INDONESIA - JEPANG JALIN KERJASAMA BIDANG KEHUTANAN There are no translations available.

Disela-sela pertemuan ketiga Komite Persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (sidang ketiga PrepCom KTT) Pembangunan Berkelanjutan di New York, Ketua Delegasi Jepang (Seiji Morimoto) menemui ketua DELRI yang dijabat Dirjen HELN Dep. Luar Negeri, untuk menyampaikan usulan kerjasama dalam bentuk partnership, khususnya di bidang illegal logging. Terkait dengan hal ini, Pemerintah Jepang bermaksud menjajaki kemungkinan pertemuan dengan Departemen Kehutanan. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan pertama April 1996 di Tokyo. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang bidang kehutanan telah dilakukan sejak akhir 1960, sebelum Indonesia menerapkan sistem HPH dalam pengelolaan hutannya, yaitu dengan dilaksanakannya proyek \"Mountain Logging Practice in Java\". Di samping kerjasama proyek, juga dilaksanakan kerjasama dalam bidang pendidikan dan pelatihan kerja, technical assistance, pengelolaan hutan, dan perdagangan hasil hutan. Kerjasama ini dilaksanakan baik melalui instansi pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Saat ini kerjasama Indonesia dengan Jepang meliputi berbagai aspek bidang kehutanan, antara lain: bidang konservasi, pengembangan sumberdaya manusia, dan bidang reboisasi dan rehabilitasi hutan. Kerjasama dengan pemerintah Jepang dilakukan melalui kerjasama bilateral regional maupun multilateral dalam bentuk loan (pinjaman) dan grant (hibah). Kerjasama tersebut pada umumnya dalam bentuk grant-aid, technical assistance, serta pengiriman staf Departemen Kehutanan untuk mengikuti pendidikan, training, seminar dan kegiatan lainnya di Jepang. Instansi Pemerintah Jepang yang menjadi counterpart dalam kerjasama ini adalah Forestry Agency (Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries), Ministry of Foreign Affairs, Environment Agency dan JICA. Kerjasama bilateral Indonesia-Jepang dalam bentuk keproyekan yang sedang berjalan meliputi: Forest Fire Prevention Management Project; Carbon fixing forest management in Indonesia; Project for improvement of forest fire equipment in Indonesia; Biodiversity conservation project phase II; Mangrove information center project; Demonstration study on carbon fixing forest management in Indonesia; dan forest tree improvement project. Kerjasama bilateral mendatang sebagai hasil dari kunjungan Duta Besar Kazuwo Asakai, akan dilakukan dalam kerangka Inisiatif Kerjasama Kehutanan Asia. Dalam hubungannya dengan pemberantasan illegal logging, penanggulangan kebakaran dan rehabilitasi hutan yang rusak. Model kerjasama bilateral Indonesia dan Jepang ini diharapkan akan menjadi kerangka acuan untuk negara-negara Asia lainnya. Jepang memiliki hutan seluas 24,081 juts hektar (64% dari seluruh daratan yang ada). Luas hutan per kapita adalah 0,2 hektar hutan/kapita (Indonesia sekitar 0,75 hektar hutan/kapita). Kepemilikan dan pengelolaan hutan di Jepang dikelola oleh Public/Private

88 m3/ kapita/tahun. Luas hutan yang dikelola Forestry Agency adalah 7. percepatan pembangunan hutan tanaman. Forestry & Fishery. pemerintahan yang bersih dan usaha-usaha manajemen hutan lestari seperti penanganan illegal logging serta reboisasi dan rehabilitasi hutan yang rusak. Inisiatif ini ditujukan untuk menegaskan komitmen politik dari berbagai negara yang memberikan perhatian dan mendorong agar negara-negara donor dan organisasi internasional lainnya dapat memberikan asistensinya. organisasi. Afrika Selatan dalam bulan Agustus 2002. Roundwood cenderung mengalami penurunan sekitar 5% setiap tahun sejak 1985. Ministry of Agriculture. dan pelaksanaan desentralisasi kehutanan secara bertahap. Produksi rata-rata 16 juta m3/ tahun yang berasal dari hutan rakyat yang dikelola koperasi. Beberapa . Konferensi ini akan ditindaklanjuti dalam World Summit on Sustainble Development (WSSD) yang akan diselenggarakan di Johannesburg. Dengan dukungan dari partisipasi negara-negara donor. total growing stock (1995) sebesar 3. kuil. dengan luas sekitar 57% dari luas hutan. inisiatif ini diharapkan dapat mendukung program kehutanan nasional dalam upaya untuk mencapai pengelolaan hutan lestari.5% dari total permintaan kayu rata-rata 110 juta m3/ tahun (roundwood equivalent) atau 0. kotamadya atau desa dengan luas 11% dari luas hutan.482 juta m3 yang akan bertambah rata-rata 70 juta m3/tahun. restrukturisasi kehutanan. penanggulangan kebakaran. Public forest yang luasnya sekitar 68%. Adapun maksud daripada kerjasama ini untuk mempromosikan manajemen hutan lestari di Asia. Khususnya untuk Indonesia. Sementara national forest pengelolaannya di bawah Forestry Agency. Di bidang industri dan perdagangan hasil hutan. dan pemenuhan kebutuhan kayu dan hasil hutan lainnya bagi masyarakat Jepang tanpa mengganggu fungsi perlindungannya. Forestry Agency juga membawahi Regional Office di masing-masing daerah (prefecture). Inisiatif ini diharapkan juga dapat mendukung pelaksanaan manajemen hutan lestari dapat dilaksanakan oleh negara-negara Asia lainnya.8 juta hektar. Angka produksi hanya memenuhi sekitar 14. Sebagai latar belakang pemikiran tentang terbentuknya forum Kerjasama Kehutanan Asia adalah dilatarbelakangi oleh kesepakatan global tentang Manajemen hutan lestari yang merupakan salah satu hasil kesepakatan dalam Konferensi Lingkungan Hidup dan Pembangunan yang diselenggarakan oleh PBB (United Nation Conference on Environment and Development (UNCED) tahun 1992). perusahaan. dimiliki oleh pemerintah daerah (prefecture). konservasi sumber daya alam hayati. Kebijaksanaan utama pemerintah Jepang di bidang kehutanan adalah mendayagunakan sumber daya hutannya untuk perlindungan tata air dan konservasi tanah. biara dsb. Private forest dimiliki oleh perorangan. Seperti diketahui Indonesia memiliki lima prioritas program dalam rangka pengelolaan hutan lestari yaitu: pemberantasan ilegal logging.Forest dan National Forest. Diharapkan inisiatif ini akan dipromosikan sebagai aktivitas dalam deklarasi FLEG (United Nation and Forest Law Enforecment and Governance (FLEG). Aktivitas yang akan ditangani adalah penegakan hukum di bidang kehutanan.

Pengembangan SDM. 13. Riset terhadap dampak illegal logging dan solusinya. Penggunaan data satelit untuk memberikan informasi dasar bagi pengelolaan hutan. 6. 12. 8. Pengembangan dan menerapan reduce impact logging dan acuan untuk menanggulangi illegal logging. organisasi internasional. 7. Pelaksanaan lacak balak alas kayu bulat dan pengenalan pelaksanaan pelabelan. LSM. Kerjasama intemasional dan koordinasi untuk statistik perdagangan. . Pengembangan dan tukar menukar data dalam rangka penanganan illegal logging. 5. 11. Pengembangan dan pengaturan tata guna hutan. Koordinasi antar sektor. 9. 14. 2. Partisipasi dari para stakeholder dan masyarakat lokal. perusahaan industri dan berbagai pihak yang berminat. Peningkatan upaya penanganan reboisasi dan rehabilitasi hutan yang rusak. Pengembangan kebijaksanaan kehutanan. perencanaan dan program termasuk programprogram kehutanan nasional. serta sektor swasta kehutanan. Diharapkan Kerjasama Kehutanan Asia ini dapat diikuti oleh pemerintah. pertukaran informasi tentang illegal logging dan illegal trade. 10.bidang yang akan ditangani dalam rangka Kerjasama Kehutanan Asia antara lain adalah: 1. dengan harapan dapat didukung dana dari berbagai macam sumber dana yang berasal dari partisipasi masyarakat maupun sektor swasta. Pengembangan kelembagaan dan institusi. 3. 4. Penumbuhan kesadaran melalui seminar internasional dalam rangka memberantas illegal logging dan penanaman pengertian atas keuntungan ganda dari hutan. P Edi K.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful