You are on page 1of 5

Apakah Berat Badan Balita BGM-KMS adalah Gizi Buruk?

Juli 3, 2009 oleh Arsad Rahim Ali 24 Komentar

Perbedaan Penentuan Status Gizi Polewali Mandar Sulawesi Barat.-- Ibu yang mempunyai anak balita dan pernah menimbang berat badan anaknya di posyandu atau di klinik-klinik kesehatan anak, biasanya hasil timbangannya dicantumkan pada Kartu Menujuh Sehat (KMS), berat badan yang dicantumkan di KMS akan terlihat sesuai dengan pita warna yang ada, sebagian berat badan balita ada yang berada pada pita warna hijau dan juga kuning bahkan ada yang sebagian berada pada pita warna merah atau tepatnya dibawah garis merah. Berat badan yang berada pada pita warna hijau selalu saja dipresepsikan dengan gizi baik, sementara berat badan yang berada pada pita warna kuning merupakan warning (peringatan) kepada ibunya agar lebih berhati-hati jangan sampai masuk pada berat badan dibawah garis merah atau biasa disebut dengan BGM, karena apabila anak telah berada di bawah garis merah pada Kartu Menujuh Sehat (KMS) maka anak balita tersebut bisa cenderung di vonis padahal tidak demikian -telah mengalami gizi buruk. Keadaan ini membuat ibu-ibu balita mengalami kegelisaan akan masa depan anaknya.

Contoh KMS Disisi lain, dikalangan petugas kesehatan apalagi yang bukan petugas kesehatan dalam membuat indikator status gizi buruk selalu saja mengalami kebingungan, Indikator status gizi apa yang seharusnya digunakan dalam menentukan keadaan gizi buruk. Yang sering terdengar adalah penggunaan indeks BB/U, ada juga dengan menggunakan indeks TB/U atau bahkan juga yang menggunakan indeks BB/TB. Karena ketiga indeks ini agak sulit dalam pengelolaannya dan kemudian diinterpretasikannya, maka sebagian petugas langsung saja menggunakan Kartu Menujuh Sehat (KMS) seperti yang disebut diatas, bila berat badan balita di Bawah Baris Merah (BGM) maka selanjutnya dengan yakinnya mereka mengatakan anak balita tersebut telah menderita Gizi Buruk. Celakanya lagi petugas-petugas tingkat Kabupaten dengan yakinnya menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh petugas lapangannya dalam melakukan pendataan dengan dasar BGM pada KMS dan menyimpulkan telah terjadi ribuan gizi buruk adalah benar. Seperti laporan yang dikeluarkan oleh Tim Pendataan Kemiskinan Berbasis masyarakat (PKBM) Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat telah ditemukan ribuan balita gizi buruk, dilokasi dimana tim melakukan pendataan. Apakah benar Berat Badan Balita Dibawah Garis Merah pada KMS adalah Gizi Buruk? Sebelum penulis menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu perlu dijelaskan tentang KMS- Kartu Menujuh Sehat dan juga sedikit penjelasan tentang status gizi

Kartu Menujuh Sehat (KMS)

Status Gizi Berdasarkan Pemantuan Pertumbuhan Berat Badan Kartu Menujuh Sehat (KMS) itu hanya difungsikan untuk Pemantauan pertumbuhanperkembangan balita dan Promosinya, bukan untuk penilaian status gizi, sekali lagi bukan untuk pemantauan status gizi. Pada KMS tidak dibedakan menurut jenis kelamin, balita laki-laki dan perempuan sama saja. walaupun sekarang ditahun 2010 depkes telah membuat KMS dengan membedahkan jenis kelamin, pembacaannya pada KMS tetaplah sama Pita gambar yang ada pada KSM berdasarkan % median, artinya tidak disesuaikan dengan hasil berat badan balita dan kemudian ditentukan status gizinya atau jelasnya berat badan yang tercantum pada KMS hanya menggambarkan pola pertumbuhan berat badan balita bukan Berat Badan per Umur, karena yang dilihat adalah garis bukan titik. Berat Badan di Bawah Garis Merah (BGM) bukan menunjukkan keadaan GIZI BURUK tetapi sebagai warning untuk konfirmasi dan tindak lanjutnya tetapi perlu diingat tidak berlaku pada anak dengan berat badan awalnya memang sudah dibawah garis merah. Naik-Turunya berat badan balita selalu mengikuti pita warna pada KMS. Yang jelas hasil penimbangan balita di posyandu hanya dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk 1. Pemantaun pertumbuhan dan perkembangan induvidu balita dengan melihat berat badan yang ditimbang (D) apakah naik (N), turun (T) atau BGM 2. Perkiraan perkembangan pertumbuhan balita di masyarakat yaitu dengan melihat presentase balita yang Naik Berat Badannya dibanding dengan keseluruhan balita yang ditimbang (% N/D), termasuk juga presentase balita yang BGM di banding dengan keseluruhan balita yang ditimbang (%BGM/D) 3. Perkiraan perkembangan keadaan gizi balita di masyarakat 4. Pembinaan kegiatan posyandu dengan menilai cakupan program (K/S) dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu (D/S)

STATUS GIZI

Status Gizi berdasarkan Penilaian Tabel Antropometri Status gizi itu pada dasarnya adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh. (Depkes.RI 2008). Ukuran yang digunakan dalam menentukan status gizi adalah berat badan, bisa juga tinggi badan yang didasarkan pada umur, ukuran ini biasa disebut dengan ukuran antropometri dan disajikan dalam bentuk indeks. Oleh karenanya hasil dimanfaatkan atau digunakan untuk Assesment Keadaan Gizi Induvidu ataupun juga penentuan status gizi masyarakat tentunya dengan menggunakan tabel antropomteri (bukan KMS). Untuk assesment status gizi induvidu dengan indeks BB/U dapat dilihat 4 kategori yaitu gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk. (lihat perbedaannya dengan KMS yang hanya untuk melihat Naik-Turun/Tetap dan BGM). Sementara untuk assesmen keadaan gizi masyarakat dapat menentukan prevalensi gizi lebih, baik, kurang dan buruk. Perlu diingat pula Kategori Status Gizi Berdasarkan Indeks BB/U (Baca : Berat Badan menurut Umur) dipakai untuk melihat status Gizi Lebih, Baik, Kurang dan Buruk, tidaklah sama dengan Kategori Status Gizi dengan menggunakan Indeks BB/TB maupun TB/U. Hal ini sering sekali salah diinterpretasikan. TB/U (Baca : Tinggi Badan menurut Umur) hanya untuk melihat Tinggi atau Pendek ataupun Normal, bukan gizi kurangnya ataupun buruknya. sedangnkan BB/TB (Baca : Berat Badan menurut Tinggi Badan) untuk melihat gemuk atau kurus ataupun normal. Ingat ! cobalah lihat anak-anak di sekeliling Anda. TB (Tinggi Badan) faktanya hanya untuk melihat anak TINGGI atau anak PENDEK. BB (Berat Badan) faktanya hanya untuk melihat Berat Badan Anak LEBIH atau KURANG. Dan BB/TB faktanya hanya untuk melihat proporsi

Berat Badan dan Tinggi Badanya terlihat GEMUK atau KURUS. Sangatlah aneh kalau sang anak terlihat gemuk dinyatakan tinggi. Untuk penjelasan mendetail tentang penilaian status gizi buka Halaman DOWNLOADS dengan judul Penilaian Status Gizi pada blog @arali2008 ini.

STATUS GIZI dan KARTU MENUJUH SEHAT


Dengan jelasnya keterangan tentang status gizi dan KMS diatas, penulis selanjutkan dapat menjawab permasalahan seperti yang terjadi pada bagian pertama tulisan ini. Apakah benar Berat Badan Balita Dibawah Garis Merah pada KMS adalah Gizi Buruk? Tentunya jawabnya adalah tidak benar, karena 1. KMS hanya di pergunakan untuk pemantauan pertumbuhan perkembangan balita NAIK, TURUN dan BGM, yang dilakaukan tiap bulannya. Sementara Penentuan status gizi buruk atau Status Gizi merupakan assesment status gizi seseorang dengan menggunakan tabel antropometri, yang dilakukan sekali setahun. Walaupun penggunaan indeks sama yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U) bukan berarti sama karena untuk tabel antropomteri hanya ada 4 kategori yaitu Gizi Lebih, Baik, Kurang dan Gizi buruk. 2. Berat Badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS merupakan perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk, tetapi bukan berarti seseorang balita telah menderita gizi buruk, karena ada anak yang telah mempunyai pola pertumbuhan yang memang selalu dibawah garis merah pada KMS. 3. Persamaanya adalah sebagai Indikator Status Gizi dengan menggunakan pendekatan Antropomteri atau keduanya menggunakan hasil penimbangan Berat Badan dan juga umur, termasuk juga Tinggi Badan Sebelum penulis tutup, sayangilah anak Anda karena mereka adalah penerus cita-cita keluarga, bangsa dan negara, salah satunya cara menyanginya adalah dengan selalau memantau status gizinya dan status tumbuh kembangnya. Catatan : Artikel ini dibuat, ketika penulis sementara mengikuti pertemuan penerapan DefInfo- MDGs di Kota Pare-Pare Propinsi Sulawesi Selatan. tanggal 2-4 Juli2009 yang diselenggarakan Oleh Bappeda Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Kerja Sama Dengan Unicef Makassar Indonesia. Ada kebingungan Pengelola MDGs Kabupaten Polewali Mandar di dalam menggunakan Indikator Gizi yang akan digunakan dalam Aplikasi DefInfo- MDGs Kabupaten Polewali Mandar tahun 2006-2008. Tulisan ini sekirahnya dapat membantu.(arali2008)