P. 1
Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah_UNPAD

Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah_UNPAD

|Views: 1,278|Likes:
Published by Novrianti Palente

More info:

Published by: Novrianti Palente on Sep 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Rumusan Masalah
  • C. Tujuan Penelitian
  • D. Kerangka Pemikiran
  • E. Kegunaan Penelitian
  • F. Metode Penelitian
  • G. Alur Penelitian
  • H. Personalia Penelitian
  • I. Sistematika Penulisan
  • A. Negara Kesatuan
  • B. Negara Hukum
  • C. Demokrasi
  • D. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
  • 3. Kelembagaan
  • 5. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah
  • B. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah

PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

selama membaca. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami. Bandung. Akhir kata.Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. 2009 Tim Peneliti iv .

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris.d.d. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 . 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.

Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .

Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. Demokrasi ekonomi D. E. H. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. I. G. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3. B.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. Desentralisasi 2. Demokrasi 1. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A. C. Negara Kesatuan B. F. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . D. Negara Hukum C.

Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. dan Pengaturan Sektoral. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E.3. Kelembagaan 4. Kesimpulan B. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. UU. B. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Hubungan Keuangan D. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Hubungan Kelembagaan C.

pelayanan umum.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.BAB I PENDAHULUAN A. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.7 8) prinsip hubungan keuangan. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) .9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia.

pemerintahan daerah provinsi. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. Kedua. dan f) agama. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Keempat. c) keamanan. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Kesemuanya itu. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. kewenangan keuangan. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. yang diatur dalam UU No. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. selain diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut. d) yustisi. Pertama. .2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. b) pertahanan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. untuk dan pengawasan. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. namun kewenangannya yang berbeda. pembagian kelembagaan. Ketiga. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. yaitu meliputi hubungan kewenangan. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. e) moneter dan fiskal nasional.

B. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah. 15 Bagir Manan. 8. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. sebagai berikut: 1.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. 1994. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 6. keuangan. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. 14 . Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan. hlm. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. hlm.. 22-23 16 Ibid.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. Jakarta 2009. dan pengawasan? C. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. kelembagaan. 17 Ibid. hlm.

ditinjau dari sudut pembagian kewenangan.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Sementara itu menurut Apeldoorn. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan. keuangan. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. 19 Tim Penyusun. Jakarta. hlm. Cetakan Kedua. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. 14. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Strong. 2000. Pustaka Sinar Harapan. hlm. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. 2008. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. kelembagaan. dan pengawasan? D. terdapat dua C. Dampaknya Terhadap Perekonomian. Harian Suara Pembaharuan.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).F. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. Nusamedia. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. Artinya. Bandung. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Otonomi atau Federalisme. 18 . Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. 87.

25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. program politik partai. 25 Ibid. 1999. 24 C. Research School CNWS School of Asian. . Hukum Pemerintahan Daerah. 21 Ni’matul Huda.Strong. 21. and Amerindian Studies. Bandung.F. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat. 23 Ibid. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. The Netheralands. Konstitusi-Konstitusi ….cit.22 Sejalan dengan perputaran waktu. hlm. hlm. African. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Nusamedia. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan.23 C. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Kedaulatan Rakyat. 66. hlm. op. Municipal Government In Indonesia Policy. 2009.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. Nusamedia.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. 10. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. 2007. 22 Eddy Purnama. Namun di dunia kontemporer. Bandung.F. Universitiet Leiden. 17. (indirect langsung democracy). media massa. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. hlm. artinya. dan lain-lain.

hlm. 70. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum.. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.. terjemahan Tim Visimedia. adalah dasar dari demokrasi politik. hlm. Genta Publishing. 28 Jean Jacques Rousseau. 27 26 . Du Contract Social (Perjanjian Sosial). 2009. 33 Ibid. 29 Mohammad Hatta. . Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. yang tidak netral terhadap politik.. 9. hlm. 69. Jakarta.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat.. 8 32 Ibid. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. Menurut Dicey. Bandung.. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. Yogyakarta. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. and the king. hlm.31 Di Inggris. Segaarsy. “The monopoly of legislation by Parliament. cetakan II. op. hlm. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. Kedaulatan Rakyat. with the balance between the House of Commons. 113. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. 2007.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. the House of Lords. 11. 8-9. Demokrasi Kita.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. 30 Ibid. hlm. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. 31 Satjipto Rahardjo. 284. cetakan kedua. Mei 2009. hlm. Visimedia. hlm. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia.cit..29 Sifat pertama. Ibid.

dan 3) Due Process of Law. op. explains the absence od adiministrative law. 2) pembagian kekuasaan. diunduh dari http://www. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. lihat Jimly Asshidiqie.. 23 Maret 2004. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. 34 . oleh “The International Commission of Jurist”. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. Sementara itu A. 1-2. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi.V. 26. 36 Satjipto Rahardjo. yaitu “rechtsstaat’.hlm.. yaitu: 1) Supremacy of Law.V. Fichte. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. 2) Equality before the law. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika. Julius Stahl. Bahkan.Doc. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan.7 … and finally.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern.unsri. 35 Ibid.ac. hlm.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat).” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. Negara Hukum …. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”.cit. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. karena dalam tipe tersebut. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34. Disebut sebagai penjaga malam. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Paul Laband. dan 4) Peradilan tata usaha Negara.fh.V. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman.

Perubahan tersebut. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Robson. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. Menurut William A.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain. tujuan penyelenggaraan negara. keterbukaan dan penggugatan. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. dan kepemilikan (eigendom) negara. Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid. hlm. . equality. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. Dalam hukum administrasi tradisional. 27. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. di antaranya adalah ”liberty. mempertimbangkan pertama. perjanjian. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). perencanaan. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. dan kedua. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi.. door als neutral toeschouwer op te stellen.

Yogyakarta. 20-21 40 Ibid. op. JM de Meij.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink. hlm. Citra Media Hukum. Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial.9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional. 72. untuk dilaksanakan. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah.cit. Steenbeek. hlm.40 Ateng Syafrudin. hlm 21 38 . desentralisasi fungsional.. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. 39 Bagir Manan.. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah. 2006. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Hubungan . desentralisasi dibagi menjadi dua macam. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis).. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot. Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). dan Belifante.

merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. yaitu :43 1.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. Bandung. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi.10 Bagan 2. Alumni. Dekonsentrasi. 2. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. 1986. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. Desentralisasi. lihat Amrah Muslimin. 41 . hlm 5 42 Ibid. Pakar hukum lainnya. Amrah Muslimin. 43 Ibid. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). selfgovernment. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. zelfbestuur. hlm. Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.. Program Studi Hukum Tata negara. op. 2) fungctionele decentralisatie. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 . 44 desentralisasi. b.45 Ateng Syafrudin. Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie.11 Bagan 3. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. … 44 . 1.. 45 Bagir Manan. hlm. Hubungan…. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. Ateng dari aantekemingen.cit. Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit.

Metode Pendekatan 46 Bagir Manan. dan Negara hukum.cit. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan. op.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi... .. hlm. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut. 39. kerakyatan. F. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. E. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. Hubungan Pusat…. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. 2.

50 Soerjono Soekanto. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 31-32. Pengantar Penelitian Hukum. seperti peraturan terdahulu. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. hlm. hlm. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. PT RajaGrafindo Persada.52 b. 2) Bahan hukum sekunder. Jakarta.48 3. 52. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. 47 . Jakarta. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum. PT RajaGrafindo. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku. hlm. 3) Bahan hukum tersier. dan ensiklopedia.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. sistematika hukum. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. hasil-hasil penelitian. UI-Press. atau pendapat para pakar hukum. perubahanperubahan.51 seperti rancangan undang-undang. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. penerbit. 51 Ibid. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. 72. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). 6. Penelitian Hukum Normatif. hlm. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. 2006. 2006. Monograf. hlm. kota. Jakarta.

1993. Citra Aditya Bakti. G. Yogyakarta. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. hlm. Bandung. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. Alumni. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. hlm. 152. 53 . dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. 2006. 4. Lihat juga Sunaryati Hartono. 37. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD).

33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan .15 Bagan 5.32/2004 dan pelaksanaann ya UU No. Alur Penelitian UU No.

S. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi. S.H..M. S.H. S. LL..16 H. S. kerangka pemikiran..H. Agus Kusnadi.H.S..H. Susi Dwi Harijanti. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR. Inna Junaenah.H.. M.M. S. Bilal Dewansyah. I. Kuntana Magnar.. tujuan penelitian.H. Ali Abdurahman.H. I Gde Pantja Astawa.. demokrasi.H.H. Rahayu Prasetianingsih. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang. yaitu hubungan . S. S. Rosjidi Ranggawidjaja.D. Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan. M. M. tujuan penelitian.M. DR.. M. Prof. rumusan masalah. DR.. S... H. Miranda Risang Ayu.. Indra Perwira. H.H.. LL.H..H. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi.H.H.H. LL. M.H.H. dan metode penelitian. S. S. Negara Hukum. Ph. kegunaan penelitian. M. dan teori desentralisasi.

dan pengawasan. . disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut. keuangan. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan. yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. kelembagaan.17 kewenangan.

Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Cetakan Kedua. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. hlm. Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. Artinya. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. 54 . Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. kedaulatan rakyat. 87. Sementara itu menurut Apeldoorn. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. dan negara hukum. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan.F. A. Bandung. Strong. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. 2008. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. Nusamedia.

8-9.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).19 mandiri. wilayah negara menjadi semakin luas. Universitiet Leiden. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. Mei 2009. Liberty.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).58 Di Inggris. Pustaka Sinar Harapan. 1999. 109. hlm. 14. Edisi Kedua. Yogyakarta. 58 Satjipto Rahardjo. 21. 1995. Municipal Government In Indonesia Policy. lihat pula The Liang Gie. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. 56 Nicole Niessen. dampaknya terhadap Perekonomian. hlm. Yogyakarta.. 8. B. Jilid III. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. 59 Ibid. hlm. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Otonomi atau Federalisme. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah.. cetakan II. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. hlm. and Amerindian Studies. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. 2000. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Harian Suara Pembaharuan. Genta Publishing. 55 . 57 Ibid. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. yang tidak netral terhadap politik. Menurut Dicey.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. The Netheralands. African. Jakarta. Research School CNWS School of Asian. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. hlm.

explains the absence od adiministrative law. 9. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting.ac. 2) Equality before the law. 2) pembagian kekuasaan. 1-2. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. “The monopoly of legislation by Parliament. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. also strengthens the power of the judges … and finally. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. and the king. yaitu: 1) Supremacy of Law. Negara Hukum …. karena dalam tipe tersebut. hlm. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. hlm... 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. 62 Ibid. 63 Satjipto Rahardjo.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.cit.Doc. Sementara itu A. hlm.V. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. the House of Lords. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. Disebut sebagai penjaga malam. Bahkan. dan 3) Due Process of Law. 23 Maret 2004.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan.fh. 61 60 . op. diunduh dari http://www. 26.unsri. with the balance between the House of Commons. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”.63 Pada Ibid. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Jimly Asshidiqie. oleh “The International Commission of Jurist”. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi.V.

kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. di antaranya adalah ”liberty. Refika Aditama. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. perencanaan. Bandung. 9 . dan kepemilikan (eigendom) negara. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. Robson. Perubahan tersebut. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). 2009.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. 27. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. Munir Fuady. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Dalam hukum administrasi tradisional. Dalam hukum administrasi tradisional. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. hlm.. Menurut William A. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). keterbukaan dan penggugatan (de Haan. equality. 1978).21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. door als neutral toeschouwer op te stellen. hlm. perjanjian.

. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. 79. transparan. Ketiga. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). dan berwawasan hak asasi manusia. parlemen. Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. pengadilan. sistem pemerintahan yang efektif. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). terkait Pertama. pers. 2. baik yang bersifat substantif. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum.. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. warga lingkungan hidup. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. Jika ada dispute. accountable. Ibid. aturan hukum yang baik. hlm. serta para stakeholders lainnya. sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. maupun secara prosedural. Kedua. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. hlm. Mengenai peran badan peradilan ini. law enforcement yang baik. yakni seperangkat aturan masyarakat. efisien..22 1. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. Kelima. jujur. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. pemerintah. Keempat. 81.66 3.

1.68 C. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. hlm. hlm. 2005. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid.. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara.F. program politik partai. 69 68 . Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. 140. Konstitusi-Konstitusi …. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Peaslee pada tahun 1950. Konstitusi Press. artinya. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. 70 Jimly Asshiddiqie. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. dan lain-lain.cit. Jakarta. media massa. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. 80. hlm.F. 17. C. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%). op. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. Namun di dunia kontemporer. Strong diartikan secara beragam.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat.Strong. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C.

Dalam hubungannya dengan cita-cita. Kedaulatan Rakyat. dalam penjelasan Eddy Purnama. hlm 70. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat. oleh rakyat dan bersama rakyat. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung. Bandung. 75 Eddy Purnama.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. hlm.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. oleh rakyat dan untuk rakyat. 1999. hlm. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. demokrasi hanyalah sarana.wikipedia.75 Berdasarkan kenyataan demikian. Op Cit. 2007. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat. I Gde Pantja Astawa.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). 66. Nusamedia. Disertasi. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat. pemerintahan dari rakyat. 72 . -bukan tujuan. 10. untuk rakyat. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu. Universitas Padjadjaran Bandung. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi.

284. by representatives subject to effective popular control at Ibid. op. Gramedia Pustaka Utama. This. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat.78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. Jakarta. Cetakan kelima belas. 11. 1993. penetapan. Miriam Budiarjo.79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. Legal Theory.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. hlm. Cetakan kelima belas. the Government of the People.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). 79 Miriam Budiarjo.cit. in modern states. 77 76 . 81 I Gde Pantja Astawa. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann. hingga ke pengawasan. Kedaulatan . Dasar-Dasar Ilmu Politik. hlm. 419. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan.. Gramedia Pustaka Utama. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. 1993.. hlm 61. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. London. perwakilan. 80 In Modern democracy. 78 Eddy Purnama. 75. Jakarta.80 2. hlm. Steven Sons. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif.. 1967.. hlm. PT. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. hlm 61. PT. Op Cit.

1960. Modern Political Constitution.cit. hlm. 148.. hlm. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong.86. . Op Cit. 84 I Gde Pantja Astawa. 3.84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam. Sidgwick & Jackson Limited. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan. Di Indonesia sendiri. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat. op.” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. Konstitusi . Oleh karena itu.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat. hlm.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom.” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority.13 83 Jimly Asshiddiqie. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila. London.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri.. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.. either directly or through chosen representative.

-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat.. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama..86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi. op.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama..88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. http://www. Ke Arah Indonesia Merdeka. Gramedia. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain.. Di sini tampak dasar demokrasi.html diunduh tanggal 27 Agustus 2009. Masalah Kenegaraan.opensubscriber. 86 85 . “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?. Tetapi. No.Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro.com/9511217. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya. Op Cit.cit. hlm.85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi. pemerintahan rakyat. Jimly Asshiddiqie. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”. hlm. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme. 147. dalam Miriam Budiardjo (ed). 88 Mohammad Hatta.” Tabloid Fikiran Ra’jat. 1980. Konstitusi .. Jakarta.. hlm 42.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik. 80. 18 dan 19 (edisi 4 November). 87 I Gde Pantja Astawa. tahun 1932.com/message/mediacare@yahoogroups. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja.

Dan demokrasi tidak dapat berlaku. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. 70. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. 91 Mohammad Hatta.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. hlm. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. 93 Ni’matul Huda. Op Cit. hlm.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. Nusamedia. hlm 42-43. hlm. 90 89 . namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. cetakan kedua. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi.91 Sifat pertama. 2009. kolektiviteit.28 Kedua: cita-cita massa-protest. 66. Bandung.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. I Gde Pantja Astawa. Demokrasi Kita. 69. 2009. hlm. Hukum Pemerintahan Daerah. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. adalah dasar dari demokrasi politik. Ketiga: cita-cita tolong menolong. Bandung. Segaarsy. 84. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri. 92 Ibid.

Jakarta. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi. hlm. 1. 100 RDH Koesoemahatmadja. 99 Ibid.94 Sejalan dengan perputaran waktu. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. hlm.. jabatan.cit..96 D. melainkan suatu proses. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). 97 Bagir Manan. atau pejabat’. 10 Ibid.. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah. Yogyakarta. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. 98 Ibid. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni. hlm 11. hlm 10. 2001..15 95 94 .95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom. 2007.. 1979. Visimedia. 113. Kedaulatan . op. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). hlm. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Bandung. hlm 10. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. Binacipta. 96 Jean Jacques Rousseau.

30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Hubungan ..101 Mengenai desentralisasi.. Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru.. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. hlm 10.. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central). Bagir Manan. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. baik otonomi maupun tugas pembantuan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Demikian pula. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. op. Van der Pot mengemukakan. 2001. Yogyakarta. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. Irawan Soejito. op.. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. Dengan perkataan lain. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).cit. 103 Bagir Manan. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). Van Der Pot. Hubungan .cit. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. yang terdiri atas desentralisasi teritorial. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). ..102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. juga terbagi dua yakni. menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda. hlm 21. bahwa desentralisasi adalah otonomi.

op. Alumni.107 Mengenai desentralisasi kebudayaan. 106 Ibid. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. hlm 5. agama.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan. 1986. hlm 21-22. yaitu desentralisasi politik. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi.105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat.. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”. .cit. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin... hlm 22. Bandung. dan lain-lain).. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid.. Aspek..cit. 107 Bagir Manan.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya. Hubungan ...31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi. hlm 5-6.. Amrah Muslimin. op. 108 Amrah Muslimin.

Namun demikian. hlm. London.113 Artinya.. hlm vii 114 Bachrul Elmi. khususnya otonomi. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan.. 2005. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah. dan Desentralisasi. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri. Keuangan Daerah. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia.. Kemitraan.32 sebagai bagian susunan organisasi negara. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan.cit. Gerge Allen Unwin. 111 B. Jakarta. op. hlm. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. Seperti dikatakan oleh B. Hubungan . 204. UI-Press. 99. Dalam perspektif ilmu ekonomi.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah. . hlm 26.op. Ibid. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments.C. 113 Pheni Chalid. 112 Bagir Manan. 1985. Jakarta...109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada.cit. Investasi. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi.2002.. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Hubungan Antara….C. Smith.110 Desentralisasi teritorial.

117 Ibid. 116 Ibid. 14.hlm. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . 25 Tahun 1999). namun juga pada aspek pengeluaran.118 Padahal.117 Persoalannya. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. Atlanta. hlm. 118 Misalnya.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. Georgia State University.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak. 22 Tahun 1999 dan UU No. 2003. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. Sementara itu. sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. 13.. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . Disertasi.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah.

op. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi. (cetak tebal oleh Tim Peneliti).fiskal.depkeu. 119 Bagir Manan. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. op.jadi. Renata R Simatupang.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. makalah. Seperti dikatakan oleh Moh. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat. 29.go. hlm.pdf. 122 Ibid. melainkan berlainan”.. bahwa : ”. . No. 26. Hubungan Antara….cit. bahwa ”as a working definition. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”.. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi.119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”. 442.cit. di kota. 4. Jakarta. hlm. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama.. 120 Bagir Manan.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. hlm..120 Dalam konteks desentralisasi fiskal. Menyongsong Fajar…. UK-USA..id/webbkf/kajian%5CPAD.. 33. di desa.34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. 1. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. di daerah. melainkan juga pada tiap tempat. 2008. tanpa tahun. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. Keadaan yang seperti itu penting sekali. bukan saja persekutuan yang besar. Hatta. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). rakyat semuanya. Joko Tri Haryanto.121 Artinya. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex. hlm. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. http://www. Blackwell Publishing Ltd.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

130 131 Ibid. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. .132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material. b. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal.131 Di Belanda. 132 Ibid. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. Provinsi dan Gemeente. Di luar urusanurusan itu.130 Atau dengan kata lain. hlm 28. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat. Ibid. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom.. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah.

Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain.40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. antara lain. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan. Berbeda dengan otonomi formal. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah.

yang mungkin saja 133 134 Ibid. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. melainkan meliputi sampah industri. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. Karena perkembangan teknologi.. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. 135 Ibid. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. sampah nuklir. misalnya urusan pertanian. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. dan lain-lain. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih.134 Memang urusanurusan tertentu. kurang memperhatikan karakteristik. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat. Misalnya. Mengenai sistem rumah tangga material ini. . urusan persampahan. Namun. hlm 29. moneter. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda.. dapat beralih menjadi urusan pusat. urusan karena pemerintahan perkembangan.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. misalnya pertahanan keamanan.135 urusan Suatu daerah. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. hlm 30. potensi. Ibid.

139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. hlm 31. sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas. hlm 32. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. Ibid. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat.. . yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya.136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah. Dalam hal demikian. Dengan demikian. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga. 139 Ibid. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing.137 c. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri. hlm 30. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata.. 141 Ibid. 136 137 Ibid. 138 Ibid. 140 Ibid.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material.42 tidak dimiliki oleh daerah.

Sebagai tatanan ketaanegaraan.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah. 3. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan.. hlm.142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. op. Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun. Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan. Penerbit Mandar Maju. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk). Menyongsong . 145 Bagir Manan.cit.143 Sementara itu.. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. 1990...cit.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang. Otonomi atau . Ateng Syafrudin. op.. 24 .144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. 9 144 Ibid. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya.. hlm. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. 14. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk). tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah. hlm. Bandung.

or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. 146 . Ditinjau dari tujuannya. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini.” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. menurut Hadari Nawawi. 3. organisasi dapat dirumuska sebagai. doctrine. interest) and structure.geocities. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization).com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.pdf 147 Ibid.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. hlm. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. 1 www. Sebagaimana dikutip Syahyuti. a. notion. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea.. The structure is a framework. or apparatus. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. hlm. dan hubungan kelembagaan. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional. Dalam kajian sosiologi. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris.

menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). rentang kontrol dan kesatuan komando.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. konflik kewenangan/kekuasaan. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. 289 151 Ibid . 2001. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. adalah koordinasi. Jakarta. hlm. koordinasi. systematic. and coordinated application of effort”.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. tugas. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. 232 149 Ibid. PT. pelimpahan wewenang. kekuasaan. Atau dapat disebut juga sebagai. 150 Ibid. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. Prospek Otonomi Daerah.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho. hlm.45 faculties necessary for its execution. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. Raja Grafindo Persada. kewajiban. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan. positive. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. Dengan demikian kekacauan. pembagian pekerjaan. di Negara Republik Indonesia.

menurut Bagir Manan153. 290-291 Bagir Manan. dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). surat edaran berantai.152 b. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. buku pedoman dan sebagainya. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah.. pertemuan formal. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. tugas dan pejabat dalam organisasi.cit. hlm. Hubungan . Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik.. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. hlm. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah. op. Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat.191 .46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi.. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II.

cit. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri..47 desentralisasi. hlm. Titik Berat . Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi. op.157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu.cit. kewajiban.155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas..cit.. Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah. 154 155 Ni’matul Huda.. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan. 158 Bagir Manan.cit.. seperti kemampuan keuangan. Ada faktor-faktor lain.. 197 . 52 157 Ibid. Hubungan . op. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah.156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. hlm... sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan. op. dan manajemen. Hukum Pemerintahan . 24 Bagir Manan. hlm.. 194-195 156 Ateng Syafrudin. hlm. hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah... op. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. Hubungan …..

Accounting & Financial Management.23. 178 161 Anwar Shah.pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan.cit. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan). yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli.. op. Washington DC. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”. 1994. World Bank Policy and Research Series No. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan).162 Sementara itu. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur. hlm. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder..159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. Penerbit Bina Aksara.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. 162 Ibid. pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi.48 Perbedaannya.160 4. dalam otonomi territorial. Vol. biasanya diperoleh dengan dua cara. kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. 15 No. The World Bank. hlm. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 3. Journal of Public Budgeting. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. hlm. 1984. . PrAcademic Press. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan).. 388. 2003. Menyongsong.. 35-36 Irawan Soejito.

Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. 389. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). Problems. hlm. 166 Larry Schroeder. 18. hlm. Comparative Economic Studies. June 2004. 8. World Bank Policy Research Working Paper 3353. yang mencakup revenue autonomy.48.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas.. expenditure autonomy.166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. misalnya melalui pajak daerah atau retribusi.. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. 164 163 . April 2004. Washington DC. hlm. 168 Era Dabla-Norris.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal. 167 Anwar Shah. 107. op.165 Dalam hal ini. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Anwar Shah. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut. hlm. The World Bank. Theresa Thompson. Dalam hal ini. 165 Ibid. USA. 2006. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). World Bank. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”.49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana). 18 – 19. DC USA. daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. Washington.cit. Detours and Road Closures”. transfer dan Ibid. hlm. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. Vol.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue).

Dalam literatur. Bagir Manan..cit. Jaime Bonet.. transfer (intergovernmental fiscal transfer). Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah.cit.50 subnational borrowing. hlm.170 Artinya. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri.cit. Bahl dalam Shinichi Ichimura. hlm. 2009. Pte. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan.. Lihat. termasuk dalam menentukan tarifnya.. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. loc. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki.172 Ibid. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal. 107. 663. hlm. 117 – 123.. Roy Bahl (eds). Ltd. 170 169 . ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.171 Sementara itu. Decentralization: Policies in Asian Development. 171 Norris.op. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. Hubungan Antara…. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”. 172 Ibid. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan. World Scientific Publishing Co.169 Dalam pendapat Shah. 3. hlm. Loc. Norris.. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Singapore. hlm. 204. Dalam hal ini.

205. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. USA. di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah.. Roy Bahl (eds)..173 Pertama. hlm. . dalam Shinichi Ichimura.175 Sebagai agen. Kedua. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). bukan hanya untuk kepentingan daerah. tercermin dalam dalam dua dimensi. Ltd. Pte.. 178 Ibid. Singapore. 10. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). 11. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah). dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). hlm. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.177 Terkait dengan hal di atas.op. karena bergantung pada pusat.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). 176 Ibid. “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. Hubungan Antara…. 2009.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. World Scientific Publishing Co. hlm. 175 Alan Norton.178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. 177 Bagir Manan. 174 Ibid. England. 80.cit. Decentralization: Policies in Asian Development. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. 1993. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik. hlm.. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional.

181 a. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan. Pte. 208.. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah..cit. Roy Bahl (eds). dalam Shinichi Ichimura. hlm. hlm. Ltd.180 Artinya. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. Singapore. 180 179 . Decentralization: Policies in Asian Development. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain.182 Ibid.179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. dalam dalam Shinichi Ichimura. 182 Lihat Bagir Manan. terutama dengan melakukan pinjaman.cit. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). 181 Motohiro Sato. Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. op. 2009. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran.52 dalam peraturan perundang-undangan. World Scientific Publishing Co. Roy Bahl (eds). tanpa bantuan pemerintah pusat. namun dengan hasil yang relatif kecil. Hubungan Antara…. 5. 15. op.. hlm. 396. Roy Bahl.

hlm.”.17.10. 186 Ibid. “Fiscal Decentralization…. 189 Roy Bahl. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah).184 Kedua.cit.189 Sementara itu. 187 Ibid. “Promise and…. pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan.191 183 184 Anwar Shah. untuk memastikan adanya akuntabilitas.188 Dalam praktek.186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan.. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%. hlm. .183 Pertama. 188 Ibid. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam. 9...loc. Ibid. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat. Ibid. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi. 190 Ibid. Dalam hal ini. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran... hlm. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif).53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak.17-18.cit. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah. op. hlm. Ketiga.187 Keempat. 185 Ibid.

Brueckner.com/abstract=1029581.. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program).cit. walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. “Partial Fiscal Decentralization”. 1 195 Ibid. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. 193 Anwar Shah. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. Category 1: Public Finance.196 Artinya. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah.54 Di Asia. loc. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional.195 b. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian. “Fiscal Decentralization….663. 194 K. Cesifo Working Paper No. Diunduh dari http://www. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif. hlm. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. hlm. 192 . pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung.193 Dalam hal ini. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak.ssrn. November 2007.. hlm.194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang. 196 Jaime Bonet. 18. misalnya. 2137. Ibid.

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

153. 197. “supervision” (Inggris). apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. perlu diketahui. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). Donnelly.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. Gobson. Menyongsong . Jilid I. pengertian pengawasan (toezicht.213 Pengawasan (toezicht. hlm. 214 Bagir Manan. op. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. concurrent control dan feedback control. .cit. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan.214 Namun demikian. steering control dan post-action control. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain.. F. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. James L. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). dan “control” (Belanda dan Inggris). James H. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. Jakarta 2003. sepanjang. James A.. Rineka Cipta. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri.. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). hlm. dan John M.

secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan... Kybernology . “pedoman”. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. op. hlm. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision.60 undang-undang.. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”. . apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. “bimbingan”.215 Dengan demikian.cit. mengurus atau mengatur. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas.. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. juga mengandung arti pengendalian. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. mengarahkan. Berdasarkan uraian tersebut di atas. 215 Taliziduhu Ndraha. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. 197. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom.

Ketiga. Black Law Dictionary. b.(Terj. Black Law Dictionary. Kedua. hlm. Mengenai kepentingan umum. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. pengawasan menurut 216 217 Bryan A. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat. b. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum. 1999. baik dalam arti materiil maupun spiritual217. mendefinisikan Public Interest. Bagir Manan. The general welfare of public that warrants recognation and protection. harus dalam rangka kesejahteraan umum. hlm. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. dibutuhkan orang banyak.. yaitu: a. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah). .1244. Garner. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum. Adapun menurut Bagir Manan. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi.Cit.. yakni: Pertama.Op.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya.141. Menyongsong Fajar….

Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. 91-95. a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif.…Op.Cit. 154 . Menyongsong Fajar . dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring).62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya. (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. hlm. Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). 219 Bagir Manan. 2006. hlm.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. menurut Bagir Manan. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. Bandung. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah.

Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi.221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. Bhuana Ilmu Populer. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan.Cit Paulus Effendie Lotulung. . sebagai suatu usaha represif. Dalam praktek.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. PT. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing). Jakarta. op.63 pengawasan detektif. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan.xv. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. 1986. Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. sebagai suatu usaha preventif. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. hlm. Namun demikian.

64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis. dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. hlm. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. Sebaliknya. yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. xvi . Sedangkan sebaliknya. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. demikian seterusnya. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan.

65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. Wujud. yaitu segi “doelmatigheid”. dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. Dengan kata lain. 2) Ruang Lingkup. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). yaitu Kontrol segi hukum.223 Di lapangan pemerintahan daerah. instrumen pengawasan. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid. hlm. Waktu Pelaksanaan. sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). xvi-xvii .

hlm. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). Jakarta. keharusan.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. hlm. besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum. 149. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. Rineka Cipta. Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. yang mengandung perintah.149-153 . b. dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. 1990. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah). Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho.224 berlakunya. ancaman pidana. (Inspektorat) a. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). baik Pemerintah Pusat. Jika digambarkan dalam suatu bagan. larangan. 225 Ibid. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. Provinsi. Dilakukan oleh aparat pengawas intern. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. dan Pemerintah Daerah itu sendiri.

dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II.67 (schorsing). monitoring. Melalui proses/prosedur tertentu. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. dsb. Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan.226 c. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. . kriteria. b. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Wujud dari masing-masing pengawasan. Mengenai waktu pelaksanaanya. c. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. penetapan pedoman. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. oleh Pemerintah Pusat.

68 pengesahan dari pihak yang diawasi. Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. dikenakan pengawasan represif. Dengan penolakan tersebut. Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. . maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. larangan. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku. keharusan. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. perintah. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan.

supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. Op. maka Daerah dapat mengajukan keberatan. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan. hlm. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi.. Menyongsong Fajar.. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan.. d. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut.. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku. misalnya 3 bulan. maka menurut ketentuan.227 Namun demikian. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan . Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain.69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu. Pengawasan (toezicht.. .Cit. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). pengertian pengawasan (toezicht. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan.153. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya.

Pengawasan Yudisial Loc. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah.. Perancis. Desertasi. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.Cit. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah. hlm. Pengawasan Administratif b.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. 229 228 . Ibid. dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. Jenis/Bentuk Pengawasan b. Pengawasan (goedkeuring). 2009. 154 230 Sumber : Bagir Manan. Bandung. c. Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. Pengawasan Represif 1. Pengawasan Preventif b. Pengawasan Administratif c.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. hlm. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing). Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. dan Belanda.43-114. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a.

c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Gedeputeerde Staten a. Counseil d’Etat. Peraturan/ Kebijakan Commune. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Subjek Pengawasan b. Kroon (Mahkota). Kroon (Mahkota). b) Peraturan daerah (bersifat regeling). Commissaris van de Koning. Cour des c. Prefect dan Counseil d’Etat 2. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. Peraturan. Objek Pengawasan a. Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Pemerintah b. 3. dan Gedeputeerde Staten b. Parlemen a. Pembentuk UndangUndang. Pusat Tribuneux Administratif. Peraturan dan Keputusan Daerah a.71 a.

mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah.72 beleidsregel). Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). (Terj.untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. 1. To Wield and integrated the diverse people into a nation. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. yakni. 7. 28 Desember 1992. 4. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. 2. (Terj. f. hlm. 3. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). . (Terj. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). (Terj. 5. Raul P.

d. 2. terus menerus. c. 1986. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai. hlm. Bohari. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. 3. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. Azmy Akhir.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. Mengapa perlu diadakan pengawasan. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. 1. dan fragmatis. Jakarta. fleksibel. yakni.234 232 233 Ibid. serta akibat-akibatnya. Dinna. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. Menurut M. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. Menurut H.N. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. M. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. e. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku). Azmy Akhir.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a.N. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. CV. 71 . untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan.

hambatan. pemborosan. hlm. Bohari. Rajawali Pers. 1995. Op. penyelewengan. 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI. Jakarta. 159 .Cit. Hukum Anggaran Negara. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. hlm.235 234 235 H.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan.

242 Ibid. 239 Ibid. 236 . 1993. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. hlm. 238 Bagir Manan.. hlm 12. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. Yogyakarta. 237 Bagir Manan.238 Keempat. 2001. hlm...240 Keenam.. 241 Ibid. hlm 17. UNSIKA.75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. hlm 15-16. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. dan Bagir Manan. 32/2004 jo UU No. 240 Ibid. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.237 Ketiga. Karawang. Menyongsong Fajar . Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945.239 Kelima... Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. 13. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. Yogyakarta. 2001.241 Ketujuh.cit. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945.. 18A dan 18B. hlm 21. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. op. Perjalanan Historis Pasal 18. 12-13. hlm. 8-9.236 Kedua. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.

Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein.Politik Luar Negeri. Yayasan Tifa.Pertahanan. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen). adalah organ-organ Negara (staatsorganen). . organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional). 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Pemerintahan Daerah Provinsi. Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No.industri . dan . hlm. 197. kedua. yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah.kelautan . . . Provinsi. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM . dapat di identifikasi dua macam kelompok organ.perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . Pertama. . 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Ketentuan Pasal 10 UU No. maupun kabupaten/kota (concurrent power).pariwisata B. yang memiliki perbedaan yang signifikan.kesehatan. URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat.Agama. . .pertanian .243 Dalam Negara kesatuan. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. . 2005. provinsi.Moneter dan Fiskal Nasional. Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . .pendidikan. Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.Yustisi.lingkungan hidup.Keamanan. UU No.76 12/2008. Jakarta.

Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. peningkatan peran serta. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. wewenang. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. hlm. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. 32 Tahun 2004 . terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.245 Dalam penjelasan umum UU No. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab.. hlm.. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan.77 nasional maupun di subnasional. Dengan perkataan lain. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh.244 Dengan desentralisasi. desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. 198 246 Penjelasan Umum UU No. prakarsa. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan.. 197 Ibid. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah.

kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan.250 247 248 Bagir Manan. Hubungan… hlm. 1.78 fungsional yang utuh. Penerbit Bina Aksara. Berdasarkan kenyataan itu. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. 1984. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. Bandung. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah.249 Menurut UU No. tugas pembantuan dan dekonsentrasi. 197 Irawan Soejito. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. hlm. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1. 182 249 Kuntana Magnar. 32 Tahun 2004 . yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1). Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945.248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. Dalam hal ini adalah UU No.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak.

dan kelurahan. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi.253 2. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. untuk kabupaten disebut bupati. sekretariat DPRD. lembaga teknis daerah. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. sekretariat DPRD. Bupati/Walikota. kecamatan. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. dan untuk kota disebut walikota. dinas daerah. telah menunjukan eksistensinya. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. Pasal 19 Ayat (2)UU No. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur.79 2. Kepala daerah Pasal 24 UU No. 41 . Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah.

Kaloh. 254 J. 2003. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. 32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. Jakarta. serta dalam menghadapi konflik. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). Kepala Daerah. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Hlm. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No.254 3. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3 . dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. Penerbit Gramedia Pustaka. Selain itu.80 dan pembinaan kemasyarakatan.

32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 4. Pasal 31 ayat (1).81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1).255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 255 256 Pasal 37 UU No. dan Pasal 32 ayat (5). Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. tindak pidana terorisme. makar. Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah.

82 5. d. e. dan kerja sama internasional di daerah. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. b. BN. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. dan pengawasan (Pasal 41). keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. hlm. artinya. anggaran. Jakarta 2005. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. editor Anhar Gonggong. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. peraturan kepala daerah. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. c. Institute for Local Development Yayasan TIFA. 327 258 .258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. Marbun. 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. APBD. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah.

k. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. Bahkan dalam hal pembentukan perda. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 32 Tahun 2004. DPD dan DPRD. 41 Tahun 2007. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . 6. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. Meskipun pengaturan tentang susunan. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. yaitu UU No. DPR. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. i. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. kedudukan dan fungsi DPR RI. h.83 f. g. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. j.

Paling lama 30 hari setelah pembatalan. Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. dinas daerah. Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. (3)). Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). Kedudukan. dan lembaga teknis daerah. Apabila Provinsi. Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. integrasi. 32 Tahun 2004). dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. sekretariat DPRD. Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). Pada penjelasan umum PP No.84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan .

Bahan Diskusi Terbatas. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. Bupati dan Walikota. Pusat Studi HTN . Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1. serta kerja sama. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. Menurut UU No. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.259 7. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). Dalam sepuluh tahun terakhir. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. Sementara pada kelembagaan pusat. supervisi. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. maupun kota di Indonesia. kabupaten. Pasal 5.2 dan 3 UUD 1945. pedoman. pelatihan. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. pemberian arahan. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. bimbingan. Kabupaten dan Kota dengan UU.

Bahkan. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. Di satu sisi. Dalam hal ini. Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.261 Dengan demikian. pelayanan publik (umum). .86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. pelayanan masyarakat (publik). Namun di sisi lain. 4. kabupaten. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Namun demikian. Bandung. maupun kota. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. baik provinsi. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut. 2002. Sebagai akibatnya. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. hlm. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. dan daya saing daerah. Laporan Penelitian. banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang.

Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru. maupun kemampuan daerah. 8. yang diatur dengan undang-undang”. yang tiap-tiap provinsi. sumberdaya keuangan. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. maupun daya saing daerah. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Berkaitan dengan hal itu. Namun demikian. hlm. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jakarta. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. 31. maupun sumberdaya alamnya. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. keharmonisan hubungan pemerintahan. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pelayanan publik. 2009. . kabupaten. baik dari segi sumberdaya manusia. Dengan demikian. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang.

sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. dan pemekaran Daerah. (3) Kriteria tentang penghapusan. Bahkan sebenarnya. penggabungan.88 diatur dengan undang-undang yang ada. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah . Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. digabung. penggabungan dan pemekaran Daerah. Adapun mekanisme pembentukan. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. ditetapkan dengan Undangundang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dihapus. kabupaten. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dari bunyi pasal di atas. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. Daerah yang akan dibentuk. Daerah Kabupaten. hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Apabila dilihat rumusannya. penggabungan. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan kota yang harus ada di Indonesia. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. Berkaitan dengan pemekaran daerah. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. penghapusan. (4) Penghapusan.

89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. Selanjutnya. potensi daerah. jumlah penduduk. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. sosial politik. d. c. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. sosial-politik. c. potensi daerah. b. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. b. sosial-budaya. jumlah penduduk. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. luas daerah. yaitu: a. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. Penghapusan. g. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. penggabungan. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. penghapusan. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. . Penghapusan. e. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. luas daerah. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan pertimbangan lain. kemampuan ekonomi. Pembentukan. f. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. c. dan Kriteria Pemekaran. dan Penggabungan Daerah. dan Penggabungan Daerah. sosial budaya.

g. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. penghapusan. berdasarkan rekomendasi pada huruf e. Oleh karena itu. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih .90 d. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. Selanjutnya. dan kriteria pemekaran. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. e. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. pembentukan. f. dengan memperhatikan usulan Gubernur. j. i. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. h. para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud.

dan fisik kewilayahan. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. . sarana. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. luas daerah. serta perangkat daerah. potensi daerah. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. batas. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. pendanaan. pengalihan kepegawaian. penunjukan penjabat kepala daerah. pengisian keanggotaan DPRD. dan dokumen. ibukota. teknis. lokasi calon ibukota. kependudukan. keamanan. cakupan wilayah. dan prasarana pemerintahan. Pasal 6. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. pertahanan. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. peralatan. sosial budaya. sosial politik.

(3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pemberian nama. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. Sehubungan dengan itu. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. dilakukan setelah melalui proses evaluasi. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas.92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. diatur dengan PP (Pasal 8). Pasal 6 U No. perubahan nama daerah. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat). yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud.

dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. b. Penghapusan. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. ketentuan tentang tata cara pembentukan. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. dan Penggabungan Daerah. penghapusan. Selanjutnya. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. c.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. . Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. b. Pasal 5. c. sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. b.

sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. 164 kabupaten. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. Namun demikian. 389 kabupaten.94 c. maupun kota. kabupaten. sampai sekarang (2009). 32 Tahun 2004 diteliti. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. dan 96 kota. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. dan 34 kota. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. Dengan demikian. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota.

social politik. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. 3. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. pertahanan keamanan. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3).95 dipacah. e. 129 Tahun 2000 (semasa UU No. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. Kabupaten dan Kota. lokasi calon ibukota. 2. d. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. dan . potensi daerah social budaya. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi. b. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. luas daerah. sarana dan prasarana pemerintahan. peningkatan keamanan dan ketertiban. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. kependudukan. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. 4 kecamatan untuk Kota. Melalui PP No. c. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. Percepatan pengelolaan potensi daerah.

3. Pada tahun 1945. Jumlah provinsi: 8. b. potensi daerah. Daerah Banjar. Federasi Borneo Timur. c. Jawa Tengah. Negara Madura. Borneo. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009.html . Belitung. g. Negara Pasundan. yaitu Sumatera.0. luas daerah. jumlah penduduk. Jumlah provinsi: 16. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia. Negara Sumatera Selatan. Riau. Daerah Istimewa Borneo Barat. Bangka. Pada akhir tahun 1949. Pada awal tahun 1950.96 f. Jawa Timur. 263 Data diolah dari http://www.5619. e.lautanindonesia. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. dan Negara Indonesia Timur. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Jawa Tengah. Sulawesi. dan Maluku. Antara tahun 1946-1949. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. Negara Sumatera Timur. sosial budaya d. 2.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. Borneo Tenggara. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia.com/forum/index. Negara Jawa Timur. f. kemampuan ekonomi. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Sunda Kecil. Dayak Besar.php/topic. Jawa Barat. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan. sosial politik.

97 4. Pada tahun yang sama. dan Jambi. yaitu Republik Indonesia. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. Pada tahun 1956. Jumlah provinsi: 25. Jumlah provinsi: 11.Jumlah provinsi: 18. 5. yaitu Kalimantan Barat. dan Kalimantan Timur. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. dan Negara Indonesia Timur. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. Daerah Istimewa Borneo Barat. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Jumlah provinsi: 19. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). Pada tahun 1959. Awal Agustus 1950. Pada tahun 1964. 9. Pada tahun 1961. Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. Pada tahun 1950. Provinsi Aceh terbentuk. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Negara Sumatera Timur. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. Pada tahun 1968. Kalimantan Selatan. dan Nusa Tenggara Timur. 6. yaitu Bali. Pada akhir tahun 1959. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. Provinsi Bengkulu terbentuk. Riau. Pada tahun 1953. Jumlah provinsi: 20. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. Pada tahun 1958. dan Sumatera Selatan. 7. . Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. 8. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Jumlah provinsi: 14. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. Jumlah provinsi: 21. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. tiga provinsi baru terbentuk. Pada tanggal 17 Agustus 1950. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. yaitu Sumatera Utara. Jumlah provinsi: 24. Pada akhir tahun 1956. Pada tahun 1963. Pada tahun 1960. Kemudian. 10. Sumatera Tengah. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Sumatera Barat.

15. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. dua provinsi baru resmi berdiri. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . dan diberi status Otonomi Khusus. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. Jumlah provinsi: 27. Pada tahun yang sama. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. kecamatan. 16.98 11. Pada akhir tahun 1975. Provinsi Maluku Utara terbentuk. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. dimekarkan dari Jawa Barat. Kemudian pada akhir tahun 2000. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. pada akhir tahun 1999. Pada tahun 2001. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. dua provinsi baru resmi berdiri. Jumlah provinsi: 26. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Jumlah provinsi: 28. Tetapi. 14. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). Jumlah provinsi: 33. Pada tahun 1973. Pada tahun 2007. 13. Jumlah provinsi: 31. Jumlah provinsi: 30. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. Provinsi Banten resmi berdiri. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. 17. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. Pada awal tahun 2000. 12. Pada tahun 1999. Sama halnya dengan NAD. Pada tahun 2004. Pada tahun 1969. Jumlah provinsi: 27. Pada tahun 2003.

apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. Pada kenyataannya. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. Selain itu. gedung baru. pakaian dinas baru. Di lain pihak. Akan tetapi. termasuk daerah baru hasil pemekaran. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . Dengan demikian. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. tunjangan jabatan pejabat baru. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. Dalam hal ini. dan sebagainya. gaji pejabat baru. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. kendaraan baru. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru.

. pelayanan umum. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No. Padahal. Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah .. terutama daerah baru. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. Hubungan Keuangan UU No. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). 25 Tahun 1999. 33 Tahun 2004.. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut . untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah. Selain itu. maupun daya saing daerah.100 ”. Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi.. UU No. secara faktual banyak sekali daerah. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran.. C. Namun demikian. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik..

33 Tahun 2004. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. Sementara itu dalam UU No.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. yaitu dalam hal jenis pajak265. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. PPh tertentu juga menjadi DBH. tidak hanya sekedar penggantian istilah. retribusi daerah.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. . 25 Tahun 2002. namun berbeda dari segi formulanya. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. 33 Tahun 2004. dan dana alokasi khusus (DAK). 33 Tahun 2004.22 Tahun 1999. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. 266 Pasal 6 ayat (1) UU No. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. Mengenai DBH. Dalam UU No. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. 33 Tahun 2004. Dalam UU No. Namun demikian. istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH). Perubahan tersebut. 22 Tahun 1999. 33 Tahun 2004. Hal ini disebabkan UU No. yaitu dana alokasi umum (DAU). DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. sementara dalam UU No. 1. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. dan lain-lain PAD yang sah.

34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu. UU No. yaitu Peraturan Pemerintah No. 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. dan 3 golongan retribusi daerah.102 penduduk.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan. UU No. 18 Tahun 1997 dan UU No. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt. 22 Tahun 1999. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. Perbedaannya. dan kegiatan impor/ekspor. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. UU N0. UU No. 34 Tahun 2000). ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. 33 Tahun 2004. lalu lintas barang dan jasa antardaerah. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. 20 Tahun 1997. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. . Setelah berlakunya UU No. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. 20 Tahun 1997. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. UU No. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah).268 Dalam PP No. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. Sementara itu.267 Dalam UU No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini.

PP No. 66 Tahun 2001. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. 28 Tahun 2009. PP No. 34 Tahun 2000 dan PP No.271 Berbeda dengan dengan UU No. UU No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. mencari. Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. Menggantikan UU sebelumnya. Dengan demikian. sementara dalam UU No. sementara UU No. Sementara itu. 66 Tahun 2001. Artinya. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta. ketentuan dalam UU No. 34 Tahun 2000. 34 Tahun 2000). memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. 18 Tahun 1997. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup).103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. 34 Tahun 2000. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No.270 Dalam hal retribusi daerah. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. 271 Lihat Pasal 185 UU No. . Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup.” “Pajak Daerah Dibatasi. 28 Tahun 2009. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka). Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. 34 Tahun 2000 dan PP No. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. 18 Tahun 1997 dan PP No.

Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. 5 Agustus 2009. BPHTB. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat. Rabu.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. 393. 276 Pasal 181 UU No. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru. hanya dikenal pungutan cukai rokok. 392. Accounting & Financial Management.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. Larry Schroeder. Kompas.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. Journal of Public Budgeting. selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi.daerah. masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. 28 Tahun 2009. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. 28 Tahun 2009. Thailand. seperti Filipina. 402. sementara dalam UU No. 405. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). Sementara itu. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 171). 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959.dibatasi. 2003. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. 3.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. hlm.104 UU No.273 Sebelumnya. Vol. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). 273 Ibid. Academic Press. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). semua PBB. Lihat. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak.kompas. diakses dari http://koran. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. 15 No. 28 Tahun 2009. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. .

Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. Pertama. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. yaitu. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah.280 Kedua. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. 28 Tahun 2009. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d. 28 Tahun 2009. UU No. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. lembaga sosial dan keagamaan. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%.285 Keempat. Pasal 6 ayat (1) UU No. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009.279 Selain penambahan jenis pajak baru. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. 282 Pasal19 ayat(2) UU No. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen).284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. basis pajaknya (tax base) diperluas. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. ambulans.283 Ketiga. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. sosial keagamaan.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. pemadam kebakaran.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada.

5% dan paling tinggi sebesar 1%. 28 Tahun 2009. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. 291 Pasal 31 UU No. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. diskotik.292 2. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. Rokok. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%. Dana Perimbangan a. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. losmen. 28 Tahun 2009. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. wisma pariwisata. 28 Tahun 2009. karaoke. permainan ketangkasan. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). klab malam. gubuk pariwisata. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. ditetapkan paling rendah sebesar 0. rumah penginapan dan sejenisnya. 28 Tahun 2009. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). . panti pijat. yang mencakup juga motel.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290.289 Kelima. dan mandi uap/spa . Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No. 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. 28 Tahun 2009. kontes kecantikan. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana.pesanggrahan.33 Tahun 2004.

pertambangan umum. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. 22 Tahun 1999. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. perikanan. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak. pertambangan gas bumi. dan pertambangan panas bumi. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak. 33 Tahun 2004.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi. Dengan demikian. pertambangan minyak bumi. .294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. jika dibandingkan dengan UU No. dan 3. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah. 55 Tahun 2005. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. 22 Tahun 1999.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. maka UU No.107 Daerah atas pajak dalam UU No.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. Sementara itu.

Pasal 12 ayat (5) UU No.300 Sementara itu. Dari 20 % bagian daerah di atas. DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah. Dengan demikian.33 Tahun 2004. Untuk penerimaan kehutanan. provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. Dengan demikian. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. dan Dana Reboisasi.108 Sementara itu. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No. 33 Tahun 2004. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.299 Sementara itu. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. 55 Tahun 2005. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.298 Dengan demikian. .297 Dari pengaturan di atas. dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah.

305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah. dan 30. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69.33 Tahun 2004.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) .33 Tahun 2004.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No. dan 15.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.33 Tahun 2004. Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi. Sementara itu. UU No. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0.33 Tahun 2004. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. tidak kepada provinsi. 33 Tahun 2004. dibagi dengan imbangan:307 84. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Lihat Pasal 16 huruf b UU No. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No. 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No.303 Sementara itu. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%).5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.33 Tahun 2004.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan.

Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. UU No. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No. 315 Pasal 1 angka 21 UU No. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No.315 APBN. 55 Tahun 2005. 311 310 . berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah.33 Tahun 2004. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. Iuran tetap dan iuran produksi. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.33 Tahun 2004. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No. dan.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. Lihat Pasal 25 UU No. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No.33 Tahun 2004.319 Jika dibandingkan dengan UU No. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi.314 b. 55 Tahun 2005. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No.

33 Tahun 2004. jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar. Sebagaimana disinggung di atas bahwa. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 33 Tahun 2004. UU No. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). 33 Tahun 2004. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004 lebih besar.326 Dari pengaturan tersebut. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). 33 Tahun 2004. . 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. 327 Pasal 29 UU No. 326 Pasal 28 ayat (3) UU No.325 Sementara itu. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. luas wilayah.322 Sementara itu. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. 323 Pasal 27 ayat (4) UU No.327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324. 33 Tahun 2004.323 Dengan demikian. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. presentase DAU berdasarkan UU No.

330 Pasal 32 ayat (3) UU No. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal.328 Sementara itu.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. Pasal 32 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. Namun demikian.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. 332 Pasal 38 UU No.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. 33 Tahun 2004. 333 Pasal 39 ayat (2) UU No. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya.330 c.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. 33 Tahun 2004. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No. . 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 3. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004.

Pasal 49 ayat (2) UU No. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. jenis dan jangka waktu pinjaman. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. . 33 Tahun 2004. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No. yang paling penting dalam hal ini. 33 Tahun 2004.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya. dalam 6 batas pinjaman. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan. penggunaan pinjaman. sumber pinjaman.338 Namun demikian. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. UU No. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan. 33 Tahun 2004. persyaratan pinjaman. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). Mengenai batas pinjaman. prosedur pinjaman. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. 33 Tahun 2004. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. 339 Pasal 50 ayat (1) UU No.

114 Rupiah atau mata uang asing. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. mencerdaskan kehidupan bangsa. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. C. Memang. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. 33 Tahun 2004. yaitu: 1. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. . Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan.344 Pemerintahan daerah provinsi. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . kabupaten. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. yang tiap-tiap provinsi. Ini disebabkan. kiranya dapat dikemukakan pertama. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. Pertama. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. Untuk itu.115 /perwakilan. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. Kedua. yaitu Pasal 18.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. daerah kabupaten.

pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. Keempat.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. UI. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. Ketiga.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. Jakarta. kedua. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. hlm. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. Jimly Ashiddiqie. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah.346 Kedua. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. 2002. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang.

kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. pelayanan umum. Untuk kepentingan itulah.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. . Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini. 2. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. Akan tetapi.117 pembantuan. Selain beberapa ketentuan di atas. Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang.

Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur. 32 Tahun 2004 . 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pertama.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut.354 Kedua.353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat.355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Pasal 222 ayat (1) UU No.

12. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. Jadi dapat dikatakan. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Berdasarkan Pasal 186 ini. 13 dan 14). 32 Tahun 2004. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD. 11. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan.

dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. antar provinsi. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan. dan DPRD. pemindahan. wewenang.120 3 4 5 6 7 tugas. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.

harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . supervisi. dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona.121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain. Pedoman penggunaan. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. dana bagi hasil SDA.

dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu. standar harga. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan.122 mempertimbangkan analisis standar belanja. pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. tolok ukur kinerja. Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah.

Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. prosedur. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. Pedoman penyusunan. dan sanksi ditetapkan dalam PP. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. norma. penghargaan. pelaporan. penatausahaan. pelaksanaan. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD.

yaitu Bab II dan Bab III. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pengembangan. dan kepala desa. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No. 358 Pasal 2 ayat (2). b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. d) pendidikan dan pelatihan. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan. dan anggota badan permusyawaratan desa. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. perangkat daerah. perangkat desa. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. dan e) perencanaan. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. . 357 Pasal 2 ayat (1). c) pemberian bimbingan.124 3. penelitian. 359 Pasal 20 360 Pasal 21. pegawai negeri sipil daerah. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan.

363 Pasal 24 ayat (3) dan (4). . Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen.125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Pasal 24 ayat (2). dan Inspektorat Kabupaten/Kota. dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. Inspektorat Provinsi.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain.361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen.

Preventif 2. 22 Tahun 1999 UU No. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. Represif Represif 1. 1 Tahun 1945 UU No. UU No. Preventif 1. Umum Represif 1. Represif 3. 2. 4. Preventif 2. 5 Tahun 1974 7. 5.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. Umum 1. UU No. UU No. Periode 1. Non-yudisial 2. 18 Tahun 1965 6. 8. Represif 3. Represif 3. 6 Tahun 1959 UU No. Preventif 2. UU No. Preventif 2. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. Represif 3. 32 Tahun 2004 .

Kelompok Gramedia. hlm. yang berbentuk Republik.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. 2007. alinea pertama pembukaan. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1.364 Pertama. Juga. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. kedaulatan hukum. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. Jakarta. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. PT. Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. Ketiga. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. 149. pada pokoknya menganut supremasi hukum. (2).127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. Dari segi internal atau kedaulatan internal. ayat (3) kedaulatan hukum. Kedua. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. kedaulatan rakyat. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat. 150. Bhuana Ilmu Komputer. dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. . Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2).

Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. 4. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual.128 3. B. Kedua. Titinjau dari pola hubungan kewenangan. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. meliputi desentralisasi teritorial. Pertama. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. Apa isi pelayanan itu? . pelayanan umum dan daya saing daerah. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No.

370 Dari persoalan tersebut. kemasyarakatan (ekonomi. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. keamanan dan ketertiban (hukum). Makalah. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities).129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat.368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. perangkat di pusat tidak perlu gemuk. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945. maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus. perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga. . Berimplikasi kepada kelembagaan. 369 Ibid. 16. hlm. 366 367 Bagir Manan. dan lain-lain). sosial. pelayanan umum (public services). Yogyakarta. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa.. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. 370 Ibid.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. Bagir Manan. hlm. 2008.367 Untuk Aceh.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. 4. hlm 15-16. 368 Ibid. 2001. Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. yaitu politik. Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali.

.. misalnya pada UU Kehutanan. Kepala Daerah. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. Penerbit Gramedia Pustaka. Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional. karena menurut James W Fesler. 38 tahun 2007. menjadi kewenangan pusat. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. .372 C. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945.371 Untuk Aceh. Jakarta. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). 2003. 16. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. 15-16. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid.373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. Ibid. 4. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. hlm. 373 J. Kaloh. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional.

kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 4 Agustus 2009 . Bandung. dalam prakteknya tidak terjadi. atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. Dalam kondisi demikian. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. 2. makna otonomi daerah menjadi kabur.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. hlm. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. 16 Eko Prasojo. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. dan pemberdayaan (empowerment). http://ekoprasojo. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid.131 dan daerah. Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. keberanian.

1994. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. Bagir Manan. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara.132 keputusan. 3. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. 5. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. status dan kedudukannya. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. hlm. 2. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru. Susunan luar. 3. 4. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. Provinsi dan Kabupaten/Kota. hlm. 256 378 Ibid. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1.. 257 . Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses.

133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ . Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri. Meskipun demikian. 379 http://ekoprasojo. Dalam hal ini. dan intervensi pusat terhadap daerah. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. dipihak lain ke arah sentraliasi. akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan.

dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. 327 . dalam Kumpulan Tulisan. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. Pasang Surut Otonomi Daerah. Marbun. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. 382 BN.134 Mengenai kedudukan gubernur. Bandung. editor Anhar Gonggong. Perkembangan Pemerintahan Lokal.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat. 381 Ibid. hlm. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. Joeniarto. 1982. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. Penerbit Alumni. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. hlm. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. 215. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. kedudukan dan fungsi DPR RI. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. 32 Tahun 2004. artinya. Jakarta 2005.

Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat.135 DPR RI. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Dengan demikian. yang tiap-tiap provinsi. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. memberikan rekomendasi . pemerintah daerah induknya. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. Dalam hal ini. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. pelayanan publik. atau kota. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di lain pihak. Sebagai balasannnya. melalui Menteri Dalam Negeri. Bahkan dalam hal pembentukan perda. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. kabupaten. (Kursif dari Tim Peneliti). maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. kabupaten. baik provinsi. yang diatur dengan undang-undang”.

Oleh karena itu. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian.cit. 31. hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. Demikian pula halnya. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. Akan tetapi. Sebagai bukti. 383 Secara konseptual dan teoretis. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi.136 dalam pembentukan daerah baru. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). . Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. Selain itu. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. op. hlm. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas.

kabupaten. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. Oleh karena itu. Dengan kata lain. kondisi. Dengan kata lain. Secara formal. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. Artinya. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif.137 Namun. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. Namun. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi.

banyak daerah provinsi. korupsi. maupun daya saing daerah. selain banyak munculnya daerah baru.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. kabupaten. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. Sebagai akibatnya. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. Padahal. konflik . Dengan demikian. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. pelayanan masyarakat. Pada gilirannya. Semestinya. seperti adanya kerusakan lingkungan. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. maupun daya saing daerah. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai akibatnya. pelayanan publik.

139 masyarakat. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Namun demikian. termasuk dalam hal pemekaran daerah. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. dan sebagainya. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Hal itu terjadi karena adanya pihak . Selanjutnya. Pada akhirnya. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. Dengan demikian. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. Dengan demikian. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan. Dengan demikian. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. Oleh karena itu.

potensi daerah. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. praktiknya hal itu sangat riskan. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota.140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. termasuk posedurnya juga cukup sederhana. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. Alasannya. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. kepegawaian. waktu 10 tahun untuk . apabila akan dibentuk provinsi baru. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. penghasilan daerah. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. Misalnya. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. Hal itu sangat penting. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). Sebagai contoh. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. Misalnya. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi.

33 Tahun 2004. Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. kriteria dan batas defisit APBD. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. Pasal 25 UU No.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. persentase yang lebih besar. Sebagai contoh. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. termasuk asal dananya. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 50 ayat(2). 33 Tahun 2004. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. Pasal 83 ayat(4). adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. Berupa pemotongan DBH sektor Migas. . 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. Pasal 102 ayat (3) UU No. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. Dalam konteks tersebut. 25. UU No. 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. D. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah.386 Namun demikian. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. UU No.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. dalam mekanisme UU No.22 Tahun 1999.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. UU No.22 Tahun 1999. 32 Tahun 2004. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat. Walaupun demikian. Kelemahan lainnya. 22 Tahun 1999. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. Walaupun demikian. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah.22 Tahun 1999 .150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. masih tetap dipertahankan. 25 Tahun 1999). Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. Pasal 81 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri. 22 Tahun 1999. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri. Padahal hal tersebut sangat penting. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No. karena harus mendapatkan persetujuan pusat. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 (dan UU No. 33 Tahun 2004. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. Namun demikian.419 Walaupun UU No. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. Artinya. Artinya. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. Artinya.

maka tingkat defisit APBD yang rendah. Dengan demikian. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. 33 Tahun 2004. khususnya DAU dan DBH. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. karena terkait dengan urusan luar negeri. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. Padahal. melainkan hanya untuk menutupi defisit. dalam UU No. fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. Menurut Jimly Asshiddiqie.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. dan kabupaten/kota. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. walaupun dengan PAD yang kecil. di antaranya . dengan dana perimbangan yang besar. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. Artinya. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. dengan besarnya dana perimbangan. E. Artinya. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. Dengan pengaturan saat ini.

Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 2002. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No. . 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 1. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 421 Konsiderans PP No. Jimly Ashiddiqie. 21. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Jakarta.152 terhadap peraturan daerah. 422 Pasal 186 UU No. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. hlm. 32 Tahun 2004. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. UI. 32 Tahun 2004.420 Pasal 222 ayat (1) UU No.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.

d.I.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 .153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.d.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .I.

2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.d.I.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.

156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.Muko-muko S-093/MK. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi . Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl.Muko-muko S-093/MK. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.Muaraenim S-093/MK.I.10/2006 Kepmendagri NO.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.10/2006 Kepmendagri NO.10/2006 Kepmendagri NO.10/2006 Kepmendagri NO.

18 TAHUN 2007 Tgl.2 TAHUN 2007 Tgl.16 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.20 TAHUN 2007 Tgl.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.22 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 6 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK. 23-06-2005 .Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi. 29-01-2007 S-093/MK.157 Perdagangan (siup) 5 Kab. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab.13 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.21 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.19 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat.14 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab. 29-01-2007 10 kab.15 TAHUN 2007 Tgl.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.17 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 7 S-093/MK. 23-06-2005 8 S-093/MK.

10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK. 29-01-2007 21 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.3 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.32 S-093/MK.25 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 20 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab.30 TAHUN 2007 Tgl.29 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.31 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab.27 TAHUN 2007 Tgl.26 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab.23 TAHUN 2007 Tgl.158 Pariwisata 16 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.10/2006 - .28 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.24 TAHUN 2007 Tgl.Madiun S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.

503 324 1.id/www.076 391 Perda 74 2.634 Raperda 32 883 181 1. 29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6.581 792 3. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian.depdagri.google.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.com.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.303 9. tanggal 20 Pebruari 2008 .10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.go. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.d.275 55 5.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.836 2. 29-01-2007 Kepmendagri NO.33 TAHUN 2007 Tgl.

Karawang Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .Purwakarta Kab.Garut Kab.Kuningan Kab. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Ciamis Kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s.Bekasi Kab.Sukabumi Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Bogor Kab.d.Cirebon Kab.Sumedang Kab.Bandung Kab.Majalengka Kab.Subang Kab.Cianjur Kab.Indramayu Kab.

INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Bekasi Kab.Bogor 0 0 0 .Bandung Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Karawang Kab.Indramayu Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Purwakarta Kab.Majalengka Kab.Cirebon Kab.Kuningan Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.Subang Kab.Cianjur Kab.Ciamis Kab.Sukabumi Kab.Garut Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Sukabumi Kab.Purwakarta Kab.Tasikmalaya 0 .163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Indramayu Kab.Ciamis Kab.Bogor Kab.Majalengka Kab.Kuningan Kab.Garut Kab.Cianjur Kab.Karawang Kab.Bandung Kab.Cirebon Kab.Subang Kab.Bekasi Kab.

bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan). Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. Kedua.Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri .

Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. 2008 21 UU. 2007 2. 425 426 Pasal 145 ayat (2). perlu pembahasan di bagian lain. Sementara itu di lain pihak.165 dalam negeri (kepmendagri). telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda.426 Terhadap persoalan ini. hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah. dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. . Pasal 145 ayat (3). terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda.

pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang.428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu. Rabu. Dengan kata lain.430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. http://kppod.. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Harian KOMPAS. 2. Penghapusan.org/ind/index. Op. Memperlambat ….429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. . Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah. ternyata pada tahun 2008. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. Hanya satu kekuasaan legislatif. dikatakan oleh CF strong. 16 Januari 2008. yaitu di tangan pemerintah pusat. the supreme legislative power by one central power. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah. 430 SB.cit. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. di sisi lain. Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 .166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Memperlambat Laju Pemekaran Daerah.

Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan. Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. dan demokratisasi.167 daerah-daerah otonom. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. Ini kaitannya dengan teori negara hukum. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. pengawasan represif dan pengawasan umum. Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. yaitu Undang-Undang No. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Menurut Undang-Undang No. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang. kegara kesatuan. Hanya satu sistem hukum. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. pengawasan preventif. Untuk mensejahterakan rakyat. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. 32 Tahun 2004. Sedangkan undang-undang sebelumnya. ternyata berbeda-beda. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. Undang-Undang No. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Dengan demikian. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. Op. kecerobohan. Positifnya. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah. Apabila hasil evaluasi tersebut. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan.. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan.432 terdapat segi positif dan negatifnya. Pajak Daerah. Segi negatifnya. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan. Setelah melalui proses tersebut.. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. . Jadi. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. 154. Pada masa berlaku Undang-Undang No. Melalui pengawasan preventif. daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan. UU No. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum.…. Cit. hlm.431 Terhadap pengawasan preventif ini. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dengan adanya pengawasan preventif. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. menurut Bagir Manan. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah. 431 432 Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Ibid. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. atau kesalahan suatu peraturan daerah. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. Selain itu. dalam hal ini Mahkamah Agung. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. terlihat bahwa . ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah.169 Pengawasan represif. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan. Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum.

Selanjutnya. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. represif (administrative). maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. terhindar adanya intervensi pengadilan. yang dipandang tepat yaitu preventif. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. Pertama. Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. dapat mengajukan ke mahkamah agung. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. Dengan demikian telah .170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial).

Kedua. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. 22 tahun 1999. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. yang berlaku saat ini dalam UU No. 3. represif dan preventif. Pertama. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. . 32 Tahun 2004. tapi UU No. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. Berdasarkan uraian di atas. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. Berbeda dengan legislative review. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. dalam UU No.171 terlaksana pengawasan secara demokratis.

Pajak Daerah. hlm. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. hlm. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. Karena Perda belum berlaku. Retribusi Daerah. Kedua. akibat hukumnya.. dan lingkungan hidup. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. 435 Ibid. 322. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. bandung. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. 434 Ibid. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama.433 Pertama. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. Sebaliknya. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. Artinya. 433 . Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. 2009. Alumni. tanpa kecuali.172 Namun. saat pelaksanaannya. 322-323.

Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Dalam rangka pengawasan. Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. judicial control sama dengan judicial review. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah. . Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah. 4.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik. merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi.436 Maka dari itu.

10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. 79 Tahun 2008. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. c.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. c. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. 10. Peraturan Pemerintah. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. Peraturan Presiden. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. b. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hukum Administrasi Negara. hl. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Bogor.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. Peraturan Daerah. Ghalia Indonesia. .440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. lihat Diana Halim Koentjoro. b. e. melalui PP No. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. d.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. 2004.

maka ketentuan yang . Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. terutama UU No. sepanjang kedua UU tersebut.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. 32 Tahun 2004. 10 Tahun 2004. Dengan demikian. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. Dengan demikian. belum dicabut. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. 79 Tahun 2005. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. untuk menetapkan pembatalan perda. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. 32 Tahun 2004 dan UU No. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. dalam rangka pengawasan. yaitu antara UU No. 3. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. dengan PP No. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. yang spesifik pertentangannya. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. 2. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri.

yaitu dalam kerangka negara kesatuan. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah).176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut. dan yudikatif). pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. sebagai representasi pemerintah. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. melainkan hanya satu Kedaulatan. Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. Kecuali jika praktik menghendaki lain. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. legislative. Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. demokratisasi dan negara hukum. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. 10 Tahun 2004. maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan.

32 Tahun 2004 dan UU No. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. dapat pula saling menyeimbangkan. Frans Magnis-Soeseno. Jakarta. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. hlm. Dalam PP No. 290-291. 441 . untuk menetapkan pembatalan perda.177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. Gramedia Pustaka Utama. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. 10 Tahun 2004. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. 177179. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. dalam rangka pengawasan. 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. hlm.. dengan PP No. 1999. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. 442 Ibid. yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. yaitu antara UU No. 79 Tahun 2005. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. Persoalan kedua. Etika Politik.

hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Lihat. Ketiga. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. Otje Salman dan Anton F. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. 6. belum dicabut. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. 32 Tahun 2004. atau awal abad ke XX. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. sepanjang kedua UU tersebut. yang spesifik pertentangannya. Refika Aditama. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. 2005. 159. Teori Hukum: Mengingat. Susanto. .178 5. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. hlm. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Bandung. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. terutama UU No. Susanto menyatakan.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. dan Kelima. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. Dengan demikian.

5 tahun 1974. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Bagir Manan. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945.179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. Bagaimanapun dalam No. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. Maka. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. yang tidak . 5 tahun 1974. Oleh karena itu. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah.

180 dibahas dalam desertasinya itu. yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana. 22 tahun 1999. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa. Bagir Manan setuju hanya satu. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. mempengaruhi. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. 321. hlm. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum.. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. op. . Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. ada pendapat Bagir Manan. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. Maka dari itu. Setelah berlaku UU No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif. Dengan pengawasan yudisial. Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. represif. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. Problematika …. pengawasan menghindari pembelengguan daerah.. 5 Tahun 1974. represif (administrative).cit. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. dan preventif.

Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. dipengaruhi dari negeri Belanda. yang ditetapkan dalam undang-undang. hak menentukan nilai mata uang. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. Dengan demikian. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. 4 Agustus 2009. ketiga. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. walaupun terdapat pengawasan. Itu bersumber dari abad pertengahan. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. bukan kedaulatan rakyat. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. Ada juga batas-batasnya. Bandung. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. Paradigma ini tidak diketahui umum. . Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad.

sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. yaitu mengacu kepada UU No. Teori Hukum Murni. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. hlm. . 449 Ibid. Rimdi Press. satu teritorial. Namun ketentuan ini tidak berjalan. 255. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. Pemerintah pusat punya hak placet. 1995. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. 450 Ibid. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. Walaupun demikian. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. Yang lainnya harus ada.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. 448 Ibid.182 bawahannya. menurut ilmu perundang-undangan. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. 10 Tahun 2004. dan satu kekuasaan.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. satu rakyat.

Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru.** .183 pemerintahan. masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. dan negara hukum dan kesejahteraan. terutama terkait dengan pemekaran daerah. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. demokratisasi. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru.

dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. cenderung terjadi . yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. Dengan konstruksi demikian seperti itu. Dalam implementasinya. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). demokratisasi. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. Dengan paradigma negara kesejahteraan.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kedua. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Pertama. meliputi desentralisasi teritorial. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. Melalui PP No. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak. 38 Tahun 2007. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam.

menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945.** . 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. teori. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. pengaturan. sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. sehingga menyerupai piramida terbalik. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah. dan demokratisasi. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. B. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri.

Amrah Muslimin. Ateng Syafrudin. Atlanta. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta. 1986. H. Bhenyamin Hoessein. Jakarta. Yogyakarta. Jakarta. 2001. Jakarta. Nusamedia. Yayasan Tifa. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. 1986. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Mandar Maju. Bachrul Elmi. Anhar Gonggong (ed). 2007. _______. Jakarta. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. _______. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 1995. 1990. Hukum Administrasi Negara. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Francisco Javier Arze del Granado.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. Bogor. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Bandung. Bandung. UI-Press. 2004. Bandung. 2006. Frans Magnis-Soeseno. 1994. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Bagir Manan. Diana Halim Koentjoro. 2006. Citra Media Hukum. Rajawali Pers. Alumni. PT Raja Grafindo. Disertasi. 2003. Perjalanan Historis Pasal 18. 1999. . Georgia State University. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Eddy Purnama. 1993. Hukum Anggaran Negara. Alumni. Kedaulatan Rakyat. Etika Politik. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. Bandung. Yogyakarta. 2002. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. UNSIKA. editor Jakarta 2005. Bohari. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. Ghalia Indonesia. 2005. Karawang. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. _______. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. _______. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945.

Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.N. Hukum Pemerintahan Daerah. 2009. Ke Arah Indonesia Merdeka. _______. and Amerindian Studies. Penerbit Bina Aksara. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Azmy Akhir. Refika Aditama. Kepala Daerah. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Cetakan kelima belas. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. 1984. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Josef Riwu Kaho. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Kelsen. 1986. 2009. _______. M. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Jakarta. Munir Fuady. UI. Bandung. Gramedia. Irawan Soejito. Jakarta. Hans. 2005. kota. Ltd. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. 1999. Penerbit Gramedia Pustaka. Singapore. penerbit. Bahl. Demokrasi Kita. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Ni’matul Huda. CV. Masalah Kenegaraan. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. 2009. Konstitusi Press. Jakarta. 1993. PT. Bhuana Ilmu Komputer. 1995. The Netheralands. 2009. di Negara Republik Indonesia. 2001. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Pte. Shinichi. PT. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. World Scientific Publishing Co. Research School CNWS School of Asian. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Ichimura. cetakan kedua. Niessen. Municipal Government In Indonesia Policy.. Alumni. Miriam Budiarjo. . Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. Bandung. Kaloh. Jakarta. Kelompok Gramedia. 2003. _______.I Gde Pantja Astawa. PT. 2009. bandung. Jakarta. Nicole. Jimly Ashiddiqie. African. Prospek Otonomi Daerah. (alih Bahasa: Somardi). Teori Hukum Murni. Rimdi Press. Mohammad Hatta. Jakarta. Roy (eds). 2007. Nusamedia. 1980. Monograf. Decentralization: Policies in Asian Development. J. Segaarsy. Dinna. Bandung. dalam Miriam Budiardjo (ed). Universitiet Leiden.

2007. Smith. Satjipto Rahardjo. Sunaryati Hartono. The Liang Gie. Yogyakarta. Rineka Cipta. 1960. Kemitraan. Penerbit Alumni. 1985. Bandung. Penelitian Hukum Normatif. 1995. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. Steven Sons. England. London. Yellow Printing. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta. Jilid III. Jean Jacques. Sidgwick & Jackson Limited. Bhuana Ilmu Populer. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). London. 1986. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Taliziduhu Ndraha. Jakarta. USA. Alumni. Liberty. Bandung. Joeniarto. 2005. Binacipta. Jakarta. Tjip Ismail. . Rousseau. PT. Decentralization The Territorial Dimension of The State. dan Desentralisasi. 2005. cetakan II. R. Bandung. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Susanto. Alan. 2006. 1982. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Gerge Allen Unwin. CF. Edisi Kedua. Paulus Effendie Lotulung. Refika Aditama. Teori Hukum: Mengingat. RDH Koesoemahatmadja.Norton.C. 1979. Otje Salman dan Anton F. Jakarta 2003. 1993. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. B. Strong. Jilid I. Modern Political Constitution. 2006. Yogyakarta. PT RajaGrafindo Persada. Citra Aditya Bakti. 1993. Wolfgang Friedmann.. Yogyakarta. 1967. Genta Publishing. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Keuangan Daerah. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Bandung. Jakarta. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. cetakan kedua. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Investasi. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Pheni Chalid. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. London. 2007. Legal Theory. Perkembangan Pemerintahan Lokal. Jakarta. Visimedia.

Detours and Road Closures”. World Scientific Publishing Co. Jaime Bonet. Anwar Shah. Roy Bahl (eds). Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. Ltd. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. hlm. 2002. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. Problems. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Washington DC. Singapore. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. Program Studi Hukum Tata negara. 2008. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. 6 No. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. The World Bank.. 3. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. 2009. _______. Desertasi. 28 Desember 1992. World Bank Policy Research Working Paper 3353.. Vol. Maret. Makalah. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. 4 Agustus 2009. Bandung. USA. April 2004. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. DC USA. _______. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Bandung. Decentralization: Policies in Asian Development. Bagir Manan. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. Washington. Theresa Thompson. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. . “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. June 2004. _______. 2009. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Bandung. Pte. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. Asep Warlan Yusuf. 2009. World Bank. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Bahl dalam Shinichi Ichimura. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. 1.

2003. Universitas Padjadjaran Bandung. 15 No. Vol. Disertasi. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. 2008. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. 15 No. Accounting & Financial Management. 29. Bandung. Elektison Somi. Academic Press. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Vol. Era Dabla-Norris. Blackwell Publishing Ltd. Academic Press. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Otonomi atau Federalisme. 2006. Accounting & Financial Management.Bonet. Harian Suara Pembaharuan. 2000. Jaime. dampaknya terhadap Perekonomian. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Renata R Simatupang. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Journal of Public Budgeting. UK-USA. Laporan Penelitian. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. 4. Larry. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Schroeder. 3. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 3. 2002. Jakarta 2009. I Gde Pantja Astawa. Vol. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. No. Jakarta. Fiscal Decentralization in South East Asia. Journal of Public Budgeting. Jameson Boex. . Kuntana Magnar.48. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 2006. Pustaka Sinar Harapan. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Comparative Economic Studies. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 2003. Bandung. Tim Penyusun. 1999.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Bandung.

pdf http://koran.opensubscriber. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.Doc. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.unsri.geocities. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. Sumber Internet http://www.com/9511217.kompas.dibatasi. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. http://www.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005. .ac.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No. Peraturan Pemerintah No.html www.daerah. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.com/message/mediacare@yahoogroups.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.fh.

id/ www.daerah. http://www.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.mediaindonesia. www.bakd.com/abstract=1029581 .com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.ac.html http://ekoprasojo.Doc.go.lautanindonesia.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.5619.go.dibatasi.fh.wikipedia.mediaindonesia.kompas.pdf.com http://kppod.detikfinance.google.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.fiskal.depkeu.com/forum/index.org/id.worldbank. http://www.unsri.0.org/ind/index.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.ssrn.id/webbkf/kajian%5CPAD. http://www.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.http://www.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.depdagri.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.php/topic.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->