BAB II PARADIGMA DAN PRINSIP-PRINSIP IMPLEMENTASINYA DALAM PENELITIAN Berikut ini akan dijelaskan pengertian paradigma menurut

beberapa ahli, paradigma dalam penelitian kuantitatif dan, berbagai macam paradigma penelitian kualitatif, serta serta prinsip-prinsip implementasinya dalam dua macam penelitian tersebut. PENGERTIAN PARADIGMA Denzin & Lincoln (1994:105) mendefinisikan paradigma sebagai: “Basic belief system or worldview that guides the investigator, not only in choices of method but in ontologically and epistomologically fundamental ways.” Pengertian tersebut mengandung makna paradigma adalah sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metoda tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis. Secara singkat, Denzin & Lincoln (1994:107) mendefinisikan “Paradigm as Basic Belief Systems Based on Ontological, Epistomological, and Methodological Assumptions.” Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar berdasarkan asumsi ontologis, epistomologis, dan metodologi. Denzin & Lincoln (1994:107) menyatakan: “A paradigm may be viewed as a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principle.” Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu metafisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama. Sedangkan Guba (1990:18) menyatakan suatu paradigma dapat dicirikan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi. Selanjutnya dijelaskan: a. Ontological: What is the nature of the “knowable?” or what is the nature of reality? Ontologi: Apakah hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui? Atau apakah hakikat dari realitas? Secara lebih sederhana, ontologi dapat dikatakan mempertanyakan tentang hakikat suatu realitas, atau lebih konkret lagi, ontologi mempertanyakan hakikat suatu fenomena.

29

b.

Epistomological: What is the nature of the relationship between the

knower (the inquirer) and the known (or knowable)? Epistomologi: Apakah hakikat hubungan antara yang ingin mengetahui (peneliti) dengan apa yang dapat diketahui? Secara lebih sederhana dapat dikatakan epistomologi mempertanyakan mengapa peneliti ingin mengetahui realitas, atau lebih konkret lagi epistomologi mempertanyakan mengapa suatu fenomena terjadi atau dapat terjadi? c. Methodological: How should the inquirer go about finding out knowledge? Metodologi: Bagaimana cara peneliti menemukan pengetahuan? Secara lebih sederhana dapat dikatakan metodologi mempertanyakan bagaimana cara peneliti menemukan pengetahuan, atau lebih konkret lagi metodologi mempertanyakan cara atau metoda apa yang digunakan oleh peneliti untuk menemukan pengetahuan? Sedang Denzin & Lincoln (1994:108) menjelaskan ontologi, epistomologi, dan metodologi sebagai berikut: – The ontological question: What is the form and nature of reality and, therefore, what is there that can be known about it? Pertanyaan ontologi: “Apakah bentuk dan hakikat realitas dan selanjutnya apa yang dapat diketahui tentangnya?” – The epistomological question: What is the nature of the relationship between the knower or would be-knower and what can be known? Pertanyaan epistomologi: “Apakah hakikat hubungan antara peneliti atau yang akan menjadi peneliti dan apa yang dapat diketahui.” – The methodological question: How can the inquirer (would-be knower) go about finding out whatever he or she believes can be known. Pertanyaan metodologi: “Bagaimana cara peneliti atau yang akan menjadi peneliti dapat menemukan diketahui.” sesuatu yang diyakini dapat

30

Apabila dianalisis secara saksama dapat disimpulkan bahwa pandangan Guba dan pandangan Denzin & Lincoln tentang ontologi, epistomologi serta metodologi pada dasarnya tidak ada perbedaan. Dengan mengacu pandangan Guba (1990) dan Denzin & Lincoln (1994) dapat disimpulkan paradigma adalah sistem keyakinan dasar yang berlandaskan asumsi ontologi, epistomologi, dan metodologi atau dengan kata lain paradigma adalah sistem keyakinan dasar sebagai landasan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa itu hakikat realitas, apa hakikat hubungan antara peneliti dan realitas, dan bagaimana cara peneliti mengetahui realitas. Sedang Salim (2001:33), yang mengacu pandangan Guba (1990), Denzin & Lincoln (1994) menyimpulkan paradigma merupakan seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Atau seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. Dalam bidang ilmu pengetahuan ilmiah paradigma didefinisikan sebagai sejumlah perangkat keyakinan dasar yang digunakan untuk mengungkapkan hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Dalam komunitas Sosiologi, definisi paradigma yang banyak digunakan mengacu pada definisi dari George Ritzer. Menurut Ritzer dalam buku: Sociology A Multiple Paradigm Science (1975): paradigma merupakan gambaran fundamental tentang pokok permasalahan dalam suatu ilmu pengetahuan. Paradigma membantu memberikan definisi tentang apa yang harus dipelajari, pertanyaan apa yang harus dikemukakan, bagaimana pertanyaan itu dikemukakan, dan peraturan apa yang harus dipatuhi dalam menginterpretasi jawaban yang diperoleh. Paradigma merupakan suatu konsensus yang paling luas dalam suatu ilmu pengetahuan dan membantu membedakan satu komunitas ilmiah (atau subkomunitas) dari yang lain. Paradigma memasukkan, mendefinisikan, dan menghubungkan eksemplar, teori, metode, dan instrumen yang ada di dalamnya (Ritzer, 1975 dalam Lawang, 1998:2). Catatan: eksemplar adalah contoh atau model penelitian yang secara konsisten (kurang lebih) memperlihatkan hubungan antara gambaran fundamental tentang pokok permasalahan, teori, dan metode yang digunakan (Lawang, 1999:4). 31

Gambar 14 : George Ritzer Menurut pendapat penulis, definisi paradigma yang dikemukakan Ritzer tersebut mengandung tiga asumsi yaitu ontologi, epistomologi, dan metodologi. Ini dapat dilihat dari pernyataan: “paradigma membantu memberikan definisi tentang apa yang harus dipelajari (asumsi ontologi), pertanyaan apa yang harus dikemukakan (asumsi epistomologi), bagaimana pertanyaan itu dikemukakan, dan peraturan apa yang harus dipatuhi dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh (asumsi metodologi). Dengan demikian definisi paradigma Ritzer mengandung tiga asumsi mendasar yang sama dengan definisi paradigma dari Guba, Denzin & Lincoln, yaitu asumsi ontologi, epistomologi, dan metodologi. Menurut Creswell (1994: 6), paradigma merupakan landasan untuk mencari jawaban atas lima pertanyaan mendasar, yaitu ontologi, epistomologi, aksiologi, retorika, dan metodologi. Aksiologi adalah jawaban atas pertanyaan apa peranan nilai, sedang retorika adalah jawaban atas pertanyaan apa bahasa yang digunakan dalam penelitian. Dari semua uraian di atas dapatlah dikemukakan bagaimana seseorang mengembangkan dan menggunakan suatu paradigma ilmu pengetahuan dengan melihat cara pandang yang digunakan dalam menjawab lima pertanyaan mendasar, yaitu: ontologi, epistomologi, aksiologi, retorika, dan metodologi. Oleh karena itu, uraian selanjutnya akan dikemukakan prinsip-prinsip implementasi, dimensi-dimensi paradigma dalam penelitian kuantitatif dan dalam penelitian kualitatif. 32

33 . Moustyan yang akan diuraikan di bawah ini merupakan prinsipprinsip implementasi dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pandangan filsafat positivisme adalah bahwa tindakan-tindakan manusia terwujud dalam gejalagejala sosial yang disebut fakta-fakta sosial. menghubungkan dengan fakta-fakta sosial lainnya. Fakta-fakta sosial tersebut harus dipelajari secara objektif. Penggunaan data kuantitatif diperlukan dalam analisis yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya demi tercapainya ketepatan data dan ketepatan penggunaan model hubungan variabel bebas dan variabel tergantung (Suparlan. Caranya dengan melakukan observasi atau mengamati fakta sosial untuk melihat kecenderungankecenderungannya. dengan demikian kecenderungan-kecenderungan suatu fakta sosial tersebut dapat diidentifikasi. Hakikat hubungan antara variabel-variabel dianalisa dengan menggunakan teori yang objektif.” seperti benda dalam ilmu pengetahuan alam. Karena sasaran kajian dari penelitian kuantitatif adalah gejala-gejala. Sebelum dijelaskan paradigma dari setiap jenis penelitian tersebut dan bagaimana implementasinya. Guba & Lincoln. yaitu dengan memandangnya sebagai “benda. 1997:95).PRINSIP-PRINSIP IMPLEMENTASI PARADIGMA DALAM PENELITIAN Dalam penelitian ilmiah dikenal dua jenis penelitian yaitu penelitian dengan pendekatan kuantitatif atau penelitian kuantitatif dan penelitian dengan pendekatan kualitatif atau penelitian kualitatif. Pada buku yang lain Suparlan menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif memusatkan perhatiannya pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia. Perbedaan-perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif baik yang dikemukakan oleh Suparlan maupun oleh Creswell. yang dinamakan variabel. Perbedaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif Suparlan (1997) menjelaskan perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif sebagai berikut: a) Penelitian Kuantitatif Landasan berpikir pendekatan kuantitatif adalah filsafat positivisme yang pertama kali diperkenalkan oleh Emile Durkhim (1964). Denzin & Lincoln. akan diuraikan terlebih dahulu perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.

sedangkan gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia itu tidak terbatas banyaknya dan tidak terbatas pula kemungkinan-kemungkinan variasi dan hierarkinya. atau pola-pola. maka seorang peneliti harus dapat berperan sebagai pelaku yang ditelitinya. dan harus dapat memahami para pelaku yang ditelitinya agar dapat mencapai tingkat pemahaman yang sempurna mengenai makna-makna yang terwujud dalam gejala-gejala sosial yang diamatinya (Suparlan. Statistik dalam penelitian kuantitatif berguna untuk menggolong-golongkan dan menyederhanakan variasi dan hierarki yang ada dengan ketepatan yang dapat diukur. maka juga analisis terhadap gejala-gejala tersebut tidak dapat tidak harus menggunakan kebudayaan yang bersangkutan sebagai kerangka acuannya. 1997:95). Suparlan menjelaskan bahwa penelitian kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia. 1994:6-7). Pada buku yang lain. Penelitian kualitatif sasaran kajiannya adalah pola-pola yang berlaku yang merupakan prinsip-prinsip yang secara umum dan mendasar berlaku dan menyolok berdasarkan atas kehidupan manusia. dan pola-pola yang ditemukan tadi dianalisis lagi dengan menggunakan teori yang objektif. Gejala-gejala sosial dan budaya dianalisis dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku. tetapi pada makna-makna yang terdapat di balik tindakantindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut. b) Penelitian Kualitatif Landasan berpikir dalam penelitian kualitatif adalah pemikiran Max Weber (1997) yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan gejala-gejala sosial. termasuk juga dalam penganalisaan dari data yang telah dikumpulkan (Suparlan. maka juga diperlukan pengetahuan statistik. Oleh karena itu metoda yang utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah verstehen atau pemahaman (jadi bukan erklaren atau penjelasan). Karena kalau menggunakan kebudayaan lain atau kerangka acuan 34 . Agar dapat memahami makna yang ada dalam suatu gejala sosial.

Dari uraian Suparlan tersebut sudah jelas perbedaan yang fundamental antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. cultural meaning (mengonstruksi realitas sosial. Statistical analysis (menggunakan analisis statistik) h. 1997:14) sebagai berikut. Independent of context (tidak tergantung pada konteks) f. Few cases subjects (terdiri atas beberapa kasus atau subjek) g. dan Moustyan (1995) (dalam Neuman. Thematic analysis (bersifat analisis tematik) h. Denzin & Lincoln (1994). Guba & Lincoln (1994). events (berfokus pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa) c. Situationally constrained (terikat pada situasi / terikat pada konteks) f. 1994:6-7). Researcher is involved (peneliti terlibat) 35 . Value free (bersifat bebas nilai) e. sehingga pendekatan kualitatif tidak relevan (Suparlan. Construct social reality. Reliability is key (reliabilitas merupakan kunci) d.lainnya maka maknanya adalah menurut kebudayaan lain. Measure objective facts (mengukur fakta yang objektif) b. Focus on interactive processes. Many cases subjects (terdiri atas kasus atau subjek yang banyak) g. Focus on variables (terfokus pada variabel-variabel) c. Agar terdapat gambaran yang lebih rinci perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif akan dikemukakan pandangan Cresswell (1994). Quantitative Style (Model Kuantitatif) a. Authenticity is key (keaslian merupakan kunci) d. tidak objektif. Values are present and explicit (nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai) e. Researcher is detached (peneliti tidak terlibat) Qualitative Style (Model Kualitatif) a. makna budaya) b.

Misalnya dalam suatu perusahaan terjadi gejala penurunan produktivitas kerja karyawan. suatu gejala yang terjadi merupakan akibat dari gejala yang lain atau karena adanya hubungan atau pengaruh gejala lain. Apabila hasil analisis statistik menyatakan variabel-variabel tersebut mempunyai pengaruh atau hubungan secara signifikan. terlebih dahulu ditentukan variabel-variabel atau hal-hal pokok yang terdapat dalam suatu masalah/gejala/fenomena. Terfokus pada variabel-variabel Sebelum dilakukan penelitian. Catatan: Analisis statistik yang dipergunakan untuk mengukur pengaruh suatu variabel pada variabel lain berbeda dengan analisis statistik yang dipergunakan 36 . Di sini terjadi cara berpikir nomotetik. variabel tersebut harus diukur. Mengukur fakta yang objektif Setiap fakta atau fenomena yang dalam penelitian kuantitatif dijadikan variabel (hal-hal yang pokok dalam suatu masalah) untuk mendapatkan objektivitas. Dan apakah pengaruh atau hubungan tersebut signifikan atau dapat dipercaya (mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi). Misalnya untuk mengetahui kualitas atau kadar atau tinggi rendahnya motivasi kerja karyawan suatu perusahaan dilakukan tes atau dengan kuesioner yang disusun berdasarkan komponen-komponen/unsur-unsur/indikator-indikator dari variabel penelitian yang dalam hal ini motivasi kerja karyawan. Kemudian pengaruh atau hubungan dari data hasil pengukuran masing-masing variabel diuji secara statistik apakah benar variabel motivasi kerja dan kepemimpinan manajer mempunyai pengaruh atau mempunyai hubungan dengan variabel produktivitas kerja. Penentuan variabel-variabel tersebut berdasarkan hukum sebab-akibat. Misalnya secara teori ditemukan bahwa produktivitas kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi kerja dan kepemimpinan manajer. b. Selanjutnya dilakukan pengkajian secara teoritis faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas kerja tersebut. maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja karyawan dipengaruhi oleh variabel motivasi kerja dan kepemimpinan manajer atau mempunyai hubungan dengan motivasi kerja dan kepemimpinan manajer.Penjelasan dan contoh Model Kuantitatif a.

Pengaruh nilai-nilai budaya terhadap fenomena tidak diperhitungkan atau tidak diperhatikan. Dalam budaya Barat seorang individu untuk menyatakan kelebihan dan kelemahan diri sendiri tidak menjadi masalah. Suatu instrumen penelitian dikatakan valid atau memiliki validitas apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. d. Oleh karena itu. Suatu alat ukur atau instrumen penelitian (misalnya tes atau kuesioner) apabila memiliki reliabilitas yang tinggi akan menyebabkan hasil penelitian itu akurat. Reliabilitas merupakan kunci Reliabilitas atau keajegan suatu tes atau kuesioner mempunyai arti bahwa tes atau kuesioner tersebut menghasilkan skor yang relatif sama walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda. Sebagai contoh salah satu komponen dari konsep diri adalah kelebihan dan kelemahan pada diri individu. Sedangkan uji statistik untuk mengukur validitas dilakukan di antaranya dengan mengorelasikan skor setiap item dengan skor total (jumlah seluruh skor item dikurangi skor item yang dikorelasikan).untuk mengukur hubungan suatu variabel dengan suatu variabel yang lain atau beberapa variabel. reliabilitas merupakan kunci dalam penelitian kuantitatif. Catatan: Uji statistik untuk mengukur reliabilitas diantaranya adalah Analisis Alpha Cronbach dan KR-20 (Kuder-Richardson 20). karena apabila alat ukur atau instrumen penelitian reliabel (terpercaya). Analisis statistik untuk mengukur pengaruh suatu variabel pada variabel yang lain di antaranya menggunakan analisis statistik multiple regression (regresi ganda). sedangkan untuk mengukur hubungan suatu variabel dengan variabel lain di antaranya menggunakan analisis statistik correlation (korelasi) misalnya correlation product-moment (korelasi productmoment) dari Carl Pearson atau Spearman-Brown. Di samping alat ukur harus reliabel dipersyaratkan pula harus valid (sahih) atau memiliki validitas (kesahihan). Seorang individu untuk 37 . c. maka akan berdampak hasil penelitian akurat. Bebas nilai dengan budaya atau nilai-nilai budaya masyarakat yang Dalam penelitian kuantitatif pengujian terhadap gejala/fenomena tidak dikaitkan melatarbelakangi fenomena tersebut.

Misalnya fenomena aktualisasi diri atau kebutuhan untuk mewujudkan kemampuan dirinya (Teori Motivasi Abraham Maslow) bagi orang-orang perkotaan akan berbeda dengan orang-orang pedesaan. Fenomena yang sama. manajemen. Sedangkan pada budaya Timur perilaku yang demikian dapat dikategorikan perilaku sombong.dapat dikatakan memiliki konsep diri yang positif. sedangkan orang-orang pedesaan di lereng gunung Merapi dan Merbabu atau di pedalaman Kalimantan atau di pedalaman Papua dimanifestasikan dalam kemampuan bertani atau bercocok tanam. Penelitian kuantitatif tidak tergantung konteks dari fenomena yang diteliti. individu tersebut dapat menyatakan kelemahan dan kelebihannya di samping memiliki kriteriakriteria konsep diri yang lain. atau memburu binatang buas atau menguasai seni lokal atau seni daerah setempat. bahasa asing. 38 . e. di lereng Merbabu. Dalam penelitian kuantitatif pengaruh nilai-nilai budaya tidak diperhitungkan. memelihara binatang. karena menurut paradigma yang dipergunakan sebagai landasan berpijak pada penelitian kuantitatif. teknologi informasi. Aktualisasi diri orang Jakarta akan berbeda dengan orang pedesaan yang tinggal di lereng gunung Merapi. Tidak tergantung pada konteks Suatu fenomena terkait dengan konteks artinya terkait dengan situasi atau lingkungan yang menyertai fenomena tersebut. atau di pedalaman Irian Barat (Papua). konteksnya dapat berbeda. di pedalaman Kalimantan. kriteria-kriteria konsep diri bersifat universal atau berlaku umum. Aktualisasi diri orang Jakarta dimanifestasikan dalam kemampuan teknologi. dan lain-lain.

Populasi adalah seluruh atau jumlah individu dari suatu wilayah atau organisasi atau instansi atau perusahaan yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari selanjutnya untuk ditarik kesimpulan. yaitu individu yang dijadikan sampel adalah individu yang dapat ditemui. sampel. dan lain-lain. oleh karena itu sampel harus representatif (harus dapat mewakili) artinya sampel harus dapat menggambarkan keadaan populasi.Gambar 15 : Abraham Maslow f. purposive sampling. yaitu apabila setiap strata/tingkat/bagian ada wakil yang dijadikan sampel dan dilakukan secara acak (random). Dengan adanya sampel yang representatif terhadap populasinya. Hal ini bertujuan agar dapat digeneralisasikan atau dapat diberlakukan secara umum. yaitu apabila seluruh individu atau seluruh anggota populasi dijadikan sampel. dan technique sampling (teknik menentukan sampel). Terdapat beberapa teknik sampling (cara pengambilan sampel). di antaranya: total sampling. maka penelitian cukup dilakukan terhadap sampel. dan hasil penelitian terhadap sampel tersebut dapat digeneralisir 39 . Terdiri dari kasus-kasus atau subjek-subjek yang banyak Dalam penelitian kuantitatif diperlukan adanya kasus-kasus atau subjek-subjek yang banyak. yaitu apabila individu yang dijadikan sampel memiliki persyaratan tertentu sesuai tujuan penelitian. Untuk itu terdapat terminologi populasi. stratified random sampling. accidental sampling. Sedang sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi.

Sedangkan dalam penelitian kuantitatif peneliti sejauh mungkin mengeleminir subjektivitas dari subjek 40 . pengaruh antara suatu variabel dengan variabel yang lain mempunyai makna. Terdapat beberapa macam teknik analisis statistik. tetapi sudah dapat untuk menggambarkan keadaan populasi. reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif peneliti justru berusaha mengetahui persepsi subjektif dari subjek yang diteliti. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel yang satu pada variabel yang lain digunakan analisis statistik multiple regression.artinya dapat menggambarkan populasi. atau dengan simbol statistik p < 0. Dalam penelitian kuantitatif digunakan istilah-istilah yang spesifik dan tidak digunakan dalam penelitian kualitatif. misalnya variabel. h. Peneliti tidak memihak Dalam penelitian kuantitatif peneliti tidak memihak. Hasil penelitian kualitatif merupakan hasil analisis persepsi subjektif dari subjek yang diteliti terhadap suatu fenomena. untuk itu kemungkinan salah perhitungannya dibatasi maksimal 5%. Signifikan digunakan untuk menggambarkan apabila hubungan. dan lain-lain. hipotesis.05. Suatu hubungan atau perbedaan atau pengaruh antara variabel yang satu dengan variabel yang lain apabila p < 0. validitas. perbedaan.05 (tingkat kesalahan sama atau lebih kecil dari 5%) dinyatakan signifikan atau bermakna. Menggunakan analisis statistik Dalam penelitian kuantitatif digunakan analisis statistik bertujuan agar dapat mendeskripsikan secara akurat suatu fenomena (erklaren). misalnya sebagaimana telah diuraikan di depan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain digunakan teknik analisis statistik korelasi productmoment dari Carl Pearson atau dari Spearman-Brown. signifikan. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain digunakan rumus t-test. artinya peneliti menghindari subjektivitas dari subjek yang diteliti. Sedangkan dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan analisis statistik karena tujuannya tidak akan mendeskripsikan suatu fenomena tetapi mencari makna guna mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen). walaupun penelitian hanya ditujukan pada sampel. g.

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai pertanyaan-pertanyaan penelitian bukan hanya mencakup: apa. 1985 dalam Woolfolk. dimana. bagaimana. Oleh karena itu dalam penelitian kuantitatif dikatakan peneliti tidak memihak. tidak cukup apabila hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana dari suatu fenomena.yang diteliti. bagaimana suatu fenomena terjadi atau bagaimana proses terjadinya suatu fenomena. Untuk itu harus mencari nomenon atau makna di balik fenomena. Penjelasan dan contoh Model Kualitatif a. dapat dikuasai manusia. sedangkan pertanyaan-pertanyaan apa. maka penelitian kualitatif ingin mendapatkan pemahaman yang mendalam. pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana). Mengapa suatu fenomena ada atau terjadi. Dan hal ini. dan pengetahuan kondisional (pengetahuan tentang mengapa dan kapan) (Micchenbaum. Mengonstruksi realitas sosial. 1998:267). Atau dapat dikatakan penelitian kuantitatif berusaha mendeskripsikan fenomena secara akurat (erklaren). dan 41 . Pertanyaan mengapa menuntut jawaban mengenai hakikat yang ada dalam hubungan diantara gejala-gejala atau konsep-konsep. dimana. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen) tidak cukup hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. siapa. yaitu pengetahuan tentang apa. dan bagaimana. dkk. untuk itu perlu mendapatkan pemahaman yang mendalam dari suatu fenomena (verstehen). siapa. Pendapat penulis ini mengacu pendapat Suparlan (1997: 99) sebagai berikut: “Dalam pendekatan kualitatif. karena manusia mempunyai metakognisi yang mampu menghasilkan pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang apa). makna budaya Apabila penelitian kuantitatif berusaha mengukur fakta yang objektif atau dengan kata lain mendeskripsikan suatu fenomena atau realitas. tetapi yang terpenting yang harus tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut adalah mengapa. sedangkan penelitian kualitatif ingin mendapatkan makna di balik fenomena. mengapa. kapan. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen).

karena penelitian kualitatif berlandaskan paradigma Konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu bukan hanya merupakan hasil pengalaman terhadap fakta. bukan pada variabel-variabel. Penelitian kualitatif dinyatakan mengonstruksi realitas sosial. fokus perhatiannya pada proses interaksi dan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya itu sendiri. Bahkan fokus penelitian dapat berubah pada waktu di lapangan setelah melihat kenyataan yang ada di lapangan. tetapi observasi sebaiknya dilakukan tidak bersamaan dengan wawancara. Sedangkan dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif di antara teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi. Observasi tidak cukup apabila hanya diarahkan pada setting saja. Berfokus pada proses interaksi dan peristiwa-peristiwa Penelitian kuantitatif berfokus pada variabel-variabel. tetapi justru yang pokok adalah proses terjadinya peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian itu sendiri. maka tidak dapat terfokus pada hal-hal yang akan diobservasi. dan pertanyaan bagaimana menuntut jawaban mengenai proses-prosesnya. upaya-upaya mengendalikan atau meramalkan juga tidak menjadi aspek penting. b. tetapi merupakan juga hasil konstruksi oleh rasio. bahkan sebelum penelitian dilakukan telah ditentukan terlebih dahulu variabel-variabel yang akan diteliti. ini berarti ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman semata. tetapi juga merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Aspek subjektif manusia menjadi hal penting. Apabila observasi dilakukan bersamaan dengan wawancara. namun mengenai perilaku tersebut belum dapat 42 . Poerwandari (1998:17) menyatakan penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan pemahaman. Demikian pula observasi tidak cukup dilakukan bersamaan dengan wawancara. Pengenalan manusia terhadap realitas sosial berpusat pada subjek dan bukan pada objek. serta bagaimana manusia meletakkan makna pada peristiwa yang terjadi. Pengembangan hukum umum tidak menjadi tujuan penelitian. Walaupun memang ada perilaku yang dapat diobservasi pada waktu diadakan wawancara. Penelitian kualitatif membantu mengerti dan menginterpretasi apa yang ada di balik peristiwa: latar belakang pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya.kapan menuntut jawaban mengenai identitas.

Misalnya dalam metoda eksperimen. Sebaliknya penelitian kuantitatif justru sering melakukan manipulasi situasi maupun setting penelitian. Penelitian kuantitatif memegang teguh prinsip menghindari pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan nilai-nilai dalam laporan penelitian (juga dalam skripsi. Dalam penelitian kualitatif tidak ada usaha untuk memanipulasi situasi maupun setting. dan lain-lain. Sebaliknya penelitian kualitatif melakukan studi terhadap fenomena dalam situasi dan setting sebagaimana adanya. c. dengan observasi terutama observasi langsung tidak hanya akan dapat menjawab pertanyaan tentang apa. tesis. jadi analisis statistik mempunyai fungsi yang sangat strategis. Dengan diketahuinya tentang apa. tetapi juga bagaimana dan mengapa. situasi dapat dimanipulasi dengan subjek diatur sehingga homogen dengan dipilih sesuai kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu. sebaliknya dalam penelitian kualitatif nilai sangat diperhatikan atau diperhitungkan. disertasi) 43 . adanya treatment (perlakuan khusus) misalnya diberikan terapi khusus atau diberikan pelatihan khusus. bagaimana. Atau dengan kata lain. dengan ditiadakannya pengaruh dari variabel kontrol. 1998:30) mendefinisikan studi dalam situasi alamiah sebagai studi yang berorientasi pada penemuan (discovery-oriented). reliabilitas merupakan kunci. peneliti berusaha untuk tidak memperhatikan atau tidak memperhitungkan nilai (bebas nilai).ditarik kesimpulan. d. Keaslian merupakan kunci Dalam penelitian kuantitatif. Nilai hadir dan nyata (tidak bebas nilai) Dalam penelitian kuantitatif. Guba seperti yang dikutip Patton (1990 dalam Poerwandari. sehingga penelitian kualitatif ini juga dikatakan sebagai penelitian alamiah (naturalist inquiry). Agar dapat ditarik kesimpulan maka hasil wawancara harus dilengkapi dan dicek dengan hasil observasi yang dilakukan secara khusus. Penelitian demikian secara sengaja membiarkan kondisi yang diteliti berada dalam keadaan sesungguhnya. maka masalah akan dapat dipahami secara mendalam (verstehen). Dalam penelitian kualitatif keaslian merupakan kunci. dan menunggu apa yang akan muncul atau ditemukan. Dengan observasi akan dapat diketahui tentang proses interaksi atau kejadian-kejadiannya sendiri. dan mengapa.

Terdiri dari beberapa kasus atau subjek Dalam penelitian kualitatif karena tidak bertujuan menggeneralisasikan hasil penelitiannya. Sebaliknya penelitian kualitatif tidak menjaga jarak dan tidak bebas dari yang diteliti karena ingin mengetahui persepsinya. Persepsi subjektif dari yang diteliti selalu terikat pada situasi atau terikat pada konteks. Telah dijelaskan pula di depan bahwa dalam penelitian kuantitatif karena ingin menghasilkan data yang berlaku umum (universal). membuat laporan penelitian. Terikat pada situasi (terikat pada konteks) Telah dijelaskan bahwa suatu fenomena terikat pada situasi yang mengelilinginya. kami.dengan jalan menggunakan bahasa yang impersonal (misalnya tidak menggunakan kata: kita. kita semua). saya. karena apabila data tersebut dimiliki beberapa atau banyak individu atau dengan kata lain beberapa atau banyak individu memiliki data yang sama dengan subjek yang diteliti. Peneliti selalu berusaha mengontrol bias. maka hasil penelitian seperti ini disebut bersifat intersubjektif. pengertian intersubjektif sama dengan objektif. Sedang penelitian kualitatif menggunakan bahasa yang personal (dapat menggunakan kata: kita. saya. kami. e. atau dengan kata lain ingin mengetahui persepsi subjektif dari yang diteliti. Dengan adanya data yang bersifat subjektif. dan si peneliti pun secara aktif melaporkan nilai-nilai dan bias-biasnya. Dalam penelitian kualitatif. atau dengan kata lain selalu terikat pada konteks. Menurut Neuman (1997 dalam Salim. Individu yang sedang mengalami kesedihan dapat berubah menjadi senang atau gembira pada saat memasuki pesta ulang tahun anaknya atau teman karibnya. maka penelitian kualitatif tidak perlu meneliti banyak kasus 44 . memilih percontohan yang sistematis dan berusaha objektif dalam meneliti suatu fenomena. serta nilai-nilai dari informasi yang dikumpulkan di lapangan. kita semua). f. apa ini berarti penelitian kualitatif tetap bersifat ilmiah? Walaupun datanya bersifat subjektif. maka peneliti harus menjaga jarak dan bebas dari pengaruh yang diteliti. 2001:36) dalam penelitian kualitatif para peneliti mengetahui adanya sifat value-laden (sarat nilai-nilai subjektif si peneliti) dalam penelitian. mengajukan argumentasi berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dalam penelitian. penelitian kualitatif tetap ilmiah.

dan lain-lain. g. Karena dalam studi kasus yang sangat penting adalah sifatnya yang sangat spesifik.” Negaranegara yang menganut paham Sosialis menentang paham Demokrasi. maka yang diteliti adalah hal-hal yang bersifat khusus atau spesifik. masalah kesulitan belajar bagi anak-anak yang tidak normal (learning-disabilities).atau subjek. masalah-masalah jender: perjuangan perempuan mendapatkan perlakuan yang adil dalam lapangan pekerjaan. agar peneliti benar-benar memahami persepsi subjek yang diteliti terhadap suatu fenomena. Bersifat analisis tematik Dalam penelitian kualitatif karena tidak bertujuan menggeneralisasikan hasil penelitiannya. Peneliti terlibat Berbeda dengan penelitian kuantitatif di mana peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti agar dapat menjaga objektivitas atau menghindari subjektivitas dari yang diteliti. kasus-kasus perilaku menyimpang. KUANTITATIF DAN KUALITATIF a. Jadi penelitian perkembangan demokrasi di negara-negara sosialis bersifat spesifik. 3. maka dalam penelitian kualitatif tidak mematok jumlah subjek yang diteliti. Misalnya tindak kekerasan terhadap perempuan. Dalam studi kasus subjek yang diteliti dapat satu tetapi dapat juga banyak. bahkan mungkin penduduk suatu negara. Contoh penelitian tentang “Perkembangan Demokrasi pada Negara-negara Sosialis. Untuk itu peneliti dapat melakukan misalnya observasi terlibat (participant observation). Sebagai contoh tidak seperti dalam penelitian kuantitatif yang mematok jumlah subjek minimal sebanyak 30 (tiga puluh) individu agar dapat dianalisis dengan statistik parametrik. dan analisisnya bersifat tematik. maka sebaliknya penelitian kualitatif peneliti tidak mengambil jarak. Paradigma dalam penelitian kuantitatif Paradigma dalam penelitian kuantitatif adalah Positivisme. h. yaitu suatu keyakinan dasar yang berakar dari paham ontologi realisme yang menyatakan 45 PARADIGMA DALAM PENELITIAN . Dengan observasi terlibat pemahaman terhadap subjek dapat mendalam.

yang dikendalikan oleh hukumhukum alam yang tetap. 1998:17). 2001:39). artinya realita itu mempunyai keberadaan sendiri dan diatur oleh hukum-hukum alam dan mekanisme yang bersifat tetap.” Intinya sistem keyakinan dasar dari Positivisme berakar pada ontologi realis yaitu percaya akan keberadaan realitas di luar individu. Pengetahuan tentang hal-hal di luar diri manusia (entities). hukum. Positivisme adalah sistem keyakinan dasar yang menyatakan kebenaran itu berada pada realitas yang terikat pada hukumhukum alam yaitu hukum kasualitas atau hukum sebab-akibat. the belief that there exists a reality out there. dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan (Salim. Menurut Sarantakos (1993 dalam Poerwandari.” Kutipan tersebut mempunyai arti asumsi ontologi: bersifat nyata. driven by immutable the natural laws. Sedangkan Guba (1990:19) menjelaskan: “The basic belief system of positivism is rooted in a realist ontology. 46 . Knowledge of this entities.bahwa realitas itu ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Selanjutnya menurut Guba (1990:20) sistem keyakinan dasar para peneliti positivis dapat diringkas sebagai berikut: “Ontology: Realist-reality exists “out there” and is driven by immutable natural laws and mechanism. Sebagian dari generalisasi ini berbentuk hukum sebab-akibat. dan mekanisme-mekanisme ini secara konvensional diringkas dalam bentuk generalisasi yang bersifat tidak terikat waktu dan tidak terikat konteks. Some of these latter generalizations take the form of cause-effect laws. Dengan demikian penelitian berusaha untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada. that is. penelitian dianggap sebagai alat untuk mempelajari peristiwa dan hukum-hukum sosial pada akhirnya akan memungkinkan manusia meramalkan kemungkinan kejadian serta mengendalikan peristiwa. Positivisme melihat penelitian sosial sebagai langkah instrumental. Secara singkat. laws and mechanisms is conventionally summarized in the form of time and contextfree generalizations.

” Kutipan tersebut mempunyai arti asumsi epistomologi: dualis/objektif. sistem politik. Value and other biasing and confounding factors are thereby automatically excluded from influencing the outcomes.” Kutipan tersebut mempunyai arti asumsi metodologi: bersifat eksperimental/manipulatif: pertanyaan-pertanyaan dan/atau hipotesis-hipotesis dinyatakan dalam bentuk proposisi sebelum penelitian dilakukan dan diuji secara empiris (falsifikasi) dengan kondisi yang terkontrol secara cermat. Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu. Fakta sosial tersebut meliputi: bahasa. pendidikan dan lain-lain. yang kemudian menjadi acuan bagi para peneliti ilmu sosial yang beraliran positivisme.“Epistomology : Dualist/objectivist – it is both possible and essential for the enquirer to adopt a distant. tetapi dalam penelitian positivisme informasi kebenaran itu ditanyakan oleh peneliti kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Comte menguraikan secara garis besar prinsip-prinsip positivisme yang hingga kini masih banyak digunakan. noninteractive posture. Sedang Emile Durkheim (Sosiolog Perancis) mengembangkan suatu versi positivisme dalam Rules of the Sosiological Methods (1895). faktor bias dan faktor yang mempengaruhi lainnya secara otomatis tidak mempengaruhi hasil studi. Nilai. adalah mungkin dan esensial bagi peneliti untuk mengambil jarak dan bersikap tidak melakukan interaksi dengan objek yang diteliti. “Methodology : Experimental/manipulate – questions and/or hypotheses are studied in advance in propositional term and subjected to empirical tests (falsification) under carefully controlled conditions. Positivisme muncul pada abad ke-19 dimotori oleh Sosiolog Aguste Comte. 47 . sistem hukum. John Stuart Mill dari Inggris (1843) memodifikasi dan mengembangkan pemikiran Comte. Menurut Emile Durkheim (1982:59) objek studi sosiologi adalah fakta sosial.

Gambar 16 : John Stuart Mill b.” 48 . Basis untuk menemukan “Sesuatu benar-benar ada” dan “benarbenar bekerja” adalah tidak ada. dan Teori Kritis a) Konstruktivisme Guba (1990:25) menyatakan: “But philosophers of science now uniformly believe that facts are facts only within some theoretical framework (Hesse. Ini berarti realitas itu ada sebagai hasil konstruksi dari kemampuan berpikir seseorang. Realitas hanya ada dalam konteks suatu kerangka kerja mental (konstruk) untuk berpikir tentang realitas tersebut.” Kutipan tersebut mempunyai arti ahli-ahli filsafat ilmu pengetahuan percaya bahwa fakta hanya berada dalam kerangka kerja teori (Hesse. Post Positivisme. If “reality” can be seen only through a theory window. 1980). it can equally be seen only through a value window. Selanjutnya Guba (1990:25) menyatakan “Constructivists concur with the ideological argument that inquiry cannot be value-free. Thus the basis for discovering “how things really are” and “really work” is lost. Paradigma dalam penelitian kualitatif Paradigma dalam penelitian kualitatif adalah Konstruktivisme. Many constructions are possible. 1980). “Reality” exist only in the context of mental framework (construct) for thinking about it.

Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Realitas hanya dapat diteliti dengan pandangan (jendela/kacamata) yang berdasarkan nilai. Realitas itu selalu terkait dengan nilai jadi tidak mungkin bebas nilai dan pengetahuan hasil konstruksi manusia itu tidak bersifat tetap tetapi berkembang terus. tidak pernah dipertanggungjawabkan sebagai kebenaran yang tetap tetapi merupakan permasalahan dan selalu berubah. pengetahuan merupakan konstruksi manusia. Beberapa hal lagi dijelaskan tentang konstruktivisme oleh Guba tetapi penjelasan Guba yang terakhir tetapi penting adalah sebagai berikut: “Finally. Jika “realitas” hanya dapat dilihat melalui jendela teori. itu hanya dapat dilihat sama melalui jendela nilai. dan hasilnya tidak merupakan kebenaran yang tetap tetapi selalu berkembang terus. 1990:26). telinga. never certifiable as ultimately true but problematic and ever changing” (Guba. pengecap/lidah). Ini berarti menurut Guba penelitian terhadap suatu realitas itu tidak bebas nilai. dan kesadaran ini 49 . peraba.Kutipan tersebut mempunyai arti: kaum Konstruktivis setuju dengan pandangan bahwa penelitian itu tidak bebas nilai. Pangkal pemikiran yang pasti menurut Descartes dimulai dengan meragukan kemudian menimbulkan kesadaran.” yang artinya “Aku berpikir maka aku ada. Penjelasan Guba yang terakhir “pengetahuan dapat digambarkan sebagai hasil atau konsekuensi dari aktivitas manusia. oleh karena itu hasilnya kabur.” Penjelasan Guba yang terakhir tersebut mengandung arti bahwa aktivitas manusia itu merupakan aktivitas mengonstruksi realitas. karena berpikir bukan merupakan khayalan. Konstruktivisme ini secara embrional bertitik tolak dari pandangan Rene Descartes (1596-1690) dengan ungkapannya yang terkenal: “Cogito Ergo Sum. Menurut Descartes pengetahuan tentang sesuatu bukan hasil pengamatan melainkan hasil pemikiran rasio. knowledge is a human construction. Banyak pengonstruksian dimungkinkan. hidung. it depicts knowledge as the outcome or consequence of human activity. Dari beberapa penjelasan Guba yang dikutip di atas dapat disimpulkan bahwa realitas itu merupakan hasil konstruksi manusia. Pengamatan merupakan hasil/kerja dari indera (mata.” Ungkapan Cogito Ergo Sum adalah sesuatu yang pasti.

Findings are literally the creation of the process of interaction between the two. with the aim of generating one (or a few) constructions on which there is substantisl consensus.” Asumsi epistimologi: “Subjektif – peneliti dan yang diteliti disatukan ke dalam pengetahuan yang utuh dan bersifat tunggal (monistic).” Methodology: “Hermeneutic – dialectic – individual constructions are elicited and refined hermeneutically. socially and experientially based local and specific. Sedangkan prinsip ilmu pengetahuan di satu pihak berfikir. dan di pihak lain berpijak pada materi.” Asumsi metodologi: “Hermeneutik – dialektik – konstruksi-konstruksi individual dinyatakan dan diperhalus secara hermeneutik dengan tujuan menghasilkan satu atau beberapa konstruksi yang secara substansial disepakati” 50 . ini ada pada kesadaran. lokal dan khusus bentuk dan isinya.” Asumsi ontologi: “Realitivis – realitas-realitas ada dalam bentuk konstruksi mental yang bersifat ganda. didasarkan secara sosial dan pengalaman. tergantung pada mereka yang mengemukakannya. dependent for their form and content on the persons who hold them.” Epistomogy : “Subjectivist – inquirer and inquired into are fused a single (monistic) entity. Temuan-temuan secara harafiah merupakan kreasi dari proses interaksi antara peneliti dan yang diteliti.berada di samping materi. Hal ini dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808). Selanjutnya menurut Guba (1990:27) sistem keyakinan dasar pada peneliti Konstruktivisme dapat diringkas sebagai berikut: Ontology : “Relativist – Realities exist in the form of multiple mental constructions. tetapi juga merupakan hasil konstruksi oleh rasio. Menurut Kant ilmu pengetahuan itu bukan semata-mata merupakan pengalaman terhadap fakta.

sehingga tingkat subjektivitas dapat dikurangi secara minimal (Salim. Aliran ini menyatakan suatu hal yang tidak mungkin mencapai atau melihat kebenaran apabila pengamat berdiri di belakang layar tanpa ikut terlibat dengan objek secara langsung. Satu 51 . Prediksi dan kontrol tetap menjadi tujuan dari Postpositivisme tersebut. hubungan antara pengamat dengan objek harus bersifat interaktif. Denzin dan Lincoln dapat disimpulkan bahwa Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Secara ontologi aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam. postpositivists strunggle to limited that damage as well as to adjust to it. Oleh karena itu. Having assessed the damage that positivism has occured. tetapi suatu hal.b) Postpositivisme Guba (1990:20) menjelaskan Postpositivisme sebagai berikut: “Postpositivism is best characterized as modified version of positivism. peneliti dan teori. 2001:40).” Kutipan tersebut mempunyai arti Postpositivisme mempunyai ciri utama sebagai suatu modifikasi dari Positivisme. Melihat banyaknya kekurangan pada Positivisme menyebabkan para pendukung Postpositivisme berupaya memperkecil kelemahan tersebut dan menyesuaikannya. tidak seperti yang diusulkan aliran Positivisme. yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti).” Salim (2001:40) menjelaskan kelemahan Positivisme yang Postpositivisme sebagai berikut: mengandalkan kemampuan Paradigma ini merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahanhanya pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. dengan catatan bahwa pengamat harus bersifat senetral mungkin. Selanjutnya dijelaskan secara epistomologis hubungan antara pengamat atau peneliti dengan objek atau realitas yang diteliti tidaklah bisa dipisahkan. sumber data. Prediction and control continue to be the aim. Oleh karena itu secara metodologi pendekatan eksperimental melalui metode triangulation yaitu penggunaan bermacam-macam metode. Dari pandangan Guba maupun Salim yang juga mengacu pandangan Guba.

sumber data.sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam.” Asumsi ontologi: “Realis kritis – artinya realitas itu memang ada. using more qualitative methods. untuk itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi yaitu penggunaan bermacam-macam metode. depending more on grounded theory. seperti tradisi dan komunitas yang kritis. Redress imbalances by doing inquiry in more natural settings. Memperbaiki ketidakseimbangan dengan melakukan penelitian dalam latar 52 .” Asumsi metodologi: “Eksperimental/manipulatif yang dimodifikasi. It is driven by natural laws that can be only incompletely understood. Selanjutnya menurut Guba (1990:23) sistem keyakinan dasar pada peneliti Postpositisme adalah sebagai berikut: Ontology : “Critical realist – reality exist but can never be fully apprehended. data. tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya.artinya objektivitas tetap merupakan pengaturan (regulator) yang ideal. namun objektivitas hanya dapat diperkirakan dengan penekanan khusus pada penjaga eksternal. Realitas diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak dipahami secara sempurna.” Methodology: “Modified experimental/manipulative – emphasize critical multiplism. maksudnya menekankan sifat ganda yang kritis. Hubungan antara peneliti dengan realitas harus bersifat interaktif.” Asumsi epistomologi: “Objektivis modifikasi .” Epistomology: “Modified objectivist – objectivity remains a regulatory ideal. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. dan lain-lain. but it can only be approximated with special emphasis placed on external guardians such as the critical tradition and critical community. and reintroducing discovery into the inqury process.

53 . materialism.” yaitu suatu wacana atau cara pandang terhadap realitas yang mempunyai orientasi ideologis terhadap paham tertentu. Freireisme. dan pahampaham yang setara.” Kutipan tersebut mempunyai arti: “Nama teori kritis tidak diragukan lagi bahwa tidak dapat mencakup semua alternatif yang dapat dimasukkan dalam kategori paradigma. Denzin dan Lincoln menjelaskan bahwa aliran ini (Critical Theory) sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu paradigma. Participatory inquiry. dan perspektif yang lain termasuk teori kritis itu sendiri. participatory inquiry. tetapi lebih tepat disebut “ideologically oriented inquiry.yang alamiah. Feminisme. Lebih tepat diberi nama penelitian yang berorientasi pada ideologi. including neo-Marxism. however because they converge in rejecting the claim of value freedom made by positivists (and largely continuing to be made by postpositivists). Ideologi ini meliputi: Neo Marxisme. Perspektif-perspektif ini pantas ditempatkan bersama karena sama-sama menolak klaim bebas nilai yang dibuat oleh kaum Positivis (dan yang umumnya terus dibuat kaum Postpositivis).” c) Teori Kritis (Critical Theory) Guba (1990:23) menjelaskan Teori Kritis sebagai berikut: “The label critical theory is no doubt inadequate to encompass all the alternatives that can be swept into this category of paradigm. feminisme. and other similar movements as well as critical theory itself. materialisme.” Sedang Salim (2001:41) dengan mengacu pada pandangan Guba. Freireism. A more appropriate label would be “ideologically oriented inquiry”. Materialisme. lebih tergantung pada teori-grounded (groundedtheory) dan memperlihatkan upaya (reintroducing) penemuan dalam proses penelitian. penelitian terlibat. Freireisme. ferminism. These perspectives are properly placed together. meliputi neo-Marxisme. yang lebih banyak menggunakan metode-metode kualitatif.

hubungan antara pengamat dengan realitas merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. paham Teori Kritis ini sama dengan Postpositivisme yang menilai objek atau realitas secara kritis (Critical Realism). as in the case of postpositivism. Yang penting Teori Kritis ini menolak pandangan kaum Positivis dan postpositivis yang menyatakan realitas itu bebas nilai. transformatif. 2001:41). Feminisme. karena nilai-nilai yang dianut oleh subjek atau pengamat ikut campur dalam menentukan kebenaraan tentang suatu hal (Salim. Karena Teori Kritis ini berpandangan bahwa realitas itu tidak dapat dipisahkan dengan subjek. mengeliminasi kesadaran palsu dan membangkitkan dan memasilitasi 54 .”Artinya ontologi: “bersifat realis – kritis. aliran ini lebih menekankan konsep subjektivitas dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan.Selanjutnya dijelaskan bahwa dilihat dari segi ontologis. Karena itu.” Methodology: “Dialogic. seperti Post-Positivisme. dalam arti nilainilai menjadi mediasi penelitian. in the sense that values mediate inquiry. nilai-nilai yang dianut oleh subjek ikut mempengaruhi kebenaran dari realitas tersebut. Dari pandangan-pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa Teori Kritis (Critical theory) tidak dapat dikatakan sebagai paradigma.”Artinya epistomologi: “subjektivis. secara metodologis paham ini mengajukan metode dialog dengan transformasi untuk menemukan kebenaran realitas yang hakiki. Karena itu. yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. untuk mengatasi masalah ini. transformastive. Selanjutnya menurut Guba (1990:25) sistem keyakinan dasar para peneliti Critical Theory dapat diringkas sebagai berikut: Ontology : “Critical realist. Freireisme. eliminate false consciousness and energize and facilitate transformation. tetapi lebih tepat dikatakan sebagai suatu cara pandang yang berorientasi pada ideologi seperti Neo-Marxisme.” “dialogis.” Epistomology : “Subjectivist.” Artinya metodologi: transformasi. Matrealisme. dan lain-lain. Secara epistomologis.

Selanjutnya akan digambarkan perbedaan asumsi-asumsi dari paradigma Kuantitatif dengan Kualitatif lengkap dengan pertanyaanpertanyaan penelitian yang digunakan masing-masing paradigma serta implementasi berikut: dalam penelitian berdasarkan asumsi-asumsi dan pertanyaan-pertanyaan penelitian dari masing-masing paradigma. sebagai 55 .

56 .

sedang tujuan ilmu pengetahuan mental dan budaya adalah membentuk pemahaman (verstehen) mengenai “makna” dari fenomena sosial. yaitu hermeneutik. 1994: 119) sebagai berikut: “Painted in broad strokes. Thomas A. the phenomenology of Alfred Schutz and critiques of scientism and positivism of ordinary language philosophers critical of logical emperism (e. Terdapat bermacam sanggahan terhadap interpretive naturalistik (alamiah) dari ilmu pengetahuan sosial (secara kasar pandangan tentang tujuan dan metoda ilmu pengetahuan sosial disamakan (identik) dengan tujuan dan metoda ilmu pengetahuan alam). 57 . A. FENOMENOLOGI a. fenomenologi Alfred Schutz. Interpretive Pada bagian ini akan dijelaskan pengertian interpretive (Geisteswissenschaften) dan ilmu budaya (Kulturwissenschaften). dan kritik kepada aliran ilmu pengetahuan alam (scientism) dan aliran Positivis (positivism) yang dipengaruhi oleh kritik para filosuf terhadap logika empirisme. Schwandt (dalam Denzin & Lincoln. Hal tersebut dapat dilihat dari pandangan Schwandt (dalam Denzin & Lincoln. R.INTERPRETIVE. 1994: 119) mencoba menggambarkan secara lebih luas dan lebih mendalam tentang faham interpretive dan menyatakan bahwa interpretive merupakan ide yang berasal dari tradisi intelektual Jerman. the canvas of interpretivism is layered with ideas stemming from the German intellectual tradition of hermeneutics and the Verstehen tradition in sociology. tradisi Verstehen dalam sosiologi. HERMENEUTIK. Lough Isaiah Berlin). Tujuan ilmu pengetahuan alam adalah menjelaskan secara ilmiah (erklaren).g Peter Winch.” Selanjutnya Schwandt menjelaskan bahwa secara historis argumentasi pengikut faham interpretive bahwa interpretive digunakan untuk penelitian manusia yang bersifat unik. Kaum interpretive berpandangan bahwa ilmu pengetahuan mental (Geisteswissenschaften) atau ilmu pengetahuan budaya (Kulturwissenschaften) berbeda dengan ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften).

where as the goal of the former is the grasping or understanding (Verstehen) of the “meaning” of social phenomena. at least. Walaupun demikian istilah-istilah ini hanya memberikan arahan terhadap apa yang harus diperhatikan dalam penelitian tetapi tidak memberikan penjelasan. their particular meaning are shaped by the intent of their user. 1994: 119) sebagai berikut: “Historically. As general descriptors for a loosely coupled family of methodological and philosophical persuasions. 1954). interpretivists argued for the uniqueness of human inquiry. 58 . constructivism. interpretivist and interpretivism are terms that routenely appear in the lexicon of social science methodologists and philosophers. alternatif Konstruktivisme interpretivisme berfungsi memberikan penjelasan lain yang meyakinkan secara metodologi dan filosofi yang berpasangan.” Sebelum menjelaskan interpretive seperti tersebut di atas Schwandt menjelaskan bahwa istilah-istilah Konstruktivis. Konstruktivisme. these terms are best regarded as sentizing concepts (Blumer. Yet. They steer the interest reader in the general direction of where instances of particular kind of inquiry can be found. Hal tersebut dapat dilihat dalam pandangan Schwandt (dalam Denzin & Lincoln. They crafted various refutations of naturalistic interpretation of the social sciences (roughly the view that the aims and methods of the social sciences are identical to those of the natural sciences). Interpretivis dan Interpretivisme merupakan istilah-istilah yang sehari-hari dipergunakan dalam metodologi ilmu pengetahuan sosial dan oleh ahli-ahli filsafat. They held that the mental sciences (Geisteswissenschaften) or cultural sciences (Kulturwissenschaften) were different in kind than the natural sciences (Naturwissenschaften): The goal of the latter is scientific explanation (Erklaren). Arti dari istilah-istilah tersebut dan dibentuk oleh maksud para penggunanya.Hal tersebut dapat dilihat dari pandangan Schwandt (dalam Denzin & Lincoln. 1994: 118) sebagai berikut: “Constructivist. Istilah-istilah tersebut sangat tepat untuk disebut konsep yang peka.

Para anggota kepolisian itu menjelaskan kepada kerumunan orang itu mengenai apa yang mereka kerjakan. penulis akan mengutip uraian Spradley (1997: 5-6) dalam bukunya “The Etnographic Interview” yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Metode Etnografi” sebagai berikut: “Tiga orang anggota kepolisian yang sedang memberikan pijitan jantung dan bantuan oksigen kepada seorang wanita korban serangan jantung. yang keduanya juga merupakan metode analisis sebagai kritik terhadap aliran ilmu pengetahuan alam dan positivisme yang menggunakan logika emperisme. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa interpretive hanyalah merupakan metode analisis yang dipergunakan oleh kaum Konstruktivis untuk mendapatkan makna dari suatu fenomena. konstruktivisme merupakan paradigma. Konstruktivisme dan interpretivisme ini biasanya dipergunakan oleh ilmu pengetahuan mental (Geisteswissenschaften) dan ilmu pengetahuan budaya (Kulturwissenschaften).However they “merely suggest directions along which to look” rather than provide descriptions of what to see. Sedang menurut Guba dan Denzin & Lincoln. tetapi malah diserang oleh segerombolan yang terdiri atas 75 sampai 100 orang yang jelas-jelas tidak memahami upaya yang sedang dilakukan polisi. tetapi 59 . Berbeda dengan ilmu pengetahuan alam yang bertujuan memberikan penjelasan (erklaren) maka interpretive bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen). dan interpretivisme merupakan dua istilah yang dipahami secara berpasangan untuk mendapatkan makna dari suatu fenomena sosial. Dalam buku Paradigm Dialog karangan Guba. Untuk menjelaskan perbedaan fenomena dengan makna dibalik fenomena (noumenon). Anggota polisi lain menghadang gerombolan yang kebanyakan berbahasa Spanyol itu sampai sebuah ambulan datang. maupun Handbook of Qualitative Research karangan Denzin & Lincoln interpretivisme tidak disebut-sebut sebagai suatu paradigma. Hal ini telah dijelaskan secara memadai dalam Bab II. Dan dari penjelasan Schwandt pada alinea pertama di atas juga nyata/jelas bahwa interpretive juga digunakan oleh hermeneutik dan fenomenologi.” Dari penjelasan-penjelasan Schwandt tersebut dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme.

Selected Essays” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul: “Tafsir Kebudayaan”. 59 tahun. meninggal dunia. Kedua. Polisi berdasarkan kebudayaannya menginterpretasikan wanita itu mengalami gangguan jantung. Perilaku mengedipkan mata dapat memiliki makna yang berbeda-beda. Di sini anak yang mengedipkan matanya mempunyai makna adalah karena kedutan. Untuk memantapkan penjelasan bahwa suatu peristiwa atau fenomena yang sama dapat dimaknai secara berbeda. Disini anak melakukan 60 . Sedang gerombolan itu mengamati peristiwa yang sama tetapi dengan interpretasi yang berbeda.8) “The Interpretation of Cultures. sehingga perlu diselamatkan dengan memberikan pijitan jantung dan memberikan oksigen kepada wanita itu.” Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa walaupun menghadapi peristiwa atau fenomena yang sama yaitu seorang wanita yang mendapat serangan jantung. namun peristiwa tersebut diinterpretasikan sangat berbeda oleh kelompok masyarakat tadi dengan polisi. Gerombolan itu berdasarkan kebudayaannya menginterpretasikan tingkah laku polisi sebagai tindak kekerasan karena dipersepsikan memukul. Geertz memberikan contoh tentang anak yang mengedipkan mata. Meskipun upaya keras telah dilakukan oleh anggota polisi namun korban serangan jantung itu. penulis mencoba menambah contoh dengan mengutip contoh yang diberikan oleh Clifford Geertz (1992: 7 . anak yang mengedipkan mata hanya karena kedutan. sehingga perlu diselamatkan kemudian diberi bantuan oleh polisi. 2) Perbedaan interpretasi terhadap makna kejadian tersebut disebabkan latarbelakang budaya yang berbeda.kerumunan itu tetap beranggapan bahwa para anggota polisi itu memukul wanita tersebut. Pertama. dan gerombolan itu bertindak untuk menghentikan perbuatan polisi yang mereka pandang sebagai perbuatan jahat. Dari contoh peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1) Interpretasi terhadap makna kejadian antara polisi dan gerombolan sangat berbeda. Evangelica Echevacria. anak yang mengedipkan mata karena memberi isyarat.

melainkan sebuah ilmu yang bersifat interpretif untuk mencari makna.kedipan mata dengan sengaja untuk memberi isyarat. Menurut Geertz (1992: 6) untuk dapat memahami makna tersebut seseorang harus melakukan “thick description” (“lukisan mendalam”). Ketiga. Kesimpulan ini analog dengan pernyataan Geertz (1992: 5) sebagai berikut: “Dengan percaya pada Max Weber bahwa manusia adalah seekor binatang yang bergantung pada jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri. yang pada hakikatnya sama dengan melakukan interpretasi.” Gambar 17 : Clifford Geertz 61 . misalnya saat dimulainya suatu persekongkolan dengan sekelompok anak lain. anak mengedipkan mata karena sedang latihan atau melatih orang lain untuk bermain badut-badutan. dan analisis atasnya tidak merupakan ilmu eksperimental untuk mencari hukum. Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa perilaku yang sama yaitu mengedipkan mata ternyata dapat mengandung makna yang berbeda-beda. saya menganggap kebudayaan sebagai jaringan-jaringan itu.

Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan penafsiran atau interpretasi. Secara etimologis. Kalau demikian apa bedanya antara interpretive dengan hermeneutik? Untuk itu akan dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan hermeneutik. yaitu utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan dewa Jupiter kepada manusia. Telah dijelaskan di atas (pada Bab II) bahwa interpertive. 1969: 3 dalam Sumaryono. hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai “proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti”.b. 62 . hermeneutik maupun fenomenologi merupakan metode analisis yang mempunyai tujuan yang sama yakni mencari pemahaman yang mendalam (verstehen) atau dengan kata lain mencari makna di balik fenomena. Oleh karena itu fungsi Hermes sangat penting karena apabila terjadi kesalahpahaman tentang pesanpesan dewa-dewa akan berakibat fatal bagi seluruh umat manusia. Cara yang dilakukan adalah melakukan interpretasi terhadap suatu fenomena. baik hermeneutik dalam pandangan klasik maupun dalam pandangan modern (Palmer. Hermeneutik Berikut akan dijelaskan pengertian Hermeneutik serta fungsi dan statusnya dalam ilmu pengetahuan kemanusiaan (Geisteswissenschaften) dan ilmu pengetahuan budaya (Kulturwissenschaften). Berhasil tidaknya misi itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan (Sumaryono. 1993: 24). Istilah Yunani ini mengingatkan pada tokoh mitologis yang bernama Hermes. Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Batasan umum ini selalu dianggap benar. Hermes harus mampu menginterpretasikan pesan dewa-dewa ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh para pendengarnya. Sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu. Oleh karena itu. 1993: 24). kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan.

dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan. . Pada masa itu Aristoteles sudah menaruh minat terhadap interpretasi. Bahasa sebagai sarana komunikasi antara individu dapat juga tidak berarti sejauh orang yang satu berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. 16. Yaitu: bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita. I. tidak ada satu pun manusia yang mempunyai baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan yang sama dengan lain. Menurut Aristoteles. a. Akan tetapi pengalaman-pengalaman mentalnya yang disimbolkannya secara langsung itu adalah sama untuk semua orang sebagaimana 1993: 24).Gambar 18 : Hermes dalam Mitologi Yunani Hermeneutik dalam pandangan klasik akan mengingatkan kepada apa yang ditulis oleh Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione. 5 dalam Sumaryono. Sebagaimana seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulisan dengan orang lain. Bahkan pengalihan arti dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain juga dapat menimbulkan banyak 63 juga pengalaman-pengalaman imajinasi kita untuk menggambarkan sesuatu (De Interpretatione. maka demikian pula ia tidak mempunyai kesamaan bahasa ucapan dengan orang lain.

Begitu pula walaupun mempunyai pengalaman mental yang sama seperti sakit. rindu dan lain-lain. Demikian pula dalam berkomunikasi. tetapi pengungkapan dalam bahasa baik bahasa tulisan maupun lisan berbeda. kecewa. Apabila kita menuliskan pengalaman kita. misalnya susah. belum tentu mereka memiliki pemahaman yang sama. Kita memahami sesuatu dan menginterpretasikan sesuatu 64 . walaupun mereka berkomunikasi dalam bahasa yang sama. Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa walaupun manusia mempunyai pengalaman mental yang sama. maka kata-kata yang kita ucapkan pada dasarnya lebih sempit bila dibandingkan dengan buah pikiran atau pengalaman kita. Kita sering mengungkapkan pengalaman mental ke dalam katakata atau ungkapan yang biasa dipakai orang pada umumnya.problem. Sebuah pengalaman mental atau sebuah konsep mempunyai nuansa yang kaya dan beranekaragam. kita tidak berusaha mengungkapkan dengan kata-kata yang lebih baik dan lebih jelas. Bahkan dalam pengalihan bahasa (penerjemahan) dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain dapat menimbulkan banyak persoalan. kita berbicara dan menulis dengan bahasa. 1993: 24). Manusia menyampaikan hasil pemikirannya melalui bahasa. bangga. Manusia juga mempunyai cara menulis yang berbeda-beda. ekspresi lisan orang yang satu dengan orang lain tidak sama. Apabila kita berbicara. Pengungkapan pengalaman mental ke dalam kata-kata yang diucapkan atau ditulis ke dalam kata-kata yang diucapkan atau ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk mengerut atau menyempit. maka katakata yang tertulis. simpati. Orang pada umumnya mengungkapkan kesedihan atau kegembiraan sebagaimana orang biasanya berbuat. Kesulitan itu akan muncul lebih banyak lagi jika manusia saling mengomunikasikan gagasan-gagasan mereka dalam bahasa tertulis (Sumaryono. Tetapi kekayaan dan keanekaragaman nuansa tersebut tidak dapat tercakup seluruhnya dalam sebuah kata yang diucapkan atau ekspresi yang diperlihatkan. juga menjadi lebih sempit artinya. gembira. Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Mereka pada umumnya tidak mengungkapkan nuansa-nuansa dan corak khusus dari pengalamannya sendiri yang bersifat pribadi. benci.

kitab-kitab Veda. dalam / berkenaan dengan pengetahuan manusia terdapat dua hal yang pokok yaitu subjek yang ingin mengetahui dan objek yang akan diketahui. kitab Taurat.”. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi Ilahi seperti Al-Quran. agar makna yang kita tangkap sesuai dengan makna yang dimaksud oleh penulisnya. objek tidak 65 . dan lain-lain. akan diuraikan lebih dulu pengertian Fenomenologi. Fenomenologi 1) Pengertian Fenomenologi Sebelum diuraikan Fenomenologi sebagai metoda analisis dalam Penelitian Kualitatif. surat dan lain-lain. sebaliknya objek harus terbuka kepada subjek agar dapat pula diketahui sebagaiman adanya. subjek harus terarah pada objek agar dapat diketahui sebagaimana adanya. majalah.melalui bahasa. Keduanya harus ada. keduanya merupakan satu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia. Begitu pula mengapresiasi sesuatu seni dengan bahasa. Subjek dan objek ini dapat dibedakan secara jelas dan tegas. atau mengungkapkan kekaguman karya seni dengan bahasa. tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pendapat ini juga sejalan dengan pendapat Merleau Ponty (dalam Bertens. dokumen. Hermeneutik membantu kita untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam bahasa yang tertulis dalam buku. Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. dan Upanishad supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik (Sumaryono. Oleh karena itu menurut Husserl agar terwujud pengetahuan. c. Berdasarkan faham Fenomenologi. Kalau tidak. Yang satu tidak pernah ada tanpa yang lain….. keduanya niscaya ada. Oleh Sonny Keraf dan Mikhael Dua (2001: 19) dinyatakan: “Supaya ada pengetahuan. 1985: 345) yang menyatakan: “Ia (fenomenologi) sangat menekankan hubungan dialektis antara subjek dan dunianya: tidak ada subjek tanpa dunia dan tidak ada dunia tanpa subjek”. 1993: 28). Di sini perlu dipahami bahwa keterarahan subjek kepada objek hanya akan menghasilkan pengetahuan apabila subjek yaitu manusia memiliki kesamaan-kesamaan dengan objek yang diamati.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hanya melalui dan berkat unsur jasmaninya manusia dapat mengetahui objek yang berada di sekitarnya. Seorang fenomenolog hendaknya menanggalkan segenap teori. melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya.mungkin dapat diketahui. 1988: 105). jasmani. Fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859 – 1938) merupakan metoda untuk menjelaskan fenomena dalam kemurniannya. Selanjutnya dikatakan yang penting ialah pengembangan suatu metoda yang tidak memalsukan fenomena. Tetapi manusia tidak hanya memiliki tubuh jasmani. inderawi. yang berupa gagasan maupun berupa kenyataan (Husserl dalam Delfgaauw. Barang yang tampil sebagaimana adanya dalam kesadaran itulah fenomena (Husserl dalam Delfgaauw. Dengan kata lain pengetahuan itu hanya mungkin terwujud apabila manusia itu sendiri memiliki kesamaan dengan objek sebagai realitas di alam semesta ini. objek akan berlalu begitu saja. 1988: 105). melainkan juga memiliki jiwa atau dalam hal ini akal budinya sehingga mampu mengangkat pengetahuan yang bersifat temporal. Usaha kembali kepada fenomena ini memerlukan pedoman metodik. Pada tingkat ini pengetahuan manusia dianggap bersifat temporal. Ini berarti manusia berkat akal budinya tidak hanya dapat mengetahui pengetahuan yang kongkret yang ditangkap melalui pengamatan indera tetapi dimungkinkan mencapai pengetahuan yang abstrak dan universal yang berlaku umum bagi objek apa saja pada tempat dan waktu mana pun. pranggapan serta prasangka. Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata. jasmani-inderawi ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi yaitu tingkat abstrak dan universal. agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya. Fenomena adalah segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran manusia. kongkret. Untuk tujuan itu fenomenolog hendaknya memusatkan perhatiannya kepada fenomena tersebut tanpa disertai prasangka sama sekali. Memahami fenomena sebagaimana adanya merupakan usaha kembali kepada barangnya sebagaimana penampilannya dalam kesadaran. kongkret. Tanpa itu manusia tidak mampu mengetahui dunia dan segala isinya. Tidak mungkin untuk melukiskan fenomena-fenomena sampai pada hal-hal 66 .

agar hakekat ini dapat mengungkapkan diri sendiri. Tujuannya ialah agar kembali ke barangnya/bendanya sendiri sebagaimana mereka tampil kepada kita dan mengesampingkan atau mengurung apa yang telah kita ketahui tentang mereka. lebih dari pernyataaan abstrak tentang kealamiahan dunia secara umum. Fenomenologi menekankan fenomena yang tampil dalam kesadaran kita ketika kita berhadapan dengan dunia sekeliling kita (“Transendental phenomenologi. karena pada hakekatnya bersifat intensional. pada waktu khusus. Pengamatan serta pemahaman. melainkan intuisi mengenai hakekat sesuatu (Husserl dalam Delfgaauw. Melalui kedua macam reduksi ini dapat dicapai kesadaran transendental. Yang demikian bukan suatu abstraksi. Metoda tersebut disebut reduksi fenomenologik atau epoche (Husserl dalam Delfgaauw. terarah kepada sesuatu. Sedang Calra Willig (1999: 51) menjelaskan bahwa Fenomenologi Transendental yang diformulasikan oleh Husserl pada permulaan abad ke 20 menekankan dunia yang menampilkan dirinya sendiri kepada kita sebagai manusia. sedangkan kesadaran terhadap pengalaman emperik sebetulnya hanya merupakan bentuk pengungkapan satu demi satu dari kesadaran transendental. Yang pokok adalah menangkap hakekat fenomena-fenomena. Dengan kata lain fenomenologi tertarik pada dunia seperti yang dialami manusia dengan konteks khusus. Hanya dengan melakukan analisis mengenai intensionalitas ini kesadaran itu dapat ditemukan.yang khusus satu demi satu. hasrat serta upaya. as formulated by Husserl in the early 67 . Penyekatan dunia luar ini memerlukan metoda yang khas. Untuk itu seorang fenomenolog harus sangat cermat “menempatkan diantara tanda kurung” kenyataan dunia luar agar fenomena ini hanya tampil dalam kesadaran. 1988: 105). Selanjutnya dijelaskan bahwa kesadaran tidak pernah sacara langsung terjangkau sebagaiman adanya. Reduksi tersebut terdiri dari 2 (dua) macam. semuanya senantiasa bersifat intensional. dan reduksi transendental yang menempatkan dalam “tanda kurung” setiap hubungan antara fenomena dengan dunia luar. yaitu reduksi eidetik yang memperlihatkan hakekat (eidos) dalam fenomena. pembayangan serta penggambaran. Oleh karena itu metoda tersebut harus dapat menyisihkan hal-hal yang tidak hakiki. 1988: 106). artinya terarah pada sesuatu yang bukan merupakan kesadaran itu sendiri.

dan manifestasinya seperti ini atau itu membentuk realitasnya pada suatu saat manapun. penilaian. emosi. tidak masuk akal untuk berpikir/berpendapat bahwa dunia objek dan subjek terpisah dari pengalaman kita. Sebaliknya persepsi selalu bersifat intensional. it makes no sense to think of the world of objects and subjects as separate from our experience of it. as they appear to us perceivers. In other words. Ini dikarenakan seluruh objek dan subjek pasti hadir kepada kita sebagai sesuatu. Phenomenology is concerned with the phenomena that appear in our consciousness as we engage with the world around us”). and their manifestation as this or that something constitutes their reality at any one 68 . Ini berarti bahwa “diri dan dunia merupakan komponen-komponen makna yang tidak dapat dipisahkan” (Moustakas. dan terpenting. is concerned with the world as it presents itself to us as humans. Fenomenologi mengidentifikasikan strategi-strategi yang dapat membantu putusan memokuskan diri “di mana letak kemurnian fenomenologi” (Husserl. Penampilan suatu objek sebagai fenomena perseptual bervariasi menurut lokasi dan konteks.twentieth century. sebagai sesuatu yang dipikirkan sesudah persepsi. orientasi mental dari subjek (misalnya hasrat. rather than in abstract statements about the nature of the world in general. kebijakan. that which we (think) we already know about them. Akan tetapi pada waktu yang sama fenomenologi transendental mengakui bahwa persepsi kurang lebih dapat menyatu dengan ide-ide atau keputusan-keputusan. or bracket. Its aim was to return to things themselves. berpikir. dan memantulkan apa yang kita bawa serta pada aktivitas persepsi dengan merasa. segi pandang subjek. phenomenology is interested in the world as it is experienced by human beings within particular contexts and at particular times. oleh karena itu merupakan unsur konstitutif pengalaman itu sendiri. mengingat dan memutuskan. 1999: 51) (“According to a phenomenological perspective. This is because all objects and subjects must present themselves to us as something. Inilah yang disebut intensionalitas. maksud dan tujuan). 1931: 262). Hal ini merupakan implikasi metodologi fenomenologi (Willig. and to set aside. Intensionalitas membiarkan objek menampakan diri sebagai fenomena. Di sini makna bukan merupakan sesuatu yang ditambahkan pada persepsi. Menurut perspektif fenomenologi. 1994: 28).

q. Pengetahuan yang berasal dari cara ini akan bebas dari penjelasan akal sehat dan ilmiah dan interpretasi-interpretasi atau abstraksi-abstraksi yang menjadi ciri pemahaman yang lain. instead. wishes. perception is always intentional and therefore constitutive of experience itself. Husserl suggested that it was possible to transcend presuppositions and biases and to experience a state of pre-reflective consciousness. meaning is not something that is added on to perception as an afterthought. This takes us on to the methodological implications of phenomenology (Willig. Pengetahuan seperti itu akan menjadi suatu pengetahuan tentang dunia sebagai ia menampakkan kepada kita dalam hubungan kita dengannya. However. at the same time. It identifies strategies that can help us to focus on “ that which lies before one in phenomenological purity” (Husserl. the perceiver’s mental oriention (e. (“The phenomenological method of deriving forms a central part of transcendental phenomenology. dan mengalami suatu keadaan kesadaran yang belum direfleksikan. Husserl menyatakan adalah mungkin mentransendensikan prasangka dan bias. Husserl mengidentifikasikan serangkaian tahap akan membantu filsof dari persepsi segar tentang fenomena yang dikenal ke upaya menggali ciri khusus fenomena. and to reflect on that which we bring to the act of perception through feeling. desires. This means that “self and world are inseparable components of meaning” (Moustakas 1994: 28). This is referred to as intentionality. Here. Intentionality allows objects to appear as phenomena. yang memungkinkan kita menggambarkan fenomena sebagai mana mereka yang menampakkan dirinya sendiri kepada kita. membentuk bagian sentral yang disebut fenomenologi transendental. The appearance of an object as a perceptual phenomenon varies depending upon the perceiver’s location and context. transcendental phenomenology acknowledeges that perception can be more or less infused with ideas and judgements. aims and purposes). remembering and judging. 1999:51). 2) Metode Fenomenologi Metode fenomenologi derivasi (diturunkan dari asalnya) fenomenologi. judgements. emotions. 1931: 262). angle of perception and importanly.time. thingking. which allows us to describe phenomena as they 69 .

Variasi imajinatif meliputi usaha mencapai susunan komponen struktural fenomena yaitu apabila reduksi fenomenologi bertalian dengan “apa” yang dialami (yakni teksturnya). Epoche requires the suspension of presuppositions and assumptions. warna. reduction (“The and phenomenological method of gaining understanding involves three distinct contemplation: phenomenological imaginative variation (for a detailed account of these. tentang esensi fenomena. see Moustakas 1994). Tujuan variasi imajinasi adalah mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang berhubungan dengan fenomena dan tanpa kondisi-kondisi tersebut tidak mungkin fenomena itu akan menjadi sebagaimana adanya. Kondisi ini dapat meliputi waktu. 1999: 52). variasi imajinatif menanyakan “bagaimana” pengalaman itu mungkin (yaitu strukturnya). ruang atau hubunganhubungan sosial. It would be a knowledge of the world as it appears to us in our engagement with it” (Willig. reduksi fenomenologi dan variasi imajinatif. Knowledge derived in this way would be free from the common-sense notions. Husserl identified a series of steps that would take the philosopher from a fresh perception of familiar phenomena to the extraction of the essences that give the phenomena their unique character. Epoche mensyaratkan penundaan perkiraan dan asumsi. Dengan kata lain kita menjadi sadar tentang pengalaman seperti adanya. Melalui reduksi fenomenologi kita mengidentifikasi unsur-unsur hakiki pengalaman kita akan fenomena. Pada tahap reduksi fenomenologi kita menggambarkan fenomena yang menampakkan dirinya kepada kita secara total/utuh. Penggambaran itu juga meliputi ciri-ciri fisik seperti bentuk. Akhirnya gambaran tekstural dan struktural diintegrasikan untuk phases sampai of pada pemahaman ephoce. ukuran. 70 . scientific explanations and other interpretations or abstractions that characterize most other forms of understanding.present themselves to us. dan juga ciri-ciri pengalaman seperti pemikiran dan perasaan yang muncul dalam kesadaran kita ketika kita mengarah ke fenomena. Selanjutnya dijelaskan bahwa metoda fenomenologi dalam memperoleh pengertian meliputi 3 (tiga) fase perenungan yang membedakan yaitu: epoche. penilaian dan interprestasi untuk memungkinkan kita menyadari secara penuh keberadaan apa yang nyata.

colour and texture. berusaha menangkap keragaman kualitatif dari pengalamanpengalaman mereka dan mengungkapkan makna-makna yang esensiil pengalaman-pengalaman tersebut. its structure). we identify the constituens of our experience of the phenomenon. That is. textural and structural descriptions are integrated to arrive at an understanding of the essence of the phenomenon”) (Willig.e. Hal ini disebabkan fenomenologi memfokuskan diri pada isi kesadaran dan pengalaman individu tentang dunia. rekomendasi metodologinya telah terbukti menarik minat peneliti ilmu pengetahuan sosial umumnya dan psikologi khususnya.judgements and interpretations to allow ourselves to become fully aware of what is actually before us. its methodological recommendations have 71 . In other words. berusaha menjelaskan secara detail isi dan kesadaran subjek. space or social relationships. as well as experiential features such as the thought and feelings that appear in our consiousness as we attend to the phenomenon. Imaginative variation involves an attempt to access the structural components of the phenomenon. 3) Fenomenologi dan Psikologi Menurut Willig (1999: 52) meskipun fenomenologi transcendental dipahami sebagai sistem pemikiran filsafat. we become aware of what makes the experience what it is. imaginative variation asks “how” this experience is made possible (i. 1999: 52). Finally. its texture). (“Even though transcendental phenomenology was conceived as a philosophical system of thought. size. while phenomenological reduction is concerned with “what”is experienced (i. Fenomenologi mempelajari perspektif subjek tentang dunianya. This could involve time.e. seperti yang dinyatakan oleh Kvale (1996 b: 53) sebagai berikut: Fenomenologi berminat menguraikan apa yang nampak maupun cara bagaimana sesuatu itu menampakkan diri. In phenomenological reduction we describe the phenomenon that present itself to us it in totality. The aim of imaginative variation is to identify the conditions associated with the phenomenon and whitout which it would not be what it is. Through phenomenological reduction. This includes physical features such as shape.

“angry” (Stevick 1971). Inilah alasan lain mengapa fenomenologi merupakan pendekatan yang menarik bagi peneliti-peneliti psikologi. It studies the subjects perspectives of their word. 1999:52-53). Georgi et al 1975). Selanjutnya dijelaskan: Penelitian fenomenologi empiris dalam psikologi telah dirintis dan diaplikasikan secara ekstentif di Universitas Duquesne di Amerika Serikat (lihat Van Kaam 1959. “being victimized” (Fisher and Wentz 1979). “amarah” (Stevick 1971). Akan tetapi terdapat perbedaan dalam fokus dan penekanan antara fenomenologi transcendental dan penggunaan metoda fenomenologi dalam psikologi. 1985). Kenyataanya pengalaman manusia dapat dianalisis secara fenomenologis. Topik-topik penelitian fenomenologi meliputi: “pemahaman perasaan” (Van Kaam 1959). “jadi korban” (Fisher dan Wertz. This is another reason why this approach appeals to psychological researchers. However. Topics of phenomenological investigation included “feeling understood” (Van Kaam 1959). This is because phenomenology focuses upon the content of consciousness and individual’s experience of the word as Kvale (1996 b:53) put it: Phenomenology is interested in elucidating both that which appears and the manner in which it appears. “learning” (Georgi 1975. there are differences in focus and emphasis between transcendental phenomenology and the use of the phenomenological method in psychology (Willig. In fact. 1994. any human experience can be subjected to phenomenological analysis. (“Empirical phenomenonlogical research in psychology was pioneered and applied extensively at Duquesne University in the USA (see Van Kaam 1959. 1994. attempts to describe in detail the content and structure of the subjects consciouness. Georgi 1970. Georgi et al. 1985). dan banyak fenomena yang lain dari pengalaman manusia. Georgi 1970. 1994. Spinelli (1989) menunjukan bahwa psikologi fenomenologi lebih memperhatikan keberagaman dan variasi pengalaman manusia daripada 72 . and many other phenomena of human experience. to grasp the qualitative diversity of their experiences and to explicate their essential meanings.proved to be of interest to researchers in the social sciences in general and psychology in particular. 1990. 1979). “belajar” (Georgi 1975. 1975).

Finally. Dalam penelitian psikologi fenomenologis laporan pengalaman terlibat dijadikan fenomena yang dianalisis oleh peneliti. it is important to differentiate between phenomenological contemplation of an object or event as it present it self to the researcher. The former requires introspective attention to one’s own experience. Tambahan pula penelitian-penelitian fenomenologi dalam psikologi. usaha memberi tanda kurung pada fenomena. if any. few. jika ada mengklaim bahwa tidak mungkin “menyingkirkan” seluruh prasangka dan bias dalam suatu perenungan tentang suatu fenomena. 10). In phenomenological psychological research. Agaknya. hanya untuk memungkinkan peneliti melakukan pengujian secara kritis atas cara biasa untuk mengetahui sesuatu. and phenomenological analysis of an account of a particular experience as presented by a research participant. 1999: 53). dan analisis fenomenologi atas laporan pengalaman khusus seperti yang disampaikan oleh peneliti terlibat. where as the latter an attempt to “get inside” someone else’s experience on the basis of their description of it. Rather the attempt to bracket the phenomenon allows the researchers to engage in a critical examination of his or her customary ways of knowing (about) it (see reflexity. sementara analisis terhadap laporan pengalaman terlibat merupakan upaya “masuk ke dalam” pengalaman orang lain atas dasar deskripsi mereka tentang pengalamannya. phenomenological researchers in psychology would claim that it is possible to suspend all presuppotions and biases in one’s contemplation of a phenomenon. Perenungan fenomenologis menuntut (mensyaratkan) intropeksi oleh seseorang terhadap pengalamannya sendiri. 73 . Akhirnya sangat penting untuk melakukan pembedaan antara perenungan fenomenologi tentang suatu objek atau kejadian sebagaimana ia menampakan diri kepada peneliti. p. (“Spinelli (1989) pointed out that phenomenological psychology is more concerned with the diversity and variability of human experience than with the identification of essences in Husserl’s sense. In addition. the research participotion’s account becomes the phenomenon with which the researcher engages”) (Willig.mengidentifikasi esensi-esensi dalam pengertian Husserl.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful