I. PENDAHULUAN Kebutuhan akan pangan semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Berbagai jenis pangan diproduksi dengan meningkatkan kuantitas serta kualitasnya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Selain dengan meningkatkan jumlahnya, pemenuhan kebutuhan pangan juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber bahan pangan yang beraneka ragam. Hal ini dilakukan sebagai upaya diversifikasi pangan dengan memanfaatkan sumber daya pangan lokal. Salah satu sumber daya pangan lokal yang dapat dijadikan alternatif usaha diversifikasi pangan adalah umbi talas (Colocasia esculenta). Produksi umbi talas di Bogor mencapai 57.311 ton pada tahun 2008 (Bappeda Bogor, 2008). Umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat yang penting sebagai penghasil energi di daerah tropis dan subtrobis (Liu et al., 2006 a). Umbi talas merupakan bahan pangan yang rendah lemak, bebas gluten dan mudah dicerna. Bagian tanaman talas berupa umbi berpotensi sebagai sumber karbohidrat yang cukup tinggi yaitu sebesar 23,79 g per 100 g talas mentah (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan, 1972). Kandungan protein pada talas mencapai 20 g per kilogram talas, sedangkan umbi kayu dan umbi jalar hanya setengahnya (Parkinson, 1984). Selain itu, umbi talas juga mengandung lemak, vitamin dan mineral walaupun dalam jumlah sedikit. Mineral yang terkandung dalam umbi talas adalah mineral Ca sebesar 28 mg dan mineral P sebesar 61 mg per 100 g talas mentah. Vitamin yang terkandung pada umbi talas adalah vitamin A, B1 dan sedikit vitamin C (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). Talas terdiri dari banyak verietas yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Varietas talas dapat dibedakan berdasarkan morfologinya. Perbedaan varietas ini berpengaruh pada besar umbi talas. Selain itu perbedaan varietas juga dapat dilihat pada warna umbi, daun dan pelepah daun, umur panen, bentuk dan ukuran pucuk, rasa gatal dan komposisi kimianya (Ali,1996). Karakteristik umbi talas yang diamati menurut deskriptor plasma nutfah talas terdapat pada Gambar 1 (Minantyorini dan Somantri, 2002). Penduduk di beberapa daerah di Hawaii dan Kepulauan Pasifik, menggunakan talas dalam bentuk tepung sebagai bahan baku makanan sapihan bayi dan balita yang hipersensitif terhadap susu (Jane et al., 1992). Selain itu, talas juga sering dikonsumsi sebagai makanan pokok bagi orang-orang yang alergi terhadap biji-bijian tertentu yang mengandung gluten terutama gandum (Lee, 1999). Konsumsi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat selain gandum dan bahan pangan lain yang mengandung gluten dapat mereduksi Coeliac disease (CD) atau reaksi hipersensitif lainnya (Fasano dan Catassi, 2001; Rekha dan Padmaja, 2002; Fasano, 2005; Shan et al., 2002). Pembuatan tepung talas pada umumnya dilakukan melalui tahap pengupasan, pengirisan, pencucian, pengeringan dan penggilingan (Kay 1973; Onwueme 1978; Ali, 1996; Fauzan, 2005; Mayasari, 2010). Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengering atau dengan menggunakan sinar matahari (Suarnadwipa et al., 2008). Pengeringan dengan menggunakan pengering buatan memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan menggunakan sinar matahari. Hal ini dikarenakan suhu pengeringan dan aliran udaranya dapat diatur sehingga pengeringan lebih cepat dan

merata (Winarno, 1993). Selain itu, kebersihan dapat lebih terjaga. Salah satu jenis alat pengering yang biasa digunakan adalah tray drier (pengering rak). Alat ini bekerja dengan menggunakan bantuan panas dan mudah dioperasikan (Brown,1950 di dalam Budiyati, et al., 2004). Proses pengeringan dengan tray drier yang memanfaatkan aliran udara panas menghasilkan produk dengan penyusutan yang lebih besar dibandingkan pengeringan dengan microwave atau dengan pengering beku (Heldman et al., 2007). Hal ini dikarenakan pengeringan dengan try drier membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga produk akan mengalami jumlah penyusutan lebih besar (Heldman et al., 2007). II. BAHAN DAN METODE A. Bahan Bahan baku produksi terdiri dari umbi talas varian Mentega, Hiaju, Beneng dan Semir. Umbi talas yang didapat berasal dari beberapa daerah sekitar Jawa Barat. Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk keperluan analisis antara lain adalah asam klorida, aseton, pankreatin, indikator PP, asam borat, asam sulfat (pa), pereaksi Cu-Nelson, buffer Na-phosphat, termamyl, larutan iod, natrium hidrodiksida (pa), asam borat (pa), asam klorida (pa), heksan (teknis), etanol (pa), kalsium karbonat (pa), timbal asetat (pa), natrium oksalat (pa) dan perkloric acid (pa) dan lain-lain. Bahan-bahan kimia untuk keperluan analisis sebagian diperoleh dari toko kimia. Alat untuk produksi yang digunakan diantaranya adalah timbangan, pengering rak, pindiscmill, ayakan 60 mesh dan perlengkapan lainnya. Sedangkan alat yang digunakan untuk keperluan analisis antara lain adalah timbangan analitik, cawan alumunium, cawan porselen, oven, tanur, desikator, labu lemak, soxhlet, corong buncher, alumunium foil, waterbath, spektrofotometer, vakum, kjeldahl, sentrifuse, crusibel, kertas saring,milipore selulosa asetat dan perlengkapan analisis berupa alat-alat gelas. B. Metode a. Karakterisasi Umbi Talas yang Digunakan Beberapa varietas talas dikarakterisasi penampakan umbinya, beratnya serta dihitung rendemennya. Pengamatan karakter umbi pada saat panen meliputi bentuk umbi, warna kulit umbi, warna daging umbi panjang umbi dan berat umbi. Karakter umbi talas yang diamati menurut deskriptor plasma nutfah talas (Minantyorini dan Somantri, 2002). Karakter umbi talas diklasifikasikan dengan kode sebagai berikut: Panjang umbi : 3 (<8 cm), 5 (8-12 cm), 7 (12-18 cm), dan 99 (>18 cm)  Bentuk umbi: 1 (kerucut), 2 (membulat), 3 (silindris), 4 (elips), 5 (halter), 6 (memanjang), 7 (datar dan bermuka banyak), 8 (tandan) dan 99 (lainnya)  Warna daging umbi: 1 (putih), 2 (kuning), 3 (oranye), 4 (merah muda), 5 (merah), 6 (merah ungu), 7 (ungu) dan 99 (lainnya)  Warna kulit umbi: 1 (Putih), 2 (Kuning atau kuning-oranye), 3 (Merah), 4 (Merah muda), 5 (Coklat), 6 (Ungu), 7 (Kehitaman), dan 99 (Lainnya)Berat umbi: 1 (<0,5 kg), 2 (0,5-2,0 kg), 3 (2,0-4,0 kg) dan 99 (>4,0 kg) b. Penepungan Umbi Talas

talas mengalami proses pengupasan ataupeeling. Sampel yang dianalisis adalah tepung talas Hijau. Kemudian didinginkan dalam desikator. 4. talas Semir. Sebelum mengalami proses penepungan. Irisan talas yang telah dikeringkan kemudian ditepungkan dengan pin disc mill menggunakan ayakan 60 mesh. Uji warna dilakukan dengan sistem warna Hunter L*. Kadar Air (AOAC. Hasil analisis derajat putih yang dihasilkan berupa nilai L*. Supernatan dari hasil sentrifuse disaring dengan milipore selulosa asetat 0. disentrifuse dengan kecepatan 1400 rpm selama 15 menit. talas Mentega dan talas Hijau diproses menjadi tepung dengan metode yang dijelaskan pada Gambar 2. Kadar Abu (AOAC. Kemudian cawan dimasukkan ke dalam oven bersuhu 105 oC selama 3 jam. Setelah itu. irisan umbi talas kemudian mengalami pengukusan selama 20 menit. 2005) Sebanyak 2 – 3 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam cawan porselin. b*. Sampel kemudian didinginkan dalam desikator. kemudian dilakukan pengabuan di dalam tanur listrik pada suhu maksimum 550oC selama 4 – 6 jam atau sampai terbentuk abu berwarna putih. c. Kemudian ditambahkan 50 ml HCl 2M (pH 0. Sampel kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan ditambah HCl 2M hingga tanda tera. tepung talas Mentega dan tepung talas Semir. 1999) Sampel sebanyak 5 gram ditimbang kemudian dimasukan ke dalam labu erlenmeyer 100 ml. Umbi yang telah diiris kemudian direndam dengan air garam 10% selama 30 menit untuk mereduksi kadar oksalat (Mayasari.45 mikrometer. Selanjutnya sampel dipijarkan di atas nyala pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi. a*. Setelah itu dimasukkan ke dalam cawan alumunium yang telah diketahui beratnya. b1) dengan rumus: 2. Pengeringan . 1989). Setelah itu. Setelah mengalami proses perendaman.. Gaurav. Analisis Kadar Oksalat (Ross et al. 2010). tepung talas Beneng. irisan talas dikeringkan selama 12 jam pada suhu 50-60oC (Lingga et al. 2005) Sebanyak 1-2 g sampel ditimbang. a*. 2003) Analisis warna dilakukan dengan menggunakan Chromameter Minolta. Kemudian diinjeksikan ke dalam HPLC. umbi talas yang telah dikupas kemudian diiris dengan mesin sliceryang menghasilkan lempengan umbi dengan ketebalan 1-2 mm. Setelah itu. Perhitungan kadar air dilakukan dengan menggunakan rumus : Kadar air = Keterangan: a= berat cawan dan sampel akhir (g) b= berat cawan (g) c= berat sampel awal (g) 4.08) untuk analisis total oksalat. Pengeringan diulangi hingga diperoleh berat konstan. lalu ditimbang. Chromameter terlebih dahulu dikalibrasi dengan standar warna putih yang terdapat pada alat tersebut. Kemudian dipanaskan dalam waterbath pada suhu 800C selama 20 menit.Empat jenis talas yaitu talas Beneng. b*. selanjutnya ditimbang. Analisis Warna (Chromameter Minolta.. Pengukuran total derajat warna digunakan basis warna putih sebagai strandar (L1. Karakterisasi Tepung Talas 1. a1.

Dilakukan penetapan blanko. 2005) Sampel dalam bentuk tepung ditimbang sebanyak 1-2 g. Sampel dipindahkan ke dalam alat destilasi dan labu kjeldahl dibilas dengan 1-2 ml air destilata selama beberapa kali. Bila . kadar abu. yang telah berisi pelarut (dietil eter atau heksana).87. Winarno. Larutan sampel dititrasi dengan larutan HCl 0. tepung kacang hijau 5.0 g contoh dipindahkan ke dalam labu ekstraksi (500 ml) dengan pendingin tegak. Kadar lemak (%) = 6. Kertas saring dan isinya dimasukkan ke cawan porselin yang telah diketahui bobotnya (B). Perhitungan kadar abu dilakukan dengan menggunakan rumus : Kadar abu = 5. kadar protein dan kadar lemak. 2005) Sebanyak 2. Analsis Karbohidrat (by difference. tepung pisang 6. Sebanyak 8-10 ml larutan 60% NaOH-5% Na2S2O3 ditambahkan ke dalam sampel. Kadar Protein (AOAC. Refluks dilakukan selama 6 jam (minimum) pada suhu 80 0C.0±0.5 – 1 g sampel. Sampel dididihkan selama kurang lebih 2 jam sampai cairan menjadi jernih kehijauhijauan. Sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 1050C. 1986) Kadar karbohidrat ditentukan dengan metode by difference yaitu dengan perhitungan melibatkan kadar air. Kadar Lemak (AOAC.1 ml H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam 0.25) 7.1 g K2SO4. Destilat sampel diencerkan hingga 50 ml. kemudian dibungkus dengan selongsong kertas saring yang dilapisi dengan kapas dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi (soxhlet). Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC hingga beratnya konstan. Penetapan kadar N dan kadar protein dilakukan dengan persamaan berikut: Kadar N (%) = Kadar protein = %N x faktor konversi (tepung talas 5. Dilakukan penimbangan pada kertas saring yang akan digunakan (A). Erlenmeyer berisi 5 ml larutan H3BO3 dan indikator BCG-MR (campuran bromcresol green dan methyl red) diletakan di bawah ujung kondensor. Kadar Serat Kasar (AOAC. Kadar karbohidrat (%) = 100% – (% kadar air + %kadar abu + %kadar protein + % kadar lemak) 8.02 N hingga berwarna merah muda. 2005) Sebanyak 1. Setelah itu pelarut yang ada di dalam labu lemak didistilasi.diulangi hingga diperoleh berat konstan. Sampel disaring dengan kertas saring pada corong Buchner yang dihubungkan dengan vakum dan dicuci dengan air panas. Contoh dididihkan dengan 200 ml H2SO4 1.25% selama 30 menit. kemudian didinginkan dan ditimbang hingga bobotnya tetap (C). dan ditimbang. Sampel didestilasi hingga diperoleh 1015 ml destilat. 40 ml HgO dan dan 2±0. didinginkan dalam desikator.7. Berikut ini adalah persamaan yang digunakan dalam menghitung kadar karbohidrat dengan metode by difference.

TDF = Keterangan: w= berat sampel (g) D= berat setelah dianalisis dan dikeringkan (g) I= berat setelah diabukan (g) B= berat blanko bebas serat (g) 11.5 dengan menambahkan HCl 4 M. 1983) Satu gram sampel bebas lemak dimasukan ke dalam Erlenmeyer. sampel ditambah 20 ml air destilata dan pH diatur menjadi 6. 10. Sebanyak 5 ml larutan dimasukan ke dalam labu takar dan ditambahkan dengan 1 ml asam asetat 1 N dan 2 ml larutan iod. Sampel dihidrolisis dengan alkohol 80% dalam waterbath..1 ml enzim termamyldan diinkubasi dalam penangas air suhu 1000C selama 15 menit. didinginkan kemudian ditambahkan 20 ml air destilata dan pH diatur menjadi 1. 2003) Analisis kadar pati dilakukan pada tepung talas. Kemudian endapan dipisahkan dan dihidrolisis kembali dengan 9. Kadar serat kasar = 9. Setelah diagitasi selama 60 menit. ditambahkan 25 ml 0. ditutup dan diinkubasi pada suhu 400C selama 60 menit sambil diagitasi.ternyata kadar serat kasar lebih besar dari 1%. Selanjutnya ditambahkan 100 mg pepsin dan pH dikondisikan hingga 1. Selanjutnya direduksi dengan . Larutan ditepatkan hingga 100 ml kemudian dikocok dan dibiarkan selama 20 menit. Setelah itu dikeringkan hingga berat konstan. Terakhir pH diatur dengan HCl hingga 4. Kadar Pati (Hartati et al. Endapan disaring dengan crucible kering dan dicuci dengan dua kali 10 ml etanol 78% dan dua kali 10 ml aseton. Setelah itu 100ml etanol 95% hangat dan diendapkan selama 1 jam. Analisis Amilosa dan Amilopektin (Hartati et al. Campuran dipanaskan dalam air mendidih hingga terbentuk gel. Kadar amilosa dihitung berdasarkan persamaan kurva standar amilosa. Sampel dicuci dua kali dengan 10 ml etanol 95% dan dua kali dengan 10 ml aseton. Kadar amilopektin dihitung berdasarkan selisih antara kadar pati dengan kadar amilosa yang didapatkan. Setelah itu. Gel ditambahkan dengan air dan dikocok. 2003) Sampel sebanyak 100 mg ditempatkan dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1 N.5. Setelah itu ditambahkan 100 mg pankreatin. kemudian ditepatkan dengan air hingga 100 ml. kemudian dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml. Kadar serat kasar = Serat kasar > 1%. ditambah 0. Labu sampel diangkat.2 N HClO4 sebanyak tiga kali dan dinetralisir kembali dengan 1 N NaOH.. tepung kacang hijau dan tepung pisang untuk mengetahui jumlah pati yang terdapat pada tepung. Analisis Serat Pangan Metode Enzimatis (Asp et al. setelah itu ditimbang (D). ditimbang dan didinginkan hingga bobot tetap (D).. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm. kertas saring beserta isinya diabukan. Tepung dengan kadar pati yang tinggi merupakan tepung yang akan digunakan sebagai bahan baku.8.1 M buffer Na-phosphat pH 6 dan diaduk.5. Serat kasar < 1%. Selanjutnya diabukan dan ditimbang (I). Setelah itu diinkubasikan kembali pada suhu 400C.

Kadar Pati diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 500 nm. warna kulit umbi. III. Tabel 1. warna daging umbi. analisis dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan untuk melihat sampel yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. panjang umbi dan berat umbi. Karakteristik berbagai varietas talas dapat dilihat pada Tabel 1. talas Semir dan talas Beneng. Pengamatan karakter umbi pada saat panen meliputi bentuk umbi. Kalori Kadar kalori dihitung berdasarkan jumlah karbohidrat. Karakterisasi Umbi Talas Pemilihan bahan merupakan langkah awal dalam penelitian ini.5. Apabila terdapat perbedaan nyata pada selang kepercayaan 95% maka. talas Hijau. Karakteristik berbagai varietas talas . Rendemen x 100% Berat bahan akhir (g) Berat bahan awal (g) Perhitungan rendemen dihitung berdasarkan bobot awal dengan bobot akhir. Uji tersebut dilakukan dengan analisis univariate untuk melihat adanya perbedaan nyata pada selang kepercayaan 95%. Kalori (Kkal/100g) = (a x 4) + (b x 4) + (c x 9) Keterangan: a= hasil analisa karbohidrat (g/100g) b= hasil analisa protein (g/100g) c= hasil analisa lemak (g/100g) 15. Berikut ini adalah perhitungan yang dilakukan untuk menentukan jumlah kalori. Talas yang akan digunakan perlu dikarakterisasi sebelum dijadikan tepung. Pengolahan Data Uji anova dilakukan dengan menggunakan SPSS 11. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Terdapat empat jenis talas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu talas Mentega.pereaksi Cu dan Nelson. protein dan lemak yang terdapat dalam bahan pangan. Sampel yang berbeda nyata ditunjukan dengan huruf yang berbeda dan terdapat pada subset yang berbeda. Rendemen dihitung menggunakan persamaan: Rendemen= 14. Hal ini dilakukan untuk melihat karakteristik talas yang akan digunakan. 13. Umbi talas yang digunakan adalah talas dengan umur panen 8-10 bulan.

0 980.500.0 73.29 Talas yang ditemukan di daerah tersebut rata-rata memiliki tampilan fisik dan ukuran yang bervariasi.0 716.430. Talas Mentega yang berasal dari daerah sekitar antara Sukabumi dan Bogor memiliki umbi berbentuk kerucut (kode 1). Umbi talas Mentega Umbi talas Beneng Umbi talas Semir Umbi talas Hijau Gambar 3.0 273.Varietas Karakteristik talas Asal Bentuk Umbi Warna kulit umbi Warna daging umbi Panjang Umbi(cm) Diameter Umbi (cm) Berat Umbi (g) Berat Umbi kupas (g) Berat Kulit+batang (g) Rendemen (%) Mentega Sukabumi kerucut merah kuning 7 8 460. Sedangkan talas Semir yang berasal dari daerah Sumedang memiliki umbi berbentuk halter dan talas Beneng dari daerah Pandeglang memiliki umbi berbentuk memanjang (kode 6). Ukuran panjang talas Hijau dan talas Semir temasuk ke dalam kategori 5 yaitu dengan ukuran panjang umbi 8-12 cm talas (Minantyorini dan Somantri 2002).43 Beneng Pandeglang memanjang coklat kuning 93 13 16. talas Hijau yang berada di daerah sekitar Bogor memiliki bentuk umbi yang membulat (kode 2).0 12.48 75.3 19 1.41 Hijau Bogor membulat merah putih 10. Talas Beneng merupakan talas dengan ukuran umbi yang relatif besar dibandingkan dengan talas Hijau. Talas Semir memiliki ukuran diameter silinder umbi 12 cm dengan panjang umbi 11 cm. Berbeda dengan talas Mentega.01 Semir Sumedang halter coklat putih 11 12 950. Talas Hijau memiliki ukuran diameter silinder umbi 19 cm dengan panjang umbi 10.0 4.33 59.900. Onwueme (1978) menyatakan bahwa umbi primer berbentuk silinder yang panjangnya mencapai 30 cm dan berdiameter hingga 15 cm.0 400. Gambar 3 menunjukkan umbi talas yang digunakan. Empat jenis umbi talas yang dikarakterisasi . Minantyorini dan Somantri (2002) mengklasifikasikan bentuk umbi talas ke dalam 8 kategori (gambar 1).3 213.00 71.3 cm. dan talas Mentega.66 230.380.

0-4. Talas dengan kulit yang tebal dan batang yang besar memiliki rendemen yang lebih rendah dibandingkan talas dengan kulit yang lebih tipis dan batang yang kecil. Talas Semir dan talas Beneng memiliki kulit umbi berwarna coklat. 2 (0. Talas Beneng merupakan talas dengan ukuran paling besar yaitu dengan ukuran diameter umbi 13 cm dan panjang umbi 93 cm. talas Mentega diklasifikasikan dalam kategori 3 (<8cm) menurut ukuran panjang umbi talas (Minantyorini dan Somantri 2002).380 kg dan talas Semir 0.0) dan 99 (>4.43%. Sama halnya dengan talas Mentega.Berbeda dengan talas Hijau dan talas Semir. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Setyowati (2007) bahwa panjang umbi berbanding lurus dengan bobot umbi.950 kg. Rendemen talas yang dapat dimakan dari umbi talas berkisar anara 59. Talas ini diklasifikasikan ke dalam kategori 9 dengan ukuran panjang umbi >18cm (Minantyorini dan Somantri 2002).5 kg). talas Beneng 73.5-2. Talas Mentega memiliki ukuran diameter silinder umbi 8 cm dengan panjang umbi 7 cm. 3 (2. Ukuran talas yang berbeda-beda menghasilkan bobot umbi yang berbeda.01%. talas memiliki kulit berwarna kemerah-merahan dan dagingnya berwarna putih keruh. Berdasarkan data tersebut dapat terlihat bahwa semakin besar ukuran umbi maka semakin berat bobotnya.Talas Mentega merupakan talas dengan bobot rata-rata terendah yaitu sebesar 460 gr dan termasuk ke dalam kategori 1 (<0.43%. talas Hijau 71.41%-75. warna kulit umbi bervariasi antara coklat dan kemerah-merahan. talas Hijau memiliki kulit umbi berwarna kemerahmerahan namun dengan daging umbi yang berwarna putih. Hal ini menunjukkan kecenderungan semakin panjang umbi semakin besar diameter umbinya sehingga ukuran umbi semakin besar. Rata-rata berat umbi talas Hijau adalah 1. nutrisi yang didapatkan dan faktor cuaca.0). kategori bobot talas dibagi menjadi 3 yaitu kategori 1 (<0. Talas Mentega memiliki rendemen terendah yaitu 59. Talas Semir memiliki daging umbi berwarna putih sedangkan talas Beneng berwarna kuning. sedangkan warna daging umbi talas yang dikarakterisasi bervariasi antara kuning dan putih. Sedangkan talas Beneng merupakan talas dengan bobot paling besar yaitu dengan berat 16. Karakterisasi Fisik dan Kimia Tepung Talas Keempat jenis umbi talas yang digunakan kemudian diolah menjadi tepung. Perbedaan besar rendemen dipengaruhi oleh berat kulit dan batang umbi talas masing-masing varietas.9 kg dan termasuk dalam kategori 99.0 kg).5-2. Talas Mentega memiliki kulit umbi berwarna kemerah-merahan dengan daging umbi berwarna kuning. Berdasarkan hasil pengamatan.29% dan talas Semir 75. Menurut klasifikasi Minantyorini dan Somantri (2002). Penepungan pada umbi talas mengakibatkan perubahan struktur fisik produk dan komponen kimia di dalamnya akibat tahap .5 kg). Berat umbi talas Hijau dan talas Semir termasuk ke dalam kategori 2 dengan berat umbi antara 0.41%. Menurut Muchtadi dan Sugiyono (1992). Setyowati (2007) melaporkan bahwa umbi talas yang banyak dipasarkan adalah yang berwarna putih dan kuning.0 kg. tempat tumbuh. Perbedaan warna kulit dan daging umbi dipengaruhi oleh varietas tanaman. B.

72%. dan kondisi proses pengeringan. Fellows.19% (Ridal. Empat jenis tepung talas hasil penepungan Pengeringan menyebabkan kadar air berkurang hingga kadar air mencapai kesetimbangan sehingga bersifat mengawetkan (Wiratakusumah et al. kondisi saat panen. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 5.. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi proses. 1995 di dalam Asgar et al. metode proses. 1992. 2000.. pengeringan juga menyebabkan penyusutan bahan (Heldman et al. 1994. 2004. 1989). Heldman et al. Talas Hijau Talas Mentega Talas Semir Talas Beneng Gambar 4. 1974 di dalam Honestin. Kondisi ini sudah memenuhi syarat kadar air yang aman untuk tepung yaitu <14% sehingga dapat mencegah pertumbuhan kapang (Winarno dan Jenie. Aprianita et al. sedangkan tepung talas Beneng memiliki kadar air terendah diantara keempat varietas. suhu dan waktu pengeringan (Mohamed dan Hussein. 2... Berikut ini adalah hasil karakterisasi fisik dan kimia yang dilakukan terhadap keempat jenis tepung talas untuk mendapatkan satu jenis tepung talas dengan karakteristik yang diinginkan. 2007). 2009). 2007. Gambar 4 menunjukkan hasil penepungan talas. 1. Muchtadi et al. 2007). 2003. Kadar Abu .. Hal ini disebabkan pada saat air keluar dari bahan terjadi gradien tekanan pada bahan yang menyebabkan bahan mengalami penyusutan (Mayor et al. Fardiaz. kondisi bahan dan perlakuan pendahuluan. Selain itu. Hasil analisis kadar air berbagai jenis tepung talas Berdasarkan analisis ANOVA.29-5. Hasil analisis kadar air tepung talas dari keempat varietas yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan tepung talas pada penelitian sebelumnya yaitu sebesar 6. 1995). Gambar 5 menunjukkan hasil analisis kadar air tepung talas. Heldman et al. 2007). Kadar air tepung talas yang diperoleh berkisar antara 4. tepung talas Hijau memiliki kadar air tertinggi diantara keempat varietas.. 2006).pengeringan yang dilakukan pada proses penepungan.. Kadar Air Kadar air merupakan salah satu parameter yang penting pada bahan pangan karena berkaitan dengan mutu dan umur simpan produk (Winarno. Perbedaan kadar air dapat disebabkan karena perbedaan jenis talas yang digunakan.05-8. penyimpanan bahan..

Gambar 6 menunjukkan hasil analisis kadar abu tepung talas. Berdasarkan analisis ANOVA.. Gambar 8 menunjukkan hasil analisis kadar amilosa dan amilopektin tepung talas. Kadar Pati Kadar pati keempat jenis tepung talas yang diuji berkisar antara 75. tepung talas hijau dan tepung talas Semir dan Hijau memiliki kadar abu terendah diantara keempat varietas. Hasil analisis kadar pati berbagai jenis tepung talas Nilai analisis kadar pati yang dilakukan sesuai dengan yang dilaporkan Quach et al. rata-rata berkisar antara 1. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 6. (2007). dan tempat tanaman tersebut berasal (Srichuwong et al.26-18.01-79.55-3. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan uji ANOVA. pemakaian pupuk dan dapat juga berasal dari kontaminasi tanah dan udara selama pengolahan (Soebito. Hasil analisis kadar amilosa-amilopektin tepung talas . Kadar amilosa keempat jenis tepung talas yang diuji berkisar antara 12. 2003.. (2009) dan Perez et al. Hal ini mengindikasikan struktur granula yang rigid dan menyebabkan tingginya swelling power sehingga viskositanya tinggi (Singh et al.(2000) yang menyatakan bahwa kandungan pati pada umbi talas berkisar antara 70-80 gr/100 gr basis kering.1% yang merupakan kadar abu tertinggi diantara keempat varietas.Kadar abu tepung talas yang diperoleh. Menurut Aprianita et al. Kadar Amilosa dan amilopektin Kandungan pati yang terdapat pada tepung terdiri dari amilosa dan amilopektin. 1988 di dalam Ridal. 2005.43 0.07%. Hasil analisis kadar abu berbagai jenis tepung talas Kadar abu merupakan komponen yang berisi unsur mineral yang tertinggal setelah bahan dibakar hingga bebas dari karbon. 2006). 3.9%. Komponen ini tidak mudah menguap pada proses pembakaran dan pemijaran senyawa organik. Sedangkan tepung talas Beneng memiliki kadar abu sebesar 3. Perbedaan jumlah kadar pati pada tepung talas yang didapatkan dapat disebabkan oleh perbedaaan varietas tanaman tersebut. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 7. 2006). kadar pati tertinggi terdapat pada tepung talas Mentega dengan nilai 79.. pati talas memiliki viskositas yang tinggi yang disebabkan oleh ukuran granulanya yang kecil. Sifat fungsional pati pada tepung dipengaruhi oleh varietas. Gambar 7 menunjukkan hasil analisis pati tepung talas. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 8. 4. 2003).07±0.60%.. kondisi alam. Leon et al. Perbedaan kadar abu yang terdapat pada tepung talas dapat disebabkan dari mineral dalam umbi segar.43%. Riley et al.

24%. 1990). 2002).54%. Sifat fungsional pati pada tepung juga dipengaruhi oleh varietas. Gambar 9 menunjukkan hasil analisis kadar oksalat tepung talas. 2010). (2006). tepung talas Beneng dan tepung talas Mentega. 1992). Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan perendaman dalam larutan garam dan pengukusan (Fauzan. 1992. Hasil analisis kadar oksalat tepung talas Asam oksalat (H2C2O4) merupakan asam organik yang tersebar di seluruh bagian tanaman (Liebman. 2008). Berdasarkan analisis ANOVA.. kondisi alam. Kecenderungan terjadinya retrogradasi menyebabkan kristalisasi yang disertai dengan kecilnya molekul amilosa dan panjangnya rantai amilopektin (Peroni et al. Kadar Oksalat Kadar oksalat tepung talas yang diperoleh berkisar antara 219. 5. Amilopektin merupakan komponen yang berperan penting dalam proses gelatinisasi.Berdasarkan hasil pengolahan data dengan uji ANOVA.. Kadar Lemak . Tingginya kadar amilosa dapat menurunkan kemampuan pati untuk mengalami gelatinisasi (Tester dan Morisson. Perbedaan jumlah kadar oksalat pada tepung talas yang didapatkan dapat disebabkan oleh perbedaaan varietas tanaman tersebut (Wahyudi. sedangkan tepung talas Mentega memiliki kadar amilosa tertinggi diantara keempat jenis tepung talas. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi (2010). 2010). dan tempat tanaman tersebut berasal (Srichuwong et al. kandungan oksalat keempat jenis tepung talas yang diperoleh berada di bawah batas toksik yaitu antara 2-5g/100g bahan (Hui. Namun. 1969 di dalam McEwan.59±1. 2010. tepung talas Beneng yang memiliki kadar amilosa terendah. Garamnya terdapat dalam bentuk oksalat terlarut dan tidak terlarut (Huang et al. Kadar amilopektin tepung yang diuji berkisar antara 64. Sedangkan yang terendah adalah kandungan oksalat tepung talas Semir.98 ppm.. Mayasari. 2007).56-70. kadar amilosa yang didapat pada tepung talas tergolong rendah... West et al. Munro dan Bassir. 2006). Wahyudi. 6.33-759. Perbedaan jumlah kadar amilosa dan amilopektin pada tepung talas yang didapatkan dapat disebabkan oleh perbedaaan varietas tanaman tersebut. Kedua komponen ini berpengaruh pada sifat tepung yang dihasilkan. Menurut Tattiyakul et al. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 9. Oksalat merupakan komponen antinutrisi yang dapat menyebabkan iritasi kulit pada jumlah tertentu. Riley et al. 2005. Kadar oksalat tertinggi terdapat pada tepung talas Hijau. Nilai amilosa yang didapat lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aprianita et al. tepung talas Hijau dan tepung talas Beneng memiliki kadar amilopektin tertinggi diantara keempat jenis tepung talas. 2006). sedangkan tepung talas Semir memiliki kadar amilopektin terendah diantara keempat jenis talas. 2005. (2009) yang mendapatkan kadar amilosa pada tepung talas sebesar 5. 2001. Proses perlakuan pada bahan pangan dapat menghilangkan sebagian dari zat antinutrisi yang terdapat pada bahan pangan (Adeparusi.

rata-rata berkisar antara 1. Kadar Protein Kadar protein keempat jenis tepung talas yang diuji berkisar antara 5. Perbedaan kadar protein pada keempat jenis tepung talas disebabkan perbedaan varietas talas yang digunakan. kadar karbohidrat terendah terdapat pada talas Beneng. Tepung talas Mentega memiliki kadar lemak tertinggi. Gambar 10 menunjukkan hasil analisis kadar lemak tepung talas. 1996). Namun. kadar protein tertinggi terdapat pada tepung talas Beneng (6. Berdasarkan analisis ANOVA.36%. Kadar protein yang tinggi pada tepung dapat menyebabkan viskositasnya menurun.29±0. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan uji ANOVA.9-1. Gambar 12 menunjukkan hasil analisis kadar karbohidrat tepung talas. Perbedaan kadar lemak pada keempat jenis tepung talas disebabkan perbedaan varietas talas yang digunakan.07% dan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang diperoleh Tattiyakul et al. kadar lemak pada tepung yang dihasilkan masih tergolong rendah. Namun.12-1. Hasil analisis kadar lemak tepung talas Kadar lemak yang tinggi pada tepung dapat mengganggu proses gelatinisasi karena lemak dapat membentuk kompleks dengan amilosa sehingga menghambat keluarnya amilosa (Fennema. Selain itu. kadar karbohidrat berbagai jenis talas yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda .91%. terdapat beberapa data kadar lemak dari keempat tepung talas yang memiliki perbedaan nyata pada selang kepercayaan 95%.29%. 1996).18%).75-6. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan uji ANOVA.28±0. Hasil analisis kadar protein tepung talas Nilai kadar protein yang diperoleh dari hasil pengujian hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aprianita et al. 2009). (2006) yaitu sebesar 0. (2009) yaitu sebesar 6. Gambar 11 menunjukkan hasil analisis kadar protein tepung talas. 7. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 11.. sedangkan tepung talas Beneng dan tepung talas Semir memiliki kadar lemak terendah diantara keempat jenis tepung talas.Kadar lemak tepung talas yang didapatkan. 8.3%. Hal ini disebabkan karena granula pati melekat pada matriks protein yang dapat menurunkan interaksi antara granula pati dengan air sehingga dapat menurunkan kemampuan swelling power granula pati (Aprianita et al. Kadar Karbohidrat Kadar karbohidrat keempat jenis tepung talas yang diuji berkisar antara 84. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 10. lemak juga dapat membentuk lapisan hidrofobik pada granula pati yang dapat menghambat terjadinya proses gelatinisasi (Fennema. Menurut Jane et al.88-85. kandungan protein yang tinggi dapat menguntungkan karena tidak memerlukan adanya bahan substitusi lain dalam aplikasinya. (1992).

1996.. 2009).99%. namun masih dapat dihidrolisis dengan asam atau basa (Muchtadi.08-7. Talas Beneng memiliki kadar serat kasar tertinggi diantara keempat jenis talas sedangkan yang terendah adalah tepung talas Mentega.. Hasil analisis kadar karbohidrat tepung talas Talas merupakan jenis umbi-umbian yang merupakan sumber karbohidrat yang penting sebagai sumber energi yang digunakan sebagai bahan pangan pokok di daerah tropis dan subtropis (Liu et al.. Gambar 14 menunjukkan hasil analisis kandungan serat pangan pada tepung talas. Menurut Aprianita et al. 9. Tepung talas Mentega memliki kandungan serat pangan terendah diantara ketiga tepung talas lainnya sedangkan tepung talas Beneng mengandung kadar serat pangan tertinggi diantara keempat tepung talas lainnya.19%. Perbedaan ini juga disebabkan varietas yang berbeda dan kondisi budidaya yang berbeda. kandungan pati resisten yang terdapat pada talas lebih besar dibandingkan dengan kandungan yang terdapat pada gandum dan beras yang dilaporkan oleh Liu et al.memiliki nilai yang bervariasi. Medoua et al. 1992 di dalam Saifullah et al.. Serat pangan merupakan komponen dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzimenzim pencernaan manusia. Hasil analisis kadar serat kasar tepung talas Selain serat.. Berdasarkan analisis ANOVA. 2001). (2006a). 1996. Kadar Serat Pangan Kadar serat pangan yang didapat berkisar antara 6. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 13. Granfeldt et al. Perbedaan kadar serat kasar pada keempat jenis tepung talas disebabkan perbedaan varietas talas yang digunakan. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan dalam mencegah penyakit seperti obesitas dan tekanan darah tinggi (Aprianita et al. 2007). Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 12. terdapat juga karbohidrat tidak tercerna lainnya yaitu pati resisten yang memiliki fungsi yang sama dengan serat dalam memberikan manfaat kesehatan (Asp et al.25-2. Kadar Serat kasar Serat kasar tepung talas rata-rata berkisar antara 2. . Gambar 13 menunjukkan hasil analisis kandungan serat kasar pada tepung talas. Perbedaan kandungan serat pangan pada bahan tersebut dapat dipengaruhi oleh perbedaan varietas tanaman. Tingginya kadar karbohidrat tidak tercerna pada talas menyebabkan umbi talas memiliki daya cerna yang rendah. Serat kasar memberikan dampak positif bagi kesehatan untuk mengurangi resiko penyakit degeneratif diantaranya adalah menurunkan respon insulin dan indeks glikemik bahan pangan.. 10.. 2009). (2009). 2006a). menurunkan kadar kolesterol yang berlebihan dan menurunkan resiko penyakit kanker kolon (Asp et al.

21b 87.04a -1. Analisis warna Nilai L*.Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 14.a* dan b* dikonversi menjadi nilai ΔE sehingga dapat dilihat nilai total derajat warna yang dihasilkan (Moodley et al. Tabel 2 menujukkan hasil analisis dengan chromameter.11 d . Gambar 15 menunjukkan hasil analisis kandungan kalori pada tepung talas.29±0. sehingga dapat mencegah timbulnya arterosklerosis dan penyakit jantung koroner (Muchtadi.98±0.03a 0.05c b 7.05d a -0.21 b 16. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan uji ANOVA.60±0.98 kkal.25c 9.23a 9. b* Jenis Tepung Talas Hijau Talas Mentega Talas Beneng Talas Semir L 92.69-378. kandungan kalori yang tertinggi terdapat pada tepung talas Mentega sedangkan yang terendah terdapat pada tepung talas Beneng.16 c 11. Kadar serat pangan total terdiri serat pangan larut air dan pangan tidak larut air (Muchtadi.03b -0.79±0.04±0.14d Total Derajat Warna ΔE 10.25a 91.21c 92.80±0. Sedangkan serat pangan yang tidak larut berfungsi dalam mengatasi masalah pencernaan sehingga dapat mengurangi resiko kanker kolon (Muchtadi.26±0. 2001).09b 10.57±0..74±0.46±0. Semakin rendah nilai ΔE. Kadar Kalori Kadar kalori keempat jenis tepung talas yang didapat berkisar antara 374. Tabel 2. 11. 1999). 2001).31±0. Ket: Huruf yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 15. Hasil analisis kadar serat pangan tepung talas Kadar serat pangan dihitung dengan secara enzimatis.22±0.63±0. a*. kadar lemak dan kadar karbohidrat. Perbedaan kadar kalori yang didapat diantara keempat jenis tepung talas disebabkan oleh perbedaan komponen karbohidrat.08±0.40±0. lemak dan protein yang terdapat pada masingmasing jenis tepung talas tersebut. 12. Hasil analisis kadar kalori tepung talas Kadar kalori keempat tepung talas dihitung dengan menggunakan perhitungan kadar protein. maka warna sampel semakin mendekati warna standar yaitu putih. 2001). Hasil pengamatan warna dengan Chromameter Nilai L*. Serat pangan larut air berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah.39±0.13a 4.

01b T.27 c 70.59±13.09 a 1.08±0.11±0.09 a 17.88±0.1 c 6.44a T.36±3.05 b 6.72±1. C.18 c 84.06 a 6.6±0.12±0.3 b 260.14 a 378.14 b 85.13 b 1. Ringkasan Hasil Analisis Kimia Tepung Talas Berdasarkan hasil karakterisasi yang dilakukan.49±0.59 a 69. tepung talas Mentega memiliki nilai ΔE terendah dibandingkan keempat tepung talas lainnya.99±0.92±0.75±0.47±0.98±11.2 d 64.36±0.33 b 2.01±2.15 a 1.83a T.42c 220.6±0.56±0.83a Ket: nilai dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% . Mentega 4.75±0. perbedaan yang dimiliki dari keempat tepung talas baik dari segi fisik maupun kimia tidak banyak berbeda kecuali kandungan oksalat yang terdapat di dalamnya.19 a 85.49±0.28 a 12.12 a 1.69±0.98±0.55±0.65 a 759.62±1. Hal ini disebabkan varietas umbi talas yang berbeda.19±0.07 c 7.6 a 219.16 a 85.26±0.05 a 5.85±0. Semir 5. mendekati warna standar.04 c 75. Hal ini berarti tepung talas Mentega memiliki warna paling putih.91±0.7±0.75 a 13.14 b 374.12±0.3 a 2.99±0. Tabel 3 menunjukkan ringkasan hasil analisis komponen kimia tepung talas yang dilakukan.25±0.29±0. Perbedaan warna tepung yang dihasilkan terjadi karena perbedaan warna daging umbi.54±0. Beneng 4.33±3.29±0. Hasil analisis komponen kimia tepung talas Varian Tepung Talas Komposisi kimia Air (%bb) Abu (%bb) Protein (%bb) Lemak (%bb) Pati (%bb) Amilosa (%bb) Amilopektin (%bb) Serat Kasar (%bb) Serat Pangan (%bb) Karbohidrat (%bb) Kalori (%kkal/100g bb) Oksalat (ppm/bb) T.69±0.04 b 79.42±0.43±0.18 c 1.28 a 376.09 b 2.66±0.05 a 5.97±0.Ket: nilai dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Berdasarkan hasil analisis ANOVA.77±0.22 c 2.04 a 75.21±0.07±4.24±0.05 b 5.15 a 1.07±0. Hijau 5. Tabel 3.17 a 376.09 c 3.72±0.18 a 2.56±0.03 c 75.9 b 18.3 b 67.07 a 6.

Ali. Fakultas Teknologi Pertanian. Umbi talas Beneng memiliki ukuran umbi dengan panjang >18cm. Kadar protein dari keempat jenis tepung talas tersebut berkisar antara 5.25-2. perbedaan tertinggi terletak pada kandungan oksalat pada tepung talas. sedangkan kandungan oksalat pada tepung talas Mentega tidak berbeda nyata dengan kandungan oksalat tepung talas Beneng dan Semir. 3.07% dengan kadar lemak yang didapatkan. Kadar pati keempat jenis tepung talas yang diuji berkisar antara 75.) flour. Bogor. EO. kadar kalori keempat jenis tepung talas yang didapat berkisar antara 374. Arlington: AOAC Inc. rata-rata berkisar antara 1. 94 – 96. 2009. Skripsi. Umbi talas Semir memiliki ukuran umbi dengan panjang 8-12 cm. Umbi talas Hijau berasal dari Bogor memiliki kulit umbi berwarna kemerahan dengan warna daging umbi putih dan memiliki umbi dengan bentuk membulat.19%. Kadar air tepung talas yang diperoleh berkisar antara 4.33-759.98 kkal.88-85. A. .43%. KESIMPULAN Umbi talas Mentega berasal dari Sukabumi memiliki kulit umbi berwarna kemerahan dengan warna daging umbi kekuningan dan memiliki umbi berbentuk kerucut dengan ukuran panjang <8cm.98 ppm. Official of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry. 2. Berdasarkan hasil karakterisasi kimia dan fisik yang dilakukan terhadap empat varian tepung talas. Aprianita.69-378.91%. Tepung talas Hijau memiliki kandungan oksalat yang paling tinggi diantara keempat tepung talas. AOAC. Tepung talas Hijau memiliki kandungan oksalat yang paling tinggi diantara keempat tepung talas. International Food Research Journal 16: 507-520.12-1.01-79. Umbi talas Hijau memiliki ukuran umbi dengan panjang 8-12 cm. Nahrung I Food 45.75-6. 2001. 4. Umbi talas Beneng berasal dari Pandeglang memiliki kulit umbi berwarna kecoklatan dengan warna daging umbi kekuningan dan memiliki umbi dengan bentuk memanjang.36%.99% sedangkan kadar serat pangannya berkisar antara 6.72% sedangkan kadar abunya rata-rata berkisar antara 1. IY. Selain itu. perbedaan yang dimiliki dari segi fisik maupun kimia tidak banyak berbeda kecuali kandungan oksalat yang terdapat di dalamnya. Mempelajari Pengaruh Sulfurisasi dan Suhu Pengeringan Terhadap Sifat Fisik Kimia Tepung Talas Lampung. 2005. V. 1996. sedangkan kandungan oksalat pada tepung talas Mentega tidak berbeda nyata dengan kandungan oksalat tepung talas Beneng dan Semir. AA. Kadar oksalat tepung talas yang diperoleh berkisar antara 219.Berdasarkan hasil anaslisis komponen kimia. B Watson dan T Vasiljevic.55-3. Physico-chemical properties of fours and starches from selected commercial tubers available in Australia. Serat kasar yang terdapat pada keempat jenis tepung talas yang diuji rata-rata berkisar antara 2. Umbi talas Semir berasal dari Sumedang memiliki kulit umbi berwarna kecoklatan dengan warna daging umbi putih dan memiliki umbi dengan bentuk halter. Institut Pertanian Bogor. Effect of processing on the nutrients and anti-nutrients of lima bean (Phaseolus lunatus L. U Purwandari.08-7.29% sedangkan kadar karbohidratnya berkisar antara 84. DAFTAR PUSTAKA Adeparusi.29-5. 1.

18. Food Chem 31: 476-482. 10. www. Hartati dan Prana.bogorkab. 2008. A dan D Musaddad. 6. 14. Cereal Chemistry. T Kasemsuwantt dan WK Nip. 1996. F. Honestin. Application of anion-exchange high-performance liquid chromatography in determining oxalates in taro (Colocasia esculenta) corms. 1996. DR dan Darryl B. Pengaruh suhu terhadap kadar vitamin c pada pembuatan tepung tomat. Gastroenterologia 128. Optimalisasi cara. J. 1973. Huang AS dan LS Tanudjaja. 636–651. An in vitro procedure based on chewing to predict metabolic response to starch in cereal and legume products. Hort. 1950. NG. 16. Budiyati. 17. England. an evolving spectrum. A dan C Catassi. I Björck. Diakses 3 Januari 2010. J. 15. A Drews dan J Tovar. Fennema. J. JMM Van Amelsvoort dan JGAJ Hautvast. Clinical presentation of coeliac disease in the pediatric population. 57pp. Nutrition Research Review 9. Inc. Current approaches to diagnosis and treatment of coeliac disease. Food Chemistry. Trifena. 2005. Digital Color Imaging Handbook. CS dan Kristinah Haryani. New York. 2003. Unit Operation. Marcel Decker Inc. NG. 1992. 7. Ananlisis Kadar Pati dan Serat Kasar Tepung Beberapa Kultivar Talas. DE. 2005. Physical and chemical studies of taro starches and flours. Skripsi. 21. Hui. 8. GG. 2123 – 6. Skripsi. 1–31. Handbook of Food Engineering. Fasano. 1983. Agr. Vol. dan lama blansing sebelum pengeringan pada wortel. 1992. Bogor. 2006. 20. H Hallmer dan M Sijestrin. Granfeldt. ISBN 084930900X. 3rd Edition. Roots Crop. L Shen. Jane. pp: 69. S Lim. 12. 2007. Y. Kay. Bappeda Bogor. New York. J. A. YH. 11. 19. 2007. Lund (editor). Jurusan Teknik Kimia. Asgar. J. The Tropical Products Institute Foreign and Common Wealth Office. Heldman. Bogor. suhu. 2004. London. Fellows.id. 13. European Journal of Clinical Nutrition 46: 649-660. CG Johannson. Bharata. Food Processing Technology: Principle and Practice. Fakultas Teknologi Pertanian. Fasano.5. Jakarta. 24. Institut Pertanian Bogor. p 58. Edisi ke dua. 2000. Asp. 16(3):245-252. Daftar Komposisi Bahan Makanan. OR. Nutritional implications of resistant starch. Brown. John Wiley and sons. 23. IPB. Edisi ke 2. 2003. Asp. 1992. Direktorat Gizi Departemen Kesehatan. Gastroenterologia 120. 22. Agri Food Chem 40.. Prosiding Seminar nasional rekayasa kimia dan proses 2004. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. 25. Tepung Tempe dan Tapioka. Boca Ranton. CRC Press. CRC Press. Formulasi Flakes Komposit dari Tepung Talas. 68–73. Fauzan. In: Encyclopedia of Food Science and Technology. 3. Rapid Assay of Insoluble and Soluble Dietary Fiber. Jhon Willey & Sons. 9. . Jurnal Natur Indonesia 6 (1):29-33. Karakterisasi Sifat Fisikokimia Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas).go. 2001. Sharma. Oxalates. 1972. Fakultas Teknologi Pertanian. PJ. CRC Press. Gaurav. 1992.

The Contribution of Aroid in the Nutrition of Peoples in South. 22 [online]. Panduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma nutfah Talas. 1984. Food Eng. Y Yin. Sayuran sebagai sumber serat pangan untuk mencegah timbulnya penyakit degeneratif. Skripsi. The International Society for Tropical Root Crops. A dan O Bassir. S dan R Hussein. R Wudianto dan WH Apriadji. Bogor. Proc S Afr Sug Teclznol Ass (1999) 73. 42. New York. John Willey dan Chisester. 29. Food Proc and Pres. Leon. . Food Chemistry 99: 470-477. 36. The physicochemical properties and in vitro digestibility of selected cereals. 40. 2008. tubers. 2006 a.. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. B Sarwono. Muchtadi. Teknol. PT Penebar Swadaya. 28. J. Jakarta. GT Perez. Thesis. 1992. J. W. The Vulvar Pain Newsletter. Pengaruh pengeringan dengan alat pengering semprot dan drum terhadap aktivitas antitrombotik bawang putih dan bawang merah. 35.1: 61-71 39. JJ Afriastini. Charbohydrate Polimer 60:139-145. Q. CH Wijaya. 31. 2002. 2006. Minantyorini dan IH Somantri 2002. 43. Taro (Colocasia esculenta) [Electronic Version]. Na-Metabisulphit and drying temperature on the firmness and nutrient content of dried carrots. 27. Cassava. S Koswara dan R Afrina. The truth about oxalate: answers to frequently asked questions. Mohamed. D. 18:343-348. 1969 Oxalate in Nigeria vegetables. no. Characterization in some properties of starched isolated from Santosoma sagittifolium (tannia) and Colocasia esculenta L (taro). Parkinson. and legumes grown in China. 33. E Donner. Effect of damaged starch levels on four-thermal behaviour and bread staling. PC Rahardjo. Wafri J Bioi Appl Chem 12. 32. Oweri. M. Evaluation of the hunterlab colour measuring. Sweet Potato. Muchtadi. Onwueme. 2004. Lingga. The Tropical Tubers Crops. PAU. Yams. P. 1978. Jurnal Tek. dan EP de Delahaye. Moodley. S. Lee. and Cooyams. 61: 373–386. No. Anti-nutritional Constituent of Colocasia esculenta (Amadumbe) A Traditional Crop Food in Kwazulu-Natal. Ronalda. Cysteine-HCl. Perez. Ethnobotanical Leaflets. Effect of low temperature blanching. TR. McEwan. 2007. 37. L dan AM Sereno. Munro. 83 hlm. Industri Pangan. Faculty of Science University Zululand. FS Schultz. Modelling shrinkage during convective drying of food materials: a review. Liebman. IC. 30. Bogor. Nacetyl-L-Cysteine.26. 38. Komisi Nasional Plasma Nutfah. RL Huang dan MZ Fan. I Rahardi. 34. Bertanam Umbi-Umbian. Bul. GN Barrera. 2001. N. Fakultas Teknologi Pertanian-IPB. 1999. M. 1999. A Dunsmore dan L De Jager. 2010. Pengaruh Penambahan Larutan Asam dan Garam sebagai Upaya Reduksi Oksalat. D. p1418. J. dan Sugiyono. Mayasari. Liu. AE. Muchtadi. Industri Pangan 6(3):28-32. 1994. VoL XII. E. 1995. 1989. Mayor. PD Ribotta dan CM Rosell. European Food Research and Technology 224: 187-192. 41.

Chemical and Physical Properties of Flour Extracted from Taro Colocasia esculenta (L. CK. Jurnal Ilmiah Teknik Mesin CAKRAM. Karakterisasi Sifat Fisiko-Kimia Tepung dan Pati Talas (Colocasia esculenta) dan Kimpul (Xanthosoma sp) dan Uji penerimaan alfa-amilase Terhadap Patinya. J. 2005. Winarno. Vol 2. J Singh. Effect of amylopectin amylose and lipids. . Bogor. Martin RJ dan Vanhanen L. 2010. 55. 2275–2279. Juni 2008. Jakarta 61. 59. Afri. 49. 2007. Tech. Quach ML. Skripsi. L Kaur. Cereal Chemistry 67: 551-559. SY Yeoh dan ME Azhar. 2002. R. Singh. Fatemeta. 2009. 58. FG. 53. AB. No 1. PT. LD Melton. N Isono. Winarno. Isolationand characterization of starches from eight Dioscorea alata cultivars grown in Jamaica. Safety tests and antinutrient analyses of noni (Morinda citrifolia L. Food Sci. LM Sollid dan C Khosla. JN Burdon. MR dan G Padmaja. Kimia Pangan dan Gizi. 62: 25-34. 47. FG dan SL Jenie. I Parrot. O Molberg. Mamik. (30-33) 56. 57. IPB. Pengeringan jamur dengan dehumifier. Alpha-amylase inhibitor changes during processing of sweet potato and taro tubers. CB Tolson dan CJ Jensen. Starches from different botanical sources II: Contribution of starch structure to swelling and pasting properties.) Schott Grown in Different Regions of Thailand. Sanitasi dan Peracunan. 50. 311-8. Swelling and gelatinisation of cereal starches.) leaf. Jirarat . 1999. GM Gray. 54. dan BG Smith. pp 5019-5022. Fakultas Teknologi Pertanian. Pengaruh Suhu Perendaman Terhadap Kandungan Oksalat dalam Talas pada Proses Pembuatan Tepung Talas. Peroni F. D. 48. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. H Tani. 51. TC Sunarti. 5 (7): 1528-1536. Ridal. Morphological. L. Savage. F Filiz. International Food Research Journal 16: 373-379. Carbohydrate Poly. J Sci Food Agri pp 81. J. Cell wall compositions of raw and cooked corms of taro (Colocasia esculenta). Shan. thermal and rheological properties of starches from different botanical sources. dan M Hisamatsu. 1974. 1990. AK PaIu. N dan Hendra W. Wahyudi. Saifullah. Food Chem. 2000. 2003. 2007. GP. N. 2006. Science 297. Skripsi. Karakteristik Umbi Plasma Nutfah Tanaman Talas (Colocasia esculenta). Journal of Agriculture and Food Chemistry 47. Institut Pertanian Bogor. 45. Departemen Teknologi Hasil Pertanian. 12(6): 505-513. NS Sodhi. 2583 – 2588.). Bogor. Oxalate in Oca (New Zealand Yam) (Oxalis Tuberosa Mol. Riley. BS Gill. Biotechnol. 60. Structural basis for gluten intolerance in coeliac sprue. Int. Fakultas Teknologi Pertanian. Bogor. 46. S. 2006. Ida Hanarida. West BJ. Ross. PJ Harris. RF dan WR Morrison. Plant Food for Human Nutrition 52: 285-294. FMA Abbas. Rekha. 2006. Journal of the Science of Food and Agriculture 87. dan Sutoro. Srichuwong. Sukruedee Asavasaksakul dan Pasawadee Pradipasena. Utilization of green banana flour as a functional ingredient in yellow noodle. 81: 219-231. Setyowati. 2003. Tattiyakul.44. T Rocha dan C Franco. 52. Some structural and physicochmical characteristics of tuber and root starches. Gramedia. F Hausch. Tester. Stiff. AO Wheatley. I. dan HN Asemota. Bogor. Dasar Pengawetan. 2008. 1986. Suarnadwipa. 2002. T Mishima. IPB.

com/2011/01/04/6/ . Subarna. Gramedia Pustaka Utama. Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan. 63. http://jurnaldanmajalah. M Arpah. FG.wordpress. Dahrul Syah dan Siti Isyanu Budiwati.62. 1993. Pangan. Teknologi dan Konsumen. Wiratakusumah. Jakarta. Winarno. A. Gizi. 1992.

.8.3 /.90703/.33.3 /2 /.:. .3.3-07-0/.3 /..9 905:3 9.3 07/.9/.30507./03.7...9.73. -: -. 3 -07.8:2-9.780182.73.3  507-0/.7 -.3.7-4/7. 89.7.3. . 905:3 9. 248...3 .73.0.5.:... 507-0/.3 .3.9 .3 .8 '.83.3/3.2023.2. 5..9.8.23. !74903 -. -.-07-0/.8.8 -.8.3 /..8 .:. 7 -.7  !07-0/./-.3..8.8 ..9!.88 4254303 2.3 0025.709.-.3%05:3%.3 5:9  203/0.8842543032.-07-0/..-..7 0025.80.3 .3.3 .3:7:1.  .9/ /.3 73. !.9 -.8 .8.3.093..3/80-. 02./.%05:3%..8 .3. /.3  %.47 .5.8 .9 905:3 9./. 202 .38.7./ ..8.:5:32. 905:3 .8 0390.88 ' 905:39.3 907.7.348. -.8..8 07/.79 905:3 9.882.8 4254882.905:39..9 -.3/:3.9..8. 245093 -.73.9/.703.  %.3 -. $07.3907/.80390.-0  203:3:.3/.3. $07.9078.3:2- .   #3.-0 .

. 8. -.9 552.

80.  ] -  ] .  ] .  ] .9/.  ] .  ] .3 ..  ] .9.  ] ./.  ] .  ] .30507.38.  ] /  ] .  ] .  ] .  ] .-.  ] .  ] .  ] .  ] -  ] -  ] -  ] -  ] -  ] -  ] -  ] -  ] -  ] .3:7:1.  ] .  ] .  ] .  ] .  ] .5...  ] .  ] . 093.2.  ] . % 0303  ] . % .  ] .  ] -  ] . % $027  ] ./03.  ] .  ] .:  ] .-07-0/.  ] .  ] .  ] - % 0390.3.  ] .

39.3./. /.7 .8 .7.3/:3.8.3.7 .73.7:8    110.. 0.3 .    .3::7.9 .   80/.3 5.5 025.7 02.7.3 5.80303/.3.7.3 .890780-:9-078.7574903/.:.3 907/.905:39.3.73.4:73.9078.7.7.7!03.80../.348.9 .7.94341 11.8.7.-078.4 .-07./.:202::7.3 /03.3 /: -078.9./.80390.413.8.9 ..088343903:970398.7.3.3/:3.73./.23.73.9:8 14:7 .3.7 .39..3 /2 /.348.39.9/..  507-0/.7 !../.3 93/./.90025. .9.42207..7.9-078.9843/./. /.3.3 90793 90709..3.3 3899:9!079../.3 5.3 18 .8.7:$:1:78.-078.8.748.8 .7 80 18 2.3/:3.. /..   80/.3.8./. /.8 .  %05:3 9..73.8 0303 -07.905:39.95..9 &2-9.3 &2-9.3/:3.9.9.3/:3.7.:9.3.3.39: .98 2.3$::!03073.5. -078.3 ..9..70025.93.9.:9/03..-03:897.  &!:7.: 202 ..8.7.3 :2- 5:9 /..943.3 /50740 -078./.3202:2--07-039:07:.    $0.44/ #080..9 5.25:3 $758 .3/0.:.3$027 .8 $027 202 ::7.8 2.3 48.0.941574..   !8.3:2- 5:9/.73.39.3202:9:2--07.3447  447       11...            ..-:2202:9:2--07.907  &2- 9.3/:3.9038905:39.3.3.3/.     552  ..7.8$027-07. 5. -07-0/.3 -039: . .7.9 038905:39.39.80303/.02.8  507-0/.5$1.39.7 .9 038 905:3 9...3//.9905:39.3 48.0207.8 ..9038905:39.8 80/. 7.95.39.3 .3:2-/03.3.3/.3:2-/03./03.73.8 80/.9 .3/.9 / /..7.7..7 .  57.95.8.3/.5.2 &2- 9.-07-0/.2  07/.3 !.7.-0.9:-078.3 .7 .02897  73943 3.3 907.8841%0884.%05:3%.3.3%07.3.9.8/.3  7...081742800./.348.././.3/:3.73.7 . 7.   80/.3 905:3 9.35./.3/89.3 202 :2- /03.3.0207..-078.   .0.3 5.9.3$027   $!& &2-9.9/.3202:2-/03.    $07.3 /.9 .4.8%0344!079.:-07.3 .0025.35..470025.3/03.8.7.3.2 &2-9.3 .-:3.3   .3 .7447202:9:2--07.9905:39..9..9905:39. 7.8 .3.75.804:8:3.3/03.39.3 93 /..3.8 .7.33.9.39.  ' %#!&$% /05.7.3.7.3 48.7.7 905:3 9.3 48.57450790841 14:78..9905:39..348.8 .39.7.3 907/.3/:7..7$:20/.7$:./.5./.39.888 4254303 2.7..: 202 .3-039:202.3 202:9:2--07.8  %05:3 9./.3-039:202-:.5.:5:3 2.80390. 0025. 905:3 9.7.-078. 9/.4.7.80390.3:2-0:33.95.7./. 39073.7..3 :2- /03.3%'.....3:2-0:33.3/:3. 0025.8 .     /03.39... -.07/.7807./.7:344/       0250.39.3. .80303202::7.7 ..3. /03.    .3./.3. -07-0/...39 3:970398412.9.3 /50740 -078.9.3.2  &2- 9.7-4/7.3/03.8 .90/.3202:2- /03.3.3 //.9905:39.8.3.

.   #4498745 %0%745.4479/.03.7489./80.3$07.905.3.54.3/0:20574/:. 5   .7!.0394570/.708543809489.2.3.94341.3.7  33.9209..3 #/..983899:904703.943  .:9.00.974574.7 54240.77 :3/ 0/947   .7%05:3%.8  :73.8.%05:3&-..9.33843 .:.3/   03302.02..9././.:97943    .88   :77039.3/.37893.   .545:.30  $03 $2 %.      0/2.3 ! 447   048 !  44/!74.#.9 11..23.3/ $4:-009.3   !03..9.808.399/.3208.  #  44/02897 7//943 .3. /80.3    472:..9. # !7088 4.9.- 4 / .98 :7450.3$%.-.:9.8%03&3.344!73.2.7%.79.8028:.79.:039.8..3/!7.550/.  55.06:/ ..9. 55   .8.   9.5..4144/$.9842.5.908 33.4790  479        85  4.3/%0...3905:3942.3/-44 #!7088 $      7.0789.3 4:73.388..97:2 . $.4472.9.3/8438 3.3:/.//.89740390744.8039050/.7.943 430 $438 047   :/...947./.790203080.  ...5.90839.447    -447.:9.450/.7:8::907.89  :97943.0883%0.08.9:73/4308.343 0.8.3!7.3/422430.8$1.9/.8.0 43/43  .7.   3.7.!74/:..3488.7.344 '4  43 0.8%0344!079.34    3..8.85430474   70947.08425489/..#0.97..742.7. 8:: /.7     743   &39 507.80/43 .9203941.3.073.3 .19.72..25.50.3  .7.7%05:30-07.0/:70-..     .3/14:78  070.3 3899:9!079.7425488.843./    592.9.35  !8..070.4728  744/ 02     :    .40.3.3$/.3%.7.30.7. :97943#080.8%0344!079.  $758 .0 /80/:.89740390744.40.3/-444144/330073 /80  #!7088   430893 %7103.02897 55   ..73.3:.-. 502-:.5708039.7..3.41384:-0.7.     . 708/.3 %032.94341.3.35.0. 047   .3943 3.5/88.39 89.7 /.9078./.8  $758 ..8 %05:3%0250/.9/.9.8.3447 447   :..3.30 5071472.4.3.:9.8.94384170889.  8.53/09072334.9 !748/3$023.3.3/970.413.08.:7.89:/0841 9.0894/.3$08973  #.74 44. .3574808  :7:8.207/..:9.9 $/..7-07  7 44/02     85  '.3:8.5574.3../.../.34 /.310/9  7.3%4.80 .0      .38380-0:2 503073.3850.70.-4. .3.

3-. %0..7-4/7.843.. $48.344     0-2.3//73902507.503.7/4 17.9.08.3#480   110.38078941706:039.8.5.1098   043  ..9:7043901723088..3 89030   .3    %097:9.7    !03...357.09  89030 . 39       .7$.   39 3:97943. : %034 3/:897!.91 :73....:9.94 ..0.3. 2   4.9. %!070 !#-499.88.8!..887  .90!4207     !0743 %#4.:..3/   3..3!.73843 $  %04397-:9434174/390:9794341!045083$4:9 %0 39073. 44/ 02897    .79.77498  44/!74.02.380-.3/744989.7434 #.3 .35:9/.43899:0394144.8 419:-07.80/6:089438 %0':.3#:8803  110..394842.8 9:-078 .3/7:2907.'07843( 934-49./.3.9:7..38..3.:.3 ! 447   .9078.9914:2 9.-0.2&2- &2-.070.941/.9..9 /00307./ %# /...3.%:-0787458 ..82.7:503073..9./.3 :7450.9743.28  430/.9 5030738025749/.3.0.8.0./:2-0  %7./  .3.399742-49-.3.7:!03.3/%0.3/0:20874333.28 .7..8.4   $420897:.7.3. %058.3.3/03.7.70.0   ..394/..7707.3488     :.3.3..-4:94.39473/.:9 /..95.09147%745.3:39:203.7.9:70-.33.1745502 5     3:020   %0%745.9433842057450790841 89..08.   : " 43307 3 #:.3  .-.943.44:720.03.3808907 047   !.3/-70..30809907 34 4330(   3..4:7.974/089-941800.!.:: .3.:.7../943.3.$17$:%0.9.20/ $/.7 !.08 44/$.3/3:97039 .3!/00.3.3:91.8.-8:59. %088 ...9.:039.907.43. 0.9434190:3907.90/1742$.7:9.3 #43.3 !%!030-.74   .3/:.0  44/3     .08.280-.:7...43903941/70/...8  428..2.0/84.4.009.2.3/!708     44/0  :382470/..:91.07  . 2.7.. .9...3$:434  2:!0309..3.2-.7/ !#.0789::.397  !.90/.$4.3      :374 /.8.3 '4 4    :.3/.3/58.574507908 ./   079.  !03.4.0/89.3.0&3.9 $758 ./89.74 44.7.0/7341144/ 2.893 #:/./    $.90789..3 !& 447   :.084314:7 9072.90307.90. 09.-08 .:941$.#0/:8 8.9414902507. .30. $009!49.8...37.907.3/3.#4497458  07   !070  $$.0/:73.3$42.82.74544/3.7.8:2-07807.8.8:73  !74. ! $././.&5. 00   %.47 /.:039.344/#080. 9.8/./.3/44.3#173.3/44../.%0 3/:897!.%.7.3$07034   4/03873. 0.92-:3.2/.3 207.:039.8%0344!079.

.   84.94.3:97943    #/..2:7/03..857:0 $.3/. $4//.08 17420948.380249.44/755     #0. $758  .3.7.9:7...79 %82.3/ !8.3 447   $.79.08  110. .!.081742/1107039-49..09.938.9%.9714.08.7/.2.7. .440/.90!4     $:.93.08./.3/.93.4:73.!:89.85 /.3/   %08907 #/..470.803.:9.3 3899:9!079.2.14:7.2%. /.3$:2-07/.3.3.  ..3/.  .3   4-07 !.9/.&9.2 /./5.3.3.9..9 41.370/039304344/0 39073..8.38.3/44/02897 55      $..40.3 !./2.10990898.3/7044.8..907.03.7749 .3!. %03083# '4 4 :3       %.80841343 473/.8..:9:70.82.5!. 0.3&503072.897:.. ! 447   3.8..8%0344!079.:8.8. 1:3..: 7.7.3.3/:3.084397-:9434189.734   2..08.8 44.7!0309..39.3/5..9:7094803.303/7. ..:039.. ":.793#/.3!0302-.3..3.3$030  .8%:-0748..943.943417003-.3.303803   $.4190$.4997433 1107039#043841%.5..3'.0 ! .903 ./00!7.74 44. $.3 8.08.308/:73574. %.893 574507908 .:3.787433.0     $3  $3 .3%05:3%.8 $758 .3.3$:9474   .3..:039.9434189..3#477843  $03..:039.: %4843/.3  %0344/.3/.44/#080.8%0344!079.7.3 $.2.2450.4728419.7.325: .90789&2-!.7.04144/.3/5/8  070.1.:7 $$4/ $   47544.2480.3!.8!079.9 .3.  3.3$29  0. 17  490...3/7.3490344 /.   5.:43 $ %$:3. !74808!02-:./5.3 ! 447   089 %.85../.3 !% 7.9 $:7:0/008. 9072.8$1.3%.7   &9...734   !.2.-...7.749:-078 !.99.   02.3/.8 44.7444.3.7.03.3.3/9.3.73.734 /.3.  /...7!03.3. 5745079084189.3438:203 7.20/..303   . 00.90209.2.   !03073.:/.:9./.    $97:.3944/147:2. /.3 .!74507908414:797.3/0:2107 :73.88147:90339407.3!07.3%07..02897    .7-4/7.2.8.3.:91. .778 :7/43 /.081742 /1107039-49.4 4:73.94341.3!.984 2.2.943.3.3 05. # --.89.  7.9078.8.1 4:73. #/.03.84:7.943.803-947..3/0..7..3.394842..8..7.9.348.. 0943 !.2.80%07.0309!079...    $094.%05:3/.8/.90/1742%.:039. $911   ..84:7.79.:/    !03...7:$::!0703/.8 $04/.:9.:9:70      3.3/.393:97039 .42548943841 7.98:   $9.8.  $.08..08 44/02     $7.088341 8009549.2  .070.90 /.20/.790203 %0344. 8434 /.3447 447   #0   0..1:.417.34       #488  $.

 .9  !07..9.7:$.3. 7.3    ½ $$©°f f°¯f©ff  ½ ¾¾ n¯$$$$$ .  $:-.:8:2.3$98.9.3&39!748083/:897!./.73.3::/. 75.3 /.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful