Ilmu Takhrij Hadits, Cara Mentakhrij Hadist dan Ilmu Sanad

Pengertian Takhrij Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja ( َ ‫ )خر‬yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. ‫َ َج‬ َ Demikian juga kata al-ikhraj ( ‫ )ا إِلخرج‬yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan alَ ْ ْ makhraj ( ‫ )المخرج‬artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan َ ْ َ dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya. Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. Sejarah Takhrij Hadits Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidakmerasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syar'i. Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dla'if. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan "Kutub At-Takhrij" (buku-buku takhrij), yang diantaranya adalah :  Takhrij Ahaadits Al-Muhadzdzab; karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi'I (wafat 548 H). Dan kitab Al-Muhadzdzab ini adalah kitab mengenai fiqih madzhab Asy-Syafi'I karya Abu Ishaq Asy-Syairazi. Takhrij Ahaadits Al-Mukhtashar Al-Kabir li Ibni Al-Hajib; karya Muhammad bin Ahmad Abdul-Hadi Al-Maqdisi (wafat 744 H). Nashbur-Rayah li Ahaadits Al-Hidyah li Al-Marghinani; karya Abdullah bin Yusuf Az-Zaila'I (wafat 762 H). Takhrij Ahaadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari; karya Al-Hafidh Az-Zaila'I juga. [Ibnu Hajar juga menulis takhrij untuk kitab ini dengan judul Al-Kafi Asy-Syaafi fii Takhrij Ahaadits Asy-Syaafi ] Al-Badrul-Munir fii Takhrijil-Ahaadits wal-Atsar Al-Waqi'ah fisy-Syarhil-Kabir li Ar-Rafi'I; karya Umar bin 'Ali bin Mulaqqin (wafat 804 H). Al-Mughni 'an Hamlil-Asfaar fil-Asfaar fii Takhriji maa fil-Ihyaa' minal-Akhbar; karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-'Iraqi (wafat tahun 806 H). Takhrij Al-Ahaadits allati Yusyiiru ilaihat-Tirmidzi fii Kulli Baab; karya Al-Hafidh Al-'Iraqi juga. At-Talkhiisul-Habiir fii Takhriji Ahaaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li Ar-Rafi'I; karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani (wafat 852 H). Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaaditsil-Hidayah; karya Al-Hafidh Ibnu Hajar juga. Tuhfatur-Rawi fii Takhriji Ahaaditsil-Baidlawi; karya 'Abdurrauf Ali Al-Manawi (wafat 1031 H).

        

Contoh :

Berikut ini contoh takhrij dari kitab At-Talkhiisul-Habiir (karya Ibnu Hajar) : Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,"Hadits 'Ali bahwasannya Al-'Abbas meminta kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai tiba haul-nya. Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam memberikan keringanan untuknya. Diriwayatkan oleh Ahmad, para penyusun kitab Sunan, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi; dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar, dari Al-Hakam, dari Hajiyah bin 'Adi, dari 'Ali. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Israil, dari Al-Hakam, dari Hajar Al-'Adawi, dari 'Ali. Ad-Daruquthni menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam. Dia menguatkan riwayat Manshur dari Al-Hakam dari Al-Hasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dengan derajat mursal. Begitu juga Abu Dawud menguatkannya. Al-Baihaqi berkata,"Imam Asy-Syafi'I berkata : 'Diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bahwasannya beliau mendahulukan zakat harta Al-'Abbas sebelum tiba masa haul (setahun), dan aku tidak mengetahui apakah ini benar atau tidak?'. Al-Baihaqi berkata,"Demikianlah riwayat hadits ini dari saya. Dan diperkuat dengan hadits Abi Al-Bakhtari dari 'Ali, bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,"Kami sedang membutuhkan lalu kami minta Al-'Abbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun". Para perawinya tsiqah, hanya saja dalam sanadnya terdapat inqitha'. Dan sebagian lafadh menyatakan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepada 'Umar,"Kami pernah mempercepat harta Al-'Abbas pada awal tahun". Diriwayatkan oleh Abu Dawud AthThayalisi dari hadits Abi Rafi'" [At-Talkhiisul-Habiir halaman 162-163] METODE TAKHRIJ Dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut : Metode Pertama, takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari shahabat Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits, lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits :  Al-Masaanid (musnad-musnad) : Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap shahabat secara tersendiri. Selama kita telah mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-masaanid hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. Al-Ma'aajim (mu'jam-mu'jam) : Susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan musnad para shahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah). Dengan mengetahui nama shahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya. Kitab-kitab Al-Athraf : Kebanyakan kitab-kitab al-athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para shahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap.

Metode Kedua, takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits Cara ini dapat dibantu dengan :

 

Kitab-kitab yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang banyak, misalnya : AdDurarul-Muntatsirah fil-Ahaaditsil-Musytaharah karya As-Suyuthi; Al-Laali Al-Mantsuurah filAhaaditsl-Masyhurah karya Ibnu Hajar; Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minalAhaaditsil-Musytahirah 'alal-Alsinah karya As-Sakhawi; Tamyiizuth-Thayyibminal-Khabits fiimaa Yaduru 'ala Alsinatin-Naas minal-Hadiits karya Ibnu Ad-Dabi' Asy-Syaibani; Kasyful-Khafa wa Muziilul-Ilbas 'amma Isytahara minal-Ahaadits 'ala Alsinatin-Naas karya Al-'Ajluni. Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus, misalnya : Al-Jami'ush-Shaghiir minal-Ahaaditsil-Basyir An-Nadzir karya As-Suyuthi. Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab tertentu, misalnya : Miftah Ash-Shahihain karya At-Tauqadi; Miftah At-Tartiibi li Ahaaditsi Tarikh Al-Khathib karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari; Al-Bughiyyah fii Tartibi Ahaaditsi Shahih Muslim karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi; Miftah Muwaththa' Malik karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi.

Metode Ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits Metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu'jam Al-Mufahras li Alfaadzil-Hadits An-Nabawi, berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits, yaitu : Kutubus-Sittah, Muwaththa' Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad Ad-Darimi. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis, yaitu Dr. Vensink (meninggal 1939 M), seorang guru bahasa Arab di Universitas Leiden Belanda; dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini adalah Muhammad Fuad Abdul-Baqi. Metode Keempat, takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrij-nya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Dr. Arinjan Vensink juga. Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal, yaitu :               Shahih Bukhari Shahih Muslim Sunan Abu Dawud Jami' At-Tirmidzi Sunan An-Nasa'i Sunan Ibnu Majah Muwaththa' Malik Musnad Ahmad Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi Sunan Ad-Darimi Musnad Zaid bin 'Ali Sirah Ibnu Hisyam Maghazi Al-Waqidi Thabaqat Ibnu Sa'ad

Seperti meneliti lebih jauh matannya untuk mengetahui apakah isinya bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih terpercaya atau tidak.pdf http://attanzil. Mengenal Kitab dan Cara Mentakhrij Hadist (1) | (2) | (3) atau klik disini 1. Ini terkait dengan memberikan hukum kepada sanad hadits. kuat lemahnya hafalan serta penyebabnya. dengan mengetahui waktu lahir dan wafat mereka.wordpress. Vensink) menghabiskan waktunya selama 10 tahun. disamping melihat semua unsur yang tersebut di atas.Dalam menyusun kitab ini. Sumber :Ditulis oleh Abu Al Jauzaa . Yaitu dengan menitikberatkan pada mengetahui biografi.wordpress. Sedangkan dalam memberikan hukum kepada matan hadits.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___cara_mentakhrij_hadits__3_ 1.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___cara_mentakhrij_hadits__1_ 2. Seperti mengatakan. Setelah mempelajari semua unsur yang tersebut di atas. Dalam studi sanad ini. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali yang ahli dalam bidang ini dan sudah menjalaninya dalam kurun waktu yang lama.wordpress. buku-buku yang dapat digunakan untuk membantu adalah buku-buku yang membahas tentang Al-Jarh wat-Ta'dil serta biografi para perawi. mengetahui apakah mata rantai sanad antara seorang perawi dengan yang lain bersambung atau terputus. kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diedarkan oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqi yang menghabiskan waktu untuk itu selama 4 tahun. http://attanzil. Lebih Lanjut bisa di baca disini dalam bentuk pdf. atau Sanad hadits ini dusta".com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___cara_mentakhrij_hadits__2_ 1. Kemudian setelah itu kita memberikan hukum kepada matan tersebut. Memberikan hukum kepada matan hadits lebih sulit daripada memberikan hukum kepada sanad."Sanad hadits ini shahih. kita harus melihat unsur-unsur yang lain. 1. Seperti dengan mengatakan : "Hadits ini shahih" atau "Hadits ini dla'if". penyusun (Dr. dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Jarh wat-Ta'dil. 3. Sanad hadits ini lemah. Dan apakah di dalamnya terdapat illat yang dapat menjadikannya tertolak atau tidak.pdf STUDI SANAD HADITS Yang dimaksudkan dengan studi sanad hadits adalah mempelajari mata rantai para perawi yang ada dalam sanad hadits. kemudian kita dapat memberikan hukum kepada sanad hadits.pdf http://attanzil.

Dan di artikan pula jarah dengan memawkai dan menistai. Dari sudut pendekatan kebahasaan ini. Menurut definisi lainnya. kata takhrij juga memiliki beberapa arti. menjelaskan duduk persoalan) 2.A. Kedua berarti at-tadrib (latihan ) ketiga berarti at-taujih (pengarahan. definisi yang disebut ketiga ini yang banyak dipakai dan terkenal pada kalangan ulama ahli hadis.ahadits min buthuni al-kutub wa riwayatuh ( mengeluarkan sejumlah hadis dari kandungan kitab-kitabnya dan meriwayatkannya kembali ). yaitu pertama. baik dimuka ataupun dibelakang. serta menyandarkannya kepada penulis kitab yang dikutipnya.bukhari). seperti di bawah ini : Menurut satu definisi. di sebutkan bahwa kata takhrij berarti ikhraj al. asal kata Takhrij. berarti al-istinbath ( mengeluarkan dari sumbernya ). Arti takhrij menurut definisi ini banyak dipakai oleh para ulama dalam mengutip atau menyebutkan suatu hadis. yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya. Menurut definisi berikutnya. Menurut mahmud ath-Thahhan. Pengertian Secara Terminologis Para ulama ahli hadis dalam hal ini mengemukakan beberapa definisi. ia menambahkan bahwa orang yang mengeluarkan hadis tersebut kemudian meriwayatkannya atas namanya sendiri atau atas nama gurugurunya. Di sini dijelaskan siapa-siapa yang menjadi para perawi dan mudawwin yang menyusun hadis tersebut dalam suatu kitab. kata takhrij berarti ad-dalalah ala mashadir al-hadits al. Pengertian Takhrijul Hadis 1. Menurut mahmud ath-thahhan. pedang dasn sebagainya. luka yang disebabkan oleh kena pisau dan sebagainya dinamakan jurh. Pengertian ini diantaranya dikemukakan oleh as-sakhawi. ia menyabutkan pengertian takhrij sebagai berikut: ‫ةج‬ ‫لاد‬ ‫هتب‬ ‫رم‬ ‫ث‬ ‫د‬ ‫س‬ ‫هتجرخأيتلاهت‬ ‫ص‬ ‫ا‬ ‫ميف‬ ‫د‬ ‫لا‬ ‫مى‬ ‫ةل‬ ‫دلا‬ “petunjuk tentang tempat atau letak hadis pada sumber aslinya. Misalnya dikatakan : hadza hadits akhrajahu al-bukhari atau kharrajahu al-bukhari ( hadist ini dikeluarkan oleh al.ashliyah wa azzuhu ilaihi ( petunjuk yang menjelaskan kepada sumber-sumber asal hadis ). Berdasarkan definisi ini. Pengertian Menurut Bahasa Kata takhrij dari kata kharraja. arti takhrij sama dengan Al-ikhraj yaitu Ibraz Al-Hadits li an-nas bidzikri mahrajih (mengumgkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perawi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai yang mengelaurkan hadits). yukhariju. ialah : ‫دحاوءيشيفن‬ ِِ‫ض ت م ن‬ ‫ر مِِِ أ ع‬ ِِِ‫ت جِِِ إ‬ ”Berkumpulnya dua hal yang bertentangan dalam satu persoalan” Dalam arti lain tajrih/takhrij atau jarah dalam pengertian bahasa : melukai tubuh ataupun yang lain dengan menggunakan benda tajam. pisau. kemudian dijelaskan martabat atau . yang secara bahasa mempunyai bermacam-macam arti.

di dalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh. antara lain : 1. untuk mengetahui keadaan hadis tersebut yang berkaitan dengan maqbul dan mardud-nya.kitab utama tersebut. atau sumber-sumber yang berusaha menghimpun kitab-kitab hadis dalam masalah-masalah atau pembahasan khusus. Dapat mengetahui keadaan hadis sebagai mana yang dikehendaki atau yang ingin di capai pada tujuan pokok di atas. berarti melakukan dua hal.kedudukannya manakala diperlukan ". apakah sanad-sanad itu bersambung atau tidak. khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadis. B. Selain itu. seperti kitab al-jami‟baina as-shahihain oleh al-humaidi. Kedua. Sebab di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui dari mana sumber hadis itu berasal. tafsir atau tarikh. seperti kata-kata akhrajahuh al-baihaqi. Sedang kegunaan takhrij ini. Tujuan pokok men-tahrij hadis adalah untuk mengetahui sumber asal hadis yang ditakhrij. bisa dengan menyebutkan sumber utama atau kitab-kitab induknya. Tujuan Dan Kegunaan Men-Takhrij Hadis Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang perlu dipelajari dan dikuasai. seperti masalah fiqih. Artinya. memnberikan penilaian kualitas hadis apakah hadis itu sahih atau tidak. bahwa penilaian kualitas suatu hadis dalam mentakhrij tidak selalu harus dilakukan. akhrajahu al-thabrani fi mu‟jamih atau akhrajahu ahmad fi musnadih. dengan diketahui dari mana hadis itu diperoleh sepintas dapat dilihat sejauh mana kaulitasnya. Dapat mengetahui keadaan sanad hadis dan silsilahnya berapapun banyaknya. atau sunbersumber yang telah di olah oleh para pengarang berikutnya yang berusaha menyusun dan menggabungkan antara kitab. 2. seperti kitab-kitab yang termasuk pada kutub as-sittah. . yaitu yang pertama berusaha menemukan para penulis hadis itu sendiri dengan rangkaian silsilah sanadnya dan menunjukannya pada karya-karya mereka. Penilaian ini dilakukan andai kata diperlukan. Berdasarkan definisi di atas. Kegaitan ini hanya melengkapi kegiatan takhrij tersebut sebab. maka me-ntakhrij. Tujuan lainnya. Penyebutan sumber-sumber hadis dalam definisi di atas.

ialah Alkhatib Al-bagdadi (463 H). seperti Abu Al-Qasim AlHusaini dan Abu Al-Qasim Al-Mahrawani. sampai kemudian datang An-nawawi yang melakukan hal itu. Dapat menetapkanMuttashil kepada hadis yang diriwayatkan dengan menggunakan Adat AtTahammul Wa Al-a-da‟ (kata-kata yang dipakai dalam penerimaan dan periayatan hadis) dengan an‟anah (kata-kata an/dari). kemidian dilakukan pula oleh Muhammad bin musa al-hazimi (W. Dapat membedakan mana paraperawi yang ditinggalkan atau yang dipakai. Dapat mengetahui bagaimana pandangan para ulama terhadafkes hahihan suatu hadis. Ada juga ulama lainnya. Nashb ar-rayah li ahadits al-hidayah dan takhrij ahadits al-kasysyaf. Kebiasaan ulama Mutaqaddimin menurut Al Iraqi.laqab (gelar). 4. yaitu: 1.Atsaral-Waqi‟ah fi Syarh Al-Kabir karya Ibn Al-Mulaqqin (w. Karya kedua ulama ini hanya berupa Mahthuthah (manuskrip) saja. 5. Sepintas Tentang Sejarah Takhrij Kegiatan men-takhrij hadis muncul dan diperlukan pada masa ulama Mutaakhirin. 7. Cara Mentakhrij Hadis Pada garis besarnya ada lima cara atau jalan untuk mentakhrij hadis. C. baik berkaitan dengankun-yah (julukan).584 H) dengan karyanya Takhrij Ahadits Al-Muhadzdzab. Dapat menetapkan sesuatu hadis yang dipandangMubham menjadi tidak Mubham karena ditemukannya beberapa jalan Sanad. dengan nama yang jelas. Ia mentakhrij kitab fiqih syafi‟iyah karya Abu Ishaq Asy-Syirazi. cukup banyak bermunculan kitab-kitab tersebut yang berupaya men-takhrij kitab-kiatab dalam berbagai disiplin ilmu agama.3. keduanya karya Abdullah bin yusuf Al-Zaila‟i(w. 8. Yang termasyhur di antara kitab-kitab tersebut. Dapat memastikan identitas para perawi. dalam mengutip hadis-hadisnya tidak pernah membicarakan dan menjelaskan darimana hadis itu dikeluarkan. 744 H). karena ditemukannyaS yah id atauMu‟tabi. dan AlBadr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al. Ulama yang pertama kali melakukan takhrij menurut Mahmud Ath-thahhan ini. Melalui pengenalan nama sahabat perawi hadis . 6. Pada perkembangan selanjutnya. 762 H). selain karya Muhammad bin Musa AlHazimi di atas. Dapat meningkatkan kualitas suatu hadis dariDha‟if menjadiHasan. hala ini tidak pernah dibicarakan dan diperlukan. ialah kitab takhrij Ahadts Al-Mukhtashar Al-Kabir karya Muhammad bin Ahmad Abd Al-Hadi Al-Maqdisi (w. 804 H) D. atau nasab (keturunan). serta bagaimana kualitas hadis-hadis tersebut. atau sebaliknya. Sedang sebelumnya.

Melalui pengenalan topic yang terkandung dalam matan hadis 5. .dan kitab-kitab kunci serta daftar isi kitab-kitab hadis tesebut.musytaharah dalam pembicaraan orang banyak. hasan. Melalui pengenalan awal lafaz atau matan suatu hadis 3. para ulama telah menyusun kitab-kitab penunjuk yang menunjukan hadis-hadis yang beredar kepada sumber asalnya. Men-Takhrij Melalui Pengenalan Awal Lafazh Pada Matan Dengan mengenal awal matan suatu hadis. 974 . Untuk itu.At-Tadzkirah fi al-Ahadits al-Musytaharah. Melalui pengamatan tertentu terhadap apa yang terdapat dalam suatu hadis. bahkan Maudhu. di awal. di tengah atau di akhir matan 4. Kitab-kitab dimaksud. maka hadis dapat di takhrij dengan menggunakan bantuan beberapa kitab hadis yang dapat menunjuk kepada sumber utamanya. .hadis yang terkenal (almusytaharah)nya disusun secara alfabetis. Pada kitab-kitab yang terakhir ini menjadikan kutub as-sittah (dua kitab al-jami „ash-shahih dan empat kitab as-sunan) dan al-muwaththa‟ sebagai sumbernya. a.Tuhfah al-Asyraf bi „Ma‟rifat al-Athraf karya abu al-Hajjaj Yusuf Adurrahman al-Mizzi (w. Kitab-Kitab Yang Memuat Hadis-Hadis Yang Banyak Dikenal Orang yang dimaksud dengan hadis-hadis yang banyak dikenal orang atau al. Melalui pengenalan kata-kata yang tidak banyak beredar atau dikenal dalam pembicaraan.akan menjadi jelas nama yang harus menjadi pegangan umat dan mana yang harus ditinggalkan.2. tetapi merupakan bagian dari matan hadis (letak kata-kata tersebut bisa dimana saja. Kitab-kitab seperti ini banyak disusun oleh para ulama antara abad 10 sampai 13 hijriah.atau dha‟if. Di antara kitab-kitab tersebut adalah: .Dzakhair Mawarits fi ad-Dalalah „ala Mawadhi‟I al-hadits karya Abd al-Mugni an-Nablusi (1050-1143). ialah hadis-hadis yang banyak beredar di masyarakat. karya Badr ad-Din Muhammad bin Abdullah az-Zarkyasi (w. 2. Dengan demikian. Hadishadis tersebut adakalanya shahih.742 H). ialah kitab-kitab yang memuat tentang hadis.

yang keduanya karya as-Suyuthi. 911 H). karya Muhammad bin Abdurrahman as-sakhawi (w. Kitab-Kitab Kunci dan . . Sebab. yang memuat sanad-sanadnya secara lengkap.902 H). Kitab Hadis Yang Matan-nya Disusun Secara Alfabetis Kitab yang demikian berisi hadis-hadis yang diambil dari beberapa kitab dan disusun secara alfabetis. penyusunan hadis dilakukan berdasarkan huruf pada awal matannya. Akan tetapi ditunjukan juga sunber utamanya. yang dinukil dari kitab karyanya sendiri. Jam‟u al-Jawami.Tashil as-Sabil ila Kasyf al-Iltibas „amma dara min al-Ahadits baina an-Nas. dengan membuang sanadnya. Pada kitab. karya Muhammad bin Ahmad al-Khalili (w. dan . Di antara kitabkitab yang termasuk kelompok ini. b. Kitab hadis yang disebut pertama meuat sekitar 10. karya as-suyuti (w.kitab ini identitas sanad hanya dalam wujud huruf-huruf singkatan. harus diketahui lebih dahulu awal matan dari hadis-hadisnya.031 buah Hadis. c. 1057 H). ialah al-ja‟mi ash-Shagir min Hadits al-Basyir an-Nadzir dan al-jami „al-kabir.Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir min al-Ahadits al-musyhurah „ala alAlsinah.Ad-Durar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytaharah. Untuk lebih memudahkan dalam mempergunakan kitab-kitab ini.H). .

. yang pada garis besarnya terdapat pada tiga bagian • akitab-kitab yang memuat selurh bab dan topic ilmu agama. empat kitab as-sunan. Terdapat banyak kitab yang mentakhrij hadis dengan cara ini. dan al-ahkam. akan tetapi tidak mencakup seluruh bab secara lengkap.mustakhrajah „ala as-sunan. alat yang dipakai ialah al-mu‟jam al-mufahras li alfazh al-hadits an-nabawi oleh A. ada juga yang berusaha membuat kitab kunci (al-miftah) dan kitab yang memuat daftar isi (al-fihris).Daftar Isi Kitab Hadis Tertentu di antara para ulama. Wensink. • kitab-kitab yang hanya membahas bab atau topic-topik khusus. Kitab miftah kunuz as-sunnah yang disusun oleh Muhammad fuad Abd al-baqi merujuk kepada 14 kitab. yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab oleh Muhammad fuad Abd albaqi. jilid. nomor urut bab.J. al-mustakhrajah. at-targip. dan halamannya. Sistem penyusunannya secara alfabetis. Kitab seperti ini banyak sekali. Men-Takhrij Melalui Pengenalan Topic yang Terkandung Dalam Matan Hadis Cara mentakhrij melalui pengenalan topic ini dapat dipakai oleh mereka yang banyak mengasai matan hadis dan kandungannya. 3. di antaranya kitab al-jawami. khususnya ulama mutaakhirin. dan al. 4. yakni potongan hadis dari shahih al-Bukhari dan Muslim disusun dan diberi keterangan sperlunya saja tentang isi kitab/bab. • Kitab-kitab yang memuat banyak bab atau topic. al-akhlak. Kitab ini disusun dengan merujuk kepada sembilan kitab hadis induk. seperti kitab-kitab as-sunan al-muwaththa‟ah. Di antara kitab tersebut ialah miftah ash-shahihain karya Muhammad as-syarif bin Musthafa at-Tauqidi (1312 H). dan miftah kunuz as-sunnah. dan musnad ad-darimi. al. yaitu dua kitab al-jami „ash-shahih. az-zawaid. seperti kitab attarhib. musnad Ahmad bin Hanbal. al-majami‟. al-mustadrakah „ala al-jawami‟. Men-takhrij melalui Pengenalan Kata-kata yang tidak banyak Beredar dalam Pembicaraan Untuk bagian ini.muwaththa‟ Malik bin Anas.

ataupun dha‟if. musnad Abu Daud ath-thayalisi. jami‟at-turmudzi. Begitu juga halnya dengan cirri-ciri yang ditemukan pada sanadnya. musnad Ahmad. Ada beberapa manfaat dari takhrijul hadis antara lain sebagai berikut : 1. Magazi al-waqidi.bukhari atau kharrajahu al-bukhari ( hadist ini dikeluarkan oleh al-bukhari Me-ntakhrij.akhbar.yaitu : shahih al-bukhari. seperti pada misykah alanwar fi‟ma‟ruwiya‟an illahi subhanahu wa ta‟ala min al. cirri-ciri hadits qudsi. sunan Ibn Malik. shahih muslim. Yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut. Dan sebaliknya tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah mardud (tertolak) 3. berarti melakukan dua hal. cirri-ciri dalam periwayatan dengan silsilah sanad tertentu. Ringkasan Takhrij adalah mengumgkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perawi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai yang mengelaurkan hadits). Misalnya dikatakan : hadza hadits akhrajahu al.. seperti kitab al-maudhu‟ah al-kubra‟.baik dan segi sanad maupun matan. 2. yaitu yang pertama berusaha menemukan para penulis hadis itu sendiri dengan rangkaian silsilah sanad-nya dan menunjukannya pada karya-karya mereka. DAFTAR . seperti kata-kata akhrajahuh al-baihaqi. Suatu contoh. Mentakhrij Melalui Pengamatan Terhadap Ciri-ciri Tertentu pada Matan atau Sanad Dengan mengenal ciri-ciri tertentu pada suatu hadis dapat menemukan dari mana hadis itu terdapat. serta cirri-ciri yang lain. sunan Ibn Majah. 5. sunan ad-Darimi. memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk hadis shahih. dan thabaqah Ibn Sa‟ad. dapat dilihat lebih lanjut pada kitab-kitab. jika diketahui ada matan hadis yang janggal (syadz). sunan an-nasa‟I. akhrajahu al-thabrani fi mu‟jamih atau akhrajahu ahmad fi musnadih. musnad Zaid bin Ali. memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadis adalah hadis makbul (dapat diterima). setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. begitu juga jika diketahui pada hadis tersebut ada cirri-ciri hadis qudsi. sunan abu daud. sirah Ibn hisyam. E. Cirri-ciri dimaksud seperti cirri-ciri maudhu‟. menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari rasulullah SAW. maka hadis tersebut dapat dilihat lebih lanjut pada kumpulan hadis-hadis yang dha‟if atau maudhu‟. hasan.

. 2004. Jakarta.. Drs. 1954. M. Drs. prof. Dr.. . Gaya Media Pratama.Mudzakir.. Pustaka Setia. Ulumul Hadis.PUSTAKA Utang Ranuwijaya. Hasbi AshShiddieqy. Ilmu Hadis. H. Bandung.A. Bulan Bintang. Jakarta. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Dr.. Muhammad Ahmad. 2001. M.

sehingga mereka tidakmerasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata *kharaja* ( ََ‫ ) خرج‬yang artinya nampak dari َ َ tempatnya. .*Nashbur-Rayah li Ahaadits Al-Hidyah li Al-Marghinani*. *Sejarah Takhrij Hadits* Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas. yang diantaranya adalah : . karya Abdullah bin Yusuf Az-Zaila'I (wafat 762 H).cc/2008/08/05/ilmu-takhrij-hadits-cara-mentakh.*Takhrij Ahaadits Al-Muhadzdzab*. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan *"Kutub At-Takhrij"*(buku-buku takhrij). *Takhrij* menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.. karya Umar bin 'Ali bin Mulaqqin (wafat 804 H). Cara Mentakhrij Hadist dan Ilmu Sanad<http://adanipermana. dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dla'if. Dan kitab *Al-Muhadzdzab* ini adalah kitab mengenai fiqih madzhab Asy-Syafi'I karya Abu Ishaq Asy-Syairazi.co. Demikian juga kata *al-ikhraj* ( ‫ ) ْاِلخرج‬yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. َ ْ ‫إ‬ Dan *al-makhraj* ( ‫ ) المخرج‬artinya artinya tempat keluar. mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syar'i. . . Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli. menjelaskan metodenya. Ketika semangat belajar sudah melemah.. karya Muhammad bin Ahmad Abdul-Hadi Al-Maqdisi (wafat 744 H). atau keadaannya. dan kelihatan.*Al-Badrul-Munir fii Takhrijil-Ahaadits wal-Atsar Al-Waqi'ah fisy-Syarhil-Kabir li Ar-Rafi'I*. dan َ ْ َ *akhrajal-hadits wa kharrajahu* artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.> August 5. [Ibnu Hajar juga menulis *takhrij* untuk kitab ini dengan judul *Al-Kafi Asy-Syaafi fii Takhrij Ahaadits Asy-Syaafi* ] .*Takhrij Ahaadits Al-Mukhtashar Al-Kabir li Ibni Al-Hajib*. .*Takhrij Ahaadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari*.Ilmu Takhrij Hadits. karya Al-Hafidh Az-Zaila'I juga. 2008 – 10:28 am *Pengertian Takhrij* Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. dan terpisah. karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi'I (wafat 548 H).

Al-Baihaqi berkata."Demikianlah riwayat hadits ini dari saya. dari Al-Hakam. karya Al-Hafidh Ibnu Hajar juga.*Takhrij Al-Ahaadits allati Yusyiiru ilaihat-Tirmidzi fii Kulli Baab*. . *Contoh :* Berikut ini contoh *takhrij* dari kitab *At-Talkhiisul-Habiir* (karya Ibnu Hajar) : Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata."Kami pernah mempercepat harta Al-'Abbas pada awal tahun". bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda. dan Al-Baihaqi.*"Kami sedang membutuhkan lalu kami minta Al-'Abbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun"*. dari Al-Hakam. dari Hajiyah bin 'Adi. Al-Baihaqi berkata. karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-'Iraqi (wafat tahun 806 H). karya Al-Hafidh Al-'Iraqi juga.*Tuhfatur-Rawi fii Takhriji Ahaaditsil-Baidlawi*.*At-Talkhiisul-Habiir fii Takhriji Ahaaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li Ar-Rafi'I*. Al-Hakim. dari Hajar Al-'Adawi. karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani (wafat 852 H). Begitu juga Abu Dawud menguatkannya. Dan diperkuat dengan hadits Abi Al-Bakhtari dari 'Ali."Imam Asy-Syafi'I berkata : 'Diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bahwasannya beliau mendahulukan zakat harta Al-'Abbas sebelum tiba masa *haul* (setahun). Ad-Daruquthni menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam. Dia menguatkan riwayat Manshur dari Al-Hakam dari Al-Hasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dengan derajat *mursal*. dari 'Ali. . . Diriwayatkan oleh Ahmad. Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dari hadits Abi Rafi'" [*At-Talkhiisul-Habiir* halaman 162-163] *METODE TAKHRIJ* Dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut : . .*Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaaditsil-Hidayah*. Ad-Daruquthni. karya 'Abdurrauf Ali Al-Manawi (wafat 1031 H)."Hadits 'Ali bahwasannya Al-'Abbas meminta kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai tiba *haul*-nya.. dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar.*Al-Mughni 'an Hamlil-Asfaar fil-Asfaar fii Takhriji maa fil-Ihyaa' minal-Akhbar*. Dan sebagian lafadh menyatakan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepada 'Umar. hanya saja dalam sanadnya terdapat * inqitha'*. dan aku tidak mengetahui apakah ini benar atau tidak?'. dari 'Ali. Para perawinya *tsiqah*. para penyusun kitab Sunan. Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam memberikan keringanan untuknya. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Israil.

Dengan mengetahui nama shahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya. . lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits : . *Miftah At-Tartiibi li Ahaaditsi Tarikh Al-Khathib* karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari. takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits* Cara ini dapat dibantu dengan : . misalnya : *Miftah Ash-Shahihain* karya At-Tauqadi. *Al-Bughiyyah fii Tartibi Ahaaditsi Shahih Muslim* karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi. *Kasyful-Khafa wa Muziilul-Ilbas 'amma Isytahara minal-Ahaadits 'ala Alsinatin-Naas*karya Al-'Ajluni.Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus. . Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu. maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab *al-masaanid* hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut.Kitab-kitab *Al-Athraf* : Kebanyakan kitab-kitab *al-athraf* disusun berdasarkan musnad-musnad para shahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus.Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab tertentu. . misalnya : *Al-Jami'ush-Shaghiir minal-Ahaaditsil-Basyir An-Nadzir* karya As-Suyuthi. misalnya : *Ad-Durarul-Muntatsirah fil-Ahaaditsil-Musytaharah*karya As-Suyuthi. takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari shahabat* Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits.*Al-Ma'aajim* (mu'jam-mu'jam) : Susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan musnad para shahabat atau *syuyukh* (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah). *Miftah Muwaththa' Malik* karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi. *Tamyiizuth-Thayyibminal-Khabits fiimaa Yaduru 'ala Alsinatin-Naas minal-Hadiits* karya Ibnu Ad-Dabi' Asy-Syaibani. *Metode Kedua. *Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minal-Ahaaditsil-Musytahirah 'alal-Alsinah* karya As-Sakhawi.*Al-Masaanid* (musnad-musnad) : Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap shahabat secara tersendiri. .Kitab-kitab yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang banyak. . *Al-Laali Al-Mantsuurah fil-Ahaaditsl-Masyhurah* karya Ibnu Hajar. Selama kita telah mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits. maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab * al-athraf* tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap.*Metode Pertama.

Musnad Ahmad. Muwaththa'* Imam Malik. takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits* Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits..*Metode Ketiga.Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi . berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits. yaitu : *Kutubus-Sittah.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca.Thabaqat Ibnu Sa'ad Dalam menyusun kitab ini.Jami' At-Tirmidzi . Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal.wordpress. takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits* Metode ini dapat dibantu dengan kitab *Al-Mu'jam Al-Mufahras li Alfaadzil-Hadits An-Nabawi*..Sunan An-Nasa'i .Muwaththa' Malik . seorang guru bahasa Arab di Universitas Leiden Belanda.Sunan Ad-Darimi .Maghazi Al-Waqidi . Kitab ini disusun oleh seorang orientalis. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Dr. penyusun (Dr. kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diedarkan oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqi yang menghabiskan waktu untuk itu selama 4 tahun.Sunan Ibnu Majah . dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini adalah Muhammad Fuad Abdul-Baqi.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca. dan Musnad Ad-Darimi.Shahih Muslim .Sirah Ibnu Hisyam .>) .Shahih Bukhari . yaitu Dr. Cara ini banyak dibantu dengan kitab *Miftah Kunuz As-Sunnah* yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan.Musnad Zaid bin 'Ali . Arinjan Vensink juga. Vensink (meninggal 1939 M). *Mengenal Kitab dan Cara Mentakhrij Hadist* (1<http://attanzil. maka bisa dibantu dalam *takhrij*-nya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul..>) | (2<http://attanzil. Lebih Lanjut bisa di baca disini dalam bentuk pdf.wordpress.Musnad Ahmad . yaitu : . *Metode Keempat.. Vensink) menghabiskan waktunya selama 10 tahun.Sunan Abu Dawud .

..| (3<http://attanzil.wordpress. kuat lemahnya hafalan serta penyebabnya.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca. http://attanzil. . Kemudian setelah itu kita memberikan hukum kepada matan tersebut. Sanad hadits ini lemah.. kita harus melihat unsur-unsur yang lain. Setelah mempelajari semua unsur yang tersebut di atas. mengetahui apakah mata rantai sanad antara seorang perawi dengan yang lain bersambung atau terputus. 2.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca. http://attanzil. disamping melihat semua unsur yang tersebut di atas. dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan *Al-Jarh wat-Ta'dil*.wordpress.wordpress.com/files/2008/08/mengenal_kitab_kitab___ca. Seperti meneliti lebih jauh matannya untuk mengetahui apakah isinya bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih terpercaya atau tidak. Dan apakah di dalamnya terdapat *illat* yang dapat menjadikannya tertolak atau tidak."Sanad hadits ini shahih. Seperti mengatakan. Yaitu dengan menitikberatkan pada mengetahui biografi. Dalam studi sanad ini. Ini terkait dengan memberikan hukum kepada sanad hadits... buku-buku yang dapat digunakan untuk membantu adalah buku-buku yang membahas tentang *Al-Jarh wat-Ta'dil* serta biografi para perawi. kemudian kita dapat memberikan hukum kepada sanad hadits. dengan mengetahui waktu lahir dan wafat mereka. http://attanzil. Seperti dengan mengatakan : "Hadits ini shahih" atau "Hadits ini dla'if". 3... Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali yang ahli dalam bidang ini dan sudah menjalaninya dalam kurun waktu yang lama. Sedangkan dalam memberikan hukum kepada matan hadits.. atau Sanad hadits ini dusta".> ) atau klik disini 1. *STUDI SANAD HADITS* Yang dimaksudkan dengan studi sanad hadits adalah mempelajari mata rantai para perawi yang ada dalam sanad hadits. Memberikan hukum kepada matan hadits lebih sulit daripada memberikan hukum kepada sanad.wordpress.

METODE-METODE TAKHRIJ HADITS 01 एक अकली प्रविष्टि प्रदर्शित े  .

Subhan .

Suatu usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam sebuah kitab hadits karya orang lain menyimpang dari pada sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain tersebut. Al-Mughni an hamli al-Asfar. al-Musnad. 3. Meralat nash yang terkena tahrif dan tashhif kemudian kita selamatkan kepada nash yang . Meneguhkan atau menguatkan hadits dan mengetahui derajatnya dalam istilah para muhaddits. Adapun yang dimaksudkan ada tiga macam : 1. al-Masyikh. syadz.A. Karya abu Nu’aim adalah salah satu kitab takhrij hadits Sahih Bukhari. artinya ialah bahwa hadits yang dinukil oleh penyusun terdapat dalam kitab sahih Bukhari. Mengetahui tambahan dan pengurangan dalam matan hadits. dan kitab yang demikian inilah yang disebut kitab Mustakhraj. lazimnya mempunyai tiga pengertian. Urgensi dan Faidah Takhrij Hadits Sesungguhnya membiasakan mentakhrij hadits. b. ta’khir. yaitu : 1. Menyandarkan hadits-hadits kepada imam-imam yang menceritakan dia 3. Misalnya kalau penyusun hadits mengakhiri pada nukilan haditsnya dengan istilah Akhrajahu al. Pengertian Takhrij Hadits 1. Suatu usaha penyusun hadits untuk mencari derajat. adalah salah satu dari kitab Mustakhraj Sahih Muslim. kemudian ia berusaha mencari sanad hadits tersebut yang tidak sama dengan sanad yang ditetapkan oleh Bukhari dalam Shahihnya. munkar atau mudraj. maka diketahuilah apakah dia itu sahih. Misalnya: a. mengumpulkan nash-nash hadits dan melakukan pemeriksaan pada isi berbagai kitab dari al-Jami’. terkadang dipakai dengan makna istikhraj. 3. Menyebut hadits dengan sanadnya dalam suatu kitab atau rencana 2. hasan. ikhtisar dan ziyadah dalam nash semua itu mempunyai faidah yang banyak untuk peneliti. adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadits yang terdapat dalam kitab tafsir Al-Kasysyaf yang oleh pengarang tafsir tersebut tidak dijelaskan tentang sahih. 2. dan rawi hadits yang diterangkan oleh pengarang suatu kitab. karya Jamaluddin al-Hanafi. Suatu penjelasan dari penyusun hadits bahwa hadits yang dinukilnya terdapat dalam kitab hadits yang telah disebut nama penyusunnya. umpamanya seorang mengambil sebuah hadits dari kitab shahih Bukhari. Mustakhraj Abu Nu’aim. b. Misalnya : a. Takhrij Ahmad bin Hamdan. 2. sanad. Usaha mukharrij tersebut akhrinya dihimpun dalam sebuh kitab. Diantara faiadah-faidahnya adalah : 1. karya Abdur-Rahman al-Iraqi adalah kitab yang menjelaskan derajat-derajat hadits yang terdapat dalam kitab Ihya ulum ad-Dien karya Imam Al-Ghazali. atau lain sebagainya. Namun sanad yang berbeda itu akhirnya dapat bertemu dengan sanad Bukari yang akhir. meneliti hal-ihwal rawi dan keterangan-keterangannya. Takhrij yang menurut istilah. 2. serta mengetahui perbedaan bentuk dalam meriwayatkan hadits berupa taqdim.Bukhari. Takhjrij ahaditsi al-Kasysyaf. Secara bahasa dan istilah Sccara bahasa Takhrij artinya mengeluarkan. al-Juz.

Dan ketika kitab-kitab mereka dianggap pada satu sisi apa yang diriwayatkan dalam satu bab dengan periwayatan-periwayatan yang ringkas. 3. Meralat nama-nama dalam sanad dan memberikan kejelasan terhadap yang mubham dan muhmal darinya. . penyaksian dan penyusunannya. kita melihat pada waktu itu perhatian para muhaddits mencari sanad ‘Ali. Sejarah perkembangan Ilmu Takhrij. dan bertambah hal itu pada masa kemunculan kitab-kitab sunnah yang sahih dimana kita dapatkan seperti kitab mustakhraj Imam Bukhari dan Muslim (sahihain) atau Imam Bukhari saja. menisbatkan nash-nash dan memperkuatnya. cepat meluruskan. 5. mereka perlu pada peringkasan karena takut bosan dan kurang perhatian.sahih. untuk mencari sanad ‘Ali dan menelaah lafadz-lafadz tambahan yang sahih yang berfaidah. mengetahui sahih dari yang daifnya. Maka manhaj imam At-Tirmidzi ini terhitung sebagai Takhrij. Dan keperluan itu berbeda disebabkan perbedaan waktu dimana padanya disusun dan didewankan ilmu-ilmu sunnah. maka kebutuhan itu mendesak kepada isyarat siapa-siapa orang yang meriwayatkannya dari yang lain. Kemudian ketika para ulama mulai menyusun bab-bab sunnah nabawiyyah dan penyusunan-penyusunan ilmu-ilmunya. dan barang kali yang pertama orang yang mungkin kita nisbatkan kepada perkembangan dan pertumbuhan ilmu ialah Imam Abu ‘Isa at-Tirmidzi (289 H) dalam kitab jami’nya dimana ia berkata sebagai penghubung haditrshaditsnya yang ia datangkan: “dalam bab ini dari si fulan dan si fulan” atau “kami tidak mengetahuinya kecuali hanya dari bentuk ini” Maka perbuatannya itu dengan dinisbatkan pada kondisinya pada waktu itu dianggap sebagai Takhrij. Dan sungguh mulainya permulaan ilmu Takhrij ini pada masa emas pendewanan dan penulisan hadits nabawi dan penyusunannya membedakan sahihnya dari yang lemahnya dari apa yang menjadikan Takhrij ini mengambil tempat-tempat kemunculan dan bentuk-bentuk yang berbeda-beda sampai yang ada pada hari ini. Sesungguhnya ilmu takhrij yang tersusun sekarang tidak terlahir begitu saja. serta untuk untuk mencari tambahan dalam kuatnya sebuah hadits dengan berbilang dan banyaknya jalan (thariq). namun bukan pula ide baru bahkan ia muncul karena suatu hajat yang muncul pada masa pentadwinan sunnah. menelaah ‘illat-‘illatnya sampai ia meriwayatkan hadits dari bentuk-bentuk yang berbeda dan sanad-sanad yang berlainan dan riwayat-riwayat yang berbilang. yaitu pembentukan malakah (kemampuan) ilmiyyah disisinya dalam menekuni. Maka takhrij pada masa pertama hajat kepadanya ada. Maka muhaddits masa lalu tidak menjadi seorang yang mahir dalam periwayatan. 4. Dan dari segi yang lain. Dimana ia zaman keemasan untuk periwayatan hadits-hadits sedikit engkau lihat lihat seorang muhaddits tidak menghafal hadits-hadits dengan sanad-sanadnya. Dan penelaahannya atas beberapa bentuk ihtimal (mengandung kemungkian) dalam nash-nash ilmiyyah dan periwayatan-periwayatannya. Maka cukup ketika ingin mentakhrij sebuah hadits apa saja diisyaratkan bahwa sanya ia diriwayatkan dari si fulan dan dari si fulan dari kalangan sahabat atau tabi’in. yang membantu untuk memahami nash dan mengistinbatnya. sebuah faidah yang kembali kepada peneliti sendiri. akan tetapi mulai muncul ….

Takhrij al-Khatib. Maka semua itu adalah indikasi-indikasi Takhrij pada abad ke-2 dan 3 Hijrah. 2. Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Ibn ‘Abd al-Hadi al-Maqdisi (744 H). maka bisa dikatakan bahwa ialah pelopornya. Dan kita tidak dapatkan di hadapan kita dari sumber-sumber sebagai penyebutan setelah itu kepada kitab-kitab Takhrij sampai abad ke-8 Hijrah yang dianggap sebagai masa penyebaran ilmu Takhrij dan penyusunannya. yang berkesinambungan kepada pada abad 4 dan 5 Hijrah Dan diantara orang-orang yang paling tenar dalam sejarah pada abad ke-4 Hijrah bahwa mereka menyusun tentang Takhrij. Dan diantara kitab-kitabnya: 1. Ibn Ma’in. 2. dan lain-lain Adapun Takhrij yang sampai pada kita hari ini. keadaan yang mendesak dari para perantau dalam mencari hadits kepada penyeleksian guru-guru dan hadits-hadits mereka dengan menjauhi apa yang diulang dari periwayatan-periwayatan mereka terutama jika para muhaddits menjadi banyak dan periwayatan semakin sulit. diantaranya: 1. Takhrij Abu Bakr al-Khatib. ‘Awali. karangannya: . hadits-hadits yang sahih dan periwayatan-periwayatan yang lurus supaya waktu mereka tidak banyak terbuang dalam hal-hal yang sesat dari mengikuti hadits-hadits yang bathil dan maudlu’ (palsu) dan mencari hadits-hadits yang janggal dan munkar. Ibn Abu Syaibah dan selian mereka. karangan Abu Ishaq Ibrahim Ibn ‘Ali asy-Syirazi (376 H) akan tetapi ia tidak menyempurnakannya. dibutuhklan kepada seleksitas sanad-sanad ‘Ali dan jalan-jalan hadits yang jelas. Dan bukanlah artinya bahwa ia orang yang pertama. karangan Abu Bakr Muahammad Ibn ‘Ubaidillah al-Katib al-Kufi Dan diantara orang yang menyusun tentang Takhrij pada abad ke-5 Hijrah ialah al-Khatib alBaghdadi Abu Bakr Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Tsabit (463 H) yang mencapai 9 kitab. ‘Ali al-Madini. Imam Ahmad Ibn Hanbal. Maka diantara orang yang menyusun pada abad ini. Juz fihi Ahadits Malik Ibn Anas. ialah Imam Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Umar ad-Daraquthi (385 H). Dan alKattani menamakan dalam risalahnya sebagai Takhrij. 3. Dari segi lain. serta para pencari hadits dari orang-orang yang merantau yang tidak memungkinkan mereka tinggal lama. namun sungguh telah diketahui hal itu perbuatan para Imam seperti. al-Fawaid al-Muntakhibah ash-Shihah al-‘Awali. Takhrij al-Fawaid al-Muntaqah. maka sesungguhnya usaha-usaha dalam penyusunannya adalah pada permulaan abad ke-6 Hijrah. Takhrij Hadits Abu Ishaq Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn al-Muzakki an-Naisaburi dari guru-gurunya. karangan Ja’far Ibn Ahmad Ibn al-Husain as-Siraj al-Qari.Maka adanya hajat seperti itu menyampaikan kepada terlahirnya kitab-kitab mustakhraj yang menjadi indikasi diantara indikasi-indikasi Takhrij pada masa itu. Akan tetapi dengan melihat bahwa ia telah menyusun. ialah: 1. dan termasyhur penyusunannya diantara kita. Dan diantara permulaan usaha itu apa yang disebutkan dari Abu Bakr Muahammad Ibn Musa al-Hajimi (564 H) bahwa ia menyandarkan hadits-hadits kitab al-Muhadzdzab.

Tarikh Ahadits al-Mukhtashar al-Kabir. karangannya: Takhrij Ahadits Tafsir Abu al-Laits as-Samarqandi al-Ikhtiyar li Ta’lili al-Mukhtar. karangan Ibn al-Mulaqqan ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah. Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir Ibn al-Qurasyi (775 H). Ia meringkas padanya Takhrij hadits-hadits alKasysyaf. 5. ar-Rafi’i. karangannya: Tuhfat ath-Thalib bi ma’rifati Ahadits. Nataij al-Afkar bi takhrij Ahadits al-Adzkar. Jalaluddin Abu al-Fadhl Abdur-Rahman Ibn Abu Bakr Ibn Muhammad as-Suyuti (911 H). ar-Rafi’i. ialah: 7. karangannya: az-Zahab al-Ibriz fi takhrij ahadits al-Hidayah. karangannya: Takhrij Ahadits asy-Syarh al-Kabir. 12. Imaduddin Abu al-Fida Ismail Ibn Umar Ibn Katsir (774 H). Ibn al-Hajib 2. al-Baidhawi. karangannya: Nashb ar-Rayah li Takhrij Ahadits al-Hidayah. Ia tidak menyempurnakannya kemudian Imam as-Sakhwi-lah yang menyempurnakannya Takhrij Ahadits al-Mukhtashar al-Kabir Ibn al-Hajib. Shadruddin Muhammad Ibn Ibrahim al-Manawi (803 H). Zainuddin Qasim Ibn Qathlubugha al-Jamali (879 H). Ia meringkas padanya al-Badr al-Munir. Badruddin Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah Ibn Bahadir az-Zarkasyi (793 H). Zainuddin Abu al-Fadhl ‘Abd ar-Rahim Ibn al-Husain al-Iraqi (806 H). Takhrij al-Mukhtar (pada fiqh Hanafi) Tuhfat al-Ahya bima fata min Takharij al-Ihya Takhrij Ahadits Kanz al-Wushul Ila ma’rifati al-Ushul. . 4. Tadzkirat al-Akhyar bi ma fi al-Wasith min al-Akbar – al-Wasith karangan al-Ghazali – 9. ar-Rafi’i. 13. Imam az-Zaila’i. karangannya: al-Manahij wa at-Tanaqih fi Takhrij Ahadits al-Misbah 8. karangannya: Talkhis al-Habir. Jamaluddin Abu Muhammad Abdullah Ibn Yusuf Ibn Muhammad az-Zaila’I (762 H). karangannya: al-Badr al-Munir fi takhrij al-Ahadits wa al-atsar al-Waqi’ah asy-Syarh al-Kabir. Sirajuddin Umar Ibn ‘Ali Ibn al-Mulaqqan (803 H). 6. al-Mu’tabir fi takhrij Ahadits al-Minhaj wa al-Mukhtashar Dan diantara orang yang masyhur dengan penyusunnya pada abad ke-9 H. 3. Takhrij Ahadits al-Muhadzdzab. Badruddin Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Sa’dullah Ibn Jama’ah (767 H). 11. Mukhtashar Ibn al-Hajib. karangannya: Takhrij Ahadits al-Ihya. karangannya: al-Inayah bi takhrij Ahadits al-Hidayah. ‘Izzuddin Muhammad Ibn Abd al-Aziz Ibn Jama’ah (819 H). karangannya: Takhrij Ahadits asy-Syarh al-Kabir. Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar al-Waridah fi Tafsir al-Kasysyaf. Abu Ishaq asy-Syirazi. Khulashah al-Badr al-Munir – ringkasan kitab sebelumnya – Tuhfat al-Muhtaj ila Ahadits al-Minhaj. al-Ghazali al-Mughni an Hamli al-Asfar fi al-Asfar – ringkasan kitab sebelumnya – 10. Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad Ibn Ali yang masyhur dengan Ibn Hajar al-Asqalani (852 H).

Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad Ibn Hasan Ibn Hammat (1175 H). Abd al-Qadir al-Baghdadi (1094 H) Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar bi allati waradat fi Syarh al-Kafiyah Takhrij al-Ahadits al-Waqi’ah fi at-Tuhfat al-Waridiyyah.karangannya: Tajrid al-Inayah fi Takhrij Ahadits al-Kifayah. ialah: 14. al-Qadli ‘Iyadh Nasyr al-‘Abir fi Takhrij Ahadits asy-Syarh al-Kabir Dan diantara orang-orang yang menyusun tentang Takhrij pada abad ke-11 Hijrah. karangannya: Tuhfat ar-Rawi fi Takhrij Ahadits al-Baidhawi At-Tankit wa al-Ifadah fi Takhrij Ahadits Safar as-Sa’adah. as-Suhaili. ialah: 16. Dan diantara orang yang menyusun pada abad ke-12 Hijrah. Takhrij Ahadits Syarh as-Sa’d Takhrij Ahadits al-‘Aqaid an-Nasafiyyah Takhrij Ahadits Syarh al-Muwaqqif Takhrij Ahadits al-Muwaththa Al-Inayah fi ma’rifati Ahadits al-Hidayah Falaq ash-Shabah fi Takhrij Ahadits ash-Shihah Manahil ash-Shafa fi Takhrij asy-Syifa. . Imam al-Manawi ‘Abd ar-Rauf Ibn Taj al-‘Arifin Ibn ‘Ali al-Haddadi (1031 H). karangannya: al-Fath as-Samawi bi Takhrij Ahadits al-Qadhi al-Baidhawi. 15.

Paling tidak ada 5 metode takhrij dalam arti penelusuran hadis dari sumber hadis yaitu takhrij dengan kata (bi al lafzhi). Tiada Tuhan yang berhak disembah selain dia. Diantaranya ada yang secara tematik. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Diantaranya lagi ada yang didasarkan pada nama perawi yang paling atas yakni para sahabat. Shalawat teriring salam buat Rasul tercinta. Hanya kepada-Nyalah kembali semua makhluk. takhrij dengan permulaan matan (bi awwal al-matan). Buku lain lagi didasarkan pada huruf permulaan matan hadis diurutkan sesuai dengan alphabet arab seperti kitab Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Syuyuthi dan lain-lain.Tekhnik pembukuan buku-buku hadis pada zaman ulama dahulu memang beragam dan banyak sekali macamnya. amat belas kasihan lagi penyayang terhadap keimanan dan keselamatan pengikutnya. Semua itu dilakukan oleh para ulama dalam rangka memudahkan umat Islam untuk mengkajinya sesuai dengan kondisi yang ada. Selama kita sudah mengetahui nama . seperti kitab Musnad Ahmad Bin Hambal. yang mempunyai karunia. Adapun didalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai teknik atau metode mentakhrij hadits dengan sanad pertama (bi ar-rawi ala’la). yang keras hukuman-Nya. pengelompokan hadis berdasarkan tema-tema tertentu seperti kitab Al-Jami Ash-Shahih li AlBukhari dan Sunan Abu Dawud. Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits.TAKHRIJ HADITS DENGAN METODE AR-RAWI’ AL-A’ALA Oleh: Maulana Yusuf dan Hasan Ash-Shiddiq Muqaddimah Segala puji serta syukur hanyalah milik Allah. Untuk mendapatkan kemudahan dalam melakukan takhrij suatu hadis maka kita harus mengetahui metode atau langkah-langkah dalam takhrij. Pengertian Metode Takhrij dengan Ar-Rawi Al-A’la[1] Takhrij ini meneliti hadis dengan menelusuri sanad pertama atau yang paling atas yakni para sahabat (muttasil isnad) atau tabi’in (dalam hadis mursal). maka sangat diperlukan beberapa metode takhrij yang sesuai dengan teknik buku hadits yang ingin diteliti. Al-Masanid (Musnad-Musnad): dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. Karena banyaknya teknik dalam pengkodifikasian buku hadis. lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits: 1. Yang Mahaperkasa lagi maha mengetahui. yang maha mengampuni dosa dan menerima taubat. takhrij dengan sanad pertama (bi ar-rawi al a’la) dan takhrij dengan sifat (bi ash-shifah).yang penuh perhatian terhadap umatnya. takhrij dengan tema (bi al-mawdu’).

Jika seseorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu.[2] Kekurangan Metode Takhrij dengan Ar-Rawi al-A’la Sedangkan kekurangan metode ini yaitu. kami mencoba mentakhrij sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Sa’d bin Abi Waqash dengan matan hadits kurang lebih: .[3] Penerapan Metode Takhrij Hadits Dengan Rawi Al-A’la Dalam penerapan metode takhrij hadits dengan ar-rawi al-a’la ini. Kitab-Kitab Al-Athraf: kebanyakan kitab-kitab al-athraf disusun berdasarkan musnadmusnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Kelebihan Metode Takhrij dengan Ar-Rawi al-A’la Kelebihan dari metode ini yaitu memberikan informasi kedekatan pembaca dengan pen-takhrij hadis dan kitabnya. Berbeda dengan metode lainnya yang hanya memberikan informasi kedekatan pentakhrijnya tanpa kitabnya. Al-Ma’ajim (Mu’jam-Mu’jam): susunan hadits didalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyah). disampingnya campurnya berbagai masalah dalam satu bab dan terfokus pada satu masalah.” . maka kita mencari hadits tersebut didalam kitab almasanid hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. kesulitan yang dihadapi jika seorang peneliti tidak ingat atau tidak tahu nama sahabat atau tabi’in yang meriwatyatkannya. 3. maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. Dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya. (maka itu) lebih baik baginya dari pada dipenuhi oleh syair.sahabat yang meriwayatkan hadits. 2.‫ألن ٌمتلئ جوف أحدكم قٌحا حتى ٌرٌه خٌر من أن ٌمتلئ شعرا‬ “Jika rongga mulut salah seorang dari kalian dipenuhi oleh muntah hingga dia menelannya.

Musnad karya Imam Abu Ya'la -rahimakumullah.. maka disini kami akan memberikan sekilas gambaran tentang kitab musnad imam ahmad khususnya jilid 2. Dalam jilid kedua ini. atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam.Musnad Zubair bin Awwam .Hadits Abdurrahman Auf Az Zuhri . diatara yang paling terkenal yaitu : Musnad karya Imam Abu Daud. baik hadits shahih. hasan atu dhaif.Musnad Bani Hasyim.Kitab yang kami pakai ialah Musnad Ahmad bin Hanbal. Musnad karya Imam Abu bakar Al Humaidi.Hadits Zaid bin Kharijah .Musnad Said bin Zaid bin Amirbin Nufail .hadits Abdulloh bin Ja'far bin Abi Thalib . tercakup hadits-hadits dari shahabat : . budak Abu bakar .Hadits Abu Ubaidah bin Jarrah . Musnad adalah kitab yang berisi kumpulan hadits yang tidak diurut berdasarkan urutan babbab fiqih namun dikelompokkan/diurutkan menurut setiap Shohabat rodliallohu anhum .Hadits Tammam bin Abbas bin Abdul Muthalib dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .Hadits Husain bin Ali . hadits-hadits Abbas bin Abdul Muthalib dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Kitab hadits yang berbentuk musnad cukup banyak.Musnad Ahlul bait. Al Killani dalam kitabnya Ar Risalah Al Musthatharafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 Musnad. Hadits-hadits Hasan bin Ali bin Abi Thalib . atau berdasrkan negara (asal). Kitab ini adalah terjemahan Kitab Musnad Imam Ahmad yang telah ditakhrij oleh Syaikh Al Muhadits Ahmad bin Muhammad Syakir -rahimahullah. Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal. kadng juga berdasarkan pada kabilah dan suku.Musnad Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidah . Sekilas profil Kitab Musnad Imam Ahmad[4] Sehubungan dengan yang menjadi objek penelitian kami tentang takhrij hadits dengan metode ar-rawi al-a’la ialah kitab musnad imam ahmad.Hadits Al harits bin Hadits Sa'd.Musnad Abdulloh bin Abbas bin Abdul Mutahlib .Hadits Aqil bin Abi Thalib .Musnad Fadhl bin Abbas .Musnad Abu Ishaq Sa'ad bin Abi Waqosh .hadits Ja'far bin Abi Thalib . Urutan nama-nama para Shohabat didalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh ulama dan ini yang paling mudah.

“Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)” Keluarga beliau Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah.. Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali) lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan. Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal. tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya. berwarna putih dan bersorban serta memakai kain. “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun. wajahnya tampan. Yang lain mengatakan. (Kunyah beliau Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayahku pernah bercerita. Imam Syafi'i mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut : "Setelah saya keluar dari Baghdad. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ayahku pernah menyuruhku. Irak.H. dan zuhud. Beliau telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini beliau pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria). yang mewarisi ilmunya. beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”. lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal" Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata. Yaman dan negara-negara lainnya sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa. Hijaz. ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek. “Ambillah . Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah belau hafal di luar kepala. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih. (781 M)[1] dan wafat pada tahun 241 Hijrah di kota Baghdad. Kecerdasan beliau Putranya yang bernama Shalih mengatakan. saleh. seperti Abdullah dan Shalih.Sekilas tentang biografi Imam Ahmad Bin Muhammad bin Hanbal[5] Imam Ahmad bin Hanbal. Awal mula Menuntut Ilmu Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun. utara Afghanistan dan utara Iran) pada tanggal 20 of Rabiul Awal 164 A. putranya yang lain mengatakan. Abdullah. Belaiu menghafal sampai sejuta hadits. "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal"[2] Keadaan fisik beliau Muhammad bin „Abbas An-Nahwi bercerita. Beliau senang berpakaian tebal. di jenggotnya masih ada yang hitam.

maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Pujian Ulama terhadap beliau Abu Ja‟far mengatakan. namun beliau menjawab. Imam dalam Al Qur‟an. “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab. atau sebaliknya. “Wahai Abu Zur‟ah. Imam dalam Fiqih. yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari . Masa Fitnah Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi. lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya. di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur‟an makhluk. Beliau masih ditanya. Ibrahim Al Harbi memujinya. Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan. “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”. maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. terutama para ulamanya. Imam dalam wara‟ dan Imam dalam Sunnah”. sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi. kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”. Di masa khilafah Al Ma‟mun. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur‟an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara. siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab.kitab mushannaf Waki‟ mana saja yang kamu kehendaki. sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya. bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur‟an adalah makhluq. Abu Zur‟ah pernah ditanya. “Ahmad”. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”. Imam Asy-Syafi‟i berkata. Imam dalam kezuhudan. karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut. Imam dalam kefaqiran. “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab. tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”. Imam dalam hadits. Imam dalam bahasa. ArRasyid dan Al Amin. “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal. “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur‟an makhluk. Bila berjumpa dengan manusia. baru setelah beliau wafat. orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara. dia menampakkan kebid‟ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini. banyak berfikir. Abu Zur‟ah mengatakan.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata. lalu beliau menegaskan. “Demi Allah. “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan. 6. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya. bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”. 8. 7. bagaimana mungkin dia mengetahui Guru-guru Beliau Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama. Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa. Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih Ibnu „Aqil berkata. “Ahmad bukan ahli fiqih. Dalam zuhud dan wara‟ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham. 10. Baghdad. beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi. “Wahai Ahmad. Maka hatiku bertambah kuat”. Beliau mengatakan. 5. Bukhari 12/281. jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri. dalam hafalan beliau setara dengan Syu‟bah. beliau dalam fiqih sampai derajat Laits. Bashrah. Kufah. “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku. Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim. Malik dan Asy-Syafi‟i serta Abu Yusuf. kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”. penjara dan rumahku sama saja”. “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara. seperti di Makkah. Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. 9. Di antara mereka adalah: 1. 2. tetapi hanya ahli hadits saja. Ismail bin Ja’far Abbad bin Abbad Al-Ataky Umari bin Abdillah bin Khalid Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami Imam Asy-Syafi’i Waki’ bin Jarrah Ismail bin Ulayyah Sufyan bin ‘Uyainah Abdurrazaq Ibrahim bin Ma’qil .agamanya”. HR. 4. “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal. tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid. Yaman dan negeri lainnya. 3. dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Ini adalah puncaknya kebodohan. karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.

Kitab al-Manasik al-Kabir 9. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an 7. 3. Yang pada akhirnya . 2. 7. 10. yang paling menonjol adalah: 1. Hambal bin Ishaq Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah 1. Kitab at-Tafsir. Kitab Hadits Syu'bah 6. dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya. Kitab Jawabah al-Qur`an 8. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh 4. Putranya. 10. 3. 2. Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal Putranya. “Kitab ini hilang”. kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal 1. 8. 7. 4. Imam Bukhari Muslim Abu Daud Nasai Tirmidzi Ibnu Majah Imam Asy-Syafi’i. 6. Dengan mencari nama sahabat tersebut yakni Sa‟d bin Abi Waqash pada daftar isi di kitab sunan Imam Ahmad. 6. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya. Kitab Al Musnad. 9. kami langsung merujuk ke halaman yang dituju dan mencari matan hadits yang dimaksud tersebut. karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits. 8. 3. 5. Kitab al-Manasik as-Saghir Menurut Imam Nadim. 2. Kitab al-'Ilal Kitab al-Manasik Kitab az-Zuhd Kitab al-Iman Kitab al-Masa'il Kitab al-Asyribah Kitab al-Fadha'il Kitab Tha'ah ar-Rasul Kitab al-Fara'idh Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah Dalam praktek yang kami lakukan ketika mentakhrij hadits dari Sa‟d bin Abi Waqash tersebut ialah. 9. namun Adz-Dzahabi mengatakan. Setelah menemukan nama sahabat tersebut.Murid-murid Beliau Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal. Kitab at-Tarikh 5. Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal Keponakannya. 4. 5.

com [1]َManna Al-Qaththan. 2008. Adapun kekurangan metode ini yaitu.com. III. Ahmad. Pengantar Studi Ilmu Hadits. 2008 bin Muhammad bin Hanbal. 2007 http://www. hal. Berbeda dengan metode lainnya yang hanya memberikan informasi kedekatan pen-takhrijnya tanpa kitabnya. (maka itu) lebih baik baginya dari pada dipenuhi oleh syair.‫جوف أحدكم قٌحا حتى ٌرٌه خٌر من أن ٌمتلئ شعرا‬ 1507 Hasan menceritakan kepada kami. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Semoga apa yang kami sampaikan pada kali ini dapat bermanfaat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.com http://www. Yang mana dengan metode takhrij tersebut memiliki kelebihan yaitu memberikan informasi kedekatan pembaca dengan pen-takhrij hadis dan kitabnya. Musnad Imam Ahmad. Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Qatadah dari Umar bin Sa’d bin Malik dari Sa’d dari Rasulullah SAW. Pengantar Studi Ilmu Hadits. ‫7051حدثنا حسن حدثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عمر بن سعد بن مالك عن سعد عن رسول هللا صلً هللا علٌه وسلم قال: ألن ٌمتلئ‬ . kesulitan yang dihadapi jika seorang peneliti tidak ingat atau tidak tahu nama sahabat atau tabi’in yang meriwatyatkannya. Cet. Manna. 191 .wikipedia.blogspot. Daftra Pustaka Al-Qathan. Jakarta: Pustaka Azzam. bahwa beliau bersabda.”[6] Penutup Demikianlah pembahasan dari kami mengenai takhrij hadits dengan metode Ar-Rawi al-A’la (sahabat).my http://podoluhur. Insya Allah. “Jika rongga mulut salah seorang dari kalian dipenuhi oleh muntah hingga dia menelannya. disampingnya campurnya berbagai masalah dalam satu bab dan terfokus pada satu masalah.eabookcentre.hadits tersebut terdapat didalam kitab musnad Imam Ahmad dengan nomor hadits 1506 dan 1507 dengan redaksi hadits lengkap sebagai berikut.

eabookcentre.com [6]َImam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. 2007.com [3]َIbid [4]َwww. Musnad Imam Ahmad. Cet. I. Jilid.[2]َhttp://podoluhur. Jakarta: Pustaka Azzam.blogspot.my [5]َwww. hal. II. 448 .com.wikipedia.

3.2:%./98 ./995.32: $.7.039./89/.7.7.

.

/..4 .3. .35072.

 .

.

.

3.-/./.3.3 9.7.7./98 /...7.08:9.2.793./507:.80-.3 /07./80-:9.2 8 $. 1 .3.73.3/.   %./.7 .3:/:  ..38:2-073.9 .9..9.93./-/: .2: 9.:9025.3 ./98.77. 7.3202507./98:39: 20309.793.2.7.9:.7 .8./98.802.3..1 (    .09.:.-3 /03.7 .8. /.3 /.- 9..7./9890780-:9/03.7./988 $.6 .9.3203/0.8  2030.907/.39.2025:3.-.7 '  9025.3 /.8./3.:. ..7-3 -3:.3202507.9.3::23.  .8.7::.7./-32..29.9    .9    ./.  %.3/.././.207.9.22: 2:8.7 :39:9.9./98 :9.7 203:7:989.39025.83.58:2-07 8:2-078 $:33. /.8./.9-0./7: :371%.93.:0.7.8./.1/  .7.-/:.3/.-7-3 .9..1.%..38.162.::907.3 02.7..68 $. 2070./.3...7.-8 $:33.:2:3.9/.7.6/8 .    ..&2.7.. .3202507..8..:.3  $0.  ' & .3   ./..35.3..2.32030.5./. :./.3.- 9.1  .793./.39025.3.2.5.. .9./ .3 /.78:/.1.38:.32030./98 .-0-07.80-. .203:8 9.:3.7.39.38.3%../.8...35.30..3:39:20309. -3:.9.7 .8 803.33.: .3.3/03.-77 #...2..7/.7.663 .    . :...7203:7:9-.47.3 :9:- 9 %. .7 ./.11%.7.25.390758.5.1 ..2.380-.3/3. 2002.793.320307.7.3 .8.90:./98 .35. 2039.32030:.3.-  :.18 $. ..:./98 ..9025.7.3...79.3:. .1 ../985.7 .9    %.203..-8 $../.7 . /.8:2-07 .  ::89     .1.. 2.1.-09: :./../.2 !03079./9805.8:9.8.7  %.3.//.8.7.7:.7  ./98 :.7. 18 $..793.9/ 83.8-:7 #.3. .7.203.    %./-3:8..203:3:. 09.-:8./.8.7 -:: -::9.9..22..39/.//.1  .7.3 /03.- 20303.  '  & .7.. 98..2070.././98.-8 $:33.3.. -3:8:1 .33.7:.25.25.9 9025.22./98  !03:..73.32030.32094/03.-07.90:.9../98 .

3..9:7 #.2239.3.7.05.....3-.9..203:..2.80-.6-07.7 .72...:9/.7..7 .79. . 986. --.. . 02.9.8.2 /. --.77.3.. ..33.8/./.:3 !..77./-3-3.9.3/07....3073. .37.38:7/.-8.9...1/-3: .3... .3..3/7.71%.8 20239.8. . 507-0/.8::.3 .28. .8.7  . 2.:  809. .7.::.1.1  9 %.7.-0..79.3-03.5.3.: .8:39:203/.1/-3:./.7. /.3.85..: .3 202-:9:.5.9.-7  .:3 /.1  . .3.-3: .7.9-0-07.7..9.:1  .-7 .  --.9:87:.- 9 %..25073..8../983/.7.05.2.    %:1.- 8.8.9.7.3.3./98..:3      %..:9/..9   4394  07:93.93.1.1%.8::. /.9.9/03..-/.. 8..7 /.7:6:93 /..8: .6-07. 09::.22094/0.507..-07../ 5.7/.202507.05..3:39:3..:./.: .-07:9 .3 ( % %#  ..3/73...4394 9. --..8: .3.:39:/:.-:.3.3./98- #. .::.: ..#.-8./98$..33. ..7 /..3  .9    / 7..1/ 7.9.5.9./98 /.9.3 7. &2.2.6/./98 .7  / . .9.1%..33.280/./98 -.2/03.3/507:.7.2202-07...9.8.7...3.:/203:.9 2:78.7.. 7.: 3.503:8:39.2- 544 5443.3  ./3..78.1.3.   :3 ...9 502-../203..9  369./98 .2 81...980-0:28.987. -/:77.-8.3-3:82-3... 7.7907/.3202507..28 $.9.-71%.1 .#.340-:.8..3 402.: .7 ..7.3....8. ..:3 7.8...7.39039.2 .37.2-.7 .33.7.   .2-078.7.3-3 :8.-33.9-.3203../.-/..1 -07.8.8: . .9... 9.8../..:203/.6:.8.9 .6/./98- .3/.2-078..7...  23.:/9 %..    9 %.7..05.20309.9 %72/1:.99.: ..:.: .8..2.7..2 /.7  .1.7   .380-.7 .29.9/.7:6:932030-:9.2.9.-/:77..880-0:29-. .  . . -.79.-7 7 #..7 /. .6 ./...8/03.3.9.71 81.2..7 .7 .-$:3.7  .29039.2/.....5.7 86.7:.2 / .-3 / /..907/. .7   -.3409 %72//..7.25.

- 9./9880.3.3.29..20309...-..8:2-07 8:2-07.7.6  . .- 9.3 .3 .9207::5.8.203. 03.. 2../98 :89.:5072:.- .39:.203.2 $:8:3.3/.: 8::  :7: :7: .7.3207.20309.7.33/08..1%..3 . 808:.3.:3.9/-.4047.-..8 .3/8:8:35.7./98.9..89.7.78. .39:/03./ 2:83.32:83.7.3207../98 2.7.-./98 . 8..:.2..980./  :2.  .203/..1./98%.987.8.-.-.7-./98/.9.3.6 19.. ./ 19...8:7. 83.9:2:83. 9.9./98 ./:.7.3..22.9.-3:/ .7/03./98//.808:.58.7.7.   9. / :7. .:82 .8.8.7  .-23.:.823.9202:/. 28.:3.9. .3.20309. 83.. :.2  2: .2:8 .03../5.- 9.7... .-  .7.3 509:3:/.9.9.3.8.3.-.2.8./7 .7.7..9../98$.//..8.2./:7: . .97.22.1 .2:9 %.2.  9025.873 .. .:507.9/. ...9.6. 9 %.8...9.7/03.:39:9. 19.2 2: .3. 1. .8.7:25:.9.5.2 :8 $./989: 2.- 9.90./98 .7.93 ./5.- ./9890780-:9/.3409.9  094/03/:8:8..32:83..3/8:8:3-07/.7.5./98 .3:7:1. %.-9812.- 8 $.7.:.8.907803/7  $0..99.7.23.2:8 .987323./.3 :7:9.33.8 .9.-07/./:./ -/: .2:8  28.3:7:9./-/: ./90780-:9     .3/.7..7.8 $::9   . 9.93 ..3.23.3-0789039.$./:39:02:/.//.2.3/9:3:.1 0-.2. .38. :3   9..7 .:7:1..1 9../983.723..8/: .398::7.35030920309.3 ./ 2:83.3:7:9.7. 9.320309.8047.- 9079039: 28.2-.8 $...7. 8 $::9   !09:3: 509:3:/.3.../98..3/7. 1 .22.97./2.79.32:83.81: .9 %.39.29.:6..2.7: :39.9/03./98 .5.7  :.3/ 3./98    .7.3..79-.. /.- 9.7. .-..7. .-.3  9.8.3/  2:83./98  .3203..:-./98 :89.:: -.. .3/03.- 9. .:9.79-./98.320309.5.28./ ..-.340809.3 -.:-. 8 $.3:39:207::.2.:3.2.094/0!079. .. 83.-. :7:1.3.9.7.5  094/00/:.7.1 /8:8:3 -07/.-3/80-:9...2070.-3:.3/.1.-  97.../98 ./98 .

6.2./. . 2.:.3 503:3.-/./ ./98.39.39..7.3:7:-.-8.3.7 73.3/.2 .3. 80././-/: ..32.   $:3.7./:.8.094/009.-3 503:8:3 7 '0383 203.- 9.2 :1.7.390703.32030/.0789.502-.19.78..19.22.3 -.7/03..38.-.8.3/ .20309.78:39:9.7.4047.33.72 9./03./98 .:/9 %.347039. /.7.3-078/./-..3:9-8.8.2 9.:/  .9.33.7././983 ./..9.-3/8:8:3408047.3-:..9. .3-.3.8 -070-.22030-.30.30/..9-3:$.-.3.3/./-.3./  :83.3 47039.72  :83.3 9.8  $:3.7.72.39. 9..20309. 9.  :83.2203:8:39. .90.8 .3-3:.:.. .-../98  .3:9/./-.8../2.99.8 1. .- -.3/8:8:3-07/.6  094/00025.7..:.3/8:8:3-07/. 9..6../ /.39: /..2.3-073./-:.35.3.  :..-8.-3 203.-/./98 2./98.9/-.3/. 039.3:83..39:/03./ .9:7 '0383 2033.9:3..:3 02:/.:3  0-./-3   $7.3 :/: :/:502-..-3/8:8:3408047.22.6/  %. 9.7/03..7..:82  $:3.7 3.2./98  094/03/.-.-  : .2  .// .:5/.9 9.3./-/: .390703.8.3/.8.39.2-039:5/1  0303.7  $.8.3203.-3.3/0/.7.7.9:  $.99./. .9: :9:-:8 $99./2.3 40:.7-..- /&3. :83.-/.- 19.3/90702..-8.8.3.3'0383:.33 ..7.2-.:902./:..3.3.7..80/030.-3:8./83/.3..7.34-0502-. 9.8.2 9 %72/  $:3.5./98.3.:3: 8 $:33. :. 8047.9.39:/03.-./09.9::39:9:80./89  995.7.7.3:/: :/: ..7. -078802-.:902.

.

.99.3 47/57088 .42.

108.

 .

.

-*9.    995.*9.-***..20303.

.

42.99..3 47/57088 .

108.

 .

.

20303.-*9.   .*9..-***.

 995.

.

42..99.3 47/57088 .

108.

 .

.

:/83   995.9.*9.-***.   ..20303.-*9.

.

99.3 47/57088 .42..

108.

 .

.

*9..20303.-***.-*9.    995.

.

99.42.3 47/57088 ..

108.

 .

.

-*9.-***.*9..    995.20303.

.

3 47/57088 .99.42..

108.

 .

.

.9.3.902.7.:-47.390780-:9  $05079/03.3/03.15.9..3::205.9:9.9:/03.9..7.5.3::205.:39:20309./.8 02:/.5.3.9.  ./.3 20309.289:/8..9.3::205.1 :..25:20.2202-07.3/.7/..25320.3.3..3. /.202-07./98 $05079203.9:..202-07.3/03./983/.-3./9838.7:820.7.5.9..92070././98  $0/./.203.2..3507.:.8.9..3.389:/8.33/.3  .9.33.33.23.3/.3202-07.89039.3.3 $.37.8..3.3. .7802:.39./98 /8..: .9.7./.3::205..:. 3907.3.:9075:9:8 /03.3.-*9./980-8:9/.39....9.390780-:9/..20250.1.*9.3203..9.:.//.83./ %/.9507./983 8./3 -:: -::./98302.808:. 20309.7. 507.39:.390780-:9/.38090.3-078.-***. -:: -::.9 802:. $.8:/.5030-..33..35.5. /  $090.33.3.8047. 1  02-07. .3:39:202-.9:.2.-47.3./.:.3/03./.2:7:3.9 .32039-07../.320309.3  $05079203090-.2-:3 ..:2..3.3./.9 .72.3./.38079..: 9/../983/:89..3-07./.5.2 -/.3.8.9./98.3 .:$.:38:7.3./.32.  $%&$%$  .:80.8 9.3.:9/.9.9:38:7 :38:7./.2.7..39.9. -079039./.20250.3. 20309.9:./.9 %.507.3./03.3::205.90794.0.3.30-907507.3/.9.9 202-07.38:/.75.5./.:38:7.9/:3../.3.907/../.7./98 .3202-./.39.    .3/2..5. 5.1..9..2. / 8079..9.3::2 05.9 /03./.20303. 02:/.8.9 %./.:./.3  ./.9203.2.28././.

.

 .

  d   Π          O  .

aTSZ .

  WZYW^`SZS^ SV`_ WUS^STSS_SVSZ_`S UUS^STSS_SS^S^`Z SWZYWaS^SZS^ SZYWZa^a`_`SS Z S W\aZ S`YS\WZYW^`SZ S`a aS`aa_SSWZUS^_SZSVSV`_ SZY`W^VS\S`VSS_WTaS`STSV`_S^ S[^SZY SZWZ \SZYVS^\SVS_SZSVSV`_ SZY`W^VS\S`VSS`STSV`_S^ S[^SZYSZ `W^_WTa`a\SSZ S_W[^SZYWZYST_WTaSSV`_VS^`ST_SaS^WaVSZ STW^a_SSWZUS^_SZSVSV`_`W^_WTa` SZY`VS_SSVWZYSZ_SZSV SZYV`W`S\SZ [WaS^VSSSZ S SaZ_SZSV SZYTW^TWVS`aS^Z SVS\S`TW^`Wa VWZYSZ_SZSVaS^ SZYS^_SSaS^^`W^_WTa`S^Z SV\aZVSS_WTa `STVSZ`ST SZYVWSZZS SZYV_WTa``ST a_`S^S _SZ S S a_`S^STa aS S^ SSTa aSSVSS_SS_S`a`ST`S^SV`_S aS^ TS^SVTZ SVSZSVSS_SS_S`aVS^`ST a_`S^SS a_ aS`a\WZWS_SZVS^\WZ a_aZSV`_TScSSV`_ SZYVZaZ S`W^VS\S`VSS`ST SV`_ SZY`WSV_WTa`ZSS\WZ a_aZZ S _SZ SSSa\WZ a_aZSV`_WZYS^ \SVSZaSZSV`_Z SVWZYSZ_`S^SSaSaS^S^`Z SSSTScSSV`_ SZYVZa[W\WZ a_aZ`W^VS\S`VSS`ST_SaS^ aS`aa_SS\WZ a_aZSV`_aZ`aWZUS^VW^SS`_SZSVVSZ^ScSV`_ SZY V`W^SZYSZ[W\WZYS^SZY_aS`a`ST _SZ S SS^SSV`_S S_ _ SXS^ S SSaVVZS SZSXSVSS_aS`a`ST SZY WZYa_SSSZVSZWZW^SZYSZVW^SS`SV`_ SZY`W^VS\S`VSS`ST`SX_^ S_ _ SX SZY[W\WZYS^SZY`SX_^`W^_WTa``VSVWS_SZ`WZ`SZY_SS_SZS`SaSZ _WTSYSZ S T aYZSZSS_XS^S^ STVa^SSZS ^S]SVSS`ST SZYWZWS_SZ VW^SS`VW^SS`SV`_ SZY`W^VS\S`VSS`ST  SaaSVWZS^ S S S S VS\aZ SZYVS_aVSZSVS`YSSUS  WZ WTa`SV`_VWZYSZ_SZSVZ SVSS_aS`a`STS`Sa^WZUSZS  WZ SZVS^SZSV`_SV`_W\SVSSS SZYWZUW^`SSZVS `W^SVSZYV\SSVWZYSZSZS_`^S ^YWZ_VSZ SVSS^ SV`_ W_aZYYaZ SWTS_SSZWZ`S^SV`_WZYa\aSZZS_ZS_SV`_VSZ WSaSZ\WW^_SSZ\SVS_TW^TSYS`STVS^S SS a_ZSVS a S S_  WZW`ScS^ScVSZW`W^SZYSZW`W^SZYSZZ S_W^`SWZYW`Sa\W^TWVSSZTWZ`a VSSW^cS S`SZSV`_TW^a\S`S]V`S^`_S^VSZ  SVSVSSZS__WaS `aW\aZ SXSVS SZYTSZ SaZ`a\WZW` SZ`S^SXSSVSXSVSZ SSVSS  WZWYaSZS`SaWZYaS`SZSV`_VSZWZYW`SaVW^SS`Z SVSS_`S\S^S aSVV`_  WZYW`Sa`STSSZVSZ\WZYa^SZYSZVSSS`SZSV`_SSVW`SaSS\SS VS`a_S_ SV aZS^S`SaaV^S  W^SS`ZS_ SZY`W^WZS`S^XVSZ`S_XWaVSZ`S_WSS`SZW\SVSZS_ SZY .

_S % W^SS`ZSSZSSVSS_SZSVVSZWTW^SZWWS_SZ`W^SVS\ SZYaTSVSZ aSVS^Z S %_WTaSXSVS SZYWTSW\SVS\WZW`_WZV^ S`a\WTWZ`aSZSSS WS\aSZ SV__Z SVSSWZWaZUW\S`Wa^a_SZWZ_TS`SZZS_ZS_ VSZW\W^aS`Z SSZ\WZWSSSZZ SS`S_TWTW^S\STWZ`a`SWZYSZVaZY WaZYSZVSSZS_ZS_ SVSZ\W^cS S`SZ\W^cS S`SZZ S WS^S\W^WTSZYSZ aS^ W_aZYYaZ Sa`S^ SZY`W^_a_aZ_WS^SZY`VS`W^S^TWY`a_SSZSaZTaSZ \aSVWTS^aTSSZSaZUaS^WZS_aS`aSS` SZYaZUa\SVSS_S\WZ`SVcZSZ _aZZS\WZ S_SZVSZ\WZ a_aZSZZ SSZW\W^aSZ`aTW^TWVSV_WTSTSZ\W^TWVSSZ cS`aVSZS\SVSZ SV_a_aZVSZVVWcSZSZaa_aZZS SZ_aZYYaaSZ S\W^aSSZaS^Z\SVSS_SWS_\WZVWcSZSZVSZ \WZa_SZSV`_ZSTScVSZ\WZ a_aZSZZ SWTWVSSZ_SZ SVS^ SZYWSZ SVS^ S\S SZYWZSVSZS^ZWZYST`W\S``W\S`WaZUaSZVSZTWZ`aTWZ`a SZYTW^TWVSTWVS_S\S SZYSVS\SVSS^Z SSaSVV`_S_SSa`VSWZSV_W[^SZY SZYS^VSS\W^cS S`SZ WZYW`Sa_SVS^ SZYVSXZ SWZWSSS`S`Z S_S\SSW^cS S`SZSV`_ VS^TWZ`aTWZ`a SZYTW^TWVSVSZ_SZSV_SZSV SZYTW^SZSZVSZ^cS S`^cS S` SZY TW^TSZY SS`S^\SVSS_S\W^`SSSS`W\SVSZ SSVSSSZ`W`S\aSaZUaSZS S SSZWWS_SZaZ`a\W^cS S`SZSV`_SV`__WV`WZYSaS`S`_W[^SZY aSVV`_`VSWZYSXSSV`_SV`_VWZYSZ_SZSV_SZSVZ S SSUaa\W`SZYZ WZ`S^_WTaSSV`_S\S_SSV_ S^S`SZTScS_SZ SSV^cS S`SZVS^_XaSZ VSZVS^_XaSZVS^SSZYSZ_SSTS`S`Sa`STZVSZTS^SZYS SZY\W^`SS[^SZY SZYaZYZ`SZ_TS`SZW\SVS\W^WTSZYSZVSZ\W^`aTaSZaSS STa  _SS`^V  %% VSS`STSZ SVSZSSTW^S`S_WTSYS\WZYaTaZYSV`^_ SV`_Z S SZYSVS`SZYSZVSSTSTZVS^_XaSZVSZ_XaSZS`SaS`VS WZYW`SaZ SWUaSSZ SVS^TWZ`aZ SS\W^TaS`SZZ S`aVWZYSZVZ_TS`SZ\SVS[ZV_Z S\SVScS`a`aVSZYYS\ _WTSYSS^ WaVSZW`S\S^SaSSaSWZ a_aZTSTTST_aZZSZSTSc S VSZ\WZ a_aZSZ\WZ a_aZSZaaZ SW^WS\W^a\SVS\W^ZYS_SZS^WZS`Sa` T[_SZVSZa^SZY\W^S`SZSZW`S`ST`STW^WSVSZYYS\\SVS_S`a__S\S SZY V^cS S`SZVSS_S`aTSTVWZYSZ\W^cS S`SZ\W^cS S`SZ SZY^ZYS_SS WTa`aSZ`aWZVW_SW\SVS_ S^S`_S\S_S\S[^SZY SZYW^cS S`SZZ SVS^ SZY SZ SSSZSS`^V Z`W^`aZY_WTSYSS^ SZVS^_WY SZYSZ`SWS`\SVScS`a`a\W^S`SZ\S^SaSVV`_WZUS^_SZSV VSZTW^`STSS`a\SVSS_SWaZUaSZ`ST`ST_aZZS SZY_SVSZS `SVS\S`SZ_W\W^``STa_`S^S SaS^VSZ a__SSZS`Sa S aS^_SSaZ`aWZUS^_SZSVVSZWZWSSSXSV SXSV `STSSZ SZY_S SZYTW^XSVS SZYWTSZ`aaZ`aWSSZS_VSZWZY_`ZTS`Z S_W^`SaZ`a aZ`aWZUS^`STSSZVSSaS`Z S_WTaSSV`_VWZYSZTW^TSZYVSZTSZ SZ S SSZ`S^] .

SSSVSZ SSS`_W\W^``aWZ S\SSZW\SVS`W^S^Z S`ST`STa_`S^S SZYWZSVZVS_VSZ`S^SZVS_ZVS_S^\SVSS_S`a S^_WYSZWSVSSZ SZYWZVW_SVS^\S^S\W^SZ`SaVSSWZUS^SV`_W\SVS \WZ WW_SZYa^aYa^aVSZSV`_SV`_W^WSVWZYSZWZSaS\S SZYVaSZYVS^ \W^cS S`SZ\W^cS S`SZW^WS`W^a`SSS\S^SaSVV`_WZSVTSZ SVSZ \W^cS S`SZ_WSZ_a`_W^`S\S^S\WZUS^SV`_VS^[^SZY[^SZY SZYW^SZ`Sa SZY `VSWaZYZSZW^WS`ZYYSSSVTa`aSZW\SVS_WW_`S__SZSV_SZSV VSZSSZSSZSV`_ SZYWS_SV`_SV`_ SZY_SVSZ\W^cS S`SZ\W^cS S`SZ SZYa^a__a\S ScS`aW^WS`VSTSZ S`W^TaSZYVSSSS SZY_W_S`VS^ WZYa`SV`_SV`_ SZYTS`VSZSaVa\S_aVSZWZUS^SV`_SV`_ SZY SZYYSVSZaZS^ SS_WaS`aSVSSZVS_ZVS_S^\SVSSTSVW VSZ  ^S SZY TW^W_ZSTaZYSZW\SVS\SVSSTSV%VSZ% ^S SZVSZ`S^S[^SZY[^SZY SZY\SZY`WZS^VSS_WS^S\SVSSTSVW% ^STScS W^WSWZ a_aZ`WZ`SZYS^SS STaS S_SZ TZS^SVS^S]a` %%  SZTaSZSS^`Z STScSS[^SZY SZY\W^`SSZSaZ_aZYYa`WSVW`SaS`a \W^TaS`SZ\S^S S_W\W^` SSV TZ SZTS TZ SZS SVZ TZTa  STSVSZ_WSZW^WS SZ`W`S\VWZYSZWS`TScSS`WSWZ a_aZSST_SVS`SSZTScSSS \W[\[^Z SSZVSZ`S^S`ST`STZ S S^ SV`_Ta _S] T^S TZ aSSV TZS S TZS a SSZ S_STa^ VS^Ya^aYa^aZ S S^S ScSVS aZ`S]SS^SZYSZTaS^ aSSSV TZTSVSS S`T S aX SZVSZ`S^S[^SZY SZYWZ a_aZ`WZ`SZYS^\SVSSTSVW% ^SSSS S`TS SYVSVTaS^SV TZ TZ_ST`%%   SZYWZUS\S%`STVSZ`S^SZ S  a XSV`_ S TZZS_cSS^TaS^S S`T S ScSVS aZ`STSS_SScSS^S S`TS^SZYSZ SXS^ TZ SV TZS a_SZS_^SSS^ VSZSZSZ VS\aZS^ SZY_S\S\SVS`SS^ZVSZ`W^S_ a^\WZ a_aZSZZ SVSZ`S^S`S SS_W_aZYYaZ Sa_SSa_SSVSS\WZ a_aZSZZ SSVSS\SVS\W^aSSZSTSVW% ^S SZVSZ`S^S\W^aSSZa_SS`aS\S SZYV_WTa`SZVS^TaS^ aSSSV TZ a_S S S%%% TScSSWZ SZVS^SZSV`_SV`_`STS aSV V STS^SZYSZTa _S] T^S TZS_  ^S  %% SSZ`W`S\S`VSWZ W\a^ZSSZZ SSZS S``SZWZSSSZVSS^_SSZ S_WTSYSS^ SZ`S`VSVS\S`SZVSVS\SZ`SVS^_aTW^_aTW^_WTSYS\WZ WTa`SZ_W`WS`a W\SVS`ST`STS^_S\SSTSVW% ^S SZYVSZYYS\_WTSYSS_S\WZ WTS^SZ aS^VSZ\WZ a_aZSZZ S SSVSZ`S^S[^SZY SZYWZ a_aZ\SVSSTSVZSS  S_aVVZ aSSV TZSV TZTVS SVS S]V_%%% S^SZYSZZ S .

S^SV`_S a`S_S^S ST^ TZS ST  SSaVVZTa aSSVTVaS TZa_aX TZ aSSVS SS %%   S^SZYSZZ S S_TS^S SS^SV`_S VS S S^SSV`_cSS`_S^SS^VSXSX_^S S_ _ SX SV^aVVZ aSSV TZ T^S TZSVaS TZ SSS%%% S^SZYSZZ S S^SV`_S_  S^S ST^S^SX % SVaVVZTaS VS _S TZS^ TZ S`_^%%% S^SZYSZZ S aXS`S`STTS^XS`SV`_ a`S_S^ TZS ST % a VVZTa aSSVTVaSV^ TZSa^S_ %%% S^SZYSZZ S S ZS ST`S^SV`_S VS S %SV^aVVZTaTVaS aSSV TZTVaS TZSSV^S S^S_ %%   S^SZYSZZ S S SSTS T^ X`S^SSV`_S VS S S a`ST^X`S^SV`_S ZScSS a`S_S^ SZVSZ`S^S[^SZY SZYS_ a^VWZYSZ\WZ a_aZZ S\SVSSTSVW% SS %SV^aVVZ aSSV TZ T^SS SZSc%  S^SZYSZZ S S SZScSS`SZS]XS^SV`_S _TS %^SaVVZS^ TZ TZS aS]]SZ%  S^SZYSZZ S SSV^S aZ^X`S^SSV`_cSSS`_S^SS]SS_  S^S ST^S^SX aS_SSSV^S aZ^Ê^ZYS_SZ`ST_WTWaZ SÊ aXS`S a`SSSV`_S ZS S^SV`_S aSV V STTa _S]S_  ^S  SV ^S`S S^TSXSS_`ZSTS^ÊSS_`S^SZYSZS S SÊ %SZaVVZTaS SVTVS^S TZS a_SZS ^S]% % S^SZYSZZ S S^SV`_S  SS S S S aYZSZ SS_XS^XS_XS^Ê^ZYS_SZ`ST_WTWaZ SÊ  aVVZ aSSV TZTVS   TZ SSS% % S^SZYSZZ S S^SV`_S_  S^S ST^S^SX  STaVVZTaS SVSV TZ SZYS_ a^VWZYSZ TZ SS^S_]SSZ%%  S^SZYSZZ S S_S ST^ SW^ZYS_\SVSZ SSSV^S aZ^S^SZYSZ TZS aS]]SZ SV^S SXS^SV`_S VS S SW^ZYS_\SVSZ SS^SV`_SV`_S S_ _ SX SS SS S`SSXS^T`S^SV`_SV S^ S`VSWZ W\a^ZSSZZ SWaVSZ S S_ScS SZYWZ W\a^ZSSZZ S S^SV`_S a`S_S^S ST^ TZS ST SZaVVZS_ TZS`aTaYSS SS%%% S^SZYSZZ S S^SV`_SX_^TaS S`_S_SS^]SZV S ` S^SS a`S^S^S a`S^\SVSX] SZSX aXS`S STSXS`SZSS^S  S S^SV`_ SZ Sa_a SS^XS`S_aSSVSc  SSaVVZTaS SVTVa^SSZ TZTaS^ TZ aSSVS_a a`%   .

S^SZYSZZ S S^VS ZS SXS^SV`_S XS SS_aS S^SV`_ S^S_SV S^SV`_S]SVSZ S_SX S S^SV`_ S^S acS]]X S^SV`_S acS``S  ZS SXS^XS`SV`_S VS S SS]S_STSXS^SV`_S_S SZSS_SXSXS^S_  XSSSV SV S_ ^ST^XS^SV`_S_  S^S ST^ SZVSZ`S^S[^SZY[^SZY SZYWZ a_aZ`WZ`SZYS^\SVSSTSVW  ^SSS % SS SZScTVS^SaX TZSS^XZ TZS SVVSV   S^SZYSZZ S S S`S_SScTS^SV`_SSVSSVSc %TVSSV^SSYVSV %%  S^SSV`_cSS`_S^TSS`cS^SVS`X S^S SX S S^SSV`_SS]SXS`aXS`SS^V S SZVSZ`S^S[^SZY SZYWZ a_aZ\SVSSTSVW  ^SSS % S_aVVZTaTVaS aSSV TZ S_SZ TZ SS` %% S^SZYSZZ S aXS`S^ScXS^SV`_SSVSc `SZ`cSS XSVSXS^SV`_SXS^S_SSVS   .

¾°f ¯f  °f¯ f  f°f–  f¾ff°½f f€ ½ ¯ff°¯ff°f ¾ f°¾ ¾f °–f°f½f ff ¾ ½ f  f¯#¾ f–ff ¾  f°f° f°  ¯f ff° ½fff¯f ff¯f°–f¯ ¯ ff°¯f¾f¯ °¯ °–f©°f¾ ¾f °–f°° ¾f°–f f  f °f f°f°f  ° ff¯ ½ °– €f¾f°  f ¾  ¯ff ¾f°–f ½ f° f½f ¯   f© f°– ¾ ¾f °–f°  °  f ¾ f°– °–°    9f°–  f f f  ¯   f© ff¯ f ½ ° ¾f° f ¾ f ¾¯  f ¾ f f© °–f° ff %  f f€%  f© °–f°  ¯f %  f ¯f #%  f© °–f° ½ ¯ff° ¯ff° %  ff f ¯ff°%  f© °–f° ¾f°f  ½ f¯f %  f f f f#f% f° f© °–f° ¾€f %  f¾ ¾€f%   f½°  ff¯ ¾f° ° ff° © f¾f° ¯ °– °f  ° ff ¯   ¯ °f© f ¾ °–f° ¾f°f  ½ f¯f %  f f f f#f%   9 °– f°.¾°f .f¯¯f fff#ffff¯ f°–½ °½ ff°  f f½ ¯f°f  f¯f f¾ f¾f° f– ½ °ff°–  f f½  ¯f°f° f°  ¾ f¯ff° ½ °–°f  D° ¯ ° f½ff°  ¯ ff° ff¯ ¯ ff° f© ¾f f ¾ ¯ff f f¾ ¯ °– f ¯   ff f°–f f°–f ff¯ f© @ ° ½ ¯ f°   f ¾ ½f f f¯f° f¯f f ¯ ¯f°– f–f¯ f° f°f ¾ f ¯fnf¯°f  f°ff°f f f f°– ¾ nff  ¯f  ½ °– ¯½f° f ¾  f¾ff°  ¯f  ¯f   ° ¾ ½  f   f¯ ¾ f  f f° °f°   f  f°ff°f f– f f f°–  f¾ff° ½f f °f¯f ½ f f°– ½f°– ff¾f°½ff¾ff f ¾ ½ f .ff½ f¾f f– ¯ff ¯ °– f  f°– ¯ff ¯ °–f¯½° ¾f f° ¯ ° ¯f f f  f°–  f¾ ¯f° -f  f°– ¯ ¯½°f f°f  @f f@f°f°– f ¾ ¯ f¾ f° f f°f ½f f -ff ¯ f¾ ¯f¯f fff  °–¾ff¯ ff¾ n°f -f .f ¯f  –ff ½© ¾ f ¾ f°ff ¯ f  f°– .f¾f°  %.@ J# #   .@@--.  ° ¾¾f°©ff¯ °– f °f¯f¾ff ff°–¯ fff°f ¾ ff¯ °nf f°f° f–f¯fnf¯fff ¾     .¾°f %  ff¯ f  ° ¾ f° f ¾ f ¾ f°– fff° ¾ f½¾ff f¾ nff ¾ °   f¯ff¾ f¯ °– f°f¯f .ff°f¾€ f°f¾f°¾    .  @f© °–f° f #f   @f© ° ¯ °  f ¾ °–f° ¯ ° ¾ ¾f°f  ½ f¯f ff f°– ½f°– ff¾ f° ½ff ¾ff f%¯f¾¾°f %fff #°% ff¯f ¾¯¾f% .

 @f© °–f° ff #f  f°–f° f°–f°¯  °f  ¾f°f°– f f½©f¾ f°–½ °  f°–f ff ff°f¯f¾ff ffff #°f°–¯ fff°°f  ¾f¯½°–°fnf¯½°f  f–f ¯f¾ff ff¯¾f f  f° €¾½f f¾f¯f¾ff    9 ° f½f°.f#f©¯ %.  @f© °–f° ff #f   f° f¯  °f¯ ¯ f°°€¯f¾ ff°½ ¯ fnf °–f°½ ° f© f ¾ f°f °f   f °–f°¯  f°°ff°–f°f¯ ¯ f°°€¯f¾ ff°½ ° f©°ff°½ff °f     f°–f°.¾ff ff°–¯ fff°f ¾ ¯fff¯ °nff ¾ ¾   ff¯f f ¯f¾f°  °––f ¯ ° f½ff° ½ °© ff¯ ¾f ¯¾°f  f ¯½f° ¯¾°f   ¾      .#©f¯ .#©f¯%  ¾¾°f° f ¾  ff¯°f  f¾ff° f° ¯¾°f  ½ff ¾ff f ff ¾ %– –% ff f°–¾f % ¯½f f¾f% ¾ ¾f € f¯¾ %©ff%   °–f° ¯ °– f °f¯f ¾ff f f½f ¯ ¯ ff° ° ¯ © f ¾°f    f f   f€   f°ff° f f  f ff€ ¾¾°  f¾ff° ¯¾°f ¯¾°f ½ff¾ff f °–f°f°°f¯f¯  f¾ ¾f€f¯¾ f¾ ¾ f°– ½ °  ¯ °– f f–f° f f ¾   ¯ff f½f ¯ © ½f f ¾¯  ¾¯  f°– °©f°   f f  f ff€ f  °  ¯ f° ¯ °–f¯  f ¾ ¾ nff °–f½     f°.  @f©f ¾ °–f°f #f ff¯ ½ ° f½f° ¯   f© f ¾ °–f° f f f f#f °  f¯ ¯ °n f ¯ °f© ¾ f f ¾f°– fff° f¾ff ff#  ° Jff¾ °–f°¯ff°f ¾f°–    &&  & '&  #f°––f¯¾ff¾ f°– fff° ½ ° ¯°f°––f f¯ ° f°°f %¯ff%   f f–°f f½f f ½ ° ¾f # .

¾°f ff¯f¯  ff ¯f  ./%. 1./-/:4-3--. ..78.- ...8-3-/::9.9 .¾°f ¯f  °f° f    f¾½€f .:5./98/.-/.: ..648 :83./986-3-%.88. ..././-3-.:.2 :83.7 :83.82 .¾°f ff¯f¯¯f  °f° f ./98--.2. 1./-::.8 ./.2 :83.-3&-.2-3--.22.¾°f  fff f°– ½f°–   °f f  .8.3./-3--./98:8.7-3-%./98 ./98-:&-./-327-3:1.77.8-3-/::9.- . :83.7-3-%.3:1:7 .-/.- .9 :83.8-3-/::9./98 .22..7../-3.-./98-/:77./.f f°–f¯½ffff./:-./-:8./98%.¾°f  f ff f  f°– ¾ ¯½f° f ¾ f°–  f   f¾ff° f° f f  € °f¯°  ¯½f°$ f° ¯ ° ¾ f½ f f  f f°¯  f f ¾ ¾f f¾f°f f€ Df°°f¯f °f¯f½fff f  ff¯¯¾°f f f°–  f¾ff°€ ©ff ff f€f  ¾ f–f¯f°f ff°   f¯f f° ° f°– ½f°– ¯ f  f °– ©–f  f¾ff°½f ff f f°¾ ff  f¾ff°f°–½f°– f¯f¾¾f¯ ff  f¾f° ° –ff%f¾f%  f  f ¾ f°–  ° ¯¾°f  n½ f°f   f° ff¯ f °f  ¾ff  .f ¾¯f  °.¾°f ¯f¯¯f     °–f° °–f°f°–¯ °©f  © ½ ° f°f¯ °f°–f©f ¾ °–f°¯   f f f f#f ff f  ¯¾°f  ¯f¯ f¯f  ¯ff ¾° f¯ ff° ¯ ¯ f° ¾ f¾ –f¯ ff°  °f°–f ¯¾°f ¯f¯f¯f ¾¾°f©   .-:-.¾fff€f ¯ ° f° ©¯f°f ¾ f°f  ./98.798-3./98 .2 :83./98$. / -:/. ..¾°f ff¯f¯ f .7#48::4$4..3-3 .3 907..3-3-3-%./98./:-./-3.- :83.88.f¯¯f f f¯ff   .¾°f  ¯f¯¯f f°– f f© f./98-/:4-3.-3./.¾°f ff¯f¯ f f f¯f¯f  f °f ff © ¯ff°f .7-3.6$./$.7#48::4$4. .2/0/:.- ./98./98.

 0.5::9.3.38.5.83 .3-073.3203. .8./.2-...32025.:3/.3-07847-.-07. -07.3.22. 5:97..2 2033.5073.9.:5073.:5073.20. 9073..3.$.3 .f  @¯ °¾f°  ff€–f°¾f° f° fff°%½f ff°––f€f f  %.3.9.3 8079.:803./-3 --.9..9-...../.-07.7-.9:8.:9/.f¯¯f  °f° f   ¯f¯¯f  ° f° f  %°f f    f  °–f½°f  ¯f  ° .92..73.. °°¯ ¯f°–½ f¯ff f¾ff ff.3.f %¾ff ° °f¯f .3.32:/. -/:.3. .3 .7897 8973.203:7::  2-.3 / 03493.9.7 /.5.079.5...320.:203../-3 .3-0..22.9.:93:. /.2.:3 ./:.25.203..9.%   f°f€f½f ff°©f f f– f f  f¯f.30-07..98.907. $.9/.30/:.3:/03.390-...3203/.4.73.8. f¾ °f°– –f€¯f¯¯f  °..3/.2.079.#f°°––f ff€f½f f¾ff°  f ©–f¯f fnf ¾ °–f°¾ ¯½°f°––f  °f¾ f–ff°–f°– ° f¾f°°f f f¯f°¾ °f¾ f©f¯f ¾ ff¯f°½f  f f¯ ¯½ f©f f ¾¾ ©f n f°°¯ ¯½ f©ff ¾° f½ °f½° fff¯ f°f f¯ %f% ©f f¯f° f°° –ff ° –fff°°f¾ °––f ff°f¯ °©f f¯ff°– ff ¾f   f°   f¯ °–fff° fff °ff°–¾ f°f f¾ f ff€f f ½ff  f¯ °–f€f¾f¯½f¾ ©ff ¾ ¯f¯f€ ¯ °–fff° f°–  ¯f¯¯f ¾ f–f     f¾ff f f f– f  ff ff°–f°–¾ff°––ff° ¾f°ff°–   ½©  ¾f  f°f°–  ¯ f½f f¯f  °f¯ f   f °f¯¯f¯f°–©–f¾ff¾ f°–– f½ °f ff  ff f½ °f¯ ff°–¾ €f f°¾ ff ¯f  °f° f   WSVSSZX_TWSa :. 805079-/:.782:3.  WUW^VS_SZTWSa !:97.3$.39.3-075.f¯¯f  ° f° f  °f ©–f ¾ f–f¯f¯f¯ f%f  ../:3. .1.  :8.-07:8.207.: 20.5.3.2 0.9 8.202.3.:2:7 9.3 .73./.3.42.3.8.907.9..f¯¯f  ° f¯ f ° f ° ¾f   .3203.. ...9.5:9/.:503/0 .7.ff  f– f   ¯f  ° .3  WaS^YSTWSa 0.3.90.3  :93..-07.

.33.7.2:39/.1.22..2.3 0./..8.35.33.3.507.3.3903.2/.3203. 2.9 203.3../3.203.3-..2:47.93.3 2.0808.3.32030-:947.8.0./.7.-0.32.2./-3. /./98 $08:3:3.92:.7.2-.73.3 ..-3.8079...3../..9.05.2/.38079.9/.:2.1.3.38.2.3 2. 3..28 $.3:3.3503/079.2.1.3 47... .203....33.203.2:9.2-.3203.-:. -7..1.: 8.-:.3..33.-3...9/.9.9.3202-82.../.33/../..9.8/5073.3/.-/.30-/ .2 . .2/..38.202-:.2-.:203.-07:25.2 ..2.3503:472.3.3.2./.7-202:3..2..2 /.98 .3.3:8.2.:.":7 .3708230. 2:3 47.38.93..3.3:8.3-.22.2.2/.5..:9...347..32034.2/0./.2:003/./ 0.33./.:..3.3.33.2/.5..:8.:39:203.3.9/-.93.3.3...8203.780.47.3.3/.2.9.:2.39.804..5.":7 .3 20307:2.:203:7:9/....:80-...  2.3-.7.2.7.:6 ./.8..503/079. 8.788.2.37 #.3.73..9502.1.9-:-/.  .  2.  . -::7 .3.: 907:9.9 /..80../9..5./.67.  -::7 ..2.3.78.3-.2-. .2$:33.2..3.: -0.. /03.7 .2. /.9..:2.-::7 .:7:3.25...3 2.33  2.8//...3503/079.-0717 9/.38.90780-:9 80/.1.9./.2:..3 47.25:20.3..3907.5..9039. 907. 9/. 3..39 :-079.:203.22..5...-0.80-.2-.8..39.9/.-:3.3..:8...2":7 .3.9./.7203.80:7:7.-075.39:-079.:..33.32. /. 2.3.323 -.3..33  2./03.8. 1.3..-2:8.203/.:.780.3.28.05./-3.38.--.9.2.9.3  2.2.7:8090.703.3-.35..3  2.7.3.3/.33..5:7: :7:3.1 -07.9/.-0:2-07.3.2..8.:.39:3/:05.8.2. 3/.: 9039./.1..:.3/9:39:940503:.88.3 47.7.. .5:3202.5./98 2.9.20::/.2:3-0../3.3.3:8.5.9.2:3/.. $.8.9907. -..7./03.3202-:3:87-3. 0..2-:.3.3 47.3.:2.3.:503:.3 907..2../-3..5073././-3..32...88. 2...9.38. .35::./-3..93.7-07-.203:... .: .30-:.3/05. 2.201.7.3/..3 3.7 #.3.8/9.3.2/./98  aSZSS`W^SVS\TWSa -:.":7 .8.5.3 47.2.-07.38079..8/ -.35..3.22..-07.07.3.  .20.5. 203472.3-0.3.2208. 0.2-.3 2../ 7 #.3 2.  $.3./8532:  S_S `ZS !02.907:8-07802-:3/ 2..2..3/.8.39/.3.9:8./-3.":7 ..9.2-..1././98/.7.2./.203..507..3 203.9703/.380-0:2./.2/.3... ./.2:2.7/.:2..39:23.2.9.3203.26 2. 2:/.:39:20302-:3.:..2/. /.9.3-078::/03.33.9: :9.:203..38.3907/.507.05.::/...703.33.3 /.3. .8079.3503.9-.32.:.7.3 5..5. 2. .3/07.3/.907/03...3.2.3 203.

# :...2.3.7.

2.3.5.99:/2..3 -4/4.3.:203..3 47.f# . .7..9.2-. -. -0..0248 909.:2.7.80.3193../09.9/./3 %09.7 803473..:.3-0.9.2.98.9203.7 47.9:-079.3:7:3.3.38.1 8079.22.  .  090.38 $.7.25.3.f¾¯ °°f¾ f¯   ¯f¯¾ f€#   Jf# °ff   ¾¯f °Dff   €f° °#Df°f    ff   f¯ °.703.../.9/..2.. /. -./03.3203/07.-.8.9.2. .8.7.3-7./3.340 8047.3:8.39/.7/73.907. /.3:.2-. .:400-.9. -0.3 -3:./ /.ff €f  f¾f  f– f f¯f° f°° –  f°°f f°ff¯  ff ff    ¾¯f °f#€f    f  ° f  f   D¯f ° f °f    ¾f¯ ° f¾ °.:2030.  $.8.32.:  .-0:2 5073.7.7.2-3/.2203.:/.3.5.0-03./202503/.2-.28.8.8. .2-50..747../98.3/..9 .37:2.5203.193.30-703/.2/ .3  2.20309.32.547.3203./988.3  $.2.2..907-:3:.2 /.3/.../ .78:..5073.3/.3/..3208/..3-4/49/.0-90. 0.-::8:1 ./:05. 5:3.:203.203/03.7..2./-:."..30-20308..2:33/.16 909.7..39/..9  8.9 503/.7.7/./..3-0..37.20./.9/.3/.3..3.0-4/4.:/.:809.3../07.98 .59075././..8.388.3//.30/..8.3..9:.3408.1.3  $0203.9.-. -0.8:0 503:..7..3.703. .4-.3/.2168.22.2  $.:.--07..50/:/03. 2.38.:/.3.5.7 -.:8.9.32..503:.:0-:3:/.3/.:-0.309.98047.203/03.9.5.2.2./..3/:.3./.3.3./:52:.-0:25073.8-0757073/.72..99.. 503. 20309..:  – f ¯f¯¯f  °f¯ f – ½f f f°ff¯f ©¯f°f  f ff¾ f½f° ½f°– ¾ f   f–f° –  ¾ ½  .  02..9. 805079..3/07.8.9.3./.3.3/.3 503.92.35..6-3-7. 3../-3..3$: -.9.3-0.2:3.7.5.9  SV`__WSYa_aYS ] -3: 6-07.3 .32...2:://.

78 /9.33.f°f¾f¾ f– 03:7:92.6.:.22.90 .39:8..3.2.2.207:5./.8. / -3 - .35.f°f¾   f f     f f ¯f°   f f .3-.8:/90780-:9 .2./98 /./-3 .f°   f f .-8:3.7 $.2 57.3 . .73.:.19.3./.3203..3/9::/.-./ $090.38:3207:: 0.f f¯ff ..3$.85.2.   f .20302:.32. /-3-.22.3/2.2..3203.. 03.7.6.2.7 .f¾f    f f ¾ f   f f f f    f @f ff f¾   f f ff    f f f fff f¯f .990780-:9./.   f f f   f f .f°   f ff ff .¾¯    f    -f¾f   @¯     °.8 90780-:9./2 9. ..72.8.3 09.22..7. 2039... ¯  f D¯¯°fff ¾½ °f f©f ½f f¯f¯¯f  °f¯ f  f° f©f ½f f°f©–f f¯ff°–½ °f¯ °©f –°f f°–½f°–¯ °°©f ff    ¯f¯ f   .990780-:9 .9.73.2.f°f¾f f    f f ./-3.32..--07:93:./98.f©f   ¯f¯¾ f€# ¯f¯¯f ©–f½ °f – ½f f°f    9f°f f °¯f¯¯f  °f¯ f   9f°f  f °¯f¯¯f  °f¯ f   ½°ff°°f f¯ f °¾f .-.¾°f fff°–½f°–¯ °f© f°f °ff °¯ ¯f  f f ½© f ¾    f f @f€¾ °f¯°  ff ¯ °–fff° #f °f°–#    f f° -f¾ff .2 . ff€f .3-.7.f°¾   f f @f   f f ¾ f   f f .

.ff f fD¯f °f#  °.-07:9  & &%&%&&   &   & &' &'       &&  & ' f¾f°¯ °n ff° ½f ff¯ f¯¯f  °ff¯f¯ °n ff° ½f ff¯ f.f ff#  ff¾fJ  ff f ¾f f #f°––f¯ ¾ff¾ f°– f ff° ½ °   ¯°f°––f f ¯ ° f°°f  %¯ff %   f f–°f f½f f ½ ° ¾f #    9 °½  ¯f°f ½ ¯ ff¾f° f f¯ ¯ °– °f f© f ¾ °–f° ¯    f f #f %¾ff f%  f°–¯f°f °–f° ¯   f©  ¾  ¯ ¯  f° f ¯ ¯ f°°€¯f¾  ff°½ ¯ fnf °–f°½ ° f©f ¾ f°f °f   f °–f°¯  f°°ff°–f°f ¯ ¯ f°°€¯f¾ ff°½ ° f©°ff°½ff °f  f½° f°–f°¯  °f   ¾f°f°– f f½©f¾ f°–½ °  f°–fff ff°f¯f¾ff ffff #°f°– ¯ fff°°f  ¾f¯½°–°fnf¯½°f  f–f¯f¾ff ff¯¾f f  f° €¾½f f¾f ¯f¾ff  ¯–ff½ff°–f¯¾f¯½ff°½f ff° f½f ¯f°€ff °¾ff   f€f9¾ff  .f°°f 9 °–f°f ¯f ¾ fff 9¾ff f¾f  °.33.9 //.39./98 90780-:9 907/.3  /03./9803.7$9:/2:.3 34247 ..3 !03.8.370/.580-./98   /.2 2.:98.  . .5.79...¾°f ¯f¯¯f fff 9¾fff¯  ½ $$ ½ f n¯ ½ $$ f n ° n¯ ¯ ½ $$½  –¾½ n¯    (..f¯¯f  °f° f ¯f ./ 2./ /03.- 2:83.2 9. "./98 .!:89.7   09   .99.ff° .

(995.

.

..54/4::7 -48549 .   ../-3:.22.42 (2.!:89.3-./2.42 (-/ ( 0.22.42 2 ( 50/.-44. .2    09  /  .79.03970 ./ .22./-3. :83.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful