PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. selama membaca. Akhir kata. 2009 Tim Peneliti iv . sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. Bandung. khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami.

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

d.d. 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris.d. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 .

Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. H. Demokrasi 1. G. B. F. I. Negara Kesatuan B. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3. Desentralisasi 2. D. Demokrasi ekonomi D. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. Negara Hukum C. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. E. C.

Kelembagaan 4. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A.3. Hubungan Kelembagaan C. UU. Kesimpulan B. Hubungan Keuangan D. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. B. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. dan Pengaturan Sektoral. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C.

satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.7 8) prinsip hubungan keuangan. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia.BAB I PENDAHULUAN A.5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) . pelayanan umum. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

selain diatur dalam UU No. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. . c) keamanan. Kesemuanya itu. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama.2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. dan f) agama. Pertama. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. d) yustisi. Keempat. untuk dan pengawasan. pemerintahan daerah provinsi. Ketiga. 32 Tahun 2004 tersebut. namun kewenangannya yang berbeda. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. e) moneter dan fiskal nasional. Kedua. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. yaitu meliputi hubungan kewenangan.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. yang diatur dalam UU No. kewenangan keuangan. pembagian kelembagaan. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. b) pertahanan. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004.

. 17 Ibid. Jakarta. B. 15 Bagir Manan. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Jakarta 2009. hlm. kelembagaan. 8. Pustaka Sinar Harapan. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. 6. 1994. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. dan pengawasan? C.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. hlm. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. sebagai berikut: 1. 22-23 16 Ibid. hlm. 14 . Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. keuangan.

Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). 87.F. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. Nusamedia. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. 2008. Strong. Dampaknya Terhadap Perekonomian. kelembagaan. Cetakan Kedua. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. terdapat dua C. Bandung. Artinya. Jakarta.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. keuangan. Sementara itu menurut Apeldoorn. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Otonomi atau Federalisme. 18 . hlm. Pustaka Sinar Harapan. 19 Tim Penyusun. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. 14. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. dan pengawasan? D. Harian Suara Pembaharuan. 2000. hlm. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya.

Bandung. hlm.F. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. program politik partai. hlm. . yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. hlm.cit. Konstitusi-Konstitusi …. 23 Ibid. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. Namun di dunia kontemporer. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. Universitiet Leiden. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat. African. op. 1999. 21. Municipal Government In Indonesia Policy. 21 Ni’matul Huda.F.25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan. 10. 2009. Bandung. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial.22 Sejalan dengan perputaran waktu. artinya.Strong. media massa. and Amerindian Studies.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. 24 C. Nusamedia. Hukum Pemerintahan Daerah. Kedaulatan Rakyat. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. hlm. 2007. 17. The Netheralands. 22 Eddy Purnama.23 C. 25 Ibid. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Nusamedia. 66. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. dan lain-lain. Research School CNWS School of Asian. (indirect langsung democracy).21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat.

yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah.. 2007. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. op.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. “The monopoly of legislation by Parliament. 8-9.. Mei 2009.. Demokrasi Kita. and the king. Visimedia. hlm. 69. terjemahan Tim Visimedia.31 Di Inggris. 8 32 Ibid. the House of Lords. Ibid. Yogyakarta. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. hlm. 29 Mohammad Hatta.. 27 26 . 30 Ibid. hlm. 11. cetakan kedua.29 Sifat pertama.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. 28 Jean Jacques Rousseau.. 31 Satjipto Rahardjo. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Kedaulatan Rakyat.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku.. .cit. 284. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan. 70. Jakarta. hlm. adalah dasar dari demokrasi politik. yang tidak netral terhadap politik. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. 2009. hlm. 113. with the balance between the House of Commons. 33 Ibid. hlm. Genta Publishing. hlm. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Bandung. 9. Menurut Dicey. Segaarsy. hlm.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. cetakan II.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat.

” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.V. karena dalam tipe tersebut. oleh “The International Commission of Jurist”. 26.unsri. 34 . 35 Ibid. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. op.7 … and finally. Sementara itu A.V. hlm. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. yaitu: 1) Supremacy of Law. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. Bahkan.ac.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). yaitu “rechtsstaat’. lihat Jimly Asshidiqie. 23 Maret 2004.fh.hlm. Disebut sebagai penjaga malam. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. Negara Hukum ….. Paul Laband. 36 Satjipto Rahardjo.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern.cit.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. 1-2. explains the absence od adiministrative law. Fichte. diunduh dari http://www. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika. 2) pembagian kekuasaan. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”.. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi. 2) Equality before the law. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant. Julius Stahl. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34.Doc.V. dan 3) Due Process of Law.

dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham).37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. Robson. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. equality. Dalam hukum administrasi tradisional. mempertimbangkan pertama. perjanjian. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. Perubahan tersebut. tujuan penyelenggaraan negara.. perencanaan. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). keterbukaan dan penggugatan. door als neutral toeschouwer op te stellen. . dan kepemilikan (eigendom) negara. di antaranya adalah ”liberty. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). Menurut William A. 27. dan kedua. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). hlm. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi. jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain.

Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). untuk dilaksanakan. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink. hlm. Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial. Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. 39 Bagir Manan. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah.40 Ateng Syafrudin. 2006. Citra Media Hukum.. desentralisasi dibagi menjadi dua macam. hlm 21 38 . dan Belifante.. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional.9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional. 72. op. hlm. Steenbeek. desentralisasi fungsional. 20-21 40 Ibid. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah. Yogyakarta.. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis). Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Hubungan .cit.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. JM de Meij.

1986. Pakar hukum lainnya. Dekonsentrasi. yaitu :43 1. Alumni. 2. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. Bandung. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. 41 . merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. Amrah Muslimin. 43 Ibid.10 Bagan 2.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi. hlm 5 42 Ibid. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. Desentralisasi. lihat Amrah Muslimin.

Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. zelfbestuur. … 44 . Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Ateng dari aantekemingen.cit. b. op. Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit. Hubungan…. 44 desentralisasi. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 .. selfgovernment.11 Bagan 3. hlm. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Program Studi Hukum Tata negara. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945.45 Ateng Syafrudin. hlm. 45 Bagir Manan. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. 2) fungctionele decentralisatie.. 1.

dan Negara hukum.. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. 39. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. kerakyatan. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah.cit. . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1. Hubungan Pusat…. hlm.. Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. 2. op.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi. F. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat.. E. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan.

dan tahun penerbitan tidak tercantum. 47 . sistematika hukum. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. kota. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Monograf.48 3. hlm. Jakarta.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana. hlm. 50 Soerjono Soekanto. 6. Jakarta. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat.52 b.51 seperti rancangan undang-undang. hlm. 72.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. dan ensiklopedia. 2) Bahan hukum sekunder. PT RajaGrafindo. 31-32. UI-Press. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). hlm. 3) Bahan hukum tersier. hasil-hasil penelitian. 2006. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. PT RajaGrafindo Persada. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. 52.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. Pengantar Penelitian Hukum. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. 51 Ibid. Pengantar Metode Penelitian Hukum. hlm. atau pendapat para pakar hukum. penerbit. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. seperti peraturan terdahulu. 2006. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Jakarta. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. perubahanperubahan. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. Penelitian Hukum Normatif. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum.

yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. Yogyakarta. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Citra Aditya Bakti.14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). 53 . Lihat juga Sunaryati Hartono. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. 4. 152. 2006. Bandung. hlm. 1993. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. G. hlm. Alumni. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. 37. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif.

33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan . Alur Penelitian UU No.32/2004 dan pelaksanaann ya UU No.15 Bagan 5.

16 H. S.. Prof. LL. LL.H. S.H.. Rosjidi Ranggawidjaja. S. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR. H. S. LL... I. Ali Abdurahman. M. Miranda Risang Ayu. M. Negara Hukum.. DR. tujuan penelitian. Agus Kusnadi.H. Ph. Kuntana Magnar.H.. kerangka pemikiran. tujuan penelitian.. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi. yaitu hubungan ..S..H. rumusan masalah. DR.. demokrasi. M.. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang. Susi Dwi Harijanti.H.H. S. H. M.H.H. dan teori desentralisasi.H.M. S. Indra Perwira.D.. I Gde Pantja Astawa.. S. S.M.M. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi. M.H. Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan.. S.H. S.H.H.H. M.H. Inna Junaenah. S. dan metode penelitian.H. Rahayu Prasetianingsih. kegunaan penelitian.H. Bilal Dewansyah.

keuangan. . disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut. yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. dan pengawasan. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya.17 kewenangan. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan. kelembagaan.

Bandung. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Nusamedia. dan negara hukum. Sementara itu menurut Apeldoorn. kedaulatan rakyat. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan. 2008. Cetakan Kedua. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. 87. hlm. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”.F. Strong. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. A. 54 . Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. Artinya. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya.

hlm. 1995. hlm. The Netheralands. Menurut Dicey. 8-9. cetakan II. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. Universitiet Leiden. Mei 2009. Municipal Government In Indonesia Policy. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. yang tidak netral terhadap politik. Genta Publishing. African.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). 59 Ibid. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. wilayah negara menjadi semakin luas. and Amerindian Studies.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. B. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. 14. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. 57 Ibid. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. 2000. Harian Suara Pembaharuan. 55 . 109. 56 Nicole Niessen. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Yogyakarta. Pustaka Sinar Harapan.. Jakarta. lihat pula The Liang Gie. Liberty.19 mandiri. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan.58 Di Inggris. Edisi Kedua. Otonomi atau Federalisme. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. hlm. Jilid III. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. hlm. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah. 21. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. 8.. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Research School CNWS School of Asian. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Yogyakarta. hlm. 1999. dampaknya terhadap Perekonomian. 58 Satjipto Rahardjo.

with the balance between the House of Commons. oleh “The International Commission of Jurist”.unsri. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Bahkan.ac. “The monopoly of legislation by Parliament. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat).cit. diunduh dari http://www. 61 60 . dan 3) Due Process of Law. 9. the House of Lords. 23 Maret 2004. 26. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. hlm. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. 63 Satjipto Rahardjo.. karena dalam tipe tersebut. and the king. explains the absence od adiministrative law.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. hlm.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan.V.V. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. 1-2. hlm. Sementara itu A. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. 2) pembagian kekuasaan.. 2) Equality before the law. 62 Ibid. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.Doc.fh. yaitu: 1) Supremacy of Law. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. op. Disebut sebagai penjaga malam. also strengthens the power of the judges … and finally.63 Pada Ibid. Negara Hukum …. Jimly Asshidiqie. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang.

21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. Robson. dan kepemilikan (eigendom) negara. perjanjian. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. perencanaan. Refika Aditama. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. di antaranya adalah ”liberty. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Perubahan tersebut. Bandung. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). 9 . Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. Dalam hukum administrasi tradisional. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). Menurut William A. keterbukaan dan penggugatan (de Haan. hlm. 27. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. Dalam hukum administrasi tradisional.. 2009. equality. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. hlm. door als neutral toeschouwer op te stellen. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. Munir Fuady. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). 1978).

79. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. hlm. . sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid.66 3. aturan hukum yang baik. Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. serta para stakeholders lainnya. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. Keempat. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. dan berwawasan hak asasi manusia. warga lingkungan hidup.. Mengenai peran badan peradilan ini. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. pers. transparan. law enforcement yang baik. maupun secara prosedural. 81. sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter.. Ketiga. Ibid. pengadilan. Jika ada dispute. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. 2. hlm. sistem pemerintahan yang efektif. accountable. parlemen.22 1. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). pemerintah. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. Kelima. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). muncul pranata hukum yang disebut judicial review. terkait Pertama. efisien. jujur. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. baik yang bersifat substantif. yakni seperangkat aturan masyarakat. Kedua. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law.

. program politik partai. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. 2005. Namun di dunia kontemporer. Strong diartikan secara beragam.F. 17. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.cit. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan. dan lain-lain. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. hlm. Jakarta. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia.F. 69 68 . sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. 140. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%).69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat.68 C. 80. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. Konstitusi Press. 70 Jimly Asshiddiqie. 1. hlm. media massa. C. hlm.Strong. artinya.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Konstitusi-Konstitusi …. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara. Peaslee pada tahun 1950. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C. op.

73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). hlm. 10. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. untuk rakyat. oleh rakyat dan bersama rakyat. Universitas Padjadjaran Bandung. 72 . Kedaulatan Rakyat. I Gde Pantja Astawa. dalam penjelasan Eddy Purnama. oleh rakyat dan untuk rakyat. Nusamedia.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. hlm. Bandung.wikipedia. pemerintahan dari rakyat. 75 Eddy Purnama. Disertasi.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”. 2007. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan. -bukan tujuan. 66. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. hlm 70. Dalam hubungannya dengan cita-cita.75 Berdasarkan kenyataan demikian. Op Cit.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. demokrasi hanyalah sarana. 1999. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu.

perwakilan. Kedaulatan . 81 I Gde Pantja Astawa.. Op Cit.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). the Government of the People. 79 Miriam Budiarjo. 1967. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government. Miriam Budiarjo. hingga ke pengawasan. hlm.. PT. Dasar-Dasar Ilmu Politik. hlm 61. penetapan. London. 75. hlm. Jakarta. PT.. 1993. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif.80 2. Gramedia Pustaka Utama. 284. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas.78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. Dasar-Dasar Ilmu Politik. op. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. Cetakan kelima belas. by representatives subject to effective popular control at Ibid. Steven Sons. Gramedia Pustaka Utama. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. 419. 80 In Modern democracy. Jakarta. hlm. 1993. in modern states. 78 Eddy Purnama. hlm. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan.cit. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann.. 11. Legal Theory. This.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy).79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. Cetakan kelima belas. 77 76 . hlm 61.

” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. . Di Indonesia sendiri. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila.. Oleh karena itu. op.. Modern Political Constitution. 1960. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam.” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority. Sidgwick & Jackson Limited.86. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. Konstitusi .26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.13 83 Jimly Asshiddiqie.cit. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat. hlm. 84 I Gde Pantja Astawa.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan. London.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri. Op Cit. 3.. hlm. 148. either directly or through chosen representative. hlm. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan.84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan.

No. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja.. Di sini tampak dasar demokrasi. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?. Ke Arah Indonesia Merdeka. Tetapi. Konstitusi .html diunduh tanggal 27 Agustus 2009.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain. Masalah Kenegaraan. 87 I Gde Pantja Astawa. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”.” Tabloid Fikiran Ra’jat.Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. Op Cit. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”..opensubscriber. dalam Miriam Budiardjo (ed). 1980.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya.. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme. Gramedia.com/9511217. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. 18 dan 19 (edisi 4 November). hlm.. http://www. 88 Mohammad Hatta. op.85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi. 80. Jimly Asshiddiqie.-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro.. 147. hlm 42. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme. 86 85 . Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi.86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi.cit. pemerintahan rakyat. Jakarta.88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang.com/message/mediacare@yahoogroups. tahun 1932. hlm..

Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. 66. 2009. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. Nusamedia. Ketiga: cita-cita tolong menolong. hlm. Demokrasi Kita. Op Cit. cetakan kedua.28 Kedua: cita-cita massa-protest. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. 93 Ni’matul Huda.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid. hlm. adalah dasar dari demokrasi politik.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. 90 89 . namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). Bandung. hlm 42-43. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. 2009. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. 84. 91 Mohammad Hatta. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. Hukum Pemerintahan Daerah. 92 Ibid.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. I Gde Pantja Astawa. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul.91 Sifat pertama. Segaarsy. kolektiviteit. 69. hlm. hlm. Bandung. 70.

tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. hlm. Binacipta.. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. 98 Ibid. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. hlm. Visimedia. Kedaulatan . melainkan suatu proses.. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama. 1. hlm.94 Sejalan dengan perputaran waktu. Jakarta.96 D.cit. Yogyakarta. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 113. op. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. 2001. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). hlm 10. Bandung. hlm 11. hlm 10.95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. 96 Jean Jacques Rousseau.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua...29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. 1979. jabatan. 10 Ibid. 97 Bagir Manan. 2007. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). 99 Ibid.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom. 100 RDH Koesoemahatmadja. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni.15 95 94 .. atau pejabat’.

Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. op.. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Hubungan . menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan... hlm 10.. bahwa desentralisasi adalah otonomi. Bagir Manan.102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. Van Der Pot. Dengan perkataan lain.101 Mengenai desentralisasi. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). yang terdiri atas desentralisasi teritorial. juga terbagi dua yakni. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. 2001. Irawan Soejito. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. hlm 21.cit. . op.cit. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Hubungan . Van der Pot mengemukakan. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. Yogyakarta. Demikian pula. baik otonomi maupun tugas pembantuan...30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. 103 Bagir Manan. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central). tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi.

desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan. op.. Amrah Muslimin.cit.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas. yaitu desentralisasi politik. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. Aspek. 108 Amrah Muslimin.. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid.. agama. yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”. hlm 5. Hubungan . hlm 22.. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. 107 Bagir Manan. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah.31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya.. Bandung..107 Mengenai desentralisasi kebudayaan. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi.. . 106 Ibid. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin. 1986. op. dan lain-lain). Alumni..105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat.cit.. hlm 5-6. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. hlm 21-22.

op. Kemitraan. Investasi. Keuangan Daerah. hlm. Jakarta. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments. Gerge Allen Unwin..110 Desentralisasi teritorial.cit.. 204. hlm 26.C. Hubungan . khususnya otonomi. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah.. Jakarta.. hlm vii 114 Bachrul Elmi. 111 B.cit. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan. 1985. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114. Smith.32 sebagai bagian susunan organisasi negara. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal. 2005. Namun demikian. Seperti dikatakan oleh B.C. Ibid. .2002.op. Dalam perspektif ilmu ekonomi. London. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. 99. UI-Press. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah.113 Artinya. Decentralization The Territorial Dimension of The State. hlm. Hubungan Antara…. 113 Pheni Chalid... dan Desentralisasi. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. 112 Bagir Manan.

hlm.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. 116 Ibid. 22 Tahun 1999 dan UU No. untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. Disertasi. 25 Tahun 1999).117 Persoalannya. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 2003. sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974. Sementara itu. jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). 118 Misalnya. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi.118 Padahal. hlm.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak.. 117 Ibid. 14. Georgia State University. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah. Atlanta. namun juga pada aspek pengeluaran. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. 13.

fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya).depkeu. tanpa tahun. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009. 2008. di kota. Seperti dikatakan oleh Moh.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal.cit. .. melainkan juga pada tiap tempat..34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak.. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”. 29.. No.121 Artinya. bahwa ”as a working definition. bahwa : ”. op. hlm. http://www. 26. Hubungan Antara….go. makalah. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex. Blackwell Publishing Ltd. hlm. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri. 1. di desa. UK-USA.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. 119 Bagir Manan. 4. Menyongsong Fajar…. Keadaan yang seperti itu penting sekali.id/webbkf/kajian%5CPAD. op. melainkan berlainan”. hlm. (cetak tebal oleh Tim Peneliti).cit. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi. 33.jadi. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi. rakyat semuanya. hlm. Joko Tri Haryanto. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”.119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. di daerah. bukan saja persekutuan yang besar. 122 Ibid. 120 Bagir Manan. Hatta. Jakarta.fiskal..pdf. 442. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama.. Renata R Simatupang. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

Provinsi dan Gemeente. b. Di luar urusanurusan itu. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. Ibid. 130 131 Ibid. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah.130 Atau dengan kata lain. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. . sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut. hlm 28. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti. 132 Ibid. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat.131 Di Belanda. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya..132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas.

daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. antara lain. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. Berbeda dengan otonomi formal. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah.40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan.

41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. Misalnya.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. potensi. kurang memperhatikan karakteristik.. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. moneter. dapat beralih menjadi urusan pusat. Namun. misalnya urusan pertanian.134 Memang urusanurusan tertentu.. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. 135 Ibid. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. urusan karena pemerintahan perkembangan.135 urusan Suatu daerah. urusan persampahan. misalnya pertahanan keamanan. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. sampah nuklir. Mengenai sistem rumah tangga material ini. melainkan meliputi sampah industri. . Ibid. dan lain-lain. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat. Karena perkembangan teknologi. hlm 29. yang mungkin saja 133 134 Ibid. hlm 30.

136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal.137 c. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat. hlm 32. Ibid. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata. 139 Ibid. .42 tidak dimiliki oleh daerah. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut.. 141 Ibid. 140 Ibid. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga.139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri. sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material. Dalam hal demikian. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. hlm 31. 136 137 Ibid. 138 Ibid.. hlm 30. Dengan demikian. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing.

9 144 Ibid. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. op. hlm. hlm. 145 Bagir Manan. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk).144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Sebagai tatanan ketaanegaraan. op. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. Bandung.cit.143 Sementara itu. 3.. Ateng Syafrudin. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk). Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan.. 1990. Penerbit Mandar Maju. 24 . Otonomi atau . 14.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah..43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang...cit.142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Menyongsong .. Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun. hlm. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan.

namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini. dan hubungan kelembagaan. or apparatus.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. Sebagaimana dikutip Syahyuti. The structure is a framework.. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. 3. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris. 146 . lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. organisasi dapat dirumuska sebagai. Dalam kajian sosiologi. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial.” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai.pdf 147 Ibid. notion. Ditinjau dari tujuannya. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. menurut Hadari Nawawi. interest) and structure.geocities. 1 www. hlm. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. doctrine. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization). sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal. a. hlm. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.

Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas.45 faculties necessary for its execution. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. Jakarta. Prospek Otonomi Daerah. Atau dapat disebut juga sebagai. adalah koordinasi. PT. kekuasaan.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. pembagian pekerjaan. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. koordinasi. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. 150 Ibid. hlm. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. and coordinated application of effort”. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. 232 149 Ibid. hlm. di Negara Republik Indonesia. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). 2001.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. positive. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. Raja Grafindo Persada. rentang kontrol dan kesatuan komando. Dengan demikian kekacauan. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho. kewajiban. systematic. 289 151 Ibid . pelimpahan wewenang. konflik kewenangan/kekuasaan. tugas. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan.

Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. hlm.. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah. menurut Bagir Manan153.191 . tugas dan pejabat dalam organisasi. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik.152 b. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah..cit. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan.. 290-291 Bagir Manan. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. buku pedoman dan sebagainya.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). Hubungan . dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. pertemuan formal. hlm. surat edaran berantai. op.

cit. Hubungan ….. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah...156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi.157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan. hlm... hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah.47 desentralisasi. Ada faktor-faktor lain. 154 155 Ni’matul Huda. seperti kemampuan keuangan.. dan manajemen. 52 157 Ibid. op.. 158 Bagir Manan.. 194-195 156 Ateng Syafrudin. Hukum Pemerintahan . op. Titik Berat . 24 Bagir Manan.. hlm. hlm. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan. kewajiban. op. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri.cit.. op.cit... 197 . sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat.cit.155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas. Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah. Hubungan .158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan. hlm.

. yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli. . kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. The World Bank. hlm. World Bank Policy and Research Series No. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”.. hlm. PrAcademic Press. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Accounting & Financial Management. Penerbit Bina Aksara. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 388. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan).160 4.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. Journal of Public Budgeting.162 Sementara itu. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur.cit. Washington DC..48 Perbedaannya.23..159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. hlm. dalam otonomi territorial. 162 Ibid. 35-36 Irawan Soejito. 1984. biasanya diperoleh dengan dua cara. 178 161 Anwar Shah. Menyongsong. 1994. op. 3. 15 No. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan).pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder. Vol. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan). pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi. 2003.

Vol.166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). 389. World Bank. misalnya melalui pajak daerah atau retribusi.. 2006. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. hlm. World Bank Policy Research Working Paper 3353. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. 168 Era Dabla-Norris. April 2004.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal. 8. 165 Ibid. Washington. transfer dan Ibid. The World Bank. June 2004.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas.48. DC USA. Anwar Shah.cit. USA.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue). (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. 18 – 19. Problems. daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). Theresa Thompson. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. hlm. 167 Anwar Shah. op. yang mencakup revenue autonomy. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. Detours and Road Closures”. expenditure autonomy. Dalam hal ini. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”.165 Dalam hal ini. Comparative Economic Studies. hlm. 166 Larry Schroeder. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). 18. Washington DC. 107. 164 163 .49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana). hlm. hlm.. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut.

prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. Dalam hal ini. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri.50 subnational borrowing. loc. hlm. 2009. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Lihat. Dalam literatur. Hubungan Antara….cit. 171 Norris. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”.172 Ibid. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak. termasuk dalam menentukan tarifnya.170 Artinya. hlm. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. Ltd. transfer (intergovernmental fiscal transfer).169 Dalam pendapat Shah. Jaime Bonet. World Scientific Publishing Co.cit. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.. Bahl dalam Shinichi Ichimura. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain.. 107. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah. hlm. hlm.. 204. Decentralization: Policies in Asian Development.. Bagir Manan. hlm.. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin. 172 Ibid. 117 – 123. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. 170 169 . Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal. 663. Loc. Pte.171 Sementara itu.. Singapore. 3. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan. Roy Bahl (eds).cit.op. Norris.

di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). Singapore. Roy Bahl (eds). hlm. 11. tercermin dalam dalam dua dimensi.173 Pertama. hlm. karena bergantung pada pusat. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik. 175 Alan Norton. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company.. dalam Shinichi Ichimura.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). Hubungan Antara…. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Decentralization: Policies in Asian Development. di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah. England. 177 Bagir Manan. bukan hanya untuk kepentingan daerah. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya)... “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. Kedua.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. 174 Ibid. . 1993. hlm. World Scientific Publishing Co. USA. 176 Ibid. Ltd. hlm.cit.177 Terkait dengan hal di atas.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. 2009. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional..178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. 80. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri.op. 10. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah).175 Sebagai agen. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. 205. 178 Ibid. Pte.

Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. Hubungan Antara…. sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). World Scientific Publishing Co. 396. 15. 180 179 . dalam dalam Shinichi Ichimura.. 5.cit.180 Artinya. namun dengan hasil yang relatif kecil. 208. terutama dengan melakukan pinjaman. Roy Bahl. op. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan.. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah. 2009. 182 Lihat Bagir Manan. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. Singapore. Decentralization: Policies in Asian Development.179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). Roy Bahl (eds).182 Ibid. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran.181 a. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. tanpa bantuan pemerintah pusat. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. dalam Shinichi Ichimura.. hlm.52 dalam peraturan perundang-undangan. transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). hlm. Ltd. Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah. hlm. Roy Bahl (eds). op.cit. Pte. 181 Motohiro Sato.

loc. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.. pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan.187 Keempat. hlm.cit.10. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah.191 183 184 Anwar Shah. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. Dalam hal ini. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah). Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak.”. Ibid.17-18. 185 Ibid. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%.. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran. 189 Roy Bahl. .. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.189 Sementara itu. Ketiga. 190 Ibid.184 Kedua...186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan. 186 Ibid.188 Dalam praktek. 187 Ibid.17. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif). Ibid.cit. untuk memastikan adanya akuntabilitas.53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak. 9.183 Pertama. hlm. op. hlm. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi.190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. 188 Ibid. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah. hlm. “Promise and…. “Fiscal Decentralization….

com/abstract=1029581. “Partial Fiscal Decentralization”. misalnya. 192 . Category 1: Public Finance. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang.. 193 Anwar Shah. pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. 1 195 Ibid. hlm. 196 Jaime Bonet.. Ibid.cit. hlm.663. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri.ssrn.196 Artinya. Brueckner. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. Cesifo Working Paper No. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. hlm.195 b. 18. loc. November 2007.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian.54 Di Asia. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak. Diunduh dari http://www.193 Dalam hal ini. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif. walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. “Fiscal Decentralization…. 194 K. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 2137.194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program).

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

Donnelly. Menyongsong . Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). pengertian pengawasan (toezicht. James H.. dan “control” (Belanda dan Inggris). Jilid I. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. F. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. sepanjang.213 Pengawasan (toezicht. concurrent control dan feedback control. . Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. James A. apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. op. dan John M. 214 Bagir Manan. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. Jakarta 2003. 197. hlm.214 Namun demikian. bukan hubungan internal dari entitas yang sama.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. hlm. steering control dan post-action control. James L. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi.cit. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri.. perlu diketahui. “supervision” (Inggris).. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi).153. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. Rineka Cipta. Gobson. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan.

Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”.. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. op. 197. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. Kybernology .. mengarahkan. 215 Taliziduhu Ndraha. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom. hlm.215 Dengan demikian. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”. mengurus atau mengatur. juga mengandung arti pengendalian. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision.cit. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas. secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan.. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang.. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. “pedoman”.60 undang-undang. . “bimbingan”. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”. Berdasarkan uraian tersebut di atas.

Mengenai kepentingan umum.Op. Garner. b. Ketiga. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah). Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. Menyongsong Fajar…. dibutuhkan orang banyak. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi.141. Bagir Manan. yaitu: a. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum.(Terj. mendefinisikan Public Interest.1244. ..Cit. The general welfare of public that warrants recognation and protection. hlm. pengawasan menurut 216 217 Bryan A. yakni: Pertama. Black Law Dictionary. Kedua. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. hlm. harus dalam rangka kesejahteraan umum.. Adapun menurut Bagir Manan. Black Law Dictionary. baik dalam arti materiil maupun spiritual217.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. b. 1999. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum.

(2) pengawasan represif atau pengawasan detektif.Cit. 219 Bagir Manan. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut.…Op.62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya. hlm. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. 91-95. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring). Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Menyongsong Fajar . b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif. hlm. pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). 2006. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. menurut Bagir Manan. Bandung. 154 .

1986. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. sebagai suatu usaha represif.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. hlm. Jakarta. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing).221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada.Cit Paulus Effendie Lotulung. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. . sebagai suatu usaha preventif. Dalam praktek. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah. Bhuana Ilmu Populer. op. kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi.xv. misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan.63 pengawasan detektif. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. PT. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”. Namun demikian. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah.

Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. Sebaliknya. xvi . Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol. yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. Sedangkan sebaliknya. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif. ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. hlm. demikian seterusnya. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK).64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis.

Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. Wujud. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan. sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. hlm. Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. yaitu Kontrol segi hukum. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan. yaitu segi “doelmatigheid”. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. xvi-xvii .223 Di lapangan pemerintahan daerah. arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. instrumen pengawasan. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). 2) Ruang Lingkup. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. Waktu Pelaksanaan. Dengan kata lain. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan.

ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). hlm. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. yang mengandung perintah. dan Pemerintah Daerah itu sendiri. (Inspektorat) a. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. b. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. ancaman pidana. besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum.224 berlakunya. Rineka Cipta. Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif. 1990. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho. Provinsi. hlm. baik Pemerintah Pusat. Dilakukan oleh aparat pengawas intern. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat.149-153 . dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. 225 Ibid. Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. larangan. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah).66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. 149. Jika digambarkan dalam suatu bagan. keharusan. Jakarta.

Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. Melalui proses/prosedur tertentu. monitoring. b. .67 (schorsing).226 c. oleh Pemerintah Pusat. Wujud dari masing-masing pengawasan. dsb. c. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). kriteria. Mengenai waktu pelaksanaanya. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. penetapan pedoman. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden.

maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. perintah. dikenakan pengawasan represif. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. Dengan penolakan tersebut. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku. maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. . Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. keharusan. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya. larangan. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut.

Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan.Cit. hlm.153. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. misalnya 3 bulan. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi).227 Namun demikian. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. Menyongsong Fajar. pengertian pengawasan (toezicht... Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan.69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya. Pengawasan (toezicht. Op. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. . supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. d. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku.. maka menurut ketentuan. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. maka Daerah dapat mengajukan keberatan. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan .. Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut.. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan.

Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Pengawasan Administratif c. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi. Perancis. Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. Pengawasan Administratif b.. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Desertasi. hlm. Pengawasan (goedkeuring). Pengawasan Preventif b. dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. 154 230 Sumber : Bagir Manan. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Bandung. Ibid. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing).228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). 229 228 . hlm. 2009. Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. Pengawasan Yudisial Loc.Cit.43-114. c. Pengawasan Represif 1.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Jenis/Bentuk Pengawasan b. dan Belanda.

Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Kroon (Mahkota). Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Prefect dan Counseil d’Etat 2. Commissaris van de Koning. Peraturan. 3. Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. Objek Pengawasan a. dan Gedeputeerde Staten b. Counseil d’Etat. Peraturan/ Kebijakan Commune. Cour des c. Gedeputeerde Staten a. Pusat Tribuneux Administratif.71 a. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Kroon (Mahkota). Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Subjek Pengawasan b. Pembentuk UndangUndang. Parlemen a. Pemerintah b. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. Peraturan dan Keputusan Daerah a. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. b) Peraturan daerah (bersifat regeling). KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b.

. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). 3. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). 7. yakni. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah.72 beleidsregel). antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. (Terj. 28 Desember 1992. 5. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy.untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. 2. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. 1. To Wield and integrated the diverse people into a nation. (Terj. hlm. (Terj. f. (Terj. Raul P. dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. 4. (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). To protect the citizens against the abuse of power by local authorities.

agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. d. dan fragmatis. Bohari. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. Azmy Akhir. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. 1986. Menurut M.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. fleksibel. c. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. hlm. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. yakni. Dinna. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. M. 1. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan.N. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. Jakarta. 2. serta akibat-akibatnya. Mengapa perlu diadakan pengawasan. e. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. 71 . Menurut H.N. terus menerus. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a.234 232 233 Ibid. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan. 3. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. CV. Azmy Akhir. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku).

235 234 235 H.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. pemborosan. hlm. 159 . Jakarta. hambatan. 1995. Bohari. Hukum Anggaran Negara. Op. Rajawali Pers. hlm. penyelewengan.Cit. 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi.

236 Kedua.237 Ketiga. hlm.. hlm 12. 240 Ibid.. 2001.cit. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. hlm. hlm. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. 13. hlm 15-16. 32/2004 jo UU No. Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945. UNSIKA.. 238 Bagir Manan.242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No. 236 .240 Keenam. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945.75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. 1993. 2001. dan Bagir Manan. 8-9. Karawang. Menyongsong Fajar . 239 Ibid. hlm 21. 237 Bagir Manan... 18A dan 18B. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945. hlm 17. op.241 Ketujuh. 12-13. Perjalanan Historis Pasal 18. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.. Yogyakarta.. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945.238 Keempat. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945.239 Kelima. 242 Ibid. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. Yogyakarta. 241 Ibid.

Yayasan Tifa. 2005. . UU No. URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. adalah organ-organ Negara (staatsorganen). 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. 197. dapat di identifikasi dua macam kelompok organ.Agama.Politik Luar Negeri. Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No.Moneter dan Fiskal Nasional.Yustisi. Jakarta. maupun kabupaten/kota (concurrent power). 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok.pariwisata B.Pertahanan. . .perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . kedua.pendidikan. .pertanian .243 Dalam Negara kesatuan. Provinsi. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM . hlm.lingkungan hidup.76 12/2008. .kelautan . Pertama. dan . Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. Ketentuan Pasal 10 UU No. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional).kesehatan.Keamanan. yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah. provinsi. . Pemerintahan Daerah Provinsi.industri . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein. yang memiliki perbedaan yang signifikan. . Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . . adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen).

198 246 Penjelasan Umum UU No. 32 Tahun 2004 . desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).. hlm. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.245 Dalam penjelasan umum UU No. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah.244 Dengan desentralisasi. Dengan perkataan lain. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. wewenang. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. 197 Ibid.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional.. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi.77 nasional maupun di subnasional. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas.. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. hlm. peningkatan peran serta. prakarsa.

antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 . 182 249 Kuntana Magnar. Hubungan… hlm. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. 1984. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1.78 fungsional yang utuh. 1. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.249 Menurut UU No.250 247 248 Bagir Manan. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1).248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. Berdasarkan kenyataan itu. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah. Dalam hal ini adalah UU No. Penerbit Bina Aksara. tugas pembantuan dan dekonsentrasi. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. hlm.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak. kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. Bandung. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945. 197 Irawan Soejito.

Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. sekretariat DPRD. 41 . sekretariat DPRD.79 2. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. untuk kabupaten disebut bupati. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. Bupati/Walikota. dinas daerah.253 2. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. kecamatan. Pasal 19 Ayat (2)UU No. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. dan untuk kota disebut walikota. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. dan kelurahan. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. lembaga teknis daerah. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. Kepala daerah Pasal 24 UU No. telah menunjukan eksistensinya. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden.

Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. 254 J. Selain itu.254 3. 3 .80 dan pembinaan kemasyarakatan. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Kepala Daerah. Jakarta. 2003. Hlm. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kaloh. gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. serta dalam menghadapi konflik. 32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). Penerbit Gramedia Pustaka. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2).

makar. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. 4. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1). 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. tindak pidana terorisme.81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 31 ayat (1). dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota.255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. 255 256 Pasal 37 UU No. Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Pasal 32 ayat (5).

membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. d. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Marbun. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. b. dan pengawasan (Pasal 41). artinya. e. APBD. 327 258 . Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. hlm. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. c.258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. Jakarta 2005.82 5. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. anggaran. Institute for Local Development Yayasan TIFA. peraturan kepala daerah. editor Anhar Gonggong. BN. dan kerja sama internasional di daerah. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD.

memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. g. h. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. DPD dan DPRD. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan .83 f. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. DPR. 41 Tahun 2007. Meskipun pengaturan tentang susunan. kedudukan dan fungsi DPR RI. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. j. 6. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. k. i. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. Bahkan dalam hal pembentukan perda. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. 32 Tahun 2004. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. yaitu UU No. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya.

sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. Kedudukan. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). dan lembaga teknis daerah. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. integrasi. Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. Pada penjelasan umum PP No. raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). sekretariat DPRD. Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. dinas daerah. Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. 32 Tahun 2004). (3)). Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur.84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. Paling lama 30 hari setelah pembatalan. Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. Apabila Provinsi.

Dalam sepuluh tahun terakhir. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. pedoman. serta kerja sama. sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten dan Kota dengan UU. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. supervisi. Pasal 5.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. pelatihan. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Sementara pada kelembagaan pusat. bimbingan. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. Menurut UU No. Bupati dan Walikota. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. Bahan Diskusi Terbatas. pemberian arahan. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota.259 7. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. kabupaten. Pusat Studi HTN . Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. maupun kota di Indonesia.2 dan 3 UUD 1945. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah).

Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. Sebagai akibatnya. 4. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. hlm. Namun di sisi lain. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Dalam hal ini. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. Laporan Penelitian. Namun demikian. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. baik provinsi. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. Di satu sisi. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. kabupaten. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. dan daya saing daerah. pelayanan publik (umum). maupun kota. Bandung. 2002.261 Dengan demikian. pelayanan masyarakat (publik). Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. . adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999.86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Bahkan.

31. Namun demikian. 8. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. keharmonisan hubungan pemerintahan. Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berkaitan dengan hal itu. pelayanan publik. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut. baik dari segi sumberdaya manusia. yang tiap-tiap provinsi. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. sumberdaya keuangan. Jakarta. Dengan demikian. kabupaten. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. maupun sumberdaya alamnya. maupun daya saing daerah. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru. 2009. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. hlm. . Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. maupun kemampuan daerah. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. yang diatur dengan undang-undang”.

Bahkan sebenarnya. (3) Kriteria tentang penghapusan. digabung. b. dihapus. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. Adapun mekanisme pembentukan. Dari bunyi pasal di atas. Daerah yang akan dibentuk. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. Daerah Kabupaten. dan kota yang harus ada di Indonesia. Apabila dilihat rumusannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Berkaitan dengan pemekaran daerah. penggabungan dan pemekaran Daerah. hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain.88 diatur dengan undang-undang yang ada. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. kabupaten. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah . penggabungan. ditetapkan dengan Undangundang. penghapusan. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Penghapusan. dan pemekaran Daerah. penggabungan.

g. penghapusan. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. jumlah penduduk. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. sosial politik. . yaitu: a. e. Penghapusan. dan Kriteria Pemekaran. sosial-politik.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. b. luas daerah. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. penggabungan. jumlah penduduk. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. dan Penggabungan Daerah. d. c. Penghapusan. sosial-budaya. dan Penggabungan Daerah. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. c. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. f. dan pertimbangan lain. kemampuan ekonomi. potensi daerah. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. sosial budaya. Pembentukan. luas daerah. Selanjutnya. b. c. potensi daerah.

g. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. dan kriteria pemekaran. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih . j. berdasarkan rekomendasi pada huruf e. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut.90 d. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. Selanjutnya. i. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. penghapusan. dengan memperhatikan usulan Gubernur. f. h. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. pembentukan. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Oleh karena itu. e.

penunjukan penjabat kepala daerah. batas. pertahanan. dan fisik kewilayahan. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. pengalihan kepegawaian. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. dan prasarana pemerintahan. pendanaan. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. . kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. kependudukan. peralatan. sosial politik. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. sosial budaya. Pasal 6. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. serta perangkat daerah. sarana. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. teknis. dan dokumen. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. pengisian keanggotaan DPRD. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. luas daerah. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. ibukota. keamanan. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. lokasi calon ibukota. cakupan wilayah. potensi daerah.

dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas.92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. pemberian nama. perubahan nama daerah. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat). Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud. serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. Sehubungan dengan itu. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. diatur dengan PP (Pasal 8). dilakukan setelah melalui proses evaluasi. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). Pasal 6 U No. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun.

Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. ketentuan tentang tata cara pembentukan. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 5. Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. b. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota. Selanjutnya. c. Penghapusan. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . b. penghapusan. b. sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. c. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. dan Penggabungan Daerah.

Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. 164 kabupaten. maupun kota. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . 32 Tahun 2004 diteliti. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. dan 34 kota. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. kabupaten. sampai sekarang (2009).94 c. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. Dengan demikian. Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi. 389 kabupaten. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. dan 96 kota. Namun demikian. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan.

3. c. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. 2. Kabupaten dan Kota. Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. luas daerah. potensi daerah social budaya. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Melalui PP No. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. b. peningkatan keamanan dan ketertiban. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. social politik. 4 kecamatan untuk Kota. sarana dan prasarana pemerintahan. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. dan . lokasi calon ibukota. d. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3). e.95 dipacah. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Percepatan pengelolaan potensi daerah. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. pertahanan keamanan. kependudukan. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. 129 Tahun 2000 (semasa UU No. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi.

96 f.lautanindonesia. c. e.0. g. Borneo. Pada akhir tahun 1949.5619. Negara Madura. f. 263 Data diolah dari http://www. Daerah Banjar. Riau. sosial politik. Negara Jawa Timur. Negara Sumatera Selatan. Antara tahun 1946-1949. jumlah penduduk. kemampuan ekonomi. 3.html . Jawa Tengah. Jumlah provinsi: 16. Jawa Timur.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Sulawesi. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. Federasi Borneo Timur. sosial budaya d. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Negara Sumatera Timur. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. Dayak Besar. Belitung. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia. b. Jumlah provinsi: 8. 2. Sunda Kecil. yaitu Sumatera. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia.com/forum/index. Pada awal tahun 1950. Pada tahun 1945. luas daerah. Negara Pasundan. dan Negara Indonesia Timur. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi.php/topic. Jawa Barat. Daerah Istimewa Borneo Barat. Jawa Tengah. dan Maluku. Borneo Tenggara. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan. potensi daerah. Bangka.

yaitu Sumatera Utara. Pada tahun 1968. yaitu Sumatera Barat. dan Kalimantan Timur. . tiga provinsi baru terbentuk. dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1953. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. Pada tahun yang sama. Provinsi Aceh terbentuk. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. 6. yaitu Bali. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. Jumlah provinsi: 21. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. yaitu Kalimantan Barat. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. yaitu Republik Indonesia. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. Jumlah provinsi: 11. Pada tahun 1958. Jumlah provinsi: 20. Pada tahun 1950. Pada tanggal 17 Agustus 1950. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. Negara Sumatera Timur. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. Pada tahun 1960. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. Daerah Istimewa Borneo Barat. Awal Agustus 1950. Pada akhir tahun 1959. 8. Pada tahun 1964. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.97 4. 9. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). Jumlah provinsi: 14. Jumlah provinsi: 25. Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. 10. Riau. Provinsi Bengkulu terbentuk. Kemudian. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Pada akhir tahun 1956. Pada tahun 1961.Jumlah provinsi: 18. Pada tahun 1959. 5. Jumlah provinsi: 24. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Pada tahun 1956. Nusa Tenggara Barat. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. Sumatera Tengah. dan Jambi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Kalimantan Selatan. 7. dan Negara Indonesia Timur. hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. Jumlah provinsi: 19. Pada tahun 1963. dan Nusa Tenggara Timur.

Jumlah provinsi: 31. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. 14. Pada tahun 2004. Jumlah provinsi: 33. Pada tahun 2001. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus.98 11. Provinsi Maluku Utara terbentuk. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. dua provinsi baru resmi berdiri. Pada tahun 2003. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . Jumlah provinsi: 26. Pada akhir tahun 1975. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. kecamatan. Jumlah provinsi: 27. 13. Pada tahun 1969. Jumlah provinsi: 27. Jumlah provinsi: 28. 16. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. dimekarkan dari Jawa Barat. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). 15. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. Kemudian pada akhir tahun 2000. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Pada tahun 2007. Tetapi. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. Pada tahun 1999. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. dua provinsi baru resmi berdiri. pada akhir tahun 1999. Pada awal tahun 2000. Jumlah provinsi: 30. Pada tahun yang sama. dan diberi status Otonomi Khusus. Pada tahun 1973. 17. Sama halnya dengan NAD. Provinsi Banten resmi berdiri. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. 12. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara).

Dengan demikian. Akan tetapi. Selain itu. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. pakaian dinas baru. Pada kenyataannya. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. gaji pejabat baru. Dalam hal ini. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. dan sebagainya. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. gedung baru. Di lain pihak. tunjangan jabatan pejabat baru. kendaraan baru. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. termasuk daerah baru hasil pemekaran.

adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. terutama daerah baru. secara faktual banyak sekali daerah. Namun demikian. Selain itu. maupun daya saing daerah. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah.. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah . pelayanan umum. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. Padahal. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut . C. 33 Tahun 2004..”.. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran. 25 Tahun 1999. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah... Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi.100 ”. UU No. Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah.. Hubungan Keuangan UU No. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No.

retribusi daerah. Namun demikian. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Dalam UU No. yaitu dana alokasi umum (DAU). 1. Hal ini disebabkan UU No. 266 Pasal 6 ayat (1) UU No. dan dana alokasi khusus (DAK). 25 Tahun 2002. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. 22 Tahun 1999. yaitu dalam hal jenis pajak265. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. 33 Tahun 2004. namun berbeda dari segi formulanya. PPh tertentu juga menjadi DBH. Perubahan tersebut. Sementara itu dalam UU No.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. 33 Tahun 2004. sementara dalam UU No.22 Tahun 1999. Dalam UU No. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. tidak hanya sekedar penggantian istilah. istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH). dan lain-lain PAD yang sah.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. 33 Tahun 2004. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. Mengenai DBH. 33 Tahun 2004. . 33 Tahun 2004.

Setelah berlakunya UU No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah). 33 Tahun 2004. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt.267 Dalam UU No. . lalu lintas barang dan jasa antardaerah. 20 Tahun 1997. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan. UU No. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. 22 Tahun 1999. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. Perbedaannya. UU No. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. dan 3 golongan retribusi daerah. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No.268 Dalam PP No. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Sementara itu. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. UU No. 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. yaitu Peraturan Pemerintah No. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu. dan kegiatan impor/ekspor.102 penduduk. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). 20 Tahun 1997.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. 18 Tahun 1997 dan UU No. 34 Tahun 2000). UU N0. UU No.

66 Tahun 2001.” “Pajak Daerah Dibatasi. 18 Tahun 1997 dan PP No. 66 Tahun 2001. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No. ketentuan dalam UU No. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup. Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. Sementara itu. 271 Lihat Pasal 185 UU No.271 Berbeda dengan dengan UU No. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. Dengan demikian. sementara UU No. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. 28 Tahun 2009. PP No. . 34 Tahun 2000 dan PP No. 18 Tahun 1997 dan PP No. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. Artinya. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. UU No. Menggantikan UU sebelumnya. UU No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. 34 Tahun 2000. mencari. 34 Tahun 2000). 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup). 28 Tahun 2009. sementara dalam UU No. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta.270 Dalam hal retribusi daerah. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. 34 Tahun 2000 dan PP No. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No.103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269. PP No. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. 34 Tahun 2000. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka). Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. 18 Tahun 1997.

Journal of Public Budgeting. 393. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. 28 Tahun 2009. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. Accounting & Financial Management.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok. Kompas.kompas. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. 28 Tahun 2009. hanya dikenal pungutan cukai rokok. 402. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat. Lihat. Sementara itu. 15 No. diakses dari http://koran. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). 28 Tahun 2009.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. . 405. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak.273 Sebelumnya. 3. semua PBB.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat.daerah.dibatasi. masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. 276 Pasal 181 UU No. BPHTB. 5 Agustus 2009. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. Vol. Academic Press.104 UU No. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. Rabu. selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. hlm. 171). 28 Tahun 2009. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). 273 Ibid. sementara dalam UU No. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. 28 Tahun 2009. seperti Filipina. 2003. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. Larry Schroeder. 392. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. Thailand.

282 Pasal19 ayat(2) UU No. lembaga sosial dan keagamaan. sosial keagamaan. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. basis pajaknya (tax base) diperluas.280 Kedua. 28 Tahun 2009.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. 28 Tahun 2009. pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. UU No. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. ambulans. Pasal 6 ayat (1) UU No.284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. Pertama. 28 Tahun 2009.279 Selain penambahan jenis pajak baru. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. yaitu. 28 Tahun 2009. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. 28 Tahun 2009. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. pemadam kebakaran. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen).285 Keempat. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah. 28 Tahun 2009. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. 28 Tahun 2009.283 Ketiga.

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. 291 Pasal 31 UU No. karaoke. yang mencakup juga motel. ditetapkan paling rendah sebesar 0. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No.33 Tahun 2004. 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. klab malam. rumah penginapan dan sejenisnya. . 28 Tahun 2009. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No.292 2. 28 Tahun 2009. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. gubuk pariwisata. 28 Tahun 2009.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. wisma pariwisata. Dana Perimbangan a. Rokok. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%.289 Kelima. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. panti pijat. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. permainan ketangkasan. Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). kontes kecantikan.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. 28 Tahun 2009.pesanggrahan. diskotik. losmen.5% dan paling tinggi sebesar 1%. 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. dan mandi uap/spa . 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290.

Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. jika dibandingkan dengan UU No. 22 Tahun 1999. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. Dengan demikian. perikanan. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. 55 Tahun 2005. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. Sementara itu. 10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. dan pertambangan panas bumi.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. . 22 Tahun 1999. dan 3.107 Daerah atas pajak dalam UU No. 33 Tahun 2004. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. pertambangan umum. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. pertambangan minyak bumi. pertambangan gas bumi.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi. maka UU No. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak.

Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas. DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah. 33 Tahun 2004. Pasal 12 ayat (5) UU No. 33 Tahun 2004. Dengan demikian. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah.108 Sementara itu. Untuk penerimaan kehutanan. Dari 20 % bagian daerah di atas.299 Sementara itu. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No.298 Dengan demikian. sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.297 Dari pengaturan di atas. 55 Tahun 2005. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. .300 Sementara itu. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah. Dengan demikian. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). 33 Tahun 2004. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. dan Dana Reboisasi.33 Tahun 2004. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah.

308 Lihat Pasal14 huruf f UU No.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah.33 Tahun 2004. dan 15. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69. UU No. tidak kepada provinsi.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.33 Tahun 2004. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%). 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No.33 Tahun 2004.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.33 Tahun 2004.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. Lihat Pasal 16 huruf b UU No. 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah. Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) . dibagi dengan imbangan:307 84. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No.303 Sementara itu.33 Tahun 2004. dan 30.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No. 33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. Sementara itu.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. 311 310 .33 Tahun 2004. berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan. 33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. 315 Pasal 1 angka 21 UU No.319 Jika dibandingkan dengan UU No. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. dan. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar.33 Tahun 2004. 55 Tahun 2005. Lihat Pasal 25 UU No.315 APBN. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi.33 Tahun 2004. Iuran tetap dan iuran produksi. 33 Tahun 2004. 55 Tahun 2005. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No.33 Tahun 2004. UU No.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah.314 b. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No.

UU No. presentase DAU berdasarkan UU No. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD).325 Sementara itu. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. Sebagaimana disinggung di atas bahwa. jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. luas wilayah. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. 33 Tahun 2004.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar.327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 33 Tahun 2004 lebih besar. 323 Pasal 27 ayat (4) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk.322 Sementara itu. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 327 Pasal 29 UU No. . 33 Tahun 2004. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita.326 Dari pengaturan tersebut.323 Dengan demikian. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.

333 Pasal 39 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. Pasal 32 ayat (2) UU No.328 Sementara itu. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping. 33 Tahun 2004. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. 3. . Namun demikian. 330 Pasal 32 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 332 Pasal 38 UU No. 33 Tahun 2004. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335.330 c. 33 Tahun 2004. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah.

339 Pasal 50 ayat (1) UU No. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri. sumber pinjaman. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). persyaratan pinjaman. . 33 Tahun 2004. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No. jenis dan jangka waktu pinjaman. Mengenai batas pinjaman. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.338 Namun demikian. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. penggunaan pinjaman. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. 33 Tahun 2004. Pasal 49 ayat (2) UU No. UU No.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah. 33 Tahun 2004. prosedur pinjaman. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No. dalam 6 batas pinjaman. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya. yang paling penting dalam hal ini.

Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka. Memang. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. 33 Tahun 2004. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal. . dan untuk memajukan kesejahteraan umum.114 Rupiah atau mata uang asing. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. yaitu: 1. maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. C. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah.

345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. kiranya dapat dikemukakan pertama. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori.115 /perwakilan.344 Pemerintahan daerah provinsi. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. Untuk itu. yaitu Pasal 18. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. Ini disebabkan. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Kedua. daerah kabupaten. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. Pertama. yang tiap-tiap provinsi. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). kabupaten. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. Jimly Ashiddiqie. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. Jakarta.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.346 Kedua. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. 2002. hlm. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. UI. kedua.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. Ketiga. Keempat.

Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945. Untuk kepentingan itulah. kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. pelayanan umum. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945.117 pembantuan. Selain beberapa ketentuan di atas.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. 2. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. . ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Akan tetapi. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945.

355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. 32 Tahun 2004 .353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal. Pasal 222 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.354 Kedua. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. Pertama.

Berdasarkan Pasal 186 ini. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. 13 dan 14). 12. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. Jadi dapat dikatakan. Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . 32 Tahun 2004. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 11. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD.

dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan.120 3 4 5 6 7 tugas. pemindahan. antar provinsi. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . dan DPRD. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. wewenang.

supervisi. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. dana bagi hasil SDA. berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain.121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pedoman penggunaan.

tolok ukur kinerja.122 mempertimbangkan analisis standar belanja. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu. pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. standar harga. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah.

prosedur. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. penghargaan. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. Pedoman penyusunan. norma.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. pelaporan. dan sanksi ditetapkan dalam PP. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. pelaksanaan. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP. penatausahaan. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD.

penelitian. 358 Pasal 2 ayat (2). pegawai negeri sipil daerah. yaitu Bab II dan Bab III. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No. dan kepala desa. d) pendidikan dan pelatihan. 359 Pasal 20 360 Pasal 21. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan.124 3. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan. c) pemberian bimbingan. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. dan e) perencanaan. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. pengembangan. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. 357 Pasal 2 ayat (1). anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan. perangkat daerah. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. perangkat desa. . 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan anggota badan permusyawaratan desa. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota.

125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. 363 Pasal 24 ayat (3) dan (4). Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain. Inspektorat Provinsi. dan Inspektorat Kabupaten/Kota.361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. .362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. Pasal 24 ayat (2). dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).

6 Tahun 1959 UU No. UU No. Preventif 2. UU No. Preventif 2. 5. Represif Represif 1. 2. Umum Represif 1. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. 1 Tahun 1945 UU No. UU No. Preventif 2. UU No. 32 Tahun 2004 . Represif 3. Non-yudisial 2. Represif 3. Represif 3. Umum 1. 5 Tahun 1974 7. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. Represif 3. Preventif 2. 4. 18 Tahun 1965 6. Preventif 1. 22 Tahun 1999 UU No. Periode 1. 8.

“ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. hlm. kedaulatan hukum. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. PT. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. Kedua. 150. Jakarta. Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. Bhuana Ilmu Komputer. pada pokoknya menganut supremasi hukum.127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). (2). Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie. Dari segi internal atau kedaulatan internal. 149. Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. alinea pertama pembukaan. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1. . Juga. kedaulatan rakyat. Ketiga. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. 2007. ayat (3) kedaulatan hukum. yang berbentuk Republik. Kelompok Gramedia. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus.364 Pertama.

Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. Kedua. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. Titinjau dari pola hubungan kewenangan. Pertama. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 4. Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Apa isi pelayanan itu? . maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. B. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. meliputi desentralisasi teritorial. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). pelayanan umum dan daya saing daerah. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat.128 3. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu.

Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali. yaitu politik. kemasyarakatan (ekonomi. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. Berimplikasi kepada kelembagaan. Bagir Manan. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities). 370 Ibid. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. perangkat di pusat tidak perlu gemuk. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus.368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. 4. dan lain-lain). perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). . hlm 15-16. hlm.. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. 369 Ibid.370 Dari persoalan tersebut. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. hlm. pelayanan umum (public services). 2001. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945. 16. keamanan dan ketertiban (hukum). dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. 368 Ibid. Makalah.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. 366 367 Bagir Manan. sosial. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. Yogyakarta. 2008.129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat.367 Untuk Aceh.

Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid. Kepala Daerah.372 C. misalnya pada UU Kehutanan... . 373 J. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. 15-16. 38 tahun 2007.373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. 16. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 4. Penerbit Gramedia Pustaka. Jakarta. karena menurut James W Fesler. 2003. Ibid.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. hlm. Kaloh. menjadi kewenangan pusat.371 Untuk Aceh. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional.

2. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. dalam prakteknya tidak terjadi. http://ekoprasojo. Dalam kondisi demikian. Bandung.131 dan daerah. atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. keberanian. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. hlm. makna otonomi daerah menjadi kabur. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. dan pemberdayaan (empowerment). 4 Agustus 2009 . kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan. 16 Eko Prasojo. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1. Pustaka Sinar Harapan. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 3. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. 4. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan. status dan kedudukannya. 257 . 1994. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. 5. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. 256 378 Ibid. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru.132 keputusan. 3. hlm. hlm.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. 2. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses. Provinsi dan Kabupaten/Kota. Susunan luar. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. Bagir Manan. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. Jakarta.

com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ . akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). dipihak lain ke arah sentraliasi. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. Dalam hal ini.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. dan intervensi pusat terhadap daerah.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. 379 http://ekoprasojo. Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. Meskipun demikian. Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi.

1982. 327 . Joeniarto. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat. artinya. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. 382 BN. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. Penerbit Alumni. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. dalam Kumpulan Tulisan. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. 215. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. 381 Ibid. Pasang Surut Otonomi Daerah.134 Mengenai kedudukan gubernur. kedudukan dan fungsi DPR RI. Marbun. editor Anhar Gonggong. hlm. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. Bandung. Jakarta 2005. Perkembangan Pemerintahan Lokal. 32 Tahun 2004. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. hlm.

maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan dalam hal pembentukan perda. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya.135 DPR RI. baik provinsi. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. melalui Menteri Dalam Negeri. yang tiap-tiap provinsi. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. memberikan rekomendasi . Dalam hal ini. atau kota. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Sebagai balasannnya. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. kabupaten. pelayanan publik. Dengan demikian. yang diatur dengan undang-undang”. (Kursif dari Tim Peneliti). pemerintah daerah induknya. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. kabupaten. Di lain pihak.

peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan.136 dalam pembentukan daerah baru. hlm. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Akan tetapi. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. Oleh karena itu. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan.cit. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. op. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. Selain itu. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. 31. . Demikian pula halnya. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. 383 Secara konseptual dan teoretis. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian. hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. Sebagai bukti.

wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. Dengan kata lain. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. kabupaten. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. Dengan kata lain.137 Namun. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. Artinya. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. Secara formal. Oleh karena itu. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. Namun. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . kondisi. tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak.

Semestinya. termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. Dengan demikian. Padahal. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. korupsi. banyak daerah provinsi. seperti adanya kerusakan lingkungan. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. konflik . Sebagai akibatnya. selain banyak munculnya daerah baru. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Sebagai akibatnya. maupun daya saing daerah. kabupaten. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya. pelayanan masyarakat. Pada gilirannya. maupun daya saing daerah. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. pelayanan publik. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. dan sebagainya. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Dengan demikian. termasuk dalam hal pemekaran daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Hal itu terjadi karena adanya pihak . hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. Dengan demikian. Oleh karena itu. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat.139 masyarakat. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Namun demikian. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. Dengan demikian. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan. Pada akhirnya. Selanjutnya.

Misalnya. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. penghasilan daerah. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. potensi daerah. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. Hal itu sangat penting. praktiknya hal itu sangat riskan. kepegawaian. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. dan sebagainya. Misalnya. apabila akan dibentuk provinsi baru. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. Sebagai contoh.140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Alasannya. waktu 10 tahun untuk . termasuk posedurnya juga cukup sederhana. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi.

384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. Sebagai contoh. . 33 Tahun 2004. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. D. Pasal 83 ayat(4). Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. Pasal 102 ayat (3) UU No. kriteria dan batas defisit APBD. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). UU No. termasuk asal dananya.386 Namun demikian. 33 Tahun 2004.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama. 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. persentase yang lebih besar. UU No. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. Lihat Pasal 50 ayat(2). Berupa pemotongan DBH sektor Migas. Dalam konteks tersebut. Pasal 25 UU No. 33 Tahun 2004. 25.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. Pasal 81 ayat (2) UU No. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri. 22 Tahun 1999. Walaupun demikian. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. masih tetap dipertahankan. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat. 33 Tahun 2004.419 Walaupun UU No. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. Padahal hal tersebut sangat penting. Namun demikian.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat.22 Tahun 1999.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. Artinya. UU No. Kelemahan lainnya. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri.22 Tahun 1999. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. karena harus mendapatkan persetujuan pusat. Artinya. 22 Tahun 1999. Artinya. 32 Tahun 2004. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No. 25 Tahun 1999).22 Tahun 1999 . 22 Tahun 1999 (dan UU No. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. Walaupun demikian. dalam mekanisme UU No. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No.

khususnya DAU dan DBH. fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. Dengan demikian. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. karena terkait dengan urusan luar negeri. dalam UU No. walaupun dengan PAD yang kecil. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. Padahal. Menurut Jimly Asshiddiqie. di antaranya . Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. Dengan pengaturan saat ini. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. dan kabupaten/kota. Artinya.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. melainkan hanya untuk menutupi defisit. maka tingkat defisit APBD yang rendah. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. dengan dana perimbangan yang besar. 33 Tahun 2004. dengan besarnya dana perimbangan. Artinya. E.

.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula. Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 32 Tahun 2004. 1. 21. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2002. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. Jakarta. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat.152 terhadap peraturan daerah. UI. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. hlm. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 421 Konsiderans PP No. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri.420 Pasal 222 ayat (1) UU No. Jimly Ashiddiqie. 32 Tahun 2004.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 422 Pasal 186 UU No. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No.

2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 .Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.

2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I.d.

Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I.d.d. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.

Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl.Muko-muko S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.Muaraenim S-093/MK. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi .10/2006 Kepmendagri NO.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.I.Muko-muko S-093/MK.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl.156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl.

Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi.16 TAHUN 2007 Tgl.22 TAHUN 2007 Tgl.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab.15 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.20 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO.14 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab. 29-01-2007 7 S-093/MK. 23-06-2005 8 S-093/MK. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.19 TAHUN 2007 Tgl.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK.10/2006 Tgl.13 TAHUN 2007 Tgl.18 TAHUN 2007 Tgl.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.17 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK.2 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK.157 Perdagangan (siup) 5 Kab. 29-01-2007 6 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.21 TAHUN 2007 Tgl.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO. 29-01-2007 10 kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 . 23-06-2005 Kepmendagri NO.

23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl.31 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.158 Pariwisata 16 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 20 Kab.23 TAHUN 2007 Tgl.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.25 TAHUN 2007 Tgl.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab.27 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Madiun S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.24 TAHUN 2007 Tgl.3 TAHUN 2007 Tgl.32 S-093/MK.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 21 Kab.30 TAHUN 2007 Tgl.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.26 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.28 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 - . 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK.29 TAHUN 2007 Tgl.

503 324 1.303 9. tanggal 20 Pebruari 2008 . 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.634 Raperda 32 883 181 1. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.depdagri. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.836 2. 29-01-2007 Kepmendagri NO.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3.d.google.10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.id/www. 29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl.com.076 391 Perda 74 2.581 792 3.33 TAHUN 2007 Tgl.275 55 5.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.go. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl.

Bekasi Kab.Sumedang Kab.Cirebon Kab.Purwakarta Kab. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s.Karawang Kab.Garut Kab.d.Kuningan Kab.Ciamis Kab.Subang Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .Bogor Kab.Indramayu Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Cianjur Kab.Majalengka Kab.Sukabumi Kab.Bandung Kab.

KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00.Bandung Kab.Bogor 0 0 0 .161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB.INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00.Bekasi Kab.

Sukabumi Kab.Majalengka Kab.Ciamis Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Karawang Kab.Cirebon Kab.Indramayu Kab.Purwakarta Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Cianjur Kab.Kuningan Kab.Garut Kab.Subang Kab.

Karawang Kab.Bekasi Kab.Cianjur Kab.Subang Kab.Bogor Kab.Purwakarta Kab.Ciamis Kab.Majalengka Kab.163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Indramayu Kab.Bandung Kab.Kuningan Kab.Cirebon Kab.Garut Kab.Sukabumi Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Tasikmalaya 0 .

Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri . Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan). pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. Kedua.Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Sementara itu di lain pihak.165 dalam negeri (kepmendagri). 425 426 Pasal 145 ayat (2). hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah. Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. perlu pembahasan di bagian lain. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda. 2008 21 UU. Pasal 145 ayat (3). Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1.426 Terhadap persoalan ini. dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. . 2007 2. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda.

430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. Penghapusan. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. 2. dikatakan oleh CF strong. 430 SB.429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. Harian KOMPAS. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah. yaitu di tangan pemerintah pusat. Memperlambat Laju Pemekaran Daerah. Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 . Dengan kata lain. http://kppod. di sisi lain. Op.428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu. . Memperlambat …. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat. the supreme legislative power by one central power. ternyata pada tahun 2008.org/ind/index. 16 Januari 2008. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB.. Rabu.cit. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. Hanya satu kekuasaan legislatif.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang.

Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. Sedangkan undang-undang sebelumnya. Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Ini kaitannya dengan teori negara hukum. 32 Tahun 2004. kegara kesatuan. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. dan demokratisasi. pengawasan preventif. ternyata berbeda-beda. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. Hanya satu sistem hukum. Undang-Undang No. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. Dengan demikian.167 daerah-daerah otonom. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. Menurut Undang-Undang No. Untuk mensejahterakan rakyat. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. yaitu Undang-Undang No. pengawasan represif dan pengawasan umum. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan.

menurut Bagir Manan.…. kecerobohan. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. 431 432 Bagir Manan. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. Jadi. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. Pajak Daerah. Dengan adanya pengawasan preventif. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Pada masa berlaku Undang-Undang No. atau kesalahan suatu peraturan daerah. Op... UU No. Segi negatifnya. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. Apabila hasil evaluasi tersebut. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. . daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan.431 Terhadap pengawasan preventif ini.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Positifnya. Cit. Ibid. 154. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan. Setelah melalui proses tersebut. hlm. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah. Melalui pengawasan preventif. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah.432 terdapat segi positif dan negatifnya. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan.

karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. Selain itu. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan.169 Pengawasan represif. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. dalam hal ini Mahkamah Agung. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. terlihat bahwa . Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum.

yang dipandang tepat yaitu preventif. terhindar adanya intervensi pengadilan. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. Dengan demikian telah . Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial). Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. represif (administrative). Pertama.170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. dapat mengajukan ke mahkamah agung. apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. Selanjutnya. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya.

Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. yang berlaku saat ini dalam UU No. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. Kedua. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. . yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. Pertama. 3. Berbeda dengan legislative review. Berdasarkan uraian di atas. dalam UU No. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. 22 tahun 1999. tapi UU No. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. 32 Tahun 2004. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. represif dan preventif. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan.

khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. Pajak Daerah. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.172 Namun. tanpa kecuali. Alumni. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. 322. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD. hlm. akibat hukumnya. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama. 433 .433 Pertama. Kedua. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. bandung. dan lingkungan hidup. Karena Perda belum berlaku. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. 2009. Sebaliknya. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. hlm. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Retribusi Daerah. Artinya. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. 434 Ibid. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. 435 Ibid. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. saat pelaksanaannya. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan..434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. 322-323. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia.

Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Dalam rangka pengawasan. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah. . merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah.436 Maka dari itu. Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. 4. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. judicial control sama dengan judicial review. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis.

437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. Hukum Administrasi Negara. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. lihat Diana Halim Koentjoro. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. e. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. Bogor. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. melalui PP No. c. Peraturan Pemerintah. . Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. c. b. b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. 79 Tahun 2008. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. Peraturan Presiden.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. 10. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. d. Peraturan Daerah. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. hl.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. 2004. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Ghalia Indonesia.

2. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. Dengan demikian. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. dalam rangka pengawasan. untuk menetapkan pembatalan perda.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. 10 Tahun 2004. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. yaitu antara UU No. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. 32 Tahun 2004 dan UU No. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. terutama UU No. 79 Tahun 2005. belum dicabut. maka ketentuan yang . sepanjang kedua UU tersebut. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Dengan demikian. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. 32 Tahun 2004. yang spesifik pertentangannya. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. dengan PP No. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. 3.

tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut.176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. demokratisasi dan negara hukum. pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. Kecuali jika praktik menghendaki lain. sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). yaitu dalam kerangka negara kesatuan. sebagai representasi pemerintah. Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. melainkan hanya satu Kedaulatan. dan yudikatif). ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. legislative. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. 10 Tahun 2004.

yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. Dalam PP No.177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. Etika Politik. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas.. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. 177179. 32 Tahun 2004 dan UU No. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. 442 Ibid. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Gramedia Pustaka Utama. Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. 10 Tahun 2004. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. dapat pula saling menyeimbangkan. 79 Tahun 2005. yaitu antara UU No. 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. dalam rangka pengawasan. hlm. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. Persoalan kedua. 1999. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). 441 . melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. Frans Magnis-Soeseno. hlm. 290-291. Jakarta.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. dengan PP No. untuk menetapkan pembatalan perda.

Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.178 5. 6. . 2005. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Lihat. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. Dengan demikian. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. yang spesifik pertentangannya. 32 Tahun 2004. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. Otje Salman dan Anton F. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. Refika Aditama. Susanto menyatakan. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. Teori Hukum: Mengingat. hlm. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. sepanjang kedua UU tersebut. belum dicabut. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. Ketiga. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. atau awal abad ke XX. Bandung. 159. Susanto. dan Kelima. terutama UU No. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945.

yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah.179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. 5 tahun 1974. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. 5 tahun 1974. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. Bagir Manan. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah. yang tidak . namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. Bagaimanapun dalam No. Oleh karena itu. Maka. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945.

yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana. dan preventif.cit. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. mempengaruhi.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal.180 dibahas dalam desertasinya itu. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. 5 Tahun 1974. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. . represif (administrative).. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa. represif. Maka dari itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif. hlm. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. 321. Setelah berlaku UU No. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan.. op. ada pendapat Bagir Manan. Problematika …. Dengan pengawasan yudisial. 22 tahun 1999. Bagir Manan setuju hanya satu. Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal.

Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. yang ditetapkan dalam undang-undang. . walaupun terdapat pengawasan. Itu bersumber dari abad pertengahan. Paradigma ini tidak diketahui umum. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. 4 Agustus 2009. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. dipengaruhi dari negeri Belanda. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. ketiga. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. bukan kedaulatan rakyat. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. Dengan demikian. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. Bandung. hak menentukan nilai mata uang. Ada juga batas-batasnya. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa.

yaitu mengacu kepada UU No. Namun ketentuan ini tidak berjalan. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. menurut ilmu perundang-undangan. Yang lainnya harus ada. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil. Walaupun demikian. satu teritorial. 450 Ibid. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). hlm. . 1995. Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. satu rakyat. 448 Ibid. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. Pemerintah pusat punya hak placet.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini. Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. Rimdi Press. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. 449 Ibid.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. dan satu kekuasaan.182 bawahannya. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. 10 Tahun 2004.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. 255. Teori Hukum Murni. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut.

dan negara hukum dan kesejahteraan. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru. Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan.** . Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975.183 pemerintahan. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. terutama terkait dengan pemekaran daerah. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. demokratisasi. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga. masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan.

yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. cenderung terjadi . Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. Pertama. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut. Dengan paradigma negara kesejahteraan. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. Dalam implementasinya. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. Dengan konstruksi demikian seperti itu. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. demokratisasi. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. Kedua. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. meliputi desentralisasi teritorial. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Melalui PP No. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. 38 Tahun 2007. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak. dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.

belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. B. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. teori. sehingga menyerupai piramida terbalik. pengaturan. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah.** . terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri. dan demokratisasi. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres.

Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. _______. 1986. Penerbit Mandar Maju. Atlanta. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Eddy Purnama. editor Jakarta 2005. Alumni. Bandung. Yogyakarta. Citra Media Hukum. Jakarta. 1990. Bandung. Disertasi. Jakarta. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Pustaka Sinar Harapan. 1999. Karawang. UI-Press. UNSIKA. Ghalia Indonesia. Jakarta. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Bandung. Frans Magnis-Soeseno. 1995. Diana Halim Koentjoro. Bachrul Elmi. 1986. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Perjalanan Historis Pasal 18. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. Hukum Anggaran Negara. 2002. 2006. Anhar Gonggong (ed). 2005. Bandung. _______. Francisco Javier Arze del Granado. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Etika Politik. PT Raja Grafindo. Bohari. 2006. 2007. 2001. Georgia State University. 1994. 2003. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. H. Amrah Muslimin. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Yayasan Tifa. Bhenyamin Hoessein. Kedaulatan Rakyat. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. _______. _______. Rajawali Pers. Ateng Syafrudin. Jakarta. Jakarta. Bagir Manan. Jakarta. Hukum Administrasi Negara. . 1993. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. 2004. Alumni. Nusamedia. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Bogor.

penerbit. Rimdi Press. Segaarsy. Jakarta. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 1986. Hukum Pemerintahan Daerah. Jimly Ashiddiqie. Gramedia. cetakan kedua. Jakarta. bandung. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. . Masalah Kenegaraan. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Cetakan kelima belas. Josef Riwu Kaho. Mohammad Hatta. 2009. Universitiet Leiden. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Hans. 2001. Municipal Government In Indonesia Policy. M. World Scientific Publishing Co. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. kota. PT. _______. Miriam Budiarjo. Nicole. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Konstitusi Press. Decentralization: Policies in Asian Development. Jakarta. Ichimura. PT. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Kelompok Gramedia. Jakarta. and Amerindian Studies.I Gde Pantja Astawa. Refika Aditama. The Netheralands. _______. Prospek Otonomi Daerah. African. J. Penerbit Gramedia Pustaka. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Dinna. UI. Bhuana Ilmu Komputer. Jakarta. Bahl. Ni’matul Huda. Demokrasi Kita. di Negara Republik Indonesia. CV. 2009. Bandung. Azmy Akhir. Penerbit Bina Aksara. dalam Miriam Budiardjo (ed). Singapore. Kepala Daerah. 2007. PT. Research School CNWS School of Asian. Shinichi. Teori Hukum Murni. 2009. Monograf. (alih Bahasa: Somardi). 2009. 1995. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Ke Arah Indonesia Merdeka. 1984. Nusamedia. Roy (eds). 1980. Ltd. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Kelsen. Jakarta. Alumni.N. Bandung. Niessen.. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Kaloh. 2005. _______. 1999. Jakarta. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. 2002. Bandung. Jakarta. Munir Fuady. 2009. 2003. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Pte. 1993. Gramedia Pustaka Utama. Irawan Soejito. Raja Grafindo Persada.

R. Wolfgang Friedmann. Pheni Chalid. Jilid III. 2006. Keuangan Daerah. Modern Political Constitution. 1986. Binacipta. England. PT. Yellow Printing. 1993. Jakarta. dan Desentralisasi. Bandung. RDH Koesoemahatmadja. Bandung. 1982. Refika Aditama. Kemitraan. B. Rousseau. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Smith.C. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. 1967. Strong.Norton. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). 1993. Investasi. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 1960. Jean Jacques. Jakarta. Satjipto Rahardjo. Tjip Ismail. Yogyakarta. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta. Gerge Allen Unwin. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2005. Jilid I. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Perkembangan Pemerintahan Lokal. Susanto. Bandung. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. London. Jakarta. Joeniarto. 2006. London. Genta Publishing. Steven Sons. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. CF. Yogyakarta. Penerbit Alumni. cetakan kedua. 1985. London.. Bhuana Ilmu Populer. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Liberty. Yogyakarta. Paulus Effendie Lotulung. Jakarta 2003. The Liang Gie. Rineka Cipta. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. USA. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Legal Theory. Otje Salman dan Anton F. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). . Visimedia. 2007. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Sidgwick & Jackson Limited. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Teori Hukum: Mengingat. 2007. 1995. Sunaryati Hartono. Edisi Kedua. 1979. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2005. cetakan II. Citra Aditya Bakti. Alan. Bandung. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Alumni. Taliziduhu Ndraha.

Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress.. April 2004. hlm. Theresa Thompson. 2009. Asep Warlan Yusuf. Bandung. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Bahl dalam Shinichi Ichimura. Makalah. Bagir Manan. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. _______. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Singapore. 28 Desember 1992. 2009. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Bandung. Jaime Bonet. June 2004. Problems. Maret. . 2009. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. 6 No. 2002. _______. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. 3. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Decentralization: Policies in Asian Development. _______. 4 Agustus 2009. World Scientific Publishing Co. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282.DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Program Studi Hukum Tata negara. Bandung. Ltd. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. Washington DC. Anwar Shah. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. World Bank. Roy Bahl (eds). Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad.. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Vol. DC USA. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Desertasi. 2008. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Washington. 1. Pte. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. USA. Detours and Road Closures”. The World Bank.

Jakarta. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007.Bonet. Laporan Penelitian. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Elektison Somi. Academic Press. 15 No. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Jakarta 2009. Vol. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Journal of Public Budgeting. . “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. 3. Comparative Economic Studies. Tim Penyusun. 2003. 2003. Pustaka Sinar Harapan. 2006. Kuntana Magnar. Otonomi atau Federalisme. 29. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. dampaknya terhadap Perekonomian. Accounting & Financial Management. UK-USA. Academic Press. Renata R Simatupang. Vol. 1999. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Journal of Public Budgeting. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. 2006.48. Jameson Boex. Bandung. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Bandung. Larry. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Accounting & Financial Management. 15 No. 2008. Era Dabla-Norris. Fiscal Decentralization in South East Asia. Universitas Padjadjaran Bandung. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Disertasi. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Schroeder. Vol. 2002. 4. Harian Suara Pembaharuan.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Bandung. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. 2000. I Gde Pantja Astawa. Blackwell Publishing Ltd. No. Jaime. 3.

com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.html www.daerah.geocities.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. Peraturan Pemerintah No.com/message/mediacare@yahoogroups.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.unsri.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.pdf http://koran. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. http://www.dibatasi.com/9511217. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.ac. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.Doc. . Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Sumber Internet http://www.fh.kompas.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.opensubscriber.

org/id.pdf. http://www.Doc.dibatasi. http://www.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.mediaindonesia.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.worldbank.html http://ekoprasojo.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.ac.kompas.org/ind/index.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran. www.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.depdagri.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CPAD.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.bakd.go.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.id/ www.detikfinance.php/topic.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.wikipedia.http://www.fh.daerah.lautanindonesia.ssrn.com http://kppod.unsri.com/abstract=1029581 .php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.com/forum/index.mediaindonesia.google.0. http://www.fiskal.5619.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful