Bab 13 Fitnah Politik Gus Dur Melecehkan Ummat Islam Maluku (1) 13-01 Kebijakan Pemerintahan Gus Dur 13-02 Penyelesaian Lewat

Jalur Hukum dan Politik 13-03 Muslim Dibantai, Gus Dur Tak Berpihak 13-04 Ambon Berdarah dan Anak Emas Bab 13-01 Kebijakan Pemerintahan Gus Dur Sejak terjadinya gerakan reformasi di Indonesia, telah jatuh 2 Pemerintahan yaitu Orde Baru di bawah rezim Soeharto dan Pemerin-tahan transisi di bawah BJ. Habibie. Terbentuklah kini Pemerintahan baru di bawah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui proses Pemilihan Umum pada Juni 1999. Karena itu Pemerintahan ini dipandang lebih kuat dengan legitimasi yang diakui semua pihak termasuk manca negara. Bila 2 pemerintahan yang lalu sangat disibukkan oleh berbagai perma-salahan perekonomian, politik dan keamanan yang mengancam kesela-matan bangsa dan negara tidak mampu diatasi dengan baik karena legitimasinya. Kini Pemerintahan Gus Dur telah berhasil mengatasai berbagai gejolak tersebut walau hasilnya belum memadai, tetapi kete-nangan di bidang politik dan kemananan telah tampak sedangkan di bidang perekonomian telah tampak adanya peluang membaik. Karena itu diharapkan adanya perhatian yang sungguh-sungguh dari Gus Dur untuk menangani kasus Ambon/Maluku,terutama menyangkut bagaimana konflik fisik yang berkepanjangan ini dapat dihentikan, hukum dapat di tegakkan serta akibat berat yang menimpa kedua belah pihak yang berperang dapat diatasi secara bertahap menurut cara yang benar dalam pengertian kerugian ummat Islam sebagai pihak yang di dzalimi harus mendapatkan perhatian khusus karena besarnya permasalahan yang ditimbulkan merupakan bekas mereka. Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh Presiden dirasakan belum memadai, bahkan sebaliknya merugikan ummat Islam. 1) Penunjukkan wakil Presiden Mega Wati unutk menangani kasus Ambon yang kemudian menunjuk lagi Prof. Dr Selo Sumardji sebagai penasehat Wapres untuk kasus Ambon. Ummat Islam pesimis akan mendapatkan perlakuan yang adil dengan penyelesaian yang tuntas. Megawati Sukarno Putri yang ketua umum DPP PDI.P dua periode tidak populer dikalangan ummat Islam sebab penabatannya sebagai Ina Ratu (Ibu Raja) oleh DPP PDI.P Maluku berdampak membesar-besarkan peranan megawati terhadap PDI.P Maluku padahal PDI.P Maluku bukan ex PNI tetapi mereka ex Parkindo dan ex Partai Katolik yang pribadipribadinya berperang dengan ummat Islam. 2) Kedatangan Presiden Gus Dur dengan Wapres Megawati bersama para menteri dan rombongan besar pada tanggal 12 Desember 1999 ke Ambon untuk menyelesaikan kasus

Ambon/Maluku ternyata mengeluarkan pernyataan yang sangat mengagetkan ummat Islam yaitu menyerahkan penyelesaian konflik kepada masyarakat Ambon/Maluku sendiri, Pemerintah Pusat hanya akan memberikan dorongan. Kerusuhan yang tidak kunjung berhasil diatasi selama 1 tahun ini oleh masyarakat Ambon/Maluku, kini justru diserahkan kembali untuk diselesaikan sendiri. Presiden seperti tidak berminat mengatasi konflik yang berlatar belakang agama ini. Apakah Presiden tak punya keberanian untuk menjatuhkan vonis bersalah kepada pihak Kristen yang nyata-nyata mendzalimi ummat Islam? 3) Aktivitas langkah-langkah F.PDI.P dan DPR RI ketika secara khusus ke Ambon untuk mencarikan model solusi sebagai saran kepada Wapres jelas berbau kepentingan PDI-P. Sedangkan mereka tidak pernah menghubungi pihak Islam selama di Ambon. Dikhawatirkan Wapres akan mendapat informasi keliru yang merugikan pihak Islam yang akhirnya kebijaksanaan Wapres sebagai yang diberi tugas khusus oleh Presiden akan menentukan kebijaksa-naan yang jauh dari harapan ummat Islam. 4) Pernyataan Gus Dur setelah kembali dari kunjungan dari beberapa negara Eropa diantaranya ke Negeri Belanda menyatakan bahwa RMS seperti yang kita kenal sudah tidak ada, yang RMS sekarang adalah organisasi Kemanusian, karena itu bantuan mereka untuk Maluku akan kita terima. Pernyataan ini sekali lagi telah mengaburkan duduk permasalahan RMS yang dalam kerusuhan Ambon ini telah berperan aktif sebagai otak dan penggerak kerusuhan justru diselamatkan oleh Gus Dur. Pernyataan itu, sadar ataupun tidak, telah mendukung aktifitas pihak Krisrten dan sekali lagi ummat Islam dikecewakan. 5) Telah turun ke Ambon panitia kerja DPR (Parja DPR) untuk Maluku ternyata sampai saat ini belum mengeluarkan sesuatu pendapat. 6) KPP HAM yang sengaja dibentuk untuk mencari penyelesaian yang di pimpin Bambang Suharto yang telah bekerja di lapangan cukup lama dan pasti menemukan penyebab dan siapa yang bersalah ternya-ta belum membuat suatu laporan yang transparan untuk diketahui masyarakat. Pihak yang bersalah terkesan dilindungi, hal seperti ini justru akan mempersulit penyelesaian. 7) Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela yang telah empat kali diberitakan positif akan diganti ternyata pada kali terakhir yang sudah begitu santer tidak jadi dibatalkan bahkan yang tergeser Letjen TNI Suadi Ramabesi Kasum ABRI yang dalam penanganan kasus Ambon/Maluku ini telah memiliki konsep yang arahnya membong-kar RMS yang terlibat. Penggantian ini oleh ummat Islam dikaitkan dengan pernyataan Gus Dur bahwa RMS sudah tidak ada lagi serta peran Megawati sebagai pemegang proyek Maluku yang meminta agar tidak ada pergantian pejabat di Maluku. Sampai hari ini tidak jelas arah penanganan kasus Maluku, tetap pada pendapat bahwa yang terjadi ini adalah konflik horisontal tidak melibatkan RMS. Pendapat seperti itu terlihat tidak ada upaya untuk mengejar RMS sebagai organisasi yang

mengendalikan kerusuhan. Kerusuhan ini musta-hil berjalan tanpa direncanakan dan dilaksanakan oleh suatu organisasi apapun namanya. Akibat kebijaksanaan seperti itu tidak tampak kelanjutan dari segala upaya yang telah dilakukan oleh Gus Dur. Bab 13-02 Penyelesaian Lewat Jalur Hukum dan Politik Dalam situasi yang mulai tenang dicanangkan untuk dimulai proses rekonsiliasi yang bentuknya belum jelas, apakah rekonsiliasi akan dilaku-kan dalam bentuk maaf-maafan, tanpa adanya sanksi yang jelas bagi pihak yang bersalah? Kalau demikian, jelas persoalannya belum selesai, kemungkinan terulang di waktu lain sangat besar, sebab permasalahan-nya terus ditutup-tutupi sementara ada pihak yang diselamatkan. Karena itu ummat Islam memasalahkan bentuk rekonsiliasi seperti itu. Ummat Islam akan tetap menuntut Presiden Abdurrahman Wahid untuk lebih adil tidak melindungi pihak Kristen dengan menggelar peradilan yang transparan untuk membongkar keseluruhan permasalahan perang aga-ma ini sampai keakar-akarnya dan menindak para aktor intelektual dengan mereka yang terlibat agar bencana terhadap ummat Islam di waktu yang menjadi hilang. Sikap presiden Gus Dur dalam menangani konflik Maluku, kian lama semakin memprihatinkan ummat Islam. Lebih-lebih setelah ia menge- mukakan pernyataan saat membuka seminar “Internasional untuk men-cari bentuk ideal negara Indonesia masa depan”di Istana Negara selasa tanggal 28 - 3 - 2000. Diberitakan oleh harian Republika terbitan tanggal 29 - 3- 2000 bahwa Gus Dur menyatakan bahwa di mata dia, konflik dan kerusuhan di Maluku berawal dari ketidak adilan pemerintah sebe-lumnya (era Suharto) dalam memperlakukan ummat Kristen. Masa sepuluh tahun terakhir pemerintah lalu telah memberikan perlakuan istimewa sekaligus anak emas (golden boy) bagi masyarakat Islam di Maluku, mengakibatkan keseimbangan terganggu. Termasuk 38 jabatan penting di propinsi tersebut yang sebelumnya di bagi antara Muslim dan kristen, kemudian diserahkan kepada Muslim semuanya, pihak Kristan merasa sempat terganggu, ketika masyarakat Kristen memprotes, peme-rintah lokal dan pusat memutuskan untuk melindas protes tersebut, Konflik menjadi begitu besar. Dan karena militan muslim yang diperlaku-kan sebagai golden boy, maka menyerbulah mereka ke perkampungan Kristen sehingga eskalasi pun terjadi antara militan kristen dan muslim. Pernyataan presiden yang begitu ngawur membuat ummat Islam amat prihatin, karena apa yang disampaikan itu merupakan pemutar balikan fakta secara tidak bermoral, terutama oleh mereka yang membi-sikkan ke kuping Gus Dur. Keadaan menjadi terbalik 180 derajad bila ummat Islam di anak emaskan, apalagi menyerang ke perkampungan Kristen. Mengapa Gus Dur berat sebelah dan bersikap diskriminatif, lebih percaya pada cerita pihak Kristen yang selalu berbohong secara terang-terangan? Gus Dur secara khusus telah ke Ambon untuk mengetahui kasus ini, wakil presiden telah ditunjuk untuk menangani kasus kerusuhan Ambon. Ada panja DPR dan KPP HAM juga telah datang ke Ambon. Mengapa informasi dari pihak Kristen lebih dipercaya ?

Ummat Islam menuntut penyelesaian lewat jalur hukum, tetapi enggan dilakukan. Sikap presiden yang seperti itu , mungkinkah proses hukum dapat berlangsung secara adil? Apakah tidak akan ada intervensi dari presiden yang mempengaruhi jalannya proses peradilan, sehingga yang salah dibenarkan dan sebaliknya, ummat Islam yang tidak bersalah harus menelan kepahitan karena di nyatakan bersalah. Jika demikian halnya, apa yang dapat diharapkan dari Gus Dur sebagai presiden dengan legitimasi kuat? Semua kekhawatiran ini akan terus mengganggu benak kaum muslimin, terutama saat-saat upaya rekonsiliasi sedang digalakkan sekarang ini q TIDAK semua orang punya bakat besar yang mampu berperan ganda seperti Gus Dur. Terutama dalam hal memainkan karakter sebagai muslim, sekaligus memusuhi Islam dan ummat Islam. Di masa Rasulullah SAW karakter tersebut bisa kita temui pada sosok Abdullah bin Ubai. Dan pada dunia internet, karakter seperti itu bisa kita temui pada sosok Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo, Hasan Basri alias Proletar serta Edizal. Bakat besar Gus Dur, sudah muncul ketika ia masih belum jadi “apa-apa”, ketika ia masih menjadi salah satu kader NU (Nahdlatul Ulama). Ketika pembantaian terhadap ummat Islam di Tanjung Priok, 12 September 1984, Gus Dur muda justru menunjukkan keberpihakan- nya kepada Beny Moerdani (Panglima ABRI kala itu), dan menemani Beny ke berbagai pesantren, untuk meyakinkan para Kyai pesantren bahwa peristiwa Tanjung Priok bukanlah peristiwa pembantaian terha-dap ummat Islam, namun hanya kesalahan prosedur biasa. Bab 13-03 Muslim Dibantai, Gus Dur Tak Berpihak Karakter seperti itu terus hidup hingga kini. Ketika awal bencana pembantaian ummat Islam di Ambon pertama kali berlangsung, 19 Januari 1999, yang kemudian dikenal dengan istilah Idul Fitri Berdarah, ketika itu Gus Dur belum menjabat Presiden, ia sama sekali tidak menunjukkan simpati dan empatinya kepada korban, justru mencari-cari kambing hitam dengan menyebutkan “Brigjen K” sebagai provokator, kemudian diralat-nya menjadi “Mayjen K” sebagai provokator bencana Ambon tersebut. Ketika kasus pembantaian warga Muslim meledak akhir Desember 1999 lalu di Tobelo, Galela, Jailolo, Sahu dan Loloda (Pulau Halmahera Utara, Maluku Utara), dan menyebabkan ribuan nyawa orang-orang Islam melayang, Gus Dur sebagai Presiden RI justru mengatakan bahwa korban dari bencana itu cuma lima orang. Sebuah pernyataan yang sangat riskan dan tidak bertanggung jawab. Apalagi terbukti kemudian, Max Tamaela (Pangdam Pattimura, yang dijuluki sebagai algojo pembantai Muslim) akhirnya terpaksa mengakui, terdapat lebih dari tujuh ratus nyawa melayang dari bencana tersebut, dan hampir seluruhnya adalah ummat Islam. Mengenai pembantaian Muslim di Halmahera Utara itu, ada sebuah informasi menarik yang dikemukakan oleh dudi-firmansyah@goplay. com, yang pernah dipublikasikan di milis Sabili

edisi 17 Januari 2000, dengan judul: Pembantaian Muslim Di Galela Pengepungan kecamatan Galela (komunitas Islam) oleh 7 kecamatan lain (komunitas Kristen) sudah dikhawatirkan oleh banyak tokoh dan orang Galela sendiri. Masalah ini sudah dilaporkan oleh masyarakat Galela kepada orang-orangnya di Jakarta, yang kemudian oleh Thamrin Amal Tomagola dilaporkan kepada Gus Dur. Presiden Gus Dur pun kemudian langsung memanggil Suaidy Marasa-bessy guna mengatasi hal tersebut. Suaidy Marasabessy sempat heran juga pada mulanya, mengapa berita pengepungan itu tidak pernah sam-pai ke mabes TNI? Mengapa laporan itu langsung masuk ke telinga Presiden, sementara mereka sebagai aparat TNI tidak pernah mendapat laporan. Dari sini sudah jelas terlihat bahwa TNI sendiri kecolongan, tidak mendapat informasi yang cukup tentang pengepungan kecamatan Galela (komunitas Islam) oleh orang-orang Kristen di sekitarnya, karena Panglima di sana adalah Brigjen Max Tamaela. Berhubung orang-orang Maluku itu khawatir terhadap penyerbuan itu, maka Suaidy Marasabessy langsung menyetujui pengiriman pasukan ke kecamatan Galela (tempat di mana komunitas Muslim sedang dike-pung). Beberapa tokoh masyarakat yang menghadap Suaidy memper-lihatkan sebuah peta Maluku-Halmahera, dan memberikan saran, bila hendak mengirim pasukan jangan didaratkan di Ternate, tetapi langsung saja ke Morotai. Karena perjalanan dari Morotai ke Galela hanya 1 jam (melalui udara), sedangkan bila dari Ternate memakan waktu 22 jam. Kemudian Suaidy Marasabessy menghubungi Kodim di Tobelo agar menerima pasukan yang datang di Morotai dan hendaknya Dandim Tobelo melakukan koordinasi dengan Pangdam setempat. Kenyataannya pasukan tidak dipersilakan mendarat di Morotai tetapi mendarat di Ternate. Akibatnya perjalanan pasukan dari pelabuhan udara Ternate menuju Galela memakan waktu 22 jam. Padahal seharusnya hanya 1 jam, bila pasukan kiriman itu didaratkan di Morotai. Dalam waktu 22 jam, sebelum tentara mendarat, terjadilah pemban-taian besar-besaran di kecamatan Galela. Ini jelas skandal (pembantaian) luar biasa biadabnya yang dilakukan Brigjen Max Tamaela. Sebagai Pangdam, sebagai aparat TNI Max Tamaela sudah sangat berpihak kepa-da kalangan Kristen. Jelas sekali Max Tamaela dengan sadar dan kejam merencanakan pembantaian terhadap sekitar dua ribuan ummat Islam di kecamatan Galela (hanya) dalam satu malam. Bagaimana sikap Gus Dur kemudian? Ternyata hingga kini Max Tamaela, sang algojo itu masih tetap aktif di institusi TNI, dan tidak termasuk Pangdam yang diganti pada musim mutasi Pati TNI baru-baru ini. Konon, Max Tamaela dipertahankan berkat lobby Wapres Megawati

kepada Gus Dur. Dan bisa dipastikan, Megawati juga telah dilobby oleh kalangan Kristen di Ambon, yang kesemuanya adalah aktivis PDI-P. Hal ini menunjukkan, bahwa pemerintahan Gus Dur dan Mega adalah bencana bagi ummat Islam, sebagaimana ditunjukkan melalui sikap dan ucapan mereka terhadap kasus Ambon. Ketika bencana pem-bantaian di Galela berlangsung, Wapres Megawati sedang berlibur ke Hongkong, bersama keluarganya, padahal oleh Presiden ia ditugaskan mengatasi kasus Ambon. Ada informasi menarik yang menjelaskan alasan mengapa Mega dan keluarganya menjalankan liburan akhir tahun ke Hongkong. Menurut Gus Dur, wapres Megawati ke Hongkong bukan untuk merayakan ulang tahun suaminya (Taufik Kiemas), bukan pula untuk menyongsong terbitnya matahari pertama tahun 2000. Tetapi untuk melakukan perjalanan bisnis. Yang jelas, kepergian Mega ke Hongkong bersama Taufik Kiemas, beserta anak-anaknya, bukanlah dalam rangka mengadakan buka puasa bersama, shalat tarawih bersama, sahur bersama dengan masyarakat Muslim di sana, tetapi untuk menjalin hubungan bisnis dengan pengusaha Hongkong. Sialnya, atau untungnya, ketika Mega bersama suami dan anak-anaknya ke Hongkong, para pebisnis di sana sedang cuti akhir tahun, sekaligus cuti Natalan, sehingga urusan bisnis seperti disebutkan Gus Dur tidak terlaksana dengan semestinya. Akibatnya, Mega dan keluarga-nya pun “terpaksa” berlibur dan berbelanja sepuas-puasnya di Hong-kong, sampai akhirnya Gus “Presiden” Dur memanggilnya pulang, karena adanya kasus Halmahera. Kisah dibalik kisah “mengapa Mega ke Hongkong?” sebenarnya ada kaitannya dengan Tanri Abeng. Pada pemerintahan Habibie, Tanri Abeng telah menjual hak pengelolaan pelabuhan peti kemas di Jakarta kepada sebuah perusahaan milik keturunan Cina asal Hongkong. Pengusaha Hongkong tersebut yang telah mengetahui adanya penggantian kepemim-pinan nasional di Indonesia, segera mendekati Taufik Kiemas, suami wapres Megawati, dalam rangka melanggengkan bisnisnya itu. Sang pengusaha Cina Hongkong itu pun menjamu keluarga Megawati untuk merayakan tahun baru di Hongkong sepuas-puasnya, dan semewah-mewahnya. Sepulangnya dari sana Taufik Kiemas mendapat hadiah satu unit TOYOTA Landcruiser terbaru, yang nilainya di Indonesia mencapai harga Rp 900 juta, juga satu unit mobil Mercy tipe terbaru. Begitulah mentalitas pejabat kita saat ini, yang nampaknya tidak jauh berbeda dengan para pejabat di zaman Orde Baru. Bahkan kini, Taufik Kiemas pun mempunyai hak opsi pengelolaan pelabuhan peti kemas tersebut. Hebat bukan? Sementara rakyat di tanah air kelaparan, dan ribuan muslim di Galela (Halmahera) dibantai, Megawati dan keluarganya justru asyik berlibur ke Hongkong, memenuhi jamuan seorang

pengusaha keturunan Cina, berbelanja sepuasnya, sambil merayakan ultah suaminya dan menyong-song tahun 2000 dengan acara yang mewah meriah. Dan kalau toh akhirnya Wapres Megawati mempercepat liburan akhir tahunnya di Hongkong itu, setelah Presiden Gus Dur memanggilnya pulang, bukan berarti bencana yang menimpa ummat Islam agak sedikit terobati. Sebab, ketika Wapres Megawati mengunjungi Halmahera, yang ia datangi justru pengungsi non Islam bukan pengungsi dan korban dari kalangan Islam yang benar-benar menderita. Maka, bantuan sandang-pangan, obat-obatan, uang tunai sebesar 1,5 miliar rupiah dari Wapres Megawati pun dinikmati oleh pengungsi non Islam tadi, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan korban dan pengungsi dari kalangan Islam. Bab 13 Fitnah Politik Gus Dur Melecehkan Ummat Islam Maluku (2) Bab 13-04 Ambon Berdarah dan Anak Emas Pada harian Republika edisi 29 Maret 2000 (23 Dzulhijjah 1420 H) Gus Dur mengeluarkan statemen politik yang diskriminatif dengan mengatakan, bahwa gejolak dan konflik di Maluku terjadi akibat pada era Soeharto kalangan Kristen diperlakukan tidak adil, sebaliknya masyarakat Islam diperlakukan bagaikan anak emas. Selengkapnya, pernyataan Gus Dur itu sebagai berikut: Gejolak Maluku terjadi, akibat Islam dianak-emaskan’ “Jika dulu Belanda mengambil orang-orang Kristen untuk posisi militer dan pemerintahan, dalam era Soeharto pemerintah merekrut Muslim.” Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kembali membuat pernyataan yang mengejutkan, kali ini tentang konflik Maluku. Di mata dia, konflik dan kerusuhan di wilayah Maluku berawal dari keti-dak-adilan pemerintah sebe-lumnya (era Soeharto) dalam memperlakukan umat Kristen. “Masa sepuluh tahun ter-akhir pemerintah lalu, telah memberikan perlakukan istimewa sebagai anak emas (golden boy) bagi masyarakat Islam di Maluku,” katanya saat membuka seminar Internasional “ Mencari Bentuk Ideal Negara Indonesia Masa Depan”, di Istana Negara, Selasa (28/3). Kondisi itu, sambungnya, kemudian mengakibatkan kese-imbangan antara Kristen dan Islam terganggu. Menurut Abdurrahman, jika dulu Belanda mengambil orang-orang Kristen un-tuk posisi militer dan peme-rintahan, dalam sepuluh ta-hun terakhir era Soeharto, pemerintah merekrut Muslim sangat banyak diban-ding Kristen. “Ini termasuk 38 po-sisi penting di provinsi tersebut, yang sebelumnya, posisi tersebut dibagi antara Muslim dan Kristen, kemudian diserahkan kepada Muslim semua. Ini lalu menjadikan pemeluk Kristen merasa sangat terganggu.”Ketika masyarakat Kristen memprotesnya, lanjut Ab-durrahman, pemerintah lokal dan pusat memutuskan untuk melindas protes tersebut. Dan, akhirnya konflik jadi begitu besar. Dan karena militan Muslim yang diperlakukan sebagai golden boy (anak emas), maka me-nyerbulah

mereka ke kam-pung Kristen, sehingga eks-kalasi pun terjadi antara rni-litan Kristen dan Muslim. Menurutnya, apa yang terjadi di Ambon, Maluku, dan Papua menunjukkan betapa aspirasi dari propinsi-propinsi tersebut tak tersalurkan. Sehingga, akhirnya merebak dalam bentuk protes massa. Solusi bagi masalah ini, kata Abdurrahman, pemerintah setempat harus banyak ber-komunikasi dengan masyarakat luar tapi tetap menggunakan emosi lokal. Pernyataan Gus Dur itu tak pelak mengundang sesal tokoh agama. Sekjen DDII Hussein Umar dan tokoh NU KH Ilyas Ruchiyat yang dimin-tai komentarnya soal pernyataan SARA Gus Dur itu, sama-sama menya-yangkan karena pernyataan tersebut tidak didukung data akurat “Kasus-kasus yang terjadi di Ambon karena sebab lain. Bukan karena dimanjakan. Apanya yang dimanjakan?” kata Ilyas ketika dihubungi di kediamannya. Menurut dia, ada yang kurang serasi dalam pergaulan, sehingga yang besar merasa unggul dan yang kecil merasa dipinggirkan. Akibatnya satu sama lain saling curiga. Ilyas berpendapat selama ini perlakuan terhadap semua agama sama. Dia mengambil contoh di Departemen Agama di mana di situ dibentuk dirjen dari semua agama. “Hanya saja, mungkin karena umat Islam jumlahnya besar maka kegiatannya terlihat lebih banyak,” katanya. Hingga saat ini, menurut KH Ilyas, kerukunan yang didambakan memang belum berhasil. Ini bukan berarti pemerintah tak pernah berusha. Karena, menurutnya, setiap pemerintahan selalu berupaya men-ciptakan keserasian hidup antar umat beragama. Dia berharap nantinya terjadi perubahan persepsi sehingga yang besar tidak merasa unggul dan yang minoritas tak merasa dipinggirkan. Hussein sendiri selain menyesalkan, juga khawatir jika pernyataan Abdurrahman itu bisa membuat umat Islam marah dan kecewa. Dia menganggap pernyataan Gus Dur itu tidak akan menyelesaikan kasus tersebut. “Gus Dur terlalu menyederhanakan persoalan di Maluku. Padahal kasus sebenarnya tidaklah demikian,” tegas Hussein Umar. Malah sebaliknya, menurut keterangan para tokoh Muslim Maluku yang datang ke Jakarta, selama ini umat Islam banyak menerima ketidak-adilan. Banyak posisi yang tidak dibagi secara proporsional. “Dan umat Islam selama ini selalu dipinggirkan,” kata Hussein. Seharusnya, kata Hussein, sebagai Kepala Negara, Gus Dur tidak perlu melontarkan pernyataan sensitif seperti itu. Karena dikhawatirkan dari pernyataan tersebut akan menimbulkan bias, dan membuat kemara-han bagi umat Islam. “Pernyataan Gus Dur ini bisa menimbulkan kekece-waan bagi umat Islam. Apalagi kondisi di Maluku sendiri belum aman, masih banyak peristiwa sporadis di beberapa lokasi,” papar Hussein Umar. Komentar berbagai pihak pun bermunculan, antara lain dari Sekjen PGI (Persekutuan Gerejagereja di Indonesia), “…Dr. Pattiasina, menyang-kal pandangan yang menyatakan konflik di Maluku dipicu sikap pemerintah era Soeharto yang menganak-emaskan umat Islam. Menurut-

nya, umat Islam justru mendapat perhatian Soeharto pada periode akhir pemerintahannya.” (Republika Kamis 30 Maret 2000). Di majalah Forum Keadilan edisi 9 April 2000, Dicky Mailoa, Ketua Crisis Center PGI untuk masalah Maluku tidak menepis adanya penganak-emasan umat Islam pada dasawarsa terakhir era Soeharto, namun “…pada saat itu belum menghasilkan konflik, tapi hanya menghasilkan prakondisi yang tidak sehat.” Sedangkan Pendeta Arnold Nicolas Radjawane, anggota DPR asal Maluku, membantah adanya ketidak-puasan itu, “Tidak benar bahwa umat Kristen tidak puas, lalu marah dan berkonflik dengan saudara muslimnya.” Di milis Sabili, Hasan Rasyidi berkomentar, bahwa pernyataan Gus Dur tidak hanya menyakitkan hati umat Islam, juga merupakan sebuah pernyataan yang tidak bermoral. Gus Dur Kambing Hitamkan Umat Islam Ambon, katanya. Selanjutnya ia katakan:”Lagi-lagi Gus Dur membuat ulah. Kali ini dia mengatakan bahwa kerusuhan di Maluku terjadi karena umat Islam di Ambon dianak-emaskan. Sosiolog UI, Ahmad Thamrin Tamagola membantah hal ini. Dia menganggap Gus Dur terlalu menyepelekan masalah. Sesungguhnya, pada zaman Belanda hingga awal pemerintahan Orba, umat Kristen yang dianak-emaskan. Mereka jadi pejabat-pejabat serta prajurit-prajurit militer. Toh dengan penganak emasan tersebut, umat Islam mampu bersikap sabar, karena mereka orang yang beradab. Tapi begitu umat Islam yang disisihkan dari birokrasi dan militer, berwiraswasta dan menjadi makmur serta memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada tahun 1980-an, setelah para sarjana Muslim pulang ke Ambon, maka barulah Muslim Ambon berhasil memperoleh posisi-posisi yang penting. Nah, umat Kristen yang biasa dianak-emaskan ini begitu merasa ter-singkir, akhirnya marah dan membantai ribuan umat Islam. Inilah yang terjadi. Seandainya umat Kristen tidak biadab, tak mungkin pembantaian tersebut bisa terjadi. Jadi statement Gus Dur itu benar-benar menyakitkan hati umat Islam. Umat Islam Ambon sudah dibantai, lalu disalahkan pula oleh Gus Dur. Benar-benar tidak bermoral. Para komentator itu mungkin benar, bahwa pernyataan Gus Dur tentang akar masalah kasus Ambon-Maluku berupa dianak-emaskannya masyarakat Islam, merupakan pernyataan yang tidak bermoral, sebab pada kenyataannya kalangan Islam-lah yang selalu dirugikan. Dalam buku “Ambon Bersimbah Darah” karya H. Hartono Ahmad Jaiz, sejarawan Ambon, Thamrin Ely mengatakan, “Orang Ambon yang Kristen mendapat perlakuan istimewa dari VOC dan pemerintah kolonial. Mereka menikmati pendidikan, belajar bahasa Melayu, dan akhirnya diperbolehkan memasuki jajaran administrasi…”

Thamrin Ely juga mencatat, “Gubernur Maluku yang pertama adalah seorang Kristen Protestan, Mr. Latuharhari. Begitu juga beberapa gubernur berikutnya. Banyak posisi kursi di pemerintahan sejak awal kemerdekaan dipegang warga Kristen. Umat Islam tidak memprotes.” “Tapi saat dua gubernur terakhir, Akib Latuconsina dan Saleh Latucon-sina, yang Muslim asli Maluku, memberi beberapa jabatan kursi kepada Muslim, dan itu pun masih belum representatif, kelompok Kristen tidak puas. Lantas mereka menghembuskan issu bahwa Islam menguasai lembaga pemerintahan…” demikian papar Thamrin Ely sebagaimana dikutip oleh H. Hartono Ahmad Jaiz. Jadi, yang sebenarnya dijadikan anak emas (golden boy) bukanlah masyarakat Maluku yang Islam, tetapi masyarakat Maluku yang Kristen. Masyarakat Maluku Kristen ini sudah termanjakan oleh situasi sejak zaman kolonial Belanda, yang pada akhirnya tidak membuat mereka mampu menjadi anggota masyarakat yang fair dan demokratis. Masih dalam buku yang sama, Thamrin Ely mencontohkan, “Organi-sasi-organisasi Kristen, misalnya, protes saat Kolonel Junaidi Panegoro diusulkan oleh ABRI untuk duduk di kursi Walikota beberapa tahun lalu. Alasannya, tak sesuai dengan keadaan penduduk kota Ambon yang jumlah pemeluk Kristennya lebih besar. Maka Junaidi pun ditarik, dan naiklah Chritanasale, seorang Kristen. Umat Islam menerima, bahkan yang pertama memberikan dukungan adalah HMI Ambon.” Tidak hanya menyangkut jabatan struktural di birokrasi pemerinta-han saja yang menjadi hajat Kristen Maluku, terhadap organisasi kepemu-daan pun Kristen Maluku sangat menunjukkan sikap sektarianistis yang pekat, sebagaimana dicontohkan Thamrin Ely, “… Orang Islam diam saja saat ketua dan sekretaris KNPI dipegang Kristen. Tapi ketika Muslim menduduki jabatan ketua, kalangan Kristen langsung protes, dan meminta pertimbangan kekuasaan. Begitu juga di Golkar. Sebaliknya, umat Islam tidak bereaksi apa-apa terhadap dominasi Kristen di Universitas Pattimura.” Sejauh ini, tidak pernah terdengar suara protes dari Gus Dur, mana-kala umat Islam di Maluku didzalimi oleh masyarakat Maluku Kristen. Gus Dur hanya bersuara ketika masyarakat Kristen Maluku menghembus- kan adanya Islamisasi di tubuh pemerintahan daerah dan organisasi atau lembaga strategis lainnya. Rustam Kastor, Brigjen TNI Purnawirawan kelahiran Ambon, dalam bukunya berjudul “Fakta, Data dan Analisa: Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon-Maluku” menyimpulkan bahwa kasus Ambon-Maluku bukan sekedar konflik antar penduduk berbeda agama, namun ada hal-hal yang lebih substan-sial sebagai penyebabnya yaitu , “…konspirasi besar yang telah memanfa-atkan konflik Kristen-Islam yang telah

berlangsung ratusan tahun untuk kepentingan politik Kristen di Indonesia dalam rangka merebut posisi yang lebih kuat setelah tergeser oleh kekuatan Islam dalam dasa warsa terakhir.” Jadi, adanya ekskalasi kecemburuan masyarakat Kristen Ambon-Maluku terhadap masyarakat Islam Ambon-Maluku, hanyalah media penghantar terjadinya konflik. Potensi konflik itu memang ada dan sewaktu-waktu meletup, namun masih dalam batas konflik yang tidak berkepanjangan dan nyaris tidak terencana. Sedangkan kasus Moslem Cleansing atau genocide yang terjadi sejak 19 Januari 1999 (Idul Fitri Berdarah), adalah peristiwa politik (kepentingan politik Kristen) yang memanfaatkan potensi konflik tadi. Dan diselenggara kan dengan seksama, sistematis serta terencana. Fakta-fakta yang dianalisis oleh Rustam Kastor menunjukkan hal itu. Sejauh ini, potensi konflik Islam-Kristen di Ambon-Maluku berhasil diredam melalui konsep Pela-Gandong, yang berhasil menelurkan sebuah perdamaian semu. Karena konsep itu sendiri merupakan konsep rekayasa semata yang hanya menguntungkan pihak Kristen. Ada sebuah pandangan mengenai konsep Pela-Gandong ini, yang dipublikasikan oleh Markus Kapalapica di milis [Indonesia-Views], 19 Januari 2000 sebagai berikut: Sebutan Pela Gandong yang dibangga-banggakan orang Maluku sebenarnya tidak benar adanya. Hubungan Pela Gandong yang terdapat pada orang Maluku sebenarnya hanyalah sebuah rekayasa Pemerintahan Belanda pada saat menjajah Indonesia dengan Maluku sebagai sasaran-nya karena rempah-rempah yang ingin dikuasai. Ada kisah menarik mengenai hal ini: Awalnya kepulauan Maluku itu adalah sebuah jazirah yang penuh dan makmur dengan hasil alam yang berlimpah-ruah, dan berpenduduk mayoritas Muslim. Di saat Belan-da menjajah dan menggarap Maluku, kaum Muslim Maluku tidak bisa menerima kehadiran mereka sehingga timbul perlawanan bersenjata dari Raja-raja dan Sultansultan yang berada di Maluku, antara lain Raja Leihitu, Raja Leitimur, Sultan Tidore, Sultan Ternate, Sultan Khairun, Sultan Babullah dan lain-lain. Karena adanya perlawanan yang sengit dari masyarakat Muslim Maluku, maka Belanda mulai melancarkan Politik “Devide et Impera” alias Politik Memecah Belah. Belanda masuk ke Maluku membawa tiga misi yaitu: Gold, Glory, dan Gospel. Gold, adalah misi Belanda untuk mengeruk harta. Glory, untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat. Gospel, membawa misi Kristen dengan iming-iming materi sehingga masyarakat Maluku yang tadinya adalah mayoritas Muslim menjadi terpengaruh dan terpecah dua: Muslim dan non Muslim.

Pada setiap kampung di Maluku selalu terbagi menjadi dua komunitas yaitu komunitas Muslim dan non Muslim, dan itu adalah keberhasilan Belanda dalam politik Pecah Belahnya. Contoh, kampung Iha (Muslim) dan Ihamahu (non Muslim), awalnya kedua kampung ini adalah satu yaitu Iha, tetapi karena penduduk Iha yang membangkang maka mem-bentuk daerah baru yang disebut Ihamahu (Iha yang membangkang). Karena sering terjadi perkelahian antara kampung Muslim dan non Muslim yang pro Belanda, maka agar dapat diterima di semua komunitas masyarakat Maluku, Belanda mulai membentuk persahabatan yang tidak bisa dipisahkan dengan saling membantu dan bergotong royong dengan membuat Pela Gandong. Untuk memperluas daerah jajahannya, Belanda menggunakan masyarakat Maluku yang pro kepadanya untuk memperluas daerah kekuasaannya dengan jalan membentuk pela gandong dengan daerah baru yang Muslim. Demikianlah kisah Pela Gandong yang selalu di-banggabanggakan, padahal hanyalah politik penjajah. Jadi, kalau Gus Dur mengatakan bahwa pada dasawarsa terakhir era Soeharto terjadi penganak-emasan terhadap masyarakat Islam di Ambon-Maluku, dan dari situlah terjadi peristiwa berdarah yang berke-panjangan, Gus Dur sangat terkesan melantur. Kalau toh terjadi proses pengakomodasian terhadap masyarakat Islam Ambon-Maluku di posisi tertentu di dalam birokrasi dan sebagainya, itu semua tepatnya merupa-kan proses proporsionalisasi, sehingga masyarakat Islam di Ambon-Maluku tidak terus berada dalam posisi pecundang yang didzalimi. Apalagi kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat Islam Ambon-Maluku yang selama masa kolonialisasi tertinggal di segala bidang, mulai menunjukkan jati dirinya. Sementara itu, Kristen Ambon-Maluku lebih cenderung merantau ke luar Maluku menjadi penyanyi, petinju, dan preman. Sesungguhnya Gus Dur memang sudah sangat keterlaluan. Bila pada masa dasawarsa terakhir era Soeharto yang dinilainya menjadikan masyarakat Islam di Ambon-Maluku sebagai golden boy, mengapa Gus Dur seperti tidak mampu menilai masa suram dan kelam yang dialami masyarakat Islam di Ambon-Maluku sejak masa kolonialisasi hingga menjelang dasawarsa terakhir era Soeharto? Apalagi pada kenyataannya, Soeharto memang tidak pernah menganakemaskan masyarakat Islam di Ambon-Maluku, sebab yang terjadi adalah mekanisme biasa yang kerap terjadi di mana-mana, yaitu meningkatnya kualitas SDM masyarakat Islam di Ambon-Maluku, sehingga mereka mempunyai nilai tambah (melalui pendidikan) yang memungkinkannya memasuki birokrasi dan posisi strategis lainnya. Sejalan dengan itu, masyarakat Islam dari luar Ambon-Maluku berdatangan mengisi sektor perdagangan dan sebagai-nya yang kosong ‘ditinggalkan’ oleh masyarakat Kristen Ambon-Maluku. Melalui pernyataan-pernyataannya selama ini, kita berkesimpulan bahwa Gus Dur tidak saja cenderung Asbun (asal bunyi), yaitu gemar melontarkan data yang sangat tidak akurat

mengenai sesuatu hal, juga tidak mempunyai keberpihakan moral terhadap berbagai encana yang menimpa ummat Islam qBencana Ummat Islam di Indonesia 1980 - 2000 Bencana Ummat Islam di Indonesia 1980 - 2000 Penjara itu adalah, Kuburan bagi orang yang hidup, Gembira nya musuh di atas penderitaan orang lain Dan ujian bagi kesetiakawanan (Nabi Yusuf as) Kami persembahkan buku ini Kepada ratusan kaum muslimin yang menjadi korban penyiksaan dan penghinaan para Jallad (algojo). Sebagian besar dari mereka kini sudah uzur, dan sebagian lainnya menerima perlakuan keji yang tidak adil Al-Chaidar & Team Peduli Tapol

AMNESTI INTERNASIONAL TALANGSARI : Menyoal Testimoni Azwar Kaili ( suara pembaca Republika 1 Oktober 2003 ) Saya amat sangat terkejut dan merasa begitu prihatin, ketika menyaksikan testimoni seseorang yang mengaku-ngaku sebagai korban kasus Talangsari (1989), Bapak Azwar Kaili bersama istrinya di program Buser Petang SCTV yang mengudara sejak 17.30 WIB, khususnya segmen B-File. Pada testimoni itu, saya banyak menemukan pernyataan dusta dari Bapak Azwar Kaili beserta istrinya. Sebagai mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi, saya tahu persis jati diri Bapak Azwar Kaili. Sebagai penduduk Sidorejo, Bapak Azwar Kaili tergolong aktif mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan anak buah Warsidi bernama Abdullah alias Dulah dan Pak Sugiono. Begitu juga dengan Warsito, anak angkat Bapak Azwar. Meski usianya masih belasan, Warsito sudah dibina oleh Dulah sebagai calon mujahid, dan secara resmi menjadi anggota Jamaah Warsidi sekurangnya sejak tahun 1988. Warsito dan beberapa teman sebayanya sudah menjadi sosok yang militan akibat binaan Dulah.

Beberapa saat sebelum pecah kasus Talangsari, Warsito bersama anak Pak Sugiono (almarhum terlibat kasus Talangsari) dan anak Pak Jamjuri pamit kepada orangtua masing-masing untuk berjihad ke Talangsari. Ada satu momen khusus yang masih teringat, bahwa anak Pak Sugiono yang bernama Zulfikar (teman Warsito) sebelum berangkat ke Talangsari untuk berjihad, menyampaikan kata-kata akhir kepada adiknya, "Seandainya saya mati Dik, tolong dirawat ayam-ayam ini...." DI SCTV Pak Azwar mengatakan, bahwa kepergian Warsito ke Talangsari adalah untuk nyantri, dengan bekal uang Rp 1.000 dan seekor ayam. Padahal, sebagaimana anak Pak Sugiono dan Pak Jamjuri, keberangkatan Warsito ke Talangsari adalah untuk berjihad (mati syahid). Azwar Kaili memang pernah ditangkap dan ditahan. Hal ini terjadi pada hampir semua orang yang punya kaitan dengan pengajian yang diselenggarakan Dulah. Namun tidak lama, setelah melalui proses pemeriksaan, dan tidak terbukti ada kaitan dengan kasus Talangsari, maka mereka pun dilepas, termasuk Pak Azwar, yang tidak ditemukan indikasi keterkaitannya dengan gerakan Warsidi kecuali sebagai jamaah pengajian biasa. Di SCTV, Pak Azwar mengakui, bahwa rumah dan harta lainnya yang ia kumpulkan sejak masih bujangan, musnah dalam sekejap karena dibakar oleh aparat. Proses pembakaran ini terjadi ketika ia sedang memenuhi panggilan Danramil. Pernyataan itu jelas dusta. Setahu kami, meski terjadi penangkapan dan penahanan atas diri beliau, namun tidak ada pembakaran dan perampokan atas harta benda beliau. Entah motif apa yang mendorong beliau menyampaikan pernyataan dusta kepada khalayak. Mungkin beliau sakit hati kepada Pak Hendro. Menurut pengakuan Sukardi, salah seorang tokoh kasus Talangsari, pada bulan September tahun 2002, Pak Azwar menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan Pak Hendro, tujuannya untuk mendapatkan kompensasi atas musibah yang selama ini ia terima berkenaan dengan kasus Talangsari. Namun, permintaan Pak Azwar melalui Sukardi untuk dipertemukan dengan Pak Hendro itu sama sekali tidak terlaksana, karena saat itu Pak Hendro menurut Sukardi sedang bertugas ke luar negeri. Ketika itu, Pak Azwar Kaili memberi ultimatum kepada Sdr Sukardi, bahwa bila dalam waktu satu bulan tidak bisa dipertemukan dengan Pak Hendro maka beliau akan mengajukan tuntutan kepada Pak Hendro. Jadi, menurut hemat saya, motif yang melandasi Pak Azwar Kaili bukanlah sesuatu yang luhur

(demi kemaslahatan umat/korban) tetapi semata-mata ingin mencari peluang mendapatkan keuntungan material (finansial) dengan mengeksploitasi (mengkomersialkan) keterkaitan dirinya dengan anak angkatnya yang bernama Warsito. Riyanto Mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi Jl Edam II No 43 Tanjung Priok, Jakarta Utara

PENDAHULUAN SEJAK Januari 1985, pengadilan-pengadilan di Indonesia menggelar persidangan puluhan perkara politik Islam. Selama 30 bulan tanpa henti perkara ini digelar guna mengungkapkan kasus dessident muslim terhadap rezim Soeharto, dengan menuduhnya seba-gai teroris dan fundamentalis. Bahkan selama berta-hun-tahun masyarakat dicekoki perasaan takut terha-dap siapa saja yang dipandang sebagai musuh peme-rintah atau gerakan yang mengarah kepada pemben-tukan "Daulah Islamiyah" di Indonesia. Persidangan-persidangan yang digelar secara revo-lusioner menjadi bumerang, karena membuat kaum muslimin berubah sikap pada pemerintah. Rezim militer Soeharto termasuk rezim yang paling lama berkuasa di dunia. Di bawah rezim diktator ini, Indonesia dikuasai oleh pemerintahan dzalim yang sudah mendarah daging. Oposisi dalam bentuk apapun tidak diperkenankan, dan terus menerus melakukan intimi-dasi dan tekanan yang sangat hebat terhadap kemerdekaan individu, penindasaan terhadap kebebasan, hak berbicara serta melakukan diskusi terbuka. Adalah mengherankan, dalam kondisi tertekan justru muncul aktivis-aktivis keagamaan di semua lapisan masyarakat Indonesia, mereka melakukan diskusi-diskusi politik dan kebudayaan. Aktivitas ini diprakarsai oleh generasi muda muslim terpelajar. Sebagian dari mereka ada yang study ke luar negeri: Timur Tengah dan Eropa. Banyak di antara mereka yang terpengaruh oleh perkembangan-perkemba-ngan baru yang terjadi di dunia Islam. Semangat kebangkitan ini dimotivasi oleh para muballigh serta politikus-politikus muslim senior. Organisasi-orgnisasi Islam resmi tidak ingin berkonfrontasi dengan gerakan yang mendukung demokrasi, juga dengan orang-orang yang mendesak kaum muslimin untuk menciptakan gerakan kebudayaan dan politik alternatif. Di tengah merajalelanya despotisme, banyak masjid berubah menjadi pusat-pusat halaqah, penerbitan buletin dan seminar; di samping sebagai tempat shalat berjama'ah serta aktivitas-aktivitas ke-Islaman lainnya. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi baru di lingkungan perumahan-perumahan.

Dalam kondisi represif yang sengaja diciptakan pemerintah, adalah tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan dengan cara lain untuk menggalakkan demokrasi dan keadilan. Mulailah negara mengambil langkah-langkah keras, dengan menge-luarkan undang-undang yang mewajibkan asas tunggal Pancasila. De-wasa ini gerakan Islam dianggap sebagai bahaya laten atau ancaman potensial terhadap rezim militer, sehingga yang menjadi sasaran tindakan represif pemerintah adalah aktivis-aktivis muslim. Rezim Soeharto ber-sandar kepada keputusan hukum tahun 1965, saat terjadinya gelombang pembantaian massal. Dalam badai kemarahan ini, ratusan ribu orang yang dicurigai sebagai komunis dibunuh. Dan puluhan ribu lainnya dijeb-loskan ke dalam penjara dengan hukuman di atas 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan. Setelah berlalu sepuluh tahun, pada pertengahan dasawarsa 1970-an muncullah perlawanan dari mahasiswa yang menuntut diadakannya perubahan politik dan iklim yang lebih demokratis. Para mahasiswa menghadapi rezim yang menguasai militer. Pada saat yang sama Indonesia melancarkan perang terhadap kaum pemberontak di Irian Barat, daerah yang sejak tahun 1963 telah menjadi bagian dari Indonesia. Disamping itu, Indonesia juga menghadapi perang perlawanan rakyat Timor Timur yang baru berintegrasi dengan Indonesia tahun 1975. Menghadapi pemberontakan bersenjata di kedua wilayah tersebut, militer Indonesia tidak mau bersikap lunak apalagi berkasih sayang dengan mereka yang menentang pemerintah. Peperangan ini pada akhirnya meninggalkan akibat yang parah berupa kematian, penyiksaan, pena-hanan dan pengawasan ketat. Dan orang-orang yang menentang peme-rintah orde baru di dalam maupun diluar negeri bertambah banyak. Salah satu faktor yang menyebabkan rezim Soeharto mampu ber-tahan dalam waktu demikian lama, karena kehebatannya melibas lawan politik satu demi satu. Setiap kelompok masyarakat dipaksa untuk meng-hancurkan gerakan oposisi yang ada di dalam tubuh kelompoknya. Dengan lenyapnya gerakan oposisi yang terorganisasi dengan baik di dalam negeri, maka kekuatan yang menjadi sandaran para oposan tiada lain adalah dukungan serta bantuan dari luar negeri. Tapol (Tahanan Politik) yang terdapat diberbagai penjara diseluruh wilayah Indonesia, yang terdiri dari politikus-politikus PKI dan kaum kiri, sebagian besar telah dibebaskan pada akhir dasawarsa tujuh puluhan. Dan masih tersisa sekitar 80 orang tapol, sedangkan 20 diantaranya dijatuhi hukuman mati. Sementara puluhan ribu orang yang dibebaskan itu, mengalami kematian perdata, dengan kehilangan hak-hak sipil serta politiknya. Dewasa ini penghuni penjara-penjara di Indonesia telah berubah, diganti oleh generasi baru yang terdiri dari tahanan politik muslim, mereka adalah politikus yang menyuarakan aspirasi Islam. Mayoritas dari mereka ini, dahulunya mendukung militer menumpas PKI pada tahun 1965.

Juru bicara rezim Soeharto tidak jemu-jemunya mengingatkan orang, bahwa terdapat dua kelompok ekstrim yang senantiasa mengancam stabilitas nasional. Pertama, kelompok ekstrim kiri, yaitu sisa-sisa PKI setelah pemberontakan tahun '65 beserta organisasi pendukungnya. Dan organi-sasi ini seluruhnya terlarang sejak rezim militer memegang kekuasaan. Kedua, kelompok ekstrim kanan, adalah golongan Islam fundamentalis. Rezim Soeharto menerapkan strategi khusus untuk menghancur-kan kedua kelompok ekstrim tersebut secara serentak. Ketika mengek-sekusi mati empat orang napol PKI pada tahun 1985, pada tahun yang sama, seorang napol muslim juga dieksekusi mati. Pada tahun 1986, ketika mengeksekusi mati 9 orang napol PKI, sebelumnya ada satu orang napol muslim yang dieksekusi mati lebih dahulu. Undang-undang subversi dan kekuatan inkonstitusional yang diper-gunakan dalam persidangan kasus-kasus tahanan PKI pada tahun 1965, sepuluh tahun kemudian, dengan cara dan undangundang yang sama, itulah yang dipergunakan dewasa ini menghadapi tapol/napol muslim. Selain Amnesti internasional, sangat sedikit perhatian dicurahkan oleh pihak luar Indonesia untuk memahami dan melakukan analisis ter-hadap proses persidangan yang telah selesai pelaksanaannya pada awal tahun 1985 ini. Buku ini mencoba mengungkap secara gamblang apa yang selama ini lepas dari perhatian banyak orang. Keputusan-keputusan pengadilan yang berlangsung hingga akhir 1987, seluruhnya dibeberkan dalam buku ini. Jumlah tapol muslim tercatat sebanyak 157 orang (lihat lampiran IV), sedangkan orang-orang Islam yang dipenjarakan tanpa proses peradilan jumlahnya jauh lebih besar lagi. Persidangan terhadap kasus mereka ini terus berlanjut hingga pemilu April 1987, dan tahun-tahun berikutnya. Tidaklah mustahil, keadaan semacam ini akan terus berlanjut beberapa tahun lagi. Dan akan terus berlangsung sampai pergantian pemerintah bulan Maret 1988 ketika Soeharto terpilih kembali menjadi presiden untuk kelima kalinya, suatu jabatan yang telah dipegangnya sejak tahun 1968 hingga sekarang tanpa ada persaingan sedikitpun. Disini kita dapat saksikan, bahwa persidangan-persidangan subversi akan terus digunakan demi tujuan-tujuan politis, dengan memberikan kesan mendalam kepada masyarakat Indonesia, sesungguhnya negara ini selalu menghadapi ancaman stabilitas nasional. Maka dalam peristiwaperistiwa politik penting, seperti pemilu dan perayaan hari-hari besar nasional, dimunculkan peristiwa-peristiwa yang sifatnya mencekam masyarakat. Dengan alasan yang demikian itulah, orang-orang Islam dijadikan tumbal untuk waktu yang lama. Akan tetapi buku ini tentu tidak mungkin memuat selengkapnya data-data yang berhubungan dengan kasus yang dibicarakan. Bab pertama buku ini secara ringkas mengetengahkan sejarah perta-rungan antara gerakan Islam dan kelompok militer di Indonesia. Dipa-parkan secara sepintas berbagai macam organisasi Islam, baik politik maupun sosial yang telah berdiri diwaktu lalu, dan dijelaskan pula

mengapa para aktivis muslim mencari wadah-wadah baru sebagai alternatif. Bab dua menceritakan tragedi Tanjung Priok dan tokoh-tokoh menon-jol yang sengaja dikorbankan. Bab tiga berusaha untuk melacak sejauh mana keabsahan keterangan resmi pemerintah mengenai korban kasus Tanjung Priok. Dan pada bab 4, diketengahkan berbagai kisah tragis kasus tersebut, penerapan undang-undang secara semena-mena, perlakuan buruk terhadap terdakwa dalam persidangan disaat berlangsungnya peradilan, serta siasat-siasat licik yang dilakukan pemerintah dalam mengendalikan jalannya persidangan demi tujuan-tujuan politis. Tiga bab berikutnya memuat pembicaraan tentang kasus peradilan terhadap beberapa muballigh dan mereka yang dituduh melakukan peledakan bom atau dituduh melakukan makar. Pada bab terakhir dibicarakan tentang pengadilan terhadap beberapa orang penduduk desa (aktivis muslim di desa). Kegiatan para aktivis di desa merupakan fenomena baru di Indonesia. Gerakan ini disebut gerakan Usrah. Sayang sekali, hanya sedikit yang diketahui tentang gerakan ini, karena hanya diketahui dari keterangan-keterangan yang terungkap di pengadilan. Media massa Indonesia menjadi sumber utama untuk melakukan analisis terhadap jalannya persidangan, walaupun hal semacam ini bu-kanlah suatu metode yang baik. Namun kami tidak mempunyai alternatif lain.Sebab tidak ada keterangan independen yang ditulis oleh orangorang yang bersimpati terhadap para terdakwa, seperti yang dahulu pernah terjadi dalam kasus pengadilan mahasiswa pada pertengahan dasawarsa 1970-an, ketika keterangan lisan secara apa adanya dapat disiarkan. Selebaran-selebaran ini tersiar secara luas baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Akan tetapi dalam kasus Usrah ini pengamat independen tidak diperkenankan menghadiri persidangan kasus mereka, walaupun sebagai wakil dari lembaga Amnesti Internasional ataupun himpunan pengacara internasional. Orang maklum, bahwa media Indonesia yang memberitakan jalannya persidangan kasus politik, menghadapi kontrol ketat dari pemerintah sekalipun persidangan tersebut dilakukan secara terbuka dan untuk umum. Pengadilan memang memberikan keterangan untuk mengkonter pen-dapat-pendapat yang berbeda dengan pemerintah mengenai masalah-masalah politik dan sosial, tetapi keterangan tersebut bersifat off the record. Pada kenyataanya banyak persidangan kasus politik dihadiri oleh sejum-lah simpatisan yang menjadi pendukung terdakwa, tetapi media massa tidak berani memberitakan hal tersebut karena khawatir SIUP atau izin terbitnya dicabut. Namun dalam beberapa kasus persidangan yang me-ngundang suasana emosional, beberapa media massa ada juga yang agak berani menyiarkannya.

Pembungkaman terhadap mass media, intensitasnya bervariasi dari waktu ke waktu. Terkadang ada juga persidangan yang dapat diikuti prosesnya lebih banyak dibanding lainnya. Tapi perlakuan paling tidak mengenakkan yang diterima media massa, ketika mereka dilarang menyi-arkan berita-berita di luar fakta yang diberikan pemerintah. Padahal mass media ingin menelusuri seberapa besar kesulitan yang dihadapi terdakwa maupun penasehat hukumnya. Media massa setempat merupakan sarana yang sangat terbatas bagi kami untuk dapat mengikuti jalannya berbagai persidangan yang ber-langsung di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Sebab para terdakwa maupun penasehat hukumnya tidak diberi kesempatan yang cukup me-nyampaikan keterangan-keterangan yang bersifat sanggahan atau peno-lakan, dibandingkan dengan tuduhan-tuduhan jaksa yang secara rinci disiarkan oleh media massa. Buku ini dapat tampil di hadapan pembaca, semata-mata berkat kegi-gihan dan kerja keras tim peduli tapol yang bekerja sejak tahun 1985. Kami mempersembahkan buku ini kepada ratusan kaum muslimin yang menjadi korban penyiksaan dan penghinaan di tangan para Jallad (algojo). Sungguh, sebagian besar dari mereka sekarang ini sudah uzur, dan lainnya menerima perlakuan keji yang tidak adil. Peduli Tapol AMNESTI INTERNASIONAL Cetusan Kalbu Mengungkap FAKTA INILAH jeritan hati seorang Narapidana politik Muslim, korban kezaliman rezim Soeharto, semasa Beny Moerdani menjadi Pangab dan Try Sutrisno sebagai Kasad. Ditulis pada 1986 di L.P. Permisan Nusakambangan, setelah Sang Napol divonis 13 tahun penjara karena dituduh bercita-cita mendirikan Negara Islam, dan mempublikasikan pikiran-pikiran "subversi" tersebut melalui Tabloid Ar-Risalah yang dipimpinnya. Pernahkan anda rasakan bagaimana tersenyum di tengah derita? Kusaksikan sendiri siksa di atas siksa ditimpakan atas diri mujahid-mujahid muda, pembela risalah-Nya Ketika kayu pemukul dan pentungan besi Dihamtamkan pada tubuh-tubuh lunglai Ketika kuku jemari dicabuti, kumis dan jenggot dibakar dan tubuh dililit kawat bermuatan listrik lalu kata-kata kotor menghina, terlontar dari mulut beracun para durjana Sembari menyemburkan pertanyaan-pertanyaan menjebak, di sekitar dakwah dan ide mendirikan negara Islam Guna harapkan sepotong kata sesal dari lisan tak berdaya Hanya takbir dan do'a pengawal tubuh berselimut luka Seulas senyum pun tersungging

mengiringi kemenangan iman menghadapi siksa Fakta dan pengalaman di balik penjara, menjadi bukti kebenaran berita al-Qur'an "Bila mereka dapat menangkapmu Mereka akan menyakitimu dengan tangannya Dan mencacimu dengan mulutnya" Tapi manusiawikah menyerang ketakberdayaan dengan keganasan binatang? September 1984: Peristiwa Tanjung Periok terjadi Manusia ditembak bagai binatang buruan Awal 1989: Tragedi Lampung Berdarah Laki-laki dibunuh dituduh pembangkang Bayi, anak-anak dan ibu mereka jadi sasaran kemarahan Dipanggang hidup-hidup, di dalam rumah yang sengaja dibakar Limapuluh orang ibu-ibu, 80 orang anak-anak pria dan wanita Akhirnya jadi korban pembantaian yang biadab Menyusul pembunuhan muslim Aceh 1990 Jasad manusia bergelimpangan di jalanan Di negeri ini malapetaka laksana gelombang datang susul menyusul menimpa ummat Islam Rezim orde Baru berdiri di atas tengkorak generasi muslim kaki tangan mereka berlumur darah orang tak berdosa Membunuh mereka demo stabilitas Nasional? Ataukah tumbal bagi langgengnya kekuasaan? Di tengah situasi dimana kezaliman diperagakan jumawa Adakah mata titikkan airnya tangisi ummat ini Masih adakah telinga dengarkan ratap mereka Agaknya peduli pun orang khawatir Menjadi syetan bisu pilihan yang aman Tapi para durjana punya jawabnya yang bikin luka hati kian menganga "Peristiwa itu ibarat virus kecil Yang berusaha guncangkan tubuh yang sesat Tak usah dipermasalahkan lagi, mereka yang mati hanya kecil saja Ummat Islam berjuta-juta jumlahnya, harus dapat membedakan Mana ajaran yang benar dan mana ajaran berkedok agama" Bagai dajjal si buta sebelah, menghasut ummat tanpa rasa salah Manakala para durjana perlihatkan jati dirinya Lewat keganasan dan logika tentara Iman dan akal fikiran faham soalnya Tetapi jika mereka yang mengaku beriman dan tokoh agama Ikut melecehkan perjuangan mujahid dakwah

Dan menganggap enteng pengorbanan mereka, lalu melontarkan kutukan keji, menjadi agen kezaliman lewat fatwa "Pemerintah telah bertindak benar, membasmi pengacau negara " Kemudian menjadi alasan bertindak bagi Fir'aun Duhai, dimanakah persaudaraan iman dan harga diri mukmin Bukankah, berjuang menegakkan syari'at Allah Kewajiban ummat Islam seluruhnya Bukankah tumpahkan darah tanpa haq adalah dosa? Menyetujui kejahatan demikian, apakah juga bukan dosa? OHO...agaknya syetan telah belokkan hati nan jernih Ketahuilah, Fir'aun terkenal lantaran zalim Bal'am dilaknat sebab khianat pada agama Lalu dengan apakah Anda dikenal dan diperkenalkan? Terhadap petakan dan rintihan yang diderita saudara seagama Anda malah mengelak tanggung jawab Padahal hancurnya nasib ummat adalah taruhannya Na'udzubillahi min dzalik

KUTULIS ungkapan ini di kala pikiranku menjelajahi dunia luar, sementara hatiku menjerit mengingat nasib manusia yang disingkirkan kerena pikirannya, dan dipenjara lantaran imannya. Wahai Anda yang diuji di jalan ini : Janganlah minta diringankan beban perjuangan. Tapi mohonlah kepada Allah, agar ditambah kekuatan untuk mengatasi segala rintangan. Wahai Rabb yang menolong orang-orang yang disusahkan. Yang meluluskan permohonan orang-orang yang disengsarakan. Lenyapkanlah kesusahan kami, kedukaan serta kesempitan hati kami. Karena sesungguhnya Engkau melihat apa yang menimpa kami dan sahabat-sahabat kami. Amin Ya Rabbal Alamin ! Pengantar Penerbit Pentas zaman modern masih saja menghadirkan duka lara. Ketika memasuki gerbang tahun baru Hijrah, 1 Muharram 1421 H/6 April 2000 M, kaum muslimin bangsa Indonesia, tinggal menuai badai-menghitung korban tragedi. Darah tertumpah, air mata pilu, wanita diperkosa, anak-anak menjadi yatim piatu, harta benda dijarah atau dibakar musnah. Semuanya berpadu dalam tragedi akibat bencana yang menimpa kaum muslimin, sejak peristiwa Tanjung Priok (1984), Lampung-Talang Sari Berdarah (1989), DOM di Aceh (1989) hingga Ambon (1999) dan Maluku Utara (2000). Seluruh peristiwa ini terjadi, bukan lantaran kaum muslimin ikut menabur angin, lalu akhirnya

menuai badai, melainkan karena: Pertama, amanat kepemimpi-nan bangsa ini tidak berada di tangan mereka yang berhak menerimanya. Dan manakala amanat diberikan kepada mereka yang tidak seharusnya menerimanya, dan karena itu dia tidak menunaikan amanah tersebut secara benar, maka bencanalah yang akan timbul. Untuk hal ini, Allah Swt. telah mengingatkan dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada ahlinya”. (Qs. An-Nisa’ 58). Kedua, lantaran konspirasi musuh-musuh kafirin dan munafiqin yang ingin menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Bencana politik yang menimpa ummat Islam di Indonesia, secara sederhana dapat dikelompokkan ke dalam dua hal, yaitu bencana di bidang ekonomi dan HAM. Bencana kelompok pertama dapat dilihat melalui diterbitkannya berbagai kebijakan ekonomi-moneter yang tidak memihak rakyat mayoritas. Sedangkan bencana di bidang HAM, dapat dilihat dari berbagai tragedi berdarah yang dialami ummat Islam, seperti tragedi Tanjung Priok, Woyla, tragedi DOM di Aceh , Lampung (Talangsari) Berdarah, tragedi pembunuhan ulama Banyuwangi (dengan dalih dukun santet), tragedi genocida di Ambon-Maluku, dan sebagainya. Juga berbagai tragedi tak berdarah lainnya, seperti kasus Usrah, Pesantren Kilat, maupun Komando Jihad yang terjadi di awal hingga pertengahan 1980-an. Buku ini merupakan suatu upaya kodifikasi terhadap berbagai ben-cana kemanusiaan (pelanggaran HAM) yang menimpa ummat Islam, sepanjang tahun 1980 hingga tahun 2000. Sebagian dari sumber buku ini, tujuh bab pertama berasal dari laporan “Tim Peduli Tapol Amnesti Internasional”, yang pada kesempatan sebelumnya telah diterbitkan dalam bentuk buku tersendiri, hasil terjemahan dari buku: Mihnatul Islam fie Indonesia. Dalam edisi Indonesia diberi judul “Fakta Diskriminasi Rezim Soeharto Terhadap Ummat Islam”, dan telah mengalami empat kali cetak ulang. Sumber lain, khususnya tiga bab terakhir dari buku ini ditulis oleh Al Chaidar, seorang penulis muda yang sangat produktif, dengan berbagai judul bukunya yang tergolong best seller dan kontroversial. Al Chaidar pada buku ini menyoroti seputar “Rekayasa Militer dalam Kasus Lampung Berdarah”, kemudian “DOM dan Akibatnya bagi Ummat Islam,” serta “Sikap Pemerintahan Gus Dur terhadap Musibah yang Menimpa Ummat Islam seperti Maluku, Aceh dan sebagainya.” Selain itu, Brigjen. (Pur) Rustam Kastor, penulis buku: Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon-Maluku, juga tidak ketinggalan menyumbang sebuah tulisan mengenai sikap pemerintahan Gus Dur dalam menangani musibah kemanusiaan di Maluku, sehingga buku ini semakin kaya akan informasi.

Sumber tulisan yang berasal dari “Tim Peduli Tapol Amnesti Inter-nasional” banyak mengandalkan berbagai data dan fakta yang tidak per-nah diungkap media massa, karena merupakan hasil “liputan” lang-sung dari arena persidangan. Sedangkan Al Chaidar mendasarkan tuli-sannya dari hasil investigasi lapangan dan kepustakaan yang juga jarang (atau bahkan belum pernah) dipublikasikan oleh media massa. Salah satu fakta yang diungkapkan oleh buku ini antara lain kasus Komando Jihad, yang heboh pada awal tahun 1980-an, dan pada dasarnya merupakan gerakan yang direkayasa oleh orang-orang yang mengingin-kan hancurnya gerakan Islam, dan merupakan rekayasa badan intelijen militer ketika itu. Begitu juga dengan kasus Pembajakan WOYLA. Fakta yang antara lain diungkapkan dari kasus tersebut adalah tentang adanya kejanggalan pada proses pengadilan: “Pengadilan yang menangani kasus Imran Cs. menolak untuk melakukan penyelidikan tentang terjadinya pembunuhan terhadap 6 orang pembajak pesawat ”. Fakta lain yang juga berusaha digambarkan buku ini adalah adanya berbagai bentuk kecurangan dan intimidasi, baik terhadap tersangka, pembela, bahkan hakim, serta rekayasa hukum. Gambaran itu tidak saja terdapat pada persidangan kasus Tanjung Priok, juga pada kasus-kasus lainnya seperti pembajakan WOYLA (1982), Peledakan BCA (Oktober 1984), Pengeboman Candi Borobudur di Magelang, Peledakan Bis Pemudi Ekspres di Malang (1984), kasus Pesantren Kilat di Malang (1985), serta kasus Gerakan Usrah di Jawa Tengah dan DIY (1986). Pada persidangan kasus peledakan BCA misalnya, pembaca dipertemukan dengan tokoh nasional, yaitu Ir. HM. Sanusi, yang didakwa mendanai dan memerintahkan melakukan peledakan di berbagai tempat. Ir. H.M. Sanusi adalah tokoh organisasi Muhammadiyah, tokoh Partai Masyumi, mantan anggota DPR periode 1971-1977 bahkan pernah men-jabat menteri perindustrian pada masa Orde Lama. Kasus pemboman BCA (Oktober 1984) merupakan reaksi atas tragedi berdarah di Tanjung Priok (12 September 1984), karena pemerintah (dan ABRI) tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan terhadap berbagai pernyataan yang menggelayuti masyrakat ketika itu (bahkan hingga kini). Mengapa penguasa (pemerintah) dan militer begitu membenci kala-ngan Islam, sehingga merasa perlu merekayasa berbagai kejadian yang menyudutkan ummat Islam? Alasan pertama, karena mereka para elit politik sesungguhnya bukanlah kalangan yang layak menerima amanah. Dan kedua, kemungkinan besar petinggi kita (pemerintah dan militer) kala itu sangat terpengaruh oleh sejenis tesis yang pernah dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington, yang menyatakan Islam merupakan ancaman berikutnya setelah komunisme tumbang. Bahkan lembaga studi CSIS (Center for Strategic and International Studies) yang dibidani dan dibina mendiang Ali Murtopo, pada awal-awal berdirinya pernah membuat kesimpulan bahwa,

Islam adalah faktor penghambat pembangunan bangsa. Kesimpulan itu dituangkan di da-lam buku rencana kerja CSIS yang berjudul Master Plan Pembangunan Bangsa. Bencana yang dialami kaum muslimin di Indonesia belum juga sirna, dan masih terus berlanjut hingga kini, ketika duet Gus Dur dan Mega-wati memimpin negara ini. Lihatlah kasus Muslim Cleansing di Ambon-Maluku yang tak kunjung usai. Lihatlah juga pembantaian ummat Islam di Aceh yang masih berlangsung. Padahal, Presidennya berasal dari kalangan ulama NU (Nahdlatul Ulama), Ketua MPR-nya berasal dari kalangan ulama Muhammadiyah, dan Ketua DPR-nya mantan petinggi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Tinjauan dari ulasan Al Chaidar seputar sikap pemerintahan Gus Dur terhadap berbagai bencana yang menimpa ummat Islam (khususnya kasus genosida di Ambon-Maluku), seperti menunjukkan dengan jelas, bahwa mereka sebenarnya bukanlah kalangan yang layak menerima amanah dari ummat Islam. Dengarlah apa komentar Gus Dur mensikapi pertikaian antar ummat beragama di Maluku. Gejolak Maluku, katanya “Akibat Ummat Islam Dianakemaskan”. Ketika membuka seminar internasional “Mencari Bentuk Ideal Negara Indonesia Masa Depan” di Istana Negara, Selasa 28 Maret 2000, Gus Dur mengatakan:”Masa sepuluh tahun terakhir pemerintah lalu, telah memberikan perlakuan istimewa sebagai anak emas (golden boy) bagi masyarakat Islam di Maluku”. Kondisi itu, sambungnya, mengakibatkan keseimbangan antara Kristen dan Islam telah terganggu. Menurut Abdurrahman, jika dulu Belanda mengambil orang-orang Kristen untuk posisi militer dan pemerintahan, dalam era Soeharto pemerintah merekrut Muslim sangat banyak dibanding Kristen”. (Republika, 29 Maret 2000). Mengapa bencana itu masih juga menimpa kaum muslimin? Karena hukum yang diterapkan adalah hukum jahiliyah, sistem yang jahiliyah, hukum dan undang-undang yang sudah terbukti lebih dari setengah abad, tidak mampu menyelamatkan bangsa ini dari bencana ekonomi, politik dan HAM. Oleh karena itu, yang sebenarnya dibutuhkan adalah institusi berupa negara yang memberikan keselamatan (Darussalam), pemimpin yang amanah, dan aturan hukum serta sistem yang alamiah yang datangnya dari Sang Pencipta Alam. Buku ini diterbitkan dalam rangka mengingatkan kita tentang berbagai bencana yang datang silih-berganti menimpa ummat Islam di Indonesia. Dari setiap bencana itu sesungguhnya terdapat serangkaian fakta yang berbicara kepada kita, tidak hanya tentang ‘software’dan ‘hardware’ yang tidak lagi ‘compatible’ dan sudah harus dibuang, juga tentang para ‘operator’ yang tidak laik jalan, baik karena mutu intelektualnya yang rendah, maupun moralnya yang telah rusak. Ini semua adalah peringatan bagi mereka yang lalai dan membeo, serta ujian bagi para penganut agama, tetapi dalam hidupnya memilih menjadi Pak Turut atau pun syetan bisu.

6 A p r i l 2000 M 1Muharram 1421 H Penerbit Pengantar Cetakan Ke-3 GERAKAN reformasi, tidak saja berhasil memaksa Soeharto mundur dan lengser dari singgasana kekuasaan yang telah didu-dukinya selama tujuh periode (1968- 21 Mei 1998). Tetapi juga, berhasil mengungkap-kan misteri nina bobok politik rezim orde baru yang selama bertahun-tahun mencekam dan menipu berjuta-juta rakyat Indonesia. Selain itu, reformasi yang dipelopori mahasiswa dan rakyat, mampu membuka mata hati kita, ternyata ada yang salah dalam pengelolaan negara ini, sehingga akibatnya bangsa Indonesia ditimpa musibah dahsyat di bidang ekonomi, politik, sosial dan moral. Sejak awal berkuasa, rezim Soeharto telah dengan cerdik melahirkan berbagai produk hukum, baik dengan cara mengadopsi hukum warisan kolonial, produk orde lama atau bahkan perpaduan dari keduanya, untuk digunakan sebagai katup penyumbat terhadap partisi- pasi politik Islam serta kaum muslimin dalam pengelo- laan pemerintahan dan negara. Mulai dari Kopkamtib, Asas Tunggal, UU Perkawinan hingga pembantaian serta penangkapan aktivis muslim seperti tragedi DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh, Tanjung Priok, Lam-pung Berdarah, Komando Jihad, NII dan kasus-kasus lain yang dikategorikan melanggar UU anti subversi. Seluruh peristiwa itu, telah meninggalkan luka yang memedihkan dan menyengsarakan ribuan kaum muslimin. Misteri dan kekuatan apa sesungguhnya yang membuat rezim dikta-tor Soeharto mampu bertahan sedemikian lama? "Kelanggengannya, terletak pada kemampuannya melibas segala kekuatan oposisi yang mengancam stabilitas kekuasaannya", jawaban yang diperoleh dalam buku ini. Untuk mengabadikan kediktatorannya, maka sebagaimana Fir'aun di zaman Mesir kuno, Soeharto juga menggunakan preman-preman politik sebagai sumber kekuatan perusak, yaitu Hamman dari kelompok teknokrat, Qarun mewakili konglomerat, Bal'am bin Ba'urah dari majelis ulama, dan tentara. Akibatnya sungguh dahsyat. Selama 32 tahun rezim Soeharto ber-kuasa, hampir tak pernah sepi dari operasi militer di dalam negeri. DOM (Daerah operasi militer) yang diciptakan di Aceh, sekedar contoh, telah menimbulkan malapetaka berkepanjangan bagi kaum muslimin di dae-rah tersebut. Ribuan laki-laki dibunuh, ibu-ibu menjadi janda dan wanita-wanita diperkosa. Apa dosa mereka sehingga menerima perlakuan hina dan memilukan itu? Karena mereka orang-orang Islam yang dituduh anggota gerakan pengacau keamanan.

Buku ini, dengan lengkap dan rinci mengisahkan tentang mihnah (tragedi) yang menimpa rakyat dan umat Islam di Indonesia. Penerbitan buku yang disusun oleh "Tim Peduli Tapol" Amnesti Internasional ini, bertujuan melanjutkan misi tim penyusun sebagai wujud kepeduliannya terhadap: "Ratusan kaum muslimin yang menjadi korban penyiksaan dan penghinaan para Jallad (algojo), yang sebagian besar dari mereka kini sudah uzur, dan lainnya menerima perlakuan keji yang tidak adil". Selain tujuan yang telah disebutkan di atas, penerbitan buku yang aslinya berjudul "Mihnatul Islam fie Indonesia", Tragedi Islam di Indonesia juga dimotivasi oleh tiga hal. * Pertama, ingin mengungkapkan secara lebih jujur dan transparan tentang kejahatan sebuah rezim yang selama ber-tahun-tahun dipuja-puja sedemikian rupa, tetapi pada akhirnya mewaris-kan malapetaka bagi rakyat Indonesia. Seluruh mihnah (tragedi) kemanu-siaan yang terjadi di belahan bumi lainnya, yang membuat manusia sedu-nia menitikkan air mata kepedihan, hal yang sama juga terjadi di negeri ini. * Kedua, menggugah kesadaran dan semangat pembelaan kaum musli-min terhadap saudaranya yang teraniaya. Bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda: "Tolonglah saudaramu yang dizalimi dan yang menza-limi", ujar beliau suatu ketika. "Menolong saudara yang dizalimi, kami sudah tahu. Tapi bagiamana menolong orang yang menzalimi?", tanya para sahabat. "Hendaklah kamu sekalian melarangnya berbuat zalim", jawab beliau tegas. * Ketiga, seluruh rentetan tragedi yang menimpa bangsa Indonesia, dan menyebabkan negeri ini termasuk dalam daftar pelanggar HAM paling parah di dunia, terjadi setelah berlakunya asas tunggal pancasila bagi organisasi-organisasi politik dan kemasyarakatan, dan dipertahankannya undang-undang subversi sebagai alat pem-bungkam suara-suara yang. Oleh karena itu, desakan untuk mencabut kedua hal tersebut dari masyarakat yang cinta keadilan, menghargai kemanusiaan dan demokrasi, harus ditingkatkan. Apakah buku ini telah merekam segala bentuk diskriminasi rezim Soeharto terhadap umat Islam? Buku ini memang tidak mengungkapkan seluruh fakta diskriminasi rezim Soeharto terhadap kaum muslimin. Peristiwa Lampung berdarah belum terekam. Bukit tengkorak dan ribuan kasus pemerkosaan di Aceh, juga belum ditampilkan. Hal itu bisa dime-ngerti, sebab buku ini diterbitkan sebagai sebuah laporan pelanggaran HAM oleh Amnesti internasional untuk pertamakalinya tahun 1989, ketika kasus Lampung baru disidangkan dan tragedi Aceh belum dimulai. Walau demikian, fakta-fakta yang terungkap dalam buku ini bisa menjadi starting point, titik awal untuk mengungkapkan bentuk-bentuk diskrimi-nasi politik lainnya. Dengan tujuan yang seperti itu, adalah bijaksana jika pemerintah orde reformasi di bawah pimpinan presiden ke tiga RI, Prof. Dr. Ing Burha-nuddin Jusuf Habibie, berkenan mengangkat isi buku ini sebagai bahan pertimbangan bagi pembebasan Napol muslim yang kini masih mering-kuk di penjara, demi keadilan, demi meningkatkan harkat kemanusiaan dan demi menghilangkan kesan diskriminasi. Seperti dengan jelas terung-kap dalam buku ini, para napol

muslim ditahan bukan lantaran perbuatan yang benar-benar mereka lakukan, melainkan rekayasa politik rezim Soeharto untuk membungkam suara kaum muslimin di negeri ini. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang dituduh merencanakan makar kepada pemerintah yang sah, tapi malah dihukum sebagai pelaku makar. Akhirnya, setiap orang dapat mengambil pelajaran dari tragedi kema-nusiaan yang diungkap dalam buku ini. Tentang penyebab serta akibat yang ditimbulkan dari berbagai kasus yang ada di dalamnya. Bahwa kezaliman penguasa, apapun alasannya pada akhirnya pasti menimbul-kan bencana, dan rakyat selalu menjadi korbannya. Maka camkanlah sabda rasulullah saw ini :"Siapa saja membikin puas penguasa dengan cara yang dimurkai Allah, maka ia mengeluarkan diri dari agama Allah". (Hr. Al-Hakim). Dan Allah Ta'ala bertanya dengan firman-Nya: "Belumkah tiba masa-nya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hatinya mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diturunkan kepada mereka kitab sebelum mereka. Kemudian telah lama masa yang mereka tempuh, lalu hati mereka menjadi kesat. Dan kebanyakan mereka orang-orang fasik". (Qs. Al-Hadid, 57:16) Dengan pertolongan Allah, semoga penerbitan buku ini dapat men-capai tujuannya. Dan pemerintah orde reformasi, mudah-mudahan tidak mengulangi kesalahan rezim pendahulunya, sehingga tahun-tahun sub-versi di Indonesia segera menjadi masa lalu, dan jangan lagi menjadi tradisi politik pemerintah yang datang kemudian. Ini adalah harapan serta aspirasi rakyat Indonesia. Mengabaikannya berarti buta tuli terhadap suara rakyat, dan masa bodoh terhadap keadilan serta kemanusiaan.

Yogyakarta, 20 A gu s t u s 1998 M 27 Jumadil Awal 1499 H Editor Pengantar Cetakan Ke-4 MASA kejayaan Haji Muhammad Soeharto, mantan presiden RI yang ber-gelar bapak pembangunan itu, berakhir mengenaskan. Segala hal yang, selama 32 tahun masa kekuasaannya "diterima" sebagai suatu petunjuk kebenaran, kini mulai diperta-nyakan. Bahkan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Superse-mar) yang memberi legitimasi bagi kekuasaan pemerintah orde baru, hingga warisan politik rezim Soeharto, mulai diragukan keabsahannya. Tanpa kekuasaan dan tanpa tentara di sampingnya, mantan diktator itu benarbenar tidak berdaya, hatta untuk membela diri di depan tuntutan rakyat yang menghendaki supaya dia diadili sebagai "DEWA KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)" dan harta kekayaannya

disita untuk negara, guna mengatasi derita rakyat akibat krisis politik dan ekonomi yang diwariskannya. Betapa malangnya nasib Soeharto. Martabat dan harga dirinya sedang dipertaruhkan. Sementar semakin hari borok rezim orde baru makin terbuka saja. Rakyat Indonesia kini, bagaikan orang baru siuman dari pingsan yang panjang, akibat terbius propaganda pilitik penguasa yang ternyata menyengsarakan. Selama rezim orde baru berkuasa, siapa saja yang berbicara sedikit vokal bisa berarti menyakiti diri sendiri. Sebab mengancam, menindas, memenjarakan, menculik merupakan bagian dari etika politik orde baru untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu orang lebih suka bicara bisik-bisik, berpura-pura menjadi kaum loyalitas atau malah tidak peduli sama sekali. Namun kini, rakyat Indonesia berangsur sembuh dari trauma hantu politik orde baru. Maka beramai-ramailah orang berbicara, menghambur kata sekeras-kerasnya terkadang bercampur dusta. Semua menuding Soeharto, sebagai biang kerok dari musibah sosial dan moral yang melanda negeri ini. Tanpa rasa takut, dengan mudah orang berbicara apapun tentang Soeharto, keluarga dan kroni-kroninya; sebab orang tidak lagi khawatir kalau-kalau ucapan itu bakal menyebabkan mereka ditangkap atau dipenjara dengan beragam tuduhan yang direkayasa. Segala infor-masi mengenai Soeharto, keluarga dan konco-konconya pun tersebar luas dan merata, jauh lebih merata dibandingkan program pembangunan yang pernah melambungkan namanya sebagai bapak pembangunan. Mulai dari informasi "ringan"soal konflik antara perempuan yang dihamili Ari Sigit Soeharto dengan bibinya Siti Hardiyanti Rukmana, hingga soal-soal yang "berat-berat" seperti dugaan kudeta dibalik Supersemar 1966. Bahkan kemungkinan keterlibatan Soeharto dalam G 30 S/PKI maupun soal pengusutan harta kekayaan yang, hingga buku ini dicetak keempat kalinya, belum juga menunjukkan upaya sungguh-sungguh dari tim kejaksaan Agung pimpinan Andi M. Ghalib. Hujatan dan hinaan yang dialamatkan kepada mantan presiden Soe-harto beserta keluarganya, adalah akibat logis dari perbuatannya sendiri. Dengan kekuasaan otoriter yang ada padanya, Soeharto berhasil memuas-kan anak cucunya dengan kemewahan berlimpah ruah, tapi sayang sekali, sebagai orang tua dia gagal membekali anak cucunya dengan ilmu dan iman yang akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat. Sete-lah kekuasaan tidak lagi berada dalam genggamannya, mantan presiden itu dinista oleh bangsanya sendiri. Keluarga, anak-anak dan cucunya mulai digugat harta kekayaannya, darimana dan dengan cara apa ia mendapatkannya. Satu demi satu mereka dijadikan tersangka tindak pidana KKN. Dulu mereka dimuliakan karena harta, akhirnya dihinakan karena harta pula. Soeharto mungkin belum pernah belajar agama, sehingga tidak mendapatkan petunjuk dari peringatan Allah: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir akan keselamatan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik". (Q.S. An-Nisa, 4:9).

Seiring dengan kejatuhan Soeharto, kesadaran politik rakyat juga meningkat pesat, didukung informasi dari media cetak maupun elek-tronik. Surat kabar, majalah, dan siaran berita di TV menjadi komoditi yang laris. Begitu pula buku-buku politik yang di masa rezim Soeharto berkuasa, nyaris mustahil untuk diterbitkan apalagi sampai dicetak ulang berkali-kali, kini dapat beredar luas tanpa takut dituduh subversi; terma-suk pula buku yang sekarang berada di hadapan pembaca ini. Dimanapun di dunia ini, sejarah para diktator tidak saja berakhir nista, tapi juga selalu membawa petaka. Begitulah Al-Qur'an membe-ritakan: "Fir'aun dan para pembesarnya bersikap angkuh di muka bumi tanpa alasan. Dan mereka mengira tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa Fir'aun dan tentaranya. Kami melemparkannya ke dalam laut. Perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang membawa ke neraka. Di hari kiamat mereka tidak ditolong. Dan Kami kutuki mereka di dunia. Dan di hari kiamat, mereka termasuk orang-orang yang dibenci". (Qs. Al-Qashash, 28 : 39-42) Nasib sejumlah diktator Asia misalnya, dapat menjadi bukti kebenaran ayat di atas. Pada tahun 1966, Soekarno terjungkal dari kekua saannya, kemudian dicaci maki, karena gagal membenahi keterpurukan sosial-ekonomi yang diciptakan sendiri. Sebagaimana Soeharto, Soekarno juga telah bertindak zalim pada masa-masa akhir kekuasaanya, dan menindas lawan-lawan politiknya dengan kejam. Pada tahun 1979 raja Iran, Syah Reza Pahlevi diusir dari negaranya, terlunta-lunta di negeri orang, kemudian mati di negeri orang sebagai buronan politik. Lebih tragis lagi nasib presiden Mesir, Anwar Sadat. Tahun 1981 dia terbunuh, tubuhnya diberondong peluru maut oleh ajudannya sendiri, di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan parade militer saat ulang tahun angkatan bersenjata di negeri Fir'aun itu. Pada tahun 1991, PM. Banglades, Mohammad Ershad bahkan dije-bloskan ke dalam penjara setelah melalui sidang pengadilan ia dinyatakan bersalah telah mengkorup harta negara dengan jalan tidak halal dan divonis 10 tahun kurungan penjara. Setelah lengser dari singgasana kepresiden, apakah Soeharto juga akan mengalami nasib yang sama dengan teman-teman diktatornya itu? Langkah-langkah reformasi belum akan berakhir, catatan sejarah kehidupan ummat manusia belum titik, tentang apa yang akan terjadi nanti. Tetapi yang sudah pasti, kenyataan ini menjadi bukti otentik adanya warning dari Allah Azza wa Jalla: "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepa-danya, Kami bukakan segala pintu kesenangan, sehingga apabila mereka bergembira ria (dengan segala nikmat) yang diberikan kepadanya, Kami siksa mereka tiba-tiba lantas hilang lenyaplah harapan mereka (dan mere-ka tidak berkutik lagi). maka dihancur-binasakanlah orang-orang yang zalim itu.

Segala puji bagi Allah Rabbul Alamin". (Qs.Al-An'am,6:44-45) Banyak orang salah mengira, bahwa siksa Allah hanya ada di akhirat. Padahal berapa banyak orang yang kita saksikan, tiba-tiba saja jatuh terhempas ke jurang kehancuran. Dan sebagian besar disebabkan akibat pelanggaran terhadap ajaran agama. Bila mereka telah meremehkan agama, maka akan dibukakan pintu-pintu kemewahan, kekuasaan dan sebagainya. Pada saat mereka berada pada puncak kemewahan dan kekuasaan, sekonyong-konyong Allah hancurkan mereka. Dan orang yang sedang berada di atas tiba-tiba ter-hempas jatuh, maka ia akan merasakan sakit yang luar biasa. Manakala seseorang memegang kekuasaan, lalu berbuat zalim, meraup harta rakyat dan menghamburkannya di atas kesengsaraan orang banyak; adalah sangat adil bila mereka ditimpa siksa yang dasyat. Bedah Buku: Bukti Antusiasme Pembaca Sejak cetakan pertama beredar, 16 juli 1998 lalu, buku "Fakta Diskri-minasi Rezim Soeharto terhadap Ummat Islam" ini mendapat sambutan hangat dari para pembaca. Terbukti belum genap dua bulan, buku ini telah mengalami cetak ulang tiga kali. Selain itu, antusiasme pembaca juga dapat dilihat dengan berulangkali diadakannya diskusi dan bedah buku oleh kalangan mahasiswa, pemuda masjid, bahkan pakar-pakar politik dan hukum. Untuk pertamakalinya, pada 27 Juli 1998 bedah buku diselenggarakan oleh Front Sabilillah bekerjasama dengan majalah UMMAT, di masjid Istiqlal Jakarta. Tampil sebagai nara sumber adalah : Prof. Dr. Deliar Noor, KH. Ali Yafie, Dr. Bambang Sulistyo dan editor buku, Irfan S. Awwas. Sedangkan di Yogya, bedah buku digelar oleh Ikatan Remaja Muhamma-diyah (IRM). Kemudian, 19 September 1998, buku ini diperbincangkan hangat di masjid Salman, kampus ITB Bandung. Selain dari editor, tampil menyampaikan orasi, adalah Abdul Qadir Jaelani, saksi sejarah dan mantan napol kasus Tanjung Priok. Kemudian Mursalin Dahlan, aktivis yang sejak muda telah keluar masuk penjara rezim orba. Selanjutnya adalah KH. Rusyad Nurdin, mantan ketua partai Masyumi Jawa Barat, dan sekarang menjadi ketua Dewan Pertimbangan Partai Bulan Bintang. Selain yang telah disebutkan di atas, bedah buku akan diadakan secara beturut-turut di Universitas Airlangga Surabaya, 21 Oktober 1998, diseleng-garakan oleh Fakultas Hukum bekerjasama dengan Komite Penanggula-ngan Krisis (Kompak) Surabaya. Selanjutnya, 31 Oktober bedah buku akan diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Ma'had AlBina' Surakarta bekerjasama dengan Jama'ah Nurul Huda, Unit Kegiatan mahasiswa Islam Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembicaranya antara lain: Abdul Qadir Jaelani, Drs. Adabi Darban, SU dan Mutammi-mul Ula, SH. Dari tiga kali bedah buku yang sudah diselenggarakan, ada beberapa kritik yang masuk. Ada yang mengkritik bakwa buku ini tidak ilmiah, karena tidak menyebutkan sumber lain sebagai

rujukan, dan data-data-nya kurang akurat. Editor tidak menolak penilaian tersebut, sebab buku yang dalam edisi bahasa Arab berjudul, "Mihnatul Islam fi Indonesia" ini, disusun oleh Tim Peduli Tapol Amnesti International sebagai sebuah laporan investigasi mereka di Indonesia pada tahun 1989. Walaupun demikian, buku ini boleh dibilang satu-satunya laporan tertulis tentang narapidana politik Islam di Indonesia. Dan yang menggembirakan, ada-nya bedah buku ini ternyata, di samping kritik banyak juga informasi maupun data-data sejarah yang terungkap dari para peserta sehingga semakin memperkaya isi buku ini. Beberapa kesalahan yang dilakukan Tim Penyusun, akibat kurangnya data dan sulitnya memperoleh informasi, memang sulit dihindari. Melalui bedah buku ini, alhamdulillah kesalahan-kesalahan kecil dapat diperbaiki, baik oleh para ahli maupun para pelaku sejarah yang sekaligus menjadi korban kezaliman rezim militer. Misalnya, kesalahan pada halaman 132, mengenai lembaga pendidi-kan LB3K. Yang benar adalah LP3K (Lembaga Pendidikan dan Pengem-bangan Pesantern Kilat). Informasi penting dan berharga, sebagai upaya pelurusan sejarah datang dari peserta dialog, Dr. Bambang Sulistomo. Mengomentari pernyataan pada Bab I "Militer dan Organisasi Islam di Indonesia", halaman 4 tentang Darul Islam pimpinan SM. Kartosiwirjo, yang menjadi issu sentral dari semua persidangan kasus subversi pada dekade 80-an di Indonesia. Masalah ini hanya dibicarakan selintas saja dalam buku ini. Dr. Bambang Sulistomo, putra pahlawan kemerdekaan Bung Tomo, salah seorang peserta bedah buku di masjid Istiqlal Jakarta, merasa perlu menyampaikan kesaksiannya. Tuduhan pemberontak ter-hadap SM. Kartosuwiryo dengan Darul Islamnya, dinilai bertentangan dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Dia mengatakan: "Menurut kesaksian almarhum ayah saya, yang ditulisnya dalam sebuah buku kecil berjudul HIMBAUAN, dikatakan bahwa pasukan Hizbullah dan Sabi-lillah, menolak perintah hijrah ke Yogyakarta sebagai pelaksanaan isi perjanjian Renville; dan memilih berjuang dengan gagah berani mengusir penjajah dari wilayah Jawa Barat. Keberadaan mereka disana, adalah atas persetujuan Jenderal Soedirman dan wakil presiden Mohammad Hatta. Pada saat clash Belanda kedua, pasukan TNI kembali ke Jawa Barat dan merasa lebih berhak menguasai wilayah yang telah berhasil direbut dengan berkuah darah dari tangan penjajah oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah di bawah komando SM. Kartosowiryo. Karena tidak dicapai kesepakatan, maka terjadilah pertempuran antara pasukan Islam dan tentara republik tersebut". Sejauh mana kebenaran dari kesak-sian ayah saya ini, perlu penelitian para sejarahwan. "Bagaimana menurut pendapat bapak Deliar Noor?", tanya Bambang Sulistomo mengakhiri komentarnya. Sebagai ahli sejarah yang cukup disegani, Prof. Dr. Deliar Noor kemudian menjawab: "Kesaksian almarhum ayah saudara itu, persis seperti kesaksian Haji Agus Salim yang disampaikan di Cornel University Amerika Serikat, tahun 1953. Memang perlu penelitihan ulang terha-dap sejarah yang ditulis sekarang", demikian Deliar Noor. Dalam bedah buku di masjid Salman Bandung, 19 September 1998, Abdul Qadir Jaelani yang

pernah menjadi saksi sejarah di dua masa kekuasaan otoriter, yakni orde lama dan orde baru mengaku, semula ia dan kawan-kawan seperjuangan menjadi tombak orde baru untuk meruntuhkan orde lama. Namun akhirnya, dengan orde baru pun bersimpang di tengah jalan. Selanjutnya, ia menjadi oposan, bukan hanya dalam soal RUU perkawinan, sidang dewan gereja maupun aliran kepercayaan dalam GBHN, serta asas tunggal Pancasila sehingga harus "menikmati" penjara orde baru. Kedua rezim ini, menurut salah seorang ketua DPP Partai Bulan Bin-tang ini, secara esensial tidak berbeda, dalam arti keduanya otoriter. Orde lama dinilainya nasionalis-markis, sedang orde baru sekularis mutlak dan keduanya sangat anti Islam. Gambaran sejarah detail dituangkannya dalam pembelaannya di depan pengadilan pertama tahun 1978 dengan judul: Pemuda Islam Menggugat, setebal 280 halaman. Lalu pembelaan tahun 1984 di depan PN Jakarta pusat dengan judul, "Musuh-musuh Islam melakukan Offensive terhadap Ummat Islam" setebal 500 halaman dengan referensi 120 buku. Mengapa rezim Soeharto begitu anti terhadap Islam? Ia coba menga-nalisisnya dengan mengatakan, selama dua rezim penguasa, pemikiran politik di Indonesia didominasi oleh nasionalis-palangis-sekularis. Pengu-asa orde baru, bahkan memiliki think tank, yakni CSIS. Tahun 1992 CSIS menyusun sebuah buku untuk kalangan intern berjudul "Master Plan Pembangunan Bangsa" setebal 861 halaman. Di dalam buku itu digariskan bahwa ancaman yang paling esensial dalam pembangunan orde baru adalah dari kaum muslimin fundamentalis. Itulah yang kemu-dian dicanangkan dalam berbagai kesempatan. Dokumen berklasifikasi "sangat rahasia" yang ditemukannya dari Kopkamtib, mabes ABRI, kejaksaan agung sejak 1967 sampai 1978, mengungkapkan antara lain: Setiap menjelang hari-hari besar Islam, selalu dikirimkan telegram dari tiga instansi tersebut ke seluruh aparat keamanan hingga tingkat rendah, agar semua kegiatan tersebut dimonitor dan hal-hal yang kira-kira berke-naan dengan ancaman terhadap penguasa, harus dibatalkan. Itulah sebabnya, selama rentang waktu tersebut, ceramah agama tidak pernah tidak mendapat gangguan. "Saya sendiri hampir tiap bulan ditangkap atau diculik" ungkapnya. "Tidak seperti Pius Lustrilanang, hanya diculik dua bulan lalu dilepaskan, tapi kami disiksa di luar batas kemanusiaan. Anehnya hal-hal seperti itu kini diabaikan begitu saja. Jauh berbeda dengan kasus penculikan aktivis pro demokrasi belakangan ini, kasusnya dapat menyebabkan seorang jendral (Prabowo,ed.) diberhenti-kan dari ABRI." katanya. "Kasus Tanjung Priok itu luar biasa", tambahnya. Lebih dari 450 orang dibantai dengan berondongan senapan M-16, lalu mayatnya di lemparkan ke truk-truk militer. Satu truk berisi lebih dari 40 jenazah, sebagaian jenazah itu kemudian di kremasi di Cilincing, Jakarta Utara. Anehnya, kasus luar biasa itu sekarang justru ingin dilupakan. Dengan alasan ummat Islam bukan pendendam, lalu muncul orang-orang yang mengusulkan perlu diadakan rekonsiliasi nasional. Ummat Islam bukan pendendam, itu benar. Tapi ummat Islam penganut hukum

qishas, yakni balasan yang seimbang. "penyiksa harus disiksa", "pembunuh harus dibunuh". Dan kami akan menuntut itu sampai pembunuh-pembunuh berdarah dingin yang dipimpin LB. Murdani dan Try Sutrisno, mati berdiri di republik ini!" tegasnya. Sebagai pembicaraan berikutnya, Mursalin Dahlan menuturkan pe-ngalamannya. Upaya rezim Soeharto mengeliminir peran ummat Islam tidak hanya dengan menghancurkan kekuatan politik, ekonomi dan kebu-dayaan Islam. Tetapi juga secara sistimatis menghancurkan aqidah um-mat Islam. Upaya itu ditempuhnya dengan memaksakan masuknya aliran kepercayaan ke dalam GBHN tahun 1978, setelah mereka gagal memak-sakan UU perkawinan yang bertentangan dengan syariat Islam pada tahun 1973. Disusul kemudian dengan memaksakan penetapan asas tunggal Pancasila bagi organisasi sosial politik. Pemaksaan asas tunggal inilah yang kemudian memicu kemarahan ummat Islam yang memegang teguh aqidahnya. Berbagai jama'ah ummat Islam melakukan perlawanan dengan caranya masing-masing, sehingga bentrok antara ummat Islam dengan rezim Soeharto tak terhin-darkan. Maka pecahlah berbagai tragedi, mulai dari tragedi Tanjung Priok, diikuti dengan Lampung, Aceh, Haur Koneng, dan tempat-tempat lain-nya sebagaimana diungkap dalam buku ini. Banyak orang tidak percaya, Soeharto akan hancur secara hina dina. Pada detik-detik Soeharto akan runtuh pun, seorang pengamat politik asing masih menyatakan Soeharto masih cukup kuat. Penilaian tersebut memang sangat wajar, sebab boleh dibilang Soeharto memiliki segala-galanya, dukungan militer, uang, Golkar dan dukungan para penjilat. Tapi apa yang dimiliki Soeharto tidak ada artinya sama sekali, berhadapan dengan kekuasaan Allah SWT. Atas berbagai tindak kezaliman yang diperagakan, Soeharto pasti akan mene-mui kehancuran, sama seperti yang dialami oleh Soekarno, ternyata benar adanya. Bahkan dalam ukuran tertentu keruntuhan Soeharto lebih tragis dan hina dibanding kejatuhan Soekarno. Menyinggung peranan asas tunggal Pancasila dalam merusak tata-nan politik dan sumber dari segala sumber malapetaka di bawah rezim Soeharto, dengan mengutip ucapan Syafruddin Prawiranegara pada halaman 96 buku ini, Mursalin Dahlan mengatakan. "Kalau orang-orang Kristen tidak dibenarkan membentuk organisasi atas dasar kekris-tenan, baik Protestan maupun Katholik, dan kaum muslimin tidak boleh mendirikan organisasinya berdasarkan Islam, dan begitu pula warga negara lainnya yang beragama lain, maka sesungguhnya Indonesia men-jadi sebuah negara nasionalis-facis, sehingga keburukan dan kejahatannya tidak berbeda dengan negara-negara komunis". "Indonesia di bawah rezim Soekarno adalah nasionalis-komunis, sedang di masa rezim Soeharto, Indonesia adalah nasionalis-facis. Dan Indonesia di abad 21, Insya Allah dipimpin oleh kaum nasionalis-Islam tegasnya. Pada kesempatan yang sama, KH Rusyad Nurdin mengemukakan "orang kalau sudah berkuasa tidak mau kekuasaannya itu ditentang." Mengutip sebuah hadits, ia menuturkan. Di masa Rasulullah SAW. dulu ada seorang wanita yang hendak makan, namun seekor kucing mendahu-

lui menyantap lauk pauknya. Hati nurani wanita tersebut sebetulnya menyalahkan dirinya sendiri, tetapi karena merasa seolah-olah tidak di-hargai oleh seekor kucing lantaran integritasnya dilanggar, akhirnya ia menangkap kucing tersebut dan mengurungnya, lalu menyiksanya dengan tidak memberinya makan minum. Mendengar kejadian tersebut Rasulullah SWA langsung bersabda: "Hiya fin-naar" (Dia penghuni neraka)". Lalu saya pikir, bagaimana penguasa yang membunuh orang-orang yang dianggap menentang kekuasaannya, termasuk orang-orang yang tidak berbuat apa-apa. Beginilah kejamnya seseorang kalau sudah merasa enak hidup di dunia dan dia menguasai segala sesuatu, maka mereka tidak akan mau ditentang," tutur KH Rusyad Nurdin. Namun demikian lanjutnya, umat Islam tidak boleh tinggal diam, yang buruk, kejam dan bathil harus ditentang. Para pembicaran sepakat, meskipun tidak luput dari kekurangan, buku ini benar-benar menyentuh rasa kemanusiaan, oleh karena begitu banyak orang yang berkorban demi kebenaran dan begitu banyak orang yang dikorbankan demi kekuasaan. Maka buku ini juga bermaksud mengingatkan seluruh eksponen reformasi, agar kezaliman Soeharto tidak terulang lagi di negeri ini. Untuk itu, tidak ada jalan lain, kita harus terus berjuang sampai reformasi total tercapai di bawah perlindungan dan keridha'an Ilahy. Sikap Pemerintahan Bj. Habibi Menteri Kehakiman, Prof. Dr. Muladi, SH pernah berjanji akan membe-baskan seluruh Tapol dan Napol, minimal sepuluh orang tiap minggu. Akan tetapi, sampai sekarang, lima bulan pemerintah reformasi pemba-ngunan berkuasa, baru sekitar 50 orang saja yang dibebaskan, dan tak seorangpun dari napol Islam. Semakin banyak kelompok pro reformasi yang menuntut pembeba-san mereka, seperti Komite Solidaritas Muslim untuk Tapol dan Napol, Sontak, Kontras, Front Sabilillah dan lain-lain, pemerintah tetap saja acuh tak acuh. Terhadap Napol Islam misalnya, pemerintah BJ. Habibi masih melanjutkan diskriminasi dan sikap represif orde pemerintahan sebelum-nya. Orangorang Islam yang ditahan seperti diungkap dalam buku ini, dianggap kasus mereka bukan politik, melainkan kriminal, teroris atau GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Itulah sebabnya, kriteria pembeba-san Napol yang ditetapkan pemerintah mengacu pada anggapan di atas. Bahwa mereka yang dibebaskan, adalah yang tidak terlibat kriminal, tidak menentang pemerintah dan tidak menentang Pancasila. Rekayasa politik yang digelar Soeharto guna menghabisi para penen-tangnya demikian transparan. Begitu pun, persidangan subversi yang digelar di pengadilan-pengadilan negeri telah menjadi lembaga konstitusi-onal untuk menghukum lawan-lawan politiknya. Semua itu diungkap secara gamblang dalam buku ini. Apakah ini belum cukup sebagai alasan untuk meringankan derita para Napol yang kini masih meringkuk di penjara. Ataukah pemerintah orde reformasi berkeinginan meneruskan permusuhan yang diwariskan rezim sebelumnya? Pertanyaan ini tetap relevan, jika mengacu kepada kebijakan pemerintah sekarang. Barangkali benar, bahwa pemerintah Indonesia, baik orde lama, orde baru maupun orde reformasi -

sebagaimana disinyalir banyak orang - belum mampu melepaskan diri dari belenggu dan tekanan zionis internasional. Kelompok-kelompok Yahudi dan Nasrani, dengan segala cara berhasil menekan rezim Soeharto, melalui lobi politik, militer dan uang, sehingga pada gilirannya, tragedi menyedihkan menimpa ummat Islam tanpa bisa memberikan pembalasan, walau dengan lisan sekalipun. Berbeda dengan kasus yang menimpa segelintir orang-orang non Islam. Seperti penculikan aktivis, kasus Pius Lustrilanang Cs, menjadi issu sejagad; sementara ribuan nyawa kaum muslimin direnggut secara kejam, tak ada yang menggubris. Issu perkosaan massal yang menimpa etnis Cina, konon mereka bera-gama Nasrani, disorot secara amat belebihan dan arogan. Tetapi siapa peduli dengan nasib wanita yang menjadi pembantu rumah tangga orang-orang Cina yang mengalami penyiksaan dan sekaligus perkosaan? Siapa peduli dengan nasib ribuan wanita muslimah yang diperkosa dan dibunuh secara biadab di Aceh? Mengapa pemerintah tidak membebaskan napol Islam, sementara napol yang berpola fikir sekuler dan sosialis dibebaskan dengan mudah? Inilah di antara bukti, yang banyak disinyalir, bahwa pemerintah orde reformasi masih mendapat tekanan dari agen zionis domestik, dan itu artinya reformasi di bidang politik belum memperoleh porsi secara proporsional. Apakah pemerintah juga berkeyakinan, bahwa membe-baskan Napol Islam akan menghidupkan kembali gerakan Islam funda-mentalis? Jika jawabannya "ya" itu bukti yang lain lagi, bahwa pemerin-tah orde reformasi memang masih berada di bawah tekanan agen-agen zionis di negeri ini. Mengakhiri pengantar keempat buku ini, sepatutnyalah kita mengi-ngatkan, bahwa kaum muslimin di negeri ini hendaknya menyadari eksis-tensinya yang terinjak, dan potensinya yang terabaikan. Mengapa begitu banyak kaum muslimin, - penganut Islam terbesar sedunia - tetapi mereka tidak memperoleh kemerdekaan dalam menjalankan dan mengamalkan syariat agama yang diyakini kebenarannya? Bahkan tanpa disadari, um-mat Islam diadu domba oleh musuhmusuhnya, sehingga mereka ber-lomba-lomba - bukan fastabiqul khairat - tetapi sibuk mendirikan partai. Mereka sibuk berbicara tentang masalah internal, berebut massa kaum muslimin, atau berkoalisi untuk memenangkan Pemilu 1999 mendatang. Apa artinya semua ini? Belumkah tiba saatnya bagi ummat Muhammad saw. untuk menyadari, bahwa masa depan mereka di negeri ini tengah menjadi agenda utama kekuatan lain yang memusuhinya. Bagaimana memarjinalkan peranan maupun pengaruh mereka dalam membangun Indonesia baru yang steril dari celupan Islam. Akhirnya, "Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, jangan-lah kamu berpecah belah", demikian A-Qur'an, surat Ali Imran, 103 me-nasehatkan. Sekiranya kaum muslimin benar-

benar berpegang pada hukum dan aturan Allah, niscaya mereka tidak akan berpecah, sekalipun mungkin masih berada pada wadah yang berbeda. Jika kaum muslimin bersatu padu menegakkan keadilan dan demokrasi, menyerukan amar bil ma'ruf wa nahyi anil mungkar, niscaya takkan ada suatu kaum pun di Nusantara ini yang akan meremehkan eksistensi mereka. Dengan demikian mereka akan dapat menciptakan perdamaian, meningkatkan kesejahteraan serta menumbuhkan kehidupan yang harmonis antar penganut ummat beragama sesuai ideal Islam, sebagai rahmatan lil alamin. Wallahu a'lam bish-shawab. SIKAP HIDJRAH PSII I
PENGIRING KALAM BAGIAN PERTAMA Dari Pihak: Ladjnah-Tanfidzijah Party Sjarikat Islam Indonesia Sebagai Badan Penerbit dan Penjiar Brosoer ,,Sikap Hidjrah” karangan S. M. Kartosoewirjo, Vice-President Dewan Party Sjarikat Islam Indonesia, rasanja soedahlah selajaknja kita dahoeloekan sepatah doea-patah kata bagi mendjelaskan penerbitannja. Alhamdoelillah terlebih doeloe kita oetjapkan, bahwa kini soedah selesai Brosoer ,,Sikap Hidjrah” P.S.I.I. jang oleh Formatie (Soesoenan) Poetjoek-Pimpinan Party S.I. Indonesia diserahkan dalam Kongres (Madjlis Tahkim) Party ke-22 di Djakarta kepada saudara S. M. Kartosoewirjo oentoek dikerdjakan olehnja, teroetama tentang segala keterangan, penerangan dan pertimbangan jang bersifat pendjelasan (uiteenzetting) atas asasnja ,,Sikap Hidjrah” P.S.I.I. Asas mesti didjelaskan, karena perloe sekali pihak ramai pada oemoemnja dan Kaoem P.S.I.I. pada choesoesnja mengikoeti dan mengertikan paham Formatie Poetjoek-Pimpinan Party S.I. Indonesia sekarang ini akan soal Hidjrah jang telah diterima dan disahkan oleh Madjlis Tahkim terseboet di atas, demikian itoe teroetama sekali dengan mengingat betapa djaoeh berlainan dan berbeda sebagian golongan Ra’jat dengan sebagian golongan jang lainnja daripada Bangsa kita Indonesia. Maka paham, pengertian, pandangan, djeladjahan (analyse) Sikap Hidjrah P.S.I.I didjelaskan dalam Brosoer ini, jang sebeloem dan sesoedah selesainja terkarang oleh penoelisnja, telah dimoesjawarahkan semasak-masak, dengan Formateur Poetjoek-Pimpinan Party dan L. T. Party Sehari-hari. Sedang tentang hal-hal jang meloeloe menge-nai dan berhoeboengan dengan tjara-melakoekannja (wijze van uitvoering), Insja Allah dengan berangsoer-angsoer akan kita terbitkan beroepa Brosoer jang istimewa. Boleh djadi segalanja itoe akan dapat dimoeat dalam seboeah Brosoer lagi, tapi tidak poela moestahil bahwa keterangan dan penerangan atasnja menoentoet dari pada kita toelisan-toelisan jang berdjilid-djilid banjaknja. Dan segalanja itoe tentoelah akan diharapkan pengesahannja dari Madjlis Tahkim Party jang akan datang. Maka asas ,,Sikap Hidjrah” P.S.I.I. sebagai termaktoeb dalam Brosoer ini bersandar atas pengesahan Madjlis Tahkim terseboet di atas (ke-22), jang sedjak terbitnja akan mempoenjai kekoatan hoekoem (sanctie) bagi Doenia Party Sjarikat Islam Indonesia. Ia menentoekan gerak, langkah oesaha-ichtiar dan daja-oepaja jang wadjib didjadikan pedoman Party S. I. Indonesia akan mengedjar tjita-tjitanja jang moelia, kemoedian dengan segala kekoeatan tenaga dan pikiran akan beroleh boeah dari padanja. Sikap Hidjrah jang mendjadikan Sikap P.S.I.I., baik bagi Doenia-Dalam maoepoen bagi Doenia-Loear, baik berhadapan dengan kawan maopoen berhadapan dengan golongan manapoen djoega, jang tidak menjetoedjoei Asas P.S.I.I. Maka keterangan dan penerangan Sikap terseboet dengan seloeas-loeasnja akan didapati orang dalam Brosoer ini. Sangat boleh djadi bahwa segala sesoeatoe jang dioeraikan di dalamnja akan mendjadi dan beroedjoed ,,barang baroe” bagi orang jang sengadja tidak soeka mengikoeti gerak-langkah Party Sjarikat Islam Indonesia dalam selama ia menoendjoekkan oedjoed dan bangoenannja dipermoekaan boemi Indonesia. Tapi kita mempoenjai kejakinan setegoeh-tegoehnja bahwa ,,barang baroe” itu akan mendjilma mendjadi ,,barang loemrah”, barang jang biasa dalam hakikatnja, hanja sebeloem itoe tidak mengetahoei nama dan sifat-sifat jang tegas –dengan tolong dan penerangan jang disadjikan dalam brosoer ini– Dalam pada menerbitkannja, tidaklah kita menjimpan hati was-was atau ragoe-ragoe, karena sepandjang tahoe dan pandai kita segala sesoeatoe jang termaktoeb di dalamnja adalah berdasarkan dan berdalilkan atas sendi Hoekoem-moe’llah dan Soennah Rasoeloellah Rasoeloellah Clm, semata-mata.

Di balik itoe kita berkejakinan poela, bahwa sifat dan ta’biat manoesia selama-lamanja tidak terbebas dari pada salah dan keliroe. Kesadaran manoesia akan sifat dan tabi’at seroepa itoe, dapat berbalik mendjadi ,,jakin dalam langkah, tegas dan njata dalam sikap dan pendirian, tidak ragoe-ragoe dalam gerak dan sepak-terdjang karena tidak terhanjoet oleh kiraan dan wasangka” dengan mengoeat dan membanjakkan sjoekoer dan do’a kehadiran Allah, Dzat yang Maha Tinggi, atas segala sesoeatoe jang kita perboet dengan kadar kekoeatan lahir dan bathin jang ada pada kita, dengan memperoentoekkan segalanja bagi-Nja dan karena-Nja belaka. Demikian poela jang kita harapkan karoenia rahmat Ilahi jang akan mendjadi bagiannja Brosoer ini, Amien, ja Rabba’l-‘alamin. Maka dengan berpedoman sikap Hidjrah terseboet, kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia wadjib dan tentoe mempoenjai kejakinan jang setegoeh-tegoehnja, bahwa Insja Allah segala tjita-tjitanja jang moelia akan tersampai kepada arah jang ditoedjoe. Achirnja, tjoekoep rasanja ,,Pengiring Kalam” dari pihak kita sekian sadja, sekedar mengenai mana-mana jang perloe mendjadi pendjelasan penerbitan Brosoer ini, dengan kita ikoet do’a: Moedah-moedahan mendapat samboetan jang berpadanan dari sebanjak-banjak kaoem Moeslim di Indonesia dan kaoem Party S.I. Indonesia choesoesnja, serta membawa manfa’at dan goena, oetoek Agama Noesa dan bangsa. Wa’l Hamdoelillahi Rabbi’l ‘Alamin, Wa’ccalatoe Wa’ssalamoe ‘Ala Chatamin Nabijjin, Moehammad Rasoeloe’llah Clm. Salam dan do’a kita: Pimpinan Ladjnah-Tanfidzijah Party S.I. Indonesia Secretaris: President: AROEDJI KARTAWINATA ABIKOESNO TJOKROSOEJOSO

KATA PENGHANTAR BAGIAN PERTAMA Sjahdan, maka dalam pertengahan tahoen ini moelai tanggal 8 hingga tanggal 12 Juli 1936, soedahlah dilangsoengkan dengan selamat Madjlis Tahkim Party Sjarikat Islam Indonesia jang ke XXII, bertempat di Djakarta.

Berhoeboeng dengan ,,Sikap Party ke depan”, istimewa sekali jang berkenaan dengan politik, jang pada asasnja telah diterima oleh Madjlis Tahkim tsb., maka antara lain-lain dipoetoeskan, bahwa sehabis Madjlis Tahkim XII itoe dengan segera akan diterbitkan satoe Brosoer, jang menegaskan dan mendjelaskan asas ,,Sikap Hidjrah Party”, sepandjang faham, pengertian dan adjaran-adjaran Agama Islam jang soetji. Maka dengan tidak tersangka-sangka, pemboeatan Brosoer itoe oleh Madjlis Tahkim didjatoehkan atas poendak kami. Mengingat Bai’at Party, dan kepertjajaan jang sepenoeh-penoehnja akan tolong, keroenia dan pertoendjoek dari pada Allah Soebhanahoe wa Ta’ala, maka sedjak achir boelan jang laloe (Agustus 1936) moelailah kami mengarangkan apa-apa jang mendjadi kewadjiban kami itoe, dengan kekoeatan dan qadar jang ada pada diri kami. Sedang sementara itoe sebeloem dan sesoedah kami memboeat karangan ini, kami telah berdamai dan sepakat dengan Poetjoek Pimpinan Party, istimewa dengan Formateur. Dengan kesadaran dan keinsjafan, bahwa tiap-tiap pekerdjaan dan kekoerangan, maka kami menjatakan pengharapan jang amat sangat kepada sekalian pembatja jang terhormat, djika kelak menemoei satoe kesalahan atau tjela dalam brosoer ini, soedi apalah kiranja memberi peringatan langsoeng kepada diri kami, dengan mengemoekakan alasan-alasan jang sah, tjoekoep dan koeat, agar soepaja dengan djalan ini kami dapat memperbaiki mana-mana jang perloe dan seberapa perloenja. Sebaliknja, djika ada kebenaran jang diperoleh di dalamnja, hendaklah tolong ,,Karena Allah” menjampaikannja kepada kawan dan djiran, handai-taulan dan ichwan, soepaja dengan djalan ini lebih bertambah-tambah banjak manfa’at dan maslahat, jang boleh diperdapat dari pada Brosoer ini, Insja Allah. Adapoen Isinja Brosoer bagian pertama jang seketjil ini terbagi mendjadi lima Bab, jang mengandoeng segala keterangan, penerangan, pertimbangan (overwegingen) dan lain-lain jang berkenaan dengan Hidjrah. Bab Pertama: memberi keterangan jang amat ringkas tentang ,,Agama dan Manoesia”. Sebab kami berkejakinan, bahkan djika orang beloem sadar dan insjaf akan kewadjiban hidoep, maksoed dan toejoean hidup, soekarlah kiranja ia akan dapat mengikoeti keterangan-keterangan, penerangan dan pertimbangan-pertimbangan tentang ,,Hidjrah”. Lebih-lebih lagi karena ,,Hidjrah” itoe adalah satoe masalah hidoep, atau satoe, kehidoepan dan penghidoepan manoesia, jang semoeanja itoe haroes diroepakan sebagai ,,Bakti kepada Allah Jang Esa.” Bab Kedoea: mentjeritakan ,,Keadaan sebeloem Hidjrah.” Di dalamnja dapat diketemoekan berbagai-bagai kedjadian jang mengenai diri Nabi sendiri –jang achirnja menoemboehkan kepertjajaan jang tegoeh dan koeat, menghadapi tiap-tiap bahaja dan bentjana jang mengantjam diri dan Oemmatnja– maoepoen jang diderita oleh saha-bat-sahabatnja. Pangkal, alasan dan sebab-sebab timboelnja Hidjrah itoe poen terdapat poela di dalamnja. Bab Ketiga: meriwajatkan ,,Hidjrah Nabi Clm. Dari Mekkah ke Madinah”, sebab-sebab, keterangan, penerangan, pengalaman dan lain-lain jang terdjadi dalam Perdjalanan Hidjrah itoe. Bab Keempat: menggambarkan dengan njata dan terang ,,Zaman Madinah selama Tahoen Hidjrah Pertama.” Tjara-tjara Rasoeloellah mengatoer dan menjoesoen Oemmat, memimpin dan menoentoennja, perhoeboengan dengan pihak loear, dan lain-lain boleh-lah didapatkan di dalam Bab ini. Bab Kelima: merawaikan tentang Riwayat Islam, moelai tahun 2 H, hingga tahoen 8 H, jang semoeanja perloe kita tjatat, djika hendak mengetahoei soenggoeh-soenggoeh dan dalam-dalam sikap dan pendirian, dalam masa selama Hidjrah Nabi Clm. itoe. Segala keterangan dan penerangan, jang berkenan dengan riwayat, sedapat-dapat diboeat dengan amat ringkas, jang karena itoe hendaknja djangan mengoerangkan djelas dan tegas. Ada poela bagian lainnja, jang sengadja diboeat dengan agak pandjang, bagi menghilangkan salah faham dan salah pengertian atasnja. Adapoen tentang segala sesoeatoe jang berkenaan dengan Asas, Maksoed dan Toedjoean Hidjrah, dan lain-lain jang bersangkoetan dengan hal ini, hendaklah pemba-tja soeka memeriksa Brosoer Bagian Kedoea. Moedah-moedahan Allah Soebhanahoe wa Ta’ala dapat meng-idjabah pengha-rapan Pengarang Brosoer ini, jang kelak manfa’at dan maslahatnja akan melipoeti segenap Doenia Islam dan oemmat Islam serta kaoem Moeslimin dari pada Bangsa dan Noesa kita, djoea adanja. Amien. Wassalam, Vice-President Dewan Party Sjarikat Islam Indonesia,

S. M. KARTOSOEWIRJO. Malangbong, 10 September 1936. Batavia-C

BAB PERTAMA AGAMA DAN MANOESIA ,,Ialah (Allah) jang mengoetoes (Nabi Rasoeloellah Clm.) dengan pertoendjoek (jang njata) dan agama jang benar (sedjati), soepaja Ia mengataskan agama itoe (Islam) di atas segala agama jang lainnja, walaupoen orang-orang moesjrik membentjinja.” Soerah As-shaf (61) ajat 9. Sjahdan, sedjak adanja manoesia di moeka boemi ini, sedjak itoe poela moelailah orang memboeat sesembahan, tempat jang dipoedja dan dipoedji, tempat jang dianggap soetji, karena manoesia tahoe, bahwa di loear dia ada berdiri satoe Kekoeatan dan Ke-koeasaan jang lebih besar, lebih sempoerna dari pada kekoeatan dan kekoeasaan jang ada pada dirinja. Orang menjembah batoe dan kajoe, menjembah tanah dan air, menjembah api dan angin, singkatnja matjam-matjam ‘akal dan daja-oepaja manoesia oentoek mentjari perlin-doengan, mentjari keselamatan bagi dirinja semasa hidoepnja. Zaman djahilijah jang koeno itoe soedah lampau. Diganti dengan djahilijah mo-dern, jang pada hakikatnja poen tidak beda dengan kegelapan pada zaman dahoeloe kala itoe. Berpoeloeh-poeloeh, beratoes-ratoes, bahkan riboean kali Allah Soebhana-hoe wa Ta’ala mengirimkan oetoesan-oetoesan-Nja (roesoel) dan Nabi-nabi-Nja (pem-bawa-pembawa chabar dari Allah), oentoek memperbaiki keadaan manoesia, di dalam hidoep dan pergaoelannja. Tiap-tiap oetoesan Allah itoe ditoeroenkan, tiap-tiap kalinja ia mendapat tentangan dari kaoem Djahilin dengan kekerasan dan kekedjaman. Oleh sebab itoe tidak djarang ada Nabi jang terboenoeh ataupoen jang dihalaukan dari tempatkelahirannja. Hanja ka-rena menjiarkan berita-berita atau Agama dari pada jang Esa. Satoe-satoenja Dzat jang wadjib disembah oleh tiap-tiap machloeq. Dari pada berpoeloeh-poeloeh, ratoesan dan riboean Nabi Allah itoe, jang paling terachir, jang penoetoep ialah Nabi Rasoeloellah Clm. Nabi kesoedahan jang menoe-toep dan mentjoekoepkan serta menjempoernakan segala naboewah dari

pada Allah. Nabi ialah seorang jang membawa benih kesedjahteraan, benih kesentausaan, sekalian peratoeran-peratoeran (addin-Agama) karena keroenia dan kasih dari pada Allah djoea. Hal ini dengan njata diseboetkan di dalam Al-Qoer’an, Soerah Al-Anbija (21) ajat 107, sebagai berikoet: ,,Dan tidaklah Kami (Allah) mengirimkan kamoe ke doenia, melainkan (oentoek memberikan) Rahmat bagi sekalian ‘alam.” Perkataan ,,’alam” di sini ditoedjoekan kepada sekalian machloek, sekalian bangsa manoesia, bahkan bererti poela segala apapoen, jang ghaib dan jang sjahadah. Ajat jang kita koetipkan di atas kepala Bab ini tjoekoeplah kiranja mendjadi boekti-kenjataan, bahwa Agama jang diataskan oleh Allah atas sekalian Agama jang lainnja (jang lebih doeloe –sebab kemoedian dari itoe ta’ ada Rasoel-Oellah lagi– ialah Agama Islam. Lebih tegas lagi, djika kita memeriksa Kitaboellah, soerah Ali-‘Imran (3) ajat 18: ,,Bahwasenja Agama (jang sempoerna) dalam pandangan Allah ialah Agama Islam…” Dalam kitab jang seketjil ini boekanlah maksoed kita membitjarakan masalah ,,Agama dan Manoesia” dengan seloeasloeasnja, melainkan hanjalah sekadar jang mengenai garis-garis besarnja, dengan harapan, moedah-moedahan dengan sepatah doea patah perkataan jang kita toeliskan ataoe berkenanlah hendaknja Allah memboekakan mata-hati kita, hingga kita mengetahoei akan maksoed dan toedjoean hidoep jang sempoerna, sebagai jang diadjarkan oleh Penghoeloe Besar, Nabi Rasoeloellah Clm. Fasal 1: Chaliq dan Machloeq Allah Soebhanahoe wa Ta’ala menitahkan sekalian ‘alam ini, jang ghaib dan jang sjahadah, sepandjang atau sependek penjelidikan moefassirin jang terbanjak, bolehlah dibagi mendjadi 2 bagian: (a) Takwin Takwin itoe ertinja, bahwa sesoenggoehnja Allah Soebhanahoe wa Ta’ala mem-boeat sekalian ‘alam ini dengan satoe tjara, jang sekali-kali tidak dapat diselidiki atau diketahoei oleh pantja indrinja manoesia, satoe tjara jang mengatas segala penjelidikan dan pengetahoean machloeq-Nja. Af’a-Oellah (perboeatan-perboeatan Allah) ini tidak bersangkoet-paoet dengan sesoeatoe machloeq. Tidak ada gantoengan atau hoeboengan dengan tangan manoesia, tidak poela ada satoe oesaha manoesia jang menjampoerkan diri padanja. Semoeanja itoe terdjadi dan didjadikan, karena Kehedak (Iradat) dan Kekoeasaan (Qoedrat) Allah semata-mata. Maha Soetjilah Dia dari pada sekaliannja itoe! Soebhana-Llah! (b) Tasjri’ Selain dari pada itoe ada poela perboeatan2 Allah, jang seolah-olah tergantoeng, ataoe seakan-akan dilekatkan dengan oesaha manoesia. Satoe perkara jang tampaknja terikat oleh waktoe dan tempat di dalam ‘alam ini. Maka toemboehlah di dalam ‘ilmoe pengetahoean manoesia berbagai-bagai theo-rie, jang berkenaan dengan filsafat, tasawoef dan sjari’at Agama, mitsalnja: theorie ,,asbab-oen-noezoel”, satoe theorie jang menerangkan sebab-sebab toeroennja ajat-ajat Al-Qoer'an. Bagian ini lazimnja dinamakan orang bagian Tasjri’, ertinja sesoeatoe perkara, jang menghendaki dan menoentoet berlakoenja sjari’at, bersangkoetan dan berhoeboengan langsoeng dengan adanja atau dengan perantaraan sjari’at. Maka dengan djalan Tasjri’ inilah –demikianlah tjara manoesia (‘indannas)– Allah Ta’ala menoeroenkan Agama-Nja kepada sekalian machloeq-Nja. Agama jang di dalamnja terdapat segala peratoeran bagi manoesia, bagian doeniawy maoepoen oechrowy, hidoep seorang diri atau hidoep bersama-sama, bagi satoe bangsa dan segenap peri-kemanoesiaan, bagi kemoeliaan di doenia dan bahagia di achirat. Pendek-pandjangnja, sekalian peratoeran jang mendjadi keperloean ‘alam ini, dlohir dan bathinnja, semoeanja dapat kita ketemoekan di dalam Agama Islam, moelai jang seketjil-ketjilnja hingga jang sebesar-besarnja. Fasal 2: Maksoed dan Toedjoean Hidoep Manoesia Adapoen maksoed dan toedjoean hidoep manoesia, jang ber-Toehankan kepada Allah Jang Esa dan ber-Nabikan kepada Rasoeloellah Clm, tidak ada lain, melainkan: ,,Melakoekan ‘amal ‘ibadah terhadap kepada Allah dengan choesjoe’ dan

choedloe’ dalam erti kata jang sesempoerna-sempoernanja, dengan tjara dan lakoe jang ditjon-tohkan oleh djoendjoengan kita Nabi Rasoeloellah Clm. Kita jakin dengan penoeh-penoeh, bahwa tidak ada tjontoh jang paling moelia, paling oetama, paling tinggi dan paling loehoer harkat-deradjatnja, melainkan tjontoh dan tauladan dari pada Penghoeloe Besar kita itoe Tentang keindahan boedipekerti (achlaq), kekoeatan roehany (bathin) dan keoetamaan perdjalanan Clm. itoe tidak seorang poen jang dapat menolaknja, walau lawan dan moesoeh Islam sekali poen. Berkenaan dengan perkataan ,,Ibadah”, baiklah di sini kita terangkan dengan singkat akan erti dan maksoed perkataan ini. Adapoen hal ‘Ibadah ini --sepandjang garis-garis besarnja-- bolehlah dibagi mendjadi doea bagian: (1) ‘Ibadah Choesoesiyah, jang mengenai keperloean manoesia seorang diri, dan (2) ‘Ibadah ‘Oemoemiyah, jang bersangkoetan dengan keperloeasan manoesia menghadapi sekalian ‘alam di loear dirinja. Bagian jang pertama seringkali diseboet djoega bagian ,,ananijah” (individueel), dan bagian kedoea dinamakan orang ,,nahnijah” (universeel). Hatta maka kewadjiban tiap-tiap manoesia ber’ibadah atau Bakti kepada Allah itoe, termaktoeb di dalam berpoeloehpoeloeh ajat Qoer’an dan ternjata di dalam se-genap Soennah Rasoeloellah Clm. Antara lain-lain diseboetkan di dalam Kitab-Oellah jang soetji itoe: ,,Hai, sekalian bangsa manoesia! Baktilah kepada Toehanmoe, (Toehan) Jang mandjadikan kamoe dan mendjadikan orangorang sebeloem kamoe, agar soepaja kamoe takoet (kepada-Nja)” Soerah Al-Baqarah (2) ajat 21. Dan lagi : ,,Dan tiadalah diperintahkan (kepada manoesia), melainkan agar soepaja berbakti kepada Toehan jang Esa: tiada Toehan (lain), melainkan Dia…...........” Soerah At-Taubah (9) ajat 31 Di dalam zaman seperti jang kita alami ini soenggoeh sangat perloe manoesia tahoe, sadar dan insjaf akan kewadjibannja ,,Bakti.” Djika ia tidak bakti kepada Allah, tentoelah ia akan bakti kepada ,,selain dan di loear dari pada Allah.” Maka moedah sekali manoesia djatoeh dalam kekoefoeran, hanja karena ta’ tahoe kepada siapa ia wadjib bakti. Selain dari pada itoe, perboeatan Bakti itoe poen haroes poela dilakoekan dengan choesjoe’ dan choedloe’ dan dengan hati jang soetji serta ichlas, seperti jang diadjarkan di dalam Al-Qoer'an-oel-Karim: ,,Tiadalah diperintahkan (kepada manoesia), melainkan bagi berboeat bakti kepada Allah, dengan ichlas dan setia hati….” Soerah Al-Bayinah (98) ajat 5. Dan lagi : ,,Bahwasenja Kami (Allah) menoeroenkan Kitab ini (Al-Qoer'an) dengan kenjataan (kebenaran), maka berbaktilah kepada Allah dengan ichlas dan toeloes hati”. ,,Ingatlah! (bahwa) sesoenggoehnja bakti jang ichlas itoe hanja bagi Allah (sematamata)….” Soerah Az-Zoemar (39) ajat 2 dan 3. Lagi poela, perboetan Bakti atau “Ibadah itoe tidak boleh dilakoekan sekehendak kita, jang moedah terhinggapi penjakit segan dan bosen, tetapi Bakti sampai kepada Jakin1 , bakti jang diperboeat sampai kepada nafas jang penghabisan, seperti jang dinjatakan di dalam Al-Qoer'an-oel-Adzim, Soerah Al-Hidjr (15) ajat 99: ,,Baktilah kepada Toehanmoe, hingga datang jaqin kepadamoe”. Selain dari pada itoe, Bakti kepada Allah Jang Esa itoe Bakti jang diadjarkan oleh Agama Islam, boekanlah bakti jang setengah-setengah, bakti jang tanggoeng-tanggoeng, bakti menoeroet sesoeka nafsoe manoesia, melainkan ialah Bakti jang penoeh-penoeh, Bakti jang genap-lengkap, tiada tawaran moerah dan mahalnja, tidak poela ada pilihan enak dan paitnja, enteng atau beratnja, seperti jang dimaktoebkan di dalam Al-Qoer'an-oel-Karim, Soerah Al-Baqarah (2) ajat 208: ,,Hai sekalian orang-orang jang beriman! Peloeklah Agama Islam segenapnja.”2 Mengingat keterangan di atas tjoekoeplah kiranja sekadar oentoek memberi gambaran, apakah ‘Ibadah atau Bakti itoe. Berhoeboeng dengan pembagian ‘Ibadah terseboet, maka kewadjiban bakti kita itoe poen terbagi poela atas doea bagian, jang tidak boleh ditinggalkan salah satoenja, melainkan kedoea kewadjiban itoe haroes berlakoe bersama-sama. (a) Al-Hadits ‘alal-Qadim3

Dengan perkataan ini dimaksoedkan kewadjiban manoesia kepada Allah jang langsoeng. Kewadjiban machloek kepada Chaliq, jang tiada sangkoetan atau hoeboengan dengan machloek di loear-Nja. Djadi jang termasoek bagian kewadjiban Hadits terhadap kepada Qadim itoe pada choesoesnja ialah kewadjiban Roeh manoesia terhadap kepada Dzat Allah Soebhanahoe wa Ta’ala. Kewadjiban ini timboel dari pada adjaran jang terkandoeng dalam Kalimat-oet-Tauhid: La ilaha illa-Llah (Tiada Tuhan, melainkan Allah). Dan oleh karena itoe maka bagian ini sering kali djoega diseboet bagian ,,Roeboebijah” atau ,,Ilahijah”, jang ertinja ,,ke-Toehanan.” (b) Al-Hadits ‘alal-Hadits Selain dari pada kewadjiban (a) jang ta’ terbatas dan ta’ dapat dioekoer oleh manoesia atau machloeq jang mana poen djoega (absoluut), poen ada poela kewadjiban kita sebagai machloeq kepada machloeq jang lainnja (relatief). Kewadjiban ini ada hoeboengannja, ada sangkoetannja, ada peratoerannja, dan ada poela ketentoean-ketentoeannja jang tetap. Berbedaan dengan wadjib (a) jang mengoeroeng sekalian Bakti jang choesoes, maka bagian (b) ini mengandoeng Bakti jang ‘oemoem sifatnja, karena Bakti ini dilakoekan di dalam dan di antara pergaoelan hidoep bersama (alhajat-oelidjtima’iyah). Menoeroet aliran sifat hidoep bersama, bagian ini poen boleh poela dipetjah-petjah lagi mendjadi berbagaibagai tingkat atau lapisan, mitsalnja: (1) Dalam pergaoelan antara laki-laki dengan laki-laki, antara perempoean dengan perempoean, antara laki-laki dengan perempoean, di dalam perikatan roemah-tangga dan di loearnja. (2) Dalam pergaoelan berkampoeng dan bernegeri jang berkenaan dengan maslahat ‘oemoem (sosial). (3) Dalam oeroesan pembagian rizqi (ekonomi), antara seorang dengan seorang lainnja, antara segolongan dengan golongan jang lainnja, seagama dan ber-bedaan agamanja. (4) Dalam hidoep bersama, jang mengenai tjara-tjara melakoekan dan mengatoer sesoeatoe negeri (politik). (5) Dan lain-lain, jang di sini boekan tempatnja oentoek kita oeraikan segenapnja. Sjahdan, maka semoeanja itoe oleh Allah Soebhanahoe wa Ta’ala dengan risalah4 disampaikan kepada sekalian machloeqNja; dan Rasoeloe-Llah (oetoesan Allah), inilah jang wadjib menjampaikan lebih djaoeh kepada sekalian Oemmat, serta memberi tjontoh dan tauladan akan boekti ‘amal jang dimaksoedkan di dalam amanat-amanat Allah itoe. Fasal 3: Bangoenan, Sifat dan Tjara Hidoep Di dalam riwajat perdjalanan manoesia kita mengenal hidoep manoesia bermatjam-matjam. Menoeroet bangoenan, sifat dan tjara jang terdapat di dalamnja, bolehlah hidoep manoesia itoe mendjadi 3 bagian: (a) Hidoep Hissy Setengah manoesia hidoep hanja oentoek keperloean dirinja sendiri. Jang selaloe dikedjar-kedjar ialah hanja kepentingan jang berkenaan dengan dirinja, dengan roemah-tangganja. Kadang-kadang ia bergerak djoega di medan oemoem, tetapi bergeraknja itoe hanjalah oentoek keperloean diri, keperloean kasar, keperloean wadag (materieele behoeften). Orang jang demikian itoe sesoenggoehnja mempoenjai sifat ,,diam.” Boekan ,,diam”, karena ia ta’ koeasa berdjalan, boekan poela ,,diam”, karena ia ta’ pandai ber-gerak. Tetapi ia diseboet ,,diam”, karena ,,ta’ pandai mendjalankan hoekoem-hoekoem Allah.” Hidoep jang demikian itoe boleh di’ibaratkan hidoep setjara toemboeh-toemboehan, hidoep dengan tidak sadar dan insjaf akan erti dan harga hidoepnja! Maka hidoep inilah jang dinamakan orang ,,Hidoep Hissy”, hidoep hanja karena ta’ mati belaka. (b) Hidoep Ma’nawy Selain dari pada golongan orang jang hidoep seperti bagian (a), ada poela setengah orang jang soedah moelai mempergoenakan hidoepnja oentoek mendjalankan hoekoem2 Allah; tetapi beloem mempoenjai kesadaran jang tjoekoeptjoekoep, beloem mempoenjai kejakinan jang koeat dan tegoeh, dan beloem poela mempoenjai kepertjajaan jang sentau-sa.

Ia moedah beroebah, boleh digojangkan dan didjatoehkan, moedah poela ia pindah haloean dan sikap, hanja karena ada sangkoetan dengan salah satoe kepentingan kedoeniaan belaka. Ia beloem mempoenjai pendirian jang koeat dan tegoeh. Hidoep manoesia jang demikian itoe, bernama ,,Hidoep Ma’nawy.” (c) Hidoep Ma’any Adapoen jang dinamakan orang ,,Hidoep Ma’any” itoe ialah hidoep jang dipergoe-nakan oentoek melakoekan ‘amal kebaikan dan kebadjikan jang sebanjak2 dan sesem-poerna-sempoernanja; ‘amal jang timboel dari pada kejakinan jang koeat dan Iman jang tegoeh; ‘amal jang dilakoekannja, hanja karena mengharapkan Rahmat dan Ridlo dari pada Allah Soebhanahoe wa Ta’ala belaka! Dan tidak karena ataupoen harapan jang di loearnja. Hidoep sadar dan hidoep insjaf (doelbewust) ini ta’ moedah tertjapai, ketjoeali dengan karena kemoerahan dan keroenia Allah semata-mata. Lebih-lebih soekar lagi mentjapai hidoep jang demikian itoe, karena si ‘amil itoe haroes pandai mensatoekan ketiga pendirian ‘amal jang akan kita tjeriterakan di bawah (isti’anah, istiqamah dan istitha’ah). Orang jang doedoek dalam kehidoepan ma’any itoe, ta’ lagi mengenal soekar dan soelit, berat dan soesah, takoet dan was2, dan lain-lain jang boleh mentjegah manoesia bagi melakoekan ‘amal jang sempoerna. Fasal 4: P.S.I.I. dan Hidoep Sebagai satoe toeboeh jang hidoep (levend organisme), Pergerakan Party Sjarikat Islam Indonesia poen mendjalani poela berbagai-bagi hidoep di dalam perbagai zaman, Hidoep P.S.I.I. itoe melaloei ketiga tingkat terseboet di atas, menoeroet harkat-deradjat orang-orang jang tergaboeng di dalam Pergerakan itoe. Pada zaman pertama P.S.I.I. mengalami hidoep Hissy. Pada zaman itoe orang hanja mementingkan keperloean kedoeniaan, baik jang mengenai diri manoesia masing2 maoepoen jang mengenai ra’jat ‘oemoem. Pergerakan pada waktoe itoe, hidoep sebagai tangga oentoek mentjari keoentoengan kebendaan, mitsalnja keoentoengan perda-gangan dan lain-lain sebagainja, dengan tidak sadar dan tidak insjaf akan Islam dan ke-Islaman jang sedjati. Pada zaman itoe orang sangat mementingkan soeara dari pada meoetamakan kela-koean, menghargakan koelit lebih dari pada isinja. Karena inilah, maka zaman itoe boleh kita namakan ,,Zaman Qualijah.” Maka dengan Koedrat dan Iradat Allah Soebhanahoe wa Ta’ala, dengan berang-soer-angsoer, dari sedikit ke sedikit, Pergerakan kita madjoe selangkah. Zaman jang pertama itoe berlakoe sedjak moela timboelnja Sarekat Islam (1912) hingga kira-kira Kongres di Madioen (1923). Sedjak tahoen 1923 itoe langkah kemadjoean jang pertama sigera diikoeti oleh langkah jang kedoea, hingga achirnja P.S.I.I. terdjoen dalam Hidoep Ma’nawy. Hidoep kedoea ini menoentoet sebanjak-banjak ‘amal, jang oleh sebab sifat ini, zaman kedoea itoe bolehlah kita namakan ,,Zaman Fi’liyah”, soenggoehpoen sekalian perboeatan jang dilakoekannja beloem bersandarkan kepada kesadaran jang soenggoeh-soenggoeh dan kejakinan serta kepertjajaan jang njata. Orangorang jang masih hidoep dalam zaman pertama, jang tidak pandai mengikoeti gelombang zaman, dari sendirinja mereka moelai ketinggalan. Ada jang keloear karena soekanja, dan ada poela jang terpaksa dikeloearkan, karena ta’ pandai mentjoekoepkan wadjib, jang mendjadi toentoetan zaman kedoea itoe. Zaman jang kedoea ini boleh kita hitoeng moelai tahoen 1923 hingga tahoen 1930 (Kongres, atau Madjlis Tahkim di Djokjakarta). Sementara itoe, di dalam tiap-tiap zaman itoe Pergerakan kita tidak sepi-sepi dari pada pertjobaan dan oedjian, jang semoenja itoe tidak dapat memoendoerkan perdjalanan soennat-Oellah atau soennat-oeth-thabi’ah, jang berlakoe dengan Kehendak dan Kekoeasaan Jang Esa. Dengan merangkak-rangkak Pergerakan itoe melangkahkan langkahnja ke arah hidoep jang ketiga, ialah Hidoep Ma’any. Dalam zaman ketiga ini orang moelai sadar dan insjaf akan kehidoepannja, moelai tahoe akan kewadjibannja, kewadjiban menoentoet ‘amal salih jang sebanjak-banjak dan sesempoernanja, dengan kejakinan dan kepertjajaan jang koeat dan tegoeh. Tiada halangan jang dapat memoendoerkan dia, tiada rintangan jang boleh menghentikan atau menghambat perdjalanannja. Semoeanja itoe hanjalah mendjadi gemoek bagi kema-djoean P.S.I.I. jang makin hari makin mendekati tertjapainja segala apa jang terkandoeng di dalam tjita-tjita dan maksoed toedjoeannja. Oleh karena toentoetan pertama kali dalam zaman ini I’tiqad jang koeat, tegoeh dan sentausa, jang dapat menoemboehkan

sebanjak2 dan sesempoerna2 ‘amal itoe, maka zaman ini bolehlah kita namakan ,,Zaman I’tiqadijah.” Sementara itoe orang-orang jang masih memegang tetap kehidoepan jang kedoea, moelai ketinggalan dalam langkahnja, dan djika mereka itoe tidak lekas-lekas men-sesoeaikan dirinja dengan sjarat-sjarat hidoep jang ketiga ini, tentoelah tidak akan dapat menjoesoel saudara2-nja jang soedah hidoep di dalam zaman ketiga itoe. ‘Amal perboeatan mereka itoe sendirilah jang kelak akan menentoekan, dapatkah atau tidakkah mereka mengikoeti perdjalanan P.S.I.I ke arah Kesempoernaan Hidoep, Doenia dan Achirat itoe! Adapoen hidoep jang lainnja, sesoedah hidoep jang ketiga ini beloemlah rasanja perloe kita tjeriterakan di sini, karena boekoe jang seketjil ini ta’ dapat memberi tempat oentoek keperloean itoe, lagi poela boekan pada tempatnja jang tepat. Hanjalah perloe kita peringati, bahwa jang kita tjeriterakan di atas itoe ialah perdjalanan P.S.I.I., sepandjang kwaliteitnja (isinja), boekan kwantiteit (djoemlahnja). Tampaknja moendoer dan berkoerang-koerang kemadjoeannja, tetapi pada hakikatnja P.S.I.I. adalah dalam kemadjoean! Kemadjoean jang tidak tergantoeng kepada djoemlah orangnja, melainkan kemadjoean karena keloehoeran harkatderadjatnja! Kemadjoean jang hanja boleh tertjapai oleh manoesia jang soeka mensesoeaikan hidoepnja dengan perintahperintah Ilahy, dengan qadar dan kekoeatan jang ada padanja. Fasal 5: Sandaran Hidoep Di dalam menghadapi berbagai-bagai kewadjiban, dan di dalam oesaha menjem-poernakan ‘amal Bakti kepada Allah itoe, maka sedikit-dikitnja kita haroes mengingati akan doea sandaran hidoep jang njata: (a) Taqwa5 Seorang moettaqi tahoe akan hoekoem-hoekoem sjari’at Agama Islam dan batas-batasnja, dan ia tidak soeka melampauwi batas-batas itoe. Dengan hati-hati, tartib dan teliti ia mendjalankan wadjibnja ‘am. Berdjaga-djaga di dalam menghadapi tiap2 perkara dan pada tiap2 waktoe, di mana-mana tempat, itoelah sifatnja jang teroetama. Selain dari pada mengetahoei dan pandai mendjalankan wadjib jang njata (ma’roef), ia poen selaloe ingin dan berdajaoepaja oentoek mendjalankan soennat, ialah soennat jang mengoeatkan dan menjempoernakan wadjib. Dan tiap-tiap jang dibolehkan oleh Agama (moebah) poen tidak poela ditinggalkan, asal semoeanja itoe boleh mendjadi sjarat akan kesempoernaan ‘amal jang sedjati, ‘amal Bakti kepada Jang Esa. Sebaliknja, ia tidak hanja mendjaoehi tiap-tiap jang diharamkan oleh Agama, melainkan tiap-tiap sesoeatoe jang boleh menimboelkan atau boleh mendjadi sebab akan toemboehnja perboeatan haram, ini poen didjaoehi dan di tengahnja poela. (b) Tawakkal ‘ala-Llah6 Sandaran ‘amal jang kedoea ini tidak poela koerang pentingnja. Tawakkal bererti ,,penjerahan diri.” Boekan penjerahan diri kepada siapa poen djoega jang disoekai, te-tapi penjerahan diri kepada Allah, dan boekan jang di loear Dia. Boekan poela satoe penjerahan diri, jang tidak disertai dengan ‘amal, melainkan Tawakkal ialah penjerahan diri di dalam melakoekan oesaha, langkah, gerak dan ichtiar. Ta’ dapat Tawakkal dipisahkan dari pada Taqwa, djika manoesia menghendaki hidoep jang sempoerna, hidoep jang diridloi oleh Jang Esa, hidoep jang mengharapkan Rahmat-Oellah. Djika orang ber-Tawakkal dengan tidak bertaqwa, dengan moedahnja timboel sifat ,,menerima taqdir dengan tidak oesaha” atau sebaliknja boleh poela menoemboehkan sifat ,,nekat atau memboeta-toeli.” Dan djika orang hanja berpegangan kepada Taqwa dengan tidak ber-Tawakkal, poen tidak akan sempoerna poela ‘amalnja. Sebab Taqwa jang tidak dilakoekan bersama2 Tawakkal itoe gampang sekali menoemboehkan hati was-was, sjak dan lainlain penjakit dalam ,,Iman dan Tauhid”, sehingga segala ‘amalnja itoe akan lebih banjak menimboelkan roegi dari pada oentoeng, sepandjang adjaran sjari’at Agama Islam. Oleh sebab itoe, djika kita tidak soeka ‘amal tanggoeng2 dan tidak menghendaki oentoeng jang setengah2 di dalam ‘amal-‘ibadah kita itoe, hendaklah kita selaloe meng-ingati akan kedoea sandaran hidoep terseboet, agar soepaja djangan sampai kita mendapat roegi di doenia dan tjelaka di achirat.

Fasal 6: Pendirian ‘Amal Oentoek melakoekan ‘amal-‘ibadah jang sempoerna, sedikitnja haroeslah kita mengetahoei dan pandai mempergoenakan tiga pendirian ‘amal, seperti di bawah ini: (a) Isti’anah Pendirian pertama jang haroes mendjadi pegangan kita di dalam ber’amal ialah Isti’anah, jang mengandoeng peladjaran: djangan hendaknja kita mengharapkan perlindoengan, pertolongan, kekoeatan atau poen jang lain-lain, ketjoeali dari pada Allah. Haroes poela ditanam dalam I’tiqad dengan tegoeh dan koeatnja akan kepertjajaan, bahwa tiada jang Maha Loehoer dan Maha Besar melainkan Allah; tiada jang wadjib disembah dan wadjib dita’loek-toendoeki melainkan Dia; tidak ada jang dapat memberi rizqi, menghidoepkan dan mematikan, melainkan Dia; singkatnja, hendaklah tertanam dalam hati kita, bahwa tidak ada jang boleh mengenai kita, melainkan dengan idzin-Nja. Kepertjajaan jang demikian itoe boleh toemboeh dari pada penjerahan diri (tawakkal) jang penoeh-penoeh kepada Allah! Sikap pendirian Isti’anah ini memang mahal, karena ta’ dapat dibeli dengan harta doenia! Lebih-lebih tidak dapat tertjapai dengan kenang-kenangan belaka! Tetapi sebaliknja, boleh djadi dikatakan moerah, karena oentoek membeli kita ta’ perloe memakai mata oeang, melainkan kita hanja wadjib berdjalan dan berlakoe dengan bersoenggoeh-soenggoeh pada djalan jang diridloi oleh Allah. Periksa dan bandingkanlah dengan Kitaboellah, Soerah Al-Fatihah (1) ajat 5, Soerah Al-Baqarah (2) ajat 153, dan Soerah Al-‘Araf (7) ajat 128. (b) Istiqamah Pendirian ‘amal jang kedoea, jang dinamakan ,,Istiqamah” ialah pendirian jang tegak, haloean jang loeroes, sikap jang tegas dan njata, dan menoedjoe satoe maksoed jang tentoe. Ia tidak tergantoeng kepada djalannja angin, ataupoen besar ketjilnja gelom-bang di laoet; tiada api jang menghangoeskan dia, tiada poela air jang membasahinja. Gerak dan langkahnja tidak digantoengkan kepada perdjalanan gerak ‘alam manoesia, melainkan terlebih penting dan oetama bagi dia ialah: berdjalannja wadjib chas dan wadjib ‘am. Ia tidak ta’loek kepada kehendak ‘alam, melainkan ‘alamlah jang dita’loekkan kepada dirinja. Sehingga orang jang demikian itoe, semasa hidoep di doenia mendapat sedjahtera dan sentausa, sedang di achirat didjandjikan Allah bahagia jang ta’ terhingga. Pendirian ‘amal jang kedoea ini, sesoenggoehnja sangat bergandengan dengan pendirian jang pertama, bahkan boleh kita katakan, bahwa Istiqamah itoe ialah boektinja Isti’anah.7 Bandingkanlah lebih landjoet dengan adjaran2 Islam, jang termaktoeb di dalam Al-Qoer'an, Soerah Saba (34) ajat 46, Soerah Al-Baqarah (2) ajat 238, Soerah Asj-Sjoera (42) ajat 13, dan Soerah Ha Miem (41) ajat 6 dan 30. (c) Istitha’ah Pendirian jang ketiga ini mengandoeng adjaran, soepaja tiap-tiap manoesia jang hendak mentjapai ‘amal kesempoernaan, hendaklah soeka membanjak-banjakkan, memperloeas-loeas dan memperdalam sekalian perboeatan dan oesahanja. Sebanjak tenaga jang ada pada kita, sebanjak itoe poela hendaknja digoenakan oentoek keperloean membela Agama Allah! Sebanjak2 pengetahoean, harta, pengertian dan lain-lain jang dikeroeniakan Allah kepada kita itoe, sebanjak itoe poela hendaknja kita ber’amal! Ta’ ada tawar-menawar, dan tidak poela kenal sikap menanti-nanti! Tiada toedjoean bagi dia, melainkan ‘amal-‘ibadah jang sempoerna, ‘amal ‘ibadah jang menoentoet sekalian apa jang ada padanja, dlohir dan bathin, jang seketjil2 hingga jang sebesar-besarnja.8 Demikianlah erti Istitha’ah itoe dengan amat ringkas. Lebih djaoeh, hendaklah dibandingkan dengan adjaran2 dalam AlQoer'an, Soerah Al-Anfal (8) ajat 60 dan Soerah At-Taghaboen (64) ajat 16! Fasal 7 : Agama Islam dan P.S.I.I.

Dalam fasal 3 tergambarlah perdjalanan Party Sjarikat Islam Indonesia, sekadar jang mengenai isinja (qualiteit). Njatalah soedah, bahwa Pergerakan itoe dengan merang-kak2 dan berangsoer-angsoer, dari sedikit ke sedikit dan dari setapak ke setapak mengi-koeti perdjalanan Nabi Clm, jang menerima toentoenan langsoeng dari pada Allah. Allah S.W.T. mengoetoes Nabinja dalam satoe masa jang amat gelap goelita (Djahilijah), satoe zaman jang penoeh dengan ketjemaran dan keroesakan boedi-pekerti, zaman kerendahan achlaq, zaman jang penoeh dengan rasa-kedloliman dan kebina-tangan, jang djaoeh dari pada rasa-kemanoesiaan (al-insanijah). Pada waktoe itoe soesoenan pergaoelan hidoep dan roemah-tangga hanjalah menoeroet hawa-nafsoe manoesia jang tidak terbatas itoe. Lebih soeka orang mementingkan kesenangan dari pada keoetamaan, memilih pandai lebih dari pada mentjari benar, memberatkan doenija9 lebih dari pada kenjataan-kebenaran, mentjari menang lebih dari pada ‘adil. Soenggoehpoen Nabi Rasoeloellah Clm –sebeloem mendjadi Rasoel (Oetoesan)– soedah terkenal dalam kalangan ra’jatbangsanja sebagai seorang jang ,,boleh dipertjaja” (Amin), sebagai seorang jang benar dalam perkataan dan ‘adatlembaganja, sebagai seorang jang amat haloes boedi-pekertinja, tegasnja sebagai seorang jang salih dan oetama dalam segala hal-ichwal-nja, tetapi……. Setelah datang amar Allah kepada Rasoel-Nja, oentoek: a. Mendatangkan Haq dan menghilangkan Bathil; b. Mempropaganda Tauhid (Ke-Esaan Allah) dan melenjapkan Sjirk, c. Menjiarkan Wahdanijat Allah S.W.T. dan menjirnakan kejakinan Watsanijah. d. Dan lain-lain jang berkenaan dengan itoe, maka dengan tidak tanggoeh lagi, ia dimoesoehi dan dibentji oleh bangsa dan sanak-keloearganja. Permoesoehan dan perbentjian jang timboel dari kaoem Qoeraisj Djahiliyah terhadap kepada Rasoeloellah itoe makin lama makin mendalam, tambah hari tambah hebat dan keras. Berbagai-bagai daja-oepaja dan tipoe-moeslihat, dilakoekan oleh kaoem Qoeraisj Djahiliyah itoe. Mereka pernah menawarkan kepada Rasoeloellah, soepaja soeka mendjadi ,,Radjamereka”, didjandjikannja harta-benda dan perempoean sebanjak ia kehendaki dan mana jang ia maoei, asal ia soeka menghentikan propagandanja menjiar-kan Agama Islam, Agama Allah. Tetapi, dengan kejakinan jang koeat dan hati serta kepertjajaan jang tegoeh terhadap kepada kenjatan Kebenaran Amroellah itoe, semoeanja tawaran-kedoenijaan itoe ditolaknjalah. Dalam pada itoe poen kaoem Qoeraisj tidak berhenti-berhentinja mentjari djalan oentoek menghentikan, setidak-tidaknja mengoerangkan atau melambatkan tersiarnja Agama Islam, jang dalam pandangan mereka itoe adalah satoe keroegian semata-mata, satoe pelanggaran terhadap kepada riwajat nenek-mojangnja. Mereka menawarkan keada Rasoeloellah Clm. soepaja waktoe melakoekan ‘Ibadah itoe berganti-ganti, setahoen (semoesim) bagi penjembahan berhala (Watsaniyah) dan setahoen jang lainnja bagi penjembahan kepada Allah Jang Esa (Wahdaniyat). Pengharapan dan tawaran ini tidak dapat diterimanja poela oleh Rasoeloellah, karena melanggar perintah Allah.10 Setelah kaoem Qoeraisj Djahilijah tidak dapat membelokkan perdjalanan Rasoeloellah dengan berbagai-bagai djalan jang lemes dan haloes, jang beroepa tawaran dan pengharapan itoe, maka moelailah mereka melakoekan kekerasan, dengan tjara memboeat fitnah, halangan, rintangan, jang pada sangka mereka itoe akan dapat menghentikan dan membasmi Agama Allah habis-habis. Tetapi segala sangkaan dan pengharapan (Djahilin) itoe sia-sia belaka, sedang tambah lama mereka bertambah merasa-terdesak, merasa-terhalau, merasa akan ditjaboet njawanja, karena hidoep, penghidoepan dan kehidoepan mereka itoe tergantoeng kepada penjembahan berhala di Ka’bah (Mekkah) itoe. Segala daja oepaja, jang kasar maoepoen jang lemes, digoenakan oleh orang Qoeraisj, oentoek membasmi oesaha Nabi jang soetji. Bahkan achirnja sampai mem-bahajakan keamanan djiwa Clm., karena mereka berniat boelat-boelat hendak mem-boenoeh Nabi Clm. dengan kekerasan dan kedjam. Segala kedjadian itoe semoeanja menoeroetkan boekti2, jang diakoei oleh kawan dan lawan. Di dalam Al-Qoer'an poen hal tsb. Dengan njata2 ditoeliskan, di dalam beberapa ajat, jang di antaranja ialah di dalam Soerah At-Taubat (8) ajat 30. Tetapi sangkaan mereka itoe poen salah poela. Mereka mengira, bahwa Agama Islam itoe sama dengan Moehammad; mereka menjangka, bahwa dengan terboenoeh-nja Moehammad itoe akan terbasmi poela Agama Islam. Padahal sesoenggoehnja boekan demikianlah halnja. Agama Islam adalah Agama Allah, dan Moehammad adalah hamba (‘Abid) Allah, dan tidak ada sesoeatoe jang berkoeasa oentoek mematikan atau menghi-doepkan Moehammad, tidak poela ada

soeatoe kekoeatan jang dapat membasmi ataupoen mematahkan berdjalannja Qoedrat Allah, jang berwoedjoed Agama Islam itoe, melainkan Dia djoealah. Dalam keadaan jang amat soekar-soelit di dalam hawa jang penoeh dengan permoesoehan, randjau dan bentjana jang terlampau amat berbahaja itoe, maka Allah Soebhanahoe wa Ta’ala melepaskan Rasoel-Nja itoe dari pada antjaman dan djangka-maksoed-achirat, dengan djalan: Hidjrah. Adapoen apa jang terdjadi atas diri Nabi dan apa jang dilakoekan Clm, itoe, begitoe djoega betapa perdjalanan Nabi di dalam Hidjrah itoe, dan keadaan Oemmat Islam dalam pimpinan Nabi setelah Hidjrah hingga datang Falah (BahagiaMekkah ta’loek kepada Islam, dan mengakoei Moehammad sebagai Oetoesan Allah dan Pembawa sedjahtera dan damai bagi segenap peri-kemanoesiaan), boekanlah tempatnja di sini dirawaikan, melainkan akan kita tegaskan dalam Bab jang tersendiri. Hanjalah di sini kita perloe toendjoekkan, bahwa dengan Hidjrah itoe terboekalah pintoe bahagia, pintoe kemenangan, pintoe keloehoeran harkat-deradjat peri-kemanoesiaan, teroetama sekali Oemmat Islam pada waktoe itoe. Pendek-pandjangnja, terboekalah Zaman Baroe bagi Perikatan Oemmat Islam pada dewasa itoe choesoesnja, dan bagi Seloeroeh Doenia Islam ‘Oemoemnja. Hatta, maka Pergerakan Party Sjarikat Islam Indonesia, sedjak moela timboelnja hingga pada sa’at ini, jakinlah dengan sepenoeh-penoeh kejakinan, bahwa: (1) Hoekoem jang tertinggi dalam anggapan Party Sjarikat Islam Indonesia ialah Kitaboellah dan Soennah Rasoeloellah jang njata.11 (2) Tidak ada Hoekoem jang boleh dan dapat berlakoe, melainkan setelah ada Hakim; dan tidak ada Hakim jang tidak mendjadi sebagian dari pada sasoeatoe Perikatan Keradjaan Jang Merdeka; dan tidak poela akan boleh pemerintahan itoe berdiri, melainkan mesti ada satoe Kemerdekaan Negeri dan Bangsa. (3) Oentoek ,,akan mendjalankan Islam dengan seloeas-loeas dan sepenoeh-penoeh-nja, soepaja kita bisa mendapat soeatoe Doenia-Islam jang Sedjati dan bisa menoen-toet kehidoepan Moeslim jang sesoenggoehnja”12 , maka kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia pertjaja dengan setegoeh-tegoeh kepertjajaan, bahwasenja apabila kaoem Moeslimin mendjalankan perintah2 Allah dan Rasoeloellah dengan soeng-goeh2 ta’ boleh tidak mesti akan mendapat bahagia dan keloehoeran deradjat, sebagai jang telah dikeroeniakan kepada orang Islam pada zaman doeloe, dan bahwasenja tidak boleh tidak mesti mendapati apa-apa jang didjandjikan oleh Allah di dalam Qoer’an soerah An-Noer ajat ke 55: ,,Allah telah mendjandjikan kepada mereka dari pada kamoe, jang beriman dan mengerdjakan perboeatan salih, bahwa sesoenggoeh-soenggoehnja Ia akan membikin mereka itoe mendjadi Chalifah (pemerintah) di doenia, sebagaimana Ia telah membikin mereka itoe djadi Chalifah sebeloem mereka itoe……”13 Dengan keterangan satoe-doea jang kita ambilkan dari pada Statuten dan Tafsir Asas Party Sjarikat Islam Indonesia itoe, njatalah soedah, bahwa kaoem Party S.I.I. akan melakoekan segala ichtiar dan daja-oepaja, bagi menoedjoe dan menjampaikan maksoed jang penghabisan, ialah: Berlakoenja Hoekoem2 Allah menoeroet tjontoh dan Tauladan Rasoeloellah Clm, bagi seorang-seorang maoepoen bagi segenap peri-kemanoesiaan (mensehin), dalam segala hal-ichwal kehidoepan, pentjarian dan pergaoelan, di dalam erti kata jang seloeas-loeas dan sesempoerna-sempoernanja.14 Mengingat segala sesoeatoe jang tertera di atas, soenggoehpoen amat singkat, njatalah bahwa Party Sjarikat Islam Indonesia adalah Woedjoednja Agama Islam, dan dalam pada itoe kaoem Party S.I. Indonesia senantiasa berdaja-oepaja oentoek meloeas-kan dan menjempoernakan ‘amalnja, dengan tjara: ,,Membangoenkan dan mendidik sjarat dan sifat serta kekoeatan dan ketjakapan jang perloe-perloe oentoek memperdapat dan menjentausakan hak-mengoeasai dan kewadjiban menjelamatkan Negeri Toempah Darah dan Bangsa Sendiri.”15 Lebih djelas dan lebih tegas lagi, djika kita katakan, bahwa dalam mendjalankan ‘amal menoeroet tjontoh dan tauladan Rasoeloellah Clm. jang moelia itoe, kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, tidaklah mengenal soekar-soelit atau senanggembira, tidak poela mengingati akan berat-entengnja ‘amal jang hendak dilakoekan, melainkan hanjalah: Hendak menoentoet berlakoenya Wadjib, Wadjib terhadap kepada Allah dan Wadjib kepada Oemmat Islam dan segenap perikemanoesiaan, dengan sepenoeh-penoeh kesadaran dan keinsjafan, bahwa Allah S.W.T. akan mentjoekoepkan sekalian djandji-Nja itoe, bagi kemoeliaan dan keloehoeran deradjat Oemmat Islam, djika sekalian kaoem Moeslimin soeka

melakoekannja ‘amal jang telah mendjadi perintah Allah dan Soennah Rasoeloellah Clm., dengan tidak tawar-menawar, mengoebah, menambah ataupoen mengoeranginja. -------Ζ Ζ Ζ ------BAB KEDOEA KEADAAN SEBELOEM HIDJRAH ,,Apakah mereka mengira, bahwa mereka akan dibiarkan sadja, tjoema berkata: ,,Kita pertjaja”, dengan tidak akan mendapat fitnah dan pertjobaan? Dan bahwasenja Kami (Allah) telah mentjoba mereka itoe sebeloem mereka, dan sesoenggoehnja Allah hendak mengetahoei mereka itoe jang benar (mendjalankan perintah2 Allah) dan sesoenggoehnja Ia hendak mengetahoei pembohong2 (Agama Allah).” Soerah Al-‘Ankaboet (29) ajat 2 dan 3 Djika kita merawaikan keadaan2 dan kedjadian2, jang berlakoe pada zaman sebe-loem Hidjrah, maka jang kita maksoedkan pertama2 sekali ialah zaman Mekkah pertengahan dan Mekkah achir.16 Adapoen jang kita oeraikan di sini, boekanlah sekali2 riwajat Nabi selama zaman Mekkah-achir itoe dengan riwajat sahabat2-nja, tetapi hanjalah sekadar garis-garis jang besar, jang kelak boleh kita ambil peladjarannja, dalam menentoekan sikap, lakoe dan langkah, serta haloean di dalam kalangan Party Sjarikat Islam Indonesia, agar soepaja djanganlah hendaknja sikap dan lakoe langkah kita itoe ,,boleh keloear dari pada Soennah Rasoeloellah Clm.”, melainkan selaloe mengikoetinja dari selangkah ke selangkah, dari setapak ke setapak. Zaman Mekkah-pertengahan dan Mekkah-achir ini terlampau amat penting bagi kita, karena pada zaman itoelah terdjadi pelbagai peristiwa, jang –pada sjari’atnja– mendjadi sebab akan Hidjrahnja Nabi Clm. dan sahabat2-nja. Bertahoen-tahoen Nabi Rasoeloellah Clm. propaganda Islam di dalam kalangan kaoem Qoeraisy Djahilin, tetapi beloem djoega mereka insjaf dan sadar akan kenjataan dan kebenaran Agama Islam. Bahkan malahan ‘aqibat jang timboel dari pada propaganda Islam itoe adalah sebaliknja. Mereka mendjadi bentji, marah dan goendah, karena mengira, bahwa pergerakan baroe jang dipimpin oleh Rasoeloellah Clm. itoe akan menimboelkan bahaja bagi diri dan pergaoelan mereka. Laloe mereka lakoekan daja-oepaja oentoek membasmi Agama Islam itoe, jang dengan amat ringkas di sini akan kita terangkan. Fasal 1: Penghinaan dan Edjekan Djika sahabat Nabi ataupoen Nabi sendiri berdjalan melaloei mereka (kaoem Qoeraisy Djahilin) itoe, selaloelah mendapat hinaan dan edjek-edjekan, dengan matanja, moeloetnja ataupoen dengan tingkah lakoenja, seperti jang dinjatakan dalam Soerah Al-Moethaffifin (83) ajat 30, dan dalam soerah Ath-Thoer (52) ajat 30. Nabi ditertawakannja, sebagai seorang jang koerang-ingatannja (madjnoen), dinamakan seorang toekang-sja’ir, pembohong dlls. Sekali peristiwa terdjadi waktoe Nabi mendjalankan sembahjang di Ka’bah17 , lagi ia soedjoed, maka Aboe Djahal menaroeh kotoran di leher Nabi. Orang2 djahat dan anak-anak disoeroehnja oleh kaoem Qoeraisj oentoek mengikoeti Nabi dan memper-maloe-maloekannja. Tempat jang biasa dipakai sembahjang dan tafakkoer oleh Nabi, dihamboeri dengan doeri-doeri. Perboeatan2 jang amat rendah itoe dipimpin oleh Oemmi Djamilah, isteri seorang paman Nabi, Aboe Lahab namanja.18 Hal pelemparan kotoran dan batoe ataupoen perboeatan perkosaan dari pada fihaknja kaoem Qoeraisj, tidak poela djarang terdjadi. Pengharapan kaoem Qoeraisj akan memoendoerkan Nabi dari pada langkahnja, menghentikan atau melambatkan Rasoeloellah dari pada oesahanja, tidaklah berboeah soeatoe apa poen. Melainkan seba-liknja, Nabi Rasoeloellah Clm. makin bersoenggoeh-soenggoeh oesahanja, makin tjepat langkahnja, dalam menjiar-njiarkan Agama Allah di dalam kalangan bangsanja.

Rintangan dan halangan seperti jang tsb, di atas itoe, dibalasnja dengan nasihat dan peringatan, dengan menoendjoekkan akan nasib orang-orang ataupoen bangsa-bangsa jang menolak Agama Allah jang ditoeroenkan dengan perantaraan AnbijaNja dalam zaman jang telah laloe. Kaoem kafirin (pembohongkan Agama Allah, penolak kenjataan dan kebenaran) itoe, semoeanja mendapat siksaan, tidak hanja di achirat sa-dja, melainkan semasa hidoepnja poen djoega. Fasal 2: Penganiajaan Seroemah-seroemah dan Sekeloearga-sekeloearga Penganiajaan jang dilakoekan oleh orang-orang kafirin Qoeraisj itoe tidak dapat ladjoe. Antara lain-lain sebabnja ialah, bahwa mereka menakoetkan akan berlakoenja hoekoem ,,pembalasan darah”, dalam kalangan mereka itoe sendiri. Kemoedian dilakoe-kan penganiajaan atas orang-orang ahli sendiri atau boedak-belian, jang disangkanja telah memeloek Agama Allah. Ada laki-laki dan perempoean jang didjemoer di tengah2 padang pasir, sedang matahari panas2-nja memantjarkan tjahajanja; tidak diberinja makan atau poen minoem, sebagaimana haroesnja; ditelandjangi, dan kemoedian mereka itoe ditanja: ,,Soekakah mereka melepaskan Agama Islam dan balik kembali kepada penjembahan berhala?” Djika tidak, maka penganiajaan jang seroepa itoe, jang seringkali berachir dengan melajangnja djiwa si lemah, tidaklah dihentikan. Salah seorang, jang tertjatat namanja dalam riwajat Islam, menoendjoekkan ketegoehan hatinja dalam menderita berbagai2 halangan dan rintangan atas dirinja itoe, ialah seorang bangsa Habsji, Bilal namanja, jang mendjadi moeadzin jang pertama2. Tambah hari tambah hebat dan tambah kedjam penganiajaan si koeat atas si lemah! Nafsoe-kebinatangan dalam hatinja kaoem Qoeraisj kafirin itoe beloem merasa poeas dengan menjiksa dan menganiaja seperti tsb, di atas, melainkan ada poela jang mendapat siksaan dan aniajaan jang lebih hebat, lebih kedjam dari pada itoe. Seorang bernama Jasir diikatkan kakinja masing-masing kepada seekor onta, kemoedian onta itoe disoe-roehnja lari, jang berbalikan arahnja. Sehingga hantjoerlah badan Jasir itoe, karena nafsoe rendah jang timboel dari pada hati kaoem Djahilin itoe. Isterinja Jasir poen medapat siksaan jang seroepa itoe poela. Kedoea2 mendjadi koerban keboeasan! Tjontoh jang lainnja: Seorang boedak belian, bernama Choebaib bin ‘Adi, telah dipotong-potong, hingga djiwa terpisah dari pada njawanja. Lain-lain halangan dan rintangan roepanja tidak perloe kita terangkan lebih djaoeh. Tjoekoeplah kiranja kita mengetahoei, bahwa: (1) Segala siksaan dan aniajaan, rintangan dan halangan itoe hanjalah boleh timboel dari pada nafsoe rendah, nafsoe boeas, nafsoe binatang, dari pada achlaq jang tjemar dan boedi-pekerti jang amat boesoek. (2) Nabi dan Sahabatnja menderita oedjian-iman dan berbagai2 pertjobaan itoe, hanja-lah karena memeloek Agama Allah. Fasal 3: Hidjrah ke Habsji (Abessynie) jang Pertama (5 N.)19 Nabi Rasoeloellah Clm. sangat merasa piloe hati melihatkan sahabat2-nja mendapat halangan dan rintangan, siksaan dan penganiajaan jang makin hari makin bertambah-tambah hebat dan keras itoe. Ia merasa lebih senang menderita semoeanja itoe sendiri, dari pada djika rintangan2 itoe dilakoekan atas sahabat2-nja. Oleh sebab itoe, maka Nabi memberi nasihat kepada sahabatnja, soepaja –djika mereka itoe ta’ tahan menderita rintangan dan halangan dari fihak Qoeraisj Kafirin– soekalah mereka itoe Hidjrah ke negeri jang ‘adil, ja’ni negeri Habsji.20 Begitoelah kedjadian Hidjrah jang pertama, pada boelan Radjab, tahoen ke-Nabian ke-5 (M. 615). Adapoen jang mendjadi moehadjirin adalah 11 orang, sedang moehadji-ratnja (perempoean) adalah 4 orang (isteri dari pada kaoem Moehadjirin, di antaranja Roeqayah binti Nabi, jang mendjadi isterinja ‘Oesman). Djadi djoemlah semoeanja ada 15 orang. Dengan terdjadinja Hidjrah jang pertama itoe, maka orang Qoeraisj merasa tidak senang-hati, laloe mengedjarnja. Tatkala mereka sampai di tepi laoet, maka kaoem Moehadjirin soedah berlajar naik perahoe, menoedjoe negeri Habsji oentoek mentjari perlindoengan. Orang Qoeraisj tidak merasa poeas, melainkan laloe mengoetoes wakilnja kepada radja (nadjas) Habsji dengan membawa roepa-roepa kiriman jang indah2, agar soepaja semoeanja itoe boleh menggerakkan hati radja tsb, dan achirnja memberikan kaoem Qoeraisj di tangan mereka sebagai orang2 tawanan. Adapoen jang mendjadi oetoesan kaoem Qoeraisj itoe ialah ‘Abdoellah bin Rabi’ dan ‘Amroe bin ‘As.

Dakwaan dari pihak Qoeraisj dimadjoekan, dan pendirian pihak Moehadjirin dibela dan dipertahankan oleh Dja’far bin Abi Thalib, saudaranja ‘Ali bin Abi Thalib. Pembe-laan dan pertahanan pendirian dari pada kaoem Moehadjirin itoe ditoetoep dengan membatja-kan berbagai2 ajat Al-Qoer'an, jang sangat menggerakkan dan mengharoekan hati radja Habsji itoe. Nadjas tidak dapat memberikan orang-orang jang mentjari perlindoengan di dalam negerinja sebagai orang2 tawanan, sebab mereka itoe ternjata tidak mempoenjai kesa-lahan. Maka terpaksalah oetoesan2 kaoem Qoeraisj itoe poelang kembali ke negerinja dengan tangan hampa. Karena kaoem Djahilin itoe tidak dapat menjampaikan maksoed-nja jang amat djahat itoe, maka lebih2 keras lagi nafsoenja oentoek melakoekan rin-tangan2. Inilah poela jang mendjadi salah satoe sebabnja terdjadi. Fasal 4: Hidjrah ke Habsji jang Kedoea (achir 5 N. atau awwal 6 N.) Oleh fihak Qoeraisj Kafirin dilakoekan daja-oepaja oentoek menghalangi pepergian ke Habsji itoe, tetapi semoeanja itoe sia2 belaka. Mereka jang pergi menoesoel bela-kangan ini, diterimanja oleh sdr2-nja jang lebih doeloe, dengan gembira dan senang hati. Djoemlah semoeanja kaoem Moehadjirin dan Moehadjirat jang ada di Habsji –selainnja anak2– pada waktoe itoe adalah 80 laki2 dan 18 perempoean. Tidak seberapa lama kemoedian dari pada itoe, ‘Oetsman dan isterinja (Roeqayah) poelang kembali ke Mekkah, sedang jang lainnja tetap tinggal di negeri Habsji itoe, hingga pada th. Ke-7 H. Djadi mereka tinggal di tanah perantauan itoe tidak koerang dari pada 13 atau 14 tahoen lamanja. Hanja karena Agama mereka semata-mata!21 Fasal 5: Antjaman kepada Aboe Thalib Sebelum hendak melakoekan satoe perboeatan jang kedjam atas diri Nabi Rasoeloellah Clm., maka lebih doeloe beberapa kali oleh pihak kaoem Qoeraisj disam-paikan peringatan2 jang pedas dan keras kepada Aboe Thalib, ialah paman Nabi, jang amat tjinta kepada kemenakannja dan selaloe memperlindoenginja dari pada segala sesoeatoe jang boleh menimpa diri Nabi itoe. Aboe Thalib didakwa mendjadi pengikoet Nabi Moehammad atau setidak-tidaknja bersekoetoe dengan dia dan memberi perlindoengan atas dirinja, sehingga kaoem Qoeraisj merasa perloe oentoek memberi peringatan jang keras dan jang penghabisan, ja’ni Aboe Thalib disoeroehnja memilih satoe antara doea: (1) melarang kemenakannja (Nabi Rasoeloellah Clm.) menjiarkan Agama Islam, atau (2) menerima tantangan perang dari pada segenap kabilah bangsa ‘Arab. Hal jang seroepa itoe sangat mengantjam keamanan diri dan sekalian keloearga Aboe Thalib, sedang melakoekan perboeatan seperti jang dikendaki oleh kaoem Qoeraisj Djahilin itoe poen ia tidak sanggoep. Kemoedian Aboe Thalib menjatakan kepada kemena-kannja, bahwa sangat beratlah bagi dia oentoek menandingi perlawanan segenap bangsa ‘Arab itoe. Soenggoehpoen Nabi sadar akan semoeanja itoe –sedang paman dan kemenakan senantiasa tjinta-mentjintai—, tetapi dengan teroes-terang Clm. mengatakan, bahwa ia tidak akan menghentikan wadjibnja kepada Allah, oentoek mengoesahakan berlakoenja Agama Islam, walaupoen betapa poela keadaan dan kedjadiannja –ibarat matahari dipertempatkan di tangan kanan dan boelan di tangan kirinja– sehingga Allah berkenan memberi kemenangan kepadanja atau mati dan binasa dalam oesaha jang amat soetji itoe. Mendengar djawaban jang demikian dari pada kemenakannja, maka Aboe Thalib poen laloe mempersilahkan kepada Nabi oentoek berboeat sekehendaknja, dan ia ber-djandji dengan oetjapan ,,Demi Allah”: ia selama-lamanja tidak akan meninggalkan kemenakannja, jang teramat ditjintainja itoe. Fasal 6: Tipoe-daja jang lemes dan haloes Mendengar chabar jang seroepa itoe, maka bangsa ‘Arab sangat kaget, sebab mereka tidak mengira, bahwa Aboe Thalib dan keloearganja (Bani Hasjim dan Bani Moethalib) akan soeka memperlindoengi Nabi Rasoeloellah Clm., hingga sampai penghabisan djiwanja. Laloe dilakoekan tipoe-moeslihat kepada Aboe Thalib jang beroepa pengharapan, ja’ni dengan menoekar kemenakannja (Nabi) dengan seorang pemoeda ‘Arab dari pada kabilah lain. Pemoeda ini hendaknja dipelihara oleh Aboe Thalib dengan baik2, sedang Moehammad bin ‘Abdillah –setelah tiba ditangan kaoem Qoeraisj Kafirin itoe– akan diboenoehnja mati.

Dengan djalan ini –sepandjang fikiran dan pendapatan mereka– tidaklah akan terdjadi pertoempahan darah antara bangsa dengan bangsa, sedang Agama Islam akan terhapoes hingga moesna. Pengharapan jang tsb, itoe tidak dikaboelkan oleh Aboe Thalib, karena memang pintjang: jang satoe mesti dipelihara baik2, sedang jang lainnja mesti diboenoeh mati. Soenggoehpoen demikian kaoem Qoeraisj tidak poetoes2 oesaha dan daja-oepaja oen-toek membelokkan Nabi dari pada wadjibnja, menghentikan oesaha jang soetji, mentjari segala dajaoepaja jang boleh melenjapkan Agama Allah itoe. Tipoe-daja jang keras dan kedjam ta’ dapat menjampaikan maksoednja. Sekarang ditjarinja djalan lain, ja’ni djalan memboedjoek-boedjoek, djalan mendjandjikan kepada nabi akan kesenangan kedoeniaan, mitsalnja. (1) Kekoeasaan dan kehormatan sebagai radja kaoem Qoeraisj dan mereka ini poen sanggoep melakoekan soempah kesetiaan., (2) Kedoeniaan jang beroepa benda dan kekajaan, sebanjak jang disoekainja dan (3) perempoean2 jang tertjantik, seberapa dan siapa poen jang disoekai olehnja. Semoeanja tawaran jang manis-manis tampaknja itoe, ditolaknja oleh Nabi jang soetji, jang tidak ada sifat menjoekai doenia (hoebboe-ddoen-ja) padanja, melainkan menganggapnja sebagai satoe pertjobaan semata-mata. Daja-oepaja jang terlampau amat lemes dan haloes itoe, tidak poela memberi boeah jang dikehendakinja. Fasal 7 : Boykot Sosial dan Pindah ke Sji’ib (7 sampai 10 N.) Kemoedian dari pada itoe, setelah kaoem Qoeraisj mengetahoei, bahwa sekalian daja-oepaja –jang kasar dan jang haloes– itoe tidak menghasilkan sesoeatoe jang di-kehendakinja, maka laloe dilakoekan ,,boykot sosial”, tegasnja: pemboykotan dalam pergaoelan bersama. Soerat perdjandjian jang memaktoebkan hal ini digantoengkan di Ka’bah, sedang isinja ialah: dilarang berkawin dengan orang-orang dari keloearga Bani Hasjim, dan tidak dibolehkan poela orang berdjoeal-beli dengan mereka itoe. Setelah Bani Hasjim dan Bani Moethalib mendengar chabar itoe, maka mereka merasa perloe oentoek tinggal di satoe tempat bersamasama, dan meninggalkan roemah-roemahnja jang terpentjar-pentjar itoe. Tempat-tinggal bersama2 jang dipilihnja itoe ialah di Sji’ib, seboeah djoerang pandjang, kepoenjaan Aboe Thalib, jang amat sempit, di sisih kota Mekkah sebelah Timoer, terpisah dari kota itoe dengan tembok2 dan goenoeng2, dan hanja satoe djalan jang amat sempit sekali jang menghoeboengkan tempat-tinggal-bersama itoe dengan kota Mekkah.22 Di sitoelah mereka tinggal bersama2 Nabi Clm., kira-kira 3 tahoen lamanja, moelai th. ke 7 sampai th ke 10 dari pada ke-Nabian, ketjoeali seorang sadja, ja’ni: Aboe Lahab. Apa jang telah dialamkan oleh Bani Hasjim dan Bani Moethalib selama mereka tinggal dalam Sji’ib itoe, tentoelah boleh kita kira-kirakan sendiri. Boekan kesenangan dan kebahagiaan hidoep-doenja, melainkan kesoekaran dan kemoedloratan jang ta’ hingganja. Bahkan sering kali terdengar poela tangisnja anak2 di Sji’ib, jang sedang menderita kelaparan itoe. Dengan qoedrat-iradat Allah S.W.T., maka perdjandjian boykot-sosial jang ada di Ka’bah itoe dimakan rajap hingga habis, selainnja perkataan ,,Allahoemma”. Semoeanja itoe mendjadi tanda-kenjataan bagi kaoem Qoeraisj, bahwa pemboykotan itoe haroes diberhentikannja. Peristiwa itoe terdjadi dalam th, kenabian jang ke 10. Dengan ini, berhentilah pergerakan boykot itoe. Fasal 8: Doeka-tjita Nabi Dengan moedah bolehlah kita fikirkan, berapakah besar doeka-tjita jang timboel dalam hati Nabi sebagai manoesia, tatkala Clm, melihat dan menjaksikan, betapa nasib jang diderita oleh sahabat2nja hingga terpaksa meninggalkan tempattinggalnja jang asli, dan betapa poela keadaan sanak-keloearganja, jang telah menderita kesengsaraan dan kemoedloratan jang hampir sampai kepada poentjaknja. Roepanja pertjobaan jang seroepa itoe beloem djoega dianggap tjoekoep oleh Allah S.W.T., melainkan perloe ditambah dengan pertjobaan2 lain, jang lebih dapat menjebabkan doeka-tjitanja Nabi jang soetji itoe. Tidak lama kemoedian dari pada boykot sosial di Sji’ib itoe, maka Aboe Thalib poelanglah ke rahmatoellah. Wafatnja paman Nabi itoe menimboelkan doeka-tjita, teroetama sekali karena Aboe Thalib adalah seorang pembela, pelindoeng dan petjinta Nabi, dalam segala oesaha oentoek mengembangkan Agama Allah.

Tidak lama kemoedian dari pada wafatnja Aboe Thalib itoe, maka meninggal poelalah isterinja, Sayidatina Chadidjah, jang menambah doeka-tjita Nabi Clm. Oleh Sebab itoe, maka tahoen kedjadian2 ini tertjatat dalam tarich Islam sebagai ,,Tahoen Doeka-tjita”(‘Am-oel-Hoezn). Fasal 9: Propaganda ke Ta’if (10 N.) Karena orang Mekkah soedah njata2 tidak soeka menerima kenjataan dan kebe-naran dari pada Allah S.W.T., jang ditoeroenkan dengan risalah (oetoesan) Nabi-Nja, maka Rasoeloellah Clm. mengarahkan propagandanja ke Ta’if.23 Koerang lebih 10 hari lamanja Rasoeloellah berada di tempat itoe, tetapi sia-sialah propaganda Nabi itoe, karena pendoedoek Ta’if (orang Tsaqif) menoelak kenjataan dan kebenaran jang disampaikan oleh Nabi Penoetoep itoe. Tetapi soenggoehpoen demikian, segala sesoeatoe jang hendaknja mendjadi pertjo-baan atas oesaha dan diri Nabi itoe sekali2 tidak mengoerangkan ichtiarnja oentoek menjampaikan amanat Allah, jang berwoedjoed Agama Islam itoe, bahkan lebih soeng-goeh2 sekalian daja-oepaja diichtiarkan, dan lebih2 tegoeh kejakinan dan kepertjajaan Rasoeloellah kepada Dzat jang Maha Koeasa. Clm. boleh dibentji atau dipermoesoehi oleh keloearganja, oleh segenap bangsa manoesia di seloeroeh doenia, tetapi tidak mengapa, sebab jang ditjarinja boekan soeka dan ridlo dari pada manoesia, melainkan Rahmaniyat, Rahmaniyat, serta ridlo dari pada Allah semata-mata. Boleh dimoesoehi oleh segenap doenia, asal djangan mendjadi moesoeh Allah! Boleh dibentji oleh seloeroeh doenia, asal djangan dibentji oleh Allah! Fasal 10: Propaganda kepada orang-orang Jatsrib (10 N.) Kemoedian dari pada itoe Nabi Rasoeloellah Clm. memindahkan arah propa-gandanja kepada orang2 Jatsrib, jang setahoen sekali –waktoe zijarah hadj– datang di Mekkah.24 Orang2 asing (dari Jatsrib) jang moela-moela masoek Agama Islam adalah enam orang laki-laki. Hal ini kedjadian pada th. ke 10 dari pada ke-Nabian (atau th. 620 M). Enam orang ini poen tidak tinggal diam, melainkan menjiarkan berita-baik itoe kepada orang2 Jatsrib jang lainnja. Fasal 11: Bai’at ‘Aqaba Pertama (11 N.) Setahoen kemoedian dari pada masoeknja Islam orang2 Jatsrib itoe, ja’ni pada th. Ke-Nabian ke 11, doea kabilah jang teroetama jang mendoedoeki kota Jatsrib, jaitoe oetoesan2 Bani Aus dan Bani Chazradj --jang djoemlahnja ada 12 orang--, menjatakan Bai’at di satoe boekit jang dinamakan ‘Aqaba.25 Di dalam Bai’at itoe antara lain-lain dioetjapkan, bahwa mereka akan ,,menoeroetkan perintah Nabi jang benar.” Fasal 12: Mi’radj Nabi (12 N.) Di dalam oesaha Rasoeloellah Clm. mempropagandakan Agama Islam, soeng-goehpoen sering kali menemoei kesedihan, kesoesahan dan kesoekaran, jang atjap kali membahajakan dirinja, tidak poetoes-poetoeslah Nabi mengharapkan pertolongan dan pertoendjoek dari pada Jang Esa. Pada waktoe datangnja halangan dan rintangan jang sehebat-hebatnja dan dalam waktoe penjerahan diri kepada Allah (tawakkal ‘ala-Llah) jang sesempoerna-sempoer-nanja, maka terdjadilah satoe moe’djizat,26 jang dikatakan Mi’radj, jang kedjadian dalam boelan Radjab tanggal 27 th. Ke-Nabian ke 12. Di dalamnja terkandoeng beberapa hikmat, di antaranja ialah: (1) Menoendjoekkan Maha Koeasa Allah, dan kedlo’ifan sekalian Machloek, dan (2) Mengandoeng djandji-djandji akan kemenangan, kemoeliaan dan ketinggian harkat-deradjat, dalam waktoe jang tidak lama lagi. Periksalah lebih djaoeh: Al-Qoer'an, soerah Bani Isra-il (17) ajat 1 dan 60! Inilah poela salah satoe sebabnja, jang lebih-lebih lagi mendjadi sjarat akan me-ngoeatkan iman dan kejakinan Nabi di dalam oesahanja jang soetji itoe, lebih dari pada dalam waktoe jang soedah-soedah.

Seroean dan peringatannja tidak lagi digantoengkan atas soeka atau toeroetnja orang. Tidak poela diboetoehkan akan mengerti atau tidak mengertinja orang (mitsalnja: tentang keadaan di achirat, hidoep-kembali –ba’ats– dlls.). Fasal 13 : Bai’at ‘Aqabah Kedoea (12 N.) Sesoedah kedjadian Bai’at ‘Aqaba Pertama, maka Nabi Clm., mengirimkan seorang oetoesan ke Jatsrib, Moes’ab bin ‘Oemair namanja. Propaganda ini langsoeng dengan baik dan mendapat hasil jang bagoes, sehingga beberapa pengandjoer dari pada Bani Aus dan Bani Chazradj masoek dalam Agama Islam. Pada moesim zijarah hadj th. Ke-Nabian ke 12 (boelan Dzoel-Hiddjah), maka djoemlah kaoem Moeslimin dan Moeslimat soedah ada 73 orang. Pada waktoe mereka hendak berzijarah ke Mekkah, maka mereka didapatkan Nabi Clm. di boekit ‘Aqaba djoega, jang achirnja di sana dilakoekan Bai’at lagi, jang terkenal dengan nama ,,Bai’at ‘Aqaba Ke-doea.”27 Dalam perdjalanan dari Mekkah ke ‘Aqaba, Nabi Clm. selaloe diiringkan oleh seorang pamannja. ‘Abbas namanja, jang soenggoehpoen boekan-Moeslim, tetapi sangat berhadjat akan kemadjoean Agama Allah. Bai’at ‘Aqaba Kedoea ini, selainnja mengoeatkan jang Pertama, djoega menoen-djoekkan kesetiaan dan persaudaraan jang setegoeh-tegoehnja. Atas toen-toenan Nabi, orang-orang Jatsrib menjatakan soempah-kesetiaan: bahwa mereka akan memperlin-doengi Nabi, seperti mereka wadjib memperlindoengi anak-anak dan isteri-isteri mereka itoe sendiri. Setelah itoe, Nabi poen laloe menjatakan beberapa perkataan jang amat mengharoe-kan hatinja orang-orang Jatsrib (jang kemoedian dinamakan: sahabat AnÇar). Di antara lain-lain Nabi telah bersabda: ,,…………darahmoe ialah darahkoe; akoe adalah bagi kamoe, dan kamoe adalah bagikoe………” Fasal 14 : Hidjrah Sahabat Nabi Ketiga, ke Madinah (13 N.) Setelah kedjadian Bai’at ‘Aqaba jang Pertama dan jang Kedoe itoe –jang Bai’at tsb, dilangsoengkan dengan ,,rahasia”, tegasnja tidak dengan pengetahoean kaoem Qoeraisj Kafirin—, maka lebih2 keras lagi rintangan dan halangan jang diperlakoekan oleh kaoem pembentji Islam itoe. Dalam keadaan jang amat berbahaja itoe, maka sebagian dari pada sahabat Nabi jang merasa terantjam keamanan dirinja hanja karena hendak berbakti kepada Allah belaka, pergilah meninggalkan roemah2-nja (di Mekkah) menoedjoe ke Jatsrib, di mana mereka itoe (kaoem Moehadjirin dan Moehadjirat) diterima oleh saudara-saudaranja seagama (kaoem ANÇAR) dengan kegembiraan hati.28 Djoemlah semoeanja kaoem Moehadjirin bagian ketiga ini, terhitoeng anak-anak dan orang-orang perempoean ada sedjoemlah koerang-lebih 100 orang. Begitoelah gambaran riwajat Islam dalam zaman Mekkah, dalam zaman pertengahan hingga kepada zaman achir. Bahaja dari fihak kaoem Qoeraisj selaloe mengantjam, jang tambah hari bertambah-tambah poela hebatnja. Tetapi Zaman Mekkah jang kita rawaikan dengan singkat di atas itoe, tidaklah akan djelas dan tegas, djika kita beloem mengoeraikan tentang Hidjrah Nabi Clm., jang mendjadi satoe-pintoe-kemoelia-an, pintoe-keloehoeran, pintoe-bahagia bagi segenap perikemanoesiaan. -------Ζ Ζ Ζ ------BAB KETIGA HIDJRAH NABI CLM., DARI MEKKAH KE MADINAH ,,Kalau kamoe tidak membela dia (dalam perlawanan menjiarkan Agama Allah), bahwasenja Allah telah membela dia, tatkala orang2 kafirin mengeloearkan dia (dari Mekkah), maka dialah orang jang kedoea dari pada berdoea orang itoe, ketika kedoea mereka itoe berada di dalam goeha, tatkala ia berkata kepada sahabatnja: ,,Djanganlah soesah hati, bahwasenja Allah beserta kita”, Maka Allah (laloe) menoeroenkan ketenteraman dan keamanan hati (sakinah)

kepadanja…” Al-Qoer'an, Soerah At-Tauhat (9) ajat 40 Dalam Bab Kedoea telah kita loekiskan dengan singkat, betapa keadaan kaoem Moeslimin di Mekkah pada waktoe itoe. Dari sehari ke sehari permoesoehan pihak kafirin selaloe bertambah-tambah hebat dan keras. Djoemlah kaoem Moeslimin makin berkoerang, karena mereka itoe telah lebih doeloe Hidjrah ke Habsji atau ke Madinah. Achirnja dalam mengindjak th. Ke-13 dari pada ke-Nabian, Rasoeloellah Clm. tinggal sendirian, dikepoeng oleh moesoehmoesoehnja jang amat berbahaja itoe. Hanja doea orang sahabatnja jang terdekatlah (aqrab), jang selaloe mengikoeti Nabi dalam keadaan jang amat berbahaja itoe, ja’ni Aboe Bakar dan ‘Ali. Fasal 1: Djangka Maksoed Kaoem Djahilin Hendak Memboenoeh Nabi Sering kali sahabat Aboe Bakar memadjoekan pengharapan dan adjakan kepada Rasoeloellah Clm., soepaja ia soeka Hidjrah ke Madinah. Tetapi tiap-tiap kali Aboe Bakar menjatakan kehendaknja itoe --boekan karena takoet kepada moesoeh2 kafirin, tetapi hanjalah karena rasa-ketjintaan jang timboel dalam hatinja terhadap kepada Rasoeloellah--, selaloelah Clm. menolaknja. Boekan karena nekat hendak bertempoer dengan moesoeh, boekan poela karena rasa kebanggaan, melainkan hanjalah ,,karena Allah S.W.T., beloem memberi perintah kepadanja.” Sebaliknja, melihat beratoes-ratoes pendoedoek Mekkah jang soedah memeloek Agama Islam meninggalkan roemahroemahnja itoe, maka kaoem Djahilin Qoeraisj merasa chawatir, kalau-kalau Moehammad bin ‘Abdillah poen akan ikoet meninggal-kan Mekkah poela. Dan djika kedjadian jang demikian itoe, maka pepergian Nabi Clm. dari Mekkah itoe bagi mereka bererti satoe mara-bahaja jang hebat, jang akan menimpa hidoep dan kehidoepan bangsa Qoeraisj. Oleh sebab itoe, maka berkoempoellah segenap wakil2 dari pada kabilah2 bangsa Qoeraisj di dalam satoe tempatberkoempoel, jang dinamakan ,,Dar-oen-nadwa”, oentoek menentoekan djangka-maksoed membasmi Agama Islam dan Rasoeloellah Clm. Di dalam sidang itoe dimadjoekan beberapa pertimbangan, di antaranja jang tertjatat dalam tarich ialah: (1) ,,Soepaja Nabi Clm, ditoetoep dalam teroengkoe hingga matinja.” Pertimbangan ini ditolak, oleh karena dichawatirkan, kalau2 nanti sahabat2 Nabi akan dapat melepaskan dia dari pada pendjara itoe. (2) ,,Soepaja Nabi Clm, diboeang” sadja. Pertimbangan ini poen ditolak poela oleh sidang itoe, karena ditakoetkan, kalau2 di dalam pemboeangan itoe Nabi Rasoel-oellah Clm. akan lebih leloeasa lagi mempropagandakan Agama Islam dari pada di Mekkah, jang kemoedian akan menimboelkan bahaja jang amat hebat bagi kaoem Qoeraisj. Begitoelah pikiran dan pendapat mereka itoe. (3) ,,Soepaja Nabi Clm, diboenoeh-mati”. Hal jang seroepa itoe boleh djadi dapat menimboelkan bahaja peperangan saudara dalam kalangan bangsa Qoeraisj sendiri, tetapi djika serangan itoe dilakoekan oleh segenap wakil dari sekalian kabilah bangsa ‘Arab, dan dilakoekan bersama-sama, tentoelah pihak pembela Nabi (ja’ni Bani Hasjim dan Bani Moethalib) tidak akan berani mempertahankannja. Pertimbangan jang terachir ini, jang keloear dari pada moeloet Aboe Djahal, dite-rima oleh sidang di Dar-oen-nadwa itoe dengan boelat-boelat. Kemoedian dari pada itoe, diatoernja dengan rapi segala sesoeatoe jang mendjadi sjarat penjerangan itoe; a. Dipilihnja seorang pemoeda jang gagah-berani dari pada tiap-tiap kabilah bangsa ‘Arab, jang menghadliri persidangan itoe; b. Dipersediakannja sendjata jang tadjam-tadjam oentoek melakoekan penjerangan jang kedjam itoe; c. Dipilihnja malam jang tertentoe bagi memoeaskan nafsoe mereka jang amat boeas itoe. Fasal 2: Penjerangan Kaoem Kafirin Qoeraisj Gagal Sementara itoe, maka Nabi menerima wahjoe dari pada Jang Esa, jang mengan-doeng isi, sebagaimana jang mendjadi djangka maksoed kaoem Djahilin itoe, seperti jang tertera dalam Soerah Al-Anfal (8) ajat 30, jang ma’nanja: ,,Dan tatkala kaoem kafirin itoe membitjarakan djangka-maksoed terhadap kepada kamoe, agar soepaja mereka itoe dapat menoetoep kamoe atau memboenoeh kamoe ataupoen mengoesir kamoe; dan mereka itoe membitjarakan djangkamaksoed, dan Allah djoega telah mengatoer soeatoe djangka-maksoed; dan Allah itoelah pengatoer djangka-maksoed jang

teroetama.” Setelah Nabi Rasoeloellah Clm. menerima peringatan dari pada Allah S.W.T., itoe, maka dengan sigera Nabi pergi ke roemah Aboe Bakar --kira-kira waktoe tengah hari--, oentoek memberitahoekan, bahwa ia telah mendapat idzin oentoek Hidjrah. Kemoedian diperlengkapkan persediaan sekadarnja, oentoek berangkat meninggalkan Mekkah. Pada waktoe itoe Aboe Bakar meminta kepada Nabi, soepaja ia diperkenannja mengikoeti Nabi dalam perdjalanannja itoe, Permintaan itoe dikaboelkan oleh Nabi, dan Aboe Bakar poen amat soeka-tjita karenanja. Sebeloem Nabi Clm. meninggalkan Mekkah, maka lebih doeloe memberi beberapa amanat kepada ‘Ali, diantaranja ialah: (1) Soepaja pada malam jang soedah ditentoekan, ‘Ali soeka tidoer di tempat-tidoer Nabi, dengan berselimoetkan selimoet hidjau, jang biasanja dipakai oleh Nabi; dan (2) Soepaja sepeninggal Nabi, ‘Ali soeka mengembalikan barang-barang titipan jang diserahkan kepada Nabi. Sesoedah semoeanja itoe selesai, maka berangkatlah Nabi Clm, seorang diri, tidak berteman seorang poen, walau perdjalanan tsb, terlampau amat berbahaja. Pepergian Nabi Clm, berlakoe pada waktoe petang, setelah matahari terbenam. Setelah Nabi berangkat, datanglah Aboe Bakar dengan semboenji-semboenji. Dinjatakan kepada ‘Ali, di manakah Nabi, dan sesoedah mendapat djawab seperloenja, maka berangkat poelalah Aboe Bakar mengikoeti tapak Nabi. Perloelah diterangkan di sini, bahwa keloear Nabi dari roemahnja itoe, meliwati tempat orang-orang jang hendak melakoekan pemboenoehan atas dirinja. Perboeatan ini menoendjoekkan keberaniannja, dan kepertjajaan jang penoehpenoeh, dan kejakinan jang tegoeh dan koeat, atas perlindoengan Allah. Fasal 3 : Kawanan Pemboenoeh Ketjiwa hati Pada malam jang soedah ditentoekan, seperti jang diloekiskan di atas, pemoeda-pemoeda Qoerasij jang gagah berani telah menjediakan segala sesoeatoe jang perloe, oentoek melakoekan pemboenoehan atas Nabi-Allah jang Soetji itoe dengan lakoe jang amat kedjam. Sepandjang malam mereka itoe selaloe mengintai-intai, kalau2 Nabi keloear dari roemahnja. Mereka toenggoe, sampai Nabi keloear dari roemah, karena menoeroet hoekoem ‘adat bangsa Qoeraisj rendahlah deradjat orang jang berani memboenoeh moesoehnja di tempat kediamannja. Dilihatnja, Nabi tidoer dengan berselimoet hidjau. Laloe seorang dari mereka naik keatas roemah. Karena mendjeritnja seorang perempoean ahli Nabi, maka toeroenlah ia, sebab tidak patoet dan boekan sifat ksatrija, djika orang melakoekan perboeatan jang demikian itoe, dengan mengganggoe keamanan seorang perempoean ahli roemah. Sedjak moelai matahari terbenam hingga matahari terbit lagi, mereka senantiasa mengintip-intip dan mengelilingi roemah Nabi. Alangkah terkedjoetnja, pada waktoe soeboeh boekan Rasoeloellah jang keloear dari tempat-tidoer, melainkan ‘Ali bin Abi Thalib. Dengan kegagalan jang seroepa ini, maka kemarahan orang Qoeraisj sampailah kepada poentjaknja. Mereka mendjandjikan kepada barang siapa jang dapat mem-boenoeh Nabi, akan diberinja seratoes ekor onta. Sekawanan kaoem pengchianat, jang dahaga akan doenia dan menolak kenjataan dan kebenaran, dengan bertoenggang koeda, telah mengikoeti tapak-tapak perdjalanan kedoea orang itoe, ja’ni Moehammad Callallahoe ‘alahi wasallam dan Aboe Bakar. Fasal 4: Di Goeha Tsaur dan Perdjalan ke Jatsrib Perdjalanan Aboe Bakar dengan lekas-lekas dilakoekan, sehingga tidak lama antara-nja soedahlah ia dapat menghampiri Nabi dan kemoedian kedoea mereka itoe mene-roeskan perdjalanannja menoedjoe ke Jatsrib. Sebeloem matahari terbit, maka sampailah kedoea mereka itoe di goeha Tsaur, jang djaraknja koerang lebih 3 myl dari Mekkah. Setelah Aboe Bakar membersihkannja seperloenja, maka kedoea mereka itoe masoeklah ke dalamnja.29 Peristiwa jang teramat penting ini terdjadi pada tanggal 4 boelan Rabi’oel-awwal, tahoen kenabian jang ke 13 atau tahoen Hidjrah jang Pertama. Adapoen permoelaan tahoen, boekanlah terhitoeng pada hari tanggal terdjadinja Hidjrah Callallahoe ‘alaihi wasallam, tetapi moelai boelan Moeharram (tanggal 1 Moeharram 1 H. bersamaan dengan tahoen Masehi 622). Adapoen sekawanan orang pengchianat jang hendak meroesak itoe, sampailah poela di atas goeha Tsaur. Waktoe Aboe Bakar mendengar soeara itoe dengan njata-njata, maka timboellah chawatir dalam hatinja, kalau-kalau sekarang inilah Nabi akan melajang djiwanja, padahal siapakah jang akan meneroeskan oesaha mengembangkan Agama Allah, djika Moehammad terboenoeh mati oleh kawanan pengchianat itoe? Begitoelah perasaan jang timboel dalam hati Aboe Bakar, jang kemoedian disampaikan kepada Nabi Clm. Djawab Nabi atas hal ini, boekan djawab jang timboel dari fikiran atau

pertimbangan Nabi sendiri, melainkan daripada Wahjoe Ilahy jang toeroen pada waktoe itoe, jang antaranja: ,,Djanganlah takoet, bahwasenja Allah beserta kita”. Dan Allah menoeroenkan sakinah padanja ……Sakinah adalah ketenteraman hati, kemana hati jang menghilangkan was-was dan ragoe-ragoe, jang mendjadi sjarat akan kesempoernaan tawakkal seseorang manoesia terhadap kepada Allah Soebhanahoe wa Ta’ala. Dengan qoedrat dan iradat Allah S.W.T., maka sarang laba-laba jang sementara diboeat menoetoep pintoe goeha itoe, mendjadilah satoe benteng jang terkoeat, jang dapat mempertahankan Nabi dan Aboe Bakar dari pada serangan moesoeh jang amat ganas dan kedjam itoe. Tiga hari tiga malam lamanja Clm. tinggal di goeha itoe bersama-sama dengan Aboe Bakar. Selama itoe hingga kepada keloear kedoea mereka dari goeha Tsaur tsb., adalah 4 orang jang menoendjoekkan djasanja terhadap kepada Nabi dan Aboe Bakar, jang oleh karenanja nama mereka itoe tertjantum dengan tinta-mas dalam tarich Agama Islam. (1) ‘Abdoellah bin Aboe Bakar, jang selaloe membawa berita tentang keadaan dan kedjadian-kedjadian di Mekkah, sehingga pada tiap2 sa’at, Nabi senantiasa menge-tahoei akan hal ichwal itoe. (2) Asma binti Aboe Bakar, jang membawa makanan oentoek Nabi dan Ajahnja; (3) ‘Amir bin Foehaira, boedjang Aboe Bakar, jang menggembala kambing-kambing-nja hingga di depan goeha itoe, dan kemoedian memeres soesoe kambing itoe, boeat minoem kedoea mereka jang sedang terantjam bahaja penjerangan dari pihak dlolim itoe; dan (4) ‘Abdoellah bin ‘Oeraiqit, seorang boekan-Moeslim, jang membantoe Nabi dalam perdjalanannja menoedjoe ke Jatsrib, dengan ikoet berkendaraan onta di belakang Aboe Bakar. Pepergian ini terdjadi pada hari ke 4. Sementara itoe, berita ini sampailah poela kepada orang Mekkah, bahwa Nabi Clm, bersama2 Aboe Bakar dan seorang lainnja, lagi dalam perdjalanan menoedjoe ke Jatsrib. Seorang jang gagah-berani, serta sentausa-koeat badan-toeboehnja, ditambah de-ngan dahaga akan doenia –sebab akan mendapat oepah 100 ekor onta, djika ia dapat memboenoeh Nabi–, Soeraqa bin Malik namanja, dengan bertoenggang koeda menge-djar Nabi. Dengan qoedrat-iradat Allah, maksoed djahat jang terkandoeng dalam hati Soeraqa itoe poen tidak sampai. Daripada ia dapat memboenoeh Nabi, malahan ia meminta-minta ampoen kepada Nabi akan kesalahannja itoe, Nabi poen mengampoeni-nja poela, bahkan kepada Soeraqa tsb., ditjeriterakan satoe naboewwah, jang maksoed-nja, bahwa ia (Soeraqa) kelak akan memakai binggel-binggel jang dipakai oleh radja-radja di Persia. Naboewwah ini tampak boektinja pada zaman pemerintahan Chalifah ‘Oemar, kira-kira 24 tahoen sesoedah dioetjapkan. Fasal 5: Sepandjang Perdjalanan Toeroen Ajat-ajat Al-Qoer'an Dalam perdjalanan Hidjrah dari Mekkah ke Madinah itoe, Nabi Clm, selaloe mendapat wahjoe Ilahy, jang mendjadi sjarat koeatnja kepertjajaan, tegoehnja kejakinan, dalamnja faham, njatanja kebenaran, jang achirnja akan ber’akibat: keloehoeran dan ketinggian harkat-deradjat kaoem Moeslimin, baik dalam pandangan Allah maoepoen dalam pandangan manoesia. Djandji2 Allah akan kemenangan jang hendak diperoleh di zaman jang akan datang poen terdapat poela dalam waktoe perdjalanan itoe. Fasal 6 : Roe’jat tentang Hidjrah Di dalam tarich terkenal, bahwa sebeloem Nabi melakoekan Hidjrah dari Mekkah ke Jatsrib, lebih doeloe Clm. di dalam soeatoe roe’jat melihat dirinja pindah ke soeatoe tempat jang kaja dan banjak pohon-pohonan dan tanam-tanamannja. Tempat jang demikian itoe tidak lain, melainkan Jatsrib, jang kemoedian dinamakan Madinah, tegasnja ,,kota”, atau Madinatoen Nabi, jang ertinja ,,kotanja Nabi.” Fasal 7 : Wahjoe jang Meramalkan Hidjrah Pada zaman Mekkah jang terachir, toeroenlah wahjoe Ilahy jang mengandoeng ramalan akan Hidjrah Nabi dan sahabatsahabatnja, sebagai jang kita dapati dalam Al-Qoer'an. Soerah Bani Israil (17) ajat 80 dan 81: ,,Katakanlah (hai) Toehan! Masoekkanlah kami dalam tempat masoek jang soetji (benar), dan keloearkanlah kami dari

tempat keloear jang soetji (benar), dan berilah kami kekoeasaan (kekoeatan) dari pada Moe, oentoek membela kami.” ,,Katakanlah! Haq telah datang, dan Bathil jang lari; (sebab) memang Bathil itoe bersifat pelari.” Jang dimaksoedkan ,,tempat keloar” (moechradja) ialah ,,Mekkah” dan jang dimaksoedkan dengan ,,tempat masoek” (moedchala) ialah ,,Madinah.” Jang dikatakan ,,Haq” di sini ialah ,,Agama Islam”, jang memang tidak mengandoeng lain dari pada Haq. Sedang jang dimaksoedkan dengan perkataan ,,Bathil” ialah tiap-tiap sesoeatoe jang tidak sesoeai ataupoen bertentangan dengan hoekoem-hoekoem Islam. Fasal 8 : Pengikoet Nabi selama zaman Mekkah Kalau dibandingkan oesaha dengan hasilnja, sebagaimana jang diperoleh oleh Nabi, soenggoeh-soenggoeh tidak sepadan. Begitoelah agaknja fikiran dan anggapan kita, sebagai manoesia. Dengan propaganda jang sekoeat-koeatnja, dalam pimpinan Nabi sendiri –jang mendapat toentoenan langsoeng dari pada Allah S.W.T.– selama 13 tahoen, hanja koerang-lebih ada 300 orang jang masoek Agama Islam. Tetapi, orang-orang jang soedah memeloek Agama Islam waktoe itoe –soenggoeh-poen djoemlah mereka tampaknja sedikit–, oekoeran kejakinan, iman dan deradjatnja djaoeh lebih tinggi dari pada oekoeran jang ‘oemoem dipakai pada dewasa ini. Mereka lari meninggalkan roemah2-nja, boekanlah sekali2 karena takoet dan ta’loek kepada moesoeh-moesoeh Islam, melainkan karena permintaan Nabi semata-mata, jang ta’ sampai hati melihatkan dan menjaksikan dengan matakepala sendiri, penganiajaan kaoem Djahilin jang amat kedjam dan dlolim itoe. Kepertjajaan akan pertolongan Allah lebih besar dari pada kekoeatan balatentara moesoeh! Iman dan kejakinan lebih mendalam, lebih tegoeh dari pada roentjingnja toembak atau tadjamnja pedang! Mereka lebih soeka mati, ketimbang meninggalkan Agama Allah! Mereka lebih senang dianija dan difitnah dari pada mesti tidak menoeroet-kan dan mentjontohkan Soennah Rasoeloellah! Periksalah sekali lagi djawab Clm, atas pertanjaan pamannja (Aboe Thalib): Nabi Clm, dan kaoem Moeslimin jang mengikoetkan dia (walladzina amanoe ma’ahoe) hanja mengenal doea perkara: Mati-binasa pada djalan Allah (joeqtal) atau mendapat kemenangan (jaghlib) dalam oesahanja mengembangkan Agama Allah. Periksalah lebih djaoeh Al-Qoer'an, soerah An-Nisa (4) ajat 74. Lebih djaoeh kaoem Moeslimin pada zaman Nabi Clm. menganggap segala kesoekaran dan kesoesahan itoe hanjalah sebagai satoe pertjobaan dan oedjian dari pada Allah Soebhanahoe wa Ta’ala belaka, satoe sjarat pengoeatkan Iman, pentegoehan Tauhid, pendalamkan kejakinan, tegasnja: satoe sjarat bagi kemadjoean dan ketjerdasan roehany manoesia, di dalam wadjibnja menghadapi tiap-tiap tanggoengan semasa hidoepnja di doenia jang fana ini. Kekoerangan kawan dan harta serta kekoeatan tidaklah mentjegahkan dia dari pada ichtiar mendjalankan wadjib! Sebab mereka sadar dan insjaf dengan sepenoeh-penoehnja, bahwa banjaknja oedjian dan pertjobaan dari pada Allah itoe hanjalah akan dapat mendjadi sebab akan ,,mentjepatkan boektinja djandji-djandji Allah kepada kaoem Moeslimin: kemoeliaan doenia dan achirat.” Berhoeboeng dengan ini bolehlah kita koetipkan ajat-ajat Al-Qoer'an, soerat Al-Baqarah, moelai ajat 155 hingga ajat 157. ,,Dan Kami (Allah) pastilah akan mentjoba kamoe dengan sesoeatoe dari pada ketakoetan dan kelaparan, dan kekoerangan harta-benda, dan (kekoeranga) kawan, dan (kekoeranga) boeah-boeahan; dan (Kami–Allah) akan memberikan (menjampaikan) berita baik (basjirat) kepada orang-orang jang sabar.” ,,(Ja’ni: kepada) orang-orang, jang djika datang moesibah atasnja, mengatakan: ,,Bahwasenja kita bagi (kepoenjaan) Allah, dan bahwasenja kita semoeanja akan kembali kepada-Nja.” ,,Inilah orang-orang jang mendapat salawat (ampoenan) dan rahmat dari pada Toehan mereka; dan inilah orang-orang jang mendapat pertoendjoek (hidajat).” Sjahdan, maka dengan Hidjrah Nabi dari Mekkah ke Madinah itoe, terkoentjilah zaman Mekkah. Dari pada gambaran riwajat ini tahoelah kita nanti, apa bedanja, dan mana samanja, antara Mekkah dengan Madinah, teroetama sekali, djika hendak mentjon-tohkan Soennah Rasoeloellah Clm., sebagaimana jang dikehendaki oleh Party Sjarikat Islam Indonesia. -------Ζ Ζ Ζ -------

BAB KEEMPAT ZAMAN MADINAH TAHOEN HIDJRIAH PERTAMA ,,Bahwasenja mereka jang beriman dan berhidjrah dan beroesaha soenggoeh-soenggoeh pada djalan Allah dengan hartabendanja dan dengan djiwanja (ja’ni: kaoem Moehadjirin), dan mereka jang memberi tempat berlindoeng dan menolong (ja’ni kaoem Ancar) –mereka inilah pelindoeng jang satoe atas jang lainnja …..” Al-Qoer'an, Soerah Al-Anfal (8) ajat 72 Perdjalanan Nabi dari Mekkah ke Madinah itoe agak terlambat, sehingga pada tgl. 12 Rabi’oel-Awal –djadi 8 hari kemoedian dari pada berangkatnja– baroelah Rasoeloellah tiba di tempat kedoedoekan jang baroe. Sepandjang hitoengan achli tarich, adalah 12 Rabi’oel-Awwal tahoen ke-Nabian ke 13 atau tahoen Hidjriah pertama itoe, sama dengan tanggal 28 Djoeni 622, menoeroet hitoengan takwin Masehi. Fasal 1: Di Qoeba30 Rasoeloellah Clm. dalam pepergiaannja menoedjoe ke Madinah itoe, tidak laloe langsoeng kepada tempat jang dimaksoed, atas permintaan sahabat-sahabat Ançar jang tinggal di Qoeba, di antara mereka jang ternama ialah ‘Amroe bin ‘Auf. Dari Qoeba ke Madinah hanja kl. 3 mly djaoehnja, dan masoek poela bagian kota jang terseboet belakangan ini. Di sinilah moelai moela-moela didirikan satoe masdjid Islam, jang didirikannja soenggoeh-soenggoeh oentoek taqwa semata-mata, seperti jang tsb, dalam Al-Qoer'an, soerat At-Taubat (9) ajat 108: ,,…sesoenggoehnja seboeah masdjid jang didirikan atas taqwa…” Dengan tangannja sendiri, Nabi dan sahabat-sahabat beroesaha mendirikan masdjid itoe. Fasal 2 : ‘Ali dan Sahabat-sahabat Moehadjirin Lainnja Menjoesoel Sepeninggal Nabi, maka ‘Ali mendapat penganiajaan dari fihak kaoem Qoeraisj Djahilin. Setelah ia menjampaikan amanat Nabi, oentoek mengembalikan barang-barang orang jang dititipkan kepadanja, maka berangkat poelalah ia menjoesoel djedjak Nabi, menoedjoe ke Madinah. Sementara itoe ia telah terima kiriman soerat dan oeang dari Nabi, sebanjak 500 dirham, bagi membeli onta-onta, goena membawa anak-anak perempoean Nabi dan orang-orang ahli roemah, serta kaoem Moeslimin jang ta’ koeat berdjalan kaki jang sedjaoeh itoe. ‘Ali sendiri berdjalan kaki, sehingga mendapat bengkak-bengkak. Perdjalanan dan persediaan oentoek keperloean itoe, semoeanja dilakoekan dengan semboenji-semboenji. Siang hari goena memperhentikan diri dalam tempat jang soenji, dan hanja malam hari sadjalah dipakai bagi melakoekan perdjalanan tsb. Dengan pertolongan Allah, perdjalanan itoe berlakoe dengan selamat. Tetapi beloem djoega mereka sampai di Madinah, baroe di Qoeba, soedahlah mere-ka berdjoempa dengan Nabi Rasoeloellah Clm. karena sebeloem datang di Madinah Rasoeloellah tinggal di Qoeba beberapa hari lamanja. Fasal 3: Samboetan Pendoedoek Madinah Tidak lama dari pada berangkat Nabi Clm. dari Mekkah, segeralah terdengar poela berita itoe oleh pendoedoek Madinah. Perhatian sangat besar sekali. Boekan hanja dari kaoem Moeslimin belaka, tegasnja sahabat Ançar dan sahabat Moehadjirin (jang Hidjrah setelah Bai’at ‘Aqaba jang Kedoea), melainkan orang Jahoedi poen ikoet poela menaroeh perhatian atas kedjadian jang amat penting itoe. Penting, boekan hanja boeat riwajat Islam sadja, tetapi djoega penting bagi riwajat doenia dan riwajat peri-kemanoesiaan ‘oemoemnja. Karena risalah Clm., telah lebih doeloe diramalkan dalam Kitab-kitab soetji, sebeloem ia dilahirkan. Samboetan pendoe-doek Madinah sangat menggembirakan hati, baik dari pihak laki-laki maoepoen dari pihak perempoean, jang semoeanja sama menoendjoekkan hormat atas kedatangan Clm. itoe. Bahkan ditjeriterakan poela dalam riwajat, bahwa ada seorang Jahoedi, jang soeka memperhatikan tanda-tanda zaman menoeroet Kitab soetjinja, selaloe menanti-nanti dari menara, dan setelah tiba Clm., maka dengan segera dikenalnjalah dia.

Tentang hal ini lebih djaoeh dimaktoebkan dalam Al-Qoer'an, Soerah Al-An’am (6) ajat 20. Fasal 4: Masdjid jang Pertama-tama di Madinah31 Begitoe besar samboetan dan kegembiraan pendoedoek Madinah, sehingga ma-sing-masing ingin, soepaja Nabi Clm. berhenti di roemahnja. Nabi Clm. tidak soeka memilihnja sendiri, mana tempat jang patoet dan jang ia soekai, tetapi dengan kepertjajaan jang penoeh-penoeh kepada Pilihan Allah, maka, laloe melepaskan ontanja, dan dengan sabar ia menoenggoe berhentinja onta itoe. Dengan tidak disangka-sangka, maka onta jang ditoenggangi oleh Clm, itoe berhenti di tanah-lapang, kepoenjaan 2 orang anak jatim. Soenggoehpoen kedoeanja anak jatim itoe dengan ichlas ingin sekali menjerahkan tanahnja bagi keperloean Islam, tetapi Clm, tidak menjetoedjoeinja, jang achirnja kedoea mereka itoe poen menerima poela bajaran oeang harganja. Di sinilah moela-pertama didirikan masdjid Islam di Madinah, jang pemboeatan roemah soetji itoe dilakoekan oleh Nabi dan sahabat-sahabat Ançar dan Moehadjirin jang ada pada waktoe itoe. Semoeanja pekerdja, dari Nabi Clm, hingga ke sahabat-sahabat –sebab dalam hal ini memang tidak ada bedanja sedikit poen djoega–, melakoe-kan kewadjiban mendirikan roemah-soetji (masdjid) itoe sebagai satoe kehormatan dan karena Allah semata-mata. Wadjib diperingati masdjid itoe karena sederhananja, malahan lebih dari pada sederhana, karena tembok-temboknja diboeat dari pada tanah, tiangnja dari pohon korma, atapnja dari tangkai-tangkai dan daoen-daoen korma. Tanahnja ditoetoep dengan batoe-batoe ketjil, agar djangan betjek, djika toeroen hoedjan. Fasal 5: Soeffah32 Di salah satoe pendjoeroe tanah lapang itoe didirikan satoe roemah pandjang, jang di dalam tarich terkenal dengan nama Soeffah. Moela-moela roemah pandjang ini diperoentoekkan bagi keperloean sahabat Moehadjirin, jang beloem mempoenjai roemah. Tetapi achirnja Soeffah itoe mendjadi satoe balai pengadjaran dan pendidikan jang teroetama, di mana diadjarkan dan dididikan sjari’at Agama Islam setjoekoep-tjoekoep dan seloeas-loeasnja atas pimpinan Clm. sendiri. Djika mendengar perkataan Soeffah, dari sendirinja kita ingat akan Masdjid Madinah jang pertama-tama itoe, karena di kedoea tempat itoelah teroetama sekali dilakoekan pengadjaran dan pendidikan. Djadi kedoea bangoenan itoe soenggoehpoen doea sifat-nja, tetapi hakikatnja satoe, boleh dibedakan, tetapi ta’ dapat dipisahkan. Selain dari pada itoe, di samping masdjid itoe diboeatnja 2 kamar, jang meloeloe diper-oentoekkan bagi Clm. dengan ahli-roemahnja.33 Tentang hal pendidikan dan pengadjaran jang dilakoekan di Soeffah itoe, di be-lakang akan kita oeraikan lebih djaoeh. Fasal 6 : Pergaoelan antara sahabat Ancar dan Moehadjirin Pekerdjaan jang pertama-tama sekali diatoer oleh Nabi Clm, ialah tentang Sem-bahjang, istimewa sembahjang berdjama’ah. Kita tentoe dapat kira-kirakan sendiri, betapa pentingnja sembahjang itoe, jang berkenaan dengan djasmany maoepoen roehany. Setelah Clm, selesai mengoeroes bagian ,,moe’amalah ma-’Allah” (kewadjiban manoesia terhadap kepada Allah dengan langsoeng dan choesoes), maka kewadjiban kedoea jang dilakoekan Clm, ialah mengatoer: pergaoelan hidoep bersama, bagian pem-bagian rizki. Peratoeran pembagian rizqi jang amat sempoerna, dan pergaoelan antara sahabat Ançar dan sahabat Moehadjirin jang amat rapat dan sentausa itoe, tidaklah terdapat di dalam riwajat peri-kemanoesiaan di loearnja. Pergaoealan hidoep bersama dan pembagian rizki pada waktoe itoe didasarkan atas perikatan-persaudaraan jang amat kekal. Mereka berkoempoel di Madinah meroe-pakan satoe ,,persatoean jang bersandarkan kepada ke-Satoean (Wahdaniyah) Allah Soebhanahoe wa Ta’ala”, persatoean sedjati jang dikehendaki oleh Agama Allah, persa-toean jang bertali ma’any, persatoean bathin, persatoean Agama, persatoean Islam. Dengan berkat toentoenan dan pimpinan Nabi Rasoeloellah Clm., maka persatoe-an-manoesia, persatoean bangsa itoe dapatlah mewoedjoedkan satoe tjontoh, jang wadjib mendjadi tauladan dan bagi segenap bangsa-manoesia, istimewa sekali jang telah termasoek dalam golongan Moeslimin. Dengan kejakinan sepenoeh-penoehnja, bahwa toedjoean hidoep

manoesia tidak lain, melainkan ,,wadjib Bakti kepada Jang Maha Soetji”, maka I’tiqad jang demikian itoe poelah jang dapat menoemboehkan ‘amal jang sempoerna, sepandjang hoekoem sjari’at Agama Islam. Dengan I’tiqad ,,Wadjib Bakti” itoe, timboellah kejakinan-kejakinan dan kepertjajaan-kepertjajaan, bahwa: (1) Sesoeatoe jang ada di boemi dan langit dan jang di antara kedoea itoe (lahoe mafissamawati wama fil-ardli wama baina hoema), tegasnja semoeanja machloek itoe ialah di dalam genggaman Qoedrat-Iradat Allah S.W.T. Ialah jang mengadakan, dan Ia poelalah jang mentiadakan; Ia jang menggerakkan dan Ia jang mendiamkan; Ia jang menghidoepkan dan Ia jang mematikan; begitoelah seteroesnja. (2) Djadi semoeanja jang kita dengar, kita lihat, kita rasakan, kita ketahoei dan dapat kita selidiki itoe adalah timboel karena kemoerahan Allah semata-mata. Sehingga hidoep dan mati manoesia, sedikit dan banjaknja rizki jang diterima oleh manoesia, semoeanja itoe di dalam pandangan Islam hanjalah Kemoerahan Allah belaka. (3) Manoesia menerima Kemoerahan Allah, dan manoesia wadjib poela memper-goenakan kemoerahan Allah itoe, dengan tjara dan lakoe jang sepadan dengan hoekoem Islam. Kita katakan disini ,,Wadjib Mempergoenakan”, karena menoe-roet peladjaran Agama Islam segala jang ada pada kita dan jang di loear kita –beroepa harta-benda dan lain2– hanjalah Amanat dari pada Allah belaka. Oleh sebab kita wadjib menjampaikan amanat, maka wadjib poelalah kita memper-goenakan kemoerahan, menoeroet peratoeran sepandjang hoekoem sjari’at Agama Islam. (4) Adapoen tempat dan tjara mempergoenakannja, tidak boleh poela menoeroet kehendak manoesia, jang moedah terbawa oleh hawa dan hawa-nafsoenja, melain-kan menoeroet adjaran-adjaran Al-Qoer’an, dan Soennah Rasoeloellah jang njata, ialah tjontoh jang paling oetama, paling tinggi, paling loehoer dan paling sempoerna, baik dalam pandangan manoesia maoepoen dalam pandangan Allah S.W.T. Lebih tegas lagi, djika kita katakan di sini, bahwa kemoerahan Allah jang diberikan kepada manoesia sebagai amanat itoe, hendaknja dibelandjakan bagi: (a) Mempertahankan hak-hak Islam, hak-hak kaoem Moeslimin. (b) Mengoeatkan dan menjentausakan Agama Islam, dan (c) Menjempoernakan berdjalannja hoekoem-hoekoem Allah, di antara bangsa manoesia. Sjahdan, maka dengan I’tiqad, kepertjajaan dan kejakinan jang seroepa itoe --jang penoeh tjontohnja dalam perdjalanan Nabi Rasoeloellah Clm.--, timboellah Perikatan-Persaudaraan jang Sedjati, jang tidak dapat ditjeraikan oleh siapa dan apapoen djoea. Tjamkanlah, betapa sabda Nabi Clm Waktoe mengadakan Bai’at ‘Aqaba jang Kedoea: ,,darahmoe ialah darahkoe, akoe adalah bagi kamoe dan kamoe adalah bagikoe.” Lebih djelas dan lebih tegas lagi, djika kita nanti sampai kepada pembitjaraan tentang Bai’at-oer-Ridhwan atau Bai’at-oesjSjadjarah, jang dilakoekan hampir bersamaan dengan Pedjandjian Hoedaibiyah, ja’ni: ,,Hidoepmoe ialah hidoepkoe, matimoe ialah matikoe”, karena masing-masing dan segenap mereka jang menjatakan Bai’at itoe soedahlah berkejakinan dan beri’tiqad: ,,Hidoep dan mati bagi Allah, karena Allah dan pada djalan Allah.” Hatta, maka kedatangan sahabat Moehadjirin di Madinah itoe tidak oentoek berda-gang ataupoen beroesaha bagi kehidoepan mereka, sehingga dari sendirinja tentoelah tidak membawa bekal jang tjoekoep, bahkan sebagian besar dari pada mereka itoe adalah orang-orang jang miskin. Tiap-tiap sahabat Moehadjirin menghoeboengkan diri dengan sahabat Nasir, terikat oleh tali-persaudaraan jang soetji, bergaoel sehari kesehari dengan ketjintaan jang timboel dari ichlas hati, serasa-sefaham, semaksoed dan setoedjoean. Lebih djaoeh lagi, tiap-tiap sahabat Nasir mengambil saudaranja Moehadjirin di roemahnja –jang lainnja masoek mendjadi pendoedoek Soeffah –dengan menjerahkan separoh dari pada roemah itoe kepadanja, oentoek dipakai bagi keperloean dirinja. Dan jang sangat mengherankan lagi ialah, bahwa mereka membagi sama-rata segala harta bendanja dan binatang ternaknja. Tentang pergaoelan hidoep bersama antara kedoea golongan itoe, lebih tegas dinjatakan di dalam Al-Qoer'an, soerah Al-Anfal, ajat 72, seperti jang tertoelis pada kepala Bab ini. Begitoelah gambaran pergaoelan hidoep antara sahabat Ançar dan Moehadjirin, satoe tjontoh jang moelia, jang wadjib ditiroe oleh tiap-tiap manoesia jang hendak mentjapai deradjat keloehoeran dan kemoeliaan, di doenia dan di achirat. Semoeanja itoe tidaklah kita dapati dalam riwajat bangsa manoesia jang lainnja, di loear Islam.

Fasal 7: Perbedaan dan Persamaan antara Ançar dan Moehadjirin Dari pada ertinja perkataan sadja, tjoekoeplah kiranja oentoek mengetahoei perbedaan antara Ançar dan Moehadjirin itoe. Ançar (djama’) asalnja dari perkataan Nasir (moefrad) jang bererti ,,pembela”. Djadi perkataan Ançar itoe bererti: pembela-pembela atau penolong-penolong, ja’ni penolong-penolong Rasoeloellah Clm., dan saha-bat-sahabatnja jang bersama-sama Clm. Itoe; pembela Agama; mereka itoe adalah pendoedoek Madinah asli, jang ikoet Bai’at ‘Aqaba jang Pertama dan jang Kedoea (soempah-kesetiaan). Sedang Moehadjirin (djama’–meervoud) asalnja dari perkataan Moehadjir (enkv.), jang bererti: seorang jang hidjrah. Djadi Moehadjirin itoe orang-orang jang hidjrah. Mereka itoe orang-orang Mekkah jang telah hidjrah ke Habsji ataupoen jang hidjrah ke Madinah. Berlainan dengan kaoem Ançar jang pada ‘oemoemnja kaoem-tani, maka kaoem Moehadjirin ini sebagian besar termasoek golongan kaoem dagang. Oleh sebab itoe, maka pada zaman moela-moela ada pergaoelan hidoep di Madinah antara Ançar dan Moehadjirin, kaoem Ançar menawarkan setengahnja keoentoengan dari oesaha betjotjok tanam kepada kaoem Moehadjirin, tetapi sebagian dari pada mereka itoe menolaknja. Boekan karena boekan-haknja oentoek menerima pemberian jang timboel dari pada ichlas hati itoe, melainkan ,,koerang-oetama” di dalam pandangan pihak Moehadjirin. Semoeanja itoe berlakoe tidak hanja jang berkenaan dengan pembagian rizqi jang biasa sadja, tetapi djoega tentang pembagian-waris tidak berdjalan menoeroet perhoe-boengan darah, melainkan menoeroet perikatan agama. Hal ini beroebah, setelah habis Perang Badar toeroen ajat 6 dari pada soerah Al-Ahzab (33). Djadi teranglah soedah, bahwa perbedaan antara kaoem Ançar dan kaoem Moeha-djirin itoe pada ‘oemoemnja hanjalah didalam hal tempat-kelahiran34 dan tjara mentjari penghidoepan belaka. Sedang di dalam kelakoean dan perboeatan ataupoen jang liannja, semoeanja sama, sebab sekalian mereka itoe sama-sama dan bersamaan terboeat ‘amal menoeroet perintah-perintah Allah dan Rasoel-Nja. Fasal 8: Zaman Baroe Permoelaan zaman Madinah terkenal sebagai ,,Zaman Baroe”; ,,Baroe”, karena menimboelkan jang baroe, jang beroepa sjari’at Nabi Clm. dan ,,Baroe”, karena mem-baroekan jang lama. ,,Baroe”, di dalam kepertjajaan dan I’tiqad! ,,Baroe”, di dalam kela-koean dan perboeatan! ,,Baroe”, karena si bathil ditindih oleh si haq! ,,Baroe”, karena gelap (djahil) diganti dengan terang benderang dari pada tjahaja Ilahy! ,,Baroe”, karena Agama Allah moelai berdjalan dalam segala hal-ichwal, hidoep dan hehidoepan manoe-sia! ,,Baroe”, karena boedi-pekerti dan achlaq jang rendah diganti oleh boedi-pekerti dan jang tinggi, moelia dan oetama serta indah! ,,Baroe”, karena permoesoehan linjap (teroetama antara kabilah dan kabilah – mitsalnja: Bani Aus dan Bani Chazradj) diganti dengan persaudaraan jang koeat dan kekal! ,,Baroe”, karena keboeasan dan keganasan serta kedloliman diganti dengan kehaloesan boedi, ketjintaan dan ke’adilan! ,,Baroe”, dalam segala-galanja! Inilah poela sebabnja, maka kota Jatsrib –setelah Hidjrah Nabi Clm,— dinamakan: Madinatoel-moenawwarah”, ertinja: ,,kota jang bertjahaja”, atau singkatnja ,,Madinah” (kota). Tjahja jang terang-tjoeatjanja itoe, sinar dari pada tjahja Ilahy semata-mata! Fasal 9: Baitoel-Mal jang Pertama Karena pada zaman tsb, di atas moelai tersoesoen pergaoelan hidoep setjara Oemmat, sebagai jang dikehendaki oleh AlQoer'an, maka peratoeran jang demikian itoe menghendaki akan berdirinja satoe ,,Peti Perbendaharaan ‘Oemoem”, tempat penjimpanan harta-benda Oemmat, jang dipergoenakan oentoek keperloean Oemmat itoe, dalam Baktinja kepada Jang Esa. Peti perbendaharaan ‘Oemmat jang demikian itoelah jang dinamakan Baitoel-Mal, jang moela-pertama di perdirikan pada awwal zaman Madinah. Fasal 10: Perboeatan Sijasah dari pada Clm Di atas telah kita rawaikan dengan singkat, bahwa perboeatan Nabi Clm. jang pertama-tama sekali ialah mengatoer dan memimpin tentang segala sesoeatoe jang mengenai ,,Bakti Choesoes kepada Allah” (‘ibadah). Kemoedian Clm. menjoesoen dan mengatoer segala apa jang perloe bagi pergaoelan hidoep bersama (idjtima’y –sociaal leven), antara

Moeslim dan Moeslim, antara Moeslim dengan Moeslimah, antara Moeslim dengan boekan-Moeslim, di dalam kelakoekan, kesopanan dlls., jang semoeanja itoe dengan tjontoh dan tauladan jang njata dari pada Clm, sendiri. Setelah itoe, maka Clm. mengadakan Pedoman bagi menjoesoen dan mengatoer Oemmat: per-hoeboengan, hak dan kewadjiban antara anggauta-anggauta Oemmat itoe satoe dengan jang lainnja, dan perhoeboengan, hak dan kewadjiban antara Oemmat jang dipimpin oleh Nabi Clm. dengan golongan-golongan jang di loearnja. Bolehlah di sini diterangkan, bahwa di Madinah adalah tinggal doea golongan bangsa jang besar, jang beda agama dan asalnja. Jang satoe termasoek bangsa Jahoedi, dengan mengikoeti agama nenek-mojangnja (Agama Jahoedi), terdiri dari pada kabilah-kabilah (atau kaoem-kaoem) Banoe Nadhir, Banoe Qoeraidho dan Banoe Qainoeqa’, sedang golongan jang lain ialah bangsa ‘Arab, jang beragamakan Watsaniyah, terdiri dari pada kabilah-kabilah (atau kaoem-kaoem) Bani Aus dan Bani Chazradj. Sebeloem datangnja Nabi Clm. dengan membawa amanat Allah jang beroepa Agama Islam di kalangan golongangolongan bangsa itoe, maka mereka itoe satoe sama lainnja, selaloe bermoesoeh-moesoehan, jang atjap kali menimboelkan peperangan jang hebat. Tetapi setelah Clm. tiba di Madinah dan menjiar-njiarkan kemolekan, keoetamaan dan keindahan Agama Allah, maka dengan sekedjab mata linjaplah permoesoehan dan perpetjahan itoe, diganti dengan berkasih-kasihan dan persatoean jang rapat, persatoean jang berdasarkan kepada ,,ketakoetan kepada Allah”, persatoean jang digaboengkan dengan tali-tali (perintah-perintah) Allah, persatoean jang dipersendikan atas ridlo dan ichlas hati dari pada masing-masing dan segenap anggauta Oemmat itoe, sebagai jang dinjatakan di dalam Al-Qoer'an, soerah Al-Baqarah (2) ajat 143: ,,Demikianlah Kami (Allah) telah mendjadikan kamoe (kaoem Moeslimin) satoe Oemmat jang wasth (terpilih atau terdjoendjoeng), agar soepaja kamoe mendjadi pembawa persaksian kepada manoesia dan agar soepaja Oetoesan (Rasoeloellah Clm.)djadi seorang pembawa persaksian kepada kamoe…” Agama Islam menoedjoe kepada kesempoernaan perikatan segenap bangsa ma-noesia di permoekaan boemi ini, menetapkan peratoeran-peratoeran jang mengenai perhoeboengan antara anggauta-anggauta di dalam Oemmat itoe sendiri (intern), dan menetapkan poela perhoeboengan antara Oemmat Islam dan jang boekan Islam. Maka Clm. sebagai Nabi Allah jang bidjaksana dan sebagai ahli sijasy (diplomat) jang loehoer dan tinggi deradjatnja, tidaklah Clm. loepa, oentoek mengadakan perhoe-boengan antara Oemmat Islam di Madinah dan Bangsa Jahoedi jang tinggal di Madinah itoe poela, karena masing-masing dan kedoea mereka itoe tentoelah mempoenjai kepentingan jang bersamaan, kepentingan jang tidak mengoebah I’tiqad atau perboe-atan, soenggoehpoen berlainan agama dan fahamnja, ja’ni: kepentingan pertahanan dan pembelaan tanah Madinah dari pada serangan moesoeh jang mana poen djoega. Lebih djaoeh bolehlah di sini kita gambarkan dengan ringkas perdjandjian-perdjandjian (intern dan extern), sebagai berikoet: (1) Tiap-tiap anggauta (burger) atau golongan-golongan (groepen) jang termasoek di dalam ikatan Oemmat Islam itoe, tidak boleh melakoekan atau menghentikan sesoeatoe perboeatan, baik jang keloear maoepoen jang ke dalam, di dalam mem-boeat perdamaian antara satoe dengan lain ataupoen di dalam menghadapi perang. Sesoeatoe jang berkenaan dengan itoe, wadjib didjalankan bersama-sama (gemeen-schappelijk), jang dipimpin oleh Nabi sendiri.35 (2) Orang-orang Jahoedi atau bangsa Jahoedi segenapnja, jang soedah menghoe-boengkan diri dengan Oemmat Islam itoe, mempoenjai hak persamaan (gelijk-waandige rechten) dengan anggauta-anggauta Oemmat Islam, di dalam hak mereka menerima bantoean dan pertolongan serta perboeatan jang baik.36 (3) Mereka itoe (orang-orang Jahoedi) haroes mendapat perlindoengan dari Oemmat Islam, djika mereka mendapat penghinaan ataupoen menderita penganiajaan dari fihak mana poen djoega. (4) Mereka itoe (kaoem Jahoedi) jang tinggal di Madinah, dari kabilah manapoen djoega --mitsalnja: Kabilah ‘Auf, Nadjdjar, Djasjm, Tsa’laba, Harits dan Aus--, dengan Oemmat Islam di Madinah, mendjadilah satoe Oemmat (natie). (5) Mereka itoe (kaoem Jahoedi) mempoenjai hak jang leloeasa oentoek mendjalankan kejakinan-agamanja (godsdienstovertuiging), sebagai leloeasanja kaoem Moesli-min mendjalankan ke-Islamannja. (6) Orang-orang atau bangsa-bangsa jang mendjadi sahabat atau teman serikat (bondgenooten) dari bangsa Jahoedi itoe, mendapat hak poela jang sama dengan mereka itoe, dalam keamanan mempertahankan dirinja maoepoen dalam keleloeasa-

an mendjalankan agamanja. (7) Oleh sebab kedoe golongan itoe (Islam dan Jahoedi) soedah mendjadi satoe Oemmat, maka barang siapa jang memperboeat kesalahan --dengan tidak pandang dari pihak mana, dan dengan tidak memperbedakan kejakinan-agama ataupoen kebangsaan-nja-- akan mendapat toentoetan dan hoekoeman, menoeroet ke’adilan jang diperin-tahkan oleh Allah Soebhanahoe wa Ta’ala.37 (8) Orang-orang Jahoedi haroeslah memperhoeboengkan diri (membantoe) kaoem Moeslimin, bilamana ada serangan moesoeh, bagi memperlindoengi tanah Madi-nah. (9) Bagi mereka jang mengakoei akan Perdjandjian ini, haroeslah menganggap tanah Madinah sebagai Tanah jang disoetjikan. (10) Orang-orang Jahoedi jang mendjadi sahabat, atau jang diperlindoengi, atau jang mendjadi teman-serikat bangsa Jahoedi, dapatlah perlakoean jang hormat, seperti kehormatan jang diberikan oleh kaoem Moelimin terhadap kepada sahabat, kepada orang2 jang diperlindoengi ataupoen kepada kawan serikat mereka itoe. Demikian poela sebaliknja, antara satoe dengan jang lainnja. (11) Tiap-tiap Moeslim haroes mendjaoehkan diri dari pada tiap2 perboeatan jang salah, jang dlolim, jang meroesak, tegasnja segala perboeatan jang mendjadi larangan Allah dan Rasoel-Nja. (12) Tidak seorang poen jang boleh membela, menolong atau membantoe orang-orang jang berboeat kesalahan atau kedjahatan --dalam pandangan Allah dan Rasoel-Nja--, walau ia sanak-keloearga atau saudaranja sendiri. (13) Segala sesoeatoe jang terdjadi di antara anggauta atau golongan dari pada Oem-mat itoe, jang baroe ataupoen jang dichawatirkan kelak akan dapat menimboelkan satoe bentjana, kesoesahan atau kesoekaran, hendaklah dikembalikan kepada Allah dan Rasoel-Nja. Fasal 11: Nabi mendjadi Kepala Oemmat Sekianlah isi Perdjandjian itoe, sekadar jang perloe-perloe. Dari pada Perdjandjian itoe njatalah, bahwa jang mendjadi Kepala Oemmat ialah djoendjoengan kita Rasoeloellah Clm sendiri. Boekan karena mentjari pengaroeh ingin mendjadi kepala Oemmat, boekan karena nafsoe hendak mendjadi pemimpin sesoeatoe golongan, melainkan karena keindahan boedinja, keloehoeran martabatnja, kebidjaksaan dan keoetamaan di dalam kela-koean dan perboeatannja, jang semoeanja itoe mendjadi sjarat akan patoetnja seseorang manoesia mendjadi Kepala dari sesoeatoe Oemmat. Demikianlah moela-pertama tampaknja anoegrah dan keroenia Allah Soebhana-hoe wa Ta’ala kepada Nabi-Nja jang Penoetoep, dan kepada sekalian kaoem Moeslimin dan Moe’minin, jang mengikoeti (itiba’) djedjak-langkah Clm itoe adanja. Fasal 12: Di Madinah Moelai Tampak Sji’ar-oel-Islam Agama Allah moelai memantjarkan tjahajanja dengan terang-tjoeatja. ‘Ibadah moelai berlakoe dengan leloeasa. Maka perloelah didirikan masdjid2, oentoek meloeas-kan tempat2 ‘ibadah itoe; moelai itoe tampaklah sji’ar Islam jang sedjati.38 Fasal 13: Bahaja dari Dalam (Kaoem Moenafiqin) Sebeloem datang Nabi Clm. di Madinah adalah seorang jang besar pengaroehnja di antara kabilah-kabilah jang tinggal di Madinah, bernamakan ‘Abdoellah bin Oebay. Setelah Clm. tiba di sana, maka hilanglah pengaroehnja, ‘ibarat tjahaja bintang pada waktoe siang hari. Boekan karena direboet pengaroehnja, tetapi karena terang-tjoea-tjanja Noer Ilahy, jang sedang memantjarkan tjahajanja di tanah Madinah itoe. ‘Abdoellah bin Oebay masoek Islam, ialah satoe-satoenja djalan oentoek memperta-hankan pengaroehnja, istimewa sekali karena sebeloem itoe pendoedoek tanah Madinah soedah berniat hendak menobatkan dia mendjadi radja. Oleh sebab itoe, maka taslim (ta’loek) dia hanjalah pada dlohirnja sadja, sedang bathinnja selaloe mentjari pengaroeh oentoek mendjatoehkan Nabi Clm., karena Clm. inilah jang dianggap menghilangkan pengaroehnja itoe. Di hadapan Nabi Clm. dan di hadapan sahabat-sahabat Nabi jang terdekat (setia), ia selaloe menoendjoekkan perboeatannja sebagai Moeslim, tetapi di belakang kemoedi-an ia mengandjoerkan dan mengepalai satoe ,,pergerakan-rahasia”, jang

bermaksoed hendak membasmi Agama Allah dan kaoem Moeslimin. ,,Pergerakan rahasia” itoe tambah hari tambah madjoe dan loeas. Orang-orang jang masoek pergerakan rahasia itoe, jang perboeatannja ta’ sesoeai dengan hatinja, di dalam riwajat terkenal sebagai orang-orang jang bermoeka doea, atau kaoem Moenafiqin.39 Fasal 14: Bahaja dari Loear Walaoepoen kedoedoekan Nabi Clm. di Madinah itoe pada dlohirnja dalam aman dan tenteram, tetapi Clm. sebagai satoe Kepala Oemmat jang tinggi martabatnja, dan sebagai djenderal jang amat bidjaksana, sadarlah dengan sepenoeh-penoeh kesadaran, bahwa Oemmat Islam di Madinah itoe terkepoeng oleh moesoeh dari segala pendjoeroe dan arah. Dari ,,dalam” bolehlah sewaktoe-waktoe terganggoe keamanan dan ketenteraman, djika ,, pergerakan rahasia” itoe melakoekan serangannja! Dan dari fihak ,,loear” –pihak kafirin Qoeraisj di Mekkah– terdengar poela chabarnja, jang mereka itoe soedah mengoempoel-ngoempoelkan segala keperloean, oentoek menjerang benteng kaoem Moeslimin ialah Madinah. Lebih-lebih lagi kesadaran Rasoeloellah sebagai djenderal-perang oentoek memper-lindoengi kaoem Moeslimin dan Agama Allah, karena sering kali toeroen wahjoe Ilahy, jang mengandoeng peringatan-peringatan, agar soepaja Clm. dan sahabat-sahabatnja selaloe berhati-berhati dan bersedia-bersedia, dan djangan sampai lalai sesa’at poen djoea. Bagi mendjaga keselamatan dan kemerdekaan Oemmat Islam,dan terpeliharanja Agama Allah, maka Rasoeloellah Clm. senantiasa melakoekan penjelidikan oentoek mengetahoei keadaan-keadaan kabilah di sekeliling tanah Madinah. Setengah dari pada kabilah2 itoe, soenggoehpoen masih tetap memegang agama nenek mojangnja, tetapi telah soeka melahirkan perdjandjian persahabatan antara mereka dengan kaoem Moeslimin. ------Ζ Ζ Ζ ----BAB KELIMA PERTAHANAN KAOEM MOESLIMIN ATAS SERANGAN-SERANGAN MOESOEH ,,Dan lagi soeatoe (keroenia) jang kamoe soekai; Pertolongan dari Allah dan Kemenangan jang dekat; dan sampaikanlah berita-baik (basjirat) kepada orang-orang jang beriman.” Al-Qoer'an, Soerah As-Saf (61) ajat 13. Fasal 1: Tahoen Hidjrah Kedoea Tahoen jang pertama dari pada Hidjrah dipergoenakan oleh Nabi Clm. oentoek menjoesoen hidoep bersama di kalangan kaoem Moeslimin, ke dalam maoepoen ke loear. Sedang Tahoen Hidjrah Kedoea (2 H) diperoentoekkan bagi pertahanan, pemeliha-raan dan penjentausakan kemerdekaan dan hak kaoem Moelimin. Dalam tahoen ini dan dalam tahoen2 jang berikoetnja, kita dapat menjaksikan, betapa lakoe dan langkah Rasoeloellah Clm. membela Agama Allah dari pada serangan-serangan moesoeh-moe-soehnja itoe. Sjahdan, maka semoeanja itoe, sekadar jang perloe-perloe akan kita rawaikan dalam beberapa fasal dan bagian-bagiannja jang berikoet, menoeroet tahoen-tahoen kedjadian-nja (chronologis), agar soepaja dapatlah hendaknja kita mendapat gambaran jang tegas dari pada Perdjalanan Nabi Clm. beserta sahabat-sahabatnja (walladzina ‘amanoe ma’ahoe). (1) Oesaha Memboenoeh Nabi Clm Walaupoen kaoem Jahoedi telah memboeat perdjandjian dengan kaoem Moesli-min, oentoek mempertahankan dan menjentausakan Keradjaan Madinah, tetapi dalam permoelaan Tahoen 2 H. Mereka itoe poen soedah moelai tampak ,,hendak tjidera djandji.” Mereka jang soedah ikoet bersoempah, akan mendjaga dan memelihara kesentau-saan Keradjaan Madinah, dengan semboenji-semboenji telah memboeat perhoeboengan rahasia dengan kaoem Qoeraisj di Mekkah. Bahkan mereka itoe (kaoem Jahoedi) menda-pat soerat poela dari pada orang Qoeraisj di Mekkah, oentoek memboenoeh Nabi Rasoe-loellah Clm. Bagi menjampaikan maksoed jang djahat itoe, maka mereka mengoendang Nabi di roemahnja. Tetapi dengan tolong

Allah Soebhanahoe wa Ta’ala, segala maksoed chianat itoe sia-sialah adanja. (2) Perang Badar40 Sepandjang berita dalam tarich, maka Perang Badar itoe terdjadi di dalam boelan Djoemadil-Achir 2 H, atau menoeroet hitoengan tahoen Masehi 623 (623 M). Djika sebab-sebab jang menimboelkan peperangan itoe didjatoehkan atas pihak kaoem Moeslimin, maka ,,kesalahan” itoe adalah terletak dalam tanggoengan seorang kepala-pasoekan, bernama ‘Abdoellah bin Djahsj, jang telah berlakoe tidak menoeroetkan perintah jang tentoe-tentoe (instructie dan discipline), sehingga menjebabkan terboe-noehnja seorang bernama ‘Abdoellah bin Hadhrami. Pihak Qoeraisj tidak soeka menerima oeang pergantian darah –seperti biasa berlakoe di antara mereka—, melainkan ,, kesalah-an” jang sama sekali tidak disengadja itoe, bagi kaoem Qoeraisj tjoekoeplah mendjadi alasan oentoek menjatakan perang kepada kaoem Moeslimin. Persediaan pihak kaoem Moeslimin sangat koerang, baik orang-orangnja maoepoen kelengkapan sendjatanja. Djoemlah kaoem Moeslimin jang ikoet perang melapangkan moesoehnja itoe hanjalah ada 313 orang, sedang di antara mereka itoe ada jang terlampau moeda ataupoen sangat toea. Sementara itoe balatentara kaoem Qoeraisj sangat koeat. Djoemlahnja tidak koerang dari 3 kali lipat ganda dari pada djoemlah balatentara Moeslimin, sedang alat sendjatanja poen amat lengkap dan tjoekoep. Balatentara Moeslimin jang seketjil itoe di dalam ke-adaan jang serba koerang, dengan semata-mata bersandarkan kepada Kehendak (Iradat) dan Kekoeasaan (Qoedrat) Allah S.W.T., jang sepenoeh-penoehnja, madjoelah menem-poeh moesoeh dengan berani dan hebatnja, sehingga balatentara kaoem Qoeraisj jang dalam keadaan serba lengkap dan tjoekoep itoe, terpaksalah meninggalkan gelang-gang peperangan, karena ta’ tahan mendapat serangan dari pihak kaoem Moeslimin. Dengan kepertjajaan jang sepenoeh-penoehnja akan Kemenangan jang didjan-djikan Allah41 dan balatentara ghaib (malaikat) jang akan ditoeroenkan Allah oentoek membantoe kaoem Moeslimin42, dan pertjaja poela akan djandji Allah hendak membas-mi kaoem Kafirin43, maka semoeanja itoelah jang teroetama dan jang pertama-tama sekali mendjadi sebab akan datangnja Kemenangan pada pihaknja kaoem Moeslimin di Perang Badar. Boekan karena banjak djoemlah orangnja! Boekan karena tjoekoep dan lengkap alat-peperangannja! Boekan poela karena keberanian jang timboel dari ketjakapan dan ketangkasan orang-orangnja! Tetapi hanjalah karena balatentara kaoem Moeslimin mendapat pertolongan dari pada Allah Soebhanahoe wa Ta’ala! Dengan keadaan ke-lam-kaboet dan koesoetmasoet balatentara Qoeraisj meninggalkan gelanggang pepera-ngan di Badar itoe, dan meninggalkan poela beberapa alatperang dan berpoeloeh-poe-loeh orang tawanan. Berhoeboeng dengan kemenangan bala-tentara kaoem Moelimin di Badar itoe, sepandjang berita riwajat jang diterangkan oleh beberapa ahli-tarich jang masjhoer, perloelah kita peringati, bahwa dalam peperangan itoe tampaklah boeat pertama kali ketjakapan, ketangkasan, kepandaian dan kebidjaksanaan Rasoeloellah Clm. sebagai djenderal perang, jang dengan balatentara ketjil dan keadaan serba koerang dapatlah mengalahkan soeatoe bala-tentara jang berlipat-lipat kali ganda besarnja, dalam keadaan jang lengkap dan tjoekoep. Dalam riwajat itoe poela diterangkan, bahwa pada waktoe perang Badar, Rasoe-loellah Clm. mempergoenakan soeatoe tjara (methode) menoeroet ‘ilmoe perang (stra-tegie) jang amat modern pada zaman itoe, jang tidak pernah dikenal orang sebeloemnja. Pertama-tama sekali segenap barisan itoe haroes menoeroetkan perintah-perintah jang tetap dan tentoe (discipline) dari pada pemimpinnja (djenderal-perang, ja’ni: Nabi Rasoeloellah Clm.), dan tidak boleh berpetjah-petjah atau bertjerai-berai ataupoen menoendjoekkan satoe soesoenan jang agak longgar (los), melainkan segenap barisan itoe adalah satoe benteng dari manoesia jang koeat, tegoeh dan sentausa (in compaste vorm); sehingga satoe bala-tentara jang teratoer dan terpimpin jang seroepa itoe, mewoe-djoedkan satoe barisan jang tidak memberi djalan kepada moesoeh oentoek menjerang-nja.44 Dan djika ada serangan jang dilakoekan, biar oleh satoe balatentara jang lebih besar dan bertoenggang koeda (cavalerie) sekalipoen, balatentara jang demikian itoe tidak akan dapat dioendoerkan djangankan dikalahkan, sebaliknja dapat poela menangkis segala serangan itoe. Dan kalau moesoeh soedah moelai koerang teratoer serta agak kehilangan kekoe-atannja, maka dengan segera balatentara itoe menggoenakan temponja, oentoek melakoe-kan serangan bersama-sama (stormaanval) terhadap kepada moesoehnja. Demikianlah diperoleh beberapa kemenangan kaoem Moelimin di dalam beberapa peperangan jang besar-besar, mitsalnja:

Perang Badar, Perang Oehoed dan lain-lainnja. Sedjak waktoe itoe, maka terlahirlah ‘ilmoe peperangan jang baroe (moderne strategie), bagi segenap bangsa ‘Arab dan bangsa di sekitarnja. Adapoen tentang tjaranja Rasoeloellah Clm. melakoekan semoeanja itoe, boekan-lah di sini tempat mengoeraikannja. Melainkan semoeanja perboeatan Clm. itoe tjoe-koeplah kiranja mendjadi tanda bagi kita, bahwa Rasoeloellah Clm. Soenggoeh-soeng-goeh ,,Manoesia sempoerna”, jang mendapat toentoenan langsoeng dari pada Allah Jang Esa. (3) Perkawinan ‘Ali dan Wafatnja ‘Oetsman bin Mahzoen Perloelah rasanja kita peringati di sini, bahwa dalam achir tahoen 2 H, —setelah Perang Badar– berlangsoenglah perkawinan antara ‘Ali bin Abi Thalib45 dengan Siti Fatimah, poetra Nabi Clm. Peralatan perkawinan itoe dilakoekan dengan amat sederhana. Selain dari pada itoe poen perloe seorang Moehadjir jang termasoek golongan orang-orang jang pertama-tama ikoet hidjrah, ja’ni ‘Oetsman bin Mahzoen. Djinazahnja dikoeboerkan di tempat koeboeran di Baki’, ja’ni satoe tempat jang terkenal pada sa’at ini sebagai koeboerannja orang-orang salih.46 (4) Perlindoengan Allah atas Nabi-Nja Kemoedian dari pada itoe diwartakan, bahwa di Dziamar, seorang bernama Doe’tsoer telah mengoempoelkan beberapa golongan orang, dengan maksoed hendak melakoekan penjerangan atas kaoem Moeslimin. Nabi Clm. dengan pasoekannja segera-lah berangkat mendapatkan moesoeh itoe, tetapi waktoe Clm. tiba di tempat terseboet, maka kawanan kaoem pengchianat-Islam itoe telah bertjerai-berailah keadaannja. Hanja perloe kita peringati dalam hal ini, waktoe Clm. hendak tidoer di bawah sebatang pohon agak djaoeh dari pada tempat-berhenti pasoekan Moeslimin oentoek melepaskan lelahnja, maka dengan tidak disangka-sangka telah datang Doe’tsoer (jang roepanja senantiasa mengintai-intai geraknja Nabi dan pasoekannja), dengan menggagahi Nabi dan pedang jang terhoenoes dari saroengnja, maka berkatalah ia dengan kasarnja kepada Clm.: ,,Hai Moehammad, siapakah sekarang jang memperlindoengi engkau?” Djawab Clm. dengan tenang dan tenteram hati: ,,Allah”. Mendengar djawab Clm. jang demikian itoe, terkedjoetlah Doe’tsoer, sehingga djatoehlah pedangnja. Dengan segera, maka sebagai pahlawan Clm. memegang sendjata Doe’tsoer itoe, dengan mengagar-agarkan kepadanja, seraja berkata: ,,Sekarang, siapakah jang memperlindoengi engkau, hai Doe’tsoer?” Maka djawab Doe’tsoer: ,,Tiada seorang poen djoega! Clm. bersabda poela: ,,Maka beladjarlah bersifat asih sebagai akoe!” Kemoedian Clm. laloe memberikan pedang itoe kepada Doe’tsoer kembali. Djawab Nabi jang seroepa itoe sangat menghantjoer-hantjoerkan hati Doe’tsoer, jang tadinja penoeh dengan sifat kekoefoeran, tapi achirnja mendapat hidajat dari pada kenjataan Noer Ilahy jang terang-tjoeatja itoe. Seteroesnja Doe’tsoer mendjadilah seorang sahabat Nabi jang paling setia. Peristiwa ini terdjadi pada tg. 5 Dzoelhidjah th. 2 H. (5) Perboeatan Chianat dari Kaoem Jahoedi Di Madinah kaoem Jahoedi adalah masoek pendoedoek jang terpenting, disebab-kan karena kepandaiannja dan karena kekajaannja. Kaoem Moeslimin poen bertambah-tambah madjoe dan tjerdas, tidak soeka ketinggalan dengan bangsa lainnja di Tanah ‘Arab, teroetama sekali dengan kaoem Jahoedi jang berada di Madinah. Kemadjoean dan ketjerdasan kaoem Moeslimin itoe menjebabkan toemboehnja bentji dan iri-hati pada koem Jahoedi, Bentji dan iri-hati itoe dilahirkan dengan perkata-an-perkataan, istimewa sekali dengan sja’ir-sja’ir, jang pada waktoe itoe besar penga-roehnja dalam kalangan pendoedoek Madinah. Dengan djalan dan tjara jang demikian itoe, mereka bermaksoed hendak memetjah-metjahkan golongan dan perikatan kaoem Moeslimin, dan menambah-nambah besar perbentjian kaoem Qoeraisj terhadap kepada koem Moeslimin. Adalah seorang Jahoedi, bernama Ka’b bin Asjraf dari pada kabilah Banoe Nadhir, menoendjoekkan perbentjian itoe dengan terboeka-boeka. Waktoe sesoedah perang Badar ia menghasoet-hasoet bangsa Qoeraisj terhadap kepada kaoem Moeslimin, jang achirnja asoetan itoe mendjadi salah satoe sebab terdjadinja pertempoeran di Oehoed, seperti jang hendak kita rawaikan di bawah. Perboeatan dengan sja’ir jang mengedji-ngedji dan menghina kaoem Moeslimin dan Moeslimat poen tidak ketinggalan, padahal ia adalah seorang anggauta dari pada Keradjaan di Madinah dan seorang dari Kabilah (Banoe Nadhir) jang telah ikoet menjatakan Perdjandjian oentoek mendjaga keselamatan Keradjaan dan pendoedoek

Madinah, dari loear maoepoen dari dalam. Ka’b ini tinggal di satoe tempat dekat kota Madinah. Seorang Jahoedi lainnja, Aboe Raf’i Sallam bin Aboe Hoekaik, djoega dari kabilah Nadhir, menjatakan poela perbentjiannja terhadap kepada kaoem Moeslimin di Madinah. Ia bersamasama dengan sebagian kabilahnja pindah bertempat tinggal di daerah Chaibar, dan dari sanalah ia meneroeskan perboeatannja jang chianat itoe. Lebih djaoeh, selainnja ia menghasoet-hasoet kaoem Qoeraisj, poen kabilah-kabilah jang berdekatan dengan dia, seperti kabilah Soelaim dan Ghafatan, poen tidak loepoet dari pengaroeh chianat itoe.47 (6) Kaoem Jahoedi Memetjahkan Perdjandjiannja Soeatoe peristiwa terdjadilah perkelahian antara orang Jahoedi dan kaoem Moes-limin, karena ada orang Jahoedi jang mengganggoe perempoean Islam. Dalam perkela-hian itoe, salah satoe kabilah Jahoedi jang ternama menoendjoekkan kesombongan dan ketjongkakannja, jang mengatakan, bahwa kaoem Moeslimin itoe tidak sama dera-djatnja (lebih rendah) dari pada orang Qoeraisj, dan mereka (kaoem Jahoedi) akan meng-,,adjar” kaoem Moeslimin. Dengan keadaan itoe, maka kaoem Jahoedi memetjah-kan perdjandjian jang telah diboeat pada waktoe Nabi Clm. tiba di Madinah. (7) Djangka-maksoed Kaoem Jahoedi Hendak Menjerang Kemoedian dari pada petjahnja perdjandjian itoe maka kaoem Jahoedi menen-toekan djangka maksoednja oentoek memerangi kaoem Moeslimin, dan oentoek me-njampaikan maksoed itoe, maka kaoem Jahoedi laloe tinggal di tempattempat jang diperkoeatkannja sebagai benteng. Pihak kaoem Moeslimin poen tidak tinggal diam, melainkan laloe menjiapkan poela persediaan-persediaan jang perloe, dan mengepoeng benteng-benteng kaoem Jahoedi. Setelah 15 hari dalam keadaan jang demikian itoe (dikepoeng), maka kaoem Jahoedi menjatakan ta’loeknja, dan bersedia oentoek menerima hoekoeman, jang akan didjatoehkan atasnja. Atas penoentoetan kaoem Moeslimin, maka mereka laloe mening-galkan Madinah dan tinggal di Soeria.48 Pepergian orang Jahoedi itoe terdjadi kira-kira dalam boelan Radjab tahoen 2 H. Fasal 3: Tahoen Hidjrah Ketiga (1) St. Roeqayah meninggal Siti Roeqayah poetera-isteri dari Nabi Clm., isteri ‘Oetsman49 wafatlah, setelah baroe datang dari tempat-hidjrahnja (Habsji). Soenggoehpoen demikian Clm. tidak boleh tinggal berdoeka tjita di roemahnja sadja, melainkan dengan kedjadian di Badar itoe haroes lebih2 berhati-hati dan berdjaga-djaga lagi, karena permoesoehan kaoem Qoeraisj makin hari makin hebat dan ganas; jang oleh karenanja sewaktoe-waktoe bolehlah diharapkan mereka itoe akan melakoekan serangan terhadap kepada kaoem Moeslimin, jang masih dalam serba koerang dan lemah itoe. (2) Perang Sawik Terdengar chabar, bahwa 200 orang asjkar bertoenggang koeda telah keloear dari Mekkah, dengan maksoed hendak menjerang kaoem Moeslimin di Madinah. Mereka melakoekan serangan jang sekonjong-konjong kepada kaoem Moeslimin di loear Madi-nah jang sama sekali tidak bersedia, sambil merampas-merampas, dengan membawa satoe roepa makanan jang dinamakan orang ,,Sawik” (gandoem tjampoer dengan koerma atau goela). Tetapi setelah kaoem Moeslimin keloear dari Madinah, bagi membalas perboeatan kaoem Qoeraisj itoe, maka mereka (jang dikepalai oleh Aboe Soefjan) telah ta’ tampak lagi, sambil meninggalkan beberapa karoeng makanannja itoe. Oleh sebab itoe, maka kedjadian ini dikatakan ,,Perang Sawik” atau ,,Ghazwatoes-Sawik.” (3) Perang Qarqaratoel-Koedr Lagi terdengar chabar, bahwa beberapa kabilah kafirin jang menolak kenjataan Islam, telah berkoempoel oentoek melakoekan serangan kepada kaoem Moeslimin. Mendengar berita jang demikian itoe, maka dengan sigera Nabi Clm. dengan satoe pa-soekan Moeslimin telah berangkat menoedjoe ke tempat koempoel mereka itoe, ja’ni di ,,QarqaratoelKoedr”. Tetapi setiba Clm. dan pasoekan Moeslimin di sana, maka kawanan moesoeh itoe telah kedapatan lari semoeanja. Hal ini tertjatat dalam riwajat dengan nama ,,Ghazwatoel-Qarqaratoel-Koedr.”

(4) Ghazwatoel-Bahran Pada tg. 7 Djoemadil-Awal 3 H, dikoempoelkanlah satoe pasoekan dari Banoe Selain bagi menjerang kaoem Moeslimin. Kawanan itoe berpoesatkan di satoe tempat, bernama Bahran, kira-kira djaraknja dari Madinah ada 96 myl. Setelah Nabi Clm. datang mendapatkan mereka itoe, maka mereka lari dengan tidak meninggalkan bekas. (5) Perang Oehoed50 Kekalahan kaoem Qoeraisj di Badar dan beberapa kedjadian jang ketjil-ketjil sesoe-dah itoe (ghazwat) mendjadi tanda akan datangnja serangan jang hebat dari pihak Mekkah, karena sedjak kedjadian di Badar itoe, sedjak itoelah pemimpinpemimpin Qoeraisj makin besar nafsoenja, oentoek melakoekan pembalasan jang memoeaskan kepada kaoem Moeslimin di Madinah. Genap setahoen mereka itoe mengadakan perse-diaan, jang beroepa bekal, alat-perang ataupoen lain-lain. Pendeknja segala kekoeatan kaoem Qoeraisj jang terpilih dikerahkanlah oentoek melakoekan pembalasan kepada kaoem Moeslimin. Sehingga pada boelan Sjawwal th. 3 H. balatentara Qoeraisj soedah genap-lengkap, djoemlahnja ta’ koerang dari 3000 orang, jang semoeanja bersendjata amat sempoerna. Pada tg. 9 Sjawwal 3 H. balatentara Qoeraisj berhenti di kaki boekit Oehoed, jang kira-kira 3 myl djaraknja dari kota Madinah. Chabar jang hebat itoe, soedah lebih doeloe sampai kepada Nabi. Maka sebagai kebiasaan Nabi Clm., maka pada keesokan harinja, hari Djoem’ah tg. 10 Sjawwal 3 H., Clm. mengadakan moesjawarat dengan segenap sahabat-sahabatnja, bertempat di masdjid Madinah, bagi membitjarakan segala apa jang perloe dilakoekan, berkenaan dengan kedatangan balatentara dari Mekkah itoe. Setelah diperbintjangkan seperloenja, maka dipoetoeskanlah, soepaja kaoem Moes-limin pada sorenja mendapatkan moesoehnja. Koerang-lebih ada 1000 orang jang ikoetan langkah Nabi Clm. itoe. Dari djoemlah jang amat sedikit itoe kirakira sepertiga, ja’ni kl, ada 300 orang jang membalik belakang, setelah melihat besar dan hebatnja moesoeh dari Mekkah itoe, 300 orang moenafiqin ini dikepalai oleh seorang moenafiq jang berhati chianat, ja’ni: ‘Abdoellah bin Oebay. Tetapi soenggoehpoen demikian, jang 700 orang kaoem Moeslimin itoe semoeanja soedah mempoenjai kepertjajaan jang penoeh-penoeh: hendak membela Agama Allah hingga menghemboeskan nafasnja jang penghabisan. Tidak ragoe2 atau setengah-setengah imannja kepada Allah! Tidak tanggoeng-tanggoeng mereka hendak mengikoetkan (itba’) kepada Rasoel-Nja, dalam djalannja mendapatkan kemenangan, kemoeliaan dan keloehoeran harkat deradjat, doenia dan achirat! Singkatnja, mereka itoe segenapnja dan mereka masing-masingnja telah mempoenjai niat boelat-boelat hendak memperlindoengi Agama Allah, dengan sandaran kekoeasaan Allah semata-mata! Kaoem Qoeraisj dengan 3000 balatentaranja jang siap-lengkap itoe dengan lebih doeloe memilih tempat jang paling bagoes, tetapi Nabi Rasoeloellah Clm. sebagai djenderal-perang jang bidjak dan bidjaksana, poen pandai poela memilih tempat jang bagoes dan mengatoer dengan serapih-rapihnja soesoenan satoe-persatoenja bagian-barisan. Sedang djalan jang boleh terboeka bagi moesoeh oentoek menjerang kaoem Moeslimin, dipagarnjalah dengan orang2 ar-roemah (toekang-panah), jang tjakap dan pandai. Dengan gagah-berani balatentara kao em Moeslimin, jang hanja 700 orang besarnja itoe, menghadapi moesoeh Qoeraisj jang djoemlahnja tidak koerang dari 3000 orang. Keberanian kaoem Moeslimin jang keliwat-liwat itoe mendahsjatkan balatentara Qoeraisj, sehingga achirnja larilah dengan kelam-kaboetnja. Bolehlah di sini kita peringati akan mati-sjahidnja seorang pahlawan Islam jang ternama, Hamzah, ialah seorang paman Nabi Clm. Kemenangan jang hampir sempoerna itoe hampir2 mendjadi gagal, karena perboeatan kaoem pemanah, jang meninggalkan tempat-kedoedoekannja; padahal sebeloem itoe telah diperingatkan oleh Clm. sendiri, bahwa mereka ta’ boleh ingkar sedjaripoen djoega dari tempatnja masing-masing. Tetapi setelah mereka melihat bala-tentara kaoem Qoeraisj moendoer dikedjar-kedjar oleh kaoem Moeslimin, maka sebagian besar dari pada kaoem pemanah ini ikoet poela mengedjar moesoehnja, sehingga Chalid bin Walid dengan balatentara kaoem Qoeraisj jang bertoenggang koeda –setelah melihatkan kedjadian itoe– dengan moedah menjerang kaoem Moeslimin dari belakang. Waktoe kaoem Qoeraisj menjaksikan sepak terdjangnja Chalid bin Walid itoe, maka madjoelah mereka itoe kembali

menghadapi kaoem Moeslimin, jang achirnja balatentara kaoem Moeslimin mendjadi terpetjah-petjah dan tidak teratoer lagi gerak-annja. Sebab mereka (kaoem Moeslimin) menghadapi serangan dari moeka dan dari belakang. Berkat kebidjakasanaan Nabi Clm. sebagai djenderal-perang, maka diperdapatlah satoe tempat perlindoengan, dengan membelakangkan boekit Oehoed, sebagai pertahan-an serangan moesoeh. Sementara itoe Nabi Clm. adalah selaloe di dalam bahaja jang mengantjam djiwanja dan jang membinasakan kaoem Moeslimin segenapnja. Tetapi dengan berkat pertolongan Allah S.W.T. dan kebidjaksanaan Clm. Sebagai djenderal-perang, dapatlah Clm. dengan balatentara jang mengelilingi dia terhindar dari pada bahaja jang besar itoe. Peperangan antara kedoea belah fihak itoe dilakoekan dengan amat hebat. Masing-masing mempergoenakan segala apa jang ada padanja, oentoek membela diri dan kejakinannja. Tetapi setelah kaoem Qoeraisj tahoe, bahwa kaoem Moeslimin ,,memilih mati dari pada moendoer” dan menjaksikan poela gagah beraninja pahlawan2 Islam, maka terpaksalah mereka bergerak moendoer. Dan oleh karena kali ini mereka ta’ dapat membasmi kaoem Moeslimin, sebagaimana jang soedah dirantjangkan lebih doeloe, maka mereka laloe melakoekan keboeasan jang loear biasa terhadap kepada moesoeh-moesoehnja jang telah mati dalam peperangan itoe. Masjhoerlah tjeritera dalam riwajat, bahwa hampedoe Hamzah (Harimau-Islam) digigit-gigit oleh Hindoen (isteri Aboe Soefjan) hingga hantjoer, dan oesoesnja poen dipakai menghiasai dirinja (Hindoen). Perboeatan-boeas jang seroepa itoe sangat menim-boelkan kemarahan kaoem Moeslimin, tetapi keindahan boedi, keloehoeran achlaq dan keoetamaan serta kesoetjian hati jang tertera di dalam dada Clm. dan orang-orang Moe’-minin jang mengikoeti Clm. itoe, dapatlah mentjegahkan mereka dari pada perboeatan-perboeatan jang kedji dan nista –seperti jang diperboeat oleh kaoem Qoeraisj Djahilin itoe—. Terhadap kepada kawan dan lawan, maka Nabi dengan kaoemnja selaloe menoedjoekkan perboeatanperboeatan jang sopan, oetama dan moelia! Dalam peperangan ini (Oehoed) kaoem perempoean moelai mengikoeti djedjak Nabi dalam peperangan. Jang amat terkenal namanja di dalam riwajat Islam ialah Oemmoe ‘Oemarah, seorang Nasirah (poetri Ançar) jang ikoet Bai’at ‘Aqaba Kedoea, dan Safijah, bibi Nabi Clm. Beberapa poetri Moeslimat jang lainnja, seperti Siti Fatimah (poetri Nabi dan isteri ‘Ali) dan Siti ‘Aisjah (isteri Nabi Clm.) poen tidak tinggal di roemah sadja, melainkan djoega ikoet membantoe orangorang jang berperang, dengan membawa air minoem dlls. Akibat2 dari peperangan di Oehoed itoe ialah, kaoem Qoeraisj memoendoerkan diri tjepat-tjepat ke arah Mekkah dengan hati-ketjiwa51 karena tidak dapat memenoehkan nafsoenja, dan kaoem Moeslimin poen moendoer poela ke Madinah. Orang Qoeraisj tidak mendapat kemenangan, karena tidak ada tanda-boekti (barang atau orang tawanan) jang diperolehnja, dan kaoem Moeslimin poen tidak salah poela, karena mereka tidak meninggalkan gelanggang-peperangan, akan tetapi selaloe mendoedoekinja. Ditambah lagi, waktoe keesokan harinja, balatentara kaoem Qoeraisj jang moendoer ke Mekkah itoe dikedjar oleh tentara Moeslimin sampai di Hamra-oel-Asad, dengan tidak mengadakan perlawanan sedikit poen djoega, padahal djoemlah balatentara mereka itoe masih djaoeh lebih banjak dari pada tentara Moeslimin. Dalam peperangan ini moelailah terkenal nama pahlawan-pahlawan Islam jang gagah-berani dan menoendjoekkan kesatrjaannja, mitsalnja: ‘Ali bin Aboe Thalib, Hamzah (jang mati sjahid), Sahloe bin Hoenaif, Talha bin ‘Oebaidillah dan berpoeloeh-poeloeh jang lainnja. (6) Chalid bin Walid masoek Islam Lebih-lebih lagi kaoem Qoeraisj itoe merasa ketjiwa hati, waktoe mereka men-dengar chabar, bahwa Chalid bin Walid, pahlawan jang gagah-berani di antara mereka itoe, dalam perdjalanan poelang dari Oehoed ke Mekkah terboekalah hatinja bagi per-toendjoek Ilahy, sehingga masoek Islam. Fasal 3: Tahoen Hidjrah keempat (1) Perboeatan chianat atas Moeballighin Islam Seperti di atas telah kita oeraikan dengan singkat, pekerdjaan dan kewadjiban jang pertama-tama sekali dilakoekan oleh djoendjoengan kita Nabi Rasoeloellah Clm. ialah mendidik dan mengadjar kaoem Moeslimin dan Moeslimat ‘ilmoe dan

‘amal Islam, di dalam balai-pengadjaran jang dinamakanSoeffah. Mereka itoe tidak hanja dididik dan diadjar bagi maslahat dan manfa’at dirinja sadja, melainkan bagi kemaslahatan ‘oemoem poen djoega. Orang-orang jang soedah mendapat pengadjaran dan pendidikan dari Rasoeloe-llah Clm. djika soedah tjoekoep ketjakapan dan kepandaiannja oentoek menjiarkannja kepada orang-ramai (publiek), diberi satoe gelaran: ,,moeballigh-oel-Islam” (penjiar Islam). Di dalam kira-kira 2, 3 atau 4 tahoen itoe –dengan praktijk di dalam dan di loear Soeffah, di dalam dan di loear masdjid Madinah, bahkan sering kali dipraktikkan di medan peperangan jang amat hebat– Rasoeloellah Clm. telah dapat mengeloearkan berpoeloeh-poeloeh Moeballighin, jang soedah tjoekoep ‘ilmoe Islamnja dan tjakap poela ‘amal keIslamannja, jang semoeanja dipersandarkan atas perintah-perintah Allah (Al-Qoer'an) dan tjontoh serta tauladan dari pada Rasoeloellah sendiri. Maka pendidikan jang ditjontohkan dengan tauladan dari Rasoeloellah sendiri, sebagai Nabi, sebagai djenderal-perang, sebagai Kepala-Keradjaan, sebagai Kepala roemah-tangga, sebagai Bapak dan lain-lain sebagainja itoe, tentoelah membawa ‘akibat jang amat sempoerna. Teroetama sekali karena dalam perboeatan dan kelakoean Nabi Clm. tampaklah pada mereka itoe akan ,,Kesempoernaan Manoesia Sedjati”. Manoesia dalam pandangan Chaliq dan manoesia dalam pandangan machloeq. Sjahdan, dengan tjara dan lakoe jang demikian itoe, dengan tidak segan mengha-dapi tiap-tiap hasil-perboeatan (resico) jang bersifat bagaimanapoen djoega, dalam damai dan di medan perang, maka dapatlah dengan pertolongan Ilahy Rasoeloellah Clm. memboektikan akan tertjapainja maksoed bahagia jang senantiasa mendjadi kenang-kenangan Clm. dan orang-orang Moe’min jang mengikoetinja, ja’ni: mendirikan satoe Oemmat Islam jang Bahagia dan Sentausa! Hatta, maka setelah kaoem Qoeraisj dan kabilah-kabilah Kafirin melihatkan akan kemadjoean-kemadjoean itoe, bertambah-tambah dahsjatlah hatinja, seolah-olah mereka akan dipetjat njawanja. Laloe mereka memboeat tipoe-daja jang amat kedjam dan chianat jang amat rendah kepada kaoem Moeslimin. Seorang bernama Aboe Bakar, kepala dari kabilah2 bani ‘Amir dan Bani Soelaim pada boelan Safar 4 H. datanglah menghadap Rasoeloellah Clm. dengan membawa ha-dijah jang bagoes-bagoes. Ia mengharap dengan amat sangat, soepaja dikirimkan oleh Clm. beberapa poeloeh moeballighin oentoek mengadjarkan Islam kepada kabilah-kabilah tsb. Hadijah jang bagoes-bagoes itoe ditolak oleh Rasoeloellah Clm. dan permintaan-nja jang amat ,,manis” itoe poen ditolaknja poela, sebab sebeloem itoe soedah berkali-kali beberapa moeballighin Islam diboenoeh mati, karena perboeatan pengchianat-peng-chianat. Tetapi karena desakan Aboe Bakar, jang berdjandji akan menanggoeng kesela-matannja moeballighin itoe tadi, maka dikirimkan oleh Nabi Clm. 70 orang moeba-llighin, boeat mengikoeti Aboe Bakar itoe. Tetapi setelah mereka itoe sampai di satoe tempat, bernama Bir-i-Ma’oenah, maka mereka itoe dibasmi hingga habis oleh satoe tentara jang besar, jang soedah disediakan lebih doeloe bagi maksoed chianat itoe. Hanja seorang sadja, jang dapat melepaskan dirinja ja’ni: ‘Amroe Oemmajah, jang laloe poelang ke Madinah mendapatkan Clm. dan mentjeriterakan kisah perdjalanan moeballighin jang amat malang itoe. Clm. mendengarkan berita ini dengan piloe dan sedih hati. Peristiwa ini kedjadian di dalam boelan dan tahoen jang tsb. Di atas itoe djoega. Satoe tjontoh lainnja, ialah perboeatan kaoem pengchianat di satoe tempat, bernama Radji’. Di sini ada 10 moeballighin Islam jang mendapat nasib seroepa dengan saudara-saudaranja di Bir-i-Ma’oenah itoe. Dari pada 10 orang itoe ta’ seorang jang kembali ke Madinah. Jang 8 orang mati dalam waktoe mengadakan perlawanan memperlindoengi dirinja, dan jang 2 orang ta’loek karena ,,pertjaja kepada perkataan pengchianat-peng-chianat itoe”. Mereka jang terseboet belakangan ini, Choebaib dan Zaid namanja, didjoeal hidoep-hidoep sebagai boedak-belian kepada orang-orang Mekkah. Di loear tanah Haram mereka diperlakoekan amat kedjam, dan mendapat aniajaan jang amat mengerikan, sehingga achirnja mereka mati di oedjoeng-pedang moesoehnja jang amat boeas itoe. Soenggoehpoen bagaimana djoega halnja, tiap-tiap mereka itoe senantiasa menoendjoekkan akan kekoeatan roehanynja, kepertjajaan jang penoeh-penoeh akan kebenaran risalah Rasoeloellah Clm. Mendengar berita dari pada perboeatan-perboeatan kaoem pengchianat jang amat kedjam dan boeas itoe, maka kesedihan jang timboel dalam hati Clm. ta’ hingganja, sebab Nabi dan pengikoetnja soedah sedarah-sedaging, sedjalan-sehaloean, ,,semanis-sepahit”, di dalam mendapat kesenangan ataupoen di dalam menderita kesoesahan. Bibir jang dihantjoer-

hantjoerkan, dan daging jang dipotong-potong itoe, tidaklah hanja terasa oleh moeballighin jang menderita itoe sendiri, melainkan terasa poela oleh Rasoeloellah Clm. dan sahabat-sahabat jang lainnja. Tetapi soenggoehpoen demikian, Rasoeloellah selaloe menoendjoekkan lemah-lemboet hati jang loear-biasa, karena kehaloesan boedi dan keindahan achlaq Clm. berhadapan dengan moesoeh jang amat kedjam dan ganas itoe!52 Adapoen perboeatan Nabi jang dilakoekan, waktoe mendengar pemboenoehan jang kedjam atas dirinja moeballighin Islam itoe, ialah mengoetjapkan satoe doe’a kepada Jang Esa, dan menje-rahkan perboeatan-perboeatan kaoem pengchianat itoe kepada Allah, jang bersifat Tahkim, di doenia dan di achirat. Sikap Tawakkal jang seroepa itoe memang tidak moedah ditjontoh oleh tiap-tiap orang, melainkan bagi orang-orang jang soenggoeh-soenggoeh bernabikan kepada Moehammad Rasoeloellah Clm. (2) Badr-oec-Coeghro53 Tatkala kaoem Qoeraisj meninggalkan gelanggang-peperangan di Oehoed, maka mereka telah mengantjam kaoem Moeslimin di tahoen jang berikoet (4 H) di badar. Oleh sebab itoe, maka pada tahoen ini Nabi Clm. mengirimkan pasoekan ke tempat tsb. Tetapi achirnja ternjata, bahwa antjaman itoe hanjalah tinggal antjaman belaka. Kedja-dian ini di dalam riwajat terkenal dengan nama seperti di atas. (3) Kaoem Jahoedi Meninggalkan Madinah boeat Kedoea Kalinja Perboeatan chianat kaoem Jahoedi, sebeloem dan sesoedah perang Badar soedah tergambar di atas dengan singkat. Kelakoean kedji jang seroepa itoe tidaklah berkoerang-koerang, melainkan bertambah-tambah. Sebagai Kepala Oemmat jang amat bidjak dan bidjaksana, maka Nabi Moehammad Clm. sadarlah dengan sepenoehpenoeh kesadaran akan bahaja jang boleh timboel dari fihak Jahoedi, jang dengan semboenji-semboenji mempoenjai perhoeboengan dengan kaoem Moenafiqin di dalam kalangan kaoem Moeslimin sendiri, jang dikepalai oleh ‘Abdoellah bin Oebay. Oleh sebab itoe, maka Nabi Clm. menganggap perloe oentoek menjatakan kepada kaoem Jahoedi itoe, memilihnja satoe di antara doea: (1) Soekakah mereka itoe memba-roei perdjandjian dengan kaoem Moeslimin oentoek menjatakan dan mejakinkan niatnja jang baik, (2) djika tidak, hendaklah mereka itoe meninggalkan Madinah. Banoe Qoeraidho jang roepanja tidak terlampau amat besar niatnja hendak berchianat kepada kaoem Moeslimin, soekalah membaroei perdjandjian itoe. Tetapi pihak Banoe Nadhir tidak soeka meloeloeskan kedoea pengharapan Rasoeloellah itoe, bahkan mereka menja-takan permoesoehan dengan terang-terangan. Oentoek mendjaga keselamatan Oemmat dari pada penjerangan ,,moesoeh dalam selimoet” itoe, maka Nabi Clm. memerintahkan mengepoeng perkoeatan-perkoeatan mereka, jang achirnja ditjaboet, setelah kaoem Jahoedi (Banoe Nadhir) itoe menjatakan djandji: Pergi dari Madinah. Sebagian dari pada mereka ini tinggal di Chaibar, dan dari sanalah mereka akan meneroeskan permoesoehannja dan melakoekan pembalasannja terhadap kepada kaoem Moeslimin.54 Fasal 4 : Tahoen Hidjrah Kelima Dalam tahoen ini jang perloe kita peringati ialah: (1) Perang Banoe Moestaliq atau Perang di Moeraisi’ Banoe Moestaliq adalah satoe kaoem jang tinggal di Moeraisi’, kira-kira 9 hari perdjalanan-kaki dari Madinah. Mereka itoe bersekoetoe dengan kaoem Qoeraisj. Atas hasoetan kaoem Qoeraisj, maka Harits bin Abi Zirar, kepala dari kaoem itoe, memboeat persediaan oentoek melakoekan serangan atas kaoem Moeslimin. Pada waktoe Nabi Clm. mendengar berita itoe, maka Clm. laloe mengirimkan satoe pasoekan tentara oentoek menentang balatentara Harits itoe. Tetapi setiba tentara Moeslimin di sana, larilah Harits bersama-sama tentaranja, tetapi pendoedoek Moeraisi’ itoe dapat poela dikalahkan. Dalam peperangan di Moeraisi’ itoe, kaoem Moeslimin dapat menawan 600 orang, di antaranja Djoewairiyah, jang achirnja mendjadi isteri Nabi Clm. atas kemaoean dan permintaan sendiri. Kemoedian dari pada itoe, maka orang2 tawanan

jang lainja poen laloe dimerdekakan djoega. (2) Fitnah atas Siti ‘Aisjah Ketika Nabi Clm. dengan balatentaranja poelang kembali ke Madinah, maka terdjadilah fitnah jang tidak beralasan atas dirinja dan kesoetjiannja Siti ‘Aisjah, isteri Nabi jang salihah itoe. Di dalam Qoer’an, soerah An-Noer hal ini diperbintjangkan de-ngan djelas dan tegas. Semoeanja itoe hanjalah chabar-bohong belaka, jang disiarkan oleh kaoem Moena-fiqin, jang senantiasa mentjari djalan oentoek memfitnah dan memperdajakan kaoem Moeslimin dan Moeslimat itoe, seperti djoega perboeatan-perboeatan kaoem Moenafiqin pada tiap-tiap zaman dan di mana-mana tempat. (3) Lagi Perboeatan-Chianat Pihak Jahoedi Dalam tahoen 4 H. kaoem Jahoedi (Banoe Qoeraidho) soedah soeka membaroei perdjandjiannja dengan kaoem Moeslimin. Oleh sebab itoe, mereka tetap tinggal di Madinah. Tetapi roepanja mereka itoe ta’ pandai menerima Noer Ilahy jang meman-tjarkan tjahajanja di seloeroeh negeri Madinah itoe. Mereka terhinggapi djoega oleh penjakit kaoemnja, ja’ni penjakit chianat kepada Islam. Nabi Clm. poen sadar dan insjaf poela akan bahaja jang terkandoeng dalam kalang-an Jahoedi jang tidak setia itoe, istimewa sekali karena lebih doeloe soedah toeroen peringatan2 dari Allah, sebagaimana jang ternjata dalam Al-Qoer'an, soerah Ali-Imran, ajat 117: ,,Hai orang-orang jang beriman! Djanganlah kamoe mengambil dari pada mereka (kaoem Jahoedi jang tjidera djandji) sebagai kawan, melainkan dari pada antara kamoe sendiri; mereka berdaja-oepaja oentoek meroegikan kamoe dan mereka soeka djika kamoe soesah; kebentjian jang hebat telah terlahir dari pada moeloet mereka, dan lebih besar (banjak) lagi apaapa jang terkandoeng dalam dadanja (hatinja); bahwasenja Kami (Allah) telah memberikan keterangan jang njata kepadamoe, djika kamoe mengerti.” (4) Orang Jahoedi Memetjahkan Djandjinja Boeat Kedoea Kalinja Mengingat perboeatan-chianat kaoem Jahoedi terseboet di atas, maka oleh Clm. mereka disoeroehnja memilih satoe antara doea: (1) Mengikoeti kaoem Moeslimin dan menderita nasib sama dengan mereka, ataukah (2) berdjabat tangan dengan pihak moesoeh-moesoeh Islam. Pihak Banoe Nadhir itoe memilih jang kedoea, sehingga dari sendirinja mereka memetjahkan perdjandjian dengan kaoem Moeslimin, boeat kedoea kalinja, setelah dibaroei dalam tahoen 4 H. (5) Hoekoem Atas Kaoem Banoe Qoeraidho Setelah Banoe Qoeraidho memetjahkan perdjalanannja itoe maka mereka moelai menentoekan sikapnja hendak menjerang kaoem Moeslimin, dan Moeslimat poen djoega. Sementara itoe bahaja dari loear jang berpoeloeh-poeloeh riboe djoemlahnja itoe (tentara Serikat–tentara Ahzab) selaloe mengantjam-antjam. Mengingat keadaan jang terlampau amat berbahaja itoe, ditambah lagi dengan ,,bahaja-di-dalam-selimoet” (ja’ni: kaoem Moenafiqin), setelah dipertimbangkan dengan masak2, maka Nabi Clm. merasa perloe oentoek mendjatoehkan hoekoeman siksa kepa-da pihak Jahoedi, jang terang-terang soedah memoesoehi kaoem Moeslimin itoe. Ben-teng-benteng mereka dikepoeng oleh tentara Moeslimin, dan mereka poen menjatakan perlawanan poela sekadarnja. Tetapi karena ta’ tahan berhadapan dengan tentara Moes-limin, maka terpaksalah mereka menjerahkan diri. Mereka itoe dihoekoemkan menoeroet hoekoeman mereka sendiri dalam Taurat, ja’ni ,,hoekoem mati atas moesoehmoesoeh jang adalah dalam peperangan”. Kedja-diannja: 300 orang laki-laki dari Banoe Qoeraidho itoe diboenoeh mati, perempoean dan anak-anaknja ditawan, sedang harta-bendanja dirampas. Jang mendjadi hakim pada waktoe itoe ialah Sa’ad bin Moe’adz, kepada kabilah Aus, jang doeloe bersahabat de-ngan Banoe Qoeraidho dan tahoe soenggoehsoenggoeh akan isi maksoednja Kitab Taurat. Tampaknja agak kedjam! Tetapi sesoenggoehnja djika diperiksa dalam-dalam, maka hoekoeman jang didjatoehkan atas perboeatan pengchianat-pengchianat itoe soedahlah semestinja. Berkali-kali mereka memetjahkan perdjandjiannja dengan kaoem Moeslimin, dengan niat dan maksoed akan berchianat kepada Islam dan kaoem Moeslimin. Berkali-kali poela

mereka mengadakan perhoeboengan dengan pihak loear oentoek menjampaikan djangka-maksoednja jang berbahaja bagi Keradjaan, Agama dan Manoesia. Dan jang achir sekali tampak dan terboekti kedjahatannja, karena mereka bersekoetoe dengan moesoeh2 Islam di loear Madinah. Pendek kata, mereka sebagai pendoedoek Madinah telah berboeat chianat terhadap kepada sesama pendoedoek, terhadap kepada tanah kedoedoekannja (tanah air), terhadap kepada kaoem Moeslimin, terhadap kepada Agama Allah. Tetapi soenggoehpoen besar dosa Banoe Qoeraidho itoe, djika –mitsalnja– Nabi sendiri jang mendjadi hakim, tentoelah ada harapan sebesar-besarnja, jang mereka itoe akan mendapat hoekoeman jang agak ringan! Karena Kemoerahan Allah, dan karena kebidjaksanaan Nabi Clm! (6) Perang Ahzab Dalam tahoen itoe djoega (5 H. bersetoedjoean dengan boelan Februari 627 M.) ter-djadilah peperangan antara kaoem Moeslimin dengan pemoesoeh-pemoesoeh Agama Allah. Dan oleh karena perang terseboet dilakoekan oleh beberapa kabilah, jang soedah teratoer lebih doeloe, maka balatentaranja terkenal dengan tentara Ahzab (tentara-sjarikat), dan perang itoe dalam riwajat dimasjhoerkan sebagai perang-Ahzab (perang-serikat). Tentara Ahzab itoe terdiri dari pada 9 kabilah ja’ni: (1) Ghatafan, (2) ‘Asjdja’, (3) Moerrah, (4) Fazarah, (5) Soelaim, (6) Bani Sa’d, (7) Asad, (8) Bani Nadhir, (9) Bani Qoeraidho. Menoeroet taksiran ahli-riwajat, maka besarnja tentara Ahzab itoe adalah antara 10.000 dan 24.000 orang, dengan kelengkapan perang jang tjoekoep. Waktoe terdengar berita akan kedatangannja moesoeh jang hebat itoe, maka sigera Rasoeloellah Clm. mengoempoelkan sahabat-sahabatnja, oentoek menentoekan sikap dan segala apa jang perloe dilakoekan, bagi menghadapi bahaja besar jang mengantjam itoe. Seorang sahabat, bernama Salman Parsy mengetengahkan satoe pertimbangan, hendakalah Madinah diperkoeatkan dengan satoe galian jang berkeliling, besar lagi dalam. Pertimbangan ini diterima oleh moesjawarat.55 Maka dengan sigera dimoelailah pekerdjaan menggali tanah sekeliling Madinah itoe oleh sekalian kaoem Moeslimin. Rasoeloellah sendiri poen –sedang waktoe itoe oesia Clm. tidak koerang dari 58 tahoen– poela melakoekan kewadjiban itoe, seperti pekerdja biasa. Sedang mereka bekerdja jang berat itoe, senantiasa mereka ingat kepada Jang Esa (dzikroellah) dan tidak loepa berdoe’a kepada Allah, jang maksoednja (a) menjatakan sjoekoer kepada ni’mat-ni’mat Allah, teroetama sekali jang beroepa Agama Islam, dan (b) mengharapkan pertolongan dan perlindoengan kepada-Nja, dari pada serangan pemoesoeh-pemoesoeh dan pembentji Agama Allah itoe. Dan bagi maslahat kaoem Ancar dan Moehadjirin, maka Rasoeloellah di dalam doe’anja mengharapkan, hendaklah Ia berkenan melimpahkan rahmat kepada kedoea golongan itoe, jang njata-njata setia di dalam mendjalankan segala wadjib melakoekan Agama Allah, dan soenggoeh-soenggoeh menoeroetkan perintah-perintah Rasoel-Nja. Bahkan diriwajatkan poela, bahwa pada waktoe Clm. memoekoel batoe jang amat keras –karena sahabat-sahabatnja ta’ koeasa memetjahkannja– tampaklah kenjataan pada diri Clm. tentang kemenangan-kemenangan Islam dalam waktoe jang akan datang, ja’ni akan ta’loeknja negeri-negeri Soeria, Persia dan Jaman kepada dan oleh Agama Islam. Soenggoehpoen kaoem Moeslimin pada waktoe itoe soedah jakin sepenoeh-penoehnja akan pertjaja dengan setegoehtegoehnja kepertjajaan kepada berlakoenja Kehendak dan Kekoeasaan Allah, tetapi ,,sebagai manoesia” mereka itoe masih djoega mengandoeng chawatir dan gontjang hati, jang dengan djelas dan tegas dima’loemkan dalam Al-Qoer'an, Soerah Al-Ahzab (34) ajat 10 dan 11. Chawatir dan gontjang hati jang timboel dalam hati mereka itoe boekanlah sekali-kali bererti takoet menghadapi moesoeh, melainkan –dengan kepertjajaan akan dipe-noehi-nja djandji-djandji Allah– adanja bahaja jang hebat itoe, mendjadilah hendaknja sjarat akan tebalnja Iman dan Sempoernanja Islam mereka. Tentang hal ini diterangkan dalam Soerah itoe poela, ajat 22. Maka datanglah tentara-sjarikat itoe dari segala pendjoeroe dan arah, dengan tjara jang amat mendahsjatkan. Laloe Madinah dike-poengnja, hingga kira-kira seboelan lamanja.56 Selama itoe, maka kaoem Moeslimin menderita nasib jang amat pedih, teroetama anak-anak dan kaoem perempoean, karena kekoerangan bekal jang beroepa makanan. Tetapi dengan beri’tiqadkan Tawakkal ‘ala-Llah, mereka segenapnja dan mereka seorang-seorangnja, sama-sama soeka menerima dan menghadapi keadaan dan kedjadian jang manapoen djoega, dan mereka ,,bersedia poela oentoek melakoekan perlawanan atas serangan-serangan moesoeh-moesoeh Islam itoe hingga

tidak seorang Moeslim lagi jang hidoep.” Orang Jahoedi jang masih tinggal di Madinah dan kaoem Moenafiqin mengadakan satoe persekoetoean, oentoek menjerang pihak kaoem Moeslimin dari dalam, bersamaan dengan serangan dari loear. Sebeloem terdjadi pertempoeran, maka seperti biasanja diadakan perang-tanding anggar-pedang. Dalam perang-tanding ini ‘Ali bin Aboe Thalib dapat memboenoeh moesoehnja, bernama ‘Amroe bin Woedd, seorang pahlawan Qoeraisj jang telah terkenal. Kemoedian dari pada itoe, pihak tentara-sjarikat laloe melakoekan serangan jang amat hebat atas kaoem Moeslimin, jang membalasnja dengan kadar dan kekoeatan jang ada. Batoe, anak-panah dan lain-lain alat-perang menghoedjani Madinah, hingga djika Allah tidak mengoeatkan hati mereka dan teratoernja tentara Moeslimin jang ketjil itoe pada dlohirnja, maka nistjajalah kaoem Moeslimin akan mendapat kekalahan, dan boleh djadi hantjoer moesna sama sekali. Tetapi Allah tidak menghendaki akan roesaknja kaoem Moeslimin, melainkan segala bahaja itoe hanjalah satoe oedjian dan pertjobaan dari Allah, oentoek mengoeatkan Iman, mentegoehkan Tauhid dan menjem-poernakan ‘amal oesahanja dalam melakoekan Sjari’at Agama Islam! Lebih njata dan lebih tegas lagi, pertolongan Allah itoe diterangkan dalam Al-Qoer'an, Soerah Al-Ahzab (34) ajat 9: ,,Hai orang-orang jang beriman! Ingatlah akan keroenia Allah kepadamoe, ketika toeron balatentara kepadamoe, maka Kami (Allah) menoeroenkan satoe angin besar jang menjerang mereka itoe dan balatentara jang kamoe tidak melihatnja; dan Allah Maha Mengetahoei apa-apa jang kamoe perboeat.” Lebih djelas lagi, djika kita bandingkan ajat jang tertera di atas itoe dengan ajat 124 dari pada Soerah Ali-‘Imran, jang mengatakan, bahwa pertolongan Allah jang ta’ dapat dilihat itoe ialah ,,beroepa 5000 Malaikat jang meroesak-roesak.” Dengan berkat pertolongan Allah, maka tentara-sjarikat laloe bertjerai-berailah, dan oleh karena habis keberaniannja dan hilang akalnja oentoek menjerangnja lagi, maka mereka itoe lantas moendoer dari tempat pengepoengan di sekeliling Madinah itoe. Dengan peristiwa itoe, wadjiblah kaoem Moeslimin sjoekoer dengan sebesar-besar sjoekoer kepada Jang Esa, karena Ia telah berkenan memberi pertolongan dan perlin-doengan atas kaoem Moeslimin dari pada serangan moesoeh-moesoeh jang amat ber-bahaja itoe. (7) Persekoetoean kaoem Moenafiqin dan kaoem Jahoedi Di atas telah dikatakan, bahwa di kalangan kaoem Moeslimin poen ada poela orang-orang jang berhati-doea, orang-orang jang Islamnja itoe hanjalah pada dhohirnja sadja, djalan kaoem Moenafiqin jang amat djahat itoe. Soedah berkali-kali Kaoem Jahoedi melakoekan fitnah dan chianat bersama-sama dengan kaoem Moenafiqin, dan berkali-kali djoega mereka itoe mendapat pengadjaran dan hoekoeman dari pihak kaoem Moeslimin (terpaksa meninggalkan Madinah atau diperlakoekan sebagai moesoeh jang kalah), tetapi tidaklah pengadjaran dan hoekoeman itoe mendjadikan insjaf dan sadar mereka oentoek melakoekan perboeatan jang baik, sepandjang pengadjaran Islam. Maka adalah di Madinah sisa dari pada kabilah-kabilah kaoem Jahoedi jang telah laloe itoe, jang moela2 tampak setia kepada perdjandjiannja kepada kaoem Moeslimin, tetapi kemoedian terboekti, bahwa mereka itoe berchianat poela, bersama-sama dengan kaoem Moenafiqin. Tetapi soenggoehpoen ,,moesoeh-dalam-selimoet” itoe boleh menimboelkan bahaja jang besar, teroetama seperti dalam keadaan di perang-Ahzab jang tertera di atas, tetapi tidaklah Allah S.W.T. menjampaikan maksoed dan oesaha mereka jang djahat itoe. Fasal 5: Tahoen Hidjriah Ke-enam Dari pada berbagai-bagai kedjadian dalam tahoen-tahoen jang lebih doeloe, teroeta-ma dalam perang-perang jang besar, seperti Perang-Badar, Perang-Oehoed, dan Perang-Ahzab, njatalah soedah, bahwa: Agama Islam adalah Agama Allah, jang ditoeroenkannja karena Kemoerahan-Nja semata-mata bagi segenap machloeq-Nja jang menghendaki akan Rahmat-Nja; Agama jang mendapat perlindoengan dan pertolongannja; Agama jang disiarkan dalam kalangan segenap perikemanoesiaan dengan Kehendak-Nja; Agama jang diridloi-Nja dan Agama jang dipilih-Nja bagi machloeq-Nja, jang hendak menoedjoe tertjapainja kesempoernaan hidoep Doenia dan Achirat.

Njatalah poela dari pada riwajat di atas, bahasa Agama Islam itoe tidak disiarkan dengan pedang –seperti jang atjap kali ditoedoeh-toedoehkan oleh pihak pemoesoeh Islam– tetapi tiap-tiap djalan penjiaran Islam itoe ditentang dengan poetjoek pedang moesoehnja! Tiap-tiap kali datang serangan, ternjatalah pihak Kaoem Moeslimin pandai mempertahankan dirinja! Tadjamnja pedang moesoeh, jang hendak membinasakan kaoem Moeslimin itoe, mendjadilah gemoek dalam tanah-Islam (dar-oel-Islam) jang mendjadi sebab segala tanam-tanaman Islam (kaoem Moeslimin) hidoep dengan soeboer, madjoe, tjerdas dan sentausanja! Semoeanja itoe hanjalah karena Kehendak dan Kekoeasaan Allah ! Tiada satoe machloek jang dapat menjingkirkan ataupoen memboeat jang lainnja (1) Ziarah Hadj ke Ka’bah Soedah genap 6 tahoen57 kaoem Moeslimin meninggalkan tempat-kelahiran dan roemah-roemahnja (Mekkah). Oleh sebab itoe, maka setengah dari pada sahabat Moeha-djirin menjatakan rindoenja hendak menengok Mekkah. Maka pada waktoe itoe Nabi Clm. melihatkan dirinja dalam satoe roe’jat ,,melakoekan zijarah Hadj di Ka’bah bersa-ma-sama dengan sahabatnja.” Adapoen hak berzijarah jang demikian itoe, oleh kawan atau-poen lawan tidaklah dapat dipoengkiri! Maka berangkatlah Nabi dengan k.l. 1.400 sahabatnja pergi ke Mekkah oentoek berzijarah. Mereka itoe membawa binatangbinatang oentoek koerban, dan seorang poen tidak diperkenannja membawa sendjata –seperti pada waktoe hendak berperang. Setelah kaoem Moeslimin sampai dekat batas-batas Mekkah, maka disampai-kanlah chabar kepada Rasoeloellah Clm. oleh seorang bernama Boedail –kepada kabilah Choeza’a, jang boekan-Islam tetapi menaroeh persetoedjoean atas Agama Allah —, bahwa kaoem Qoeraisj telah bersedia dengan bersendjatakan jang lengkap oentoek menolak kedatangan kaoem Moeslimin itoe. Oleh Rasoeloellah Clm. Boedail diberi amanat, jang haroes disampaikannja kepada pihak Qoerisj itoe, jang menjatakan, bahwa kedatangan kaoem Moeslimin itoe tidak ada lain maksoed, ketjoeali oentoek zijarah Hadj. Boedail poen laloe berangkat, dengan membawa amanat Nabi Clm. tsb. Kemoedian dari pada berangkatnja Boedail, maka kaoem Moeslimin laloe mentjari tempat perhen-tian, Hoedaibiyah namanja, jang djaraknja kira-kira perdjalanan sehari dari Mekkah.58 (2) Bai’at-oer-Ridwan Setelah amanat Nabi Clm. tsb, disampaikan kepada pihak Qoeraisj, mereka poen sigera mengirimkan wakilnja, ‘Oerwa namanja, oentoek memboeat perdjandjian antara pihak dia dan pihak kaoem Moeslimin. Kedatangan ‘Oerwa ini pada sjari’atnja tidak membawa hasil soeatoe apa. Kemoedian Rasoeloellah Clm. laloe mengirimkan seorang oetoesan kepada pihak Qoeraisj, tetapi oetoesan Clm itoe diperlakoekan amat boesoek, dan onta jang ditoengganginja diboenoeh oleh mereka itoe. Tidak tinggal itoe sadja! Melainkan pihak Qoeraisj telah mengirimkan satoe pasoe-kan jang bersendjata lengkap, oentoek menjerang pihak Moeslimin. Tetapi achirnja pasoekan itoe dapat ditangkap dengan moedah. Dan oleh karena kaoem Moeslimin tidak mempoenjai maksoed kedjahatan sedikit poen djoega, maka mereka (penjerang-penjerang) itoe poen laloe dilepaskan lagi. Mengingat keadaan jang amat berbahaja itoe, sedang mereka tidak bersendjata dan joemlah kaoem Moeslimin poen ta’ seberapa –soenggoeh poen mereka pertjaja dengan sepenoeh-penoeh kepertjajaan kepada pertolongan dan perlindoengan Ilahy, maka Rasoeloellah Clm. menimbang perloe oentoek mengharapkan kepada sahabat-sahabatnja, soepaja boeat ketiga kalinja —: bersedia berperang sampai habis-habisan bagi memperlindoengi, mempertahankan dan menjentausakan Agama Allah ! Bai’at ini dilakoekan di bawah seboeah pohon, sehingga di dalam riwajat Agama Islam kedjadian ini terkenal poela sebagai ,,Bai’at-oesj-Sjadjarah.”59 Bai’at-oer-Ridwan ini, Bai’at jang ketiga dari pada sahabat-sahabat kepada Allah S.W.T., ialah Bai’at jang penghabisan, jang djoega mengandoeng maksoed-penghabisan (einddoel) poela. Djika kita soeka memeriksai lebih dalam dan lebih djaoeh, maka dapatlah kita ketemoekan beberapa hikmat jang mengandoeng pengadjaran dan pendidikan. Di antaranja ialah:

(a) Bai’at itoe dinjatakannja boekan karena hawa dan hawa-nafsoe, melainkan dengan ichlas hati jang sesoetji-soetjinja (chalisan-moechlisan), karena tjinta (Moehab-bah) dan takoet (Taqwa) dan menjerah (Tawakkal) kepada Kehendak Allah belaka. Tentang Taqwa dan Tawakkal, sekadarnja di atas telah kita terangkan. Adapoen ma’na Moehabbah itoe berbagai-bagai, jang djika kita ambil sarinja, adalah seperti jang berikoet: Mentjintai Allah lebih dari pada ketjintaan kepada tiap-tiap machloek. Tegasnja: Tjinta kepada Allah lebih dari pada anak-isterinja, lebih dari pada harta-bendanja, lebih dari pada doenia, bahkan lebih dari pada diri dan njawanja sendiri, seperti jang dinjatakan di dalam Al-Qoer'an, Soerah Al-Bara’at (9) ajat 24: ,,Katakanlah! Djika bapak-bapak kamoe, dan anak-anak kamoe, dan saudara-saudara kamoe, dan sanak-keloeargamoe, dan harta benda jang kamoe peroleh, dan perdagangan jang kamoe soekai, itoe semoeanja lebih kamoe tjintai dari pada Allah dan Rasoel-Nja dan berdjihad pada djalan-Nja, maka toenggoelah hingga Allah mendatangkan amar-Nja (‘adzab-Nja); dan tidaklah Allah memberikan pertoendjoek (hidajat) kepada orang-orang (kaoem) jang berdosa (fasiq).” (b) Dengan hal jang demikian itoe, maka Oemmat Islam mengikatkan diri dengan satoe tali ma’any jang ta’ dapat dipatahkan atau dipoetoeskan oleh siapa dan apapoen djoea. Pertalian-Persaudaraan atau Moesahabbah dlohir dan bathin jang amat tegoeh dan koeat itoe, tampaklah Oemmat Islam sebagai satoe badan jang tahan segala oedjian. Ta’ loeloeh karena panas, ta’ bekoe karena dingin, ta’ hanjoet karena air-bah dan tidak poela dapat tersapoe oleh angin taufan jang sebesar-besarnja sekali-poen. Maka Oemmat Islam sampailah kepada satoe tingkat Persatoean Manoesia jang menghambakan diri hanja kepada Allah belaka, dan tidak kepada jang di loearnja. Oemmat Islam mewoedjoedkan satoe Persatoean Sedjati, Persatoean jang hanja boleh tertjapai, djika masing-masing anggautanja soedah mempersaksikan –dlohir dan bathin– akan ke-Satoean Allah Ta’ala (Tauhid jang toelen), dan menjaksikan poela akan Kamalijah-Nja (Maha Soempoerna Allah) dalam segala perkara. (c) Dan lain-lain hikmat, jang di sini boekanlah tempatnja oentoek mengoeraikannja semoeanja itoe satoe persatoeannja, melainkan hendaknja ditoeliskan dalam Boekoe jang tersendiri. (3) Perdjandjian Hoedaibiyah Setelah kaoem Qoeraisj mendengar berita jang terdjadi di antara Nabi dengan sahabat-sahabatnja itoe, maka dahsjat dan takoet timboel di dalam hati mereka. Mereka jang moela-moela menoendjoekkan ketjongkakannja, dan seolah-olah bersikap ,,djoeal-mahal” serta tidak soeka mengabaikan kehendak Nabi Clm. mentjari damai itoe, maka sekarang terbaliklah sikap itoe. Dengan mengandoeng katakoetan dan agak tergopoh-gopoh dikirimkan oleh pihak Qoeraisj kepada kaoem Moeslimin seorang oetoesan, Soehail bin ‘Amroe namanja, dengan maksoed hendak meneroeskan pembitjaraan memboeat djandjidjandji perda-maikan antara kedoea belah pihak itoe. Setelah dilakoekan pembitjaraan seperloenja, maka bersepakatlah kedoea belah pihak akan mengadakan Perdjandjian Perhentian Perang antara kedoea belah pihak. Sedang Perdjandjian itoe akan berlakoe 10 tahoen lamanja. Oleh karena Perdjandjian damai itoe diboeat di satoe tempat, jang bernamakan Hoedaibiyah, maka kedjadian itoe terkenal dalam riwajat sebagai ,,Perdjandjian Hoedaibiyah.”60 Isi Perdjandjian itoe dengan singkat adalah sebagai berikoet: 1. Pada tahoen ini (6 H.), hendaklah kaoem Moeslimin kembali ke Madinah, dengan tidak melangsoengkan zijarah. 2. Tahoen jang berikoetnja kaoem Moeslimin boleh melakoekan zijarah, tetapi mereka itoe hanjalah boleh tinggal di Mekkah selambat-lambatnja selama 3 hari. 3. Kaoem Moeslimin tidak boleh tinggal bersama-sama dengan orang-orang Moeslimin jang ada di Mekkah, dan sebaliknja; mereka tidak boleh merin-tangi, djika ada seseorang Moeslim hendak tinggal di Mekkah. 4. Djika ada seseorang (maksoednja: seorang Moeslim) dari Mekkah hendak pindah ke Madinah, hendaklah kaoem Moeslimin menjerahkan dia kepada orang Mekkah; tetapi djika ada seorang Moeslim dari Madinah hendak mengikoeti orang-orang Mekkah, maka orang Mekkah tidak haroes menje-rahkan dia kembali kepada orang Madinah (kaoem Moeslimin).

5. Tiap-tiap kabilah ‘Arab mempoenjai hak-keleloeasaan oentoek memboeat per-serikatan dengan masing-masing pihak, baik dengan kaoem Qoeraisj maoepoen dengan kaoem Moeslimin jang disoekainja. Sekianlah isi ,,Perdjandjian-Damai” itoe. Selain dari pada itoe, menoeroet kehendak oetoesan Qoeraisj (Soehail) beberapa perkataan dalam Perdjandjian itoe mesti dioebah, jang peroebahan-peroebahan itoe menjebabkan timboelnja rasa dalam kalangan kaoem Moeslimin, jang mereka soenggoeh-soenggoeh dihinakan oleh pihak Qoeraisj. Mitsalnja: perkataan ,,Bismillahir-rahmanirrahiem” (Dengan nama Allah, Jang Maha Moerah, Jang Maha Asih) haroes diganti dengan perkataan ,,Bismi-kallahoemma” (Dengan namaMoe, ja Allah); perkataan ,,Rasoeloellah (oetoesan Allah) haroes diganti dengan ,,Moehammad bin ‘Abdillah” (Moehammad anak Abdoellah). Beberapa sahabat menjatakan tidak senang mereka dengan perdjandjian itoe, dan hendak melakoekan perlawanan terhadap kepada perboeatan kaoem Qoeraisj itoe, tetapi karena hormat mereka kepada Rasoeloellah Clm. dan kebidjaksanaan Rasoeloellah Clm. dalam hal ini, terhindarlah segala sesoeatoe jang tidak diharapkan.61 (4) Mentjoekoepkan Djandji Lebih Berat dari Harga Djiwa Manoesia Baroe sadja perdjandjian Hoedaibiyah itoe terdjadi, datanglah seorang Moeslim Aboe Djandal namanja, dari Mekkah kepada Rasoeloellah Clm. karena ia mendapat penganiajaan oleh orang Qoeraisj. Ia datang di sana, oentoek mentjari perlindoengan. Rasoeloellah Clm. beroesaha sedapat-dapatnja, soepaja boeat kali ini diadakan perketjoealian bagi Aboe Djandal, tetapi pengharapan Rasoeloellah Clm. itoe ditolak oleh oetoesan Qoeraisj. Melihat jang demikian itoe, beberapa sahabat hampir naik darah, di antaranja ‘Oemmar. Hampir-hampir ia ragoe-ragoe akan kebenaran Moehammad Clm. sebagai Rasoeloellah, sebab pada perasaan ‘Oemar sebagai seorang militer-toelen perhinaan kaoem Qoeraisj itoe soedahlah sampai kepada poentjaknja perhinaan. Tetapi dengan berkat pertolongan Allah, setelah ia mendapat djawab dan nasihat dari pada Rasoeloellah Clm. hilanglah amarah dan keragoe-ragoeannja akan kebenaran Rasoel-oellah itoe. Kaoem Moeslimin merasa berdoeka-tjita atas kedjadian ini, dan Rasoel-oellah sendiri poen hiba hatinja, menjaksikan kedjadian jang seroepa itoe. Dari pada moeloet Clm. waktoe itoe terlahirlah beberapa sabda, jang maksoednja: ,,Tiada seorang jang dapat menolong seorang manoesia (seperti Aboe Djandal), melain-kan Allah sendiri jang terpandai memberi pertolongan. Sedang Allah tidak soekar mendapat djalan oentoek menghindarkan bahaja-diri jang mengenai Aboe Djandal itoe.” Dan Rasoeloellah Clm. tidak soeka dan tidak pernah tjidera djandji –kepada moesoeh sekali poen– walau tjoekoeplah djandji itoe terpaksa membawa koerban djiwa manoesia. Kemoedian dari pada itoe, dengan piloe hati Aboe Djandal diserahkan kembali kepada orang Qoeraisj. Dengan kedjadian ini, tahoelah kita betapa tinggi harga tiap-tiap djandji itoe! Kepada moesoeh sekalipoen! Pendeknja ta’ ternilailah harga djandji itoe. Hingga lebih dari pada harga djiwa manoesia ! (5) Menghiboerkan hati kaoem Moeslimin Dalam perdjalanan poelang, dari Hoedaibiyah ke Madinah, toeronlah beberapa wahjoe Ilahy, jang maksoednja menghiboerkan hati kaom Moeslimin, karena wahjoe-wahjoe jang diterima pada waktoe itoe mengandoeng djandji-djandji kemenangan, djandji-djandji keloehoeran, djandji datangnja Fatah (Pemboekaan) bagi kaoem Qoeraisj di Mekkah choesoesnja dan bagi segenap kaoem Djahilin oemoemnja. Antara lain-lain wahjoe jang diterima oleh Rasoeloellah pada waktoe itoe, tertera dalam Al-Qoer'an, Soerah Al-Fath ajat 1 dan beberapa ajat berikoetnja. Fasal 6: Tahoen Hidjrah Ketoedjoeh (1) Hasoetan Kaoem Jahoedi Beberapa kali kaoem Jahoedi terpaksa meninggalkan Madinah, karena perboe-atannja jang chianat kepada kaoem Moeslimin itoe, maka mereka (dari pada kabilah Bani Nadhir) tinggal di Chaibar, satoe tempat jang soedah lama mendjadi salah satoe poesat kaoem Jahoedi di Negeri ‘Arab. Benih-perbentjian dalam hati mereka itoe dibangkit-bangkitkan poela dalam hatinja orang-orang Qoeraisj, kabilah

Ghatafan, kabilah Badawi dan bani Qoeraidho, jang semoeanja itoe achirnja menimboelkan Perang-Ahzab, seperti jang telah kita rawaikan di atas. Bertambah-tambah besar lagi kesakitan hati mereka itoe, karena Perang-Ahzab jang pada sangkanja akan dapat membasmi kaoem Moeslimin, hasilnja ta’ memoeaskan hawa-nafsoe mereka itoe. Sementara itoe, perboeatan rahasia antara mereka di Chaibar –jang djaoehnja kl. 200 myl dari Madinah– dan kaoem Moenafiqin di Madinah bertambah-tambah rapat. Pada rasanja kaoem Jahoedi, perdjandjian antara kaoem Moeslimin dan kaoem Qoeraisj di Hoedaibiyah itoe, tjoekoeplah mendjadi tanda kepada mereka, bahwa kaoem Moeslimin soedah lembek. Boektinja –demikianlah perasaan mereka itoe– kaoem Moeslimin soeka ,,diperhinakan” oleh kaoem Qoeraisj. Padahal tidak begitoelah halnja. (2) Perang Chaibar62 Kemoedian dari pada Perdjandjian Hoedaibiyah terseboet kaoem Jahoedi sigera merapatkan perhoeboengannja dengan kabilah Ghafatan, dengan maksoed hendak menjerang kaoem Moeslimin. Setelah berita penjerangan itoe sampai kepada Rasoel-oellah Clm, maka Clm. laloe mengirimkan pasoekan tentara, besarnja kl. 1600 orang, menoedjoe ke Chaibar. Di tengah djalan di satoe tempat bernama Radji’, antara Chaibar dan Ghatafan, berhentilah pasoekan Moeslimin ini, sehingga bantoean dari kabilah Ghatafan kepada kaoem Jahoedi di Chaibar itoe, ta’ dapat dilangsoengkan. Pasoekan Moeslimin tidaklah berhenti di Radji’ sadja, melainkan teroes bergerak menoedjoe ke Chaibar. Sementara itoe kaoem Jahoedi telah bersedia-sedia dengan genap-lengkap oentoek menerima kedatangan kaoem Moeslimin dengan serangan jang amat hebat. Maka terdjadilah peperangan antara kedoea belah pihak dengan hebatnja. Benteng-benteng kaoem Jahoedi dapat dikalahkan, sehingga benteng kaoem Jahoedi jang terkoeat sekalipoen. Qamoes namanja, menjatakan poela ta’loeknja kepada kaoem Moeslimin. Perta’loekan jang achir ini termasoek djasanja tentara jang dipimpin oleh ‘Ali. Setelah perta’loekan itoe, maka kaoem Jahoedi mengharap dengan sangat, soepa-ja mereka dapatlah kiranja dibolehkan tinggal tetap di Chaibar, dengan djandji-djandji, bahwa mereka akan memberikan separoh dari pada hasil negeri itoe kapda kaoem Moes-limin, sebagai oepeti. Soenggoehpoen Rasoeloellah telah mengerti, bahwa kaoem Jahoedi itoe tentoe tidak mentjoekoepkan djandjinja (boeat membajar oepeti), tetapi permintaan mereka itoe dikaboelkan djoega. Dalam peperangan ini, seperti djoega peperangan besar jang lainnja kaoem Moeslimat poen tidak soeka ketinggalan, dan ikoet poela bergerak madjoe menempoeh moesoehmoesoeh Islam. (3) Lagi Chianat hendak memboenoeh Nabi Clm Setelah kedjadian perdjandjian-perdjandjian tsb di atas, maka Nabi Clm. dengan sahabat-sahabatmja dipersilahkan makan di roemah sorang bernama Zainab, isteri seorang kepala Jahoedi jang mati dalam Perang Chaibar, Clm. tidak langsoeng memakan makanan jang soedah terpegang dalam tanganja itoe, karena ada peringatan dari pada Allah, bahwa makanan jang lezat tampaknja itoe berisi ratjoen (bisa) jang amat berbahaja. Seorang sahabat, bernama Bisjr bin Bara, soedah makan makanan itoe, sehingga pada waktoe itoe djoega ia meninggal doenia karenanja. Zainab berboeat jang demikian itoe tidak hanja seorang diri, melainkan karena mentjoekoepkan djangka-maksoed beberapa pemimpin Jahoedi, jang hendak memboenoeh Nabi. Dengan perboeatan jang amat chianat itoe, sesoenggoehnja segenap kaoem Jahoedi, atau setidak-tidaknja pemimpinpemimpin Jahoedi sepatoetnjalah mendapat hoekoeman, jang sepadan dengan perboeatannja itoe, tetapi Rasoeloellah Clm. hanjalah mendjatoeh-kan hoekoeman atas seorang sadja. Zainab dihoekoem mati, karena telah melakoekan pemboenoehan atas Bisjr bin Bara itoe. (4) Hidjrah ke ‘Iç. Hidjrah ke ‘Iç ini boleh kita katakan Hidjrah jang ,,ketjil”, jang sering diloepakan ertinja oleh ahli-ahli riwajat. Padahal soenggoehpoen Hidjrah ini ,,ketjil” sifatnja, tetapi besarlah harga dan ertinja di dalam tarich Islam, teroetama sekali karena kedjadian itoe terdjadi langsoeng berkenaan dengan Hidjrah2 jang lainnja.

Seorang Moeslim di Mekkah, Aboe Basir namanja, jang senantiasa mendapat aniajaan dari pihak Qoeraisj, dapatlah melepaskan diri, dan laloe lari ke Madinah, mengharapkan pertolongan dari pada kaoem Moeslimin, istimewa Rasoeloellah Clm. sendiri di sana. Ia dikedjar oleh doea orang oetoesan dari Mekkah, jang menoentoet kepada Rasoeloellah, soepaja Aboe Basir dikembalikan ke tangan mereka. Rasoeloellah Clm. dengan hiba hati jang ta’ hingganja menjerahkan dia di dalam tangan kaoem Qoeraisj itoe (Perdjandjian-Hoedaibiyah, fasal 4), dan Basir poen menjerahkan diri poela kepada kedoea orang Qoeraisj itoe. Di tengah-tengah djalan, terdorong oleh nafsoe hendak lepas dari aniaja, dapatlah ia melarikan diri, setelah memboenoeh seorang dari pada doea orang Qoeraisj itoe, sedang seorang jang lainnja lari ke Mekkah, oentoek menjelamatkan dirinja. Djandal poen dapat poela melepaskan dirinja dari penganiajaan orang Qoeraisj.63 Karena Madinah masih terlarang bagi kedoea mereka itoe, maka mereka ini terpaksa mentjari tempat-perlindoengan lainnja ialah di ‘Iç, satoe tempat di pantai laoet. Kemoedian dari pada itoe, langkah kedoea orang ini diikoeti poela oleh beberapa orang Moeslimin Mekkah jang lainnja, jang ta’ tahan menderita penganiajaan dari kaoem Qoeraisj. (5) Persilahan Kepada Radja-Radja Dalam tahoen itoe djoega Nabi Rasoeloellah Clm. mengirim soerat kepada beberapa radja, oentoek mempersilahkan mereka itoe memeloek Agama Allah, Agama Kesempoernaan bagi Doenia dan Achirat. Agama jang mengandoeng Rahmat bagi segenap Peri-kemanoesiaan. Di antara mereka itoe –jang di sini boekan tempatnja oentoek menerangkan satoe persatoeannja– ada jang mengikoeti pengharapan Nabi, ada jang menolak dengan keras, dan ada poela jang menoendjoekkan perhatian dan pertjintaannja kepada Agama Allah itoe, dengan memberi roepa-roepa hadijah indah-indah. (6) Nabi Clm. dengan 10.000 Sahabatnja (Calihin) Zijarah ke Mekkah Mentjoekoepkan boenji salah satoe fasal dalam Perdjandjian-Hoedaibiyah dan oentoek mempersaksikan kebenaran roe’jat jang telah dilihatnja sebeloem itoe, maka pada achir tahoen 7 H. berangkatlah Rasoeloellah Clm. dengan 10.000 orangorang salih (Calihin) dari pada sahabat-sahabatnja, menoedjoe ke Mekkah, oentoek melakoe-kan ‘ibadah-soetji, ja’ni melakoekan zijarah Hadj ke Bait-Oellah. Segala perdjalanan itoe, sedjak awwal hingga achirnja, dapatlah berlakoe dengan sempoernanja. Soenggoehpoen kedatangan Rasoeloellah Clm. di Mekkah itoe hanja sebentar sadja (menoeroet Perdjandjian-Hoedaibiyah, fasal 2) maka tjoekoeplah kiranja mendjadikan satoe boekti-kenjataan kepada tiap-tiap orang jang ber’aqal, bahwa Agama Islam soenggoeh-soenggoeh Agama Allah; bahwa Agama Islam mengatas segala Agama jang lebih doeloe dari pada dia; bahwa Islam tidak dapat dirintangi ataupoen dihalaukan oleh siapa dan apapoen djoega; melainkan segala rintangan dan halangan itoe hanjalah bererti jang dapat menjempoernakan terang-benderangnja Noer Ilahy, jang memantjar-kan tjahajanja di seloeroeh ‘Alam, jang sjahadah maoepoen jang ghaib. Jang moela-moela dalam tahoen 6 H. Rasoeloellah Clm. hanja diiringkan oleh kl. 1400 orang sahabatnja sadja, sekarang dalam waktoe setahoen kemadjoean Islam, dlohir dan bathin, mendjadi berlipat-lipat ganda. Itoelah satoe boekti poela, bahwa berdjalannja Agama Allah itoe antara bangsa di seloeroeh Doenia ini boekanlah karena perboeatan manoesia belaka, melainkan teroetama dan pertama-tama sekali karena Kehendak dan Kekoeasaan Allah Soebh. w.T. djoea! (7) Dari Habsji ke Madinah Dalam tahoen ini djoega, kaoem Moehadjirin jang lebih doeloe telah sama hidjrah ke Habsji, moelailah poelang ke Madinah. Adapoen maksoed dan toedjoean mereka pergi ke tempat kedoedoekan baroe itoe –tidak ke Mekkah, sebab di Mekkah beloem ada perikatan Oemmat Islam– pertama-tama sekali ialah oentoek mensesoeaikan oesaha-nja dengan toentoetan dan adjaran dari pada Rasoeloellah Clm. bersama-sama dengan saudara-saudaranja kaoem Ançar dan Moehadjirin jang lainnja. Fasal 7: Tahoen Hidjrah Kedelapan (1) Perang-Moetah Antara lain-lain, soerat dari pada Rasoeloellah itoe di ‘alamatkan kepada seorang radja di Boesro, jang ta’loek kepada radja Roem, Sjoerahbil bin ‘Amroe namanja. Harits bin ‘Oemair, jang membawa soerat dari Rasoeloellah itoe, diboenoehnja;

satoe perboeatan dari radja Boesro, jang amat melanggar keoetamaan tiap-tiap kabilah di tanah ‘Arab. Ditambah lagi dengan satoe kedjadian, bahwa seorang radja di Sjarqil-Ardoen telah diboenoeh oleh orang Roem, hanjalah karena ia telah menerima poela satoe soerat persilahan dari Rasoeloellah dengan baik-baik dan lantas masoek Islam. Perboeatan orang Roem itoe dan perboeatan Sjoerah bil bin ‘Amroe terseboet, tidak mengandoeng erti jang lain, melainkan tantangan dan pernjataan perang kepada kaoem Moeslimin. Oleh sebab itoe, dengan sigera Rasoeloellah mengirimkan satoe pa-soekan, besarnja kl. 3.000 orang jang dikepalai oleh Zaid bin Haritsah, bekas boedak-belian. Rasoeloellah sendiri mengirimkan pasoekan itoe hingga ke satoe tempat, Tsani-jatoel-Wida’ namanja. Sementara itoe radja Boesro melengkapkan persediaan perangnja, oentoek menem-poeh kaoem Moeslimin. Balatentara Sjoerahbil bin ‘Amroe itoe besarnja tidak koerang dari 100.000 orang. Selain dari itoe radja Roem poen moelai poela bersedia oentoek membantoe Sjoerahbil bin ‘Amroe dengan balatentara jang besar dan koeat, jang bersendjatakan lengkap dan sempoerna. Malah terdjadilah pertempoeran perang jang amat hebat sekali antara kedoea belah pihak. Dengan gagah-beraninja balatentara Moeslimin jang seketjil itoe melawan kepada moesoehnja jang lebih dari 30 kali ganda besarnja itoe. Pertempoeran ini terdjadi di satoe tempat bernama Moetah. Oleh sebab itoe, maka pertempoeran ini dalam riwajat terkenal namanja sebagai perang-Moetah. Hatta, maka berganti-gantilah kaoem Moes-limin rebah dan mati pada djalan membela Agama Allah itoe. Tiap-tiap kali rebah, tiap-tiap kalinja itoe sigera diganti oleh jang lainnja. Waktoe Zaid bin Haritsah terboenoeh mati di dalam pertempoeran itoe, diganti ia oleh Dja’far, jang djoega mengalami nasib seperti Zaid. Kemoedian Dja’far diganti oleh ‘Abdoellah bin Rawahah, dan setelah ‘Abdoellah bin Rawahah ini terboenoeh djoega dalam peperangan itoe, maka ia diganti oleh Chalid bin Walid, jang dengan kebidjakannja dalam oeroesan peperangan (strategie), dapatlah ia menjelamatkan tentara Moeslimin dari pada moesoeh jang amat besar lagi koeat itoe. Balatentara Boesro poen laloe moendoer, dan kembali ke negerinja. Peperangan di Moetah ini terdjadi dalam boelan Djoemadil-Awwal Tahoen 8 H. (2) Pertempoeran antara kabilah Choeza’a dan Banoe Bakr Dengan adanja Perdjandjian-Hoedaibiyah, jang menjatakan perhentian perang 10 tahoen lamanja, mendjadi sebab dan pangkal jang mereka tidak dapat menjatakan perang ataupoen melakoekan satoe serangan kepada kaoem Moeslimin dengan terang-terangan. Lebih berkobar-kobar lagi nafsoe-permoesoehannja itoe, karena dari sehari kesehari mereka menjaksikan akan kemadjoean Islam dan kaoem Moeslimin. Salah satoe djalan jang diambilnja ialah mengambil Banoe Bakr jang njata-njata memoesoehi Islam, mendjadi temanSjarikatnja. Poen satoe kabilah Choeza’a, jang bermoesoehan dengan Banoe Bakr itoe, laloe menghoeboengkan diri dengan kaoem Moeslimin. Hal jang demikian itoe diloeloeskan oleh Perdjandjian-Hoedaibiyah, fasal ke 5. Soeatoe peristiwa terdjadilah pertempoeran antara kabilah Choeza’a dan Banoe Bakr. Dalam pertempoeran itoe kabilah Choeza’a selaloe dalam pihak jang kalah, sebab Banoe Bakr mendapat bantoean dari orang Qoeraisj. Mereka jang dikedjarkedjar itoe (kabilah Choeza’a) melarikan diri ke Tanah Haram (Mekkah dan sekitarnja), dengan harapan, soepaja serangan dari Banoe Bakr itoe djangan dilangsoengkanlah hendak-nja. Tetapi soenggoehpoen terlarang mengadakan pertoempahan darah di Tanah Haram itoe, tetapi serangan dari pihak Banoe Bakr tidak dihentikan, bahkan dari pada kabilah itoe banjak orang-orang jang mati diboenoeh. Kemoedian dari itoe, kabilah Choeza’a laloe lari ke Madinah, mendapat kaoem Moeslimin di sana, bagi meminta perlindoengan, sebagaimana jang termaktoeb dalam perdjandjian antara kabilah itoe dengan kaoem Moeslimin. (3) Orang Qoeraisj Menjatakan Petjahnja Perdjandjian-Hoedaibiyah Berhoeboeng dengan kedjadian itoe, jang njata-njata kaoem Qoeraisj telah melang-gar Perdjandjian-Hoedaibiyah, maka Rasoeloellah Clm. laloe kirim soerat kepada orang Qoeraisj, oentoek menegaskan sikap mereka itoe, dengan disoeroehnja memilih satoe di antara 3 fasal: (a) Hendaklah soeka membajar oeang-darah bagi orang-orang Choeza’a jang telah diboenoehnja itoe; (b) Hendaklah mereka soeka memetjahkan perserikatannja dengan Banoe Bakr;

(c) Hendaklah mereka soeka menjatakan, bahwa Perdjandjian-Hoedaibiyah soedah tidak berlakoe lagi. Dengan tjongkaknja orang Qoeraisj mendjawab kepada Rasoeloellah, bahwa Perdjandjian Hoedaibiyah soedah tidak berlakoe lagi. Tetapi Aboe Soefjan, jang tahoe akan besarnja bahaja jang boleh timboel dari pada petjahnja Perdjandjian itoe, laloe tjoba-tjoba memperdajakan kaoem Moeslimin, soepaja soekalah kiranja mereka itoe mem-baroekan lagi Perdjandjian jang soedah petjah itoe. Dengan ketjiwa hatinja Aboe Soefjan meninggalkan Madinah, karena tipoe-daja jang dilakoekannja itoe tidak mendapat penghargaan, seperti jang diharapkan olehnja. (4) Chianat jang Ta’ Sengadja Melihat akan persediaan kaoem Moeslimin oentoek melengkapkan sendjatanja bagi menjerang Mekkah itoe, maka seorang Moeslim jang choeatir akan roesaknja perhoeboengannja dengan orang-orang Mekkah (perhoeboengan karena toeroenan), Hatib namanja, dengan djalan semboenji-semboenji telah mengirimkan soerat ke Mekkah, mentjeriterakan akan hal ini. Mendengar kedjadian ini, segenap kaoem Moeslimin marah kepada Hatib. Ia ditangkap dan dihadapkan kepada Rasoeloellah Clm. sedang orang jang membawa soerat itoe dikedjar, hingga dapat disoesoel. Atas permintaannja sendiri Hatib minta diampoeni, dan Rasoeloellah poen menga-boelkannja, sebab perboeatan chianat itoe dilakoekan boekan karena hati djahat, melain-kan hanjalah karena kebodohan semata-mata! (5) Mekkah di Tangan Kaoem Moeslimin Walaupoen setelah petjahnja Perdjandjian-Hoedaibiyah kaoem Moeslimin moelai bersedi-sedia oentoek melengkapkan segala persediaan bagi menjerang kaoem Qoeraisj di Mekkah itoe, tetapi roepanja Allah Soebhanahoe wa Ta’ala tidak mengidzinkan terdja-dinja satoe pertoempahan darah di Tanah Haram itoe! Pada tanggal 8 boelan Ramadhan 8 H. berangkatlah Rasoeloellah Clm. menoedjoe ke Tanah Haram itoe, dengan diiringkan oleh 10.000 sahabat-sahabatnja jang Calih (Calihin). Setelah mereka tiba di dekat Mekkah, maka sekalian kaoem Moeslimin diperintah-kan oleh Clm. oentoek memboeat api di masing-masing kemahnja, agar soepaja menter-kedjoetkan hatinja kaoem Qoeraisj, jang dengan karena sebab itoe nistjajalah mereka tidak akan melakoekan perlawanan, sehingga dapatlah dihindarkan pertoempahan darah. Semoea perdjalanan berlakoe dengan aman dan sempoerna, dan orang Qoeraisj poen laloe ta’loek dengan tidak menoendjoekkan perlawanan soeatoe apa. Beberapa orang Qoeraisj jang ternama, jang tadinja koerang-lebih 20 tahoen lamanja hatinja tertoetoep dengan kedjahilijahan (kegelapan), sekarang ternjatalah mereka dapat ikoet menerima Rahmat dari pada Allah Ta’ala, dan pandai poela melihat Noer Ilahy jang terang-tjoeatja itoe. Di antara mereka jang moela-moela taslim ialah Aboe Soefjan, salah satoe moesoeh Islam dan moesoeh Nabi jang terbesar. (6) Ampoenan Loear Biasa Berdoejoen-doejoen orang Mekkah datang kepada Rasoeloellah, atau memang sengadja dihadapkan kepada Rasoeloellah, dan setelah mereka mengharapkan ampoen dari Nabi Penoetoep itoe, maka Clm. poen memberinja. Di antara lain-lain ialah: Hindoen, isteri Aboe Soefjan, jang telah menggigit-gigit hati Hamzah pada Perang-Oehoed, kira-kira 5 tahoen sebeloem itoe; Wahsji, jang telah memboenoeh paman Nabi jang tertjinta, jang terkenal poela sebagai Singa-Islam (Hamzah). Dan beberapa orang pemoesoeh-pemoesoeh Islam lainnja.64 (7) Haq Datang, Bathil Lari Dengan kemenangan kaoem Moeslimin ini, kemenangan dlohir dan bathin, lenjaplah segala sifat sjirik, diganti dengan Tauhid, sekalian bathil hilang-moesna diganti dengan Haq jang sentausa. Segala berhala kaoem Moesjrikin diboeang djaoeh-djaoeh dari Roemah Soetji (Baitoellah – Ka’bah): dan tiap-tiap kali Rasoeloellah meraba berhala-berhala itoe dengan tongkatnja, tiap-tiap kalinja itoe Clm. mengoetjapkan ajat, jang soedah lebih doeloe ditoeroenkan, ja’ni Soerah Bani-Israil, ajat 81: ,,Berkatalah! Haq telah datang, dan Bathil jang lari: sebab (memang) Bathil itoe bersifat pelari.”65

(8) Ke-Satoe-an Allah dan Per-satoe-an Manoesia Kemenangan atau Pemboekaan (Fatah) Negeri Mekkah itoe boekanlah satoe keme-nangan bagi seseorang manoesia atau segolongan manoesia atau poen bagi machloeq jang mana poen djoea, melainkan Kemenangan dan Pemboekaan itoe hanjalah bagi (persaksian) Ke-Esa-an (Wahdanijat) Allah Soebhanahoe wa Ta’ala. Satoe Kemenangan oentoek menjaksikan dengan boekti-boekti jang njata akan Kesempoernaan (Kamalijah) Allah! Satoe Kemenangan oentoek memboektikan akan benarnja djandji-djandji Allah! Satoe Kemenangan oentoek menjatakan Kebenaran Oetoesan Allah dan Agama Allah! Maka timboellah dari kemenangan itoe satoe Rahmat jang perloe ditjatat di sini, jang beroepa: Persaudaraan jang koeat dan kekal. Persaudaraan jang tidak mengenal moesoeh dan lawan, persaudaraan sedjati, ialah satoe Persatoean Manoesia, jang ber-sendikan semata-mata kepada Ke-Satoean Allah djoea adanja. Inilah Oemmat jang ,,wasath”, Oemmat jang terpilih, Oemmat jang terdjoendjoeng oleh Allah, karena mereka selaloe mendjoendjoeng tinggi Agama Allah lebih dari pada segala apapoen djoega jang di loearnja. (9) Nabi Pembawa Rahmatoellah Sjahdan, maka dengan oeraian jang terlampau amat singkat dari pada sebagian Tarich Nabi itoe, njatalah dengan boektiboekti jang dapat disaksikan oleh kawan ataupoen lawan bahwa Nabi Moehammad Callalllhaoe ‘alaihi wasallam itoe adalah Seorang Nabi Penoetoep, Nabi Pembawa Rahmat; Rahmat jang melipoeti segenap ‘Alam; Rahmat bagi segenap peri-kemanoesiaan. ------Ζ Ζ Ζ -----1 Jaqin di sini boleh kita ertikan ,,Jaqin semasa hidoepnja” dan/atau ,,Jaqin setelah ke ‘alam qoeboer.” Djadi perboeatan jang beroepa ‘amal-‘ibadah itoe tidak boleh dihentikan, selama Allah masih memberi njawa pada badan kita. Adapoen tingkat-tingkatnja jaqin, seperti: ‘ilm-al-jaqin, ‘ainal-jaqin, haqq-oel-jaqin dan akmaloel-jaqin boekanlah disini tempat memperbintjangkannja. 2 ,,Dachala” ertinja ,,masoek”, ,,as-silm” ertinja ,,damai”, ja’ni damai jang dikehendaki oleh Agama Islam, damai dlohir dan damai bathin. Djadi ,,masoek ke dalam damai” di sini maksoednja ialah ,,memeloek Agama Islam”, sedang perkataan ,,kaffah” menoendjoekkan poela bahwa penoentoetan sjari’at Agama tidak boleh dipilih sana dan sini sadja melainkan haroes segenapnja. Tjaranja melakoekan sjari’at itoe tentoelah haroes berangsoer-angsoer, seperti djoega tapak (atsar) jang ditinggalkan oleh Penghoeloe Besar kita. Salah satoe sjaratnja ialah, hendaklah kita tjoba-tjoba menghilangkan rasa ,,soeka hidoep, ta’ menghendaki berat”, sebab semoeanja itoe sesoenggoehnja hanjalah perasaan jang boleh timboel karena hawa nafsoe belaka, jang achirnja akan menimboelkan hasil ketjiwa. Bandingkanlah dengan roekoen Iman ke-enam! 3,,Hadits” terambil dari pada perkataan ,,hoedoets”, ja’ni sifat manoesia jang bererti beroebah-oebah, tidak kekal. Sedang perkataan ,,Qadim” itoe asalnja dari perkataan ,,qidam”, ialah salah satoe sifat Allah, jang menoendjoekkan kekal, langgeng, tidak beroebah dan lain-lain. 4,,Risalah” ertinja pengoetoesan (zending). Jang dioetoeskannja ,ja’ni ,,rasoel”. Kalau banjak: ,,roesoel”. 5 Perkataan ,,Taqwa” terambil dari pada perkataan ,,ittiqa”, jang dalam garis besarnja mempoenjai doea ma’na: 1. ,,Takoet”. Ja’ni takoet menoeroet adjaran Islam. Boekan takoet kepada batoe dan kajoe, tanah dan air, atau takoet mati, takoet soesah, dll. Jang sematjam itoe melainkan ,,takoet kepada Allah, dan tidak takoet kepada jang lain atau di loear Dia”. Sifat Taqwa ini sangat perloe bagi tiap-tiap orang jang hendak Bakti kepada Allah, sebab djika ia masih mempoenjai rasa takoet kepada selain dari pada Allah, nistjajalah Baktinja itoe tidak akan sempoerna. 2. ,,Berdjaga-djaga diri, atau hati-hati”. Ini poen boekan berdjaga diri, jang sesoenggoehnja maoe lari ,atau berhati-hati

jang mengandoeng was-was dan ketakoetan. Tetapi semoeanja ta’ boleh keloear dari pada adjaran-adjaran Islam. Sehingga ,,berdjaga-diri”di sini boleh kita ertikan; berdjaga diri dan selaloe berhati-hati di dalam tiap-tiap tingkah lakoe, dalam sekalian ‘amal perboeatan, jang chas dan jang ‘am, hanja karena takoet kepada Allah semata-mata. Djadi teranglah soedah, bahwa maksoed takoet atau berdjaga-djaga diri itoe, boekan takoet kena serangan, atau takoet menderita fitnah dan halangan, atau takoet karena menghadapi moesoeh. Tidak sekali-kali tidak ! Adapoen orang jang mempoenjai sifat jang demikian itoe, dinamakan ,,moettaqi” (djama’ ,,moettaqin”), jang pada ‘oemoemnja bolehlah kita ertikan: seorang jang selaloe tahoe, tjakap dan tjoekoep oentoek melakoekan Bakti chas dan ‘am, dalam erti kata jang sesempoerna-sempoerna dan seloeas-loeasnja. 6 Sedikit berlainan dengan sifat Taqwa, maka Tawakkal itoe tidak tampak, tidak dapat dilihat oleh mata, melainkan letaknja di dalam hati. Sebab Tawakkal itoe adalah ,,sikap roeh manoesia di dalam ta’loek-toendoeknja kepada Dzat Allah.” Oleh sebab itoe, maka kedoea sifat tsb. ta’ boleh dipisahkan antara satoe dengan jang lainnja,seperti kita ta’ dapat memisahkan bathin dari pada dlohir roehany dan djasmany, manis dan goela, asin dan garamnja. Hanja boleh diperbedakan (ondescheindenlijk, maar onafscheidelijk). 7 Orang-orang jang ,,istiqamah” boekanlah orang-orang jang ,,terendam ta’ basah, terapoeng ta’ hanjoet”, melainkan ialah orang jang dengan tegak dan tegoeh mendjalankan wadjib menoeroet perintah Allah dan Rasoel-Nja, dengan tidak mengingati akan berat-entengnja, moedah-soekarnja, besar-ketjilnja, banjak-sedikitnja kawan atau lawan dlls. 8 Berlainan diri boekanlah sifat orang jang soedah ,,istitha’ah”. Tidak soeka memboeang waktoe, tidak soeka memoebadzirkan tenaga, fikiran ataupoen harta oentoek keperloean jang tidak diridloi oleh Allah. Ia mempoenjai sifat, bersedia-bersiap sewaktoe-waktoe oentoek melakoekan wadjib, dengan kekoeatan, harta fikiran dan apa poen djoega ada padanja. 9 Berbagai-bagai faham dan pendapat orang tentang ,,doenia”. Setengah orang berpendapat, bahwa doenia itoe adalah doea roepa: (1) ,,doenia ketjil” (mikrokosmos), ja’ni diri manoesia, dan segala apa jang termasoek di dalamnja, dan (2) ,,doenia besar”, ja’ni: semesta ‘alam (makrokosmos) jang ketjil hingga jang sebesar-besarnja (Heelal Universeum). Adapoen jang kita maksoedkan dengan “doenia” di sini ialah: segala machloeq, tegasnja segala sesoeatoe jang di loear Allah. Selain dari itoe ada poela ,,doenia” jang membedakan dia dari pada “achirat” (hari kemoedian). Dengan adanja faham ini, ahli tasawoef membagi manoesia di dalam 4 golongan: (1) orang-orang jang mentjari doenia, meninggalkan achirat, (2) orang-orang jang mentjari achirat, loepa kepada doenia, (3) orang jang mentjari doenia dan achirat, dan (4) orang jang ta’ mentjari doenia dan tidak poela mengharapkan achirat. Orang-orang bagian (4) ini berpendapat, bahwa doenia dan achirat itoe poen ,,doenia” djoega, sebab ,,machloeq”. Sedang jang ditjari ialah ,,Jang Memboeat”, boekan ,,jang diboeat”. Mereka hanja mengharapkan ridlo dan rahmat dari Allah dan sepi dari pada pengharapan apapoen djoega jang bersifat kedoeniaan. 10 Seperti siang ta’ dapat disatoekan dengan malam, begitoe djoega haq ta’ dapat ditjampoerkan dengan bathil, koefoer ta’ dapat diseboeahkan dengan iman. Oleh karena tawaran kaoem Qoeraisj itoe ta’ tjotjok dengan perintah dari ‘Azza wa Djalla, maka Rasoeloellah Clm. menolaknja. 11 Periksalah: Statuten P.S.I.I., fasal 8, ajat 1. 12 Periksalah Tafsir Asas P.S.I.I., tjetakan kedoea, katja 4. 13 Periksalah Tafsir Asas P.S.I.I., Bab 2, katja 24 hingga 25. 14 Bandingkanlah dengan Statuten P.S.I.I., fasal 2, ajat 1. 15 Periksalah Statuten P.S.I.I., fasal 2 ajat 1. 16 Zaman Mekkah, jang lamanja 13 tahoen itoe, oleh ahli-riwajat dibagi mendjadi 3 bagian: [a] Mekkah awwal, ja’ni zaman 5 tahoen jang pertama, [b] Mekkah Pertengahan, jaitoe zaman 5 tahoen jang kedoea, dan [c] Mekkah achir, jang hanja 3 tahoen lamanja. 17 Periksa peta III ! 18 Bandingkanlah dengan isi-maksoed jang terkandoeng dalam Soerah Al-Lahab [III] !

19 Soepaja ringkas, maka di sini kita toeliskan ,,Tahoen 5 N.”, jang maksoednja: Tahoen Kenabian jang kelima 20 Periksalah peta II dan I ! 21 Periksalah peta II dan I ! 22 Periksalah peta III ! 23 Periksalah peta II ! 24 ,,Jatsrib” ialah nama jang dipakai boeat kota Madinah sebeloem Hidjrah. Periksalah peta II dan IV! 25 Periksalah peta II ! 26 Soeatoe ,,moe’djizat” boekanlah soeatoe perkara jang loear biasa, jang timboel dari pada dan karena perboeatan Nabi, tapi adalah tanda Maha Koeasa Allah kepada Nabi-Nja, jang mengandoeng Kenjataan. 27 Periksalah peta II ! 28 Periksalah peta II ! 29 Periksalah peta II ! 30 Periksalah peta II ! 31 Periksalah peta IV ! 32 Periksalah peta IV ! 33 ,,Soeffah” bererti djoega ,,serambi’ atau ,,serambi masdjid”. 34 Sepandjang faham dari pada adjaran-adjaran agama Islam, maka jang dinamakan ,,tanah-air” itoe boekanlah ,,tempat kelahiran”, melainkan ,,tempat kedoedoekan.” 35 Djadi menoeroet perdjandjian ini, jang diakoei sebagai Kepala Oemmat di Madinah itoe ialah Nabi Clm. Lebih djelas lagi hal ini tertjantoem dalam Perdjandjian (13). Periksalah lebih landjoet peta IV! 36 Di sini njatalah bahwa agama Islam tidak sekali-kali mengandoeng ,,permoesoehan” terhadap kepada agama jang lainnja. Lebih djaoeh bandingkanlah dengan Soerah Al-Baqarah (2), ajat 256 ! 37 Di dalam riwajat jang njata, maka Nabi Clm. selaloe menoendjoekkan boekti ke’adilannja terhadap kepada siapapoen djoega. Soeatoe peristiwa terdjadilah pertengkaran antara seorang Jahoedi dengan seorang Moeslim. Setelah dihadapkan kepada Rasoeloellah, maka boekan orang Jahoedi jang mendapat hoekoeman, tetapi orang Moeslimnja. Sebab ialah jan g bersalah. Teranglah di sini, bahwa perboeatan salah dan benar itoe tidaklah digantoengkan kepada kejakinan-agamanja ! Siapa sadja jang salah, dia-lah jang mesti mendapat hoekoemannja. Lebih tegas lagi hal ini termoeat dalam Perdjandjian (12). 38 Masdjid-masdjid itoe boekan hanja dipergoenakan boeat ‘ibadah choesoesiyah belaka, tetapi boeat ‘ibadah ‘oemoemiyah poen djoega. Djadi masdjid itoe adalah satoe tempat moesjawarat, mengatoer dan menje-lesaikan segala keperloean manoesia dan Oemmat, dalam hal membela mempertahankan dan melakoekan Agama Allah. 39 ,,Nifaq” ertinja: poera-poera. Orang jang mempoenjai sifat itoe, dinamakan: ,,moenafiq”; djika banjak:,,moenafiqin”. Perkataan ini lazim dipakai berkenaan dengan kejakinan dan perboeatan dalam Agama (fi-ddin). 40 Oentoek mengetahoei letaknja ,,Badar” hendaklah periksa peta II! 41 Periksalah antara lain-lain Al-Qoer’an, Soerah Al-Qamar (54) ajat 45. 42 Periksalah Soerah Al-Anfal (8) ajat 9! 43 Periksalah poela Soerah Al-Anfal (8) ajat 17! 44 Bandinglah dengan isi Soerah AÇ-Çaf (61) ajat 3 ! 45 Jang kemoedian mendjadi Chalifah ke IV ! 46 Periksalah peta IV ! 47 Periksalah peta II ! 48 Periksalah peta I ! 49 Jang kemoedian mendjadi Chalifah ke III ! 50 Periksalah peta II ! 51 Periksalah dan bandingkanlah dengan isi Soerah Ali-‘Imran (3) ajat 126. 52 Bandingkanlah dengan tjatatan (36)

53 Periksalah peta II ! 54 Periksalah peta II ! 55 Salman adalah seorang jang berasal dari Persia atau Parsi, jang oleh sebab itoe ia terkenal dengan nama ,,Salman Parsy”. Orang toeanja Salman adalah penjembah api. Lebih djaoeh ditjeritakan dalam riwajat, bahwa Salman adalah moela-moela seorang boedak-belian. Tetapi di dalam dadanja selaloe menjalahkan api, jang rindoe akan Kenjataan (Wekelijkheid en Waarheid), sehingga ia bertahoen-tahoen merantau meninggalkan tanah-kelahirannja dari satoe tempat ke tempat jang lainnja. Oesaha mentjari Hikmah dari Toehan Jang Maha Koeasa itoe dilakoekan dengan merantau, dari satoe tempat memoedja kepada tempat memoedja jang lainnja, sehingga pada soeatoe waktoe sampailah ia di Madinah (zaman Hidjrah). Di sana ia mendapatkan masjarakat jang soenggoeh-soenggoeh berbeda dengan masjarakat lainnja, jang telah dikenalnja lebih doeloe, di dalam berbagai-bagai negeri dan keradjaan, di antara bangsa manoeisa. Keindahan dan kemoeliaan Islam, ditambah dengan pergaoelan antara anggauta-anggauta Masjarkat Islam jang amat rapat, sentausa dan sempoerna itoe, mendjadilah sebab toemboehnja sadar dan insjaf dalam qalboe Salman, bahwa Masjarakat Islam, itoelah jang selaloe mendjadi kenang-kenangannja. Doea hari kemoedian dari pada kedatangan dia di tempat kedoedoekan jang baroe itoe (Madinah) mendjadilah ia Moeslim. Dengan giat dan radjinnja ia mempeladjari ‘ilmoe Islam, sehingga achirnja ia mendjadi salah satoe sahabat jang penting dan mendjadi pemberi fatwa (adviseur) dan penasihat jang amat bergoena, di dalam kalangan Oemmat Islam. Lebih djaoeh diberitakan di dalam riwajat Islam, bahwa ia adalah seorang ahli memboeat perkoeatan bala-tentara dan benteng (vesting bouwer) dan seorang insinjoer (ingenieur) jang pertama-tama dalam kalangan Oemmat Islam. Dengan tjontoh ini tjoekoeplah kiranja oentoek menoendjoekkan satoe tanda, bahwa Agama Isalm soenggoeh-soenggoeh Agama jang meninggikan harkat-deradjat Oemmat, Agama jang membawa manoesia dan bangsa ke arah kemadjoean, kemoeliaan, dan kesempoernaan. Dengan karena Islam, maka satoe bangsa jang serendah-rendahnja mendjadilah satoe bangsa jang amat tinggi dan sempoerna di dalam tiap-tiap tingkat hidoep dan kehidoepannja! 56 Periksalah peta IV ! 57 Malah ada poela jang soedah lebih dari pada 6 tahoen, ja’ni: Moehadjirin dan Moehadjirat jang meninggalkan Mekkah lebih doeloe. Periksalah lebih djaoeh: Hidjrah Pertama dan Kedoea ke Habsji, dan Hidjrah ketiga (sebeloem Hidjrah Nabi Clm.) ke Madinah. 58 Periksalah peta II ! 59 ,,Sjadjarah” ertinja: ,,Pohon”. Sedang ,,ridhwan” terambil dari pada perkataan ,,ridho” jang mengandoeng ma’na: Soeka, senang, rela, dan dll.nja. Maksoed ,,ridho” ialah: ridho-Allah atas kaoem Moe’min, dan ridhonja kaoem Moe’minin terhadap Allah, dalam mendjalankan perintah-perintahNja, menoeroet tjontoh OetoesanNja. Periksalah lebih landjoet: Bagian Kedoea, Bab Pertama (Hidjrah) dan Bab Kedoea (Djihad)! 60 Periksalah peta II ! 61 Setengah orang menjangka –demikian djoega sangkaan sebagian dari pada sahabat-sahabat Nabi Clm. pada waktoe itoe– bahwa ,,Perdjandjian-Damai” itoe mengandoeng erti: ,,rendah, hina, kalah, ta’loek dan lain-lain sebagainja”. Padahal djika kita soeka memeriksainja soenggoeh-soenggoeh, maka tidak demikianlah doedoeknja perkara. 1. Perdjandjian Hoedaibiyah itoe terdjadi setelah Bai’at-oesj-Sjadjarah; 2. Sedang Bai’at-oesj-Sjadjarah ini adalah satoe kedjadian, dalam kalangan Moeslimin. Jang amat menimboelkan dahsjat dan ketakoetan dalam kalangan orang Qoeraisj. 3. Inilah sebabnja maka orang Qoeraisj –jang tadinja amat sombong, tjongkak dan besar kepala, ma-lahan seolah-olah ta’ maoe damai, alias ,,djoeal mahal”– laloe ganti haloean. Soeka damai dan mengirimkan oetoesan. 4. Adakah orang jang dahsjat, ketakoetan dan mentjari-tjari perdamaian itoe, boleh kita katakan me-nang! 5. Sebaliknja sikap Rasoeloellah Clm. tenang dan tenteram; tidak sedikit poen ada was-was dan tjoeriga. 6. Rasoeloellah tidak kalah, melainkan ,,mengalah”. Clm. memboeat Perdjandjian Damai itoe seakan-akan meroegikan kaoem Moeslimin, tetapi sesoenggoehnja Perdjandjian terseboet mengandoeng Kemenangan. Boekan Kemenangan di medan perang, tetapi Kemenangan Bathin, jang menoendjoekkan akan keloehoeran deradjat Rasoeloellah. Di dalam riwajat tidak dapat diketemoekan satoe tjontoh: si-koeat bersikap ,,mengalah” –sebab waktoe itoe keadaan kaoem Moeslimin soedah koeat, ternjata dari pada berbagai-bagai perang jang lebih doeloe terdjadi, istimewa sekali dalam perang-perang

Badar, Oehoed dan Ahzab, jang menoendjoekkan boekti, bahwa kaoem Moeslimin tidak kalah koeat dengan kaoem Kafirin dan Moesjrikin– terhadap kepada si lemah. Njata poela dari perdjandjian itoe, bahwa Rasoeloellah menghendaki damai dan sedjahtera lebih dari pada mendapat keroegian dlohir, jang beroepa hinaan, tjelaan atau jang lainnja dari pada manoesia. Sjahdan, maka sesoenggoehnja orang-orang jang mengatakan, bahwa Perdjandjian Hoedaibiyah itoe satoe,, boekti kalah”, ,,boekti ta’loek” dlls.nja, mereka ini menolak kenjataan dalam riwajat Islam! Lebih djaoeh, hendaklah periksa beberapa ajat-ajat Al-Qoer’an dari pada Soerah Al-Fath (48), jang ditoeroenkan dalam perdjalanan Rasoeloellah Clm, poelang dari Hoedaibiyah ke Madinah. 62 Periksalah peta II ! 63 Periksalah Bab Kelima, fasal V (4)! 64 Bandinglah dengan riwajat Perang Oehoed (3 H.), seperti jang kita gambarkan dalam Bab Kelima, Fasal 2 (5) ! 65 Periksalah dan bandinglah dengan Bab Ketiga, Fasal VII !

DAFTAR OESAHA HIDJRAH
KALAM PENGANTAR DARI PENERBIT Alhamdoe lillah wasjoekroe lillah, maka dengan tolong dan koernia Ilahy dan berkat ichtijar bersama dari pada saudarasaudara kita, dapatlah kita menerbitkan soeatoe kitab ketjil yang bernama Daftar Oesaha Hidjrah P.S.I.I ini, karangan sdr. S. M. Kartosoewirjo, jang waktoe itoe mendjabat Vice-President Dewan Party S.I. Indonesia dan ketoea dari pada Komisi Daftar Oesaha Hidjrah P.S.I.I., dibangoenkan dan dibentoek pada M.T. ke 23 di Bandoeng, tahoen 1937. Moedah-moedahan dengan djalan tersiarnja kitab jang ketjil ini toemboehlah natidjah jang manfa’at dan maslahat bagi segenap Oemmat Islam Indonesia oemoem-nja, dan bagi kaoem Party Sjarikat Islam choesoesnja. Insja Allah. Begitoelah harapan dari pada: Penerbit: POESTAKA DAR-OEL-ISLAM Malangbong (SS W/L) Java Malangbong. Maart 1940 KATA PENDAHOELOEAN DARI PENGARANG Sjahdan, maka dalam pertengahan tahoen 1938 soedahlah dilangsoengkan di Soerabaja: Madjilis Tahkim Party Sjarikat Islam Indonesia ke-24. Salah satoe kepoe-toesannja jang penting, setelah diperbintjangkan masak-masak dan diroendingkan dengan matang-matang dengan berakibat beberapa peroebahan dalam redaksi (rangkaian kata-kata), ialah: .Daftar Oesaha Hijrah P.S.I.I. Bahagian Moeqaddimah Kewadjiban jang seberat itoe moela-pertama diletakkan atas poendak kami pada waktoe Madjilis Tahkim Party di Bandoeng, th 1937, di mana diri kami diangkat mendjadi Ketoea dari pada Komisi Daftar Oesaha Hijdrah, oleh M T. tsb, djoega. Adapoen sebabnja, maka Daftar Oesaha Hijrah Bahagian Moeqaddimah ini diboeat sematjam ,,Stellingen” (pokok-pokok) ialah: oleh karena niat jang pertama M. T. Party ke-24 jang moelia itoe, terlebih doeloe akan dimasoekkan dalam Kongres Nummer” dari pada Soeara P.S.I.I”. Tapi hal ini—sajanglah tidak terdjadi! Selain dari pada jang tsb diatas, menoeroet kepoetoesan M.T. ke 24 di Soerabaja itoe djoega, akan diboeat soeatoe ,”TAFSIR”, jang akan memberi pendjelasan dan pentegasan lebih djaoeh dan lebih loeas atas segala sesoeatoe jang

termaktoeb dalam, ,, Moeqaddimah” ini. Insja Allah, dalam sedikit waktoe lagi ”Tafsir” ini akan dapat diterbitkan. Dengan kesadaran dan keinsjafan jang sepenoeh-penoehnja, bahwa tiap-tiap manoesia terhinggapi oleh salah dan keliroe koerang dan tjela, maka kami mengharapkan kepada sekalian pembatja jang 'arif-boediman. Djika tampak ada kekeliroean atau kesalah-an di dalamnja, soedi kiranja dengan sigera “lillah” soeka menjampaikannja kepada Pengarang kitab ini, dengan menjampaikannja kepada Pengarang kitab ini, dengan kete-rangan dan penerangan jang tjoekoep, koeat dan sah. Sebaliknja, djika terdapat kebenaran dan kenjataan di dalamnja, hendaklah “Lillahi Ta’ala” poela soedi menjampaikan kepada handai-taulan, kawan dan djiran, agar soepaja lebih moedah dan lebih tjepat mendjalarnja Agama Allah dalam toeboeh Oemmat Islam Indonesia, adanja. Achiroel—kalam, harap dan doe’a dari pada Pengarang, moedah-moedahan tanda-bakti Pengarang kepada Azza wa Djalla” jang beroepa karangan kitab seketjil ini, dapatlah mendjadi bantoean tambahannja ‘Ilmoe rasih dan ‘amal salih jang sempoerna. Amien. Wassalam, S.M. Kartosoewirjo Malangbong, Maar 1940 BEBERAPA POKOK DAFTAR OESAHA HIDJRAH

POKOK PERTAMA Pembagian Masjarakat Lebih doeloe kita haroes mengetahoei dan insaf, bahwa dalam pergaoelan hidoep bersama di Toempah Darah kita ini adalah Tiga matjam Masjarakat, jang beda hoekoem dan haloeannja, beda soesoenan dan atoerannja, beda sikap dan pendiriannja, hampir beda dalam segala-galanja, tetapi masih terjampoer satoe dengan jang lainnja, karena ketiga-tiganja itoe doedoek dalam satoe negeri bersama-sama, ialah Negeri Toempah Darah kita. 1. Masjarakat Hindia—Belanda. 2. Masjarakat Kebangsaan Indonesia; dan 3. Masjarakat Islam atau Dar-oel-Islam. Keterangan Adapoen jang diseboet ,,Masjarakat Hindia Belanda” ialah Masjarakat kedja-djahanan (koloniale maatschappij), jang menoemboehkan adanja golongan pertoeanan (heerschende groep), golongan perhambaan (overheerschte groep) golongan jang memerintah dan golongan jang diperintah. Inilah Masjarakat jang terbesar sekali pengaroehnja, karena kekoeasaan dan kekoeatan jang ada pada dirinya. Ada hoekoem dan hakimnja, ada perintah dan pemerintahannja, ada tanda dan boektinja. Bagoes dan permai tampaknja Masjrakat Hindia Belanda itoe, tjemerlang dan ber-kilau-kilauan disaksikan oleh matakepala tiap-tiap manoesia. Jang dinamakan “Masjarakat Indonesia” atau tegasnja. “Masjarakat Kebangsaan Indonesia”. Ialah: Masjarakat dari pada bangsa kita sendiri. Beloem mempoenjai hoekoem jang tentoe, beloem poela berpemerintahan, pendeknya miskin dalam segala-galanya. Dan jang dikatakan “Masjarakat Islam” atau “Dar-oel-Islam itoepoen tam-paknja tidak seberapa bedanja dengan Masjarakat Kebangsaan Indonesia. Ketiga tiga Masjarakat itoe, jang tiap-tiap hari dapat kita ketemoekan dalam tiap2 tempat di Negeri Toempah Darah kita, bedalah dasar dan haloeannja, beda poela maksoed dan toedjoennja. Kalau Masjarakat Hindia Belanda bermaksoed hendak mempertahankan, memper-tegoehkan dan menjentausakan kekoeasaan Belanda di Negeri Toempah Darah kita ini (ter bestendiging en handhaving van Nederlandsche Gezag in Indie), maka Masjarakat Kebangsaan Indonesia mengarahkan langkah dan sepak terdjangnja ke djoeroesan Indonesia Raja, agar soepaja dapat berbakti kepada Negeri Toempah Darahnja, berbakti kepada Iboe Indonesia.

Sebaliknja dari pada itoe, maka kaoem Moeslimin jang hidoep dalam Masjarakat Islam (Dar-oel-Islam) tidaklah mereka ingin berbakti kepada Iboe-Indonesia atau kepa-da siapa poen djoega, melainkan mereka hanya ingin berbakti kepada Allah Jang Esa belaka. Maksoed toedjoeannja poen boekan Indonesia-Raja, melainkan Dar-oel-Islam jang sesempoerna-sempoernanja di mana tiap2 Moeslim dan Moeslimah dapat melakoe-kan hoekoem2 Agama Allah (Islam), dengan seloeas-loeasnja, baik jang berhoeboengan dengan sjahsijah maoepoen idjtima’ijah. POKOK KEDOEA Sebab-sebab Naik-toeroennja Deradjat Oemmat Sepandjang adjaran Agama Islam, maka naiknja deradjat seseorang Indonesia, baik dalam pandangan Allah maoepoen dalam pandangan manoesia, dan sesoeatoe Oemmat atau Bangsa, hanjalah disebabkan karena: “Soeka melakoekan hoekoem2 Islam menoeroet perintah Allah dan Soennatirasoel, dalam erti kata jang sesempoerna-sempoernanja”. Sebaliknja dari pada itoe, maka toeroennja harkat deradjat manoesia atau bangsa, dalam pandangan Allah dan pandangan manoesia, tjoema lantaran: Membelakangkan dan membohongkan Agama Allah, yang ditoeroenkan kepada Nabi-Nja Penoetoep, Moehammad Clm.” Keterangan Kalau kita soeka menjelidiki Riwajat Rosoeloellah (oetoesan2 Allah) dan tarich Anbija (Nabi2) Allah, teroetama sekali perdjalanan djoendjoengan kita Nabi Moehammad Clm., maka njatalah soedah, bahwa tiadalah sesoeatoe bangsa atau Oemmat jang tinggi dan moelia harkat deradjatnja, melainkan karena soeka mendjalankan Agama Allah, dengan toetoenan Rasoel-Nja.— Boekan hanja moelia menoeroet oekoeran manoesia (‘indan-nas) sadja, melainkan djoega moelia dalam pandangan Allah (‘indallah). Djadi, moelianja ialah: moelia dlohir dan moelia bathin, moelia djasmany dan roehany, moelia doenia dan acherat, moelia bagi tiap2 manoesia dan bagi segenap perikatan Oemmat dan Bangsa. Sebaliknja dari pada itoe, djika orang tidak beriman (koefoer) kepada Allah, dan tidak itba’ (inkar) kepada perintah Nabi-Nja, nistjajalah akan djatoeh dalam lembah kesengsaraan dan keroesakan, doenia dan achiratnja. Adapoen Iman dan Koefoer serta Islam itoe pada asasnja terbagi atas tiga bagian: Iman : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Koefoer : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Islam : 1. bagian lisan, 2. bagian I’tiqad, 3. bagian ‘amal perboeatan. Begitoelah seteroesnja. Oleh sebab itoe, djika kita menghendaki kemoeliaan dan ketinggian harkat deradjat kita, baik sebagai manoesia maoepoen sebagai Oemmat, hendaklah kita soeka soenggoeh-soenggoeh mendjalankan perintah2 Allah, dengan sesempoerna sempoernanja dan Soennatirrosoel dalam segala hal ichwalnya, dengan tidak tawaran atau segan karena apapoen djoega. POKOK KETIGA Dasar dan Toedjoean Agama Adapoen dasar Agama (ad-dien) ialah: kepertjajaan atas Iman kepada Allah, jang achirnja meroepakan soeatoe Tauhid jang koeat dan tegoeh, serta sentausa. Dengan kepertjajaan yang seroepa itoe, toemboehlah kejakinan, bahwa semoea apa poen, jang hidoep atau jang mati, jang ada atau tiada, jang toemboeh atau binasa, dalam bagian ‘alam Moemkin, semoeanja itoe terdjadi atau tidak terdjadi dari karena kehendak dan kekoeasaan Allah semata-mata, (min-Allah). Sedang toedjoeannja Agama Islam ialah: hendak berbakti kepada Allah Jang Maha Esa. Tiada lain dari pada itoe. Keterangan Djika nanti orang ketemoekan sesoeatoe “agama”, jang dipertoendjoekkan bagi keperloean “doenia” keperloean harta dan pangkat, keperloean segala sesoeatoe jang keloear dari pada bakti kepada Jang Maha Esa biar berangkat dengan Al-Qoer'an

dan Hadist sekalipoen boekanlah ia agama. Sebab Agama itoe soetjilah dari pada tiap2 hawa nafsoe manoesia, lepas dari pada kehendak ghodzob dan sjahwat manoesia. POKOK KEEMPAT Sebab2 Hoekoem Islam tidak Berdjalan dengan Sempoernanja Adapoen sebab-sebabnja, maka hoekoem Islam tidak berjalan dengan sempoerna-nja, alias tinggal hoeroef dan angka, tinggal kertas dan tinta, karena manoesia koerang sempoerna dalam memfahamkan Agama Islam, teroetama sekali memfahamkan Kalamoellah, jang termaktoeb dalam Al-Qoer'an-oel-Karim. Padahal Al-Qoer'an itoe mendjadi pedoman kita dalam melakoekan atau meninggalkan sesoeatoe ‘amal oesaha. Sjahdan, maka tjara memfaham Al-Qoer'an, jang boleh mendjadi sebab toem-boehnja kejakinan jang sempoerna, dan Iman jang tegoeh serta ‘amal salih jang njata, ialah: 1. Tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet soesoenan biasa, sebagaimana jang ditoe-roenkan oleh Allah kepada Nabi-Nja dihimpoenkan dan pada zamannja Chalifah Aboe Bakar, chalifah ‘Oemar dan chalifah Oetsman. Soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe memoedahkan orang memberi dan mendapatkan peladjaran dalam Islam (Islam onderwijs), jang seloeas loeasnja. Gampang dihafadl, sehingga soekarlah akan hilang dari pada peringatan orang. Maka tjara memfaham Al-Qoer'an dengan soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe, bolehlah kita namakan: “Faham Loeghawy dari pada Al-Qoer'an.” 2. Tjara memfaham Al-Qoer -an menoeroet soesoenan, jang dihimpoenkan oleh chali-fah Ali bin Abi Thalib, menoeroet waktoe dan keadaan ditoeroenkannja ajat ajat itoe, tegasnja menoeroet “asbab-oen-noezoel” (sebab2 toeroennja ajat2 AlQoer'an). Maka soesoenan dan rangkaian jang seroepa itoe lebih oetama dipergoenakan oentoek pendidikan ‘amal (praktische opvoeding). Sebab dengan pengetahoean dan pengertian akan sebab-sebab toeroennja ajat-ajat Al-Qoer -an pada zaman dan menoeroet keadaannja, maka lebih moedahlah bagi tiap-tiap Moeslim dan Moeslimah oentoek menoeroetkan djedjaklangkah Rasoeloellah Clm., dari seta-pak ke setapak, mengingat dan menoeroet, waktoe dan tempat, jang didoedoeki oleh si ‘amil itoe. Karena sifat dan soesoenan serta rangkaiannja, bolehlah tjara memfaham Al Qoer'an jang seroepa itoe dinamakan: “Faham Madjazy dari pada Al-Qoer'an”. Maka jang diseboetkan “Faham Lafdli dari pada Al-Qoer'an” jalan faham Loegha-wy dan faham Madjazy dari pada Al-Qoer'an, kedoea doeanja. 3. Tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet faham Rasoeloellah Clm, pada zamannja. Tjara memfaham jang ketiga ini, soenggoehpoen pada hakikatnja sama dengan tjara jang pertama dan tjara jang kedoea, tetapi adalah lebih mendalam. Kita katakan sama, oleh karena Al-Qoer'an jang difaham itoe ialah Al-Qoer'an itoe-itoe djoega. Tegasnja: ialah Al-Qoer'an, jang ditoeroenkan dengan Wahjoe Illahy kepada Rasoeloellah Clm., tetapi tidak dihimpoenkan oleh seseorang sahabat, atau ditoeliskan oleh siapa poen djoega. Andai kata Rasoeloellah Clm., ditakdirkan Allah pandai membatja dan menoelis, poen hakikatnja Wahjoe (het Wezen van de Openbaring) jang seroepa itoe tidak dapat dibatja atau ditoeliskan, sebab memang boekan bangsa sesoeatoe jang dapat ditoelis atau didlohirkan oleh pantjaindrinja jang mana poen djoega. Melainkan wahjoe Illahy jang ditoeroenkan oleh Allah kepada Rasoeloellah sebagai Hidajat itoe mendjadilah: Kenjataan Roeh Pemboeka Hati dan Pensoetjikan Rasa. Mengingati tjara memfaham Al-Qoer'an jang ketiga ini, jika Al-Qoer'an itoe (haki-katnja Wahjoe = substantieve Openbaring) boleh kita tamsilkan sebagai soetoe “kitab” atau “boekoe”, dengan hoeroef dan angka, dengan kertas dan tinta, maka jang mendjadi toelisannja ialah Kalamoellah, jang mendjadi tintanja ialah Wahjoe Ilahy, dan jang mendjadi kitabnja ialah ‘Ilmoe Allah. Mengingat sifat dan woejoed dari pada wahjoe Illahy itoe, maka tjara memfaham Al-Qoer'an menoeroet faham Rasoeloellah Clm., pada zamannja itoe, boleh dinamakan: Tjara memfaham Haqiqy dari pada Al-Qoer'an. Ialah tjara-tjara sebaliknya dari pada, “tjara memfaham Lafdli” (atau, tjara memfaham Loeghawy dan tjara memfaham Madjazy).

Lebih landjoet bolehlah diterangkan di sini, bahwa Al-Qoer'an di dalam ma’na Haqiqatoel Wahjoe itoe bolehlah dianggap sebagai atsar dari pada Kalamoellah jang Qadim. Djadi, teranglah soedah, bahwa jang beda itoe hanjalah di dalam tjara memfaham-nja, sedang isi, maksoed dan toedjoean jang difahamnja itoe, sama dan tidak berbeda sedikit poen djoega. Sebab Kalamoellah tetap satoe, demikian poela AlQoer'an. Tidak lebih dan tidak koerang. Keterangan Dengan seboetan tiga matjam tjara memfaham Al-Qoer'an itoe, seperti jang kita toeliskan diatas, boekanlah sekali-kali maksoed kita oentoek mengatakan, bahwa Al-Qoer'an itoe ada 3 roepa atau 3 matjam, melainkan: Al-Qoer'an hanjalah satoe, tidak lebih dan tidak koerang. Tidak poela maksoed kita oentoek mengoerangkan atau melebihkan harga, tjara memfaham jang satoe dengan jang lainnja, atau harga jang difahamnja, karena ketiga tiganja memfaham dan jang difahamnja itoe, ada hakikatnja hanja satoe. Oleh sebab jang sedemikian itoe, maka ketiga-tiga jang difahamnja itoe (Al-Qoer'an) nistja-jalah sama dalam maksoed, isi dan toedjoeannja. Djadi dengan menoendjoekkan akan tiga tjara memfaham Al-Qoer'an tsb, maka maksoed kita hanjalah oentoek: a. Memoedahkan mempeladjari, memfaham, mengertikan dan mengetahoei dengan soenggoeh-soenggoeh akan maksoed Al-Qoer'an dan Agama Allah jang sesoeng-goehnja, sehingga achirnja dapat melakoekan ‘amal sahih jang sebanjakbanjaknja dan sesempoerna-sempoernanja; dan b. Mentjegah, djangan sampai Al-Qoer'an hanjalah tinggal di bibir belaka, ataupoen hanja di amalkan sekehendak manoesia, melainkan hendaknja meroepakan soea-toe ‘amal salih, sebanjak toentoenan Allah dan adjaran dari dan dalam Kitaboellah serta Soennatirrasoel. Djadi, kalau kita hendak mentjari dan mendapat faham, pengetahoean dan penger-tian, serta kejakinan dan kepertjajaan, jang penoeh-penoeh dalam hal Islam dan ke-Islaman, maka seharoesnjalah kita beladjar memfaham Al-Qoer'an dari ketiga djoe-roesan itoe. Tertinggal dalam salah satoe djoeroesan, tertinggal poela ‘amal ‘ibadah kita. Djadi: sepatoetnja ketiga tiga djalan dan djoeroesan faham itoe haroes ada pada kita bersama-sama. Tjara memfaham Loeghawy dari pada Al-Qoer'an moedah djalannja. Karena jang hendak difahamnja, ja’ni Al-Qoer'an boleh didapat pada tiap2 toko kitab. Adapoen tjara memfaham Madjazy dari pada Al-Qoer'an agak soekar. Karena jang hendak difahamnja, ja’ni Al-Qoer'an, menoeroet soesoenan dan rangkaian sebagaimana jang dihimpoenkan oleh chalifah ‘Ali bin Abi Thalib tegasnja: sepandjang ‘ilmoe asbab-oen-noezoel soenggoehpoen boekan barang ghaib, tapi soesah didapatkannja. Sepandjang berita riwajat, maka Al-Qoer'an jang dikoempoelkan oleh chalifah ‘Ali bin Abi Thalib tsb. Konon chabarnja masih tersimpan di dalam salah satoe Museum (tempat barang2 koeno), entah di negeri2 Timoer (Mesir, Toerki. Dll nja), entah di negeri2 Barat ( London, Paris dll nja). Boleh djadi pada waktoe kaoem Moeslimin moelai tertidoer dengan njenjaknja, dan bangsa Barat moelai bangoen dan berbangkit karena orang tahoe dan jakin, akan toemboehnja kekoeatan jang maha hebatnja dalam kalangan kaoem Moeslimin dari pada sesoeatoe tjara peladjaran dan pendidikan (onderwijs en opvoe-dingsijsteem) sematjam toentoenan chalifah ’Ali bin Abi Thalib, maka kaoem pembentji dan pemoesoeh Islam laloe mengambilnja, dan kemoedian membakar dan membinasakannja, atau menjimpan di sesoeatoe tempat, jang kaoem Moeslimin ta’ tahoe lagi letaknja. Dengan tiadanja Al-Qoer'an dalam erti kata Penoentoen ‘Amal, maka kaoem Moes-limin kehilangan Imamnja. Imam dlohir dan Imam bathin, Imam djasmany dan Imam Roehany (dalam kejakinan dan kepertjajaan), sehingga lambat laoen dan dengan perla-han-lahan kaoem Moeslimin ta’ sadar lagi akan hidoepnja. Lebih soekar lagi, kalau kita hendak mentjari dan memperoleh tjara memfaham Ma’any dari pada Al-Qoer'an, karena AlQoer'an dalam ma’na atsar dari pada Kalamoellah jang Qadim itoe tjoema njata bagi orang-orang jang mendapat Hidajat dan Foetoeh dari pada ‘Azza wa Djalla. Djadi, bagi orang jang boeta-mata-roehnja dan tertoetoep mata-hatinja tiadalah djalan bagi dia, oentoek mengetahoei dan

menjatakannja. Karena Rasoeloellah Clm, seorang Nabi-Allah jang oemmy (tidak pandai membatja dan menoelis), bolehlah kita mengirangira, bahwa faham Rasoeloellah Clm. Tentang Al-Qoer'an tidak-boleh-djadilah kepada sesoeatoe barang jang beroepa “kitab” atau “boekoe” jang tampak hoeroef dan angkanja, kertas dan tintanja itoe. Lebih-lebih lagi, karena pada zaman Rasoeloellah Clm. Beloemlah dihimpoenkan Al-Qoer'an jang meroepakan soeatoe “boekoe” ataoe “kitab” itoe, Melainkan kenjataan Roehany jang dianoegerahkan oleh Allah pada Nabi-Nja Penoetoep itoe. Soenggoehpoen setelah zaman Nabi hingga achiroez-zaman -djadi djoega pada zaman kita sekarang ini- tertoetoep djalan toeroennja Wahjoe Ilahy, karena tiada Nabi lagi, kemoedian dari pada Rasoeloellah Clm. Maka tidaklah bagi Allah koerang djalan oentoek memberi Hidajat (Petoendjoek, Kenjataan) jang seroepa itoe (kenjataan roehany) mitsalnja: dengan djalan memberi “ilham” kepada tiap2 Oemmat dan Hamba-Nja, jang soenggoeh-soenggoeh hendak mendjalankan perintah2 Allah, pada djalan-Nja dan karena-Nja semata-mata, dengan tjontoh dan tauladan dari pada Nabi Moehammad Clm. Insja Allah. Inilah sebab-sebabnja jang teristimewa, maka hoekoem2 Agama Islam tidak dapat berdjalan dengan sempoernanja. Malahan hampir2 boleh dikatakan “mati”. Boekan “mati” jang sesoenggoehnja, boekan “mati karena tidak hidoep”, tetapi mati dalam erti istilah (figuurlijk). Tegasnja “mati” karena hoekoem Islam (hoekoem Allah) tidak berlakoe, tidak berdjalan dengan sempoernanja, sebagaimana haroes dan mestinja. Padahal biar poen apa dan betapa poela Al-Qoer'an itoe dinamakan dan diseboet-seboet, mitsalnja: Asj-Sjifa, Al-Bajan, AlFoerqan, An-Ni’mat, Al-Hoeda, Ar-Rahmat dlls., jang mendjadi Penoendjoek Djalan bagi kita dalam tiap-tiap waktoe dan di mana- mana tempat, menoeroet djalan dan lakoe, jang diridloi oleh Jang Maha Esa, sedjak moelai dilahirkan di atas doenia ini hingga pindah ke ‘alam Achirat. Djadi, kalau dia soenggoeh2 mendjadi Imam kita dan kita mendjadi ma’moemnja, maka segala lakoe dan ‘amal-perboeatan kita seharoesnja dan sewadjibnjalah tjotjok dan sesoeai dengan Imam kita (Al-Qoer'an) itoe. Oleh sebab itoe, djanganlah hendak-nja kita tidak mensesoeaikan faham dan ‘amal perboeatan kita dengan Imam kita itoe! Adapoen tentang Asbab-oen-noezoel, sepandjang adjaran dan keterangan dari pada berbagai-bagai Moefassirin, dan sebagian dari pada mereka itoe berpendapat, sebagai jang berikoet: Moechtasar Asbab-oen-noezoel

Demikianlah gambaran pada garis besarnja soesoenan soerat2 dari pada Al-Qoer'an-Karim, boekan dan beloem ajatajatnja, sepandjang peladjaran dari pada ‘Ilmoe Asbaboen-noezoel. POKOK KELIMA Tjara dan lakoe ber’amal Adapoen djalan jang sesempoerna-sempoernanja dalam melakoekan ‘amal setjara Islam, adalah 2 bagai: 1. ‘Amal Al-Hadits ‘alal-Hadits, ja’ni ‘amal manoesia dalam badan djasmanynja ke-pada ‘alam atau keadaan jang dihadapinja. 2. ‘Amal Al-Hadits ‘alal-Qadim, jaitoe ‘amal manoesia dalam badan roehanynja ter-hadap kepada Allah S. W. T. Kedoea djalan 'amal itoe berbeda, tapi tidak terpisah. Satoe sama lain boetoeh-memboetoehi, sehingga tidak dapat didjalankan satoe persatoe, djika kita menghendaki akan ‘amal jang sempoerna, melainkan sewadjibnjalah kedoea-doea itoe berlakoe ber-sama-sama. Keterangan Oentoek mengetahoei ‘amal Al-Hadits ‘alal-Hadits haroeslah kita mengetahoei 3 perkara: a. Orang jang mendjalankan (manoesia), istimewa dalam bagian djasmany, atau “Fail” atau “Subject.” b. Barang sesoeatoe jang didjalankan, jang dilihat, dimakan, diminoem, dikerdja-kan dan lain2 sbg.nja dinamakan “Maf’oel” atau “Object.” c. Perboeatan jang dilakoekan, jaitoe “Fi’il “ atau “Predicaat." Ketiga-tiga perkara itoe haroeslah berdiri atas hoekoem sjara jang njata (Wadjib, Soennat, Moebah, Makroeh, dan Haram). Sehingga sesoeatoe perboeatan mendjadi amal salih jang sempoerna, djika ketiga-tiga perkara itoe soedah tjoekoep koeat dan sah didjalankannja, sepandjang hoekoem-hoekoem sjara Agama Islam. Hoekoem Wadjib atas Fa’il dan Halal atas Maf’oel, mendjadi sebab akan wadjib mendjalankannja, Wadjib dan Fi’il. Kalaoe kita soedah mengetahoei djalan ber’amal Al-Qoer'an ‘alal-Hadits, perloelah kita mengetahoei dan mengerti akan djalan ber’amal, setjara Al-Hadits ‘alal-Qadim, jang djoega terbagi atas 3 bagian: 1. Manoesia jang mendjalankan atau jang memperboeat sesoeatoe, tegasnja: “Fa-’il” atau “Subject”. Tapi di sini boekanlah dalam bagian badan djasmany, melainkan badan roehanynja, badan jang bertanggoeng djawab atas tiap-tiap amal jang dilakoekan, atau jang ditinggalkan. Manoesia bagian roehany, jang berbakti kepada Allah itoe, dinamakan: 'Abid. 2. Dzat jang mendjadi maksoed dan toedjeoan ‘Abid itoe berbakti. Maka Dzat jang wadjib dibakti itoe dinamakan Ma’boed, jang disini maksoednja ialah: Allah S.W.T. 3. Karena perbaktian itoe dilakoekan oleh 'Abid kepada Ma’boednja, maka “Fi’il” atau “Predicaat” itoe di sini dinamakan: 'Ibadah atau Perbaktian. Di sini perloelah kita terangkan, bahwa soenggoehpoen pada dlohirnja jang tampak hanja Fail bagian djasmany, tetapi pada hakikatnja badan (djasad) manoesia itoe hanjalah satoe perkakas atau alat belaka. Sebab, diam atau geraknya Fail bagian djasmany itoe semata-mata tergantoeng kepada ‘Abid bagian roehany. Mitsalnja: “Seorang membatja Al-Qoer'an.” Tanja: “Siapa Fa’ilnja?” Djawabnja: “Fa’ilnja ialah moeloet.” Tanja: “Siapa atau apakah Maf’ulnja?” Djawabnja: “Maf’ulnja ialah Al-Qoer'an’. Tanja: “Apakakah Fi’ilnja, atau manakah perboeatan ‘oeboedijahnja?” Djawabnja: “Batjaan jang keloear dari moeloet itoe.” Tanja: “Siapakah ‘Abidnja?” Djawab: “Roeh manoesia.” Tanja: “Siapakah Ma’boednja?” Djawab: “Allah S.W.T.” Tanja: “Manakah ‘Ibadahnja?” Djawab: “Membatja Al-Qoer'an dengan lillahi Ta’ala.” Djadi, njatalah di sini, bahwa sesoeatoe perboeatan dapat dianggap ‘amal salih atau ‘amal bakti kepada Jang Maha Esa, djika tjoekoep sjarat dan roekoennja, seperti jang tsb, di atas. ‘Amal jang demikian itoelah, jang pada hoekoemnja wadjib dila-koekan.

Sekarang kita ambil satoe mitsal, yang lainnja: Soeatoe ‘amal baik (Fi’il), jang diperboeatnja baik djoega (Maf’oel) dan alat memperboeatnja poen baik djoega (Fa’il), seperti batjaan Al-Qoer'an jang tsb, di atas. Boekan hanja baik sadja, melainkan perboe-atan jang seroepa itoe adalah soeatoe perboeatan jang terpoedji dan amat dioetamakan. Tapi…….Karena 'Abid tidak tahoe akan Ma’boed jang sebenarnja, maka ‘amal jang dikirakan baik dan benar menoeroet hoekoem sjara’ itoe, bisa sesat dan keliroe atau salah. Hoekoemnja poen tidak lagi wadjib atau soennat, malahan kadang-kadang men-djadi Moebah, Makroeh dan Haram! Kalau kita membatja Al-Qoer'an oentoek menjembah Iblis, tentoelah tidak lagi wadjib hoekoemnja, walaupoen jang dibatjanja (Maf’oel) Al-Qoer'an jang soetji, dan batjaannja (Fi’il) mahir dan menoeroet aqidah jang bagoes, serta jang membatjanja (Fa’il) poen lebih doeloe mensoetjikan diri. Sebaliknja dari pada itoe, sesoeatoe ‘amal bagian ‘ibadah (Al-Hadits ‘alal-Qadim) tidak boleh melalaikan dengan meninggalkan ‘amal bagian ‘oeboedijah (Al-Hadits ‘alal-Hadits). Sebab, sesoeatoe amal ibadah tidak boleh dianggap sah djika tidak ada persaksiannja (Fa’il, Fi’il dan Maf’oel). Dengan djalan demikian, maka njatalah soedah, bahwa di dalam melakoekan sesoeatoe amal ibadah, kita tidak boleh meninggalkan salah satoenja, baik bagian djasmanyah maoepoen bagian roehanyahnja, dlohir maoepoen bathinnja, Begitoelah adjaran Islam, djika kita ingin memperboeat sesoeatoe amal perboeatan, jang sesoeai dengan perintah Allah dan Soennah Rasoeloellah Clm. Dengan pengetahoean akan tjara dan lakoe ber’amal jang seroepa itoe, maka sete-ngah ‘Oelama membagi manoesia mendjadi tiga golongan: 1. Golongan Moeta-awilah, jaitoe golongan orang jang tjakap dan tjoekoep oentoek mendjalankan amal 'oeboedijah antara Hadits dan Hadits (Fail, Fiil dan Mafoelnja), tetapi boetalah ia dalam bagian ibadah Hadits’alal-Qadim ('Abid, 'Ibadah dan Ma’boednja). Djadi dengan singkat: jang dikatakan “Golongan Moeta-awilah” ialah orang2 orang jang mendjalankan perintah2 Islam. Tetapi tidak mempoenjai Iman jang penoeh2 terhadap kepada Allah S.W.T. 2. Golongan Moeta-achirah, (kebalikan dari Moeta-awilah), ja’ni: orang-orang jang penoeh kepertjajaannya kepada Allah S.W.T. (‘Abid, ‘Ibadah dan Ma’boednja), tetapi tidak soeka atau segan mendjalankan sjari’at Nabi. Djadi ringkasnja ialah: orang2 jang iman penoeh2 kepada Allah, tetapi tidak mendjalankan sjari’at Nabi Moehammad Clm. (hoekoem2 Islam) dengan sempoernanja. 3. Golongan Moetawasithah, ja’ni: golongan orang2 jang iman dengan penoeh2 kepada Allah S.W.T. dengan tegoeh dan koeatnja, serta menoeroeti djedjak Rasoel-oellah Clm. Jang sesemperna-sempoernanja. Imannja kepada Allah S.W.T. meresap dan masoek melipoeti roeh, hati (qalboe) dan rasanja, sedang Islamnja mendjalar dalam seloeroeh badan dan djasmanynja, baik jang beroepa pantja-indrinja maoepoen jang lainnja. Sehingga kepertjajaan (Iman) jang tegoeh, koeat dan sentausa itoe mendjadi pendorong dan pengemoedi amal salih jang sebanjak-banjaknja. Golongan ketiga inilah, jang senantiasa mendjadi tjita-tjita kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, ialah: Djalan Hadits ‘alal-Hadits, bersama-sama dengan djalan Hadits ‘alal-Qadim. Atau Persatoen antara Iman dan Islam. Dalam badan roehany dan badan djasmanynja, jang kedoa badan ini poen tidak dapat dipisahkan antar satoe dengan jang lainnja, semasa kita masih dihidoepkan Allah di alam doenia ini; atau lebih tegas lagi: Djalan Moetawasithah. Periksalah ringkas Gambar Amal di bawah ini Allah=Ma'boed=Object Ibadah=Predikat Roeh='Abid=Subject Djasad=Fa'il=Subject Fi'il=Predicaat Maf'oel=Object= Sekalian 'Alam Moemkin POKOK KE ENAM

Persatoean Manoesia dan ke-satoe-an Allah (Al-Ittihad-oel-Islam dan Wahdanijat Allah) Mengingat Pokok kelima jang tsb, diatas, maka Persatoean Doenia Islam (Daroel-Islam), jang diharap-harapkan dan ditjitatjitakan terdjadinja oleh Party S.I. Indonesia itoe, baik di Indonesia maoepoen di seloeroeh Doenia, Insja Allah, akan dapat berlakoe djika manoesia dan Masjarakat kita soedah sampai kepada tingkat “Hendak berbakti kepada Jang Maha Esa, Satoe2nya Zat Wadjib-oel-Woedjoed. Jang Pandai Menje-lamatkan kita dan Masjarakat kita, doenia dan achiratnya.” Dengan asas Bakti kepada Allah, dengan beralaskan dan bersandarkan kepada Iman jang tegoeh dan Tauhid jang sentausa, maka moedahlah akan toemboeh: a. Persatoean Doenia Islam dengan sempoernanja, baik dlohir maoepoen ba-thinnja. b. Persatoean antara Moeslim dengan Moeslim, dengan koeat dan tegoeh. c. Persamaan dalam harkat-deradjat manoesia dan kedoedoekannja dalam Masjarakat, di dalam maoepoen di loear hoekoem, dan perikatan antara bangsa dengan bangsa, antara Oemmat dengan Oemmat jang lainnja. d. Dan lain-lain sbg-nja, menoeroet perintah Allah dan Soennah Rasoel, dan de-ngan djalan jang sedemikian itoe, Insja Allah kita mendapat Doenia Baroe, Doenia Islam, Dar-oel-Islam,Dar-oel-Falah, atau Dar-oel-Fatah. Dan djika kita telah sampai kepada tingkat jang sedemikian itoe, maka tiap-tiap manoesia jang ber-Toehankan kepada Allah S.W.T. dan ber-Nabikan kepada Rasoeloellah Clm., nistjajalah dengan izin Allah akan dapat mendjalankan segenap hoekoem-hoekoem Allah, dengan sesempoerna-sempoernanja, menoeroet tjontoh dan tauladan dari Rasoeloellah Clm., satoe-satoenja tjontoh jang dapat membawa kita membawa ke arah Falah dan Fatah itoe. Keterangan Roepanja dalam bagian ini tidak perloe kita perpandjangkan keterangannja. Hanjalah rasanja ada goenanja, djika kita koetipkan beberapa kalimat, jang termaktoeb dalam Tafsir Asas PSII: .Bagi kita, kaoem PSII, jang… telah melakoekan Bai’at kita, poen kita ta’ oesah was-was di dalam hati kita akan tertjapainja maksoed kita, kalau kita soenggoeh-soenggoeh melakoekan perintah-perintah Allah dan mendjaoehi larangannja. (Tafsir asas P.S.I.I. Katja 20) ..hendak mendjalankan Islam dengan seloeas-loeasnja dan sepenoeh-penoehnja.… (Tafsir asas P.S.I.I., Katja 5) ..tjoekoeplah… Al-Qoer'an dan hadits akan dipergoenakan oentoek dasar atau pedoman segala wet jang perloe kita bikin, sehingga keradjaan (staat) itoe boleh kita pimpin menoedjoe maksoed. Sebahagia-bahagianja tiap-tiap manoesia oentoek dirinja sendiri, dan membikin manoesia dengan sebisa-bisanja masing-masing mendjadi goena oentoek pergaoelan hidoep bersama dan oentoek peri kemanoesiaan seloeroehnja, dengan lantaran mentjerdaskan kepandaian djasmaniyah dan kebadjikan roehaniyah. (Tafsir Asas P.S.I.I., katja 36 dan 37) Dengan koetipan-koetipan itoe, teranglah soedah bahwa jang kita maksoedkan dengan peroebahan Masjarakat, hingga sampai kepada ‘Alam doenia Baroe itoe berlakoe dalam tiap-tiap lapisan dan golongan serta tingkatannja, baik jang mengenai keperloean diri maoepoen jang mengenai keperloean ‘oemoem, kepentingan pendoedoek (burger), hingga keperloean keradjaan (staat), keperloean jang seketjil-ketjilnja hingga jang sebesar-besarnja. Periksalah ma’na dan maksoed ‘Ibadah, dalam Brosoer Hidjrah bagian pertama! POKOK KETOEDJOEH Pembagian daftar oesaha Hijrah Oleh sebab itoe, maka pertama-tama sekali perloelah ada soeatoe Pendahoeloean Kata, jang bersifat Penoendjoek Djalan ataoe Koentji dalam memasoeki “Dar-oes-Salam” atau “Dar-oel-Islam”. Djika orang telah mengerti dan mengetahoei koentji itoe, dan pandai mempergoe-nakannja, Insja Allah ia akan dapat masoek dalam “Dar-oel-Islam” atau “Dar-oelIslam” itoe. Dan, jika orang ta’ tahoe dan ta’ mengerti tjara memboekakan pintoe jang menoedjoe ke “Dar-oes-Salam” atau

“Dar-oel-Islam” itoe, nistjajalah Doenia Baroe itoe selaloe akan tertoetoep Bagi dia. Maka penerbit dan toentoenan jang seroepa itoe haroeslah poela bertaoeroet-toeroet dan berangsoer-angsoer, menoeroet bagian dan fasalnja masing2, mitsalnja: Serie A Bagian Politik. 1. Politik Islam Nasional; 2. Politik Islam Internasional; 3. Politik Islam terhadap Doenia Loear; 4. Dan lain-lain sebagainja. Serie B Bagian Sosial. 1. Perhoeboengan antara diri manoesia, dengan manoesia jang lainnja; 2. Perhoeboengan antara manoesia dengan kampoengnja; 3. Perhoeboengan antara kampoeng dengan kampoeng; 4. Perhoeboengan antara negeri dengan negeri; 5. Dan lain-lain oesaha, jang semoeanja itoe berkenaan dengan kemaslahatan oemoem. Serie C Bagian Ekonomi. 1. Ekonomi, jang berkenaan dengan keperloean : a. Diri sendiri; b. Roemah-tangga; c. Kampoeng; d. Negeri; e. Dan lain2 jang bersangkoetan dengan ekonomi, tjara2 mengatoer dan membagi rizki. 2. Ekonomi dari golongan Islam terhadap kepada jang di loearnja. Serie D Bagian ‘Ibadah. 1. Tauhid; 2. Shalat; 3. Dlls, Serie E Bagian Tasawoef dan Filsafatoel—Adabijah. 1. Bagian Oemoem; 2. Bagian choesoes; 3. Dan lain2 sbg.—nja. Serie F Bagian adjaran Islam jang lainnja. 1. Riwajat Rasoeloellah Clm; 2. Riwajat Anbija—Allah; 3. Dan lain2 sebagainja. Keterangan Dengan rawaian di atas, perloelah ditjari dan didapatkan experten, ertinja: orang-orang jang ahli dalam sesoeatoe perkara, atau jang dianggap ahli dalam hal itoe, oentoek mengerdjakan satoe-satoenja bagian dari pada Daftar Oesaha Hidjar itoe. Maka dengan djalan ini, moedahlah diperdapat toentoenan jang lengkap dan sempoerna, dalam waktoe jang sesigerasigeranja. Poen tentang tjara-tjaranja memberi-kan toentoenan itoe haroes poela mendjadi perbintjangan dan kepoetoesan kita bersama. Sebab, pekerdjaan jang besar dan loeas, seperti jang kita seboetkan di atas, beloem poela dalam bagian jang berkenaan dengan Tafsir Al-Qoer'an. Terdjamah Hadits dlls, boekanlah soeatu kewadjiban, jang boleh ditanggoeng, oleh seorang atau doea orang manoesia sadja, melainkan haroes mendjadi tanggoengan tiap2 ahli dalam Agama Islam, baik dalam bagian mana poen djoega. Insja Allah, dengan djalan ini Party kita akan madjoe selangkah, menoedjoe ke “Dar-oes-Salam”, atau “Dar-oes-Islam”, tempat manoesia mendapat Rahmat dan Ridlo dari pada Allah jang sempoerna.

POKOK KEDELAPAN Tjara dan lakoe Hidjrah Oleh sebab itoe, maka tjara dan lakoe kita berhidjrah, mendjalankan amal-perboeatan Hidjrah, tegasnja: menoentoet berlakoenja sjari’at Agama Islam dengan berangsoer-angsoer dan bertoeroet-toeroet boekanlah “Hidjrah ril-makan”. Jang bererti “pindah dari satoe tempat ke tempat jang lainnja, atau beralih dari satoe negeri ke negeri jang lainnja”, melainkan hidjrah kita itoe ialah: 1. Hidjrah bagian I’tiqad, hingga sampat kepada Iman jang sebersih-bersihnja, 2. Hidjrah bagian ‘amal oesaha, perboeatan dan lakoe langkah manoesia, sehingga achirnja mendjadi boekti persaksian akan apa jang mendjadi I’tiqad dan oetjapan lisan kita. Tegasnja: menoentoet berlakoenja hoekoem2 Allah dan Soennatirrasoel, dalam erti kata jang sesempoerna-sempoernanja dan seloeas-loeasnja. Djadi erti hidjrah itoe ialah: Hidjrah dari “Mekkah-Indonesia” ke “Madinah-Indonesia”, atau dari “Mekkah-Indonesia”, ke “Habsji-Indonesia”, atau dari “Mekkah-Indonesia”, ke “Ief-Indonesia”, boekanlah sekali-kali kita haroes berpindah kampoeng dan negeri beralih daerah dan wilajah, melainkan hanjalah di dalam sifat, thabi’at, kelakoean, amal, itiqad dan lain-lain sbg.-nja. Dan djika kedjadian ada orang pindah tempat, maka tidaklah kepindahannja itoe memang bersifat Hidjrah, maka pindah jang demikian itoe mendjadi perboeatan jang oetama. Keterangan Sebagaimana telah kita toeliskan dalam Brosoer Hidjrah, maka maksoed kita melakoekan Hidjrah sebagai Oemmat ialah dalam erti kata isti’arah (figuurlijk), karena tiada moemkin Party kita mendjalankannja dalam erti kata “leterlijk”. Kata-kata “Mekkah-Indonesia”, “Madinah-Indonesia”, “Habsji-Indonesia”, Atau “Ief-Indonesia”, tidaklah menoendjoekkan kepada seseorang manoesia, atau segolongan orang, atau sesoeatoe tempat, tetapi semata-mata hanjalah menoendjoekkan kepada sifat dan woedjoed jang terkandoeng di dalamnja. Tegasnja: sifat “Ke Mekkah-an”, sifat “Ke Madinah-an”, sifat “Ke Ief-an” dan sifat “Ke Habsji-an.” Djadi, kalau kita haroes Hidjrah dari “Mekkah-Indonesia” berarti, bahwa kita haroes melepaskan sifat, thabi’at dan lakoe “Ke Mekkah-an” dan beralih menoedjoe kepada sifat, thabi’at dan lakoe “Ke Madinah-an.” Adapoen jang kita maksoedkan “Madinah-Indonesia” ialah: Masjarakat Madinah pada zaman Rasoeloellah Clm., teristimewa sekali pada zaman Madinah Awwal, atau lebih tegas lagi: “Dar-oel-Islam” jang sesempoerna-sempoernanja. Oleh sebab kita soedah berniat Hidjrah atau dalam perdjalanan Hidjrah, atau dalam keadaan Hidjrah, maka soedah sewadjiblah kita haroes ber’itiqad, berthabi’at dan ber’-amal-oesaha, menoeroet tjontoh dan tauladan dari pada Penghoeloe kita, Moehammad Clm. POKOK KE SEMBILAN Kehidoepan Islam Adapoen jang kita maksoedkan dengan “Kehidoepan Islam” ialah Kehidoepan dalam Masjarakat Madinah, atau Kehidoepan dalam Masjarakat “Madinah Indonesia” tegasnja Masjarakat Islam jang sempoerna. Sjahdan, maka pada masa zaman Madinah adalah terkenal 3 golongan kaoem Moeslimin: 1. Golongan Kaoem Moehadjirin, ja’ni: orang-orang jang berasal dari Mekkah dan kemoedian pindah ke Madinah, karena Agamanja, dan karena fitnah dalam Agamanja; 2. Golongan Kaoem Ançar, ja’ni: orang-orang Madinah asli, jang telah memeloek Agama Islam dan menerima kedatangan saudara-saudaranja dari Mekkah, tidak hanja sebagai “toean roemah”, tetapi sebagai saudara dalam perikatan Islam jang sedjati, sehingga mereka itoe mendjadi pelindoeng-pelindoeng atau “pembela-pembela” atas pendatang-pendatang baroe (kaoem Moehadjirin); dan 3. Golongan orang-orang beriman, jang ikoet djedjak Rasoeloellah Clm (walladzina amanoe ma’ahoe) atau terkenal djoega dengan nama golongan “Tabi’in”, jaitoe orang-orang jang itba’ kepada perdjalanan Rasoeloellah Clm. Orang-orang ini asalnja dari loer Mekkah dan dari loer Madinah, baik dari djaziratoel-Arab sendiri maoepoen dari tanah dan negeri jang lainnja. Sedang orang-orang jang mengikoeti kemoedian dan ini jang dinamakan “Tabi’at-tabi’in”.

Keterangan Oentoek melakoekan apa-apa jang telah dioetjapkan dalam Bai’at Aqaba jang kedoea: ..darahmoe ialah darahkoe, akoe adalah bagi kamoe, dan kamoe adalah… ”, antara Rasoeloellah Clm, dan sahabat2 Ançar, maka terdirilah….bagikoe Madinah satoe Persatoean Oemmat jang kokoh dan sentausa, persatoean manoesia, jang berdiri atas Wahdanijat Allah S.W.T. Pada waktoe itoe pekerdjaan jang moela pertama, didjalankan oleh Rasoeloellah Clm. Memboeat masdjid Madinah jang pertama, jang selainnja dipergoenakan oentoek keperloean sembahjang dan moe’amalah, djoega jang berhoeboengan dengan bagian alhajatoel-idjtima’ijah, yang beroepa moesjawarat, pengadjaran, pendidikan dalam oeroesan sosial, politik dan lain-lain sebagainja. Dan perboeatan kedoe, jang dilakoekan oleh Rasoeloellah Clm, pada waktoe itoe ialah: Tentang Pembagian Rizki (Ekonomi), jang berdiri atas dasar ke-ichlasan dan qana’at, persaudaraan (solidariteit) dan perikatan jang erat (collektivisme), jang semoeanja peratoeran Nabi-Nja. Dengan djalan ini, maka harta jang lebih dari pada tiap2 keperloean diri dan roemah-tangga masoeklah dalam Tempat Perbendaharaan Oemoem, atau Bait-oel-Mal. Jang lebih, dimasoekkan di dalamnja; dan jang koerang, ditambah dan ditjoekoepkan olehnja (Bait-oel-Mal). Maka dari sendirinja, tidaklah ada penimboenan harta-benda jang keliwat-liwat, atau ketiadaan benda (kemiskinan) jang ledis. Inilah gambarannja “Doenia-Islam”, jang kita kehendaki itoe.

Statement 21 Desember 1948
NEGARA ISLAM INDONESIA

Barang disampaikan Allah kiranja kepada seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, istimewa jang tinggal didaerah REPUBLIK INDONESIA. Bismillahirrahmanirrahim. Assalmu ‘alaikum w.w., 1. Pada tanggal 18/19 Desember 1948, tentara Belanda telah menjerbu daerah Repu-blik dan pada tanggal 19 Desember 1948 Pembesar2 Pemerintah Republik, diantara-nja: Presiden, Wk. Presiden, Ketua KNIP, dan Menteri Luar Negeri, sudah djatuh ditangan Belanda, ditangkap dan ditawan. Dengan kedjadian dan peristiwa jang amat pahit itu, maka djatuhlah Republik sebagai Negara. 2. Tidak lama lagi –begitulah agaknja perdjalanan riwajat perdjuangan kemerdekaan Indonesia– akan ditanda-tangani Naskah baru, Naskah jang ketiga, jang akan menen-tukan nasibnja Negara Republik Indonesia. Sepandjang rabaan dan hitungan kita, maka deradjat Republik pada waktu itu tidak akan lebih daripada deradjat ,,Negara Boneka”, seperti jang telah diberikan Belanda sedjak beberapa waktu jang lalu, umpamanja: ,,Negara IndonesiaTimur”, ,,Negara” Kalimantan, ,,Negara” Pasundan, dll. Sebab sementara itu Belanda dengan kekerasan senjata akan dapat memaksakan Pemerintah Republik jang sudah ditawan itu, untuk menanda-tangani suatu naskah –jang diramalkan– dimana akan diting-galkan (dihilangkan) semua alat-alat dan tiang-tiang Negara. Di antara lain2: lenjap-nja Ketentaraan, Keuangan, dan Luar Negeri. 3. Djangan dikira, bahwa dengan djatuhnja Pemerintah Republik (Sukarno-Hatta) dan ditanda tanganinja suatu naskah sematjam jang diramalkan diatas, keadaan akan aman dan tenteram, rak’jat akan makmur dan subur. Tidak, sekali-kali tidak! Melainkan djatuhnja Pemerintah Republik Sukarno-Hatta dan pil-pahit jang terpak-sa ditelan oleh ra’jat itu, insja Allah bagi Ummat Islam, jang masih berideologi Islam, akan mendjadi sebab bangkit dan bergeraknja, mengangkat sendjata, meng-hadapi musuh djahanam. 4. Oleh sebab itu, tiada djalan lain bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia, istimewa jang tinggal didaerah Republik, melainkan: sanggup menerima Kurnia Allah, mela-kukan Djihad fi Sabilillah, melakukan Perang Sutji, bagi mengenjahkan segenap musuh Islam, musuh Negara dan musuh Allah, dan ,,Last but not least” mendirikan Negara Kurnia Allah, ialah:

Negara Islam Indonesia. Seruan kami: Bulatkanlah niat sutji, niat membela Agama, Negara dan Ummat, dengan tekad ,,Juqtal au Jaghlib” dan dengan kejakinan jang teguh, bahwa Allah akan memberi perlindungan kepada orang-orang dan Bangsa serta Ummat jang memperdjuangkan Agama-Nja. Insja Allah. 5. Kepada saudara-saudara dan handai taulan dari pada Bangsa Indonesia, jang masih mengalir darah ,,Republikeinen” dalam tubuhnja dan masih berdjiwa perdjuangan: Ketahuilah! Bahwa perdjuangan jang kami usahakan hingga berdirinja Negara Islam Indonesia itu adalah kelandjutan perdjuangan kemerdekaan, menurut dan mengingat Proklamasi 17 Agustus 1945! Sekarang sudahlah tiba sa’atnja, segenap Bangsa Indonesia jang mengaku ,,tjinta Kemerdekaan, tjinta Bangsa, tjinta tanah-air, tjinta Agama”, menanggung wadjib sutji, melakukan perlawanan sekuat mugkin terhadap kepada Belanda. Ketahuilah pula! Bahwa tiada suatu Kemerdekaan jang dapat direbut, hanja dengan gojang-gojang kaki diatas kursi belaka. Kemerdekaan kita, Kemerdekaan Negara dan Kemerdekaan Agama, harus dan wadjib direbut kembali dengan darah! 6. Untuk kepentingan perdjuangan dan berhasilnja maksud dan terlaksananja tjita-tjita kita, maka perlu dan wadjib adanja Kesatuan Komando, Kesatuan Pimpinan. Selain dari pada Kesatuan Komando itu akan menimbulkan buah hasil jang efektif, djuga akan menggagalkan politik ,,divide et impera” jang selalu dilakukan oleh si-durdjana. Untuk kepentingan ini, jang dalam anggapan kita mendjadi kepentingan Agama, Negara dan Ummat, maka kami Pimpinan Negara Islam Indonesia membe-ranikan dan menjanggupkan diri, untuk melakukan wadjib memegang Kesatun Komando perdjuangan itu. Bagi memudahkan dan memperpusatkan djalannja Per-djuangan Ummat Bangsa Indonesia didaerah Republik dan Jawa Tengah chususnja, maka kami beri tugas kepada pemimpin2 jang bertanggung djawab, untuk mela-kukan wadjib sutji itu. 7. Adapun wakil muthlak dari pada Negara Islam Indonesia, jang kami serahi untuk memimpin perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia di daerah tersebut dalam elinia 7, menudju ke Darul-Islam dan Darus-Salam, ialah Sdr. Abi Kusno Tjokro-sujoso dan Sdr. Anwar Tjokroaminoto, jang memang sudah sedjak lama mendjadi wakil Negara Islam Indonesia di daerah Republik. 8. Hai, Pemimpin2 Islam dan Ummat Islam seluruhnja! Anggaplah serbuan Belanda dan djatuhnja Pemerintah Republik Sukarno-Hatta itu, sebagai Kurnia Tuhan, jang dengan itu terbukalah kiranja lapangan baru, lapangan djihad dan kesempatan jang seluas-luasnja untuk menerima Kurnia jang lebih besar lagi dari pada Azza wa Djalla, ialah: Lahirnja Negara Islam Indonesia jang merdeka. Terimalah Kurnia Allah itu, walau agak pahit ditelannja sekalipun. 9. Mudah2an Allah S.W.T. menjertai perdjuangan kita menudju Darul-Islam dan Darus-Salam itu dengan Taufiq dan Hidajat-Nja, hingga terlaksana berdirinja Keradjaan Allah dipermukaan bumi Indonesia! Madinah, 20 Safar 1368 H. 21 Desember 1948 M. Pemerintah Negara Islam Indonesia, Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO Di ‘umumkan di Madinah, Pada tanggal 20 Safar 1368 / 21 Desember 1948. Tjatatan: Djika disebut diatas nama ,,Daerah Republik Indonesia”, maka jang dimak-sudkan bukanlah hanja daerah jang ada di Djawa Tengah itu sadja, melainkan djuga Banten dan lain2 daerah di luar Djawa.

Komando Umum NII
NEGARA ISLAM INDONESIA

Barang disampaikan Allah kiranja kepada seluruh lapisan Ra’iat Islam Bangsa Indonesia, dengan perantraan Pemimpin2 Negara Islam Indonesia di Seluruh Indonesia Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu ‘alaikum w.w., KOMANDO UMUM I. MENGINGAT: a. Isi Ma’lumat Imam No. 1, tertanggal 25 Agutus 1948 tentang Pertahanan Ra’jat dan Militerisasi serta Mobilisasi Ra’jat, menghadapi tiap-tiap kemung-kinan, berkenaan dengan keganasan dan kebuasan Belanda di tiap-tiap tempat, sehingga susunan Pemerintah Negara Islam Indonesia dan susunan Madjlis Islam Indonesia dirubah dan diperlengkapkan mendjadi Pimpinan Negara dan Pimpinan Ummat dimasa bahaja (Staat van Beleg). b. Isi Ma’lumat Imam No.3, bertarich 1 Muharram 1368/2 November 1948, ten-tang persiapan Perang Sutji muthlaq, Perang Totaliter, jang merupakan Revo-lusi Ra’jat seluruhnja. c. Serbuan Belanda kedaerah Republik dan tertangkapnja beberapa pembesar jang ternama (18/19 dan 19 Desember 1948), sehingga praktis sementara Repu-blik lenjap dari pada riwajat perdjuangan Kemerdekaan jang semuanja itu menjebabkan perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Negara Islam Indonesia hidup bagaikan ,,sebatang-kara”, menghadapi musuh jang angkara murka, ialah Belanda dan semua kaki-tangannja. II. BERPENDAPAT: a. Sedjak mulai hari tanggal Ma’lumat ini di’umumkan, maka Negara Islam Indonesia dinjatakan dalam keadaan Perang (Staat van Oorlog). b. Bahwa Hukum jang berlaku diseluruh Negara Islam Indonesia, ialah hukum Islam dimasa perang (Darul Islam fi waqtil harbi). c. Bahwa Dewan Imamah mendjadi Komandemen Tertinggi, jang memegang Komando ‘Umum, bagi Ra’jat dan Tentara untuk seluruh Negara Islam Indonesia. d. Bahwa susunan Negara dan susunan Ummat selandjutnja wadjib disesuaikan dengan hukum-hukum Islam dimasa Perang. e. Bahwa sejak hari tanggal di’umumkan Ma’lumat ini, hanja dikenal dua golong-an jang berperang, ialah Negara Islam Indonesia dan Negara Belanda (atau/dan Negara-negara jang mendjadi ,,boneka Belanda”) dan f. Bahwa peraturan-peraturan selandjutnja akan diselesaikan oleh tiap-tiap Pimpinan Negara Islam Indonesia ditiap-tiap tempat dan Pimpinan Madjlis- madjlis Islam diseluruh Indonesia. III. MULAI BERLAKU: Ma’lumat ini dimulai berlaku sedjak hari tanggal di ‘umumkan. IV. La haula wala quwwata illa billahil – ‘alaiyyil-adzim. Bismillahi…………………………Allahu Akbar. Madinah, 22 Safar 1368 H. 23 Desember 1948 M. Pemerintah Negara Islam Indonesia, Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO Secr. Negara

BINTANG – BULAN Pendjelasan dan Tjatatan: 1. Djadi, sedjak mulai diumumkannja Ma’lumat-Ma’lumat ini tidak ada tempat dan lapangan lagi untuk golongangolongan jang mudzab-dzab, golongan was-was, jang ,,terapung tak hanjut, teremdam tak basah.” Hendaknja diperingatkan kepada golongan jang passif jang kurang himmah, suka mengambil sikap jang tentu: ,,ikut kepada Belanda (kafir) ataukah ikut kepada Islam.” Selambat-lambatnja mereka itu diberi tempo sampai tanggal 1 Januari 1949 atau tanggal 2 Maulud 1368. Kemu-dian dari pada itu, bolehlah diperlukan atas mereka, sepandjang Hukum Islam dimasa perang. 2. Revolusi ini adalah Revolusi Ra’jat sehingga segala sesuatu harus diselesaikan oleh ra’jat. 3. Arah gerakan kita ditudjukan kepada : a. Wadjibnja membuat sebesar-besar tenaga dan kekuatan untuk perdjuangan Islam, biar betapa pula sifat dan tjoraknja. b. Harapan tiap-tiap sesuatu jang mengalir kepada musuh atau golongan-golongan jang berkompromi dengan musuh, mulai barang dan tenaga jang seketjil-ketjilnja hingga jang sebesar-besarnja. 4. Kompromi (bekerdja bersama-sama) dengan Belanda atau kaki-tangannja dan alat-alatnja diharamkan. Didalamnja termasuk djuga segala sesuatu jang masuk ,,negara boneka” itu. 5. Sifat nifaq ( baik kesana, bagus kemari ), dalam pandangan politis, militer, ekonomis, atau lainnja, dihapuskan. Karena sifat (nifaq) dan orangnja (munafiq) tidak dapat dipisahkan, maka atas mereka itu dihukum menurut tjatatan 1 di atas.

MKT 17 Februari. Peringatan Hari Ulang Tahun Ketiga
MA’LUMAT KOMANDEMEN TERTINGGI

Barang disampaikan Allah kiranja kepada sekalian Komandan-Komandan Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, dan kepada sekalian Pemimpin-pemimpin Ummat Islam Bangsa Indonesia, di Negara Islam Indonesia. Hal: 17 Februari. Peringatan Hari Ulang Tahun Ketiga: Ummat Islam Bangsa Indonesia “Angkatan-Sendjata”. Assalamu ‘alaikum w.w., 1. Allahu Akbar! la ilaha Illallah, Huwallahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil-hamd! Alhamdulillah! Segala pudji hanja bagi Allah semata-mata; Dzat Tunggal Jang Maha-Besar, jang ke-Besar-an-Nja meliputi dan mengatasi segala sesuatu diluar Dia; Dzat Maha-Sutji dan Maha Kuasa, Jang telah berkenan memerintahkan kepada hamba-Nja: “Djihad berperang pada djalan-Nja, bagi mentegakkan Kalimah-Nja”, ialah satu-satunja djalan menudju kearah Mardlatillah jang sedjati! Allahumma! Ijjaka na’budu wa ijjaka nasta’in, ihdinassirathal mustaqim! Bismillahi tawakkalna ‘alallah, lahaula wala quw-wata illa billah! 2. Sjahdan, maka tepat pada tiga tahun jang lalu, 17 Februari 1948, dengan karena kehendak dan Kekusaan Allah sematamata, turunlah Kurnia Allah pertama jang tak ternilai harganja bagi seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, terutama dalam langkah usahanja, menentukan nasibnja dikemudian hari, jang berwudjud: “api Revolusi Islam jang pertama disekitar “Gunung Tjupu”, suatu kampung jang bersedjarah, ditepi sungai Tjitanduy”. Alhamdu lillah! Kurnia Allah jang sebesar itu disambut oleh Ummat Islam, dengan ‘amal sutji djihad berperang fi sabilillah, menggempur musuh-musuh Allah, musuh-musuh agama dan musuh-musuh Negara Kurnia Allah. Sedang bagi fihak kafirin, munafiqin dan lain-lain jang serupa itu, maka Kurnia Allah itu seakan-akan menjerupai halilintar jang menjambar-njambar telinga mereka itu, seolah-olah mereka itu menghadapi “malakal-maut”.

3. Sedjak waktu itu, maka djatuh hukum atas tiap-tiap Muslim dan Mu’min, untuk menunaikan tugas sutji jang maha-berat, tetapi maha-sutji: Djihad fi sabilillah, li’ilai Kalimatillah. Dengan karena tolong dan kurnia Allah, dan berkat ichtiarusahanja para Mudjahidin, maka Revolusi Islam makin hari makin bertambah meluas. Dalam pada itu, pun tidak pula boleh kita lupakan usaha musuh untuk membasmi api Revolusi Islam itu, jang merupakan tekanan dan serangan besar-besaran, mulai zaman Belanda kolonial dulu hingga pada zaman R.I. (N.I.S., R.I.S., R.I. Jokja–lama, R.I. Jakarta—baru), jang semuanja itu merupakan peralihan “bulu” daripada suatu “negara boneka”. 4. Segala matjam agresi dan daja-upaja chianat dari pada musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Agama itu, kita sambut dengan Tahmid dan Takbir ke hadlirat Allah, karena dengan sebab jang demikian itu: (1) Ummat Islam makin naik harkatderadjat perdjuangannja, dan (2) Tjahaja Ilahy makin tampak tjemerlang diseluruh Indonesia. Lebih-lebih lagi, karena dengan usahanja Fir’aun Belanda dan Abu Djahal-Indonesia itu, makin tampaklah Kebesaran dan Ke’adilan Allah, sedang pertanggungan-djawab dlahir dan bathin atasnja sedjak zaman Belanda hingga zaman R.I.S./R.I., tetaplah diletakkan atas pundaknja Pemerintah masing-masing jang bersangkutan! Pada suatu waktu. Insja Allah, akan ada perhitungan dan pembalasan Allah, langsung dan tidak langsung, kepada mereka itu! Kiranja tiap-tiap pihak jang berangkutan tahu, sadar dan insaf, bahwa tiap-tiap hutang harus dibajar hingga lunas, dengan tjara sekaligus maupun berturut-turut! Djuga hutang kepada Allah dan kepada masjarakat. Hai, kaum pengchianat Allah dan Agama kaum pendjual Negara dan Bangsa. Nantikanlah perhitungan dan pembalasan Allah, pem-balasan Tentara Allah, atas ‘amal-usahamu jang buruk dan kedji serta tjurang itu! 5. Sementara itu, Alhamdulillah makin hari makin bertambah-tambah kita didekatkan Allah kepada maksud dan tudjuan jang mendjadi sutji daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia, Berdirinja Keradjaan Allah, Negara Kurnia Allah di dunia, sebagai realisasi daripada Kebesaran dan Ke’adilan-Nja. Tiada tempatnja disini menguraikan setingkat demi setingkat akan kemadjuan dan pesatnja perdjuangan Ummat Islam menggalang Negara Kurnia Allah itu. Hanjalah kita harus tahu dan jakin, bahwa segala natidjah dan buah jang kita utjapkan itu, bukanlah sekali-kali “karena perbuatan ‘amal manusia, jang terlampau amat sedikit dan pitjik itu”, melainkan segala sesuatu tersebut terdjadi dan mendjadi “hanja karena Kurnia Allah semata-mata”. Alangkah tinggi nilai harga daripada Agama Allah dan Negara Kurnia Allah itu! Tiada bandingnja dengan ‘amal usaha manusia jang mana-pun djuga, walaupun ditambah dengan segenap dunia, di luar Dia! Subhanallah! Maha Sutji-lah Dia daripada segala sesuatu! Tjamkanlah baik-baik dan renungkanlah dalamdalam, sehingga I’tiqad jang sutji-murni itu selalu mendjadi sendi-dasar daripada tiap-tiap ‘amal para Mudjahidin! Sebaliknja, bukan apa jang kita perdapatlah, jang mendjadi ukuran akan perbuatan kita, melainkan hanjalah karena “wadjib-sutji jang perlu ditunaikan, sebagai bakti khalisan-mukhlisan, atas perintah Allah semata-mata itu”. Kita sekalian Ummat Islam Bangsa Indonesia, kearah dan maqam jang diliputi oleh rahmat dan ridla-Nja, hingga Negara Kurnia Allah berdiri dengan tegak dan teguhnja ditengah-tengah Ummat Islam Bangsa Indonesia. Insja Allah. Amin. 6. Mengingat satu dua hal jang dituliskan di atas, terutama karena hari-tanggal 17 Februari 1948—dalam anggapan dan kejakinan kita merupakan “tjurahan Kurnia Allah jang pertama”, bagi seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, maka sudah seharus dan sewadjibnjalah hari jang bersedjarah itu diperingati dengan sebaik-baiknja, sesuai dengan keadaan dan masa. Oleh karena kini Negara Islam Indonesia masih dalam keadaan perang (fi waqtil-harbi), maka hendaknja tiap-tiap tjara dan apa-tjara jang akan kita lakukan bagi memperingati hari jang bahagia itu disesuaikan dengan masa perang, masa revolusi. Pelaksanaan dalam hal ini, kami pertjajakan sepenuhnja atas kebidjaksanaan tiap-tiap Komandan Angkatan Perang Negara Islam Indonesia dan tiap-tiap Pemimpin Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang bertang-gung-djawab! 7. Berkenaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ketiga “Angkatan Sendjata” itu, maka kesempatan jang sebaik ini kami pakai untuk menjampaikan beberapa pesan dan amanat kepada sekalian Komandan Tentara dan Pemimpin Ummat jang bertang-gung djawab! (1) Bahwa tiada tudjuan hidup manusia jang sutji-murni, jang mendjamin keselamatan dunia dan achirat bagi tiap-tiap manusia dan segenap Ummat, melainkan hanjalah dengan tjara: Bakti kepada ‘Azza wa Djalla jang sempurna. (2) Bahwa wudjud dan sifatnja Bakti itu, ialah menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. (3) Bahwa satu-satunja tjara dan djalan bakti, ialah: Djihad-berperang pada djalan Allah, dengan tekad li I’lai Kalimatillah. Kesanggupan kita dalam hal ini, periksalah Bai’at baru, Bai’atusj-Sjadjarah, Bai’atur-Ridwan angka 3 !

(4) Bahwa perang dan/atau Revolusi Islam berlaku terus menerus dan wadjib djihad atas Muslim dan seluruh Ummat Islam tetap “fardlu” hukumnja, selama Negara Kurnia Allah belum berdiri 100%, ditengah-tengah masjarakat Ummat Islam Bangsa Indonesia. Bandingkanlah dengan pendjelasan singkat atas Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949, angka 5. Hingga d. (5) Bahwa wadjiblah dalam segala tindakan dan langkah kedepan, kita senantiasa harus membulatkan tekad: Juqtal atau Jaghlib! Periksalah lebih landjut: Statement pemerintah Negara Islam Indonesia, No. IV/7, 7 September 1950 ! (6) Bahwa dalam segala usaha melaksanakan tugas sutji itu, wadjiblah kita selalu bersikap dan bertindak: tertib, hati-hati dan teliti serta awas, waspada dan bidjak-sana, dengan bersendikan kepada sesempurna-sempurna taqwa dan tawakkal ‘alallah! Terutama sekali, mengingat tipu-daja musuh djahanam atas kita, diantaranja dengan tjara: “pemalsuan” mitsalnja: mereka dengan tidak malu-malu lagi menjiar-njiarkan Statement palsu (Nomer…tanggal….), surat palsu, dan lain-lain tipu-muslihat. Alhamdulillah, segala tipu-muslihat jang tjurang itu tidaklah sedikitpun memberikan hasil bagi mereka, melainkan hanja kerugian jang diperolehnja. Lagi pula, sikap jang serupa itu merupakan satu “kelemahan” dlahir (materieel) dan bathin (spiritieel) dalam kalangan musuh. Semoga Allah berkenan selalu melindungi kita sekalian daripada goda dan adjakan Iblis La’natullah itu! Insja Allah. Amin. 8. Selain dari pada itu, hendaklah kita senantiasa ingat akan sembojan jang mendjadi ‘amal kita: (1) Bawalah Ummat Islam Bangsa Indunsia kearah Mardlatillah! Kalau perlu, dengan paksa! (2) Besarkanlah (takbirlah kepada) Allah! Dengan “tasdiq bil qalbi, iqrar bil lisan, qlabul bil ‘amal”! Tegasnja djihad I’lai Kalimatillah! (3) Insja Allah, hanja Allah pula jang akan membesarkan Ummat Islam Bangsa Indonesia ! (4) Hanja Ummat dan Bangsa jang besar, karena dibesarkan Allah dan karena membesarkan Allah, jang patut menerima Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Semoga Allah berkenan membawa dan menuntun Ummat Islam Bangsa Indonesia, kearah Mardlatillah, serta memberi kekuatan dlahir dan bathin bagi membesarkan Dia! Insja Allah. Amin. 9. Selamat berperang! Menggempur dan membasmi musuh-musuh Allah, musuh-musuh Agama Alah, dan musuh-musuh Negara Islam Indonesia! Selamat menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! 10. Inna fatahna laka fat-han mubina... Insja Allah. Amin. Bismillahi... Allahu Akbar !! Juqtal au Jaghlib!!! Mahdjurah-Tegal-Luar, 7 Februari 1951. Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia Plm. T.: S.M. KARTOSOEWIRJO Diumumkan di Mardlatillah, pada Hari tanggal 11 Februari 1951 K.S.U. BINTANG-BULAN Tjatatan: Selama perdjuangan bulat tiga tahun ini, maka adalah 2 hari bersedjarah jang harus mendjadi tjatatan kita: 1. Hari-tanggal 17 Februari 1948, tjurahan Kurnia Allah jang pertama, jang merupakan api pertama daripada Revolusi

Islam. 2. Hari tanggal 7 Agustus 1949, tjurahan Kurnia jang maha-besar, merupakan Prokla-masi berdirinja Negara Islam Indonesia, sebagai iqrarnja Ummat Islam Bangsa Indonesia kepada seluruh dunia.

MKT ttg Pembentukan Komando Perang, dan Penjempurnaan Stelsel Koman-demen.
MA’LUMAT KOMANDEMEN TERTINGGI

Barang disampaikan Allah kiranja kepada sekalian Komandan dan Komandemen, dise-luruh Negara Islam Indonesia. Hal: Pembentukan Komando Perang, dan Penjempurnaan Stelsel Koman-demen. Assalamu ‘alaikum w.w., I. MENGINGAT: 1. M.K.T. Nomor 1., bertarich 3 Oktober 1949, angka I., mulai 1 s/d 7; dan angka II s/d angka IV., tentang Susunan Pemerintahan Negara dimasa Perang; 2. M.K.T. Nomor 2., bertarich 12 Oktober 1949, angka I., mulai 1 s/d 5; dan angka II s/d angka V,; 3. M.K.T. Nomor 6., bertarich 10 September 1950, angka I., s/d 10; angka II., A. s/d C.; dan angka III,; dan 4. M.K.T. Nomor 8., bertarich 12 Oktober 1952, angka I., mulai 1 s/d 4; angka II., 2; dan angka III s/d angka IV. II. MENIMBANG: Perlu dibentuk Pimpinan Perang atau Komando Perang jang lebih kuat, dan Penjem-purnaan systeem atau Stelsel Komandemen jang lebih effektif demikian rupa, sehingga lebih terdjamin makin hebat dan bergeloranja peperangan dan sehingga tertjapailah dengan tolong dan kurnia Allah djua kemenangan perang terachir, tegasnja kemenangan Islam dan kemenangan Negara Islam Indonesia, ialah satu-satunja pintu gerbang menudju dan memasuki Negara Madinah Indonesia, atau/dan Negara Islam Indonesia bulat-sempurna, merdeka dan berdaulat sepenuhnja, kedalam maupun keluar, de facto dan de jure, sepandjang bukti-bukti kenjataan dan hukum. III. BERPENDAPAT: Bahwa perlu dalam waktu jang sesingkat-singkatnja diselenggarakan Susunan Pimpinan Perang dalam bentuk baru, ialah perpaduan antara Stelsel Komandemen lama jang tetap berlaku hingga sa’at ini, dan peraturan-peraturan perang baru atau jang diperbarukan, demikian rupa: A. Sehingga terdjaminlah dengan pasti berlakunja dan pelaksanaan Komando Perang jang berdaja guna sebesar-besarnja, terutama pada sa’at-sa’at dikeluarkannja Komando Perang Semesta atau Komando Perang Totaliter dalam arti kata jang seluas-luasnja, dan terlebih-lebih lagi mendjelang sa’at mustari, atau sa’at dikeluarkannja Komando Perang Mutlak, Komando Umum, ialah Komando Allah langsung, melalui Imam Plm. T. Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, selaku Khalifatullah dan Khalifatun Nabi di nusantara Indonesia; ialah Perang Semesta dan Perang Muthlak, jang akan menentukan nasibnja Negara Islam Indonesia dan Hari Depan Ummat Islam Bangsa Indonesia dimasa-masa mendatang; dan B. Sehingga seluruh Negara Islam Indonesia, beserta segenap Angkatan Perang dan ra’iat warga negaranja, tanpa ketjuali, sungguh-sungguh ikut serta mewudjudkan tenaga perang raksasa maha/dahsjat, satu gelombang Djama’ah Mudjahidin Maha-Besar, jang lagi madju-bergerak memenuhi panggilan dan seruan Allah, langsung menudju arah Mardlatillah sedjati, di dunia dan di achirat; ialah potensi perang maha-hebat, persatu-paduan segenap tenaga dan kekuatan seluruh Ummat Mudjahidin; Ummat-pilihan dan kekasih Allah, jang sanggup dan mampu menghadapi serta mengatasi, dan achirnja

menghantjur-lindaskan segala djenis dan bentuk musuh-musuh Allah, musuh-musuh Islam, musuh-musuh Negara Islam Indonesia dan musuh-musuh seluruh Barisan Mudjahidin, hingga tekuk-lutut atau hantjur-binasa; dengan karena berkat kehendak dan kekuasaan, tolong dan kasih-kurnia Allah, Dzat Jang Maha Agung djua adanja. IV. MEMUTUSKAN: A. Pembagian Indonesia dalam 7 (tudjuh) Daerah Perang, atau Sapta-Palagan. Selama Negara Islam Indonesia terlibat dalam peperangan dengan Negara Pantja-sila, maka selama itu atas dan bagi Negara Islam Indonsia, jang meliputi seluruh Kepulauan Indonesia, berlakulah hukum perang, atau lebih djelas dan tegas hukum Islam dimasa Perang, Hukum Djihad fi-Sabilillah, sampai-sampai tiap djengkal tanah jang manapun. Mengingat dan sebagai konsekwensi, atau akibat landjutan daripada berlakunja Hukum Perang, maka seluruh Indonesia adalah dalam keadaan Perang, sehingga setiap warga negara penghuninja dalam hidup dan kehidupannja terlibat dan terpengaruhi, langsung atau/dan tidak-langsung, mau atau tidak mau, sengadja atau tidak sengadja, oleh Hukum Perang. Untuk mendjamin berlakunja Hukum Perang, sehingga merata dan meliputi seluruh Indonesia beserta segenap penghuninja, maka seluruh Indonesia dibagi mendjadi 7 (tudjuh) Daerah-Perang, atau Sapta-Palagan, jang klasifikasian penggolongannja setjara administratif adalah sebagai jang berikut: 1. Daerah-Perang Pertama meliputi seluruh Indonesia, dengan nama (Daerah) Komando Perang Seluruh Indonesia, atau disingkat: K.P.S.I. 2. Daerah Perang Kedua meliputi beberapa Wilajah (Negara Islam Indonesia), dengan nama (Daerah) Komando Perang Wilajah Besar, atau disingkat: K.P.W.B., dengan tjatatan, bahwa untuk seluruh Indonesia ditetapkan 3 (tiga) K.P.W.B., ja’ni: a. K.P.W.B. I. (batja: satu; ditulis dengan angka Rumawi) terdiri atas (daerah-daerah dan wilajah-wilajah) seluruh Djawa dan Madura; b. K.P.W.B. II. (batja: Dua; ditulis dengan angka Rumawi) terdiri atas (daerah-daerah dan wilajah-wilajah) seluruh Indonesia Timur (ja’ni: Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Barat), ditambah Kaliman-tan; dan c. K.P.W.B. III. (batja: tiga; ditulis dengan angka Rumawi) terdiri atas (dae-rah-daerah dan wilajah-wilajah) seluruh Sumatera, Beserta kepulauan sekelilingnja. 3. Daerah Perang Ke-tiga sebesar satu wilajah (Negara Islam Indonesia), dengan nama (Daerah) Komando Perang Wilajah atau disingkat: K.P.W. dengan tjatatan: a. Bahwa setiap K.P.W adalah satu bagian daripada K.PW.B., atau (dengan kata-kata lain) tiap K.P.W.B., terdiri atas beberapa K.P.W.; dan b. Bahwa tjiri atau tanda chusus untuk K.P.W. diambil dan diselaraskan dengan tjiri atau tanda chusus bagi K.W. (sekarang) jang bersangkutan; mitsalkan K.P.W. 1; K.P.W. 2; K.P.W. 3; dst. (batja; satu, dua, tiga, dst. Ditulis dengan angka Latin). 4. Daerah Perang Ke-empat sebesar satu Daerah/Karesidenan (Negara Islam Indonesia), dengan nama (daerah) Komando Perang (daerah) Setempat, atau disingkat Kompas, dengan tjatatan: a. Bahwa dengan dikeluarkannja M.K.T. No. 11 ini, maka nama Korps atau Corps (Komando Operasi Resimen Pertempuran –(pangkalan)– Setem-pat) dihapuskan, dan diganti dengan Kompas, jang hanja mempunjai fungsi (tugas) memegang komando Taktis, dan tiada sangkut-paut lang-sung dengan administrasi Negara; dan b. Bahwa tjiri atau tanda-chusus untuk Kompas diambil dari alfabet, mitsal-kan Kompas A., Kompas B., dst. 5. Daerah Perang Ke-lima sebesar satu Kabupaten (Negara Islam Indosnesia), dengan nama Sub-Kompas, dengan tjatatan: Bahwa tjiri atau tanda-chusus untuk Sub-Kompas, diambil dari huruf Kompas, ditambah dengan angka-urut, menurut djumlah Sub-Kompas jang ada di suatu Kompas, mitsalkan Kompas D. terdiri atas 5 Sub-Kompas, maka tiap Sub-Kompas daripada Kompas jang bersangkutan disebut berturut-turut dengan nama: Sub-Kompas D.1; Sub-Kompas D.2; SubKompas D.3; Sub-Kompas D.4; dan Sub-Kompas D.5. dst. 6. Daerah Perang ke-enam sebesar satu Ketjamatan atau lebih, dengan nama Sektor, dengan tjatatan: Bahwa tjiri atau tanda-chusus untuk Sektor, diambil dari nama Sub-Kompas, ditambah dengan angka urut Sektor jang

bersangkutan mitsalkan: Sub-Kompas P.3 terdiri atas 4 Sektor, maka nama tiap-Sektor daripada Sub-Kompas termaksud ialah: Sektor P.31; Sektor P.32; Sektor P. 33; dan Sektor P.34; dst. 7. Daerah Perang Ke-tudjuh sebesar satu Desa atau lebih, dengan nama Sub-Sektor, dengan tjatatan: Bahwa tjiri atau tanda-chusus untuk Sub-Sektor, diambil dari nama Sektor, ditambah dengan angka urut Sub-Sektor, mitsalkan sektor B.25 terdiri daripada 3 Sub-Sektor, maka nama dari tiap Sub-Sektor daripada Sektor jang bersangkutan ialah: Sub-Sektor B. 251; Sub-Sektor B. 252; dan Sub-Sektor or B. 253. Dst. B. Susunan Komando Perang, beserta tugas-tugas dan alat-alat Kekuasaan dan Pelaksanaannja. 1. K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam-Plm. T. APNII. Djika karena satu dan lain hal ditundjuk dan diangkatnjalah seorang Pangima Perang, selaku penggantinja, dengan purbawisesa penuh. Tjalon pengganti Panglima Pe-rang Pusat ini diambil dari dan di antara Anggauta-anggauta K.T., termasuk di dalamnja K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan di antaranja para Panglima Perang, jang kedudukannja dianggap setarap dengan kedudukan Anggauta-Anggauta K.T., Dalam melaksanakan tugasnja, maka Imam-Plm.T. berwenang antara lain-lain untuk mengeluarkan Komando Umum, atau Komando Semesta lainnja, jang sifat, wudjud dan pelaksanaannja meliputi kepentingan Negara Islam Indonesia sebagai keseluruhan atau/dan bagian-bagiannja. Alat kekuasaan dan pelaksanaan K.P.S.I. ialah segenap A.P.N.I.I., termasuk di dalamnja seluruh kesatuan T.I.I., semua instansi sivil, beserta segenap kesatuan Polisi hingga Baris. 2. Setiap K.P.W.B. dipimpin oleh seorang Panglima Perang K.P.W.B.disingkat: Plm. Per. KPWB. Plm. Per. K.P.W.B. Diangkat oleh Imam Plm T. Djika ka-rena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnja, maka ditundjuk dan diangkatlah seorang Plm. Perang K.P.W.B. lainnja, selaku penggantinja, jang diambil dari dan di antara AnggautaAnggauta K.T., termasuk di dalamnja K.S.U. dan K.U.K.T., serta dari dan diantara para Plm. Per., jang kedudukannja dianggap setarap dengan kedudukan Anggauta-Anggauta K.T. Tugas pokok Plm. Per. K.P.W.B. ialah menerima Komando Umum, atau Komando Semesta lainnja, dan melandjutkan serta melaksanakannja kepada para Plm Per. Dan Kmd. Pertempuran bawahannja, dengan dibubuhi keterangan-keterangan, pendjelesan-pendjelasan dan tjara-tjara pelaksa-naannja jang amat perlu, dalam hal mana ia bertanggung djawab langsung kepada Imam Plm. T. Alat kekuasaan dan pelaksanaan K.P.W.B. ialah satu Brigade Besar T.I.I., terdiri dari beberapa Divisi, ditambah dengan semua instansi Militer dan Sivil dalam daerah K.P.W.B. beserta bawahannja. 3. Setiap K.W. dipimpin oleh seorang Plm. Per. K.P.W. atau lebih, menurut kepentingan dan keperluannja, sepandjang hadjat perang. Plm. Per. K.P.W. diangkat oleh Imam Plm. T. Djika karena satu dan lain hal ia berhalangan menunaikan tugasnja, maka ditundjuk dan diangkatlah seorang Plm. Per. K.P.W. lainnja selaku penggantinja, jang diambil dari dan diantara Plm-Plm K.W./Plm.-Plm. Divisi, sedapat mumkin dari lingkungan K.P.W. jang bersangkutan. Tugas pokok Plm. Per. K.P.W. ialah menerima Komando Umum, atau Komando Semesta lainnja, langsung dari Plm. T. atau/dan mela-lui Plm. Per. K.P.W.B. jang bersangkutan, dan kemudian melandjut-kannja kepada setiap Kmd. Pertempuran bawahannja, dengan dibubuhi keterangan2, pendjelasan2 dan tjara2 pelaksanaannja jang perlu2, dalam hal mana ia bertanggung djawab kepada Imam/Plm.T. dan kepada Plm. Per. K.P.W.B. atasannja jang lagi bertugas. Alat kekuasaan dan pelaksanaan K.P.W. ialah satu Divisi T.I.I., ditambah dengan instansi-instansi Militer, Sivil dan Polisi serta, bawahan dalam lingkungan K.P.W. jang bersangkutan. 4. Setiap Kompas dipimpin oleh seorang Kmd. Pertempuran atau lebih, jang dipilih dan diangkat oleh Plm Per. K.P.W., atas nama Komandemen Tertinggi dan Imam/Plm. T., dari dan diantara Kmd.2 Res./Wakil2 Kmd. Res./Kmd2 K.D., sedapat mungkin dari lingkungan daerah kekuasaan K.P.W. jang bersangkutan. Djika karena satu dan lain hal, ia berhalangan melakukan tugas-nja, maka ditundjuk dan diangkatlah seorang Kmd. Pertempuran Kompas lainnja, selaku penggantinja jang diambil dari dan di antara Kmd.2 Pertem-puran, jang dianggap setarap dengan dia, sedapat mumkin dari kalangan Kompas dan K.P.W. jang bersangkutan. Tugas pokok Kmd. Pertempuran Kompas ialah menerima Komando dari Plm. Per. K.P.W. atasannja, atau dari salahseorang Plm. Per. K.P.W. lainnja jang lebih atas, dan kemudian melaksanakannja dan melandjutkannja kepada tiap Kmd. Pertempuran bawahannja, dibubuhi dengan keterangan2 dan pendjelasan2 terperintji dan instruksi2 militer jang perlu2, dalam hal mana ia bertanggung-djawab kepada Plm. Per. K.P.W. jang bersangkutan, dan kepada Plm. Per. K.P.W.B. serta

Imam/Plm. T. Alat kekuasaan dan pelaksanaan Kompas ialah satu Resimen T.I.I. jang bertugas, atau/dan kesatuan2 T.I.I. dan Polisi serta instansi2 Sivil dan bawahannja, jang lagi bertugas dalam daerah-kekuasaan Kompas jang bersangkutan. Tjatatan. Dengan berlakunja M.K.T. No. 11 ini, maka kedudukan Kmd. Korps (atau Corps) dihapuskan, dan diganti dengan Kmd. Pertempuran Kompas. 5. Setiap Sub-Kompas dipimpin oleh seorang Kmd. Pertempuran Sub-Kompas atau lebih, jang dipilih dan diangkat oleh Plm. Per. K.P.W. jang bersangkutan, atas nama Komandemen Tertinggi dan Imam/Plm. T., dari dan diantara Kmd.2 Bataljon/Wakil2 Kmd. Bat./Kmd.2 K.K., sedapat mungkin dari lingkungan Sub-Kompas dan K.P.W. jang bersangkutan. Djika karena satu dan lain hal, ia berhalangan melakukan tugasnja, maka dipilih dan diangkatlah seorang Kmd. Pertempuran Sub-Kompas lainnja, selaku penggantinja, jang diambil dari dan di antara Kmd.2 Pertempuran, jang dianggap setarap dengan dia, sedapat mumkin dari kalangan Sub-Kom-pas, Kompas dan K.P.W. jang bersangkutan. Tugas pokok Kmd. Pertempuran Sub-Kompas ialah menerima dan melak-sanakan komando dari Kmd. Pertempuran Kompas, atau dari Plm. Per. K.P.W. jang bertugas, dengan tjara jang sebaik-baik dan sesempurna-sempurnanja, dan kemudian melandjutkannja kepada tiap Kmd. Pertempuran bawahannja, dibubuhi instruksi2 landjutan jang diperlukan, dalam hal mana ia bertanggung djawab sepenuhnja kepada Kmd. Pertempuran Kompas dan kepada Plm. Per. K.P.W. jang bertugas. Alat kekuasaan dan pelaksanaan Sub-Kompas ialah satu Bataljon T.I.I. jang bertugas, atau/dan kesatuan2 T.I.I. dan Polisi serta instansi2 Sivil dan bawahannja, jang lagi bertugas dalam daerah-kekuasaan Sub-Kompas termaksud. 6. Setiap Sektor dipimpin oleh Seorang Kmd. Pertempuran Sektor atau lebih, jang dipilih dan diangkat oleh Kmd. Pertempuran Kompas jang bersangkutan, atas nama Komandemen Tertinggi dan Imam-Plm. T., dari dan diantara Kmd.2 Kompi/Wakil2 Kmd. Ki./Kmd.2 Pertempuran lainnja, jang dianggap setaraf dengan dia, sedapat mumkin dari lingkungan Sektor, Sub-Kompas dan Kompas jang bersangkutan. Djika karena satu dan lain hal, ia berhalangan melakukan tugasnja, maka dipilih dan diangkatlah seorang Kmd. Pertempuran Sektor lainnja, selaku penggantinja, jang dianggap tjukup dalam kedudukan dan tugas termaksud, sedapat mumkin dari kalangan Sektor, Sub-Kompas dan Kompas jang bersangkutan. Tugas pokok Kmd. Pertempuran Sektor ialah menerima dan melaksanakan Komando dari Kmd. Sub-Kompas jang bertugas, atau/dan dari Kmd. Kompas jang bertugas, dan kemudian melandjutkannja kepada tiap-tiap Kmd. Pertempuran bawahannja, dalam hal mana ia bertanggung djawab sepenuhnja kepada Kmd. Pertempuran Sub-Kompas dan Kmd. Pertempuran Kompas jang bertugas. Alat kekuasaan dan pelaksanaan Sektor ialah satu Kompi T.I.I. jang bertugas, atau/dan kesatuan2 T.I.I. dan Polisi serta instansi2 Militer dan Sivil serta bawahannja jang lagi bertugas dalam daerah-kekuasaan Sektor termaksud. Dan 7. Setiap Sub-Sektor dipimpin oleh seorang Kmd. Pertempuran Sub-Sektor, jang dipilih dan diangkat oleh Kmd. Pertempuran Sub-Kompas, atas nama Komandemen Tertinggi dan Imam/Plm. T. dari dan diantara Kmd.2 Peleton/Wakil2 Kmd. Peleton/Kmd.2 Pertempuran lainnja, jang dianggap setarap dengan dia, sedapat mumkin dari lingkungan Sub-Sektor, Sektor dan Sub-Kompas jang bersangkutan. Tugas pokok. Kmd. Pertempuran Sub-Sektor ialah menerima dan melaksa-nakan Komando dari Kmd. Pertempuran Sektor atau/dan dari Kmd. Pertem-puran Sub-Kompas jang bertugas, dan kemudian melandjutkannja jang bertugas, dan kemudian melandjutkannja kepada Kmd.2 Pertempuran dan Kmd.2 bawahannja, sepandjang hadjat dan kepentingan perang, dalam hal mana ia bertanggung djawab sepenuhnja kepada Kmd. Pertempuran Sektor dan Kepada Kmd. Pertempuran SubKompas jang bertugas. Alat kekuasaan dan pelaksanaan Sub-Sektor ialah satu Peleton/Regu T.I.I., kesatuan Polisi dan Baris, ditambah dengan instansi2 Militer dan Sivil jang lagi bertugas dalam lingkungan daerah-kekuasaan Sub-Sektor termaksud. Tjatatan Pengerahan tenaga ra’iat semesta, tenaga totaliter ra’iat diselenggarakan oleh instansi2 Militer, Sivil dan Polisi setempat

bersama-sama, mulai tingkat K.K. hingga Desa, atau mulai Sub-Kompas hingga Sub-Sektor. Langkah dan tindakan jang tjakap dan tegas dalam djurusan ini, tapi tjukup bidjaksana, akan dapat membangkitkan tenaga massal, tenaga raksasa jang maha-kuat dan maha-dahsjat, ialah salah satu fakta utama jang dapat menentukan djalan-nja sedjarah sesuatu Ummat dan hari depan sesuatu Bangsa dan Negara. Tjamkanlah dan gunakanlah sebaik-baiknja! V. MEMERINTAHKAN: Kepada seluruh Komandan dan Komandemen, serta segenap Pedjabat/Fungsionaris dan Petugas Negara dalam lingkungan Negara Islam Indonesia: Supaja segera, dengan tjepat dan tepat, tapi tetap tertib, teratur dan berentjana, menjelenggarakan isi dan djiwa Ma’lumat Komandemen Tertinggi No. 11 ini, dengan sebaik-baik dan sesempurna-sempurnanja, sehingga segala persiapan dan pelaksanaannja sudah boleh diselesaikan pada tanggal 1 Januari 1960 dengan tjatatan, bahwa untuk daerah2 Negara Islam Indonesia jang terpentjil letaknja, sehingga terhalang oleh djarak djauh dan kesulitan perhubungan, diberi batas-waktu hingga tanggal 1 Februari 1960. VI. BERLAKU: Ma’lumat Komandemen Tertinggi Nomor 11 ini berlaku, mulai hari tanggal diper-undangkan. VII. Infiru chifafan watsiqalan wa djahidu bi-amwalikum wa anfusikum fisabilillah…… Innallaha juhibbul-ladzina juqatiluna fi-sabilihi caffan ka-annahum bun-janum-marcuc! Asjidda-u ‘alal-kuffari, ruhama-u bainahum! Inna fatahna laka fathan mubina……. Insja Allah. Bismillahi…… Allahu Akbar! Juqtal au Jaghlib!!! Mardlatillah T.L., 7 Agustus 1959, KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA Imam-Plm. T.: S.M. KARTOSOEWIRJO. Diperundangkan di : Mardlatillah. Pada tanggal : 7 Agustus 1959. Beberapa Tjatatan: Pendjelasan 1 : 1. Sesuai dengan Ma’lumat2 K.T. Nomor 9 dan 10, tetapi menjimpang daripada adat kebiasaan sebelumnja, maka M.K.T. No. 11 ini diselesaikan dan diperundangkan di luar-negeri, di M.T.L., sehingga tidak melalui K.S.U. jang lagi bertugas di Medan-Djihad ditanah air. 2. M.K.T. Nomor 11 ini dilengkapi dengan sebuah Lampiran, berisikan 7 (tudjuh) buah Pendjelasan2 jang diperlukan. 3. Harap setiap jang bersangkutan mengetahui djua adanja. Pendjelasan 2: Penjempurnaan Komando Perang A. Stelsel Komandemen, berdasarkan Ma’lumat2 K.T., mulai Nomor 1 hingga/sampai Nomor 10, tetap berlaku, ketjuali beberapa bagian ketjil, jang bertentangan atau menjimpang daripada isi dan djiwa M.K.T. Nomor 11 ini.

Bagian-bagian ini, dimana perlu dan seberapa perlunja, akan disempurnakan dengan Ma’lumat K.T. berikutnja. B. M.K.T. Nomor 11 hendaknja dianggap dan diperlakukan sebagai usaha penjempur-naan Stelsel atau Sistim Komandemen, berdasarkan atas Ma’lumat2 K.T. sebelumnja, dengan maksud dan harapan, agar setiap Komandan dan Komandemen, mulai dari atas kebawah atau sebaliknja, lebih lantjar, lebih pesat dan lebih efektif (berdaja guna) dalam menunaikan tugasnja selaku Pimpinan Perang, Pimpinan Negara dimasa Perang, Pimpinan Ummat Berperang, UmmatulMudjahidin, Ummat-Pentegak-Kalimatillah, Ummat Pilihan dan kekasih Allah. Dengan tjara dan djalan demikian, berkat amal djihad segenap Barisan Mudjahid dan terutama berkat besarnja limpahan Kurnia Allah jang maha-besar, maka Insja Allah dimasa dekat mendatang kita sekalian pastilah diperkenankan Allah mengindjak dan melintasi pintu-gerbang Falah dan Fatah, ialah kemenangan Islam dan Negara Islam Indonesia jang muthlak dan sempurna. Inilah djembatan-mas terachir, jang akan membawa segenap Ummat Mudjahidin chususnja dan Ummat-Muslimin Bangsa Indonesia ‘umumnja, langsung memasuki, menghidupi dan menikmati Baldatun Thajjibatun wa Rabbun Ghafur di Nusantara Indonesia., baik dalam bentuk Negara Madinah Indonesia maupun sekaligus dalam bentuk Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, merdeka dan berdaulat bulat-lengkap, kedalam maupun keluar, sepandjang bukti kenjataan dan hukum. Dengan karena tjurahan Berkah-Allah nan berlimpah-limpah djua adanja. Marilah kita sekalian bergerak-melangkah madju mendjelang Masa Depan Ke-emasan, dengan djiwa besar, ialah djiwa jang sanggup dan mampu mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan sutji kehadlirat Dzat Rabbul-Izzaty, apa dan seberapapun diperlukan. Itulah harga-pembelian jang perlu dan wadjib kita tunaikan bersama! Demi keagungan Allahu Akbar! Demi Kesutjian Agama Allah, Agama Islam! Demi Kedaulatan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Demi Keselamatan dlahir-bathin Ummat dan Bangsa, jang baik dan buruk Hari-Depannja, tergantung dan dipertanggung djawabkan atas kita sekalian, segenap Ummatul Mudjahidin, tanpa ketjuali! Pendjelasan 3: Antjer-antjer A. Tanggal 1 Januari 1960, atau tanggal 1 Februari 1960, adalah waktu antjer-antjer, Boleh kurang atau lebih sedikit. Tapi kita berharap, agar segala sesuatu diseleng-garakan dan diselesaikan sesegera dan setjepat mungkin. Lebih tjepat, Insja Allah pastilah lebih baik! Ikutilah zaman, jang beredar setjepat kilat kedjarlah waktu, dan djanganlah biarkan waktu mengedjar-ngedjar kita! Gunakanlah tiap sa’at dan detik untuk menunaikan perang mentegakkan Kalimatillah, dalam bentuk dan sifat apa dan manapun! Ketahuilah! Sekali lampau, ia tidak berulang kembali! Songsonglah kedatangan kembali Imam Plm. T., dengan realisasi M.K.T. Nomor 11 ini! Tundjukkanlah bukti patuh-setiamu kepada Allah! kepada Rasulullah Clm.! Dan kepada Ulil-Amrimu, Ulil Amir Islam, tegasnja: Imam-Plm. T.! Itulah djalan Djihad fi Sabilillah, satu-satunja Sirathal-Mustaqim! Wa-hadza Sirathu Rabbika mustaqima………………! Wallahu ………….jad’u ila Daris-Salam……………! B. Demikian pula mengenai batas-batas luas Daerah-Perang, batas-batas hak dan keku-asaan, atau kompetensi seseorang Plm. Per. Atau seseorang Kmd. Pertempuran. Tak mungkin semuanja itu ditentukan menurut garis-garis jang pasti, terutama dimasa Perang seperti sekarang ini. Tapi dalam keadaan apapun djuga, tiap-taip kekosongan dalam pimpinan perang harus dihindarkan. Lebih-lebih lagi, karena Hukum Perang, Hukum Djihad, mem-bawa berbagai-bagai perubahan dan pertukaran, atjapkali dengan amat tjepat dan dahsjat, diluar sangka, djuga di luar perhitungan semula. Oleh sebab itu, maka dalam pelaksanaan segala sesuatu hendaknja selalu diingati dan diutamakan beberapa pertingbangan praktis dan effektif, sepandjang perhitungan perang, dalam rangka Hukum Djihad, rangka usaha perang,. Segala matjam ketegangan dan keseretan, jang biasanja timbul karena sesuatu pihak berlebih-lebihan dalam melaksanakan sesuatu peraturan, penetapan atau instruksi, harus dan wadjib ditjegah dan dihin-darkan sedjauh-djauhnja! Hingga segala tugas dan kewadjiban dapat berlaku dan diselenggarakan dengan pesat, ladju dan lantjar.

Dalam pada itu, solidariteit atau persetiakawanan, sepandjang adjaran Islam, harus tetap mendjadi pegangan dan pedoman kita dalam taip usaha dan ‘amal kita mempersembahkan dharma-bakti muthlak kepada Azza wa Djalla. Achirnja perlu diperhatikan, bahwa dimasa Perang, Pimpinan atau Pemimpin harus bersikap tegas, ‘adil, benar dan bidjaksana, jang dapat dirasakan dan dinikmati oleh setiap bawahan. Harap diperhatikan sepertinja! C. Dengan antjer-antjer, djuga dimaksudkan, supaja segala langkah dan gerak, tin-dakan dan perintah, terutama jang langsung mengenai bidang-bidang kemiliteran dan Hukum Perang, tetap berdjalan dengan lintjah, ladju dan lantjar. Di dalamnja termasuk djuga hal-hal jang bertalian perangkapan beberapa kedudukan atau djabatan, baik karena terpaksa oleh keadaan maupun menurut kepentingan dan keperluannja, keharusan dan kewadjibannja. Beberapa mitsal kami berikutkan di bawah ini: 1. Seorang A.K.T. diangkat mendjadi Plm. Per. K.P.W.B., maka ia menempati kedudukan rangkap, ja’ni: A.K.T./Plm. Per. K.P.W.B. 2. Seorang Plm. Div. / Plm. K.W. diangkat mendjadi Plm. Per. K.P.W. atau Plm. K.P.W., maka kedudukannja jang baru ialah: Plm. Div…./ Plm….K.W…../ Plm. Per. K.P.W….., atau Plm. Div…/ Plm. K.W. / …./ Plm. Per. K.P.W….. 3. Seorang Kmd. Res…/ Kmd. ….K.D……, diangkat mendjadi Kmd. Pertempuran Kompas, maka ia berkedudukan Kmd. Res…/ Kmd…..K.D…./ Kmd. Pertempuran Kompas….. Demikianlah selandjutnja, dengan tjatatan, bahwa tiap-tiap kedudukan dipergunakan hanja dikala Pedjabat tsb. menghadapi seseuatu tugas, jang selaras dan masuk wewenangnja dalam djabatan tsb. Umpamanja: Seorang Bupati Militer/Kmd. I K.K……., diangkat mendjadi Kmd. Pertempuran Sub-Kompas F.3, maka dalam tindakannja mengerahkan tenaga ra’iat, boleh berbuat selaku Bupati Mil. Sedang dalam pengangkatan seorang Pedjabat dalam lingkungannja ia boleh bertindak selaku Kmd. K.K., dan dimasa memimpin Tentara atau menjelenggarakan gerakan militer ia boleh berlaku sebagai Kmd. Pertempuran Sub-Kompas. Dst. D. Sampai-sampai mengenai pemberian dan pelaksanaan Komando, kita harus tetap memegang antjer-antjer, dengan tidak menjimpang atau melampaui batas-batas Hukum Perang, atau batas-batas Ma’lumat-Ma’lumat, Penetapan-penetapan, Peraturan-peraturan dan lain-lain Ketentuan-ketentuan Negara, terutama batas-batas Hukum Perang jang berlaku bagi dan atas seluruh Negara Islam Indonesia. Dalam hubungan ini, perlulah kiranja ditjatat, bahwa hampir semua gerakan-gerakan militer dan komandonja, praktis akan dipegang oleh dan dipertanggung-djawabkan kepada beleid Kmd. Pertempuran Kompas, jang mengatur langsung tiap kesatuaan jang berada di bawah pimpinannja. Karena praktis seorang Kmd. Kompas adalah pengantara terachir, untuk menjalurkan dan melandjutkan segala instruksi atasannja kepada setiap bawahan. Selaku Kmd. Lapangan, maka praktis ialah jang akan menentukan siasat dan strategi milter, pada tiap-tiap menghadapi sesuatu objekt militer tertentu. Oleh karena itu, maka para Plm. Per. Harus berfikir dan bertindak praktis, kalau perlu ia duduk dan bertugas dilapangan. Terutama disa’at-sa’at dike-luarkannja Perintah Perang Semesta atau Komando ‘Umum. Pendjelasan 4: Pemberi Komando dan Pelaksana Komando Pada ‘umumnja segala saluran kenegaraan, dalam bidang-bidang Militer maupun dalam lapangan politik, djuga selama masa perang ini, berdjalan terus melalui systeem Komandemen, seperti jang tetap berlaku hingga sa’at ini. Tetapi di sa’atsa’at genting-runtjing, dimana Imam. Plm.T. mengeluarkan Komando ‘Umum, maka disa’at itu kita hanja akan mengenai 2 (dua) tingkatan Pimpinan Perang, Pimpinan Negara dan Pimpinan Djama’ah Mudjahidin, Pimpinan Ummat berdjuang, Ja’ni: A. Tingkatan Pimpinan Perang pertama selaku pemberi Komando, ialah: 1. Imam-Plm.T., 2. Plm. Per. K.P.W.B., 3, Plm. Per. K.P.W., dan 4. Kmd. Pertempuran Kompas; dan B. Tingkatan Pimpinan Perang kedua selaku pelaksana Komando, terdiri daripada Kmd.2 Pertempuran sedjak Kmd. Pertempuran Sub-Sektor/Kmd. Lapangan/Kmd.2 Komandemen hingga sampai Kmd2. Baris, pelaksanaan mana akan meliputi lapisan-lapisan ra’iat djelata seluruhnja, tanpa ketjuali. Sendi-dasar bagi tiap gerak-langkah kedepan, terutama disa’at-sa’at jang menentukan, seperti tergambarkan diatas, perlu

diletakkan mulai sekarang untuk menghindarkan tiap-tiap pengjimpangan, penjelewengan, persimpang-siuran, atau pertentangan dalam saluran, pimpinan dan pelaksanaan segala tugas-tugas muthlak, menunaikan hukum-hukum Djihad, Hukum-hukum Perang sepandjang adjaran Islam. Dengan tjara, sifat dan bentuk, sepandjang isi dan djiwa M.K.T. Nomor 11 ini, maka Insja Allah terhindarlah Negara kita, Negara Islam Indonesia, istimewa dimasa Hukum Perang masih berkobar, daripada setiap djenis, sifat dan bentuk Dualisme, dalam bidang dan lapangan apa dan manapun. Sehingga dilingkungan Negara kita hanja dikenal satu Pimpinan Negara, jang djuga bertugas memegang Pimpinan Perang dan Pimpinan Ummat Berperang. Dalam pada itu, tiap-tiap Mudjahid, terutama Pemimpinannja, harus pertjaja dan jakin dengan sepenuh djiwanja, akan benarnja perintah-perintah Allah, perintah-perintah Nabi Clm. Dan perintah-perintah Imam-Plm. T., jang terrealisasi dalam Hukum-hukum Djihad dan Perintah-perintah Djihad beserta pelaksanaannja. Tegasnja tiap Mudjahid, chusus Pemimpin Mudjahid, harus pertjaja, dan jakin akan benarnja tiap-tiap tingkah-lakunja, berwudjudkan amal-amal pembinaan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Dikala Djama’atul-Mudjahidin merupakan satu kesatuan Ummat kompak, dlahir dan bathin, tidak tertjerai berai dan tidak berpetjah belah, maka barulah setiap anggauta atau bagian Djama’ah tsb. berhak menerima dan menikmati kasih-sajang dan Kurnia Allah. Dan dengan ini, terwudjudlah Firman Allah didalam Kitab-Nja: “Innallaha juhibbulladzina juqatiluna fi sabilillahi shaffan ka annahum bunjjanun marshush”, atau dengan terdjemahan bebas: “Bahwasanja Allah berkenan menumpahkan (segenap) kasih-sajang-Nja (hanjalah) kepada (golongan, ummat dan bangsa) orang-orang jang djihad-berperang pada djalan-Nja dengan teratur (berorganisasi, bersaf-saf, tersusun rapih, sepandjang hadjat dan keperluan Djama’tul-Mudjahidin tsb.), (jang bentuk, sifat, dan fungsinja) laksana bina-bina daripada sebuah tembok (bantu-membantu, bela-membela, djundjung-mendjundjung dst.)”. Selain dari pada itu, dari pada isi dan djiwa Firman Allah terlukis di atas, bolehlah kira-nja ditarik dan dipetik peladjaran daripadanja, jang menundjukkan akan pentingnja kedudukan, peranan dan fungsi Pimpinan dimasa Perang, dimasa revolusi. Tegasnja: Pimpinan jang djudjur dan ichlas, benar dan ‘adil serta tegas, tapi bidjaksana. Ialah Pe-mimpin jang sanggup hidup dan berdjuang bersama-sama ra’iat, sehidup semati, senasib-sepenanggungan, dan timbul-tenggelam bersama-sama bawahan dan ra’iat, jang men-djadi tanggung-djawabnja, di dunia hingga di achirat. Pendjelasan 5: Hidup Berorganisasi Sudah agak lama kita beladjar hidup berorganisasi, dan memang tiada manusia, djiwa mudjahid, jang pandai berdiri sendiri, jang tidak tergantung, tidak terpengaruh atau tidak memerlukan sesuatu diluar pribadinja. Mula pertama kita merasa hidup seorang diri. Lambat-laun perasaan itu meningkat hingga mendjadi kesadaran dan keinsjafan selaku anggauta sesuatu keluarga. Dan selan-djutnja meningkat lagi, hingga kita merasa dan menganggap diri kita, insjaf dan sadar sepenuhnja, sebagai warga masjarakat dan negara, warga ummat dan bangsa. Dengan meningkatnja nilai perasaan dan anggapan, jang kemudian terrealisir dalam kelakuan dan perbuatan, maka makin bertambah2 meningkat pula rasa tanggung djawab kita. Sebagai seorang diri, kita hanja bertanggung djawab atas diri kita. Sebagai warga sesuatu keluarga atau kelompok, tanggung djawab kita meningkat mendjadi tanggung djawab terhadap keluarga dan kelompok. Begitulah selandjutnja, sebagai warga sesuatu ummmat, bangsa atau djama’ah, maka pertanggung djawab kita akan meliputi seluruh ummat, bangsa dan djama’ah itu. Rasa tanggung-djawab jang makin meningkat itu, tidak hanja akan menambah besarnja hak kita, melainkan djuga makin menambah besar dan beratnja kewadjiban antar-warga, antar-kelompok dan antar-ummat. Sjahdan, dengan sandaran Ma’lumat K.T. jang mendjadi sendi-dasar hidup dan perdju-angan kita, hidup dan berdjuang hanja untuk melaksanakan tugas Ilahy muthlak, merealisir dharma jang tertanam dalam djiwa setiap Mudjahid, maka seluruh Barisan Mudjahidin tanpa ketjuali, dimanapun mereka berada dan bertugas, terikat erat satu sama lain demikian rupa, baik oleh Bai’at Negara, Bai’at Djabatan, Bai’at Setia maupun Bai’at selaku Mudjahid, sehingga mereka itu berwudjudkan satu Djama’ah Besar, jang anggauta-anggautanja terdiri daripada tiap-tiap Mudjahid dan Mudjahidah, tegasnja:

Djama’ah Besar Mudjahidin Selaku warga Djama’ah Besar Mudjahidin, maka tiap-tiap Mudjahid akan merasa makin bertambah-tambah besar dan mendalamnja rasa-setia kawannja, rasa-tang-gung-djawabnja, rasa wadjibnja dst., sampai-sampai achirnja meliputi seluruh Um-mat dan Bangsa, Negara dan Agama. Hendaklah semangat, kesadaran dan keinsjafan serupa itu ditanam dalam-dalam dan dipupuk baik-baik dalam djiwa setiap Mudjahid, dan kemudian diperkembangkan dan diwudjudkan dalam bentuk amal dan djasa2, baik djasa terhadap Ummat dan Bangsa maupun terhadap Negara dan Agama. Djika demikian halnja, maka tjita-tjita Baldatun Thajibatun wa Rabbun Ghafur bukan impian atau chajalan belaka. Daja selamat-menjelamatkan, daja rahmat merah-mati dst. dst. akan sambung me-njambung tidak kundjung-putus, sehingga meliputi seluruh Ummat dan bangsa, seluruh Negara dan Agama. Demikianlah “dharmaning ksatrija sutji” pentegak-Kalimatillah! Harap direnung-resapkan sebaik-baik dan sedalam-dalamnja, hingga terwudjud dalam bentuk bukti-kenjataan jang sebenarnja. Pendjelasan 6 : Membina Rasa Tjinta Tha'at, Setia dan Patuh Dalam kata “tha’at dan patuh” termasuk pula istilah “disiplin” (discipline), dalam arti-kata chusus maupun umum. Bandingkanlah dengan Pendjelasan 7., C.! Tha’at-patuh tanpa rasa-tjinta setia, akan merasakan kaku-tegang dan kurus-kering-tandus, laksana suara irama. Bahkan kadang-kadang terasakan sebagai sesuatu jang keras dan kedjam, kasar dan bengis. Demikian pula benar dan adil, tanpa qisthi dan palamarta. Maka untuk memperoleh hasil amal jang sempurna, djasa-djasa jang besar manfa’at dan maslahat untuk umum, untuk Ummat, Negara dan Agama, maka kuntjinja terletak dalam djiwa, atau lebih tegasnja: djiwa Mudjahid jang harmonis, selaras dengan tugasnja. Mudjahid jang memiliki keselarasan djiwa ini akan menunaikan segala tugas wadjibnja dengan sepenuh-djiwanja, dengan tekun, dengan khusu’ dan khudlu tanpa menghiraukan atau terpengaruh oleh sesuatu diluarnja. Dan keselarasan djiwa itu hendaknja bersifat vertikal (1) mulai tingkatan pemimpin teratasi hingga bawahan jang terendah, dan seba-liknja, dan bersifat pula horizontal (2), merata-mendatar, hingga sampai meliputi Djama’-atul-Mudjahidin sebagai kesatuan dan keseluruhan. Maka pokok-pangkal daripada kese-larasan djiwa itu terletak pada rasa-tjinta, ialah rasa-sutji-murni. Jang bersemajam dalam lubuk kalbu setiap Mudjahid sedjati. Bagi membina djiwa baru, atau menanam djiwa djihad, djiwa jang sanggup dan mampu menjelaraskan diri dengan hukumhukum Djahad, djiwa jang berani bertindak menja-lurkan tingkat-laku dan amal-perbuatannja dengan Hukum-hukum Djihad, maka lan-dasan pembinaan djiwa kesatria sutji sematjam ini a.l.l. adalah sbb: A. Rasa-tjinta setia kepada Allah (Mahabbah) dalam ma’na dan wudjudnja: - Sanggup dan mampu melaksanakan tiap-tiap perintah-Nja dan mendjauhi tiap- tiap larangan-Nja, tanpa ketjuali dan tanpa tawar-menawar; - Mendahulukan dan mengutamakan pelaksanaan perintah-perintah Allah, daripada sesuatu diluarnja; dan - Mendasarkan tiap-tiap laku lampah dan amalnja atas Wahdanijat Allah, tegasnja: atas Tauhid sedjati, dan tidak atas alasan, pertimbangan dan dalil apapun, melainkan hanja berdasarkan Khulishan-mukhlisan semata, atau dengan kata-kata lain: “Allah-minded 100%. B. Rasa-tjinta-setia kepada Rasulullah Clm., dalam ma’na dan wudjud: - Sanggup dan mampu merealisir adjaran dan Sunnah Clm., dengan kepertjajaan dan kejakinan sepenuhnja, bahwa tiada tjontoh dan tauladan lebih utama dari-pada adjaran dan Sunnahnja: chusus dalam rangka djihad, tegasnja rangka usaha membina Negara Madinah Indonesia; dan - Pantang melakukan sesuatu diluar adjaran dan hukum Islam, sepandjang Sunnah, hingga mentjapai taraf “Islam-minded 100%”. C. Rasa-tjinta setia kepada Ulil-Amri Islam, atau Imam N.I.I., atau Plm. T. A.P.N.I.I., jang didalamnja termasuk (1) rasatjinta-setia kepada pemerintah Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu Pemerintah di luarnja; (2) rasa tjinta-setia kepada Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu Negara diluarnja; (3) rasa-tjinta-setia kepada Undang-Undang (Qanun-Asasy) N.I.I., dan tidak kepada Undang-undang negara manapun; dst. dst. dst., jang semuanja itu tertjakup dalam

istilah “Negara Islam Indonesia-minded 100%”. Tjatatan: Kita hanja mengenal satu Ulil Amri Islam, satu Imam-Plm. T. A.P.N.I.I., tidak lebih, dan tidak kurang. Tiap-tiap kepertjajaan, kejakinan, anggapan dan perlakuan, jang menjimpang atau bertentangan dengan dia, adalah sesat dan menjesatkan, salah, keliru dan durhaka. D. Rasa-tjinta-setia kepada tanah-air, ummat dan masjarakat, sampai-sampai kepada diri pribadi, dengan tjatatan dan perhatian: - Bahwa ketjintaan dan kesetiaan kita dalam hubungan ini tidak sekali-kali boleh melanggar atau menjimpang, melebihi atau mengurangi barang apa jang termak-tub pada huruf-huruf A., B. dan C. di atas; melainkan semuanja tetap berlaku dalam batas-batas rangka djihad dan usaha djihad, dan tidak sesuatu di luarnja. E. Dan rasa-tjinta-setia kepada tugasnja, tugas dan wadjibnja melaksanakan Djihad-berperang pada Djalan Allah, karena Allah, untuk mentegakkan Kalimatillah, langsung menudju Mardlatillah, lebih dan dilebihkan daripada setiap ketjintaan diluarnja, dalam makna dan wudjud: - Pertjaja dan jakin dengan sepenuh djiwanja, bahwa Djihad adalah satu-satunja dharma-bakti muthlak dan maha-sutji ‘indallah wa ‘indannas, jang boleh membawa pelakunja naik meninggi sampai kepada harkat-deradjat jang termulia, dibawah para Anbija-Allah dan para Rasulullah; - Karena Djihad berhukumkan Fardlu’ain dan Fardlu kifajah (bersama-sama), maka pada tiap-tiap sa’at Allah berkenan mengidzinkannja, wadjib djihad itu diletakkan atas pundak tiap-tiap Mudjahid dan atas pundak seluruh Djama’ah Mudjahidin, atau dengan kata-kata lain; atas seluruh ummat, tanpa ketjuali. - Pertjaja dan jakin sepenuhnja, bahwa Djihad fi sabilillah adalah satu-satunja tjara, laku, usaha dan ‘amal memperdjuangkan Keluhuran Agama Islam, Kedau-latan Negara Islam Indonesia beserta Hukum-hukum Sjari’at Islam jang mendjadi sendi-dasarnja, dan Kebahagiaan Ummat dan Bangsa, jang berharap ingin mengutjap-menikmati Kurnia Allah jang Maha-Besar, dalam Keradjaan Allah di dunia dan di achirat, atau sekurang-kurangnja dalam lingkungan Baldatun Thajjibatun wa Rabbun Ghafur di Indonesia atau Negara Islam Indonesia, ialah udjung kesudahan tjita-tjita Ummatul-Mudjahidin, Ummat pilihan dan kekasih-Allah di Indonesia; dan - Sanggup serta mampu menjalurkan tiap-tiap gerak-langkah dan tingkah-lakunja, dlahir maupun bathin, sepandjang Hukum-hukum Djihad; Hukum-hukum Islam dimasa Perang, sehingga mendjadi Mudjahid tulen dan Mudjahid sedjati genap-lengkap dlahir-bathin, tegasnja Mudjahid jang “Djihad minded 100%, kejakinan mana akan mendorong Mudjahidpelakunja: = Untuk menumpahkan dan mengorbankan segenap tenaga dan hartanja hanja pada Djalan jang ditaburi rahmat dan ridla Ilahy; = Untuk menggunakan tiap detik sepandjang umurnja hanja bagi djihad mente-gakkan Kalimatillah; = Untuk mempertaruhkan djiwa, raga dan njawanja hanja untuk persembahan dharma-bakti muthlak kepada Dzat ‘Azza wa Djalla semata; tegasnja hanja untuk mentegakkan Kalimatillah, mendhahirkan Keradjaan Allah di dunia, chusus di permukaan bumi Allah Indonesia. Dan tiada sesuatu di luarnja. Pendjelasan 7: Menggalang Benteng Islam nan Kuat Sentausa Mengingat barang apa jang tertera pada pendjelasan-pendjelasan 5. dan 6. Di atas, djika Djama’atul-Mudjahidin sungguhsungguh sanggup, mampu dan kuasa mewu-djudkan adjaran-adjaran Kitabullah, Al-Qur'anul-‘adzim, dan mengikuti Sunnah Clm., dengan tepat dan seksama, setingkat demi setingkat, selangkah demi selangkah, sepan-djang rangka Djihad dan Hukum Djihad, Insja Allah dalam waktu jang singkat gelom-bang Djama’ah tsb. akan merupakan satu Benteng Islam raksasa jang maha-kuat dan maha-sentausa, dlahir maupun bathin, jang sanggup dan mampu menghadapi serta mengatasi segala kemungkinan dan keadaan betapapun sifat dan bentuknja. Beberapa fakta utama, jang akan dapat didjadikan landasan-landasan dan pembinaan ini antara lain ialah: A. Memupuk dan memperkembangkan rasa-tanggung-djawab dlahir-bathin jang makin bertambah-tambah besar, dalam ma’na:

- Bertanggung-djawab sepenuhnja akan berlakunja Hukum-hukum Allah, Hukum-hukum sepandjang adjaran Al-Qur'an, dan Sunnah Clm., tegasnja: Hukum-hukum Sjari’at Islam, atau Undang-undang Islam, atau Undang-undang Negara Islam Indonesia; dan - Bertanggung djawab sepenuhnja akan berlakunja dan dilaksanakannja dengan tepat Hukum-hukum Islam dimasa Perang. B. Memupuk dan memperkembangkan rasa-setiakawan jang makin bertambah-tambah mendalam, terutama, dalam lingkungan Djama’atul-Mudjahidin, sepandjang adjaran Islam, sebagaimana jang telah terlaksana dalam pergaulan antara kaum Anshar dan Muhadjirin, ialah kaum Mudjahidin dibawah pimpinan, bimbingan, tuntunan dan asuhan langsung Rasulullah Clm. Pada zaman Madinah awal, di Negara Basis Islam Pertama di Jaziratul-Islamijah termaksud meliputi segala bidang dan segi, chusus dan umum, sakhsy dan idjtima’I, dalam sepandjang adjaran sutji, terutama dalam menanam, membangkitkan dan mengobar-ngobarkan Semangat Djihad dalam membina dan memperkembangkan Djiwa Djihad, dan dalam melaksanakan Hukum-hukum Djihad.Dengan demikian, maka tjita-tjita hendak menggalang Persatuan Islam dan Persatuan Ummat, terutama Ummatul-Mudjahidin jang kuat-kompak dlahir-bathin bukanlah satu impian chajal! Djadikanlah Tali-tali Allah, perintah-perintah Allah beserta Sunnah Clm. Selaku tafsirnja, sebagai daja-pengikat antardjiwa dalam lingkungan Djama’atul-Mudjahidin! Dan kemudian perkuat dan sempurnakanlah segala usahamu dalam djurusan itu, hingga seluruh tubuh Djama’ah akan merupakan satu Benteng Islam raksasa nan kuat-sentausa! Dalam pada itu, hendaklah diingati pula, tanda setia-kawan itu hendaknja dibuktikan lebih dahulu dari atas kebawah, dan bukan dari bawah keatas, karena pihak atasan Komandan atau Pemimpin, harus lebih dahulu pandai menundjukkan kesungguhsungguhnja melaksanakan wadjibnja: memperlindungi, menuntun dan membimbing pihak bawahan atau anak buahnja, daripada hanja pandai menuntut kepatuhan, kesetiaan, kesetiakawanan, pembelaan dan pertanggung-djawab pihak bawahan terhadap pihak atasnja! Itulah bukti jang njata daripada apa jang disebut Mahabbah kepada Allah dan Mushahabah terhadap sesama Mudjahidin, sesama Ummatul Muslimin! C. Menanam dan memperkuat disiplin, ‘umum dan terutama militer. Disiplin (Dicipline), dalam ma’na Tha’at patuh dan setia, baik dalam bidang-bidang umum maeopun dalam segi-segi kemiliteran, wadjib ditanam, dipupuk, diperkem-bangkan dan diperkuat dalam dada, djiwa, tekad dan ‘amal setiap Mudjahid. Karena tiap Mudjahid selaku pelaksana hukum-hukum Djihad, Hukum-hukum Islam dimasa Perang, dengan automatis sesungguhnja adalah Pradjurit-Tentara Allah. Tanpa disi-plin, maka seorang Mudjahid hanja merupakan pedjuang liar, pedjuang jang ingkar, menjimpang dan menjeleweng daripada Djama’ah Besar, Djama’atul-Mudjahidin. Dalam keadaan biasa, sikap liar itu hanja akan mengetjewakan. Tapi dimasa berlaku Perang Semesta, Perang Totaliter, maka disiplin masuk salah satu kewadjiban muth-lak, jang harus berlaku tanpa sjarat, tanpa kajid dan tanpa tawarmenawar.Oleh sebab itu, hendaklah setiap Mudjahid suka melatih diri demikian rupa, sehingga rasa-disiplin sungguhsungguh meresap dan terbukti dalam segala hal, sampai-sampai kepada tingkah-laku dan perbuatannja sehari-hari. Beberapa pokok, jang boleh didjadikan anak-tangga mentjapai disiplin adalah seba-gai berikut: 1. Disiplin terhadap kepada Allah, dalam arti kata: tha’at, patuh dan setia melaksa-nakan setiap perintah Allah dan mendjauhi segala larangan-Nja, dengan hati nan djudjur, ichlas dan ridla, tanpa tawar-menawar, tanpa sjarat dan tanpa kajid apa dan manapun. 2. Disiplin terhadap kepada Rasulullah Clm., dengan kenjataan mengikuti djedjak Clm., sesempurna mungkin, terutama dalam Djihad membina Negara Basis Madinah. 3. Disiplin terhadap kepada Ulil-Amri Islam, tegasnja tha’at, patuh dan setia melak-sanakan segala perintah Imam-Plm.T., dengan penuh kejakinan dan kepertjajaan, dan lepas daripada sjak, nifaq, dan dhan. Tjatatan a. Sikap dan perbuatan disipliner terhadap kepada Ulil-Amri, boleh dianggap sebagai tanda-bukti jang njata akan benarnja apa jang termaktub pada huruf C, 1., dan E di atas. b. Sepandjang qijas dan dalam batas-batas tertentu, maka termasuk pula dalam golongan C 3. Ini: Disiplin terhadap kepada para Panglima (Perang), para Komandan (Lapangan-Pertempuran) dan para Pemimpin N.I.I. (atasan) lainnja. 4. Disiplin terhadap sesuatu lain diluarnja, termasuk didalamnja disiplin terhadap diri-pribadi. Mitsalnja: - Pandai mengawasi dan menguasai ‘amal dan tindakan sendiri;

- Pandai mengekang dan mengatur segala nafsu getaran djiwa, niat, hadjat, ‘adzam, rentjana dan segala gerak-gerik pantjaindranja sendiri; - Sehingga tetap berdjalan dan tersalurkan pada djalan dan melalui Hukum-hukum jang ditaburi Rahmat dan Ridla Ilahy; tegasnja: tetap tertib, teliti dan hati-hati dalam melakukan Hukum-hukum Djihad. Hukum-hukum militer, ketentuanketentuan militer, tata-tertib Militer, siasat militer, dst. dst.; dalam pada itu segala hal jang membawa kepada daerah dan lalai, tjeroboh, dan sembrono/lalainja harus didjauhkan dan dienjahkan, tegasnja sikap tawakkal ‘alallah setjara muthlak harus dipersatu-padukan dengan perbuatan-perbuatan taqwa, sifat-sifat ittiqa sepandjang Sunnah; dan kedua unsur djiwa ini harus ditanam dan diperkembangkan dalam djiwa dan ‘amal setiap Mudjahid! Di sinilah setiap Mudjahid memperoleh kesempatan melakukan Djihadul-Akbar, di samping dan bersama-sama DjihadulAsghar. Alangkah tinggi nilai setiap Mudjahid, jang tahu dan sadar sepenuhnja akan keluhuran funksinja, dan jang pandai serta tjakap-tjukup menunaikan tugasnja nan maha-mulia dan maha-sutji itu, walau atjapkali terasa maha-berat sekalipun!

PERMA’LUMAN PERANG RESMI REPUBLIK INDONESIA KOMUNIS KEPADA NII
STATEMENT PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA

ALLAHU AKBAR Sambutan atas : PERMA’LUMAN PERANG RESMI Dari : REPUBLIK INDONESIA (KOMUNIS) Kepada : NEGARA ISLAM INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim. Asalamu ‘alaikum w.w.! I. KALAM PENGANTAR 1. Alhamdu lillahwasj-sjukru lillah! Allahu Akbar! Segala pudji wadjib hanya diper-sembahkan kepada Dia., Dzat MahaTunggal, Maha-Murah dan Maha-Asih, Jang telah berkenan membuka djalan, lapang dan kesempatan kepada sekalian hamba-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja, djihad berperang pada djalan-Nja, untuk memuliakan kalimat-Nja (Agama-Nja, Islam), guna keselamatan mereka, jang sengadja hendak tha’at sepenuhnja kepada perintah-perintah Allah dan mentjontoh perdjalanan Rasulullah çlm. Sungguh tugas-wadjib muthlak langsung daripada Allah kepada setiap Mudjahid itu maha-berat, tapi maha-sutji. Semoga Ia berkenan memperlindungi dan memelihara sekalian Mudjahidin daripada pelbagai matjam goda dan tjoba, jang manis maupun jang pahit, daripada sjak dan raba-raba, daripada ingkar dan dosa, dan berkenanlah kiranja Ia menuntun dan membimbingnja maksud dan tudjuan hidup manusia, jang sehat pikiranja dan terbuka mata-hatinja. Kemudian daripada itu, berkenanlah pula kiranja Ia mentjurahkan sebesar-besar kedjajaan dan kemenangan kepada seluruh Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, ialah sjarat muthlak untuk mendekati dan mentjacapai kekuasaan Islam (ad-daulatul-Islamiyah), satu-satunja djembatan mas jang akan membawa ummat manusia kedalam Keradjaan Allah di dunia, dimana berlaku

hukum-Nja (Islam) dengan sempurnanja. Insja Allah. Amien. 2. Sjahdan, maka dengan karangan ini kami hndak tjoba mengupas dengan tjara ringkas tapi tegas, realitis dan elementer, sual² sekitar “Permaluman Perang dengan resmi dari pihak Republika Indonesia Komunis kepada Negara Islam Indonesia”, suatu peristiwa jang maha-penting, tidak hanja bagi RIK dan NII, melainkan djuga bagi seluruh dunia, terutama bagi Dunia Merdeka atau Blok Demokrasi. Adapun bahan, dasar dan pangkal kupasan akan kami ambil daripada intisari: A. Pidato Soekarno, selaku Presiden dan Panglima Tertinggi RIK: 1) 16 Agustus 1953, djam 20,15 hingga djam 21,50, didepan sidang pleno isti-mewa parlemen, di Djakarta; dan 2) 17 Agustus 1953, djam 08,30 hingga djam 10,00 dimuka umum; dan B. Pidato Ali Sastroamidjojo, selaku Perdana Menteri Kabinet Ali-Wongso, tentang “keterangan pemerintah dan programnja”, jang diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953 malam hari, didepan sidang parlemen. Adapun peristiwa² lainnja, jang terdjadi sebelum atau sesudahnja, hanjalah meru-pakan pendjelasan, pentegasan, tambahan keterangan dan alasan, untuk membuka tabir dan menghalau kabut, menghilangkan segala salah faham dan keliru tafsir, dan menutup segala kemungkinan mendapat pendapat sesaat, jang pada lazimnja hanja disebabkan karena kira dan sangka, terka dan raba, berat sebelah dan tidak ‘adil. Pidato2 tersebut, jang memakan waktu berdjam2 lamanja, tidak kami kutip di sini seluruhnja, melainkan hanja diambil beberapa bagian (passages) daripadanja, jang pokok (prinsipil) dan penting (urgent), chusus mengenai program kabinet Bahagian I Fasal pertama tentang “Pemulihan Keagamaan”. Kiranja sambutan jang sesingkat ini akan dapat memadai dan mentjukupi kepentingan dan keperluannja. Bagi kedaulatan N.I.I., kesutjian Islam dan keselamatan U.I.B.I. (ummat Islam Bang-sa Indonesia), djua adanja. Dengan karena limpahan Hidajatuttaufiq dan Hidajat-ullah semata. 3. Bahwasanja pidato2 itu sudah terlambat, amat konsep diutjapkannja, bukanlah satu sual jang perlu dikupas. Lantaran peristiwa2 jang berwujudkan Perang itu bukanlah baru mulai atau dimulaikan, beberapa waktu sebelum atau sesudah Perma’luman Perang (oorlogsverklaring) resmi itu —sebagaimana jang pernah terjadi di dalam riwajat dunia, seperti: serangan dan pernjataan perang Djerman kepada Nederland, Djepang kepada Amerika Serikat, Korea Utara kepada Korea Selatan dan lain2 sebagaimanja, dengan berdasarkan ‘akidah “pukul dulu”, perkara di belakang, atau serang dulu, pernjataan di belakang”—, Melainkan serangan atau agressi RIKdan TRIK itu dilantjarkan, sedjak 4½ tahun jang lalu, atau sekurang2-nja sedjak 3½ tahun jang lalu, seperti jang dibuktikan dalam riwajat: 4. A. Peristiwa Antralina, 25 Djanuari 1949, dimana tentara liar (TNI pelarian dari Djokja) melantjarkan agressi pertama kepada Tentara Islam Indonesia, memper-kosa Ummat Islam dan melanggar batas2 daerah de facto N.I.I. (waktu itu: Madjlis Islam). Titik permulaan Perang Segi Tiga pertama. B. Agressi kedua jang berwujudkan serangan besar-besaran terus-menerus hingga kini dilakukan mulai Djanuari 1950, beberapa hari kemudian daripada peneri-maan daulat hadijah, telur K.M.B. Serangan ini boleh dianggap sebagai landjutan daripada Perang Segi Tiga Pertama, jang berhenti dengan pemberian daulat hadijah, 27 Desember 1949, sa’at dilahirkannja RIS atau RI Djakarta. Betapa tjurang dan serongja pemim-pin-pemimpin nasional kiri, dibantah oleh pihak komunis, membuat “sulap politik”, sehingga R.I. Djokja (jang sudah mati itu)”, tjukuplah pembatja kami perselahkan meneliti Manisfest Politik N.I.I. No. V/7! Maksud jang terkandung di dalamnja ialah: hendak mengabui mata ra’jat, dan terutama mata internasional, walaupun terpaksa menjalani kenjataan2 dalam riwajat, dan lebih djauh, untuk “menghapuskan hak asasy Ummat Islam, jang telah terlebih dulu mempro-klamasikan kemerdekaannja: 7 Agustus 1949”. Harap ditjatat baik2! Kini, setelah kabinet Ali-Wongso, jang bertjorak kiri dan berhaluan merah itu dibentuk, maka nama RIK sesuailah dengan kenjataannja, walau mereka masih tjoba2 memukai kamuflase “merk nasional” atau “merk Islam” (munafiq)” sekalipun. 4. Sebelum memulaikan pendjeladjahan jang dimaksudkan di atas, maka terlebih dulu akan diuraikan beberapa tindjauan, beralaskan atas beberapa kedjadian dan peristiwa di masa jang lampau, beberapa waktu berselang, djuga tentang kedudukan hukum perbedaan pendapat, selisih pendirian, pribadi Soekarno sendiri sebagai politikus, pemimpin ra’jat, orator, agitator, presiden RIK dan Panglima Tertinggi APRIK. Karena faktor2 ini masuk bahan2 pendjeladjahan utama,

bagi memperoleh pengertian jang tegas dan penglihatan (visie) jang djelas dan benar (objektif) dalam hubungan ini. sehingga karenanja, setiap orang dan negara, djuga didalam lingkungan dunia internasional, dapat menetapkan pendapat dan pertimbangannja sendiri betapakah gerangan keadaan dan kedudukan perkara jang sewadjarnja, dan apakah sikap dan pendirian jang patut diambil, berkenaan dengan ini. Selandjutnja, untuk membanding dan mempertimbangkan dengan teliti dan seksama segala sesuatu berkenaan dengan sual2 sekitar Perma’luman Perang RIK kepada NII, baiklah kami persilahkan pembatja memeriksai kembali Manifest Politik N.I.I., No. V/7, Heru Tjokro bersabda: Indonesia, kini dan kelak! Semoga dengan sambutan singkat ini Allah berkenan membuka mata seluruh dunia, interinsuler dan internasional, terutama didalam lingkungan Ummat Islam Bangsa Indonesia, djua adanja. Amin. II. KEDUDUKAN HUKUM Menjebabkan Perbedaan Pendapat, Penglihatan dan Pendirian Sebagaimana diterangkan di atas, maka N.I.I. lahir di dunia diterangkan di atas, maka N.I.I. lahir didunia pada tanggal 7 Agustus 1949, sedang RIK (dulu: RIS atau RI) dilahirkan pada tanggal 27 Desember 1949. Dengan tarich kelahiran di atas, maka njatalah sudah, bahwa agressi kedua, mulai djanuari 1950, dilantjarkan oleh sebuah negara atas sebuah negara jang lainnja, tegasnja: oleh RIK kepada NII. Sebagai negara, maka masing-masing2 pihak menpunjai pendirian dan sikap serta haluan sendiri2, jang masing2-nja bertentangan satu dengan jang lainnja, disebabkan karena perbedaan dasar, asas, maksud dan tudjuan sebagai negara. Mitsalnja: NII berdasarkan UUDS (= Undang-Undang Dasar Sementara), pentjuarian dari RI Djokja, pantjasila). Demikian selandjutnja, sampai kepada perbedaan sifat, bentuk, usaha dan lain2 jang seketjilnja, seperti: lambang, bendera dan lain2. Heran kita, bila pandangan dan penglihatannja RIK berbeda dan bertentangan dengan pandangan dan penglihatan NII? Apalagi, kalau kita perhitungkan faktor permusuhan, djurang jang tjuram-dalam, antara kedua negara itu, tegasnja: keadaan perang, maka djelaslah sudah, apa sebab RIK mengatjau dan mengamuk, dengan sombong dan takaburnja, dengan tjongkak dan chijanatnja, bagaimana orang jang kalap dan lupa daratan. Agaknja mereka, RIK, ahli-waris dan anak-tjutju iblis la’natullah, tidak akan menghentikan usahanja jang kedji kedjam dan durdjana itu, selama mereka belum dapat mentjapaikan maksudnja, atau hantjur-binasa dan tenggelam-terbenam dalam dasar Lautan Merah, jang lagi diarungi bachtera mutawasithah, menudju ke Darul-Falah dan Darul-Fatah. Oleh sebab itu, djika nanti di sini kami utarakan barang sesuatu jang berbeda atau bertentangan dengan apa jang pernah dilahirkan oleh pihak RIK, hendaknja para pembatja jang budiman suka mema’lumi dan memafhuminja. Sebaliknja, dalam beberapa hal jang memang benar, biar asalnja dari musuh sekalipun, kami tidak akan menjangkalnja. Selandjutnja, mengingat haluan politik keluar (luar negeri) daripada tiap-tiap negara, jang bulat, maka perbedaan kepentingan pun sudah mendjadi alasan jang tjukup kuat, untuk mempunjai visie jang beda dan berlainan, antara satu pihak dengan pihak jang lainnja, mitsalnja: RRT dan Rusia membantu Korea Utara hanjalah karena daerah (negara) tersebut masuk kepentingannja (pertahanan, ideologi, pengaruh dan lain 2). Dan sebaliknja, A.S. dan kawan2nja membantu Korea Selatan, bukanlah sekali2 karena “tjinta” kepada negara tersebut, melainkan karena daerah (negara) tersebut masuk kepentingan A.S. dan kawan2nja, ditindjau daripada sudut geopolitik. Dan seterusnja. Dengan tamsil ini sadja, tjukup teranglah kiranja, bahwa hanja karena perbedaan kepentingan (belum perhitungan ideologi, asas dan maksud-tudjuan sesuatu negara), maka masing2 negara mempunjai hak sepenuhnja untuk menentukan sikap dan pendirian serta haluan negaranja sendiri, berbeda dan berlainan dengan negara jang lainnja, bahkan kalau perlu bertentangan. Itu semuanja bukanlah kedjadian jang aneh bin ‘adjaib, melainkan biasa sadja, jang boleh berlaku setiap masa. Djadi, kalau pendirian RIK dan pendirian NII berbeda dan bertentangan satu dengan jang lainnja, tidaklah sekali2 mengherankan, terlebih2 lagi karena kedua negara tersebut lagi dalam permusuhan, dalam keadaan perang.

Apa jang halal untuk RIK belum tentu halal buat NII, dan sebaliknja apa jang wadjib bagi NII mumkin haram untuk RIK. Harap pembatja mema’luminja! III. SEKITAR PRIBADI SOEKARNO 1. Setiap penduduk di Indonesia agaknja sudah tahu, siapakah gerangan Soekarno itu (selandjutnja di sebut: Karno!) A. Di zaman Belanda ia masuk salah seorang pemimpin muda jang ulung, di kalangan nasional. Karno terkenal memiliki mulut dan kerongkongan (tenggo-rokan), dari mana ia pandai melantjarkan suara jang menggeledek dan meluntjur-kan pidato jang berapi2. Dengan bawaannja jang serupa itu, maka ia dapat mengembangkan dirinja mendjadi orator (tukang pidato) jang hebat dan agitator (penghasut dan menggelora semangat) jang tjakap dan mahir. Dalam posisi sebagai agitator dan orator, jang membutuhkan tepuk-tangan dan sorak-sorai dari pendengarnja, maka atjapkali ia dihinggapi oleh penjakit iblis (rija’, sum’ah, takabbur dan lain2), terombang-ambing oleh gelombang nafsu, sjahwat, amarah dan perasaannja (sentimentil), jang kadang2 meledak laksana dynamit, seperti jang terdjadi pada tanggal 17 Agustus 1953 jang baru lalu. Adapun isi-hati dan dasar-djiwanja jang mendjadi filsafat-hidupnja, didjeladjah daripada kata2 dan tulisannja dengan tjara analytis dan synthetis (tafsil dan idjmal), ialah: marhainisme, satu bentuk (model) ideologi, terletak antara nasio-nalisme kiri dan komunisme, jang “keluar” tampak sebagai salah satu mata-rantai Pan-Asiatisme. Karena “ideologi” itu pulalah, maka ia terdjebak oleh pemerintah djadjahan Belanda, dan kemudian dibuang! B. Di zaman Djepang karno mendjadi agen Djepang nomer satu. Dewi sri alias ibu Pertiwi diselaraskan dengan Dewi Amaterasu, animisme Djawa (kedjawen) ditjampur dengan sintoisme, marhainisme disesuaikan dengan tjita2 kema’muran Asia-Timur-Raja, dan dengan alat2 itu, atas perintah tuannja, ia siap memperdjepangkan diri dan kawan2nja, dan kemudian U.I.B.I. pun mendjadi sasarannja jang istimewa. Sebagai hamba Dewi Amaterasu ia dapat menundjuk-kan kepandaian dan ketjakapannja, sehingga ia mendapat kedudukan jang lumajan dan bintang dari tuannja. Waktu itu, suaranja, jang menggeledek ditu-djukan kepada perkuatan kekuasaan Djepang dan aksi anti-A.S., dan anti-Inggeris, ialah musuh2 negara tuannja. Babak ini berhenti dengan kapitulasi Djepang. C. Pada awal revolusi nasional, maka Karno (+ Hatta) dipaksa oleh segolongan pemuda revolusioner untuk menjatakan proklamasi (17 Agustus 1945). Karena nasib jang mudjur dan bintangnja lagi naik, maka ia dakui dan mengakui dirinja presiden, walau sebagai presiden konstitusionil sekalipun, sebagai lambang kesatuan negara. Sehingga karenanja, ia menempati kedudukan “kepala negara” (boneka) jang tidak bertanggung-djawab dan ta’ boleh diganggu-gugat (dalam segala perbuatan dan pernjataannja), dan di dalam lingkungan angkatan perang ia mendjadi panglima tertinggi (kalau lazim ada panglima tertinggi tituler, mumkin ia mendapat gelar “panglima tertinggi tituler”!). 2. Kembali kepada marhaenisme, jang djuga terkenal dengan nama proletarisme, jang mendjadi isi-djiwa Karno, maka bolehlah diterangkan di sini, bahwa sedjak mula zaman Djepang, ideologi ini selalu diselubungi dan ditjampur-adukkan dengan “pantjasila” satu ideologi djahilijah jang sering kali diselimuti dengan “Islam”, tegasnja “Islam munafiq”. Walaupun gutji-wasiat ini senantiasa ditutup disembunjikan, namun sering kali tampak wudjud, bentuk dan sifat jang sesungguhnja daripada apa jang disebut “marhaenisme” itu. Pada masa PNI = Partai Nasional Indonesia (I, II dan III —periksalah Manifest Politik N.I.I. No. V/7.—) marhaenisme ini tampaknja amat dekat sekali dengan ko-munisme. Sehingga pada zaman PPPKI (Permufakatan Perhimpunan2 Politik Kebangsaan Indonesia) sering terdjadi bentrokan dan pertikaian politik, antara pihak nasional kiri (marhaenisme, jang dibelakang dibantu oleh pihak komunis “di bawah-tanah” dan ex-digulisten) dengan pihak Islam, masing2 dipelopori oleh PNI dan PSII (Party Sjarikat Islam Indonesia). Pada zaman pendudukan Djepang, sifat anti-Islam ini tidak seberapa tampak, karena (1) tiap party memang terkurung didalam berbagai2 “sangkar mas”, dan (2) memang sesuai dengan instruksi Djepang, jang amat lemah-lembut didalam melakukan tipu-muslihatnja, untuk memperdjepangkan Indonesia dan men-sinto-kan U.I. B.I.

Pada zaman revolusi nasional tengah menggelora sifat djahannam itu ta’ tampak sama sekali (latent, terpendam). Tetapi tidak tampak atau tidak timbul di sini, bukan sekali2 bererti hilang dan sembuh, melainkan hanjalah sifat “sementara”, hal mana memang dipergunakan sebagai taktik untuk menggalang dan memperoleh “persatuan nasional”, satu tipu-daja jang amat litjin dan tjerdik, bagi menina-bobok-kan U.I.B.I., jang pada waktu itu memiliki semangat perdjuangan jang menggelora dan hebat-dahsjat. Kemudian, setelah daulat hadijah diterima dan pihak merah beserta pembantu2nja jang setia, agen2 Moskow, mendapat kesempatan jang baik, untuk melakukan pernanannja jang penting dan melaksanakan programnja, sepandjang konsepsi Moskow, maka “taktik” mendjaga “persatuan nasional”itu (jang kini berubah sifat dan istilahnja, mendjadi “perdamaian nasional”) lambat laun ditinggalkan. Karena pengaruh rasa bebas, lepas daripada tekanan pendjadjahan dan pendudukan asing, maka isi-djiwa jang lama terpendam itu pada suatu sa’at meledak, meletup dan meluap, dan achir-kemudiannja menampakkan pribadi jang sebenarnja. A. Ingatkah saudara apa jang diutjapkan oleh Karno tiga tahun jang lalu, semasa ia tourne ke Sunda-ketjil, pada kesempatan mana ada seorang pemuda Islam jang menanjakan tentang “kemumkinan berdirinja Negara Islam Indonesia?” Djawab Karno, katanja: “Negara Islam Indonesia tidak mumkin berdiri di Indonesia (tegasnja: RI, kini: RIK) harus melepaskan sebagian daripada wilajahnja, dimana penduduknja tidak beragama Islam, seperti Bali, Minahasa dan lain2 sebagainja.” Alangkah pitjiknja pengetahuan dan pengertian Karno dalam seluk-beluknja Agama Islam! Ia beranggapan, bahwa didalam lingkungan Negara Islam orang tidak dibolehkan memeluk Agama jang lainnja. Satu bukti jang njata akan kebodohan dan tololnja presiden RIK. Tjelakanja bagi masjarakat ialah: ia sebagai orang jang “besar” telah memberi kata-putus dan pendapat jang pasti akan barang sesuatu jang sesungguhnja ia tidak mengetahui, atau sengadja menjangkalnja. Terutama jang mengenai keseluruhan negara. Sajang! Sebaliknja, untungnja bagi dia, bahwa ia tidak tanggung-djawab, dan memang tidak dapat dipertanggung-djawabkan atas utjapan dan perbuatannja jang anti-Islam dan anti-Negara Islam itu! Berkat kedudukan dia sebagai “boneka negara”. B. Ingatkah Saudara, apa jang pernah meluntjur daripada mulut lantjang Karno, dengan sadar atau karena lupa, dengan sengadja atau tidak, dikala ia (dengan keluarganja) melawat dan berada di Manila? Antara lain2 ia berkata: “Bila ra’jat Indonesia menghendaki negara komunis, maka ia (Karno) akan tunduk kepada ra’jat itu!” Kata2 itu menggambarkan dengan djelas dan terang akan isi-hati dan djiwa Karno jang sewadjarnja, ja’ni: 1) Bahwa sewaktu2 dimana perlu, mulai sa’at itu djuga, menurut keadaan dan kepentingan (keselamatan) dirinja, maka ia ta’ segan2 mendjadi komunis, tegasnja: anti-Islam dan anti-Negara Islam. Dan 2) Bahwa didalam djantung dan hati Karno mengalirlah darah merah-Moskow, darah penganut djahannam, pengikut Beruang-Merah, darah Dadjal dan Abu-Lahab Indonesia! C. Ingatkah Saudara, apa jang pernah dilahirkan oleh mulut Karno di Amuntai pada awal tahun ini, jang isinja hampir sama dengan apa jang tersebut dalam huruf A. di atas? Anti-Islam dan Anti-Negara Islam, jang bererti pula: berchijanat kepada Allah dan kepada Rasulullah clm., serta adjaran sutji, tuntunan Ilahy dan sunnah Nabi ! Pidato ini, seperti djuga pidato2 sebelumnja, telah menimbulkan gundah dan kemarahan U.I.B.I. Dalam hubungan ini, bolehlah kiranja ditjatat reaksi daripada pihak Perti, GPII, NU, PB Persatuan Islam, dan dari pemimpin2 Islam Isa Anshary (ketua Masjumi Djawa Barat dan anggauta PB Persatuan Islam tersebut), dan Ghazali Hasan, ketua harian PB “Front Muballighin Islam Sumatera”, jang se-muanja memprotest keras dan menjangkal pidato si-djahannam itu, dan mengharapkan ditjabutnja. Hampir seluruh Indonesia, dalam lingkungan Ummat Islam, bergolaklah karenanja. D. Berkenaan dengan itu, dan berhubungan dengaan banjaknja pertanjaan dari pihak kaum Muslimin dan pemuda Islam, dari setiap lapisan dan pendjuru di Indonesia, djuga pada kesempatan diadakannja rapat peringatan Isra dan Mi’radj Rasulullah clm., maka pada awal bulan Februari ’53 dilangsungkanlah sebuah kulliyah-Karno, jang diadakan didepan mahasiswa2, maha-guru2, pembesar2 dan pemimpin2 negara, organissasi dan party, bertempat di aula Universiteit di

Djakarta. Isi chulasoh kulliyah tersebut antara lain2 adalah sebagai berikut: 1) RI adalah negara nasional. 2) Nasionalisme tidak menghalang2-i penjebaran idelogi2 jang lainnja, seperti: Islamisme, komunisme, marhaenisme dan lain2. 3) Islam bukan hanja utusan pribadi (privaatzaak), tetapi mengatur hubungan antara orang dengan Tuhan dan antara orang dengan orang, satu djalan keluar (way out) jang meliputi. 4) Konklusi: a. Nasionalisme hanjalah merupakan tempat (wadah). b. Isinja boleh Islamisme, komunisme, marhaenisme atau isme2 jang lainnja (tergantung kepada kehendak ra’jat, dalam pemilihan umum jang akan datang?). E. Apa jang tersebut di atas —D., (4)—, itu djualah jang mendjadi isi pidatonja Karno di mesdjid Kotaradja, Atjeh, dengan tambahan, bahwa menurut pendapat Karno, jang tergila2 kepada pantjasila: “rukun Islam harus ditambah dengan 2 rukun lagi, jaitu ke’adilan sosial dan peri-kemanusiaan” (supaja tjotjok dengan pantjasila?). Perlu pula diterangkan di sini, bahwa semasa Karno melawat ke Atjeh, banjaklah slogan2 jang diperlihatkan ra’jat, untuk menundjukkan kehendak, keinginan dan tjita2nja. Di antaranja: “Menudju Negara Islam!” Tetapi sesuai dengan sifat dan djiwa penipu pengchijanat, dengan perantaraan lildahnja jang berbisa (beratjun) itu, maka ia tjoba2 menina-bobokkan kawan2 kita di Atjeh, dengan kata-kata dan tjeritera, jang “memikat hati dan memberi harapan.” Perdjalanan Karno ini lalu disusul oleh Hatta, dengan selimut kooperasinja jang masjhur itu, dengan maksud jang tertentu: melunakkan kawan2 kita seperdjuangan sutji di Atjeh. 3. Dengan kupasan ringkas, berdasarkan atas riwajat jang njata dan kedjadian jang sesungguhnja, masih herankah kita, djika: A. Karno berpihak kepada merah, mendjadi alat merah atau memang merah sama sekali? B. Karno anti-Islam dan Anti-Negara Islam mati2an, tegasnja: menolak berlakunja hukum2 Islam, jang maha-’adil? C. Karno dengan karena kejakinannja jang djahannam itu, hendak mengarahkan segenap tenaga, untuk membasmi N.I.I. dan memadamkan tjahaja Ilahy (Islam)? Lebih2 lagi, djika kita mengingat kedudukan Karno sebagai orator dan agitator, jang selalu haus akan tepuk-tangan dan sorak-sorai chalajak ramai, maka ia sering kali lupa daratan, ta’ menginjak kenjataan (realiteit) jang sesungguhnja. Sadarkah ia, bahwa pidatonja penuh mengandung nafsu dan perasaan dendam, sehingga ia lupa kepada keadaan jang sebenarnja dan menjalahi kedjadian riwajat jang sesung-guhnja? Ataukah, memang ia sengadja memutar-balikkan sualnja? Dan, ataukah ia memang tidak menerima laporan2/ berita2 jang sebenarnja, sivil dan militer —jang memang sengadja menjembunjikan kenjataan2 itu, karena “malu” menjaksikan realiteit— ??? Tetapi, walaupun betapa pula diputar-balik, dipulas dan diperhalus, maka pidato Karno mentjapai puntjaknja (climax), menundjukkan djiwa Abu-Lahabnja dan hati-iblisnja, jang dengan terang2an hendak membasmi Islam, Negara Islam Indonesia dan memperkosa hak asasy Ummat Islam Bangsa Indonesia. Lebih dari itu, kiranja tidak mumkin. Ketjuali djika Karno sudah gila 100%! Di balik itu, ia ingin memuaskan hati badut2 merah, jang telah menjatakan protest, membuat demonstrasi2 dan tuntutan2. Kalau ia sendiri tidak merah dan masih tahu harga dirinja sebagai pemimpin, nistjajalah tidak begitu sadja ia membelok ke Moskow. Selandjutnja, ia ingin memberi dan menerima bantuan atau sokongan dari kabinet Ali-Wongso jang merah itu, jang menurut perhitungan akan mendapat dukungan jang kuat dari parlemen. 4. Hal ini perlu kita kemukakan lebih dulu, djika kita hendak mendjeladjah hakikinja perkara, lebih2 karena pribadi Karno menggambarkan salah satu exponent dan realisasi daripada golongan djahiliyah, golongan nasionalis kiri beserta merahMoskow, jang kini memegang kendali pemerintahan RIK. Djadi, semuanja ini dituliskan, lepas daripada pertimbangan2 apakah pidato Karno, selaku presiden konstitusionil (dan panglima tertinggi—tituler!), jang membati-buta dan lupa daratan itu, mempunjai kekuatan hukum (rechtskracht) dan

dituruti oleh bawahannja. Demikian pula tentang nafsu jang menggelora itu, akan sesuai dengan kemampuan, ketjakapan dan ketjukupan RIK, melakukan rentjananja jang djahannam itu! Wallahu a’lam! Hanja Allah pula Jang Maha-Mengetahui. Kami masih amat menjangsikan. IV. SARI-PATI PIDATO KARNO DAN KETERANGAN ALI Perma’luman Perang Resmi dari R.I.K. kepada N.I.I. Di bawah ini akan kami berikutkan chulasoh ringkas daripada inti-sari pidato Karno dan keterangan Ali (P.M. kabinet AliWongso), jang boleh dianggap sebagai pernjataan resmi daripada pemerintah RIK, menghadapi Negara Islam Indonesia, sekedar jang berhubungan dengan Bab I (dalam negeri), fasal 1, mengenai atjara “pemulihan kema-nan”. Yang tersebut pertama diutjapkan sidang pleno istimewa parlemen, dan pada tanggal 17 Agustus 1953 pagi, sedang jang kedua (keterangan pemerintah—Ali) diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953, didepan sidang pleno parlemen, dan pada tanggal 17 Agustus 1953 pagi, sedang jang kedua (keterangan pemerintah—Ali) diutjapkan pada tanggal 25 Agustus 1953, didepan sidang pleno parlemen. Untuk memudahkan penelitian pembatja, maka di bawah tiap2 bagian chulasoh, hendak kami berikutkan djawab dan keterangan atas fasal2 jang bersangkutan. 1. Lebih dulu, baiklah kami njatakan, bahwa: A. Barang apa jg. diutjapkan oleh Karno dalam pidatonja pada tanggal 16 Agustus malam dan tanggal 17 Agustus pagi itu bukanlah barang baru. Karena proses dan peristiwa, jang disebutkan “sengketa bersendjata” atau “pe-rang” itu sudahlah dimulaikan pada kurang lebih 4½ tahun jang lalu, sekurang2nja 3½ tahun jang lalu, semasa pihak RIK melantjarkan agressinja jang pertama dan kedua. B. Jang perlu ditjatat dan diperhatikan ialah isinja, jang menundjukkan “Perma’-luman Perang resmi, dari RIK kepada NII”, satu peristiwa jang maha-penting dan satu titik jang bersedjarah, didalam riwajat perdjuangan Ummat Islam menggalang Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia! C. Pernjataan Karno itu, boleh dianggap sebagai “dekrit presiden”, sebagaimana jang diharapkan dan dituntut oleh pihak merah, dalam berbagai2 rapat ‘umum, demonstransi2 dan audiensi pemerintah jang lainnja. D. Selandjutnja pidato jang beratjun itu mengandung sifat membenarkan dan menguatkan keputusan pengadilan negeri di Bandung, beberapa bulan jang lalu, dalam perkara Affandi Ridwan, jang didjatuhi hukuman pendjara 3½ tahun, atas tuduhan dan karena dipersalhkan: “Dengan sengadja memberikan bantuan kepada musuh dalam waktu keadaan perang”, dengan tjatatan, bahwa: 1) Jang dikatakan “musuh”, ialah: D.I.—Kartosoewirjo; dan 2) Dibelakangkan tiap2 kata “D.I.—Kartosoewirjo” harus dibubuhi kata2nja erti, ma’na dan tafsir daripada kata2 (istilah) “D.I.—Kartosoewirjo” itu. Mengingat keputusan pengadilan negeri di Bandung itu, ditindjau daripada sudut hukum (juridis) dan ketata-negaraan (staatsrechterlijk) dan formil: diakui adanja satu negara, bernamakan Negara Islam Indonesia, dan bahwa negara itu (NII) lagi dalam keadaan perang dengan jang lainnja (RIK). Alhamdulillah! Barang sesuatu jang selama ini selalu ditjoba ditutup2 (dan diang-gap “sepi”, untuk mengabui mata internasional dan interinsuler), maka sekarang sudah dibuka dan terbuka. Bahkan, jang membukanja pun RIK sendiri, jang tadinja menutupnja rapat2. E. Lebih2 karena reaksi pidato Karno (dan keterangan Ali) itu djauh melintasi lautan, masuk dalam telinga luar negeri, sehingga beberapa surat2 kabar dan madjalah di Amerika Serikat memuatnja, sebagian atau semuanja, terutama jang berkenan dengan sual “pemulihan keamanan”. Karenanja, berita jang tempo hari dimuat dalam madjalah “Time” (Febr. 1953) tentang “Perang jang tidak tampak di

Djawa-Barat”, sekarang dibenarkan oleh pidato Karno, bahkan lebih luas dan lebih djelas, dengan keterangan, bahwa: “D.I.-Kartosoewirjo sekarang tidak hanja ada di Djawa-Barat dan Djawa-Tengah sebelah Barat sadja, melainkan djuga sudah mentjoba melantjarkan infiltrasi (mestinja: expansi!) kewilajah2 Djawa Timur, Sumatera-Utara, Sumatera-Selatan, Kalimatan dan Sulawesi (mestinja: Sulawesi masuk golongan pertama, ja’ni golongan Djawa-Barat dan Djawa-Tengah, dan tidak masuk daerah-expansi!)”. Walhasil, biar kurang tepat sekalipun, maka dengan keterangan Karno dalam pidatonja tempo hari, diakuinjalah: 1) Bahwa Negara Islam Indonesia makin hari makin bertambah kuat dan meluas; 2) Bahwa sebaliknja, kelemahan dan proses keruntuhan RIK dipertontonkan dimedan internasional. 2. A. Tiap2 kabinet RIK jang lalu hingga kini (ke-14) selalu memasukkan sual “pemu-lihan keamanan” di dalam programnja. Satu bukti, bahwa pemerintah RIK amat memperhatikan sual jang amat penting dan urgent itu, jang menghendaki penje-lesaian dengan segera. Dalam pada itu, demikian Karno, pemerintah RIK telah mengerahkan tenaganja (angkatan perangnja), namun hingga kini hasilnja belum memuaskan. B. Pernjataan ini betul: Dan, Alhamdulillah! Serangan RIK dengan angkatan perang-nja jang ganas dan kedjam itu, dibantu oleh sebagian ra’jat jang dipaksanja, ditentang dan dilawan oleh N.I.I. dengan angkatan perangnja —walaupun amat ketjil, djika dibandingkan dengan kekuatan RIK pada waktu itu—, dengan sengitnja. Sehingga karenanja, sering kali terdjadi pertumpahan darah jang hebat dahsjat. Pihak RIK senantiasa berusaha untuk memadamkan api revolusi Islam jang bergelora dan menjala2 itu, hendak memadamkan tjahaja Ilahy, api sutji jang berkobar dalam setiap kalbu ksatrija sutji (Mudjahidin). Tetapi Allah tidak membiarkan mereka itu melandjutkan chijanatnja. Maka kerugian dan kerusakanlah jang diperolehnja, baik jang berupa manusia maupun sendjata, belum terhitung harta benda, jang mendjadi umpan api neraka. Semuanja itu mendjadi milikja T.I.I., P.I.I., ialah kurnia Allah, jang dilimpahkan Allah atas segenap Barisan Mudjahidin dan A.P.N.I.I. Dalam hubungan ini, baiklah pula kiranja dikutip pernjataan dan pertanjaan anggauta parlemen Dr. Diapari, dallam perdjalanannja pulang dari Menado ke Djakarta, liwat Makassar. Atas pertanjaan “Antara” antara lain2 ia menjatakan: “Kalau gerombolan dimana2 persendjataannja “bertambah, lagi bertambah hebat, dengan “dilengkapi sendjata modern, maka tidakkah “kita harus menaruh pertanjaan: “dari manakah datangnja sendjata2 modern ini”?” Demikan Diapari. Djawab kami dengan ringkas adalah sebagai berikut: 1) Datangnja berbagai2 sendjata beserta alat2 dan kelengkapan perang milik Angkatan Perang Negara Islam Indonesia 90% dari RIK dan TRIK. Bukan pemberian atau hadiyah, melainkan barang rampasan, hasil pertempuran, natidjah perang. Di antaranja terdiri daripada sendjata jang dibawa oleh kawan2 seperdjuangan kita —ex-Hizbullah— jang menggabungkan diri dengan kawan2 Mudjahidin jang lainnja. 2) Kalau Karno dan kawan2nja, jang suka bohong dan dibohongi itu tidak pertjaja! a. Tjobalah periksa (inspeksi) tentaramu beserta alat-perangnja! Djangan pertjaja kepada laporan2 palsu, jang memang sengadja dibuat2, untuk menutupi kekalahannja! Terutama suara jang keluar daripada mulut djuru2 bitjara gerombolan TRIK djahannam, memang sengadja dibuat serong dan tjurang, sesuai dengan sifat dan thabi’at pengchianat dan pendurhaka ! Awas tipu-muslihat musuh! Awas tipu-daja anak-tjutju iblis la’natullah! b. Lebih baik dan lebih diutamakan, kalau Karno dan kawan2nja suka zijarah kekuburan2 jang biasanja dinamakan: taman pahlawan, taman bahagia dan lain2 sebagainja. Nistjajalah ia akan tertjengang menjaksikan dengan mata-kepala sendiri “realiteit” jang sebenarnja. c. Tjobalah tjotjokkan stambuk tentara dengan bukti-kenjataannja, dan bukalah daftar alat dan kelengkapan perang jang hilang musna, tanpa berita suatu apapun? 3) Inilah bukti2 jang njata, jang boleh dipergunakan sebagai alasan, untuk mem-bantah kebohongan, sikap serong dan tjurang, jang selalu digembor2kan dengan megah dan takabbur itu.

Ra’jat tidak kenjang dengan tjeritera2 bohong! Melainkan ra’jat menuntut bukti! Hingga kini tjara propaganda daripada djuru2 penerangan dan djuru2 bitjara RIK dan TRIK masih selalu mengikuti tjara2 jang pernah dilakukan oleh Djerman dan Djepang, beberapa sa’at sebelum tekuk-lutut! Inginkah RIK dan TRIK mengikuti “sunnah” keruntuhan dan kedjatuhan kedua negara itu ??? Silahkan! 4) Adapun mengenai berita2 “onar” (sensasionil), jang digembar-gemborkan oleh pihak RIK dan TRIK, jang mengatakan “seakan2 N.I.I. —APNII— mendapat bantuan sendjata dari “luar”, dengan perantaraan kapal2 udara dan kapal2 silam”, baiklah kami silahkan RIK dan TRIK sendiri mendjawabnja, dengan alasan dan bukti2 jang sah, kuat dan tjukup. Djangan asal “ngomel” sadja! Silahkan ! 3. A. Gerakan-Kartosoewirjo, atau D.I.-Kartosoewirjo, atau Negara Islam Indonesia, telah membuat “negara didalam negara”, sehingga dengan karena perbuatannja jang serupa itu, maka mereka (N.I.I) dinjatakan sebagai musuh masjarakat dan musuh negara (RIK). B. Kita Ummat Islam Bangsa Indonesia tidak sekali-kali membuat “negara didalam negara” (staat in de staat). Jang benar ialah, bahwa U.I.B.I. telah “mem-proklamir-kan kemerdekaannja, N.I.I. “pada tanggal 7 Agustus 1949, pada masa pendudukan Belanda dan pada masa perdjuangan nasional pusat Djokja, telah kandas dan gagal, dan pada masa RIK belum lahir. Siapakah gerangan jang membuat “negara di dalam negara?” Satu2nja djawab jang tepat ialah: RIK jang lahir kurang lebih 4½ bulan kemudian daripada lahirnja N.I.I., dan RIK jang membuat agresi (periksalah keterangan di atas!), dan kemudian RIK pulalah jang memperma’lumkan perang kepada NII. Djadi, kenjataan menundjukkan bukti sebaliknja daripada tuduhan RIK! Ia jang mentjuri, orang lain jang dituduh. Inilah taktik RIK djahannam, bangsat jang ulung, tapi djiwanja pengetjut dan penakut. Adapun pernjataan RIK, jang menganggap NII sebagai musuhnja, hal ini memang benar. Kalau RIK tidak menganggap NII sebagai musuhnja, tentulah ia tidak akan melantjarkan agresi berkali2 dan melakukan serangan terus-menerus hingga dewasa ini. Kenjataan ini dibenarkan, dikuatkan dan disahkan dengan resmi oleh pidato Karno dan Keterangan Ali, jang terang2 an telah “Memperma’lumkan Perang kepada NII”. Alhamdu lillah! Dengan karenanja, maka tabir jang selama 4½ tahun ini selalu menjelubungi dan menjelimuti keadaan perang terbukalah. Djadi, pada njtanja dan sepandjang Ali itu tidak mengubah suatu apapun. 4. A. D.I.-Kartosoewirjo, atau N.I.I., membuat teror, membunuh, mentjulik, mengha-dang, menggulingkan kereta-api dan seterusnja. Semuanja itu dilakukan dengan atas nama Islam, untuk kepentingan ra’jat, bagi pengabdian dan seterusnja. B. Tuduhan Karno kali ini betul, hanja salah meletakkan perkaranja, tidak didu-dukkan dan disandarkan atas hukum jang berlaku! 1) Betul, bahwa T.I.I. dan P.I.I. bertempur mati2an dengan TRIK, dengan tekad jang bulat “Juqtal au Jaghlib”, baik menjerang maupun mempertahankan. Herankah? Tidak perlu. Karena kedua negara tersebut lagi dalam keadaan perang. 2) Pembunuhan dilakukan atas pengchianat2 negara (NII), pengchianat Agama (Islam) dan pengchianat Allah, beserta kaki-tangannja, sedang pembakaran dilakukan atas sarang gerombolan2 TRIK dan hak-milik anak-tjutju iblis la’na-tullah, jang haram muthlak itu. 3) Mensita, (bukan merampok!) harta-benda musuh (NII dan Islam) dan meram-pas hak-milik pengchianat, bukanlah barang baru dan barang jang menta’djubkan. Semuanja itu berlaku atas sendi2 hukum, tegasnja: hukum Perang. Demikian pula menghadang patroli2 dan kendaraan2 musuh, menggulingkan kereta-api musuh dan seterusnja. 4) Adakah hak dan wadjib kita melakukan semua perbuatan itu? Tentu! Tentu! Tentu! Dan, semuanja itu dilakukan tidak membabi-buta atau menurut sekehendak hati pembuat dan pelakunja, melainkan berdiri dan bersandarkan atas hukum2 dan menurut saluran2 jang benar dan njata, sepandjang Kitabullah dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm., tegasnja: menurut hukum Islam dimasa perang, hukum jang berlaku dilingkungan N.I.I., hingga saat ini. Rupanja fiqih perang ini tidak dapat masuk didalam otak dan ‘akalnja Karno, tidak diketjualikan “pemimpin2 Islam

munafiqin, Islam djahilin dan Islam fasiqin” dalam lingkungan RIK. Kalau bukan otak udang, kiranja memang terlalu penuh dengan “pantjasila”, kejakinan djahiliyah jang menutup kepada segala djalan kenjataan, kebenaran dan ke’adilan! 5) Selandjutnja, kami harapkan, supaja Karno djangan terlalu melihat “keluar” kepada musuhnja (NII) sadja, tjobalah kenangkan sebentar dengan tenang hati dan djudjur “kedalam”, dan tanjalah kepada kawan2mu sendiri, tentaramu jang djahil itu: Berapakah djumlah wanita jang diperkosa kehormatannja oleh TRIK? Berapakah djumlah harta benda ra’jat jang dirampok dan digarong oleh TRIK? Berapa djumlah manusia jang “begitu sadja” ditawan dan dibunuh tanpa pemeriksaan hakim (zonder vorm van proces), dianiaja dan diasingkan dengan tiada alasan, melainkan hanja karena disangka dan dituduh “ikut D.I” (oleh TRIK dan RIK)? Adakah pengetahuan Karno, bahwa diantara anak-tjutju iblis jang mendjadi tentaranja itu, sungguh2 orang2 jang liar dan buas, suka makan daging manusia, ja sungguh2 (letterlijk) makan daging manusia! Walhasil, djawab dari sual semua itu akan mendjadi bukti kenjataan dan persaksian jang beralasan, akan kerendahan budi dan kerusakan achlak, jang menudju keruntuhan dan kedja-tuhan RIK sebagai negara. Lebih daripada apa jang digambarkan oleh Karno sendiri dalam pidatonja tentang “pantjakrisis”. Kalau Karno dan kawan2nja memang menghendaki kebenaran, ke’adilan dan kenjataan jang sebenarnja, tjobalah djalan2 menjamar, setjara incognito, lihat dan periksalah dengan teliti keadaan dlohir-bathin daripada pesawat2 sivilnja, jang tidak kurang hebat dalam berlomba2 meruntuhkan negaranja (RIK). 5. A. D.I.-Kartosoewirjo, atau Negara Islam Indonesia makin bertambah meluas. Tidak hanja di Djawa-Barat dan DjawaTengah sebelah Barat sadja, melainkan sekarang sudah tampak tanda2, bahwa NII membuat infiltrasi (mestinja: expansi, perluasan!) di Djawa-Timur, di Sumatera Utara, di Sumatera Selatan, di Kali-mantan dan Sulawesi (mestinja: “Sulawesi” bukan masuk daerah expansi, melainkan masuk daerah de facto, sedjak 16 Agustus 1951, dikala CTN dalam pimpinan Kahar Mudzakkar melebur dirinja mendjadi Tentara Islam Indonesia. Pen.). B. Kata2 jang dilahirkan Karno ini belum pernah diutjapkan oleh orang atau instansi RIK, sebelum itu.Oleh sebab itu, maka banjak pihak jang ta’djub dan heran terengah2. Walaupun tidak semuanja itu benar, tetapi dalam kata2 tersebut terdapat pula kebenaran. Pendjelasan sekadarnja adalah sebagai berikut: 1) Pada masa RIK melantjarkan agresi pertama, maka kekuatan NII (waktu itu Madjlis Islam) hanja merupakan pasukan gerilja ketjil, terdiri daripada beberapa kompi TII. Daerah kekuasaan dan pengaruhnja merupakan daerah gerilja jang berserak2, seluas krang lebih hampir dua kabupaten. 2) Pada masa agresi kedua dilakukan oleh RIK, maka kekuatan NII sudah naik, mendjadi 3 (tiga) resimen infanteri ketjil (bukan bataljon), sedang luas daerah mendjadi kurang lebih 1½ karesidenan, terletak sebagian besar di Djawa-Barat sebelah Timur dan sebagian lainnja di Djawa-Tengah sebelah Barat. 3) Sedjak agresi kedua hingga kini, selama kurang lebih 3½ tahun, maka kekuatan NII makin membesar, sehingga mendjadi 4 (empat) divisi gerilja (infanteri) sedang, ditambah 3 (tiga) tjalon (tjadangan) divisi gerilja sedang, jang mana kini lagi dalam penjelenggaraan. Selama itu, sampai keapda sa’at Karno pidato, maka daerah kekuasaan dan pengaruh NII makin bertambah meluas dan meliputi 8 (delapan) provinsi (wilajah), hampir merata diseluruh Indonesia. Alhamdu lilllah! Semuanja itu adalah kurnia Allah jang langsung dilimpahkan kepada NII dan Angkatan Perangnja, berkat kesungguh2an dan kegiatan ‘amal-djihadnja para Mudjahidin segenapnja, serta ketangkasan dan ketjakap-annja A.P.N.I.I. seluruhnja. Hendaklah kita sekalian pandai2 mensjukuri ni’mat dan kurnia Ilahy ang maha besar, jang ta’ ternilai harganja itu! 6. A. Kini sudah sampai sa’atnja, untuk memerintahkan kepada segenap angkatan perang (RIK) bagi menggempur D.I.Kartosoewirjo, atau N.I.I., demikian Karno dalam pidatonja jang berapi2 itu. Kalau kata2 (RIK) tidak dapat menginsafkan mereka (NII), demikian Karno selandjutnja, maka biarlah mulut sendjata, meriam dan lain2 alat perang jang berbitjara. Dalam pada itu, Karno —RIK— mengharapkan bantuan ra’jatnja. Sebab, tanpa bantuan tenaga ra’jat, maka ta’ mumkin usaha pemerintah RIK akan berhasil, kata Ali selandjutnja. Mereka

N.I.I., katanja, sudah “keblinger”, kesasar, lupa akan tjita2 sutji dan seterusnja. B. Lepas daripada sual apakah Karno mendjadi dan berbuat sebagai panglima ter-tinggi angkatan perangnja dalam erti kata sebenarnja ataukah tidak (hanja formil belaka), maka kata2 itu “seakan2 menggambarkan, bahwa baru sekarang inilah APRIK diperintahkan untuk menggempur APNII”. Padahal semuanja itu adalah rentjana lama, jang sudah sedjak 4½ tahun jang lalu dilaksanakan. Kami katakan “rentjana lama”, oleh karena dalam naskah Stikker-Hatta di Bandung, dan sebelum clash kedua (serangan Belanda ke Djokja) hal ini —serangan kepada NII— sudah direntjanakan. Keterangan kami ini berdasarkan atas dokumentasi2 rahasia, jang terampas oleh pihak NII dan TII. Dipandang dari sudut ini, maka chronologis “perintah” daripada panglima tertinggi di atas sudah kasep, telah terlambat, bagaikan teriakannja orang2 jang kalap dan hilang ‘akal. Inikah imbangan “komando terachir” (mestinja: sekarat achir) jang tempo hari diteriakkan oleh kerongkongan Wongso? Sadarkah Karno dan Ali-Wongso berbuat sedemikian itu? Tahukah ia (mereka ) akan resiko jang dihadapinja? Selain daripada itu, dalam pidato tersebut dinjatakan, bahwa seakan2 NII keras kepala; dan tidak mendengarkan kata2 (ta’ mau berunding?). Dalam hubungan ini, baiklah kami tanja kepada Karno: “Kapan harikah pihak RIK mengadjak berunding, atau hendak mengadakan perundingan?” Djawab pertanjaan (jang rethoris ini): “belum pernah!” Djadi, kalau Karno mengatakan, bahwa NII tidak suka mendengarkan kata2, maka tuduhan dan ketjaman jang serupa itu sama sekali salah, melainkan sebalik-nja. Bukankah pihak N.I.I. telah dua kali mengirimkan nota (rahasia) kepada pihak RIK? Tetapi sepatah katapun belum pernah terdengar, apa gerangan “reak-si” daripada nota2 itu. Oleh sebab itu, sebelum Karno berpidato djual tampang, kiranja lebih baik ia “mentjermin dirinja sendiri”. Lebih baik, kalau ia suruh periksa dirinja (otak dan hatinja) oleh ahli2 djiwa (psychiaters) jang tjakap dan berani terus-terang menjatakan penjakit Karno, beserta RIK. Lebih baik istirahat di Tjikeumeuh, Bogor (rumah-sakit orang2 gila), daripada membuat bentjana ditengah2 ummat dan negara, hanja untuk menurutkan nafsu-merah-Moskow belaka. Mengingat apa jang diterangkan di atas, maka pembatja tentulah dapat membuat konklusi sendiri: Siapakah gerangan jang “keblinger” itu? Sjahdan, maka lepas daripada sual benar atau salahnja pidato Karno dan keterangan Ali, maka dapatlah diperoleh satu kesimpulan daripadanja: “Bahwa tantangan, antjaman dan perma’luman perang RIK kepada NII itu menje-babkan gagalnja segala usaha dan buntunja segala djalan kearah penjelesaian setjara damai”. Nasi sudah mendjadi bubur. Alhamdulillah wasjsjukru lillah, bahwa RIK jang melantjarkan agresi, bahwa RIK jang menjatakan atau memperma’lumkan perang kepada NII. Bagi kita, Negara Islam Indonesia, tinggal menjambutnja. V. SAMBUTAN ATAS PERMA’LUMAN PERANG R.I.K. KEPADA N.I.I. 1. Terlebih dulu akan kami berikutkan ma’na beberapa ajat Qur’an, Tuntunan Ilahy, Pedoman Sutji bagi setiap Mudjahid dalam menunaikan tugas-wadjibnja jang maha-sutji: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dengan tjara djihad-berperang pada djalan-Nja, li i’lai Kalimati-Llah semata. A. “Perangilah olehmu pada djalan Allah akan orang2 jang memerangi kamu dan djangan melampaui batas; bahwasanja Allah tidak mentjintai orang2 jang jang melanggar batas (hukum2 Allah-Islam)”. Q.S. Al-Baqarah: 190. B. “Bunuhlah mereka itu dimana kamu bertemu dengan (menemukan) mereka, dan usirlah mereka; fitnah itu lebih berbahaja (djahat) daripada pembunuhan (orang); .......dan djika mereka memerangi kamu, maka perangilah pula mereka; demikianlah pembalasan atas orang2 kafirin”. Q.S. Al-Baqarah:191. C. “Hendaklah kamu bersiap-sedia melawan mereka (kafirin), dengan (sekadar) tenagamu, dengan kekuatan dan kudakasjkar (alat2 perang apa dan manapun djuga)!” Q.S. Al-Anfal: 60. D. “Perangilah mereka (kafirin) itu, hingga lenjap-musnalah (segenap) fitrah didunia (bagi kita: RIK dan TRIK djahilin)”.

Q.S. Al-Anfal: 39. E. “Hai orang2 jang beriman! Manakala kamu bertempur dengan kaum kafirin, hendaklah kamu bertetap-hati (tenang, ulet, kuat dan tahan),serta ingatlah (dzikir-lah) banjak2 kepada Allah, agar supaja kamu memperoleh kemenangan”. Q.S. AlAnfal: 45. F. “Hai orang2 jang beriman! Djika kamu berdjumpa dengan orang2 kafirin (harbi- jang memusuhi Islam) banjak, jang hendak memerangi kamu, maka djanganlah (haramlah) kamu membalik-belakang”. Q.S. Al-Anfal: 9. G. “Berapa banjak kedjadian, kaum jang sedikit (ketjil djumlahnja) dapat menga-lahkan kaum jang banjak (besar djumlahnja) dengan idzin (tolong) Allah; dan Allah beserta orang2 jang sabar (tahan udji dan ulet dalam melak-sanakan tugas Ilahy muthlak, dengan tha’at dan patuhnja).” Q.S. Al-Baqarah: 249. 2. Mengingat, bahwa: A. Tuntunan Ilahy, Pedoman Sutji, wadjib kita imankan dan ‘amalkan sepenuhnja, dengan tiada tawaran apapun djuga; B. Sunnah Rasulullah clm., dalam menghadapi musuh2nja, kaum Quraisj kafirin, wadjib mendjadi tjontoh dan tauladan ‘amal, bagi setiap Mudjahid; C. Sandaran gerak perdjuangan sutji, jang termaktub dan Siaran Pemerintah Negara Islam Indonesia, satu2nja Ulil-Amri Islam di Indonesia jang sah dan wadjib ditu-ruti perintah2nja; D. Pernjataan Perang pihak RIK kepada pihak NII itu hakikatnja hanja merupakan kelandjutan, pembenaran, penguatan dan peresmian keadaan perang antara kedua Negara selama 4½ tahun itu; E. Setiap Muslim dan Mudjahid wadjib menolak bahaja dan bentjana, jang ditim-bulkan oleh perbuatan kafirin dan djahilin RIK dan TRIK, ialah perbuatan2 djahannam jang njata2: 1) mentjemarkan, menodai dan mengindjak2 kesutjian Agama Allah (Islam); 2) memperkosa kedaulatan Negara Islam Indonesia, sebagai Negara Kurnia Allah; dan 3) melanggar hak2 asasy daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia. F. Setiap Muslim dan Mudjahid wadjib membela dan memelihara kesutjian Agama Allah (Islam), mempertahankan kedaulatan N.I.I., dan menguatkan serta menjen-tausakan hak2 asasy U.I.B.I., sebagai tanda bakti, tha’at dan patuhnja kepada perintah2 Allah, daripada setiap agresi atau serangan, apa dan dari manapun djuga, terutama terhadap agresi jang dilantjarkan oleh RIK dan TRIK, sedjak bertahun2 lamanja itu; dan G. Haramlah hukumnja atas tiap2 perbuatan, jang menolak dan ingkar daripada Tuntunan Ilahy, Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm. Dan perintah Ulil-Amri Islam (Imam N.I.I.); Maka sambutan kita, sikap dan pendirian Negara Islam Indonesia, atas tantangan, antjaman dan perma’luman perang dari pihak R.I.K., adalah sebagai berikut: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Bismillahi tawakkalna ‘alallahi lahaula wala quwwata illa billahil ‘alijjil-’adzim! Perma’luman Perang RIK kepada NII disambut dengan Takbir kehadlirat Ilahy, dengan angkatan sendjata, dengan perang berkuah darah, berdasarkan sebesar2 Taqwa dan Tawakkal ‘alallah semata, dengan memper-gunakan alat apapun jang dikurniakan Allah atas kita, baik jang berwudjudkan kekuatan dlohir maupun kekuatan bathin, dan dengan hati jang tulus ichlas, serta tekad “Juqtal au Jaghlib”, Menang atau Surga! Semoga Allah berkenan melimpahkan perlindungan, kedjajaan dan kemenangan bagi seluruh Barisan Mudjahidin dan segenap Angkatan Perang Negara Islam Indonesia —sebagaimana jang didjandjikan didalam Kitab-Nja—, dalam segala ‘amal-usahanja mempersembahkan dharma baktinja kepada ‘Azza wa Djalla semata: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Insja Allah. Amin. 3. Kepada seluruh Barisan Mudjahidin dan segenap A.P.N.I.I.! A. Kini telah tiba sa’atnja kita menghadapi perdjuangan mati-matian, perang berkuah darah, menghadapi RIK dan TRIK djahannam, perdjuangan mana —Insja Allah— akan diachiri dengan kemenangan2 jang gilang-gemilang bagi kita, ialah sjarat muthlak bagi berdirinja keradjaan Allah, dlohirnja Kebesaran dan Ke’adilan Allah di dunia, dan terwudjudnja Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Dengan karena idzin, tolong dan kurnia Allah djua.

B. Selamat berdjuang dimedan perang! Gempur! Gempur! Gempurlah RIK dan TRIK! Beserta segenap kaki-tangan dan pesawat2-nja! Hingga tekuk-lutut atau hantjur-binasa! Hingga hukum2 Allah berlaku dengan sempurnanja dipermukaan bumi-Allah, Indonesia! Itulah djalan satu2nja kearah Mardlotillah sedjati! Djalan menudju Darul-Islam dan Darus-Salam, usaha mentjapai Darul-Fatah dan Darul-Falah! Insja Allah, kita sekalian, Mudjahidin dan A.P.N.I.I. seluruhnja, didjadjakan dan dimenangkan Allah! Dengan karena Idzin dan Kehendak-Nja semata. 4. Kepada Ummat Islam dan Pasukan2 Islam, didalam lingkungan RIK dan TRIK! A. Tela’ahlah sekali lagi seruan dan adjakan kami di dalam Manifest Politik Negara Islam Indonesia, Nomer V/7 !!! B. Kini telah sampai sa’at jang terachir bagi Saudara2 sekalian. Sa’at, dimana Saudara2 sekalian harus, mesti dan wadjib menentukan sikap, menghadapi RIK dan TRIK djahannam! Selama Saudara2 sekalian belum lepas daripada belenggu hukum pantjasila, hukum djahil, selama itu Saudara2 sekalian tetap menanggung dosa, dan makin lama makin mendekati kepada tingkatan hidup jang haram dan mati jang durhaka! Adapun sikap dan pendirian, perbuatan dan tindakan, jang perlu Saudara2 sekalian lakukan, untuk melaksanakan taubatunnasuha itu, tidak lain, hanjalah dengan djalan: 1) Menjerang dan menjabotir tiap langkah RIK, serta menentang dan mendja-tuhkannja! 2) Memberontak dan menjerang RIK dan TRIK, dengan segenap kekuatan jang ada pada Saudara2 sekalian! Djangan tunggu sampai sempurna, sepandjang hitungan manusia! Karena tiap2 sa’at Saudara2 sekalian terlambat, maka perbuatanmu selandjut-nja akan merupakan “taubatnja orang jang tengah sekarat”! Dan 3) Gabungkanlah dengan segera tenagamu, dengan pihak NII dan APNII (T.I.I. dan P.I.I) setempat, jang telah mempunjai hubungan dengan Saudara2 sekalian! Dengan demikian, Insja Allah Saudara2 sekalian akan mendapat kesempatan dan lapang jang luas, bagi melaksanakan bakti sutji kepada Rabbul-’Izzati, bahu-membahu dengan kawan2mu Mudjahidin jang lainnja, satu2nja djalan-selamat bagi Saudara2 sekalian! Alangkah untung, bahagia dan mulianja setiap hamba-Allah jang pandai mempergunakan kesempatan dan lapang jang terluang bagi melakukan bakti maha-sutji, walau maha-berat sekalipun! Ingatlah! Bahwa sa’at jang sebaik ini belum tentu dapat diketemukan dalam waktu 10, 100 atau 1000 tahun sekali! Pergunakanlah sebaik2nja! Silahkan. 5. Kepada pihak jang lainnja! A. Jang dimaksudkan dengan “pihak jang lainnja” di sini, ialah tiap2 pihak: 1) Di luar Mudjahidin, dalam lingkungan N.I.I., dan di luar lingkungan A.P.N.I.I.; 2) Di luar Ummat Islam dan Pasukan2 Islam, didalam lingkungan RIK dan TRIK; tegasnja: tiap pihak, golongan, party, organisasi, perhimpunan atau perse-orangan, dengan tidak membedakan djenis, tingkatan, kedudukan, bangsa dan agama, kejakinan dan ideologi, dalam lingkungan RIK dan TRIK. B. Kepada mereka itu diperma’lumkan: 1) Barang siapa membantu, mengikuti, memihak dan membenarkan RIK dan TRIK, dengan tjara, bentuk dan sifat jang manapun djuga (lisan, tulisan, ‘amal-perbuatan dan lain2 sebagainja), maka mereka itu dianggap Musuh Negara Islam Indonesia, Musuh Islam dan Musuh Allah; dan 2) Karenanja, mereka diperbuat dan diperlukan, sebagai Musuh N.I.I., Musuh Islam dimasa perang, dan boleh didjatuhi hukuman berat atas mereka ,atas pertanggung-djawab Komandan atau/dan Panglima jang bersangkutan. Hendaklah tiap2 jang bersangkutan dan berkepentingan mendjadi ma’lumlah adanja. C. Sebagai penutup dalam sambutan ini, baiklah kami njatakan sepatah dua patah kata, mengenai Ra’jat dan nasibnja. 1) Ra’jat merupakan faktor jang terutama dan terpenting, sjarat muthlak dalam bentuk dan wudjud negara, serta masuk rukun jang amat penting dalam susunan tenaga dan organisasi negara ! 2) Lebih2 lagi, pentingnja kedudukan ra’jat tampak didalam Perang Totaliter, jang kini lagi berlaku antara NII dan RRIK,

walau dalam ukuran ketjil2an sekalipun. 3) Perang bererti bukan hanja perebutan kekuasaan negara, melainkan djuga perebutan Ra’jat, perebutan dasar atau fondament negara. 4) Oleh sebab itu, maka pada ‘umumnja bolehlah dikatakan, maka pada ‘umum-nja bolehlah dikatakan, bahwa “barang siapa dapat merebut dan menguasai ra’jat, maka ialah jang akan menang”. Tuntunan dalam hal ini, periksalah: Siaran2 dan MKT2, jang bersangkutan. 5) Lebih2 lagi, di sini (Indonesia) kita menghadapi satu “fait accompli” (kenja-taan jang muthlak) jang gandjil: “Dua kekuasaan, dua dasar hukum, dua pemerintahan, di dalam satu negara dan mempunjai satu ra’jat jang sama”. Sehingga di dalam perang jang berlaku antara NII dan RIK, tidak dikenal garis demarkasi. 6) Oleh sebab itu, maka Ra’jat mendjadi alat dan sjarat dalam perdjuangan, maka Ra’jat mendjadi alat dan sjarat dalam perdjuangan, lapang berkuah-darah, medan pertempuran, gelanggang peperangan, jang atjapkali memba-karmenghanguskan segala apa jang dilaluinja. Hukum Allah harus berdjalan, sunnatillah harus berlaku. Tiada pilih kasih dan perketjualian di dalamnja. Barang apa jang malang-melintang patah, jang membudjur hantjur! Kalau bukan perintah Allah, tugas muthlak dari Allah langsung, kiranja tidak seorang Mudjahid jang sanggup angkat sendjata, mengingat kepedihan dan penderitaan Ra’jat jang boleh timbul daripadanja! Tetapi......tiada ksatrija jang enggan melihat darah! Tiada baji jang lahir, melainkan disertai dengan tjurahan darah! Tiada kemuljaan tertjapai, tanpa penderitaan! Tiada kemenangan, tanpa perdjuangan (perang)! Dan tiada Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dlohir di dunia, melainkan harus disertai dengan runtuh-djatuhnja RIK dan TRIK! Dalam pada itu, dalam menghadapi perang dewasa ini, mengenai nasibnja Ra’jat kedepan, hendaklah selalu kita berpegangan kepada pedoman: “Bawa-lah U.I.B.I. --djuga Ra’jat-- kearah Mardlotillah! Kalau perlu, dengan paksa” Tertimbang Ra’jat mendjadi alat iblis la’natullah atau makanan dadjdjal djahannam, lebih baik kita lempar dia masuk dalam surga! D. INTAHA. M.B.S., 3 September 1953. Wassalam, Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia IDARUL HUDA

MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia 31 Desember 1949
Bismillahirrahmanirrahim MA’LUMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia

Barang disampaikan Allah kiranja kepada sau-dara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia.

Firman Allah : Wa qullil-haqqu min rrobbikum, Faman sja-a fal-ju’min,Waman sja-a fal-jakfur… “Dan katakan (olehmu, Muhammad!) Haq itu dari Tuhanmu! Maka barang siapa hendak iman, imanlah! Dan barang siapa hendak kufur, kufurlah…(Al-Kahfi, ajat 29). KALAH-ACHIR. 1. Alhamdu lillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haqqi lijudh-hirahu ‘aladdinni kullihi, walau karihal musjrikun. Allahumma! Ijjaka na’budu wa ijjaka nasta’in, ihdinas siratal-mustaqim. 2. Hingga kini sudahlah tjukup besarnja (goodwill) kami, terhadap kawan2 dan saudara2 sebangsa dan setanah air. 1) Seruan pertama berisi peringatan-peringatan penting, bagi saudara2 sekalian, terutama mengingat nasibnja ra’jat Bangsa Indonesia. Periksalah Ma’lumat Imam No. 7 bertarich 21 Desember 1948. 2) Peringatan jang kedua merupakan Menifes Politik Negara Islam Indonesia No. I/7, bertarich 26 Agustus 1949, 3) Peringatan jang Ketiga dituliskan dalam Ma’lumat Negara Islam Indonesia No. I/7, bertarich 10 Oktober 1949. Seruan jang Ketiga ini berachir pada sa’at diper’-umumkan berdirinja RIS (Republik Indonesia Serikat). 3. Maka kini sampailah sa’atnja kami menjatakan : 1) Bahwa kami merasa telah tjukup menunaikan kewadjiban kami, terhadap kepada ‘Azza az-Djalla, sekedar jang berkenan dengan wadjib dakwah kepada kawan-kawan dan saudara-saudara sebangsa dan setanah air. 2) Bahwa kesempatan (termijn) jang terachir, jang telah disaipaikan kepada saudara tiga kali berturut-turut itu, sudahlah lampau. 4. Kepada saudara2 jang insjaf, kemudian daripada peringatan2 tsb. –lalu ikut serta dalam perdjuangan sutji, menunaikan tugas Ilahy, menggalang Negara Kurnia Allah—, dengan ini kami njatakan Alhamdulillah, diperbanjak-banjak terima kasih. Kemudian selamat berdjihad! Pada djalan Allah! Karena Allah! Inna fatah-na laka fat-ham mubina… Insja Allah. Bismillahi…., Allahu Akbar !!! Madinah Indonesia, 31 Desember 1949 10 Rabi-ul Awal 1369 PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA, Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO ------Ζ Ζ Ζ ------

STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia 7 September 1950
Bismillahirrahmanirrahim STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia

Barang disampaikan Allah kiranja kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia. Sembojan : Bawalah Ummat Islam Bangsa Indonesia ke arah Mardlotillah. Kalau perlu dengan paksa!

Pedoman : Tiada wadjib dan tugas jang maha sutji, melainkan hanjalah wadjib dan tugas: “Menggalang Negara Kurnia Allah” Negara Islam Indonesia. Hal : Tindjauan dan Sikap-Pendirian Kedepan Assalammu’alaikum warahmattullahi wabarakatuh 1. Alhamdulillah! Sekalian pudji kepada Dzat Jang Maha Kuasa, jang telah berkenan memberi perlindungan, kekuatan dlahir bathin, hidajat dan taufiq jang sempurna, sehingga pada setiap hambanja terbukalah kesempatan jang seluas-luasnja untuk melakukan tugas sutji, tugas Ilahy. Allahumma! Ijjakaa na’budu, wa ijjaka nasta’in ihdinas-sirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakalna ‘ala-Llah, lahaula wala quata illa bi-Llah! 2. Situasi dunia pada dewasa ini merupakan minjak dalam periuk, jang sekelilingnja penuh dengan api jang lagi menjalanjala, jang setiap sa’at dapat mendjilat kepadanja. Praktis, perang Dunia ke III sudahlah dimulai, sedjak mula petjah Perang Korea, 25 Djuni 1950. Hanjalah baru sampai kepada tingkatan pertama (eorste stadium). Sedikit waktu lagi, djika perang telah di’umumkan oleh salah satu pihak —blok Amerika atau blok Russia—, maka pada sa’at itu pula seluruh dunia terlibat dan terseret da-lam api peperangan jang maha dahsjat, jang orang belum dapat mengira-ngirakan, betapakah gerangan perdjalanan proces-dunia itu dan ‘akibat daripadanja. 3. Sepandjang hitungan manusia, maka petjahnja Perang Dunia ke III tidak akan djauh lagi, bahkan agaknja amat dekat sekali. Wallahu ‘alam. Hanja Allah pulalah jang mengetahui. 4. Djika terdjadi Perang Dunia ke III itu dengan idzin Allah djua —, maka automatis menjalalah Revolusi Dunia. Revolusi jang akan timbul dalam tiap2 negara. Djuga di negara kita, “Indonesia”. Insja Allah. 5. Pada sa’at ini kita belum perlu memperhitungkan pihak mana ang menang atau kalah, atau belum perlu pula mengirangirakan atau meramalkan ‘akibat daripada Perang Dunia ke III itu, melainkan sementara ini tindjauan kita akan terbatas kepada nasibnja Negara dan Agama di tanah air kita sendiri, dimasa mendatang jang dekat. 6. RIS dalam bentuk lama atau baru (RIS baru) dapatlah neutral dalam Perang Dunia ke III jang akan datang? Sepandjang perhitungan politik internasional, maka mau tidak mau RIS akan terseret dalam Perang Dunia itu. Dan kalau RIS ikut serta dalam Perang Dunia j.a.d., maka ia akan memihak pada blok Amerika. Demikian perhi-tungan ahli politik dan militer hingga pada sa’at ini, dengan perhitungan “kans” 90%. 7. Sementara itu, tiap pihak, terutama jang berideologi —Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme—, sudahlah membuat persiapan, dalam tiap-tiap lapangan, meng-hadapi setiap kemungkinan dimasa amat kritis itu.Dengan keadaan jang demikian, maka tiap-tiap manusia jang suka mempergunakan akalnja dapatlah mengira-ngirakan, betapakah gerangan peristiwa2 jang akan terdjadi selama masa kritis itu. Dalam penglihatan kita, sedikitnja akan terdjadi. Perang Segi-Tiga antara Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme. Belum terhitung pihak Belanda, jang rupanja tidak akan “diam”. Periksalah kembali : (1) Peristiwa Westerling, (2) tangkapan atas Sultan A. Hamid II, (3) peristiwa-Makasar, sedjak Abd. Azis hingga jang achir-achir ini, (4) sual Republik Maluku Selatan, (5) dll lagi. Perampok, Perampas, Pentjuri, Pentjulik dlls., jang tentulah akan mengambil kesempatan untuk memainkan “rol”-nja. Wal-hasil— akan terdjadi huru-hara, dengan berbagai ragam dan arah-tudjuan-nja. 8. Nistjajalah daripada pihak ‘arif-budiman, ahli-politik dan filsafat, dan lain-lain pihak “pacifisten” (Tjinta damai, dengan atau tidak dengan alasan) akan tjoba2 meng-hindarkan dunia dari api peperangan dan api bara revolusi itu. Tapi, Insja Allah, rupanja usaha jang tampaknja “humanistis” atau “mono-humanistis” itu tidaklah akan berhasil. Karena dunia sendirilah jang telah berabad lamanja mengandung ‘anasir2 “kotoran-dunia”, jang menjebabkan tumbuhnja perang dunia dan Revolusi Dunia itu. Kiranja belum tjukup kotoran2 dunia itu dibasmi dan dienjahkan selama Perang Dunia ke I dan ke II. Melainkan sepandjang perhitungan sjari’at, maka per-lulah —bahkan hampir “wadjib”— tumbuhnja Perang Dunia ke III dan Revolusi Dunia itu. Pendek-pandjangnja “selama Ke’adilan Allah, dengan di dunia damai, aman dan tenteram”. 9. Apakah jang mendjadi “maf’ul” (objekt) terpenting dalam dan selama “huru-hara” itu? 1) Perebutan Kekuasaan A. Pihak Pemerintah RIS atau RI baru, akan mempertahankannja. B. Pihak Komunis akan “menjerobot”, dengan “coup d’etat” (perampasan kekuasaan —batjalah: Kup-de-ta), militer dan

politis. C. Pihak jang lainnja pun tidak akan ketinggalan. Apalagi Negara Islam Indonesia/Ummat Islam Bangsa Indonesia jang sudah memproklamirkan kemer-dekaanja, pada tanggal 7 Agustus 1949. 2) Perebutan Daerah. Masing2 tentulah mentjari daerah, sebagai basis, dan pangkalan. Periksalah: Manifest Politik No. I/7, 26 Agustus 1949; Bab VIII, angka 6, 7 dan 8, Ichtisar III! 3) Perebutan Ra’jat Dalam hal ini Ra’jat harus pandai menentukan nasibnja sendiri. A. Pihak RIS atau RI baru, akan “menasionalisirnja”. Pandangannja terhadap Agama jang manapun “neutral”. B. Pihak Komunis —jang sementara itu mungkin memproklamirkan “Republik Sovjet di Indonesia”— akan “memperkomunis-kan”-nja. Pendirian pihak ini terhadap semua agama “anti”. Djadi kalau ada pihak Komunis “tidak anti agama”, maka mereka itu adalah komunis palsu atau gadungan. Agama dipa-kai “kamuflase” (kedok), bagi memikat hati ra’jat. Awaslah! dan Waspada! C. Pihak Negara Islam Indonesia/Islam akan “meng-Islamisir”-nja hingga “Islam-minded” dan Allah minded” 100%. Lebih landjut, periksa dan banding-kanlah dengan karangan Huru-Hara “Mendjelang Dunia Baru”, Darul Islam, atau Negara Islam Indonesia”, k. 18 - 25, k. 35 - 49 dan karangan Abu Darda “Ad-Daulat-Ul-Islamiyah”, k. 18 - 32 ! 10. Tiap2 sesuatu ada batasnja; ada pangkal dan ada ujungnja. Demikian pula tentang satu wadjib sutji, jang bernamakan “Djihad”, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Adapun batas “Istitha’ah” dalam melakukan Djihad, tegasnja: Udjungnja wadjib djihad bagi tiap2 Muslim dan Mukmin, terutama Mudjahid, dan bagi seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, ialah sampai kepada terdjadinja Damai Dunia. Lebih tegas lagi, djika dikatakan: Apabila sampai kepada waktu dilangsungkan Per-djandjian damai (Vredos-Verrag) bagi seluruh dunia, kemudian dari pada selesainja Perang Dunia ke III dan Revolusi dunia jang akan datang, Ummat Islam Bangsa Indonesia masih djuga belum mempunjai milik menerima Kurnia Allah jang maha besar berwudjudkan negara islam Indonesia, maka waktu jang amat berharga bagi seluruh Ummat Islam itu, untuk melakukan wadjib sutji, sudahlah lampau. Djangan diharapkan, bahwa dalam waktu 10, 100, atau 1000 tahun lagi, kita akan menemui sa’at “mustari”, sa’at kritik jang serupa itu. Sa’at petjahnja Perang Dunia hingga damai Dunia, sa’at dimana Allah akan menentukan nasibnja tiap2 Ummat. 11. Walaupun kita jakin dengan se-penuh2 kejakinan, bahwa pada sa’at jang mustari itu -- ‘ibarat lailatul-qadar-- Allah akan mendjurahkan Anugerah dan Kurnianja jang maha besar itu, jang sedikitnja merupakan “Negara Basis” atau “Madinah Indonesia”, dan lebih djauh “Daulatul-Islamiyah”, tapi mungkin Allah bewrkenan sebaliknja dari pada itu. Maka timbullah pertanjaan dalam hati kita masing2: “Apakah gerakan sikap kita, Ummat Islam bangsa Indonesia, djika sampai pada sa’at jang terachir itu, Ummat Islam bangsa Indonesia tidak mempunjai milik untuk menerima Kurnia Allah jang maha-besar itu?” Djawabnja dengan ringkas: 1) Djika terdjadi demikian, maka anggapan itu dalam anggapan Ummat Islam Bangsa Indonesia berarti “Qijamah”, Qijamah wustha atau Qijamahnja suatu Ummat dan Bangsa. Qijamah dalam pandangan hukum, karena pada waktu itu bukanlah hukum2 Allah jang sutji jang berlaku di Dunia, melainkan hukum manusia, hukum dahry, hukum kuffar. 2) Sedang djika hukum (stelsel) jang berlaku di dalam suatu negara ‘bukan hukum Allah”, maka haramlah bagi tiap2 Muslim dan Mu’min, terutama Mudjahid hidup di dalamnja. 3) Haramlah hukumnja bagi tiap2 Muslim dan Mu’min dan Mudjahid, didjadjah oleh siapa dan berwudjud bagaimanapun djuga, terutama djika didjadjah dalam ideologi. 4) Oleh sebab itu, djika kedjadian sesuatu jang tidak kita harapkan itu, maka sikap tiap2 Muslim, Mu’min dan Mudjahid, hanja satu dan jang penghabisan: Juqtal au Jaghlib Atau dengan kata lain : Membasmi segala kafirin dan kekufuran hingga habis/ musnah dan Negara Kurnia Allah berdiri

dengan tegak teguhnja dibumi Indonesia. Atau mati sjahid dalam Perang Sutji! 12. Semoga Allah berkenan membenarkan dan meluruskan perdjalan Ummat Islam Bangsa Indonesia, dalam menunaikan wadjib dan tugas sutjinja: menggalang NE-GARA KURNIA ALLAH, Negara Islam Indonesia! Insja Allah, Amin. 13. Inna fatahna laka fat-ham mubina .... Insja Allah. Bismillah ........ Allahu Akbar! Mardlotillah, 7 September 1950 24 Dzul-qaidah 1369 KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA, Imam/Plm.T.: S.M. KARTOSOEWIRJO

MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA
MANIFESTO POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA

Oleh: I. HUDA KUASA USAHA KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim Assalammu’alaikum W. W. BAB I: MUQODDIMAH 1. Alhamdulillah, wasj-sjukru rillah! Allahu Akbar. Segala pudji hanja bagi Allah, Dzat Maha Tunggal. Dzat Pelindung para Mudjahidin, Dzat Pendjaja dan Pemenang Tentara Allah, Tentara Islam Indonesia. Mudah2an selandjutnja hingga ia berkenan mendlahirkan keradjaannja, di tengah-tengah dan ra’jat nusantara Indonesia berwudjudkan: Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Insja Allah. Amin. 2. Sjahdan, di tengah-tengah serangan badai dan gelombang International jang hebat dahsjat, di tengah-tengah taufan menderu-deru jang menggetarkan dan menggem-purkan seluruh dunia, maka tepat pada saat jang genting-runtjing itu: Heru Tjokro tiba! Heru Tjokro bersabda! Heru Tjokro berbuat! Kiranja ada guna dan faedahnja, djika kami sadjikan keterangan dan penerangan jang serba ringkas atas: Apa ge-rangan jang dimaksudkan dengan nama dan istilah “Heru Tjokro” itu.

1). Kalimat “Heru” —biasanja dipakai di dalam rangkaian dan gubahan kata “hera-hero”, atau “hera-heru”—, bolehlah diartikan : “huru-hara, revolusi, atau perang, suatu tanda dan alamat akan timbulnja suatu perubahan ‘alam dan masjarakat jang tjepat, meninggalkan zaman lama riwajat “nan usang”, mendjelang zaman baru, zaman dlahirnja kebesaran dan Ke’adilan Allah dipermukaan bumi, zaman jang membarukan sesuatu jang lama dan lapuk, zaman jang menimbulkan dan mentjiptakan barang sesuatu jang baru. 2). Kalimat “Tjokro” menggambarkan suatu machluk Allah, suatu pesawat dan alat Allah, jang menguasai dan memutarkan roda dunia”, roda “Tjokro Penggilingan”, menudju kepada suatu arah dan menurutkan suatu rentjana jang tertentu, dengan kehendak dan kekuasaan Allah, menudju Mardlotillah sedjati: Keradjaan Allah di dunia atau Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Kalimat “Tjokro” dipakai dan dipergunakan —terutama di dalam buku-buku tambo dan riwajat purba—, untuk menundjukan nama “seorang” hamba-Allah jang setengah gaib, jang lazim pula disebut “Risjadullah” (lelaki kekasih — pembela Agama— Allah), jang pada garis besarnja memiliki sifat-sifat; a. Pembawa amanat Allah, berwudjudkan Kebenaran dan Ke’adilan, sepandjang hukum dan adjaran sutji, tuntunan Illahi; b. Pelepas dan pembebas (verlosser) bagi segenap perikemanusian, daripada bentjana dan malapetaka dlahir dan bathin, didunia hingga di achirat kelak; c. Pembela Agama Allah dalam arti kata jang luas: a) Merupakan “Ksatrija Sutji”, Pahlawan Agama, Panglima Perang dan pemimpin Revolusi, dimasa huru-hara, dimasa perang; b) Berwudjudkan “Wiku Sutji dan Pendhita Sakti”. Pemimpin Ummat manusia dalam menunaikan tugas sutjinja, mempersembahkan dharma bhaktinja kepada Dzat Rabbul-’Izzati. Sehingga dengan karenanja, ia mendjadi tjontoh dan tauladan, memberi tuntunan dan pimpinan kepada masjarakat sekelilingnja, jang bertuhankan kepada Allah dan ber-Nabikan kepada Muhammad, Rasulullah Clm. d. Pelaksana dan pendlahir Ke’adilan Allah didunia, berdasarkan kepada tuntun-an Ilahy jang sutji murni dan adjaran Nabinja, jang dengan karenanja berlaku: a) Keras terhadap tiap2 pemungkir, penolak dan pelanggar hukum2 sutji, hukum Ilahy; b) Lunak dan kasih sajang kepada barang siapa jang ta’luk-tunduk dan tha’at kepada Allah dan Rasulnja, beserta UlilAmri-Nja; sesuai dengan amanat sutji “.... asjidda-u ‘alal kuffar, ruhama-u bainahum....”, melindas barang sesuatu jang malang melintang! 3). Inilah beberapa sifat, jang mendjadi bawaannja (ruping) hamba Allah, jang biasanja diberi gelaran “Heru Tjokro”: Pembasmi setiap musuh Allah, musuh petjinta dan pembela Agama Allah, musuh segenap Mudjahidin, musuh Negara Kurnia Allah, dan musuhnja Negara Islam Indonesia. 4). Di dalam riwajat purba kalimat “Tjokro” itu dikenal pula sebagai nama sebuah “sendjata sakti”, sendjata “penghantjur bukit, penjapu, pembelah angkasa, dan pengering lautan (air)”, jang hanja dipergunakan dimasa sukar-sulit, disa’at pe-rang besar, Perang Brata Juda Djaja Binangun. Di dalam karangan ini, kalimat “Tjokro” dalam ma’na “Sendjata Sakti”, bolehlah diartikan: a. Penjapu masjarakat djahiliah, pembela gelap gulita, jang lagi meliputi dan menjelubungi seluruh Indonesia, karena perbuatan2 anak dadjdjal la’natullah, beralih mendjadi terang benderang, terang tjuatja, lepas daripada gangguan kabut tabir, sehingga tampak dengan djelas: apa dan betapa keadaan sesung-guhnja; b. Pembasmi barang siapa jang chianat dan murtad, kufur dan munafiq, tjurang dan serong, pendjual Agama dan Negara, tegasnja: segala anak-tjutju iblis la’natullah, jang kini masih leluasa erkeliaran ditengah2 masjarakat dan ra’jat Indonesia dan achir kemudiannja: Sji’ar-ul-Islam akan menampakkan tjahaja jang tjemerlang —tanda turunnja Nur Ilahiyah dan Nur Muhammadiyah— dipermukaan bumi Allah Indonesia. c. Pembeda dan pemisah —sesuai dengan kalimat Al Furqan didalam Al-Qur’an, sebagai salah satu namanja Kitab Sutji itu —, jang dengan karenanja, membedakan dan memisahkan haq daripada bathil, benar daripada salah, iman daripada kufur, tha’at daripada ma’sjat, djudjur, setia dan ‘adil daripada serong, tjurang dan munafiq, Islam daripada murtad. 5). Sekali “Heru Tjokro” melepaskan anak panahnja (Panah Tjokro) Insja Allah, sekali itu pula agaknja akan mentjukupi

keperluan hadjatnja, sebagai langkah dan tindakan langkah jang pertama : a. Membuka kedok “buta terong” jang berpakaian “ksatrija” dan menelanjangi “penipu” dan “pengchianat”, jang selalu menakan dirinja “pemimpin” dan “pembela” ra’jat ; b. Melepaskan ra’jat daripada tjengkraman “sjaitan merah”, jang menamakan dirinja “pembebas manusia”, dan c. Memimpin dan menuntun ra’jat. Ke arah maqam jang dilimpahi rahmat dan ridla Ilahy, kearah Mardlotillah sedjati. 6). Dengan keterangan ringkas jang tsb. di atas, tjukuplah kiranja untuk menjatakan himmah dan minat kami : mempergunakan nama “Heru Tjokro” sebagai nama daripada Manifesto Poitik Negara Islam Indonesia Nomor: V/7.ini. Semoga Allah berkenan membenarkan, memberkahi dan meng-idjabah barang apa jang dipandjatkan kehadirannja, sebagai harap dan du’a, sebagai letupan djiwa dari-pada pengarang beserta seluruh pedjuang sutji jang lainnja, jang lagi tengah melaksanakan dharma bhaktinja kepada Dzat Maha Tunggal. Jang Maha Kuat: Dzat Waahid-ul-Qahhar! Amin. 3. Selain daripada itu, pernjataan “Sabda” (medar sabdo Dj.) itu dilakukan tepat pada hari tanggal 7 Agustus 1952, hari peringatan Ulang Tahun Ketiga daripada Prokla-masi berdirinja Negara Islam Indonesia, ialah hari besar jang bersejarah, dimana tiap2 Ummat Islam terutama Mudjahid, patut, harus dan wadjib: Membesarkan Allah! Allahu Akbar! 1). Membesarkan Allah dengan tekad jang sutji dan kejakinan penuh, tasdiq bil-qalbi, dalam arti kata: Menanam dan mejakinkan akan benarnja ideologi Islam dalam dada dan djiwa setiap Mudjahid, sehingga mendjadi “Allah minded”, Islam-minded, dan Negara Islam Indonesia-minded” 100%. 2). Membesarkan Allah, dengan pernjataan (Bai’at kepada Allah) iqrar bil-lisan, jang menundjukkan akan keinginan dan kesanggupan setiap Mudjahid, menunaikan tugas sutji, dengan segenap djiwa raganja: li ilai Kalimatillah, meluhurkan Agama Allah lebih daripada sesuatu diluarnja. 3). Membesarkan Allah dengan bukti njata, qabul bil-’amal, dengan ‘amal dan usaha dlahir bathin chas dan ‘am, sjachsiyah dan idjtima’iyah bagi mendlahirkan Kebesaran dan Ke’adilan Allah didunia, dan bagi Membina-mendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. 4). Wal-hasil, pada hari besar ini terdj’adilah suatu peristiwa jang besar, sabda jang besar, pernjataan seorang jang besar, Heru Tjokro Ridjalullah, suatu tjurahan rahmat jang besar, jang timbul hanja karena Kebesaran Allah semata. Dengan tolong dan Kurnia-nja djua. Semoga Allah berkenan memandaikan dan mentjakapkan kita sekalian jang membesarkan Dia, dan semoga Ia berkenan pula membesarkan kita sekalian, para Mudjahidin dan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, sehingga kita didjadikannja mendjadi Ummat dan Bangsa jang besar, karena membesarkan Dia dan karena dibesarkan-Nja jang dengan karenanja patut dan mustahiq menerima kurnianja jang maha besar: Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. 4. Sabda Heru Tjokro di atas kami susun sebagai karangan, dengan bentuk brosur (brochure) ketjil, jang memuat tindjauan atas tanah-tumpah-darah kita, “Indonesia” Kini dan Kelak. Dalam pada itu, terlebih dalu kita akan menengok perdjalanan riwajat perdjuangan ummat manusia, Bangsa Indonesia, sedjak setengah abad jang lampau. Riwajat nan usang ini, perlu diselidiki. Didjeladjah dan ditindjau dengan seksama, sebab apa jang kita hadapi dewasa ini, tiada lain, hanjalah sebuah natidjah (resultante) daripada perdjalanan Ummat dimasa jang telah silam itu. Riwajat selalu mengulangi dirinja, dengan lambat ataupun tjepat, menudju kepada tingkatan jang lebih tinggi, tjerdas dan sempurna. Dari masa kemasa jang berikutnja, riwajat ummat manusia selalu mengalami dan menderita pelbagai keadaan (tustand) dan kedjadian (proces), menghadapi masa pasang dan surut, masa naik dan turun, sesuai dengan sunnati-Llah (hukum Allah) dan sunnatuth-thabi’ah (hukum2 alam — natuuretten), jang berlaku atas semesta ‘alam mungkin ini. Semuanja itu berlaku, dengan karena kehendak dan kekuasaan serta Rentjana Allah semata, Dzat Wahid-Ul-Qahhar, jang berbuat segala sesuatu menurut kehendaknja. Kemudian, daripada apa jang kini kita hadapi sebagai dunia, masjarakat, ummat, negara dan lain2 bentuk daripada idh-harnja Kekuasaan dan Kehendak Allah itu, maka bagi tiap2 ahli pikir, tiap2 sardjana, tiap2 ahli-filsafah dibuatnja dan didjadikannja bahan2 untuk meraba-raba dan membuat gambaran atas “apa jang boleh dan mungkin terdjadi daripadanja”, ialah gambaran jang berupakan “harapan” ummat manusia, dikala jang akan tiba. Dengan karena Allah, merupakan Hidajatuttaufiq dan Hidajatullah, jang boleh dilimpahkan atas tiap2 hambanja jang bidjak-budiman, maka ditjobanjalah menembus tabir jang gelap dan tirai besi jang kuat, jang membuka pintu gerbang baginja: meneropong kedjadian dan keadaan dimasa

jang mendatang, seakan-akan merupakan ramalan akan riwajat kedepan. Alangkah untung besar dan bahagianja tiap-tiap ummat manusia, jang dikurniai milik, mempunjai pemimpin dan penuntun, sardjana dan pudjangga, ulama dan tjerdik pandai, jang dipandaikan dan ditjakapkan oleh-Nja memimpin dan menuntun, membimbing dan mengasuhnja, kesuatu arah Mardlotillah! Semoga harapan dan du’a daripada pengarang ini, jang tumbuh daripada ichlas dan sutji hati semata, bagi keperluan bangsa dan ummat manusia, terutama bagi Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia chususnja, dibenarkan, dikabul dan dilaksanakan-Nja, untuk mentjukupi berlakunja suatu chilqah sutji (heilirooping) mentjurahkan rahmat bagi seluruh ummat manusia di dunia dan semesta alam. Amin. -------Ζ Ζ Ζ ------BAB II: NASIONALISME 1. Di bawah ini akan diberikutkan “chulasoch Sedjarah daripada Bangkit dan Berkem-bangnja Aliran Semangat dan Saluran Pikiran”, selama setengah abad, di Indonesia. Semuanja dibuat dengan amat ringkas, tindjauan selajang pandang, tetapi tjukup djelas dan tegas, sehingga setiap pembatja boleh mendapat gambaran jang sempurna, atas segala sesuatu jang terdjadi dan mendjadi di nusantara Indonesia. Terlebih da-hulu, kami mulaikan dengan Nasionalisme. 2. Tahun 1905, tahun kemenangan Djepang atas Russia, tahun kemenangan Timur atas Barat, tahun pembuka halaman baru dalam sedjarah dunia, bagi benua Asia terutama, terdengar dan berkumandanglah di seluruh Asia, sebagai tjanang pertama, jang membangunkan dan membangkitkan ummat bangsa manusia —, dari tidurnja jang njenjak, berabad-abad lamanja. Kepertjajaan dan kejakinan “nan usang” dan lapuk (inferieur), jang salah dan keliru, sifat-thabiat jang hina dan rendah (minder-waardigheidsoomplexen), beralih dengan segera sifat dan bentuknja, tjorak dan ragamnja, mendjadi kepertjajaan dan kejakinan, sifat thabiat jang sebaliknja, merang-kak-rangkak dan berangsur-angsur, sesuai dengan suasana dan ‘alam gelap gulita, jang masih amat tebal meliputi dan menjelubungi benua Asia pada waktu itu. 3. Djika pada waktu itu, di Tiongkok Dr. Sun Yat Sen mulai menundjukkan minatnja jang besar, untuk melepaskan bangsa Tionghoa daripada kungkungan dan tjengkra-man Imperialisme dan Kapitalisme Barat, jang dengan kuat dan megahnja menantjap-kan kekuatan dan kekuasaannja atas hampir tiap2 pendjuru Asia, maka di Indonesia para kaum terpeladjar dan golongan pertengahan menampakkan kesadarannja atas nasib bangsa dan tanah airnja dalam tingkatan pertama, dengan pendirian suatu perhimpunan kebangsaan, bernamakan: “Tri Koro Dharmo” (Tiga Tudjuan jang Utama, 1908). Dari tahun ketahun, benih pertama itu hidup dengan suburnja, di tengah2 masjarakat pertengahan pada waktu itu. Setelah menderita tjoba dan goda sederhana, maka perhimpunan tersebut beralih bulu, tjorak dan ragamnja, mendj’adilah “Budi Utomo”. 4. 22 tahun kemudian daripada tumbuhnja benih pertama itu, maka timbullah aliran kebangsaan muda, jang djauh lebih revolusioner, lebih kreatif, lebih realistis dan progresif, dengan lahirnja Partay Nasional Indonesia (PNI), di bawah pimpinan pemimpin-pemimpin muda jang berapi-api semangatnja. Di antara pemimpin2 kebangsaan muda ini, a.l.l. baiklah kiranja disebut nama2: Ir. Soekarno. Drs. Mohd Hatta dan Sjahrir, jang memegang peranan penting di dalamnja. Pada achir 1927 itu djuga, maka didirikanlah satu lembaga politik, antara perhimpunan2 politik jang ada pada masa itu –di antaranja PSII (Party Sarikat Islam Indonesia) di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto dan H.A. Salim; Studieclub Surabaja, di bawah pimpinan Dr. Sutomo; Studieclub Bandung; Kaum Batawi, di bawah pimpinan Moh. Husni Thamrin dll.– dengan nama: Permufakatan Perhimpunan2 Politik Kebangsaan Indonesia atau PPPKI. Dengan pesat dan tjepat, laksana garuda terbang di angkasa, PNI bergerak melalui perhimpunan2 politik jang lainnja, jang lebih tua daripadanja, dan mendjual “pelopor” (voorlopor) dan pendorong seluruh masjarakat Nasional Indonesia. Dengan tjerdiknja pemerintah djadjahan Belanda pada waktu itu “mem-biarkan” letupan djiwa jang menjala-njala itu, sehingga achirnja terbakarlah. Dengan ini dengan peristiwa ditangkap, ditahan, dihukum dan dibuangnja pemimpin2 nasional muda itu (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta beserta kawan2nja), selesailah sudah riwajat pertama daripada aliran Kebangsaan muda itu, jang –untuk memudahkan ingatan kita– bolehlah diberi nama P.N.I. I.

5. Sebelum kita langsungkan langkah dan melandjutkan djedjak, untuk menindjau dari dalam dan kedalam, apakah gerangan isi dan inti daripada gerakan kebangsaan muda itu, sehingga ia dapat memperoleh record jang menta’djubkan itu. Dalam rapat2 ‘umum sering didengung2kan satu theori jang menarik perhatian dan masuk meresap dalam darah daging ra’jat, sesuai dengan keadaan dan semangat, tjita-tjita dan harapan ra’jat hina-papa (proletar) pada dewasa itu, ialah; theori Marhainisme, atau dengan kata2 lain, Ploletarisme –Kera’jatan (djelata) Di lain kali terdengar pula dengan terang dan tegas: theori Sosio-Demokrasi (Kera’-jatan menudju Ke’adilan Sosial), jang hampir-hampir mirip kepada Nazi-Djerman atau Socio-Nasionalisme tjiptaan Adolf Hitler, atau Pascisme Itali ala B. Mussolini. Kiranja tidak djauh daripada kebenaran, djiwa kita gambarkan Marhaenisme itu sebagai “Chauvinisme” (nasionalisme sempit) jang di dalam “realisasi dan krista-lisasinja” (perwudjudan) tidak hanja bertjorak “anti-kapitalisme” dan anti-imperialisme, tegasnja: “anti pendjadjahan”, melainkan menundjukkan djuga sifat “anti-asing” (orang dan barang). Dengan karenanja, maka timbullah aksi “ahimsa” (perlawanan tidak bersendjata, leidelijk verzet) dan usaha “swadesa” (mentjukupkan keperluan sendiri), kedua-duanja kiriman dari India, import dari M. Gandhi. Walaupun nasionalisme sempit (Chauvinisme) menimbulkan bentji dan marah terhadap kepada sesuatu jang “asing”, tetapi djalan keluar tampak pula dengan terang, bersifat Inter-Asiatis, jang pada lazimnja dinamakan Pan-Asiatisme. Simbol dan sembojan jang sering diperdengarkan dalam hal ini, ialah: Lembu Nandi India, Banteng Indonesia …. Dan Matahari Terbit Djepang (dimasa pendudukan Djepang) dikatakan: di bawah sinar Matahari Dai Nippon). Dalam djurusan ini, maka PanAsiatisme bolehlah kiranja dibandingkan dengan dibenua Eropa-Barat. 6. Perlu pula diiperhatikan dan diperingati akan timbulnja satu model ideologi baru, ideologi tjampuran antara nasionalisme Indonesia (waktu itu: Djawa) dan Sosial demokrasi Barat, merupakan sosial-demokrasi-Indonesia (Indische Social Demo-cratie), dengan bentuk “Indische Partj”, satu perhimpunan assosiasi antara Timur dan Barat, di bawah pimpinan “Tiga Sedjoli”: Dr. Tjipto Mangunkusumo, Duwes Dekker (achirnja Setiabudi) dan Suwandi Surjaningrat (kemudian: Ki Hadjar Dewantara). Aksinja jang terutama, ialah “Indieweerbaar”. 7. Beberapa tahun kemudian daripada itu, setelah suasana politik di Indonesia agak reda, maka sisa-sisa semangat dan aliran kebangsaan muda –jang telah ditanam didalam masjarakat, dan se-olah2 mati atau pingsan (latent)– bangunlah dan bangkit kembali, jang achir kemudian lahir dalam bentuk dan sifat jang agak lunak (moderate), dengan nama: A. Party Nasional Indonesia djuga (disingkat: P.N.I.) atau dengan istilah jang dipergunakan didalam karangan ini: PNI II, karena PNI ini boleh dianggap adik –djika diingati dan dihitung daripada “waktu kelahirannja”– daripada PNI I tsb. di atas PNI II ini di bawah “pimpinan tidak langsung” dari Ir. Soekarno, jang pada masa itu masih dalam pembuangan. B. Pendidikan Nasional Indonesia (disingkat PNI djuga, atau dengan istilah jang dipergunakan dalam karangan ini: PNI III), di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta, Sjahrir dll. lagi. PNI II dan III ini tidak dapat mentjapai tingkatan jang setinggitingginja (culminatiepunt) daripada maksud dan tudjuan kebangsaan muda jang diharapkan dan ditjita-tjitakan semula, karena tangan besi pemerintah djadjahan Belanda pada masa itu menekannja dengan amat keras dan kedjamnja. Intaian, tangkapan, pembuaian dan pembuangan (Boven Digul dan lain-lain tempat di Indonesia) adalah gambaran pagar dan palang pintu besi, randjau dan bentjana, jang terbentang dengan dahsjatnja didepan tiap2 gerak dan langkah pemimpin, jang berhaluan muda dan revolusioner. Mau tidak mau, mereka harus memper-hatikannja. Disa’at mereka agak lengah dan lalai, kurang tertib dan hati2, di dalam pertjakapan dan perkembangan letupan djiwanja, maka pada sa’at itu pula mereka itu dianggap melanggar randjau, melanggar “keamanan dan keter-tiban ‘umum” (istilah pada waktu itu), didjebloskan di dalam terungku, jang memang sudah dipersiapkan oleh pemerintah djadjahan dan alat2 serta pesawat2nja. 8. Pada masa Djepang masuk dan duduk di Indonesia (1945) dan pemerintah djadjahan pindah ke Australia, maka salah satu usaha jang terutama dan pertama-tama sekali didjalankan oleh pemerintah dan tentara pendudukan Djepang, ialah: membasmi dan membunuh semua party2 dan perhimpunan2 politik, dengan tjorak dan warna jang manapun djuga, hingga sampai habis-ledis. Ta’ diketjualikan PNI II dan III, jang senasib dengan kawan2 seperdjuangan lainnja “dikubur hidup2”, di “taman bahagia”, jang bernamakan Hookookai, satu tempat model “sangkar emas”, jang memang sudah direntjanakan dan dipersiapkan terlebih dulu oleh anak tjutju Dewi Amaterasu. Bagi kaum Muslimin “taman bahagia” itu merupakan “Masjumi” (periksalah di bawah). Kembali kepada “taman bahagia” atau “sangkar mas” itu, maka semuanja itu merupakan “medan bahkti tjiptaan Djepang dan agen2nja. Tiap2 bangkai hidup

itu mempunjai keleluasaan bergerak, sepandjang, seluas dan sebesar kawat berduri jang melingkari “sangkar mas” itu. Njanjian lagu2 Djepang terdengar dengan meriah dan memikat hati, mengajun djiwa manusia ke satu arah salah dan palsu, ialah: persembahan kepada manusia jang Sintoisme dan hakko itjiu (impian “kema’muran Asia Timur Raja”). Bolehlah pula masuk tjatatan dalam sedjarah kebangsaan Indonesia, bahwa Soekarno-Hatta cs. Termasuk dalam golongan “pemimpin-pemimpin terbesar dan tertinggi” (topleiders) –ingatlah: istilah “empat serangkai”, ja’ni Soekarno–Hatta–Ki Hadjar Dewantoro–K.H. Mas Mansur–, jang diperalat oleh kekuasaan Djepang, untuk mem-per-djepang-kan Indonesia dan Ra’jat Indonesia. Di samping itu di dalam lingkungan Islam, tidak kurang2 harga dan pentingnja usaha dan daja K.H.A. Wahid Hasjim beserta kawan2nja, untuk membunuh-mati menapis-ledis semangat Islam dan Usaha Sutji Ummat Islam, sehingga Ummat Islam menghadapi bahaja dan bentjana jang maha besar: sjirik, kufur dan murtad. Pada masa itu, Soekarno-Hatta cs. Mentjapai puncak “kemasjhurannja” sebagai agen imperialisme Djepang, terutama sekali setelah Soekarno dapat mentjiptakan satu “ideologi” baru bernama “pantjasila”. Ja’ni: satu tjiptaan, satu tjampuran masakan, jang terdiri daripada Shintoisme, hakko itjiu, Islam sjirik dan nasional-djahil. Keterangan landjutan atasnja, perik-salah di bawah! Didalam perlombaan dalam lapangan “memper-djepang-kan” Indonesia, maka tidak sedikit djasanja K.H.A. Wahid Hasjim beserta kawan2nja, jang hendak tjoba2 menjembuhkan “Mekkah” dengan “Tokio”, kepertjajaan Wahdani jah Allah dan Watsanijah (sjirik). Sampai dimana benar atau tidaknja tuduhan “kollaborator” atas pemimpin2 agen Djepang: Soekarno cs. Wang Tjing Wei Cs., Chandra Bose cs., tidaklah mendjadi perbintjangan di dalam karangan ini. 9. Dalam djurusan lain, di dalam kalangan pemimpin-pemimpin Indonesia, jang masih tetap terkandung dalam “sangkar mas” itu, timbullah usaha2 menentang, menolak dan menghela, jang akan mentjoba dan berusaha melepaskan tjengkraman fascis Djepang, jang amat ganas, kedjam dan serem itu, jang menjebabkan berdirinja bulu roma tiap-tiap orang jang mengalami atau menjaksikannja. Adapun usaha ini, jang nanti akan ternjata menimbulkan buah dan natidjah jang amat besar dan dahsjat dalam zaman revolusi nasional, adalah “gerakan di bawah tanah” gerakan gelap gerakan subversif. Salah satu letupan daripadanja, jang mati dalam kandungan, ialah: peristiwa Singaparna, Tjilegon dan Kediri. Sungguhpun peristiwa2 itu (pembe-rontakan) merupakan usaha jang gagal, tetapi besarlah harga dan nilainja didalam perdjuangan sedjarah Indonesia, sebagai titik2 dab garis2 jang pertama jang menggambarkan minat dan hasratnja Bangsa Indonesia – terutama Ummat Islam, melepaskan belenggu dan rantai pendjadjahan dan pendudukan fascis Djepang. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB III: ISLAMISME 1. Pada achir tahun 1911 dan awal 1912, barulah Ummat Islam mulai bangun dan ber-bangkit dari tidurnja. Dengan pimpinan Hadji Samanhudi Solo, dan kemudian dibantu, dilanjutkan dan dipimpin oleh Umar Sa’id Tjokroaminoto, maka didiri-kanlah Sarekat Dagang Islam (SDI) jang achirnja bernamakan kedjurusan sosial dan ekonomi, dengan dasar keagamaan (Islam), perhimpunan ini bersifat massal, meliputi seluruh Ummat Islam, sehingga gentaran langkah dan geraknja amat besar pengaruhnja, dan berkumandang djauh2, melintasi lautan seluruh nusantara, dari Atjeh hingga Merauke. Di dalam dan terutama setelah Perang Dunia Pertama (1914-1918), dan kemudian daripada ditandatanganinja perdjandjian Damai Versailles (1919), maka pemerintah djadjahan Hindia Belanda mempergunakan taktik litjin: Meninabobokan bangsa Indonesia, dengan “pemberian hak2 politik” (walaupun amat sederhana dan ketjil sekali), sehingga dibentuknjalah Volksraad dan badan2 kenegaraan jang lainnja. Taktik ini didahului dengan hidangan “makanan jang lezat, manis dan gurih” –sesuai dengan lidah Indonesia—, berupa duurte tooslag, kenaikan pangkat, pemberian berbagai2 bintang, tanda-tanda djasa dll. Sementara itu, njanjian merdu “November-Belofte” dilagukan dengan meriahnja, di bawah pimpinan seorang kopelmeester, jang tjerdik, pandai, ulung dan bidjaksana, sesuai dengan tugasnja (Gubernur Djendral): Idenburgh. Njanjian jang serupa itu perlu didengungkan dan ditiupkan didalam tiap2 telinga bangsa Indonesia. Sebab djika terdjadi

kerusuhan atau pemberontakan ra’jat, maka Pemerintah Belanda pada waktu itu belum mempunjai kekuatan jang mentjukupi, untuk mengatasinja, bagi mempertahankan kedudukan dan kekuasaan pemerintah djadjahan Belanda, di Indonesia, sedang kekuatan dari negeri Belanda sendiri, tidak mungkin, begitu sadja dialirkan ke Indonesia, sebagai bantuan karena Belanda harus mempertahankan kebebasan (neutraliteit) negaranja. Beberapa tahun kemudian daripada itu, pemerintah djadjahan Belanda menun-djukkan tangan besi dan melakukan tindakan2 keras, dalam segala lapangan (zaman Gup. Djend. De Fook). 2. Sementara itu Sarekat Islam beralih sifat dan usahanja, mendj’adilah sebuah perhim-punan politik, berdasarkan keputusan Kongresnja di Madiun (1922). Party Sarikat Islam Hindia-Timur, dan 8 tahun kemudian berubah mendjadi Party Sarikat Islam Indonesia (1929), Kongres Djakarta, dengan sendi dasar jang lebih kuat dan teguh, serta program politik, ekonomis dll. jang lebih luas. Dalam pada itu Sarekat Islam menderita kerusakan dan perpetjahan di dalamnja, dengan karena infiltrasi komunis (periksalah di bawah, sehingga terbelah mendjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah, jang achirnja merupakan 2 party politik jang senantiasa bertentangan satu dengan lainnja, ja’ni: Party Sarekat Islam Indonesia (P.S.I.I.) dan Party Komunis Indonesia (P.K.I.). Dengan karena tekanan pihak pemerintah djadjahan Belanda waktu itu atas kaum pergerakan ‘umumnja, maka sikap ke (co-operation) mendjadi non (non co-operation). Mereka keluarlah dari badan2 perwakilan, jang dibentuk oleh pemerintah djadjahan pada waktu itu. 3. Semasa keadaan politik di Indonesia agak panas dan perhubungan antara kaum pergerakan —terutama P.S.I.I.— mendjadi tegang, maka terdengarlah dengan sajup-sajup tapi tjukup djelas dan terang: coup d’etat kaum Wahhabi, dengan pimpinan Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud, jang telah berhasil merebut kekuasaan negara, dari tangan Sjarif Husein, tangan2 dan boneka Inggris, di Djaziratul ‘Arab (1925). Kemenangan kaum Wahhabi, dan pindahnja kekuasaan negeri Arab dari Sj Husain kepada A.A. Ibnu Sa’ud, tidak sedikit pengaruh, harga dan nilainja bagi perhimpunan dan pergerakan Islam di Indonesia. Dengan segera Ummat Islam di Indonesia mempersatukan diri, di dalam suatu (perwufakatan federasi), merupakan satu Blok Islam, jang lalu mengirimkan utusannja kenegeri ‘Arab, ja’ni: ‘Umar Said Tjokro-aminoto dan K.H. Mas Masur (masing2 dari PSII, dan Muhammadiyah = MD). Kesempatan itu dipergunakan untuk menjelenggarakan sebuah Kongres Seluruh Alam Islam, jang Ummat Islam Indonesiapun mendjadi salah satu angautanja, dengan nama: Mu’tamar-ul ‘Alam-il-Islamy farul-Hindisj-Sjarqiyah (M.A.I.H.S.), Kongres Seluruh Alam Islam tjabang Hindia Timur. Ichtisar Ummat Islam Indonesia kedjurusan Pan Islamisme ini gagal, disebabkan karena halangan dan rintangan, saingan dan tantangan pihak imperialis (terutama Inggris), karena Ummat Islam sendiri belum tjukup besar kesadaran dan himmahnja, untuk melaksanakan dan mewudjudkan buktinja Pan Islamisme itu, meskipun berpuluh-puluh tahun sebelum-nja telah diandjurkan dimulaikan oleh pemimpinpemimpin Islam Internasional jang amat masjhur seperti: Djamaluddin Al-Afghany, Muhammad Abduh dan Amir Al Husainy. Setelah mati dan buntunja usaha Islam Internasional jang pertama itu, maka diutusnjalah untuk kedua kalinja K.H. Agus Salim, ke negeri Arab. Maka dibentuknjalah sebuah perhimpunan Islam Internasional —pengganti H.A.I. jang kandas dan terdampar di lautan karang—, bernamakan: Ansarul-Haremain (Pembela kedua Tanah Sutji: Mekkah dan Madinah). Selain daripada djalan-keluar melalui Pan Islamisme, maka Ummat Islam Indonesia (batja: PSII) mentjari pula djalan keluar kedjurusan Internasional “kiri dan merah-muda” (socialistis, social demokratis dan agak komunistis). Maka didapatnjalah hubungan administratif antara PSII dengan Liga anti-Imperialisme, anti-kapitalisme, dan anti-djadjahan, lembaga mana berpusat di Eropa Barat. Usaha ini segera menemui djalan buntu, dan putus sama sekali. Di antara sebab2nja, perlulah ditjatat: Tekanan dan tindakan keras daripada pihak Parket pemerintah djadjahan Belanda waktu itu. Berkenaan dengan itu, maka keadaan pergerakan politik, sosial, ekonomis, keagamaan dll. Di Indonesia pada waktu itu, tidak seberapa mentjapai kemadjuanm lesu dan kurang semangat, seakan2 hampir dian (statis). 4. Pada zaman awal kedudukan Djepang, maka semuanja perhimpunan2 politik Islam dibunuhnjalah. Masjumi (Madjelis sjuro Muslimin Indonesia), dan kemudian MIAI (Madjelis Islam ‘ala Indonesia), kedua-duanja buatan Djepang —dengan

perantaraan agen-agennja kijai-kijai ala Tokio—, merupakan lembaga dan medan pertempuran. Oleh pihak Islam muda, pihak revolusioner dan progresif, lembaga ini dipakai untuk menjusun dan mengatur “gerakan bawah tanah”, seperti djuga jang dilakukan oleh kawan2 seperdjuangan lainnja, di Hoo-kookai dan lain2 badan “kebaktian”, buatan “saudara tua” itu. Benih2 subversif, dimasa “sangkar mas” Djepang —jang sesungguhnja merupakan kamp konsentrasi, kamp tawanan jang halus—, dimasa nanti, menghadapi revolusi nasional, mendjadi pendorong dan daja-kekuatan jang hebat. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB IV: KOMUNISME 1. Revolusi Komunisme di Russia, jang terdjadi pada achir Perang Dunia Pertama (1917), adalah salah satu patok jang maha penting didalam sedjarah dunia, terutama jang mengenai Perkembangan Komunisme Internasional. Segera kemudian daripada selesainja, Perang Dunia Pertama itu (1919) maka agen2 komunis internasional, dengan pimpinan langsung dari Russia –Internasional III– menjebar dan menjelundup kedalam hampir tiap2 negara, diseluruh dunia. Djuga di Indonesia. Dalam pemasukan dan perkembangan Komunisme di Indonesia, all. Perlu ditjatat nama beberapa orang Belanda, seperti: Baars dan Sneevlist. Di antara murid2nja jang amat setia, bolehlah disebut: Sama’un, Darsono, Marco (Kartodikromo), Alimin, Muso, Ali-archam, Tan Malaka, dll. lagi. Dengan tjara menginjeksi ratjun Komunisme kedalam tubuh dan djiwanja pemimpin2 Sarekat Islam pada waktu itu, maka dengan segera perhimpunan tsb. belah mendjadi dua aliran, jang bertentangan satu dengan lainnja, sebagai musuh jang ta’ kenal damai. Keputusan tentang adanja Party-discipline dalam Kongres SI tahun 1921, memisahkan dua aliran dan ‘anasir itu, sehingga masing-masing berdiri, dengan bentuk party S.I. Putih mendjadi P.S.I. H.T. (achirnja: P.S.I.I.) dan S.I. Merah menjalurkan aliran merahnja didalam Party Komunis Indonesia (P.K.I.). Sikap pemerintah djadjahan pada waktu itu “melihat dan menanti”, sedang dalam prakteknja merupakan politik “adu domba” – devide et impera– antara PSII dan PKI, dengan selalu diselang-selingi oleh tindakan2 jang “tidak langsung” (inderekt): memukul kedua belah pihak, dengan membangunkan gerombolan2 Sarekat Hidjo, Daf’us-Sial, Al-HasanatulChairiyah, dll. (dalam zaman achir, djuga tampak gerom-bolan tjap Djangkar), ialah alat2 pengatjau, jang dibiajai dan dipimpin langsung atau tidak langsung oleh pemerintah djadjahan. Semangat komunis muda jang berkobar-kobar waktu itu –dengan pusat (C.C.), di Semarang, dengan kiblat Moskow, dan dengan petundjuk2 langsung daripada agen2 Lenin—, ingin segera dan tjepat2 mentjapaikan maksud dan tudjuannja, merampas kekuasaan dari tangan pemerintah djadjahan Hindia-Belanda. Peristiwa itu terdjadi pada achir tahun 1926, dan terkenal dengan nama: Pemberon-takan Komunis. Dalam tarich tertjatat, sebagai Coup d’atat Komunisme jang pertama. Dengan peristiwa itu, jang sesungguhnja karena perbuatan provokasinja, jang sudah agak lama sebelumnja sengadja diselundupkan kedalam tubuhnja Komunisme Indonesia, maka pihak pemerintah djadjahan mempunjai “alasan jang tjukup kuat dan sah” untuk membasmi dan membinasakan “Komunisme”. Beribu-ribu manusia, laki2 dan perempuan, tua dan muda mendjadi kurban perdjuangan, kurban Komunisme, dibuangdiasingkan ke Boven-Digul. Di antara pemimpin2 jang ikut dalam pembuangan itu, ialah: Marco, jang beberapa tahun kemudian meninggal di tanah pengasingan itu. Didalam peristiwa tahun 1926 tsb. di atas, baiklah ditjatat nama seorang agen provokator bikinan Belanda, peng-chianat Komunisme di Indonesia, ialah: Sanusi, seorang alat pendjadjah Belanda, pemimpin Komunis gadungan. Adapun pemimpin2 lainnja, mereka tjepat2 meninggalkan Indonesia, pergi keluar negeri, menudju kedjurusan Moskow. Diantara mereka jang mendapat “angin baik” bisa sampai di ibu kota Komunis itu, sedang sebagian besar lainnja terdampar di tengah djalan (Singapura, Bangkok, Rangoon, Shanghai). Di antara mereka ini, bolehlah ditjatat nama-nama: Tan Malaka, Alimin, Muso, Sama’un, Darsono, dan Subakat.

Sampai dimana mereka itu setia kepada organisasinja (di Russia), njatalah dengan terang benderang dikala mula pertama berkobar revolusi nasional di Indonesia (1945), terutama setelah revolusi tersebut agak reda. Mereka pulang kembali ke pangkalan semula, ketjuali beberapa orang. Tentu dengan tugas2 daripada induk-organisasinja. 2. Sedjak waktu itu, hingga berachirnja pemerintah djadjahan Belanda (awal 1942), maka tidaklah tampak tanda2, bahwa komunis di Indonesia akan hidup, bangun dan bangkit kembali, seakan2 pingsan kena pukau dan pukulan jang sangat hebat. ------Ζ Ζ Ζ -----BAB V : NASIONALISME, ISLAMISME, DAN KOMUNISME Pertentangan antara 3 ‘Anasir Masjarakat Pada masa Pendudukan Djepang, Revolusi Nasional, hingga kini 1. Selama masa pendudukan Djepang (awal 1942 hingga pertengahan 1945), maka ditutupnja rapat2 segala djalan dan kesempatan mengembangkan ideologi dan aliran manapun djuga; tiada sebuah pun jang boleh tampak di muka bumi dan di atas air, melainkan hanja “Djepangisme” sadjalah. Semuanjaa disapu bersih ditjukur gundul. Tekanan jang amat berat, perkosaan hak jang melampaui batas, ditambah dengan kekedjaman dan keganasan jang tiada tara dan hingganja, memaksalah semua pe-djuang-pedjuang melakukan “sijasat”; hidup dan berkembang di bawah tanah, di alam gelap, di belakang tabir, mereka silam, menjelundup dan bergerak di bawah tanah, lepas daripada intaian dan pengawasan kenpetai (Polisi militer Djepang) dan Polisi rahasia Djepang. Walaupun sering terdjadi penggeropjokan2 (razzia), penangkapan, perkosaan dan penganiajaan, dengan tuduhan2 melakukan “gerakan di bawah tanah”, tetapi aliran jang besar, jang disalurkan di dalam dada dan hati ra’jat, tidaklah banjak terganggu dan terhambat karenanja. Tanda2 kedjatuhan Djepang sudah tampak disegenap lapisan masjarakat. Mereka mengindjak-indjak dengan laku sewenang2 hak2 kemanusiaan, memperkosa ke’adilan dan kebenaran, melampaui segala batas hukum, menimbulkan hina, papa dan sengsara. Ra’jat hanja pandai meratap dan menangis, memandjatkan harap dan du’a kepada Allah, Tuhan ‘alam semesta, dalam keadaan ta’ berdaja: “kapan harikah mereka akan erlepas daripada malapetaka, melarat dan hina, nista dan sengsara, keganasan dan kedjahatan, sewenang2 dan kedlaliman tekanan dan antjaman, jang ditimbulkan oleh anak tjutju Dewi Amaterasu pada waktu itu....?” Beberapa waktu sebelumnja, persiapan pihak “di bawah tanah” sudahlah dimulai. Di tengah-tengah suasana jang amat gelap gulita, dimana ra’jat sudah tidak berdaja memperbuat sesuatu apapun, disa’at itulah Allah berkenan melimpahkan “Rahma-niyat-dan Rahimijat-Nja” atas Ummat manusia, dengan djatuhnja bom atom di atas beberapa kota Djepang. Peristiwa itu terdjadi pada pertengahan bulan Agustus 1945. 2. Djatuhnja Djepang, mendjadi sebab menjalanja api revolusi jang pertama di Indonesia, revolusi nasional, revolusi menentang pendjadjahan; revolusi melawan kekuasaan asing; revolusi, jang dari detik kedetik mendjalar dan meliputi seluruh nusantara Indonesia, sambil membakar-bakar tiap2 lapisan masjarakat dan tingkatan manusia; revolusi, jang hebatdahsjat menjala-njala ta’ kundjung padam; revolusi jang menghanguskan djiwa dan semangat ra’jat, hampir2 ta’ kenal batas jang manapun; ialah revolusi jang mendjadi sebab dan dorongan pertama akan “Prokla-masi Kemerdekaan Indonesiaa 17 Agustus 1945”. Pada waktu itu semua aliran dan lapisaan ikut serta; api revolusi merata di seluruh nusantara; ada jang ambil bagian genap lengkap 100%, dan ada pula jang hanja sebagian, dengan kadar kekuatan dan lapangan jang terbuka. Tetapi perketjualian tidak ada, dan tidak mungkin ada. Mereka ikut menggelorakan revolusi, kalau bukan karena sadar dan insjaf, sedikitnja karena takut dituduh anti revolusioner atau contra-revolusioner, chawatir dibawa agen imperialisme (Belanda) atau agen provakator, dan memang sebagian daripada mereka berbuat demikian, hanjalah karena “ikut-ikutan” (ikut hanjut) dan “hilang-akal”.

3. Beberapa bulan kemudian daripada itu (September 1945), maka langganan lama, pihak Belanda pendjadjah, mulai mendjedjakan kakinja di pantai Indonesia, naik di daratan dan memasuki kota2 dengan pengantara dan pengawal daripada pihak sekutunja: Inggris, dengan tentara Ghurkanja. Diantara kota2 jang mula pertama dimasukinja, ialah Surabaja, Djakarta dan Bandung. Bolehah ditjatat pula didalam riwajat, bahwa masuknja tentara Inggris —di dalamnja ada tentara Belanda dan kaki tangannja—, dengan idzin pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu, dan dikawal oleh B.K.R. (Badan Keamanan Ra’jat) —jang achirnja mendjadi T.R.I. dan T.N.I. Apa gerangan sebabnja? Wallahu ‘alam! Tetapi “pembuka pintu pertama” itu sungguh2 terdjadi, dan pemimpin Republik Indonesia sendirilah membukakan pintu itu dengan tangannja sendirilah membukakan pintu itu dengan tangannja Demikianlah kenjataannja didalam riwajat, jang tidak dapat disangkal oleh tiap2 orang jang tahu perdjalanan riwajat dalam tingkatan revolusi nasional kita! Satu bukti daripada kebodohan RI pada masa itu! Dengan datangnja “kembali” Belanda di tengah-tengah masjarakat dan ra’jat Indonesia —sementara itu kedudukan pemerintah RI tsb. di atas masih di Djakarta—, maka disebarkanlah kutu2, agen2 dan mata2nja, menjelundup dan melakukan peranannja di-tengah2 masjarakat dan ra’jat terutama di dalam kalangan pedjuang2 dan pemimpin2 revolusi pada waktu itu. Usaha Belanda “di bawah tanah” ini memang sudah sedjak lama dimulaikan oleh grup Van der Plas, jang selama itu tinggal di Australia, jang dianggap sebagai pangkalan, darimana ia melantjarkan tipu-dajanjaa, untuk mengembalikan peme-rintah djadjahan Belanda, di Indonesia. Infiltrasi pertama dilakukan kurang lebih setahun, sebelum, sebelum Djepang menjatakan kapitulasi. 4. Belum djuga revolusi nasional reda, api masih berkepul-kepul, maka tiap2 aliran jang dari tadinja —sedjak pendudukan Djepang— memang sudah mulai membuat rentjana, untuk melebarkan sajapnja dan mengembangkan ideologinja masing2, mulailah membuat dan men-traceer salurannja masing-masing. Tidaklah kiranja djauh daripada kebenaran dan kenjataan, djika dikatakan, bahwa di dalam hal ini pihak komunis, jang muda maupun jang tua, lagi sibuk dan asjik membuat saluran2 itu. Mereka melakukan tugasnja dengan tjakap tjerdiknja, atjapkali dengan tjurang dan serongnja, walaupun terpaksa merugikan kepada ra’jat, kepada perdjuangan, kepada revolusi maupun terpaksa merugikan kepada ra’jat, kepada kawan2nja seper-djuangan lainnja, jang beda aliran dan ideologinja, sikap dan haluannja. Organisasi diaturnja dengan tertib, orang2 dipersiapkan dan dipertempatkan ditempat-tempat jang penting, di dalam dan diluar organisasi negara, dengan tugas jang tentu, dan .... saluran menudju Moskow, dengan bentuk “Republik Ra’jat (Komunis) Indonesia” hendak tjepat2 dilaksanakannja. Mereka ingin mempergunakan waktu dan kesempatan untuk kepentingan ideologinja (Komunisme), dimasa kawan2 seperdjuangannja jang lainnja “lengah”. “Lengah” dalam arti kata: masih terus-menerus menggelorakan revolusi. Walhasil, komunis ingin “membokong” dari belakang. Pihak nasional pada waktu itu diperalat, diperbolehkan dengan mentah-mentah dan terang2an, oleh pihak komunis, walau kadang2 pemimpin2 nasional tua menduduki tempat2 “tuanbesar” sekalipun. Padahal “tuan besar” nasional itu hanja dipakai bendera-kamuflase komunis, untuk menjembunjikan maksud hakiki jang sesungguhnja, dan untuk memperoleh lapangan dan tempat jang lebih luas, bagi memperkembangkan ideologi komunismenja kurang tjerdik, kurang tangkas dan kurang tjepat, djika dibandingkan dengan gerak langkah pihak komunis, jang memang sudah mendapat pendidikan dan pengadjaran, latihan dan tuntunan langsung dari agen2 Moskow. Adapun peranan “pemimpin2 Islam” dan Ummat Islam pada waktu itu, masja Allah, sungguh2 menjedihkan dan memilukan hati. Oleh pihak komunis dan nasionalis, “ pemimpin2 Islam” itu dianggap dan diperbuatnja sebagai kudatunggangan dan kuda penarik gerobak, sedang “Ummat Islam” dianggap dan diperlakukannja oleh kedua anasir tsb. sebagai sapi perah, jang sbar. Sapi harus memberikan air susunja kepada komunis pengchianat dan nasionalis djahil itu. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun proces jang kami gambarkan itu, berlaku di tengah2 masjarakat Indonesia, ditengah revolusi nasional. Aneh dan djanggal didengar, tapi sungguh2 kedjadian, dengan bukti jang njata. Taktik dan tjara mengembangkan ideologi komunisme dilakukan dengan tjara memperbanjak “sarang” dan “sajap”, mendirikan organisasi-organisasi, baik jang menjebut dirinja komunis sedjati maupun jang setengah komunis atau memasang merk “nasional”, seperti Party Komunis Indonesia (PKI), Party Murba, Pemuda Sosialis Indonesia (Persindo), Angkatan Pemuda Indonesia (API), dan lain2 lagi. Dan pada zaman RI Djakarta (kini: RI Komunis), maka sarang2 dan sajap2nja makin diperbanjak, diperluas dan diperdalam, sehingga sebagian besar kaum buruh dan kaum tani, diseluruh Indonesia. Langkah dan taktik Komunis ini

diakui oleh pihak nasionalis, tapi ketjerdasan, ketjakapan dan ketangkasannja, memang amat djauh lebih lemah, lunak dan kurang daripada pihak komunis, jang memang tidak kenal batas hukum jang manapun djuga. Kembali mwembitjarakan nasibnja “pemimpin2 Islam´dan “Ummat Islam”, sekali lagi, masja Allah, mereka tetap bodoh dan tolol (ma’af), dan melakukan usaha sebaliknja daripada kawan2 perdjuangan lainnja. “Masjumi buatan Djepang” ditjiptakan dengan bentuk baru, merupakan Party Masjumi. Besar dan hebat, tapi tidak berdaja. Gendut (log), dan tidak mungkin melakukan geraktjepat, serta djauh daripada bentuk “stream-line”, menurut kehendak zaman. Dalam pada itu, Masjumi tetap mendapat “penghargaan jang patut”, dan “kehormatan jang pantas” dari kawan2 dan —terutama— lawan2nja, untuk menetapkan mereka (Ummat Islam dan pemimpin Islam) dalam keduduknja jang lemah dan keadaannja “bodoh dan tolol” (ma’af) itu. Mudah ditipu, mudah diperalat dan mudah dipergunakan untuk keperluan apapun djuga, walau untuk kepentingan Moskow sekalipun! Na’udzu billahi min dzalik. Semoga selandjutnja Allah berkenan mendjauhkan Ummat Islam dan pemimpinnja daripada sifat dan kelakuan jang serupa itu, sehingga tahu, sadar dan insjaf akan tugas wadjibnja, bakti kepada ‘Azza wa Djalla: Djihad pada djalan Allah untuk membesarkan Dia, mensutjikan Agamanja, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, Insja Allah. Amin. 5. Sementara itu, kutu2 dan lawan Belanda pendjadjah masuk-meresap, menjerbu-menjerang, dalam kalangan pedjuangpedjuang nasional dengan tachta (pangkat dan kedudukan), harta (kekajaan dunia) dan wanita (baik jang berupakan “perem-puan” jang sesungguhnja, maupun jang mewudjudkan “keinginan”, serasi dengan getaran djiwa, nafsu dan ghodzob manusia dari — materieel —, Dengan adanja Iblis jang “ikut serta” bersma pedjuang2 kemerdekaan, menggalang negara, maka makin hari makin tambah surutlah revolusi nasional itu, dan lalu berbalikan arah-tudjuannja, mendj’adilah: revolusi sosial, revolusi kedalam dan istimewa dalam kalangan pemimpin2nja. Sudah barang tentu, jang mendjadi kurban pertama2 sekali nistjajalah si-bodoh dan si-tolol, “pemimpin2 Islam” dan “Ummat Islam”. Kijai sadja didekat kota Garut ditjulik dan dibunuh oleh PT (Polisi Tentara) Samber Njawa, pada pertengahan tahun 1940. Kijai Thoha beserta 13 orang ‘alim ‘ulama dan pemimpin Islam lainnja, di daerah Sumedang, ditawan dan dibunuh, oleh komplotan Sadikin dan Sumantri (waktu itu masing2 mendjadi Kmd. Resimen 6 TRI dan Kmd. Bataljon dp. Resimen tsb.), be-serta kawannja, semuanja pihak komunis. Pemimpin Islam/sabil, Endang dan 4 orang kawannja, dari Limbangan, Garut, dita-wan dan dibunuh, diperbatasan antara Garut dan Sumedang, oleh PS (Pasukan Silat?), ialah salah satu bagian organisasi rahasia “setengah resmi”, masuk organisasi kom-plotan Sadikin. Dan masih banjak lagi kedjadian jang serupa itu, jang sungguh menggerakkan bulu roma, sehingga ratusan, ribuan pemimpin2 Islam, alim ulama mendjadi korban daripada pengchianatan pihak komunis itu. Sebagai saksi bolehlah ditarik Kolonel Hidajat dan Kolonel Nasution (kini kap. Staf Angkatan Darat RI), jang pada waktu itu mempunjai pertanggungan-Djawab langsung atas daerah2 tsb. dan atas sebagian Djawa Barat. Dengan itu, maka komunis menundjukkan keberaniannja jang luar biasa, dengan bukti jang njata, bahwa komunis tidak hanja berani melakukan serangan terhadap kepada alat2 dan kekuasaan Belanda pendjadjah, tetapi djuga melakukan serangan terhadap kepada kawan2 seperdjuangan dengan mereka, jang dianggapnja boleh meng-halang2i perkem-bangan ideologinja. Herankah kita, apabila didalam keadaan dan suasana jang demikian, kutu2 dan mata-mata Belanda —dari NAFIS, NICA dll.— dengan mudah dan leluasa dapat melakukan tugasnja jang chianat itu? Herankah pula kita, apabila pihak tentara Belanda, dikawal oleh tentara Inggris —dan djuga oleh orang2 “bangsa Indonesia”—, dengan lenggang-lenggang kangkung boleh masuk dan menduduki tiap2 pelosok Indonesia? 6. Selain daripada itu, pihak Nasionalis dan Komunis pun melakukan tipu daja dengan organisasi “palsu”, baik setjara resmi maupun “setengah resmi”. Waktu itu, boleh diibaratkan, bahwa RI merupakan seorang machluk Allah, jang berhati merah, tjetakkan Moskow, berdjiwa palu-arit, dan berdjasad nasional, kiri atau kanan, dengan ‘amal anti-Agama, antiIslam, anti-perdjuangan Islam, anti-Ummat Islam, anti-Tuhan dan anti-Allah, walaupun diselimuti kata2 jang manis dan perbuatan jang munafiq. Mereka itu mentjari akal dan daja-upaja untuk memperlunak perdjuangan Islam dan membinasakan Ummat Islam beserta pemimpin2nja! Dalam hal ini, sekedar jang berkenaan dengan Djawa Barat; bolehlah ditjatat nama2: Sutoko, Sama’un, Bakry, Kol. Nasution, Kol. Hidajat dan beberapa biang keladi lainnja. Djadi, kalau kita katakan, bahwa Komunis Indonesia itu agressif, tidaklah djauh daripada kebenaran dan kenjataannja, bahkan tepat. 7. Di dalam masa revolusi nasional tengah menggelora, pihak komunis sudah mulai mentjobakan perampasan kekuasaan

jang kedua, dari tangan pemerintah Republik Indonesia. Peristiwa ini terdjadi di Banten, pada aksi tahun 1947, dan di dalam karanga ini dinamakan: Coup d’ etat Komunis jang kedua. Hampir tidak ada jang mengetahui peristiwa sepenting ini, selainnja beberapa orang dalam (insider), karena usaha itu gagal, sebelum mentjapai tudjuan dan maksudnja. Tetapi usaha dan rentjana lengkap beserta sjarat rukunnja, sudahlah dihimpun dan dikerahkan. 8. Perampasan kekuasaan ketiga, jang agak besar-besaran, dengan kekuatan sendjata, dilakukan oleh Komunis Indonesia, dari tangan RI, semasa masih berpusat di Djogja. Coup d’ etat Komunis jang Ketiga ini, jang terdjadi tidak lama kemudian daripada coup d’ etat Komunis keduapun gagal pula. Kemudian diikuti oleh tindakan-tindakan keras daripada pemerintah RI: melakukan tangkapan dan penahanan besar2an atas beberapa pemimpin, diantaranja ialah: Tan Malaka, Mr. Subardjo, Mr Iwa Kusuma Sumantri, Mr. Muhd. Yamin, Abikusno Tjokrosujoso dan beberapa lainnja. Seorang panglima Divisi (Diponegoro, Sudarsono???) tersangkut pula didalam komplotan itu. Sedang beberapa kesatuan tentara (TRI = TNI) jang diperalat didalam peristiwa tsb., dilutjuti dan dimasukkan pula didalam terungku. 9. Perampasan kekuasaan keempat, atau Coup d’ etat Komunis jang keempat terdjadi di Madiun, terkenal dengan nama “Peristiwa Madiun” atau “Madiun Affaire”. Muso dan Mr. Sjarifuddin cs. Mendjadi biang keladinja. Rupanja ada tangan ketiga jang memegang peranan, dan menjokong pemberontakan Madiun dari pintu belakang. Peristiwa ini terjadi pada bulan September 1956, hampir 3 (tiga) bulan sebelum Belanda mengadakan aksi polisionilnja jang kedua. Republik Sovjet (Komunis) Madiun hanja berumur beberapa hari, mengikuti majatnja Muso masuk kelubang kubur, kurang lebih 10 hari kemudian daripada proklamasinja. 10. Djadi, selain Belanda memang ingin “kembali” menduduki Indonesia, maka dari pihak orang2 jang menamakan dirinja “pahlawan dan pedjuang kemerdekaan”itu sendirilah, jang membuka pintu masuk dengan lebarnja. Karena perbuatan jang mereka lakukan sendiri! Sehingga sudahlah selajak dan sepatutnja, jika kita menga-takan, bahwa R.I. chianat!!! 11. Komunis memang ulet. Ia bekerja terus, dengan sembunji, di atas maupun di bawah tanah. Sehingga dengan karenanja, pertjobaan perampasan kekuasaan jang ke lima kalinja, dilakukan pada pada pertengahan tahun 1949. Jang direntjanakan hendak dijadikan”basisnja”, ialah: Keresidenan Semarang dan Solo (Surakarta), dengan ibu-kota Solo. Didalam bulan Agustus tahun itu, maka rentjana tersebut sudah harus selesai didjalankan dan dilaksanakan. Coup d’ etat Komunis jang kelima inipun gagal pula, dikarenakan usahanja jang chianat kali ini menerjang batu karang, terdampar di atas pantai kesesatan, sehingga “mati sebelum lahir”. Segala keterangan, penerangan dan dokumentasi seluruhnja, tentang gerak-gerik pengchianat ini, sudahlah sampai ditangan pemerintah R.I. pada waktu itu. Tetapi oleh karena pada waktu itu R.I.—R.I. Djogja— sesungguhnja sudah mati, akibat daripada aksi polisionil kedua pihak Belanda, dan pengasingan pemimpin2 R.I. ke Bangka —, maka R.I (bangkainja) tidak dapat berbuat suatu apa. Tetapi untung, Alhamdulillah, dikota Solo dan sekitarnja masih ada pasukan2 Islam dan tentara pelajar, T.R.I.P., kedua-duanja anti-komunis. Sehingga dengan karenanja, segala usaha dan daja upaja komunis chianat itu, kandaslah. 12. Untuk melengkapkan riwajat komunis di Indonesia, baik pula ditjatat pertjobaan perampasan jang keenam, berlaku di dalam bulan Agustus 1951. Pertjobaan Coup d’ etat Komunis jang keenam inipun gagal. Sebab sebelum berdjalan sudah ditjium baunja lebih dulu, sehingga pemerintah R.I. — kabinet Sukiman Suwirjo — dapat melakukan tindakan preventif, sebelum komunis dapat melakukan perbuatan chianatnja, peristiwa mana terkenal dengan nama “Razzia Agustus” (1951). Sungguh-pun demikian, perlulah selama2nja orang menaruh perhatian, bahwa walaupun pihak komunis Indonesia untuk kesekian kalinja, hingga pertengahan tahun 1952 ini, semua perbuatan chianatnja gagal, tetapi kini pihak merah sudah boleh berbesar hati, karena pihak pemerintah R.I. talah menjerahkan dirinja, untuk diindjeksi dan diinfeksi dengan tjara merah asli, buatan Moskow. Sedang di samping itu, dengan djalan apapun djuga, parlementer maupun revolusioner, dengan politik halus maupun dengan senjata, pihak merah akan terus menerus mengusahakan terlaksananja tugas jang pertama (primer): mendjadikan Indonesia, negara Soviet (komunis)”, sepandjang idam-idaman Stalin, jang didewadewakan oleh pihak merah itu. Tjatat dan tjamkan baik-baik!!! -------Ζ Ζ Ζ -------

BAB VI: PERANG SEGI TIGA PERTAMA 1. Dengan ditanda-tanganinja Naskah Renville 17 Djanuari 1948, tentara Republik Indonesia mengalir masuk daerah Djogja dan sekitarnja –8 karesidenan, dengan pusat Djogja, dengan batas2 demarkasi Van Mook.– Ummat Islam di Djawa sebelah Barat tidak menjetudjui naskah tersebut, karena dianggap: A. Membunuh api revolusi nasional dan B. Memperketjil kekuasaan negara R.I. Sebulan kemudian daripada itu, 17 Februari 1948, Ummat Islam di Djawa sebelah Barat bangun dan bangkit, angkat sendjata, menentang dan melawan Belanda pendjadjah, melandjutkan perdjuangan kemerdekaan, jang telah setengah kandas itu. Perlu didjelaskan di sini, arti istilah “Djawa sebelah Barat”, ja’ni: daerah mulai batas demarkasi Van Mook –Gom-bong keutara– (Djawa-Tengah) ke djurusan Barat terutama jang mengenai Djawa Barat sebelah Timur (Karesidenan Tjirebon dan Priangan) dan Djawa Tengah sebelah Barat (Karesidenan Pekalongan dan Banjumas). 2. Pada waktu aksi polisionil kedua (tentara Belanda) pada bulan Desember 1948, maka Ummat Islam jang angkat sendjata itu, —dengan induk organisasi, bernamakan: Madjlis Islam; dan alat perdjuangan, bernamakan Tentara Islam Indonesia– sudahlah memiliki, menduduki dan menguasai beberapa bagian daerah jang disebutkan di atas, daerah de facto. Pada waktu itu Tentara RI (TRI-TNI) –jang tadinja masuk Jogja, meninggalkan Djawa sebelah Barat– “kembali keempat jang semula”, dengan membawa pemerintah RI dlarurat. Adapun pihak komunis, pada waktu itu masih tetap sebadju dan sepakaian, sebulu dan sekelakuan, setjorak dan seragam, dengan pihak nasional. Sehingga Tentara RI jang liar itu –dan memang sungguh2 “liar”– beserta pemerintah RI dlarurat merupakan sarang dan tempat perlindungan bagi komunis Indonesia, jang dengan bersiul-siul menaiki bachtera RI jang telah kandas itu. 3. Waktu mereka (ja’ni RI dlarurat dan komunis gadungan) itu masuk didaerah de facto Madjlis Islam, maka dengan sombong dan tjongkaknja mereka mengindjak-indjak hak dan memperkosa ke’adilan “tuan-rumah” (N.I.I.), sehingga terdj’adilah insiden Pertama, dengan mempergunakan sendjata, jang terkenal dengan nama “Pe-ristiwa Antralina” dan terdjadi pada tanggal 25 Djanuari 1949. Dengan peristiwa ini, maka berkobarlah dengan hebatnja “Perang Segi Tiga Pertama di Indonesia”, antara (1) Madjlis Islam beserta Tentara Islam Indonesia, (2) pihak pemerintah RI dlarurat beserta tentara liarnja, dan (3) pemerintah pendudukan Belanda, beserta tentara pendudukan, KNIL dan KL. 4. Untuk menghiasi halaman hitam daripada sedjarah Indonesia, baiklah ditjatat: A. Dimana tempat dan setiap sa’at ketiga pihak itu bertemu satu dengan jang lainnja, di sanalah terdjadi pertempuran; B. Pada ‘umumnja, tentara liar RI selalu di dalam kedudukan lemah dan kalah; se-babnja jang terutama ialah, karena mereka tidak mempunjai akar pengaruh tidak mempunjai kepertjajaan dan penghargaan ra’jat, dan kelakuannja, dimasa perdju-angan jang lampau; C. Tentara liar ini menundjukkan kedjatuhan achlak dan budi-pekertinja (degradasi dan demoralisasi), dengan satu sikap jang rendah: ta’ malu2 menjerah kepada pihak Belanda pendjadjah, seperti tjontohnja Ahmad Wiranatakusumah dan kesatuannja, Sudarman (major) –Kmd. Batalijon, Pesindo– beserta kawan2nja dan lain2 pengchianat bangsa dan pendjual negara lainnja. D. Tentara Liar (TL) itu lebih suka menjerah kepada Belanda pendjadjah, daripada ta’luk kepada Madjlis Islam atau Tentara Islam Indonesia; apa gerangan sebab-nja? 1) Karena Belanda, terutama tentara pendudukan Belanda waktu itu “tidak ba-njak” mengetahui, dan mungkin “sama sekali tidak” mengerti akan “isi hakiki dan kedudukan pemerintah RI dlarurat itu: sedang 2) Madjlis Islam beserta Tentara Islam Indonesia tahu dan jakin akan isi djan-tung-hati dan kedok pemerintah RI dlarurat beserta tentara liarnja, ialah: sa-rang daripada kutu2 komunis Indonesia; mereka memakai “nama” RI dan “seragam tentara” hanjalah untuk “menutup dan menjelimuti” maksud dan tudjuan mereka jang djahanam itu. Adapun Perang Segi Tiga Pertama itu berhenti, setelah dilangsungkan statement Rum-Royen, pada pertengahan tahun 1949, pada masa mana tentara liar itu dimasuk-kan di dalam kantong2, dibeberapa daerah. Sementara itu, pertarungan dilandjutkan antara NI dan TII, menghadapi kekuasaan pendudukan Belanda. Sedang pengubur-an resmi, kesudahan

Perang Segi Tiga tsb., terdjadi pada achir tahun 1949 (27 Desember), dikala turunnja “daulat hadiyah.” ------Ζ Ζ Ζ -----BAB VII: PROKLAMASI BERDIRINJA NEGARA ISLAM INDONESIA 1. Di tengah2 api-revolusi, doachir-kesudahan Perang Segi Tiga Pertama, dimasa vacuum, dikala Indonesia kosong daripada kekuasaan dan pemerintahan, disa’at itulah Allah berkenan mentjurahkan kurnia-Nja jang maha besar; suatu peristiwa, jang akan menentukan nasib dan kedudukan Ra’jat Indonesia, terutama Ummat Islam Bangsa Indonesia, dimasa depan; suatu peristiwa jang perlu ditjatat dengan tinta mas dalam sedjarah Indonesia, istimewa tarich perdjuangan Islam dan Ummat Islam, di Indonesia; suatu peristiwa jang bersedjarah, dengan lahirnja suatu negara baru dipermukaan bumiAllah, Indonesia: Proklamasi Berdirinja Negara Islam Indonesia !! Sa’at jang bersedjarah itu adalah: 7 Agustus 1949. Semuanja itu berlaku, terdjadi dan mendjadi, hanja dengan karena Kehendak dan Kekuasaan Allah, dengan tolong dan kurnia-Nja djua. Kiranja Allah berkenan memandaikan, mentjakapkan dan mentjukupkan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia: menerima Kurnia Allah jang maha-besar itu! Amin. 2. Kini, setelah tiga tahun bulat ‘umur negara baru itu, hidup dengan sejahtera dan bahagia, di tengah2 masjarakat dan Ummat manusia di Indonesia, mengalami suka dan duka, gembira dan sungkawa, menurutkan naik turunnja gelombang Qodratillah, jang membawanja kepada suatu arah dan maqam jang pasti: Mardlotillah sedjati. Alhamdulillah dengan asuhan Allah langsung, disertai dengan amal-bakti para mudjahidin seluruhnja muthlak, kepada ‘Azza wa Djalla, Djihad-berperang pada djalan-Nja, maka bertambah mendekati kepada tingkatan dewasa, sanggup duduk dengan patutnja, di samping negara2 jang merdeka, di seluruh dunia. Semoga selan-djutnja, Allah berkenan melimpahkan taufiq dan hidajat-Nja, kekuatan dan kekuasa-an-Nja, atas kita sekalian, para mudjahidin penggalang dan pendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dalam usaha kita menunaikan dharma bakti sutji: mendlahirkan Ke’adilan dan Kebesaran Allah, dipermukaan bumi Indonesia! Insja Allah. 3. Dalam waktu itu, orang boleh menerima dan mengakui, dan sebaliknja orang boleh menjangkal atau menolak. Tetapi Allah tetap melakukan rentjana-Nja, Negara Islam Indonesia tetap melakukan tugas-wadjib-nja jang maha sutji, hingga hukum sjari’at Islam berlaku dengan se-luas2nja dan sesempurna2nja diseluruh Indonesia. Sikap dan pendirian kedalam, ditentukan dan dilaksanakan dengan ‘amal jang njata, djelas dan tegas! Demikian pula haluan keluar, konkrit dan positif, lepas daripada sjak dan bimbang, sepi daripada ragu2 dan rusak! Dengan karena tolong dan kurnia Allah djua. …. Amin. Periksalah lebih landjut: Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, dan Pendjelasan singkat atasnja! ------Ζ Ζ Ζ -----BAB VIII: KEADAAN GANDJIL DAN ‘ADJAIB LUAR BIASA DI DUNIA Dua Negara, Dua Kekuasaan dalam satu daerah, nusantara Indonesia; Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia. (R.I.S.) 1. Segera kemudian daripada letusan terachir didaerah Djerman; jang menundjukkan, bahwa Perang Dunia Kedua dibagian benua Eropah telah berachir; disusul dengan ledakan bom atom jang kedua dan terachir atas beberapa kota Djepang; belum djuga diselenggarakan “Perdjandjian Damai Dunia”, maka dengan tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh orang berpendapat dan berkejakinan, bahwa “Perang Dunia Kedua dengan resmi telah disudahi”. Manusia telah haus akan damai, dahaga akan

aman dan tenteram! Maka kesudahan Perang Dunia Kedua itu tidaklah sekali2 diartikan, bahwa seluruh dunia sudah aman dan tenteram, mendjelang zaman bahagia dan sedjahtera, melainkan Perang Dunia Kedua itu diberbagai2 tempat meninggalkan batu-bara jang masih selalu menjala-njala dan membakar2 bangsa2 jang lemah, ummat2 terlindas, golongan2 terdjadjah, sehingga dibeberapa tempat dipendjuru dunia, terutama di Asia, berkobarlah, revolusi nasional; revolusi melawan pendjadjahan dan perbudakan, revolusi menentang kekuasaan asing, jang manapun djuga. Salah satu daerah jang menduduki tempat penting dalam sedjarah dunia, jang berkenaan riwajat revolusi nasional di benua Asia, ialah: Indonesia. Lebih djauh diperiksalah: A. Riwajat Tiongkok Nasional jang amat tragis itu, hingga terusirnja pemerintah nasional (Chiang Kai Sek) dari daratan Asia, dan hingga digantinja oleh peme-rintah ra’jat (Komunis-Mao Tse Tung); B. Riwajat Hindustan jang achir-kemudiannja mendjadi dua: (1) India, dan (2) Pakistan. C. Pergolakan di Korea, Indo-Tjina, Malaja, Burma dan lain2 lagi, jang kini tidak lagi merupakan masalah setempat melainkan sudah beralih sifat dan wudjudnja, mendjadi: masalah dunia (berela-vraagstuk). 2. Revolusi Nasional itu selesai, setelah masing2 bangsa dan golongan jang bersangkutan mendapat kedudukan jang pantas dan patut, didalam lingkungan bangsa2 dan negara2 merdeka didunia. Masing2 memperoleh miliknja sendiri2. Ada jang mendjadi “bo-neka” (satelliet) daripada negara besar dan jang mendapat “daulat hadiyah”, kemerde-kaan terikat, dengan selubung dan tabir berkilau-kilauan jang mensilaukan tiap2 mata jang “buta politik”. Wal-hasil negara2 baru, negara2 muda berdiri seperti tjendawan dimusim hudjan. Maka beralihlah sifat dan bentuk revolusi nasional, jang hanja menghadap keluar, mendj’adilah revolusi sosial, revolusi kedalam dan didalam, sehingga membakar dan menghanguskan tiap2 sesuatu, jang ada didalam tubuh bangsa dan ummat itu. Peristiwa jang serupa ini, antara lain2 terdjadi di Indonesia, jang hingga kini belum djuga diperoleh penjelesaian jang memuaskan kedua belah pihak jang bertentangan. Mereka tetap bertarung didalam selimut, merupakan “Perang-Saudara”, perang kejakinan, perang ideologi. Titik dan garis jang mempertemukan kedua belah pihak belum didapatkan, sedang pintu pembuka “penjelesaian” tetap tertutup dengan rapat2. Jang satu ber-sikeras kepada sikap dan pendiriannja, kepada kejakinan dan pendapatnja, kepada ideologi dan filsafat hidupnja, tiada tawar-menawar dan kalah mengalah, dengan kesanggupan mendjandjikan kurban apa dan betapapun djuga. Sedang sebaliknja, pihak jang lain-nja pun demikian pula. Oleh sebab itu, maka perang saudara, perang ideologi, perang kejakinan itu, tidaklah hanja merupakan “perang kalam” (tjatur) dan perang pena, melainkan berwudjudkan “perang adu tenaga, perang bersendjata”. Selandjutnja, sual itu mendjadi sual “darah dan besi”, sual kekuatan dan kekuasaan, sual negara, di dalam ma’na jang luas. Di dalam hal ini, sual “hidup dan mati” tidaklah masuk perhitungan. Sampai dimana kelandjutan proces perang saudara dan perang ideologi akan berlaku, seberapa besar djumlah korban manusia dan harta benda jang perlu disadjikan, tidaklah agaknja seorang manusia dapat meraba2 dan memperhitungkannja. Hanjalah boleh ditaksir2, bahwa djumlah korban djiwa manusia dan harta benda jang sudah dituntut oleh revolusi sosial ini, djauh lebih besar, lebih banjak dan lebih berharga daripada korban jang telah diberikan oleh ummat dan bangsa Indonesia, dimasa revolusi nasional jang telah lampau. 3. Untuk menolong dan memudahkan pembatja, memperoleh kesimpulan dan tindjauan jang tepat, serta timbangan jang djudjur dan ‘adil, baiklah terlebih dulu kami per-silahkan meneliti: A. Lampiran 1, Ichtisar I, Bandingan A., antara Republik Indonesia Djogja, Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia Djakarta; dan B. Lampiran 2, Ichtisar II, bandingan B., antara Negara Islam Indonesia dan Repu-blik Indonesia Djakarta. Dengan tjara jang mudah, nanti tiap2 pembatja akan memperoleh kesimpulan dan chulasoh jang pasti, betapakah gerangan duduknja perkara jang sesungguhnja. Lebih2 lagi djika pembatja sudi meneliti dengan seksama, barang apa jang dituliskan sebelum maupun sesudahnja. Beberapa hal, pada hemat kami, perlu bagi pengetahuan dan pengertian jang kritis, dan bagi menetapkan sikap jang ta’ berat sebelah, dan lebih djauh, untuk memperoleh tindjauan (visie) dan pendapat genap-lengkap, ‘adil, djudjur dan benar, maka di ba-wah ini kami sadjikan kupasan atasnja.

Kiranja pembatja jang bidjak-budiman suka memperhatikan seperlunja. 4. Kelahiran. Periksalah lampiran jang bersangkutan! A. Jang paling tua –dihitung daripada kelahirannja, sedjak kebangunan nasional (nasional reveille)– ialah Republik Indonesia, atau dengan kata2 lain disebut di dalam karangan ini, dengan istilah “Republik Indonesia Djogja” (karena nama pusatnja: Djogjakarta), untuk menolong dan memudahkan pembatja, di dalam mendjeladjah dan menelitinja, terutama bagi pembatja luar negeri. Hari jang bersedjarah itu adalah hari Proklamasi Nasional 17 Agustus 1945. B. Dengan; berdjangkitnja penjakit jang menghinggapi dirinja –periksalah riwajat selajang pandang di atas!—, dan karena desakan, tekanan dan serangan “penja-kit” dari luar, maka ‘umurnja RI Djogja tidak memandjang lebih daripada sa’at ditanda-tanganinja Statement Rum-Royen, pada pertengahan tahun 1949. Dengan itu, selesailah sudah nasibnja Republik Indonesia Djogja. C. Dengan tjara nakal, serong dan tjurang, terutama untuk mengelabui ra’jat Indonesia dan (djuga) mata internasional, jang hingga kini belum pernah melepaskan pengawasannja atas Indonesia –langsung ataupun tidak langsung—, maka bangkai jang telah mati pada pertengahan tahun 1949 itu, sengadja tidak lekas2 dikubur. Upatjara penguburan resmi jang dimaksudkan, barulah dilakukan satu tahun lebih daripada matinja, ja’ni pada tanggal 17 Agustus 1950. Kesempatan ini digunakan untuk “memaksa” RIS (Republik Indonesia Serikat, natidjah K.M.B.) mewarisi nama bangkai jang mati itu, sehingga mendjadilah “Republik Indonesia” (II). Didalam karangan ini, nama RI (II) itu disebut dengan istilah : “Republik Indonesia Djakarta” (karena nama ibukotanja: Djakarta). D. Hari kelahiran RI Djakarta ini –sesungguhnja nama resminja: Republik Indonesia Serikat– djatuh bersamaan turunnja “daulat-hadiyah”, ja’ni: 27 Desember 1949, ialah salah satu hari jang bersedjarah di dalam riwajat Indonesia, baik ba-gi bangsa Indonesia maupun bangsa Belanda. Djika kelahiran RIS (RI Dajakarta) itu, oleh sebagian daripada bangsa Indonesia, terutama jang “buta-politik”, disam-but dengan riang gembira dan suka-tjita, maka sebaliknja bagi bangsa Belanda hari itu merupakan hari berkabung, hari sungkawa. Karena pada sa’at itu pemerin-tah Belanda, dengan sedih dan ratap-tangis serta terharu, terpaksa menjerahkan sebuah “hadiyah jang maha besar”, ialah: hadiyah kemerdekaan Indonesia, walaupun tidak 100%. Dengan beberapa patah kata kami ingin menggambarkan, betapa gerangan “suasana” jang sesungguhnja pada dewasa itu, terutama didalam kalangan bangsa Belanda, di Nederland maupun di Indonesia. Bangsa Belanda dan pemerintah Belanda –dipandang daripada sudut pendirian dan keadaanja pada dewasa itu– tidaklah merasa mempunjai alasan jang tjukup, sah dan kuat untuk memberikan “daulat-hadiyah” itu. Terutama sekali, bila dipandang dari sudut militer, bahwa tentaranja (KNIL dan KL) di dalam melakukan tugasnja (“perang”) di Indonesia tidaklah mengetjewakan dan merasa kalah, bahkan sebaliknja. Buktinja? Di antara orang2 besar bangsa Belanda, jang memegang tampuk pemerintahan di Indonesia, di Negeri Belanda maupun di luar negeri, sama “mengundurkan diri dengan hormat”, karena mereka tidak menjetudjui beleid pemerintahnja. Malah ada pula jang (letterlijk) “bunuh diri”, seperti peristiwa djenderal Spoor, beberapa hari sebelum ditanda-tanganinja perdjandjian KMB. Pendjeladjahan lebih dalam menundjukkan adanja “udang internasional, di balik batu”, jang mendjepit, menekan dan mendesak pemerintah Belanda dan bangsa Belanda, kepada suatu posisi jang amat sukar-sulit (internationale dwangpositie), jang memaksa pemerintah dan bangsa Belanda, sukarela atau terpaksa, ichlas atau tidak, dengan gembira atau sedih: “mengakui dan menjerahkan kembali kemerdekaan Indonesia kepada ra’jat bangsa Indonesia, meski tidak bulat dan tidak genap-lengkap sekali pun”. Peranan jang dipegang oleh “udang internasional” itu amat sungguh penting dan berguna bagi ra’jat bangsa Indonesia. Adapun alat-pendjepit jang amat sakti itu, ialah: “Atlantic Charter” beserta “self-determination”-nja. Dan “udang internasional” jang kami maksudkan itu, jang mendorong dan menjorong dengan kerasnja “turunnja daulat-hadiyah” itu ialah: pihak Amerika Serikat, Inggeris dan Australia, djuga Perantjis. E. Setelah RI – Djogja mati dan meninggalkan langgang perdjuangan, pulang ke maqam abadi, dan belum pula Konferensi Medja Bundar (KMB) dimulai, maka pada sa’at itu lahirlah satu negara baru, dengan bentuk dan sifat baru, dengan sendi dan tjara2 baru, ialah: Negara Islam Indonesia. Periksalah: Bab VII di atas, Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, beser-ta Pendjelasan Singkat Atasnja: Peristiwa

penting, jang berlaku menurutkan Ke-hendak dan Kekuasaan Allah semata, terdjadilah pada tanggal 7 Agustus 1949. Dengan kenjataan riwajat ini (historis), maka bolehlah ditetapkan, bahwa Negara Islam Indonesia lebih tua dari RIS, jang kemudian diberi nama pindjaman Repu-blik Indonesia (matinja RI Djakarta). Tetapi setelah “pemimpin2” RI Djogja, jang tjurang dan chianat itu, tahu dan sadar, bahwa mereka (RI Djakarta) didalam posisi politik maupun sepandjang hukum (staatkundig en staatsrechtelijk), terutama sepandjang kenjataan sedjarah, menduduki posisi jang lemah dan kalah, maka dengan segera mereka mentjoba-kan tipu-daja dan tipu-muslihatnja, untuk membangunkan dan menghidupkan kembali nama “RI (Djogja)” jang sudah mati itu, sehingga RIS dipaksakan memakai nama “Republik Indonesia”, tegasnja: RI Djakarta. Semuanja itu dilaku-kan dengan tjurang dan serong, dengan chianat dan hasut, dengan sengadja hendak mengelabui mata dan menjumbat mulut ra’jat, serta dunia internasional, dan lebih djauh untuk mendjauhkan dan menghilangkan perhatian dan mata dunia kepada Negara Islam Indonesia. Tiap-tiap manusia jang tahu dan memperhatikan sedalam2nja akan riwajat Indonesia, berkenan dengan hal ini nistjajalah tidak akan menolak atau membe-narkannja dengan bulat2, disertai dengan pertanggung-djawab sepenuhnja. F. Sepandjang sedjarah, jang tentu dibenarkan oleh tiap2 manusia dan pihak jang masih sehat ‘akalnja dan ‘adil pendiriannja, maka njatalah sudah, bahwa: 1) RI Djakarta –RI lainnja memang tiada lagi– sungguh2 telah melanggar, mem-perbuat kedjahatan politik dan sengaja berchianat kepada Proklamasi Kemer-dekaan 17 Agustus 1945. 2) RI Djakarta (jang kini masih ada) bukanlah RI 17 Agustus 1945, jang ditim-bulkan dalam masa revolusi nasional pertama. 3) RI Djakarta adalah satu natidjah (resultante) daripada sikap serong dan tjurang, hasut dan chianat dari “pemimpin2nja”, jang kini lagi menaiki “kuda tunggang dan sapi perah” ra’jat dengan megah dan gagah, sombong dan takabburnja. Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam bangsa Indonesia ditipu, didjual dan dichianati mentah2!!! Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam bangsa Indonesia mendjadi korban: hina, papa, sengsara, miskin dan nista dalam segala-galanja, lebiih daripada zaman kolonial Belanda, bahkan lebih dari-pada zaman pendudukan Djepang, jang terkutuk itu!!! Hai, “pemimpin2 kebangsaan” jang chianat! Nantikanlah perhitungan atas perbuatanmu jang djahat, atas Bangsa, Negara maupun Agama itu!!! 4) Adapun ketjurangan dan pelanggaran RI atas perdjandjian KMP (RTC) maupun penipuan terang-terangan terhadap kepada dunia internasional, bukanlah tempatnja diuraikan didalam karangan ini. Melainkan kami serahkan dan pertjajakan sepenuhnja atas beleid dan kebi-djaksanaan, sikap dan pendirian masing2 pihak: Amerika Serikat, Inggeris, Australia, Perantjis. Dan silahkan! 5. Dasar dan ideologi negara, antara NII dan RI Djakarta. Bandingkanlah dengan lampiran jang bersangkutan! A. Dengan djelas dan tegas, NII meletakkan sendi2 dan dasar2 kenegaraannja: ISLAM 100%; satu-satunja Agama Allah – jang hingga kini sepandjang penelitian dan penjelidikan daripada para ‘alim ‘ulama dan ahli pengetahuan, dari pihak kawan dari lawan—, masih tetap terpelihara dalam kesutjiannja dan kemurni-annja. Barang siapa, jang tidak sengadja dari tadinja menolak kebenaran Islam, atau ingkar (kufur) daripada tuntunan Ilahy dan adjaran Muhammad Rasulullah Clm., dapatlah menetapkan kejakinannja jang kuat dan kepertjajaannja jang teguh, bahwa: “Islam menentukan dengan pasti dasar2 hidup dan kehidupan, dlahir (materieel) maupun bathin(spiritueel), mengandung peraturan2 bakti duniawy dan uchrowy, mulai keperluan pergaulan hidup sehari2 biasa dan ‘ibadah chususnja (rubbubiyah) hingga sampai kepada dasar2 dan tingkatan memperdjuangkan, memiliki dan mengatur negara dan dunia Islam.” Di dalam Islam tiada faham dan pendirian, jang memisahkan dunia dari achirat, dlahir dari bathin, mesdjid dari kantor, tidak sesuai dengan faham “kuno”, faham “Damaskus”, jang menjatakan perpisahan antara agama dan negara (scheiding van kerk on staat). Djika pada zaman abad kedua puluh ini masih djuga ada orang atau pihak jang pendirian “kuno”, silahkan mempeladjari kembali Kitabul-lah dan Sunatin-Nabi Besar, Muhammad Clm., dan Insja Allah achir-kemudiannja akan sampai kepada satu kesimpulan: mengoreksi faham dan pendiriannja, jang salah dan keliru itu! Djadi, kalau di sini kita katakan Islam, djanganlah hendaknja kita merasa tjukup dan puas dengan keterangan2 dari mulutnja “tukang obat” jang tidak bertanggung-djawab, atas benar atau salahnja kata2 jang dilahirkannja, lepas daripada niat baik atau djelek daripada orang jang mengutjapkannja. Melainkan, kita harus dan wadjib memandang Islam, sebagai

peraturan jang hidup, stelsel masjarakat, stelsel pemerintahan, stelsel negara dan stelsel dunia. Dengan sendinja jang pasti, kuat dan sentausa, luas dan mendalam, sutji dan ter-pelihara, jang tidak dapat diperkuda dan dipermainkan oleh siapapun djuga, maka kami –Negara Islam Indonesia– meletakkan dasar2 negara kami. Kami tidak ingin ingkar daripadanja sedjari sekalipun! Melainkan kami akan mentju-kupi sepenuhnja barang apa jang termaktub dalam adjaran Islam! Insja Allah. Kami tidak ingin melalaikan dan menawarnja, sedjengkal sekalipun! Sebaliknja, kami ingin memenuhi segenap tuntunan Ilahy dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Clm., dengan sempurnanja. Insja Allah. Sendi dasar inilah, jang pada ‘umumnja orang mengatakan: ISLAMISME. B. Adapun sendi dan dasar daripada Republik Indonesia seperti jang sering didengung2kan oleh “pemimpinnja”, terutama “Presidennja”, ialah: Pantjasila. Satu tjampuran (alliage) daripada (1) Shintoisme Djepang, (2) Sjirik Indonesia –animisme, dengan persembahan kepada Blorong, Dewi Sri, Dewi (ibu) Pertiwi, dll. Dewa tjiptaan, tiada bedanja dengan persembahan kepada Dewa2 Wisnu, Brahma dll. atau kedjawen (heidendom),, sebuah model persembahan berhala, jang berlaku di Djawa Tengah—, (3) Hakko Itjiu, alias theori penipuan “Kemak-muran Asia Timur Raja”, buatan Djepang semasa zaman pendudukan, dan (4) Nasionalisme Indonesia djahil, jang agak kemerah-merahan itu. Dengan kupasan singkat di atas, — tidak mengikuti susunan dan aliran pikiran Soekarno dan kawan2-nja (ma’af)—, maka mudahlah kita dapat mengerti dan memfahami sedalam-dalamnja: 1) Apakah gerangan sebabnja, maka “Tuhan” ala Pantjasila itu tidak mempunjai wudjud, sifat perbuatan dan lain2 jang tentu2, baik jang “wadjib”, jang “hak” maupun jang “mustahil”; “tuhan” jang tidak ber-‘amal (memerintah) dan tidak pula ber-“nahi” (terlarang); “tuhan” jang tidak menurunkan “nabi”nja, atau “utusan”-nja dan “wahju”-nja; “tuhan” neutraal (bebaskah? Jang boleh dibajangkan dan ditafsirkan oleh tiap-tiap manusia, menurut kehendak, pikir-an dan perasaannja masing2, walaupun oleh manusia jang sesat, jang anti-tuhan sekalipun (seperti komunis); “tuhan” inikah jang di dalam ‘ilmu “Kedja-wen” disebut dengan istilah ‘alam suwung wangwung” (tiada sesuatu alias kosong)? Wal-hasil, “tuhan” ini adalah “tuhan palsu”, “tuhan” buatan manusia, “tuhan” tjiptaan Soekarno. Lebih-lebih lagi, tampak bohong dan palsunja “tuhan” a la Pantjasila itu, dan chianatnja pentjipta dan buatannja (Soekarno) beserta pengi-kutpengikutnja, dimana “tuhan” pantjasila itu “dipersamakan” (atau didu-dukan sedjadjar) dengan Tuhan dalam faham dan kejakinan Islam: Allahu Subhanahu wa Ta’ala! Subhana-Llah! Maha-Sutji-lah Allah! Maha Sutji dari-pada tiap2 terkaan dan rabaan, bandingan dan buatan, fikiran dan hitungan manusia jang manapun djuga. Kalau di antara “pemimpin2” Islam di kalangan RI Djakarta masih djuga ada jang berpendapat, bahwa “tuhan” ala Pantjasila itu “sama” dengan Allah di dalam Al-Qur'an, maka faham dan pendapat, kejakinan dan kepertjajaan jang serupa itu teranglah salah, sesat dan keliru semata2. Hendaklah “pemim-pin” Islam jang “musjrik dan memusjrikkan” itu – walaupun dengan tidak sengadja, hanja karena bodoh dan tolol (ma’af) belaka– segera insaf, sadar dan taubat kepada Allah! Sajang ibadah jang dilakukan seumur hidupnja hanjalah dihadapkan dan diperuntukkan kepada “tuhan bajangan” belaka. 2) Apakah gerangan sebabnja, maka kata2 muluk “kebangsaan Indonesia”, ke-daulatan ra’jat, keadilan sosial dan kemanusian” hanjalah merupakan “huruf jang mati” dan hiasan mulut munafiq? Kata2 jang membumbung seting-gi langit itu hanjalah merupakan “alamat palsu” dan “bajangan” (chajal kepa-da chalajak ramai, kalau2 ra’jat boleh merasa puas dengan dongeng2 jang hebat2 itu” dan kenjang dengan “omong kosong” jang senantiasa dihambur-hamburkan dan membosankan itu! Ra’jat minta bukti! Ra’jat menuntut realiteit! Bukti! Bukti! Bukti! Itulah jang diharap-harapkan ra’jat. 3) Apakah gerangan sebabnja, maka Nasionalisme Indonesia lebih dekat kepada Merah (Komunisme) daripada kepada hidjau (Islamisme) ? Karena Nasionalisme Indonesia berdasarkan kepada “tuhan” jang neutraal (bajangan) tjiptaan pantjasila, alias “kosong”; sedang Komunis Indonesia, sesuai dengan adjaran2 tiap2 faham dan kejakinan “ketuhan-an” jang manapun djuga (historis materialisme). Komunis asli Moskow menolak mentah2. 4) Apakah gerangan sebabnja, maka Komunis Indonesia, dengan tjepat berkem-bang-biak didalam tubuhnja pemerintah Republik Indonesia, jang –katanja– berdasarkan nasionalisme itu? Sekali baksil-baksil dan bakteri-bakteri Komunis itu disuntikkan dan diratjunkan (geinjecteerd en geinfecteerd) kedalam tubuhnja RI, maka sekali itu tjukuplah kiranja untuk

“memper-merah dan memper-moskow-kan RI, karena perbedaan antara djahil dan sjirik hanja-lah beberapa streep belaka. Ratjun komunisme buatan Moskow itu dibuat demikian rupa, sehingga nasionalisme Indonesia (batja RI Djakarta) selalu tergila-gila kepada tiap2 jang merah dan jang ke-merah2an, terpikat oleh tiap-tiap komunis dan barang sesuatu jang komunistis. Berkenaan dengan kenja-taan jang berdjalin-djalin dalam tubuhnja RI, lebih2 lagi setelah membatja statement Party Nasional Indonesia (jang kini telah mengikuti djedjak langkah PKI–mengiblat ke Moskow) pada awal bulan Djuli 1952 jbl.; ditambah de-ngan sikap komunis Indonesia jang sudah tidak tahu malu dan lebih dari kurang adjar, mengindjakindjak kepala RI dengan njanjian “internationale” (komunis), dan menusuk-nusuk djantung hati pemerintah RI dengan ratjun buatan Moskow, maka mengingat semuanja itu, dengan ini kami dapat menja-takan pendapat jang pasti, bahwa: a. RI Djakarta –jang katanja Nasional itu, sesungguhnja “nasional merah”– kini sudah mendjadi RI Komunis; dan b. RI inilah jang berchianat kepada perdjuangan kemerdekaan Indonesia, kepada Agama Islam, kepada ummat Islam Bangsa Indonesia: kepada Allah dan Rasul-Nja, tegasnja: berchianat kepada Negara Islam Indonesia!!! 5) Apakah gerangan sebabnja, maka “ideologi” pantjasila tidak dapat tertanam dan hidup didalam dada dan hati ra’jat jang sebagian besar memeluk Agama Isllam? Memang sedjak mula berdirinja, RI (kini RIK) selalu berpegangan kepada pihak luar, pihak internasional. “International minded” katanja. Tegas-nja: RI (RIK) tidak berakar kedalam, melainkan keluar, tidak berdiri atas kekuatan dan tenaga ra’jat sendiri; tidak sesuai dengan kehendak dan tjita2 ra’jat; melainkan kedaulatan dan kemerdekaannja diperoleh dan dipertahan-kan dengan pegangan kepada “tongkat internasional”, dan berdasar atas kasih sajang dan kemurahan pihak luar. Maka dengan tjepat kita dapat menjebutkan, bahwa kedudukan RI (RIK) kini ialah: “Bergantung ta’ bertali, berdiri ta’ berakar!“ 6. Kanun Asasy Negara Islam Indonesia dan Undang-Undang Dasar RI palsu. Undang-Undang Dasar RI sebagai “warisan badju” daripada “bangkai jang sudah mati itu” (RI Djogja) dan sebagai indjakan tampak kosongnja, kosong daripada dasar hukum, jang mendjadi salah satu tulang-sendi (prinsip) bagi pendirian suatu negara, sesungguhnja tidaklah patut ditindjau dan didjeladjah. Sebab, memang bukan dasar dan pakaian RI sekarang (Djakarta) sendiri. Tetapi untuk kepentingan pembatja jang masih “asing” dalam seluk beluknja keadaan dan kedjadian di Indonesia, teru-tama sekitar “tipu-muslihat RI Djakarta”, maka dengan ini baiklah kami sadjikan buah pendjeladjahan sekedarnja, dengan pertanggung-djawab sepenuhnja atas benarnja penerangan dan keterangan tersebut: A. Bahwa RI Djakarta kini belum mempunjai Undang-Undang Dasar (Grondwet), jang seharusnja mendjadi tulang sendirinja sesuatu negara. B. Bahwa pemakaian UUDRI (Djogja) adalah suatu pentjurian politik jang amat tjurang (kurang adjar jang dilakukan oleh pemimpin2 RI (Djogja lama), jang kini –dengan bukti2 jang njata, terang dan djelas– boleh selandjutnja dinamakan: Republik Indonesia Komunis, disingkat dibatja dan ditulis: “er-ie-ka atau “rik”. C. Bahwa karenanja, RIK bukanlah suatu negara hukum (rechtsstaat) –sedang Undang-Undang Dasar pun belum memilikinja—, sehingga pada hakikatnja dan pada bukti sjari’atnja, tidak terikat dan tidak mengikatkan dirinja dengan suatu hukum. Lebih2 lagi, djika kita suka meneliti bukti2 kenjataannja, bahwa: 1) Tiada suatu peraturan jang tentu, jang mengekang mengendalikan peme-rintahan didalam negara, sehingga pesawatpesawat dan alat-alat negara tidak mempunjai pegangan jang tetap, dalam melakukan tugasnja. Herankah kita, djika pesawat2 dan alat2 RIK mendjadi lesu dan tidak bersemangat, kadang-kadang a-nasional dan tidak tahu djalan, sehingga sering tubruk menubruk satu dengan jang lainnja, semacam orang gila? Herankah kita djika pelatjuran, korupsi besar2an dan lain2 kedjahatan, baik didalam pandangan negara, maupun di dalam pandangan hukum, mendjadi suatu kemegahan, ketjong-kakan, kesombongan jang luar batas? Herankah kita, djika dengan karenanja banjak di antara anggauta2 pemerintah RIK mendjadi agen Moskow, atau tangan-tangan luar negeri jang lainnja, dengan maksud mendjual negara dan bangsanja, bagi kepentingan dirinja sendiri? Herankah kita djika ra’jat RIK selalu gelisah dan apathis, jang achirkemudiannja merupakan sampah masja-rakat, jang meng-halang2ngi dan menghambat berputarnja roda-pemerintahan RIK? 2) Dalam sual2 militer, baiklah diperingati: a. Tindakan Tentara RIK –di sini, disebut: TRIK– selalu melanggar hukum, baik hukum kemanusiaan, menangkap dan menawan, menjiksa dan mem-bunuh, menghukum dan membuang, dengan tjara sewenang-wenang, me-langgar hukum

kemanusiaan dan kesusilaan, bukanlah barang sesuatu jang aneh dan adjaib di Indonesia (lingkungan RIK), melainkan semuanja itu termasuk kedjadian se-hari2; jang boleh disaksikan orang pada setiap tempat dan waktu, hampir diseluruh Indonesia. Dari biasanja melakukan perbuatan2 jang hina dan rendah, tjemar dan kotor, kedjam dan ganas itu, hingga TRIK merasa bangga dan megah serta puas djika mereka telah “selesai”memperbuat barang sesuatu jang kedjam, djahat dan mesum itu. Semuanja dilakukan untuk keperluan sesuatu ideologi, kiriman luar negeri, import dari Moskow, jang bernama-kan Komunisme. Sadar atau tidak sadar, pura-pura tidak tahu atau dengan pengertian jang pasti, perbuatan-perbuatan jang serupa itu tidak hanja bersifat merusak, membentjanai dan merobohkan negara, bahkan lebih dari itu: TRIK (kini TNI –Tentara Nasional Indonesia) mendjual negara dan bangsa Indonesia kepada kekuasaan asing, ialah: Sovjet Russia. b) Sudah sedjak lama terdjadi perpetjahan didalam kalangan TRIK, seperti proces perpetjahan jang berlaku pada lapisan jang lainnja. Periksalah riwajat keluarja Pasukan Hisbullah (TNI) –jang kini telah insaf dan sadar akan tugas wadjibnja jang maha sutji: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, Alhamdulillah—, berkat chianatnja pihak RIK sendiri. Proces jang serupa ini akan berlaku terus-menerus, hingga tiada seorang Muslim lagi, jang sanggup hidup di lingkungan RIK Perpetjahan jang timbul karena keluarnja pihak ex KNIL (bekas Koninklijk Nederlands Indonesia Legor) dari kalangan tersebut, bukanlah suatu hal boleh disem-bunjikan. Lajangkanlah pandangan kita atas: Maluku Selatan (RMS), Andi Abdul Aziz, dll. jang hingga kini belum djuga ada penjelesaian atasnja. Proses di dalam kalangan KNIL inipun akan berdjalan terus-menerus, karena mereka tidak sanggup menelan pil-pahit buatan Moskow, walaupun dibungkus dengan “gula2 manis”. 3) Belum mengenai sual-sual ‘umum politis dan militer seperti perkaranja Sultan Abdul Hamid (pihak RIS dan KNIL), perkaranja Chairul Saleh (pihak Party Murba–Komunis), perkaranja Amir Fatah (pihak Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesia dan perkaranja sepuluh ribu orang jang lainnja, jang begitu sadja dimasukkan didalam pendjara, didalam tawanan, dan di tempat pengasingan Nusakambangan (Digul Kedua?), dengan tiada urusan, pemeriksaan atau penjelesaian atasnja. Walhasil, kalau lembaran2 hitam daripada riwajat Indonesia ini ditulis satu demi satu kiranja akan meru-pakan beberapa buah buku tebal tersendiri. D. Walaupun tidak patut dan tidak pantas, djika kita membuat bandingan, ditilik daripada sudut hukum dan politik, antara Negara Islam Indonesia dan Republik Indonesia Komunis, tetapi bagi orang2 jang mengaku warga negara RI (kini: RIK) mungkin besar guna dan faedahnja, djika kami berikutkan pendapat dan kesan-kesan kami atasnja, sekedar pada garis-garis besar dan pokok2nja belaka. 1) Bahwa di Indonesia, sedjak 3 tahun ini, berdirilah dua negara, jang berbedaan hukum dan pendiriannja, berlainan sikap dan haluan politiknja, bertentangan maksud dan tudjuannja, tegasnja: berselisih, hampir dalam tiap2 hal, mulai dasar dan pokok hingga sampai kepada tjabang dan rantingnja. 2) Bahwa daerahnja adalah satu dan bersamaan, ialah: Indonesia. 3) Bahwa ra’jat-penduduknja adalah satu dan bersamaan pula, ialah : ra’jat Indonesia. 4) Bahwa tiada batas jang tertentu: daerah, tanah, air, rimba, bukit, laut, dll., jang boleh membedakan dan memisahkan, antara kedua negara itu; sehingga batas sematjam “garis demarkasi” tidak ada, dan tidak mungkin ada. 5) Bahwa ‘alamat di luar jang tampak (oleh pihak luar): RI. Tetapi isi jang se-sungguhnja, ialah: a. Negara Islam Indonesia dan b. Republik Indonesia Komunis. 6) Bahwa kedua negara tsb. sedjak hampir 3 tahun ini, ja’ni : Sedjak 27 Desember 1949, senantiasa dalam keadaan permusuhan dan pepe-rangan, sehingga selama itu sampai kini Indonesia selalu terlibat di dalam “Perang Saudara”, Perang Ideologi, jang makin hari makin bertambah meng-hebat dan mendahsjat. 7) Bahwa tiada garis demarkasi jang tertentu bagi tiap2 pihak jang bertentangan, sehingga tiap2 kampung dan kota, tiap2 bukit dan pantai, tiap2 hutan dan ladang, sewaktu2 boleh mendjadi lapang peperangan, gelanggang (arena) adu tenaga antara dua kekuatan, dua kekuasaan dan dua negara itu, dalam sifat politis, militer, ekonomis dan lain2.

8) Bahwa karena perbedaan kedudukan kedua negara itu, dalam pandangan hukum dan politik, maka satu sama lain berlainan dan bertentangan pulalah tanggung-djawab terhadap kepada : a. Ra’jat; b. Tanah tumpah darah; c. Mahkamah sedjarah, interinsuler dan internasional; d. dan Mahkamah Allah, kini dan kelak. Misalnja: Djika pihak R.I.K. hanja akan bertanggung djawab akan nasibnja ra’jat jang mengikuti langkah R.I.K. —dengan sadar atau tidak, dengan paksa atau tipuan— (djadi: bukan lagi sual “warga negara”), maka sebaliknja, Negara Islam Indonesia pun hanja akan bertanggung djawab atas nasibnja ra’jat, jang mengikuti ketentuan2 dan hukum2 jang berlaku di dalam lingkung-an Negara tsb. 9) Bahwa perlulah dinjatakan, bahwa (a) Ra’jat, (b) Daerah —negara— dan (c) Kekuasaan, adalah tiga factor jang terpenting, jang selalu mendjadi sasaran (maf’ul objekt) daripada setiap pihak jang bertentangan dan bermusuhan. Herankah kita, djika proces “Perang Saudara” ini memakan korban jang ti-dak terhingga besarnja, baik merupakan djiwa manusia maupun harta dan benda? 10) Bahwa tjatatan2 di atas perlulah kiranja, terutama bagi pihak RI —kini: R.I.K.—, kalau2 di dalam golongan atau pihak, jang masih sehat pikirannja dan djernih tindjauannja serta ‘adil timbangannja. Kemudian, tersilah! -------Ζ Ζ Ζ ------BAB IX: PERHUBUNGAN ANTARA NEGARA ISLAM INDONESIA DAN REPUBLIK INDONESIA 1. Dulu, pada mula pertama R.I. (R.I.S.) baru menerima “daulat hadiyah”, dikala itu ia dan segenap alat kekuasaannja mabok daulat. Oleh boneka (R.I.) jang mabok itu selalu dihambur-hamburkan berita dan tjeritera, omong kosong dan palsu, hasut dan chianat, tjurang dan serong, sesuai dengan djiwa dan perbuatan pemabok jang lupa daratan, hidup dalam alam chajal dan margajangan. 2. Pihak Negara Islam Indonesia beserta alat pemerintahan dan kekuasaan dihina, ditjer-tja dan ditjatji maki dianggap dan diperbuat sebagai “gerombolan”, pengatjau, pem-berontak, perampok dan lain2 istilah, jang hanja patut keluar daripada hati dan mulut-nja orang2 jang dendam dan marah, djengkel dan murka rendah achlak-budi-pekerti dan ketjewa hati. Dengan “alasan2” jang serupa itu, maka dilakukanlah oleh pihak R.I. suatu perbuatan chijanat kepada Ummat Islam, ingin “membasmi gerombolan D.I. (Darul Islam, jang lazim dipakai untuk menundjukkan sebutan Negara Islam Indonesia hingga habis ledis, dan menghantjur-binasakannja”, katanja. Perbuatan chianat ini, jang dilakukan dengan “penggempuran jang membabi-buta”, sering pula di’umumkan dengan sombong dan tjongkaknja, dengan taktik serupa dengan djuru-bitjara Djerman dan Djepang —selalu “menang dengan gilang-gemilang” sadja—, semasa achir Perang Dunia Kedua 3. Perlulah didjelaskan, bahwa sebelum R.I. melakukan perbuatan chianatnja itu, maka terlebih dulu beberapa kali ia telah membuat sematjam panitja, jang hendaknja akan membuat hubungan antara R.I. dan N.I.I., dan dimana perlu —katanja— boleh mendjadi pengantara dalam “penjelesaian antara kedua belah pihak. Usaha penipuan jang demikian itu terus menerus dilakukan olehnja hingga sampai tahun 1951 jbl. Jang ikut serta dalam perbuatan chianat ini, tidak hanja pihak militer dan sivil, R.I., melainkan djuga masja Allah! —‘alim-’ulama jang terkenal didalam kalangan Islam (jang kini kiranja belum perlu disebutkan nama2nja, karena mereka itu memperbuatnja tjuma sebagai “kuda tunggang” dan “kaki tangan” jang tidak sadar— ma’lum: buta politik, dan “takut”), jang di belakang, djika tetap tidak sadar dan insjaf akan kewadjibannja sebagai Muslim, terutama selaku pemimpin Islam, tentulah akan diperhitungkan lebih djauh. Kepada mereka jang telah melakukan perbuatan chianat itu, meski jang tidak disengadja sekalipun., kami harapkan dengan tulus dan djudjur: Taubatlah! Tau-batlah! Taubatlah! Marilah kita bersama-sama melakukan tugas sutji, tugas Ilahy:

menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia!!! Kembali kepada “panitja penipuan” itu, bolehlah ditjatat: A. Bahwa segala usaha tentulah gagal, dan memang sengadja “dibikin gagal”. B. Bahwa maksud sesungguhnja, ialah: mengelabui mata ra’jat, menjumbat mulut-nja, dan lebih djauh “menutup mata dunia”, tegasnja: dunia internasional. C. Bahwa kalau wali-Al-Fatah dan kawan2nja tempo hari (pertengahan tahun 1950 dikirim kedaerah Negara Islam Indonesia, untuk mendjadi “penghubung dan perantara” itu hanjalah tipuan pihak Iblis la’natullah semata. Demikian pula usaha Sadikin, Sutoko, Rukman, Lukas dan pengchianat2 jang lainnja. D. Bahwa lebih djauh, maksud jang lebih dalam daripada “penipuan” itu, ialah: untuk menutupi kelemahan, kekurangan, kepintjangan dan kekosongan R.I. sendiri. Dan E. Bahwa “last but not least” (jang terachir dan maha penting) dengan tjara demikian “rahasia Komunis di dalam R.I.” tidak akan terbuka, sedang pada masa itu penjelundupan komunis di dalam pemerintahan dan alat2 kekuasaan R.I. lagi berlaku dengan giat dan tjepatnja. Perebutan kaum Komunis jang serupa ini didasarkan atas suatu kejakinan, bahwa mereka (komunis Indonesia) tidak akan diberi lapang hidup, djika Negara Islam Indonesia berdiri dengan tegak teguhnja, di tengah2 masjarakat Indonesia. Semuanja ini dibuktikan dengan dokumentasi komunis, jang terampas oleh pihak Negara Islam Indonesia, beserta Tentara Islam Indonesia. Oleh sebab itu, hai Ummat Islam dan pemimpin2 Islam: Awas dan waspadalah!!! 4. Sementara itu, pihak ‘umum djuga pers, jang tahu akan keadaan dan kedjadian jang sesungguhnja, tetap bungkam, tutup mulut. Sebabnja, karena djika mereka suka bitjara atau menulis terus-terang, menurut keadaan jang sesungguhnja, maka mata dan tangan besi jang kedjam telah siap di sekelilingnja. 5. Di dalam waktu jang achir2 ini, setelah terbukti, bahwa segala usaha dan tindakan mereka, jang keras-kedjam, hasut chianat, selama hampir 3 (tiga) tahun ini, ternjata kandas, gagal dan tidak berdaja, maka barulah ada suara2 dan angin2 baru, tampak dan terdengar nama-nama: Negara Islam Indonesia, Tentara Islam Indonesia, dll. Bukan se-kali2 karena pihak R.I. dan persnja —jang selalu masih tetap dalam penga-wasan antjaman dan tekanan sendjata, daripada tentaranja jang sombong dan se-wenang2 itu— ingin menghargai dan menghormati Negara Islam Indonesia! Melain-kan sikap jang serupa itu hanjalah menundjukkan kebingungan, kelemahan dan kedjatuhannja belaka! Di dalam pers beberapa bulan j.l. a.l.l. di’umumkan oleh pihak djuru-bitjara-tentara, bahwa “N.I.I. pernah mengirimkan Nota2 Rahasia kepada pihak R.I.”, dengan tidak menundjukkan sepatah katapun, akan isi dan maksud jang terkandung didalam Nota2 Rahasia tsb. Dengan peng’umuman itu, chalajak ramai tetap bimbang, tetap tidak menerima penerangan dan keterangan jang selajaknja. Berkenaan dengan itu, maka pada ketika itu djuga kami membuat hubungan dengan Imam Negara Islam Indonesia jang kini untuk sementara waktu lagi tinggal diluar negeri —bagi kepentingan Negara Islam Indonesia—, bagi memperoleh perkenan (idzin) dari beliau, untuk memper’umumkan Nota2 Rahasia itu, bagi kepentingan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang selalu di’abui matanja, sehingga tidak tahu duduknja perkara jang sesungguhnja, dan djuga menghilangkan salah faham dan keliru sangka, baik dari pihak lawan maupun pihak kawan. Maka pada achir bulan j.l. kami memperoleh perkenan tsb. jang diharapkan itu, sehingga mudah2an dengan itu pihak R.I. tidak akan tetap melandjutkan sikapnja jang tidak tahu malu, masa bodoh dan berchianat kepada ra’jat dan negara. Dengan per’umuman itu pula, maka Nota2 Rahasia —jang tadinja sengadja ditutup-tutup dan dirahasiakan— kini mendjadi Nota2 Terbuka, atau Surat2 Terbuka. Mudah2-an ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia terbuka matanja, tahu dan mengerti akan duduknja perkara jang sebenarnja, sehingga dimana perlu dan seberapa perlunja — boleh mendjadi Hakim didalam Mahkamah Sedjarah Dunia dimasa jang dekat. Kepada Dunia Merdeka, dunia internasional kami tidak kurang mengharapkannja, sudi apalah kiranja mengambil Nota2 Rahasia itu mendjadi tambahan bahan2, untuk menentukan sikap dan pendiriannja, mengenai Indonesia, dengan tindjauan jang benar dan timbangan jang ‘adil. 6. Berhubung dengan per’umuman Nota2 Rahasia itu —jang kini sudah mendjadi Nota2 Terbuka, atau Surat2 Terbuka—, baiklah kami menjatakan beberapa hal, untuk menolong dan memudahkan pembatja, didalam meneliti dan pendjeladjahan atasnja.

A. Nota Rahasia itu ada 2 bagian: Pertama: bertarich 22 Oktober 1950, djadi kurang lebih 10 bulan daripada serang-an R.I. kepada Negara Islam Indonesia; dan Kedua: bertarich 17 Februari 1951, hampir 14 bulan, kemudian daripada chianat-nja R.I., jang diperbuatnja terus menerus, tiada berhentinja. B. Nota2 Rahasia tsb. ditanda-tanganinja dengan resmi oleh Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, dan di’alamatkan kepada Saudara Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia, dengan tembusan kepada Sdr. M. Natsir, selaku Perdana Menteri R.I. pada dewasa itu. C. Kedua Nota Rahasia ini sudah diterima oleh masing2 mustahiqnja, tapi belum pernah mendapat balasan apapun dari pihak R.I.. Melainkan hanja dengan serang-an jang hebat dahsjat, dengan hasutan jang djahat, dengan blokade politik, militer, ekonomis dll., jang boleh diharapkan —sepandjang rentjana Abu-Djahal dan Abu-Lahab Indonsia,—: membunuh Negara Islam Indonesia, Agama Islam dan Ummat Islam Bangsa Indonesia seluruhnja. Alhamdu-lillah! Rentjana Abu-Djahal dan Abu-Lahab itu kandas dan gagallah, dan ber’akibat sebaliknja! Dengan karena tolong dan kurnia Allah djua. Semen-tara itu, Rentjana Allah terus berlaku: mendlahirkan Kebesaran dan Ke’adilannja, ditengah2 masjarakat dan ummat manusia di Indonesia, berwudjudkan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Sekali lagi, Alhamdu-lillah! Dengan “latihan” jang diadakan oleh R.I. terhadap kepada N.I.I., dengan makan kurban jang tidak ternilai harga dan besarnja, maka makin hari Negara Islam Indonesia makin kuat dan sentausa, besar dan meluas. D. Atas beberapa fatsal, jang termaktub di dalamnja, akan kami berikutkan pen-tegasan seperlunja. Periksa dan bandingkanlah: Lampiran 3 dan 4, Nota Rahasia pertama dan kedua! 7. Peringatan, perhatian, pertimbangan dan kesan tjukuplah diletakkan di dalam Nota2 Rahasia itu, oleh Pemerintah Negara Islam Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia, terutama tentang bangkit dan tumbuhnja bahaja dari dalam maupun dari luar. Peringatan dan perhatian itu diberikan, pada masa R.I. baru mendjadi anggauta P.B.B. (Perserikatan Bangsa—United Nation Organization = U.N.O.), dua tahun bulat jang lampau. Walaupun demikian R.I. (Djakarta; kini: R.I.K..) telah menutup matanja dan menjumbat mulutnja, dan tidak mengabaikan sedikitpun djuga atas semuanja itu. Selama dua tahun ini, sudah banjak peristiwa2 jang terdjadi, interna-sional maupun interinsuler, jang sedikit banjaknja mempengaruhi kedudukan R.I.K., sehingga makin hari semakin bertambah2 sulit karenanja. 8. Politik Bebas (neutralitdit) R.I. jang tadinja diharapkan akan bersifat positif dan konstruktif, ternjata achirnja mendjadi negatif dan destruktif, sehingga karenanja Politik Bebas makin hari makin bertambah menjulitkan dan membahajakan kedu-dukan R.I. (R.I.K.) dalam lingkungan negara2 di Pasifik, istimewa mengenai rantai pertahanan. Wal-hasil, Politik Bebas jang tadinja diharapkan akan mendjadi salah satu daja-upaja untuk “melepaskan Indonesia dari antjaman bahaja, dari luar dan dari dalam”, maka sekarang ternjata mendjadi “tambahan penjakit”, jang akan segera menjorong R.I. (R.I.K.) tjepat2 masuk kelobang kuburnja. Mula-pertama, Politik Bebas itu hanja berwudjud politik “latjur”, politik “ronggeng” (flirterij), mentjintai si A. dan mengasih-sajangi si B., dengan tidak haluan jang tetap dan tentu, tiada sikap jang djelas dan tegas tiada tahu harga diri dan kehormatan Ma’na jang paling baik untuk menggambarkan “politik jang mentah dan setengah matang ini, paling tinggi, ialah politik “wandu” (bukan laki-laki dan bukan pula perempuan)”, jang oleh karenanja tentulah tidak akan mendapat kehormatan peng-hargaan dari pihak diluarnja. Politik latjur dan wandu ini masih djuga boleh dima’-lumi dan diperma’afkan, walaupun tentu merugikan negara, kehormatan dan kedau-latannja, jang hanja boleh dilakukan oleh orang, pihak dan golongan, jang berachlak rendah dan berbudi hina. Tapi ....! Tapi ....! Tapi ....! Ada akibat jang lebih berahaja dan berchianat daripada latjur dan wandu itu. Ja’ni: setelah pihak Merah sudah mulai masuk-meresap dalam tubuhnja R.I. (R.I.K.), maka Politik Bebas itu dipergunakan orang (batja: Pemerintah R.I.K.) untuk memindahkan kiblat, dari bebas ke Moskow. Barang siapa jang teliti mendjeladjah sikap R.I. (R.I.K.) menghadapi dunia luar (politik luar negerinja), maka kesimpulan dan pendapat kami itu, Insja Allah, tidak djauh daripada kebenaran. Periksalah sikap R.I. terhadap (1) M.S.A., (2) T.C.A.,

(3) pengangkatan duta2 besar untuk Moskow dan Peking, (4) K.M.B. = R.T.C., (5) Irian Barat dll.! Semuanja itu menundjukkan bukti jang njata, bahwa kutu2 dan ratjun Komunisme dapat hidup dengan subur dan berkembang biak, didalam tubuhnja R.I. (R.I.K.), jang selalu mempergunakan kamuflase (pendirian samaran) jang bernamakan “neutraliteit” alias Politik Bebas itu. R.I. menjerahkan dirinja, untuk di-indjeksi dan di-infeksi oleh kutu2 komunis, dengan ratjun buatan Moskow. Awas! Hai, Ra’jat Indonesia! Pemerintahmu sendirilah, Pemerintah Republik Indonesia, jang berchianat: mendjual negara dan bangsamu, Negara dan Bangsa Indonesia!!! 9. Oleh pemerintah Negara Islam Indonesia diharapkan dan dipertimbangkan kepada pemerintah R.I. —periksalah: Nota Rahasia jang pertama, angka 11 !—, betapa hendaknja R.I. bersikap dan bertindak terhadap kepada Komunisme di Indonesia, jang sedjak dua tahun jang lalu sudah boleh di-raba2 diperhitungkan bahaja nasional dan bahaja internasional, jang boleh tumbuh daripadanja. Antara lain dalam angka 11 disebutkan: 11. ........................................................................................................................... a. Tiada suatu djalan lain, jang menudju kearah “keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia”, melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiap2 lapangan, “terutama sekali jang melekat di dalam tubuh “Pemerintahan Republik Indonesia dan alat2 kekuasaannja, dengan wudjud dan sifat apa dan manapun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. ..................................................................................................................... c. ..................................................................................................................... “Hendaknja disegerakanlah, melakukan tindakan jang tjepat dan tepat atas bahaja nasional dan internasional tersebut, jang pada hemat Kami, tindakan serupa itu adalah salah satu tugas jang wadjib mutlak bagi Pemerintah Republik Indonesia, untuk menghindarkan Negara dan Bangsa Indonesia daripada antjaman mara-bahaja jang amat dahsjat itu.” .................................................................................................................................. Sikap dan pendirian jang diharapkan boleh mendjadi “obat” untuk R.I., dinjatakan pula didalam Nota Rahasia Kedua angka 7. Periksalah: Lampiran 4, jang bersangkutan ! Walaupun demikian Pemerintah R.I. tetap tuli dan membuta-tuli, dengan sengadja, sadar dan insjaf, dengan pengetahuan dan pengertian jang tjukup. Mengapakah R.I. tidak bertindak? Tidak beranikah? Takutkah kepada pihak merah dan agen2nja, jang siang malam berdjalan2 didepan istana mereka? Tidak mampukah (impotent)? Setudjukah kepada Komunis? ataukah R.I. memang komunis dan masuk golongan komunis? Rupanja kemungkinan jang terachir inilah jang paling dekat kepada kebenaran. Selandjutnja, apakah buktinja? Sebaliknja daripada apa jang di-harapkan. Bukan ia (R.I.=R.I.K.) membasmi Komunisme, semasa masih ketjil dan lemah, dikala 2 tahun jang lalu, melainkan (R.I.=R.I.K.) bersedia menerima Komu-nisme didalam tubuhnja, didalam pemerintahannja, didalam tentaranja, dan hampir didalam tiap-tiap lapangan hidup dan kehidupan, dinegara R.I. (R.I.K.). Ini bukan dongeng dan tjeritera purba, melainkan bukti jang njata, jang setiap orang boleh menjaksikannja. 10. Adapun Sikap dan pendirian Negara Islam Indonesia sendiri terhadap kepada bahaja komunisme itu, dinjatakan pula dengan djelas dan tegas: (Nota Rahasia Pertama, angka 12) ........................... 12. Dalam pada itu, baik djuga kami menjatakan di sini akan Sikap dan Pendirian Pemerintah Negara Islam Indonesia terhadap bahaja Komunisme, bahwa sedjak mula berdirinja —7 Agustus 1949— telah ditetapkan: “Pemerintah Negara Islam Indonesia dengan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta alat- kekuasaannja sudah, lagi dan akan terus menerus melakukan wadjib sutjinja. Membasmi bahaja-Negara, bahaja-Agama-Allah (Islam) dan ba-hajaUmmat itu, hingga sampai kepada akar-akar dan dasardasarnja”. .................................................................................................. Pentegasan atasnja kiranja tidak diperlukan. Tjukup djelas!

11. Selain daripada itu, dalam Nota Rahasia tsb. dituliskan pula dengan terang2an dan dengan dada terbuka, hanja karena mengingat kepentingan Negara, Bangsa serta Agama semata2 a.l.l.: A. Bahwa Nasionalisme tidak akan sanggup dan tidak pula akan mampu membasmi Komunisme, dan djika Komunisme mendjadi agressor, maka pihak Nasionalisme akan segera menjerah-kalah: B. Bahwa tiada kejakinan, stelsel dan ideologi lainnja, jang dapat membendung arus Komunisme dan menghindarkan bahaja Negara, Bangsa dan Agama, melain-kan hanja Islamisme sadjalah. C. Bahwa wadjib mutlak “membasmi Komunisme” harus dilakukan dengan tjepat, agar supaja Indonesia djangan hendaknja mendjadi Tiongkok kedua atau Korea kedua. D. Bahwa djika R.I. lalai akan kewadjibannja jang pertama2 dan jang terutama itu —membasmi komunisme—, maka ia akan bunuh diri, dibunuh oleh alat dan pesawatnja sendiri, untuk kepentingan dan keperluan negara dan ideologi lain, ialah: Sovjet Russia. E. Bahwa sual sekitar KMB Irian Barat dll. harus diteliti dengan bidjaksana, agar supaja djangan menambah besar dan dahsjatnja bahaja jang meng-antjam-antjam kedudukan Indonesia, dari dalam maupun dari luar. Berkenaan dengan kesulitan2 jang timbul sekitar sual Irian, dari sendirinja akan membawa ‘akibat (jang kurang enak) kepada ikatan bangsa2 dan negara2 di dalam rantai pertahanan Pasifik. Karena negara2 jang ikut serta, bahkan mempunjai peranan penting di dalam pemberian “daulat hadiyah” kepada Indonesia, adalah negara besar, jang berkuasa di pantai Pasifik , seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Perantjis. F. Bahwa di masa jang dekat —tindjauan dan rabaan serta perhitungan hampir 2 tahun jang lalu— akan terdjadi Perang Segitiga jang kedua. Kini dengan per-lawan2 dan ber-angsur2, sedjak beberapa lamanja, sudahlah dimulai. Dan oleh karena sebagian besar proces ini berlaku “di dalam selimut” (dan memang diseli-muti), maka pihak luar (outsider) tidak banjak mengetahui dan mengertinja. Ini-lah suatu bukti, jang membenarkan tindjauan kita di atas, hampir 2 tahun jang lampau. Lebih djauh, periksa dan bandingkanlah dengan Statement Negara Islam Indonesia, No. IV/7 ! Masihkah orang menjangka, bahwa Pemerintah Negara Islam Indonesia kurang “goodwill” terhadap kepada Pemerintah Republik Indonesia, walaupun masih tetap bermusuhan dan tidak setudju kepada sikap dan pendirian serta dasar nega-ranja sekalipun??? Kiranja sekarang hanja tinggal menantikan “goodwill” (kemauan baik) daripada pihak Pemerintah Republik Indonesia!!! Terserah dan tersilah! Tiap2 pembatja jang bidjak-budiman, kiranja dapat menentukan dan mengambil kesimpulan sendiri! 12. Kemudian di dalam Nota Rahasia Kedua, angka 8., dinjatakan pula dengan terang-terangan akan Sikap dan pendirian jang djelas dan tegas, mengenai Proklamasi ber-dirinja Negara Islam Indonesia, untuk memudahkan RI dalam usaha “pemetjahan” dan “penjelesaian” atasnja. Antara lain dituliskan: ................................................................................................................................. a. Proklamasi 7 Agustus 1949, adalah suatu tjurahan Kurnia Ilahy, atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, satu idzin dan perkenan Allah jang berwudjudkan: “inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, du’a, tekad dan ‘amal-usaha perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia”. b. Oleh sebab itu, maka Proklamasi 7 Agustus 1949 merupakan hak sutji daripada atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang tidak hanja harus serta wadjib dihargai dan dihormati oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap2 bangsa diseluruh Dunia. c. Hak sutji tsb. ...................................................................................................... (1) Jang mengenai isi, maksud dan wudjud bulat sempurna (essensial-substantif), ialah: Kemerdekaan bulat 100%, ................................................................. (2) Jang mengenai technik-pelaksanaan, ........................................................... Selandjutnja, bagi Republik Indonesia boleh memilih: “menerima dan mengakui Proklamasi 7 Agustus 1949, ataupun menolaknja”. Dalam kedua2 kemungkinan itu, maka berdirinja Negara Islam Indonesia telah melahirkan sikap dan pendiriannja jang

tegas, tidak ragu2 dengan bertanggung-jawab sepenuhnja. Periksalah: Nota Rahasia Kedua, angka 8, c., (1) dan (2)! 13. Achirul-kalam, sekali lagi dengan ini kami njatakan rasa-kemenjesalan kami dan pihak Negara Islam Indonesia, bahwa Pemerintah Republik Indonesia, jang kini praktis sudah mendjadi Republik Indonesia Komunis, telah mengabaikan segala pertimbangan, perhatian, peringatan dan kesan2 atas nasibnja Ummat dan Bangsa, Negara dan Agama, dimasa jang mendatang, berkenaan dengan antjaman bahaja dari dalam maupun dari luar, jang akan membunuh-mati dan menghantjurluluhkan negara dan ra’jat Indonesia, sebagai negara dan bangsa di dunia. Sajang! Sekali lagi, sajang! Kini sudah terlambat! Walaupun demikian, kalau sekarang ini djuga, semasa Perang Dunia Ketiga belum meletus, Pemerintah R.I. suka mengubah sikapnja jang membuta-tuli dan keras-kepala, pura2 tidak tahu dan tidak sadar akan resiko jang boleh diderita oleh ra’jat dan ummat serta negara jang mendjadi pertanggung-djawab atas pundaknja, maka agaknja masih djuga terbuka djalan untuk menolong dan menghindarkan sebagian (ketjil) Ra’jat, daripada antjaman bahaja jang amat besar dan dahsjat itu. 14. Pendjadjahan Belanda telah lampau, pendudukan Djepang sudah berachir, Kemerdekaan (palsu) Indonesia lagi berdjalan, kalau nanti disusul dengan djadjahan komunisme, djadjahan ideologi, djadjahan politik, djadjahan militer, djadjahan eko-nomi, djadjahan Sovjet Russia djahanam. Alangkah besarnja mara bahaja, dlahir dan bathin, dunia dan achirat, jang akan menimpa Indonesia, sebagai negara dan bangsa!!! Naudzu billahi min dzalik! Pada zaman pendjadjahan Belanda, orang mengira, bahwa diduduki (didjadjah) oleh Djepang —karena katanja: “saudara tua”— lebih enak atau kurang pahit, daripa-da oleh Belanda. Sangkaan itu salah belaka. Ra’jat djelata menderita, lebih daripada jang sudah-su-dah. Tiada kalam manusia, jang dapat menggambarkan dengan tepat, akan penderita-an ra’jat dlahir dan bathin, waktu itu! Pada zaman Fascisme Djepang, orang meratap menangis, berdu’a kepada ‘Azza wa Djalla: “Kapan hari-kah Indonesia merdeka? Dan kalau Indonesia sudah merdeka, tentulah akan hilang segala hina dan papa, nista daan sengsara, melarat dan derita..! Demikianlah agaknja gambaran-letupan djiwa ra’jat jang lagi tidak berdaja meng-hadapi Fascisme Djepang itu. Pada suatu detik jang ditentukan oleh Allah Pribadi, maka Indonesia mendjadi negara jang merdeka, walau hanja merupakan “daulat hadiyah” sekalipun. Lumajan djuga tapi apa latjur! Sekali lagi, ra’jat ketjewa, ra’jat lebih sengsara, lebih menderita dalam segala2nja —ketjuali beberapa manusia, jang menamakan dirinja “pemimpin ra’jat, pemimpin negara dll”.—, lebih daripada zaman djadjahan Belanda, bahkan lebih daripada za-man pendudukan Djepang, Meskipun dipimpin oleh bangsa sendiri, bangsa Indonesia, dan sudah memiliki kemerdekaan pribadi, kemerdekaan Indonesia. 15. Tanda2 akan runtuh dan djatuhnja R.I. sebagai negara, sudahlah tampak dengan njata. Setiap orang, jang tidak sengadja menutup matanja, akan dapat menjaksikan matjam kebiadaban dan pelanggaran teradap kepada hukum, dan ke’adilan, kebe-naran dan kemanusiaan. Perkosaan kepada wanita termasuk salah satu kesukaan (liefhoberij) jang istimewa daripada T.R.I.K. djahanam itu, sedang perampasan hak dan harta benda ra’jat bukanlah masuk barang sesuatu jang luar biasa. Proces dege-neralisasi dan demoralisasi besar2an berlaku dengan pesat dan tjepatnja, ditengah2 masjarakat dan negara R.I.K.. Barang siapa tjoba2 membendungnja hanjut-lenjaplah didalam nja. Semuanja itu termasuk tanda2 jang njata, akan segera djatuh-runtuhnja R.I. (R.I.K.) sebagai negara. 16. Kini .... Ra’jat Bangsa dan Negara Indonesia (R.I.K.) lagi menghadapi sebuah djalan simpangan. Hendak ke kanankah (Blok Amerika)? Ataukah mau ke kiri (Blok Russia)? Wallahu ‘alam. Di bawah ini kami akan tjoba menggambarkan “kemungkinan kedepan akan nasib Indonesia, beserta ra’jat dan negaranja”. Semoga Allah berkenan memberi petundjuk langsung kepada kita sekalian, hingga terhindarlah kiranja Indonesia daripada antjaman mara-bahaja dunia, jang amat besar, hebat dan dahsjat itu! Dengan tolong dan kurnia Allah djua. Insja Allah. Amin.

------Ζ Ζ Ζ -----BAB X: INDONESIA MENDJELANG MASA DEPAN Terapung ta’ Hanjut, Terendam ta’ Basah, Berdiri ta’ Berakar, Bergantung ta’ Bertali. 1. Dengan memperhatikan apa jang telah kami rawaikan di atas, sekedar gambaran kasar atas keadaan dan kedudukan Indonesia, hingga kini, dapatlah kita mengambil peladjaran, mengupas dan mendjeladjah, meraba2 dan menggambarkan: apa gerangan nasib jang boleh dialami oleh Indonesia, Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, di masa depan. Suatu masa jang penuh dengan awan dan kabut jang tebal; suatu masa jang tidak mengandung “harapan baik”. Sungguhpun demikian, kita tidak perlu ketjil hati atau putus harapan (pessimistis), dan sebaliknja, kitapun djangan terlalu gembira dan berbesar hati (optimisme), sehingga atjapkali lupa-daratan, lupa kepada realiteit jang kita hadapi dan jang lagi kita indjak pada dewasa ini. Hendaknja kita berdiri di djalan-tengah itu, didjalan jang dirahmati dan diridlai Allah kiranja. Amin. Isti’anah, istiqamah dan istitha’ah adalah pendirian ‘amal tiap2 Muslim terutama Mudjahid! Semoga Allah berkenan menuntun kita sekalipun, Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta Ra’jat Indonesia seluruhnja, dan Negara Islam Indonesia kearah Mardlotillah Sedjati! Insja Allah. Amin. 2. Dipandang daripada sudut dan pendirian “orang dalam” (insider), maka penjakit jang menghinggapi darah dan djantungnja R.I. (R.I.K.) sudahlah meningkat demikian tinggi dan hebat, sehingga tidak mungkin ia (R.I.=R.I.K.) sembuh dan sehat kembali. Adapun jang dimaksudkan per-tama2 sekali dengan istilah R.I. (R.I.K.) di sini, ialah: Pemerintah R.I., atau pemerintah R.I.K... Adapun ra’jatnja, ummatnja, kiranja masih dapat diobati, ditolong, meskipun tidak semuanja. Sebab infeksi dipusat itu sudah mendjalar menghinggapi hampir tiap2 lapisan dan tingkatan masjarakat. Lebih lanjut boleh ditegaskan, bahwa di dalam “permainan tjatur politik” ini, maka Ra’jat Indonesia hanjalah merupakan objekt (maf’ul), barang permainan belaka. Tidak lebih dan tidak kurang daripada itu. Beberapa orang manusia jang menamakan dirinja “pemimpin”, itulah jang memper-mainkan nasib ra’jat. Dan di antara beberapa orang manusia itu termasuklah Peme-rintah RI, pemerintah R.I.K.. tahu dan sadar akan tanggung-djawabnja, terhadap kepada negara dan ra’jat Indonesia, lebih2 lagi djika sifat ksatrija tertanam di dalam djiwanja, maka Pemerintah R.I.K.. —pemerintah nasional kemerah2an dan merah-Moskow sekarang ini— harus dan wadjib mengundurkan diri! Tetapi dengan sikap jang melekat pada diri, dan mengalir ber-sama2 darah peng-chianat, kita tidak boleh mengharapkan suatu sikap ksatrija daripadanja. Memang mereka sengadja hendak mendjual negara dan bangsa, kepada negara dan ideologi jang lainnja! 3. Lain halnja, djika Ummat Islam dilingkungan R.I.K. kuat dan sentausa, dan terutama memiliki keberanian jang mentjukupi, maka Insja Allah keadaan Indonesia tidak akan sesulit sekarang ini. Tetapi siapa tahu, bahwa kuda-tunggang” dan “sapi peres”, jang selama itu hanja melakukan tugasnja “ditunggangi dan diperah”, oleh nasional kemerah-merahan dan komunis-merah, pada suatu sa’at jang ditentukan Allah, sadar dan insjaf akan tugasnja-wadjibnja jang sutji, diikuti dengan tindakan jang tegas: “melemparkan nasional dan komunis-merah dari atas punggungnja, dan kemudian bertindak membasmi-membinasakan merah djahanam itu; mengabungkan diri bahu-membahu dengan kawan2 pedjuang sutji jang lainnja, mempersembahkan dharma-bakti kepada Allah: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia”! Djika terdjadi jang demikian, luar daripada dugaan dan sangkaan, alangkah besarnja kurnia Allah, jang dilimpahkan atas Ummat dan Pemimpinnja (Islam), jang selama 7 tahun ini hanja pandai “meng-hambakan diri kepada pihak nasional kemerah-merahan dan komunis merah Moskow itu”! Mudah2an mereka segera dianugerahi tolong dan kurnia Allah, sehingga berani merobohkan masjarakat djahilijah,

masjarakat kufur, beserta pemerintahnja jang djahil murakkab itu !!! Silahkan! 4. Apa jang disebutkan diangka 3. Masih masuk bagian “kalau”, belum boleh masuk perhitungan, hanja boleh “diharapkan”. Adapun jang sudah terang dan pasti, ialah: bahwa R.I. (R.I.K.) hanja tinggal merk dan ‘alamatnja. Isinja: merah muda dan merah tua. Bilamana keadaan telah mengizinkan, sepandjang hitungan dan rentjana merah —mitsalnja Ho Chi Min dapat mengusai Indo-Tjina, atau Malaja dikuasaia oleh Komunis, atau R.R.T. sudah masuk menjerbu ke Burma, dan ...—, maka pada saat itu dengan mudah dan lenggang2 kangkung, dengan tidak segan dan sjak lagi, si-merah akan mengganti nama dan ‘alamat Republik Indonesia, mendjadi: Republik Ra’jat (Komunis) Indonesia Republik Sovjet Indonesia, atau nama lainnja, jang sekiranja sesuai dengan kehendak dan tjiptaan, intruksi dan recept komunis jang agresif itu. Tjatatlah baik-baik! 5. Di atas dinjatakan, bahwa sampai sekarang R.I. (R.I.K.) merasa puas dan merasa tjukup, mewarisi “nama” bangkai jang telah mati dan dikubur itu, beserta “undang2 dasar” dan pakaian jang lainnja, jang kini hanja merupakan “pindjaman sementara” (tapi tidak terbatas) itu. Sengadjakah? Betul, sengadja, dan memang disengadja! Dan perbuatan “sengadja itu dilakukan menurut rentjana Merah Indonesia, dengan pimpinan Moskow. Masih kurang kekuatan negara (karena tidak memiliki undang2 jang mendjadi sendi-nja), makin mudah pula merobohkan dan menggulingkannja, se-kurang2nja mudah diindjeksi dan diinfeksi, dengan ratjun dadjdjal la’natullah jang istimewa. Pemimpin2 nasional jang tahu, membiarkannja, bahkan sebagian besar membenarkannja! Hendak menentang arus tidak berani, dan tidak berdaja! Adapun pemimpin2 Islam, tetap tolol dan bodoh (ma’af), se-akan2 tidak tahu, bahwa dunia hendak ganti bulu, menukar kulit dan isinja! Mereka tetap manggut2 dengan kebodohan dan ketololannja, jang “old fashion” (lapuk) itu! Kasihan. 6. Keadaan pemerintahan (berstuur) R.I. morat-marit dan berantakan. Masih djuga pihak merah belum puas, ingin mempertjepat dan memperhebat proces kedjatuhan dan keruntuhan itu. Mereka melakukan aksi2 jang muluk2 seolah2 mereka adalah “satu2nja pembela marhain, sihina-dina”, mereka melakukan agitasi dengan kata2, jang seakan2 hendak membelah angkasa dan menelan dunia, serasi dengan rentjana dan tipuan dadjdjal la’natullah. Padahal niat dan hadjat jang sesungguhnja ialah: merobohkan dan menghantjur binasakan negara, aksi destruktif semata. Sementara itu ra’jat mendjadi “permainan politik”, terombang-ambing, dengan tiada ketentuan arah-tudjuannja, tiada mempunjai pedoman pegangannja. Di kala katjau-balau dan keruh itu, si-merah mendapat kesempatan baik, dan memper-gunakannja dengan effektif. Mereka naik panggung, sambil menjanji lagu-lagu merah. Sedjenak mereka menundjukkan “sosial dan merahnja”, karena R.I. tidak demokratis, tidak sosialistis ...................................................................................... Di kala lain, mereka “menangis merintih-rintih” dan “meratap tersedu-sedu”, semasa menghadapi kaum buruh dan kaum tani jang dianiaja, dihina dan diperkosa .......... oleh majikannja, dan pemerintah R.I.! Main komedi, main tonil, main sulap ini ber-laku dengan leluasa, seidzin R.I. jang hendak dibongkar, dibasmi dan dibinasakannja! Pada hakikatnja dalam hati-ketjilnja mereka tertawa tergelak-gelak, riang gembira dan suka-tjita, karena “obat merah” sungguh2 mudjarab dan “makan” dalam djantung hati R.I. dan masjarakat djahilijah. Hatta, maka meradjalelanja kerusakan dan kesengsaraan didalam masjarakat, jang makin hari makin bertambah2 —kalau masih kurang, pihak merahpun siap-sedia untuk menambah kedjatuhan dan berantakkannja R.I.—, mendj’adilah dasar2 hidup-nja komunisme dengan subur dan ma’mur. Masihkah ada orang jang sjak akan kenjataan ini??? Tambahnja kekatjauan, rampok, perkosaan hak, perbuatan sewenangwenang, korupsi besar2an dan chianat, jang dilakukan oleh pemerintah R.I. (R.I.K.) sendiri, oleh pesawat2nja jang merupakan tentara, sivil dan pegawai2 lainnja, maka semuanja mempertjepat proces: lekas djatuh dan hantjurnja Republik Indonesia (R.I.K.) sebagai Negara. 7. Sedjak R.I. (R.I.K.) sakit, maka penjakitnja semakin hari semakin tambah keras dan berbahaja. Nafasnja Senin-Kamis detikan darahnja tidak normal lagi, roman mukanja putjat, kurus, kering, laksana bangkai hidup. Ia dirawat didalam rumah sakit “merah” dipelihara oleh dokter2 “merah”, dan didjaga oleh djuru2 rawat “merah”. Siang malam perawatan dilakukan dengan penuh hati2. Tiap2 saat mereka meneliti keadaan sisakit, memuthola’ah thermometer

dan alat2 pengukur penjakit jang lainnja. Wal-hasil,, pemeliharaan dan perawatan di dalam rumah sakit itu “sempurna-lah” sudah. Tak kurang suatu apa. Oleh karena si-dokter tidak hanja ahli didalam obat2an melainkan djuga mempunjai “spesialisasi jang istimewa” dalam bagian politik, terutama politik-merah, maka dalam melakukan tugasnja jang maha penting didalam rumah sakit, tidak lupa ia melihat2 dunia luar, tekanan hawa dan djurusan angin dunia. Perubahan djarum berometer internasional selalu mendapat perhatian sepenuhnja; sebuah alat pengukur tekanan hawa, aliran angin dan gerakan bumi, menundjukkan besar atau ketjilnja gelombang, memberi tanda2 akan datangnja angin taufan. Bahwa panas angin berhenti, jang meliputi Moskow dan Peking, Washinton dan London, seolah-olah mendjadi tanda jang pasti akan datangnja mara-bahaja, jang akan menimpa ummat manusia seluruh dunia. Ini semuanja, tidak diabaikan oleh dokter jang lagi melakukan tugasnja dirumah sakit itu. Selain daripada itu, mereka —para dokter dan djuru-rawat— selalu meneliti dan memperhatikan sa’at jang paling baik, bagi sisakit memenuhi panggilan Ilahy, pulang ke maqam abadi: sa’at jang dianggap menguntungkan bagi ummat manusia jang berhaluan dan bertjorak merah. Wal-hasil si-sakit dirawat dan dipelihara demikian rupa, sehingga ia boleh meninggalkan rumah sakit, menghadap Mahkamah Ilahy, tepat pada waktu jang direntjanakan, sepandjang rentjana manusia merah. Bila suatu sa’at R.I. menghampiri sakaratul maut, maka dikerahkannja-lah segala tenaga dan daja-upaja, untuk mendapatkan obat penjambung njawa dan pemandjang ‘umur. Itupun, djika waktu datangnja adjal dianggap “belum tepat”, sepandjang perhitungan dan rentjana merah, tegasnja: tanda2 jang ditundjukkan oleh barometer internasional belum tjukup mateng, untuk menundjukkan “belasungkawanja” atas mangkatnja orang besar R.I. (R.I.K.) itu. Taruhlah R.I. sudah mati, dengan karena Kehendak dan Kekuasaan Allah djua, tapi waktunja “belum tepat” maka berita kematian itu akan ditutup rapat2, bangkainja akan dibalsem baik2 dan suasana gembira akan tetap meliputi rumah sakit itu, se-olah2 tidak terdjadi suatu peristiwa sedih-pahit suatu apapun: aman dan tenteram, ma’mur dan sentausa, sehat dan bahagia! Sebaliknja daripada itu, kalau sa’at tepat jang dinanti2kan itu telah tiba —baro-meter telah menundjukkan dengan pasti akan mengamuknja angin taufan, langit sebelah Timur dan Barat sudah gelap gulita, halilintar peperangan telah menghambur-hamburkan apinja, jang menjambar2 seluruh dunia —, maka pada sa’at itulah para dokter “merah” tsb. akan mempergunakan “indjeksi” ratjunnja jang penghabisan”, jang akan menjudahi riwajat hidupnja R.I. lenjap dari muka bumi, menjebrang alam di balik kubur! Inna lillahi wa inna ilaihi radji’un! Itulah kata2 jang terachir, jang mengantarkan majat ke ‘alam baqa. 8. Dalam sa’at jang genting-runtjing, seperti sekarang ini, jang didalam anggapan dan pandangan kaum Merah menguntungkan kedudukan merah seluruh dunia, maka sa’at itulah akan dipergunakan baik2, untuk melaksanakan tjita2nja; menelan dan memper-Sovjet-kan dunia. Djuga Indonesia. Oleh sebab itu, maka mereka berdaja keras, untuk memperpendek ‘umurnja R.I. dan di atas kuburan R.I. itu mereka ingin mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Semuanja itu menurut rentjana jang tentu, kalau perlu dengan paksa, ganas dan kedjam, jang tidak kenal batas hukum !!! Dalam satu babakan tonil jang dipermainkan dan dipertontonkan oleh pihak Merah itu, dengan tidak ragu2 atau malu2, dengan hati munafiq dan tekad jang tidak djudjur, mereka akan ikut serta menghantarkan djenazah R.I. masuk kelobang kuburnja, kalau perlu dengan bertjutjuran air-mata (buaja???) dan belasungkawanja, dan mela-hirkan pidato di atas kuburan dengan semangat berkobar2 (lijkrede = talqin) serta melakukan upatjara lainnja, berhubung dengan djatuh dan mangkatnja seorang besar lagi kuasa, sahabat karibnja. Tetapi sepulangnja dari kuburan, maka “si-dadjdjal merah” boleh bersiul2 dan menjanji2 sepandjang djalan, lagu “Internationale”, de-ngan riang gembira dan suka-tjita jang ta’ terhingga. 9. Demikianlah gubahan merdeka, jang menggambarkan akan gerak-gerik pihak Merah (Komunis), didalam lingkungan R.I. (R.I.K.), jang tidak djemu2 dan malu2nja selalu menondjolkan dirinja, sebagai pembela bangsa, pemimpin negara, pentjinta damai dan pembebas manusia. Sesungguhnja gambaran di atas, terlalu amat lunak dan sangat sederhana sekali. Padahal, keadaan jang lagi akan terdjadi itu, mungkin 1000 kali lebih hebat, lebih dahsjat daripada itu. Kerusakan, kemelaratan, kesengsaraan penderitaan....akan djauh lebih daripada apa, jang boleh digambarkan oleh pikiran dan kalam manusia. Dan kalau Komunis sungguh2 akan

berkuasa di Indonesia —INSJA ALLAH HAL INI TIDAK AKAN TERDJADI —, alangkah besar dan dahsjatnja marabahaja, jang boleh timbul karenanja dan tumbuh daripadanja. Tiada seorang jang boleh menaksir dan memperhitungkannja! 10. Walaupun betapa pula kekeruhan dan kesukaran, jang lagi akan kita hadapi nanti, djanganlah sekali2 menimbulkan ketjewa dan putus harapan, lemah dan ketjil hati, melainkan semua itu hendaknja mendjadi tambahan bekal dan bahan, dalam usaha kita, mempersembahkan dharma-bakti sutji kehadlirat Ilahy: menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. “Tiada penjakit jang timbul, melainkan telah disediakan obat penjembuh baginja! Tiada bhakti-sutji, melainkan disertai dengan godaan anak-tjutju Iblis la’natullah jang durdjana! Orang ta’ tahu harganja sehat, sebelum ia sakit! Orang ta’ tahu harganja merdeka, sebelum ia menderita! Makin hebat perdjuangan sutji menggelora, makin besar tinggi nilai harga daripada Kurnia Allah jang akan tiba”! Alhamdulillah! Sementara itu, Negara Islam Indonesia berdiri. Makin hari makin meningkat tinggi, semata2 hanja karena tolong dan kurnia Ilahy. Kurnia Allah, hak sutji daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia ini, kiranja boleh mendjadi factor ketiga (luar daripada nasionalisme dan komunisme), obat penjembuh penjakit negara dan masjarakat jang berbahaja itu. Semoga Allah berkenan melimpahkan tolong dan kurnia-Nja atas Negara Islam Indonesia beserta sekalian penggalang dan pendukungnja, sehingga dipandaikan, ditjakapkan dan ditjukupkannja menunaikan salah satu bhakti sutjinja: “melepaskan, menghindarkan dan membebaskan Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia daripada antjaman mara-bahaja dunia dan achirat itu. Insja Allah. Amin. Mengingat segala jang tertulis di atas, maka disa’at jang genting, runtjing dan kritik itu, Negara Islam Indonesia tidak akan tinggal diam, melainkan akan berbuat dan bertindak sepandjang rentjananja: ikut tjampur tangan, menentukan nasibnja Negara dan Bangsa, Agama dan Ummat hanja karena wadjib, tugas dan pertanggung-djawab, jang diletakkan atas pundaknja belaka. Pada dewasa itu berkobarlah Perang Saudara, Perang Ideologi, perang adu tenaga, perang darah dan besi, perang didalam selimut (dalam kalangan bangsa Indonesia di Indonesia), bertikai-bertikam didalam satu sarung, lebih hebat dan dahsjat, daripada apa jang telah dan lagi berlaku hingga kini. Mungkin Perang Saudara tsb. merupakan “Perang Segitiga Kedua”, landjutan daripada jang sekarang lagi berdjalan, djika sementara itu pihak Nasionalisme belum berantakan dan merupakan front tersendiri. Dan mungkin pula perang saudara itu merupakan Perang antara Islamisme dan Komunisme, djika sementara itu pihak Nasionalisme sudah mentjapai keruntuhan dan kedjatuhannja sedemikian rupa, sehingga tidak mewudjudkan factor sendiri, didalam pertentangan hidup (struggle for life) mati-matian itu. Tegasnja: didalam kemungkinan (kedua) ini, maka Perang Saudara tsb. akan berlaku, kemudian daripada Perang Segitiga Kedua, di Indonesia. Sampai dimana benar atau salahnja perhitungan kami ini, sedjarah Indonesia dan riwajat dunia jang akan datang, akan membuktikannja. 11. Dalam pada itu, djangan sekali2 dilupakan kedudukan Indonesia menghadapi dunia luar, dunia internasional, dan sebaliknja, sikap dunia internasional atas dan terhadap Indonesia. Sedjak mula berdiri, maka Indonesia tidak pernah mendasarkan laku-langkahnja dan sepak-terdjangnja atas kekuatan, tenaga dan kehendak ra’jat; tidak berdiri atas akar kuat jang menantjap didalam tanah (ra’jat); tidak mengindjak djalan jang njata (rieel) melupakan keadaan ra’jat; melainkan selalu memalingkan mukanja daripada ra’jat, mengkiblat kearah jang ditundjukkan oleh djarum pedoman internasional, tergila2 kepada “dunia luar”, jang pada lazimnja bernamakan: International minded. Kiranja tidak djauh daripada kebenaran dan kenjataan, bila kita menggambarkan kedudukan Indonesia keluar, sebagai pepatah: “Terapung ta’ hanjut, terendam ta’ basah, Berdiri ta’ berakar, bergantung ta’ bertali” Tafsir lebih djauh periksalah uraian di bawah. 12. Dengan karena pendirian tsb., maka Indonesia selalu bertjumbu2an dengan dunia luar, dunia internasional. Perhubungan, ikatan dan persambungan keluar itu achir kemudiannja meningkat demikian rupa, sehingga mendjadi pegangan, tongkat dan dasar, dimana ia (Indonesia) berakar memperoleh hak2 dan zat2 hidupnja. “Atlantic Carter” didjadikan primbon, tempat dan pangkal Indonesia menjandarkan dirinja: menuntut dan menentukan nasib dirinja, nasibnja sesuatu bangsa jang patut memiliki sesuatu negara di dalam lingkungannja sendiri, jang biasanja disebut dengan istilah: “self-determination”.

Tjeritera punja tjeritera, runding punja runding, achirnja berlangsunglah K.M.B. (R.T.C.) dimana pihak Belanda didesak dan terdesak disatu sudut: harus mengakui Kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, dunia masih tengah-tengahnja djemu kepada perang, ‘akibat daripada lelah-letih disebabkan Perang Dunia Kedua. Wal-hasil, perang harus berhenti, keamanan dan kema’muran didalam tiap2 negeri —djuga di Indonesia, jang masuk salah satu daerah-pengaruh Blok Amerika— harus segera dilaksanakan. Sedjak itu, Indonesia mendjadi merdeka, walaupun tidak 100%. Rupanja memang sengadja, Indonesia dimasak dan dibuat setengah matang, berkat ketjerdikan para diplomat dan politikus internasional pada waktu itu; un tuk mendjaga “kemungkinan” di masa depan, sambil menantikan bukti jang njata. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, maka achir kemudiannja sampailah kepa-da tahun 1952. Kini, keadaan sudah berbeda, berlainan daripada tahun 1949, tahun kelahiran “daulat hadiyah”, kurnia atas Indonesia. Meskipun Perang Dunia Kedua dengan resmi telah disudahi, tetapi sisa2 api batu-bara internasional masih tetap menjala2, mendjilat dan membakar-bakar, menimbul-kan huru-hara dibeberapa tempat di dunia. Teradju dan mizan internasional mulai gojang lagi. Insiden di tempat2 pengawasan —negara2 muda, negara2 baru, negara2 boneka (satelliet) dari masing-masing blok, pihak— mulai terdjadi. Makin hari, makin bertambah ramai, hangat dan panas. Lama kelamaan orang tidak lagi memikirkan “damai”, walaupun selalu berteriak2 “damai dunia, damai dunia”! Tetapi orang ber-siap2 untuk menghadapi perang, memperlengkapkan alat perang, dan menjempurnakan tenaga perang. Keadaan ini, bolehlah digambarkan di dalam pepatah purba: “Si vis pacem para bellum”, Djika engkau menghendaki damai, bersiaplah untuk berperang!” 13. Kini keadaan internasional sudah sampai pada tingkatan kritik. Peralihan tentara, kesibukkan diplomasi dan lain2 usaha, menundjukkan akan segera datangnja “taufan mara bahaja”. Perang Dunia Ketiga, Perang Brata Juda Djaja Binangun. Tanda-tandanja sudah tampak, dengan terang dan njata. Meski pihak jang ingin damai (Pasifisten) sekalipun tidak akan dapat menjangkal kebenaran dan kenjataan ini. Maka pada suatu sa’at, dengan pilihan Allah langsung, Perang Dunia Ketiga akan meletus. Seluruh dunia akan terdjilat oleh api peperangan itu. Djuga Indonesia tidak mungkin menghindarkannja, terutama djika ditilik daripada sudut kedudukan Indonesia didalam lingkungan bangsa2, dan rantai pertahanan blok Amerika, di Pasifik. Ditambah lagi, letaknja Indonesia, ditengah2 dan disekeliling negara2 blok Amerika. 14. Mungkinkah Indonesia dapat tetap mempertahankan kedudukan dan sikapnja, jang bernamakan “Politik Bebas” (neutral) itu? Dengan tiada sjak dan ragu2 sedikitpun, bolehlah kami djawab: Tidak! Sekali-kali tidak! Indonesia dimasa Perang Dunia Ketiga j.a.d. tidak mungkin tetap berpegang kepada politikbebasnja. Kalau Indonesia tidak mau ikut perang, maka ia akan dipaksa ikut serta, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Adanja Blok ketiga, jang diharapkan akan boleh mendjadi pengantara dan pentjegah Perang Dunia Ketiga, akan tetap tinggal “impian” belaka. 15. Siapakah jang mula-pertama akan “memperlindungi” (protect) Indonesia? Lebih dulu, baiklah kita peringati akan berita jang 90% resmi, disiarkan oleh Party Demokrat A.S., dalam konferensinja jang di’umumkan pada tg. 23 Djuli 1952, jang a.l.l. menjatakan: “bahwa Indonesia tidak disebut dl. daftar negara-negara sahabat Amerika Serikat”. Sedang India jang djuga berhaluan “politik bebas” dimasukkan dalam daftar sahabat tsb. Apalagi Pakistan, Australia, New Zealand, Pilipina dan Djepang. Dengan ini njatalah sudah, bahwa bukan karena “politik bebas”-nja Indonesia tidak diakui “sahabat”, melainkan semata2 karena ke-komunis2-annja. Gutji wasiat merah Indonesia, sudahlah terbuka, Kembali kepada sekitar sual “siapa jang akan memper-lindungi mula pertama”, maka sekedar rabaan dan pendjeladjahan kasar hingga sa’at ini, ialah: Blok Amerika, dipelopori oleh Belanda dan Australia. Peringatilah: peralihan tentara Belanda tjepat2 ke Irian, salah satu mata-rantai perta-hanan di Pasifik; sikap Belanda dalam sual2 sekitar K.M.B., Irian Barat d.l.l. lagi; djangan pula diabaikan kesibukan PM Australia pada achir2 ini, terutama mengenai kedudukan Irian Barat, berhubung dengan tuntutan-tuntutan daripada pihak Indonesia, jang sikap Australia

atasnja sungguh2 tidak menggembirakan Indonesia; belum terhitung pengintaian terang-terangan dari pihak asing — Australia dan Belanda— atas daerah Indonesia dan pembentukan Pakta Pasifik. Sebodoh-bodoh keledai, kiranja dapat pula mengerti dan memahami, apa harga dan artinja segala matjam kesibukan politik, peralihan serta gerakan militer di daerah Pasifik Barat, berkenaan dengan kedudukan Indonesia!!! Tentang hal ini pun Pemerintah Negara Islam Indonesia seperlunja, semasa Kabinet-Natsir. Hanja karena mengingati nasibnja Indonesia dimasa jang akan tiba. Tetapi sajang seribu kali sajang! R.I. (kini R.I.K.) tetap keras kepala! Peringatan dan pertimbangan jang sebaik itu tidaklah pernah mendapat penghargaan daripadanja. 16. Sekarang, baiklah kita mengambil kesimpulan atas rawaian di atas, tentang “nasib Indonesia, kini dan kelak” : A. Selambat2nja pada sa’at meletusnja Perang Dunia Ketiga, Party Komunis Indonesia akan melakukan Coup d’ etat; perampasan kekuasaan jang ketudjuh di dalam sedjarah Komunis di Indonesia, terhitung mulai tahun 1926. R.I. mau atau tidak mau, harus tekuk lutut, menjerah kalah. Tenaga musuh (merah) dari dalam (Infiltrasi) dan tenaga dari luar (kekuatan sendjata) akan menjudahi njawanja R.I.. B. Negara Islam Indonesia tidak akan tinggal diam, akan berbuat dan bertindak, dimana perlu dan seberapa perlunja. Bagi kepentingan Negara dan Agama, Um-mat dan Bangsa. Oleh karenanja, berkobarlah: Perang Saudara, Perang Ideologi, Perang antara Islamisme dan Komunisme, dengan dahsjatnja. Perang Saudara itu akan berlaku terus-menerus, hingga Allah berkenan mendla-hirkan Ke’adilan dan Kebesaran-Nja ditengah2 bumi Allah, Negara Islam Indonesia, berdeka dan berdaulat 100%. Insja Allah. Amin. C. Dalam pada itu, maka pihak jang hingga kini masih mentjatatkan diri dalam daftar Nasional terpaksa atau sukarela, harus dan wadjib memilih pihak. Sebab, pihak jang ketiga, pihak penonton dan mudzabzab, tidak lagi mungkin ada, pada masa itu. Pihak ini jang berpendirian “untung anteng” akan tersapu dari muka bumi. Berhubung dengan itu, baiklah kami nasihatkan: Baiklah siang2 memilih pihak djangan ketinggalan. D. Pihak Sekutu atau Blok Amerika kiranja jang akan menduduki Indonesia. Ia masuk sebagai sahabat, dengan Indonesia memihak pada bloknja. Dan seba-liknja, ia datang sebagai musuh djika Indonesia memihak kepada Russia. Dan kalau Indonesia tetap memegang “politik bebasnja”, maka Indonesia akan dianggap sebagai “tanah jang ta’ bertuan” ( .......land), dimana tiap2 orang dan pihak boleh berbuat sekehendaknja, menurut kepentingan dan keperluannja sendiri2. Boleh pilih, silahkan! Kemungkinan Indonesia akan dapat mempertahankan “politik bebasnja” tidak dapat diperhitungkan, karena djika Indonesia sungguh2 hendak tetap “neutral”, maka ia harus sanggup dan mampu menghadapi serangan kedua belah pihak bersama-sama. Berdasakan kepada realiteit jang ada, maka perhitungan sematjam itu mati “chajal” atau “impian” belaka.. E. Pada salah satu detik didalam masa Perang Dunia Ketiga itu, selambat2nja Insja Allah, Republik Indonesia akan menghembuskan nafasnja jang penghabisan, menjudahi riwajatnja jang tragis dan menjedihkan itu. Tegasnja: ‘umurnja R.I., tidak akan memandjang, lebih daripada satu detik dalam Perang Dunia j.a.d. Insja Allah. Kemungkinan R.I. masih dapat tahan hingga selesainja Perang Dunia Ketiga tidaklah dapat diperhitungkan. F. Tinggallah sekarang sual: “Mana dan apakah kekuatan dan kekuasaan jang nanti akan memegang peranan penting, dalam menentukan sedjarah dan nasibnja Indonesia dimasa jang akan tiba?” Djawab atasnja, dengan singkat, kami njatakan sebagai jang berikut: 1) Kalau Indonesia dipegang dan dikuasai oleh Komunis, maka Indonesia akan menghadapi mala-petaka jang amat hebat, dan dahsjat, lebih daripada jang hingga kini boleh di’alami dan diderita oleh bangsa Indonesia. Negara Komu-nis Indonesia berarti: La’natullah dan kutuk bagi Indonesia dan seluruh Dunia Merdeka. Apalagi, letaknja Indonesia didjalan simpangan di dalam rantai pertahanan Amerika, di Pasifik. Oleh sebab itu, kiranja tiap2 negara jang mempunjai kepentingan dan sangkutan dengan Indonesia, tidak akan lengah dan tidak akan membiarkan proces Komunis itu berlaku dengan leluasa di Indonesia. 2) Mengingat dan menghadapi bahaja jang amat besar bagi Negara, Agama dan Ummat Manusia, terutama di Indonesia,

maka dengan kesadaran dan keinsjafan serta pertanggungan-djawab jang sepenuh2nja: ”Negara Islam Indonesia, beserta seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, dan alat serta pesawat Negara Islam Indonesia, akan berdaja-upaja dengan segenap kekuatan dan tenaganja, dlahir maupun bathin, untuk menghindarkan dan mengejahkan bentjana dan bahaja, jang mengantjam-antjam itu, hingga Allah berkenan mendlahirkan Keradjaan-Nja di tengah2 nusantara Indonesia, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, merdeka dan berdaulat 100%.” Semoga Allah berkenan melimpahkan kekuatan sebanjak2nja, tolong dan kurniaNja atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, chususnja atas kaum Mudja-hidin, jang kini lagi tengah mempersembahkan dharma bhaktinja kepada Azza wa Djalla semata. Insja Allah. Amin. 3) Djadi, kalau Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ra’jat Indonesia ‘umumnja mustahiq menerima tjurahan kurnia Ilahy, Insja Allah, dimasa depan, Indonesia akan mendjadi Negara Islam Indonesia. Mudah2an rentjana, gambaran dan hitungan kami ini dibenarkan Allah, sehingga tertjapailah, tjita2 tinggi dan mulia daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia: membina dan men-dukung “Daulat-Islamiyah” di Indonesia. Insja Allah. Amin. 4) Tindjauan, pendapat dan kesimpulan ini, kami njatakan dengan se-objektif mungkin. Bukan kami seorang muslimmudjahid-penggalang N.I.I. Djuga bagi tiap2 orang di luar Islam, di luar medan djihad, di luar negeri sekalipun, jang suka menggunakan pikirannja jang sehat dan timbangannja jang djudjur dan ‘adil, berdasarkan atas kenjataan, Insja Allah akan sampai kepada pendapat dan kesimpulan jang kami uraikan di atas. 17. Indonesia di atas Peta Dunia Baru A. Kemudian daripada Perang Dunia Ketiga, maka akan dilangsungkan Perdjandjian Damai, dimana ditentukan nasibnja tiap2 bangsa dan negara, di seluruh dunia. Djuga nasibnja Indonesia. B. Djika perhitungan kami tertera di atas dibenarkan Allah, maka di atas Peta Dunia Baru jang akan dibuat nanti: Indonesia akan merupakan Daerah Negara Islam Indonesia. C. Demikianlah harapan, du’a, kejakinan dan perhitungan kami. Mudah2an Allah berkenan membenarkan dan mengidjabahnja. Insja Allah, Amin. -------Ζ Ζ Ζ ------+ Dengan keterangan dan kupasan ringkas di atas, ditjukupkan kiranja, sekedar untuk menggambarkan Harapan dan Hari Depan Indonesia. Kemudian terserah dan tersilah! Kepada para Mudjahidin seluruhnja, sekalian penggalang dan pendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dengan ini kami serukan: “Bersiap! Songsonglah turunnja tjurahan Kurnia Ilahy! Selamat berdjuang! Ila Mardhatillah! Hingga keradjaan Allah berdiri dengan tegak teguhnja di tengah-tengah Masjarakat Indonesia Juqtal au jaghlib !” Fi ‘Aunillah, 7 Agustus 1952 Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia I. HUDA

NOTA - RAHASIA
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA NOTA - RAHASIA Barang disampaikan Allah kiranja kepada jang terhormat: SAUDARA Ir. S U K A R N O PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Jang bersemajam di DJAKARTA Assalamu’alaikum w.w. 1. Alhamdu li-Llah! Allahumma! Iyaka na’budu, wa iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakkalna ‘ala-Llah! Lahaula wala quwwata, illa-bi-Llah! 2. Dengan seputjuk surat jang berwudjudkan Nota-Rahasia ini, maka terkandunglah di dalamnja keinginan Kami jang — Insja Allah— tumbuh daripada hati jang sutji dan niat jang ichlas dengan penuh rasa pertanggung-djawab atas nasibnja Bangsa Indonesia pada ‘umumnja dan Ummat Islam Bangsa Indonesia pada chususnja, serta atas nasibnja Negara Indonesia, dimasa jang mendatang. 3. Lebih dulu baiklah kiranja Kami njatakan di sini, bahwa segala peristiwa jang terdjadi di seluruh Indonesia dan sekitarnja, militer dan politis, nasional maupun internasional, terutama jang langsung mengenai Bangsa Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, senantiasa Kami ikuti dengan teliti dan seksama. Maka bolehlah agaknja Nota-Rahasia ini dianggap sebagai hasil dan natidjah daripada pendjeladjahan dan analyse serta synthese daripadanja. 4. Mudah-mudahan segala sesuatu jang hendak Kami rawaikan di bawah ini disertai dengan Hidajatu-Llah dan Hidajatuttaufiq jang sempurna, sehingga bolehlah kiranja mendjadi obor dan pelita bagi tiap2 pemimpin Negara jang bertanggung-djawab. Insja Allah. Amin. Kemudian, chusus kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, jang dipertja-jakan orang jang memikul pertanggung-djawab jang amat besar atas hantjur dan luhurnja Negara dan Bangsa Indonesia, maka Kami ingin sekali menjatakan persilahan: Sudi apalah kiranja Saudara suka memperhatikan isi dan maksud Nota-Rahasia ini, dengan sepertinja. 5. Dalam Nota-Rahasia ini kami tjukupkan dengan menindjau beberapa peristiwa politik dan militer, pada masa jang achirachir ini, ialah natidjah atau resultante daripada segala kedjadian (proces) dan keadaan (tustand), dikala telah lampau. 6. Sjahdan, maka masuknja Republik Indonesia mendjadi anggauta P.B.B. (Perserikatan Bangsa-Bangsa), seperti djuga tiap2 langkah dan tindakan hasil politik jang lainnja, pastilah membawa hasil “untung” dan “rugi”, manfa’at dan mudlorotnja. 7. Djika diperhitungan kan benar-benar dan sedalam-dalamnja, terutama djika mengingat kedu-dukan Republik Indonesia sebagai negara muda, maka masuk dan diterimanja Republik Indonesia, anggauta P.B.B. itu, nistjajalah menimbulkan kerugian jang amat besar sekali, bagi Negara dan Bangsa serta Ummat, djika dibandingkan dengan keuntungan jang ta’ sebera-pa besarnja dan bersifat sementara itu. Lebih-lebih, djika diingati akan letaknja Indonesia ditengah-tengah negaranegara Besar, jang kini lagi ‘asjik menjalakan api-peperangan, jang membakar-bakar dibenua Asia. Demikianlah pendapat daripada ‘umumnja politici golongan “moderate”.

8. Satu-dua resiko “ke-anggauta-an P.B.B.” diwaktu ini, ialah: a. Bahwa Republik Indonesia, mau atau tidak mau, sengadja atau tidak sengadja, akan disorong kesatu arah dan djurusan jang tertentu, jang membawa dia kepada satu tingkatan: Memilih salah satu diantara dua Blok, jang lagi bertentangan. b. Kiranja tidak djauh daripada kenjataan (realiteit) dalam waktu jang dekat, djika orang meramalkan, bahwa Republik Indonesia akan masuk dalam Blok-Amerika. c. Djika terdjadi jang demikian, maka “neutraliteits-politiek” jang tempo hari dilahirkan oleh jang terhormat Saudara Drs. Mohd. Hatta, sebagai Perdana Menteri, dalam mene-gaskan haluan politik Pemerintah terhadap Luar Negeri, lenjaplah, laksana debu ditiup angin. Dan lebih landjut, Republik Indonesia akan mendjadi satu Negara jang anti-Blok-Russia, atau anti-Komunis. Kami jakin, bahwa semuanja itu telah masuk perhitungan Pemerintah Republik Indonesia, sebelum melakukan langkah jang “sportief” itu. 9. Berkenaan dengan jang tersebut dalam angka 8 di atas, maka Kami atas nama Pemerintah Negara Islam Indonesia menjatakan: Selamat! Terima Kasih! Dan, Alhamdu li-Llah! Karena dengan terbukanja “topeng” haluan politik Republik Indonesia jang sesungguhnja itu, dari politik “neutral” beralih mendjadi politik “anti-Komunis”, maka Negara Islam Indonesia merasa mempunjai kawan jang sedjalan, dalam melaksanakan usaha membasmi dan mengenjahkan lawan jang sama (gemeenschappelijkevijand), ialah: kaum Komunis. 10. Lebih djauh, Kami pertjaja dan jakin, bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah lebih mengetahui akan sarang-sarang dan gerak-gerik kaum Komunis Indonesia, di dalam tiap-tiap lapangan dan lapisan masjarakat Indonesia, djuga didalam tubuh Pemerintah Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja sendiri, jang makin hari makin bertambah berbahaja bagi Negara Republik Indonesia. Agaknja ta’ perlu lagi kami tundjukkan akan perbuatan-perbuatan mereka itu, dalam usahanja meruntuhkan Negara, baik dalam lapangan politik dan militer maupun dalam lapangan ekonomi, keuangan, d.l.l.-nja, legaal dan illegal. 11. Sebagai kawan sedjalan, semaksud dan setudjuan didalam menghadapi bahaja-Komunisme di Indonesia itu, maka baik djuga agaknja, bila di sini kami njatakan dengan terus-terang dan dengan hati jang terbuka, kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, kalau-kalau —dengan tolong dan kurnia Allah pula— akan mendjadi sebab terhindarnja Negara dan Bangsa Indonesia daripada bahaja keruntuhan dan kedjatuhannja, dimasa jang akan datang. Pertimbangan dan andjuran dari pihak Kami, ialah: a. Tiada satu djalan lain, jang menudju kearah “Keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia,” melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiap-tiap lapangan, terutama sekali jang melekat didalam tubuh Pemerintahan Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja, dengan wudjud dan sifat apa dan mana pun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. Bilamana Republik Indonesia segan-segan dan terlambat dalam melakukan tindakan dan usaha membasmi “bahaja” jang selalu mengantjam-antjam itu, maka terbukalah ke-mungkinan jang amat besar sekali, bahwa Republik Indonesia dalam waktu jang singkat akan djatuh sebagai Negara seperti nasibnja Tiongkok di tahun-tahun jang achir-achir ini, setelah kaum “Merah” dapat mengusir kaum “Nasionalis”, dari pusat tanah-tumpah-darahnja. c. Terutama djika kelambatan melakukan tindakan tersebut memandjang hingga sampai kepada meletusnja Perang Dunia ke III, maka sepandjang perhitungan sjari’at, nistjajalah Republik Indonesia akan menemui djalan buntu dan nasib malang, jang sedikitnja senisbat dengan nasib Korea pada dewasa ini. Bahkan, mungkin sekali lebih djelek dan lebih buruk daripada itu. Oleh sebab itu, maka sekali lagi Kami pertimbangkan dan serukan kepada Saudara: “Hendaknja disegerakanlah, melakukan tindakan jang tjepat dan tepat atas bahaja nasional dan internasional tersebut, jang pada hemat kami, tindakan jang serupa itu adalah salah satu tugas dan wadjib-muthlak bagi Pemerintah Republik Indonesia, untuk menghin-darkan Negara dan Bangsa Indonesia daripada antjaman mara-bahaja jang amat dahsjat itu!” Adapun tentang tjara, alasan dan lakunja, maka Kami pertjaja dengan sepenuh-penuhnja atas kebidjaksanaan Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini. 11. Dalam pada itu, baik djuga Kami njatakan di sini akan Sikap dan Pendirian Pemerintah Negara Islam Indonesia terhadap bahaja Komunisme, bahwa sedjak mula berdirinja —7 Agustus 1949— telah ditetapkan:

“Pemerintah Negara Islam Indonesia dengan seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia beserta segenap alat kekuasaannja sudah, lagi dan akan terus-menerus melakukan wadjib-sutjinja: Membasmi bahaja-Negara, bahaja-Agama Allah (Islam) dan bahaja Ummat itu, hingga sampai kepada akar-akar dan dasardasarnja”. Karena dalam pandangan Islam, Komunisme itu adalah musuh ideologi jang amat besar sekali. 12. Lebih djauh lagi, tentulah Saudara telah mengetahui pula, bahwa “tiada lagi ideologi, melain-kan hanja “Islamisme” sadjalah, jang sanggup dan kuasa membendung aliran Komunisme dan menghantjur-musnahkannja”. Insja Allah. Sedang sementara itu, bolehlah Kami njatakan dengan tiada samar-samar lagi, bahwa Nasionalisme jang mendjadi sendi dan dasar serta haluan Negara Republik Indonesia, bukanlah satu ideologi, sematjam Islamisme atau Komunisme. Melainkan ia hanjalah merupakan satu tingkatan “kasih sajangnja” sesuatu bangsa kepada tanah kelahirannja dan dirinja. Dengan analyse ringkas seperti jang tertulis di atas, njatalah sudah, bahwa didalam pertentangan antara Nasionalisme dan Komunisme, didalam masa jang lama (long term), terutama djika Komunisme dibiarkan mendjadi agressor, maka amat boleh djadi sekali Nasionalisme akan terpaksa menjerah-kalah, atau patah dan terpelanting serta terpentjar dalam pertentangan tersebut. Sebagai tjontoh dan bukti jang njata daripada nasibnja negara-negara jang berdasarkan Nasionalisme dalam “pertentangan ideologi”, hendaklah Saudara suka memeriksa lembaran riwajat Eropa-Timur dan Asia-Timur, setelah Perang Dunia ke II, teristimewa nasibnja Tiongkok Nasional, jang amat tragis itu. Djika perhitungan Saudara, dalam hal ini,, tidak sesuai dengan perhitungan Kami, sudi apalah kiranja suka memperma’afkan banjak-banjak! 13. Mengingat segala apa jang Kami uraikan di atas itu, maka njatalah sudah, bahwa: a. Nasionalisme tidak akan mampu dan tidak pula kuasa membendung derasnja arus Komu-nisme, karena Nasionalisme tidak dapat mengikat djiwa Ra’jat Indonesia, jang sebagian terbesar memeluk Agama Islam dan tidak pula mendjadi ikatan-djiwa antara Pemerintah Indonesia dan Ra’jat Indonesia; b. Karenanja, Negara Republik Indonesia tidak akan dapat menghindarkan dirinja daripada mara-bahaja jang amat besar itu, jang langsung akan mengakibatkan runtuh-djatuhnja Negara Indonesia, sebagai Negara Nasional; dan c. Hanja Islamisme sadjalah, sebagai ideologi dan stelsel dunia (woreldstelsel), jang sanggup mengatasi kesulitan, jang boleh timbul karena datangnja bahaja Merah itu. Berhubung dengan itu, maka Kami berpendapat, bahwa obat jang paling mudjarab jang akan mendjadi sebab sembuhnja Negara Indonesia dan Bangsa Indonesia daripada penjakit, jang berwudjudkan seribu satu kesulitan dalam tiap-tiap lapangan-usaha itu, tidak lain, hanjalah: “Djika Islamisme didjadikan sendi-dasar daripada Pemerintah dan Negara Indonesia”! Atau dengan kata-kata lain: “Satu-satunja Djalan-Selamat bagi Indonesia dan Bangsa Indonesia, ialah: Djika Negara Indonesia atau Republik Indonesia dalam waktu jang sesingkat-singkatnja beralih sifat dan wudjudnja, dari “Nasional” kepada “Islam”, mendjadi NEGARA ISLAM INDONESIA”. Dengan ini Kami ingin sekali menjatakan persilahan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, sudi apalah kiranja Saudara suka mempertimbangkan baik-baik dan sedalam-dalamnja akan pendapat Kami ini. Sebelum dan sesudahnja, atas perhatian Saudara itu, Kami haturkan diperbanjak-banjak terima kasih, dan Alhamdu li-Llah. 14. Selain daripada itu, tidak pula boleh dilupakan akan peristiwa-peristiwa jang terdjadi disekitar KMB atau/dan natidjah jang timbul daripadanja, jang semuanja itu makin hari makin mendekati kepada puntjak keruntjingan dan kegentingannja, jang achir-kemudiannja —lambat atau tjepat— akan meng’akibatkan “pertentangan antara Republik Indonesia dan Belanda”. Kini teranglah sudah, bahwa KMB dengan segala sebab jang menimbulkannja dan segala ‘akibat jang timbul daripadanja, tidaklah sekali-kali mendjadi obat jang dapat menjembuhkan Bangsa Indonesia daripada serangan penjakit “Kolonialisme Belanda”. Maka pada achir-achir ini, tampaklah dengan tegas dan njata, akan timbulnja kembali penjakit: “Kolonialisme” itu. Oleh sebab itu, maka Uni Indonesia-Belanda jang tadinja diharapkan akan mendjadi tali persahabatan antara kedua negara itu, pada achir-kemudiannja, beralih sifat dan tjoraknja, mendj’adilah lapang pertikaian. Kiranja Saudara tidak menaksir rendah (onderschatten) dan terlalu “optimistis” tentang hal ini, dan baiklah agaknja, djika mulai

sekarang djuga Pemerintah Republik Indonesia “bersedia pajung, sebelum hudjan.” 15. Sekianlah hal-hal jang kini perlu Kami njatakan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, jang bertanggung-djawab berat dan besar atas nasibnja Negara dan Bangsa, dimasa jang akan datang. Sekali lagi! Sudi apalah kiranja Saudara suka menaruh perhatian, dimana perlu dan seberapa perlunja. 16. Semoga Allah selalu berkenan mentjurahkan Hidajat dan Taufiq-Nja atas kita, Ummat Islam Bangsa Indonesia, dan berkenan pulalah kiranja Ia menuntunnja kearah Bahagia-Sentausa, dunia dan achirat. Amin. Inna fatahna laka fat-han mubina .... Insja Allah. Amin. Bismillahi ..... Allahu Akbar!!! Wassalam PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO Mardlotillah, 22 Oktober 1950/10 Muharram 1370. Tembusan Nota-Rahasia ini Disampaikan kepada jang terhormat Saudara M. Natsir, Perdana Menteri Republik Indonesia.

NOTA RAHASIA KEDUA NII
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA NOTA RAHASIA KEDUA Barang disampaikan Allah kiranja kepada jang terhormat: Sdr. Ir. S O E K A R N O Presiden Republik Indonesia, Jang bersemajam di DJAKARTA Assalamu’alaikum w.w. 1. Alhamdulillah! Allahumma! Iyaka na’budu, wa iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakkalna ‘ala-Llah! Lahaula wala quwwata, illa-bi-Llah! 2. Sjahdan, maka baiklah kiranja terlebih dahulu kami njatakan kepada Saudara, bahwa telah genap hampir 4 bulan jang lalu sudahlah Kami lajangkan sebuah Nota Rahasia (jang pertama) kepada Saudara, Nota mana bertarich “Mardlotillah, 22 Oktober 1950/10 Muharram 1370”. Kiranja sementara ini, Saudara telah menerimanja dengan sempurna, serta menaruh perhatian atasnja, seberapa perlu dan dimana perlunja. Hanja bagi kepentingan Negara, Bangsa dan Agama Allah, djua adanja. Atas perhatian Saudara jang seksama dalam hal-hal jang Kami tuliskan dalam Nota tersebut, maka sebelum dan sesudahnja Kami njatakan diperbanjak-banjak terima kasih, dan Alham-duli-Llah!

Semoga Allah berkenan menimbulkan manfa’at dan maslahat daripadanja, bagi Republik Indonesia maupun bagi Negara Islam Indonesia! Insja Allah. Amin. 3. Selain daripada itu, perlu djuga agaknja Kami njatakan di sini, bahwa Nota Rahasia Kedua ini mengandung maksud, untuk: a. Memberi pendjelasan dalam beberapa hal, atas Nota Rahasia jang pertama; dan b. Menambah sesuatu jang dianggap perlu, jang harus diperhatikan oleh tiap-tiap Pimpinan Negara, teristimewa sekali oleh Kepala Negara jang bertanggung-djawab, menghadapi nasibnja Negara dan Bangsa, dimasa jang mendatang, mengarungi Lautan Merah, meng-hadapi Perang Brata Juda Djaja Binangun dan Revolusi Dunia, dimasa jang —Insja Allah— tidak djauh lagi. 4. Bila di dalam Nota-Rahasia Kedua ini Kami njatakan terus terang segala sesuatu kepada Saudara, tiada lain maksud kami, melainkan hanjalah untuk kepentingan Negara dan Bangsa Indonesia belaka, jang langsung atau tidak langsung mengenai nasibnja Republik Indonesia dan Negara Islam Indonesia, mulai sekarang kedepan. Kiranja Saudara dalam hal ini sepen-dapat dengan Kami. 5. Sebaliknja, djika dalam sual-sual tersebut ada selisih faham dan pendapat, antara Saudara dan Kami, sudi apalah kiranja Saudara suka memperma’afkan banjak-banjak! Berhubung dengan pergolakan Internasional, baiklah kiranja, djika Kami njatakan sebagai jang berikut: a. Tentang akan terdjadinja Perang Dunia Ketiga, agaknja tidak lagi patut dipersualkan. b. Di dalam Perang Dunia tersebut tidak mungkin Republik Indonesia akan tetap memegang haluan “Bebas” (neutral) jang mendjadi pendiriannja, baik lambat maupun tjepat. c. Di dalam memilih Blok, dengan sukarela atau dengan terpaksa, maka amat besar sekali kemungkinan bahwa RI akan masuk Blok-Amerika, sedang pada waktu ini politik Luar-Negari RI telah menundjukkan tjondongnja kearah dan djurusan itu. d. Djika terdjadi jang demikian, maka segala langkah dan tindakkan tentulah ditudjukan kesatu arah, ja’ni: keluar (internasional), atau/dan mengenai urusan luar. Dalam pada itu, usaha dan tindakan kedalam amat kekurangan tenaga, waktu dan sjarat (miniem). e. Letaknja Indonesia di tengah-tengah rantai-pertahanan Amerika di Pasifik, membawa dia ke satu arah —mau ataupun tidak mau—, terseret dalam gelanggang peperangan. Bahkan praktis Indonesia akan masuk salah satu rantai didalam “garis depan”. f. Kiranja semuanja itu telah Saudara perhitungkan masak2, terlebih dulu. 6. Di dalam menindjau dan meneliti situasi interinsuler, baiklah Kami harapkan perhatian Saudara atas: a. Persiapan Kaum Komunis, dalam semua lapangan, untuk melakukan perampasan keku-asaan, “coup d’etat”, politis dan militer. Kiranja Saudara telah lebih mengetahui tentang hal ini dan memperhitungkan langkah dan tindakan, bagi mendjaga dan memelihara kedaulatan Negara. b. Persiapan pihak jang lainnja, ideologis atau tidak, didalam lapangan politik dan militer, untuk mentjampaikan maksudnja. c. Akibat daripada KMB, Konferensi Irian, dan lain-lain sual kenegaraan (Staatkundige vraagstukken) dan ketentaraan, jang kini masih merupakan sual-sual jang kurang penting dan kurang mendapat perhatian, maka pada sa’at meletusnja Perang Dunia Ketiga itu, sepandjang hitungan, akan menimbulkan bahaja jang amat besar sekali, jang natidjahnja akan merugikan kepada negara. d. Keadaan alat-alat negara dan pesawat-pesawat Negara djauh daripada capable, untuk menghadapi segala kemungkinan, karena: 1) Di dalamnja telah penuh dengan benih-benih dan ‘anasir-’anasir serta aliran “anti-negara” (anti-RI), terutama sekali jang merupakan: Komunisme. 2) Meradjalelanja kerusakkan achlak dan budi pekerti, dan sepinja kesadaran bernegara, sehingga membawa ‘akibat korrupsi, tidak boleh dipertjaja, sabotage —dengan sengadja atau tidak— menentang usaha Pemerintah, melakukan

tindakan dan per-buatan, sehingga ra’jat dan masjarakat anti kepada pemerintah, dan lain-lain seba-gainja. Kiranja tentang hal ini, Kami tidak perlu menundjukkan tjontoh-tjontoh jang njata. e. Oleh sebab itu, maka disa’at jang kritik nanti, Kami chawatirkan, bahwa Republik Indonesia akan mengalami nasib jang tragis, seperti jang telah Kami gambarkan dalam Nota Rahasia terdahulu (pertama). 1) Djika terdjadi jang demikian, bukanlah negara lain jang akan menjerang dan mem-bunuh Indonesia, melainkan alat-alat dan pesawat-pesawat RI sendirilah jang akan menjerang dan membunuh RI, bagi kepentingan dan keperluan sesuatu ideologi, ialah: Komunisme. 2) Djika RI “bunuh-diri”, karena “sendjata makan tuan”, maka pergolakan politik dan militer serta huru-hara di Indonesia, tidaklah akan berhenti sampai batas itu. Karena proces ini hanja merupakan pangkal dan bukan udjung daripada revolusi dunia didaerah Indonesia, nanti. Lebih djauh, dengan hantjur-leburnja RI sebagai negara, maka Nasionalisme Indonesia akan mengalami perpetjahan jang hebat; sebagian mungkin beralih tempat, masuk golongan Komunis, dan jang sebagian lagi akan menggabungkan dirinja dengan golongan Islam. 3) Sudah boleh dikira-kirakan dan dibajangkan terlebih dulu, betapakah gerangan kelak sikap langkah dan pendirian Ummat Islam, jang hingga kini masih mempunjai sikap Nasional-Islamistis-Parlementer itu. Karena tusukan dan tekanan kaum Komunis —dengan tjara dan sifat apa dan jang manapun djuga— maka Ummat Islam akan disorong kesudut “memilih pihak”. Dan, Insja Allah, kelak kemudian mereka akan masuk Blok-Islam, tegasnja: Negara Islam Indonesia. 4) Djika dengan idzin Allah terdjadi jang serupa itu, maka di dalam lapangan dan gelang-gang perdjuangan di Indonesia hanja akan ada dua golongan, jang berhadap-hadapan sebagai musuh dan lawan jang ta’ kenal damai, antara satu dengan jang lain, ialah: Komunisme lawan Islamisme. 7. Inilah beberapa hal, jang perlu Kami kemukakan kepada Saudara, dengan harapan mendapat perhatian sepenuhnja. Dengan ini pula Kami njatakan sekali lagi pertimbangan dan andjuran daripada pihak Kami, sebagaimana jang termaktub didalam Nota Rahasia terdahulu (pertama), angka 11, berkenaan dengan sual-sual tersebut: a. Tiada djalan lain, jang menudju kearah “Keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia”, melainkan: “Djika Pemerintah Republik Indonesia mulai sekarang djuga, dengan tjepat dan tepat, membasmi Komunisme, dalam tiaptiap lapangan, terutama sekali jang melekat di dalam tubuh Pemerintahan Republik Indonesia dan alat-alat kekuasaannja dengan wudjud dan sifat apa dan jang mana pun djuga”. Lebih tjepat, lebih baik! b. ...................................... 8. Kemudian daripada itu, berkenaan dengan sual Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949, dan sualsual lain disekitarnya, seperti jang berikut: a. Proklamasi 7 Agustus 1949, adalah satu tjurahan Kurnia Allah, atas Ummat Islam Bangsa Indonesia, satu idzin dan perkenan Allah jang berwudjudkan: “inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, dua, tekad, dan amal-usaha perdjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia”. b. Oleh sebab itu, maka Proklamasi 7 Agustus 1949 merupakan satu hak-sutji daripada Ummat Islam Bangsa Indonesia, jang tidak hanja harus serta wadjib dihargai dan dihor-mati oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap-tiap bangsa diseluruh dunia. c. Hak-sutji tersebut di atas bolehlah kiranja dibagi mendjadi dua bagian: 1) Jang mengenai isi, maksud dan wudjud bulat sempurna (essensiel substantif), ialah: Kemerdekaan Islam bulat 100%, seperti jang dimaksudkan dalam Pendjelasan singkat atas Proklamasi tersebut, angka 5, sub a. hingga d. Tentang hal ini, sedikitpun tiada tawaran, tambahan, pengurangan atau perubahan apa dan jang mana pun djuga. Lantaran, sebagaimana Saudara tentu mafhum dan mengerti, bahwa tiap-tiap peru-bahan dalam hal ini, walaupun hanja sedikit, akan membawa akibat perubahan jang besar dalam bagian-bagian jang lainnja. 2) Jang mengenai technik-pelaksanaan, seperti mitsalnja: batas daerah dan lain-lain jang serupa itu, berbeda dengan jang tersebut dalam angka 8, sub c. (1) di atas, jang mempunjai sifat “absoluut” (pasti), maka bagian (2) ini bersifat “relatif” (boleh berubah-rubah). Boleh pandjang atau pendek, boleh luas atau sempit, dan lain-lain sifat alam dahry (materieel). Wal hasil, tentang hal ini

bolehlah dilakukan tawar-menawar, perdamaian, dan lain-lain usaha pendjelasan jang serupa itu. d. Agaknja keterangan ringkas jang dituliskan di atas, bolehlah kiranja dianggap sebagai bantuan daripada pihak Kami kepada Saudara, kalau-kalau dapat meringankan dan memu-dahkan Saudara, dalam pertanggung-djawab Saudara, memetjahkan sual Proklamasi 7 Agustus 1949 itu dan sual-sual di sekitarnja. e. Dengan ini , maka atas nama Pemerintah Negara Islam Indonesia, bolehlah dengan terus-terang Kami njatakan kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, bahwa: 1). Djika Pemerintah Republik Indonesia suka mengakui dengan resmi akan Proklamasi, maka Kami sanggup mendjamin, bahwa Republik Indonesia akan mempunjai sahabat sehidup-semati dalam menghadapi tiap-tiap kemumkinan, dari luar dan dari dalam, terutama menghadapi Komunisme, jang makin hari makin bertambah tampak bahajanja, bagi Negara dan Bangsa Indonesia maupun bagi seluruh dunia demokrasi (nasional). 2). Sebaliknja daripada itu, djika Republik Indonesia tidak mengakui Proklamasi 7 Agustus 1949 --jang kini sudah mendjadi kenjataan (fati accompli)--. maka Kami tidak akan iku tanggung djawab atas nasibnja Negara dan Bangsa Indonesia, baik di hadapan Mahakamah Sedjarah maupun di depan Mahkamah Allah kelak. 3). Dalam hal ini, Kami pertjaja sepenuh-penuhnja atas kebidjaksanaan Saudara. 9. Adapun tentang perubahan dan peralihan Republik Indonesia, ke dalam maupun ke luar, se-bagai djalan dan obat jang lainnja, untuk menghindarkan "Negara dan Bangsa Indonesia" daripada bahaja keruntuhan, sudahlah agaknja tjukup dirawaikan dalam Nota rahasia jang terdahulu (pertama), angka 14. Sudi apalah kiranja saudara suka menganggapnja sebagai bantuan daripada pihak kami, bagi memetjahkan sual-sual ketata-negaraan jang sukar sulit itu. 10. Achirul-kalam, segala sesuatu harus dilakukan dengan tjepat dan tepat. Demikianlah harapan kami kepada Saudara, sebagai Kepala Negara Republik Indonesia, bagi kepentingan Negara dan Bangsa Indonesia, djua adanja. Di balik itu, djika langkah dan tindakan jang diharapkan itu lambat atau terlambat, maka tidaklah boleh diharapkan akan menimbulkan natidjah jang sebaik-baiknja, bagi kepentingan Negara dan Bangsa.Bahkan amat mumkin sekali, sebaliknja. Sekali lagi, sudi apalah kiranja Saudara suka menaruh perhatian sepenuhnja. Sebelum dan sesudahnja, terima kasih dan Alhamdulillah li-Llah, kami aturkan. 11. Semoga Allah berkenan menuntun kita sekalian ke arah dan maqam jang diliputi rahmat dan ridlo-Nja, bagi kepentingan Republik Indonesia dan Negara Islam Indonesia, serta Ra'jat dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, djua adanja. Inna fatahna laka fat-han mubina........................... Insja Allah. Amin. Bismillahi....................................Allahu Akbar! Wassalam, PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA Imam: S.M. KARTOSOEWIRJO Mahdjurah-Tegal-Luar, 17 Februari 1951/ 10 Djumadil -awwal 1370 Tembusan Nota Rahasia kedua ini, Di sampaikan kepada jang terhormat Saudara M. Natsir, Perdana Menteri Republik Indonesia.

NEGARA ISLAM INDONESIA ATAUKAH NEGARA PANTJASILA
STATEMEMT PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA

Pilihlah: NEGARA ISLAM INDONESIA ATAUKAH NEGARA PANTJASILA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Assalmu ‘alaikum w.w., Alhamdu lillah wasjsjukru lillah! Allahu Akbar! Segala pudji hanja wadjib dipersembahkan kepada Dia, Dzat Maha-Tunggal, Maha-Murah dan Maha-Asih, jang telah berkenan membuka djalan, lapang dan kesempatan kepada sekalian hamba-Nja, bagi menunaikan dharma bakti muthlak kepada-Nja semata, djihad-berperang pada djalan-Nja, guna memuliakan Kalimat-Nja (Agama-Nja, Islam), guna keselamatan Ummat bangsa manusia serta segenap peri kemanusiaan, istimewa bagi keselamatan mereka, jang sengadja hendak tha’at sepenuhnja kepada perintah2 Allah dan mentjontoh perdjalanan Rasulullah Clm. Sungguh tugas-wadjib muthlak langsung daripada Allah itu maha-berat, tapi maha-sutji. Semoga Ia berkenan memperlindungi dan memelihara sekalian Mudjahidin daripda pelbagai matjam goda dan tjoba, jang manis maupun jang pahit, daripada sjak dan raba2, daripada ingkar dan dosa, dan berkenanlah kiranja Ia menuntun dan membim-bingnja ke arah Mardlotillah sedjati, ialah udjungnja maksud dan tudjuan manusia, jang sehat pikirannja dan terbuka mata hatinja. Kemudian daripada itu, berkenanlah kiranja Ia mentjurahkan sebesar2 kedjajaan dan kemenangan kepada seluruh Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, ialah sjarat muthlak untuk mendekati dan mentjapai kekuasaan Islam (adDaulatul-Islamiyah), satu2nja djembatan mas jang akan membawa ummat manusia ke dalam Keradjaan Allah di dunia, dimana berlaku Hukum2-Nja (Islam) dengan sempurnanja. Insja Allah. Amin. Hatta, maka pada tanggal 10 November 193 jang baru lalu, jang lazim dinamakan “hari pahlawan”, maka presiden RIK Karno mengambil kesempatan, untuk memun-tahkan segenap isi perut dan hatinja, menarik urat lehernja sekuat2 dan sekeras2nja, menjerang Negara Islam Indonesia habis2an, dalam pidato berapi-api jang meluntjur daripada mulut djahannam berbisa (beratjun), di depan rapat tertutup dalam lingkungan terbatas, bertempat di hotel “Dana” Surakarta (Solo), dihadiri oleh kurang lebih 600 orang penonton dan pendengar jang “terpilih”, terdiri daripada pemimpin2 dan pengikut2 pantjasila, prija dan wanita. Pidato beratjun itu diutjapkkan kurang lebih dalam waktu 100 menit; sedang 90 menit daripadanja dipergunakan untuk melantjarkan serangan kepada Negara Islam Indonesia, dengan mengemukakan beberapa bagian daripada Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, tentang “Sambutan atas Perma’luman Perang resmi dari Republik Indonesia Komunis kepada Negara Islam Indonesia”; ialah sebuah Statement Pemerintah N.I.I., jang menggerakkan dan membangunkan bulu-roma Karno serta kawan2 sekomplotnja, mengganggu urat-sjarafnja, serta mengiris2, menusuk2 dan membelah djantung hatinja. Kali ini Karno selaku pentjipta “ideologi” pantjasila dan presiden negara pantjasila, menumpahkan segenap tenaga dan pribadinja, membela mempertahankan mati-matian “ideologi” dan negara djahiliyah tersebut. Dalam hubungan ini, perlulah ditjatat, bahwa dalam sedjarah perdjuangan Indonesia, terutama sedjak revolusi nasional berkobar, baru kali inilah Karno berbuat serupa itu, melakukan pembelaan mati-matian atas negara djahiliyah (RIK), jang kini praktis sudah mendjadi “negara komunis”, beserta kabinet merah Ali-Wongso. Berkat pidato abu djahal jang meluap2 dan membakar2, penuh dengan ghodzob, sjahwat dan nafsu durhaka itu, maka setiap manusia di Indonesia —bahkan djuga hingga di luar negeri—, mendengar dan menjaksikan, tahu dan jakin: “Bahwa di Indonesia telah sedjak lama berdiri sebuah negara, bernamakan Negara Islam Indonesia, diproklamirkan pada tanggal 7 Agustus 1949, oleh Imam N.I.I. - S.M. Kartosoewirjo, atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia (U.I.B.I.); ialah hak2 asasy U.I.B.I.; tjurahkan kurnia Ilahy jang maha-besar atas U.I.B.I.; satu idzin dan perkenan Allah, jang

berwudjudkan inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada harapan, du’a, tekad dan ‘amal-usaha perdjuangan U.I.B.I.; satu hak sutji U.I.B.I., jang tidak hanja patut, harus dan wadjib dihargai oleh Ummat Islam sendiri, melainkan djuga oleh tiap2 bangsa di seluruh dunia”. Bandingkanlah dengan Manifest Politik N.I.I. Nomer V/7, 7 Agustus 1952, Heru Tjokro bersabda: “Indonesia, kini dan kelak”, Lampiran 4, angka 8, huruf a. dan b.! Serangan tadjam dan pedas, ganas dan kedjam, membabi-buta dan membuta-tuli, jang dilantjarkan oleh Karno itu berwudjudkan “anti-propaganda” terhadap kepada N.I.I., noda terhadap kesutjian Agama Allah (Islam), dan satu ketjaman serta pukulan jang hebat-dahsjat atas seluruh Ummat Islam, terutama atas mereka, jang sengadja hendak atau lagi melaksanakan tugas Ilahy muthlak, tugas maha-sutji: menggalang dan mendukung Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Bagi kami beserta kawan2 seperdjuangan dengan kami, pudji (dari kawan) atau tjela (dari lawan), sepakat atau bantahan, propaganda “pro” (positif, konstruktif) atau “contra” (negatif, destruktif), tidaklah sedikitpun mengherankan, karena semuanja itu adalah barang sesuatu jang lazim berlaku di ‘alam mumkin ini. Disamping itu, tiap orang harus mengakui, bahwa “propaganda tetaplah propaganda”, walau keluar daripada mulut anak-tjutju iblis dan sahabat dadjdjal la’natullah sekalipun! Alhamdulillah! Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7 tersebut —laksana panah Tjokro jang telah dilepaskan kearah musuhnja, musuh2 Islam, musuh2 N.I.I., dan musuh2 Allah beserta Rasul-Nja— tepatlah mengenai sasaran jang dibidiknja; menimbulkan reaksi dalam djiwa (psychische reactie), pikiran dan pribadi Karno. Maka karenanja, tampaklah dengan djelas dan terang, djiwa rendah ta’ berbudi, djiwa sakit jang didjangkiti oleh sifat2 “inferieur” (hina), penuh dengan apa jang disebut “negatieve complexen)”. Karno tidak lagi tenang, tidak pandai menguasai dirinja, ta’ tjakap mengekang mulutnja, dan jang lebih djahat lagi ialah, dengan tjurang dan serongnja ia sudah tjoba2 membelokkan dan memutar-balikkan sual, seakan2 hendak “membalik timur mendjadi barat”, memutar-balikkan kebenaran dan ke’adilan mendjadi salah, keliru dan sesat. Tetapi setinggi2 bangau terbang, djatuhnja pun Ke tanah djua, dan sepandai2nja iblis bersilat dan berchianat, ta’ pandailah ia menjuramkan dan memadamkan tjahaja Kebe-naran dan Ke’adilan Allah; ta’ tjakap membasmi kesutjian Agama “Allah, Islam; dan ta’ kuasa pula menghantjurkan Keradjaan Allah, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, jang memang dilahirkannja hanjalah karena Kehendak dan Kekuasaan-Nja, karena tolong dan kuria-Nja belaka, bagi U.I.B.I. dan segenap manusia, jang hidup di bumi-Allah Indonesia. Meskipun tidak patutlah kiranja kita berterima kasih kepada Karno dan kawan2 sekomplotnja, atas pidatonja jang penuh dengan fitnah, dengki dan hasud itu, tetapi setiap orang harus mengakui, bahwa dengan utjapannja pidato djahannam itu, maka ada dan berdirinja N.I.I. dinjatakan dan diakui dengan resmi sebagai suatu kenjataan, satu “fait accompli”, jang ta’ dapat dibantah atau disangkal oleh siapapun djuga. Dan lebih djauh, boleh dianggap sebagai landjutan dan penguatan atas pidatonja pada tanggal 17 Agustus 1953 jang baru lalu. Lepas daripada niat, hadjat dan harapan djahat Karno sendiri. Oleh sebab itu, baiklah kita membanjak2an tahmid dan sjukur kehadlirat Ilahy, ialah Dzat Maha-Kuasa, Jang menitahkan dan memerintahkan kita sekalian, kaum Mudjahidin seluruhnja, mengenjahkan pantjasila dan menghantjur — binasakan negara Pantjasila, beserta segenap pengikut2nja: Alhamdulillah wasjsjukru lillah. Adapun Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VIII/7 ini ditudjukan kepada hadjat untuk: A. Menolak dan membalas serangan dari Karno atas N.I.I.; Islam dan U.I.B.I.; satu wadjib sutji muthlak, jang ditugaskan dan dipertanggung-djawabkan atas pundak setiap Mudjahid penggalang N.K.A., N.I.I.; B. Menjangkal tuduhan2 Karno atas N.I.I.; dan menundukkan sual pada tempat (pro-porsi) jang sewadjarnja; bagi mentjegah anak-tjutju iblis la’natullah terus-menerus melakukan perbuatan chijanatnja, mengabui mata ra’jat, masjarakat dan dunia, memikat hati dan membelokkan perdjalanan (perdjuangan) Ummat Islam dalam menunaikan tugasnja jang maha-sutji, ialah tugas Ilahy jang tidak dapat ditawar2 dan tidak tergantung kepada kata sepakat atau penolakan dari siapapun djua; C. Membela dan memelihara kesutjian Agama Allah, Islam; D. Mempertahankan dan menjentausakan Kedaulatan Negara Islam Indonesia; dan

E. Membela hak2 asasy Ummat Islam Bangsa Indonesia; ialah tugas-wadjib jang diletak-kan Allah atas setiap Mudjahid, jang sengadja hendak membina dan mendlohirkan Kebenaran dan Ke’adilan Allah, Keradjaan Allah, Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia, dipermukaan bumi-Allah, Indonesia. Dengan ini, tidaklah bererti, bahwa tiap2 kata Karno akan kami persalahkan. Tidak, sekali2 tidak! Kami tidak sanggup mengikuti tjara Karno dan kawan2 sekomplotnja berpikir, berbuat dan bertindak. Kami akan menaruh setiap sual pada ukuran jang sebenarnja dan memberi timbangan jang se’adil2nja, berdasarkan atas keadaan jang sewadjarnja, dan sesuai dengan adjaran Agama Islam jang sutji, tidak terombang-ambing oleh purba-sangka jang menjebabkan timbulnja penglihatan jang kabur, samar2 dan mengelirukan. Semoga Statement ini memadai hadjat dan memenuhi keperluan dan kepenti-ngannja, bagi menampakkan Sji’arul-Islam, bagi mendjaga dan memelihara kesutjian Islam, bagi mempertahankan dan menjentausakan Kedaulatan N.I.I., dan bagi memper-kokoh hak2 asasy U.I.B.I. djua adanja. Insja Allah. Amin. Dengan karena tjurahan Hidajatullah dan Hidajatuttaufiq semata. A. Sesuai dengan ‘adat-kebiasaan Karno, maka hampir dalam tiap2 pidatonja, jang diutjapkan di depan Ummat Islam/Pemimpin2 Islam, selalu ia menondjol-nondjolkan dan melagak-lagakkan dirinja, dengan pernjataan2: “Saja Muslim! Saja Muslim!.........”, seberapa kalipun dianggap perlu olehnja. Kali ini di Solo ia berkata pula jang demikian, dan ditambah dengan “aku tahu fiqih Islam.....!!!” B. Utjapan “anak2” serupa itu, hanjalah boleh keluar daripada mulut seorang mu’allaf (baru masuk Islam) jang hendak “minta2” (mengemis2), mengharap-harapkan belas-kasihan sesama machluk; ingin dipertjaja, dianggap dan diperlakukan sebagai Muslim; ingin menampakkan dirinja sebagai “Muslim sedjati”; sifat dan perbuatan rija’, sombong dan takabbur, jang tidak patut mendjadi hiasan djiwanja seseorang jang menamakan dirinja “Muslim”. Bahkan, lebih dari itu, utjapan2 serupa itu adalah kata2 “nifaq”, jang hanja dimiliki oleh kaum munafiqin, satu golongan manusia dalam lingkungan Islam, jang lebih djahat dan lebih berbahaja, dibandingkan dengan kafirin biasa atau kafirin harbi sekalipun. Tjobalah kita udji “pengakuan Karno” itu menurut dan berdasarkan bukti2 jang njata: 1. Karno adalah pentjipta dan pembela mati2an pantjasila dan negar pantjasila (djahiliyah); dan ia menundjukkan sikap dan pendirian anti-N.I.I., menghalang2i berlakunja Hukum2 Allah (Islam), dan membelokkan perdjalanan Ummat Islam daripada garis2 sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Clm. Inikah buktinja “pengakuan Muslim Karno” itu? 2. Orang boleh berkata: Karno dan kawan2nja suka sembahjang Djum’ah, hari-raja, membuat pidato2 di mesdjid, ikut merajakan nuzulul-Qur’an, Isra’ dan Mi’radj Rasulullah clm., Maulidin-Nabi dan seterusnja, apakah itu semuanja bukan tanda2 (bukti) ke-Islam-annja? Kami mendjawab: Tidak! sekali lagi, tidak! Tjobalah buka lembaran sedjarah Islam! a) Tidakkah Abdullah bin Ubay, pemimpin munafiqin jang termasjhur tapi terku-tuk itu, berbuat lebih daripada apa jang diperbuat oleh Karno? Bahkan ia mengasuh dan memimpin Ummat, berlaku dan berbuat seakan2 lebih daripada Muslim biasa. Tetapi toch ia adalah seorang munafiq, bahkan seorang pemimpin munafiq jang ulung, jang karena perbuatannja jang “tam-paknja” baik itu, mendjauhkan ummat manusia daripada bakti kepada Allah. Semuanja ini tidak hanja tampak pada lidah dan hatinja jang “bertja-bang dua” —ular kepala dua—, melainkan kemudian pun disaksikan pula dengan bukti2 jang njata. b) Herankah kita, djika Abu-Lahab dan Abu-Djahal djuga pergi menghadap kiblat (Ka’batullah), djika ia hendak berangkat perang atau melakukan sesuatu perbuatan jang penting? Ia pergi ke Ka’bah bukan untuk menjembah Allah, melainkan untuk memudja berhala2nja. c) Dengan keterangan singkat di atas, herankah kita, djika Karno pidato di de-pan kaum Muslimin, di mesdjid2 atau tempat sutji lainnja, dimana ia mela-gak2kan dirinja sebagai “Muslim, pembela Agama dlls.”? 3. Wal-hasil, segala perbuatan kaum munafiqin dimaksudkan untuk menipu dan memperdajakan kaum Muslimin, dengan kedok Islam (pulasan) dan tingkah laku ke-Islam-an (jang dibuat2, diatur2, supaja dapat menarik kepercajaan orang).

‘Akibatnja: Semangat perdjuangan Islam mendjadi lemah; potensi Ummat Islam mendjadi kurang atau habis-ledis; dan makin lama Ummat Islam makin mendjauhkan diri daripada adjaran2 sutji, ingkar daripada tuntunan Ilahy dan Sunnah Nabi Besar Clm. Tjobalah djeladjah utjapan Karno di mesdjid Solo, pada tanggal 13 Nopember jang lalu, dimana ia a.l.l. mengatakan “supaja Ummat Islam djangan fanatik, djangan sentiment..”, karena ia tahu dan jakin, bahwa djika Ummat Islam sungguh2 dan tepat melaksanakan tugas Ilahy dengan sempurnanja, sepandjang adjaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Clm. —jang lazim dinamakan “fanatik” atau “sentiment” itu—, maka semuanja itu akan menatidjahkan di kuburnja negara pantjasila, hantjur-binasanja komunisme dan marhainisme jang dipudja-pudjinja, dan musnahnja segenap penjakit, bentjana dan bahaja dunia jang lainnja. Dalam hubungan ini, tidak diketjualikan orang2 jang dipertempatkan oleh negara pantjasila dalam apa jang dinamakan kementerian “agama” (pantjasila), djawatan2 atau kantor2 “agama”, ialah sarang2 pengchianat Islam, Ummat Islam dan Negara Islam Indonesia. Dengan kedok “Islam” mereka mentjoba berdaja-upaja, untuk memper-pantja-sila-kan Islam dan Ummat Islam, mempersjirik-kan Islam dengan “kepertjajaan djahiliyah”, suatu dosa terbesar ‘indallah wa ‘indannas, jang tiada ampunan Allah atasnja. Na’udzu billahi min dzalik! 4. Kembali kepada “pengakuan Karno”, bahwa ia “mahir dalam fiqih Islam”, dengan ma’na dan maksud: “mengetahui dan mengerti akan fiqih perang, hukum Islam dimasa Perang”. Tjobalah kita udji “pengakuan Karno” itu dengan satu pertanjaan: “Mengapa Karno membela pantjasila, negara pantjasila, komunisme Indonesia, marhainisme, jang bererti “djihad fi sabilith-thaghut”, dan sebaliknja, ia menen-tang N.I.I. dengan sekuat tenaganja dan memeranginja, ialah “djihad fi sabilillah” (djihad membela Agama Allah-Islam), mempertahankan kedaulatan Negara Kurnia Allah, dan memperkokoh hak2 asasy U.I.B.I.??” “Mengapa ia lebih suka membela kekufuran dan kemusjrikan daripada membela Islam???” Dengan keterangan singkat tersebut di atas, njatalah sudah, bahwa “pengakuan Karno” itu bohonglah semata2, bertentangan dengan bukti kenjataan jang sesung-guhnja, tegasnja: Karno beserta kawan2 sekomplot dengan dia, adalah termasuk golongan “munafiqin sedjati”, ialah golongan jang amat berbahaja bagi ummat manusia di Indonesia, terutama bagi U.I.B.I., jang berhadjat melaksanakan tugasnja jang maha-sutji: menggalang dan mendukung N.K.A., N.I.I.! Harap ditjatat baik2! 5. A. I. Huda adalah wakilnja Kartosoewirjo, atau dengan kata lain: Kuasa-Usaha K.T. A.P.N.I.I. I. Huda adalah wakilnja Imam N.I.I./ Plm.T. A.P.N.I.I.—S.M. Kartosoewirjo. Demikian Karno. Oleh sebab itu, maka Karno menganggap Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, jang ditandatangani oleh K.U.K.T.-- I. Huda, 100% resmi, seperti djuga djika Statement tersebut ditanda-tangani oleh Imam N.I.I./ Plm. T. A.P.N.I.I. sendiri. Itulah kiranja jang menjebabkan, maka Karno sendiri selaku presiden negara pantjasila merasa perlu untuk menjambut atau membalasnja. B. Pernjataan Karno ini betul, meski tidak 100%. Pendjelasan dan keterangan seka-darnja adalah sebagai berikut: 1) Dalam triwulan kedua tahun 1952, maka Imam N.I.I./ Plm. T. APNII bertolak dari Indonesia, melawat keluar negeri, bagi kepentingan NII. 2) Beberapa hari sebelumnja, maka beliau telah menjampaikan amanat2 tertulis bagi/kepada masing2 Anggauta KT APNII (dulu: Dewan Imamah), dianta-ranja djuga kepada Anggauta KT-I. Huda, jang menerima surat-kuasa untuk menguruskan dan menjelesaikan beberapa hal jang chusus, politis dan militer, baik interinsuler maupun internasional, atas nama atau selaku K.T. A.P.N.I.I. —wakil muthlak— atau/dan atas nama Plm.T. APNII, bagi kepentingan Islam, N.I.I. dan U.I.B.I. Djadi, ma’na dan nilai kata2 “kuasa-usaha” di sini berbeda dan berlainan de-ngan istilah jang lazim dipakai, untuk menundjukkan sebuah perwakilan sesuatu negara di luar negeri, tingkatan bawah. 3) Maka pantaslah, bahwa —setelah Karno membatjakan sebagian daripada surat Plm. T. APNII— Kartosoewirjo, No. 694/KU/52, bertarich 9 April 1952, djam 10.00 — ia berpendapat, bahwa I. Huda adalah wakilnja Karto-soewirjo, atau dengan kata2 lain: K.U.-K.T.- I. Huda adalah wakilnja Imam NII/ Plm.T. APNII.

4) Tugas serupa ini, jang diberikan kepada tiap2 Anggauta KT APNII, termasuk djuga Kepala Staf ‘Umum (K.S.U.), berachir di sa’at Imam NII/ Plm.T. APNII telah tiba kembali di Indonesia, atau sewaktu2 bila beliau mentjabutnja. 5) Oleh sebab itu, maka selama masa tersebut tiap2 Ma’lumat, Statement, Manifest Politik atau Siaran lainnja, jang dikeluarkan dan ditanda-tangani oleh salah seorang Anggauta KT. APNII atau KSU APNII, mempunjai sifat resmi, jang formil dan sepandjang hukum, berkekuatan sama dengan Ma’lumat, Statement, Manifest Politik dan Siaran2 lainnja, jang ditanda-tangani oleh Imam NII/ Plm.T. APNII sendiri. Hendaklah tiap2 jang bersangkutan mengetahui djua adanja. 6. A. Karno pura2 tidak mengerti dan tidak tahu, mengapakah Kartosoewirjo men-dirikan negara (baru), memproklamasikan berdirinja Negara Islam Indonesia. Dan Proklamasi N.I.I. tersebut belum pernah ditjabut. Demikian Karno. B. Sekali lagi, kami ingin mempersilahkan kepada setiap pembatja jang ‘arif-budi-man, periksalah: 1) Teks Proklamasi N.I.I., 7 Agusuts 1949, beserta Pendjelasan Singkat atasnja! Ditanda-tangani oleh Imam N.I.I.—S.M. Kartosoewirjo. 2) Manifest Politik N.I.I. Nomer I/7, tentang “Wadjib berdirinja N.I.I.”, 26 Agustus 1949, hampir 20 hari kemudian daripada Proklamasi berdirinja N.I.I. Ditanda-tangai oleh Imam NII-S.M. Kartosoewirjo. 3) Statement Pemerintah N.I.I. Nomer IV/7, 7 September 1950, angka 8, Ditanda-tangani oleh Imam NII —S.M. Kartosoewirjo. 4) Dan selandjutnja, Manifest Politik NII Nomer V/7, 7 Agustus 1952, ditanda-tangani oleh K.U.-K.T.—I. Huda, Heru Tjokro bersabda “Indonesia, kini dan kelak”, dimana a.l.l. dinjatakan: a) Di tengah2 api revolusi, diachir kesudahan Perang Segi Tiga pertama, dimasa vacuum, dikala Indonesia kosong daripada pemerintahan, disa’at itulah Allah berkenan mentjurahkan kurnia-Nja jang maha-besar;....... Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia”. (Bab VII, angka 1) b) Dan hakikatnja Proklamasi NII ialah: I. Kurnia Allah atas U.I.B.I.; II. Inti-pati (kristalisasi, realisasi dan manifestasi) daripada pengharapan, du’a, tekad dan ‘amal-perbuatan U.I.B.I.; dan III. Hak sutji, hak asasy U.I.B.I. Sekianlah pendjelasan singkat atas pernjataan dan pertanjaan Karno, “mengapa Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinja NII”. Hanja orang2 dan golongan2 jang berotak udang, berhati djahil, berniat chijanat, dan sengadja menolak kebe-naran dan kenjataanlah, jang akan tidak suka dan tidak dapat mengerti dan mem-fahami keterangan ini. Memang pantjasila “an sich” (hakikatnja pantjasila) mendjadi hidjab, menutup djalan kebenaran dan kenjataan, dan menolak seruan sutji, seruan Ilahy. Adapun jang mengenai pernjataan Karno, bahwa “Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia belum pernah ditjabut” — tegasnja: tetap dipertahankan—, memang benar. 7. A. Karno tjoba2 menjangkal kebenaran riwajat, dengan kata2 “bahwa perdjuangan nasional belum pernah kandas dan gagal”. B. Di bawah ini kami berikutkan beberapa tjatatan riwajat: 1) Pertengahan 1949 : Statement Rum-Royen. 2) 27 Desember 1949: Pemberian daulat hadiyah, dari Ratu Belanda Juliana kepada Pemimpin Ra’jat Indonesia Mohd. Hatta, jg. menerimanja atas nama Ra’jat Indonesia, bukan atas nama atau dengan nama R.I. (Djokja, jang sudah mati itu). Kata2 “overdracht” (dalam naskah K.M.B) = penjerahan = diterdjamahkan oleh pihak RIK mendjadi “pemulihan” (herstel = herstelling) atau “peng-akuan” (erkenning). Setiap orang jang tahu akan bahasa asing, tentulah dapat menjaksikan dan mejakinkan akan sikap dan perbuatan sengadja serong dan tjurang dari pihak RIK, alias negara pantjasila itu! Komentar selandjutnja, kiranja tidak diperlukan. 3) Sebelum 27 Desember 1949, sa’at lahirnja R.I.S., belum ada pengakuan ke-daulatan Republik Indonesia dari pihak luar negeri. 4) RIS adalah telur K.M.B. (Round Table Conference). Bukan natidjah perang antara R.I. Djokja dan tentara pendudukan

Belanda (KNIL dan KL), dan bukan pula hasil perdjuangan nasional, dengan tjatatan: a) Bahwa tentara RI (TRI, TNI, Kini: TRIK) tidaklah keluar dari gelanggang sebagai pemenang; bahkan selalu “mundur teratur”, membalik-belakang; dengan meninggalkan kawan2 seperdjuangan dengan mereka, ja’ni pihak Hizbullah dan Sabilillah, jang tetap tinggal/memang ditinggalkan digaris depan, mendjadi perisai, dengan resiko dan pertanggungandjawab jang besar, kadang2 terpaksa mendjadi korban, petjah sebagai ratna, djatuh di medan bakti; dan b) Tentara pendudukan Belanda tidak kalah; hampir tiada seorang pun mendjadi korban, selainnja karena ketjelakaan lalulintas; tetapi korban Belanda jang terbesar terdjadi setelah berkobar revolusi Islam di Gunung Tjupu (17 Februari 1948) hingga penjerahan daulat hadiyah. 5) Bukti jang lebih terang dan tegas, bahwa penjerahan kedaulatan kepada RIS (Republik Indonesia Serikat), bukanlah hasil kemengan perang atau natidjah perdjuangan nasional, a.l.l. ialah: a) RIS harus membajar hutang/kerugian perang sedjumlah bermiljard2 rupiah Belanda. b) RIS dipaksakan mengakui dan mentha’ati Uni Indonesia-Belanda dan beberapa ketentuan K.M.B. lainnja, jang mengikat dan membatasi ke-daulatan RIS, sehingga karenanja merugikan kepada Ra’jat Indonesia. c) Mengeluarkan Irian-Barat dari wilajah Indonesia; dan d) Konsesi2 dan ketentuan2 mengenai ekonomi, keuangan, perdagangan, perusahaan dan lain2 sjarat hidupnja sesuatu negara, jang karenanja terang merugikan Ra’jat Indonesia djua. 6) Sementara itu, Proklamasi N.I.I. mendengung-dengung di seluruh nusantara Indonesia djuga diluar negeri: 7 Agustus 1949! Masihkah Karno belum mengerti, bahwa pada masa itu (7 Agustus 1949) perdjuangan nasional dengan pusat Djokja sudah kandas dan gagal ??? 8. A. Kartosoewirjo hanja suka berunding dengan dasar antara negara dengan negara, dimana tiap2 pihak harus mengirimkan wakilnja, jang sah dan berkekuasaan pe-nuh, untuk memutuskan sesuatu, atas nama negaranja. Sjarat2 ini saja tidak terima, kata Karno selandjutnja. B. Pada tanggal 17 Aagustus 1953, Karno telah menuduh dengan tjongkak dan sombongnja, bahwa pihak N.I.I. tidak suka mendengarkan kata2, “keblinger”, dst. Tetapi setelah ia membatja sambutan kita atas pidatonja tersebut di atas, sebagai-mana jang termaktub di dalam Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, 3 September 1953, maka ia membalik haluan, mentjabut tuduhannja jang semula, seperti jang inti-sarinja kami suntingkan di atas. Adapun sikap dan pendirian Karno beserta pemerintah merah Ali-Wongso menolak sjarat2 perundingan jang dikemukakan oleh pihak N.I.I., adalah urusan mereka sendiri, dan tidaklah mendjadi tanggung-djawab kita, N.I.I. Segala resiko untung ataupun rugi, jang diderita oleh segenap ra’jat umumnja, adaalah akibat daripada sikap sombong, angkuh dan menolak dari pihak pantjasila, chusus pihak Karno dan kawan2nja beserta kabinet Ali-Wongso, dalam hubungan ini. Pihak N.I.I. sendiri tidak akan rugi atau dirugikan karenanja. Nilai dan harga daripada Negara Islam Indonesia adalah setinggi harga dan nilai Agama Allah, Agama Islam! Bukan barang sesuatu jang boleh ditawar oleh Karno dan kawan2nja maupun oleh kita sendiri!!! 9. A. Siapakah anak-tjutju iblis la’natullah? Dengan menghasut, dengan kata2 jang membakar2 hati dan semangat pen-dengar2nja, maka Karno berkata: bahwa D.I.Kartosoewirjo (batja: N.I.I.) menuduh kepada para alim-’ulama djahilin, fasiqin, munafiqin, pembesar2 RIK sebagai anaktjutju iblis la’natullah. B. Baiklah kami persilahkan sekali lahi meneliti Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, Bab V., angka 5., A.dan B., jang antara lain2 dituliskan sebagai berikut: 1) (Tudjuan) “Tiap pihak, golongan, party, organisasi, perhimpunan atau perseorangan, dengan tidak membedakan djenis, tingkatan, kedudukan, bangsa dan agama, kejakinan dan ideologi, dalam lingkungan RIK dan TRIK.” 2) “Barang siapa membantu, mengikuti, memihak dan membenarkan RIK dan TRIK, dengan tjara, bentuk dan sifat jang manapun djuga (lisan, tulisan, ‘amal-perbuatan dan lain2 sebagainja), maka mereka itu dianggap musuh NII, musuh Islam

dan mush Allah;.......” 10. A. Disiplin negara pantjasila terlanggar atau sengadja dilanggar oleh D.I.—Karto-soewirjo, atau N.I.I., kata Karno. B. Sesunggunja hal ini tidak perlu diherankan. Karena N.I.I. dan R.I.K. adalah dua negara, jang kini lagi bermusuhan dan berperang. Langgar-melanggar antara satu pihak dengan jang lainnja, antara negara dan negara jang berperang, bukanlah barang ‘adjaib. Karno seakan2 tertjengang, djika disiplin negaranja, negara pantjasila dilanggar orang, padahal semuanja itu hanjalah merupakan serangan pembalasan belaka. Sebaliknja Karno akan menganggap biasa, djika tentara djahiliyahnja mengindjak-indjak kedaulatan negara lain, melantjarkan agresi kepada negara lain, dan seterusnja. Bandingkanlah dengan keterangan dalam Statement Pemerintah N.I.I. Nomer VI/7, Bab I, angka 3. Lebih landjut harus diketahui, bahwa hukum jang berlaku di negara pantjasila berbeda, berlainan dan bertentangan dengan hukum jang berlaku di Negara Islam Indonesia, tiada titik pertemuan antara kedua matjam hukum itu, laksana “bumi dengan langit”. Herankah kita, djika masing2 pihak mempunjai sikap dan pendirian, faham dan pendapat, filsafat dan haluan negara, jang satu sama lain bertikai ??? 11. A. Karno melihat bajangan malaikat-maut di depan matanja. Dalam pidatonja di Solo tersebut di atas, selain membatjakan beberapa bagian daripada Statement Pemerintah N.I.I., ia pun membatjakan pula sebagian daripada surat Imam N.I.I./ Plm.T. APNII—S.M. Kartosoewirjo, jg. ditudjukan kepada K.U.K.T. I. Huda, berkenaan dengan terdjunnja seorang pedjuang sutji ke medan djihad, asal keturunan Belanda, Ch. H. Van Kleef namanja, jang antara lain2 adalah sebagai berikut: "Hendaklah Saudara suka memberi bantuan kepada Saudara Ch. H. Van Kleef, dimana perlu dan apapun jang diperlukannja, teristimewa sekali jang mengenai hubungan antara orang2 kita dengan orang2 Belanda di Indonesia, dan lebih djauh antara Negeri Belanda dan Negara Islam Indonesia.".......................................... a. Di dalam sual2 Interinsuler (terutama menghadapi Republik Indonesia dan Komunisme di Indonesia), banjaklah garis2 dan titik2 jang boleh membawa kedua belah pihak kesatu arah kerdja-sama jang kuat dan erat. b. Di dalam sual2 Internasional pun tampak pelbagai kepentingan antara kedua belah pihak, terutama djika dipandang daripada sudut kedudukan Indonesia, di tengah2 samudera Pasifik, dan kedudukan blok Anti Komunis meng-hadapi bahaja merah internasional. c. Oleh sebab itu, saja mendapat kesan dan berpendapat: “Djika kerdja-sama antara Bangsa Belanda di Indonesia dan Mudjahidin Indonesia dapat dilaksanakan —lebih djauh “mumkin” kelak antara Peme-rintah Belanda dengan Pemerintah Negara Islam Indonesia—, maka, Insja Allah, akan menimbulkan hasil jang baik dan memuaskan bagi kedua belah pihak, terutama mempertjepat proces perdjuangan kita dan mendekatkan kita kepada maksud dan tudjuan jang sutji”. B. Pendjelasan dan keterangan atasnja dari pihak kami, pihak N.I.I., adalah sebagai berikut: 1) Instruksi Plm.T. APNII-S.M. Kartosoewirjo kepada K.U.-K.T.- I.Huda tersebut, termaktub di dalam surat Nomer 694/KU/52, bertarich 9 April 1952, djam 10.00, beberapa hari sebelum beliau meninggalkan Indonesia, melawat keluar negeri. 2) Dalam surat instruksi tersebut, dinjatakan “garis2 politik luar negeri N.I.I.”, mengenai bangsa Belanda di Indonesia maupun “kemumkinan” hubungan dengan pemerintah Belanda, di masa depan. 3) Adakah haknja N.I.I. untuk menentukan garis politik luar negerinja sendiri, djuga menghadapi pemerintah Belanda dalam sual2 Irian-Barat dan lain2 jang meliputi kepentingan negara seluruhnja? Tentu! Dan pastilah dengan tidak menghendaki kata sepakat atau persetudjuan dari pihak negara pantjasila, musuhnja, bukan? Sedang mengenai sual2 sekitar Irian-Barat, N.I.I. pun telah mempunjai konsesi tersendiri. Lapi pula, “kemumkinan” hubungan ini diawali dengan kata2 “kalau”. Tetapi, Karno dengan pengikut2nja sudah berani lantjang mulut mengatakan, bahwa seakan2 “kemumkinan” dan “kalau” itu sudah mendjadi kenjataan, sedikitnja merupakan perdjandjian antara negara dengan negara (staats verdrag).

Kalau bukan tersorong oleh hati hasud dan dendam, chijanat dan durhaka, tentulah ia (Karno) tidak akan berani memberi kata putus jang pasti, atas barang sesuatu jang ia sebenarnja tidak tahu. Kalau Karno memang laki2 (djantan) —djangankan selaku pemimpin ra’jat jang tahu harga diri, atau lebih djauh sebagai presiden negara pantjasila, jang dianggap orang sebagai “lambang negranja”— tjobalah umumkan dan siarkan dokumentasi dan bukti2 jang njata (aunthentik), bahwa “Kartosoewirjo telah bersekutu dengan pihak atau pemerintah Belanda”!!! Hai Karno pengchianat dan pendjual negara dan agama! Tundjukkanlah ke-laki-laki-an-mu, kedjantananmu! Kami beri tempo (termijn) sampai achir tahun ini. Silahkan! Dan djika waktu diberikan kepadamu telah lampau, padahal kamu tidak dapat memberikan bukti2 jang njata, tidak berani menjiarkan dokumtasi, jang kamu anggap “authentik” itu, maka kamu akan ditjap oleh Ra’jat Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia, sebagai pengchijanat bangsa dan negara, sebagai pendjual agama dan tukang obral berita2 bohong dan palsu, ialah benih2 bahaja dan bentjana bagi sesuatu negara dan masjarakat, jang hanja patut disiarkan oleh anak-tjutju iblis la’natullah! Belum terhitung sebagai musuh Islam, musuh N.I.I. dan musuh Allah! Tantangan kami kepada Karno ini, kami sudahi dengan kata2: “kalau kutjing bertanduk, Karno dapat membuktikan, bahwa Kartosoewirjo bersekutu dengan Belanda!” 4) Selandjutnja, kami ingin bertanja kepada Karno: a) Tahukah Karno dan pemerintah negara pantjasila akan hubungan antara N.I.I. dengan: I. Amerika Serikat; Australia; Inggris; dan lain2 negara, jang tergabung dalam apa jang dinamakan “Dunia Merdeka”? II. Saudy Arabia, Pakistan dan lain2 negara blok Islam? b) Kalau tahu, bolehlah siarkan! Kami menantikan! 5) Kembali kepada Karno sendiri dan negara pantjasila, kami ingin tanja pula: a) Tahukah atau ingatkah Karno apa jang dinamakan “perdjandjian Stikker-Hatta”, jang terdjadi di Bandung pada pertengahan tahun 1949??? b) Kalau kau tahu dan suka menjiarkannja, tentulah kau dan negaramu akan menanggung malu besar! Terutama akan menatidjahkan pemberontakan di kalangan kamu dan negaramu sendiri, tegasnja dalam lingkungan U.I.B.I. dalam kungkungan kekuasaan pantjasila, karena di dalam perdjan-djian Stikker-Hatta tsb., antara lain2 disebutkan: “Bahwa pihak R.I. (kini: R.I.K.) dengan karena kesanggupannya sendiri, minta bantuan alat sendjata kepada pihak Belanda, untuk menghantjurkan pihak N.I.I. dan membasmi Agama Islam”. Rentjana dan perdjandjian Stikker-Hatta ini sudah mendjadi kenjataan, bukan “kemungkinan”, jang diselenggarakannja sedjak Djanuari 1950, beberapa hari kemudian daripada penerimaan daulat hadiyah. Sedang pemberian bantuan sendjata dari pihak Belanda tersebut dimaktubkan didalam naskah K.M.B., seharga f 2.000.000,- (dua djuta rupiah Belanda). 6) Selandjutnja, kawan dan lawan, sudah pula tahu, “apa gerangan sebab dan dasarnja”, “maka kabinet merah Ali-Wongso, jang dibela mati2an oleh Karno, memaksakan negaranja mentjari dan mendapatkan hubungan dengan RRT (Peking), Sovjet Russia (Moskow) dan lain2 negara komunis.” Itu bukan “kemungkinan”, jang bukan pula “bila”, tetapi satu bukti jang njata. Kami tidak heran, kalau RIK mentjari dan mendapatkan hubungan dengan negara2 komunis, dengan kedok (kamuflase) perdagangan, kebudajaan dan lain2 alasan palsu. Karena memang sudah sedjak lama RIK melepaskan “poli-tik bebas dan aktif”-nja, menjeberang dan berdiri disalah satu pihak, berdiri dipihak merah, pihak komunis, pihak penjebar bentjana dunia dan achirat! Oleh sebab itu, maka segala matjam ketjaman dan makian terhadap kepada “garis2 politik luar negeri” N.I.I. jang “notabene” masih dalam taraf “kemum-kinan” dan “kalau”, hanjalah untuk menutupi politik-merahnja negara pantjasila, dan kedjahatan2, jang sudah, lagi atau akan dilaksanakan. 7) Lebih djauh pernjataan2 Karno dalam hubungan ini menundjukkan: a). Bahwa ia telah melihat bajangan hantu disendja-hari, melihat bajangan malaikat pentjabut njawa di depan matanja; b). Bahwa “kemungkinan” dan “kalau” sudah tjukup menjadi alasan dan sebab bagi menggentarkan pantjasila, menakutkan Karno, mengganggu urat-sjarafnja. Sebab, “kalau” N.I.I. sungguh2 sudah memilih pihak, maka Karno dan negara

pantajasilanja boleh “gantung diri”! 8) Dan achirnja, berkenaan dengan garis2 politik luar negeri N.I.I., maka dengan ini kami njatakan, bahwa segala sesuatu jang berkenaan dengan itu adalah tanggung-djawab N.I.I. sendiri, dan bukanlah tanggung-djawab RIK atau negara pantjasila! 12. A. Karno hendak membudjuk Kahar Mudzakkar (mestinja: Abdul-Qahhar Mudzak-kar!) dan Tgk. Muhammad Daud Beureu’eh, dengan utjapan kata2nja jang bera-tjun, dan alasannja jang palsu, serong dan tjurang, merupakan pertanjaan kepada kedua pemimpin N.I.I. itu, berganti2: “Masihkah Saudara tha’at dan simpati kepada Kartosoewirjo jang terang2an telah mengchianati Proklamasi 17 Agustus 1945, dan bersekutu dengan Belanda itu??” B. Tentang serong dan tjurangnja Karno, demikian pula tentang kepalsuan alasan2 jang dikemukakan, kiranja tiada pihak jang masih sehat ‘akalnja akan menjang-sikannja. Darah pengchianat mengalir dalam tubuh dan djantung iblis Karno. Tinggal kita tanjakan kepada ra’jat Indonesia dan Ummat Islam dalam lingkungan pantjasila dan dalam kungkungan dan genggaman kekuasaan pantjasila: Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno, jang (ingin) membawa kamu kearah neraka dunia dan achirat? Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno dan kawan2nja, jang terang2an berchi-janat kepada nusa dan bangsa Indonesia, serta agama Islam? Masihkah Saudara pertjaja kepada Karno, jang terang2an pro-komunis 100%, anti-Islam, anti-N.I.I., dan anti-Allah 100% itu? Inilah kartu terachir (laatste truf) jang dikeluarkan oleh Karno! Kalau dulu, zaman peristiwa-Madiun, Karno berani tjepat2 dan terang2an menga-takan: “Pilihlah: Muso atau Karno!”, maka kini agaknja ia ragu2. Kiranja lebih baik dan lebih manfa’at bagi Ra’jat Indonesia, djika Karno suka dan berani membuat “plebisit pribadi”, seperti jang dilakukan pada zaman Ma-diun di atas, sebagai kelandjutan daripada pertanjaannja kepada Saudara2 AbdulQahhar Mudzakkar dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sementara “plebisit” jang sungguh2 dan sah sepandjang hukum belum dapat dilaksanakan —kini memang masih sepi daripada sjarat-rukun untuk membuat “plebisit” jang sah—, bolehlah disimpulkan dalam kata2: Pilihlah Karno atau Karto! Pilihlah pantjasila atau Islam! Pilihlah negara pantjasila atau Negara Islam Indonesia! Dengan tjara demikian, Insja Allah pada garis globalnja akan segera diperoleh kesimpulan benar atau salahnja “pengakuan dan pernjataan Karno”, bahwa 85% daripada Ra’jat Indonesia masih mengikuti “ideologi” pantjasila dan masih setia kepada pemerintah negara pantjasila; sedang jang 15% lagi —demikian kesan kami daripada pembitjaraan tersebut— masuk dalam lingkungan N.I.I. 13. A. Negara Islam Indonesia (D.I.-Kartosoewirjo, kata Karno) selalu menanti-nantikan petjahnja perang dunia ketiga, dimana mereka (NII) akan merebut kekuasaan (negara pantjasila) di seluruh Indonesia. N.I.I. berusaha akan menjeret Indonesia dalam kantjah perang dunia jang akan datang. Hal ini sangat berbahaja bagi politik bebas (latjur!) dan politik damai (komunis!) dari bangsa Indonesia (negara pantjasila!). Oleh sebab itu, maka N.I.I. adalah bahaja jang amat besar bagi R.I.K. jang datang dari dalam, jang karenanja harus segera dibasmi hingga akar2nja. B. Tentang taktik perdjuangan dan sijasat perang kita kiranja tidak perlu diperbin-tjangkan di sini. Sesungguhnja bukan hanja pihak N.I.I. sadja jang menanti2kan meletusnja perang dunia ketiga itu, dengan perhitungan jang tentu2, melainkan lebih2 lagi pihak komunis, jang pada masa itu ingin melaksanakan rentjananja, men-sovyet-kan Indonesia dan memper-komunis-kan ra’jatnja. Sebaliknja, RIK alias negara pantjasila, nistjajalah brepikir dan berpendapat sebaliknja. Dengan takut dan chawatir ia (RIK) melihat perkembangan dunia internasional sekarang ini, jang kian hari kian bertambah mendekati kepada putjuk krisis jang tertinggi. Lihatlah: berlomba2nja tiap2 negara (besar) dalam persendjataan jang amat berbahaja, jang boleh menjebabkan pembunuhan manusia setjara besar2an —atoom, hydrogeen dan lain2 sebagainja —!

Belum peralihan, pergeseran dan gerakan militer, kesibukan politik dan diplo-masi, kesibukan dalam tiap2 lapangan lainnja, terutama dalam djurusan apa jang dikatakan “pertahanan bersama.” Inilah sa’at jang ditakuti oleh Karno dan kawan-kawan pengikutnja! Selain daripada itu, perbedaan kepentingan dan keperluan selaku negara menim-bulkan sikap dan pendirian jang berlainan dan berbalikkan antara N.I.I. dan RIK. Kalau RIK berpendapat, bahwa N.I.I. adalah “bahaja” bagi RIK, maka sebaliknja pun demikian pula: 1) pantjasila dan negaranja merupakan bahaja dan bentjana bagi N.I.I., Islam dan Ummat Islam di Indonesia; 2) adanja negara pantjasila di tengah2 ummat dan masjarakat Islam di Indonesia merupakan “duri dalam daging”; 3) hidup dan berkembang-biaknja hantu2 merah di dalam hati, djantung dan darahnja negara dan pemerintah pantjasila, makin menambah besarnja bahaja dan bentjana jang mengantjam2 ra’jat dan Ummat Islam di Indonesia; dan seterusnja. Demikianlah selandjutnja, tentang tuduhan2 lainnja seperti “mengchianati proklamasi 17 Agustus 1945”, “musuh negara pantjasila kemerdekaan Indonesia” dan lain2 sebagainja, samalah halnja dengan apa jang tertera di atas. 14. Praktis “negara pantjasila” adalah “negara komunis”. Pendapat ini telah berkali2 dikemukakan oleh pihak N.I.I. Periksalah: Statement Pemerintah dan Manifest Politik N.I.I. jang bersangkutan! Dalam pidatonja pada 10 Nopember 1953 di atas, dengan tjara tidak langsung (indirect), Karno mengakui kebenaran pendapat kita itu. Di samping tjatji-makian dan tjertja-tjelaan jang diluntjurkan daripada mulutnja, maka Karno tidak melahirkan sepatah katapun, jang merupakan sangkalan dan ban-tahan atas pendapat kita itu. Bahkan sedjak lebih dari setahun jang lalu, ia edjah: R.I.K. = er-ie-ka = republik indonesia komunis. Pernjataan ini tidak hanja disaksikan oleh para pendengarnja, kawan dan lawan, di seluruh Indonesia, melainkan djuga diketahui dan ditjatat oleh pihak luar negeri, pihak internasional. Lebih2 lagi, bila kita menelilti “penindjauan, perkundjungan resmi atau tidak resmi” di beberapa bagian di Indonesia, jang dilakukan tidak hanja oleh duta2 atau duta2 besar luar negeri jang ada di Indonesia, melainkan djuga oleh politici penting luar negeri, seperti R. Nixon, Wakil Presiden Amerika Serikat, Mac. Donald, Komisaris Djenderal Inggris di Asia-Tenggara dan lain2 lagi. Masihkah ada manusia jang sjak, bahwa “negara pantjasila” kini praktis sudah berwudjudkan “negara komunis”? 15. Karno membuat demarkasi politik dan ideologi. Dengan pidatonja jang menggelora itu, maka Karno telah membuat dan meletakkan demarkasi politik dan demarkasi ideologi, walaupun di sana-sini masiih diselubungi dengan kata2 jang halus, tapi tjukup dimengerti oleh tiap manusia jang agak sehat dan tjerdas pikirannja. Dengan ini, maka tampaklah dengan djelas dan terang: 1) djurang jang tjuram-dalam, jang memisahkan antara pihak Negara Islam Indonesia dan negara pantjasila. 2) garis pemisah antara golongan jang pro-komunis dan antii-komunis, dalam ka-langan ra’jat dan Ummat Islam di dalam lingkungan negara pantjasila; 3) perpetjahan besar dan ketjil, jang terdjadi di dalam tiap2 lapisan masjarakat Indonesia, tidak terketjuali dalam lingkungan Islam. Adapun sambutan kita atasnja dengan ringkasan: “Bagimu pantjasilamu, dan bagi kami Islam kami!” Bagimu negara djahiliyahmu, dan bagi kami Negara Islam Indonesia kami”! Dan seterunja. Sesuai dengan Firman Allah dalam Surah Al-Kafirun: “lakum dinukum walijadien” (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku). 16. Semoga Allah tetap berkenan memelihara dan memperlindungi setiap Mudjahid, dalam lingkungan N.I.I. maupun di luarnja, daripada tiap2 goda dan tjoba, fitnah dan aniaja, bahaja dan bentjana, hasud dan chijanat, dengki dan murka, jang dite-bar2kan dan dihambur2kan oleh anak-tjutju iblis la’natullah dan sahabat2 djadjdjal jang terkutuk itu. Dan selandjutnja, semoga Ia berkenan pula lebih mendekatkan dan segera mentjam-paikan kita sekalian kepada satu2nja maksud dan tudjuan sutji: Dlohirnja Keradjaan Allah, berdirinja Negara Kurnia Allah, dan tegak-teguhnja Negara Islam Indonesia, di tengah2

Ummat dan Masjarakat di Indonesia. Insja Allah. Amin. 17. INTAHA. M.B.S, 19 Nopember 1953. Wassalam, Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, Atas nama Panglima Tertinggi; KUASA-USAHA: I. HUDA

bantahan berkenaan dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schimdt Jungschlaeger cs.
STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA

TENTANG: Sikap (reaksi), bantahan dan sangkalan Negara Islam Indonesia terhadap tipu-muslihat R.I.-1950, berkenaan dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schimdt Jungschlaeger cs. Oleh: ANGGAUTA KOMANDEMEN TERTINGGI A.P.N.I.I., Djenderal Major T.I.I.: DJAJASAKTI.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM 7 AGUSTUS 1949: PROKLAMASI BERDIRINJA N.I.I. Assalmu ‘alaikum w.w., BAGIAN I: KALAM AWAL

Alhamdu lillah wa Sjukru lillah.....Allahu Akbar! Segala Pudja-Pudji serta Sjukur hanjalah dipersembahkan kehadirat Allah, Dzat Maha Tunggal, Dzat Maha Kuat-Kuasa, Jang senantiasa dan selalu membimbing, menun-tun, meimpin, mengasuh, melindungi, mendjajakan dan memenangkan serta melimpah-tjurahkan Ni’mat-Nja atas para Mudjahidin, chususnja Angkatan Perang Negara Islam Indonesia, di dalam mempersembahkan dharma bakti-sutjinja kepada-Nja (Allah) sema-ta: berdjihad di-Djalan Allah, berperang li i’lai Kalimatillah serta menggalang dan men-dukung Negara Kurnia-Nja, Negara Islam Indonesia! Semoga berkenanlah kiranja Ia (Allah), Dzat Jang Menentukan segala sesuatu, mengantar dan menjampaikan “bachtera mutawasithoh”-N.I.I. dengan selamat-se-djahtera-sempurna, lahir-bathin, kebandar Darul-Fatah dan Darul-Falah, duniaachirat, di dalam waktu jang tidak lama lagi! Demikianlah hendaknja! Insja Allah! Amin, Ja Mudjibas-sailin............!!! Sjahdan, maka sudah lebih-kurang 2 tahun lamanja masjarakat ramai, chususnja di Indonesia dan di Nederland, umumnja diseluruh dunia, telah digemparkan oleh suatu perkara jang bersifat politis-kriminil jang serba sensasionil dan tendentieus, dimana terlibat beberapa puluh orang Belanda, jang pada lebih-kurang achir tahun 1953 ditang-kap oleh Polisi R.I., terutama di-ibu-kota propinsi Djawa-Barat, BANDUNG. Mula pertama, hal dan sual itu, tidaklah begitu mendjadi perhatian kita (N.I.I.), sebab hal dan sual tersebut, bukanlah urusan Negara Islam Indonesia. Akan tetapi, ke-mudian ternjata, bahwa di dalam perkara itu (Schmidt, Jungschlaeger cs) NEGARA ISLAM INDONESIA, Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, beserta Pe-mimpin-Pemimpin N.I.I. lainnja, senantiasaa dan selalu dibawa2 dan ditjemarkan! Oleh karena itu, maka mau atau tidak mau, kita terpaksa memperhatikan perkara itu dengan sepenuhnja dan mengikutinja dengan seksama! Selama itu, dengan sengadja (met opzet), kita biarkan proces itu berdjalan dulu, sebab ingin mengetahi sampai dimana dan bagaimana usaha2 R.I.-“1950” membawa2, menjangkut-pautkan, mentjemarkan dan menodai Negara daan Pemimpin2 kita, di dalam perkara itu. Kini, sa’atnja sudahlah kita anggap tiba! Sebab, kita anggap sudah tjukup “keterlaluan”, luar, keluar dan di luar daripada batas-kepatutan, bahkan sudah sampai kepada taraf “kurang adjar”! Djadi, djika kita (N.I.I.) sekarang menjatakan segala sesuatu jang bertalian dengan perkara Schmidt-Jungschlaeger cs. — dan dengan begitu, walaupun tidak langsung, ikut “tjampur-tangan” di dalamnja —, bukanlah karena apa2, melainkan hanjalah “karena Allah” semata2, mengingat kewadjiban kami, baik terhadap Agama Islam, Negara Islam Indonesia, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan para Mudjahidin Indonesia sendiri pada chususnja, maupun bagi masjarakat dunia pada umumnja. Tegasnja, hendaklah masjarakat-chalajak-ramai, di dalam dan di luar Indonesia, memahami dan meninsafi sepenuh2nja (ten volle), bahwa maksud usaha kami ini, semata2 ditudjukan kepada hadjat untuk: a. Mendudukkan haq (recht, right), kebenaran (waarheid, truth) dan ke’adilan (gerech-tigheid, justice) pada tempatnja. b. Meluruskan pandangan dan pendapat umum, jang sudah dengan sengadja “dibeng-kokkan” dan “diperkosa” (verwrongen en verkracht!) oleh R.I., terhadap kebersihan dan kesutjian perdjuangan Negara Islam Indonesia! c. Mendjaga, memelihara, mempertahankan serta membela integriteit dan kehormatan (eer) Imam dan Pemimpin2 Negara Islam Indonesia lainnja! BAGIAN II: SEDJARAH (HISTORIE) SINGKAT INDONESIA dari 17 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1955 A. Kekuasaan Belanda-kolonial Contra R.I. -1945 dan Peranan Ummat Islam Bangsa Indonesia. 1. Seperti umum telah mengetahui dan menjaksikan dengan mata kepala sendiri, maka Revolusi Nasional Indonesia, jang dimulaikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah memperoleh dukungan terkuat dan terbesar dari Ummat Islam Bangsa Indonesia. Beratus2, beribu2 para Pemuda Islam Indonesia beserta orang tuanja mengerahkan segenap harta, djiwa dan raganja untuk menjelesaikan Revolusi Nasional tersebut.

Ingatlah bantuan jang sangat berharga —umpamanja— dari Ummat Islam di Atjeh kepada Pemerintah Republik Indonesia Dlarurat dulu! Lihatlah dan kenangkanlah tenaga pasukan2 bersendjata para Pemuda Islam ketika melakukan perlawanan terhadap usaha2 pendjadjahan, ketika meletus pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaja! Djuga di Bandung ! dan dilain2 tempat diseluruh Indonesia! Sesungguhnja, pelopor penggempur jang menghantjurkan gerombolan2 Komunis di Madiun, adalah Patriot Islam, Lasjkar Islam, jang pada waktu itu dinamakan Lasjkar2 Hizbullah, jang masuk formasi T.N.I., misalnja: Kesatuan Bataljon 426 dan lain2 kesatuan Bataljon Hizbullah! Betapakah hebatnja tentangan Ummat Islam (jang dipelopori oleh Masjumi) pada ketika Naskah Linggar djati ditandatangani! Dengan lahirnja Naskah Renville, pada tanggal 17 Djanuari 1948, maka Ummat Islam Bangsa Indonesia, chususnja jang berada di Djawa sebelah Barat, ditinggalkan oleh para pemimpin2 dan “djago2”-Nasional; lari ... dan mengungsi —bukan “hidjrah”!— ke Djokja....!!! 2. Mereka —chususnja Ummat Islam Bangsa Indonesia di Djawa sebelah Barat itu— diserahkan begitu sadja, dengan mentah2 (zo maar zonder meer!) kepada (“willek-eur”-nja!) Belanda-pendjadjah, seakan2 hiduup sebatang kara, menghadapi musuh2-nja jang ganas dan kedjam: serdadu2 dan alat2 pemerintah djadjahan Belanda.........!!! Meskipun demikian, mengingat akan tugas dan kewadjibannja, menunaikan Perintah Allah S.W.T. semata, ja’ni: memenuhi panggilan-sutji, djihad fisabilillah, li-i’lai Kalimatillah, maka sedjak tanggal 17 Februari 1948 meletuslah “RevolusiIslam”, jang dimulaikan di Gunung Tjupu, suatu tempat di Kabupaten Tjiamis (Priangan-Timur), Djawa-Barat! Madju.......melawan dan menangkis serangan2 serdadu2 Belanda dan kaki-tangannja! Alhamdulillah dan Allahu Akbar ! Darah-sjuhada mengalir membasahi bumi Allah Indonesia, sebagai kurban dan tanda-baktinja kehadlirat Chaliqul-’Alamin............! Tapi, darah-musuhpun mengalir, bahkan berlipat-lipat ganda banjaknja, sebagai hukuman dari Dzat Jang Maha ‘Adil atas segala dosa dan keangkara-murkaannja......! 3. Dalam pada itu, pemimpin2 dan “djago2”-nasional jang ada di dalam “kurungan”-Djokja, berfoja-foja terus dan hanja “menonton-tanpa-membajar” serta mendengar-kan dari djauh........!!! Ringkasnja, pada tanggal 18/19 Desember 1948, “kurungan”-Djokja diserbu oleh tentara Belanda, hingga berantakan...!!! Pemimpin2 dan djago2-nasional-tjabang-atas dengan “tangkas dan tjepatnja-laksana-kilat”.....mengibarkan bendera putih.......!!! MENJERAH dan DITAWAN.....!!! Sungguh suatu hal dan peristiwa jang memilukan dan menjedihkan hati.....! Sungguh suatu perbuatan jang nista dan hinadina....! Sungguh suatu perbuatan jang memalukan, “ngawirangkeun” (bhs. Sunda).....! Dan, ....hal, peristiwa serta kedjadian tersebut, di-”pelopori” oleh “pemimpin dan djago besa” Soekarno, jang pada waktu itu —sebagaimana “kesukaannja-jang-biasa”!— ber-uniformkan “Panglima Tertinggi”.......! For shame......!!! “Djago”-besar-Soekarno, jang lebih “ichlas”, jg. lebih “ridla”, jang lebih suka dan jang lebih “seneng”: menjerah dan ditawan oleh musuh daripada “memimpin-gerilja”.....!!! “Djago”-besar-Soekarno —“djago” di atas kertas dan di muka microfoon?!— jang lebih “ichlas “, “ridla” dan “seneng”(!): menjerah dan ditawan serta dibuang ke Prapat, kemudian ke Bangka, sambil dengan enak2 memakan mentega dan kidju serta meminum susu, jang diterima dari sih-kurnianja sang cipier-Belanda, terasing dan djauh dari rakjat-berdjuang, daripada “memimpin gerilja-sambil-mema-kan-batu” bersama2 dengan dan di tengah2 rakjat....!!! Tableau........!!! Sungguh, sekali lagi, suatu hal, peristiwa dan perbuatan jang memilukan, menjedih-kan, nista, hina-dina dan memalukan serta menurunkan dengan sekaligus, harkat-deradjat Negara dan Bangsa Indonesia......!!! B. R.I. - 1945 gugur (6 Agustus 1949) Proklamasi Negara Islam Indonesia ( 7 Agustus 1949) Selandjutnja, sedjarah mentjatat beberapa peristiwa lagi jang penting, a.l.l.: a. Statement Rum-Rojen, 5 Mei 1949 (compromis!), disusul dengan “Cease-Fire” dan .....”Trace-baru”, jang —tentunja!— didjagoi (lagi) oleh bung Karno.......!!!

b. Moh. Hatta cs. meninggalkan tanah-air Indonesia, berangkat, terbang, menudju ke Nederland —Den Haag—, (hendak) menghadiri “Konperensi Medja Bundar” dan .....(hendak) mengubur (begraven) “Republik Indonesia-Proklamasi 1945”....! Tegasnja: R.I.-Proklamasi 1945 (hendak) digugutkan dan dihapuskan serta diganti dan didjadikan suatu “negara bagian” (deelstaat) dari “Republik Indonesia Serikat” (R.I.S.), tjiptaan v. Mook & Beel cs. Dan, dengan demikian, sama sadja statusnja dengan “negara2-boneka” lainnja tjiptaan V. Mook, seperti Pasundan, Djawa-Timur, Madura, N.I.T., dan lain2nja! Tanggal pemberangkatan Moh. Hatta cs., adalah: 6 Agustus 1949! NOOT: Hendak dan haruslah ditjatat tanggal 6 Agustus 1949 ini dengan baik2, Ja’ni! tanggal “mati”-nja R.I.-Proklamasi 1945! Memento Mori.. A.D. 6 Agustus 1949! c. “Penjerahan”-kedaulatan (souvereiniteits-overdracht) dari Keradjaan Nederland kepada Republik Indonesia Serikat (R.I.S.) —bukan dan tidak kepada R.I.—”tjiptaan-1950"! 27 Desember 1949. NOOT: Istilah (term) “penjerahan” (overdarcht) hendak “selalu” diputar-balikkan mendjadi “pengakuan” (erkenning) dan/atau hendak “selalu” di-”sunglap” mendjadi “pemulihan” (herstel)! Jang di dalam hal ini, —sudah barang tentu lagi!—, bung Karno-lah jang “ingin” sekali (men) jadi “tukang sunglap-jang terbesar”........!!! Berhubung dengan peristiwa2 tersebut di muka tadi, dan dengan ‘amal (daad) “pemberangkatannja Delegasi Hatta, pada tanggal 6 Agustus 1949 ke Nederland itu”, sebagai “finishing touch”-nja, maka pada tanggal 7 Agustus 1949 dila-kukanlah Proklamasi berdirinja Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia oleh Imam S.M. Kartosoewirjo, atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia!!! Alhamdu lillah........ALLAHU AKBAR ! Hanja karena mengingat kehendak dan kemauan Ummat Islam Bangsa Indonesia djua! Hakikatnja, hanja karena Perintah Allah semata! Baiklah djuga di sini diperingatkan dan hendaklah pula difahami, bahwa Proklamasi NII tersebut di atas, adalah dan merupakan hak asasy (fundamenteel recht, fundamental right) daripada U.I.B.I., sebagai letupan djiwa U.I.B.I., sebagai manifestasi dan realisasi daripada pengharapan sutji dan du’a U.I.B.I. ! C. Tentara Islam Indonesia centra kekuasaan Belanda-kolonial dan gerombolan tentara-liar dari ex-R.I.-1945 (Perang Segi Tiga) Di tengah2 menghebat-dahsjatnja perlawanan T.I.I. terhadap Belanda-pendjadjah, maka tiba2 datanglah penggempuran2 TNI, (gerombolan dan tentara liar), jang datangnja dari djurusaan Djokja, masuk kewilajah Djawa-Barat. Penggempuran2 (agressi) TNI —jang sifat-thabi’atnja hanja dapat berlaku serta ber-tindak “gagah-dan berani” kepada saudara2 dan bangsanja sendiri!— ini, dimulai pada tanggal 25 Djanuari 1949, jang kita anggap sebagai pelaksanaan daripada “konsepsi—Stikker-Hatta”. (Nopember 1948), di dalam konsepsi mana dengan djelas dan terang-njata ditjantumkan: “kerdja-sama” dan “bersama-sama” (samen werking en gezamenlijk) antara R.I. (T.N.I.) dengan Belanda (K.L., K.N.I.L. enz.) di dalam menghancur-binasakan “Pasukan2 Islam”, c.q. Tentara Islam Indonesia, jang melawan kepada Belanda-pendjadjah....! Hari itulah (25 Djanuari 1949), Insja Allah, akan tertjatat di dalam sedjarah Indonesia, sebagai “Hari-Perang-Saudara”! D. Republik Indonesia Serikat Contra Negara Islam Indonesia. 1. Serangan2 dan penggempuran2 dari pihak T.N.I. terhadap T.I.I., lebih2 diperbesar serta diperhebat, setelah T.N.I. “dengan resmi” —paling achir dengan melalui K.M.B.— mendapat tambahan sendjata dari Belanda; tegasnja, setelah T.N.I. dipersendjatai dengan lengkap oleh Belanda (sic!)!!! Bukan sadja jang merupakan alat2 sendjata, akan tetapi djuga tenaga-manusia (manpower) dan...”brains” (pelatih2).......!!! Bekas-anggauta2 KNIL dimasukkan dalam formasi TNI dengan diberi kenaikan pangkat jang “melompat-lompat” disertakan gadji jang besar2.....!!! Demikian pulalah keadaannja di dalam Angkatan Laut dan Udara; alhasil, disemua Angkata Perang, jang pada waktu itu diberi nama “bagus”: “Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat” (APRIS)...!

“Brains”, pelatih2, didatangkan dari Nederland, jang terkenal dengan nama “Nederlandse Militaire Missie” (NNM) atau “Misi Militer belanda” (NMB)....!!! 2. Sedang.... sedang TNI-”asli”-pedjuang-1945...harus menghadapi dan mengalami operasinja “pisau-re-ra”= reorganisasirasionalisasi....(atau “pisau-rara”??? --“rara” bhs. Belanda!--), jang “ampuh nan batuah” itu.....!!! Ada (banjak) jang “disembelih” sekali, disuruh menanggalkan pakaiannja, uniform-nja-jang-revolusioner (aduh) .... disuruh pulang-kembali ke masjarakat, dengan istilah (jang bagus djuga!): “didemobiliseer”......!!! Laksana “habis manis, sepah dibuang”......!!! Pulang.... dengan diiringi suara nan merdu: “Tenaga saudara2 dibutuhkan di lapangan lain, di lapangan “pem-bangunan”, jang tidak kurang ertinja bagi menjelesaikan revolusi-nasional.....!!!” Dan hingga kini nasib mereka, para demobilisanten itu, masih terkatung-katung. NOOT: Kepada para demobilisanten jang dulunja revolusioner itu, seluruh anggauta Tentara Islam Indonesia dengan hati jang terbuka, ingin menjatakan terharunja dan ikut merasakan (meeleven) ...! Tapi, ma’aflah, sementara ini, belum dapat berbuat dan berkata apa2, hanja: “sabarlah..... tunggulah...! Mudah2an kelak ada perubahan dalam nasib Saudara2. “Bukankah ada peribahasa jang mengatakan: “Ada waktu datang, akan tetapi ada pula masa jang lalu” (Er is een tijd van komen, maar er is ook een tijd van gaan)....?! Maka oleh karena itu, sekali lagi, “sabar dan tunggu-lah.........!!” Ada (banjak) jang “dipotong” (geamputeerd) oleh pisau “re-ra” itu, ja’ni tetap dalam formasi (TNI), akan tetapi pangkatnja diturunkan.....!!! Maka, dengan kenjataan (feit) ini, —“fusie”, “unie” TNI-KNIL dll. Alat-pendjadjah-Belanda!—, beralih T.N.I. dari “Tentara Nasional Indonesia” mendjadi “Tentara Nederlands-Indie”.....!!! (atau “Tentara Nica Indonesia/Inlander?”) Istilah2 “militer”, “tangsi”, “Belanda-Hitam” (ma’af: “belanda-hitam” —tjukup dengan “huruf ketjil”—), dan “nica”, sudahlah tidak asing lagi di kalangan rakjat.....!!! Istilah2 mana itu ditudjukan kepada T.N.I. atau/dan jang bersangkutan dengannja! Hal ini —anggapan dan djulukan rakjatdjelata itu— memang diketahui oleh T.N.I.!!! 3. Serangan2 dan penggempuran2 TNI setjara besar2an, jang dimaksudkan di atas tadi, dilantjarkan sedjak awal bulan Djanuari 1950; djadi, hanja beberapa hari sadja setelah “penjerahan” ( —ingat: bukan “pengakuan” dan/atau “pemu-lihan”! — ) kedaulatan........!!! Dengan demikian, berertilah, bahwa sebelumnja “daulat-hadiyah” itu “dikur-niakan” (27 Desember 1949), maka TNI dengan “diam2” sudah dipersiapkan (voorbereid) oleh dan dengan bantuan Belanda-pendjadjah! Mungkin djuga, diiringi dengan du’a serta harapan, mudah2an “ajam-djagonja” (atau “dombanja?!), dapat mengalahkan dan menghantjur-binasakan seluruh kekuatan Tentara Islam Indonesia dan alat2 N.I.I. lainnja dengan sekaligus, jang ia (Belanda) sendiri tidak dapat, tidak sanggup dan tidak mampu melakukan-nja........!!! Tegas-djelasnja: dengan-djalan dan tangan lain.......!!! 4. Alhamdu lillah wa Sjukru lillah, “du’a dan harapan” itu tidak mendjadi kenjataan, tidak terbukti....!!! Tentara Islam Indonesia dan alat2 N.I.I. lainnja, dapat bertahan, bahkan dapat memberi pukulan2 kembali, hingga kian lama kian bertambah kuat dan besar......!!! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat Allah Jang Maha Murah lagi Maha Asih serta Tolong dan Sih-Kurnia-Nja djua! Kepada “panglima-tertinggi-Soekarno”, pada kesempatan jang baik ini, ingin djuga kita menjatakan diperbanjak terima kasih atas “kiriman dan pemberian” sendjata2, di antaranja banjak sekali jang “modern”, sendjata2 mana lengkap dengan memakai tanda serta tjap “J” (Juliana) dan “KNIL”, beserta nomornja sekali.....!!! Sekali lagi: terima kasih dan Alhamdu lillah. Walaupun, dalam hal ini —“kiriman dan pemberian sendjata2 itu”!—, tidak dilakukan dengan “suka-rela”, “ichlas” dan “seneng” hati.......!!! E. Republik Indonesia Serikat di-”Sunglap” mendjadi R.I. -1950. 1. Marilah sekarang kita “meneropong” R.I.S., hasil persetudjuan K.M.B., dari dekat. Selain dari “penjerahan kedaulatan”, maka dari sekian banjaknja keputusan2 terda-patlah sedjumlah clausules jang “mengikat” R.I.S., terutama dalam lapangan ke-uangan dan ekonomi.......! Merdeka, tapi “diikat” (gebonden)......! Bebas, tapi tidak lepas........! Walaupun pada waktu itu digembar-gemborkan —terutama oleh propagandist-besar-Soekarno—, bahwa penjerahan kedaulatan tersebut dilakukan dan diterima tanpa sjarat, njata dan komplit...! Unconditional, real and complete.....!!!

Memang, “enak” didengarnja dan memang demikian pulalah “maunja”, akan tetapi, kenjataannja: a. Apa persetudjuan keuangan dan ekonomi itu? b. Apa “Unie” Belanda-Indonesia itu? c. Mana Irian Barat? Hal ini, —tidak “unconditional”, tidak “real” dan tidak “complete”— memang sudah kita (NII) duga dan perhitungkan terlebih dulu! (periksalah tanggal Proklamasi berdirinja NII!). Belanda bukanlah “anak-kemarin”! Dalam soal kolonialisme dan imperialisme, termasjhurlah namanja, masuk “kelas satu”........! Dan Belandapun tahu dengan siapa ia berhadapan.....!!! Oleh karena itu, mesti ia (Belanda) mempunjai “controle middelen” dan di antaranja adalah: Irian Barat (Pardon! Kini: West Nieuw Guinea!) Walhasil, setelah RIS lahir, setelah Dunia-Luar mengakui “daulat-hadiyah”, maka pemimpin2 RIS merasa dirinja “kuat”. “Djago2”-Republikeinen, “djago2”-Kesatuan (Unitarisen) tampil kemuka, madju ke depan, “ingin” mendjadi dan disebut “patriot 100%”, “patriot 24 Karat” atau “unitaris-tulen”.........! Bukankah sekarang tiba sa’atnja........! Bukankah sekarang datang kesempatan jang baik.........! Kemudian dengan “gaja-jang-gagah-berani” disertai “suara-nan-lanang”: “Hapuskan Serikat”....! Ganti dan djadikanlah Negara kita “Negara Kesatuan” kembali! Dan, dengan melalui “usul-integraal-dari-Natsir cs.” jang dibanggakan itu, maka “tertjiptalah”: R.I.-1950 (15 Agustus 1950) lengkap dengan “Undang-Undang-Dasar”-nja jang sementara! RIS dihapuskan dan bersamaan dengan itupun UUD nja (RIS), dengan setjara “unilateraal” sekali......! Bagus dan Bravo.....!!! Hebat djuga ! Maka dengan itu pun, dengan sekaligus “Pacta sunt servanda” ditjoret dari kamusnja djago2 dan pemimpin2 R.I.-1950......!!! “Pacta sunt servanda” itu, adalah untuk orang lain........!!! Dalam pada itu, “Hukum actie dan reactie”, masih berlaku di’alam jang fana ini, Sajang.....! Sebab, dengan tindakan jang gagah dan hebat dari para “djago2” Repu-blikeinen dan unitariseen itu, maka Belanda, dengan “k-a-l-m”, memasukkan Irian Barat kedalam wilajahnja, jang “de facto” memang dikuasainja, mendjadi bagian daripada “Het Koninkrijk der Nederlanden”, djuga dengan setjara “unila-teraal”.....!!! Mendjaga agar “tidak lupa”, maka ditjatatlah kedjadian itu oleh Belanda di dalam “Grond-Wet”nja, dengan nama: WEST NIEUW GUINEA. Sajang....... Sajang.......!!! Kalau boleh kita sajangkan! Djago2-Republikeinen/Unitariseen, memang “pintar”, “litjin” dan “litjik” (?), tapi sajang, kurang tepat “timing”-nja! Kalau sadja, agak sabar sedikit.... dan tidak terburu nafsu.......!!! Tapi, jah, “nasi sudah mendjadi bubur”................!!! Dalam pada itu, dengan “suara jang menggeledek” laksana hendak “membelah angkasa”, maka didjedjal-djedjalkanlah kepada rakjat, bahwa R.I. 1950 itu adalah (sama dengan) R.I.-1945....!!! NOOT: Bagi kita, N.I.I. bagaimana pula diputar-balik dan bagaimana pula hendak “disunglap” tetaplah ia itu: R.I.-1950, R.I. ala KMB! Bukan dan tidak: R.I.-”asli”, R.I.-1945...! “Pakaiannja”, “badjunja” memang (ber)ganti, tapi isi dan wudjudnja adalah: RIS (KMB!). Buktinja? Unie Belanda-Indonesia, perdjandjian keuangan dan ekonomi serta lain2 perdjandjian/persetudjuan jang merugikan Negara dan Rakjat (Bangsa) masih tetap ada dan berlaku.....!!! Djadi, bagaimanapun pula dipakaikan pantolon-wool, colbert-tricot, dasi-sutera, tepi “Chaplin”, sepatu-Robinson, minum serutu “Karel I” serta pakai tongkat..”monjet”, jah, tetaplah “monjet” djuga namanja...bukan “ma-nusia”..!! (Al draagt een aap een gouden ring, het is en blijft een lelijk ding!). Sementara itu, ajam sudah beberapa kali ber-”krujuk” pada “fadjar-menjingsing”—1951, 1952, 1953, 1954, 1955 (dan beberapa hari lagi 1956)......, tapi “kekasih” Irian Barat (Pardon! Kini: West Nieuw Guinea) ta’ kundjung datang.........!!! Walaupun sudah amat “gandrung”(!) sekali ........!!! Bung Karno teh gandrung, gandrung.....ke Irian Barat........! Masja Allah...........! Lagu “Gandrung-Irian”, entah untuk berapa kalinja, didengungkan melalui radio, dengan suara jang “lengas-leungis”, tapi West Nieuw Guinea masih dan tetap “dikekepi” oleh Belanda......!!! Poster2 dipasang, berteriak, mata-melotot, kepalan diatjungkan keawang-awang (dan dimasukkan ke/didalam saku!), Biro

Irian didjelmakan, akan tetapi sudah sekian tahun ... masih “sabar”, sebab katanja “ingin dengan setjara damai”..... Amboi.......!!! Sesungguhnja, bukanlah “sabar”, bukanlah “ingin dengan setjara damai”, akan tetapi, dengan terus-terang sadja, tidak ada kesanggupan, tidak ada kemampuan dan tidak ada keberanian lahir-bathin untuk merebut Irian Barat alias “West Nieuw Guinea”.....! Bagaimana utjapanja salah seorang pemimpin India jang selalu di-”citeer” dan dika-gumi oleh “djago”-besar-Soekarno di dalam pidato2nja di hadapan rakjat-banjak??? “Djangan mengemis-ngemis, djangan meminta-minta......, tapi.................!!! Sorry, bung Karno, dengan pidato2, dengan kepandaian “men-citeer2” sadja, pasti Irian Barat tidak dapat djatuh begitu sadja “kepangkuannja-ibu-pertiwi”...............!!! Apakah bung Karno memang —mengingat “kepandaiannja” sebagai “tukang-sunglap-jang besar”!— mempunjai pengiraan dan anggapan, bahwa Irian Barat itu boleh dan dapat disamakan dengan “duren jang sudah masak (matang)”.........?! NOOT: N.I.I., sesungguhnja, sudah “gandrung”, sudah “ingin sekali”, bahkan su-dah “amat rindu-pangkat sekian”, mendengarkan “djago-besar” bung Karno (dan tentaranja!) mengtjapkan —dengan suara jang menggeledek itu!— kata2: “keblinger”, “bandel”.....dan....”biarlah mulut2 bedil dan meriam jang sekarang disuruh berbitjara”, ...tapi (sekali ini!) jang ditudjukan kepada Belanda (dalam soal Irian Barat jang di-”kekepi”-nja, jang didudukinja —sic!— selama sekian tahun itu!)! Tapi, kiranja kegandrungan, keinginan jang sangat dan kerinduan jang kesekian pangkatnja dari NII itu, tidak akan, tidak mungkin dapat dipenuhi oleh dan mendapat “balasan” bung Karno berserta “ajam2-djogonja”, angkatan perangnja..............!!! Sebab, membatja, mendengar, melihat dan mengingat sifat-thabi’atnja, “mentalitet’-nja (!), jang hanja “gagah dan berani” kedalam, kepada saudara2— dan bangsanja sendiri! (Tentara Islam Indonesia). Sehingga seluruh kekuatannja, seluruh angkatan perangnja, baik didarat, diudara maupun dilaut dikerahkan, jang nota bene sebagian besar daripada kekuatan2nja (sendjata2nja) itu diperdapat dari dan dilengkapi oleh Belanda, dengan siapa suadara2 dan bangsanja itu—Tentara Islam Indonesia! —telah mengadu kekuatan (17-2-1948 s/d 27-12-1949)...!!! Bahkan sedemikian rupa kegagahan, keberanian- dan ke-”laki2annja daripada angkatan perang R.I.S./R.I.-1950, sehingga tidak lagi memperdulikan “aturan2 perang orang dan manusia jang beradab”....; tegasnja; ganas dan kedjam....di luar perikemanusiaan.........!!! Tapi, kalau menghadap “ke luar, sifat-thabi’atnja: aju, lunak; pengetjut, penakluk”.......!!! Tidak kurang dan tidak lebih, demikianlah keadaanja jang sewadjarnja!!! Tjoba dan silahkan bantah pernjataan kami ini!!! Djangan dengan kata2, tapi dengan perbuatan jang njata (daadwerkelijk)! Tjoba! Dalam “Noot” ini, baik djuga dinjatakan, bahwa: Djenderal Spoor mening-galkan dunia jang fana ini, dengan perasaan puas (hati), dengan senjum-simpul jang menghiasi bibir-nja! Dan, Kolonel Van Langen —kepada siapa bung Karno cs. menjerah dan terus ditawan!— dengan hati jang penuh duka-tjita, sambil mengeluarkan “air-mata-buaja”!), harus meninggalkan Indonesia......! Jang kemudian, guna “menghibur dan melipur hatinja”, ia, Kolonel van Langen, dinaikkan pangkatnja mendjadi Djenderal Major. Kenapa jang satu puas hatinja sambil bersejum-simpul dan jang lain-nja berduka-tjita sambil menangis? Sebab, kedua2-nja itu adalah laki2 dan djantan; di dalam kalbu kedua2-nja itu bersemi djiwa satrija, djiwa soldaat! Jang pertama merasa puas, oleh karena dapat mengobrak-abrik “djago2” TNI dengan gampang dan mudah, laksana pisau memotong kueh; dan, terutama sekali, merasa puas mengalami perlawanan jang sengit serta merasakan pukulan2 jang didapatnja dari Tentara Islam Indonesia! Per-lawanan dan pukulan2 dari Tentara Islam Indonesia itulah jang mengelus (strelen) djiwa-soldaat-nja. Sebagai soldaat, ia dapat dan pandai mengharga-kan lawannja, musuhnja! Ia baru (merasa) berkelahi dengan Tenatara Islam Indonesia........!!! Jang terachir, berduka-tjita, sebab setelah mendapat kemenangan, ia terpaksa harus melepaskan kemenangan-nja itu dan memberikannja lagi kepada lawannja (bukan karena kalah perang!)...! Sungguh tersinggung sekali kehormatan militernja

(militaire ser), menjentuh dengan hebatnja djiwa-soldaat-nja.......! Tetapi, ia sebagai “alat-negaranja”, ia sebagai “soldaat”, harus dan wadjib tunduk, tha’at, kepada atasannja “rasa-berat” sekali-pun.....!!! Demikianlah “rasa-berat” itu, sehingga ta’ dapat ditahan air-ma-tanja......; seorang tua, seorang kolonel jang menangis seperti anak-ketjil.......!!! Maka kepada kedua perwira, kepada kedua soldaat tersebut pula! —menjampaikan “ere-saluut”! Tegasnja, bukan kepada Sporr dan van Langen sebagai Belanda-alat-pendjadjah, bekas musuh (ex-vijand!)! Bukan! Akan tetapi, kepada Spoor dan van Langen, qua “Soldaat”! “Djiwa”-soldaatnja, keperwiraannja, jang kami hargakan! “Soldaat”-zijn, “djiwa-soldaat”, “keperwiraan” mana, bukan dan tindaklah bersifat “nasional”, akan tetapi (ia) adalah “universeel”. Tjamkanlah! Sekian. Dan bagaimana “djiwa-soldaat”, keperwiraan, kesatriaanja “ini”...?! Kira-nja, “rakjat” dapat “mendongenkannja”.......! Ingin tahu? Silahkan, tapi djangan memakai uniform dan membawa “bedil”! 2. KMB (!) dengan segala unak-aniknja, memang (terasa) berat.........!!! Politisi memang “merdeka” (terikat) —ingat: Uni Belanda-Indonesia!—, akan tetapi dilapangan lain, terutama dalam soal keuangan dan ekonomi terang tidak! Tidak lepas dan tidak bebas, tapi ter-diikat, ter- dan dibelenggu! Dalam hal ini baik djuga kita “pinjamkan” perkataan dan pendapatnja Mr. Moh. Ali, Perdana Menteri Pakistan, ja’ni (dalilnja!):”Political freedom without economic independence, is meaningless”.....!!! Hal manapun, sudah kita njatakan terlebih dulu (vide Manifest Politik N.I.I., 26 Agustus 1949)! Kaum Komunis —”djago”-Linggardjati, “djago”-Renville dan djuga “djago”-KMB!— kemudiannja dengan serta-merta, hendak menutup “muka”-nja Karikatur —bagus dan menarik djuga!—dibuatnjalah dalam salah satu madjalahnja. Apakah bung Karno dan bung Hatta masih ingat? Kalau sudah lupa, tjoba tolong periksa lagi didalam archiefnja kementerian penerangan; barangkali belum dibakar.....!!! Atau, barangkali bung Sjamsuddin St. Makmur dapat membantu menjegarkan ingatannja (geheugen) “dwi-tunggal”.......?! Suara batalkan KMB terdengar dimana-mana! Dengan “tovarich” D.N. Aidit tentu ditempat jang paling muka (terdepan).........!!! Indonesia toch sudah diakui oleh “dunia-internasional”........?! Dengan “R.I.-1950” sekali....?! Bukankah PBB —jang dalam persetudjuan KMB diwakili oleh UNCI-nja!—, sudah dengan “diam2”, setjara “gerusloos”, me-”legaliseer” perbuatan dan tindakan kita (R.I.-1950)........?! Bukankah kita sekarang mendapat sokongan dari Negara2 Asia-Afrika (A.A.), jang mewakili sekian banjak negara dan sekian djuta manusia....? “Truf”-pertama kan sudah “goal”....? (RIS mendjadi R.I.-1950). Walaupun Irian Barat mendjadi “West Nieuw Guinea”........!”Truf-kedua (pembubaran Unie Belanda-Indonesia) toch sudah kita keluarkan (lanceran), walaupun agak “matjet”......!!! Walaupun hingga kini “protocol-pembubaran Unie”, hasil (maximum?) dari bung Mr. Sunario itu, belum dan tidak (mau) di-”ratificeer” oleh parlemen (semen-tara).......!!! Bukankah sekarang kesempatan (gelegenheid, oportunity) jang baik, jang mustari.....? Bukankah “Pacta sunt servanda” sudah hilang-lenjap-musna dari kamus kita.........? Bukankah kita mempunjai sendjata-ampuh, jang merupakan dan berbunji: “The end justifies the means”.........? Mari, marilah bung, kita sodorkan “truf” baru kita, kita “fait accompli”-kan sadja...... pembathalan KMB.....!!! Heup bung Karno, hajeh “djago”, silahkan naik mimbar, berdiri dimuka microfoon, dan ....perdengarkanlah lagi suara-bariton bung jang hebat itu .......! Dan, marilah, seluruh rakjat: ja bung Menteri, jang bung tukang betja, ja bung koruptor, ja bung tukang sapu, ja Pa’ Sura/Kromo, ja Nji Mimi/Mbok Sarinem, ja.....semuanja....mari kita dengan “gegap-gempita” bersoraksorai......!!! (Dan, hm, ketahuilah mas Karno, mata2 djelita dari wanita2-tjantik melihat dan mengawasi kang mas ....!!! Djangan lupa: “uniform” bung jang netjis itu atau lebih baik, dalam kesempatan ini, mengenakan “battle dress”......!!! Agar lebih hebat dan serem.........!!!). NOOT: N.I.I. —ma’af— mempunjai kepertjajaan penuh dan berkejakinan jang kuat —bulat, bahwa R.I.-1950 (bung Karno cs.) kurang dan tidak mempunjai kesanggupan, kemampuan dan keberanian untuk mengeluarkan dan me-mainkan “truf”— pembathalan K.M.B. itu! Tiada lain, melainkan mengingat dasar2, sifat-thabi’at serta mentaliteitnja itu —! Tjoba, tjobalah, beranikah membantah kepertjajaan dan kejakinan N.I.I. ini ?! Silahkan ! Tapi, sekali lagi, dengan amal perbuatan jang njata! Bukan dengan “omong-kosong” jang murah.

F. R.I. -1950 (R.I.K.) contra N.I.I. Kaum Komunis Indonesia dan peranannja Mar-hainisme. Dalam pada itu, pertarungan, peperangan antara R.I.-1950 dengan N.I.I. berdjalan terus....! Maka tibalah sa’at dibentuknja Kabinet Ali-Wongso-Arifin (30 Djuli 1953), tanpa Masjumi, kabinet mana mendapat dukungan jang kuat dari dan didjamin kedu-dukannja oleh partai Komunis Indonesia (P.K.I.)! a. Sedikit tentang kaum komunis (Indonesia) dan peranan (rol) jang dilakukan achir2 ini. Adapun maksud dan tudjuan kaum komunis Indonesia, sebagaimana kita sama2 sudah mengetahui dengan jakin, ialah (dengan ringkasnja): “mentjetak” Indonesia ini mendjadi suatu “negara komunis”, atas dan dengan pimpinan serta titah langsung dari kaum komunis di Rusia (Moskow) Tegas-djelasnja: Hendak didjadikan suatu “negara-djadjahan” dari Rusia atau dengan istilah jang “baru”, hendak didjadikan “satelliet-Rusia”. Dalam kejakinan-rohaninja: Tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, bahkan anti-Agama dan anti-Tuhan! Djadi, dengan demikian, pokok, dasar dan prinsip tiap2 (orang) komunis —di luar Rusia dan orang2 Rusia—, adalah: anti-nasional (anasional) dan anti-Tuhan (athiest)! Kalau ada orang komunis menjatakan, bahwa ia adalah seorang nasionalist, maka pernjataan itu, adalah tidak benar, dusta dan bohong! Kalau ada orang Komunis jang menjatakan, bahwa ia ber-agama dan dapat menerima sila-Ketuhanan (Jang Maha Esa), maka itupun tidak benar, dusta alias bohong semata! Maka, djika orang komunis menjatakan jang tersebut di atas itu, tiadalah lain, hanja untuk kepentingan tactiek, tipumuslihat dan siasatnja sadja, pada sesuatu waktu dan masa jang diperlukan, jang mereka anggap perlu! Tidak lain dan tidak bukan! Tidak lebih dan tidak kurang! Di dalam sual tactiek, tipu-muslihat dan siasat, orang komunis memang dan sungguh “ahli”. ..; tidak boleh dianggap “ringan”. Segala “theorie” Lenin/Stalin (paralellisme, infiltratie dllsb), mereka —chususnja kaum komunis Indonesia— praktekkan dengan segala ketekunan, kedjudjuran, keichlasan dan kesetiaan serta keabdian jang sungguh mengagumkan! Baik menurut huruf dan angkanja, maupun sepandjang djiwanja (`en naar de letter `en naar de geest)! Kalau pada suatu ketika jang diperlukan harus mendjadi Masjumi/NU/PSII/Perti dlls.nja, djadilah dia Masjumi/NU/PSII/Perti dllsb.! Djika dianggap perlu mendjadi PNI/PIR?PRN/PARKI dllsb., maka djadilah ia PNI/PIR/PRN/PARKI dllsb. Pun dia sanggup pula —andaikata diperlukan— mendjadi Parkindo/Partai Katolik Indonesia! Djika perlu —pada suatu masa— memeluk, memandja-mandjakan, memudji, menjuap, menjogok, menghina, mengedjek, menipu dllsb, itu pulalah jang didjalankan..........! Bagaikan “ular”-jang-djahat-berbisa-”ber-kepalakan-banjak”........!!! Caveant consules !!! Alhasil, usaha dan ichtijar apa sadja, baik jang kedji-kotor-kasar, tjurang-litjik maupun jang lemas-halus, —tanpa mengindahkan batas halal/haram atau sah/batal—, hantam terus....! Asal, maksud dan tudjuannja tertjapai! The end justifies the means! Habis perkara.....! Bum! Apa itu susila....! Persetan dengan moraal-moreel........! Bukankah begitu “tovarich” (-sjaithon) D.N. Aidit ! Tjukup sekian sadja tentang apa, bagaimana dan siapa itu “komunis”! Baik rupa lahirnja, maupun isi djiwanja. b. Dan marilah sekarang kita lihat sepak-terdjangnja dan peranan jang dilakukan (di Indonesia). Dari semua dan segala “isme” jang boleh berkembang biak di tanah jang subur-makmur Indonesia ini, adalah satu jang dia anggap bahaja serta berbahaja dan jang memang sungguh2 ia takuti, ja’ni: ISLAM ! “Islam”-nja Masjumi, N.U., P.S.I.I., Perti dllsb., dianggap tjukup “lunak”, “em-puk” dan “enak” untuk dimakan dengan sekali “suap”.....! Tapi, jang dia takuti sangat, adalah “Islam”nja N.I.I., Islamnja D.I./T.I.I. ! Untuk menghadapi bahaja Islamnja-N.I.I., maka diaturnjalah tactiek dan stra-tegienja dengan baik (tentu dengan advies, tuntunan dan bantuannja Moskow!). Baik setjara legaal maupun dengan djalan illegaal! Setjara illegaal, maka ditaruh-lah pasukan2 bersendjata di belakang! (Mengingat teori “Mao Tse Tung”, bukan?) NOOT: Tapi sajang, pasukan2-komunis-bersendjata ini diobrak-abrik oleh Tentara Islam Indonesia, dimana dan kapan sadja bertemu. Jang dapat meloloskan dan menjelamatkan diri dari kedjaran T.I.I., tidak tahan, dan minta “ditampung” oleh kawannja (TNI!). Baik djuga diterangkan di sini, bahwa buku2 jang terdapat dan dike-temukan diri markas2-nja pasukan2 bersendjata itu, ber-tjapkan “Kedutaan Besar Republik Rakjat Tiongkok”-Djakarta....!!!

Adapun jang dengan djalan legaal, selain duduk dalam parlemen (sementara), maka dimasukinjalah, di-infiltreer-njalah segala lapangan, lapisan dan kalangan rakjat/masjarakat! Begitu pula dalam kalangan pemerintah R.I.-1950 beserta alat2kekuasaannja, dari tingkatan atas hingga ke bawah! Dengan pura2 “lupa” dan “tidak tahu” akan perbuatan2 jang serong-tjurang serta pengchijanatan2nja jang sudah2 (terutama pengchijanatannja di Madiun, 18 September 1948), didekatinjalah, di-”djilati”-njalah (apanja?) dan dipeluknjalah bung Karno, agar didalam menghadapi PNI mendapat “een gud woordje (van de grote baas)”! Dimandjakannjalah dan dipudji-sandjungnjalah bung Karno setinggi langit.......!!! Sungguh, “tovaich” D.N. Aidit tahu apa jang diperbuatnja! Dan bung Karno, jang memang “suka” dan “seneng” (!) diperlakukan demikian —ma’lumlah merasa dielus2 (strelen) perasaan2nja (gevoulens, ijdelheid!)—, tertarik dan terpikat...jang selandjutnja “linea recta” masuk dalam “pelukannja” (perang-kapnja?!) tovarich-Aidit.......!!! Lajar ditutup......! Dengan “aanbevellingsbriefje” dari “bung-besar”, dipeluknjalah PNI. PRN (“bekas”-PNI!) dan dengan “surat” (2) jang sama maksudnja, pun partai2 lainnja, termasuk djuga diantaranja Pa’ “Kijai”-NU....! Angkatan Perang, Polisi, kedjaksaan, Kehakiman tidak pula dilupakan, Begitu pula organisasi2 masjarakat (Badan Kontak “Nasional”, PPDI, dllsb.) dan perseorangan2.....semua dipeluknja, dikail (di-”gaet” bilang bung Mu’in!) oleh “arit”-nja! Sehingga, di atas huruf “S” dari R.I.S. jang sudah disamar-samar-kan itu, di-”tik”-njalah huruf “K”, mendjadi “R.I.K.” (Republik Indonesia Komunis). Baik djuga diterangkan, bahwa ada djuga partai2 dan orang2 jang tidak dapat dan tidak mau dipeluk dan di-”gaet”, terutama Masjumi dan bung Hatta. Masjumi tidak mau, karena berpedomankan Firman Allah: “Aduwwallah wa ‘aduwwakum” (musuh Allah, adalah musuhmu —muslimin/mu’minin—). Wallahu ‘alam atas dasar apa bung Hatta menolaknja...... Sajang, katanja, Masjumi bukan N.U.; bung Hatta bukan bung Karno......! Lain lagi wataknja, karakternja! Maka dengan tidak ajal2 lagi, di-”palu”-njalah Masjumi dan bung Hatta. Badan Kontak “Komunis” (oh pardon: “nasional”?), PPDI, persorangan2 disuruhnjalah membuat “delegasi”, beraudiensi kepada bung Karno, dengan “desakan”, supaja bung Karno mengeluarkan “decreet”, sebagai-mana djuga dulu dilakukan terhadap kaum Komunis-Muso!— untuk membasmi dan menghantjurkan NII dan men-”tjap” mereka (NII, DI/TII) sebagai “musuh-negara” dan “musuh-rakjat”..! c. Bung Krno sudah “dipeluk” (oleh komunis) dan inti (kren) dari kabionet Ali-Wongso-Arifin adalah terdiri dari orang2 komunis, semi-komunis, pembantu komunis dan penggemar komunisme-marhainisme. “Marhainisme” adalah ideologi Partai Nasional Indonesia, ja’ni tjiptaan Soekarno jang berdasarkan atas ideologi “proletar” ala Marx! Periksa dan ingatlah kete-rangan2nja “pamong” S. Mangunsarkoro! NOOT: “Bung Karno, “dulur2” (saudara2), adalah Marhain...Marhain! Seperti dulur2 dan saudara2 djuga”......!!! Tapi, itu ... istana2, mobil2 dan lain2nja jang serba mentereng dan meng-kilap, bagaimana....?! Sedang rakjat.... gubug botjor, pakaian tjumpang-tjamping dan perut-kosong! “Mentereng dan mengkilap” atas keluh-kesah, peluh, air-mata dan darah-rakjat....! Bung Karno marhain.....? Oh, what a joke.....!!! Ma’af, djangan mengira bahwa kita (NII) “iri-hati”...O, tidak! Tidak sekali-kali! Kalau kita hendak berkata kepada “meneer van Mook” atau kepada “meneer Beel”, —djago2 dan pentjpta2 RIS!—: “O, ik gun het je wel, hoor! Trouwens, je verdient het!” Tapi, itu utjapan2 dan perkataan2 bung dan “marhain2” lainnja, jang sungguh amat menggelikan...; djauh daripada kenjataan, laksana djauh-nja bumi dari langit....! Tjoba renungkan! Dan, by the way, hanja kaki2 jang kuat sadjalah jang dapat memikul, memanggul kemewahan....! (Het zijn maar sterke benen, die de weel de kunnen dragen.....!). G. Perma’luman Perang Resmi dari: R.I.K. terhadap N.I.I. Maka pada hari tanggal 17 Agustus 1953, keluarlah dari mulut “djago”-besar-Soekarno “komando terachir” (untuk sekian kalinja?!), perma’luman perang daengan resmi terhadap NII. Perma’luman perang dan “komando terachir-untuk-kesekiankalinja” mana dilakukan dengan begitu nafsunja, seolah2 hendak “menelan dunia segala isinja sekali”.......!!! Terhadap “komando terachir-untuk kesekian kalinja” dan perma’luman perang itu, dengan kalm, kita (NII) sambut dengan baik. Kaum komunis dan kontjo2nja serta komplotan2nja, bertepuk-tangan, memudji bung Karno akan “ketegasannja”! Mereka (RIS/RI-1950/RIK) membuat rentjana, kita (NII) pun membikin rentjana dan Allah, Dzat Wahidul Qahhar,

mempunjai rentjana pula dan “wallahu chairul makirien”.....(Sesungguhnjalah Allah sebaik2 perentjana...) Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Dan hingga kini, “komando terachir-untuk sekian kalinja” itu, sudah berdjalan lebih dari 2 ½ tahun.....!!! Bukankah begitu, mas Wongso (“tukang dan djago pentjak-silat”).....?! Buktinja...?!!! NII bertambah kuat dan besar! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajah serta Tolong dan Sih-Kurnia Allah, Dzat ‘Aziezul-Djabbar, djua! Alhamdu lillah wa Sjukru lillah! Allahu Akbar! Keadaan NII sekarang —dengan ke-kuasa-an dan ke-hendak Allah djua!— adalah sebagaimana di “gambarkan” oleh-Nja (Allah) di dalam Firman-Nja (Surat Al-Fath, ajat 29) Begini: “....kazar’in achradja sjath-ahuu fa-aazarhu fastaghladha fastawaa ‘alaa suuqihie ju’djibuzurraa’a lijaghiedha bihimul kuffar.......” Jang ertinja l.k.: “....Adalah mereka itu seperti tumbuh2an jang mengeluarkan (melahirkan) anaknja — jang ketjil lagi lemah—, kemudian ia bertambah besar, lalu tegak lurus batangnja (serta kuat), sehingga menta’adjubkan orang2 jang menanamnja, —Begitu pula para Mudjahidin N.I.I. pada mulawnja sedikit serta lemah, kemudian berubah besar dan kuat—, sehingga memarahkan hati orang2 kafir....” H. Tjatat dan Peringatan Umum. Demikianlah beberapa petikan (enkele grepen) dari sedjarah Revolusi Indonesia, setjara garis besarnja (in globale trekken), sedjak 17 Agustus 1945 hingg dengan 27 Desember 1955, dengan sewadjarnja, baik jang mengenai R.I.-1945, NII, RIS, R.I.-1950, maupun jang berkenaan dengan Belanda, begitu pula peranan kaum komunis Indonesia. (lebih landjut, periksa dan bandingkanlah Statement/Manifest Politik Pemerintah NII, Nos. IV, V, VI, VII, DAN VIII/7!). Agar supaja: a. Kita tidak (akan) melupakan djalannja sedjarah itu atau (tjoba2) meng-”kerrap”-nja. b. Mengetahui dan mengenal dengan sungguh2 apa, bagaimana dan siapa R.I. beserta pemimpin2nja; sifat-thabi’atnja, karakter dan mentaliteitnja; tindak-tanduk serta sepak-terdjangnja jang selalu tjurangkang serong, tukang dusta dan bohong! Penuh dengan tjatat, noda serta pengchianatnja2! Tegasnja, antara lain2, siapa jang sudah terang dan njata berkompromi, bekerdja sama dan bersatu dengan Belanda?!!! c. Mengetahui dan mengenal dengan benar2, apa, bagaimana dan siapa itu N.I.I. dan Pemimpin2nja; isi-djiwa, watak, sikap, haluan dan pendiriannja! Setiap orang dan ahli sedjarah jang djudjur dan benar akan mentjatat, bahwa dalam hal melawan pendjadjah, c.q. Belanda, nama N.I.I., Pemimpin2 dan Pe-djuang2 N.I.I. adalah bebas dan bersih dari noda! Alhamdulillah! NOOT: Dengan hal jang demikian itu, maka dapatlah dimengerti, kalau R.I.-1950, (tjoba2) berusaha memindahkan dan mealihkan mukanja jang penuh tjatjad dan hitam” itu kepada alamat lain, dalam hal ini kepada N.I.I., Pemimpin2 dan Pedjuang2 (Mudjahidin) N.I.I.! d. Semua keterangan dan penerangan itu, didjadikan bahanw (gegevens) di dalam melakukan penindjauan (orientatie) dan pertimbangan, serta dapat memudahkan membuat suatu “recontructie” jang selandjutnja dapat menarik serta mengambil kesimpulan (conclusie) jang djudjur dan ‘adil serta tepat dan benar, chususnja di dalam soal disangkut-pautkannja N.I.I., Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja (di dalam perkara “Schimdt & Jungschlaeger cs.”). Demikianlah hendaknja! Insja Allah! Amin! Dalam pada itu, mungkin chalajak ramai akan bertanja, bagaimana haluan, pendirian dan sikap kita (NII) terhadap Irian Barat alias Nieuw Guinea itu. Hal ini —walaupun bukan “rahasia”— belum mau kita djawab dengan pandjang-lebar sekarang ini. Tjukuplah kami njatakan, bahwa soal itu —pada waktunja (te zijner tijd)!— akan kita (NII) hadapi dan selesaikan dengan djalan dan tjara jang tersendiri; dengan djalan dan tjara jang orsinil serta unique! INSJA ALLAH! BAGIAN III: POKOK PERSOALAN: R.I.-1950 (=RIK) Mendjalinkan N.I.I. dengan setjara “Listig” (Litjin-Litjik-Tjurang-Serong) di dalam Perkara Schmidt & Jungsclaeger cs.

Ialah sekarang kita kembali kepada pokok-persoalan, ja’ni: Disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia, Imam S.M. Kartosoewirjo dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”! Dengan ringkas, tegas dan djelas, maka di sini kita (NII) menjatakan, bahwa: “Negara Islam Indonesia beserta pemimpin2nja, sama sekali tidak ada sangkut-pautnja dengan perkara "Schmidt, Jungschlaeger cs. jang dituduhkan itu!” Agar (dapat) memuaskan (hati) chalajak ramai, masjarakat umum, maka baiklah kita periksa satu demi satu —jang perlu2 sadja!— apa jang dituduhkan dan didakwakan oleh Pemerintah R.I.-1950, jang diwakili oleh “Djaksa-Tinggi”- Sunarjo, sebagai penun-tut umum (openbare ministerie), begitu pula keterangan2 daripada “saksi2”, disertakan djawaban dan bantahan serta sangkalan kita (NII) atasnja. A. Tuduhan/Dakwaan dan Persaksian. 1. Di dalam tuduhan dan dakwaan resmi, jang dilantjarkan oleh pihak Polisi R.I. (dulunja djuga bekas “polisi”-Belanda!) dan penuntut umum (openbare minis-terie), Djaksa Tinggi Sunarjo, terhadap diri para terdakwa (hingga kini: Schmidt dan Jungschlaeger) berbunji, bahwa: “terdakwa2 tersebut telah berniat dan melakukan usaha untuk merobohkan R.I., antara lain2 dengan tjara bekerdja-sama dengan dan memperlengkapi N.I.I./D.I./T.I.I. 2. Di dalam “persaksiannja” di muka sidang “pengadilan-negeri” Djakarta, Haris bin Suhaemi —jang menjebut dirinja sebagai “bekas anggauta D.I./N.I.I.”—, a.l.l. menja-takan, bahwa: 1) ia pernah mendjadi “kurier-pribadi”, bahkan “pengawal” Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo; 2) ia pernah hadlir dalam suatu “pertemuan antara Imam Negara Islam Indonesia, S.M. Kartosoewirjo, dengan bekas Wali Negara Pasundan, R.A.A. Wiranata-kusuma, dan bekas Kapten KNIL, Westerling”; 3) ia pernah menjaksikan suatu “pertemuan antara Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dengan bekas Komisaris Tinggi Belanda untuk Indonesia, Lamping, dan bekas Kapten KNIL, Westerling, di Hotel der Nederlanden, Djakarta”; 4) ia sudah pernah melihat “sebuah kapal selam menurunkan perlengkapan2/alat2 sendjata untuk D.I./ N.I.I. di pantai selatan Priangan-Timur, sedangkan nachoda kapal selam itu seorang bangsa Amerika”; 5) ia mengetahui/menjaksikan adanja “dropping dari kapal2 udara asing di atas beberapa daerah di Djawa Barat, untuk keperluan memperlengkapi D.I./N.I.I.”; 6) ia sering melihat “Kapten Bosch dan Schmidt di antara anggauta2 D.I./N.I.I.”; 7) dan lain2 hal, jang semuanja bertudjuan menjangkut-pautkan N.I.I. dalam proces pengadilan tersebut. 3. “Saksi” Tomasoa dalam “persaksiannja” di muka sidang Pengadilan Negeri Djakarta a.l.l. telah menjatakan, bahwa ia “tahu” akan adanja suatu “rentjana Westerling/NIGO/Jungschlaeger cs. guna melawan R.I. di wilajah Djawa Barat, rentjana mana menjebut beberapa nama Komandan Tentara Islam Indonesia (seperti: Ahmad Sungkawa, H. Zainal Abidin) bersama2 (in `e`en adem) dengan pemimpin2 NIGO/APRA dan sebagainja, seakan2 ada kerdja-sama antara NII dengan organisasi2 gelap/subversief (mungkin; dus, belum pasti!) tjiptaan beberapa orang Belanda.” 4. Djuga beberapa orang “saksi” lainnja, jang memperkenalkan dirinja sebagai “bekas anggauta2 D.I./N.I.I.”, menguraikan di muka sidang pengadilan tersebut, hal2 jang bertudjuan mentjampur-adukkan antara komplotan2 (mungkin; dus, belum pasti!) sementara orang2 Belanda di Indonesia dengan perdjuangan N.I.I. 5. Dalam pada itu mungkin masih akan menjusul hal2 jang serupa sifat dan maknanja, jang dimaksudkan sebagai usaha untuk mentjemarkan dan merendahkan N.I.I., Imam S.M. Kartosoewirjo serta Pemimpin2 dan Pedjuang2 N.I.I. sekalian. B. Djawaban, Bantahan, Sangkalan N.I.I. (Negara Islam Indonesia). 1. Terhadap tuduhan dan dakwaan resmi R.I. tersebut: 1) Dalam tuduhan dan dakwaan atas dirinja sedjumlah orang2 Belanda sebagaimana tersebut di atas, pihak Polisi R.I. beserta kedjaksaan tinggi R.I./Djaksa Tinggi Sunarjo sebagai penuntut umum, dengan sengadja dan sertjara categorisch mela-kukan usaha guna mentjemarkan dan mendjatuhkan nama baik N.I.I. beserta Pemimpin2 N.I.I. di hadapan pendapat umum rakjat Indonesia dan di muka forum Internasional!

2) Usaha merangkaikan/mentjampur-adukkan (samansmelten) perdjuangan sutji N.I.I. dengan gerakan subversief, jang “mungkin”(!) dilakukan oleh sebagian orang2 Belanda di Indonesia adalah sungguh2 absurd dan sama sekali tidak mengandung kebenaran sedikitpun djua! Sedangkan, segala daja-upaja R.I., jang mengesankan adanja kerdja-sama antara N.I.I. dengan (kemungkinan adanja!) komplotan gelap, di bawah pimpinan beberapa orang Belanda di Indonesia, merupakan suatu kedjahatan lahir-bathin jang tidak dapat dipertanggung-djawabkan! 3) Merendahkan deradjat dan menodai perdjuangan sutji N.I.I. beserta nama baik, integriteit dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, adalah suatu per-buatan jang sangat kotor-kedji dan hina-dina! 2. Terhadap keterangan “saksi” tersebut: 1) Nama Haris bin Suhaemi tidak dikenal dalam kalangan Pimpinan Tinggi/Mene-ngah N.I.I.! Boleh djadi, (mungkin!) dia pernah “berdjuang” di kalangan bawahan N.I.I. di daerah Tasikmalaja, dan pada suatu waktu telah meninggalkan MedanDjihad, menjeberang kepada R.I., sehingga mendjadi seorang murtad-chijanat. Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, tidak pernah mempunji seorang “kurier pribadi/pengawal/vertrouwensman”, jang bernama Haris bin Suhaemi! Oleh sebab iitu, maka kami menjatakan dengan tegas, bahwa segala keterangan Haris bin Suhaemi di muka sidang Pengadilan Negeri Djakarta, jang maksudnja menjeret2 dan menjangkut-pautkan N.I.I. dengan persoalan (kemungkinan) kom-plotan orang2 Belanda, tidak mengandung kebenaran sama sekali. Tegasnja: dusta alias bohong! Kedustaan dan kebohongannja mana, di-”onderstreep”-nja pula dengan “gam-baran” dirinja Imam S.M. Kartosoewirjo, jang ia (Haris bin Suhaemi) berikan di muka sidang Pengadilan Negeri itu. Bagi setiap orang jang sudah mengenal dan bergaul dengan Imam S.M. Kartosoewirjo, “gambaran” (persoonsbesch-rijving) itu, adalah: salah!!! NOOT: Bukankah begitu, bung Karno, bung Hatta, bung Anwar Tjokroami-noto, bung Abikusno, bung Arudji....? Ingat dan periksalah djuga bantahan serta sangkalannja Sdr. R.A.A. Wiranatakusuma jang ber-kenaan dengan A. 2 : 2) ! NOOT: Kenapa Tuan Lamping berdiam diri.....? 2) Kami mengutuk perbuatan tjurang “saksi” Tomasoa, jang menjataka tentang adanja “kerdja-sama” antara Komandan2 T.I.I. dengan beberapa orang Belanda, misalnja Schmidt, Jungschlaeger dll., orang2 Belanda mana tidak perrnah ada dan tidak dikenal didalam lingkungan perdjuangan N.I.I.! 3) Demikian pula, kami tegaskan di sini, bahwa setiap “keterangan”, jang telah, sedang atau akan diutjapkan dalam perkara ini, di muka sidang pengadilan negeri Djakarta oleh “saksi2” tersebut di atas dan/atau “saksi2” jang lainnja, dengan maksud untuk mengesankan kerdja-sama antara N.I.I. dengan (kemungkinan) gerakan subversief orang2 Belanda di Indonesia, merupakan bual dan isapan djempol belaka! C. Reconstructie, tentang asal-usul, sebab-musabab dan perlu-pentingnja di tjiptakannja sandiwara pendjalinan N.I.I. di dalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs.(oleh R.I.-1950= RIK). Bagi barangsiapa, jang memang ma’lum akan watak, tabi’at, isi-djiwa, maksud-tudjuan dan tjita2 mulia serta sutji dari Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, beserta para Pemimpin/Pedjuang N.I.I. lainnja, kiranja amat sukarlah untuk menaruh keper-tjajaan akan segala fitnahan jang ditudjukan (terhadap) kepada N.I.I. dalam proces pengadilan ini! Memanglah salah satu “siasat perang” (krijgslist) dan lagu lama R.I.-1950 beserta alat2 kekuasannja dalam hal menghadapi perdjuangan N.I.I., ialah untuk menekankan kesan kepada bangsa Indonesia dan Dunia Luar, bahwa terdapat “kerdjasama” antara N.I.I. dengan segelintir orang2 bangsa Belanda dan berfikir” dalam alam pendja-djahan. Sehingga mudahlah diterka oleh sertiap orang jang menindjau perkembangan politik interinsuler dan internasional selama tahun2 jang terachir, bahwa pihak Politisi dan Kedjaksaan R.I dengan sengadja dan setjara sadar telah mem"buat2" suatu per-kara jang bertendenz politis-kriminil, lengkap dengan saksi2 palsu jang disuap2, disogok2, di-intimidir, dianiaja, didjandjikan hadijah2, dipaksa2 ber-sumpah palsu, dllsb., kesemuanja langsung atas instigatie, perintah dan tanggung-djawab pemerintah AliWongso-Arifin/ Ali-Arifin! Memang, mustarilah sa’at untuk “men-tjipta2-kan” perkara serupa itu dan amat djelas-lah latar belakang dari maksudtudjuan pemerintah Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin dalam hal tersebut.

Marilah kami sadjikan sebuah reconstructie umum, berdasarkan pelbagai segi tindjauan. Satu dan lainnja, periksalah lagi uraian kami jang terdahulu! Reconstructie umum mana, adalah sebagai berikut: 1. Sebagaimana sudah diterangkan, maka pada tanggal 17 Agustus 1953, presiden Soekarno telah mengumumkan sebuah decreet pemerintah, jang berisikan “per-ma’luman perang R.I. kepada N.I.I.” (komando-terachir). 2. Decreet itu telah dibuat oleh Soekarno bersama2 dengan pemerintah Ali-Wongso-Arifin –tanpa Masjumi!–, pemerintah mana dibentuk beberapa pekan sebelum tanggal pengumuman decreet tersebut (30 Djuli 1953). Sebagaimana halnja dengan Soekarno, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin pun sangat anti-N.I.I., dise-babkan inti daripada kabinet tersebut terdiri dari orang2 komunis, semi-komunis, pembantu2 komunis atau penggemar2 komunisme-marhainisme. Sedangkan, setja-ra parlementer, kabinet itu didjaminkan kedudukannja oleh Partai Komunis Indonesia dkk! 3. Apa latjur, meskipun dengan adanja decreet tersebut, jang mengakibatkan me-ningkatnja tindakan2 agressi dengan kekerasan-sendjata dari alat2 kekuasaan R.I. terhadap N.I.I., namun N.I.I. tidak semakin (mendjadi) lemah, bahkan sebaliknja! Perdjuangan gerilja N.I.I. dari sa’at demi sa’at bertambah luas, bahkan l.k. sebulan setelah tanggal dikeluarkannja decreet tersebut di atas, maka Atjeh melepaskan dirinja dari kungkungan dan belenggunja-(masjarakat dan negara)-pantjasila, jang kemudian mengisi serta memperkuat barisan Mudjahidin N.I.I. (20/21 September 1953)! Allahu Akbar wa Lillahil hamd...........! 4. Melihat kegagalan militer jang menimpa usahanja, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin dan Soekarno sibuk mentjari2 alasan dan tjara untuk menghantam perdju-angan N.I.I., dengan mempergunakan siasat pengchijanatan setjara politispsychologis! Bersamaan (simultaneously) dengan “decreet”-”komando terachir” (!) itu, maka timbul dan datanglah pula minat serta hasrat bung Karno dan pemerintah Ali-Wongso-Arifin –atas desakan “rakjat” jang dipelopori oleh kaum komunis (Indonesia)!– untuk “memperdjuangkan” lagi (untuk kesekian kalinja djuga!) masuknja Irian Barat (West Nieuw Guinea!) kedalam wilayah kekuasaan R.I.-1950. Memang tidak sanggup, tidak mampu dan tidak berani, baik lahir maupun bathin, memakai djalan “biarlah mulut2 bedil dan meriam jang berbitjara” (sic!), maka ditempuhnjalah (tjoba2) djalan “diplomasi” ( jang “empuk-lunak”!), disertai usaha2 penghasutan2 dan ketjurangan-ketjurangan, dengan “harapannja” –begitulah perhitungannja! dengan “harapannja”– dapat berarah ke dalam mau-pun keluar (negeri)! 5. Dengan demikian, terang dan djelaslah, bahwa “djago”-Karno dan pemerintah Ali-Wongso-Arifin, menghadapi dua rupa persoalan (vraagstuk, problem), jang sangat sulit-rumit pemetjahannja (oplossingnja)! Bagaimana ‘akal dan djalannja! “Kebetulan” (tuvallig), lebih kurang pada waktu itu, (achir tahun 1953) beberapa puluh orang Belanda ditangkapi oleh Polisi R.I., penangkapan2 mana untuk sebagian besar dilakukan di kota besar Bandung! Di antara sekian banjak orang2 Belanda jang ditangkapi itu, terdapat djuga seorang Belanda, jang ditangkapi itu, terdapat djuga seorang Belanda, jang konon kabarnja, adalah bekas Kapten KNIL dan pada waktu itu bekerdja di Denis, Bandung, bernamakan-”asli”: “Schmidt” (batja: Sjmit! —edjaan Djerman). “Kebetulan” lagi, di kalangan para Mudjahidin N.I.I., ada bekerdja seorang ketu-runan Belanda jang bernamakan-”asli”: Ch.H. van Kleef, dengan (menggunakan) nama —“samaran” (Schuilnaam, Pseudoniem): W(im) Smits (edjaan Belanda!) Djelas-tegasnja: – Bekas-kapten KNIL dan pegawai Denis (Bandung) Schmidt itu, jang kini di hadapkan di muka pengadilan-negeri Djakarta, bukanlah W. Smits alias Ch. H. Van Kleef, Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I.! Atau: – Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I. W. Smits = (sama dengan) Ch. H. Van Kleef, tapi tidak sama dan bukan Schmidt, bekas kapten-KNIL dan pegawai Denis Bandung, jang kini diperiksa di Djakarta itu. Baik djuga diterangkan, bahwa W. Smits alias Ch. H. Van Kleef, Mudjahid-Penggalang-Pendukung N.I.I., hingga kini (27 Desember 1955) masih tetap ada dan berada di tengah2 dan tidak djauh dari para Mudjahidin lainnja. Harap mafhum dan ma’lum! Lebih landjut, tentang soalnja Ch. H. Van Kleef alias W. Smits (bukan Schmidt!), Insja Allah, akan didjelaskan di dalam bab atau bagian lain. Dengan adanja “co-incidentie” ini, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin jang “merah” dan/ atau “merah-djambu” itu,

dengan bung Karno sekali, mendapat suatu “alat” dan “tongkat” (alias ‘akal bulus-buruk)...!!! Mendapat suatu “alat”, berupakan “pedang” jang “bermata-dua” .....!!! 6. Sebagaimana telah diuraikan tadi, maka pemerintah Ali-Wongso-Arifin (jang kemudiannja mendjadi A.-A. = AliArifin!) + bung Karno, menghadapi dua rupa persoalan jang sulit, ja’ni: Pertama: Melawan dan mentjoba (berusaha) membasmi dan menghantjurkan N.I.I.; dan Kedua : Memasukkan Irian-Barat (West Niew Guinea!) ke dalam wilayah kekuasaan R.I.-1950. bagi pemetjahan (oplossing, solution) kedua persoalan tersebut, diperlukan sekali sebagai sjarat-pertama dan jang terutama: Semangat daripada seluruh lapisan rakjat dilingkungan R.I.-1950! “Tongkat”, “pedang-bermata-dua” sekarang sudah ada di tangannja! Dan lobangpun sudah digalinja .....!!! Maka dengan “pintar-litjin-dan litjiknja” (listig), diputuskannjalah oleh pemerintah Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin untuk meng-komidir penjelesaian kedua persoalan itu setjara politis-psychologis, agar —demikian harapannja!— dapat “memukul dua ekor lalat sekaligus”, dapat “twee vliegen in één klap slaan”....!!! Sungguh “plintar” dan “litjin”...!!! Sungguh “efficient”, “effectief” dan “rasionalnil”.......!!! Kemudian, —di samping usaha2 jang lainnja—, ditjetuskannjalah sebuah perkara politis-kriminil, jang serba sensasionil dan tendentieus itu, jang mentjampur-adukkan perdjuangan N.I.I. dengan hal (kemungkinan!) gerakan subversief beberapa gelintir orang2 Belanda di Indonesia! Dengan “men-”seru”-kan (verwissenleu) nama Schmidt dan Smits! Dengan tjara menghasut2 rakjat R.I. terhadap perdjuangan sutji N.I.I., dengan djalan membuat kesan seakan2 N.I.I. “bekerdja-sama” dengan pihak Belanda untuk mendjadjah bangsa Indonesia, maka Soekarno & kabinet Ali-Arifin berpengharapan akan dapat “menghibur” rakjat djelata dan memindahkan perhatian mereka daripada soal penderitaan lahirbathin, jang meliputi alam kehidupan/penghidupannja, dan menstimultir serta membangkitkan fighting spirit atau semangat perlawanan rakjat R.I., baik terhadap N.I.I. maupun terhadap pihak-Belanda! NOOT: Dengan berdasarkan atas “zo heer, zo knecht” (= begitu tuan, begitu pulalah budjangnja), maka dengan radjin dan giatnja TNI melakukan aksi dan propagandanja, menjebar-njebarkan pamflet dimana-mana. Dan, jang dipakai alatpropaganda serta agitasi itu, ialah keterangan2 saksi2 Haris bin Suhaemi dll.-nja. Kenapa “kol.” Kawilarang diam? Kenapa “kapten” (kini: “major”) Nawawi Alif bungkam? “Kol.” Kawilarang dan “major” Nawawi Alif tahu, bahwa Schmidt itu, bukanlah W. Smits alias Ch. H. Van Kleef! Bukankah potret (foto) W. Smiths alias Ch.H. van Kleef pernah dimuat didalam madjalah-tentara (dalam lingkungan T.T. -III) jang dipimpin oleh saudara Nawawi Alif (ketika itu masih “kapten”!)??? Dengan mempergunakan alat-fitnah jang sangat hina-dina, kotor, tjurang dan serong itu, maka pemerintah Ali-WongsoArifin/Ali-Arifin pun bermaksud menu-tupi segala kegagalannja di lapangan politik dalam maupun luar negeri! Kesemuanja itu djuga hendak dipergunakan untuk menghasilkan keuntungan baginja dari pihak dunia luar, bagi pemetjahan kedua masalah penting itu! 7. Maka keluarlah perintah rahasia dari kabinet Ali-Wongso-Arifin/Ali-Arifin, melalui tangan “kotor” Menteri Kehakimannja, Mr. Djody Gondokusumo, seorang jang terkenal berfikir dan berbuat menurut asas2 ideologi komunis, seorang koruptor besar, tanpa “geweten”. Sama sekali ta’ sukarlah untuk memahami peranan jang telah dipegang oleh Menteri “Kehakiman” ini, dalam perkara politis-kriminil tersebut! Kedoknja terbuka lebar, disa’at ia dimasukkan ke dalam tahanan pihak jang berwadjib, beberapa hari setelah ia dibebaskan dari tugasnja sebagai “Menteri Kehakiman” dalam kabinet-merah Ali-Arifin! Seorang jang sanggup mengeruk2 (schrapen) uang untuk kepentingan diri sendiri serta partainja dengan djalan mempergunakan kekuasaan djabatannja sebagai “menteri”, jang sanggup menerima uang suap, jang sanggup memasukkan tangan-nja ke dalam perkara2 kotor, sebagaimana achir2 ini dibuktikan kepada umum, pasti ta’ akan segan2 untuk ikut “mentjiptakan” suatu kekedjian terhadap kepada N.I.I.! Nistjaja tidaklah sukar bagi seorang “djago jang-korrup”, untuk memerintahkan “anak-buah”nja, seperti Djaksa Tinggi Sunarjo, guna “membuat2” sesuatu perkara fictief jang bersifat politis-kriminil, jang dapat menggemparkan chalajak ramai di Indonesia dan di dunia umumnja, selaku usaha untuk menghantjurkan N.I.I.! Sama sekali ta’ sukarlah pula kiranja bagi Djody Gondokusumo dan Djaksa Tinggi Sunarjo untuk “membeli” kesetiaan dan ketha’atan (gewilligheid) para pegawai

Polisi R.I. (anak2 buah “perdana menteri” Ali-Sastroamidjojo!), guna memindjamkan tangan- “kotor” mereka dalam hal “pengusutan” sesuatu “perkara bikin2an” serupa itu. Bagi kaum koruptor kalangan atasan amat mudahlah untuk membajang2kan djan-dji2 akan kenaikan pangkat/djabatan, hadiah2 istimewa, dllsb. Kepada anak2 buahnja! Sebaliknja, bagi kaum korruptor kalangan bawahan, memang sangatlah memikat hati untuk menerima dan mempertjajai djandji2 sedemikian rupa! 8. Sebahagian pegawai Polisi R.I., jang “dipilih” (“keur-corps”?!) oleh Djaksa Tinggi Sunarjo untuk “mengusut” perkara tersebut, dengan segala djalan dan tjara jang illegal, seperti: menjuap2, meng-intimidir, menganiaja, mendjandji2kan hadiah dllsb., telah memaksakan saksi2 palsu untuk menerangkan suatu tjeritera chajal, jang didikte oleh Djaksa Tinggi Sunarjo, “menteri kehakiman” Djody Gondokusumo, “perdana menteri” Ali Sastroamidjojo dkk.! Hal ini tjukup terbukti, melihat kegaduhan suasana jang senantiasa meliputi sedang pemeriksaan para terdakwa dalam proces itu, serta kenjataan, bahwa sebahagian daripada “saksi2” a chargo itu telah mentjabut kembali segala keterangan mereka jang diberikannja dimuka Polisi, dengan alasan, bahwa mereka telah dianiaja oleh pegawai2 Polisi R.I. tersebut! 9. Guna melengkapkan (ter completering), maka baiklah sekarang kami terangkan —beberapa hal jang perlu2 sadja dan setjara ringkas— jang berkenaan dengan dirinja Ch.H. van Kleef, nama samarannja mana (dulu) adalah: Wim Smits. Ch.H. van Kleef a.W. Smits adalah seorang keturunan Belanda dan berumur sekarang l.k. 41 tahun (dilahirkan pada tanggal 15 April 1915). Sebagaimana orang Belanda (Indo) lainnja, maka dulunja ia mendjadi pegawai pemerintahkolonial Belanda (polisi dan tentara). Setelah RIS berdiri, ia memilih N.I.I. sebagai lapangan pekerdjaannja. Maka djadilah ia seorang pegawai N.I.I., sedjak awal (permulaan) bulan Februari 1951, dengan tetap memeluk kepertjajaan dan kejakinannja (Rooma Katholiek). Untuk suatu keperluan, maka ia pernah mengikut (tegasnja: bukan dan tidak memimpin!) dengan suatu kesatuan Tentara Islam Indonesia kedaerah Tjiandjur (pada pertengahan tahun 1951 —bulan Djuni!—). Kurang dari sebulan, ia dengan kesatuan Tentara Islam Indonesia itu berada di daerah Tjiandjur (kawedanaan Tjirandjang); kemudian berangkat lagi “dibawa” oleh kesatuan T.I.I. tersebut, meninggalkan daerah Tjiandjur pulang dan kembali kepangkalan semula. Teranglah, bahwa jang pernah datang kedaerah Tjiandjur dengan T.I.I., adalah W. Smits alias Ch.H.van Kleef, MudjahidN.I.I. dan bukanlah Schimdt jang sekarang diperiksa di Djakarta. Adapun jang terkenal dan disebut “Ejang” (Madhapi) didaerah karesidenan Bogor dan jang sering disebut2 oleh “saksi2” a charge (bekas anggauta2 “DI/TII”), tiada lain dan tiada bukan, adalah Pemimpin kami, ja’ni Letnan Djenderal T.I.I. Rd. Sanusi Partawidjaja, K. S.U. A.P.N.I.I., jang kini bertugas di luar Djawa/Indonesia! Pada tanggal 15 Djuli 1953 —setelah 2½ tahun bekerdja di salah satu instansi N.I.I. dan bergaul dengan para Mudjahidin N.I.I.— maka dengan kemauannja sendiri, dengan suka-rela (vrijwillig!) —ingat: bukan dan tidak dipaksa; sebab didalam Agama Islam jang sutji tidak ada paksaan!—, dengan ichlas dan sutji-hati, ia (Ch.H. v. Kleef a W. Smits) memeluk Agama Islam, mendjadi Muslim jang selandjutnja, djadilah ia: Mudjahid, Penggalang serta Pendukung Negara Islam Indonesia jang volwaardig (penuh). Dengan niat jang sutji serta ichlas, hendak mengabdikan dirinja (dienen) kepada Allah S.w.T.; dan mentjurahkan segala sesuatu jang ada padanja bagi kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia, dan Ummat Islam Bangsa Indonesia! Bagi setiap orang, chususnja Muslim, jang mengikuti dan tahu benar2 akan tarich Nabi -Kekasih-Allah. Muhammad Clm., maka bolehlah ia (Ch.H. v. Kleef a W. Smits) itu dinisbatkan dengan Shahabat Salman Al-Farisy r.a. Alhamdu lillah, Allahu Akbar! Hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat serta Tolong dan Sih-Kurnia Allah, Dzat Jang Maha-Murah lagi Maha-Asih, djua. Sampai hari ini (27 Desember 1955), ia (Muslim Mudjahid N.I.I. Ch.H. v. Kleef a W. Smits) dengan asjik, chusju’ dan chudlu’nja sedang menunaikan dharma-baktinja kepada Allah semata, berdjuang, berdjihad li-i’lai Kalimatillah, bersama2 dengan saudara2nja, pada Mudjahidin lainnja, dan berada dalam keadaan selamat-sedjahtera, sehat dan ‘afiat, lahir-bathin! Alhamdu lillah! Mudah2an demikianlah selandjutnja. Insja Allah. Amin. M

asjarakat-djahilijah-pantjasila, terutama dalam kalangan pemerintahannja, dari bawah hingga atas, tiada terketjuali ..... “geger”, “ribut”, “gempar”.......!!! Surat2 kabar, madjalah2 dllsb. Diisilah dengan berita, chabar dan kedjadian serta peristiwa itu! Pamflet2 disebarkan ..... ja dari darat, ja dari udara (wallahu a’lam dari laut; barangkali djuga ada?)....!!! Dengan tidak lupa pula dihiasi dengan portrat (foto) Ch.H. v. Kleef a W. Smits ...... sebagai buktinja! Pemantjar2 radio, djuga tidak mau ketinggalan.........!!! Propaganda di sini, agitasi di sana.......! Beri “bumbu” di sini, tambah bumbu di sana......! Alhasil, seluruhnja: geger, ribut, gempar, ramai dan sibuk.......! Uang dan kapital jang bukan dan tidak sedikit dikeluarkan..! Atas pundak dan beban rakjat! Apa toch jang digegerkan, diributkan, digemparkan dan diramaikan itu.....?!!! Jang mendjadi sebab, tidak lain-tidak bukan dan tidak lebih-tidak kurang: – S-A-T-U (batja dan tulis s-a-t-u; one, wahid!) orang keturunan Belanda jang bernama Ch.H. v. Kleef alias W. Smits, Mudjahid, Penggalang dan Pendukung N.I.I.........!!! Dengan keadaan dan heboh itu —jang memakan banjak uang dan kapital atas djerihpajah rakjat djelata!—, kami, Djajasakti, pembuat Statement ini, hanja “mesem” sadja, menundukkan kepalaku dengan serta-merta dan memandjatkan sebanjak2 tasbih, tahmid dan takbir kehadlirat Allah S.w.T.......!!! Kena apa? Sebab apa.....?!! Sebabnja, tiadalah lain, hanja —demikianlah kejakinan jang ditanamkan oleh Tuhan Seru sekalian ‘alam di dalam hati dan djiwaku—, bahwa: – Sungguh Besar dan Tinggi nilai serta Mahal harganja seorang jang hendak mengabdikan dirinja kepada Allah semata. Memang demikianlah! Besar dan tinggi nilai sserta mahal harganja seorang Mudjahid-sedjati, Mudjahid-jangmuwahhid........! Allahu Akbar! Maka kepada Mudjahid Ch.H. v. Kleef a W. Smits pun sudah kami sampaikan utjapan “Selamat”, sebagai tanda-sjukur kami kehadlirat Ilahy, atas kehormatan (eer) jang besar jang dia peroleh dari pihak R.I.-1950! Dan, tidak lupa, dari tempat ini, kami ingin pula menjampaikan utjapan terima kasiy kepada pihak R.I.-1950 beserta pemerintahannja dan alat2nja, dari bawah hingga atas, tiada terketjuali, atas Penghargaan dan Penilaiannja itu! Sekali lagi: terima kasih dan alhamdu lillah! Selain daripada itu, djuga hanja menundjukkan Kelemahan (Zwakheid) R.I.-1950. Sebab, orang jang “kuat”, tidak usah dan tidak perlu ribut2 atau geger...... dan gempar. (Bukankah begitu?). NOOT: 1) Dalam pada itu —tussen twee haak jes— berapa banjak orang2 Belanda, baik jang “totok” maupun jang “indo” jang ada dan bekerdja pada R.I.-1950? Bahkan banjak djuga (!) jang menduduki djabatan2 jang penting?!!! Tjoba, tolong terangkan! Terima kasih, sebelum-dan sesudahnja.......! Memang, biasanja (?!) “kuman” di tepi laut (sana) tampak, tapi “gadjah” di kelopak matanja sendiri, tidak (tampak); atau memin-djam kata2 orang Belanda: “Men ziet wel een splinter in iemand anderr oog, masr de balk in zijn eigen oog ziet men niet”.....!!! Apakah kita (NII) mengegerkan dan meributkan soalnja orang2 Belanda jang ada dan bekerdja pada R.I.-1950? Toch tidak......? Sebab, itu bukanlah/ dan urusan kita (NII). Tapi, hal serta urusan R.I. dan jang bersangkutan sendiri! Lagi pula, kita merasa sajang dan tidak mau mengeluarkan energie kita untuk perkara jg. serupa serta ketjil itu............! Dan, pendirian kami jang pertama dan jang terutama, dalam hal ini, adalah: “Manusia itu dilahirkan merdeka; djadi, merdeka-dan bebaslah pula ia mentjari dan memilih (lapangan) pekerdjaan jang disukainja, menurut bakat dan ketjakapannja”. N’est ce pas ? 2) Baik djuga masjarakat umum, chalajak ramai mengetahui dan men-tjatat, bahwa di kalangan N.I.I. djuga terdapat orang2 Bangsa (turunan) Arab, orang2 Bangsa Djepang, orang2 Bangsa Tionghoa dllsb. Kita (NII) senantiasa dan selalu siap-sedia menerima saudara2 kita Bangsa lain, jang ingin dan suka menjumbangkan tenaga dan fikirannja, asal sadja: a) djudjur, benar, ichlas dan setia; dan b) tidak merugikan Agama Islam, Negara Islam Indonesia dan Ummat Islam Bangsa Indonesia pada chususnja serta seluruh Ummat Bangsa Indonesia pada umumnja. Kecuali kaum komunis, maka bagi mereka tidaklah ada kesem-patan dan lapang, walau dia, orang dan bangsa Indonesia

seka-lipun! Harap ma’lum ! 10. Maka, dengan reconstructie umum ini, tidaklah sukar bagi kita dan masjarakat-umum, chalajak ramai, baik didalam maupun di luar negeri, jang berfikirkan sehat-kritis serta mempunjai pertimbangan jang adil, djudjur dan benar, untuk menarik suatu kesimpulan, bahwa: — Menjangkut-pautkan, menjeret-njeret dan membawa2 Negara Islam Indonesia beserta Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo, dan Pemimpin2 N.I.I. lainnja didalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs. itu, adalah: Suatu Sandiwara Besar-besaran. Sandiwara Besar-besaran jang sangat Rendah, Hina-dina, Kotor, Kedji, Tjurang, Bohong dllsb. NOOT: 1) Kami pun, Alhamdu lillah, tahu “Riwajat Reichtag” di Djerman, semasa Hitler ........!!! 2) Perlu djuga di sini kami peringatkan, bahwa: a. Tongkat itu, dapat kembali (memukul) kepada jang memukulnja; tjoba tanjakan kepada orang suku Sunda apa ertinja “taming meulit ka bitis”. b. Pedang-jang-bermata-dua itu dapat djuga “memakan tuannja” (= sendjata makan tuan!). Dan, c. Barangsiapa menggali lobang untuk orang lain, maka dia sendirilah jang (akan) terperosok (dan dikubur!) ke-dalamnja (Wie een kuil graaft voor ‘n ander, vait er zelf in!). Insja Allah. Amin. Baiklah hal ini, kita —masjarakat umum, chalajak-ramai, dan kami/N.I.I.— tunggu, lihat dan saksikan! BAGIAN IV: MENOROPONG SIDANG PENGADILAN-NEGERI DJAKARTA, IBU-KOTA “NEGARA-HUKUM” (?!) R.I.-1950 (= R.I.K.) Sekarang, baiklah kita melihat dan meneropong keadaan dan kedjadian serta peristiwa di sekitar sidang-pengadilan-negeri di Djakarta, jang memeriksa Schmidt & Jungschlaeger cs. (setjara ringkas dan jang perlu2 sadja). A. Kenapa Hakim Mr. Lim, jang mula-pertama mengetuai sidang2 pengadilan itu, mengundurkan diri dan minta dibebaskan daripada tugasnja sebagai Hakim dan Ketua Sidang-pengadilan tersebut? Kiranja, bukanlah karena jang terhormat Hakim Mr. Lim itu sakit ( —met groot verlof, Edel achtbare ?!— ).....! Maka, kepada para Hakim jang mengurus dan meng’adili perkara ini, kiranja ta’ usah dan ta’ perlulah kami di sini memeperingatkan akan “Sumpah-Hakim” dan “ere-code” Saudara2, sebagai hakim (rechter, judge). Sebab, kami pertjaja dan jakin, bahwa Saudara2 (Hakim2) sadar dan insaf akan kewadjibannja, selaku pemegang dan pembela kebenaran dan ke’adilan, sebagai wakil daripada “Vrouwe Justitia” (jang ditutup kedua matanja oleh sepotong kain jang-”horizontal”, dan bukan oleh sepotong kain-jang-”mentjeng” atau “verticaal”)! B. “Saksi2” `a charge jang terpenting, sebagaimana diketahui, adalah: a. bekas alat-pendjadjah-Belanda, tegasnja bekas-kaki-tangan-alat-kekuasaan-kolonial, seperti Tomasoa, Manoch dll.; dan b. bekas-anggauta-”D.I./T.I.I.”, jang atau murtad/chijanat, atau tertawan di Medan-Djihad, seperti Haris bin Suhaemi dll. Melihat dan mengingat keadaan jang sedemikian itu, maka setjara psychologisch, dapatlah kita fahami dengan mudah, bahwa “saksi” tersebut, tentu terpaksa melakukan segala sesuatu jang sama-sekali tidak mengandung suatu kebenaran atau/dan menerangkan sesuatu jang diharapkan daripadanja, guna kepentingan dan keselamatan dirinja semata2! (leuter uit zucht tot selfbehoud!) Walhasil (ringkasnja): – Saksi2 tersebut dalam sub a. tadi, ingin “menutup” segala dosanja dimasa jang lampau, terutama dalam masa “Revolusi Nasional” dan ingin “diakui” serta mendapat kedudukan/kehidupan jang lajak dilingkungan R.I.-1950; dan – Saksi2 tersebut dalam sub b. Tadi, ingin bebas dan takut dibunuh (mati). Maka, oleh karenanja, “saksi” jang sedemikian itu, terang tidak dapat berlaku dan bersifat adil. Djadi, tegasnja: TIDAK SAH! (sic!)

C. Kenapa pembela terdakwa2, Mr. Nani Razak, djuga mengundurkan diri? “Sakit”-kah pula? Atau terlalu banjak “bitjara”...? Atau mendapat “antjaman” dari pihak “jang berwadjib” di kalangan R.I.-1950? Kenapa pihak R.I.-1950 menolak pembela (advocaat) dari luar negeri untuk terdakwa2? Seperti pengatjara orang Inggeris! Derek Curtis Bennett? Apakah tidak sanggup menghadapi advocaat luar negeri? Ataukah masih tumbuh dengan suburnja (penjakit) “minderwaardigheids dan inferieure complexen” dikalangan orang2 dan pemimpin2 R.I.-1950? Alasan dan hudjah, bahwa di Indonesia ini, masih banjak terdapat pengatjara jang volwaardig, adalah ditjari-tjari, adalah tidak tjukup kuat dan sah. Alasan itu, hanja merupakan advocaterij-tingkat-bawah sadja alias “pemokrolan-bambu” jang murah. Konon chabarnja, R.I.-1950 itu adalah suatu “negara-hukum”. Djika benar2 dan betul2, R.I.-1950 itu, adalah “negara-hukum” dan sungguh2 berdiri di atas dasar haq (kebenaran), kenapa tidak mau dan tidak berani menghadapi advocaat, pembela dari luar-negeri, seperti Tuan Derek Curtis Bennett itu? Ketahuilah, orang jang benar, orang jang berdiri di atas haq, adalah kuat. Djadi, tidak usah dan tidak perlu chawatir dan takut! Kalau kita benar2, betul2 dan sungguh2 “djago” kebenaran dan “pembela”-keadilan, harus dan mestilah kita mempunjai pendirian, bahwa, bagaimana pula keadaannja, haq (recht. Kebenaran) itu, harus dan mesti berdjalan sebagaimana mestinja. Harus dan mesti bersikap “het recht zal zijn beloop hebben”.......!!! Walau diri kita, karena-nja, harus menderita kerugian, dan, bila perlu, harus hantjur-lebur sekalipun.......!!! Kalau tidak berani, maka itu hanja menundjukkan, bahwa ada “apa2” jang (harus) disembunjikan, takut terbuka “gutji wasiat”. Menandakan “there’s something rotten”....! Ja of Ja.......?! Djika memang R.I.-1950 itu, “bersih” dan “sutji”, tjoba terima dan berilah kesempatan dan keleluasaan kepada Tuan D.C. Bennett atau kepada siapa sadja dan, bila perlu, semua pengatjara dari seluruh dunia......!!! Tjoba, tjoba fikirkan dan renungkan, hai “djago2”-hukum, “pahlawa2”-kebenaran dan “pembela2”-ke’adilan jang ada semuanja di kalangan R.I.1950, advies kami nan “pro deo” (lillah) ini! BAGIAN V: TAWARAN N.I.I. KEPADA R.I.-1950 Demikianlah, sangkalan dan bantahan kami atas disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta nama baik dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo —mudah2an Berkah dan Rachmat Allah selalu dilimpahkan kepadanja—, begitu pula Pemimpin2 N.I.I. lainnja, di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs”, perkara mana hingga kini masih terus berdjalan. Atas semua keterangan, penerangan, sangkalan dan bantahan itu, kami berani bertanggung-djawab sepenuhnja, baik terhadap mahkamah Masjarakat dunia seluruhnja, maupun terhadap mahkamah sedjarah dan lebih djauh, terhadap Mahkamah Allah, Tuhan Seru Sekalian ‘Alam. Insja Allah . Tegasnja, kami/ N.I.I. berani dan siap-sedia, setiap sa’at dan waktu, diperiksa oleh siapa sadja dan dari mana pula datangnja, bahkan oleh seluruh dunia beserta semua isinja sekalipun, atas benar dan kebenarannja sangkalan serta bantahan kami itu (chusus-nja, jang berkenaan dengan soal disangkut-pautkannja N.I.I. di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”). Silahkan! Kami “berani”, bukanlah karena apa2. Hanja karena Allah semata, jang hidup dan mati kami ada di tangan-Nja! Demi kepentingan haq (kebenaran) dan ke’adilan serta kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ummat/ Rakjat Bangsa Indonesia seluruhnja, djua. Kemudian, agar supaja masjarakat umum, chalajak ramai, djangan mengira dan menduga, bahwa pernjataan kami itu, adalah hanja “omong-kosong” jang murah belaka, maka baiklah di sini kami memadjukan “usul” dan “tawaran” kepada fihak R.I.-1950, ja’ni: – Bila R.I.-1950 sungguh2 dapat membuktikan, sebagaimana jang dituduhkan oleh penuntut umum, Djaksa Tinggi Sunarjo itu, maka kami —Insja Allah!— tanpa sjarat, akan memasrahkan serta menjerahkan Negara Islam Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua lainnja, kepada R.I.-1950. Akan tetapi sebaliknja, – Bila ternjata tidak benar, maka pihak R.I.-1950 pun harus dan mesti memasrahkan dan menjerahkan (Negara) Republik Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua isinja, kepada Negara Islam Indonesia (N.I.I.), djuga tanpa sjarat.

Demikian usul serta tawaran kami jang tidak seberapa. Dan, bila “tawaran” ini diteri-ma oleh pihak R.I.-1950, maka sebagai “jury” kami minta jang neutral, jang ‘adil, jang tidak berat-sebelah! Tegasnja, jury dari luar-negeri! Tjoba, djawab “tawaran” kami ini! Waktu-terachir (laatste termijn); Tgl, 7 Agustus 1956. Kiranja, tjukup pandjang dan lama termijn/waktu jang diberikan untuk mem-fikirkan dan memutuskannja. Tapi, lebih tjepat, adalah lebih baik dan utama. Silahkan! Kami tunggu! Insja Allah! KALAM ACHIR 1. Kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, chususnja kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100% serta ‘adil, benar dan djudjur, hendaklah suka mendjadi saksi dan ikut serta meng’adili soal dan perkara ini. Terima kasih. 2. Begitu pula, kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, terutama kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100%, perlu di sini, kami mengharapkan ma’afnja, berhubung didalam pernjataan-resmi kami ini, banjak djuga terdapat istilah2 dan kata2 asing, terutama istilah2 bahasa Belanda. Tiada lain, oleh karena masjarakat, pemerintah dan pemimpin2 R.I.1950 (inclusief “djago”-Soekarno!) masih “suka” dan “seneng” (!) memakai dan menggunakannja, walaupun, konon katanja, bahasa Belanda hendak dilenjap-hapuskan dari alam Indonesia jang merdeka ini. Sekali lagi, harap ma’af banjak2 dan ma’lum. Terima kasih....! 3. Kepada para “pemimpin” R.I.-1950, terutama kepada “tjabang atasnja” (inclusief “djago”-Soekarno!), ingin pula kami njatakan, bahwa beberapa bagian (passages) daripada pernjataan resmi kami ini, tidak begitu “enak” dan “manis” dibatja dan didengarnja. Tiada lain, maka hal itu kami kembalikan kepada mereka. Tegasnja, adalah mendjadi risiko dan mendjadi tanggung-djawab mereka sepenuhnja (sendiri). Bukankah pepatah Belanda (lagi) menjatakan bahwa: – Wie kaatst, mut de bal verwachten ? Dan, – Wie wind zaait, zal storm oogsten ?!!! 4. Baik djuga kami peringatkan di sini, bahwa: – Wal-fitnatu asjaddu minal-qatli.....! Dan fitnah itu lebih berbahaja —lebih besar urusan dan perkaranja— dari pada membunuh (orang) Firman Allah: Djaa-al haqqu wa zahaqal-baathilu; innal baathila kaana zahuuqaa. Bila haq (kebenaran) tiba, (maka) jang bathil/salah (mesti) lari (lenjap). Sesung-guhnja, jang bathal/salah itu adalah (bersifat) pelari...... —Firman Allah!— Kemudian, segala Pudji dan Sjukur kami pandjatkan kehadlirat Allah S.w.T., Jang hanja dengan karena Taufiq dan Hidajat, serta Tolong dan Sih-Kurnia-Nja djua, pernja-taan resmi ini, dapat kami sadjikan kepada masjarakat umum, chalajakramai, baik jang ada di Indonesia, maupun jang ada di luar negeri. Achirnja, segala sesuatu kami kembalikan dan pulangkan kepada Dzat Ghafururrahim, dan kepada-Njalah djua kami berlindung serta berserah diri.......! Bismillahi tawakkalna ‘alallah...Lahaula wala quwwata illah billahil-’alijjil-’adziem....! Allahu Akbar! Juqtal Au Jaghlib!!! Wassalam, Anggauta Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia DJAJASAKTI Djenderal Major T.I.I. Medan Djihad, 27 Desember 1955

STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI

STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA

TENTANG: BUKTI KEBENARANNJA N.I.I. DAN BUKTI KEPALSUAN, KETJURANGAN SERTA KECHIJANATANNJA R.I.-1950-PANTJASILA-KOMUNIS Firman Allah S.w.T.: “Diturunkan-Nja air hudjan dari langit, lalu mengalir di lembah dengan kadarnja, maka air bah itu mengandung buih jang timbul dimuka air. Di atas benda jang dibakar dengan api, untuk mendjadi perhiasan dan mata benda, ada pula bih seumpama air bah itu. Demikianlah Allah meumpamakan jang benar (haq) dan jang tiada benar (batal). Adapun buih itu maka lenjaplah sebagai kotoran, dan adapun jang berguna bagi manusia tetaplah ia tinggal dimuka bumi. Demikianlah Allah melukiskan beberapa perumpamaan.” (Q.S. XIII – Al-Ra’du: 17). Bismillahirrahmanirrahim, 7 Agustus 1949: Proklamasi Berdirinja N.I.I. Assalamu ‘ala manittaba’alhuda wa-rahmatullahi wa-barakatuh! 1. Alhamdu lillah wa Sjukru lillah… Allahu Akbar! Allahumma! Iyaka na’budu wa-iyaka nasta’in, ihdinassirathal-mustaqim….! Amin! 2. Sebagaimana kita sama2 sudah ma’lum, maka pada tanggal 27 Desember 1955, oleh Komandemen Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia buah Statement, No. IX/7, jang ditanda-tangani Statement mana menegaskan: -- Sikap (reaksi), bantahan dan sangkalan Negara Islam Indonesia terhadap tipu-muslihat R.I.-1950, berkenaan dengan disangkut-pautkannja Negara Islam Indo-nesia beserta Pemimpin2nja didalam perkara Schmidt & Jungschlaeger cs. -Semendjak l.k. 8 (delapan) bulan jang lalu, Statement No. IX/7 tersebut, telah disiarkan setjara luas, baik dikalangan Negara Islam Indonesia sendiri, maupun terutama sekali (!), dilingkungan R.I.-1950-pantjasila-komunis dan begitu pula keluar negeri. NOOT: Andaikata dan bilamana ada sebagian daripada Rakjat Indonesia, jang hidup di bawah kekuasaan R.I.-1950pantjasila-komunis, hingga sa’at ini djuga belum sempat/dapat mema’lumi isi daripada Statement tersebut, maka itu adalah semata2 akibat daripada sikap tjurang-palsu-chijanat, pengetjut, jang memang sudah mendjadi sifat dan tabi’at serta milik daripada Pemerintahan, pemimpin2-gadungan dan pers R.I.-1950- pantjasila-komunis. Tiada lain, agar ma’lum dan faham djua! Bagian V daripada Statement jang maha-penting itu, dengan terang, djelas dan tegas memuat suatu bukti akan kebenarannja, bahkan suatu "kuntji" kebenaran dan "batu udjian" (tustssteen), jang selandjutnja djuga berlaku sebagai "sanctie", untuk mengudji dengan seluas2-dan sedalam2nja masalah “Haq dan Batal”, terutama di dalam soal peperangan antara N.I.I. dengan R.I.-1950-pantjasila-komunis. Tegasnja: -- Pihak manakah jang benar, ‘adil dan berdiri di atas dasar Haq. Dan -- Pihak manakah jang salah, tjurang, chijanat serta berdiri di atas dasar Bathal. 3. A. Adapun kuntji-kebenaran, batu-udjian dan sanctie (!) itu, ialah terkandung di dalam “Usul” dan “Tawaran” daripada pihak Negara Islam Indonesia kepada R.I.-1950 –pantjasila-komunis, seperti tertera “hitam di atas putih”, di dalam Bagian V daripada Statement tersebut.Agar djelasnja, baiklah, di bawah ini, kami berikutkan lagi (kutipan dari) Bagian V jang

dimaksudkan itu. "........................................................................................................................... Bagian V: Tawaran N.I.I. kepada R.I.-1950 Demikianlah, sangkalan dan bantahan kami atas disangkut-pautkannja Negara Islam Indonesia beserta nama baik dan kehormatan Imam N.I.I., S.M. Kartosoewirjo —mudah2an Berkah dan Rachmat Allah selalu dilimpahkan kepadanja—, begitu pula Pemimpin2 N.I.I. lainnja, di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs”, perkara mana hingga kini masih terus berdjalan. Atas semua keterangan, penerangan, sangkalan dan bantahan itu, kami berani bertanggung-djawab sepenuhnja, baik terhadap mahkamah Masjarakat dunia selu-ruhnja, maupun terhadap mahkamah sedjarah dan lebih djauh, terhadap Mahkamah Allah, Tuhan Seru Sekalian ‘Alam. Insja Allah . Tegasnja, kami/ N.I.I. berani dan siap-sedia, setiap sa’at dan waktu, diperiksa oleh siapa sadja dan dari mana pula datangnja, bahkan oleh seluruh dunia beserta semua isinja sekalipun, atas benar dan kebenarannja sangkalan serta bantahan kami itu (chusus-nja, jang berkenaan dengan soal disangkut-pautkannja N.I.I. di dalam perkara “Schmidt, Jungschlaeger cs.”). Silahkan! Kami “berani”, bukanlah karena apa2. Hanja karena Allah semata, jang hidup dan mati kami ada di tangan-Nja! Demi kepentingan haq (kebenaran) dan ke’adilan serta kepentingan Agama Islam, Negara Islam Indonesia beserta Pemimpin2nja, Ummat Islam Bangsa Indonesia dan Ummat/ Rakjat Bangsa Indonesia seluruhnja, djua. Kemudian, agar supaja masjarakat umum, chalajak ramai, djangan mengira dan menduga, bahwa pernjataan kami itu, adalah hanja “omong-kosong” jang murah belaka, maka baiklah di sini kami memadjukan “usul” dan “tawaran” kepada fihak R.I.-1950, ja’ni: – Bila R.I.-1950 sungguh2 dapat membuktikan, sebagaimana jang dituduh-kan oleh penuntut umum, Djaksa Tinggi Sunarjo itu, maka kami —Insja Allah!— tanpa sjarat, akan memasrahkan serta menjerahkan Negara Islam Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua lainnja, kepada R.I.-1950. Akan tetapi sebaliknja, – Bila ternjata tidak benar, maka pihak R.I.-1950 pun harus dan mesti mema-srahkan dan menjerahkan (Negara) Republik Indonesia dengan segala alat-kelengkapan serta semua isinja, kepada Negara Islam Indonesia (N.I.I.), djuga tanpa sjarat. Demikian usul serta tawaran kami jang tidak seberapa. Dan, bila “tawaran” ini diterima oleh pihak R.I.-1950, maka sebagai “jury” kami minta jang neutral, jang ‘adil, jang tidak berat-sebelah! Tegasnja, jury dari luar-negeri! Tjoba, djawab “tawaran” kami ini! Waktu-terachir (laatste termijn); Tgl, 7 Agustus 1956. Kiranja, tjukup pandjang dan lama termijn/waktu jang diberikan untuk mem-fikirkan dan memutuskannja. Tapi, lebih tjepat, adalah lebih baik dan utama. Silah-kan! Kami tunggu! Insja Allah! Kalam Achir 1. Kepada masjarakat umum, chalajak-ramai, chususnja kepada Bangsa dan Patriot Indonesia jang tulen 100% serta ‘adil, benar dan djudjur, hendaklah suka mendjadi SAKSI dan ikut serta meng’adili soal dan perkara ini. Terima kasih. 2. Dst................................................................................................................................... B. Terang-benderanglah sudah segala isi –ma’na serta inti-pati daripada “Usul” dan “Tawaran” itu, jang sesungguhnja, pada hakikatnja, merupakan dan adalah (suatu) T-a-n-t-a-n-g-a-n (!), Uitdaging, Challenge, dan amat djelas– tegaslah (klaar en duidelijk!) maksud-tudjuannja! Bukankah begitu……?! Bukankah begitu……?! Oleh karena itu, semedjak sa’at disiarkan pimpinan negara, msajarakat dan “dunia-pers” dikalangan R.I.-1950-pantjasilakomunis, maka kami menanti-nantikan gerangan apakah jang (akan) diperbuat oleh pimpinan pusat R.I.-1950-pantjasilakomunis, inclusief “djago”- Karno, sebagai reaksi atas tantangan itu…! Kini, —7 September 1956—, batas waktu –terachir (7 Agustus 1956) jang diberikan (kepada pihak R.I.-1950-pantjasilakomunis) untuk mendjawab Tantangan N.I.I. itu, telah dilampaui dengan waktu sebulan lamanja!!!

Perlu pula diketahui, bahwa sedianja Statement No. X/7 ini hendak dikeluarkan tepat setelah tanggal 7 Agustus 1956 – Hari-Ulang Tahun jang ke-7 daripada Prokla-masi berdirinja Negara Islam Indonesia!—, sesuai dengan batas waktu jang telah ditetapkan. Akan tetapi, achir kemudiannja, mengingat keinginan kami hendak memberikan lebih banjak lagi kesempatan kepada pimpinan pusat R.I.-pantjasila-komunis, maka sengadja batas waktu-terachir itu, kita (N.I.I.) tambah dan ulur dengan sebulan lagi………………………….!!! Walaupun, sesungguhnja, kita sudah tahu dan sudah pula kita perhitungkan terlebih dulu, bahwa pihak R.I.-1950pantjasila-komunis pasti: TIDAK (akan) SANGGUP, TIDAK (akan) DAPAT dan TIDAK (akan) BERANI, Mendjawab usul, tawaran dan tantangan N.I.I. tersebut!!! Alhamdu lillah, perhitungan kita itu ternjata telah dibenarkan oleh Allah S.w.T …!!! Allahu Akbar! Sebab, buktinja —sebagaimana kita sekalian sama-sama menjaksikannja sendiri!– pihak R.I.-1950-pantjasila-komunis, termasuk di dalamnja “djago”-Karno: Tetap tinggal diam-membisu…Bungkam di dalam seribu bahasa! Tegas-djelasnja: Tidak memberikan dan tidak ada reaksi sesuatu apapun djuga .....!!! C. Kesimpulannja? Dengan bukti dan kenjataan (feit) ini, jang tidak dapat dibantah lagi, maka setiap orang jang sehat (tidak gila!) dan jang memang mau (!) bersikap djujur, ‘adil dan benar, dapatlah dengan djelas-tegas menentukan, bahwa: 1) Seluruh isi-ma’na daripada Statement K.T.A.P.N.I.I., tt. 27 Desember 1955, No.IX/7 itu, adalah: Tepat dan Benar 100%! Sehingga, tidak dapat dijawab, tidak dapat ditolak, apalagi dibantah oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis!!! Hanjalah dengan karena Berkah, Idzin dan Perkenan Allah Jang Maha Kuat-Kuasa lagi Maha ‘Adil-Bijaksana, djua adanja! NOOT: Dengan dibatalkanja seluruh perdjandjian K.M.B. setjara unilateraal (sepihak) oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis, maka mau atau tidak, suka atau tidak, malu atau tidak, R.I.-1950-pantjasila-komunis, mesti mengakui, bahwa: – Sikap-pendirian dan politik N.I.I., semendjak meletusnja Revolusi Islam di Gunung Tjupu (17 Februari 1948), ternjata dan terbukti tetap: Tahan Udji! Tegasnja: Tepat, Djitu dan Benar 100%! Sebaliknja, – Sikap-pendirian dan politik R.I.-1945 (djokja)/R.I.S./R.I.-1950-pantjasila-komunis, semendjak Naskah Linggardjati, ternjata dan terbukti: Tidak Tahan Udji alias Bobrok dan Bangkrut sama-sekali!!! Tegasnja: Bodoh, Tolol dan Salah 100%!!! Alhamdulillah…………..!!! Alhasil, di dalam soal pembatalan seleuruh perdjanjian K.M.B., jang selalu “sa-ngat dibangga-banggakan” (1) itu, njatalah dengan terang dan djelas sekali, bahwa R.I.-1950-pantjasila-komunis, sungguh-sungguh hanjalah mengekor alias membontjeng kapada sikap-pendirian dan politik Negara Islam Indonesia (sic!)!! (Tjoba, periksalah sekali lagi siaransiaran Madjelis Penerangan, Manisfest-manifest Politik dan Statement-statement N.I.I. jang terdahulu!). Bukankah begitu mas Karno dan komplotan-komplotannja …???!!! Ini, satu lagi (!) di antara sekian banjak tjontoh dan bukti dari kesalahannja. R.I.–1945 (Djokja)/R.I.S/R.I.-1950– Pantjasila-komunis, dan kebenarannja N.I.I….! Harap tjata baik-baik!!! 2) Pihak R.I.-1950-pantjasila-komunis, inclusief “djago”-Karno, —jang memang tidak tahu dan kenal malu itu! Sungguhsungguh dan betul-betul: tjurang, serong, palsu, chijanat, pengetjut, Dllsb., serta tidak bertanggung djawab ! 3) Kliek pimpinan R.I.-1950-pantjasila-komunis, memang dan sunguh-sungguh: hanjalah mementingkan dirinja sendiri c.q. komplotan korupsinja c.q. partainja!! Dan, sama-sekali tidak menghiraukan, tidak membela, apalagi memperdjuangkan kepentingan, keselamatan serta kesedjahteraan nusa dan bangsa, masjarakat atau Rakjat Indonesia!!! Sebab, bukankah (dengan) usul, tawaran dan tantangan N.I.I.–jang sungguh-sungguh berdjiwakan “fair play”!–itu, dapat didjadikan kuntji atau djalan dan tjara jang tepat djitu pula untuk/di dalam memetjahkan, mengatasi dan menje-lesaikan

soal-soal sekitar “perang-saudara” (R.I.-pantjasila-komunis contra N.I.I.), jang telah sekian (tahun) lamanja berketjamuk dipermukaan bumi Indonesia…???! Jang kami maksudkan, ialah: djika usul, tawaran dan tantangan N.I.I. itu, diterima dan disambut oleh R.I.-1950-pantjasila-komunis………………!!!? Djadi, djelas-tegaslah: dengan tidak diterimanja dan tidak disambutnja usul, tawaran dan tantangan N.I.I. termaksud itu, maka dengan sendirinja, berartilah djuga (!), bahwa: – Pihak pimpinan R.I.-1950-pantjasila-komunis, incl. Karno (!), sesungguhnja dan memang: Tidak menghendaki adanja penjelesaian perang-saudara….....! Atau, dengan lain perkataan: – Pihak pimpinan-gabungan R.I.-1950-pantjasila-komunis, incl. Karno (!), se-sungguhnja dan memang: Hendak memaksakan, supaja tanah-air Indonesia tetap katjau-balau dan supaja rakjat Indonesia tetap menderita terus-menerus, lahir-bathin...................!!! 4) R.I.-1950-pantjasila-komunis memang benar-benar dan betul-betul: b-a-t-a-l 100%!!! N.I.I. memang sungguh-sungguh: Haq dan Benar 100 %!!! Allahu Akbar wa Lillahil-Hahmdu!!! 4. Sebagai konsekwensi daripada kesemuaannja itu, maka dengan ini pula kami serukan dan peringatkan: A. Kepada Masyarakat jang ada dan hidup di dalam/di bawah ‘kekuasaan” R.I.-1950-pantjasila-komunis: – Pandai-pandailah membedakan antara Haq dan Bathil serta antara Benar dan Salah !!! – Djauhkanlah dirimu daripada pemimpin-pemimpin gadungan, jang bertjokol dikalangan R.I.-1950-pantjasila-komunis, jang sudah terang dan njata-njata hendak mendjerumuskan kamu sekalian ke dalam djurang kehina-dinaan, lahir-bathin, dunia-achirat…!!! – Berdiri-dan berdjuang-djihadlah di pihak N.I.I., sebelum terlambat!!! Peringatan : chususnja ditudjukan kepada pimpinan R.I.-1950-pantjasila- komunis, incl. Karno! – Ketahuilah, wahai pemimpin-pemimpin-gadungan R.I.-1950-pantjasila-ko-munis, bandit-bandit (!) dan pendjahatpenjahat-perang (!), bahwa “hari-perhitungan” dan “hari-pembalasan” (dag der vergelding) sudah semakin dekat dan kamu sekalian tidak akan dapat menghindarkan dirimu daripadanja! Insja Allah! B. Kepada pihak kalangan di Luar Negeri: – Hendaklah segala hal-ichwal serta pengalaman sekitar masalah ini pada chu-susnja, didjadikan bahan pertimbangan dan ukuran, guna menentukan sikap-pendirian, baik kini maupun kelak! Terima kasih……………………………………!!! C. Kepada segenap Mudjahidin dan Warga-warga Negara Islam Indonesia: – Pergiatkanlah segala usaha-usahamu kearah penjempurnaan dan penjelesaian tugasmu masing-masing di dalam rangka Revolusi Islam! – Gempur, gempurlah musuh-musuhmu dengan segala tjara dan alat jang halal bagi kita! – Runtuhkanlah negara dan kekuasaan djahiliyah serta tunaikanlah kewadji-banmu selaku Ksatria Islam jang sejati! Hantjur-leburkanlah ke-bathilan-an, ja’ni R.I.-1950-pantjasila-komunis dan tegakkanlah haq (Negara Islam Indonesia) di permukaan bumi Indonesia! – Mari, marilah kita bergerak-serentak, madju-kedepan, menudju pintu-gerbang kedjajaan dan kemenangan, lahir-bathin, dunia-achirat! Ketahuilah, bahwasanja Allah selalu manjertai kita (N.I.I.)! Insja Allah! 5. Dalam pada itu, baik djuga di sini kami suntingkan 2 buah Hadits, sabda Nabi dan Rasul, kekasih Allah, Muhammad Clm., untuk direnung-resapkan serta dijakinkan oleh kita sekalian, chususnya oleh para Mudjahidin A.P.N.I.I. dan umat Islam Bangsa Indonesia, ja’ni seperti berikut (lebih kurang): Terus-menerus akan ada golonganλ dari umatku jang menegakkan kebenaran, hingga datang pekerdjaan (=Ketentuan) Allah; dan mereka pasti mendapat keme-nangan. (R. Buchori & Muslim). Dan Terus-menerus ada golongan dari Umatku, tegakλ berdiri mendjalankan kebe-naran; tak dapat disakiti oleh jang menjakitkannja, (dan) oleh jang menjalahinja. (R. Ibnu Madjah, shahih). Achirulkalam, hanjalah kepada Allah, dzat Jang Menggenggam semesta ‘alam serta Jang Menetukan Taufiq-dan HidajahNja djualah kami kembali akan Kurnia-Nja, dan kepada-Nja djualah kami berlindung serta berserah

diri………………………!!! Bismillahi tawakkalna ‘alallah……! Lahaula wala quwwata illa billah…! Nasrunmin allahi wa fat-hun qarib…..! Innafatahna laka fat-than mubina…………..! Insja Allah. Amin………….!!! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Juqtal au Jaghlib! Wassalamu ‘ala manittaba ‘alhuda w. w. ; Anggauta K.T./Wk. K. S. U. A.P.N.I.I.; DJAJASAKTI Djend. Maj. T.I.I. Medan-Perang Sutji, 7 September 1956. Statement K.T.A.P.N.I.I. No. X/7 ini, disampaikan kepada: 1. Kalangan dan masjarakat R.I.-1950-pantjasila-komunis. 2. Kalangan Luar Negeri. 3. Kalangan dan masjarakat N.I.I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful