terkontaminasi. Celemek Masker atau pelindung muka, untuk menghindari droplet darah atau cairan lain dari mulut, mata atau hidung Kacamata Pelindung kaki

Perawatan di rumah Universal precaution tidak hanya dibutuhkan dalam sarana kesehatan resmi, tetapi juga terkait perawatan di rumah. Sekali lagi, tujuan utamanya adalah untuk melindungi keluargaltim perawatan dari berbagai infeksi, bukan hanya HIV, justru risiko penularan HIV pada keluarga di rumah sangat amat rendah. Jadi kita harus menganggap sebagian besar cairan tubuh sebagai sumber infeksi. Prosedur universal precaution untuk perawatan di rumah serupa dengan di rumah sakit, hanya mungkin lebih sederhana. Bila tidak ada sarung tangan, secara darurat kita dapat memakai kantong plastik yang utuh. Yang penting kita menutup semua luka pada kulit dengan plester luka. Mungkin yang paling penting adalah untuk menjaga kebersihan di 75

rumah. Cucian biasanya tidak membutuhkan perhatian khusus asal tidak tercermar cairan; bila tercemar lebih baik dicuci dengan pemutih dulu (larutan klorin 0,5%) dengan memakai sarung tangan, kemudian dapat dicuci dengan sabun seperti biasa. 14. Aspek Nutrisi bagi Penderita AIDS Nutrisi Bagi Pengidap HIV / AIDS Pada umumnya, penderita HIV/AIDS atau ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) kekurangan asupan makanan secara kualitas dan kuantitas karena penurunan nafsu makan yang mengakibatkan berat badan dan massa otot terus menurun. Orang yang terinfeksi HIV biasanya mengalami gejala yang berpengaruh pada asupan nutrisi yang bisa mengakibatkan terjadinya malnutrisi. Diantaranya, anoreksia atau kehilangan nafsu makan, diare, demam, mual dan muntah yang sering, infeksi jamur dan anemia. Pada saat orang terinfeksi HIV/AIDS, maka sistem kekebalan dalam tubuh turun. Pada saat itu, bila terjadi malnutrisi, maka sistem imun akan semakin menurun dan kemungkinan timbulnya penyakit semakin besar. Asupan diet yang tidak cukup bisa menyebabkan malabsorbsi (kelainan penyerapan pada usus), diare, gangguan metabolisme dan penyimpanan nutriea, sehingga terjadi defisiensi nutriea. Berikutnya, defisiensi nutriea ini bisa mendorong meningkatkan stres oksidatif dan menurunkan sistem imun. Akibatnya, replikasi atau proses penggandaan dan progresivitas HIV meningkat, kemungkinan terkena penyakit semakin meningkat, dan juga morbiditas. Diet dan pola hidup sehat dapat memperkecil risiko kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) bagi ODHA. Nutrisi yang baik berarti terjadi asupan makanan yang baik, berat badan terjaga, dan jaringan otot, juga status mikronutriea dalam tubuh tetap dalam kondisi baik. Hasilnya, dapat menguatkan sistem imun sehingga mampu melawan HIV dan infeksi lainnya. Daya tahan terhadap infeksi pun meningkat, misalnya diare, tuberkulosis, dan infeksi pernapasan. ODHA mempunyai kebutuhan nutrisi tersendiri dibandingkan orang sehat. Pada ODHA butuh tambahan energi karena energi digunakan untuk mengatasi infeksi HIV/AIDS dan juga infeksi oportunistik, infeksi lanjutan, malabsorbsi dan gangguan metabolisme. status nutrisi yang optimal dapat memperbaiki daya tahan, usia, dan kualitas hidup ODHA. Kebutuhan energi pada ODHA dihitung berdasarkan ada atau tidak adanya gejala seperti demam, penurunan berat badan dan wasting. Wasting adalah terjadinya penurunan massa otot tubuh, gangguan fungsi metabolisme dan gangguan fungsi sistem imun dan penurunan berat badan. Seseorang dikatakan mengalami wasting bila terjadi penurunan berat badan lebih dari 10 persen berat badan normal disertai dengan lebih dari 30 hari diare, demam, dan gangguan penyakit lainnya. 76

Kebutuhan Kalori dan Protein Kalori merupakan energi dalam makanan. Kalori menyediakan bahan bakar bagi tubuh untuk tetap bekerja. ODHA perlu meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi untuk mempertahankan berat badan ideal. Paling tidak ODHA membutuhkan 34-40 kalori per kilogram berat tubuh ideal. Namun kebutuhan kalori akan lebih meningkat pada saat infeksi dan demam. Pada kategori A (tidak ada gejala HIV dan akut HIV), kebutuhan kalori 30 - 35 kilokalori per kilogram. Sementara kebutuhan protein mencapai 1,1 - 1,5 gram per kilogram. Pada kategori B (ada gejala HIV dan komplikasi oleh HIV), kebutuhan kalori 35 - 40 kilokalori per kilogram dan kebutuhan protein 1,5 - 2 gram per kilogram. Pada kategori C (dengan tingkat kekebalan (CD4) di bawah 200 dan terjadi infeksi oportunistik), kebutuhan kalori meningkat menjadi 40 - 50 kilokalori per kilogram dan kebutuhan protein menjadi 2 - 2,5 gram per kilogram. Makronutriea dan mikronutriea Diperlukan asupan makronutriea yang memadai bagi ODHA seperti karbohidrat, protein, dan lemak (meliputi 15-20% protein, 25-30% lemak, dan 55-60% karbohidrat). Protein merupakan bahan dasar dari otot, organ tubuh, serta dari banyak zat yang membentuk sistim kekebalan tubuh. Bila tidak menyediakan cukup banyak kalori dan protein melalui makanan, maka tubuh akan menggunakan proteinnya sendiri (otot) untuk mengganti kekurangan bahan bakar tersebut. Hal ini mengakibatkan kelemahan dalam tubuh dan sistim kekebalannya. Jumlah asupan protein yang direkomendasikan (RDA) adalah 0.8-1.0 gram per kilogram berat badan untuk orang dewasa sehat. Lebih banyak protein dibutuhkan untuk mempertahankan atau membentuk berat badan ideal bagi orang dengan HIV, antara 1.2-2.0 g/kg berat badan. Asupan protein tidak boleh lebih dari 15-20% total kalori; diet protein yang sangat tinggi dapat mengakibatkan tekanan pada ginjal. Daging sapi rendah lemak, daging unggas tanpa kulit, dan ikan merupakan sumber protein yang baik. Telur dan produk susu rendah lemak juga baik. Selain sumber protein hewani ini, anda juga dapat memperoleh protein dari biji-bijian (seperti kacang polong), dan kacang-kacangan. Sayur dan produk gandum seperti roti gandum, pasta, barley, dan beras mengandung jumlah protein yang rendah. Karbohidrat memberi energi. Diet yang sehat adalah yang mengandung karbohidrat kompleks yang tinggi (gandum, produk gandum dan biji-bijian) serta mengandung karbohidrat simpel yang rendah (gula, permen, soft drink, cake, biskuit, es krim). Dalam kategori karbohidrat kompleks, biji-bijian dan gandum seperti tepung gandum, oat, barley, 77

dan beras coklat merupakan sumber karbohidrat yang lebih baik daripada roti putih dan pasta, beras dan kentang. Jenis-jenis tersebut lebih tinggi kandungan nutrisi dan seratnya serta diserap lebih lamban oleh tubuh untuk menyediakan sumber glukosa yang lebih mapan, sehingga tubuh dapat tahan hingga saat makan berikutnya. Makanan-makanan sejenis ini dapat juga bermanfaat bagi orang dengan diabetes atau dengan kekebalan insulin. Lemak merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Asupan lemak yang dianjurkan adalah kurang dari 30% (25% lebih baik) dari total asupan kalori per harinya, namun jenis lemak yang diasup juga berpengaruh. Lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung (CVD). Orang dengan HIV dapat mengalami kolesterol dan trigliserida tinggi akibat obatobatan, sehingga harus berhati-hati terhadap CVD. Asam lemak Omega-3 (sejenis lemak tak jenuh ganda), yang ditemukan dalam ikan dan jenis makanan lain, memberi perlindungan terhadap CVD. Lemak Jenuh: Anjuran : 7% atau kurang dari total asupan kalori. susu, serta minyak kelapa dan kelapa sawit. Lemak Tak Jenuh Tunggal: Anjuran : 10% atau lebih dari total asupan kalori. Sumber makanan : biji-bijian, minyak kanola dan olive, alpukat, dan ikan. Lemak Tak Jenuh Ganda: Anjuran : 10% atau kurang dari total asupan kalori. bunga matahari dan safflower. Selain itu, diperlukan mikronutriea yakni vitamin dan mineral terutama vitamin C, E, B12, asam folat, dsb. WHO merekomendasikan kebutuhan mikronutriea ODHA sama dengan kebutuhan orang sehat. Tetapi sering kali pada ODHA ditemukan defisiensi mikronutriea, seperti vitamin A, C, E, B kompleks, selenium, dan seng. Idealnya, asupan diet yang memadai akan didapatkan asupan mikronutriea yang memadai juga. Untuk menjaga status nutrisi yang memadai, ODHA dianjurkan memakan makanan yang bervariasi, seperti karbohidrat, susu, kacang-kacangan, daging, lemak, dan minyak, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Kuantitasnya pun harus cukup untuk kebutuhan tubuh akan energi, protein dan mikronutriea. Orang dengan HIV tidak selalu makan 100% dari nutrisi yang dianjurkan per hari. Mengkonsumsi satu atau dua tablet multivitamin/mineral (tanpa extra iron) dapat melengkapi paling tidak 100% dari nutrisi yang dianjurkan per 78 Sumber makanan : ikan, walnut, biji dan minyak flax, serta jagung, kacang kedelai, minyak Sumber makanan : daging berlemak, daging unggas dengan kulit, butter, makanan bersumber

harinya. ODHA harus diet dengan seimbang agar kebutuhan energi tercukupi, terjaga berat badan ideal, dan fungsi tubuh berjalan dengan baik. Syarat Diet dan Tips untuk membentuk diet berkualitas tinggi Pemberian nutrisi harus tetap memperhatikan kesehatan per individu. Untuk beberapa kondisi, perlu diet khusus. Misalnya, ODHA yang menderita ginjal, hati dan diabetes melitus. Kemudian dilarang memberi asupan makanan yang dapat menyebabkan dan atau memperparah alergi pada ODHA. • • • • • • • • • • • Kebutuhan zat gizi ditambah 10-25% dari kebutuhan minimum Diberikan porsi kecil tapi sering Konsumsi protein berkualitas tinggi & mudah dicerna Sayuran dan buah-buahan bentuk jus Susu rendah lemak dan sudah di pasteurisasi, setiap hari (susu sapi atau kedelai) Hindari makanan diawetkan atau beragi Bebas dari pestisida atau zat kimia Rendah serat, makanan lunak/cair, jika ada gangguan saluran pencernaan Rendah laktosa & lemak jika diare Hindari rokok, kafein & alkohol Diet berkualitas tinggi dengan cara banyak makan sayur-sayuran, buah-buahan, gandumganduman, serta biji-bijian, dengan sumber-sumber protein yang rendah lemak. Jenis makanan seperti ini padat nutrisi, dan akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda daripada kalori kosong yang diperoleh dari gula dan lemak. • • • • Makan 5-6 porsi buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari, atau kira-kira 3 gelas. Targetkan untuk memperoleh 50% sumber karbohidrat dari gandum-ganduman. Pilih makanan bersumber protein rendah seperti dada ayam tanpa kulit, ikan, potongan Batasi penambahan gula, permen, dan soft drink; jenis makanan dan minuman seperti Makan buah dan sayuran yang beraneka warna untuk memperoleh nutrisi yang lengkap.

daging sapi rendah lemak, serta produk susu rendah lemak. ini rendah dalam kandungan nutrisi dan dapat membengkakkan tingkat glukosa dalam tubuh. • • Perbanyak porsi biji-bijian atau kacang-kacangan dalam makanan setiap hari. Baik makan penuh atau sekedar mengudap, pastikan mengandung keseluruhan dari 3

makronutrisi: protein, karbohidrat, dan sedikit lemak.

79

80

DAFTAR PUSTAKA http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS http://ilmu-asuhan-kebidanan.blogspot.com/2009/07/hiv-dan-aids.html http://www.i-base.info/itpc/Indonesian/spirita/docs/Lembaran-Informasi/LI412.pdf http://www.geocities.com/igamamalang/info.htm http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1855259-sejarah-singkat-hiv-aids/ http:// www.aidsinfonet.org http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=246&fname=hal4.htm http://fkuii.org/tiki-index.php http://nurse-technology.blogspot.com/ http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_PenilaianHasilPemeriksaan.pdf/10_PenilaianHasilP emeriksaan.html http://medicastore.com/penyakit/119/Neutropenia.html http://www.wartamedika.com/2008/06/jenis-jenis-pemeriksaan-hivaids.html Kewaspadaan universal : http://www.aidsinfonet.org Infeksi nosokomial clan kewaspadaan universal : http://www.spiritia.or.id/ Universal precautions : http://www.niehs.ni.gov/odhsb/biosafe/univers.htm. What are universal precautions : http://www.ccohs.caloshanswers/prevention/ppe/universa.html. http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/13/laptunilapp-gdl-jou-2007-fauziadr-616-fauzi2c--r.pdf

81